The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by BENGKEL LITERASI SMP NEGERI 3 AMPEK ANGKEK, 2025-11-18 22:41:52

RESTI

RESTI

Mentari senja mulai merayap, menyelimuti halaman sekolah dengan cahaya keemasan. Sebuah notifikasi berdentang di ponselku, membuyarkan lamunan tentang pelajaran terakhir. Senyumku merekah saat membaca pesan dari Papa.\"Papa jemput sekarang, ya, Sayang.\" Tak lama kemudian, suara klakson mobil Papa memecah keheningan.\"Itu Papa!\" seruku, melambaikan tangan pada Lyodra dan Aqeela sebelum bergegas masuk ke mobil.\"Gimana dinasnya, Pa?\" tanyaku, penasaran dengan cerita perjalanan Papa.\"Lancar, Sayang,\" jawab Papa, matanya berbinar.\"Papa ada sesuatu buat kamu.\" Rasa penasaranku semakin memuncak. Apa ya yang dibawakan Papa?\"Wah, apa itu, Pa?\" tanyaku tak sabar.\"Nanti di rumah kamu lihat sendiri,\" jawab Papa sambil tersenyum misterius.


Sepanjang perjalanan pulang, aku terus menebak-nebak hadiah dari Papa. Apakah boneka beruang besar yang selama ini kuinginkan? Atau mungkin buku novel terbaru dari penulis favoritku? Atau jangan-jangan, Papa membelikanku tiket konser band kesukaanku?Sesampainya di rumah, aku langsung berlari ke kamar, diikuti Papa yang membawa sebuah kotak berukuran sedang. Dengan hati berdebar, kubuka kotak itu. Mataku terbelalak tak percaya.Di dalamnya, terdapat sebuah gitar akustik berwarna biru muda, lengkap dengan tas dan perlengkapan lainnya.\"Papa tahu kamu suka main musik,\" kata Papa, senyumnya bangga.\"Semoga kamu suka.\"Aku terharu. Selama ini, aku hanya bisa meminjam gitar teman untuk bermain musik. Gitar ini, impianku sejak lama, akhirnya menjadi kenyataan.\"Makasih banyak, Pa!\" seruku, memeluk Papa erat. \"Ini hadiah terbaik yang pernah aku terima!\"


Malam itu, aku menghabiskan waktu dengan memainkan gitar baruku. Melodi-melodi indah mengalun di kamar, mengiringi rasa bahagia yang meluap-luap. Aku tak sabar untuk menciptakan lagu-lagu baru, menuangkan segala perasaan dan imajinasiku ke dalam nada dan lirik.Hadiah dari Papa bukan hanya sekadar gitar. Lebih dari itu, ini adalah bukti cinta dan dukungan Papa terhadap impianku. Aku berjanji, akan kupergunakan gitar ini sebaik mungkin, dan suatu hari nanti, aku akan berdiri di atas panggung, menyanyikan lagu-lagu ciptaanku sendiri.Jari-jariku lincah menari di atas senar gitar baru, melodi ceria mengalun mengisi ruang. Tiba-tiba pintu terbuka. Papa dan Mama masuk, piyama mereka jadi kontras banget sama suasana malam yang baru kutinggalkan.\"Cieee, yang betah banget di kasur!\" celetuk Papa, suaranya usil. Mama ikut tertawa.Malam itu, mereka membuatku tertawa tanpa henti. Lelucon-lelucon usang yang selalu mereka ulang.


Aku tahu mereka sengaja, menciptakan gelembung kebahagiaan agar aku melupakan rasa waswas.Aku bersandar di bahu Mama, sementara Papa menceritakan kejadian konyol yang dialaminya hari ini. Kehangatan dan perhatian mereka malam itu terasa sangat berharga. Itu adalah perlindungan emosional yang aku butuhkan setelah memikirkan pria hodie hitam itu. Aku menutup mata sejenak, menikmati rasa aman yang ditawarkan oleh pelukan orang tuaku. Aku sadar, mereka adalah bentengku melawan semua misteri yang mulai mengganggu hidupku.•••Mentari pagi yang hangat menyelinap masuk melalui celah jendela kamarku, membangunkan aku dari mimpi indah. Hari ini adalah hari keempatku bersekolah di SMA Taruna Bakti, dan semangatku membara seperti api unggun. Senyumku merekah saat mengingat Lyodra dan Aqeela, dua sahabat baru yang membuat harihariku di sekolah terasa begitu menyenangkan.


Dengan langkah riang, aku menuruni tangga menuju ruang makan. Aroma harum masakan Mama langsung menyambutku. Di meja makan, Papa sudah duduk sambil membaca koran, sementara Mama sibuk menata sarapan.\"Pagi, Ma, Pa!\" sapaku ceria.\"Pagi, Sayang,\" jawab Mama sambil tersenyum.\"Hari ini Mama masak nasi goreng spesial buat kamu.\"\"Wah, makasih, Ma! Pasti enak banget,\" sahutku sambil menarik kursi. Nasi goreng buatan Mama memang selalu menjadi favoritku. Sambil menyantap sarapan, kami berbincang-bincang tentang berbagai hal, mulai dari pelajaran di sekolah hingga rencana liburan akhir pekan.Setelah selesai sarapan, aku berpamitan kepada Mama dan berangkat ke sekolah bersama Papa. Di dalam mobil, kami melanjutkan obrolan ringan. Papa selalu punya cerita-cerita lucu yang membuatku tertawa. Tak terasa, kami sudah sampai di depan gerbang sekolah.


\"Belajar yang rajin, ya, Nak,\" pesan Papa sambil mengacak-acak rambutku.\"Siap, Pa!\" jawabku sambil tersenyum. Aku melambaikan tangan ke arah Papa dan berjalan memasuki gerbang sekolah.Di depan kelas, Lyodra dan Aqeela sudah menungguku.\"Pagi, Bella!\" sapa mereka serempak.\"Pagi!\" jawabku sambil tersenyum lebar. \"Kalian udah lama nunggu?\"\"Enggak kok, baru aja sampai,\" kata Lyodra.Kami pun berjalan bersama menuju kelas sambil mengobrol. Topik obrolan kami sangat beragam, mulai dari pelajaran yang akan kami hadapi hingga gosipgosip terbaru di sekolah.\"Eh, tapi ngomong-ngomong, kalian tau gak sih ada murid baru di kelas sebelah?\"\"Murid baru? Cowok apa cewek?\" tanyaku penasaran.\"Cowok, ganteng banget lagi,\" jawab Aqeela.


