The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta, R3

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by widya pustaka SMP Negeri 5 melaya, 2021-05-06 01:23:38

Buku Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta, R3

Buku Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta, R3

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Fathiya: “………….”

Miftah: “Aku sudah membicarakan hubungan kita ke Bapak. Di luar dugaan … emm … emm … beliau
tidak setuju dengan pernikahanku.”

Fathiya: “Mungkin jadwalnya terlalu cepat. Baiklah, aku siap menunggu kapanpun, yang penting
acara pernikahan bisa terlaksana.”

Miftah: “Bukan masalah tanggal pernikahan.”

Fathiya: “Lalu?”

Miftah: “Masalah pengantin perempuan.”

Fathiya: “O … mungkin beliau tak setuju kalau pengantin perempuannya memakai baju adat Jawa
karena ada aurot yang terbuka. Gak masalah, Babe … ntar aku akan mendesain baju pengantin yang
sesuai dengan syari’at islam sehingga keluarga besar kamu bisa senang. Gpp … itu mudah kok.”

Miftah: “Bukan masalah baju pengantin perempuan.”

Fathiya: “Lalu, masalah apa?”

Miftah: “Duh … aku tak sanggup untuk mengucapkannya.”

Semua terdiam, bahkan rintik hujan juga ikut terdiam. Mungkin mereka juga menyimak
dengan seksama pembicaraan ini. Nining berulang kali menggaruk kepala hingga akhirnya dia
berkata, “Mas, gimana kalau aku saja yang menyampaikan hal ini?” Miftah mengangguk. Dengan
diiringi mengucap basmalah, Nining berkata, “Mbak Fathiya, Bapaknya Mas Miftah tidak setuju jika
Sampeyan menikah dengan Mas Miftah. Mbak … maaf.”

Fathiya tertegun. Lidahnya terasa kaku dan kebas. Matanya terus menatap Miftah seakan
tak percaya. Dia juga mencubit kulitnya untuk memastikan apakah ini mimpi atau bukan. Ternyata
bukan mimpi. Akhirnya … asa Fathiya remuk bagaikan sebuah gelas beling yang terbanting ke lantai,
berkeping-keping, berserakan ke mana-mana. Otaknya blank beberapa detik. Tak ada yang berani
bicara. Miftah kelihatan menunduk lesu.

Nampak air mata mulai membasahi pipi Fathiya. Dadanya terasa sesak bagai ditinju
berkali-kali. Dia berusaha untuk tegar tapi … kayaknya dia sangat rapuh. Perasaan sedih, marah,
bingung, kaget, dan sejuta perasaan lainnya bercampur aduk jadi satu dalam ramuan yang membuat
raganya seperti terpaku di kursi.

Beberapa menit kemudian, air mata semakin deras mengucur. Jiwanya meregang dalam
rasa sakit putus cinta yang tak juga kunjung reda.

Miftah: “Fathiya … maafkan aku yang telah menghancurkan road map kehidupanmu.”

Fathiya: “Hiks ……..” (tulang dan otot seperti terlepas)

Miftah: “Aku harus ikut arahan orang tua. Hmm … tak kusangka, setelah kepedihan kita bertahun-
tahun membesarkan usaha, bukannya kemudahan yang datang, tapi kepedihan semakin menyayat.
Fathiya … bukan hanya kamu saja yang sedih. Aku juga sedih, kedua orang tua kita juga sedih.”

Fathiya: “Hiks … coba terangkan kepadaku apa alasan Bapakmu tak setuju!” (air mata mengalir
deras)

97

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Miftah: “Aku tak bisa mengatakannya.”

Fathiya: “Katakan!!! (Fathiya membentak keras hingga Nuning dan Nining kaget)

Miftah: “………….”

Fathiya: “Kalau kamu tak mau mengatakan, gpp, sekarang aku mau ke rumah Bapakmu untuk
menanyakan hal ini. (Fathiya kembali teriak dengan tangisan pilu.”

Miftah: “Baiklah. Ada perbedaan prinsip yang mendasar di keluargaku dan keluargamu. Perbedaan
inilah yang memisahkan kita.”

Fathiya: “Hiks … coba terangkan!”

Miftah: “E ….”

Fathiya: “Terangkan!!!!(Fathiya kembali teriak. Kini suaranya berubah parau, mungkin karena terlalu
banyak menangis)

Miftah: “Ba … Ba … Bapakku tidak suka mempunyai me … me … menantu anak polisi.”

Kalimat ini seperti belati yang menusuk-nusuk perut Fathiya hingga terkapar tak berdaya.
Dia tak mampu lagi duduk. Keseimbangannya hilang. Dia … terjatuh di lantai. Nuning dan Nining
langsung berusaha untuk membopong Fathiya. Tak ada lagi suara tangisannya. Fathiya … pingsan.

Semenjak acara move on, Fathiya berubah menjadi pendiam padahal awalnya tuh gadis
kinestetik banget alias tak bisa diam, gerak terus. Saat bangun tidur, nampak banget ada bekas air
mata yang mengering di pipi. Kayaknya air mata belum juga bisa surut. Sudah seminggu lebih dia
mengurung diri di kamar. Dia seperti hidup di dua dunia, yaitu dunia nyata dan dunia kenangan. Saat
dia memasuki dunia kenangan, dia tersenyum sendiri, tertawa sendiri. Apalagi kalau mengingat dia
dan Miftah jungkir balik mendirikan usaha bakso bersama, hmm … dia terus tertawa di kamar. Tapi
mendadak dia memasuki alam nyata dimana Miftah sudah pamit pergi, mendadak tangisnya
meledak. Sang Ibu mendengar rintihan ini, tapi … hmm … beliau nggak bisa apa-apa.

Detik menunjukkan jam 9 pagi. Nampak Sang Ibu membawa nampan berisi menu sarapan
pagi untuk Fathiya.

Ibu: “Dhek, sarapan yuk! Biar ibu yang suapin!”

Fathiya: “…………” (duduk sambil memandang kosong ke arah dinding)

Ibu: “Dhek, dulu Ibu juga pernah mengalami kepedihan seperti ini, tapi Ibu bisa survive.”

Fathiya: “Diam! Aku nggak suka dibanding-bandingkan.” (volume suara yang keluar lumayan tinggi
dan pedas)

Ibu: “Hmm, kepedihan yang berlarut benar-benar menghilangkan sifat lemah lembut yang ada
dalam dirimu.”

Fathiya: “Bapak yang salah, kenapa harus aku yang menanggung akibatnya? Hiks … hiks …” (tangisan
terdengar pilu dari mulut Fathiya)

Ibu: “Bapakmu tuh baik, Dhek. Dia sangat menyayangimu.”

98

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Fathiya: “Apa kata Ibu? Bapak Baik? Kok bisa? Andai Bapak baik, kenapa dia tega menjejali mulutku
dengan api? Kenapaaaa????” (Fathiya teriak keras hingga ibunya ketakutan)

Ibu: “Kami memberimu makan dari gaji bulanan Bapak.”

Fathiya: “Berapa gaji bulanan Bapak?” (bentakan keras)

Ibu: “Tujuh juta, Nak.”

Fathiya: “Dengan gaji segitu, kenapa aset di rumah ini bisa milyaran? Kenapa saldo tabungan Ibu
bisa milyaran? Kenapa rumah kita bisa tiga? Kenapa mobil kita bisa seharga di atas 500 juta?” (nada
bicara semakin kasar dan meledak-ledak)

Ibu: “Bapak layak menerima kekayaan ini karena beliau sudah memberi jasa yang besar untuk
negara.”

Fathiya: “PNS yang jujur, hidup mereka nggak mewah padahal jasa mereka juga banyak untuk
negara. Bu, tolong jawab yang jujur: apakah Bapak korupsi?” (nada bicara bengis bercampur dengan
tangisan)

Ibu: “Kenapa kamu membenci kami? Kamu bisa durhaka lho, Dhek.”

Fathiya: “Durhaka? Bu, silakan kutuk aku sekarang juga! Ayo … kutuk aku! Sekalian aja doakan aku
supaya mati! Sekarang! Hiks … hiks … (tangisan kembali pecah, kali ini volume suara semakin
beringas)

Ibu: “Nak, sudahlah! Ibu mengerti bahwa rencana pernikahanmu berantakan gara-gara kami.
Kayaknya ada sebagian masyarakat yang membenci kami. Biarlah, nggak apa-apa, yang penting Allah
tidak membenci kami.”

Fathiya: “Allah membenci keluarga ini. Aku mempunyai keyakinan: jika penduduk dunia mencintai
keluarga ini, maka penduduk langit juga mencintai keluarga ini. Tapi sebaliknya jika masyarakat
dunia membenci keluarga ini, maka … sama … para malaikat di langit juga membenci keluarga ini.
Uang korup … duh … gara-gara duit inilah, Miftah dan keluarganya membenci kita. Kayaknya kita
layak menerima kebencian ini.”

Ibu: “Tapi Bapak dan Ibu rajin sholat lho, Dhek.”

Fathiya: “Mengerjakan sholat tapi perutnya penuh dengan haram, maka sholatnya tak diterima
Allah.”

Ibu: “Janganlah sok menghakimi!”

Fathiya: “Jadi Ibu ingin aku mengatakan bahwa sholat Ibu diterima Allah? Aneh … benar benar
keluarga aneh. Hmm … Bu, sebagai seorang wanita, seharusnya Ibu bisa menasihati Bapak supaya
nggak korupsi. Alih-alih menasihati, Ibu malahan bersekongkol dengan Bapak menumpuk harta yang
nggak tau asal usulnya itu.”

Ibu: “Tapi semua harta ini untuk kamu.”

Fathiya: “Bu, ini bukan harta, tapi kotoran. Sekali lagi … kotoran. Tolong dihafalkan!”(nada bentakan
bercampur dengan ejekan)

Ibu: “Nak, kayaknya kamu semakin nggak sopan. Kamu nggak menghargai jerih payah kedua orang
tuamu.”

99

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Fathiya: “Apakah aku harus sopan dengan maling?” (bentakan lumayan kencang dan sadis)

Ibu: “Pergi dari sini!” (Sang Ibu ganti membentak kasar)

Fathiya: “Aku juga gak bakalan menginjak rumah ini lagi. Bagiku ini bukan rumah, tapi seperti
tempat penampungan kotoran.”

Dua tahun kemudian

Daun: “Aku bersyukur bahwa sekarang Fathiya sudah stabil jiwanya.”

Angin: “Hehehe, tak kusangka dia betah juga bekerja di perpustakaan masjid.”

Daun: “Kayaknya jiwanya benar-benar ingin menjadi bersih. Kalimat yang berbunyi: wanita yang
paling takwa adalah yang paling teliti terhadap halal dan haram, … hehehe … dia benar-benar serius
mengamalkan kalimat ini.”

Angin: “Benar brow. Hanya satu kalimat, ringan diucapkan, tapi sungguh sangat berat untuk
dikerjakan. Hmm … dia rela pergi dari rumah, meninggalkan gemerlapnya harta orang tuanya, pergi
dari rumah dengan saldo tabungan mendekati nol, kini dia rela menjadi petugas perpus dengan gaji
yang tak seberapa, wow … sangat jarang ada wanita setegar ini.”

Daun: “Oya, bulan-bulan ini gerimis terus datang. Beberapa jamaah masjid yang sholat maghrib
berjamaah, saat selesai sholat, mereka tidak pulang ke rumah, melainkan duduk-duduk di masjid,
i’tikaf sambil menunggu sholat isya. Hmm, kulihat Fathiya menghidangkan teh hangat untuk mereka.
Duh … tuh gadis benar-benar menjelma menjadi wanita akhirat.”

Angin: “Aku juga salut melihat dia telaten membuatkan teh hangat untuk jamaah yang menunggu
sholat isya. Memang cuaca lumayan dingin sehingga i’tikaf sambil nyeruput teh hangat bikinan
Fathiya … kayaknya mak nyuss ya, hehehe.”

Daun: “Gimana dengan Miftah?”

Angin: “Maksudnya?

Daun: “Apakah Fathiya masih mencintainya atau sudah luntur?”

Angin: “Masih. Tapi dia belajar untuk menyimpan rapi-rapi di dalam lubuk hati yang paling dalam.
Dia nggak pernah memikirkannya lagi.”

Daun: “Eh, seminggu ini kulihat Fathiya punya sahabat baru, ya?”

Angin: “Bener. Namanya Mbak Meika. Duh … ayu banget. Dia tinggal di Mranggen Demak. Awalnya,
karena tempat bekerja Mbak Meika ini dekat dengan masjidnya Fathiya, maka tuh gadis sering
sholat di masjid itu. Hehehe, lama-lama mereka bersahabat. Hmm, moga-moga aja persahabatan ini
semakin menguatkan hati Fathiya.”

Daun: “Emm, kayaknya Meika tuh belum nikah, ya?”

Angin: “Belum. Paling-paling umurnya sekitar 23 tahun, sedangkan Fathiya sekitar 24 tahun.”

Daun: “Kuperhatikan Meika sangat rajin ibadah. Aura wajahnya … duh … ayu dan berwibawa.”

Angin: “Mungkin karena rajin wudhu dan sujud sehingga wajahnya begitu anggun.”

Daun: “Semoga kedua wanita itu bisa cepat menemukan tambatan hati yang sholih.”

100

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Angin: “Amin.”

Sementara daun dan angin sibuk ngobrol, Fathiya sibuk membuat teh hangat untuk para
jamaah yang lagi i’tikaf dan menunggu adzan isya’. Nampak Meika juga ikut membantu
menghidangkan teh hangat. Hehehe … mereka seperti satu saudara. Semoga persaudaraan ini akan
menguatkan keimanan mereka.

Sholat isya’ sudah dilaksanakan, nampak para jamaah sudah pulang ke rumah masing-masing. Kini
tinggal Fathiya dan Meika yang lagi duduk nyantai di parkiran masjid.

Meika: “Mbak, aku pulang dulu, ya!”

Fathiya: “Ke Mranggen, ya?”

Meika: “Enggih. Mbak, Sampeyan tinggal di mana?”

Fathiya: “Aku ngontrak rumah di gang depan itu. Paling-paling jalan dari sini 3 menit.”

Meika: “Sendiri?”

Fathiya: “Enggak, aku ditemani ama Mak Lampir.”

Meika: “Hahaha. Sampeyan ini ada-ada aja. Kalau sendiri, gimana kalau malam ini tidur di
rumahku?”

Fathiya: “Di Mranggen sana?”

Meika: “Iya. Emang sih rumahku kecil, sangat sederhana, tapi adhem … hehehe.”

Fathiya mengangguk. Akhirnya mereka berdua naik motor menuju Mranggen. Selama di
perjalanan, mereka bicara ngalor ngidul, hahaha … lebih mesra dari saudara kandung.

Empat puluh menit kemudian, mereka sudah sampai di teras rumah Meika. Fathiya agak
kaget. Hmm … rumah Meika sangat kecil, paling-paling type 30, dengan luas tanah 60m². Dinding
rumah juga kelihatan sangat usang. Pagar depan sudah rusak sebagian. Beda jauh dengan rumah
orang tuanya yang bernilai milyaran.

Meika: “Yuk kita masuk ke dalam rumahku!”

Fathiya: “I … i … iya. Apakah kamu tinggal sendiri?”

Meika: “Bapakku lagi dinas 3 hari di Temanggung. Ibu dan adikku lagi menjenguk nenek di
Purwodadi. Paling-paling dua hari lagi mereka pulang. Malam ini terpaksa aku jaga rumah sendiri.”

Fathiya: “Aku salut dengan kesederhanaan keluargamu.”

Meika: “Bukan sederhana, tapi miskin, hehehe.”

Fathiya: “Maaf, kalau boleh bertanya: dimana bapakmu bekerja?”

Meika: “Bapakku polisi.”

Fathiya: “Whattt?????” (HP Fathiya mpe jatuh dari genggaman karena saking kagetnya)

Meika: “Kenapa kamu kaget?”

101

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Fathiya: “Emm … biasanya kan polisi tuh kaya-kaya.”

Meika: “Itulah kenapa aku sangat mencintai Bapakku. Walau beliau polisi, tapi sedikitpun beliau tak
pernah memakan harta yang bukan haknya. Beliau memberi nafkah kepada kami dengan gaji pokok
plus tunjangan yang tak seberapa. Itupun Bapak harus menafkahi nenek yang ada di kampung.
Sebulan yang lalu nenek sakit parah dan harus di rawat di rumah sakit sehingga memerlukan dana
hampir 30 juta. Bapakku pontang-panting cari hutangan.”

Fathiya: “Hmm … Bapakmu best cop, ya?”

Meika: “Amin, doakan aja Bapakku tetap bersih, tidak tergoda dengan uang yang bukan haknya.”

Fathiya: “Meika, umurmu sudah 23, apakah kamu …?”

Meika: “… sudah ketemu jodoh? Begitu kan pertanyaanmu? Hahaha.”

Fathiya: “Hahaha, iya … kok kamu bisa menebak?”

Meika: “Sudah puluhan kali aku mendapatkan pertanyaan seperti itu.”

Fathiya: “Terus …”

Meika: “Itulah kenapa aku mengajakmu ke sini. Mbak, aku bingung. Duh … bingung banget. Apa
yang harus aku lakukan, ya?”

Fathiya: “Silakan cerita! Aku siap mendengarkan.”

Meika: “Emm …” (Meika nyeruput teh hangat sambil menarik nafas dalam-dalam)

Fathiya: “……..” (Fathiya tersenyum sambil terus memperhatikan wajah Meika)

Meika: “Mbak, apakah kamu pernah jatuh cinta?”

Fathiya: “Hehehe … pertanyaan yang bagus. Iya, aku pernah jatuh cinta.”

Meika: “Gimana rasanya?”

Fathiya: “Rasanya … emm … seperti sejuta rasa berkumpul jadi satu bersemayam dengan sangat
lembut ke jiwa kita.”

