The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by s.Fahriyani.z, 2021-01-11 07:20:34

ARTIKEL ILMIAH POPULER

ARTIKEL ILMIAH POPULER

aktif dalam berbicara. Dan dari aspek non kebahasaan 10 orang yang muncul
dari 25 orang siswa atau 10 25 T 100% = 40% dinilai cukup baik dalam
berbicara. Secara keseluruhan dapat dilihat dari siklus pertama ini, keterampila n
berbicara siswa sudah ada peningkatan yang cukup baik, dibandingkan sebelum
menggunakan media audiovisual, atau sebelum penelitian ini dilakukan.

Pada siklus II dapat dijelaskan bahwa keterampilan berbicara, semua siswa
mendapat kesempatan untuk berbicara. Namun, masih ada sebagian kecil siswa
yang kurang aktif, dapat disimpulkan bahwa dari aspek kebahasaan 17 orang
yang muncul dari 25 orang siswa atau 17 25 T 100% = 68% dinilai baik dan
aktif dalam berbicara, dan dari aspek nonkebahasaan 15 orang yang muncul dari
25 orang siswa atau 15 25 T 100% = 60% dinilai baik dalam berbicara. Secara
keseluruhan dapat dilihat dari siklus pertama ini, keterampilan berbicara siswa
sudah ada peningkatan yang cukup baik, dibandingkan sebelum menggunak a n
media audiovisual, atau sebelum penelitian ini dilakukan.

Pada siklus III dapat dijelaskan bahwa hasil penilaian proses keterampila n
berbicara siswa secara kualitatif adalah siswa dinilai sudah baik 22 orang yang
muncul dari 25 orang siswa atau 22 25 T 100% = 88% dari aspek kebahasaan,
12 oran yang muncul dari 25 orang siswa atau 20 25 T 100% = 80% dari aspek
nonkebahasaan.

Berdasarkan uraian dari setiap siklus tersebut serta pembahasan disetiap
siklus, pada umumnya bahwa peningkatan keterampilan berbicara siswa
menggunakan media audiovisual pada siswa kelas II Sekolah Dasar Negeri 14
Pontianak Utara dapat dikatakan berhasil dan sangat cocok diterapkan sehingga
siswa berani berbicara dan tampil bercerita di depan kelas.
Pembahasan

Peningkatan keterampilan berbicara siswa menggunakan media
audiovisual. Dari data siklus I - III, media audiovisual dalam meningkatk a n
keterampilan berbicara, sudah dinilai baik. Semua perencanaan pembelajaran telah
dilaksanakan dengan baik. Kemampuan berbicara siswa pun sudah banyak
meningkat dibandingkan dengan sebelum tindakan. Kegiatan pembelajaran di kelas
sudah lebih didominasi oleh siswa. Siswa sudah berani bertanya dengan bahasa

51

yang baik dan mengeluarkan tanggapan-tanggapan yang dinilai sudah baik dan

terkesan tidak ada paksaan bagi diri mereka untuk bertanya ataupun mengeluark a n

tanggapan yang mereka miliki. Ini semua adalah salah satu upaya guru untuk

mendorong semangat siswa agar mereka terbiasa berbicara dengan bahasa yang

baik sebagai bentuk respon mereka terhadap proses pembelajaran, keterampila n

berbicara sudah semakin meningkat, keterampilan berbicara yang diinginkan sudah

maksimal.

Pelaksanaan media audiovisual dalam meningkatkan keterampila n

berbicara siswa. Dari data siklus I - III pelaksanaan media audiovisual dapat

meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Semakin sering siswa

berbicara/bercerita semakian semangat dan berani berbicara di depan kelas, dan

termpil dalam berbicara dengan teman saling bertukar pendapat, aktif mengujuk a n

pertanyaan itu akan meningkatkan keterampilan berbicara siswa dengan

menggunakan media audiovisual.

Rekapitulasi Penilaian Proses Keberanian Siswa

No. Indikator Capaian di
Siklus II
Siklus I Siklus III

1. Berbicara 69,44 70,96 79,98

2. Tampil ke depan 70,96 71,79 80,76

3. Bertanya 70,16 70,80 79,64

4. Keaktifan siswa 70,50 71,28 79,96

Rekapitulasi Hasil Berbicara/Bercerita

Aspek Kebahasaan dan Aspek Nonkebahasaan dalam Bentuk Proses

No. Aspek Frekuensi
Siklus II
Siklus I Siklus III

1. Kebahasaan 48% 68% 88%

52

2. Non Kebahasaan 40% 60% 80%
Rata – rata 70,74 71,52 75

Berdasarkan tabel di atas dapat dijelaskan indikator-indikator hasil sebagai
berikut ini: (a) siswa berbicara/bercerita pada aspek kebahasaan sebelum
melakukan siklus hanya 28%. Setelah melakukan siklus I meningkat menjadi 48%
dikarenakan siswa merasa senang dalam pembelajaran dengan menyaksikan media
audiovisual yang digunakan dalam pembelajaran. Tetapi pada siklus pertama ini
belum maksimal dikarenakan masih ada siswa yang asik ngobrol sendiri dengan
temannya dan ada yang diam saja. Pada siklus kedua ini lebih meningkat dari 48%
menjadi 68% dikarenakan media audiovisual yang digunakan berbeda dengan
siklus pertama sehingga dapat menarik perhatian siswa. Pada siklus III terjadi
peningkatan yang signifikan dari 68% menjadi 88%, ini dikarenakan siswa dalam
berbicara/bercerita dan mimik yang baik, (b) siswa berbicara/bercerita pada saat
sebelum melakukan siklus hanya 20% setelah melakukan siklus I meningka t
memjadi 40% ini dikarenakan media yang digunakan sangat menarik sehingga
siswa bercerita dengan urutan dan suara yang jelas. Tetapi pada siklus I ini masih
ada siswa yang asik bercerita sendiri dengan temannya. Pada siklus II meningka t
dari 40% menjadi 60% ini dikarenakan media audiovisual yang digunakan dapat
menarik minat siswa dan siswa diberi penguatan sehingga siswa bercerita dengan
baik. Pada siklus III terjadi peningkatan yang signifikan dari 60% menjadi 80% ini
dikarenakan siswa dalam bercerita dengan suara yang jelas, (c) rata-rata
keseluruhan aspek kebahasaan dan nonkebahasaan setelah melakukan siklus I
menjadi 70,74 ini dikarenakan media yang digunakan menyenangkan sehingga
siswa bercerita dengan bahasa yang baik. Tetapi pada siklus I ini masih ada siswa
yang asik bercerita sendiri dengan temannya untuk tampil di depan kelas. Pada
siklus II meningkat dari 70,74 menjadi 71,52 ini dikarenakan media audiovis ua l
yang digunakan bervariasi dan siswa diberi penguatan sehingga siswa bercerita
dengan bahasa yang baik. Pada siklus III terjadi peningkatan yang signifikan dari
71,52 menjadi 75 ini dikarenakan media yang digunakan sangat menarik siswa dan

53

ceritanyapun menarik sehingga siswa merasa bersemangat dalam bercerita dengan
pilihan bahasa yang baik dan suara yang jelas.

Dalam pelaksanaan siklus pertama, siswa belum menunjukkan peningkata n
yang berarti. Hal ini dipengaruhi oleh keterampilan berbicara siswa masih kurang,
sehingga siswa asik berbicara dengan teman sebangkunya. Keberanian siswa tampil
ke depan kelas masih kurang. Dengan kondisi seperti ini pencapaian keterampila n
berbicara/bercerita masih kurang memuaskan, walaupun sudah ada beberapa siswa
yang telah mulai meningkat keterampilan bicaranya.

Berlanjut pada pelaksanaan siklus II, peneliti lebih berusaha untuk lebih
memotivasi siswa dan menciptakan pembelajaran yang lebih menarik perhatian
maka media audiovisual yang digunakan menjadi menarik perhatian siswa untuk
bercerita ke depan kelas dengan ketepatan ucapan, urutan cerita, bahasa, mimik,
suara yang tepat. Selama berlangsung siklus kedua tampak siswa senang mendenga r
penjelasan guru, bertanya, dan bersemangat untuk bercerita ke depan kelas. Dapat
disimpulkan, peningkatan keterampilan berbicara siswa dengan menggunak a n
media audiovisual sudah meningkat.

Berdasarkan siklus pertama dan kedua, maka dalam siklus ketiga peneliti
bersama guru kolabotator berupaya secara optimal untuk meningkatk a n
keterampilan berbicara/bercerita siswa. Penggunaan media audiovisual dapat
membuat siswa mampu dalam berbicara/bercerita. Dengan begitu siswa lebih aktif
dan berusaha lebih berani berbicara dan bercerita di deapan kelas. Dalam siklus
ketiga ini, pencapaian tingkat keterampilan berbicara/bercerita siswa menggunak a n
media audiovisual semakin meningkat signifikan. Adapun hasil diskusi dengan
guru kolaborator tentang refleksi pada siklus III ini adalah sebagai berikut:
a) Siswa sudah berani dan lancar dalam berbicara/bercerita dengan ucapan, urutan

cerita, bahasa, mimik, dan suara yang tepat.
b) Siswa termotivasi dalam berbicara/bercerita sehingga pembelajaran lebih

menyenangkan dan siswa lebih aktif.
Berdasarkan uraian dari setiap siklus serta pembahasannya, pada umunya

bahwa kemampuan berbicara/bercerita siswa menggunakan media audiovisual pada

54

siswa kelas II Sekolah Dasar Negeri 14 Pontianak Utara dapat dikatakan berhasil.
Jadi dapat disimpulkan bahwa:
a) Dengan menggunakan media audiovisual dapat meningkatkan keterampila n

berbicara pada aspek kebahasaan pada siswa kelas II Sekolah Dasar Negeri 14
Pontanak Utara.
b) Dengan menggunakan media audiovisual dapat meningkatkan keterampila n
berbicara pada aspek nonkebahasaan pada siswa kelas II Sekolah Dasar Negeri
14 Pontanak Utara Tahun Pelajaran 2012/2013.

Dengan adanya peningkatan yang signifikan dari keterampila n
berbicara/bercerita dari aspek kebahasaan, nonkebahasaan, dan hampir semua
siswa sudah memenuhi standar yang telah ditentukan, yaitu 70% Kreteria
Ketuntasan Minimal (KKM), maka peneliti dan guru kolaborator merasa bahwa
upaya perbaikan melalui tindakan ini sudah dapat dihentikan.

Simpulan dan Saran
Keterampilan berbicara siswa sebelum menggunakan media audiovisua l,

tergolong rendah. Hal ini terbukti hanya 7 orang siswa yang cukup baik atau 28%
dari aspek kebahasaan dan 5 orang siswa yang cukup baik atau 20% dari aspek
nonkebahasaan. Keterampilan berbicara siswa setelah menggunakan media
audiovisual dalam tiga siklus meningkat yaitu menjadi 22 siswa atau 88% tergolong
baik dari aspek kebahasaan dan 20 siswa atau 80% tergolong baik dari aspek
nonkebahasaan.

Dapat disimpulkan melalui media audiovisual dapat meningkatk a n
keterampilan berbicara siswa kelas II Tahun Ajaran 2012-2013 di Sekolah Dasar
Negeri 14 Pontianak Utara. Hal ini dapat dilihat dari analisis hasil observasi dan
catatan lapangan bahwa adanya peningkatan keterampilan berbicara siswa kelas II
dari siklus pertama hingga siklus terakhir seperti aktivitas membaca, bercerita,
bertanya, menjawab, dan aktivitas emosional siswa. Setelah dianalisis dapat diliha t
sebelum menggunakan media audiovisual keterampilan berbicara siswa dinila i
rendah sekali yaitu hanya 28% dari aspek kebahasan dan 20% dari aspek
nonkebahasaan. Setelah menggunakan media audiovisual ada peningkatan yang

55

baik dari keterampilan berbicara siswa, yaitu pada siklus pertama yakni mencapai
48% dari aspek kebahasan dan 40% dari aspek nonkebahasan. Setelah mengik uti
siklus II ditemui peningkatan yang baik dari keterampilan berbicara siswa, yakni
menjadi 68% yang dinilai baik aspek kebahasan dan 60% yang dinilai baik dari
aspek nonkebahasaan. Setelah mengikuti siklus terakhir dengan trik-trik dan
memodifikasi langkah-langkah pembelajaran, ditemui peningkatan yang signifik a n
dari keterampilan berbicara siswa, yakni menjadi 88% yang dinilai baik aspek
kebahasan dan 80% yang dinilai baik dari aspek nonkebahasaan.

