The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta, R3

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by widya pustaka SMP Negeri 5 melaya, 2021-05-06 01:23:38

Buku Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta, R3

Buku Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta, R3

Hanya untuk Pribadi, tidak untuk disebarluaskan

Untuk … Hani
ii

Kata Pengantar

Assalamu’alaikum Wr.Wb

Sahabat semua, sudah ratusan buku yang saya pelajari, tapi dalam setiap buku, ada satu
halaman yang tidak pernah saya baca yaitu … Kata Pengantar, hahaha … memang benar. Saya tak
pernah sekalipun membaca kata pengantar. Mungkin Anda juga sama, hahaha. Just joke aja kok,
fren.

Saudara, ini saya persembahkan 14 kisah kehidupan sehari-hari. Kisah ini saya rancang
supaya bisa memotivasi para pembaca untuk mencintai ilmu dan rajin mempelajari ilmu islam.
Mungkin ada yang bertanya, “Mengapa dakwah harus lewat kisah?” hehehe. Saudara, saya jadi
ingat saat berusia 20 tahun. Hmm, saat itu saya berusaha mengikuti pengajian rutin di salah satu
masjid di Sidoarjo Jatim. Abis subuh, ngantuk, pengajiannya monoton banget, duh … duduk
mendengarkan pengajian 10 menit tuh rasanya lamaaaa banget. Benar-benar boring. Sama … saat
saya berumur 16 tahun, tiap malam minggu aktif di pengajian kampung. Saya bersama puluhan
teman-teman jalan bareng ke rumah Pak Kiyai untuk rutin mendengarkan ceramah. Tapi … hmm …
ceramahnya monoton banget. Duh … padahal begitu banyak ilmu islam, tapi kenapa hanya
ngebahas yang itu-itu aja? Hmm … padahal begitu banyak metode mengajar, tapi kenapa hanya
memakai yang itu-itu aja????

Karena ‘kemarahan’ inilah, sekarang ini saya berusaha sekuat tenaga untuk dakwah
dengan berbagai cara yang enak dinikmati oleh masyarakat. Ada model ceramah lewat video yang
saya posting di youtube. Ceramah pendek model audio, saya posting di soundcloud. Saya berdoa
semoga masyarakat bisa menikmati ceramah saya dimana aja. Ada juga dakwah dengan model buku
kisah seperti ini sehingga masyarakat bisa mendapatkan nasihat tapi secara tak langsung.

Saudara, jika Anda ingin langsung menangis, silakan baca bab 9. Jika Anda ingin
tersenyum, silakan langsung aja membaca bab 1. Hehehe, Anda nggak harus membacanya dari awal.
Buku ini didesain sebagai sahabat Anda dikala santai. Oya, bagai manusia, buku ini mempunyai ruh
yaitu di bab terakhir. Sengaja saya menulis bab ini lebih dari sepuluh ribu kata. Saya ingin pembaca
larut total dalam kisah ini. Buku ini juga mempunyai jantung yaitu di Bab 2. Tokoh Listi … silakan
renungkan kisah hidupnya, saya yakin Anda akan mengatakan seperti yang dikatakan Listi di akhir
cerita yaitu, “Wahai ilmu, I luv you.”

Saudara, selamat bersenang-senang dengan buku ini. Semoga Allah SWT menurunkan kebahagiaan
kepada kita semua. Amin

Wassalamu’alaikum Wr. Wb

Khalifa Bisma Sanjaya

iii

Daftar isi 1
6
Bab 1 Ternyata Selama Ini Dugaanku Salah 31
Bab 2 Apakah Sorga Semurah Itu? 34
Bab 3 Dunia Hanya Membutuhkan Nilai Seratus 37
Bab 4 Elang 40
Bab 5 Ilmu Yang Tidak Diajarkan Di Sekolah 55
Bab 6 Erick Feng 60
Bab 7 Mengumpulkan Barang Langit 63
Bab 8 Bertambah Jalang 69
Bab 9 Cara Mendesain Anak Supaya Menjadi Gila 72
Bab 10 Ketika Allah Memberi Secara Kontan 77
Bab 11 Kadang Kejujuran Terasa Perih 82
Bab 12 Gaya Komunikasi Orang Awam 110
Bab 13 Setelah Kesulitan, Pasti Ada Kesulitan (lagi)
Bab 14 Trims Karena Sudah Membunuhku

------

iv

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Bab 1

Ternyata Selama Ini Dugaanku Salah

Hampir semua penduduk menganggap Besus gila. Usianya baru 15 tahun, tapi
tindakannya benar-benar ngawur. Kerjaan tiap hari adalah mencari rumput untuk kedua sapinya.
Emm … kayaknya bukan sapinya, tapi sapi pamannya. Sejak kecil, orang tua Besus bercerai. Sang Ibu
… dia menikah lagi dengan laki-laki dari Bumen Bantul. Dia jarang ketemu ibunya, paling-paling
setahun sekali. Besus … dia ikut bapaknya tapi … hmm … Sang Bapak tak pernah sholat, kerjaannya
adalah mengadu burung dara. Kalau menang, dapat duit untuk beli beras dan lauk. Kalau kalah …
ngutang kesana kemari. Tapi … sebulan yang lalu tiba-tiba bapaknya meninggal. Kata dokter,
tensinya tinggi banget.

Kini Besus sendiri, hidup dengan pamannya. Perangainya buruk, nakal, bahkan terkesan
seperti orang gila. Saat dia lewat Candi Kalasan, dia kencing di dalam ruangan candi. Sontak petugas
yang jaga langsung marah dan mengusirnya dengan kasar. Dia terus berjalan, hingga sampai ke
Candi Banyunibo, daerah Bokoharjo Prambanan. Mungkin saking lelahnya, dia tertidur di dalamnya.
Terpaksa petugas candi juga mengusirnya dengan kasar.

Besus, mungkin tu pemuda melaksanakan mandi cuma seminggu sekali. Di sore hari,
sambil membawa sabit dan karung, dia berjalan menuju ke sawah untuk mencari rumput. Saat
sampai di pinggir desa, dia ketemu dengan bunga desa … Shita yang super imut dan beauty. Dengan
nyantai Besus berkata, “Wahai Shita … kowe ayu tenan.” Shita tak menoleh sedikitpun. Dia tetap
menyapu halaman. Besus teriak, “Shita sayang, kemarin aku ke Pantai Parangtritis.” Dengan agak
kaget, Shita bertanya, “Ngapain kamu ke sana?” Dengan santai Besus menjawab, “Aku ketemu Ratu
Pantai Selatan. Hmm … aku diam saja karena ternyata tuh ratu masih kalah cantik denganmu.”

Sebenarnya Shita juga senang kalau disanjung tapi kali ini dia merasa malu bercampur
jengkel. Sambil berhenti nyapu, dia mengusap keringat lalu berkata, “Oala Besus … Besus … dasar
wong edan.”

Besus: “Aku edan gara-gara melihat kecantikanmu.”

Shita: “Oya? Kalau gitu jangan lihat wajahku! Biar kamu waras lagi.”

Besus: “Saat aku memejamkan mata, hatiku juga masih terus melihatmu.”

Shita: “Kowe memang wis edan permanen. Wis kono ndang ngarit! Mengo sapimu dho luwe, piye
jal?”

Besus: “Baik, aku akan nyari rumput. Tapi ada satu pertanyaan, tolong jawab, ya!”

Shita: “Wis … ndang ngomongo! Arep takon opo?”

Besus: “Begitu banyak bintang di langit, tapi rembulan cuman satu, kira-kira apa artinya?”

Shita: “Embuh … aku ra reti.”

Besus: “Artinya … begitu banyak gadis di kampung ini, tapi hanya kamu yang ada di hatiku.”

Mendengar kalimat terakhir, Shita semakin marah. Dia mengambil batu seukuran
genggaman tangan orang dewasa. Dia melempar tuh batu ke arah Besus. Hehehe lemparan batu
tidak mengenai Besus. Tuh pemuda berlari sambil kiss bye … hahaha … dasar wong edan.

1

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Tapi … setelah melempar Besus, mendadak raut wajah Shita lesu. Aroma kesedihan
menghinggapi hatinya. Jiwanya berbisik, “Duh, kasihan Mas Besus. Dia sebatang kara, musibah
menimpanya tiada henti. Mungkin dia depresi dengan sangat hebat sehingga bicaranya seperti itu.”
Mata Shita terus menatap ke arah Besus yang berjalan cepat menuju sawah. Tatapan kepiluan,
pandangan ke-iba-an. Shita berteriak keras, “Mas Besus, nanti kalau kamu lapar, silakan makan ke
rumahku, ya! Ibukku tadi memasak opor ayam.” Besus tidak menoleh sedikitpun.

Hari semakin sore, karung Besus sudah penuh dengan rumput. Mendadak perut terasa
lapar, tanpa pikir panjang, diapun memakan beberapa ketimun di kebun milik orang. Dia gak peduli.
Habis makan, kok terasa haus, hehehe … matanya melihat ada pohon pepaya. Sama … dia
mengambilnya, memakannya tanpa berfikir tuh buah milik siapa.

Rasa kenyang menghampiri, sebelum pulang, dia menyempatkan diri untuk ziarah ke
makam ayahnya. Suasana makam sangat sejuk karena di tengah lokasi pekuburan ada pohon
beringin besar dan rindang, mungkin usianya sudah ratusan tahun. Seakan pohon itu sebagai payung
lokasi makam. Nampak dari kejauhan Besus komat-kamit berdoa di depan makam ayahnya. Lima
menit kemudian, dia tertidur di bawah pohon beringin. Hmm … pohon beringin di tengah lokasi
makam benar-benar memanjakan tidur Besus.

Beberapa saat kemudian, Besus melihat ribuan malaikat berbaris. Dia terus
memperhatikan … emm … model berbarisnya bukan horisontal, melainkan vertikal. Ujung barisan
adalah beberapa malaikat yang menginjak tanah, sedangkan ujung barisan yang lain … emmm … dia
terus melihat ke langit. Dia tak melihat ujung barisan satunya karena sangat tinggi di langit.

Tapi bukannya takut, aneh … jiwa Besus mendadak menjadi tenang, sakinah datang tiba-
tiba. Karena dilanda penasaran, akhirnya Besus memberanikan diri bertanya kepada salah satu
malaikat yang ada di dekatnya.

Besus: “Assalamu’alaikum.”

Malaikat: “Walaikum salam.”

Besus: “Emm … apa Sampeyan para malaikat?”

Malaikat: “Iya, bener.”

Besus: “Jumlah kalian begitu banyak … emm … ribuan. Kenapa membentuk barisan dari bumi hingga
ke langit?”

Malaikat: “Sebentar lagi ada manusia yang meninggal. Dia tu sangat sholih. Kami akan menyambut
ruhnya, lalu mengantarnya ke langit.”

Besus: “Siapa yang meninggal?”

Malaikat: “Pak Sarju.”

Besus: “Pak Sar … Sar … Sarju????? Dia kan bapaknya Shita?”

Malaikat: “Benar. Apa kamu mencium bau yang sangat harum?”

Besus: “Iya … benar.”

Malaikat: “Itu keharuman ruh Pak Sarju.”

Besus: “Tapi … barusan dua jam lalu aku ketemu ama Shita, di rumahnya gak ada apa-apa?”

2

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Malaikat: “Pak Sarju baru aja meninggal. Sebentar lagi akan dimakamkan di sini.”

Besus: “Hmm … padahal selama ini aku tu ragu-ragu apakah alam kubur itu ada atau tidak. Sekarang
aku baru mantap kalau alam kubur itu memang ada.”

Malaikat: “Pak Sarju, kami akan membangun istana sebesar satu kota untuk beliau.”

Besus: “Satu kota????”

Malaikat: “Benar. Kalau siang, dia bebas beterbangan di sorga, kalau malam dia bebas tinggal di
istananya.”

Besus: “Kenapa Pak Sarju bisa disayang Allah? Apa keistimewaan beliau?”

Belum sempat malaikat menjawab, tiba-tiba Besus terbangun dari mimpinya. Dia kaget,
suasana sudah malam. Dia lebih kaget lagi, ternyata ada rombongan orang-orang kampung yang
membawa jenazah untuk dikuburkan di situ. Dia terus mengawasi. Matanya melotot manakala
melihat Shita menangis. Jiwanya terus bertanya, “Siapa yang meninggal?” Mendadak dari arah
samping ada suara, “Besus, Pak Sarju meninggal.” Rupanya pamannya sudah berada di sampingnya.
Beliau juga ikut menghadiri prosesi penguburan jenazah.

Sehari kemudian

Hampir dua puluh menit Besus sujud di dalam masjid. Kepala belum juga diangkat.
Jiwanya menangis, “Ya Allah, ternyata selama ini dugaanku salah. Sejak kecil orang tuaku bercerai,
lalu bapakku meninggal, kukira Engkau tak ada. Kukira dunia ini sudah kacau tanpa Tuhan. Hmm,
semenjak mengetahui rombongan malaikat yang berbaris vertikal … duh … Ya Allah … aku baru yakin
bahwa Engkau memang ada, Engkau memang mengurus kami para manusia. Ya Allah … mulai saat
ini, aku akan mengaji, aku akan mendalami Qur’an, aku akan mengamalkan Qur’an. Ya Allah,
mudahkan aku dalam belajar, juga mudahkan aku dalam menjemput rejekiMu.”

Semenjak saat itu, Besus berubah total. Kini badannya bersih, aura ganteng mulai nampak
menghiasi wajahnya. Kerjaannya sama … mencari rumput. Sekarang kemana-mana dia membawa
Qur’an kecil yang ditaruh di sakunya. Selesai ngarit, dia baca Qur’an di sawah, kadang di bawah
pohon, kadang di pinggir sungai.

Kenyataan ini membuat Shita terhibur. Memang beberapa hari yang lalu Bapaknya
meninggal, tapi melihat Besus pulih kesehatan mentalnya, dia gembira walau kadang
disembunyikan rasa senang itu dalam hati.

Saat ada suasana yang pas, Besus menceritakan pengalamannya bertemu dengan ribuan
malaikat di kuburan. Shita melongo mendengar kisah itu.

Shita: “Jadi … Bapakku masuk sorga?”

Besus: “Iya … aku melihat dengan mata kepalaku sendiri ribuan malaikat menyambut ruh bapakmu.”

Shita: “Alhamdulillah. Duh … mendadak dada ini terasa sejuk … mak nyesss.”

Besus: “Shita, boleh tanya?”

Shita: “Silakan!”

Besus: “Coba ceritakan kepadaku tentang keseharian Bapakmu! Hmm … kenapa beliau bisa
disayangi para malaikat?”

3

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Shita: “Emm … beliau bangun pagi kira-kira jam 3.30. Kuperhatikan beliau sholat Tahajjud … tapi
nggak banyak. Paling-paling hanya dua rekaat. Setelah itu sejenak beliau berdzikir, berdoa lalu
membaca Qur’an … kayaknya juga nggak banyak, paling hanya lima hingga sepuluh ayat. Setelah itu
beliau mendalami makna ayat yang barusan dibacanya.”

Besus: “Kok kamu tahu?”

Shita: “Iya … kadang aku yang mendapat tugas membacakan terjemahannya, lalu beliau merenungi
tuh ayat.”

Besus: “Wow, sungguh manusia teladan.”

Shita: “Setelah itu terdengar adzan subuh, beliau berangkat ke Masjid. Abis subuhan, beliau
langsung ke sawah untuk bercocok tanam. Begitulah yang kuperhatikan selama 10 tahun terakhir
ini.”

Besus: “Semoga kita bisa meneladani beliau.”

Shita: “Mas, emm … sawah Bapak nggak ada yang menggarap. Gimana kalau Panjenengan yang
menggarap?”

Besus: “Baiklah, aku siap melaksanakan perintahmu.”

Shita: “Panjenengan bisa makan di sini atau di paman, terserah. Yang penting … melihat
Panjenengan sudah pulih … aku sudah senang kok, Mas.”

Besus: “Sebenarnya aku nggak pulih 100%. Kadang kegilaaanku kumat.”

Shita: “Oya???? Mas, yang serius, to!!!!!!”

Besus: “Aku merasa jadi gila kalau sehari nggak melihat wajahmu.”

Shita: “Oalaaaa … hehehe. Apa Panjenengan benar-benar suka ama aku?”

Besus: “Iya. Sudahlah! Nggak usah dibahas karena pasti kamu menolakku. Aku sadar kok, Dhek …
aku sangat miskin.”

Shita: “Belum tentu di tolak, kok.”

Besus: “Jadi … kamu menerima cintaku??????”

Shita: “Belum tau.”

Besus: “Lho, kenapa jawabannya belum tau?????”

Shita: “Kadang wanita tu sangat malu mengutarakan perasaannya kepada lelaki.”

Besus: “Oya, beda jauh ama laki-laki, ya?”

Shita: “Iya … pokoknya keputusannya seminggu lagi. Jika minggu depan aku masak keasinan, berarti
aku menerima cinta Panjenengan. Kalau aku masak tanpa garam … berarti ….”

Besus: “Berarti kamu menolak cintaku, ya?????”

Shita: “Salah … a … a … a … aku juga menerima cinta Panjenengan.”

4

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Besus: “Oalaaaaa … kalau masaknya kepedesan?”
Shita: “Itu artinya aku pingin cepat dilamar?”
Besus: “Hahahahahahahahaha.”

------

5

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Bab 2
Apakah Sorga Semurah Itu?

