The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by s.Fahriyani.z, 2021-01-11 07:20:34

ARTIKEL ILMIAH POPULER

ARTIKEL ILMIAH POPULER

1

PRAKATA

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah swt, yang telah melimpahkan rahmat-
Nya, sehingga kami dapat menyusun artikel ilmiah popular ini mengenai Keterampila n
Berbahasa dalam memenuhi syarat penyelesaian tugas akhir semester mata kuliah
Pembelajaran Bahasa dan Sastra SD/MI.

Penulisan proposal ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu,
kami menyampaikan banyak terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat:

1. Bapak Sahrul Umami, M. Pd selaku dosen pengampu mata kuliah Pembelajaran
Bahasa dan Sastra SD/MI.

2. Semua pihak yang telah membantu tersusunnya artikel ilmiah ini.
Semoga bantuan dan kebaikan mendapat pahala dari Allah SWT. pun menyadari

bahwa di dalam penyusunan artikel ilmiah populer ini masih ada kekurangan. Hal ini
disebabkan keterbatasan pengetahuan kami. Untuk itulah, kritik dan saran yang bersifat
membangun dari pembaca sangat kami harapkan, demi kesempurnaan kajian ilmiah ini.
Penulis berharap agar kajian ilmiah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, terutama untuk
mahasiswa/i STAI Bani Saleh.

Bekasi, 11 Januari 2021

Tim Penyusun

2

DAFTAR ISI

Halaman
PRAKATA ..........................................................................................................................2
DAFTAR ISI.......................................................................................................................3

ISI
1. Faktor yang Mempengaruhi Keterampilan Berbahasa di Era Milenial dan Cara
Mempertahankannya ..................................................................................................4
2. Peningkatan Minat Baca Siswa dalam Pelajaran Bahasa Indonesia .......................17
3. Peningkatan Kemampuan Seorang Guru di Bidang Teknologi dalam Pembelajaran
Bahasa dan Sastra Indonesia pada Jenjang Sekolah Dasar untuk Menyambut Era
Milenial.....................................................................................................................27
4. Pemilihan Media Pembelajaran Bahasa dan Sastra Sekolah Dasar pada Era Milenial
..................................................................................................................................37
5. Peningkatan Keterampilan Berbicara di Era Milenial Melalui Audio Visual..........48
6. Peningkatan Kemampuan Menulis Karangan Melalui Media Pembelajaran Flash
Card..........................................................................................................................58
7. Peningkatan Keterampilan Membaca dalam Pembelajaran Cerpen.........................65
8. Penggunaan Bahasa Indonesia pada generasi Abad 21 ............................................75
9. Peningkatan Keterampilan Menulis Prosa Melalui Metode Field Trip....................87
10. Peningkatan Keterampilan Berbicara Melalui Role Playing ....................................99
11. Pengaruh Motivasi Belajar Siswa terhadap Prestasi Belajar IPA ..........................106

3

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETERAMPILAN
BERBAHASA DI ERA MILENIAL DAN CARA
MEMPERTAHANKANNYA

KELOMPOK 1
SRI MULYATI, KHOLIFAH AMANATILAH, ADINDA HAFIZIA Q

Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa Indonesia. Sebagai bahasa
pemersatu, tentu saja bahasa Indonesia sudah seharusnya wajib dipahami oleh seluruh
rakyat Indonesia, terutama kaum pemuda di era millennial ini. Sejarah telah mencatat
bahwa pelopor bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa Indonesia itu sendiri
adalah para pemuda. Dengan itikad baik dan jiwa negarawan yang mengalir kental di tubuh
para pemuda Indonesia, pada tanggal 28 Oktober 1928 melahirkan sumpah pemuda, yang
salah satu kesepakatan hebatnya adalah bersumpah bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa
yang satu sebagai bahasa pemersatu Bangsa Indonesia.

Dari sumpah pemuda seharusnya kita sadar bahwa pemahaman tentang berbahasa
dengan baik itu wajib dilakukan oleh seluruh pemuda Indonesia dari zaman ke zaman,
terlebih pada zaman sekarang ini. Untuk memahami bahasa Indonesia dengan baik,
tentulah memerlukan pembelajaran yang baik pula di dunia pendidikan formal maupun
informal. Memahami Bahasa Indonesia berarti dianggap terampil dalam berbahasa
Indonesia, baik itu dari segi menyimak, mendengarkan, membaca dan menulis sesuai
dengan pedoman pembelajaran bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Urgensi keterampilan berbahasa Indonesia sangat terlihat jelas di segala aspek
kehidupan berbangsa dan bernegara dalam hal berkomunikasi, terlebih bahasa Indonesia
itu juga merupakan identitas bangsa. Dengan alasan mempermudah komunikas i,
kebanyakan orang Indonesia terutama generasi milennial mengggunakan bahasa Indonesia
dengan tidak baik dan benar.

Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin maju, bahasa Indonesia juga
banyak mengalami perkembangan baik itu secara positif maupun negatif. Yang terjadi saat
ini adalah bahwa fungsi bahasa Indonesia mulai tergeser oleh bahasa asing dan perilaku
yang cenderung menyelipkan istilah- istilah asing, padahal istilahnya ada dalam bahasa
Indonesia. Selain itu, keterampilan berbahasa Indonesia generasi muda saat ini sangat

4

memprihatinkan. Untuk memahami apayang didengarkan, dibaca, ditulis dan dibaca bagi
kaum milennial itu sangatlah sulit. Hal tersebut tentunya sangat berdampak pada eksistensi
bahasa Indonesia. Era milennial ialah masa adanya peningkatan penggunaan dan keakraban
dengan komunikasi, media dan teknologi digital seperti saat ini. Generasi yang hidup di
era milennial ini memiliki karakter yang khas. Sejak di bangku sekolah sudah
menggunakan gawai dan menjadikan internet sebagai kebutuhan pokok, selalu terhubung
dengan internet, supaya dapat mengakses hal-hal baru atau sekedar bersosialisasi dalam
media sosial.

Dari penjelasan di atas, maka yang menjadi pertanyaannya adalah, faktor apa saja
yang mempengaruhi menurunnya keterampilan berbahasa generasi milennial? dan yang
wajib dilakukan adalah bagiamana supaya keterampilan berbahasa Indoneisia generasi
milennial
1. Faktor Menurunnya Keterampilan Berbahasa Indonesia Generasi Millennial

Keterampilan berbahasa itu sangat diperlukan, hal ini berkaitan dengan pentingnya
pemahaman terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang wajib dijunjung
tinggi eksistensinya. Bahasa mempunyai peran penting dalam kehidupan manusia yang
salah satunya adalah untuk memperlancar proses sosial manusia, wajib untuk
dikembangkan kearah positif. Bahasa merupakan bagian dari kebudayaan yang sejatinya
berperan pula dalam proses pengembangan kebudayaan itu sendiri

Bahasa tidak hanya berperan sebagai alat integrasi sosial, tetapi juga sebagai alat
adaptasi sosial penganutnya. Indonesia adalah Negara yang kaya akan bahasa, oleh karena
itu bahasa Indonesia hadir untuk mempersatukan keberagaman bahasa yang ada. Bahasa
Indonesia ini wajib dikembangkan olehgenerasi penerus bangsa pada saat ini yaitu generasi
milennial.

Tetapi, seiring dengan perkembangan zaman di era milennial ini, keterampila n
berbahasa Indonesia baik di dalam bidang pendidikan maupun dalam kehidupan sehari-
hari mulai mengalami penururunan yang siginifikan. Hal ini ditandai dengan maraknya
penggunaan bahasa remaja, atau sering pula diartikan sebagai bahasa gaul. Kehadiran
bahasa gaul berjalan beriringan dengan konsep kebudayaan populer di Indonesia.
Fenomena bahasa gaul diserap dengan begitu sempurna oleh remaja secara meluas tanpa
melalui filter yang berarti. Di bangku sekolah pun penerapan teori berbahasa Indonesia

5

yang baik dan benar sangat kurang. Banyak dari generasi muda saat ini yang tidak paham
bagaimana hakikatnya mendengar, menulis, berbicara dan membaca dengan baik. Selain
itu juga masih banyak masalah-masalah dalam penggunaan bahasa Indonesia yang
dialami oleh generasi milennial saat ini.

Seiring dengan munculnya bahasa gaul dalam masyarakat, banyak sekali dampak
atau pengaruh yang ditimbulkan oleh bahasa gaul terhadap perkembangan bahasa
Indonesia sebagai identitas bangsa diantaranya sebagai berikut:
(a) Eksistensi Bahasa Indonesia Terancam Terpinggirkan Oleh Bahasa Gaul

Berbahasa sangat erat kaitannya dengan budaya sebuah generasi. Kalau generasi
negeri ini kian tenggelam dalam pudarnya bahasa Indonesia yang lebih dalam, mungk in
bahasa Indonesia akan semakin sempoyongan dalam memanggul bebannya sebagai bahasa
nasional dan identitas bangsa. Dalam kondisi demikian, diperlukan pembinaan dan
pemupukan sejak dini kepada generasi muda agar mereka tidak mengikuti pembusukan itu.
Pengaruh arus globalisasi dalam identitas bangsa tercermin pada perilaku masyarakat yang
mulai meninggalkan bahasaIndonesia dan terbiasa menggunakan bahasa gaul. Saat ini jelas
di masyarakat sudah banyak adanya penggunaan bahasa gaul dan hal ini diperparah lagi
dengan generasi muda Indonesia juga tidak terlepas dari pemakaian bahasa gaul. Bahkan,
generasi muda inilah yang paling banyak menggunakan dan menciptakan bahasa gaul di
masyarakat.
(b) Menurunnya Derajat Bahasa Indonesia

Karena bahasa gaul yang begitu mudah untuk digunakan berkomunikasi dan hanya
orang tertentu yang mengerti arti dari bahasa gaul, maka remaja lebih memilih untuk
menggunakan bahasa gaul sebagai bahasa sehari-hari. Sehingga bahasa Indonesia semakin
pudar bahkan di anggap kuno di mata remaja dan juga menyebabkan turunya derajat bahasa
Indonesia.
(c) Menyebabkan punahnya Bahasa Indonesia

Penggunaan bahasa gaul yang semakin marak di kalangan remaja merupakan sinyal
ancaman yang sangat serius terhadap bahasa indonesia dan pertanda semakin buruknya
kemampuan berbahasa generasi muda zaman sekarang. Sehingga tidak dapat dipungk ir i
suatu saat bahasa Indonesia bisa hilang karena tergeser oleh bahasa gaul di masa yang akan
datang. Dunia yang semakin berkembang pesat dengan kemajuan teknologi informas i,

6

dengan serta merta membawa Indonesia menjadi salah satu Negara yang menganut
kebudayaan modern dan populer. Masyarakat Indonesia secara luas dan remaja pada
khususnya menyerap dengan begitu saja segala bentuk-bentuk modernisasi kehidupan.
Kebiasaanlah pada hakikatnya yang membuat semakin menurunnya keterampila n
berbahasa Indonesia generasi muda saat ini. Kebiasaan yang dimaksud adalah kebiasaan
dalam hal meniru sesuatu yang dianggap lazim dan gaul, serta meninggalkan sesuatu yang
justru penting dan vital adanya, yaitu terampil berbahasa Indonesia.

Yang menjadi data akurat bahwa penurunan keterampilan berbahasa Indonesia
generasi milennial saat ini adalah dilansir dari web kemendikbud.go.id,nilai mata pelajaran
Bahasa Indonesia mengalami penurunan dari tahun 2016 ketahun 2017 dari rata-rata nilai
70,75 menjadi 64,32. Hal ini tidak lebih parah darikejadian 5 tahun silam. Dahulu dari
7.579 siswa yang tidak lulus UN 2012, sebagian besar gagal pada mata pelajaran
matematika dan bahasa Indonesia sebagaimana dilansir di laman pasca.unesa.ac.id. Sangat
memprihatinkan sekali, jika bahasaIndonesia adalah bahasa yang wajib untuk dipahami
dan dicintai justru menghasilkan nilai yang dikategorikan gagal dalam Ujian Nasioanal
siswanya.

Sebenarnya selain karena faktor perkembangan teknologi dan pengaruh budaya
modern dan populer. Yang menjadi masalah atau faktor yang mempengaruhi menurunnya
keterampilan berbahasa Indonesia generasi millennial adalah lingkungan tempat
tinggalnya sendiri. Pergaulan yang mengasah cara hidup bersosial anak muda, tentunya
juga mempengaruhi kemampuannya dalam berbahasa. Faktor lingkungan ini sangat kuat
pengaruhnya karena kita berada di dalam lingkungan tersebut. Misal kita berada pada
sebuah lingkungan sekolah dan sedang berkumpul dengan teman sebaya, Kita cenderung
menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dengan lawan bicara dan terdengar enak jika
diucapkan.

Masih banyak faktor yang mempengaruhi eksistensi bahasa Indonesia, selain kedua
faktor diatas ialah faktor kekurang pahaman masyarakat Indonesia terutama generasi
milennial terhadap bahasa yang digunakan. Ketidak tahuan batasan kaidah kebahasaan, dan
penerapan bahasa yang tidak sempurna. Tidak sampai disitu, apa yang diajarkan di
sekolah-sekolah pun menjadi faktor penyebab, bahan pengajaran yang kurang tepat dan
sempurna. Terkadang apa yang diajarkan di sekolah belum tentu tepat dan sempurna dari

7

sisi pengucapan, penekanan, dan lain sebagainya. Sehingga pada akhirnya faktor-faktor
yang ada inilah yang membuat keterampilan berbahasa Indonesia generasi milennia l
semakin menurun. Perkembangan teknologi yang canggih di era millennial seharusnya
memang dimanfaatkan dengan baik, supaya generasi milennial tersebut tidak
meninggalkan pentingnya pemahanan berbahasa Indonesia dengan baik dan benar.

