sesuatu. Ingat tayangan film masa lalu Dalam benakku
berandai-andai. Kuingat-ingat alur cerita film itu.Tak berapa
lama, ia membawa handphone untuk absen.
Jari jemarinya yang lembut, lincah memainkan layar
handphone. Absen pun beres tapi anganku tak pernah berhenti
berpikir tentang dia.
Ketika sore hari, aku masih mengingat anganku pagi itu.
Kuingat aktivitas keseharian tentang dia. Jari jemarinya lincah
memankan handphone, pesan grab, go food, dan pesan barang-
barang yang dibutuhkan secara online. Bahkan sekali waktu aku
juga minta bantuan kepadanya.
Pikiran ini terus melayang tinggi dan menghubungkan
peristiwa itu dengan sebuah judul film atau sinetron.
“Heeemmmmm, Otak ini mencoba berpikir keras dan
akhirnya ide itu muncul. Akan aku buat sebuah fragmen atau
drama dengan judul “Summy Pelayan Millenial.”
Kulihat orang-orang di sekitarku untuk aku jadikan
pemain drama sesuai karakter. Drama semi komedi.
“Pasti asyik dan menghibur,” gumamku.”
Peran tokoh yang aku pilih, Dewi Puspitasari sebagai
Summy, berperan sebagai tokoh utama, dengan karakter genit
tapi rajin dan smart. Ia menjalankan perintah majikannya secara
online. Pemeran Summy saat itu langsung merespon.
“Pak Bambang itu lho!” katanya saat itu.
”Kamu pas sekali dengan peran ini,“ kataku.
Tokoh kedua emak-emak berwajah macan, manis dan
cantik tapi galak, bersuara lantang pada ssaat memanggil dan
memerintah pembantunya. Hidupnya berkecukupan dan
memiliki suami yang pendiam tapi taat beribadah. IMereka
memiliki seorang anak perempuan semata wayang bernama
Yessi. Keseharian anak itu bermain game online tanpa peduli
waktu yang ada. Kedua tokoh ini diperankan oleh Bang Ali dan
Mojang Cirebon, Teh April namanya.
Selain itu, juga ada tokoh Pak Lurah yang diperankan
oleh Pak Kumis, Kusbiyanto namanya. Sabar dan iklas melayani
warga, meski sedikit nakal. Ada juga tokoh 2 pemuda glak glek
yang suka menggoda anak majikannya Summy. Tokoh ini
diperankan oleh Mas Irwan dan Rizky Prasetyo. Tokoh
berikutnya penjual sayur bergigi emas, Ketika menawarkan
dagangannya tersenyum lebar agar tampak berkilau. Hal ini
dilakukan untuk menarik pembeli dan dagangannya laris manis.
Ditambah beberapa tokoh figuran lainnya.
Hari berikutnya, Ide dan gagasan ini aku sampaikan
kepada rekan-rekan kerja yang siang itu berkumpul di ruang
perpustakaan. Dan aku ceritakan secara singkat alur ceritanya.
Ada yang merespon positif.
“Siiip itu Bro, segera dibuat,” katanya saat itu. “Setuju,
setuju, setuju,” kata Tole.
Ada juga yang menanggapi dengan malu-malu. “Aaah,
Pak Dosen!“ jawabnya.
Malu tapi mau, apalagi tokoh penjual sayur.
“Heeemmmm.” isyarat malu tetapi setuju aja.
Bahkan, saat itu tokoh yang aku pilih menjadi majikan
yang galak, langsung bereaksi, berdiri sambil angkat
kebayanya, dan berkata, “Gak mau, gak mau!”
Semua tertawa lucu, bahkan aku tak kuasa menahan
tetesan air mata ini.
“Cucok ni, pas perannya,” Gumamku saat itu.
Suasana pun menjadi riuh, penuh gelak tawa. Bahagia
dalam kebersamaan. Semoga cerita ini menjadi kenyataan.
Terima kasih.
Mabuk Darat
(Ahmad Khoirul)
Hari Jum’at sekitar pukul 10.00, ponsel yang masih di
saku celanaku tiba-tiba berdering kencang tanda ada panggilan
masuk. Sengaja tidak langsung aku angkat ponsel itu. Segera
kuselesaikan mandiku takut ada yang penting karena ponselku
belum juga berhenti berdering. Sesaat kemudian kulihat siapa
yang menelponku. Ternyata dari Mas Farid salah satu seniorku
dari paguyuban Badminton Jumat Sehat. Seketika kuangkat
ponselku.
“Ya, mas Farid, ada perlu apa ya?”j awabku sambil
mencari baju ganti di almari kecilku.
“Mas Rul besok Sabtu pagi bisa ikut sparing ke
Sukoharjo, tidak?’’ tanya Mas Farid.
“Insyaallah bisa mas! Berangkat jam berapa, Mas?”
tanyaku sambil ku pakai baju koko putihku.
“Jam 7 ya, kumpul di rumah Pak Santoso.”
“Siap mas!” jawabku sambil kututup telpon dari Mas
Farid.
Semoga besok dapat izin dari Bu Tanti Kepala
Sekolahku,” bisikku dalam hati.
Kebetulan Bu Tanti juga belum pulang. Bergegas aku
menemui Bu Tanti minta izin untuk kegiatan besok pagi. Sesaat
kemudian aku keluar dari ruangan Bu Tanti dengan senyum
lebar. Aku baru saja dapat izin dari Bu Tanti, tetapi tanggung
jawabku harus diselesaikan terlebih dahulu.
Keesokan harinya setelah menyelesaikan tanggung
jawabku, aku bergegas berangkat ke rumah Pak Santoso. Tak
lupa aku berpamitan dengan Bu Tanti dan juga istriku tercinta.
Sesampai di rumah Pak Santoso, kulihat sudah ada 2
mobil Avanza putih dan hitam. Tiba-tiba terdengar panggilan
dari mobil Avanza putih.
“Ayo, Mas Rul, kita berangkat!” seru Mas Roni sambil
menyalakan mobilnya.
”Siap Mas Ron,” sahutku sembari kuletakkan tas biru
yang berisi perlengkapan untuk pertandingan nanti. Aku pun
lantas masuk mobil dan duduk di pojok kanan paling belakang.
Di samping kiriku sudah ada dua orang yang menatapku dengan
senyum sambil bertanya, “Sudah sarapan Mas Rul?”
“Sudah, Pak,” jawabku sambil duduk di sampingnya.
Karena sudah tidak ada yang ditunggu kami pun segera
berangkat. Perkiraan butuh waktu satu jam perjalanan untuk
sampai di tempat tujuan. Setelah sampai di Boja, kami berhenti
sejenak sambil menuggu salah satu personel yang ikut dari Boja.
Mas Mujiono namanya, orang terakhir yang di tunggu-tunggu.
Kami pun melanjutkan perjalanan lagi.
“Mas Rul kenapa kok pucat dan berkeringat, mabuk ya?”
tanya Mas Mujiono yang tepat duduk di depanku.
“Sepertinya begitu mas,” jawabku sambil kupegangi
perutku yang mual tetapi masih aku tahan supaya tidak muntah
di dalam mobil.
“Kenapa Mas Rul?” tanya Mas Roni sang sopir sekaligus
pasangan badmintonku nanti.
“Sepertinya perutku kurang bersahabat mas,” jawabku
sembari kuolesi perutku dengan minyak kayu putih. Mungkin
jalanan yang berliku dan bergelombang perutku seperti dikocok-
kocok, ditambah kecepatan mobilnya juga lumayan kencang.
Pukul 9 lebih 20 menit kami tiba di Sukoharjo. GOR
SAMAPTA tempat kami bermain badminton tepat berada di
depan pasar tradisional Sukoharjo. Tanpa menunggu lama Aku
bergegas turun dari mobil dan langsung menuju toilet yang
berada di belakang GOR SAMAPTA.
