The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by solahudin solahudin, 2024-03-30 11:09:40

WORK INSTRUCTION

WI AGRICULTURAL

Keywords: WORK INSTRUCTION

51 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 034 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PEMBONGKARAN POKOK TERINFEKSI BPB - GANODERMA No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Pembongkaran Pokok Terinfeksi BPB – Ganoderma Pembongkaran pokok terinfeksi BPB-Ganoderma boninense adalah pekerjaan bongkar pokok dan membongkar massa tanah disekitar pokok yang terserang jamur Ganoderma sebagai usaha untuk menghentikan penyebaran serangan. Persiapan : 1. Siapkan alat berat (excavator/ backhoe loader) untuk pembongkaran tanah secara mekanis 2. Siapkan kapak/ gergaji mesin untuk pembongkaran pokok secara manual 3. Operator alat berat (excavator/ backhoe loader) menyiapkan alat pelindung diri berupa safety boot, sarung tangan, pelindung kepala (helm), dan alat pelindung pendengaran (ear plug) 4. Operator penumbang pokok manual menyiapkan alat pelindung diri berupa sepatu boot, sarung tangan, dan alat pelindung kepala (helm). Pelaksanaan : Secara mekanis 1. Mandor atau petugas yang ditunjuk mengarahkan alat berat ke areal pelaksanaan penumbangan pokok 2. Tumbang pokok dan chipping. 3. Cincang bonggol dan batang dengan ketebalan batang ±10 cm. 4. Letakan bekas cincangan di gawangan mati dan tidak boleh ditutupi dengan tanah bekas galian. 5. Bongkar atau gali lubang bekas bongkaran selebar 1,5 m x 1,5 m dengan kedalaman 1,0 m. 6. Serak hasil pembongkaran lubang setipis mungkin pada satu sisi dengan jarak 1,5 m dari lubang bongkaran. 7. Periksa lubang dengan menggunakan mal dan bila tidak sesuai standar maka langsung diperbaiki.


52 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 034 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PEMBONGKARAN POKOK TERINFEKSI BPB - GANODERMA No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Secara manual 1. Mandor atau petugas yang ditunjuk mengarahkan pekerja penumbang pokok ke areal penumbangan pokok 2. Tentukan arah penumbangan pokok, arah tumbang pokok tidak boleh ke arah pasar pikul 3. Tumbang pokok sawit dengan menggunakan kapak/ gergaji mesin secara manual. 4. Petugas/ operator tumbang manual bergerak kearah aman untuk menghindari arah jatuhnya pokok. 5. Cincang batang sawit menjadi 5 bagian dan bonggol sawit menjadi 3 bagian. 6. Letakkan bekas cincangan di gawangan mati dan tidak boleh ditutup dengan tanah bekas galian. 7. Bongkar dan gali lubang bekas bongkaran seluas 1,5 m x 1,5 m, kedalaman 1,0 m. 8. Tanah bongkaran diletakan di antara pokok dan tidak boleh menutup bekas cincangan bonggol sawit. (ref. lihat gambar 10.27 pada AEA – EST – OP – 1100.10 – R0, pengendalian hama dan penyakit, sebagai informasi tambahan). 9. Periksa lubang dengan menggunakan mal dan bila tidak sesuai standar maka langsung diperbaiki. Selesai : 1. Untuk penumbangan secara mekanis, tempatkan excavator/ backhoe loader di tempat aman, kemudian matikan mesinnya apabila tidak digunakan untuk keperluan lain lagi 2. Laporkan hasil pekerjaan penumbangan pokok terinfeksi yang telah dilakukan kepada asisten/ askep/ manager. 3. Simpan peralatan dan bahan yang digunakan ke dalam gudang.


53 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 035 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENYEMPROTAN INSEKTISIDA PENGENDALIAN ORYCTES No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Penyemprotan Insektisida Pengendalian Oryctes Penyemprotan insektisida pengendalian Oryctes adalah salah satu cara pengendalian hama Oryctes rhinoceros pada tanaman baru berumur muda hingga 30 bulan. Persiapan : 1. Siapkan bahan kimia berbahan aktif lambda sihalotrin (Polydor 25 EC) dengan dosis dan volume yang disesuaikan dengan umur tanaman (ref. table 10.16. volume semprot insektisida Polydor 25 EC pada beberapa umur tanaman, AEA – EST – OP – 1100.10- R2, sebagai referensi tambahan). 2. Siapkan mobil tangki yang tersedia khusus untuk bahan kimia insektisida (tidak boleh menggunakan mobil). 3. Siapkan peralatan yang digunakan untuk semprot berupa knapsack sprayer,extended lance (gagang pendek 50 cm untuk TBM 1 dan gagang panjang 100 cm untuk TBM 2), dan nozzle solid cone. 4. Lakukan kalibrasi volume semprot nozzle. 5. Siapkan alat pelindung diri berupa sepatu boot, sarung tangan karet, masker, celemek/ apron, pelindung mata (google), dan pelindung kepala (topi). Pelaksanaan : 1. Buat rencana penyemprotan dengan mengisi RKH semprot satu hari sebelum penyemprotan 2. Mengisi bon permintaan pemakaian bahan lalu mencatatnya ke dalam buku material sebagai kontrol pemakaian bahan 3. Lakukan kalibrasi sebelum melakukan penyemprotan diawasi oleh asisten afdeling, kalibrasi alat semprot dilakukan 1 minggu sekali 4. Masukan air kedalam tangki truk semprot satu hari sebelum penyemprotan 5. Lakukan penyemprotan insektisida ke dalam tangki truk semprot pada hari – H pukul 06:00 wib (dilakukan di gudang dan disaksikan oleh asisten/askep) 6. Aduk larutan hingga merata dan tercampur sempurna 7. Naikkan alat semprot ke dalam truk semprot 8. Penyemprot menggunakan seluruh alat pelindung diri yang telah disiapkan 9. Penyemprot mengambil alat semprot 10. Pastikan jenis dan ukuran nozzle (solid cone) yang seragam untuk semua penyemprot.


54 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 035 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENYEMPROTAN INSEKTISIDA PENGENDALIAN ORYCTES No. Revisi : - Tgl. Revisi : - 11. Penyemprot memasukan larutan semprot kedalam knapsack sprayer sebanyak volume knapsack. 12. Mandor semprot menunjukan ancak setiap penyemprot. 13. Penyemprot menancapkan bendera merah di depan ancak yang diberikan oleh mandor 14. Penyemprot menggendong knapsack dan memompa 7 – 8 kali sebelum menekan handle dan melakukan penyemprotan 15. Semprot bagian kiri dan kanan pangkal pupus, – Untuk tanaman yang berumur <6 bulan penyemprotan dilakukan pada pangkal batang sampai pangkal pupus – Untuk tanaman yang lebih tua, hanya disemprotkan pada bagian pangkal pupus saja yang dilakukan dari dua sisi yang bertolak belakang 16. Beri tanda kode nama penyemprot dengan menggunakan paku pada pangkal pelepah pokok pertama barisan 17. Apabila di tengah – tengah penyemprot kehabisan bahan larutan, maka penyemprot akan menancapkan bendera kuning sebagai tanda batas akhir penyemprotan semula dan selajutnya penyemprot akan mengisi kembali knapsack dengan larutan dan meneruskan penyemprotan pada ancak tersebut dimulai dari bendera kuning yang ditancapkan tadi. Selesai : 1. Hitung pemakaian racun 2. Racun sisa disimpan di gudang dan dapat digunakan untuk pemakaian berikutnya. 3. Hindari meletakan alat untuk penyemprotan insektisida (beri tanda knapsack warna kuning) bercampur dengan alat untuk penyemprotan herbisida (beri tanda knapsack warna merah). 4. Bilas semua peralatan dengan air. 5. Simpan semua peralatan di dalam gudang afdeling.


55 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 036 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PEMASANGAN PHEROMONE TRAP No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Pemasangan Pheromone Trap Pemasangan pheromone trap adalah salah satu metode pengendalian hama kumbang badak (Oryctes rhinoceros). Metode ini hanya digunakan pada areal replanting dan areal pengembangan baru. Persiapan : 1. Siapkan balok kayu/ bambu sepanjang 3 – 4 m (diameter ± 10 cm), batang kayu 50 cm, dan kayu – kayu pendek pendukung lainnya 2. Siapkan corong, botol plastik bekas/ember (beri lubang – lubang kecil pada dasar ember), tali, plat seng tebal 0,05 cm (40 cm x 30 cm), cat, dan pheromone sachet. Pelaksanaan : 1. Gali lubang sedalam 50 cm dan diameter 20 cm 2. Konstruksi rangka dasar (ref. gambar 10.15, AEA – EST – OP – 1100.10 – R2, pengendalian hama penyakit, sebagai informasi tambahan) 3. Tiang yang telah dirancang, berdiri tegak 4. Tiang dimasukan ke dalam lubang yang telah digali 5. Sambil berdirikan tiang, timbun tanah dan padatkan agar tiang tidak mudah rubuh 6. Beri nomor menggunakan cat pada setiap pheromone trap ( tiang). 7. Ikatkan tali atau kait untuk memasang pheromone trap yang dipasang. 8. Pastikan pheromone sachet telah terpasang pada pheromone trap. 9. Kaitkan pheromone trap pada tiang yang telah terpasang. 10. Pastikan pheromone trap tidak mudah jatuh jika tertiup oleh angin. 11. Ganti pheromone sachet setiap ± 2 bulan sekali. Selesai : 1. Simpan semua peralatan di dalam gudang.