Di ruangan kelas 2 SD yang lumayan panas, Listi mengantuk berat, tapi dia tetap mencoba
untuk mendengarkan Bapak Guru Agama yang lagi berkata, “Anak-anak, islam tu sangat baik, sangat
mudah. Hanya dengan mengucapkan Laa ilaha illallah, maka kita pasti masuk sorga. Sekali lagi,
hanya dengan bersyahadat, maka kita akan masuk sorga. Walaupun dosa kita sepenuh bumi, tapi
pasti Allah akan mengampuni jika kita mengucapkan Laa ilaha illallah.”

Bel berbunyi, semua murid pada berlarian keluar kelas. Panas menyengat, Listi mengayuh
tuh sepeda yang catnya sudah mulai terkelupas. Selama di perjalanan, dia terus merenungi kalimat
demi kalimat yang diucapkan oleh Bapak Guru Agama.

Jam tiga sore, seperti biasa … Listi membantu ibunya untuk mencabuti rumput gulma yang
sering mengganggu tanaman padi. Matahari terus menyengat, untunglah angin lembut mulai datang
menyapa sehingga kulit tak lagi terasa tersengat sinar matahari.

Satu jam kemudian, dia melihat di pematang sawah … para pemuda lagi mengadu
kecepatan burung dara. Sejenak Sang Ibu juga istirahat sambil minum air putih. Merekapun ngobrol.

Listi: “Bu, kenapa mereka mengadu burung dara?”

Ibu: “Judi, kalau menang dapat uang, kalau kalah … mringis … hehehe.”

Listi: “Bukankah judi itu dosa?”

Ibu: “Iya, mereka semua tahu. Pernah aku menasihati mereka untuk menghentikan adu burung
dara. Tapi mereka menjawab, ‘Memang dosa, tapi aku kan mengucapkan syahadat, aku
mengucapkan Laa ilaha illallah. Jadi aku pasti masuk sorga walau mampir ke neraka bentar, nggak
apa-apa, yang penting masuk sorga selamanya.”

Listi: “Hmm … apakah sorga semurah itu?”

Ibu: “Sudahlah, ibu nggak tahu. Ntar kamu tanyakan sendiri aja ama Pak Ustadz saat kamu mengaji
di masjid.”

Sepuluh tahun kemudian

Listi sudah duduk di kelas tiga SMA 3 Pati. Sepulang sekolah, sejenak dia mampir ke rumah
Tia … teman satu kelasnya. Tia tinggal di Margorejo, daerah Pati selatan. Setelah mengerjakan tugas
bersama, sambil nyeruput es teh, mereka guyon.

Tia: “Abis lulus SMA, enaknya ngapain, ya?”

Listi: “Nikah aja, yuk! Mumpung masih muda, hehehe.”

Tia: “Halah. Kok kayaknya kamu tu nggak bisa menahan nafsu deh? Hehehe.”

Listi: “Guyon aja kok, fren. Lha gimana lagi? Mau kuliah … duh … biaya satu semester tuh 15 juta
lebih. Belum termasuk ongkos transport dan nge-kost.”

Tia: “Kalau kerja di pabrik?”

6

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Listi: “Maksudmu … pabrik kacang?”

Tia: “Iya … gimana?”

Listi: “Hmm … gajinya sangat kecil. Lelahnya bekerja nggak sebanding dengan gaji yang di dapat.”

Tia: “Hmm … aku juga bingung. The next … enaknya ngapain, ya?”

Listi: “Apakah ada kerjaan yang nyantai, hepi, tapi gajinya besar?”

Tia: “Emm … ada.”

Listi: “Oya?”

Tia: “Tuh … lihatlah ke arah selatan! Ada rumah-rumah yang di luarnya nampak gadis-gadis cantik. Di
situ kerjaannya uenak, gajinya guedhe. Tenan fren, hehehe.”

Listi: “Kerja apa? Menjahit???”

Tia: “Bukan.”

Listi: “Garmen?”

Tia: “Bukan. Kerjanya … jadi pe-es-ka.”

Listi: “Hahahahaha. Duh … parah loe.”

Tia: “Tetanggaku, namanya Mbak Gina. Dia kerja di situ. Perbulan … dia pernah cerita bisa
mengumpulkan duit hampir 10 juta.”

Listi: “Wah … banyak banget, ya?”

Tia: “Hehehe … mulai tertarik, ya?????”

Listi: “Halah … hahaha. Coba kamu duluan yang kerja gituan! Ntar kalau kamu kerasan, baru aku
yang nyusul deh, hehehe.”

Tia: “Aku sih mau duitnya, tapi nggak mau dosanya.”

Listi: “Emm … apa mereka pernah berfikir tentang dosa?”

Tia: “Pernah aku tanyakan bab itu ke Mbak Gina. Dia mengatakan bahwa Islam itu baik kok, nggak
galak kayak ISIS. Yang penting mengucapkan syahadat, mengucapkan laa ilaha illallah, pasti masuk
sorga. Walau dosa sebesar apapun, kalau syahadat … pasti dijamin sorga.”

Listi: “Hmm … andaikan lima puluh juta muslimah negeri ini jadi PSK semua, karena meyakini bahwa
pasti masuk sorga, gimana keadaan negeri ini, ya?”

Tia: “Aku juga bingung. Padahal islam datang untuk menjadikan masyarakat baik, tapi kenapa
mereka malahan rusak karena prinsip syahadat ini. Apakah seperti ini yang diajarkan oleh Nabi
Muhammad?”

Listi: “Kayaknya enggak. Emm … aku yakin nggak seperti ini.”

Tia: “Kayaknya yang salah tu guru-guru agama kita saat kita duduk di sekolah, ya?”

7

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Listi: “Nggak tahu. Aku nggak mendalami ilmu islam. Tapi … kita harus tanyakan hal ini kepada yang
paham.”

Tia: “Setuju.”

Sebulan kemudian

Listi ke Semarang. Sudah dua jam lebih dia mencari buku-buku di Gramedia Pandanaran
untuk persiapan ujian akhir. Alhamdulillah tuh buku dah terbeli. Dia lihat jam … ternyata masih jam
satu siang. Akhirnya dia menyempatkan diri untuk jalan kaki menuju ke Masjid Baiturrahman
Simpang Lima yang letaknya sangat dekat dengan Toko Gramedia.

Setelah melaksanakan sholat dhuhur, dia melihat ke serambi, ternyata ada pengajian.
Hehehe … lumayan untuk tambah ilmu, akhirnya diapun ikut menyimak pengajian tersebut.

Selesai pengajian, karena dilanda penasaran yang amat tinggi, maka dia memberanikan
diri untuk menghampiri Sang Ustadz. Sambil terus menunduk, dia berkata, “Pak Ustadz, apakah saya
boleh bertanya?” Dengan santai Sang Ustadz mengangguk.

Listi: “Tapi pertanyaan saya ini sangat panjang sedangkan Ustadz pasti sangat sibuk. Emm … apakah
saya boleh minta alamat facebook aja?”

Sang Ustadz menjawab, “Iya, boleh. Nama fb saya: Rasyed bin Utsman.” Listi nampak senyum
kegirangan. Dia langsung pulang ke Pati.

Sesampainya di rumah, dia langsung mengaktifkan fb, mencari tuh ustadz. Alhamdulillah
ketemu. Sambil menarik nafas panjang, dia mengaktifkan inbox, dan … inilah pembicaraan mereka
lewat inbox …

Listi: “Assalamu’alaikum.”

Rasyed: “Walaikum salam.”

Listi: “Mas Ustadz, numpang kenalan. Nama saya Listi. Saya dari Pati.”

Rasyed: “Kalau saya asli dari Sayung Demak, Dhek.”

Listi: “Saat ini saya duduk di bangku kelas 3 SMA.”

Rasyed: “Kalau saya, kuliah di KSU.”

Listi: “KSU? Apa itu? Kok baru dengar sekarang.”

Rasyed: “King Saud University. Terletak di Riyadh, Saudi Arabia.”

Listi: “Whattttt???? Nggak nyangka Sampeyan pandai banget.”

Rasyed: “Amin. Matur nuwun doanipun.”

Listi: “Katanya kuliah di sana tuh gratis ya, Mas?”

Rasyed: “Enggih Dhek, malahan dapat uang saku. Kalau dirupiahkan … kira-kira 3 juta-an. Lumayan
untuk ditabung. Oya, sekarang kamu sudah kelas tiga, ntar rencana mau kuliah di mana?”

Listi: “Kuliah di dapur ama di sawah, Mas?”

8

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Rasyed: “Hahaha … yang serius to!”

Listi: “Emang bener kok, Mas. Biaya kuliah mahal, Bapak nggak ada dana, jadi … yahhh … sabar
dulu.”

Rasyed: “Kudoakan moga-moga kariermu sukses.”

Listi: “Amin. Ok … sekarang saya mau tanya bab agama: apakah benar jika seorang muslim
mengucapkan syahadat, dia pasti masuk sorga? Karena di sini banyak pezina, banyak pemabuk,
banyak koruptor yang yakin masuk sorga karena sudah mengucapkan laa ilaha illallah.”

Rasyed: “Hmm … pertanyaanmu empat baris, tapi jawabannya bisa puluhan baris.”

Listi: “Oya? Gimana Mas? Aku siap menyimak.”

Rasyed: “Begini Dhek, dulu sebelum ada tarbiyah, para sahabat masih dalam masa jahilihah yang
sangat kelam. Setelah mendapat tarbiyah dari Nabi, maka mereka meninggalkan semua kebiasaan
jahiliyah. Akhirnya, mereka seperti lahir kembali sebagai generasi terbaik yang pernah ada di muka
bumi.”

Listi: “Generasi terbaik … aku merinding mendengarnya.”

Rasyed: “Makanan mereka sama dengan kita. Minuman mereka juga sama dengan kita. Mereka
tidur seperti kita. Tapi kenapa mereka menjadi generasi terbaik? Jawabannya sederhana: karena
mereka sangat patuh kepada Nabi Muhammad.”

Listi: “Beda jauh dengan kualitas umat islam negara ini, ya? Mereka berislam, tapi tak mau
meninggalkan kebiasaan jahiliyah seperti berjudi, minum arak, zina, korupsi, dll. Hmm …”

Rasyed: “Untuk memahami tentang konsep laa ilaha illallah secara benar, yuk sejenak kita simak
perkataan Muhammad bin Sa’id Al Qothoni!”

Listi: “Siapa dia?”

Rasyed: “Seorang ulama Arab, pengarang buku Al Wala’ wal Bara’. Hmm … buku itu sangat
terkenal.”

Listi: “Ok, aku siap menyimak.”

Rasyed: “Sesungguhnya Allah mengutus Nabi kita Muhammad SAW kepada umat manusia
seluruhnya agar mereka mengatakan Laa ilaha illallah Muhammad Rosululloh. Jika
mengucapkannya, darah dan harta mereka terlindungi, kecuali jika ada suatu alasan yang
dibenarkan. Adapun perhitungannya adalah urusan Allah SWT. Setelah Allah mengetahui benarnya
keyakinan itu dalam hati mereka, Allah menyuruh Rosul-Nya memerintahkan mereka untuk
menunaikan sholat. Beliaupun memerintahkan dan mereka melaksanakan. Demi Allah sekiranya
mereka tidak melakukannya, tentu ikrar pertama maupun sholat mereka itu tidak berguna. Setelah
Allah mengetahui kebenaran hal itu dalam hati mereka, Allah menyuruh beliau SAW
memerintahkan mereka untuk hijrah ke Medinah. Beliau memerintahkan dan merekapun
melakukannya. Demi Allah sekiranya meraka tidak melakukannya, tentu ikrar syahadat maupun
sholat mereka tidak ada gunanya. Ketika Allah mengetahui kebenaran hal itu dalam hati mereka,
Allah memerintahkan mereka kembali ke Mekah untuk memerangi anak-anak dan bapak-bapak
mereka sendiri hingga mengucapkan seperti yang mereka ucapkan, mengerjakan sholat seperti
sholat mereka, dan berhijrah seperti hijrah mereka. Rosululloh memerintahkan hal itu dan
merekapun melaksanakannya. Demi Allah, sekiranya mereka tidak melakukannya, tentu syahadat,

9

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

sholat, hijrah dan perang mereka tidak berguna. Ketika Allah mengetahui kebenaran itu dalam hati
mereka, Allah menyuruh beliau SAW memerintahkan mereka melakukan thawaf ke Baitullah dalam
rangka beribadah, dan mencukur rambut mereka sebagai bukti ketundukan kepada-Nya. Mereka
pun melaksanakannya. Demi Allah, sekiranya mereka tidak melakukannya, tentu syahadat mereka,
sholat, hijrah, dan perang mereka terhadap bapak-bapak mereka itu tidak berguna. Ketika Allah
mengetahui kebenaran hal itu dalam hati mereka, Allah menyuruh beliau SAW untuk mengambiil
sebagian dari harta mereka sebagai zakat yang akan membersihkan jiwa mereka. Beliau
memerintahkan mereka untuk melakukan itu, dan merekapun melakukannya sehingga mereka pun
datang membawa harta mereka, sedikit atau banyak. Demi Allah, sekiranya mereka tidak mau
melakukannya, tentu syahadat mereka, sholat, hijrah, perang mereka terhadap bapak-bapak
mereka sendiri maupun thawaf mereka tidak berguna bagi mereka. Ketika Allah mengetahui
kebenaran dalam hati mereka tentang hal-hal yang berkaitan denngan aturan dan batas-batas iman,
saat itulah Allah SWT berfirman: Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama kalian untuk kalian,
telah aku cukupkan nikmat-Ku kepada kalian, telah Aku ridha islam sebagai agama kalian – Al
Maidah ayat 3.”

Listi: “Wow … belum pernah aku mendapatkan tarbiyah seperti ini, Mas.”

Rasyed: “Begitulah cara memeluk agama islam yang benar. Tak ada yang memaksa kita untuk
memeluk agama islam. Tapi begitu kita memeluk islam, maka kita harus mau ‘dipaksa Allah’.
Terpaksa sholat, terpaksa berhijab, terpaksa sholihah, terpaksa masuk sorga. Sungguh keterpaksaan
yang indah.”

Listi: “Yang penting nggak dipaksa nikah aja, hehehe. Mas, jika ada muslimah yang sudah
mengucapkan syahadat, lalu dia nggak memakai jilbab, apakah dia masuk sorga?”

Rasyed: “Jika dia meyakini bahwa jilbab itu bukan bagian dari syari’at Allah, maka islamnya batal
alias keluar dari islam. Tapi jika dia tak memakai jilbab karena malas, maka kadar keislaman dan
keimanannya berkurang. Dia termasuk hamba yang berdosa.”

Listi: “Hmm … Mas, terima kasih atas ilmunya. Terima kasih atas pencerahannya. Kapan-kapan kita
ngobrol lagi, ya!”

Rasyed: “Enggih, Dhek.”

Sebulan kemudian

Kebetulan kebun Listi lagi panen mangga. Dia sengaja memilihkan mangga yang manis-
manis. Hehehe … satu karung penuh mangga, ditaruh di sepeda motor dan … ngeng … ngeng …
ngeng … Listi berkendara dari Pati menuju ke Sayung. Nekat juga tuh gadis. Dua jam kemudian Listi
sudah sampai di depan rumah Rasyed.

Listi: “Assalamu’alaikum.”

Rasyed: “Walaikum salam.”

Listi: “Mas, ini kubawakan sekarung mangga untuk Sampeyan. Moga-moga Sampeyan suka.”

Rasyed: “Whattt???? Kok banyak banget?”

Listi: “Mboten nopo-nopo Mas. Kebetulan di kebun lagi panen mangga.”

10

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Rasyed: “Matur nuwun, ya Dhek.”

Listi: “Enggih, sami-sami.”

Rasyed: “Tunggu di sini sebentar, aku ada hadiah untukmu.”

Listi cuman menunduk sambil mengelap keringat yang ada di keningnya. Rasyed … dia
masuk ke rumahnya. Hanya 10 detik, kemudian keluar lagi menemui Listi sambil membawa laptop
baru yang masih di dalam kardus.

Rasyed: “Dhek, ini hadiah untukmu.”

Listi: “Whatttt???? Mas, ini laptop mahal lho. Kenapa diberikan ke aku?”

Rasyed: “Nggak apa-apa. Aku ada tiga laptop di rumah. Dengan laptop ini kamu bisa belajar banyak
tentang islam. Aku yakin, laptop ini akan menjadikanmu pandai, berwawasan luas walau tidak
mampu kuliah.”

Listi: “Hiks … hiks … hiks.”

Rasyed: “Kenapa menangis?”

Listi: “Aku tak menyangka Sampeyan baik banget, sholih banget.”

Rasyed: “Oya, dua hari lagi aku akan kembali kuliah di KSU Riyadh. Minta doanya ya, moga-moga
perjalananku selamat, aku mendapat ilmu yang banyak dan berkah.”

Listi: “Enggih Mas, aku selalu mendoakan Sampeyan.”

Rasyed: “Sebelum berpisah, apa kamu ingin mengatakan sesuatu?”

Listi: “Emm … aku berharap, jika Sampeyan lulus, cepat kembali ke tanah air! Biar … biar … biar …”

Rasyed: “Biar apa?”

Listi: “Biar … hehehe … biar apa, ya? Wis pokoknya selamat jalan, ya Mas … assalamu’alaikum.”

Rasyed: “Walaikum salam.”

