The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by BENGKEL LITERASI SMP NEGERI 3 AMPEK ANGKEK, 2025-11-18 22:41:52

RESTI

RESTI

Aku menggeleng pelan, rasa penasaran mulai menggerogoti. \"Aku juga nggak tahu. Dari tadi pagi aku nggak lihat dia.\"Biasanya, Alaska adalah orang pertama yang sudah duduk manis di kelas, siap dengan buku-buku dan ekspresi datarnya. Ke mana dia menghilang? Perasaan kepo mulai menyelinap di hatiku.Pelajaran pun dimulai, namun pikiranku melayang-layang. Aku tidak bisa fokus pada rumus matematika yang dijelaskan guru. Mataku terus melirik ke arah pintu, berharap melihat sosok Alaska muncul dengan senyum khasnya.\"Kamu kenapa sih, dari tadi gelisah terus?\" bisik Lyodra, menyikut lenganku.\"Aku ngga apa-apa kok\" jawabku jujur.Lyodra mengangguk mengerti.•••


Bel pulang sekolah berdentang, membebaskan para siswa dari ruang kelas yang terasa menyesakkan. Langkahku tergesa-gesa menuju gerbang sekolah, tempat Papa biasanya menjemputku. Mobil Papa sudah terparkir di tepi jalan, dan aku segera masuk ke dalamnya.\"Kok tadi pagi nggak sarapan terus langsung berangkat?\" tanya Papa, nadanya lembut namun penuh perhatian.\"Nggak apa-apa, Pa,\" jawabku singkat, berusaha menyembunyikan kekhawatiran yang menggerogoti.Sepanjang perjalanan pulang, aku hanya diam, tenggelam dalam pikiranku. Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamar dan meraih ponsel. Perutku tiba-tiba berbunyi, mengingatkanku bahwa aku belum makan sejak kemarin. Aku turun ke ruang makan, tempat Mama dan Papa sudah menunggu.\"Kamu kenapa sih, Sayang? Tadi pagi nggak sarapan, kemarin juga nggak makan,\" tanya Mama, wajahnya penuh kekhawatiran.


\"Nggak apa-apa, Ma,\" jawabku lagi, berusaha meyakinkan. Mama menatapku dengan tatapan lembut namun tegas.\"Sayang, kalau ada masalah, cerita ya. Jangan dipendam sendiri.\" Aku mengangguk pelan, senyum tipis terukir di bibirku.\"Iya, Ma. Ya udah, ayo kita makan. Aku udah lapar.\"Mama tersenyum lega dan mulai mengambilkan lauk untukku. Suasana makan malam terasa hangat dan nyaman, namun pikiranku tetap melayang pada Alaska. Aku berusaha menikmati makanan, namun rasa khawatir terus mengganggu.Paginya. Sepanjang hari, aku berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku bertanya kepada teman-teman sekelas, tetapi tidak ada yang tahu. Alaska memang dikenal pendiam dan tertutup, jadi tidak banyak yang tahu tentang kehidupan pribadinya.Saat jam istirahat, aku mengajak Lyodra dan Aqeela ke kantin


\"Kalian tahu nggak kenapa Alaska nggak masuk kemarin?\" tanyaku, berharap mereka punya informasi lebih. Lyodra dan Aqeela saling berpandangan, lalu menggelengkan kepala.\"Kami juga nggak tahu,\" kata Lyodra.\"Tapi dia kelihatan baik-baik saja kan sekarang?\"\"Iya sih,\" jawabku, \"Tapi aku merasa ada yang disembunyikan.\"Aqeela menepuk pundakku, \"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan.\"Aku menghela napas, mencoba menenangkan diri. Mungkin mereka benar, aku terlalu khawatir. Tapi, entah kenapa, firasatku mengatakan ada sesuatu yang tidak beres.Setelah bel masuk berbunyi, kami kembali ke kelas. Saat pelajaran berlangsung, aku sesekali melirik ke arah Alaska. Dia tampak fokus memperhatikan guru, sesekali mencatat di bukunya. Tidak ada tanda-tanda kebohongan di wajahnya.


Namun, saat pelajaran selesai dan semua orang bergegas keluar kelas, aku melihat Alaska terburu-buru memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Dia tampak ingin segera pergi.\"Alaska, tunggu!\" panggilku, membuatnya berhenti di pintu.\"Kamu mau ke mana buru-buru?\" Alaska menoleh, wajahnya sedikit terkejut.\"Aku... aku harus segera pulang,\" jawabnya, suaranya terdengar gugup. \"Ada urusan keluarga.\"\"Oh, oke,\" kataku, mencoba menyembunyikan rasa curigaku.Alaska mengangguk singkat, lalu bergegas pergi. Aku menatap punggungnya yang menjauh, bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi. Ada rahasia apa yang Alaska sembunyikan?


BAB 9Malam itu, balkon kamarku menjadi saksi bisu kebingunganku. Langit bertabur bintang, biasanya menenangkan, kini terasa seperti lukisan misterius yang menyimpan rahasia. Aku meraih ponsel, benda pipih yang menjadi penghubungku dengan dunia luar, dan segera mengetik pesan untuk Lyodra dan Aqeela. Kabar tentang kepulangan Alaska yang tergesa-gesa membuat mereka terdiam sejenak.\"Hati-hati,\" pesan mereka, \"Sepertinya ada yang disembunyikan Alaska.\"Kecurigaan mereka semakin mempertegas firasatku. Ada sesuatu yang ganjil. Aku mengiyakan peringatan mereka, berjanji untuk lebih waspada. Pikiran berkecamuk, bertanya-tanya mengapa semuanya terasa begitu berbeda.Aku merasa seperti sedang berada di tengahtengah teka-teki yang rumit, di mana setiap orang memiliki peran dan rahasia masing-masing.


