The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by junymona, 2022-04-20 10:41:29

Terima Kasih Tidak Mahal

Buku Terima Kasih Tidak Mahal

Kumpulan Cerpen Anak

TERIMA KASIH ITU
TIDAK MAHAL

Rustantiningsih

Kumpulan Cerpen Anak
TERIMA KASIH ITU TIDAK MAHAL
Rustantiningsih

vi+131 halaman, 14,8 x 21 cm
ISBN 978-602-5579-28-8

Cetakan ke-1
Semarang, SINT Publishing
Agustus 2018

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang Memperbanyak Tanpa Izin Tertulis
dari Pengarang/ Penerbit

Editor
Enggar

Tata wajah
Enggar

Desain cover:
Arif Budi

Diterbitkan oleh:
SINT Publishing
Kauman Barat Rt. 05 Rw. 1 No. 12
Sukorejo, Kendal, Jawa tengah, 51363
(Kantor Semarang)
Email: [email protected]
Web: houseofsint.com
No. Telp. 0895360303928/ 089622578323

KATA PENGANTAR

Penulis haturkan rasa syukur kepada Hyang Maha Agung
yang telah menganugerahi pencerahan-Nya sehingga buku
yang berjudul Terima Kasih Itu Tidak Mahal dapat disusun
dengan baik. Buku cerita ini sarat dengan pendidikan karakter
yang mengembangkan sikap menghargai, peduli, tanggung
jawab, toleransi, dan jujur. Dengan bahasa yang sederhana
dan alur yang mudah dipahami sangat menarik untuk dibaca.

Buku ini menceritakan seorang anak yang selalu
menjengkelkan karena tidak pernah mau mengucapkan kata
terima kasih dan maaf. Berbagai peristiwa yang ia alami
menyadarkannya bahwa dua kata sederhana yang sebenarnya
mudah diucapkan memiliki makna yang sangat dalam.

Penulisan buku ini tidak lepas dari dukungan berbagai
pihak. Penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
telah menginspirasi khususnya untuk suami penulis yang
senantiasa memotivasi dan inspirasi, kepada anak-anak
penulis (Sunya, Citta, dan Raja) yang selalu memberikan
kekuatan dan warna dalam kehidupan. Semoga semangat
untuk berkarya selalu ada dalam sanubariku.

Penulis

iii



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................ iii
DAFTAR ISI............................................................................ v

1. Terlambat Sekolah .................................................. 1
2. Lupa Bawa Air Minum............................................. 13
3. Berebut Gunting...................................................... 27
4. Hancurnya Hpku ........................................................ 41
5. Jauh dari Teman...................................................... 55
6. Antre Bakso............................................................. 67
7. Keranjangku Tidak Laku .......................................... 79
8. Bermain di Tambak ................................................. 91
9. Pertolongan Pertama.............................................. 103
10. Kesadaran Tirta ....................................................... 115
GLOSARIUM ......................................................................... 124
INDEKS.................................................................................. 126
BIODATA PENULIS ................................................................ 130

v



TERLAMBAT
SEKOLAH

Alarm handphone Tirta sudah berbunyi pukul lima
tadi. Bukannya bangun, Tirta malah mematikan alarm dan
tidur lagi. Ditariknya selimut hangat untuk menutupi
tubuhnya yang cukup besar untuk ukuran anak kelas V.
Ia teruskan mimpinya di atas tempat tidur. Tirta anak
semata wayang Pak Darma dan Bu Darma. Nama
lengkapnya Tirta Santoso, biasa dipanggil Tirta.

Bu Darma melongok ke kamar anaknya, melihat
Tirta masih tidur nyenyak ia segera membangunkan Tirta
sembari menarik selimutnya.

“Tirta bangun, sudah siang!”
“Ya!” jawab Tirta malas.

Rustantiningsih 1

Jawaban Tirta hanya untuk melegakan hati ibunya.
Ia tarik kembali selimut dan kembali meringkuk di tempat
tidur. Bu Darma mencoba membangunkan anaknya lagi
tetapi belum juga beranjak dari tempat tidur. Kekesalan
Bu Darma memuncak ia omeli anaknya untuk segera
bangun. Mendengar suara ribut-ribut di kamar Tirta, Pak
Darma datang.

“Tirta bangun, hari sudah siang, molor saja. Ayo,
bangun! Kalau kamu terlambat lagi, Bu Harum pasti
marah.”

Mendengar suara ayahnya, Tirta segera bangun dan
lari menuju kamar mandi. Persiapan untuk berangkat
sekolah hanya dilakukan beberapa menit saja. Dengan
tergesa-gesa ia sambar tas sekolah.

“Bu, berangkat dulu!” teriak Tirta.
“Makan dulu, Nak, sebelum berangkat!” ujar ibunya.
“Tidak usah, Bu, saya sudah terlambat!” teriak Tirta
lebih keras.
Bu Darma hanya bisa menggelengkan kepala melihat
perilaku anaknya. Tirta berlalu begitu saja. Ia ambil

2 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

sepeda dan mengayuhnya menuju sekolah yang jarak
tempuhnya kurang lebih satu kilometer.

Sampai di sekolah waktu sudah menunjukkan pukul
tujuh lebih. Tirta segera menyandarkan sepeda itu di
tempat parkir samping ruang kelas V. Ia sudah terlambat
yang keempat kalinya sejak masuk hari pertama di kelas
V. Butiran air keringat mengalir di sekitar keningnya,
seragam putih merah hanya sekadar melekat di badannya
tanpa dirapikan lebih dahulu. Tas gendong yang
bertengger di punggungnya belum tertutup sempurna.
Tirta berjalan setengah berlari menuju ruang kelasnya.

