The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by junymona, 2022-04-20 10:41:29

Terima Kasih Tidak Mahal

Buku Terima Kasih Tidak Mahal

“Beres. Sekarang kita naik sepeda menuju tambak,”
kata Tirta.

Anak-anak sudah berhamburan keluar sekolah.
Beberapa anak pulang jalan kaki, sebagian kecil yang
rumahnya jauh dijemput orang tuanya. Kebanyakan dari
mereka pulang naik sepeda.

Tirta dan Dadang naik sepeda. Mereka sudah
terbiasa naik sepeda pulang dan pergi sekolah. Walau
terik matahari siang ini sangat menyengat kulit, mereka
berdua tidak menghiraukannya.

Tujuan mereka pergi ke tambak. Ayah Tirta
pengusaha tambak yang cukup sukses. Hampir setiap hari
ayah Tirta bekerja di tambak. Pada jam-jam tertentu
ayahnya pulang. Biasanya ayah Tirta bekerja pagi hingga
siang hari waktu jam makan siang. Sore dan malam hari
sudah ada pekerja yang menjaga tambak.

“Tirta, kamu sering bermain ke tambak?” tanya
Dadang.

“Tidak, Dang, ayahku melarang.”
“Kenapa dilarang?” tanya Dadang.

Rustantiningsih 93

“Takut kalau kecebur tambak. Soalnya aku tidak
bisa berenang. Kalau aku ke sini biasanya bersama ibu
atau ayah. Jadi, mereka yang mengawasiku.”

Jarak antara sekolah dan tambak hanya 2 km. Tak
terasa sebentar saja mereka sudah sampai. Tirta dan
Dadang memarkirkan sepedanya di sebelah gubuk yang
biasa digunakan ayah Tirta dan pekerjanya untuk
istirahat.

“Nak, Tirta dengan siapa kemari?” tanya Pak Bejo,
salah satu orang yang membantu menjaga tambak
ayahnya.

“Dengan Dadang temanku, Pak?”
“Sudah izin ayah belum?” tanya Pak Bejo.
“Tak usah banyak tanya Pak. Pak Bejo urusi saja
pekerjaan ayah!” kata Tirta ketus.
Pak Bejo hanya bisa mengelus dada mendengar
kata-kata Tirta yang ketus itu. Para pekerja tambak
sudah biasa diperlakukan Tirta seperti itu.
“Mau ke mana, Nak?” teriak Pak Bejo melihat Tirta
dan Dadang lari menuju tambak.

94 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

Sayang mereka berdua tidak mendengar. Suara Pak
Bejo kalah dengan deru angin dan riak ombak. Kedua
anak itu berlari begitu cepat.

Pak Bejo melanjutkan pekerjaannya memilih bibit-
bibit ikan yang akan ditabur di tambak.

“Wah, asyik ya bermain di tambak!” kata Dadang
kelihatan gembira.

“Enak ya, kita bisa main kejar-kejaran dan melihat
ikan bandeng yang besar-besar,” tambah Dadang.

“Mau mancing bisa. Mau menjaring ikan juga bisa.
Tinggal pilih saja,” kata Tirta menawari Dadang yang
masih kagum dengan suasana tambak.

“Kita lihat-lihat dulu di sini, Tirta. Ini banyak ikan
bandeng di dekat pancuran air,” kata Dadang.

Mereka berdua mengamati bandeng-bandeng yang
berenang ke sana kemari. Tirta mengambil ranting kering
kemudian menceburkannya ke tambak. Melihat ikan-ikan
yang tadi bergerombol kemudian berenang menjauhi
ranting kedua anak itu tertawa terbahak-bahak.

Hari semakin siang bahkan sudah mendekati pukul
14.00. Dadang dan Tirta semakin asyik main di tambak.

Rustantiningsih 95

Mereka lupa jika belum meminta izin orang tua. Ketika
Tirta mengejar Dadang di pinggir tambak, Tirta
mendadak berhenti begitu melihat ada perahu kecil di
tepi tambak.

“Dang, berhenti!” teriak Tirta.
“Ya, ada apa?”
“Lihat ini!” kata Tirta menunjuk perahu kecil itu.
“Apa yang akan kita lakukan, Tirta?” tanya Dadang.
“Kita sekarang bermain perahu. Kebetulan itu ada
dua dayung. Aku satu kamu satu.”
“Sip. Ayo kamu naik duluan!” kata Tirta.
Dadang yang gemuk naik duluan ke perahu. Tirta
naik belakangan. Perahu yang mereka tumpangi agak
oleng ketika Tirta mulai naik.
“Hati-hati, Tirta. Jaga keseimbangan!” teriak
Dadang.
“Segera duduk!” perintah Dadang.
Tirta takut jatuh maka ia segera duduk. Dadang
mencoba mendayung perahu. Perlahan-lahan perahu itu
berjalan. Tirta tepuk tangan gembira melihat perahu
bergerak ke tengah.