Berdasarkan simpulan di atas, ada beberapa saran yang dapat dikemukaka n
dalam penelitian ini, antara lain sebagai berikut:
1. Hasil pembelajaran yang telah dilakukan terhadap penggunaan media

audiovisual ternyata dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa. Oleh
karena itu, hendaknya guru-guru bahasa Indonesia melakukan pembelajara n
menggunakan media audiovisual.
2. Untuk memilih media pembelajaran hendaknya disesuaikan dengan
karakteristik siswa agar mudah dalam menerima pembelajaran dan dalam
pelaksanaan pembelajaran ini juga dibutuhkan seorang guru yang kreatif dalam
menentukan media pembelajaran sehingga dapat meningkatkan kemampua n
guru dalam mengajar yang akhirnya berdampak pada peningkatan prestasi
belajar siswa.

56

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Rozak, Maifalinda Fatra. (2011) Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Kuguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah.
Arief S. Sadiman (dkk), (2009) Media Pendidikan. Jakarta: PT Rajagrafindo
Persada.
Arief S. Sadiman. (1996) Media Pembelajaran. Jakarta: PT Rajawali.
Arsyad danMukti, (1988) Penbinaan Kemampuan Berbicara, Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Badan Standar Nasional Pendidikan. (2006). Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan. Jakarta: Depdiknas
Djago Tarigan. (1991) Pendidikan Bahasa Indonesia 1. Jakarta: Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan.
Hadari Nawawi. (1983). Metode Penelitian Bidang Sosial. Pontianak: Gajah Mada
University Press.
Henry Guntur Tarigan. (2008). Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung: Angkasa Bandung.
(Online).http://rbaryans.wordpres.com/2007/04/19/pembelajaran terpadu/ diakses
30 Maret 2013.
Sadiman, (2009). Media Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Susilo. (2009). Panduan Penelitian Tindakan Kelas. Sleman: PUSTAKA Book
Tim Penulis. (2007). Panduan Lengkap Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan.
Yogyakarta: Pustaka yustisia.

57

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS KARANGAN
MELALUI MEDIA PEMBELAJARAN FLASH CARD

Chintia Riska Saputri, Nandika Syifa Fadhillah, Nurul Fadhillah

Menulis merupakan proses mengemukakan ide, pikiran, pendapat, gagasan,
kedalam bentuk bahasa tulis. Djuanda (1997:35) Menulis atau mengarang adalah
suatu proses dan aktivitas yang melahirkan gagasan, pikiran, perasaan, dan
pendapat kepada orang lain atau dirinya sendiri melalui media berupa tulisa n.
Dengan memiliki kemampuan menulis, siswa dapat mengkomunikasikan ide,
gagasan, perasaan, serta memperluas pengetahuan dalam bentuk tulisan-tulis a n.
Oleh sebab itu latihan menulis di SD/MI sangat penting sebagai dasar pola menulis
itu sendiri dan sebagai bekal pada pendidikan selanjutnya.

Mengarang pada prinsipnya adalah bercerita tentang sesuatu yang ada
dalam angan-angan yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Dalam membantu siswa
dalam proses latihan menulis dapat digunakan kooperatif group investigation.
Dimana siswa bekerja dalam bentuk kelompok kecil. Dalam kelompok tersebut
siswa dapat berdiskusi untuk bekerjasama dalam membuat rencana dan pekerjaan.
Kegiatan pembelajaran dengan model ini siswa membentuk kelompok kecil.
Kelompok-kelompok memilih topik/kartu dari unit pembelajaran yang sedang
dipelajari, memecahkan menjadi tugas individu kemudian mempersiapkan laporan
tugasnya yang kemudian hasilnya dipresentasikan di depan kelas.

Selain itu keberhasilan proses kegiatan belajar mengajar tentunya juga
didukung pemilihan media pembelajaran yang tepat pula. Dengan pemiliha n
metode pembelajaran yang tepat, maka keberhasilan pembelajaran lebih mudah
dicapai. Metode pembelajaran adalah rencana pembelajaran yang mencangk up
penilaian, penentuan dan penyusunan secara sistematis bahan yang diajarkan, serta
kemungkinan pengadaan remidi dan bagaimana pengembangannya.
(Kamulyan,2012:6)

Kemampuan menulis merupakan keterampilan seseorang untuk
mengungkapkan dan menuangkan ide, gagasan, pikiran dengan bentuk tulisa n.

58

Suriamiharja (1996: 1) mengatakan bahwa “menulis adalah kegiatan melahirk a n
pikiran dan perasaan dengan tulisan. Tulisan memuat informasi yang dimaksud
penulis untuk selanjutnya disampaikan kepada pembaca". Dengan begitu seseorang
dapat berkomunikasi tanpa berhadapan secara langsung.

Menulis merupakan keterampilan bahasa yang menghasilkan tulisa n.
Menulis dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung dan tidak
bertatap muka dengan orang lain (Tarigan, 2008). Menulis bias menjadi sebuah
tanda proses pemikiran seseorang. Melalui tulisan, kita dapat mengetahui pola piker
penulis yang ingin disampaikan kepada pembaca.

Gie (2002) mengatakan bahwa mengarang adalah segenap rangkaia n
kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dan menyampaikannya melalui
bahasa tulis kepada masyarakat pembaca untuk dipahami. Mengarang juga dapat
diartikan sebagai kegiatan menuangkan pikiran atau gagasan secara tulisan dengan
utuh dan jelas untuk dipahami oleh orang lain. Melalui karangan seseorang dapat
menuliskan buah pikiran yang ia miliki untuk tujuan pemikiran penulis agar
dipahami orang lain.

Jadi dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan menulis
karangan merupakan keterampilan seseorang dalam menuangkan atau
mengungkapkan gagasan secara tulisan untuk dipahami orang lain.

Selanjutnya flash card, apaitu flash card? Pengertian media pembelajara n
dikemukakan oleh Miarso (2004: 457) yang menyatakan bahwa “segala sesuatu
yang digunakan untuk menyalurkan pesan serta dapat merangsang pikiran,
perasaan, perhatian dan kemauan sibelajar sehingga dapat mendorong terjadinya
proses belajar yang disengaja, bertujuan, dan terkendali”. Media pembelajaran bisa
dikatakan sebagai alat bantu guru dalam menyampaikan informasi pembelajara n
dengan maksimal.

Dari pemaparan tersebut dapat disimpukan bahwa media pembelajara n
merupakan alat atau sesuatu yang akan digunakan dalam menyampaik a n
pembelajaran, menstimulasi pikiran peserta didik, serta menarik minat belajar
peserta didik dalam kegiatan belajarnya agar tujuan pembelajaran dapat tercapai
dengan baik.

59

Penggunaan media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar dapat
membangkitkan motivasi dan stimulus dalam kegiatan belajar mengajar. Bahkan
dapat membawa pengaruh psikologis terhadap siswa sehingga membantu
keefektifan penyampaian materi pembelajaran di kelas. Dalam menggunak a n
metode yang akan kita pakai, diperlukannya media yang cocok dan pekatis dalam
penggunaannya.

Media pembelajaran sangat beragam macamnya, salah satunya media
pembelajaran dengan menggunakan flash card. Flash Card merupakan media yang
berupa kartu kecil yang berisi gambar, teks, atau tanda simbol yang mengingatk a n
atau menuntun siswa kepada sesuatu yang berhubungan dengan gambar itu.
(Arsyad, 2009). Flash card juga dapat disebut kartu-kartu yang bergambar yang
mengarahkan siswa untuk mengingat, merangsang pemikiran untuk berpikir
mengenai hal yang berhubungan dengan gambar atau simbol yang terdapat pada
kartu tersebut. Flash card menjadi media yang sangat mudah untuk dipakai dalam
pembelajaran khususnya pada anak sekolah dasar. Dengan menggunakan flash card
anak juga dapat berimajinasi langsung saat melihat gambar yang terdapat pada kartu
sehingga anak dapat cepat menghafal informasi apa saja yang ia tangkap dari kartu
tersebut.

Gambar sangat penting digunakan untuk memperjelas pengertian. Melalui
gambar, siswa mengetahui hal-hal yang belum pernah dilihatnya. Gambar dapat
membantu guru dalam mencapai tujuan instruksional karena selain merupakan
media yang murah dan mudah diperoleh, juga dapat meningkatkan keaktifan siswa.
Selain itu, pengetahuan dan pemahaman siswa menjadi lebih luas, jelas dan tidak
mudah dilupakan.

Setiap media pembelajaran memiliki sebuah kelebihan dan kekurangan
masing- masing, begitu pun dengan media pembelajaran Flashcard. Adapun
kelebihan media pembelajaran Flashcard yang dikemukanan oleh Susilana dan
Riyana (2009:95) yaitu:
(1) Mudah dibawa-bawa, dengan ukuran yang kecil Flashcard dapat disimpan ditas
bahkan disaku, dapat digunakan dimana saja, di kelas atau pun di luar kelas;

60

(2) Praktis, dalam menggunakan media ini guru tidak perlu memiliki keahlia n
khusus, media ini tidak perlu juga membutuhkan listrik. Jika akan menggunak a n
kita tinggal Menyusun urutan gambar sesuai dengan keinginan kita, jika sudah
digunakan tinggal disimpan kembali dengan cara diikat atau menggunakan kotak
khusus supaya tidak tercecer;
(3) Mudah diingat, karakteristik media Flashcard adalah menyajikan pesan- pesan
pendek pada setiap kartu yang disajikan. Sajian pesan-pesan pendek ini akan
memudahkan siswa untuk mengingat pesan tersebut;
(4) Menyenangkan, media Flashcard dalam peggunaannya bias melalui permaina n.
Misalnya siswa secara berlomba untuk mencari sesuai perintah. Selain mengasah
kemampuan kognitif juga melatih ketangkasan (fisik).

Sudjana dan Rivai (2013: 4—5) menyatakan bahwa dalam memilih media
untuk kegiatan pembelajaran sebaiknya memperhatikan kriteria-kriteria sebagai
berikut. (a) Ketepatannya dengan tujuan pengajaran, artinya media pengajaran
dipilih atas tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan, (b) Dukunga n
terhadap isi bahan pelajaran, artinya bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip,
konsep, dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah
dipahami siswa, (c) Kemudahan memperoleh media, artinya media yang diperluka n
mudah diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar,
(d) Keterampilan guru dalam menggunakannya, (e) Tersedia waktu untuk
menggunakannya, dan (f) Sesuai dengan taraf berfikir siswa.

Berdasarkan klasifikasi media pembelajaran, berbagai jenis media yang
dapat digunakan untuk pembelajaran menulis antara lain media permainan dan
simulasi, media pandang, media dengar, serta media pandangdengar.

Oleh karena itu hal utama yang menjadi pertimbangan dalam pemiliha n
media pembelajaran adalah ketepatan media dengan tujuan pembelajaran yang akan
dicapai. Pemilihan media yang tepat akan mempermudah dan megefektifkan proses
pembelajaran di dalam maupun di luar kelas. Media pembelajaran hendaknya dapat
dijadikan perantara interaksi guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar.

Agar kegiatan belajar-mengajar tidak monoton dan siswa dapat
berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia, baik secara lisan maupun tulisa n,

61

diperlukan media dalam proses pembelajaran. Media yang digunakan juga
sebaiknya media yang menyenangkan dan dapat menggiring imajinasi siswa pada
penggalan kata serta pembendahaaan yang ia miliki agar terciptanya kata yang
disusun dengan baik agar menjadi sebuah karangan.

Salah satunya dengan media yang dapat digunakan pada pembelajara n
menulis karangan untuk sekolah dasar yaitu media gambar atau Flashcard karena
dengan adanya media tersebut dapat memacu imajinasi dan keterampilan siswa
dalam menuangkan gagasan. Dengan menggunakan flashcard yang sangat mudah
dan dapat dibuat serta dapat digunakan dimana saja, baik di dalam kelas maupun di
luar kelas. Oleh karena itu media flashcard juga dapat digunakan sebagai media
yang cukup tepat dalam pembelajaran menulis karangan pada siswa sekolah dasar.
Cara menggunakan media flashcard pada pembelajaran menulis karangan:
(1) Guru membagi atau memperlihatkan media flash card yang terdapat gambar

kepada siswa.
(2) Guru membimbing siswa mengurutkan gambar.
(3) Guru bertanya jawab tentang isi gambar dengan siswa.
(4) Guru menggiring imajinasi siswa untuk menyusun kata-kata yang tepat dalam

mengungkapkan gambar tersebut.
(5) Guru mencoba menstimulus siswa dengan menggiring kata-kata yang ada pada

gambar untuk dijadikan sebuah karangangan mengenai gambar yang satu
dengan gambar yang lainnya.
(6) Siswa diminta menuliskan gagasannya berdasarkan gambar
(7) Dari beberapa gagasan yang ditulis, dibentuklah sebuah kerangka teks.
(8) Selanjutnya, siswa diminta mengembangkan kerangka teks tersebut dan
merangkainya menjadi sebuah tulisan. Siswa menulis sebuah teks dengan
gambar sebagai panduannya agar dapat menulis dengan baik dan runtut.
(9) Pada akhir pembelajaran siswa diberi tugas untuk membuat karangan dari
gambar atau flash card yang ada.

