The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by junymona, 2022-06-01 03:51:44

SI KIJANG DARI PENDRIKAN (KUMPULAN CERPEN)

ilovepdf_merged

SI KIJANG DARI PENDRIKAN

(ANTOLOGI CERPEN)

Karya
Guru

Karyawan
Kepala Sekolah

Si Kijang dari Pendrikan Kidul
@Copyright Mandiri SD Pendrikan Kidul

Penulis
Guru, Karyawan, dan Kepala Sekolah

Editor
R. Tantiningsih

Perancang Kulit
Tim Kreatif SD Pendrikan Kidul

Perancang Isi
Tim Kreatif SD Pendrikan Kidul

Penerbit
Mandiri

Tahun 2023

KATA PENGANTAR

Puja Astuti kami haturkan kepada Hyang Maha Agung,
karena wara nugraha-Nya, telah memberikan sinar suci,
kebijakan, dan pencerahan sehingga terbit buku antologi
cerpen. Buku Antologi Cerpen dengan judul “Si Kijang dari
Pendrikan Kidul” ini hasil karya para guru, karyawan, dan Kepala
Sekolah. Di sela-sela aktivitasnya kami masih menyempatkan
diri untuk berkarya.

Cerpen dalam buku ini berisi tentang pengalaman sehari-
hari yang dikemas dalam bentuk cerita dan narasi. Peristiwa-
peristiwa yang unik, menyedihkan, mengharukan, dan
menggelitik menjadi hiburan dan inspirasi.

Penulisan cerpen ini mendapat dukungan dari berbagai
pihak. Untuk itu keluarga besar SD Pendrikan Kidul
mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ibu Guru dan staf
karyawan yang sudah bekerjasama dalam menulis karya dan
menerbitkan buku ini. Nyalakan semangatmu, salam berkarya
berbudaya.

Tim Penulis

DAFTAR ISI

1. Pembelajaran di Hari Ulang (Dwi Apriliya Subaeti)
2. Kebohonganku Kegelapanku (Ima Niva Eko Hastuti)
3. Karirku Berawal dari Sini (Ima Niva Eko Hastuti)
4. Sandal Coklat (Irfan Adhi Nugroho)
5. Indahnya Jadi Abdi (Irfan Adhi Nugroho)
6. Haji Gratis (Ali Ikhwan)
7. Cah Pondok Ika Setiyani)
8. Kaki Junymo Kemana (Juny Mona Morlina)
9. Menunggu itu Tidak Enak (Kusriyanto)
10. Si Kijang Dari Pendrikan Kusriyanto)
11. Aisyah Ketua Kelas (Sri Darti)
12. Dethu Ingin Naik Kelas (Sri Darti)
13. Summy Pelayan Millenial (Priyono)
14. Mabuk Darat (Ahmad Khoirul)
15. Hilang Mood (Dewi Puspitasari)
16. Sakit Itu Tidak Enak (Dewi Puspitasari)
17. Tugasku Seperti Akar (Arwan Setyo Edi)
18. Wanted ((Arwan Setyo Edi)
19. Mudik (Sevi Ardiani)
20. Jika Kutahu Engkau Tak Akan kulepas (Lilis Wuri

Listriyani)
21. Botol Minum Membawa Petaka (Desvy Karina)
22. Bisa Membaca (Sutirah)
23. Teman Baru (Hartono)
24. Cidera Menghancurkan Cita-Cita (Riski Setiyawan)
25. Sayur Saja Akur (Rustantiningsih)

Pembelajaran di Hari Ulang Tahun
(Dwi Apriliya Subaeti)

Selasa, 05 April 2022 adalah hari spesial bagi Bu April
karena genap berusia 27 tahun. Dengan kerendahan hatinya
beliau selalu berusaha membantu rekan-rekan
seperjuangannya. Meskipun sebagian besar melupakan ulang
tahunnya tapi beliau percaya bahwa kesibukan rekan kerjanya
adalah bagian dari rahmat Tuhan karena dengan demikian
beliau dikelilingi oleh orang-orang produktif.

Seperti biasa Bu April memasuki kelas 5A untuk mengajar
tematik. Saat membuka pintu, “Selamat ulang tahun Bu April,”
ucap anak-anak kelas 5A serempak.

Mereka berbaris sambil membawa bolu. Dengan penuh haru
Bu April menjawab, “Terima kasih, anak-anakku semuanya, doa
terbaik untuk kalian semoga menjadi anak yang sukses di dunia
dan di akhirat.”

“Ibu, tiup lilinnya dulu bu, panas ini bu!” pinta Gadis murid
terbawel di kelas 5A.

“Oke, oke, bismillah semoga segala kebodohan akan padam
bersama api ini,” doa Bu April penuh harap.

Setelah meniup lilin anak-anak diminta untuk duduk kembali
dan melanjutkan pembelajaran seperti biasa.

“Anak-anak coba kalian perhatikan video tentang manfaat
persatuan dan kesatuan berikut!” perintah Bu April.

“Baik, bu,” jawab anak-anak serempak.
Anak-anak nampak antusias menyimak video yang
menceritakan persahabatan siswa yang berasal dari suku Asmat,
suku Jawa, dan suku Minangkabau tersebut. Bu April sengaja
memilih tayangan video tersebut agar anak-anak semakin peduli
bahwa perbedaan yang ada di sekitarnya bukan menjadi
penghalang melainkan untuk melatih rasa persatuan dan
kesatuan untuk saling melengkapi dan menghargai satu sama
lain. Setelah melihat tayangan video tersebut Bu April meminta
anak-anak membentuk kelompok dan mengerjakan LKS yang
sudah disediakan.
“Bu, sepertinya kami sudah menerapkan persatuan dan
kesatuan ya bu tadi?” tanya Vahri.
“Oh, ya? coba Vahri jelaskan apa yang sudah Vahri dan
teman-teman lakukan?” pinta Bu April.
“Dari kemarin saya dan teman-teman bekerjasama untuk
menyiapkan ulang tahun Ibu, ada yang mengurusi kado,
mencari bolu, dan mengatur rencana,” Vahri mencoba
menjelaskan.
“Betul, sekali Vahri kalian jadi sudah tahu ya apa manfaat
dari persatuan dan kesatuan dari kejadian tersebut?” Tanya Bu
April lagi.

“Saya tahu Bu, dengan persatuan dan kesatuan maka
pekerjaan akan cepat selesai,” jawab Nico.

Bu April merasa bangga anak-anak kelas 5A sudah
memahami apa yang diajarkan pada hari itu. Dibalik perayaan
sederhana yang diberikan oleh anak-anak terselip pesan bahwa
pembelajaran kehidupan tidak hanya didapatkan dari buku
melainkan dari pengalaman nyata akan lebih mudah dipahami
oleh anak-anak.

Kebohonganku Kegelapanku
(Ima Niva Eko Hastuti)

“Taro, Tiko, Fika besok liburan sekolah kita piknik yuk!”
ajakku.