96 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

“Asyik ya, Dang, naik perahu!” kata Tirta.
“Memang kamu belum pernah ke sini naik perahu?”
tanya Dadang.
“Belum pernah. Ayahku melarangnya.”
“Takut kecebur?” ledek Dadang.
“Memangnya kamu tidak takut kecebur, Dang?”
“Tidak, Tirta. Aku kan bisa berenang,” kata
Dadang.
Tirta dan Dadang asyik bermain perahu. Mereka
lupa waktu. Posisi perahu yang mereka tumpangi sudah
berada di tengah-tengah tambak. Saat akan berbelok
Tirta melihat ada satu perahu di pojok tambak.
“Dang, kita ke sana yuk, ke perahu itu!”
Dadang mengarahkan perahu itu ke tempat perahu
kosong. Laju perahu lumayan lancar. Sesampainya di
tempat perahu itu Tirta minta pindah perahu. Ia ingin
satu anak satu perahu.
“Asyik lho, Dang. Kalau bisa satu-satu nanti kita
adu cepat mendayung perahu!” Tirta melontarkan idenya.
“Dang, pegangi perahu yang satu itu ya. Aku mau
pindah ke situ!”

Rustantiningsih 97

Tirta berdiri perlahan-lahan kemudian ia pindah ke
perahu yang kosong tadi. Ketika Tirta sudah berada di
perahu, perahu yang ditumpanginya oleng.

“Tirta … jaga keseimbangan!” kata Dadang.
Tirta berusaha menjaga keseimbangan dengan
merentangkan kedua tangannya.
“Sekarang duduk perlahan-lahan!” teriak Dadang.
Tirta akan duduk tetapi perahunya goyang lagi.
Merasa perahunya goyang Tirta panik. Ia berusaha
menjaga keseimbangan tetapi kakinya gemetaran. Perahu
yang ditumpanginya semakin goyang. Tirta masih
berusaha menjaga keseimbangan.
“Dang, ini bagaimana, Dang?” teriak Tirta.
“Tidak usah panik. Kalau kamu panik perahu
semakin goyang.”
Tirta mulai menangis. Guncangan badannya juga
menambah perahu semakin goyang. Dadang berusaha
mendekat ke perahu Tirta namun angin tambak yang
cukup kencang menyulitkannya meraih perahu Tirta.
Tangan Dadang berusaha menggapai perahu itu tetapi
tidak sampai juga. Sementara itu goncangan perahu

98 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

ditambah terpaan angin laut cukup kencang. Belum
sempat Dadang meraih perahu Tirta, perahu Tirta sudah
terbalik.

“Tolong ... tolong ... tolong …!” teriak Tirta timbul
tenggelam di dalam tambak. Setelah itu tidak kelihatan
lagi. Dengan sigap Dadang menceburkan diri ke tambak.
Ia menyelam mencari Tirta yang tenggelam. Dadang
berhasil meraih kaki Tirta. Ia tarik Tirta ke dekatnya
kemudian digendong dan ia bawa berenang ke tepi
tambak.

Dengan susah payah ia menaikkan tubuh Tirta ke
pematang Tambak. Dadang berteriak minta tolong.
Tubuh Tirta sudah lemas tak berdaya. Sambil menunggu
barangkali ada orang yang lewat Dadang mengeluarkan
air yang ada di dalam perut Tirta. Ia menekan perut Tirta
dengan kuat. Air pun keluar dari mulutnya. Dadang
segera memberi bantuan napas buatan. Ia peroleh
keterampilan ini dari pamannya yang menjadi guru renang.

Rustantiningsih 99

“Tolong ... tolong ... tolong …!”
teriak Tirta timbul tenggelam di dalam tambak.

Setelah beberapa saat, Tirta terbatuk-batuk namun
tubuhnya masih lemas dan matanya masih tertutup.
Dadang berteriak lagi meminta pertolongan. Pak Bejo
yang mendengar suara teriakan keluar dari gubug. Ia
segera berlari ke arah suara itu. Melihat Tirta terbujur
lemas Pak Bejo pun diliputi rasa cemas.

“Masya Allah!” Pak Bejo segera mengangkat tubuh
Tirta dan membawa ke mobil pick up yang biasa
digunakan untuk mengangkut bandeng. Pak Bejo
menyetir mobil itu dengan kecepatan kencang.

100 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

Sementara itu Dadang duduk di samping Tirta sambil
memegangi Tirta yang belum sadarkan diri.

Tujuan Pak Tirta adalah rumah sakit Dokter
Karyadi. Arus lalu lintas yang tidak begitu padat sangat
membantu kelancaran laju mobil Pak Bejo. Sesampainya
di rumah sakit, Tirta segera ditangani oleh para perawat
dan dokter yang bertugas di UGD. Pak Bejo pun segera
menelepon orang tua Tirta dan orang tua Dadang. Ia
menceritakan peristiwa yang baru saja terjadi pada
kedua anak tersebut. Pak Bejo dan Dadang menunggu di
ruang tunggu sembari menunggu orang tua Tirta dan
orang tua Dadang. Rasa cemas, sedih, dan ketakutan
bercampur menjadi satu menyelimuti hati mereka.