56 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 037 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 SENSUS RAYAP No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Sensus Rayap Sensus rayap adalah salah satu metode yang dilakukan untuk mengetahui populasi pokok terserang rayap (Coptotermes curvignatus). Persiapan : 1. Siapkan cat berwarna kuning, kuas, parang, tempat cat, dan formulir deteksi dan pengendalian rayap (ref. Lamp. 10.H., AEA – EST – OP – 1100.10 – R2, pengendalian hama dan penyakit, sebagai informasi tambahan). Pelaksanaan : 1. Asisten menentukan blok sensus pada rencana kerja harian (RKH) 2. Petugas harus menyusuri setiap pasar pikul di blok – blok rencana sensus 3. Petugas mengamati secara teliti setiap pokok di kedua barisan pada pasar pikul di blok tersebut 4. Beri tanda (x) dengan cat berwarna kuning pada batang apabila ada teridentifikasi ada serangan rayap pada pokok tersebut 5. Tanda harus dilihat dengan jelas dari pasar pikul 6. Tandai pokok pertama pada barisan tersebut dengan (↑) berwarna kuning, mengarah ke arah jalan collection, dan dapat dilihat dengan jelas. Selesai : 1. Ringkas data hasil sensus dengan formulir deteksi dan pengendalian rayap (ref. Lamp.10.H., AEA – EST – OP – 1100.10 – R2, Pengendalian Hama Penyakit, sebagai informasi tambahan). 2. Laporkan kepada asisten/askep/manager mengenai tingkat serangan rayap. 3. Simpan peralatan dan bahan yang digunakan di dalam gudang.


57 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 038 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENGENDALIAN RAYAP No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Pengendalian Rayap Pengendalian rayap adalah tindakan yang dilakukan untuk mengendalikan populasi rayap (Coptotermes curvignathus) di areal rawan serangan rayap agar dapat mempertahankan populasi kelapa sawit. Persiapan : 1. Siapkan larutan insektisida dengan bahan aktif fipronil 0,15% (dimasukkan 1,5 ml fipronil untuk setiap liter air) 2. Siapkan penyiram tanaman/ gembor dengan ukuran (untuk replanting/ TBM), knapsack (untuk TM), jerigen air, dan gelas takar (untuk penakaran 1,5 ml fipronil 0,15%) 3. Periksa fungsi alat semprot dan lakukan kalibrasi Pelaksanaan : Replanting/ tanaman baru pada lowland 1. Semua titik tanam harus disiram dengan insektisida fipronil 2. Sebelum tanam, lubang tanam disiram dengan 1 liter air larutan fipronil 3. Setelah tanam, siram 1 liter larutan insektisida secara merata ke sekeliling pangkal pokok dengan radius 30 cm. Pada tanaman belum menghasilkan (TBM 2 dan 3) 1. Siram 2 liter larutan insektisida di piringan dengan radius ±30 cm (TBM 2) 2. Siram lagi 2 liter larutan insektisida ke piringan dengan radius ±30 cm (TBM 3). Tanaman TM sebelum tahun 2010 1. Pengendalian harus dilakukan satu hari setelah sensus 2. Garuk jalur rayap pada pangkal pelepah dan batang pokok terserang 3. Semprot larutan insektisida dengan menggunakan knapsack sprayer sebanyak 2 liter pada batang 4. Semprot larutan insektisida sebanyak 3 liter pada tanah secara merata dengan radius 30 cm di sekeliling pangkal pokok terserang 5. Lakukan cara no. 4 pada 6 (enam) pokok disekeliling pokok terserang. 6. Tuliskan tanggal dan bulan aplikasi pada pokok terserang dan untuk 6 (enam) pokok sekelilingnya diberikan tanda titik kuning (dotting) 7. Cek efektivitas aplikasi insektisida 2 minggu setelah aplikasi.


58 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 038 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENGENDALIAN RAYAP No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Pada pokok mati 1. Bongkar pangkal batang 2. Letakan pada gawangan mati 3. Hancurkan tanah yang menjadi jalur – jalur rayap 4. Semprotkan dengan knapsack sprayer larutan insektisida sebanyak 2 liter per pokok secara merata 5. Apabila ada lubang bekas galian terdapat rayap, siram lubang tersebut secara merata dengan menggunakan 3 liter larutan insektisida 6. Semprotkan juga larutan insektisida sebanyak 3 liter pada 6 pokok sekeliling pokok mati 7. Tuliskan tanggal dan bulan aplikasi pada pokok terserang dan untuk 6 (enam) pokok disekelilingnya diberikan tanda titik kuning (dotting). Selesai : 1. Mengisi administrasi deteksi dan pengendalian rayap (ref. Lampiran 10.H., AEA – EST – OP – 1100.10 – R2, Pengendalian Hama dan Penyakit, sebagai informasi tambahan) 2. Hitung pemakaian racun. 3. Racun sisa disimpan dalam gudang dan dapat digunakan untuk pemakaian berikutnya. 4. Hindari meletakan alat untuk penyemprotan insektisida bercampur dengan alat untuk penyemprotan herbisida. 5. Bilas semua peralatan dengan air. 6. Simpan semua peralatan di dalam gudang.


59 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 039 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 SENSUS HAMA PEMAKAN DAUN, TIKUS DAN TIRATHABA No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Sensus Hama Pemakan Daun, Tikus, dan Tirathaba. Sensus hama pemakan daun, tikus dan tirathaba adalah metode pemantauan yang berfungsi untuk mengetahui penyebaran hama, jenis, lokasi serangan, kondisi musuh alami, dan bertujuan untuk menetapkan langkah pengendaliannya Persiapan : 1. Siapkan tanda sensus (baris sensus, titik sensus, dan pokok sensus) 2. Siapkan hard cover, ballpoint, pengait daun, dan formulir sensus 3. Siapkan egrek untuk mengambil daun sample pada pokok tinggi 4. Tim sensus terdiri dari 3 orang (1 orang untuk pengamatan, 1 orang untuk mencatat, 1 orang untuk mengait/ mengegrek daun sample) 5. Siapkan alat pelindung diri : - Untuk petugas yang mengamati dan mencatat : sepatu boot, sarung tangan dan pelindung kepala (topi). - Untuk petugas yang mengegrek daun sample : sepatu boot, sarung tangan, pelindung mata (google) dan pelindung kepala (helm). Pelaksanaan : 1. Pastikan tanda – tanda sensus hama dan penyakit telah dibuat / diperbaiki 2. Seluruh blok di afdeling dilakukan sensus hama penyakit 3. Tim sensus memperhatikan baris sensus pada blok yang ditunjuk dengan tanda segitiga terbalik berwarna kuning (ref. Gambar 10.1. Skema Sistem Sensus Titik Tetap, AEA – EST – OP – 1100.10 – R2, sebagai informasi tambahan) 4. Tim memasuki pasar pikul dimana terdapat tanda baris sensus 5. Tim sensus berjalan menyusuri pasar pikul dan sambil memperhatikan tanda sensus berbentuk segitiga terbalik berwarna kuning 6. Petugas A melakukan pengaitan pelepah (<7 tahun) dan pemotongan pelepah (>7 tahun) 7. Petugas B melakukan penghitungan jumlah hama pemakan daun/pelepah, kondisi hama pemakan daun (sehat/ terserang parasit), stadia hama, jenis hama pemakan daun, jumlah pokok yang berondolannya terserang tikus (terdapat 3 berondolan dengan keratan baru) dan jumlah pokok yang berondolannya terserang tirathaba.


60 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 039 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 SENSUS HAMA PEMAKAN DAUN, TIKUS DAN TIRATHABA No. Revisi : - Tgl. Revisi : - 8. Jika terdapat ulat kantong, maka kantong harus dipencet untuk memastikan hidup (ulat atau telur) atau mati (kosong). 9. Petugas C melakukan pencatatan terhadap administrasi formulir perhitungan serangan tikus dan formulir perhitungan serangan hama pemakan daun secara rinci dan teliti (ref. Lamp. 10.A& Lamp. 10.B., AEA – EST – OP – 1100.10 – R2, Pengendalian Hama Penyakit, sebagai informasi tambahan). 10. Sensus juga pokok sebelah kiri dan sebelah kanan pokok dengan tanda titik sensus (pokok berbeda untuk menghindari defoliasi). 11. Jalan 10 pokok lagi ke depan pasar pikul dan temukan tanda segitiga kuning terbalik yang sama, lalu lakukan langkah 6 – 10 secara berulang – ulang. Selesai : 1. Merekapitulasi serangan hama dan penyakit pada formulir rekapitulasi hasil sensus serangan tikus dan tirathaba dan formulir rekapitulasi hasil sensus hama pemakan daun (ref. Lamp. 10.C dan Lampiran 10.D., AEA – EST – OP – 1100.10 – R2, Pengendalian Hama Penyakit, sebagai informasi tambahan). 2. Laporkan hasil rekapitulasi dan detail sensus kepada asisten/ askep/ manager. 3. Simpan semua peralatan di dalam gudang. 4. Rencanakan tindakan pencegahan hama dan penyakit yang dilakukan.


