seluruh jamaah masjid. Selanjutnya ustaz memberi tauziah
yang berisi pesan‐pesan yang secara khusus ditujukan kepada
Kayla agar setelah masuk Islam, Ia disunahkan untuk mandi
besar atau mandi junub. Pesan berikutnya, sebagai warga
negara yang sadar hukum yakni hukum kependudukan, maka
Kayla disarankan untuk datang ke KUA untuk dilakukan
pencatatan sipil sehingga ada bukti tertulis yang
menerangkan bahwa telah beragama Islam. Selain itu ustaz
juga berpesan kepada Kayla agar belajar dan berusaha
menjalankan rukun Islam yang lainnya yaitu shalat, zakat,
puasa, dan haji. Yang terakhir Ustadz menyarankan agar
Kayla mencari guru yang bisa membimbingnya untuk
membaca alquran sehingga ia akan berhasil menjadi umat
muslim yang bertakwa.
Di akhir acara, azan Isya pun berkumandang. Hal ini
menandakan pemberitahuan masuknya waktu shalat Isya. Ini
merupakan pengalaman pertama bagi Kayla untuk
melaksanakan kewajiban shalat kali pertamanya setelah
mengikrarkan diri menjadi muallaf.
Setelah selesai jamaah shalat Isya, semua orang pun
mulai pulang ke rumah masing‐masing. Kayla memohon
waktu kepada Hilman untuk diijinkan berdoa sendiri di masjid.
Dalam hatinya masih enggan untuk pulang, betapa ia sangat
merasakan arti nyaman dan kedamaian tersendiri setelah
memeluk Islam. Bismillah dia lantunkan berkali‐kali sambil
memohon kepada Allah agar senantiasa istikamah dan
dimudahkan dalam setiap jalan kehidupan yang diyakininya
dalam langkah dan kehidupan barunya.
Rinai RIndu dari Surga | 41
42 | Lailatus Saadah
Towards Marriage
M entari pagi yang cantik mulai mengerlingkan sinar
keindahannya, menandai akan datangnya hari
yang cerah. Kayla memulai aktivitas paginya
dengan bersiap‐siap pergi ke kantor. Di depan indekostnya,
Hilman sudah menanti dengan setia untuk mengantarkan
Kayla ke tempat kerja. Kebetulan Hilman telah selesai revisi
skripsi dan tinggal menunggu wisuda sehingga ia mempunyai
banyak waktu untuk sang pacar. Setelah menyelesaikan ritual
berdandan dengan segala perlengkapan tetek bengeknya,
Kayla pun segera keluar menemui sang pujaan hatinya. Waktu
masih menunjukkan pukul 06.30 WIB saat ia menemui Hilman
di teras. Masih ada waktu sekitar 45 menit dari jam kerjanya.
“Kita mau sarapan dulu atau langsung berangkat, Mas?”
tanya Kayla.
“Sebentar dulu ya, istirahat dulu nggak apa‐apa kan?”
jawab Hilman.
“Mas Hilman kenapa, sakit?” tanya Kayla.
“Nggak sih, cuman nggak tahu aja hari ini rasanya males
banget mau ngapa‐ngapain.”
“Sebenarnya tadi pagi mama habis telepon, meminta
saya untuk pulang,” ujar Hilman.
“Kok tiba‐tiba sih Mas, nggak biasanya mama begitu?”
kata Kayla.
“Maka dari itu, saya juga penasaran,” kata Hilman.
Rinai RIndu dari Surga | 43
“Terus kapan Mas Hilman mau pulang,” tanya Kayla
sambil menghampiri Hilman untuk duduk di sampingnya.
“Mama mintanya sore ini. Namn, saya nggak mau
ninggalin kamu sendiri, nanti siapa yang ngantar kamu ke
kampus? Yang temani kamu ke perpustakaan? Yang jagain
kamu kalau pulangnya kemaleman karena ada tugas kuliah
tambahan?” tanya Hilman sembari memandangi wajah elok
rupawan yang kini tengah duduk di sampingnya.
“Wuich..., mengkhawatirkanku nih ye..ee..ee,” jawab
Kayla sambil tertawa kecil menggoda Hilman.
“Tuch kan, saya yang khawatir setengah mati, kamunya
malah cengengesan,” kata Hilman sambil menampilkan muka
juteknya.
“Iya.. iya… maaf..! Kan cuman bercanda. Insya Allah saya
nggak apa‐apa kok ditinggal, toh nanti saya bisa nge‐Grab
kalau kemana‐mana dan lagi Mas Hilman cuman sehari saja
pulangnya?” tanya Kayla.
“Yakin kamu nggak apa‐apa saya tinggal?” pertanyaan
Hilman coba meyakinkan Kayla.
Kayla mengangguk sebagai isyarat kalau dia akan baik‐
baik saja ketika Hilman harus pulang ke rumahnya.
Setelah sepakat, mereka pun bergegas menuju tempat
kerja Kayla. Seperti hari‐hari biasanya mereka sempatkan
mampir dulu untuk sarapan di warteg depan kantor Kayla.
Usai menyelesaikan sarapan, Kayla pun pamit pada Hilman
untuk masuk ke kantor dan memberinya pesan agar berhati‐
hati dalam perjalanan pulang sore nanti.
Sore menjelang tepat pukul 14.30 WIB saat wa Hilman
masuk di HP Kayla.
44 | Lailatus Saadah
“Assalamualaikum Sayang. Saya udah mau OTW pulang
nich, kamu jaga diri baik‐baik ya.., jangan lupa shalatnya ya…
Love You..”
Sambil senyum‐senyum sendiri Kayla pun segera
membalas chatt Hilman.
“Wassallamualaikum… Iya sayangkuh... akan kuingat
selalu pesanmu. TitiDj dan salam buat mama dan papa ya…
Love You too.”
Sore ini Kayla harus pulang dan ke kampus sendiri tanpa
Hilman, ada rasa di mana dia tidak terbiasa dengan kondisi
yang seperti ini. Rasa sepi yang menyelimuti hati Kayla
membuatnya merasa terasa sangat lama berpisah dengan
pujaan hatinya.
Baru beberapa jam saja Hilman pamit tak bersamanya,
Kayla merasa tak nyaman dengan keadaan ini. Dia sangat
merindukan Hilman, terbiasa makan malam berdua kini Kayla
harus melewatinya sendiri. Putaran waktu seakan bergerak
lambat sekali, detik demi detik dia harus menikmati kesunyian
yang sangat menyiksanya. Terkadang muncul pertanyaan di
hatinya sedang apakah pujaan hatinya di sana, mungkinkan
sedang memikirkannya seperti dirinya yang sampai tengah
malam ini matanya masih enggan untuk terpejam.
Kayla begitu menyayangi Hilman hingga setiap inci
bayangannya selalu menari‐nari di pelupuk matanya.
Usai melaksanakan shalat Isya, sepulang dari kampus
sampai tengah malam begini Hilman belum juga
menghubunginya. Kayla hanya berharap tidak terjadi apa‐apa
dengan kekasihnya, meskipun dalam hati ada rasa sedikit
kekhawatiran tapi ia coba menepis rasa itu dengan
Rinai RIndu dari Surga | 45
menghabiskan waktu membaca buku‐buku Islami tuntunan
doa‐doa dan berharap matanya pun segera terpejam. Dan
akhirnya tanpa tersadar dengan sendirinya Kayla sudah
terbawa ke alam mimpinya dengan buku yang masih ada di
pangkuannya.
Alarm HP Kayla berdering menunjukkan pukul 04.00 WIB.
Ia tersentak dan tersadar ternyata hari sudah pagi. Segera ia
pergi ke kamar mandi dan segera menunaikan shalat Subuh.
Setelah selesai, dia kemudian membuka jendela kamarnya.
Dia tertegun di depan jendela memandangi langit di sebelah
timur dengan warna rona merah dan oranye di langit yang
menandakan matahari akan segera terbit. Kayla sangat takjub
dengan ciptaan sang Khalik yang sangat luar biasa itu, tetapi
sesaat ia tersadar sampai pagi ini Hilman belum
menghubunginya. Ia bergegas mengambil HP dan melihat
terakhir wa Hilman online.
Kayla sangat sedih ketika ia mendapati baru 30 menit
yang lalu wa Hilman online tapi tidak ada chatt atau telepon
yang mampir ke Hpnya. Kayla tak berani menghubungi
Hilman lebih dulu karena rasa gengsinya yang terlalu tinggi
untuk mengakui bahwa dia sangat merindukan Hilman. Sekali
lagi perang batin asmara di hatinya terjadi. Dia memilih untuk
mengalahkan rasa rindu demi gengsinya kepada Hilman.
Kayla menutup kembali Hpnya. Ia segera menuju ke
kamar mandi dan bersiap‐siap untuk segera pergi ke kantor.
Di benak Kayla adalah ia harus berangkat lebih pagi dari
biasanya karena hari itu ia akan naik angkutan umum. Dia
membayangkan bagaimana harus berjibaku di angkutan
umum yang penuh sesak ketika harus bersamaan dengan
46 | Lailatus Saadah
para pelajar, karyawan pabrik, pedagang pasar, dan
pengguna jasa angkuta umum yang sudah tentu ama‐sama
memiliki orientasi sampai tujuan tepat waktu. Tentunya
jalanan akan sangat macet juga karena selain angkutan
umum, ada pengendara kendaraan pribadi dan angkutan
barang yang turut berkompetisi di sana.
Saat membuka pintu hendak keluar dari indekostnya,
Kayla terkejut. Rona bahagia tampak dari binar‐binar kelopak
mata cantiknya. Sosok yang dirindukannya kini tengah
menebarkan senyum terindahnya bersama pesona mentari
pagi yang sudah mulai menebarkan hangatnya ke bumi.
