The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Buku Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta, R3

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by widya pustaka SMP Negeri 5 melaya, 2021-05-06 01:23:38

Buku Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta, R3

Buku Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta, R3

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Arum: “Hehehe, baiklah. Ok, semua bumbu sudah siap. Sekarang apa yang harus aku lakukan?”

Erick: “Tolong ambilkan wajan yang ada di sebelah kirimu!”

Arum: “Emm, kenapa kita nggak memakai wajan yang di sebelah kanan? Kulihat ada enam lebih
wajan di dapur ini.”

Erick: “Emm … tiga wajan yang di sebelah kiri itu untuk memasak masakan yang mengandung babi.
Sedangkan wajan yang di sebelah kanan ini khusus untuk masakanku yaitu yang tidak mengandung
babi.”

Arum: “Wow, tak kusangka … kamu detail banget.”

Erick: “Iya, sendok, piring, mangkok, pokoknya semua kupisahkan. Aku nggak mau sedikitpun ada
minyak babi yang menempel di piring, mangkok atau sendokku.”

Arum: “O ya? Ok, wajan sudah kutaruh di atas kompor, aku juga sudah mengidupkan kompor,
sekarang apa lagi?”

Erick: “Masukkan sedikit minyak goreng. Lalu masukkan minyak zaitun, gak usah banyak-banyak!”

Arum: “Iya, kenapa kedua minyak ini harus dicampur?”

Erick: “Biar mereka bisa berteman, hehehe. Kayak kita berdua ini, kamu dari suku jawa, sedangkan
aku dari suku china.”

Arum: “Emang ada hubungannya?”

Erick: “Mungkin, hehehe. Arum, keluarga kami mempunyai tradisi yang cukup unik, yaitu semua
wanita yang lagi mens nggak boleh memasak.”

Arum: “Emangnya kenapa?”

Erick: “Rasanya lain.”

Arum: “Halah … kok bisa? Apa hubungannya?”

Erick: “Emm, kayaknya nggak ada hubungannya. Mungkin hanya masalah psikis aja.”

Arum: “Maksudnya?”

Erick: “Yah … orang yang lagi mens kan bawa’annya mrengut, gak nyaman, kadang malah kesakitan.
Karena kondisi psikis kurang fit, sehingga mempengaruhi kualitas masakan yang dimasaknya.”

Arum: “Hehehe, aku nggak pernah berfikir mpe segitu. Ok, minyak sudah panas, sekarang apa lagi?”

Erick: “Silakan tumis bawang merah, bawang putih dan jahe.”

Arum: “Masakan china kok menggunakan jahe?”

Erick: “Iya, manfaat jahe sangat banyak kok.”

Arum: “Sama, aku juga sering menggunakan jahe. Ok, sekarang apa lagi?”

Erick: “Emm, kamu bisa bergeser ke belakang!”

Arum: “Kenapa? Aku pingin di sini aja.”

47

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Erick: “Yakin?”

Arum: “Iya. Emangnya kamu mau ngapain?”

Erick: “Aku mau memasukkan daging babi ke wajan ini.”

Arum: “Whattt??? Emm, gpp lah, aku juga pingin ngeliat gimana reaksi daging babi saat
dipanaskan.”

Erick: “Lemaknya akan menjadi minyak sehingga saat masakan ini jadi, maka minyak akan kelihatan
cukup banyak karena ada perpaduan tiga minyak yaitu minyak goreng, minyak zaitun dan lemak
babi.”

Arum: “Eh, hidungku mulai mencium bau harum masakan ini.”

Erick: “Tolong masukkan kecap manis, minyak wijen, kecap asin, merica, bawang bombay, daun
bawang dan tomat.”

Arum: “Iya, siap.”

Erick: “Aku akan memasukkan air secukupnya. Kita tunggu mpe mendidih dan airnya habis. Maka
masakan ini siap disantap. Kamu boleh mencicipinya, hahaha.”

Arum: “Husss … gue muslim, bro …”

Erick: “Sama, gue juga muslim. Jadi, kita nggak perlu mencicipi masakan ini.”

Arum: “Gimana kalau kurang asin atau keasinan?”

Erick: “Kita sedia’in garam meja di dekat Bapak.”

Arum: “Emm, menurutmu, kenapa babi diharamkan?”

Erick: “Karena Allah melarangnya, yaitu di Al Baqarah ayat 173, Al Maidah ayat 3 ama di Surat An
Nahl ayat 115.”

Arum: “What??? Kok kamu bisa hafal?”

Erick: “Belajar brow, hahaha.”

Arum: “Hebat, hehehe. Tapi menurutmu, apa hikmah dibalik pengharaman babi?”

Erick: “Emm, kayaknya aku masih belum mendetail terhadap masalah ini, hanya saja akhlaq babi tuh
beda jauh dengan akhlaq binatang lainnya.”

Arum: “Oya, coba jelaskan!”

Erick: “Babi termasuk binatang yang paling malas. Dia malas gerak. Jadi … dia hanya makan sesuatu
yang ada di dekatnya aja.”

Arum: “Beda ama ayam atau kambing, ya?”

Erick: “Jauh berbeda. Ayam kuat seharian mengais-ngais makanan. Dia hanya makan makanan yang
bagus. Kambing, hehehe … dia hanya makan rumput yang terbaik. Kadang rumput yang sudah layu,
dia nggak mau, makanya dagingnya halal.”

48

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Arum: “Kalau babi?”

Erick: “Dia hanya makan yang ada di dekatnya. Kalau di dekatnya ada makanan yang enak,
dimakannya. Jika di dekatnya ada makanan yang busuk, juga dimakannya. Bahkan jika didekatnya
ada kotorannya sendiri, juga di makannya.”

Mendengar penjelasan ini, sontak perut Arum mual, kepala pusing dan … diapun muntah
beberapa kali. Nampak Erick sibuk mengambilkan tissue untuknya.

Erick: “Ma … ma … maafkan aku.”

Arum: “Gpp, hehehe, gak nyangka babi bisa sejorok itu.”

Erick: “Akhlaqnya juga sangat buruk.”

Arum: “Maksudnya?”

Erick: “Bayangkan jika dalam satu kandang ukuran 2 meter x 2 meter ada satu ayam jantan dan satu
ayam betina, apa yang terjadi?”

Arum: “Mereka … emm … mereka akan memadu kasih, ber-mesra’an mungkin, hehehe.”

Erick: “Benar. Jika dalam satu kandang ada dua ayam jantan dan satu ayam betina, apa yang akan
terjadi?”

Arum: “Emm … kayaknya kedua ayam jantan tadi akan berkelahi habis-habisan untuk
memperebutkan hati ayam betina tadi.”

Erick: “Iya, persis seperti manusia. Tapi fakta akan berbeda jika dalam satu kandang terdapat dua
babi jantan dan satu babi betina.”

Arum: “Pasti kedua babi jantan tersebut akan bertarung untuk memperebutkan cinta babi betina.”

Erick: “Nggak, kedua babi jantan tersebut nggak bertarung.”

Arum: “Trus …”

Erick: “Duh, aku agak rikuh jika harus menerangkannya.”

Arum: “Katakan aja! Gpp kok, kita kan sahabat.”

Erick: “Emm … kedua babi jantan tersebut nggak bertarung, mereka … emm … mereka bergantian
bercinta ama tuh babi betina.”

Arum: “Whatttttt?????”

Erick: “Iya, mereka gak punya rasa cemburu seperti ayam atau kambing.”

Arum: “Gak nyangka akhlaq babi sebejat itu. Apakah ada binatang lain yang akhlaqnya mirip babi.”

Erick: “Ada …”

Arum: “Apa nama binatang itu?”

Erick: “Manusia.”

Arum: “Whatttt????”

49

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Erick: “Tapi nggak semua. Manusia yang hobi zina, kayaknya akhlaq mereka lebih bejat dari babi.
Mereka mendapat kiriman dari langit berupa kitab Allah, tapi mereka buang tuh kitab, mereka lebih
nyaman menggunakan akhlaq binatang.”
Arum: “Wow, aku jadi ingat ama Surat Al A’raf ayat 179 yang artinya: “Dan sesungguhnya Kami
jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati,
tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata
(tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka
mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu
sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai”.

Erick: “Aku bersyukur bisa masuk islam.”
Arum: “Sama. Eh, kulihat air di wajan itu sudah mulai mengering.”
Erick: “Masakan sudah matang. Aku akan menghidangkan ke Bapak.”
Arum: “Sekalian makan bersama juga gpp …”

Erick: “Huss….
Arum: “Hahaha, just kidding aja kok, fren.”

Jam delapan malam lebih dikit, acara masak pork sauce dah kelar, kini mereka berdua
bersama menghidangkan untuk Sang Bapak yang lagi duduk lemah di kursi roda.
Erick: “Qǐng chī, bái!” (silakan dimakan, Pak!)
Bapak: “Xièxiè nǐ, háizi (terima kasih, Nak)

Arum: “Erick, please pakai bahasa Indonesia aja! Biar aku ngerti.” (Arum berbisik)
Erick: “Pak, kenapa masakan saya cuman dipandangin aja? Kenapa enggak dimakan?”
Bapak: “Erick, tiba-tiba perutku sakit. Sudahlah, buang aja makanan ini!”
Erick: “Lho, kenapa, Pak?”

Bapak: “Kaki Bapak, sudah lima jam ini terasa kaku. Hmm … kayaknya usiaku sudah tidak lama lagi.”
Erick: “Pak, jangan bilang begitu! Bapak pasti sembuh.”
Arum: “…….” (dia duduk, diam … sambil sesekali khawatir akan keadaan Bapaknya Erick)
Bapak: “Erick, coba ceritakan tentang agama islam yang Engkau peluk.”
Erick: “Islam artinya tunduk patuh kepada Allah SWT. Inilah satu-satunya agama di dunia yang
Tuhannya cuman satu, Pak.”

Bapak: “Nak, kamu begitu baik kepadaku. Hmm … apakah aku boleh ikut memeluk agamamu?”
Erick: “Maksudnya, apa Bapak akan masuk islam?”
Arum: “…..” (Arum kaget, tersenyum dan matanya berbinar melihat wajah Bapaknya Erick)

50

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Bapak: “Iya Nak. Dalam kesakitan inilah, nggak tau kenapa, hatiku mantap menyembah Tuhanmu,
yaitu …”

Erick: “Allah. Nama Tuhanku adalah Allah.”

Bapak: “Duh, kayaknya pinggangku juga sudah mulai kaku. Hmm … Nak, gimana cara masuk islam?”

Erick: “Silakan ucapkan syahadat yaitu Asyhadu alla illaaha illallooh. Wa asyhadu anna
Muhammadar Rosululloh.”

Dengan susah payah, Bapaknya Erick mengucapkan syahadat. Sekali, tiga kali, sebelas kali
lalu … tak terdengar suara lagi. Erick panik. Diapun membaringkan Sang Bapak di tempat tidur.
Dengan air mata mengucur deras, diapun mencari denyut nadi yang ada di tangan dan leher
bapaknya. Hampir dua menit mencari denyut nadi, tapi tak juga ketemu. Jiwanya berbisik lemah,
“Sudah tak ada denyut nadi lagi, Rick.” Seketika itu juga tangisan berubah menjadi jeritan.

Sehari kemudian

Semua saudara kandung Erick sudah datang. Mata mereka merah dan bengkak karena
terlalu banyak menangis. Nampak Arum senantiasa mendampingi Erick. Dia tak tega menyaksikan
sahabatnya menangis sendiri.

Arum: “Sudahlah, Bapakmu nggak hilang kok. Beliau berangkat dulu, ntar kita semua menyusul dan
bertemu dengannya.”

Erick: “Hiks …” (Erick terus menangis)

Arum: “Yang paling membahagiakan aku adalah … saat detik-detik akan meninggal, beliau sempat
mengucapkan syahadat. Wow … sungguh kematian yang indah … husnul khotimah.”

Erick: “……..” (tangisannya mulai berhenti. Pandangannya terus mengarah ke Bapaknya yang
terbujur kaku di dalam peti)

Arum: “Oya, aku hampir lupa. Erick, aku pernah mendengar Nabi bersabda, kira-kira terjemahannya
seperti ini, ‘Terburu-buru adalah sifat setan kecuali tiga hal yaitu bertaubat, mengubur mayat dan
menikahkan anak perempuan jika sudah waktunya menikah.”

Erick: “Aku tahu maksudmu.”

Arum: “Hmm … cobalah bilang ke saudara tertuamu untuk segera menguburkan mayat bapakmu!”

Erick: “………….”

Arum: “Sudah sehari, tapi kenapa belum juga dikubur? Aku khawatir … mayit akan berubah.”

Erick: “Duh …” (nampak wajah Erick kembali mendung, pedih … ada beban berat yang ditahannya)

Arum: “Erick … yuk kita segera menguburkan mayat Bapakmu!”

Erick: “Hmm … kayaknya mayat bapakku gak bakalan dikubur.”

Arum: “Kenapa?”

Erick: “Mayat bakalan dibakar.”

Arum: “Whattt?????”

51

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Erick: “Istilah halusnya … dikremasi. Begitulah tradisi kami.”

Arum: “……..” (Arum kaget, tiba-tiba kepalanya terasa nyut-nyut. Hmm … hampir aja dia terhuyung
jatuh karena tak tega mendengar berita ini)

Erick: “Apa yang harus aku lakukan?”

Arum: “Erick, Bapakmu sudah masuk islam. Jadi, beliau harus dimakamkan sesuai dengan syariat
islam. Tak ada lagi tradisi.”

Erick: “Iya, aku akan mencoba bicara dengan kakakku.”

Sambil terus meneteskan air mata, Erick melangkah menuju ke tempat duduk kakaknya.
Nampak Erick membisiki Sang Kakak. Sekejap kemudian, Sang Kakak berdiri dan berjalan bersama
dengan Erick menuju ke tempat sepi di belakang rumah. Inilah pembicaraan mereka berdua.

Erick: “Kak, saya mau bicara hal penting.”

Kakak: “Silakan, Rick!”

Erick: “Mohon supaya Kakak tidak marah.”

Kakak: “Iya …”

Erick: “Kak, sebenarnya Bapak sudah memeluk agama islam.”

Kakak: “……..” (wajahnya kaget bercampur marah)

Erick: “Aku tak pernak memaksa beliau, tapi beliau sendiri yang ingin memeluk agama islam.”

Kakak: “…………” (kini wajah itu sudah mulai stabil lagi)

Erick: “Kak, saya minta ijin untuk menguburkan jenasah Bapak sesuai dengan syariat islam.”

Kakak: “Hmm …” (otaknya berfikir keras hingga kening berkeringat)

Erick: “Kak, Bapak adalah muslim. Jadi beliau berhak mendapatkan perlakuan selayaknya muslim
yang lain.”

Kakak: “Dhek, maaf … aku gak percaya dengan omonganmu. Bapak tetap akan dikremasi dua hari
lagi.”

Erick: “Hiks … hiks … Bapak nggak boleh dikremasi, karena beliau tuh muslim.”

Kakak: “Dhek, kami lagi berduka. Tolong jangan ditambah lagi dengan duka baru!”

Erick: “Arum adalah saksinya bahwa Bapak sudah masuk islam.”

Kakak: “Diam!!! Sekali lagi kamu bicara, maka aku akan menampar wajahmu.”

Setelah pembicaraan itu, Erick semakin berduka. Semua nasihat penenang hati yang
disampaikan Arum tak satupun didengarnya. Jiwanya terus berontak dengan berkata, “Bapakku
muslim, kenapa meninggalnya harus dibakar?” Arum-pun mengalah. Dengan lemah lembut, Arum
membujuk kepada Kakaknya Erick supaya Bapaknya Erick dikuburkan sesuai dengan syariat islam.
Tapi, hasilnya nihil. Bahkan, Kakaknya Erick menasihati Arum supaya tidak mencampuri urusan
keluarga.

52

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Hingga dua hari, belum juga ada titik temu padahal menurut jadwal, nanti jam 3 sore,
jenasah akan dibakar. Angin dan hujan-pun ikut berduka.

Angin: “Kulihat sudah tiga hari ini Erick tidak tidur.”

Hujan: “Kayaknya inilah masalah terbesar yang pernah dihadapinya. Eh, gimana dengan ruh
Bapaknya Erick.”

Angin: “Hehehe, aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, para malaikat menyambutnya dengan
suka cita. Aku juga mencium bau harum yang keluar dari ruh itu. Aku terus mengamati arah langit,
hehehe … pintu langit dibukakan, dan … aku yakin sekarang ruh Bapaknya Erick sudah berpesta di
surga.”

Hujan: “Benar-benar aneh, ya. Tuh orang seumur hidup jauh dari Qur’an. Hobinya makan daging
babi. Paling-paling itu ruh masuk ke dalam atmosfer islam hanya tiga mpe lima menit. Belum sempat
sholat, juga belum puasa, tapi langsung masuk sorga.”