Dalam memacu pengembangan suatu gagasan dalam menulis karangan
diperlukan menggunakan kata yang tepat. Kegiatan ini dapat melatih siswa rajin
membaca yang akhirnya dapat memperluas perbendaharaan bahasa. Sehingga jika

62

siswa dihadapkan pada kegiatan menulis menggunakan media flash card, siswa
dapat menangkap maksud cerita serta dapat menentukan pilihan kata yang tepat.

Dengan keefisienan dan kepraktisan flashcard yang akan digunakan sebagai
metode pembelajaran menulis karangan ini akan mampu menghasilkan keefektifa n
daya tangkap dan daya ingat serta kemampuan menulis karangan secara singkat
akan meningkat dengan baik.

63

DAFTAR PUSTAKA

https://serupa.id/metode-pembelajaran-pengertian-jenis- macam- menurut-para-

ahli/

https://www.pelajaran.co.id/2019/13/pengertian- metode-pembelajaran- fungsi-

tujuan-dan-jenis- metode-pembelajaran.html

http://agussiswoyo.com/tips- menulis-artikel/pengertian-dan-definisi-kemampuan-

mengarang-tulisan- menurut-para-ahli-

bahasa/#:~:text=Sedangkan%20menurut%20Byrne%20(Haryadi%20dan,dikomun

ikasikan%20kepada%20pembaca%20dengan%20berhasil.

https://ojs.unm.ac.id/eralingua/article/view/4410/2549

Ringga Dwi Anggraini dkk. 2019. keefektifan model picture and picture berbantu

media flashcard terhadap keterampilan menulis karangan. International journal of

elementary education. Volume 3 no.1. (

https://ejournal.undiksha.ac.id/indeks.php/IJEE )

64

PENINGKATAN KETERAMPILAN MEMBACA
DALAM PEMBELAJARAN CERPEN

Nurul Ulyana Ulfah, Eka Nurul Fatmi, Ikhlas Bakti Utama

Untuk dapat menggali potensi yang dimiliki oleh setiap siswa, maka
diperlukan adanya usaha yang sesuai dengan kondisi siswa masing- masing. Upaya
ini bisa dilakukan dengan berbagai macam cara antara lain membaca permulaa n.
Membaca permulaan tidak hanya terkait dengan kemampuan kognitif saja, tetapi
juga kesiapan mental, sosial, dan emosional. Karena itu, dalam pelaksanaannya
harus dilakukan secara menarik, bervariasi dan menyenangkan. Membaca
permulaan dengan menggunakan kartu bergambar merupakan bagian metode
mengajar yang diharapkan untuk memotivasi siswa untuk belajar, hal ini diperluka n
untuk menumbuh kembangkan keterampilan membaca permulaan yang sangat
diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Terutama konsep membaca merupakan
juga dasar bagi pengembangan kemampuan dan kesiapan untuk mengik uti
pendidikan selanjutnya.

Masalah yang dihadapi siswa masih cendrung menggunakan bahasa
daerahnya sehingga mengakibatkan cara membaca siswa kurang baik dan tidak
sesuai dengan bahasa indonesia yang baik dan benar. Berdasarkan masalah yang
dihadapai siswa, peneliti merasa perlu melakukan penelitian mengena i
pembelajaran membaca cerpen.

Berdasarkan uraian di atas, peneliti tertarik untuk melakukan suatu
penelitian tindakan kelas (PTK) dengan judul: Peningkatan keterampilan membaca
dalam pembelajaran cerpen.

Tarigan, (2003), menyatakan bahwa membaca merupakan proses
menafsirkan makna bahasa tulis secara tepat. Pengenalan makna kata sesuai dengan
konteksnya merupakan prasyarat yang di perlukan untuk memahami pesan yang
terdapat pada bahan bacaan.

Tujuan peningkatan keterampilan membaca tidak terlepas dari tujuan
pendidikan pada umumnya dan tujuan pengajaran pada khususnya. Tujuan
pembelajaran cerpen pada dasarnya adalah memberikan bekal pengetahuan dan

65

kemampuan siswa untuk menguasai tehnik-tehnik membaca dan menangkap isi
bacaan dengan baik dan benar.

Membaca merupakan suatu proses dimaksudkan dari teks dan pengetahua n
yang dimiliki oleh pembaca mempunyai peranan yang utama dalam membentuk
makna. Membaca juga merupakan satu strategi. Pembaca yang efektif
menggunakan berbagai macam strategi membaca yang sesuai dengan teks dan
konteks dalam rangka mengkontruksi makna ketika membaca. Strategi ini
bervariasi sesuai dengan jenis teks dan tujuan membaca. Membaca adalah
interaktif. Keterlibatan pembaca dan teks tergantung dengan konteks. Orang yang
senang membaca suatu teks yang bermanfaat, akan menemui beberapa tujuan yang
ingin dicapainya, teks yang dibaca seseorang harus mudah dipahami sehingga
terjadi interaksi antara pembaca dengan teks.

Menurut Akhadiah dalam (Dwi Indri Oktaviani 2003) mengemukak a n
langkah-langkah pengakaran membaca sebagai berikut:
1. Menentukan tujuan pokok bahasan yang akan di berikan.
2. Mengembangkan bahan pengajaran
3. Setelah bahan pelajaran dan bahan latihan disusun, kemudian harus memikirk a n

bagaimana cara menyampaikan. Bagaimana urutan pemberian bahan-bahannya,
dan bagaimana cara mengaktifkan siswa.
4. Pada tahap latihan, guru dapat membuat kombinasi baru, baik dengan kata
maupun suku kata, dan huruf. Misalnya membentuk suku kata, kata ataupun
kalimat.
5. Untuk memantau apakah anak telah mencapai tujuan yang di tetapkan, guru dapat
tes formatif. Dalam hal ini guru dapat menggunakan berbagai cara yang
dianggap terbaik untuk kelangsungan pembelajaran.

Berdasarkan hal di atas, agar tujuan pengajaran membaca dapat tercapai
dengan baik, sebaiknya guru menetapkan langkah-langkah tersebut dilakuka n
secara berulang-ulang.

Membaca merupakan berbahasa yang sangat bermanfaat. Dengan membaca
dapat diperoleh berbagai informasi, gagasan, pendapat, pesan dan lain-lain yang
disampaikan penulis melalui lambang-lambang grafis yang sudah dikenal. Dengan

66

kata lain melalui kegiatan membaca akan diperoleh berbagai informasi dunia.
Keterampilan membaca sangat penting bagi siapa saja terutama bagi peserta didik
atau pelajar. Keterampilan membaca tidak hanya sangat diperlukan bagi sekolah
dasar, sekolah menengah maupun diperguruan tinggi melainkan setelah selesai
perguruan tinggi dan bertugas dimanapun masih tetap diperlukan. Wallter Pauk dari
Universitas Carnell menggolongkan keterampilan membaca sebagai keterampila n
pokok yang terus-menerus diperlukan (The Basic On-Going skill). Setiap guru
bahasa haruslah menyadari serta memahami benar-benar bahwa membaca adalah
suatu keterampilan yang kompleks, yang rumit, yang mencakup atau melibatk a n
serangkaian keterampilan-keterampilan yang lebih kecil. Dengan kata lain
keterampilan membaca mencakup tiga komponen yaitu (1) pengenalan terhadap
aksara serta tanda baca; (2) korelasi aksara beserta tanda-tanda baca dan unsur-
unsur intrinsik yang formal; (3) hubungan lebih lanjut antara 1 dan 2 dengan makna
atau meaning.

Keterampilan membaca merupakan suatu kesinambungan yang berlangs ung
secara berangsur-angsur berproses dari yang sederhana hingga yang lebih
kompleks. Membaca adalah suatu proses yang sangat rumit dan unik pula sifatnya.
Keunikanya terletak pada banyaknya serta beraneka ragamnya faktor yang bekerja
dalam proses membaca itu dan bertautnya faktor yang satu dengan yang lainya.
Keunikannya terletak pada relatif berbeda-bedanya proses membaca itu
berlangsung pada setiap pembaca. Faktor yang melatarbelakangi bermacam-
macamnya pengertian membaca yang lain adalah pendekatan yang digunaka n
dalam merumuskan tersebut dengan menggunakan teori serta pendekatan dan
pemilihan aspek permasalahan yang berbeda, juga adanya penemuan. Penemuan
baru dalam studi membaca. Dalam membaca cerpen diperlukan pemahaman dalam
membaca. Keterampilan dalam membaca pemahaman yaitu masalah menangkap
makna kalimat, menangkap gagasan utama paragraf, menangkap ide penjelas
paragraf serta menangkap isi bacaan (Depdikbud 1984:70). Membaca pemahama n
biasanya dilakukan dengan teknik membaca dalam hati. Menurut Tarigan (1986:24)
membaca dalam hati adalah jenis membaca tanpa suara yang bertujuan memaha mi
isi bacaan yang dibaca. Membaca pemahaman dapat dikuatkan sebagai suatu proses

67

yang kompleks, sebab dalam membaca pemahaman pembaca melibatkan sejumla h
keterampilan. Hakikat membaca cerpen sebagai karya seni adalah menghalusk a n
budi pekerti siswa dengan memperoleh hikmah dari cerpen yang dibaca. Selain itu
manfaat lain dapat menambah pembendaharaan kata atau kalimat, mengetahui kata
atau kalimat untuk mengungkapkan perasaan, ide, atau gagasan serta emosinya.

Berdasarkan pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa membaca
pemahaman adalah suatu kegiatan memahami pesan-pesan media tulis melalui
beberapa aspek didalam wacana yang dipengaruhi oleh faktor eksternal dan interne l
pembaca. Sedangkan dalam membaca pemahaman membaca cerpen digunaka n
untuk memahami isi cerpen dan mengerti unsur-unsur instrinsik dalam cerpen.

Cerita pendek tidak ditentukan oleh banyaknya halaman untuk mewujudka n
cerita tersebut atau banyak sedikitnya tokoh dalam cerita itu, melainkan lebih
disebabkan oleh ruang lingkup permasalahan yang ingin disampaikan oleh bentuk
karya sastra tersebut. Jadi sebuah cerita yang pendek belum tentu digolongk a n
kedalam jenis cerita prapendek jika ruang lingkup dan permasalahannya yang
diungkapkan tidak memenuhi persyaratan yang dituntut oleh cerita pendek.
(Suharianto 1982:39). Selanjutnya Suharianto (1982:39) juga menambahkan bahwa
“cerita pendek biasanya adalah wadah yang biasanya dipakai oleh pengarang untuk
menyuguhkan sebagian kecil saja dari kehidupan tokoh yang paling menarik
perhatian pengarang”. Jadi sebuah cerita senantiasa memusatkan perhatiannya pada
tokoh utama dan permasalahannya yang paling menonjol dan menjadi tokoh cerita
pengarang, dan juga mempunyai efek tunggal, karakter, alur dan latar yang terbatas.
Cerpen memuat penceritaan kepada satu peristiwa pokok, peristiwa pokok itu tidak
selalu “sendirian” ada peristiwa lain yang sifatnya mendukung peristiwa pokok.

Cerpen tersusun atas unsur-unsur pembangun cerita yang saling berkaitan
erat antara satu dengan yang lainnya. Berkaitan antara unsur-unsur pembangun
cerita tersebut membentuk totalitas yang bersifat abstrak, koherensi dan
keterpaduan semua unsur cerita yang membentuk sebuah totalitas amat menentuk a n
keindahan dan keberhasilan cerpen sebagai suatu bentuk ciptaan sastra. Unsur -
unsur dalam cerpen terdiri atas: tema, amanat, alur atau plot, tokoh dan penokohan,
latar (setting), sudut pandang (point of view), dan gaya bahasa.

