Rinai RIndu dari Surga | i
Rinai RIndu dari Surga
Penulis: Lailatus Saadah
ISBN 978‐623‐217‐218‐0
Editor: Henny
Penata Letak: @timsenyum
Desain Sampul: @kholidsenyum
Copyright © Pustaka Media Guru, 2019
viii, 116 hlm, 14,8 x 21 cm
Cetakan Pertama, Mei 2019
Diterbitkan oleh
CV. Pustaka MediaGuru
Anggota IKAPI
Jl. Dharmawangsa 7/14 Surabaya
Website: www.mediaguru.id
Dicetak dan Didistribusikan oleh
Pustaka Media Guru
Hak Cipta Dilindungi Undang‐Undang Republik Indonesia Nomor 19
Tahun 2002 tentang Hak Cipta, PASAL 72
Kata Pengantar
B uku adalah jendela dunia. Kunci untuk membukanya
adalah membaca. Pepatah tersebut mengingatkan
betapa pentingnya membaca bagi kehidupan sebagai
salah satu cara memperluas ilmu pengetahuan, menciptakan
kreatifitas dan menambah wawasan.
Semua berawal dari membaca, oleh karena itu guru
sebagai tenaga pelopor pendidikan, maka guru juga harus
mampu menjadi pejuang literasi melalui Program Literasi
Sekolah dengan mengajak semua warga sekolah untuk
menumbuhkan budaya membaca melalui program‐program
yang telah disusun.
Sebagai agen pembelajaran guru dituntut untuk
meningkatkan keprofesiannya secara terus‐menerus. Salah
satunya melalui Kegiatan karya tulis ilmiah dan kegiatan
keprofesian lainnya. Guru harus mampu menghasilkan karya
tulis yang diharapkan bisa terpublikasi dan memberi banyak
manfaat kepada para pembaca. Sehingga hal ini dapat
meningkatkan kualitas diri seorang guru ditengah kompetisi
yang ada.
Guru harus menciptakan hidup yang berkualitas dengan
menumbuhkan budaya membaca dan menulis. Saya berharap
agar predikat Grobogan sebagai Kabupaten Literasi tidak
hanya terfokus di sekolah‐sekolah kota saja, tetapi juga
menggeliat sampai ke seluruh sekolah‐sekolah dari jenjang
Rinai RIndu dari Surga | iii
PAUD sampai SMA/SMK di seluruh wilayah Kabupaten
Grobogan.
Ilmu yang dihasilkan guru harus dipublikasikan dan
dishare ke media‐media sosial agar bermanfaat bagi banyak
orang. Jangan pernah ada rasa takut menghadapi kritik atau
tantangan; justru tantangan itu harus dihadapi dan dijadikan
motivasi untuk mencari solusinya, bukan dihindari. Jadikan
agar aktivitas para guru menulis bukan hanya pemenuhan
prasyarat untuk kenaikan pangkat atau untuk kepentingan
pribadi semata, tetapi untuk kepentingan ilmu pengetahuan
Novel “Rinai Rindu dari Surga” karya Laiatus Saadah,
S.Pd. ini sangat menarik. Dengan gaya bahasa yang
sederhana dan mudah dipahami, penulis mencoba untuk
menngungkapkan cerita tentang ketegaran seorang tokoh
bernama Kayla untuk memaknai akan perjuangan cintanya
bersama Hilman untuk bisa menepis perbedaan kasta atau
status sosial dan agama diantara keduanya dengan terus
berpikir positif dan ikhlas bahwa alur kehidupan setiap insan
manusia merupakan hak prerogatif Allah semata sebagai Dzat
yang Maha tinggi.
Melalui tulisan pertamanya ini, penulis berusaha
mengaduk‐aduk emosi pembaca secara tajam sehingga
karakter tokoh dalam cerita menjadi nyata dan sangat
menyentuh hati. Novel ini juga memberi pelajaran hidup yang
luar biasa agar kita bisa memaknai bahwa setiap ujian hidup
mampu memberi kekuatan bagi setiap insan unuk mendekati
Illahi Rabbi.
Saya berharap penulis bisa lebih termotivasi lagi untuk
menuliskan karya‐karya berikutnya dan dapat menjadi
iv | Lailatus Saadah
pembangkit literasi di sekolah dan lingkungannya. Tetaplah
membumi, memijak, berproses, dan bertumbuh untuk
menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Rinai RIndu dari Surga | v
Prakata
S egala puji dan syukur terucapkan ke hadirat Allah SWT
karena atas izin dan kuasa‐Nya, novel yang berjudul
“RINAI RINDU DARI SURGA” telah selesai. Shalawat
dan salam tercurah kepada Nabi Muhammad SAW yang saleh
dan mulia hingga akhir zaman.
Penulis ingin mengucapkan terimakasih kepada semua
pihak yang telah membantu menyelesaikan novel ini.
Pertama, untuk keluarga kecil penulis yang tak pernah
berhenti memberikan semangat, cinta, dan doanya. Kedua,
untuk Disdik Kabupaten Grobogan dan keluarga besar SMP
Negeri 3 Karangrayung yang memberikan support untuk
terus bekerja dan berkarya. Ketiga, Tim Media Guru yang
memberikan kesempatan dan motivasi hingga novel ini dapat
diselesaikan.
Penulis menyadari apabila dalam penyusunan novel ini
terdapat kekurangan. Oleh karena itu, guna penyempurnaan
novel ini kritik dan saran dari pembaca sangat penulis
nantikan.
Semoga novel ini bisa menginspirasi bahwa tidak
selamanya ekspektasi atas nama cinta selalu membahagiakan
cinta itu sendiri. Apa yang sesungguhnya dicari, dicintai, dan
dirindui semua merupakan otoritas Allah sebagai Zat Yang
Maha Tinggi. Namun, sebagai bagian dari insan yang beriman
kita harus tetap istikamah dan terus berjalan mendengarkan
kata nurani bahwa cinta akan senantiasa menaungi langkah
vi | Lailatus Saadah
kita melalui rinai‐rinai rindu untuk tetap memberi kekuatan
dalam mendekati Illahi Rabbi.
Grobogan, 24 Februari 2019
Rinai RIndu dari Surga | vii
Daftar Isi
Kata Pengantar .......................................................................... iii
Prakata ....................................................................................... vi
Daftar Isi ................................................................................... viii
1. Kerinduan Naufal ............................................................ 1
2. Gadis Tomboy yang Periang ......................................... 9
3. Rahasia dalam Sabar .................................................... 15
4. Pertemuan dengan Sang Pujaan Hati .......................... 19
5. I Fall In Love With Him Every Day .................................. 23
6. Hijrah Menjadi Muallaf ................................................. 31
7. Towards Marriage ........................................................ 43
8. Anugerah Sekaligus Amanah ....................................... 51
9. Hadirnya Orang Ketiga ................................................ 65
10. Bersahabat dengan Tiroid ............................................ 71
11. Menantu Idaman .......................................................... 77
12. Saat Harus Memilih ..................................................... 85
13. Melewati Persalinan Seorang Diri .............................. 93
14. Kerinduan yang Terlunasi ........................................... 99
15. Melepas Kepergian Kayla ........................................... 105
Profil penulis ........................................................................... 114
viii | Lailatus Saadah
Kerinduan Naufal
P andangan Hilman tertuju ke luar jendela. Entah apa
yang dilihatnya, Tatapan matanya kosong
mengisyaratkan akan kegalauan hati yang
dirasakannya. Dengan ditemani sayup‐sayup suara merdu
Group Gambus Nisa Sabyan kesukaan istrinya‐Kayla‐yang
melantunkan Ya Habibal Qolbi dari MP3 speaker portable di
kamarnya, tanpa ia sadari bulir‐bulir air mata mulai berlinang
membasahi pipinya. Seolah tak ingin melewatkan
kesempatan sendu ini, sang angin pun sesekali ikut menyapa
lembut wajah manis Hilman yang disambut dengan anak
rambut yang ikut menari‐nari di keningnya.
“Bapak..., Bapak.., makan dulu!” ujar Mbok Nah yang
seketika membuyarkan lamunan Hilman.
“Eh Mbok Nah,” jawab Hilman sembari menyeka air mata
di pipinya dengan jari‐jarinya sambil berusaha merapikan raut
mukanya di hadapan Mbok Nah. Hilman pun beranjak dari
tempat duduknya mendekat dengan tempat berdiri Mbok
Nah.
“E..e..e, maaf Mbok Nah tadi bertanya apa?”
“Maaf, saya tadi sudah ketuk pintu kamar Bapak
berulang‐ulang, tetapi Bapak tidak menjawab. Jadi simbok
beranikan diri masuk. Saya perhatikan Bapak dari tadi malam
belum makan, mungkin Bapak menghendaki dibuatkan
masakan kesukaan Bapak?”