Seketika keluar semua yang ada di perutku yang sudah
lama aku tahan. Tubuhku yang lema spun kusandarkan di pintu
toilet. Tiba-tiba terdengar langkah kaki menuju toilet.
“Gimana Mas Rul? Sudah baikan?” tanya Mas Roni sambil
memberiku segelas teh hangat.
“Sudah Mas Ron, terima kasih teh hangatnya.”
Sesaat kemudian tubuhku mulai membaik setelah ku habiskan
teh hangat yang Mas Roni berikan. Aku pun bersiap menunggu
giliranku bertanding. Itulah pertama kali aku mabuk perjalanan walau
hanya ke SUKOHARJO.
Hilang Mood
(Dewi Puspitasari)
Alarmku berbunyi sangat kencang menandakan waktu
sudah mulai pagi. Aku bergegas untuk sholat subuh setelah itu
persiapan untuk berangkat kerja. 30 menit kemudian aku sudah
siap untuk berangkat kerja dengan hati yang gembira.
Tibalah di tempat kerjaku, aku langsung melakukan
aktivitas setiap pagi yaitu bersih-bersih ruangan. Tiba-tiba
terdengar suara sangat lantang dengan senyuman yang ceria,
"Selamat pagi mbak dewi!" ternyata itu suara Pak Pri.
"Selamat pagi juga Pak Pri" jawabku.
"Absen dulu mbak," kata Pak Pri.
“Sebentar Pak, hp saya masih di perpustakaan," jawabku
sambil bergegas mengambil hp.
Setelah Pak Pri absen aku kembali beraktivitas kembali.
Pekerjaan sudah selesai, saatnya aku menata ruang
perpustakaan. Handphoneku berdering ternyata ada telpon dari
Mas Arwan operator di sekolahku.
"Halo Assalamuaaikum," kataku.
"waalaikuksalam," jawab Mas Arwan
"Laporan yang kemaren sudah selesai belum, ya?
soalnya besok mau ada pemeriksaan," tanya Mas Arwan.
"Oh belum selesai Mas, sebentar aku ke ruang TU
sekarang," sahutku.
Kemudian aku dan Mas Arwan lagi sibuk menyiapkan
berkas yang akan di periksa. Waktu sudah menunjukkan pukul
14.00 saatnya pulang tetapi laporan belum selesai jadi hari ini
kita lembur.
“Heeem, baiklah hehe,” kataku dalam hati.
"Mas perutku lapar, sepertinya kita harus istirahat dan
makan siang dulu," kataku.
"Oke gofood aja ya. Mau makan apa terserah?" jawab
Mas Arwan.
"Oke siap, bos," jawabku.
Setelah kita istirahat dan makan siang kami melanjutkan
pekerjaan yang harus diselesaikan. Tiba-tiba Mas Arwan
kelihatan berbeda seperti orang tidak nyaman "Duuuuh,
aku tiba-tiba lagi ndak mood, ik," kata Mas Arwan.
"Loh lah, kenapa?” jawabku.
"Celanaku sobek," kata Mas Arwan sambil wajah
memelas. Akupun spontan langsung tertawa.
"Hahahahaha kok bisa gimana ceritanya?" kataku sambil
tertawa.
"Aku juga tidak tahu," jawab Mas Arwan dan kita tertawa
bersama dan melanjutkan pekerjaan.
Sakit itu Tidak Enak
(Dewi Puspitasari)
Hujan deras masih menguyur Kampung Delima. Heni
hanya bisa melamun di depan jendela kamarnya sambil
melihat teman sebayanya bermain air. Hati kecilnya ingin
sekali bergabung dengan temannya. Tiba-tiba mama datang
membuyarkan lamunan Heni.
”Sedang lihat apa nak? Kok serius sekali. Mama ketuk
pintu sampai tidak dengar,” kata mama sambil mengelus
rambut Heni.
“Itu Ma, Heni pengen seperti Lala bisa bermain air saat
hujan,” jelas Heni sambil menunjuk temannya yang sedang
bermain di luar.
“Ya, besok kalau Heni sudah sembuh, Heni bisa
bermain seperti Lala ” jelas Mama.
“Ayo, Nak, sekarang siap-siap pergi ke rumah sakit.
Jadwal periksa Heni pukul 16.00!”
“Iya Ma, Heni ganti baju dulu.”
“Mama tunggu di depan ya, Nak!”
“Baik, Ma.”
Seminggu yang lalu Heni mengalami kecelakaan. Heni
terserempet motor yang melaju dengan kencang ketika Heni
hendak menyebrang. Akibat kecelakaan itu tangan Heni retak.
Heni tidak bisa beraktivitas seperti biasanya. Ia hanya bisa
termenung di kamarnya ketika semua anggota keluarga sibuk
dengan aktivitas sehari-hari. Papa dan Mama setiap pagi pergi
bekerja. Kakak minta berangkat ke sekolah. Di rumah tinggal
Heni dan Bi Yanti.
Sesampainya di rumah sakit. Heni dan Mama
menunggu antrian. Antrian hari itu sangat banyak. Heni mulai
jenuh, Ia meminta izin kepada Mamanya untuk ke ruang
bermain khusus anak. Mama mengizinkan karena letaknya
tidak jauh dari tempat periksa. Di tempat bermain Heni
melihat seorang anak kecil. Anak kecil itu tidak mempunyai
rambut. Heni heran anak seumuran sepupunya harusnya
memiliki rambut yang panjang apalagi kalau itu anak
perempuan. Heni memberanikan diri untuk berkenalan
dengan anak kecil itu.
“Hallo, Adik namanya siapa?” tanya Heni.
“Namaku Rena Kak,” Jawabnya dengan suara yang lirih
dan malu.
“Oh, Rena, perkenalkan nama Kakak Heni. Rena
sedang menunggu untuk diperiksa?” tanya Heni.
“Ehm…iya, Kak, Rena sedang menunggu dokter
Rena. Daripada jenuh Rena main saja,” Jelas Rena.
“Kamu tidak takut, Ren? kalau nanti diperiksa dan
disuntik. Kalau Kakak takut.”
“Tidak kak soalnya Rena sudah biasa, Rena itu
kalau disuntik, ehm berkali-kali dan jarumnya gede-
gede,” jelas Rena sambil asyik bermain lego.
Heni yang mendengar penjelasan Rena merasa
malu. Ia yang sudah besar kalau mau disuntik saja pasti
menangis dan harus dipeluk Mamanya. Heni penasaran
kira-kira Rena sakitapa ia pun bertanya kepada Rena.
“Kamu sakit apa Rena, bolehkah kakak tahu?”
“Aku sakit leukimia kak, Kakak tahu?” tanya Rena.
“Penyakit akibat kebanyakan sel darah putih ya?”
“Iya, Kak, eh gak tahu juga, soalnya mamaku
cuma bilang aku sakit leukimia dan tidak boleh melakukan
aktivitas terlalu berat,” jelas Rena.
Tiba-tiba mama memanggil Heni karena sudah
gilirannya untuk diperiksa. Heni berpamitan dengan
Rena.
“Kakak periksa dulu ya, semoga Rena cepat
sembuh dan bisa bermain dengan teman-temannya lagi,”
tutur Heni.
Di dalam ruang periksa, dokter memeriksa tangan
Heni, membuka perban yang seminggu ini membalut
tangannya. Heni hanya bisa diam menahan sakit. Ia tidak
mau kalah dengan Rena. Setelah selesai periksa Heni ingin
bertemu dengan Rena tetapi Rena sudah masuk ke dalam
kamarnya. Heni tidak tahu kamar Rena.
