pembelajaran bermakna pada pembelajaran yang aktif, kreatif, inovatif, dan
menyenangkan.
Berdasarkan kondisi tersebut maka peneliti mempunyai alasan untuk
mengangkat judul penelitian tindakan kelas yang berjudul “peningkatan
keterampilan berbicara melalui role playing”. Dimana penulis akan
mengidentifikasi masalah dengan adanya ketidaktuntasan peserta didik dalam
memahami keterampilan dalam bermain peran, antara lain yaitu: peserta didik
kurang memahami materi, rendahnya tingkat penguasaan, tidak aktif dalam
kegiatan (tidak semangat), kurang motivasi, media yang digunakan tidak sesuai,
kurangnya keterampilan yang dimiliki guru dalam penyampaian materi.
Untuk meningkatkan keterampilan, siswa memerankan tokoh dalam
pementasan peran siswa kelas IV MI NURUL ZANNAH, peneliti membahas
tentang langkah- langkah yang ditempuh untuk meningkatkan kemampuan siswa
memerankan tokoh peran dengan menerapkan model pembelajaran bahasa sastra
siswa meningkatkan ketermpilan siswa melaui langkah- langkah sebagai berikut.
Langkah-langkah pemebelajaran yang efektif dengan menerapkan model
pembelajaran role playing mengasah kemampuan serta meningkatkan keterampila n
dalam masing- masing pembagian peran.
PEMBAHASAN
Keterampilan Berbicara
Penelitian ini menggunakan rancanagan penelitian tindakan kelas. Dalam
penelitian ini, diracang metode penelitian yang meliputi, rancangan penelitia n,
subjek dan objek penelitian, prosedur penelitian (refleksi awal, perencanaan,
tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, evaluasi dan refleksi). metode dan
instrumen pengumpulan data, teknik analisis dan data kriteria keberhasilan. Objek
dalam penelitian ini yaitu langkah- langkah pembelajaran yang efektif dengan
menerapkan model pembelajaran bermain peranuntuk meningkatkan kemampua n
siswa serta respon terhadap penerapan model bermain peran.
101
Berbicara merupakan salah satu keterampilan berbahasa dalam kehidupan
sehari-hari. Seseorang lebih sering memilih berbicara untuk berkomunikasi, karena
komunikasi lebih efektif jika dilakukan dengan berbicara. Berbicara memega ng
peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa kali bahasa telah
mendefinisikan pengertian berbicara, diantaranya sebagai berikut.
Berdasarkan pengertian berbicara yang telah disampaikan oleh beberapa ahli
diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian berbicara adalah aktivita s
mengeluarkan kata-kata atau bunyi berwujud ungkapan, gagasan, informasi yang
mengandung makna tertentu secara lisan.
Menurut Iskandarwassid dan Dadang suhendar (2008:241), keterampila n
berbicara pada hakikatnya merupakan keterampilan memproduksi arus sistem
bunyi artikulasi untuk menyampaikan kehendak, kebutuhan perasaan, dan
keinginan kepada orang lain. Dalam hal ini, kelengkapan alat ucap seseorang
merupakan persyaratan alamiah yang memungkinkan untuk memproduksi suatu
ragam yang luas bunyi artikulasi, tekanan, nada, kesenyapan, dan ragam bicara.
Keterampilan ini juga didasari oleh kepercayaan diri untuk berbicara secara wajar,
jujur, benar, dan bertanggung jawab dengan menghilangkan masalah psikologis
seperti rasa malu, rendah diri, dan ketegangan. Keteerampilan berbicara adalah
tingkah laku manusia yang paling distingtif dan berati (Djago Tarigan, (1992:146).
tingkah laku ini harus dipelajari, setelah itu dapat dikuasai. Anak-anak usia sekolah
dasar harus belajar dari manusia di sekitarnya, anggota keluarga, teman lingkunga n
rumah, teman satu sekolah dan guru di sekolah. Semua pihak turut membantu anak
belajar keterampilan berbicara.