Rinai RIndu dari Surga | 1
“O..o..oh, tidak usah Mbok, nanti saya makan yang sudah
Simbok siapkan saja,” jawab Hilman kepada Mbok Nah.
Rasa sedih di hati yang dirasakan Hilman berpengaruh
terhadap selera makannya. Rasa lapar seolah tak pernah
dihiraukannya. Meski kadang perutnya protes dengan
mengeluarkan nada isyarat meminta untuk diisi, tetapi Hilman
enggan untuk memenuhi keinginan dari perutnya. Hatinya
masih berkecamuk melihat kondisi putranya, Naufal, yang
sudah tiga hari ini demam.
“Simbok tidak perlu khawatir, nanti saya segera makan,”
ujar Hilman, “Naufal masih tidur Mbok?” tanya Hilman pada
Mbok Nah.
“Iya Pak, setelah Bapak beri obat tadi sepertinya Nak
Naufal sudah lebih tenang Pak,” jawab Simbok.
“Alhamdulillah. Oh ya Mbok, tolong siapkan
perlengkapan dan baju ganti untuk saya dan Naufal ke koper
ya Mbok..!”
“Kalau sampai nanti sore demam Naufal belum turun
juga, saya akan membawanya ke rumah sakit,” ujar Hilman.
Sudah tiga hari semenjak periksa dari tempat dokter
umum yang praktik dekat dengan tempat tinggal Hilman,
demam Naufal belum turun juga dan kekhawatiran pun mulai
menggelayuti perasaan Hilman. Padahal Hilman tahu bahwa
sesungguhnya Naufal sangat merindukan bundanya.
Ia pun berinisiatif membawa Naufal untuk diperiksa di
rumah sakit setelah Naufal bangun dari tidurnya nanti.
Harapan Hilman agar di RS nanti Naufal mendapatkan
pemeriksaan laboratorium.
2 | Lailatus Saadah
Jam di dinding menunjukkan pukul 15.30 WIB saat Naufal
bangun. Hilman pun segera bersiap‐siap merapikan dan
mematutkan diri di depan cermin dengan tampilan yang
sederhana. Baju hem warna abu‐abu yang semakin
mempertegas ketampanan sosok Hilman pada usianya yang
masuk ke tiga puluh tujuh tahun, usia yang cukup matang dan
dewasa bagi seorang laki‐laki dalam karier dan rumah tangga.
Setelah selesai bersiap, Hilman pun bergegas ke garasi.
Mobil jazz metalicnya pun segera ia starter untuk dipanasi
terlebih dahulu. Usai membuka pintu dan mengeluarkan
mobil dari garasi, Hilman pun menemui Mbok Nah di dalam
rumah agar segera membawa perlengkapan Naufal dan
memasukkannya di bagasi mobil.
“Mbok kalau semua keperluan Naufal sudah lengkap
segera bawa ke depan dan masukkan ke bagasi mobil ya..!”
pinta Hilman kepada Mbok Nah. Tanpa banyak komentar
Mbok Nah pun segera pergi mengikuti perintah dari
majikannya.
Setelah mengambil sling bag miliknya, Hilman pun segera
menuju ke kamar Naufal untuk menjemputnya.
“Assalamualaikum Naufal, anak ayah sayang..., kita ke
rumah sakit ya Nak, agar anak shaleh segera sehat,” bujuk
Hilman kepada Naufal agar putranya tidak takut diajak ke
rumah sakit.
“Ayah, nanti kalau di rumah sakit pasti ditusuk jarum
suntik sama mbak perawat, Naufal takut..,” rengek Naufal
kepada Hilman.
Dengan ketegaran sebagai seorang ayah yang tangguh
Hilman berusaha menguatkan putranya.
Rinai RIndu dari Surga | 3
“ Naufal kan anak ayah yang kuat, yang gagah berani
seperti sahabat Rasul SAW, Panglima Umar bin Khattab yang
selalu siap menjadi perisai bagi Rasul. Masak sama jarum
suntik kecil saja takut?” tanya Hilman sembari menggoda
putranya agar tak takut dengan jarum suntik.
“Iya Ayah, Naufal tidak takut koq. Kan ada Ayah yang
selalu menjaga saya,” jawab Naufal sambil mencium pipi
ayahnya.
Dengan segenap curahan kasih sayangnya, Hilman
menggendong Naufal menuju mobil untuk berangkat ke
rumah sakit. Simbok mengiringi kepergian mereka sampai di
teras untuk memastikan tidak ada barang bawaan majikannya
yang tertinggal.
“Simbok jangan lupa kunci pintu dan jaga rumah baik‐
baik ya.., nanti kalau dokter meminta Naufal untuk opname
Simbok akan saya kabari” pesan Hilman kepada Mbok Nah.
Mbok Nah sudah lama menjadi asisten rumah tangga
Hilman dan Kayla, bahkan mereka memperlakukan Mbok Nah
seperti keluarga sendiri. Mbok Nah melepas keduanya
dengan rasa haru yang teramat dalam di hatinya. Dengan
mata berkaca‐kaca, terdengar suara agak parau karena
menahan tangis Mbok Nah pun menjawab, “Iya Pak, semoga
Nak Naufal baik‐baik saja dan segera sehat.”
Mobil segera melaju ke jalanan membawa mereka
menuju ke rumah sakit. Kebetulan jarak tempuh dari rumah
Hilman sampai rumah sakit lumayan jauh. Kurang lebih lima
puluh menit perjalanan mereka sudah sampai di rumah sakit.
Setelah memarkirkan mobilnya, Hilman segera menggendong
Naufal menuju lobi rumah sakit untuk menghampiri
4 | Lailatus Saadah
mejaresepsionis pendaftaran pasien rawat jawat. Setelah
menjawab beberapa pertanyaan dari perawat yang menerima
pendaftaran, mereka dipersilakan duduk di ruang tunggu
rumah sakit yang tersedia. Kebetulan beberapa bangku masih
cukup lengang.
Setelah memastikan Naufal duduk dengan nyaman,
Hilman mengambil HP dari tasnya dan jarinya mulai
berseluncur menuju kontak telepon. Hilman mencari kontak
Nita, putri sulungnya yang indekost di kota tak jauh dari
rumah sakit. Nita harus indekost dan jauh dengan Kayla dan
adiknya karena jarak SMP tempat Nita bersekolah dengan
tempat tinggal mereka cukup jauh, bahkan angkutan umum
pun sangat jarang. Sudah menjadi keinginan Nita untuk bisa
melanjutkan sekolah di SMP Favorit yang ada di kota.
“Wassalamualaikum.., Nak sekarang ini ayah bersama
adik sedang di Rumah Sakit Permata Bunda. Kalau Nita tidak
sibuk, tolong kamu ke sini ya Nak, temani ayah dan adik!”
pinta Hilman ditujukan ke penerima telepon di seberang.
Beberapa saat senyap, kemudian Hilman menjawab lagi
melaui teleponnya, “Baiklah ayah tunggu, hati‐hati di jalan ya
Nak. Assalamualaikum…,” Hilman menutup pembicaraannya
di telepon.
Sepuluh menit kemudian Nita sudah sampai di rumah
sakit. Ia menghampiri ayahnya dan segera bersalaman
dengan mencium tangan sebagai bentuk rasa hormat kepada
ayahnya.
“Adik belum turun panasnya, Yah?” tanya Nita kepada
ayahnya.
Rinai RIndu dari Surga | 5
“Belum Nak, makanya ayah bawa ke sini agar
mendapatkan pemeriksaan di laboratorium. Semoga adik
tidak kenapa‐napa,” jawab Hilman dengan wajah yang penuh
kekhawatiran.
Tak berapa lama ruang tunggu sudah penuh dengan
beberapa pasien anak‐anak karena dokter spesialis anak yang
dituju Hilman akan memulai praktiknya pukul 17.00 WIB. Jam
di tangan Hilman sudah menunjukkan pukul 17.05 WIB, selang
tak berapa lama dokter dengan pakaian putih bawahan gelap
memasuki ruang periksa yang kemudian diikuti perawat
untuk membawa masuk berkas pasien. Tak berapa lama
perawat tadi membuka pintu ruang periksa dengan
memanggil nama pasien.
“Anak Naufal Putra Permana,” panggil perawat kepada
pasien di ruang tunggu. Hilman pun segera beranjak dari
tempat duduk dan menggendong Naufal menuju ke sumber
suara.
Kebetulan Naufal mendapatkan nomor urut satu dan
segera setelah dipanggil perawat, Naufal pun harus
ditimbang dahulu sebelum memasuki ruang periksa.
