Aku ikut Choice tahun 1998 karena diajak teman2 group Bina Iman dari Paroki Kristoforus BHK Grogol, itu juga ikut yang Choice Bandung karena malas antri sampai setahun kalo mau ikut Choice Jakarta saat itu. Setelah ikut, ya tidak ada kelanjutan apa2. Mana pernah kebayang akan terlibat Choice apalagi jadi Tim Pasutri. Aku ini tipe pendiam dan agak tertutup, model sharing begini bukan buat aku. Saat kami serius mulai persiapan pernikahan kami, tiba tiba Hendra minta aku menemui Pasutri Ferry-Lely dari Choice yang lagi main ke Singapore tempat aku kerja, katanya ini seperti ortu angkatnya dan mereka ingin kenal. Awalnya aku pikir; kenapa ribet banget, masih syukur aku mau ama dia. Tapi ya udahlah, aku temui aja, sekedar menghormati orang tua. Ternyata katanya setelah ketemuan, mereka langsung mendukung pilihannya. Awal keterlibatanku di Choice sebagai Pasutri adalah saat satu WE Choice Bahasa Indonesia di Singapore hampir batal karena ada Pasutri yang berhalangan, dan waktunya terlalu mepet untuk mencari Pasutri pengganti. Niatku saat itu cuma biar peserta yang sudah daftar tidak kecewa, juga karena aku merasakan Hendra begitu kangen untuk melayani WE Choice. Jadi janjinya cuma nyoba sekali, eh ternyata berlanjut terus sampai sekarang. Seperti dalam Yohannes 15:16-17 tertulis: “Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikan-Nya kepadamu. Inilah perintah-Ku kepadamu: Kasihilah seorang akan yang lain.” Hendra Goh, mantan Tim Youth Distrik Jakarta, Pas. Hendra-Weling saat ini Tim Pasutri Choice Singapura Hendra Selamat ulang tahun, Choice Jakarta tercinta. Terima kasih telah diberi kesempatan menjadi bagian darimu, dan juga menjadi salah satu bagian terindah dalam hidupku. Choice = Pilihan, dan ini salah satu pilihan terbaikku. Juni 1997 (Choice 104), di saat aku memulai karirku yang cukup bagus, aku merasa kosong & hampa, apalagi yang kucari. Lewat Tante Regina (alm), aku mengenal Choice dan memutuskan iseng ikut aja. Ternyata keisengan ini berlanjut sampai hari ini, dan telah 25 tahun lebih aku terlibat dalam Choice, termasuk bertemu Pastor Ciroi yang menjadi spiritual guide bagi pernikahan kami sampai hari ini. Setelah Choice iman Katholik ku dimantapkan, dan berkat bimbingan Pastor Adri Budhi, aku Wel dibaptis setahun kemudian. ing Saat pendekatan ke mantan pacarku, adik iparku diminta mertuaku untuk menyelidiki latar belakangku; dan Puji Tuhan adik iparku juga pernah ikutan Choice dan mendengar reputasiku sebagai Tim Choice yang bersih, akhirnya direstui. Weling ini orangnya polos dan lugu banget (makanya bisa ketipu aku), sehingga adik lakinya dan ortunya sangat menjagain banget. Tapi aku menemukan tulang rusukku ini bukan lewat Choice ya, tapi lewat pekerjaan. Lewat Choice aku menemukan banyak teladan kepasutrian dari para Pasutri senior yang sudah seperti orang tuaku, terutama Pasutri Ferry(alm)-Lely (alm) dan Pasutri BettyKyat(alm). Pastor Ciroi yang memberkati pernikahan kami, dan tetap setia mendampingi kami sampai sekarang. Beliau selalu bertanya: “Bagaimana kabar Weling dan anak-anak?”, dan itu sudah cukup mengingatkanku betapa besar berkat keluarga yang sudah dikaruniakan-NYA. Kalo awal terlibat di Choice, aku selalu bertanya apa yang bisa aku berikan untuk peserta, maka sekarang berubah menjadi apa yang bisa aku berikan untuk Tuhan dan untuk memuliakan-NYA. Hidupku datar saja, sharingku biasa saja, tapi hanya karena kuasa Kasih-NYA aku diberi kesempatan melayani-NYA. Lewat Choice aku diberi kesempatan melihat mukjizat itu nyata, yang terjadi di WE Choice, dan juga dalam kehidupan sehari hari kami. Life is beautiful, but to live and love in HIS love is even more beautiful.
Go Tjiong Ming mantan Tim Youth Distrik Jakarta periode : 1983 – 1992 Pas. Ming – Candra saat ini tinggal di Cibubur, Bogor Mungkin cuplikan-cuplikan ini bisa menjelaskan arti Choice bagiku: Senin pagi sesudah Choice Week-end, sambil buru-buru berangkat kerja, aku sampaikan sepucuk surat buat Mama. Tidak berharap banyak tapi...ya berharap juga.... Pulang kantor, dari jauh, aku lihat Mama sedang menunggu di pintu pagar...sebuah pemandangan biasa seperti di harihari kemarin. Tapi hari itu, dan harihari kemudian, pemandangan itu jadi salah satu bagian penting dari harihari hidupku. Itu bukan pemandangan tentang Mama yang nganggur karena pekerjaan rumah sudah selesai tapi tentang ungkapan bisu (silent words) kasih dan kebanggaan Mama akan aku. Memasuki pintu pagar, aku dengar Mama menyapa, “Sudah pulang?” Sebuah sapaan rutin (yang dari itu ke itu aja) seperti di hari-hari kemarin. Tapi hari itu, dan hari-hari kemudian, aku selalu menangkap isi komunikasi yang berbeda-beda meski kata-katanya selalu sama “Sudah pulang?” Lewat tatapan matanya, di satu hari kata-kata Mama itu mengungkapkan “Mama senang kamu pulang lengkap-utuh-sehat!”, di hari lain mengungkapkan “Mama lega akhirnya kamu pulang lengkap-utuh-sehat!”, di hari lain lagi bisa mengungkapkan “Mama kuatir tadi karena pulangnya telat amat....” Memasuki ruang makan aku melihat segelas teh manis, sajian sore dari Mama, sudah menungguku. Ini sebuah sajian khas seperti di sore-sore beberapa waktu sebelumnya tetapi sempat menghilang di hari-hari kemarin. Menghilang karena lebih sering jadi hiasan meja makan ketimbang jadi hirupan nikmatku; alasannya bisa bermacammacam: nggak mood, bosan, memang abai dll. Mungkin, bahkan sangat mungkin, ketimbang menyakiti hati sendiri melihat teh manisnya tersia-sia, Mama memutuskan berhenti sediakan teh manis di hari-hari kemarin. Tapi hari itu, dan hari-hari kemudian, segelas teh manis dari Mama adalah sebuah tanggapan positif Mama yang sepi-kata, bahkan kadang-kadang bisu-kata padahal kasihnya membuncah dan selalu mengalir. Jadi, apa arti Choice bagiku? Choice Week-end adalah salah satu titik balik hidupku...dari Choice Week-end aku...”pulang lewat jalan lain.” (Mat 2:12)
Ini pertanyaan yang susah banget nih buat saya. Pedoman hidup? Pelajaran tentang berelasi? Atau komunitas tempat belajar berelasi ? Healing session group? Counceling pribadi? Pendalaman Kitab Suci? Rasanya semuanya betul, tapi masih plus plus bonus bonus yang tak terhingga. WE Choice membuatku mengerti pentingnya arti berelasi dalam kehidupan manusia. Relasi yang seperti apa yang dapat membawa kebahagian itu. Bagaimana membina relasi dengan berkomunikasi yang benar dan mendalam. Bagaimana “mendengarkan dengan hati” (listening). Apa itu pengampunan yang bisa “membebaskan”, dan bagaimana commited to a relationship yang bisa “set us free” juga. Nilai nilai yang sangat menakjubkan buatku saat itu. Choice juga membawa saya pada kesadaran bahwa masa lalu saya, yang tanpa saya sadari telah membentuk pola tingkah laku/topeng yang selalu saya mainkan dalam berelasi. Topeng-topeng yang ternyata sangat mengganggu, karena sayatidak menjadi diri saya apa adanya. Topeng yang merupakan “defence mechanism” yang secara otomatis terbentuk dimasa lalu di saat saya terluka. Intinya Choice memberikan pedoman tentang bagaimana menjalani hidup yang bisa membahagiakan diriku dalam berelasi dengan sesamaku. Saya kemudian menjadi lebih bisa berdamai dengan diri saya sendiri. Dan tanpa saya sadari, saya menjadi orang yang lebih stabil secara emosional, lebih percaya diri dan lebih bisa menghandle myself with care. Saya yang dulunya seorang pencinta damai (sebenernya ini topeng), mulai bisa untuk bilang “No” dan“stand up for myself”. Saya yang sering merasa diri tidak berarti dan takut ditolak, menjadi lebih berani untuk tampil apa adanya, tanpa takut dinilai ataupun ditolak, bahkan mulai berani mengemukakan pendapat saya¬. Hidup terasa lebih ringan, lebih bebas dan percaya diri. Perubahan ini membuat relasi dengan orang lain menjadi jauh lebih mudah dan mengurangi banyak konflik. APA YANG BERUBAH DALAM DIRIKU? Ternyata dia tidak seperti yang saya bayangkan. Sebuah pengampunan yang melegakan, sebagian bebanku terangkat rasanya. Saya mulai mengenali topengtopeng saya dan belajar untuk mulai melepaskannya satu persatu. Proses ini membuat saya lebih berani untuk melihat ke dalam diri saya sendiri, mengenali perasaan2 yang bergejolak di dalam hati saya, sekaligus menerimanya, meskipun seringkali terasa menyakitkan. Monika Hartono mantan Tim Youth Distrik Jakarta periode : 1990 – 1996 Pas. Monik – Adli saat ini tinggal di Melbourne, Australia ARTI CHOICE BAGIKU? Saya mulai menjadikan relasi sebagai prioritas utama dalam hidup saya. Saya mulai membereskan relasi relasi saya yang rusak, khususnya dengan ayah saya. Salah satu pasutri, alm. tante Lely mendorong saya untuk mengunjungi ayah saya yang tidak pernah hadir dalam hidup saya. Dalam kunjungan itu, saya berhasil menghilangkan segala kebencian saya padanya, yang kemudian berubah menjadi rasa kasihan dan iba.
Proses persiapan menjadi Tim sebenarnya bagaikan sebuah peziarahan batin yang panjang dan menyakitkan. Mengapa? karena saya harus menulis presentasi tentang pengalamanku berelasi sehubungan dengan tema-tema Choice tersebut. Saya harus mau dan rela untuk membuka diri dan menengok kembali - pengalaman hidupku yang menyakitkan, mengenali semua ketakutanku, kesedihanku, kekuatiranku dan luka-luka batinku, rasanya seperti dikuliti hidup hidup. Tapi anehnya, semakin saya masuk lebih dalam untuk mengenal diri saya sendiri, saya merasakan adanya penyembuhan batin. Saya merasa berani dan kuat melakukan ini karena saya tidak merasa sendirian dalam “pergumulan” ini. Saya merasa diterima dan didukung oleh para Tim lain yang juga mensharingkan pengalaman hidupnya, bahkan banyak yang lebih menakjubkan. Rasa keterbukaan dan kekeluargaan begitu kental, sampai sampai kami bisa menangis sekaligus tertawa bersama. Lucunya, moment - moment begini bikin saya ketagihan. Setiap kali memberikan WE Choice, perasaan yang sama juga saya alami : penyembuhan batin. Ketika membacakan sharing pengalaman pribadi di depan para peserta, meskipun grogi dan gemetaran, dan tak jarang sambil berlinangan air mata, selesai membaca, saya justru merasakan kelegaan yang luar biasa. Rasanya seperti ada beban berat yang terangkat. Disusul dengan sharing para peserta dalam kelompok yang kadang membuat saya tercengang, sekaligus kagum dengan keterbukaan mereka. Sharing-sharing mereka sangat memperkaya diri saya dan memberikan peneguhan. Ironis sekali bukan? Ketika saya memberikan diri untuk melayani, saya malah merasa menerima berkat yang berlimpah limpah, apalagi ketika menyaksikan perubahan wajah para peserta yang bahagia dan penuh haru, saya dapat ikut kecipratan kebahagiaan mereka. Tanpa terasa 10 tahun lebih saya boleh berjalan dan bertumbuh bersama gerakan dan komunitas Choice ini. Sebuah perjalanan panjang dalam proses pematangan diriku. Sebuah Berkat Tuhan buatku yang tak ternilai. Saya merasa sangat bersyukur boleh melayani dan terlibat dalam kegiatan Choice ini. Komunitas Choice kuanggap sebagai keluarga ku, gereja kecil ku, kawan seperjalanan dan seperjuangan dalam kasih, dimana saya bisa merasakan kehadiran Tuhan. Dalam hidupku selanjutnya, nilai2 yang sama juga saya terapkan dalam kehidupan perkawinan saya bersama pasangan saya Adli, yang saat ini sudah menginjak usia ke25 tahun, pasangan yang aku kenal dari komunitas Choice juga. Berbekal nilai-nilai Choice, puji Tuhan kami sanggup memelihara relasi serta iman kekatolikan kami, demikian pula hubungan kami dengan anak-anak kami yang mulai beranjak dewasa. Kekayaan rohani yang saya dapatkan dari melayani Choice, merupakan bekal berharga dalam kehidupan kami berkeluarga dan dalam tugas saya sebagai orang tua bagi kedua anak kami. Terima kasih Tuhan atas penyertaanMu dalam hidup kami sampai saat ini. Terindah dalam hidupku mengenal, mencintai dan melayani Mu KENAPA SIH MAU JADI TIM? Kemudian saya pun menjadi lebih peka akan kebutuhan emosional orang-orang di sekitar saya, lebih mau mendengarkan, mengerti dan mau menolong. Akibatnya relasi dengan orang orang terdekat menjadi semakin hangat dan akrab. Hati saya terasa lebih damai, bahagia dan merasa dicintai. Hidup jadi terasa jauh lebih berarti.
Sungguh pengalaman yang menggerakkan hati, ketika dapat kesempatan untuk merasakan WE Choice. Bertemu dengan teman-teman yang memiliki visi sama terhadap pencarian makna kasih. Tiap sesi membuka kesempatan bagi kami para peserta untuk mengerti sisi lain dari apa yang pernah kami alami selama ini dan merefleksikannya dari sudut pandang yang berbeda. Pada akhirnya saya sadar bahwa tujuan mengasihi menjadi lebih jelas bahwa sebagai anak-anak Tuhan, kita diajarkan untuk memberi kasih daripada meminta kasih itu sendiri. Tuhan telah mengaruniakan kasih yang tak terbatas, dan itu menjadi tugas kita anakanakNya untuk memberikan kasih tanpa syarat. Namun selepas dari WE Choice lah masa dimana hati kita diuji. Ketika kita dapat dengan konstan mempertahankan semangat tersebut. Itulah tantangan terbesar bagi kita semua para peserta, sehingga dorongan untuk berkomunitas menjadi penting. Komunitas yang baik dapat memberi kita sudut pandang yang berbeda dalam kehidupan, karena dengan menyadari adanya perbedaan, hati dan pikiran kita dapat lebih terbuka untuk mengerti karunia Allah yang sangat beragam. Dengan rendah hati kita dapat memahami perbedaan yang ada disekitar kita. Itu menjadi hal yang lumrah, sehingga kita tidak lagi mengistimewakan perbedaan, namun menghargainya sebagai karunia Allah di dunia ini. Pengalaman yang berbeda terasa ketika saya hadir kembali sebagai Tim di WE Choice. Sudut pandang saya berubah ketika berjalan berdampingan bersama para peserta untuk menggali lebih dalam meteri Choice yang hendak disampaikan. Kekuatan “sharing is caring” sungguh sangat nyata. Dalam pelayanan, ajakan untuk berbagi sangat kuat terasa. Bahwa membagikan kasih bersumber dari Tuhan, dan apa yang telah kita persiapkan semata-mata hanya untuk kebesaran namaNya, dan biarkan Ia yang menjamah hati masing-masing peserta secara personal. Teguh Kurniawan mantan Tim Youth Distrik Jakarta periode : 2015 - 2018 Pas. Teguh – Irene saat ini tinggal di Jakarta Secara keseluruhan, kesan pribadi yang saya terima adalah ketika saya dengan sadar membuka hati pada Tuhan dan membiarkan Ia menjamah hati saya, maka keajaiban cinta pun akan dengan indahnya terpancar. Relasi dengan orang-orang terkasih pun diberikan-Nya kesempatan baru yang lebih manis dari sebelumnya dengan cara-cara yang berbeda dari apa yang saya bayangkan. Selebihnya adalah keputusan kita sebagai hamba-Nya yang rendah hati untuk memasrahkan hati agar rencananya kasih-Nya dapat terjadi pada diri kita dan orang-orang terkasih di sekitar kita.
