The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

buku tahunan choice 40 th anniv final

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by karlanggara, 2023-02-27 03:50:58

40 tahun Choice Indonesia

buku tahunan choice 40 th anniv final

Table of Content Kata Sambutan Kornas CHOICE Indonesia Menjadi Duta Cinta yang Tidak Biasa oleh Romo A.Radjabana, OMI Cerita CHOICE dari KORNAS Choice Indonesia Tim WEC-1 Distrik Jakarta Kordis Distrik Jakarta Romo/Suster Distrik Jakarta 1 2 3 4 Tim Aktif Distrik Jakarta 5 KUMPULAN CERITA CHOICE DISTRIK JAKARTA Mantan Tim Distrik Jakarta KUMPULAN CERITA CHOICE DISTRIK BANDUNG 6 7 8 Tim Aktif Distrik Bandung Mantan Tim Distrik Bandung KUMPULAN CERITA CHOICE DISTRIK SEMARANG Tim Aktif & Mantan Tim Distrik Semarang 9 KUMPULAN CERITA CHOICE DISTRIK PURWOKERTO Tim Aktif Distrik Purwokerto 10 KUMPULAN CERITA CHOICE DISTRIK YOGYAKARTA Tim Aktif & Mantan Tim Distrik Yogyakarta 11 KUMPULAN CERITA CHOICE DISTRIK SURABAYA Tim Aktif & Mantan Tim Distrik Surabaya 12 KUMPULAN CERITA CHOICE DISTRIK MANADO Tim Aktif & Mantan Tim Distrik Manado 13 KUMPULAN CERITA CHOICE DISTRIK MAKASSAR Tim Aktif & Mantan Tim Distrik Makassar 14 KUMPULAN CERITA CHOICE DISTRIK PONTIANAK Tim Aktif & Mantan Tim Distrik Pontianak 15 KUMPULAN CERITA CHOICE DISTRIK PADANG Tim Aktif Distrik Padang TIM CHOICE YANG SUDAH MENINGGAL 16 KUMPULAN CERITA CHOICE DISTRIK PEKANBARU Tim Aktif Distrik Pekanbaru WEJANGAN USKUP untuk HUT-40 CHOICE


WEJANGAN USKUP untuk HUT-40 CHOICE Untuk semua Tim Choice di semua Distrik di Indonesia. Dalam pendampingan anak muda Katolik banyak tantangan dan masalah yang kita hadapi. Mungkin dalam membangun relasi kita sendiri sebagai Tim, relasi kita dengan sesama Tim kurang baik, kurang harmonis, karena masih menonjolkan ego masing-masing. Mari kita terus mengevaluasi diri sebagai Tim, dan diperbaiki menjadi lebih baik. Dalam kekecewaan, dalam menghadapi persoalan, mari kita tetap semangat untuk belajar Mengenal, Mencintai, dan Melayani. Berkat Tuhan selalu beserta kita. Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, Pr – Uskup Surabaya


Kata Sambutan Kornas Choice Indonesia Kornas Choice Karl-Nita-Rm. Handoko-Pesera Shalom… Bermula dari mengumpulkan sharing para tim Choice weekend pertama, dalam bentuk video, dan mendengarkannya pada Misa Syukur 40 tahun Choice tanggal 10 Desember 2022, kami tersentuh oleh sejarah kasih Choice yang telah mereka alami. Dari situ timbul idea membuat Ebook ini untuk mensyukuri 40 tahun Choice melayani dan berkarya di Indonesia. Demikianlah, dalam waktu sekitar sebulan, terkumpul hampir 100 sharing dari tim dan mantan tim segala era, dari seluruh distrik, dengan aneka pengalaman, suka duka, jatuh bangun dan tekad kuat yang menggambarkan betapa kayanya Choice experience dalam menyebarkan pemberian hati dan diri sebagai, yang dikatakan Romo Bono : duta-duta cinta yang tak biasa, kepada puluhanribu muda mudi selama 40 tahun ini. Melalui sharing sharing ini, mungkin kita akan terkenang pula pada nama nama, wajah wajah para sahabat Choice yang telah pergi mendahului kita. Mengingat kehangatan cinta dan ketulusan komitmen merekapada gerakan kasih ini sehingga kami percaya bahasa kasih yang tertuang di sini akan menguatkan motivasi kita untuk semakin bersemangat menyebarkan pesan-pesan cinta yang tak biasa ini ke hati kaum muda Katolik di seluruh pelosok Indonesia. Akhirnya, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada para tim dan mantan tim yang telah mengisi ebook ini dengan penuh kasih. Juga kami berterima kasih kepada Nani (Koko) yang mematangkan rencana E-book ini, menyusun dan mensupervisi desainnya. Kepada Romo Handoko yang mendukung doa, serta Nita dan Kale yang dengan sabar memfollow up para tim. Selamat menikmati tulisan-tulisan ini. Selamat ulang tahun Choice Indonesia yang ke-40. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih selalu memberkati perjalanan pelayanan Choice.


Menjadi Duta Cinta yang Tidak Biasa Persoalan utama dalam kehidupan kita sebetulnya MASALAH CINTA. Ada yang defisit cinta dan ada yang berlebihan dalam mencintai. Kedua-duanya menimbulkan persoalan yang tidak kecil. Defisit cinta bisa membuat orang menjadi pahit, selalu complain dan judgmental, menyalahkan orang lain, selain dirinya sendiri. Romo Antonius Radjabana, OMI Kordis Choice Distrik Jakarta oleh Romo Antonius Radjabana, OMI Kordis Choice Distrik Jakarta


Berlebihan dalam mencintai juga menimbulkan persoalan. Kehabisan energi, tidak semangat, merasa dimanfaatkan dan tidak bebas menjalani hidup dan mengambil keputusan sendiri. Banyak hal ditentukan oleh apa kata orang. Hidup menjadi seperti roller coaster. Tergantung pendapat orang. Kalau dipuji kita melambung tinggi, saat dicaci kita hancur lebur. Hidup semacam ini menjadi tidak stabil dan menimbulkan stress. CINTA DAN RELASI CINTA DAN RELASI tidak sama. Relasi itu persoalan managemen. Jika kita tidak mampu mengatur apa yang dibutuhkan dalam berelasi maka relasi itu akan renggang dan kemudian putus. Dalam berelasi dibutuhkan kemampuan mengatur energi, emosi, waktu dan tenaga. Bukan masalah cinta. Meskipun saling mencintai kalau tidak bisa memberi waktu, untuk mendengarkan, memaafkan, dan mengusahakan emosi yang positif sangat mungkin bahwa cinta itu tidak terwujud dalam relasi. Akibatnya bisa saja merasa cinta mereka sudah luntur, padahal yang dimaksud adalah relasi mereka yang semakin renggang. Kedua ekstrim itu biasanya terjadi karena TIDAK MEMAHAMI HAKEKAT CINTA DAN RELASI. Sering disamakan saja antara CINTA DAN RELASI, padahal kedua hal itu berbeda, sehingga perlu dipahami masing-masing gagasan secara tepat. Cinta lebih sebagai sumber yang ada di dalam diri kita. Cinta lebih berkaitan dengan jati diri kita. Sejak semula kita diciptakan serupa dan segambar dengan Tuhan dan Allah adalah Kasih, maka sebetulnya diri kita ini adalah KASIH ITU SENDIRI. Tuhan ketika menciptakan manusia, menghembuskan nafas kehidupan. Itulah nafas cinta yang ada dalam diri kita yang berasal dari Tuhan. Kita ambil bagian dalam hidup Tuhan sendiri. Maka sebetulnya hati kita diciptakan untuk mencintai, bukan untuk membenci. Mencintai berarti sadar akan jati diri kita yang adalah kasih Allah sendiri. Kesadaran diri akan kasih sebagai dasar hidup kita mendorong kita untuk mampu memancarkan kasih itu sehingga kasih itu tidak lagi tergantung apa yang ada di luar kita, tidak tergantung pada apa kata orang. Cinta itu sumber, bukan hasil. Maka bisa saja, orang lain membenci kita, tidak menyukai kita, tetapi kita tetap mencintainya. Dalam konteks inilah kita bisa belonging dan berkomunikasi dengan tepat dengan orang lain. Baik atau buruk, benar atau salah, prestasi, tidak membuat komunikasi menjadi renggang karena tetap ada cinta yang memancar dari dalam diri kita.


PROBLEM RELASI Ada dua problem utama dalam berelasi. Yang pertama tidak mengetahui apa yang ada di dalam lingkup kita untuk kita atur dan kedua, mengharapkan sesuatu yang tidak realistis dalam berelasi. Kedua hal itu sangat berkaitan. Kita hanya bisa mengatur apa yang bisa kita atur. Nampaknya pernyataan ini mudah dimengerti. Namun sebetulnya tidak mudah. Dan karena itu sering kali kita keliru dalam berelasi. Mungkin dengan contoh bisa menjadi lebih jelas. Kita bisa mengatur reaksi kita terhadap TINDAKAN ORANG LAIN. Tetapi mengatur agar orang lain bereaksi seperti yang kita mau, itu sudah diluar wilayah yang bisa kita atur. Orang lain mempunyai proses batinnya sendiri. Mereka punya latar belakang dan pengetahuan yang berbeda dengan kita sehingga mengharapkan agar mereka bereaksi seperti yang kita mau tidak mungkin. Kita hanya bisa membujuk, atau memprotes, tetapi apakah orang lain akan melakukannya atau tidak, kita tidak bisa menentukannya. Orang lain punya kebebasannya sendiri untuk bereaksi dan merespon TINDAKAN KITA. Banyak di antara kita menjadi kecewa karena mengharapkan sesuatu yang sebetulnya di luar batas kemampuan kita untuk menentukannya. Kalau saya melakukan A, harapannya dia melakukan B. Jika ia tidak melakukan seperti yang saya harapkan saya menjadi kecewa. Sebetulnya mengharapkan sesuatu terhadap orang lain, boleh-boleh saja. Tetapi menjadi kecewa karena harapan kita tidak dipenuhi, itu yang menjadi persoalan. UNREALISTIC EXPECTATION Ketika kita mengharapkan orang lain bertindak seperti yang kita harapkan maka sebetulnya kita mengharapkan sesuatu yang tidak realistis. Orang lain mempunyai pengalamannya sendiri yang mengkondisikan dia sehingga dia bereaksi tertentu terhadap apa yang ia terima dari orang lain. Seperti mereka, kita juga mempunyai latar belakang, yang membuat kita mempunyai pola dalam bereaksi. Mengharapkan mereka bereaksi seperti kita merupakan harapan yang tidak realistis, akibatnya kita kecewa dan membuat relasi menjadi renggang. Membangun relasi dengan harapan yang tidak realistik ujung-ujungnya akan membawa kita pada kekecewaan dan relasi yang buruk. Namun mengetahui batas-batas dalam bersikap akan membantu kita untuk tetap bisa menjaga relasi tetap baik dan hangat.


Relasi yang baik memang harus didasarkan pada cinta. Cinta sifatnya tetap, stabil, mengalir dari dalam diri kita. Mengalir dari jati diri kita. Ketika kita memanage relasi berdasarkan cinta maka, kita tidak tergantung pada reaksi orang lain. Karena sebelum berinvestasi dalam relasi kita sudah mendasarinya dengan cinta. Saya melakukan hal ini karena saya mencintainya. Reaksinya seperti apa, tidak masalah buat saya karena saya mencintainya. Jika kita mempunyai sudut pandang ini maka dalam membangun relasi kita tidak akan mengharapkan sesuatu yang tidak relalistik. Kita fokus pada melakukan apa yang bisa kita lakukan. Kita lakukan sebaikbaiknya, selebihnya kita siap untuk menerima reaksi apapun dengan kasih yang penuh pengertian. MEMANAGE DIRI Dari pemahaman tentang cinta dan relasi, kita mengerti bahwa yang penting adalah memanage diri ktia sendiri. Bagaimana kita bisa memancarkan cinta dari dalam sehingga kita mempunyai tenaga untuk mencintai, cukup kuat untuk secara emosional menemani orang yang kita cintai, dan mengampuni segala yang menyakitkan. Kita tidak bisa memberikan apa yang kita sendiri tidak punya. Nemo dat quot non habet. Maka kita perlu melatih diri agar hati kita sudah penuh dengan cinta dulu sebelum kita memberikan waktu, energi dan emosi dalam relasi-relasi kita. Kita harus mengerti BAHASA CINTA kita apa, dan kita penuhi diri kita dengan cinta yang berasal dari Tuhan sehingga kita sudah mempunyai cadangan cinta yang cukup di hati kita. Jika tempayan cinta kita sudah penuh, ketika ada kebencian, saya mampu membawa cinta kasih. Ketika ada perselisihan, saya mampu membawa kerukunan. Ketika ada dendam, saya mampu membawa pengampunan. Dalam hal ini pengenalan diri sangat penting. Kita harus bisa sadar bahwa diri kita ini adalah kasih itu sendiri. Kita ambil bagian dalam nafas kasih Allah yang menggerakkan, menghidupkan dan menyemangati. Kita tidak mengharapkan kasih dari luar, tetapi pertama-tama dari dalam. Sumber kasih itu ada dua. Yang pertama, kesadaran diri bahwa saya diciptakan secitra dengan Allah yang adalah kasih, dan yang kedua, kesadaran bahwa saya begitu dicintai oleh Tuhan. Dengan dua kesadaran ini saya mempunyai cukup waktu, cukupenergi dan cukup emosi untuk membangun relasi yang akrab, hangat dan mendalam.


Duta cinta yang tidak biasa ini tidak mudah menjadi kecewa, sakit hati atau putus harapan. Sumber cintanya dari dalam dan dari kesadaran akan kasih Allah yang tanpa batas. Secara praktis kita bisa menjadi duta cinta yang tidak biasa dengan meneladan Yesus Kristus sendiri. Kita menjadi alter Kristus, Kristus-Kristus yang lain yang memancarkan kasih secara alami dari dalam. Mari kita menjadi DUTA CINTA yang tidak biasa. Mari menjadi CINTA itu sendiri. Mari menjadi seperti Kristus yang memancarkan cinta sejati karena CINTA itulah hakekat dari Allah sendiri. MENJADI CINTA Menjadi duta cinta yang tidak biasa sebetulnya berarti menjadi cinta itu sendiri. Dengan menjadi cinta itu sendiri maka ketika orang lain mendengar kita, ia mendengar cinta. Ketika orang lain bersahabat dengan kita maka ia bersahabat dengan cinta. Kita menjadi seperti Kristus sendiri. Setiap orang yang melihat Kristus, ia melihat cinta. Yang mendengarkan Yesus, ia mendengarkan cinta, yang menyentuhNya, menyentuh cinta. Dengan cara ini kita menjadi duta cinta yang tidak biasa.


