The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Tika Dani-Just An Introvet Of Love

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by tikadani01, 2023-02-14 08:43:34

An Introvert Of Love

Tika Dani-Just An Introvet Of Love

Keywords: Novel

laki-laki dewasa yang begitu memperhatikan kenyamanan sekitar. Stelan celana jeans dengan sneakers putih, kian menyuarakan kaos distro yang kau kenakan saat menemuiku malam ini. Rambut hitam legam senada dengan legamnya tatapmu padaku. Membelalak penuh arti, namun apa arti dari semua tatapan tajam nan mesra milikmu itu untukku, Kak? Tidak mungkin sebuah cinta, apalagi ingin memilikiku. Jam tangan krepyak yang kau kenakan, sungguh menjelaskan bahwa kamu adalah seorang yang sangat menghargai waktumu. Caramu memperlakukanku malam ini sungguh sebagai seorang kekasih di matamu, Kak. Aku akan merindu dari malam ini dan dari semua perlakuanmu yang begitu hangat nan manis ini, aku tidak akan bisa sirnakan namamu yang sempat berlabuh begitu lama dalam diam, Kak. Dari dalam hati, sungguh dirimu adalah cinta pertamaku. I love you, Kak Arman “Fina, hey.” panggil Kak Arman yang seketika membuyarkan lamunanku “Eh, iya kenapa, Kak?” sepontan tanyaku gugup “Ngelamuni apa sih? Di makan,” pintanya “I-iya, Kak.” balasku dengan sedikit grogi “Atau kamu nggak suka makanan yang aku pesan? Mau aku pesan, kan, lagi?” imbuh Kak Arman “Nggak usah, Kak. Nggak perlu, aku suka sama makanannya.” balasku “Kalau gitu, habiskan. Biar cepet gede.” ledek Kak Arman sambil menambahkan nasi di piringku


“Jangan-jangan, Kak. Sungguh ini bukan porsiku, Kak.” balasku sambil geleng-geleng kepala ketika nasi dipiringku berhasil ditambah oleh Kak Arman “Ceritanya ngode minta di suapin? Ya udah, sini-sini aku suapin.” balas Kak Arman terus memperlakukanku dengan istimewa “Udah, Kak. Kebanyakan ini.” ucapku “Sekali lagi deh, satu kali suapan ini udah.” pinta Kak Arman “Ya udah, kalau di paksa.” balasku sambil menggodanya “Kring!” suara dering ponsel Kak Arman “Kak, telfon tuh. Kok, nggak di angkat?” tanyaku “Udah biarin aja, Dek. Nggak jelas orang itu.” balas Kak Arman dan langsung mematikan ponselnya “Loh, Kak. Siapa tahu penting.” balasku “Udah, ambaikan saja. Dia itu Luna, mantanku, sebenernya kita udah putus lama. Tapi, Luna nggak terima kalau aku putusin. Jadi aku udah hafal dengan semua modusnya dia, Dek. Lanjut makan aja, ngapain bahas Luna.” Balas Kak Arman dengan sedikit penjelasan dan mengalihkan pembicaraan “Kak, maaf nih. Kak Luna itu bukannya dulu anak MPK?” tanyaku yang merasa aneh “Iya, anak IPA 3, Dek.” singkatnya “Bukannya Kak dulu sama Kak,” balasku “Lidia?” sahut Kak Arman “Iya, Kak Lidia.” balasku


“Kalau sama Lidia mah udah putus lama itu, dek. Pas sama Luna baru awal masuk kuliah kalau nggak salah, aku pikir dia bakal jadi yang terakhir nggak tahunya perasaanku hanya buat mainan.” jelas Kak Arman sedikit menyesal “Sabar, Kak. Kadang cinta memang suka bercanda, kitanya udah serius eh dianya malah main-main dengan cinta.” balasku “Kamu ini kecil-kecil cabe rawit, ya,” balas Kak Arman “Kok bisa, Kak?” tanyaku penasaran “Barusan, belajar dari mana sih soal cinta? Paham banget gitu persisnya perasaan ku.” balas Kak Arman menatapku “D-dari, yah otodidak aja sih, Kak. Kelak cinta yang akan mendewasakan kita, ya, meskipun lewat luka.” balasku “Bener, Dek. Kamu emang bener, cinta memang mendewasakan kita. Terlepas cinta itu dari siapa dan untuk siapa.” sambung Kak Arman setuju dengan pernyataanku “Ya udah, udah malem banget ini, Kak. Kita pulang sekarang aja, Kak.” ajaku “Nggak kerasa, ya, dek. Ngobrol sama kamu seenjoy ini saking enjoynya sampai lupa waktu.” balas Kak Arman seiring langkahku menuju mobilnya “Iya, Kak. Ternyata semakin mengenal, Kak Arman. Semakin nyaman ngobrolnya,” balasku “Next time, kita harus ngobrol lagi, Dek.” ajak Kak Arman “Selagi saling free, bisa aturlah, Kak.” balasku


“Ok, kemana arah rumahmu ini?” tanya Kak Arman ketika aku sedang sibuk dengan seatbeltku “Ke kiri, Kak.” balasku tanpa menatap wajahnya “Biar aku benerin,” balas Kak Arman dan mendekatkan wajahnya tepat di hadapan wajah ku. Satu inci lagi wajahnya nyaris menyentuh wajahku, ini gila. Jantungku tidak bisa santai, berdegub begitu kencang seakan mencuat keluar dan mengutarakan keluhan yang selama ini berkemelut di pikiran Hembusan napas kita saling memburu, aku tidak tahu jelas apa yang sedang dipikirkan Kak Arman hingga membuat napasnya tersenggal dan memburu sepertiku yang jelas aku hampir gila dengan tatapannya sedekat ini. “Bahkan perhatianmu berhasil membuatku kelabakan dan tidak bisa bernapas dengan semestinya, Kak.” batinku “M-maaf, Dek.” Kak Arman langsung kembali ke kursi stirnya begitu selesai mengenakan seatbelt padaku dengan kecanggungan yang senada denganku “Terima kasih, Kak.” lirihku dan kita mulai melaju “Untung saja, Kak Arman segera beralih pandang. Bisa mati gaya, aku didekapnya lebih lama lagi.” batinku dan mulai mengatur kendali napas yang memburu “Rumahmu dimana, dek?” tanya Kak Arman membuka bicara “Rumahku di Desa Siliwangi, Kak.” balasku “Sama rumahnya Dara?” tanya Kak Arman seperti mengetahui desaku “Kak Dara yang kuliah di luar jawa itu, Kak?” tanyaku memastikan


“Iya, emang belum lulus, kah?” tanya Kak Arman “Oh, Kak Dara mah udah nikah. Udah punya anak satu, umur dua tahunan keknya, Kak.” jelasku “Kirain masih kuliah,” singkat Kak Arman “Kakak, kenal sama Kak Dara?” tanyaku “Kenal, dia, kan temen deketnya Luna dulu. Setahuku, dia baru masuk kuliah, pokoknya lulus SMA nggak langsung kuliah dia.” balas Kak Arman “Iya, Kak. Baru lulus tahun lalu, terus nikah dan tinggal di sini sama suaminya.” imbuhku “Ini, terus kemana?” tanya Kak Arman “Maju sedikit perempatan kiri, Kak.” balasku menunjukkan arah rumahnya “Udah beda, RT sama Dara, Dek? Jauh banget dari rumah Dara,” tanya Kak Arman yang nampak bingung “Cuma deket, Kak. Maju 5 rumah lagi udah sampai rumah Kak Dara.” balasku “Berhenti sini aja, Kak.” imbuhku “Udah sampai emangnya?” tanya Kak Arman memastikan “Iya, ini rumahku.” balasku dan turun “Oh, jadi ini rumahnya kirain masih beberapa kilometer lagi, Dek.” ucap Kak Arman “Sampai depan rumah aja, Kak. Soalnya tadi aku bilangnya sama Wulan mainnya, Kakak langsung pulang aja.” balasku pada Kak


Arman yang ingin meminta maaf karena membawaku pulang begitu larut “Loh, nggak bisa dong, Dek. Ayo, Kakak harus bicara sama orangtuamu masa iya bawa putri cantik mereka larut terus ditinggalin di jalan gitu aja.” bujuk Kak Arman dengan sedikit pujian untukku “Kak Arman, bisa aja. Ya udah kalau maksa, mari, Kak.” ajakku Kak Arman menarik tanganku dan mengenggamnya erat dengan sedikit senyuman untukku. Entahlah apa yang sedang dia pikirkan, aku hanya merasakan bahwa Kak Arman adalah pria dewasa idaman para kaum hawa. Sebab mengapa? Karena Kak Arman sangat bertanggung jawab atas aku yang diajaknya pergi hingga larut, bahkan dia tidak akan memberikan celah padaku untuk kena amarah dari orang rumah atas pulang ku yang begitu larut dan bersamanya. “Assalamualaikum, Om, Tante.” salamnya dan tetap menggandeng tangan kananku “Waalaikumsalam, Fina. Kamu kemana aja, Wulan tadi telfon katanya kamu pergi sama temanmu. Mama khawatir sama kamu, nak.” peluk Mama yang begitu sangat khawatir padaku “Fina nggak papa kok, Ma.” balasku “Tante, maaf karena membuat tante khawatir.” sahut Kak Arman dan mencium tangan Mamaku “Ma, ini Kak Arman temannya, Fina. Kak, ini Mamaku.” imbuhku mengenalkan pada Mama yang nampak bingung “Tan-tan, minta oleh-olehnya.” seru Abizar, keponakanku


