The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by BENGKEL LITERASI SMP NEGERI 3 AMPEK ANGKEK, 2025-11-18 22:41:52

RESTI

RESTI

BAYANG-BAYANG DENDAM RESTI ADELIA PUTRI SMP NEGERI 3 AMPEK ANGKEK


RESTI ADELIA PUTRISMP Negeri 3 Ampek AngkekHak cipta @2025 Bengkel Literasi SMP Negeri 3 Ampek AngkekPenulis : RESTI ADELIA PUTRIDesain : RESTI ADELIA PUTRIEditor : Mariratul MawaddahPenerbit : Bengkel Literasi SMP Negeri 3 Ampek Angkek


KATA PENGANTARAlhamdulillah, segala Syukur kehadirat Allah yang selalu melimpahkan berkah dan Rahmat kepada kita semua. Sehingga buku karya siswa SMP Negeri 3 Ampek Angkek tahun 2025 ini dapat diselesaikan dengan baik.Tujuan penulisan buku ini adalah sebagai salah satu bentuk giat literasi bagi guru dan siswa di SMP Negeri 3 Ampek Angkek.Berimajinasi dan menarasi untuk menghasilkan sebuah buku adalah suatu hal yang membutuhkan proses pemikiran dan pengalaman dalam menulis. Namun meskipun sulit, pada akhirnya buku ini selesai ditulis.Batu Taba, Agustus 2025Kepala SekolahYetti Yulia, M.Pd.


BAYANG-BAYANG DENDAM BAB 1Mentari pagi ini terasa berbeda, sinarnyamenyelinap di antara gedung-gedung tinggi menyambut hari pertamaku di kota yang berdenyut ini. SMA baruku, sebuah istana ilmu dengan gerbang yang menjulang, menantiku dengan segala pesonanya. Di balik seragam baruku, jantungku berdebar tak karuan, menantikan petualangan baru, persahabatan baru, dan mungkin... cinta yang tak terduga.Alarm berbunyi, bukan suara yang kusuka, tapi hari ini berbeda. Ada rasa penasaran yang mengalahkan kantuk. Aku meregangkan tubuh, menatap langit kota yang mulai memerah. Seragam baru ini masih kaku, tapi sudah melekat di tubuhku. Di meja makan, Papa sudah membaca koran, Mama sibuk menyiapkan sarapan. Aroma telur dadar dan teh hangat memenuhi ruangan, menciptakan suasana hangat dan nyaman.\"Bella, ayo turun, sarapan dulu.\" Suara Mama terdengar lembut, tapi aku tahu ada nada khawatir di


sana. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Hari ini, aku bukan hanya Bella, tapi juga murid baru, anak pindahan. Aku menuruni tangga, berusaha tersenyum, tapi jantungku berdebar kencang. Papa dan Mama menatapku dengan senyum hangat, mencoba memberiku semangat.\"Bella, hari ini hari pertamamu di sekolah baru, ya? Papa harap kamu bisa segera menemukan tempatmu di sana.\" Papa menatapku dengan mata penuh harap.\"Pasti, Pa,\" jawabku, berusaha menyembunyikan kegugupanku.\"Aku akan berusaha menemukan teman baru dan beradaptasi secepat mungkin.\" Senyumku mengembang, meski sedikit dipaksakan.Papa mengemudikan mobil dengan tenang, sementara aku memandangi pemandangan kota yang asing dari jendela. Gedung-gedung tinggi menjulang, lalu lintas padat, dan suara klakson bersahutan. Sekolah baruku pasti ada di antara keramaian ini. Aku menggigit bibir, membayangkan lorong-lorong sekolah


yang penuh dengan wajah-wajah baru. Mungkinkah aku akan menemukan teman di sana?Aku melangkah keluar dari mobil, merasa seperti alien yang baru mendarat di planet asing. Semua orang menatapku, bisik-bisik terdengar di sekelilingku. Aku merasa kecil dan rapuh.\"Pa, Bella masuk dulu, ya?\"\"Semangat, Bella,\" kata Papa sambil mengeluspundakku.\"Jangan takut, kamu pasti bisa.\"•••Langkahku mantap memasuki gerbang sekolah, lalu menyusuri koridor yang ramai. Ruang guru, dengan pintu kayu bercat cokelat, tampak hangat dan sibuk. Aku mengetuk pintu, dan suara ramah menyambutku.\"Selamat datang, Isabella\" sapa seorang wanita berambut pendek dengan senyum lebar. Beliau adalah wali kelasku. Kami berbincang sejenak, membahas jadwal pelajaran dan peraturan sekolah.


Suara bel menggema, mengakhiri kebisingan obrolan siswa. Wali kelasku memasuki kelas, senyum ramah menghiasi wajahnya. \"Selamat pagi, anak-anak. Hari ini kita punya kejutan spesial.\" Terdengar bisik-bisik penasaran dari bangku belakang.\"Kita kedatangan murid pindahan dari SMAPelita Bangsa. Ayo, silakan masuk!\"\"H-halo semuanya,\" sapaku, suaraku bergetar sedikit. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.\"Perkenalkan, nama saya Isabella Lumière. Saya murid pindahan dari SMA Pelita Bangsa. Semoga kita bisa berteman baik, ya?\" Aku tersenyum tipis, berusaha menyembunyikan kegugupanku.\"Bella, silakan duduk di belakang Alaska,\" kata Bu Ellen. Aku menoleh, mencari sosok yang bernama Alaska. Seorang siswa dengan rambut gelap dan mata yang berbinar menoleh ke arahku. Dia tersenyum, senyum yang tulus dan menenangkan. Aku duduk, merasa sedikit lebih nyaman. Alaska memiliki aura yang ramah, tidak seperti yang kubayangkan. Aku


