The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by junymona, 2022-04-20 10:41:29

Terima Kasih Tidak Mahal

Buku Terima Kasih Tidak Mahal

“Pada pelajaran Bahasa Indonesia ini kalian harus
bekerja sama membuat kalimat dengan kata maaf
sebanyak-banyaknya. Jika sudah selesai segera kirim ke
group WhatsApp kita atau kalian sering menyebutnya
dengan WA. Jelas anak-anak?” tanya Bu Harum.

“Jelas, Bu!” jawab anak-anak.
“Jangan lupa mencantumkan nama kalian dan
pasangan kalian di akhir tugas. Siap anak-anak?”
“Siap, Bu!”
“Bagi pasangan yang mampu membuat kalimat paling
banyak akan mendapat hadiah dari bu guru,” lanjut Bu
Harum.
“Hadiahnya apa, Bu?” tanya Rani.
“Hadiahnya rahasia. Nanti akan mendapat kejutan
dari bu guru.”
Mendengar jawaban Bu Harum anak-anak
bersemangat untuk menyusun kalimat. HP mereka mulai
diaktifkan. Beberapa saat kemudian anak-anak sudah
sibuk dengan HP masing-masing. Satu anak mengetik yang
lainnya membuat kalimat. Anak-anak berpikir keras,

Rustantiningsih 43

mereka berlomba-lomba untuk mengumpulkan kalimat
sebanyak-banyaknya.

Beberapa pasangan ada yang berbicara berbisik-
karena takut jika didengar teman kelompok lain.
Pasangan yang lain masih ribut berdiskusi dengan teman-
temannya. Begitu juga dengan Dadang dan Tirta. Kedua
anak itu berbeda pendapat. Tirta ingin ia yang pegang HP
dan Dadang yang membuat kalimat. Tetapi, jika Tirta
yang memegang HP sambil mengetik, diam-diam ia
bermain game.

“Tirta, lihat teman-teman sudah dapat banyak. Kita
baru tiga kalimat,” kata Dadang.

“Santai saja, yang penting sampai diakhir kita dapat
banyak kalimat. Don‟t worry friend,” kata Tirta dengan
pasti.

Dadang menulis beberapa kalimat yang sudah
dibuatnya. Sementara itu Tirta asik bermain game.
Ketika Dadang membacakan kalimat, Tirta malah
mengabaikannya.

“Tirta, ayo dikerjakan, aku yang membacakan
kalimatnya kamu yang mengetik.”

44 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

Tirta malah senyum-senyum sambil bermain game.
“Kalau begitu aku yang mengetik saja,” kata Dadang
jengkel.
Tirta semakin asyik bermain game. Ia tidak
menghiraukan Dadang. Dadang juga tambah bingung
melihat beberapa kelompok lain sudah berhasil membuat
banyak kalimat.
“Anak-anak sudah dapat banyak kalimat?” tanya Bu
Harum.
“Sudah, Bu,” jawab anak-anak.
“Waktu mengerjakan tinggal 10 menit lagi,” kata Bu
Harum.
Anak-anak semakin bersemangat untuk
menyelesaikan tugasnya. Mereka berlomba-lomba untuk
menjadi yang terbaik. Tiap-tiap kelompok sibuk dengan
kegiatannya.
“Tirta, ayo diketik!” suruh Dadang.
“Iya, iya!” kata Tirta.
Keduanya sudah mulai melanjutkan pekerjaannya.
Dadang yang membacakan soal dan Tirta yang mengetik.
Sampai di nomor enam kalimatnya sudah habis. Dadang

Rustantiningsih 45

kembali berpikir. Kesempatan ini digunakan Tirta untuk
bermain game. Tangannya tidak mau lepas dari HP.
Dadang jengkel melihat pasangannya tidak membantu
membuat kalimat namun malah bermain. Beberapa kali
Dadang mengingatkan tetapi tidak digubris Tirta.

“Anak-anak, waktu habis. Sekarang kirimkan
pekerjaan kalian ke group WA,” kata Bu Harum
ngagetkan Tirta.

Tirta kembali membuka enam kalimat yang sudah
dibuat bersama Dadang. Dadang yang merasa jengkel
sejak tadi sudah tak kuasa membendung kejengkelannya.

“Gara-gara kamu mainan terus. Lihat, pekerjaan
kita hanya dapat enam,” kata Dadang sewot.

“Lumayan kita sudah dapat enam. Sudah bagus,”
kata Tirta mencoba menenangkan hati Dadang.

“Enam sudah kamu anggap bagus, Tirta? Dasar
selera rendahan,” Dadang mengejek Tirta.

“Coba kalau kita tidak membuat sama sekali, pasti
lebih parah,” kata Tirta membela diri.

Perhatian mereka kembali tertuju pada Bu Harum
yang memberikan hitungan untuk menandai waktu

46 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

mengirim tugas. Tiap-tiap kelompok mulai mengirimkan
tugas melalui WA. Hanya dalam hitungan beberapa detik
saja tugas mereka sudah terkirim.

“Kalau tadi aku yang mengetik pasti sudah dapat
banyak,” Dadang masih menambah lagi.

“Sorry ya, tidak bisa. Ini HP-ku, hadiah dari ayahku.
Kalau kamu pakai terus rusak bagaimana? Memangnya
kamu mau mengganti? Harganya mahal, lho!” kata Tirta
sombong.

“Percuma punya HP tidak bisa memanfaatkan.
Hanya bisa buat mainan,” ejek Dadang.

Tirta mulai terbakar hatinya mendengar kata-kata
Dadang. Sementara di depan, Bu Harum masih
mencermati tugas murid-muridnya. Tirta yang hatinya
panas kembali membalas dengan mulai bermain game lagi
dan pura-pura tidak mendengar perkataan Dadang.

“Tirta, lihat Bu Harum sudah berdiri di depan
kelas!” Dadang mengingatkan Tirta.

Tirta yang diajak bicara diam saja dan semakin asyik
dengan HP-nya.

Rustantiningsih 47

“Tirta, Tirta,” Dadang memberi kode sembari
berbisik.

Tirta tetap tidak menghiraukan. Ia semakin terlena
dengan permainan yang ada di HP itu.

“Anak-anak, sekarang semua HP diletakkan di meja
masing-masing,” kata Bu Harum, “sekarang tidak ada yang
memegang HP lagi.”

Bu Harum mengamati murid-muridnya.
Pandangannya tertuju pada Tirta yang sejak tadi asyik
dengan HP-nya.

