1 2024 ANDALAN ENERGI AGRO 01/11/2020 WORK INSTRUCTION - AGRICULTURAL
2 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 001 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 BLOCKING No. Revisi : 01 Tgl. Revisi : 01 November 2020 Blocking Blocking adalah perkerjaan membuat batas-batas blok. Persiapan : 1. Persiapan alat dan bahan meliputi, peta lahan, meteran, tali, alat tulis, parang, cat warna merah, kompas dan pancang. 2. Kenakan seragam kerja, sepatu boot, sarung tangan, dan pelindung kepala (helm). Pelaksanaan : 1. Tentukan dan pancang starting point pelaksanaan blocking.(ref . : Gambar 2.1a & b., Luas dan bentuk Blok 30 ha, AEA-EST-OP-1100.02. R1,Persiapan Lahan, sebagai referensi tambahan) 2. Tentukan arah rintisan sesuai blok standart (Area datar – bergelombang) , yaitu arah utara – selatan sejauh 250 meter (main road) dan arah timur – barat sejauh 1200 meter (collection road).
3 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 001 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 BLOCKING No. Revisi : 01 Tgl. Revisi : 01 November 2020 3. Untuk areal berbukit – bergunung, batas blok mengikuti batas alam seperti sungai, parit dan jalan sehingga bentuk blok tidak beraturan (menyesuaikan dengan bentuk batas alam), dengan luasan 20 – 30 ha. 4. Buat rintisan dengan cara : Untuk main road, gunakan kompas dan arahkan sudut 360 0 (utara) atau 180 0 (selatan). • Lakukan imas selebar 1,5 – 2 meter searah sudut yang diinginkan. • Siapkan pancang yang ujungnya telah diberi cat warna merah. • Tancapkan pancang setiap jarak 50 meter. • Ukur jarak antar pancang dan tulis hasil pengukuran. • Lanjutkan rintis blok sampai mencapai jarak 250 meter. Untuk collection road, gunakan kompas dan arahkan sudut 900 (timur) atau 270 0 (barat). • Lakukan imas selebar 1,5 – 2 meter searah sudut yang diinginkan. • Sipakan pancang yang telah diberi cat warna merah. • Tancapkan pancang setiap jarak 50 meter. • Ukur jarak antar pancang dan tulis hasil pengukuran. • Lanjutkan rintis blok sampai mencapai jarak 1200 meter. 5. Progress kerja hari itu dilaporkan ke asisten. Selesai : 1. Simpan semua peralatan ke gudang.
4 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 002 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 IMAS No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Imas : Imas adalah, perkerjaan memotong pohon yang berdiameter ≤ 7,5 cm. Persiapan : 1. Siapkan parang dan kampak 2. Kenakan pakaian kerja, sarung tangan, sepatu boot, dan pelindung kepala (helm). Pelaksanaan : 1. Imas seluruh semak belukar dan pohon-pohon dengan diameter ≤ 7,5 cm dipotong kandas max 15 cm dari permukaan tanah. 2. Hasil imasan disusun rapi diantara tegakan kayu dan tidak menghalangi perkerjaan tumbang. Selesai : 1. Hasil imasan hari itu dilaporkan ke asisten. 2. Simpan semua alat, bahan, dan alat pelindung diri yang digunakan.
5 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 003 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 RUMPUK / STACKING No. Revisi : 01 Tgl. Revisi : 01 November 2020 Rumpuk / Stacking Stacking adalah, mengumpulkan dan membersihkan areal hasil imas/ tumbang dalam jalur-jalur rumpukan. Persiapan : 1. Persiapkan alat berat (bulldozer dan excavator) dan perlengkapannya. 2. Persiapkan alat-alat pancang rumpukan meliputi kompas, anak pancang, meteran dan cat. 3. Operator bulldozer dan excavator wajib mengenakan alat pelindung diri berupa sepatu boot, sarung tangan, pelindung kepala (helm),dan penyumbat telinga (earplug). Pelaksanaan : 1. Pastikan areal telah dilakukan imas dan tumbang. 2. Buat jalur-jalur rumpukan dengan membuat pancang rumpukan. 3. Buat pancang rumpukan untuk SPH 148 pokok/ha dengan cara : • Tentukan arah rumpukan utara – selatan • Pancang mulai dari as jalan ke rumpukan pertama sejauh 11,24 meter. • Jarak pancang dari rumpukan pertama ke rumpukan kedua sejauh 14,98 meter untuk rasio rumpukan 2 : 1 dan 29,96 meter untuk rasio rumpukan 4 : 1. (ref.: Gambar 2.4., Penempatan Rumpukan, AEA – EST – OP – 1100.02 – R1, Persiapan Lahan, sebagai referensi tambahan) 4. Kumpulkan hasil imasan/ tumbang dengan bulldozer/ excavator sesuai pancang rumpukan. 5. Lebar rumpukan adalah 3 meter 6. Progres kerja rumpukan hari ini dilaporkan ke asisten.
6 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 003 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 RUMPUK / STACKING No. Revisi : 01 Tgl. Revisi : 01 November 2020 Gambar 3.1. Pola rumpukan 4 : 1 Gambar 3.2. Pola rumpukan 2 : 1 Selesai : 1. Matikan bulldozer/ excavator dan tempatkan di lokasi yang aman. 2. Simpan semua peralatan ke gudang.
7 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 004 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 TUMBANG No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Tumbang : Tumbang adalah, perkerjaan menumbang seluruh pohon yang berdiameter ≥ 7,5 cm. Persiapan : 1. Siapkan chainsaw (gergaji mesin) 2. Cek rantai, pelumas, dan bahan bakar chainsaw 3. Kenakan peralatan keselamatan kerja seperti sepatu boot, baju kerja, pelindung kepala (helm), dan kacamata pengaman (safety google). Pelaksaanaan : 1. Sebelum menumbang, pilih pohon yang akan ditumbang. 2. Pastikan lingkungan sekitar pohon telah di imas. 3. Tentukan arah tumbangan dengan memperhatikan arah angin, topograpi dan kanopi pohon. 4. Tentukan ketinggian tumbangan dengan ketentuan maksimal tunggul kayu hasil timbangan adalah : • 30 cm untuk kayu berdiameter 7,5 – 15 cm, • 50 cm untuk kayu berdiameter 16 – 30 cm, • 70 cm untuk kayu berdiameter 31 – 60 cm, • 100 cm untuk kayu berdiameter 61 – 90 cm, • 120 cm untuk kayu berdiameter > 90 cm. (ref.: , AEA–EST–OP–1100.02–R1, Persiapan Lahan, sebagai referensi tambahan) 5. Hidupkan chainsaw, • Pastikan tombol start dalam posisi “ON” • Tarik handle/ trigger pedal sampai chainsaw hidup. • Tarik handle thorttle/ gas 6. Potong pohon dengan sistem : • Sistem koak, yaitu buat koakan pada pohon sesuai tinggi maksimum tungul kayu yang telah ditentukan searah dengan arah tumbangan dengan menggunakan chainsaw, sedalam ± 1/3 diameter batang sehingga membentuk sudut ± 450 , Potong dari arah berlawanan ± 300 . Sampai pohon bergerak/ tumbang.
8 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 004 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 TUMBANG No. Revisi : - Tgl. Revisi : - • Tumbang langsung, yaitu tumbang yang dilakukan secara langsung mulai dari tinggi maksimum tunggul kayu yang telah ditentukan, dengan membentuk sudut kemiringan ± 300 7. Setelah pohon yang ditumbang mulai bergerak/tumbang, ambil chainsaw dari batang pohon yang ditumbang dan operator bergerak ketempat yang aman untuk menghindari arah jatuhnya pohon. 8. Seluruh ranting pohon yang telah ditumbang dicincang untuk memudahkan pekerjaan stacking. 9. Kayu yang telah ditumbang dan tidak dikeluarkan dari areal harus di potong-potong dengan panjang 1,5 – 2 meter. 10. Untuk penumbangan dengan alat berat (Buldozer atau Excavator) biasanya dilakukan langsung dengan pekerjaan rumpuk (stacking), sehingga perlu disiapkan pancang jalur rumpukkannya. Selesai : 1. Matikan chainsaw, dengan cara menekan tombol off. 2. Simpan semua peralatan ke dalam gudang.