61 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 040 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENGASAPAN (FOGGING) No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Pengasapan (fogging) Pengasapan (fogging) adalah metode aplikasi insektisida kimia/ agen hayati untuk pengendalian hama pemakan daun dengan mengubah bentuk insektisida menjadi asap Persiapan : 1. Siapkan alat berupa K-22 bio, ember tempat pencampuran, gelas ukur, pengaduk, dan senter/ alat penerangan lain 2. Siapkan bahan berupa insektisida (berbahan aktif – sihalotrin / polydor 25 EC, virus atau bakteri bacillus thuringiensis), solar, dan air 3. Siapkan alat pelindung diri : - Untuk petugas fogging : sepatu boot, sarung tangan, masker karbon, dan pelindung mata (google) - Untuk petugas pembuat campuran : sepatu, sarung tangan, dan pelindung wajah (visor) Pelaksanaan : 1. Pastikan blok yang akan dikendalikan adalah blok yang tepat dan memiliki tingkat serangan yang tinggi sesuai dengan hasil sensus 2. Pastikan kondisi udara tenang (baik di malam hari maupun pagi hari) 3. Isi bensin dalam tangki bahan bakar 4. Masukkan campuran insektisida (polydor 25 EC) dan solar ke dalam tangki depan K – 22 Bio dengan ukuran : - Untuk tanaman berumur < 10 tahun; 1000 ml air, 100 ml emulgator, 250 ml Polydor, dan 3.650 ml solar - Untuk tanaman berumur 10 – 15 tahun; 500 ml air, 50 ml emulgator, 250 ml Polydor, dan 3700 ml solar - Untuk tanaman berumur > 15 tahun; 300 ml polydor, dan 4700 ml solar 5. Kencangkan pengikat kedua tangki dan tutup kedua katupnya. 6. Tekan karet primer dengan hati – hati sambil memutar spuyer kearah kiri sampai mesin hidup dan stabil. 7. Buka katup belakang dan pastikan air keluar kemudian buka katup depan sehingga asap keluar. 8. Gendong fogger K – 22 Bio dengan posisi moncong resonator menghadap ke samping atau membelakangi petugas.


62 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 040 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENGASAPAN (FOGGING) No. Revisi : - Tgl. Revisi : - 9. Petugas berjalan zig – zag mendatangi setiap pokok disebelah kiri dan kanan pasar pikul. 10. Atur kecepatan jalan petugas sehingga campuran insektisida dalam tangki depan tepat habis untuk pengasapan area satu Ha (±138 pokok atau dua pasar pikul). 11. Turunkan fogger dalam keadaan hidup, lalu kendorkan tutup tangki depan dan tutup katub depan. Biarkan air masih keluar sebentar dan asap telah bersih agar tidak terjadi kerak pada nozzle. Setelah itu kendorkan tutup tangki belakang dan tutup katup air 12. Putar spuyer ke kanan sampai mesin mati 13. Isi bensin, campuran racun, air masing – masing tempatnya dan lakukan pengasapan selanjutnya. Selesai : 1. Biarkan fogger menjadi dingin, setelah itu dibersihkan 2. Semua peralatan dan sisa bahan dinaikan ke dalam dump truck untuk disimpan dalam gudang 3. Isi laporan daily cost book untuk pengendalian hama pemakan daun 4. Lakukan sensus evaluasi 4 (empat) hari setelah dilakukan pengasapan insektisida kimia dan 7 (tujuh) hari setelah pengasapan dengan virus atau bakteri 5. Lakukan pengasapan rotasi kedua apabila populasi masih di atas ambang. Keterangan Tambahan : Cara Pembuatan Campuran A. Insektisida kimia, virus, atau bakterisida formulasi pasta - Masukan air kedalam ember terlebih dahulu kemudian campurkan emulgator dan aduk hingga merata - Takar insektisida sesuai umur tanaman, masukan dalam larutan dan aduk hingga merata - Sambil diaduk, masukan secara perlahan solar hingga terbentuk emulsi dan campuran yang merata - Masukan campuran ke dalam tangki depan fogger. - Untuk tanaman yang berumur < 15 tahun maka campuran hanya berisi insektisida dan solar.


63 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 040 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENGASAPAN (FOGGING) No. Revisi : - Tgl. Revisi : - B. Bakteri formulasi WP (Wettable Powder) - Timbang bakterisida kemudian campur dengan satu liter solar dan biarkan mengendap selama 15 menit - Endapan dibuang sedangkan cairan ditambah dengan 3,5 liter solar lalu diaduk sampai merata - Masukan campuran ke dalam tangki depan


64 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 041 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 LIGHT TRAP No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Light Trap Light trap adalah metode yang digunakan untuk menangkap ngengat setothosea asigna, setora nitens, dan darna trima. Persiapan : 1. Siapkan alat dan bahan berupa genset (daya 900 – 1000 watt), 10 – 15 buah lampu TL 20 watt, kabel 25 m sebanyak 10 – 15 buah, 10 – 15 lembar plastik ukuran 1,5 m x 1,5 m, oli bekas 10 liter 2. Siapkan alat pelindung diri berupa sepatu boot dan sarung tangan. Pelaksanaan : 1. Letakan genset di tepi jalan produksi (collection road) pada area yang terdapat ngengat ulat api pada petang hari. 2. Instalasi kabel sepanjang tepi jalan dan tancapkan penyangga lampu di tempat yang rata. 3. Letakkan alas plastik yang telah diolesi permukaanya dengan oli bekas di bawah sebagai perangkap. 4. Hidupkan lampu ketika hari gelap. 5. Biarkan ngengat mendatangi lampu dan masuk ke dalam perangkap. 6. Kumpulkan dan hitung jumlah ngengat hama sasaran yang tertangkap. Selesai : 1. Isi laporan daily cost book untuk pengendalian hama pemakan daun. 2. Laporkan hasil pekerjaan light trap kepada asisten/ askep/ manager. 3. Lakukan sensus intermediate 2 (dua) minggu setelah dilakukan pengendalian dengan light trap. 4. Lakukan pengamatan terhadap perkembangan hama dan lakukan pengendalian kembali apabila diperlukan.


65 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 042 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 NENAS TRAP No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Nenas Trap Nenas trap adalah metode yang digunakan untuk menangkap ngengat setora nitens, dan amathusia phidippus. Persiapan : 1. Siapkan alat dan bahan berupa kotak ukuran 50 cm x 40 cm x 40 cm dengan dinding dari kawat kasa atau jaring nilon dengan pintu masuk dari bawah lebar ±7 cm (ref. Gambar 10.4., AEA – EST – OP – 1100.10. – R2, Pengendalian Hama Penyakit, sebagai informasi tambahan) 2. Siapkan lembaran plastik, air, tali nilon/raffia, dan nenas. 3. Siapkan alat pelindung diri berupa sepatu dan sarung tangan. Pelaksanaan : 1. Ratakan tanah di tepi blok di dekat gawangan mati 2. Gali tanah rata tersebut dengan ukuran luas 40 cm x 40 cm, kedalam 5 cm 3. Letakkan alas plastik pada bekas galian tanah tersebut. 4. Tuangkan air di atas lembaran plastik sampai setinggi 2 cm sehingga membentuk genangan yang memenuhi galian yang digali tadi. 5. Letakkan kotak perangkap diatasnya. 6. Kumpulkan dan hitung jumlah ngengat hama sasaran yang terperangkap. Selesai : 1. Laporkan hasil pekerjaan nenas trap kepada asisten/askep/manager. 2. Lakukan sensus intermediate 2 (dua) minggu setelah dilakukan pengendalian dengan nenas trap. 3. Lakukan pengamatan terhadap perkembangan hama dan lakukan pengendalian kembali apabila diperlukan.


66 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 043 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 KAMPANYE PENGUMPANAN PENGENDALIAN TIKUS No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Kampanye Pengumpanan Pengendalian Tikus Kampanye pengumpanan pengendalian tikus adalah metode pengendalian tikus dengan cara pemberian umpan secara berulang. Persiapan : 1. Siapkan racun tikus (Racumin CF – 20) dan ember 2. Siapkan alat pelindung diri berupa sepatu boot dan sarung tangan. Pelaksanaan : 1. Pastikan serangan pada blok yang akan dikendalikan memiliki pokok terserang baru (PTB) > 5% 2. Petugas berjalan sepanjang pasar pikul untuk meletakan satu butir umpan disetiap piringan dekat pangkal batang ke arah pasar pikul 3. Ganti umpan yang hilang dimakan tikus setiap 3 hari 4. Sensus PTB dan umpan yang dikonsumsi oleh tikus tiga hari setelah rotasi ke-3. Bila PTB < 5% atau umpan hilang dimakan tikus < 20% maka pengumapan dapat dihentikan. Bila PTB > 5% atau umpan hilang dimakan tikus > 20% maka lakukan pengumpanan rotasi ke – 4 5. Sensus PTB dan umpan yang dikonsumsi oleh tikus tiga hari setelah rotasi ke – 4. Bila PTB < 5% maka pengumpanan dapat dihentikan. Bila PTB masih > 5% maka pengumpanan dapat dilanjutkan sampai PTB turun menjadi < 5%. Pada Pembibitan Main-Nursery - Letakkan 1 (satu) butir racun tikus per bibit di 3 (tiga) lapis barisan terluar sehingga memagari area bibitan - Lakukan sensus dua hari setelah aplikasi pengumpanan - Ganti umpan selang 3 (tiga) hari selama tikus menyerang Pada Tanaman Belum Menghasilkan (0 – 24 bulan) - Sensus semua pasar pikul setiap 3 (tiga) bulan sekali - Laporkan hasil sensus - Letakan 3 (tiga) butir racun tikus pada pokok terserang baru - Letakan masing – masing 3 (tiga) butir racun tikus pada 6 (enam) pokok disekeliling pokok terserang baru


67 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 043 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 KAMPANYE PENGUMPANAN PENGENDALIAN TIKUS No. Revisi : - Tgl. Revisi : - - Amatilah perkembangan kondisi pokok terserang. Bila ditemukan serangan baru ≥ 2 pokok/ha maka dilakukan satu kampanye pengumpanan pada areal terserang saja. Pada tanaman belum menghasilkan (TBM-3) dan tanaman menghasilkan (≥ 24 bulan) - Sensus PTB setiap 6 bulan. Bila PTB > 5% maka diberikan satu kampanye pengumpanan. Selesai : 1. Isi administrasi formulir Pemantauan Kampanye Pengumpanan Racun Tikus (ref. Lamp. 10.E. AEA – EST – OP – 1100.10. – R2, Pengendalian Hama Penyakit. Sebagai informasi tambahan). 2. Hitung pemakaian racun dan racun sisa. 3. Laporkan kepada asisten/ askep/ manager. 4. Simpan alat dan bahan yang digunakan ke dalam gudang.