Angin: “Namanya aja husnul khotimah, endingnya bagus, jadi … kita gak boleh protes. Kayaknya
fakta inilah yang menjadikan aku semakin yakin bahwa Allah tu Maha Penyayang.”

Hujan: “Iya. Banyak manusia yang membenci islam karena katanya islam tuh dikit-dikit dosa, neraka,
kayaknya Allah tuh pemarah banget. Deskripsi di pikiran mereka sungguh mengerikan.”

Angin: “Sudahlah, gak usah ngebahas gituan, sekarang gimana caranya supaya Erick bisa tenang,
sumeleh, nggak usah ngurus bab kremasi, tapi bisa hepi karena ruh bapaknya sudah di sorga?”

Hujan: “Emm … aku nggak tahu. Tapi dia cerdas kok. Aku yakin pasti masalah ginian gak bakalan
berlarut-larut.”

Satu jam kemudian

Allah menurunkan rasa kantuk yang hebat sesaat setelah Erick melaksanakan sholat
dzuhur. Sejenak dia tertidur di kursi. Saat itulah, ruh Erick berjumpa dengan ruh Bapaknya atas izin
Allah.

Erick: “Bapak, kenapa wajah Bapak berubah muda?”

Bapak: “Allah menerima syahadatku. Jadi, walau aku baru masuk islam lima menit tapi aku langsung
ke sorga. Allah mengkaruniakan kepadaku kematian husnul khotimah.”

Erick: “Alhamdulillah, saya ikut gembira, Pak.”

Bapak: “Nak, hanya kamulah anak yang bisa berbakti kepada orang tua. Karena ilmu yang ada di
dalam dadamu itulah, Bapak bisa memperoleh kebahagiaan selamanya di sorga.”

Erick: “Syukurlah kalau Bapak bisa bahagia di sorga. Semoga kita bisa berkumpul bersama di sorga.”

Bapak: “Oya, barusan aku makan oseng babi ama vodka buatan Rusia.”

Erick: “Whattt???? Kok bisa?”

Bapak: “Di sorga bebas, Rick … hahaha, kita boleh makan apa aja.”

Erick: “Ya udah kalau gitu, silakan puas-puasin deh makan babi ama nenggak vodka, hehehe.”

53

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Bapak: “Rick, tadi aku mendengar beberapa malaikat di sekitarku pada memuji kebaikan hati Arum.
Emm … menurutku, Arum tuh cocok ama kamu.”

Erick: “Pak, Sampeyan tuh sudah di alam lain, jadi please gak usah main jodoh-jodohan deh.”

Bapak: “Bukan menjodohkan, cuman ngasih info aja. Ok, Bapak mau kembali ke sorga.
Assalamu’alaikum.”

Erick: “Walaikum salam.”

Erick terbangun bersamaan dengan pembakaran jenazah Bapaknya. Kini kegundahan
hatinya sirna. Dia nggak peduli lagi ama acara bakar-bakaran. Erick, dia berdiri, meninggalkan acara
kremasi, dengan diikuti oleh Arum. Mereka berjalan berdua. Erick terus bercerita tentang mimpi
yang barusan dia alami. Arum percaya dan … mereka tersenyum bareng saat Erick bercerita bahwa
para malaikat memuji kebaikan Arum.

Arum: “Apa yang membuat kamu yakin bahwa itu mimpi dari Allah?”

Erick: “Iya, sebelum bermimpi, aku melaksanakan sholat dzuhur. Masih dalam keadaan berwudhu,
lalu aku ketiduran. Jadi … aku tidur dan bermimpi masih dalam keadaan suci. Sehingga aku yakin …
semua ini dari Allah.”

Arum: “Hehehe, alhamdulilah, ntar aku akan sujud syukur.”

Erick: “Iya, aku juga. Arum, terima kasih sudah mau menjadi sahabatku sejak kecil.”

Arum: “Sama, aku juga berterima kasih kepadamu karena gara-gara kenal kamu, aku jadi rajin dan
fokus dalam belajar.”

Erick: “Kayaknya kita bersinergi banget jika bersama, ya?”

Arum: “Maksudmu?”

Erick: “Maukah kamu menjadi istriku?”

Arum: “……………” (sejenak Arum linglung)

Erick: “Kalau kamu gak mau, maka aku akan memaksamu untuk mau menjadi istriku.”

Arum: “…..” (kalimat ini menjadikan Arum tersenyum)

Erick: “Arum, please jawab!”

Arum: “Erick, coba rayu aku, tapi pakai bahasa china!”

Erick: “Baiklah, Arum … Wǒ ài nǐ.”

Arum: “Kalau itu, aku tahu artinya.”

Erick: “Apa?”

Arum: “Aini jualan sawo.”

Erick: “Hahahahahahahaha.”

------

54

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Bab 7
Mengumpulkan Barang Langit

Sambil makan pisang ambon, Pak Dayat menikmati kicauan burung cucakrawa di
pelataran rumahnya yang asri. Sudah menginjak usia 50 tahun, para tetangga mengatakan bahwa
beliau sukses dalam meniti karier. Tekun di PNS, jual beli mobil, mempunyai beberapa rumah makan
yang tersebar di Semarang. Hehehe … kini dia benar-benar menikmati keberhasilannya.

Namun ada satu hal yang mengganjal. Walau beliau sudah bergelar haji, dalam bidang
akademik beliau juga menyabet gelar MBA, tapi … beliau tak hafal surat Al Ikhlas. Memang aneh …
kok bisa? Pernah kejadian beliau menjadi imam sholat di kantor. Hehehe, banyak yang komplain
karena beliau salah dalam melantunkan Al Ikhlas. Hmm … padahal tu surat kan pendek banget.
Kalau Al Ikhlas aja gak hafal, apalagi surat lainnya? Hanya dinding dan burung di rumah beliau yang
mengetahui … kenapa bisa seperti ini.

Burung: “Menurutku Pak Dayat tu cinta dunia.”

Dinding: “Tapi kulihat dia rajin sholat juga.”

Burung: “Cuman sholat doang. Sholat tapi gak memahami ilmu yang terkandung di dalamnya.”

Dinding: “Contohnya apa?”

Burung: “Saat dia mengambil air wudhu, harusnya kan seiring dengan bersihnya badan, bersih juga
hati dan jiwa. Tapi … dia kadang makan uang haram hasil korupsi.”

Dinding: “Hmm … bener juga.”

Burung: “Saat dia sholat … duh … parah deh. Membaca Al Fatihah, tajwidnya nggak ada yang bener.
Melantunkan bacaan basmalah aja masih salah. Kata bismillah, harusnya tu pakai huruf sin, tapi dia
malah pakai syin. Dalam lafal Allah ada tasydid, dia nggak peduli, tasydid nggak dipedulikan.”

Dinding: “Padahal dia kan tahu kalau sholat tanpa ilmu, maka sholatnya tak diterima.”

Burung: “Dia tahu tapi gak peduli. Jiwanya dipenuhi dengan materi dan materi. Padahal mobilnya
sudah 8, harta kekayaannya hampir 10 milyar. Harusnya kan sudah sumeleh, gak usah ngejar-ngejar
lagi. Sekarang yang harus dikejar tu adalah ilmu, membenarkan bacaan Fatihah, bacaan sholat,
bacaan surat pendek, ngaji bab sabar, bab takwa, bab zuhud, dan lainnya.”

Dinding: “Seminggu kemarin dia sakit, ya? Tensinya naik.”

Burung: “Aku tahu sebabnya.”

Dinding: “Kenapa?”

Burung: “Warung makan kepunyaannya yang ada di Mijen terpaksa tutup karena sepi. Tiap hari rugi
terus.”

Dinding: “Hmm … kalau harta dunia berkurang, dia sedih sejadi-jadinya. Tak pernah dia bersedih
seperti itu kalau agamanya berkurang.”

55

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Burung: “Bener. Sudah tahu kalau bacaan Al Fatihahnya sangat kurang, tapi dia rileks aja, gak
pernah sedih, gak pernah punya ide untuk memperbaiki bacaan. Apa dia nggak pernah berfikir
apakah sholatnya tu diterima Allah atau tidak?”

Dinding: “Tiga hari yang lalu dia membeli HP mahal. Kulihat senyumnya merekah dan maksimal,
hehehe.”

Burung: “Tak pernah dia sepuas itu saat agamanya bertambah. Lain halnya jika dunianya
bertambah, pasti jingkrak-jingkrak.”

Dinding: “Apa dia pernah mengaji Al Qur’an?”

Burung: “Nggak pernah.”

Dinding: “Padahal kan sudah Haji?”

Burung: “Cuman gelar doang, browww.”

Dinding: “Apa dia pernah mengaji hadis Nabi?”

Burung: “Nggak. Dia paling mengaji bab mobil baru, apartemen baru, bisnis baru.”

Dinding: “Hmm … apa dia pernah merindukan Allah?”

Burung: “Kayaknya enggak. Minggu ini dia merindukan KIA Sportage varian Titanium seharga hampir
500 juta.”

Dinding: “Apa yang paling dia inginkan bulan ini?”

Burung: “New car, new pleasure. Pokoknya serba new deh, hehehe.”

Percakapan mereka terhenti manakala setan datang ikut nimbrung.

Dinding: “Dari mana aja Mas? Kok baru nongol?”

Setan: “Dari gedung DPR, Kang.”

Burung: “Ngapain di sana? Ikut rapat?”

Setan: “Ada artis cantik yang lagi naik daun. Aku ingin ada satu anggota DPR yang berzina dengan tu
artis.”

Burung: “Wah, kok kamu tega banget.”

Setan: “Tapi kenyataannya aneh. Aku tu belum provokasi tu orang supaya zina, e e e, ternyata dia
udah trampil berzina.”

Dinding: “Berarti kamu kurang lincah, ya?”

Setan: “Bukannya kurang lincah, tapi kurang jahat, hehehe. Perasaanku … gue ini dah termasuk
paling jahat lho. Tapi ada juga manusia yang tingkat kejahatannya melebihi aku, hehehe … dasar
manusia.”

Dinding: “Setan, aku ingin bicara.”

Setan: “Ok, silakan.”

56

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Dinding: “Tentang Pak Dayat, gimana menurutmu?”

Setan: “Sepuluh tahun yang lalu, aku menggodanya supaya berzina, tapi dia nggak mau. Aku dah
berusaha keras, tapi gak ada hasilnya. Hatinya sangat membenci zina. Padahal sudah kuajak ke
Sunan Kuning, LA Margorejo, tapi tetap dia gak mau.”

Burung: “Trus … apa kamu menyerah?”

Setan: “Second plan, akupun mengodanya supaya menenggak minuman keras. Dia tetap nggak mau.
Sholih juga tu orang. Setahun kemudian, aku goda dia supaya korupsi.”

Dinding: “Pasti berhasil. Iya kan?”

Setan: “Emm … berhasil dikit. Dia hanya korupsi dikit. Aku terus mengajaknya untuk mencuri duit
sebanyak-banyaknya, tapi … dia nggak mau. Paling-paling dalam sebulan, dia korupsi 500 ribu mpe
700 ribu untuk beli bensin.”

Dinding: “What next?”

Setan: “Aku pusing sendiri menggoda tu orang. Akhirnya aku ada ide … kugoda dia supaya malas
mencari ilmu, malas mengaji, malas mempelajari Qur’an. Tak hanya itu, aku terus memprovokasi
Dayat supaya menghabiskan waktunya untuk mobil baru, gadged baru, bisnis baru, dll.”

Burung: “Kayaknya berhasil, ya?”

Setan: “Hehehe, bener. Coba perhatikan kalau dia membaca Fatihah … pasti tajwidnya nggak ada
yang bener to? Hehehe.”

Dinding: “Al Ikhlas, dia gak hafal.”

Setan: “Semua surat tak ada yang dihafalnya kecuali Al Kautsar, hehehe.”

Burung: “Kayaknya semakin hari dia semakin sedih.”

Setan: “Emang. Harusnya dada tu dipenuhi dengan ilmu dan hikmah. Tapi Dayat? Hehehe …
dadanya penuh dengan ambisi dunia. Padahal setiap hari kakinya melangkah menuju ke kuburan,
tapi tingkah lakunya setiap hari mencerminkan seakan-akan dia akan hidup selamanya di dunia ini.”

Dinding: “Emm … gimana caranya Dayat kembali ke jalan yang lurus?”

Setan: “Dia harus mengaji, dekat dengan ulama dan rindu kepada Allah. Tapi takkan kubiarkan itu
terjadi.”

Sebulan kemudian Dayat jatuh sakit. Sehabis kencing, dia merintih kesakitaan. Dokter
menyatakan bahwa ada batu sebesar akik yang bersarang di ginjalnya. Hanya ada satu cara …
operasi dengan laser.

Satu jam sebelum operasi, sejenak Dayat menangis didampinya Pak Ustadz kenalannya.

Dayat: “Duh … aku takut banget, Pak.”

Ustadz: “Yang penting penyakitnya sudah ketemu. Kita tinggal menjalani aja takdir ini.”

Dayat: “Pak, apa yang harus aku lakukan sekarang?”

57

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Ustadz: “Menulis surat wasiat. Siapa tahu operasi gagal, kamu meninggal. Jadi … mending sekarang
silakan tulis surat wasiat!”

Dayat: “Hiks … hiks … hiks …”

Ustadz: “Pak, kenapa tangisannya tambah kenceng?”

Dayat: “Hiks … hiks … hiks …”

Ustadz: “Emangnya Sampeyan gak pernah memikirkan tentang mati?”

Dayat: “E … e … enggak.”

Ustadz: “Tapi Sampeyan rajin sholat, kan?”

Dayat: “Iya, tapi hanya rutinitas doang. Nggak pernah nyampek ke hati.”

Ustadz: “Hmm …”

Dayat: “Pak … aku takut mati … hiks … hiks …”

Ustadz: “Tulis surat wasiat!”

Dayat: “Pak, aku takuttt … hiks … hiks … hiks …”

Ustadz: “Takut mati atau berani mati takkan pernah memajukan atau memundurkan jadwal
kematian. Kayaknya kamu jarang ngaji, ya?”

Dayat: “Aku tak pernah mengaji, Pak?”

Ustadz: “Kenapa kamu tak tertarik belajar mendalami ilmu islam?”

Dayat: “Aku sibuk … duh … sibuk banget.”

Ustadz: “Berarti kesibukanmu itu menjadi prioritas pertama dalam keseharianmu, sedangkan
mengaji tak pernah sedikitpun menjadi prioritas.”

Dayat: “Iya Pak. Maaf … kalau boleh terus terang, kadang jiwa ini bertanya: ‘Apa untungnya
mengaji?’ Aku takkan mau mengerjakan sesuatu yang tak ada untungnya.”

Ustadz: “Wow … silakan lihat wajah saya!”

Dayat: “Enggih Pak.”

Ustadz: “Pak Dayat, aku akan memberimu satu ilmu, semoga bisa mengubah pola pikirmu.”

Dayat: “Siap Pak.”

Ustadz: “Ketahuilah bahwa semua yang ada di atas tanah pada hakikatnya adalah tanah. Saya dari
tanah. Sampeyan dari tanah. Mungkin tiap hari kita memikirkan tentang uang. Perhatikanlah bahwa
uang terbuat dari kertas, kertas dibuat dari pohon, pohon mendapat makanan dari akar, dan akar
mendapat makanan dari tanah. Baju yang kita pakai, terbuat dari kapas, kapas diambil dari pohon,
pohon mendapat makanan dari akar dan akar mendapat makanan dari tanah. Mobil … ada besinya.
Besi diambil dari tanah. Motor … ada bensinnya. Sama … bensin diambil dari dalam tanah. Rumah
sakit ini, ada batanya, ada pasirnya, semua diambil dari tanah. HP … ada plastiknya … juga dari

58

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

tanah. Kalau kamu bisa melihat dengan detail … maka semua yang ada di atas tanah pada
hakikatnya adalah tanah, dan saatnya nanti akan kembali ke dalam tanah.”
Dayat: “Hiks … hiks … hiks …”
Ustadz: “Satu satunya yang dari langit adalah ilmu. Jika kamu rajin mengaji, rajin mendalami Qur’an
Hadist, rajin mengumpulkan ilmu islam, itu ibaratnya kamu mengumpulkan barang langit. Orang
yang rajin mengumpulkan barang langit, berarti suatu saat dia akan terbang ke langit … ke sorga,
menghadap Allah bersama ilmu yang dimilikinya. Sedangkan manusia yang hanya rajin
mengumpulkan barang dunia, maka jiwanya adalah jiwa tanah … saatnya nanti jiwa itu takkan
mampu terbang ke langit. Jiwa itu hanya bisa terbaring lesu di tanah bersama barang-barang dunia
yang pernah dikumpulkannya.”
Dayat: “Ya Allah … tak kusangka ilmu begitu penting. Hmm … aku merasa jiwaku ini adalah jiwa
tanah, bukan jiwa langit karena aku tak pernah ngaji, tak pernah mengumpulkan ilmu. Duh …
kenapa aku baru tahu sekarang??????”
Sebulan kemudian
Burung: “Eh, Pak Dayat benar-benar berubah total.”
Dinding: “Hehehe. Aku ikut senang. Duh … senang banget.”
Burung: “Kuperhatikan setiap senin dan rabu dia mengaji di Masjid Al Azhar.”
Dinding: “Kalau malam jum’at dia mengaji tajwid di Palebon.”
Burung: “Kayaknya seminggu lagi dia bakalan lulus iqra’ tiga.”
Dinding: “Hatinya benar-benar tersentuh oleh wejangan ustadz.”
Burung: “Kok aku jadi ingat ama firman Allah yang berbunyi ‘wakullahum fii anfusihim qoulam
baliigho.”
Dinding: “Artinya?”
Burung: “Dan katakanlah kepeda mereka perkataan yang membekas kepada jiwanya.”
Dinding: “Perkataan ustadz benar-benar membekas, menempel erat di jiwa Pak Dayat.”
Burung: “Moga-moga aja lekatnya permanen.”
Dinding: “Kalau kurang lekat, ntar di-alteco aja!”
Burung: “Halah … hahaha.”