9 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 005 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PEMBUATAN TERAS TANAMAN (PLANTING TERRACE) No. Revisi : 01 Tgl. Revisi : 01 November 2020 Teras Kontur : Teras kontur adalah, salah satu teknik konservasi tanah untuk tanam kelapa sawit di areal dengan kemiringan lahan ≥ 13° Persiapan : 1. Persiapkan alat berat berupa excavator dan perlengkapannya. 2. Persiapkan alat-alat pancang teras meliputi Dump level atau Clinometer atau Abney level, anak pancang, meteran dan cat. 3. Operator excavator wajib mengenakan alat pelindung diri berupa sepatu boot, sarung tangan, pelindung kepala (helm),dan penyumbat telinga (earplug) 4. Kenakan pakaian kerja, sarung tangan, sepatu boot, dan pelindung kepala (helm). Pelaksanaan : Pemancangan Teresan 1. Warnai ujung pancang tanaman masing – masing dengan warna yang berbeda – beda (satu terasan dengan terasan lain yang berbeda warna pancangnya) 2. Naik ke tempat yang lebih tinggi 3. Tentukan satu titik di areal yang paling curam. 4. Tancapkan pancang dengan jarak 7,3 m dan maksimum 8,9 m ke lurus arah lembah . 5. Tentukan garis lurus ke arah lembah dengan jarak masing – masing titik 7,3 m dan maksimum 8,9 m. 6. Bedakan pancang terasan yang satu dengan terasan yang lainnya. Pembuatan Terasan 1. Alat berat (excavator) naik ke tempat tertinggi tertanam pancang terasan 2. Alat berat (excavator) meratakan tanah dengan mengikuti tanda pancang dan warna yang tertanam 3. Pastikan teras datar dengan menggunakan water pass (timbang air). 4. Atur sudut bucket dengan sudut kemiringan 100 – 150 dengan titik rendah di dekat dinding tebing 5. Atur kelebaran teras antara 3 hingga 4 meter tergantung kemiringan lahan. Berhenti meratakan tanah apabila tidak terdapat pancang lagi, dan pindah ke pancang terasan dibawahnya
10 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 005 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PEMBUATAN TERAS TANAMAN (PLANTING TERRACE) No. Revisi : 01 Tgl. Revisi : 01 November 2020 6. Buatkan stopbund setiap 30 – 40 meter dengan spesifikasi ukuran lebar 50 cm dan tinggi 30 cm untuk menghindari terjadinya erosi karena aliran air di dinding terasan. 7. Sebelum dilakukan pembuatan teresan, harus dibuat lebih dahulu jalan yang nantinya akan memotong setiap teresan (mengikuti kondisi kemiringan bukitnya). Sehingga nantinya posisi teresan berada di bawah jalan. Hal ini dilakukan agar jika terjadi hujan air yang ada di teresan tidak mengalir ke jalan, sehingga tidak merusak jalan. Gambar 5.1. Pancang teras kontur Gambar 5.2. Pola Jalan kontur dan teresan di areal berbuki TERAS JALAN PRODUKSI
11 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 005 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PEMBUATAN TERAS TANAMAN (PLANTING TERRACE) No. Revisi : 01 Tgl. Revisi : 01 November 2020 Selesai : 1. Tempatkan excavator di tempat yang aman dan matikan. 2. Hasil teresan hari itu dilaporkan ke asisten. 3. Simpan semua alat, bahan, dan alat pelindung diri yang digunakan.
12 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 006 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PEMANCANGAN TITIK TANAM No. Revisi : 01 Tgl. Revisi : 01 November 2020 Pemancangan Titik Tanam Pemancangan titik tanam adalah, kegiatan memasang pancang penanda titik tanam. Untuk areal datar atau bergelombang system pemancangan adalah “Sistem Mata Lima atau Straight Linning” sedangkan untuk areal berbukit dengan teresan menggunakan system “Violle Linning”. A. Pemancangan di areal datar - bergelombang Persiapan : 1. Persiapan alat-alat perkerjaan pancang titik tanam : • Kompas suunto/ theodolite, • Anak pancang dengan diameter ± 2 cm panjang 1 – 1,5 meter dicat warna putih pada bagian atas sepanjang 20 cm. • Pancang kepala dengan diameter ± 3 – 4 cm panjang 2 meter dicat warna putih pada bagian atas sepanjang 20 cm. • Parang, • Meteran (50 meter), 2. Persiapan kawat sling sebanyak 2 jenis, yaitu : • Kawat sling untuk jarak tanam sepanjang 50 meter, diberi tanda warna merah dengan ukuran tanah mineral 8,65 m (SPH 148 pokok/ha) dan tanah gambut 8,33 meter (SPH 160 pokok/ha). • Kawat sling untuk jarak antar baris tanaman sepanjang 50 meter, diberi tanda warna biru dengan ukuran tanah mineral 7,49 meter dan tanah gambut 7,21 meter. Pelaksanaan : 1. Tentukan starting point, yaitu mulai dari as jalan main road/ collection road. 2. Tentukan pancang kepala dari as jalan sejauh 25 meter dengan arah 3600 atau 0 0 (utara) atau 1800 (selatan). Dan diberi pancang.
13 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 006 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PEMANCANGAN TITIK TANAM No. Revisi : 01 Tgl. Revisi : 01 November 2020 3. Tentukan barisan tanaman dengan memakai anak pancang dari setiap panjang kepala mengarah sudut 900(timur) atau 2700 (barat) dengan jarak sesuai denganpenanda warna di kawat sling untuk jarak antar barisan.(ref.: AEA – EST – OP 1100.07 – R3, Menanam Kelapa Sawit, sebagai referensi tambahan) 4. Tentukan titik tanam dengan cara menghubungkan pancang baris tanaman antar pancang kepala memakai kawat sling untuk jarak tanam dengan pola segitiga sama sisi (perhatikan titik hidup dan mati). 5. Lakukan langkah no 4 secara berulang sampai semua areal selesai dipanjang. B. Pemancangan di areal berbukit (Teresan) Persiapan : 1. Persiapan alat-alat perkerjaan pancang titik tanam : • Kompas sunto/ theodolite, • Anak pancang dengan diameter ± 2 cm panjang 1 – 1,5 meter dicat warna putih pada bagian atas sepanjang 20 cm. • Parang, • Meteran (50 meter), 2. Persiapan kawat sling sebanyak 2 jenis, yaitu : • Alat pengukur violle linning dibuat berbentuk T (Gambar 7.3.). Pada setiap tali A (sling A) dan B (sling B) berikan tanda warna sesuai dengan Tabel 7.2. .(ref.: AEA – EST – OP 1100.07 – R3, Menanam Kelapa Sawit, sebagai referensi tambahan) • Tabel Tanda Warna, Jarak Tanam dan Jarak Terasan
14 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 006 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PEMANCANGAN TITIK TANAM No. Revisi : 01 Tgl. Revisi : 01 November 2020 • Gambar Alat Pengukur Violle Linning 3. Pelaksanaan • Teras pertama (paling atas) digunakan sebagai posisi awal pemancangan lalu tancapkan pancang. • Titik tanam selanjutnya dibuat pada teresan kedua diantara dua pancang pada terasan pertama. • Pada terasan paling atas lakukan pemancangan dengan jarak sesuai dengan yang telah ditentukan (Tabel 7.1.) .(ref.: AEA – EST – OP 1100.07 – R3, Menanam Kelapa Sawit, sebagai referensi tambahan) • Tentukan titik pertama pada terasan kedua dengan cara menentukan titik tengah diantara kedua titik pancang pada terasan pertama, hal ini untuk memastikan pola segitiga diantara titik tanam. • Posisikan seseorang pada titik pertama (teras kedua) tersebut dengan memegang alat pengukur violle linning berbentuk T, Tarik tali A mulai dari dinding belakang teras pertama hingga dinding belakang teras ke tiga untuk menentukan jarak antar 2 teras. Tali B ditarik lurus sepanjang teresan. • Tanda warna yang sama pada tali A dan tali B saling berhubungan. Artinya apabila jarak antar teras pada tali A terletak pada tanda warna tertentu, maka warna yang sama pada tali B menunjukkan jarak tanamnya. Contohnya, apabila jarak antar teras pada tali A menunjukkan warna kuning (14,70 — 14,89 m) maka jarak tanamnya ditunjukkan oleh tanda warna kuning pada tali B ( 8,76 m ). Tabel 7.2. .(ref.: AEA – EST – OP 1100.07 – R3, Menanam Kelapa Sawit, sebagai referensi tambahan) • Lakukan prosedur yang sama untuk terasan berikutnya hingga semua terasan selesai di pancang. Selesai : 1. Simpan semua peralatan di dalam gudang.