Meika: “Wow … indah banget. Trus …”

Fathiya: “Saat kamu jatuh cinta, maka kamu ntar seperti orang mabuk kepayang. Ibaratnya semua
lupa … hanya Si Dia yang ada di dalam ingatanmu.”

Meika: “Cieeeeee.”

Fathiya: “Emangnya kamu belum pernah jatuh cinta?”

Meika: “Belum. Aku sangat tertutup dengan laki-laki. Ayo teruskan perihal jatuh cinta! Hehehe …
kayaknya asyik deh untuk bahan obrolan malam ini.”

Fathiya: “Saat kamu jatuh cinta, maka kamu akan ingat terus kepada lelaki yang kamu cintai. Saat
belajar, ingat dia. Saat di jalan, ingat dia, saat tidur … mimpi dia. Bahkan saat selesai sholat,
bukannya dzikir, tapi malahan ingat dia terus, hahaha.”

102

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Meika: “Sampai segitunya ya, Mbak?”

Fathiya: “Jatuh cinta juga membuatmu sering tersenyum sendiri. Mau makan … senyum, mau tidur
… senyum. Mau ngaji … senyum. Wis pokoke persis kayak wong edan deh, hahaha.”

Meika: “Sweety banget.”

Fathiya: “Saat kamu dekat dengan lelaki yang kamu cintai, maka tiba-tiba kamu akan merasakan
kedamaian yang sejuk bagai salju turun.”

Meika: “Oya?”

Fathiya: “Iya, lelaki itu penentram jiwa bagi perempuan. Sekaya-kayanya perempuan tapi kalau
masih sendiri, jiwanya takkan bisa tentram.”

Meika: “Kayaknya memang wanita didesain harus dekat dengan pria ya, Mbak?”

Fathiya: “Bukan hanya dekat tapi nempel kaya perangko, hahahaha.”

Meika: “Ternyata cinta itu sangat manis ya, Mbak?”

Fathiya: “Iya, apapun yang dirasakan ketika jatuh cinta memang terasa manis. Ternyata ini bukanlah
sebuah mitos, menurut American Psychological Association, orang yang lagi falling love, dan
kemudian disuruh mencicipi makanan atau minuman, mereka pasti akan menjawab makanan dan
minuman memiliki rasa sama yakni manis. Ntar kamu bisa mencobanya, Dhek.”

Meika: “Aneh banget, ya? Duh, aku malah pingin ndang lekas jatuh cinta e, hehehe.””

Fathiya: “Iya. Kulihat dari tadi kamu senyum terus. Tolong sekarang cerita … siapa lelaki yang kamu
cintai?”

Meika: “Mbak, dari kecil orang tuaku mendidikku dengan sangat islami. Aku tak pernah pacaran,
juga tak menyukai pacaran. Aku terus berdoa semoga Allah mempertemukan aku dengan seorang
lelaki yang akhlaqnya mirip denganku.”

Fathiya: “Aku yakin wanita yang baik akan mendapat lelaki yang baik.”

Meika: “Tak disangka, kemarin Pak Imam Masjid Al Uswah Gajah Mungkur memanggilku. Beliau
bertanya kepadaku apakah sudah siap nikah? Maka akupun mengangguk. Beliau akan
mempertemukan aku dengan seorang lelaki sholih.”

Fathiya: “Siapa namanya?”

Meika: “Beliau tidak menyebutkan nama. Pokoknya ntar hari minggu jam 9 pagi aku akan
dipertemukan dengan lelaki itu di ruangan kantor masjid. Kalau ada kecocokan ya terus dilanjutkan
dengan lamaran. Tapi kalau tak cocok, gpp.”

Fathiya: “Wow … kok aku jadi ikut deg-degan, ya?”

Meika: “Iya … sama. Aku tuh terus membayangkan gimana rasanya pertama kali memandang tuh
lelaki? Duh pasti jantungku langsung berhenti, ya … duh …”

Fathiya: “Halah … gak boleh lebay!”

Meika: “Mbak, boleh gak aku minta Sampeyan untuk menceritakan pertama kali berjumpa dengan
lelaki yang Sampeyan cintai?”

103

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Fathiya: “Saat itu aku lagi di pesawat yang akan mengantar kami ke Thailand dalam rangka program
pertukaran pelajar. Kami satu rombongan.”
Meika: “Kalimat apa yang pertama kali dia ucapkan?”
Fathiya: “Fathiya, Khuṇ mī khwām swyngām.”

Meika: “Pakai bahasa Thailand, ya?”
Fathiya: “Bener.”
Meika: “Apa artinya?”
Fathiya: “Artinya … emm … artinya: Fathiya, kamu sangat cantik.”
Meika: “Oya, duh … romantis banget. Kalau aku dipuji gitu, pasti melayang mpe Galaksi Cintasakti
ya, Mbak.”

Fathiya: “Bukan Cintasakti, tapi Bimasakti.”
Meika: “Kali ini namanya kurubah jadi Cintasakti aja, hehehe.”
Fathiya: “Berarti hari minggu besok kamu ada acara penting, ya?”
Meika: “Bukan hanya penting, tapi super penting. Temani aku ya, Mbak!”

Fathiya: “Hari Minggu, aku ada acara seminar bedah buku.”
Meika: “Halah, cancel aja, ya! Please!!!!”
Fathiya: “Baiklah. Demi kamu, aku rela melakukan apa aja.”
Meika: “Mantap, hehehe. Kita akan menjadi sahabat selamanya.”

Padahal sabtu kemarin tuh hujan cukup deras, tapi sekarang … hari minggu, cerah, sinar
matahari menghangatkan daun-daun yang memang berhari-hari kedinginan disiram Sang Hujan.
Seperti rencana awal, Meika akan dikenalkan oleh Pak Imam. Detik menunjukkan jam 8 pagi, berarti
satu jam lagi acara dimulai. Nampak oroma kebingungan menghantui pikiran Meika.
Meika: “Padahal aku sudah melaksanakan sholat dhuha. Tadi aku berdoa cukup lama supaya bisa
tenang, tapi … kok aku gemeter banget, ya?”

Fathiya: “Kulihat bedakmu terlalu tebal.”
Meika: “A … a … aku pingin menyembunyikan wajahku dengan topeng bedak ini.”
Fathiya: “Kenapa disembunyikan?”
Meika: “Aku nggak pede.”
Fathiya: “Halah, wajahmu tuh dah sangat ayu, imut. Udahlah, hapus aja bedak itu!”

Meika: “I … i… iya. Terus pakai bedak apa?”
Fathiya: “Nggak usah pakai bedak! Lelaki tuh suka yang pure, bukan yang polesan.”
Meika: “Emm, baiklah.”

104

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Fathiya: “Meika, kenapa dari tadi kamu menggigit bibir terus?”

Meika: “Duh, aku nggak nyadar. Mungkin ini adalah salah satu kebiasaan burukku di saat panik.”

Fathiya: “Bibirmu tuh sangat menawan. Jangan digigit lagi!”

Meika: “I … iya Mbak. Baru pertama kali ini aku melaksanakan ta’aruf.”

Fathiya: “Kenapa matamu agak merah?”

Meika: “Tadi malam aku gak bisa tidur karena terus kepikiran acara ini.”

Fathiya: “Duh, kok sampai segitunya, sih?”

Meika: “Iya, aku malahan belum sarapan. Nggak tau nih, perut terasa kenyang sendiri.”

Fathiya: “Tiga puluh menit lagi acara kenalan akan dimulai. Tenangkan hatimu!”

Meika: “Gak bisa. Aku terus deg-degan.”

Fathiya: “Tenangkan dirimu, please!!!”

Meika: “Nggak bisa.” (semakin bertambah panik, malahan hampir menangis)

Akhirnya dengan lembut Fathiya memeluk Meika sambil berbisik, “Dhek Meika, cobalah
sejenak pejamkan mata! Dhek, ketahuilah bahwa menikah adalah ibadah. Berarti ta’aruf
(berkenalan) dengan lelaki juga termasuk ibadah. Dhek, niatkan ta’aruf kali ini sebagai ibadah. Sekali
lagi sebagai ibadah … seperti sholat, sedekah, puasa dan ibadah-ibadah yang lain.”

Meika mengangguk dengan mata yang terus terpejam. Dia terus membayangkan ibadah-
ibadah yang pernah dilaksanakan. Lalu dia membayangkan ta’aruf ini sebagai bagian dari
mendekatkan dirinya kepada Allah karena menikah adalah ibadah (tak mungkin bisa menikah kalau
nggak taaruf dulu). Kini jiwanya tenang, santai, fresh … diapun membuka mata sambil mencium
tangan Fathiya.

Waktu berjalan sangat cepat. Tak terasa, acara ta’aruf sudah dimulai. Dalam satu ruangan,
nampak ada Pak Imam, Fathiya, Meika, dan dua orang lelaki. Fathiya dan Meika tetap menunduk
malu. Mereka belum berani menatap wajah kedua lelaki itu. Sementara Pak Imam menerangkan
atau formalnya adalah ceramah pendahuluan sebelum ta’aruf. Saat ceramah itulah, Fathiya
memberanikan diri melihat kedua lelaki itu. Dilihatnya lelaki pertama yang tampak lebih muda, dia
tak kenal. Pandangan langsung diarahkan kepada lelaki kedua yang nampak lebih tua yaitu
seumuran dengan dirinya.

“Darrrrrr,” jantung Fathiya hampir copot karena ternyata lelaki kedua itu adalah Miftah.
Mereka sempat beradu pandangan. Saat itulah jiwa Fathiya sibuk dan panik.

Jiwa: “Ke … ke … kenapa Miftah di sini?”

Hati: “Aku nggak tau.”

Jiwa: “Hiks … hiks …”

Hati: “Kenapa kamu mendadak merana? Mukamu pucat, darah seakan berhenti mengalir. Apa yang
kamu takutkan?”

Jiwa: “Hiks … apa mungkin Miftah akan ta’aruf dengan Meika?”

105

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Hati: “Miftah Meika … Meika Miftah, kayaknya nama mereka sudah serasi banget.”

Jiwa: “Hiks … hiks.” (tangisan jiwa menjerit hingga melengking)

Hati: “Saatnya latihan sabar.”

Jiwa: “Kenapa setelah kepedihan ada kenelangsaan? Kapan aku bisa bahagia? Kapan????? (tangisan
jiwa meremukkan asa)

Hati: “Biarkan Miftah menikah dengan siapa saja! Itu adalah haknya”

Jiwa: “Tapi Miftah adalah separuh nyawaku … hiks … hiks …” (tangisan melemah karena lelah)

Hati: “Andai Miftah menikah dengan Meika, gimana perasaanmu?”

Jiwa: “Asaku hancur, pikiranku beku. Tak ada lagi tempat untuk bersandar. Hiks … hiks …(tangisan
Fathiya semakin melemah tak berdaya)

Lamunan Fathiya terhenti manakala Miftah mulai bicara, “Assalamu’alaikum. Yang
terhormat Bapak Imam. Yang terhormat Dhek Fathiya dan Dhek Meika. Saya ke sini membawa
teman sekaligus sahabat saya yaitu Mas Dhipta. Beliau berumur 23 tahun, berprofesi seperti saya
yaitu mempunyai usaha warung bakso. Kedatangan saya ke sini adalah mengantarkan Mas Dhipta
untuk ta’aruf/ berkenalan dengan Dhek Meika. Kita semua tidak ada yang tahu tentang jodoh, tapi
setidaknya kita hanya bisa berusaha untuk menjemput jodoh. Dhek Meika, Mas Dhipta … hehehe …
silakan kalian berkenalan! Boleh senyum, boleh melirik, boleh juga tukeran pin BB, sekalian nanya
alamat FB juga boleh, hahaha.”

Sontak hadirin tertawa. Mengetahui bahwa ternyata yang taaruf tuh bukan Miftah, duh …
jiwa Fathiya tertawa jingkrak-jingkrak. Mendung itu sirna pindah ke Amerika, halah … hahaha.
Aroma kegembiraan terus merasuk ke qolbu Fathiya. Hmm … gadis itu benar-benar sangat rindu
kepada Miftah. Matanya terus menatap Miftah. Mereka terus berpandangan hingga Pak Imam
bingung sambil berkata, “Halooo, ini yang mau taaruf tuh Dhipta ama Meika atau Miftah ama
Fathiya?” Kalimat ini membuat semua tertawa.

Pak Imam: “Saudara, sebenarnya aku sudah kenal cukup lama dengan Mas Dhipta. Dia termasuk
pengurus masjid di sini. Sejak muda dia rajin memakmurkan masjid. Setahun yang lalu dia melihat
seorang gadis yang sangat menarik hatinya. Gadis itu rajin i’tikaf di masjid. Saudara bisa menebak
siapa gadis itu?”

Fathiya: “Pasti Meika, ya?”

Pak Imam: “Sejak saat itu Dhipta memendam cinta yang sangat suci dan menggebu. Diapun
melaksanakan sholat istikhoroh sampai dua bulan berturut-turut.”

Fathiya: “Whattt????”

Pak Imam: “Iya, dua bulan berturut-turut. Bagaimanapun juga namanya memilih jodoh tuh harus
sangat selektif. Setelah istikhoroh, hatinya mantap memilih Dhek Meika. Sekarang terserah Meika,
seneng ama Mas Dhipta … boleh. Atau nggak seneng ama Mas Dhipta juga boleh. Terserah
Sampeyan.”

Meika … dia semakin bingung dan linglung. Matanya terus tertuju ke Fathiya seakan-akan
mata itu berkata, “Piye Mbak?”

106

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Akhirnya Miftah berkata, “Dhek Meika, tenang aja! Nggak usah panik. Ini hanya perkenalan biasa
kok. Sampeyan nggak harus memutuskan. Sampeyan bisa berfikir dulu, istikhoroh dulu atau apa.
Waktu masih sangat panjang, hehehe. Fathiya juga menambahkan, “Iya Dhek, nikmati aja
pertemuan ini dengan bersyukur, hehehe. Ntar gue ditraktir bakso salatiga, ya? Hahaha, itu lho yang
ada di Sompok, kayaknya uenak banget.”

Meika tersenyum nyengir mendengar kalimat bakso salatiga. Sambil merapikan jilbab,
diapun berkata dengan sangat tenang.

Meika: “Mas Dhipta …”

Dhipta: “……….”(lagi melamun maksimal)

Meika: “Mas Dhiptaa.” (suara agak keras)

Dhipta: “………” (belum juga terbangun dari lamunan)

Meika: “Mas Dhiptaaa.” (volume suara nambah keras dikit tapi kedengaran mesra)

Dhipta: “Iya Dhek. Duh … maaf … nggak dengar e”

Meika: “Apakah Sampeyan mantap memilihku?”

Dhipta: “Iya. Demi Allah aku mantap.”

Meika: “Apa Sampeyan benar-benar ingin menikah denganku?”

Dhipta: “Disaksikan oleh Pak Imam, Mas Miftah dan Mbak Fathiya, aku berniat menikah denganmu
karena Allah.”

Meika: “Tapi keluargaku sangat miskin. Nih tanya ama Mbak Fathiya, kemarin dia menginap di
rumahku yang sangat kecil.”

Dhipta: “Dhek, aku sudah menyelidiki kamu secara detail dari a mpe z. Aku dah tahu rumahmu,
kerjaanmu, kebiasaan keseharianmu.”

Meika: “Whatttt?????” (wajahnya melongo sambil menatap Dhipta)

Dhipta: “Iya, aku ama Mas Miftah yang menyelidikimu dua bulan terakhir ini. Yang paling
menggetarkan hatiku adalah manakala melihat kamu dan Mbak Fathiya menghidangkan teh hangat
untuk para jamaah yang lagi i’tikaf di Masjid. Duh … kamu bagai bidadari.”

Meika: “Jadi ….”

Dhipta: “Iya, aku mengetahui semua kebiasaanmu.”

Meika tak sanggup lagi bicara tapi hatinya berbunga-bunga. Fathiya berbisik, “Dhek
Meika, kayaknya acara ginian hanya sekali seumur hidup.” Meika menjawab dengan diam tapi
senyum ceria. Meika berbisik, “Sebenarnya … aku pernah bermimpi melihat wajah Mas Dhipta.
Mimpi itu terjadi dua tahun yang lalu. Gak nyangka dia bakal menjadi suamiku. Ya Allah … terima
kasih.”

Fathiya kaget dengan bisikan Meika ini. Sontak Fathiya teriak, “Jadi kamu bersedia menjadi istri
Dhipta????” Semua hadirin kaget, tertegun dan … diam sambil menunggu cemas. Semua mata

107

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

tertuju ke wajah Meika. Nampak wajah Dhipta panik, bingung dan khawatir berat. Maklum-lah,
namanya aja sudah cinta, andai ditolak … habislah sudah.

Meika kembali merapikan jilbab, sejenak dia menghadap ke langit. Dua detik kemudian,
dia berbisik ke Fathiya. Tak ada yang mendengar bisikan itu kecuali Fathiya. Lima detik kemudian,
Fathiya bicara dengan tenang, “Emm, saudara-saudara, Meika sangat malu. Makanya dia nyuruh aku
untuk menyampaikan ini. Begini, Dhek Meika … dia … dia bersedia menjadi istri Mas Dhipta.”

Kalimat ini bagai aba-aba yang membuat semua hadirin mengucapkan hamdalah
serempak. Belum cukup dengan hamdalah, mereka semua sujud syukur. Yang paling parah tuh
Dhipta, dia sujud syukur mpe air matanya meleleh di lantai.

Nampak air mata Meika membasahi pipi. Air mata kebahagiaan, air mata syukur, air mata
takjub atas kemurahan dari Allah SWT. Berkali-kali Meika memeluk Fathiya. Sama … Dhipta juga
memeluk Miftah dan Pak Imam. Kembali Dhipta memandang Meika dengan senyuman syukur.
Mereka beradu pandang dengan sangat manis. Hmm apa arti pandangan itu? Pasti artinya merried,
hahaha.

Semua hadirin kembali duduk, tiba-tiba Dhipta bicara.

Dhipta: “Mbak Fathiya?”