CERITA CHOICE DARI KORNAS CHOICE INDONESIA


Cerita Choice dari KORNAS Choice Indonesia Aku mengenal Choice pada tahun 1997, ketika aku mengikuti WEC Angkatan 106 dan statusku waktu itu sebagai frater diakon yg dipersiapkan untuk tahbisan imam. Saat Rm Adrianus Budi MSC sebagai pembimbing masa diakonalku meminta aku untuk terjun dan terlibat di CHOICE, dan dengan ketaatanku, aku mulai terlibat dan mengenal lebih dalam apa itu CHOICE. Dari pengalaman yg biasa saja, akhirnya CHOICE betul-betul membuat aku falling in love dan akhirnya aku terlibat sampai saat ini. Romo A. Handoko, MSC Kornas Choice Indonesia Bagiku CHOICE adalah kelompok kategorial yg sangat relevan dengan nilai-nilai yang kuperjuangkan sebagai biarawan MSC dengan spiritualitas hati-nya. Sebagai seorang imam MSC, aku harus menyebarkan semangat cinta Hati Kudus di mana pun aku melayani, sehingga dikasihilah Hati Kudus di manamana. Inilah visi kami sebagai MSC, maka saat CHOICE menawarkan modul pendekatan personal melalui refleksi relasi personal dalam keluarga, dimana nilai-nilai cinta Allah dialami dan digali di tengah kehidupan keluarga, aku langsung yakin, di komunitas CHOICE AKU AKAN BERTUMBUH DAN BERKEMBANG SEBAGAI PRIBADI DAN IMAM. Dan keyakinanku ini terbukti benar. KOMUNITAS CHOICE membentukku menjadi imam yang punya hati dan cinta, aku semakin MORE HUMAN & MORE DIVINE. Nilai-nilai manusiawi semakin bertumbuh dalam diriku berkat keterlibatanku dalam kegiatan Choice, yg kemudian menghantarku untuk mampu membagikan nilai-nilai ilahi kepada umat yg kulayani. CHOICE telah menghantarku menjadi imam yg manusiawi dan sekaligus Ilahi. 26 tahun aku terlibat dalam CHOICE dan aku tidak pernah menyesal, justru cintaku makin mendalam. Peristiwa yg paling mengesankan adalah Ketika aku memberikan WEC sebagai pastor tim WEC ke 112. Aku adalah pribadi yang sangat rasional dan sulit untuk menangis. Bagiku menangis adalah pantangan! Laki-laki tidak boleh menangis. Inilah mindset yang kupegang erat-erat. Tapi ketika aku diberi kesempatan untuk mensharingkan pengalamanku saat WEC-112, di situlah arogansiku sebagai lelaki jebol….aku menangis dan bahkan tidak bisa melanjutkan sharing…aku harus menunggu waktu yg cukup lama untuk bisa menenangkan diri dan melanjutkan sharingku. Dan mulai saat itu, aku menemukan diriku yg sejati: aku lelaki yang gampang tersentuh dan terharu dan akhirnya menitikkan air mata. Ternyata, selain seorang sanguinis, aku juga seorang melankolis. CHOICE TELAH MENGUBAHKU, dan aku happy dengan diriku saat ini: aku tidak malu kalau harus menangis di depan umum: aku imam yang manusiawi, yang bisa tertawa dan menangis, yang bisa bercanda dan berurai air mata. That is me. BAGIKU CHOICE ADALAH SEBUAH PILIHAN YANG TEPAT, karena di sinilah aku bisa bertumbuh dan berkembang sebagai pribadi dan imam. Thank you Choice because you have shaped me as I am today. Your 40th existence in Indonesia is never in vain. . Engkau (Choice) adalah salah satu berkat terindah untuk komunitas gereja Katolik di Indonesia. Proficiat!!


Pasutri Peter-Seraphin Kornas Choice Indonesia Sebelum aktif di Choice saya hanyalah orang Katolik yang ke Misa seminggu sekali, hanya itu. Gak pernah sekalipun terlibat atau ingin terlibat dalam kegiatan Gereja, tidak ada alasan khusus sih, tapi lebih memilih untuk aktif di kampus, akibatnya seperti kebanyakan umat Katolik lainnya, saya took for granted dengan keberadaan Gereja. Sampai suatu saat saya didaftarkan oleh adik saya untuk ikut WE Choice. Dari mulanya agak skeptis, ikut hanya agar tidak mengecewakan adik saja, saya jadi terperangkap oleh cinta. Dan sebagaimana lazimnya siklus cinta, mulanya adalah perasaan. Perasaan kasmaran luar biasa, euphoria cinta. Di akhir weekend saya rasanya tidak mau berpisah dari teman teman, rasanya, “Kita sharing lagi yuk.., sekaliii aja lagi..” Badan rasanya hangat, mungkin karena capek kurang tidur setelah semalaman begadang sampai dipaksa masuk kamar oleh team… tapi hati rasanya melayang layang bak di kayangan… Perasaan yang saya rasakan lagi waktu Seraphine mengatakan “I do”… he 3x… Perasaan itu lalu pelan pelan jadi kesadaran ketika saya mendalami pengertian nilai nilai yang ada di dalam Choice, nilai injili, nilai belonging. Cinta tak bersyarat. Nilai As I have loved you. Kemudian kesadaran itu menjadi komitmen. Proses perasan menjadi komitmen itu, seperti belonging dalam pernikahan, banyak sekali dipengaruhi oleh macam macam peristiwa, dan yang paling utama adalah inspirasi yang saya peroleh dari para team, khususnya pasutri. Dari pengenalan melalui kesaksian, sharing dengan mereka, keseharian relasi di antara mereka…saya melihat ketulusan pelayanan tanpa pretensi… Kerendahan hati untuk berbagi. Pengalaman yang mereka bagikan bukanlah kisah sukses dalam menjalin relasi, tetapi mereka sharingkan : perjuangan, dan harapan di tengah kegalauan, dan selalu ada harapan akan kasih. Di dalam sharing kelompok juga hanya terjadi sharing pengalaman tentang belonging, bukan pengajaran. Saya menemukan sesuatu yang lain dalam gerakan ini. Keindahan pengharapan akan kasih yang disampaikan dengan jujur, apa adanya, dengan sederhana tidak dengan kata-kata bombastis. Saya terpukau, terpesona, oleh keindahan pengharapan, proses mengasihi, belonging yang disampaikan oleh program Choice ini. Setelah menikah, saya otomatis pensiun sebagai team youth, dan “istirahat” dari kegiatan Choice. Seraphine, pasanganku, bukan aktivis Choice, sehingga tidak punya kerinduan khusus untuk menjadi team pasutri di Choice. Dan saya tidak pernah membujuk dia untuk mencoba menjadi team. Sampai suatu ketika setelah pulang mengikuti training motivasi, Asia Works, Seraphine bilang dia disadarkan dan merasa Tuhan selama ini baik sekali pada dia dan kami sekeluarga, sehingga rasanya dia ingin membagikan keindahan Kasih Tuhan itu pada sesame. Voila! Pucuk dicinta ulam tiba… Singkat cerita, kami segera ikut ME dan kemudian dicoach untuk menjadi team pasutri Choice. Itu setelah 8 tahun pernikahan kami. Dan sampai sekarang, baru 22 tahun kami berbagi dan melayani sebagai team pasutri Choice Distrik Jakarta. Beberapa kali ada saja yang bertanya, apa suka duka menjadi team Choice selama itu. Kadang ditambah, “pernah jenuh atau bosen ngga”. Atau ada pula yang berkomentar, “pasti banyak pengorbanan ya ninggalin anak anak yang masih kecil”, waktu itu anakanak masih berusia sekitar 6 dan 2 tahun. Kami tersenyum...... Bukan berarti tidak ada kesulitan sama sekali atau semuanya lancar lancar saja, banyak kendala teknis maupun non teknis, termasuk bila ada ketegangan di antara sesama team seperti youth yang ini merasa dikacangin sama youth yang itu. Atau soal titip menitipkan anak bila kami turun weekend. Tetapi selalu ada jalan keluar dari semua itu. selalu berujung pada indahnya kasih. Sehingga kami tidak pernah merasa jadi korban yang dirugikan, tidak pernah juga merasa berkorban apa apa. Kami merasa beruntung sekali boleh terlibat dalam pelayanan kasih ini. Malah kami merasa lebih “dilayani” daripada melayani. Kami merasa menerima jauh lebih banyak kasih daripada apa yang kami sharingkan. Bagaimana tidak, setiap kali kami turun weekend, setiap kali pula kami bertemu dengan muda mudi peserta baru yang punya segudang pengalaman yang sering juga membuat kami diingatkan sebagai orang tua untuk lebih sensitif mendengarkan perasaan anak anak kami.Sering dalam sharing kelompok kami hanya bisa berdoa mohon penguatan bila mendengar problem problem berat yang diungkapkan peserta… Kami merasa kecil dan tak berdaya, tetapi kami merasakan campur tangan Tuhan didalam setiap WE Choice. Kami sering menemukan wajah wajah keras di Jumat sore saat awal WE Choice, yang berubah jadi senyum senyum damai penuh kasih di Minggu petang saat WE Choice berakhir. Apakah kita akan capek dan jenuh bila boleh “melayani” seperti itu ?? Apa bukannya kita menjadi lebih bahagia?? Terima kasih Tuhan, kami telah Kau ijinkan melayani di Choice…


ARTI CHOICE BAGIKU Choice punya tempat spesial dalam salah satu chapter penting dalam hidupku, and I am so grateful for that! Tuhan Yesus sangat mengenalku, dan tau persis apa yang aku butuhkan untuk aku tumbuh menjadi pribadi seperti yang Dia sudah rancang. Sebelum kenal Choice, aku adalah pribadi yang kaku, judes, dan sulit sekali mengampuni. Menyimpan dendam lama menjadi bentuk pertahananku, supaya jangan ada orang yang menyakitiku. Aku memang punya relasi yang sangat dingin dan jauh dengan Papaku. Mungkin itulah yang membuat aku dan penampilan luarku keliatan galak dan judes. Karena sebenarnya aku punya kerinduan besar untuk mendapat sentuhan hangat seorang Papa. Setelah WE Choice akupun belajar menyadari, bahwa kasih sejati sesungguhnya ada pada kasih Bapa. Bapa di surga yang sangat sempurna cintanya (agape) dan Choice mengajarkanku bahwa aku perlu berdamai, menerima, dan terus belajar mencintai Papaku apa adanya. Sebenarnya sedari ikut WE Choice-233 sebagai peserta di 2015, dalam hati sudah timbul keinginan dan kesadaran kalau aku perlu jadi Tim Youth. Angela Yunita Hara Kornas Choice Indonesia Karena aku tau, aku akan terus diasah dan belajar mempraktekkan nilainilai Choice yang sangat basic dan fundamental. Aku sadar sesadarsadarnya, I need to grow in this community. Dan memang Tuhan memanggilku untuk melayani menjadi Tim Youth. Aku mendapat pengalaman yang sangat memorable dalam 3 hari weekend.


Mataku sembab, dadaku sesak, kepalaku sakit, mengingat begitu banyak kesalahan di masa lalu dalam caraku berpikir dan bertindak selama ini pada keluargaku, khususnya orang tuaku, akibat luka batin yang terus aku pegang erat. Benar-benar seperti di detox bahkan di reset ulang di dalam weekend. Ternyata benar kata-kata Tim Preparasi di Salvator, bahwa tanpa hati yang terbuka, this Weekend will not work its magic! PENGALAMAN INDAH SEBAGAI TIM CHOICE Puji Tuhan aku sudah pernah melayani sebagai Youth di WEC : 241, 247, 251, 253, 257, 260, 261, Hybrid 1, 264, upcoming 266 di Feb 2023. Dalam setiap Weekend Tuhan tidak pernah gagal mempesonaku dengan caranya bekerja. Aku selalu bersemangat untuk memberikan diri secara all out dalam Weekend. Aku selalu merasa happy, tapi juga merasa sangat honored untuk bisa memberikan secuil sharingku untuk menjadi hadiah bagi hati yang mendengarnya. Terutama kalo ada teman-teman Choicer yang punya pengalaman serupa sebagai anak pertama, sebagai keluarga Batak, atau sebagai anak perempuan yang rindu dekat dengan Papanya. Pernah aku ingat di sesi Panggilan, aku men-challenge salah satu peserta perempuan, yang sama-sama anak pertama, dan sama-sama punya kerinduan untuk dekat dengan adik bungsu laki-lakinya. Aku challenge dia untuk sepulang weekend mendatangi dan memeluk adik laki-lakinya dan say I love You. Sesuatu yang sebenarnya no big deal dilakukan siblings. Tetapi entah kenapa di jaman Now ini terlihat sangat aneh dan cheesy. Setelah weekend berlalu, kami bertemu lagi dalam sesi Renewal (Bina Lanjut), disana kami Tim mendapat bingkisan berupa surat-surat cinta dari Angkatan tersebut. Such a sweet gift yang membuat kami Tim merasa sangat terharu. Salah satu surat itu dari peserta yang aku challenge itu. Dia menceritakan bagaimana dia mencoba menjawab challenge itu dan merasa sangat diberkati boleh melakukannya. Hasilnya membuat dia sangat happy dan perlahan memecah kebekuan antara relasi kakak dan adik. Aku terharu dan menitikkan air mata, merasa sangat bahagia bisa ambil bagian dalam peristiwa cinta itu. Cerita ini hanya 1 dari begitu banyak karya tangan Tuhan yang boleh aku alami selama melayani sebagai Tim Youth. Selama Tuhan masih panggil saya untuk melayani, saya siap untuk menjalaniNya.


ARTI CHOICE BAGIKU Choice adalah keluarga keduaku. Aku yang anak pertama, menjadi punya banyak kakak ketika aku ikut kegiatan Choice karena kebetulan Papa-Mamaku adalah Team Choice di Semarang (antara th 2000-2001), “Ah.. enak ya.. punya banyak kakak disini..” pikirku kala itu. Mundurnya papa-mama sebagai team Choice th 2012, membuatku kecewa karena aku kehilangan kakak-kakak. Tapi ternyata meja makan rumah kami tetap menjadi sarana untuk mendekatkan kami dengan para Choicer di Semarang. Aku tidak terlalu memahami “meja makan” ini sampai aku akhirnya ikut WE Choice itu sendiri. “Kamu kalo mau ikut Choice.. jangan ikut Choice di Semarang.” ucap mama ketika aku mengutarakan keinginanku untuk ikut Choice. Karl Anggara Kornas Choice Indonesia Akhirnya Aku mengikuti weekend Choice di Yogyakarta tahun 2016 dan disitu aku baru sadar bener soal “meja makan” bagiku. Ditambah lagi.. aku dapat kesempatan yang langka juga ada anak baru bisa ikut Konnas 2017 di Bali. Makin kuatlah makna meja makan bagiku. Kesempatan aku boleh mengenal Choicer di Indonesia membuatku sadar bahwa meja makan sungguh bisa mendekatkan dengan banyak orang walaupun baru pertama kali bertemu. Disisi lain, aku yang ternyata harus pindah dari Jogja ke Jakarta tahun 2017 membuatku yang “bolang” (bocah hilang) – mendapat keluarga baru di Jakarta dengan sangat mudah. Keterlibatanku dalam kegiatan di Jakarta ketika awal pindah, membuatku semakin mantap memaknai “Meja Makan”. Pengalaman “meja makan” adalah pengalaman yang paling berkesan dan memberi makna ketika ditanya “apa arti choice bagiku ?”. Meja makan tempat kami ngobrol dan bercerita tentang banyak hal tanpa ada rencana dan bahasan yang spesifik. Meja makan bukan lauk yang penting disana, melainkan obrolan yang terjadi disitu menjadi hal yang paling ditunggu. Dari Meja makan itulah, terjadi kedekatan relasi yang semakin menguatkan.