Ia berhenti sejenak di samping pintu kelas. Lagu
Indonesia Raya telah berkumandang. Anak-anak dengan
khidmat menyanyi sambil berdiri. Ada rasa deg-degan di
hati Tirta. Terbayang Bu Harum guru kelas V
menyuruhnya menyanyi lagu wajib di depan kelas jika ada
anak yang terlambat sekolah. Ia akan merasa malu sekali,
apalagi suaranya tidak bagus, nada-nada yang keluar dari
mulutnya berantakan.

“Wah, aku terlambat lagi!” gumamnya.

Rustantiningsih 3

Tirta berusaha menata hati. Untuk menghilangkan
rasa ketakutan ia tengak-tengok ke kanan dan kiri. Raut
mukanya tegang. Suasana hatinya tidak karuan.
Terdengar suara Bu Harum mengabsen murid-murid.
Jantungnya tambah berdetak kencang.

Ia berhenti sejenak di samping pintu kelas.
Lagu Indonesia Raya telah berkumandang.
Tiba-tiba dari kejauhan tampak Rani teman sekelas
Tirta berlari-lari menuju kelas. Ia juga terlambat. Tirta
yang semula tegang tersenyum gembira ada temannya
yang terlambat seperti dia.
4 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

“Ayo kamu masuk duluan!” ajak Rani.
“Aku malu, Ran!” jawab Tirta.
“Masuk bareng saja.”
Tirta berharap usulnya disetujui Rani tetapi Rani
hanya menggelengkan kepala. Mereka belum juga masuk
malah dorong-dorongan di samping pintu kelas.
“Aduh!” Rani berteriak karena didorong keras oleh
Tirta hingga terjerebak ke depan pintu kelas.
Bu Harum yang berdiri di depan kelas kaget
kemudian berjalan menuju arah Rani dan Tirta yang
berdiri ketakutan di depan pintu.
“Ayo, masuk, kok malah dorong-dorongan di luar!”
Tirta dan Rani mengikuti Bu Harum masuk ke kelas.
Kemudian mereka berdiri di depan kelas. Seperti biasa,
Bu Harum menyuruh mereka untuk menyanyikan lagu
wajib.
“Teman-teman, saya terlambat karena bangun
kesiangan,” kata Tirta dengan nada cepat. Selanjutnya
Tirta menyanyikan lagu Dari Sabang Sampai Merauke.
Nada bernyanyi Tirta yang terdengar kacau membuat
teman-temannya tersenyum geli.

Rustantiningsih 5

“Sekarang Rani silakan menyanyi,” kata Bu Harum.
“Teman-teman, maaf ya saya terlambat karena ban
motor ayahku bocor,” kata Rani dilanjutkan menyanyi
lagu Hari Merdeka. Suara Rani yang bagus mengalun
memenuhi kelas V. Teman-temannya mendengarkan
dengan kagum. Tepuk tangan membahana ketika Rani
selesai menyanyi.
Mereka berdua kemudian duduk di bangku masing-
masing. Bu Harum beranjak dari tempat duduk dan
berdiri di depan kelas. Di pandangnya Rani dan Tirta
secara bergantian. Rani dan Tirta yang ditatap Bu Harum
penuh arti menjadi salah tingkah. Keduannya hanya
menundukkan kepala.
“Anak-anak, hari ini teman kalian ada yang
terlambat lagi.”
Bu Harum berhenti sejenak dan menghela napas
panjang. Kemudian arah pandangan ia tujukan ke semua
penjuru kelas.
“Coba kalian cari perbedaan antara keterlambatan
Tirta dan Rani.”

6 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

Kelas hening sejenak, Bu Harum memberi waktu
pada anak-anak untuk berpikir.

“Kalau sudah ketemu silakan angkat tangan dan
sebutkan perbedaannya!” lanjut Bu Harum.

Beberapa anak berbisik, ada juga yang memandang
ke langit-langit seakan-akan ingin menemukan jawaban di
sana, ada juga yang cengar-cengir seperti tidak berpikir.

“Saya, Bu!” kata Tasya anak terpandai di kelas
angkat bicara sambil mengacungkan jarinya.

“Ya, Tasya apa jawabanmu?” tanya Bu Harum lega
karena ada muridnya yang mau menjawab.

“Kalau Rani terlambat baru sekali, Bu, sedangkan
Tirta sudah beberapa kali.”

“Ya bagus! Ada yang menjawab lain?” tanya Bu
Harum lagi.

“Saya, Bu! Kalau Tirta menyanyi lagu Dari Sabang
Sampai Merauke sedangkan Rani menyanyi lagu Hari
Merdeka, Bu,” jawab Dadang yang berkacamata minus.

“Ya, siapa lagi,” Bu Harum kembali menawarkan
jawaban pada murid-muridnya.

Rustantiningsih 7

Kelas kembali diam, anak-anak merasa kebingungan
sepertinya jawaban sudah diutarakan semua oleh teman-
teman mereka.

“Masih ada perbedaan yang mungkin tidak kalian
sadari, anak-anak.”

Anak-anak tambah bingung dan berusaha untuk
berpikir keras menemukan jawaban itu. Ada yang garuk-
garuk kepala. Ada yang memejamkan mata. Ada juga yang
diam namun berusaha untuk menjawabnya.