Rustantiningsih 101



PERTOLONGAN
PERTAMA

Pak Darma dan Bu Darma sudah tiba di rumah
sakit. Bu Darma menangis sesenggukan. Ia segera menuju
ruang unit gawat darurat. Wajahnya kelihatan sedih,
perasaannya tidak karuan. Pak Darma yang semula
hendak marah-marah menjadi tidak tega begitu melihat
kondisi anaknya. Dokter dan perawat masih memberikan
penanganan medis. Selang infus dan selang oksigen
terpasang di tubuh anaknya.

“Tirta bagaimana, Dok?” tanya Bu Darma tidak
sabar ingin tahu kondisi anaknya yang sesungguhnya.

“Tunggu saja, Bu. Ibu berdoa semoga kebesaran
Tuhan akan menyelamatkan jiwa anak ibu!” kata Dokter
dengan sabar.

Rustantiningsih 103

Tangis Bu Darma kembali pecah. Ia merangkul Pak
Darma. Pak Darma juga tidak kuasa menahan air
matanya. Kedua orang tua itu terisak-isak sambil komat-
kamit mengucap doa di sisi anaknya yang terbujur lemas
tak berdaya.

Tampak perawat dan dokter mondar-mandir
memberikan perawatan intensif untuk Tirta. Secara
bergiliran ada yang mengecek tensi, tabung oksigen,
infus, dan kondisi tubuh Tirta. Hati Bu Darma dan Pak
Darma terasa diiris-iris melihat anak semata wayangnya
terbujur di ruang UGD.

“Ibu dan Bapak bisa menunggu di ruang tunggu.
Perkembangan selanjutnya nanti saya beri tahu,” kata
dokter.

“Ya Dok, minta tolong selamatkan anak saya, Dok!”
kata Bu Darma dengan nada sedih.

“Ibu tenang saja sekarang. Ibu berdoa semoga anak
ibu segera siuman ya, Bu,” kata Dokter.

Bu Darma dan Pak Darma keluar dari ruang UGD.
Pak Bejo dan Dadang menyambut keduanya dengan
penuh tanda tanya. Ada perasaan harap-harap cemas di

104 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

raut wajah Pak Bejo sementara Dadang merasa
ketakutan. Ia takut jika dimarahi Pak Darma karena
bermain dengan Tirta di tambaknya.

“Dadang, gara-gara kamu anakku seperti itu!”
bentak Pak Darma pada Dadang.

“Ma ... maafkan saya, Om!” kata Dadang ketakutan.
“Maaf … maaf … enak saja minta maaf. Kalau
sampai ada apa-apa dengan Tirta aku tidak bisa
memaafkan kamu selamanya,” ancam Pak Darma.
Dadang sangat takut pada Pak Darma. Ia pasrah
pada nasibnya. Kalau mau dimarahi atau dipukuli
sekalipun ia sudah ikhlas. Ia memang merasa bersalah.
Kenapa dia mau diajak ke tambak?
Pak Darma menghela napas panjang. Pak Bejo tidak
berani bertanya tentang kondisi Tirta melihat raut wajah
kedua orang tua Tirta yang menggambarkan kesedihan
yang sangat mendalam. Beberapa saat mereka masih
terdiam dalam suasana yang beku.
Pak Bejo merasa bersalah karena tidak bisa
melarang Tirta bermain di tambak. Ia juga sangat
menyesal tidak memberitahu Pak Darma kalau Tirta

Rustantiningsih 105

bermain di tambak. Pak Darma dan Bu Darma yang
selama ini mengkawatirkan anaknya tercebur di tambak
kini benar-benar terjadi.

“Terima kasih, Pak Bejo, sudah membawa anak saya
ke sini,” kata Pak Darma memecahkan kebekuan. Pak
Bejo yang semula membayangkan akan kena marah dari
Pak Darma seperti Dadang menjadi sedikit lega
mendengar perkataan Pak Darma.

“Saya yang bersalah, Pak, saya minta maaf!” kata
Pak Bejo penuh penyesalan.

“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Pak. Bukan Pak
Bejo yang salah tetapi saya,” kata Pak Darma merendah.

“Tidak, Pak, saya yang salah saya. Kenapa saya tidak
memberitahu Bapak saat Nak Tirta bermain di tambak.
Saya yang salah, Pak,” kata Pak Bejo.

“Sudah, Pak Bejo. Semua sudah terlanjur. Saya yang
paling bersalah karena selalu melarang anak saya bermain
di tambak, termasuk ketika ia minta untuk berenang.
Saya yang salah, Pak. Saya larang anak saya karena saya
takut kehilangan anak saya. Saya sangat menyayanginya,”

106 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

kata-kata Pak Darma berhenti, ia tidak lagi mampu
melanjutkan kalimatnya.