68

Nilai-Nilai Dalam Cerpen, Segala sesuatu yang berguna bagi manusia
disebut nilai. Dalam karya sastra, cerpen misalnya, nilai-nilai itu mencakup nilai-
nilai budaya, nilai-nilai sosial, nilai-nilai moral, nilai-nilai agama, dan nilai-nila i
estetika.
Jenis-Jenis Cerpen dilihat dari panjang pendeknya cerita, sebuah cerpen dapat
diklasifikasi menjadi tiga jenis.
(1) Cerpen pendek Cerpen pendek (short story), yakni cerpen yang panjangnya
berkisar antara lima ratus sampai dengan tujuh ratus kata. (2) Cerpen sedang
(middle short story), yaitu cerpen yang panjangnya berkisar di atas tujuh ratus kata
sampai dengan seribu kata.(3) Cerpen panjang (long short story), adalah cerpen
yang panjangnya diatas seribu kata. Selain mempunyai nilai- nilai yang bermakna
bagi kehidupan, cerpen juga mempunyai daya tarik tersendiri. Daya tarik sebuah
cerpen bisa dipengaruhi oleh berbagai hal. Seperti halnya ketertarikan pada
seseorang yang bisa disebabkan oleh penampilan, tutur kata, kepintaran, keluarga,
atau kekayaannya.
Perencanaan evaluasi
Tahap perencanaan ini berupa kegiatan awal menentuan langkah-langkah yang
akan dilakukan penelitian untuk memecahkan masalah yang akan dihadapi.
Langkah ini merupakan upaya untuk memperbaiki kelemahan dalam proses
pembelajaran ketrampilan membaca . Rencana kegiatan yang akan dilakuka n
adalah (1) menyiapkan materi pembelajaran yang akan diajarkan, (2) menyus un
rencana pembelajaran (RPP) membaca cerpen (3) menyusun dan menyiapk a n
instrumen nontes yang berupa observasi, jurnal, wawancara dan dokumentasi foto,
(4) menyiapkan media pembelajaran, (5) menyusun dan menyiapkan lembar
kriteria penilaian tes, dan (6) berkolaborasi dengan guru mata pelajaran dan dibantu
teman. Rencana pembelajaran ini digunakan sebagai program kerja atau pedoman
penelitian dalam melaksanakan proses belajar mengajar agar tujuan pembelajara n
dapat tercapai
Refleksi evaluasi
Pada tahap ini dilakukan kegiatan menganalisis tes, hasil observasi, hasil jurnal, dan
hasil wawancara. Setelah dianalisis akan terlihat permasalahan atau muncul

69

pemikiran baru yang memerlukan tindakan baru, sehingga perlu muncul
perencanaan ulang pada siklus evaluasi. Hasil refleksi Evaluasi menunjukkan nila i
rata-rata kelas untuk keterampilan membaca cerpen mencapai standar ketuntasan
minimal 70. Nilai rata-rata kelas sebelumnya mencapai 77,44. Masih ada beberapa
siswa belum dapat menceritakan kembali isi cerpen dengan baik dan menemuk a n
unsur intrinsik dengan maksimal. Namun sebagian besar siswa banyak yang sudah
bisa mengefektifkan waktu dalam mengerjakan tugas. Kurangnya kerja sama siswa
dalam tahap “berbagi” Pemahaman beberapa siswa mengenai unsur-unsur intrins ik
belum maksimal karena beberapa siswa ada yang tidak memperhatikan guru seperti
bercanda dengan teman sebangku, melamun, dan bermalas-malasan.

Tabel 1 Parameter Tingkat Keberhasilan Siswa

NO Hasil yang dicapai Kategori

siswa

1 <60 KURANG

2 60-75 CUKUP

3 75-80 BAIK

4 >85 SANGAT BAIK

Tabel 3 Daftar Rentang Skor Kriteria Penilaian Pemahaman Membaca

Cerpen

N0 Unsur Yang Kategori Kriteria Penilaian

dinilai

a. Sangat baik a. Tema sesuai dengan isi

b. Baik cerpen

70

1 Tema c. Cukup b. Tema tidak menyimpa ng

d. Kurang jauh

c. Tema kurang tepat

d. Tema tidak sesuai

a. Sangat baik a. Amanat sesuai dengan isi

b. Baik cerpen

2 Amanat c. Cukup b. Amanat tidak

d. Kurang menyimpang

jauh

c. Amanat kurang tepat

d. Amanat tidak sesuai

a. Sangat baik a. Alur sesuai dengan isi

b. Baik cerpen

3 Alur c. Cukup b. Alur tidak menyimpa ng

d. Kurang jauh

c. Alur kurang tepat

d. Alur tidak sesuai

a. Sangat baik a. Latar sesuai dengan isi

b. Baik cerpen

4 Latar c. Cukup b.Latar tidak menyimpa ng

d. Kurang jauh

c. Latar kurang tepat

d. Latar tidak sesua

a. Sangat baik a. Tokoh dan Penokohan

b. Baik sesuai

Tokoh c. Cukup dengan isi cerpen

5 dan Penokohan d. Kurang b. Tokoh dan Penokohan

tidak

menyimpang jauh

c. Tokoh dan Penokohan

71

kurang tepat

d. Tokoh dan Penokohan

tidak

sesuai

a. Sangat baik a.Sudut Pandang sesuai

b. Baik dengan

6 Sudut Pandang c. Cukup isi cerpen

d. Kurang b. Sudut Pandang tidak

menyimpang jauh

c. Sudut Pandang kurang

tepat

d. Sudut Pandang tidak

sesuai

a. Sangat baik a. Gaya Bahasa sesuai

b. Baik dengan

7 Gaya Bahasa c. Cukup isi cerpen

d. Kurang b. Gaya Bahasa tidak

menyimpang jauh

c. Gaya Bahasa kurang tepat

d. Gaya Bahasa tidak sesuai

Membaca pemahaman adalah suatu kegiatan memahami pesan-pesan media
tulis melalui beberapa aspek didalam wacana yang dipengaruhi oleh faktor
eksternal dan internal pembaca. Sedangkan dalam membaca pemahaman membaca
cerpen digukanakan untuk memahami isi cerpen dan mengerti unsur-uns ur
instrinsik dalam cerpen. Dalam cerita pendek tidak hanya memperhatik a n
kemenarikan dari isi cerita akan tetapi dalam menulis atau membaca cerita pendek
ada beberapa nilai-nilai yang berguna yang bisa diambil dan dijadikan acuan dalam
kehidupan, adapun nilai-nilai yang terkandung dalam cerita pendek adalah nila i
budaya, nilai sosial, nilai moral, nilai agama, dan nilai estetika. Cerita pendek

72

memiliki beberapa jenis, diantaranya adalah cerpen pendek, cerpen sedang, cerpen
panjang.

Kegiatan menganalisis tes, hasil observasi, hasil jurnal, dan hasil
wawancara. Setelah dianalisis akan terlihat permasalahan atau muncul pemikira n
baru yang memerlukan tindakan baru, sehingga perlu muncul perencanaan ulang
pada siklus evaluasi. Hasil refleksi Evaluasi menunjukkan nilai rata-rata kelas untuk
keterampilan membaca cerpen mencapai standar ketuntasan minimal 70. Nilai rata-
rata kelas sebelumnya mencapai 77,44. Masih ada beberapa siswa belum dapat
menceritakan kembali isi cerpen dengan baik dan menemukan unsur intrins ik
dengan maksimal

73

DAFTAR PUSTAKA
Tarigan. 2003. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung:
Angkasa.
Akhadiah, Sabarti, dkk. 2012. Pembinaan Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia.
Jakarta: Erlangga.
https://media.neliti.com/media/publications/116535-ID-upaya-meningkatkan-
keterampilan-membaca.pdf artikel dalam halaman website
Pengembangan pelayanan bimbngan dan konseling bagi mahasiswa / Depdikbud.
1984.
Jakarta:Depdikbud
Tarigan, Henry G.(1986) Menulis Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung: Angkasa
Suharianto, S. 1982. Dasar-Dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Duta
http://lib.unnes.ac.id/19606/1/2101408023.pdf sumber skripsi disertai laporan
penilitian

74

PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA PADA GENERASI
ABAD 21

Ade Fitriani, Farida Nurhama, Rovitika Yuliyani

Bahasa Indonesia adalah jati diri sekaligus identitas bangsa Indonesia.
Bahasa Indonesia memegang peranan penting pada semua aspek kehidupan. Saat
ini adalah generasi Abad ke-21, masa adanya peningkatan penggunaan dan
keakraban dengan komunikasi, media dan teknologi digital. Hal tersebut
berdampak pada perkembangan bahasa Indonesia, keadaan yang ada sekarang
adalah fungsi bahasa Indonesia mulai digantikan atau tergeser oleh bahasa asing
dan adanya perilaku yang cenderung menyelipkan istilah bahasa asing. Padahal
padanan dalam bahasa Indonesianya ada, dikarenakan sikap yang menyakini bahwa
akan terlihat modern, dan terpelajar dan dengan alasan mempermudah komunikas i
di era Abad 21.

Istilah generasi pada Abad 21 ini sedang viral, khususnya di media sosial.
Netizen (warganet) sering menyebutnya dengan kids zaman now. Generasi ini hadir
sebagai bentuk diferensiasi antara generasi zaman dulu yang eksis di tahun 90-an
dengan generasi yang sedang eksis di zaman sekarang. Dari segia usia, bisa
dikatakan generasi Abad 21 ini adalah mereka yang saat ini berada pada rentang
umur 15-30 tahun. Bahasa meliputi ungkapan, pengucapan kata, dan kontruksi yang
telah dipakai dalam jangka waktu yang lama.

Ungkapan, pilihan kata, dan konstruksi itu dipilih oleh penutur dari generasi
yang berbeda dengan frekuensi yang berbeda pula. Bahkan, ada ada bagian bahasa
lebih-lebih pada tataran leksikal dan sintaksis, yang dirasakan berbeda oleh para
penutur yang “modern” dengan yang “kuno”. Abad 21 ialah masa adanya
peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media dan teknologi
digital seperti sekarang ini. Generasi yang hidup di era Abad 21 ini memilik i
karakter yang khas. Sejak di bangku sekolah sudah menggunakan gawai dan
menjadikan internet sebagai kebutuhan pokok, selalu terhubung dengan internet,
supaya dapat mengakses hal-hal baru atau sekedar bersosialisasi dalam media
sosial.

75

Kata Kunci: bahasa Indonesia, generasi pada Abad 21
PENDAHULUAN

Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional bangsa Indonesia. Bahasa
Indonesia memiliki peranan penting dalam aspek komunikasi sehari-hari warga
negara Indonesia. Bahasa Indonesia juga sebagai jati diri atau identitas bangsa.
Fungsi bahasa Indonesia yaitu merupakan lambang kebangsaan nasional dan
pemersatu berbagai lapisan masyarakat yang berbeda latar belakang sosial budaya
Seiring dengan perkembangan zaman. Generasi pada Abad 21 ialah masa adanya
peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media dan teknologi
digital seperti sekarang ini.

Generasi yang hidup di era Abad 21 ini memiliki karakter yang khas. Sejak
di bangku sekolah sudah menggunakan gawai dan menjadikan internet sebagai
kebutuhan pokok, selalu terhubung dengan internet, supaya dapat mengakses hal-
hal baru atau sekedar bersosialisasi dalam media sosial. Generasi saat ini disebut
dengan generasi Abad 21, yaitu generasi yang lahir antara tahun 1980 sampai 2000-
an. Bahasa Indonesia memegang peranan penting pada semua aspek kehidupan
sehari-hari warga negara Indonesia dalam hal berkomunikasi. Pada abad 21 ini
berkomunikasi dengan bahasa asing merupakan hal yang keren dan bahasa
indonesia mengalami perubahan kata atau makna dalam hal berkomunikasi yang
berubah kearah kata modern.

Seiring dengan perkembangan zaman bahasa Indonesia mengala mi
perkembangan, baik ke arah positif maupun negarif. Keadaan yang ada sekarang
adalah fungsi bahasa Indonesia mulai digantikan atau tergeser oleh bahasa asing
dan adanya perilaku yang cenderung menyelipkan istilah asing, padahal padanan
dalam bahasa Indonesianya ada, dikarenakan sikap yang menyakini bahwa akan
terlihat modern, dan terpelajar jika menggunakan istilah atau bahasa dalam
berkomunikasi pada pergaulan sehari-hari. Hal tersebut berdampak pada eksistens i
bahasa Indonesia. Karena itu, perlu adanya kepatuhan dalam penggunaan bahasa
Indonesia. Agar pertahanan bahasa Indonesia tetap terjaga, mengingat banyak
pengaruh dikarenakan globalisasi Dan perubahan zaman di era Abad 21 ini.

76

Maka dibuatlah Judul "Pengunaan Bahasa Indonesian di Kalangan Generasi Abad
21". Agar bahasa Indonesia yang merupakan jati diri dan identitas bangsa ini tidak
terlupakan eksistensinya di zaman generasi Abad 21 ini. Dan diharapkan dengan
adanya penulisan ini, kita dapat mengatasi krisis nya pengunaan bahada Indonesia.
Sehingga bahasa Indonesia akan selalu terjaga dan selalu eksis pada setiap
perkembangan zaman terutama di generasi Abad 21 ini.