------

59

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Bab 8
Bertambah Jalang

Walau sudah diguyur hujan, tapi kota Rembang tetap panas menyengat. Pak Probo …
hehehe … sudah tiga gelas minum es jeruk, tapi haus belum juga hilang. Sambil kipas-kipas pakai ilir
jawa, beliau bicara lumayan serius dengan Sang Istri.

Probo: “Bu, mana Si Tiara?”

Istri: “Dia lagi megang gadged, paling fb-an, Pak.”

Probo: “Ini sudah jam 4 sore, apakah dia sudah sholat ashar?”

Istri: “Kayaknya belum.”

Probo: “Duh … kayaknya anak kita ini semakin hari semakin malas. Padahal … bentar lagi dia duduk
di bangku SMA, tapi … kenapa nggak dewasa-dewasa, ya? Sifatnya masih seperti anak-anak terus.”

Istri: “Kita terlalu memanjakannya, Pak.”

Probo: “Aku sudah mempunyai rencana. Gini … ntar aku akan mencarikan SMA islami terbaik di
Semarang. Aku yakin … dengan dia sekolah di sana, maka ilmu agamanya semakin bagus, ilmu
umum juga mantap. Gimana Bu?”

Istri: “Emm … apa nggak sebaiknya Si Tiara sekolah di sini aja … di Rembang? Di sini juga banyak
sekolah yang bagus.”

Probo: “Enggak. Dia harus jauh dari orang tua supaya bisa mandiri. Jika dia terus dekat dengan
orang tua, selamanya dia akan malas seperti itu.”

Istri: “Pak, Semarang tu kota besar. Pengaruh negatif sangat banyak. Aku khawatir …”

Probo: “Kalau kamu berfikir negarif terus, maka anak kita takkan bisa berkembang. Think positive,
please!!!!”

Enam bulan kemudian, Tiara sudah berada di Semarang. Dia masuk di sekolah islam yang
lumayan terkenal. Biaya masuk sekolah … wow … mahal banget, hampir seharga motor bebek baru,
hehehe.

Apakah Tiara menjadi semakin baik? Hmm … dia bagai kuda yang lepas dari kandang.
Walau perempuan, dia sudah berani belajar merokok. Saat masuk sekolah, dia mengenakan jilbab,
tapi saat nge-maal, dia melepas tu jilbab. Saat kumpul-kumpul dengan teman-temannya di warung
kucingan, dia juga melepas jilbab, sambil … merokok. Duh … parah banget ni bocah.

Atmosfer Semarang benar-benar membuat Tiara bertambah jalang. Sholat … gak pernah
lagi. Belajar … gak mau. Sosmed … hampir tiap menit kecuali pas tidur, hehehe. Tapi dia pandai
menyembunyikan semua keburukan ini dari ortunya. Biasalah … namanya dosa pasti membuat
orang malu dan dia akan menyembunyikan serapat-rapatnya.

Saat ada liburan agak panjang, Tiara pulang ke Rembang. Tentu dengan memakai jilbab. Di
rumah juga sholat, ngaji, bicara dengan logat Semarangan dengan sangat sopan. Tujuannya hanya

60

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

satu yaitu tebar pesona, jaga image … hehehe. Begitu dia sudah pulang dari Rembang, saat naik bis
menuju Semarang, diapun melepas jilbabnya lagi.

Memang kenyataan ini sungguh aneh. Tuh anak sekolah di sekolah islam. Lingkungannya
juga islam. Semua gurunya adalah islam, tapi kenapa semakin hari semakin bejat, jauh dari akhlak
islami? Jawabannya sederhana … karena mayoritas teman-temannya juga bejat seperti dia. Kok
bisa? Hehehe … gini … niatan orang tua memasukkan anak mereka ke sekolah islam tu macam-
macam. Ada anak sholih, lalu dimasukkan ke sekolah islam supaya bertambah sholih. Ada anak
awam, dimasukkan ke sekolah islam supaya jadi sholih. Ada anak nakal, dimasukkan ke sekolah
islam supaya menjadi sholih. Naa … kebanyakan yang terjadi tu yang nomor tiga yaitu anak nakal
dimasukkan ke sekolah islam supaya menjadi sholih. Memang tujuan awalnya bagus. Tapi silakan
bayangkan … ada 50 anak nakal yang dimasukkan ke sekolah islam. Lalu ke 50 anak nakal itu pada
berkumpul, buat group tersendiri. Mereka semakin nakal karena memang dikelilingi oleh anak-anak
nakal. Pertanyaannya adalah … dua tahun kemudian, kelima puluh anak nakal ini menjadi semakin
sholih atau malahan semakin nakal??? Hahaha … anda pasti tahu jawabannya.

Setahun kemudian, sekolah mengadakan wisata ke Bali. Ada 8 bus berjejer siap
mengantar para murid untuk sejenak menikmati alam. Kesempatan ini benar-benar membahagiakan
Tiara dan groupnya. Mungkin inilah puncak kesenangan mereka, bisa hepi bersama-sama di Pulau
Dewata.

Sehari kemudian, rombongan sudah menginap di salah satu hotel di Bali. Semakin malam,
suasana semakin ceria. Emm … dari ceria menuju ke mesra. Dari mesra menuju ke zina. Hmm …
Tiara baru tahu kalau teman-temannya pada melakukan perbuatan zina, sungguh tak senonoh. Duh
… dia shock, kecewa, marah, frustasi dan … remuk. Sejenak jiwanya menangis …

Jiwa: “Hiks … hiks … kuakui, aku memang nakal, malas, suka merokok, tapi aku nggak sampai
melakukan zina seperti itu.”

Hati: “Hmm … gak nyangka. Padahal mereka sekolah di sekolah islam, tapi kok bisa dengan
mudahnya berzina. Padahal mereka tahu ilmunya, tapi kenapa malahan melanggar?”

Jiwa: “Mereka seperti setan.”

Hati: “Emm … lebih mirip binatang, deh.”

Jiwa: “Nyesal banget aku masuk sekolah ini.”

Hati: “Mending dulu sekolah di Rembang aja, ya?”

Jiwa: “Benar. Senakal-nakalnya anak Rembang, tapi nggak separah anak Semarang.”

Hati: “Kayaknya … secepatnya aja pindah ke Rembang, ya?”

Jiwa: “Benar, aku akan melanjutkan sekolah di Rembang aja. Moga-moga proses mutasi-nya gak
ruwet.”

Hikmah dari kisah ini:

1. Beberapa sekolah islam yang ada (tidak semuanya) bukannya menjadikan anak kita semakin sholih,
tapi malahan sebaliknya. Kenapa? Anak kita dikotori akhlaqnya oleh teman-teman mereka satu
sekolahan. Jadi, silakan sangat selektif dalam memilih sekolah.

2. Jangan memilih sekolah karena murahnya, jangan milih sekolah karena namanya yang terkenal. Tapi
silakan memilih sekolah karena kita memang mengetahui luar dalam sekolah itu. Sekolah yang

61

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

berlabel islam, belum tentu dalamnya benar-benar islami karena fakta di lapangan mengatakan
seperti itu.
3. Memang sekolah adalah ‘pabrik’ untuk menghasilkan anak pintar dan sholih. Tapi sebenarnya mesin
penghasil anak sholih yang paling bagus adalah kedua orang tua. Jadi … jangan pernah
mengandalkan sekolah, lalu para orang tua nyantai, tidak mendidik anak dengan maksimal.
4. Anak bisa sholih tergantung kepada tiga faktor yaitu buku yang dibacanya, kualitas teman-
temannya, dan keputusan yang dia buat. Untuk para orang tua: pastikan anak-anak membaca buku-
buku yang baik dan bagus, pastikan anak-anak berada di lingkungan yang islami dan berakhlaq
mulia, dan bantulah anak untuk mengambil keputusan yang islami, yang lurus, yang sesuai dengan
Al Qur’an dan Sunnah.

------

62

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Bab 9

Cara Mendesain Anak Supaya Menjadi Gila

Tahun 2008

Mata Thoriq terus terpaku ke permukaan air sungai yang jernih. Sudah setengah jam lebih
dia ingin menangkap anak ikan sepat yang berenang meliuk-liuk kian kemari, tapi belum juga
berhasil. Angin lembut menerpa wajahnya yang putih dan ganteng. Umurnya baru enam tahun,
imut, periang. Tiap sore dia menikmati ayat Allah yang terbentang mulai dari sawah yang menghijau,
sungai yang bening, dan dedaunan yang rindang.

Thoriq agak kaget namun tersenyum manakala dari arah belakang sahabatnya datang.
Laila, umur mereka sama. Ni cewek juga imut, rambut panjang hingga sebahu. Sejenak mereka
bergurau.

Laila: “Sudah dapat ikan berapa?”

Thoriq: “Baru dapat dua ikan.”

Laila: “Eh, lihat ke arah samping kirimu, ada banyak ikan gathul. Kita tangkap, yuk!”

Thoriq: “Enggak ah. Untuk apa menangkap ikan gathul? Nggak seru.”

Laila: “Tapi aku suka ikan gathul. Mereka selalu bersama. Kemana-mana selalu beriringan.”

Thoriq: “Kalau aku … suka ikan sepat.”

Laila: “Kenapa suka ikan sepat?”

Thoriq: “Aku melihat dia selalu tersenyum, tertawa, bermain kian kemari. Kayaknya … dialah
makhluk Allah yang paling bahagia.”

Dua tahun kemudian

Thoriq sudah duduk di kelas dua SD. Kini … kesempatan untuk melihat alam sudah sangat
jarang. Ibu Wida- ibunya Thoriq mempunyai impian bahwa Thoriq bisa menghafal Qur’an 30 juz. Di
samping itu, dia juga berambisi Thoriq harus menjadi ranking satu di kelasnya.

Beban-beban inilah yang membuat Thoriq jarang tersenyum. Sepulang sekolah, dia
nonton TV bentar, jam 2 siang berangkat les. Ntar jam 4 sore mengaji. Jam 6 sore belajar mapel di
kamar. Jam 8 mpe sembilan hafalan Qur’an dengan ibunya. Targetnya satu halaman/ hari. Thoriq
tidur terlelap saat jam 9.30 malam. Baru tidur lima setengah jam, tepat jam tiga pagi, Sang Ibu
membangunkan Thoriq untuk kembali menghafal Qur’an mpe subuh. Setelah subuh, kembali
disuruh mengulangi pelajaran sekolah.

Hanya saat hari minggu Thoriq benar-benar bisa istirahat. Kini dia bersama Laila. Sama …
berdua di sungai melihat ikan yang berenang.

Laila: “Kulihat wajahmu lesu. Kayaknya kamu lelah banget.”

Thoriq: “A … a … aku capek. Pikiranku lelah. Otak ini terasa mau meledak. Rasanya … duh … nyut …
nyut … nyut.”

63

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Laila: “Mungkin kamu terlalu banyak belajar.”

Thoriq: “Aku terpaksa. Hmm … aku dipaksa ibukku belajar keras. Aku tak punya kesempatan untuk
bermain, tak ada lagi waktu untuk menikmati hidup.”

Laila: “Kudengar kabar … kamu lagi fokus menghafal Qur’an, ya?”

Thoriq: “Aku dipaksa ibukku. Kalau tak patuh, aku dicap anak durhaka. Aku dicap tak mau diajak
menuju kebaikan.”

Laila: “Hmm … apa kamu menikmati menghafal Qur’an?”

Thoriq: “Enggak. Aku tak bisa menikmati. Aku lelah. Pelajaran sekolah sangat berat. PR juga banyak.
Tugas seabreg … kini ditambah beban hafalan satu halaman Qur’an sehari. Duh … kadang aku pingin
minggat dari rumah.”

Laila: “Huss … jangan berkata seperti itu! Ibumu tu baik, sangat sayang kepada anaknya sehingga
memberimu tugas hafalan seperti itu.”

Thoriq: “Baik tapi terlalu memaksa. Kayaknya dia bakalan bangga kalau aku hafal Qur’an, lalu
prestasiku ini dipamer-pamerkan ke teman-temannya di sosmed. Aku tak suka hal itu.”

Laila: “Hmm … jika kamu bebas memilih, pilihan apa yang akan kamu ambil?”

Thoriq: “Aku ingin dalam sehari tu … belajar satu jam aja, gak ada les, gak ada hafalan Qur’an … aku
tak mampu menghafalnya. Aku ingin lebih dekat ke alam yaitu sawah, kebun, sungai. Di situlah aku
menemukan kedamaian.”

Laila: “Kapan kamu siap menghafal Qur’an?”

Thoriq: “Ntar aja, saat SMP. Itupun nggak sehalaman dalam sehari, tapi sehalaman dalam
seminggu.”

Laila: “Kenapa begitu?”

Thoriq: “Aku ingin menghafal pelan. Hmm … pelan banget sambil mendalami makna Qur’an itu
sendiri. Aku tak suka terlalu banyak. Duh … pusing.”

Laila: “Cobalah sampaikan uneg-unegmu ini ke ibumu!”

Thoriq: “Dia pasti gak setuju … marah. Kayaknya hidupku benar-benar di bawah tekanan.”

Laila: “Hmm … aku ikut prihatin.”

Thoriq: “Laila … kayaknya kamu lebih bahagia dari aku. Coba bayangkan … jam tiga pagi aku dipaksa
bangun padahal masih mengantuk. Aku dipaksa menghafal dan menghafal hingga subuh. Padahal
jam segitu kan lagi enak-enaknya tidur.”

Laila: “Duh … aku ikut sedih mendengarnya.”

Thoriq: “Aku sangat heran dengan jalan pikiran ibukku. Sebagai seorang ibu, kenapa dia tega
menyiksaku? Kenapa????? Hiks … hiks … hiks …”

Laila: “Semua ibu tu baik.”

Thoriq: “Emang, kecuali ibukku. Dia benar-benar merenggut kebahagiaanku.”

64

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Laila: “Kayaknya kamu benar-benar depresi.”

Thoriq: “Bukan hanya depresi, tapi super depresi, fren.”

Tiga tahun kemudian

Thoriq: “Bu … badhe matur.”

Ibu: “Ini dah jam 10 malam. Tolong gak ada pembicaraan lagi! Kamu harus tidur, ntar jam tiga kamu
harus bangun. Dua hari lagi kamu akan mengikuti olimpiade matematika di Semarang. Kamu harus
menjadi juara satu se-jawa tengah!”

Thoriq: “Bu … aku lelah.”

Ibu: “Halah, jangan terus mencari alasan! Nak, kamu tu kuat bagai harimau. Kamu hebat bagai
elang. Aku sengaja mendidikmu dengan sangat keras supaya kamu bisa mengenal dirimu sendiri
yang pandai, hebat, mental juara dan nomer satu.”

Thoriq: “Aku bukan nomor satu.”

Ibu: “Diam!!!! Kamu harus menutup semua pintu kemalasan.”

Thoriq: “Bu, aku ingin bermain seperti anak-anak yang lain.”

Ibu: “Berarti kamu membuang masa mudamu hanya untuk hal-hal yang tak berguna.”

Thoriq: “Aku ingin menikmati hidup, apakah salah?”

Ibu: “Hidup itu perjuangan, bukan untuk nyantai-nyantai, ngerti?????”

Thoriq: “Bu, beban belajarku banyak. Tugas, PR, menghafal Qur’an, aku hanya lima jam tidur dalam
sehari. Kini ketambahan beban persiapan olimpiade matematika. Hiks … hiks …”

Ibu: “Kalau kamu masih menganggap aku ini ibumu, kamu harus patuh ibu! Tak ada orang tua yang
menyuruh keburukan kepada anaknya. Semua orang tua menginginkan kebaikan. Tolong
dipikirkan!!!! Sekarang cepat tidur!!!”

Otak Thorik benar-benar lelah. Sekarang kadang terasa nyeri. Ibunya gak peduli. Hmm …
hanya Laila yang memahami keadaannya.