Dari koridor rumah sakit tampak ayah Dadang dan
ibunya datang. Mereka datang dengan langkah cepat,
ingin segera mengetahui nasib anaknya dan Tirta. Wajah
mereka penuh kekawatiran.

Melihat kedatangan ayah dan ibunya, Dadang
segera merangkul ayah dan ibunya. Tangisnya pecah tidak
dapat dibendung. Dadang merasa bersalah telah pergi
tanpa pamit. Bahkan sampai menyebabkan kecelakaan
temannya.

“Maafkan Dadang, Ibu, Ayah,” kata Dadang
terbata-bata.

Ayah dan ibunya mencium dan mengelus rambut
anaknya kemudian berjabat tangan dengan Pak Darma
dan Bu Darma. Bu Darma dan ibu Dadang berangkulan
sambil terisak-isak menahan tangis. Ayah Dadang hanya
bisa menarik napas panjang.

“Bagaimana kondisi Tirta, Bu?” tanya ibu Dadang
kepada Bu Darma.

Rustantiningsih 107

“Belum sadarkan diri, Bu. Doakan semoga cepat
siuman,” pinta Bu Darma.

“Gara-gara anak bapak anak saya celaka,” kata Pak
Darma meluapkan kejengkelannya.

“Sabar, Pak, tidak waktunya kita marah-marah!” ujar
ibu Dadang sambil melepaskan pelukan ibu Dadang.

“Bagaimana ini bisa terjadi, Dang?” tanya ayahnya
setelah isak tangis Bu Darma dan ibu Dadang reda.

Dadang menceritakan semua peristiwa yang terjadi
mulai dari awal taruhan hingga terjadinya kecelakaan
yang menenggelamkan Tirta. Dadang juga menceritakan
perihal usahanya menyelamatkan nyawa Tirta. Usaha Pak
Bejo membawa ke rumah sakit juga tidak luput dari
cerita Dadang. Orang tua Tirta dan orang tua Dadang
mendengarkan cerita itu dengan seksama.

“Maafkan saya, Om, Tante!” kata Dadang pada Pak
Darma dan Bu Darma.

“Iya, Bu, maafkan anak saya!” kata ibu Dadang.
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Bu. Semua sudah
terjadi. Semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua,”
jawab Bu Darma.

108 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

Percakapan mereka tidak terdengar lagi. Suasana
menjadi sepi. Berulang kali pandangan mereka ke arah
pintu UGD. Mereka sangat berharap dokter keluar dan
memberi kabar baik. Hanya suara sepatu perawat yang
terdengar beberapa kali melintas di sebelah mereka.

Berulang kali pandangan mereka ke arah pintu UGD.
Mereka sangat berharap dokter keluar dan memberi kabar baik.

“Bagaimana kondisi anak saya, Suster?” tanya Bu
Darma begitu melihat seorang perawat keluar dari ruang
UGD.

Rustantiningsih 109

“Tenang, Bu. Ibu berdoa saja semoga anak Ibu
cepat siuman!” jawab suster berusaha menenangkan hati
Bu Darma.

Bu Darma menyadari anaknya memang nakal, sering
usil, berbuat semaunya, dan sangat menjengkelkan. Tirta
juga sering berselisih paham dengan ibunya. Jika
dinasihati malah membantah. Ia hanya takut dengan
ayahnya.

Namun demikian, melihat kondisi anaknya yang
tergeletak tidak berdaya rasanya tidak tega jika harus
memarahinya walau peristiwa ini akibat kenakalan Tirta.

Pak Darma beberapa kali menengok jam tangannya.
Wajah-wajah cemas terpancar di raut muka mereka.
Pikiran mereka kalut dengan peristiwa yang baru saja
terjadi. Bu Darma terlihat beberapa kali menyeka air
mata menggunakan tisu. Sementara itu ibu Dadang
duduk di sampingnya sambil menguatkan hati Bu Darma.

Waktu yang berjalan terasa lama. Dadang duduk di
samping ayahnya sambil memegangi tangan ayahnya. Pak
Bejo terlihat khusuk berdoa, begitu juga dengan Pak
Darma, dan ayah Dadang.

110 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

Suasana semakin hening, sesekali terdengar isak
tangis Bu Darma. Apalagi jika mengingat Tirta hanya
anak semata wayangnya. Rasa sayangnya semakin menjadi-
jadi. Bu Darma sangat takut jika sampai kehilangan
anaknya.

Waktu menunjukkan pukul 17.00. Belum juga ada
tanda-tanda Tirta siuman. Beberapa kali Pak Darma
menanyakan kondisi anaknya ke Dokter dan perawat
namun belum ada perkembangan. Pak Bejo, Dadang, dan
orang tua Dadang masih setia menemani Pak Darma dan
Bu Darma.