Di mobil Heni bercerita tentang Rena kepada
Mamanya. Mama mendengarkan cerita Heni. Mama
mengoda Heni.
“Wah, Heni kalah dong sama Rena, disuntik tidak
menangis!”
Heni tertawa malu ketika mama mengodanya.
“Anak sekecil Rena sudah bisa tegar yamenerima
kenyataan penyakitnya. mama kagum dengan kedua
orangtua Rena pasti sangat tegar menghadapi keadaan
seperti ini,” tutur Mama.
Heni kemudian mengucapkan terima kasih
kepada mamanya selama ini merawatnya dengan penuh
kasih sayang. Heni berjanji akan berhati-hati kalau mau
menyebrang karena sakit itu tidak enak.
Tugasku Seperti Akar
Arwan Setyo Edi
Suatu ketika ada salah satu guru yang bertanya
kepadaku, “Apa, sih kerjanya Operator itu, Mas?”
Aku pun tidak begitu banyak menanggapi
pertanyaan itu hanya ku jawab dengan santainya, “Ya
kerjanya hanya soal data dan biasanya di depan laptop
atau komputer.”
Suatu saat ada pertemuan rutin operator Dapodik
se-kecamatan aku pun iseng bertanya kepada salah satu
operator sekolah, ”Kerjanya operator itu apa, sih?”
Pertanyaan simpel pendek, namun jawabannya
panjang sekali, “apa dia sekalian curhat, ya?” tanyaku
dalm hati.
Operator itupun menjawab, ”Pada dasarnya kita
bekerja seperti akar, yang bekerja dalam kesunyian dan
diam tanpa suara, tidak banyak mengeluh dalam
melakukan kewajibannya menjaga data Dapodik agar
tetap valid.”
Ya karena ditanya saya coba menjawab, “Aduh
saya juga bingung Mas, mau saya jawab mulai dari mana
ya? Begini Mas, kita kerja kasat mata, tidak terdeteksi, di
manapun dan kapan pun harus bisa, jadwal kita tidak
jelas karena kita bukan guru mapel atau guru kelas, kerja
wajib sesuai aturan yang berlaku, kerja kita sesuai
sms/wa yang kita terima baik lewat wa grup atau pribadi.”
“Wajib bagi kita punya laptop meskipun punya
kantor. Punya HP Android ini sebuah kewajiban karena
kita butuh akses informasi yang cepat dan akurat. Kalau
HP pasti beli sendiri karena tidak mungkin dibelikan
kantor, punya masteran data, punya kemampuan
manajamen yang baik terutama mengatur waktu untuk
kerja dan untuk keluarga, ini yang sulit untuk disikapi.
coba bayangkan Mas,” lanjutnya, “Kita bekerja bukan
hanya waktu jam dinas tapi waktu di rumah kita banyak
menghabiskan waktu dengan laptop dan HP, banyak
kegiatan yang harus disesuaikan atau bahkan
ditinggalkan untuk menyelesaikan data yang belum
selesai, kita dicetak menjadi orang rumahan karena kerja
kita duduk di depan laptop tidak mungkin keluar rumah,
ada juga tugas yang kita emban yang hanya bisa
dikerjakan pada waktu tengah malam, kira-kira jam 12
sampai subuh, itu sarapan pagi kita.”
Setelah aku pikir-pikir benar juga. Biasanya kita
jarang dikenal oleh murid-murid di lingkungan kerja kita,
yaaah itu semua karena kita jarang bersosialisasi, kita
sering duduk di kantor bertemankan laptop dan secangkir
kopi.
Kita bekerja tidak banyak mengeluarkan keringat.
Kita hanya duduk, berdiri, minum, ngemil, bicara,
tertawa, menulis, mengetik tapi dibalik itu semua pikiran
kita terkuras.
Kita agak alergi dengan kata atau kalimat,
perbaikan, kesalahan data, tidak valid, tidak sinkron,
rapat mendadak, perubahan data, data terbaru, segera
dikumpulkan, terahir hari ini, ditunggu jam ini, di tunggu
di dinas hari ini terahir, dan masih banyak lagi.
Pertanyaan yang tidak asing bagi kita, ”Gimana
mas/mbak valid? sudah selesai? sudah sampai di mana
pekerjaannya? Kok SKTP saya belum keluar mas/mbak?
Kok Sertifikasi saya belum cair mas?”
Jarang sekali yang bertanya, “Gimana kabar hari
ini? sehat? Ada yang bisa dibantu mas/mbak? Ada
kendala apa kok belum selesai?
Terdakwa kita jarang dijadikan saksi atau
informan, apabila ada kesalahan data, data tidak valid,
atau SKTP tidak keluar.
Dipastikan kita jadi “TERDAKWA/TERSANGKA” tanpa
lewat pengadilan.
Kunker (Kunjungan kerja), bukan hanya anggota
dewan saja yang sering melakukan itu. kita juga sering
kok, banyak tempat-tempat favorit yang sering kita
datangi seperti kantor Korsatpen, kantor dinas,
inspektorat, bappeda, dan juga sering berkomunikasi
dengan orang-orang penting sekelas kabag, kasi, dan
manajer BOS.
Wanted
(Arwan Setya Edi)
Semasa sekolah dasar dulu teman-temanku sering
memanggilku dengan sebutan “Wanted” karena sebuah
kejadian. Hari itu Bu Betty guru kelasku, memanggilku ke
kantor.
"Wanted, namamu memang itu?" tanya Bu Betty.
Aku pun tersenyum dan menjawab, "Tidak Bu,
nama saya Arwan tapi teman-teman memanggilku
dengan sebutan wanted, " ucapku lirih.
Bu Betty bertanya lagi, "Kenapa teman-temanmu
memberi nama panggilanmu dengan nama Wanted.”
Akhirnya aku pun menceritakan kejadian itu
kepada Bu Betty selaku guru kelasku pada waktu itu.
Begini ceritanya bu, “Ibu kan selalu memberikan
jam tambahan pelajaran selepas jam pelajaran yang biasa
selesai. Dan ibu memberikan jeda waktu pada kami 60
menit untuk pulang, makan, dan beristirahat.”
“Iya, betul Wan, terus apa yang membuatmu
mendapatkan panggilan wanted?” tanya Bu Betty
kepadaku.
“ Begini bu, Ibu kan juga selalu menitipkn kunci kelas
kepadaku karena rumahku yang paling dekat dengan
sekolahan. Agar nantinya jika ada yang sudah datang bisa
membuka kelas untuknya karena ibu sendiri juga pergi
keluar untuk makan dan beristirahat.”
“Di beberapa kejadian sebetulnya saya memang
sudah ada di sekolahan, namun saya tidak masuk ke
dalam ruang kelas melainkan asyik berada di lantai 3
sembari melihat dari atas siapa saja yang sudah datang.
Karena merasa bosan menunggu teman teman belum ada
yang datang, saya sendiri malah ketiduran di ruang kelas
d lantai 3, Bu,” ceritaku.
“Kata teman-teman mereka sudah pada cari saya
sampai datang ke rumah saya. Mencari saya sampai ke
tempat di mana saya dan teman-teman bermain. Karena
hal itu teman teman jadi tidak bisa masuk ke ruang kelas
untuk menyiapkan buku yang akan dipelajari saat jam
pelajaran tambahan dari ibu,” kataku.
“Saat teman teman sudah ketemu dengan saya,
itu yusuf dengan tegas bilang, Ooooo wanted, susah amat
mencarimu Wan.”
“Oh, jadi seperti itu ceritanya kenapa kamu bisa
mendapatkan panggilan wanted? “ tanya Bu Betty dengan
raut wajah sedikit marah
“Iya, Bu,” jawabku sambil menahan rasa takut.