Setelah masuk ke ruang periksa, dengan ramah dokter
menerima mereka sambil berkata, “Silakan masuk, kenapa
putranya Pak?”
“Sudah tiga hari demam belum turun juga dok, padahal
kemarin lusa sudah periksa di dokter umum,” jawab Hilman
“Demamnya sampai berapa, Pak?”
“38,5 sampai 39 dok.”
“Karena ini demamnya sudah masuk hari ketiga,
sebaiknya cek di lab dulu ya Pak!” perintah dokter kepada
6 | Lailatus Saadah
Hilman sembari menuliskan pengantar untuk diserahkan ke
bagian laboratorium rumah sakit.
Segera setelah menerima surat pengantar, Hilman pun
bergegas membawa Naufal ke laboratorium. Sesampai di
laboratorium, Hilman menyerahkan surat pengantar ke
petugas laboratorium. Tak berapa lama mereka dipersilakan
masuk oleh petugas yang menggunakan jas laboratorium.
Awalnya Hilman tak tega melihat putranya yang mulai
ketakutan ketika petugas memasangkan tourniquet di
tangannya. Namun, tidak ada pilihan lain, kecuali Naufal harus
segera sembuh. Jarum mulai disuntikan pada pembuluh
darah vena siku tangan oleh petugas. Sesaat Naufal
menangis, tetapi tak sampai empat menit proses
pemeriksaan lab selesai dan mereka diminta kembali
menunggu di ruang tunggu sampai hasil lab selesai dicetak
oleh petugas.
Selang tiga puluh menit berlalu, kemudian petugas lab
menyerahkan hasil lab Naufal kepada Hilman. Tanpa
menunggu lama, Hilman pun bergegas kembali menuju ruang
praktik dokter anak.
“Permisi kok, ini hasil lab Naufal,” ujar Hilman kepada
dokter.
Dada Hilman bergemuruh, rasa gelisah, takut, bercampur
cemas mendera. Sesak dan berat yang ia rasakan seakan
mengangkat beban yang luar biasa hingga rasanya ingin jatuh
saat menanti hasil lab Naufal yang akan dibacakan dokter.
Setelah Hilman memberikan hasil pemeriksaan lab,
dokter pun pelan‐pelan mulai membuka dan membacakan
hasil pemeriksaan darah rutin Naufal, “Begini Pak, hasil lab
menunjukkan hemoglobin dan hematokrit putra Bapak
Rinai RIndu dari Surga | 7
normal. Namun trombositnya pada angka 140.000 padahal
normalnya trombosit antara 150.000‐450.000. Namun, Bapak
tidak perlu khawatir, anak Bapak bisa dirawat di rumah
asalkan mengikuti saran saya dengan terus memperbanyak
asupan cairan bagi putra bapak untuk menghindari dehidrasi,
memberikan makan dengan makanan yang mengandung gizi
seimbang, perbanyak buah dan sayuran, istirahat cukup, dan
obatnya diminum rutin.”
“Baik dok,” jawab Hilman yang seolah memberikan ruang
bernafas lega baginya setelah dokter membacakan hasil lab
Naufal.
Setelah selesai menerima kopi resep obat yang
diserahkan dokter, Hilman pun segera berpamitan dan
memohon diri kepada dokter dengan santun.
Ketika keluar ruangan, Hilman melihat Nita putri
sulungnya masih tampak cemas menunggu hasil yang
disampaikan dokter. Hilman pun melemparkan senyum lebar
kepada Nita dan Nita pun dibuat semakin penasaran ayahnya
hingga ia pun dengan tergopoh‐gopoh segera menghampiri
Hilman.
“Ayah, bagaimana kata dokter tentang adik?” tanya Nita
dengan nada tidak sabar.
“Alhamdulillah sayang, adik kamu tidak apa‐apa. Tadi
dokter sudah membacakan hasil lab. Alhamdulillah semuanya
normal, hanya trombositnya yang agak menurun dan dokter
sudah memberikan obatnya,” jawab Hilman.
“Alhamdulillah,” ucapkan syukur Nita sembari membasuh
kedua telapak tangan di mukanya disusul dengan senyum
lebar menghias wajah ayunya.
8 | Lailatus Saadah
Gadis Tomboy yang Periang
H ilman kemudian membawa kopi resep dokter menuju
meja pelayanan obat rumah sakit. Saat hendak
menghampiri kedua anaknya, tiba‐tiba Hilman
dikagetkan dengan suara panggilan seseorang.
“Hilman...!”
Ia pun segera menoleh ke arah suara.
Di sana tampak sosok perempuan cantik yang
mengenakan hijab putih dengan aksen pink, dengan tinggi
badan kurang lebih 160 cm dan mengenakan kacamata
sehingga menjadikan perempuan tersebut tampak anggun.
Perempuan tersebut kemudian dengan tergopoh‐gopoh
menghampiri Hilman. Perempuan tersebut mengulurkan
tangannya untuk mengajak bersalaman tapi Hilman
menyambutnya dengan sedikit keraguan.
“Maaf, kalau boleh tahu Mbak ini siapa ya?” tanya Hilman
kepada perempuan yang saat ini tepat berada di hadapannya.
“Hilman.., masak kamu nggak ingat sama saya?” tanya
perempuan tersebut kepada Hilman.
“E..e..ehm, sepertinya aku sangat familiar denganmu tapi
siapa ya?” tanya Hilman kembali.
“Aku Aiza. Sahabat Kayla, adik kelas kamu waktu di
SMP,” ujar perempuan tersebut.
“O..o..oh..iya..iya.., aku ingat sekarang, maaf ya Iz aku
sempat tak mengenalimu tadi. Kamu sudah banyak berubah
Iz, serius! Setelah lulus SMP dulu, yang kutahu dari teman‐
Rinai RIndu dari Surga | 9
teman kamu kan pindah ke luar pulau, ikut transmigrasi
orangtuamu Iz..?”
“Iya, aku ikut orangtuaku transmigrasi di Sumatera. Oh
iya, siapa yang sakit?” tanya Aiza.
“Eh, ini putra bungsuku. Sudah tiga hari ini demam belum
turun juga, untuk itu aku periksakan ke dokter anak dan
sudah dicek di lab juga. Alhamdulillah hasil labnya bagus
semua hanya trombositnya agak turun dan ini tadi saya dari
apotek untuk menebus obatnya,” ujar Hilman.
“Lalu di mana Kayla dan anakmu sekarang?” tanya Aiza
kembali.
Ada, itu mereka sedang menunggu di ruang tunggu,”
jawab Hilman sambil menunjuk ke arah Nita dan Naufal
duduk.
Mereka pun berjalan menuju ke arah Nita dan Naufal.
“Ngomong‐ngomong kamu sendiri di sini ada
kepentingan apa Iz?” tanya Hilman.
“Kebetulan aku besuk pamanku yang dirawat di Ruang
Rama. Beliau dirawat karena penyakit jantung dan kemarin
selesai operasi pemasangan ring,” jawab Aiza
“O..oh, semoga lekas sembuh ya untuk paman kamu,”
ujar Hilman.
Kini mereka sampai di depan Nita dan Naufal. Hilman pun
memperkenalkan kedua anaknya kepada Aiza.
“Iz, kenalkan ini anak‐anakku. Ini kakak Nita dan ini
adiknya Naufal. Kakak Nita, adik ini teman ayah dan bundamu
waktu SMP, namanya Tante Aiza,” kata Hilman.
10 | Lailatus Saadah
Dengan ramahnya Aiza mengulurkan tangannya untuk
berjabat tangan dengan Nita dan Naufal. Keduanya kemudian
menyambut uluran tangan Aiza dengan mencium tangannya.
“Anak cantik, kelas berapa Nita?” tanya Aiza kepada Nita.
“Kelas 1 SMP,” jawab Nita.
“Kalau adik umur berapa?” tanya Aiza kembali.
“Dua tahun dua bulan Iz,” jawab Hilman mewakili Naufal
yang masih malu‐malu sambil melihat Aiza.
“O..oh..., anak pinter,” sambil mengusap kepala Naufal.
“E..e..e.., bagaimana kalau sambil menunggu antrian obat
adik di apotek, kita makan dulu di kantin?” ajak Aiza.
“Tapi....,” jawab Hilman. Belum selesai bicara Hilman
sudah dipotong Aiza.
“Ayolah.., Please..?” ajak Aiza kembali.
Dengan melirik ke arah Nita, Hilman pun seolah memberi
isyarat kepada Nita untuk menerima atau menolak ajakan
Aiza. Nita mengangguk sebagai isyarat jawaban terhadap
pertanyaan dari ayahnya.