Fathiya: “I … iya …????” (Fahtiya kaget. Kenapa namanya yang dipanggil, kok bukan Meika?)

Dhipta: “Hmm … terima kasih sudah menjadi sahabat Dhek Meika.”

Fathiya: “Iya, sama-sama Dhek.”

Dhipta: “Mbak, aku akan menyampaikan sesuatu. Dua tahun yang lalu Mas Miftah merasa bersalah
menilai Sampeyan. Ibaratnya kemarin mata beliau tertutup. Sekarang, mata beliau terbuka.
Sekarang beliau baru tahu bahwa Sampeyan benar-benar sangat bertaqwa kepada Allah.”

Fathiya: “Trus … (deg-degan tiba-tiba hadir)

Dhipta: “Mas Miftah minta maaf kepada Sampeyan.”

Fathiya: “Suruh dia minta maaf sendiri! Kan orangnya ada di sebelahmu.” (nada bicara agak manja
dikit, hahaha)

Miftah: “Babe …” (nada bicara begitu lembut, Meika mpe nyengir mendengar kata Babe disebut)

Fathiya: “Iya … (Fathiya tersenyum cerah saat Miftah memanggilnya dengan sebutan Babe)

Miftah: “Aku tak bisa melupakanmu.”

Fathiya: “Banyak gadis yang lebih baik dariku.”

Miftah: “Aku tak bisa melihat ke arah yang lain.”

Fathiya: “Sekarang tak bisa, besok pasti bisa. Aku hanyalah anak polisi kotor yang dibenci
keluargamu.”

Miftah: “Tak ada anak yang bisa memilih orang tua. Hmm … baru hari ini aku memahami kalimat ini.
Babe, khuṇ mī khwām swyngām ” (artinya: kamu sangat cantik)

Fathiya: “…..” (Fathiya kembali tersenyum sambil melirik nakal ke arah Miftah)

108

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Miftah: “Babe, dulu kamu pernah berkata: Miftah, Phm rạk khuṇ (artinya: aku cinta kamu). Babe,
apakah kamu masih ingat?”
Fathiya: “……” (Fathiya terus tersenyum hingga gigi serinya kelihatan sangat putih. Aura wajahnya
berubah sangat cerah)
Miftah: “Babe, disaksikan oleh semua yang hadir di sini, demi Allah aku melamarmu.”
Fathiya kaget. Tak disangka Miftah bakalan mengucapkan perkataan seperti itu. Hmm … ibarat ikan,
dua tahun tuh ikan berpisah dari air. Kalimat itu bagai mantra yang menyatukan Sang Ikan dengan
air. Kakinya terasa sangat ringan hingga hampir melayang. Dia berdiri lalu berjalan mendekati
Miftah. Dengan wajah bingung, Miftah-pun berdiri. Mereka berdua berhadap-hadapan. Semua
tegang menunggu.
Fathiya: “Babe, aku rela meninggalkan keluargaku. Ibuk mengusirku. Kini aku miskin, tak punya apa-
apa.”
Miftah: “Kamu sangat bersih, jiwamu sangat suci. Bahkan bidadari kalah sholihah denganmu.”
Fathiya: “Miftah …”
Miftah: “Iya …”
Fathiya: “A .. a … aku tetap seperti yang dulu. Tak ada yang berubah sedikitpun.”
Miftah: “Jadi kamu masih mencintaiku?”
Fathiya: “………” (tersenyum nakal)
Miftah: “Jadi kamu masih mengharapkan aku untuk menjadi suamimu?”
Fathiya: “……”(tersenyum manja)”
Miftah: “Kamu masih sayang aku?”
Fathiya: “……..” (tersenyum syukur)
Miftah: “Maukah kamu menikah denganku?”
Fathiya: “……” (tersenyum sambil mengangguk)

------

109

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Bab 14

Trims Karena Sudah Membunuhku

Tahun 2008 di lereng Gunung Lawu

Berkali-kali Fadhli mengusap air mata yang terus menetes. Di punggungnya nampak tas
gunung berwarna hijau dengan isi tenda, sleeping bag, makanan seadanya dan … termos teh panas
bertuliskan kata: Fadhli, tak lain adalah namanya sendiri. Suhu udara lumayan dingin, jam sudah
menunjukkan angka 20.05, jiwanya mantap untuk naik gunung ini.

Fadhli, dia duduk di bangku SMA kelas 3, baru aja selesai UAS, nilainya sangat memuaskan
karena berhasil menjadi ranking satu di kelasnya. Tapi … hmm … Tita … teman satu kelas yang
sangat dia cintai … duh … siang tadi menyatakan bahwa Tita ingin move on aja karena … hmm … tak
ada yang tahu alasannya.

Tanpa mengucap doa apapun, Fadhli dengan emosi melangkahkan kaki menyusuri jalan
makadam yang sangat kasar menuju puncak gunung. Padahal suasana sangat gelap, tapi … hmm …
sakit yang mengiris hati mengalahkan segalanya.

Langkahnya tiba-tiba terhenti manakala Tita telpon.

Tita: “Halo, Fadhli, kamu dimana?”

Fadhli: “…………” (air mata menetes deras)

Tita: “Fadhli, please jawab! Kamu lagi dimana?”

Fadhli: “Hiks …” (tangisan terdengar pelan)

Tita: “Fadhli, aku tahu bahwa hatimu hancur, tapi please … jangan berbuat yang aneh-aneh!”

Fadhli: “Hiks … hiks …” (volume suara tangisan mulai meninggi)

Tita: “Fadhli, apa sekarang kamu lagi kebut-kebutan di jalan tol?”

Fadhli: “……………”

Tita: “Fadhli, apa kamu lagi minum beer?”

Fadhli: “…………..”

Tita: “Fadhli, please jawab! Hiks … hiks … please!!!!!”

Tangisan Fadhli tak terdengar lagi. Sejenak dia mengeluarkan termos dari dalam tas
gunung. Diapun menuangkan sedikit teh panas di gelas penutup termos dan … diapun meminumnya
dengan berat. Setelah tenggorokannya basah, dia mencoba bicara walau terasa hati ini teriris.

Fadhli: “Tita, sudah berapa lama kita berteman?”

Tita: “Se … sejak kelas satu SMP.”

Fadhli: “Saat kelas tiga SMP, kejadian apa yang masih kamu ingat?”

110

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Tita: “Saat itu aku sangat kagum atas kepandaianmu. Aku sangat kagum atas kesholihanmu. Aku …
aku cinta kamu.”

Fadhli: “Saat kelas satu SMA, apa yang kamu ingat?”

Tita: “Aku … hiks … aku semakin mencintaimu. Andai saat itu boleh menikah, tentu aku mantap
menikah denganmu.”

Fadhli: “Saat kelas tiga SMA?”

Tita: “Aku memakai jilbab karenamu. Aku mengaji Qur’an juga karena pengaruhmu. Hingga aku
menghafal juz 1, juga karena ingin mirip denganmu.”

Fadhli: “Tapi … hiks … tapi kenapa siang tadi kamu meninggalkanku?”

Tita: “Fadhli, kamu sudah menanyakan hal ini lebih dari 20 kali. Fadhli, aku meninggalkanmu bukan
karena apa-apa, karena aku ingin sendiri.”

Fadhli: “Bohong, kamu pasti sudah punya …”

Tita: “Sumpah, aku enggak punya cowok lain. Kenapa kamu tak percaya kepadaku?”

Fadhli: “Hiks … kamu tega.”

Tita: “Fadhli, lebih baik kita bersahabat saja! Kita bersaudara aja, ya! Seperti kakak adhek …”

Fadhli: “Hiks … hiks …”

Tita: “Sekarang kamu dimana?”

Fadhli: “Di Cemoro Sewu?”

Tita: “Whatttt???? Fadhli, ini malam buta, kenapa naik gunung?”

Fadhli: “Apa pedulimu?”

Tita: “Apa kamu tahu bahwa naik Gunung Lawu melewati Cemoro Sewu tuh jalannya sangat terjal.
Aku gak setuju, mending kamu lewat Cemoro Kandang aja!”

Fadhli gak mempedulikan perkataan Tita. Diapun menutup HP, lalu melanjutkan
perjalanan. Hatinya sudah berserak remuk. Jiwanya terus bertanya pilu, “Kenapa Tita
meninggalkanku?” Sebenarnya raganya lelah karena dari siang tadi belum istirahat, tapi … dia terus
memaksa diri untuk berjalan dan berjalan menyusuri jalanan kasar. Asanya hanya punya satu
keinginan: pingin segera nyampek di pos satu sehingga bisa istirahat bentar sambil makan di
warung.

Empat puluh menit kemudian

Sampailah dia di pos satu. Kebetulan warung masih buka. Diapun langsung memesan kopi
panas, mie rebus dan meminta pemilik warung untuk mengisi termos alumunium yang ada di tas-
nya. Kali ini dia ingin mengisinya dengan teh panas kental tanpa gula. Pahit? Memang. Hmm …
mungkin begitulah suasana patah hati. Semanis apapun makanan dan minuman, rasanya tetap
pahit. Jadi, daripada buang-buang gula, mending gak usah pakai gula. Toh sebanyak apapun gula,
rasanya pahit juga.

111

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Hmm, baru asyik menikmati mie rebus, Tita telpon lagi. Sebenarnya, Fadhli gak mau
angkat tuh telpon, tapi … dia melihat display HP … duh … nampak Tita sudah miscall sebanyak 47
kali. Duh …

Tita: “Fadhli, apa kamu jadi naik Gunung Lawu?”

Fadhli: “Iya, kenapa? Apa pedulimu?”

Tita: “Fadhli, please! Jangan lanjutkan! Kamu tahu ini malam apa?”

Fadhli: “Nggak tahu. Yang kutahu kamu meninggalkan aku karena melirik pemuda lain.”

Tita: “Sumpah aku nggak seperti yang kau tuduhkan.”

Fadhli: “Lalu kenapa kamu meninggalkanku?”

Tita: “Kenapa kamu bertanya itu terus? Aku ingin sendiri, titik.”

Fadhli: “Wanita memang pintar menyembunyikan kebohongan.”

Tita: “Fadhli, aku tidak bohong. Please, aku gak mau tengkar lagi. Fadhli, ini malam jum’at kliwon.
Gunung Lawu tuh angker banget. Tolong besok pagi aja kamu naik gunung. Sekarang please kamu
istirahat aja di pos satu!”

Fadhli: “Memang ada apa dengan malam jum’at kliwon?”

Tita: “Duh … Gunung Lawu tuh gunung paling angker se-Pulau Jawa. Ntar kalau kamu naik terus,
maka kamu akan menjumpai pasar setan.”

Fadhli: “Aku nggak takut. Aku memang benci setan, tapi aku lebih membencimu karena siang tadi
kamu memilih move on. Setan jahat, tapi kamu lebih jahat. Setan pembohong, tapi kamu lebih
pembohong dari setan. Tita, nggak nyangka kamu begitu sadis.”

Tita: “Duh … kenapa kamu membahas bab move on terus? Fadhli, dengan siapa kamu naik Gunung
Lawu?”

Fadhli: “Sendiri.”

Tita: “Whatt??????? Fadhli, kamu gak boleh naik! Please jangan naik!”

Fadhli: “Kenapa?”

Tita: “Fadhli, ada peraturan khusus jika mau naik Gunung Lawu tuh harus genap, nggak boleh ganjil.
Satu rombongan boleh dua orang atau enam orang atau sepuluh orang. Nggak boleh ganjil, karena
jika ganjil ntar yang nggenapin adalah …”

Fadhli: “Setan. Apa begitu maksudmu?”

Tita: “I … i … iya. Duh, aku merinding menyebutnya.”

Fadhli: “Emang kalau aku dibunuh setan, kamu peduli aku?”

Tita: “Fadhli, kenapa kamu bertanya seperti itu?”

Fadhli: “Emang kalau aku mati, kamu nangis?”

112

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Tita: “Hiks … hiks … kayaknya sekarang kamu sangat membenciku.”

Fadhli: “Aku berusaha untuk setia, tapi kamu malahan memilih pemuda lain.”

Tita: “Hiks … hiks … kenapa kamu menuduhku seperti itu? Dah berapa kali kamu mengulang dan
mengulang tuduhan menyakitkan itu? Fadhli … hiks … hiks … kayaknya kamu sangat membenciku.”

Fadhli: “Tita, sejak kelas satu SMA aku belajar keras hingga dapat ranking satu terus. Apa kamu tahu
kenapa aku melakukan itu? Aku ingin prestasiku ini membuatmu tersenyum.”

Tita: “Oya? Hiks …” (tangisan Tita mulai terdengar pelan)

Fadhli: “Hingga kelas tiga SMA, aku senantiasa ranking satu. Semua itu kupersembahkan untukmu,
supaya kamu senang. Aku ingin jiwamu mengatakan bahwa kamu tak salah memilihku.”

Tita: “Duh … hiks ….”

Fadhli: “Tita, sebulan yang lalu aku mempunyai tekad akan menikahimu. Tekadku sangat bulat. Aku
rajin melaksanakan sholat tahajjud. Doa pertama kali yang kuucapkan adalah supaya kita bisa
menikah. Di pagi hari, selesai sholat dhuha, sama … aku juga terus berdoa supaya kita bisa bersama
hingga akhirat. Selesai sholat fardhu, selesai ngaji, selesai dzikir, doaku yang utama adalah supaya
kamu bisa bersamaku. Tapi … hmm …”

Tita: “Hiks … hiks …” (tangisan terdengar parau)

Fadhli: “Tita, sudah 40 menit lebih aku istirahat di pos satu. Sekarang saatnya aku harus melanjutkan
perjalanan menuju ke pos dua.”

Tita: “Hiks … please jangan mendaki! Ini malam jum’at kliwon. Aku takut kamu bakalan …”

Fadhli: “Mati, apa seperti itu maksudmu?” (volume suara meninggi)

Tita: “Hiks … hiks …”

Fadhli: “Siang tadi, saat kamu mengucap kalimat move on, sebenarnya aku langsung mati. Hmm …
mati asa-ku, mati cita-citaku, mati pengharapanku, mati … mati … hiks … hiks … Tita, aku hakikatnya
sudah mati, kini hanya ragaku yang berjalan. Jiwa … hati … asa … sudah habis … mati.”

Tita: “Hiks …” (tangisan terdengar melengking)

Fadhli: “Tita, gimana rasanya membunuhku? Apa kamu puas?”

Kalimat ini membuat tangisan Tita semakin keras dan menyayat hati. Tapi Fadhli tak
peduli. Dia menutup HP, merapikan tas, dan … kembali kakinya melangkah naik gunung.

Tiga puluh menit kemudian

Jalan menuju ke pos dua semakin sulit, banyak bebatuan yang kalau tak hati-hati, raga
bisa terjatuh. Nafas Fadhli ngos-ngosan. Suasana malam semakin pekat. Cahaya rembulan begitu
malas. Sejenak Fadhli menurunkan tas dari punggungnya. Diapun mengambil termos, meminum teh
pahit beberapa teguk. Selesai minum, tiba-tiba aroma bunga melati tercium. Hmm … aromanya
semakin terasa menyengat. Kini … nampak Fadhli mulai takut. Jiwanya berbisik, “Apa mungkin
Gunung Lawu ini angker?” Saat dia akan mengucapkan dzikir, nampak dari kejauhan ada gadis
berjilbab berlari ke arahnya. Matanya melotot banget manakala melihat ternyata tuh gadis adalah

113

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Tita. Hmm … rasa marah bercampur rindu, rasa kesal bercampur cinta, rasa benci bercampur damai
mixing jadi satu di jiwanya.

Tita semakin dekat, mereka berpandangan, saling senyum. Andai mereka nggak takut
dosa, tentu mereka sudah berpelukan.

Tita: “Fadhli, nih kubawakan kopi hangat, silakan diminum!”

Fadhli: “Oya? Terima kasih. Kok kamu begitu cepat nyampek sini?”

Tita: “Aku hobi naik gunung, jadi aku sangat paham dimana posisimu?”

Fadhli: “Emm … bertahun-tahun kamu nggak pernah memakai parfum, kenapa malam ini kamu
memakai parfum melati?”

Tita: “Kalau malam, aku suka memakai parfum ini. Bukan untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri
yaitu terapi parfum.”

Fadhli: “O … baru sekarang aku mendengarnya. Dengan siapa kamu ke sini?”

Tita: “Halah, gak usah banyak tanya! Yuk kita bersama naik gunung ini!”

Fadhli: “Baiklah.”

Fadhi belum sempat meminum kopi hangat pemberian Tita, tiba-tiba HP nya menjerit.
Dilihatnya … Tita call.

“Darrrrrrr,” jantung Fadhli berdegup kencang. Matanya tak berani melihat Tita yang ada di
depannya. Sambil menunduk dan gemetar, dia bicara dengan bibir menempel di HP, “Tita, ka … ka …
kamu dimana?”

Tita: “Aku di rumah. Fadhli, sekali lagi aku minta kamu harus pulang …”

Fadhli: “Tita … di depanku ini juga ada Tita … ada kamu.”

Tita: “Fadhli, aku di rumah. Gadis yang di depanmu itu bukan aku. Please jangan menakuti aku
dong!”

Tangan Fadhli nampak gemetar. Kakinya juga ikut gemetar. Dengan sekuat tenaga, dia
memberanikan diri melihat makhluk yang mirip Tita sambil berkata, “Ka … ka … kamu siapa?????”

Makhluk yang mirip Tita tersebut hanya tersenyum. Dia melangkah menuju ke arah Fadhli.
Jarak mereka semakin dekat … dekat … dekat … kini bibir makhluk yang mirip Tita tersebut sangat
dekat dengan telinga Fadhli. Hmm, aroma ketakutan semakin meradang. Tak tahan dengan semua
itu, akhirnya ”Aaaaakkkhhhhh,” terdengar jeritan Fadhli memecah keheningan malam. Jeritan satu
disusul dengan jeritan kedua, hingga ketiga. Tenggorokan kini terasa kering dan panas. Dari tadi
matanya terkatup, kini setelah beberapa menit, dia memberanikan diri untuk membuka mata dan …
sepi, tak ada apa-apa. Hanya gelap malam dan dinginnya atmosfer serasa semakin menusuk tulang.
Jiwa Fadhli resah, “Duh … lanjut ke puncak gunung apa pulang aja, ya?”