“Tirta,” panggil Bu Harum.
Tirta tidak mendengar panggilan Bu Harum. Ia
sudah terlanjur terbuai dengan game yang ada di HP-nya.
“Tirta, letakkan HP-mu!” kata Bu Harum.
Pandangan seisi kelas tertuju pada Tirta. Beberapa
anak memanggil-manggil namanya. Tirta yang semula tidak
memperhatikan kini menjadi bingung. Dalam hati ia
bertanya-tanya kenapa teman-teman memanggilnya.
Tirta semakin grogi ketika Bu Harum berjalan ke
arah tempat duduknya. Bu Harum memandangi Tirta
tanpa sepatah kata pun. Tirta menjadi salah tingkah. HP

48 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

yang berada di tangannya masih on di permainan game.
Bu Harum yang melihat HP Tirta segera memerintah
Tirta untuk meletakkan HP tersebut. Tirta segera
meletakkan HP-nya tanpa mencermati bahwa posisinya di
pinggir meja. Separo bagian HP di atas meja separonya
dibiarkan menggantung.

Bu Harum menyuruh Dadang dan Tirta ke depan
kelas. Dadang segera maju walaupun dalam hati penuh
tanda tanya. Ada rasa takut, ada rasa ingin tahu apa
yang akan terjadi, semua bercampur jadi satu.

Giliran Tirta yang menyusul Dadang. Tirta beranjak
dari tempat duduknya. Ia berjalan dengan rasa takut dan
khawatir. Ia tahu bahwa ia bersalah sudah bermain HP
saat pelajaran. Hatinya deg-degan tidak karuan. Saat
melangkah maju tiba-tiba terdengar bunyi prak ....

Pinggul Tirta menyenggol HP yang posisinya
setengah menggantung. HP Tirta jatuh hingga tutup
chasing dan baterainya berserakan. Bu Harum terkejut.
Tirta lebih terkejut lagi. HP kesayangannya jatuh
berantakan.

Rustantiningsih 49

Beberapa saat Tirta hanya terpaku tanpa tahu apa
yang harus diperbuatnya. Setelah Bu Harum
menyuruhnya membereskan HP-nya baru Tirta memungut
HP itu. Baterai dan chasing-nya yang lepas dipasang lagi.

“Bagaimana, Tirta, coba dinyalakan bisa tidak?”
tanya Bu Harum.

Tirta beberapa kali menekan tombol power namun
HP tak kunjung menyala. Bu Harum mendekati Tirta. Ia
juga berusaha menghidupkan HP tersebut. Tetap saja
tidak mau menyala.

“Sekarang HP-mu diletakkan di meja dan kamu ke
depan kelas.”

Tirta menurut kata bu guru. Ia berjalan ke depan
dengan langkah gontai tanpa semangat.

Bu Harum segera menunjukkan tugas mereka
berdua yang hanya berjumlah enam sementara teman-
temannya mampu membuat kalimat di atas 15. Bu Harum
menasihatinya panjang lebar termasuk jatuhnya HP Tirta
karena kekuranghatiannya.

Bunyi bel tanda istirahat berdering. Anak-anak
bergegas untuk beristirahat. Wajah-wajah mereka

50 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

kelihatan cerah ceria kecuali Tirta. Wajahnya bersungut-
sungut. Ia berjalan ke arah taman sambil memegangi HP-
nya yang rusak. Beberapa teman berusaha menghiburnya
tetapi Tirta tidak menerimanya dengan baik.

“Tirta, jangan bersedih. Ayo kita main!” kata Krisna.
Tirta hanya menggelengkan kepala.
“Iya, Tirta, bawa ke counter HP nanti juga bisa
diperbaiki,” kata teman lainnya.
“Kamu kan kaya, Tirta, minta lagi saja pada
ayahmu!” kata Dadang menimpalinya.
Tirta semakin bersungut-sungut. Ia mulai angkat
bicara.
“Minta-minta. Memangnya gampang? Yang pasti aku
nanti kena marah,” katanya dengan nada jengkel.
“Dilem biru saja, Tirta, pasti bisa dipakai,” kata
Rani.
“Maksudmu?” tanya Tirta tidak mengerti.
“Dilempar ganti yang baru,” kata Rani disambut
gelak tawa teman-temannya.
Tirta merasa diejek. Telinganya terasa panas.
Hatinya semakin gundah.

Rustantiningsih 51

“Sudah, pergi semua. Aku tidak butuh kalian!” Tirta
berkata dengan nada tinggi dan menghardik teman-
temannya.

Tirta mengambil batu dan seakan-akan mau melempar sungguhan
ke arah teman-temannya.

“Sabar Tirta, sabar! Kita hanya bercanda,” kata
Krisna.

“Pergi sana! Kalian memang menyebalkan!” Tirta
berkata dengan muka merah padam.

“Maaf Tirta kalau kami salah,” kata Rani mengiba.
52 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

“Tidak ada kata maaf! Pergi sana! Aku tidak butuh
kalian. Kalau tidak pergi aku lempar dengan ini!” Tirta
mengambil batu dan seakan-akan mau melempar
sungguhan ke arah teman-temannya.

Maksud baik temannya untuk berdamai berujung
pada kemarahan Tirta. Tangan kanannya memegang batu
sebesar kepal tangannya. Melihat gelagat Tirta, teman-
temannya berlarian tunggang-langgang. Takut terkena
lemparan batu Tirta.

Tinggallah Tirta sendirian di taman tepi kolam. Ia
duduk termenung seorang diri. Dipandanginya
handphone yang baru berumur 2 minggu itu. Ada
perasaan takut pada ayahnya. Jika dia cerita pasti akan
dimarahi tetapi jika tidak cerita suatu saat ketahuan jika
HP-nya rusak. Ayahnya juga pasti marah.

Tirta merasa serba salah. Pikirannya sangat kacau.
Berulangkali HP itu dicoba untuk dihidupkan tetapi
selalu gagal. Dalam hatinya ia menyesal tadi bermain game
dan tidak memperhatikan pelajaran yang diberikan bu
Harum. Yang paling parah ia tidak berhati-hati saat
meletakkan HP di atas meja. Ia meletakkan sembarangan

Rustantiningsih 53

dan akibatnya HP itu jatuh karena tersenggol pinggulnya
sendiri.