Angin dan awan ikutan terpana melihat keduanya ngobrol dengan sangat renyah.

Angin: “Kuperhatikan, kini Listi naik motor tapi kok senyum-senyum sendiri, ya?”

Awan: “Pasti karena dapat hadiah laptop baru.”

Angin: “Bukan … kayaknya lebih dari itu.”

Awan: “Maksudmu … Listi diam-diam jatuh hati ama Rasyed?”

Angin: “Iya … tapi menurutku mereka berdua serasi kok. Listi sawo matang tapi manis banget.
Sedangkan Rasyed tuh lumayan ganteng dan berwibawa.”

Awan: “Tapi kayaknya mereka nggak se-kufu, nggak setara.”

Angin: “Menurutku sih nggak harus sebanding. Memang Rasyed pandai, tapi dia juga butuh Listi
yang setia dan penurut. Mereka kelihatannya bersinergi kok.”

11

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Awan: “Hehehe, enak juga jadi manusia, ya … ada cinta, ada senyum, ada hepi … hahaha … kok aku
pingin merasakan jadi manusia, ya?”

Angin: “Halah.”

Dua hari kemudian

Diam-diam Listi pergi ke Bandara Ahmad Yani Semarang. Nggak tau kenapa, dia ingin
melepas kepergian Rasyed ke KSU Riyadh. Semakin hari … dada Listi semakin sesak karena dipenuhi
rasa cinta yang mendalam kepada Rasyed. Dia … hmm … dia bukan mencintai fisik Rasyed, tapi
mencintai hati Rasyed, ilmu Rasyed dan kesabaran Rasyed dalam menimba ilmu di negeri orang.
Seumur hidup, Listi belum pernah ketemu dengan pemuda yang mempunyai keteguhan hati seperti
ini.

Hampir setengah jam dia duduk di ruang tunggu Bandara, tapi belum juga ketemu Rasyed. Sejenak
jiwanya bingung.

Hati: “Ngapain kamu di sini?”

Jiwa: “Emm … emm … aku malu mengatakannya.”

Hati: “Rasyed tuh bukan saudaramu, juga bukan sahabatmu, kamu baru aja kenal, tapi kenapa
perasaanmu dalem banget ama dia?”

Jiwa: “Itu bukan urusanmu.”

Hati: “Kamu harus fokus mencari ilmu, bukan malahan jatuh cinta.”

Jiwa: “Seumur hidup aku belum pernah jatuh cinta. Baru kali ini aku jatuh cinta. Emang nggak boleh?
Mana undang-undang yang melarang seorang gadis jatuh cinta?”

Hati: “Dah … cepat lihat ke arah kanan! Tuh Rasyed dah datang bersama Bapak, Ibu dan … ada gadis
berjilbab … wajahnya imut banget. Duh … siapa dia?”

Jiwa: “Hiks … hiks … hiks …”

Hati: “Apa mungkin itu calon istri Rasyed?”

Jiwa: “Hiks … hiks … (jiwa menjerit semakin pilu).”

Lamunan Listi sirna manakala Rasyed melihat Listi. Mereka berpandangan, saling
tersenyum. Listi berusaha untuk mengelap air mata yang terus mengucur.

Rasyed: “Dhek Listi, kenapa kamu di sini?”

Listi: “Emm … emm … emm …”

Rasyed: “Gimana dengan laptop pemberianku? Apa kamu suka?”

Listi: “Eng … eng … enggih Mas. Saya suka.”

Rasyed: “Lima menit lagi aku harus naik pesawat. Selamat jalan ya. Jangan lupa rajin belajar!”

Listi: “Mas, gadis itu. Di … di … dia siapa?”

Rasyed: “Emm … namanya Sekartadji.”

12

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Mendengar nama Sekartadji, dada Listi terus deg-degan. Keringat terus mengucur padahal
dalam ruangan ber-AC yang cukup dingin. Nampak telapak tangannya mulai bergetar. Kedua kaki
juga ikutan bergetar. Ibarat laptop … battery-nya tinggal 2% aja … duh.

Listi: “Mas, boleh bertanya?”

Rasyed: “Iya, silakan.”

Listi: “Sekartadji itu … adik kandungmu, ya?”

Rasyed: “Bukan.”

Listi: “Keponakanmu, ya?”

Rasyed: “Juga bukan.”

Listi: “Saudara sepupu?”

Rasyed: “Juga bukan, hehehe … dia Putra dari Pak Kiyai Urwah dari Cepu.”

Listi: “Kenapa dia ke sini?”

Rasyed: “Bapakku dan Pak Kiyai Urwah sepakat menjodohkan aku dengan Dhek Sekartadji.”

Listi: “Sampeyan dijodohkan ama Sekartadji. Apa Sampeyan mau?”

Rasyed: “Mau, bahkan mau banget. Lihatlah … dia cantik, sholihah, rajin menghafal Qur’an.
Bapaknya juga mempunyai pesantren. Jadi … ntar kalau aku dah lulus dari King Saud University
Riyadh, maka aku akan menjadi direktur pesantrennya Kiyai Urwah, menggantikan posisi Kiyai
Urwah.”

Kalimat ini membuat aliran darah Listi hampir berhenti. Dia merasa seperti terbenam ke
dalam tanah. Dengan muka pucat, dia pura-pura tersenyum, pura-pura senang mendengar
perjodohan ini. Setelah basa-basi sebentar, akhirnya … dia melangkah pulang.

Di atas motor yang berlari ngebut, air mata kembali menetes. Semakin lama semakin
deras. Di atas motor, dia sempat menangis … bahkan lumayan keras hingga kadang malahan
menjerit. Tanah dan angin … hmm … tak terasa mereka juga ikut menangis.

Tanah: “Saat kaki Listi berjalan menginjak punggungku … duh … kurasakan kakinya bergetar,
sempoyongan … otot-otot kakinya seperti tak kuat lagi menyangga beban badannya.”

Angin: “Bukan beban badan, tapi beban cinta yang hancur berserak. Hmm … sungguh berat beban
yang dipikul gadis itu.”

Tanah: “Hmm … kuamati Listi berkendara sangat ngebut tapi sering oleng. Duh … aku khawatir dia
bakalan mengalami kecelakaan.”

Angin: “Aku juga sangat khawatir. Duh … padahal sekarang dia masih nyampek di Kaligawe. Jarak ke
Pati masih sangat jauh … dua jam lebih.”

Tanah: “Gimana cara menghibur dia?”

Angin: “Aku gak tau. Kayaknya dia nggak butuh hiburan. Dia butuh Rasyed.”

13

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Tanah: “Duh … aku berdoa semoga cepat turun hujan sehingga dia bisa berhenti, sejenak
menenangkan jiwa sehingga nggak terus-terusan menangis.”

Angin: “Ide yang bagus. Akan aku kabarkan usulmu ini kepada awan, semoga dia mau cepat menjadi
hujan.”

Sepuluh bulan kemudian, Listi sudah lulus SMA. Hampir semua teman-temannya
melanjutkan ke perguruan tinggi, sedangkan dia? Dana tidak ada. Tapi dia bangga membantu Bapak
Ibunya menanam padi di sawah.

Untuk mengisi waktu luang, dia sering mengikuti pengajian maupun seminar-seminar islam di Pati,
Kudus, bahkan di Semarang. Semakin lama, hatinya menginginkan satu hal: dia ingin masuk islam
secara keseluruhan, yaitu islam kaafah. Mulutnya … islam, pakaiannya … islam, hatinya … islam,
pokoknya keseluruhan jiwa dan raganya tunduk dan patuh kepada Allah. Kenapa bisa berubah baik
seperti itu? Terus terang, awalnya adalah karena faktor Rasyed dan Sekartadji.

Hati: “Apakah kamu masih mencintai Rasyed?”

Jiwa: “Dulu memang iya.”

Hati: “Sekarang?”

Jiwa: “Emm … ma … ma … ma … masih.”

Hati: “Harusnya kamu hapus tu rasa cinta kepada Rasyed!”

Jiwa: “Aku sudah berusaha tapi … semakin dihapus tu semakin inget ama dia terus.”

Hati: “Kalau gitu nggak usah membayangkan Rasyed, membayangkan Sekartadji aja! Ntar kamu
pasti bisa stabil lagi.”

Jiwa: “Sudahlah! Kuakui imanku masih lemah. Hmm … Mas Rasyed … aku ingin banget menjadi
pandai seperti dia.”

Hati: “Ingin banyak ilmu atau banyak harta?”

Jiwa: “Dua-duanya … hehehe. Tapi kalau boleh memilih, sekarang aku sangat mencintai ilmu.”

Hati: “Kayaknya kamu follower-nya Rasyed, ya?”

Jiwa: “Hehehe … terserah kamu mau bilang apa. Dia mencintai ilmu, maka sudah seharusnya aku
mencintai ilmu.”

Hati: “Berarti kamu mencari ilmu bukan ikhlas karena Allah, tapi karena Rasyed?”

Jiwa: “Duh … kenapa aku dikritik terus???????”

Hati: “Maaf, aku hanya berusaha meluruskan. Tapi, terus terang aku suka banget jika kamu memilih
rajin mengumpulkan ilmu islam. ”

Jiwa: “Seminggu yang lalu aku mengikuti seminar di Demak, duh … materinya bagus banget, masih
teringat kuat mpe sekarang. Aku jadi termotivasi berat.”

Hati: “Emm … seminar tentang ilmu dan harta, ya?”

14

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Jiwa: “Benar. Semakin banyak harta, maka manusia akan menjadi budaknya harta, sedangkan
semakin banyak ilmu … maka manusia akan menjadi budaknya ilmu. Hakikat budak ilmu adalah
budaknya Allah … hamba Allah … Abdullah. Hmm … ternyata untuk meraih gelar Abdullah tu … harus
berilmu, ya?”

Hati: “Iya … kalau aku lebih suka kalimat ini: semakin banyak ilmu maka akan semakin taat kepada
Allah, sedangkan kebanyakan maksiat disebabkan karena banyaknya harta.”

Setiap hari Listi membaca dan mendalami buku-buku islam. Koleksinya lumayan banyak,
mpe 70an buku islam tebal-tebal. Saat habis subuhan, karena pikiran masih cling, dia mengaji
Qur’an sambil menghafal lima hingga sepuluh ayat. Jam enam pagi, dia berangkat ke sawah untuk
membantu orang tuanya merawat padi. Jam 11, dia pulang … istirahat bentar sambil membaca buku
Riyadhus sholihin karya Imam Nawawi. Di tangan kanan memegang buku, di tangan kiri memegang
stabilo warna pink. Jika dia ketemu ayat atau hadist yang dia suka, maka diberi warna. Tujuannya …
ntar kalau ada waktu luang, dia akan menghafalnya.

Jam satu siang, dia nggak ke sawah, tapi di ruang belajar. Dia mempunyai target membaca
100-150 halaman dalam sehari. Saat siang, dia konsentrasi pada buku Fiqih Sunnah karya Sayyid
Sabiq. Sebenarnya ada beberapa alternatif buku fiqih, tapi dia mantap memilih karya Sayyid Sabiq
karena mudah dipahami.

Setelah melaksanakan sholat ashar, Listi sejenak nyeruput kopi, menyapu halaman depan
dan belakang, dan … belajar lagi. Saat sore, dia konsentrasi pada buku-buku sejarah nabi khususnya
karangan Syafiyurrahman. Lumayan tebal, tuh stabilo terus menari-nari di atas lembaran-lembaran
buku.

Adzan mahgrib berkumandang, dia bergegas menuju ke masjid. Sebenarnya dia paham
bahwa perempuan paling baik melaksanakan sholat di rumah, tapi memang sengaja dia maghrib-an
di masjid. Alasannya sederhana … dia merasa tentram saat duduk dan sujud di rumahnya Allah. Jadi
walau hanya 10 mpe 15 menit, dia sempatkan untuk i’tikaf di masjid.

Setelah isya, sejenak Listi nonton TV bersama bapak dan ibu. Satu jam kemudian, dia
masuk ke ruang belajar, membaca buku penyucian jiwa karya Ibnu Qoyyim. Hehehe … dia
penggemar berat buku-buku Ibnu Qoyyim. Emm … dia kurang begitu tertarik dengan buku-buku Al
Ghazali, nggak tau kenapa. Mungkin karena sulit dipahami, jadi pikirannya simple banget …
mendalami buku yang mudah dipahami lalu menghafal bab-bab yang dirasa sangat penting.

Tiga tahun kemudian

Listi duduk ditemani oleh Sang Bapak. Sambil nyeruput kopi, sejenak mereka ngobrol
santai.

Bapak: “Kuperhatikan buku-bukumu sudah dua lemari penuh.”

Listi: “Dua ratus tiga puluh lima buku, Pak.”

Bapak: “Emangnya kamu baca semua?”

Listi: “Bukan hanya dibaca, tapi dipelajari dan dihafal bab-bab yang sangat penting.”

Bapak: “Kemarin Si Dinda kesini akan meminjam bukumu. Kenapa kamu tak meminjami dia buku?”

Listi: “Buku-bukuku itu seperti suamiku. Jadi aku nggak mungkin meminjamkan suamiku ke orang
lain.”

15

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Bapak: “Hahaha … prinsipmu aneh … tapi aku suka mendengarnya.”

Listi: “Lagian, kalau memang Dinda tuh suka membaca, dia seharusnya membeli buku, bukan
pinjam. Berapa sih harga buku? Hp nya aja mpe 8 jutaan, masak beli buku aja gak mampu? Aneh …”

Bapak: “Hmm … benar juga. Wow, bertahun-tahun kamu mendalami ilmu islam, bapak suka banget.
Walau tak kuliah tapi semangat belajarmu sungguh hebat.”

Listi: “Aku ingin menjadi islam yang kafah, islam secara keseluruhan, Pak.”

Bapak: “Hehehe … kamu sudah menceritakan itu ratusan kali. Coba sekarang aku ingin mengetahui
ilmu yang ada di dalam hatimu.”

Listi: “Dulu … aku tuh ibarat berada di tengah hutan dengan pepohonan yang menjulang tinggi.
Kuarahkan ke kanan, kiri, depan, belakang, mata dan jiwaku hanya melihat pepohonan. Aku tak tahu
harus melangkah kemana. Kini … setelah mempelajari ilmu islam ribuan jam, ibaratnya … aku
sekarang di tengah hutan, tapi lagi memanjat pohon yang paling tinggi. Naa … karena efek
ketinggian inilah, sekarang pandanganku bebas. Aku bisa melihat ke segala arah. Emm … jiwaku
mampu melihat dimana orang-orang awam tak mampu melihatnya.”

Bapak: “Oya? Baik … coba ceritakan tentang bab sholih!”

Listi: “Menurutku orang yang sholih tuh bukannya banyak sholat atau sedekah. Tapi yang paling
sholih adalah orang yang paling teliti terhadap halal dan haram.”

Bapak: “Hmm … mantap. Sekarang ceritakan tentang cinta!”

Listi: “Cinta tuh ada dua: cinta kepada Allah dan cinta kepada ciptaan-Nya. Manakala manusia
mampu menjadikan cinta kepada Allah sebagai cinta tertingginya, maka inilah manusia yang bahagia
sesungguhnya.”

Bapak: “Tak kusangka ilmumu sangat dalam. Coba ceritakan tentang bab terburu-buru!”

Listi: “Terburu-buru itu sifat setan kecuali pada tiga hal: taubat, mengubur mayat dan menikahkan
anak perempuan jika sudah waktunya menikah.”

Bapak: “Menikahkan anak perempuan. Itulah maksudku yang sesungguhnya.”

Listi: “………………..”

Bapak: “Nak, umurmu sudah 21 tahun. Terus terang … aku dan ibumu menghendaki kamu menikah.
Bukan karena apa-apa, tapi aku dan ibumu ingin melaksanakan perintah Nabi Muhammad tentang
bab terburu-buru yang kamu sampaikan tadi.”

Listi: “Hiks … hiks … hiks …”

Bapak: “Lho, kenapa kamu menangis?”

Listi: “Hiks … hiks … Pak … yuk kita bahas tentang ilmu aja! Hiks … hiks … aku tak bisa membahas
tentang masalah pernikahan … hiks … hiks …”

Bapak: “Apa ada lelaki yang sudah menjadi pilihanmu?”

Listi: “Hiks … hiks … i … i … iya, Pak.”

Bapak: “Di mana dia sekarang?”

16

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Listi: “Di KSU … King Saud University Riyadh Saudi. Dia kuliah di sana.”

Bapak: “Wow … tak kusangka pilihanmu begitu istimewa. Kamu pandai, calon suamimu cerdas.
Tunggu apa lagi?”

Listi: “Hiks … hiks … hiks …”

Bapak: “Kenapa kamu menangis? Emm … aku tahu, pasti kamu sangat rindu dengannya, to? Sabar
ya, Nak! Aku yakin kalau dia sudah lulus, pasti pulang ke tanah air lagi dan berjumpa denganmu.”

Listi: “Hiks … hiks … bukan itu, Pak?”

Bapak: “Lalu?????”

Listi: “Sekartadji … hiks … hiks … dia sudah mempunyai calon istri … hiks … hiks … yaitu Sekartadji.”

Bapak: “Hmm … duh … piye iki?”

Listi: “Nggak apa-apa kok Pak. Kan sekarang aku sudah mempunyai suami?”

Bapak: “Siapa?”

Listi: “Buku ...”

Bapak: “Duh ……..”

