Kata Penutup
SEPI, PEREMPUAN,
DAN KELUARGA
Oleh: Riris K. Toha-Sarumpaet
Pendahuluan
Keseratus sajak dalam Rindu Kelana ini terutama diam-
bil dari Bunga di Atas Batu (Si Anak Hilang) terbitan
Gramedia 1989, atas dasar pertimbangan telah dipilih oleh
penyairnya sebagai paling mewakili karya-karyanyaselama
40 tahun (1948-1988). Untuk memeriksa kebulata:1i pikiran
maupun gaya, saya melihat kembali kUinpulan puisi asli
Sitor Situmorang (disingkat SS) yang beIjumlah tujuh buah,
yaitu Surat Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955),
Wajah Tak Bernama (1955), Zaman Baru (1961), Dinding
Wahtu (1976), Peta Perjalanan (1977), dan Angin:' Danau
(1982). Dalam proses itu, mengingat perlunya mengetahui
apa yang masih terus diberikan SS kepada pembacanya.
maka saya. juga menerhna f;lajak-sajaknya yang belum per-
nah diumumkan, yang ternyata beberapa terpilihmasuk
dalam kumpulan ini. .
Sudah tentu pemilihan ini dikerjakan atas. dasar keper~
cayaan bahwa sajak yang baik adalah sajak yang dapat
menyampaikan pesannya dengan baik pula,seperti selalu
dikatakan Ezra Pound, yang "perfectly controlled".! Sajak
yang baik'di sini selalu dikaitkan dengan apa yang secars
ring"!ln t~tapi bersungguh-sungguh dikatakan W.K. Wim~
satt2 dengan menilai sajak sebagai menilai mesin,artinya,
apakah mesin itu Msa berfungsi, apakah sajakith dapat
mengatakan sesuatu secara tepat, dapat menYerttuh dari
menyarahkan sesuatu pada pembacanya dengan'Irienam-
pilkan'hanya yang relevan. ... .
Sanga,t mudah menemukan sajak yangbagusdari semua
sajak yang ditulis SS; tetapi memutuskan yang mana harus
turut masuk dalam' kumpulan. yang dibatasi inilah yang
143
menjadi sebaliknya~_ H~~l~~ mJf:tangan perwakilan
kronologi serta tema"menjadi acuan, agar dapat menangkap
kebulatan gatn:~,raIi ~al)g:jl~ J~ig~flerta kalau
mungkin memahami gaya atau cara bercerita yang dia-
~:T: ,_
nutnya.
Sepi sebagai Tema Utama ,;!
Kumpulan sajak ini diawali dengan
Kembali kita berhadapan "1
Daht.m ~upg:sep.ini l'
~a'rh~eqerang leIl:lbab~ti y
Bjbirmu, berkata lagi
Tunggulat1; aku akan da:tang
Biar kelam datang keItlba:li
.Deugan angin malam ak1J. bertolak
Ke negeri, kabut tidak mlmgabur panda:ng-
Mati, berarti kita' ::ibn bersatu lagi. ' . 'co
da!ant '!'Kaliurang/Tengah Hati!\' yang:segerli . membawa .pi-
kiranupada kerinduan);y8'llg,sailgat.jdil'8l5a~ sebUfJai kematian
y~ng ·meinperaatukan.' :Jika benar i "Mati~ ~ra1ti kita .aka1i
bersatu lagi" adalah kesimpulan dari sajak~i 'ata~i 'dengan
~en~gat per!~muan .itu ~q.~ q~ 'd~lam t~hIDg .• sepi"ini/dari
5,~b~,rang lePli!~p. ma~g~ dahJl?acla;saj~kx~pg ~e-~~ber.lud'tl
'~(qcl:!wn PagI" ki4t dlpertetnulqih clE!I)gaD,,'sa~tterQ' keh,t
pell;l9\lhandu~p~J, lmehantl/• dl• ~ f' " '
pastJJ,~y;a!i~ ,Rl~IE!qgklIlg!"' '~".'" ,,-' •.
'. - , ."' <;<..< •• ,,. 'I: ",! .""
~wl~~~nsiut~n ¥~ti'; tidaJ?;;~ ,~~~~~erlf~~~Ji}fti ~ep~~~
Ja.~g; ,petnbacaah keseratus, saJaK pllifian ml,. kltl\.~JPi~ lagI-
l~~' menell}ukan berbagaita~anp'ilOra,~ ::r.lfl~ ·tH~p.~Il:'~guD:g
·ra~a:ri:n~u. gelisah dan sepj,yang 5,~pgat/. ,y~J).g <il1r!,!:saltll,l,l
~~~a~rltelJla~.ian Itu., . ,', ';'~ e,"""':' '")~,,,' , , , , ' ,
i i,~aJilm~~'~pulain in~!. ~~. :pieW~mpairpip".)Wal5~i~hH~iver~
sal,7ieri!a kemanusi aan,
~esepian i,t~~,iP! ,tn.9~P . ~~l?llJla~fl~
dan keslbukan yang terclpta karena kemaJuan yang seJaK
lama, memang .kitaimpiuft;. anehnyapmall: 'takr rtilUif ,kita
haTuS bergaul. df;lngan rasa':,sep&h WtsS;;.JsePi. ;jni :dtletr'ludian
;gaenJadi sesuatu yang tak tel'elakkan' dan;:a~ap' 'lUenan1pak~
!t44
~dj.ri dalam bentuk .~\t, terouga. Sedikitnyas;-~J~
sajak dalam kumpulan ini yang berhieara ,mengenaihl_
!5.epian, apakah itu dala~ bentuk ,I!jepi,ity. .sendirii ,atau
nhaIisanya. Jika rasa sepi yang merupakan tema u~~
dalam kumpulan ini, maka tema bawahannya adalah akibat
stau bahkan asal mula rasa sepi itu sendiri.
Aku lirik dalam kumpulan hrl melliangdiba'liit ;~a sepi,
dan itu tampak dalam seluruh. hidti~~:L "P~~~tikanlah
sajak "Potret Ibu" yang mengatakan' biefui 'iamengerti
lutta sepi/Dan keinginan di baiik hari"seH.;' $~jak "Jalan
Lempang" yang menggambar~~ betapafJengsa:ranya se-
seorang yang kehilan~Il~irah: yang~k,dapat ,'menemu-
kan kebahagiaannya, yang kesepian: '_,'
Pohon-pohon berbaris
-Di ujung ada rumah
Pelancong malam ini
Tak tahu ke mana-
Kicau burung tadi siang
Jika angan melihat >pabon berbaris;;; dan3ejauh mati!
memandang hanya pohon' yangbetbaris, h~nya;ai 'ujU'rtg
sekali .tampak rumah, ma'ka;yang tetasaadal'9.h"kem6nooow
an,ketakbergairahan.' Pelaneong, (yang m~miBg bertUjusrt
meneari kegembiraan!) yang tak menetnukan' yang dieari\.