“Ya sudah sana kembali ke kelas, bel masuk
sebentar lagi berbunyi.”
“Baik, Bu,” kataku sambil pergi meninggalkan
kantor Bu Betty.
Singkat cerita, sampai saat ini pun jika bertemu
maupun lewat wa teman-teman semasa sekolah dasar
dulu mereka masih saja memanggilku dengan panggilan
wanted. Yaaah, mungkin itu panggilan akrabku dari
mereka.
MUDIK
(Sevi Ardiani)
“Allahuakbar .. Allahuakbar,” lantunan suara takbir
yang sudah terdengar sejak malam hari. Tak terasa esok
hari hari raya Idul Fitri telah tiba. Tandanya sudah 30 hari
sudah aku melewati puasa tahun ini. Seperti tahun-tahun
sebelumnya, ibu selalu sibuk mempersiapkan hidangan
untuk hari raya nanti.
Sejak siang, ibu sudah mulai memasak makanan
khas yang selalu tersaji di meja makan. Ada opor ayam,
sambal goreng, lontong, dan juga kerupuk. Tak lupa aku
membantu ibu menyiapkan semuanya. Biasanya ibu
sudah membeli banyak sekali makanan untuk disajikan di
meja ruang tamu, dan tugasku untuk menatanya.
Malam harinya kami sekeluarga berkumpul untuk
melihat acara di televisi. Terdengar suara takbir dan
keramaian di jalan raya yang sampai ke rumahku. Di
tempat tinggalku tidak ada kegiatan tradisi tertentu,
biasanya mereka juga hanya berkeumpul bersama
keluarga di rumah mereka.
Keesokan harinya kami sekeluarga pergi untuk
menunaikan Sholat Ied di masjid dekat rumah kami.
Setelah pulang dari masjid aku dan keluarga menyantap
hidangan yang sudah tersaji di meja makan sejak sore
kemarin. Sesekali ada tetangga yang datang ke rumah
untuk berkunjung. Sudah tradisi di setiap hari raya
tetangga datang ke rumah yang lebih tua untuk datang
berkunjung dan saling bermaaf-maafan.
Siang harinya, di daerah tempat tinggalku sudah
sepi karena kebanyakan tetanggaku berasal dari luar
daerah dan mereka kembali ke tempat asal keluarga
mereka, yang biasanya orang-orang bilang “mudik”.
Namun, tidak untuk keluargaku. Karena tempat tinggal
nenekku sangat dekat dengan rumahku. Mungkin hanya
perlu 10 sampai 15 menit saja, dan semua anggota
keluarga besarku juga rumahnya tidak jauh dari tempat
tinggal nenekku. Sudah sejak kecil aku tidak pernah
merasakan bagaimana rasanya mudik itu. Aku hanya
melihat keramaiannya dari televisi dan hanya mendengar
cerita dari teman-temanku saja.
Pernah suatu waktu ketika aku masih kecil saat
aku membantu ibuku memasak hidangan untuk hari raya,
aku bertanya kepada ibuku. “Buk, kenapa ya kita tidak
pernah mudik? Rasanya mudik itu bagaimana sih Buk?”.
Ibuku sambil memasak menjawabnya, “lawong rumah
nenekmu saja dekat, kita ke sana itu kan sudah mudik to
nduk namanya”.
Aku tetap saja mengeyel, “Tapi bukan itu
maksudku buk, seperti Pak Bambang itu lo, seperti
pakdhe juga yang pake kereta untuk pulang kampung”.
Ibu hanya diam dan tersenyum, dan kemudian
berkata, “Disyukuri saja, kita ndak usah mengeluarkan
uang banyak untuk ke rumah nenekmu, kan uangnya bisa
untuk jajanmu to?” Jawaban ibu yang menggodaku
membuat aku tertawa.
Dari perbincangan aku dan ibu, aku belajar istilah
“mudik” yang sebenarnya. Orang-orang mungkin perlu
mempersiapkan segala sesuatunya hanya untuk
berkumpul bersama orang tua, kerabat atau saudaranya
di kampung halaman. Tetapi aku setiap waktu bisa
berkunjung ke rumah nenekku dan saudar-saudaraku
karena jaraknya dekat. Aku mensyukuri semua itu, karena
orang tuaku tidak usah mengeluarkan banyak uang dan
waktu untuk berkumpul dengan keluarga.
Setiap tahun berganti dan kegiatanku pada hari
raya juga masih sama. Aku dan keluargaku hanya perlu
waktu 10 sampai 15 menit untuk mengunjungi rumah
nenekku dan saudara-saudaraku. Dan itu bisa aku
lakukan tidak hanya di hari raya saja. Bahkan setiap
minggu aku bisa pergi ke sana bersama keluargaku.
Jika Kutahu Engkau Tak Akan kulepas
(Lilis Wuri Listriyani)
Tahun 2020 tepatnya bulan Ramadhan masih
terngiang ditelingaku perkataan ibuku, beliau
mengatakan bahwa ibu akan pulang menghadap Sang
Khaliq setelah hari Raya Idulfitri. Ketika itu saya tidak
merespon dan aku anggap hanya candaan belaka.
Tahun 2020 berlalulah, seperti biasa aku
melakukan aktivitas menjadi rutinitas mengurus ibu yang
sangat aku sayangi sebelum bekerja dengan rasa
syukurku ibuku masih bisa melakukan sendiri bahkan
mandi pun minta sendiri. Setelah selesai mandi sebelum
kupakaikan baju dan pampers kubaluri ibu dengan minyak
telon agar hangat dan segar. Kududukan dan kusiapkan
sarapan agar aku tenang ketika aku tinggal bekerja ibu
suadah makan.
“Mah, aku berangkat kerja dulu, mamah di rumah
hati-hati jangan naik turun tangga atau menghidupan
kompor,” pesannku. Aku khawatir namanya sudah sepuh
sering banyak lupa. Tak luput ibu selalu mendoakan agar
selamat, dari perkataanya yang lembut. Kala itu saya
bingung ku titipan pada siapakah ibuku ketika saya
tinggal. Untunglah tetangga di sekitar kami sangat baik
bahkan seperti keluarga.
Bu Tini menawarkan diri untuk siap menjaga
ibuku. Dengan senang hati dan sangat bersyukur ada
yang menjaga ibu. Tak lama kemudian Bu Tini terkena
covid 19, bingunglah aku mamah harus sendiri lagi. Saya
berusaha mencari orang untuk menjaga ibuku yang
sangataku sayangi, tak lama kemudian dapatlah bocah
belia dari Desa Wonosobo. Anaknya baik dan pikirannya
juga dewasa, mulai tenanglah saat aku bekerja.
Seiring berjalannya waktu tak terasa sampai ke
bulan Ramadhan lagi mamahku tidak sakit dan tidak
pernah mengeluh. Hanya saja dia kerap mengucapkan
beliau akan pulang ke Cibangkong Bandung tempat
kelahirannya dan makam keluarga. Pikirku mamah sudah
tidak kerasan di Semarang. Saat itu aturan sangat ketat,
“Mah, sabar ya nanti kalau covidnya sudah tidak
ada kita pulang ke Cibangkong.”
Mamah hanya diam. Mamah marah pakaian
semua dimasukan dalam tas, lalu di taruh di bawah TV.
Terus aku dekati, ”Ya, Mah, sabar ya, nanti kita pulang.”
Mamah sudah tidak bisa dibujuk lagi hingga
menjelang pagi Mamahku tidak tidur, sungguh sedih
hatiku. Menjelang pagi seperti biasanya saya bekerja
untuk terakhir kalinya. Menjelang lebaran saat itu tidak
libur karena saya harus absen WFH.