15 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 007 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PEMBUATAN LUBANG TANAM No. Revisi : 01 Tgl. Revisi : 01 November 2020 Pembuatan Lubang Tanam Lubang tanam adalah, pekerjaan membuat lubang untuk tanam kelapa sawit Persiapan : 1. Siapkan cangkul, mal lubang tanam. Dengan ukuran 50 x 50 x 50 cm. 2. Siapkan alat pelindung diri (APD) berupa sepatu boot , sarung tangan, dan pelindung kepala (topi). 3. Siapkan post hole digger (PHD) untuk pembuatan lubang tanam secara mekanis. Pelaksanaan : 1. Pastikan areal telah dilakukan pancang titik tanam. 2. Buat lobang tanam tepat di tengah – tengah pancang titik tanam. 3. Buat batas lubang dengan meletakkan mal lubang tanam dan diberi tanda. 4. Ambil pancang titik tanam dan cangkul sesuai batas yang telah dibuat. 5. Taruh top soil (± 10 cm dari permukaan) disebelah utara dan sub soil (>10 – 40 cm dari permukaan) disebelah selatan lubang yang dibuat. 6. Ukur lebar dan kedalaman lubang tanam dengan menggunakan mal lubang tanam. 7. Pastikan mal lubang tanam dapat masuk pada lubang yang dibuat. 8. Areal rata, ukuran lubang adalah 50 cm x 50 cm x 50 cm (Gambar 6.1.a.) sedangkan untuk areal dengan tanah yang keras/"compact" 1 m x 1 m x 1 m (Gambar.6.1 b.) 9. Areal terasan, ukuran lubang adalah 60 cm x 60 cm x 70 cm (Gambar.6.1.c.) 10. Setelah lubang tanam selesai dibuat tancapkan kembali pancang titik tanam ditengahtengah lubang tanam. 11. Untuk pembuatan lubang tanam dengan mengunakan PHD : • Pastikan areal telah dilakukan pancang tanam dan dapat dimasuki alat PHD • Posisikan PHD tepat di pancang titik tanam. • Ambil pancang titik tanam dan bor tanah dengan PHD. • Ukuran lubangnya adalah diameter 60 cm dengan kedalaman 70 cm. • Setelah lubang tanam selesai tancapkan kembali pancang titik tanam ditengah tengah lubang tanam (ref.: Poin 3., Melubang, AEA – EST – OP – 1100.07 – R3, Menanam Kelapa Sawit, sebagai referensi tambahan).
16 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 007 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PEMBUATAN LUBANG TANAM No. Revisi : 01 Tgl. Revisi : 01 November 2020 Gambar 6.1. a.) Ukuran Lubang Tanam Tanah Normal ;b.) Ukuran Lubang Tanam pada Tanah Marginal / Tanah keras ; c.) Ukuran Lubang Tanam di Areal Terasan Selesai : 1. Simpan semua peralatan ke gudang.
17 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 008 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENGECEKAN BIBIT No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Pengecekan Bibit Pengecekan bibit adalah, pekerjaan distribusi / transport bibit dari lokasi pembibitan ke blok yang akan ditanam. Persiapan : 1. Order bibit, 2. Siapkan TPB (tempat peletakan bibit) 3. Siapkan alat transportasi bibit (truk / traktor) 4. Siapkan alat pelindung diri (APD) berupa sepatu boot, sarung tangan, dan pelindung kepala (topi). Pelaksanaan : 1. Pastikan bibit yang dibawa sesuai dengan DO (Delivery Order) yang dibuat. 2. Angkat bibit dengan hati-hati, jangan diangkat pada leher bibit 3. Angkat bibit dalam posisi berdiri/ tegak atau bisa juga memakai angkong. 4. Susun bibit kedalam truk / traktor satu lapis, jangan ditumpuk. 5. Turunkan bibit dari truk / traktor dengan hati – hati, tidak boleh dilempar ke TPB yang telah ditentukan. 6. Susun bibit di TPB dalam posisi berdiri/ tegak. 7. Langsir bibit dari TPB ke titik-titik tanam dengan cara diangkat secara tegak, jangan diangkat pada leher bibit. Dan pastikan bola tanah tidak retak/ rusak. 8. Letakkan bibit didekat lubang tanam dalam posisi berdiri. Bibit tidak boleh dibanting. Selesai : 1. Simpan alat-alat ke gudang.
18 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 009 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENANAMAN KELAPA SAWIT No. Revisi : 02 Tgl. Revisi : 01 November 2020 Penanaman Kelapa Sawit Penanaman kelapa sawit adalah pekerjaan menanam bibit di areal yang telah ditentukan (lubang tanam). Persiapan : 1. Siapkan bibit dari sumber dan jenis yang sama 2. Siapkan alat – alat, cangkul, parang atau pisau dan takaran pupuk 700 gr (RP 500 gr + Agroblen 300 gr). 3. Siapkan alat pelindung diri (APD) sepatu boot, sarung tangan, dan pelindung kepala (topi). 4. Siapkan pupuk RP dan Agroblen. Pelaksanaan : 1. Pastikan lubang tanam sudah dibuat dengan benar dan ambil pancang titik tanam yang ada. 2. Ukur tinggi polybag dengan menggunakan cangkul. 3. Beri tanda pada lubang tanam dengan menggunakan cangkul sesuai ukuran yang di buat. 4. Masukkan top soil sampai batas tanda yang dibuat. 5. Campurkan pupuk Agroblen/ RP secara merata dengan top soil. 6. Buka polybag dengan menggunakan parang/ pisau 7. Masukkan bibit dan pastikan dalam posisi tegak dan perhatikan arah mata lima (segitiga sama sisi). 8. Masukkan top soil di sekeliling bibit sampai ±20 cm dari dasar lubang dan dipadatkan dengan cara diinjak. 9. Masukkan top soil maupun sub soil sampai leher bibit dan sampai dipadatkan dengan cara diinjak dengan tapak kaki (jangan sampai menginjak bola tanah). 10. Tancapkan dan sangkutkan plastik polybag bekas pada pancang titik tanam didekat bibit yang ditanam. 11. Untuk kebun dengan mayoritas arealnya terasan menggunakan pupuk lubang tanam TSP 300 gram dan Agroblen 300 gram Selesai : 1. Bersihkan areal sekitar bibit dari sampah maupun tanaman pengganggu. 2. Kembalikan semua peralatan ke gudang.
19 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 010 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENANAMAN KACANGAN No. Revisi : 01 Tgl. Revisi : 01 November 2020 Penanaman Kacangan Penanaman kacangan adalah, penanaman jenis-jenis kacangan sebagai tanaman penutup tanah/ LCP (leguminous cover plant). Persiapan : 1. Siapkan bahan kacangan PJ dan CM dengan komposisi per Ha, 6 kg PJ dan 3 kg CM 2. Siapkan alat-alat : • Ember • Drum untuk merendam kacangan • Cados / cangkul • Terpal untuk alas pencampuran kacangan • Karung bekas pupuk untuk until kacangan 3. Siapakan alat pelindung diri (APD) berupa sepatu boot dan pelindung kepala (topi). 4. Siapkan pupuk RP, bakteria rhizobium. Pelaksanaan : 1. Areal yang akan ditanam kacangan harus dipastikan bersih dari gulma, karena itu perlu dilakukan penyemprotan secara blanket menggunakan herbisida Glyposat + Metil metsulfuron (1,5 liter/ha + 75 gram/ha) sebanyak 2 rotasi (interval rotasi pertama dengan rotasi kedua 3 minggu). 2. Rendam kacangan dalam air hangat ( 2 porsi air panas dan 1 porsi air dingin) selama ± 12 jam. 3. Lakukan inokulasi dengan bakteri Rhizobium. 4. Masukkan kacangan yang telah direndam kedalam ember A. 5. Masukkan Rhizobium kedalam ember B (50 g Rhizobium setiap 10 kg kacangan). Lalu masukkan 500 ml air aduk sampai rata. 6. Selanjutnya larutan tersebut dimasukkan ke ember A dan dicampur sampai merata. 7. Keluarkan kacangan dari ember A dan tuang di terpal pada tempat yang teduh. 8. Campur kacangan dengan pupuk RP dengan perbandingan antara kacangan dengan pupuk RP 1 : 1. 9. Aduk sampai merata dan masukkan ke dalam karung bekas pupuk sesuai berat yang diinginkan. 10. Ecer untilan kacangan ke areal yang akan ditanam. 11. Tanam kacangan dengan cara :
20 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 010 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENANAMAN KACANGAN No. Revisi : 01 Tgl. Revisi : 01 November 2020 a. Menanam LCP campuran PJ dan CM. • Pada areal datar – bergelombang Campuran kacangan jenis PJ dan CM ditanam antara baris tanaman dengan gawangan mati dengan jarak 1,5 meter dari baris tanam, serta antara pokok kelapa sawit dengan jarak 2 meter dari pokok, penanaman kacangan tidak dilakukan di antara baris tanaman dengan gawangan hidup karena akan dibuat cambering atau buka pasar pikul pada TBM 2, 1 orang penanam membuat larikan dengan menggunakan cados satu orang penabur mengikuti dari belakang menanam kacangan sambil menutup larikan. Gambar 9.1. Pola tanam kacangan di areal datar – bergelombang • Pada areal berbukit – bergunung, kacangan ditanam searah dengan teresan. Larikan pertama ditanam dengan jarak 20 cm dari bibir teresan, Larikan kedua ditanam dengan jarak 70 cm dari bibir teresan atau 50 cm dari larikan pertama, Piringan tanaman sawit (radius 2 m) tidak boleh ditanam kacangan, jadi jika jalur larikan mengenai areal piringan maka penanaman di areal piringan tidak perlu dilakukan.