“Eh, ayo kita piknik!” jawab Tiko dan Fika.
“Piknik kemana enaknya guys?” tanya Taro dan Erna.
“Gimana kalau kita piknik ke Jogja? Kita nyewa mobil aja.
Gimana guys?” tanyaku.
“Okey guys, kita setuju!” sahut Taro, Tiko dan Fika.
Aku, Taro, Tiko, Erna, dan Fika adalah siswa salah satu
SMA terkenal di kota Semarang. Kita adalah sahabat, aku, Erna,
Taro, Fika, dan Tiko. Terkadang kita jalan atau nonton konser
bersama. Liburan semester 2 kita berencana akan piknik
bersama ke Jogja.
Akhirnya tiba terima rapor semester 2. Kita cukup senang
melihat hasil rapor. Nilainya sangat memuaskan dengan nilai di
atas 80. Setelah bermusyawarah, akhirnya kita sepakat pergi ke
Jogja seminggu setelah terima rapor. Dengan iuran Rp
200.000,00 per orang, kita menyewa mobil untuk ke Jogja.
Sebelum berangkat, aku pamit dengan orang tua kalau
ada piknik sekolah di Jogja. Padahal itu piknik sendiri karena
kalau aku ijin piknik sendiri pasti tidak diijinkan oleh orang
tuaku. Tibalah di hari Minggu kita piknik ke Jogja. Kita kumpul
di depan sekolah pukul 06.30. Aku juga mengajak pacarku.

Mobil sewaan dan teman-teman sudah datang. Tetapi aku kaget
begitu melihat mobil yang kita sewa tidak sesuai dengan
rencana. Mobil yang kita pakai seperti mobil tua.

“Kamu itu gimana sih, Taro? Masak kita ke Jogja naik
mobil tua gini?” tanyaku kepada Taro karena dia yang mencari
mobil.

“Maaf Fika, mobil yang rencana kita sewa harus masuk
bengkel,” Jawab Taro.

“Udah-udah ayo, kita berangkat sekarang!” Ajak Fika,
Erna, dan Tiko.

“Ya, udah ayo kita naik!” ujarku dengan perasaan
dongkol.

Di perjalanan, kita menikmati perjalanan. Aku duduk di
belakang sopir bersama pacarku. Kita ngobrol-ngobrol, tertawa
bareng sambil menikmati bekal yang kita bawa. Ketika melewati
daerah pegunungan, aku takjub melihat hamparan pegunungan
dengan pepohonan yang rimbun.

“Erna, lihat itu pegunungannya bagus banget ya!” ujarku
ke Erna.

Belum sempat Erna menjawab, tiba-tiba mobil yang kami
tumpangi masuk ke jurang. Aku merasakan tubuhku diangkat ke
atas oleh warga. Kepalaku sakit dan mengeluarkan darah yang
banyak sekali. Aku dan Erna dimasukkan ke dalam ambulan. Aku
tidak tahu apa yang terjadi kepada Erna. Yang aku ingat, Erna

saat itu teriak-teriak dan kakinya di atas kepalaku. Akhirnya aku
dan Erna dibawa ke rumah sakit di Semarang.

Sampai di rumah sakit, orang tuaku sudah datang dan
mereka sedih dan menangis melihat kondisiku. Dokter segera
memeriksa aku. Kepalaku diperiksa apakah aku mengalami
pendarahan atau tidak. Setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata
bagian korneaku sobek ke dalam karena terkena pecahan kaca.
Untuk itu dokter harus melakukan tindakan operasi. Dokter
memberi penjelasan kepada orang tuaku dan aku kalau setelah
operasi mata aku sudah tidak bisa berfungsi lagi. Seketika itu
aku langsung masuk ke kamar inap dan menangis sejadi-
jadinya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana aku harus
hidup dengan satu mata yang berfungsi normal.

Akhirnya aku menerima keputusan untuk operasi mata
dengan segala resikonya. Di hari yang sudah ditentukan, aku
masuk ke ruang operasi untuk pertama kalinya. Dokter
mengajak aku ngobrol supaya tidak tegang dan akhirnya dokter
melakukan operasi mata.
Operasi berjalan lancar dan aku dibawa ke kamar inap. Setelah
seminggu dirawat, aku diperbolehkan pulang dan selanjutnya
dilakukan rawat jalan. Setelah dokter menyatakan aku sudah
tidak ada harapan untuk bisa melihat lagi, rawat jalan
dinyatakan selesai.

Ya sekarang aku harus bisa menerima kenyataan pahit ini. Aku
harus hidup dengan satu mata yang berfungsi normal.
Kebohongan yang aku buat, membuahkan kegelapan bagiku.

Karirku Berawal dari Sini
(Ima Niva Eko Hastuti)

Menjadi ASN adalah impian semua orang. Banyak yang
menginginkan menjadi ASN bahkan ada yang sampai
menempuh jalur kotor dengan menyogok oknum-oknum yang
tentunya mereka tidak bisa dipercaya. Pekerjaan ASN dipandang
semua orang sebagai pekerjaan yang menjanjikan karena ketika
ASN sudah pensiun, mereka masih mendapatkan gaji dari
pemerintah.

Tentunya aku sangat menantikan menjadi ASN. Tak
mudah menjadi ASN. Butuh perjuangan hingga 14 tahun
lamanya. Ya, perjuangan dimulai dari tahun 2018. Kala itu aku
menjadi guru honorer di sebuah SD negeri. Waktu itu aku hanya
menuruti keinginan kedua orang tuaku. Orang tuaku bekerja
sebagai PNS di SD negeri maka anaknya harus menjadi guru SD
juga. Sebetulnya bertentangan dengan cita-citaku kala itu,
tetapi karena aku ingin berbakti maka aku kuliah di keguruan
dan bekerja di SD negeri. Kebetulan aku bekerja di sekolah yang
sama dengan tempat ayahku bekerja.

Saat itu tak banyak yang bisa aku harapkan dari
pekerjaan itu. Yang aku pikirkan hanya mencari sebuah
pengalaman. Gaji yang aku terima pun juga jauh dari kata layak
hanya Rp 300.000,00. Tapi aku tetap bersyukur karena dengan

uang itu aku bisa membayar angsuran motor. Aku membeli
motor dengan harapan aku bisa memberi les privat.

Saat itu aku sedang melanjutkan kuliah S1. Tiba-tiba
teman sekelasku menawarkan pekerjaan kepadaku. Di SD
tempat dia bekerja ada kelas yang kosong karena guru tersebut
purna tugas.

“Rin, kamu melamar di SD ku saja. Kebetulan ada guru
yang purna tugas bulan Mei. Kalau mau, aku sampaikan ke
kepala sekolahku,” ujar Reno.

“Memang bisa aku melamar di SD mu?” tanyaku.
“Ya bisalah. Nanti aku sampaikan ke kepala sekolahku.
Cepetan kamu segera buat surat lamaran nanti aku temukan
kamu ke kepala sekolahku,” jawab Reno.
“Ok, deh, aku akan buat surat lamaran. Kapan surat
lamarannya bisa aku berikan?” tanyaku.
“Besok Sabtu ya. Kamu langsung ke sekolahku saja.
Kalau sudah di depan, telpon aku,” jawab Reno.
“Ok, sampai ketemu besok Sabtu ya!” Sahutku.
Aku siapkan surat lamaran beserta berkas
pendukungnya. Tibalah di hari Sabtu. Aku bergegas mandi dan
memakai baju yang pantas untuk pekerjaan yang aku lamar.
Dengan mengendarai motor matic, aku melaju ke SD nya Reno.
30 menit aku sampai di SD tersebut. Sebuah SD yang terlihat
megah di tengah kota Semarang. Sebelum masuk gerbang, aku
telpon Reno terlebih dahulu.

“Ren, aku sudah di depan SD nih. Kamu keluar ya!”
ujarku.
“Ya, Rina. Tunggu sebentar. Aku akan keluar,” jawab Reno.

Reno keluar dan mempersilahkan aku untuk parkir di
tempat parkir yang sudah disediakan. Reno mengajak aku untuk
ketemu kepala sekolah. Aku memperkenalkan diri dengan
hormat sambil menyerahkan surat lamaran. Beliau membaca
surat lamaranku dan akhirnya beliau menerima aku bekerja di
SD ini sebagai guru kelas 1. Aku senang bukan main.