mengeluarkan buku pelajaran, mencoba fokus pada penjelasan guru.••• Bel istirahat berdentang nyaring, membebaskan siswa dari hiruk-pikuk pelajaran. Aku tetap duduk di bangku, mengamati siswa-siswa yang berhamburan keluar kelas. Tiba-tiba, Alaska berdiri di depanku, senyumnya misterius.\"Hai, Bella,\" sapanya, suaranya rendah dan serak.\"Aku Alaska. Boleh aku berteman denganmu?\"Aku terdiam, menatap matanya yang tajam. Ada sesuatu yang menarik sekaligus menakutkan dari Alaska. Aku mengangguk perlahan, merasa seperti sedang memasuki permainan yang berbahaya.Alaska terus berbicara, berusaha membuatku merasa nyaman. Aku merasa terkesan dengan caranya yang ramah, tapi aku masih ragu untuk membuka diri. Mengapa dia begitu ingin berteman denganku? Apa yang diinginkannya? Aku menatapnya, mencoba


membaca pikirannya. Akhirnya, aku memberanikan diri. \"Mengapa kamu ingin berteman denganku?\" tanyaku, suaraku pelan tapi tegas.\"Aku melihat kamu orang yang baik dan menarik, dan aku merasa kita bisa menjadi teman baik.\"\"Kenapa kamu pindah?\" tanya Alaska, tatapannya tajam tapi tidak mengancam.\"Pekerjaan ayahku,\" jawabku, suaraku datar.\"Dia harus pindah ke sini.\" Aku menatapnya, mencoba membaca pikirannya. Mengapa dia begitu ingin tahu? Apa yang disembunyikannya? Alaska tersenyum, senyum yang misterius dan sulit ditebak. Dia memperhatikanku dengan seksama, seolah dia sedang mencari sesuatu yang tersembunyi. •••Bel masuk berdentang, mengakhiri waktu istirahat. Bu Ana memasuki kelas dengan langkah mantap, memulai pelajaran dengan suara yang tegas. Aku mencoba fokus pada penjelasan guru, tapi pikiranku terusik. Alaska, yang duduk tepat di belakangku, terus menatapku dengan senyum


misterius. Aku merasa risih, tapi juga tertarik. Mengapa dia terus menatapku seperti itu? Apa yang ada di pikirannya? Aku mencoba mengabaikannya, tapi tatapannya terasa seperti magnet yang menarik perhatianku.Setiap kali mata guru meluncur di atas kelas, seolah tertarik magnet, pandangannya selalu kembali padaku. Mungkin, kehadiranku yang baru membuatnya penasaran.\"Apakah dia murid baru?\" tanya Bu Guru, suaranya memecah keheningan kelas. Semua mata tertuju padaku. Dengan jantung berdebar, aku mengangkat tangan.\"Ya, Bu,\" jawabku mantap, \"Saya murid baru di sini. Nama saya Isabella Lumiere.\" Aku tersenyum, mencoba menyembunyikan rasa gugup, lalu duduk kembali.\"Baiklah Bella , maju ke depan dan jawab pertanyaan ini,\" kata Bu Ana sambil menunjuk soal di papan tulis. Aku berjalan ke depan, merasakan lantai kelas yang dingin di bawah kakiku. Aku menundukkan


kepala, mencoba fokus pada soal. Aku menulis jawaban dengan cepat, lalu berbalik menghadap Bu Ana.\"Sudah, Bu,\" ucapku, suaraku pelan. Aku kembali ke tempat dudukku, merasa seperti baru saja melewati ujian yang menegangkan.Pujian guru menggema, \"Bella, hebat! Semua jawabanmu benar. Tepuk tangan membahana, dan Alaska, dengan senyum menawan, berkata,\"Benar-benar mengagumkan.\"Senyum tipis terukir di bibirku saat melihatnya. Guru kembali memandu pelajaran, kali ini dengan sederet soal menantang. Ruangan hening, hanya terdengar suara gesekan pensil di atas kertas. Kulihat sekeliling, wajah-wajah siswa tampak berkerut, tanda kebingungan. Namun, bagiku, soal-soal itu seperti tekateki yang mudah dipecahkan.Alaska menoleh, raut wajahnya menunjukkan kebingungan.\"Bella, bisa tolong jelaskan nomor tiga ini?\" Dengan senang hati, aku membantunya memahami soal tersebut.


\"Akhirnya aku paham, terima kasih ya, Bella!\" katanya dengan wajah lega.\"Sama-sama, jangan sungkan untuk bertanya lagi,\" balasku.\"Wah, terima kasih banyak ya Bella kamu baik sekali,\" ucapnya tulus. Aku hanya membalas dengan senyuman.•••Jam dinding berdentang tiga kali, menandakan akhir dari hari yang panjang. Bel berbunyi nyaring, membebaskan kami dari ruang kelas. Dengan sigap, aku merapikan meja, memasukkan buku-buku ke dalam tas. Langkahku tergesa-gesa menuju gerbang. Di gerbang sekolah, aku berdiri, menanti mobil Papa muncul di ujung jalan.\"Langkahku terhenti oleh teriakan dari belakang.''Bella! Tunggu!'' Alaska berlari mengejarku,napasnya terengah-engah.


''Ini,'' katanya, menyodorkan sebuah pena. ''Penamu jatuh tadi.''''Oh, ya ampun, terima kasih banyak!'' ujarku, tersenyum lega.''Sama-sama,'' balasnya, senyumnya ikut merekah. Tiba-tiba, klakson mobil terdengar.\"Alana, ayo!'' seru Papa dari dalam mobil.''Alaska, aku harus pergi dulu. Papa sudah datang,\" pamitku.''Hati-hati, Bella!'' serunya, melambaikan tangan.Dengan senyum lebar, aku meluncur masuk ke dalam mobil, melambaikan tangan pada Alaska. Di sepanjang perjalanan, aku menangkap pantulan senyum misterius Papa di kaca spion. Rasa penasaran menggelitikku, ''Papa, kenapa senyum-senyum begitu?'' tanyaku, memecah keheningan.\"Ah, Bella, Papa senang melihatmu sepertinya sudah mendapatkan teman baik di sekolah,\" jawab Papa sambil terkekeh pelan.