Aku memejamkan mata, mencoba mengusir pikiran-pikiran yang membebani. Namun, bayangan Alaska dan Bastian terus berputar-putar di benakku.Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang disembunyikan Alaska hingga membuatnya terburu-buru pulang?•••Mentari pagi menyelinap masuk melalui celahcelah tirai, memaksa mataku untuk terbuka. Semalam, pikiran-pikiran tentang Alaska dan Bastian menggerogoti ketenanganku. Namun, hari ini, aku bertekad untuk mengubur semua kekhawatiran itu. Aku bangkit dari tempat tidur, menuju kamar mandi, dan membiarkan air dingin menyegarkan tubuhku. Di depan cermin, aku menatap bayanganku, mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja.Aku mengenakan seragam sekolah, berusaha keras untuk menampilkan senyum cerah. Aku menuruni tangga, disambut aroma kopi dan roti bakar yang


menggugah selera. Mama dan Papa sudah duduk di meja makan, siap untuk memulai hari mereka.\"Selamat pagi, Ma, Pa!\" sapaku ceria, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang masih bersemayam di hatiku. Mama tersenyum lega, seolah melihatku kembali menjadi Bella yang dulu.\"Selamat pagi, sayang. Mama senang melihatmu ceria lagi,\" katanya sambil menyodorkan sepiring roti bakar dengan selai stroberi kesukaanku. Aku menyantap sarapan dengan lahap, sesekali bercanda dengan Mama dan Papa, berusaha menciptakan suasana yang hangat dan menyenangkan.Setelah sarapan, aku dan Papa berpamitan kepada Mama.\"Hati-hati di jalan, Pa,\" kataku sambil mencium pipi Papa.\"Semangat kerjanya!\" Papa tersenyum dan mengangguk, lalu bergegas menuju mobil. Di perjalanan menuju sekolah, aku menatap keluar jendela, memandangi hiruk pikuk kota yang mulai menggeliat. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba menghirup


udara segar dan membuang jauh-jauh pikiran-pikiran negatif.Sesampainya di sekolah, aku melangkah masuk dengan langkah mantap. Di lorong sekolah, aku melihat Lyodra dan Aqeela sedang menunggu di depan kelas. Mereka menatapku dengan tatapan penuh tanya, seolah ingin tahu apa yang sedang kurasakan.\"Bella, kamu ceria sekali hari ini,\" kata Lyodra, \"Ada apa?\"Aku tersenyum lebar. \"Aku hanya tidak ingin terlalu memikirkan hal-hal aneh yang terjadi belakangan ini,\" jawabku, \"Aku ingin fokus pada hal-hal yang membuatku bahagia.\" Lyodra dan Aqeela saling berpandangan, lalu tersenyum padaku.\"Itu bagus, Bella,\" kata Aqeela, \"Kami mendukungmu.\"Kami bertiga masuk ke dalam kelas, siap untuk memulai pelajaran.Mentari senja perlahan meredup, menandakan berakhirnya hari yang penuh warna di sekolah. Tawa dan canda masih menggema di koridor saat aku,


Lyodra, dan Aqeela berjalan beriringan keluar dari gerbang sekolah. Sambil menyusuri jalan pulang, kami bertukar cerita tentang kejadian-kejadian lucu dan aneh yang terjadi hari ini.Sesampainya di rumah, aku disambut oleh aroma masakan yang menggugah selera. Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian, aku bergegas turun ke ruang makan. Di sana, ayah dan ibu sudah menunggu dengan senyum hangat. Makan malam kami selalu menjadi momen berharga, di mana kami berbagi cerita tentang hari masing-masing.Setelah makan malam, aku kembali ke kamar untuk mengerjakan tugas sekolah. Namun, pikiranku melayang jauh, membayangkan petualangan seru yang akan datang. Tiba-tiba, ponselku berdering. Sebuah pesan dari Lyodra mengajakku untuk pergi ke toko buku baru yang sedang mengadakan diskon besar-besaran. Tanpa pikir panjang, aku mengiyakan ajakannya.Kami bertiga bertemu di depan toko buku yang tampak ramai oleh pengunjung. Mata kami berbinarbinar melihat rak-rak buku yang penuh dengan berbagai judul menarik. Kami menjelajahi setiap sudut toko,


menemukan buku-buku favorit dan beberapa judul baru yang menggugah rasa penasaran.Setelah puas berbelanja, kami memutuskan untuk mampir ke kafe terdekat. Sambil menikmati minuman hangat dan camilan lezat, kami melanjutkan obrolan seru kami. Waktu berlalu begitu cepat hingga tak terasa hari sudah semakin larut. Kami pun berpamitan dan kembali ke rumah masing-masing.Malam itu, aku merebahkan diri di tempat tidur dengan perasaan bahagia dan puas. Hari ini benarbenar hari yang menyenangkan, penuh dengan tawa, persahabatan, dan petualangan tak terduga. Aku pun terlelap dengan senyum di bibir, siap menyambut hari esok yang pasti akan membawa kejutan-kejutan baru.Mentari pagi menembus jendela kelas, menciptakan lukisan cahaya keemasan di lantai. Aku tenggelam dalam dunia fiksi, halaman-halaman novel favoritku berdesir di bawah jemariku. Tiba-tiba, suara derit pintu membuyarkan lamunanku.Selesai jam sekolah, aku langsung putuskanharus cari tempat buat refreshing otak. Pilihanku jatuh


ke perpustakaan kota yang letaknya persis di tengah keramaian.Begitu masuk, aku disambut aroma kertas tua dan hening yang menusuk. Ribuan buku menjulang di rak-rak kayu yang gelap, seperti labirin rahasia. Aku cepat-cepat ambil buku, berharap bisa 'kabur' sejenak dari semua pikiran ganjil, terutama soal Alaska dan lukisannya.Aku duduk di meja pojok, pura-pura fokus pada halaman-halaman buku. Tapi, saat aku mengangkat kepala, mataku langsung terkunci pada pemandangan yang membuat jantungku jatuh ke perut.Pria Hoodie hitam itu. Persis seperti yang kulihat di cafe malam itu. Topi rendah, kacamata gelap, dan dia duduk tidak jauh dari mejaku. Kali ini, dia tidak membaca koran dia hanya duduk diam.Rasa kagetku langsung berubah jadi panik dingin. Gak mungkin kebetulan! Dia mengikutiku. Aku buru-buru menutup buku itu, meletakkannya kembali ke rak terdekat dengan gerakan sehalus mungkin. Aku berdiri, pura-pura mencari buku lain, padahal yang kucari adalah pintu keluar. Langkahku cepat, hampir lari.