Dua hari kemudian, Ibu Thoriq jingkrak-jingkrak karena Thoriq berhasil memenangkan
olimpiade matematika se-jawa tengah. Sang Ibu terus mengabarkan berita gembira ini kepada
teman-temannya. Aroma kesombongan semakin tercium. Niatan awal belajar hanya untuk mencari
ridho Allah, kini bergeser menjadi niatan yang picik yaitu ingin di puji.

Di sore yang sejuk, sejenak Thoriq menyendiri di pinggir sungai. Kadang dia tertawa
sendiri, kadang menangis sendiri. Matanya terus terpaku kepada beberapa ikan sepat yang
berenang kian kemari. Dia menoleh ke arah kanan. Alangkah kagetnya Thoriq, di … di … dia melihat
ada manusia yang mencekik Laila. Dia melihat Laila mengerang kesakitan. Sontak Thoriq menjerit
dan menjerit. Jeritannya semakin keras hingga ibunya datang dan memeluknya.

Ibu: “Nak, kamu kenapa? Kenapa menjerit-jerit?”

Thoriq: “Bu, lihatlah! Laila dicekik perampok.”

Ibu: “Mana?”

65

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Thoriq: “Itu Bu, di samping kanan Ibu. Hiks … hiks … kasihan Laila, tolonglah dia!”

Ibu: “Nak, di samping kanan Ibu gak ada apa-apa alias kosong. Coba pejamkan mata!”

Thoriq: “Enggih Bu.”

Ibu: “Sekarang buka matamu!”

Thoriq: “Enggih.”

Ibu: “Apa kamu masih melihat Laila dicekik?”

Thoriq: “Enggak. Sudah tidak ada.”

Peristiwa itu membuat semua shock. Sejam kemudian, Thoriq kembali jerit-jerit. Kali ini di
kamarnya dia melihat Laila ditusuk oleh perampok sehingga darah mengucur deras membasahi
lantai kamar. Tapi ibunya tak melihat itu. Semua orang tak melihat kejadian itu kecuali … Thoriq.

Dua hari Thoriq tak bisa tidur. Setiap dua jam dia menjerit. Kedua orang tuanya menangis
hingga kelopak mata pada bengkak. Hanya satu pertanyaan, “Ada apa dengan Thoriq?”

Sebulan kemudian

Tak ada pilihan lain, Thoriq dirawat di rumah sakit jiwa Magelang. Kali ini Laila datang
membezuk. Melihat kondisi Thoriq yang semakin mengenaskan, Laila menangis sambil terus
memegang tangan Thoriq.

Laila: “Thoriq, hiks … hiks … hiks …”

Thoriq: “…………….”

Laila: “Coba sebutkan, siapa namaku?”

Thoriq: “…………..”

Laila: “Aku adalah Laila … hiks … hiks … a … a … aku Laila. Kenapa kamu melupakan aku?”

Thoriq: “…………”

Laila: “Thoriq, cobalah mengingat masa kecil! Saat kita berdua bermain di sungai. Aku suka ikan
gathul, sedangkan kamu suka ikan ….”

Thoriq: “………….”

Laila: “Ayo jawab! Kamu suka ikan …..”

Thoriq: “……………”

Laila: “Hiks … hiks … Thoriq, kenapa kamu bisa lupa semua?” (tangisan Laila semakin pilu)

Thoriq: “…………..”

Adzan ashar sudah berkumandang, Laila menuntun Thoriq menuju ke ruang perawatan.
Dia langsung bergegas ke masjid rumah sakit untuk melaksanakan sholat ashar. Saat wudhu …
membasuh wajah, kembali Laila menangis, tapi ditahannya. Jiwanya hanya bisa berkata, “Thoriq,
ibumu sangat kejam. Dialah yang menjadikanmu seperti ini … hiks … hiks …”

66

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Selesai melaksanakan sholat ashar, sejenak Laila bicara serius dengan dokter yang
merawat Thoriq.

Laila: “Pak dokter, mohon cerita … ada apa dengan Thoriq? Dia tu sakit apa? Kapan bisa sembuh?”

Dokter: “Hmm … aku tak bisa mengatakannya.”

Laila: “Dok, saat Thoriq sehat, hanya aku adalah sabahat terbaiknya. Kemana-mana kami berdua.
Please!!!”

Dokter: “Pasien Ananda Thoriq … emm … beberapa syarafnya layu. Kami harus melakukan terapi
supaya syarafnya tidak layu.”

Laila: “Duh … hiks … hiks …”

Dokter: “Dhek, sudahlah! Mendingan perbanyak doa daripada menangis.”

Laila: “Enggih Pak. Kapan dia bisa sembuh?”

Dokter: “Saya tak bisa menjawab. Ok saya tinggal dulu, ada keluarga pasien lain yang membutuhkan
penjelasan saya.”

Laila: “Iya Pak. Terima kasih.”

Mendengar kalimat ‘beberapa syaraf Thoriq layu’, duh … hati Laila seperti teriris, kadar
oksigen di sekitarnya seakan berkurang. Dia hanya bisa tergagap, duduk lemas, hmm … tak disangka
nasib Thoriq bakalan seperti ini.

Hampir maghrib, sudah setengah jam lebih Laila menyuapi Thoriq. Alhamdulillah
makannya lumayan banyak. Nampak ada senyum menghiasi wajah Thoriq. Laila membalasnya
dengan senyuman bercampur dengan harapan. Sejenak mereka beradu pandangan.

Laila: “Thoriq … dah maghrib, aku harus pulang ke Semarang. Seminggu lagi aku ke sini, ya!”

Thoriq: “……………”

Laila: “Aku terus berdoa siang malam supaya kamu bisa sembuh. Aku berharap semoga jika kamu
sembuh, maka kita akan bermain lagi, bersama lagi mencari ikan di sungai.”

Thoriq: “……………..”

Laila: “Please jawab! Jangan diam terus!”

Thoriq: “………..”

Laila: “Hmm … Ya Allah, titip Thoriq, njih. Matur nuwun.”

Pelan namun pasti Laila melangkah meninggalkan Thoriq. Satu langkah … tiga langkah,
Thoriq tetap diam. Hingga sampai tujuh langkah, Laila menoleh ke arah Thoriq. Laila tertegun, dia
terus memperhatikan mata Thoriq yang terus mengeluarkan air mata. Hmm … seakan air mata itu
berkata, “Laila, jangan tinggalkan aku! Temani aku! Ibukku jahat, hanya kamulah sahabatku satu-
satunya.”

Air mata Thoriq … hmm … Laila tak tahan melihat air mata itu yang terus menetes. Kakinya
terasa gemetar, dadanya deg-degan, sambil menangis keras, diapun berlari menuju Thoriq. Laila …

67

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

dia menjerit pilu memeluk Thoriq. Kini … tak ada lagi kata yang terucap. Yang terdengar hanya
tangisan, rintihan dan asa yang berserak.

------
Catatan dari penulis: kisah ini saya dedikasikan kepada seorang anak yang menjadi gila karena beban
belajar yang terlalu berat yang diberikan orang tua kepadanya.

68

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Bab 10

Ketika Allah Memberi Secara Kontan

Suasana bakda subuh yang biasanya sunyi, sepi dan sejuk, kini mendadak geger. Pak Haji
Syarif pingsan di masjid saat selesai mengerjakan sholat subuh berjamaah. Sang Putri yaitu Mbak
Witri sudah bersiap-siap mengantar beliau ke rumah sakit. Tapi mendadak Pak Syarif sadar dan …
beliau nggak mau di bawa ke rumah sakit. Kini beliau dibaringkan di atas ranjang yang diletakkan di
ruang tamu agar masyarakat dengan mudah membezuk beliau.

Mbak Witri dikaruniai adik yang bernama Fhatmi. Keduanya sudah berumah tangga. Usia
Pak Syarif sendiri sudah hampir 80 tahun. Kini mereka semua berkumpul.

Witri: “Pak, Panjenengan harus kerso ke rumah sakit.”

Pak Syarif: “Aku sudah sadar dari pingsan. Sudahlah, jangan lagi menyebut rumah sakit! Nak, hmm …
kayaknya jatah hidupku di dunia ini sudah hampir habis.”

Fhatmi: “Pak, ampun ngendiko mekaten!”

Pak Syarif: “Sebelum aku meninggal, sebenarnya ada satu rahasia yang kusembunyikan selama 20
tahun ini. Kini aku akan membuka rahasia itu.”

Witri: “Hiks … hiks … hiks …”

Pak Syarif: “Nak, saat usiaku 59 tahun, aku berangkat naik haji ke tanah suci. Saat melaksanakan
sholat di Masjidil Haram, ada keanehan. Waktu itu aku sholat dengan memakai sajadah. Selesai
melaksanakan sholat, akupun melipat sajadah. Aku kaget manakala melihat di bawah sajadah itu
ada uang kertas riyal begitu banyak. Aku menoleh ke kanan ke kiri, pikiran ini mendadak bingung
dan bertanya-tanya … siapa pemilik uang ini? Akupun membawanya. Kusimpan rapi di kopor.”

Witri: “Hmm … cerita yang bagus.”

Pak Syarif: “Beberapa jam kemudian, aku melaksanakan sholat lagi. Sama … selesai sholat, kulihat di
bawah sajadah berserak uang begitu banyak. Aneh … jiwa ini terasa tentram. Besoknya, aku sengaja
sholat di Masjidil Haram dengan tidak membawa sajadah. Keanehan datang lagi, Nak. Selesai
melaksanakan sholat, di bawah pinggangku terdapat begitu banyak uang riyal. Akupun
menyimpannya. Semua uang kubawa pulang, kutukarkan ke mata uang rupiah, hmm … hampir satu
milyar rupiah. Uang itu aku gunakan untuk membeli sawah dan kebun. Kini semua sawah dan kebun
itu aku wariskan kepada kalian berdua.”

Witri: “Aku yakin semua uang itu adalah pemberian dari Allah.”

Fhatmi: “Hatiku juga mengatakan seperti itu.”

Pak Syarif: “Setelah mengalami peristiwa itu, duh … imanku semakin naik. Aku semakin yakin bahwa
Allah tu ada, baik, dan senantiasa mengurus hamba-Nya.”

Witri: “Kenapa Bapak merahasiakan ini semua?”

Pak Syarif: “Aku tak ingin jiwaku menjadi sombong. Biarlah kejadian ini hanya aku dan Allah saja
yang tahu.”

69

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Witri: “Hmm … hati ini terasa mak nyess mendengar kisah Panjenengan, Pak.”

Pak Syarif: “Nak, sejak muda, aku belajar mengaji di masjid kampung kita itu. Hmm … cukup lama
aku merenungkan satu ayat yaitu ayat pertama yang tertulis di Qur’an.”

Fhatmi: “Maksud Bapak … Bismillahirrohmaanirrohiim.”

Pak Syarif: “Benar. Lama otak ini berfikir: kenapa ayat ini dijadikan ayat pertama? Hmm … ada kata
Arrohman, juga ada kata Arrohim. Allah Maha Pengasih, Allah Maha Penyayang.”

Witri: “Bapak memang telaten, ulet, dan rajin.”

Pak Syarif: “Kenapa kata Arrohman diletakkan di awal Qur’an? Duh … lama banget aku memikirkan
satu kata ini, hingga sampai berminggu-minggu.”

Fhatmi: “Akhirnya????”

Pak Syarif: “Aku berkesimpulan … sengaja Allah meletakkan asmaul husna itu, yaitu Arrahman,
Maha Pengasih … supaya manusia mau meneladani asmaul husna ini. Aku yakin bahwa Allah sangat
mencintai hamba-hambaNya yang suka memberi, bersedekah, dan meringankan beban orang lain.
Hmm … sejak saat itu, akupun rajin sedekah, rajin membantu, rajin menyantuni anak yatim dan
miskin.”

Witri: “Wow … sungguh bijaksana.”

Pak Syarif: “Rupanya Allah membalasku secara cash di dunia ini. Saat di Masjidil Haram, Allah ganti
memberiku uang begitu banyak. Ya Allah … Engkau memang Arrahman, Engkau benar-benar sayang
kepada kami.”

Fhatmi: “Memahami hanya satu ayat, lalu dipikirkan berhari-hari, kemudian dilaksanakan dengan
ikhlas dan istiqomah hingga ujung kehidupan… wow … Pak … tak kusangka Panjenengan benar-
benar mencintai Qur’an.”

Pak Syarif: “Nak, pesanku: jangan hanya puas dengan menghafal Qur’an. Tapi yang paling penting
adalah memahami Qur’an. Memikirkan apa yang terkandung dalam setiap ayat di Qur’an, lalu
laksanakanlah dengan istiqomah hingga nyawa ini berpisah dari raga. Aku yakin … kamulah manusia
yang paling beruntung di dunia ini.”

Nafas Pak Syarif tinggal satu-satu. Beliau … duh … nampak keringat bersarang di dahi
beliau. Witri dan Fhatmi tahu bahwa bapaknya … hmm … kayaknya sudah rindu ingin bertemu Allah.

Witri: “Pak … hiks … hiks …”

Pak Syarif: “Nak, kenapa kamu menangis? Bentar lagi aku akan bertemu dengan Dzat yang sangat
aku cintai. Aku sangat rindu ingin bertemu denganNya.”

Fhatmi: “Hiks … hiks … Pak, berilah kami nasihat lagi! Hiks … hiks …”

Pak Syarif: “Nak, jadikan menghafal Qur’an sebagai prioritas nomer tiga. Jadikan memahami Qur’an
sebagai prioritas nomer dua. Jadikan mengamalkan isi Qur’an sebagai prioritas nomer satu.”

Witri: “Enggih Pak. Kami akan melaksanakan semua dhawuh Panjenengan.”

Pak Syarif: “Nak, hmm … nafas terasa semakin berat. Duh … yuk kita bersama-sama membaca Al
Fatihah tiga atau lima kali!”

70

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Akhirnya, semua yang hadir membaca Al Fatihah bersama-sama dengan Pak Syarif. Saat
selesai membaca Fatihah tiga kali, tiba-tiba Pak Syarif terdiam. Beliau tersenyum menghadap ke
langit sambil berkata lembut, “Nak, ada rombongan tamu. Mereka bukan manusia, tapi juga bukan
jin.”
Dengan tangisan tertahan, Fhatmi bertanya, “Si … si … siapa mereka? Apakah para malaikat???”
Pak Syarif tak mampu lagi menjawab. Beliau hanya mengangguk pelan, tersenyum … memejamkan
mata. Lima menit kemudian … beliau sudah tidak bernyawa lagi.

------

71

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Bab 11

Kadang Kejujuran Terasa Perih

Tahun 1974

Hampir maghrib, hujan rintik sudah cukup merubah suasana menjadi sejuk. Empat gadis
berjalan pelan. Mereka memakai payung dari daun pisang. Nampak dari kejauhan … hehehe …
mereka mengenakan jarik khas jawa. Seperti biasa, mereka menuju masjid kampung untuk mengaji
Al Qur’an. Sambil menikmati sejuknya hujan, sejenak mereka ngobrol.

Gendhis: “Yuk kita bergegas! Ntar gelap lho.”

Ambar: “Nyantai aja lah! Hehehe … proyek listrik sudah nyampek di kota Semarang. Kapan kampung
kita mendapat aliran listrik, ya?”

Harni: “Paling-paling 5 tahun lagi.”

Enting: “ Bukan lima tahun, tapi 10 tahun lagi, hahaha.”

Gendhis: “Eh, Ambar … kain jarik yang kau kenakan, duh … bagus banget. Apa nama motifnya?”

Ambar: “Ini motif batik parang kusumo. Maknanya adalah mekar. Semoga dengan aku mengenakan
motif ini, pikiranku mekar, hatiku juga mekar, tak lagi picik dan bodoh.”

Harni: “Gimana kalau yang mekar malahan perutnya?”

Enting: “ Itu namanya super gendhut, Jeng … hahaha.”

Harni: “Kalau jarik yang kupakai ini, nama motifnya adalah bokor kencana. Kata ibukku, motif ini
seperti doa semoga aku semakin bertambah sholihah, kewibawaanku semakin moncer dan
kecantikanku semakin bersinar lahir batin, hehehe.”

Enting: “Emangnya jarik ngefek ama wajah?”

Gendhis: “Duh, namanya aja petuah orang tua, nggak usah dibantah! Kalau aku suka jarik dengan
motif sekar jagad.”

Ambar: “Emm … kutebak, pasti supaya kamu bisa cantik bagai bunga, ya?”

Harni: “Mungkin. Tapi gimana kalau yang memakai tu embah-embah yang sudah tuaaaaa banget?”

Ambar: “Biar kelihatan cantik jiwanya. Gitu … hahaha.”

Gendhis: “Ok, dah terdengar adzan maghrib. Yuk kita percepat langkah kita!”