“Okelah kalau begitu, tetapi kami tidak merepotkan
ya..?” ujar Hilman sambil tersenyum.
“Nggak lah,” jawab Aiza.
Kemudian mereka berempat berjalan menuju ke kantin
rumah sakit yang kebetulan tidak jauh dari ruang tunggu
pasien rawat jalan untuk mengantri obat. Setelah mereka
duduk di salah satu bangku, mereka pun memesan makanan
melalui pelayan kantin.
Mulailah mereka ngobrol sambil menunggu pesanan
makanan datang. Aiza memang memiliki karakter yang
mudah bergaul sehingga suasana obrolan mereka menjadi
Rinai RIndu dari Surga | 11
ramai dan anak‐anak Hilman sangat antusias mendengarkan
ketika Aiza mulai menceritakan ibundanya saat duduk di
bangku SMP. Mulailah Aiza mengurai cerita tentang sosok
Kayla.
Gadis kecil yang bernama Kayla adalah sosok gadis yang
tomboy, periang, pinter, dan mudah sekali bergaul. Saking
tomboynya, sehingga kebanyakan teman‐teman Kayla adalah
cowok. Kayla selalu menjadi bintang kelas dan mendapatkan
beasiswa pendidikan dari yayasan tempat Kayla bersekolah
dulu.
Meskipun terlahir dari keluarga yang sangat sederhana,
bahkan bisa dibilang miskin. Latar belakang orangtua Kayla
hanya berpencaharian sebagai buruh tani, tetapi Kayla tidak
pernah mengeluh dengan keadaannya. Justru dengan
keberadaannya yang pas‐pasan tadi menjadikan Kayla
semakin semangat dalam belajar dalam meraih prestasi.
Yang selalu diingat Aiza adalah dandanan favorit Kayla.
Rambut yang dikepang dua dan kaos kaki yang tinggi
mendaki lutut. Bahkan menurut Aiza, Kayla memiliki rasa
tanggung jawab yang tinggi. Aiza teringat sekali saat ada
Persami di sekolahnya dulu. Saat itu Kayla menjadi Pinru atau
Pimpinan Regu dalam regunya. Ketika kakak‐kakak pembina
memberikan game bagi adik‐adik galang dengan instruksi
agar masing‐masing regu mengibarkan bendera setinggi‐
tingginya, maka dengan keberaniannya Kayla segera
memanjat pohon akasia yang dekat dari barisan mereka dan
meletakkan bendera regunya di ranting tertinggi yang bisa ia
jangkau. Alhasil ia dan regunya menang dalam game tersebut.
Namun, celakanya ternyata Kayla baru kali pertama
12 | Lailatus Saadah
memanjat sehingga ia tak menguasai dengan benar teknik
memanjat dan turun dari pohon. Sehingga ketika ada peluit
panjang yang menunjukkan ada perintah berkumpul,
pembina baru tahu kalau ternyata Kayla masih berada di atas
pohon karena tidak berani turun.
Cerita Aiza pun mengundang gelak tawa dari kedua anak
itu dan Hilmanpun ikut tertawa karena ia baru sadar dan ingat
betapa bandelnya istrinya di masa SMP dulu.
Rinai RIndu dari Surga | 13
14 | Lailatus Saadah
Rahasia dalam Sabar
T ak berapa lama pelayan datang membawakan
makanan sesuai pesanan dan mereka pun mulai
menyantap makanan tersebut. Selang beberapa menit
setelah menyantap hidangan, Naufal pun tertarik untuk
mendekati kolam ikan dan air mancur yang ada di taman
dekat tempat mereka makan saat ini.
“Ayah.., Naufal mau lihat ikan ya?” ijin Naufal kepada
Hilman.
“Iya sayang, kakak tolong adik ditemani ya..!” pinta
Hilman kepada Nita.
“Baik Yah,” jawab Nita.
Kini tinggal Hilman dan Aiza melanjutkan obrolan mereka.
“Ngomong‐ngomong Kayla di mana? Kenapa nggak ikut?
Padahal saya sangat merindukannya. Apakah dia sedang di
luar kota?” tanya Aiza.
“E...ee..., iya.., iya di luar kota,” jawab Hilman dengan
sedikit memalingkan mukanya agar Aiza tak melihat bahwa
pelupuk mata Hilman sudah berkaca‐kaca.
“Kamu bohong ya?”
“Saya mengenal Kayla lama sebagai sahabat dan saya
tahu ada yang kamu sembunyikan dariku. Tidak mungkin dia
ada di luar kota dengan pekerjaannya, sementara putranya
sedang sakit. Kalau kamu tidak keberatan tolong cerita
padaku sebenarnya apa yang terjadi diantara kalian?” kata
Aiza meyakinkan Hilman.
Rinai RIndu dari Surga | 15
“Baiklah, saya percaya padamu Iz. Sebenarnya saat ini
bunda mereka sudah tidak bersama kami lagi,” kata Hilman.
Hilman pun mulai bercerita memutar waktu tentang
Kayla.
Semenjak Kayla lulus dari SMP Insa Cendekia, ia pun
melanjutkan di SMA Insan Cendekia karena adanya program
beasiswa dari yayasan yang memudahkan baginya untuk
melanjutkan kembali pendidikannya secara gratis sampai ia
lulus SMA. Namun, setelah lulus SMA cita‐citanya harus
kandas untuk bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Hal ini
karena terbentur biaya, padahal Kayla tergolong siswa
berprestasi dan aktif dalam organisasi. Sewaktu di SMA Kayla
tercatat pernah menjadi pengurus dan bahkan pernah
menjabat ketua OSIS. Namun, sayang nasib baik belum
berpihak padanya.
Bermodalkan ijazah SMA yang dimilikinya, ia beranikan
diri melamar pekerjaan di salah satu pabrik garment ternama
di Semarang. Awal masuk diterima sebagai pegawai pabrik,
Kayla ditempatkan di bagian produksi, tepatnya di bagian
pemangkasan sisa benang (triming) yaitu salah satu bagian
kegiatan produksi pakaian setelah melalui bagian jahit
(sewing). Hari berganti bulan Kayla terus menekuni
pekerjaannya dengan serius. Bahkan ia sering mengambil
waktu lembur sampai dini hari agar mendapatkan uang lebih
untuk bisa membantu perekonomian keluarga dan
membiayai sekolah adik‐adiknya.
Pada satu hari yang cerah, pabrik tempatnya bekerja
menerima kunjungan atau lebih tepatnya monitoring yang
sifatnya mendadak dari tim direksi. Pemilik perusahaan ini
16 | Lailatus Saadah
adalah Vikash Kumar Dugar yang merupakan warga
berkebangsaan India. Sehingga tim monitoring ini merupakan
warga berkebangsaan India. Kebetulan pada hari yang sama
translator atau yang biasa mengerti dan menjawab tamu
sedang ijin ada kepentingan dinas luar kota. Alhasil tim
monitoring uring‐uringan karena dari pihak pabrik tidak ada
seorang pun yang bisa diajak berkomunikasi dengan bahasa
Inggris.
Melihat kondisi yang demikian kalutnya, naluri speaking
dari seorang Kayla tiba‐tiba muncul dan memohon ijin kepada
supervisornya untuk membantu menerjemahkan apa maksud
pertanyaan dari tim dan membantu menjawab atas
pertanyaan yang diberikan oleh tim.
Berbekal kepandaiannya dalam berkomunikasi bahasa
Inggris di bangku SMA, Kayla dengan kemampuan berbahasa
Inggris cas cis cus sudah menunjukkan potensinya layaknya
native speaker. Dengan lancarnya dia menjawab setiap detail‐
detail pertanyaan dari tim monitoring dan tim cukup puas
dengan kemampuan berkomunikasi Kayla.
Kemampuan Kayla dalam menerima dan menjawab
pertanyaan dari tim monitoring, membawanya pada nasib
baik. Keesokan harinya Kayla diundang menghadap ke bagian
HRD dan ternyata ia mendapat promosi jabatan. Rasa senang,
bahagia, syukur, dan haru menyelimuti hatinya. Bagaimana
tidak, seorang karyawan pabrik bagian potong benang yang
belum genap setahun bekerja sudah mendapatkan promosi
jabatan sebagai staff finance atau accounting dan diangkat
sebagai karyawan tetap.
Rinai RIndu dari Surga | 17
“Sungguh sangat luar biasa kuasa Allah SWT ketika
hendak mengangkat derajat hambanya yang sabar,” ujar Aiza
memotong cerita Hilman.