Suasana perpustakaan yang tadinya damai mendadak terasa seperti jerat.•••Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar dan segera membersihkan diri. Setelah mandi, aku kembali ke kamar, menyalakan musik, lalu mengambil novel yang sedang aku baca. Aku duduk di atas ranjang, menikmati alunan lagu sambil larut dalam cerita di buku. Suasana tenang itu membuatku merasa jauh lebih rileks setelah hari yang cukup melelahkan.Tiba-tiba, terdengar suara pintu kamarku diketuk. Aku menoleh, dan ternyata itu mama. Beliau membawakan makan malam untukku. Aku langsung tersenyum melihatnya, merasa hangat dengan kehadirannya. Mama masuk dan duduk di pinggiran ranjang sambil meletakkan nampan berisi makanan.Kami pun mulai mengobrol sambil aku menikmati makan malam. Aku bercerita tentang harihariku di sekolah tentang pelajaran yang aku pelajari,


teman-teman di kelas, dan hal-hal kecil yang membuat hariku berwarna. Mama mendengarkan dengan penuh perhatian, sesekali tersenyum dan memberikan tanggapan. Momen seperti ini selalu menjadi bagian favorit dari hariku saat aku bisa merasa didengar dan dikelilingi oleh kasih sayang.•••Pagi menyapa, dan seperti biasa, aku udah siapsiap buat berangkat sekolah. Di kepalaku sih udah kebayang sarapan pagi yang seru bareng Mama Papa. Tapi, pas aku nyampe di meja makan, kok ada yang janggal ya? Mataku langsung jelalatan nyariin Papa, tapi beliau gak ada! Duh, tumben banget sih. Tanpa pikir panjang, aku langsung nanya ke Mama,\"Ma, Papa ke mana sih? Kok tumben nggak nongol di meja makan?\"Mama sedikit gelagapan pas ngejawab, \"E-eh, Papa lagi ada meeting mendadak di kantor, Sayang. Jadi, nggak sempet deh sarapan bareng kita.\"


Aku makin heran, \"Lah, tumben banget, Ma. Biasanya kan, sesibuk apa pun Papa, pasti selalu nyempetin sarapan bareng kita. Kok aneh ya?\"Mama cuma senyum tipis sambil nyuruh aku buruan makan. Tapi ya ampun, perasaanku jadi nggak enak banget. Biasanya pagi-pagi gini, rumah udah rame sama suara Papa yang lagi siap-siap atau candaan dia. Tapi ini, kok sepi banget kayak nggak ada kehidupan? Aku jadi kepikiran terus, ada apa ya sama Papa? Perasaan khawatir ini bikin sarapanku jadi hambar, nggak seenak biasanya. Aku cuma ngaduk-ngaduk nasi goreng di piring sambil mikirin Papa yang entah kenapa mendadak menghilang dari rutinitas pagi kami.Begitu nyampe sekolah, pikiran aku masih aja berkutat sama masalah itu. Aqeela sama Lyodra udah nyambut di depan pintu kelas, ceria banget kayak biasanya. Aku cuma bisa senyum tipis sambil jalan gontai ke bangku. Mereka langsung nyamperin, nanyain aku baik-baik aja. Aku cuma ngangguk, senyum dipaksain.Bel pelajaran bunyi, tapi aku masih aja melayang entah ke mana.


\"Bella, coba kamu jawab pertanyaan di depan ini,\" suara Bu Guru menarikku paksa. Tapi aku tetep diem, kayak patung.\"BELLA!!\" Suara Bu Guru melengking, bikin seisi kelas langsung senyap.Aku kaget bukan main, terus langsung nyaut,\"Ada apa, Bu? Maaf, saya bener-bener nggak denger.\" Suaraku nyaris berbisik.\"Kamu ini Bella, kalau kamu nggak niat belajar di pelajaran saya, mending kamu keluar dari kelas ini!\" Tatapan Bu Guru tajem banget, menusuk. Aku cuma bisa nelen ludah.\"Keluar kamu dari kelas saya!\" Dia nunjuk pintu dengan jari telunjuknya. Aku pun jalan pelan-pelan, langkahku berat banget ninggalin kelas.Aku terus berdiri di depan kelas selama pelajaran IPS yang rasanya nggak ada habisnya. Akhirnya, bel istirahat berdentang nyaring, dan semua murid langsung menyerbu keluar. Pas aku mau balik masuk kelas, suara Bu Guru bikin aku terlonjak, \"Bella, kamu temui saya di kantor, sekarang!\" Dia udah berdiri di depan pintu kelas, tatapannya nggak bisa diganggu


gugat. Aqeela sama Lyodra yang denger itu cuma bisa diem membeku, terus ngasih aku tatapan \"Semangat ya!\" Yang bikin aku sedikit lebih tenang.Aku langsung ngacir ke kantor bareng Bu Guru. Begitu tiba di depan pintu kantor, suasana dingin menyeruak, ditambah deretan guru-guru yang duduk rapi. Rasanya perutku langsung mules. Sumpah, aku nggak pernah kepikiran bakal masuk ke \"sarang harimau\" ini.\"Bella, duduk kamu di depan saya,\" kata Bu Guru sambil menunjuk kursi di hadapannya. Aku narik kursi itu, dan duduk berhadapan langsung dengannya. Tanganku udah sedingin es, dan pikiranku rasanya udah terbang entah ke mana, buyar nggak karuan.Aku lagi deg-degan banget, sumpah. Bu guru killer itu natap aku tajem banget, kayak mau nelen hidup-hidup.\"Bella, ngapain kamu gak fokus pas jam pelajaran saya?\" tanyanya sambil ngangkat alis, serem abis. Aku cuma bisa nyaut, \"Eee... aku lagi ada masalah aja, Bu,\" jawabku sambil nunduk, gak berani natap mukanya.