Waktu itu, hari Kamis, 28 Agustus 1993 subuh Romo Soesilosuwarna, MSC, Sr. Joanni dan Pas. Ivo-Lia berangkat ke Makassar untuk mengadakan WE Choice-1 di Makassar, dibantu oleh Magdalena & Tri Haryanto (Tim Youth distrik Surabaya). Tiba-tiba Kamis sore, Lia telpon saya dan minta saya dan Kyat untuk berangkat ke Makassar hari Jum’at pagi untuk membantu memberikan WE Choice di Makassar, karena banyaknya peserta. Saya pikir mana mungkin dapat tiket dengan waktu yang sudah mepet, akhirnya kami coba telpon ke travel agent dan luar biasanya ternyata ada 2 tiket ke Makassar, berangkat jam 5.30 pagi dengan diskon 30%. Malam itu kami hampir tidak tidur karena kami menyiapkan pakaian dan presentasi untuk WE Choice di Makassar, juga kami harus membatalkan semua rencana kerja untuk 1 minggu ke depan, dan luar biasanya, semua berjalan dengan lancar. Hari Jum’at, 29 Agustus 1993 kami berangkat ke Wisma Panti Samadi di Malino, perjalanan sekitar 2 jam dari Makassar, tempat dulu pernah diadakan Konferensi Meja Bundar. Dan WE Choice-1 berjalan dengan lancar dan sukses, di akhir acara para peserta terus bernyanyi, seolah mereka enggan berpisah, sebuah acara yang hangat dan mengesankan. Setelah WEC-1 Makassar selesai, kami istirahat 1 hari dan dilanjutkan ke Manado. Pada malam, saat kami mengadakan Evaluasi dengan beberapa pasutri ME, tiba-tiba Lia ingat bahwa dia ingin membeli emas, karena emas Makassar paling bagus. Akhirnya salah satu pasutri bilang : “Biar besok pagi kami antar Lia & Betty ke toko emas, yang lain bisa langsung check in”. Nah… yang namanya wanita, kalau sudah belanja, suka lupa waktu dan saat kami tiba di airport, kami melihat Ivo sudah menunggu di depan dan ketika kami mendekatinya, dengan marah Ivo bilang : “Belanja saja terus, kapalnya juga sudah berangkat”. Memang kami sudah terlambat, tetapi tiba-tiba kami lihat Sr.Joanni di belakang Ivo, mengoyang-goyangkan tangannya, ternyata kapalnya delay sekitar 1 jam. Setibanya di Manado, kami langsung menyiapkan diri untuk mengadakan WEC-1 Manado. Sekitar 1 jam sebelum acara dimulai, kami lihat para peserta mulai berdatangan, jadi jadi heran karena mereka memakai pakaian resmi/pesta. Sebaliknya mereka juga bingung melihat kami yang berpakaian santai dengan T-shirt & Jean. Rupanya ada miskomunikasi, Panitia lupa memberitahu kami bahwa kebiasaan di Manado pada Pembukaan acara yang berhubungan dengan gereja, semua harus pakai pakaian resmi/pesta. Tepat jam 17, acara WEC dimulai, setelah berdoa, kami mengajak peserta menyanyikan lagu-lagu dengan penuh semangat, ternyata pesertanya ogah-ogahan, akhirnya Ivo bilang : “Oke, sekarang kalian saja yang nyanyi lagu-lagu kalian.” Sekarang giliran kami yang bengong, karena mereka menyanyi dalam 3 nada dan suara mereka merdu sekali. Rasa canggung dan kaku masih terasa, hingga sesi-3 ada seorang peserta bertanya pada saya : ”Tante, boleh tahu nggak cerita-cerita yang kalian bacakan itu (maksudnya : presentasi tim) diambil dari novel apa?” Ya…ampun, sharing pengalaman hidup yang kami buat dengan susah payah bahkan dengan cucuran air mata, dianggap sebagai copyan dari buku-buku novel. Setelah kami terangkan bahwa semua sharing adalah pengalaman nyata dari hidup kami, barulah mereka tersentuh dan mulai merefleksikan dengan pengalaman hidup mereka sendiri. Selanjutnya WEC berjalan lancar dan diikuti dengan penuh penghayatan.Terima kasih Tuhan untuk semua mujijatMu yang boleh kami alami selama menjadi tim Choice. Semua ini tidak mungkin terjadi, tanpa campur tangan Tuhan. Pas. Betty – (+ Kyat) mantan Tim Pasutri Distrik Jakarta periode : 1983-2018 Tante Betty saat ini tinggal di Jakarta
Suwardi Ngaturi, mantan Tim Youth Distrik Jakarta, periode : 1993 – 1996, Pas. Suwardi – Susan saat ini tinggal di Singapura. "CHOICE adalah ladang Tuhan yg luar biasa untuk menjangkau muda mudi dan mengingatkan kembali betapa pentingnya belonging pada keluarga, gereja kecil mereka. Kesempatan melayani Weekend CHOICE adalah sebuah kehormatan bagi saya, sebuah pengalaman pelayanan yang tak terlupakan. Betapa tidak, di setiap WEC saya melihat karya Tuhan yang agung, pekerjaan Roh kudus yang nyata dalam, menyentuh, menyadarkan dan mentransformasi para peserta, khususnya yang ada masalah relasi dengan keluarga, dan bertekad untuk memperbaikinya. Ketika saya menjadi alat dan saksi nyata itu, saya bersyukur dan mengatakan puji Tuhan. Saat WEC berakhir, badan lelah karena memang kurang tidur, namun sukacita di dalam hati itu PRICELESS. " Pas. Har – (+ Pras), mantan Tim Pasutri Distrik Surabaya dan Distrik Jakarta, Tante Har saat ini tinggal di Jakarta Bagiku Choice itu sangat berarti. Karya cinta kasih Tuhan yang istimewa, bukan hanya untuk anak-anak muda yang jadi peserta, tetapi aku dan alm. mas Pras pun juga merasakan mukjizatNya. Dari pengenalan diri pribadi, mencari kedokku yang menghalangiku untuk mencintai, menghayati kesetiaan, semua sangat indah dan ketika kami sadar bahwa kami harus menyingkirkan bloking (luka batin) dengan memberikan pengampunan...maka terjadi penyembuhan.. Wis….ora iso digambarke legane (tidak bisa digambarkan betapa lega hati ini) Julius Yustian, mantan Tim Youth Distrik Jakarta periode : 2012 – 2019, Pas. Iyus – Yana saat ini tinggal di Jakarta Arti Choice bagiku : Choice itu penolong hidup saya, terutama nilai-nilai choice yang bisa sangat bisa diaplikasi Ketika saat terendah dan dalam kehidupan sehari-hari. Pengalaman menarik dalam melayani : Perjumpaan dengan berbagai macam orang dengan latar belakang yang berbeda. Hal lain juga adalah pengalaman-pengalaman yang dibagikan oleh sesama team maupun para peserta dan semua itu sungguh berharga. Dinamika selama weekend juga menggembirakan.
Andika Irma Mihardja (Ika), mantan Tim Youth Distrik Jakarta periode : 1996 – 2001, Pas. Ika – Ronny saat ini tinggal di Bogor Pengalaman mengikuti WE Choice sangat berkesan, sehingga terlontar harapan bahwa aku ingin mengalaminya lagi. Dan Tuhan ternyata mengabulkannya, dan akhirnya saya bisa menjadi bagian dalam Tim Choice. Komunitas Choice membuat saya merasa memiliki keluarga baru. Setiap memberikan Weekend selalu mempunyai pengalaman yg menarik. Sharing peserta memberikan masukan untuk saya bertumbuh dalam iman dan relasi. Pas. Nani – (+Koko), mantan Tim Pasutri Distrik Jakarta periode : 1998 – 2018 , Nani saat ini tinggal di Cibubur, Bogor Aku mengikuti WE Choice-1 Pontianak pada November 1986, pengalaman luar biasa karena belum pernah mengikuti retret yang cerita Tim nya sangat menyentuh dan membuat aku jatuh cinta pada Choice. Dan akupun mengucapkan keinginanku untuk jadi Tim Choice pada Misa Penutupan WE Choice saat itu. Sesudah WE Choice, aku langsung di coach oleh alm. Romo Bart Janssen untuk persiapan menjadi Tim WE Choice -2 di Pontianak dan sejak itulah aku melayani sebagai Tim Choice, hingga di tahun 1988 aku pindah kerja ke Jakarta dan akupun melanjutkan pelayananku sebagai Tim Choice. Pengalaman tak terlupakan adalah saat kami (Pas. Nani – Koko) diminta oleh alm. Pas. Ferry Lely untuk menjadi Tim Pasutri Choice, padahal kami belum beres menyelesaikan WE ME saat itu, sekitar 1998. Sebagai Pasutri akhirnya semua presentasi untuk WE Choice menjadi saat untuk saling mengenal dan mengerti pasangan lebih mendalam, sekaligus sebagai rekonsiliasi atas kesalah pahaman yang pernah terjadi diantara kami berdua. Terima kasih Choice, semua nilai-nilai yang ada di dalam WE Choice boleh menjadi WAY OF LIFE kami. Ban Seng Liman, mantan Tim Youth Distrik Jakarta periode : 2006 – 2018, saat ini tinggal di Cibubur, Bogor Choice membuat aku kembali ke jalur relasi keluarga yang seharusnya, karena sebelum aku mengikuti WE Choice, aku tidak tahu bagian dari siapa aku ini? Choice juga membuatku menyadari perhatian yang diberikan oleh keluargaku bukanlah hanya sebuah kewajiban melainkan pemberian kasih sayang dari hati yang tulus dan ikhlas tanpa syarat apapun dan mereka hanya ingin memberikan yang terbaik. Aku bersyukur bisa mengenal Choice dan nilai nilai Choice menjadi pedoman relasiku dengan keluarga dan orang orang di sekitar.
Bambang Setyadi Wongso mantan Tim Youth Distrik Jakarta Pas. Bambang – Selvy saat ini tinggal di Jakarta Choice bagiku sangat - sangat berarti karena Choice akhirnya saya menemukan cinta kasih Tuhan dengan cara yang beda dengan citra yang berbeda. Choice ngajari saya apa arti keluarga yang sebenarnya. keramah tamahan, care, belonging dengan keluarga, dan teman teman. Tahu gak, Choice itu seperti imunisasi Vaksin dengan Virus jenis Cinta type positive. Hahaha. Pengalaman yang tidak terlupakan selama memberikan pelayanan sebagai Tim Choice adalah saya melihat keajaiban Cinta Kasih Tuhan yang luar biasa dari setiap individu yang disentuh hatinya untuk mau berubah dan mengarah menjadi keluarga, teman, sahabat yang dekat dengan Tuhan Yesus. Rencana dan jalan Tuhan Yesus sungguh Ajaib dan Luar biasa. Bravo dan penuh berkat untuk semua individu yang dipilih Tuhan untuk menjadi Tim yang membagikan BerkatNya dalam setiap Weekend Choice
Litarius Sari Dewi mantan Tim Youth Distrik Jakarta periode : 2012 – 2015 Pas. Lita – Aditya saat ini tinggal di Jakarta CHOICE... Waktu dengar kata ini pertama kali yang ada di benakku adalah sebuah komunitas dimana kita bisa menemukan pasangan hidup. Ternyata waktu ikut WE Choice angakatan 189 tahun 2008, aku malah menemukan diriku sendiri. Salah satu Tim Pasutri adalah Pasutri Sandra Bahcrum, mereka membantu aku menemukan kelebihan dalam diriku,yang akhirnya bisa aku gunakan untuk membantu sesama dengan bimbingan mereka. Dengan aku membantu sesama, Mama Papa aku diselamatkan, mereka dibaptis. Jadi, buat aku CHOICE itu sangat berarti sekali! Pengalaman yang tak terlupakan waktu ngeteam adalah waktu aku ngeteam pertama kali yaitu angkatan 205, ada beberapa peserta yang aku kenal, jadi aku bisa santai dalam menjalankan tugasku sebagai salah satu team youth, sehingga peserta lain, aku anggap aku sudah kenal baik juga. Dimalam pertama ada peserta yang tidak bisa tidur karena takut. Saat itu ada salah satu peserta datang dan menceritakan hal ini kepadaku. Trus kita diskusi, akhirnyaaaaa aku dibantu dengan beberapa peserta, angkat-angkat kasur kayak orang pindah kontrakan malam-malam karena mesti pindah tidur. Buat aku, setiap kali aku ngeteam, punya kesan tersendiri, dan aku sangat bersyukur bisa diberikan kesempatan untuk menjadi bagian dari keluarga besar Choice.