2. Solusi Mempertahankan Keterampilan Berbahasa Indonesia Generasi Millennial
Sebagai generasi yang hidup di zaman serba canggih, yang pastinya dilengkap i

dengan fasilitas teknologi yang canggih. Tentunya solusi yang dapat diberikan pun
berkaitan dengan kecanggihan teknologi yang ada di era millennial ini. Metode dan sarana
yang digunakan di dalam pendidikan formal maupun informal haruslah canggih juga. Agar
tidak jenuh dalam mempelajari bahasa Indonesia makaperlu ada pembaharuan metode
pembelajaran yang lebih menyenangkan. Misalnya adalah dengan diciptakannya berbagai
macam aplikasi keterampilan berbahasa Indonesia yang mudah diakses oleh seluruh
kalangan terutama generasi muda yang sangat dekat dengan teknologi. Hal ini dapat
menjadi solusi nyata untuk mempertahankan keterampilan berbahasa Indonesia generasi
milennial yang sangat erat dengan teknologi, yang pada dasarnya adalah kunci kreatifitas
ituberada di tangan tenaga pendidiknya. Guru sebagai fasilitator keterampilan berbahasa
anak, juga wajib menguasai teknologi yang canggih agar lebih mudah memberika n
pemahaman dan pengajaran tentang keterampilan berbahasa Indonesia kepada generasi
millennial. Selain dukungan dari guru, diperlukan juga dukungan dari berbagai kalangan
seperti keluarga anak didik itu sendiri, pemerintah dan instansi yang terkait dengan bahasa
Indonesia. Tujuannya adalah supaya terpenuhinya sarana dan prasarana untuk mod el
pembelajaran seperti itu, terutama pada sekolah-sekolah atau instansi pendidikan yang
terletak di daerah tertinggal.

Selain dari solusi di atas agar keterampian berbahasa Indonesia tidak tergeser oleh
bahasa gaul, maka kita sebagai warga Indonesia yang baik hendaknya melakukan langkah-
langkah pencegahan dan penanggulangan sebelum bahasa Indonesia benar-benar punah.
Menjadikan Lembaga Pendidikan Sebagai Basis Pembinaan Bahasa.

8

Bahasa baku sebagai simbol masyarakat akademis terutama generasi muda, dapat
dijadikan sarana pembinaan bahasa yang dilakukan oleh para pendidik. Para pakar
kebahasaan, telah memberikan batasan bahwa bahasa Indonesia baku merupakan ragam
bahasa yang digunakan dalam dunia pendidikan berupa buku pelajaran, buku-buku ilmia h,
dalam pertemuan resmi, administrasi negara, perundang-undangan, dan wacana teknis
yang harus digunakan sesuai dengan kaidah bahasa yang meliputi kaidah fonologis,
morfologis, sintaktis, kewacanaan, dan semantis.

Perlunya pemahaman terhadap bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa
Indonesia yang baik adalah bahasa yang digunakan sesuai dengan norma kemasyarakatan
yang berlaku. Misalnya, dalam situasi santai dan akrab, seperti diwarung kopi, pasar, di
tempat arisan, dan di lapangan sepak bola hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang
tidak terlalu terikat pada patokan. Dalam situasiformal seperti kuliah, seminar, dan pidato
kenegaraan hendaklah digunakan bahasa Indonesia yang resmi dan formal yang selalu
memperhatikan norma bahasa. Sedangkan bahasa Indonesia yang benar adalah bahasa
Indonesia yang digunakan sesuai dengan aturan atau kaidah bahasa Indonesia yang
berlaku. Kaidah bahasa itu meliputi kaidah ejaan, kaidah pembentukan kata, kaidah
penyusunan kalimat, kaidah penyusunan paragraf, dan kaidah penataan penalaran. Jika
kaidah ejaan digunakan dengan cermat, kaidah pembentukan kata ditaati secara konsisten,
pemakaian bahasa dikatakan benar. Sebaliknya jika kaidah-kaidah bahasa kurang ditaati,
pemakaian bahasa tersebut dianggap tidak benar atau tidak baku.

Selain itu, pemerhati hukum kususnya lembaga legisatif yang berwenang membuat
undang-undang. Seharusnya memang memperhatikan undang-undang mengenai bahasa
Indonesia ini. Sangat diperlukan sekali undang-undang tentang kebahasaan ini untuk
keterampilan berbahasa generasi milennial. Dengan adanyaundang-undang penggunaa n
bahasa diarapkan masyarakat Indonesia terutamagenerasi muda mampu menaati kaidahnya
agar tidak mencintai bahasa gaul di negeri sendiri. Sebagai contoh nyata, banyak orang
asing yang belajar bahasa Indonesia merasa bingung saat mereka berbicara langsung
dengan orang Indonesiaasli, karena Bahasa yang mereka pakai adalah formal, sedangkan
kebanyakan orang Indonesia berbicara dengan bahasa informal dan gaul.

Dalam kaitannya terhadap pemahaman bahasa Indonesia yang baik dan benar,
peran variasi bahasa dan penggunaannya itu sangat dibutuhkan. Variasi bahasa terjadi

9

akibat adanya keberagaman penutur dalam wilayah yang sangat luas. Penggunaan variasi
bahasa harus disesuaikan dengan tempatnya (diglosia), yaitu antara bahasa resmi atau
bahasa tidak resmi. Variasi bahasa tinggi (resmi) digunakan dalam situasi resmi seperti,
pidato kenegaraan, bahasa pengantar pendidikan, khotbah, suat menyurat resmi, dan buku
pelajaran. Variasi bahasa tinggi harus dipelajari melalui pendidikan formal di sekolah-
sekolah. Sedangkan variasi bahasa rendah digunakan dalam situasi yang tidak formal,
seperti di rumah, diwarung, di jalan, dalam surat-surat pribadi dan catatan untuk dirinya
sendiri. Variasi bahasa ini dipelajari secara langsung dalam masyarakat umum, dan tidak
pernahdalam pendidikan formal. Kemampuan dalam membaca, mendengar, menulis dan
berbicara dalam bahasa Indonesia juga dipengaruhi oleh pemahaman variasi bahasa.

Dan yang paling penting adalah menjunjung tinggi bahasa Indonesia di negeri
sendiri. Sebenarnya apabila kita mendalami bahasa menurut fungsinya yaitu sebagai
bahasa nasional dan bahasa negara, maka bahasa Indonesia merupakan bahasa pertama dan
utama di negara Republik Indonesia. Bahasa daerah yang berada dalam wilayah republik
bertugas sebagai penunjang bahasa nasional, sumber bahan pengembangan bahasa
nasional, dan bahasa pengantar pembantu pada tingkat permulaan di sekolah dasar di
daerah tertentu untuk memperlancar pengajaran bahasa Indonesia dan mata pelajaran la in.
Jadi, bahasa-bahasa daerah ini secara sosial politik merupakan bahasa kedua. Sehingga
pada hakikatnya, empat pokok keterampilan berbahasa Indonesia itu bisa dipahami oleh
masyarakat terutama generasi millennial.

Cara Generasi Milenial terhadap Warisan Budaya Bangsa Indonesia
Tak diragukan lagi, bahwa Indonesia adalah bangsa yang kaya akan budaya, ratusan
bahkan mungkin ribuan, baik budaya yang berupa benda maupun tak benda. Wayang,
batik, keris, tari-tarian, alat musik tradisional daerah, bangunan bersejarah, lagu- lagu
daerah dan lain sebagainya merupakan warisan budaya yang tak ternilai harganya. Warisan
budaya itu semua adalah cerminan, bahwa leluhur kita bangsa Indonesia memilik i
kecerdasan yang luar biasa dalam menciptakan karya budaya beserta simbol-simbo l
filosofinya. Saya yakin, bahwa ini semua untuk diwariskan kepada anak cucunya, kita
semua di jaman milenial ini. Di jaman sekarang, di mana kemajuan teknologi telah
demikian pesat, tak seharusnya kita lalai dengan peninggalan-peninggalan bersejarah

10

tersebut, karena muatan-muatan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia tersimpan di setiap
karya-karya itu.

Kemajuan teknologi internet dengan kemampuanya menembus batas-batas
geografis, bahkan seakan dunia tak berjarak, bukanlah penghalang untuk tetap
melestarikan budaya-budaya kita sendiri. Menebarnya informasi tentang pola kehidupan
beserta budaya Barat, Timur, dan berbagai macam asal dan bentuknya, seakan meretas dan
membongkar akar budaya bangsa Indonesia yang notabene adalah budaya Timur. Ini
adalah tantangan kita bersama. Maka jika kita lalai akan budaya sendiri, sama saja
mencabut akar dari budaya Indonesia, yang akan melahirkan budaya yang tak beridentitas,
bahkan akan terjebak kepada euforia budaya asing yang tak jelas arahnya. Di sini perlu
ditekankan pula, bahwa mencintai budaya bangsa sendiri, bukan lantas bisa dikatakan kuno
dan ketinggalan jaman. Paradigma ini yang perlu dipegang oleh generasi milenial sekarang
ini. Justru mencintai kebudayaan bangsa sendiri adalah kekuatan untuk mendobrak budaya
asing yang akan masuk di Indonesia. Di samping itu, citra kemandirian bangsa Indonesia
akan tampak, jika bangsa Indonesia tetap menjaga kelestarian budayanya.

Ada beberapa catatan kecil saya untuk generasi milenial terhadap budaya bangsa
Indonesia, di tengah maraknya teknologi informasi yang malang melintang menebarkan
berbagai macam pola hidup dan budaya asing. Di antaranya adalah:

1. Generasi milenial harus bisa menjaga budaya tradisi asli bangsa Indonesia, karena ini
adalah identitas dan bernilai luhur dari nenek moyang bangsa Indonesia.

2. Kemajuan teknologi justru bisa kita manfaatkan untuk mengemas secara kreatif budaya
asli bangsa Indonesia untuk diperkenalkan di dunia internasional.

3. Mencintai budaya asli Indonesia bukanlah hal yang kuno dan ketinggalan jaman. Justru
akan bernilai positif jika bisa dengan kreatifitas menampilkan dan memperkenalkan kepada
dunia. Banyaknya orang asing yang belajar tentang budaya Indonesia telah membuktika n,
bahwa budaya Indonesia mempunyai nilai yang tinggi dan layak untuk dipelajari dan
bahkan harus dilestarikan.
Mencintai dan melestarikan budaya asli bangsa Indonesia mestinya tak
menghalangi kita dalam belajar ilmu sampai di negeri manapun. Di Perancis misalnya,
mahasiswa Indonesia bisa memperkenalkan budaya Indonesia di negeri yang terkenal

11

fashionnya ini. Pola hidupnya pun tak perlu berubah, tetap memegang nilai- nilai budaya
Indonesia, dan tak perlu hingar-bingar mengikuti budaya asing.

Sikap Generasi Muda, Melestarikan Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia perlu mendapat perhatian khusus dalam hal pelestariannya. Jika

tidak, dikhawatirkan masyarakat Indonesia semakin terbawa arus westernisasi atau budaya
kebarat-baratan. Rasanya, siapa pun akan teringat pada momen bersejarah bangsa
Indonesia, yaitu Sumpah Pemuda. Semboyan dalam sumpah itu memiliki roh kebanggaan
dan kebangsaan yang sangat tinggi. Salah satu butir dalam Sumpah Pemuda 1928
menyatakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Ini berkaitan erat dengan
pembinaan kepribadian masyarakat dan bangsa Indonesia. Selain itu, bahasa Indonesia
berfungsi sebagai alat komunikasi antardaerah, antarsuku bangsa dan masyarakat etnis, dan
antarbudaya Indonesia.

Seiring dengan kemajuan komunikasi, dapat diperkirakan hampir tak ada bahasa
daerah yang luput dari pengaruh bahasa Indonesia. Namun, sebaliknya pula bahasa
Indonesia telah dipengaruhi atau diperkaya oleh bahasa-bahasa daerah selain bahasa asing.
Sumbangan bahasa daerah ataupun bahasa asing demikian besar sehingga dalam
pertumbuhan dan perkembangannya dari bahasa Melayu, bahasa Indonesia akan memilik i
karakter tersendiri.

Pengoptimalan Peran
Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia telah menjala nka n

fungsi- fungsi yang diembannya. Apa yang harus dilaksanakan adalah peningkatan peran
dan fungsi bahasa Indonesia.

Pertama, meningkatkan fungsinya sebagai lambang kebanggaan dan lambang harga
diri bangsa Indonesia. Dengan fungsi ini, bahasa Indonesia mencerminkan nilai-nilai sosial
budaya, nilai-nilai harga diri dan martabat bangsa, dan falsafah hidup yang menempatk a n
bangsa Indonesia dalam kedudukan yang sama dan sederajat dengan bangsa-bangsa lain di
dunia.