Suasana jiwa yang campur aduk randomizing gak karuan membuat Fadhli terduduk. Mau
pulang … jauh, mau lanjut juga jauh. Belum sempat mikir, tiba-tiba rintik hujan menyapa. Duh …
dengan resah, dia mengeluarkan jas hujan plastik dari dalam tas.

114

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Aneh, begitu jas hujan sudah kepakai, tiba-tiba hujan reda. Fadhli semakin dongkol.
Akhirnya, dia lipat kembali tuh jas hujan, lalu dimasukkan ke dalam tas. Matanya sekejap melihat
detik, sudah jam 22.09. Dia melihat langit, hmm … awan mulai hilang berganti bintang yang
berkedip.

Tak disangka, ada rombongan pendaki yang berada di belakangnya. Sontak diapun
jingkrak-jingkrak karena sudah dapat teman. Jiwanya tersenyum, “Ya Allah, terima kasih. Gue
mantap lanjut naik gunung ini.” Rombongan semakin dekat, dekat … dan dekat. Dalam rombongan
itu, jumlahnya kira-kira enam orang. Saat mereka sangat dekat, Fadhli berkata, “Mas, saya ikut
rombongan Sampeyan, ya!” tapi aneh, tuh rombongan bukannya berhenti, malahan pada lari sambil
teriak, “Setannn … setannnn ….”

Fadhli bengong. Hmm … baru kali ini dia mendapat brand ‘setan’. Otaknya blank,
pikirannya buntu, jiwanya marah, “Kenapa mereka takut kepadaku?” Hmm … sejenak dia berfikir …
emm … “Mungkin mereka menyangka bahwa aku sendiri … mirip setan yang akan mengganggu
mereka,” gumannya dalam hati.

Lima menit kemudian, datang juga rombongan yang lain. Kali ini mereka berseragam
kuning-kuning. Kayaknya anak kuliah-an lagi pada ikut program mapala. Mereka semakin dekat,
sama … Fadhli ingin ikut bergabung dengan rombongan mereka. Tak disangka, ketua mereka
berkata, “Maaf Mas, tidak bisa. Jumlah anggota kami sudah genap, kalau tambah Sampeyan, ntar
malahan ganjil. Mas tahu sendiri kalau ganjil, maka yang akan menggenapi adalah … se … se …
setan.”

Kini rombongan sudah pergi lumayan jauh, Fadhli berdiri galau. Akhirnya, dia mantap
mendaki sendiri. Tentang resiko? Ntar aja lah, mikirnya belakangan.

Dua jam kemudian

Tepat jam dua pagi, Fadhli sudah sampai di Sendang Drajat yang letaknya antara pos
empat dengan pos lima. Sejenak dia duduk, mengeluarkan termos dan nyeruput teh pahit. Rasa
pahit yang nyethak membuat kantuk hilang. Malam semakin kelam, kakinya juga terasa sangat
capek, kini dia berusaha untuk mengambil air wudhu di sendang tersebut. Hmm … saat kulitnya
menyentuh air sendang, dia kaget … duh … dinginnya minta ampun, kayak menyentuh es batu.

Selesai wudhu, diapun menggelar sajadah, lalu sholat. Sendiri … sepi, lengang, gelap
pekat, kadang membuat bulu kuduknya berdiri. Fadhli mencoba sholat dengan sekhusyuk-
khusyuknya. Aneh, saat dia melantunkan Al Fatihah, begitu sampai ayat terakhir yaitu ghoiril
maghdhuubi alaihim waladhooliin … tiba-tiba dibelakangnya terdengar suara lima mpe sembilan
orang serempak berkata, “Aminn.”

Mendengar ada suara amin di belakangnya, duh … Fadhli gemetar mpe hampir pingsan.
Dia ingin melihat ada siapa di belakangnya? Tapi dia takut ntar sholatnya batal, gimana? Akhirnya,
dia berusaha untuk tidak menghiraukan walau rasa takut sudah mencekik leher.

Setelah sholat, dia mengecek di sekitarnya, ternyata tak ada orang. Lalu … siapa yang mengatakan
‘amin’? Apa mungkin setan ikut sholat? “Jangan-jangan jin gunung ini ikut sholat?” bisiknya resah.

Fadhli tetap duduk bersila di atas sajadah. Selesai berdoa, dia mengulangi hafalan juz tiga.
Beberapa menit kemudian, karena pinggang terasa capek, dia mencoba rebahan di atas sajadah
dengan mulut yang terus melantunkan juz tiga. Hingga nyampek Surat Al Baqarah ayat 265,
mendadak dia melihat ada gadis berjilbab yang mengambil air wudhu di Sendang Drajat. Sejenak
hafalannya terhenti. Dia terus mengawasi kaki Sang Gadis. Jiwanya berbisik, “Kalau kaki gadis itu

115

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

melayang, berarti setan, tapi kalau kaki itu nempel tanah, berarti manusia.” Gelap malam membuat
matanya tak bisa melihat kaki tuh gadis. Hmm … dia hanya pasrah. Mau lari … lari kemana? Mau
pulang? Kagak mungkin.

Lamunannya lenyap manakala Sang Gadis itu berkata, “Mas, boleh pinjam sajadah?”
Fadhli bengong sambil mengangguk. Diapun memberikan tuh sajadah dengan mulut terkunci rapat.
Nampak Sang Gadis mengeluarkan mukena dari dalam tas gunung. Dia memakai mukena dengan
sangat cepat, dan … terdengar takbirotul ihram dari bibirnya.

Selagi gadis itu sholat, Fadhli mencoba mencium aroma sekitarnya, apakah ada bau melati
atau enggak. Semenit lebih dia mengecek, ternyata tak ada bau melati. Hmm … hatinya mulai
tenang. Lagi-lagi matanya melihat kaki Sang Gadis … emm … ternyata menempel tanah. Hatinya
bertambah tenang, “Berarti tuh gadis benar-benar manusia,” gumannya sambil nyeruput teh panas
langsung dari mulut termos.

Dingin semakin menusuk tulang, tapi nampak wajah Fadhli mulai cerah. Kini dia
mempunyai teman baru walau masih belum kenal. Beberapa kali dia melihat wajah tuh gadis …
hmm … cantik banget, kayak artis korea, halah … hahaha. Selesai sholat, gadis itu berkata, “Mas,
terima kasih sajadahnya. Kenalkan, nama saya Kayun.”

Fadhli: “Saya … Fadhli. Saya asli Ungaran. Kalau Sampeyan?”

Kayun: “Saya dari Boyolali, Mas.”

Fadhli: “Kenapa naik gunung sendirian?”

Kayun: “Lagi galau, Mas.”

Fadhli: “Lho, kok bisa?”

Kayun: “Sebulan yang lalu aku sudah dilamar ama pacaraku. Akupun menerima lamarannya. Tapi
aneh, menjelang akad nikah, tiba-tiba dia membatalkan semuanya.”

Fadhli: “Jadi, Sampeyan nggak jadi menikah?”

Kayun: “Enggak.”

Fadhli: “Duh, saya ikut prihatin mendengarnya.”

Kayun: “Hmm …”

Fadhli: “Emm, gimana rasanya dikhianati lelaki?”

Kayun: “Rasanya seperti dibunuh, Mas. Dia benar-benar membunuh asa-ku, membunuh cita-citaku,
membunuh semangatku. Kini … aku tak punya apa-apa lagi. Aku … hmm.”

Fadhli: “Nasib kita sama.”

Kayun: “Oya? Kukira hanya lelaki aja yang kejam. Ternyata ada juga gadis yang kejam.”

Fadhli: “Ternyata cinta tuh hanya manis di awal. Sedangkan di endingnya … hmm … beginilah.
Setelah mendaki gunung ini, aku juga nggak tau mau kemana. Mau pulang, malas. Mau sekolah,
malas. Mau main ke teman … malas. Asa-ku benar-benar remuk.”

116

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Kayun: “Sama, Sampeyan masih untung jadi laki-laki, gagal satu masih bisa memilih yang lain.
Sedangkan aku, wanita … gagal satu, susah banget mencari gantinya.”

Fadhli: “Tapi Sampeyan cantik banget kayak artis korea, pasti banyak yang naksir.”

Kayun: “Harusnya gitu, tapi … kenyataannya, hmm … alone terus kok, Mas.”

Fadhli: “Apa Sampeyan benci ama lelaki yang menghancurkan pernikahan Sampeyan?”

Kayun: “Iya, tapi aku lebih benci ama diriku sendiri.”

Fadhli: “Lho, kok bisa?”

Kayun: “Mungkin ada yang salah dengan diri ini. Banyak gadis yang begitu mudah membangun
rumah tangga, tapi kenapa aku begitu sulit?”

Percakapan mereka terhenti manakala ada rombongan yang sedang lewat. Mereka
berjalan ngos-ngosan menuju puncak. Mungkin mereka sangat serius ingin melihat sun rise. Fadhli
menghitung jumlah mereka … emmm … ada delapan orang. Akhirnya Fadhli berkata kepada ketua
rombongan, “Mas, apa aku boleh ikut rombongan Sampeyan?”

Ketua: “Rombongan kami pas genap. Kalau ditambah Sampeyan, ntar malahan rombongan kami jadi
ganjil. Saya nggak mau jumlah ganjil, ntar yang nggenapin malahan … se … se … setan.”

Fadhli: “Mas, aku tahu. Tapi aku tidak sendiri. Nih, aku berdua dengan temanku. Namanya Mbak
Kayun. Jadi kalau rombongan Sampeyan berjumlah delapan, lalu ditambah saya dengan Mbak
Kayun, maka pasti genap jadi sepuluh. Tak ada lagi kata ganjil.”

Ketua: “Mas, kulihat Sampeyan sendiri. Mana teman Sampeyan yang bernama Kayun?”

Fadhli: “Ini, yang berdiri di sebelah saya.”

Ketua: “Mana?????” (mulai ketakutan)

Fadhli: “Ini, yang memakai jilbab putih.”

Ketua: “Saya tidak melihatnya.”

Fadhli: “Duh, ini Mbak Kayun persis berdiri di sebelah saya.”

Aneh, mata ketua rombongan nggak melihat Kayun. Sontak seluruh anggota rombongan
lari tunggang langgang sambil berteriak panik, “Setannnnnnnnn.”

Fadhli bengong melihat tuh rombongan lari lintang pukang. Bahkan ada yang hampir
masuk jurang karena saking paniknya. Untunglah teman yang ada di sebelahnya sempat memegangi
tasnya. Sambil geleng-geleng kepala, Fadhli mengarahkan pandangan ke arah Kayun. Hmm, aneh …
Kayun lenyap begitu saja. Fadhli berusaha mencari kesana-kemari, dia juga berteriak memanggil
nama Kayun, tapi … lima menit berusaha, tak juga ketemu. Jiwanya hanya bisa berbisik, “Wahai
Mbak Kayun, please … yuk kita ngobrol lagi! Aku nggak peduli kamu manusia atau bukan, please!!!
Yuk kita bicara seperti tadi! Mbak, nasib kita sama. Mbak, obrolan tadi belum selesai. Yuk kita
lanjutkan!”

Fadhli hanya bicara sendiri, tak ada balasan. Kayun … hmm … dia lenyap ditelan gelapnya
Gunung Lawu. Nampak kedua tangan Fadhli memeluk sajadah yang tadi dipakai Kayun untuk sholat.

117

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Sambil memeluk, dia terus terbayang wajah ayu Kayun. Dengan reflek, hatinya menengadah ke
langit sambil berdoa, “Ya Allah, siapa sebenarnya Kayun?”

Lima belas menit kemudian

Fadhli sampai di pos lima. Sejenak dia mengarahkan mulut termos beradu dengan
mulutnya. Hmm … teh tak lagi hangat, bahkan sangat dingin. Sambil santai, dia berbaring di tanah.
Kebetulan disebelahnya ada pohon. Dia mengamati tuh pohon, karena cuaca gelap, diapun
menerangi batang pohon itu dengan senter. Nampak ada kertas pengumumam di pohon itu,
kelihatan juga ada fotonya. Karena dilanda penasaran yang sangat, akhirnya dia berdiri dan
mendekat. Dipandanginya dengan seksama foto itu.

“Darrrrrr,” jantung Fadhli hampir berhenti berdetak manakala foto yang menempel di
batang pohon itu adalah fotonya Kayun. Di sebelahnya ada tulisan, “Telah hilang anak kami. Nama:
Kayun Pramesthi. Barangsiapa berjumpa dengan gadis ini, mohon hubungi nomer telpon …”
Nampak nomer telpon sudah disobek. Mungkin ada yang sengaja menyobek. Atau … duh … jangan-
jangan Kayun sendiri yang menyobek tuh nomor. Jiwa Fahdli semakin bingung bercampur gelisah.

Jiwa: “Ternyata Kayun hilang di Gunung ini.”

Hati: “Kira-kira dia sudah mati atau masih hidup, ya?”

Jiwa: “Hmm, kayaknya sudah mati.”

Hati: “Tapi kenapa tadi dia meminjam sajadahmu untuk sholat?”

Jiwa: “Andai dia hidup, kenapa dia lenyap begitu saja? Kenapa rombongan tadi tak bisa melihat
Kayun?”

Hati: “Hmm … gunung ini menyimpan banyak misteri.”

Jiwa: “Iya, kayaknya mungkin Kayun memilih mati daripada hidup tapi disiksa ama lelaki.”

Hati: “Apa mungkin dia bunuh diri?”

Jiwa: “Bisa jadi. Atau dia disembunyikan ama makhluk halus. Atau … emboh … aku nggak paham.”

Hati: “Andai Kayun bisa ngobrol dengan kita lagi, ya?”

Jiwa: “Iya, aku harap dia mau datang lagi.”

Hati: “Apa kamu nggak takut?”

Jiwa: “Enggak. Aku malahan kasihan dengannya. Kenapa masalah begitu besar menimpanya.”

Hati: “Kayaknya masalah itulah yang membunuh Kayun.”

Jiwa: “Mungkin. Bagaimanapun juga, wanita itu sangat lemah, tak berdaya. Suminten aja mpe gila
karena tak jadi menikah. Kayun … duh … aku ikut prihatin atas musibah yang menimpamu, Mbak.”

Jam empat lewat delapan menit, Fadhli sudah siap akan melaksanakan sholat subuh.
Hehehe, sekarang tuh pemuda sudah berada di Hargo Dumilah, salah satu puncak tertinggi di
Gunung Lawu. Ketinggiannya mencapai 3265 mdpl. Sebenarnya nih gunung nggak tinggi-tinggi amat.
Tapi lumayanlah untuk pemula seperti Fadhli.

118

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Termos alumunium sudah terisi penuh kembali. Tadi saat di pos lima, dia membeli teh
panas pahit di warungnya Mbok Yem. Inilah mungkin warung yang letaknya tertinggi di pulau Jawa,
yaitu diatas 3000 meter di atas permukaan laut. Hmm … Mbok Yem, seorang wanita dengan fisik
dan jiwa yang super kuat. Beliau bukannya jualan di kota atau di keramaian, tapi jualan di puncak
gunung untuk melayani para pendaki. Wow, beliau harus masuk daftar orang terhebat di dunia.

Fadhli mulai membentang sajadah. Hatinya berbisik, “Saatnya mengistirahatkan ruh.”
Benar, momen seperti ini sangat jarang, Fadhli mulai konsentrasi. Sejenak hanya Allah yang diingat
dalam sanubarinya. Tita, Kayun, jin, setan, sejenak dia melupakan. Kini raganya berada di ketinggian
3000 meter, dia berharap ruhnya juga semakin dekat dengan Sang Pencipta.

Hampir aja memulai sholat, tiba-tiba ada suara dari belakang, “Mas, apa saya boleh ikut
sholat jamaah?” Fadhli menoleh ke belakang … hmm … seorang gadis manis yang sudah memakai
mukena, tepat berada di belakang Fadhli. Sambil mengangguk, diapun mempersilakan. Gelapnya
suasana, ditambah dengan suhu yang semakin dingin tak membuat Fadhli panik. Dengan mengucap
takbiratul ihram, diapun mulai melaksanakan sholat.

Saat sujud, hmm … dahi menempel sajadah, dia sengaja agak lama dalam posisi seperti ini.
Gak tahu kenapa, mungkin ruhnya ingin berlama-lama sujud dihadapan Allah. Tak lama kemudian,
sholat sudah selesai ditunaikan. Fadhli berdoa, dan diamini oleh gadis yang ada di belakangnya.

Detik sudah menunjukkan jam 04.20, kedua mata Fadhli langsung konsentrasi menatap ke
arah ufuk timur. Bahkan dia tak mempedulikan gadis yang ada di sebelahnya. “Mas, kenalkan, nama
saya Huning,” sapa gadis itu.

Fadhli: “Saya … Fadhli.”

Huning: “Lagi nunggu detik-detik proklamasi ya, Mas?”

Fadhli: “Proklamasi apa?”

Huning: “Detik-detik proklamasi matahari terbit.”

Fadhli: “Hehehe, bener Dhek.”

Huning: “Eh, lihat … ufuk timur sudah mulai berwarna merah.”

Fadhli: “Duh, indah banget. Kayaknya jika ngeliat ginian terus, beratnya masalah hidupku bisa hilang
deh.”

Huning: “Enggih, bener Mas. Tujuan utamaku ke puncak gunung ini juga ingin menghibur hati. Mas,
HP Sampeyan bergetar.”

Fadhli: “Biar aja.”

Huning: “Kayaknya ada telpon, kenapa enggak diangkat?”

Fadhli: “Paling yang nelpon Si Tita. Hehehe, dia sudah call 128 kali sejak empat jam yang lalu, tapi
kubiarkan aja.”