nya, tentu sangat keeewa. Oleh kareita itu, ,sajak' yang
pendek ini crapatmenyampaikan-'rasa; 5ial;ituseearapadat~
terasa sejak judulnya, jalan yanglem-pang; yaag lurns di'-
penuhi bar~san pohon, yang bagipt:!ngetidara biasanya tida<lf
memberf tantangan dalam artikebahagiatan. )i
,Jlu~ah Yang di ujung dapat dhll~tikansebagaitujuan'm
P~an,C\l9~g; ~b:tpi i~ ~lah· menc;a:ri yang! itidak.: .ada~ ~kiea\l
bu~ ta4Lsjang'~, BuP.nlqih kontras; kantara'lpeianeong;.~
'mal~' lYang ,men~t;k~Q.~allna~.i~u,jb1!J!lUlRlg, ta4icIS~
m~rupa4n eara yang;$8nPt menukikilk~'aJlk'iitu? Bah.t
kan" lclta, j\.\ga bisa 1¥lihak~gaill1aMc'~ datu !mdauny;a
tQ\toh ~lanQong 4~n,gIiln i mlm~a~Q.;!..l'. T.,.a!iw;1u maliaL
~eputu.saSa8n ada disana. SelainsEJ,ng';t ekQnOmis .da~
145
W",,Lsajak~'imAjuga dap£tt'-me~ri'*~"'~'ri(~i5i~rrt~e.
laI!atas't'aSs'sepiitu.: , ", If!i ':IJJ~j' W:k 11'f£1i:b)I)i:~
ft!~ir'Digaklaapm, sajak "Potiet IbuI r !y£ttlg' d ikutiP i \"l"f/r'i-.ffu£,i,'~S~l'i4Sn1~fnt
" .
~ 7.." ~ r"b
,<;~ !~rena¥pe~~~ihi
,.,;~rQ,a~.Pidu:p ~1tep,u,ng bumi;·, .
" Kuban~n,Cahaya ini., ,'.'
Di w~ja1i:~rj~:ui~dih,"'~,'
MaJ.a dipejam menggen.m dUk'k
"Kasih iliemhaka:r'ke'dalam' Yn'eniblllta:
Karena ia mengertFka:tiliSepi'" r,',
Dan keinginan eli batik hari
terasa bagaimana berat pun derita ibu ini, si!a,~u lirik
meyakinkan bahwa ibu sangatlah besar Iagi pu~ b~rharga.
Oleh karena itu, ia periu membal,lgPI:l. cahaya Jlfltuknya.
Keyakinan itu dapat diterima dalam Iarik (haris) 'Kasih
membakar ke dalam membuka' yangse1aroutnyafditambah-
kan bahwa ia pun bisa memahami derita dan kehendak
m~\lsia., ~'Ml.1dah: kita, ,me~gukan 'sanjungan ;~u, .link; :ini
. ~ft~uDli nie;J;Il~hamic ~~ihdahulu Iarik panamai yang dimukri:
dengan kata r~kal'ena'.KatE1- 'i~ilah kullt'ci,'persembaronil'ihi::l
J{a~, buka~, lm~ja, penuh'wih, kalau'.'bukanikarenaia
'hi~9P dikepul,lg pumi' (di siniterasa ikelengkapan, karena
~oI\SOnan p, k,' p, .,dan b yang menambah, kesan' berat dan
talt·· Uu'eIaltkan), m~tinya ,ibu. 1m tak maDipu,':Bi;mggejlggat'll
duka'. Selanjutnyaj, .anakah mungkin·ia sa~ggup, kalali
bukan, ,karena kalilihnya 'yalllJ"besar?Kasihnyar-yang ,besa'll
'itu ada karena ia ~ngertikehidupahfY~ sepLitu; "::1';;,
Kata-kata yang dipilih penyair di' ~ amat bersahaja,
dengan rima' yang; bersahaja pula.~Nllm iitu's6j)ih"tas
mengesankan':gEllUbar ibu, yang8~Wi tiEtlFl:lerdaya:~~
p'ul)ya'apa"apff, : tetapi"jlisttU:'pes£t~jJja~~i~nij:Jai ad1ilaH
mas;.$~liktlya, .aauat.,bE!rtenagM; KeSe~.,jpefi1ata'ian·
te'sii dalam'kubarigUtikancaha,a¥lib~(yang;'<iipE!rkeras'de
BgEl» danjutansine5tesia5.1ai~~!niatwi.jani ;me~~gen~~
duka~j~ ~ka.ll\hh&nya menUI\JtikmllJifiWiik: ·teta'pi' jUga' Re!-
kuatan dalam membinaima.jr yan.g" tipa't~: ·SaY~':5ebtit'iJ1i
iniaji yang memberi kehidupan, yang janta:n;rcDi .samping
bJrsahaja, sajak ini menjadi kompleks yang ditambah oleh
'Cam penyair memilih kata atau bagianctlibuh' yang saling
'menggambarkan, yaitu hati pada ll:lrikpertamadt}n mota
pada larik kelima. Apa yang ada" di ~la:w. htiti,qiasanya
tercermin di mata. Apakah ,kita! s~P dne,n~liim4, ¥sih se-
bagai membakar? Tidakkah lebih. lazim jika ia dianggap
meneduhkan, menenteraril:kan~'lbu" yaligrbefsab'S'ja, dapat
diterima sebagai menentera'nibn (1)':' tet1tpilfiiliji j~htan itu
justru sejalan dengan 'kasih yang,me:w.bakar', yang mem-
beri kekuatan! Bagaimana dengan .m£mbu~ apakah ke
dalam atau ke luar? Dalam mencoha 'mencari jawaban
un~uk ini, kita dapat merasakan bagaimana pertentangan
•i.,~tnuy·' jiui~..sftur>qp''·:8d~ipn•as'k. '"a~io·i'1Uk,.hi' tlU.,l\..Ilt~d''\~l1T.'~~'Jl.itgjag,::a"1r':t.,'.i...ts~ibia_iw.a:. .. . . .' t ,. .
":4·~qi;:;.t.. -.; : :"r'~ .'~... it> ',': ::~~~!_(j.' _ ';'.
h.·j Koherens.i dalaIp.
:1' . . :" ......
!.-;'~.-.., ; <,,,1::,(':
i)i;",>,
. ~,mem~rcay:~i -lb",s~llgaJ"or~l,l8- yang, ,pEtJi~· tall'
\~~ena~ sep'i.. ~~tapi. ~eby.:radll"n5,~pi itu;. <litEfr,a~ll: ~R,",
d~JalP s,!'lJak "P1,J1a:u d,+ Atas ;:fulau" dengan Ille~t~Il:; ':,';1
. <"i '.!
Antara dul,t,l dan fsekar~g \,,-
terbentang petaperjalanan, . ,
pengalaman melimpah7.fuah
dan pegunungan tinggi ;'~~'7rdirkp. .',
mr~~,,·ra.sasepi y~ngs~la~u ,~d~~J\U"bj,~~ ;4aJj~~'i~ ta
.ptlkan dalam saJakt'LuklS~n rembolt d1~gan nada me,ng-
. . ' , ' ',,' ,~Jelt"
i.'" ".1, "I'
... ~ \ ."; .~
Sofa kosong. Kamar temaram. ,A
Dj pojokeepasang'sepat:v.tua,." "
,<
i·H\ulukis .; .,
cumbu 'semalam' ,
·dWekuk~lekuk " :'
b$lltalbebidruj
kuredam,ril'ltib kelana' 1
daiam lipatan,,slirnut:balau .
di atase.ofakbsong. '; .'.~ .'