Apa daya nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan
memang datang di akhir. Tirta hanya bisa menyesali diri.
Paling berat bagi dirinya adalah ketika ia harus
mempertanggungjawabkan peristiwa ini di hadapan orang
tuanya. Ia pandangi ikan-ikan yang berenang di kolam
sekolah. Ikan kecil-kecil itu berkejar-kejaran. Suara
gemericik air terjun buatan di taman tidak mampu
menenangkan pikiran Tirta. Tirta benar-benar menyesal.

54 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

JAUH DARI TEMAN

Semenjak memiliki HP Tirta tidak bisa lepas dari
HP-nya. Pulang sekolah hingga sore ia habiskan waktunya
untuk bermain game di HP. Hari ini ia tidak bisa bermain
HP lagi. Ia juga belum bercerita dengan ayah dan ibunya.
HP yang rusak sengaja disembunyikannya di lemari baju.
Di rumah Tirta berusaha untuk bersikap wajar.

Walaupun sampai sore orang tuanya belum tahu
perihal HP anaknya, tetapi hati Tirta tidak bisa
dibohongi. Tetap saja ia merasa khawatir jika ayahnya
menanyakan HP miliknya. Tirta berusaha mengindari
bertemu ayahnya. Jika ayahnya di ruang tamu ia
menonton televisi di ruang keluarga. Jika ayahnya
menonton televisi ia bermain di luar. Sebisa mungkin
Tirta menghindari pertemuan dan percakapan dengan
ayahnya.

Rustantiningsih 55

Malam ini Tirta menonton televisi. Acara kartun
yang paling ia sukai tidak pernah terlewatkan. Tirta asyik
melihat televisi hingga tidak sadar jika di sampingnya
sudah duduk sang ayah.

Ketika Tirta tertawa melihat film kartun yang lucu
ayahnya juga ikut tertawa. Tirta baru sadar jika ayahnya
sudah berada di sampingnya. Tirta beranjak dari tempat
duduknya.

“Mau ke mana, Tirta?” tanya ayahnya.
“Bermain di luar sebentar, Yah,” kata Tirta
sekenanya.
“Sudah malam. Jangan main saja. Ayo belajar!”
Tirta paling tidak berani membantah ayahnya. Ia
sangat takut pada ayahnya. Apa kata ayahnya pasti
dikerjakan. Ayah Tirta memang keras. Bahkan bisa
dikatakan kelewat keras. Jika Tirta melawannya pasti
akan kena hukuman. Pernah Tirta dikunci di kamar
mandi dua jam gara-gara bermain sepeda dan pulang
pukul 19.00.
Tirta yang semula hendak berjalan keluar kini
berjalan ke kamarnya.

56 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

“Tunggu, Tirta. Hari ini ayah kok tidak melihat
kamu memegang HP? Biasanya pulang sekolah kamu
bermain HP.”

Jantung Tirta seperti ditonjok. Apa yang ia
takutkan kini benar-benar terjadi. Ayahnya menanyakan
HP-nya. Tirta masih diam. Bagai menyimpan bangkai
akhirnya tercium juga. Apa yang dirahasiakan Tirta pun
terbongkar oleh ayahnya.

“Jangan sampai mati. Jika habis baterainya segera
di-cash!” lanjut ayahnya.

Tirta bingung mau bicara apa pada ayahnya. Jika ia
berterus terang pasti kena marah dan mendapat
hukuman. Jika berbohong, suatu saat nanti pasti akan
ketahuan juga dan ia pasti dimarahi. Hukumannya tentu
akan lebih berat.

Setelah ditimbang-timbang akhirnya Tirta berkata
apa adanya. Ia menceritakan semua peristiwa yang terjadi
dua hari yang lalu di sekolah.

“Sekarang bawa ke sini HP-nya!” kata ayah dengan
nada tinggi.

Rustantiningsih 57

Tirta bergegas ke kamar menggambil HP kemudian
diserahkannya HP itu pada ayahnya.

“Ini, Bu, HP anakmu rusak. Sekarang tidak bisa
digunakan lagi gara-gara kecerobohannya menaruh HP
sehingga jatuh,” kata ayah ketika ibu Tirta datang.

Ibu Tirta mengamati HP anaknya. Ketika dipencet-
pencet, HP tersebut memang sudah tidak bisa digunakan
lagi.

“Sekarang tidak usah memakai HP. Sebagai
hukumannya, satu minggu kamu tidak mendapat uang
jajan,” kata ayah.

Ibu diam. Tirta hanya bisa menurut. Jika ayahnya
sudah mengambil keputusan maka seisi rumah harus
mengikutinya. Tirta menerima vonis ayahnya. Ia hanya
bisa menunduk. Ia harus bisa menerima kenyataan untuk
tidak menerima uang saku selama 1 minggu.

“Kamu dengar kata ayah, Tirta?” tanya ibu.
“Dengar, Bu,” jawab Tirta pelan.
“Kamu sih, tidak hati-hati. HP ini harganya mahal,
Tirta. Baru dua minggu sudah rusak,” omel ibunya.

58 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

Tirta tidak berani melawan orang tuanya. Ia sudah
pasrah dengan nasibnya. Semua itu memang
kesalahannya. Malam ini ia lalui dengan kekecewaan dan
kesedihan.

Keesokan harinya adalah hari yang paling berat bagi
Tirta. Sekolah tanpa uang saku. Biasanya ia membawa
uang saku lima ribu rupiah. Uang itu bisa ia gunakan
untuk jajan dan makan di kantin. Kali ini ia harus gigit
jari. Tirta tidak biasa berbekal makanan dari rumah.
Walaupun ibunya sudah memasakkan aneka makanan, ia
tidak mau membawa bekal. Ia lebih suka jajan.

Pelajaran pertama ia lalui dengan setengah hati.
Pikirannya galau karena tidak membawa uang saku.
Beberapa kali ia mengajak temannya bercakap-cakap tapi
sepertinya tidak ada yang menanggapinya. Tirta
bertambah semakin bingung.

Waktu istirahat pertama tiba. Kali ini tidak ada
teman yang menghampirinya untuk mengajaknya bermain.
Tirta keluar kelas dan duduk di taman dekat kolam ikan.
Beberapa teman sekelasnya yang tadi sudah duduk lebih

Rustantiningsih 59

dulu di taman itu pergi setelah melihat Tirta datang.
Sepertinya semua teman menjauhinya.

Tirta keluar kelas dan duduk di taman
dekat kolam ikan.

“Dang, sini!” Tirta memanggil Dadang yang baru
keluar dari kelas.