“Bukan hanya itu saja Iz, bahkan waktu itu dia diijinkan
untuk melanjutkan lagi kuliah, kemudian ia mengambil
Jurusan Bahasa Inggris di IKIP PGRI,” kata Hilman.
“Kayla memang jenius, saya nggak meragukan lagi
kepandaian dan prestasinya,” puji Aiza.
“Ya, kurang lebih seperti itu,” ujar Hilman sambil
melempar senyum ke arah Aiza.
“Lalu bagaimana dengan urusan asmara kalian? Dari tadi
kamu cerita tentang prestasi Kayla,” kata Aiza.
Ia pun mengurai untaian cerita indah tentang Kayla
kepada Aiza.
18 | Lailatus Saadah
Pertemuan dengan
Sang Pujaan Hati
S abtu sore yang cerah, Kayla pun bergegas mengemasi
pakaian secukupnya untuk siap‐siap pulang ke
rumahnya di kampung. Perasaannya sangat senang
karena ia akan bertemu dengan keluarganya yang sudah satu
bulan ini ia tinggalkan karena harus indekost di Semarang.
Kayla pun sengaja tak mengambil jatah lembur pekan ini
karena kerinduannya yang membuncah pada orangtua dan
adik‐adiknya. Setelah selesai berkemas, Kayla pun menunggu
angkot di depan gang indekostnya dengan sabar. Tak berapa
lama pun angkot datang datang dan membawanya sampai ke
terminal. Sesampainya di terminal, Kayla pun segera mencari
bis tujuan Semarang‐Purwodadi.
Suasana panas bercampur bau mesin bis yang entah
sudah berapa lama bis itu beroperasi serta parfum alami dari
para penumpang yang bercampur peluh tak dihiraukan Kayla.
Yang terasa saat ini adalah hatinya sangat senang karena
akan segera bertemu dengan keluarga. Perjalanan Semarang
– Godong kurang lebih dua jam telah dilalui Kayla dan kini ia
sampai di Goodong. Namun, ia harus melanjutkan
perjalanannya naik angkot untuk bisa sampai di rumahnya.
Baru berdiri lima menit dari posisi ia menunggu angkot tiba‐
tiba motor sport dengan warna orange berhenti tepat di
Rinai RIndu dari Surga | 19
depannya. Awalnya Kayla tak menghiraukannya. Kemudian
pengendara motoor membuka helmnya dan menyapa Kayla.
“Mau pulang kan? Kita searah kok, bonceng saya aja
yuk!” ajak pengendara motor tersebut.
Dengan memperhatikan sunguh‐sungguh, akhirnya Kayla
memberi jawaban pada sebuah nama yang di hadapannya.
“Mas Hilman ya..?”
“Iya, ayo naiklah!” perintah Hilman
“Nggak ah Mas, saya naik angkot saja. Lagian rumah Mas
Hilman dari rumahku kan masih jauh,” jawab Kayla.
“Udah lah nggak papa, naik aja nanti saya antar sampai
ke rumahmu,” kata Hilman.
“Beneran nich Mas?” jawab Kayla dengan gayanya yang
mau tapi penuh basa‐basinya.
Akhirnya Kayla pun ikut bersama dengan Hilman karena
Kayla kenal Hilman, putra dari kepala sekolahnya semasa ia
bersekolah di Yayasan Insan Cendekia. Selama perjalanan
Hilman bertanya banyak tentang Kayla. Bahkan Hilman juga
menanyakan alamat indekost Kayla di Semarang.
Tak terasa mereka sudah sampai tujuan, ada di depan
rumah Kayla. Sebelum balik kanan, Hilman pun bertanya
kepada Kayla
“Karena kita sama‐sama di Semarang, boleh nggak nanti
saya main ke indekost kamu?”
“Boleh aja,” jawab Kayla dengan manja.
“Kalau begitu minta No. HP kamu donk, nanti saya SMS
kamu ya,” kata Hilman.
“Ok, 081325567568,” jawab Kayla
20 | Lailatus Saadah
“Ok makasih, udah sore nih saya langsung pamit aja ya..?”
kata Hilman sambil menstarter motornya kembali.
“Baiklah, makasih ya Mas udah dikasih tumpangan
sampai rumah,” kata Kayla.
“Sama‐sama,” jawab Hilman.
Setelah Hilman berlalu, Kayla pun segera masuk rumah. Ia
ingin segera menumpahkan rasa kerinduannya kepada ibu,
bapak dan adik‐adiknya.
Rinai RIndu dari Surga | 21
22 | Lailatus Saadah
I Fall In Love
With Him Every Day
S eperti biasanya ketika Kayla pulang, ia paling suka
bercengkrama di ruang keluarga, bersama keluarga.
Menceritakan kegiatannya di Semarang, tentang
pekerjaannya, teman‐teman kampusnya juga tentang
kerinduan pada keluarganya setiap hari minggu karena tak
bisa pulang demi sebuah pekerjaan. Mereka bersendau gurau
saling menumpahkan rasa kerinduannya saat tidak bersama.
Tiba‐tiba ada suara ketukan pintu.
“Sepertinya ada tamu, biar Ema yang buka,” kata Ema
adik bungsu Kayla.
“Mbak Kayla ada?”
Pertanyaan itu yang terdengar dari ruang tamu dan Kayla
tahu itu suara Hilman. Tanpa menunggu, Kayla pun segera
berjalan keluar menemuinya.
“Oh Mas Hilman, silakan masuk Mas.”
“Terima kasih,” jawab Hilman.
Awalnya Kayla agak malu‐malu dan canggung memulai
pembicaraan tapi dasar Kayla cewek paling gokil. Ia pun
selalu punya cara untuk mencairkan suasana.
“Mas Hilman ada yang ketinggalan atau belum
disampaikan ke saya ya?” tanya Kayla untuk menggoda
Hilman.
Rinai RIndu dari Surga | 23
Hilman pun menjawab, “Tidak ada yang ketinggalan sich,
kebetulan sekarang ini sedang ada pasar malam di lapangan
timur desa, maukan kamu menemaniku ke sana?”
“Boleh, tapi pulangnya jangan malam‐malam ya,” kata
Kayla.
“Siap 86,” jawab Hilman disambung dengan gelak tawa
mereka berdua.
Setelah berpamitan dan mohon ijin kepada orangtua
Kayla, mereka pun berangkat menuju pasar malam.
Perjalanan menuju pasar malam cukup ramai, mereka
harus bersabar karena tak bisa mempercepat laju
kendaraannya. Maklum saja, adanya pasar malam di desa
sangat ditunggu masyarakat sebagai ajang hiburan murah,
terlebih saaat malam Minggu.
Dua puluh menit mereka pun sampai di pasar malam.
Awalnya mereka hanya melihat orang yang lalu lalang tapi
lama kelamaan kejenuhan menghampiri mereka juga.
Akhirnya, Hilman mengajak Kayla mengunjungi wahana pasar
malam.
“Berani nggak masuk rumah hantu?”
“Berani donk.”
Maka mereka pun segera membeli tiket untuk masuk
wahana rumah hantu. Ketika masuk ke dalam, Kayla sudah mulai
ketakutan. Nyali pemberaninya menciut ketika ia melihat sosok‐
sosok yang menyerupai hantu seperti pocong, kuntilanak,
genderuwo, tuyul, drakula dan lain sebagainya.
Eits, ia tidak ingin terlihat penakut di depan Hilman sehingga ia
tetap percaya diri bahwa yang ada di hadapannya itu semua cuma
manusia yang berdandan ala hantu. Walau sudah tahu dan
24 | Lailatus Saadah
menguatkan hati dengan percaya bahwa sosok hantu itu
sebenarnya manusia, tetap saja Kayla menjerit histeris gara‐gara
dikagetkan dengan sosok hantu yang tiba‐tiba keluar dari peti mati.
Tangan Kayla terasa dingin ketika Hilman secara refleks
menggandengnya karena tak tega melihat Kayla yang ketakutan.
Kini Kayla berjalan di belakang Hilman hingga pintu keluar.
Perasaan lega ketika Kayla sudah sampai di luar dan baru tersadar
tangannya masih digenggam erat oleh Hilman dan seolah enggan
untuk dilepaskan.
“O..oh, maaf,” ucap Hilman setelah tersadar sambil
melepaskan genggaman tangannya kepada tangan Kayla.
Kayla pun hanya mengangguk sebagai isyarat meng”iya”kan
permintaan maaf Hilman. Mungkin karena Kayla masih sedikit
shock dan kaget dengan kejadian di dalam rumah hantu tadi.
“Harusnya tadi kamu bilang kalau kamu takut, jadi kita gak
perlu masuk wahana rumah hantu.”
Merasa tidak terima dikatakan penakut, Kayla pun protes.