Aku bagaikan terlahir kembali setelah mengikuti Weekend Choice pertamaku di tahun 2002. Begitu memikatnya Gerakan Choice ini sehingga aku terlarut dalam setiap kegiatannya baik sebagai aktivis, Tim youth, Tim Kornas dan juga bagian dari Tim Kordis Jakarta. Choice adalah komunitas pertama yang kumiliki, yang telah membentukku menjadi pribadi yang lebih baik dan menghayati iman Katolik dengan lebih lagi. Choice pula yang mempertemukan aku dengan sahabat2 sejati dan pasangan hidupku kini. Betapa banyaknya peranan Choice dalam kehidupanku, terima kasih ya Choice. Walaupun tergolong singkat selama 6 tahun aku tergabung dalam Tim youth Choice Distrik Jakarta, pernah 1x ditugaskan untuk memberikan WEC di Lewoleba sebuah kota kecil di Pulau Lembata – Nusa Tenggara Timur bersama dengan Pastur Domi Pareta OMI, pasutri Djeimy-Inge (team Pastur dan pasutri dari Distrik Purwokerto) dan rekan youth Kornas (alm.) Tarsisius Elwan; pengalaman melayani dalam setiap WE Choice menjadi kenangan indah yang masih sering kukenang hingga kini. Memang setiap WE Choice punya suka duka tersendiri, tapi bagian yang paling kuingat dan membuatku merasa terharu bahagia adalah saat mendengarkan BPS (Bagaimana Perasaan Saya) dari setiap peserta di Misa Penutup minggu sore dimana mereka mengungkapkan bagaimana pemahaman baru melalui weekend Choice yang baru saja diikuti telah mengubah mereka, dan aku melihat wajah-wajah peserta yang tersenyum cerah sungguh berbeda dari saat pertama kali mereka datang. Luar biasa ya karya Roh Kudus dalam setiap Weekend Choice untuk peserta dan juga team nya. Gerakan Choice masih dibutuhkan oleh banyak sekali kaum muda diluar sana. Semoga di usianya yang ke 40 tahun ini, Gerakan Choice Indonesia mampu bertahan mengikuti perkembangan jaman, tetap eksis dan setia menjadi duta cinta yang tidak biasa. Dirgahayu ke-40 Choice Indonesia! Jayalah selalu selamanya! Josephina Jeanny mantan Tim Youth Distrik Jakarta periode : 2005 – 2011, Pas. Jeanny – Essaf saat ini tinggal di Cikarang, Bekasi
Edgar Januar Pratiknjo, mantan Tim Youth Distrik Jakarta periode : 2008 – 2010, Pas. Edgar – Prisilla saat ini tinggal di Tangerang Choice adalah tempat dimana saya merefleksi dan mengenal lebih dalam mengenai diri sendiri. Saya ingat pada waktu mengikuti WE Choice, saya duduk di pojok belakang, merasa betapa saya mengalami kehidupan yang relatif sangat baik dibandingkan apa yang sedang disharingkan para Tim Choice di depan (sembari kadang terkantuk-kantuk). Tetapi hal terindah bagi saya adalah mendapatkan sahabat-sahabat dan orangtua baru yang sangat baik terhadap saya. Om Ivo (alm), tante Lia, Ira, ko Peter & ci Sera, Ban Seng adalah hadiah paling berharga yang boleh Tuhan berikan kepadaku. Teringat waktu coaching di kediaman Ivo-Lia, mereka berdua selalu sangat hangat menyambut saya dan sabar dalam mendengarkan sharingku. Ko Peter juga selalu hadir dengan Ira dan Banseng. Saya merasa jadi bagian dari keluarga mereka dan ini sungguh tidak ternilai. Om Ivo-tante Lia dan ko Peter-ci Sera bagiku adalah contoh pasutri yang setia dan menghidupi kepasutriannya dengan nilai-nilai Choice, apalagi saat ini saya masih berjuang menjadi suami dan daddy yang baik untuk istri dan anakku. Frans Budi Santika, mantan Tim Youth Distrik Jakarta periode : 2000 – 2006, Pas. Budi – Lina saat ini tinggal di Tangerang Bagiku Choice itu sangat berarti. Karya cinta kasih Tuhan yang istimewa, bukan hanya untuk anak-anak muda yang jadi peserta, tetapi aku dan alm. mas Pras pun juga merasakan mukjizatNya. Dari pengenalan diri pribadi, mencari kedokku yang menghalangiku untuk mencintai, menghayati kesetiaan, semua sangat indah dan ketika kami sadar bahwa kami harus menyingkirkan bloking (luka batin) dengan memberikan pengampunan...maka terjadi penyembuhan.. Wis….ora iso digambarke legane (tidak bisa digambarkan betapa lega hati ini) Paskalina PN Singara (Ira), mantan Tim Youth Distrik Jakarta periode : 2001-2012, saat ini tinggal di Tangerang Arti Choice bagiku sulit ditulis dalam kalimat singkat. Intinya bagaimana aku berproses menerima siapa aku sebenarnya dan bagian dari siapakah aku ini. Serta membagikan hidupku bagi orang lain. Mudah ditulis tetapi jatuh bangun dalam berproses. Sebagai Tim Youth presenter pun tetap tidak mudah berprosesnya tetapi sangat terbantu di dalam komunitas ini. Satu hal yang tiada hentinya aku bersyukur, berproses dalam Choice membuatku mengalami masa2 indah bersama keluarga terutama Papa sehingga penyesalan tidak terjadi ketika Papa dipanggil Tuhan. Dalam pengalaman WE Choicesebagai Tim Youth presenter,salah satu yang terindah adalah ketika peserta menulis surat, bagaimana mereka benar-benar berusaha meninggalkan 'ke-aku-an' dan berusaha menjalin relasi yang indah dengan orang2 yang dikasihi lewat surat yang ditulis. Selamat ulang tahun Choice Indonesia ke-40. Teruslah berkarya bagi kaum muda Indonesia!"
CHOICE... kegiatan yang saya ikutin setelah baru banget putus cinta….yeay... awalnya gak kebayang acara apaan Choice, dipikir ya retret biasa aja... ya udah Positif Thinking dan GO Ahead aja deh. Pas pertama liat orang-orang yang ditemui hmm... nothing special, biasa aja, bahkan bisa dibilang orang-orang yang ikut saat itu tergolong sudah dewasa sekali, mungkin karena angkatan ku itu angkatan khusus.. Well, ngikutin WE Choice nya lancar dan abis pulang WE, rasanya happy banget, banyak nemu temen baru dan orang-orang baru, dan setelah WE, saya juga masih sering banget ketemu temen-temen apalagi ternyata dikasih kesempatan coaching lebih dalam tentang tema-tema Choice. Alhasil di kasih kesempatan menjadi Tim Youth... Bagiku komunitas Katholik pertama yang ku ikuti dan enjoy banget rasanya, Jadi Tim, seru pastinya ketemu dengan orang-orang hebat lainnya. Ketika abis ngeteam capekkkk, pegelll dan encok tapi terbayarkan ketika liat tementeman happy semua ... ah pokoknya SERUUUU pooolllll. And finally…. karena di Choice itu banyak juga kegiatannya salah satunya di Misbul (Misa Bulanan), ketemu salah satu cowo seangkatan, yes Martinus namanya, dari pelayanan bareng berujung saling melayani dalam satu ikatan Perkawinan. Ya mungkin ini bonus kali ya ... kita gak akan tau jodoh kapan dateng nya, sebagai manusia hanya bisa berdoa, berharap dan harus berusaha juga ya pastinya supaya bisa terkabul dan nyata. *HAPPY BIRTHDAY* Choice Distrik Jakarta yang ke 40 Tahun, To Know , To Love, To Serve Senang banget pernah menjadi bagian dari Choice Distrik Jakarta, Sukses terus untuk Kordis, tetap semangat ya menjaring para Domba. Ria Pratiwi, mantan Tim Youth Distrik Jakarta periode : 2014 – 2017 Pas. Ria – Martin saat ini tinggal di Tangerang
Choice adalah sesuatu yang membuat mindset saya berantakan. Cara pikir yang tidak biasa muncul saat selesai mengikuti WE Choice. Bagi seorang Stefanus Rizal yang tidak pernah bergaul alias kuper, Choice adalah sesuatu yang asing di telinga. Tahupun tentang Choice – tidak, dapat dikatakan mengikuti WE Choice pada tanggal 22 - 24 Agustus tahun 1997 adalah mukjijat bagi saya. Bagaimana tidak? Dalam keterpurukan saat itu, tibatiba saya melihat sebuah amplop warna putih dan ketika saya buka isinya surat pendaftaran untuk mengikuti WE Choice, padahal posisi domisili saya saat itu bukan di lingkungan KAJ melainkan di Keuskupan Bogor. Herannya saya merasakan bahwa ikut Choice sebagai jawaban atas doa-doa saya kepada Bunda Maria. Setelah mengikuti WE selama 3 hari, ada sesuatu yang berubah dalam pikiran saya yaitu Allah sungguh mencintai saya melalui keluarga yang saya miliki. Tentunya perubahan itu tidak datang begitu saja dan cepat melainkan melalui proses yang panjang. Selesai weekend, saya sering main ke Posko yaitu rumah dari salah satu pasutri Choice yang menjadikan rumahnya sebagai tempat berkumpulnya para Choicer berbagai angkatan. Dalam pikiran saya selama sebelum mengikuti Choice, tidak ada sebuah komunitas yang mampu membuat para anggotanya dapat melupakan soal perbedaan dengan mudah dan berbaur tanpa melihat pendidikan, usia maupun strata sosial. Tidak demikian di Posko Choice. Posko Choice adalah satu tempat nyata dimana perbedaan-perbedaan hilang tak berbekas. Hanya satu yang sama yaitu siapapun dia orangnya baik kaya atau miskin, pendidikan S1 atau S2, tua atau muda bukan lagi kendala. Semua sama… sama-sama pernah mengikuti WE Choice dan kami semua Choicer. Arti kata Choice adalah Pilihan dan para Choicer memilih untuk menjadi satu dan melupakan semua perbedaan. Choice juga mengajarkan untuk mempraktekkan semua nilai yang terkandung di dalam materi selama 3 hari. Choice punya kekuatan yaitu sharing pengalaman dan iman. Tapi bagaimana mungkin kita dapat sharingkan semua pengalaman hidup kita kalau masih mempermasalahkan perbedaan. Choice membuat saya diterima apa adanya tanpa harus takut dihakimi. Choice membuat saya dicintai dan dihargai baik kelebihan maupun kekurangan yang saya miliki, sehingga Choice menjadi tempat aktualisasi diri saya apa adanya dan kemudian mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang sangat signifikan. Bukan sebuah kebetulan jika istri saya sekarang ini juga sama-sama Choicer bahkan 1 angkatan dan 1 kelompok. Saat kami pacaran, berulang kali teman-teman menegur saya saat saya terlalu kasar terhadap pacar saya. Mereka dapat menyampaikan keberatan mereka dan kritik terhadap saya dengan menggunakan pendekatan ala Choice. Saya tidak merasa disudutkan, tidak merasa dituduh atau dipojokkan, sehingga membuat saya lebih mampu menerima. Pengalaman Indah saat Melayani WE Choice 2 tahun saya berdinamika dan bertumbuh di Posko bersama para Choicer berbagai angkatan hingga saya ditawarkan untuk menjadi Tim Youth WE Choice. Ada ketakutan bahwa saya tidak mampu dan memenuhi harapan dari para Tim dan rekan-rekan yang mensupport saya, tetapi melalui mereka justru saya merasa terdorong untuk dapat ikut berbagi sebagai Tim youth presenter WE Choice. Ada pengalaman yang menarik saat saya turun bersama pasutri alm. Ferry Lely Nathan, dalam cerita saya tentang sesi luka batin, saya menceritakan bagaimana papi memperlakukan saya dengan keras dan tegas saat masih kecil. Pukulan dan kemarahan setiap hari membuat saya terluka. Cerita dalam sesi itu ternyata cukup membuat para peserta ikut mengalami dan berempati kepada saya. Tapi mereka bingung kok tampilan papi yang mereka lihat dalam diri om Ferry tidak terlihat sebagaimana cerita saya. Mereka melihat om Ferry sebagai pribadi yang lembut dan penuh perhatian. Ternyata mereka menganggap om Ferry saat itu adalah papi saya. Dan ketika peserta tahu mereka semua tertawa. Mereka telah salah tangkap dan itu adalah biasa karena perlakuan mami Lely dan papi Ferry terhadap saya memang bagaikan anak dan orangtua yang sangat harmonis. Tidak heran selama 2 tahun saya tinggal bersama mereka sebelum saya menikah pada tanggal 7 Januari 2001. Melayani di WE Choice adalah pengalaman yang tak terlupakan sepanjang hayat. Selama 2 tahun sebelum saya menikah saya telah mendampingi WE Choice sebanyak 6x dan saat menjadi pasutri sebelum saya undur diri dari seluruh kegiatan Choice sebanyak 1x. Melayani di WE Choice sangat berharga buat saya dan istri. Stefanus Rizal Rejadi mantan Tim Youth Distrik Jakarta periode : 1999 – 2000 Pas. Rizal – Kurnia saat ini tinggal di Jakarta Kami belajar dan paham apa arti melayani dan memberikan diri sepenuhnya tanpa harus menjadi orang lain. Melayani di WE Choice adalah sebuah sukacita yang tak pernah habis dimana Tuhan bekerja untuk terus menerus memberikan rahmatNya meski saya belum sempurna. Saat saya bekerja sebagai HR di Indah Kiat Pulp & Paper dan saya bertugas di bagian rekruitmen, hampir semua calon yang Single dan Katolik saya “paksa” secara tidak langsung untuk mengikuti WE Choice jika memang ingin bekerja dan menjadi bagian dari Sinar Mas Group. Peran saya kecil saat itu hanya seorang recruiter, tapi setidaknya saya melihat ada peluang setiap orang muda merasakan pengalaman indah mengikuti WE Choice seperti yang saya alami. Terima kasih Tuhan atas anugerahMu sehingga saya boleh mengenal, mencintai dan mengabdiMu. Kiranya Gerakan Choice yang sudah memasuki usia ke-40 ini dapat menjadi gerakan Roh dan wadah yang mampu menampung anak-anak muda untuk berkarya, berelasi dan beriman sebagai pribadi-pribadi yang tangguh sambil menerapkan nilai-nilai Choice di dalam kehidupan mereka sebagai single, selibat maupun berkeluarga.