“Coba kamu ingat kata-kata Tirta dan Rani ketika
berbicara di depan kelas sebelum menyanyi,” pancing Bu
Harum.

Murid-murid saling berpandangan, mereka mencoba
mengingat kata-kata kedua temannya yang terlambat
tadi.

“Tirta berkata cepat, Rani berkata lambat, Bu,”
jawab Dadang.

“Jawaban Dadang benar tetapi maksud ibu kalimat
yang diucapkan Tirta dan Rani,” tegas Bu Harum.

“Saya ingat, Bu, kalau Rani mengucapkan kata maaf,
sedangkan Tirta tidak menggunakan kata maaf.”

8 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

“Bagus!” kata Bu Harum mantap kemudian bertepuk
tangan dan diikuti seluruh muridnya.

“Nah, anak-anak, apakah kamu sering mendengar
kata „maaf‟?”

“Ya, Bu,” jawab anak-anak serempak.
“Baik kalau begitu lihatlah gambar di layar ini!”
Bu Harum menyalakan laptopnya dan LCD
kemudian mencari file tentang gambar yang dimaksud.
Tidak berapa lama tampak di layar ada gambar anak
memecahkan gelas di dapur. Kemudian gambar anak
berhadapan dengan ibunya yang terlihat ketakutan
karena memecahkan gelas.
“Anak-anak, melalui gambar yang kalian lihat ini
siapakah yang melakukan kesalahan?” tanya Bu Harum.
“Anak kecil, Bu?” jawab murid-muridnya.
“Apa kira-kira yang dilakukan anak kecil itu di
hadapan ibunya?” lanjut Bu Harum.
“Menangis, Bu,” kata Dadang.
“Takut, Bu, karena di marahi ibunya,” kata Bela.
“Ada lagi jawaban lain?” pancing Bu Harum.
“Minta maaf, Bu,” ujar Rani.

Rustantiningsih 9

“Ya, bagus jawabanya. Benar semua namun yang
terpenting adalah meminta ...” kata Bu Harum.

“Maaf!” sahut murid-murid serempak.
“Ingat, anak-anak, kata maaf diucapkan jika
melalukan kesalahan. Nah, Rani tadi minta maaf karena
Rani merasa bersalah yaitu datang terlambat,” kata Bu
Harum panjang lebar.
“Apakah yang diucapkan Rani tersebut sudah
tepat, anak-anak?“
“Sudah, Bu!” jawab anak-anak nyaris bersamaan.
“Dan, satu lagi, jika ada yang meminta maaf kita
wajib ...” kata Bu Harum sengaja tidak dilanjutkan.
“Memaafkan, Bu!” sahut anak-anak.
“Dengan adanya kata-kata maaf dari yang bersalah
dan memaafkan orang yang bersalah kehidupan ini akan
menjadi damai, tidak ada dendam dan tidak ada
permusuhan. Kalau dalam hati kita menyimpan dendam
ibaratnya bagai api dalam sekam. Api itu akan terus
membara dalam hati kita dan itu bisa menghancurkan
hidup kita.”

10 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

Tirta yang mendengarkan kata-kata Bu Guru dan
teman-temannya hanya diam. Walau ia mendengar nasihat
Bu Harum namun pandangannya tampak acuh saja.

“Ayo anak-anak, kita biasakan mengucapkan kata
maaf jika bersalah. Tirta sanggup untuk meminta maaf
jika bersalah?”

“Sanggup, Bu,” kata Tirta pelan hampir tidak
terdengar.

“Nah, anak-anak, ibu ada pantun untuk kalian, mau
dengar pantun bu guru?”

“Mau, Bu!” kata murid-murid.
Suasana kembali lengang. Murid-murid menunggu
pantun Bu Harum. Mereka senang mempunyai guru yang
pandai berpantun. Hampir tiap hari bu guru selalu
menyisipkan pantun dalam pembelajarannya.
“Bunga mawar berwarna merah. Kalau dicium
harum baunya. Jika kamu merasa bersalah. Meminta
maaf janganlah lupa.”
Selesai berpantun, Bu Harum disambut dengan
tepuk tangan dari murid-muridnya. Bu Harum tersenyum

Rustantiningsih 11

bahagia melihat murid-muridnya memahami pelajaran
berharga hari ini.

12 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

LUPA BAWA
AIR MINUM

Udara terasa panas. Walau baru pukul sembilan
kurang seperempat matahari sudah memancarkan
panasnya yang cukup menyengat. Murid-murid kelas V
berhamburan ke luar kelas ketika mendengar bel
istirahat berbunyi. Sebagian lari menuju kantin sekolah,
sebagian bermain kejar-kejaran, dan sebagian lagi
menikmati bekal yang dibawa dari rumah.

Letak SD Tawang Mas yang hanya 2 km dari laut
menyebabkan suhu terasa semakin panas. Wajar jika
murid-murid banyak yang berbekal air minum dari rumah.
Namun, siang ini panasnya melebihi hari-hari biasanya.
Tenggorokan mudah terasa kering, sebentar-bentar
rasanya ingin minum.

Rustantiningsih 13

Demikian juga dengan Tirta. Ia merasa kehausan.
Pagi tidak sarapan, bangun kesiangan, akibatnya tidak
sempat membawa bekal minum dan ia lupa meminta uang
saku pada orang tuanya. Tenggorokannya terasa kering
sekali. Teman-teman Tirta sudah banyak yang keluar
ruangan. Rata-rata mereka menuju kantin atau bermain
di luar.