Wow, rasanya Kayla hendak berteriak dan melompat setinggi‐
tingginya untuk mengekspresikan rasa kegembiraannya telah
bertemu dengan kekasih hatinya yang semalaman
dirindukannya.
“Assalamualaikum Nona manis, tumben pagi amat ke
kantornya?” sapa Hilman.
Dengan berpura‐pura cuek dan agak terkesan biasa aja
Kayla hanya melempar sedikit senyum kepada Hilman.
“Kok ada yang ucap salam tidak dijawab ya.., padahal itu
kan wajib,” ujar Hilman
“Waalaikum salam, kamu kenapa jahat banget sih dari
kemarin tak menghubungiku? Saya kan khawatir..!” jawab
Kayla dengan manja.
“Ya, maaf‐maaf Tuan Putri. Hamba mengaku bersalah,
hamba siap menerima hukuman dari Tuan Putri asalkan Tuan
Putri mau memaafkan hamba,” kata Hilman sambil bergaya
membungkukkan badannya di depan Kayla layaknya aktor
dalam dongeng Cinderella.
Rinai RIndu dari Surga | 47
“Baiklah, saya akan memaafkanmu tapi ada syarat yang
harus kamu penuhi,” jawab Kayla mengimbangi peran yang
sedang dilakonkan Hilman.
“Hamba siap menerima apapun persyaratan yang Tuan
Putri ajukan,” kata Hilman.
“Saya mau hari ini kamu membuatkan saya seribu candi,
ups...ss.,salah! Bukan candi tapi kamu harus mentraktirku
makan dan mengajakku jalan‐jalan karena hari ini kuliahku
libur, dosennya ada seminar di luar kota dan perkuliahan
diundur besok lusa,” jawab Kayla.
“Yang benar? Yess! Yes! Yes! Kita jalan‐jalan setelah kamu
pulang kantor,” kata Hilman.
Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan menuju kantor
Kayla.
Hari ini Kayla di kantor sangat sibuk sekali. Ia harus
menyiapkan beberapa laporan keuangan yang akan dijadikan
bahan meeting bagi managernya. Ia pun harus menyiapkan
powerpoint sebagai bahan tayang dan memastikan file
laporan keuangan sudah tercetak dan dijilid rapi. Karena
Kayla sangat mengenal karakter bosnya Bu Anne, sosok yang
perfectionist, semua pekerjaan harus benar, tepat waktu,
rapi, rajin, dan sesuai target.
Kayla sangat bersyukur meeting selesai tepat waktu
sehingga ia pun bisa pulang lebih awal untuk memenuhi
janjinya dengan Hilman. Dengan wajah berseri‐seri, ia berjalan
menuju boulevard tempat Hilman biasa menjemputnya.
Setelah sampai di depan Hilman, Kayla pun segera mengajak
Hilman jalan.
“Kita mau kemana?” tanya Hilman.
48 | Lailatus Saadah
“Ke hatimu…,” jawab Kayla yang kemudian disusul gelak
tawa bahagia mereka berdua.
Mereka pun mulai berjalan menyusuri jalanan kota. Ramai
suasana kota sangat mereka nikmati dalam perjalanan
dengan penuh kebahagiaan. Hilman mengarahkan laju
motornya menuju Taman Kota Sri Gunting Kota Lama.
Mereka hendak menikmati suasana taman kota untuk
menghilangkan rasa penat yang selama ini menggelayuti
karena rutinitas setiap hari.
Sesampainya di taman, mereka pun mencari posisi
tempat duduk yang nyaman. Di sana Hilman mulai bercerita
tentang tujuan mamanya yang memintanya pulang
mendadak kemarin.
Mama dan papa Hilman memiliki keinginan agar mereka
segera melangsungkan pernikahan. Orangtua Hilman sangat
khawatir jika kemudian timbul fitnah dan mereka berpikir jika
sebentar lagi Hilman juga sudah wisuda. Menurut mereka
waktunya sudah sangat tepat bagi Hilman dan Kayla untuk
segera menikah. Hilman juga bercerita kepada Kayla bahwa
mama dan papanya sudah menyiapkan semuanya yang
berkaitan dengan acara pernikahan mereka.
Mendengar cerita dari Hilman, tiba‐tiba air mata Kayla
meleleh. Dia tidak tahu harus bersikap senang atau sedih.
Karena dia tahu bahwa keluarga Hilman adalah keluarga yang
sangat terpandang di lingkungannya, yang pasti tidak
mungkin jika acara pernikahan mereka akan diadakan secara
sederhana. Sedangkan di sisi lain Kayla sangat menghargai
orangtuanya yag masih bersikekeuh belum menerima dengan
keputusannya. Namun apalah daya, seorang Kayla hanya bisa
Rinai RIndu dari Surga | 49
menerima keputusan dan rencana yang sudah disiapkan
keluarga Hilman.
Tepat satu minggu setelah acara wisuda Hilman, pesta
pernikahan Hilman dan Kayla pun digelar. Tidak tanggung‐
tanggung keluarga Hilman menerima tamu undangan kurang
lebih seribu orang. Hal ini wajar, mengingat keluarga Hilman
adalah keluarga yang terpandang, kemudian Hilman hanya
dua bersaudara dengan kakak perempuannya yang sudah
lama menikah dan saat ini menetap di Solo.
Rasa bahagia menaungi perasaan Kayla. Kini akhirnya dia
resmi bergelar Nyonya Hilman Supriyono. Kini keduanya
memiliki komitmen untuk menjadikan pasangannya sebagai
tempat untuk berlabuh dan membagi semua momen dalam
hidup mereka bersama. Bahagia, rasa sakit, lelah, dan bahkan
masa depan yang akan mereka raih. Karena mereka sadar
bahwa menikah adalah tentang bagaimana saling memberi
dan menerima pasangan, memberi perhatian dan pelayanan
yang terbaik pada pasangan, dan ikhlas menerima apa yang
diberikan oleh pasangan.
50 | Lailatus Saadah
Anugerah Sekaligus Amanah
S etelah menikah, Kayla dan Hilman memutuskan untuk
kontrak rumah di Ngaliyan Semarang. Dengan begitu
mereka lebih bisa mandiri, leluasa menikmati masa
pengantin baru mereka dengan selalu bersama. Mereka
berdua sangat menikmati setiap momen kebersamaan itu.
Mulai dari disibukkan kegiatan bersih‐bersih berdua, masak
berdua, nonton tv, dan aktivitas lainnya mereka selalu berdua
serasa dunia milik berdua saja. Meskipun secara ekonomi
mereka masih harus dibantu orangtua Hilman karena
memang kebutuhan bulanan yang sangat kompleks dan
keadaan Hilman yang baru selesai kuliah, sehingga ia masih
dalam tahap mencari dan menunggu panggilan kerja. Kayla
bisa menerima semua itu dengan enjoy tanpa ada masalah.
Awalnya semua terasa baik‐baik saja, tetapi lambat laun
dua bulan setelah pernikahan mereka dan panggilan kerja
yang dinantikan belum ada kabarnya juga, maka mulai timbul
perasaan minder dalam diri Hilman kepada Kayla. Aktivitas
yang hanya antar jemput Kayla pun dirasakan menjadi
sesuatu yang membosankan. Karena sekembali dari
mengantarkan Kayla, aktivitas Hilman hanya sebatas nonton
tv dan tidur saja.
Melihat kegelisahan yang dirasakan suaminya itu pun,
Kayla mulai berpikir untuk mencarikan jalan keluar agar
Hilman tidak menjadi pengangguran terlalu lama. Karena
bagaimanapun Kayla bisa memahami perasaan orang yang
Rinai RIndu dari Surga | 51
stres karena banyak pekerjaan dengan stresnya orang yang
tidak punya pekerjaan (pengangguran) tentu beban
psikologisnya lebih besar orang yang tidak bekerja. Apalagi
Hilman lulusan sarjana.
Maka pada suatu malam setelah mereka selesai
melaksanakan shalat Isya bersama, Kayla pun mengajak
suaminya ngobrol bersantai di teras rumah sambil menikmati
indahnya bulan purnama. Ketika tatapan mereka tertuju pada
fokus yang sama tentang indahnya rembulan dengan
ditemani bintang‐bintang di langit Kayla pun berkata,
“Subhanallah, indah sekali ya bulan malam ini Mas?”
Tak ada satu kata pun yang keluar dari bibir Hilman, dia
hanya mengiyakan pertanyaan Kayla dengan senyumannya
saja. Kayla pun mulai merasa kalau suasana hati suaminya
tidak benar‐benar menikmati indahnya rembulan malam itu.
Dia bisa merasakan beban suaminya yang terasa mengganjal
karena belum datangnya panggilan kerja yang dinantikannya.
Maka kemudian Kayla memberikannya pertanyaan lagi.
“Mas, bagaimana kalau besok pagi saya menghadap
managerku Ibu Anne?”
“Untuk apa?” jawab Hilman dingin. Kalau tidak karena
hanya ingin menghormati pertanyaan istrinya yang kedua
kalinya, maka hati kecilnya pun sebenarnya tak ingin
merespon pertanyaan Kayla karena menurutnya pasti itu
tentang urusan pekerjaannya di kantor.
“Ya untuk mengusulkan Mas Hilman untuk bisa
bergabung di perusahaan,” jawab Kayla dengan penuh
semangat meyakinkan Hilman.
52 | Lailatus Saadah
Namun sayang, niat baik Kayla sepertinya tidak disambut
senang oleh Hilman. Sebaliknya Hilman hanya diam seribu
bahasa. Melihat suaminya yang tak menjawab tawarannya
tadi, Kayla pun bisa memahami perasaan Hilman mungkin
satu sisi Hilman memang butuh pekerjaan itu, tetapi di sisi lain
tentu ada rasa gengsi dan malu jika dia menerima tawaran
Kayla.