\"Wah, kayaknya bakal ada saingan nih buat cowok-cowok di sekolah kita,\" kata Lyodra sambil tertawa.Bel masuk berbunyi, dan kami pun segera masuk ke dalam kelas. Hari ini, kami akan belajar matematika, salah satu pelajaran favoritku. Aku sangat bersemangat untuk mengikuti pelajaran hari ini.Dentang bel pelajaran menggema, memecah keheningan ruang kelas. Pak Budi, guru matematika yang terkenal dengan ketegasannya, sedang menjelaskan rumus-rumus aljabar yang rumit. Namun, konsentrasiku buyar. Perutku tiba-tiba bergejolak, mendesakku untuk segera ke toilet.\"Permisi, Pak, bolehkah saya ke toilet?\" tanyaku dengan suara pelan, berusaha tidak mengganggu konsentrasi teman-teman yang lain.\"Silakan, tapi jangan lama-lama,\" jawab Pak Budi tanpa mengalihkan pandangannya dari papan tulis.Aku bergegas keluar kelas, menyusuri lorong yang sepi. Langkahku tergesa-gesa, membuatku kurang memperhatikan jalan. Tiba-tiba, \"Bruk!\" Aku menabrak


seseorang, buku-buku yang dia bawa berhamburan ke lantai.\"Aduh, maaf ya!\" ucapku dengan nada bersalah, menunduk untuk memungut buku-buku yang jatuh.\"Oh, tidak apa-apa,\" jawab suara bariton yang lembut. Aku mendongak dan melihat seorang laki-laki berdiri di depanku. Dia memiliki rambut hitam legam yang sedikit berantakan, mata cokelat yang hangat, dan senyum yang menawan. Dia sedang merapikan kerah bajunya yang sedikit kusut.\"Maaf sekali lagi,\" ucapku sambil menyerahkan buku-bukunya yang terjatuh.\"Tidak masalah,\" jawabnya sambil tersenyum.\"Lain kali hati-hati ya.\"Aku mengangguk dan bergegas menuju toilet, rasa penasaran menyelimuti pikiranku. Siapa laki-laki itu? Aku belum pernah melihatnya sebelumnya.Setelah urusanku selesai, aku keluar dari toilet dan terkejut melihat laki-laki itu masih berdiri di depan pintu.\"Kamu belum kembali ke kelas?\" tanyaku heran.


\"Aku sedang menunggu seseorang,\" jawabnya sambil tersenyum misterius.\"Menunggu siapa?\" tanyaku penasaran.\"Itu rahasia,\" jawabnya sambil mengedipkan sebelah mata. \"Tapi, sepertinya dia sudah datang.\"Dia menoleh ke belakangku, dan aku pun ikut menoleh. Aku melihat seorang gadis cantik berambut pirang berjalan ke arah kami. Gadis itu tersenyum manis pada laki-laki itu, dan mereka pun berjalan pergi bersama.Aku terdiam, menatap kepergian mereka. Siapa gadis itu? Dan mengapa laki-laki itu menunggunya di depan toilet? Rasa penasaran semakin menggerogoti pikiranku.


BAB 6Setelah kembali ke kelas, aku duduk di kursiku dengan pikiran yang masih melayang pada kejadian di lorong tadi. Pak Budi masih menjelaskan rumus-rumus aljabar, tetapi aku tidak bisa fokus. Aku menoleh ke arah Lyodra dan Aqeela, yang duduk di sebelahku.\"Eh, tadi aku tidak sengaja menabrak seorang laki-laki saat ingin ke toilet,\" bisikku pada mereka.Mata Lyodra dan Aqeela langsung berbinarbinar. \"Wah, siapa? Ganteng nggak?\" tanya Aqeela dengan nada antusias.\"Lumayan sih,\" jawabku sambil tersenyum tipis.\"Tapi aku nggak kenal dia. Aku baru pertama kali lihat dia.\"\"Mungkin anak baru dari kelas sebelah?\" tebak Lyodra.\"Bisa jadi,\" sahutku.\"Tapi dia kelihatan bukan tipe anak baru yang pemalu. Dia malah kelihatan... misterius.\"


\"Misterius?\" tanya Aqeela, alisnya terangkat.Aku mengangguk. \"Iya, dia kayaknya lagi nungguin seseorang di depan toilet. Pas aku keluar, dia masih di situ. Terus, tiba-tiba ada cewek cantik datang, dan mereka pergi bareng.\"\"Wah, kayaknya seru nih,\" kata Lyodra. \"Kita harus cari tahu siapa dia!\"\"Iya, setuju!\" sahut Aqeela.\"Mungkin dia pacarnya anak kelas sebelah?\"\"Atau mungkin dia anak dari sekolah lain yang lagi main ke sini?\" kataku.Kami bertiga mulai berdiskusi, mencoba menebak-nebak siapa laki-laki misterius itu. Pikiran kami dipenuhi dengan berbagai spekulasi dan teka-teki. Bel pelajaran pun berakhir, dan kami keluar dari kelas dengan rasa penasaran yang semakin membuncah.\"Gimana kalau kita cari tahu tentang dia nanti pas istirahat?\" usul Lyodra.\"Boleh tuh,\" jawab Aqeela.


\"Kita cari informasi dari anak-anak kelas sebelah.\"\"Oke, aku ikut!\" sahutku. Aku merasa sangat penasaran dengan laki-laki itu. Siapa dia sebenarnya? Dan apa hubungannya dengan gadis cantik itu? Aku bertekad untuk mencari tahu jawabannya.•••Saat bel istirahat berbunyi, kami bertiga langsung bergegas menuju kelas sebelah. Rasa penasaran kami sudah mencapai puncaknya. Kami ingin sekali mengetahui siapa laki-laki misterius itu. Begitu sampai di depan kelas, kami melihat beberapa siswa sedang berkumpul di depan pintu.\"Permisi, kami mau tanya,\" kata Lyodra dengan sopan.\"Kalian kenal sama anak baru yang tadi pagi ada di depan toilet?\"Salah satu teman Aqeela yang kebetulan ada di sana menoleh ke arah kami.