“Sebenarnya saya tadi tidak takut, cuman kaget aja.”
“Ya, sama saja,” kata Hilman, “sekarang mau menyoba
wahana yang lain?” tanya Hilman.
“Mau…,” kata Kayla.
Tujuan mereka selanjutnya adalah wahana ombak banyu.
Setelah membeli karcis Rp 20.000,00 untuk berdua, mereka pun
mulai menikmati sensasi diterjak ombak di wahana ombak banyu.
Saat duduk di ombak banyu, mereka diputar‐putar naik turun.
Sensasi naik turunnya ini sama seperti ketika berada di atas kapal
laut ketika lagi diterjang ombak.
Saat menaiki wahana ini oleh pengelola diumumkan agar
setiap pengunjung diwajibkan berhati‐hati dalam berpegangan.
Rinai RIndu dari Surga | 25
Karena naluri Hilman untuk memastikan Kayla aman, maka secara
refeks ketika wahana ini sudah mulai dijalankan ia pun segera
meraih tangan Kayla dan memegangnya dengan erat agar Kayla
tidak jatuh.
Setelah selesai dengan wahana ombak banyu, Hilman pun
mengajaknya untuk makan bakso di warung bakso yang ada di
sudut lokasi pasar malam. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30
WIB saat mereka selesai menyantap baksonya. Hilman pun segera
mengajak Kayla untuk pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah Kayla, Hilman pun segera pamit karena
malam sudah semakin larut dan ia sadar untuk tidak bisa berlama‐
lama lagi dengan Kayla karena melihat lampu ruang tamu di rumah
Kayla juga sudah dipadamkan.
“Saya langsung aja ya,” pamit Hilman.
“Nggak masuk dulu?” tanya Kayla
“Nggak udah malam nich, sampaikan pamitku untuk
keluargamu ya…,” kata Hilman.
“Ya, terimaksih untuk traktirannya malam ini ya Mas,” kata
Kayla.
“Sama‐sama. Oh iya, besok balik ke Semarang jam berapa?”
tanya Hilman.
“Pukul empat sore Mas, bis yang terakhir dari sini,” kata Kayla.
“Udah nggak usah naik bis, nanti bareng aku aja ya..!” ajak
Hilman.
“Bukannya Mas Hilman pulangnya ke Semarang tiap Senin
pagi?” tanya Kayla.
“Nggak.., besok saya balik ke Semarang karena ada tugas
kampus yang belum kelar. Baiklah, kalau begitu besok aku jemput
pukul lima sore ya!” kata Hilman.
26 | Lailatus Saadah
“Siap 86!” jawab Kayla seraya mengangkat tangannya
dengan gerakan hormat dan ia tampak ceria sekali.
Setelah Hilman menghilang dalam gelapnya malam, ia pun
segera masuk rumah. Hati Kayla malam ini sangat senang dan
bahagia sekali. Hal ini tampak dari binar‐binar kebahagian dari sinar
matanya. Betapa ia sangat merasa nyaman sekali berada di dekat
Hilman.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Kedekatan Kayla dan
Hilman bak dua sejoli yang enggan terpisahkan.
Saat ini, di luar petir tengah bergemuruh, sedang didalam
hati mereka rindu untuk saling bertemu. Mereka senantiasa
menunggu tibanya waktu saling menumpahkan rasa rindu untuk
selalu ingin bersama. Denting‐denting piano itu merayap pelan‐
pelan bernyanyi untuk keduanya yang menandai akan
hadirnya cinta dalam kehidupan mereka. Namun, satu dan
yang lainnya belum ada yang mau mengakui akan hadirnya
cinta itu.
Malam itu seperti malam‐malam biasanya Kayla selesai
kuliah pukul 20.00 WIB karena Kayla mengambil kelas
karyawan. Hilman dengan motor sport andalannya sudah
menunggu di lobi kampus untuk menjemputnya. Dari
kejauhan Kayla sudah menyapa Hilman dengan lambaian
tangan dan Hilman pun membalasnya dengan senyuman
sangat manis. Sesampainya di depan Hilman, Kayla pun
membuka pembicaraan mereka.
“Maaf ya menjadikanmu menunggu lama, tadi ada rapat
pembagian kelompok untuk tugas mata kuliah Public
Speaking.”
Rinai RIndu dari Surga | 27
“Nggak apa‐apa, ayo naik!” kata Hilman sambil
menyerahkan helm untuk dipakai Kayla.
“Malam ini saya mau mengajakmu makan malam di
tempat yang berbeda dari biasanya,” kata Hilman.
Dengan mengernyitkan dahinya, Kayla menjawab sambil
menunjukkan wajah heran.
“Memangnya ada acara apa? Sepertinya hari ini bukan
ulang tahunmu kan?” tanya Kayla.
“Pokoknya ikut aja, nanti kamu juga akan tahu,” jawab
Hilman sambil tancap gas motornya.
Malam ini terasa sangat cerah, jalanan juga tak begitu
ramai. Tak berapa lamapun mereka sampai di restoran yang
telah dipilih Hilman.
“Wow, kamu yakin kita akan makan di sini, ini resto mahal
lho?” kata Kayla sambil melepas helmnya saat tiba di halaman
parkir restoran.
“Udah ikut aja!” ajak Hilman sambil menarik tangan Kayla
untuk berjalan karena ia masih saja bengong di tempatnya.
Saat mereka dekat dengan pintu masuk, waitress sudah
membuka pintu dan menyapa mereka.
“Good evening, welcome to Eden
Daily International Food Resto. Please have a seat.”
”Thank you,” jawab Hilman.
“Would you like to order now?” tanya waitress.
“I think we are ready to order. I'll have two sparagus soup
for appetizer and the chicken roast with corn for my main
course,” jawab Hilman.
“What would you like to drink sir?” tanya waitress
kembali.
28 | Lailatus Saadah
“I want two bottles of mineral water for main course and
two cup of hot coffee along with the dessert.”
“Alright sir..,” jawab waitress yang segera berlalu untuk
menyiapkan hidangan yang mereka pesan.
“Kenapa diam?” tanya Hilman sambil mencubit tangan
Kayla, “ini nyata Non, kamu sedang tidak bermimpi,” kata
Hilman menggoda Kayla.
“Nggak apa‐apa, heran aja” kata Kayla.
“Ya nggak apa‐apalah sekali‐kali kita ngrasain kayak
nyonya dan tuan yang berduit makan di resto mahal
he..he..he,” canda.Hilman.
“Sebenarnya serius, ada yang hendak saya sampaikan
padamu”
“Tunggu ya...! Saya tak kan lama,” pamit Hilman kepada
Kayla.
Selang beberapa menit Hilman kembali dan ia
membawakan buket bunga mawar putih untuk Kayla.
Sebenarnya Hilman bukan tipikal cowok yang romantis, tetapi
demi orang yang ia cintai ia pun mencoba membuat surprise
agar pujaan hatinya terkesan dengan momen spesialnya kala
itu.
“Ini untukmu” kata Hilman.
“O..oh cantik sekali, terima kasih..saya suka sekali
bunganya,” jawab Kayla.
“Di buket bunga itu pun ada tulisannya, buka aja!” pinta
Hilman.
Kayla pun segera membuka tulisan di secarik kertas yang
melekat pada bunga mawar putih tersebut. Dengan pelan
Kayla membaca pesan itu.
Rinai RIndu dari Surga | 29
“Di hadapan senja Aku ingin jangan lagi ada jeda di antara
kita. Mari saling menjaga dan merawat cinta hingga kita menua
bersama dan abadi dalam pelukan semesta”
From : HILMAN
Kayla pun mulai berkaca‐kaca, rasa haru, senang, dan
bahagia bercampur melebur menjadi satu.
“Benarkah ini semua?” tanya Kayla
Hilman menggenggam erat jari‐jari Kayla. Ia meyakinkan
ketulusan perasaan hatinya kepada Kayla.
“Benar Kayla, I love you, love you, love you. I’m falling in
love with you. Maukah kamu jadi pacarku?”
Kayla pun segera menjawab pertanyaan Hilman dengan
senang hati dan riang gembira.
“Iya, iya. Saya mau jadi pacarmu!”
Sejak acara makan malam di restoran itu pun mereka
resmi menjadi sepasang kekasih.
30 | Lailatus Saadah
Hijrah Menjadi Muallaf
S emenjak resmi berpacaran, Hilman pun semakin intens
mengunjungi, antar jemput, juga bermain bersama
Kayla. Lambat laun timbul pertanyaan dari orangtua
kepada Kayla.
“Kayla, lungguh kene Nduk,” pinta Bapak Kayla pada
suatu sore yang cerah ketika Kayla ada di rumah.