Dadang hanya melihat Tirta sebentar kemudian
berjalan ke arah lain. Tirta tengak-tengok mencari teman
sekelasnya barangkali ada di sekitarnya. Ternyata tak
satu pun temannya ada di situ.

60 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

Dilihatnya anak-anak kelas lain makan bekal. Ada
juga yang menikmati makanan yang baru saja dibeli dari
kantin. Tirta hanya bisa menelan ludah melihat anak-anak
lain sedang makan.

Hatinya juga serasa diiris-iris melihat teman-teman
bermain sementara ia sendirian. Tidak satu pun teman
yang mau mendekatinya. Saat di kelas pun teman-
temannya acuh tak acuh dengannya. Saat istirahat juga
tidak ada yang mendekatinya. Tirta heran melihat teman-
temannya berperilaku seperti ini.

Biasanya jika istirahat seperti ini ada teman yang
membawa bekal kemudian menawarinya makan. Harapan
Tirta untuk makan bekal dari teman pupus sudah. Ia kini
hanya bisa menggigit jari.

Tirta berusaha menghampiri teman-teman yang
sedang beristirahat. Tetapi tak satu pun yang balas
menyapanya. Kebanyakan mereka terus pergi menjauh
atau pura-pura tidak mendengar.

“Aduh, gawat ini! Aku sekarang tidak punya teman.
Mana lapar lagi,” gumam Tirta.

Rustantiningsih 61

Tirta kembali duduk di tepi kolam. Ia perhatikan
ikan-ikan yang berenang ke sana kemari. Tujuan utamanya
untuk mengusir rasa lapar. Botol minum yang ada di
tangannya berulang kali ia minum supaya rasa laparnya
hilang. Namun, semua usaha itu tidak ada yang berhasil.

Kini otak Tirta berpikir keras mencari cara agar
bisa makan. Jika harus meminta teman-temannya ia malu.
Apalagi kini semua teman menjauhinya. Rasanya tidak
mungkin jika minta pada mereka. Jika minta adik kelas
tidak mungkin. Tirta merasa harga dirinya akan jatuh.

Satu-satunya jalan ia harus ke kantin sekolah.
Dengan langkah pelan tetapi pasti Tirta menuju kantin
sekolah. Dari kejauhan ia melihat masih ada satu dua
anak yang membeli makanan di kantin. Tirta sengaja
menunggu agar kantin benar-benar sepi.

Setelah tidak ada pembeli Tirta baru masuk kantin.
Dilihatnya Pak Warto sedang membereskan mangkok
bakso yang masih kotor. Pak Warto sudah hafal dengan
Tirta yang suka membeli bakso.

“Mau beli bakso, Tirta?” tanya Pak Warto.
“I ... iya, Pak?”

62 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

“Tumben baru kelihatan. Biasanya bersama teman-
teman.”

“Iya, Pak. Tapi ...” Tirta tidak melanjutkan kata-
katanya. Ia malah tengak-tengok kanan kiri. Sepertinya
takut kalau ada yang melihat.

“Tapi kenapa, Tirta? Biasanya kamu suka
menyerobot antrean jika warung ramai.

Tirta hanya tersenyum kecut. Ia hanya diam dan
terlihat seperti orang kebingungan.

“Seperti biasa kan? Satu mangkok mie kuning tanpa
sawi?” tanya Pak Warto memastikan.

“Saya kali ini ngutang dulu ya, Pak? Lagi kena
hukuman tidak dapat uang saku satu minggu, Pak,” kata
Tirta pelan.

“Oh begitu. Kamu pasti bikin ulah macam-macam ya
sampai orang tuamu marah?”

“Ya, Pak. HP yang baru dibelikan ayah saya jatuhkan
hingga rusak,” kata Tirta.

“Tirta, Tirta, kamu tidak bisa menjaga kepercayaan
orang tuamu ya. Pantaslah kalau mendapat hukuman.”

Rustantiningsih 63

Tirta yang mendengar komentar Pak Warto tidak
menyahut sama sekali. Padahal biasanya ia berani
membantah Pak Warto. Perutnya yang sudah
keroncongan minta segera diisi. Apa pun kata Pak Warto
ia dengarkan saja yang penting rasa laparnya terobati.

Pak Warto dengan cekatan meracik bakso ke dalam
mangkok yang sudah ia siapkan.

Pak Warto menyodorkan semangkok bakso. Tirta
menerimanya dengan mata berbinar-binar. Ia tuangkan
sedikit kecap dan satu sendok kecil sambal. Tirta segera
menyantap bakso yang masih panas dan pedas ini sampai
habis. Keringatnya yang mengucur di dahi dan sekitar
hidung tidak dihiraukan. Perutnya kini terisi dengan
makanan kesukaannya. Akhirnya Tirta bisa makan juga
walau harus berhutang.

Selesai makan bel masuk berbunyi. Tirta lari begitu
saja meninggalan mangkok di kantin tanpa pamitan dan
mengucapkan terima kasih. Pak Warto hanya bisa
menggelengkan kepala melihat tingkah laku Tirta. Tirta
anak kecil yang berani hutang di kantin. Mengingat
peristiwa hari ini Pak Warto hanya bisa senyum-senyum

64 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

sendiri sambil membereskan mangkok-mangkok bakso
yang masih berserakan di meja.

Rustantiningsih 65



ANTRE BAKSO

Sudah dua hari ini Tirta dijauhi teman-temannya.
Rupanya apa yang dilakukan teman-teman Tirta diketahui
oleh Bu Harum. Pada saat pelajaran Seni dan Budaya
anak-anak mendapat tugas berkelompok.

“Anak-anak, sekarang kita akan belajar menyanyi
lagu daerah,” kata Bu Harum.

“Hore!” teriak anak-anak kegiarangan.
“Anak-anak, siapa yang tahu tentang lagu daerah
dan asalnya?” tanya Bu Harum.
“Suwe Ora Jamu dari Jawa Tengah, Bu,” jawab
Rani. Bu Harum mengacungkan jempol.
“Mana lagi?” pancing Bu Harum.
“Apuse dari Papua, Bu,” sahut Dadang.
“Bagus!” kata Bu Harum.
“Bubui Bulan dari Jawa Barat, Bu,” kata Krisna.

Rustantiningsih 67

“Bagus. Jawaban kalian benar semua. Sekarang kita
akan membentuk kelompok. Satu kelompok terdiri atas
empat orang. Karena jumlah kalian ada 24, maka kita bagi
menjadi enam kelompok sesuai dengan kelompok regu
piket.