“Bapak dan ibu Tirta silakan masuk,” kata perawat
melegakan hati mereka.

“Iya, Sus, bagaimana anak saya?” tanya Pak Darma
tidak sabar.

“Masuk dulu Pak, Bu,” ajak perawat tadi.
Dokter menjabat tangan Pak Darma dan Bu Darma
bergantian.
“Selamat, Pak. Putra bapak dan ibu telah melalui
masa kritis. Sekarang sudah siuman,” kata dokter sambil
tersenyum.

Rustantiningsih 111

“Alhamdullilah!” kata Pak Darma dan Bu Darma
hampir bersamaan.

Keduanya segera memeluk Tirta bergantian.
Diciuminya pipi dan kening anaknya. Air mata bahagia
menetes di sudut mata mereka. Anak semata wayangnya
kini telah sadar kembali.

“Bapak dan ibu, biarkan Tirta beristirahat dulu.
Jangan diajak bicara dulu ya. Kondisinya belum pulih
betul!” kata dokter mengingatkan kedua orang tua itu.

“Silakan Ibu dan Bapak duduk dulu di kursi itu.
Nanti ada beberapa hal yang harus kita bicarakan sambil
menunggu ruang opname siap,” ujar dokter kembali.

Pak Darma dan Bu Darma menuruti kata dokter.
Mereka sekarang bisa bernapas lega. Wajah Tirta pun
sudah kelihatan merah tidak pucat lagi seperti tadi.
Napas Tirta juga sudah mulai teratur.

Kedua orang tua Tirta pun duduk di kursi yang
sudah disediakan. Beberapa waktu mereka menunggu
dokter yang akan mengajak konsultasi. Ruangan UGD
terasa dingin karena AC. Sambil menunggu dokter
pandangan Pak Darma dan Bu Darma selalu ke arah

112 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

anaknya. Rasa kawatir yang menyelimuti sejak tadi
sekarang telah pudar.

Rasa syukur berulang kali dipanjatkan oleh mereka
kepada Sang Pencipta, rasa bahagia yang luar biasa
anaknya telah selamat dari maut. Tirta sudah kembali ke
pelukan mereka.

“Bagaimana, Dok, anak saya?” tanya Pak Darma
tidak sabar ketika dokter sudah duduk di hadapan
mereka.

“Bapak, Ibu, Tirta harus dirawat beberapa hari di
rumah sakit ini agar kondisinya pulih betul,” kata dokter.

“Iya, Dok,” jawab Pak Darma dan Bu Darma
serempak.

“Tunggu sebentar lagi, Pak. Anak Bapak akan
dipindah ke ruang anak,” kata dokter lagi.

“Terima kasih banyak, Dok!” sahut Pak Darma.
“Berterimakasihlah pada Tuhan, Pak, karena
kuasanya anak bapak bisa selamat. Yang kedua pada
orang yang memberikan bantuan pertama. Orang yang
memberikan pertolongan pertama dengan benar inilah
kunci keselamatan anak Bapak karena jika salah dan

Rustantiningsih 113

terlambat sedikit saja dalam memberikan bantuan nyawa
anak bapak mungkin tidak tertolong lagi,” kata Dokter
panjang lebar.

Kemudian dokter memberikan penjelasan secara
rinci kondisi Tirta saat ini. Selain itu ada beberapa surat
yang harus ditandatangani Pak Darma terkait dengan
penanganan, perawatan, dan pengobatan untuk Tirta.

114 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

KESADARAN TIRTA

Tirta masih tergeletak di UGD. Belum ada kamar
yang siap sehingga masih menunggu beberapa waktu.
Badannya masih lemas. Tirta juga belum boleh banyak
berbicara. Di ruang ini Tirta ditunggui oleh ayah dan
ibunya. Keperluan Tirta seperti makan dan minum masih
harus disuapi.

Bagi Tirta sebenarnya tinggal diam dengan banyak
tiduran adalah hal yang paling menyiksa. Ia tidak bisa
bermain, pergi-pergi, atau melakukan kegiatan lain.
Tetapi, demi kesehatannya ia kali ini harus menurut kata
dokter. Peristiwa yang hampir merengut nyawanya sangat
menakutkan.

Secara intensif para perawat dan dokter masih
terus mengawasi perkembangannya. Menurut dokter
secara fisik Tirta sudah mulai membaik namun karena

Rustantiningsih 115

ada beberapa air tambak yang sempat masuk ke paru-
parunya, air itu harus dibersihkan dulu hingga bersih.
Jika tidak maka akan membahayakan kesehatan Tirta.
Apalagi air tambak bukan air bersih sehingga
dikhawatirkan banyak kuman dan zat-zat lain yang
berbahaya bagi tubuh.