“Yah, tan-tan nggak bawa, maafin, ya, Abi kapan kesini?” balasku dan langsung memeluknya “Baru aja, Tan.” balasnya dengan polosnya “Tan, Om ini siapa?” imbuhnya dan langsung mencium tangan Kak Arman “Om Arman, namanya. Om ini, temennya Tan-tan.” jelasku pada Abizar “Om, ayo main kuda-kudaan sama Abi.” ajak Abizar dan menarik Kak Arman “Abi, Om Arman mau pulang udah malem. Besok aja gimana?” bujukku “Tapi, Tan-tan janji mau ajak Om Arman kesini, ya.” balasnya “Tanya Om Arman, Om besok main kerumah Uti lagi, ya, gitu.” balasku dan membisikinya “Om, besok Om main lagi, ya, kerumah titi.” bujuknya dengan lugu pada Kak Arman “Iya, Abi. Besok kalau Om nggak sibuk, pasti Om kerumah Utinya Abi.” balas Kak Arman dengan bersimpuh meyakinkan Abizar “Ye! Terima kasih, Om.” seru Abizar sambil memeluk Kak Arman “Sama-sama.” balas Kak Arman “Tante, kalau gitu saya permisi pamit dulu. Sekali lagi maaf sudah membuat khawatir, Tante.” pamit Kak Arman “Iya, nak Arman. Terima kasih sudah mengantarkan Fina pulang sampai di rumah, hati-hati dijalan, ya,” balas Mama


“Baik, Tan. Permisi,” balas Kak Arman sembari mencium tangan Mama “Ma, biar Fina anter Kak Arman sampai depan, ya.” sahutku “Iya.” balas Mama dan kita berjalan ke depan “Kak, terima kasih, ya,” balasku seiring langkah Kak Arman “Iya, sama-sama, Dek.” balas Kak Arman tersenyum ringan “Hati-hati dijalan, Kak.” imbuhku saat Kak Arman hendak menekan kemudi Dia hanya mengangguk dengan senyuman khasnya dan melambaikan tangan padaku lalu menutup kaca mobilnya kemudian melaju. Aku memberikan senyum terbaikku untuknya dan melambaikan tangan. “Ah, malam yang menegangkan. Kak Arman bahkan hampir menciumku, oh my god. Aku hampir gila di buatnya.” gumamku sambil kegirgangan nggak jelas di atas kasur ternyamanku “Plak!” aku menampar pipiku sendiri “Sumpah, ini bukan mimpi, Fina. Sungguhpun, senyumannya ingin aku curi saat bersamanya barusan dan menyimpanya dengan baik.” gumamku lagi, dengan pengandaian yang sungguh memabukkanku “Ponsel, ku. Wulan, aku butuh Wulan sekarang untuk meluapkan rasa yang sedang erupsi dan hampir meledak dengan dasyatnya.” gumamku, dan meraih ponselku untuk mengabarkan kabar gembira ini untuk sahabatku, Wulan Episode 16 Perihal rasa yang masih sama


Aku mengeluarkan semua rasa pada Wulan dalam sebuah pesan suara, hingga lupa bahwa waktu sudah menunjukkan jam 2 dini hari. Rasanya bahagia benar-benar ingin ku putar berulang agar waktu berotasi dengan keramah-tamahan tanpa buru-buru. Dekat sekali dengan Kak Arman yang sedekat nadi semalam suntuk adalah suatu kejadian dimana peluang munculnya pertemuan nyata sedang berbanding sepersekian dan akhirnya bersama dengan tanpa pembagian dengan tatap pada siapapun. Hasil penjumlahan perkalian yakni jumlah waktu yang di kalikan oleh rasa dan rindu kian membatu pada persinggahan relung hati terbaik. Bahwasannya, cinta yang diam-diam selalu memiliki ruang yang luas di dalamnya meskipun sudah pernah di maksa untuk di tiadakan. Aku percaya, cinta sejati akan datang dengan kesempurnaannya sendiri. Meskipun aku masih ragu, sejatinya bukan Kak Arman pemilik cintaku yang tulus ini suatu saat nanti. Bisa saja, ada hati lain yang sedang berjuang untukku hingga di titik ini. Siapapun orangnya nanti, semoga saja aku masih diberikan waktu untuk sejenak menjelaskan rasa yang diam-diam ini pada Kak Arman agar kelak aku dan jodohku sudah menikah, hati ini sepenuhnya milik imamku. Waktu terus berlalu, seakan belasan pertemuan dengan Kak Arman karena Abizar yang sangat nyaman dengannya. Membuat aku dan Kak Arman terjebak pada perasaan yang saling ingin di dengarkan, benar perasaan cinta yang aku tunggu darinya selama ini. Kak Arman sudah mengungkapkan rasanya yang tumbuh mekar untukku, aku tidak punya jalan lain selain mengeluarkan rasa yang membara


hingga di titik terendahku sekalipun. Iya, titik terendah itu ada ketika aku sudah muak berharap yang bukan-bukan selainNya dan aku bisa move on hingga dilema dari mengubur hati lalu mengasingkan diri dari perjalanan cinta selanjutnya. Kita sudah saling mengetahui satu sama lain, persisnya keluh-kesahku dalam mencintai Kak Arman hingga saat ini sudah berhasil dia rasakan begitu dalamnya. Kak Arman, bersungguh-sungguh dengan cintanya padaku. Sekarang, aku yang ragu, semula yang aku pikir hubungan ini tidak akan pernah ada ujungnya sekarang berakhir pada Kak Arman yang makin sayang padaku. Tapi apa benar Kak Arman telah jatuh cinta padaku? Kalau ini tidak bakal jadi kirab pernikahan, apa aku akan sangat bersedih seperti dulu saat aku berusaha mundur dari rasaku terhadap Kak Arman? Aku takut pada trauma sakit yang pernah menyesakkan jiwa ribuan pukulan. “Nikmati, prosesnya. Tuhan punya cara untuk mendewasakan kita, kelak kepada siapapun cintamu berlabuh. Aku percaya, Kak Arman dan cintamu yang begitu kuat akan segera menguat seiring dengan jalinan cinta yang kalian ukir. Kalau memang kalian berjodoh, selebihnya rasa itu akan pudar perlahan dan mendapatkan belahan jiwanya dibalik penjuru bumi lain.” ucapan Wulan, selalu berhasil membuatku mantap dalam mengambil keputusan, akan ku pastikan Kak Arman menjadi kekasihku. Aku tidak perduli terhadap kemungkinan terburuknya kelak, yang pasti aku segera mendapatkan kembali pujaan hatiku setelah rintihan keputus asaan semalaman beberapa waktu silam. “Tuhan, jodohkan kita berdua.” pintaku


“Apa ini mimpi? Rasanya sungguh semua yang terjadi adalah mimpi, Kak Arman yang sulit aku gapai ada dalam dekpan senyaman ini.” gumamku dalam lamunan “Kamu tidak sedang bermimpi, sayang. Ini nyata, Kak Arman yang kamu tunggu ada disini, di hatimu sepenuhnya.” bisik Kak Arman dari balik punggungku dan seketika lamunanku ambyar “Terima kasih, Kak.” balasku lirih “Untuk apa berterima kasih?” tanya Kak Arman “Untuk semua cinta yang ada dihatimu, Kak.” balasku “Jadi aku kekasihmu apa kakakmu?” tanyanya dan mentapku “Kakak ketemu gede, haha.” ledekku Kak Arman hanya tersenyum dan tetap menatapku “Kak, berhenti menatapku seperti ini.” tegurku “Kenapa? Aku sedang menikmati ciptaan Tuhan yang terindah ini.” pujinya “Ceh! Bahkan kau membiarkanku jatuh berulangkali dalam cintamu.” balasku “Aku suka, senyumanmu dan aku suka padamu.” ucap Kak Arman “Dan aku menyukai perhatian kecilmu, Kak. Juga, aku menyukaimu.” balasku “Ah yang bener?” tanya Kak Arman menggodaku “Nggak tahu.” ketusku “Dih malah ngambek, iya deh percaya.” balas Kak Arman “Ya udah, ayo pulang, Kak. Katanya kamu ada reunian anak-anak Osis,” ajakku