68 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 044 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 KUTIP KUMBANG ORYCTES RHINOCEROS No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Kutip Kumbang Oryctes rhinoceros Kutip gendon adalah salah satu metode pengendalian kumbang tanduk, dengan cara mengumpulkan dan mematikan gendon maka jumlah kumbang tanduk yang menyerang tanaman sawit akan berkurang. Persiapan : 1. Siapkan karung goni eks pupuk sebagai tempat pengumpulan larva 2. Siapkan ember ukuran 20 liter dan air 3. Siapkan sarung tangan, masker, dan pelindung kepala (topi). Pelaksanaan : 1. Mandor mengancakan pekerja 2. Pengutip menjalani setiap rumpukan cincangan batang yang menjadi ancaknya 3. Bongkar rumpukkan yang ada ciri – ciri kotoran atau gerekan gendon. Biasanya banyak terdapat pada cincangan ujung batang 4. Kutip gendon, pupa, atau imago Oryctes rhinoceros yang ditemukan 5. Masukan ke dalam karung dan bawa ke kantor afdeling 6. Hitung jumlah gendon, pupa, atau kumbang muda yang dikutip 7. Isi ember dengan air hingga penuh 8. Rendam gendon, pupa, atau kumbang muda yang dikutip ke dalam air Selesai : 1. Pastikan bahwa larva, pupa, dan imago Oryctes telah mati semuanya 2. Simpan peralatan dan sisa bahan yang digunakan dalam gudang.


69 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 045 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PEMBUATAN TAPAK KUDA No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Pembuatan Tapak Kuda Pembuatan tapak kuda adalah metode yang digunakan untuk pencegahan erosi, kerusakan tanah, dan menjaga agar fungsi tanah dan air maksimal pada kondisi lahan yang curam. Tujuannya adalah mempersiapkan tempat yang baik dan maksimal untuk pertumbuhan tanaman di areal yang bertofografi bergelombang sampai dengan berbukit. Persiapan : 1. Siapkan cangkul, goni pupuk bekas (untuk daerah yang curam dengan kemiringan 130 – 200 , dan meteran (panjang ± 3 meter). 2. Siapkan alat pelindung diri berupa sepatu boot, sarung tangan, dan topi. Pelaksanaan : Untuk tanah yang agak miring (60 – 120 ) 1. Bersihkan permukaan tanah dari humus, akar – akar, tunggul, dan kayu 2. Buat jari – jari ± 1,5 meter – 2 meter diameter dari pancang lubang tanam 3. Gali tanah dari tempat yang lebih tinggi dan timbun di sisi yang lebih rendah membentuk kemiringan sudut 100 – 150 (ref. gambar 5.2. Penampang Melintang Tapak Kuda, AEA – EST – OP – 1100.05 – R1, Konservasi Tanah dan Air, sebagai informasi tambahan) 4. Lakukan pengerasan (penggeblekan) hingga padat. Untuk kemiringan tanah (13 0 – 20 0 ) 1. Bersihkan permukaan tanah dari humus, akar – akar, tunggul, dan kayu 2. Buat diameter ±1,5 – 2 meter dari pancang lubang tanam 3. Gali tanah dari tempat yang lebih tinggi dan masukan tanah tersebut ke dalam goni 4. Susun goni yang telah terisi dengan tanah pada sisi yang lebih rendah dengan model susunan dinding bata 5. Timbun tanah dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah membentuk kemiringan sudut 10 0 – 15 0 (ref. gambar 5.2. Penampang Melintang Tapak Kuda, AEA – EST – OP – 1100-.05. – R1, Konservasi Tanah dan Air, sebagai informasi tambahan) 6. Lakukan pengerasan (penggeblekan) hingga padat. Selesai : 1. Simpan alat dan bahan yang digunakan ke dalam gudang.


70 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 046 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PERSIAPAN BABY BAG UNTUK PRE - NURSERY No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Persiapan Baby Bag untuk Pre – Nursery Persiapan baby bag untuk pre – nursery adalah tahap persiapan sebelum menanam kecambah ke dalam baby bag. Persiapan : 1. Siapkan baby bag bahan polytene hitam kualitas baik, lebar 15 cm, panjang 23 cm, dan tebal 0,1 mm (300 gauge), terdapat drainase. 2. Siapkan tanah sebagai media (ref. poin 5.1.3.2., AEA – EST – 1100.01 – R3, Pembibitan, sebagai referensi tambahan) dan solid. Pelaksanaan : 1. Buat arah bedengan memanjang dari timur – barat, panjang 1 bedengan maksimum 100 meter, lebar 1,5 meter, jarak antar bedengan 1,0 meter, pasang kawat setinggi 15cm pada tepi bedengan. 2. Tanah diayak dengan mata ayakan 1 cm. 3. Campur tanah dengan limbah solid yang telah matang, perbandingan tanah dengan solid = 1 : 6. 4. Campur tanah dengan pupuk TSP ( 5 gram/baby bag) atau RP (10 gram/baby bag). 5. Isi tanah ke dalam baby bag sampai penuh (±1 kg per baby bag). Dilarang mengisi tanah basah terutama yang berkadar liat tinggi. 6. Hentak – hentakan baby bag hingga tanah di dalamnya menjadi kompak. 7. Lakukan konsolidasi apabila permukaan tanah turun. 8. Susun baby bag hingga membentuk bedengan selebar ±150 cm (10 baby bag). 9. Siram setiap hari dengan menggunakan gembor. Selesai : 1. Tanah harus siap minimal 2 (dua) minggu sebelum kecamabah ditanam. 2. Tanah yang telah diayak dan sisanya ditutup menggunakan terpal. 3. Simpan peralatan dan bahan sisa yang digunakan di gudang..


71 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 047 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PEMBIBITAN PRE - NURSERY No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Pembibitan Pre – Nursery Pembitan pre – nursery adalah tahap awal pembibitan dengan menanam kecambah ke dalam baby bag. Persiapan : 1. Siapkan kecambah (bahan tanam). 2. Siapkan baby bag bahan polytene hitam kualitas baik yang telah terisi dengan tanah 3. Siapkan papan label (bahan tripleks) ukuran 20 cm x 15 cm, dengan kayu pemancang papan label sepanjang ± 40 cm . 4. Siapkan gembor dan stik panjang 5 cm berdiameter 3 cm. Pelaksanaan : 1. Buatkan lubang tepat di tengah baby bag dengan menggunakan stik dengan kedalaman 2 – 2,5 cm. 2. Letakkan kecambah dengan posisi akar disebelah bawah dan pucuk menghadap ke atas. 3. Timbun dengan tanah setebal 1 – 1,5 cm (tidak boleh dipadatkan/ ditekan) 4. Siram dengan menggunakan gembor sampai kapasitas lapang (air tidak boleh menggenang). 5. Segera pasang papan label yang telah disiapkan (ref. gambar 1.2., Papan Label Kelompok Bibit di Pre Nursery dan Main Nursery, AEA – EST – OP – 1100.01 – R3, Pembibitan, sebagai referensi tambahan). 6. Untuk daerah dengan tingkat serangan Ganoderma yang tinggi, penanaman bibit menggunakan aplikasi Trichoderma dan Mikoriza (ref. Point 14.4.2., AEA – EST – OP – 1100.10 – R2, Pengendalian Hama Penyakit, sebagai referensi tambahan). Selesai : 1. Tanah harus siap minimal 2 (dua) minggu sebelum kecambah ditanam. 2. Simapan peralatan dan bahan sisa yang digunakan di gudang.


72 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 048 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PERSIAPAN LARGE BAG UNTUK MAIN – NURSERY No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Persiapan Large Bag untuk Main – Nursery Persiapan large bag untuk main – nursery adalah tahap persiapan sebelum melakukan pemindahan (transplanting) bibit dari pre – nursery ke main – nursery. Persiapan : 1. Siapkan large bag bahan polytene hitam berkualitas baik dan terdapat lubang untuk drainase, ukuran 40 cm x 50 cm, tebal 0,15 cm (500 gauge). 2. Siapkan tanah sebagai media (ref. ., AEA – EST – 1100.01 – R3, Pembibitan, sebagai referensi tambahan) dan solid matang (terdekomposisi ±1 bulan) 3. Siapkan gembor untuk penyiraman. Pelaksanaan : 1. Tanah diayak dengan ayakan 1 cm 2. Campurkan tanah dengan limbah solid, perbandingan limbah solid dan tanah = 1 : 6 3. Isi tanah ke large bag ±20 kg sampai setinggi ±1 cm dari bibir kantong. 4. Tegakkan posisi large bag agar tidak bengkok 5. Padatkan tanah di dalam large bag dengan menghentak – hentakan large bag(dilarang mengangkat large bag pada bagian bibir) 6. Ratakan dan tambahkan lagi tanah ke dalam large bag sehingga permukaan tanah 2 cm dari bibir large bag. 7. Susun di area yang telah disiapkan untuk main – nursery dengan jarak tanam 90 cm x 90 cm x 90cm. 8. Cabut gulma yang tumbuh di dalam large bag. 9. Siram dengan menggunakan gembor agar tanahnya menjadi lembab dan kompak. Selesai : 1. Tanah harus siap minimal 1 bulan sebelum pelaksanaan transplanting ke Main – nursery. 2. Tanah yang telah diayak dan sisa ditutup dengan menggunakan terpal. 3. Simpan peralatan dan bahan sisa yang digunakan di gudang.