Badan Tirta yang masih terasa lemas menyebabkan
Tirta harus beristirahat total. Ia tidak boleh banyak
bergerak. Kadang dadanya masih merasakan sakit ketika
bernapas apalagi berbicara. Jika haus, ia minta minum
pada ibunya dengan memberi isyarat.

Tirta pun harus makan dengan makanan yang halus.
Agar kekuatan tubuhnya pulih, Tirta masih harus
diinfus. Sedangkan tabung oksigennya sudah dilepas
beberapa menit yang lalu.

Atas seizin dokter, orang tua Dadang, Dadang, dan
Pak Bejo bisa melihat Tirta. Mereka masuk ke ruang
tempat Tirta dirawat dengan hati-hati. Dadang berjalan
paling depan diikuti ibu dan ayahnya juga Pak Bejo.

Dari pintu masuk tampak Tirta tergeletak. Di
sampingnya ayah dan ibu Tirta. Tirta hanya tiduran saja.

116 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

Dokter yang tadi memeriksa Tirta juga berdiri di samping
tempat tidur.

“Dadang, Tante sangat berterima kasih padamu,
Nak. Berkat pertolonganmu Tirta selamat,” kata Bu
Darma sambil memeluk Dadang.

“Oh, ini ya, yang menolong Tirta pertama kali?
Ternyata masih anak-anak. Kamu hebat, Nak, mampu
menolong dengan cepat dan tepat!” puji dokter pada
Dadang.

“Terima kasih, Dok, saya hanya menolong sebisanya.
Malah saya sempat panik. Untung saya ingat perkataan
paman saya bagaimana cara menolong orang tenggelam,”
kata Dadang merendah.

“Iya, Nak, karena kalau kamu salah memberi
pertolongan dan terlambat menolong, nyawa temanmu
mungkin tidak selamat. Beruntung kamu bisa
melakukannya dengan baik,” kata dokter sambil
memeriksa infus Tirta.

“Iya, Dang, untung kamu sigap memberi pertolongan
pada Tirta,” tambah ayah Tirta.

Rustantiningsih 117

“Om minta maaf ya tadi sudah memarahi kamu,”
kata Pak Darma.

“Saya memang salah, Om, karena mau diajak
bermain Tirta padahal kami belum minta izin orang tua,”
pinta Dadang.

“Sudah, Dang, tidak usah saling menyalahkan,” kata
Pak Darma sambil mengelus kepala Dadang.

“Iya, Dang, kamu sudah berbuat yang luar biasa
untuk Tirta. Tante hanya bisa mengucapkan terima
kasih,” kata Bu Darma.

“Sama-sama Om, Tante, saya menolong Tirta juga
tidak sendiri. Ada Pak Bejo yang membantu mengangkat
dan mengantar Tirta ke sini, Om,” kata Dadang.

“Terima kasih juga, Pak Bejo, sudah menyelamatkan
anak saya,” kata Pak Darma.

Tirta yang dari tadi tergeletak lemas hanya
memperhatikan perbincangan mereka. Ada air bening
keluar dari sudut mata Tirta. Ia ingat saat-saat Tirta
mengusili Dadang. Ingat juga saat Tirta minta tolong
ketika perahunya oleng. Dadang berusaha menolong

118 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

tetapi sebelum tangannya menggapai perahu, perahu itu
sudah terbalik.

Air mata bening yang semula hanya menetes sedikit
demi sedikit kini mengalir deras. Tirta tidak kuasa
menahan tangisnya. Tangis Tirta pun pecah. Orang tua
Tirta dan semua yang hadir di situ tidak mengetahui apa
yang dirasakan Tirta. Yang mereka tahu Tirta merasa
kesakitan.

“Ada apa, Tirta, kamu sakit? Mana yang sakit?”
tanya Bu Darma bingung.

Tirta tidak mampu menjawabnya. Ia terisak-isak,
beberapa kali diselingi batuk. Jika isakan tangisnya kuat
batuknya muncul.

“Bagian mana yang sakit, Tirta?” tanya dokter
dengan sabar.

Tirta tidak menjawab. Air matanya terus
berlinangan. Ia pandangi ayah dan ibunya bergantian.

“Minta apa, Tirta? Minum? Makan?” tanya ibunya.
“Ini kenapa, Dok? Anak saya kok malah menangis
sambil batuk-batuk?” tanya Pak Darma.

Rustantiningsih 119

Dokter segera memeriksa dada Tirta, detak nadi,
dan sebagainya namun tidak ditemukan tanda-tanda
bahaya.

“Kondisi Tirta baik-baik saja, Pak. Biarkan anak
Bapak menangis supaya lega hatinya,” kata Dokter.

Tangan Tirta meraih tangan ibunya dan tangan
ayahnya bergantian. Kemudian di sela-sela tangisnya Tirta
berkata pada orang tuanya.

“Ayah, ibu, maafkan Tirta yang selalu nakal dan
menjengkelkan!”