“Nggih Bapak, wonten dawuh napa Bapak?” taya Kayla.
“Sebenarnya ada hubungan apa toh Nduk antara kamu
dengan Nak Hilman? Bapak perhatikan akhir‐akhir ini kalian
semakin sering runtang‐runtung berdua?”
“Iya Nduk, tetangga‐tetangga juga sudah sering bertanya
kepada Ibuk. Jujurlah Nduk sebenarnya apa hubunganmu
dengan Nak Hilman putrane Pak Darwanto itu? Apa ya bener
kalian berpacaran?” tanya ibu kepada Kayla.
“Iya Pak, Buk yang sebenarnya saya dan Mas Hilman
sudah lama resmi berpacaran.”
“Apa! Kamu berpacaran dengan Hilman! Kamu sadar
dengan ucapanmu barusan!“ bentak bapak Kayla sambil
berdiri dari tempat duduknya. Dengan muka merah padam,
telunjuknya menunjuk ke arah muka Kayla seperti hendak
menumpahkan seluruh emosi yang menyesak di dadanya.
“Sabar Pak, sabar, pelan‐pelan Pak. Nggak enak didengar
tetangga,” kata ibu Kayla sambil menenangkan suaminya dan
memintanya kembali ke tempat duduk agar tidak terlalu larut
dengan emosinya.
Rinai RIndu dari Surga | 31
“Kayla jawab ibu! Apakah kamu benar‐benar serius
dengan ucapanmu tadi?” tanya ibu kepada Kayla.
“Nggih Bu, Kayla serius,” dengan mantap Kayla
menjawab pertanyaan ibunya.
“Nah Bu, anak ini sudah tidak bisa diatur! Merasa sudah
paling bener sendiri, uis pinter dewe Bu!” sahut Bapak Kayla.
“Sabar Pak, sebentar. Beri Kayla waktu untuk
menjelaskan pada kita akan pilihannya.”
“Lalu bagaimana dengan keyakinanmu dengan keluarga
Hilman yang berbeda?” tanya ibu Kayla.
“Saya sudah memutuskan untuk berpindah agama Bu.
Ijinkan saya menjadi muallaf Pak, Bu. Sudah sekian lama,
diam‐diam saya mulai mempelajari Islam Bu. Saya merasa
nyaman dan yakin dengan Islam, Bu. Selebihnya saya ingin
hidup bahagia bersama dengan Mas Hilman Pak/Bu dalam
ikatan suci pernikahan secara Islami,” jawab Kayla sembari
berlinangan air mata, menangis sambil berlutut di hadapan
ayah dan ibunya.
Ibu Kayla pun ikut menangis mendengar keputusan
Kayla.
“Apakah memang sudah tidak ada laki‐laki lain yang bisa
membahagiakanmu selain Hilman, Nak?” tanya ibunya
dengan suara yang parau karena tangis yang terasa
menyesak di dadanya.
“Tidak Ibu. Saya hanya ingin bersamanya saja Ibu,” jawab
Kayla sambil terus menangis bersimpuh di kaki ibunya,
memohon pengertian dan restu dari ibunya.
Sementara bapak Kayla masih terdiam mematung,
matanya memerah, amarahnya meledak‐ledak di dadanya.
32 | Lailatus Saadah
Bak mendengar petir pada siang bolong, dia sangat terkejut
dan shock akan keputusan putri tercintanya, putri yang selalu
dibanggakannya hendak berpindah agama demi kekasihnya.
Namun, kasih sayang bapak tetap tak terkalahkan oleh apa
pun. Ia tak bisa melarang dan menghukum Kayla, meskipun
dalam hati Bapaknya muncul rasa amarah yang tak terkira.
“Baiklah, kalau kamu sudah merasa benar dengan
keputusanmu. Bapak juga punya keputusan sendiri!”
“Silakan saja kamu mengikuti agama pacar kamu itu,
tetapi jangan pernah kamu injakkan kaki di rumah ini lagi!”
bentak bapak kepada Kayla sambil berlalu meninggalkan
Kayla dan ibunya menuju kamar.
Tangis Kayla bersama ibunya pun semakin pecah. Adik‐
adik Kayla dari dalam rumah pun ikut keluar memeluk Kayla
dan ikut menangis.
“Kenapa Bapak mengusirku, Bu?” tanya Kayla sambil
menangis dalam pelukan ibunya.
Ibunya pun tak kuasa memberi jawaban atas pertanyaan
Kayla. Ia semakin larut dalam tangis kesedihan bersama anak‐
anaknya.
“Yang sabar ya, Nduk. Ini adalah pilihan hidup yang sudah
kamu inginkan,” kata ibu mencoba menguatkan Kayla.
“Sebenarnya ibu juga marah, orangtua lain pun akan
melakukan yang sama jika harus menerima keputusan yang
kamu pilih hari ini, tetapi naluri seorang ibu hanya bisa pasrah
dan menerima keputusanmu. Asalkan ini semua bisa
membahagiakanmu.”
“Saya masih anak Bapak dan Ibu, jangan usir saya Bu,”
rengek Kayla kepada ibunya.
Rinai RIndu dari Surga | 33
Suasana dramatis yang penuh haru biru dengan airmata
itu pun tiba‐tiba dihentikan dengan suara bentakan bapak
Kayla dari dalam kamar.
“Suruh dia segera mengemasi barang‐barangnya Bu!
Sudah tidak ada lagi tempat di sini bagi anak pembangkang
seperti dia! Tidak usah menangis lagi! Biarkan dia dengan
pilihannya! Bapak sudah tidak sudi melihatnya lagi!”
Kayla pun segera berlari sambil terus menangis mengetuk
pintu kamar Bapaknya.
“Bapak, maafkan saya. Pak. Kayla anak Bapak, jangan usir
Kayla dari sini Pak,” pinta Kayla sambil terus menangis
memelas memegangi daun pintu kamar bapaknya. Ia
berharap Bapaknya mencabut kata‐katanya.
Nasi sudah menjadi bubur, keputusan sudah diambil, tak
guna sumpah serapah lagi.
Ibu Kayla meminta nomor HP Hilman kepada Kayla
kemudian meneleponnya untuk segera datang menemuinya.
Beberapa menit kemudian Hilman sudah berada di depan
rumah Kayla. Ibu Kayla pun mempersilakannya masuk dan
duduk di ruang tamu. “Begini Nak Hilman, maksud ibu
memanggilmu ke sini karena ada hal penting yang hendak Ibu
sampaikan.”
“Tadi bapak dan ibu sudah mendengar keputusan Kayla
yang hendak menjadi muallaf untuk mengikuti keyakinan Nak
Hilman.”
“Iya Bu,” jawab Hilman.
“Keputusan ini sedikit banyak melukai hati kami sebagai
orangtua Kayla, bahkan bapak Kayla sudah membuat
34 | Lailatus Saadah
keputusan juga. Jika Kayla tetap pada pendiriannya maka
Kayla harus meninggalkan rumah ini dan kami.”
Mata ibu Kayla berurai air mata, tangis pun pecah di
hadapan Hilman.
“Sebenarnya ibu tak tega melihat Kayla diusir bapaknya
dari rumah ini, tetapi ibu juga sangat menyayanginya. Ibu juga
ingin agar ia bahagia bersama orang yang dicintainya.”
“Untuk itu Nak Hilman, setelah ini ibu percayakan Kayla
padamu dan keluargamu. Jangan pernah sia‐siakan dia,
berjanjilah kau akan selalu membahagiakan dan menjaganya
dalam suka dan duka selamanya,” pinta ibu Kayla sambil
berlinangan air mata.
Hilman pun terbawa suasana sedih keluarga Kayla.
Dengan terbata‐bata ia berusaha menjawab dan memenuhi
keinginan keluarga Kayla.
“Baiklah Bu, saya akan menjaga pesan dan amanah dari
Ibu.”
“Saya akan membawa Kayla pada keluarga saya agar dia
tidak terlantar di luaran sana dan saya berjanji akan
senantiasa mencintai, menjaga, dan membahagiakan Kayla
selamanya.”
“Maafkan kami jika keputusan Kayla melukai keluarga ini
dan kami mohon doa restu dari ibu juga bapak semoga jalan
yang dipilih Kayla hari ini membawanya pada kebahagiaan.”
“Kalau Ibu mengijinkan, sekarang juga saya akan
membawa Kayla ke rumah dan keluarga saya,” pinta Hilman
kepada ibu Kayla.
“Lalu bagaimana dengan orangtua Nak Hilman?” tanya
ibu Kayla.