“Bu, bolehkah kami ganti kelompok?” tanya Dadang.
“Tidak, Nak! Sesuai kelompok piket saja.
Memangnya kenapa harus ganti?” tanya Bu Harum pura-
pura tidak tahu.
“Kamu saja yang bilang!” Dadang malah menyuruh
Rani berbicara.
“Nggak. Kamu saja!” kata Rani
“Kamu saja, Ran!” Dadang dan Rani malah lempar-
lemparan bicara.
“Ada apa Rani? Kok kalian malah ribut!”
“Begini, Bu, kalau ... kalau kami berkelompok
dengan Tirta biasanya dia tidak mau bekerja, Bu,” lapor
Rani.
“Iya, Bu. Jika diajak berlatih atau bekerja sama
susah, Bu,” tambah Dadang.

68 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

Bu Harum berdiam sejenak. Ia melirik Tirta yang
duduk di ujung kanan. Tirta yang dilirik Bu Harum hanya
menunduk.

“Benar begitu, Tirta?” tanya Bu Harum memastikan.
Tirta tidak menjawab, ia hanya menganggukkan
kepala.
“Apakah sekarang kamu juga tidak mau bekerja
sama dengan teman-temanmu?”
“Saya mau, Bu,” jawab Tirta.
Setelah Bu Harum menasihati pentingnya bekerja
sama, saling menghargai, dan saling tolong anak-anak mau
menerima Tirta. Tugas dari Bu Harum hari ini mengajak
anak-anak untuk bernyanyi. Tiap kelompok wajib
menyanyikan lagu daerah yang berbeda-beda.
Anak-anak diberi kebebasan untuk berlatih
sebentar. Setelah mereka siap Bu Harum memanggil tiap-
tiap kelompok untuk menyanyi di depan kelas. Kegiatan
belajar hari ini benar-benar menyatukan anak-anak di
kelas. Kini tidak ada lagi permusuhan antara Tirta dan
teman-temannya. Mereka sudah akur kembali.

Rustantiningsih 69

Saat istirahat pertama Tirta sudah bermain dengan
teman-temannya. Tirta bermain kejar-kejaran dengan
Dadang, Krisna, dan Riko. Tirta sangat menikmati
permainan hari ini. Ia sudah tidak merasa kesepian lagi.
Waktu istirahat benar-benar dimanfaatkan untuk
bermain bersama teman-temannya.

Siang ini saat istirahat kedua perut Tirta sudah
keroncongan. Sayang tidak ada satu pun teman yang
menawarinya makan.

“Tirta, beli bakso yuk! Aku traktir,” kata Dadang.
Mata Tirta berbinar-binar.

“Yang betul, Dang?”
“Iya betul. Aku kemarin dikasih uang pamanku lima
puluh ribu,” jelas Dadang.
Dadang mempunyai kegemaran yang sama dengan
Tirta. Keduanya sama-sama suka jajan. Mereka berdua
juga malas membawa bekal makanan dari rumah.
Tawaran Dadang tidak disia-siakan Tirta. Hari ini
benar-benar hari keberuntungan Tirta. Saat lapar dan
tidak punya uang saku, dia ditraktir teman. Tirta dan

70 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

Dadang berjalan menuju kantin. Mereka berjalan dengan
penuh semangat.

Kantin masih ramai. Anak-anak berjubel ingin
dilayani lebih dulu. Pak Warto tampak sibuk meracik
bakso, menyiram dengan kuah, dan memberikan mangkok
kepada anak-anak yang antre. Termasuk menerima uang
dan memberi uang kembalian juga dilakukannya sendiri.
Pak Warto memang bekerja sendirian, tidak ada yang
membantu mengantar mangkok bakso kepada para
pelanggan. Anak-anak harus bersabar dan berlatih
mengantri dengan tertib. Pekerjaan ini sudah dijalani Pak
Warto selama lima belas tahun.

Anak-anak yang sudah mendapat bakso segera
mengambil tempat duduk yang tersedia di kantin. Jika
tempat duduk kantin sudah penuh biasanya anak-anak
akan duduk di tempat duduk samping kelas yang
disediakan untuk anak-anak sebelum mereka masuk kelas.

Siang yang panas seperti ini memang cocok kalau
menikmati bakso kuah yang segar. Anak-anak tampak
lahap memakan bakso pesanan mereka. Suasana kantin

Rustantiningsih 71

ramai dengan anak-anak yang sedang mengantre dan
makan bakso.

Tirta dan Dadang datang belakangan. Dadang dan
Tirta segera mengantre diurutan belakang. Mereka harus
bersabar untuk mendapat giliran menerima mangkok
berisi bakso. Pelayanan Pak Warto sebenarnya cepat,
hanya saja permintaan masing-masing pelanggan berbeda-
beda sehingga Pak Warto meraciknya sesuai pesanan
mereka. Ada yang minta bakso kosongan alias tidak
memakai mie dan sawi, ada yang pesan komplet, ada juga
yang pesan tanpa sawi tanpa mie. Pokoknya beraneka
ragam.

Kantin sekolah yang kecil ini saat istirahat pasti
penuh dengan anak-anak. Rupanya Tirta tidak sabar
mengantre di belakang.

“Pak, saya dan Dadang duluan, Pak!” teriak Tirta.
Pak Warto hanya memberi kode dengan tangan
supaya sabar mengantre. Tirta tidak peduli dengan kode
Pak Warto. Ia masih teriak-teriak minta didahulukan.
Anak-anak yang berada di depan Tirta merasa
terganggu. Ada yang tutup telinga, ada yang melihat

72 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

dengan pandangan tidak suka, ada juga yang menyingkir
karena merasa takut dengan Tirta.

“Pak, saya duluan, Pak. Cepat. Tidak pakai lama!”
teriak Tirta berulang-ulang.

Ia berjalan ke depan dengan cara mendorong anak-anak
di depannya supaya mau minggir.

Pak Warto tidak mempedulikan Tirta. Ia tetap
melayani anak-anak yang mengantre dengan tertib.
Karena merasa tidak diperhatikan Pak Warto, Tirta
berjalan ke depan dengan cara mendorong anak-anak di
depannya supaya mau minggir. Anak-anak yang didorong
berteriak-teriak kesakitan karena ada yang jatuh namun

Rustantiningsih 73

ada juga anak-anak yang berusaha melawan dorongan
Tirta. Akibatnya terjadi aksi saling dorong.

Pak Warto berteriak-teriak menenangkan anak-
anak. Aksi dorong-dorongan terjadi cukup lama. teriakan
Pak Warto tidak mampu menenangkan anak-anak untuk
tertib.