73 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 049 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENYIRAMAN BIBIT No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Penyiraman Bibit Penyiraman bibit adalah salah satu pekerjaan penting dalam fase pembibitan yang bertujuan untuk menjaga kekompakan dan kelembaban tanah. Persiapan : 1. Siapkan plot area pembibitan pre – nursery dan main – nursery. 2. Siapkan selang sumisansui dengan spesifikasi lebar selang 50 mm, bahan polyetilene special, panjang selang 100 meter/ gulung. 3. Gembor sebagai alat penyiram di pre – nursery. 4. Drum pada setiap blokpre – nursery sebagai tempat penampungan air. Pelaksanaan : Pre – Nursery 1. Periksa pengukur hujan (ombrometer) apabila > 8 mm, maka tidak perlu dilakukan penyiraman pada pagi harinya. 2. Siram dengan menggunakan gembor dengan menggunakan persediaan air dari drum 3. Siram bibit 0,2 – 0,3 liter/ bibit/ hari. 4. Siram dua kali sehari yaitu pagi dan sore hari. Main – Nursery 1. Periksa pengukur hujan (ombrometer)apabila > 10 mm, maka tidak perlu dilakukan penyiraman pada pagi harinya 2. Pastikan instalasi sumisansui untuk blokmain – nursery telah terpasang dan terhubung dengan pompa (ref. Gambar 1.7. Layout Sumisansui di Main – Nursery, AEA –EST – OP – 1100.01 – R3, Pembibitan, sebagai referensi tambahan) 3. Buka 3 (tiga) keran/ katup hanya pada area yang akan disiram 4. Bersihkan filter pada pipa pompa air 5. Hidupkan pompa 6. Penyiraman bibit main – nursery dari pukul 07:00 wib – 11:00 wib dan dari pukul 15:00 wib – 17:00 wib. 7. Pastikan kalau air dapat mengalir melalui lubang – lubang pada pipa sumisansui 8. Tusuk lubang dengan menggunakan lidi atau jarum jika ada lubang yang tersumbat.


74 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 049 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENYIRAMAN BIBIT No. Revisi : - Tgl. Revisi : - 9. Siram satu plot selama 30 menit. 10. Buka 3 (tiga) keran/katup pada area yang akan disiram selanjutnya. 11. Tutup keran/katup pada plot area yang sebelumnya telah disiram. 12. Lakukan petunjuk 9 dan 10 berulang – ulang hingga seluruh area tersirami dengan sempurna. 13. Matikan pompa. 14. Tutup keran. Selesai : 1. Kumpulkan baby bag dalam blok. 2. Simpan semua peralatan dan bahan sisa yang digunakan di gudang.


75 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 050 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PEMBIBITAN MAIN - NURSERY No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Pembibitan Main-Nursery Pembibitan Main – Nursery adalah tahap lanjutan pembibitan dengan melakukan transplanting bibit dari baby bag ke dalam large bag. Persiapan : 1. Siapkan bibit pre – nursery (bahan tanam) 2. Siapkan large bag bahan polytene hitam kualitas baik yang telah diisi dengan tanah 3. Siapkan papan label (bahan tripleks) ukuran 30 cm x 25 cm, dengan kayu pemancang papan label sepanjang ± 65 cm. 4. Siapkan gembor dan pipa melubang/ dop yang panjang dan diameternya sesuai dengan besarnya baby bag (ref.: Gambar 1.8., Teknis melubang dan menanam bibit di Main-Nursery, AEA – EST – OP – 1100.01 – R0, pembibitan, sebagai referensi tambahan). Pelaksanaan : 1. Siram tanah di large bag dengan air sampai jenuh 2. Buat lubang di tengah-tengah large bag dengan menggunakan dop 3. Potong dasar dan samping baby bag dengan menggunakan pisau 4. Lepaskan baby bag dari tanah 5. Masukkan ke dalam lubang yang sudah dibuat di large bag 6. Pastikan tanah tidak pecah 7. Letakkan kantong bekas baby bag disamping large bag 8. Padatkan tanah di dalam large bag dengan bola tanah baby bag agar permukaannya sama tinggi (bonggol/ leher batak tidak terbenam dan akar tidak kelihatan) 9. Pasang papan label main-nusery (ref.: Gambar 1.2., Papan label kelompok bibit di Pre dan Main nursery, AEA – EST – OP – 1100.01 – R0, Pembibitan, sebagai referensi tambahan). 10. Untuk daerah dengan tingkat serangan Ganoderma yang tinggi, penanaman bibit menggunakan aplikasi Trichoderma dan Mikoriza (ref.: Poin 14.4.2., AEA – EST - OP – 1110.10, Pengendalian Hama dan Penyakit, sebagai referensi tambahan). Selesai : 1. Kumpulan baby bag dalam blok. 2. Simpan peralatan dan bahan sisa yang digunakan di gudang.


76 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 051 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENGGUNAAN KARUNG GONI SEBAGAI ALAS BERONDOLAN DI TPH No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Penggunaan Karung Goni Sebagai Alas Berondolan di TPH Penggunaan karung goni sebagai alas berondolan di Tempat Pengumpulan Hasil (TPH) adalah hal yang mutlak harus dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi losses berondolan tidak terangkut di TPH, memudahkan unit transportasi untuk mengangkut berondolan tidak terangkut di TPH, memudahkan unit transportasi untuk mengangkut berondolan, mengurangi kotoran pasir sehingga dapat mengurangi tingkat kerusakan mesinmesin pabrik karena ktoran-kotoran yang ikut terangkut karena tidak menggunakan alas goni. Persiapan : 1. Siapkan karung goni bekas pupuk ZA yang telah dicuci sebanyak 3 (tiga) kali sesuai dengan cara penanganan limbah bahan kimia yang ramah lingkungan. NB : Air cucian karung goni tidak boleh dialirkan ke areal perumahan atau dibuang ke parit umum yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan berakibat buruk kepada kesehatan masyarakat. 2. Karung goni dikoyak dan dibuka melebar 3. Sisi karung goni dijahit dengan menggunakan mesin jahit agar tidak mudah rusak/ koyak 4. Persiapkan jumlah goni 10 goni untuk setiap pemanen (jumlah yang digunakan untuk 2 batch pengambilan). 5. Nomor karung goni dengan identitas nomor pemanen dan identitas mandoran Contoh :4.A.01 Berarti 04 → Afdeling A →Mndoran Panen 01 →Nomor Pemanen Pelaksanaan : Sebelum melaksanakan panen 1. Ikatlah 5 karung goni/ ikat sesuai dengan penomoran yang telah dilakukan 2. Bagikan karung goni yang telah diikat sesuai dengan penomoran. Karung goni dibagikan oleh kerani afdeling pada saat master/ apel pagi. 3. Kerani afdeling mencatat pendistribusian karung goni pada Form Distribusi Karung Goni (terlampir).


77 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 051 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENGGUNAAN KARUNG GONI SEBAGAI ALAS BERONDOLAN DI TPH No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Pada saat pelaksanaan panen 1. Pemanen menggunakan dan meletakkan 1 (satu) buah goni di TPH sebagai alas brondolan pada saat mengevaluasi buah di TPH tertuju. 2. Lentakkan berondolan buah yang telah dipanen di atas karung goni. Berondolan diletakkan tidak boleh berserakan dan bebas kotoran (seresah, tangkai buah, daun, tanah, pasir, dan kerikil). 3. Pada saat melakukan pemeriksaan mutu buah, Kerani buah memberikan tanda pada buku penerimaan kelapa sawit bahwa pemanen menggunakan karung goni atau tidak menggunakan karung goni sebagai alas brondolan di setiap TPH dengan simbol huruf G (apabila menggunakan goni) dan huruf TG (apabila tidak menggunakan goni). 4. Karung goni dikumpulkan oleh kernet pada saat melakukan pengangkutan TBS. 5. Karung goni diletakkan oleh kernet di tempat peletakkan karung goni (TPG). Selesai : 1. Karung goni dikumpulkan seluruhnya oleh kerani keliling dan dipisahkan sesuai dengan nomor pemanen 2. Karung goni dihitung dan ditelusuri kembali penggunaannya oleh pemanen dan dicatatkan pada buku administrasi karung goni brondolan. Apabila ada selisih anatara goni yang dibagikan dengan goni yang diterima/ dihitung, maka kerani afdeling menelusuri dimana miss atas kekurangan goni tersebut melalui pemeriksaan penggunaan karung goni di Buku Penerimaan TBS ataupun penelusuran melalui karung goni yang dibawa kembali oleh kernet/ sopir 3. Apabila karung goni yang diterima oleh kerani afdeling tidak sama dengan karung goni yang dibagikan, maka akan dikenakan denda kepada pemanen/ kernet/ sopir. 4. Bila hasil penelusuran kerani afdeling pada Buku Penerimaan TBS menunjukkan bahwa pemanen menggunakan goni brondolan maka itu berarti kesalahan ada pada kernet/ sopir dan kernet/ sopir wajib diberikan denda, dan bila hasil penelusuran melalui buku penerimaan kelapa sawit teryata pemanen yang tidak menggunakan goni maka dendanya dikenakan kepada pemanen. 5. Jumlah karung goni dihitung kembali oleh kerani afdeling dan diikat kembali menjadi satu (masing-masing ikatan 5 buah) sesuai dengan nomor pemanen hingga siap untuk dibagikan esok hari. 6. Kerani afdeling membuatkan daftar denda baik itu terhadap pemanen maupun kernet. 7. Denda ditetapkan sebesar Rp 5.000,- (lima ribu rupiah) per karung goni.