Aku dan Bachrum ikut Choice-2 tanggal 18-20 Maret 1983. Mami yang nyuruh aku ikut. Saat itu aku baru 20 tahun, dan Bachrum 22. Kecil banget untuk ukuran anak anak Choice jaman now. Dan aku ajak semua teman-temanku, kami ber-9 termasuk dengan Monchie adikku yang masih SMA. Temen-temenku ada yang pawang ular, kepala gang. Jadi pas WE Choice ada yang bawa uler, bawa pistol… ada yang pake anting, bisa kebayang dong gimana perasaan tim yang melayani weekend saat itu. (Rm Bart, Rm Rekso, pasutri Ivo-Lia, An-Andi dan Aiek, Vincent). Dan seperti biasa namanya anak-anak gang, mereka ga bisa diatur, antara lain mereka maunya tidur bareng, ga mau dipisah. Waktu Oom Andi datang untuk mencoba memisahkan mereka, agak kewalahan juga menghadapi anak-anak itu. Dicapai kesepakatan, sejauh mereka tidak mengganggu peserta lain mereka diizinkan tetap ikut WE (catatan : BLKM tempat weekend Choice letaknya di lembah dan sangat jauh dari jalan raya). Puji Tuhan, selesai Choice di minggu sore, semua temenku bertobat, mereka lepas semua atribut mereka, antinganting juga mereka lepas dari telinga mereka. Bagi Aku dan Bachrum, ini salah satu yang mengesankan dari weekend Choice. Pengalaman yang sangat membekas dalam hati adalah ketika kami, mami dan papiku serta Chacha dan Suhar (Chacha putri pertama Sandra-Bachrum, Suhar pada saat itu calon suami Cha2), kita ngetim bareng, super seruuu. Yang bikin aku bahagia ketika melihat wajah mami-papiku sumringah karena bahagia dan bangga. Kemudian yang juga sangat berkesan adalah ketika kami menjadi Koordinator Choice Asia kedua kalinya pada saat Konferensi Asia. Ketika itu delegasi dari Cina berniat menjadi anggota Choice Asia, dan semua member, kecuali Taiwan, menolak. Saat istirahat tim China dan Taiwan datang menghampiri untuk melobby. Waktu kami tetap katakan bahwa China masih belum memenuhi syarat untuk dapat masuk sebagai anggota, salah satu delegasi Taiwan kelihatan marah marah, juga tim China menunjukkan kekecewaannya. Puji Tuhan aku dan Bachrum tidak bisa berbahasa mandarin sehingga tidak mengerti apa yang mereka katakan. Syukurnya penerjemah juga sangat bijak, dia menyaring semua kata kata tim China dan Taiwan dan menjelaskan dengan baik alasan alasan kami sehingga emosi mereda. Aku dan Bachrum benar benar merasakan penyertaan Tuhan saat itu. Pas. Sandra – Bachrum mantan Tim Pasutri Distrik Jakarta saat ini tinggal di Jakarta
Kami sebagai Pasutri ikut WE Choice itu karena awalnya ikut ME, beberapa tahun sebelum Choice. Pulang ME saya bisa recruit 24 pasutri, sehingga masuk radar ME Jakarta. Lalu diminta ikut deeper weekend ME, Pas. Max-Jane itu angkatan kami. Tapi karena pasangan ga mau jadi tim, kami mundur untuk jadi Tim ME. Beberapa tahun kemudian Choice datang. Orang ME ingat kami yang bisa bawa banyak pasutri, jadi kami dihubungi untuk ikut WE Choice yang pertama. Dan kami saat itu sangat dekat dengan An-Andi, jadi saya ajak mereka, kemudian juga Arianto-Lidwine dan Betty-Kyat. Itulah 4 pasutri awal dari satu wilayah Paroki Kristus Salvator, Slipi, dan tinggalnya semua di Tomang, karena tinggalnya berdekatan, kita bisa saling support dalam proses menjadi tim Pasutri Choice. Kalau ada yang lagi males, pasti ada yang menyemangati. Demikianlah kita bisa exist sampai hari tua kita. Waktu ikut WE Choice, awalnya aku merasa hidup keluarga kami baik baik saja. Memang kami punya Edson, putra kedua yang cacat ganda, tapi ga ada masalah yang berarti. Tetapi di Choice ternyata kami tersentuh, terutama Wahono yang sangat tersentuh sama sessi 7, Siapa Yang Ingin Menjadi Bagian Dari Hidupku, yaitu ada orang yang mau dekat kita ga mau. Itu kan Edson. Yang kalau Wahono pulang kantor, dia dengan semangatnya teriak teriak : “papi, papi, papi..!!”, mau ngajak main. “Iya, bentar bentar Son, papi mau ngaso dulu”, atau, “papi masih ada kerjaan.” Andijaya juga sharing tentang masalah dengan anaknya, Kyat juga. Kita sharing sambil nangis nangisan berenam. (catatan : Arianto-Lidwine ikut WE yang ke 2). “Kenapa ya kita baru sekarang tahu Choice?” Makanya papi (Wahono) kalau bawain sessi 7 selalu menangis karena merasa sering mengabaikan, melalaikan Edson. Jadi, akhirnya Wahono itu mau komit melayani di Choice. Yang paling berharga dari Choice bagi saya adalah perkenalanan menjadi pertemanan, dari pertemanan menjadi persaudaraan, belonging (tanpa syarat). Bahwa seharusnya, selayaknya, sewajarnya, setelah saya mendalami Kitab Suci saya makin mengerti, Tuhan tidak mau ada sakit hati yang tidak selesai dalam sebuah relasi, itu yang dikatakan sesi 6 tentang Pengampunan. Makanya ada di Kitab Suci, Petrus bertanya, “Sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku kalau ia berbuat dosa, Sampai 7 kali?” Yesus berkata : “Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali..” (Mat 18:21-22) Artinya kan tak terhingga. Tak bersyarat. Tetapi disamping itu, bila perintah Tuhan yang dijabarkan dalam nilai nilai yang kita dapat di WE Choice, tidak diteguhkan oleh kebenaran Firman Tuhan, maka WE Choice hanya menjadi mimpi yang indah. Sebab semua nilai bagus, semua retret semua rekoleksi bagus, dipersiapkan dengan doa oleh para tim. Tetapi nilai yang indah itu harus dipelihara, bila tidak, dia akan sia sia, dia akan jadi mimpi yang indah saja. Yaitu kita tahu, tetapi tidak mampu melakukan. Apa yang harus dan bisa di improve dari tim Choice, karakter. Maksudnya, Choice kan bicara tentang relasi. Relasi itu kan abstrak (tidak terlihat jelas bentuknya). Bisa aja gua berantem ama kamu, terus gua ampunin gua ampunin. Tapi lu dating, gua kaga mau dateng. Ada si Peter ga, si Peter ada, gua kasi 1001 alesan ga bisa dateng. Manusia sebenarnya dasarnya baik. Tetapi kalau dia sering dikecewakan, menerima ketidak adilan, dia bisa jadi jahat. Tetapi kan di dalam hidup tidak mungkin kamu tidak pernah mendapatkan ketidakadilan, kamu tidak bisa selalu menerima keadilan, tidak mungkin. Makanya Yesus dalam Lukas 9:23 bilang, “Panggullah salibmu, sangkal diri, dan ikutlah Aku”. Nah kalau tidak punya kekuatan Tuhan, omong kosong. 95% perintah Tuhan tidak masuk akal. Jadi timnya, rohaninya harus ditingkatkan, harus. Kita bisa tahunan, puluhan tahun jadi tim. Kalau tidak dengan Firman tidak bisa. TANPA DUKUNGAN FIRMAN, BISA HANYA JADI MIMPI INDAH Pas. Cun – Wahono, mantan Tim Pasutri Distrik Jakarta, saat ini Pas. Cun – Wahono tinggal di Jakarta. Ayat yang bisa jadi pegangan, khususnya untuk tim, adalah soal pengampunan. Seperti dikatakan Doa Bapa Kami : “Jika kamu tidak mengampuni, Bapamu di surga tidak mengampuni kamu.” Kita kan jadi tim suatu saat ada saja gesekan. Saya maunya ke kanan, Peter maunya ke kiri. Menurut Peter masuk akal, tapi menurut yang saya pikirkan juga benar. Siapa yang mau ngalah. Kadang kadang belum tentu yang benar itu menang. Tapi kita belajar, 1 Korintus 6:7 : “Adanya saja perkara diantara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu. Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapa kamu tidak lebih suka dirugikan?” Jadi dalam pelayanan kita bisa saja mendapatkan hal demikian, dan hal itu biasa terjadi dalam pelayanan. Kalau kita tidak punya Tuhan, akan sakit hati ga gua tanya? Merasa dibedakan, merasa ini itu. Jadi, para pemimpin harus jadi teladan hidup. Baca Efesus 5:1, “Sebab itu jadilah penurut penurut Allah (imitation of God), seperti anakanak yang kekasih.”
Kami, Arianto, yang 3 tahun yang lalu kembali kepada Tuhan di usia 75 tahun dan aku, Lidwine mengikuti ME pada tahun 1979. 3 tahun kemudian kami diajak terlibat dalam Choice oleh teman, yang karena Choice menjadi saudara kami, pasutri Cun-Wahono. WE Choice menyadarkan kami berdua akan pentingnya relasi dan cinta kasih yang membawa kebahagiaan. Kami belajar bagaimana bisa berkomunikasi dengan hati,supaya bisa menjadi bagian dari kehidupan orang yang kita cintai. Pola Tingkah Laku kita yang bisa mengganggu untuk berelasi dengan baik. Maka dibutuhkan keterbukaan untuk bisa mengampuni orang orang yang melukai hati kita karena mereka yang paling bisa melukai adalah orangorang yang terdekat. Kemudian kesetiaan sangat penting untuk membahagiakan hati pasangan, anak anak dan sesama. Saya dan Arianto bersepakat mau mengubah hidup kami dalam berelasi agar lebih baik dan benar. Kami menjalani dan komit sehati sepikir untuk menjadikan nilai nilai Choice sebagai “Way Of Life” gereja kecil kami dan ketiga anak kami, Paul, Thomas dan Michael. Sepulang WE Choice, kami mengirim surat cinta kepada orang yang melukai hati kami, kami juga mohon pengampunan kepada Tuhan serta melakukan tindakan nyata, lebih memberikan kesetiaan dengan sepenuh hati. Rasanya ada kebahagiaan di antara kami, kami seperti mendapatkan hati dan hidup baru dalam kasih Tuhan! Puji Tuhan! Kami juga acapkali mengajak mama pergi ke gereja bersama dan libur bersama dan membuat mama bahagia. Ada kalanya aku merasa diriku tak berarti dan takut ditolak. Kini aku menjadi lebih percaya diri, berani menjadi diriku sendiri. Aku adalah ciptaan Tuhan yang berharga di mata Tuhan. Relasi bersama anak anak juga menjadi lebih terbuka dan aku peka terhadap kebutuhan mereka. Mau mendengarkan dengan komunikasi “honesty with care”. Sharing bersama bila menghadapi masalah dalam studi mereka, pertemanan dan masa depan mereka menjadi topik yang sangat berarti. Kadang kadang kami bisa tertawa dan menangis bersama. Kami berusaha memberi contoh dengan mendampingi dan mempersiapkan masa depan mereka. Pas. Lidwina – (+Arianto) Mantan Tim Pasutri Distrik Jakarta Tante Lidwina saat ini tinggal di Jakarta MENJADI ALAT TUHAN
Saat WE Choice berlangsung, semua Tim : Romo, Suster, Pasutri dan Youth bersatu kompak seperti satu keluarga, hangat dan saling tolong. Roh Kudus selalu hadir bersama kami dan peserta. KEBAHAGIAAN KAMI SAAT MEMBERI CHOICE Saya bilang, koq ironis sekali ya, di satu sisi kita mau membahagiakan anak orang lain… tapi di sisi lain buah hati kami ditinggalkan! Kami hanya bisa berdoa, Tuhan, jamahlah anak anak kami, lindungi dan berkatilah kami semua dalam pelayanan di WE Choice ini. Banyak sekali persiapan mental dan hati apalagi saat anak anak masih kecil, sehingga harus undang mami untuk jaga anak anak. Sedih saat pamitan dengan anak anak. Ada yang nangis ga mau dilepas dari pelukan kami… Ada yang tidak mau nganter kami keluar ke mobil, cuma ngintip kami dari pintu. Ada yang pesan jangan lama lama perginya.. Waktu kami jemput pasutri Win-Tukijan, anak bungsunya lari sambil nangis teriak melarang mobil kami jalan. Kita berempat keluar air mata. SUKA DUKA MENJADI TEAM Saat membaca presentasi (kesaksian) kami, dari rasa khawatir bisa tenang, saling berpegangan tangan, dan saling mendukung, karena yang kami bagikan justru kekurangan dan kelemahan kami serta bagaimana mengatasi kesulitan hidup kami. Kadang terbayang kejadian yang melukai hati kami, kami bisa menangis. Tetapi selesai membaca, rasanya lega, ada beban yang diangkat, justru jadi bahagia dan ada penyembuhan batin kami. Kami berdua jadi kuat karena didukung para Tim lainnya yang juga memberikan sharing sharing kehidupan mereka. Mendengarkan sharing para Tim, juga dapat membuat kami sungguh tersentuh. Rasa kebersamaan inilah yang membuat kami jadi sangat akrab. kadang ada waktu yang membuat kami bisa tertawa atau menangis bersama. Saat sharing kelompok membuat kami terkagum-kagum karena keterbukaan peserta. Arianto sering bilang, kami yang diperkaya oleh para Choicer. Kami bisa seperti ditegur oleh anak anak kami melalui mereka, kadang mereka juga meneguhkan kami seperti kepada orangtuanya. Puncaknya pada rekonsiliasi, malam penuh rahmat yang menyentuh kami sebagai orang tua yang mendoakan anak anak agar mampu mengampuni kedua orang tua mereka dan diri mereka sendiri. Disitu kami merasa Allah sungguh bekerja. Kami dan para Tim, hanyalah alat Tuhan, kami sangat tersentuh dan bersyukur memuji Tuhan. Terima kasih Tuhan, Engkau telah mengizinkan kami menjadi alatMu melalui Choice. Setelah dewasa, mereka mau ikut WE Choice, demikian pula pasangan mereka masing-masing. Kami harap cucu cucu kami juga bisa suatu saat menjadi Choicer, Amin.Kami selalu menghadirkan Tuhan Yesus Kristus dalam doa dan ziarah batin bersama anak anak.
KUMPULAN CERITA TIM AKTIF CHOICE DISTRIK BANDUNG 6
Herfin Pas. Herfin - Christine Tim Pasutri Aktif Distrik Bandung Arti Choice bagiku adalah suatu tempat untuk belajar berelasi dengan pasangan dan keluarga terdekat terutama bagi kami dengan anak-anak di rumah. Ketika pertama kali kami diajak untuk ikut WE Choice, kami sudah menjadi pasutri, dan saat itu sebagai Pasutri Peninjau, kami merasa relasi kami berdua biasa-biasa aja, dan kalau ada keributan di dalam rumah tangga dapat diatasi dengan baik, itu menurut kami dan kami pikir buat apa ikut WE Choice, tapi kemudian ada Pasutri yang mengatakan, baik lho kalian ikut WE Choice ini, WE Choice ini bukan bengkel, yang artinya dapat memperbaiki relasi, tapi relasi yang aman-aman bisa menjadi lebih hangat, ucapnya,. Waktu kecil saya sering sakit-sakitan, sehingga sering tidak masuk sekolah, akibatnya saya sulit mengikuti pelajaran disekolah. Berbeda dengan kedua kakak dan adik saya, saya sangat tergantung kepada kedua kakak saya dalam segala hal, sehingga mereka sering memanfaatkan hal tersebut, saya sering disuruh suruh, dan dengan terpaksa saya mau, karena saya butuh mereka, seperti membuat PR dan membantu saya dalam belajar kalau ada ulangan, jadi untuk membalas budi baik mereka, saya mau saja disuruh-suruh, walaupun tidak berkenan dihati, pokoknya saya tidak mau ribut. Hal ini yang membuat saya sering membantu orang tanpa berpikir panjang. Saya merasa aman dan nyaman dengan keadaan seperti itu dan hal ini terbawa sampai kehidupan perkawinan.Saya tanpa sadar memiliki pola tingkah laku : SENANG MEMBANTU tanpa pikir panjang dan CINTA DAMAI alias tidak mau ribut. Dengan mendalami nilai-nilai Choice, kami sadar bahwa pola tingkah laku kami masing-masing membuat relasi kami saling terganggu. Christine Semasa kecil saya lebih dekat dengan papi daripada mami, kalau papi pergi dengan teman-temannya saya selalu ikutdan mereka sering memuji saya, karena kalau di suruhsuruh oleh mereka (teman-teman papi), saya dapat mengerjakan dengan cepat dan hasilnya saya sering mendapat hadiah berupa permen atau kue. Hadiah itu membuat saya senang dan merasa dihargai. Papi juga selalu bilang, jadi anak perempuan itu harus mandiri, jangan tergantung dari orang lain, malahan kalau bisa dikerjakan sendiri ya kerjakan sendiri, jangan minta tolong, jadilah saya anak yang serba bisa dan mandiri. Senang sekali rasanya jika pekerjaan cepat selesai, dengan benar dan tepat, dan saya mendapat pujian. Maka pola tingkah laku saya adalah terprogam dengan cepat dan tepat, istilah kerennya PERFEKSIONIS. Pengalaman terindah saat melayani WE Choice adalah saat semakin banyak ketegangan-ketegangan karena perbedaan kami, bukannya menjadikan kami menjadi lebih jauh, tetapi menjadikan kami lebih dekat, karena kami sudah dibekali teori dan contoh-contoh yang nyata, kami berusaha untuk meredakan ketegangan-ketegangan tadi dengan komunikasi yang mendalam, dan dampaknya sangat nyata dalam kehidupan rumah tangga kami, saya menjadi lebih kalem, menurut Herfin dan anak-anak, lebih mau mendengarkan keluhan mereka, sebelum keluar kata-kata spontan yang menyakitkan mereka, karena mereka merasa aku ini selalu benar dan super woman dan mereka sering merasa diremehkan, sedangkan Herfin menjadi lebih berani mengungkapkan perasaannya. Selamat Ulang Tahun untuk gerakan Choice di Indonesia yang sudah berusia 40 thn dan Semoga semakin banyak yang terlibat didalam Choice. Yaaaa … Sudahlah kami ikut, kita lihat apanya sih yang membedakan dengan retret yang sudah kami ikuti dan lagi kami juga sudah lama sekali kami tidak mengikuti retret, hitunghitung sebagai pendalaman imanlah … itu yang kami pikir. Tapi … ternyata nilai-nilai Choice membawa kami mengenal lebih dalam sifat-sifat kami masing-masing yang awalnya adem ayem, mulailah terjadi berbagai ketegangan diantara kami, karena pola tingkah laku kami yang berbeda. Kumpulan Cerita Tim Aktif Choice Distrik Bandung
Pas. Hendra – Cicin Tim Pasutri Aktif Distrik Bandung Waktu aku ikut Weekend Choice di BLKM Ciloto, aku satusatunya peserta yang belum dipermandikan, kami berangkat ke Ciloto bersama teman-teman perwakilan dari berbagai paroki naik mini bus pinjaman. Tim WE Choice waktu itu sebagian dari Bandung yang pernah ikut WE CHOICE di Jakarta yaitu : Pasutri Ping-Erna, pastor Ign. Putranto, Ratno dan Hera, dan satu Pasutri dari Jakarta. Di WE CHOICE itulah aku menyadari bahwa papa dan mama menyayangiku, dan akupun ingin bisa lebih dekat dengan mereka. Aku juga lebih mengenal diriku, dan disadarkan bahwa pengalaman masa lalu, sangat mempengaruhi pola tingkah laku ku dan akupun mulai melihat keluarga dan lingkunganku dengan kaca mata yang baru. Dan yang sangat berarti bagiku, di Choice aku diterima apa adanya, aku merasa nyaman dan kupikir ini adalah keluarga kedua, dimana aku bisa bertumbuh danmenjadi diriku sendiri. Cicin Bersyukur kami berdua, bisa menjadi bagian dari awal berdirinya Choice Bandung pada tahun 1984. Saat itu status kami masih youth dan masih pacaran, aku diajak Hendra: “ ikutan WE Choice yuu.. gua diajak pasutri Ping Erna, katanya bagus buat youth “. Tanpa pikir panjang dan masih bingung apa sih WE Choice itu, tapi karena diadainnya di BLKM Ciloto, aku semangat buat ikutan, sekalian jalan-jalan dan cari suasana baru pikirku. Ternyata…luar biasa sekali WE Choice yang kualami. Semangat buat memperbaiki relasi dengan keluarga khususnya dengan mamaku begitu kuat, dan nilainilai yang kudapat dari Choice betul-betul membawa pengaruh positip dalam diriku. Choice membuatku bisa melihat ternyata orangtuaku selalu setia mencintaiku, mereka juga memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Sakit hatiku terhadap mama juga berangsur sembuh bahkan sampai sekarang relasiku dengan mamaku begitu baik. Singkat kata kalau ditanya apa Arti Choice bagiku ? Choice adalah salah satu Kado Special dari Tuhan untukku. Dia memberikan padaku, supaya aku menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari, karena nilai-nilai Choice yang kudapat selalu update dan bisa dilakukan sepanjang hidupku untuk berelasi dengan Tuhan, orang2 yang kucintai dan juga dengan sesama. Karena sudah merasakan begitu bagusnya WE Choice untuk para youth, aku jadi semangat untuk memberikan WE kepada teman-teman yang lain, diajak magang di WE Choice-3 dan menjadi tim youth di WE Choice ke 4 – 6,memberikan pengalaman yang berarti bagiku. Mendengar sharing-sharing dari teman peserta youth yang begitu berat dengan permasalahannya masing-masing, membuatku belajar untuk berempati terhadap sesama, belajar untuk tidak menilai atau menghakimi orang lain dan membuka mataku untuk bisa lebih bersyukur . Hendra Hendra & Cicin Setelah berubah status menjadi pasutri di tahun 1987, kemudiankami ikut Weekend Marriage Encounter di tahun 1993 dan kami juga aktif di ME dan masih terlibat sebagai tim pemberi weekend ME sampai sekarang. Dan ketika anak-anak kami beranjak dewasa, kami sebagai orangtua merasa perlu untuk terlibat kembali di Gerakan Choice. Kami ikut sebagai Pasutri Peninjau pada WE CHOICE Angkatan 71 dan maju menjadi Tim Pasutri WE Choice Angkatan 77 sampai dengan sekarang ini. Awalnya sih kami ingin belajar bagaimana menjadi ortu yang baik untuk anak-anak kami, dan supaya nyambung ngobrol dengan mereka. Ternyata dari sharing para peserta, kami banyak mendapatkan bekal untuk menjadi orangtua. Kami belajar, banyak anak-anak terluka oleh sikap orang tua yang memaksakan kehendak, orang tua yang selalu merasa paling benar dan sulit untuk meminta maaf walaupun salah, orang tua yang sulit untuk diajak berkomunikasi dan banyak lagi sikap yang tidak disadari para orang tua, yang bisa melukai anak-anaknya. Dari sini kami banyak belajar, bercermin untuk bisa menjadi orang tua yang lebih baik bagi anak-anak kami. Kedua anak kami juga sudah ikut WE Choice, sehingga komunikasi kamipun semakin nyambung. Hal lain yang membuat kami bahagia adalah bisa menjadi teman bagi para youth dan kalaumelihat pertumbuhan mereka menjadi lebih dewasa, menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa mempunyai relasi yang baik dengan keluarganya, itu merupakan suka cita bagi kami berdua. Kami semakin yakin Choice adalah SCHOOL OF LOVE dan tanah subur yang penuh pupuk cinta, yang bisa menjadi pilihan banyak orang untuk bertumbuh . Terima kasih Tuhan, telah mengenalkan dan memberikan kesempatan kepada kami untuk berada dan terlibat dalam komunitas gerakan Choice."