PENGALAMAN INDAH SEBAGAI TIM CHOICE Setelah aku pindah ke Jakarta, aku masih terlibat sebagai team Choice Distrik Jogja dan menjadi tim perdana di WE Choice-73 tahun 2017. Status Tim Choice bagi si anak daerah membuatku besar kepala dan Pe-De aja, ketika aku pindah ke Jakarta dan ingin terlibat sebagai tim Choice di Jakarta. Pengalaman “bongkar total” presentasi menjadi pengalaman terindah bagiku. Si Anak Daerah yang Sombong ini akhirnya menjadi sangat kecil ketika setiap pengalaman kembali digali dan dipertajam menjadi sebuah presentasi yang semakin baik. Semakin digali dan semakin dalam perasaan yang diungkapkan, aku menjadi semakin diperbaharui dan menjadi semakin bertumbuh dalam menjalin relasi dengan banyak orang termasuk dengan papa-mama yang terlihat “baikbaik” saja selama ini. Pengalaman meja makan tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Keterlibatanku di WEC-253, WEC Bogor 3, 256, 261, 262, 264 termasuk project luar biasa Hybrid 1 serta 266 yang akan datang, membuatku semakin sadar, bahwa keterlibatan dan keterbukaan serta pemberian diriku secara total membuatku menjadi pribadi yang hangat dan diterima oleh banyak orang. “Udah makan belum le ?” pertanyaan yang selalu keluar, ketika aku berkunjung ke rumah tim Choice. Jadi…. ternyata kedekatan yang terjadi di meja makan membuat relasi menjadi akrab dan menggembirakan. Belum lagi, kesempatan melayani WE Choice bersama Alm. Opa Ivo dan Oma Lia (Founder Choice Indonesia). Perkenalan dan perjumpaan dengan mereka yang pernah terjadi saat Konnas 2017 ditambah pengalaman untuk menjadi tim bersama founder Choice, rasanya kog aneh ya.. anak daerah yang sombong dikasi kesempatan yang luar biasa. WOWW… hal ini lah yang membuatku semakin bertumbuh dan belajar tentang banyak hal. Hal lain yang kusyukuri adalah “anak daerah” ini diminta menemani om Peter dan tante Sera serta Nita untuk bersama-sama menjadi Kornas Choice Indonesia 2021-2024. “Siapa aku ?” Pertanyaan yang menjadi pergumulan ketika aku akan menjawab permintaan ini. Tetapi kesempatan ini kumaknai sebagai pengalaman baru yang menggembirakan karena boleh melayani distrik-distrik di Indonesia . Ya.. dari meja makan menjadi pengalaman melayani yang menggembirakan. Selamat Ulang Tahun ke 40 Choice Indonesia!!!! Semoga pengalaman cinta ini boleh semakin luas dan bisa dirasakan oleh lebih banyak anak muda. Hidup menjadi lebih indah, ketika boleh Mengenal, Mencintai dan Melayani sesama."


KUMPULAN CERITA TIM WEC-1 DISTRIK JAKARTA 1


Pas (+Ivo) - Lia Tim Pasutri WEC-1 Kumpulan Cerita Tim WEC-1 Distrik Jakarta Saat kami sebagai Pasutri Ivo-Lia, dalam acara konsultasi bisa mendengarkan dengan penuh empathy curhat peserta dengan bercucuran air mata mengungkapkan pahit getirnya hati yang terluka. Rasanya hati kami juga ikut menderita, saat mendengar jeritan hati mereka. Beberapa cuplikan cerita mereka : • Ditinggalkan ayahnya sejak kecil, dan sampai dewasa tidak pernah lihat dan tidak tahu dimana ayahnya berada. • Ditinggalkan pacar sampai nangis teriakteriak malam itu • Sebagai anak perempuan, terima pukulanpukulan dari ibunya, saat kutanya dengan “apa dipukul?”, jawabannya dengan semua yang ibu bisa pakai untuk pukul, bahkan dengan kursi. Begitu banyak cerita luka batin, dan hati kami juga ikut sedih dan prihatin. Dan setelah mendengarkan, apa yang kami bisa perbuat? Kita adalah komunitas cinta. Para tim bersama dengan seluruh peserta berjalan bersama Tuhan, karena Tuhan adalah CINTA, dan kita semua diciptakan Tuhan sesuai citra-Nya, maka kita juga adalah CINTA. Yang membuat kami Bahagia adalah… Bila setelah WE Choice, peserta itu kadang bisa menemukan ayahnya dan mengampuni dan berdamai. Dengan hati damai meneruskan hidupnya dengan cinta dalam hatinya. Memang perlu waktu dan usaha terus menerus untuk memperbaiki relasi, kadang bisa bertahun-tahun, tapi terus dilatih dan berusaha, karena sudah mengerti jalannya, bersama Bapa, Yesus dan Maria dan Doa, akan merubah hati yang benci menjadi hati yang mengampuni. Yang membahagiakan kami, Ivo-Lia dan seluruh Tim Choice, berjalan bersama dan makin dekat pada Tuhan, belajar bersama untuk menjadi duta cinta. Kami ajarkan mengampuni pada yang menyakiti hati kita, lihat contoh Yesus yang diatas kayu salib, diludahi, ditancapkan kawat duri di kepala, sampai berdarah-darah dari kepala, yang mendapat 4000 lebih pukulan dengan besi berduri, masih bisa serukan, “Bapa, ampuni mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat!” Tidak mudah mengampuni, tapi kita harus belajar dari Yesus. Hal paling mengesankan sebagai Tim WEC


Romo A.Widianto, Pr Peserta WEC-1 Jakarta Choice berusia 40 Tahun, luar biasa. Waktu terasa berjalan begitu cepat. Masih segar dalam ingatan kayak baru ‘kemarin sore’ saya ikut Choice angkatan pertama di BLKM, Lembah Ciloto, Jabar, 10-12 Desember 1982. Dengan Tim Choice Pastor Bart Janssen, Sr. Emma, Pasutri Ivo-Lia, Youth: Vincent-Aik, tak pernah akan saya lupakan. Mereka sungguh dahsyat. pertama kali tampil menjadi Tim Choice Angkatan Pertama bukanlah persiapan yang mudah. Belum ada pengalaman, namun bisa membawakan seluruh acara tanpa ‘gagap’ dan menyampaikan nilai-nilai yang digali dari pengalaman kehidupan yang nyata dari setiap presentasinya. Itulah yang membuat saya terpesona. Semua presentasi yang disampaikan sebagai kesaksian hidup yang konkrit; sangat mudah dicerna dan direfleksikan oleh para peserta kaum-muda yang kalau tidak salah jumlahnya saat itu sekitar 30-an. Sebagai imam yang baru ditahbiskan dua tahun, saya sebagai peserta saat itu, di saat akhir WEC, hati saya berseru: Choice memang lain daripada yang lain, ini keren dan cocok untuk siapa saja, bukan hanya untuk kaum muda. Para pasutri pun juga dibuat jatuh hati dengan Choice. Banget! Jargon Choice: “Mengenal, Mencintai dan Melayani” terus menerus menggema di dalam hati karena bisa saya terjemahkan ke dalam perjalanan imamat saya. Dalam perkembangannya, saya merasakan Choice lebih menakjubkan lagi. Dari angkatan yang satu ke angkatan berikutnya telah berjalan secara berkesinambungan. Perbaikan dan penyempurnaan dalam melayani penuh dengan jatuh-bangun, pelan tapi pasti, menemukan pola yang baku untuk menanggapi kebutuhan dalam perjalanan bersama selama Week End Choice. Itu sungguh menggembirakan. Saya juga ingin mengenang pribadipribadi berkualitas yang telah mendahului kita. Masing-masing dari mereka telah mempunyai peran yang sangat istimewa dalam setiap langkah Gerakan Choice. Di sini saya tak bisa menyebutkan satu per satu nama-nama mereka, sudah cukup banyak jumlahnya. Tapi di dalam benak saya sering muncul rekamanrekaman indah yang boleh saya alami dalam kebersamaan, baik yang ada di Distrik Jakarta maupun yang di Distrik-distrik lain di Indonesia. Mereka sudah berbahagia di Rumah Bapa, dan menjadi pendoa bagi kita semua. Sungguh, saya ingin mengucap syukur kepada Tuhan Yesus yang telah mencurahkan Roh Kudus sepanjang perjalanan Choice. Tantangan di masa berikutnya tak perlu dicemaskan. Tuhan tak pernah meninggalkan umat-Nya yang punya tekat mewartakan nilai-nilai Injili dalam Gerakan Choice. Kita akan tetap bergandengan tangan menyanyikan dan mewujudkan lagu ‘kebangsaan’ kita: Terindah dalam hidupku mengenal, mencintai dan melayani-Mu. Proficiat Choice yang berulang tahun ke 40. Tuhan Yesus memberkati dan Bunda Maria mengasihi kita semua. Amin.


Sr. Emmanuel Gunanto, OSU Tim Suster WEC-1 Choice bagiku merupakan sekolah cinta. Kalau sekolah biasa ada tamat dan lulusnya; sekolah Choice tidak kenal tamat dan lulus. Sudah empat puluh tahun aku di sekolah ini, belum juga tamat apalagi lulus. Tiap kali ada weekend Choice aku berusaha sebisa-bisanya untuk mengesampingkan segala kegiatan lain supaya bisa membaharui, memperdalam dan meningkatkan cintaku. Dimana lagi ada kesempatan belajar mencinta selain dalam Choice? Hanya Choice yang memungkinkan kami saling berbagi cinta dalam sharing mendalam tanpa takut dinilai, dikritik atau dianggap aneh. Hanya dalam Choice aku belajar mendengarkan dengan hati, mengenal orang lain secara mendalam dan mengasihinya. Hanya Choice yang memungkinkan aku menjadi bagian dari orang lain, yang membawa kepada pelayanan yang tulus, gembira dan tanpa beban. Choice tidak ada tamatnya sebab cinta sebagai pokok utamanya bersumber pada kasih Allah. Dan Allah mengasihi tanpa batas. Seberapa pun kita mengasihi, selalu ada batasnya karena kelemahan dan dosa-dosa kita. Kasihku bisa memudar karena kesibukan atau kemalasanku. Kasihku juga bisa hilang di kala hatiku sangat disakiti. Weekend Choice memberi kesempatan emas unuk memulihkan dan membaharui cinta itu dalam IBADAT REKONSILIASI. Saat paling indah dalam weekend Choice adalah saat menulis surat cinta dan waktu makan siang terakhir menerima bingkisan penuh surat cinta. Kapan lagi aku bisa menerima surat cinta. Memang surat-surat itu sudah disiapkan beberapa hari sebelum weekend oleh para peserta Choice angkatan sebelumnya. Ada juga yang baru saya alami, dari sesama team weekend mendapatkan surat cinta dan dengan kreatif anak muda membuat kotak surat yang indah dan cantik. Surat cinta itu berisi ucapan terimakasih atas pemberian diriku dalam weekend, penghargaan, peneguhan dan doa. Kadang ada yang menyelipkan permen atau coklat kecil dalam suratnya. Di zaman orang makin tak peduli satu sama lain, siapa yang terpikir menulis surat-surat seperti itu. Dalam WE Choice-113 di Bandung, saya merasa kehadiran Papaku begitu kuat. Papa yang teramat menyayangiku, dan menjadikan aku anak kesayangannya. Tapi sebaliknya aku sangat kurang mencintai Papaku, bahkan secara tak sadar menolaknya karena kuanggap sebagai biang keladi ketidak nyamananku menjadi orang setengah China. Aku menyesal, sangat menyesal bahkan setelah puluhan tahun yang lalu Papaku berpulang ke Rumah Bapa. Aku belum pernah minta maaf kepadanya. Di saat menulis surat cinta biasanya aku menulis kepada masing-masing anggota tim yang melayani bersamaku. Tapi kali itu aku menulis surat cinta kepada Papa. Aku sebutkan segala kebaikannya kepadaku, halhal yang kukagumi dan kujadikan pegangan hidupku. Aku juga minta ampun beribu ampun karena aku sebagai anak durhaka tak pernah mengucap terimakasih kepadanya, menyatakan penghargaanku, malah sering mencuekkannya bahkan menyakiti hatinya. Setelah menulis surat itu aku merasa lega sekali. Tuhan dan Papaku telah mengampuniku. Surat itu sudah sampai ke surga ketika dibakar dalam Misa penutup. Itulah pengalaman paling indah yang pernah kualami. Suasana weekend Choice memang kondusif untuk melakukan hal itu. Terimakasih, Choice. Terima kasih Tuhan untuk Choice.