78 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 051 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENGGUNAAN KARUNG GONI SEBAGAI ALAS BERONDOLAN DI TPH No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Lampiran 1 :


79 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 051 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENGGUNAAN KARUNG GONI SEBAGAI ALAS BERONDOLAN DI TPH No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Lampiran 2 : Gbr.01 : Pengoyakan karung goni bekas pupuk Gb2.02 : Karung goni setelah dikoyak Gbr.03 : Penjahitan Gbr.04 : Karung goni setelah dijahit tepinya Gbr.05 : Pemberian nomor pada karung goni Gbr.06 : Karung goni yang telah dinomori dan diikat


80 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 051 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 PENGGUNAAN KARUNG GONI SEBAGAI ALAS BERONDOLAN DI TPH No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Gbr.07 : Pembagian karung pada saat apel pagi Gbr.08 : Peletakan karung goni di TPH Lampiran 2 (lanjutan): Gbr.09 : Peletakan brondolan di atas karung goni Gbr.10 : Pengankutan brondolan ke dump truk Gbr.11 : Karung goni dikumpulkan oleh kernet dan dibawa ke TPG Gbr.12 : Peletakan karung goni di TPG


81 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 052 Tgl. Terbit : 1 Juni 2014 PEMBUATAN RENCANA KERJA HARIAN (RKH) No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Pembuatan Rencana Kerja Harian (RKH) Pembuatan rencana kerja harian (RKH) dilakukan untuk tujuan yaitu: sebagai salah satu sarana untuk menetapkan target esok hari, strategi yang akan dilaksanakan dengan mengevaluasi hasil kerja yang sudah dan masalah yang sedang dihadapi sesuai dengan rencana kerja bulanan (RKB). Setelah itu yang terpenting pada saat pembukuan RKH di sore hari, asisten afdeling dapat melakukan coaching serta meningkatkan kompetensi mandor melalui ajang pertemuan, verifikasi, pertukaran pendapat, dan penetapan rencana kerja esok hari. Persiapan : 1. Siapkan form rencana kerja harian (RKH) 2. Siapkan administrasi pendukung lainya seperti : • Potong buah (data produksi dan biaya harian, taksasi produksi, rotasi panen, peta seksi potong buah, data siap borong dan output potong buah, dan datadata pendukung lainnya). • Pemupukan (data rekomendasi dan administrasi pupuk) • Hama dan Peyakit (data situasi serangan hama dan penyakit tanaman) • Pekerjaan pemeliharaan lainnya (data pusingan pekerjaan pemeliharaan dan daily cost book) • Data historis, form & historis kunjungan blok Pelaksanaan : 1. Seluruh mandor/ kerani bersama dengan asisten hadir di kantor afdeling pukul 15:30 wib 2. Rapat dimulai tepat pada pukul 16:00 wib dan seluruh mandor/ kerani wajib mengikuti rapat pemaparan evaluasi dan rencana kerja harian. 3. Mandor dan asisten mempersiapkan data-data yang dibutuhkan untuk rencana dan evaluasi pekerjaan harian. 4. Asisten membuka rapat pembuatan RKH dimulai dengan doa dan dilanjutkan dengan pemaparan target kerja, kualitas kerja, dan biaya yang digunakan. 5. Mandor memaparkan hasil kerja hari ini, hambatan, strategi, serta saran perbaikan ke depan.


82 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 052 Tgl. Terbit : 1 Juni 2014 PEMBUATAN RENCANA KERJA HARIAN (RKH) No. Revisi : - Tgl. Revisi : - 6. Asisten melakukan verifikasi pekerjaan hari ini dengan cara cross check kondisi antar mandor. 7. Mandor memaparkan rencana pekerjaan esok hari mencangkup target (Produksi seperti: AKP, janjang, BJR, Tonase), jumlah tenaga kerja (HK) yang akan digunakan, biaya, kendala yang dihadapi dan strategi pencapaian yang akan ditetapkan. 8. Asisten menanyakan latar belakang tentang rencana pekerjaan tersebut dengan melontarkan pertanyaan 5W + 1H kepada mandor terkait dan melakukan verifikasi dengan menanyakan kepada mandor lainnya. 9. Asisten mempertajam dan menegaskan kembali strategi yang disampaikan oleh mandor. Selesai : 1. Asisten menutup rapat evaluasi dan rencana kerja harian dengan penetapan rencana kerja esok hari 2. Asisten memimpin doa penutup rapat.


83 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 053 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 FOLLOW UP SPRAYING No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Follow Up Spraying Follow Up Spraying (penyemprotan tindak lanjut) adalah pekerjaan semprot yang dilakukan setelah penyemprotan utama dilakukan. Main Spraying (penyemprotan utama) bersifat semprot 100% kepada target penyemprot, sedangkan follow up spraying bersifat spot spraying dan berfungsi untuk menyemprot gulma yang ketinggalan atau belum mati pada saat dilakukan main spraying. Persiapan : 1. Kunjungi blok yang telah dilakukan penyemprotan bulan lalu. 2. Periksa kembali form historis kunjungan blok dan lakukan identifikasi gulma untuk memastikan kembali kondisi blok yang akan dilakukan follow up spraying. 3. Estimasikan jumlah herbisida yang akan digunakan melalui analisa kerapatan gulma pada piringan, pasar pikul, dan TPH 4. Persiapkan jenis herbisida yang akan digunakan 5. Siapkan Jerigen untuk mengisi larutan penyemprotan 6. Siapkan dan cek kondisi knapsack dan nozzle sebelum dilakukan follow up spraying 7. Siapkan jumlah tenaga kerja sesuai dengan kebutuhan 8. Siapkan alat pelindung diri berupa sepatu boot, masker, celemek/ apron, sarung tangan karet, pelindung kepala (topi), dan pelind ung mata (google) Pelaksanaan : 1. Buat rencana penyemprotan dengan mengisi RKH semprot satu hari sebelum penyemprotan 2. Isi bon permintaan pemakaian barang (BPPB) lalu mencatat material yang diminta ke dalam buku material sebagai alat kontol pemakaian bahan 3. Campurkan herbisida ke dalam jerigen langsung membentuk larutan yang telah disemprotkan. Tidak diperkenankan untuk membawa herbisida murni ke lapangan. Pencampuran dilakukan pukul 06:00 wib. 4. Aduk/ kocok larutan di dalam jerigen hingga membentuk larutan sempurna dan homogen. 5. Bawa jerigen berisi larutan herbisida ke lapangan 6. Kenakan peralatan keamanan yaitu sepatuboot, masker, celemek/ apron, sarung tangan karet, dan pelindung mata (google).


84 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 053 Tgl. Terbit : 1 Juni 2015 FOLLOW UP SPRAYING No. Revisi : - Tgl. Revisi : - 7. Pastikan jenis dan ukuran nozzle sama untuk semua penyemprot. 8. Penyemprotan menancapkan bendera merah di depan ancak yang telah diberikan oleh mandor 9. Penyemprotan mamakai knapsack dan memompa sebanyak 7 – 8 kali sebelum penyemprotan. 9. Pada penyemprotan follow up spraying dilarang menggunakan MHS sebagai alat penyemprot herbisida 10. Semprot gulma-gulma target yang belum mati saat penyemprotan utama. 11. Penyemprotan dilakukan hanya secara spot spraying. Tidak seluruh pasar pikul, piringan, dan TPH disemprot. 12. Penyemprot pindah ancak mengikuti instruksi mandor atau melihat bendera terakhir di setiap ancak. 13. Setiap penyemprot selesai melakukan penyemprotan 1 (satu) knapsack harus menulis hasil semprotan yang ada di tangki unit semprot. Selesai : 1. Susun dan bawa kembali peralatan ke gudang 2. Hitung pemakaian racun 3. Racun sisa dapat digunakan untuk pemakaian berikutnya 4. Bilas seluruh peralatan yang digunakan untuk tujuan menyemprot dengan air bersih. 5. Simpan semua peralatan di dalam gudang