Akhirnya aku bekerja sebagai guru honorer di SD Suka
Maju. Gaji yang aku terima sama dengan di SD sebelumnya. Ah
tak apa bagiku. Aku masih bisa mencari tambahan dengan
menjadi guru les privat. Bahkan gaji yang aku terima lebih
banyak dari gajiku sebagai guru honorer.

Pemerintah membuka lowongan CPNS. Aku mencoba
mencari keberuntungan dengan mengikuti tes CPNS. Bahkan
aku sampai mengikuti tes tahap kedua di kota lain. Besar
harapanku untuk bisa lolos di tahap berikutnya karena usiaku
sudah batas maksimal untuk syarat pendaftaran CPNS. Hingga
saat pengumuman aku tak sabar untuk melihat hasilnya. Namun
kenyataan yang aku terima, aku tak lolos lagi di tahap
berikutnya.

Takdir berkata lain. Pemerintah membuka lowongan
PPPK. Entah mengapa aku sangat yakin akan lolos menjadi
PPPK. Aku belajar dan berdoa untuk menghadapi tes PPPK.

Waktunya tes. Aku segera mengerjakan dengan seksama dan
aku bisa mengerjakan semua tes tersebut. Tiga bulan setelah
tes, pengumuman hasil tes PPPK. Aku senang sekali akhirnya
aku lulus PPPK. Tiga bulan berikutnya, SK pengangkatan PPPK
diberikan. Tak terasa air mataku menetes saat menerima SK
PPPK. SK yang selama ini aku impikan dan karirku dimulai dari
sini, dari SK PPPK aku terima.

Sandal Coklat
(Irfan Adhi Nugroho)

Bukan tentara dan bukan polisi,
Coklat tua, coklat muda seragamnya,
Tongkat dan tali itu senjatanya,
Tri Satya - Dwi Satya itu pedomannya....

Bulan Februari ku sambut dengan nyanyian penuh suka
cita, terdengar suara angin dan burung yang silih berganti.
Setelah dua tahun vakum Kegiatan Pesta Siaga, syukur
alhamdulillah untuk tahun 2022 ini Kegiatan Pesta Siaga
diadakan kembali. Tidak lupa rasa syukur saya panjatkan
kepada Allah SWT yang telah meridhoi dan memberikan
kesempatan kepada Kwarda Jawa Tengah, Kwarcab Kota
Semarang, dan Kwaran Semarang Tengah untuk melaksanakan
kegiatan Pesta Siaga pada kali ini.

Surat edaran dari Kwarran Semarang Tengah ku terima,
bertuliskan informasi tentang kegiatan Pesta Siaga yang akan
diadakan pada bulan Maret. Pada hari berikutnya, saya dan
pembina luar di panggil ibu kepala sekolah Ibu Tanti selaku
Kamabigus mengajak kami ngobrol dari hati ke hati untuk
kegiatan Pesta Siaga ke depannya.

Tanpa berpikir panjang, saya dan Kak Said selaku
Pembina luar berkata, "Siap Bu, Insya Allah tahun ini lebih baik
dari tahun kemarin," kataku sambil tersenyum dan yakin bisa.

Pada Pesta Siaga tahun ini, Pangkalan kami mengirim 2
barung. Terdiri dari satu barung putri dan satu barung putra
yang masing-masing barung terdiri 8 anak. Hari pertama saya
dengan guru kelas 4 berkoordinasi untuk menentukan anak-
anak yang mewakili pangkalan kita. Dengan kriteria yang sudah
ditentukan, akhirnya terpilihlah 16 anak baik putra dan putri.
Selama kurang lebih dua minggu, kami bekerja ikhlas tanpa
batas dan menyakinkan anak untuk belajar, berlatih di rumah,
tenang, dan yakin bisa pulang bawa hadiah.

Awal Maret 2022 tidak terasa waktu saat lomba telah
tiba. Pagi sebelum lomba kami melakukan koordinasi dengan
Kambigus, pembina, guru, orang tua, dan anak untuk
pengecekkan perlengkapan. Sebelum berangkat kami berdoa
bersama.

Tiga puluh menit telah berlalu, kami siap untuk
berangkat ketempat lomba dan sampailah ke tempat tujuan.
Selama satu hari kami dan anak-anak menikmati suasana lomba
dengan senang dan perasaan yakin bisa.

Waktu sudah siang dan lomba telah selesai,
pengumuman lomba yang kutunggu. Syukur alhamdullilah kami
mendapat Juara Tergiat 1 Putri dan Juara Tergiat 3 Putra. Kami
semua sangat senang dan merasa seperti mimpi di siang bolong.

Barung Putri sendiri mewakili ke tingkat Kwarcab Kota
Semarang. Pada sore harinya yang berbalut hujan, saya
mewakili technical meeting di Tingkat Kwarcab Kota Semarang.
Pertengahan Maret 2022 Lomba Pesta Siaga Tingkat Kwarcab
Kota Semarang dilaksanakan.

Lomba yang dinanti telah tiba, seperti biasa kami
melakukan berdoa bersama, pengecekkan perlengkapan
seragam anak, dan koordinasi saat lomba. Pukul 9 pagi acara
Lomba dibuka Wakil Walikota Semarang, Bunda Hevearita
Gunaryanti Rahayu yang akrab dipanggil Bunda Ita.

Selama satu hari kami dan anak-anak putri
melaksanakan lomba dengan senang dan perasaan yakin bisa.
Waktu sudah sore dengan suasana hujan menunjukkan kegiatan
lomba telah selesai. Perasaan bercampur aduk dengan
dinginnya alam.

Pengumuman lomba Pesta Siaga Tingkat Kwarcab
dibacakan, syukur alhamdulillah barung putri mendapat Juara
Tergiat 2 Putri. Dinginnya alam hilang sirna kita rasakan, silih
berganti rasa senang dan bangga.

Hari Selasa yang tak terlupa, penyerahan seluruh piala
kejuaraan Lomba Pesta Siaga baik tingkat kecamatan maupun
kota ke pihak sekolah. Anak-anak merasa senang dan bangga
atas jerih payah yang ia lakukan.

Keesokannya harinya saya dan Kak said dipanggil
Kamabigus. Syukur alhamdulillah kami mendapat apresiasi dari

beliau dan tidak berpikir panjang saya belikan nasi rames untuk
saya berikan kepada tim guru serta sianya saya belikan Sandal
Coklat. Sandal coklat yang begitu berarti dan penuh kenangan
buat saya. Terima kasih Kamabigus atas perhatiannya terhadap
Pramuka di Sekolah kita. Salam Kerja Keras - Ikhlas – Tuntas!

Indahnya Jadi Abdi
(Irfan Adhi Nugroho)

Marhaban Ya Ramadhan....
Selamat datang Bulan Ramadhan, Bulan Agung yang
penuh berkah yang berlapang pahala yang kita tunggu -tunggu
kedatangannya. Hati terasa senang dan gembira untuk
menjalaninya.
Di bulan Ramadhan yang penuh Rahmat dan Hidayah ini,
mari kita lakukan dengan sebaik-baiknya. Syukuri dan jalani saat
hati yang berbicara, terasa berat dan malu saat kita terlintas
berpikir serta kita bayangkan saat kita diam. Terdengar suara
adzan ashar waktu sholat ashar telah datang kulangkahkan kaki
menuju musholla.
Sholat sunnah dan Ashar ku kerjakan, terdengar suara
kaki menuju ke arahku. Pak Haji Karjan menuju menghampiri
duduk di sebelahku, beliau salah satu pengurus musholla,
menyapaku dengan hangatnya.
"Mas Guru Adhi, ini saya mewakili musholla meminta
tolong Mas Adhi untuk bantu-bantu di musholla selama bulan
Ramadhan ini, "katanya.
"Maksudnya bagaimana pak? Maaf saya kurang jelas."
"Begini Mas Guru, minta bantuannya untuk mengisi ngaji
anak, membantu menyalurkan takjil saat berbuka, kultum

(kuliah tujuh menit) saat sholat tarawih, dan dilanjut tadarus Al
Quran."