Bu guru diem bentar, terus akhirnya ngomong lagi, \"Jangan diulangin lagi, tolong fokus kalau lagi belajar.\" Aku ngangguk cepet, dan dia langsung nyuruh aku keluar. Buset, rasanya plong banget! Langsung aja aku ngacir ke pintu, keringat dingin udah bercucuran. Lega campur mau pingsan!


BAB 10\"Eh, gimana? Ngapain kamu dipanggil ke ruangguru?\" Lyodra langsung nyerbu begitu aku nongol di depan pintu, matanya udah kayak detektif kepo. Aqeela di sebelahnya cuma ngangguk-ngangguk, nungguin jawaban.\"Itu... gara-gara aku nggak fokus belajar tadi,\" jawabku, males banget jelasin.\"Ya elah! Kenapa bisa nggak fokus gitu sih? Pasti lagi ada masalah, ayolah cerita sama kami,\" Lyodra nggak nyerah, maksa banget. Aku cuma bisa jawab,\"Udah, ke kelas dulu deh kita.\" Mata mereka langsung berbinar, semangat banget pengen denger ceritaku.Sampe di kelas, belum juga sempet napas, mereka udah langsung ngegeruduk.\"Sabar dulu, baru juga sampe,\" kataku sambil ngelus dada. Mereka cuma senyum-senyum nggak


sabar. Akhirnya, aku nyerah dan mulai nyeritain semuanya.Aqeela sama Lyodra ngangguk-ngangguk dengerin, sesekali nyautin. Pas aku selesai, Aqeela langsung genggam tanganku, ngusap pelan.\"Udah, Bella, mungkin aja kan papa kamu beneran ada meeting mendadak. Positif thinking aja dulu,\" katanya lembut. Aku cuma bisa ngangguk sambil senyum tipis. Omongan Aqeela lumayan bikin tenang, meskipun hatiku masih agak nggak enak.Beberapa minggu berlalu, rasanya kayak mimpi buruk. Keluargaku makin parah. Papa sekarang udah jarang banget pulang, entah ke mana. Mama juga, hobinya sekarang keluar terus bareng teman-temannya. Semuanya berubah drastis, bener-bener di luar dugaan. Aku cuma bisa bengong, nggak ngerti apa yang lagi terjadi sama keluargaku.Untungnya, di tengah kekacauan ini, aku masih punya Aqeela dan Lyodra. Mereka berdua bener-bener kayak malaikat. Selalu ada buat aku, selalu nyemangatin, dan nggak pernah ninggalin aku sendirian. Mereka yang bikin aku kuat jalanin semua ini.


Malem itu, jantungku udah mau copot. Jarum jam udah nunjukkin pukul satu dini hari, tapi Mama belum juga pulang. Pikiranku udah ke mana-mana, rasanya campur aduk banget. Antara cemas, takut, kesel, semua jadi satu.Nggak lama, samar-samar kedengeran pintu kebuka. Aku langsung nengok, dan Ya Tuhan... itu Mama. Kondisinya udah parah banget. Rambut berantakan, baju lecek. Aku buru-buru nyamperin, nanya Mama kenapa. Bukannya jawab, Mama malah ngebentak dan ngedorong aku. Mama langsung ngacir masuk kamar, ninggalin aku yang cuma bisa diam mematung di depan pintu.Aku terpaku di situ, berusaha mati-matian mencerna semua kehancuran yang lagi meluluhlantakkan keluarga kecilku. Udah benar-benar nggak tahan, aku langsung masuk kamar. Satu-satunya yang bisa kulakuin cuma nangis sampai sesak di atas kasur. Rasanya lelah luar biasa, sampai rasa nyerah itu datang.\"Ke mana keluarga cemaraku yang dulu?\" benakku menjerit. \"Mana Mama sama Papa yang


hangat dan selalu ada buat aku?\" Kepalaku penuh sama segudang pertanyaan. Rasanya... pengen mati aja.••• Pagi itu, aku udah nggak punya mood buat sekolah, bahkan buat ngapa-ngapain. Baru juga mau turun tangga, tiba-tiba suara teriakan nyaring melesat dari lantai bawah. Jantungku langsung berdebar nggak karuan, aku cepat-cepat lari ke sumber suara.Ternyata, dugaan terburukku benar: Mama sama Papa lagi perang mulut hebat. Rasanya mau pecah nangis, tapi aku kunci rapat-rapat air mata itu. Aku maju ke tengah mereka, coba merelai.\"Ma, Pa, please stop!\" Suaraku bergetar dan air mata langsung tumpah. \"Aku kangen keluarga kita yang dulu!\" Mama langsung melirik ke arahku dan menimpali dengan nada marah, \"Keluarga kita hancur gini ya semua gara-gara Papa kamu! Kerjaannya kelayapan sampai lupa anak bini, pasti dia main gila di luar!\"