Tirta masih tinggal di kelas, ia tengak-tengok
mencari sesuatu. Di meja pojok belakang ada botol
minum air putih yang berada di atas meja. Pucuk di cinta
ulam tiba pikir Tirta. Tanpa menunggu lama Tirta menuju
meja tersebut dan meraih botol minum, dengan cepat ia
membuka tutupnya dan segera meneguk air minum itu.
Baru beberapa tegukan dari arah pintu terdengar suara
Dadang berteriak.

“Hei, Tirta enak-enakan mencuri minumku, ya! Ayo
diganti, enak saja minum!” teriak Dadang dengan nada
keras.

Tirta kaget dengan teriakan Dadang. Ia segera
meletakkan botol tersebut dan senyum-senyum melihat

14 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

Dadang yang gendut memergokinya meminum air mineral
milik Dadang.

“Eee ... mau ke mana? Tutup dulu botolnya dan
ganti sekarang!” Dadang semakin sewot.

Tirta hanya senyum-senyum saja.
“Minum dikit saja kok, Dang. Sekali-kali sedekahlah
sama teman yang kehausan!” kata Tirta sambil menutup
botol minum Dadang.
“Sedekah-sedekah. Sedekah itu kalau aku sengaja
memberimu minum, kalau ini bukan sedekah Tirta,
namanya kecurian. Dasar pencuri!” kata Dadang semakin
geram.
“Masih ingat kata Bu Harum? Kalau kita harus mau
membantu teman yang membutuhkan. Nah, kali ini aku
kehausan dan kamu yang membantu memberi minum
untukku, Dang.”
“Itu kalau kamu minta baik-baik padaku. Apakah
kamu tadi minta izin padaku? Tidak kan? Itu namanya
mencuri,” bantah Dadang.
“Dasar pencuri! Ayo ganti!”

Rustantiningsih 15

“Dang, kalau kamu iklhas malah dapat pahala lho,
jadi tidak usah minta ganti!” kata Tirta.

Dadang semakin geram mendengar Tirta yang tidak
merasa salah malah menceramahinya. Muka Dadang
mulai merah padam menahan kejengkelannya sedangkan
Tirta hanya senyum-senyum saja seperti tidak merasa
bersalah.

“Sobat, aku minum hanya sedikit, kok. Ikhlaskan ya.
Tidak usah diganti, please.”

“Sekali ganti, ya. Ganti! Titik!” kata Dadang
meninggi menahan kesal.

Tirta tidak menghiraukan permintaan Dadang. Ia
mengayunkan langkah dengan entengnya hendak pergi
meninggalkan Dadang yang masih sewot.

“Eit … mau ke mana? Ganti dulu minumku
sekarang!”

Tirta menghentikan langkahnya. Ia menggaruk-garuk
kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

Kedua anak itu masih bersitegang. Bel tanda masuk
setelah istirahat berbunyi namun keduanya tidak
menghiraukannya. Teman-temannya masuk ke kelas. Kelas

16 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

menjadi sangat ramai karena Dadang masih ngotot minta
ganti sementara Tirta hanya diam sambil senyum-senyum
dan garuk-garuk kepala. Dadang semakin jengkel melihat
tingkah laku Tirta.

Anak-anak berkerumun melihat kedua temannya
bertengkar. Dadang ngomel-ngomel, habis sudah
kesabaran Dadang, ia mengayunkan botol minumnya ke
arah Tirta. Tirta berusaha menangkis pukulan Dadang
dengan senyum mengejek. Dadang semakin kalap, kelas
semakin ramai, anak-anak berteriak-teriak memberikan
dukungan pada Dadang. Suasana itu baru berhenti
setelah Bu Harum masuk.

Rustantiningsih 17

Dadang mengayunkan botol minumnya
ke arah Tirta

Kedatangan Bu Harum membuat murid-murid salah
tingkah. Murid-murid yang tadi berkerumun
membubarkan diri secara teratur dan segera duduk di
bangkunya masing-masing. Kelas mendadak menjadi sunyi.
Bu Harum dengan tenang memandang semua murid-
muridnya satu persatu.

Seperti biasa, tanpa banyak tanya Bu Harum sudah
bisa menemukan siapa yang menjadi biang keladinya. Rona
wajah dan tingkah laku dua muridnya terlihat aneh. Yang

18 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

satu mukanya merah padam, yang satu diam namun
pandangannya sangat acuh.

“Dadang, Tirta, ke depan!”
Dengan langkah gontai keduanya maju menuju meja
Bu Harum. Dalam hati mereka berdua ada rasa takut
dan malu yang bercampur aduk. Pandangan murid-murid
tertuju pada kedua temannya. Semua tegang tidak ada
yang berani berbicara. Mereka menanti apa yang akan
terjadi pada kedua temannya tadi.
Sejak kelas 1 mereka sudah berteman dengan Tirta.
Mereka sering melihat ulah Tirta yang membuat jengkel
teman-temannya. Anehnya Tirta tidak merasa bersalah
dengan perilakunya tersebut. Tirta termasuk anak yang
alergi mengucapkan kata „terima kasih‟ dan „minta maaf‟.
Banyak perbuatan-perbuatannya yang menyebabkan
teman-temannya kena dampak jelek.
Tirta dan Dadang sudah berdiri di depan Bu
Harum. Keduanya hanya diam sambil menunduk.
“Apa yang terjadi, Dang?”
“Saya dipukul Dadang, Bu,” Tirta yang menjawab.