“Iya, dan kamu harus menemaniku di sana.” balasnya “Aku nggak mau, Kak. Kamu kan bermalam di sana, mana mungkin Mama mengizinkan dan aku nggak bawa ganti.” tolakku “Aku sudah minta izin sama Mama dan Papamu, baju gantimu semuanya sudah Wulan siapkan di sana. Let’s go.” balasnya dan menariku lembut hingga masuk ke mobilnya “Tunggu-tunggu, Kak. Disana ada Aldo dong secara dia, kan, mantan ketos.” ucapku “Iya, Aldo ikut acara reunian. Kenapa emang?” tanya Kak Arman yang fokus pada kemudinya “Ada deh, bentar aku telfon Dimas dulu, Kak.” balasku “Dih malah mau main-main sama Dimas, ceh!” ketus Kak Arman “Bodo, Dimas nggak kalah oke dari kamu.” ledekku “Halo, Dim. Lo dimana sekarang?” tanyaku dari benda pipih itu “Di kampus ada urusan dikit, pasti mau ngajak ke acara reuni, kan?” tanya Dimas yang sudah tahu tujuanku “Lo paranormal, ya, tahu aja jalan pikiran gue.” balasku “Kenapa? Mau susun misi untuk Wulan dan Aldo, lagi?” tanya Dimas “Iya, lo mau, kan?” tanyaku memastikan “Ya udah, atur aja kuy. Gue barusan di ajak Aldo buat datang nemenin dia ke acara reuniannya. Nah, rencanya gue juga mau ngajak elo, gue pikir lo akan di ajak Wulan. Terus nanti, kan, ada acara malam akrab, nah kita bisa tuh setting mcnya buat duetin Aldo


sama Wulan. Lagunya lo usulin aja, nanti lo kiri lagunya biar gue atur ke Aldo.” jelas Dimas “Widih, cemerlang juga lo, Dim. Habis makan apa barusan?” ledekku “Mulai resenya, kan, buru kirim lagunya. 5 lagu nggak masalah keknya biar makin ngena, hehe.” suruh Dimas “Iya, gue ntar kirim lagu favoritnya Wulan. Cuma 5 nih? Kurang lama, haha.” ledekku “Udah, dulu. Dosen gue udah dateng.” Dimas hampir menutup sambungan telefon denganku “Tunggu-tunggu, lo harus cepet dateng ke sekolahannya. Inget!” pesanku terakhir pada Dimas “Iya, bawel.” balasnya dan menutup telefon dariku “Bagus, bentar lagi pasti Aldo sama Wulan akan segera jadian terus nikah.” batinku dengan ketawa-ketawa kecil “Kamu kenapa, Dek? Senyum-senyum sendiri.” tanya Kak Arman “Oh, nanti juga Kak Arman tahu.” balasku “Sok misterius gitu, apa sih?” tanya Kak Arman “Kepo deh.” ledekku Episode 17 Ternyata Hanya Mimpi Di sekolahan lama, tepatnya di sekolahanku semasa SMA Bhakti tempat dengan sejuta rasa dan kenangan penuh arti. Didalam sana kini sudah banyak beramai-ramai memasang mmt dan menyiapkan panggung untuk puncak acara yakni malam akrab. Pemandangan


yang menyenangkan, gambarannya sama persis sewaktu aku mentap dan dibawa hanyut oleh pesona Kak Arman yang sedang petangklingan memasang pemanis panggung acara bersama rekannya. “Dek, lo disini juga? Wulan mana?” tanya Kak Kennan alias Ucul “Belum dateng, Kak. Katanya masih di kampus ada ujian atau apa gitu.” balasku “Oh, kirain udah selesai dari kampus. Lo sama Arman barusan?” tanya Kak Kennan yang sudah seperti Kakakku sendiri “Iya, Kak.” singkatku “Kenapa, Cul?” sahut Kak Arman dengan nada menantang “Dek, dia cowok lo? Kek gini aja dipacar.” ledek Kak Kennan “Kenapa emangnya, Kak?” tanyaku “Udah, Dek. Jangan percaya sama bucin satu ini,” balas Kak Arman “Krupuk Kuda, dasar. Kuy, gelud.” tantang Kak Kennan dengan candaan “Buka kartu, gue juga pegang kartu lo.” balas Kak Arman “Udah, deh. Kalian, kalau ketemu gelud aja. Bantuin kek.” sahut Kak Megan dan menyodorkan cangkul dan alat pemotong rumput pada keduanya “Capek, Meg. Lo aja, atau suruh pantat kambing ini aja.” tolak Kak Arman “Lo baru dateng peak, pantat sapi.” timpal Kak Kennan “Bang, Kak Yayas suruh jemput. Katanya masih di kampus,” sahut Wulan yang baru dateng langsung nyamperin Kak Kennan


“Kok, nggak bareng sama lo? Lo dari kampus, kan?” tanya Kak Kennan pada adiknya “Gue udah pulang dari tadi siang, kata Kak Yayas dia bakal nyampe sore di sana. Ya udah gue mampir deh ke kampusnya Bang Marcel aja.” jelas Wulan santai “Gue baru nyampe, capek tahu. Lo aja, Bang.” imbuhnya “Ya udah, sini kunci mobil lo.” balas Kak Kennan sambil mengambil kunci mobil Wulan yang di sodorkannya “Awas, habis bensin. Mampus lo.” peringatan konyol yang dilayangkan Wulan untuk kakaknya sendiri Emang dasar kakak beradik konyol mereka tuh. “Tenan aja, aman.” balas Kak Kennan “Loh, Fina. Lo kesini? I miss you, baby.” seru Wulan dan memelukku hangat “I miss you so much, juga sayang.” balasku “Cie, sama Kak Arman.” ledek Wulan “Kak, jagain Fina. Awas sampai bikin dia sakit!” imbuh Wulan memberikan ancaman pada Kak Arman “Siap Ucul junior.” ledek Kak Arman “Ceh!” ketus Wulan “Udah-udah, Lan, gue ikut lo, ya,” balasku “Kak, izin pinjem Fina, yaa.” ledek Wulan balik dan mengajaku sedikit berlalu “Awas, pulang-pulang lecet!” teriak Kak Arman “Aman, Kakak pacar!” balas Wulan


“Huft! Udah mandi lo, Lan?” tanyaku sambil mengatur napas “Udah, barusan di kosan Kak Marcel. Lo?” tanya Wulan sambil mengatur napas juga “Udah, dari rumah tadi.” balasku “Lo kapan sampai di sininya?” tanya Wulan “Baru aja, terus lo dateng ini.” singkatku “Do, udah semua?” tanya Wulan memastikan “Beres, Bu Bos.” balas Aldo sambil sedikit meledek “Siapa yang belum nyampe?” tanya Wulan “Itu, Bakti masih di jalan katanya. Terus barusan aku aja Dimas, dia juga masih ada urusan di kampus. Udah semua keknya.” balas Aldo “Aurel belum ada, sama Sandi, terus Fania, Rini, Sinta. Mana mereka?” tanya Wulan “Mereka, kan, anak MPK. Jadi, aku nggak begitu paham dong.” balas Aldo “Ya udah, paling masih ada urusan. Gue bantu apa?” tanya Wulan menawarkan jasanya “Nyapu aja, biar angkat-angkat sama Wiguna dan yang lainnya aja.” balas Aldo dan menyuruh Wulan menyapu “Loh, Fina. Gimana kabar?” sahut Aldo yang baru tahu kalau aku datang bersama Wulan barusan “Baik, Do. Lo gimana?” tanyaku balik “Baik, juga. Lo sama Kak Arman, ya, pastinya dong.” balas Aldo dengan tebakannya yang benar “Lo kira sama lo, bisa kena damprat Kak Arman dong.” sahut Wulan


“Iya, aku ngerti. Ya udah, bersih-bersih yang ringan-ringan aja sama Fina kalau perlu Fina nggak usah. Kamu aja, Lan.” suruh Aldo “Lo mau kemana?” tanya Wulan “Aku mau kerumah sama Indra dan Zio, ambil kamera sama ngambil buat makan malam.” ujarnya “Kamera gue udah bawa, di mobil tuh.” balas Wulan “Ya udah, suruh ambil Siska apa Roy aja. Aku mau ambil punya ku sendiri,” kekeh Aldo “Satu aja, cukup, Do. Lagian Kak Sasa juga bawa!” balas Wulan seakan sengaja menahan Aldo agar tetap di sini bersamanya “Dua aja nggak cukup.” seru Aldo “Bocah ngeyelan, dasar.” ketus Wulan “Kamu kangen? Ntar kita temu kangen deh.” ledek Aldo dan berlalu “Udah, Lan. Bersih-bersih aja, keburu malem.” ajakku “Lo istirahat aja, Fin. Lo, kan, tamu disini.” balas Wulan menyuruhku duduk sebagai tamu di ajara reuniannya “Gue pikir, dengan gue nggak boleh ngapa-ngapain sama Wulan. Bisa nyusun rencana, sama mc dulu. Takutnya Dimas nggak segera dateng dan nggak keburu.” batinku “Lan, gue ke toilet bentar, ya,” ucapku beralasan ke toilet dengannya “Ok.” Balasnya “Saatnya menjalankan misi.” batinku dan berjalan menemui mc yang akan mengisi acara nanti malam “Dek, mc nya nanti siapa aja sih?” tanyaku pada adik kelas yang juga alumni Osis di SMA