Empat Tahun Kemudian

Listi … belum puas dengan ratusan buku koleksinya, kini dia mendatangi perpustakaan
provinsi. Dia … hehehe, dia penasaran tentang buku-buku yang belum dimilikinya. Dua jam lebih
melihat-lihat buku, kayaknya belum ada yang cocok di hatinya. Ruangan perpus cukup ber-AC, tapi
nampak keringat membasahi kening dan pipinya, hingga jilbab nampak ikut basah. Lelah datang,
sejenak dia duduk di ruangan perpus sambil sesekali nyeruput teh gelas. Mendadak hatinya sibuk.

Hati: “Wahai ilmu yang ada dalam dadaku, tolong kamu bicara! Apa yang harus aku lakukan
sekarang?”

Ilmu: “Ilmu itu adalah yang bisa di bawa ke kamar mandi.”

Hati: “Maksudnya?”

Ilmu: “Ilmu itu bukan tumpukan buku. Ilmu adalah sesuatu yang kau hafal, masuk ke otak. Naa …
ilmu yang sudah bersemayam di otak, maka kamu bisa membawanya kemana aja, termasuk ke
kamar mandi. Sudahlah … berhenti aja hunting buku! Sekarang saatnya menghafal dan menghafal.
Tak ada gunanya menumpuk buku di lemari, hanya akan mengundang debu datang.”

Hati: “Jadi … aku harus menghafalnya?”

Ilmu: “Iya. Silakan rangkum tuh buku! Ketik yang rapi … lalu hafalkan!”

Hati: “Apa tak ada cara lain selain menghafal?”

Ilmu: “Imam Nawawi menyusun buku Riyadhus Sholihin, beliau tuh hafal semua isi buku. Begitu juga
dengan Imam Malik menyusun kitab Al Muwatha’ yang terkenal itu, beliau sangat hafal.”

Hati: “Hmm … kira-kira berapa tahun yang kuperlukan untuk menghafal ilmu yang kupilih?”

17

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Ilmu: “Mungkin lima hingga sepuluh tahun, atau bahkan lebih.”

Hati: “Baiklah … berat banget rasanya tapi … pasti Mas Rasyed juga mengalami hal ini juga, ya?”

Ilmu: “Iya … bahkan lebih berat lagi. Dia harus menguasai bahasa arab dan inggris. Lho … kenapa
kamu masih ingat Mas Rasyed terus?”

Hati: “Hmm … itulah kelemahanku. Aku sangat mencintainya. Saking cintanya, apa yang dicintainya
… aku juga ikut mencintainya. Dia cinta ilmu, maka aku juga sama.”

Ilmu: “Umurmu sudah 25 tahun. Aku yakin Mas Rasyed sudah menikah dengan Sekartadji.”

Hati: “Aku juga menyangka seperti itu. Wahai ilmu, gimana cara melupakan Mas Rasyed, ya?”

Ilmu: “Emm … apakah kamu hoby mencintai suami orang?”

Hati: “Enggak deh. Gak bakalan.”

Ilmu: “Coba katakan: Rasyed tuh suami orang, aku tak mungkin mencintai suami orang. Ucapkan
kalimat ini hingga 100 kali! Pagi siang malam. Ntar jiwamu akan luluh, menyerah, nggak lagi
merana.”

Hati: “Baiklah.”

Sejak saat itu, kemanapun Listi terus mengulang dan mengulang kalimat yang diajarkan
oleh ilmu yang ada di dalam dadanya. Sehari … dua hari … sebulan, kalimat itu benar-benar ampuh.
Kini kerinduan kepada Rasyed sudah berkurang drastis. Saat malam hari sepi, ilmu yang ada dalam
dadanya juga memberi nasihat, “Listi, jika kamu mencintai manusia, maka siap-siaplah berpisah
darinya. Tapi jika kamu mencintai Allah, maka Allah takkan pernah meninggalkanmu.” Kalimat ini
ampuh banget sehingga Listi benar-benar berlari menuju Allah dengan memperbanyak sholat
malam, menghafal dan terus menghafal. Saat berangkat ke sawah di pagi hari, dia berjalan kaki
sambil berdzikir. Saat mencabut rumput yang mengganggu tanaman padi, dia juga berdzikir. Saat
istirahat di pematang sawah, dia terus berdzikir sambil mengulangi hafalan.

Cuaca panas menyengat, sambil berteduh di bawah pohon yang rindang di pinggir sawah,
lagi-lagi dia mengobrol dengan ilmu yang ada di dalam dadanya.

Hati: “Wahai ilmu yang ada di dalam dadaku, kira-kira apa yang belum kukerjakan? Sholat … udah.
Mencari ilmu … sudah. Membantu orang tua … sudah. Ibadah … juga sudah. Apa lagi yang paling
penting yang belum kukerjakan?”

Ilmu: “Apa kamu ingin tahu?”

Hati: “Iya, sumpah aku ingin tahu.”

Ilmu: “Satu hal penting yang belum kau kerjakan adalah menikah.”

Hati: “Hmm … kenapa kamu mirip dengan orang tuaku yang senantiasa bicara bab pernikahan?”

Ilmu: “Usiamu sudah hampir 26 tahun. Saatnya kamu menikah.”

Hati: “Aku hanya mau menikah dengan Mas Rasyed.”

Ilmu: “Dia kan sudah menikah.”

18

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Hati: “Belum tentu. Aku akan pergi ke rumahnya untuk mengecek apakah dia sudah menikah atau
belum?”

Ilmu: “Kalau ternyata sudah, pasti kamu pingsan. Siapa yang menolong?”

Hati: “Duh … hiks … hiks …”

Ilmu: “Lagian, gak ada ceritanya sumur mendatangi timba.”

Hati: “Hiks … hiks …”

Ilmu: “Kamu tuh wanita, ibarat sumur. Rasyed tuh ibarat timba. Kalau memang Rasyed
mencintaimu, pasti dia ke rumahmu dan melamarmu. Coba ingat-ingat, apakah Rasyed pernah ke
rumahmu?”

Hati: “Enggak pernah … hiks … hiks … dia pasti tidak mencintaiku … hiks … hiks …”

Ilmu: “Listi ….”

Hati: “…….”

Ilmu: “Listi ….”

Hati: “I … i … iya, ada apa?”

Ilmu: “Siapa yang paling mencintaimu di dunia ini?”

Hati: “Ibuk dan Bapakku.”

Ilmu: “Kedua orang ini sangat mencintaimu. Mereka terus berdoa untukmu siang malam. Bahkan
bapakmu sering berdoa sambil menangis, hanya untuk mendoakanmu. Usulku … cobalah menyerah
kepada kehendak bapak dan ibumu! Ikuti aja kata mereka! Kalau memang mereka menjodohkanmu
dengan seseorang, patuhi saja!”

Hati: “Tapi …”

Ilmu: “Menikahlah untuk mencari ridho Allah. Tentang masalah cinta … aku yakin akan tumbuh
dengan sendirinya.”

Hati: “Apa tak ada alternatif lain?”

Ilmu: “Hehehe … dasar anak nakal. Ikuti perintahku atau perintah setan?”

Hati: “Ba … ba … ba … baiklah.”

Sehari kemudian

Listi … tetaplah Listi. Walau ilmunya banyak, wawasannya luas, bisa berfikir dari segala
arah tapi … dia tetaplah wanita yang lebih mendahulukan perasaannya daripada akalnya. Tepat jam
tujuh pagi, dengan mengenakan jaket ungu, dia naik motor menuju ke rumah Rasyed. Keinginannya
hanya satu, ingin memastikan apakah Rasyed memang sudah menikah dengan Sekartadji atau tidak.
Dia kayaknya belum bisa tidur nyenyak kalau belum ke rumah Rasyed.

Dua jam berkendara, kini dia sudah sampai di depan rumah Rasyed. Saat kakinya
menginjak pekarangan rumah, tiba-tiba tuh kaki terasa gemetar. Sejenak dia terdiam dan bingung.
Sudah puluhan kali dia menelan ludah karena ragu dan bingung. Tapi … perasaannya mengalahkan

19

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

segalanya. Kini dia sudah mengetuk pintu. Sekali … dua kali, belum juga dibukakan. Saat akan
mengetuk pintu yang ketiga kali, tiba-tiba ada yang membukakan pintu.

Tanpa malu, Listi langsung mengamati dengan seksama wanita yang membukakan pintu.
Hmm … tuh wanita sangat ayu … kulitnya kuning bersih, mengenakan jilbab pink sehingga aura
wajahnya semakin terpancar. Wajah itu … duh … Listi semakin gemetar. Keringat sebesar jagung
bertengger di alis dan dagunya. Sejenak mereka beradu pandang. Suasana sepi, tak ada yang
mampu bicara. Akhirnya wanita itu memecah keheningan dengan berkata, “Mbak, silakan masuk!
Kenalkan … nama saya Sarah.”

Mereka berkenalan, tapi rasa penasaran terus mencekik. Akhirnya … dengan keberanian
yang dipaksakan, Listi bertanya, “Dhek, apakah Sampeyan istrinya Mas Rasyed?”

Pertanyaan ini seakan tali puluhan meter yang mengikat sekujur tubuh Listi. Hampir saja
nafasnya berhenti karena takut mendengar jawabannya. Nampak dia terus mengelap keringat yang
membasahi hidungnya yang imut.

Mendapat pertanyaan seperti itu, Sarah menjawab dengan senyum, “Bukan Mbak. Saya adalah adik
ketiga dari Mas Rasyed.”

Jawaban ini seakan membuat tali puluhan meter yang melilit tubuhnya lenyap seketika.
Jawaban itu … hehehe … bagai hujan salju yang menyejukkan semua. Kini jiwanya terasa mak nyesss
… senyum langsung mengiasi bibirnya yang kering. Sambil menarik nafas panjang Listi kembali
bertanya, “Dhek, sekarang Mas Rasyed di mana?”

Tanpa pikir panjang, Sarah berkata, “Mas Rasyed pindah ke Cepu. Beliau menikah dengan
Mbak Sekartadji dua bulan yang lalu. Kini beliau menjadi direktur pesantren keluarga Mbak
Sekartadji.”

“Darrrrrrrr,” kalimat ini menghantam asa Listi hingga berserak, berhamburan tak tentu arah.
Jantung serasa mau meledak, aliran darahnya juga seperti berbalik arah mengumpul di kepalanya.
Kini … wajah Listi berubah menjadi merah padam … dia menahan air mata sekuatnya supaya tidak
tumpah. Selesai berpamitan, Listi-pun memacu motornya ngebut. Tangisannya pecah saat di atas
motor. Lima menit kemudian, perutnya terasa nyeri. Dia menahan sekuatnya tapi … nyeri semakin
hebat. Dengan gontai, dia berhenti sejenak memarkir motornya di SPBU. Akhirnya … diapun
tergeletak tak berdaya di mushola SPBU yang saat itu lagi sangat sepi.

Di dalam mushola, dia mencoba untuk tidak menangis, tapi tak bisa. Perasaan
mengalahkan logika. Dia menangis … meraung … perut semakin sakit, mungkin asam lambung
meningkat dengan sangat drastis.

Setengah jam kemudian, suasana jiwa agak tenang. Setelah minum air beberapa teguk,
hatinya berkata, “Wahai ilmu yang ada di dalam dadaku, hiks … hiks … nasihatilah aku! Kalau kamu
diam aja, kayaknya aku bakalan gila. Aku tak mampu menahan beban seberat ini … hiks … hiks …”

Ilmu: “Level kesedihanmu benar-benar memuncak.”

Hati: “Hiks … aku belum pernah merasakan kepedihan seperti ini. Please … nasihati aku! Berilah aku
pencerahan!”

Ilmu: “Listi … bertahun-tahun kamu menghafal ilmu. Kini … ilmu ini akan menenangkanmu. Ilmu ini
akan meluaskan hatimu. Ilmu ini akan menyelamatkanmu dari kegilaan.”

Hati: “Iya … semoga aja begitu.”

20

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Ilmu: “Listi, kesedihan yang berlarut tuh ibarat digigit seribu nyamuk. Ribuan nyamuk itu akan
menyedot energimu dan memberimu sakit. Sudahlah … jangan bersedih lagi!”

Hati: “Hiks … hiks …”

Ilmu: “Listi, kepedihan ini akan membuat musibah menjadi semakin berlipat ganda. Jika kamu tak
mampu survive dari kesedihan ini, maka kamu akan sakit. Orang tuamu juga pasti ikut sakit. Apa
kamu mau melihat kenyataan ini?”

Hati: “Hiks … hiks … aku tak mauuuuu!!!!”

Ilmu: “Sudahlah, jangan lagi bersedih karena … kesusahan yang terus-terusan itu seperti mengukir di
atas air. Energi terkuras, waktu habis, apa ada hasilnya? Nothing. Walau kamu menangis tujuh hari
tujuh malam, tetap aja tak bisa mengubah keadaan bahwa Rasyed sudah menikah dengan
Sekartadji. Listi, stop!!! Jangan lagi mengukir di atas air!!!!”

Hati: “Hmm … jiwaku mulai sedikit tenang.”

Ilmu: “Jika kamu tak bisa stabil dan terus sedih, maka berarti kamu memboroskan waktu. Sebulan
bersedih, jika sehari kamu rata-rata bersedih 10 jam, maka dalam waktu sebulan, 300 jam hilang sia-
sia hanya untuk acara yang bernama kesedihan.”

Hati: “Iya … kamu benar.”

Ilmu: “Dua hari ini, cobalah untuk beruzlah … menyendiri di masjid. Dengan beruzlah, maka kamu
akan semakin dekat dengan cinta pertamamu, cinta tertinggimu yaitu Allah SWT.”

Hati: “Hmm … aku mpe lupa bahwa cinta tertinggiku adalah Allah. Wahai ilmu, terima kasih sudah
mau mengingatkanku.”

Ilmu: “Iya. Listi, yakinlah bahwa setelah lapar pasti ada kenyang. Setelah haus pasti ada kepuasan.
Setelah gelap pasti ada terang. Setelah tangis pasti ada tertawa. Setelah gelisah pasti ada senyuman.
Setelah ketakutan pasti ada rasa aman. Setelah sakit pasti ada kesembuhan, dan … setelah kesulitan
pasti ada kemudahan.”

Hati: “Benar, tak ada yang permanen di dunia ini.”

Ilmu: “Listi, kamu tuh sangat anggun,lemah lembut dan ayu. Jika kamu bersedih, marah, frustasi …
hmm … ketahuilah bahwa kesedihan yang berlarut akan menghilangkan sifat lemah lembut yang ada
di dalam jiwamu.”

Hati: “Oya?”

Ilmu: “Aku tak mau musibah ini menjadikan kamu pemarah, suka jerit-jerit sendiri. Aku tak mau …
aku tak rela.”

Hati: “Kayaknya aku memang harus benar-benar survive, ya?”

Ilmu: “Listi, aku yakin bahwa kepedihan itu akan memperbaiki jiwa. Mungkin kemarin kamu masih
egois, hatimu terus-terusan ada Rasyed. Kini … dengan musibah yang memuncak, jiwamu akan
semakin ayu. Aku yakin sekarang kamu mau sumeleh, menerima apa adanya.”

Hati: “Iya, kini aku sadar bahwa lelaki di dunia ini bukan hanya Mas Rasyed aja, tapi aku yakin
banyak kok yang lebih sholih dari beliau.”

21

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Ilmu: “Listi … orang akan depresi parah jika dia memikirkan apa yang tidak dimilikinya. Ibaratnya
sekarang kamu mempunyai 100 koin emas. Ternyata tuh koin hilang satu, tinggal 99 koin emas.
Normalnya kan nggak apa-apa, lha wong koin masih 99, tapi kebanyakan manusia tuh terus
memikirkan satu koin emas yang hilang.”

Hati: “Kalau aku sih … gak bakalan memikirkan satu koin yang hilang itu.”

Ilmu: “Halah … kamu bohong.”

Hati: “Lho kok bisa?”

Ilmu: “Di dalam kehidupanmu, kamu tuh ibaratnya diberi Allah ribuan nikmat, ibaratnya kamu diberi
100 koin emas. Kamu sehat, pandai, banyak hafalan, banyak ilmu, semua organmu juga fit, ayah ibu
ada dan sehat, sawah juga lumayan luas. Wis pokoknya nikmatmu tuh banyak banget. Naa …
sekarang Allah mengambil satu nikmat aja yaitu Mas Rasyed. Mas Rasyed ibarat satu koin emas yang
hilang. Ya udah … relakan aja! Toh kamu juga masih mempunyai 99 koin emas. Nikmat yang
diberikan Allah kepadamu masih sangat banyak.”

Hati: “Duh, aku jadi malu dengan diriku sendiri. Ternyata … hmm … aku melupakan 99 koin emas
yang ada di genggaman tanganku dan terus memikirkan satu koin emas yang hilang yaitu Mas
Rasyed. Duh … wahai ilmu, terima kasih. Untung aku menghafalkanmu dua tahun yang lalu. Kini
kamu sudah bersemayam di kepalaku sehingga kamu bisa menasihatiku sewaktu-waktu kuperlukan.
Jadi … hehehe … aku tak butuh psikiater lagi.”

Ilmu: “Iya … itulah gunanya ilmu. Apa kamu masih mau mendengarkan nasihatku lagi?”

Hati: “Tentu … aku butuh banget.”

Ilmu: “Listi, orang yang terlalu bersedih karena sesuatu yang hilang ibarat anak kecil yang kehilangan
mainannya. Lihatlah anak-anak yang mainannya hilang, mereka menangis sejadi-jadinya.”