Sepuluh menit kemudian, mereka khusyuk melaksanakan sholat maghrib bersama hampir
50 jamaah. Masjid kampung itu … hmm … sederhana banget. Dinding masjid masih dari kayu.
Atapnya … genting yang sudah sangat tua. Lantai masjid masih dari tanah yang dilapisi dengan tikar
anyaman. Walau sangat sederhana, tapi jamaah begitu banyak. Kenapa? TV belum ada. FB, WA, Line
dan sosmed lainnya belum ada sehingga masyarakat fokus ke masjid, fokus ke akhirat. Jauh banget
dengan jaman sekarang. Teknologi semakin maju, masyarakat sibuk … kayaknya bukan sibuk, tapi
disibukkan oleh sosmed dan game yang semakin bagus sehingga masjid sepi. Saat listrik mati
seminggu, pasti mereka pada bingung, marah … linglung, sepi. Kenapa? Mereka sudah tergantung

72

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

ama listrik, ama sosmed, ama game, dan hatinya gak terbiasa ke masjid, gak terbiasa ngaji, jadi …
sangat nampak waktu mereka habis dirampok oleh sosmed. Emm … anehnya, mereka rela waktu
mereka dirampok, bahkan malahan seneng, hahaha.

Yuk sejenak kita kembali ke Gendhis dan kawan-kawan. Sehabis melaksanakan sholat
maghrib, seperti biasa, mereka mengaji kepada Kiyai Warso. Walau hanya diterangi lampu minyak,
tapi semangat mereka tetap maksimal. Mungkin karena sudah menjadi habit jadi tak ada santri yang
loyo atau malas.

Dari dalam masjid, terdengar hujan reda sehingga Kiyai Warso bisa nyaman mengajar. Kali
ini beliau membahas makna dari Surat Al Baqarah ayat 8 sampai 20. Dua menit … sepuluh menit …
semua yang hadir antusias menyimak. Akhirnya Kiyai berkata, “Wahai para santri, ketahuilah bahwa
ayat-ayat yang saya jelaskan tadi itu membahas tentang orang-orang munafik. Pembohong, tak bisa
dipercaya dan mudah mengkhianati saudaranya adalah salah satu tanda munafik. Para santri, saya
mau tanya … kenapa ayat-ayat tentang munafik ini diletakkan di awal-awal Surat Baqarah?”

Semua santri tak ada yang bisa menjawab. Kembali Kiyai berkata, “Hikmahnya adalah …
munafik itu sangat berbahaya. Jangan pernah menjadi munafik! Keluarga hancur, negara remuk
gara-gara munafik.”

Pengajian selesai, adzan isyak sudah berkumandang. Semua jamaah melaksanakan sholat
isyak. Suasana … semakin sepi, hanya jangkrik yang bernyanyi bersahutan menghiasi cantiknya
malam.

Dua puluh tahun kemudian

Di tahun 1994, usia Gendhis sudah mencapai 32 tahun. Dia dikaruniai dua anak. Suaminya
seorang anggota DPRD. Hmm … lumayak kaya. Gendhis … walau dia kaya tapi dia tak mau menjadi
munafik. Dia tak mau membohongi rakyat. Suaminya wakil rakyat, dia tahu berapa gajinya, sehingga
jika suaminya memberi kepadanya duit banyak yang tak jelas asal usulnya, maka diapun marah
kepada suaminya. Pernah suatu hari suaminya membawa hadiah untuknya.

Suami: “Dhek, nih kubelikan jarik batik.”

Gendhis: “Duh … cantik banget. Kayaknya ini motifnya … e … ntar coba kuingat … motifnya wahyu
tumurun, ya?”

Suami: “Wah, aku nggak paham tentang motif batik.”

Gendhis: “Iya … ini adalah motif wahyu tumurun. Filosofinya adalah semoga yang memakai batik ini
selalu mendapat hidayah dari Allah SWT.”

Suami: “Dhek, ini hadiah kedua dariku.”

Gendhis: “Sebuah tas wanita?”

Suami: “Iya Dhek.”

Gendhis: “Hmm … bagus banget. Berapa harganya?”

Suami: “Dua ratus ribu.”

73

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Gendhis: “Bohong. Temanku ada yang punya ginian, harganya diatas dua juta rupiah. Mas … kenapa
kamu memberi hadiah begitu mahal? Pasti ini uang haram, pasti Sampeyan nggak bener.”

Suami: “Dhek ….”

Gendhis marah. Kain jarik dan tas dilempar ke wajah suaminya. Dia menangis, lari ke
kamar dan … brakkkk … dia membanting pintu dengan tangisan pilu.

Setahun kemudian, saat Gendhis membaca koran, dia melihat di koran itu … suaminya …
duh … suaminya diperiksa kejaksaan karena tuduhan korupsi. Hmm … dia tahu kalau memang
suaminya koruptor. Tanah lima hektar di Ungaran, sembilan rumah tersebar di Magelang adalah
hasil korupsi suaminya.

Sejenak dia meletakkan koran. Nafas terasa berat, air mata bergelayutan, jiwanya hanya
bisa meratap …

Jiwa: “Surat Al Baqarah ayat 8 hingga 20 … aku ingin mengamalkan ayat-ayat ini … hiks … hiks … tapi
kenapa suamiku tak mau mengamalkan? Kenapa dia memilik jadi pencuri? Kenapa dia memilih
menjadi munafik? Kenapa??????”

Hati: “Mungkin dia tak memahami isi Qur’an.”

Jiwa: “Bukannya tak memahami, tapi tak mau tahu. Dalam jiwanya cuman berisi tumpukan ambisi
mengumpulkan duit duit dan duit.”

Hati: “Tapi … bagaimanapun juga, dia adalah suamimu.”

Jiwa: “Jadi, aku harus mendukung dia? Sorga katut, neraka nunut … gitu?????”

Hati: “Gimana kalau cerai aja? Uang haram yang diberikan suamimu, jika kau makan … maka
dagingmu jadi haram … badanmu haram … kotor. Kamu gak bisa masuk sorga jika ada daging
badanmu yang tumbuh dari uang haram.”

Jiwa: “Emangnya cerai merupakan solusi terbaik?”

Hati: “Aku tak tahu?”

Jiwa: “Emangnya kamu senang kalau aku jadi janda?”

Hati: “Hmm … tentu tidak?”

Jiwa: “Hiks … hiks … hiks … kenapa masalah bisa menjadi rumit seperti ini?”

Hati: “Kulihat … kamu mengenakan batik udan riris. Apa kamu tahu maknanya?”

Jiwa: “Iya, motif ini sebagai motivasi bagiku agar aku semangat menghindari berbagai masalah.
Motif ini sebagai temanku untuk terbebas dari segala masalah. Tapi kenyataannya lain … hmm …
masalah semakin rumit.”

Seminggu kemudian, sang suami benar-benar ditahan oleh pihak kejaksaan. Gendhis …
saat pulang membezuk suaminya dari tahanan, para wartawan mengerubutinya.

Wartawan: “Bu, gimana kabar Bapak?”

Gendhis: “Baik … ijinkan saya jalan!”

74

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Wartawan: “Bu, mohon cerita sedikit tentang masalah yang menimpa suami Ibu!”

Gendhis: “No comment.”

Wartawan: “Apakah suami ibu difitnah?”

Gendhis: “Aku tak tahu.”

Wartawan: “Siapa saja yang terlibat?”

Gendhis: “Aku juga tak tahu. Silakan tanya ada ama Pak Jaksa!”

Wartawan: “Apakah suami Ibu benar-benar koruptor?”

“Darrrrr,” jantung Gendhis berdegup kencang. Wajahnya mendadak memerah. Pertanyaan ini
seakan menguliti jiwanya. Apa yang harus dijawab? Kalau dia menjawab ‘iya’, berarti dia membuka
aib suaminya di depan jutaan orang. Jika ia menjawab ‘tidak’, maka berarti dia membohongi jutaan
orang. Jiwanya kembali resah …

Jiwa: “Jangan pernah membuka aib suami! Bagaimanapun juga … dia tu suamimu. Dia sudah
memberimu banyak … banyak banget. Apakah kamu tega mengkhianatinya?”

Hati: “Sudahlah! Sekarang saat yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya. Bukankah kamu
ingin mengamalkan Surat Al Baqarah ayat 8 hingga 20? Memang kejujuran itu perih, tapi inilah jalan
para Nabi.”

Jiwa: “Belum saatnya kamu mengatakan kejujuran sekarang. Ntar jika saatnya tepat, silakan kamu
katakan yang sebenarnya di masyarakat.”

Hati: “Sekarang saat yang tepat. Jangan pernah menggunakan filosofi sorga nunut neraka katut!”

Dengan menahan air mata, akhirnya Gendhis berkata, “Mas wartawan, suami saya bukan
koruptor, suami saya bukan pencuri, titik. Suami saya adalah suami saya. Aku setia kepadanya.”

Dia berlari menerobos kerumunan wartawan. Setelah sampai di dalam mobil, dia melaju
kencang dengan tangisan yang meraung-raung.

Sejenak angin berbisik kepada daun.

Angin: “Gendhis … dia memilih menjadi munafik.”

Daun: “Bukan memilih, tetapi terpaksa munafik.”

Angin: “Terpaksa? Siapa yang memaksanya untuk membohongi masyarakat?”

Daun: “Keadaan yang memaksanya?”

Angin: “Di mana alamatnya keadaan????”

Daun: “Hmm …”

Angin: “Hidup cuman sekali. Allah sudah mengirimkan Kiyai Warso untuk membimbing
kehidupannya tapi … dia memilih meninggalkan wejangan Pak Kiyai.”

Daun: “Semoga aja Gendhis bisa berubah.”

75

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Angin: “Aku paling suka saat Gendhis memakai batik bermotif ratu ratih. Hmm ratu … aku berdoa
semoga kelak dia menjadi ratu di akhirat. Ratu … iya … ratu … sebagai hadiah dari Allah atas
kesabarannya menghadapi permasalahan hidup ini.”
Daun: “Gendhis … kembalilah kepada jalan yang lurus!”
Angin: “Gendhis … kamu pasti bisa mematuhi wejangan Kiyai Warso. Pasti … pasti … kami
mendoakanmu.”

-----

76

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Bab 12

Gaya Komunikasi Orang Awam

Pak Rekso: “Tak terasa, sekarang umurmu sudah hampir 20 tahun ya, Nak?”

Dimaz: “Enggih Pak. Hmm … selama ini aku merasa sulit dan sangat sulit dalam menjalani hidup ini.”

Pak Rekso: “Oya?”

Dimaz: “Kuliah … targetku dapat IP 3.6 ke atas. Dengan memasang target itulah, aku jadi kurang
nyaman, bahkan seperti under pressure. Kemana-mana harus belajar. Aku … hmm … kayaknya nggak
bisa menikmati umur ini lagi, Pak.”

Pak Rekso: “Saat bangun tidur, apa yang terlintas dalam pikiranmu pertama kali?”

Dimaz: “Pelajaran. Hmm … tepatnya adalah beban pelajaran.”

Pak Rekso: “Saat mau tidur?”

Dimaz: “Sama kok Pak … cuman mikir pelajaran. Bahkan jalan-jalan ke Pantai Baron Jogja, di sana
aku tak bisa rileks, melainkan terus memikirkan tentang pelajaran.”

Pak Rekso: “Apakah memang seperti ini keadaan hidup ideal menurutmu?”

Dimaz: “Enggak.”

Pak Rekso: “Tapi kenapa kamu masih tetap bertahan di situ?”

Dimaz: “Aku nggak tahu. Mungkin sudah menjadi habit sehingga itulah hidupku.”

Pak Rekso: “Nak, cobalah berkata jujur! Kira-kira lima tahun lagi, apa yang kamu inginkan?”

Dimaz: “Terus terang, aku ingin jadi pengusaha. Aku ingin mempunyai penghasilan 20-50 juta
perbulan. Dengan uang itu, aku ingin membeli mobil seharga 500 jutaan. Aku juga ingin membeli
rumah seharga 800 jutaan. aku ingin motor 650 cc. Aku ingin membuktikan kepada masyarakat
bahwa aku bisa meraih cita-cita yang kuinginkan asalkan kerja keras dan … ambisi yang besar.”

Pak Rekso: “Wow … mantap.”

Dimaz: “Apa Panjenengan setuju?”

Pak Rekso: “Sedikit mengeluh dan sedikit sombong.”

Dimaz: “Kenapa Bapak berkata seperti itu?”

Pak Rekso: “Aku tak menuduhmu seperti itu. Hanya … begitulah model komunikasi masyarakat
awam. Isi pembicaraan mereka cuman dua jenis yaitu sedikit mengeluh dan sedikit sombong.”

Dimaz: “Duh … kayaknya aku juga kena’ nih … hehehe.”

Pak Rekso: “Oya, besok ada beberapa teman seangkatan Bapak akan silaturrahmi ke rumah kita.
Hehehe … coba besok kamu perhatikan pembicaraan mereka! Silakan kategorikan: mana yang
termasuk sedikit sombong, mana yang termasuk sedikit mengeluh.”

77

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Dimaz: “Enggih Pak.”

Pak Rekso: “Ini adalah pelajaran penting untuk kehidupan. Pelajaran ini tidak diajarkan di sekolah
maupun tempat kuliah. Jadi … kamu harus benar-benar memperhatikan.”

Dimaz: “Njih, pangestunipun mawon.”

Sehari kemudian, ada beberapa bapak dan ibu-ibu yang silaturrahmi ke rumah Pak Rekso.
Suasana kangen-kangenan … duh … uenak banget. Sudah hampir 15 tahun tak bertemu, kini mereka
bisa bersama lagi walau hanya beberapa menit. Setelah ngobrol ngalor ngidul, kini mereka
menikmati hidangan kopi hangat, ketela goreng, kacang tanah rebus dan kroni-kroninya, hehehe.
Wis pokoke jajanan pasar metu kabeh, deh. Oya, satu lagi … sambil nyantai tapi serius, Dimaz terus
memperhatikan perkataan para tamu ini.

Pak Mursyid: “Jeng Fida …”

Bu Fida: “Enggih Pak?”

Pak Mursyid: “Aku dengar kabar Sampeyan tahun kemarin naik haji, ya?”

Bu Fida: “Alhamdulillah, sekali lagi alhamdulillah. Kalau bukan Allah yang menghendaki, kayaknya
kagak bakalan bisa. Aku tu dah daftar haji dua tahun lalu, tapi kayaknya berangkatnya 14 tahun lagi.
E e e kebetulan ada ibu-ibu dari Kudus tu cancel berangkat karena masuk rumah sakit. Aku yang
menggantikan kursi beliau, jadi … berangkat haji deh, hehehe.”

Bu Nuha: “Berarti Allah sangat menyayangimu, Bu.”

Bu Fida: “Tentu dong. Bukannya aku sombong ya … emm … tiap malam aku sholat tahajjud,
membaca surat Al Waqi’ah dan dzikir ribuan kali.”

Pak Rekso: “Wah, bisa jadi bentar lagi Panjenengan jadi ustadzah lho, Jeng, hehehe.”

Bu Fida: “Amin … Oya, Mas Roly … Apa Panjenengan masih di Deplu?”

Pak Roly: “Enggih Jeng. Dua tahun lalu saya bertugas di kedutaan Malaysia. Setahun kemudian
dipindah ke kedutaan Jepang. Bulan kemarin saya dipindah lagi, alhamdulillah lumayan dekat … di
kedutaan Singapura.”

Pak Rekso: “Wah, Panjenengan beruntung banget bisa keliling dunia.”

Pak Roly: “Hehehe … pangestunipun. Tapi … saya sangat bingung dalam menyekolahkan anak-anak.
Selalu pindah-pindah terus. Akhirnya … anak-anak saya sekolahkan di Jakarta. Emang sih mereka
bisa settle, tapi … duh … aku kangen banget. Bener-bener menderita jika kita jauh dengan anak.”

Pak Dayat: “Ingkang sabar, Pak. Oya … kayaknya teman kita yang paling bahagia tu Jeng Karti ….
Hehehe.”

Bu Karti: “Duh … pasti aku dan aku lagi yang jadi bahan obrolan.”

Pak Rekso: “Jeng, ayo cerita!!! Kita pingin dengar, gimana sejarahnya kok Sampeyan bisa kaya raya,
sehingga mampu membeli sedan mercedes maybach?”

Bu Karti: “Kisahnya sangat sederhana kok … bangun pagi, lalu kerja, pulang sore … dah, simple
banget, hehehe.”

78

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Pak Dayat: “Halah … Jeng Karti ki ora seru. Ayo cerita yang detail, dong!!!!”

Bu Karti: “Hehehe, aku juga tak tau kenapa bisa sekaya ini? Padahal aku tu jarang sholat, jarang
dzikir, bahkan nggak bisa membaca Qur’an, tapi Allah memberiku rejeki sangat berlimpah. Awalnya
… suamiku membeli tanah 200 m² seharga 100 juta. Lalu kami bangun tu tanah, menghabiskan duit
200 juta. Naa … tu bangunan total bernilai 300 juta. Lalu kamu jual seharga 600 juta.”

Pak Rekso: “Apakah laku?”

Bu Karti: “Laku dengan sangat cepat. Kami membangun 20 rumah seharga 600 juta, terjual habis
hanya dalam waktu satu bulan.”