\"Teman baik? Maksud Papa?\" tanyaku, sedikit bingung.\"Itu tadi, apa dia... teman spesialmu?\" goda Papa, dengan senyum nakal.\"Bukan, Pa! Dia hanya teman sekelas yang kebetulan mengembalikan penaku yang jatuh,\" bantahku, wajahku sedikit memerah.\"Oh, Papa salah sangka,\" kata Papa, masih dengan senyumnya.\"Ya ampun, Pa, mana mungkin!\" aku menggelengkan kepala, merasa sedikit malu.•••Mobil memasuki halaman rumah, mengakhiri perjalanan pulangku. Aku segera turun, tas sekolah bergantung di pundak. Saat memasuki rumah, aroma lezat masakan Mama tercium. Kulihat Mama sedang menyiapkan makan siang di dapur. Aku pun bergegas ke kamar, ingin segera mandi dan berganti pakaian.


Setelah berganti pakaian, aku langsung turun untuk makan siang bersama keluarga. Papa dan Mama sudah duduk di meja makan, senyum mereka menyambut kedatanganku. Aku menarik kursi, duduk di antara mereka, dan menyapa dengan penuh semangat. \"Yuk, Ma, Pa, kita makan!\"Kebahagiaan terpancar dari setiap sudut meja makan. Kami saling bertukar cerita, berbagi tawa, dan menikmati kebersamaan. Aku berharap keluarga kecilku akan selalu dipenuhi dengan cinta dan kebahagiaan seperti ini.\"Sayangku, bagaimana petualangan pertamamu di sekolah baru tadi? Ceritakan semuanya pada Mama.\"\"Wah, Ma! Seperti masuk ke dunia lain! Sekolahnya besar sekali, labirin lorongnya bikin aku hampir tersesat! Dan aku sudah menemukan teman baru.\"\"Wah, Mama senang mendengarnya. Pasti banyak cerita menarik, ya?\"Disela-sela perbincangan aku dan Mama, Papa tersenyum dan menyelip perbincangan kami.


\"Ma, Bella, akhir pekan ini kita bikin petualangan seru, yuk!\"\"Wah, ide bagus! Kapan kita berangkat, dan ke mana?\"\"Mama ikut saja. Bella sepertinya sudah tidak sabar ingin menjelajah dunia.\" (Mama tersenyum melihat Bella yang melompat-lompat kecil).\"Iya, Ma! Aku ingin ke tempat yang belum pernah kita kunjungi!\" Seperti ada kembang api yang meledakledak di dalam diriku, aku langsung melesat ke kamar. Akhir pekan ini bukan sekadar jalan-jalan biasa, ini adalah petualangan! Ke mana ya kita akan pergi? Dengan senyum lebar, aku mulai menyusun barangbarang, setiap lipatan pakaian terasa seperti lembaran peta harta karun.


BAB 2Alarm alami berbunyi! Matahari terbit, dan aku pun terbangun dengan semangat membara. Hari ini adalah hari yang kutunggu-tunggu! Liburan keluarga! Tanpa membuang waktu, aku melompat dari tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi, siap untuk memulai hari yang penuh keseruan.Hatiku dipenuhi kebahagiaan yang meluap-luap, sebuah harapan tulus agar kehangatan keluarga ini tak pernah pudar. Setelah segar dari kamar mandi, aku bergegas mengenakan pakaian liburan yang dengan penuh cinta dipilihkan Papa, seolah setiap jahitan menyimpan kenangan indah.\"Wow, baju ini keren banget! Papa memang tahu seleraku!\" Aku berputar di depan cermin, takjub dengan pilihan Papa. Dengan langkah riang, aku bergegas turun, tak sabar memulai petualangan.\"Mama, Papa, semua sudah siap? Ayo kita berangkat!\"


Kulihat Mama dan Papa sudah duduk manis di meja makan, senyum mereka menyambut kedatanganku.•••Pemandangan pantai yang indah menemani perjalanan kami. Alunan musik menambah suasana menyenangkan. Tiba-tiba sebuah notifikasi muncul dari nomor tidak dikenal.''Siapa yang mengirim pesan ini?'' Dengan perasaan penasaran, aku membuka pesan tersebut.\"Siapa ya? Mana nomornya nggak dikenal lagi.\" Gumamku heran.\"Nah, kita sudah sampai!\" seru Papa sambil mematikan mesin mobil. Aku segera melompat keluar dan menarik koper dari bagasi.\"Pa, kita nginep di mana nih?\" tanyaku penasaran.


\"Tenang saja, Putriku. Semuanya sudah Papa atur. Kamu tinggal menikmati liburan ini.\"•••Senja merayap, langit berubah warna menjadi lembayung yang memukau. \"Akhirnya, kita sampai juga di penginapan!\" seruku, menghempaskan tubuh ke sofa empuk di ruang tamu.\"Ya ampun, kaki rasanya mau copot! Perjalanan tadi benar-benar menguras tenaga.\"\"Aku mau mandi air hangat, lalu langsung tidur,\" gumamku, menarik koper ke kamar. \"Ganti baju dulu, deh. Mata sudah berat banget ini.\"TINGGG..... *Sebuah notif masuk*\"Hmm, siapa yang chat malam-malam begini?\" gumamku, membuka aplikasi pesan.\"Dia lagi? siapa nomor tak dikenal ini, ada yang aneh\", ucapku heran.\"Ah sudahlah, mendingan mandi daripada mikirin hal gini.\" Kamar mandi dengan lampu temaram menjadi


oase setelah perjalanan panjang. Aku membiarkan air hangat membasuh tubuh, merasakan setiap tetesnya merilekskan otot-otot yang tegang. Setelah selesai, aku mengenakan pakaian tidur yang nyaman, siap untuk menikmati malam yang tenang.•••\"Nah, sudah pakai piyama nyaman nih. Sekarang saatnya rebahan dan melupakan semua lelah perjalanan.\"•••Udara pagi yang segar menyelinap masuk melalui jendela, membangunkan tidurku. Drrttt drrrttt. Alarm berbunyi, tapi aku masih merasa berat untuk bangun.\"Masih ngantuk...\" keluhku, sambil meregangkan tubuh. Tapi, bayangan pantai yang indah dan kebersamaan dengan keluarga membuatku bersemangat. Aku segera bersiap-siap, tak sabar untuk menciptakan kenangan indah hari ini.