“E..e.., Maaf Mas kumohon jangan tersinggung dengan
tawaranku, saya hanya ingin membantu. Kalau pun Mas
Hilman tidak berkenan saya juga tidak akan melanjutkan
rencanaku tadi,” kata Kayla yang mencoba memecah
keheningan mereka berdua di antara kesunyian malam di
teras malam itu.
Merasa tidak ingin membuat istrinya kecewa, maka
Hilman pun menjawab, “Baiklah sayang, saya setuju dengan
usulmu.” Sambil tersenyum dan mencubit hidung Kayla. Ia
bermaksud menggoda Kayla karena dia tahu kalau sang
pujaan hatinya mulai dihinggapi rasa kejenuhan dengan
sikapnya beberapa hari ini. Kemudian Hilman membopongnya
menuju peraduan mereka berdua karena hari sudah semakin
larut.
Keesokan harinya, Kayla sangat bersemangat memulai
aktivitasnya. Di luar rumah suasana pagi masih berselimut
kabut yang lumayan tebal dan mataharipun masih enggan
keluar dari peraduannya, tetapi Kayla sudah selesai
menyiapkan sarapan pagi dan kopi hangat untuk suaminya.
Sementara Hilman masih di teras menyapu halaman rumah
dan sudah selesai mengelap motornya.
Rinai RIndu dari Surga | 53
Kayla pun segera bergegas ke kamar mandi, memulai
acara ritual wajib sebelum berangkat ke kantor, bersiap
dengan mematutkan diri di cermin agar terlihat rapi. Setelah
semua selesai ia menuju ke ruang tengah. Hilman sudah
menunggunya untuk sarapan berdua. Pagi ini menu andalan
dan favorit Kayla nasi goreng dengan telur ceplok ia
hidangkan di meja. Tak butuh waktu lama kegiatan sarapan
pun usai dan Hilman seperti biasa siap mengantarkan istrinya
ke tempat kerja.
Perjalanan dari kontrakan sampai ke tempat kerja mereka
pun tak banyak bicara. Yang ada dalam benak Kayla saat itu
hanya bagaimana supaya hari ini ia bisa meyakinkan Bu Anne
untuk menerima suaminya sebagai karyawan di
perusahaannya.
Setelah sampai di depan kantor, Kayla pun berpamitan
dengan suaminya, mencium tangannya, dan memberi pesan
agar senantiasa berhati‐hati di jalan. Baru beberapa langkah
berjalan, Kayla berpapasan dengan Bu Anne yang kebetulan
selesai memarkirkan mobilnya. Entah mengapa tiba‐tiba Kayla
merasa dadanya berdegub sangat kencang. Ini pasti ada
hubungannya dengan rencabnanya semalam. Ia pun
mengatur nafasnya agar tidak terlihat gugup di depan Bu
Anne. Dengan ramah Kayla pun menyapanya
“Selamat pagi Bu..”
“Hey.., selamat pagi Kayla, diantar suami?” tanya Bu
Anne.
“Iya Bu,” jawab Kayla.
54 | Lailatus Saadah
Mereka pun berjalan beriringan sampai di depan pintu
masuk kantor dan harus berpisah karena ruangan kerja yang
berbeda.
Sesampainya di meja kerja, Kayla pun melihat agenda
kegiatan dan laporan yang harus segera ia selesaikan hari ini.
“WOW!” gumam Kayla dalam hatinya. Lumayan banyak
juga pekerjaan hari ini, tetapi yang terpenting adalah ada
jadwal yang mengharuskannya berkonsultasi dengan Bu
Anne untuk penyusunan laporan rencana anggaran
pembelian atau pengadaan mesin produksi baru. Dia bisa
berlama‐lama di ruangan Bu Anne sehingga ia berpikir akan
banyak waktu untuk menyampaikan maksud dan
keinginannya yang sudah direncanakan semalam bersama
Hilman.
Sesaat kemudian telepon paralel kantor di meja Kayla
berdering, ia pun segera mengangkatnya. Dari seberang
terdengar suara Bu Anne, beliau menghendaki Kayla untuk
menghadap ke ruangannya. Ia pun mulai mempersiapkan
berkas pendukung yang harus ditandatangi Bu Anne dan
segera menuju ruangan managernya.
Sesampainya di ruang Bu Anne, setelah menyelesaikan
laporannya Kayla pun mulai menyampaikan maksudnya.
“Maaf Bu, mungkin ini di luar laporan keuangan.”
“Ya,” kata Bu Anne dengan sedikit heran melihat ke arah
Kayla.
“Saya mau minta tolong Bu. Kebetulan suami saya baru
selesai wisuda dua bulan sebelum pernikahan kami. Namun,
sampai sekarang suami saya masih belum mendapat
pekerjaan. Dia sudah memasukkan lamaran pekerjaan ke
Rinai RIndu dari Surga | 55
banyak perusahaan, tetapi sampai sekarang belum ada
panggilan juga,” kata Kayla.
“O..oh..,ya..ya., lalu apa yang bisa saya bantu?” tanya Bu
Anne.
“Tolong beri kesempatan kepada suami saya untuk bisa
bergabung dengan perusahaan ini, Bu. Dia orang yang baik,
sangat cerdas. Nilai IPK‐nya kemarin 3,5 lebih bahkan
coumloude, Bu,” jawab Kayla.
“Jurusan suamimu apa?” tanya Bu Anne kembali.
“Akuntansi Bu.”
“E..e...e.., dan pastinya dia juga pintar berkomunikasi
bahasa Inggris aktif sepertimu?”
“Insya Allah saya bisa membantu, cuman
permasalahannya kebijakan perusahaan tidak mengijinkan
pasangan suami istri bekerja di kantor yang sama,” kata Bu
Anne.
Dengan cemas Kayla berusaha menebak maksud
perkataan Bu Anne.
“Maksud Ibu, suami saya bisa diterima, tetapi tidak satu
tempat dengan saya?”
“Iya, nanti saya akan rekomendasikan suamimu untuk
diterima di perusahaan kita yang berkantor di Jakarta.
Kebetulan di sana ada yang kosong di divisi keuangan;
mungkin saya bisa rekomendasikan suami kamu untuk posisi
manager finance.”
Tanpa berpikir panjang Kayla pun menyanggupi tawaran
Bu Anne. Setelah berpamitan kembali ke ruang kerjanya Kayla
pun keluar dari ruangan Bu Anne. Dengan langkah gontai dan
hati yang sangat galau Kayla menuju ruangannya.
56 | Lailatus Saadah
Satu sisi dia akan segera menyampaikan kabar baik ini
pada suaminya, sementara dalam hati kecilnya, ia sangat
bersedih karena membayangkan bagaimana jika dia harus
terpisah jarak dengan Hilman. Dia pun sesegera mungkin
berusaha mengusir rasa galau dari hatinya. Ia ingat komitmen
awal mereka setelah menikah bahwa mereka akan berusaha
membangun kepercayaan satu sama lain dan akan selalu
menguatkan satu dan yang lain.
Jam kerja kantor usai, Kayla pun berkemas‐kemas. Sambil
melirik ke arah jendela dari lantai dua tempat ruang kerjanya
dia bisa melihat Hilman sudah menunggunya di depan pagar
pintu masuk perusahaannya. Dengan segera ia pun
menyambar tas kerjanya dan bergegas menemui sang pujaan
hati.
“Assalamualaikum Cinta...,” sapa Kayla ketika sudah
berada tepat di belakang Hilman. Hilman pun dibuat kaget
karenanya, ia tidak menyadari kalau Kayla sudah sedari tadi
mengamatinya dari belakang.
“Eh.., Waalaikumsalam,” jawab Hilman dengan sedikit
gusar dan terburu‐buru memasukkan Hpnya ke dalam saku
kemejanya. Ia khawatir Kayla mengetahui tentang apa yang
barusan dia kerjakan.
“Kenapa sih Mas? Apa yang Mas Hilman sembunyikan
dariku?” tanya Kayla.
“Kamu ngintip ya..?” tanya Hilman kembali.
“Iya, tapi sedikit sih,” jawab Kayla.
“Eh, tidak boleh seperti ya! Ini kan privacy. Saya
berencana untuk ikut mendaftar grab bike. Kamu tidak
keberatan kan?” tanya Hilman.
Rinai RIndu dari Surga | 57
Dengan tersenyum, kemudian Kayla meraih tangan
Hilman untuk digenggamnya. Kayla pun mulai menceritakan
kabar baik dari Bu Anne tentang dikabulkannya
permohonannya agar Hilman bisa diterima bergabung di
perusahaan.
Hilman pun sangat bahagia mendengar kabar dari Kayla,
secara refleks ia memeluk Kayla. Sadar dengan posisi mereka
yang masih di pinggir jalan, Kayla pun segera meminta Hilman
untuk melepaskan pelukannya dan kalau saja tidak di tempat
umum pastilah Hilman sudah mencium Kayla.
Atmosfer kebahagiaan mereka berdua sangat terasa dari
perjalanan kantor sampai di kontrakan. Setelah selesai shalat
Maghrib berjamah, seperti biasanya Hilman memimpin doa
dan Kayla mengamininya sebagai makmum di belakang.
Dalam doa terselip rasa syukur Hilman karena telah
dimudahkan untuk bisa bergabung di perusahaan Kayla.
Kayla pun mulai menceritakan tentang persyaratan dari
perusahaan yang disampaikan Bu Anne bahwa mereka
sebagai pasangan suami istri tidak boleh satu kantor. Tiba‐
tiba bulir‐bulir bening menetes dari kelopak mata indah Kayla.