Papa langsung emosi dan suaranya meninggi.\"HEH! Bicara sama suami itu yang sopan! Aku kerja keras buat keluarga ini, nggak ada urusan selingkuh! Emang kamu pikir aku cowok nggak punya harga diri?!\"Mereka lanjut berdebat, mengabaikan aku yang ada di tengah. Aku benar-benar nggak kuat lagi, rasanya mau meledak. Sampai akhirnya, aku berteriak histeris\"STOP! HENTIKAN! Aku capek, Ma, Pa! AKU BENCI KALIAN!\"Aku kabur gitu aja dari rumah, nangis sejadijadinya. Aku jalan ke sekolah dengan langkah gontai, rasanya hancur banget.Sampai sekolah, aku masuk kelas dengan muka kacau mata sembap, muka lecek. Baru juga mau duduk, Aqeela sama Lyodra langsung lari ke arahku. Muka mereka kelihatan khawatir dan langsung tanya.\"Bella, kamu kenapa? Ya ampun, kok nangis?\" Wajah mereka langsung berubah panik.Aku cuma bisa geleng-geleng, mulutku kayak terkunci. Detik berikutnya, pertahananku jebol. Aku langsung narik mereka berdua ke pelukanku dan tangisku pecah di situ juga. Rasanya sesak banget,


napas sampai tersengal-sengal. Mataku panas dan bengkak, tanganku dingin gemetaran. Aku bener-bener hancur saking kacaunya.Aqeela sama Lyodra paham banget kondisiku. Mereka nggak banyak omong, cuma ngusap-usap punggungku, coba nenangin. Aku bisa liat raut wajah mereka juga ikutan sedih, kayak mau nangis juga, tapi mereka berusaha tegar di depanku. Mereka tahu kalau saat itu aku butuh banget kekuatan dari mereka.Di pelukan mereka, perlahan-lahan aku bisa narik napas lagi, meskipun rasa sakit di hatiku masih kerasa banget.Tapi... ada yang janggal. Pas gue lagi ngeluarin semua unek-unek tentang apa yang terjadi di rumah, gue nggak sengaja ngelihat Alaska. Dia diam, tapi bibirnya... dia nyengir. Bukan, itu bukan senyum simpati. Itu senyum tipis yang puas. Senyum sumringah yang bikin bulu kuduk gue berdiri. Dia kelihatan seneng banget, seolah dia lagi nikmatin setiap detik dari cerita kehancuran keluarga gue.Darah gue langsung berdesir. Kenapa? Kenapa dia seneng? Apa lucu buat dia? Atau jangan-jangan...


dia ada hubungannya sama semua ini? Apa yang sebenarnya dia tahu yang gue nggak tahu? Sebenarnya ada apa?•••Waktu terus jalan kayak gitu sampai aku kuliah. Kupikir bakal membaik, ternyata keluarga makin berantakan. Mentalku udah hancur parah, rasanya udah nggak sanggup lagi. Di titik ini, yang aku punya cuma Aqeela sama Lyodra. Cuma mereka berdua yang masih bertahan di sisiku.Lama-kelamaan, pertengkaran, teriakan, bahkan pukulan, udah jadi pemandangan biasa di rumah. Aku udah kayak mati rasa. Rasanya udah nggak ada harapan sama sekali buat keluarga ini bisa balik kayak dulu lagi, mustahil banget.Malam itu aku pulang telat habis kuliah. Dari jauh aku udah ngerasa aneh, ada mobil asing parkir persis di depan rumah. Perasaanku langsung nggak enak, jadi aku buru-buru masuk.


Pemandangan di ruang tamu langsung menusuk mataku. Ada Mama, dan seorang pria yang nggak kukenal. Pria itu kelihatan rapi, tinggi, kulitnya gelap manis, tapi jelas udah tua. Mereka lagi ngobrol sambil ketawa-ketiwi. Akrab banget.Aku cuma bisa diam mematung, bingung setengah mati melihat pemandangan itu. Akhirnya aku nanya, suaraku mungkin kedengaran kaku: \"Ma, ini siapa?\"Mama nengok ke aku. Dia tersenyum manis banget, senyum yang udah lama banget nggak kulihat, tapi kali ini rasanya salah tempat. Lalu, dengan santai, dia ngejawab: \"Oh ini, kenalin. Dia calon suami Mama. Sekaligus calon papa tiri kamu.\"JLEB! Rasanya kayak ada yang runtuh di dalam diriku. Seketika itu juga. Aku syok, nggak percaya sama apa yang baru aja kudengar. Pikiranku kacau balau \"APA INI?! Papa aja belum jelas, sekarang ada yang baru?! NGGAK MUNGKIN!\"Aku nggak mau dengar apa-apa lagi. Tanpa mikir panjang, aku langsung lari nanjak ke kamar. Pintunya kututup sekencang-kencangnya sampai bunyinya


menggema. Tasku kulempar asal, dan aku langsung merosot di balik pintu. Cuma itu yang bisa kulakukan: duduk, dan nangis sejadi-jadinya.Rasanya mustahil banget bisa aku terima kenyataan ini. Keluarga cemaraku dulu, sekarang bener-bener udah di ujung tanduk. Semua harapanku udah pupus.•••Siang itu, otakku rasanya udah nggak keruan. Bukan cuma masalah keluarga yang bikin pusing, tapi tugas kuliah numpuk kayak gunung di atas meja kafe. Aku cuma bisa mandangin laptop tanpa ngerti apa-apa.Pas lagi berusaha keras fokus, pandanganku tiba-tiba terhenti. Di sudut kafe, terlihat siluet yang familiar... seorang pria Hoodie hitam legam, topi menutupi wajah. Jantungku langsung deg-degan nggak karuan. Tunggu sebentar... Siluet ini persis kayak sosok yang selalu ngikutin aku saat masa SMA dulu, Dia kembali?!