Huning: “Hehehe, kayaknya lagi tengkar ama yayang-nya ya, Mas?”

Fadhli: “Bukan tengkar, tapi move on.”

Huning: “Whatt???? Maaf, saya ikut prihatin mendengarnya.”

119

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Fadhli: “Apa kamu pernah merasakan move on?”

Huning: “………….”

Fadhli: “Kok diam?”

Huning: “………..”

Fadhli: “Ya udah, gpp … mungkin kamu nggak suka membicarakan masalah ini. Lihatlah, Sang
Matahari mulai kelihatan sedikit. Wow … very beautiful. Untung aja sekarang cuaca sangat cerah
sehingga setiap sudut langit kelihatan indah dengan sangat detail.”

Huning: “Hehehe … capek-ku langsung hilang melihat sun rise. Ternyata alam sangat ayu ya, Mas?”

Fadhli: “Iya, ustadzku sering menasihatiku supaya sering keluar rumah, melihat alam, melihat ayat
Allah yang terbentang. Mengurung diri di kamar hanya akan menambah gelisah.”

Huning: “Eh, lihatlah awan berarak di bawah kita!”

Fadhli: “Benar. Kalau saat di rumah, yang kita lihat … awan selalu di atas kita. Tapi kalau di sini, hmm
… awan menari di bawah kaki kita.”

Huning: “The beautiful sun perlahan naik ke langit dari balik cakrawala. Perlahan warnanya jingga
berpendar diikuti warna ungu kebiru-biruan. Hatiku terasa hangat hingga seperti meleleh jika
menyaksikan ini semua.”

Fadhli: “Huning …”

Huning: “Enggih Mas …”

Fadhli: “Kapan kamu merasa di puncak kebahagiaan?”

Huning: “Emm … jujur. Saat Mas Anom berniat akan melamarku enam bulan yang lalu, itulah puncak
kebahagiaanku.”

Fadhli: “Berarti bentar lagi kamu menikah. Selamat ya … aku ikut berdoa semoga pernikahanmu
indah, beauty dan …”

Huning: “Mas Anom membunuhku.”

Fadhli: “Duh …”

Huning: “Saat melamarku, dia sudah bekerja. Tapi dua hari kemudian, dia di-PHK. Tanpa pamitan,
dia pergi merantau ke Jakarta. Kabarnya dia sudah dapat kerja. Tapi ketika ku-tanya tentang
masalah lamaran, dia … dia … hiks.”

Fadhli: “Di-cancel, ya?”

Huning: “Hiks … hiks … sakitnya masih terasa pilu hingga sekarang. Padahal orang sekampung sudah
tahu kalau aku akan menikah dengan Anom. Orang sekampung juga tahu tentang batalnya
pernikahan ini. Aku akhirnya menjadi bahan gunjingan para penduduk kampung.”

Fadhli: “Hmm, kira-kira kapan kamu bisa kembali ceria?”

Huning: “Anom sudah membunuhku … membunuh keceriaanku, membunuh kegembiraanku.
Kayaknya, aku sudah tak bisa tertawa lagi.”

120

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Fadhli: “Eh, lihatlah matahari semakin naik! Suhu yang dingin membeku, kini perlahan mulai hilang
berganti kehangatan.” (nampak Fadhli mengeluarkan termos dari dalam tasnya. Dia meminumnya
beberapa teguk, lalu menawari Huning untuk minum. Gadis itu mengangguk)

Huning: “Mas, kenapa tehmu pahit banget?”

Fadhli: “Kemarin aku di-move on. Pasca kejadian itu, semua terasa pahit. Bahkan teh manis-pun
terasa sangat pahit. Jadi, daripada buang-buang gula, mending gak usah pakai gula sekalian. Toh,
rasanya sama … pahit.”

Huning: “Nasib kita sama.”

Fadhli: “Penderitaan kita sama. Aku bingung, abis turun gunung, mau kemana? Aku gak mau pulang
ke rumah.”

Fadhli menoleh ke samping, tiba-tiba Huning hilang begitu saja. Padahal sedetik yang lalu
masih ada. “Hmm … siapa dia,” hatinya terus bertanya. Kali ini Fadhli tidak merasa takut. Mungkin
dia sudah memahami tentang karakter Gunung Lawu yang menyimpan banyak misteri.

Aneh, bekas tempat yang di duduki Huning, kini ada burung jalak yang berbulu kuning.
Hmm … aneh, biasanya bulu jalak tuh hitam, atau putih, kadang coklat, tapi ini … kuning. Fadhli
terus memandangi tuh burung. Mata mereka beradu pandang. Lima detik, semenit, lima menit,
mereka masih beradu pandang. Dengan tersenyum Fadhli berkata, “Hai burung jalak, kamu pasti
Huning, hehehe. Tatapan matamu tak bisa bohong. Hai Dhek Huning, kayaknya kamu lebih bahagia
dariku. Dhek, kamu bisa bebas terbang kemana yng kamu suka, kamu bisa bebas melihat ciptaan
Allah yang terbentang. Dhek … aku iri kepadamu. Dhek, sekarang saatnya aku pamit. Aku akan turun
gunung dengan melewati rute yang berbeda. Aku ingin menyusuri rute Cemoro Kandang. Tapi aku
belum pernah melewatinya. Doakan aku moga-moga nggak tersesat.”

Tiga puluh menit kemudian

Fadhli menuruni jalan dengan sangat hati-hati. Rupanya pagi ini rute yang mengarah ke
Cemoro Kandang sempat diguyur hujan walau sedikit, tapi cukup membuat rute sangat licin. Fadhli
terpaksa merangkak karena takut terpeleset. Kalau sampai masuk jurang … duh.

Beratnya medan membuat raga Fadhli tak lagi mempunyai daya. Ibarat HP, tuh battery
sudah low. Aneh, burung jalak kuning senantiasa terbang persis di depan Fadhli. Seakan burung ini
mengajak Fadhli lomba menuruni terjalnya gunung. Jiwanya tersenyum dengan mata terus
menikmati keindahan burung jalak kuning.

Hati: “Hehehe, Dhek Huning terus terbang di depan kita.”

Jiwa: “Bukan Huning, tapi jalak berbulu kuning.”

Hati: “Aku yakin jalak itu adalah Dhek Huning.”

Jiwa: “Kok bisa? Logikanya gimana?”

Hati: “Kenapa harus terus memakai logika? Otakku kalau ditimbang, paling beratnya hanya 1.5 kg.
Hmm … massa segitu kecil takkan mampu menjawab semua fenomena yang ada di alam ini.”

Jiwa: “Benar. Alangkah indahnya jalak kuning itu. Andaikan penggemar burung mengetahui jalak
kuning ini, pasti langsung dibeli, ya?”

121

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Hati: “Hehehe, harganya bisa milyaran. Karena jalak yang berbulu kuning hampir mustahil bisa
didapatkan.”

Jiwa: “Eh, lihat! Di depan itu sudah nampak pos lima. Aku mau istirahat dulu.”

Di pos lima ini sekitar jam tujuh pagi, Fadhli langsung berbaring. Sekujur badan terasa
pegal dan linu. Yang paling parah adalah daerah telapak kaki, tulang tumit, hingga otot paha, terasa
sangat linu, seperti abis dipukuli orang sekampung. Sambil terbujur lemah, dia menyeruput
beberapa teguk teh dari termos kesayangannya. Memang rasanya pahit, tapi syukurlah … masih ada
hangatnya sehingga lumayan untuk menaikkan stamina.

Masih dalam posisi baring, samar-samar dia melihat seorang pemuda yang datang menuju
ke arahnya. Hmm … dalam kondisi ngantuk berat karena semalam nggak tidur, dia mencoba
mengingat siapa tuh pemuda. Akhirnya, dengan senyum puas, dia berhasil mengingatnya. Paino …
hehehe … bener. Dia adalah Paino. Seorang pemuda yang pernah tinggal di rumahnya yang ada di
Ungaran. Aslinya tuh pemuda bertempat tinggal di Desa Beruk Kec. Jatiyoso Karanganyar Solo.
Hehehe … padahal letak desa tersebut cukup dekat dari sini. “Gak nyangka bisa seberuntung ini,”
guman Fadhli dalam hati.

Kenapa dulu Paino bisa bertempat tinggal di rumah Fadhli? Paino adalah seorang tukang
bangunan yang ikut merenovasi rumahnya Fadhli. Jadi, karena tuh rumah lumayan luas, sekalian aja
beberapa tukang ikut tidur di situ, daripada nge-kost. Toh kerjaan renovasi paling hanya tiga
minggu. Tapi kebersamaan selama tiga minggu menjadikan mereka akrab. Paino, paling usianya
sebaya dengan Fadhli, tapi badannya sangat kekar. Maklumlah, pekerjaannya sangat berat sehingga
menuntut fisik yang kuat.

Begitu kedua pemuda ini bertemu … hehehe … aroma persaudaraan semakin kental.
Hampir satu jam mereka bicara ngalor ngidul.

Paino: “Gimana rasanya mendaki di gunungku ini, Mas? Apa sudah ketemu ama setan?”

Fadhli: “Hahaha … sttt … jangan ngobrolin setan di sini, ntar dia malah dengar, gimana?”

Paino: “Gue sih gak peduli setan atau jin atau manusia, yang penting ayu dan cantik … halah …
hahaha.”

Fadhli: “Eh, Paino, kenapa kamu bisa nyampek sini?”

Paino: “Bapak Sampeyan telpon aku. Beliau khawatir banget. Makanya aku disuruh mencari
Sampeyan.”

Fadhli: “Oalaaa … maaf kalau kami merepotkanmu, Mas.”

Paino: “Mboten nopo-nopo. Lagian daerah sini juga merupakan area tempat mainku sejak kecil, jadi
mencari Sampeyan ibaratnya seperti mencari di halaman rumah sendiri.”

Fadhli: “Eh, dari sini ke rumahmu, butuh berapa jam?”

Paino: “Kalau memakai kecepatan saya saat berjalan, paling-paling butuh waktu 1.5 jam. Tapi kalau
memakai kecepatan Sampeyan, ya butuh 3 jam. Gimana, mau memakai kecepatan yang mana?”

Fadhli: “Pakai kecepatan helikopter aja, lah … hahaha.”

Dua hari full … Fadhli tidur maksimal di rumah Paino, halah … hahaha. Memang bener kok,
paling dia bangun hanya untuk urusan sholat ama makan, selebihnya … istirahat total. Pengalaman

122

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

pertama mendaki gunung membuat otot-ototnya pada pecah, kemudian tumbuh otot baru yang
lebih besar. Proses ini duh … sangat menyakitkan. Lain halnya dengan Paino. Dia asli anak gunung.
Sejak kecil sudah terbiasa naik turun gunung. Dia bisa mendaki Gunung Lawu dengan metode lari
sehingga hanya butuh waktu yang sangat singkat. Jika pemuda kota dipaksa mendaki gunung
dengan metode lari … inna lillahi deh … hahaha.

Habis maghrib, suhu atmosfer mulai dingin. Apalagi kabut turun. Hmm, setelah
melaksanakan sholat maghrib di mushola milik Pak Mursito, maka Fadhli langsung berlari. Lari
kemana? Ke gunung lagi? Hahaha, enggak lah. Dia langsung bergegas menuju ke depan api pawon
yang ada di dapur Paino. Fadhli merasa nggak nyaman jika harus duduk di ruang tamu atau di kamar
karena cuaca sangat dingin. Di depan api … inilah yang paling ideal.

Paino: “Mas, mbok Sampeyan tinggal di sini aja! Tuh saya sudah menyiapkan kamar untuk
Sampeyan.”

Fadhli: “Hahaha, pinginnya sih gitu. Suasana di sini … wow … mantap. Rutinitas keseharianku di kota
benar-benar bisa di-cut abiss. Di sini, di lereng gunung Lawu memberiku kedamaian yang luar biasa.
Lima hari lagi aku harus balik ke Ungaran.

Paino: “Mas, ntar abis sholat isya’, Sampeyan disuruh mengisi kultum pengajian di musholanya Pak
Mursito.”

Fadhli: “Whattt???? Kenapa harus aku?”

Paino: “Penduduk sini ingin mendengar ceramah Sampeyan, hehehe.”

Fadhli: “Tapi aku belum bisa ceramah. Aku aja baru kelas 3 SMA.”

Paino: “Sudahlah, kultum kan cuman 7 menit. Jadi, silakan ceramah aja! Materinya terserah
Sampeyan, dan … Sampeyan harus setuju! Hehehe.”

Fadhli: “Baiklah. Moga-moga ceramahku bisa lancar. Mushola itu memang milik pribadi Pak Mursito,
ya?”

Paino: “Benar Mas. Keluarga beliau sangat tekun beribadah. Anak pertama bernama Ummi, dia
masih duduk di bangku kelas 1 SMA. Tuh gadis sangat sholihah, pinter dan pemalu. Bahkan sangat
pemalu. Anak kedua bernama Irzha, masih duduk di SD kelas enam. Tuh anak juga pinter banget
mengaji.”

Fadhli: “Ummi … hmm … kok mendadak aku langsung deg-degan mendengar namanya, ya?”

Paino: “Hahaha, tapi jangan harap Sampeyan bisa melihat wajahnya. Dia sangat pemalu. Kalau
keluar rumah, dia menutupi wajahnya dengan selendang, kadang kain, dan … selalu menunduk.”

Fadhli: “Apa dia cantik?”

Paino: “Pasti, keningnya sangat putih bersih.”

Namanya aja masih sama-sama ABG, kalau sudah ngobrol menyangkut yang ayu-ayu …
wis wis wis … parah … hahaha. Tiba-tiba HP Fadhli menjerit. Dilihatnya, Tita call. Kali ini dia mau
angkat tuh HP. Gimana lagi, sudah 200 lebih Tita call Fadhli, tapi gak pernah diangkat.

Tita: “Kenapa sekarang baru diangkat??” (nada Tita meninggi bercampur dongkol)

Fadhli: “Untuk apa bicara denganmu. Toh kamu juga sudah move on aku.”

123

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Tita: “Tapi kita kan masih menjadi sahabat dekat. Bahkan dekat banget.”
Fadhli: “……….”
Tita: “Fadhli, setelah kupikir dengan sangat panjang dan njlimet, emm … emm … kayaknya aku mau
balik lagi deh ama kamu.”

Fadhli: “………..”
Tita: “Aku siap menjadi calon istrimu. Kupikir, kamulah yang terbaik.”
Fadhli: “………….”
Tita: “Aku berjanji takkan menyakitimu, takkan megeluarkan keputusan yang membuatmu
menderita.”
Fadhli: “………….”

Tita: “Fadhli, kamu boleh melamarku setelah selesai kuliah atau setelah kamu kerja. Aku ikut aja.”
Fadhli: “………….”
Tita: “Kenapa kamu terus terdiam?”
Fadhli: “………….”

Tita: “Apakah kamu masih marah? Cobalah untuk mudah memaafkan!”
Fadhli: “……………..”
Tita: “Hmm, sumpah aku gak pernah mencintai pemuda lain selain kamu. Kemarin aku move on tuh
karena jiwaku yang resah dan bingung campur aduk jadi satu. Biasalah yang namanya wanita,
kadang emosi dan perasaan mengalahkan sanubari.”
Fadhli: “Aku takut.”
Tita: “Kenapa takut?”
Fadhli: “Emm … aku membayangkan misal nanti setelah kita menikah, lalu tiba-tiba kamu minta
move on seperti kemarin, duh … aku trauma.”

Tita: “Sumpah, aku nggak bakalan mengatakan itu lagi.”
Fadhli: “Kadang kepercayaan itu ibarat sebuah genting. Jika sudah pecah, takkan mungkin disatukan
lagi. Genting pecah … hmm … yang terbaik adalah mencari genting baru yang masih utuh dan kuat.”
Tita: “Jadi … jadi … kamu gak mau balik ke aku lagi?” (rintihan lirih terdengar sayup-sayup)
Fadhli: “…………”
Tita: “Fadhli, kenapa kamu gak bisa memaafkanku?”
Fadhli: “Andai kamu memukulku, aku masih bisa memaafkan. Tapi untuk masalah ini, aku trauma.
Aku paling tidak suka dengan wanita yang dengan mudah mengucapkan kata putus.”
Tita: “Hiks … hiks …Fadhli … kenapa kamu tega kepadaku?” (tangisan terdengar pilu.”

124

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Fadhli: “Tita, semenjak kamu mengatakan move on, sebenarnya aku sudah mati. Kamu sudah
membunuhku. Tita, ketahuilah bahwa Fadhli sudah mati, sekarang hanya raga aja yang berjalan,
sedang kebahagiaan hidupnya sudah mati. Tentu kamu sangat tahu siapa yang tega membunuh
Fadhli.”

Tita: “Duh … aku gak nyangka penderitaanmu begitu mendalam.”

Fadhli: “Hmm, aku nggak pernah mencintai wanita lain selain kamu. Kamu adalah cinta pertama
sekaligus yang terakhir. Tapi … kamu tega banget. Jadi … daripada aku trauma dengan kata move on,
lebih baik aku pergi aja dengan asa yang remuk berserak.”

Tita: “……….” (hanya tangisan yang terdengar semakin kencang)

Fadhli: “Tita, trims karena sudah membunuhku. Tita, gimana rasanya membunuh orang?”

Kalimat terakhir yang terucap dari lisan Fadhli sontak membuat Tita menangis semakin
keras. Tapi … Fadhli sudah lelah, capek. Dimatikannya HP, sejenak pandangannya mengarah ke
Paino, hmm … Paino juga terdiam karena tak mau mencampuri urusan orang. Sambil meminum teh
panas dari termosnya, Fadhli berdiri, melangkah ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu
karena adzan isya’ sudah terdengar.

Lima belas menit kemudian

Sholat isya’ sudah ditunaikan, kini ada hampir 100 jamaah duduk rapi di mushola Pak
Mursito. Nampak jamaah laki-laki duduk di sebelah kanan, sedangkan jamaah perempuan duduk di
sebelah kiri. Fadhli duduk menghadap para jamaah dengan ditemani oleh Pak Mursito dan Paino.