\"Oh, kalian pasti maksud bastan itu ya?\"\"Bastian?\" tanyaku heran.\"Iya, Bastian. Tapi aneh, Bastian itu misterius banget. Jarang ngobrol sama orang lain, kecuali...\" teman Aqeela itu menggantungkan kalimatnya, membuat kami semakin penasaran.\"Kecuali siapa?\" tanya Aqeela tak sabar.\"Kecuali Alaska,\" jawab teman Aqeela itu.\"Hah? Alaska?\" tanyaku dan Lyodra bersamaan.\"Iya, kemarin aku lihat mereka berdua lagi ngobrol di taman belakang sekolah,\" lanjut teman Aqeela itu.\"Mereka kelihatan akrab banget.\" Kami bertiga saling berpandangan. Apa hubungan saudara bastian itu dengan Alaska? Mengapa mereka terlihat begitu dekat? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di kepala kami.\"Mereka itu siapa sih sebenarnya?\" tanya Lyodra.


\"Entahlah,\" jawab teman Aqeela itu sambil mengangkat bahu.\"Yang jelas, Bastian itu misterius banget. Jarang ada yang tahu tentang dia.\" Kami bertiga menganggukangguk. Rasa penasaran kami semakin menjadi-jadi. Kami bertekad untuk mencari tahu lebih banyak tentang saudara kembar misterius itu dan hubungan mereka dengan Alaska.\"Makasih ya informasinya,\" kata Aqeela.\"Sama-sama,\" jawab teman Aqeela itu sambil tersenyum.Kami bertiga meninggalkan kelas sebelah dengan pikiran yang penuh dengan teka-teki. Kami memutuskan untuk mencari informasi lebih lanjut tentang saudara kembar misterius itu. Kami ingin tahu siapa mereka sebenarnya dan apa hubungan mereka dengan Alaska.Pikiran tentang Bastian dan hubungan dia dengan Alaska terus berputar-putar di kepalaku, bahkan setelah bel pulang sekolah berbunyi. Aku sangat penasaran, ingin sekali bertanya langsung kepada Alaska. Namun, ada perasaan tidak enak yang


menahanku. Rasanya seperti mencampuri urusan orang lain.Sesampainya di rumah, aku langsung masuk ke kamar dan mengganti seragamku dengan pakaian santai. Biasanya, aku akan langsung menuju dapur untuk makan siang, tapi kali ini aku terlalu tenggelam dalam pikiranku. Aku duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke arah jendela.\"Tok! Tok! Tok!\" Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Mama berdiri di ambang pintu, tersenyum lembut sambil membawa nampan berisi makan siang.\"Kamu belum makan, Sayang?\" tanyanya.\"Eh, belum, Ma,\" jawabku sambil tersenyum tipis. \"Aku lupa.\"Mama masuk ke kamar dan meletakkan nampan di atas meja belajar.\"Sini, makan dulu,\" katanya sambil menarik kursi.\"Mama bawakan nasi goreng kesukaanmu.\"


Aku duduk di kursi dan mulai menyantap nasi goreng. Mama duduk di tepi tempat tidur, menatapku dengan tatapan penuh kasih sayang.\"Kamu kenapa sih, Sayang? Kok dari tadi Mama lihat kamu melamun terus?\" tanya Mama.\"Ada masalah di sekolah?\" Aku menghela napas.\"Sebenarnya, ada sesuatu yang bikin aku penasaran, Ma,\" kataku.\"Tadi di sekolah, aku ketemu sama cowok misterius banget, jarang ngobrol sama orang lain. Tapi, mereka dekat sama Alaska.\"\"Alaska? Teman sekelasmu itu?\" tanya Mama.\"Iya, Ma,\" jawabku. \"Aku penasaran, apa hubungan dia sama Alaska. Aku pengen tanya langsung ke Alaska, tapi aku nggak enak.\"Mama tersenyum. \"Kamu anak yang baik, Sayang,\" katanya.\"Tapi, kalau kamu penasaran, nggak ada salahnya kamu tanya ke Alaska. Tapi, tanya dengan


sopan, ya. Jangan sampai kamu bikin dia merasa terganggu.\"\"Iya, Ma,\" kataku. \"Aku janji.\" Mama mengelus rambutku dengan lembut.\"Udah, jangan dipikirin terus,\" katanya.\"Sekarang, makan dulu yang banyak. Besok kamu bisa tanya ke Alaska.\" Aku mengangguk dan melanjutkan makan malamku. Kata-kata Mama membuatku merasa lebih tenang. Aku berjanji pada diri sendiri untuk bertanya kepada Alaska besok, dengan sopan dan hati-hati.•••Pagi merekah dengan sinar mentari yang hangat, membelai lembut kulitku. Sebuah hari baru, sebuah misi baru. Dengan langkah penuh tekad, aku bergegas menuju kamar mandi, membiarkan air dingin menyegarkan tubuh dan pikiranku. Seragam sekolah yang rapi sudah menanti, siap menemani petualangan hari ini.


Sarapan pagi yang sederhana namun mengenyangkan menjadi pengisi tenaga sebelum aku melangkah keluar rumah. Bus sekolah yang setia menjemput, membawaku bersama teman-teman menuju gerbang ilmu. Setibanya di sekolah, mataku langsung mencari sosok Lyodra dan Aqeela, dua sahabat yang selalu menjadi penyemangatku.\"Hari ini, aku harus mendapatkan jawaban,\" ucapku mantap, menatap kedua sahabatku.\"Aku akan bertanya langsung pada Alaska tentang Bastian itu.\"Lyodra dan Aqeela saling berpandangan, lalu memberikan senyum penuh dukungan.\"Semangat! Kami yakin kamu bisa,\" kata Lyodra, diikuti anggukan setuju dari Aqeela.Dengan langkah sedikit gugup, aku menghampiri Alaska yang sedang duduk di taman sekolah. Di bawah rindangnya pohon sakura, ia tampak tenggelam dalam dunia novel favoritnya. Aku menarik napas dalamdalam, mencoba menenangkan debaran jantungku.


\"Hmm... Alaska, apakah aku boleh bertanya sesuatu?\" ucapku hati-hati, berusaha menyembunyikan rasa gugup.Alaska mendongak, menutup bukunya, dan tersenyum ramah. \"Tentu saja. Ada apa? Sepertinya penting,\" jawabnya, membuatku sedikit lega.\"Aku... aku ingin tahu tentang kedekatanmu dengan Bastian itu,\" tanyaku, langsung ke inti permasalahan.Alaska terdiam sejenak, ekspresinya berubah menjadi sedikit tegang.\"Oh, dia... bukan siapa-siapa,\" jawabnya, namun ada keraguan yang tersirat dalam suaranya.\"Apakah kamu yakin?\" desakku, merasa ada yang disembunyikan.\"Ya, tentu,\" jawab Alaska, kembali membuka bukunya, seolah ingin mengakhiri percakapan.Aku merasa kecewa dengan jawaban Alaska yang tidak memuaskan. Dengan langkah berat, aku meninggalkan Alaska dan menghampiri Lyodra dan Aqeela yang sudah menunggu.