Perkenalanku dengan CHOICE bermula dari kunjungan Pastor Bart Jansen OFM ketempatku bertugas di kompleks Gereja Asisi Tebet, di Perpustakaan Paroki; ketika itu aku setiap Sabtu Minggu membuka pintu perpustakaan tersebut. Pastor Bart memang mengenalku karena aku terlibat dalam kegiatan di paroki antara lain memimpin paduan suara Mudika Lingkungan (meskipun aku tidak bisa nyanyi), menjadi ketua Panitia Perayaan 17 Agustus Paroki, membantu menerbitkan Berita Paroki bersama sahabatku Go Tjiong Ming. Pastor Bart mengatakan bahwa beliau sedang mencari sepasang muda mudi untuk dikirim ke Singapura mengikuti suatu program yg akan nantinya diterapkan di Indonesia, nama program tersebut adalah CHOICE. Perasaanku saat itu sangat senang, bukan karena nama CHOICE, tapi karena akan naik pesawat ke luar negeri, apalagi saat itu aku belum pernah naik pesawat terbang. Tawaran pastor langsung kuterima dan saat itu juga beliau menanyakan kepadaku apakah bersedia berangkat dengan seorang pemudi yang bernama Aiek. Hatiku saat itu campur aduk tapi bahagia, karena pemudi tersebut menolak cintaku 5 tahun yang lalu (dan aku masih selalu merindukannya),yang akhirnya menjadi istriku. Singkat cerita, aku berjalan bersama dengan Aiek ke Singapura mengikuti program Weekend Choice sebagai peserta, lalu pulang ke Jakarta dengan kewajiban menjadi Youth Team WeekEnd Choice yg sdh ditetapkan tanggalnya 10 Desember 1982, berarti persiapan hanya diberi waktu kurang dari 3 bulan. Akibatnya kami berdua secara intensif 3 kali seminggu datang ke pastoran Tebet untuk mengikuti persiapan sebagai Tim Choice. Setiap pertemuan aku menjemput Aiek dengan sepeda motor bertemu dengan anggota tim lain yaitu pasutri Ivo Lia, pastor Bart dan suster Emma Bila aku ditanya apa arti CHOICE bagiku? Hanya ada satu kata yang sampai saat ini selama 40 tahun tertanam dihatiku adalah BELONG. Yg kalau dijabarkan secara singkat program Choice dimaksudkan untuk mengembangkan kepribadian muda mudi Katolik untuk menjadi murid Kristus, menyiapkan bibit masa depan Gereja berdasarkan karakteristik Kristiani yaitu Kasih dan Iman untuk mau terlibat membantu sesama sebagai saksi saksi Kristus di dunia ini. Sudah tentu bekal yg didapat dari CHOICE agar mampu menyampaikan kabar gembira Kristus, muda mudi tersebut diharapkan dapat melaksanakan kasih dan imannya dengan penuh suka cita dan damai sejahtera. Menurut saya CHOICE membantu mencetak muda mudi untuk mendapatkan damai sejahtera dalam diri masing masing sehingga mampu menjalankan perannya sebagai murid Kristus untuk kesejahteraan dan kedamaian bangsa. Semoga program CHOICE tetap berlangsung di Indonesia agar semakin banyak pemuda pemudi yang bersedia menyebarkan ajaran2 Kristus melalui perbuatan kasih untuk membantu sesama yang membutuhkan. Vincent Nangoi Tim Youth WEC-1


KUMPULAN CERITA KORDIS CHOICE DISTRIK JAKARTA 2


Kumpulan Cerita Kordis Choice Distrik Jakarta Awal aku ikut Choice karena syarat utama sebelum menikah dengan Ali Nathan. Dasarnya aku memang suka retret, ya … aku coba untuk ikut. Setelah ikut, aku baru benar-benar merasakan kenapa ya mami papi (mertua) selalu memaksa aku untuk ikut WE Choice karena saya bisa merasakan nilai-nilai Injili didalam setiap sesi. Setelah 5 tahun pernikahan kami, mami papi mertua juga mendesak lagi untuk ikut WE Marriage Encounter. Dan sekarang aku sadar bahwa mereka memang menyiapkan aku dan Ali untuk meneruskan jejak mereka, sebagai Tim Choice. Panggilan pertama sebagai Tim Choice adalah saat diminta untuk menjadi tim pasutri peninjau WE Choice di tahun 2007, saat itu Romo Handoko sudah mendoakan kami berdua, agar kami bisa menjawab Panggilan sebagai Tim Choice, namun masih juga belum ada progress untuk menyiapkan presentasi karena aku dan Ali saling menunggu satu sama lain dengan seribu satu macam alasan. Saat itu para pasutri senior, pasutri muda dan Youth terus menyemangati kita dengan segala iming iming, kembali saat itu kami berdua masih “wait & see”. Pertama kali mami sakit sekitar 2016 dan keadaan kita terpuruk, disanalah aku melihat cinta Ali kepada mami sungguh luar biasa. Belonging Ali terhadap mami sungguh-sungguh nyata danaku juga merasakannya. Ali yang selalu ada untuk mami, yang mendampingi mami dari pagi sampai malam, dari Senin sampai Minggu dan aku melihat juga belonging para tim Choice yang saling bergantian untuk menghibur dan mendampingi mami, sungguh merupakan firman yang hidup. Dari pengalaman ini, akhirnya menjadi titik awal aku mulai mau untuk melibatkan diri dalam pelayanan Choice. Tidak hanya berhenti di sini, saat papi mulai sakit di tahun 2020, banyak tangan-tangan para tim Choice yang tidak ada hentinya untuk “hand in hand” membantu kami dalam merawat papi sampai papi meninggal. Kembali aku terpesona dengan arti “belonging” yang sesungguhnya. Ya itulah…. apa yang saya dapatkan dari para tim Choice sebagai firman Tuhan yang hidup. Aku semakin mengerti, mengapa mami papi begitu mendedikasikan hidupnya untuk Choice, selalu membuka rumah untuk Choice. Tidak lama setelah kami terlibat sebagai Tim Choice, kami berdua dipilih menjadi Kordis Choice Jakarta. Awalnya kami merasa tidak mampu, tapi aku selalu ingat bahwa Tuhan akan selalu menyempurnakan semua usaha-usaha kita karena semuanya untuk kemuliaan namaNya dan kami merasakan banyak sekali cinta yang kami dapat dan berkat yang luar biasa dari Tuhan dalam kehidupan kami berdua. Terima kasih Choice dan kami komit untuk selalu mencintai dan melayaniMu. Pasutri Ali – Ninik Kordis Choice Distrik Jakarta Ali Aku mengikuti WE Choice-3 karena permintaan mami di tahun 1983, dan sejak mengikuti aku hanya aktif sebagai pemantau saja. Di tahun 2007, aku ikut sebagai Tim Pasutri peninjau dan saat WE Choice tsb aku terpanggil untuk bisa lebih aktif, tetapi kembali lagi tertunda 10 tahun karena Personal Computer sayacrash saat mulai menulis presentasi. Tahun 2016, saat mami meninggalkan kami karena sakit, pesan mami adalah kami (AliNinik) untuk jadi tim Choice dan rumah kami tetap dijadikan tempat pelayanan Choice. Akhirnya dengan bantuan para tim senior, kami bisa melayani sebagai Tim Peninjau saat WE Choice245, dan saat inilah aku makin terpanggil atas dorongan diri sendiri dan Ninik tentunya, akhirnya kami resmi menjadi team Pasutri aktif, sejak WE Choice-248. Sejak itulah… berkat kami dapatkan selama pelayanan dan seringkali kami diminta untuk menjadi saksi perkawinan para Choicer yang minta kepada kami untuk dapat mendampingi perkawinan mereka sampai sekarang. Kami sangat bersyukur bahwa kami bisa terlibat penuh dalam aktivitas Choice, karena nilai-nilai Choice sangat berguna bagi kami dalam membangun keluarga serta membina perkawinan kami dan tentunya sangat bersyukur bahwa keluarga kami selalu baik adanya bahkan bisa menjadi teladan bagi yang belum menikah. Ninik


Sr. Vivien Kordis Choice Distrik Jakarta Saya sangat bersyukur kepada Tuhan, pasutri Kyat Betty memperkenalkan dan membawa saya kedalam keluarga Choice. Saya menjadi peserta WE Choice-46 adalah suatu anugerah dari Tuhan. Melalui nilai2 Choice yang adalah nilai2 Injil, Tuhan membimbing saya langkah demi langkah dalam "Sekolah Cinta Nya", sehingga saya dapat tumbuh dan berkembang menjadi seperti sekarang ini. Menyadari akan luar biasanya pengalaman "Perjumpaan dengan Tuhan" melalui karya Roh Kudus dalam WE Choice, dan pastinya melalui para Tim Choice membuat saya dapat hidup baru dalam tuntunan Roh Kudus. Saat saya mulai magang pertama di WE Choice-94, saya mulai mengalami proses healing dan sukacita, juga saya dapat merasakan kelegaan dan sukacita dari peserta yang terpancar dari wajah mereka di akhir WE Choice. Sungguh Karya Roh Kudus yang membuat mereka membuka hati dan kami para Tim bersatu hati. Pengalaman seperti itulah yang membuat saya selalu siap untuk melayani WE Choice dengan mohon urapan Roh Kudus dan doa Bunda Maria serta St Yosef. Being dengan Tim dan peserta, sebagai sahabat dan saudara. TO KNOW, TO LOVE & TO SERVE Sr. Vivien Kordis Choice Distrik Jakarta


"COME AS STRANGER, STAY AS FAMILY. Rasanya kalimat ini yang paling tepat menggambarkan perasaanku tentang Choice. Aku ikut WEC angkatan 237 di Jakarta, November 2015, seorang diri tanpa kenal siapapun, tanpa ekspektasi apapun karena yang ngajak juga hanya bilang pokoknya ikut saja, bagus. Aku bukan anak yang aktif kegiatan kerohanian, retret terakhir juga jaman SMP dulu sehingga 3 hari WEC tentunya semakin berkesan. Derai air mata tak terbendung sejak hari pertama, tapi rasanya hati ini lega dan bahagia. Aku sungguh bisa merasakan cinta Tuhan maupun cinta dari para team, mulai dari sharing yang dibagikan sampai pelukan hangat mereka untukku. Kesan yang begitu mendalam yang akhirnya membuatku semangat untuk terus mengikuti kegiatan-kegiatan Choice. Aku mulai aktif di Kombas (Komunitas Basis), senang rasanya bisa bertemu teman-teman baru lintas angkatan, dan sama-sama menjadi panitia berbagai acara. Hingga aku dijerumuskan untuk coaching menjadi youth team. Melalui proses coaching tema-tema Choice semakin lebih aku pahami, dan justru inilah momen dimana aku semakin merasa Choice merubah hidupku. Apakah coaching itu selalu menyenangkan? Oh tentu tidak. Penuh dengan air mata. Bagaimana aku semakin mengerti arti belonging untuk keluargaku, sakit hati dan luka batinku, semakin melihat kesetiaan kedua orang tuaku, penolakan yang sampai saat ini masih kubawa, bahkan juga kadang penuh tawa saat aku menyadari seksualitasku sebagai wanita yang ternyata jongkok. Namun semuanya kujalani, ditemani oleh pasutri dan teman-teman youth yang membimbingku. Rasanya bukan seperti bangku kuliah antara mahasiswa dan dosen, tapi seperti keluarga yang ingin membantuku menjadi pribadi yang lebih baik. Bisa turun melayani di WE Choice rasanya sungguh menjadi berkat bagiku karena setiap WE Choice selalu mempunyai ceritanya masing-masing. Walaupun aku sebagai team yang memberikan WE Choice, tapi rasanya tiap kali WE Choice aku pun ikut berasa jadi peserta yang ujungnya jadi semakin mengerti nilai-nilai Choice dan aplikasinya dalam hidupku. Seringkali aku merasa tidak siap untuk turun WEC. Pikiran terkadang masih penuh dengan urusan kerjaan, keluarga, atau hati yang gundah gulana. Sungguh kuasa Roh Kudus yang memampukanku untuk bisa melayani dan memberikan diri. Sharing dari seluruh peserta selama WE Choice, justru menjadi kekuatan dan semangat baru setiap aku pulang WEC. 7 tahun aku bersama keluarga besar Choice, aku merasa begitu dicintai dan diterima apa adanya. Perasaan inilah yang membuat aku terus ingin melayani Tuhan. Keluarga Choice sudah memberiku banyak cinta, dan aku ingin memberikan cinta yang aku punya kepada keluargaku, teman-teman, calon pasanganku kelak, maupun peserta WE Choice. Aku bahagia dan bersyukur boleh mengenal Choice, karena tanpa Choice aku tidak mungkin menjadi Ria seperti saat ini. Praise to the Lord!" Ria Osman Kordis Choice Distrik Jakarta


Martinus Prabowo Antono (Martin) Kordis Choice Distrik Jakarta Berawal dari seorang yang tidak menyukai retret, ternyata Choice merupakan wadah yang memberikanku kesempatan untuk menjadi seseorang yang berproses secara menyeluruh. Choice merupakan salah satu titik balik dalam hidupku untuk kembali memiliki relasi yang lebih baik dengan keluarga. Dimulai dari penyadaran tentang diriku sendiri, serta pemahaman akan perasaanku terhadap keluarga, yang sebelumnya tidak pernah aku telusuri. Bagiku Choice merupakan berkat perjalanan yang indah dan panjang. Berproses dalam relasi bukanlah hal yang mudah, terlebih ada hambatan yang kita miliki. Setelah menjalani secara menyeluruh proses Renewal Choice dan mendapatkan kesempatan untuk bergabung dalam Komunitas Basis serta memulai perjalananku untuk 'coaching' seputar sesi Choice, secara otomatis lingkunganku dipenuhi dengan diskusi seputar nilai-nilai Choice, yang membuatku semakin bertumbuh. Seiring waktu menjalani Coaching dan Komunitas Basis, tidak terasa relasiku dengan keluarga juga bertumbuh di dalam Tuhan. Di tahun 2022 aku mendapatkan kesempatan untuk melayani dalam WeekEnd Choice sebagai Youth. Kesan pertama yang kudapatkan adalah rasa syukur karena merasakan mengikuti kembali WeekEnd Choice secara lebih nyata. Saat mengikuti WE Choice- 255, aku sering sekali tidak fokus dan banyak penolakan terhadap sesi-sesi yang berlangsung. Tuhan memberikan kesempatan kedua untuk aku belajar lagi tentang Choice saat menjadi Tim Youth Magang. Pada awalnya aku merasa takut, karena aku tidak pernah melakukan pelayanan seperti ini, merasa tidak mampu, merasa kurangpaham tentang hal-hal rohani. Namun mengingat bagaimana Tuhan menolongku melalui Choice, rasanya ingin juga aku membagikan rasa tersebut kepada peserta WE Choice yang baru saja bergabung agar minimal bisa merasakan manfaatnya, bagaiman indahnya berproses relasi dalam Tuhan. Selama pelayananku dalam WE Choice tentunya ada suka dan duka, hambatan dan keberhasilan. Hal yang paling berkesan adalah bagaimana kita melihat sosok para peserta yang baru datang ke Wisma Cengkih (tempat WE Choice), ada yang ekspresinya lelah, ada yang bingung, ada juga yang terlihat begitu menantikan hal apa yang akan didapatkan selama WeekEnd Choice ini dan setelah mengikuti rangkaian WE Choice, mereka mengenal satu sama lain, dan ekspresi para peserta ini berubah menjadi lebih cerah, bahagia, terutama saat kita memasuki sesi foto bersama. Dari kesan itulah, aku merasakan betapa hebatnya karya Tuhan dalam WE Choice ini. Setelah aku mendapatkan kesan tersebut saat magangku yang pertama, tidak butuh waktu lama muncul rasa kerinduan untuk kembali turun melayani sebagai team dalam WeekEnd Choice. Menjadi seorang tim atau fasilitator tidak hanya memberikan diri kita untuk para peserta, tapi kita juga diberikan kesempatan untuk memberikan diri sekali lagi kepada Tuhan dan menerima pembaharuan cinta kembali sebagai bekal dalam perjalanan relasi kita dengan orang-orang yang kita sayangi. "