PEMBAHASAN
Bahasa Indonesia dan Generasi Milenial

Menurut Abdul, bahasa adalah suatu media yang digunakan untuk
menyampaikan dan memahami gagasan, pikiran, dan pendapat. Jadi, bahasa juga
sebagai media komunikasi utama di dalam kehidupan manusia untuk berinteraks i.
Menurut Johan, Secara garis besar, bahasa dapat dilihat dari tiga sudut pandang,
antara lain: sudut pandang bentuk dan sudut pandang makna. Yang artinya bentuk
bahasa berhubungan dengan keadaannya dalam mendukung perannya sebagai
sarana komunikasi untuk berbagai kepentingan komunikasi pemakai bahasa, dan
hubungannya dengan aspek nilai dan aspek makna adalah perannya yang
terkandung dalam bentuk bahasa yang fungsinya sebagai alat komunikasi ketiga
unsur tersebut secara keseluruhan dimiliki oleh semua bahasa di dunia. Bahasa
menunjukkan bangsa.

Itulah kata bijak yang sejak lama tertanam dalam benak kita. Bahasa kita
adalah bahasa Indonesia, bahasa yang bukan hanya menjadi kebanggaan dan
identitas, tapi juga alat persatuan yang berjasa dalam sejarah Indonesia. Namun
bagaimana sekarang? Di era milenial seperti saat ini masihkah ada kebanggaan
menggunakan bahasa Indonesia? Salah satu kelemahan orang Indonesia untuk
bersaing dengan orang luar negeri adalah bahasa. Kultur bahasa Indonesia yang
tidak menggunakan bahasa asing sebagai bahasa pengantar membuat sebagian
besar rakyat Indonesia hanya bisa berbahasa Indonesia. Kesadaran itulah yang kini
mulai disadari keinginan belajar dan menggunakan bahasa asing mulai tumbuh.

Namun seiring waktu keinginan belajar bahasa asing justru membuat bahasa
Indonesia terpinggirkan. Banyak anak usia sekolah, terutama kaum milenial yang

77

tinggal di kota besar, yang terlihat gagap berbahasa Indonesia. Banyak diantara
mereka yang bahkan lebih fasih berbahasa asing daripada berbahasa Indonesia.
Mengapa itu bisa terjadi? Keinginan mempersiapkan anak memasuki era globalisas i
tentu boleh-boleh saja. Namun jika itu mengorbankan jati diri bangsa apalah
gunanya.

Namun yang terjadi tidak seperti yang diperkirakan. Hal tersebut
berdampak pada eksistensi bahasa Indonesia. Kedudukan bahasa Indonesia masing-
masing memiliki fungsi tertentu, sebagaimana yang telah dirumuska n. Menurut
Politik Bahasa Nasional di Jakarta 1974, Sebagai bahasa persatuan, BI berfungs i
sebagai; (1) lambang kebanggaan nasional, (2) lambang identitas nasional, (3) alat
pemersatu berbagai suku bangsa yang berbeda latar belakang sosial, budaya dan
bahasanya, dan (4) alat perhubungan antarbudaya dan antar daerah. Menurut Umar,
Sedangkan dalam kedudukannya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia
berfungsi sebagai; (1) bahasa resmi kenegaraan, (2) bahasa pengantar resmi di
lembaga-lembaga pendidikan, (3) bahasa resmi di dalam perhubungan pada tingkat
nasional untuk kepentingan perencanaand an pelaksanaan pembangunan serta
pemerintah, dan (4) bahasa resmi di dalam pembangunan kebudayaan dan
pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi modern.

Generasi milenial ialah masa adanya peningkatan penggunaan dan
keakraban dengan komunikasi, media dan teknologi digital seperti sekarang ini.
Generasi yang hidup di era milenial ini memiliki karakter yang khas. Sejak di
bangku sekolah sudah menggunakan gawai dan menjadikan internet sebagai
kebutuhan pokok, selalu terhubung dengan internet, supaya dapat mengakses hal-
hal baru atau sekedar bersosialisasi dalam media sosial. Generasi saat ini disebut
dengan generasi milenial, yaitu generasi yang lahir antara tahun 1980 sampai 2000-
an. Pemakaian bahasa generasi milenial terhadap bahasa Indonesia menjadi
cerminan masa depan bahasa Indonesia.

Menurut Purwito, Di dalam pemakaian bahasa Indonesia setidak-tidaknya
ada dua faktor yang perlu diperhatikan. Pertama, adalah tingkat pemahaman, dan
kedua adalah sikap. Kedua hal itu pada hakikatnya saling berkaitan. Tingkat yang
baik akan menumbuhkan sikap yang baik. Sikap yang baik akan mendorong

78

peningkatan pemakaian yang lebih baik pula, yang pada gilirannya tentu akan
menumbuhkan pemakaian yang baik pula.

Hal seperti ini mendorong timbulnya rasa bangga menggunakan bahasa
Indonesia, yang akhirnya akan meningkatkan keinginan untuk selalu
menggunakannya. Keadaan yang demikian, menjadikan bahasa Indonesia dapat
menjalankan fungsinya sebagai salah satu wahana pembangunan. Permasalahan di
dalam penelitian ini adalah mengenai tingkat pemahaman dan sikap masyarakat
terhadap pemakaian bahasa Indonesia sebagai refeksi jati diri bangsa. Masyarakat
Indonesia sebagai pemakai bahasa Indoensia yang merupakan masyarakat
multietnik, dapat dikatakan sebagai masyarakat dwibahasawan (bilingual). Hal itu
tercermin dari keanekaragaman karakteristik masyarakat Indonesia yang begitu
kompleks dari etnis, bahasa maupun budaya.

Ciri masyarakat yang demikian adalah masyarakat dwibahasawan. Menurut
Nimas Permata, mengemukakan karakteristik masyarakat dwibahasawa n
berdasarkan; (1) sumber keragaman, (2) latar (setting) yang meliputi latar historis,
latar lembaga/pranata, latar perilaku dan latar tipe masyarakat, (3) mobilita s
penduduk, (4) nomadisme dan migrasi musiman, (5) pulang-pergi, dan (6) migras i.
Keadaan seperti itu mempengaruhi pemakaian bahasa dan berkomunikasi, salah
satu diantaranya adalah persoalan kedwibahasaan. Menurut Fransisca, Dengan
demikian, memang dapat dikatakan bahwa kondisi bangsa Indonesia yang majemuk
sebenarnya dapat membantu generasi bangsa mendapat gambaran hidup yang lebih
komperhensif. Keadaan bilingual maupun diglosia pada masyarakat Indonesia,
cenderung terjadi antara bahasa Indonesia dengan berbagai bahasa daerah.

Menurut Andiopenta, penggunaan bahasa Indonesia yang tidak cermat
dalam berbagai aspek kebahasaan mengindikasikan adanya kecenderunga n
kurangnya penguasaan dan pemakaian bahasa Indonesia. Masyarakat Indonesia
pada umumnya memiliki bahasa daerah masing-masing di samping adanya bahasa
Indonesia Oleh karena itu, penggunaan antara bahasa Indonesia dan bahasa daerah
dapat terjadi pada situasi bilingual maupun diglosia. Pada situasi bilingual, ia dapat
saja merupakan suatu kemampuan, bahkan sudah merupakan kebiasaan baik secara
individu maupun sekelompok masyarakat tertentu. Hal demikian terjadi pula pada

79

situasi diglosia, dalam keadaan itu masyarakat Indonesia cenderung menjadika n
bahasa Indonesia sebagai bahasa tinggi dan bahasa daerah sebagai bahasa rendah.
Menurut Halim, Pergeseran bahasa adalah fenomena bahasa menggeser bahasa lain
atau bahasa yang tak tergeser oleh bahasa lain.

Pergeseran bahasa terjadi ketika pemakai bahasa memilih suatu bahasa baru
untuk menggantikan bahasa sebelumnya. Biasanya, bahasa yang bersifat dominan
atau dengan alasan prestise. Sehubungan dengan pengukuran tingkat pemahama n
terhadap pemakaian bahasa di dalam penelitian ini diarahkan pada pemahama n
terhadap berbagai wacana, antara lain; wacana deskripsi, narasi, argumentas i,
eksposisi, dan pragmatik. Kelima wacana ini pada hakekatnya terbentuk di dalam
pemakaian bahasa. Hal ini jelas karena wacana adalah keseluruhan tutur yang
merupakan suatu kesatuan di dalam pemakaian bahasa, dengan kata lain wacana
merupakan satuan bahasa terlengkap.

Begitu dekatnya kita kepada bahasa, terutama bahasa Indonesia, sehingga
tidak dirasa perlu untuk mendalami dan mempelajari bahasa Indonesia secara lebih
jauh. Menurut Ikram, bahwa sikap bahasa adalah posisi mental atau perasaan
terhadap bahasa sendiri atau bahasa orang lain. Menurut Kamaruddin, sikap bahasa
adalah keadaan jiwa atau perasaan seseorang terhadap bahasanya atau bahasa orang
lain. Perwujudan sikap terhadap bahasa maupun sikap terhadap pemakaian bahasa
tercermin dari dua sikap, yaitu; (1) sikap positif dan (2) sikap negatif. Menurut
Marsudi, sikap positif terhadap suatu bahasa dapat ditandai dengan sikap kesetiaan
dan sikap kebanggaan.

Untuk gambaran sikap positif atau sikap yang baik, MenurutMuti’ah, yang
mengemukakan ciri sikap positif yakni memakai bahasa sesuai kaidah memakai
bahasa sesuai keperluan. Sedangkan sikap negatif ditandai dengan ciri, antara lain
(1) pemakai merasa acuh tak acuh terhadap pembinaan dan pelestarian bahasa; (2)
pemakai merasa tidak bangga ketika menggunakan bahasanya sebagai penanda jati
diri; (3) pemakai mudah beralih atau pindah bahasa. Menurut Garvin dan Mathiot,
mengemukakan ciri-ciri sikap negatif terhadap bahasa sebagai berikut. 1) Jika
seseorang atau sekelompok anggota masyarakat bahasa tidak ada lagi gairah atau
dorongan untuk mempertahankan kemandirian bahasanya maka hal itu merupakan

80

suatu petunjuk bahwa kesetiaan bahasanya mulai lemah yang tidak mustahil jika
nantinya menjadi hilang sama sekali; (2) Jika seseorang atau sekelompok orang
sebagai anggota suatu masyarakat tidak mempunyai rasa bangga terhadap
bahasanya dan mengalihkan kebanggaannya kepada bahasa lain yang bukan
miliknya. 3) Jika seseorang atau sekelompok orang sebagai anggota suatu
masyarakat sampai pada ketidaksadaran akan adanya norma bahasa.
Peran Generasi Milenial dalam Upaya Internasionalisasi Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dan bahasa persatuan negara
Indonesia tertuang di dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 36 Bahasa Negara
ialah Bahasa Indonesia. Hal ini dengan jelas telah menerangkan posisi yang dimilik i
oleh bahasa Indonesia yang telah diatur dalam hukum dan tidak bisa diganggu
gugat. Adapun fungsi bahasa Indonesia adalah sebagai bahasa resmi kenegaraan,
pengantar pendidikan, komunikasi tingkat nasional, transaksi niaga, dokumentas i,
sarana pengembangan pembinaan, perlindungan, pemanfaatan ilmu pengetahua n,
teknologi, seni, dan media massa. Di era globalisasi ini, maraknya penyalahguna a n
bahasa yang serampangan dengan cara mencampurcampur bahasa Indonesia
dengan bahasa asing ataupun bahasa gaul membuat kita resah terhadap nasib
perkembangan dan keeksistensian bahasa Indonesia. Generasi muda lebih
cenderung sering menggunakan gaul daripada menggunakan bahasa Indonesia yang
baik dan benar.
Pemakaian Bahasa Indonesia

Menurut Sugiono, Pemakaian bahasa Indonesia generasi milenia l
dipaparkan berdasarkan faktor-faktor yang mempengaruhi pemakaian bahasa. Di
dalam penelitian ini faktor-faktor itu dirangkum atas 5 faktor, antara lain; (1)
intraetnis; (2) antaretnis; (3) di lembaga pendidikan; (4) di rumah; dan (5) pergaula n
sehari-hari.

81

Tingkat pemakaian bahasa Indonesia generasi milenial menunjukk a n
ratarata pemakaian yang tinggi. Data menunjukkan 142 siswa memakai bahasa
Indonesia di lingkungan sekolah. Kegiatan formal pembelajaran di sekolah menjadi
alasan utama pemakaian bahasa Indonesia. Selain itu, latar belakang siswa yang
berasal dari berbagai etnis juga membuat tingkat pemakain bahasa Indonesia yang
tinggi. Pemakaian bahasa Indonesia cenderung rendah di lingkungan rumah karena
siswa lebih menggunakan bahasa daerah ketika berkomunikasi dengan keluarga.
Sikap Generasi Milenial

Menurut Sukardi, Sikap generasi milenial terhadap pemakaian bahasa
Indonesia dipaparkan berdasarkan ciri sikap yang baik terhadap pemakaian bahasa.
Gambaran sikap itu terungkap atas 5 skala, yakni; (1) sangat baik (sangat positif) ;
(2) baik (positif) ;(3) sedang ;(4) kurang baik (negatif); dan (5) sangat kurang baik
(sangat negatif).