\"Bagaimana?\" tanya Lyodra, penuh rasa ingin tahu.Aku menceritakan percakapanku dengan Alaska, tentang jawabannya yang singkat dan tidak meyakinkan.\"Dia bilang mereka bukan siapa-siapa, tapi aku merasa ada yang disembunyikan,\" kataku, menghela napas.Aqeela mengangguk setuju. \"Aku juga merasakan hal yang sama. Ada sesuatu yang misterius tentang mereka.\"\"Kita harus mencari tahu lebih banyak,\" kata Lyodra, matanya berbinar penuh semangat.\"Mungkin kita bisa mencari informasi tentang mereka di internet atau bertanya pada orang lain yang mengenal Alaska.\"\"Ide bagus!\" seruku, merasa semangatku kembali.\"Kita akan mengungkap misteri ini bersamasama.\"


Bel sekolah berbunyi, menandakan waktunya masuk kelas. Kami bertiga berpisah, namun pikiran kami masih terpaku pada misteri saudara kembar Alaska. Sepanjang pelajaran, aku terus memikirkan cara untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Saat istirahat, kami berkumpul di kantin sekolah.\"Aku sudah mencari informasi tentang Alaska dan saudara kembarnya di internet, tapi tidak ada hasil,\" kata Lyodra, menunjukkan layar ponselnya yang kosong.\"Aku juga sudah bertanya pada beberapa teman sekelas Alaska, tapi mereka tidak tahu apa-apa tentang saudara kembarnya,\" tambah Aqeela, wajahnya terlihat kecewa. \"Jangan menyerah,\" kataku, berusaha menyemangati teman-temanku.\"Kita pasti bisa menemukan petunjuk jika terus berusaha.\"Tiba-tiba, mataku tertuju pada sebuah papan pengumuman di sudut kantin. Sebuah poster berwarna mencolok menarik perhatianku.


\"Pameran Seni Sekolah!\" teriakku, menunjuk poster itu.\"Alaska sangat suka melukis. Mungkin kita bisa menemukan petunjuk di pameran seni.\"Lyodra dan Aqeela mengangguk setuju. \"Ide bagus! Kita akan pergi ke pameran seni sepulang sekolah.\"Dengan semangat baru, kami bertiga menantikan akhir pelajaran. Sorot lampu pameran seni menyinari ruangan yang dipenuhi dengan karya-karya indah. Aroma cat minyak dan kanvas baru bercampur dengan suara riuh pengunjung yang mengagumi setiap lukisan. Aku, Lyodra, dan Aqeela menyusuri ruangan, mencari sosok Alaska di antara kerumunan.\"Lihat itu!\" bisik Lyodra, menunjuk ke arah sudut ruangan. Alaska sedang sibuk menata peralatan lukisnya, wajahnya tampak serius namun santai.Kami bertiga memencar, mencoba mencari informasi sebanyak mungkin tentang Alaska dan saudara kembarnya. Aku berjalan mendekati Alaska, mencoba bersikap santai.


\"Hai, Alaska,\" sapaku, tersenyum ramah.\"Sepertinya kamu sibuk sekali.\" Alaska mendongak, tersenyum balik.\"Ya, sedikit. Aku sedang menyiapkan alat untuk melukis nanti.\"\"Lukisan apa yang akan kamu buat?\" tanyaku, mencoba memancing percakapan.\"Rahasia,\" jawab Alaska, tersenyum misterius.\"Tapi aku yakin kamu akan menyukainya.\"Kami berbincang-bincang tentang seni, tentang lukisan favorit kami, dan tentang hal-hal ringan lainnya. Tawa kecil sesekali terdengar, mencairkan suasana yang sedikit tegang. Aku berusaha mencari celah untuk bertanya tentang saudara kembar misterius dan dia, tapi Alaska selalu mengalihkan pembicaraan.Akhirnya, acara pameran seni dimulai. Lampu sorot semakin terang, menyorot ke arah panggung kecil di tengah ruangan. Alaska naik ke atas panggung, membawa kanvas kosong dan palet warna.


Dengan gerakan lincah, Alaska mulai menggoreskan kuas di atas kanvas. Warna-warna cerah dan gelap berpadu, membentuk sebuah lukisan yang abstrak namun memukau. Aku terpaku, mengamati setiap gerakan Alaska, mencoba memahami makna di balik setiap goresan.Semakin lama, lukisan Alaska semakin jelas. Ia melukis dua sosok yang berdiri berdampingan, siluet dua orang laki-laki. Mereka berdiri di bawah langit senja yang berwarna oranye dan ungu, memandang ke arah laut yang tenang.Jantungku berdebar kencang. Aku merasa ada sesuatu yang familiar dengan lukisan itu. Aku menoleh ke arah Lyodra dan Aqeela, mereka juga tampak terkejut dengan lukisan Alaska.Setelah selesai melukis, Alaska mundur selangkah, mengamati karyanya. Ia tersenyum tipis, lalu menatap ke arah penonton.\"Lukisan ini berjudul 'Kenangan senja' \" kata Alaska, suaranya terdengar lembut. \"Ini adalah lukisan tentang dua orang yang terpisah, namun selalu terhubung oleh kenangan.\"


Aku menatap lukisan Alaska, mencoba memahami makna di balik kata-katanya. Apakah lukisan ini tentang saudara kembar misterius dan dia? Apakah kenangan senja itu adalah kenangan masa kecil mereka? Setelah acara pameran seni selesai, aku, Lyodra, dan Aqeela menghampiri Alaska.\"Lukisanmu sangat indah, Alaska,\" kata Lyodra, memuji.\"Terima kasih,\" jawab Alaska, tersenyum.•••Seusai pameran seni, aku dan Alaska berjalan beriringan menuju tempat parkir. Aku mengambil mobil dan tancap gas pulang, tapi kali ini, pikiran di otakku jauh lebih ramai daripada suara mesin mobil. Lukisan Alaska itu terus menghantui. Kenapa dia melukis pemandangan yang aneh dan terasa ada kode tersembunyi di sana?\"Astaga, beneran deh, kenapa semua hal jadi ganjil dan ribet banget?!\" Aku menghela napas panjang,


frustrasi karena merasa jadi karakter utama dalam film thriller yang gak ada habisnya. Semua energi mental yang kumiliki tadi pagi kini terkuras habisBegitu sampai di rumah, rasanya kakiku ini berat banget. Aku langsung menuju kamar, bahkan nggak peduli lagi sama tas yang kubawa. Aku merebahkan diri di kasur, niatnya cuma mau istirahat sebentar. Tapi kelelahan fisik dan mental itu terlalu kuat. Aku memejamkan mata, dan tanpa sadar, aku sudah tertidur pulas. Game hari ini selesai. Aku kalah melawan rasa kantuk.