Pak Roly: “Wow … Sampeyan sungguh pandai.”

Bu Karti: “ Maaf … bukannya aku sombong, tahun depan kami ada proyek 500 rumah. Jika sold out,
maka keuntungan bersih nyampek 1.5 triliun.”

Mendengar kalimat 1.5 triliun, semua melongo kayak kena hipnotis. Termasuk Dimaz. Dia
tak menyangka ada sahabat bapaknya yang mempunyai penghasilan sebesar itu. Selama ini Dimaz
berfikir bahwa jadi pengusaha tu jika berhasil, lalu mempunyai pendapatan bersih 20 mpe 50 juta
perbulan … duh … bahagia banget. Tapi mendengar ada manusia yang berpenghasilan 1.5 triliun …
hehehe … sejenak otaknya blank.”

Pak Dayat: “Kayaknya … hanya aku yang gagal. Aku hanyalah tukang ojek. Gajiku sangat kecil, nggak
seperti Jeng Karti atau Mas Roly. Aku … kadang membeli beras aja susah.”

Pak Rekso: “Tapi … keluarga Sampeyan bahagia, to? Hehehe … itu juga karunia lho, Mas.”

Pak Dayat: “Enggih Mas … Pangestunipun.”

Bu Karti: “Mas Dayat, walau uangku banyak, tapi … kayaknya Sampeyan lebih merasakan
kebahagiaan daripada aku.”

Pak Dayat: “Lho kok bisa?”

Bu Karti: “Hiks … hiks … hiks …”

Bu Nuha: “Jeng … ampun nangis, njih! Kami akan senantiasa jadi saudara Panjenengan.”

Bu Karti: “Sejak menikah, aku sangat sibuk. Saat dikaruniai anak pertama … aku tak sempat
menyusui anakku. Hmm … empat belas tahun kemudian, aku terkena kanker payudara. Kata dokter
sih tuh sel kanker enggak menyebar, jadi aku bisa bernafas lega. Tapi … setahun kemudian ternyata
kanker itu menyebar hingga ke tulang belakang. Sengaja aku memakai jilbab untuk menutupi
kepalaku yang botak karena efek kemoterapi. Hmm … bisa jadi tahun depan kita tak bisa bersama
lagi seperti ini … hiks … hiks …”

Bu Fida: “Hmm … sama kok bu. Dua tahun yang lalu rahimku diangkat karena ada kanker. Hmm …
mpe sekarang aku masih ketakutan, jangan-jangan tu kanker menyebar. Duh … hiks … hiks …”

Bu Karti: “Kadang aku berfikir: berapa sih harga kesehatan itu? Aku akan membelinya … aku akan
membelinya. Tapi … hiks … hiks … ternyata ada hal yang tak bisa dibeli dengan uang.”

Pak Rekso: “Yang penting … suami Sampeyan setia menemani dalam suka dan duka.”

Bu Karti: “Hiks … hiks … (Bu Karti nangis sambil teriak)”

79

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Pak Rekso: “Bu, ingkang sabar, njih!”

Bu Karti: “Suamiku … padahal umurnya sudah lima puluh tahun. Dia menikahi gadis yang berumur
19 tahun. Hiks … hiks … gadis itu sangat cantik, sholihah dan murah senyum. Hiks … hiks … kini … aku
bagai bunga kering, tak lagi harum, bentar lagi rontok berguguran … berserak tanpa makna
diterbangkan angin.”

Sehari kemudian

Pak Rekso dan Dimaz duduk nyantai. Mereka berdua melihat mendung yang tak juga
turun hujan. Sambil menikmati ketela rebus … mereka bercengkerama.

Pak Rekso: “Nak, gimana dengan pengamatanmu kemarin?”

Dimaz: “Benar Pak, jenis pembicaraan mereka cuman dua … sedikit sombong dan sedikit mengeluh.
Aku paling gak suka saat Bu Fida mengatakan bahwa tiap malam dia sholat tahajjud, membaca surat
Al Waqi’ah dan dzikir ribuan kali. Duh … itu kan ibadah, ngapain harus diceritakan ke orang lain?”

Pak Rekso: “Kalau Pak Roly?”

Dimaz: “Kayaknya beliau nggak sombong, tapi beliau mengeluh lumayan pedih. Hmm … yang paling
banyak mengeluh kayaknya Bu Karti, ya?”

Pak Rekso: “Iya, sejak muda dia ambisius.”

Dimaz: “Pak Dayat, beliau kasihan banget ya, masalah ekonomi belum juga tuntas.”

Pak Rekso: “Nak, pesan Bapak … kamu adalah pemimpin. Kebiasaan pemimpin adalah membenci
sifat sedikit sombong dan sedikit mengeluh. Dalam obrolan dengan teman, daripada
menyombongkan diri, mendingan menyombongkan Nabi Muhammad. Maksudnya, menceritakan
akhlaq mulia beliau. Ini malahan lebih asyik.”

Dimaz: “Atau menceritakan para sahabat Nabi ya, Pak?”

Pak Rekso: “Benar. Terlalu banyak menceritakan keberhasilan diri itu bukannya menguatkan
persahabatan, tapi sebaliknya, Nak … persahabatan jadi renggang.”

Dimaz: “Benar. Aku juga heran ngapain Bu Karti menyebut angka-angka mpe 1.5 triliun, padahal
disampingnya ada Pak Dayat yang sangat miskin.”

Pak Rekso: “Biasalah, namanya juga perempuan. Kecintaannya ada di harta.”

Dimaz: “Tapi nggak semua seperti itu.”

Pak Rekso: “Iya, memang nggak semua, tapi banyak yang seperti itu. Oya, jika kamu sakit … nggak
usah diceritakan ke teman-teman! Untuk apa???? Sakit itu dari Allah, mendingan kita adukan aja ke
Allah. Mengadukan sakit ke manusia itu ibarat kita mengadukan kehendak Allah kepada manusia.”

Dimaz: “Emm … seakan-akan Allah tu kejam, ya Pak?”

Pak Rekso: “Iya. Lagian, ngobrol santai tapi topik pembicaraannya tentang sakit tu … duh … nyebelin
banget. Harusnya rasa kopi tu nikmat, tapi gara-gara topik pembicaraannya bab sakit, akhirnya
kenikmatan secangkir kopi menjadi lenyap.”

80

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Dimaz: “Hehehe, bener juga.”

Pak Rekso: “Pesan terakhir Bapak: Berikan kabar baik, atau diam … itu aja.”

Dimaz: “Enggih Pak.”

------

81

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Bab 13

Setelah Kesulitan, Pasti Ada Kesulitan (lagi)

Fathiya … diambilnya lima lembar tissue lembut untuk mengelap kakinya. Sebenarnya tuh
kaki sangat bersih, hanya karena basah sedikit aja, langsung dikeringin ama tissue. Karena sangat
peduli ama kebersihan inilah, Fathiya tumbuh menjadi gadis ayu yang super bersih.

Walau badannya nampak tinggi tapi sebenarnya dia masih duduk di bangku SMP kelas
dua. Dia sekolah di Kota Semarang. Sang Bapak bekerja di kepolisian. Lumayan kaya, tapi jiwa
kemandirian tercermin di aura wajahnya yang lembut. Abis maghrib, langsung belajar. Karena nilai
pelajarannya bagus, akhirnya … diapun mendapat kesempatan ikut program pertukaran pelajar ke
negara Thailand. Hepi? Banget.

Bersama 19 temannya, kini dia lagi nyantai duduk di kabin pesawat Garuda yang akan
membawa mereka ke Thailand. Kebetulan dia duduk dengan Miftah, teman satu rombongan, juga
satu kelas.

Fathiya: “Kayaknya acara ginian datangnya cuman seumur hidup sekali, ya?”

Miftah: “Benar. Gak nyangka bisa belajar ke Thailand walau hanya dua minggu.”

Fathiya: “Sambil nyantai, gimana kalau kita latihan bahasa Thailand?”

Miftah: “Gak usah! Ntar di sana kita pakai bahasa inggris aja!”

Fathiya: “Tapi aku ingin memakai bahasa Thailand. Aku ingin menyatu dengan siswa-siswa
Thailand.”

Miftah: “Baiklah. Kalau aku tak bisa, ntar aku buka google translate, ya?”

Fathiya: “Ok. Tolong sekarang kamu buat kalimat dengan bahasa Thailand, ntar aku akan berusaha
menerjemahkan.”

Miftah: “Iya. Chạn pĕn nạkreīyn cāk prathe xindonīseīy. Apa artinya?”

Fathiya: “Emm … saya adalah … siswa Indonesia.”

Miftah: “Benar. Kalau Prathe thịy pĕn prathe thī swyngām?”

Fathiya: “Emm … ntar … ntar … biar kuingat. Jangan beritahu dulu!”

Miftah: “Cepat!”

Fathiya: “Emm … Negara Thailand sangat … sangat luas.”

Miftah: “Bukan luas tapi indah.”

Fathiya: “Hehehe … biasa lah, namanya aja belajar vocab bahasa asing, jadi pasti sangat sulit. Tolong
beri soal lagi!”

Miftah: “Apa arti Khuṇ mī khwām swyngām?”

82

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Fathiya: “Duh … apa ya? swyngām itu cantik. Khuṇ mī itu … kamu. Artinya … kamu sangat cantik.
Kamu memujiku, ya? Emangnya aku cantik?” (nampak wajah Fathiya kaget campur cerah)

Miftah: “Memang kok. Kamu sangat cantik.”

Fathiya: “Wis … wis … wis! Kamu tuh gimana to? Lihat aja otakku! Bukan wajahku.”

Miftah: “Hehehe, maaf, gue lagi kurang fokus.”

Setahun kemudian

Fathiya dan seluruh teman satu angkatan lagi wisata ke Malang Jawa timur. Ada lima bus
besar membawa mereka melihat ayat Allah yang terbentang. Kebetulan rombongan singgah
sebentar di Tanggulangin Sidoarjo. Sambil menikmati lezatnya lontong kupang dan sate kerang,
Miftah dan Fathiya kembali ngobrol.

Fathiya: “Lontong kupang … wow … mantap brow. Dua tahun lalu aku menikmati kuliner ini.
Sekarang terulang lagi, hehehe.”

Miftah: “Iya, kayaknya ada petis-nya, ya?”

Fathiya: “Benar. Emm … aku mau nambah, ya? Hehehe.”

Miftah: “Silakan! Oya, perjalanan kita dari Semarang hingga Sidoarjo … duh … lancar banget.
Kayaknya ada mobil polisi yang mengawal kita sehingga perjalanan kita sangat lancar, hampir tak
ada macet.”

Fathiya: “Itu karena Bapakku seorang polisi.”

Miftah: “Jadi … Bapakmu yang mengawal rombongan kita?”

Fathiya: “Hehehe, bukan. Mereka anak buah Bapakku.”

Miftah: “Wow, mantap. E … dua bulan yang lalu saat sekolah kita lagi berkemah, tuh armada yang
mengangkut ratusan siswa menuju lokasi perkemahan, kayaknya juga dari kepolisian. Apa itu juga
karena rekomendasi dari Bapakmu?”

Fathiya: “Hehehe. Iya … emangnya kenapa?”

Miftah: “Ternyata Bapakmu banyak berguna di sekolah kita.”

Fathiya: “Alhamdulillah kalau kamu mempunyai pikiran seperti itu.”

Miftah: “Eh, gimana rasanya menjadi anak polisi?”

Fathiya: “Biasa aja. Bapakku sangat disiplin, demikian juga denganku. Dari jam enam petang hingga
jam sembilan malam, aku terus belajar.”

Miftah: “Wow … pantesan nilai matematikamu 100. Bapakku hanyalah penjual bakso.”

Fathiya: “Tapi omzetnya mpe tiga juta per hari. Iya kan?”

Miftah: “Kok kamu tahu?”

Fathiya: “Bakso Bapakmu tuh terkenal banget. Omzet tiga juta per hari. Kayaknya keuntungan bersih
… satu juta per hari. Jadi … kalau sebulan, pasti 30 jutaan.”

83

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Miftah: “Nggak ada. Paling-paling 20 jutaan.”

Fathiya: “Whattt??? Angka itu sudah sangat banyak. Gaji bapakku aja nggak ada 10 juta.”

Miftah: “Tapi Bapakmu ada uang pensiun, sedangkan Bapakku gak ada.”

Fathiya: “Masa tua nanti jika cuman ngandalin uang pensiun, kayaknya nggak cukup. Ibukku
mengajariku untuk wiraswasta kok. Kami lagi sibuk membesarkan toko baju di maal.”

Miftah: “Kalau aku … kayaknya meneruskan aja usaha Bapakku, jualan bakso.”

Fathiya: “Apa aku boleh ikutan kamu jualan bakso?”

Miftah: “Boleh. Malah aku sangat senang. Kamu kan ayu banget. Ntar jika kamu yang jadi kasir, pasti
omzet sehari naik jadi 30 juta/ hari.”

Fathiya: “Hahahaha. Kok bisa?”

Miftah: “Senyuman wanita tuh kayaknya marketable banget.”

Fathiya: “Hahahaha.” (tertawa tapi sambil mlengos)

Dua tahun kemudian

Keduanya sudah lulus SMP, melanjutkan ke SMA dan mereka juga masih satu SMA. Usaha
dagang bakso keluarga Miftah semakin moncer. Kini sudah ada tiga cabang yaitu di Penggaron,
Ngaliyan dan Banyumanik.

Sedangkan toko baju yang dikelola Fathiya dan keluarganya masih stagnan, belum
menunjukkan perkembangan yang signifikan. Fathiya bingung, diapun konsultasi kepada Miftah.
Mereka berdua duduk di salah satu stand makanan siap saji di maal.

Miftah: “Kok kelihatannya murung. Ada apa? Apa kamu memikirkan tentang masalah kuliah? Masih
setahun lagi, brow. Tenang aja!”

Fathiya: “Bukan. Aku lagi memikirkan toko-ku yang ada di Maal Ciputra. Sudah kukelola tiga tahun
lebih, tapi … duh … stagnan banget. Laba bulanan sangat minim. Hanya bisa untuk menggaji
karyawan, bayar pajak, ama keuntungan dikit. Itupun keuntungan nggak sempat masuk saldo
tabungan karena untuk kulakan lagi.”

Miftah: “Kayaknya bisnis pakaian benar-benar crowded, ya?”

Fathiya: “Iya. Aku mau menyerah aja. Gimana menurut pendapatmu?”

Miftah: “Emm … ibarat pohon, maka tuh pohon yang kamu tanam ternyata buahnya sangat sedikit.
Ada dua pilihan yaitu merawat tuh pohon dengan sebaik-baiknya supaya berbuah lebat. Pilihan yang
kedua adalah merobohkan pohon, lalu menggantinya dengan pohon yang baru.”

Fathiya: “Aku memilih option yang kedua.”

Miftah: “Apa kamu mau menanam pohon lagi? Hmm … butuh waktu lama, lho?”

Fathiya: “Gak ada pilihan lain. Aku malas dengan usaha yang stagnan gini. Kayaknya … kuliner lebih
menjanjikan. Kayak kamu, hehehe.”

84

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Miftah: “Jadi kamu mau pindah ke usaha kuliner?”

Fathiya: “Hmm … gak taulah. Aku masih ragu, bimbang, bingung … duh ....”

Miftah: “Sudahlah! Kamu gak usah mikir jauh-jauh mengenai bisnis. Lagian, kita masih SMA.”

Fathiya: “Tapi aku pingin berhasil seperti kamu!”

Miftah: “Fathiya, kamu tuh udah berhasil. Lihatlah nilai-nilai sekolahmu yang sangat memuaskan!
Kamu clever, sholihah, rajin pakai jilbab, kurang apa lagi?”

Fathiya: “Miftah ….”

Miftah: “Iya ….”

Fathiya: “Aku mempunyai satu permintaan, apakah kamu mau mengabulkannya?”

Miftah: “I … i … iya.”

Fathiya: “Aku mempunyai uang 850 juta. Tolong buatkan warung bakso seperti kepunyaanmu!
Tolong kamu yang desain total! Kamu juga yang mengurusi bab managemen warung. Apa kamu
mau?”

Miftah: “Whatttttt????? Apa kamu serius?????”

Fathiya: “Nih ATM-ku. Kamu aja yang bawa!”

Tiga Tahun kemudian

Mereka berdua sepakat untuk tidak kuliah, melainkan menekuni usaha kuliner. Di masa
awal-awal membuka usaha, modal 850 juta ludes tinggal 200 juta karena ternyata membuka warung
bakso di Kedungmundu merugi terus. Tapi uang Bapaknya Fathiya lumayan banyak. Dia mendapat
suntikan modal lagi sebanyak 700 juta. Modal ini digunakan untuk memulai usaha bakso lagi di
Ungaran. Cuaca yang lumayan sejuk, menu yang mantap ditambah lokasi warung yang sangat bersih
menjadikan warung bakso Fathiya laris manis. Dalam sehari, omzet bisa mencapai 2 juta.