Aku terdiam sejenak, tanpa berpikir panjang saya jawab,
“Ya Pak, saya Insya Allah saya bisa dan siap laksanakan."

Hari pertama puasa di Bulan Ramadhan. menit berganti
jam terus berputar, tak terasa waktu menunjukkan jam 3 sore
terdengar suara adzan ashar berkumandang. Ku ambil sarung
dan sajadah lekas kulafalkan basmallah dengan kulangkakan
kaki menuju musholla.

Waktu menunjukkan pukul 4 sore, anak-anak datang
satu persatu menuju musholla. Ku awali dengan Basmallah
membuka kegiatan mengaji, kulihat wajah dengan senyuman
anak-anak calon penghuni surga dan Kusapa dengan semangat
pembelajaran ngaji.

Waktu silih berganti, menunjukkan waktu mendekati
buka puasa, dan kuakhiri pembelajaran ngaji kali ini. Hidangan
makanan minuman silih berganti datang dari donatur takjil. Ku
langkahkan kaki dan kuambil plastik untuk tempat takjil untuk
diberikan anak-anak.

Syukur alhamdulillah pembagian takjil berjalan dengan
lancar. Suara Adzan Maghrib berkumandang waktu buka telah
tiba. Kuambil segelas teh hangat untuk menghangatkan tubuh
yang tadi sempat gemetar.

Kulangkahkan kaki pulang ke rumah untuk berbuka
puasa dengan keluarga dilanjutkan sholat Maghrib berjamaah.

Waktu menunjuklan pukul 7 malam terdengar suara Adzan Isya,
waktunya melaksanakan rukun Islam ke 2. Waktu terus
berjalan, tidak terasa sholat isya dan tarawih sudah selesai, dan
lanjut menata tempat untuk tadarus Al Quran. Syukur
alhamdulillah kegiatan hari pertama puasa di Bulan Ramadhan
berjalan lancar dan diberikan kemudahan.

Ya Allah Ya Rabbi, berikanlah kami kesehatan,
kelancaran, keikhlasan, keberkahan-Mu hingga hari
kemenangan, dan dipertemukan kembali bulan Ramadhan
tahun depan.

Haji Gratis
(Ali Ikhwan)

Kegiatan sehari-harinya disibukkan dengan ngaji,
mengajar anak-anak hingga manula agar mereka bisa membaca
Alqur'an. Dia selalu teringat pesan gurunya ketika masih belajar
dipondok pesantren Futuhiyyah Mranggen, KH.MS.lutfil hakim,
bahwa manusia hidup itu harus diisi dengan belajar atau
mengaji di manapun dan kapanpun.

Jika sudah tidak mengaji ya harus mengajar mulang
ngaji nanti hidupmu dan rezekimu akan dijamin oleh Allah SWT.
Begitu pesan sang guru selalu terngiang ditelinganya.

Kemudian ia menikah dengan Nurul Chasanah
perempuan idaman di desa Sambirejo Gayamsari Semarang.
Saat itu masyarakat baru proses membangun masjid Al-Hidayah
Jolotundo di mana dia didaulat sebagai imam masjid tersebut.

Beberapa tahun kemudian istri tercinta diterima PNS
Kemenag dulu bernama DEPAG. Anugrah juga beberapa tahun
berikutnya mendapat sertifikat pendidik. Tunjangan pertama
digunakan mendaftar kuota haji.

Sementara dia sebagai suami masih kuliah S1 di UIN
sambil bekerja. Malam hari sebagai security di sebuah RS
kandungan daerah Plamongan Indah dan kegiatan mengajar
ngaji dimasjid Al-Hidayah tetap berjalan.

Setelah lulus sarjana PAI dan diterima mengajar di SMK
Swasta. Ya begitulah anak-anak SMK swasta kenakalannya
sungguh membuat para guru harus bersabar.

Lagi-lagi solusinya adalah anak diajak mengaji belajar
iqro' dan tuntunan sholat. Ketika pulang ke rumah hari-harinya
diisi dengan mengajar ngaji di masjid juga mengajar ngaji di
musholla.

Pemilik perusahaan farmasi rumahnya tidak jauh dari
masjid Al-Hidayah. Ketika itu selesai mengajar ngaji dan
berjamaah Isyak, pimpinan perusahaan farmasi tersebut
menemuinya untuk menyampaikan sesuatu hal yg penting.

H.Santosari nama Pimpinan perusahaan farmasi
PT.Kinarya berkata, “Pak maaf saya ingin menyampaikan
sesuatu hal jika njenengan berkenan!”

“Nggih, monggo Pak Haji,” jawabnya.
H. Santo, begitulah panggilannya di kampung. Beliau
bilang, “Pak saya bermimpi ketemu njenengan di samping
Ka'bah seminggu yang lalu, apakah Bapak mau jika saya
daftarkan umroh?”
Dia kaget luar biasa seperti orang bingung
menjawabnya.
“Maaf Pak, apakah boleh jika saya minta uangnya untuk
daftar ibadah haji saja karena istri saya sudah daftar haji
beberapa tahun lalu siapa tahu Allah SWT berkehendak
memberangkatkan bareng dengan istri.”

Dan Alhamdulillah beliau berkenan. Akhirnya dia
didaftarkan haji dan dengan izin Allah dapat berangkat ibadah
haji. Lima bulan berikutnya menerima SK mengajar sebagai
guru Non ASN SDN Pendrikan Kidul Kota Semarang.

Berkah mengaji bisa berangkat ke Mekah dan Madinah
untuk tunaikan rukun Islam kelima ibadah haji, semoga mabrur
dan mabruroh.

Cah Pondok
(Ika Setiyani)

Hari Jumat adalah saat yang sangat dinanti-nanti oleh
para santri. Karena saat itulah mereka libur dari kegiatan pondok
dan sekolah, mereka dapat bebas melakukan apa saja yang
mereka suka. Dengan suasana yang seperti biasa teriakan-
teriakan santri yang bercanda. Kesibukan santri yang bersih-
bersih, antri kamar mandi yang panjang, dan ada juga yang
bermalas-malasan tidur di tikar.

Suasana berubah seketika air kran di pondok mati, yach,
hal yang biasa dilakukan para santri mengungsi mandi ataupun
mencuci ke rumah tetangga, atau di rumah santri yang dekat
dengan pondok. Bagaimanapun itu sudah menjadi kebiasaan
yang sering terjadi.

Sore itu dari kejauhan datanglah santri baru bersama
dengan keluarganya. Hal yang biasa terjadi bila ada santri baru
pastinya pengurus pondok akan mencarikan kamar yang masih
bisa menampung santri baru tersebut. Setelah mendapat kamar,
sudah menjadi tugas para santri lama menyambut dan
mengenalkan lingkungan pondok dengan tujuan supaya santri
baru merasa betah dan nyaman di pondok kami. Saat keluarga
santri baru berpamitan, air mata mengucur deras di pipinya
bagaikan sebuah air terjun yang mengalir dari matanya.