“Kak Rena sama Singgih, Kak. Mereka lagi latihan di UKS cowok.” ujar Jefan “Oh, Terima kasih, ya, Dek infonya.” balasku “Ok, Kak.” singkat Jefan “Tok-tok-tok.” Aku mengetuk pintu UKS cowok “Permisi,” ucapku “Eh, lo bukannya Fina anak IPS 2 itu?” sapa Rena yang lupa namaku “Iya, Ren. Gue, Fina. Lo apa kabar?” tanyaku “Baik, Fin. Oh, iya, ada perlu apa btw?” tanya Rena “Ini, gue mau minta tolong. Lo, kan, mc di acara makrab nanti,” tanyaku memastikan “Iya, kenapa?” tanyanya “Sini gue bisikin.” pintaku Aku menjelaskan pada Rena selirih mungkin agar orang lain tidak menahu dengan rencanaku dan Dimas. “Oh, gitu doang. Boleh-boleh, Fin.” balas Rena usai aku membisikkan rencanaku dan Dimas “Giamana, bisa, kan, Ren?” tanyaku memastikan “Bisa banget, dong.” balasnya “Ok deh, kalau gitu gue keluar, ya, takut ketahuan orang lain.” ucapku sambil celingukan “Ok, Fin.” singkatnya setengah berbisik “Duluan, good luck dan thanks, Ren.” imbuhku dan berlalu Serba-serbi malam akrab di mulai, setelah games dari kakak kelas dan acara nobar usai. Segubrak acara yang menyenangkan sudah


dirampungkan dengan baik, tiba pukul 10.00 malam puncak acara yang ditunggu-tunggu yaitu malam pengakraban dengan para alumni Osis-MPK dan Dewan Ambalan Penegak dan para anggota baru dari ketiga organisasi itu. Semua yang sudah dipilih sebagai perwakilan dari mereka menampilkan bandnya ada juga yang menampilkan taritarian, dance dan drama musikal. Penutup rencana ku dan Dimas dimulai, Aldo akan berduet dengan Wulan di atas panggung untuk menghibur kami semua. “Dan, sebagai penutup acara pada malam hari ini. Kami panggilkan Kakak Alumni Osis yang akan menyanyikan lagu romantis untuk kami semua, Kak Aldo dan Kak Wulan. Kami persilahkan untuk menyanyikan lagu untuk menghibur kami malam hari ini.” seru Singgih “Gue!?” Wulan keheranan “Udah, naik. Malah bingung gitu.” suruh Kak Kennan “Lan,” panggil Aldo sambil mengangguk “Ayo, Kak Aldo dan Kak Wulan.” seru Rena “Ini, mixnya, Kak.” Singgih memberikan mix masing-masing mereka di atas panggung “Terima kasih, Dek.” balas Wulan dan menerima mixnya “Ok, baiklah temen-temenku semua. Selamat malam,” Aldo mulai membuka bicara di atas panggung “Malam!” seru kami “Sebenarnya, kita masih bingung. Kok bisa di panggil buat duet sama Wulan, padahal kita berdua belum ada persiapan sama sekali.


Jadi, kalau nanti ada suara yang tidak mengenakkan. Tolong, lepari saya batu, jangan Wulan. Saya yakin suara Wulan sangatlah merdu,” imbuh Aldo memberikan sedikit wejangan di atas panggung “Mas, bisa aja, sih.” sahut Wulan dengan menggoda Kami berhasil tertawa, melihat keduanya saling gombal-gombalan “Mau nyanyi lagu apa kita malam hari ini, Kakak Wulan?” tanya Aldo “Yang romantis dong, Mas.” balas Wulan merajuk “Em, apa, ya, kira-kira?” imbuh Wulan bertanya padaAldo “I’m always in love with you, aja, ya,” usul Aldo “Ok,” balas Wulan I’M ALWAYS IN LOVE WITH YOU ALDO FEAT WULAN Kaulah cintaku, anugerah Tuhan terindah. Belahan jiwaku Kau matahariku, menyinari bunga cinta. Di dalam hatiku Takkan ku biarkan, waktu berlalu tanpamu Aku ingin selalu dapat Merasakan cinta, selalu menjaga hatimu Seumur hidupku, aku selalu cinta kamu Cause I’m always in love with you Ketulusan cintamu, telah memilih diriku. Apa adanya Aku bahagia, dalam pelukan dirimu. Arjuna cintaku Takkan ku biakan, waktuku berlalu tanpamu Aku ingin selalu dapat, merasakan cinta selalu dapat menjaga hatimu


Seumur hidupku, aku selalu cinta kamu Cause I’m always in love with you Tuhan teguhkanlah cintaku (Teguhkanlah cintaku) Agar ku selalu sayang dia Ku ingin selalu memelukmu Bersama selamanya I’m in love with you, always in love with you Aku ingin selalu dapat menjaga hatimu Seumur hidupku aku selalu cinta kamu Cause I’m always in love with you Oh, cause I’m always in love with you “Lagi-lagi!” seru kami semua “Kakak, Wulan gimana ini nambah lagi, mau?” seru Singgih menyapa Aldo dan Wulan “Ayo, gimana Mas Aldo? Temen-temen mau dengerin suara merdu kalian lagi nih.” imbuh Rena “Lagi-lagi!” sorak-sorak kami “Ok, satu kali lagi deh.” balas Wulan “Kalian mau lagu apa?” tanya Aldo “Kekasih Impian, Mas Aldo bisa bisa nggak?” tanya Singgih “Pianisnya aja, Gimana Kakak Wulan?” balas Aldo dan menanyakan pada Wulan “Ok, let’s go!” balas Wulan “Duh, merdu banget!” seru Dimas


“Eh-eh, belum Kakak!” teriak Rena “Suka bercanda deh, Kakak-kakakku ini.” sahut Singgih “Ok, Kekasih Impian Wulan feat Aldo.” seru Rena dan Singgih “Lagi-lagi!” teriak Dimas begitu Wulan selesai membawakan lagu “Kakak ini maunya di goyang terus, ya,” seru Rena “Bagaimana yang lain digoyang, lagi? Atau lanjut dalam mimpi?” sahut Singgih “Lagi!” kompak kami “Gimana couple goals?” tanya Rena “Waduh, kok couple goals sih Kakak Rena. Rival biar romantis dong.” sahut Aldo “Oh, jadi dari rival turun ke hati. Mas Aldo,” goda Singgih “Singgih, nggak nyambung deh.” sahut Wulan “Eh btw ini, mcnya jadi 4, ya,” balas Rena “Oh, iya. Jadi nyanyi lagi nggak ini Mas Aldo dan Kakak Wulan?” sahut Singgih “Jadi nggak, Kakak Wulan?” tanya Aldo sambil menggoda Wulan “Kalau dipaksa gini, jadi mau deh.” balas Wulan dengan sedikit manja “Kakak Wulan inget, ada Babang Ucul memantau anda, ya,” senggol Rena “Ups, dikit, Bang Cul.” balas Wulan “Ayo, jadi mulai nggak ini?” seru Singgih “Dih, lo sabar aja brew. Cewek mg suka narik-ulur gitu.” balas Aldo “Ini dia Wulan feat Aldo kesayanganku!” seru Singgih dan Rena


KESAYANGANKU Wulan feat Aldo Dengarlah cinta hatiku remuk redam Jika tak ada kamu Menemani aku Dengarlah cinta ku memanggil namamu Disetiap malamku Ku memikirkan kamu Aku sepi sepi sepi sepi Jika tak ada kamu Aku mati mati mati mati Jika engkau pergi Dengarlah kesayanganku Jangan tinggalkan aku Tak mampu jika ku tanpamu Dengarlah kesayanganku Hidup matiku untukmu Ku mohon pertahankan aku Dengarlah cinta hatiku remuk redam Jika tak ada kamu menemani aku Dengarlah cinta ku memanggil namamu Disetiap malamku, ku memikirkan kamu Aku sepi sepi sepi sepi Jika tak ada kamu Aku mati mati mati mati