BAB 7Saat berkumpul di ruang tengah aku ingin kembali ke kamar, tiba-tiba kakiku tersandung karpet.\"Aduh!\" seruku, merasakan nyeri yang menjalar di pergelangan kaki. Aku kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh, namun berhasil meraih sandaran sofa.\"Loh, kenapa, Nak?\" tanya Mama panik, langsung menghampiriku.Papa pun ikut beranjak, wajahnya menunjukkan kekhawatiran.\"Kamu keseleo ya? Coba Papa lihat.\" Dengan hati-hati, Papa memeriksa pergelangan kakiku yang mulai membengkak.\"Sepertinya ini keseleo cukup parah. Kamu jangan banyak bergerak dulu ya.\"Mama dengan sigap mengambilkan kompres es dari dapur. \"Kita kompres dulu ya, Nak. Biar bengkaknya tidak semakin parah.\"


Aku meringis menahan sakit, namun merasa terharu dengan perhatian kedua orang tuaku. Mereka memang selalu sigap saat aku membutuhkan bantuan.\"Aduh, gara-gara keseleo, aku jadi nggak bisa jalan nih,\" keluhku, menatap kaki yang malang.\"Tenang saja, Nak. Ada Mama dan Papa yang akan merawatmu,\" hibur Mama, mengelus rambutku dengan lembut.Papa mengangguk setuju. \"Iya, kamu istirahat saja dulu. Biar Papa yang ambilkan obat di kotak P3K.\"Malam itu, aku menghabiskan waktu di sofa, dikelilingi oleh kasih sayang Mama dan Papa. Mereka bergantian mengompres kakiku, membawakanku makanan, dan menemani aku menonton televisi. Aku merasa sangat beruntung memiliki keluarga yang begitu perhatian dan penyayang.\"Makasih ya, Ma, Pa. Aku sayang banget sama kalian,\" ucapku tulus, menatap kedua orang tuaku dengan mata berkaca-kaca.


Mama dan Papa tersenyum, membalas pelukanku dengan hangat. \"Kami juga sayang banget sama kamu, Nak.\"Malam itu, meskipun kakiku sakit, hatiku terasa hangat dan bahagia. Aku menyadari bahwa keluarga adalah harta yang paling berharga, dan kasih sayang mereka adalah obat terbaik untuk segala luka.Pagi itu, mentari menyelinap malu-malu di balik tirai kamarku, namun sinarnya tak mampu mengusir rasa nyeri yang masih berdenyut di pergelangan kakiku. Aku mencoba menggerakkan kaki, tapi ringisan kecil lolos dari bibirku. Sepertinya, keseleo ini belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.Tak lama kemudian, pintu kamarku terbuka perlahan. Mama masuk, wajahnya penuh perhatian.\"Gimana kakinya, Nak? Masih sakit?\" tanyanya lembut, duduk di tepi ranjangku.Aku mengangguk pelan, \"Masih agak sakit, Ma.\"Mama menghela napas, \"Ya sudah, hari ini kamu istirahat saja di rumah. Mama sudah izin ke sekolah, kamu nggak usah masuk dulu sampai kakinya sembuh.\"


Aku mengangguk setuju. Sejujurnya, aku merasa sedikit kecewa karena tidak bisa bertemu teman-teman di sekolah. Tapi, kondisi kakiku memang tidak memungkinkan untuk berjalan jauh.Setelah Mama keluar dari kamar, aku mencoba mencari posisi yang nyaman di tempat tidur. Kali ini, Mama masuk dengan nampan berisi sarapan.\"Ayo, sarapan dulu, Nak,\" ujarnya lembut, duduk di tepi ranjangku.Mama menyuapiku dengan sabar, sambil kami berbincang ringan. Setelah sarapan, Mama membantuku berbaring kembali, aku menatap langitlangit kamar dan tertidur kembali.•••Tepat pukul 14.00, Mama kembali memasuki kamarku, senyum hangatnya merekah.\"Nak, ada teman-temanmu datang menjenguk,\" ujarnya lembut.


Jantungku berdegup sedikit lebih cepat. Aku sudah menduga siapa yang datang.\"Lyodra dan Aqeela ya, Ma?\" tanyaku.Mama mengangguk, \"Iya, mereka berdua. Mama suruh masuk ya?\"\"Iya, Ma, suruh masuk aja,\" jawabku, merapikan selimutku.Tak lama kemudian, pintu kamarku terbuka lebar. Lyodra dan Aqeela masuk dengan wajah khawatir, tapi juga lega melihatku.\"Ya ampun, kamu nggak apa-apa?\" tanya Lyodra, langsung duduk di tepi ranjangku.\"Kaki kamu kenapa bisa keseleo sih?\" timpal Aqeela, menatap kakiku yang masih dibalut perban.Aku menceritakan kejadian semalam, bagaimana aku tersandung karpet saat hendak ke kamar. Mereka berdua mendengarkan dengan seksama, sesekali menggelengkan kepala tanda prihatin.\"Aduh, kok bisa sih ceroboh gitu?\" kata Lyodra,


\"Lain kali hati-hati dong.\"\"Iya, makanya jangan terlalu semangat kalau mau ke kamar,\" canda Aqeela, membuatku tertawa kecil.Setelah puas menggodaku, mereka berdua mulai serius.\"Eh, tapi kita tahu alamat rumah kamu dari Alaska loh,\" ucap Lyodra.\"Hah? Alaska?\" tanyaku bingung.\"Iya, kami aja kaget dia tau alamat rumahmu, padahal dia belum pernah kesini kan?\" ujar AqeelaAku terdiam, sedikit terkejut dengan tindakan Alaska. Darimana dia tau alamat rumahmu? ia tak pernah sama sekali kesini, ada yang aneh.\"Kita doain semoga cepat sembuh ya.\"ujar Aqeela dan Lyodra.Mereka berdua menghabiskan sore itu menemaniku, bercanda dan mengobrol tentang banyak hal. Aku merasa senang dan beruntung memiliki temanteman yang begitu perhatian.