12

Kedua, meningkatkan fungsi bahasa Indonesia sebagai lambang jati diri bangsa
yang akan menampakkan ciri khas, sekaligus membedakan bangsa Indonesia dari bangsa -
bangsa lain di dunia. Fungsi pertama dan kedua ini berkaitan erat dengan peningkata n
fungsi yang ketiga dari bahasa Indonesia, yaitu sebagai sarana pemersatu bangsa. Fungsi
ini memungkinkan dan memantapkan kehidupan sebagai bangsa yang bersatu, tetapi tida k
sampai menghapuskan latar belakang sosial budaya dan bahasa daerah. Ketiga fungsi ini
berkaitan pula dengan fungsi keempat bahasa Indonesia yang juga harus ditingkatkan, yaitu
bahasa nasional dalam perannya sebagai sarana perhubungan antardaerah dan antarbudaya.

Peningkatan fungsi bahasa Indonesia sebagai pendukung kebudayaan nasional
perlu pula diupayakan sehingga, dengan demikian, fungsinya tidak sekadar sebagai
pendukung kesusastraan nasional, tetapi juga mendorong dan menggalakkan pembinaan
dan pengembangan kebudayaan nasional. Nilai-nilai moralitas yang dimilikinya akan
membina sikap manusia Indonesia yang, sekalipun memiliki kemampuan ilmu
pengetahuan, mempunyai pengaruh kuat dalam masyarakat, memiliki kekayaan atau
menduduki jabatan yang tinggi, akan tetap berkepribadian yang sopan santun, tidak
sombong atau tinggi hati. Cukup banyak ungkapan dalam khazanah bahasa Indonesia yang
berisi pesan-pesan moral bagi manusia Indonesia yang berketuhanan serta beradat-
berbudaya.

Sikap Bahasa
Dalam dunia pendidikan, bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar pendidikan

pada semua jenis dan jenjang pendidikan dapat dibanggakan. Bahasa Indonesia telah
membuktikan kemampuannya bukan sekadar sebagai bahasa pengantar pendidikan di
tingkat lembaga pendidikan dasar dan menengah, tetapi juga sebagai sarana penyebaran
ilmu pengetahuan dan teknologi serta sarana alih pengetahuan dan alih teknologi di tingkat
lembaga pendidikan tinggi. Fungsi bahasa Indonesia sebagai sarana pengembangan dan
pemasyarakatan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut perhatian khusus karena
kepesatan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut kedinamisan bahasa
Indonesia, terutama dalam kaitan dengan pengembangan tata istilah keilmuan.

Sikap bahasa merupakan faktor pendukung optimalisasi peran dan kedudukan
bahasa Indonesia sebagai penguat jati diri bangsa. Sikap positif terhadap bahasa Indonesia

13

harus terus ditingkatkan. Sikap berbahasa mengandung keterpaduan antara sikap
menghormati dan memuliakan secara nyata serta sikap taat pada kesepakatan bangsa
mengenai peran dan kedudukan bahasa Indonesia. Hal ini sekaligus akan sejalan dan setara
dengan peningkatan dan pemantapan sikap kebersamaan dalam membina, memelihara, dan
mempertinggi harkat dan martabat bangsa dan negara Indonesia tercinta melalui idealis me
bahasa Indonesia.

Sikap bahasa yang perlu dimiliki ini dilakukan dengan berbagai upaya, yakni:
1. Meningkatkan rasa kebanggaan memiliki dan menggunakan bahasa Indonesia dalam

berbagai keperluan dan kemanfaatannya yang menjangkau seluruh lapisan, kelompok,
dan golongan dalam masyarakat bangsa Indonesia,
2. Menghindari penggunaan bahasa asing secara berlebihan atau di luar garis ketentuan
dan kebijakan yang telah ditentukan. Penghindaran penggunaan bahasa asing secara
berlebihan dapat disebabkan telah ada padanannya dalam bahasa Indonesia ataupun
untuk menghindari gangguan terhadap kelancaran komunikasi. Selain itu, penggunaa n
bahasa asing secara berlebihan atau di luar lingkungan dan keperluannya selain
merupakan pelecehan terhadap peran dan kedudukan serta hasil-hasil pengembanga n
bahasa Indonesia, juga melemahkan pembinaan wawasan kebangsaan,
3. Meningkatkan frekuensi pembiasaan penggunaan bahasa Indonesia dalam semua
kesempatan dan aktivitas, baik resmi maupun tidak resmi. Dari sudut pandang
psikologi pendidikan, suatu keberhasilan bukan sekadar tercapai melalui pendidikan
formal dan pelatihan, tetapi lebih-lebih melalui pembiasaan penggunaan secara terus-
menerus dalam lingkungan masyarakat dan di tengah-tengah keluarga.

Kesiapan dan peran nyata bahasa Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat,
berbangsa, dan bernegara memerlukan pemantapan rasa kecintaan dan rasa kebanggaan
memiliki bahasa Indonesia. Rasa kebanggaan memiliki bahasa Indonesia terikat erat
dengan pencerminan dan perwujudan cinta tanah air, cinta budaya Indonesia, serta cinta
terhadap keseluruhan nilai dan norma kehidupan bermasyarakat dan berbangsa Indonesia.

Kita sebagai bangsa Indonesia, sudah sepatutnya dengan bangga menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan benar, bukan dengan gaya bicara yang kebarat-baratan agar

14

dianggap keren atau gaul. Bahasa tersebut sudah jelas-jelas berbeda dengan tata krama dan
aturan moral dari budaya kita, Indonesia.

Sebagai generasi muda bangsa Indonesia, kita bertugas untuk melestarikan dan
menjaga penggunaan bahasa Indonesia, dengan cara menggunakannya dalam percakapan
sehari-hari. Dengan demikian, orang-orang di sekitar kita bisa ikut berbicara dengan
menggunakan bahasa Indonesia yang benar, dengan diawali dari diri kita sendiri terlebih
dahulu. Jangan sampai, jika dibiarkan terus seperti ini, keeksistensian bahasa Indonesia
menjadi semakin tergeser dengan keberadaan bahasa-bahasa gaul Indonesia/kebar at-
baratan.

Dari penjelesan di atas, kesimpulannya adalah bahwa sebenarnya faktoryang
mempengaruhi menurunnya keterampilan berbahasa generasi millennial itusebagian
besar adalah faktor eksternal. Yaitu mulai dari bahasa gaul dan asing, lingkungan, serta
kurangnya pemahaman terhadap bahasa Indonesia itu sendiri didunia pendidikan. Yang
pada akhrinya dibutuhkan solusi-solusi untukmempertahakan keterampilan berbahasa
Indonesia mulai dari pembaharuan metodepembelajaran yang lebih canggih dan berbasis
teknologi, pemahaman kebahasaandi dunia pendidikan oleh tenaga pendidik dan siswa,
diperlukan adanya undang-undang kebahasaan serta perlunya menjunjung tinggi bahasa
persatuan bahasaIndonesia dari pada bahasa lainnya.

15

DAFTAR PUATAKA

http://anugrahsetyourgoals.blogspot.com/2013/10/solusi-agar-bahasa- indonesia-

yang-baik. html https://www.brilio.net/serius/nilai-bahasa- indonesia- menur un-

dari-tahun-ke-tahun- ini-alasannya171020n. html

https://www.kompasiana.com/galihandika/581d56ab7897731a177e7591/eksistens

i-bahasa indonesia-di-tengah-pengaruh-globalisasi-dan-budaya luar

https://www.kompasiana.com/nurul_hikmah/552cb8b56ea834246a8b45a1/menur

unnya-minatgenerasi- muda- menggunakan-bahasa- indonesia
Jamily, Nur Wa Ode. “Kesantunan Berbahasa Indonesia Dalam Lingkungan

Keluarga (Kajian Sosiopragmatik)”. Jurnal Humanika No. 15, Vol. 3, Desember
2015 / ISSN1979-8296 Putri, Nimas Permata. “Eksistensi
Bahasa Indonesia Pada Generasi Millennial”. Widyabastra, Volume 05, Nomor 1,

Jun 2017
Zulaeha, Ida. “Pengembangan Model Pembelajaran Keterampilan Berbahasa

Indonesia Berkonteks Multikultural”. Jurnal Penelitian Bahasa, Sastra, dan

Pengajarannya Volume 12, Nomor 1, April 2013.

https://pelitaku.sabda.org/sikap_generasi_muda_melestarikan_bahasa_indonesia

Sikap Generasi Muda, Melestarikan Bahasa Indonesia

https://www.kompasiana.com/shinta20295/5b8ab291677ffb1c1e38bfa2/ini-yang-

mesti-dilakukan-generasi- milenial-terhadap-warisan-budaya-bangsa- indonesia

16

PENINGKATAN MINAT BACA SISWA DALAM
PELAJARAN BAHASA INDONESIA

Amalia Salsabila, Laras Sati, Yuni

PENDAHULUAN
Keterampilan yang harus dimiliki siswa salah satunya adalah membaca.
Melalui membaca, siswa bisa menggali bakat dan potensi mereka, memacu
peningkatan daya nalar, melatih konsentrasi, dan peningkatan prestasi sekolah.
Melalui kegiatan membaca siswa bisa sekaligus mempelajari mata pelajaran yang
lain, dan melalui kegiatan membaca siswa mampu mengetahui segala jenis
informasi yang berkembang di sekitarnya dan mengolahnya sebagai ilmu
pengetahuan yang dapat diaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Menginga t
begitu banyak hal yang bisa siswa peroleh dari kegiatan membaca, maka jelas
bahwa membaca sangat penting bagi siswa apalagi bila menjadi budaya. Tetapi
pada kenyataannya kegiatan membaca masyarakat di Indonesia khususnya para
peserta didik masih membutuhkan pembinaan lebih. Minat membaca masyarakat
Indonesia masih rendah dan belum dijadikan sebuah kebiasaan.
Saat ini minat baca masih menjadi perkerjaan rumah yang belum
terselesaikan bagi bangsa Indonesia. Berbagai program telah dilakukan untuk
meningkatkan minat baca masyarakat. Pemerintah, praktisi pendidikan, LSM dan
masyarakat yang peduli pada kondisi minat baca saat ini telah melakukan berbagai
kegiatan yang diharapkan mampu meningkatkan apresiasi masyarakat untuk
membaca, akan tetapi berbagai program tersebut belum memperoleh hasil
maksimal. Untuk mewujudkan bangsa berbudaya baca, maka bangsa ini perlu
melakukan pembinaan minat baca anak. Pembinaan minat baca anak merupakan
langkah awal sekaligus cara yang efektif menuju bangsa berbudaya baca. Masa
anak-anak merupakan masa yang tepat untuk menanamkan sebuah kebiasaan, dan
kebiasaan ini akan terbawa hingga anak tumbuh dewasa atau menjadi orang tua.
Dengan kata lain, apabila sejak kecil seseorang terbiasa membaca maka kebiasaan
tersebut akan terbawa hingga dewasa. Apabila kebiasaan membaca telah tertanam

17

pada diri anak maka setelah dewasa anak tersebut akan merasa kehilangan apabila
sehari saja tidak membaca. Dari kebiasaan individu ini kemudian akan berkembang
menjadi budaya baca masyarakat.

Akan tetapi, pembinaan minat baca anak saat ini sering terbentur dengan
masalah ketersediaan sarana baca. Tidak semua anak-anak mampu mendapatkan
buku yang mampu mengugah minat mereka untuk membaca. Faktor ekonomi atau
minimnya kesadaran orang tua untuk menyediakan buku bagi anak menyebabkan
anak-anak tidak mendapatkan buku yang dibutuhkan. Tidak tersedianya sarana
baca merupakan masalah besar dalam pembinaan minat baca anak. Anak-anak tidak
dapat memanjakan minat bacanya karena tidak tersedia sarana baca yang mampu
menggugah minat anak untuk membaca. Padahal pembinaan minat baca anak
merupakan modal dasar untuk memperbaiki kondisi minat baca masyarakat saat ini.
Membaca merupakan suatu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang
ditulis oleh seseorang. Semakin banyak membaca, semakin banyak pula informas i
yang kita dapatkan, walaupun terkadang informasi itu terkadang kita dapatkan
secara tidak langsung. Banyak orang mengatakan bahwa buku merupakan gudang
ilmu. Mengapa demikian? Karena buku itu dapat membuka wawasan yang sangat
luas. Tidak hanya informasi yang ada dalam negeri, informasi tentang dunia atau
bahkan alam semesta pun dapat kita peroleh dengan membaca.

Minat baca merupakan salah satu kunci sukses seseorang dalam mengetahui
dan menambah wawasan pengetahuannya. Kegiatan-kegiatan untuk meningkatk a n
minat baca harus diadakan dan digalakan. Sejalan dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, terutama dalam teknologi
percetakan maka semakin banyak informasi yang tersimpan di dalam buku. Pada
semua jenjang pendidikan, kemampuan membaca menjadi skala prioritas yang
harus dikuasai siswa. Dengan membaca siswa akan memperoleh berbagai informas i
yang sebelumnya belum pernah didapatkan. Semakin banyak membaca semakin
banyak pula informasi yang diperoleh. Oleh karena itu, membaca merupakan
jendela dunia, siapa pun yang membuka jendela tersebut dapat melihat dan
mengetahui segala sesuatu yang terjadi. Baik peristiwa yang terjadi pada masa
lampau, sekarang, bahkan yang akan datang. Banyak manfaat yang diperoleh dari

18

kegiatan membaca. Oleh karena itu, sepantasnyalah siswa harus melakukannya atas
dasar kebutuhan, bukan karena suatu paksaan. Jika siswa membaca atas dasar
kebutuhan, maka ia akan mendapatkan segala informasi yang ia inginkan. Namun
sebaliknya, jika siswa membaca atas dasar paksaan, maka informasi yang ia peroleh
tidak akan maksimal. Membaca merupakan kemampuan yang kompleks. Membaca
bukanlah kegiatan memandangi lambang – lambang yang tertulis semata.