:Di tembok .U'/ "\:,ul;~, r ai'it£f4j- ft',_ ,,{OJ, f" ~~?' ,,~~, ~ r,H3'tf1
tets~jU~' 17.' !' ,.) ,,'{f?ci£2'1sd
(1sq, ~'J~
i' ,F,l~~allez;a,!ama.
'Kucium bausamudra
berbaur bau darah"
.' :kaki-kaki petualang: terluk.ai
, . _ -fl1' , ;L>"::-,; ..
laluJr:pa~~g1f111ntai.~~n.tara
da~ ~tu-batu: Pulall Jlanda.
, ;:\'. ~, , . -.; .' ;..': • : > > '
Rei;. LaksamahaTua . ;-.;:
kapankitalagiioerl&YJlr "
, .' ;.naik Armada Jingga?- '
~~it)pert#mB: h~n;r,a '''seQ~~i k~te~an~an1 dan :dih~4ap~
padaj bait .terakhiry;a~~., ~Wi~I!lska;n 'ra,s~ f1f(,pi, ,1f~9Q,g.
'sepatu tua', yaitu 'LakSamana Tua' tersebut. Sepatu jelas
beruniSart'dengan bi.ki 'yaitgh~ndak' berkelana; .i3~angkan
1tidup 'laltsatnana adalah "lllengarutigi; lati~n lu:a~~ Akait
:tetapi, begItu sepinya' punhS'fi si akulirlk, dicampur de~
';;gan keinginannya untuk !llenjelajah, dengan halus SS
mengandaikan gambaran itu" 'sebagai cumbuan 'di lekuk-
lekuk bantal beludru' dan denganrapi pulaht sembunyikan
kerinduan berkelana 'dalatriJipa:tan selimut balau/di atas
sofa kosong'. Kliml:).ks hadirnya kehendak bertualang itu
tampi! pada bait kelima ketika dengan naluri keduanya si
aku lirikmt:lncitun,~u'i~am~(:lI"A. yang berbaur bau darah
~~~i~tu~laiig ~!l~pka,'\ff~:I!ria,,~~n: p~ny;i ~': bunyi 'lll~l~m
kalim.at itti meny~r~nkan ltepehtan rasa kosong, se~~ti
juga semua konsonan yang mengesankan kekerasan dan
kegetiran., ". "
f3elain rasa sepi, dalam :sajak di'atas diterima kegeli-
sahan seorang pengembara, yang tak hendak berhenti ber-
jalan dan mencl:).ri. Perhentian baginya menjadi ,~sepian,
seperti bila diperhatikan bagaimana:d.i;,pojok "sepasang
sepatu tua' dipertentangkan dengan 'betlayar; naik 'Armada
Jingga'. Apakah mungkin seorang tua masiQ-"hendalt ngebut
dengan armada jingga?
Sajak "Peta Perjalanan" secara jelas tnenggambarkan ke-
resahan tokoh lirik ketika: ia 'meiatnpiaskah petualangan
mitnpi/dengan paspor republikku' danberlualang 'mencari
148
tahu asal usul keresahanku' yang sesungguhnya - jauh
sebelumnya - dalam bentuk l~in telah dikatakannya dalam
sajak "Pont Neuf', bahwa 'Petualang besar bersandar pada
senja' sekaJigus menerangkan bahwa senja itu berisi duka,
'tanah air Sepi'seperti juga dapat ditemukan dalam "Pantai
taut Utara" yang menandaskan kegelisahan itu dengan
Kapal barang "Pablo Neruda" tertambat di dermaga
Ferry "Olau Britannia" membawaku 'nyeberang
Satu berlabuh; satu 'nuju samudra
Dari pantai ke pantai gelisah terentang.
Tokoh kesepian dal~m kumpulan ini juga tampil sebagai
sosok yang ragu sekaligus tegar, bahkan sombong sekaligus
mengakui ketakmungkinannya bisa hidup tanpa perem-
puan. Keraguannya dapat terlihat dalam sajak "Jalan Batu
keDanau" :serta "Ziarah'" sedangkan kesombongannya yang
lueu dapat dilihat dalam sajak "Albuquerque" dan "Jam 8
Malam'" Ialu ia menjadi tegar karena cerminan yang di.beri-
kan ayahnya dalamsl=tjak "Membalas Surat Bapak". Yang
jugapenting disimakadalah pengakuan yang menga'takan
bahwa ia 'tak punya identitas di luar dan tanpa wanita'
(ItHamilku").
Perempuan sebagai Cermin dan K~hidupan
Banyak· ditemukan sajak percintaan dalam kumpulan ini,
seperti: "Dia'dan AIru.", "SuratKertas Hijau", "The Tale of
Two Continents", "Lag\! Gadis !tali", "Paris -La-Nuit", "Ban~
gun", "La Ronde", "Sungai Bening", "Pergola", "Surat Per-
tama","Upficara di Rumah Adat", "Hamilku", dan "Bayang:
Bayang".Di sana-sini terasa bagaimana si aku lirik ~~hkall
dicek1rtn'kerinduan'-nya, mungkin karena kasih tak sampai
seperti dalam sajak "The Tale of Two Continents" atall
melulu Itangen seperti dalam sajak "Pergola" dan "Su:rat
Pertama" dane;ellll:l'n:gat .kelelakian seperti. dalam. s~jak
"Bangitn", "La .Ronde",bahkan dalam "Bayang-Bayang"... :.
Melihat kerinduan, 'kepermaian rahasia/Permainan
cumbu-dendam', ·susah-payah, penantian, sampai ke 'puncak
asyik di liang pusarmu', memang bisa.· dipercaya kalau
149
;·lttudJki8h6:grhaahili.inl~nai'nI~a;'lpil~eeunn'gdaaamrkaan~tgay,mam'e~mh~~~a~:~tnI;flapaaitr~lli;li.'.ncPaekratst.~a;~}JdJ:u~>h9~t..\~.1y'~:'Y~~.~l,miPl~Imi~c~~f,i .
.dtttaiBkraaahslgluukgna"p,meb"nLaaarrigdRkaoalnpldap~n"e,s'saden~'nltd'sit"t,Ba!atyybaae):lanangk-gaaa~.,y~ka'8n-g¥k.ie·~n'Ea;L,"'~'~QJe.tnr*El*!t~~8~~w-~~¥~a~l .
nyampaikan persetubuhan itu:. J\.~n te~Rj, ji~,.lqta lihat
lebih d~lam, misalnya, <l~m~~.Ii' '~e~pe~lia:ti~n,.b~gIan ke-
tiga dalam 'sajak "La Ron~" .ya~ be:r~~ " .,::
Kau dewiku, penghibur malam hampa
segala,.perbuatan siangyafig.sia::&ia:' ,
KebosaJian abadi jadilah lupa .