Tak terasa, mentari senja mulai merayap turun, mewarnai langit dengan semburat jingga dan ungu. Jam dinding di kamar penginapan menunjukkan pukul 3 sore. Suara deburan ombak yang tadinya riang, kini terdengar sendu, seolah ikut merasakan kesedihan hatiku.\"Aduh, nggak kerasa waktu liburan udah habis aja,\" gumamku sambil menatap nanar ke arah laut lepas.\"Padahal aku masih ingin berlama-lama di sini.\"Aku bergegas mengemasi barang-barang, memasukkan pakaian dan oleh-oleh ke dalam koper. Setiap lipatan baju, setiap souvernir yang ku sentuh, seolah menyimpan kenangan indah yang baru saja kuukir bersama keluarga.Di tengah perjalanan pulang yang diwarnai rintik hujan dan jalanan lengang, ponselku tiba-tiba bergetar. Sebuah notifikasi muncul di layar, menampilkan nomor asing itu kembali Alis mataku terangkat, antara kaget dan waspada.“Nomor ini lagi?” gumamku pelan. “Dia siapa sih sebenernya ”


Aku membuka pesan itu. Bukan teks biasa, melainkan sebuah pesan suara Dada terasa sesak, entah kenapa. Ada sesuatu yang berbeda.Dengan ragu, aku menekan tombol play. Suara Asing terdengar jelas, tapi ada sesuatu di baliknya nada yang seolah menyembunyikan sesuatu.“Halo,” suaranya terdengar datar. “Kalau kamu dengar ini, berarti semuanya sudah mulai. Jangan berhenti di lampu ketiga. Terus jalan. Apa pun yang terjadi, jangan lihat ke belakang.”Pesan itu berhenti mendadak, meninggalkan dengung samar dari hujan dan deru mesin kendaraan yang lewat. Aku terpaku menatap layar, merasa udara di sekeliling tiba-tiba menjadi lebih berat.Apa maksudnya—dan kenapa seolah dia tahu aku sedang di jalan itu sekarang?•••


Debu perjalanan masih menempel di kulit, namun rasa lelah langsung sirna begitu melihat rumahku berdiri kokoh di hadapan.\"Akhirnya sampai rumah juga,\" gumamku sambil meregangkan otot-otot yang kaku. Jam dinding menunjukkan pukul 18.16 sore, waktu yang pas untuk menyegarkan diri sebelum malam tiba.Aku bergegas menuju kamar mandi, membiarkan air hangat membasuh tubuhku, menghilangkan penat perjalanan. Setelah mandi, aku berdiri di depan lemari pakaian, menatap koleksi baju yang berjejer rapi. Malam ini bukan malam biasa, malam ini aku akan bertemu dengan teman lama ku dan aku ingin tampil berbeda.\"Duh, yang mana nih?\" gumamku sambil mengacak-acak isi lemari.\"Bingung gue... Eh, ini aja deh, jarang dipakek nih.\" Aku meraih sebuah gaun berwarna biru tua, dengan potongan sederhana namun elegan. Gaun ini jarang kupakai, namun entah kenapa, malam ini aku merasa gaun ini adalah pilihan yang tepat.


Aku memadukan gaun itu dengan sepatu hak tinggi berwarna hitam, yang akan membuatku terlihat lebih tinggi dan percaya diri. Lalu, aku duduk di depan meja rias, menatap wajahku yang sedikit pucat.\"Hmm... pake make up dikit kali ya, biar gak terlalu pucat,\" gumamku sambil mengambil palet eyeshadow. Aku mengaplikasikan eyeshadow berwarna cokelat muda, memberikan sedikit sentuhan maskara, dan memoles bibir dengan lipstik berwarna merah muda alami.Aku menatap pantulan diriku di cermin. Gaun biru tua itu terlihat pas di tubuhku, dan sentuhan make up membuat wajahku terlihat lebih segar. Aku merasa percaya diri, namun di saat yang sama, rasa gugup mulai menggelitik perutku.\"Rasanya senang sekali ingin bertemu dengan teman lamaku.\" Aku mengambil tas kecil berwarna hitam, memasukkan ponsel dan dompet. Lalu, aku menyemprotkan parfum favoritku, aroma vanila yang lembut dan menenangkan.Jam dinding di ruang tamu berdentang, menandakan pukul 19.00. Waktu yang tepat untuk


bertemu teman lamaku. Aku bergegas menuruni tangga, langkahku ringan namun jantungku berdebar kencang. Di ruang tamu, Papa dan Mama sedang bersantai sambil menonton televisi.\"Waduhh, anak Papa cantik kayak gini mau kemana nih?\" tanya Papa, matanya berbinar-binar melihat penampilanku.\"Aku mau makan malam dengan temanku, Pa,\" jawabku sambil tersenyum, pipiku sedikit merona.\"Yakin teman nih?\" tanya Mama sambil melirikku dengan tatapan menggoda. Aku tahu, Mama sedang menggodaku.\"Iya, Ma, Pa, cuma teman kok,\" jawabku\"Hati-hati ya,\" ujar Papa sambil menatapku dengan tatapan penuh perhatian. \"Kalau ada apa-apa, langsung telepon Papa ya.\"\"Iya, Pa, tenang aja,\" jawabku sambil mengangguk. Aku tahu, Papa selalu khawatir jika aku pergi malam-malam.\"Jangan pulang terlalu malam ya, Nak,\" tambah Mama sambil tersenyum lembut.


\"Iya, Ma,\" jawabku sambil mencium pipi Mama.Aku membuka pintu cafe dan langsung disambut Lyodra dan Aqeela. Fix, reuni di sekolah baru ini wajib dirayakan dengan nostalgia gila-gilaan soal masa SMP. Saat lagi seru-serunya ketawa, Aqeela menyikut lenganku pelan.\"Bel, psst, coba lihat deh cowok yang itu,\" bisiknya, suaranya hampir hilang di antara musik. \"Gerak-geriknya... gak wajar.\" Aku mengarahkan pandangan. Di meja pojok, duduk seorang pria, tersembunyi di balik siluet hoodie hitam dan topi yang menutupi separuh wajahnya. Vibes-nya bener-bener gak cocok sama suasana cafe yang ramai. Dia memegang koran yang terlipat rapi, tapi pandangannya sesekali mengintip dari balik bingkai kacamata gelapnya.Entah kenapa, ada firasat aneh yang menusuk. Dia tampak seperti bayangan yang mencoba berbaur, namun justru paling menarik perhatian. Apa yang dia tunggu? Kenapa harus menutup diri sebegitunya? Seolah-olah identitasnya adalah rahasia yang harus dijaga.