21 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 010 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENANAMAN KACANGAN No. Revisi : 01 Tgl. Revisi : 01 November 2020 Gambar 9.2. Pola tanam kacangan di areal berbukit - bergunung Referensi teknis penanaman kacangan dapat dilihat pada : AEA – EST – OP – 1100.06 – R3 Selesai : 1. Bersihkan larikan dari gulma. 2. Simpan peralatan ke dalam gudang.
22 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 011 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 GARUK PIRINGAN No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Garuk Piringan Persiapan : 1. Siapkan alat, cangkul danatau parang babat. 2. Siapkan alat pelindung diri (APD) berupa sepatu boot, sarung tangan, dan pelindung kepala (helm). Pelaksanaan : 1. Garuk piringan dilakukan pada piringan yang meliputi pekerjaan membuka piringan dan tarik goloran. 2. Buka piringan dengan menggunakan parang babat selebar batas luar kanopi tanaman kelapa sawit (diameter ±2 meter) 3. Tarik goloran dengan menggunakan parang babat sampai dipastikan putus. 4. Bersihkan piringan dengan menggunakan cangkul / parang babat ke arah dalam. Selesai : 1. Bersihkan peralatan. 2. Simpan peralatan didalam gudang.
23 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 012 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 SEMPROT PIRINGAN, PASAR PIKUL DAN TPH No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Semprot Piringan, Pasar Pikul dan TPH Persiapan : 1. Persiapkan blok yang akan disemprot dan lakukan identifikasi gulma setiap bulan. 2. Persiapkan jenis herbisida yang akan digunakan. 3. Siapkan unit semprot (tangki semprot) 4. Siapkan dan cek kondisi knapsack dan nozzle. 5. Siapkan alat pelindung diri berupa sepatu boot, masker, celemek/ apron, sarung tangan karet, pelindung kepala (topi), pelindung mata (google). 6. Siapkan air bersih (bebas lumpur) Pelaksanaan : 1. Buatlah rencana penyemprotan dengan mengisi RKH semprot satu hari sebelum penyemprotan. 2. Mengisi bon permintaan pemakaian bahan lalu mencatatnya juga ke dalam buku material sebagai alat kontrol pemakaian bahan. 3. Masukkan air ke dalam tangki semprot satu hari sebelum penyemprotan. 4. Campurkan herbisida ke dalam tangki semprot (pencampuran dilakukan digudang TUS, tidak diperbolehkan membawa herbisida murni kelapangan). Pencampuran dilakukan pukul 6.00 wib. 5. Aduk larutan sampai larut sempurna dan naikkan alat semprot ke tangki semprot. 6. Angkutan penyemprotan tidak boleh sama dengan truk yang mengangkut bahan kimia ke lapangan. 7. Menuju lokasi penyemprotan paling lambat pukul 6.30 wib. 8. Kenakan peralatan keamanan yaitu sepatu boot, masker, celemek/ apron, sarung tangan karet, dan pelindung mata (google). 9. Penyemprotan mengambil alat semprot, bendera semprot (merah dan kuning) sesuai nomor penyemprot. 10. Pastikan jenis dan ukuran nozzle sama untuk semua penyemprot. 11. Penyemprot memasukkan larutan semprot kedalam knapsack sebanyak volume semprot. 12. Mandor semprot menunjukkan ancak setiap penyemprot. 13. Penyemprot menancapkan bendera merah didepan ancak yang diberikan oleh mandor.
24 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 012 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 SEMPROT PIRINGAN, PASAR PIKUL DAN TPH No. Revisi : - Tgl. Revisi : - 14. Penyemprot yang memakai knapsack (RB 15, SA 15 dll), memompa sebanyak 7 – 8 kali sebelum melakukan penyemprotan. Penyemprot yang memakai micron herbi sprayer (MHS),menekan tombol ON pada saat memulai menyemprot. 15. Penyemprot melakukan penyemprotan pada areal TPH, piringan dan pasar pikul dengan pola angka 8. 16. Apabila ditengah-tengah penyemprotan kehabisan larutan maka penyemprot akan menancapkan bendera kuning sebagai tanda batas akhir penyemprotan semula dan selanjutnya penyemprot akan mengambil larutan dan meneruskan penyemprotan pada ancak tersebut dimulai dari bendera kuning yang ditancapkan tadi. 17. Penyemprot pindah ancak dengan mengikuti intruksi mandor atau melihat bendera merah terakhir yang ada diancak. 18. Setiap penyemprot selesai melakukan penyemprotan 1 knapsack penyemprot akan menulis hasil semprotan di papan monitoring semprot yang ada di truck unit semprot. Selesai : 1. Susun peralatan di tangki unit semprot 2. Hitung pemakaian racun 3. Racun sisa dapat digunakan untuk pemakaian berikutnya. 5. Bilas semua peralatan dengan air. 6. Simpan semua peralatan di dalam gudang
25 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 013 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 SEMPROT GAWANGAN No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Semprot Gawangan Persiapan : 1. Persiapkan blok yang akan disemprot dan lakukan indentifikasi gulma setiap bulan. 2. Persiapkan jenis herbisida yang akan digunakan. 3. Siapkan unit semprot (tangki semprot). 4. Siapkan dan cek kondisi knapsack dan nozzle. 5. Siapkan alat pelindung diri (APD) berupa sepatu boot, masker, celemek/ apron, sarung tangan karet, pelindung kepala (topi), dan pelindung mata (google). 6. Siapkan air bersih. Pelaksanaan : 1. Buatlah rencana penyemprotan dengan mengisi RKH semprot satu hari sebelum penyemprotan. 2. Mengisi bon permintaan pemakaian bahan lalu mencatatnya juga ke dalam buku material sebagai alat kontrol pemakaian bahan. 3. Masukkan air kedalam tangki semprot satu hari sebelum penyemprotan. 4. Campurkan herbisida kedalam tangki semprot (pencampuran dilakukan di gudang TUS, tidak diperbolehkan membawa herbisida murni kelapangan).Pencampuran dilakukan pukul 06.00 wib. 5. Aduk larutan sampai larut sempurna dan naikkan alat semprot ke truck semprot. 6. Penyemprot duduk di truck semprot sesuai nomor penyemprot. 7. Menuju lokasi penyemprotan paling lambat pukul 06.30 wib. 8. Kenakan peralatan keamanan yaitu masker, sepatu boot, baju, celemek/ apron, kaos tangan dan kacamata. 9. Penyemprot mengambil alat semprot, bendera semprot (merah dan kuning) sesuai nomor penyemprot. 10. Pastikan jenis dan ukuran nozzle sama untuk semua penyemprot. 11. Penyemprot memasukkan larutan semprot ke dalam knapsack sebanyak volume semprot. 12. Mandor semprot menunjukkan ancak setiap penyemprot. 13. Penyemprot menancapkan bendera merah didepan ancak yang diberikan oleh mandor. 14. Penyemprot yang memakai knapsack (RB 15, SA 15 dll) memompa sebanyak 7 – 8 kali sebelum melakukan penyemprotan. Penyemprot yang memakai
26 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 013 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 SEMPROT GAWANGAN No. Revisi : - Tgl. Revisi : - micron herbi sprayer (MHS). Menekan tombol ON pada saat memulai penyemprotan. 15. Penyemprot melakukan penyemprotan pada areal gawangan secara spot praying. 16. Apabila ditengah-tengah penyemprotan kehabisan larutan maka penyemprot akan menancapkan bendera kuning sebagai tanda batas akhir penyemprotan semula dan selanjutnya penyemprot akan mengambil larutan dan meneruskan penyemprotan pada acak tersebut dimulai dari bendera kuning yang ditancapkan tadi. 17. Penyemprot pindah ancak dengan mengikuti intruksi mandor atau melihat bendera merah terakhir yang ada diancak. Selesai : 1. Susun peralatan di tangki unit semprot 2. Hitung pemakaian racun 3. Racun sisa dapat digunakan untuk pemakaian berikutnya. 4. Bilas semua peralatan dengan air. 5. Simpan semua peralatan di dalam gudang.