Rasa kaget dan marah langsung meledak. Nggak pakai mikir dua kali, aku langsung berdiri, melangkah cepat ke arah meja itu. Tanganku terulur, tanpa basa-basi, aku tarik kencang topi yang menutupi separuh wajahnya.DEG! Sosok yang selama ini gue cari... terungkap. Wajah yang sangat gue kenal... itu ALASKA. Teman SMA aku dulu. Napasku langsung tercekat. Jadi, selama ini benar? Dia... yang selalu mengawasi aku? Nggak ada waktu buat basa-basi. Aku langsung menatapnya tajam, mencondongkan badan, dan menuntut penjelasan saat itu juga.Bukannya takut atau minta maaf, Alaska malah ngasih smirk licik ke aku. Dia nggak repot-repot ngejawab pertanyaan aku, dia langsung berdiri dan menghilangkan jarak di antara kami. Dia condongin badannya sedikit, dan mengucapkan satu kalimat singkat yang menghantam aku tepat di dada: \"Misi gue berhasil.\"Lalu dia pergi. Alaska langsung ngeloyor keluar dari kafe, seolah nggak ada apa-apa yang terjadi. Dia ninggalin aku sendiri terpaku di situ.


Kepalaku langsung penuh sama segudang pertanyaan. Misi? Misi apa yang dia maksud? Apa ada hubungannya sama semua kekacauan di rumah? Apa dia yang merencanakan semuanya? Selama ini dia ngapain? Tubuh gue langsung lemas, nggak bisa gerak, syok yang luar biasa.Sepanjang perjalanan pulang, benakku terus dihantui perkataan Alaska. Apa maksudnya? Kenapa dia berkata begitu? Apa keluargaku pernah berbuat salah pada keluarganya? Otakku dipenuhi segudang pertanyaan. Masalah yang belum selesai malah bertambah lagi.Sesampainya di rumah pun, pikiran ini masih melayang-layang memikirkan hal tersebut. Rasanya ingin sekali menanyakan langsung pada Mama dan Papa, tapi...melihat kondisi keluargaku yang sedang tidak baik-baik saja, sepertinya niat itu lebih baik kupendam saja.Seketika sebuah rencana gila terlintas di benakku: chat Alaska! Ya, itu ide terbaik. Semoga saja nomornya masih yang lama. Aku buru-buru membuka obrolan lama kami yang sudah berdebu. Tanpa basa-


basi, langsung saja kutanyakan apa maksud perkataannya.Beberapa menit kemudian, sebuah notifikasi berdering dari ponselku. Alaska sudah membalas! Dia mengajakku bertemu besok siang di kafe tadi kalau aku benar-benar ingin tahu. Tanpa pikir panjang, langsung saja kuiyakan. Rasanya sudah tidak sabar lagi menunggu penjelasan Alaska, perasaanku campur aduk tak karuan!Siang itu tiba. Aku langsung melesat ke kafe, tanpa bilang ke Aqeela dan Lyodra soal pertemuanku dengan Alaska. Begitu masuk, mataku langsung menangkap Alaska yang sudah duduk di bangku paling pojok. Aku menghampirinya, menarik kursi, dan tanpa basa-basi langsung memberondongnya dengan pertanyaan.Alaska tiba-tiba memotong ucapanku, \"Gimana rasanya keluarga lu hancur?\" Katanya sambil tersenyum tipis. Aku kaget setengah mati. Kok dia bisa tahu? Cuma Aqeela sama Lyodra yang tahu masalah ini.


\"HAH? Gimana lo bisa tahu?\" sahutku, bingung. Dia cuma senyum dan bilang kalau semua ini rencananya dari dulu.Yang lebih bikin aku syok, dia bilang kalau si Bastian itu adalah saudaranya. Bahkan, calon suami baru mamaku itu papa Alaska. Dan semua kehancuran keluargaku? Itu semua ulah Alaska dan keluarganya! Aku benar-benar enggak habis pikir sama semua perkataan Alaska. Rasanya aku pengen mati di tempat saat itu juga. Air mataku luruh tanpa kusadari. Aku cuma terdiam, memikirkan kenapa dia bisa sejahat ini padaku.\"Alaska, lo benar-benar udah kelewatan, ya! Gue benci lo! Gue enggak akan pernah maafin lo selamanya, karena lo udah hancurin kebahagiaan gue!\" teriakku, nada suaraku meninggi dan tatapanku menajam. Tapi Alaska cuma tersenyum tipis, lalu berkata pelan tapi tegas, \"Gue? Jahat? Yang jahat itu keluarga lo! Keluarga lo udah merebut semua kebahagiaan keluarga gue.Bahkan mama sama papa gue cerai gara-gara keluarga lo. Jadi sekarang yang jahat gue apa lo?\" ucap Alaska sambil menatap tajam ke arahku.


Aku terdiam sejenak, lalu PLAK! Sebuah tamparan mendarat di pipi Alaska. Aku baru mau buka mulut karena syok, tapi Alaska nggak ngasih kesempatan. Dia menambahkan ucapan lagi, senyum puas terukir di bibirnya.\"Tentu aja Mama sama Papa lo tahu. Semua drama yang mereka sembunyiin dari lo, akhirnya nongol ke permukaan berkat rencana matang gue,\" ucapnya dengan nada yang penuh kemenangan.Mendengar itu, kemarahanku udah nggak bisa ditahan. Nggak cuma marah, tapi juga merasa dikhianati oleh semua orang. Aku nggak sudi lagi berada di ruangan yang sama sama dia!Aku langsung ambil tas, menghentak kaki, dan secepat kilat ninggalin Alaska sendirian. Pikiranku kalut. Aku langsung masuk mobil, menginjak pedal gas dalamdalam. Ban berdecit saat aku melaju kencang pulang ke rumah. Aku harus tahu kebenaran apa yang selama ini disembunyikan orang tuaku!Begitu sampai di rumah, aku langsung lihat ada sebuah mobil yang nggak asing di parkiran. Setelah kuperhatikan lebih dekat, ternyata itu mobil papanya