. -., dan~dan hancur. nikm~tterasa!·h"; . A id '~6"
l:lE,l~ dapatdip~hami';'ba1.~ga:.1~. na ~ef!PU:"ngg",U,~hn,{:y;;,."a~_~..p;;;e:ir~:"s:·e;'tu,l.;>j,~..;"
an ,,'(yang seharusny~ .. nikmat ,iiu): dipabi untuk ;me~
riari~skan ketidaknikmat9,n; q:~~~l?,' ;~~i tersebut . dalam .
lat;i~ kedlpl di atas. Keti~ larik j~~ma i.tJJ menampilkan
;li~m~'.'s.la-sia', dan 'keb05,{'lna~ /il:ladi'.TQkohJnLsebenar;:
ny~l adalah tokoh Yang ama,t.·· ;mEmYfld;ihka,n" lelakk 's.it
parah yang tidak bisa merasakan isi genggamannya: karetia
kekosongan hatinya. Di sini, seperti juga dalam saJak
"Hamilku", "Upacara di Rumah Adat", "Bayang-Bayang",
dan. ,"Amsterdam 1965" ~~niln. 'llelalhil1 tutlt~, melllin!
jau{ istilah Sub~o Sastrowardoyo) dipakai sebagai latar.
'. C" '1- :(, "/~' "~'". _._ ~~. ,. . : . . . • '..-~~;) '~~.: ~~¥'r:;-;'
.~lengahan m.elihat di, ~1~~~l,l'iB:hj,:r~J} ~runt'\jl1~JJ;ikata
ltulah barangJmh sebabny~ meng!tpa. ~~~g~S~tm...w-ardQYo
1!!e~l1y~but. saja1t "Bangun"? "La, Rond~;,.dan."$unga,\,Bening~'
seb~gai~sajl",lt nafsH ,~lillamip:, .b~la!ffl..." aaga~:m~M' Jtita hif;l~
Irieriganggap enteng .pengg~mbar~, dllhup., ,slljak ':f:;JJngai
ramah',Beiling" ya'ng dala.m 1~riR,pE!rtamas4dah. men~:tllkan
"TullUhmu yang pa~aCdan, m~Aianjikanpetunjuk
t:>~h\Va lakuari a~aJj me,mqeri hibu~ap.: ,~,~ksJJat.~~g.,me
nyeJ?angka~ tetttpi. di bai~ .~ed1,lfl di~wkan ·'Se\ela'I;l.~ekia~
jauh' da~ dibai.t ,~khir tlfPlyata ke:l:Il11ika~~Il;lhyaIl~ 8~ar
Sobek hatiku dan b~l~h
'" Dannya m~manc\lr riHdu '"
': . Mimgtmta'f darah '
Barangkali kemampuan SSmemilih -dan menghidupkan
ltatalah yang me~imbulltan- perkiraan bahwa sajak-sajaknya
piatas melulu sajak kelamin. Lihatlah sajak "Bayang-
,B,aY~:tlg" yang sejak a wal hingga akhir mempekerjakan
kepa,la,ketiak, punggung, bahu, batang leher, payudara;
b~tis. paha, liang pusar, dan perot untuk menciptakari
g~mbar di 'l'1ngan kita. Jika sajak. ini ditawarkanpada
remaja kelas satu SMP, kemungkinan ia hanya akan me~
nangkap perlIlainan bagian-bagian tubuh itu. Akan tetapi,
jika iadapat merenungkan larik 'inginku kupu~kupu/di ran-
jang kosang', pastilah ia menyadari ketakbahagiaan bayang.
-bayimg ini.
, Beberapa contoh di atas menjelaskan kesepian yang ada
dalam kumpulan ini. Dalam bercinta pun, ia merasa kesepi~
an, Ia terus. mencari, ia tahu ia memerlukan perempuan~
yang kadang iakasihani seperti dalam sajak "Lagu Perem~
puan" tetapi juga. dapat dipakai sebagai tempat pelam-
piasannafsu menghancurkan sepertiterkilas dalam sajak
"La Ronde". Jika mengingat lagi sajak "Chathed'rale de
Chartres" yang istimewa itu, mengenai zinah yang meng-
ingatkan tokoh sekaligus pada rahmat Tuhan, tidaklah
salah bila kita menerima tokoh tersebut sebagai sangat
dewasa mengakui kebutuhannya akan perempuan. Contoh
ini sesuai dengan apa yang dikatakan Tneweleit bahwa
perempuan adalah pancuran tempat lelaki ({['he Fisher King
itu!) minum setelah pengembaraan, dan cermin tempat
mereka mencari dirinya sendiri.4
Mondar-mandir, tokoh ciptaan SS bergelut dengan kerin-
duan, apakah itu pada kekasih, keluarga, tamlh .air (dalam
hal ini klimpung halamannya Danau Toba), dan benua lain
(misalnya dalam sajak "Mimpi dalam Mimpi") _tempat dia
menemukan berbagai ideologi, keluasan, dan kemajuan.
Jika membaca sajak "Khatulistiwa" yang diakhiri 'Dan se-
lalu laut itu ada/dan selalu kau di'sana' serta sajak "Danau
Toba" yang hanya secara sederhana mengatakan kkdnduan-
ny~ pada tanah kelahirannya, 'sekaligus, terliha(~emam-
puan khas SS dalam bercerita. ..
Seperti didalam sajak "Bangun", iamenggunakan ritme
Ya.ng cePat. serta keber,anian memakai frasa apa adaniYa.
tanPJlherusahame»~~:p(l'lumgi"(su.p~yaA~il~ .
dan) b~Tadab; Hal tersebut justr1imel'ilttftju~WV'
utam~nya, yaitu 'Balik>didada. 'peremp~art;/S~. . .1.l;t
impilgm'. Akhir yang afirmatifseperti";Bar1i ;!$j:(jaai~6':;
darisajak "Bangun" itu, banyakdipakai; seOlitlir \1p.i!tk
bantuan pembaca untukmemiki~kan'masa'1ahdaft~:~m&a}
hannya. lni saya anggapsebagai k~kuata\n 'Se~ligqs';l(~
bijaksanaan SS.· . ... ....,
ia.I)i "ssmping betsikap 'tegas, . cep~t, 'sepeitisaya~~but
dengangayarlya' yang menghidllpkan, pada. ma~ahlh. tertel1~
tu, ia juga tampil halus, emosionaI, dan personal. SimaklaJt
sajak "Pergola", "Surat Penama", "Danau Toba", darl"Surat
Kert;as Hijau". Kehalusan dan kelembutan,terasa dalam
sajak."HarianbQho", "Jam'S Malam"dan sajak. yang.1ain;
Hal iJ{l,i terutama terasa jika ia bertanyaretorik, yang
tampak dalam sajak "Tamasya Setua Bumi, 1988", "Per~
pisahan", "Jam 8 Malam", dan · ..Satjak LuarKepala" misal-
nya. Sebagai contoh~ saya kutip'sebagian sajak "Tamasya'
SetuaBumi, 1988",' "
Tamasya TelesetUa bumi ini
bakal kubandingapa, llanggi?
Seumpama hidupk,ekal
terh~mp~r di fajar bel,'llUal.
dan lagi, yang tercipta karena atm(jefi~ (yang hampir sarna
dengan sajak "Jam 8 Malam", yaitu "S;ajak Luar Kepala"
sebagai berikut: .