Hati: “Duh … kayaknya aku seperti mereka, ya?”

Ilmu: “Hehehe, kamu sendiri yang mengatakannya. Saat Urwah bin Zubeir kehilangan satu kakinya,
beliau tidak depresi. Beliau tawakkal kepada Allah sambil berkata, ‘jika Allah mengambil, pada
hakikatnya Allah memberi.’”

Hati: “Kalimat yang bagus. Apa maknanya?”

Ilmu: “Allah memberi pahala tanpa batas pada manusia yang mau sabar. Allah juga akan
meningkatkan derajat manusia-manusia yang sabar. Jadi, jika saat ini kamu bisa sabar, maka
pahalamu pasti sangat banyak, derajatmu akan naik.”

Hati: “Baiklah, aku akan memilih untuk sabar.”

Ilmu: “Pilihan yang tepat. Listi … Mas Rasyed pergi, aku yakin Allah akan menggantinya dengan lelaki
yang lebih baik.”

Hati: “Amin. Siapa dia?”

Ilmu: “Hehehe, tanyakan aja kepada Allah! Listi … sekarang bagaimana suasana yang ada dalam
dadamu?”

Hati: “Mulai sejuk.”

22

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Ilmu: “Baguslah kalau begitu karena jika kamu terus bersedih, maka musuh-musuhmu akan
gembira.”

Hati: “Apakah aku mempunyai musuh?”

Ilmu: “Iya, setan adalah musuh abadimu. Setan akan jingkrak-jingkrak jika kamu sampai depresi,
marah-marah, meninggalkan sholat, meninggalkan ngaji. Setan akan berpesta jika kamu sampai
meninggalkan Allah hanya gara-gara masalah Rasyed. Apakah kamu senang jika musuhmu gembira
karena melihatmu menderita?”

Hati: “Hmm … tak kusangka setan ikut bermain dalam masalah ini.”

Ilmu: “Listi, memang beginilah kehidupan, tak ada yang ideal. Mungkin jiwamu mempunyai
gambaran bahwa jika kamu bersanding dengan Rasyed, maka itulah yang paling ideal. Tapi …
beginilah dunia, tak ada yang benar-benar ideal. Kamu akan merasakan hidup ini ideal saat kakimu
menginjak tanah sorga. Itulah ideal yang sesungguhnya. Selagi kaki ini masih menginjak tanah dunia,
masalah akan selalu datang, musibah menanti sewaktu-waktu.”

Hati: “Beauty princess menikah bahagia dengan ksatria ganteng, kayaknya hanya dalam dongeng,
ya?”

Ilmu: “Hehehe. Ada tapi sangat jarang.”

Hati: “Kini dadaku terasa sangat nyaman, pikiranku terbuka lebar. Apa aku boleh melanjutkan
perjalanan pulang?”

Ilmu: “Iya, silakan! Kulihat beberapa malaikat tersenyum melihatmu sudah pulih.”

Hati: “Oya?”

Hari berganti minggu, kini Listi seperti terlahir kembali. Jiwanya fresh, hatinya sejuk,
akalnya tajam. Dia berhasil melalui pedihnya musibah dengan bantuan ilmu yang bersemayam di
kepalanya. Listi … hmm … andai seluruh wanita di negeri ini mempunyai banyak ilmu sepertimu,
pasti negeri ini akan semakin sejuk, indah dan damai. Wahai ilmu … terima kasih.

Hari berganti bulan, Listi tetap kerja di sawah sambil setia dengan suaminya yaitu buku-
buku, serta hafalan dan hafalan. Tapi nggak tau kenapa, penyakit rindunya kambuh lagi. Kali ini lebih
parah … dia ingin ke Cepu untuk bertemu dengan Rasyed. Jiwanya mati-matian bertengkar dengan
ilmu yang ada di dalam dadanya.

Ilmu: “Tolong urungkan niatmu untuk pergi ke Cepu! Tak ada gunanya menemui Rasyed. Dia tu udah
mempunyai istri.”

Jiwa: “A … a … a … aku cuman mau ketemu doang, kok.”

Ilmu: “Halah … bohong. Aku tahu rindumu kepadanya sangat menggebu hingga minggu ini kamu
mpe mimpi dia tiga kali.”

Jiwa: “Aku janji nggak ngapa-ngapain. Sumpah, aku ingin ketemu doang … titik.”

Ilmu: “Cepu itu jauh. Dari sini kira-kira 100 km.”

Jiwa: “Aku akan naik bis, lewat Blora. Ilmu … saatnya kamu diam! Nggak usah ngoceh terus! Aku ini
manusia, bukan malaikat, jadi … I’m not perfect.”

23

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Ilmu: “Terserah deh. Tapi pesanku: tolong jangan ganggu rumah tangga orang!”

Jiwa: “Jangan khawatir! Aku tak sehina yang kauduga. Dah … tolong diam! Aku ingin menikmati
perjalanan ke Cepu. Biarkan aku menikmati travelling ini!”

Begitulah Listi minggu ini. Perasaannya sudah mengalahkan ilmu yang ada di dadanya.
Hmm … cinta memang menghilangkan logika. Cinta … tak ada hitung-hitungannya, cinta … hmm …

Dua jam naik bis, sampailah dia di Jalan Gianti Cepu. Sejenak dia menikmati pemandangan
sekitar yang memang belum pernah dijumpainya. E, mendadak perutnya terasa lapar. Berjalan
sebentar, di sebelah kanannya ada rumah makan yang lumayan bersih dan besar. Jiwanya berbisik,
“Wisata kuliner, yuk!” Dengan wajah sumringah, dia memasuki tuh rumah makan khas Cepu. Dia
lihat detik, masih jam 9 pagi, hehehe … time for breakfast.

Sambil menikmati ayam kremes, sambal uleg dan lalapan, dia melamun kesana kemari.
Sempat pikirannya blank, dia menghidupkan laptop pemberian Rasyed. Semenit kemudian, laptop
nyala … hehehe … gak diapa-apain. Matanya hanya memandang display kosong. Merasa jenuh,
akhirnya laptop di-shut down, masukin tas, diapun melangkah ke kasir untuk membayar makanan
yang sudah di pesan.

“Darrrrr, “ alangkah kagetnya dia, ternyata yang jadi kasir … Rasyed. Seakan tak percaya,
diapun mengucek-ucek matanya sambil mencubit pipinya sendiri, siapa tahu ini hanya mimpi. Tapi
ternyata bukan mimpi … dia benar-benar Rasyed.

Sejenak mereka beradu pandangan. Nampak wajah Rasyed juga kaget. Lima tahun tak
bertemu Listi … tapi kayaknya dia tak lupa. Senyum kangen nampak banget tergambar di wajah
Rasyed. Bagaimana dengan wajah Listi? Wajahnya berseri-seri, aura-nya … duh … sumringah
maksimal kayak lampu 1000 watt. Detak jantungnya kadang kencang, kadang pelan. Kencang karena
rindu sudah terobati, pelan karena bertemu dengan manusia yang selama lima tahun ini terus
dipikirkannya siang malam.

Sedetik kemudian, mereka saling mengucapkan salam, bercanda ringan, dan … mereka
ngobrol santai di kursi rumah makan.

Rasyed: “Dhek, berapa tahun kita tak ketemu?”

Listi: “Emm … sekitar lima tahun enam bulan sebelas hari, Mas.”

Rasyed: “Kok kamu bisa detail banget.”

Listi: “Hehehe … gak tau, Mas … mungkin karena … karena …”

Rasyed: “Dhek, gimana dengan laptop pemberianku?”

Listi: “Bagus kok Mas. Nih kubawa. Dia menemaniku siang dan malam. Sebulan yang lalu RAM nya
kutambah menjadi 4 giga, biar super kencang, hehehe.”

Rasyed: “Alhamdulillah kalau kamu senang dengan pemberianku.”

Listi: “Mas, kenapa kamu bisa menjadi kasir di rumah makan ini?”

Rasyed: “Aku bukan kasir. Ini rumah makan milik pesantren. Di Cepu, ada empat rumah makan
besar milik pesantren, kami harus mengelolanya supaya managemennya tetap sehat.”

Listi: “Hmm … mungkin rumah makan ini seperti divisi usaha milik pesantren, ya Mas?”

24

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Rasyed: “Benar, juga sebagai tempat pelatihan para santri supaya bisa mandiri dan mempunyai jiwa
wirausaha.”

Listi: “Mas, aku ingin memberikan sesuatu kepada Sampeyan (nampak Listi mengeluarkan buku
tebal banget dari dalam tasnya).”

Rasyed: “Wow, sebuah buku yang sangat tebal. Siapa pengarangnya?”

Listi: “Sa … sa … saya sendiri.”

Rasyed: “Whattttt?????? Lima tahun yang lalu kamu masih lulusan SMA. Kini sudah pandai
mengarang buku. Wow … kok bisa?”

Listi: “Emm … hanya hoby kok Mas.”

Rasyed: “Enggak, aku nggak percaya. Kamu harus cerita kenapa kamu bisa sepandai ini?”

Listi: “Hiks … hiks … hiks …”

Rasyed: “Kenapa malahan nangis? Emm … saya minta maaf kalau ada perkataan saya yang
menyinggung perasaanmu.”

Listi: “Mas …”

Rasyed: “Iya Dhek …”

Listi: “Hiks … hiks …”

Rasyed: “…………………….”

Listi: “A … a … a … apakah aku boleh terus terang?”

Rasyed: “Iya, silakan …!”

Listi: “Lima tahun yang lalu saat pertama kali ketemu Sampeyan … emm … sa … sa … saya sangat
mencintai Sampeyan. Apalagi mengetahui bahwa Sampeyan kuliah di King Saud University Riyadh.
Duh … hiks … hiks … cintaku semakin dalam.”

Rasyed: “Hmm … tak kusangka kamu mempunyai perasaan seperti itu kepadaku.”

Listi: “Tapi … saat aku mengetahui bahwa Sampeyan sudah mempunyai calon istri yaitu Sekartadji,
duh … harapanku musnah. Aku hanya bisa menangis. Tiap hari aku berusaha melupakan Sampeyan,
tapi tak bisa. Bertahun-tahun kucoba tapi hasilnya nihil.”

Rasyed: “Hmm ………..”

Listi: “Kerjaanku hanya di sawah. Aku tak mempunyai biaya untuk kuliah. Aku terus ingat Sampeyan
yang pinter dan gigih mencari ilmu. Aku cinta Sampeyan. Sampeyan mencintai ilmu, maka aku
memutuskan untuk mencintai ilmu juga. Aku ingin mirip seperti Sampeyan. Karena … hiks … hiks …
aku sangat mencintaimu, Mas.”

Rasyed: “Duh …”

Listi: “Aku rajin ikut pengajian, seminar islam, dan mempelajari ratusan buku karena … aku ingin
mirip Sampeyan. Buku-buku tidak hanya kupelajari, tapi kurangkum dan kuhafalkan. Bukan untuk
apa-apa, aku ingin benar-benar mirip Sampeyan. Usahaku berhasil. Kini dadaku penuh dengan ilmu.

25

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Gak nyangka … ilmu-ilmu ini senantiasa mendampingi hidupku, menasihatiku. Ilmu … duh …
ternyata bersahabat dengan ilmu membuat hidup nyaman banget.”

Rasyed: “Wow … perjuanganmu sungguh membuat hatiku trenyuh.”

Listi: “Sebulan ini aku menulis buku tentang kurikulum pesantren. Cuman 830 halaman kok Mas. Nih
kuhadiahkan ke Sampeyan. Aku ingin membuat kurikulum tersendiri yang kurasa sangat update
untuk pendidikan anak-anak. Aku tak begitu suka dengan kurikulum Diknas karena output-nya
kurang maksimal menurutku.”

Rasyed: “Jadi, buku yang kupegang ini adalah murni karyamu?”

Listi: “Enggih Mas. Bahkan aku sudah menghafalnya.”

Rasyed: “Whatttt???? Kok sampai segitunya.”

Listi: “Aku ingin mirip seperti Sampeyan yang pinter, penuh ilmu dan sholih.”

Rasyed: “Andai aku belum menikah, pasti aku akan me …”

Listi: “Mas, sudahlah! Jangan lanjutkan kalimat itu! Hiks … hiks … aku tak mampu mendengarnya.”

Rasyed: “Ada dua wanita yang sangat mencintaiku. Yang pertama adalah kamu, yang kedua adalah
Sekartadji. Hmm, Sekartadji aja masih kalah pinter dibandingkan denganmu. Duh … apa yang harus
aku lakukan?”

Listi: “Cintai Sekartadji aja! Hiks … hiks …”

Rasyed: “Apakah kamu sudah menikah?”

Listi: “Belum. Aku belum bisa mencintai lelaki lain kecuali Sampeyan.”

Rasyed: “Duh … ijinkan aku melamarmu!”

Listi: “Enggak, Mas. Kasihan Sekartadji. Aku tak mau merusak rumah tangga orang.”

Rasyed: “Menurutmu, kenapa Allah mempertemukan kita berdua?”

Listi: “Supaya aku bisa pintar seperti Sampeyan. Aku mantap ingin berislam kafah.”

Rasyed: “Apa mungkin Allah akan menjodohkan kita?”

Listi: “Hiks … hiks … janganlah bertanya seperti itu kepadaku! Kasihan Sekartadji.”

Rasyed: “Terus … apa rencanamu?”

Listi: “Hiks … hiks …”

Rasyed: “Dhek, please jangan nangis! Aku sangat memahami apa yang ada di dalam hatimu.”

Listi: “Mas … hiks … hiks … rencanaku, aku ke sini hanya mengantar buku karyaku itu. Kini Sampeyan
sudah menerimanya. Itulah kenang-kenangan yang bisa aku berikan kepadamu. Mas, kayaknya
inilah pertemuan kita yang terakhir. Aku tak mampu melihat Sampeyan lagi karena semakin dekat
denganmu, maka rasa cinta di dada ini semakin menggelora. Ijinkan aku untuk tidak ketemu
Sampeyan lagi.”

26

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Rasyed: “Duh … apakah ada alternatif lain?”

Listi: “Enggak ada. Mas … terima kasih karena kamu sudah pernah hadir dalam kehidupanku.
Kehadiran Sampeyan mengubah kehidupanku yang dulunya bodoh menjadi pandai. Mas … kamu
adalah ustadzku, sahabatku, cintaku, kasihku, rinduku dan … hiks … hiks … selamat tinggal.
Wassalam.

Rasyed tak mampu menjawab salam. Matanya berkaca-kaca sambil melepas kepergian
Listi. Dipegangnya erat-erat buku pemberian Listi. Tak cukup hanya memegang, diapun memeluk
tuh buku. Beberapa tetes air mata membasahi tuh buku, duh …

Tiga hari kemudian

Rumput yang tumbuh di sela-sela tanaman padi semakin banyak. Dua jam lebih Listi dan
ibunya mencabuti rumput. Tak terasa sudah jam empat sore. Listi pulang dengan jilbab yang
belepotan lumpur. Wajahnya yang ayu, kini ada beberapa noda lumpur yang nangkring di wajahnya.
Hmm … jubahnya juga banyak lumpur. Begitulah keseharian menjadi petani, harus akrab dengan
lumpur, rumput, air, dll. Baru aja dia memasuki rumah, belum sempat ganti baju, tiba-tiba ada tamu
datang.

Setelah menjawab salam, Listi terus mengawasi tuh tamu. Seorang lelaki, lumayan tinggi
dan gagah, wajahnya berwibawa, usia sekitar 28 tahun. Dia memakai baju muslim berwarna hijau
muda dengan dipadu celana kain warna hitam. Listi tak mengenal tuh lelaki. Jadi … dia hanya bisa
menunduk dan bertanya tentang keperluan Si Tamu.

Si Tamu berkata, “Apakah ini rumahnya Dhek Listi?” Mendengar namanya disebut,
jantung Listi berdegup kencang. Jiwanya bertanya, “Kenapa dia tahu namaku? Siapa dia?” Belum
sempat dia bertanya, Si Tamu berkata lagi, “Kenalkan, nama saya Badru. Saya adalah sahabat Pak
Rasyed. Saya ke sini karena disuruh Pak Rasyed mengantar buku karangan beliau untuk Sampeyan,
Dhik. Nih bukunya, silakan diterima!”

Listi semakin bingung. Jiwanya terus bertanya-tanya, “Cuman ngantar buku, kenapa
sampai nyuruh orang? Pakai jasa paket pos kan bisa. Hmm … jarak Cepu Pati tuh jauh, kenapa nih
orang mau-maunya mengantar satu buku … hanya satu buku?” Listi tak mau berfikir lagi, tuh buku
diterimanya dengan sangat sopan. Dia tak sadar kalau baju ama jilbabnya masih belepotan lumpur.

Diapun membuka buku. Di halaman depan, ada tulisan tangan. Hmm … kayaknya tulisan
tangan Rasyed. Inilah isi tulisan itu, “Asalam. Dhek Listi, nih kuberikan buku untukmu. Karyaku
sendiri. Buku ini kutulis saat masih kuliah di KSU Riyadh. Oya, lelaki yang mengantar buku ini adalah
Mas Badru. Dia teman sekuliahan aku di KSU Riyadh. Dia pandai, bahkan lebih pandai dariku. Dhek,
Mas Badru belum menikah. Dia menjadi Dosen di UIN Sunan Kalijaga. Menurutku, Mas Badru sangat
cocok jika menjadi suamimu. Dia pandai, kamu juga pinter. Mas Badru, dia dua tahun berusaha
mencari istri yang semangat dalam mencari ilmu, tapi gak juga ketemu. Saat aku menceritakan
semangatmu dalam mencari ilmu, mendadak dia jatuh hati padamu padahal dia belum pernah
ketemu denganmu. Dhek, usulku … gimana kalau kamu menikah dengan Mas Badru? Tapi aku tidak
memaksa. Semua keputusan ada di tanganmu. Wassalam.”