Di rumah saya tinggal berdua semua sudah pulang
kampung, di malam takbir terakhir badan mamahku
panas aku kompres alhamdulilah berangsur panasnya
reda dihari raya mamah aku bangunkan.
Alhamdulilah mamahku bangun dan aku ajak ke
kamar mandi, dan aku mandikan dengan air hangat, dan
seperti biasa ibu ku pakaikan baju yang terbaru. Aku
minta izin untuk menunaikan ibadah sholat Idul fitri di
musholah tidak jauh dari tempat tinggal belum sampai
kotbah saya sudah pulang karena kekawatiranku
terhadap ibuku.
Aku duduk bersimpuh ku pegang telapak tangan
ibu kuucapkan kata maaf pada ibu terjatuhlah air mataku
membasahi pipi begitu juga mamahku, tak lama
kemudian datanglah anak menantu ibu dari adikku yang
bungsu dan cucu kesayangannya, dipeluknya dan
berpesan harus jadi anak sholeh dan sayang sama
mamah.
Hari raya ke dua ibu biasa saja, hanya banyak
diam, dan malam hari raya ke tiga ibu minta antar
kebelakang. Aku papah dengan perasaan yang tidak
karuan di pagi hari minta mandi, dan sore harinya napas
ibu mulai tersengal-sengal.
Aku tidak mengerti antara bingung dan sedih,
kukabari semua anak-anak ibuku yang lain sempat zoom.
Kalau itu dan tidak aku pikir lagi ku bawa ibuku ke rumah
sakit terdekat, belum sampai ke rumah sakit ibu sudah
tiada ada dalam pelukanku. Ibu meninggalkan aku untuk
selamanya.
Terasa lemas kakiku melihat kepergian ibuku yang
sangat aku sayangi menangislah aku. Kika aku tahu
secepat ini ibu akan meninggalkan aku tak akan aku lepas
dan selalu aku peluk, perkataan ibu benar ibu kembali
kepangkuanNya tepatnya setelah hari raya ketiga
tepatnya tanggal 15 Mei 2021. Di setiap sholatku hanya
doa yang aku panjatkan semoga ibuku mendapat tempat
yang terbaik di sisi Tuhan Yang maha Kuasa.
Botol Minum Membawa Petaka
(Desvy Karina)
Pagi ini cuaca sangat cerah matahari bersinar
terang mengawali esok hari dengan semangat yang baik.
Pagi ini saya mengawali hari, menyiapkan diri seperti
biasa untuk melaksanakan rutinitas-rutinitas pekerjaan.
Pagi itu, yang kebetulan hari Kamis minggu
pertama di bulan Februari saya bersiap-siap berangkat
menuju kantor. Saya bersiap-siap dengan menggunakan
baju kebaya encim Semarangan sesuai dengan aturan
pemerintah yang menganjurkan memakai baju adat
Semarang. Tak lupa pagi itu saya menikmati sarapan pagi
dengan dengan keluarga.
Pukul 06.00 saya berangkat dari rumah menuju ke
kantor. Pagi itu suasana jalan menuju kantor terpantau
ramai lancar. Pada saat saya sampai di daerah Krapyak
tepatnya di depan gardu PLN Krapyak tepat di depan
saya, ada seorang ibu-ibu yang tidak sengaja
menjatuhkan botol minum yang dibawa.
Pada saat kondisi jalan raya yang ramai dan
mayoritas pengendara berkecepatan tinggi. Adanya botol
minum yang jatuh di tengah jalan dengan kondisi jalan
yang ramai itu menyebabkan salah satu pelajar yang
mengendarai motor melindas botol minum yang terjatuh.
Pada saat itu saya yang berada tepat di samping
pengendara itu pun ikut terjatuh, dan satu pengendara
lain yang ada di belakang juga ikut menjadi korban pada
kecelakaan itu. Saya yang jatuh meluncur di atas aspal
jalan, dengan dua kendaraan lain yang ikut tejatuh.
Saya yang terjatuh dengan posisi badan
tengkurap menghadap persis di depan aspal jalan.
Berlahan saya mulai menenangkan diri karena benturan
yang sangan keras membuat saya sedikit kesulitan untuk
bernafas. Saya berusaha untuk sedikit meregakan posisi
saya untuk pelan-pelan mengambil nafas panjang.
Saya yang belum mempunyai tenaga untuk
bangun, pada posisi tengkurap saya mencoba membuka
masker agar dapat leluasa mengambil nafas. Saat
membuka masker saya sangat terkejut melihat darah
yang berkucuran dari mulut dan tiga gigi yang terlepas
dan terjatuh di aspal. Seketika saya merasa sangat shok
karena melihat gigi depan saya yang lepas.
Kemudian saya dan korban lain dibantu oleh
petugas sapu jalan dan satpam PLN dan dibawa ke tepi
jalan. Saya berusaha menenangkan diri, dan menahan
rasa sakit di bagian mata kaki, tangan, dan wajah. Saya
berusaha menghubungi suami dan adik untuk meminta
pertolongan.
Waktu terus berjalan, hampir satu jam saya
menunggu kedatangan ‘Ambulance Hebat’ karena luka
yang ada di mulut tidak hentinya mengeluarkan darah.
Kemudian ambulance pun datang di tempat kejadian dan
saya pun mendapat pertolongan pertama karena
pendarahan yang terjadi pada mulut. Setelah mendapat
pertolongan pertama saya pun pulang ke rumah dengan
suami. Setelah kejadian itu saya hanya bisa berbaring di
tempat tidur dengan kondisi kaki yang bengkak sehingga
tidak bisa berjalan dengan baik, luka di mulut dan gigi
yang membuat saya sulit makan. Dan aku pun harus rela
kehilangan tiga gigi depanku.
Bisa Membaca
(Sutirah)
Sebelum masuk Sekolah Dasar anak-anak terlebih
dahulu bersekolah di Taman Kanak-Kanak walaupun
bukan syarat wajib untuk masuk Sekolah Dasar. Aryani
masih sekolah di Taman Kanak-Kanak. Ibu Aryani
namanya ibu Diana yang selalu setia mendukung
anaknya untuk belajar di sekolah.
Ibu Diana setiap hari cemas dan gelisah karena
Aryani anaknya jarang mau sekolah alasannya malas
sekolah.Sering diantar berangkat ke sekolah tetapi kalau
ibunya pulang ikut pulang tidak mau ditinggal. Ibu Diana
sampai pusing memikirkan anaknya. Bagaimana kalau
sudah masuk Sekolah Dasar padahal di Sekolah Dasar
harus mau belajar membaca, menulis, dan berhitung.
Setiap hari ibu Diana mencemaskan anaknya. Sampai dua
tahun di Taman Kanak-Kanak Aryani masih malas sekolah
malah sering tidak masuk sekolah.
Setelah belajar dua tahun di Taman Kanak- Kanak
Aryani dinyatakan tamat dari Dari taman Taman Kanak-
Kanak. Ibu Diana semakin cemas memikirkan sikap
anaknya yaitu Aryani yang malas untuk belajar di sekolah.
Pada bulan Juli waktunya pendaftaran masuk di Sekolah
Dasar. Aryani didaftarkan masuk sekolah Dasar terdekat.
Berdua datang ke sekolah pada pagi hari sebelum banyak
orang yang datang untuk mendaftar.
Beberapa hari kemudian tiba waktunya
pengumuman siswa yang diterima di sekolah tersebut.
Ibu Diana berharap dan cemas kalau anaknya tidak bisa
diterima. Ibu Diana dan Aryani datang ke Sekolah Dasar
tempat mendaftar. Di sekolah sudah ramai banyak orang
tua murid dan anak- anak semua akan melihat
pengumuman penerimaan siswa baru. Beberapa menit
kemudian dipasang pengumuman siswa yang diterima
ternyata Aryani diterima di Sekolah Dasar tersebut.
