The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by junymona, 2022-06-01 03:51:44

SI KIJANG DARI PENDRIKAN (KUMPULAN CERPEN)

ilovepdf_merged

“Rasa aneh itu bu yang istimewa,” kata Pak Pri
sambil tertawa.

“Sekarang ambil piring satu-satu ambil nasi, lauk,
dan sayur tidak ada yang boleh menolak!” kataku.

“Jika ada yang menolah harus membawa pulang
sayur ini semuanya,” lanjutku.

Mendengar suaraku meninggi ibu bapak guru pada
diam, mereka jalan satu-satu mengambil makan.

“Ini sesuai kesepakatan kita bersama, apapun
hasilnya harus kita nikmati,” imbuhku.

“Bagaimana rasanya ibu bapak?” tanyaku setelah
semua mulai makan.

“Ambyar Bu!”
“Wah, amburadul, Bu!”
“Bu saya dak doyan makan,” ujar mereka
bersautan.
“Ayo sekarang kita nikmati bersama apapun
rasanya!” ajakku.
Aku berpikir di dalam masakannya ini pasti ada
yang istimewa seperti kata-kata Pak Pri tadi pagi. Aku
mulai menyendok sedikit nasi dan sayur brokoli yang aneh
itu. Rasanya memang aneh, tapi aku tetap menyendok,

sambil makan aku masih mencari apa istimewanya sayur
ini ya?

Kurenungkan sambil mengunyah satu sendok dua
sendok. Baru ketemu rasa istimewa dari sayur ini.

“Ibu Bapak sayur ini benar-benar istimewa,”
kataku sambal mengacungkan jempol. Aku pun
menunjukkan ekspresi seolah-olah memakan makanan
yang super lezat.

Bapak Ibu guru pada melongo melihat diriku. Aku
tidak peduli, kumakan sayurannya dengan lahap. Baru
aku mulai bicara lagi.

“Ibu Bapak saya temukan istimewanya makanan
ini,” kataku.

“Apa, Bu?” tanya Pak Pri, Pak Kus, dan Bu Lilis
hampir bersamaan.

“Ada bumbu yang tidak di jual di pasaran
ternyata.”

“Bumbu apa Bu? Semua bumbu kami beli dari
pasar,” kata Pak Kus keheranan.

“Ibu bapak kenapa aku tetap makan sayur yang
rasanya aneh ini dengan lahap, padahal kalau mau makan
di restoran saja bisa, karena ada yang istimewa di sayur
ini.”

Aku terdiam sejenak. Kubiarkan guru-guru
meraba-raba jawaban yang baru aku lontarkan
pertanyaannya. Kubiarkan pikiran mereka mengelana
untuk mencari jawaban. Kulemparkan juga pandanganku
ke wajah mereka satu per satu.

“Mau tahu jawabannya?” tanyaku.
“Mau Bu,” jawab mereka hampir kompak.
“Aku temukan istimewanya sayur ini, adanya
bumbu yang tidak dibeli dari pasar yaitu bumbu
kebersamaan, bumbu ketulusan dalam kerja, bumbu
usaha yang kuat untuk menciptakan cita rasa makanan
yang lezat walau harus mengalami kegagalan. Bagiku itu
prestasi yang luar biasa. Bahkan aku pun belajar dari
sayur brokoli dan buncis yang tidak pernah berteman,
ternyata bisa akur dalam satu wadah sayur,” kataku
sambil menyuap nasi dan sayur terakhirnya.
Semua yang mendengarkan mengangguk-
angguk. Entah anggukan setuju atau formalitas saja yang
jelas aku lihat, kelompok bapak-bapak tertawa bahagia
sambal melakukan tos dengan gembiranya.


Click to View FlipBook Version