Jika engaku pergi Dengarlah kesayanganku Jangan tinggalkan aku, tak mampu jika ku tanpamu “Lagi-lagi.” seru kami semua “Ini udah malem, kalian masih antusias aja.” sahut Rena “Kak? Yuhu,” senggol Singgih pada Wulan “Wah, lo modus sama kesayanganku. Awas turun panggung habis, lo.” seru Aldo memberikan ancaman “Ampun bang jago!” ledek singgih “Mas, kamu ini nggak boleh posesif gini dong.” balas Wulan “Takut kehilangan di kira posesif, perhatian di kira lebay. Bye!” balas Aldo “Eh, Mas-Mas, marahnya nanti itu urusan rumah tangga. Nyanyi sekali lagi, baru bahas yang lain.” seru Rena dan menarik Aldo “Ini kok, kita jadi main drama musikal gitu, ya,” balas Singgih “Perasaan lo aja, kita, kan, lagi main petak umpet, sayang.” goda Rena “Bay, mau dong disayang-sayang kek dedek emes itu.” sahut Wulan menggoda Aldo “Sssst, itu nanti di balik layar.” Iirih Aldo “Janji, ya,” balas Wulan “Janji, tapi dikit aja.” balas Aldo “Udah-udah, urusan rumah tangga di bawa-bawa kalian.” seru Singgih “Iri, bilang bos!” sahut Aldo


“Ok, baiklah temen-temen semua. Kita tiba di penghujung acara padahal masih pengen deket-deket mamas Aldo, tapi nggak papa. Bentar aja udah mati gaya gue,” ujar Rena “Mbak-mbak, maaf. Anda siapa, ya?” sahut Wulan “Waduh, bisa kena damprat ceweknya ini.” balas Rena sambil berlari memutari panggung “Udah-udah, mau pamit malah main mulu.” sahut Singgih “Ok, guys. Terima kasih atas antusiasnya pada malam hari ini, terima kasih juga buat penampilan hebat dan mengagumkan kakak-kakak semua. Kami berdua izin undur diri and see you.” seru Rena “Penghujung, akan di tutup dengan penampilan Kakak cantiku Wulan dan Mas gantengku, Aldo. Ini dia, Wulan feat Aldo dengan percayalah.” seru Singgih Aku yang tak akan melepaskanmu Kamu yang mengenggam hatiku Kita tak akan mungkin terpisahkan Biarlah terjadi apapun yang terjadi Aku yang tak bisa melepaskan Kamu yang miliki hatiku Walau mungkin terlalu cepat Bagi kita berdua Untuk mengatakan Selamanya kita akan bersama Melewati segalanya Yang dapat pisahkan kita berdua


Selamanya kita akan bersama Tak kan ada keraguan Kini dan nanti Percayalah Hanya dirimu satu-satunya Tercipta untukku Houou Selamanya kita akan bersama Tak kan ada keraguan Kini dan nanti Percayalah “Terima kasih, selamat malam kawanku.” seru Wulan dan Aldo “Widih, keren sumpah. Petjah, brew.” Dimas memberikan uploas untuk Wulan dan Aldo “Good job, bay.” sahutku “Kalian ini bisa aja, pada dasarnya, kan, suara Wulan tanpa preparepun sangat merdu.” puji Aldo dan menatap Wulan “Paling demen, ya, bikin anak orang baper kalian bertiga ini.” balas Wulan “Dih, gue mujinya ikhlas kali, Lan.” sahutku “Ya udah, makan yuk. Kalian pasti juga belum makan, kan, karena bantuin buat acara kita.” ajak Aldo “Lo tahu aja, sohibnya kelaperan.” balas Dimas “Fin, ayo malah bengong.” Wulan menarik tanganku


“Lo kenapa sih, sedang ada yang lo pikirin?” tanya Wulan saat kami berempat hendak makan “Nggak-nggak papa kok, Lan.” balasku “Lo, yakin?” tanya Wulan “Iya, ayo makan.” ajakku untuk mengalihkan pembicaraan Wulan paling paham kalau soal hatiku, pasti dia sedang memikirkanku juga. “Eh, guys. Gue ke toilet bentar, ya,” ucap Wulan dan berlalu “Berani nggak, Lan?” tanyaku “Berani, tapi kalau mau ikut, ya, ayo.” seru Wulan mengajakku “Bentar, ya, Dim, Do.” pamitku “Emang dasar cewek, ke toilet aja pake di temenin.” gumam Dimas “Jangan gitu, ntar cewek lo minta di temenin pipis malah lo tinggalin. Mas, pipis, lo turunin di toilet umum, terus lo pulang. Konyol, lo dim.” balas Aldo sambil tertawa Aku nungguin Wulan di luar toilet, nggak paham apa yang dia lakukan di dalam sana. Lama banget, sebetah ini dia nahan bau. “Lan, masih lama nggak?! Kalau lama, gue tinggal, ya.” teriakku dan pergi mencari Kak Arman. Mataku seketika terbelalak, menatap langit-langit atap kamar tua. Firasat cinta yang mana lagi ini? mimpi yang nyleneh bagiku, tanpa aba-aba apapun seakan cintanya Wulan dan Aldo begitu candu untukku. “Aish! Lagi-lagi hanya mimpi, kenapa sih harus berkaitan dengan Wulan dan Aldo. Pasti, setiap kali Kak Arman datang lewat


mimpi selalu ada bumbu manis dari Aldo dan Wulan. Dimas juga, apaan sih lo, Fin.” gumamku “Siapa Singgih, Rena, dan semua orang-orang itu. Ini mimpi yang sungguh persis aku rasakan semalam suntuk. Kenapa sepersis itu, senyata itu, aish! Tapi pada kenyataannya ini perjalanan cinta nan panjang ini hanyalah bunga tidur.” gumamku lagi dan sedikit menenangkan diri “Tok-tok-tok, halo adek dengerkan, Mama panggil dari tadi?” seru Mama yang entah sedari kapan mengetuk pintu kamarku “Iya, Ma. Fina udah bangun, bentar.” sahutku dan bangkit dari ranjang “Ada apa sih, Ma?” tanyaku dengan muka bantal dan bersandar di kusen pintu kamarku “Ma, diluar ada siapa sih kok nggak disuruh masuk?” tanya Kak Fita yang datang dan ikut nimbrung “Itu, temennya Fina, Kak. Suamimu nggak ikut dan Abi mana?” tanya Mama pada Kak Fita “Nggak, Ma. Ada kerjaan Mas Farhan,” ujar Kak Fita “Terus Abi kemana, Kak?” sahutku “Itu diluar.” singkat Kak Fita “Sama siapa?” tanyaku “Sama yang Mama bilang temenmu, temuin sono.” suruhnya “Iya, Dek. Buru, temuin dulu.” sahut Mana “Iya, Ma.” singkatku dan keluar menemui temenku


“Dirga, ada apa lo kesini?” tanyaku kaget ternyata yang datang bukanlah salah seorang dalam mimpiku barusan melainkan Dirga mantanku “Gue pengen kerumahnya Ipul, tapi lupa alamatnya. Ya udah gue nyamperin lo, pengen minta tolong buat anterin ke rumah Ipul. Lo free, kan?” jelasnya “Oh, bisa-bisa. Tapi, gue mandi dulu.” balasku “Ok,” singkatnya “Ayo masuk, nungguin diruang tamu.” ajakku “Sini ajalah, Fin. Sungkan gue pagi-pagi bertamu.” sangkalnya “Abi, ajak Om Dirga masuk, Dek.” pintaku pada Abizar “Iya, Tan-tan.” balasnya Sambil lalu, usai rapih-rapih diri aku benar mengantarkan Dirga ketempat Ipul tanpa bertanya apapun itu padanya. Dalam rangka minta pencerahan kali sama Ipul, soalnya Dirga besok sidang skripsi. “Eh, Wulan ngajak gue jalan. Syukur deh, bisa ada alasan pulang duluan.” batinku dan mengiyakan pesan dari Wulan. “Ga, gue duluan, ya, temen ngajak keluar ni.” ucapku, “Dianter nggak, Fin?” sahut Ipul, “Nggak perlu, Pul. Deket doang, duluan, ya,” balasku dan berlalu pergi dengan berjalan kaki menuju rumah sembari menunggu Wulan datang menghampiriku. “Fin, tante Gina mana? Sama Kak Fita?” tanya Wulan “Keluar mereka baru aja.” balasku “Oh, ya udah. Ayo.” ajaknya “Mau kemana sih, Lan sepagi ini?” tanyaku