Ia berharap tak kan berpisah dari orang yang paling
disayanginya tapi keadaan sekarang mengharuskan mereka
untuk menjalani LDR (Long Distance Relationship) di saat‐saat
mereka masih ingin menikmati kebersamaan ini. Hilman bisa
merasakan kegelisahan hati Kayla, betapa ia juga ikut
merasakan kesedihan yang dirasakan Kayla. Kemudian Hilman
segera memeluk Kayla menyandarkan kepala Kayla di
dadanya. Tangis Kayla pun semakin kencang. Hilman
menenangkannya dengan membelai kepala Kayla yang masih
58 | Lailatus Saadah
menggunakan mukena. Ia biarkan tangis Kayla pecah agar
bisa melegakan rasa sedih di hatinya.
Setelah sedikit tenang, tinggal terdengar sesekali
sesenggukan Kayla. Hilman pun berkata, “Saya tidak akan
menerima tawaran dari Bu Anne, seandainya ini berat
untukmu. Saya akan menjadi driver grab bike saja sambil
menunggu panggilan kerja dari lamaran yang sudah saya
kirim.”
“Tidak..! Jangan..! hiks..hiks..hiks..,” jawab Kayla, “ini
peluang bagus, kamu tidak akan mendapatkan posisi karier
sebagus dan secepat ini di perusahaan lain. Saya juga tidak
ingin mengecewakan kepercayaan Bu Anne. Saya hanya
butuh sedikit waktu untuk bisa beradaptasi dengan keadaan
kita yang harus LDR‐an, tetapi percayalah saya akan baik‐baik
saja dan akan selalu setia menantimu.” Kayla mencoba
memberi pengertian kepada Hilman.
Rasa sedih yang mendera di hati Kayla belum bisa berlalu
dari hatinya, meskipun Hilman sudah meyakinkannya untuk
selalu sesering mungkin pulang ke Semarang untuk
menemaninya.
Kini telah tiba waktunya Kayla melepas kepergian Hilman
di Stasiun Poncol untuk berangkat menuju ke Jakarta
memulai kariernya di sana. Meski berusaha tabah dan kuat
saat Hilman berpamitan dengannya, tak urung ia pun tak
kuasa membendung air matanya. Dia terus menangis di
pelukan Hilman, seolah tak ingin melepaskan kepergian
Hilman. Namun, semua sudah menjadi komitmen mereka
berdua. Akhirnya Kayla pun harus rela melepaskan berpisah
dengan suaminya.
Rinai RIndu dari Surga | 59
Sehari, dua hari, tiga hari semenjak kepergian Hilman ke
Jakarta Kayla masih sering menangisinya, di setiap sudut
ruangan kontrakannya bayangan Hilman tergambar terus di
pelupuk matanya. Saat berangkat ke kantorpun tak ayal
rekan‐rekan kantor menanyakan kondisi matanya yang
sembab karena terus menangis semalaman.
Pagi ini saat Kayla bangun dari tidurnya, ia merasakan
tidak enak badan. Seluruh badannya terasa nyeri, ia
merasakan sangat lelah, rasa mual dan ingin muntah. Ia
berpikir untuk ijin barang sehari agar bisa bristirahat di
rumah. Namun, ia ingat kalau hari ini akan ada monitoring
dari dewan direksi, maka ia pun mengurungkan niatnya.
Dengan mengumpulkan segenap tenaga ia berusaha
membangun semangatnya untuk berangkat ke kantor, meski
intensitas mual dan muntah semakin sering. Kemudian Kayla
teringat kalau bulan ini ia terlambat menstruasi, maka ia pun
segera mengambil test pack yang sudah dibeli sebelumnya
sebagai persediaan.
Alangkah bahagia dan tak henti‐hentinya Kayla
mengucapkan syukur kepada Allah SWT karena melihat
hasil test pack positif. Ia seakan tidak percaya bahwa di
rahimnya kini telah tumbuh dan berkembang janin yang akan
menjadi calon buah hatinya penerus garis keturunannya
dengan Hilman. Kayla serasa tak sabar ingin segera
mengabarkan berita baik ini kepada suaminya. Namun niat itu
akhirnya ia urungkan, dia berpikir baru akan memberitahu
Hilman setelah periksa dari dokter sore ini usai jam kantor.
Sore hari setelah hasil pemeriksaan dokter menyatakan
Kayla positif hamil, Ia pun segera menyampaikan kabar baik
60 | Lailatus Saadah
itu kepada suaminya melalui sambungan telfon. Rasa bahagia
dan haru dirasakan Hilman, karena merasa bersalah tak bisa
bersama menemani Kayla untuk pergi ke dokter. Namun,
Kayla berusaha menghibur dan meyakinkannya bahwa dia
dan calon anak dalam kandungannya baik‐baik saja dan akan
selalu setia menunggunya pulang. Hilman berjanji akan
pulang akhir bulan ini. Dia tidak berani ambil ijin pulang lebih
awal karena posisinya masih tahap orientasi sebagai
karyawan baru.
Masa‐masa di awal kehamilan dengan gejala kehamilan
yang mengikutinya morning sickness, kelelahan, perubahan
suasana hati, muntah, dan mual harus Kayla jalani tanpa
kehadiran Hilman di sisinya. Setiap Hilman menanyakan
tentang keadaannya, Kayla selalu mengatakan bahwa ia baik‐
baik saja. Ia tak ingin konsentrasi Hilman terpecah karena
memikirkannya.
Waktu terus bergerak hari berganti minggu, minggu pun
berganti bulan kehamilan Kayla semakin besar. Hilman
merasa tak tega membiarkan Kayla tinggal di kontrakkan
sendiri. Ia pun meminta Kayla untuk mencari asisten rumah
tangga. Mama mertuanya dari kampung yang berstatus guru
PNS tidak bisa terus‐terusan menemaninya di Semarang.
Hilman merasa saat ini gajinya sudah pasti bisa mencukupi
kebutuhan mereka, bahkan bisa dibilang lebih dari cukup
untuk mencarikan seorang asisten rumah tangga bagi
istrinya.
Kayla pun mengikuti saran dari Hilman. Ia menerima
tawaran dari ibunya untuk menerima Mbok Nah, seoarang
janda yang sudah lama ditinggal suaminya karena meninggal
Rinai RIndu dari Surga | 61
dengan anak satu sebagai pembantunya. Adanya Mbok Nah
sangat membantu Kayla, dengan begitu ia bisa lebih berfokus
pada kesehatan kehamilannya demi menyambut kelahiran
buah hatinya ke dunia. Kayla sadar kalau dirinya bukan
seorang wonder woman yang serba bisa sendiri. Apalagi
dalam keadaan sekarang ini, perutnya sudah semakin
membesar.
Masa HPL sudah semakin dekat, Kayla lebih sering
memeriksakan diri ke dokter untuk melihat perkembangan
kehamilannya. Karena dari hasil USG, bayi Kayla dalam kondisi
kaki di bawah rahim sementara kepala di atas (sungsang)
sehingga apabila sampai HPL posisi bayi belum pada posisi
normal. Dokter menyarankan agar Kayla menjalani proses
persainan melalui operasi caesar.
Masa kehamilan Kayla memasuki minggu ke‐38. Waktu
yang ditunggu telah tiba. Rasa khawatir, cemas, resah dan
takut dialami Kayla yang akan melahirkan melalui proses
caesar. Tak hanya dari sisi Kayla saja, pihak keluarga juga
mengalami perasaan yang sama. Terlebih Hilman yang
dengan sengaja telah mengambil ijin cuti untuk menemani
istrinya saat menjalani operasi caesar. Rasa cemas dan takut
itu makin ia rasakan, semakin mencekam tatkala ia harus
menandatangani sejumlah persetujuan prosedur tindakan
operasi caesar. Namun, dengan sekuat tenaga ia menampik
semua rasa itu demi memberikan semangat dan dukungan
kepada istrinya.
Setelah menunggu kurang lebih satu jam di luar ruang
operasi. Dokter keluar dari ruangan dan memberitahu kepada
Hilman dan keluarga kalau operasi caesar telah selesai dan
62 | Lailatus Saadah
berjalan dengan lancar, mereka telah dianugerahi seorang
bayi yang sangat cantik dan sehat. Dokter juga memberitahu,
kalau keadaan Kayla sangat baik dan akan segera dipindahkan
ke dalam ruangan pemulihan dan dipantau kondisi
kesehatannya secara teratur oleh dokter.
Seketika Hilman pun bersujud syukur mendengar kabar
dari dokter. Kelahiran putrinya adalah merupakan suatu
kebahagiaan tersendiri bagi Hilman dan keluarga. Tak berapa
lama kemudian Hilman mendengar panggilan dari perawat
untuk mengazani bayinya. Ayah baru ini sangat bersemangat
untuk bertemu dengan putri pertamanya. Ia segera
mengazani telinga bayinya yang baru lahir. Hilman menangis
bahagia. Ia sampai tidak bisa berkata‐kata setelah melihat
anaknya yang telah lahir dan melihat dunia untuk pertama
kalinya. Ia berkali‐kali berdecak kagum dan bersyukur betapa
dia dan Kayla telah dianugerahi sebuah kado Allah SWT yang
sangat istimewa. Kini keluarganya semakin ceria dengan
kelahiran seorang bayi yang merupakan anugerah dan
amanah darI Allah SWT.
Rinai RIndu dari Surga | 63
64 | Lailatus Saadah
Hadirnya Orang Ketiga
H adirnya putri pertama Hilman dan Kayla semakin
meningkatkan kualitas rumah tangga mereka. Nita
Fayza Zahrani, putri pertama mereka mampu
membawa kebahagiaan yang sejatinya tidak dapat diukur dari
hal‐hal apapun. Adanya Nita selalu membawa alasan mereka
untuk cepat pulang. Sesibuk apapun mereka saat bekerja,
selalu ada alasan untuk pulang karena ada Nita di
rumah. Meskipun Nita kecil kadang rewel, tetapi
kehadirannya selalu menyenangkan. Sebab mereka sadar
dengan hadirnya anak di tengah‐tengah mereka, mereka
semakin belajar tentang kehidupan sebagai orangtua,
semakin terinspirasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik
agar menjadi contoh yang ideal bagi buah hatinya.