Fadhli mulai ceramah. Inilah cuplikan kalimat yang terucap, “Saudara, semua yang ada di
atas tanah pada hakikatnya adalah tanah. Mushola ini ada tembok. Tembok terbuat dari pasir,
sedangkan pasir diambil dari dalam tanah. Sampeyan semua memakai baju. Baju terbuat dari kapas,
sedangkan kapas diambil dari pohon. Pohon mendapat makanan dari akar, dan akar mendapat
makanan dari tanah. Mobil, ada besinya, dan besi diambil dari tanah. Motor, ada bensinnya, juga
diambil dari dalam tanah. Semua dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Satu-satunya yang
dari langit adalah ilmu. Saudara, ilmu bukan dari tanah, melainkan dari langit. Oleh karena itu,
barangsiapa yang mencintai ilmu, maka ia mencintai barang langit. Jika saudara mengumpulkan
ilmu, memperbanyak hafalan, maka sama saja dengan mengumpulkan barang langit. Orang yang
mempunyai banyak ilmu, banyak hafalan, maka suatu saat ruhnya akan naik ke langit, ke sorga,
itulah kebahagiaan orang yang mencintai ilmu. Sebaliknya, manusia yang hanya mengutamakan
barang tanah, maka ruhnya takkan mampu ke langit melainkan terjepit di dalam tanah bersama
dengan barang yang dicintainya.”

Tiba-tiba ada jamaah yang nyeletuk bicara, “Mas, tuh Dhek Irzha, putra Pak Mursito, dia
sudah menghafal Qur’an dua juz padahal masih SD.” Sontak semua hadirin tepuk tangan dengan
wajah cerah mengarah ke Irzha. Hehehe … Si Irzha dengan malu berkata, “Terimakasih, semoga ini
menjadi motivasi saya untuk lebih giat lagi menghafal.”

Dari arah pojok ada juga yang bicara, “Tapi aku sangat salut ama Dhek Ummi, kakaknya
Irzha. Padahal baru kelas satu SMA, tapi sudah sanggup menghafal 16 juz Qur’an.” Sontak para
hadirin bergembira dan mengarahkan pandangan ke Ummi. Tapi … Ummi sangat pemalu. Bukannya
bicara, dia malahan menutupi wajahnya dengan kain sambil menunduk.

Fadhli juga mencoba mencuri pandang dengan mengarahkan pandangan ke Ummi, tapi …
nihil. Lha gimana lagi, wajah tuh gadis tertutup rapat ama kain selendang, hahaha. Sabar ya, Mas!!!!

125

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Selesai acara pengajian, Fadhli semakin penasaran. Jiwanya terus bertanya.
Jiwa: “Baru kali ini aku melihat gadis pemalu.”
Hati: “Kalau di kota kayaknya gak ada lagi yang pemalu, ya?”

Jiwa: “Hehehe, malahan malu-malu’in, hahaha.”
Hati: “Benar. Tapi memang pakaian yang paling indah bagi seorang wanita adalah sifat malu.”
Jiwa: “Oya?”
Hati: “Jika wanita sudah tak punya lagi rasa malu, maka …”

Jiwa: “Hmm, aku jadi semakin penasaran, gimana sih wajah Dhek Ummi?”
Hati: “Cari aja di Facebook!”
Jiwa: “Pasti gak bakalan ada.”
Hati: “Atau besok main ke rumahnya.”
Jiwa: “Huss!!! Itu namanya saru, gak pantas. Ini kampung broo, bukan kota. Di sini adat sopan
santun masih dijaga dengan sangat ketat.”

Hati: “Eh, gara-gara ada Dhek Ummi, sekarang Tita jadi hilang dari memori-mu, ya?”
Jiwa: “Tita dah lenyap, persis kayak di-uninstall, hahaha.”
Hati: “Aku membayangkan, pasti lelaki yang suatu saat menikah dengan Dhek Ummi, adalah salah
satu laki-laki yang paling bahagia di muka bumi.”
Jiwa: “Iya. Dhek Ummi ibarat perhiasan yang paling mahal. Tuh perhiasan disimpan di kotak emas,
lalu dikunci. Trus tuh kotak dimasukkan ke lemari, dan lemarinya juga dikunci. Lemari ditaruh di
rumah … sama … rumahnya juga dikunci dengan gembok yang kuat.”
Hati: “Tuh rumah kayaknya juga diberi pagar, dan pagarnya dikunci juga.”
Jiwa: “Hehehe, bener. Kok jadi ngebahas Dhek Ummi, ya?”
Hati: “Iya, gimana lagi. Wanita itu manis.”

Jiwa: “Bukan manis, tapi harum.”
Hati: “Seperti bunga, ya?”
Jiwa: “Lebih indah dari bunga.”
Hati: “Seperti parfum?”

Jiwa: “Lebih harum dari parfum.”
Hati: “Trus kalau nggak seperti parfum, seperti apa?”
Jiwa: “The real wanita itu ya Dhek Ummi. Andai seluruh gadis negeri ini mempunyai akhlaq mirip
Dhek Ummi, hmm … pasti negeri ini akan menjadi sorga dunia.”
Hati: “Eh, sudah jam 9 malam, kira-kira Dhek Ummi lagi ngapain, ya?”

126

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Jiwa: “Duh, kenapa lamunanmu bisa sejauh itu? Please jangan mikir yang macam-macam! Tuh gadis
sudah hafal 16 juz. Pasti malam ginian masih menghafal Qur’an. Mungkin dia menghafal juz 17 atau
mengulangi hafalan yang lalu.”

Hati: “Hmm … kita tinggal di kampung sini aja yuk! Nggak usah pulang ke Ungaran.”

Jiwa: “Huss! Parah loe … hahaha.”

Pagi ini merupakan hari ke enam Fadhli liburan di rumahnya Paino. Udara masih lumayan
dingin, diapun nyeruput teh panas dari termos aluminium-nya. Walau sudah settle di rumah Paino,
tapi termos aluminium tetap rutin diisinya dengan teh panas. Kali ini, dia mengeluarkan tas kecil dari
carrier-nya. Tas itu diisi dengan termos dan … Qur’an kecil. Iya … Fadhli ingin membaca Qur’an di
alam perbukitan sekitar kampung ini.

Semenjak dia rajin mengisi ceramah kultum di mushola Pak Mursito, maka dia cepat
dikenal oleh masyarakat. Tiga hari yang lalu, saat dia lagi jalan-jalan menikmati indahnya perbukitan
di sekitar desa, dia bertemu dengan Pak Minto, salah satu warga kampung. Pak Minto mengajak
Fadhli untuk sarapan di rumahnya. Hmm … kurang sopan rasanya jika menolak ajakan warga.
Akhirnya, diapun sarapan di rumah Pak Minto. Apa menunya? Nasi jagung ama tempe goreng.
Awalnya memang sangat asing dilidah karena seumur hidup belum pernah makan nasi jagung, tapi
lama-lama … emm … tetap asing juga. Fadhli tak bisa menikmati nasi jagung. Dia makan dengan
terpaksa, gimana lagi, gak mungkin menolak ajakan warga.

Kemarin, Fadhli juga di ajak salah satu warga untuk makan siang. Hmm, suasana
kekeluargaan di kampung ini memang patut diacungi jempol. Apa menunya? Sama … nasi jagung
ama tempe goreng. Sengaja Fadhli mengisi piringnya dengan sedikit nasi jagung karena … hmm …
dia benar-benar nggak bisa menikmati nasi jagung.

Di malam hari, selesai mengerjakan sholat maghrib, dia juga diajak oleh salah satu warga
untuk menikmati makan malam di rumahnya. Lagi-lagi nasi jagung yang menjadi menu utama. Hmm
… Fadhli terus mengingat sabda Nabi bahwa tamu itu seperti mayit. Artinya: mayit selalu patuh
kepada siapa aja yang mengurusnya, gak pernah membantah. Hehehe, jika warga memberinya teh
hangat, dia pasti meminumnya. Jika warga memberinya nasi jagung … dia pasti memakannya walau
sedikitpun dia tak bisa menikmati kelezatan tuh nasi.

Pagi ini, saat mau berjalan menikmati keindahan tanaman bawang yang ada dilereng
bukit, e … tak disangka, Si Irzha, putranya Pak Mursito berlari menuju ke arahnya sambil berkata,
“Mas Fadhli, kata Bapak … Sampeyan harus sarapan di rumah saya. Sekarang juga. Kami sudah
menyiapkan sarapan untuk Sampeyan.”

Ajakan ini membuat Fadhli meringis kegirangan. Kenapa? Hahaha …

Jiwa: “Akhirnya, setelah menunggu dan menunggu, kini … ada kesempatan yang sangat bagus untuk
bertemu Pak Mursito dan …”

Hati: “Dan siapa???? Dhek Ummi, ya?”

Jiwa: “Hehehe. Rasa penasaran melihat gimana wajahnya … duh … kayaknya tak bisa dibendung
lagi. Sudah hampir seminggu aku di sini, belum pernah sedikitpun bisa melihat wajah tuh gadis.
Padahal besok aku sudah harus kabur ke Ungaran. Piye jal?”

Hati: “Kalau boleh menebak, pasti wajah Dhek Ummi tuh … cerah seperti rembulan. Jadi, walau
berjalan di kegelapan malam, maka karena aura wajahnya yang bersinar itulah, jalan di sekitarnya
bisa menjadi terang.”

127

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Jiwa: “Kalau bibirnya?”

Hati: “Emm … mungkin kayak mangga yang sudah masak. Mak nyuss banget.”

Jiwa: “Wah, parah banget, loe.”

Hati: “Dhek Ummi, jika aku boleh terus menebak … hmm … bahunya sejajar seperti timbangan
emas, lengannya menyiku seperti busur, jari-jarinya panjang dan ramping, selentik rerumputan
hutan. Kukunya seperti mutiara, kulitnya kuning terang, pinggulnya seperti patram keluar dari
cangkang dan pinggangnya seperti daun limas.”

Jiwa: “Eh, ngapain kamu ngebahas mpe pinggang?”

Hati: “Reflek broo, hahaha. Eh, kita dah sampai rumahnya Dhek Ummi. Time for smile and happy,
hahaha.”

Irzha mempersilakan Fadhli untuk memasuki rumahnya. Sejenak Fadhli terpana dengan
keindahan bangunan rumah adat jawa dimana seluruh material bangunan didominasi oleh kayu.
Saat memasuki ruang tamu … dia kaget, ternyata ruangan ini sangat luas, mungkin sekitar 15 meter
x 15 meter. Wow … lapang banget.

Irzha: “Dulu saat kecil, saya suka main sepeda di ruangan ini.”

Fadhli: “Hmm … saking luasnya ruang tamu ini, kayaknya suatu saat kita bisa main futsal di sini ya,
Dhek?”

Irzha: “Hehehe, enggih Mas.”

Fadhli: “Eh, kulihat ke arah atas, emm … kenapa banyak bawang putih yang digantung di atap?”

Irzha: “Begitulah cara penyimpanan yang terbaik untuk bawang putih. Kalau disimpan dekat tanah,
ntar malahan tumbuh e, Mas. Jadi malahan nggak laku dijual.”

Percakapan mereka terhenti manakala Pak Mursito datang. Fadhli langsung menyalami
dan … mereka ngobrol santai.

Mursito: “Mas Fadhli, gimana rasanya tinggal di kampung ini?”

Fadhli: “Luar biasa Pak. Letak kampung ini di lereng Gunung Lawu, dengan pemandangan yang
menghijau, ditambah suasana udara yang sejuk, hmm … rasanya saya pingin banget tinggal menetap
di sini aja, hehehe.”

Mursito: “Kalau dibandingkan dengan di Ungaran?”

Fadhli: “Beda jauh Pak. Di sana sudah banyak PT sehingga polusi udara di mana-mana. Udara di
dalam rumah terasa sangat panas sehingga sulit tidur kalau nggak ada AC atau kipas.”

Mursito: “Irzha, tolong bilang ama Kak Ummi untuk membuatkan teh panas! Buat dua gelas, ya!”

Fadhli: “Emm, Pak … nih saya sudah bawa termos. Isinya juga teh panas.”

Mursito: “Nggak apa-apa. Biar Sampeyan bisa merasakan teh khas rumah ini, hehehe.”

Fadhli: “Enggih Pak. Matur nuwun sanget.”

128

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Mendengar kata Ummi disebut, duh … jantung Fadhli mulai berdetak tak teratur. Kadang
cepat, kadang pelan, malahan kadang berhenti, halah … hahaha. Aneh, padahal dia belum pernah
melihat wajah tuh gadis, tapi perasaan grogi, gugup dan salah tingkah terus datang bertubi.

Akhirnya … yang ditunggu datang juga. Dhek Ummi datang ke ruang tamu dengan
membawa nampan yang berisi dua gelas teh panas. Awalnya Fadhli menunduk malu, tapi dia
memberanikan diri untuk melihat wajah Dhek Ummi. Satu … dua … tiga, dipandanginya tuh wajah
dengan seksama … dan … hmm … Dhek Ummi memakai baju muslimah dan … dia terus menutupi
wajahnya dengan selendang kecil. Fadhli … dia tak bisa melihat tuh wajah. Hmm, kepalanya kembali
menunduk agak lesu tapi disembunyikan perasaan ini dalam-dalam.

Semenit kemudian, Dhek Ummi datang lagi dengan membawa nasi jagung dan tempe
goreng. Lagi-lagi Fadhli memandangi tuh wajah tapi … nihil. “Ummi, kenapa Engkau terus menutup
wajahmu?” teriak jiwa Fadhli penasaran.

Hidangan di meja sudah tersedia. Kini mereka berdua menikmati nasi jagung plus tempe
goreng. Semua hidangan dimasak oleh Dhek Ummi. Sambil makan, jiwa Fadhli berdendang.

Jiwa: “Udah enam hari aku tak bisa merasakan enaknya nasi jagung. Tapi sekarang ini … wow … nasi
jagung bikinan Dhek Ummi sungguh lezat. Rasanya top markotop.”

Hati: “Lezat dari mana? Dari Hongkong? Lha wong bahannya juga sama dengan nasi jagung para
penduduk kampung sini. Cara masaknya juga sama. Semua sama. Mana yang beda?”

Jiwa: “Kamu pingin tahu?”

Hati: “Iya …”

Jiwa: “Yang beda adalah chef-nya, hehehehe. Semua bahan dapur jika dimasak oleh chef yang
bernama Dhek Ummi, hehehe … pasti enak, lezat, gurih, jos markojos.”

Hati: “Walau cuman nasi jagung?”

Jiwa: “Benar.”

Hati: “Cinta memang subyektif, ya?”

Jiwa: “Hehehe, aku jadi ingat seminggu yang lalu saat di-move on ama Tita, semua yang kurasakan
terasa pahit. Kini kebalikannya, semua terasa manis dan indah.”

Hati: “Tapi kamu belum melihat wajah Dhek Ummi. Lha iya kalau cantik, tapi kalau jelek, gimana?”

Jiwa: “Bagiku, cinta yang membuat semua tampak cantik.”

Hati: “Kayaknya kamu benar-benar mabuk.”

Acara makan telah selesai. Sambil nyeruput teh panas buatan Dhek Ummi, Fadhli berkata, “Pak
Mursito, besok saya harus pulang ke Ungaran. Pak, sebelum saya meninggalkan kampung ini, saya
minta nasihat dari Panjenengan, apa saja. Saya siap mendengarkan.”

Mursito: “Dhek Fadhli, lihatlah Gunung Lawu ini! Dia sangat besar, tapi nggak sombong. Sebaliknya
gunung ini selalu memberikan keindahan dan kebahagiaan bagi masyarakat. Pesan saya, jika suatu
saat nanti kamu sukses, maka janganlah sombong! Ingat terus kerendah hatian gunung ini! Jadilah
manusia yang bisa memberi manfaat sebanyak-banyaknya kepada masyarakat.”

129

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Fadhli: “Nasihat Panjenengan sangat menyentuh kalbu saya, Pak.”

Mursito: “Alhamdulillah. Yang kedua, silakan kamu terus giat mendalami Qur’an! Jangan hanya
berguru kepada satu ustadz, tapi silakan berguru kepada beberapa ulama. Guru Imam Syafi’i juga
banyak. Dengan demikian, maka hatimu akan semakin luas.”

Fadhli: “Enggih Pak.”

Mursito: “Dalam hal tafsir Qur’an, saya memakai tafsir Ibnu Katsir. Tentang fiqih, saya mendalami
buku-buku Imam Syafi’i. tentang bab penyucian jiwa, saya serius menekuni wejangan dari Ibnu
Qoyyim Al Jauziyyah.”

Fadhli: “Wow, pasti ilmu Bapak sangat luas.”

Mursito: “Enggak-lah. Saya sudah tua. Saya sangat mengandalkan para generasi muda untuk
mencintai ilmu islam.”

Sepulang dari Pak Mursito, Fadhli berjalan menyusuri perbukitan yang masih diselimuti
oleh kabut tipis. Sambil berjalan, dia terus mengingat wejangan dari Pak Mursito. Sejenak matanya
melihat pohon rambutan yang berbuah lebat. Diapun duduk dibawah pohon, mengeluarkan mushaf
Qur’an dari dalam tasnya. Semenit kemudian, terdengar lantunan ayat-ayat suci yang terus terucap
dari bibirnya. Suasana ini membuat bumi tak bisa diam.

Bumi: “Ada yang lagi jatuh cinta. Fadhli mengaji dengan hati yang berbunga-bunga.”

Rumput: “Bener. Tapi aku ragu … hmm … apa Dhek Ummi bisa mencintai Fadhli?”

Bumi: “Kayaknya bisa. Lelaki baik dapat wanita baik. Sederhana aja kok kehidupan ini.”

Rumput: “Tapi Dhek Dhek Ummi tuh sangat pemalu. Tuh gadis jarang banget bicara. Wajahnya terus
ditutupi dengan kain selendang.”