“Menemui pujaan hati.” girangnya “Aldo maksutnya?” tanyaku “Siapa lagi kalau bukan dia.” balasnya dan fokus menyetir “Gue jadi nyamuk dong,” gumamku “Kata siapa? Gue kok ntar yang jadi nyamuk.” ucapnya “Kok elu sih?” tanyaku makin bingung “Udah deh, diem dulu.” Balasnya Episode 18 Persoalan diamku mencintaimu, kini aku berserah Ternyata Wulan mengajakku menemui Kak Arman, sungguhpun ada kata yang hancur berantakan tiada kira sekarang. Waktu yang kurang tepat aku rasa, bahkan aku belum mengolah kata untuk disampaikan padanya. Kini, kikuk berkepanjangan hingga hening eh nggak tahunya Wulan malah pergi entah kemana. Tersisa kita berdua saling berhadapan penuh canggung, beberapa kali aku merasakan getaran hebat dari ulu hati saat berulangkali menyapanya penuh mesra sampai pada akhirnya aku tersadarkan diri dari mimpi-mimpi panjang nan manis berhari-hari hingga larut malam dan dini hari. Sekarang, kita saling menatap. Sungguh, aku kurang yakin bisa mengungkapkan gejolak rasaku detik ini juga. Wulan benar-benar hampir membuatku gila, tanpa sepengetahuanku dia menyusun ini dan sepagi ini. “Dek, apa kabar?” tanyanya mulai membuka hening diantara kita, seketika pula panas dingin ini membabi-buta di jidat bercucuran keringat dan sedikit kegugupanku dengan ucapnya


“A-aku baik, Kak.” singkatku Kak Arman hanya tersenyum dan duduk di kursi taman “Duduklah.” pintanya “B-baik, Kak.” balasku “Oh, Fina lo harus bisa. Jangan gugup dan stop kikuk, mulai.” batinku dan beranjak duduk di sampingnya “Lantas apa yang mengundangmu mengajakku kemari?” tanyanya menatapku, benteng kokoh itu terpaksa aku merobaknya. Sebab mengapa? Karena memang tatapnya begitu mengugupkanku seketika, “Tapi mau sampai kapan gue simpen rasa ini, rileks, Fin. Dan jangan luluh-lantah lagi dengan pesonanya, mau nggak mau lo harus bilang sekarang juga. Sebelum semuanya menjadi runyam.” batinku dan beranjak mengutarakan perasaannya tersimpan begitu lama ini. “Kak,” aku menatapnya lekat-lekat sekarang, “Ada hal penting yang ingin aku ungkapkan sekarang, persoalan hati, Kak.” imbuhku, “Aku mencintaimu, Kak. Iya, benar aku sungguh mencintaimu lewat putih abu-abuku. Mencintai dari apa yang melekat didirimu, Kak. Termasuk, cinta yang tumbuh berulangkali karena perhatian kecil yang kamu perlakukan untukku, Kak. Aku yang bukan siapa-siapa ini, mencintaimu, Kak. Namun, pada dasarnya hakikat cinta tidaklah harus memiliki dan cinta pula tidak bisa dipaksakan. Akupun belajar banyak dari menicntaimu, Kak. Kini, lega sudah perasaan yang memburu bersamaan rindu yang menggunung dibenakku ribuan kali. Tentang penilaianmu, aku pasrah, Kak. Tapi aku mohon satu hal, tentang rasaku yang lancang


aku harap untuk tidak mengusik damaimu, Kak. Terima kasih atas waktunya, dan terima kasih juga sudah membiarkanku jatuh pada cintamu bertahun silam. Permisi, Kak.” ucapku dan berlari jauh dari tatapan kesukaanku itu Setelah ini aku harap, tamparan keras yang memburu jantung hatiku akan segera megatubkan kantungnya lagi. Dan mimpi-mimpi mengenainya hilang sirna, aku hanya tidak mau cinta ini terus memperkosaku habis-habisan tanpa pernah takut kehilangan. “Tuhan, setelah ini jatuh cintakanlah pada orang yang juga mencintaiku. Aku anggap kelegaan ini sebagai perasaan yang mendewasakan, aku ikhlas, Tuhan. Aku pula tidak menyalahkan Kak Arman.” rengekku usai terus terang yang menderai tangis hebat ditanah lapang itu, bak disambar petir seketika namun derasnya sungguh melegakan jiwa-jiwa yang fana akan hadirnya. Wahai hati terima kasih sudah berjuang sendirian, sudah sanggup belajar dari mencintai diam-diam. Aku janji, tidak akan pernah ku sia-siakan kamu lagi untuk mencintai seperti ini. “Lan, lo sibuk nggak?” tanyaku melalui sambungan telefon pada Wulan “Oh, nggak kok. Aldo lagi di luar kota ada kerjaan di sana dalam waktu yang lama, mau ketemu?” tanya Wulan “I-iya, di coffee shop seperti biasa.” balasku dan langsung bergegas menemui Wulan “Thanks, Lan.” ucapku dan menyeruput cappucino kesukaanku, menatap sepasang mata sahabatku yang bulat dan mengemaskan itu.


Waktu kejadian perkara di coffee shop bersama Wulan dan yang lainnnya adalah yang palingku rindukan. Urusan cinta yang mematikan kadar keakraban kami berlima kala itu sungguhpun aku enggan bergejolak lagi pada cinta yang berkemelut sepi, sunyi. Bahkan dalam persoalan patah hati seorang diri karena cinta yang ku buat nyaman sendiri saja selalu mereka persinggahkan terakhirku mengutarakan yang terjadi. Sejauh ini, aku sedang mengasingkan diri dari kerumunan hingga seakan jatuh cinta pada yang selain Kak Arman hanyalah akan menambah beban pikiran tapi kini sedang aku biasakan berbaur kembali pada duniaku dan perlahan melepaskan kepergian bayang-bayang Kak Arman tanpa unsur kebencian. Agar kelak ketika cinta datang menerkaku dengan hangat, nantinya tidak akan ada rasa lara diantara kedua hati yang saling jatuh cinta dan ingin didengarkan. Tentang jodoh, aku pasrah pastinya Tuhan punya pendamping terbaik untukku siapapun itu. aku sudah tidak akan memesan nama Arman padamu lagi, Tuhan. Episode 19 Menjadi milikmu sekejap malam Penghujung usai pertemuan dengan Kak Arman aku rampungkan juga mimpi-mimpi yang terasa sangat nyata adanya segera ku lenyapkan seketika, bersamaan dengan membina rasa kini aku temui seseorang yang begitu meluluh-lantahkan hati. “Berarti benar, Kak Arman hanyalah rasa kagum yang berulangkali meredum dan membuat hatiku salah paham bahwa cinta lahir bukan dari perhatian kecil.” batinku, aku akan membenarkan pertemuan dengan laki-laki


seumuranku yang begitu menarik empatiku itu adalah cinta yang sesungguhnya. Sebab, tanpa mengenalnya lebih dalam rasa ini kian hanyut dan membara. Barangkali memang Tuhanlah yang merencanakan pertemuan itu sehingga aku berjumpa dan menyapa cinta yang baru, dengan alasan apapun yang tidak bisa diterima secara nalar manusia. Terang-terangan dia melamarku, dihadapan para sahabatku tanpa ragu. Gugup ini, tidak seperti kegugupanku ditatap oleh cinta diam-diamku pada masa putih abu-abu silam. Sentuhan hangat tangannyapun tidak seperti Kak Arman waktu dulu. Punky Sandri Ardinata, calon pendamping hidupku, tidak butuh waktu lama untuk basa-basi rasanya mencintaiku begitu nyaman sajabaginya dan lantas menjurus pada prosesi yang akan lebih sakral dari ini. “Ceh! Sungguh kehendakMu tidak satupun sanggup meramalkannya.” batinku saat menatapnya dari jarak yang dekat, ketika dipasangkan cincin pertunangan kita berdua. Sederet doa terbaik singgah untuk kebahagiaanku bersama Punky, tidak ada yang berani menyangkal takdir Tuhan memang. Akupun merasa ketiban durian satu pohon, karena memang Punky bukanlah orang yang ribuan kali namanya aku rapalkan dihadapan Tuhanku. “Aku harus segera menampar pipiku dan memastikan Punky bukanlah bunga tidurku melainkan bunga yang mekar di dasar hatiku.” gumamku, ternyata memang Punky ada dan nyata. Hingga kenyataan tiba, dia bersungguh-sungguh ingin meminangku. Namun, ajakannya belum sempat aku iyakan tersebab rasa yang masih berkecamuk dibenakku yang tidak dapat ku usir begitu saja.