Keesokan harinya, santri baru tersebut menangis, karena
dia tidak terbiasa dengan semua aturan yang baru dijumpai di
tempat baru. Dia harus mulai beradaptasi dengan lingkungan
baru. Karena semua aktivitas yang ada di pondok serba antri.
Berawal dari mandi, mengaji, makan, mencuci, dan setrika
semua harus antri. Belum lagi tatapan dan ucapan mbak ndalem
yang tidak enak dihati dan pengurus yang selalu menegur anak
yang tidak mengikuti kegiatan pondok. Bahkan kadang yang
membuat mereka tidak betah karena keterbatasan dalam ilmu
agama yang dimiliknya. Sehingga merasa tidak bisa mengikuti
kegiatan pondok.

Setelah jamah salat subuh semua santri antri mengaji
Alquran sama abah. Walaupun dengan nada yang keras abah
selalu menegur santri yang salah saat mengaji. Dengan rasa
takut bahkan banyak yang sampai menangis mendengar cara
menegur abah yang sedikit keras. Mungkin maksud tujuan abah
agar para santri tidak sembarangan dalam belajar Alquran,
karena itu bekal di dunia dan akheratnya.

Biasanya setiap pagi hari setelah mengaji tiap kamar
pasti ada tugas piket untuk membersihkan kamarnya masing-
masing. Kalau untuk membersihkan lingkungan pondok
dilakukan setiap hari Jumat. Para santri belajar untuk selalu
menjaga kebersihan lingkungan pondok agar terhindar dari
penyakit. Abah sering bilang seseorang akan disebut sebagai

santri bila dia sudah sakit gatal-gatal. Kedengarannya tidak
masuk akal tapi begitulah adat di pondok Al-Badriyyah.

Bagi yang bersekolah di Madrasah Tsanawiyah (SMP)
dan Madrasah Aliyah (SMA) setiap hari berangkat sekolah jam
07.00 – 13.00. Dengan berjalan kaki mereka berangkat ke
sekolah bersama-sama. Walau dengan mengantuk dalam
menerima pelajaran dari bapak ibu guru, tapi semua guru
memakluminya karena padatnya kegiatan di pondok. Bahkan
para guru sering bilang kalau “cah mondok ki mesti ngantukan”
(anak pondok pasti sering mengantuk). Lebih istimewanya lagi
setiap UAS ataupun UKK mereka selalu belajar tengah malam
setelah salat tahajud.

Bila ada santri yang sakit tentunya teman sekamar
ataupun teman dekatnya pasti akan merawatnya. Bila sakitnya
parah atau tidak kunjung sembuh-sembuh, dengan sukarela
pengurus akan mengantar pulang ke rumahnya. Hal itu sudah
menjadi kebiasaan di pondok untuk belajar berempati terhadap
sesama.

Dengan kata lain semua peraturan yang begitu ketatnya
dan banyaknya kegiatan pondok membuat para santri belajar
untuk bersabar, disiplin, bertanggung jawab, berempati
terhadap sesama dan menjadi orang yang dapat dipercaya oleh
orang lain.



Kaki Junymo Kemana
(Juny Mona Morlina)

Dunia pendakian waktu itu memang baru menjadi bulan-
bulanan mahasiswa. Mahasiswa dari berbagai macam jurusan
ingin merasakannya. Tak terkecuali aku dan "geng"ku, Kece dari
Lahir. Begitulah kami menyebut diri kami, 4 orang mahasiswa
yang terdiri dari 2 cewek dan 2 cowok semester 3 jurusan
Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah
Yogyakarta.

Kami pun ingin merasakan sensasi tadabur alam yang
satu ini. Setelah menimbang dan memikirkan, Gunung Sumbing
via jalur Lamuk adalah gunung dan jalur pendakian pilihan kami.
Beresiko memang, karena jalur Lamuk adalah jalur pendakian
baru dan tracknya bisa dibilang agak ekstrim. Tapi tetap tak
menyurutkan semangat dan ego kami untuk menjajalnya.

Rencana demi rencana kami susun, perlengkapan dan
perbekalan pun juga kami siapkan. Masing-masing dari kami
membawa sebuah carrier berkapasitas 15-40L berisikan
perlengkapan dan perbekalan pribadi. Dengan bermodal niat
dan tekad kami pun berangkat.

Kami berangkat dari Kota Jogjakarta menuju jalur
pendakian Gunung Sumbing di Kota Temanggung dengan
menggunakan motor. Perjalanan memakan waktu kurang lebih

2 jam. Selama perjalanan aku merasa sangat exited dan tidak
sabar untuk segera sampai di basecamp pendakian.

Sesampainya di basecamp kami segera melakukan
pendaftaran serta pendataan untuk kepesertaan pendakian ini.
KTP menjadi data utama dalam pendakian. Pendataan dilakukan
untuk memudahkan petugas apabila terjadi hal-hal yang tidak
diinginkan, seperti terpencar dari rombongan, hilang,
mengalami hipotermia, dan lain sebagainya. Setelah
pendaftaran clear kami beristirahat sejenak di sebuah warung
kopi untuk sekedar mengisi kembali daya kami yang sedikit
berkurang saat di perjalanan menuju basecamp.

Matahari sudah mulai condong ke barat, yang
menandakan hari sudah semakin sore. Kami bergegas untuk
memulai pendakian. Dari basecamp menuju pos 1 pendakian
ternyata ada armada yang disediakan, yaitu mobil pick up.
Untuk aku yang baru pertama kali juga naik mobil pick up sangat
menikmati momen ini. Angin sepoi-sepoi dan pemandangan
kanan kiri perkebunan milik warga semakin menambah
kenikmatan momen ini.

Akhirnya kami sampai di pos 1 dan pendakian yang
sesungguhnya dimulai. Diawali dengan doa bersama kami
memulai pendakian ini. Langkah demi langkah kami tempuh.
Matahari sudah semakin turun ke persemayamannya. Rasa lelah
mulai aku rasakan, padahal baru beberapa menit kami berjalan.
Saat itu aku sempat merasa ragu untuk meminta istirahat,

namun sepertinya temanku ada yang sadar dengan mukaku
yang sudah mulai kemerahan karena lelah.

"Mau istirahat dulu Jun?" Kata Fahmi, salah satu
temanku

"Mmm, nanti deh, bentar lagi," sahutku.
"Oke, inget kalo capek bilang. Jangan malu. Istirahat
satu, istirahat semua!" tambah Fahmi tegas.
"Siap!" kataku semangat.
Kami melanjutkan pendakian, beberapa menit kemudian
aku meminta untuk istirahat, semuanya setuju. Kami istirahat
sekenanya tak lupa mengisi cairan tubuh yang hilang, dengan
meneguk air minum.

"Istirahat 2 lagu, ya!" kata Faza mulai memutar lagu dari
ponselnya. Kami semua cuma mengacungkan jempol tanda
setuju.

Dua lagu sudah berlalu, tanda waktu istirahat sudah
selesai. Perjalananpun kami lanjutkan. Oh ya, for your
information saat itu hanya rombongan kami yang lewat jalur
Lamuk, karena jalur baru jadi belum banyak yang mengetahui
jalur tersebut. Tapi ada beberapa warga sekitar yang melakukan
pendakian juga untuk sesuatu hal, ada yang bekerja,
sembahyang, dan lain sebagainya.