Sikap generasi milenial terhadap pemakaian bahasa Indonesia menunjukk a n
sikap yang positif. Data menunjukkan 93 siswa memiliki ciri sikap yang sangat baik
atau sangat positif. Sikap ini dicerminkan atas kesetiaaan dan bangga dalam
pemakain bahasa Indonesia. Sedangkan sikap sangat kurang baik atau negatif
terjadi karena pemakai merasa acuh tak acuh terhadap pelestarian bahasa, pemakai
merasa tidak bangga ketika menggunakan bahasa Indonesia, dan pemakai mudah

82

beralih atau pindah bahasa.
PENUTUP

Penggunaan bahasa Indonesia di kalangan remaja saat ini hampir sudah
tidak ada yang menggunakannya dengan benar, sedikit sekali remaja yang
menggunakan bahasa Indonesia dengan benar. Selang waktu yang berjalan,
pengguna bahasa Indonesia dengan benar telah di geser dengan bahasa-bahasa yang
tidak di kenal. Dikarenakan datangnya penduduk luar negeri ke dalam negeri, yang
membaur bahasa Indonesia dengan bahasa asing. Bahasa yang digunakan remaja
ada saat ini diantaranya adalah bahasa prokem atau bahasa gaul, bahasa asing dan
bahasa daerah.

Bahasa Indonesia tidak digunakan sebagaimana mestinya dikarenakan
beberapa faktor antara lain faktor dari luar dan faktor dari dalam. Beberapa cara
yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat para remaja kita agar
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah dengan tindakan yang
nyata dari diri sendiri, masyarakat dan pemerintah. Karena itu merupakan elemen
penting untuk perubahan agar remaja, masyarakat dan pemerintah Indonesia
memiliki rasa bangga akan bahasanya sendiri. Bahasa Indonesia merupakan alat
pemersatu bangsa, sebagai identitas Bangsa Indonesia dan sebagai lambang
kebanggan nasional.

Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi dan bahasa persatuan negara
Indonesia tertuang di dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 36 Bahasa Negara
ialah Bahasa Indonesia. Hal ini dengan jelas telah menerangkan posisi yang dimilik i
oleh bahasa Indonesia yang telah diatur dalam hukum dan tidak bisa diganggu
gugat. Karakter generasi milenial yang dikenal visioner dan menguasai teknologi
dapat menjadi basis untuk mengenalkan bahasa Indonesia di dunia Internasiona l.
Apalagi dengan zaman sekarang bahasa Indonesia sudah banyak digunakan oleh
negaranegara lain. Oleh karena itu, kita sebagai generasi milenial yang mahir dalam
teknologi sudah sepatutnya bangga dengan itu bisa berupa menggunakan bahasa
Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

Generasi ini hadir sebagai bentuk diferensiasi antara generasi zaman dulu
yang eksis di tahun 90-an dengan generasi yang sedang eksis di zaman sekarang.

83

Dari segia usia, bisa dikatakan generasi Abad 21 ini adalah mereka yang saat ini
berada pada rentang umur 15-30 tahun. Bahasa meliputi ungkapan, pengucapan
kata, dan kontruksi yang telah dipakai dalam jangka waktu yang lama. Karena itu,
perlu adanya kepatuhan dalam penggunaan bahasa Indonesia, agar bahasa
Indonesia tetap terjaga.

84

DAFTAR PUSTAKA

Chaer, Abdul. 2014. Lingusitik Umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Danuarta, Johan. 2016. Penggunaan Bahasa Indonesia di Kalangan Remaja.

(Online,

http://johandanuartanainggolan.blogspot.com/2016/06/penggunaan-bahasa

indonesiadi-kalangan.html, Diakses 24 Desember 2018).

Mansyur, Umar. 2016. Bahasa Indonesia dalam Belitan Media Sosial: Dari Cabe-

Cabean Hingga Tafsir Al-Maidah 51. In Prosiding Seminar Nasional &
Dialog Kebangsaan dalam Rangka Bulan Bahasa 2016 (pp. 145–155).

Fakultas Ilmu Budaya, Unhas. https://doi.org/10.31227/osf.io/7vpjh

Mansyur, Umar. 2018. Belajar Memahami Bahasa Generasi Milenia l.

https://doi.org.10.31227/osf.io/sxhp8.

Mansyur, Umar. 2018. Sikap Bahasa dan Pembelajaran Bahasa Indonesia di

Perguruan Tinggi. In 1st International Conference of Asosiasi Linguistik

Terapan Indonesia UMI 2018. https://doi.org/10.31227/osf.io/te3df

Purwito. 2012. Perkembangan Indonesia. (Online,

http://coffelatte2.blogspot.com/2012/09/perkembangan- indonesia-di.html,

Diakses 2 Januari 2018).

Putri, Nimas Permata. 2017. Eksistensi Bahasa Indonesia pada Generasi Milennia l.

Jurnal Widyabastra, 5(1), 45-47.

Rahayu, Arum Putri. 2015. Menumbuhkan Bahasa Indonesia Yang Baik dan Benar

dalam Pendidikan dan Pengajaran. Jurnal Paradigma, 2(1), 15-20.

Suprihatien. 2016. Fenomena Penggunaan Bahasa Kekinian di Kalangan

Mahasiswa. Jurnal Inovasi, 18(2), 77-79.

Vener, Francisca Chlaudia. 2016. Penggunaan Bahasa Indonesia di Kalangan

Remaja. (Online,https://www.pontianakpost.co.id/penggunaan-bahasa-

indonesia-di-kalanganremaja, Diakses 24 Desember 2018)

Andiopenta (2015). Pemakaian Bahasa Indonesia Masyarakat Kota Jambi: Suatu

Kajian Sosiolinguistik. Dalam Seminar Nasional: Pengembanga n

Keprofesian Berkelanjutan bagi Guru dan Dosen Melalui Penelitian Bahasa,

Sastra, dan Pengajarannya. Surakarta: Asosiasi Dosen Bahasa dan Sastra

85

Indonesia.Chaer, A., & Leoni, A. (2010). Sosiolinguistik Perkenalan Awal.
Jakarta: PT Rineka Cipta.
Halim, A. (1980). Politik Bahasa Nasional Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka,
Ikram, A. (2009). Sejarah Kebudayaan Indonesia: Bahasa, Sastra, dan Alsara.
Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Kamaruddin. (1989). Kedwibahasaan dan Pendidikan Dwibahasa :
Pengantar.Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,
Kridalaksana, H. (2011). Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Marsudi, S. Z. (2015). Kesetiaan Berbahasa Indonesia Dipertanyakan di Era
Globalisasi. Jurnal Sosial Humaniora, 8(1), 95—105.
Muti’ah, A. (2017). Pengembangan Sikap Bahasa Melalui Pendidikan Formal:
Respon TerhadapPeminatan Bahasa Indonesia Sebagai Bahasa Asing.
Dalam Seminar Nasional: Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Konteks
Global. Jember: PBSI FKIP Universitas Jember.
Suandi, I. N. (2014). Sosiolinguistik. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Sugiono. (2012). Metode Penelitian Kuantitatif, kualitatif, dan R& D. Bandung:
Alfabeta.
Sukardi. (2011). Metodologi Penelitian Pendidikan: Kompetensi Dan Praktiknya.
Yogyakarta: Bumi Aksara.

86

PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PROSA
MELALUI METODE FIELD TRIP

Indriani Sulistyo Ningrum, Saroya Rosdiana, Siti Fahriyani Z

Pendahuluan
Bagi seorang guru, kita memerlukan media bahasa dalam upaya

membelajarkan para siswa, dalam menjalani profesi dan kehidupan sehari-hari. Kita
perlu membaca buku-buku, jurnal, ensiklopedia, dan laporan-laporan yang
bermanfaat sebagai sumber materi ajar. Pada kesempatan yang sama, kita perlu
membuat catatan-catatan mengenai isi bacaan tersebut dan mungkin pada
kesempatan lain kita harus menulis persiapan mengajar, menulis laporan, atau
mungkin menulis makalah. Dalam berbagai kegiatan, seperti rapat guru, di kelas,
dan dalam berbagai kesempatan, kita perlu mendengarkan pembicaraan guru lain,
para siswa, relasi, dan orang-orang yang berinteraksi dengan kita. Tentu saja pada
konteks tertentu kita perlu pula menyampaikan pikiran, perasaan, fakta atau hal
lainnya melalui berbicara. Jadi, jelas sekali bahwa kita perlu memiliki keterampila n
berbahasa yang memadai dalam beraktivitas sebagai guru dan sebagai anggota
masyarakat. Agar Anda memperoleh pemahaman mengenai hakikat keterampila n
berbahasa Indonesia. Pada hakikatnya, pembelajaran bahasa atau pengajaran
keterampilan berbahasa bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangk a n
keterampilan berbahasa siswa. Terampil berbahasa berarti terampil menyimak,
terampil berbicara, terampil membaca, dan terampil menulis dalam bahasa
Indonesia yang baik dan benar. Sesuai dengan namanya, yakni keterampila n
berbahasa, maka ada beberapa ciri khas keterampilan yang berlaku. Pertama,
keterampilan berbahasa bersifat mekanistis. Keterampilan ini dapat dikuasai
melalui latihan atau praktik terus menerus, dan erat kaitannya dengan pengalama n,
sehingga berlaku pula ungkapan belajar melalui pengalaman. Kedua, pengalama n
bahasa. Ketiga, jenis pertanyaan aplikasi sangat cocok dalam mengembangk a n
keterampilan berbahasa.

87

Berkenaan dengan hal tersebut, keterampilan menulis pun tidak lepas dari
ketiga karakteristik yang disampaikan oleh Djago Tarigan dan Henry Guntur
Tarigan. Keterampilan menulis sangat penting dan berarti dalam peranannya. dari
keempat keterampilan berbahasa yang ada, keterampilan menulis merupakan
sebuah keterampilan berbahasa yang membutuhkan waktu paling lama. Proses
orang belajar bahasa pun selalu dimulai dengan urutan menyimak, berbicara,
membaca, dan menulis. The last but not the least kata pepatah dalam bahasa Inggris.

Bertolak pada pernyataan-pernyataan tersebut, sebagai bagian dari
pembelajaran bahasa Indonesia, kegiatan menulis prosa pun sangatlah penting.
Dengan memiliki kemampuan menulis prosa, siswa dapat lebih peka terhadap
keadaan di sekitarnya, bahkan lebih jauh siswa dapat mengkritisi pengalaman jiwa
yang pernah dialami dengan menuangkannya dalam bentuk prosa. Melalui kegiatan
menulis prosa, siswa juga diajak untuk belajar merenungkan hakikat hidup
meskipun masih dalam tataran yang sederhana. Oleh karena itu, siswa diharapkan
dapat menguasai kemampuan menulis prosa.

Salah satu keterampilan menulis ialah prosa, jenis prosa yang diajarkan di
sekolah adalah karangan yang masuk kedalam jenis prosa non fiksi, Selama ini
pembelajaran menulis karangan deskripsi dilakukan secara konvensional. Siswa
diberi sebuah teori menulis deskripsi, kemudian siswa melihat contoh dan akhirnya
siswa ditugasi untuk membuat paragraf atau wacana deskripsi baik secara langsung
atau dengan jalan melanjutkan tulisan yang ada. Simpulan tersebut diperkuat
dengan adanya fakta bahwa media atau sumber belajar yang variatif tidak
dimunculkan oleh guru. Sumber belajar di luar guru yang dapat dimanfaatkan oleh
siswa hanya buku teks dan LKS bahasa Indonesia.

Pembelajaran menulis prosa di sekolah bertujuan untuk menanamkan rasa
peka terhadap karya sastra, sehingga memunculkan perasaan senang, cinta dan
tertarik terhadap apresiasi sastra. Selain itu, pembelajaran menulis prosa di sekolah
sangat penting dan bermanfaat bagi siswa karena dapat menstimulus otak sehingga
siswa mampu berpikir kreatif dan simpatik terhadap lingkungan di sekitarnya.
Namun dalam kenyataannya, banyak siswa cenderung menghindari pembelajara n

88

menulis prosa. Mereka menganggap bahwa kegiatan menulis prosa adalah kegiatan
yang sulit.

Pembahasan
Keterampilan berbahasa ada empat aspek, yaitu keterampilan menyimak,

berbicara, membaca, dan menulis. Menyimak dan membaca merupakan aspek
reseptif, sementara berbicara dan menulis merupakan aspek produktif. Perhatikan
kehidupan dalam masyarakat. Anggota-anggota suatu masyarakat saling
berhubungan dengan cara berkomunikasi. Secara sederhana, proses komunikas i
tersebut dapat digambarkan sebagai berikut.