Selesai membaca tuh tulisan, Listi memberanikan diri memandang wajah Badru. Mereka
terus berpandangan. Tak ada kata, bahkan anginpun senyap. Jiwa Listi mendadak merasakan
kesejukan yang luar biasa. Kakinya … hehehe … dia merasa raganya melayang tak menyentuh tanah.
Ilmu yang ada di dalam dadanya berkata, “Listi, dulu aku pernah berkata bahwa Allah pasti akan
memberikan ganti yang lebih baik dari Mas Rasyed. Badru … hehehe … kayaknya ini paket dari Allah
untukmu. Inilah saatnya gelisah berganti senyuman, duka lara berganti riang gembira, tangis

27

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

berubah menjadi tawa, kesulitan berganti dengan kemudahan. Listi … cobalah tersenyum! Kamu
dapat satu koin emas lagi dari langit. Selamat, ya …” Listi-pun tersenyum merekah.

Sehari kemudian

Setelah melaksanakan sholat isya’, biasanya Listi nonton TV bentar, tapi … hehehe …
nampak dia lagi membuat kopi hitam panas. Setelah jadi, diciumnya aroma kopi sambil tersenyum
puas. Hmm … biasalah, namanya juga lagi ketemu jodoh, semua nampak hepi dari A mpe Z, halah …
hahaha.

Dia rebahan nyantai di teras depan rumah. Bangku panjang dari bambu cukup membuat badannya
nyaman. Sambil sesekali nyeruput kopi, hatinya berbisik, “Wahai ilmu yang ada di dalam dadaku,
kita ngobrol, yuk!”

Ilmu: “Siap. Oya, ntar kalau kamu jadi menikah ama Badru … hehehe … kayaknya dia mempunyai
buku satu lemari penuh, sedangkan bukumu dua lemari penuh. Ntar kalau dijadikan satu, pasti
menjadi tiga lemari penuh, ya?”

Hati: “Bukan tiga lemari, tapi lima lemari.”

Ilmu: “Lho, kok bisa?”

Hati: “Setelah menikah, kita berdua pasti belanja buku dong, buanyak … buanyak bener, hahaha.”

Ilmu: “Oya, aku mpe lupa. Listi, kuamati dengan seksama, kayaknya belum pernah kamu sebahagia
hari ini.”

Hati: “Memang kok. Sepandai-pandainya wanita tapi kalau tak mempunyai suami, dia tetap merasa
tak mempunyai apa-apa.”

Ilmu: “Pasti sepi, ya?”

Hati: “Iya. Ada juga yang memuja kesepian, ada yang membenci kesepian. Hmm … hidup cuman
sekali, aku tak mau kesepian. Wahai ilmu, apakah kamu setuju jika aku menikah dengan Mas Badru.”

Ilmu: “ISSEKA.”

Hati: “What???? Apa itu ISSEKA?”

Ilmu: “Pada dasarnya kebahagiaan tuh ada tiga: ISSEKA, kepanjangan dari islam, sehat, kaya. Jika
kamu menikah dengan Badru, maka keislamanmu akan semakin bagus, aku yakin kesehatanmu juga
bagus, dan … kaya … hehehe.”

Hati: “Aku nggak gila harta kok.”

Ilmu: “Emm … maksudnya kaya tu … ntar hidupmu bisa mandiri, tak lagi bergantung kepada orang
lain. Walau kita rajin ibadah, sehat, tapi masalah keuangan tak juga selesai-selesai, maka sulit untuk
mengatakan kalau bahagia.”

Hati: “Hmm … benar banget.”

Ilmu: “Pesanku: bisa jadi Badru itu adalah kiriman paket dari Allah. Jadi terima aja dengan ikhlas,
ridho dan syukur. Kadang paket terkirim hanya sekali. Setelah itu, tak ada paket lagi yang turun dari
langit.”

28

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Hati: “Maksudnya?”

Ilmu: “Duh, kok kamu lelet, to? Gini … misal ada wanita, umurnya sudah 23 tahun, dilamar lelaki.
Tiba-tiba dia menolaknya padahal tuh lelaki sangat sholih. Maka bisa jadi, tak ada lelaki lagi yang
melamarnya. Hmm … bisa jadi dia menjadi perawan seumur hidup.”

Hati: “Hmm … kamu memang benar-benar teman sejati.”

Ilmu: “Listi, aku mau bertanya kepadamu tentang hal pribadi, boleh?”

Hati: “Silakan!”

Ilmu: “Emm … kenapa kamu tidak menghafalkan doa sebelum bersenggama?”

Hati: “Duh, aku malu menjawabnya.”

Ilmu: “Padahal kamu tuh hafal ratusan ayat Qur’an. Hafal juga ratusan hadis, hafal ratusan lembar
ilmu islam, tapi kenapa kamu kamu tak mau menghafal doa sebelum bersenggama?”

Hati: “Emm … ntar aja lah, kalau sudah akad nikah, aku baru mau menghafalnya. Hehehe, jika
menghafal sekarang … duh … image di pikiranku tuh aneh-aneh, e … hahaha.”

Ilmu: “Oalaaa.”

Hati: “Duh, kok aku jadi takut, ya? Saat aku menginjak baligh, aku tu belum pernah bersanding
dengan laki-laki. Pernah aku sekali bersanding dengan lelaki dalam bis jurusan Semarang … duh …
aku tuh gemetar. Sekujur tubuhku gemetar. Ntar kalau aku bersanding dengan Mas Badru, kalau aku
gemetar mpe pingsan, piye jal?”

Ilmu: “Wah kalau masalah gituan, gue nggak paham. Emm … gimana kalau latihan dulu?”

Hati: “Husss … masalah ginian tuh nggak ada latihannya … hahaha. Emangnya belajar sholat, pakai
latihan segala … duh … hahaha.”

Ilmu: “Ya udah … pasrah aja! Yang terjadi, biarlah terjadi, jieee … hahaha. Lagian, ratusan juta gadis
di bumi ini juga enjoy kok. Jadi, aku yakin kamu pasti enjoy, hahaha.”

Hati: “Iya, moga-moga aja. Wahai ilmu, Mas Badru tu … menurutmu anugerah atau cobaan?”

Ilmu: “Nggak usah mikir jauh-jauh! Masa depan bukan milik kita, masa lalu juga bukan milik kita.
Satu-satunya milik kita adalah hari ini. Nikmati aja pernikahan ini! Kalau memang anugerah, silakan
disyukuri! Kalau memang cobaan, silakan latihan sabar!”

Hati: “Iya, terima kasih sudah menasihatiku. Kira-kira apa yang harus aku lakukan supaya suamiku
kelak bisa bahagia bersanding denganku?”

Ilmu: “Listi, kamu tuh sudah mempunyai habit yang bagus, bahkan sangat bagus. Kamu dah terbiasa
bangun malam untuk sholat malam, rajin menghafal, rajin membaca, rajin bekerja, patuh orang tua,
dan lain-lain. Ya udah, jalankan aja kebiasaanmu ini! Itulah aslinya dirimu, gak usah aneh-aneh! Gak
usah ingin jadi orang lain!”

Hati: “Hmm … benar juga. Tapi … aku kan harus tampil cantik di depan suami.”

Ilmu: “Oya, mpe lupa. Silakan beli parfum, bedak, wis pokoknya gimana caranya kamu bisa tampil
cantik di depan suami, kamu harus kerjakan!”

29

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Hati: “Aku tak bisa memakai bedak.”

Ilmu: “Duh … emm … belajar aja lewat youtube!!!”

Hati: “Hahaha … emang youtube hebat banget, ya. Aku belajar memakai jilbab juga dari youtube.
Bahkan belajar masak opor ayam juga dari youtube.”

Ilmu: “Satu lagi, bersenggama dengan suami adalah termasuk ibadah yang paling disukai Allah,
sekaligus paling dibenci ama setan. Kenapa setan sangat membenci? Karena setan tuh paling suka
memisahkan rumah tangga kaum muslimin. Setan sangat membenci jika ada suami istri yang mesra-
mesra’an. Jadi … menurutku … sering-seringlah kamu ber …”

Hati: “Wis … wis, tentang bab adabul firosh … gak usah dibahas!!!! Hahaha.”

Ilmu: “Aku suka mendengar tertawamu yang renyah.”

Hati: “Aku juga suka menjadi sahabatmu selamanya. Wahai ilmu, terima kasih sudah mengajariku
tentang berbagai masalah kehidupan.”

Ilmu: “Bukan hanya di dunia, ntar di alam kubur, aku juga masih menemanimu. Nanti, aku akan
menjelma menjadi perempuan yang sangat cantik yang akan menjadi sahabatmu selamanya …
jutaan tahun.”

Hati: “Oya … aku yakin kamu pasti sangat cantik.”

Ilmu: “Saat di akhirat, kita berdua akan sujud bersama di hadapan Allah.”

Hati: “Bukan berdua, tapi bertiga.”

Ilmu: “Kok bisa???”

Hati: “Lha Mas Badru? Kasihan dia … masak harus ditinggal.”

Ilmu: “Oya … hehehe … aku mpe lupa. Semoga kalian berdua menjadi suami di dunia maupun di
akhirat.”

Hati: “Amin. Wahai ilmu … I luv you.”

------

30

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Bab 3

Dunia Hanya Membutuhkan Nilai Seratus

Padahal di dalam ruangan ber AC, tapi dahi Sekar kelihatan berkeringat. Seratus soal harus
dia selesaikan dalam waktu dua jam. Usia Sekar menginjak 24 tahun. Sebulan lalu dia melamar kerja
di Jakarta, tapi gagal. Kini dia ikut test calon karyawan di salah satu perusahaan ternama di
Semarang.

Sepuluh menit lagi waktu bakalan habis. Kini nampak wajah Sekar sumringah. Sejenak dia
istirahat sambil memperhatikan jiwa dan hatinya ngobrol.
Jiwa: “Sebenarnya soalnya gak susah amat, tapi … duh … aku khawatir gagal.”
Hati: “Lihatlah sekelilingmu! Ada hampir seribu manusia yang ikut test bersama kita.”
Jiwa: “Duh … padahal perusahaan cuman butuh sepuluh orang. Berarti …”
Hati: “Sembilan ratus sembilan puluh orang bakalan terbuang.”
Jiwa: “Hmm … aku pasrah, benar-benar pasrah.”
Hati: “Eh, lihatlah Si Hera! Dia tersenyum melihatmu.”
Jiwa: “Benar, kayaknya dia sudah kelar mengerjakan semua soal. Hmm … jangan-jangan dia bakalan
lolos.”
Hati: “Semoga aja kita berdua lolos test ini.”

Tiga hari kemudian, lewat internet, mereka bisa mengetahui bahwa nilai test mereka 95.
Sontak mereka berdua jungkir balik karena kegirangan maksimal, hahaha.
Sekar: “Fren, kita berhasil.”
Hera: “Itu kan baru nilai yang keluar. Tentang diterima kerja atau tidak, belum diumumkan.”
Sekar: “Tapi dengan nilai segitu, aku yakin kita bakalan kerja, hehehe.”
Hera: “Coba katakan sekali lagi!”
Sekar: “Kita bakalan k-e-r-j-a.”
Hera: “Sekali lagi!”
Sekar: “Kita bakalan kerja.”
Hera: “Sekali lagi!”
Sekar: “Duh … lebay banget.”
Hera: “Hahaha, aku sangat bahagia mendengar kata … ‘kerja’.”
Sekar: “Sama. Ntar kalau kita dah kerja, kayaknya gaji kita hampir 5 juta, ya?”
Hera: “Bukan, tapi hampir 8 juta.”

31

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Sekar: “Oya? Mantap … tap … tap. Gaji pertama, gue bakalan beli iphone.”

Hera: “Gue samsung S6 aja.”

Sekar: “Gue bakalan kredit motor beat.”

Hera: “Aku … mio aja deh.”

Sekar: “Aku mau liburan ke Bali dua hari.”

Hera: “Kalau aku … emm … ke Singapore aja, lebih keren.”

Mereka berdua mabuk berat, hehehe … bukan hanya mabuk, melainkan … sakau. Tapi,
gimana lagi, namanya aja remaja, biarlah sejenak mereka berkhayal, karena hidup ini sangat pendek
jika harus terus under pressure.

Sehari kemudian, mereka berdua download daftar nama yang diterima oleh perusahaan.
Sejenak Sekar menarik nafas dalam-dalam dengan posisi mata terpejam. Hera … dia tak mampu
melihat display tab. Dia ketakutan dan khawatir jangan-jangan namanya tak ada dalam daftar itu.
Dia hanya bisa terpejam.

Dengan mengucap bismillah, Sekar mulai melihat satu persatu nama-nama yang berhasil
lolos. Nomor satu … bukan namanya. Nomor dua … juga bukan namanya. Nomor tiga … juga bukan
namanya. Kini tinggal tujuh nomor lagi. Dia tak kuat melihat karena saking gemetarnya. Sejenak dia
memejamkan mata, mengelap keringat yang terus membasahi dahi.

Hera: “Sekar, apa kamu sudah melihat semua?”

Sekar: “Be … be … belum, hanya sampai nomor tiga. Aku deg-degan.”

Hera: “Sama, aku juga. Duh … aku mpe ngompol e, fren … duh.”

Sekar: “Parah.”

Hera: “Begitulah kalau aku super ketakutan … mpe ngompol.”

Setelah minum seteguk air, kini Sekar kembali memaksa matanya untuk memeriksa daftar
itu. Dia mengamati nomor empat, lima … enam … hingga sepuluh … tak ada namanya, juga tak ada
nama Hera. Hanya 10 orang yang diterima, dan … mereka tak ada di daftar itu.

Sejenak angin terdiam, tangan Sekar gemetar menggenggam tab. Pandangannya kosong.
Cita-citanya musnah. Tak terasa … air mata menetes deras. Hera melihat air mata Sekar, tanpa
mengucap sepatah kata apapun, dia langsung nangis sesenggukan.

Satu jam kemudian, nampak air mata sudah mengering. Sambil nyeruput susu coklat
hangat, sejenak mereka bicara dengan wajah yang sangat lesu.

Sekar: “Eh, coba tolong lihat sekali lagi daftar nama-nama orang yang diterima PT!”

Hera: “Fren, sudah kulihat ratusan kali. Nama kita tak ada.”

Sekar: “Bukan itu maksudku. Siapa nama pertama yang ada di list itu?”

Hera: “Emm … Zakki.”

Sekar: “Apa ada nomor HP nya?”

32

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Hera: “Ada, nih liat sendiri!”

Sekar: “Aku akan nelpon orang ini.”

Hera: “Untuk apa? Duh kamu ini kepo banget.”

Sekar: “Sttt … diam!!!!”

Hera bingung … ngapain Sekar telpon Zakki? Kawan … bukan. Saudara … bukan. Kenalan …
juga bukan. Duh …

Sekar: “Halo … assalamu’alaikum.”

Zakki: “Walaikum salam. Ini siapa?”

Sekar: “Ini Sekar, Mas. Oya, kenalkan … nama saya Sekar. Saya juga ikut test masuk perusahaan. Tapi
… saya gagal.”

Zakki: “Saya ikut prihatin, Dhek.”

Sekar: “Mas, kok Panjenengan bisa lolos, gimana historisnya?”

Zakki: “Test kemarin, nilaiku 100.”

Sekar: “Whattttt? Padahal nilaiku dah 95 lho, Mas.”

Zakki: “Kemarin aku sempat ngobrol ama HRD perusahaan. Beliau menerangkan bahwa dari 1000
pelamar kerja, yang 900 peserta mempunyai nilai 80an. Yang 90 peserta mempunyai nilai antara 91-
99. Hanya sepuluh orang yang mempunyai nilai 100.”

Sekar: “Jadi … kesepuluh orang yang diterima kerja itu, nilai mereka 100 semua?”

Zakki: “Iya Dhek.”

Sekar: “Duh … mumet Mas … Mas.”

Hikmah kisah ini: dunia kerja berbeda jauh dengan dunia sekolah. Saat kita di bangku
sekolah, mendapat nilai 90, duh … senengnya minta ampun. Dapat nilai 97 … hehehe … jingkrak-
jingkrak bagai mendapat bintang jatuh. Tapi dalam dunia kerja … hanya yang terbaik yang akan
mendapat pekerjaan. Si Zakki … nilainya 100, mendapat gaji 8 juta. Si Sekar, nilanya 95. Berapa
gajinya? Bukan 6 juta, juga bukan 3 juta, melainkan gajinya nol. Hmmm … nol … sekali lagi nol alias
jobless. Begitulah dunia kerja … kejam, sadis, tega. Perusahaan tak mau menggaji orang dengan
kemampuan nilai 90 atau 99. Mereka hanya mencari manusia dengan nilai 100. Oleh karena itu,
marilah kita didik anak-anak kita dengan sangat serius! Jangan puas dengan nilai 90 atau 95. Tetap
fokus berusaha untuk meraih nilai 100 karena … dunia kerja menomorsatukan manusia dengan
kualifikasi nilai 100.