Pintu terbuka ke dunia .
(Gemerincing 'kunci da.n. rantal
gema tertinggaldi'behlIhlngi
d&ll kau di sanaseperli biasa .~
tapi bisu,
Selalu kau tering~t.(~dakuZ
Seperti aku tak p~rr;l!ih lllpa pacl,all),u? .
Tak sepatah keiuar ,chiri mulutmu
Tak setitik air mata terctlrah:
Yang sangat menarik adalah kepanaaian SS bercerita
seperti tampak dalath hampir semua sajak-sajak pan..;
1&2
~p.gnya. Sajak "Kisah Harimau,Sumatra'''{~!Si lA-nak
iilllIlg", dan "Porta Nigra"merupakan contoh ·sedapp.y~
lleftdengarkap. dongeng SS"danbagaimana·iagemar: ,meng"
Nllllkan kejutan di akhir kisah.
.·Secara khusus kita periksa sajak "Porta Nigra" yang
n,~rlceritakan kenangan pada ayah aku liiik.Sebaiknya
;iijaltUu dikutip lerigkap:
Berdiri di troloar kota Trier
mengagtnni; Porta Nigra, tugu
peninggalan kerajaan Romawi
dari jauh terdel;1gar suara seperti gelombang pasal;1g,
derap langkah legiun-legiull pulang perang,
menuju benteng dan segera alum masuk kota
.melakukan ~;wai kemenang~n
.Aku, Caesar,
anggun berdiri di atas panggung kehormatan,
siap menerima pawai pasukan jaya,
membawa serta suku-suku taklukan -
Khayalanku sedari masa kanak
tentang kepahlawanan
ketik~, belum mengerti
apa yang disebut sejarah,
karangan para jenderal,
ketika aku Illasih suka main perang-perarrgan,
beradutombak dan pedang,
bekas senjata Ayah -
meJ~w~m legiun-legiun si ¥:].llitputih
s~~rti suku-sukuJerman dulu melawan Romawi -'
Berdiri di trotoar ..
aku>tel'kenang padii Ayah
yang terkubur di pinggir Danau Toba
jauh dariJerman, dan zaman Romawi
ingin kuajak bercak~p-cakap
tentang Tugu dan Sejarah, tapi
hanya mampu mengucap:
Porta Nigra! Porta Nigra!
:J'l:'\koh berada di tempat yang jauh, daIlketika ia menik-
~tLPorta Nigra, ia terkenang·masa kecilnya, saat gemar
153
l
i
i~dt8~smtttth~~.j·!~~nx~"ai
:~(;~ii\~',,!)Seriptariii1turmtt\Qhta1Wadiyanpi.EIa~
t~ftnlml~'dtelumdakd~I~~~
........N·:dan sejarah, tetapi pads keriyA~Aya,lfiaJthttti;lirtiUl81@
, .~.\" ..~•n..,¥,I~U'~t~\~,a~.lk.f$.'.fnJt".atL'wPi}d;rt~t.anIii.'~l~~"..,'Ir1..'fDl<b...>P:.'Jh\~J:IIi'~~_'i.K.!Ph·ll.',~!I•'.A• "..~.l"..l.!.'._:U~l:"~l., ~~•~• ~
'di' dalam kesederhanaan itulah ~\l~~~;! ~\t~. . .~ktk
msaat\m! pyuanmgebneyrib~lpcaurlakamn~npgik~i~~l~n.tU~,~~\rl~Jrl"d1w,,lw'~~~ki,'R.~$~l~!m~m'ibbaaiitt
. eB)~t mengenai s~jarah.~NJa.l\l~t .~~~ ~~~!,~.hen
dak dikatakan tel'!5impul dalam kata ',fugu. dq,n $f!jarah,
ked1,la~'ctetdtiti'ik:l&ftam;'1iUr\if'b~f? Vi'b~Ht 'K~-1~;~bi
,dcaarrai..Jmeernmgaennaid·'·.a1''jn.'y"'j~'~l~ta'lm\"ta'~n~.·".lWM~i.b#g."[~~i"i"~~:1"::ilJl';"~'q'~.h;.~!,di'~t"''yI),..i•~I. :~,Q.H' i'i,:"u,~ji"7T.~,6t",~'t)~i,si\~i,.J,oJl8diurhi
'. pun -:8ebenarnya sudahlah sEbaran, te~Pl kenangan padanya
dapat dijadikan tugu, yangakan selalu'dikenangi:'da~ di-
sakagumi (figu'tf'ayah':di~m'1.'1ka:n juga; di:i1a-1il,J j'ak ·'Teater
Yunani diEpidaurus"; m~nusiayang berusah'atnen~ingkap
'rahasia' keberadaannYs).' ,.', ,.,' ,;. '. . .
J alan pikiran yang sang'iit ~edethana dan' 'logis itil meng-
ingatkan: saya pada keluguan se6rttng' aM'\t. "Ak'a'n, tetapi,
is:kalau tnelihat kesadarannya pa4a'1~~a'Yat.i~, ~~ilh dapat-
kan dari' ayahnya, ia bukanlah a:nak' kecil, inelaInkan lelaki
dewasa .yang sadar pada asal-Uf5ulnya.,"Hal *ni dipeIjelas
dalam -sajak ':",:An:gi'n '.Dafiau'"Zurieb:'" .~ng niengakm gelak
dan pandang "anak' itu seiaagitr pengurigkit L 'luka1 lama,
kerinduan dan kebutuhan .kembali 'pada"Oanau "'T6ba. Di
sini, kerinduan aIm '~nfilk~~da •)~mpuh(; liJilEi!ir~~, pada
ayah, bukarilan' r'iiidu yang 'riI{au' hel~ka, in~1~5it~~ rindu
dengan: landasan yang menyaq~rlqtn.:.!Sej~\Jp,.ap,ase~eorang
pergi, seindah apa yang, ia, .rasa~ncai sa~,· iat.e~p .akan
mencari as~l-usulnya,.'sroak ipfsekaligus' ~ndQr()~g kita
pada pemahaman yang lain dari berbagai saj~k. di dalam
kumpulan ini, yaitu bagaimana sang'tokoh amat de~t dan
memerlu• kan :r("f:- ; _ . <"~ • { : ~ ~:'.'
k e l u a r g a n y a J • '.
, . ..' ..••
t· .
Keluarga sebagaiAsal-U$lI···,·· .:;:
.' f hara. tegasJ)kelu8rga.dise.~.tal.tan :di .:.dalam, ktmipUrbii1Iiini
sebagai~tema;'" Penampilann~'saya' 'kataka:n: tegas;Jka:retifi.
154
memang disampaikan denganESengaja:Seperti ,dalalI1 sajak
"Lagu Jembatan Putih", ketika tokoh, lirik mengambilkan
kapal keeil yang terbawa arus, milik seorang anak keeil,
kemudian bermain dengan anak itu hingga senja, dan
setelah berpisah ia berueap:
dan aku meneruskan kembara '
mengamati camar-camar terbang
di udara pelabuhan tua
hati dekat bahagia
merasa kelanaku sore itu
punya tujuan,
kini tersimpan aman
dalam palka kapal-kapalan
da'r'i semua bocah
di'semuapelabuhan.