KUMPULAN CERITA ROMO/SUSTER DISTRIK JAKARTA 3


Mulanya saya nggak pernah memikirkannya walau sudah pernah mendengar adanya WE Choice sejak masih mahasiswa STFT Malang. Kala saya pindah di Paroki Kristus Raja Surabaya saya didekati oleh sesama imam yang juga menjadi Tim Choice Surabaya. Dia menyarankan dan mensupport saya untuk ikut WE Choice. Saya menanyakannya apa, mengapa dan bagaimana Choice itu. Dia hanya menjawab : "Wis lah, ikut saja. Ikuti acaranya, nikmati sesi-sesinya, dan nanti akan mengalami sendiri." saya diijinkan oleh kepala paroki, alm Rm Tandyo, CM untuk mengikuti WE Choice. Saya ikuti acara demi acara, inilah temuan saya. Bagiku Choice adalah gerakan orang-orang Katolik (terutama yg masih bujang) untuk memaknai kekatolikan yg telah dipilihnya, mempertanggungjawabkan pilihan dan keputusannya untuk menjadi orang katolik yang telah mengenal Yesus secara mendalam, mengasihi Yesus yang telah lebih dulu mengasihiku dan melayani Tuhan dan sesama sebagaimana Yesus telah menjadikan aku sebagai sahabat-Nya. Aku bahagia dijadikan sahabat oleh YesusTuhanku. Pengalaman yang menarik bagiku ialah kala saya berbagi dalam presentasi. Dalam berpresentasi ternyata tidak hanya aku yg sempat menitikkan air mata haru dan bahagia kala mengungkapkan pengalamanku kepada para peserta. Para peserta mengapresiasi pengalaman ku yang otentik muncul dari kedalaman relasiku dengan Tuhan, ayah ibuku, kakak-kakak dan adik-adikku serta banyak orang yang kujumpai di mana-mana. Romo A. Yuni Wimarta, CM Tim Priest Aktif Distrik Jakarta Aku sungguh bahagia bisa berbagi pengalaman dalam berelasi, mengasihi dan melayani (to know, to love and to serve). Sejak September 2021 saya pindah tugas di Paroki Tanjung Priok dan belum pernah bergabung dalam WE Choice distrik Jakarta. Maka saya kulanuwun kepada rekan-rekan Tim Choice distrik Jakarta. Semoga masa pandemi cepat berlalu dan WE Choice bisa aktif kembali. Terimakasih, saya boleh melengkapi perayaan HUT-40 Choice. Terindah dalam hidupku – Mengenal – Mencintai - MengabdiMu Kumpulan Cerita Romo/Suster Distrik Jakarta


Romo Fransiskus Nong Budi, C.P Tim Priest Aktif Distrik Jakarta CHOICE (PILIHAN) sudah saya dengar dan ketahui namanya ketika saya sebagai Frater Pasionis di Malang pada 2012. Saya mengikuti WE Choice-57 Pontianak di tahun 2019, saat saya sebagai Frater di Pontianak, yang ditawarkan oleh Romo Pius Barces, C.P. Saya mengikuti “kegiatan” itu bersama sejumlah kaum muda dan saya satu- satunya frater, ada empat orang suster yang juga ikut. Bagi saya, CHOICE adalah PILIHAN. Pilihan sebagai satu dari banyak jalan untuk mengasihi, mengasihi sebagai seorang manusia dengan kasih Ilahi. Mengasihi dengan kasih yang mendalam sebagaimana diungkapkan sebagai strong sense of belonging. Kini, pada 2022, saya gembira karena menjadi bagian dari PILIHAN. Saya merasa gembira karena ikut ambil bagian untuk menyemangati kaum muda, menuntun mereka kepada Kasih Ilahi bagaikan membawa domba-domba ke padang yang hijau dan ke air yang tenang. Seperti senja 1982, kini senja 2022, saya menamakannya Peculiaris Occasus Solis Quadragesimo Anno Iter; tahun keempat puluh perjalanan swastamista istimewa; the special sunset of fourtieth years journey. Usai “kegiatan” itu saya ditawari untuk belajar menjadi tim. Saya diminta untuk menulis panorama perjalanan hidup dan panggilan. Saya didampingi oleh Ci Nani secara daring selama beberapa pertemuan hingga oleh tim. Dan akhirnya saya belajar menjadi tim perdana pada WE Choice – 265. Bagi saya seperti swastamista istimewa. Saya merasa diri seperti Romo Bart Janssen kala itu bagaimana ia untuk pertama kali menjadi tim Akhir Pekan Pilihan pada Desember 1982. Meski saya sudah mengikuti WEC, sudah didampingi untuk belajar menjadi tim, tetapi rasa gugup tetap membayangi saya hingga malam sebelum berangkat ke Wisma Cengkih (tempat WE Choice),saya merasa saya tidak dapat berbuat apa-apa, sehingga pada doa malam pribadi, saya katakan kepada Tuhan, “Tuhan saya bersedia, silahkan bekerja!” Akhir Pekan Pilihan 265 pun usai, bersama Sr.Vivien, Pasutri PeterSera, Pasutri Agung-Vien, serta youth Martin, Lidwin dan Ria, saya merasakan secara pribadi bahwa Tuhan sungguh bekerja, dan itu sangat dahsyat! Saya menyebutnya sebagai Tanda yang Menakjubkan, Signum Admirabile! Akhir kata, selamat ulang tahun keempat puluh dan teruslah menjadi duta kasih sebab melaluimu orang dapat melihat dan mengalami kasih Ilahi. Teruslah mengenal, mengasihi, dan mengabdi Tuhan dalam sesama. Viva Choice! Peculiaris Occasus Solis Quadragesimo Anno Iter Tahun Keempat Puluh Perjalanan Swastamista Istimewa The Special Sunset of Fourtieth Years Journey Saya menyebut perjalanan swastamista istimewa karena indahnya pesona sebelum senja. Momen tersebutlah yang saya temukan dalam aksi PILIHAN, terutama melalui Akhir Pekan Pilihan. Tampaknya secara kebetulan, begitu terlintas pertama kali dalam benak saya, bertemu dengan Orang Pilihan (Choicer). Namun perjumpaan sederhana itu membawa saya pada permenungan bahwa Tuhan menuntun saya. Saya bertemu pasutri MartinNovi dalam suatu pelayanan sakramen penguatan. Dalam perjumpaan itu mereka berbicara tentang PILIHAN. Mereka sedikit terkejut dan penasaran bahwa saya adalah seorang PILIHAN (Choicer). Dari perjumpaan itu saya diajak untuk ikut “kegiatan” PILIHAN. Saya diundang untuk meninjau WE Choice di Jakarta. Jadilah saya sebagai peserta WE Choice - 263, yang pertama lahir pascapandemi Covid-19.


Romo Benny A.Laisina, MSC mantan Tim Priest Distrik Jakarta Saat ini bertugas di Roma, Italia Di hari pertama WE Choice, saya bertemu dengan peserta yang belum saya kenal sebelumnya dan melalui sharing-sharing di kelompok, saya mulai mengenal pribadi mereka, latar belakang dan situasi keluarganya, termasuk pergumulan atau masalah yang sedang mereka alami. Wajah mereka biasanya masih kelihatan berbeban, sulit untuk tersenyum, masih saling menjaga jarak dan jaim alias jaga image di antara mereka, belum begitu care satu sama lain. Pada hari kedua mulai terasa ada perubahan yang terjadi dalam diri peserta, mereka lebih terbuka dan lepas dalam mensharingkan pengalaman dan pergumulan hidupnya. Diantara peserta, mereka juga makin care satu sama lain, saling mendukung dan tampil apa adanya. Di hari ini malam rekonsiliasi menjadi malam penuh rahmat bagi para peserta. Saya biasanya merasa sangat terharu melihat para peserta WE masuk dalam suasana hening, suasana doa yang khusuk, suasana pertobatan, suasana rekonsiliasi dengan Tuhan dan dengan anggota-anggota keluarganya. Pada hari ketiga, kami semua masuk dalam suasana kebangkitan dan sukacita. Saya merasa bahagia menyaksikan para tim dan para peserta dalam suasana bangkit bersama Yesus yang mengasihi semua orang. Wajah peserta berubah total menjadi ceriah, penuh sukacita, syukur dan optimisme untuk melangkah ke depan. Saat pertemuan-pertemuan persiapan WE Choice hingga misa kick off bagi kami para tim yang akan melayani Week End. Pada moment ini sangat terasa bahwa kami sebagai satu tim dipersatukan dalam misi pelayanan yang sama yaitu misi untuk membawa dan berbagi kasih dengan para peserta WE. Kami saling mendukung dan saling menyemangati agar dapat melayani dan memberi yang terbaik pada hari-hari H pelaksanaan WE Choice. Saat hari-hari H memberi WE Choice. Bagiku Choice adalah sebuah jiwa atau spirit yang menggerakkan dan mendorong aku untuk peka dan peduli terhadap orang lain yang ada di sekitarku, mereka yang datang kepadaku, termasuk umat yang membutuhkan pelayananku sebagai imam. Kepedulian itu berbentuk perhatian, dukungan, pelayanan agar orang lain bisa bertumbuh dalam kasih dan membangun relasi yang semakin baik, semakin berkualitas dengan keluarganya. Choice adalah pilihan dan keputusan untuk mengasihi orang lain mulai dari anggota keluarga kita masing- masing kemudian meluas kepada orang lain di sekitar kita, kepada umat yang saya layani. Pengalaman terindah saat melayani WE Choice : Kasih Tuhan makin terasa di antara para peserta. Mereka menjadi sangat dekat dan akrab satu sama lain. Mereka saling meneguhkan dan memberi semangat. Mereka merasa memiliki keluarga yang baru yaitu teman-teman bersama kami para tim, keluarga Choice. Pada hari ini saya merasa bahagia dan penuh syukur bahwa banyak orang muda, para peserta WE mengalami “kelahiran baru”. Semangat cinta kasih Kristus menjadi sangat kuat dalam diri mereka. Kami juga para tim merasakan kepuasan batin yang mendalam karena bisa menjadi alat di tangan Tuhan untuk menyebarkan kasih melalui Choice. Saya juga merasa sangat bersyukur bisa mendengarkan presentasi dari teman-teman tim. Presentasi, sharing pengalaman hidup yang menyentuh dari setiap tim menjadi berkat bagi saya, bagi kami semua. Presentasipresentasi itu memberikan pencerahan bagi saya bahwa Tuhan berkarya dalam hidup setiap orang, dalam setiap keluarga, dengan cara yang khas dan istimewa. Saya juga merasakan bahwa panggilan saya sebagai Imam dan biarawan Misionaris Hati Kudus Yesus (MSC) semakin dikuatkan melalui pelayanan dalam tim Choice. “Selamat HUT ke 40 Gerakan Choice di Indonesia.” “Amor Vincit Omnia – Cinta Mengalahkan Segalanya - L’Amore Vince Tutto”


Romo Ciroi Rodolfo, SX mantan Tim Priest Distrik Jakarta, saat ini tinggal di Wisma Xaverian, Jakarta Saya anggap Choice suatu kegiatan yang sangat penting untuk membantu kaum muda mengembangkan relasi terutama dalam keluarga dan dengan siapa saja. Membantu keluar dari diri sendiri untuk sungguh mencintai sesama melalui pelayanan yang tulus dan penuh cinta. Maka didalam WE Choice, kesaksian Tim yang nyata dan riil dari pasutri, kaum muda dan kaum religius, menyentuh hati dan membantu pertobatan untuk peserta WE Choice. Menurut saya, kesaksian adalah relasi saya dan pelayanan saya sebagai seorang imam dan misionaris Xaverian. jadi melalui Choice saya mendapat semangat dalam panggilan saya. PENGALAMAN TERINDAH DI CHOICE Pengalaman terindah bagiku adalah Malam dan SAKRAMEN REKONSILIASI. Disitulah bertambah keyakinan saya tentang pentingnya KESAKSIAN TIM, Roh kudus sungguh berkarya melalui kesaksian demi kesaksian para tim yang tulus, sehingga membawa kepada pertobatan. Bagiku ini pengalaman sungguh indah, yang belum pernah saya alami di kegiatan lain. Terimakasih kepada Roh Kudus yang betul-betul bekerja melalui kesaksian tim pada setiap WE Choice.


Romo Sandro Peccati, SX mantan Tim Priest Distrik Jakarta Saat ini tinggal di Wisma Conforti, Jakarta Tapi “kesopanan timur”, jawab mereka : “Nggak ada Pastor..” “Jadi bagaimana..? Jika saya nggak bisa jadi tim…!?” Akhirnya satu pemuda bilang dengan suara halus….. mungkin…barangkali…. Lalu saya buat, dan dengan sengaja minta tolong diketik di Sekretariat…. Sore harinya saat aku masuk Sekretariat, dikeliling beberapa teman sedang ketik sharingku… diam semua?? Dari gerakan kepala mereka aku mengerti…. Betul… itu kedokku! Lulus! Ini tidak menjauhkan, melainkan mendekatkan aku dengan mereka, dan mereka mulai pakai istilah “Babe Sandro” sampai sekarang. Inilah rahasia “Kabar Gembira” yang diwartakan Yesus. Inilah “metanoia”, yakni cara berpikir, memandang, bertindak baru. Kok! Kita sharingkan kesalahan, kelemahan, kejelekan kita. Usaha dan jerih payah kita dan… Itu menyentuh hati, membuka mata dan kuping para hadirin dan mendorong mereka melakukannya. - Proses WEC merupakan proses Antropologis dan Teologis , rohani dan jasmani, pribadi dan sekaligus sosial, melalui satu proses penyadaran diri untuk berelasi lebih baik, dan pentingnya relasi relasi yang kita terima dan yang kita berikan untuk kebebasan dan kebahagiaan seseorang. - Kita ada berkat satu relasi kasih. - Kita berkembang berkat ribuan relasi. - Kita bahagia atau celaka tergantung pada relasi relasi yang kita alami, tolak, kembangkan, pelihara. “Inilah Kasih itu : bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa dosa kita. Saudara saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi….. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam diri kita, dan Kasih-Nya sempurna di dalam kita.” (1Yoh 4 : 10-12) Padang, 16 November 1986 Saya mengikuti WE Choice pertama kali sebagai penonton, yang diberikan oleh Tim dari Bandung. Aku sebagai moderator mudika Katedral Padang, terharu atas paket Choice yang merupakan Intisari Injil, Kabar Gembira yang disajikan kepada orang muda secara eksistensial dan eksperimental sesuai dengan masa mereka melangkah ke jenjang dewasa. Jadi aku antusias, janji akan menjadi tim dan memakai Choice sebagai sarana pewartaan Injil. Samadi Shalom, 24 September 1987 Aku ikut weekend Choice di Samadi Shalom, Cipanas, sebagai observer. Lalu dua kali dibantu oleh pasutri Ivo-Lia dan Peter untuk persiapan sharing dan mendalami materi. Dalam proses tersebut aku sungguh ber-choice : mengenal lebih dalam diriku, caraku berelasi, tampilanku, kedokku. Dua kali saya kirim sharing kedokku ke Ivo-Lia, dua kali dikembalikan!?? Ya betul! Saya perjuangkan sebagai unggulanku.. sulit dikenal. Saya kecewa, mau menyerah… Lalu saya tulis dua pertanyaan diatas 5 lembar kertas dan berikan kepada 2 pasutri dan 3 muda mudi yang membantu dalam kegiatan kegiatan : “Apakah yang sering mengecewakan dan tidak suka dalam sikapku?”