Pada pertengahan bulan Juli Aryani mulai masuk
untuk sekolah di Sekolah Dasar. Ibu Diana sangat
berharap Aryani rajin bersekolah dan mau berangkat
setiap hari. Pada minggu pertama Aryani belum mau
ditinggal di sekolah oleh ibu Diana. Kemudian ibu Diana
bercerita tentang sikap Aryani waktu sekolah di Taman
Kanak-Kanak kepada guru kelas satu namanya Bu Ira
yang mengajar Aryani. Ibu Ira memahami karakteristik
siswa baru di kelas satu. Aryani masih sering malas kalau
pagi hari mau berangkat ke sekolah sering menangis dan
ngambek. Ibu Diana dengan penuh kesabaran
membimbing anaknya untuk segera berangkat ke sekolah
bertemu bu Ira dan teman-teman.
Bu Ira sebagai gurunya mengajak Aryani untuk
berkenalan dengan temannya agar saling menyapa dan
juga diajak berkenalan dengan guru-guru, lingkungan
sekitar di sekolah tersebut. Bu Ira menyampaikan materi
apa saja yang akan dipelajari setiap hari. Setiap hari bu
Ira selalu meluangkan waktunya untuk pendekatan dan
berusaha menyenangkan hati Aryani. Aryani diajak
bercerita apa yang menjadi kesukaanya tentang kegiatan,
makanan, teman dan lain-lain yang penting Aryani
menjadi senang dan terarah.
Sekolah sudah berjalan satu bulan Aryani sudah
akrab dengan bu guru kelas satu. Bu Diana sangat senang
bisa bernafas lega. Aryani setiap hari semangat
bersekolah dan sudah tidak ditunggu lagi oleh ibunya.
Sebelum mulai pembelajaran inti bu Ira memberi
semangat kepada siswa-siwanya dengan suara yang
lembut dan ramah sering bercerita dongeng, menyanyi
dan juga diajak tepuk tangan.Anak-anak sangat gembira
dan semangat mengikuti pembelajaran.
Pada waktu awal semester satu anak-anak banyak
yang belum bisa membaca dan menulis begitu juga Aryani
huruf abjad belum hafal semua. Untuk sarapan pagi di
sekolah anak-anak diajak pengenalan huruf, kata,
kemudian kalimat. Aryani dan anak-anak yang lain sangat
antusias untuk mengikuti pembelajaran.
Waktu sekolah telah selesai Bu Ira selalu
menyempatkan waktu khusus untuk Aryani membaca dan
menulis di ruang kelas. Aryani istirahat dulu 15 menit
kemudian belajar lagi dengan bu Ira. Dimulai dengan
motivasi agar untuk menyemangati Aryani. Setelah Aryani
semangat baru mulai belajar mebaca dan menulis.
Sekolah sudah berjalan satu semester Aryani
sudah bisa membaca dan menulis dan rajin sekolah. Ibu
Diana dan keluarga sangat Bahagia dan bersyukur kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Karena senangnya bu Diana
bercerita kepada orang tua murid dalam satu kelas.
Keluarga bu Diana sangat berterima kasih kepada bu Ira
sebagai guru kelas satu.
Teman Baru
(Hartono)
Masa sekolah adalah masa yang paling
menyenangkan dan paling berkesan. Demikian yang
dirasakan Nono, seorang murid SMP di Desa Seloretno
yang jauh dari kota. Meski hanya sebuah desa, namun
kondisinya cukup ramai seperti kota kecil karena sebagai
pusat perekonomian dan pemerintahan kecamatan.
Nono sebenarnya anak yang rajin dan cukup
pandai, tetapi di sekolah dia merasa rendah diri, minder,
dan pendiam. Hal itu karena dia dari keluarga yang tidak
mampu dan tempat dia bersekolah merupakan SMP
favorit yang sudah dikenal sampai tingkat kabupaten.
Sebagian besar muridnya adalah anak orang yang kaya,
tokoh masyarakat, dan orang yang memiliki kedudukan di
wilayah itu.
Saat kenaikan kelas di awal tahun ajaran baru, ada
dua murid baru pindahan dari kota. Kedua murid itu
ternyata saudara kembar yang merupakan anak dari
seorang Sinder (kepala perhutani) yang baru diangkat
dan bertugas di wilayah Seloretno. Kedua murid baru
perempuan yang wajahnya cantik, namanya Tina dan
Anik. Anik masuk di kelas A, satu kelas dengan Nono,
sedangkan Tina ada di kelas B. Dalam kesehariannya,
kedua murid baru itu penampilannya memang tampak
menarik, maka tak heran dalam waktu beberapa hari saja
mereka menjadi primadona baru di sekolah.
Banyak murid laki-laki yang berusaha mencari
perhatian dan menaksir, tetapi ada juga murid
perempuan yang tidak senang karena merasa tersaingi.
Namun tidak demikian bagi Nono yang menganggap
semua biasa seperti hari-hari sebelumnya. Dia merasa
minder untuk bergaul dengan teman barunya karena
beda sekali statusnya.
Seiring berjalannya waktu, ternyata Nono
menyadari bahwa Anik adalah anak yang ramah, supel,
dan juga pandai. Dia tidak pernah membedakan-bedakan
teman apalagi angkuh dan sombong. Meski dia anak
orang kaya dan punya kedudukan, ternyata dia sangat
rendah hati dan menghargai orang lain. Tidak sungkan
menolong teman yang membutuhkan. Bahkan dia sangat
senang kalau ada teman yang mau bermain atau belajar
bersama di rumahnya. Keluarganya pun ternyata juga
menyambut baik saat ada yang yang datang untuk belajar
ataupun bermain asalkan pada waktu yang tepat.
Pada suatu hari saat berangkat sekolah, Nono
berangkat sekolah berjalan kaki sendiri. Jarak rumahnya
ke sekolah kurang lebih satu kilometer. Biasanya Nono
berangkat bersama dengan membonceng sepeda
temannya. Hari itu temannya sudah berangkat lebih dulu.
Belum sampai sepertiga perjalanan, tiba-tiba Nono
dikejutkan bunyi bel sepeda dari belakang dan diikuti
sapaan.
“Kring…kring…kring.”
“Lho, No, tumben berangkat sendirian?” suara
Anik sambil melambatkan sepedanya.
“Ya, tadi aku ditinggal Heru, nggak tahu kenapa.
Kamu sendiri, kok nggak bareng kakakmu?” balas Nono.
“Mbak Tina tadi berangkat duluan katanya sudah
janjian sama temannya. Kalau begitu, yuk, bareng aku
aja, tapi kamu yang di depan, ya,” sambung Anik sambil
turun dari sepeda.
Nono tertegun dan buru-buru menjawab, “Nggak,
ah. Aku jalan kaki aja. Nggak enak nanti kalau ketemu
teman-teman.”
“Kenapa nggak enak? Malu ya, bareng sama aku,”
sahut Anik.
Nono menjadi merasa serba salah, lalu berkata,
“Sebenarnya aku bukannya nggak mau atau malu, tapi
aku takut kalau nanti ada yang marah. Kan banyak
teman cowok yang naksir kamu, jadinya kan nggak
enak.”
Anik menyahut sambil melotot, “Alah, kamu itu
ngomong apa, to. Ngaco! Bagiku semua teman sama,
lagi pula aku nggak mau mikirin yang kaya gitu.
Pokoknya semua saya anggap teman. Apalagi kamu
teman sekelas. Kalau kamu merasa nggak enak, ya
sudah, aku bareng kamu jalan kaki sambil nuntun
sepeda aja."