Inti' pikiran dalam sajak itu adalah kedua bait terakhir.
Ia sanar bahwa tujuan hidupnya, atau apa yang masih biss.
diharapkan dalam hidup adalahanak~anak. Hal itu ia r~a
kari"sore itu, ketika berkata: 'hatidekat,bahagia'... Ia tak
mengatakan bahwa ia sudah me'ndapatkannya, tetapi de~
ngan sejenak merasakannya saja, ia suaah bersyukur.'
Dengan sederhana pula tokoh akurtienyatakan rindu dan
cintanya pada ayah, kakak,adik,aan ibunya dalain sajak
ttI}anau Toba" yang telah disebutkan dl atas. Say'a petikkan
~ebl'fgian sajakitu, ",' "
Aku rindu pada bahagia anak,
,Yang menunggti bapaknya datang',
Dan 'gtInung membawa puput,
Sepotong bambu tumbuh di paya-paya.'
Aku rindu bau-bau di musim
panen,
Gelak si tani, purba membakar jeraml;
Rindu pada si nelayan pulang dari
danau,
Menyandang pukat dan ikan di sore hari,.
155
Aku 'l'ihdu pada suarakaka~'
'M;emanggiJcaku pulang makan
Aku rindu pada adikku, yang rindu padaku,
Aku rindu bunyi palu tukang perahu,
Aku rindu lenguh sapi, pada bau
kerbau,
Aku rindu, rindu suara Ibu,
terkubur dipinggirdanau.
Aku rindu lonceng gereja bertalu-talu,
Secara keseluruhan sajak di atas menunjukkan bagai-
mana aku lirik sangat memerlukan sebuah kelua~ga. Setiap
'aku rindu'-nya membuka pengertian:barupaqa makna se-
buah keluarga, pada arti sebuah lingkungan, sebuah ritus
kes~harian. Ketika ia di a\'\Tal mE,!ngatakan 'aku rindu pada
bahagia anak/yang menun~gubapaknya datang',. seJiap
pembacamendapatsinggurigan baru yang mengl1arukan.
Ka~nasiapakah yang secara konkrit dapat merumuskan
apay-ang dimaksud. dengan kebahagiaan anak? Sangat
boleh'jadi, inilah pangkal sepi itu.
Dalam, sajak "Potret Ibu" dan "Potret Ibuoleh Afi'andi"
jelas bagaimana hat~ tpkoh terhadsR ibunya. Sajak.'~porta
Ni~a" dan "Membalas Surat Bapak"bahkan secara jelas
berbicara' mengenai pedang dan tombakdan pa.,Ia,&ajak
yang terakhir dikatakan bahwa baginya sang ayah adalah
'Jenderal dan Petani Purba', orang besar yang merupakan
tokoh identifikasi. Kt;ltElrangan itu sekaligus menggaris-
bawahi penangkapan.sayapada perlunya SS lagi dan lagi
memanfaatkan me~afor yang berhubungandengan kepur-
baan, misalnya batu, alam, gunung, danau, angin, mata-
hari, hutan, pemandangan tua ribuan tahun,' bahkan
kerbau dan dongeng pUl'ba. Ini· juga disangkutkan dengan
kegelisahan akan datangnya ajal yang memaksanya selalu
membincangkan 'Patung Waktu', 'Dinding Waktu', dan
'Ruang dan Waktu'. Karena sang ayah sangat berpengaruh
pada tokoh lirik, maka segala yang ada sangkutannya de-
ngan citra ayah,menjadi tampak di mana-mana. Hal itu
156
dapat dilihat pada seringnya kita temukankisah atau iius.,:
trasi mengenai Romawi, legiun-Iegiun yang berbarisi
berangkat perang, tokoh kesejarahan seperti Kublai Khan, .
citra yang menunjukkan kekokohan, kekuatan, dan keper-'
kasaan.
Dalam hubungannya dengan keperkasaan, dapat dising~
gung kisah "Matinya Juara Judi", yang diambil dari cerita
lama suku bangsa Batak. Pandai 88 menceritakan kembali,
sehingga dengan mudah dikenal kehidupan suku itu seperti
diwakilioleh tokoh utamanya: Iaki-laki. Pada bait pertama
kita dihentakkan oleh kalimat perintah: 'Janganlah beri
nama nanti/Pahlawanku mati apa/di akhir kisah'. 8eolah
picu, .kita justI-u ingin mengetahui, dan ingin meniadakan
perintah tersebut. Tokohnya memang tokoh yang kuat, pan-
dai berburu, dan jago main judi. Oleh karena itu, ia sangat
ditakuti. Ia dapat pula menari, pandai memetik kecapi dan
mengukir. 8ialnya, ia seialu menang dan dimenangkan,
peminum, pemarah, sel'ta korban utamanya adalah istrinya.
Dari bait ke-10 diketahui bahwa tokoh ini juga bukan
orang yang bisa dipercaya, ia bahkan egois. Ketika anak
Iaki-Iakinya .tidak bisa memberikall cucu, si tokoh kawin
lagi. Perkawinan baru itu hanya dapat memberinya tiga
anak perempuan, bukan lelaki yang dia harapkan. Ketika
ia menjadi tua dan sakit, dan pawangmenganjurkan peng-
adaan pesta (bait ke-21), ia menerima dengan hati ragu,
dan dalam penantian yang tak sanggup dihadapinya (bait
ke-24), ia pergi berburu, dan di sanalah ia 'berIumuran
darah'. Ironisnya, anak istrinya 'menyambutIiya dengan la-
gu ratap: "Kembali sudah, hem:bqli juara/Juarallu pulang
dari berburu rusa ... ". 'Demikianlah desa kami/kehilangaq
pahlawannya', kisah penxair meIlut~p sajak panjang itu. . .
~Melihat keperkasaan yang seakan amat diperlukan dalatn
sajak-sajak' di sini, dan meJ:'lyimak' sajak "Matinya Juara
Judi" yang disampaikan denganamat baik itu5 says me·
lihatketragis~n nasih tokohciptaan 88:.. ia perIu menjadi
perkasa, tetapi kisah nenak tnoyangnya sendiri menyedia~
kan justrusebaliknya. Juara. judi itu sehenarnya lembek,
tidak dewasa, bukan .lelaki·yang mengayomi anak istrinya.