“Saya tidak mau melayani kalian kalau ribut dan
tidak tertib!” teriak Pak Warto sambil memukul mangkok
bakso berulang kali. Barulah anak-anak kembali ke
barisan antrean dengan tertib.

“Siapa yang main dorong-dorongan?” tanya Pak
Warto.

“Itu, Pak, anak kelas empat!” jawab Tirta menunjuk
teman di depannya.

“Bukan, Pak. Bukan saya tapi Kak Tirta,” kata anak
kelas empat agak ketakutan.

“Tirta, kamu berusaha lempar batu sembunyi tangan
ya?” kata Pak Warto.

“Tidak mau mengakui kesalahanmu tetapi kamu
menuduh teman lain. Bapak dari tadi melihat kamu yang
paling ribut!” tambah Pak Warto jengkel.

74 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

“Sekarang kamu ngantre paling belakang!” teriak
Pak Warto.

“Pak, saya duluan!” Tirta masih bersikeras untuk
didahulukan.

“Pak saya sudah lapar, nih!” teriak Tirta lagi.
“Cepetan dong, Pak!” teriak Tirta semakin tidak
sabar.
Pak Warto masih mendiamkan Tirta. Ia pura-pura
tidak mendengar. Beberapa anak sudah mendapat bakso
dari Pak Warto. Sebagian lagi masih sabar mengantre.
“Pak, cepat!” teriak Tirta berulang kali.
“Tirta, bisa tertib tidak? Kalau tidak mau tertib
saya tidak mau melayani!” bentak Pak Warto dengan nada
tinggi.
Tirta takut juga dibentak Pak Warto. Ia berbaris
paling belakang. Kali ini ia memang harus belajar untuk
bersabar. Antreannya memang cukup panjang.
“Nah, apa kataku? Kita harus ngantre, Tirta,” kata
Dadang.

Rustantiningsih 75

Tirta yang mendengar nasihat Dadang hanya diam
saja. Ia tidak menanggapi perkataan temannya. Perutnya
yang keroncongan sejak tadi dibiarkannya berbunyi terus.

“Kamu sih tidak mematuhi tata tertib. Baca tulisan
di kantin itu. Pembeli harus mengantre!” kata Dadang
menambahi.

Dalam hati Tirta membenarkan kata temannya.
Memang betul ada tata tertib yang terpajang jelas di
depan kantin tetapi dia tidak mematuhinya. Akibat Tirta
tidak mematuhi tata tertib, mestinya dia sudah dapat
giliran di depan. Sekarang dia harus mundur lagi berdiri
di barisan paling belakang.

“Kalau sabar dapat giliran juga, kan?” kata Pak
Warto.

“Tirta, kemarin kamu sudah dapat hukuman dari
orang tuamu. HP-mu kamu jatuhkan. Sekarang
mendahului antrean. Bukannya bilang permisi malah
dorong-dorongan sampai pada jatuh.”

“Nah, ini sebagai hukumannya kamu harus antre
paling belakang,” kata Pak Warto panjang lebar.

“Ya, Pak. Maafkan teman saya!” kata Dadang.

76 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

“Yang salah Tirta, Dang, harusnya ia yang minta
maaf,” kata Pak Warto.

Dadang menyenggol lengan Tirta memberi kode agar
Tirta mau minta maaf. Tirta masih saja diam. Setelah
beberapa kali Dadang menyenggol lengan Tirta baru Tirta
mau minta maaf.

“Tirta saya traktir, Pak. Jadi, yang bayar baksonya
saya,” kata Dadang.

“Ya, tunggu, saya racikkan dulu,” kata Pak Warto.
Ia segera menata mangkok, meracik bakso, dan menyiram
kuah.

Tirta dan Dadang akhirnya bisa menikmati bakso
Pak Warto. Perutnya yang dari tadi keroncongan sudah
terisi dengan bakso yang sedap. Usai menyantap bakso
Tirta dan Dadang kembali ke kelas.

“Terima kasih, Pak, kami sudah kenyang. Sekarang
mau masuk ke kelas lagi,” kata Dadang sambil
meninggalkan mangkok di atas meja kantin.

“Sama-sama, Nak,” kata Pak Warto sambil
tersenyum.

Rustantiningsih 77

“Nah, ini baru namanya anak yang tertib,” tambah
Pak Warto sambil mengacungkan jempol.

Dadang dan Tirta tertawa kecil sambil berlalu
menuju kelas mereka.

78 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

DAGANGANKU
TIDAK LAKU

Pelajaran kali ini berbeda dari hari biasanya. Bukan
Bu Harum yang mengajari tetapi Pak Agus pengrajin
keranjang buah. Bu Harum tiba di kelas bersama Pak
Agus.

“Anak-anak, sekarang pelajaran keterampilan namun
bukan ibu yang mengajar tetapi Pak Agus,” kata Bu
Harum.

“Sudahkah kalian kenal dengan Pak Agus?” tanya
Bu Harum.

“Belum, Bu?”
“Nah, sekarang Pak Agus akan memperkenalkan
diri. Silakan, Pak!” kata Bu Harum mempersilakan Pak
Agus.

Rustantiningsih 79

“Anak-anak, kenalkan nama saya Agus Raharjo.
Biasa dipanggil Pak Agus. Pekerjaan saya membuat
keranjang buah. Kedatangan saya di sini karena diminta
Bu Harum untuk mengajari kalian membuat keranjang
buah.”

“Hore!” teriak anak-anak sambil bertepuk tangan.
Setelah perkenalan selesai, Pak Agus segera
membagikan rotan dan papan triplek kecil kepada anak-
anak. Setiap anak mendapat satu paket lengkap berupa
rotan, papan triplek, dan pisau kecil. Pak Agus kemudian
menjelaskan cara-cara membuat keranjang Buah
kemudian dengan sabar Pak Agus membimbingnya.
Rotan yang dibawa Pak Agus sudah dipotong-
potong sesuai dengan ukuran keranjang yang akan
dibuat. Anak-anak belajar membuat keranjang buah
dengan ukuran kecil. Bu Harum juga ikut membuat
keranjang.
Membuat keranjang buah ternyata gampang-
gampang susah. Bagi anak yang sabar dan teliti akan
mudah membuat keranjang tersebut. Namun, bagi anak-

80 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

anak yang tidak bisa bersabar dan tidak cermat memang
agak kesusahan membuatnya.