85 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 054 Tgl. Terbit : 14 Desember 2015 PERSIAPAN AREAL TBM UNTUK PANEN No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Pendahuluan Pada masa peralihan TBM ke TM untuk mendapatkan semua potensi pada tahap awal produksi diperlukan perencanaan dan persiapan yang baik terhadap sarana dan prasarana yang berhubungan dengan proses panen. Pada kondisi normal, waktu permulaan panen ditargetkan : a. Tanah kelas I mulai panen pada umur 28 bulan sejak penanaman di lapangan b. Tanah kelas II dan seterusnya mulai panen pada umur 30 bulan sejak penanaman di lapangan Hal-hal yang dipersiapkan sebelum mulai kegiatan panen, yaitu : 1. Kastrasi : a. Kastrasi adalah membuang semua produk generative yaitu bunga jantan, betina dan seluruh buah, yang bertujuan untuk mendukung pertumbuhan vegetative kelapa sawit. b. Kastrasi mulai dilaksanakan jika lebih dari 30% pokok kelapa sawit dalam satu blok telah mengeluarkan bunga (jantan dan betina). Pada umumnya kastrasi dilakukan pada saat tanaman berumur 8 – 10 bulan di lapangan. c. Rotasi kastrasi dilakukan dua bulan sekali sampai tanaman berumur 23 bulan, apabila dikehendaki rotasi dapat dilakukan sebulan sekali dengan persetujuan Regional Head. d. Pastikan pada rotasi terakhir, bunga jantan tidak boleh dikastrasi (dibuang) e. Pastikan kegiatan kastrasi harus berhenti sebelum tanaman berumur 24 bulan di lapangan. f. Untuk detail kegiatan kastrasi dapat dilihat di SOP Kastrasi No. AEA-EST-OP1100.12-R2 2. Tunas Pasir Dan Sanitasi : Tunas pasir akan dilakukan 1-2 bulan sebelum pokok mulai dipanen. Prinsip tunas pasir dan sanitasi adalah hanya membuang pelepah yang berada satu lingkaran paling bawah (dekat tanah) dan pelepah kering. Tata cara tunas pasir adalah sebagai berikut : a. Buang pelepah satu lingkaran paling bawah (dekat tanah) dan juga pelepah kering


86 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 054 Tgl. Terbit : 14 Desember 2015 PERSIAPAN AREAL TBM UNTUK PANEN No. Revisi : - Tgl. Revisi : - b. Pelepah dipotong mepet ke pangkal dengan memakai dodos kecil (mata dodos 8 cm), kemudian pelepah-pelepah tersebut dikeluarkan dari piringan dan disusun di gawangan mati (contoh pokok yang telah ditunas pasir dapat dilihat pada Gambar 3.1.) c. Buang semua tandan parthenocarphy dan tandan busuk terutama yang diserang Tirathaba sp. Tandan tersebut harus diletakkan di gawangan mati. d. Membersihkan semua sampah di sekitar pohon untuk memudahkan pengutipan brondolan e. Sesudah pekerjaan tunas pasir selesai, maka dilarang keras memotong/ memangkas pelepah untuk tujuan apapun, kecuali untuk analisa daun, inipun hanya dibenarkan mengambil anak daunnya saja Gambar 4.1. Contoh Pokok yang Telah Ditunas Pasir


87 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 054 Tgl. Terbit : 14 Desember 2015 PERSIAPAN AREAL TBM UNTUK PANEN No. Revisi : - Tgl. Revisi : - 3. Titi Panen : Untuk menunjang aktifitas panen diperlukan persiapan pengadaan titi panen beton. Tabel 4. Periode pengadaan titi panen beton Periode Tanaman % Titi Panen Beton TBM3 33 % TM 1 33 % TM 2 34 % Total 100 % 4. Pasar Pikul/Jalan Rintis : 4.1.Pembuatan jalan rintis dilakukan pada tanaman umur 7 bulan dengan ratio 1 : 2 dengan lebar 1,2 meter. Bersamaan dengan ini dibuat pasar tengah atau pasar control. Pembuatan jalan rintis dapat dilakukan secara mekanis dengan menggunakan “Bulldozer D3 atau Excvator mini PC45” 4.2.Perawatan jalan rintis dan pasar tengah dilakukan bersamaan dengan perawatan piringan. 4.3.Pada areal rendahan, permukaan jalan rintis harus ditinggikan agar memudahkan untuk dilalui dengan angkong. Cara pembuatannya sebagai berikut : a. Pada rencana jalan rintis agar dibuat pancang lurus selebar 1 meter. b. Tanah timbun jalan rintis diambil dari sisi kiri dan kanan jalan rintis. c. Lebar galian tanah ± 0,5 m dengan dalam 40 cm sepanjang jalan rintis. d. Jalan rintis sudah dapat digunakan setelah satu bulan dari penimbunan. 5. Cincang Guling : 5.1.Cincang guling yaitu mencincang kayu balok yang posisinya melintang di tengah pasar pikul dan di sekitar piringan dengan menggunakan chain saw. 5.2.Kegiatan cincang guling ini dilakukan mulai tanaman umur 12 bulan di lapangan dan harus selesai sebelum mulai panen perdana..


88 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 054 Tgl. Terbit : 14 Desember 2015 PERSIAPAN AREAL TBM UNTUK PANEN No. Revisi : - Tgl. Revisi : - 6. Ereng-Ereng/Teresan Manual : Pada areal berbukit yang belum menggunakan system teras kontur bersambung, diperlukan ereng-ereng untuk jalan angkong. Hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu : 6.1.Dipilih lokasi yang tidak terlalu curam dan dibuat miring mengikuti kontur, dengan kemiringan yang wajar yang memudahkan pemanen membawa angkong yang berisi TBS, dengan menyesuaikan kondisi lapangan. 6.2.Jalur ereng-ereng ini sebaiknya langsung mengarah ke TPH yang ada di CR. 6.3.Perawatan rutin harus dilakukan bersamaan dengan pekerjaan semprot piringan dan pasar pikul. 7. Pembuatan TPH : TPH diperlukan sebagai tempat penumpukan hasil panen. Standar pembuatan TPH adalah sebagai berikut : 7.1.Untuk areal datar TPH dibuat setiap 3 pasar pikul/pasar rintis dengan ukuran 3 x 4 m² yang kondisinya harus dirawat agar tetap bersih. Permukaan TPH harus rata untuk memudahkan penempatan TBS panen. 7.2.Untuk areal bergelombang sampai berbukit , letak TPH disesuaikan kondisi blok dan posisi CR. 7.3.Setiap TPH harus diberi nomor untuk memudahkan pencatatan penerimaaan buah oleh Krani Buah. Bentuk penomoran TPH dapat dilihat di SOP no: AEA – EST – OP – 1100.18 – R2. 7.4.Satu TPH mencakup 100 – 110 pokok (areal datar – bergelombang), sedangkan areal berbukit – bergunung mencakup 70 – 80 pokok/TPH (rasio TPH ini sangat dipengaruhi rasio panjang jalan).


89 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 054 Tgl. Terbit : 14 Desember 2015 PERSIAPAN AREAL TBM UNTUK PANEN No. Revisi : - Tgl. Revisi : - 8. Pengerasan Jalan : Pengerasan jalan dilakukan secara bertahap selama 3 tahun berdasarkan panjang jalan dengan pembagian sebagai berikut : a. Tahap I (TBM 1) : 40% b. Tahap II (TBM 2) : 40% c. Tahap III (TBM 3) : 20% Untuk areal gambut sebelum dilakukan pengerasan harus dilakukan penimbunan lebih dahulu, baru setahun kemudian dapat dilakukan pengerasan jalan. 9. Pengembangan Serangga Penyerbuk (Elaeidobius camerunicus) : Pada areal new planting dan di sekitar lokasi belum ada kebun sawit, maka diperlukan pengembangan E.camerunicus secara khusus. Standar populasi E. camerunicus dalam 1 ha sekitar 25.000 – 30.000 ekor. Cara-cara pengembangannya sebagai berikut : 9.1. Yang perlu diingat yaitu bahwa pada saat rotasi terakhir kastrasi, bunga jantan tidak boleh dikastrasi. Bunga jantan ini diperlukan untuk tempat berkembangbiak E. camerunicus. 9.2. Ambil bunga jantan yang berisi larva E. camerunicus yang sudah berumur dari pokok sawit di areal TM, dipotong dan dimasukkan dalam kantung plastic yang diberi lubang udara, lalu dibawa ke tempat yang akan dikembangkan E. camerunicus. Selanjutnya bunga jantan tersebut diletakkan di pokok yang mempunyai bunga jantan sedang anthesis. Sebaiknya perlakuan ini dipenuhkan 1 blok (30 ha) dan diposisikan ditengah-tengah areal yang akan panen dengan jumlah bunga jantan yang berisi larva E. camerunicus sebanyak ± 10 tandan bunga jantan. Untuk pengembangbiakan E. camerunicus dalan skala besar dapat dilihat pada WI No. ALI/WI/OP/055 tentang “PENGEMBANGBIAKAN Elaedobius camerunicus DENGAN METODE “HATCH & CARRY”


90 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 054 Tgl. Terbit : 14 Desember 2015 PERSIAPAN AREAL TBM UNTUK PANEN No. Revisi : - Tgl. Revisi : - 10. Peralatan Panen : Peralatan panen yang perlu disiapkan adalah : dodos ukuran 8 cm, angkong, gancu, pengait/cokeran dan batu asah. Alat-alat panen harus sudah tersedia sebelum perekrutan tenaga panen. 11. Persediaan Tenaga Pemanen : Sebelum tiba waktu permulaan panen, tenaga kerja panen harus sudah direkrut dengan jumlahnya disesuaikan dengan luas areal yang akan dipanen. Tenaga panen ini juga dapat dialihkan dari tenaga kerja “tunas pasir & sanitasi”. Rasio kebutuhan tenaga panen adalah 0,06 Hk/Ha.