Romo Ferry Sutrisna Widjaja, Pr Tim Priest Aktif Distrik Bandung Saya mengikuti WE Choice ke-3 tahun 1984 di Distrik Bandung sebagai seorang calon imam. Choice mengajarkan saya untuk membangun relasi yang sehat dengan banyak orang khususnya keluarga sendiri. Choice juga memberi banyak teman termasuk Pasutri yang berjuang bersama untuk kehidupan yang lebih harmonis dan bahagia. Ada banyak pengalaman yang tak terlupakan dengan Choice. Pertama adalah pengalaman menjadi Tim Choice di Manila, Filipina termasuk 2 kali week end tahun 1997-1998. Kedua saat mengikuti Choice Asian Conference di Seoul, Korea Selatan tahun 1998. Ketiga saat ikut mengisi acara Choice Asian Conference di Bandung tahun 2006
Evlin Evalina Tim Youth Aktif Distrik Bandung Arti Choice bagiku adalah ladang untuk bersama-sama bertumbuh di dalam Yesus, tempat untuk berbagi saat perasaan senang maupun sedih, komunitas di mana aku merasa tidak sendirian karena bersama dengan orang-orang yang satu “channel”. Tempat aku belajar tentang kasih lewat tindakan, alarm ketika jalanku mulai menyimpang dan tempat di mana aku mendapat banyak sekali harta kehidupan lewat sharing orangorang yang menguatkan. Dari Choice aku belajar memaafkan diriku, dan mencintai keluarga yang sudah Tuhan berikan bagiku. Pengalaman yang tidak bisa dilupakan adalah setiap kali maju untuk melayani WE Choice selalu ada peneguhan dan kebahagiaan, jika ditanya yang terindah mungkin WE terakhir yang masih terasa segar. Ada beberapa rintangan yang harus dihadapi sejak aku menyanggupi untuk melayani di WE ini, dimulai dari kemungkinan tidak akan maju dan tantangan lainnya di tim teknis. Seminggu sebelum WE peserta hanya 11 orang dan didominasi oleh peserta pria, rasanya semangat mengendur namun saat kick off temanteman tim lain datang dan memberi suntikan semangat, bahkan ada yang bilang tenang akan bertambah 5 orang lagi. Setelah mendapat suntikan semangat ini aku menjadi berfikir bukan jumlah tapi yang Tuhan perlukan hanya hati, hati yang mau melayani berapapun jumlah yang Tuhan percayakan. Selalu indah pada waktunya, akhirnya peserta yang ikut 16 orang sesuai dengan yang disebutkan saat kick off dan semua lolos tes antigen. Kami semua menyerahkan perjalanan WE hari itu pada Tuhan, karena kami percaya Roh Kudus akan ada di tengah WE kami, yang kami lakukan hanya melayani sesuai kemampuan kami. Di misa penutup WE Choice, saat BPS peserta, aku merasakan kebahagiaan saat semua peserta merasakan perubahan dan bersyukur karena mendapat keluarga baru. Lewat BPS peserta aku mendapat sukacita dalam pelayanan, dan aku merasa lelah dari awal persiapan hingga selesai WE Choice, terbayarkan dengan kegembiraan utuh. Terima kasih Tuhan untuk kesempatan yang Kauberikan.
Valentina Febriana Tim Youth Aktif Distrik Bandung Choice bagiku seperti keluarga kedua yang menerima aku apa adanya dan menjadi teman perjalanan buatku untuk semakin mengenal diriku sendiri apa yang menjadi kekuatan dan kelemahanku. Di sini aku juga menjadi semakin peka dengan perasaan yang kualami dalam hidupku serta jadi semakin memahami cinta dengan lebih dalam sehingga bisa semakin memahami dan menjadi bagian dari orang-orang terdekatku Pengalaman yang tidak bisa dilupakan itu saat menjadi tim weekend tapi di kala hati sedang galau banget, mikirin relasi dengan pacar saat itu yang sedang ada masalah di mana harus bikin sharing baru yang akan dibawakan saat weekend banyak khawatir dan takut ga bisa nyiapin hati buat maju weekend untungnya teman-teman Tim weekend yang lain sangat mensupport dan menemani aku dalam persiapan weekend. Weekend ini menjadi retret pribadi buatku untuk menjalani masa-masa sulit itu dan ketakutanku tidak terjadi, aku tetap bisa melayani dan berbagi dengan orang lain. Walaupun akhirnya relasi dengan pacarku jadi bubar (putus) tapi weekend ini menjadi langkah awalku buat menjalani proses move on dan sembuh dari patah hati.
Choice adalah tempat saya bertumbuh, dimana nilai-nilai Choice sangat membantu saya mengenal diri sendiri, memperbaiki diri, dan memberikan peneguhan supaya saya mau terlibat, mau berelasi dan menjadi bagian dari orang-orang terdekat khususnya keluarga dengan lebih lagi. Dampak dari melaksanakan nilai-nilai Choice dalam hidup sungguh luar biasa. Walaupun tantangannya banyak dan berat , hasilnya dapat dirasakan saat relasi saya dengan keluarga bisa dipulihkan dan sampai sekarang masih berproses supaya bisa menjadi lebih baik lagi. . Di Choice saya juga belajar berelasi dengan hati yang hangat serta belajar untuk menerima dan memberikan cinta. Dampaknya saya menjadi lebih bisa bersyukur untuk halhal kecil yang saya dapatkan, bisa merasakan perhatian dan kebaikan yang diberikan oleh keluarga terdekat maupun oleh teman-teman di lingkungan kerja dan di lingkungan sekitar saya. Secara keseluruhan membuat saya lebih bisa bersyukur dan bersukacita dalam segala hal. Berada di komunitas Choice merupakan suatu kegembiraan, karena saya diberi kesempatan mengenal beberapa sosok Om dan Tante yang sudah seperti Papah dan Mamah sendiri. Punya teman-teman yang baik hati, ramah , dan saling mendukung selayaknya seperti saudara sendiri. Juga saya bisa mengenal dan belajar dari sosok Pastur dan Suster dimana dalam kehidupan pelayanannya, mereka selalu bersedia dengan tulus hati terlibat membantu. Sungguh kehadiran mereka semua adalah berkat bagi kehidupan saya. Dan saya merasa sangat bersyukur karena disini saya menemukan rumah kedua yang penuh cinta, dukungan dan kehangatan. Saat melaksanakan weekend Choice, merupakan moment yang saya nanti-nantikan. Disana saya bisa mendapatkan banyak teman baru, yang artinya akan menambah teman seperjalanan dalam hidup. Melihat temanteman yang hatinya tersentuh setelah mengikuti weekend choice, dimana mereka jadi bisa berefleksi dan terinspirasi untuk berjuang memulihkan relasi dan mencapai hidup yang lebih happy, itu merupakan suatu sukacita yang sangat saya syukuri. Evi Kristanti Tim Youth Aktif Distrik Bandung
KUMPULAN CERITA MANTAN TIM CHOICE DISTRIK BANDUNG 7
Kumpulan Cerita Mantan Tim Choice Distrik Bandung Perjalanan di Choice untuk kedua kalinya ini menjadi lebih indah dan terlibat. Media sosial komunikasi semakin maju sehingga kontak dan relasi juga menjadi dekat. Saya cukup terlibat di Choice, selain karena hangatnya suasana kasih di dalam komunitas ini tetapi juga bermanfaat untuk saya. Manfaatnya sangat terasa karena saya sudah menjadi pembina di seminari. Dalam pendekatanku dengan para frater saya mencoba menerapkan nilai-nilai Choice dan ME. Saya bisa lebih memahami what is belonging, commitment or love all about. Saya patut berbangga karena dari semua pembina di seminari, saya menjadi yang paling disukai dan akrab dengan para frater. Apa yang dikatakan filsuf Martin Buber (1878-1965) itu benar bahwa "in the beginning is relatioship" dan Bo Sanchez, motivator kondang Filipina, merumuskannya secara lain "Life is relatioship and the rests are just details." Perjalanan bersama para frater, bersama temanteman Romo dan Bruder SMM termasuk dengan umat diparoki selalu menyenangkan karena saya berusaha untuk menerapkan semangat "belonging", saya berusaha untuk menjadi bagian dari mereka tanpa menjaga jarak dan image. Choice juga mengajarkan saya untuk menikmati hidup dengan penuh syukur dan sukacita, "choose to be happy". Sukacita bukan karena indahnya (lengkapnya) fasilitas tetapi menerima apa yang tersedia dengan penuh syukur. Saya bersyukur bisa berjalan kaki melayani umat di pelosok-pelosok karena orang-orang pastilah berkhayal untuk bisa berjalan. Saya bersyukur bisa menggunakan daun pisang pengganti payung karena di kota besar daun pisang dipakai membungkus makanan. Pada HUT ke 40 Choice Indonesia saya harus berterima kasih kepada Choice yang telah mengajarkan saya untuk hidup secara lebih bermakna dengan mencintai tanpa harus mengikat dan dicintai tanpa harus terikat. Terima kasih kepada teman-teman seperjalanan yang selalu memberikan cintanya dengan tulus dan hangat. SELAMAT HUT-40 CHOICE INDONESIA. Romo Kasmir, SMM, Mantan Tim Priest Distrik Bandung, saat ini bertugas di Mbeling, Ruteng, NTT MY LIFE, MY CHOICE Saya sudah mengenal Choice jauh sebelum mengikuti Weekend Choice. Kebetulan pembina saya di seminari (awal 90an) adalah Tim priest sekaligus Kornas Choice waktu itu berpasangan dengan (alm) Agustia-Sonya. Saya sendiri baru ikut WE Choice Angkatan 40 tahun 1995 di Bandung,ketika kuliahku selesai. Weekend pertama terasa hambar dan datar-datar saja, mungkin karena saya ikut WE Choice hanya karena harus taat pada pembina saya. Beberapa tahun setelah menjadi imam saya lagilagi hidup bersama mantan pembinaku waktu masih frater. Beliau sudah menjadi superior serikat kami plus sebagai Kordis ME Distrik VI Bandung. Beliau mendorong saya terlibat di Choice tetapi dinasehati untuk terlebih dahulu ikut WE ME. Emang saya juga sudah mengenal ME jauh sebelum mengikuti Weekend ME melalui para pasutri yang sering ke rumah kami seperti Pas. Hendra-Lelie dan Pas. Hendra-Cicin. Mereka membawa saya ke ME dan kemudian saya membawa mereka ke Choice. Kedua pasutri ini kemudian sangat terlibat dan mencintai Choice dan menjadi teman seperjalanan yang sangat dekat.