“Maaf, Ky. Bukan maksut hati menolakmu, namun sebaiknya kita coba jalanin ini kedepanya bagaimana. Sebab ada rapuh yang sedang aku pulihkan, mengertilah.” ucapku tanpa menatap kedua bola matanya “Aku menghargai keputusan ini, akanku tunggu waktu itu terjadi, Fina.” balasnya Punky “Fina, apa lo sedang bermain dengan api cinta? Yang lo lakukan ini sungguh menyiksa batin Punky!” tegur Wulan “Gue hanya masih terlalu labil untuk mencintainya dengan tulus, sisa lukaku semalam saja belum baik-baik saja, Lan.” ucapku “Gue paham! Lantas dengan luka itu lo berhak menolaknya mentahmentah, sedangkan sebelum ini terjadi lo sudah mensetujuinya dihadapan banyak saksi mata dan gue ada disana membawakan cincin lamaran Punky untukmu! Gue kecewa sama lo, Fin.” amuk Wulan “Lan, udah. Berikan Fina waktu minimal untuk menenangkan diri, jangan seperti ini. Cinta butuh ruang luas untuk menerima, beri dia ruang sendiri.” sahut Aldo mencoba menahan amarah Wulan padaku “Dia nggak biasanya bertindak plin-plan kek gini, Do.” ucap Wulan “Do, titip sahabatku. Gue duluan, setelah ini gue janji akan kembali dengan keputusan terbaikku.” balasku dan berlalu “Tunggu!” teriak Wulan Aku menghentikan langkahku dan membelakangi Wulan dibalik punggung bersama dekapan Aldo.


“Selesaikan ini dengan sedingin mungkin, gue tetap di sisi lo apapun keputusan lo. Take care yourself, Fin.” seru Wulan sedikit berteriak “Thanks, Lan.” singkatku dan berlari jauh dari hadapan mereka “Tuhan, maaf aku sudah melukai orang yang begitu mencintaiku. Aku hanya tidak mau dia terluka, sebab rasaku pada Kak Arman memang masih tertahan disini.” rengeku dalam sepi “Aku minta maaf! Sudah membiarkanmu terluka dalam diam.” seru seseorang dengan suara yang tidak asing lagi ditelinga ini Mengusap decak-decak penuh arti di kedua pipi dan mencari keberadaan suara kesukaanku itu. Tepat dibalik punggung, laki-laki dua tahun lebih dewasa dariku menyodorkan tisu. “Ambilah,” pintanya, “Apa yang membawamu kesini, Kak?” tanyaku lirih, “Seorang sahabat terbaikmu, dia merengek padaku supaya aku disini untukmu.” ucapnya, “Menangislah, kemudian hapus hingga tanpa jejak setelah nadimu tak bergejolak.” pintanya, dan lantas memberikan pundak sebagai sandaran lukaku. “Habiskan luka yang menyiksa itu, jadikan aku kekasihmu sehari saja. Lalu, besok perlakukanlah hatimu dengan sejujur-jujurnya pada Punky.” ucapnya lirih, “Anggap setelah hari ini berakhir, aku sudah menjadi mantanmu yang pernah melukaimu.” imbuhnya lagi. Usai tangis lebat itu mengering terbawa arus angin, aku tertidur dengan pulas. Memang sudah menjadi kebiasaan bagiku setelah kesedihan berlarut aku akan tidur dengan tenang dan bangun tanpa luka yang melukaiku hari kemarin.


“Argh! Hari yang hangat.” gumamku, “Loh ini apa?” tanyaku pada diri sendiri ketika mendapati dibawah ponselku terselip kertas “Oh, sebuah surat.” gumamku dan membacanya Aku harap setelah kau baca surat dariku, tidak ada lagi luka dihati Cukup sudahi luka ini, kau sudah ada pengganti Aku akan pergi dari sini, dari hatimu kekasih Agar, tidak lagi kau merintih Lupakan aku, atau tidak akan kau jumpai Laki-laki sebaik Punky Aku paham, rasamu padaku hanya kagum Jadi jangan lagi kau ulangi cinta seperti ini Kumohon, aku akan melihatmu dipernikahanmu nanti Aku janji, ketika hatimu yang pedih sudah pulih Dari yang pernah menjadi kekasihmu sehari saja, Arman. Sungguh, semalam suntuk dia memboyongku masuk dan menyelimutiku dengan hangatnya. “Terima kasih, Kak. Untuk semalam suntuk yang tidak akan kulupakan, aku harap Kak bahagia dengan dia yang jauh lebih segalanya dariku. Aamiin.” batinku, seharian penuh aku sudah menjadi kekasihmu yang paling bahagia, kau sudah berikan yang terbaik layaknya kekasih. Sudi membasuh lukaku dan memperbaiki traumatik yang menyiksa, setelah merasakan cintamu terang-terangan aku sudah waras lagi. Aku akan terus meluruskan hati dari trauma ini, dari yang hanya bisa mencintaimu secara rahasia hingga mencintai Punky dengan terbuka. Tidak akanku temui, luka yang kering dengan seiring berjalannya


waktu. Tidak akan pernah ada lagi bayangmu hingga sampai nyata pada sebuah mimpi dan tidak akan ada lagi trauma dalam mencintai. Setahu usai berbenah, dipuncak senja. Ada lampu tumbler berkedip mesra silih berganti, lilin dengan aroma greentea kesukaanku semerbak menawan disekelilingku memandang hamparan luas harapharap cemas. Menikmati angin gelombang pantai pasang malam, menembus cakrawala kembang api bertaburan. Sebuah mimpi seorang bidadari rumahan rasanya, menerka genting malam lewat angkasa pura penuh bintang. Terjamah sudah remuk-redam ini, tergantikan surut air pantai melukis rembulan disegerombol awan. Perpaduan alam nan syahdu dalam ingatan, menepis galau kerinduan sang pejaan. Kini, Punky dengan segala kesejukan hati mengantarkanku pada cinta yang tiada hentinya menebarkan pesona. Aroma greentea bercampur dengan mint itu kian berpadu, aku suka pada wanginya yang mencuat bebas berdansa dikanan dan kiri. Membentuk huruf yang tersusun rapih, “Will you marry me?” ucapnya usai beberapa huruf itu menyatu. Tatapan itu yang telah lama layu, kini biarkan aku menyemainya. Kita hidupkan kembali aromaterapi yang mengakar lebat dihalaman rumah singgah berdua kelak, bercengkrama pada rindu ingin bertemu di balkon rumah kita berdua. Episode 20 Melepas Masa Lajang Kini tiba pada sebuah masa dimana menikmati masa lajang sebelum habis masa tenggang, bersama sebaya dan sahabat sangatlah penting


karena Punky memang hadir ke dunia nyata untuk masa depan dan teman hidup. Sebelum nanti waktunya Punky melamarku dihadapan kedua orangtuaku, aku akan benar-benar menghabiskan masa-masa ini untuk menghadiri prosesi pernikahan sahabatku. Karena memang beberapa tahun setelah semua terbebas dari dunia perkuliahan, banyak yang sudah mantap menikah dari pada harus berkutat pada pacaran yang melenceng dari hakikat cinta sejatinya. Satu persatu persahabatan kami bertambah personil, Mita yang udah duluan menikah sudah menggendong anak dalam satu tahun terakhir ini. Dewi masih anget-angetnya jadi pengantin baru sama Ratna. Penghujung, dari seorang Wulan yang punya seribu akal bulus untuk melunakkan keadaan yang menyeramkan itu. Kisah cintanya dengan sang ketua Osis di SMA Bhakti pada masanya itu sedang giranggirangnya, sepertinya Tuhan dan doa-doa kami semua sedang menerka asmaranya. Terjawab sudah permohonannya dengan sang pencipta, meskipun puluhan drama sudah menerka Wulan berulangkali juga namun kesabarannya dalam mencintai secara rahasia terbongkar sudah seiring dengan kirab pernikahannya bersama Aldo. “Wedew, drama udah nemu endingnya akhirnya.” seru Mita “Buah dari kesabaran lo selama ini, Cuk.” sahut Ratna “Ssttt, yang sopan dong. Ada misua,” senggol Dewi “Apa adanya ajalah, Dew.” sahutku “Iya-iya bener mak comblangkuh ampe mimpi eh ketiban duren satu pohon.” ledek Wulan


“Malah buka kartu ni anak rese.” sahut Mita “Dih, malah elu yang sewot, Mit. Ini obrolan duo minions.” imbuhku “Udah-udah ributnya nanti mahmu dan calon mahmu, ayo-ayo makan dulu.” seru Kak Kennan “Bentarlah, Bang. Masih pengan ngecengin pengantin baru nih.” sahut Ratna “Lanjut ntar aja lagi, makan dulu kalian. Ayo-ayo, Fina diajarin temennya, Fin. Aku tinggal dulu, ngurusin tamu, ya,” balas Kak Kennan “Iya, Kak.” singkatku “Ayo, guys. Melegakan yang punya acara.” Ajakku “Wih, Cul. Kirain elu yang nikah.” Sapa Kak Arman masuk bersama wanita yang begitu akrab sekali dengan Kak Kennan “Apa dia istrinya? Sudahlah lagian buat apa terlalu dipikirkan.” batinku dan melanjutkan makan diperjamuan nikahan Aldo dan Wulan “Kecil-kecil udah berani aja lo, Do.” ucap Kak Arman memberikan sambutan bahagia untuk Wulan dan Aldo “Modal nekat, Bang.” sahut Aldo “Terima kasih, Kak.” imbuh Wulan “Foto dulu dong, Bang.” seru Aldo “Sip, thankyou, Bang pokoknya.” ucap Aldo “Ar, oi! Gabung makan dulu, sana tuh temennya.” pinta Kak Tama kakak pertamanya Wulan yang juga mengenal Kak Arman dengan baik