Pak Darma dan Bu Darma saling berpandangan
kemudian memeluk anak mereka. Ketiganya berangkulan
sambil menangis. Ada rasa haru membuncah di hati
mereka.

Sementara Pak Bejo, Dadang, ibu dan ayah Dadang
memandangi mereka dengan mata berkaca-kaca. Tirta
yang terkenal nakal di kelas V kini menyadari
kesalahannya. Setelah tangis mereka reda, tangan Tirta
mengarah pada Dadang. Dadang meraih tangan Tirta.
Tirta tersenyum sambil menjabat tangan Dadang.

120 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

“Dang, terima kasih kamu sudah menolongku,”
katanya dengan lemah.

“Betul nih kamu berterima kasih?” kata Dadang
berkelakar karena ia tahu Tirta sangat alergi
mengucapkan terima kasih.

“Dang, sungguh aku berhutang nyawa padamu.
Sekali lagi terima kasih, Dang,” kata Tirta.

“Sama-sama, Tirta. Saya juga minta maaf kalau tidak
bisa memegangi perahumu sampai perahumu terbalik,”
kata Dadang sambil memegang kencang tangan Tirta.

“Ingat kata-kata Pak Rakyan ya?” kata Dadang.
“Iya, Dang berterima kasih itu tidak mahal tapi ....”
“Besar maknanya,” kata mereka berbarengan.

Tirta yang berlinangan air mata tersenyum bahagia memegang
tangan Dadang yang telah menolong jiwanya.
Rustantiningsih 121

Tirta yang berlinangan air mata tersenyum bahagia
memegang tangan Dadang yang telah menolong jiwanya.
Dadang memandang Tirta dengan mata berkaca-kaca.
Dalam hati ia bersyukur atas anugrah Tuhan, temannya
dapat selamat dari maut.

Tirta melepas tangan temannya kemudian berusaha
meraih tangan dokter. Dokter yang menyaksikan perilaku
Tirta dari tadi mengulurkan tangannya pada Tirta.

“Terima kasih atas pertolongannya, Dok,” kata Tirta
dengan tulus.

“Iya, Tirta. Jangan lupa berterima kasih pada Tuhan
karena kuasa-Nya kamu dapat selamat, Nak,” kata
dokter.

“Pak Bejo terima kasih telah membawa saya ke sini,”
kata Tirta pada Pak Bejo.

“Maafkan saya, Pak, kalau kadang saya berbuat
kasar pada Bapak,” tambah Tirta terbata-bata disertai
batuk-batuk kecil.

“Sama-sama, Nak,” kata Pak Bejo sambil memegang
tangan Tirta.

122 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

“Sekarang Tirta harus istirahat, ya, pindah di kamar
inap!” kata dokter.

Tirta mengangguk tanda setuju. Orang tua Tirta
bernapas lega dan bahagia. Anaknya yang sering
membantah dan selalu menjengkelkan kini sudah
menyadari kesalahannya dan berani mengakui kesalahan
ibarat pepatah salah makan memuntahkan salah tarik
mengembalikan.

Rustantiningsih 123

GLOSARIUM

AC : Air Conditioner (Penyejuk Ruangan)
Alarm : Tanda yang berupa sinyal atau bunyi
Biang keladi : Orang yang menjadi penyebab
Counter : Meja pajang atau kedai kasir
Game : Permainan
Gelagat : Yang menjadi tanda atau alamat peristiwa
Grogi : Merasa canggung atau takut berhadapan dengan

Gundah orang banyak
Hand Phone : Bimbang gelisah
Infus : Telepon genggam
: Pemasukan obat dan sebagainya (berupa cairan)
Kantin
melalui pembuluh
Kode : Ruang tempat menjual minuman dan
Laptop
makanan (di sekolah, kantor, asrama, dan
Medis sebagainya)
Oksigen : Tanda
: Komputer pribadi yang berukuran kecil,
Oleng yang dapat dibawa-bawa, dan dapat
ditempatkan di pangkuan pengguna
Opname : Pengecekan kesehatan
: Udara yang digunakan makhluk hidup
untuk bernapas
: Berayun-ayun ke kiri ke kanan (tentang
perahu dan sebagainya); bergoyang-goyang
: Rawat inap di rumah sakit atau klinik

124 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

Parcel : Bingkisan yang dibungkus dengan model
yang bagus
Pengrajin
Pola : Orang yang membuat suatu karya
Power : Bentuk atau model
Profesional : Tenaga atau daya
: Pekerjaan yang memerlukan kepandaian
Puskesmas
Refleksi khusus
: Pusat kesehatan masyarakat
Tambak : Mengulas kembali dari suatu kegiatan yang