Romo Adrianus Budhi, MSC mantan Tim Priest Distrik Jakarta periode : 1992-2005, saat ini bertugas di Riverside, California, USA Saya mengalami bahwa karya kerasulan CHOICE ini sangat ‘modern’ dan sesuai dengan semangat Konsili Vatikan II, yaitu memberi peran yang luas bagi kaum awam untuk merasul bersama dengan para imam. Berjalan bersama sebagai Gereja yang mau terlibat dengan situasi dunia dan keluarga dan kaum muda nya secara khusus. Komposisi Team Choice adalah komposisi Gereja yang lengkap, di situ ada imam, ada pasangan suami-isteri, ada biarawan-biarawati dan ada kaum muda single: pria dan wanita. Dalam tugas saya sebagai imam, saya berusaha untuk tidak sekedar jalankan tugas2 imamat, tapi berusaha hidup dan melayani dari ‘hati’ yang mau memberi, yang ikhlas, yang ada empati. Dan itu semua kembali pada sikap dasar ‘belonging’ yaitu mau terlibat dalam situasi orang yang dilayani. Nampaknya kasih dan ‘belonging’ seperti satu keping mata uang dengan dua sisi yang berbeda. Rupanya inilah yang membuat komunitas Choice, selalu terasa cair dan tidak kaku, ada rasa diterima dan mau menerima satu dengan yang lain apa adanya. Selalu ada rasa kangen untuk ketemu dan berkumpul walau di tengah-tengah kesibukan harian masing-masing. Ada kasih sayang di sana. Proses pendalaman makna, misi dan visi program Choice, serta tema-tema sesi yang disajikan, merupakan hal yang sangat esensial dan sekaligus praktis. Kasih Kristiani bukan slogan, melainkan hal yang sungguh bisa dihidupi dan dibagikan dalam hidup secara sederhana dan praktis. Di dalam Tim Choice saya alami bahwa kami tetap adalah individu-individu yang unik dan berbeda, namun kami dipersatukan oleh semacam ‘cita-rasa’ (spirit) yang sama; masing-masing mau memperhatikan dan mempraktekkan ‘belonging’ (terlibat) di dalam keluarga masing-masing, di antara Tim Choice dan di komunitas masingmasing. Jika mau mempraktekkan cinta kasih seperti yang diajarkan Yesus, harus dimulai dari sikap yang paling mendasar yaitu mau peduli dan menjadi bagian (belonging) dari orang itu. Tidak mungkin kita bisa mencintai kalau tidak ada rasa peduli; dan tidak mungkin ada kepedulian, kalau tidak ada kemauan terlibat atau sikap ‘belonging’. CHOICE : Kerasulan yang Asyik Sebagai imam di Jakarta, jadwal kegiatan sangat padat untuk pelbagai tugas-tugas dari pagi sampai malam. Semua itu amat menguras waktu dan energy mental. Komunitas Choice hadir sebagai ‘oase’ yang menyegarkan dan cairkan yang beku; suatu komunitas persahabatan yang amat mengasyikkan, bisa serius, tapi juga fun, hadir rasa humor, canda, gelak tawa dan bahkan saling kerjain (prank lucu dan sehat). Hidup pelayanan bukan tugas yang membebani semata, tapi ada bunga-bunga aneka warna yang menghiasi sepanjang pelayanan. Itulah relasi didasarkan pada ‘rasa-terlibat’ satu dengan yang lain. Ini yang saya sebut, melayani sambil menikmati. Apanya yang dinikmati? Relasi! Ya relasi hati yang tercipta ketika terjadi perjumpaan yang tulus. Setelah pindah tugas ke USA, saya ditugaskan melayani sebagai imam di Rumah Sakit. Tugas yang tampaknya sederhana dan rutin, tapi tidak mudah juga. Saya jalani tugas rutin ini,… bahkan sangat rutin; bagi banyak orang tugas semacam ini amat monoton, menakutkan/jijik dan membosankan. Tapi prinsip saya, ‘one day at a time’ dan itu hanya mungkin ketika di hati ada ‘rasa-terlibat’ dengan orang-orang dalam tugas yang saya jalani.


Dan hasilnya sungguh ajaib, saya telah menjalaninya selama 17 tahun lebih tanpa putus, tidak ada rasa bosan dan frustrasi. Saya semakin paham, apa arti kesetiaan suami isteri dalam hidup perkawinan, dan dalam panggilan perutusan apapun. Ada banyak sekali kenangan indah dan bermakna selama keterlibatan di Komunitas Choice : Komunitas POSKO Kami merasa amat diberkati dengan adanya ‘POSKO’ Choice, rumah pasutri alm.Ferry-Lely yang selalu sangat terbuka dan sangat welcome bagi siapa saja. Terbuka tapi tidak liar karena ada ‘orangtua’ di sana yang memberikan arah. Di sana ada kehangatan hati yang selalu bisa dijumpai dalam suka dan duka. Kedekatan hati ini terbawa terus dalam peristiwa demi peristiwa hidup selanjutnya, bahkan sampai hari ini. Jumpa jodoh Serunya dengan kelompok orang muda single ini; saling lirik dan naksir merupakan hal biasa; ada yang halus malu-malu, ada yang langsung tabrak; bahkan yang sudah jadian pun belum tentu aman, konflik, salah paham, perbedaan karakter menjadi bumbu pedas dan kadang pahit juga. Tapi rahmat Tuhan ikut memproses semua itu dan menjadikannya baik dan indah pada waktunya. Sebagai romo, ada tugas indah untuk boleh mendampingi dan menyaksikan ketika mereka menikah. Misa-misa perkawinan anak Choice selalu unik, meriah, penuh kejutan, khidmat mengharukan, dan menjadi buah bibir di kalangan umat secara luas. Saya masih ingat betapa panjang antrean untuk menikahkan pasangan-pasangan muda Choice; para pasutri senior kita juga ikut kerepotan karena didaulat abis untuk jadi saksi pernikahan. Dan semuanya unik dan amat berkesan. Menyentuh hati Saya teringat akan Vivi Sumarta (alm) seorang dari Tim Youth ketika sakit-sakitan dan menjadi terbatas geraknya. Perhatian cinta dan dukungan temanteman Choice terus mendampinginya, rela menggendong, mengusungnya ke mana-mana dalam setiap acara. Saya melihat Vivi tersenyum bahagia saat itu. Vivi meninggal dunia dan upacara kremasi nya didominasi peran Komunitas Choice, yang jadi buah bibir para keluarga dan kerabatnya. Tarsi Elwan (alm), seorang Tim Youth yang popular dengan sharing-sharingnya yang mendobrak citra mapan anak-anak Jakarta, kemahirannya bermain gitar, menyanyi dan menari dengan lucu, serta kecerdasannya dalam mendampingi kelompok sharing, menjadi kesan tak terlupakan. Tarsi ini sharing kepada saya, bahwa dia memiliki keluarga yang luar biasa di dalam Choice. Dia beroleh hidup baru dan harapan baru. Tarsi meninggal dunia secara mendadak di usia muda, semua tersentak dan sedih. Ada ratapan dan tangis sedih, tapi juga gelombang cinta, doa dan simpati mengalir. Peristiwa kematian dan pemakaman bisa menjadi kesaksian kuat akan cinta Tuhan yang tak terbatas. Gerak & lagu favorit Tarsi, ‘Yesus kekasih jiwaku’ menggoyang tanah pemakaman saat itu. Orang-orang luar terpana, ‘siapakah seorangTarsi ini, dan siapakah anak-anak muda ini yang begitu terlibat?’ Para pasutri senior – Tim ‘Dino’= Dinosaurus (hahaha) Saya mengagumi kesetiaan dan pemberian diri habis-habisan para Pasutri senior yang saya sempat alami. Saya tidak sebutkan nama mereka satu persatu, tapi semua terukir di dalam hati kita. Mereka masing-masing menjalankan peran yang luar biasa, dan seakan tanpa batas waktu dan kemampuan fisiknya. Mereka terlibat secara luar biasa sejak awal saya mengenal mereka, dan saya boleh menyaksikan energy cinta mereka yang luar biasa. Beberapa telah pulang ke rumah Bapa, tapi gema dan aura cinta nya tetap menggetarkan saat kita mengenangnya kembali. Generasi Penerus Yang telah disentuh dan merasa diberkati, akan meneruskan berkat itu, ‘pay it forward’. Itulah yang dilakukan oleh generasi berikutnya. Banyak dari mereka yang dulu Youth dan menjadi pasutri, terpanggil untuk melanjutkan karya kerasulan yang telah dimulai oleh para pendahulu ini. Saya percaya, penerusan karya ini dilakukan disertai juga kecerdasan membaca tanda-tanda jaman; melayani generasi muda milenial, tentu beda. Tapi prinsip dasar tetap sama: ‘BELONGING’ untuk membawa anak-anak muda datang kepada Sang Maha Cinta, untuk mengenal, terlibat dan melayaniNya. Tugas kita hanya membawa orang yang kita layani, dan meletakkan di jalan panggilan cinta Kristus. Selanjutnya tergantung pilihan (choice) dari orang tersebut. ‘You can lead a horse to water, but you can’t make it drink’


HIDUP BERSAMA CHOICE Saya sangat bersyukur adanya Choice dalam lingkup pelayanan Gereja. Salah satu tugas utama Gereja adalah untuk menyelamatkan jiwa-jiwa yang masih berziarah di dunia ini. Banyak orang hidup secara fisik namun, mati dalam jiwa dan roh. Kehadiran pelayanan choice telah dan akan terus memberi semangat baru untuk membawa banyak orang yang telah mati dalam relasi, komunikasi, belonging, forgiveness, dan banyak keutamaan lain. Choice hadir untuk memberi terang baru bagi kaum muda untuk menyadari hakekatnya di dunia,untuk mencintai dengan segala keunggulan dan kerapuhan manusiawinya. Menyadari bahwa eksistensinya di dunia adalah untuk bahagia dalam cinta yang membebaskan. Saya mencintai dan tetap mencintai Choicer dimanapun dan kapanpun sebab bahagia untuk mengenal, mencintai, dan melayani. Saya tetap berharap, pelayanan Choice tetap berjalan dalam semangat dan citacita awal “membawa kawula muda untuk memperoleh hidup baru dalam semangat Yesus yang mengasihi, mengampuni, membebaskan, menyelamatkan, dan menjamin hidup abadi. Sr. Lusiani, KSFL Mantan Tim Suster Distrik Jakarta periode : 2010 – 2019 saat ini bertugas di Medan


HIDUP BERSAMA CHOICE Choice bagiku adalah suatu komunitas yang di dalamnya terdapat kasih dan persaudaraan. Kita Tim Choice melayani dengan tulus. Pengalaman terindah saat melayani WE Choice adalah menjadi pendengar yang baik bagi para peserta WE Choice, dan dapat membantu mereka, akhirnya menjadi sahabat bagi mereka. Ada lagi pengalaman yang sangat berkesan, ketika diutus membuka Choice di Makasar dan Manado bersama pasutri Betty Kyat dan pasutri Ivo Lia. Pengalaman yang sangat Indah..... Sr.M.Joanni, FSGM mantan Tim Suster Distrik Jakarta saat ini bertugas di SLB – C Dian Grahita, Kemayoran, Jakarta


KUMPULAN CERITA TIM AKTIF CHOICE DISTRIK JAKARTA 4


Kumpulan Cerita Tim Aktif Choice Distrik Jakarta Martin Pas. Martin – Novi Tim Pasutri Aktif Distrik Jakarta "Choice adalah sekolah hidup”, tempat saya terus belajar tentang kehidupan, terutama relasi dan juga mendapatkan keluarga kedua. Pengalaman tak terlupakan banyak. Salah satunya adalah WE Choice-154, adalah pelayanan terakhir saya sebagai youth. Saya mendapat surprised perpisahan di tengah WE Choice oleh Pasutri Ferry Lely. Sedih banget karena harus berhenti melayani sebagai youth. Tapi kemudian WE Choice-192 adalah pengalaman pertama melayani Weekend sebagai pasutri. Melayani bersama Pas. Nani-Koko dan Pas. Agung-Vien bersama romo Benny. Teringat akan persiapan yang selalu diisi dengan selalu bernyanyi karena ada Mas Agung dan Romo Benny yang bisa main gitar. Anak-anak WE Choice-192 juga seru dan kompak. Saya selalu “menikmati dan happy melayani di Choice." "Choice menyadarkan aku tentang pentingnya keluarga & menjadi bagian dari siapa diriku”. Di Choice kita bisa melayani bersama, punya banyak sahabat, orang tua & keluarga baru. Dalam Choice ini aku belajar banyak tentang kehidupan dalam keluarga melalui sharing para peserta dan team lainnya Pengalaman yang tak terlupakan selama memberikan WE Choice sebagai Tim, ketika bisa melihat para peserta kelihatan begitu bahagia, saat mereka selesai mengalami WE Choice selama 3 hari, mereka bisa kembali ke keluarganya lagi, bisa melayani dan bahkan bisa menjadi sahabat. Ketika bisa melayani kembali bersama pasangan sebagi Tim pasutri, pelayanan WE pertama di angkatan 192 adalah WE yang tak terlupakan….titik awal kami kembali lagi sebagai Tim pasutri. Semoga kami tetap bisa terus melayani. “Selamat Ulang Tahun Choice ke 40 tahun. Maju terus & semakin berkarya untuk anakanak muda" Novi Pas. Martin – Novi Tim Pasutri Aktif Distrik Jakarta


Pasutri Anton – Shinta Tim Pasutri Aktif Distrik Jakarta Choice selalu mengingatkan kami untuk selalu saling mencintai dan berelasi, begitu pula relasi kami dgn anak-anak. Choice juga berperan besar dalam menghangatkan dan memperbaruhi relasi kami berdua. Choice juga selalu mengingatkan begitu besarnya cinta Tuhan kepada kami melalui keluarga dan orang-orang di sekitar kami. Pengalaman paling berkesan di WE Choice adalah ketika pertama kali melayani di WE Choice - 177 sebagai Tim Pasutri, waktu malam rekonsiliasi ada peserta yang menangis dan ketika kami peluk, dia berteriak ...minta ampun papa ....minta ampun mama... kami kaget banget dan sangat terharu saat itu. Saat itu usia kami baru 37 dan 39 tahun dan beda usia kami dengan pata peserta hanya beberapa tahun saja. Kami merasakan betapa besar kerinduan muda mudi untuk bisa rekonsiliasi dg Orang Tua dan juga dengan Tuhan. Sejak saat itu dan WE Choice selanjutnya kami selalu merasakan betapa luar biasa karya Tuhan lewat Roh Kudus yang menyentuh kami dan para peserta dalam Week End Choice “Terima kasih Tuhan atas pengalamam iman ini"