Malam makin larut, lampu-lampu di cafe mulai diredupkan. Kami pun memutuskan untuk bubar, mengakhiri reuni seru itu. Setelah pamit, aku langsung tancap gas pulang.Jalanan malam itu sepi dan gelapnya menusuk. Saat mataku melirik ke kaca spion tengah, jantungku langsung mencelos. Ada sebuah motor. Lampunya persis di belakangku, mengikuti setiap gerakanku.Awalnya kukira kebetulan, tapi motor itu tidak pernah menjauh. Aku injak gas lebih dalam, laju mobilku meningkat. Tapi si motor sialan itu? Dia tetap setia, menjaga jarak yang sama. Rasa takut dan penasaran bercampur aduk jadi satu, membuat bulu kudukku berdiri. Siapa dia? Jangan-jangan... pria dari cafe tadi?Akhirnya, mobilku sampai di depan pagar rumah. Aku buru-buru menekan tombol gerbang dan memasukkan mobil ke garasi. Saat mesin mobil mati, keheningan mencekik.Tepat sebelum aku menutup pintu garasi dan bergegas masuk ke rumah, sekelebat bayangan tertangkap di ujung mataku. Di balik pohon besar di


pinggir jalan, ada sosok berdiri. Siluet laki-laki itu diam, mematung, dan jelas sekali sedang mengamatiku.Aku pura-pura tidak melihat, berusaha bersikap normal. Cepat-cepat kubuka pintu rumah dan masuk. Aku kunci pintu berkali-kali. Namun, kakiku tak bisa menjauh dari jendela. Diam-diam, dari balik tirai, aku mengintip keluar.Pohon itu masih di sana. Sosok itu? Sudah menghilang. Tapi ada sesuatu yang terasa salah. Pintu pagar rumahku tertutup rapat. Ke mana dia pergi secepat itu? Malam terasa panjang, dan aku yakin seratus persen, aku tidak sendirian.Di kamar, aku segera membersihkan diri, mengganti pakaian dengan piyama tidur yang nyaman.\"Aduh, capek banget,\" gumamku sambil menguap lebar. Aku merebahkan diri di tempat tidur, merasakan kasur yang empuk memeluk tubuhku yang lelah dan melupakan sosok pria laki-laki asing itu•••


Sinar matahari pagi yang hangat menyelinap masuk melalui celah gorden, membangunkan aku dari mimpi indah tentang Alaska. Semalam, aku bermimpi kami sedang menari di bawah bintang-bintang, tawanya menggema di telingaku. Aku tersenyum, merasakan sisa-sisa kebahagiaan mimpi itu.Dengan semangat yang membara, aku melompat dari tempat tidur dan bergegas menuju kamar mandi. Air dingin menyegarkan tubuhku, menghilangkan sisa-sisa kantuk. Aku berdandan dengan cepat, mengenakan seragam sekolahku yang rapi. Hari ini, aku merasa sangat bersemangat untuk pergi ke sekolah.Aku menuruni tangga dengan langkah ringan, aroma kopi dan roti bakar menyeruak di hidungku. Di meja makan, Mama dan Papa sudah duduk, menikmati sarapan mereka.\"Pagi, sayang,\" sapa Mama, senyumnya cerah.\"Pagi, Ma, Pa,\" jawabku, mencium pipi mereka berdua.Saat aku duduk, Mama menatapku dengan mata berbinar.


\"Bagaimana semalam, Bella? Ceritakan pada kami,\" pintanya penuh rasa ingin tahu. Aku tersenyum lebar, dan mulai menceritakan semuanya.Pagi itu, aku langsung curhat total ke Mama dan Papa. Aku ceritain semua, mulai dari ketawa-ketawa bareng Lyodra dan Aqeela, sampai ke detail paling mencekam pria misterius di cafe itu dan bayangan yang mengintip di balik pohon besar. Mama langsung pasang wajah serius.\"Bel, kamu harus ekstra hati-hati mulai sekarang. Feeling Mama bilang, ini bukan orang iseng biasa,\" ucapnya, nadanya berat, seolah tahu lebih banyak dari yang dia katakan.Papa, yang biasanya santai, kali ini cuma diam. Tapi tatapannya... dingin dan tajam saat menatap ke arah luar jendela garasi. Mereka tidak hanya khawatir; mereka terlihat waspada seperti menghadapi ancaman yang nyata. Sialnya, bukannya kapok, aku malah makin penasaran setengah mati. Siapa sih sebenarnya cowok itu?


Pagi cerah itu seharusnya bisa menghilangkan bad mood, tapi bayangan topi dan hoodie hitam itu nempel terus.Tiba-tiba Papa memecah keheningan, \"Mulai hari ini, Papa yang akan antar jemput kamu. Sampai masalah ini selesai.\"Itu bukan tawaran, itu perintah satu bentuk perhatian khusus yang sangat ketat. Aku tahu, ini adalah sinyal bahaya. Rasanya seperti diberi perlindungan super, tapi di sisi lain, aku jadi sadar bahwa bahaya itu memang benar-benar mengincarku.Sepanjang perjalanan ke sekolah, aku berusaha keras membuang sosok itu dari pikiran. Namun, setiap kali aku melihat spion samping, aku merasa: pagi ini tidak sesepi kelihatannya. Seolah ada sepasang mata yang sudah hapal betul ke mana arah tujuanku.•••