Bermain peran pada perinsipnya merupakan pembelajaran untuk
menghadirkan peran yang ada dalam dunia nyata kedalam suatu pertunjukan peran
didalam kelas atau pertemuan yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar
serta memberikan penilaian terhadap pembelajaran yang usdah dilaksanaka n,
misalnya menilai keunggulan maupun kelemahan masing- masing peran tersebut
dan kemudian memberikan saran atau alternatif pendapat bagi pengembanga n
peran-peran tersebut. Pembelajaran ini lebih menekankan terhadap masalah yang
diangkat dalam pertunjukan dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakuka n
102
permainan peran. Role playing adalah sejenis permainan gerak yang didalamnya
ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang (Jill Hadfield, 1986)
dalam role playing, murid dikondisikan pada situasi tertentu diluar kelas, meskipun
saat itu pembelajaran terjadi didalam kelas, menggunakan bahasa inggris. Selain
itu, role playing sering kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktifitas dimana
pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada diluar kelas dan memaink a n
peran orang lain.
Pengalaman belajar yang diperoleh dari metode ini meliputi, kemampuan kerja
sama, komunikatif, dan interprestasikan suatu kejadian melalui bermain peran,
peserta didik mencoba mengeksplorasi hubungan-hubungan antar manusia dengan
cara memeragakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama peserta
didik dapat mengeksplorasi perasaan-perasan, sikap-sikap, nilai-nilai dan berbagai
setrategi pemecahan masalah. Dalam role playing murid diperlakukan sebagai
subjek pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya
dan menjawab dalam bahasa inggris) bersama teman-temannya pada situasi
tertentu. Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri murid
(Dirjen Dikdasmen, 2002). Proses pembelajaran memahami kebebasan
berorganisasi, dan menghargai keputusan bersama, murid akan lebih berhasil jika
mereka diberi kesempatan memainkan peran dalam bermusyawarah, melakuka n
pemungutan suara terbanyak dan bersikap mau menerima kekalahan sehingga
dengan melakukan berbagai kegiatan tersebut dan secara aktif dan berpartisipas i,
mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka pelajari(Boediono,2001 ).
Jadi, dalam pembelajaran murid harus aktif, karena tanpa adanya aktivitas, maka
proses pembelajaran tidak mungkin terjadi.
Sementara itu, sesuai dengan pengalaman penelitian sejenis yang telah
dilakukan, manfaat yang dapat diambil dari Role Playing adalah: pertama, Role
Playing dapat memberikan semacam hidden practice, dimana murid tanpa sadar
menggunakan umgkapan-ungkapan terhadap meteri yang telah dan sedang mereka
pelajari. Kedua, Role Playing melibatkan jumlah murid yang cukup banyak, cocok
untuk kelas besar. Ketiga, Role Playing dapat memberikan kepada murid
kesenangan karena Role Playing pada dasarnya adalah permainan. Dengan
103
bermain, murid akan merasa senang karena bermain dunia siswa. Masuklah ke
dunia siswa, sambil kita antarkan dunia kita (Bobbi Deporter,2000:12).
Shaftel dan Shaftel (E. Mulyasa, 2003) Mengemukakan tahapan pembelajara n
bermain peran meliputi: (1) Menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik;
(2) Memilih peran; (3) Menyusun tahapan-tahapan peran; (4) Menyiapkan
pengamatan; (5) Tahap pemeranan; (6) Diskusi dan Evaluasi tahap diskusi dan
evaluasi tahap I; (7) Pemeranan ulang; dan (8) Diskusi dan evalusai tahap II; dan
(9) Membagi pengalaman dan pengambilan keputusan. Hasil kesesuaian tersebut
dapat dilihat dari langkah- langkah yang digunakan pada peneliti tersebut sehingga
membuat siswa menjadi lebih termotivasi, membuat siswa menjadi lebih menarik
minat dan perhatian, serta mengembangkan kemampuan komunikasi siswa.
Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan diatas, ada beberapa hal yang menjadi simpula n
dalam penelitian ini. Langkah-langkah model pembelajaran bermain peran (role
playing) dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam memerankan tokoh sangat
efektif dalam meningkatkan kemampuan siswa dalam memerankan tokoh. Kedua
peningkatan hasil belajar siswa hingga tercapainya tingkat ketuntasan hasil belajar
siswa pada kegiatan memerankan peran. Berdasarkan temuan-temuan dalam
peneliti ini, dapat menyampaikan beberapa saran sebagai berikut. (1) guru mata
pelajaran sastra hendaknya dapat mnerapkan model pembelajaran bermain peran
dalam pembelajaran bahasa dari segi sastra dan kebahasan. (2) dalam setiap
kegiatan pembelajaran, guru hendaknya selalu meminta siswa mempraktikan teori-
teori atau materi pembelajaran bahasa sastra, khususnya pada pembelajara n
bermain peran. (3) kepada peneliti lain yang ingin melakukan penelitian lebih lanjut
dan sejenis tentang penerapan model pembelajaran bermain peran, sebaiknya lebih
memperhatikan kendala-kendalayang dihadapi siswa serta mengupayakan solusi
yang tepat, agar peneliti melalui proses lebih maksimal.
104
DAFTAR PUSTAKA
Hamdayama, Jumanta.2014. Model dan Metode Pembelajaran Kreatif dan
Berkarakter.Bogor. Ghalia Indonesia.
105
PENGARUH MOTIVASI BELAJAR SISWA TERHADAP
PRESTASI BELAJAR IPA
Anisa Nur Awaliyah, Bella Amelia, Dea Amalia, Mia Zulmiati
PENDAHULUAN
Dalam proses pendidikan sekolah, kegiatan pembelajaran adalah komponen
pendidikan yang penting. Dalam kegiatan tersebut melibatkan peserta didik dan
pendidik (guru). Guru mempunyai peran penting dalam proses pembelajaran. Tugas
guru tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan saja, tetapi menjadikan siswa
sebagai subjek pembelajaran sehingga siswa tidak pasif dan dapat mengembangk a n
pengetahuan yang dimilikinya sesuai dengan bidang studi yang dipelajari.
Prestasi belajar merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dari proses
belajar yang dijalani oleh seseorang siswa dibangku pendidikan, tinggi rendahnya
prestasi belajar siswa yang menunjukkan tingkat keberhasilan belajarnya dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor yang sangat mempengaruhi prestasi belajar
seorang siswa adalah motivasi belajar.
IPA atau Sains adalah usaha manusia dalam memahami alam semesta
melalui pengamatan yang tepat sasaran, serta menggunakan prosedur sesuai dengan
aturannya, yang dijelaskan melalui penalaran sehingga mendapatkan suatu
kesimpulan. Dalam hal ni, guru atau khususnya yang mengajar sains disekolah
dasar, diharapkan mengerti dengan benar dan mengerti hakikat pembelajaran IPA,
sehingga dalam pembelajaran IPA guru tidak kesulitan dalam mendesain dan
melaksanakan pembelajaran juga tidak mendapat kesulitan dalam memaha mi
konsep sains.
IPA sebagai salah satu mata pelajaran disekolah dapat memberikan peranan
dan pengalaman bagi siswa. Hasil pembelajaran IPA pun dapat dipengaruhi oleh
motivasi dari siswa baik itu motivasi internal maupun motivasi eksternal. Namun,
siswa disekolah dasar dalam menerima pelajaran IPA kurang bisa memaha mi
materi yang disampaikan oleh guru. Selain itu, siswa dalam mengikuti pelajaran
IPA kurang memiliki motivasi.
106
Motivasi merupakan suatu penggerak dari dalam hati seorang individ u
untuk melakukan atau mencapai tujuan tertentu. Motivasi juga bisa dikatakan
sebuah rencana atau keinginan untuk menuju kesuksesan dan menghindar i
kegagalan hidup. Dorongan motivasi belajar yang dimiliki siswa dalam setiap
kegiatan pembelajaran sangat berperan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa
dalam mata pembelajaran tertentu. Siswa yang bermotivasi tinggi dalam belajar
memungkinkan akan memperoleh prestasi belajar yang tinggi juga, artinya semakin
tinggi motivasinya, semakin intensitas usaha dan upaya yang dilakukan, maka
semakin tinggi prestasi belajar yang diperolehnya dan sebaliknya, jika motivas i
belajarnya rendah maka akan memperoleh prestasi belajar yang rendah juga.