Rustantiningsih 19

“Tirta diam. Ibu bertanya pada Dadang!” kata Bu
Harum.

“Bekal minum saya diminum Tirta, Bu,” ujar Dadang.
“Saya hanya minum sedikit, Bu,” kata Tirta.
“Tirta diam. Ibu bertanya pada Dadang. Biar
Dadang yang menjawabnya!” kata Bu Harum meninggi.
“Betul kamu minum bekal minum Dadang, Tirta?”
“Benar, Bu, tapi hanya sedikit,” Tirta beralasan.
“Dadang, ketika Tirta minum air milikmu, apakah
Tirta sudah meminta izin baik-baik?” tanya Bu Harum.
“Tidak, Bu, tadi saya baru keluar ke kamar kecil.
Ketika kembali ke kelas mau ambil air minum, ternyata
sudah diminum Tirta, Bu,” jelas Dadang pada Bu Harum.
Bu Harum diam sejenak kemudian mengalihkan
pandangan pada Tirta. Tirta yang ditatap Bu Harum
menjadi salah tingkah. Dalam hati kecilnya Tirta memang
merasa bersalah.
“Kenapa kamu lakukan itu, Tirta?”
“Saya sudah tidak bisa menahan haus, Bu?”
“Tapi kamu bisa kan ngomong baik-baik pada
Dadang?”

20 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

“Habis Dadang tidak ada, Bu! Jadi, ya terpaksa saya
minum?” elak Tirta.

“Apakah perbuatanmu itu baik?”
“Tidak, Bu?”
“Kenapa kalau kamu tahu itu tidak baik malah kamu
lakukan, Tirta?”
Tirta hanya diam. Ia sudah kehabisan kata-kata
untuk mengelak dari perbutannya.
“Sekarang kamu minta maaf pada Dadang dan
bersedia mengganti minum Dadang yang sudah kamu
minum!” kata Bu Harum.
“Bagaimana, Tirta, kamu sanggup?”
“Sanggup, Bu,” jawabnya lirih.
Kepala Tirta mengangguk. Bu Harum meraih tangan
Dadang dan Tirta. Kedua tangan itu disatukan dan
mereka bersalaman. Teman-temannya merasa lega melihat
Dadang dan Tirta sudah akur kembali.
Bu Harum melanjutkan pelajaran hari ini. Anak-
anak kelas V asyik melakukan percobaan IPA. Mereka
belajar menguji kandungan karbohidrat. Ada yang
menguji tepung beras, tahu, gula, garam, nasi, dan roti.

Rustantiningsih 21

Kelas menjadi laboratorium dadakan. Bu Harum memang
pandai mengajar, anak-anak dibuat asyik dalam
pembelajaran hingga tak terasa sudah saatnya istirahat.

Anak-anak berhamburan keluar ruangan setelah
mereka membereskan peralatan percobaan. Tirta yang ke
luar belakangan tiba-tiba berhenti. Ia ingat tentang air
minum Dadang.

Beberapa saat kemudian Tirta sibuk menuangkan
botol minum temannya ke botol Dadang. Ia taruh kembali
botol minum Dadang di atas meja. Ia pun segera berlalu
seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

Suara riuh anak-anak yang beristirahat segera
berlalu setelah mendengar bel panjang tanda masuk kelas
berbunyi. Anak-anak kelas V berdesak-desakan untuk
segera masuk ruangan.

Dadang masuk belakangan dengan lari tergopoh-
gopoh.

“Dang, ini minummu sudah aku ganti, ya!” Tirta
menunjuk botol yang sudah terisi penuh.

Dadang yang merasa kehausan segera membuka
botol itu dan meneguknya.

22 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

“Hai! Air apa ini, asin sekali?”
Tirta terawa melihat tingkah Dadang yang
berteriak-teriak sambil mengelap bibirnya yang keasinan.
“Kamu yang ngerjain aku ya? Awas lho aku laporkan
ke Bu Harum lagi!”
Kelas menjadi gaduh. Tirta senyum-senyum
mengejek Dadang yang keasinan. Dadang semakin
jengkel.
“Iya, Tirta kamu itu tega ya ngerjain teman!” kata
Krisna dengan tenang sambil mendekati Tirta.
“Coba, Tirta kamu minum air ini!” lanjut Krisna.
“Nggak, Kris, aku nggak mau!” kata Tirta berontak.
“Kamu saja tidak sudi meminumnya. Apa kamu tidak
kasihan pada Dadang? Memang dari mana kamu dapat air
asin ini?” tanya Krisna penuh selidik.
“Ada, deh!” kata Tirta sambil cengar-cengir.
“Mestinya kamu tidak berbuat seperti itu, Tirta,
kasihan Dadang. Coba kalau yang mengalami itu kamu,”
Krisna menasihati kawannya.
“Sekarang coba kamu yang minum!” bentak Dadang
masih dengan nada emosi.