Bagi siswa, membaca tidak hanya berperan dalam menguasai bidang studi
yang dipelajarinya saja. Namun membaca juga berperan dalam mengetahui
berbagai macam kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ters berkembang.
Melalui membaca, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diketahui dan
dipahami sebalum dapat diaplikasikan.

PEMBAHASAN
Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh

pembaca untuk memperoleh pesan yang hendak disampaikan oleh penulis melalui
media kata-kata/bahasa tulis (Hodgson dalam Tarigan 1986:7). Membaca pada
hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya
sekadar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berpikir,
psikolinguistik, dan metakognitif (Crawley dan Mountain dalam Nanang 2009).
Membaca merupakan salah satu keterampilan berbahasa yang termasuk di Secara
linguistik, membaca merupakan proses pembacaan sandi (decoding process).
Artinya dalam kegiatan membaca ada upaya untuk menghubungkan kata-kata tulis
(written word) dengan makna bahasa lisan (oral language meaning). Dengan kata
lain Anderson dalam Tarigan (1986:7) mengatakan bahwa kegiatan membaca
merupakan kegiatan mengubah tulisan/ cetakan menjadi bunyi-bunyi yang
bermakna.

Dalam kegiatan membaca ternyata tidak cukup hanya dengan memaha mi
apa yang tertuang dalam tulisan saja, sehingga membaca dapat juga dianggap
sebagai suatu proses memahami sesuatu yang tersirat dalam yang tersurat (tulisa n).
Artinya memahami pikiran yang terkandung dalam kata-kata yang tertulis.
Hubungan antara makna yang ingin disampaikan penulis dan interpretasi pembaca

19

sangat menentukan ketepatan pembaca. Makna akan berubah berdasarkan
pengalaman yang dipakai untuk menginterpretasikan kata-kata atau kalimat yang
dibaca (Anderson dalam Tarigan 1986:8).

Jadi, dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa membaca
merupakan kegiatan mengeja atau melafalkan tulisan didahului oleh kegiatan
melihat dan memahami tulisan. Kegiatan melihat dan memahami merupakan suatu
proses yang simultan untuk mengetahui pesan atau informasi yang tertulis.
Membutuhkan suatu proses yang menuntut pemahaman terhadap makna kata-kata
atau kalimat yang merupakan suatu kesatuan dalam pandangan sekilas dalam
retorika seperti keterampilan berbahasa yang lainnya (berbicara dan menulis )
(Tarigan 1984: 4).
Tujuan dari membaca dengan membaca kita dapat mengetahui peristiwa-peristiwa a
waktu lampau atau waktu sekarang ditempat lain atau berbagai cerita yang menarik
tentang kehidupan di dunia ini. Beberapa tujuan membaca:
1. Membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for

details or facts).
2. Membaca tersebut bertujuan untuk menemukan atau mengetahui penemuan-

penemuan telah dilakukan oleh sang tokoh, untuk memecahkan masalah-
masalah yang dibuat oleh sang tokoh.
3. Membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas). Membaca
untuk mengetahui topik atau masalah dalam bacaan. Untuk menemukan ide
pokok bacaan dengan membaca halamn demi halaman.
4. Membaca untuk mengetahui ukuran atau susunan, organisasi cerita (reading for
sequenceor organization). Membaca tersebut bertujuan untuk mengetahui
bagian-bagian cerita dan hubungan antar bagian-bagian cerita.
5. Membaca untuk menyimpulkan atau membaca inferensi (reading for inference ).
Pembaca diharapkan dapat merasakan sesuatu yang dirasakan penulis.
6. Membaca untuk mengelompokkan atau mengklasifikasikan (reading for
classify). Membaca jenis ini bertujuan untuk menemukan hal-hal yang tidak
wajar mengenai sesuatu hal (Anderson dalam Tarigan 1979:10).

20

7. Membaca untuk menilai atau mengevaluasai (reading to evaluate). Jenis
membaca tersebut bertujuan menemukan suatu keberhasilan berdasarkan
ukuran-ukuran tertentu. Membaca jenis ini memerlukan ketelitian dengan
membandingkan dan mengujinya kembali.

8. Membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan (reading to
compare or contrast). Tujuan membaca tersebut adalah untuk menemuk a n
bagaimana cara, perbedaan atau persamaan dua hal atau lebih.
Banyak manfaat yang diperoleh dari membaca. Dengan membaca siswa

dapat memperluas cakrawala ilmu pengetahuan, menambah informasi bagi diri
sendiri, meningkatkan pengetahuan serta menambah ide. Jadi jelas pengaruh bacaan
sangat besar terhadap peningkatan cara berfikir seorang siswa. Menurut Gray &
Rogers (dalam Zaif: 2011) menyebutkan beberapa manfaat membaca, antara lain:
1. Meningkatkan pengembangan diri siswa
2. Dengan membaca siswa dapat meningkatkan ilmu pengetahuan, sehingga daya

nalarnya berkembang dan berpandangan luas yang akan bermanfaat bagi
dirinya maupun orang lain.
3. Memenuhi tuntutan intelektual
4. Dengan membaca buku maupun sumber-sumber bacaan lain seperti surat kabar
maupun berita dan artikel-artikel di internet, pengetahuan bertambah dan
perbendaharaan kata-kata meningkat, pikir sehingga terpenuhi kepuasan
intelektual.
5. Memenuhi kepentingan hidup
6. Dengan membaca siswa akan memperoleh pengetahuan praktis yang berguna
dalam kehidupan mereka sehari-hari.
7. Meningkatkan minat siswa terhadap suatu bidang
8. Mengetahui hal-hal yang aktual, dengan membaca siswa dapat mengetahui
peristiwa peristiwa yang terjadi di lingkungan sekitar maupun di seluruh dunia
yang mungkin berhubungan materi pelajaran, sehingga siswa dapat menerapkan
dengan kehidupan nyata.

Sebelum menentukan upaya yang harus dilakukan guru untuk
meningkatkan minat baca siswa, terlebih dahulu guru tersebut mengetahui

21

penyebab rendahnya minat baca siswa. Sebagian besar penyebab rendahnya minat
baca siswa di Indonesia antara lain:
1. Masih rendahnya kemahiran membaca siswa di Sekolah.
2. Sistem pembelajaran di Indonesia yang belum membuat siswa harus membaca

buku lebih banyak lebih baik dan kurangnya minat siswa mencari pengetahua n
lebih dari apa yang diajarkan.
3. Banyaknya jenis hiburan, permainan dan tayangan televisi yang mengalihk a n
perhatian anak-anak bahkan orang dewasa sekalipun dari buku.
4. Banyaknya tempat hiburan yang menghabiskan waktu seperti taman hiburan,
tempat karaoke, mall, play station.
5. Budaya baca yang belum diwariskan oleh nenek moyang kita.
6. Sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakaan atau tamanbacaan yang
masih aneh dan langka.
7. Harga buku yang relatif masih mahal dan tidak sebanding dengan daya beli
siswa atau masyarakat.
8. Kondisi perpustakaan yang tidak memberikan iklim kondusif bagi tumbuhnya
minat baca pengunjung.
9. Belum adanya lembaga yang secara formal khusus menangani minat baca siswa
atau masyarakat.

Dari berbagai penyebab rendahnya minat baca siswa tersebut, sebagai
seorang guru dapat melakukan upaya-upaya yang bisa meningkatkan minat baca
siswanya. Adapun peranan guru antara lain:
 Motivator

Guru menjadi seseorang yang mendorong dan memotivasi anak untuk
mewujudkan minat baca yang tinggi.
 Dinamisator
Guru mengatur dan mengelolah semua kegiatan membaca anak dengan
mendinamiskan seluruh sumber bacaan yang ada.
 Supervisor
Guru mengawasi proses membaca anak baik dalam jarak dekat maupun jarak
jauh agar anak merasa selalu ada yang mengawasinya.

22

 Konselor
Guru memberikan petunjuk-petunjuk untuk menciptakan suasana psikologis
yang kondusif demi terwujudnya jiwa, semangat dan motivasi dalam membaca
yang optimal.

 Evaluator
Guru memberikan respon terhadap seluruh kegiatan membaca anak dan menila i
hasil bacaan anak dengan memberikan kesempatan untuk menyampaikan hasil
pemahaman yang telah dibacanya.

Strategi yang dapat diterapkan dalam meningkatkan minat baca siswa adalah:
1. Proses pembelajaran mengarahkan kepada peserta didik untuk rajin membaca

buku.
2. Buku bacaan dikemas dengan gambar-gambar yang menarik.
3. Menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuhnya minat baca peserta

didik.
4. Menumbuhkan minat baca sejak dini.
5. Meningkatkan frekuensi pameran buku dpsetiap kota dengan melibatk a n

penerbit, LSM, perpustakaan, masyarakat pecinta buku dan sekolah-sekola h.
Dengan mewajibkan siswa untuk berkunjung pada pameran buku tersebut.
6. Siswa juga perlu melakukan sesuatu agar dapat menumbuhkan dan selanjutnya
meningkatkan minat bacanya sendiri dengan cara:
1. Yakin bahwa gemar membaca merupakan hal yang terbaik untuk dapat

bersaing di era global.
2. Memiliki niat yang tulus untuk membaca.
3. Sering mendatangi perpustakaan setiap mempunyai kesempatan.
4. Menambah wawasan dengan menyisihkan uang lebih untuk membeli buku

bukan mainan ataupun pulsa.
5. Memulai membaca sebuah buku dengan membaca daftar isinya terlebih

dahulu.
6. Mencatat setiap kali ada informasi penting dari buku yang dibaca.
7. Bersenang-senang dengan buku dan

23

8. Menyampaikan informasi yang telah diperoleh setelah membaca buku
kepada teman begitu pula sebaliknya.
Ada beberapa faktor yang mendorong minat baca seseorang. Pertama faktor

kebutuhan, orang memiliki minat untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Kedua
faktor perasaan, perasaan sukses, senang, mendorong timbulnya minat sedangkan
perasaan kecewa, gagal, menghambat atau bahkan menghilangkan minat seseorang.
Selanjutnya faktor lingkungan, maksudnya minat dipengaruhi dorongan untuk
diterima atau diakui oleh lingkungan. Meningkatkan minat baca bisa dilakukan oleh
siapapun, baik itu guru, orang tua bahkan siswa itu sendiri.
1. Faktor Pendukung Minat Baca

Untuk membina dan mengembangkan minat baca siswa tidak bisa terlepas
dari pembinaan kemampuan membaca siswa, sebab seperti sudah dijelaskan bahwa
untuk menjadi minat harus mampu membaca. Adapun beberapa faktor dalam
pembinaan minat baca. Faktor –faktor ini dapat dibedakan yaitu faktor eksternal
dan faktor internal. Faktor eksternal disamakaan dengan motivasi eksternal.
Sedangkan faktor internal disamakan dengan Motivasi internal (smit, 584- 586).
Adapun faktor –faktor yang mendukung pembinaan minat baca siswa adalah:
1. Secara alamiah orang orang beragama mempunyai kitab suci yang harus di baca
2. Orang yang berpendidikan sudah relatif banyak
3. Bahan bacaan sudah relatif tersedia.
4. Perpustakaan-perpustakaan sudah mulai berkembang
5. Tersedianya perpustakaan yang memadai.
6. Faktor trasportasi, komunikasi, informasi, dan iptek relatif baik
Untuk meningkatkan minat baca pada siswa ada beberapa kiat yang bisa dilakuka n
antara lain:
1. Memperlkenalkan buku – buku.
2. Memperkenalkan hasil karya sastrawan
3. Display Referensi
4. Pameran buku
5. Majalah dinding
6. Mengadakan kuis

24

7. Memberikan bimbingan membaca
8. Faktor Penghambat Minat Baca
Rendahnya minat baca pada siswa dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain:
1. Belum banyak dirasakan manfaat langsung dari membaca
2. Bahan bacaan belum merata
3. Pembinaan Perpustakaan belum merata
4. Kemajuan Teknologi lebih menarik perhatian
5. Daya beli bahan bacaan masih kurang
6. Banyak sekolah belum menyelengarakan perpustakaan sekolah
7. Tidak adanya tenaga pustakawan yang tetap, kebanyakan perpustakaan dikelola

oleh seorang guru atau tenaga administrasi sekolah yang tidak sepenuhnya
paham tentang Perpustakaan
8. Koleksi perpustakaan sekolah umumnya sangat lemah dan belum terarah
9. Sumber dana yang sangat terbatas
10. Banyak sekolah tidak mempunyai ruangan khusus untuk perpustakaan

KESIMPULAN
Minat membaca adalah sumber motivasi yang kuat bagi seseorang untuk
menganalisa dan mengingat serta mengevaluasi bacaan yang dibacanya, yang
merupakan pengalaman belajar yang menggermbirakan dan akan mempengar uhi
bentuk serta intensitas seseorang dalam menentukan cita-citanya di masa yang akan
datang. Minat membaca merupakan bagian dari proses pengembangan diri yang
harus senantiasa diasah sebab minat tidak diperoleh sejak lahir.
Membaca merupakan proses penyerapan informasi yang akan berpengaruh
positif terhadap kreativitas seseorang. Siklus membaca sebenarnya merupakan
siklus mengalirnya ide pengarang ke dalam diri pembaca yang pada gilirannya akan
mengalir ke penjuru dunia melalui buku atau rekaman informasi lain.