Jika guru jarang memberikan motivasi kepada siswa mungkin sebabnya
siswa akan cepat bosan saat mengikuti pelajaran dan tidak mempunyai semangat
dan motivasi belajar. Hal ini membuat sadar akan pentingnya sebuah motivas i
belajar untuk siswa. Pemberian motivasi belajar masih kurang sering diberikan
kepada siswa saat proses pembelajaran berlangsung. Guru disana kurang bisa
memanfaatkan waktu luang dalam memasukkan sebuah motivasi kepada siswa
dalam kegiatan belajar. Sehingga motivasi siswa dalam belajar masih kurang, hal
ini kemungkinan akan memberi dampak negatif pada presentasi belajar siswa.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik ingin mengadakan Artikel ilmia h
prestasi belajar IPA sudah cukup baik akan tetapi, motivasi belajar siswa yang
diberikan oleh guru masih kurang. Dengan demikian penulis tertarik mengamb il
judul yaitu: “Pengaruh Motivasi Belajar Siswa Terhadap Prestasi Belajar IPA”
PEMBAHASAN
Hakikat pengaruh motivasi belajar siswa
Dalam perilaku belajar terdapat motivasi belajar. Motivasi belajar tersebut
ada yang instrinsik dan ekstrinsik. Penguatan Motivasi-motivasi belajar tersebut
berada ditangan pendidik dan anggota masyarakat lain. Guru sebagai pendidik
bertugas memperkuat motivasi belajar selama minimal 9 tahun pada usia wajib
belajar dan ulama sebagai pendidik juga menguatkan motivasi belajar sepanjang
hayat.
107
Motivasi adalah keinginan atau dorongan yang timbul pada diri seseorang
baik secara sadar maupun tidak sadar untuk melakukan sesuatu perbuatan dengan
tujuan tertentu. Sedangkan Belajar menurut teori behavioristik adalah perubahan
tingkah laku sebagai akibat dari adanya intereksi antara stimulus dan respon. Jadi
motivasi belajar merupakan kekuatan, daya pendorong, atau alat pembangun
kesediaan dan keinginan yang kuat dalam diri peserta didik untuk belajar secara
aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan dalam rangka perubahan perilaku, baik
dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotor.
Motivasi diakui sebagai hal yang penting bagi pelajar di sekolah. Setidaknya
anak itu harus mempunyai motivasi untuk belajar di sekolah. Anak-anak kecil tidak
semua suka sekolah, bahkan anak-anak yang lebih besar pun ada juga yang kurang
menyukai sekolah, sekalipun mereka tidak membenci segala bentuk pelajaran.
Sebaiknya diharapkan agar anak-anak mempunyai motivasi untuk belajar agar ia
dapat melakukan sesuatu. Bila kita ingin anak belajar dengan baik, maka harusla h
terpenuhi tingkat sampai tingkat A. Anak yang lapar, merasa tidak aman, yang tidak
dikasihi, yang tidak diterima sebagai anggota masyarakat kelas, yang guncang
harga dirinya, tidak akan dapat belajar dengan baik.
Motivasi mempunyai peranan penting dalam aktivitas belajar seseorang. Tidak
ada seorang pun yang belajar tanpa motivasi. Tidak ada motivasi berarti tidak ada
kegiatan belajar. Agar peranan motivasi lebih optimal, maka prinsip-prins ip
motivasi belajar harus diketahui, adapun prinsip motivasi dalam belajar adalah
sebagai berikut:
a. Motivasi sebagai dasar penggerak yang mendorong aktivitas belajar.
Seseorang melakukan aktivitas belajar karena ada yang mendorongnya.
Motivasilah sebagai dasar penggeraknya yang mendorong sesorang untuk
belajar.
b. Motivasi berupa pujian lebih baik dari pada hukuman
Setiap orang senang dihargai dan tidak suka dihukum dalam bentuk apapun
juga. Memuji orang lain berarti memberikan penghargaan atas prestasi kerja
orang lain. Hal ini akan memberikan semangat kepada seseorang untuk lebih
meningkatkan prestasi kerjanya.