27 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 014 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 SEMPROT LALANG No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Semprot Lalang Persiapan : 1. Siapkan bahan kimia (glifosat/ sulfosat) 2. Siapkan alat pelindung diri sepatu boot, masker, celemek/ apron, sarung tangan karet, pelindung kepala, dan pelindung mata (google). 3. Siapkan dan periksa kondisi knapsack dan noozle. 4. Siapkan tangki semprot dan peralatanya. 5. Siapkan air bersih. Pelaksanaan : 1. Sheet spraying, dilakukan pada areal dengan kondisi lalang sheet. 2. Gunakan herbisida sistemik berbahan aktif glifosat/ sulfosat dosis 4-6 liter/ ha dengan volume semprot 400-500 liter/ ha. 3. Pilah alat semprot dan nozzle yang memiliki volume semprot 400-600 liter/ ha dan lakukan kalibrasi alat semprot setiap minggu. 4. Buat bon permintaan pemakaian bahan. 5. Masukkan air ke dalam tangki semprot satu hari sebelum penyemprotan. 6. Campurkan herbisida ke dalam tangki semprot (pencampuran dilakukan digudang TUS, tidak diperbolehkan membawa herbisida murni kelapangan). Pencampuran dilakukan pukul 06.00 wib. 7. Aduk larutan sampai larut sempurna dan naikkan alat semprot ke tangki semprot. 8. Penyemprot duduk di truck semprot sesuai nomor penyemprot. 9. Menuju lokasi penyemprotan paling lambat pukul 06.30 wib. 10. Kenakan peralatan keamanan yaitu sepatu boot, masker, celemek/ apron, sarung tangan karet, dan pelindung mata (google). 11. Penyemprotan mengambil alat semprot, bendera semprot (merah dan kuning) sesuai nomor penyemprot. 12. Pastikan jenis dan ukuran nozzle sama untuk semua penyemprot. 13. Penyemprot memasukkan larutan semprot kedalam knapsack sebanyak volume semprot. 14. Mandor semprot menunjukkan ancak setiap penyemprot. 15. Penyemprot menancapkan bendera merah didepan ancak yang diberikan oleh mandor
28 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 014 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 SEMPROT LALANG No. Revisi : - Tgl. Revisi : - 16. Penyemprot yang memakai knapsack (RB 15, SA 15 dll), memompa sebanyak 7 – 8 kali sebelum melakukan penyemprotan. Penyemprot yang memakai micron herbi sprayer (MHS),menekan tombol ON pada saat memulai menyemprot. 17. Penyemprot melakukan penyemprotan pada areal gawangan secara sheet praying. 18. Apabila ditengah-tengah penyemprotan kehabisan larutan maka penyemprot akan menancapkan bendera kuning sebagai tanda batas akhir penyemprotan semula dan selanjutnya penyemprot akan mengambil larutan dan meneruskan penyemprotan pada acak tersebut dimulai dari bendera kuning yang ditancapkan tadi. 19. Penyemprot pindah ancak dengan mengikuti intruksi mandor atau melihat bendera merah terakhir yang ada diancak. 20. 21 hari setelah penyemprotan pertama , harus segera dilaksanakan semprotan rotasi kedua Selesai : 1. Susun peralatan di tangki unit semprot 2. Hitung pemakaian racun 3. Racun sisa dapat digunakan untuk pemakaian berikutnya. 4. Bilas semua peralatan dengan air. 5. Simpan semua peralatan di dalam gudang. 6. Pastikan penyemprotan dilakukan kontinu dan tuntas.
29 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 015 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 WIPPING No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Wipping Persiapan : 1. Siapkan kain oles (kain cotton) sebanyak 3 buah dengan ukuran 3 x 12 cm. 2. Siapkan guris/sabit kecil. 3. Siapkan larutan glifosat dengan konsentrasi 1,0-1,35% + surfaktan dengan kosentrasi 0,5% atau imazapir dengan kosentrasi 0,5-0,7% + surfaktan dengan kosentrasi 0,5%. 4. Siapkan alat pelindung diri berupa sepatu boot, sarung tangan karet, masker, celemek/ apron, dan pelindung kepala (topi). 5. Siapkan botol/ jerigen untuk tempat larutan. Pelaksanaan : 1. Pastikan pekerjaan wipping bersamaan dengan pekerjaan rawat gawangan / dongkel anak kayu (khususnya pada kondisi lalang yang sangat normal). 2. Balutkan kain katun pada 3 jari tangan sebelah kiri, ibu jari, jari telunjuk dan jari tengah. Tidak dibenarkan menggunakan kaos kaki atau sarung tangan. 3. Cari lalang dan bersihkan sekitar rumpun lalang dengan menggunakan guris. 4. Basahi kain oles dengan larutan racun sampai basah, namun tidak menetes. 5. Usap lalang mulai dari pangkal demgan cara menekan kemudian mengusapnya ke arah atas sebanyak 3 kali. Dan putus bagian ujung lalang sepanjang ± 1 cm pada usapan yang ketiga, sebagai tanda telah di wipping. Selesai : 1. Bersihkan tangan dengan sabun. 2. Simpan peralatan dan sisa bahan ke gudang.
30 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 016 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 DONGKEL ANAK KAYU No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Dongkel Anak Kayu Persiapan : 1. Siapkan cados 2. Siapkan alat pelindung diri (APD) berupa sepatu boot, sarung tangan kain, dan pelindung kepala (topi) Pelaksanaan : 1. Dongkel anak kayu dilakukan pada gulma anak kayu dan kentosan dengan cara didongkel 2. Ancakkan setiap pendongkel sesuai sistem ancak yang dipakai (pergawangan). 3. Cari anak kayu dan dongkel sampai akarnya terangkat semua. 4. Hasil dongkelan dibuang di gawangan mati dengan posisi akar tidak menyentuh tanah. Selesai : 1. Bersihkan peralatan 2. Simpan semua peralatan didalam gudang
31 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 017 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 OLES ANAK KAYU No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Oles Anak Kayu Persiapan : 1. Siapkan bahan larutan dengan bahan aktif triclophyr dan solar dengan perbadingan bahan 1 : 19. 2. Siapkan alat-alat oles, ember, kuas, parang/ alat khusus oles. 3. Siapkan alat pelindung diri (APD) berupa sepatu boot, sarung tangan karet, masker, celemek/ apron, dan pelindung kepala (topi). Pelaksanaan : 1. Oles kayu dilakukan pada gulma – gulma berkayu baik digawangan, dipiringan maupun di TPH dan pasar pikul. 2. Campur bahan aktif triclophyr dan solar dalam perbandingan 1 : 19 dan masukkan dalam jerigen/ ember. 3. Oleskan larutan dengan alat oles yang membungkus kain sampai basah. 4. Untuk batang kayu yang bergetah seperti pokok karet dan laban, sebelum dioles harus dikerok atau dikupas kulit batang yang akan dioles. Selesai : 1. Bersihkan tangan dengan sabun. 2. Simpan peralatan dan sisa sabun bahan ke gudang
32 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 018 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 KASTRASI No. Revisi : 01 Tgl. Revisi : 01 November 2020 Kastrasi Kastrasi adalah pekerjaan membuang semua produk generatif yaitu bunga jantan, betina dan seluruh buah. Dari umur 8 – 23 bulan. Persiapan : 1. Siapkan alat kastrasi yaitu, dodos kecil dengan lebar mata 8 cm atau arit yang dimodifikasi dana tau menggunakan alat penjepit bunga yang masih dompet (belum mekar) 2. Siapkan alat pelindung diri berupa sepatu boot, sarung tangan, dan pelindung kepala (topi) Pelaksanaan : 1. Sensus dan pastikan 30 % pokok kelapa sawit dalam 1 blok telah mengeluarkan bunga jantan dan/ atau betina. 2. Potong semua produk generatif (bunga jantan dan betina) dan TBS dengan dodos atau arit. 3. Hasil potongan kastrasi (bunga dan buah) diletakkan di pingir piringan arah pasar pikul/ gawangan hidup. 4. Setelah satu pokok selesai pindah ke pokok selanjutnya. 5. Lakukan kastrasi setiap 1 bulan sekali mulai tanaman berumur 8 bulan sampai 23 bulan. 6. Kastrasi tidak dilakukan ketika umur tanaman 19 bulan dengan tujuan untuk mengetahui bunga jantan dan betina ketika nanti tanaman berumur 20 bulan. 7. Kastrasi ketika umur tanaman 20-23 bulan dilakukan dengan cara membuang bunga betina yang jelas sedangkan bunga dompet dan bunga jantan dipertahankan dengan tujuan meningkatkan populasi Elaidobius kamerunicus di lapangan. Selesai : 1. Kembalikan semua peralatan ke gudang.