25

DAFTAR PUSTAKA

Dewiku. (2011). MENINGKATKAN MEMBACA. http://dewiku-
makalahku.blogspot.com/2011/07/makalah-meningkatkan-membaca.html.

MENINGKATKAN MEMBACA. (t.thn.).
http://www.bpkp.go.id/pustakabpkp/index.php?p=tingkat%20minat%20ba
ca.

Rahmawan, A. (2013). 8 Cara Menumbuhkan Minat Baca.
https://arryrahmawan.net/8-cara- menumbuhkan- minat-baca/.

RAHMAWANTO, M. P. (2018). PENINGKATAN MINAT BACA DAN
BELAJAR SISWA.
https://psyreptergraph.wordpress.com/2018/06/24/makalah-peningkatan-
minat-baca-dan-belajar-siswa/.

Sanghiang. (t.thn.). MEMBACA DAN FAKTOR-FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI MINAT BACA SISWA.
http://ekookdamezs.blogspot.com/2010/04/faktor-faktor- yang-
mempengaruhi- minat.html.

26

PENINGKATAN KEMAMPUAN SEORANG GURU DI
BIDANG TEKNOLOGI DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

DAN SASTRA INDONESIA PADA JENJANG SEKOLAH
DASAR UNTUK MENYAMBUT ERA MILENIAL

Ana Farhamnah, Luluk Widayati, Erina Puspitasari

Pendahuluan
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membawa arus perubahan.

Perubahan dalam bidang pendidikan, perdagangan hingga pemerintahan. Kini di
era globalisasi tidak bisa di pungkiri bahwa seiring perkembangnya teknologi yang
berbasis digital application, sistem interaksi sosial di masyarakat mulai tergerus.
Teknologi yang semakin pesat, mempermudah masyarakat dalam melakuka n
aktivitas. Perkembangan teknologi dan informasi masa kini, menawarkan banyak
kemudahan. Masyarakat diberikan fasilitas penunjang dalam kegiatan sehari-har i.
Sehingga memudahkan masyarakat dalam beraktivitas. Dengan mudahnya akses
komunikasi, hal tersebut menunjang dalam dunia pendidikan. Penerapan teknologi
komunikasi dan informasi di dunia pendidikan menjadi suatu hal yang diwajibka n.
Pasalnya, kini setiap sekolah maupun civitas akademi lainnya telah
menggunakan teknologi sebagai penunjang kegiatannya. Globalisasi telah
merasuki generasi masa kini. Globalisasi juga menyebabkan pergeseran dalam
dunia pendidikan yang semula bersistem tatap muka mulai mengarah pada sistem
online. Dengan masuknya globalisasi dalam dunia pendidikan mengakibatk a n
interaksi antar manusia ikut bergeser dan tanpa di pungkiri lagi bahwasanya hal
tesebut akan semakin hilang. Di era globalisasi yang berbasis digital applicatio n
dalam dunia pendidikan. Hal ini akan membantu jalannya proses pembelajaran dan
juga bisa meningkatkan hasil kinerja. Semakin banyaknya pengguna teknologi
dalam dunia pendidikan akan mengakibatkan perubahan model pembelajara n.
Karena hal tersebut lebih efektif dan efisien, tanpa memerlukan banyak waktu dan
tenaga. Sehingga lambat laun masyarakat akan lebih memilih sistem pembelajara n
online daripada pembelajaran konvensional (tatap muka). Perkembangan berbagai

27

media pembelajaran ini seiring dengan adanya kemajuan teknologi yang semakin
pesat. Dinamika teknologi kini mencapai akselerasi yang luar biasa. Teknologi
yang telah dipelajari beberapa tahun lalu telah tergantikan dengan dengan teknologi
yang baru masuk termasuk pembelajaran yang bersifat konvensional. Model
pembelajaran yang diberikan dalam teknologi untuk dunia pendidikan dirasa cukup
efektif. Pendidikan jarak jauh (distance learning) antara guru dan murid yang berada
tidak dalam satu tempat atau hubungan jarak jauh. Dan teknologi juga memberika n
banyak pilihan pembelajaran lainnya yang dapat dinikmati khalayak umum dengan
sangat mudah. Sekarang kita juga tengah merasakan kemudahan belajar hanya
dengan mengakses aplikasi digital seperti e-journal, e-library dan sebagainya. Salah
satu model pembelajaran yang telah diterapkan oleh beberapa masyarakat adalah
model E-learning. E-learning merupakan bentuk model pembelajaran yang
difasilitasi dan didukung pemanfaatannya teknologi informasi dan komunikas i.
Istilah E-learning lebih tepat ditujukan sebagai usaha untuk membuat sebuah
tranformasi proses pembelajaran yang ada di sekolah atau perguruan tinggi ke
dalam bentuk digital yang dijembatani teknologi internet. (Munir,2009:169). Di
Indonesia, sistem pendidikan konvensional masih banyak dilakukan dalam civitas
akademi. Khususnya daerah yang masih tergolong pedesaan. Karena di luar negeri
seperti Perancis juga telah menggunakan layanan pendidikan online yang menjadi
bukti pergeseran arah dunia pendidikan. Apalagi kini, zaman sekarang yang
menuntut perubahan besar dalam dunia pendidikan. Dimana pendidikan dijadikan
patokan dalam sebuah bermasyarakat. Sehingga pendidikan bermutulah yang
mempunyai pengetahuan luas untuk mentransfer ilmu. Generasi milenia l
(millennial generation) generasi yang lahir dalam rentang waktu awal tahun 1980
hingga tahun 2000 atau Gen-Y. Disebut generasi milenial karena generasi yang
hidup di pergantian millennium. Bersamaan dengan merasuknya teknologi digita l
ke segala sendi kehidupan. Teknologi digital yang telah menjadi kebutuhan dasar
pada generasi ini. Pada generasi milenial, yaitu generasi yang sudah melek
teknologi digital, dimana tiap informasi dengan mudah diakses lewat internet.
Namun, banyak orang berpandangan bahwasannya telah terjadi pergeseran nilai-
nilai sosial ketimuran. Karena lebih terbuka pemikirannya dengan mudah

28

mengadopsi nilai- nilai sosial daerah barat yang lebih modern. Memang benar, hal
tersebut juga telihat jelas dalam kehidupan kita. Banyak remaja yang mulai bergaya
layaknya orang barat, sehingga kehidupan social mereka semakin
tergerus. Hubungan komunikasi jarak jauh yang hanya dihubungan oleh media dan
internet. Membuat komunikasi jarak dekat atau komunikasi langsung semakin
jarang di lakukan. Sehingga, nilai social yang berlangsung dalam komunikas i
tersebut semakin pudar. Remaja rentan saling berbicara secara langsung mereka
memilih menggunakan media internet sebagai jalannya komunikasi. Jika hal ini
semakin gencar dilakukan lambat laun dunia nyata dalam hal interaksi akan pudar.

Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003 tentang
sistem Pendidikan Nasional pada pasal 6 ayat (1) berbunyi setiap warga negara yang
berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti Pendidikan dasar.
Program pemerintah untuk wajib belajar Pendidikan dasar 9 tahun, sudah dan masih
berjalan. Kemudian sesuai perkebangan pemerintah berencana akan melaksanaka n
progam wajib belajar 12 tahun dimulai pada juni 2015. Pada hakekatnya pemerinta h
terus berupaya meningkatkan taraf kehidupan rakyat dengan mewajibkan semuah
warga negara Indonesia untuk menamatkan Pendidikan dasar secara merata. Tidak
relevan bila di masa moderent ini masih ada anak-anak Indonesia yang tidak
bersekolah apalagi masih ditemukan buta huruf. Progam ini merupakan generasi
muda penesur bangsa. Karena nantinya kemajuan dan perkembangan bangsa
Indonesia ada di tangan para generasi muda yang mempunyai rasa nasionalis me
tinggi yang akan membuat negara Indonesia ini akan menjadi lebih baik lagi di
banding sebelumnya. Selain itu dengan adanya program Pendidikan ini, pemerinta h
berharap nantinya anak-anak Indonesia tidak akan kentinggalan dengan berbagai
informasi, ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS) yang semakin
berkembang dan mengalami kemajuan seiring degan perkembangan zaman yang
semakin modern dan global. Dalam mewujudkan upaya mencerdaskan kehidupan
bangsa sebagai perwujudan dan cita-cita nasional, maka proses pelaksanaan
Pendidikan dari tingkat dasar sampai sampai dengan pergutuan tinggi merupakan
terobosan yang harus terus di kembangkan.

29

Untuk menyeimbangi perkembangan tersebut Bahasa yang merupakan jati diri
sebuah bangsa tidak boleh di tinggalkan, Bahasa Indonesia memegang peranan
penting pada semuah aspek kehidupan sehari-hari warga negara Indonesia dalam
hal berkomunikasi. Begitupun dengan sastra Indonesia yang sangat perlu di jenjang
sekolah paling dasar karena minat baca anak Indonesia yang hanya mencapai 5%,
tak jarang pulapenggunaan bahasa Indonesia tidak sesuai dengan kbbsi. Seiring
dengan perkembangan jaman Bahasa Indonesia maupun sastra Indonesia terus
berkembang, baik kea rah positif maupun negatif. Keadaan yang ada sekarang
fusngsi Bahasa Indonesia mulai terganti oleh Bahasa asing dan sastra juga mula i
jarang untuk diminati oleh banyak orang apalagi anak-anak yang lebih memilih
untuk menonton televisi atau bermain dengan hp mereka masing- masing. Ada
beberapa bahasa ataupunistilah asing yang mulai di masukan ke tatanan bahasa
Indonesia di karenakan sikap yang meyakini akan terlihat modern, dan terpelajar
jika menggunakan istilah atau bahasa dalam berkomunikasi sehari-hari. Hal
tersebut berdampak pada eksistensi bahasa Indonesia. Dimulai dari peningkata n
kemampuan berbahasa para pengajar, yang kemudian di harapkan dapat menjadi
contoh untuk peserta ajarnya.

Maka penyiapan guru yang memiliki kompetensi yang betul-betul dapat
mengembangkan tugas sebagai guru. Untuk ini pemerintah melakukan usaha yng
berkenan dengan pemenuhan kebutuhan guru meliputi penggandaa n,
pendayagunaan, dan pembinaan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Salah
satu kerja Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyoyang akan
diwujudkan awal bulan Desember ini adalah pencanangan dan pemantapan guru
sebagai profesi. Melalui moto “Guru Sebagai Profesi” Depdiknas berencana untuk
meningkatkan kualitas guru dan sekaligus mengembangkan profesi guru sejajar
dengan profesi lain yang di anggap “terhormat” di tengah masyarakat. Sebagai
upaya meningkatkan daya saing, bangsa, khususnya menghadapi tantangan global,
pemerintah telah menentapkan persyaratan kompetensi sebagai standar pendidik
dan tenaga kependidikan di semua jenjang pendidikan. PP No.19 tahun 2005, pasal
28 menegaskan bahwa seorang tenaga pendidik (guru) harus memenuhi persyaratan
kompetensi sebagai pembelajaran meliputi: kompetensi pedagogik, kompetensi

30

kepribadian, kompetensi professional, dan kompetensi social. Guru dalam proses
belajar mengajar mempunyai fungsi ganda, sebagai pengajar dan pendidik, maka
guru secara otomatis mempunyai tanggug jawab yang besar dalam mencapai
kemajuan pendidikan. Begitu besarnya peranan guru, sebagai pengajar dan
pendidik, harus diakui bahwa kemajuan di bidang pedendidikan Sebagian besar
tergantung kewenangan dan kemampuan staf pengajar (guru). Untuk itu,
pemerintah telah mencanangkan “guru sebagai profesi” setara dengan profesi lain
yang membanggakan. Sudah hamper dua decade para pakar pendidikan, para
pejabat dan seluruh korps guru membahs masalah profesionalisasi jabatan guru,
tidak terkecuali guru-guru Bahasa dan sastra Indonesia tentunya. Namun
sejauhmana konsep profesionalisme ini dipahami oleh guru-guru Bahasa dan satra
Indonesia dan pada gilirannya dioperasikan dalam pelaksanaan tugas, memerluk a n
studi tersendiri.

Pada umumnya, rendahnya hasil belajar siswa dlam bidang studi bahasa dan
sastra Indonesia karena peranan guru dipandang sebagai posisi sentral yang
menentukan mutu hasil belajar siswa. Oleh karena itu, kompetensi guru khususnya
guru bidang studi bahasa dan sastra Indonesia mengajar yang meliputi penguasaan
materi dan metode pembelajaran merupakan tuntunan yang harus dimiliki setiap
guru bidang studi bahasa dan sastra Indonesia. Ini berarti seorang guru bahasa dan
sastra Indonesia yang professional harus memiliki kompetensi sebagai pendidik dan
pengajar bahasa dan sastra Indonesia.