Saat aku hendak melangkah masuk ke dalam kelas, dua gadis dengan senyum cerah menghampiriku. Suasana kelas terasa lebih ceria dengan kehadiran Aqeela dan Lyodra. Kami duduk berdekatan, saling berbisik dan berbagi catatan selama pelajaran.Waktu berlalu dengan cepat, dan bel istirahat akhirnya berbunyi. Aqeela dan Lyodra mengajakku ke kantin, dan kami duduk di meja pojok, memesan makanan ringan dan minuman.Di kantin, kami mengobrol tentang banyak hahobi, musik, film, dan gosip terbaru. Aqeela ternyata suka menggambar, dan Lyodra pandai bermain gitar. Aku merasa nyaman berbagi cerita dengan mereka, dan aku merasa mereka juga tertarik dengan ceritaku.Kami tertawa bersama, berbagi rahasia, dan saling mendukung. Aku merasa seperti menemukan keluarga baru di sekolah, orang-orang yang akan selalu ada untukku.Saat bel masuk berbunyi, kami kembali ke kelas dengan semangat baru. Aku merasa lebih bersemangat


untuk belajar, karena aku tahu aku memiliki temanteman yang akan selalu mendukungku.Hari itu, aku bersyukur telah bertemu dengan Aqeela dan Lyodra, dan aku tidak sabar untuk menjalani hari-hari berikutnya bersama mereka.•••Bel sekolah berdentang nyaring, memecah keheningan sore itu. Dengan sigap, aku merapikan buku-buku dan alat tulis yang berserakan di meja. Bersama Lyodra dan Aqeela, aku melangkah keluar kelas, menyusuri koridor yang mulai lengang. Di seberang sana, mobil Papa sudah nangkring. Aku mempercepat langkah.Tapi, persis sebelum sampai ke mobil, pandanganku tertahan sebentar. Di bangku taman dekat gerbang, ada Alaska Dia duduk sendirian, wajahnya terlihat sangat serius, dahi berkerut, seperti sedang memikirkan sebuah strategi besar atau rahasia penting yang cuma dia yang tahu. Ada aura intense yang jarang kulihat dari dia. Aku sempat


bertanya-tanya, apa sih yang lagi direncanain cowok itu?Tapi aku memutuskan untuk tidak ambil pusing. Ada hal yang lebih penting keselamatan. Aku langsung menuju mobil, membuka pintu, dan menyambut Papa dengan senyum lebar. \"Wah, Papa beneran jemput aku\" kataku, merasa lega.\"Iya dong,\" jawab Papa, tapi nadanya tetap datar dan waspada. \"Biar kamu aman.\"Sepanjang perjalanan pulang, aku langsung pasang headphone mencoba menenggelamkan diri dalam buku yang kubawa. Aku berusaha keras untuk fokus pada halaman-halaman itu, tapi entah kenapa, pikiran Alaska yang serius dan pria hodie hitam semalam terus berputar.Tiba-tiba, mobil berhenti. \"Sudah sampai, Bel.\"Aku buru-buru melepas headphone. Perjalanan pulang terasa sangat cepat hari ini. Aku membuka pintu mobil dan melangkah keluar, tapi sebelum aku menutupnya, aku melirik ke belakang jendela belakang mobil Papa yang gelap sekadar mengecek apakah ada


sesuatu yang mengikuti dari jauh. kewaspadaan itu kini sudah jadi bagian dari rutinitas baruku.Malamnya, aku langsung kepo buka grup WhatsApp kami bertiga: aku, Lyodra, dan Aqeela. Kami chatting soal tugas, soal sekolah, random banget deh.Tiba-tiba, Aqeela bikin pengumuman heboh.\"Guys! Besok aku ulang tahun! Finally, nambah umur lagi, hahaha.\"Wajahku langsung bersinar. Seriously?! Aku benar-benar lupa. Dia langsung mengundang,\"Kalian berdua wajib datang ke rumah gue besok sore ya!\"\"Gila, happy birthday in advance! Pasti aku dateng! Excited banget!\" balasku cepat. Lyodra juga langsung menyambut. Rasa khawatirku soal pria misterius itu langsung menguap sejenak, tergantikan oleh kegembiraan akan pesta. Kami pun lanjut bahas persiapan baju, kado, dan gosip-gosip receh lainnya sampai larut malam. Vibes malam ini benar-benar terasa normal lagi, dan itu melegakan.


Pagi menyapa dengan hangat, sinarnya menembus tirai jendela kamarku. Dengan langkah ringan, aku beranjak dari tempat tidur, menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri. Suara televisi dari ruang tamu menarik perhatianku. Mama sedang duduk santai di sofa, ditemani camilan ringan.\"Pagi, Ma,\" sapaku, mencium pipinya. \"Papa mana?\"\"Papa lagi dinas luar kota, sayang,\" jawab Mama, senyumnya lembut.Obrolan pagi kami mengalir begitu saja, dari rencana hari ini hingga gosip tetangga. Tiba-tiba, Mama mengajakku ke mall.\"Sekalian healing, yuk! Mama juga mau belanja.\"Mataku berbinar. Ide yang bagus! Aku juga teringat harus membeli hadiah ulang tahun untuk Aqeela.\"Boleh, Ma! Aku juga mau cari hadiah buat Aqeela.\"Tak lama, kami sudah meluncur ke mall. Suasana ramai dan gemerlap langsung menyambut


kami. Mama langsung menuju toko pakaian favoritnya, sementara aku berpamitan untuk mencari hadiah.\\Toko tas menjadi tujuanku. Mataku tertuju pada sebuah tas selempang berwarna pastel, modelnya simpel tapi elegan.\"Cocok banget buat Aqeela,\" gumamku, lalu membelinya.Dengan tas hadiah di tangan, aku kembali mencari Mama. Ternyata, dia sudah menumpuk beberapa tas belanjaan di tangannya.\"Wah, Mama belanja banyak banget!\" seruku, membuat Mama tertawa.\"Namanya juga healing, sayang,\" balasnya.\"Sekarang kita pulang, yuk. Mama udah capek.\"Perjalanan pulang kami diisi dengan cerita-cerita ringan dan tawa. Aku merasa senang bisa menghabiskan waktu bersama Mama. Hari ini, aku merasa lebih segar dan bersemangat.Tiba di rumah, aku langsung sibuk membungkus hadiah untuk Aqeela. Selain tas yang sudah kubeli, aku juga menyelipkan sebuah syal lembut berwarna pastel.