108
c. Motivasi berhubungan erat dengan kebutuhan dalam belajar
Kebutuhan yang tidak bisa dihindari oleh anak didik adalah keinginannya
untuk menguasai ilmu pengetahuan. Oleh karena itu anak didik belajar.
d. Motivasi dapat memukut optimisme dalam belajar
Anak didik yang mempunyai motivasi dalam belajar selalu yakin dapat
menyelesaikan setiap pekerjaan yang dilakukan. Dia yakin bahwa belajar
bukanlah kegiatan yang sia-sia. Hasilnya pasti akan berguna tidak hanya
sekarang tetapi juga di hari-hari mendatang.
e. Motivasi melahirkan prestasi belajar
Tinggi rendahnya motivasi selalu diajdikan indikator baik buruknya
prestasi belajar seeorang anak didik. Anak didik menyenangi mata pelajaran
tertentu dengan senang hati mempelajari mata pelajaran itu. Selain memilik i
bukunya, ringkasannya juga rapih dan lengkap. Wajarlah bila isi mata
pelajaran itu dikuasai dalam waktu yang relatif singkat.
Adapun fungsi motivasi itu meliputi:
a. Mendorong timbulnya kekuatan atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi maka
tidak akan timbul sesuatu perbuatan seperti belajar.
b. Motivasi berfungsi sebagai pengarah. Artinya mengarahkan perbuatan
kepencapaian tujuan yang diinginkan.
c. Motivasi berfungsi sebagi penggerak. Ia berfungsi sebagai mesin bagi mobil.
Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepet atau lambatnya suatu
pekerjaan.
Prestasi adalah hasil dari pembelajaran. Belajar adalah suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru
secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan
lingkungannya. IPA adalah mata pelajaran yang mempelajari tentang Alam. Dari
uraian di atas dapat diambil simpulan bahwa “prestasi” adalah suatu hasil yang telah
diperoleh atau dicapai dari aktivitas yang telah dilakukan atau dikerjakan. Menurut
Abdurrahman Gintings prestasi belajar adalah penilaian hasil dari berbagai upaya
dan daya yang tercermin dari partisipasi belajar yang dilakukan sesuai dalam
mempelajari materi pelajaran yang diarahkan oleh guru. Sehingga prestasi IPA
109
merupakan hasil yang diperoleh siswa selama mengikuti proses pembelajaran IPA
di sekolah. prestasi IPA pada setiap siswa tersebut ada yang memuaskan dan ada
yang kurang memuaskan. Prestasi IPA tergantung pada tingkah laku yang
dilakukan siswa itu sendiri ketika mengkuti proses pembelajaran di sekolah.
sehingga prestasi IPA antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya berbeda-
beda.
Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar IPA dapat dikelompokka n
menjadi dua, yaitu faktor intern dan faktor ekstren.
1) Faktor intern
Faktor intern adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu yang belajar.
Faktor intern secara garis besarnya dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu:
a) Faktor jasmaniah atau faktor fisiologis yang dimaksud adalah menyangk ut
keadaan jasmani dari individu yang belajar, terutama yang berkaitan dengan
berfungsinya alat-alat tubuh yang ada pada dirinya.
b) Faktor psikologis ini dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Faktor ini
tidak berkembang dengan baik maka dapat mengakibatkan terhambatnya proses
belajar pada diri individu.
2) Faktor ekstren
Faktor ekstren adalah faktor yang berasal dari luar individu atau yang disebut
dengan lingkungan. Adapun faktor ekstren ini meliputi: faktor keluarga yaitu cara
orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah dan keadaan
ekonomi akan sangat berpengaruh pada perkembangan belajar siswa. Karena akan
menjadi perbedaan latar belakang individu.
a) Faktor sekolah juga akan mempengaruhi belajar siswa. Kekurang lengakapan
fasilitas belajar di sekolah, kurang baik interaksi antara guru dengan siswa,
siswa dengan siswa, keadaan gedung sekolah yang kurang memenuhi
persyaratan dan sebagainya akan mempengaruhi prestasi belajar siswa.
b) Faktor masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap
prestasi belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaan siswa dalam
masyarakat. Keadaan masyarakat yang kurang kondusif dalam belajar atau
110
lingkungan masyarakat yang tidak baik akan membawa dampak terhadap
prestasi belajar siswa.