Alaska. Jantungku langsung berdegup kencang. Aku buru-buru masuk ke dalam rumah, dan di sana kulihat Mama lagi ngobrol hangat bareng dia.Tanpa pikir panjang, aku langsung menghampiri mereka dan berkata dengan suara lantang, \"Ma, jangan nikahin laki-laki jahat ini!\"Menunjuk ke arah papanya Alaska. Mama kaget, jelas. Dia langsung menatapku dan bertanya, \"Bella, maksud kamu apa ngomong kayak gitu?\"Aku berusaha jelasin semuanya, semua yang sebenarnya terjadi. Tapi sebelum aku selesai bicara, Mama malah menamparku. Wajahnya marah dan tanpa banyak kata, dia nyuruh aku masuk ke kamar. Detik itu juga aku lari ke kamar sambil nahan tangis. Begitu pintu tertutup, aku langsung jatuh ke tempat tidur dan menangis sejadi-jadinya.Malam ini rasanya beda, lebih pekat, lebih dingin. Aku terduduk di ujung kasur, membiarkan dinding kamar jadi saksi bisu air mata yang sialnya nggak mau berhenti. Bantal di pangkuan sudah jadi danau kecil.


Dan entah kenapa, pikiranku malah asyik memutar film lama. Film tentang kita. Tentang rumah yang dulu selalu wangi masakan Ibu, tentang gelak tawa Ayah yang bisa bikin seisi rumah bergetar, tentang candaan receh kita yang selalu berhasil bikin suasana hangat. Sebuah potret keluarga cemara yang sempurna.Dada ini sesak. Pengen banget rasanya kuputar balik waktu, tapi remote-nya sudah rusak dan tak akan pernah bisa dibenahi. Semua itu sekarang cuma jadi kenangan mahal. Sampai akhirnya, lelah dengan tangis sendiri, mata ini menyerah dan tertutup begitu saja.Sinar matahari maksa masuk, tapi yang terasa cuma mata bengkak sama kepala yang nyut-nyutan. Udah jadi ritual pagi, sih, belakangan ini. Hari libur. Satu kata yang dulu rasanya sihir, sekarang malah jadi horor. Otomatis, bayangan liburan keluarga tiba-tiba nyerbu tanpa izin.Cukup. Aku gelengkan kepala kuat-kuat, maksa kaki buat napak di lantai dingin dan bergegas mandi.Turun ke bawah, heningnya rumah ini langsung nonjok. Dulu, jam segini udah rame sama suara Mama di dapur,


diselingi candaan pagi. Sekarang? Cuma ada aku dan gema langkah kakiku sendiri. Sambil masak sarapan seadanya, aku lihat meja makan yang megah itu. Dulu tempat kita ketawa, sekarang cuma jadi panggung buat sarapanku yang sepi. Satu-satunya teman ngobrol ya cuma suara scroll-an linimasa di hape.Tak mau berlama-lama disiksa sepi, aku kabur ke perpustakaan, tempat pelarian terbaik. Di antara rakrak buku yang bisu, pikiranku sedikit tenang. Tiba-tiba, sebuah notif menggetarkan hape, kayak ada yang melempar pelampung di tengah laut.Aqeela & Lyodra: \"Woy, main yuk! Gabut nih, mumpung libur.\"Tanpa pikir dua kali, buku kututup. Aku butuh suara tawa manusia, bukan cuma gema kenangan. Bergegas, aku langkahkan kaki keluar dari sunyi, menuju kafe langganan kami.Kami ngumpul di kafe langganan, tempat yang udah jadi saksi banyak cerita. Saling tukar kabar, tawa, kadang keluhan aku butuh mereka hari itu. Mereka satusatunya yang masih aku punya sekarang. Setelah


cukup ngobrol dan hati agak lega, kami bubar, pulang ke rumah masing-masing.Sampai di rumah, aku cuma bisa berdiri di depan pintu. Rumah yang dulu selalu hangat, penuh suara dan cahaya, sekarang gelap dan sunyi. Kayak nggak ada kehidupan. Rasanya hampa.Aku kangen… kangen masa-masa bahagia itu. Tapi ya, ini kenyataan yang harus aku hadapi. Aku cuma bisa belajar nerima, walau berat.•••Malam pun datang. Seperti biasa, aku cuma duduk di kamar, main ponsel sambil ditemani sunyi yang makin lama makin pekat. Sepi banget, sampai rasanya suara napasku sendiri terdengar jelas. Nggak kerasa, jam udah nunjukin pukul 11 malam.Pas lagi siap-siap buat tidur, tiba-tiba terdengar suara ketukan keras di pintu. Disusul suara teriakan panik, “Bella!!”. Aku langsung bangkit, jantung berdegup


nggak karuan. Begitu buka pintu, kulihat teman kerja mama berdiri di sana… dan di sampingnya, mama.Mama dalam keadaan kacau baju awut-awutan, mata sembab, dan tangisnya nggak berhenti. Tanpa banyak tanya, aku langsung bantu mama masuk dan membaringkannya di ruang tamu.Teman kantor mama mulai cerita… dan jujur, aku nggak siap dengar semuanya. Kenyataan itu menamparku keras-keras Mamaku kena tipu. Ditipu oleh Papa Alaska, pria yang baru saja dicurigai Alaska sendiri. Sungguh ironis. Semua lenyap. Harta benda, tabungan masa depan, aset berharga... semuanya raib, hanya dalam hitungan jam. Kami miskin mendadak.Kakiku mendadak lemas. Perasaan marah, kesal, putus asa, bercampur jadi satu dan mendidih di dalam dada. Tapi teriakan itu tertahan saat aku lihat Mama. Dia udah kayak mayat hidup, pandangannya kosong.Aku nggak punya waktu buat nangis. Aku harus jadi batu. Aku langsung tarik Mama ke pelukanku, ngasih kehangatan yang gue harap bisa meredakan sedikit lukanya.