Rustantiningsih 23

“Nggak!” kata Tirta menolak.
“Ayo minum!” Dadang menyodorkan botol minumnya
yang sudah dibuka.
Tirta secepat kilat mengibaskan tangannya sehingga
botol yang disodorkan Dadang jatuh. Air itu tumpah ke
mana-mana. Tirta sendiri tidak mengira kalau akibat
perbuatannya akan separah ini.
“Gawat, kalau Bu Harum tahu habislah aku,”
pikirnya.
“Aduh, Tirta. Gara-gara kamu nih. Ayo minta maaf
pada Dadang. Sekarang ayo bersihkan. Ini kan hari
piketmu juga,” kata Krisna.
“Ya,” katanya namun tidak beranjak juga.
“Ayo, Tirta, nunggu apa lagi? Keburu Bu Harum
masuk, lho!” kata Krisna dan teman-temannya.
“Ya, Tirta, cepat minta maaf dan bersihkan!”
Kali ini tidak ada pilihan lain. Tirta tidak bisa
menolak. Jika menolak pasti akan mendapat cacian dari
teman-temannya terutama kelompok regu piketnya.
Dengan berat hati ia ulurkan tangan pada Dadang dan
meminta maaf kemudian diambilnya kain pel dan segera ia

24 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

bersihkan lantai kelas dengan cepat. Ia takut jika
keduluan Bu Harum masuk walau dalam hati Tirta
mengerutu. Teman-temannya lega melihat perilaku Tirta.
Kelas tidak gaduh lagi dan kembali bersih.

Rustantiningsih 25



BEREBUT GUNTING

Halaman sekolah kembali lengang. Anak-anak sudah
masuk ke kelas masing-masing. Waktu istirahat sudah
berlalu. Begitu juga dengan kelas V. Anak-anak sudah
bersiap belajar dengan Bu Harum.

Tiap anak mengeluarkan kertas karton, lem, dan
gunting. Bu Harum kemarin sudah memberikan tugas
tersebut sebelum anak-anak pulang sekolah. Namun,
tidak demikian dengan Tirta. Ia tidak membawa bahan
apa pun. Apalagi tadi bangun kesiangan dan datang
terlambat ke sekolah. Ia lupa jika hari ini ada tugas dari
Bu Harum.

“Anak-anak, semua peralatan dikeluarkan sekarang
ya. Hari ini kita akan membuat sesuatu yang istimewa,”
kata Bu Harum membuka pelajaran matematika hari ini.

Rustantiningsih 27

“Kira-kira kita akan membuat apa ya?” pancing Bu
Harum.

“Membuat jaring-jaring bangun ruang, Bu?”
“Belum tepat!”
“Membuat bangun ruang, Bu,” kata Krisna.
“Ya, betul Krisna. Hari ini kita akan membuat
bangun ruang kubus, balok, dan limas segi empat.”
“Hore!” sorak anak-anak kegirangan.
Hanya Tirta yang kelihatan tidak senang. Ia merasa
bersalah tidak membawa apa-apa. Teman-temannya sibuk
dengan peralatannya sendiri. Tirta hanya bengong
melihat teman-temannya. Tirta bertambah salah tingkah
ketika melihat Bu Harum melempar pandangan padanya.
Ia menundukkan kepala dalam-dalam. Tirta tidak berani
melihat tatapan Bu Harum.
“Tirta, kenapa diam, ayo dikeluarkan peralatanmu!”
kata Bu Harum.
“Tidak membawa peralatan, Bu,” sahut Rani yang
memperhatikan perilaku Tirta.
“Benar begitu, Tirta?”
“I ... iya, Bu,” jawab Tirta gugup.

28 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

“Tirta memang pemalas, Bu,” kata Dadang.
“Pelupa alias pikun, Bu,” kata Rani disahut dengan
gelak tawa teman-temannya.
Tirta hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya untuk
menghilangkan rasa malu pada teman-teman dan ibu
gurunya.
“Aduh, Tirta, mengapa kamu lupa membawa tugas?”
kata Bu Harum, “padahal kemarin sudah dicatat di buku
tugas,” lanjutnya.
Tirta masih tetap diam saja.
“Coba, anak-anak, yang sekarang membawa bahan
lebih bisa memberi atau meminjami Tirta,” kata Bu
Harum lagi.
“Siapa yang mau memberi Tirta?” tanya Bu Harum.
“Saya, Bu,” kata Riko sambil menunjukkan bahan
dan peralatannya.
Riko mengambil kertas yang berlebih kemudian
memberikannya pada Tirta. Tirta menerimanya dengan
senang hati. Bu Guru kembali ke depan kelas menjelaskan
cara-cara membuat bangun ruang. Anak-anak
memperhatikan dengan seksama. Berikutnya anak-anak

Rustantiningsih 29

mengerjakan tugas membuat bangun ruang. Ada yang
mengukur dengan penggaris, menggunting kertas, dan
sebagainya. Anak-anak sibuk dengan aktivitas masing-
masing. Hanya Tirta yang masih bingung dengan tugasnya.
Untuk beberapa waktu ia hanya memandangi kertas di
depannya kemudian tengak-tengok pekerjaan temannya.

“Waktu untuk mengerjakan bangun ruang 1 jam,
anak-anak,” Bu Harum mengingatkan murid-muridnya.

Tirta kelihatan kaget. Ia segera mengambil kertas
dan menggambar pola pada kertas yang diberikan Riko.
Tirta tampak menggoreskan pensilnya kemudian
menghapus kembali. Kejadian itu sampai beberapa kali.

“Mana guntingnya? Aku pinjam,” kata Tirta sambil
merebut gunting yang dibawa Riko.

Riko yang ditarik guntingnya berteriak-teriak
kesakitan. Gunting yang ditarik Tirta melukai tangan
Riko. Kelas yang tadi sibuk dengan aktivitas masing-
masing kini perhatian mereka tertuju pada Riko dan
Tirta. Bu Harum segera berjalan ke arah Riko. Riko
kelihatan meringis kesakitan. Bu Harum meraih tangan

30 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

Riko. Ada luka sobek di tangan kanannya. Darah terus
menetes keluar dari luka yang menganga.