Saat jarum jam menunjukkan pukul 18.23, tanpa terasa waktu berlalu begitu cepat. Obrolan kami dengan Lyodra dan Aqeela terasa begitu hangat dan menyenangkan, hingga tak terasa hari sudah semakin larut.


BAB 8Dua hari berlalu dengan cepat. Pergelangan kakiku terasa jauh lebih baik, nyaris pulih sepenuhnya. Aku merasa bahagia dan bersyukur atas perhatian dan kasih sayang yang kuterima dari orang-orang terdekatku. Mereka semua telah membantuku melewati masa pemulihan ini dengan begitu sabar dan penuh perhatian.Rasa tak sabar untuk kembali ke sekolah memenuhi benakku. Aku merindukan teman-teman, pelajaran, dan suasana sekolah yang selalu ramai. Malam itu, aku mempersiapkan segala sesuatu dengan cermat. Seragam, buku-buku, dan perlengkapan sekolah lainnya kutata rapi di atas meja. Setelah semuanya siap, aku merebahkan diri di tempat tidur, memejamkan mata, dan membayangkan hari esok yang menyenangkan.Pagi menjelang dengan cepat. Sinar matahari yang hangat menyelinap masuk melalui celah-celah tirai kamarku. Aku bangkit dari tempat tidur, merasakan sedikit ngilu di pergelangan kaki, tapi tak menghalangi


semangatku. Dengan hati-hati, aku melangkah ke kamar mandi, membersihkan diri, dan mengenakan seragam sekolah.Saat menuruni tangga, aroma harum sarapan sudah tercium menggoda. Mama menyambutku dengan senyum lebar.\"Wah, anak Mama sudah sembuh total nih,\" ujarnya, menatapku dengan mata berbinar.\"Iya, Ma,\" jawabku, \"Udah nggak sabar mau ke sekolah.\"Mama mengamati langkahku dengan seksama. \"Beneran udah kuat? Jangan dipaksain kalau masih sakit.\"\"Udah kuat kok, Ma,\" kataku, meyakinkan.\"Cuma sedikit ngilu aja.\"Aku dan Papa duduk di meja makan, menikmati sarapan yang telah disiapkan Mama. Sambil makan, kami berbincang ringan tentang rencana hari ini. Setelah selesai, aku dan Papa berpamitan kepada Mama.\"Hati-hati di jalan ya,\" pesan Mama,


\"Jangan lari-lari, ingat kaki kamu masih belum sepenuhnya pulih.\"\"Siap, Ma!\" jawabku, tersenyum.Di perjalanan menuju sekolah, aku merasa bersemangat. Aku membayangkan bertemu dengan teman-teman, menceritakan pengalaman keseleo kakiku, dan mendengar cerita mereka tentang kejadiankejadian di sekolah selama aku absen. Saat tiba di gerbang sekolah, aku melihat Lyodra dan Aqeela melambai ke arahku. Aku menghampiri mereka dengan senyum lebar.\"Bella! Akhirnya kamu masuk juga!\" seru Lyodra, memelukku erat.\"Kaki kamu udah beneran sembuh?\" tanya Aqeela, mengamati langkahku.\"Udah kok,\" jawabku, \"Cuma sedikit ngilu aja.\"Kami berjalan bersama menuju kelas, bercanda dan tertawa seperti biasa. Aku merasa senang bisa kembali ke sekolah, kembali ke rutinitas yang aku rindukan.


Saat aku memasuki kelas, mataku langsung menangkap sosok Alaska yang berdiri di dekat pintu. Tatapannya tertuju padaku, seolah menungguku datang. Suasana kelas mulai ramai oleh celoteh teman-teman yang baru datang. Beberapa dari mereka menyapaku, menanyakan kabarku setelah insiden terkilir kemarin. Aku menjawab seadanya.Tiba-tiba, bel masuk berbunyi nyaring, memecah percakapan di dalam kelas. Pak Budi, guru Bahasa Indonesia kami, masuk dengan langkah tegap, membawa setumpuk buku di tangannya. Beliau meletakkan buku-buku itu di atas meja, lalu menyapu pandangannya ke seluruh kelas.\"Selamat pagi, anak-anak,\" sapanya dengan suara baritonnya yang khas.\"Hari ini kita akan membahas tentang teks deskripsi. Buka buku kalian halaman 45.\"Aku membuka buku dan mencari halaman yang dimaksud. Pak Budi mulai menjelaskan tentang pengertian teks deskripsi, ciri-ciri, dan contohcontohnya. Suaranya yang lantang dan jelas membuatku mudah memahami materi yang


disampaikan. Sesekali, beliau melontarkan pertanyaan kepada kami, dan beberapa teman menjawab dengan antusias.Aku berusaha fokus pada pelajaran, mencatat poin-poin penting di buku catatan. Namun, pikiranku kembali melayang pada Alaska. Aku melirik ke arahnya, dan mendapati dia sedang menatap ke luar jendela. Entah apa yang sedang dipikirkannya.Alaska adalah sosok yang misterius dan pendiam. Dia jarang berbicara. Pelajaran Bahasa Indonesia berlangsung selama dua jam. Setelah Pak Budi selesai menjelaskan materi, beliau memberikan kami tugas untuk membuat teks deskripsi tentang tempat favorit masing-masing. Aku mulai memikirkan tempat yang ingin aku deskripsikan.Saat bel istirahat berbunyi, aku membereskan buku-buku dan memasukkannya ke dalam tas. Aku Lyodra dan Aqeela menuju kantin. Langkah kakiku terhenti di tengah koridor yang ramai. Aroma menggoda dari kantin sudah tercium, namun perhatianku terpaku pada pemandangan di depan mata. Sosok Bastian itu, dengan aura dingin yang selalu menyelimutinya, berdiri


tepat di hadapan Alaska yang sedang berada di ujung kantin.\"Jangan lupa,\" ucapnya dengan suara rendah, menusuk ke dalam sunyi.Alaska, seperti biasa, membalas dengan ekspresi datar yang sulit dibaca.\"Aku tidak akan lupa.\" Jawaban singkat itu justru menambah misteri. Si Bastian itu pun berbalik, menghilang di antara kerumunan siswa, meninggalkan Alaska yang sedang menikmati makanannya.Meskipun penasaran, aku mengikuti langkah Lyodra dan Aqeela. Suasana kantin yang riuh sedikit meredakan kebingunganku. Kami duduk di pojok, memesan makanan favorit kami, dan mulai bercerita tentang hal-hal lucu yang terjadi di kelas. \"Kalian tahu kan, si Bastian yang misterius itu? Tadi aku lihat Alaska bicara sama dia, tapi aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan,\" ujarku, berusaha menirukan suara dingin si kembar.Aqeela dan Lyodra saling pandang, lalu menatapku dengan tatapan serius.