Pas. Alex – Grace Tim Pasutri Aktif Distrik Jakarta Aku, mengikuti WE Choice angkatan 66 Jakarta (tahun 1992). Ikut Weekend karena disuruh orang tua tapi aku sama sekali tidak menyesal. Aku mendapat banyak teman dan terutama, aku sadar, betapa orangtua dan saudarasaudara kandungku adalah orang-orang terdekatku yang dengan setia selalu mengasihi aku. Disini pula aku bertemu dengan Alex, yang waktu itu adalah team Youthku dan ternyata adalah jodoh yang Tuhan berikan untukku. Setelah menikah, kami berdua tidak aktif pada kegiatankegiatan Choice karena pekerjaan Alex yg banyak diluar kota. Namun kerinduan pada Choice tetap ada dalam hati kami. Sekitar bulan October 2017, anak sulung kami berkata: “Papa dan Mama, mohon ijin, aku ikut weekend Choice ya? Mau napak tilas ke tempat awal Mama ketemu Papa.” Kami berdua sempat tertegun dan berpandang-pandangan, benar-benar tidak menyangka dia menemukan Choice dan sudah pasti kami berdua memberikan ijin padanya. Pulang dari weekend, bagaikan terima berkah dari Tuhan, anak sulung kami, benar2 berubah. Aku bisa merasakan betapa dia menjadi begitu dekat dengan Tuhan, banyak melayani di paroki dan yang kurasakan, betapa dia sekarang bisa merasakan KESETIAAN orang tua ke anak. Dia selalu bilang terima kasih mama, terima kasih papa setiap kami memasak, membersihkan kamarnya, menunggu kepulangannya malam-malam atau hanya sekedar kerjaan sehari-hari. Blessing, sejak dia ikut Choice, kami berdua seperti mulai di REFRESH kembali tentang masa lalu kami berdua dalam Choice, kebetulan kami pun baru selesai Weekend ME. Ibaratnya, sedang hangat-hangatnya hubungan kami berdua. Bagaikan diutus Tuhan, tidak berselang lama, Peter (Pasutri Peter Seraphine), salah satu teman Alex sewaktu Team Youth,menghubungi kami dan minta kami untuk ikut sebagai Tim pasutri peninjau di salah satu WE Choice Bogor. Berikutnya Pasutri Martin Novi mengajak kami untuk ikut terjun melayani Choice Distrik Jakarta. Jadilah kami berdua, kembali lagi bersama Choice setelah hampir 25 thn vakum. Setiap melayani WE Choice, hubungan kami berdua seperti direcharge, hubungan orang tua ke anak seperti diperbaharui lagi.Melihat anak2 peserta Weekend, seperti kami melihat, itulah anak-anak kami. Setiap kami membagikan sharing kami, seperti kami disembuhkan dan disegarkan lagi. Setiap kami memeluk anak-anak di malam rekonsiliasi, seperti kami merasa ikut menyatu dengan mereka. Setiap kami bertemu anak-anak dihari Minggu pagi, seperti kami ikut merasakan kebahagiaan dan kelegaan mereka. Belum lama ini, satu lagi hadiah dari Tuhan buat kami, anak kami yg kedua, akhirnya pun boleh mengalami WE Choice. Pulang weekend, anak bungsu kami ini lebih bisa banyak mengungkapkan perasaannya dari sebelumnya, yang lebih banyak diam.Hubungan dengan kakaknya pun menjadi jauh lebih hangat dan akrab daripada sebelumnya, yang selalu menjaga jarak dengan sang kakak. Hal-hal ini mungkin tidak akan kami dapatkan bila kami tidak melayani di Choice dan anak-anak kami juga tidak ikut Choice. Pengalaman indah ini adalah anugerah luar biasa yang Tuhan berikan pada kami sekeluarga. Terima kasih Tuhan, kami boleh mengenal, mencintai dan melayani Mu di Choice. God bless Choice - God bless Us Alex Aku mengikuti WE Choice Angkatan 3 Jakarta (April 1983) dan mulai melayani sebagai team youth pada WE Choice Angkatan 6 (Oktober 1983). Dulu pribadiku : tertutup dan pemurung, tetapi semakin mendalami nilai-nilai Choice bersama pasutri dan youth senior Choice yang menemaniku bertumbuh, tanpa terasa, aku jadi belajar untuk lebih terbuka. Tercebur di Choice juga gak bisa berwajah murung, butuh sedikit gaya ‘tidak waras’ sebagai serum awet muda. Sebuah cerita – WE Choice bulan September 2022 – salah satu presentasiku menceritakan pengalaman masa kecilku yang berbekas cukup mendalam sehingga menimbulkan blocking dengan mama. Pada akhir presentasi, kuungkapkan bahwa aku sudah memaafkan mama tapi masih butuh waktu dan bantuan doa agar aku bisa mengampuni mama.Setelah presentasi, Suster Vivien berbisik padaku, “Maafkan saja mamamu”. Satu bulan setelah WE Choice, aku datang kerumah adikku, tempat dimana mama tinggal. Sudah sekitar 3 tahun mama tidak lagi mengenaliku, setiap kali ketemu matanya cuma menatap kosong, menggeleng kepala dan bilang: “Gak tau ini siapa”. Kali ini ada kejutan, tiba2 mama memanggil namaku dan minta disuapi pudding yg sedang kumakan. Aku kaget, sama sekali tidak menyangka, mama benar2 ingat dan memanggil namaku. Cukup banyak pudding yg kusuapkan ke mulutnya, dan mama makan setiap suapan sambil memandangiku. Mau nangis rasanya, benar2 tak menyangka bahwa mama mengenaliku lagi. Ini jadi pengalaman yg paling mendalam bagiku setelah sekian lama menjadi team Choice. Puluhan tahun kebencian yg ada dihatiku terasa mencair saat itu.Terimakasih Tuhan, Kau berikan hadiah yg terindah untukku. Grace "Terindah dalam hidupku, mengenal, mencintai dan melayani Mu….. Syair lagu kebangsaan Choice ini benar-benar mengena untuk kami. “Mengenal, mencintai dan melayani”


Pasutri Agung – Vien Tim Pasutri Aktif Distrik Jakarta Kami menyesal. Ya....kami menyesal ikut Weekend Choice. Menyesal kenapa kami tak tahu gerakan ini saat kami belum menikah, masih muda dan penuh gejolak. Tapi, Tuhan memang selalu tepat waktu, karena melalui Week End Choice, kami banyak belajar, kami menemukan banyak cinta dan pengalaman berharga. Kami bertumbuh, relasi kami semakin baik, bukan hanya di antara kami berdua, tapi terutama relasi kami dengan anak2 .... Bagi kami, Choice adalah pedoman, nilai2 Injil yang akan terus kami usahakan untuk kami hidupi. Menjadi Tim dalam WE Choice, kami bukan hanya memberi diri, tapi kami justru lebih banyak menerima.... Thank’s God, kami boleh Mengenal, Mencintai dan MelayaniMu


Lidwina Purba Tim Youth Aktif Distrik Jakarta Bagiku CHOICE adalah rumah kedua dan bisa juga jadi tempat transit sebelum menuju rumah sendiri. Disini aku belajar untuk mencintai orang yang telah menyakitiku, belajar untuk menerima diriku sendiri, mencintai diriku sendiri dan akhirnya aku bisa menerima orang dan mencintai orang lain khususnya keluargaku. Ketika mengikuti WE Choice aku merasa happy, terberkati dan disadarkan pentingnya relasi di dalam keluarga, sampai akhirnya aku mau melayani sebagai tim Choice. Pengalaman yang tak terlupakan adalah ketika ngetim di WE Choice 265 cukup memberi arti bagiku. Selama pandemik, relasiku di dalam keluarga kembali memburuk, aku juga mulai menyangkal nilai nilai Choice yang sudah kudapat selama ini, aku gak mau lagi jadi Tim Choice, karena kupikir untuk apa memberikan nilai nilai baik kepada orang lain tapi aku sendiri tidak bisa menjalaninya, sehingga saat aku ditawari untuk ngetim di WE Choice-265,aku bergumul, dan di dalam pergumulan itu banyak hal yang Tuhan tunjukkan kepadaku, sampai akhirnya aku memutuskan untuk "go home", pulang ke rumah Choice, dan juga pulang lagi ke rumah keluargaku (baca: bangun relasi lagi) dan di WE Choice- 265 ini aku memang melayani sebagai tim tapi aku juga merasa sebagai peserta kembali, aku komit mau kembali mencintai, mau kembali menerima orang yang sudah menyakitiku.. Thanks God. Thanks Choice


KUMPULAN CERITA MANTAN TIM CHOICE DISTRIK JAKARTA 5


CHOICE SELALU ADA DI HATIKU Hampir 30 tahun yang lalu, tepatnya Oktober 1994, aku mengikuti WE Choice Angkatan 84, dibimbing oleh Tim : Alm. Romo Wono, Sr. Joanni, Pasutri Alm. Kyat Betty, Pasutri Tukidjan Win serta Janto, Harluky dan Shinta sebagai Youth. Judul awalnya adalah ikut-ikutan Yayuk (kakak ku yang juga adalah Team Youth) lalu papi dan mami ku yang sudah mengikuti WEC sebelumnya. Tapi ternyata, setelah WE Choice, justru terlibat mendalam menjadi Team Youth, Team Youth Kordis saat itu sampai saatnya aku harus meninggalkan Indonesia karena pilihan hidup menikah dengan suamiku, Gunarto. Terbukti bahwa CINTA lewat CHOICE itu nyata dan abadi dan tidak mengenal lokasi dan jarak serta membuktikan CINTA YESUS lewat CHOICE itu ada di diri kita masing-masing. Memang sekarang sudah tidak membahas ria mengenai Choice dan nilai-nilainya lagi, tapi pengalaman “hidup” di dalam Choice membuat hidupku lebih indah dan aku cukup yakin tanpa WE Choice, hidupku akan berbeda dan aku sekarang berusaha terus menjalankan dan mengenalkan nilai-nilai Choice didalam hidupku di sini bersama Gunarto dan Anna. Proficiat dan selamat untuk HUT Choice yang ke-40. Peluk cium aku untuk para romo, suster, pasutri serta team youth lainnya yang telah menjadi bagian didalam hidupku. Mari kita doakan semua team yang telah berpulang mendahului kita, dan kita teruskan legacy mereka di dalam hidup kita di dalam keluarga dan di dalam menggereja. Tuhan memberkati. Sesuai dengan judul di atas “CHOICE selalu ada di hatiku” karena semua nilai-nilai Choice telah merubah hidupku. Dulu sejak kecil, aku tidak merasakan kalau “aku di cintai”. Yang ada di dalam hidupku dulu hanya keluhankeluhan terhadap relasi di dalam keluarga, terhadap mami papi ku, dan terhadap kedua kakak ku. Selalu merasa tidak berarti dan selalu menyalahkan diri sendiri, kenapa? Karena aku tidak pernah berkomunikasi, aku takut untuk terbuka dan tidak berani untuk membuka diri. Itu hanya sebagian utama yang mengubah hidupku. Dan nilai-nilai Choice terus aku bawa sampai sekarang. Waktu aku di tawarkan untuk menjadi Team Youth, muncul panggilan besar untuk membagikan apa yang telah mengubah hidupku bagi temanteman lainnya yang mungkin memiliki kisah yang hampir serupa dengan aku. Selain seru nya berkumpul bersama para Team yang lain. Ku lihat ini dari pengalaman Yayuk yang telah menjadi team youth terlebih dahulu. Hidup di dalam komunitas Choice itu indah, seru dan menyenangkan, kita punya committed to be free satu terhadap yang lain yang terbungkus dengan cinta yang nyata diantara team lainnya. Dan semua menjadi seperti keluarga ku sendiri. Aku punya banyak orangtua dan kakak serta adik baru. Dan itu amat membahagiakan diriku. Aku merasa dicintai banyak orang! Pengalaman terindah yang pernah aku alami bersama Choice dan tidak akan pernah aku lupakan adalah menjadi Team Youth mewakili Choice Indonesia ke Choice Asian Conference di Korea tahun 1998 bersama Rm Ferry Sutrisna, Sr Emma, Pasutri Alm. Hans Irene dan Ferry.Pengalaman lain, mewakili Choice Jakarta bersama Rm Adrianus Budhi, pasutri Alm.Andi An, mewakili Choice Distik Jakarta di ajang Sidang Dewan Nasional ke7 saat itu di Purwokerto di tahun 2000. Mengapa kedua peristiwa ini aku sebutkan? Karena keduanya meninggalkan kenangan indah serta memberikan persahabatan sampai saat ini dengan beberapa peserta di sana. Relasi ku kepada seluruh team Choice terasa begitu indah dan luar biasa sampai sekarang walau sudah 20 tahun lebih kutinggalkan Indonesia. Monica Wonoadi mantan Tim Youth distrik Jakarta. Pas. Mona-Gunarto saat ini tinggal di Colorado, USA. Kumpulan Cerita Mantan Tim Choice Distrik Jakarta


Pasutri Jimmy –Rosa mantan Tim Youth Distrik Jakarta, saat ini tinggal di Jakarta. Johana Rosalina (Rosa) – periode sebagai Tim Youth: 1990 - 1992 Choice sangat istimewa bagiku, karena melalui WE Choice, terutama ketika melayani sebagai tim youth, aku merasakan banyak cinta Tuhan melalui sesama tim (Pasutri, Youth, Pastur dan Suster), dan belajar bersyukur dengan mendengarkan sharing dari para peserta. Kenapa bersyukur? Karena dengan mendengarkan sharing orang lain, aku memahami bahwa tantangan hidupku yang seringkali kuanggap berat sekali, ternyata ada yang lebih berat dariku. Demikian juga, bersyukur aku punya teman seperjuangan dalam menjalani hidup dengan kekuatan dari Tuhan. Suasana WE Choice yang dinamis, penuh rasa sukacita, terharu, bangga, bahagia, membuatku sangat menikmati WE Choice, walaupun secara fisik capek karena padatnya acara. Jimmy Kurnia Indradjaya (Jimmy) – periode sebagai Tim Youth : 1992 - 1994 "Melalui WE Choice saya "disadarkan" tentang adanya luka batin yang selama ini saya simpan rapat dalam hati tapi tidak pernah terselesaikan. Dengan menyadari hal ini saya akhirnya saya dapat memaafkan ayah dan diri saya sendiri atas apa yang pernah terjadi di masa lalu. Tanpa Choice mungkin masa lalu ini akan tetap menjadi sebuah ""unfinished business"" untuk saya yang pasti akan sangat mempengaruhi perjalanan hidup saya selanjutnya. Pengalaman yang tidak terlupakan bagi saya adalah di Choice ini saya dipertemukan dengan ""Tulang Rusuk Saya Yang Hilang"" dan bersamanya kami telah mengarungi hidup selama 27 tahun. Puji Tuhan!" Tapi atas dorongan temanku Yuni, akhirnya aku setuju ikut, sebagai pelayanan tim youth terakhir sebelum studi. Disitu, aku bertemu calon pasangan hidupku, Jimmy, yang menjadi salah seorang peserta Choice. Tidak ada rencana untuk menjalin hubungan khusus, tentunya, karena niatnya hanya melayani terakhir sebelum berangkat. Tapi aku juga terbuka pada rencana Tuhan untuk mempertemukan aku dengan pasangan hidupku. Setelah pertemuan itu, kami mulai menjalin relasi, walaupun putus sambung karena LDR...hehehehe... Setiap hari adalah hari gembira, karena bernyanyi, sharing, mendengarkan sharing, berdoa, makan bersama, ketawa bersama, misa, foto bersama dan tentunya yang seru adalah moment penjemputan para Choicers untuk peserta yang sedang WE Choice. What a beautiful moment to see the happy and suprising (although tired) faces. Pengalaman yang tak terlupakan ketika melayani di WE Choice-67. Sebenarnya saat itu, aku sedang mempersiapkan diri untuk berangkat study ke USA, jadi hampir menolak untuk melayani sebagai tim. Akhirnya di tahun 1995 kami mengikrarkan janji pernikahan dengan saksi Pasutri Alm.Om Arianto dan Tante Lidwina, diberkati oleh Rm.Adrianus MSC dan dihadiri banyak teman Choice, baik peserta WE Choice-67, maupun tim youth, dan tim Pasutri.