Hari semakin gelap, suasana sedikit mencekam, karena
tidak ada penerangan lain selain dari headlamp dan juga senter

kami masing-masing. Udara semakin dingin, angin juga
berhembus kencang seperti badai. Akhirnya kami memutuskan
untuk bermalam di pos 4 dan melanjutkan perjalanan ke puncak
besok paginya. Kami sempat kesulitan membangun tenda
karena badai. Aku yang mulai kedinginan hanya duduk di
sebuah batu besar sambil melihat teman-temanku membangun
tenda untuk kami bermalam.

“Jun, sini masuk ke tenda aja!” kata Roy mulai kasihan
melihatku kedinginan.

“Wkwkw yang bener aja, entar kalian makin susah
bangun tendanya,” sahutku.

“Engga, malah lebih gampang. Tendanya biar gak
banyak gerak,” tambah Fahmi.

“Hahah oohhh ceritanya buat ganjel, mmm oke, deh,”
kataku sambil masuk ke tenda.

Akhirnya tenda sudah berdiri dengan sempurna, kami
mulai beristirahat dan bersiap melanjutkan perjalanan esok hari.
Malam sudah kami lewati dengan sangat tenang, isu-isu tentang
keseraman di gunung yang aku dengar seperti diganggu hewan
buas dan makhluk halus tidak aku rasakan pada malam itu. Aku
keluar tenda dan melihat matahari sudah bersiap untuk
menjalankan tugas hari itu. Melihat matahari dari ketinggian
kurang lebih 2000 mdpl sangat-sangat indah ditambah
bentangan awan-awan di sekitar kami menambah keindahan

pagi itu. Sepertinya itu adalah matahari terbit terindah yang
pernah aku lihat.

“How great is our God. Nikmat mana lagi yang kamu
dustakan Jun,” gumamku sambil terpana melihat pemandangan
pagi itu.

Sebelum melanjutkan perjalanan kami menyempatkan
untuk sarapan dan bebersih diri terlebih dahulu. Tak ketinggalan
kami juga berfoto untuk mengabadikan momen pagi itu. Yup,
‘ritual’ pagi sudah selesai dan kami siap melanjutkan perjalanan
menuju puncak. Perjalanan ke puncak kami hanya membawa
perbekalan seadanya, perlengkapan yang kurang diperlukan
kami tinggalkan di tenda. Seperti biasa kami memulai perjalanan
dengan berdoa bersama.
Waktu demi waktu berlalu, aku semakin tidak sabar untuk
segera sampai ke puncak. Namun, di perjalanan kami sedikit
mengalami kendala yaitu saat melewati track seperti tebing
yang di bawahnya adalah jurang. Watu Ondo, yaa itu adalah
nama track tebing yang akan kami lewati. Agak takut, tapi
teman-temanku sangat support dan memberiku semangat.

“Waduh, ini naik gunung atau panjat tebing, sih? Oohh
ini adalah panjat tebing di gunung wkwwk!” kataku pada diriku
sendiri.

Fahmi adalah orang pertama yang mencoba memanjat
tebing tersebut, dan berhasil. Disusul Faza, dan aku adalah

orang ketiga untuk itu. Seperti yang kalian sudah tebak, aku
sedikit kesulitan untuk memanjat tebing itu.

“Yuk Jun, pegang batu ini trus kakimu ke situ,” kata
Fahmi dari atas berusaha mengarahkan langkahku.

Aku mengikuti instruksi dari Fahmi, namun aku juga
sempat ragu untuk melangkahkan kakiku.

“Ini kaki Junymo kemana?” celetukku panik, saat aku tak
tahu harus kemana lagi aku melangkahkan kaki.
“WKWWKWKWWKWK!” terdengar gelak tawa dari teman-
temanku karena celetukanku.

Singkat cerita aku berhasil melewati tebing tersebut. Di
atas tebing tersebut terhampar padang rumput yang sangat luas
dan it looks so beautiful. Jadi aku merasa perjuanganku
memanjat tebing tersebut terbayar lunas. Lagi-lagi tak lupa kami
mengabadikan setiap momen itu. Puas menikmati padang
rumput kami melanjutkan perjalanan menuju puncak. Sampai
pada akhirnya kami mencapai puncak Gunung Sumbing yaitu
pada ketinggian 3.371 mdpl. Sungguh pengalaman pertama
yang sangat mengesankan, menyenangkan, menegangkan, dan
pastinya bikin ketagihan.

Menunggu itu Tidak Enak
(Kusriyanto)

Ujian sekolah sudah dimulai hari Senin,18 april dan
berakhir tanggal 22 april 2022. Seperti biasa ,mereka diantar
dan dijemput orang tua masing-masing. Pada hari pertama aku
bertugas di ruang II bersama Bu Ika Setiani. Setelah kubagikan
soal kepada semua siswa mereka serius membaca dan
mengerjakan soal yang di meja masing-masing.

Aku menulis berita acara secara lengkap, kemudian
kuedarkan presensi peserta ujian sekolah satu persatu mereka
tanda tangan. Di mulai dari siswa nomor absen satu sampai
terakhir secara urut bergantian. Tak lupa aku dan bu Ika
menandatangani berita acara dan presensi yang sudah
ditandatangani siswa.

Kira-kira 45 menit waktu berjalan pandanganku tertuju
pada salah satu siswa yang ada di pojok depan nomer absen
satu, namanya Alif. Kulihat dia nampak sibuk memainkan
bolpoint yang dipakai mengerjakan soal.

Aku berjalan menuju tempat Alif duduk, “Alif, apakah
kamu sudah selesai mengerjakan?”

”Sudah, Pak,” jawabnya lirih, sambil asyik dengan
bolpointnya.

Kembali aku tanya,”Waktunya masih lama, apakah kamu
sudah yakin dengan pekerjaanmu?”

Dia mengangguk tanpa ekspresi. Aku kembali bicara
padanya Alif,”Ini kesempatan kamu di kelas 6 untuk
mendapatkan nilai yang bagus, oleh karena itu coba kamu
periksa lagi pekerjaanmu dengan teliti!”

Dia pun kembali memeriksa pekerjaanya secara acak.
Setelah itu aku pun kembali duduk dan mengawasi siswa yang
lain. Beberapa saat kemudian terdengar suara anak-anak yang
lain tertawa tetapi tidak keras dan ditahan.

”Mengapa kalian tertawa, apakah ada yang aneh di
ruang ini? “

Tiba-tiba yang lain menunjuk ke salah satu siswa yang
duduk di depan ujung, yaitu Alif. Nampak dia begitu pulas tidur
di bangku. Kembali aku dekati dan aku bangunkan dia pelan-
pelan.

”Lif.. Aliif bangun waktu sudah hampir selesai!”
Dia terkejut dan tersenyum malu melihatku, dan segera
ijin keluar ke kamar mandi dengan mata memerah. Sesaat
kemudian ia masuk kembali.
“Kamu puasa gak Alif?” tanyaku.
“Puasa, Pak,” jawabnya singkat.
“Terus kamu habis saur tidur lagi, ya?”
“Iya Pak, habisnya ngantuk, Pak,” jawab Alif.
Akhirnya waktu mengerjakan ujian sekolah hari pertama
selesai. Anak-anak keluar ruangan dan menuju ke ruang kelas
sambil beristirahat menunggu pengumuman dari guru kelas

mereka. Jam menunjukan pukul 12.00 anak-anak pulang
menuju gerbang sekolah menunggu jemputan. Banyak siswa
yang sudah dijemput di depan sekolah dan langsung pulang,
tetapi ada pula yang masih menunggu jemputan di depan aula
sekolah.