\"Kamu tahu, Alaska itu memang punya banyak rahasia,\" kata Aqeela, suaranya pelan.\"Rahasia apa?\" tanyaku, semakin penasaran.\"Kami tidak tahu pasti, tapi kami pernah dengar desas-desus tentang keluarganya,\" timpal Lyodra.\"Katanya, mereka punya hubungan yang rumit.\"\"Hubungan rumit?\" aku mengernyitkan dahi.\"Maksud kalian, si Bastian...?\"\"Entahlah,\" jawab Aqeela, mengangkat bahu.\"Yang jelas, kamu harus hati-hati. Jangan terlalu ikut campur urusan mereka.\"Kata-kata Aqeela dan Lyodra membuatku merinding. Aku tahu Alaska bukan orang biasa, tapi aku tidak menyangka dia punya rahasia sebesar ini. Aku berjanji pada diri sendiri untuk lebih berhati-hati, tapi rasa penasaranku justru semakin besar. Aku ingin tahu lebih banyak tentang Alaska dan Bastian itu.Suasana kelas terasa berat setelah percakapan kami dengan Aqeela dan Lyodra. Pikiran tentang rahasia Alaska terus berputar di kepala, mengganggu


konsentrasiku sepanjang pelajaran. Bel tanda pulang sekolah berbunyi, memecah lamunanku. Bersama Aqeela dan Lyodra, kami bergegas merapikan buku dan beranjak menuju pintu kelas.Saat kami hendak keluar dari gerbang sekolah, suara Pak Beni, guru olahraga kami, menghentikan langkah kami.\"Tolong bantu Bapak sebentar, ya,\" katanya sambil tersenyum.\"Bisa kalian bantu bawa bola voli ini ke gudang belakang sekolah?\" Tanpa ragu, kami bertiga mengiyakan. Gudang olahraga yang terletak di belakang sekolah selalu menjadi tempat yang agak menakutkan, terutama saat sore hari. Sambil membawa tumpukan bola voli, kami menyusuri lorong belakang sekolah yang sepi.Setelah selesai menata bola voli di rak, kami dikejutkan oleh suara percakapan yang datang dari sudut gudang yang remang-remang. Dengan hati-hati, kami mengintip dan melihat Alaskal dan si Bastian itu.\"Bagaimana? Apakah semuanya lancar?\" tanya Bastiaan itu dengan suara yang terdengar tajam.


Alaska tersenyum misterius. \"Tenang saja, semuanya lancar,\" jawabnya.Bastian itu dengan tatapan tajam menambahkan,\"Bagus. Jangan sampai kita gagal.\"Mereka tertawa kecil, suara mereka terdengar aneh di telinga kami. Aku, Aqeela, dan Lyodra saling pandang, merasakan bulu kuduk kami meremang. Ada sesuatu yang tidak beres di sini.Tanpa mengeluarkan suara, kami berbalik dan meninggalkan gudang. Kami berjalan cepat, jantung kami berdebar kencang.\"Apa yang baru saja kita lihat?\" bisik Aqeela, suaranya bergetar.\"Aku tidak tahu,\" jawabku, masih terkejut.\"Tapi sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu.\"\"Dan sepertinya itu bukan sesuatu yang baik,\" tambah Lyodra, wajahnya pucat.Kami terus berjalan dalam diam, pikiran kami dipenuhi dengan pertanyaan. Apa yang sebenarnya


terjadi? Apa rahasia yang disembunyikan Alaska dan si Bastian itu?Saat kami tiba di gerbang sekolah, kami berpisah dengan perasaan campur aduk. Rasa penasaran, ketakutan, dan kebingungan bercampur menjadi satu. Aku tahu, hidupku tidak akan pernah sama lagi setelah kejadian ini. Aku harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, meskipun itu berbahaya.Mobil melaju membelah jalanan sore, namun pikiranku masih tertinggal di gudang belakang sekolah. Bayangan Alaska dan saudara kembarnya, serta dua orang asing itu, terus berputar di kepala. Apa yang mereka rencanakan? Pertanyaan itu menghantuiku sepanjang perjalanan pulang.Saat mobil berhenti di depan rumah, aku langsung melompat keluar dan berlari menuju kamar. Pintu kukunci rapat, dan aku menjatuhkan diri ke sofa di sudut kamar. Kamar yang biasanya menjadi tempatku bersantai, kini terasa sesak oleh misteri yang mengelilingi Alaska dan Bastian itu, apakah ada sangkut pautnya dengan pria di cafe itu?


Aku memejamkan mata, mencoba menyusun kepingan-kepingan teka-teki ini. Percakapan singkat mereka, senyum misterius Alaska, dan tatapan dingin laki-laki tinggi itu, semuanya terasa janggal. Ada sesuatu yang besar yang mereka sembunyikan, dan aku merasa harus mengetahuinya.Tiba-tiba, ketukan lembut di pintu membuyarkan lamunanku.\"Sayang, ayo makan dulu,\" suara Mama terdengar dari balik pintu.\"Aku sudah kenyang, Ma,\" jawabku dengan suara kecil, berusaha menahan emosi.\"Kamu belum makan dari tadi, lho, Sayang,\" Mama mengingatkan dengan nada khawatir.\"Aku sudah kenyang, Ma. Aku butuh waktu untuk sendiri,\" ulangku, berharap Mama mengerti.Aku mendengar langkah kaki Mama menjauh dari pintu. Aku tahu dia khawatir, tapi aku tidak bisa menjelaskan apa yang sedang kurasakan. Aku merasa terperangkap dalam labirin rahasia, dan aku harus menemukan jalan keluarnya.