33 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 019 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 TUNAS PASIR No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Tunas Pasir Persiapan : 1. Siapkan alat berupa dodos kecil dengan ukuran mata dodos 8 cm. 2. Siapkan alat pelindung diri (APD) berupa sepatu boot, sarung tangan, pelindung kepala (topi), dan pelindung mata (google). Pelaksanaan : 1. Tunasan pasir dilakukan 1-2 bulan sebelum pokok mulai dipanen. 2. Buang pelepah lingkaran paling bawah dan juga pelepah kering. 3. Pelepah dipotong mepet kepangkal dengan memakai dodos kecil. 4. Keluarkan pelepah dari piringan dan disusun digawangan mati. Selesai : 1. Simpan semua peralatan kedalam gudang. 2. Mandor yang bertanggung jawab melaporkan hasil pekerjaan kepada asisten.
34 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 020 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 TUNAS POKOK PERIODIK No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Tunas Pokok Periodik Persiapan : 1. Siapkan peralatan, dodos atau egrek. 2. Siapkan alat oelindung diri (APD) berupa sepatu boot, sarung tangan, pelindung kepala (topi), dan pelindung mata (google). Pelaksanaan : 1. Buat pancang tunas yang berisi nomor penunas dan tanggal pelaksanaan tunas dengan mengunakan pelepah setinggi 1,5 meter. 2. Buat pancang jalur rumpukan pelepah tepat ditengah-tegah gawangan mati. 3. Mulai dari pokok paling luar menuju ke dalam sesuai pengacakan mandor 4. Potong pelepah sesuai songgo, dan mepet membentuk tapak kuda. 5. Susun pelepah di gawangan mati sesuai panjang jalur rumpukan pelepah. 6. Bersihkan efiphit di batang kelapa sawit. 7. Pindah menunas ke pokok yang lain. Selesai : 1. Simpan semua peralatan ke dalam gudang. 2. Mandor yang bertanggung jawab melaporkan hasil pekerjaan kepada asisten
35 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 021 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 TUNAS POKOK PROGRESIF No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Tunas Pokok Progresif Persiapan : 1. Siapkan peralatan, dodos atau egrek. 2. Siapkan alat pelindung diri berupa sepatu boot, sarung tangan, pelindung kepala (topi/ helm), dan pelindung mata (google). 3. Untuk pokok dengan tinggi > 4 meter, pekerjaan menunas dianjurkan untuk menggunakan pelindung kepala helm. Pelaksanaan : 1. Tunas pokok progresif dilakukan bersamaan dengan pekerjaan potong buah. 2. Buat pancang panen yang berisi nomor pemanen dan tanggal pelaksanaan panen, jumlah ancak dengan menggunakan pelepah setinggi 1,5 meter. 3. Buat pancang rumpukan di gawangan mati mulai dari ujung pasar pikul dan setiap lima pokok. 4. Mulai pekerjaan panen / tunas progresif dari pasar tengah. 5. Cari pokok yang memiliki buah siap panen. 6. Turunkan buah sekaligus dilakukan pekerjaan tunas, yaitu potong pelepah sesuai songgo, mepet dan timbang air membentuk tapak kuda. 7. Susun pelepah di gawangan mati sesuai jalur rumpukan pelepah. 8. Pindah ke blok yang lain. Selesai : 1. Simpan semua peralatan kedalam gudang.
36 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 022 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENGUNTILAN PUPUK ANORGANIK No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Penguntilan Pupuk Anorganik Persiapan : 1. Pastikan jenis, dosis dan jumlah pupuk sesuai dengan rekomendasi. 2. Mandor membuat bon permintaan dan pemakaian barang (pupuk). Bon permintaan dan pemakaian barang (BPPB) diperiksa dan ditanda tangani oleh Asisten, KTU, Askep, dan Manager. 3. Siapkan takaran pupuk dan kalibrasi sesuai dengan jenis pupuk 4. Siapkan pupuk, sepatu boot, sarung tangan, masker, karung, tali plastik, peresan, timbangan, dan gunting/ pisau. 5. Isi papan monitoring penguntilan. Pelaksanaan : 1. Mandor pupuk/ koordinator menyampaikan rencana until. 2. Keluarkan pupuk dari gudang dan semua pupuk yang akan diuntil dipisahkan dan ditumpuk sendiri. 3. Rentangkan alas plastik (terpal) untuk tempat penguntilan pupuk. 4. Buka karung pupuk dengan cara membuka benang pada karung secara manual, dilarang menggunakan pisau atau gunting yang dapat merusak karung. 5. Tuangkan pupuk ke alas plastik (terpal). 6. Potong/ sobek plastik sisa pupuk untuk digunakan sebagai tali. 7. Gemburkan/ pecahkan bongkahan-bongkahan pupuk (apabila ada). 8. Takar pupuk sesuai dengan takaran yang telah disiapkan isi sampai penuh dan ratakan dengan peresan 9. Masukkan pupuk kedalam goni untilan, tidak dibenarkan menggunakan karung yang baru dibuka. 10. Timbang untilan (setiap 10 untilan timbang 1 kali). Pastikan berat untilan sama dengan kg/ until pupuk yang telah ditentukan. 11. Ikat untilan dengan tali plastik bening yang telah disiapkan. 12. Susun untilan dengan rapi, setiap 1 tumpukan terdiri dari 10 untilan.
37 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 022 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENGUNTILAN PUPUK ANORGANIK No. Revisi : - Tgl. Revisi : - 13. Mandor pupuk/ koordinator untilan menuliskan nama afdeling, blok dan jumlah untilan pada papan untilan diatas tumpukan untilan. 14. Mandor pupuk/ koordinator untilan mengembalikan kartu pupuk ke papan monitoring pemupukan di bagian realisasi hari ini. Selesai : 1. Bersihkan areal penguntilan. 2. Buang sisa-sisa sampah plastik dan karung ke dalam tempat sampah yang telah ada. 3. Pastikan total kg/ untilan sama dengan total kg pupuk yang dikeluarkan 4. Tutup untilan dengan terpal. 5. Simpan semua peralatan di dalam gudang.
38 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 023 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENABURAN PUPUK ANORGANIK No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Penaburan Pupuk Anorganik Persiapan : 1. Siapkan rekomendasi pemupukan, pastikan pemupukan sesuai dengan jenis, dan dosis rekomendasi 2. Siapkan takaran (yang telah dikalibrasi dan sesuai dengan rekomendasi) dan tali gendong 3. Siapkan alat pelindung diri berupa sepatu boot, masker, celemek/ apron, sarung tangan karet, dan pelindung kepala (topi). Pelaksanaan : 1. Pupuk yang telah diuntil ditabur pada keesokan harinya supaya tidak terjadi penggumpalan 2. Penaburan pupuk • Pada blok yang standard (petak sabun), penaburan dimulai dari pokok rintis tengah blok atau batas alam menuju collection road sesuai arah barisan tanaman. • Pada blok yang tidak beraturan, penaburan disesuaikan dengan kondisi sesuai dengan arah barisan tanaman. Penaburan dimulai dari batas/ rintis tengah atau batas alam seperti sungai, parit, dan lain-lain menuju ke collection road. 3. Pupuk setiap pokok 4. Tabur pupuk sesuai dosis dan peres takaran 5. Tabur pupuk secara merata dipiringan dan pastikan tidak ada pupuk yang mengumpal. 6. Pupuk yang menggumpal diinjak-injak agar hancur. 7. Seorang petugas menggumpulkan karung goni bekas pupuk, digulung dan diikat masing-masing dalam 10 karung. 8. Taburkan semua pupuk pada hari itu juga, apabila hujan sisa pupuk dikembalikan ke gudang untilan. Selesai : 1. Pastikan pupuk telah teraplikasi semua. 2. Simpan semua peralatan kedalam gudang.
39 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 024 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 APLIKASI DECANTER SOLID No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Aplikasi Decanter Solid Persiapan : 1. Siapkan blok – blok aplikasi sesuai rekomendasi R & D 2. Persiapkan decanter solid dalam karung pupuk seberat 35 kg/ karung 3. Persiapkan kelengkapan aplikasi seperti sarung tangan karet, celemek/ apron, masker, sepatu boot, dan takaran. 4. Persiapkan transport. Pelaksanaan : 1. Pastikan blok – blok aplikasi abu janjang sesuai dengan rekomendasi R & D. 2. Order decanter solid yang telah diuntil ke PMKS. Berat masing – masing karung 35 kg. 3. Ecer decanter solid sesuai lokasi yang telah ditentukan. 4. Dosis aplikasi decanter solid 9,5 ton / ha atau 70 kg/ pokok. 5. Unit – unit traktor mengangkat decanter solid ke lapangan melalui pasar rintis. 6. Tumpahkan setiap diantara 2 pokok atau di gawangan mati sebanyak 2 karung (±35 kg). 7. Sebar secara merata di atas EFB atau apabila tidak ada aplikasi EFB letakan di gawangan mati. 8. Pastikan aplikasi decanter solid tidak di piringan. Selesai : 1. Simpan semua peralatan kedalam gudang.