91 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 055 Tgl. Terbit : 14 Desember 2015 PENGEMBANGBIAKAN Elaedobius kamerunicus DENGAN METODE “HATCH & CARRY” No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Peningkatan Fruitset Melalui Hatch & Carry Tanaman kelapa sawit pada tahun-tahun awal berproduksi mempunyai kecenderungan memiliki jumlah bunga jantan yang sedikit, sehingga sering tidak mencukupi untuk berlangsungnya penyerbukan alami secara maksimal dan mengakibatkan fruit set rendah. Untuk mendapatkan fruit set yang ideal (> 80% normal), maka dapat dilakukan “Polinasi Buatan” dan “Hatch & Carry”. Hatch & Carry adalah system penangkaran E.kamerunicus yang disertai dengan penyemprotan polen yang dilakukan dengan tujuan untuk menambah populasi E.kamerunicus dan nilai fruit set kelapa sawit. Sistematika kerja meliputi : ✓ Serangga E. kamerunicus ditetaskan pada suatu kotak penangkaran ✓ Penyemprotan polen ketubuh kumbang E. kamerunicus. ✓ Kumbang E. kamerunicus dilepaskan kelapangan. Persiapan : 1. Siapkan kotak Hatch & Carry, yang terbuat dari bahan triplek, kawat nyamuk dan atap rumbia. Desain dan ukurannya seperti gambar dibawah ini : A B


92 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 055 Tgl. Terbit : 14 Desember 2015 PENGEMBANGBIAKAN Elaedobius kamerunicus DENGAN METODE “HATCH & CARRY” No. Revisi : - Tgl. Revisi : - 2. Rasio pemasangan kotak Hatch & Carry ini adalah 1 : 10 Ha, atau dalam 1 (satu) blok ditempatkan 3 (tiga) unit. Penempatan diletakkan di baris pokok pinggir blok dengan tujuan untuk mempermudah pengawasan. Setiap kotak diberi nomor untuk mempermudah dalam menentukan urutan rotasi peletakkan dan penggantian bunga jantan. 3. Pengumpulan polen. ✓ Polen diperoleh dari bunga jantan yang sedang anthesis pada blok kelapa sawit dengan nilai fruit set tinggi, sex ratio bunga rendah, populasi E. kamerunicus tinggi. Umumnya diperoleh pada tanaman tua. ✓ Bunga jantan anthesis yang diambil tetap menyisakan sekitar 4 tandan bunga anthesis/ha. ✓ Bunga jantan yang telah mekar sekitar 2/3 dengan ciri khas aroma yang menyengat dan disekeliling bunga banyak dijumpai kumbang E. Kamerunicus


93 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 055 Tgl. Terbit : 14 Desember 2015 PENGEMBANGBIAKAN Elaedobius kamerunicus DENGAN METODE “HATCH & CARRY” No. Revisi : - Tgl. Revisi : - ✓ Bunga jantan yang anthesis diambil dari pohon kemudian dirontokkan dengan cara dipukul-pukul untuk diambil serbuk sarinya (polen). Pada saat dirontokkan harus diberi alas kertas sampul coklat. Selanjutnya dikumpulkan dan disaring untuk membuang kotorannya. Setelah bersih polen dimasukkan ke dalam kantung plastic polimer. ✓ Pada sore hari kantung-kantung yang berisi polen dikumpulkan di kantor kebun untuk disimpan. ✓ Sebelum disimpan, polen harus dikurangi kadar airnya dengan cara dituang dalam Loyang yang dialasi kertas kwarto, kemudian polen diratakan dengan menggunakan sisir. ✓ Selanjutnya Loyang yang sudah berisi polen dimasukkan ke dalam oven listrik dengan temperature 38° - 40°C selama 24 jam. ✓ Selanjutnya polen yang sudah dioven selama 24 jam diambil dan disimpan di dalam freezer dengan temperature -18°C.


94 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 055 Tgl. Terbit : 14 Desember 2015 PENGEMBANGBIAKAN Elaedobius kamerunicus DENGAN METODE “HATCH & CARRY” No. Revisi : - Tgl. Revisi : - Pelaksanaan : 1. Penetasan serangga E. kamerunicus ✓ Ambil bunga jantan yang telah lewat masa anthesis 5 – 8 hari. Dengan criteria sebagai berikut :


95 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 055 Tgl. Terbit : 14 Desember 2015 PENGEMBANGBIAKAN Elaedobius kamerunicus DENGAN METODE “HATCH & CARRY” No. Revisi : - Tgl. Revisi : - ✓ E. kamerunicus masih berupa larva dan pupa di dalam tandan bunga jantan 3 – 5 hari setelah anthesis. ✓ Tandan bunga jantan berasal dari tanaman tua dengan sex ratio bunga kelapa sawit rendah (<75%) ✓ Dalam satu blok diambil sekitar 15% tandan bunga jantan lewat anthesis. ✓ Tandan bunga jantan yang diambil pada baris ke-5 dan kelipatannya. ✓ Tandan bunga tersebut dibiarkan 1 (satu) hari untuk menghilangkan semut dan serangga lain, sebelum dimasukkan ke dalam kotak hatch & carry. ✓ Masukkan 3 tandan bunga jantan ke dalam masing-masing kotak di dalam Hatch & Carry (kotak A dan B). ✓ Setiap 8 – 9 hari dilakukan penggantian bunga jantan lewat anthesis. 2. Penyemprotan Polen. ✓ Penyemprotan polen dilakukan setiap pagi hari. ✓ Polen yang digunakan adalah polen yang fresh baru diambil atau menggunakan koleksi polen yang sudah disimpan di dalam freezer. ✓ Polen yang diambil dari freezer, sebelum digunakan harus diperiksa viabilitasnya, sebagai berikut : ➢ Siapkan media untuk test viabilitas polen yaitu dengan mencampur 100 cc aquades, 0.2 gram agar-agar dan 10 gram sukrosa atau gula. ➢ Masukkan ketiga bahan tersebut ke dalam tabung erlenmeyer, kemudian dididihkan. Setelah mendidih diangkat dan didinginkan. Ambil 1 – 2 tetes larutan tersebut diatas dan diteteskan diatas gelas preparat. Taburkan beberapa polen diatas media tersebut kemudian gelas preparat tersebut diletakkan didalam petridisc, dan biarkan selama 2 jam.


96 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 055 Tgl. Terbit : 14 Desember 2015 PENGEMBANGBIAKAN Elaedobius kamerunicus DENGAN METODE “HATCH & CARRY” No. Revisi : - Tgl. Revisi : - ➢ Setelah 2 jam lakukan pengamatan polen yang tumbuh dengan menggunakan mikroskop. Polen yang tumbuh ditandai dengan adanya ekor, catat polen yang hidup dan yang mati. ➢ Polen yang viabilitasnya > 50% dapat digunakan untuk penyemprotan ke dalam kotak Hatch & Carry. ✓ Penyemprotan polen dilakukan setiap pagi hari pada tubuh kumbang E. kamerunicus yang telah berkumpul dikawat kasa tutup kotak hatch & carry. ✓ Kemudian setelah dilakukan penyemprotan polen, kumbang-kumbang E. kamerunicus tersebut dilepaskan/diterbangkan ke luar kotak.


97 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 055 Tgl. Terbit : 14 Desember 2015 PENGEMBANGBIAKAN Elaedobius kamerunicus DENGAN METODE “HATCH & CARRY” No. Revisi : - Tgl. Revisi : - ✓ Siklus hidup E. kamerunicus, sebagai berikut : Administrasi : 1. Contoh system pengoperasian Hatch & Carry :


98 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 055 Tgl. Terbit : 14 Desember 2015 PENGEMBANGBIAKAN Elaedobius kamerunicus DENGAN METODE “HATCH & CARRY” No. Revisi : - Tgl. Revisi : - 1. Contoh format “Pencatatan & Monitoring Hatch – Carry” Contoh Janjang :


99 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 055 Tgl. Terbit : 14 Desember 2015 PENGEMBANGBIAKAN Elaedobius kamerunicus DENGAN METODE “HATCH & CARRY” No. Revisi : - Tgl. Revisi : -


100 AEA WORK INSTRUCTION No. Dok : AEA/ WI/ OP/ 056 Tgl. Terbit : 02 Januari 2016 PEMASANGAN DAN MONITORING PATOK HGU No. Revisi : - Tgl. Revisi : - 1. TUJUAN Prosedur ini bertujuan sebagai panduan untuk menjaga dan memelihara tanda-tanda batas HGU yang sudah dibuat/ditetapkan di lapangan secara berkala untuk menjamin posisinya tidak berubah/bergeser dari posisi yang sudah ditetapkan. 2. RUANG LINGKUP Prosedur ini berlaku di seluruh area kegiatan perusahaan baik di kebun maupun di pabrik minyak kelapa sawit PT. Aditya Agroindo. 3. DEFINISI 4.1 HGU merupakan suatu hak yang diberikan oleh negara kepada subyek hukum tertentu dengan syarat yang tertentu pula untuk mengelola dan mengusahakan tanah negara dengan orientasi yang bergerak dalam bidang pertanian, perkebunan, perikanan atau peternakan. 4.2 Patok HGU adalah Tanda Batas dilapangan berupa Beton, Paralon atau Kayu dengan ukuran tertentu yang dipasang dilapangan disepanjang HGU suatu Perusahaan. 4. REFERENSI 4.1 PP No. 24 tahun 1997 Tentang Pendaftaran Tanah, Paragraf 3 Penetapan Batas Bidangbidang Tanah Pasal 17 ayat (3); Penempatan tanda-tanda batas termasuk pemeliharaannya wajib dilakukan oleh pemegang hak atas tanah yang bersangkutan. 5. TANGGUNG JAWAB 5.1 Group Manager ✓ Bertanggung jawab agar SOP ini dilaksanakan oleh semua jajaran dibawahnya. ✓ Mengesahkan Laporan Monitoring yang dibuat. 5.2 Estate Manager / Mill Manager / Manager ✓ Menunjuk petugas yang bertanggung jawab untuk melakukan kegiatan perawatan Patok Batas HGU. ✓ Melakukan review/pemeriksaan terhadap Laporan Hasil Monitoring yang dibuat oleh petugas yang ditunjuk.


Click to View FlipBook Version