Bu Harum agak panik. Ia panggil dokter kecil yang
bertugas hari ini.

“Tolong, yang bertugas dokter kecil hari ini
mengambil obat merah di kotak obat!”

Beberapa anak petugas dokter kecil segera
melangkah ke lemari tempat kotak obat. Dengan
setengah berlari anak-anak tersebut mengeluarkan obat
merah dan kapas. Bu Harum dibantu dokter kecil segera
mengobati luka Riko.

“Mana guntingnya? Aku pinjam,”
kata Tirta sambil merebut gunting yang dibawa Riko.

Rustantiningsih 31

Wajah Riko meringis menahan perih. Bu Harum
meneteskan obat merah dan menyekanya pelan
menggunakan kapas namun darah tetap keluar. Beberapa
kapas tak mampu menghentikan darah Riko. Bu Harum
mengambil tisu di atas meja. Beberapa tisu digunakan
untuk menyeka luka tersebut.

“Tahan Riko,” kata Bu Harum menguatkan
muridnya.

“Ayo ikut ibu ke puskesmas sekarang biar darahnya
bisa mampet!” kata Bu Harum sambil meraih tangan Riko
dan berjalan cepat menuju kantor. Setelah berbincang
sebentar dengan guru lain agar menunggui anak-anak
yang belajar membuat bangun ruang, Bu Harum
memboncengkan Riko ke puskesmas.

Di kelas Tirta mendapat serangan dari teman-
temannya. Semua menyalahkan Tirta. Akibat
perbuatannya Riko terluka.

“Gara-gara kamu Tirta, Riko harus dibawa ke
dokter,” kata Dadang.

“Iya, Tirta. Pasti kamu nanti juga akan kena marah
dari guru,” Rani menimpalinya.

32 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

“Kamu, sih, bukannya berterima kasih tetapi malah
membuat luka di tangan Riko,”kata teman yang lain.

“Kamu juga kena marah dari ayah Riko, lho!”
tambah Dadang.

“Bisa juga kamu dilaporkan ke polisi lho, Tirta,” kata
temannya yang lain.

Tirta yang dari tadi hanya diam saja lama-lama tidak
tahan mendengar ejekan teman-temannya.

“Bisa pada diam nggak, sih!” teriak Tirta.
“Harusnya kamu terima kasih pada Riko. Tidak
malah melukainya. Dasar anak nakal,” Dadang berteriak
lebih keras.
“Iya, Tirta, minta maaf juga pada Riko. Kamu sudah
berbuat salah,” kata Krisna.
“Dikit-dikit minta maaf. Dikit-dikit terima kasih.
Apa tidak ada kata lain? Membosankan!” gerutu Tirta.
“Teman-teman, tidak ada gunanya kita bicara
dengan anak yang tidak sopan,” tambah Dadang Jengkel.
“Iya benar. Biar dia hidup sendiri. Dia kan tidak
butuh orang lain,” kata teman lain.

Rustantiningsih 33

“Kamu kira aku takut tanpa kalian?” kata Tirta
semakin menjengkelkan.

“Dengarkan teman-teman. Tirta makin sombong.
Coba saja, bisa tidak dia sendiri tanpa teman?” tantang
Dadang.

“Dasar anak sombong,” kata Dadang semakin
jengkel.

Kelas menjadi gaduh. Anak-anak yang tadi sibuk
membuat bangun ruang malah tidak menyelesaikan
pekerjaannya. Perhatian mereka tertuju pada Tirta dan
Dadang yang saling adu mulut. Udara siang terasa
semakin panas. Seperti suasana kelas V yang tegang. Pak
Rakyan yang tadi dititipi kelas oleh Bu Harum datang.
Anak-anak yang tadi ribut melihat kedatangan Pak
Rakyan segera duduk dan pura-pura tidak terjadi apa-
apa.

Pak Rakyan yang baru saja datang sudah mencium
gelagat yang tidak baik. Pak Rakyan diam sejenak
kemudian mengecek pekerjaan murid-murid yang belum
selesai.

34 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

“Anak-anak, sudah selesai membuat bangun ruang?”
tanya Pak Rakyan.

“Belum, Pak!” jawab anak-anak serempak.
“Sekarang pekerjaannya disimpan dulu. Bapak akan
bercerita,” kata Pak Rakyan.
“Asyik!” seru anak-anak serempak.
Pak Rakyan menunggu kelas tenang kembali
kemudian berdiam beberapa saat. Anak-anak tidak satu
pun yang berbicara. Mereka menunggu cerita Pak
Rakyan.
“Anak-anak, pak guru akan bercerita tentang tiga
saudara. Di sebuah desa ada tiga saudara yang wataknya
berbeda. Ayah ketiga anak tersebut sudah tua. Beliau
akan membagikan harta kekayaannya pada ketiga
anaknya. Anak yang paling tulus berbakti padanya akan
mendapat setengah dari semua hartanya. Sisanya dibagi
untuk dua anak yang lain.”
“Sang ayah mempunyai cara untuk melihat ketiga
watak anaknya. Ketiga anaknya dikumpulkan kemudian
mereka mendapat pertanyaan yang sama untuk dijawab.”

Rustantiningsih 35

“Nah, anak-anakku, ayah mempunyai pertanyaan
untuk menentukan pembagian warisan,” kemudian
ayahnya berdiam sejenak.

“Apa yang akan kamu lakukan seandainya ayah
meninggal?” kata ayahnya.