Pas. (+Ben) – Erna, mantan Tim Pasutri Distrik Bandung, Tante Erna tinggal di Bandung Kalau ditanya apa arti Choice untukku, aku akan menjawab bahwa Choice itu seperti sekolah, praktik kerja, juga keluarga besar. Choice adalah sekolah di mana aku belajar tentang cinta; bagaimana mencintai tanpa pamrih dan menyadari cinta luar biasa yang diberikan kepadaku padahal sering kuanggap biasa-biasa saja. Ketika mengikuti Weekend Choice, aku baru menyadari bahwa apa yang kupikir : kulakukan demi kebaikan anak-anakku, ternyata bisa saja melukai hati mereka. Sharing youth seperti mewakli hati anak-anakku. Di sanalah aku belajar, jangan-jangan bukan anak-anakku yang kukhawatirkan, tetapi egoku sendiri. Jangan-jangan apa yang kulakukan kepada anak-anakku bukan cinta yang sebenarnya. Misalnya, ketika aku mendidik keras anakku untuk belajar. Melihat aku bersikap terlalu keras, beberapa orang mengingatkan aku untuk bersikap lebih lunak. Namun, aku selalu berkata, “Ini untuk kebaikan dia. Kalau dia nggak naik kelas, nanti dia yang malu!” Begitu anakku bermasalah di sekolah, aku mencetus spontan, “Kamu bikin malu mama!” Setelah mengucapkan itu, aku merasa tertampar oleh diriku sendiri. Aku mulai bertanya kepada diriku sendiri. Jadi, selama ini aku mendidik anakku untuk belajar demi kebaikan siapa? Demi nama baikku sendiri atau anakku? Siapa yang malu jika anakku tidak naik kelas? Aku atau anakku? Aku sadar seharusnya aku mendampinginya belajar dan lebih memperhatikan kesulitan-kesulitan yang dihadapinya. Ketika semakin terlibat dalam gerakan Choice, aku semakin melihat bahwa dengan mencintai, kita bisa mewujudkan sesuatu yang luar biasa. Talenta yang terasa kecil akan menjadi sesuatu yang luar biasa jika digabungkan. Aku, yang sering minder karena merasa tidak punya kemampuan hebat, ternyata tetap bisa menjadi bagian dari komunitas Choice; hanya dengan mau hadir dan melakukan sesuatu yang aku bisa walaupun sederhana. Ketika menjadi Kordis bersama alm. Ben, aku yang merasa tidak mempunyai pemahaman yang mumpuni tentang Choice, sering merasa takut salah. Namun, teman-teman dengan mudah membantu mengatasi semua kekhawatiranku dan mendorongku untuk berani melangkah. Aku ingat, ada dilema ketika harus memilih teman untuk menghadiri Kornas. Alm. Ben dan aku sungkan. Kami takut ada yang tersinggung jika tidak dipilih untuk hadir, sementara tempat terbatas. Namun, ada pasutri yang menguatkan,” Jangan khawatir, kamu pilih saja yang paling kamu butuhkan. Kami tidak apaapa, kok, kalau tidak dipilih, yang penting, ada yang mewakili Bandung”. Ketika menjadi Kornas, aku betul-betul merasakan keajaiban Choice. Ketika mengunjungi daerah, alm. Ben dan aku merasa seperti disambut kerabat yang sudah lama tidak berjumpa, padahal kami belum pernah mengobrol dengan mereka sebelumnya. Sekolah ini ternyata untuk seumur hidup. Aku bersyukur bisa masuk sekolah Choice. Tadinya, aku pikir kebahagiaanku adalah ketika kemampuanku dihargai, bisa dicintai oleh orang-orang sekitar, terutama oleh alm. Ben dan anak-anak. Namun, sekarang aku menyadari bahwa aku bisa bahagia ketika diijinkan menjadi bagian dari hidup mereka; ketika aku diijinkan untuk mencintai mereka yang aku cintai. Semoga aku bisa terus memenuhi panggilan Tuhan untuk mencintai dan menghargai semua makhluk terutama orang-orang terdekat.
Pas. (+Hans) – Irene, mantan Tim Pasutri Distrik Bandung, Tante Irene saat ini tinggal di Bandung Choice adalah rumah bagiku, dimana semua saudaraku yang dekat dihati berada. Rumah dimana cinta kasih bersemi, saling mendengarkan, saling menerima, saling berbagi kasih, tumbuh bersama dalam perasaan sayang menjadi manusia utuh : tubuh, pikiran dan perasaan melalui Yesus, indah dalam satu kesatuan, maka saya dan alm. Hans begitu bahagia berada bersama lebih dari 30 tahun. Setiap WE Choice, punya arti mendalam dan berbeda bagi kami dan kami selalu mendapatkan pelajaran hidup yang berbeda, penuh arti baik bagi couple power kami maupun bagi keluarga kami. Setiap akhir WE Choice adalah pengalaman terindah buat kami melihat kebahagiaan tiap peserta karena mendapatkan nilai hidup dan Choice dalam hidup mereka. Pulang dengan semangat baru membuat Choice terbaik dalam hidup kesehariannya Grecenthia Dewi (Apoh), mantan Tim Youth Distrik Bandung periode : 2005 – 2017, saat ini tinggal di Bandung Choice buat aku adalah SCHOOL OF LOVE, sekolah untuk belajar mencintai dan dicintai. Belajar mengenal perasaan dan ber"damai" dengan perasaan yang sedang aku rasakan. Belajar untuk bertumbuh bersama menjadi mudi yang penuh kasih. Belajar lebih mencintai keluargaku yang manis ini, sehingga aku tidak menyesal atas apapun yang terjadi. Choice juga menemani disaat suka maupun duka...... Choice is My BiG FAMiLY... Pengalaman paling berkesan adalah ketika sharingku bisa menyentuh hati teman-teman, bisa mewarnai teman-teman dan melihat perubahan yang terjadi pada teman-teman, termasuk perubahan ketika kita berdinamika dalam BASIS. Gamaliel Natawijaya Setiawan (Gama), mantan Tim Youth Distrik Bandung periode : 2008 – 2021, Pas. Gama – Felicia saat ini tinggal di Bandung CHOICE seperti keluarga kedua bagi saya, dimana saya mendapat banyak pencerahan tentang kesetiaan, komunikasi dan belonging. Dan menyadarkan saya tentang kesetiaan yang selama ini saya dapat di rumah,yang dulu saya anggap hal yang mengganggu. Pengalaman tak terlupakan selama menjadi TIM CHOICE saat H-1 menuju WE Choice, salah satu pasutri tim mendadak sakit dan salah satu youth tim (selain saya) juga batal ikut karena keperluan penting, saya takut dan kuatir karena WE Choice bisa terganggu atau bahkan batal terlaksana. Tapi ternyata WE Choice bisa berjalan dengan lancar dan para peserta menikmati WE Choice, semua itu karena cinta teman-teman tim CHOICE yang lain. Yang mau membackup dan terpanggil untuk menggantikan youth dan pasutri tim WE Choice.
Yolanda Dwiutami (Yolan), mantan Tim Youth Distrik Bandung (periode : 2011 – 2018), Pas. Yolan – Yudhi saat ini tinggal di Bandung "School of love" itulah arti Choice bagiku. Choice merupakan tempat belajar, berlatih, dan mempraktekkan ilmu cinta. Saat menjadi peserta, mataku dibukakan untuk melihat cinta dari perspektif yang lain. Seiring berjalannya waktu, aku dilatih untuk bisa peka terhadap berbagai bentuk cinta yang ada di sekelilingku, dan belajar untuk menanggapi cinta tersebut. Saat menjadi team, ilmu cintaku menjadi lebih lengkap karena selain aku berbagi dengan para peserta, aku pun belajar banyak dari pengalaman team dan para peserta. Choice membuatku merasa bersyukur dengan keluarga yang kupunya, hidupku menjadi lebih bahagia setelah mendalami nilai-nilai Choice. Terima kasih Choice sudah memberikanku banyak pelajaran dan teman-teman seperjalanan dalam hidup ini. Pengalaman terindah saat melayani WE Choice : Pengalaman saat ada peserta yang konsultasi di waktu weekend berlangsung, rasanya deg-degan, karena takut salah bereaksi atau menanggapi cerita mereka. Yang paling berkesan adalah ada peserta yang setelah konsultasi, kita menjadi dekat seperti sahabat, menjadi teman seperjalanan.
Basically Choice menjadi support system yang bagus banget buat saya. Jujurly dulu saya termasuk orang yang overthinking, tapi begitu ikut WE Choice, saya langsung merasa nyaman. Sama sekali tidak ada perasaan insecure atau trust issue terhadap teman-teman disana. Pokoknya vibes-nya positif bangetlah. Bahkan mostly acara-acara di Choice itu malah menjadi momen healing buat saya. Dan pada akhirnya saya jadi punya circle pertemanan yang positif. Itulah arti Choice buat saya di awal perjalanan saya. Choice seolah menjadi playground baru bagi saya. Tempat saya berkreasi, tempat saya membina persahabatan dengan teman-teman dan membangun momen-momen yang menggembirakan. Tinggal dalam suasana yang penuh kehangatan membuat saya seolah melekat. Namun seiring berjalannya waktu, kegembiraan di Choice ini menyadarkan saya bahwa saya tidak boleh terlena dan berdiam terlalu lama di sana. Choice tidak dibangun sebagai dunia baru tempat saya berlabuh, tapi sekolah tempat saya belajar. Dunia saya tetaplah lingkungan dimana Tuhan menempatkan saya bersama-sama dengan orang-orang terdekat saya. Oleh karena itu saya mulai kembali menata fokus saya. Choice memang membawa kegembiraan besar bagi saya, namun Choice menyentuh visinya yang paling dalam ketika berhasil menumbuhkan kerinduan seseorang untuk belong kepada orang-orang terdekatnya. Dan itu terjadi pada saya. Berkat Choice, kerinduan saya untuk terlibat dan membaktikan diri kepada keluarga saya terasa semakin diteguhkan. Terima kasih, Choice. Saat bergabung di Choice, saya merasa kehangatan tersendiri. Ada begitu banyak orang yang membawa inspirasi bagi saya di dalam merawat dan memelihara komunitas ini. Berkat mereka saya lebih mampu mengenali perasaan terdalam yang saya miliki dan menjadi pribadi yang lebih hangat. Hal ini membuat saya dapat lebih menghayati hidup yang saya miliki dan lebih bersemangat untuk mengembangkan relasi saya dengan orang-orang terdekat. Salah satu hal yang paling rasakan adalah relasi saya dengan papi. Papi yang dulu terkesan keras di mata saya, lama-lama menyadarkan saya bahwa papi adalah sosok ayah yang penuh perhatian. Hanya saja caranya memberikan cinta kepada saya tidak langsung terasa cocok dengan apa yang saya inginkan. Namun seiring berjalannya waktu, berkat Choice, saya dapat menangkap bentuk cinta papi kepada saya. Dan saya justru bersyukur perlahan-lahan dapat membangun relasi yang lebih hangat dengannya. Terima kasih untuk teman-teman seperjalanan di dalam Choice yang membawa inspirasi dan peneguhan bagi saya. Robertus Ganjar (Jaro), mantan Tim Youth Distrik Bandung periode : 2007 - 2017 Pas. Jaro – Ros, mantan Tim Youth Distrik Bandung, saat ini tinggal di Bandung Roslina Tjarlim (Ros), mantan Tim Youth Distrik Bandung periode : 2002- 2017 Sebagai youth, kami pernah melayani WE Choice secara bersamaan maupun masing-masing. Dan setiap momen WE Choice memiliki keindahannya tersendiri. Ada banyak keindahan yang kami rasakan di setiap langkah yang dilalui dalam perjalanan WE, mulai dari kegembiraan ketika mendapat kepercayaan untuk berbagi dalam WE Choice, kegembiraan dalam soliditas sebagai 1 tim WE Choice, sampai pada kegembiraan ketika melihat banyak peserta yang tersentuh dalam berbagai momen WE Choice yang berlangsung. Namun pengalaman yang paling terindah dalam kacamata kami berdua adalah ketika mendengar sharingsharing yang menggembirakan dari peserta. Tidak ada kegembiraan yang lebih besar daripada kegembiraan mendengar hal-hal baik yang terungkap dari peserta, berkat WE yang mereka alami. Kami juga bersyukur pernah mendapat kesempatan untuk melayani bersamasama sebagai kordis dan kornas. Perjalanannya penuh dinamika. Masa kekordisan diisi dengan hajatan besar untuk menyelenggarakan ASCON. Awalnya kami merasa kahwatir, ini tanggung jawab yang sangat besar. Buat saya Choice itu seperti tanah yang subur, dan saya seperti benih yang ditanam di tanah tersebut. Benih yang masih rapuh ini bisa mengakar berkat tanah yang terpelihara dengan subur. Benih ini bisa mekar karena dipupuk dan disirami oleh cinta serta kepercayaan yang selalu diberikan. Dan kemudian benih ini dapat menghasilkan buah berkat ketekunan mereka yang merawatnya. Namun dengan dukungan dari berbagai distrik serta semangat dan keteguhan hati panitia, kami bersyukur acara tersebut dapat terselenggara dengan baik. Ketika selesai masa kekordisan, kami berharap untuk pensiun dan menikah. Namun tiba-tiba kami harus berdiscernment untuk duc in altum, melanjutkan ke tempat yang lebih dalam lagi, untuk menyambut panggilan sebagai kornas. Puji Tuhan, meski diawali dengan berbagai kekhawatiran, namun dalam perjalanannya ternyata ada begitu banyak dukungan bagi kami di dalam menjalani tugas perutusan kami. Detik-detik terakhir yang mengharukan adalah ketika tiba saatnya kami harus pensiun, untuk melanjutkan kehidupan yang baru di dalam Sakramen Perkawinan. Kami begitu merasa kehilangan, namun sekaligus juga penuh pengharapan baru. Pengalaman di Choice ini sungguh-sungguh menjadi bekal yang memperkaya bagi kehidupan perkawinan kami selama 5 tahun ini. Dan kami terus menanti untuk dapat kembali belajar dan melayani dengan cara baru yang telah Tuhan siapkan bagi kami. Ja-Ros
KUMPULAN CERITA TIM AKTIF & MANTAN TIM CHOICE DISTRIK SEMARANG 8
Pasutri Hengky – Silvy, Tim Pasutri Aktif Distrik Semarang Kumpulan Cerita Tim Aktif & MantanTim Choice Distrik Semarang Mengenal WE Choice pada tahun 1997, ketika anak-anak masih kecil umur 10 dan 5 tahun. Suatu pengalaman yang indah dan luar biasa, sehingga memutuskan untuk melayani Choice sebagai Tim Pasutri sejak tahun 2000 sampai sekarang. Choice telah memberi arti dan warna dalam kehidupan keluargaku. Jatuh bangun dalam relasi dengan pasangan, dengan anak-anak dan menantu. Nilai-nilai Choice sangat membantu dalam perjalanan dan perkembangan relasi kami. Tentu saja, campur tangan dan karunia Tuhan, tetap nomor satu. Selalu ada pengalaman yang indah dan diperkaya dalam setiap weekend Choice yang kami alami. Nilai-nilai yang kami dapatkan : Lebih mengenal diri sendiri, lebih mampu berkomunikasi, semakin rendah hati, menyingkirkan penghalang-penghalang dalam berkomunikasi, semakin terbuka dalam berelasi, bersikap apa adanya, belajar untuk setia, menghayati sex dan sexualitas, bukan sekedar hubungan sex sebagai pasutri, mengambil keputusan untuk mengampuni berdasarkan Kasih, lebih terbuka dalam berelasi, (tidak membalas dendam, gantian menyakiti orang-orang terdekat), semakin terpanggil untuk mencintai dan akhirnya merasul berdasarkan Kasih. Bahagia juga, melihat teman-teman muda, yang mendapatkan jodoh dalam komunitas Choice. Ada dukanya juga, kadang ada yang punya motivasi yang tidak baik, masuk komunitas, untuk kepentingan pribadi, sehingga merusak relasi dalam komunitas. Memang tak ada gading yang tak retak, segala sesuatu ada plus minusnya, tapi dari pengalaman saya, banyak plusnya. Komunitas Choice, memberi dampak positif dan kebahagiaan, sehingga bisa bertahan sampai jadi kakek nenek. Akhir kata... apapun yang terjadi, Tuhan mempunyai rencana yang indah, dibalik segala sesuatu yang diijinkanNya terjadi. To know, to love and to serve You. Apa Arti Choice Bagiku