Bertahun-tahun mereka sedih bersama, senang bersama, tertawa dan menangis bersama.
Apakah mereka saling mencinta? Belum pernah ada yang berani mengucapkan kalimat ini. Mereka
sangat malu walau …. Hehehe. Inilah perbincangan mereka sambil menghitung uang hasil jualan
malam ini.

Miftah: “Dapat berapa?”

Fathiya: “Dua juta dua ratus enam puluh ribu rupiah.”

Miftah: “Kayaknya laba bersihnya satu jutaan, ya?”

Fathiya: “Iya, dalam sebulan kita bisa mengumpulkan laba bersih 30 juta.”

Miftah: “Kita? Kok kamu menggunakan kata ‘kita’?”

Fathiya: “Bukankah kita berdua yang mengelola warung ini?”

Miftah: “Iya, tapi ini warungmu. Bukan warungku.”

Fathiya: “Nanti suatu saat pasti akan jadi milik kita berdua.”

85

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Miftah: “Maksudnya?”

Fathiya: “Kalau kita menikah … kan jadi milik kita bersama.”

“Darrrrr,” jantung Miftah mengamuk dahsyat. Nampak wajahnya putih pucat. Tiba-tiba
kerongkongannya sangat haus. Tapi … sekejap kemudian haus itu hilang padahal nggak minum air
setegukpun.

Miftah: “Fathiya … apa kamu sadar dengan kalimat yang barusan kamu ucapkan?”

Fathiya: “Iya. Miftah … bertahun-tahun kita mengalami jatuh bangun bersama dalam membesarkan
usaha, hingga kita bersama kompak nggak mau kuliah. Kamu tahu kenapa? Karena kita tuh satu
pikiran, satu hati, satu tujuan, dan … .”

Miftah: “Fathiya, pasti kamu lagi bergurau, ya? Hehehe … aku tahu maksudmu.”

Fathiya: “Aku nggak bergurau. Apa perlu aku harus mengucapkan sumpah?”

Miftah: “Hmm … kayaknya kamu benar-benar serius. Fathiya, apa kamu sudah memikirkannya
dalam-dalam?”

Fathiya: “Sudah. Pokoknya kalau aku gak bisa menikah denganmu, maka aku takkan menikah
selamanya.”

Miftah: “Husss, jangan berkata seperti itu! Fathiya, lihatlah kulitku, berwarna sawo busuk,
sedangkan kulitmu putih bersih kayak kapas.”

Fathiya: “Aku melihat hatimu, bukan kulitmu.”

Miftah: “Aku dibesarkan di keluarga kampung, sedangkan keluargamu sangat berpendidikan.”

Fathiya: “Tapi keluargamu sangat cerdas bab keuangan. Buktinya … warung bakso milik keluargamu
menghasilkan omzet puluhan juta rupiah dalam sebulan. Sangat jarang manusia bisa sepandai itu.”

Miftah: “Fathiya, lihatlah wajahmu … sangat ayu, sedangkan aku …”

Fathiya: “Hehehe … paling-paling predikat ayu yang kumiliki hanya bertahan 10 tahun, setelah itu …”

Miftah: “Nggak, bagiku … kamu tuh ayu selamanya.”

Fathiya: “Hiks … hiks …”

Miftah: “Kenapa menangis?”

Fathiya: “Berarti kamu mencintaiku?”

Miftah: “Iya. Sejak pertama kali bertemu di bangku SMP, aku sangat mencintaimu.”

Fathiya: “Kalau aku, saat SMP belum tertarik ama kamu. Saat SMA, juga belum seneng. Aku cinta
kamu tuh baru enam bulan yang lalu.”

Miftah: “Kenapa kamu memilihku?”

Fathiya: “Tujuh bulan yang lalu, aku sempat mengaji dengan Pak Ustadz Chozin di Masjid Agung.
Hmm … wejangan beliau sangat menyentuh hatiku dan kuingat mpe sekarang.”

86

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Miftah: “I’m listening.”

Fathiya: “Beliau berkata : Ali bin Abi Tholib pernah berkata bahwa kebahagiaan itu ada enam yaitu
islam, Qur’an, Muhammad SAW, kesehatan, tertutupnya aib, dan tidak menjadi beban orang lain.”

Miftah: “Indah banget kalimat yang Engkau ucapkan.”

Fathiya: “Tentang islam, kulihat keislamanmu sangat bagus. Kamu tunduk dan patuh kepada Allah
SWT. Tentang Qur’an, kuamati bertahun-tahun kamu juga rajin membaca dan mendalami Qur’an.
Bahkan kita sering menghafal surat bersama. Tentang Muhammad SAW, kuamati kamu juga dengan
detail meniru keseharian Nabi Muhammad. Hehehe … jarang banget ada lelaki yang seperti itu.”

Miftah: “Tentang bab tertutupnya aib?”

Fathiya: “Namamu harum di masyarakat. Aku yakin penduduk langit juga mencintaimu. Tentang
kesehatan … hehehe … kamu sehat jasmani rohani. Tentang bab tidak menjadi beban orang lain …
emm … kamu mandiri, kita berdua sudah mandiri. Laba bersih 30 juta sebulan kukira lebih dari
cukup.”

Miftah: “Kamu sangat detail.”

Fathiya: “Iya lah, gue kan pengusaha, jadi harus detail. Ntar takutnya rugi … hahaha.”

Miftah: “Hahahaha … sampai begitu dalam kamu menilaiku. Hmm … terima kasih.”

Fathiya: “Sama-sama. Kalau kamu, apa pernah menilaiku?”

Miftah: “Enggak.”

Fathiya: “Whatttt? Jadi … kamu gak pernah memikirkanku?”

Miftah: “Aku mencintaimu apa adanya. Mau miskin atau kaya, mau cantik atau kurang, mau putih
atau sawo matang, aku tetap mencintaimu tanpa pernah memberi syarat.”

Fathiya: “Halah … bohong.”

Miftah: “Aku tanpamu bagaikan ambulance tanpa uwiw-uwiw.”

Fathiya: “Hahahahaha.” (tertawa terpingkal-pingkal)

Miftah: “Coba ucapkan satu kalimat yang akan sanggup menentramkan hatiku!”

Fathiya: “Kamu dan warung bakso kepunyaan kita tuh sama yaitu sederhana tapi berkualitas.”

Miftah: “Oya? Hahaha … yang kurasakan bahwa cintaku ke kamu tuh persis kayak hutang. Awalnya
sedikit, didiamin terus … eh … lama-lama membesar sendiri.”

Fathiya: “Hahahaha … nice joke. Malam ini … kayaknya inilah puncak kebahagiaanku selama ini.”

Miftah: “Aku juga merasakan seperti itu.”

Fathiya: “Sehoror-horornya film horor, lebih horor lagi kalau kamu nggak bisa menikah ama aku.”

Miftah: “Tak ada yang bisa memotong cinta kita. Emm … cinta kita kayak kuku, walau dipotong, tapi
akan tumbuh terus.”

87

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Fathiya: “Hmm … semoga aja.”

Miftah: “Tentang tanggal pernikahan, kapan menurutmu tanggal yang tepat?”

Fathiya: “Kuserahkan semuanya kepadamu.”

Miftah: “Gimana kalau enam bulan lagi?”

Fathiya: “Terlalu lama. Gimana kalau sebulan lagi?”

Miftah: “Whatttt????????”

Fathiya: “Miftah, Phm rạk khuṇ.”

Miftah: “Apa artinya?”

Fathiya: “I luv you.”

Miftah: “Hahahaha … langit langsung cerah, babe.”

Fathiya: “Khx khxbkhuṇ khuṇ yindī thī ca rạk chạn

Miftah: “Jangan beritahu artinya dulu! Aku akan menebak … emm … kok ada kata chạn. Emm …
apakah artinya: aku ganteng kayak Jacky Chan?”

Fathiya: “Hahahahaha. Enggak babe. Artinya … terima kasih sudah mau mencintaiku.”

Miftah: “Iya, sama-sama. Tinggal satu PR kita yaitu meminta persetujuan orang tua. Moga-moga
mereka setuju semua.”

Fathiya: “Orang tuaku pasti setuju.”

Miftah: “Sama … orang tuaku juga pasti dan pasti.”

Fathiya: “Hmm … kok mendadak dada ini deg-degan, ya?”

Miftah: “Itu perasaan ragu, pasti datangnya dari setan. Mereka kagak suka manusia menikah secara
islam. Abis ini, silakan sholat yang banyak, babe! Semoga keraguan itu hilang.”

Fathiya: “Iya …”

Hanya berselang dua hari dari pertemuan terakhir dengan Fathiya, maka Miftah langsung
menceritakan perihal rencana pernikahannya kepada Bapaknya, yaitu Pak Ashadi. Awalnya
pertemuan ini sangat renyah. Ketawa-ketiwi sahut menyahut. Beginilah pembicaraan mereka
berdua.

Ashadi: “Akhirnya, sampai juga kamu pada bagian kehidupan yang sangat penting yaitu menikah.”

Miftah: “Iya Pak. Gak nyangka bisa secepat ini.”

Ashadi: “Fathiya … emm … apa kamu yakin mantap menikah dengan gadis itu?”

Miftah: “Iya. Gimana dengan Bapak? Apakah Bapak setuju?””

Ashadi: “Hehehe. Nak, kamu adalah pemimpin. Kamulah yang meng-eksekusi semua bab penting
dalam kehidupanmu. Bapak hanya bisa memberikan masukan, data, info, dan motivasi. Bapak akan

88

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

bicara panjang lebar, silakan Ananda yang memutuskan sendiri apakah menikah dengan Fathiya tuh
baik apa tidak.”

Miftah: “Enggih Pak. Saya siap mendengarkan.”

Ashadi: “Tolong buka Surat Al Baqoroh ayat 172! Silakan baca artinya saja!”

Miftah: “Allah berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rejeki yang baik-baik
yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya
kamu menyembah.”

Ashadi: “Buka lagi surat Al Baqoroh ayat 168! Tolong baca artinya saja!”

Miftah: “Allah berfirman: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat
di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu
adalah musuh yang nyata bagimu.”

Ashadi: “Apakah Ananda memahami ayat ini?”

Miftah: “Iya Pak. Ini termasuk ayat muhkamat, jadi saya sangat paham banget.”

Ashadi: “Begini gambaran manusia di dunia, biar Bapak gambarkan dengan sangat sederhana:
pertama kamu lahir, lalu hidup. Allah memberimu rejeki yang terhampar di bumi, silakan makan tapi
pilihlah yang halal saja! Utamakan ibadah, cari ilmu, lalu menikahlah, perbanyak keturunan, fokus
akhirat. Suatu saat kamu mati, menghadap Allah, bersih dan bahagia, masuk sorga … dah … simple
banget.”

Miftah: “Iya Pak.”

Ashadi: “Maaf … road map itu akan gagal total jika kamu menikah dengan Fathiya.”

Miftah: “Lho, kok????????” (kaget hingga bengong)

Ashadi: “Tenang, jangan emosi dulu! Fathiya, dia anak seorang polisi. Berapa sih gaji polisi? Tapi
lihatlah rumah keluarganya? Mewah banget. Mobilnya … harganya diatas 500 juta. Belum lagi
tabungan yang ada di rekening mereka, pasti sangat banyak.”

Miftah: “Tapi menurutku Bapaknya Fathiya termasuk polisi jujur kok, Pak.”

Ashadi: “Oya? Dari mana kamu mempunyai keyakinan seperti itu? Apa kamu masih ingat tiga tahun
yang lalu saat Fathiya memulai usaha bakso? Di saldonya ada uang 800 juta lebih. Lalu saat
bangkrut, dia mendapat suntikan modal lagi 700 juta, fresh … dari mana tuh duit? Apakah dari gaji
Bapaknya?”

Miftah: “…………”

Ashadi: “Nak, jika kamu melaksanakan sholat ashar, lalu baju yang kaupakai ada selembar kain yang
dibeli dari hasil haram, maka sholatmu takkan diterima Allah. Kenapa? Allah tuh baik, hanya
menerima yang baik-baik saja.”

Miftah: “Duh ….”

Ashadi: “Apa kamu mau menukar sorga yang seluas langit bumi dengan pipi Fathiya yang putih itu?”

Miftah: “Hmm …”

89

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Ashadi: “Nak, bayangkan jika seluruh penduduk negeri ini mempunyai sifat yang sama serakahnya
seperti bapaknya Fathiya! Gimana jadinya? Negara ini sakit gara-gara ada ratusan ribu manusia yang
suka korup seperti Bapaknya Fathiya.”

Miftah: “Tapi Fathiya sholihah.”

Ashadi: “Apa kamu tahu definisi dari sholihah?”

Miftah: “………….”

Ashadi: “Wanita yang paling sholihah bukan diukur dari lamanya sholat atau puasanya, tapi diukur
dari ketelitian terhadap halal dan haram, itu aja. Abu Bakr As Siddik adalah orang yang paling teliti
terhadap halal dan haram setelah Nabi Muhammad. Beliau adalah orang sholih. Beda banget
dengan Fathiya.”

Miftah: “Tapi, kami sudah sangat mencintai.”

Ashadi: “Cinta tuh ada dua: cinta kepada Allah dan cinta kepada ciptaan-Nya. Normalnya adalah
kamu me-nomorsatu-kan cinta pertama yaitu kepada Allah. Jika kamu mendahulukan cinta kepada
Fathiya yang dikotori oleh keluarganya, maka artinya kamu meninggalkan cinta pertama menuju
cinta kedua.

Miftah: “Tapi menurutku manusia tuh seperti bangunan rumah. Mungkin ibarat rumah, Fathiya tuh
agak kotor, cukup dibersihkan aja, ntar pasti bersih dan bagus kembali.”

Ashadi: “Nak, maaf … mungkin ada pemuda yang mencium cewek. Menurutku taubatnya adalah
dengan memperbanyak istighfar, lalu menyesal dan tidak mengulangi perbuatannya lagi. Aku yakin
Allah menerima taubatnya. Tapi jika memakan makanan haram, gimana cara taubatnya? Makanan
itu sudah menjadi darah dan daging kita. Hmm … darah kita bercampur haram, daging kita juga ikut
haram, gimana cara membersihkannya? Apakah harus dipotong? Apakah harus disayat?”

Miftah: “Duh …” (kepala terasa nyut-nyut)

Ashadi: “Nak, lihatlah gimana 10 tahun ini Bapak jungkir balik menghidupkan usaha bakso! Tujuan
Bapak cuman satu yaitu memberimu rejeki yang halal dan bersih, itu aja. Aku tak mau, bahkan tak
rela jika ada rejeki haram yang masuk ke perutmu dan perut ibumu. Apakah Bapak salah?”

Miftah: “Tidak. Trus … gimana nasib rencana pernikahan saya?”

Ashadi: “Ada jutaan gadis yang bersih jiwanya, silakan pilih mereka! Fathiya awalnya bersih, tapi
dikotori oleh keluarganya. Memilih Fathiya ibaratnya seperti berlari meninggalkan Allah menuju
kesenangan palsu.”

Miftah: “Duh, kenapa masalah semakin rumit?” (darah serasa mengalir ke kepala semua)

Ashadi: “Tolong baca Surat Al Baqarah ayat 153! Artinya aja!”

Miftah: “Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah)
dengan sabar dan sholat. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Ashadi: “Amalkan ayat ini! Abis itu mintalah nasihat Budhe dan Pakdhe! Bulik dan Paman silakan
juga mintai nasihat! Mereka adalah orang-orang sholih. Mereka takkan mungkin bersepakat untuk
membuat hidupmu menderita.”

Miftah: “………” (pandangannya kosong)

90

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Pertemuan itu membuat asa Miftah remuk. Tak disangka Bapaknya tidak setuju. Hmm …
tapi masuk akal juga karena semua perkataan Bapaknya berdasarkan ilmu, bersumber dari Qur’an,
takkan mungkin lagi dibantah. Detik sudah menunjukkan jam 12 malam, dia masih belum juga tidur.
Pandangannya kabur, jiwanya resah, fokus sudah hilang, hanya lamunan ngilu yang sering hadir di
pelupuk matanya.

Jiwa: “Habislah sudah ….”

Hati: “Aku turut prihatin.”

Jiwa: “Andai Fathiya mengetahui hal ini, duh …”

Hati: “Dia pasti sedih, bisa juga depresi, bahkan mati mendadak. Wanita itu sangat lemah dalam hal
ini karena mereka jarang menggunakan pikiran, tapi mereka menggunakan perasaan.”

Jiwa: “Gimana kalau aku nggak patuh Bapak?”

Hati: “Maksudmu, kamu tetap akan menikah dengan Fathiya?”

Jiwa: “I … i … iya.”

Hati: “Jangan deh! Bapak tuh kiriman Allah dari langit untuk membimbingmu menuju ke
kebahagiaan abadi.”

Jiwa: “Jika aku meninggalkan Fathiya?”

Hati: “Dia cantik, ayu, banyak yang suka. Kukira masih banyak pria lain yang akan menikahinya.”

Jiwa: “Apakah semudah itu?”