Rinai RIndu dari Surga | 35
“Mereka sudah mengetahuinya bu, bahkan mereka
sudah memprediksikan akan resiko yang mungkin terjadi
seperti ini dengan Kayla jauh‐jauh hari sebelumnya.”
“Baiklah kalau begitu, sebentar ibu panggilkan Kayla,”
kata ibu Kayla.
Ibu Kayla pun segera menghampiri Kayla yang masih
menangis di dalam kamarnya. Sambil mengusap rambutnya,
Ibu Kayla berbicara lirih pada Kayla.
“Nduk, di ruang tamu kamu sudah ditunggu Nak Hilman.
Dia datang untuk menjemputmu Nduk,” kata ibu Kayla
kepada Kayla sambil menahan tangis.
“Ia sudah berjanji akan membawamu pada keluarganya,
membahagiakanmu, dan menjagamu dengan sebaik‐
baiknya.”
“Tapi Bu, saya mau tetap di sini, jangan usir saya Bu,”
pinta Kayla sambil terus menangis.
“Nduk, ibu tidak ingin mengusirmu tapi ibu juga harus
menghormati keputusan bapakmu. Saat ini, bapak masih
diselimuti rasa amarah di hatinya.”
“Pelan‐pelan ibu akan mencoba membujuknya agar
menerimamu kembali. Tapi untuk sementara ini ikutlah
bersama Hilman dan keluarga, biarkan Bapakmu
menenangkan dirinya. Darah lebih kental dari pada air Nduk.
Yakinlah, kalau suatu saat bapakmu akan memaafkan dan
menerimamu kembali,” jawab ibu Kayla menenangkan Kayla.
Akhirnya Kayla pun mengikuti saran ibunya. Ia bersiap
menuju ke rumah Hilman. Tidak lupa Kayla menghampiri
kamar bapaknya yang masih terkunci rapat untuk
berpamitan.
36 | Lailatus Saadah
“Bapak, Kayla mohon pamit Pak. Maafkan Kayla, Bapak.
Kayla sangat sayang pada Bapak, Ibu, dan adik‐adik. Mohon
maafkan Kayla, Bapak.”
Sementara dari dalam kamar tak satu kata pun keluar dari
mulut bapak Kayla. Di dalam kamar bapak Kayla sebenarnya
menangis sesenggukan, betapa ia ingin memeluk Kayla,
memaafkannya dan memintanya agar mengurungkan
niatnya. Namun, sekali lagi bapak memiliki karakter yang kuat
seperti karang di tengah lautan, ia tak kan gentar diterpa
ombak yang datang. Keputusan sudah diucapkan, pantang
baginya untuk mencabutnya kembali.
Sesampainya di ruang tamu Kayla melihat Hilman tengah
duduk menunggunya, ditemani kedua adiknya Ema dan
Naysma. Ia pun segera berpamitan pada ibunya dan kedua
adiknya.
“Ibu, saya pamit dulu,” ucap Kayla sambil mencium
tangan, pipi kanan dan kiri ibunya.
Ibu Kayla melepas kepergian anaknya dengan deraian
airmata sambil menitipkan satu pesan terakhir.
“Kamu harus serius dan yakin dengan keputusan yang
kamu ambil, jangan sampai agama jadi permainan.”
Kayla pun menganggukkan kepala. Ia semakin yakin
dengan keputusannya untuk menjadi muallaf setelah
mendengar pesan dari ibunya. Sambil mengusap kembali
airmata yang terus menetes membasahi pipinya ia
menghampiri kedua adiknya.
“Ema, Naysma kakak pamit dulu ya, jaga bapak dan ibu
baik‐baik ya! Kalian berdua jangan nakal! Pinter‐pinter
sekolahnya ya!” pesan Kayla kepada kedua adiknya.
Rinai RIndu dari Surga | 37
Sesaat kemudian motor Hilman sudah melaju dan Kayla
pun mulai hilang dari pandangan ibu dan kedua adiknya.
Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai di rumah
Hilman. Mama Hilman menyambut kedatangan Kayla dengan
pelukan yang sangat erat, bahkan ia berikan bahunya untuk
Kayla menangis dan bisa mengurangi perasaan sedihnya.
“Mari Masuk Nak, mama dan papa sudah menunggu
kedatanganmu. Hilman sudah cerita banyak tentang
permasalahanmu Nak, yang sabar ya. Kami senantiasa
bersamamu.”
Sementara papa Hilman juga ikut menguatkan Kayla.
“Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga ini, bahkan
kami sudah anggap kamu seperti anak kami sendiri. Jangan
pernah sungkan, kalau ada apa‐apa bicara saja sama kami.
Kami sekarang juga orangtuamu.”
“Papa dan mama sudah menyiapkan rencana terkait
keputusanmu untuk menjadi muallaf. Nanti malam habis
shalat Magrib di Masjid Nurul Huda yang ada di depan
komplek. Bahkan ustaznya pun sudah kami hubungi dan siap
membantu.”
“Iya Nak, besok mama dan papa sendiri yang akan
mengantarkanmu ke KUA untuk mengurus administrasinya,”
kata mama Hilman.
“Iya Pa, Ma. Sekarang biarkan Kayla istirahat dulu,” kata
Hilman.
“Oh iya Tentu, silakan Nak,” kata mama Hilman.
“Terimakasih Tante, Om. Maaf, saya merepotkan,” ujar
Kayla.
38 | Lailatus Saadah
“Oh tidak Nak, kami tidak merasa direpotkan kok,” kata
mama Hilman.
Waktu sudah menjelang azan Maghrib. Mama Hilman pun
masih sibuk menyiapkan hidangan atau kudapan sebagai rasa
syukur akan rencana Kayla menjadi muallaf. Dengan dibantu
tetangga‐tetangga, persiapan itu pun selesai dan mereka
bersiap menuju ke masjid.
Dengan mengenakan gamis putih dikombinasikan hijab
warna biru, Kayla tampak anggun sekali. Sebelum keluar
rumah, sekali lagi Hilman bertanya kepada Kayla.
“Apakah kamu sudah benar‐benar yakin dengan
keputusanmu?”
Dengan mengambil nafas agak dalam lalu dikeuarkan
pelan‐pelan melalui hidung Kayla pun dengan mantap
menjawab pertanyaan Hilman.
“Iya, saya siap dan yakin.”
Pelaksanaan shalat Maghrib berjamaah di Masjid Nurul
Huda usai dan kini tiba saatnya Kayla melalui proses menjadi
muallaf. Dibimbing ustaz dan dua orang yang ditunjuk
menjadi saksi, serta disaksikan seluruh jamaah Masjid Nurul
Huda lainnya Kayla pun mulai dituntun ustaz untuk membaca
dua kalimat syahadat.
Tampak raut muka Kayla yang penuh ketakutan, keringat
dingin mulai membasahi sekujur tubuhnya, rasa dag‐dig‐dug
di dalam hatinya, gemetar dan terasa dingin seluruh
tubuhnya. Berkali‐kali ia tampak mengambil nafas dan
mengeluarkannya pelan‐pelan untuk menjaga tubuhnya agar
tetap stabil. Sungguh Ia merasakan seperti hendak
Rinai RIndu dari Surga | 39
bermetamorfosis menuju kehidupan yang baru. Suatu
perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumya.
Sebelum ustaz menuntun Kayla untuk melafalkan
syahadat, ustaz bertanya, “Apakah niat Mbak Kayla untuk
menjadi seorang muallaf sudah mantap? Niat ini secara
sukarela, jujur, dan ikhlas dari hati sendiri tanpa ada paksaan
dari siapa pun?”
“Sudah Pak dan niat ini ikhlas dari diri saya sendiri tanpa
ada paksaan dari siapapun,” kata Kayla.
Kayla pun mulai dibimbing mengucapkan syahadat
mengikuti ucapan dari ustaz .
“Silakan ikuti ucapan saya.”
Kayla pun mengangguk sebagai tanda bersiap.
“Asyhadu an La Ilaha Illa Allah…”
Dengan terbata‐bata Kayla pun berusaha mengikuti ustaz
“Asyhadu an La Ilaha Illa Allah….”
“Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah,” lanjut ustaz.
“Wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah.” Kayla pun
berusaha mengikuti lagi dan kali ini lebih lancar dari
sebelumnya.
Selanjutnya ustaz pun menuntun Kayla kembali untuk
mengucapkan artinya, “Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang
patut disembah kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi
Muhammad itu utusan Allah.”
“Aku bersaksi tidak ada Tuhan yang patut disembah
kecuali Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad itu
utusan Allah,” jawab Kayla.
Setelah selesai membaca syahadat, kemudian dilanjutkan
dengan doa bersama yang dipimpin oleh ustaz yang diamini
40 | Lailatus Saadah