Bumi: “Oya, bentar lagi Dhek Ummi akan lewat sini karena dia harus mencari kayu bakar di hutan.
Gimana kalau kita menyuruh Sang Angin untuk meniup selendang yang menutupi wajah Dhek Ummi
sehingga Fadhli bisa ngeliat wajah Ummi?”

Rumput: “Trus, kalau udah ngeliat, lalu ngapain?”

Bumi: “Biar mereka sama-sama jatuh cinta.”

Rumput: “Trus, kalau udah jatuh cinta, ngapain?”

Bumi: “Emm … me … me … menikah.”

Rumput: “Mereka masih sekolah. Enggak, aku enggak setuju dengan pemikiranmu. Biarlah mereka
jauh-jauhan dulu. Aku nggak suka mereka jadian sekarang. Ntar malah mereka malas menghafal,
malas belajar, terus dilanda rindu, piye jal?”

Bumi: “Tapi aku pingin lihat romantisme. Hahaha … sumpah … aku paling suka ama romantisme, air
mataku bisa menetes deras karena saking terharunya.”

Rumput: “Diam! Eh … tuh … liat! Dhek Ummi sudah berjalan menuju arah hutan. Dia … dia lewat
jalan ini. Duh … padahal Fadhli lagi membaca Qur’an. Kalau mata Fadhli melihat Dhek Ummi, pasti
dia langsung menghentikan ngaji.”

130

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Bumi: “Berhenti sebentar kan gpp, to?”

Rumput: “Tapi aku takut mereka saling jatuh cinta. Duh … apa yang harus aku lakukan?”

Dhek Ummi berjalan cepat untuk mencari kayu bakar di hutan. Dengan memakai baju
muslimah berwarna abu-abu, ditambah dengan jilbab warna krem, serta selendang kecil yang selalu
menutupi wajahnya, dia terus berjalan cepat. Saat Ummi melewati Fadhli yang lagi mengaji di
bawah pohon rambutan, sebenarnya Dhek Ummi tahu. Tapi … dia sangat malu bertemu dengan laki-
laki. Jadi, dia berjalan menunduk, dengan langkah yang semakin dipercepat. Sedangkan Fadhli, dia
nggak mengetahui kalau gadis pujaannya sedang melintasi jalan makadam yang ada di depannya.

Satu jam berlalu, Fadhli masih terduduk di bawah pohon rambutan. Tangannya juga masih
memegang Qur’an tapi … tertidur, hehehe. Rupanya kesejukan udara di perbukitan ditambah lagi
dengan perutnya yang kekenyangan karena menyantap nasi jagung bikinan Dhek Ummi, sehingga
paling nyaman memang tidur.

Dari jauh, nampak Dhek Ummi menyusuri jalan makadam sambil menggendong ranting-
ranting kayu. Hmm … sungguh aneh, tuh fisik gadis langsing banget, tapi mampu menggendong
ranting kayu yang jika ditimbang, mungkin hingga satu kuintal. Itupun berjalan dengan kondisi jalan
yang menanjak. Dhek Ummi terus berjalan, dan sekarang dia melewati pohon rambutan dimana
Fadhli tertidur dibawahnya. Sejenak tuh gadis terdiam, berhenti berjalan dengan mata terus terpaku
ke wajah Fadhli yang asyik tidur. Jiwa Dhek Ummi mengembara.

Jiwa: “Mas Fadhli, ternyata ganteng juga, ya?”

Hati: “Benar. Kalau dinilai … emm … 80 lah, hehehe.”

Jiwa: “Jangan 80, to! Pelit banget loe kasih nilai. Gimana kalau 95?”

Hati: “Boleh. Dia rajin ngaji, ya?”

Jiwa: “Juga rajin belajar. Kuanalisa, kualitas ceramahnya di mushola juga sudah setara dengan para
ustadz di kabupaten ini. Mungkin karena tinggal di kota sehingga akses ilmu islam sangat banyak.”

Hati: “Emm … sejak baligh mpe sekarang, kalau kuingat, kayaknya kamu belum pernah
memperhatikan cowok sedetail ini. Kenapa?”

Jiwa: “Emm … emm …”

Hati: “Besok Fadhli sudah harus pulang ke Ungaran. Gimana perasaanmu?”

Jiwa: “Aku ingin … aku ingin dia lebih lama di sini, biar bisa mengisi kultum terus di mushola kita.”

Hati: “Apa ada keinginan lain?”

Jiwa: “Emm … apa aku boleh terus terang?”

Hati: “Iya.”

Jiwa: “Saat melihatnya pertama kali, badanku gemetar. Keringat dingin terus mengucur. Padahal aku
belum pernah mengalami keadaan seperti ini.”

Hati: “Siapa tahu maag-mu kambuh.”

Jiwa: “Aku nggak punya riwayat sakit maag.”

131

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Hati: “Atau pas saat itu pulsa HP-mu abis.”

Jiwa: “Halah, apa hubungan pulsa dengan gemetar? Nggak usah bergurau!”

Hati: “Andai Fadhli naksir kamu, apa kamu mau?”

Jiwa: “Hehehe …”

Hati: “Andai tuh pemuda mencintaimu, apa kamu terima?”

Jiwa: “Hahaha …”

Hati: “Kok cuman tertawa?”

Jiwa: “Aku belum pernah merasakan jatuh cinta, jadi aku nggak tahu gimana harus menjawabnya.”

Hati: “Eh, lihat! Kayaknya Fadhli sudah mau bangun tidur, yuk kita cepat kabur!”

Dua hari kemudian

Fadhli sudah di Ungaran. Tadi pagi sudah masuk sekolah. Memang raganya di Ungaran,
tapi hatinya terus mengembara ke lereng Gunung Lawu, tepatnya kepada jiwa yang mempunyai
nama … Dhek Ummi. Tak disangka, gadis itu benar-benar membuat Fadhli sakit. Bukan sakit kepala,
karena kalau sakit kepala mah obatnya gampang, tinggal beli aja di apotek. Tapi ini sakit rindu.
Obatnya hanya satu yaitu … ketemu.

Kegalauan inilah yang akhirnya memaksa dia berkonsultasi serius dengan ilmu yang ada di
dalam dada.

Jiwa: “Wahai ilmu, apa kabar?”

Ilmu: “Kabarnya, kurang menggembirakan, bos.”

Jiwa: “Lho, kok bisa?”

Ilmu: “Begini, akulah yang bertanggung jawab mengelola semua hafalan yang ada di otakmu.”

Jiwa: “Coba jelaskan dengan sederhana aja! Nggak usah terlalu detail.”

Ilmu: “Gini bos, kuibaratkan otakmu tuh seperti 12 hard disk. Hard disk pertama berisi memori
hafalan juz 1 mpe 2. Kondisi mereka aman, gak ada memori yang korup atau terhapus.”

Jiwa: “Bagus-lah. Capek-capek menghafalnya, kalau sampai hilang … duh …”

Ilmu: “Hard disk kedua menyimpan data hafalan antara juz 3 mpe 4. Di sini ada masalah serius.”

Jiwa: “Kok bisa?”

Ilmu: “Ada semacam virus yang menyerang sehingga 30% memori hilang.”

Jiwa: “Apa nama virusnya?”

Ilmu: “Emm … nama virusnya … Dhek Ummi.”

Jiwa: “Halah, pasti kamu bergurau.”

132

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Ilmu: “Bener kok Bos. Di hard disc kedua ini, duh … virus Dhek Ummi menggerus data hafalan. Kalau
virus ini nggak segera dibuang, kayaknya memori di hard disk kedua ini bakalan abis karena
dikacaukan oleh virus ini.”

Jiwa: “Hmm, gimana cara menghapus virus Dhek Ummi?”

Ilmu: “Tolong lupakan dia! Nggak usah mikirin dia! Konsentrasi menghafal dan belajar! Semakin
kamu rindu Dhek Ummi, maka hafalanmu akan kacau.”

Jiwa: “Apa ada cara lain selain itu?”

Ilmu: “Emm … lamar aja Dhek Ummi! Maka yang awalnya virus, dia akan berubah menjadi tune up-
nya otak, memorimu akan benar-benar fresh.”

Jiwa: “Duh, kayaknya gak mungkin. Gue masih kelas 3 SMA. Andai gue sudah kuliah semester akhir,
pasti gue akan melamarnya. Hmm … tolong carikan jalan keluar yang lain!”

Ilmu: “Bos, syarat cinta tuh harus dekat. Kalau berjauhan, maka bakalan menyiksa. Gimana kalau
kamu pindah rumah- tinggal di rumah Paino sehingga bisa terus dekat Dhek Ummi.”

Jiwa: “Enggak mungkin. Cepat cari solusi yang lain!”

Ilmu: “Kamu harus berani membunuh tuh virus. Nggak ada cara lain selain dengan melupakan Dhek
Ummi. Dengan begitu, maka memori-mu terselamatkan.”

Jiwa: “Nggak, aku mencintainya melebihi cintaku kepada diriku sendiri.”

Ilmu: “Tapi tuh virus yang akan menghabisi memori hafalanmu.”

Jiwa: “Duh …”

Ilmu: “Mana yang kamu pilih? Milih hafalan atau milih Dhek Ummi?”

Jiwa: “………” (kepala terasa nyut – nyut)

Ilmu: “Gimana Bos?”

Jiwa: “Emm … gimana kalau kubiarkan virus itu hidup berdampingan dengan memori hafalanku. Apa
bisa?”

Ilmu: “Enggak. Virus ama memori ibarat api ama kayu. Mereka nggak bisa hidup bersama.”

Jiwa: “Duh, gimana kalau virus Dhek Ummi kita pelihara di hard disk nomer 10. kita biarkan dia
membesar, tapi hanya di hard disk nomer 10, nggak boleh menyebar ke hard disk yang lain.
Gimana?”

Ilmu: “Hmm, gimana caranya?”

Jiwa: “Ya … dalam sehari aku akan menghafal 5 jam, tapi kadang sejam kugunakan untuk melamun
Dhek Ummi. Tapi aku akan berusaha memisah antara hafalan dengan lamunan. Aku gak bakalan
mencampur adukkan itu.”

Ilmu: “Hmm … aku gak tahu.”

Jiwa: “Dah, kamu tenang aja! Biar gue yang manage ini semua.”

133

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Ilmu: “Bos, sekali lagi kalau aku boleh usul … hmm … virus itu berbahaya. Gak ada orang yang mau
memelihara virus.”

Jiwa: “Aku sangat mencintai virus ini.”

Ilmu: “Bos, dulu pernah ada muslim yang secara tak sengaja bertemu dengan wanita yang sangat
cantik. Dia langsung jatuh cinta. Semakin hari cintanya semakin membesar. Dia shock manakala
mengetahui bahwa wanita itu ternyata adalah kakak iparnya sendiri.”

Jiwa: “Berarti wanita itu bagai virus yang menyebar di memorinya, ya?”

Ilmu: “Benar.”

Jiwa: “Saatnya membersihkan virus.”

Ilmu: “Logikanya memang seperti itu, tapi dia tidak mampu. Cintanya terlalu besar. Dia menahan
sekuatnya. Sehari, seminggu, sebulan, dia terus menahan mpe sakit. Akhirnya … karena tak mampu
lagi menahan cinta yang demikian menggelora. Dia … akhirnya … inna lillahi.”

Jiwa: “Whattt????? Emangnya virus bisa merusak hardware?”

Ilmu: “Bisa. Jika virus terlalu banyak dan aktif, maka bisa memaksa hardware kerja super keras.
Kadang hardware gak mampu sehingga rusak. Sama dengan cinta. Kadang cinta membuat Si
Empunya mabuk kepayang hingga terus-terusan kebayang Si Dia. Akhirnya, makanpun malas, kerja
… malas. Ibadah … malas. Karena sering dilanda rindu yang berkepanjangan, raganya menderita,
jantungnya tak beraturan dan … good bye.”

Jiwa: “Hmm, kayaknya aku gak bakalan separah itu.”

Ilmu: “Hehehe, kita liat aja nanti!”

Fadhli tiba-tiba merasa haus. Seperti biasa, dia minum hanya dari termos alumunium
kesayangannya. Tapi mendadak mukanya pucat. Ternyata, termos gak ada. Dia nge-cek di tas
carrier, nihil. Cek di rak, lemari, dapur, ruang tamu … nihil semua.

Jiwa: “Tolong kamu ingat-ingat … dimana terakhir aku meletakkan termos alumunium
kesayanganku?”

Ilmu: “Emm … aku lupa e, Bos.”

Jiwa: “Duh, kenapa kamu bisa lupa?”

Ilmu: “Virus Dhek Ummi menggerus memori bagian ini.”

Jiwa: “Duh, tolong ingat sekali lagi! Please!”

Ilmu: “Emm ……”

Jiwa: “Kenapa lama?”

Ilmu: “Lelet e, bos. Virus Dhek Ummi memang digjaya.”

Jiwa: “Please jangan nyindir aku terus, to!”

134

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Ilmu: “Data tentang keberadaan termos mulai ada titik terang. Ada dua kemungkinan: kemungkinan
pertama, tertinggal di rumahnya Dhek Ummi. Kemungkinan kedua, tertinggal di bawah pohon
rambutan di Desa Beruk, kampungnya Dhek Ummi.”

Jiwa: “Hmm … padahal lima tahun ini aku selalu minum dengan termos itu.”

Ilmu: “Beli lagi, Bos.”

Jiwa: “Kenangan bersama termos itu sudah terlalu banyak.”

Ilmu: “Gimana kalau call Paino?”

Jiwa: “Enggak usah. Ntar dikira aku lebay. Sudahlah … ikhlas-kan aja!”

Ilmu: “Good decision, Bos.”

Acara tafakkur terhenti manakala ada telpon masuk. Dilihatnya display HP … ternyata dari Zienta,
sahabat Tita.

Zienta: “Assalamu’alaukum.”

Fadhli: “Walaikum salam. Tumben telpon, ada apa, fren?”

Zienta: “Emm … Tita masuk rumah sakit.”

Fadhli: “Halah, pasti bohong.”

Zienta: “Ya udah kalau gak percaya. Bye … wassalam.”

Fadhli: “Eh, tunggu bentar. Emm, apa kamu serius?”

Zienta: “Hadeuh, kamu tuh gimana, to? Namanya sakit juga serius, masak pura-pura sakit. Fren, aku
cuman ngabari. Kamu mau bezuk … monggo, nggak bezuk juga gpp.”

Fadhli: “Rumah sakit mana?”

Zienta: “Di Elisabeth Semarang.”

Satu jam kemudian, Fadhli sudah duduk di depan Tita yang tergolek lemas di ranjang
rumah sakit. Sebenarnya, sudah dari 20 menit tadi Fadhli datang, tapi saat mau masuk ke kamar
tempat Tita dirawat, emm … dia melihat Tita lagi baring sambil mengulangi hafalan. Jadi, dia
menunggu sebentar di luar. Kini Tita sudah selesai mengulangi hafalan, maka Fadhli memberanikan
diri untuk masuk dan face to face. Awalnya, Tita tersenyum melihat Fadhli datang. Senyum berubah
menjadi riang …

Fadhli: “Tita, gimana dengan sakitmu?”

Tita: “Cuman maag ama tensi. Tapi kayaknya maagnya yang parah. Biasalah … mungkin efek dari
memikirkan seseorang yang bernama Fadhli.”

Fadhli: “Hahaha. Guyonan yang bagus, hahaha.”

Tita: “Nggak guyon kok, serius. Aku juga heran, kenapa aku bisa KO hanya gara-gara memikirkan
pemuda itu.”

Fadhli: “Sekarang pemuda itu ada di hadapanmu.”

135

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Tita: “Iya, aku bersyukur bisa sakit?”

Fadhli: “Whatttt????”

Tita: “Memang pedih. Tapi dengan sakit inilah, kita bisa berjumpa face to face. Andai aku nggak
sakit, tentu kamu nggak bakalan nengok’in aku.”

Fadhli: “Kita tetap sahabat kok. Malahan jadi saudara. Jadi sesama saudara pasti saling membantu.”

Tita: “Fadhli, apa aku boleh curhat?”

Fadhli: “Iya …”

Tita: “Aku sangat paham bahwa kamu sudah nggak mau sama aku lagi. Aku sadar betul itu. Tapi,
kenapa aku sulit menghapus cinta ini? Dari dulu mpe sekarang, cintaku kepadamu tak berkurang
sedikitpun.”

Fadhli: “Hmm …”

Tita: “Fadhli, gimana cara menghapus cinta ini? Kalau aku gagal menghapusnya, hmm … kayaknya
sakitku gak bakalan sembuh-sembuh.”

Fadhli: “Coba lupakan aku!”

Tita: “Gimana cara melupakanmu? Apa di-delete? Aku sudah mencoba, tapi semakin berusaha
melupakanmu, malahan semakin teringat ama kamu.”

Fadhli: “Oya?”

Tita: “Iya, historis kita sudah terlalu panjang. Bertahun-tahun kita ngaji bersama, menghafal
bersama, berbuat kebaikan juga sering bersama. Hmm … kadang aku mpe nangis jika harus men-
delete ini semua.”

Fadhli: “Coba ingat terus akan keburukanku, ingat terus akan kejahatanku, maka lama-lama kamu
akan membenciku.”

Tita: “Aku nggak pernah melihat keburukanmu. Aku juga nggak pernah menyaksikan kamu berbuat
jahat. Yang kulihat, kamu rajin sholat dhuha di masjid sekolah, kamu rajin menghafal, kamu …
sudahlah …”

Fadhli: “……..” (menoleh ke samping sambil garuk-garuk kening)

Tita: “Fadhli …”

Fadhli: “Iya …”

Tita: “Misalkan ada manusia yang mempunyai kebaikan sebanyak 100, kemudian dia berbuat jahat
sekali, gimana menurutmu?”

Fadhli: “Dia tetap baik. Menurutku … kebaikan bakalan menghapuskan dosa dan kesalahan.”