Aku bangkit dari sofa dan berjalan menuju jendela. Langit sore berwarna oranye, memberikan pemandangan yang indah. Namun, keindahan itu tidak mampu meredakan kegelisahanku. Aku merasa seperti sedang menonton film misteri, dan aku adalah salah satu karakternya.Aku bertekad untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku akan mengumpulkan informasi, mencari petunjuk, dan mengungkap rahasia Alaska. Aku tahu ini berbahaya, tapi aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus membantu, atau setidaknya, memahami apa yang sedang terjadi.•••Pagi itu, mentari menyelinap masuk melalui celah gorden, namun tidak mampu mengusir kegelisahan yang menyelimuti pikiranku. Semalam, aku bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan tentang Alaska dan rahasia yang disembunyikannya. Bayangan percakapan di gudang belakang sekolah terus menghantui, membuatku sulit untuk tidur nyenyak.


Dengan langkah gontai, aku bangkit dari tempat tidur dan mengenakan seragam sekolah. Pikiranku masih berantakan, dan aku merasa tidak punya nafsu untuk sarapan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, aku turun tangga dan bergegas menuju pintu depan.\"Loh, Sayang, kamu tidak sarapan dulu?\" tanya Mama, suaranya terdengar khawatir.\"Tidak, Ma, aku sudah terlambat,\" jawabku singkat, sambil meraih tas sekolah.\"Tapi, Sayang...\" Mama mencoba mencegahku, namun aku sudah melangkah keluar rumah dan menutup pintu.Aku berjalan cepat menuju halte bus, pikiranku dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Orang tuaku pasti bingung dengan sikapku yang tiba-tiba berubah. Biasanya, aku selalu ceria dan bersemangat di pagi hari. Namun, hari ini, aku merasa seperti orang asing di rumah sendiri.Di halte bus, aku duduk sendirian, menatap jalanan yang ramai. Aku merasa terisolasi, seolah-olah aku berada di dunia yang berbeda dari orang-orang di


sekitarku. Aku tahu aku harus mencari tahu apa yang terjadi, tapi aku tidak tahu dari mana harus memulai.Saat bus tiba, aku naik dan mencari tempat duduk di pojok belakang. Aku memandang keluar jendela, melihat pemandangan kota yang berlalu. Pikiranku melayang, mencoba menyusun kepingankepingan teka-teki yang semakin rumit ini.Aku tahu, aku tidak bisa terus seperti ini. Aku harus menghadapi ketakutanku dan mencari tahu kebenaran. Aku berjanji pada diri sendiri, hari ini, aku akan mulai mencari jawaban.Sesampainya di gerbang sekolah, langkahku terasa berat. Lorong-lorong kelas yang biasanya ramai oleh celoteh siswa, pagi ini terasa sunyi dan dingin. Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa semangat yang entah menguap ke mana.Langkah kakiku menghentak lantai koridor sekolah dengan irama yang tegas, mencerminkan gejolak emosi yang berkecamuk di dalam diriku. Tatapanku tajam dan dingin, seolah membekukan siapa pun yang berani menatap mata ini. Aku duduk di bangku


kelas dengan postur tegang, aura kesendirian yang kuat terpancar dari diriku.Dua sahabatku, Lyodra dan Aqeela, mendekat dengan raut wajah khawatir. Mereka sudah hafal betul dengan perubahan suasana hatiku yang mendadak ini.\"Kamu baik-baik saja?\" tanya Lyodra, suaranya lembut namun penuh kewaspadaan.Aku mengangguk pelan, terlalu lelah untuk berbohong.\"Hanya... lelah,\" jawabku lirih, menyembunyikan kebenaran di balik kata-kata itu.Aqeela, yang selalu lebih peka terhadap emosi, menatapku dengan tatapan menyelidik.\"Ada yang mengganggumu? Cerita sama kita.\"Aku menghela napas panjang, mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan apa yang mengganjal di hatiku.\"Semalam... aku masih memikirkan tentang kejadian aneh itu,\" ujarku, suara bergetar sedikit.\"Seperti ada sesuatu yang... mengikutiku.\"


Aku menceritakan kembali kejadian aneh yang terjadi kemarin, tentang perasaan aneh yang terus menghantuiku, tentang bayangan-bayangan yang seolah mengawasiku. Lyodra dan Aqeela mendengarkan dengan seksama, sesekali menyela dengan pertanyaan untuk memperjelas.\"Mungkin itu hanya perasaanmu saja,\" kata Lyodra, berusaha menenangkan.\"Kadang-kadang, pikiran kita bisa menipu kita.\"\"Tapi perasaanku sangat kuat,\" bantahku, \"Aku merasa seperti ada sesuatu yang tidak beres.\"Aqeela menggenggam tanganku, memberikan dukungan yang menenangkan.\"Kita akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi,\" katanya, \"Kita akan bantu kamu melewati ini.\"\"Tapi bagaimana?\" tanyaku, merasa putus asa.\"Aku tidak tahu apa yang harus dilakukan.\"\"Kita akan mulai dengan mencari tahu lebih banyak tentang kejadian itu,\" jawab Aqeela,


\"Mungkin ada penjelasan logis untuk semuanya.\"Lyodra mengangguk setuju.\"Kita bisa mulai dengan mencari informasi di internet, atau bertanya pada orang yang mungkin tahu tentang hal-hal seperti ini.\"Aku menatap kedua sahabatku, merasa sedikit lega. Aku tahu, aku tidak sendirian. Aku punya Lyodra dan Aqeela, yang akan selalu ada untukku, apapun yang terjadi. Bersama-sama, kami akan mencari tahu kebenaran di balik kejadian aneh ini, dan mengusir rasa takut yang menghantuiku.Teng... teng... teng... Bel masuk berdentang nyaring, memecah keriuhan koridor sekolah yang tadi dipenuhi gelak tawa dan langkah kaki tergesa-gesa. Kini, ruang kelas berubah menjadi lautan kepala yang menunduk, fokus pada buku catatan dan penjelasan guru di depan sana. Namun, mataku justru terpaku pada satu titik kosong di barisan depan. Meja Alaska, sahabatku, terlihat sepi tanpa penghuni.\"Alaska ke mana, ya?\" bisik Lyodra, sambil melirik ke arahku. Aqeela ikut menyahut, \"Iya, tumben banget dia belum datang.\"


Click to View FlipBook Version