Sebagai single dan new comer di Jakarta, aku punya 2 pilihan; hidup dengan aktivitas harian rutin, kerja jam 8 pagi sampai jam 5 sore, selanjutnya ngerumpi atau aku bisa pakai waktuku untuk kegiatan positif. Pertemuanku dengan seorang umat tak kukenal di gereja yang tak sengaja mengubah hidupku dengan memperkenalkan CHOICE, serasa cara Tuhan untuk pengenalan diri, penerimaan diri, pengembangan diri dan lanjut pelayanan untuk sesama dengan segala suka duka dan jatuh bangunnya. Jadi arti Choice bagiku adalah jawaban Tuhan atas pergumulan masa mudaku dengan bonus boleh jadi berkat buat sesama. To God be the glory! Pengalaman Tak Terlupakan Setiap selesai sesi luka batin dan kita masuk ke kapel dengan segala pikiran, kenangan, penyesalan, cinta yang teradukaduk, kemudian kita boleh meluapkan segala emosi dalam tulisan, air mata, permenungan diri dan selanjutnya Tim keliling memberi penghiburan, penguatan dan menjadi wakil keluarga, sungguh suasana yang syahdu, sakral, indah dan melegakan. “Serasa Roh Kudus mengalir deras menjamah tiap hati. Meredakan luka, menghibur duka, menguatkan kembali cinta pada keluarga, sesama, diri sendiri dan pastinya pada Tuhan Allah kita." Odilia Feryta mantan Tim Youth Distrik Jakarta periode : 2002 - 2010 saat ini tinggal di Semarang


Nini Oktaviani, mantan Tim Youth Distrik Jakarta, periode : 2011-2012 : Pas. (alm.Gogo)-Nini saat ini tinggal di Tangerang Choice mengajarkanku arti mencintai Tuhan dan sesamaku manusia secara utuh. Manusia dalam lingkungan kecil yaitu keluarga, dimana aku lahir, tumbuh dan berkembang. Dan sampai aku memiliki keluarga baru bersama pasangan dan anak2, walaupun alm. Gogo (suami) saat ini sudah di surga, tapi cintanya pada keluarga dan Choice tetap akan kukenang. Choice juga mengajarkanku untuk selalu mengampuni, mengasihi dan melayani orang2 yang menjadi bagian dalam diriku. Pengalamanku melayani Tim Choice semuanya masih kuingat dengan baik, mulai dari coaching, workshop yang teamnya pada iseng nanyanya, kickoff, sampai saat weekend bersama team yang seru dan kompak. Tapi ada 1 kenangan manis, ketika weekend terakhirku bersama alm. Gogo, saat itu sebagai Tim Youth, setelah kami presentasi sharing Panggilan, kami diberi surprise kalung bunga & dinyanyikan oleh para Tim lainnya. Sangat bahagia sekali saat itu. “Terimakasih Tuhan untuk kami boleh mengenal dan melayani Choice, semoga semakin banyak anak muda yang mau bergabung dan aktif di dalamnya, supaya mereka juga dapat mengalami cinta seperti yang kami rasakan, Amin Anastasi Sumiati, mantan Tim Youth Distrik Jakarta, periode : 2002 - 2018, Pas. Sumi-Nico saat ini tinggal di BSD, Tangerang Mengalami Choice, artinya aku mengenal dan diajak mengalami Kasih.Kasih yang menerima setiap kelemahan diri sendiri dan orang-orang terdekat, menyadari kita diterima apa adanya,Kasih yang mau memaafkan, Kasih yang mau berbagi untuk keluarga dan sesama. Kasih yang tidak cemburu. Ketika aku terlibat dalam beberapa komunitas selain Choice, Choice tidak cemburu bila aku di suatu waktu aku mendahulukan kegiatan di komunitas lain, kita yang sudah mengalami Choice malah diutus menjadi garam. Maka aku say Yes, ketika alm. mami Lely Nathan bilang Choice is The Way of my Life. Aku bersyukur boleh mengenal Choice. Aku terus mengalami dan menghayati nilai-nilai Choice dalam hidupku. Novia Sumitro, mantan Tim Youth Distrik Jakarta, periode : 1993-1995, Pas. Novi - (+Jeron) saat ini tinggal di Dubai, United Arab Emirates. Choice bagiku merupakan sebuah pengalaman yang sangat pribadi yang membuatku lebih memahami dan menghargai value keluarga Katolik dan sampai sekarang masih selalu mengingatkanku serta membantu aku untuk selalu berusaha menjadi ibu, pasangan, keluarga dan teman yang lebih baik dari diriku sendiri sebelumnya. Ketika aku dihadapkan pada kesulitan dalam ber-relasi, nilai-nilai Choice menyemangatiku untuk kembali berjuang. Sulit memang tapi aku masih terus berusaha. Buatku pengalaman yang paling mengesankan saat week end Choice adalah saat memimpin sharing kelompok, dimana dari sharing-sharing peserta, aku dapat lebih melihat dan menyadari betapa agungnya Tuhan dalam masingmasing pribadi yang mempunyai keistimewaan dan keunikan sendiri dan tidak satupun yg sama. Terlebih lagi aku semakin menyadari betapa besar Tuhan mengasihiku.Bagiku ini adalah sebuah compact learning process atas cinta Tuhan yang luar biasa


Choice bagi saya merupakan pengingat bahwa saya senantiasa memiliki pilihan dalam hidup. Pilihan untuk bersikap dan bertutur kata dengan konsekuensi masing-masing. Sebagai seorang penganut agama Katolik, pilihannya terkadang sangat menusuk ego. Walau imbalannya memang seringkali sangat tak terduga dan membahagiakan, namun secara manusiawi, saya tidak serta merta selalu mengambil pilihan yang selaras dengan prinsip- prinsip dalam ajaran Katolik. Keterlibatan saya di Choice sebagai anggota tim sejujurnya sangatlah singkat. Saya mengikuti WE Choice di tahun 1993, dan saya mulai terlibat dalam tim Choice di tahun 1994. Yang masih tertinggal dalam kotak memori saya adalah pengalaman mengikuti kegiatan Choice Asia bersama tim KorNas di Taiwan dan Penang, Malaysia. Tim KorNas saat itu: Romo Soesilo MSC (almarhum), pasutri Aryanto (almarhum) dan Lidwina, youth: Monika Hartono dan Harluky. Saya menikah dengan seorang anggota TNI AD yang juga merupakan salah satu anggota Korps Baret Merah, Ignatius Yogo Triyono di tahun 1996. Sebelum kami menikah, Yogo juga sudah mengikuti WE Choice, karena saya pikir kami harus sepakat dengan prinsip yang akan kami gunakan dalam mengarungi hidup bersama. Saya tidak menduga, saat ini saya sebagai anggota Persit, lahan pelayanan saya semakin luas karena kami berinteraksi dengan pasutri dengan berbagai latar belakang, dalam setiap penugasan kami Saat bertugas di Bumi Cenderawasih Desember 2020 - Januari 2022, area tanggungjawab kami terdapat 3 kota yang dinyatakan tertutup bagi warga sipil biasa karena intensitas konflik yang belum sepenuhnya stabil: Sugapa, kabupaten Intan Jaya; Mulia, kabupaten Puncak Jaya; dan Ilaga, kabupaten Puncak. Sebagai istri Panglima Kodam XVII Cenderawasih, saya punya tanggungjawab untuk membimbing seluruh istri para anggota yang bertugas di wilayah Papua. Dengan 3 Korem yang membawahi 12 Kodim dan 3 Batalyon diluar satuan pelaksana lain yaitu Zeni Tempur, Polisi Militer, Intelijen, Ajudan Jenderal, Perbekalan dan Angkutan, Peralatan, sedikitnya ada 2000 anggota Persit yang harus saya kenali, cintai dan layani – seperti nilai Choice yang selalu saya ingat. Ada desakan dalam hati untuk mengunjungi dan menyapa anggota Persit di area-area yang sulit dicapai. Dalam segala keterbatasan yang ada, kunjungan kami ke Sugapa selama kurang dari 6 jam kami persembahkan sebagai bentuk nyata usaha kami untuk mengenal, mencintai dan melayani. Saya mendapati segelintir anggota yang hidup dalam rumah dengan kondisi seadanya, yang belum menikmati listrik, dengan pergulatan untuk hidup setiap harinya. Saya tidak bisa menahan derasnya linangan air mata, sejak saya menginjakkan kaki di Sugapa karena mereka terlihat begitu antusias dan bahagia atas kehadiran kami. Pengalaman mengenal, mencintai dan melayani yang sangat membekas karena sejujurnya sayalah yang menemukan inspirasi dan sumber kekuatan dari pertemuan dengan mereka, para srikandi perkasa untuk menapaki penugasan kami di masa mendatang. Terindah dalam hidupku – mengenal, mencintai dan mengabdiMu. Natalia Mangkusasono mantan Tim Youth distrik Jakarta, periode : 1994-1996 Pas. Natalia – Yogo saat ini tinggal di Jakarta


Choice, memberikan saya pilihan, kemana kah jalan hidup yang akan saya pilih untuk kehidupan saya seterusnya. Melalui Choice, saya disadarkan bahwa dalam kehidupan, kita banyak melupakan hal - hal penting, dan saya diingatkan kalau saya masih memiliki kesempatan untuk mengubah jalan hidup sesuai pilihan saya. Choice bukan hanya menunjukkan arah, tetapi juga menunjukkan bagaimana caranya kita ingin mencapai tujuan yang saya pilih tersebut. Choice bukan mengajarkan keahlian seperti sekolah atau kursus, tetapi Choice membuka suatu pandangan baru, dan menunjukkan cara untuk berjalan sesuai dengan pandangan baru tersebut. Choice juga tidak memaksa kita mengikuti life style tersebut, namun menjanjikan bahwa jika memilih jalan hidup yang ditawarkan, maka kita akan lebih menikmati kehidupan kita. Pengalaman yang tidak terlupakan pada saat menjadi Tim adalah ketika memberikan salah satu Week End, dan ketika salah satu peserta melarikan diri ke kamar mandi. Ternyata peserta pernah memukul orang tuanya dan sangat menyesal. Dua bulan WE Choice, ketika kami sedang ke salah satu restoran, kami secara tidak sengaja bertemu dg peserta tersebut. Amazing: Peserta tersebut berjalan menuntun papanya, yang tua dan rentan, sulit berjalan karena pukulan peserta tersebut. Luar biasa…cinta memberikan kemampuan untuk mengampuni dan perbaikan relasi akan menjadi indah pada waktunya. “Semoga Choice juga boleh menjadi lifestyle bagi semakin banyak anak-anak Allah." Felix Hasamin mantan Tim Youth Distrik Jakarta, periode : 1997-1999 dan mantan Tim Pasutri, periode : 2002-2012, Pas. FelixElen saat ini tinggal di Jakarta Bagi saya Choice adalah Life Style


Aku tidak termasuk aktif di kegiatan gereja jaman bersekolah. Mungkin karena sejak SD hingga SMA aku bersekolah di sekolah Katholik, aktivitasnya menyatu dengan pelajaran agama. Ketika aku diundang untuk mengikuti weekend Choice di akhir masa kuliah, terasa ada angin baru yang belum pernah kuhirup sebelumnya. Choice menyenggol bagian hidup yang tidak pernah (rasanya) kusimak dari sudut pandang itu – RELASI. Terus terang, kapasitas memori untuk mengorek pengalaman terindah saat melayani weekend Choice sudah menyusut. Tapi dampak dari nilai yang tercakup dalam sembilan sesi akhir pekan plus empat setelahnya, luar biasa sekali kekuatannya. Terbukanya kesempatan untuk melayani, berbagi, dan menyebarkan nilai Choice memungkinkan aku menerapkan nilai tersebut dalam relasi sehari-hari; dengan keluarga, teman, kolega kerja, dan banyak lagi. Aku sungguh beruntung diberi peluang untuk itu. Sebagai peserta, mereka hanya mengalami WE Choice sekali saja. Sebagai Tim, kami bisa mendalami nilai Choice berulang kali. Dampak ini bahkan tetap terasa setelah aku berhenti menjadi tim. Boleh ditelaah, kalau sempat, terutama bagi mereka yang mengalami weekend Choice di tahun 80-an, jaman jalanan di Jakarta tidak semacet sekarang. Berapa sering kita berkumpul, melakukan kegiatan sosial bersama, ngobrol sampai larut malam? Jam terbangku di Choice sebetulnya singkat sekali, tidak sampai lima tahun, tapi pergaualan kami dengan lulusan Choice tinggi sekali frekuensinya. Rumah kos kami jadi tempat nongkrong para Choicer angkatan awal hingga 20-an. Dinding di rumah itu bisa jadi saksi betapa sering dan dalamnya sharing pribadi yang mondar-mandir antar kami. Tidak bisa dinilai dengan uang. Sharing mengalir tanpa merasa takut tidak dimengerti. Ada keyakinan tinggi bahwa isi hati kami bakal didengar, diterima. Satu contoh, kami seolah punya bahasa tertentu saat berkomunikasi dengan sesama Choicer. Tidak perlu panjang lebar, yang mendengar bisa mengerti. Kadang hanya dengan senyum kecil atau anggukan/gelengan kepala, yang lain sudah tahu apa artinya. Aku merasa, hanya mereka yang berada di frekuensi yang sama yang bisa langsung mengerti simbol bahasa seperti itu. Contoh lain, ibaratnya, dalam menjalani hidup aku punya Dewan Direksi yang siap menjadi pendengar, lahan untuk bertukar pikiran, memberiku wawasan baru untuk melihat sesuatu dari sudut yang berbeda. Itu sebabnya aku tidak pernah merasa sendirian. Selalu merasa yakin ada yang membantu. Bahkan konflik, kalaupun ada, jarang sekali berlarut-larut. Benang kusut dengan mudah (rasanya) terurai, tanpa dendam. Luar biasa sekali kesadaran setiap pribadi untuk kembali ke jalurnya. Persahabatan di antara kami masih berlangsung sampai sekarang, bahkan kami tetap melakukan sharing sebulan sekali, lewat Zoom, sebab aku sudah 20 tahun berdiam di luar Indonesia. Kalau mudik, selalu disempatkan untuk ketemu, dan sharing. Tanpa perlu diberi tema, atau diatur, perjalanan sharing itu akan mengalir dengan sendirinya. Semuanya berlangsung karena kita menggunakan bahasa yang sama, Bahasa Choice. Itu yang hingga saat ini kami kenal sebagai Bahasa Cinta. Aku bersyukur bahwa setelah 40 tahun, Choice masih berjaya di Indonesia. Masih aktif meneruskan jangkauannya untuk memperkenalkan bahasa Choice buat muda-mudi Kristus. Selamat meneruskan pengembangkan ajaran kasih Choice, dan pembangunan relasi. “People who need people are the luckiest people in the world.” Melihat perjalanan Choice sampai hari ini, aku sungguh setuju dengan ungkapan Barbara Streisand ini. Warisan Berharga Inge Maskun mantan Tim Youth Distrik Jakarta 1984-1989, Pas. Inge – Charlie saat ini tinggal di Duluth, Minnesota, USA


Click to View FlipBook Version