Pengirim Transmisi Penerima
(Encorder) (Decorder)
Pesan Encoding Lambang Pesan Decoding Lambang

(bunyi/tulisan) (bunyi/tulisan)

=>

Diagram Komunikasi satu arah

Seperti digambarkan melalui diagram di atas, si pengirim pesan aktif
memilih pesan yang akan disampaikan, memformulasikannya dalam wujud
lambang- lambang berupa bunyi/tulisan. Proses demikian disebut proses encoding.
Kemudian, lambang- lambang berupa bunyi/tulisan tersebut disampaikan kepada
penerima. Selanjutnya, si penerima pesan aktif menerjemahkan lambang- lamb a ng
berupa bunyi/tulisan tersebut menjadi makna sehingga pesan tersebut dapat
diterima secara utuh. Proses tersebut disebut proses decoding. Jadi, kedua belah
pihak yang terlibat dalam komunikasi tersebut harus sama-sama memilik i
keterampilan, yaitu si pengirim harus memiliki keterampilan memilih lambang-
lambang (bunyi/tulisan) guna menyampaikan pesan, dan si penerima harus terampil
memberi makna terhadap lambang- lambang (bunyi/tulisan) yang berisi pesan yang
disampaikan si pengirim pesan.

89

Melihat proses komunikasi seperti dilukiskan di gambar, keterampila n
berbahasa dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori, yakni aspek reseptif dan
aspek produktif. Aspek reseptif bersifat penerimaan atau penyerapan, seperti yang
tampak pada kegiatan menyimak dan membaca. Sementara aspek produktif bersifat
pengeluaran atau pemroduksian bahasa, baik lisan maupun tertulis sebagaiman a
yang tampak dalam kegiatan berbicara dan menulis. Dalam berkomunikasi, si
pengirim mungkin menyampaikan pesan berupa pikiran, perasaan, fakta, kehendak
dengan menggunakan lambanglambang bunyi bahasa yang diucapkan. Dengan kata
lain, dalam proses encoding si pengirim mengubah pesan menjadi bentuk-bentuk
bahasa yang berupa bunyi-bunyi yang diucapkan, Selanjutnya, pesan yang
diformulasikan dalam wujud bunyi-bunyi (bahasa lisan) tersebut disampaika n
kepada penerima. Aktivitas tersebut biasa kita kenal dengan istilah aktivita s
berbicara. Di pihak lain, si penerima melakukan aktivitas decoding berupa
pengubahan bentuk-bentuk bahasa yang berupa bunyi-bunyi lisan menjadi pesan
sesuai dengan maksud si pengirimnya. Aktivitas tersebut biasa kita sebut dengan
istilah mendengarkan (menyimak).

Ada pula pengirim menyampaikan pesan itu dengan menggunak a n
lambang- lambang berupa tulisan. Dalam proses encoding, si pengirim menguba h
pesan menjadi bentuk-bentuk bahasa tertulis, kemudian dikirimkan kepada
penerima. Aktivitas tersebut biasa kita sebut dengan istilah menulis. Kemudian, si
penerima dalam proses decoding berupaya memaknai bentuk-bentuk bahasa tertulis
itu sehingga pesan dapat diterima secara utuh. Aktivitas tersebut kita kenal dengan
istilah membaca.

Selanjutnya Keterampilan Menulis tidak dapat dipisahkan dalam seluruh
rangkaian pembelajaran bahasa yang memiliki peranan penting dalam kehidupan
manusia. Dengan menulis, manusia dapat mengungkapkan ide, gagasan, pendapat
ke dalam bentuk tulisan. Dalam hubungannya dengan kemampuan berbahasa,
kegiatan menulis dapat mempertajam kepekaan terhadap kesalahan-kesalahan baik
ejaan, struktur maupun pemilihan kosakata.

Suriamiharja, dkk (1997:1) mengemukakan bahwa menulis adalah
kemampuan seseorang dalam melukiskan lambang grafis yang dimengerti oleh

90

penulis bahasa itu sendiri maupun orang lain yang memiliki kesamaan pengertia n
terhadap simbol bahasa tersebut. Dalam hal ini, penulis dan pembaca harusla h
memiliki pemahaman pengertian terhadap suatu simbol bahasa. Dengan kata lain,
jika penulis dan pembaca tidak memiliki pengertian yang sama terhadap suatu
simbol bahasa, maka maksud yang dikehendaki penulis tidak akan tersampaikan.

Owens (dalam Soenardji dan Bambang, 1998: 102) juga menambahk a n
bahwa menulis adalah menggabungkan sejumlah kata menjadi kalimat yang baik
dan benar menurut tata bahasa, dan menjalinnya menjadi wacana yang tersusun
menurut penalaran yang tepat. Selanjutnya, Tahhar (2001: 55) berpendapat bahwa
menulis merupakan rangkaian kegiatan seseorang mengungkapkan gagasan dengan
bermediakan bahasa tulis kepada khalayak pembaca untuk dipahami sebagaimana
yang dimaksudkan pengarang. Hal ini senada dengan yang dikatakan Tarigan
(1993: 4) bahwa menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang
dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara bertatap
muka dengan orang lain.

Dari uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa menulis termasuk salah
satu media untuk berkomunikasi secara tidak langsung. Menulis adalah kegiatan
mengungkapkan ide atau gagasan bermediakan bahasa tulis dengan tujuan agar
pembaca dapat memahami maksud yang dikehendaki oleh penulis. Untuk dapat
memahami maksud yang dikehendaki, penulis dan pembaca haruslah memilik i
persamaan pemahaman terhadap suatu simbol bahasa.

Menulis merupakan sebuah kegiatan yang memiliki banyak manfaat. Selain
digunakan untuk meyampaikan gagasan, ide, maupun pendapat, menulis memilik i
sederet manfaat lain yang berguna bagi kehidupan. Dari berbagai macam manfaat
yang diperoleh dari kegiatan menulis, Bernard Percy (dalam Gie, 2002: 21-22)
menyebutkan bahwa manfaat menulis antara lain sebagai berikut:
1. Suatu sarana untuk pengungkapan diri (a tool for self-expression).
2. Suatu sarana untuk pemahaman (a tool for understanding).
3. Suatu sarana untuk mengembangkan kepuasan pribadi, kebanggaan, dan suatu

perasaan harga diri (a tool to help developing personal satisfaction, pride, and
a feeling of self-worth).

91

4. Suatu sarana untuk meningkatkan kesadaran dan penyerapan terhadap
lingkungan sekeliling seseorang (a tool for increasing awareness and
perception of one’s environment).

5. Suatu sarana untuk keterlibatan secara bersemangat, bukan penerimaan yang
pasrah (a tool for active involment, not passive acceptance).

6. Suatu sarana untuk menggembangkan suatu pemahaman tentang kemampua n
menggunakan bahasa (a tool for developing an understanding of and ability to
use the language).
Selanjutnya, Komaidi (2007:12) menambahkan ada beberapa manfaat yang

bisa diperoleh dari kegiatan menulis, antara lain: (1) menimbulkan rasa ingin tahu,
(2) mendorong kita untuk membaca, (3) terlatih untuk melatih menyusun pemikira n
yang runtut, (4) mengurangi tingkat ketegangan dan stress, (5) mendapatkan
kepuasan batin. Selain berbagai manfaat di atas, menulis juga dapat digunaka n
sebagai salah satu cara untuk memahami dan menemukan arti hidup (Thobroni
2008:14).

Jadi, dari berbagai penjelasan tentang manfaat menulis di atas, dapat
disimpulkan bahwa menulis merupakan sebuah kegiatan yang memiliki banyak
kegunaan. Selain bisa digunakan sebagai salah satu media untuk berkomunikas i.
Menulis bisa menjadi sarana pengungkapan ide dan gagasan seseorang. Disamp ing
itu, menulis juga bisa digunakan sebagai alat untuk mengembangkan pola pikir,
memberikan kepuasan pribadi, serta mengurangi tingkat stress.

Sastra merupakan hasil peniruan atau gambaran dari kehidupan nyata yang
dituangkan ke dalam karya sastra, baik itu puisi, prosa maupun drama. Sekarang ini
sastra dianggap kurang penting dan kurang berperan dalam masyarakat Indonesia.
Hal ini terjadi karena masyarakat kita saat ini sedang mengarah pada masyarakat
industri sehingga konsep-konsep yang berkaitan dengan sains, teknologi, dan
kebutuhan fisik dianggap lebih penting dan mendesak untuk digapai.

Kondisi di atas juga terjadi dalam dunia pendidikan. Perhatian para siswa
dan pengelola sekolah terhadap mata pelajaran yang berkaitan dengan sains,
teknologi, dan kebutuhan fisik jauh lebih besar bila dibandingkan dengan mata
pelajaran kemanusiaan (humaniora). Ketiadaan laboratorium bahasa, sanggar seni,

92

buku bacaan kesastraan, dan berbagai fasilitas lain yang diperlukan dalam
pengajaran merupakan bukti konkret adanya kepincangan tersebut. Jadi, sejauh ini
sastra di sekolah masih kurang aktif dalam pembelajaran di sekolah. Dalam artikel
ini, penulis lebih fokus mengenai sastra di Sekolah Dasar (SD) yang
pembelajarannya masih kurang memusat dalam penerapan sastra berlandas pada
kreativitas siswa.

Contoh sastra yang akan penulis bahas mengenai prosa. Menurut Zainudd in
(1991), prosa adalah pengungkapan peristiwa secara jelas dengan penguraik a n
seluruh pikiran dan juga seluruh perasaan serta tidak terikat syarat-syarat tertentu
dalam sebuah karya sastra. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
(KBBI) Prosa adalah karangan bebas (tidak terikat oleh kaidah yg terdapat dalam
puisi). Prosa juga dibagi dalam dua bagian, yaitu prosa lama dan prosa baru, prosa
lama adalah prosa bahasa indonesia yang belum terpengaruhi budaya barat, dan
prosa baru ialah prosa yang dikarang bebas tanpa aturan apa pun.

Pengajaran prosa di SD dengan demikian berarti mengajarkan bagaimana
para siswa melihat permaslahan kehidupan kemudian dengan imajinasi dan
kreatifitas mereka bisa mencarikan pemecahannya. Pengajaran prosa, dalam hal ini
cerpen maupun novel selalu terkait dengan pengajaran unsur-unsur intrinsik karya
sastra itu sendiri. Salah satu unsur intrinsik yang akan di bahas adalah plot atau alur
atau jalan cerita.

Pertama, anak kita suruh melihat sebuah film atau sinetron, kemudia n
mereka di minta untuk mendata peritstiwa yang ada. Misalnya, anak di minta
mengamati film yang berjudul, Ayah Kenapa Aku Berbeda. Anak bisa menangkap
atau menemukan peristiwa dalam sebuah kehidupan. Durasi yang lama bisa kita
niatkan bahwa film itu tidak hanya untuk pengajaran masalah plot saja, bisa yang
lainnya. Jadi memang hari itu anak hanya kita ajak untuk nonton film dengan tugas
yang telah kita siapkan.

Namun terjadi Hambatan dalam mencapai keterampilan menulis prosa
khususnya menulis karangan di Sekolah Dasar, pada saat pembelajaran berlangs ung
guru cenderung menggunakan metode pembelajaran ceramah dengan sedikit

93

menerapkan metode tanya jawab dan pemodelan. Kedua, guru jarang menggunak a n
media lain selain papan tulis dalam setiap pembelajaran. Ketiga, siswa kurang aktif
bertanya apabila ada materi yang kurang dimengerti. Oleh karena itu, keterampila n
menulis karangan siswa masih perlu ditingkatkan. Ketidaktercapaian nila i
ketuntasan terlihat pada ketidakmampuan siswa dalam menggunakan pilihan kata
dan sulitnya mengembangkan gagasan/ide secara teratur dan sistematis.

Kendala-kendala yang dihadapi siswa ketika sedang menulis prosa antara
lain siswa sulit memunculkan dan mengembangkan ide, sulit mengekspresikan ide,
pikiran, perasaan, dan imajinasi yang akan mereka tuangkan dalam prosa. Siswa
mengalami kesulitan untuk menyesuaikan tema dengan isi prosa. Siswa juga
mengemukakan tentang kesulitannya dalam menggunakan diksi, citraan dan gaya
bahasa. Mereka kesulitan untuk menemukan pilihan kata yang tepat, citraan dan
gaya bahasa yang sesuai dengan objek yang dihadapi, sehingga mereka merasa
kurang maksimal dalam menulis prosa.