Anak-anak yang mau memperhatikan dengan baik
bisa membuat keranjang dengan cepat tetapi yang tidak
memperhatikan biasanya akan banyak melakukan
kesalahan. Jika ada anak-anak yang salah dalam
menganyamnya, Pak Agus dan Bu Harum membimbing
mereka satu per satu.

“Wah, ternyata asyik ya membuat keranjang!” kata
Rani.

“Iya, Ran. Aku senang bisa membuat keranjang,”
tambah Krisna.

Sementara itu Tirta berulang kali harus
membongkar anyamannya karena selalu melakukan
kesalahan. Pak Agus tidak bosan-bosannya membimbing
Tirta. Anak-anak yang lain juga sedang asyik menganyam.

“Ini lihat keranjang ibu sudah selesai,” kata Bu
Harum sambil menunjukkan keranjangnya.

“Wah, bagus, Bu. Rapi sekali anyamannya,” komentar
Rani.

Rustantiningsih 81

“Kuncinya kalian sabar, cermat, dan hati-hati saat
menganyam. Tidak perlu terburu-buru,” kata Bu Harum.

Kemudian Bu Harum dan Pak Agus mengecek
pekerjaan anak-anak. Beberapa anak sudah hampir
selesai. Hanya satu dua anak yang masih kelihatan
kesulitan menganyam, termasuk Tirta.

“Pak Agus, cara mengakhiri menganyam
keranjangnya bagaimana, Pak?” tanya Krisna.

Pak Agus memberi penjelasan kepada anak-anak
yang sudah hampir selesai menganyam. Sementara Tirta
masih perlu bimbingan lebih dari Pak Agus. Tirta memang
kurang cermat saat menganyam. Anyamannya sering
melompat-lompat. Anyaman yang salah harus dilepas dulu
kemudiian diperbaiki.

“Anak-anak yang sudah selesai menganyam
keranjang, sebelum dikumpulkan diberi nama dulu ya!”
perintah Bu Harum.

Tirta sebenarnya merasa tersiksa dengan tugas ini.
Demi mendapatkan nilai ia pun melakukan tugas itu
walau dengan setengah hati. Teman-temannya sudah
mulai menulisan nama di keranjangnya masing-masing dan

82 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

membawanya maju ke depan untuk dinilai. Tirta masih
berkutat dengan rotan-rotan yang belum teranyam
dengan rapi.

Sekarang semua keranjang yang sudah dinilai
dikumpulkan di depan kelas. Tinggal Tirta yang masih
menganyam. Pak Agus menunggui Tirta dengan sabar.
Jika ada anyaman yang salah segera dibimbing untuk
dibetulkan.

“Nah, sekarang sudah selesai menganyam, Nak.
Tulis namamu lalu bawa ke depan agar dinilai Bu Guru!”
kata Pak Agus pada Tirta.

Semua pekerjaan ana-anak sudah terkumpul di
depan. Bu Guru menugasi anak-anak untuk memberi
penilaian hasil keranjang yang anyamannya paling baik.
Dari 25 anak 20 anak menunjuk karya Krisna yang terbaik.
Krisna mendapat penghargaan dari Bu Guru ucapan
selamat dan tanda bintang.

“Anak-anak, tugas membuat keranjang sudah
selesai. Sekarang Pak Agus akan berpamitan. Berikan
salam untuk Pak Agus ya,” kata Bu Harum.

Rustantiningsih 83

“Selamat siang, Pak. Terima kasih, Pak!” kata anak-
anak serempak.

Pak Agus pun meninggalkan kelas V. Anak-anak
kembali duduk dengan tertib.

“Anak-anak, kemarin kalian mendapat tugas
membawa apa dari rumah?”

“Membawa buah, Bu!”
“Kira-kira buah yang kalian bawa untuk apa ya?”
pancing Bu Harum.
“Untuk dimakan, Bu,” kata Dadang.
“Ada lagi yang berpendapat?”
“Untuk dibuat percobaan, Bu,” kata Rani.
“Siapa lagi yang mau menjawab?”
Anak-anak mulai berpikir lagi. Masing-masing ingin
jawabannya yang paling benar.
“Untuk dipotong-potong, Bu,” jawab Tirta
sekenanya.
“Anak-anak, kali ini buah yang kalian bawa ada
kaitannya dengan keranjang yang kalian buat,” kata Bu
Harum sebelum menghentikan pembicaraannya.

84 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

“Saya, tahu, Bu, untuk ditata di dalam keranjang,”
kata Rani.

“Betul, Rani. Buahnya ditata dalam keranjang tetapi
tidak hanya ditata sekenanya. Buah ditata ke dalam
keranjang ini, Saat istirahat nanti buah dijajakan ke
teman-teman di kelas lain. Selain menata dalam keranjang
kalian juga memberi harga pada buah yang kalian jual.
Ingat, harga buah harus sewajarnya! Mengerti anak-
anak?”

“Mengerti, Bu!”
Anak-anak kini sibuk menata buah-buahan yang
mereka bawa. Tirta membawa mangga 2 buah, apel 2
buah, dan jeruk 2 buah. Dadang membawa mangga 3
buah dan apel 3 buah. Setelah semua buah ditata,
mereka tidak lupa mencantumkan harganya. Bahkan
harga keranjang pun juga dicantumkan. Beberapa anak
yang kreatif memberi nama-nama unik. Ada yang memberi
nama dengan “Buah Segar Yumi”, “Buah Istimewa”, “Buah
Ajaib”, “Buah Berkhasiat”, dan lain sebagainya.
Selain itu ada yang keranjang buahnya dihiasi
dengan kertas warna-warni. Ada yang dibungkus dengan

Rustantiningsih 85

plastik transparan. Ada yang diberi tambahan pita. Bu
Harum memang memberi kebebasan anak-anak untuk
berkarya dengan memanfaatkan barang-barang di
sekitarnya atau bahan-bahan yang mungkin ada di tas
mereka. Pokoknya tiada rotan akar pun jadi. Tidak ada
barang-barang yang kita butuhkan tetapi kita dapat
memanfaatkan barang seadanya untuk kita jadikan karya.

Bu Harum memberi acungan jempol pada murid-
muridnya yang berani membuat kreasi sesuai dengan ide
mereka. Bu Harum juga memberi motivasi pada murid-
muridnya yang belum mampu membuat kreasi dengan
cara membantu memberi ide, membantu memberi benda-
benda yang dapat dimanfaatkan siswa, atau memberikan
saran-saran pada mereka. Kelas V hari ini ramai dengan
kreativitas mereka. Tak heran jika mereka sangat senang
belajar.