“Anak pertama menjawab akan memakamkan
dengan sebaik-baiknya dan memelihara semua harta
kekayaannya. Anak kedua menjawab akan memakamkan
ayahnya dan membangun pemakanaman dengan megah
serta memanfaatkan harta ayahnya dengan sebaik-
baiknya.”

“Nah, kira-kira anak ketiga menjawab apa ya?” tanya
Pak Rakyan.

Anak-anak berdiam tidak ada yang menjawab.
“Rani, apa kira-kira jawaban anak ketiga?”
“Apa ya, Pak? Mungkin akan berdoa untuk
ayahnya?” jawab Rani.
“Kamu, Tirta, kira-kira apa jawaban anak ketiga?”
tanya Pak Rakyan kembali.

36 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

Tirta hanya menggaruk-garuk kepalanya. Pak Rakyan
dan teman-teman menunggu jawaban Tirta namun tidak
juga keluar dari mulutnya.

“Nah, mau tahu jawabannya?” tanya Pak Rakyan
setelah menunggu beberapa saat.

“Dengarkan, anak-anak. Ternyata anak ketiga tidak
menjawab tapi malah menangis. Ayahnya bingung. Setelah
tangis anak ketiga reda, ayahya bertanya, ‟kenapa kamu
menangis, Nak?‟”

“Maaf, Ayah, saya tidak bisa membayangkan kalau
Ayah tiada sementara saya hanya bisa mengucapkan
terima kasih pada Ayah. Saya belum bisa membalas
kebaikan Ayah selama ini. Saya tidak kuasa menjawab
pertanyaan Ayah,” kata anak ketiga berkaca-kaca.

“Nah, anak-anak, maka sang ayah memberikan
hadiah warisan terbanyaknya pada anak ketiga. Karena
kata terima kasih inilah sang ayah terharu akan ketulusan
hati anaknya.”

“Nah, anak-anak, jangan pernah menyepelekan kata
terima kasih. Walaupun sederhana tapi maknanya sangat
mendalam. Orang yang menerima ucapan itu akan merasa

Rustantiningsih 37

dihormati dan orang yang mengucapkan kata terima kasih
sebagai ungkapan rasa hormat dan sayang pada sesama.”

“Jadi, mari kita membiasakan diri mengucapkan ...”
Pak Rakyan sengaja tidak melanjutkan kalimatnya,
dibiarkannya anak-anak melanjutkannya.

“Terima kasih,” kata anak-anak serempak tak
terkecuali Tirta.

“Mengucapkan terima kasih itu tidak mahal namun
besar maknanya. Ayo kita biasakan mengucap kata terima
kasih,” kata Pak Rakyan mengakhiri ceritanya.

Cerita Pak Rakyan mengena di hati anak-anak
termasuk Tirta. Tampak Tirta sangat memperhatikan
cerita Pak Rakyan dari awal hingga akhir. Sepertinya
cerita Pak Rakyan berkesan di hati Tirta. Pak Rakyan
kelihatan lega telah memberikan pencerahan pada anak-
anak tentang pentingnya mengucapkan terima kasih.
Kalimat yang sederhana namun penuh makna. Apa yang
dilakukan Pak Rakyan ibarat sekali merengkuh dayung
dua tiga pulau terlampui. Sekali dia bercerita bisa
menjadikan pelajaran untuk semua anak. Bisa untuk
menyadarkan Tirta dan bisa menambah wawasan bagi

38 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

semua anak. Selain itu juga untuk menumbuhkan
karakter bagi murid-muridnya.

Rustantiningsih 39



HANCURNYA
HP-ku

Siang ini tidak seperti biasanya. Anak-anak kelas V
belajar menggunakan telepon genggam atau biasa disebut
HP yang merupakan kepanjangan handphone. Pelajaran
pertama adalah Bahasa Indonesia. Bu Harum masuk kelas
dengan semangat. Selesai berdoa tidak lupa mengucap
salam pada anak-anak.

“Anak-anak, kemarin kalian mendapat tugas, ya?
Membawa apa anak-anak?”

“HP, Bu.”
“Iya kemarin ibu menugasi kalian untuk membawa
HP bagi yang punya,” lanjut Bu Harum.
“Yang membawa HP tunjuk jari!”

Rustantiningsih 41

Anak-anak yang merasa membawa HP segera tunjuk
jari. Bahkan beberapa anak tunjuk jari sambil
menunjukkan HP-nya.

“Ternyata setelah ibu amati, separo anak membawa
HP dan separonya tidak. Nah, sekarang duduk
berpasangan yang membawa HP dengan yang tidak
membawa,” kata Bu Harum lagi.

Tirta hari ini tampak senang. Kegemarannya adalah
bermain HP dan sekarang ia mendapat tugas membawa
HP. Ibarat peribahasa mau tidur disodori bantal. Sejak
akan berangkat sekolah hingga akan masuk kelas
tangannya tidak lepas dari telepon genggamnya. Bahkan
game yang ada di dalamnya dipamer-pamerkan pada
teman-temannya.

Semua anak sudah mendapat pasangan. Tinggal
Tirta dan Dadang yang belum berkelompok. Bu Harum
segera menyuruh kedua anak tersebut untuk duduk
berdampingan. Tirta dan Dadang segera bergabung.
Mereka berdua duduk di pojok depan.

“Nah, anak-anak, sekarang kalian sudah duduk
berpasangan. Sekarang perhatikan penjelasan Bu Guru!”

42 Terima Kasih Itu Tidak Mahal


Click to View FlipBook Version