IPA merupakan mata pelajaran yang mempelajari tentang alam, makhluk hidup,
dan gejala-gejala alam yang ada disekitar maupun yang ada di alam semesta. IPA
merupakan sarana yang dapat memperjelas dan menyederhanakan suatu keadaan
atau situasi melalui abstraksi, idealisasi, atau generalisasi untuk suatu studi atau 10
pemecahan masalah agar mampu meningkatkan kemampuan untuk berpikir dengan
jelas, logis, teratur dan sistematis. Ada hakikatnya IPA dibangun atas dasar produk
ilmiah, proses ilmiah dan sikap ilmiah. IPA sebagai produk karena isinya
merupakan kumpulan pengetahuan yang meruoakan hasil dari proses kegiatan
ilmiah yang dilakukan oleh para ilmuan atau para ahli selama berabad-abad. IPA
sebagai proses yaitu bagaimana mengumpulkan fakta atau cara yang digunaka n
untuk mengumpulkan fakta-fakta suatu objek yang diteliti guna penyempurna a n
pengetahuan yang sudah ada maupun untuk menemukan pengetahuan baru.
Seorang ilmiah bersikap secara ilmiah yaitu dengan berusaha mengambil sikap
tertentu yang memungkinkan agar tercapai hasil yang diharapkan. Contoh sikap
ilmiah IPA adalah teliti, jujur, cermatrasa ingin tau dan didiplin. IPA berhubunga n
erat dengan alam dan makhluk hidup, belajar IPA berarti mencari tahu tentang alam
dan makhluk hidup secara sistematis, tidak hanya mempelajari pengetahuan yang
berupa fakta, konsep, dan prinsip saja melainkan juga dengan proses mengamati,
menemukan dan mengkomunikasikan. Bagi siswa SD pembelajaran IPA bukan
merupakan pembelajaran yang mudah, karena dalam mempelajarinya kita
membutuhkan suatu pemahaman dan memecahkan suatu masalah. Karena itula h
perlu diciptakan pembelajaran IPA yang dapat mengaktifkan siswa untuk dapat
berfikir kritis dan memecahkan suatu masalah dengan benar.
Fungsi dan tujuan IPA berdasarkan kurikulum berbasis kompetensi
DEPDIKNAS 2003 adalah sebagai berikut :1
1) Menanamkan keyakinan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Ibid., hlm. 138
Trianto, 2010. Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik. Jakarta: PT Prestasi Pustaka. hlm.
137
111
2) Mengembangkan keterampilan sikap, dan nilai ilmiah.
3) Mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang melek sains dan teknologi.
4) Menguasai konsep sains untuk bekal hidup di masyarakat dan melanjutkan ke
jenjang lebih tinggi.
PENUTUP
Motivasi belajar merupakan kekuatan, daya pendorong, atau alat pembangun
kesediaan dan keinginan yang kuat dalam diri peserta didik untuk belajar secara
aktif, kreatif, inovatif, dan menyenangkan dalam rangka perubahan perilaku, baik
dalam aspek kognitif, afektif maupun psikomotor. Prestasi belajar adalah penilaia n
hasil dari berbagai upaya dan daya yang tercermin dari partisipasi belajar yang
dilakukan sesuai dalam mempelajari materi pelajaran yang diarahkan oleh guru.
Pembelajaran IPA yang dapat mengaktifkan siswa untuk dapat berfikir kritis dan
memecahkan suatu masalah dengan benar.
112
DAFTAR PUSTAKA
Dr. C. Asri Budiningsih. 2005. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka
Cipta. hlm. 20
Abdurrahman Gintings, 2008. Esensi Praktis: Belajar dan Pembelajaran.
Bandung: Humaniora. hlm. 87
Dimyati dan mudjiono. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT ineka Cipta.
hlm. 94
Trianto, 2010. Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik. Jakarta: PT
Prestasi Pustaka. hlm. 137
Oemar Hamalik, 2010. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. hlm. 161
Nanang Hanifah dan Cucu Suhana. 2012. Konsep Strategi Pembelajaran.
Bandung: PT Refika Aditama. hlm. 20
Suastra, I Wayan. 2013. Pembelajaran Sains Terkini Mendekati Siswa dengan
Alamiah dan Sosial Budayanya. Singaraja: Undiksha. hlm. 4
113