Tensi sudah dilaksanakan
Traktir : Kolam di tepi laut yang diberi pematang

Transparan untuk memelihara ikan (terutama ikan
bandeng dan udang)
Tripleks : Tekanan darah
: Membelikan (membayar) makanan dan
UGD minuman (di rumah makan dan
Vonis sebagainya) untuk orang lain
WhatsApp : Tembus cahaya, tembus pandang, bening
(tentang kaca)
: Papan berlapis tiga; tiga lapis (tentang
papan, kaca, dan sebagainya)
: Unit Gawat Darurat
: Putusan hukuman
: Aplikasi untuk kirim pesan chat messenger
di HP Android, iPhone, BlackBerry,
Windows Phone, Nokia

Rustantiningsih 125

INDEKS

A
AC, 58
Alarm, 1

B
Bandeng, 49
Biang keladi, 9

C
Cas, 29
Cengar-Cengir, 4
Counter, 26

D
Dayung, 20
Dokter, 16

G
Game, 21
Gelagat, 18
Geli, 3
Geram, 8
Gontai, 10
Grogi, 24
Gubuk, 51
Gundah, 26

126 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

H
Hand Phone, 1
Harta, 18
Hening, 4

I
Infus, 53

K
Kantin, 7
Karton, 14
Khidmat, 2
Kode, 24
Komplet, 36
Kreatif, 43
Kreativitas, 43

L
Laptop, 5
LCD, 5

M
Medis, 53

O
Oksigen, 53
Oleng, 49
Opname, 58

Rustantiningsih 127

P
Pantun, 6
Parcel, 44
Pengrajin, 40
Perahu, 49
Perawat, 52
Pola, 15
Power, 25
Profesional, 44
Pulau, 20
Puskesmas, 16

R
Refleksi, 47
Rotan, 40

S
Sekam, 6
Sewot, 7
Sobat, 8
Suhu, 7

T
Tambak, 47
Telepon Genggam, 21
Tensi, 53
Traktir, 35
Transparan, 43

128 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

Triplek, 40
U
Unit Gawat Darurat, 53
UGD, 52
V
Vonis, 29
W
Warisan, 18
WhatsApp, 21
Z
Zat, 59

Rustantiningsih 129

BIODATA PENULIS

Rustantiningsih. Lahir di Karanganyar,
25 Oktober 1975. Menempuh
pendidikan di TK Pertiwi Sumberejo
(1982), SD Tawangsari 2 Kerjo (1988),
SMPN 2 Kerjo (1991), SMAN 1 Kerjo
(1991), D2 PGSD IKIP Negeri Semarang
(1997), S1 PGSD Universitas Negeri
Semarang (2008), dan menyelesaikan studi S2 Pendidikan
Dasar di Univeristas Negeri Semarang (2012).
Mengawali kariernya sebagai pegawai negeri sipil (guru)
di SDN Anjasmoro (sekarang SDN Tawang Mas 01) Semarang
(2005). Di sela-sela aktivitasnya sebagai pengajar, ibu rumah
tangga, dan beroganisasi, ibu yang rajin membaca ini masih
menyempatkan menulis karya ilmiah sebagai wujud
pengembangan profesi. Menikah dengan Trimo tahun 1995.
Dikarunia tiga orang buah hati yaitu Harum Sunya Iswara
(1997), Yonna Aparacitta (2002), dan Rakyan Maharaja Krishna
(2009).
Kelihaiannya menulis mendapat dukungan dari sang
suami yang juga aktif di dunia kepenulisan. Beberapa karya
yang sudah diterbitkan adalah Buku Ajar Bahasa Indonesia
Kelas VI (Penerbit Pemkot Semarang, 2006), Buku Bina IPS
Kelas III, V, VI (Penerbit Gajah Mada Jakarta 2008), Buku
Senandung Belajar IPS (2012), Novel Langit Masih Cerah
Candra (Penerbit Iranti Mitra Utama Surabaya 2012), Novel
Mutiara Menggandeng Awan (Penerbit Pelita Hati Surabaya

130 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

2012), Penantian Rara-Kumpulan Cerita Pendek- (Penerbit
Dapur Buku Jakarta 2014), 149 Jam di Perancis (2015), Belajar
di Negeri Kanguru (2016), dan Buku Pelajaran Suluh Basa Jawa
Kelas I-VI (Penerbit Duta Bandung, 2016), dan Merangkai
Angin-Kumpulan Puisi (Penerbit Perahu Litera Lampung,
2018).

Berbagai kejuaraan di bidang karya ilmiah pernah
ditorehkan dan pada tahun 2009. Ibu yang aktif di berbagai
organisasi ini berhasil meraih predikat Juara 1 Guru Berpestasi
SD Tingkat Nasional (2009), juara 1 Lomba Inovasi
Pembelajaran Tingkat Nasional (2014), juara 2 Lomba
Kreativitas Guru Tingkat Nasional (2015), dan juara 1 Lomba
Penulisan Artikel Feature Tingkat Nasional (2017). Pernah
mendapat kesempatan studi ke Perancis (2015) dan Australia
(2016).

Rustantiningsih 131


Click to View FlipBook Version