Meskipun terpisah jarak Semarang–Jakarta, tetapi tidak
sedikit pun menyurutkan rasa berkasih sayang di antara
mereka. Setiap ada waktu istirahat, Hilman selalu mengecek
dan menanyakan keadaan Nita kepada Mbok Nah. Saat ada
waktu senggang setelah jam kerja, Hilman selalu sempatkan
video call dengan Kayla untuk melihat keceriaan si buah
hatinya. Dan di akhir pekan, Hilman sebisa mungkin
menyempatkan waktu menikmati liburan di Semarang
bersama istri dan putri kecilnya. Kehidupan keluarga mereka
sangat harmonis, bahkan orang lain yang melihatnya dibuat
iri karenanya. Mereka bisa tetap bisa menjaga keharmonisan
Rinai RIndu dari Surga | 65
keluarga mereka meskipun mereka harus menjalaninya
dengan LDR (Long Distance Relationship).
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Menjelang ulang tahun Nita ke‐3, Kayla mulai merasa ada
yang tidak beres dalam diri Hilman. Janji pesta ulang tahun
yang akan diselenggarakan untuk putri mereka tiba‐tiba harus
dibatalkan karena mendadak Hilman mendapat tugas ke luar
negeri untuk mewakili perusahaannya dalam sebuah
konferensi perusahaan tekstil dan garmen se‐Asia Afrika di
Kamboja. Awalnya Kayla bisa memahami keadaan tersebut
karena memang tuntutan kerja dari perusahaan.
Setelah ditunjuk sebagai perwakilan perusahaan untuk
mengikuti konferensi perusahaan tekstil dan garmen se‐Asia
Afrika di Kamboja, karir Hilman semakin melejit. Pihak
perusahaan sangat puas dengan kinerja Hilman. Ia pun
mendapatkan promosi jabatan sebagai GM (General Manajer)
pada bidang sales dan marketing setelah melalui proses
Assessment.
Hilman sadar akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai
GM (General Manajer) pada bidang sales dan marketing yang
memiliki peran penting sebagai salah satu aktivitas pokok
dalam mempertahankan kelangsungan perusahaan. Mulai
dari merencanakan, mengontrol dan mengoordinir proses
penjualan dan pemasaran untuk pencapaian target,
melakukan strategi pemasaran yang efektif, sampai pada
mengontrol operasional harian perusahaan agar tercipta iklim
kerja yang harmonis di dalam perusahaan. Hal tersebut telah
menyita bahkan mengorbankan waktu kebersamaan Hilman
bersama Kayla dan Nita. Meskipun tak dipungkiri, hal
66 | Lailatus Saadah
tersebut berbanding lurus dengan limpahan fasilitas benefit
dan gaji yang besar dari perusahaan yang diterima Hilman.
Kayla sendiri merupakan wanita karier yang bisa
memahami betul akan posisi jabatan suaminya sekarang,
sehingga ia tidak banyak mengeluh atau mempermasalahkan
dengan kesibukan suaminya yang tidak lagi di setiap weekend
bisa bersama mereka. Dengan sabar Kayla selalu memberi
pengertian kepada Nita bahwa ayahnya tengah bekerja untuk
kebaikan dan masa depan keluarga.
Rasa toleransi di hati Kayla itu lambat‐laun terkikis karena
melihat peubahan dalam ritme kerja Hilman. Hilman mulai
lebih cepat berangkat ke Jakarta saat liburan dan lebih
parahnya lagi dia sudah jarang pulang ke Semarang. Dengan
alasan sangat sibuk, dia sudah mulai jarang berkomunikasi
dengan Kayla, baik untuk sekedar membalas chatt WA
ataupun mengangkat telpon dari Kayla. Bahkan ketika satu
hari pulang Hilman pun sangat sibuk dengan teleponnya yang
seolah tak ada hentinya berdering. Entah dari kolega
bisnisnya atau siapa pun itu, yang jelas Hilman mulai jarang
bercerita kepada Kayla. Ketika berhenti dengan Hpnya, maka
dia lebih memilih diam di depan laptop atau bahkan tidur.
Pada satu kesempatan ketika Hilman pulang dan ia
sedang tertidur pulas, Kayla melihat HP Hilman tergeletak
begitu saja. Padahal Kayla tahu kalau biasanya HP itu seolah
tidak pernah lepas dari genggamannya. Melihat keadaan
yang demikian, keluarlah naluri detektif Kayla. Dengan
sengaja ia memeriksa dan mengecek HP itu. Penelusuran
Kayla terhenti pada satu nama perempuan “Virginia” dalam
Rinai RIndu dari Surga | 67
list whatshapp suaminya. Ia memberanikan diri untuk
membukanya.
“Pagi Beib.”
“Pagi..”
“Udah bangun blum?”
“Udah dari tadi kok..”
“Sekarang udah mandi blum?”
“Blum.. ”
“Brangkat kuliah jam berapa?”
“Jam 9 Kak.”
“Ooooh gitu, ntar klo k kampus ati2 ea.., jgn lupa kabari
aku ya Beib.”
“Ok.”
“Lope U beib.”
“Lope U too.”
Saat membaca chatt itu, hati Kayla merasa hancur
berkeping‐keping, dadanya terasa sesak, air mata mulai tak
dapat terbendung lagi. Ia terus membaca chatt demi chatt
mesra suaminya dengan seorang wanita yang ia curigai
sebagai pacar suaminya. Tangisnya pun pecah bak petir di
siang bolong. Dia harus menerima laki‐laki yang sangat ia
percaya dan berjanji akan selalu setia padanya, kini telah
mengingkari janjinya.
Suara sesenggukan tangis Kayla yang semakin keras
akhirnya membuat Hilman terbangun. Dia mendapati istrinya
menangis di sisi ranjang sambil memegang Hpnya. Tanpa
banyak bertanya Hilman pun sudah tahu alasan kenapa Kayla
bersikap demikian.
68 | Lailatus Saadah
“Maafkan saya, Bund..”
“Saya bisa jelaskan semuanya.”
“Dia seorang mahasiswi yang kebetulan pernah
mengadakan penelitian di perusahaanku.”
“Kami memang dekat, tetapi hubungan kami hanya
sebagai kakak adik, tidak lebih dari itu,” Hilman coba
menjelaskan kepada Kayla.
“Kalau tidak ada hubungan istimewa, bagaimana bisa WA
dengan kata‐kata mesra semacam ini? Tega sekali kamu Mas
mengkhianatiku..!” jawab Kayla sambil terus menangis di
hadapan Hilman.
Hilman pun kemudian memeluk Kayla untuk
menenangkannya, tetapi seketika Kayla berontak dan terus
menangis seolah‐olah tidak mau lagi menerima penjelasan
dari suaminya.
Hilman sangat mengerti ia telah melukai perasaan Kayla.
Seketika Hilman pun bertekuk lutut di hadapan Kayla,
memohon maaf agar memberinya kesempatan memperbaiki
dan tidak akan mengulangi kesalahannya kembali.
Meskipun berat dan menyakitkan, tetapi demi Nita dan
keutuhan rumah tangga Kayla pun memafkan suaminya. Ia
berjanji kepada Hilman bahwa kali ini Kayla berusaha dan
menjalani kembali perkawinan demi masa depan Nita dan
janji suci yang pernah diikrarkan saat ijab kabul pernikahan,
tetapi maaf yang diberikannya tidak untuk diulangi.
Rona bahagia dan perasaan lega terpancar dari senyum
Hilman. Dia berjanji akan menggunakan kesempatan kedua
yang diberikan Kayla untuk memperbaiki diri sebaik‐baiknya
dan menjaga kesetiaannya demi masa depan rumah tangga
mereka.
Rinai RIndu dari Surga | 69
70 | Lailatus Saadah
Bersahabat dengan Tiroid
M eskipun Kayla sudah ikhlas memaafkan kesalahan
Hilman, tetapi kepercayaannya pada Hilman
belum pulih benar. Trauma psikologis dalam
hatinya karena pernah dikhianati terkadang masih
menggelayuti benaknya. Jika hal ini datang, maka hanya doa
saja yang bisa menjadi kekuatan dan ketenangan bagi Kayla
untuk terus menjalani kegiatan yang membuatnya happy baik
di kantor atau di rumah bersama Nita tanpa harus terus
dibayang‐bayangi rasa curiga kepada suaminya.
Malam ini seperti malam‐malam sebelumnya, Kayla akan
banyak menghabiskan waktunya di ruang kerja bersama
laptop putih kesayangannya setelah ia menidurkan Nita di
kamarnya. Tiba‐tiba ia teringat dengan ijasah S1‐nya dengan
gelar S.Pd. Dia pun membuka lemari tempat menyimpan
berkas‐berkas penting termasuk ijasahnya. Sudah dua tahun
sejak Kayla diwisuda, ijasah itu belum pernah digunakannya.
Kayla mulai membuka dan mengamati kembali kata demi kata
dalam lembar ijasahnya itu.
Dalam hati Kayla mulai berpikir seandainya saja bisa
menggunakan ijasah itu, dia mungkin akan bisa mengubah
haluannya dari seorang wanita karier di perusahaan menjadi
seorang guru yang memiliki lebih banyak waktu bersama Nita
dan mungkin juga bisa mengikuti Hilman untuk tinggal di ibu
kota. Namun, seketika lamunannya buyar saat Mbok Nah
Rinai RIndu dari Surga | 71
mengetuk pintu ruang kerjanya dan meminta ijin masuk
untuk memberikan obat Kayla yang harus diminum.
Sudah hampir satu bulan ini Kayla batuk yang disertai flu.