------

33

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Bab 4
Elang

Bapak: “Nak, kulihat nilai matematikamu … cuman 60.”
Anak: “Soalnya sulit banget, Pak. Di kelas, malahan banyak yang dapet 20.”
Bapak: “Pelajaran pendidikan agama, kenapa nilainya cuman 70?”
Anak: “Banyak dalil yang harus dihafal. Itupun harus sekalian terjemahannya. Duh … sulit banget,
Pak.”
Bapak: “Kamu sudah hampir kuliah, lho … kenapa semua nilai pas-pasan gini?”
Anak: “Yang penting aku sudah usaha.”
Bapak: “Nak, menurutmu … pelajaran apa yang paling kamu sukai?”
Anak: “Kimia. Nih aku dapet 80.”
Bapak: “Cuman 80?”
Anak: “Hehehe, itu dah lumayan lho. Teman-teman paling cuman dapat nilai 60.”
Bapak: “Tentang hafalan surat Ad Dhuha?”
Anak: “Emm … lupa e, Pak … hehehe.”
Bapak: “Kalau Al Bayyinah?”
Anak: “Setengah lupa. Dulu aku sangat hafal saat SMP. Sekarang dah lupa.”
Bapak: “Ok, mumpung kita lagi berdua, aku akan bertanya kepadamu. Menurutmu, kamu termasuk
golongan pemuda yang pintar atau biasa-biasa aja?”
Anak: “Kayaknya aku biasa-biasa aja.”
Bapak: “Apa kamu yakin?”
Anak: “I … i … iya, aku yakin.”
Bapak: “Baiklah. Sekarang kita test: apakah kamu sanggup menghafal 30 ayat pertama dari surat Al
Baqarah? Bapak beri waktu tiga hari untuk menghafalnya.”
Anak: “Duh, aku gak bakalan hafal, Pak. Otakku takkan mampu.”
Bapak: “Kalau kamu hafal, Bapak akan memberimu duit lima juta rupiah.”
Anak: “Lima juta??????”
Bapak: “Benar. Lima juta … cash.”

Anak: “Siap Pak. Duit lima juta akan membuatku very clever, hahaha.”

34

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Tiga hari kemudian, Sang Anak setor hafalan ke Bapaknya dan … tu anak benar-benar hafal. Bahkan
sangat hafal, tak ada yang salah sedikitpun. Bahkan Sang Anak berkata, “Pak, untuk Al Baqarah ayat
31-60, aku siap menghafal lagi, asalkan ada lima juta lagi, hahaha.”

Bapak: “Wow, ternyata kamu memang pandai banget.”

Anak: “Lima juta rupiah membuat otak beku menjadi encer, Pak … hahaha.”

Bapak: “Nak, apa kamu mau tantangan lagi?”

Anak: “Siap, asalkan ada duit, semua siap, hehehe.”

Bapak: “Tolong kamu menghafal satu juz Qur’an, hadiahnya 100 juta.”

Anak: “Wah, mantap nih … hehehe. Siap, Pak.”

Bapak: “Hafalan dua juz, hadiahnya 200 juta.”

Anak: “Naa … ini baru jos markojos. Kayaknya bentar lagi gue jadi kaya raya.”

Bapak: “Ok, sekarang Bapak nggak mau bicara masalah uang. Bapak mau bicara masalah
kepandaianmu.”

Anak: “Enggih Pak.”

Bapak: “Kemarin kamu bisa menghafal 30 ayat Al Baqarah. Itu menandakan bahwa kamu sangat
pandai. Allah merancang manusia dengan otak yang sangat menakjubkan. Hanya dalam tiga hari,
sekali lagi … hanya tiga hari, kamu bisa hafal 30 ayat.”

Anak: “……….” (mangguk-mangguk)

Bapak: “Nak, mulai sekarang, jangan pernah menganggap dirimu biasa-biasa saja! Kamu harus
menganggap dirimu pandai, bahkan super pandai, karena kamu telah membuktikannya.”

Anak: “Tentang masalah duit, gimana Pak?”

Bapak: “Duit hanyalah masalah motivasi sementara. Kamu harus menemukan motivasi yang
permanen supaya kamu tetap giat belajar, giat menghafal, tidak tergantung dengan motivasi
sementara itu.”

Anak: “Motivasi permanen … kira-kira apa, ya?”

Bapak: “Semua Nabi adalah pandai. Jika kamu ingin meneladani para Nabi, maka kamu harus
meneladani mereka dalam hal kepandaian.”

Anak: “Hmm … ada motivasi lagi?”

Bapak: “Para penghuni sorga adalah hamba-hamba yang pandai, sedangkan ciri penghuni neraka
adalah manusia-manusia bodoh. Hidup adalah pilihan, kamu bisa memilih sorga atau neraka, tak ada
yang memaksamu. Tapi kalau Bapak boleh berpesan, silakan memilih seperti pilihan para Nabi.”

Anak: “Enggih Pak.”

Bapak: “Satu lagi, Nak … bertahun-tahun Bapak membantumu. Jungkir balik kami orang tua mencari
uang halal demi memberi nafkah kamu dan adik-adikmu. Bapak ama Ibu nggak minta balasan apa-

35

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

apa. Kami hanya minta satu hal saja … belajarlah yang super rajin! Silakan pelajari ilmu islam dengan
sangat tekun! Hanya itulah yang akan membuat kami bahagia dunia akhirat.”

Anak: “Enggih Pak.”

Bapak: “Seratus tahun yang lalu mungkin orang yang memegang banyak uanglah yang akan kuat.
Tapi sekarang bukan seperti itu. Now … orang yang paling banyak ilmu-lah yang akan kuat. Itulah
kenapa para presiden dikelilingi oleh orang-orang yang pandai, bukan orang-orang kaya.”

Anak: “Kayaknya kalimat ini mengena banget.”

Bapak: “Nak, hidup hanya sekali. Mungkin 70 tahun lagi kamu sudah tidak di atas tanah lagi. Maka
dari itu, selagi kamu masih di atas tanah, silakan kamu habis-habisan untuk belajar, mencari ilmu
dan kegiatan positif lainnya.”

Anak: “Tapi temanku tak ada yang seperti itu?”

Bapak: “Mereka tak tahu ilmu ini. Mereka malas karena belum kenal dengan dirinya sendiri.
Sekarang kamu sudah mengenal dirimu sendiri bahwa kamu pandai, kamu smart, kamu ingin
meneladani Nabi Muhammad SAW yang pandai, kamu ingin fokus akhirat, kamu ingin
membahagiakan ortu dengan ilmu dan prestasi. Dengan point-point inilah, maka kamu tidak sama
dengan mereka. Kamu jauh di atas mereka.”

Anak: “Hmm … benar juga.”

Bapak: “Kamu ibarat elang, Nak. Elang selalu terbang sendiri, tidak menggerombol, begitulah
kebiasaan para pemimpin.”

Anak: “Oya?”

Bapak: “Nabi Muhammad sering menyendiri di goa Hiro. Imam Ahmad menyendiri di penjara.
Hamka juga menyendiri di penjara. Kesendirian inilah yang akan membersihkan hati, menguatkan
keinginan belajar dan menghafal. Menyendiri akan membuat sujud menjadi semakin khusyu’.
Menyendiri akan membuat otak ini kuat menghafal.”

Anak: “Pak, doakan saya semoga bisa melaksanakan semua wejangan ini.”

Bapak: “Nak, saat di masjid, silakan menghafal. Saat di kamar, silakan belajar. Saat di keramaian,
silakan berdzikir. Saat di tengah alam, silakan bertafakkur. Inilah jalan yang kami lalui setiap hari
hingga nanti ajal menjemput.”

Anak: “Enggih Pak … doakan saya semoga bisa menjalaninya dengan ikhlas.”

Bapak: “Biar kamu nyaman, setiap pagi … janganlah berkata: saya harus rajin! Nggak usah
menggunakan kata harus, entar jiwamu malahan jadi terpaksa. Padahal keterpaksaan itu nggak
nyaman. Kata ‘harus’, silakan ganti aja dengan kata ‘memilih’. Jadi, tiap pagi katakan dalam hati: hari
ini saya memilih untuk rajin, hari ini saya memilih untuk belajar. Hari ini saya memilih untuk
meneladani para Nabi yang pandai. Hari ini saya memilih untuk menjadi pandai.”

Anak: “Pak, hari ini dan seterusnya saya memilih untuk rajin belajar.”

Bapak: “Pilihan yang tepat. Bapak yakin Allah akan menguatkan hatimu untuk tetap istiqomah
dalam belajar dan menghafal.”

------

36

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Bab 5

Ilmu Yang Tidak Diajarkan Di Sekolah

Mobil SUV melaju pelan melewati alam pedesaan yang menghijau. Sebenarnya sore tadi
mendung, tapi tak juga turun hujan. Mobil itu hanya berisi dua orang yaitu Bu Rahma dan putrinya
… Mbak Finka. Emm … sebenarnya Finka bukanlah anak kandung beliau. Bu Rahma belum juga
dikaruniai anak padahal sudah menikah hampir 20 tahun. Tapi … gimana lagi, mungkin sudah
takdirnya seperti itu. Finka adalah keponakan beliau, tapi diasuhnya dari bayi sehingga sudah seperti
anak sendiri. Sambil menikmati indahnya suasana sore, sejenak mereka berdua bicara santai di
dalam mobil.

Bu Rahma: “Musim hujan sudah tiba.”

Finka: “Enggih Bu. Kalau aku … bentar lagi harus UAS.”

Bu Rahma: “Oya? Hehehe, tak terasa bentar lagi kamu akan duduk di bangku SMA ya, Nak.”

Finka: “Semoga aja bisa masuk SMA 3.”

Bu Rahma: “Ibu terus berdoa, Nak. Oya, selain belajar buku-buku sekolah, cobalah belajar kepada
Alam!”

Finka: “Maksudnya?”

Bu Rahma: “Nak, coba perhatikan di luar mobil ini! Angin berhembus begitu kuat. Angin
mengajarkan kepada kita satu ilmu yang sangat penting.”

Finka: “I’m listening.”

Bu Rahma: “Angin mengajarkan kejujuran kepada kita. Ada tetangga yang lagi menggoreng ikan
asin. Bau ikan asin yang sedap terbawa angin. Lalu bau itu masuk ke hidung orang kaya … tetap bau
ikan asin. Bau itu juga masuk ke hidung orang miskin … tetap asin. Angin tak pernah merubah
sedikitpun karena angin itu jujur.”

Finka: “Hmm … kalimat yang indah.”

Bu Rahma: “Nak, pesan Ibu … jangan pernah keluar rumah tanpa membawa kejujuran! Kebohongan
takkan pernah menyelesaikan masalah, malahan menambah masalah.”

Finka: “Enggih Bu.”

Bu Rahma: “Perhatikan tanah perkebunan jagung itu! Nak, tanah juga mengajarkan kepada kita
tentang satu ilmu yaitu amanah … bisa dipercaya.”

Finka: “Gimana penjelasannya?”

Bu Rahma: “Pak tani berkata, ‘Wahai tanah, saya titip biji jagung. Tolong tumbuhkan pohon jagung!’
Lima hari kemudian, tumbuhlah pohon jagung. Kenapa? Karena tanah bisa dipercaya.”

Finka: “Tak kusangka Panjenengan visioner banget.”

37

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Bu Rahma: “Nak, hidup hanya sekali. Jadilah orang yang amanah. Semua Nabi mempunyai sifat
amanah. Bapak … Ibu … terus latihan supaya menjadi amanah.”

Finka: “Enggih Bu.”

Bu Rahma: “Bangsa ini sangat membutuhkan manusia-manusia yang amanah seperti tanah. Tapi …
para koruptor merusak hampir semua keharmonisan bangsa kita ini.”

Finka: “Bu, dari sini aku melihat pohon beringin yang daunnya begitu lebat. Hehehe … beberapa
anak main di bawahnya.”

Bu Rahma: “Pohon … ada ilmunya juga lho, Nak.”

Finka: “Aku siap mendengarkan, Bu.”

Bu Rahma: “Nak, kadang manusia itu seperti empat jenis pohon. Ada pohon yang buahnya banyak,
tapi tak ada daunnya. Yang kedua, ada pohon yang lebat daunnya, tapi tak ada buahnya. Ada juga
pohon yang lebat daunnya, buahnya juga banyak. Yang keempat, ada pohon yang tak ada daunnya,
juga tak ada buahnya.”

Finka: “Artinya gimana, Bu?”

Bu Rahma: “Adapun jenis pohon pertama yaitu buahnya banyak tapi tak ada daunnya. Pohon ini
melambangkan manusia yang rajin ibadah, rajin mencari sorga namun tak mau memberi manfaat
kepada masyarakat. Hubungannya sangat baik kepada Allah, namun kurang baik kepada
masyarakat.”

Finka: “Tentang pohon yang daunnya lebat namun tak ada buahnya?”

Bu Rahma: “Itu melambangkan manusia yang memberi manfaat sangat banyak kepada masyarakat.
Dia sering menyumbang tapi … hubungannya dengan Allah sangat buruk. Sholat … kagak. Puasa …
tak pernah.”

Finka: “Tentang pohon yang daun dan buahnya lebat???”

Bu Rahma: “Pohon ketiga ini melambangkan manusia yang hubungannya kepada Allah sangat baik.
Demikian juga hubungannya dengan masyarakat … sangat baik. Dia rajin sholat, rajin puasa, rajin
berderma, membantu masyarakat. Nak … inilah yang Ibu inginkan. Jadilah manusia yang golongan
ini, ya Nak!”

Finka: “Enggih. Tentang pohon keempat?”

Bu Rahma: “Hehehe … pohon ini tak mempunyai daun, buah juga tak ada. Ini melambangkan
manusia yang tak pernah ibadah, juga tak pernah mengabdi ke masyarakat. Hidupnya hanya untuk
dirinya sendiri. Inilah manusia yang paling buruk.”

Mobil terus melaju seiring dengan ilmu yang terus menghiasi kalbu Finka.

Finka: “Bu, coba lihat ke arah samping kiri … hehehe … bunga pada bermekaran, duh … indah
banget.”

Bu Rahma: “Itu ada ilmunya juga, lho Nak.”

Finka: “Oya?”

38

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Bu Rahma: “Bayangkan di dalam hatimu ada tanah atau kebun yang sangat lapang. Satu kebaikan
yang kamu kerjakan ibarat satu bunga yang tumbuh di kebun itu. Sepuluh kebaikan … sepuluh bunga
yang tumbuh. Sejuta kebaikan … maka sejuta bunga yang tumbuh di kebun itu. Jutaan bunga itu
akan mengharumkan ruhmu, mengharumkan ruh anak-anakmu kelak. Jutaan bunga itu akan
mengharumkan masyarakat sekitarmu.”
Finka: “Hmm … maknanya dalem banget ya, Bu?”
Bu Rahma: “Nak, silakan terus belajar! Perbanyak ibadah karena hanya itulah jalan yang paling
mudah menuju ke kebahagiaan yang sebenarnya.”
Finka: “Bu, lihatlah ke arah selatan! Ada orang tua yang lagi memanggul kayu.”
Bu Rahma: “Beliau sangat tua. Bisa jadi pahalanya sudah sangat banyak, sedangkan kita … masih
sangat sedikit.”
Finka: “Bu, lihatlah ke arah kiri, ada orang pincang.”
Bu Rahma: “Hmm … bisa jadi dengan pincangnya itu, beliau tak pernah mendatangi maksiat
sehingga selamatlah dia. Banyak manusia yang diberi kaki yang sehat dan kuat, tapi malahan untuk
melangkah menuju maksiat.”
Finka: “Bu, dari arah kanan, kulihat ada orang buta.”
Bu Rahma: “Iya … ibu lihat, Nak. Beliau memang buta. Ibu yakin … dengan kebutaannya itu, beliau
tak pernah melihat yang tak senonoh. Mata beliau dijaga Allah sehingga selamat dari maksiat. Bisa
jadi orang inilah calon penghuni sorga yang sebenarnya.”
Finka: “Hmm … hari ini aku mendapat ilmu yang banyak dari Panjenengan ya, Bu.”
Bu Rahma: “Ibu hanya berharap kamu menjadi putri yang sholihah, visioner, berwawasan luas dan …
terus belajar.”

------

39

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Bab 6
Erick Feng

Sambil tangan memegang buku raport sekolah, hmm … nampak wajah Arum di selimuti
mendung tebal. Hampir aja air matanya jatuh membasahi daftar nilai yang … duh … nggak ada nilai
UAS yang di atas tujuh. Semua nilai di raport hanya enam koma, bahkan ada yang lima.

Arum duduk di bangku kelas 4 SD, kini lagi berduka karena nilai raportnya yang buruk,
dapat ranking tiga tapi dari belakang. Jiwanya resah …
Jiwa: “Andai Bapak ama Ibuk tahu raport ini, pasti mereka bakalan marah.”
Hati: “Mereka paling marah dikit aja kok.”
Jiwa: “Ngawur, bukan marah dikit. Duh … apa yang harus aku lakukan?”
Hati: “Pulang aja! Siap-siap kena marah. Dah … itu aja, lalu nge-game lagi.”
Jiwa: “Hmm … apa ada solusi lain?”
Hati: “Gimana kalau nge-mall dulu?”
Jiwa: “Hahaha … duitmu tinggal 5 ribu, di mall mau beli apa? Emm, kok tiba-tiba aku jadi ingat ama
Si Erick, ya? Si Erick Feng … hmm … kenapa dia bisa ranking satu?”
Hati: “Dia orang china. Kayaknya orang china tuh tekun-tekun. Nggak kayak orang kita, hehehe.”
Jiwa: “Hmm, gimana kalau aku akan bertanya ke Erick tentang cara belajar yang efektif?”
Hati: “Boleh. Tuh Erick dah lewat di depanmu.”