“Teman-teman, dagangan saya pasti laku keras.
Lihat buahnya segar-segar,” kata Tirta menyombongkan
diri.

“Mana mungkin laku. Lihat harganya mahal-mahal,”
ledek Dadang.

86 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

“Pasti lebih laku daganganku,” tambah Dadang
“Lihat ya, kalau sampai daganganku tidak laku, aku
wajib mentraktirmu. Tapi, kalau daganganmu yang tidak
laku, kamu yang mentraktirku,”tantang Tirta.
“Oke, siapa takut?” kata Dadang.
Kedua anak tersebut memang aneh. Ada kalanya
mereka rukun namun adakalanya mereka bertengkar.
Sering mereka berselisih paham hingga mengakibatkan
pertengkaran.
Waktu istirahat pun tiba. Anak-anak kelas V mulai
menjajakan dagangannya ke teman-teman mereka di kelas
lain. Mereka berlagak seperti penjual yang profesional
menawarkan dagangan dengan berbagai cara. Ada yang
memberi diskon, merayu dengan kata-kata yang ramah,
atau menawarkannya dengan harga miring.
Suasana istirahat kali ini berbeda dengan hari-hari
biasanya. halaman sekolah layaknya pasar tiban. Murid-
murid kelas V berusaha menjajakan barang dagangannya
hingga laku. Jika barang dagangannya sudah laku semua,
anak-anak diwajibkan melapor pada Bu Harum.

Rustantiningsih 87

Waktu untuk menjajakan barang dagangan selama
30 menit. Mereka berlomba untuk menghabiskan barang
dagangannya agar laku cepat. Rani yang mengemas
dagangannya seperti parcel langsung habis karena dibeli
orang tua murid yang kebetulan akan menjemput
anaknya. Dagangan Dadang habis karena harganya cukup
murah. Buah milik Krisna habis karena ia memberi diskon
pada pembeli beli satu gratis satu. Dagangan Riko tinggal
1 buah mangga karena ada bagian yang kelihatan agak
busuk.

Hampir semua anak mampu menjual dagangannya
dengan baik. Namun tidak demikian dengan Tirta.
Dagangan Tirta masih utuh. Tidak ada satu pun pembeli
yang menghampirinya. Hanya Tirta sendiri yang tidak bisa
melaporkan dagangannya pada Bu Harum.

“Sepertinya ada satu anak yang belum melapor pada
bu guru ya?” Tanya Bu Harum.

“Ya Bu, Tirta!” jawab anak-anak.
“Habis kemahalan, Bu. Satu mangga harganya lima
ribu rupiah,” kata Dadang.

88 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

“Mukanya juga serem, Bu, yang mau beli pada
takut,” kata Riko disahut dengan gelak tawa teman-
temannya.

“Nah, masih ingat tidak kata-kata ibu saat
menjelaskan sebelum berjualan tadi?”

Dagangan Tirta masih utuh.
Tidak ada satu pun pembeli yang menghampirinya
“Masih, Bu!”
“Wajah kita harus kelihatan ....”
“Ramah, Bu,” sahut anak-anak.
“Harganya harus ....”

Rustantiningsih 89

“Wajar, Bu,” kata anak-anak.
“Jika sudah dibeli kita wajib mengucapkan ....”
“Terima kasih, Bu,” kata anak-anak serempak.
“Apakah Tirta sudah melakukan itu semua?” tanya
Bu Harum pada Tirta.
Tirta hanya menggeleng-gelengkan kepala. Ia
menyesal tidak melakukan apa yang Bu Harum katakan.
Pikirnya jika mangga yang ia jual mahal maka ia akan
mendapat uang yang banyak. Ternyata strategi
berjualannya salah. Tirta juga menyadari, banyak adik-
adik kelasnya yang tidak mau membeli barang
dagangannya karena selama ini ia sering usil dengan
mereka sehingga mereka takut membeli buah-buahan
milik Tirta. Ini pelajaran berharga bagi Tirta.
“Jangan lupa Tirta, kamu wajib mentraktir aku,”
bisik Dadang mengingatkan.
Tirta mendengar bisikan Dadang dengan wajah
masam sementara Dadang tersenyum tanda girang. Tirta
lebih malu pada teman-temannya karena hanya barang
dagangan Tirta yang tidak laku. Semua itu akibat ulahnya
sendiri.

90 Terima Kasih Itu Tidak Mahal

BERMAIN DI TAMBAK

Setelah selesai belajar menjajakan buah-buahan,
tugas terakhir di hari Sabtu adalah menulis refleksi
pelajaran hari ini. Tirta kelihatan tidak bersemangat. Ia
masih kecewa dengan dagangannya yang tidak laku tadi.
Tugas dari Bu Harum dikerjakan dengan asal-asalan. Ia
asal menulis saja tanpa ada ujung pangkalnya.

“Dang, aku akan traktir kamu hari Senin tetapi ada
syaratnya!” kata Tirta.

“Apa syaratnya?” Dadang balik bertanya.
“Nanti saja setelah bel pulang aku beri tahu,” jawab
Tirta.
Keduanya kemudian melanjutkan menulis lagi.
Setelah anak-anak menulis satu halaman mereka
mengumpulkan tulisan tersebut ke depan kelas. Bu

Rustantiningsih 91

Harum segera mengakhiri pelajaran begitu mendengar bel
pulang berbunyi.

Tirta keluar kelas sambil menggandeng tangan
Dadang. Sepertinya Tirta takut jika Dadang pulang lebih
dulu. Tirta mengajak Dadang duduk di pojok taman
sekolah.

“Dang, kamu ingin ditraktir apa Senin besok?” Tirta
membuka pembicaraan.

“Biasa Tirta, bakso.”
“Syaratnya sekarang kamu ikut aku,” kata Tirta.
“Ke mana?” Dadang penasaran.
“Ke tambak ayahku,” jawab Tirta.
“Ke tambak?”
“Iya, main ke tambak,” tegas Tirta.
Dadang masih berpikir, ia tidak segera menyetujui
ajakan Tirta. Setelah beberapa saat Dadang berbalik
mengajukan syarat.
“Oke, tapi aku juga punya syarat,” kata Dadang.
“Apa, Dang?”
“Hari Senin baksonya 2 mangkok,” kata Dadang.

92 Terima Kasih Itu Tidak Mahal


Click to View FlipBook Version