\"Semoga Aqeela suka,\" gumamku sambil mengikat pita di atas kotak hadiah.Setelah selesai dengan hadiah, perhatianku beralih ke lemari pakaian. Pesta ulang tahun Aqeela sudah dekat, dan aku masih bingung memilih baju. Aku duduk di tepi tempat tidur, membuka laptop, dan mulai mencari inspirasi di internet. Setelah beberapa saat berselancar, mataku tertuju pada sebuah gaun sederhana namun elegan.\"Ini dia!\" seruku dalam hati. Kebetulan, aku memiliki gaun yang mirip di lemari. Aku segera mengeluarkannya dan meletakkannya di atas tempat tidur.Tepat saat itu, notifikasi pesan masuk ke ponselku. Senyumku langsung mengembang saat melihat nama Alaska di layar. Dia mengajakku untuk pergi bersama ke pesta Aqeela.\"Tentu saja!\" balasku dengan cepat.Perasaan senang dan antusias bercampur aduk di hatiku. Aku tidak sabar untuk merayakan ulang tahun Aqeela bersama teman-teman, dan terutama, bersama


Alaska. Aku membayangkan malam yang penuh tawa, musik, dan kebahagiaan.Sambil menunggu hari H, aku mulai merencanakan detail kecil untuk penampilanku. Aku mencoba gaun itu, memadukannya dengan sepatu yang cocok, dan mencoba berbagai gaya rambut di depan cermin.\"Semoga malam itu berjalan lancar,\" doaku dalam hati.•••Sore menjelang malam, aku kembali asyik mengobrol dengan Lyodra dan Aqeela di grup chat. Antusiasme kami semakin memuncak menjelang pesta ulang tahun Aqeela.\"Qeel, udah nggak sabar banget nih!\" ketikku, diikuti emoji wajah berbinar.\"Aku juga! Udah nggak sabar pengen ketemu kalian semua!\" balas Aqeela, dengan banyak emoji hati.


Aku pun menanyakan alamat rumah Aqeela, dan dia mengirimkannya dengan cepat.\"Jangan telat, ya!\" pesannya.Setelah menutup aplikasi chat, aku meletakkan ponsel di tempat tidur dan berjalan ke balkon kamar. Udara sore yang sejuk menyentuh kulitku. Pemandangan senja yang indah terbentang di hadapanku. Namun, pikiranku melayang pada satu pertanyaan yang terus menghantui tetap saja tentang pria di cafe itu.


BAB 4Beberapa jam sebelum jam pesta, aku sudah sibuk banget. Pilih outfit terbaik, makeup tipis tapi on point. Melihat diriku di cermin, rasanya semua ketegangan semalam menguap. Aku ambil clutch hitam, rebut kunci mobil, dan langsung menuju garasi. Vrooom! Mobil meluncur ke rumah Aqeela.Setibanya di sana, suasana benar-benar ramai. Mobil berjejer, musik terdengar sampai luar. Aku turun, bawa kado. Aqeela malam itu cantik maksimal, auranya beda banget. Aku langsung nyapa dia. \"Aqeela! Happy birthday, bestie! Ini kado kecil dari aku,\" kataku riang.\"Ya ampun Bella, repot banget sih! Thanks ya!\" Dia memelukku erat.Aku tenggelam dalam euforia pesta. Makanan enak, vibes seru, musik menghentak. Aku benar-benar melupakan hoodie hitam dan Papa yang protektif.Malam sudah terlalu larut, aku pamit duluan. Aku melajukan mobil dengan kecepatan lumayan tinggi di jalanan yang gelap dan sunyi. Dingin dan mencekam. Tiba-tiba, mesinnya batuk, tersendat, lalu hening.


Aku langsung shock dan panik. Indikator bensin menyala merah terang. Habis! Ini jalanan antahberantah, siapa yang mau lewat jam segini?! Rasa takut disusul langsung menusuk.Tiba-tiba, sebuah sorot lampu menerangi kaca spionku. Dari mobil itu, Alaska turun. Dia berjalan dengan langkah pasti, tanpa ekspresi. Dia menyodorkan botol yang di dalamnya ada bensin. Dia tidak mengatakan apa-apa. Matanya hanya menatap sebentar, lalu dia berbalik.Aku cuma bisa bergumam, \"Alaska...?\" Tapi dia sudah pergi.Aku cepat-cepat mengisi bensin, mobil menyala, dan aku langsung tancap gas secepatnya. Sampai di rumah, aku langsung masuk garasi dan lari ke kamar. Misteri Alaska ini makin gak masuk akal. Dia ada di mana-mana, tapi selalu tanpa jejak.


BAB 5Saat aku memasuki rumah, Mama langsung menyambutku di ruang tamu. Wajahnya yang biasanya ceria kini tampak khawatir.\"Bella, akhirnya kamu pulang,\" ucapnya dengan nada cemas.\"Mama sudah sangat khawatir.\" Aku tersenyum menenangkan, menjelaskan bahwa aku baik-baik saja, hanya ada sedikit kendala yang membuat kami terlambat pulang.Mama menghela napas lega, tapi kemudian mengerutkan kening.\"Mama sudah meneleponmu sepuluh kali, tapi tidak dijawab,\" katanya. Aku merogoh saku, mendapati ponselku mati total.\"Maaf, Ma, ponselku lowbat,\" jawabku sambil tersenyum bersalah. Mama mengangguk, lalu menyuruhku untuk segera tidur.