Ketika aku hendak ke ruang aula kulihat si Alif dengan
wajah lesu dan lemas duduk di sudut baca dengan memegang
handphone. Kuhampiri dan kutanya

“Lho, kamu kok belum dijemput, Alif?”
“Apakah kamu sudah menghubungi orang tuamu?”
lanjutku.
“Sudah, Pak, tetapi tidak bisa,” jelasnya.
Jam menunjukan pukul 13.20 teman yang lain sudah
dijemput dan sudah sampai rumah tetapi Alif masih menunggu
dijemput. Akhirnya datang seorang gojek membawa dia pulang
sesuai dengan alamat yang dipesan oleh keluarganya. Peristiwa
ini hendaknya menjadi perhatian untuk orang tua terhadap
kenyamanan dan keselamatan anak ketika di sekolah. Walau
sekolah juga memperhatikan tetapi hendaknya jangan membuat
anak menunggu terlalu lama yang dapat menimbulkan rasa
cemas, takut, dan tidak nyaman. Ingat “MENUNGGU ITU TIDAK
ENAK”.

Si Kijang dari Pendrikan
(Kusriyanto)

Berperawakan kecil berambut kriting dan tidak bisa
diam. Itulah kesan pertama saat aku mengenal dia. Salah
seorang siswaku di SDN Pendrikan kidul yang lucu, super aktif
dan suka jail pada teman-temannya.

Sejak kelas satu dia sudah menunjukan sikap mental
yang pemberani dan cerdas bahkan teman-teman satu kelas
dibuat takut olehnya. Tubuhnya kecil, kriting, dan lucu maka
banyak kakak-kakak kelas yang suka menggodanya dan dia
hanya tersenyum dan jail.

Ketika dia naik ke kelas 2 dia suka sekali main sepak bola
dengan botol aqua bekas di dalam aula, tentunya tanpa
sepengetahuanku atau guru yang lain. Pernah suatu hari pada
jam istirahat kudengar suara botol ditendang dan membentur
tembok sehingga suaranya terdengar keras. Diam-diam
kuhampiri mereka di aula kaget melihatku dan berusaha kabur
keluar aula tetapi karena aku berdiri di pintu sehingga mereka
hanya diam ketakutan.

“Coba semua duduk dan jawab dengan jujur, siapa yang
memulai permainan bola botol ini?” tanyaku.

“Kalian waktunya istirahat mestinya digunakan dengan
baik, bukan malah bermain bola botol yang justru banyak

mengeluarkan keringat membuat baju kalian kotor, bau, dan

lusuh,” ucapku memberi nasehat pada mereka.

Tak satu pun di antara mereka yang menjawab

pertanyaanku. Keesokan harinya ada seorang ibu datang ke

sekolah menemuiku.

“Selamat pagi Pak Kus!”

“Selamat pagi Bu! Ada apa ya, Bu?” tanyaku.

Si ibu itu cerita tentang anaknya yang merasa bersalah

karena kemarin mengajak teman-temanya bermain bola botol di

aula. Selanjutnya sudah tidak berani bermain bola botol lagi di

aula. Dari kejadian itu, atas permintaan orang tuanya dia

diikutkan kegiatan sepak bola di klub milik SDN Pendrikan

setelah naik kelas 3. N Nama Klub itu Persatuan Sepak

Bola Pendrikan Tengah ( PSPT) karena klub ini dibentuk

bersama orang tua sejak masih SDN Pendrikan Tengah sekitar

tahun 2005. Bakat sepak bola mulai kelihatan satu tahun

Latihan. Sejak naik di kelas 4 selain sepak bola dia hampir

mengikuti semua ekstra olah raga di sekolah, bola volley,

basket, renang, dan setiap kegiatan Pekan Olahraga Daerah

(Popda) dia menjadi andalan sekolah.

Puncaknya pada Popda tahun 2017 dia duduk dikelas 5.

Dia banyak mendapat juara antara lain juara 1 lari 80 meter,

juara 1 lompat jauh, juara 1 tim sepak bola, juara 3 bola volley,

juara 1 sepak takraw. Sebagai juara 1 lari dan lompat jauh maka

dia masuk tim kecamatan Semarang Tengah maju ke tingkat
kota lari 80 meter dan berhasil menjadi juara 1.

Akhirnya ditunjuk mewakili tim Popda kota Semarang
tingkat Jawa Tengah. Kembali dia menujukan kemampuan
terbaiknya dan berhasil meraih juara 1 lari 80 meter dan juara
2 estafet. Kalau di kegiatan sepak bola dia dikenal dengan
panggilan”KRIWIL” oleh orang tua siswa dan teman-temannya
satu tim karena memang rambutnya yang kriting.

Pada saat kejuaraan sepak bola liga pelajar SD tingkat
kota Semarang dia sebagai kapten tim kecamatan Semarang
Tengah dan berhasil menghantarkan tim menjadi juara 1
bersama empat teman satu sekolah yaitu Enrico, Aji, dan
Reavaska. Dia adalah putra kedua dari bapak HERI SUSANTO
dan ibu HERDIANA, yang bernama “ANGGA PUTRA HERDINA”
yang sekarang sudah duduk dikelas 9 SMP Negeri 7 Semarang
dan saat ini tercatat sebagai atlet PPLP (Pusat pendidikan dan
latihan pelajar) Jawa Tengah yang difasilitasi oleh pemerintah
untuk meningkatkan prestasi yang lebih baik.

Postur tubuhnya yang tinggi kecepatan larinya yang
kencang maka aku menyebutnya “SI KIJANG DARI PENDRIKAN
“ terima kasih telah membawa Nama baik SDN Pendrikan kidul,
nama Kecamatan Semarang Tengah dan nama Kota Semarang.
Semangat berlatih menempa diri dengan tetap rendah hati raih
prestasi tertinggi harumkan nama Ibu pertiwi.

Aisyah Ketua Kelas
(Sri Darti)

Hari ini aku memberi pelajaran tentang cara
melaksanakan Pemilihan Ketua Kelas. Begitu aku
membertahukan kepada anak-anak, mereka sangat senang luar
biasa, dikarenakan saat itu memang belum terbentuk pengurus
kelas 2b. Suara kegembiraan anak-anak semakin aku
bersemangat dalam mengajar.

“Selamat pagi anak-anak klas 2b yang ceria!” sapaku
kepada anak-anak.

“Selamat pagi Bu Darti!” sambut mereka.
Hari ini kita belajar tentang Pemilihan Ketua Kelas.
“Yeeeee!” sorak mereka.
Dengan tenang aku mulai menjelaskan materi tersebut.
Dan dengan cepat anak-anak memahaminya. Aku segera
mengawali dengan meminta tiap deret meja mencalonkan
temannya untuk diajukan sebagai calon ketua kelas. Akhirnya
ada empat anak sebagai kandidat pemilihan ketua kelas 2B.
Adapun nama calon ketua kelas adalah Aisyah, Nino, Gani, dan
Risqu. Keempat siswaku ini memang termasuk siswa yang
pandai.
Aku mulai membuat potongan kertas kecil-kecil untuk
menulis nama calon ketua kelas yang dipilih setiap siswa.
Setelah semua menulis jago pilihan mereka kini saatnya

penghitungan perolehan suara. Saatnya mengetahui hasilnya,
satu per satu kertas kecil-kecil tersebut dibuka dan dibacakan
salah satu siswa. Aku yang menulis perolehan hasil suara pada
papan tulis.
Akhirnya terpilih juga nama Aisyah yang mendapatkan suara
terbanyak dan sah sebagai ketua kelas 2b.