Akhirnya Nono terpaksa naik sepeda dan Anik pun
membonceng di belakang. Dalam hati Nono merasa
tidak tenang dilihat teman-teman yang lain, tetapi dia
juga merasa kagum dengan sifat Anik, teman barunya
itu.
Kejadian itu terulang lagi sampai beberapa kali.
Ternyata walau anak orang kaya dan terhormat, Anik
memiliki sifat yang sangat baik. Tidak seperti kebanyakan
teman Nono yang lain. Bahkan pada saat menjenguk
Marsini, teman sekelas yang seminggu tidak masuk
karena sakit, Anik ikut dengan senang hati meski harus
bersepeda. Padahal jarak rumah Marsini cukup jauh, lebih
dari lima kilometer. Sebenarnya dia bisa saja naik motor
sendiri, atau tidak perlu ikut karena hanya perwakilan
kelas saja. Tetapi Anik tidak merasa keberatan ataupun
gengsi, bahkan malah sangat senang bisa sambil
bersepeda menikmati keindahan desa.
Demikian pula saat lomba kebersihan dan
menghias kelas. Di saat teman-teman sudah banyak yang
pulang, tanpa rasa sungkan Anik membantu sampai sore
hari. Bahkan dia membeli makanan bagi teman-temannya
yang masih menghias kelas, termasuk Nono. Pokoknya
setiap ada kegiatan bersama, dengan senang hati Anik
selalu berusaha berpartisipasi dan membantu dengan
ikhlas tanpa pamrih apapun kecuali demi kebaikan
bersama.
Melihat sifat Anik yang begitu baik dan peduli
kepada teman, tak heran apabila dengan cepat Anik
memiliki banyak teman. Nono merasa senang memiliki
teman seperti Anik yang mau bergaul dengan siapapun
tanpa membeda-bedakan. Nono pun berjanji dalam hati
akan mencoba berusaha untuk meniru sifat teman
barunya itu. Setidaknya sebagai bekal dalam pergaulan di
masa yang akan datang.
Cidera Menghancurkan Cita-Cita
(Riski setiawan)
Sewaktu masih SMP, aku dan teman-temanku
suka bermain sepak bola. Kami bermain pada sore hari,
saat matahari tidak terlalu panas. Kadang jika sudah tidak
ada aktivitas di rumah, kami akan bermain lebih awal dan
berhenti saat adzan maghrib berkumandang.
Kami mencintai sepak bola, hal ini bisa dilihat saat
kami bermain semuanya pasti memakai kostum tim
kesayangan dan meniru gaya pemain yang diidolakan.
Tapi sayangnya, kami tidak bermain di lapangan. Hal ini
disebabkan karena pemerintah setempat, sudah
menggusur lapangan kami untuk dijadikan lahan untuk
sungai banjir kanal.
Demi mencapai cita-cita ingin melanjutkan
prestasi di dalam sepakbola. Aku mengikuti Sekolah
Sepak Bola (SSB) nama timnya SSS dan tempat
latihannya di lapangan Sidodadi. Di sinilah aku belajar
banyak mengenai sepakbola dari mulai belajar teknik
sepakbola, arti dari tim dan persaudaraan.
Setelah lama belajar di SSS di usia mulai dewasa
aku mengikuti seleksi PSIS junior. Tim kebanggaan kota
Semarang di situ mulai awal karier aku menjadi pemain
sepakbola. Saat seleksi ternyata tidak sesuai dengan
harapan dan cita-cita. Banyak pemain yang di bawa oleh
pelatih masing-masing tim.
Dengan tekat yang kuat ingin meraih prestasi
yang terbaik alhasil seleksi di tim kebanggan kota lumpia
ini tidak lolos tahap yang ke 3. Di sinilah mulai rasa
kecewa karena tidak lolos tim.
“Banyak orang berbicara di sinilah awalmu jadi
pemain bola. Banyak pengalaman dari seleksi ini yang
bisa kamu petik,” kata teman-teman yang selalu
motivasiku.
Setelah saya diberi motivasi yang lebih dari
teman-teman. Hati aku terketuk untuk selalu tambah
latihan sendiri. Tidak ada jadwal latihan aku pun tambah
latian sendiri di rumah berbekal latihan sebelumnya dari
pelatihnya.
Ketika ujian sekolah SMP mendekati di saat itu
ada pertandingan di Blora. Orang tua sudah mulai tidak
setuju dengan aku mengikuti SSB lagi karena pemain
sepak bola tidak bisa menjadi profesi untuk pekerjaan.
Meskipun halangan melintang aku tetap semangat
latian. Aku pun tidak peduli dengan ucapan dari orang
tua. Selesai ujian ada program Puslat di Semarang. Ketika
senang ada program Puslat tapi orang tua tidak setuju
mengikuti program tersebut.
Aku pun menginjak kuliah dan latihan selalu
berjalan di sini awal mulai pemain profesional. Awal mula
ikut kumpulan pemain-pemain sepak bola Semarang
dengan nama komunitasnyan VFC. Aku mengikuti seleksi
di tim Persiba Balikpapan. Dengan seleksi yang sangat
ketat dan teman-teman yang lain sudah pernah
merasakan rasanya mengikuti kompetisi di liga nasional
hanya modal nekat bisa ikut seleksi disini.
Seleksi dengan pemain asing asal dari Argentina
dan semua pemain di seluruh Indonesia. Setelah seleksi
dan hasil memuaskan tapi meskipun hasil memuaskan
orang tua tidak merestui ikut tim Persiba Balikpapan
padahal posisi itu mau di kontrak.
Akhirnya saya pulang ke Semarang dengan
perasaan hati sedikit kecewa. Orang tua menyuruh saya
fokus untuk kuliah. Saat kuliah ada ada kompetisi antar
mahasiswa. Syukur tim UNNES menjadi juara 1 tingkat
Jawa Tengah. Perasaan yang sangat bangga dan senang
bisa membanggakan almamater tercinta ini. Dalam
kompetisi itu ada tim talent scout ada beberapa yang di
panggil untuk mengikuti seleksi di PERSEKAP (persatuan
sepakbola kabupaten Pekalongan) dan aku pun di panggil
untuk seleksi tersebut.
Ketika seleksi banyak pemain lokal yang bagus
dan kualitas. Dalam seleksi itu ada berjalan seminggu
dengan hasil memuaskan. Seleksi terakhir itu sangat
senang dan malamnya di kontrak dengan hasil
kesepakatan.
Beberapa hari latihan di situ karier saya menjadi
berantakan. Latihan sedikit keras dan tempo tinggi
membahayakan untuk aku. Ketika duel di udara dan jatuh
salam tumpuan. Aku tergeletak tak bedaya dengan rasa
sakit di pergelangan kaki. Fisioterapi langsung lari ke
tengah lapangan posisi itu langsung di bawa ke rumah
sakit.
Saat di rumah sakit di periksa ternyata cidera ini
sangat parah dan di ronsen ternyata cidera ACL. Aku pun
harus menjalani operasi tapi aku menolak dengan hati
sakit karena cidera. Dengan bekal di bangku kuliah materi
yang aku dapat pasca cidera. Menjalani pasca cidera
selama 3 bulan tanpa adanya operasi dari tim dokter. Dari
tim pun memutus kontrak dengan alasan aku tidak
berkembang pada saat itu.
Akhirnya menjalani terapi yang aku derita. Syukur
alhamdulillah penangan cidera berjalan lancar. Tetapi
rasa trauma yang begitu mendalam yang aku rasakan.
Selanjutnya setelah cidera sembuh total. Aku berobat di
rumah sakit Ketileng dokter menyatakan mengizinkan
untuk main bola tetapi dengan itensitas yang ringan.