40 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 025 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 APLIKASI EMPTY FRUIT BUNCH (EFB) No. Revisi : 01 Tgl. Revisi : 01 November 2020 Aplikasi Empty Fruit Bunch (EFB) Persiapan : 1. Siapkan blok – blok rekomendasi aplikasi EFB 2. Siapkan unit transport EFB 3. Siapkan alat aplikasi EFB yaitu angkong, gancu, timbangan jinjing (untuk kalibrasi) 4. Siapkan alat pelindung diri berupa sepatu boot, masker, sarung tangan (kain), dan pelindung kepala (topi). 5. Siapkan EFB sesuai kebutuhan. Pelaksanaan : 1. Pastikan blok – blok aplikasi sesuai rekomendasi pemupukan dari R & D. 2. Pastikan blok – blok aplikasi dapat dimasuki unit transport EFB. 3. Buat tanda/penunjuk arah yang menandakan lokasi aplikasi EFB untuk mengarahkan unit transport EFB 4. Buat permintaan EFB ke PMKS 5. Unit transport menuju PMKS 6. Timbang unit transport di tempat penimbangan 7. Unit menuju EFB hopper dan mengisi EFB 8. Unit menuju timbangan dan ditimbang berat berat bersih EFB yang dibawa 9. Unit menuju blok aplikasi sesuai penunjuk arah atau tanda 10. Tuang EFB di lokasi yang telah ditentukan, yaitu “Drop of Point”. 11. Papan “Drop of Point” berisi tulisan nama blok, tanggal aplikasi, jumlah pokok yang akan diaplikasikan dan jumlah ton EFB. 12. Aplikasi EFB per ha untuk SPH 148 pokok/ha di areal TM sebanyak 50 ton ( 338 kg/pokok) pada tanah mineral normal, dan pada tanah sangat berpasir 70 ton/ ha (473 kg/pokok) 13. Pada areal TBM EFB diaplikasi secara melingkar sekitar pokok dengan jarak ± 10 cm dari pangkal.
41 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 025 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 APLIKASI EMPTY FRUIT BUNCH (EFB) No. Revisi : 01 Tgl. Revisi : 01 November 2020 14. Pada areal TM EFB diaplikasikan di sekeliling pokok dengan dosis 170 kg/pokok (untuk SPH 148 pokok/ha) secara merata/satu lapis atau setara dengan dosis 25 ton/ha. 15. Pastikan EFB telah dilakukan kalibrasi sesuai dosis. 16. EFB diaplikasikan dengan menggunakan angkong ke setiap titik aplikasi sesuai dengan dosis. Selesai : 1. Simpan kembali semua peralatan di gudang.
42 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 026 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 APLIKASI ABU JANJANG No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Aplikasi Abu Janjang Persiapan : 1. Persiapkan blok – blok aplikasi sesuai rekomendasi R & D 2. Persiapankan abu janjang dalam bentuk untilan 15 kg atau sesuai kebutuhan kebun 3. Persiapkan kelengkapan aplikasi seperti sarung tangan karet, safety boot, masker, pelindung kepala (topi), dan takaran 4. Persiapkan transport untuk ecer abu janjang Pelaksanaan : 1. Pastikan blok – blok aplikasi abu janjang sesuai rekomendasi R&D 2. Ecer abu janjang sesuai lokasi yang telah ditentukan 3. Aplikasi abu janjang dipiringan dengan dosis 2x dosis MOP 4. Tabur abu janjang sesuai dosis dengan takaran dan peres takaran 5. Abu janjang di aplikasikan dengan cara disebarkan secara melingkar mulai dari radius 30 cm dari pangkal pokok sampai batas luar piringan untuk tanaman yang berumur 3 - 6 tahun disebar merata pada gawangan mati disekitar tumpukan pelepah, pada tanaman umur lebih dari 7 tahun dengan vegetasi gulma digawangan mati tidak merugikan disebar secara merata melingkar mulai dari radius 30 cm dari pangkal pokok sampai batas luar piringan pada tanaman lebih dari 7 tahun dengan vegetasi gulma digawangan mati tidak merugikan. Selesai : 1. Kumpulkan dan ikat karung goni dan takaran. 2. Simpan semua peralatan ke dalam gudang.
43 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 027 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 SENSUS JUMLAH JANJANG No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Sensus Jumlah Janjang Persiapan : 1. Siapkan tanda – tanda sensus (baris sensus, titik sensus, dan pokok sensus) 2. Siapkan krayon merah, ballpoint, hard cover, formulir sensus, sendok, dan pengait. 3. Siapkan tim sensus, setiap tim terdiri dari 4 orang. 1 orang mensensus TS dan memegang administrasi (A), 1 orang mensensus PS 1 dan 4 (B), 1 orang mensensus PS 2 dan 3 (C), 1 orang lagi mensensus PS 5 dan 6 (D). Pelaksanaan : 1. Pastikan tanda – tanda sensus telah dibuat/ diperbaiki 2. Sensus dimulai dari blok dengan nomor kecil 3. Penyensus melakukan sensus pada baris sensus yang ditandai dengan tapak jalak pada pokok di tepi jalan 4. Tiap blok dimulai dari baris sensus pertama dan titik sensus pertama selanjutnya diteruskan kebarisan dan titik – titik sensus berikutnya. 5. Setiap ketemu titik sensus, petugas A menuju titik sensus, petugas B ke PS 4, petugas C ke PS 3 dan petugas D ke PS 5 6. Kaitkan egrek pada salah satu janjang/pelepah, sebagai titik awal perhitungan 7. Lakukan perhitungan janjangan, lalu laporkan ke petugas A untuk dicatat dan ditulis di rumpang 8. Setelah itu petugas B bergerak ke PS 1, petugas C ke PS 2 dan petugas D ke PS 6 9. Lakukan penghitungan janjangan, lalu laporkan ke petugas A untuk dicatat 10. Pindah ke TS selanjutnya. Lakukan langkah yang sama dan ulangi langkah ini sampai semua janjang dihitung 11. Serahkan hasil sensus ke mantri tanaman. Selesai : 1. Bersihkan dan simpan semua peralatan di gudang.
44 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 028 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 SENSUS PRODUKSI No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Sensus Produksi Persiapan : 1. Siapkan tanda – tanda sensus (baris sensus, titik sensus, dan pokok sensus) 2. Siapkan hard cover, kuas, parang, cat warna putih dan biru, tempat cat dan kantong plastik, tali raffia, mal, atau tanda ukuran sensus. 3. Siapkan tim sensus, setiap tim terdiri dari 3 orang. 1 orang menghitung dan menentukan baris sensus, titik sensus atau TS dan pokok sensus atau PS (A), 1 orang mengerok lokasi tapak jalak (B), 1 orang mengecat tanda tapak jalak (C) 4. Siapkan alat – alat timbang BJR. Pelaksanaan : 1. Tanda sensus dimulai dari baris ke 3 (arah timur – selatan) pada tanaman dengan arah baris tanaman utara selatan. 2. Sedangkan pada baris tanaman timur – barat arah sensus dimulai dari arah sebelah barat – selatan. 3. Petugas A menentukan lokasi tapak jalak dan ditandai dengan raffia 4. Pada baris ke 3 dari tepi jalan, petugas A menentukan TS dan PS yang telah diberi tanda tali raffia. Selanjutnya selang 5 pokok dijadikan TS. 5. Catat semua TS dan PS. 6. Pada saat bersamaan petugas B membersihkan dan mengerok pelepah pada pokok yang telah diberi tanda. 7. Setelah dikerok petugas C melakukan pengecatan tapak jalak, TS dan PS. 8. Setelah selesai, hasil sensus diserahkan ke mantri tanaman. Selesai : 1. Kumpulkan semua peralatan di gudang.