Kuantar Mama ke tempat tidur, membiarkan dia tenggelam dalam rasa lelahnya. Malam itu panjang dan penuh rasa sakit. Sejak saat itu, keputusanku bulat. Aku nggak akan biarin Mama berjuang sendirian. Aku harus jadi pelindung. Aku adalah satu-satunya harapan yang tersisa buat keluarga kecil yang hancur ini.Sejak malam itu, hidupku berubah total. Nggak ada lagi kenyamanan, nggak ada lagi rasa aman. Aku dan mama harus mulai dari nol nyari rumah kontrakan kecil buat sekadar berteduh. Aku pun terpaksa berhenti kuliah. Bukan karena aku mau, tapi karena keadaan yang maksa. Uang udah nggak ada, dan bertahan hidup jadi prioritas utama. Aku sengaja nunggu beberapa hari sampai emosi Mama stabil. Di suatu malam yang sunyi, aku mendekat dan mengajukan pertanyaan yang paling menakutkan itu \"Apa hubungan antara keluarga kita dan Alaska?\"Mama menatapku dengan mata berkaca-kaca. Suaranya serak saat dia mulai menuturkan semua rahasia yang terkubur dalam-dalam. Dia menceritakan masa lalu kelam yang menjadi benang merah antara keluarga kami dan keluarga Alaska.


Aku cuma bisa diam membisu. Makin lama cerita itu bergulir, makin besar rasa kaget dan syok yang aku rasain. Ternyata, keruntuhan yang kami alami sekarang bukan tanpa sebab. Itu adalah balasan. Balasan atas kesalahan yang tidak disengaja oleh keluargaku di masa lalu.Semua ini karma. Semua ini adalah konsekuensi dari apa yang pernah kami perbuat. Kenyataan itu menghantamku lebih keras daripada pukulan fisik. Rasanya sakit banget harus menerima kalau keluarga gue juga bersalah.Hari-hariku sekarang diisi dengan cari kerja ke sana-sini. Apa aja aku lakuin asal bisa dapet uang buat makan, bayar kontrakan, dan yang paling penting... buat biaya pengobatan mama.Kondisi mama makin hari makin menurun. Badannya lemah, sering sakit-sakitan. Dan aku tahu, kalau nggak segera ditangani, semuanya bisa jadi lebih buruk. Tapi pengobatan butuh biaya yang nggak sedikit… dan aku belum punya itu.Sekarang, aku jadi tulang punggung satusatunya buat mama. Capek? Banget. Tapi aku nggak


punya pilihan buat ngeluh. Karena kalau aku nyerah, siapa lagi yang mama punya?Aku cuma bisa terus jalan, meski kaki rasanya berat. Karena satu-satunya yang masih bisa kupertahanin… adalah harapan.•••Hari demi hari, kondisi mama makin memburuk. Aku bisa lihat sendiri, tubuhnya makin lemah, senyumnya makin jarang muncul. Tapi aku tetap berusaha kuat berpura-pura semuanya baik-baik aja, walau dalam hati udah nggak karuan.Sampai akhirnya, satu hari saat aku lagi kerja, aku dapet telepon dari tetangga. Suaranya pelan, tapi kalimatnya nusuk banget ke hati: “Maaf, Bella… mamamu udah nggak ada.”Dunia rasanya berhenti. Tanganku gemetar, tubuhku lemas. Air mata langsung jatuh tanpa bisa ditahan. Aku buru-buru pulang, dan begitu sampai…


rumah udah dipenuhi orang-orang yang bantu ngurus jenazah mama.Aku berdiri di depan pintu, nggak sanggup ngelangkah. Di tengah rumah, mama terbujur kaku, diam selamanya. Aku nangis sejadi-jadinya, kayak semua yang aku tahan selama ini tumpah begitu aja. Lyodra dan Aqeela peluk aku, coba nenangin… tapi nggak ada yang bisa nenangin luka sebesar ini.Hari itu berlalu seperti mimpi buruk. Pemakaman selesai, orang-orang pulang satu per satu, tapi aku masih duduk di pojok kamar… hampa. Rasanya semua semangat ikut dikubur bersama mama.Papa? Entah ke mana. Nggak ada kabar, nggak ada jejak. Di tengah malam, aku sering terbangun dan berpikir andai saja. Andai saja dulu kami nggak pernah pindah ke sini. Andai saja aku nggak pernah ketemu Alaska. Mungkin semua masalah ini nggak akan terjadi.Penyesalan itu dalam banget, kayak lubang hitam yang terus narik aku.Tapi... hati kecilku nggak bisa bohong. Aku tahu kalau semua kehancuran yang kami alami ini bukan kebetulan. Ini adalah bentuk keadilan yang sakit banget


rasanya. Ini adalah balasan atas perbuatan keluargaku yang telah mengambil apa yang paling berharga dari keluarga Alaska.Kami pantas menerima ini, meski rasanya nggak adil buat aku. Aku harus terima, aku harus kuat, meski harus menanggung beban dosa orang tua ku yang nggak aku mengerti sepenuhnya.Tapi hidup terus jalan, dan aku nggak bisa terus terjebak di masa lalu. Pelan-pelan, aku belajar ikhlas. Belajar berdamai sama luka, walau nggak mudah. Aku coba buka lembaran baru bukan buat melupakan semuanya, tapi buat memberi diriku kesempatan buat bahagia lagi. Karena aku tahu, mama pasti pengen lihat aku hidup dengan baik… walau tanpanya.TAMAT


Click to View FlipBook Version