Arum memanggil Erick. Nampak mereka berbicara beberapa kalimat. Kini mereka berdua
menuju ke kantin sekolahan, pesan nasi pecel ama teh hangat.
Erick: “Nasi pecelnya lumayan enak, ya?”
Arum: “…………….”
Erick: “Kok kamu diam aja? Wajahmu nampak sedih banget, kenapa?”
Arum: “Bapakku akan membunuhku.”
Erick: “Whatttt???? Jangan asal bicara, to!”
Arum: “Nilai raportku jeblog. Hmm … aku takut pulang ke rumah.”
Erick: “Aku ikut berduka.”
Arum: “Aku bingung … duh …”
Erick: “Nyantai aja! Nggak ada orang tua yang tega ama anaknya.”
Arum: “Eh, kenapa kamu bisa ranking satu?”

40

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Erick: “Nggak tahu.”

Arum: “Halah, pasti kamu merendahkan hati.”

Erick: “Bener, aku nggak tahu. Setiap hari senin sampai sabtu … aku belajar dua jam sehari. Itu aja,
gak ada yang lain. Aku juga nggak ikut les atau bimbel kok.”

Arum: “Aku juga belajar dua jam sehari.”

Erick: “Apa kamu belajar sendiri atau ditemanin ama HP?”

Arum: “Hehehe, kok kamu tahu?”

Erick: “Cuman nebak aja kok.”

Arum: “Kelihatannya sih belajar, tapi sebenarnya aku banyak main game di HP dan tab, hehehe.
Bosan banget jika harus belajar terus.”

Erick: “Kalau aku … benar-benar belajar sendiri, gak ada HP, gak ada musik, gak ada gadged. Aku
fokus 100% belajar.”

Arum: “Kamu hebat.”

Erick: “Bukan hebat. Mungkin sudah menjadi kebiasaan di keluargaku yang sangat disiplin. Seluruh
anggota keluargaku rajin belajar. Bahkan bapakku yang sudah tua juga rajin belajar.”

Arum: “O ya? Beda banget ama keluargaku. Mereka menyuruhku belajar, tapi mereka sendiri tak
pernah belajar. Kerjaannya hanya nonton TV, nge-game, dan membuang-buang waktu. Erick, sekali
lagi … kamu sangat beruntung mempunyai keluarga seperti itu.”

Tiga tahun kemudian

Mereka sudah duduk di kelas satu SMP. Erick masih tetap ranking satu, sedangkan Arum
ranking empat. Mereka berdua lagi menikmati ice cream di salah satu sudut mall.

Erick: “Sudah dua hari ini kuamati kamu memakai jilbab.”

Arum: “Iya … aku sudah mens, jadi aku sudah harus menutup aurat.”

Erick: “Aku gak paham dengan agama islam.”

Arum: “Tenang aja, kita kan hidup di Negara Indonesia dimana semua agama berdampingan, tak ada
yang boleh memaksa.”

Erick: “Oya, emm … maaf, tadi bapakku menyuruhku membeli vodka.”

Arum: “Whattt???? Itu kan minuman keras. Kenapa diminum?”

Erick: “Agama kami membolehkan.”

Arum: “Duh … aku mpe lupa. Lakum dinukum waliyadin.”

Erick: “Apa artinya?”

Arum: “Bagimu agamamu, bagiku agamaku.”

Erick: “Aku mau masuk mall untuk membeli vodka. Apa kamu ikut?”

41

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Arum: “Duh … aku bingung? Aku nggak pernah ikut beli gituan. Emang kamu juga ikut minum tuh
vodka?”

Erick: “Enggak. Usiaku belum 18 tahun.”

Arum: “Kalau entar usiamu sudah 18 tahun, apa kamu minum vodka juga?”

Erick: “Nggak tahu. Mungkin iya. Arum, ntar abis beli vodka, aku juga mampir ke dept store yang ada
di lantai tiga.”

Arum: “Mau beli apa?”

Erick: “………….”

Arum: “Lho kok diam? Erick, kamu bau beli apa?”

Erick: “… Emm … daging babi.”

Arum: “Whattt?????” (Arum sontak kaget. Wajahnya memerah, matanya melotot. Tapi dia langsung
mengingat akan toleransi beragama. Jadi … diapun tersenyum)

Erick: “Bapak yang menyuruhku.”

Arum: “Apa kamu ikut makan juga?”

Erick: “I … i … iya.”

Arum: “……….” (lagi-lagi Arum kaget, tapi dia cepat mengingat kata toleransi)

Erick: “Eh, di dalam agamamu, babi nggak boleh dimakan, ya?”

Arum: “Iya, hukumya haram. Erick, emm … apa aku boleh bertanya?” (Arum memasang wajah
penasaran sambil senyam-senyum)

Erick: “Silakan!”

Arum: “Apa kamu pernah memasak daging babi?”

Erick: “Seminggu yang lalu. Itulah pertama kali aku memasak daging babi. Gampang kok, daging
yang sudah dicincang, lalu kucampur dengan garam, merica dan vitsin, lalu aku masukkan ke wajan
dengan sedikit minyak.”

Arum: “Kenapa minyaknya cuman sedikit?”

Erick: “Kalau wajan panas, maka lemak babi akan berubah menjadi minyak. Jadi nggak perlu pakai
minyak goreng terlalu banyak sehingga bisa ngirit minyak goreng.”

Arum: “Saat daging babi digoreng, apakah mengeluarkan bau?”

Erick: “Iya, baunya harum dan gurih kayak mentega.”

Arum: “O ya??? Cuman gitu doang?”

Erick: “Iya, kunikmati daging babi goreng dengan nasi putih hangat. Hehehe … mantap, joss … uenak
banget.”

Arum: “Kalau Bapakmu, suka masakan apa?”

42

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Erick: “Beliau kadang ingin dimasakin babi kecap, suop babi kacang merah, ama oseng daging babi.”

Arum: “Wow … ngeri banget mendengarnya.”

Erick: “Maaf kalau ceritaku ini membuatmu jijik.”

Arum: “Iya, aku mpe hampir muntah. Tapi gpp kok.”

Erick: “Ok, aku mau masuk mall dulu. Apa kamu ikut?”

Arum: “E … e … enggak deh. Kamu aja, silakan!”

Empat tahun kemudian

Erick melanjutkan sekolah di Salatiga sedangkan Arum masih tetap di Semarang. Walau
berpisah, tapi mereka rutin berkomunikasi. Kebetulan liburan UAS, Arum dan keluarga berlibur ke
Jogja, tapi sejenak mereka mampir ke Wisata kebun kopi yang ada di Salatiga. Nggak nyangka, Arum
bertemu dengan Erick di kebun kopi.

Arum: “Hai Erick, sudah empat tahun lebih kita nggak pernah ketemu, wah … badanmu tambah
tinggi. Kayaknya lebih dari 170 cm, ya?”

Erick: “Arum, kulihat kamu semakin ayu dengan jilbab warna biru langit.”

Arum: “Gimana kabarmu?”

Erick: “Emm … a … a … aku …”

Arum: “Kenapa kamu bingung?”

Erick: “Aku sudah berpindah agama?”

Arum: “Whattt???? Please jangan bergurau, to!”

Erick: “Aku mantap memeluk agama islam.”

Arum tercengang hingga tak sepatah katapun mampu terucap. Mata Arum terus menatap
wajah Erick. Hmm … sejenak otaknya blank, nggak tahu harus berkata apa. Mereka tetap
berpandangan. Sambil tersenyum fresh, akhirnya Erick bicara.

Erick: “Tiga tahun lebih aku memikirkan tentang masalah ilmu perbandingan agama. Tak ada yang
mempengaruhiku. Aku bebas memilih apa yang aku suka.”

Arum: “Kenapa kamu memilih agama islam?”

Erick: “Aku menyelidiki puluhan agama besar yang ada di dunia ini. Dengan mantap aku
menjatuhkan pilihan ke islam karena … hanya agama inilah yang Tuhannya cuman satu. Ratusan
agama di dunia ini, Tuhannya lebih dari satu.”

Arum: “Hmm … analisa yang bagus. Aku aja nggak pernah menganalisa sejauh itu. Aku memeluk
agama islam karena memang orang tuaku islam. Apa keluargamu setuju?”

Erick: “Awalnya mereka shock, tapi lama kelamaan nggak mempermasalahkan kok. Mereka nggak
fanatik.”

43

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Arum: “Syukurlah kalau gitu. Oya, apa kamu sudah bisa membaca Qur’an?”

Erick: “Sudah. Malahan aku sudah hafal juz ‘Amma?”

Arum: “Whattt?????” (mata Arum melotot seakan tak percaya)

Erick: “Kok dari tadi kamu kaget melulu.”

Arum: “I … i … iya. Aku aja yang dari kecil memeluk islam, gak hafal tuh juz ‘Amma, paling aku cuman
hafal surat-surat pendek. Erick, kamu memang cerdas.”

Erick: “Di keluarga besarku, hanya aku yang muslim. Rasanya memang terasing, sendiri, tapi … aku
menikmatinya kok.”

Arum: “Tentang daging baba … eh … salah ngomong, maksudnya daging babi, gimana, Rick?”

Erick: “Hehehe, aku sudah tidak memakannya.”

Arum: “Apa kamu rindu dengan rasanya?”

Erick: “Enggak ah. Aku berusaha untuk menjadi muslim yang baik dan taat. Untuk apa memeluk
suatu agama kalau harus mengkhianati agama yang kita peluk.”

Arum: “Syukurlah. Sekali lagi, aku nggak pernah memaksamu untuk ikut keyakinanku, lho.”

Erick: “Iya, tenang aja, Rum. Eh, gimana dengan sekolahmu?”

Arum: “Hehehe, lumayan. Aku berharap bisa masuk ke Undip.”

Erick: “Sama, aku juga pingin kuliah di Undip. Wah, kalau cita-cita kita tercapai, maka kita bakalan
bersama lagi, ya?”

Arum: “Iya. Erick, apa kamu sudah mempunyai pacar?”

Erick: “Di islam nggak membolehkan pacaran, jadi aku nggak punya pacar.”

Arum: “Whatt??? Kok sampai segitunya kamu memeluk islam?”

Erick: “Aku berusaha untuk tunduk patuh total pasrah kepada Allah SWT. Aku ingin merasakan
gimana rasanya totalitas masuk islam.”

Arum: “Wow, aku sangat beruntung mempunyai teman sepertimu. Kapan kamu rencana untuk
menikah?”

Erick: “Entar kalau sudah umur 25, aku ingin copy paste Nabi Muhammad SAW.”

Arum: “Jadi, kamu sudah mempelajari sejarah Nabi Muhammad?”

Erick: “Sudah. Aku membacanya mpe 3 kali.”

Arum: “Wow … dari tadi aku kaget terus, hehehe. Tentang tata cara sholat, apa kamu juga sudah
mempelajari?”

Erick: “Sudah, lewat youtube.”

Arum: “Hahaha, kamu hebat. Tentang tata cara menikah menurut islam, apa kamu juga sudah
mempelajarinya?”

44

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Erick: “Belum. Tentang bab ini, aku ingin mendengar penjelasan langsung darimu, boleh?”

Arum: “Hahahaha.” (Arum tertawa terbahak-bahak hingga gigi serinya kelihatan putih bersih)

Sang waktu berjalan sangat cepat. Kini Erick sudah lulus kuliah. Sama, Arum juga lulus.
Jumlah saudara kandung Erick ada empat dan semuanya tinggal di Jakarta. Ada yang mempunyai
usaha bengkel, ada yang menekuni dunia ekspor impor, ada juga yang menekuni perihal ikan hias.
Sedangkan Erick … dia mantap tinggal di Semarang. Kenapa? Orang tuanya tinggal satu, yaitu
bapaknya. Usia beliau sudah hampir 76 tahun, sakit-sakitan, tak mampu lagi berjalan, hanya bisa
terduduk di kursi roda. Erick-lah yang menolong bapaknya setiap hari. Dia nggak peduli pada karier.
Sementara ini dia benar-benar fokus pada Sang Bapak. Kenyataan ini membuat Arum trenyuh. Inilah
obrolan mereka saat nyantai di rumah Erick yang berada di daerah Papandayan Semarang.

Erick: “Gimana, dah dapat kerjaan?”

Arum: “Hampir. Senin besok ada panggilan interview, tapi harus ke Jakarta. Hmm … aku malas kalau
harus ke Jakarta. Sementara ini aku mencari yang lokal aja lah. Erick, gimana denganmu?”

Erick: “Aku mau buka usaha, tapi ntar dulu, nunggu Bapakku sehat.”

Arum: “Hehehe, sudah kutebak. Pasti kamu gak bakalan mau jadi karyawan. Rencana pingin buka
usaha apa?”

Erick: “Bengkel motor aja.”

Arum: “Emm … kira-kira untuk usaha yang kamu pilih itu, emm … harus nyiapin modal berapa?”

Erick: “Satu milyar.”

Arum: “Wow, banyak banget.”

Erick: “Untuk beli ruko, beli spare part, bayar karyawan, bayar pajak, dan lainnya, kayaknya modal
segitu mepet banget.”

Arum: “Darimana kamu mendapatkan modal?”

Erick: “Pemberian Bapakku.”

Arum: “Syukurlah. Aku ikut senang.”

Obrolan mereka terhenti manakala dari dalam rumah terdengar suara Sang Bapak, “Erick,
Qǐng zhǔ chāshāo jiàng!”

Arum tak paham artinya. Dia cuman melongo sambil melihat wajah Erick. Sambil berdiri, Erick
berkata, “Arum, tunggu sebentar, aku mau ke dapur.”

Arum: “Ngapain?”

Erick: “Emm … Bapakku … Bapakku pingin dimasakin babi kecap.”

Arum: “Whatttt???? Tapi … tapi kamu kan sudah memeluk islam, Rick.”

Erick: “Iya, aku memang islam, tapi Bapakku bukan islam. Dalam Qur’an, aku harus patuh kepada
orang tuaku sesuai dengan An-Nisa ayat 36: “Sembahlah Alloh dan jangan kamu mempersekutukan-
Nya dengan apa pun. Berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim,
orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba

45

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

sahaya yang kamu miliki. Sesungguhnya, Alloh tidak menyukai orang sombong dan membanggakan
diri.”

Arum: “Iya, aku paham. Tapi orang tuamu tuh menyuruh kepada kebatilan, jadi … kamu nggak boleh
patuh!”

Erick: “Aku sudah membahas ayat ini dengan sangat mendalam. Kata Pak Ustadz Harso, ‘Erick, walau
orang tuamu non islam, kamu wajib patuh kepadanya, tapi memang ada batasannya. Andai dia
menyuruhmu untuk masak daging babi, kamu harus mau. Andai dia menyuruhmu untuk membeli
masakan babi, kamu juga harus mau. Tapi andai dia menyuruhmu untuk makan bersama dengan
menu daging babi, maka kamu harus menolaknya, itupun dengan kata-kata yang sangat halus.’
Arum, begitulah yang kupahami dari surat An-Nisa ayat 36.”

Arum: “Baiklah, sekarang aku paham.”

Erick: “Aku mau ke dapur dulu.”

Arum: “Emm … apa aku boleh membantumu memasak?”

Erick: “Ntar gimana kalau kamu muntah?”

Arum: “Tenang aja, gue tahan kok.”

Erick: “Benar????”

Arum: “Hehehe.”

Mereka berdua bergegas melangkah ke dapur. Dengan sangat cekatan, Erick menyiapkan
semua bumbu yang dibutuhkan untuk memasak resep babi kecap. Mereka sibuk cooking sambil
ngobrol riang.

Erick: “Rum, tolong kupasin bawang bombay-nya!”

Arum: “Siap. Emm … jika masak, aku jarang banget memakai bawang bombay.”

Erick: “Manfaatnya banyak lho. Selain menangkal radikal bebas, bawang bombay juga menguatkan
sistem imun dalam tubuh.” (Erick menjelaskan sambil mengeluarkan daging babi dari dalam kulkas)

Arum: “Kulihat di depanmu ada minyak goreng … emm … mereknya borges. Kok aku baru lihat
sekarang? Itu minyak goreng impor, ya?”

Erick: “Ini bukan minyak goreng, tapi minyak zaitun.”

Arum: “Jadi dalam resep ini, apa kita akan memakainya?”

Erick: “Iya, minyak zaitun sangat bagus untuk kesehatan jantung.”

Arum: “Pasti harganya mahal.”

Erick: “Enggak juga. Di supermarket paling cuman 80 ribu untuk ukuran 500 ml.”

Arum: “Aku juga melihat ada lada hitam. Duh … aku juga gak pernah menggunakan bumbu itu.”

Erick: “Lada hitam, lumayan pedas tapi sangat menghangatkan badan. Oya, sekarang lagi musim
hujan, ntar saat kamu kedinginan, cobalah masak mie rebus instan, setelah mendidih, silakan
taburkan bubuk lada hitam, maka … kamu akan merasakan nikmat yang luar biasa.”

46


Click to View FlipBook Version