Generasi milenial ialah masa adanya peningkatan pengunaan dan keakraban
dengan komunikasi, media dan teknologi digital seperti sekarang ini. Generasi yang
hidup di era milenial ini memiliki karakter yang khas. Sejak di bangku sekolah
sudah menggunakan gawai dan menjadikan internet sebagai kebutuhan pokok,
selalu terhubung dengan internet, supaya dapat mengakhses hal-hal baru atau
sekedar bersosialisasi dalam media social. Generasi saat ini disebut dengan generasi
milenial, yaitu generasi yang lahir pada antara tahun 1990 sampai 2000-an.
Generasi milenial itu di samping sangat IT-addict, sangat menonjol kecerdasan
entrepreneurship-nya, tidak terlalu tersandera oleh kekuasaan politik, tidak menjadi
pengemis di depan kantor kapitalisme industri, tidak termakan secara semena-mena

31

oleh media massa, punya keberpihakan yang serius terhadap “kesalehan”, serta
memiliki kebebasan otentik dalam kreativitas, termasuk dalam kesenian dan sastra.

Isi
Menciptakan dan menghasilkan guru bahasa dan sastra Indonesia yang

kompeten bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang juga berkompoten sesuai
dengan tujuan pendidikan dan kurikulum bidang studi bahasa dan sastra Indonesia.
Tentunya untuk menghasilkan lulusan yang berkompeten harus melalui proses
pendidikan yang baik dan benar. Seperti diketahui bahwa dalam proses belajar-
mengajar, guru merupakan salah satu variabel yang pengaruhnya sangat besar yang
pada gilirannya akan berakibat pada mutu output pengajarannya. Sesungguhnya
bagaimana sebenarnya implementasi guru berkompeten dalam pembelajara n
bahasa dan sastra Indonesia di kelas? Moedjiarto (2002) menyatakan bahwa bila
guru yang berkompeten mengajar di kelas maka akan tercipta hubungan antara guru
dan siswa yang akrab, bersahabat, demokratis dan tidak menakutkan. Selain itu guru
yang kompeten akan dapat menciptakan suasana (dalam Moedjiarto, 2002)
menyimpulkan bahwa guru yang kompeten memberikan sumbangan pada
produktivitas dan meningkatnya kepuasan misalnya prestasi siswa yang tinggi,
perilaku siswa yang baik, serta moral siswa dan karyawan sekolah juga baik. Guru
yang berkompeten juga mampu menciptakan sekolah yang efektif dan berimplikas i
pada sebutan guru yang efektif. Guru yang efektif senantiasa akan menciptaka n
suasana kelas antara guru dan siswa saling menghargai dan siswa merasa aman,
bebas untuk belajar. Pada tingkat teman sejawat, guru yang berkompeten selalu mau
bekerjasama dengan guru yang lain. Guru harus saling memberikan pengetahua n
dan pengalamannya, proses ini akan menghasilkan bentuk pentutoran sebaya atau
peer teaching. Moedjiarto (2002, dan Suparno, 2004) menyatakan seorang guru
yang mempunyai komponen kompetensi seperti di atas, dia akan sangat membantu
siswanya dalam memberikan solusi yang dihadapi oleh siswanya dan berperan
utama dalam mengantarkan siswanya pada keberhasilan belajar dengan prestasi
akademik yang tinggi. Guru seperti itu juga harus bersedia dinilai oleh atasannya
atas prestasinya di sekolah. Selain standar kompetensi tersebut, juga penting

32

ditekankan bahwa pada hakikatnya seorang guru bidang studi bahasa dan sastra
Indonesia di kelas bukan seorang tukang yang hanya melakukan apa yang sudah
digariskan atau dituliskan dalam kurikulum, GBPP, SP dan buku yang ada tanpa
berani mengembangkan proses pembelajaran, tetapi guru harus bisa dan biasa
mengolah sendiri, mencari sendiri, dan merumuskan sendiri apa yang mau
diajarkan sehingga kelas berjalan dengan baik dan siswa tidak bosan belajar. Giroux
(dalam Suparno, 2004) menyebutkan bahwa guru yang berkompeten sebenarnya
adalah intelectul transformatif yang mampu mengubah suasana dan keadaan yang
dapat menjadi agen perubahan masyarakat lewat anak didik di kelas. Di lain pihak
menurut Freire (1997) guru yang berkompeten harus mengembangkan dan melatih
siswa untuk berangan-angan dan untuk bermimpi, artinya dengan berangan-anga n
siswa akan terpacu untuk berkreasi dalam berpikir. Guru bahasa dan sastra
Indonesia yang berkompeten juga akan mampu menjadi seorang seniman dalam
kelas. Guru harus mampu mengembangkan ide-idenya berdasarkan keadaan dan
situasi yang selalu berubah. Sikap ini harus dikembangkan dan diimplikasikan di
kelas terutama menghadapi situasi anak didik baik secara fisik, psikologis, dan
spiritual yang setiap saat berubah dan ditambah lagi dengan keadaan lingkunga n
yang juga cepat berubah. Disinilah makna kata seni dalam mengajar dan mendid ik.
Namun demikian semangat entrepreneurship perlu dikembangkan, dengan
semangat ini guru akan memiliki kemauan yang kuat melaksanakan pekerjaan
untuk mencapai hasil yang lebih baik dengan selalu memunculkan inisia tif
cemerlang.

Bahasa adalah suatu media yang digunakan untuk menyampaikan dan
memahami gagasan, pikiran, dan pendapat. Bahasa juga media komunikasi utama
di dalam kehidupan manusia untuk berinteraksi (Surahman, 1994:11). Secara garis
besar, bahasa dapat dilihat dari tiga sudut pandang, antara lain: sudut pandang
bentuk dan sudut pandang makna (Martinet, 1987). Bentuk bahasaBahasa adalah
suatu media yang digunakan untuk menyampaikan dan memahami gagasan,
pikiran, dan pendapat. Bahasa juga media komunikasi utama di dalam kehidupan
manusia untuk berinteraksi (Surahman, 1994:11). Secara garis besar, bahasa dapat
dilihat dari tiga sudut pandang, antara lain: sudut pandang bentuk dan sudut

33

pandang makna (Martinet, 1987). Bentuk bahasaanak-anak justru semakin asing
dengan bahasa lokal. Menjamurnya bahasa bilingual memperparah kondisi ini,
beberapa sekolah yang berlabel “sekolah Internasional” bahkan menggunak a n
bahasa asing sebagai bahasa pengantar kegiatan belajar satu mata pelajaran yang
diajarkan hanya beberapa jam dalam seminggu. Kehidupan dan interaksi anak muda
milenial pun terlepas dari “kontaminasi bahasa”. Penggunaan istilah- istilah yang
entah dari mana asalnya semakin menghilangkan wujud asli bahasa Indonesia. Di
era milenial saat ini, bahasa Indonesia banyak tercampur dengan bahasa asing. `kids
jaman now` menggantikan istilah remaja masa kini `woles` yang menggantik a n
santai, konon diambil dari kata slow yang diucapkan terbalik. Serta masih banyak
istilah- istilah yang sebelumnya tidak terkenal. Secara umum, remaja adalah waktu
manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut
sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa
peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa, remaja merupakan peraliha n
antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21
tahun. Remaja memiliki tempat di antara anak-anak dan orang tua karena sudah
tidak termasuk golongan anak tetapi belum juga berada dalam golongan dewasa
atau tua. Masa remja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena
remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak memiliki status anak. Sering
kita dengar ungkapan “gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar”.
Terhadap ungkapan itu timbul banyak reaksi. Pertama, orang mengira bahwa kata
baik dan benar dalam ungkapan itu mengandung arti atau makna yang sama atau
identik. Sebenarnya tidak, justru ungkapan itu memberikan kesempatan dan hak
kepada pemakai bahasa untuk menggunakan bahasa secara bebas dengan
keinginannya dan kemampuannya dalam berbahasa. Berbahasa yang baik ialah
berbahasa sesuai dengan “lingkungan” bahasa itu digunakan. Dalam hal ini
beberapa faktor menjadi penentu. Pertama, orang yang berbicara; kedua, orang
yang diajak berbicara; ketiga, situasi itu formal atau nonformal; keempat, masalah
atau topik pembicaraan. Sedangkan bahasa yang benar adalah bahasa yang sesuai
dengan kaidahnya, aturannya, bentuk strukturnya. Kalau berbahasa Indonesia baku
harus seperti bahasa yang kaidahnya tertulis dalam buku-buku tata bahasa.

34

Sebaliknya, jika menggunakan salah satu dialek, dialek Jakarta misalnya harus
betulbetul bahasa Jakarta seperti yang digunakan oleh penduduk asli Jakarta itula h
dimaksud dengan kata benar. Meninggalkan suatu kebiasaan yang telah menjadi
tradisi akan berakibat besar dalam kelangsungan hidup masyarakat tersebut. Begitu
juga yang akan terjadi pada bahasa Indonesia yang disempurnakan jika semakin
ditinggalkan oleh masyarakatnya. Dampak buruk yang dapat dirasakan langsung
adalah menurunnya nilai kesopanan remaja ketika berbicara dengan orang yang
lebih tua. Sedangkan dampak tidak langsungnya adalah merusak bahasa nasiona l
itu sendiri. Mungkin, beberapa tahun kedepan masih bisa menggunakan bahasa
Indonesia yang baik dan benar, namun bagaimana dengan lima puluh tahun yang
akan datang? Apakah bahasa Indonesia masih bisa bertahan? Atau hilang ditelan
“bahasa gaul”? Hal ini menjadi tugas kita sebagai remaja sekaligus pelajar yang
masih peduli dengan Bahasa Indonesia. Kita tidak dapat memungkiri bahwa
“bahasa gaul” telah mengikis dan merusak bahasa Indonesia. Oleh karena itu,
sebagai generasi muda marilah kita menjaga dan melestarikan Bahasa Indonesia.
Penutup

Karena pentingnya pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di sekolah dasar
maka guru harus bisa mengikuti perkembangan jaman, banyak media-media yang
bis akita peroleh mulai dari aplikasi, bacaan cerita di internet, tontonan di youtube,
bahkan ada musikalisasi puisi yang semuah bisa melakukan dengan mendownlo ad
aplikasi kemudian memadukan suara rekaman saat membaca puisi dengan music
yang terdapat dalam aplikasi tersebut. Di sini guru harus bisa membimbing anak-
anak murid nya untuk dapat menciptakan suatu sastra dengan mengik uti
perkembangan jaman, namun di samping itu guru juga haru bisa untuk membuat
anak-anak murid cinta pada bahasa sendiri yakni bahasa Indonesia dengan terus
mengajarkan atau bengucapkan bahasa Indonesia dengan baik dan bedar, banyak
juga media-media untuk menonjang pembelajaran bahasa Indonesia seperti kamus
maja yang sudah dalam bentuk aplikasi, kamus bahasa Indonesia percakapan dalam
bahasa Indonesia bahkan kita juga dapat memutarkan bagaimana pengunaan bahasa
Indonesia dengan baik melalui rekaman video kemudian di tayangkan dan di lihat
oleh anak murid saat pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia. Jadi dengan

35

banyaknya kemudahan-kemudahan tersebut guru tidak boleh lengah harus terus
meningkatkan kemapuannya agar bisa dengan maksimal mengajarkan pada anak
didik. Karena bagaimanapun guru adalah seseorang yang melayani di tiru dan di
gugu setiap ucapan yang di lontarkan harus dengan baik begitupun ilmu yang di
bagikan kepada anak murid. Guru juga dapat meningkatkan kompetensi guru dalam
hal penggunaan TIK dengan mengikuti workshop secara online maupun tatap
muka. Guru juga bisa melakukan privat dengan rekan guru lain yang mahir dalam
bidang TIK. Guru juga tidak boleh malu dalam bertanya jika memilki kendala
dalam pengoprasikan aplikasi atau alat tehnologi lain. Bila anak didik diminta untuk
belajar maka guru pun harus melakukan hal yang sama.

36

PEMILIHAN MEDIA PEMBELAJARAN BAHASA DAN
SASTRA SEKOLAH DASAR PADA ERA MILENIAL

Anah Safitri, Fatimah Aidid, Nadia Rif’ah

Peranan media didalam proses pendidikan adalah alat yang dapat membantu
proses belajar mengajar yang berfungsi memperjelas makna pesan yang
disampaikan sehingga tujuan proses belajar mengajar dapat tercapai dengan
sempurna. Media berperan sebagai perangsang belajar dan dapat menumbuhk a n
motivasi belajar sehingga peserta didik tidak bosan dalam meraih tujuan-tujua n
belajar.