45 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 029 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 TIMBANG BJR DI LAPANGAN No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Timbang BJR di Lapangan Persiapan : 1. Siapkan timbangan pegas 50 – 100 kg, tiang penyangga, goni eks pupuk, tali nylon, gancu, form sensus BJR, hard cover dan alat tulis Pelaksanaan : 1. Dilakukan pada tanggal 20 – 30 Juni dan tanggal 20 – 31 Desember setiap tahunnya 2. Tentukan blok yang akan ditimbang BJR 3. Tentukan TPH sample, secara random yaitu TPH 1, 5, 9, 13 dst 4. Timbang BJR pada TPH sample ± ¾ TPH yang telah terisi TBS 5. Timbang TBS yang ada di TPH secara keseluruhan termasuk brondolan 6. Masukan TBS kedalam goni eks pupuk, timbang dengan timbangan pegas dan catat jumlah TBS yang ditimbang dan catat hasil kilogram penimbangan dalam form timbang BJR 7. Pindah ke TPH selanjutnya sampai diperoleh jumlah sample 20% dari total janjang panen hari itu 8. Rekap hasil timbangan dalam form rekapitulasi timbang BJR Selesai : 1. Hasil timbangan diserahkan ke mantri sensus dan dicek oleh asisten. 2. Assisten harus crosscheck ke lapangan. 3. Bersihkan semua peralatan dan simpan di gudang.
46 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 030 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 TIMBANG BJR DI PMKS No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Timbang BJR di PMKS Persiapan : 1. Siapkan alat transport untuk timbang BJR 2. Siapkan form timbang BJR Pelaksanaan : 1. Dilakukan pada tanggal 20 – 30 Juni dan tanggal 20 – 31 Desember setiap tahunnya 2. Tentukan blok yang akan ditimbang BJR 3. Pastikan TBS yang ditimbang tidak bercampur dengan TBS blok lain 4. Pastikan TBS yang akan ditimbang telah diperiksa dan dicatat oleh krani buah 5. Masukan TBS keunit transport termasuk juga brondolan. 6. Catat jumlah TBS yang diangkut dalam surat pengantar buah 7. Pastikan assisten/ mandor 1 (satu)/ kerani buah memonitor proses pengangkutan dan penimbangan 8. Isi unit transport untuk ditimbang BJR sampai penuh sesuai kapasitas muatan dan langsung ditimbang di PMKS 9. Apabila jumlah TBS yang akan ditimbang di blok tersebut tidak mencukupi kapasitas unit transport maka sesuai jumlah TBS yang ada langsung ditimbang di PMKS 10. Unit transport masuk ke PMKS menyerahkan SP buah ke pos security selanjutnya menuju tempat penimbangan untuk dilakukan timbangan kotor baik unit transportnya maupun TBS 11. Unit akan menuju loading ramp untuk menurunkan TBS 12. Unti transport menuju tempat timbang untuk dilakukan timbang bersih yaitu berat bersih tanpa TBS 13. Operator unit mengambil karcis timbang hasil penimbangan 14. Operator menyerahkan karcis timbang kepada mandor 1/ asisten 15. Rekap hasil timbangan dalam form rekapitulasi timbang BJR. Selesai : 1. Hasil timbangan diserahkan ke mantri sensus dan dicek oleh asisten. 2. Asisten harus crosscheck ke PMKS.
47 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 031 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 POTONG BUAH/ PANEN No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Potong Buah / Panen Persiapan : 1. Siapkan alat panen (egrek/ dodos, batu asah, bambu egrek/ aluminium pole, angkong,kampak, goni, dan gancu). 2. Siapkan alat pelindung diri (APD) berupa sepatu boot, sarung tangan, pelindung kepala (helm) dan alat pelindung mata (google). 3. Siapkan lokasi panen sesuai seksi potong buah. Pelaksanaan : 1. Mandor panen membagikan notes potong buah. 2. Asisten / mandor 1(satu) membagikan ancak dan menyampaikan kualitas mutu buah yang diinginkan. 3. Seluruh pemanen dan mandor mengikrarkan sapta disiplin potong buah. 4. Masing – masing mandoran mengancakkan anggotanya sesuai RKH. 5. Buat pancang panen dan letakkan notes potong buah pada pancang panen tersebut. 6. Tancapkan pancang panen di depan pasar pikul yang akan dipanen. 7. Panen dimulai dari pasar tengah/pasar kontrol mengarah ke jalan produksi. 8. Gunakan dodos untuk memotong buah pada pokok muda (rendah) dan egrek pada pokok tua (tinggi). 9. Potong semua pelepah songgo (untuk tanaman tua). 10. Potong buah tanpa memotong pelepah ( untuk tanaman muda) untuk menjaga pelepah hijau yang masih produktif. 11. Potong janjang masak dan biarkan di piringan, jangan dipindahkan ke pasar rintis. 12. Potong rapat ganggang buah (2 cm) dengan menggunakan kapak, tetapi jangan sampai terkena tandan. 13. Korek dan “sogrok” semua brondolan yang tersangkut diketiak pelepah. 14. Susun pelepah di gawangan mati/ rumpukan. 15. Kutip semua brondolan dan kumpulkan. 16.
48 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 031 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 POTONG BUAH/ PANEN No. Revisi : - Tgl. Revisi : - 17. Masukkan buah dan brondolan ke angkong dan bawa ke TPH terdekat. 18. Susun buah di TPH, pastikan setiap barisan terdiri dari 5 buah. 19. Kumpulkan brondolan dalam goni di TPH. 20. Beri nomor pemanen pada bekas potongan cangkem kodok buah. 21. Pemanen menyerahkan notes potong buah kepada kerani atau mandor panennya. Selesai : 1. Bersihkan brondolan dan TBS dari sampah dan kotoran. 2. Pastikan tidak ada buah tinggal dan berondolan tertinggal.
49 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 032 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENGECATAN POKOK TERSERANG BPB – GANODERMA No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Pengecatan Pokok Terserang BPB – Ganoderma Pengecatan Pokok Terserang BPB – G adalah pekerjaan mengecat yang dimaksudkan untuk mengidentifikasi pokok terserang BPB – G agar dapat dilakukan tindakan pengendalian. Persiapan : 1. Siapkan parang, cat minyak berwarna merah, dan kuas. 2. Siapkan alat pelindung diri berupa sarung tangan dan pelindung kepala (topi). Pelaksanaan : 1. Tentukan pokok yang terserang Ganoderma 2. Bersihkan gulma–gulma (pakis) pada ketinggian 1,5 m hanya di tempat untuk pengecatan yang menempel pada rumpang/batang pokok menghadap pasar pikul 3. Lakukan pengecatan tanda (x) dengan jelas, ukuran 50 cm x 50 cm 4. Hitung jumlah pokok yang dicat dengan tanda (x) dari pasar pikul kea rah collection road 5. Lakukan pengecatan pokok pertama pada barisan yang terdapat pokok terserang Ganoderma GD → Genoderma 2.20.27 → Nomor pokok diserang 6. Tanda dibuat menghadap kearah collection road Selesai : 1. Laporkan hasil identifikasi pokok terserang Ganoderma yang telah dilakukan kepada asisten/ askep/ manager. 2. Simpan peralatan dan bahan yang digunakan ke dalam gudang.
50 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 033 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 APLIKASI TRICHORDERMA DAN MIKORIZA PADA PEMBIBITAN No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Aplikasi Trichoderma dan Mikoriza pada Pembibitan Aplikasi Trichoderma dan Mikoriza pada Pembibitan adalah aplikasi agen hayati pada fase pembibitan untuk melindungi tanaman dari serangan jamur Ganoderma. Persiapan : 1. Siapkan polybag kecil (pre-nursery), polybag besar (main-nursery), Trichoderma, Mikoriza, cangkul, angkong, dan tanah sesuai dengan yang disyaratkan (ref. AEA – EST – OP – 1100.01 – R3, sebagai informasi tambahan). 2. Siapkan alat pelindung diri berupa sepatu boot dan sarung tangan. Pelaksanaan : Pada fase Pre-Nursery 1. Buat lubang tanam sedalam ± 7,5 cm 2. Taburkan 5 gram Trichoderma terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan penaburan 5 gram Mikoriza di dalam lubang tanam 3. Masukan kecambah kedalam lubang tanam dengan posisi akar dibawah dan kepala (pucuk) mengarah ke atas 4. Tutup lubang sampai rata (jangan ditekan keras). Pada fase Main-Nursery 1. Setelah selesai penambahan bibit pre-nursery ke main-nursery, tutup lubang dengan tanah sampai rata 2. Buat alur penaburan Tricoderma dan Mikoriza dengan kedalaman ±2 cm mengelilingi pangkal batang bibit dengan radius ±5 cm 3. Isi alur dengan 10 gram Trichoderma terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan penaburan 50 gram Mikoriza secara merata pada lingkaran alur yang telah dibuat 4. Tutup alur dengan tanah hingga merata. Selesai : 1. Simpan peralatan dan sisa bahan yang digunakan ke dalam gudang.