Rencananya besok pagi Kayla akan memeriksakan diri ke
dokter spesialis untuk mencari tahu kebenaran tentang sakit
yang dialaminya. Apalagi akhir‐akhir ini gejalanya sudah
membuatnya tidak nyaman ketika menelan makanan dan
minuman. Bahkan ada kecenderungan mau muntah yang
dirasakan ketika makanan itu sampai di tenggorokannya.
Pagi‐pagi sekali setelah mengantarkan Nita ke
sekolahnya, Kayla melanjutkan perjalanannya menuju rumah
sakit untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit
dalam. Ia pun sengaja mengambil ijin tidak masuk kerja hari
ini karena berharap dapat segera memulihkan sakit batuknya.
Ia sendiri tak menceritakan tentang sakitnya kepada Hilman
karena takut akan mengganggu pekerjaannya.
Ssetibanya di rumah sakit Kayla menyampaikan semua
keluhan yang dirasakannya kepada dokter.
“Dok, sudah hampir satu bulan ini saya batuk dan flu.
Bahkan akhir‐akhir ini saya merasa leher seperti tercekik dan
tertekan. Bahkan ketika menelan makanan dan minuman,
tenggorokan juga terasa sakit seperti mau muntah.”
“Baiklah Bu, karena keluhan yang ibu rasakan suda lama,
maka saya sarankan ibu untuk cek darah Tshs dan FT4 tyroid
dan juga USG tyroid.” kata dokter.
Tak berapa lama, Kayla pun melakukan pemeriksaan di
laboratorium rumah sakit. Setelah melakukan pemeriksaan di
lab, Kayla pun kembali ke ruang praktik dokter untuk
memberikan hasil tersebut. Dokter pun menerima hasil lab
72 | Lailatus Saadah
yang diberikan Kayla kemudian dokter menjelaskan, “Begini
Bu, dari hasil pemeriksaan lab ibu ini ditemukan adanya
semacam benjolan yang muncul pada kelenjar tiroid yang
disebabkan oleh kanker tiroid.”
Mendengar penjelasan dokter Kayla punmerasa seperti
mendengar petir tepat di samping telinganya. Seketika tubuh
Kayla seperti tak bertenaga, wajah Kayla yang biasa tampak
ceria dan gembira tiba‐tiba berubah menjadi sangat sedih.
Bulir‐bulir air mata pun berjatuhan dari kelopak matanya yang
indah. Kayla merasa sangat shock dan down dengan
penjelasan dokter. Shock yang dikhawatirkan Kayla tentu
adalah mati. Ia teringat bagaimana kalau harus meninggalkan
Nita putri kecilnya yang cantik dan menggemaskan.
Sekali lagi bayangan Nita semakin jelas terlihat saat ia
memejamkan mata. Ia pun kemudian tersentak, kembali
termotivasi bahwa dia tidak boleh menangisi keadaan ini.
Semangatnya terpompa kembali. Kayla berupaya sekuat
tenaga menguatkan diri menerima ketetapan‐Nya. Kayla pun
menenangkan diri, mengumpulkan segenap keberanian
untuk menanyakan pada dokter apa langkah berikutnya yang
harus ia lakukan.
“Lalu apa yang harus saya lakukan dok?”
“Kalau saran saya, agar diagnosanya lebih akurat
sebaiknya Ibu Kayla segera melakukan biopsi, karena biopsi
ini merupakan proses standar bagi para pasien kanker agar
pengobatan tepat sasaran,” kata dokter.
Awalnya Kayla sempat ragu dengan tindakan biopsi ini,
karena informasi yang sering Kayla dengar tentang biopsi
Rinai RIndu dari Surga | 73
cukup menakutkan. Entah rasa kaget yang masih belum
hilang atau yang lainnya, Kayla menjawab saran dokter.
“Baiklah dok, kalau itu merupakan jalan terbaik. Tetapi
saya membutuhkan waktu untuk berkomunikasi dan
bermusyawarah dulu dengan keluarga. Selain itu saya juga
ingin beristirahat agar bisa menguatkan diri untuk berfokus
pada pengobatan saya selanjutnya.”
“Silakan Ibu, tetapi kembali perlu saya ingatkan kepada
Bu Kayla kalau kita harus segera mengambil tindakan. Kita
berpacu dengan penyebaran kanker (metastase) Bu,” jawab
dokter kepada Kayla.
“Iya dok, terimakasih untuk supportnya. Saya akan segera
kembali setelah memberitahu kepada keluarga.”
“Baiklah Bu Kayla, kami tunggu. Ibu yang sabar dan ikhlas
ya. Allah tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan
hamba‐Nya,” ujar dokter kepada Kayla.
Kayla pun mengamini ucapan dokter seraya memohon
diri untuk kembali pulang ke rumahnya.
Setelah Kayla memberitahu tentang penyakitnya kepada
suami dan keluarganya, motivasi dan dukungan pun terus
diberikan keluarga kepada Kayla. Motivasi dan dukungan itu
telah memberinya arti dan kekuatan untuk terus berjuang
melawan kanker tiroidnya.
Pascatindakan operasi pengangkatan tiroidnya, Kayla
masih harus masih bolak‐balik ke rumah sakit untuk
melakukan tes darah, pemindaian tiroid secara berkala,
pemberian sinar radioaktif, dan terapi sulih hormon. Selain
itu, Kayla juga harus mengonsumsi obat seumur hidup untuk
mendapatkan sumber hormon tiroid lain. Ia pun kemudian
74 | Lailatus Saadah
memutuskan untuk resign dari perusahaan karena tidak enak
hati jika terlalu banyak ijin. Bahkan kemudian Kayla mengikuti
saran dari Hilman untuk pindah rumah dengan tinggal di
kampung bersama kedua orangtua Hilman dengan harapan
agar ada yang mengawasi segala kebutuhan Kayla dan Nita.
Untuk mengisi hari‐harinya di kampung, Kayla pun
menyibukkan diri dengan mengabdikan sebagai guru di SMP
swasta yang dekat dengan tempat tinggal orangtua Hilman di
kampung.
Meskipun secara rutin Kayla harus minum obat seumur
hidup dan dikombinasikan dengan radioterapi, tetapi semua
itu tidak menyurutkan semangat Kayla untuk beraktivitas.
Kayla sadar, ia tak mungkin bisa bebas sepenuhnya dari sel‐
sel kanker itu. Ia akan terus menjadi bagian dari hidupnya,
pengingat abadi yang tak pernah pergi. Kayla pun
memperlakuannya dengan baik dan tepat terhadap raga,
perasaan, pikiran, penjagaan makanan sehingga dengan
begitu dia berharap bisa membuat sel‐sel itu bersahabat
dengannya.
Dalam hatinya, Kayla selalu meyakini bahwa segala
tindakan dan keputusan harus diawali dengan niat dan akad.
Akad kepada Allah Ta’ala, Sang Pemilik rahasia takdir. Dia
yang menetapkan kurikulum kanker baginya, maka Kayla
senantiasa mengembalikan hanya kepada‐Nya juga. Kayla
pasrahkan dan serahkan bagaimana kurikulum itu harus
dijalaninya.
Rinai RIndu dari Surga | 75
76 | Lailatus Saadah
Menantu Idaman
M elalui hari‐hari untuk selalu bersahabat dengan
penyakit yang setiap saat bisa merenggut nyawa
seseorang tentu bukanlah hal mudah untuk bisa
dilalui setiap orang. Apalagi kondisi yang dihadapkan pada
kenyataan harus menjalani LDR bersama suami yang
mestinya dapat menjadi sandaran hidup, berkeluh kesah dan
mampu menjadi curahan hati setiap saat. Setiap waktu yang
tak dapat dirasakannya bersama Hilman membuat Kayla
semakin mengerti arti mandiri yang sesungguhnya.
Justru sebaliknya, Kayla sangat kuat menghadapi hari‐
harinya, bahkan terkesan baik‐baik saja seolah tak ada
keluhan yang dirasakannya. Setiap hari dia jalani aktivitas
dengan selalu optimis bersama anak‐anak didiknya. Senyum
lebar selalu ditebarkannya pada siapa saja yang ditemuinya.
Sungguh kepribadian Kayla sangat luar biasa. Sosok yang
selalu ceria, humoris, periang, dan cekatan masih selalu
melekat pada karakter Kayla. Tak sedikit pun ada yang
berubah meskipun dia divonis tiroid.
Keputusannya untuk kembali tinggal di kampung betul‐
betul digunakan Kayla untuk menjaga orangtua Hilman.
Seakan ingin menggantikan posisi suaminya untuk bisa
berbakti pada orangtua, Kayla pun banyak menghabiskan
waktu untuk merawat orangtua Hilman. Terlebih kondisi papa
Hilman yang terkena serangan stroke membuat mertuanya
lumpuh dan mengharuskannya duduk di kursi roda tentu
Rinai RIndu dari Surga | 77
membutukan perhatian dan kesabaran bagi mama Hilman
dan Kayla. Mereka berdua akan bergantian merawat papa
Hilman karena kondisinya yang tak bisa kemana‐mana tanpa
bantuan orang lain.
Meskipun sudah ada asisten rumah tangga yang ditugasi
untuk merawat papa Hilman, tetapi Kayla tak jarang untuk
ikut turun langsung membantu mengurus mertuanya yang
sakit dengan penuh kesabaran dan ketelatenan mulai dari
menyuapi makan mertuanya, membersihkan kotorannya,
melap badannya, menceboki pantat dan membersihkan
pipisnya. Semua itu dilakukan Kayla berdua bersama mama
mertuanya. Sungguh sebuah kesabaran dan pengorbanan
yang tiada batasnya bagi seorang Kayla.