\"Sudah larut malam, istirahatlah,\" katanya lembut. Aku mencium pipi Mama, mengucapkan selamat malam, dan bergegas menuju kamar.Di kamar, aku melepas sepatu hak tinggiku dan menggantinya dengan sandal rumah yang nyaman. pakaian yang indah juga aku ganti dengan piyama katun yang lembut. Aku mencolokkan ponselku ke pengisi daya, lalu merebahkan diri di tempat tidur.Mentari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden, membangunkan aku dari tidur yang panjang. Aku terkejut melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 07.00.\"Ya ampun, aku kesiangan!\" seruku panik. Aku melompat dari tempat tidur, berlari ke kamar mandi, dan mengenakan seragam sekolah dengan tergesa-gesa. Tanpa sempat sarapan, aku menyambar tas sekolah dan berlari keluar rumah.Aku berlari sekuat tenaga menuju halte bus, berharap masih sempat mengejar bus sekolah. Namun, saat tiba di sekolah, gerbang sudah tertutup rapat. Aku berdiri di depan gerbang, berharap Pak Satpam akan berbaik hati membukakan pintu untukku. Namun, tak


lama kemudian, seorang guru BK datang menghampiriku.\"Kenapa kamu terlambat, Bella?\" tanyanya dengan suara tegas.Aku menceritakan semua kejadian semalam, mulai dari pesta ulang tahun Aqeela hingga mobilku yang kehabisan bensin. Guru BK itu mendengarkan dengan seksama, lalu menghela napas.\"Kamu tetap terlambat, Bella,\" katanya.\"Sebagai hukumannya, kamu harus berdiri di depan tiang bendera sampai jam istirahat.\"Aku mengangguk pasrah, melangkah menuju tiang bendera. Matahari pagi yang terik menyengat kulitku, membuatku merasa seperti terbakar. Kakiku mulai terasa lemas, dan aku hampir pingsan. Namun, aku berusaha bertahan, berdiri tegak dengan kaki gemetar, menahan rasa malu dan penyesalan.•••


Saat bel istirahat berdentang, rasanya seperti lonceng kebebasan. Guru BK datang menghampiriku, wajahnya yang tadi tegas kini melembut.\"Hukumanmu selesai, Bella,\" ucapnya.\"Kamu boleh istirahat.\" Aku mengangguk lemah, melangkah gontai menuju taman sekolah. Kakiku terasa seperti jelly, dan kepalaku berdenyut-denyut. Aku duduk di bangku taman, mencoba mengatur napas dan meredakan rasa lelah yang luar biasa.Tiba-tiba, sebuah tangan terulur ke sampingku, menyodorkan sebotol air mineral dingin. Aku mendongak, dan ternyata itu Alaska. Senyumnya yang menenangkan membuat hatiku sedikit lega. \"Ini untukmu,\" ucapnya. Aku menerima botol itu dengan tangan gemetar, meneguk airnya dengan rakus. Tibatiba, Lyodra dan Aqeela datang menghampiri kami.\"Bella, kenapa kamu bisa terlambat?\" tanya Lyodra dengan nada khawatir. Aku menceritakan semua kejadian semalam, mulai dari pesta ulang tahun hingga hukuman di tiang bendera. Lyodra dan Aqeela terkejut


mendengar ceritaku. Mereka menatapku dengan tatapan simpati, lalu memelukku erat.\"Kamu pasti sangat lelah,\" ucap Aqeela. Alaska pamit untuk pergi ke kantor guru, meninggalkan kami bertiga di taman. Kami pun melanjutkan obrolan, bertukar cerita dan tertawa bersama.Setelah itu, kami bertiga memutuskan untuk pergi ke kantin. Di kantin, kami memesan makanan dan minuman, lalu mencari tempat duduk yang nyaman. Kami mengobrol tentang banyak hal, mulai dari pelajaran sekolah hingga rencana akhir pekan. Suasana kantin yang ramai dan hangat membuatku merasa lebih baik. Aku merasa beruntung memiliki teman-teman seperti Lyodra dan Aqeela, yang selalu ada untukku.Jam istirahat berakhir, lonceng berbunyi nyaring, memanggil kami kembali ke ruang kelas. Aku, Lyodra, dan Aqeela melangkah masuk, kembali ke rutinitas belajar. Aku duduk di kursiku, masih terbayang kejadian pagi yang melelahkan. Sekarang giliran pelajaran IPA, mata pelajaran yang selalu membuatku menguap. Bu Sinta, guru IPA kami, mulai menjelaskan materi dengan


semangat, tapi entah kenapa, kata-katanya terdengar seperti dengungan lebah di telingaku.Aku menatapnya dengan pandangan kosong, sesekali mengalihkan pandangan ke luar jendela, melihat awan putih berarak di langit biru. Pikiran melayang entah ke mana, membayangkan pantai berpasir putih dan deburan ombak yang menenangkan. Saat Bu Sinta memberikan latihan soal, aku, Lyodra, dan Aqeela berdiskusi di belakang kelas, berbisik-bisik mencari jawaban. Kami bekerja sama, saling bertukar ide, dan akhirnya, tugas pun selesai. Kami mengumpulkannya dan kembali ke tempat duduk masing-masing.Aku mengeluarkan ponsel dari saku, menyalakan musik untuk meredakan kebosanan. Alunan melodi yang lembut mengalun di telingaku, membuatku merasa lebih rileks. Mataku mulai terasa berat, dan tanpa sadar, aku terlelap. Kepala terkulai ke samping, rambutku menutupi sebagian wajahku.Mimpi indah mulai menghampiri. Aku bermimpi tentang pantai yang tadi kubayangkan, ombak yang berkejaran, dan matahari yang bersinar cerah. Tiba-tiba,


aku merasakan sentuhan lembut di bahuku. Aku membuka mata perlahan, dan melihat Lyodra menatapku dengan senyum geli. \"Hei, kebo! Bangun, sudah jam pulang,\" bisiknya. Aku terkejut, melihat sekeliling. Kelas sudah kosong, hanya tersisa Lyodra dan Aqeela yang sedang membereskan bukubuku mereka.\"Ya ampun, aku ketiduran!\" seruku sambil menguap. Aku segera membereskan buku-buku dan memasukkan ponsel ke dalam tas. Aku merasa sedikit malu karena ketiduran di kelas, tapi juga merasa segar setelah tidur singkat itu. Kami bertiga keluar kelas, berjalan bersama menuju gerbang sekolah. Sambil berjalan, kami tertawa, menceritakan mimpi-mimpi aneh yang kami alami.•••


Click to View FlipBook Version