Apapun yang disampaikan oleh pendidik mesti menggunakan media, paling
tidak yang digunakan adalah media verbal yang berupa kata-kata yang diucapkan
dihadapan peserta didik. Segala sesuatu yang terdapat di lingkungan sekolah, baik
berupa bukan manusia yang pada permulaanya tidak dilibatkan dalam proses
belajar mengajar, setelah dirancang dan dipakai dalam kegiatan tersebut,
lingkungan itu berstatus media sebagai alat perangsang belajar. manusia ataupun

Penggunaan media pembelajaran yang tepat merupakan salah satu yang
mempengaruhi pembelajaran efektif. Media pembelajaran dapat mempertinggi
proses belajar peserta didik yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi
hasil belajar yang dicapainya. Sehubungan dengan sangat besarnya manfaat media
dalam proses belajar-mengajar bahasa Indonesia di sekolah/madrasah, khususnya
peserta didik SD/MI yang perkembangan kognitifnya pada tahap operasi konkret,
penggunaan media sesuai konteks dan tujuan pembelajaran dalam proses belajar-
mengajar sangat diperlukan

Dalam pengajaran media sangat diperlukan untuk membantu efektivitas dan
efisiensi pengajaran. Karenanya pendidik harus dapat memilih media pengajaran
yang tepat guna dan tepat sasaran. Karena pada dasarnya penggunaan media
pengajaran bertujuan untuk:

1. Memberi kemudahan kepada peserta didik untuk memahami materi
pelajaran.

2. Memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan bervariasi.

37

3. Menumbuhkan sikap dan keterampilan dalam penggunaan teknologi.
4. Menciptakan situasi belajar yang tidak mudah dilupakan.

Generasi milenial ialah masa adanya peningkatan penggunaan dan
keakraban dengan komunikasi, media dan teknologi digital seperti sekarang ini.
Generasi yang hidup di era milenial ini memiliki karakter yang khas. Sejak di
bangku sekolah sudah menggunakan gawai dan menjadikan internet sebagai
kebutuhan pokok, selalu terhubung dengan internet, supaya dapat mengakses hal-
hal baru atau sekedar bersosialisasi dalam media sosial. Generasi saat ini disebut
dengan generasi milenial, yaitu generasi yang lahir antara tahun 1980 sampai
2000-an.

Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia selalu identik dengan
pembelajaran membaca, dan menulis, karena itu media yang digunakan tentu saja
itu-itu saja (buku, dan teks). Pernyataan tersebut tidaklah salah, karena
pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia memang meliputi empat aspek
ketrampilan berbahasa yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, menulis.

Mendengarkan seperti mendengarkan berita, petunjuk, pengumuma n,
perintah, bunyi atau suara, bunyi bahasa lagu, kaset, pesan, penjelasan, laporan,
ceramah, khotbah, pidato, pembicaraan nara sumber, dialog atau percakapan,
pengumuman serta perintah yang didengar dengan memberikan respon secara tepat
serta mengapresiasi sastra berupa dongeng, cerita anak-anak, cerita rakyat, cerita
binatang, puisi anak, syair lagu, pantun dan menonton drama anak.

Berbicara, seperti mengungkapkan gagasan dan perasaan , menyampaik a n
sambutan , dialog, pesan, pengalaman, suatu proses, menceritakan diri sendiri,
teman, keluarga, masyarakat, benda, tanaman, binatang, gambar tunggal, gambar
seri, kegiatan sehari-hari, peristiwa, tokoh, kesukaan/ketidaksukaan, kegemaran,
peraturan, tata petunjuk, dan laporan, serta mengapresiasi dan berekspresi sastra
melalui kegiatan menuliskan hasil sastra berupa dongeng cerita anak-anak, cerita
rakyat, cerita binatang, puisi anak, syair lagu, pantun, dan drama anak.

Membaca, seperti membaca huruf, suku kata, kata, kalimat, paragraf,
berbagai teks bacaan, denah, petunjuk, tata tertib, pengumuman, kemus,
ensiklopedi, serta mengapresiasi dan berekspresi, sastra melalui kegiatan membaca

38

hasil sastra berupa dongeng, cerita anak-anak, cerita rakyat, cerita binatang, puisi
anak, syair lagu, pantun, dan drama anak.

Menulis, seperti menulis karangan naratif dan normatif dengan tulisan rapi
dan jelas dengan memerhatikan tujuan dan ragam pembaca, pemakaian ejaan dan
tanda baca, dan kosa kata yang tepat dengan menggunakan kalimat tunggal dan
kalimat majemuk, serta mengapresiasi dan berekspresi sastra melalui kegiatan
menulis hasil sastra berupa cerita dan puisi.

Berdasarkan ruang lingkup pembelajaran Bahasa Indonesia diatas, maka
pembelajaran Bahasa Indonesia mengarah kepada peningkatan kemapuan
berkomunikasi, karena keempat kemampuan berbahasa tersebut saling berkaitan
dan memiliki peranan penting dalam berkomunikasi baik secara lisan maupun
tulisan.

Kata media berasal dari bahasa Latin medius yang
berarti ‘tengah’,’ perantara’atau ‘pengantar’. Media adalah alat perantara atau
pengantar didalam melakukan proses pengajaran. Sedangkan pengajaran ialah suatu
kegiatan yang menyangkut pembinaan anak dari segi kognitif dan psikomotor, yaitu
agar peserta didik lebih banyak pengetahuannya, lebih cakap berpikir kritis,
sistematis dan objektif serta terampil dalam mengerjakan menulis, membaca,
berenang berlari dan sebagainya. Menurut KH. Dewantara pengajaran itu adalah
bagian dari pendidikan.

Mendidik adalah melaksanakan berbagai usaha untuk menolong peserta
didik dalam menuju kedewasaannya. Salah satunya dilakukan dengan cara
mengajar. Dengan adanya media pengajaran maka memudahkan peserta didik
didalam menerima pesan dan informasi dari pendidik. Media dalam proses
pembelajaran diartikan sebagai alat-alat grafis, fotografis atau elektronis untuk
menangkap, memproses dan menyusun kembali informasi visual atau verbal.

Media yang dipergunakan dalam mengajar disebut juga dengan media
pengajaran. Karena pengajaran bagian dari kegiatan pembelajaran maka media
pengajaran sering juga disebut dengan media pembelajaran.

39

 Gagne mengartikan media sebagai berbagai jenis komponen dalam lingkunga n
peserta didik yang dapat merangsang atau memberi stimulus pada peserta didik
untuk belajar.

 Menurut Tim LPM DKI Jakarta: media pembelajaran adalah segala sesuatu
yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi dalam proses
belajar mengajar sehingga dapat merangsang perhatian dan minat peserta didik
dalam belajar.

Bahasa adalah suatu media yang digunakan untuk menyampaikan dan
memahami gagasan, pikiran, dan pendapat. Bahasa juga media komunikasi utama
di dalam kehidupan manusia untuk berinteraksi (Surahman, 1994:11). Kehidupan
dan interaksi anak muda milenial pun terlepas dari “kontaminasi bahasa”.
Penggunaan istilah- istilah yang entah dari mana asalnya semakin menghilangka n
wujud asli bahasa Indonesia. Di era milenial saat ini, bahasa Indonesia banyak
tercampur dengan bahasa asing. `kids jaman now` menggantikan istilah remaja
masa kini `woles` yang menggantikan santai, konon diambil dari kata slow yang
diucapkan terbalik. Serta masih banyak istilah-istilah yang sebelumnya tidak
terkenal.

Dengan demikian media pembelajaran adalah alat yang dapat digunaka n
untuk menyampaikan informasi dan pesan-pesan pengajaran dari sumber belajar
yaitu pendidik kepada peserta didik agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan
efektif dan efisien. Sedangkan dalam akivitas pembelajaran media dapat diartian
sebagai sesuatu yang dapat membawa informasi dan pengetahuan dalam interaks i
yang berlangsung antara pendidik dengan peserta didik.
Fungsi Media Dalam Pejaran

Dalam kegiatan pengajaran yang dilakukan oleh pendidik. Media
pengajaran memiliki fungsi sebagai berikut:

1. Sebagai alat bantu.
2. Sebagai sumber belajar.
3. Menarik perhatian siswa.
4. Mempercepat proses belajar mengajar.
5. Mempertinggi mutu atau kwalitas belajar.

40

Sedangkan menurut TIM LPM DKI Jakarta, fungsi media pengajaran
adalah sebagai berikut:
1. Menciptakan situasi pembelajaran yang efekif.
2. Bagian integral dari keseluruhan pembelajaran.
3. Meletakkan dasar-dasar yang konkrit dan konsep yang abstrak sehingga dapat

mengurangi verbalisme.
4. Membangkitkan motivasi belajar.
5. Mempertinggi mutu pembelajaran.

Manfaat Media Pembelajaran di SD era Milineal
Banyak manfaat yang diperoleh dari menggunakan media pengajaran dalam

mengajar, diantaranya ialah:
1. Bahan pelajaran akan lebih jelas dan lebih mudah dipahami oleh para peserta

didik serta dapat menguasai tujuan pengajaran lebih baik.
2. Metode mengajar akan lebih bervariasi, sehingga peserta didik tidak bosan dan

pendidiknya pun tidak kehabisan tenaga apabila harus terus menerus mengajar
untuk setiap jam pelajaran yang berbeda secara bergantian.
3. Akan lebih banyak kegiatan belajar sebab selain mendengarkan tapi juga peserta
didik bisa mengamati, melakukan demonstrasi, diskusi dan lain-lain.
4. Pengajaran akan lebih menarik perhatian peserta didik sehingga dapat
menumbuhkan motivasi belajar.
5. Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalitis.
6. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu dan daya indera.

Pemilihan Media Pembelajaran di SD era Milineal
Dalam memilih media harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

1. Obyektivitas yaitu pilihan didasarkan atas prinsip efektivitas dan efesiensi. Tepat
guna dan tepat sasaran didalam mencapai tujuan pengajaran.

2. Program pengajaran yaitu harus sesuai dengan kurikulum dan kedalaman materi
pelajaran yang akan disampaikan.

41

3. Disesuaikan dengan situasi dan kondisi baik tempat atau ruangan maupun kondisi
peserta didik.

4. Kualitas teknik memenuhi syarat keselamatan penggunanya dan mudah untuk
disempurnakan bila diperlukan dan tidak membahayakan penggunanya.

Macam-Macam Media Pembelajaran di SD era Milineal
Ada beberapa media yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar.

Media didasarkan dari cara melihat atau memandangnya dapat digolongkan
sebagai berikut:
1. Media Visual

Adalah media pengajaran yang dapat dilihat. Media visual dapat dikelompoka n
dalam beberapa kelompok, diantaranya yaitu:
a. Media visual 2 dimensi tidak transparan. Misalnya: grafik, bagan, peta, poster,

buku, komik, foto, makalah, diklat, majalah, karikatur, gambar dll.
b. Media visual 2 dimensi papan. Contohnya: papan tulis, papan panel, papan

magnet, white board, papan bulettin, papan karpet dll.
c. Media visual 2 dimensi transparan. Misalnya: film slide, OPH/OHT, film

strife, micro film.
d. Media visual 3 dimensi. Contohnya: benda sesungguhnya, model, diorama,

mock up, specimen.
2. Media Audio

Adalah media yang dapat didengar oleh telinga. Adapun yang termasuk media
audio adalah: Radio, Audio tape recorder, Alat musik modern/tradisional, CD
Player, PH, Sound System, Telephone/HP.
3. Media Audio Visual

Adalah media yang mempertunjukan gambar dan dapat mengeluarkan atau
memperdengarkan suara. Contonnya yaitu: Televisi, Video Sistem, Sinema/Film,
Komputer.
Prinsip-Prinsip Pemilihan Media Pembelajaran di SD era Milineal

Prinsip-prinsip dalam mengunakan media pengajaran menurut Nana
Sudjana adalah sebagai berikut:

42

1. Menentukan jenis media pengajaran dengan tepat. Artinya, sebaiknya guru
memilih terebih dahulu media manakah yang sesuai dengan tujuan dan bahan
pelajaran yang diajarkan.

2. Menetapkan atau mempertimbangkan subyek dengan tepat. Artinya, perlu
diperhitungkan apakah penggunaan media pengajaran itu sesuai dengan tingkat
kematangan /kemampuan anak didik.

3. Menyajikan media pengajaran dengan tepat. Artinya, teknik dan metode
penggunaan media dalam pengajaran harus sesuai dengan tujuan, bahan,
metode, waktu dan sarana.

4. Menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu, tempat dan situasi yang
tepat. Artinya, kapan dan dalam situasi mana pada waktu mengajar media
digunakan. Tentu tidak setiap saat menggunakan media pengajaran, tanpa
kepentingan yang jelas.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Dalam Pemilihan Media Pembelajaran
1. Objektivitas. Media pengajaran dipilih bukan atas kesenangan dan kebutuhan

guru, melainkan keperluan sistem belajar. Karena itu perlu masukan dari siswa.
2. Program pengajaran. Program pengajaran yang akan disampaikan kepada anak

didik harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku, baik menyangkut isi,
struktur maupun kedalamannya.
3. Sasaran program. Media pengajaran yang akan digunakan harus diliha t
kesesuaiannya dengan tingkat perkembangan anak didik, baik dari segi bahasa,
symbol-simbol yang digunakan, cara dan kecepatan penyajian maupun waktu
penggunaanya.
4. Situasi dan kondisi. Yakni situasi dan kondisi sekolah atau tempat dan ruangan
yang akan dipergunakan, baik ukuran, perlengkapan maupun ventlasinya,
situasi serta kondisi anak didik yang akan mengikuti pelajaran baik jumla h,
motivasi dan kegairahannya.
5. Kualitas teknik. Barangkali ada rekaman suara atau gambar-gambar dan alat-
alat lainnya yang perlu penyempurnaan sebelum digunakan. Misalnya suara
atau gambar yang kurang jelas, keadaannya telah rusak, ketidaksesuaian dengan
alat yang lainnya.