Kayla betul‐betul menjadi menantu penolong yang
mampu menggantikan posisi Hilman untuk merawat dan
mengurus orangtua Hilman. Bahkan Kayla pun selalu
mengantarkan saat papa Hilman harus kontrol ke rumah
sakit, mengantarkan mama mertuanya untuk belanja bulanan
di swalayan, sampai pada perawatan mamanya di salon.
“Ka, nanti siang pulang ngajar jam berapa? Mama minta
tolong diantar ke salon ya. Udah lama nggak facial agak
kusem muka mama ini.”
“Ooh iya, siap Ma. Nanti aku pulang pukul 13.00 Ma.”
jawab Kayla.
Mendengar rencana eyang dan bundanya yang hendak
pergi ke salon, Nita pun ikut nimbrung.
“Bunda ma eyang mau ke salon?”
“Iya, Nita di rumah jagain eyang kakung ya?” pinta Kayla.
“Nggak mau, Nita mau ikut Bunda,” rengeknya.
78 | Lailatus Saadah
“Terus nanti yang jagain kakung siapa kalau kita pergi
semua?” tanya Kayla.
“Gak mau, Nita mau ikut Bunda,” jawab Nita sambil
merajuk.
“Iya nanti ikut, biar kakung dijaga Mbok Nah dan Mbak
Ti,” jawab mama.
Siang itu cuaca cukup cerah. Setelah bersiap, Kayla pun
mulai menstater mobilnya di garasi. Wajah mereka berseri‐
seri. Terlebih Nita, dia sangat senang sekali ikut bunda dan
mamanya pergi ke salon. Dalam perjalanan itu mama Hilman
memulai obrolan mereka.
“Kapan ayahmu pulang, Nit?”
“Nggak tahu, Yang,” jawab Nita dengan polos.
Sambil terus berkonsentrasi dengan setirnya, Kayla pun
menjawab pertanyaan mama mertuanya.
“Kalu minggu ini sepertinya belum bisa pulang Ma. Mas
Hilman sedang sibuk. Ada pembukaan kantor cabang baru di
Serang Banten. Emang kenapa Ma?”
“Orang kok sibuk terus. Mama kasihan sama kalian
berdua. Keluarga kok diabaikan terus. Pekerjaannya terus
yang dipikirkan. Apa nggak bisa prioritaskan keluarga ketika
libur?! Papanya sakit juga jarang‐jarang dijenguk,” gerutu
mama mertuanya.
“Nanti saya coba ingatkan Ma. Mas Hilman sibuk
sekarang juga untuk masa depan kami berdua,” Kayla
mencoba memberi pengertian kepada mama mertuanya.
Untuk mengalihkan pembicaraan mertuanya agar tak
terus menyalahkan Hilman, Kayla pun menawarkan mampir
ke mall dulu.
Rinai RIndu dari Surga | 79
“Ma, kita ke mall dulu yuk..! Ada diskon gedhe lho Ma!”
Emang dasar emak‐emak, asal dengar diskon lupa segala‐
galanya. Begitupun rasa dongkol di hati mama Hilman pun
hilang seketika saat mendapat tawaran dari menantunya.
“Boleh..boleh, kebetulan Mama mau beli sepatu warna
krem.”
“Cucu eyang mau beli apa?”
Nita yang duduk di depan, di samping bundanya hanya
terdiam tak berani menjawab, dia menoleh ke arah Bundanya.
“Kok lihat bunda? Ditanya eyang tuch,” ujar Kayla.
“Ye..ee....,” teriak Nita kegirangan.
“Saya mau boneka panda ya Eyang, buat nemenin Nita
tidur,” pinta Nita.
“Boleh, tapi ada syaratnya,” kata mama mertua Kayla
sambil menunjuk pipinya dan tersenyum sebagai isyarat agar
cucunya mau menciumnya.
Dengan gerakan sigap Nita pun segera mencium
eyangnya untuk memenuhi syarat yang ditentukan eyangnya.
“Mua...a...ach.”
“Saya nanti yang pilih bonekanya ya, Yang.”
“Iya, boleh.”
Setelah sampai di mall, mereka bertiga segera berburu
barang‐barang diskon yang didisplay di tiap stand. Mama
mertua Kayla tampak keberatan membawa barang‐barang
belanjaannya. Kayla pun segera mencarikan troli agar
mertuanya tak terlalu kerepotan membawa. Kayla sendiri tak
banyak belanja karena tujuan utama ke mall sebenarnya
hanya ingin membuat mama mertuanya bahagia. Sejenak bisa
membuat mertuanya melupakan kejenuhan dan kepenatan
80 | Lailatus Saadah
yang kadang menghampiri mama mertuanya karena setiap
hari harus merawat papa mertuanya yang sakit.
Belanjaan sudah lengkap, Nita pun juga sudah
mendapatkan boneka, mereka pun melanjutkan ke salon.
Beberapa saat melaju menuju jalan ke arah salon tiba‐tiba hp
Kayla berdering. Dilihatnya panggilan masuk dari suaminya.
“Assalamualaikum, Mas.”
“Waalaikum salam,” suara Hilman di seberang terdengar
nyaring karena Kayla sengaja meloudspeaker agar mudah
menjawabnya tanpa harus melepaskan tangannya dari setir.
“Sedang apa?” tanya Hilman
“E..ehmm, ini saya sedang di jalan dengan mama dan
Nita. Kebetulan kita mau ke salon, mama mau facial,” jawab
Kayla.
“O..ohh, kalau begitu hati‐hati ya, saya di rumah
menunggu kalian pulang.”
“Maksud Mas?”
“Iya Mas pulang, sengaja tak ngabari dulu biar surprise.
Ya sudah mas tutup dulu teleponnya ya. Hati‐hati di jalan.
Assalamualaikum.”
“Wassalamualaikum,” jawab Kayla.
Mama dan Nita juga agak bengong mendengar telepon
kalau Hilman pulang.
“Hilman pulang?” tanya mama Hilman.
“Iya Ma, katanya sih memang sengaja mau buat surprise,
Ma.”
“Alhamdulillah, panjang umur barusan diomongin,
ternyata dia pulang. Kalau begitu kita putar arah langsung
Rinai RIndu dari Surga | 81
pulang ke rumah saja. Acara nyalonnya kapan‐kapan lagi
masih bisa” pinta Mama Hilman
“Nggak apa‐apa Ma, Mas Hilman nunggu di rumah juga
nggak keberatan kok. Kalau pun butuh sesuatu, kan ada
mbok Nah dan Mbak Ti Ma.”
“Nggak ach, kita sebaiknya pulang saja”
“Baiklah Ma.”
Setelah enam puluh menit menempuh perjalanan mereka
pun tiba kembali di rumah. Tampak Hilman dengan sumringah
menyambut kedatangan mereka di depan pintu. Segera Nita
pun turun dari mobil, berlari menghampiri ayahnya.
“Hap...! Anak ayah dari mana?” tanya Hilman setelah
menangkap dan menggendong Nita.
“Beli boneka panda, Yah. Eyang juga belanja banyak.
Yah.”
“Oh iyakah, kalau Bunda?”
“Bundanya Nita tidak beli apa‐apa, katanya sedang tidak
butuh apapun. Ternyata cuma mau nyenengin mama saja di
mall tadi,” jawab mama Hilman sambil berjalan menghampiri
Hilman yang menggendong Nita.
Hilman pun segera mencium tangan mamanya.
Sementara Kayla selesai memarkirkan mobilnya, dia pun
segera menuju ke arah Hilman dan mamanya.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalaam,” jawab Hilman dan mamanya.
“Kenapa gak belanja?” tanya Hilman.
“Tidak apa‐apa, karena memang sedang tidak butuh
apapun. E..e.., maaf ya Mas, menunggu lama.”
82 | Lailatus Saadah
“Sudah bicaranya di dalam saja, sekarang kita masuk
dulu!” ajak mama Hilman.
Sesampainya di dalam, Mama menuju ke kamar. Begitu
pula dengan Kayla. Kemudian Hilman meminta ijin kepada
putrinya Nita untuk menemui bundanya di kamar.
“Nita sayang, main dulu sendiri sebentar ya, ayah mau
menemui bunda dulu.”
“Ya, Ayah.”
Hilman pun berjalan menuju ke kamar. Sesampainya di
kamar dia mendapati istrinya sedang merapikan pakaian
gantinya.
“Bun.”
“Eh, Ayah masuk kok gak salam. Kaget tahu!” tegur
Kayla.
“Maaf, Bun. Kenapa Bunda tidak belanja tadi?”
“Kok????” Rasa penasaran Kayla karena Hilman
mengulang pertanyaan yang sama.
“Ditanya kok malah bengong? Kayak baru pertama lihat
orang ganteng aja,” goda Hilman kepada Kayla.
“Subhanallah, emang ganteng sih suamiku,” mencoba
memuji Hilman.
“Nggak ada apa‐apa, Yah. Nanti kalau suatu saat butuh
aja belanjanya.”
“Yakin nggak kenapa‐napa?”
“Nggak Ayah...,” jawab Kayla
“Bunda. Maafin Ayah ya, sampai sekarang belum bisa
mendampingi Bunda 24 jam, tetapi ayah janji suatu saat
ketika cita‐cita ayah sudah tercapai ayah akan pulang
menemani Bunda dan Nita selalu.”
Rinai RIndu dari Surga | 83
“Bunda jadi banyak berkorban untuk orangtua ayah,
sedangkan Bunda sendiri juga dalam tahap pengobatan.”
“Tidak apa‐apa Yah, orangtuamu juga orangtuaku Yah.
Mungkin ini bisa menjadi jalan dan caraku untuk bisa berbakti
kepada orangtua.”
“Terimakasih Bunda, sudah semestinya saya banyak
bersyukur kepada Allah SWT karena Dia tidak hanya
memberiku seorang istri yang shalihah tapi juga mengirimkan
seorang bidadari surga yang sangat cantik dan baik hatinya.”