Akan tetapi, iaadalah pahlawan, .dan tak perlu ada orang
15'7
yangmenila-i rPahl8i:wanku'mati' apa/di akhitt kisahtJ :i!J'qrW
kehidupan '!5eperti·te.rgambar dalam, 'kisah ini! dapat: dmIm~t
.logikan dengan;tokoh yang tak,.sanggup hidup'tanpa,perem..l
, puan, yang sekaligus butuh bertualang·tetapi kemp .nterasa,
sepLf
.Sajak iZ¥, sert&banyaksajak lain dalam'kunipula-n 'ini,
meninggalkan' penibacanya hiruk~pikuk merenungkankeser~,
banekaaD gelagat manusia di dunia. Ini antara lain halo
yang amatsaya gemari dari sajak-sajak:SS" walau ,harus
diakui ,tanda tanya dan, rasa gundah juga' menyikSa; .ter~
utama bila"tak dapat memahami. sajaknya.Sajak '~Surat"
yang saya tahuIQ.enyentuh, juga dengan' memahami bagai"!
mana cinta seO~ang. kakakpada adik laki-lakinya (terlebih
dalam suku yang' melahirkan SS; beradik 'lelaki .hanyalab:
anugerah!), tak- pernaft' bisa saya ,mengerti secara ."~ngkap.,
Mencoba, menjelaskan ,keindabannya dari segi struktur pun
sia-sm, maka saya terima saja ia sebagaihidup itu sendirh
tak hams aelaiu bisa dijelaskan. Hal serupa juga terjad~
padtJ...;sajak "~isturs di Med~n :P~r~I)g"~ diperlu,ka,n w~ktu
da.:l'keb'ijaks,a~ai).yang ~a~gat untuk ni~~ahaJlli alarsan SS
meiabh·~n. Kri~t~:;J ya:ng;,~erUpa? ,mengapri Ja"tisa
asfu. 'd aI"n~ " k e·am. . ' . .' " .... ,'. d e m i k i a n,1
.3. ,i. . .
., g " " r, , ' ,,"Yi ',' ,"/ "" ";
" . ; .
" .;
K~impulan
::~~~au \~ep.~~: fu~~li'Htik cialam:kumptilkn :ini, dilanda raSa
sept, dan disampaikan' dalal!lJ)er.ba~i 'rriarmer \dan matter,
aPEita,lt yang Bisa ,disimpiil~'n 'seba~ai. 1m~aElkllir(sehagai~
mana laiimnya' da]a~ tats 'krania"kehid'upan)? 'Yang pasti,
SS·'~~ih;~ tet~p ~'etteha#*~::J1i~~t:~~~ak' ~,frassau:' ~i Per:
batasan Austrla, Jerman, SWlSS"). I'a kuat dan dalam bukarl
hatiyadari isegii pemikiran; melainkan: juga' daTi'· segi,' pe-
nyampaian:· 'keseaerhanaannya' menyenangkan, ,. kaTena
memberi keaiFifan tanpa"pa~. KeS8df'lman.aap,ini pula
y.an.g,sering'mengecoh ,.'para; peinlDaca; 'Yang;datangdengan
niatmuluk ·Oihat ,sajak "Belaja'J'~qKeriJbali AlifData" ,yang
nien.gatakan', babWa.-, sasha. 'adalah: bah,asa ,n\a-nusiir· .paling
sederbanak:;Bel'bi~if'ai' mengenai ~;'l:inta, ill jUjur dan; tanpti
~lu; Kerinduann)'l1 pada kampung hala:manbahkari melIi-
158
;l>i~15 kepeduliannya pada .Ungkungan yang ;hancunt.~eperti
i~alam sajak "Permata Zamrud Khatulistiwa" danJ'Ziarah't".
Saya kim, seperti saya· seIltuh 'Sebelumriya,'sebagai 'orang
·dewasa si aku lirik sudah menerima bahwa iaadalah'sosok
hitam' ("Melintasi· Padang Salju"), 'manusia memenjara
,manusia' ("GerbaIlg"), yang tahu'bahwa kini/hariku larilt/
.dan sudah malam' ("Jakarta Malam"), mengenaI adanya
'bukitSuratan' ("Teater Yunanidi Epidaurus"), walau sadar
~'belum rela berkemas' ("Perhitungantl). Namun yanglebih
.pentirig, ia telah memilih dan menerimakeadaannya: sepefti
'Secarapenuh tampak dalam sajak "Tertegun MemaIldang
-Rota Koblenz" berikut:
Koblenz: Kota tua terlalu mesra
bertengger d:i tebingsuI,lgai Rhein
mengingatkan apa yang pernahdiingin:
Kediaman. Sebidang tumpah darah bertanda.
Heimat. Dambaan orang Jerman. Setia menanti
·betapa.jauhpun kembal'a, betapa pun
nasib peruntungan.·
Mendadak dalam pandang menjelma
jadi perlambang tuju tak akan kesampaian.
Lama sudah sadar
menjelangakhir kembara keterlaluan
di persimpangan benua
rindu bakal terus menebar
memilih kemerdekaan langlangbuana.
Tanpa rumah. Tanpa harta.
Seperti umumnya sajakSS, sajak ini pun jelas me-
nyata'kan maksudnya, pernah ingin ber-'kediaman',. tetapi
':n}eIll.ilihkI'lJillerd~kaan langlangpuan,a/Tanpa ruma}:l. Tanpa
h.arta'dengan memanfaattmn,.k.fi!sahajaan.
"4 ' ',-, ,
Penutup
Setelah membaca sajaJt-sajakSS, saya ·Illelihat manusi~
dengan berbagai masalah yang. dihadapinya, •yah~keseIll\1Q."
nya . berasal dari rasa sepinya;··Tampak manusia'1aug rAga
tetapi tegar, sombong sek~ligus lemah,bersikap '·kanak
namunbertindak dewasa, tokoh tragis yang terus inencari.
159
Seba.gai penutup, sajak "Lagu Anak-anak 'Naik Kereth
Api'" lngin saya .pakai untukmelihat diri sendiri di tengal1
impian menjadj 1llanusia. S~cara halus sajak '(versi dewasa)'
ini menyentuh inti permasalahan orang dewasa, yang. hen-
dak melancong sejauh-jauhnya, lupa bahwa sesungguhnya
kebahagiaan yang dicari itu ada di sampingnya. Di sini
tokoh lirikmemberi teladan, memperagakan persis seoraTig
anak. Bandingkan dengan sajak "Affandi PenghuniRumah
Pohon" yang meyakini keberadaannya sebagai kanak 00"-
munsanggup mencipta 'Qatu-bat;u muntahan lahar Merapi~.
Inilah, semangat anak~anak,. melihat dengan hati .anak".
anak, yang sering menyelamatkan saya dari pembacaan
yang menyesatkan.
Satu hal yang tak boleh ditinggalkan daripengalaman
membaca sajak-sajak ini adalah menemukan semangat pe-
nyair. Benar ia katakan dalam sajak "Jamuan di Tashkent"
bahwa 'penyair bersemangat anak-anak', namun yang seru
adalah realisasinya.. Bagaimana penyairdengankepenuhan
jiwanya, ,seperti anak kecil menerima hidup dan menggam-
barkannya, seolah baru. Ibarat ilmuwan, ia menemukan
sesuatu.Itulah sebabnya, keharuan yang didapat dalam
pembacaan ini bukan karena pertukangan kata-kata, me-
lainkan lebih karena kekanakan gambarnya: jernih, seder-
hana, tulus. Sesaat kita perIu merenung, mencari apa yang
hendak diucapkannya, hal yang hampir selalu terjadi ka-
rena polusi dunia orang dewasa. Akan tetapi, dari peng-
alaman membaca kaH ini, jawaQanselalu ada, dekat, dan
tepat.