Sayur Saja Akur
Oleh: Rustantiningsih
Kulangkahkan kakiku menuju ruang guru. Hiruk
pikuk hinggar-binggar Bapak Ibu Guru terdengar dari
selasar sekolah. Aku masuk sambil menyapa Bapak Ibu
Guru, semua tersenyum bahagia, raut mukanya seperti
matahari baru terbit.
Tatapan mataku terarah pada onggokan brokoli
dan buncis di meja Pak Pri guru kelas VI. Acara hari ini
adalah masak bersama dengan kelompok guru laki-laki.
Seperti biasa kalau Hari Sabtu, setelah Ibu bapak guru
senam dilanjutkan kerja bakti membersihkan sekolah, dan
ada sebagian yang bertugas memasak.
Kegiatan memasak ini dilakukan oleh Bapak Ibu
guru secara bergillir. Ada empat kelompok. Kelompok Ibu
guru yunior, Ibu guru senior, Bapak guru yunior, dan
Bapak guru senior.
Kali ini kelompok pertama yang terdiri dari bapak
guru senior yang mendapat giliran memasak. Kelihatan
semua semangat mengerjakan tugasnya masing-masing.
“Bapak-Bapak mau masak apa, nich?” tanyaku
penasaran.
“Mau masak istimewa, Bu, hari ini,” kata Pak Pri
sambil tersenyum ringan.
“Wah, bagus Pak brokoli sayuran kesukaanku,“
kataku menyambut senang.
Kulihat di depan ruang guru, Pak Rizki menyiapkan
bumbu-bumbu ada bawang merah, bawang putih, garam,
dan sebagainya. Di meja agak belakang Pak Kus
menyiapkan bahan lainnya sepertinya tempe. Terbayang
olehku ca brokoli, oseng buncis, dan tempe goreng yang
nikmat di santap hangat-hangat. Perutku pun terasa
mulai berjoget.
Tidak jauh dari tempatku berdiri kulihat Bu Murti
membawa pisau dan siap membantu memotong sayuran.
Bak semangat 45 dipotong-potong bagian-bagian sayuran
menjadi potongan-potongan munggil.
“Walau kelompok cowok-cowok saya ikut bantu
bu!” kata Bu Murti sambil tertawa lepas dengan candaan
riangnya.
“Ya, Bu jadinya cowek alias cowok cewek,” kataku
sambil tertawa geli.
Pagi ini memang suasana terasa gurih. Banyak
canda, banyak senyum, dengan kegiatan yang baru,
masak bersama bapak ibu guru. Sayangnya aku tidak bisa
menemani proses memasak sampai selesai, karena ada
pekerjaan lain yang harus aku selesaikan, aku juga harus
menghadiri rapat kepala sekolah di Korsatpen.
Acara masak-memasak aku lupakan untuk
sejenak. Kufokuskan pada pekerjaan yang harus segera
dituntaskan. Tak terasa waktupun merayap mendekati
pukul setengah satu siang. Aku sudah kembali ke sekolah.
Kulihat kantor sepi , aku melongok ke ruang TU kosong,
aku intip ruang perpustakaan juga kosong, lalu aku masuk
ruang guru, kulihat hanya Bu Lilis yang duduk di meja
guru paling depan, ia sedang mengerjakan sesuatu di
meja kerjanya.
“Bu Tanti masakan sudah siap, tapi rasanya dak
karu-karuan, Bu Tanti mau makan tidak, ya?” tanya Bu
Lilis.
“Mau makan Bu, kebetulan perut sudah lapar.
Mana bapak ibu yang lain kok sepi?” tanyaku mendekati
meja tempat menyajikan makanan.
“Chefnya kabur bu mumpet, ketakutan karena
dimarahi, masakannya nggak ngalor nggak ngidul,” kata
Bu Lilis sambil tertawa geli.
“Siapa yang marah?” tanyaku.
“Ya, teman-teman bu, lha rasanya dak karu-
karuan,” kata Bu Lilis sambil tertawa.
“Lho, kenapa harus ada yang marah dan mumpet-
mumpet? Bu Lilis saya mau merasakan masakan ala chef
bapak-bapak,” ujarku.
“Benar Bu Tanti mau makan, rasanya tidak enak
lho Bu, nanti malah perutnya sakit,” kata Bu Lilis.
“Jangan Bu sayurnya tidak enak!” cegah Bu Ika
yang baru masuk ruangan. Aku semakin penasaran ada
apa dengan sayur ini.
“Benar, Bu saya mau rasakan masakan Bapak-
Bapak,” kataku mantap.
Aku semakin penasaran dengan masakan bapak-
bapak. Perlahan kubuka panci isi sayuran. Bayangan ca
brokoli yang nikmat jadi ambyar. Kulihat buncis dan
brokoli dicampur jadi satu.
“Ini, sih bukan teman,” pikirku.
Baru kali ini aku lihat masakan brokoli dicampur
buncis. Aku istilahkan bukan teman karena tidak cocok.
Brokoli biasanya cocok dengan wortel atau tahu yang
warnanya kontras. Dalam batinku masakan aneh.
Kalau boleh ditanya mungkin perutku
memberontak menolak tidak mau makan. Lebih baik
makan di restoran yang rasanya enak, menggugah selera,
sesuai dengan cita rasa yang aku kehendaki. Tapi aku
tidak lakukan itu.
“Sayurnya masih banyak Bu Lilis, memang teman-
teman dak pada makan?”
“Pada males makan Bu, malah pada beli makan di
luar?” jawab Bu Lilis.
Aku kernyitkan dahiku. Ada rasa kecewa melihat
guru-guru tidak mau menghargai masakan teman.
Program masak bersama untuk menambah kerukunan
dan kebersamaan berujung duka. Aku yakin Bapak-Bapak
pasti kecewa, sakit hati, apa yang sudah diupayakan tidak
termakan.
“Mana Pak Pri, Pak Kus, dan teman-teman yang
tadi masak?” tanyaku sambil mengambil piring dan
sendok yang sudah tersedia di meja.
“Coba saya cari di aula bu?” kata Bu Lilis beranjak
dari tempat duduknya.
“Ya, Bu terima kasih.”
Tidak berapa lama Pak Pri dan Pak Kus datang
dengan malu-malu melihat saya mengambil sepiring nasi
sayur brokoli dan tempe goreng. Tidak berapa lama
disusul oleh beberapa Ibu Bapak Guru lainnya. Guru-guru
yang melihat aku mengambil makanan pada tersenyum-
senyum.
“Dari mana Pak, katanya kok mumpet?” tanyaku.
“Ya, Bu, maaf ibu-ibu pada marah-marah,” kata
Pak Kus.
“Ya, Bu, maaf Bu masakan kami ambyar,” kata Pak
Pri.
“Ya Pak, brokoli dicampur boncis dibumbu apa ya
kok aneh?” tanyaku sambil tertawa kecil, semakin
membuat Pak Pri dan Pak Kus salah tingkah. Berdua
hanya diam dan senyum-senyum saja.
“Mana guru-guru yang lain saya ingin bicara
sekarang penting, ayo diajak ngumpul di sini!”
Guru-guru tidak menduga kalau siang ini harus
berkumpul bersama. Ada yang bisik-bisik, ada yang pura-
pura sibuk menata piring, ada juga yang pura-pura sibuk
menata buku di mejanya.
Kulirik Pak Pri dan kelompoknya semakin merasa
bersalah, mereka diam dan menunduk. Setelah semua
berkumpul aku mulai angkat bicara.
“Kata Pak Pri tadi mau masak istimewa. Pasti ada
yang istimewa juga dalam sayur ini, tapi apa ya?” tanyaku
pada mereka.