Terdapat beberapa faktor yang menjadi kendala dalam penulisan prosa.
Faktor tersebut antara lain siswa kurang memiliki minat dan motivasi dalam
menulis prosa, pembelajaran menulis prosa hanya dilakukan dengan teori sesuai
dengan buku paket. Guru menjelaskan materi tentang menulis prosa kemudia n
memberi tugas kepada siswa untuk langsung praktik menulis prosa. Masih ada
beberapa faktor lain yang menjadi kendala dalam penulisan prosa. Salah satu faktor
tersebut adalah siswa menganggap bahwa kegiatan menulis prosa adalah kegiatan
yang sulit karena dalam menulis prosa mereka harus menguasai kebahasaan,
mampu berpikir kreatif dan imajinatif.

Oleh karena itu, suasana belajar-mengajar tentang keterampilan menulis
menjadi membosankan dan siswa merasa jenuh mengikuti proses pembelajara n
tersebut. Selain itu, Siswa belum mampu mengidentifikasi sebuah peristiwa
ataupun gambaran yang ada dalam pikiran masing masing untuk dirangkai ke dalam
bentuk tulisan atau dalam kata lain siswa kurang dapat menggali ide dan gagasan.
Padahal guru sudah menentukan tema tulisan secara jelas. Namun, masih saja
kegiatan menulis, khususnya menulis karangan, termasuk dalam aktivita s
pembelajaran yang memprihatinkan.

94

Agar kemampuan siswa dalam menulis meningkat, diperlukan adanya
upaya guru untuk menciptakan suatu kondisi belajar-mengajar menulis yang dapat
memberi peluang munculnya aktivitas dan kreativitas siswa yang tinggi dalam
bentuk pelatihan-pelatihan menulis yang konkret, efektif, dan kreatif. Dalam hal
ini, metode pembelajaran yang tepat menjadi penting dan dibutuhkan. Guru dituntut
kreatif dalam menghadirkan metode alternatif baru untuk menstimulus siswa agar
mudah menuangkan imajinasinya yang pada akhirnya mampu menulis prosa secara
estetis.

Permasalahan-permasalahan siswa dalam menulis prosa ini perlu
ditindaklanjuti, salah satunya dengan mengadakan penelitian tindakan untuk
memperbaiki masalah tersebut. Melihat salah satu faktor lemahnya kemampua n
siswa dalam menulis prosa karena sulitnya siswa untuk mengekspresikan ide dan
gagasanya dengan pilihan kata yang tepat dan gaya bahasa yang sesuai, maka perlu
menghadirkan sesuatu yang baru dalam pembelajaran. Kemampuan memunculk a n
ide dapat diperoleh melalui berbagai cara. Salah satunya adalah dengan
menggunakan metode field trip yang memanfaatkan objek di luar sekolah.

Metode field trip atau karya wisata merupakan metode pembelajaran yang
menyenangkan, di mana siswa diharuskan belajar di luar kelas atau outdoor. Bukan
sekadar keluar kelas lalu belajar, namun dalam field trip siswa diajak untuk meliha t
dan mengamati objek yang dipelajari secara langsung. Pernyataan tersebut
mengandung makna bahwa field trip adalah suatu strategi umum yang digunaka n
oleh pendidik untuk membawa pengalaman belajar yang ada di luar sekolah ke
dalam sekolah. Tempat pelaksanaan field trip tidak harus tempat yang jauh, ketika
tempat tersebut memiliki objek dan sumber informasi yang lengkap terkait materi
pelajaran, tempat tersebut dapat digunakan sebagai field trip.

Peningkatan keterampilan menulis dengan menggunakan metode field trip
dilakukan karena metode pengajaran dan pembelajaran yang digunakan dengan
metode ceramah dan media contoh-contoh belum mengalami perubahan terhadap
hasil pekerjaan siswa dalam menulis. Masalah lain yang muncul untuk siswa akan
berpresepsi negatif terhadap materi menulis karena metode dan media yang
digunakan terkesan membosankan serta membingungkan. Agar tujuan dan hasil

95

pembelajaran menggunakan metode pembelajaran Field Trip dapat sesuai dengan
yang diharapkan. Oleh karena itu, perlu diketahui langkah-langkah penerapannya
yang dapat dilihat dari langkah- langkah pembelajaran menulis prosa dengan
menggunakan model pembelajaran Field trip sebagai berikut.

A. Masa persiapan guru perlu menetapkan:

1. Perumusan tujuan instruksional yang jelas.
2. Pertimbangkan memilih teknik itu.
3. Keperluan menghubungi pemimpin obyek yang akan dikunjungi, untuk

merundingkan segala sesuatunya.
4. Penyusunan perencanaan yang masak, membagi tugas-tugas dan

menyiapkan sarana.
5. Pembagian siswa dalam kelompok, mengirim utusan.
B. Masa pelaksanaan Field Trip atau karya wisata:
1. Pemimpin rombongan mengatur segalanya dibantu petugas-petugas lainnya.
2. Memenuhi tata tertib yang telah ditentukan bersama.
3. Mengawasi petugas-petugas pada tiap seksi, pula tugas-tugas kelompok sesuai

tanggung jawabnya.
4. Memberi petunjuk bila perlu.
C. Masa kembali dari karya wisata:

1) Mengadakan diskusi mengenai segala hal hasil dari karya wisata itu.
2) Menyusun laporan, atau paper atau kesimpulan yang diperoleh.
3) Tindak lanjut dari hasil kegiatan karya wisata seperti; membuat grafik,

gambar, model-model, diagram, alat-alat lain dan sebagainya.

Berdasarkan pemaparan langkah-langkah pembelajaran menggunak a n
metode Field Trip dapat disimpulkan metode Field Trip memiliki keunggula n
sebagai berikut:
1. Siswa dapat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan yang dilakukan oleh para

petugas pada obyek karya wisata itu, serta mengalami dan menghayati langsung
apa pekerjaan mereka. Hal itu tidak dapat didapatkan di sekolah sehingga

96

kesempatan tersebut dapat mengembangkan bakat khusus atau keterampila n
khusus.
2. Siswa dapat melihat berbagai kegiatan para petugas secara individu maupun
kelompokdan dihayati secara langsung, yang akan memperdalam pengalama n
mereka.
3. Dalam kesempatan ini siswa dapat bertanya jawab secara langsung, sehingga
dapat menerapkan teori atau mengecek kebenaran teori yang telah diajarkan di
sekolah.
4. Siswa dapat memperoleh bermacam-macam pengetahuan dan pengalaman yang
terintegrasi.

Selain keunggulan dari metode Field Trip atau karya wisata. Metode ini juga
memiliki keterbatasan yang perlu diperhatikan atau diatasi agar pelaksanaan teknik ini
dapat berhasil guna dan berdaya guna, yaitu karya wisata dilakukan di luar sekolah,
sehingga mungkin jarak tempat sangat jauh dari sekolah, maka perlu menggunakan
transport, hal itu pasti memerlukan biaya yang besar dan waktu yang panjang. Biaya
yang tinggi kadang-kadang tidak terjangkau oleh siswa maka perlu bantuan dari
sekolah.

Kesimpulan
Keterampilan berbahasa ada empat aspek, yaitu keterampilan menyimak,

berbicara, membaca, dan menulis. Menyimak dan membaca merupakan aspek
reseptif, sementara berbicara dan menulis merupakan aspek produktif. Dalam
aktivitas berbicara, si pengirim pesan mengirimkan pesan dengan menggunak a n
bahasa lisan. Sementara, dalam menyimak si penerima pesan berupaya memberi
makna terhadap bahasa lisan yang disampaikan si penyampainya. Dalam kegiatan
menulis, si pengirim pesan mengirimkan pesan dengan menggunakan bahasa tulis.
Di pihak lain, dalam membaca si penerima pesan berupaya memberi makna
terhadap bahasa tulis yang disampaikan penulisnya. Dalam mengirimkan pesan,
antara lain si pengirim harus memiliki keterampilan dalam melakukan proses
encoding. Sebaliknya dalam menerima pesan si penerima harus memilik i
keterampilan dalam melakukan proses decoding.

97

Keterampilan berbahasa bermanfaat dalam melakukan interaksi komunikas i
dalam masyarakat. Banyak profesi dalam kehidupan bermasyarakat ya ng
keberhasilannya, antara lain bergantung pada tingkat keterampilan berbahasa yang
dimilikinya, misalnya profesi sebagai manajer, jaksa, pengacara, guru, penyiar, dai,
wartawan, dan lain-lain.

Latihan menulis karangan dilakukan sesuai dengan langkah-langk a h
menulis yang telah disampaikan. Keterampilan menulis prosa adalah keterampila n
untuk menuangkan gagasan atau ide dalam bentuk menulis prosa.

98

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERBICARA
MELALUI ROLE PLAYING

Inayah Nur Ashari, Nurpindasari Sitorus, Rima Puji Astuti, Wulan Maisari

PENDAHULUAN
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih

menuntut keterampilan yang kita miliki untuk mengikuti perkembangan zaman.
Perkembangan yang semakin canggih ini banyaknya manusia berpikir kritis dan
inovatif dalam berpikir. Lembaga pendidikan harus mampu mengantisipas i
perkembangan yang ada serta pendidikan harus mampu mengantisipas i
perkembangan tersebut dengan terus mengupayakan suatu program yang sesuai
dengan perkembangan zaman, situasi, kondisi dan kebutuhan peserta didik. Salah
satu keterampilan yang dibutuhkan peserta didik yakni keterampilan berbicara.
Keterampilan berbicara penting untuk mempermudah berkomunikasi dengan orang
lain. Keterampilan berbicara yang terbatas (tidak terampil) akan mengganggu
kelangsungan proses berkomunikasi antar pemberi pesan dan penyimak. Dengan
berbicara yang baik dan benar maka maksud pesan yang ingin disiapkan pemberi
pesan dapat diterima dengan baik oleh penyimak.

Keterampilan berbicara tidak datang begitu saja, tetapi perlu berlatih secara
berkala agar berkembang dengan maksimal. Keterampilan dapat diperoleh dan
dikuasai dengan jalan praktek dan latihan. Kemampuan berbicara ini dilatih dengan
tujuan untuk mempermudah memahami maksud yang disampaikan. Mela tih
keterampilan berbicara dimulai sejak dini dilingkungan rumah dan disekolah
tempat dimana siswa belajar secara formal. Kesulitan dalam berbicara seperti hal
nya kesulitan dalam menyimak disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satu faktor
yang menimbulkan kesulitan dalam berbicara adalah yang datang dari lawan
berbicara. Apabila lawan bicara tidak mampu mengungkapkan makna pembicaraan
yang ingin disampaikan maka komunikasi terputus dengan kata lain tujuan
komunikasi tidak tercapai. Kesulitan dalam menyimak adalah sebagaimana di

99

kemukakan oleh Underwood (1989:16-20) yang menyebutkan bahwa masalah
mendasar yang dihadapi pembelajar menyimak yaitu ketidakmampuan mengontro l
kecepatan tuturan pembicara, tidak adanya kesempatan mengulang tuturan,
keterbatasan kosakata pembelajar, kegagalan untuk mengenali tanda-tanda
pembicara, kesulitan menginterprestasikan wacana, ketidakmamp ua n
berkonsentrasi.

Bermain peran pada prinsipnya merupakan pembelajaran untuk menghadirk a n
peran yang ada dalam dunia nyata kedalam suatu pertunjukan peran didalam kelas
atau pertemuan yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar memberika n
penilaian terhadap pembelajaran yang sudah dilaksanakan, misalnya menila i
keunggulan maupun kelemahan, masing- masing peran tersebut dan kemudia n
memberikan saran atau alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran
tersebut.

Pembelajaran ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam
pertunjukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran. Role
playing adalah sejenis permainan gerak yang didalamnya ada tujuan, aturan dan
sekaligus melibatkan unsur senang (Jill Hadfield, 1986) dalam role playng, murid
dikondisikan pada situasi tertentu diluar kelas, meskipun saat itu pembelajara n
terjadi didalam kelas, menggunakan bahasa inggris. Selain itu, role playing sering
kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktifitas dimana pembelajar
membayangkan dirinya seolah-olah berada diluar kelas dan memainkan peran
orang lain.

Agar dapat membantu siswa secara maksimal dalam meningkatkan hasil
belajar dan mengurangi peran guru yang terlalu dominan dalam proses
pembelajaran, maka kesenangan dalam belajar itu sendiri perlu diperhatikan. Untuk
dapat menyusun kebutuhan tersebut, solusi yang harus dicapai yaitu dengan
menggunakan variasi, strategi pembelajaran, dan metode yang beragam dengan
melibatkan indera belajar dan harus sesuai dengan materi yang akan disampaika n
kepada siswa dalam pembelajaran bahasa indonesia. Terkait belum optimal hasil
belajar bahasa indonesia kelas IV MI NURUL ZANNAH, maka penulis berupaya
menerapkan metode bermain peran (role playing) sebagai salah satu alternatif

100


Click to View FlipBook Version