Tita: “Fadhli, maaf … menurutku, aku sudah berbuat kebaikan begitu banyak untukmu. Hmm … aku
hanya membuat satu kesalahan saja, tapi kenapa kamu menghukumku dengan sangat berat?
Kenapa kamu nggak mau balik lagi ama aku?”

Fadhli: “Tita … apa aku boleh cerita masa lalu?”

136

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Tita: “……..” (mengangguk)

Fadhli: “Saat aku duduk di bangku kelas 2 SMP, ibukku sering marah-marah kepada Bapakku hanya
gara-gara masalah keuangan. Bapak tidak menanggapi, tapi Ibukku pernah marah besar sampai
terucap satu kata: dia mau pisah.”

Tita: “Hmm …”

Fadhli: “Kata ‘pisah’ itu … duh … bagai pisau berkarat yang mengiris urat nadiku. Andai nggak takut
durhaka, tentu aku sudah memaki-maki Ibukku.”

Tita: “………..” (melongo dengan wajah sedih)

Fadhli: “Sejak saat itu, aku sangat membenci satu kata yaitu ‘pisah’, move on, atau sejenisnya.”

Tita: “Duh, aku nggak menyangka masa lalumu pedih.”

Fadhli: “Iya. Sudahlah … walau kita nggak bisa menjadi suami istri, tapi tetap bersaudara. Oya, aku
ada usul.”

Tita: “Apa?”

Fadhli: “Cobalah untuk naik Gunung Lawu. Kamu kan hobi juga naik gunung.”

Tita: “Dah dua tahun ini aku nggak naik gunung. Otot-ototku nggak sekuat dulu. Lagian, aku malas
naik gunung sendiri.”

Fadhli: “Gini, ntar kamu mampir dulu di Desa Beruk, Kec Jatiyoso. Di kampung itu, bilang aja kepada
penduduk kampung bahwa kamu adalah adiknya Fadhli. Ntar kamu bakalan ditemani naik gunung
oleh orang kampung situ.”

Tita: “Oya, memangnya orang sekampung pada kenal kamu?”

Fadhli: “Seminggu aku di situ. Tiap hari ceramah kultum di mushola-nya Pak Mursito, salah satu
tetua kampung. Jadi, aku sangat dikenal oleh warga kampung. Mereka sangat akrab denganku bagai
anak sendiri.”

Tita: “Hmm … coba kupikir dulu.”

Fadhli: “Di sana, kamu bisa naik gunung, main di ladang jagung, ladang bawang, atau hutan pinus.
Pokoknya kamu bakalan fresh. Warga di sana sangat menghormati aku. Jadi kalau kamu mengaku
adikku, pasti mereka juga sangat menghormatimu.”

Tita: “Fadhli, trims ya ….”

Enam hari kemudian, Tita sudah sembuh. Kini, dia mulai menjauhi Fadhli. Bukan karena
benci, tapi … dia ingin mengatur irama hati. Logikanya … tidak mungkin terus-terusan dekat dengan
orang yang tidak mencintainya.

Usahanya berhasil. Setahun kemudian, dia sudah duduk manis di Fakultas Hukum Undip,
sedangkan Fadhli di Fakultas Ekonomi Undip. Walau mereka satu Universitas, tapi sudah sangat
jarang bertemu. Jiwa Tita sudah stabil, mulai bisa melupakan Fadhli. Sedangkan Fadhli sangat asyik
dengan kuliah sehingga virus yang bernama Dhek Ummi mulai hilang dari pikirannya.

Empat tahun kemudian

137

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Sebenarnya Fadhli diterima bekerja di salah satu perusahaan besar di Jakarta. Tapi …
beratnya settle di kota se-semrawut Jakarta membuatnya lemes. Dia lebih nyaman tinggal di
kotanya sendiri. Karena dia lulusan ekonomi maka dia lebih nyaman meracik materi ekonomi
managerial untuk kariernya sendiri. Dengan bekal 350 juta uang pemberian orang tuanya, dia
mendirikan toko komputer. Memang toko miliknya nggak begitu besar, labanya juga belum
signifikan, tapi ibarat tangga, dia sudah menapaki dua hingga tiga anak tangga. Dia optimis, ke
depan pasti ada harapan yang lebih baik.

Sambil mengelola toko, dia tetap stabil rajin menghafal qur’an. Tentang bab penyucian
jiwa, tuh pemuda benar-benar hanyut dalam samudra ilmu yang ada di buku-buku Ibnu Qoyyim Al
Jauziyyah. Saat buka FB, banyak teman-temannya yang mempermasalahkan tentang perbedaan
pendapat, perang pemikiran, hingga debat kusir, tapi Fadhli … hehehe … dia nyantai, menikmati
keindahan ilmu islam, tidak larut dalam pertentangan dan perdebatan. Dia … mulai memahami
tentang islam kafah. Fadhli … jiwanya tenang, pikirannya nyaman, hatinya sejuk karena mencintai
ilmu dan meninggalkan perdebatan.

Setiap hari senin tokonya libur. Karena ingin refreshing, dia sejenak menikmati hari ini
dengan menyantap salah satu menu KFC di Banyumanik Semarang. Dia berencana … setelah di KFC,
maka akan langsung ke Gramed yang ada di Jalan Pemuda Semarang.

Detik menunjukkan jam dua siang. Kebetulan restauran KFC lumayan sepi, padahal
biasanya ramai. Hanya empat mpe enam pelanggan yang nampak. Fadhli duduk manis di kursi
sambil menikmati renyahnya daging ayam restaurant ini. Saat minum softdrink … ada yang aneh, di
depannya nampak ada akhwat yang duduk dengan posisi membelakanginya. Tuh akhwat memakai
baju warna biru muda, dibalut jilbab warna putih. Keanehan terletak di meja akhwat itu … tuh
akhwat membawa termos alumunium bertuliskan nama … Fadhli. Kenyataan ini membuat jiwa
Fadhli bertanya-tanya.

Jiwa: “Termos itu, pasti milikku yang hilang beberapa tahun yang lalu di Desa Beruk, kampungnya
Paino.”

Hati: “Apa kamu yakin?”

Jiwa: “Iya, yakin banget. Termos itu … duh … aku rindu banget. Tapi, siapa akhwat yang
membawanya?”

Hati: “Tuh akhwat nggak kelihatan wajahnya karena lagi duduk membelakangi kita. Gimana kalau
sekarang kita lihat wajahnya?”

Jiwa: “Emm … kok aku jadi deg-degan, ya?”

Tanpa pikir panjang, Fadhli langsung berdiri … melangkah menuju ke depan tuh gadis.
Alangkah kagetnya Fadhli, tuh akhwat mirip banget ama Laudya Bella dalam film Assalamu’alaikum
Beijing. Fadhli hanya bengong karena tidak mengenal tuh gadis. Tapi sebaliknya, tuh gadis
tersenyum sambil berkata, “Mas Fadhli, ya?” Mereka berpandangan, Fadhli semakin bingung,
kenapa tuh gadis mengenalnya? Tanpa bisa berfikir apa-apa, Fadhli mengangguk sambil bertanya,
“Dhek, kamu siapa? Apa aku mengenalmu?” Lagi-lagi tuh akhwat tersenyum manja sambil berkata,
“Saya adalah Ummi, putrinya Pak Mursito dari Desa Beruk. Itu lho yang letaknya di lereng Gunung
Lawu.”

Kalimat ini membuat jiwa Fadhli kaget mpe pingsan, tapi nggak jadi pingsan karena di depannya ada
gadis super ayu, halah …. Hahaha.

138

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Jiwa: “Wahai ilmu, coba perhatikan Dhek Ummi! Gimana?”

Ilmu: “Wah, persis banget ama Laudya Bella. Tapi postur tubuh Dhek Ummi lebih tinggi dikit.”

Jiwa: “Dia pakai jilbab putih, hmm … kulit wajahnya nampak sangat putih.”

Ilmu: “Kalau dia memakai jilbab hitam, malahan semakin ayu dan beauty.”

Jiwa: “Oya?”

Ilmu: “Gadis ayu tuh memakai baju apa aja pasti cocok. Memakai baju compang camping aja
kelihatan sangat indah.”

Jiwa: “Halah … gak usah membayangkan terlalu jauh!”

Ilmu: “Bos, dulu gadis ini sempat menjadi virus di kepalamu.”

Jiwa: “Sttt … jangan lagi membahas masa lalu!”

Semenit kemudian , mereka nampak duduk bersama. Fadhli merasakan salju turun di
sekitarnya. Dhek Ummi … nampak hatinya sangat damai. Aura wajahnya juga sumringah. Inilah
obrolan paling manis yang pernah mereka rasakan.

Fadhli: “Dhek, gak nyangka bisa ketemu Sampeyan di sini. Aku nggak kenal ama kamu karena dulu
kamu selalu menutupi wajahmu dengan selendang kecil.”

Dhek Ummi: “Iya, aku sangat pemalu.”

Fadhli: “Emm, tapi aku malahan sangat salut dengan gadis pemalu. Bagiku, kewibawaan seorang
gadis terletak pada sifat pemalu-nya itu.”

Dhek Ummi: “Apa Sampeyan masih kuliah?”

Fadhli: “Aku sudah kerja, Dhek. Tapi buka usaha sendiri yaitu toko komputer.”

Dhek Ummi: “Wow keren. Selamat ya, Mas. Saya ikut senang.”

Fadhli: “Iya. Kalau Sampeyan?”

Dhek Ummi: “Aku sekarang menjadi guru Madrasah Aliyah Negeri (MAN) di Karanganyar Solo, Mas.”

Fadhli: “Oya? Mantap Dhek … hehehe, aku ikut bangga mendengarnya.”

Dhek Ummi: “Kapan-kapan mbok saya dikenalkan ama istri Sampeyan?”

Fadhli: “Istri? Saya belum punya. Justru ini lagi mencari, tapi gak ketemu-ketemu, hehehe. Kalau
Dhek Ummi, pasti suaminya guru juga, ya?”

Dhek Ummi: “Saya belum mempunyai suami, Mas.”

Fadhli: “Kenapa?”

Dhek Ummi: “Belum ada yang cocok e, hehehe.”

Fadhli: “Moga-moga cepat ketemu jodoh ya, Dhek.”

139

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Dhek Ummi: “Amin. Mas, ini termos-mu. Kupakai selama bertahun-tahun. Hehehe, nyaman banget
memakai termos ini. Saat itu termos Sampeyan ketinggalan di bawah pohon rambutan, jadi saya
pakai aja. Boleh?”
Fadhli: “Iya. Pakai aja!”
Dhek Ummi: “Terima kasih.”
Mereka terus ngobrol hingga satu jam lebih. Angin dan tembok bengong melihat

kebahagiaan dua insan ini.
Angin: “Gak nyangka mereka bisa ketemu.”
Tembok: “Kulihat wajah Dhek Ummi sangat sumringah.”
Angin: “Begitulah kalau seorang wanita ketemu dengan manusia yang sangat dirindukannya.”

Tembok: “Fadhli … kutebak abis ini dia galau abis.”
Angin: “Kenapa?”
Tembok: “Sekarang dia bertemu ama separuh nyawa-nya. Ntar kalau berpisah, separuh nyawa-nya
pergi. Maka … habislah dia, hahaha.”
Angin: “Sama, aku tadi sempat masuk ke dalam dada Dhek Ummi. Isinya … Fadhli … Fadhli dan
Fadhli, hahaha. Rupanya tuh gadis juga sangat mencintai Fadhli.”
Tembok: “Berarti mereka berdua memendam cinta bertahun-tahun, ya?”

Angin: “Iya, bener. Ibarat bom, sekarang saatnya kerinduan itu meledak, hehehe.”
Tembok: “Wanita pinter mendapat lelaki pinter.”
Angin: “Pasti kalau mereka menikah, anak-anak mereka juga pinter-pinter, ya?”
Tembok: “Hehehe, so pasti lah, bro …”

Seminggu kemudian di tempat yang sama

Fadhli: “Dhek …”
Dhek Ummi: “Iya Mas.”
Fadhli: “Saya ingin bicara serius.”
Dhek Ummi: “Silakan! (dada tiba-tiba deg-degan lumayan kencang)
Fadhli: “Dhek, pernikahan adalah ibadah. Hmm … berarti melamar wanita juga termasuk ibadah.
Emm … “ (Fadhli juga gemetar, hingga tak mampu melanjutkan kalimatnya)
Dhek Ummi: “…………” (terus menunduk dengan dada tetap dag dig dug)
Fadhli: “Emm … aku sudah kerja, sudah siap untuk menikah. Emm … aku melamarmu.”

Semenit, dua menit … semua terdiam. Nampak Dhek Ummi masih terus menunduk. Dia
mencoba mengatur nafas. Air mata juga menetes … hmm … kenapa air mata ikut juga hadir?

140

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Dhek Ummi: “Mas …”

Fadhli: “Iya …”

Dhek Ummi: “Hmm, seminggu ini ada tiga ikhwan yang menyatakan jatuh cinta denganku dan ingin
menikah denganku. Yang pertama adalah kepala sekolahku sendiri, yang kedua tetanggaku, yang
ketiga adalah Sampeyan.”

Fadhli: “………” (jiwanya risau, ragu, minder dan … mengecil)

Dhek Ummi: “Mas, berikan saya waktu 24 jam untuk minta petunjuk Allah. Bagaimanapun juga, saya
harus memilih.”

Fadhli: “I … i … iya Dhek.”

Dhek Ummi: “Besok jam segini juga, aku akan memberikan jawaban.”

Jawaban itu membuat wajah Fadhli tertutup mendung. Hmm … mendung itu semakin
pekat … gelap. Ada halilintar bergemuruh di jiwanya. Nampak Dhek Ummi mulai melangkah
meninggalkannya. Hmm … Fadhli merasa separuh nyawanya benar-benar terlepas dari raganya. Kini
seakan dia menghirup atmosfer dengan kandungan oksigen sangat tipis. Dengan nafas berat, diapun
melangkah menuju Dhek Ummi. Sejenak mereka berpandangan. Tapi pandangan mereka terhalang
oleh awan yang semakin menghitam.

Fadhli: “Dhek …”

Dhek Ummi: “Enggih Mas …”

Fadhli: “Apa aku boleh membantumu?”

Dhek Ummi: “Emm … maksudnya????”

Fadhli: “Aku merasa kamu sangat berat kalau harus memilih tiga laki-laki.”

Dhek Ummi: “………” (bingung)

Fadhli: “Dhek, gimana kalau ku-sederhanakan saja. Emm … kamu nggak usah memilih tiga laki-laki,
tapi pilih dua aja.”

Dhek Ummi: “……..” (semakin bingung)

Fadhli: “Emm … gimana kalau aku mundur aja? Gimana kalau aku nggak jadi melamarmu sehingga
kamu bisa menjatuhkan pilihan ke kepala sekolah atau ke pemuda tetanggamu? Dengan begitu
kamu nggak terlalu berat dalam memilih calon pendamping hidupmu karena hanya ada dua pilihan,
bukan tiga. Dhek … aku sangat mencintaimu melebihi cintaku kepada diriku sendiri. Sejak pertama
kita bertemu, I luv you. Tapi aku tau diri kok, kadang kenyataan memang berkata lain. Dhek …
selamat tinggal, ya! Aku nggak sanggup kalau harus menunggu 24 jam. Gpp ya, Dhek?”

Air mata Fadhli menetes deras. Dhek Ummi … emosi cinta dalam jiwanya mengamuk. Dia
menjerit, lalu berlari menuju Fadhli. Dengan erat dia memeluk Fadhli sambil berkata, “Mas, jangan
tinggalkan aku! Hiks … hiks … sama, aku juga sangat mencintaimu. Baiklah, demi Allah aku menerima
lamaranmu, hiks … hiks …”

Fadhli: “Apa kamu yakin?”

141

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Dhek Ummi: “Yakin, Mas.”

Fadhli: “Dhek, ka … ka … kamu kok memelukku??”

Dhek Ummi: “Biar aja!”

Fadhli: “Emm … dulu kamu sangat pemalu, kenapa sekarang …”

Dhek Ummi: “Malu-malu’in, gitu kan maksudmu? Cinta bisa merubah semuanya.” (bicara nih gadis
manja banget sambil terus memeluk Fadhli, hehehe)

Fadhli: “Apa kamu nggak takut dosa?”

Dhek Ummi: “Iya, ntar abis ini kita istighfar bareng, ya!” (pelukan Dhek Ummi semakin erat)

Fadhli: “Hahaha, gadis sholihah itu sekarang menjadi nakal.” (Fadhli bicara dengan nada menggoda)

Dhek Ummi: “Aku nggak akan melepaskan pelukan ini kalau Sampeyan nggak mau berjanji tiga hal.”

Fadhli: “Baiklah … silakan katakan!”

Dhek Ummi: “Pertama, berjanjilah untuk mencintaiku apa adanya!”

Fadhli: “Iya, aku janji.”

Dhek Ummi: “Kedua, jadilah imam-ku dalam suka dan duka!”

Fadhli: “Baiklah.”

Dhek Ummi: “Yang ketiga, jika aku sudah menjadi istrimu, aku nggak mau Sampeyan poligami.”

Fadhli: “………”

Dhek Ummi: “Kok diam?”

Fadhli: “……….”

Dhek Ummi: “Mas ….” (teriak)

Fadhli: “I … i … iya, aku nggak bakalan poligaji, eh … salah ngomong … poligami maksudnya.”

Dhek Ummi: “Sumpah????”

Fadhli: “Sumpah.”

Dhek Ummi: “Hehehe, terima kasih.”

Fadhli: “Kini tolong lepaskan pelukanmu!”

Dhek Ummi: “Nggak, aku pingin memelukmu selamanya.”

Dhek Ummi … belum pernah dia merasa se-hepi ini. Dia terus mengencangkan pelukan.
Beberapa orang yang ada di sekitar ikut terpana, gembira … dan … mereka bertepuk tangan
menyaksikan dua insan yang akan menapaki petualangan baru. Mas Fadhli, Dhek Ummi … Happy
Wedding ya.

****Tamat****

142


Click to View FlipBook Version