Pas. Enggal – Rini, Tim Pasutri Aktif Distrik Semarang Ketika WE Choice selesai, kami saling berpelukan, ada tangisan, dan rasa haru, sebelum semua akhirnya berpisah. Terbayar sudah seluruh beban yang kami pikul mulai dari persiapan sampai WE Choice berakhir. Mendengar sharing para peserta adalah hal yang kami tunggu-tunggu, tentu saja kami berharap hal-hal yang baik selama mengikuti WE Choice, tetapi kadangkadang jauh panggang dari api. Banyak juga yang merasa tidak mendapatkan apa-apa danmerasa bosan. Ada beberapa peserta ketika WE Choice, hanya mendengarkan saja, sharingnya biasa saja, sharing di saat Misa Penutup - datar-datar saja sepertinya tidak mendapatkan apa-apa saat WE Choice, tetapi beberapa tahun kemudian ada yang meminta kami untuk jadi saksi pernikahannya. Ketika kami tanya : mengapa kami yang jadi saksi, jawabnya bahwa ketika ikut WE Choice, dia menilai kami adalah gambaran pasutri yg diharapkan dalam keluarganya kelak, dia melihat relasi kami yang baik. Dari situlah kami memahami bahwa relasi yang baik terjadi bukan saat WE Choice saja tetapi jauh sesudah WE Choice dan berlangsung hingga saat ini. Inilah arti Choice dan saat-saat indah dalam pelayanan kami di Choice Distrik Semarang
Pas. Cisca – Muliawan, mantan Tim Pasutri Distrik Semarang, saat ini tinggal di Karawaci, Tangerang KUMPULAN CERITA MANTAN TIM CHOICE DISTRIK SEMARANG Mulai 1986 kami terlibat sebagai tim pasutri Choice di distrik Semarang. Momen dalam Komunitas Choice sangatlah berkesan sepanjang hidup kami, antara lain : 1. Relasi kami dengan sesama Choicer, khususnya para tim, sangat erat, saling mengenal sebagai sahabat, saling mencintai dan saling memberi, yang jarang kutemui di lingkungan umum yang selalu diwarnai dengan untung rugi, kalah menang, bersandiwara, bertransaksi demi keuntungan diri sendiri. 2. Persiapan penyelenggaraan WEChoice adalah kegiatan yang menggembirakan, walaupun banyak pekerjaan tapi selalu semangat dan penuh sukacita, karena selalu tergambar akan ada sekian banyak anak muda yang akan bersuka-cita, meninggalkan hidup yang lama dan lahir baru dengan semangat baru, karena WE Choice adalah karya Tuhan sendiri, maka tidak ada WE Choice yang gagal karena Dia selalu terlibat didalam penyelenggaraan WE Choice Arti Choice Bagiku? 3. Ketika WE Choice berlangsung, berbagai karakter tim Choice : Sanguinis – Plegmatis – Kholeris – maupun si Melo muncul dengan sendirinya, tetapi mereka saling memahami sehingga WE Choice berlangsung dengan baik. Saat evaluasi, ada peserta yang menuliskan : “Di awal WE Choice, saya kecewa sepertinya panitia penyelenggara kurang siap, tidak seperti seminar yang pernah saya ikuti, di WE Choice ini para panelis saling diskusi saat acara sudah dimulai, tetapi pada akhirnya saya menyadari bahwa itulah KASIH DAN KETERBUKAAN YANG DITUNJUKKAN OLEH PARA TIM, yang memberikan warna khas WE Choice”,
6. Pengalaman indah melayani Choice, telah membentuk pribadi kami untuk siap melayani, terutama dalam keluarga kami sendiri; relasi yang semakin akrab dengan anak-anak; dan perkembangan pribadi anak-anak juga terwarnai oleh relasi kami berdua yang berkembang. Salah satu anak kami, terpanggil pula untuk menjadi tim Choice dan sebagai aktivis di Marriage Encounter, tetapi ternyata, Tuhan punya rencana lain, anak kami alm. Gogo meninggalkan dunia, disaat awal pelayanannya di Gereja sebagai pasutri dan kami memang harus melepaskan alm. Gogo kembali kepangkuanNya. 7. Akhirnya, kami saat ini dapat menyimpulkan bahwa Choice telah memberikan 2 nilai yg sangat kami hargai di masa tua ini : 1. Berelasi yg indah, seperti yg kami alami di komunitas Choice, perlu semakin menyebar dimana-mana di dunia ini, sebagai persiapan mengalami relasi kekal di Surga nanti. 2. Berlatih untuk bisa melepaskan apa saja yang didapat di dunia, kekayaan (saat bekerja), kepandaian (saat mengajar), termasuk juga relasi (dengan apa dan siapa saja yg dicintai di dunia), untuk siap menghadapi alam kekal yang telah disediakan Tuhan. Tuhanlah Gembalaku, DIA – lah arsitek kehidupan ini, terpujilah DIA. 4. Pernah dalam suatu WE Choice, jumlah pesertanya sedikit dan cenderung pasif, dan para tim presenter juga bukan yang aktif dalam gerak dan lagu. Dalam setiap doa sebelum memulai presentasi, kami berdoa memohon Roh Kudus yang menggerakkan hati kami semua selama WE Choice ini. Dan yang kami alami, kami para tim sangat terharu atas proses selama WE Choice; sesi-sesi begitu hidup, bahkan terasa ada gerakan cinta yang menghidupkan relasi peserta dan para tim.Kami sungguh bersyukur dan semakin yakin bahwa gerakan Choice adalah gerakan kasih dari Roh Kudus sendiri, yang ada dalam diri para tim masing-masing. Sungguh luar biasa, kami melayani dalam WE Choice, bukan sekedar sebagai tim yg menjalankan tugas, karena hati kami menyatu dengan peserta dan menghayati jalannya WE Choice ini, seperti melayani Kristus, ada Jesus yang menyertai kami. Pengalaman melayani WE Choice adalah pengalaman terindah bagi kami. 5. Acara yang paling tidak kusukai adalah saat WE selesai, meskipun ada kelegaan membuat dunia baru bagi peserta, mensyukuri dapat melaksanakan karya Tuhan dengan baik, makin akrab, dekat dengan sesama tim, tetapi besok harus kembali kedunia nyata, berinteraksi dengan mereka yang lebih mementingkan egonya, yang sangat berbeda dengan suasana WE Choice.
Choice Memberiku Langkah Pasti Th 1986, aku mengalami WE Choice sebagai young adult. Saat mengikut WE Choice, aku heran, kok ada kepedulian yang ga biasa. Para Tim menceritakan kehidupannya untuk dibagikan ke orang yang sama sekali tidak pernah dikenal. Retret apa ini? Makin dalam aku mengikutinya, makin menggelitikku untuk lebih mengerti. Keingintahuanku ini menarik perhatian pasutri pendampingku saat itu, dan aku diajaknya lebih mendalami nilai-nilai Choice dan diminta untuk cerita tentang kehidupanku. Aku nurut aja. Beberapa kali aku disuruh mengubah bagian tertentu dari ceritaku, ternyata inilah COACHING dan aku diarahkan untuk membuat presentasi. Sebuah pengalaman awal yang mengesankan. Choice membentukku menjadi beda dengan aku yang kemarin. Aku jadi mampu mendengarkan, mampu mengendalikan katakataku. Tahun 1991, aku mengakhiri kegiatanku sebagai Tim Presenter, dan aku mempersiapkan diri untuk menikah. Antara tahun 1997-1998, aku diajak kembali oleh pasutri ME untuk menghidupkan kembali Choice Semarang yang “tidur”. Aku sudah tidak sendiri, ada Eko dan 2 anak kami. Kami pun tergerak melayani di Choice sebagai Presenter. Th 2003, aku bersama tim Presenter Semarang mengikuti Denas (Dewan Nasional) Choice di Padang. Dengan penuh sukacita kuceritakan pertemuan di Padang ini pada Eko. Ceritaku membuatnya penasaran, seperti apa sih rasanya bisa mengalami Denas (Dewan Nasional) Choice, bertemu dengan Choicer dari berbagai distrik dan bergembira dan sharing bersama. Th 2007, Eko sedikit memaksaku untuk ikut hadir di KonNas (Konferensi Nasional) Choice di Bandung. Dan pada KonNas inilah, kami tidak pernah membayangkan dan mengharapkan, Semarang mendapatkan kepercayaan untuk menjadi Koordinator Nasional Choice Indonesia. dan kami diutus dan dipercaya oleh KorDis (Koordinator Dsitrik) Semarang untuk menjalankannya. Pas. Sikky – Eko, mantan Tim Pasutri Distrik Semarang, saat ini tinggal di Semarang Choice adalah Sekolah kehidupan, yang ga akan berakhir. Dalam kehidupan bersama dengan pasangan…banyak diwarnai oleh ME dan Choice. Dalam perjalanan menemani anak-anak, boleh membuat kami bangga. Kedua anak kami, kami temani dengan pola Choice. Luar biasa……meski belum mengalami Choice, mereka mampu berkomunikasi dengan kami, yang kami yakini mereka tidak mengerti arti komunikasi waktu itu. Mereka bisa mendengarkan layaknya Choicer. Kami bangga dengan anak-anak kami. Kami pun yakin, anak-anak bangga menjadi anak-anak kami.
KUMPULAN CERITA TIM AKTIF CHOICE DISTRIK PURWOKERTO 9
Pas. Eddy – Lily, Tim Pasutri Aktif Distrik Purwokerto Kumpulan Cerita Tim Aktif Choice Distrik Purwokerto MINGGU BERIKUTNYA WA group mulai ramai, mereka memberikan respon positif untuk kembali mengadakan pertemuan, tapi dalam kenyataannya yang hadir dalam pertemuan rutin hanya 6 orang, itu berjalan hingga beberapa minggu, dengan sabar tiap Rabu aku hadir ngobrol dengan mereka, mendengarkan mereka curhat, apa yang mereka alami selama dua tahun tidak ada pertemuan. Persiapan WE Choice yang ke-65 distrik Purwokerto, Juli 2022 Dua tahun sudah kami tidak pernah bertemu, karena pandemi Covid yang melanda Indonesia saat itu. Kami berempat Eddy, Jun, Tio dan Rosie berkumpul di rumah kami, saat itu pandemi covid belum selesai, tapi kami bertekad untuk mengadakan WEC dengan segala resiko dan segala keterbatasan yang kami miliki. Aku masih ingat Jun WA aku, om Eddy aku sudah WA Rosie ya…. siapa tahu om Eddy butuh bantuannya. Rosie memiliki keahlian dalam bidang computer untuk presentasi. Malam itu Jun begitu percaya diri bahwa WE Choice bakal dapat peserta dan pelaksanannya akan berjalan dengan lancar. Sebaliknya dalam hatiku, aku tidak yakin, ragu, galau dan tidak percaya diri membayangkan apa yang bakal terjadi, berapa peserta yang bisa dijaring, bagaimana pelaksanaannya karena youth yang terlibat begitu sedikit, hanya Jun yang senior, sedangkan aku baru diangkat sebagai Kordis bersama Jun dan Lexa, belum tahu betul untuk melaksanakan WE Choice. Malam itu kami sepakat membuat Google Form untuk mempermudah pendaftaran peserta Choice, kontrol data, data pembayaran, data pribadi, kontrol jumlah peserta yang mendaftar. TANGAN TUHAN BEKERJA Pertemuan Pertama Selama dua bulan pertemuan hanya dihadiri 6 orang saja paling ada tambahan 1 atau 2 orang saja, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan untuk membuatku percaya diri bahwa WE Choice akan terlaksana dan dapat peserta. Kemudian Google Form kita masukkan ke dalam group WA, agar tim Youth yang lain tergerak untuk bangkit dan bersemangat lagi mengadakan WEC lagi.
PESERTA WE CHOICE Dua minggu sebelum pelaksanaan WE Choice, peserta yang terjaring baru 6 orang, aku sungguh tak tahu apa yang harus dilakukan untuk menjaring peserta. Hanya dengan Jun aku berani mengakui ketakutanku, kegalauanku bagaimana ini pesertanya baru 6 orang, karena kalau kusampaikan ke yang lain, takut mereka turun semangatnya. PELAKSANAAN WE Choice – 65 (11 -1 3 November 2022) Berjalan dengan baik dan lancar, diawal aku agak ragu apakah romo Boni bisa mendampingi WE Choice dengan baik, karena romo Boni belum pernah ikut dalam WE Choice hanya pernah sebagai peninjau saja sekali. Tapi yang terjadi sungguh di luar dugaan, Romo bekerja dengan luar biasa bagus, sepanjang acara WE Choice. Tangan Tuhan bekerja lewat Romo Boni, kami dan peserta WE Choice yang luar biasa. Kami tidak bisa melupakan bagaimana TANGAN TUHAN BEKERJA dalam segala kekurangan dan keterbatasan yang kami miliki. Dan WE Choice ke 65 berjalan dengan sukses dan penuh kesan untuk semua peserta dan kami sebagai tim. TERIMAKASIH TUHAN UNTUK SEMUANYA. KEUANGAN Dana yang kami miliki sangat sedikit, tangan Tuhan tidak kurang panjang untuk terlibat, kami dapat suntikan dana dari Kornas, lumayanlah buat bekal untuk kami berjuang mencari dana tambahan dengan cara berdagang, setelah Misa di Katedral, kami berjualan makanan : bakpao, siomay, madu, es durian, dll. Minggu berikutnya kami jualan buah, sayuran, dll. Kami bergerak bersama berjualan untuk memberikan tambahan dana, agar banyak peserta yang bisa dijaring meskipun mereka kurang dana. Dengan berjualan tiap minggu, memompa semangat kebersamaan kami untuk bangkit kembali, pasutri dan youth yang di awal tidak hadir, mulai hadir dan bergerak bersama. DUA BULAN MENJELANG PELAKSANAAN WEC -65 (11-13 November 2022) Para Youth mulai tergerak dan pasutri Choice mulai tergerak untuk hadir di pertemuan rutin, banyak yang mereka bicarakan, bagaimana menjaring peserta, bagaimana biaya yang harus dikeluarkan, tempat pelaksanaan WE Choice, siapa pasutri dan youth akan sharing presentasi. Mereka mulai bergumul untuk memberikan Coucher untuk Youth yang ada. Jawaban dari Jun sungguh membesarkan hatiku, wis om pasrah bae, apapun yang terjadi kita serahkan pada Tuhan. Satu minggu menjelang WE Choice, peserta sudah mencapai 15 orang, Puji Tuhan, aku mulai bisa tidur nyenyak. Pertemuan sudah intens sekali untuk pelaksanaan WE Choice, perkap sudah mulai bekerja untuk menyiapkan semua kebutuhan pelaksanaan WEC. Menjelang dua hari pelaksanaan WE Choice, peserta sudah masuk sebanyak 23 orang, luar biasa tangan Tuhan bekerja.