Sajak-sajak dengan referensi berituk pantun, gurindalp,
kwatrin,sekstet,distikon, seloka, haiku serta umumnYa
sajak bebas ini, lebih menarik karena pengucapannya:. SS
tidak sangat terikat pada bentuk, tetapi diaHlh yang me-
nguasainya sesuai dengan tuntutan bahan yangdijahitnyf(.
Oleh karena itu, lahirlah jahitan yang menggunakan aksen
berbada, pakaian sesuai zaman, tetapi tampak·keluar· dari
ta.ngan SS. Referehsi kepurbaan,alam,lakuan cinta sebagai
latarserta pemakaian kejutah,gaya retoris,a.khir yang
afirmatif, kontras, pa'tadox, ironi, dengan diksi puitik yang
(sungguh!) menimbulkan metafor yang mendekatkan, me-
160
rupakan alat SS. Kemahiran SS mempermainkan bunyi
menyebabkan sajaknya, walau semula perlu pemikiran, mu-
dah dikenang dan bertahan.
Tanpa melupakan kecenderungan SS menggunakan ulang
kata atau frasa seperti 'di suatu pagi cerah' dalam sajak
"Balige" dan "Jakarta Malam" dan pemanfaatan pola yang
sama dalam beberapa sajak, serta penampilan sajak-sajak
pendek yang seolah kekurangan referensi, semua alat yang
dipakainya itu, pada akhirnya menimbulkan kesan adanya
kesungguhan dan kekuatan, adanya kebulatan pikiran. Hal
itu bukan hanya karena tema yang digelutinya dan ter-
tu~ng melalui pilihan katanya, tetapi lebih sebagai cara
memikirkan dan memperlakukannya! Kehalusan sapa SS
~elahirkan r~sa dekat dan manis: dia pencerita yang
~ahir. PerikSalah sajak "Si Anak HilanglMembaca Injil
4alam Kenangan", "Matinya Juara Judi", "Danau Toba",
dan jangan lupa "Lagu Gadis Itali", "Semua serba kusut,
Sayang", "Lagu Anak-anak 'Naik Kereta Api'" dan "1961": di
sana tampak kemampuan SS menulis puisi dengan
perangkat prosa, drama, dan esei.
Jakarta, Agustus 1993
CATATAN
1. Ezra Pound, "The Serious Artist" (1913), Literary Essays,
ed.T. S. Eliot (London: Faber & Faber, 1954), h. 50.
2. W.K. Wimsatt, "The Intentional Fallacy" dalam The Verbal Icon
(London: Methuen, 1970), h. 4-5.
3. Budaya Jaya, No. 97, Th. 9, Juni 1976, h. 366-367.
4. Klaus Theweleit, Male Fantasies (Minneapolis: University of
Minnesota Press, 1987)
5. Sajak ini mengesankan sajak naratif, tetapi SS menggunakan
pendekatan drama di dalamnya. Penokohan yang mendetil
merupakan paparan yang menjelaskan duduk perkara, dan
dapat membuka pemahaman akan rumit dan mengesankannya
kisah ini. Periksalah bait ke-7, 8, 12, dan 17, di sana terdapat
cakapan-cakapan yang menunjukkan keunikan tokohnya. Tokoh
tragis dalam kisah ini adalah si tokoh utama.
161
j: !l!:, : 'u £}'(I;It)M:Jl
,:..~' !~..J'f!'UHi!!tt!
dJ3l'.f
'I
,·,.hi
,~ : !f:: I) \,
'( .:
::1
[lr.\i":J
.lJ-'!;V4F~·f:i':"~,d'-.\·":·~~, T;""~
i i"'.k} ,~! ':l~
BIOGRAFI SINGKAT
Sitor Situmorang dilahirkan di Harian-
boho (Sumatra Utara), 2 Oktober 1924.
Berpendidikan HIS (Balige dan Sibol-
ga), MULO (Tarutung), AMS (Jakarta),
dan pernah memperdalam pengetahu-
.anmengenai sinematografi di Univer-
sitas California, }\S (1956-57). Pernah
bermukim di Singapura (1943), Amster-
dam (1950-51), Paris (1951-52), Leiden
. (1982-90), dan kini bermukim di Is-
lamabad, Pakistan (sejak 1991). Pernah
menjadiredaktur:harian Suara Nasiol1al (Tarutung, 1945-46),
barian WasTlada (Medan, 1947; kemudian menjadi korespon~
dennya di Yogyakarta, 1947-48), harian Berita Indonesia dan
Warta Dunia (Jakarta, 1957). Di samping itu, ia juga pernah
menjadi: pegawai jawatan Kebudayaan Departemen P&K,
dosen Akademi Teater Nasional Indonesia (Jakarta), anggota
Dewan Nasional (1958), anggota Dewan Perancang Nasio-
naI, anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara
(mewakili goiongan karyawan seniman~J anggota Badan
Pertimbangan Ilmu Pengetahuan (196J'~2), dan Ketua Lem-
baga Kebudayaan Nasional (1959-68).
Kumpulan cerpennya, Pertempuran dan Salju iii Paris
(1956), mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN 1955/56
dan kumpulan sajaknya, Peta Perjaianan (1976), memperoleh
Hadiah Puisi Dewan Kesenian Jaka~ta 1976/1977. Karyanya
yang lain: Surat Kertas Hijau (1954), laian Mutiara (1954),
Dalam Sajak (1955), Wajah Yak Bernama (1956), Zaman Baru
(1962), Pangeran (1963), Sash'a Revolusioner (1965), Dinding
Waktu (1976), Sitor Situmorang Sastmwan 45 Penyair Danllu
163
Toba(t98i), t;Ja~aa,i TOYdi:f1.9ti{)~ lA.hgi~(bkli~u (1982), dan
Bungadi AtaS Biltu' (1989):
H~sil pe,nelitiannya mengenai kebudayaan Batak: Toba Na
. Sae (1993) dan Guru Somalaing dan Modigliani "Utusan Raja
Rom" -(1~93r. '.
Terjemahannya: Triffid Mengancam Dunia (karya John
Wyndham, 1953), Betlehem (karya M. Nijhoff, 1954), Menen-
tukanSikap (karya .Eduard du Pern;>n,
(I¢ry~ Rpq'Nieil wenhuys, 1977t)~an', Jai
'. Studi. mengenai ivlrya 'S?: J.Q.Nas ..
se~,!gai' PenYalT dan Pengarang C~a.
Sastr(}~ardoyo" M,anu~ia. Te1f,!s{n&' Ji
(I97(:j),Wing Karqjo, ;Sitor Sitt(m;Qr~1!g~
Pfleti ind(j1Jesien(d,isert~si; Univers;ite
MOQik9 Wizemann, Sitor Sittfmortptg:-"
ft;nter, Berucksiehtig11rzg derthematischm .
keit, YeriirzgJiphkeit, Entfrem!iung und Sensupht {~tdij~ijn(,h
Wolfgang Goethe-Universitat, Frankf1!l;rt/M, '~)""-'1I''''''''''U
M,!Iia,£lisabeth ,Carle, Dtl$ Motivdtl.... tierlorene Sohne~ im
lyrist;hen Werk .von Sitor Situmorang (skripsi; ·Universita.t zu
l<6In,)9~6).
16'4