43

Ketepatan Penggunaan Media Pembelajaran di SD era Milineal
Ketepatan penggunaan berkaitan dengan proses dan hasil yang dicapai.

Ketepatan dalam penggunan media pengajaran berkaitan dengan pertanyaan,
apakah dalam penggunaan media pengajaran tersebut informasi pengajaran dapat
diserap oleh anak didik secara optimal dengan memperhitungkan resiko biaya dan
tenaga seefisien mungkin. Boleh jadi ada media yang dipandang sangat efektif
untuk mencapai suatu tujuan, namun proses pencapaiannya tidak efisien, baik
dalam pengadaanya maupun dengan penggunaanya atau sebaliknya. Guru memilik i
fungsi untuk mempertemukan media yang efektif sekaligus efisien atau sekurang-
kurangnya menekan jarak diantara keduanya.
Kriteria Pemilihan Media Pembelajaran di SD era Milineal
Nana Sudjana & Ahmad Rivai mngemukakan kriteria-kriteria sebagai berikut:
1. Ketepatannya dengan tujuan pengajaran, artinya media pengajaran dipilih atas

dasar tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan. Tujuan-tujua n
instruksional yang berisikan unsur-unsur pemahaman, aplikasi, analisis,
sistesis, biasanya lebih mungkin menggunakan media pengajaran.
2. Dukungan terhadap isi bahan pengajaran, artinya bahan pengajaran yag sifatnya
fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar
lebih mudah dipahami siswa.
3. Kemudahan memperoleh media, artimya media yang diperlukan mudah
diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar.
Media grafis umumnya mudah dibuat oleh guru tanpa biaya yang mahal,
disamping sederhana dan praktis penggunannya.
4. Keterampilan guru dalam menggunakan apapun jenis media yang diperluka n
syarat utama adalah guru dapat menggunakannya dalam proses pengajaran.
Nilai dan manfaat yang diharapkan bukan pada medianya, tetapi dampak dari
penggunaannya dalam interaksi bagi siswa selama pengajaran berlagsung.
5. Sesuai dengan taraf berpikir siswa, memilih media untuk pendidikan dan
pengajaran harus sesuai dengan taraf berpikir siswa. Menyajikan grafik yang
berisi data dan angka atau proporsi dalam bentuk gambar atau poster. Demikia n
juga dengan diagram yang menjelaskan alur hubungan suatu konsep atau

44

prinsip hanya bias dilakukan bagi siswa yang telah memilih kadar berpikir yang
tinggi.
Langkah-Langkah Mempergunakan Media Pembelajaran
1. Merumuskan tujuan pengajaran dengan memanfaatkan media pengajaran.
2. Persiapan guru dengan cara memilih dan menetapkan media mana yang akan
dimanfaatkan guna mencapai tujuan.
3. Persiapan kelas. Anak didik dan kelas dipersiapkan sebelum pelajaran dengan
bermedia dimulai. Guru harus dapat memotivasi mereka agar dapat menila i,
menganalisis, menghayati pelajaran dengan menggunakan media pengajaran.
4. Langkah penyajian pelajaran dan pemanfaatan media. Media diperlukan guru
untuk membantu tugasnya menjelaskan bahan pelajaran.
5. Langkah kegiatan belajar siswa. Pemanfaatan media oleh siswa sendiri dengan
mempraktekkannya atau oleh guru langsung baik dikelas atau diluar kelas.
6. Langkah evaluasi pengajaran. Sampai sejauh mana tujuan pengajaran tercapai,
sekaligus dapat dinilai sejauh mana penggunaan media sebagai alat bantu dapat
menunjang keberhasilan proses belajar siswa.
Evaluasi Terhadap Media Pembelajaran

Evaluasi terhadap media pengajaran adalah mengadakan penilaian terhadap
media yang dipergunakan oleh pendidik untuk mencapai tujuan dari pengajaran
yang efektif dan efisien. Yang tepat guna dan tepat sasaran sehingga dapat
mencapai tujuan dari pengajaran yang berkualitas tinggi. Untuk ini ada beberapa
syarat:
1. Harus memiliki cara/metode bagaimana menilai suatu media yang berguna

untuk pengajaran.
2. Mengenal, memperhatikan dan mengikuti cara kerja media /alat tersebut.
3. Mengetahui betul tingkat pengertian peserta didik yang akan menggunak a n

peralatan /media tersebut.
4. Mengetahui sumber-sumber informasi yang tepat untuk memberikan penilaia n

terhadap media tersebut.
5. Mempunyai keterampilan untuk melakukan evaluasi. Sehingga mempunya i

penilaian yang tepat.

45

Ada tiga langkah dalam melakukan evaluasi yaitu:
1. Penilaian permulaan (prelaminarylafter sale).

Dengan mengajukan beberapa pertanyaan untuk penilaian yaitu:
a. Apakah dapat menarik perhatian peserta didik?
b. Apakah memberi sesuatu yang baru dan memberikan informasi yang

penting?
c. Apakah menimbulkan tingkah laku, keterampilan dan appresiasi?
d. Apakah menyebabkan berpikir secara kritis?
e. Apakah tercapai tujuan dengan lebih baik?
2. Mencoba peralatan didalam penggunaan (actual use).
3. Mencatat hasil-hasil setelah dipakai (review).

Memudahkan pendidik untuk memberikan materi pelajaran kepada peserta
didik dengan lebih bervariasi. Dengan menggunakan alat bantu/ media pengajaran
maka akan dapat meningkatkan:
1. Kemampuan untuk meningkatkan persepsi.
2. Kemampuan untuk meningkatkan pengertian.
3. Kemampuan untuk meningkatkan transper (pengalihan) belajar.
4. Kemampuan untuk memberikan penguatan (reinforcemen) atau pengetahua n

hasil yang dicapai.
5. Kemampuan untuk meningkatkan ingatan (retensi).

46

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad, Azhar. 2006. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Danim, Sudarbuan. 1995. Media Komunikasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Sudjana, Nana dan Ahmad Rivai. 2002. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru

Algensindo.
S. Sadiman, Arief, dkk. 2003. Media Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers
Harjanto. 2002. Perencanaan Pengajaran. Rineka cipta
Mansyur, Umar. 2018. Belajar Memahami Bahasa Generasi Milenia l.

https://doi.org.10.31227/osf.io/sxhp8.
Mansyur, Umar. 2018. Sikap Bahasa dan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Perguruan

Tinggi. In 1st International Conference of Asosiasi Linguistik Terapan Indonesia
UMI 2018. https://doi.org/10.31227/osf.io/te3df

47

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA DI ERA
MILENIAL MELALUI AUDIO VISUAL

Annisa Rahayu, Nurazizah, Tri Utami Khoeriyah, Yogi Setiawan

Pendahuluan
Berbicara merupakan suatu keterampilan berbahasa yang berkembang pada

kehidupan siswa. Terdapat empat aspek keterampilan berbahasa yang mencakup
dalam pembelajaran berbahasa, yaitu: 1) keterampilan menyimak; 2) keterampila n
berbicara; 3) keterampilan membaca; 4) keterampilan menulis. Keterampila n
tersebut saling berhubungan satu sama lain. Pada setiap keterampilan berbahasa
mempunyai keterkaitan yang erat antara satu dengan yang lain. Dalam memperole h
ketermapilan berbahasa biasanya melalui suatu hubungan berurutan dan teratur,
mula-mula dengan belajar menyimak atau mendengar, lalu berbicara, selanjutnya
belajar membaca dan menulis.

Salah satu dari keempat keterampilan berbahasa tersebut adalah
keterampilan berbicara. Keterampilan berbicara sangat penting dalam kehidupan
sehari-hari karena sebagai sarana media komunikasi lisan yang efektif. Menurut
Slamet (2012:60), berpendapat bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapka n
bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta
menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Kegiatan berbicara merupakan
kegiatan berbahasa yang bersifat produktif, maka dari itu indikator keterampila n
siswa yaitu: (1) siswa lancar dalam berbicara, (2) siswa mampu bercerita dengan
pengucapan yang tepat, (3) siswa mampu memahami isi materi cerita, (4) siswa
mampu bercerita dengan nada yang tepat, (5) siswa mampu bercerita dengan kosa
kata yang beragam.

Media pembelajaran memiliki peranan penting dalam menunjang kualitas
proses belajar mengajar. Media juga dapat membuat pembelajaran lebih menarik
dan menyenangkan. Salah satu media pembelajaran yang sedang berkembang saat
ini adalah media audiovisual. Media berasal dari kata media yang berarti bentuk

48

perantara yang digunakan oleh manusia untuk menyampaikan atau menyebar ide,
gagasan, atau pendapat sehingga ide, pendapat atau gagasan yang dikemukakan itu
sampai kepada penerima yang dituju.

Peningkatan keterampilan berbicara akan mudah jika dilakukan dengan kita
melihat dan mendengar contoh langsungnya, dikarenkan ketika kita menggunak a n
media audiovisual itu akan memudahkan kita dalam menerapkannya.

yang terjadi pada saat ini adalah siswa merasa kesulitan apabila harus
membuat dan mempraktikan pembelajaran bahasa. Dan ini harus menjadi bahan
evaluasi untuk guru media dan metode apa yang tepat untuk digunakan dalam
meningkatkan keterampilan berbahasa ini.

Dalam peningkatan keterampilan berbicara harus terus dilatih agar
meningkat, masa milenial seperti ini dipastikan kita sudah tak asing lagi dalam
media digital apalagi seperti kondisi pada saat ini yang terjadi wabah covid-19
hampir di seluruh dunia, maka dari itu peningkatan berbicara melalui audio visua l
sangat tepat dikarenakan siswa dapat belajar meningkatkan berbicara dengan
melihat dan mendengar contoh yang ada, seperti di youtube ataupun yang lainnya.
Dan siswa dapat mempraktekannya kepada teman-temannya dengan membuat
video ataupun langsung dalam pertemuan online dalam aplikasi zoom, google meet,
dou ataupun menggunakan aplikasi yang lainnya.

Tujuan umum dalam membuat artikel ini adalah untuk mendeskripsik a n
peningkatan keterampilan berbicara dalam pembelajaran bahasa Indonesia dengan
menggunakan media audiovisual.
A. Hasil dan Pembahasan

1. Hasil
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di kelas II Sekolah Dasar Negeri

14 Pontianak Utara. Pada Mata Pelajaran bahasa Indonesia. Pelajaran bahasa
Indonesia disajikan dalam 3 jam pelajaran (3 x 35 menit) dalam satu hari yakni
hari Selasa pada pukul 07.00 ± 08.45 WIB. Guru yang mengajar, sekaligus
sebagai peneliti, yang menjadi guru kolaborator dalam penelitian ini adalah Ibu
Sumiyati, S. PdI. Jumlah siswa di kelas ini adalah sebanyak 25 Orang yakni 13
orang perempuan dan 12 orang laki-laki. Tindakan dilaksanakan sebanyak tiga

49

siklus dengan materi pembelajaran masing- masing: menceritakan yang
didengarkan, Kisah Alqomah, Kisah Si Tanggang dan bercerita tentang
dongeng Cerita Malin Kundang.

Sebelumnya peneliti akan memaparkan analisis data tentang keterampila n
berbicara sebelum menggunakan media Audiovisual adalah Guru telah
mengajar dengan menggunakan metode ceramah, tanya jawab (menurut apa
yang sudah menjadi kebiasaan) yakni guru menyuruh seorang siswa membaca
materi di depan kelas, siswa yang lain menyimak dan setelah itu, guru
menjelaskan materi dengan metode ceramah, guru menyuruh siswa untuk
bertanya tentang materi yang belum jelas, guru menyuruh siswa mengerjaka n
soal-soal.

Berdasarkan paparan di atas dengan menggunakan metode ceramah dan
tanya jawab, keterampilan berbicara aspek kebahasaan siswa dinilai rendah
hanya 7 orang saja yang cukup baik atau 28% dan dari aspek nonkebahasaan 5
orang atau 20% dan yang sebagian asyik ngobrol, kelas menjadi ribut dan ada
pula yang diam, karena pembelajaran lebih banyak didominasi oleh guru. Hal
ini berarti, keterampilan berbicara siswa sebelum mengunakan media
audiovisual rendah dan belum mengaktifkan semua siswa. Dalam upaya
pembenahan terhadap keterampilan berbicara siswa, sangat dibutuhkan suatu
media pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa dalam pembelajaran agar
dapat menciptakan suasana kelas yang penuh dengan keaktipan siswa dan guru
tidak mendominasi. Oleh sebab itu peneliti optimis dengan media yang sesuai
dengan tujuan pembelajaran, yaitu melalui media audiovisual dapat
meningkatkan keterampilan berbicara siswa kelas II pada Mata Pelajaran
Bahasa Indonesia Tahun Pelajaran 2012/2013 di Sekolah Dasar Negeri 14
Pontianak Utara. Untuk mengetahui peningkatan keterampilan berbicara siswa
tersebut dilakukanlah tiga kali tindakan (3 siklus).

Pada siklus I dapat dijelaskan bahwa keterampilan berbicara, semua siswa
mendapat kesempatan untuk berbicara. Namun masih ada sebagian siswa yang
kurang aktif, dapat disimpulkan bahwa dari aspek kebahasaan 12 orang yang
muncul dari 25 orang siswa atau 12 25 T 100% = 48% dinilai cukup baik dan

50


Click to View FlipBook Version