Choice merupakan tempatku bertumbuh, mengenal banyak karakter orang dengan keunikannya masingmasing. Saya menjadi lebih terbuka menerima bahwa para Imam, Pasutri semuanya adalah manusia yg berjuang untuk menjadi dirinya yang terbaik dengan berusaha mengatasi ego dan keterbatasan diri. Pengalaman yang tidak terlupakan adalah mengalami sendiri bagaimana seorang Romo berjuang untuk menghidupkan kembali Choice di distrik Purwokerto. Setelah menjadi peserta WE Choice dan terpanggil untuk terjun aktif dalam perkembangan Choice, ternyata sungguh terasa terseok-seok. Teman-teman youth susah sekali diajak berkumpul, walaupun salah satu pasutri sudah menyediakan tempat yang bisa dipakai kapan saja. Seringkali berasa kami semua yang terkumpul itu hanya karena memandang Romo yang sudah meniatkan diri untuk berkumpul tiap minggunya, bahkan sampai menjemputku. Jika tidak ada Romo, pernah hanya bertiga, bahkan dua orang saja. Setelah pandemipun, terjadi fase yang sama, dimana orang yang berkumpul ya itu-itu saja. Apalagi kami ditinggal pergi Romo ke Jakarta dan digantikan oleh seorang Romo yang tinggal jauh dari Purwokerto (sekitar 2 jam perjalanan naik mobil), dan merupakan WE Choice pertama baginya. Begitupun dengan Tim Presenter Youth, baru kami proses dari Choicer baru. Persiapan WE Choice pertama setelah pandemi menjadi sungguh sebuah perjalanan yang dipenuhi kekhawatiran dari awal. Bahkan di hari H pun banyak kejadian-kejadian yang sungguh jika diingat adalah penuh dengan berkat, dan bimbingan Roh Kudus. Dengan susunan Tim Presenter yang terdiri dari Youth baru, Romo baru, Pasutri yang berkabar sakit berhalangan untuk sharing presentasi sesi, ditambah dengan kepanitiaan pendukung yang akhirnya semua mengerjakan semuanya alias grudukan, sungguh suatu karunia yang luar biasa. Mendengarkan sharing peserta yang sangat berkesan dengan WE Choice dan mendapatkan semangat yang berkobar untuk tahu lebih jauh tentang Choice dan untuk ikut aktif dalam dinamikanya, membuat saya kagum akan penyertaan Roh Kudus sepanjang WE Choice. Saya bahkan takjub mendengar komentar : "Kok kalian bisa sih...mengadakan acara sebagus ini." Rasanya hati yang kecil ini dipompa dan langsung mengembang besar. Begitulah sedikit dari sekian banyak pengalaman berkesan selama berdinamika di dalam Choice. Banyak sekali pengalaman menarik yang membuatku bertumbuh dan berkembang sebagai manusia yang lebih baik daripada sebelumnya. Sungguh bersyukur hati ini terpanggil untuk nyemplung di Choice, karena walaupun bersifat pelayanan, ternyata selalu mendapat lebih daripada yang aku berikan. Yunita (Jun), Tim Youth Aktif Distrik Purwokerto
Gregorius Aditya Santoso (Grey), Tim Youth Aktif Distrik Purwokerto Maria Mentari Citra Kinasih (Mentari), Tim Youth Aktif Distrik Purwokerto Choice bagiku seperti sekolah untuk mencintai dan keluarga keduaku. Pengalaman tidak terlupakanku saat menjadi presenter untuk pertama kali dan mendapatkan beberapa ucapan terimakasih dari peserta. Choices adalah keluarga kedua dalam hidup saya, dan choice adalah tempat berbagi keluh kesah, dan tempat tukar pikiran. Pengalaman saya saat di WE, saya menemukan hal baru, dan saya bisa memaafkan teman saya awal, saya susah banget saya maaf kan, sekarang setelah ikut WE Choice, saya sudah bisa maafin teman saya, dan saya sekarang berteman tidak pakai kedok lagi
KUMPULAN CERITA TIM AKTIF & MANTAN TIM CHOICE DISTRIK YOGYAKARTA 10
Sungguh sangat berarti. Di Choice, kami yang dianugrahi Tuhan dengan satu anak (Aditya, Choicer angkatan 60), menjadi mempunyai banyak anak, karena beberapa angkatan WE Choice, ada beberapa yang berlanjut dengan konsultasi, yang membuat relasi kami semakin hangat dengan anak anak dan kami merasa dicintai oleh anak-anak tsb. Puji Tuhan atas anugrahNya yang indah. Menantu kami juga Choicer (Regina Erni Angkatan 67), terima kasih Tuhan. Semoga cucu kami Gabriella Keane Ayudya, kelak bisa meneruskan estafet kami di Choice, sebagai Choicer juga, amin. Tim youth maupun yang pernah menjadi Panitya di Jogja banyak yang berjodoh. Indahnya kebersamaan kami dalam berpelayanan ini, dengan suka cita, kalau istilah Jawa : "witing tresna jalaran saka kulina (awal cinta karena biasa berjumpa, dan akhirnya berjodoh)". Bahkan kami menjadi saksi para youth dalam merangkai cinta untuk berkeluarga, yaitu menjadi Saksi Pernikahan, pada saat mereka saling menerimakan Sakramen Perkawinan dan tertulis dalam "Testimoni Matrimoni" Selain tambah anak juga tambah saudara dari berbagai daerah, tidak hanya se D.I.Y, namun se Indonesia Raya dan bila berjumpa sudah seperti saudara istilah kami "sedulur sak lawase". Di Choice kita belajar sekolah cinta, bila ada hal hal yang berbeda, disana ada "Rekonsiliasi" yang menjadi harmonisasi dalam berelasi dengan hangat. Selain semakin mengenal tidak hanya pribadinya, tapi juga budaya, bahasa terutama daerah dan kulinernya yang membuat kita semakin mencintai dan dengan suka cita melayani saudari saudara kita se - Nusantara, Asia bahkan Dunia ya. Waktu KonNas di Makassar, saking asyik dan hangatnya relasi, dijamu ini dan itu, kami waktu mau pulang ke Jogja, hampir ketinggalan naik pesawat Makassar - Surabaya. Karena selain asyik mengunjungi air terjun, pas otw ke airport, mau masuk toll ada Demonstrasi yang menghalangi jalan, sehingga sampai air port, Front Desk Chek In "Closed"....pasrah, masing masing dari kami ngandalin doa, dibantu teman teman Choicer yang lain. Roh Kudus menyelamatkan kami, karena Kapten Pilot akhir nya mengizinkan kami bisa terbang ke Surabaya. Puji Tuhan, Alleluya, Tuhan Maha Kuasa & Cinta, terima kasih doanya Choicer Indonesia tercinta Bahagianya memberi pelayanan di Choice, serasa muda terus, karena selalu berkumpul dengan kaum muda yang selalu berkembang dan berinovasi sesuai zaman. Kami yang sudah glamour (golongan lanjut umur) tanpa disengaja diajak untuk maju mengikuti perkembangan zaman yang semakin hebat. Hebatnya lagi, di Choice ini, kami boleh mengenal youth (kaum muda dewasa), pasangan suami istri, para Romo dan para Suster...komplit plit, sebagai gambaran lengkap Gereja seutuhnya. Jadi, apa arti Choice bagi kami "Anugrah terindah dalam hidupku". Amin. Pengalaman terindah – dalam bis halan halan ke Distrik Distrik, sambil menikmati kuliner, sambil berdendang dengan suka cita, pas Konferensi Nasional, seru euy.... Thanks God …To Know…To Love …To serve U Apa arti Choice bagi kami? Kumpulan Cerita Tim Aktif & Mantan Tim Choice Distrik Yogyakarta Pas. Pram – Rossa, Tim Pasutri Aktif Distrik Yogyakarta
Pas. Endang – Eddy, Tim Pasutri Aktif Distrik Yogyakarta Choice adalalah keluarga ke-2 bagi kami, di Choice, kita bisa saling mengenal, mencintai dan saling melayani sebagai keluarga besar. Pengalaman yang paling mengesankan adalah saat mendampingi WE Choice adalah saat sharing, kita bisa saling menguatkan, kita saling percaya dan terbuka untuk menceritakan pengalaman hidup masing-masing. Dominikus Prayitno (Domi), Tim Youth Aktif Distrik Yogyakarta Choice bagi saya adalah keluarga komunitas untuk berbagi pengalaman yang memperkaya iman kita untuk saling belajar pengalaman hidup satu sama lain. Pengalaman yang tak terlupakan sebagai Tim adalah setiap pelayanan selalu menemukan hal baru dari setiap peserta, sehingga pengalaman ini menjadi harta terindah bagi saya untuk bisa belajar lebih baik lagi. Titik Wulandari (Titik), Mantan Tim Youth Distrik Yogyakarta, saat ini tinggal di Batam Choice itu keluarga. Pengalaman tak terlupakan adalah tahun 2017 tugas pertama sebagai tim, saya orang yang ga pede. Karena dorongan untuk berbagi pengalaman, berani tampil didepan umum. Semua terjadi berkat disemangatin dan doa Romo, pasutri dan teman - teman youth, sehingga semuanya bisa berjalan lancar.
KUMPULAN CERITA TIM AKTIF & MANTAN TIM CHOICE DISTRIK SURABAYA 11
Kumpulan Cerita Tim Aktif & Mantan Tim Choice Distrik Surabaya Saya mengikuti WE Choice angkatan 9, yang menyuruh Romo Sutikno tahun 1986, sewaktu saya tahun pastoral di Seminari Garum. Sejak saat itu saya menyadari, betapa penting peranan orang tua dalam hidup saya. Mereka telah membentuk saya sehingga seperti sekarang ini. Waktu SD, relasi saya dengan ayah tidak baik, karena ayah ( alm ) sering menyuruh dan memarahi saya,jika saya melakukan tindakan yang tidak benar. Ketika SMP, saya sudah berdamai, karena lulus SD, saya disuruh kost sekolah di kota, kalau Sabtu pulang dan Minggu sore kembali lagi ke kost. Ketika pulang itulah kami bermain bermain bersama ayah dan adik adik. Saya mempunyai 2 adik, kami ber-4 main remi. Waktu saya mengikuti WE Choice, ketika ditanya oleh alm. Bapak Sabar Prasojo (Tim WE Choice), kesediaan saya untuk ikut WE Choice, saya menjawab : Ya. Kebetulan setahun setelah saya ditahbiskan, para Romo yang melayani sebagai Tim Choice ditugaskan studi keluar negeri. Dalam kesempatan lowong itulah,Pasutri Ari Rini membimbing saya untuk menjadi Tim Choice hingga sekarang. Jadi arti Choice bagi saya membuka jalan bagi saya, dalam menyadari betapi orang tua sangat berperan dalam hidup saya. Romo Yosef Eka Budi Susila, Pr, Tim Priest Aktif Distrik Surabaya
Romo Yohanes Padmono Jelantik, Pr, Tim Priest Aktif Distrik Surabaya WE Choice memberi peneguhan untuk melayani umat dengan lebih maximal Pengalaman yang selalu terulang adalah sering menjadi pengganti Tim dari WE Choice secara mendadak , karena tiba-tiba personal tim yang sudah ditentukan, tiba tiba batal dan harus cari pengganti, supaya WE Choice tidak batal. Pas. Agus – Dian Tim Pasutri Aktif Distrik Surabaya Arti choice bagi kami adalah kami jadi tahu betapa pentingnya RELASI, tanpa relasi prestasi jadi tidak berarti apa-apa. Pengalaman terindah setelah melayani WE Choice yaitu ketika peserta sadar akan relasi dengan keluarga nya bukan hanya prestasi saja. Juga ketika anak kami menulis surat selepas WE Choice, dia mengatakan terima kasih papa dan mama sudah memberikan kesempatan kepada saya untuk mengenal Choice. Swandi Rahayu Ongkowijoyo Tim Youth Aktif Distrik Surabaya CHOICE memberikan warna baru dalam hidupku sehingga aku sadar bahwa relasi keluarga sangat penting dan berharga. Pengalaman memberikan WEC yang tak terlupakan adalah saat awal-awal menjadi Tim Youth, ketika ada yang konsultasi dan ternyata memberikan pengakuan bahwa apa yang dia sharingkan adalah bohong dan bukan kisah kehidupannya. Selain itu memberikan WE Choice di Yogya yang pesertanya mayoritas calon frater dan bruder merupakan pengalaman baru yang juga memberikan banyak pelajaran berharga. Termasuk saat sesi konsultasi, ternyata ada juga masalah yang serius dalam hidup komunitas mereka.
Sr. Justina Kanti Perwiraningdyah, SSpS mantan Tim Suster Distrik Surabaya periode : 2015 – 2022, saat ini bertugas di Merauke, Irian Jaya Choice bagiku adalah minyak dalam buli-buli yang dibawa gadis bijaksana dalam cerita 5 gadis bodoh dan 5 gadis bijaksana (Mat 25: 1 -13). Awalnya aku ikut Choice karena Surat Keputusan (SK) penugasan dari Pimpinan. Sebagai suster, mau tak mau aku harus berangkat dan menerima tugas tersebut. Berat..penuh perjuangan, gerutuan dan omelan... Semua tidak pas, kurang ini, kurang itu..sampai aku agak menghindar dengan berbagai alasan. (Gadis yang bawa buli-buli isi minyak itu, aku rasa juga mengeluh panjang lebar, walau secara nalar bisa menerima alasan harus membawa persediaan minyak. Repot kan ?) Tidak ada yang spesial kuingat dalam pelayanan. Tapi sharing, baik dari Romo, Pasutri ataupun youth juga sharing peserta, banyak membantu aku dalam berproses sebagai pribadi maupun dalam panggilan sebagai biarawati. Peristiwaperistiwabersama Tim Choice, banyak membuat aku berefleksi terutama bila aku mulai capek, malas, seperti lampu yang mulai pudar dan minyak itu, aku dapat dari celoteh , gurauan, bahkan perdebatan mereka. Terima kasih dear Tim Choice.
Pas. Helly Rahardja – (+John), mantan Tim Pasutri Distrik Surabaya, periode : 1991 – 2003, Tante Helly saat ini tinggal di Tangerang 2 Kalau ditanya arti Choice……Hmmm Choice bagiku seperti permen nano-nano (ramai rasanya: manis, asam, asin) ada cinta, kasih, dan sukacita, namun ada juga kecewa, sedih, dan marah. Makin masuk ke dalam makin terasa warna-warnanya sama persis saat mengulum nano-nano, makin lama makin sedap. Aku bersyukur diberi kesempatan selama 7 tahun melayani Choice. Awalnya aku merasa diriku ini “sampah”, perjalanan bersama Choice membuatku memperoleh kepercayaan diri dan merasa bisa berharga untuk orang lain. Saat melayani Choice aku senang karena mengenal banyak Suster, Pastor, dan para Selibat, ternyata aku menyadari kaum Selibat sama dengan aku, yaitu manusia biasa. Tadinya aku merasa enggan berdekatan dengan mereka, namun di Choice kita dapat saling berpelukan dengan satu rasa, kadang bahagia, namun adakalanya dengan air mata yang mengalir dan luka-luka yang menganga. Banyak keajaiban yang kulihat dan kurasakan dalam melayani Choice. Jadi, kalau ditanya pengalaman TER-indah, ha … ha … ha … tidak ada yang “ter” karena semuanya indah walau kadang ada sedikit kepedihan. O ya, ada sedikit kisah, waktu jumlah tim yang terbatas di Surabaya, aku harus memberikan WE Choice berturut-turut. Tiap WE Choice,harus meninggalkan rumah dan anak-anak selama tiga hari dua malam, tidak jarang saat WE Choice, kami harus membawa bayi kami yang masih berusia beberapa bulan. Nah, aku merasa terharu karena semua tim terlibat bergantian menjaga, menggendong, menunggui bayi kami saat tidur. Aku benar-benar merasakan mempunyai keluarga besar yang penuh ketulusan dan cinta. Pada waktu berangkat akan memberikan WE Choice, kita selalu menyiapkan semuanya untuk “memberi“ yang terbaik selama WE Choice dan begitu selesai WE Choice seharusnya aku menjadi kosong habis-habisan, namun yang kurasakan selama ini, selesai WE Choice, hatiku selalu merasa sangat “penuh” seperti baterai yang baru di-charge. Itulah keajaiban WE Choice. Sharing-sharing Tim selama WE Choice berlangsung, sudah sering aku dengar, namun yang aneh makna sharing-sharing itu selalu terasa berbeda pada tiap WE Choice. Selain itu, sharing dari kira-kira 50 peserta setiap WE Choice, sangat membuatku makin diperkaya. Aku ini orang yang sangat susah menghafal nama-nama peserta, tetapi anehnya aku bisa mengingat sharing tiap peserta dengan melihat wajah mereka. Dan anehnya kebanyakan dari peserta itu langsung lengket kelet manut sama aku. Selesai WE kita menjadi seperti keluarga. Anak yang dikabarkan bermasalah dan jelek tingkahnya, bisa manut banget dan aku merasa dicintai oleh mereka. Anak-anak itu ternyata mempunyai banyak kelebihan positif dan kasih. Sungguh aku sangat bersyukur karena banyak keajaiban dalam pelayanan Choice. Tuhan tidak pernah menciptakan „sampah“, tiap anak adalah malaikat dengan keunikan masing-masing. Semoga Choice tetap hidup dan dapat mewarnai kaum muda. Proficiat Choice ke-40: terindah dalam hidupku mengenal, mencintai, dan melayaniMu.