“Aisyah sanggupkah menjadi ketua kelas 2B?” tanyaku
kepada Aisyah.

“Ya bu, sanggup!”kata Aisyah dengan mantap sambil
tersenyum manis.

Tepuk tangan riang gembira dari anak-anak membuat
suasana kelas sangat menyenangkan. Aisyah memang siswa
yang pandai di kelas semua tugas-tugas yang aku berikan selalu
dikerjakan dengan hasil nilai seratus. Dia juga pandai bergaul
dengan teman-teman sekelasnya. Suka membantu teman dan
rajin bekerja misalnya saat ia melaksanakan piket
membersihkan kelas.

Dia juga yang mengajak teman-temannya untuk
merawat dan menyiram tanama hias depan kelas. Aisyah suka
dengan pelajaran wayang, kakeknya adalah seorang dalang.
Aisyah memang siswa pandai, cekatan, dan baik sikapnya
kepada siapapun.

Dethu Ingin Naik Kelas
(Sri Darti)

Bel tanda masuk kelas sudah berbunyi, satu persatu
siswa klas 2b mulai bermunculan. Ada yang memberi salam
kepadaku namun, ada pula yang langsung masuk kelas menuju
tempat duduknya. Aku hanya tersenyum saja melihat siswa-
siswiku yang pagi itu tampak bersemangat dan riang bertemu
dengan teman-temannya.

Sesaat aku melamun sambil melihat mereka, anak-anak
yang lucu dengan penuh kebahagiaanya masing-masing. Tiba-
tiba muncul kepala melongok di pintu kelas mata beningnya
tertuju pada teman-temannya yang sudah duduk rapi di kursi
masing-masing.
Sedikit kaget aku melihat siswaku yang muncul baru terlihat
kepalanya saja. Dengan bahasa seorang guru aku
memanggilnya.

“Dethu sini, ayo, masuk! Pelajaran akan segera di mulai.”
Mendengar suaraku pandangan semua siswa tertuju
pada Dethu. Tapi saat itu Dethu hanya diam dengan
menggelengkan kepalanya dengan lucu sebagai tanda kalau dia
tidak berani masuk bergabung dengan teman-temannya. Tiba-
tiba salah seorang siswa berlari mendekati Dethu sambil
menarik tangannya. Dia Aisyah ketua kelas 2B, dengan sigap

tangannya menggandeng Dethu sambil berkata, “ Masuk Dethu
kita belajar bersama yuk!”

Masih dengan gelengan kepala sebagai jawaban. Aku
yang dari tadi melihat langsung beranjak dari tempat duduk ku
dan perlahan kudekati mereka.

“Terima kasih, Aisyah,” kataku sambil memandang si
cantik Aisyah.

“Ya, Bu Darti!” jawab Aisyah.
Kemudian aku rangkul Dethu menuju tempat duduknya.
Segera kegiatan pembelajaran pagi itu aku mulai. Hari ini aku
memberi tugas membaca. Awalnya kelas tenang semua siswa
membaca dalam hati.
Tiba-tiba terdengar suara seperti ketakutan sambil
berkata, “Aku tidak mau membaca aku tidak mau maju kedepan
kelas, aku tidak bisa membaca!”
Sontak semua anak saling pandang dengan teman
disampingnya. Ternyata Dethu yang berteriak.
Aku sedikit kebingungan dengan kelakuan Dethu. “Duh
Gusti, bagaimana ini?” batinku.
Dengan segenap cara aku berusaha menenangkan
Dethu yang masih seperti anak kebingungan, saat melihat salah
satu temannya maju membaca buku sambil memegang mike
pengeras suara. Aku berusaha menenangkan Dethu.
Satu per satu anak-anak melaksanakan tugas membaca
hari ini. Aku bangga dengan anak-anak klas 2b ternyata banyak

yang sudah lancar membaca meski ada beberapa anak yang
kurang lancar membaca tapi aku menyadari inilah siswa-siswi
Produk Covid 19 pikirku sambil tersenyum.

Kegiatan pembelajaran hari ini usai, semua siswa pulang
dengan riang. Sesaat setelah anak-anak pulang aku telpon
orang tua Dethu sambil menceritakan kejadian hari ini di kelas.
Aku minta pada orang tua Dethu supaya lebih intensif dalam
membimbing belajar Dethu di rumah, sementara aku sebagai
gurunya membimbing belajarnya di kelas. Sepertinya orang tua
Dethu merespon baik.

Setiap pulang sekolah aku mengajak Dethu untuk
membaca sekitar 10-15 menit. Dengan sabar kutekuni melatih
membaca Dethu. Sudah beberapa minggu ku lakukan. Namun
hasilnya belum juga terlihat. Berbagai Teknik dan metode sudah
saya lakukan.

Lagi-lagi aku bergumam, “Duh Gusti, kenapa belum bisa
membaca juga?”

Sudah satu minggu aku tidak membimbing Dethu
membaca. Suatu hari aku ingin mengetahui kemampuan Dethu
membaca. Aku mulai memberi tugas membaca pada anak-anak.
Semua siswa sudah menunjukkan kepandaiannya dalam
membaca, aku tersenyum senang.

Kini saatnya Dethu maju untuk membaca betapa
kagetnya aku ternyata anak itu sudah bisa membaca dengan
lancar dan cepat. Aku senang Dethu bisa membaca, tapi aku

juga heran kenapa bisa secepat itu dethu bisa membaca.
Kembali orang tuanya aku panggil ke sekolah.

“Bu, Dethu sudah pandai membaca, kok bisa secepat
itu!” kataku, sambil ingin tahu jawaban dari orang tua Dethu.

“Nggih Bu, soalnya Bu Darti bilang kalau belum bisa
membaca tidak bisa naik kelas, makanya saya berusaha supaya
Dethu bisa membaca, agar Dethu naik kelas Bu”.

“Saya les kan di bimbel, saya ajari di rumah, saat Bu
Darti menyuruh membaca dan di video sebagai tugas praktik,”
lanjutnya, “Juga dibimbing Bu Darti saat di kelas”.

“Terimakasih nggih Bu Darti,” kata ibu Dethu.
“Sama-sama Bu,” jawabku.
Aku tersenyum menghargai usaha orang tua untuk
anaknya.

Summy Pelayan Millenial
(Priyono)

Pagi itu udara terasa sejuk dan mentari masih malu-
malu menampakkan wajahnya. Jarum jam menunjukkan pukul
06.30 WIB. Pada jam itu aku telah sampai di tempat aku
bekerja.Terlihat ada seorang gadis cantik mondar mandir kian
kemari. Gadis itu tampak membawa nampan berisi beberapa
gelas minuman hangat. Ia berjalan lenggak lenggok bagai
peragawati. Terurai senyum manisnya dan tutur kata yang
ramah, menyapa setiap pegawai yang datang.

“Selamat pagi, Pak!” katanya kepadaku.
Aku pun membalas dengan sapaan hangat penuh
keakraban.
“Selamat pagi juga, apa kabar?”
“Luar biasa,” jawabnya penuh semangat dan lirikan
matanya sedikit menggoda.
“Heeeemmm,“ gumamku saat itu.
Genit tapi rajin dalam bekerja. Kuambil handphone dan
kusodorkan untuk absen kehadiran pagi itu.
“Tunggu, handphone ku tertinggal diperpustakaan!”
katanya.
“Sabar ya, saya ambil sebentar.”
Kakinya melangkah dengan lenggak lenggok, sambil
tersenyum menggoda. Aku pun tertawa kecil sambil berpikir


Click to View FlipBook Version