“Bang, widih udah bawa gandengan aja nih.” sapa Dimas begitu Kak Arman dan teman perempuannya mendekati meja kami “Lo gimana ini, sendiri aja.” ledek Kak Arman “Kak,” sapaku dengan hangat “Dek, apa kabar ini yang udah ada gandengannya ini?” tanya dengan keramahan miliknya “Neisya,” sambung teman perempuannya Kak Arman menyalamiku “Wulan, Kak.” balasku “Mbak Neisya, siapanya Bang Man-Man nih.” goda Dimas “Sepupu gue, biar ada temennya gitu.” sahut Kak Kennan “Waduh, Cul. Pake buka kartu.” balas Kak Arman “Sepupu temu gede ntar,” sambung Ratna “Nggaklah, serius Neisya emang sepupu gue.” pengakuan Kak Arman, sambil menatap ku entahlah apa yang begitu candu dari tatapnya itu Penghujung, pendasaran jatuh cinta padamu memang benar karena caramu memperlakukanku dan itu bukanlah cinta yang kekal abadi. Kini, tamparan hebat sungguh kian memberikan pelajaran berharga dari cinta pada seorang mantan terindahku yang hadir dalam sekejap itu. Sejatinya memang cinta tidak bisa dipaksakan dan melupakan tidak sama seperti ku membuat mie instan. Satu persoalan yang pasti, sekalipun aku mencoba menggandeng erat tangannya sekuat tenaga untuk melawan dan menolak takdir yang berberbanding terbalik dari apa yang sudah Tuhan gariskan adalah suatu kemustahilan meskipun kerap kali pepatah mengatakan bahwa “Immpossible is nothing” tapi


ini bukan sekedar keputusan pejabat tinggi negara yang bisa saja dicancle, melainkan ini keputusan Tuhan yang maha segalanya. Kita hanya butuh satu ruang yang sempit dan waktu yang singkat untuk mengupas hangat setiap pelukan dimulai, menelaah segala gundah, sebuah rasa cinta berdua yang dalam bayang akan segera bersanding ke pelaminan. Tidak sepercikpun terlintas rambu-rambu buruk saat masa pacaran seharian itu, sudahlah. Aku dan kamu hanya dikontrak 24jam berjalan oleh Tuan cinta untuk menjalin asmara dari mabuk hingga berkelana. Sekarang kontrak cinta pupus sudah, sirna segala akar yang melintang dan menjalar dengan kuat. Aku dan kamu memang ditakdirkan untuk sekedar mengukir masa lalu yang indah untuk dikenang selalu, namun Punky dan aku sedang berjalan untuk menempuh ibadah terlama. Mengukir cinta yang sejati diatas janji suci, untuk menaklukan masa depan bersama dan bertumbuh, merasakan betapa resahnya menunggu kelahiran anak pertama kita dan merasakan jatuh cinta setiap harinya, hingga aku rela untuk diduakan oleh Punky dengan seorang gadis yang memanggilnya Ayah. Rela menjadi prioritas kesekian asal prioritas yang dia dulukan adalah wanita paruh baya yang telah melahirkannya dengan sempurna untukku menantunya. Punky adalah milikku, napasku dan kekasih impianku. Kini aku sudah menapaki jejak-jejak cinta yang tanpa harus merasakan terjatuh dari perhatian kecilnya. Tanpa harus merasa letih dalam menanti hadirnya, tanpa merasakan sakit teramat dalam dari setiap temu yang melenakkannya. Ini adalah jawaban,


adalah buah manis yang bisa aku petik usai lakon pelik berkedok cinta dan rahasia. Kak Arman, masih seperti yang dulu. Seorang kakak yang aku kenal sangat baik dan hangat, bukan cinta pada kekasihnya namun ini murni cinta seorang kakak laki-laki pada adik permpuannya. Tidak sedalam dulu dan seintens dulu dalam mengunkapkan rasa seharian berjuang, memang harus ada batasan-batasan diantara kita karena biar bagaimanapun kita bukanlah sedarah sekandung hanya kakak yang ketemu gede yang sudah seperti kakak sendiri sama halnya dengan Kak Sindi, istrinya yang begitu hangat memelukku sebagai adiknya. Aku sedang bersama keduanya sekarang, bercengkrama dengan keramah tamahan keluarga keduaku ini bertemankan Punky dan para istri-istri dari seseorang yang sangat aku cintai. Siapa lagi kalau bukan istri dari, Kak Kennan, istrinya Dimas, juga istrinya Kak Tama turut membersamai sapa hangat diantara kami. Ada lagi, seorang istri dari seseorang yang menjadi dalang dari terjalinnya hubungan hangat kami semua. Tentu saja orang itu adalah Wulan, dia selalu berhasil menjadi sinar yang paling terang untukku hingga kini dan sampai kapanpun. Ini akan menjadi sebuah judul novel terbaik sepanjang sejarah kisah perjalanan cinta seorang Alfina Lingga Putri dengan pangeran tampannya, Arman. Semacam alur cinta anak remaja penuh romansa dan picisan yang berseling sedikit gombalan, canda dan tawa. Berawal dari berpacaran, menjadi seorang mantan dan berakhir sebagai kerabat terdekat rekan arisan. Judul yang pas untuk kisah kita, semula terasa begitu mustahil untuk


hadir dan menjadi satu-satunya orang yang bersedia menjadi cintanya. Dari elo dan gue, menjadi aku dan kamu dan lalu menjadi kita eh nggak tahunya sekarang menjadi satu komplotan pasukan arisan dengan berpasang-pasangan. Tuhan, benar tidak ada pertemuan yang tanpa alasan kecuali itu adalah rencanaMu. Kita bertemu benar bukan tanpa alasan, aku bersembah diri padaMu atas apa yang sudah aku pelajari hingga menjadi istri dari seseorang. Aku sudah menemukan sandaran yang kuat dan hebat yang tidak pernah mengeluh. Atas terpisahnya aku dan kekasihku dulu, atas menikahnya aku dengan Punky. Sungguh, tidak ada satupun yang mengerti bahwa hati ini akan berlabuh pada penduduk pribumi yang hidup di belahan bumi lain. Mana mungkin sepasang insan bisa bertemu sementara persinggahan mereka bertolak belakang, kalau bukan atas izinNya. “Dear, mantan terindahku, mantan yang hanya dikontrak semesta sehari semalam saja. Terima kasih, pernah singgah dengan tabah dan sempurna di sepasang mataku ini. Maaf, jika rasaku bersikeras memukul cintamu yang jelas tulus adanya. Terima kasih, mantan. Aku sedang baik-baik saja dan luar biasa sekarang, untuk 24 jam yang indah itu akan tetap aku kemas dengan apik. Bukan untuk mengembalikan kita diantara kita, lagi. Melainkan cerita cinta yang akan ku ulas berapa tahun yang akan datang untuk anak dan cucuku bahwasannya kamulah cinta pertama sekaligus mantan terindahku.” Untuk rasa yang kian mengembang dalam ulenan roti di loyang, aku tetap mengharapmu kembali. Mengharapkan rindu yang kelabu,


mengharapkan hadirmu dalam mimpiku. Mengharapkan semua itu bahwa yang benar-benar aku harapkan adalah Punky, suamiku bukan kamu mantan terindahku. Semua yang berbekas memang tidak akan semudah membalikan tangan, namun mengenal Punky dengan seabrek cinta yang dia torehkan hingga kita sedekat nadi, hingga napas ini berhembus mesra dalam setiap bait doa untuk selalu memohokan kebahagiaan di tengah-tengah kita, hingga semua berkesudahan tanpa elakan, dan hingga kita saling memeluk tanpa takut, meyakinkan tanpa rasa takut kehilangan karena memang sejatinya Punky adalah milikku.


Tentang Penulis TIKA DANI Dia mempunyai nama lengkap Tika Ayu Widyaningrum Wardani, kerap disapa sebagai Tika Dani Lahir di Sukoharjo sekitar 23 tahun silam. Dia memiliki hobi menulis cerita yang kadang mengambarkan suasana hati atau bisa jadi terinspirasi dari kedua pasang matanya saat menyaksikan cerita-cerita yang berkesan. Kalian bisa berkenalan dengan penulis melalui media sosial dengan akun @tikadani_


Click to View FlipBook Version