Hati: “Memang tidak mudah. Biarlah waktu yang akan bicara.”

Pagi-pun datang, bukannya disambut dengan kicauan burung, tapi hujan rintik. Suhu
lumayan dingin, Miftah duduk bengong di temani oleh kopi panas dan ketela rebus. Tadi, abis subuh
dia minta nasihat ke Pak Dhe dan Budhe. Sama … mereka tak setuju jika dia menikah dengan
Fathiya. Paman dan Bulik juga sama, bahkan mereka sangat membenci keluarga polisi. Normalnya
pagi tuh pikiran segar, tapi sebaliknya, kepala Miftah berdenyut ngilu. Mungkin tuh otak lagi
searching … mencari titik temu antara Fathiya dengan keluarganya. Tapi kayaknya searching-nya
terlalu lama, tapi tak juga menemukan titik temu, jadinya … begitulah.

Mendadak acara melamun ini buyar karena ada telpon dari Fathiya yang menyuruhnya
untuk menemani sarapan di salah satu kantin Masjid Agung. Tanpa pikir panjang, diapun menggeber
tuh motor Kawasaki Ninja. Sepuluh menit nyampek. Sama … hujan rintik masih juga menjadi teman
setia.

Setelah memarkir motor, nampak dari kejauhan Fathiya melambaikan tangan dengan
senyuman berbinar. Gimana dengan Miftah? Jiwanya pedih, resah, nangis, tapi dia
menyembunyikan semuanya. Wajahnya dibuat se-sumringah mungkin. Dia berusaha untuk senyum
beberapa kali walau hati terasa semakin tersayat. Akhirnya … mereka berdua sarapan.

Fathiya: “Babe, kok kayaknya agak murung, kenapa?”

Miftah: “Emm … gpp. Mungkin gerimis ini yang menjadikan suasana dingin.”

Fathiya: “Hehehe, kok malahan gerimis yang disalahkan. Ok, aku mau laporan dengan detail.”

91

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Miftah: “………….”( mengangguk sambil nyeruput kopi hitam kental)

Fathiya: “Aku sudah memikirkan semua hal tentang acara pernikahan kita. Tentang bab gedung,
mana yang kamu pilih, Babe? Gedung Wanita, Wisma Diponegoro, Hotel Patra Jasa atau Auditorium
Masjid Agung?”

Miftah: “…………”(bengong sambil melihat hujan)

Fathiya: “Baiklah, biar aku aja yang memilih. Aku mantap memilih Patra jasa karena selain bagus, di
tengah kota, harganya juga pas banget dan … lahan parkir yang luas.”

Miftah: “…………” (garuk-garuk kepala padahal nggak gatal)

Fathiya: “Tentang masalah catering, ada yang nomor satu, nomor dua, nomor tiga. Babe, mana yang
kamu pilih?”

Miftah: “………” (Menelan ludah berkali-kali)

Fathiya: “Ok, aku mantap untuk memilih catering yang nomor satu. Memang agak mahal, satu porsi
70 ribu rupiah. Tapi menurutku harga tuh sesuai dengan kualitas. Gpp … masalah uang biar menjadi
tanggunganku. Lagian, menikah kan hanya sekali seumur hidup, jadi harus benar-benar istimewa.”

Miftah: “………..” (Menggigit bibir)

Fathiya: “Tentang masalah undangan, aku mantap menyebar seribu undangan. Lima ratus undangan
untuk tamu dari pihak keluargaku, sedangkan sisanya dari pihak keluargamu ya, Babe?”

Miftah: “………..” (tangan kanan gemetar memegang gelas kopi panas)

Fathiya: “Babe, sekarang yuk kita bahas masalah bulan madu! Ada lima pilihan: ke Bali, Lombok,
Singapura, atau Thailand. Kalau aku boleh milih, ke Thailand lagi yuk! Hehehe, itung-itung sambil
mengingat masa lalu saat kita bersama teman-teman ikut program pertukaran pelajar. Hehehe …
Babe, Khuṇ hĕn dwy?”

Miftah: “Apa artinya?”

Fathiya: “Artinya: apa kamu setuju???”

Miftah: “……..” (Mengangguk ragu sambil garuk-garuk pipi)

Fathiya: “Oya, sebagai ungkapan rasa syukurku kepada Allah, maka pada saat honeymoon nanti, aku
akan mengkhatamkan Qur’an. Moga-moga bisa khatam dua minggu. Boleh ya, Babe?”

Miftah: “………..” (hanya tersenyum tipis)

Fathiya: “Oya, kata Bapak: ntar beliau akan memberiku kado satu unit rumah type 200 di daerah
Tembalang. Aku seneng banget. Jadi, setelah menikah maka kita bisa langsung menempati tuh
rumah.”

Kayaknya Miftah sudah tak tahan mendengar pembicaraan Fathiya, tiba-tiba perutnya
terasa sakit melilit dan perih. Mungkin karena maag kumat. Dengan muka pucat, dia berkata,
“Fathiya, aku mau ke kamar mandi, ya? Kayaknya mau muntah.” Fathiya hanya bisa mengangguk
sambil berkata nyantai, “Babe, kayaknya hujan rintik inilah yang menjadikan kamu masuk angin.
Ntar minum tolak angin aja!”

92

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Sepuluh menit kemudian

Selesai menikmati breakfast, Fathiya langsung ambil air wudhu. Hujan rintik membuat air
semakin dingin. Selesai wudhu, diapun menuju ruang utama masjid Agung untuk melaksanakan
sholat dhuha. Hmm … baru aja memakai mukena, tiba-tiba dia mendengar suara laki-laki menangis.
Diapun mendekati tuh lelaki. Ternyata dia adalah Miftah. Dia sujud sambil menangis. Fathiya terus
memperhatikan tangisan demi tangisan. Memang pelan, tapi … terasa pilu. Jiwanya terus bertanya-
tanya, “Kenapa Miftah menangis? Apakah ini tangisan bahagia? Tangisan syukur? Tangisan before
married? Atau …” jawaban belum juga ketemu. Hatinya hanya mampu berbisik, “Ya Allah, terima
kasih karena telah mempertemukan aku dengan Miftah.”

Angin: “Hari berganti minggu, Fathiya semakin gembira karena merasa tanggal pernikahannya
semakin dekat.”

Daun: “Sebaliknya, Miftah dilanda kesedihan yang memilukan. Dia terus bingung, apakah ikut
nasihat bapaknya atau memilih nikah dengan Fathiya?”

Angin: “Duh, kasihan mereka berdua. Kayaknya masalah ini datang gara-gara bapaknya Fathiya.
Andaikan dia bukan polisi, tentu masalah nggak sepedih ini.”

Daun: “Angin …”

Angin: “Iya …”

Daun: “Andaikan kamu jadi Miftah, mana yang akan kamu pilih?”

Angin: “Aku milih ikut nasihat bapaknya Miftah.”

Daun: “Berarti kamu tega membiarkan Fathiya hancur. Apa kamu kuat mendengar tangisannya?”

Angin: “Aku gak bakalan kuat. Sudahlah, aku hanya berharap semoga masalah ini cepat selesai.”

Hampir sebulan penuh Miftah berfikir keras untuk menyelesaikan masalah ini. Dia masih
juga belum menentukan keputusan. Sementara Fathiya masih juga belum tahu masalah yang
berkecamuk di dada Miftah. Saat dia terbaring lesu sendiri di teras masjid, tiba-tiba ilmu yang ada di
dalam dadanya bicara.

Ilmu: “Aku ada usul, semoga ini menjadi jalan tengah antara Fathiya dengan keluarga besarmu.”

Hati: “Alhamdulillah, aku siap mendengarkan.”

Ilmu: “Usul pertama: kamu harus ikut nasihat Bapakmu!”

Hati: “Kenapa harus?”

Ilmu: “Dalam hal jodoh, Nabi Ismail sangat patuh kepada nasihat Bapaknya yaitu Nabi Ibrohim.
Miftah, mereka adalah nenek moyangmu. Jadilah seperti Nabi ismail! Tak ada orang tua yang
menjerumuskan anak.”

Hati: “Berat, duh … berat banget.”

Ilmu: “Lebih berat lagi kalau kamu diam. Dan masalah semakin bertambah runyam kalau kamu
memilih Fathiya. Fathiya ibarat bunga melati yang harum tapi dikelilingi oleh bunga bangkai.”

Hati: “Aku sangat mencintainya. Apa aku bisa menghapus cinta ini?”

93

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Ilmu: “Bisa. Silakan terus mengingat milyaran uang haram di rumah Fathiya! Bayangkan milyaran
uang itu seperti api yang membakar semuanya. Ntar pasti kamu termotivasi untuk
meninggalkannya.”

Hati: “Senyumnya, duh … kayaknya aku tak bisa seharipun tanpa melihat senyumannya.”

Ilmu: “Itu karena kadar cintamu kepada Allah masih sangat sedikit. Andai kadar kecintaanmu sangat
tinggi, maka kamu akan dengan mudah melupakan senyuman Fathiya. Nabi Yusuf dikala muda
sangat mencintai Zulaikha yang cantik menawan. Tapi karena kecintaannya kepada Allah sangat
tinggi maka dia sanggup menundukkan pandangan. Dia sanggup memendam cinta itu.”

Hati: “Nabi Yusuf … wow … pelajaran yang bagus. Baiklah, aku akan sami’na wa atho’na kepada
perintah Allah.”

Ilmu: “Sekarang ini, tolong ikat dulu nafsu, perasaan dan akal! Gunakan aja iman! Ikuti aja apa kata
Bapakmu! Ikuti aja apa kata Qur’an karena posisi Qur’an harus lebih tinggi dari akal.”

Hati: “Baiklah, aku mantap meninggalkan Fathiya. Mau tanya: gimana cara supaya Fathiya tidak
shock?”

Ilmu: “Beri dia ilmu secara bertahap. Ilmu tentang sabar, ilmu tentang hati, ilmu tentang cinta Allah,
dan ilmu tentang berserah diri. Aku yakin, dia bakalan sabar dalam menghadapi masalah ini.”

Hati: “Baiklah, wahai ilmu … terima kasih.”

Ilmu: “Sama-sama.”

Sejak saat itu Miftah rajin memberikan ilmu kepada Fathiya. Cara penyampaiannya
kadang langsung, lewat buku, foto copy, email, dan link internet. Pokonya Miftah berjuang mati-
matian untuk menguatkan hati Fathiya. Bagaimana dengan Fathiya? Hehehe … dia malas belajar
karena otaknya penuh dengan rencana pernikahan. Dia menjelma menjadi wedding organiser (WO)
untuk dirinya sendiri. Pernak-pernik acara pernikahan dari a mpe z sudah dideskripsikan dengan
sangat matang. Kenyataan ini membuat Miftah lemes, kendor lagi semangatnya dan … pasrah.

Sebulan kemudian

Miftah serius bicara dengan saudara sepupunya yang masih duduk di bangu SMA. Mereka
kembar yaitu Nining dan Nuning.

Miftah: “Dhek …”

Nining: “Iya Mas.”

Miftah: “Apa kamu sudah tahu tentang masalahku dengan Fathiya?”

Nuning: “Iya, kami sudah tahu semua. Alhamdulillah Sampeyan memilih meninggalkan Mbak
Fathiya. Aku setuju banget.”

Nining: “Sama. Aku paling nggak suka jika mempunyai saudara dari keluarga polisi.”

Miftah: “Kenapa?”

Nuning: “Jarang yang bersih.”

94

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Miftah: “Begini, dua jam lagi yaitu jam 9 malam, aku akan bertemu Fathiya di warung bakso
miliknya.”

Nuning: “Jam segitu kayaknya pembeli sudah gak ada lagi, ya?”

Miftah: “Benar. Dalam kesempatan itulah, aku akan terus terang kepada Fathiya bahwa … bahwa …
duh … berat banget mengucapkannya.”

Nining: “Bahwa Sampeyan akan meninggalkan Fathiya, gitu kan?”

Miftah: “Iya. Hmm … aku khawatir setelah mendengar berita ini, dia shock, lalu pingsan. Duh …
makanya, aku mengajakmu. Maksudku, jika sewaktu-waktu Fathiya pingsan, maka kamu yang
memeganginya, ya?”

Nining: “Aku takut e, Mas.”

Miftah: “Tolonglah aku!”

Nuning: “Dhek Nining, nggak usah takut! Kan kamu sudah berpengalaman mutusin cowok, hahaha.”

Nining: “Hehehe, Mas … aku tuh pernah nolak cowok. Bukan hanya sedih, dia tuh nangis di
hadapanku kayak anak kecil lho, Mas … hahaha.”

Nuning: “Mas, Dhek Nining tu pernah disenengin ama cowok anak polisi. Wah, tuh pemuda mau
memberikan mobil Honda Jazz terbaru untuk Dhek Nining. Tapi … dia gak mau. Kayaknya Dhek
Nining tuh jual mahal, deh … hahaha. Dhek, mbok jangan jual mahal, to! Ntar kalau gak laku, piye
jal?”

Nining: “Tenang aja! Ada selusin lebih cowok yang cinta ama aku. Pokoknya ABAP.”

Miftah: “ABAP, apaan tuh?”

Nining: “Asal Bukan Anak Polisi, Mas … hahaha.”

Nuning: “Kamu gak boleh benci gitu ama Pak Polisi. Mereka tuh jasanya besar banget bagi negeri ini.
Banyak polisi yang baik dan jujur kok.”

Nining: “Tapi yang nggak bersih sangat buanyakkkkkkk.”

Miftah: “Wis wis wis … duh, kok malah diskusi sendiri. Gimana keputusannya? Mau bantu aku atau
tidak?”

Nuning: “Siap Mas.”

Nining: “Enggih, Mas. Bonusnya, aku ama Mbak Nuning minta pulsa HP 100 ribu, ya!”

Miftah: “Deal.”

Nuning: “Mantap, hahaha.” (tertawa di atas penderitaan orang lain, hehehe)

Dua jam kemudian

Tepat jam sembilan malam, mereka berempat (Miftah, Nining, Nuning, dan Fathiya)
berkumpul di warung bakso yang sudah sangat sepi. Apalagi hujan rintik turut juga hadir … hmm …
lumayan dingin, hanya tetap tak bisa mendinginkan jiwa Miftah yang dilanda gundah gulana.

95

Jangan Pernah Keluar Rumah Tanpa Membawa Cinta

Kebetulan para karyawan warung juga sudah pulang semua, sehingga keheningan singgah disetiap
pojok warung.

Nining: “Mbak Fathiya, kenalkan … Saya Nining. Di sebelahku ini Mbak Nuning. Kami kembar. Kami
adalah saudara sepupu Mas Miftah.”

Fathiya: “Subhanallah, mirip banget. Jilbabnya sama, bajunya sama, cantiknya sama, senyumnya
juga sama. Duh, melihat kalian berdua benar-benar kayak miracle.”

Miftah: “Nakalnya juga sama, hehehe. Dua gadis itu tiap hari nggak makan nasi.”

Fathiya: “Lho, terus makan apa?”

Miftah: “Makan pulsa HP, hahaha. Pokoknya mereka tuh rakus banget ama yang namanya pulsa.”

Nuning: “Mas, jangan buka rahasia, to!”

Fathiya: “Hahaha. Emm … aku ada ide: kayaknya kalian berdua pas banget menjadi pengiring
pengantin kami. Jika kalian berdua memakai baju adat Semarang, duh … pasti ayuuuu banget. Dhek
Nuning dan Dhek Nining, apa kalian berdua mau menjadi pengiring pengantin kami?”

Nuning: “………..” (bengong)

Nining: “………..” (tolah-toleh kayak Sitti Nurbaya dipaksa nikah)

Fathiya: “Lho kok diam aja? Berarti kuanggap mau. Diamnya perempuan berarti mau, hahaha.”

Miftah: “E … e …”

Fathiya: “Mas, besok aku mau silaturrahmi ke rumahmu, ya? Aku sekalian mengajak Bapak dan
Ibukku. Paling kami datang jam 10 pagi. Nggak usah masak-masak, ntar malahan merepotkan.”

Miftah: “E … e …”

Fathiya: “Kok bingung? Maaf, mungkin cukup mendadak aku memberitahu karena dua hari lagi
Bapakku dinas ke Samarinda. Jadi mumpung besok masih di sini, maka kupaksa beliau untuk
silaturrahmi ke rumah Sampeyan.”

Miftah: “Fathiya …”

Fathiya: “Iya …”

Miftah: “Bismillahirrohmaanirrohiim. Aku mau bicara dengan sangat serius.”

Fathiya: “Apa tentang masalah bisnis bakso kita? Tenang aja, ntar aku punya ide akan membuka
satu lagi warung bakso di daerah ….”

Miftah: “Stttt … sudahlah! Ijinkan aku bicara!”

Fathiya: “I … i … iya. Duh, kok aku jadi deg-degan, ya.”

Miftah: “Fathiya …”

Fathiya: “Iya …”

Miftah: “Emm … terpaksa aku harus mengatakannya.”

96


Click to View FlipBook Version