“Tuch kan, sudah mulai…,” ledek Kayla sambil mencubit
hidung Hilman.
Dan baru saja Hilman membalas cubitan itu dengan
mendekatkan hidungnya ke kening Kayla terdengar suara
ketukan pintu dari luar.
“Mbak Kayla, Mas Hilman ditunggu mama untuk ke ruang
makan,” suara Mbok Nah dari balik pintu.
“Iya Mbok, kami segera ke sana,” jawab Kayla.
84 | Lailatus Saadah
Saat Harus Memilih
P agi cerah mengawali hari yang indah saat mereka
berkumpul bersama dalam satu keluarga yang utuh
sesungguhnya, tanpa terpisah jarak dan waktu.
Kesempatan yang tidak selalu ada pada setiap harinya itupun
sangat dimanfaatkan Nita untuk selalu dekat dan bermanja
dengan ayahnya.
Semua anggota keluarga berkumpul di ruang makan
untuk bersiap sarapan pagi bersama. Namun, mendadak
Kayla merasakan mual yang sangat luar biasa hingga terasa
ingin muntah. Ia kemudian meninggalkan yang lain di meja
makan, berlari menuju ke kamar mandi. Karena khawatir
terjadi apa‐apa Hilman pun mengikuti istrinya.
“Bunda kenapa?” tanya Hilman sambil membantu
memijat bahu dan tengkuk istrinya. Hilman mencoba mencari
tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan istrinya. Karena dia
paham betul karakter istrinya yang tidak pernah mau
mengeluh dengan apapun yang dirasakannya.
“Tidak apa‐apa Yah, mungkin ini efek dari terapi
kemarin,” jawab Kayla.
“Bukannya terapi sudah hampir satu minggu lebih Bun?”
“Nggak tahu Yah, mungkin efeknya baru terasa
sekarang.”
Dengan suara agak menahan rasa mual, Kayla mencoba
menjawab pertanyaan Hilman.
Rinai RIndu dari Surga | 85
“Biasanya tidak sampai seperti ini kok Bun, sekarang kita
ke dokter ya Bun!” ajak Hilman kepada Kayla.
Mereka pun segera bergegas ke dokter terdekat untuk
mencari kebenaran tentang apa yang dirasakan Kayla.
“Selamat pagi Bapak/Ibu, ada yang bisa saya bantu?”
sapa dokter ketika mereka berada di ruang praktik dokter.
Hilman pun mencoba menjelaskan apa yang terjadi
dengan Kayla. Setelah mendengarkan penjelasan dari Hilman,
dokter pun memeriksa keadaan Kayla. Dokter kembali
menemui mereka untuk menjelaskan hasil pemeriksaannya.
“Selamat ya Pak, Bu. Ibu Kayla saat ini sedang hamil. Usia
kandungan ibu sudah berjalan kurang lebih 6 minggu.”
Mereka berdua hanya duduk terdiam mendengar
penjelasan dokter. Tak banyak bicara mereka pun kemudian
berpamitan dengan dokter.
Sampai di rumah mereka mulai berdiksusi mencoba
menghubungi dokter Alfiani yang biasa menangani penyakit
Kayla. Selama ini dokter Alfiani berpesan sebaiknya tidak
hamil dulu, selama program atau tahap penyembuhan
tiroidnya belum selesai.
Siang itu mereka langsung bertolak ke Semarang,
menemui dokter Alfiani. Setelah Hilman bercerita tentang
kondisi istrinya yang tengah hamil, doker Alfiani cukup kaget
juga. Kemudian dokter menjelaskan, “Sebetulnya saya tidak
melarang Bu Kayla untuk hamil. Namun...,”
Belum selesai, tiba‐tiba Kayla memotong penjelasan
dokter dengan sangat antusias. Dengan mata yang berbinar‐
binar seolah mendapat angin segar dalam perjalanannya di
gurun yang tandus.
86 | Lailatus Saadah
“Tidak apa‐apa kan, dok? Tidak akan berdampak dengan
janin saya kan dok?”
“Begini Pak, Bu. Saat bayi dalam kandungan, ia
mendapatkan hormon tiroid dari sang ibu. Jika hormon tiroid
yang diperoleh sedikit karena ibu mengalami hipotiroid,
metabolisme bayi juga akan ikut terpengaruh menjadi lambat
dan pertumbuhannya terganggu.”
“Maksud dokter?” tanya Hilman.
“Iya Pak, karena metabolisme tubuh yang melambat,
tumbuh kembang janin dapat terhambat sehingga berisiko
menimbulkan kecacatan.”
Rasa sedih dan shock sangat menyesakkan hati Kayla,
hingga derai air mata pun tak dapat ditahannya lagi. Ia
merasa sulit dan kebingungan setelah mendengarkan
informasi dari dokter Alfianti.
Tiba‐tiba dalam hati Kayla muncul semangat. Dia tidak
boleh sedih, tidak boleh menangis lagi dan dia berketetapan
untuk mematahkan pendapat dokter dengan semangatnya.
Sambil mengusap air mata yang menetes, Kayla berusaha
untuk bangkit dan meminta saran dokter.
“Selanjutnya apa yang harus saya lakukan, dok?”
“Sebaiknya Bu Kayla mengikuti tes skrining SHK. Jika
diketahui sejak dini, maka pengobatan dapat dilakukan
sebelum kerusakan terjadi. Hipotiroid pada bayi akan
berakibat lebih fatal karena pertumbuhan yang terganggu
dibandingkan jika terjadi pada orang dewasa.”
“Baiklah kami mohon waktu berbicara dengan keluarga
terlebih dahulu untuk mengambil sikap atau keputusan
Rinai RIndu dari Surga | 87
selanjutnya dokter,” ucap Hilman menutup pembicaraan
konsultasi mereka dengan dokter alfiani.
“Silakan Bapak,” ujar dokter Alfiani sambil menerima
jabat tangan dari Hilman dan Kayla sebagai ucapan terima
kasih saat mereka berpamitan.
Mereka berdua pun berjalan menuju ke parkiran, tak
sepatah katapun yang keluar dari Hilman dan Kayla. Mereka
saling diam seribu bahasa. Pemandangan yang tak biasa
terjadi di antara mereka. Kondisi itu pun tetap sama saat
mereka di mobil ketika perjalanan pulang. Hati Kayla merasa
galau, hati kecilnya mulai meraba‐raba tentang keputusan
apa yang akan dibuat Hilman dan jawaban apa yang akan
diberikannya nanti ketika Hilman menanyakan tentang
pendapatnya. Perang batin di hati Kayla terus berkecamuk.
Tanpa dia sadari matanya mulai berkaca‐kaca. Ia mencoba
menyembunyikan itu semua dari Hilman dengan mengambil
nafas panjang dalam‐dalam dan mengeluarkannya dalam
desahan yang sangat pelan. Hatinya berbisik, “Tenang…
tenang… tenang, semua akan baik‐baik saja.”
Begitu sampai di rumah mama Hilman langsung
tergopoh‐gopoh menghampiri mereka.
“Bagaimana Kayla? Kamu nggak kenapa‐napa kan, Nak?”
“Alhamdulillah Kayla baik‐baik saja Ma,” kata Kayla.
“Lalu apa kata dokter?”
“Kenapa Hilman murung? Ada apa, Nak?” tanya mama
Hilman.
“Begini Ma, dokter Alfiani intinya tadi mengatakan kalau
Kayla tetap hamil, itu beresiko bagi bayi yang dikandungnya,”
ucap Hilman.
88 | Lailatus Saadah
“Astagfirullah...., lalu dokter Alfiani menyarankan
bagaimana Nak?” tanya mama Hilman dengan wajah yang
penuh kecemasan meminta jawaban dengan pandangan
tertuju kepada Kayla.
“Tadi dokter menyarankan untuk tes skrining SHK Ma.
Dengan begitu nanti bisa diketahui sejak dini resikonya maka
pengobatan dapat dilakukan sebelum sesuatu yang akan
berakibat fatal pada pertumbuhan bayi Kayla terjadi Ma.”
“Tapi tetap saja beresiko Ma..!”
“Dan pasti semua itu butuh biaya besar, siapa yang akan
membayar nanti?!” ucap Hilman dengan nada sangat ketus.
Mendengar ucapan Hilman, seketika air mata Kayla tak
dapat dibendung lagi. Dia seakan tidak percaya dengan
ucapan suaminya yang sangat menyakitkan hatinya. Seakan‐
akan hendak menyalahkan Kayla, tanpa disadari kata‐kata
Hilman sangat melukai perasaan Kayla.
Dengan terisak‐isak mehahan derai sakit hatinya karena
perkataan Hilman, Kayla pun bertanya kepada suami.
“Maksud dari perkataanmu apa, Mas?”
“Hilman apa yang kamu katakan barusan?!” mama
Hilman mempertegas pertanyaan Kayla sembari menghampiri
Hilman dengan raut wajah yang penuh kemarahan.
“Saya hanya tidak mau jika nanti bayi itu lahir dengan
kondisi cacat Ma, saya tidak siap Ma, maka sebaiknya kita
gugurkan saja. Toh Kayla juga harus berfokus pada
pengobatan tiroidnya yang tidak boleh terputus. Kita sudah
keluar biaya banyak, masak sekarang mau diputus begitu saja
obat Propythiouracil (PTU)‐nya, semua akan sia‐sia Ma.”
Rinai RIndu dari Surga | 89
Mendengar penjelasan Hilman, tangis Kayla semakin
menjadi. Tak sanggup menjawab dengan kata‐kata Kayla,
hanya bisa terus menangis dan menangis menahan rasa perih
karena sayatan kata‐kata Hilman. Dia tidak pernah
menyangka kalau suaminya akan mengambil keputusan
sekerdil dan senaif itu.
Kayla pun berlari menuju ke kamar, hatinya terasa teriris‐
iris, tangisnya semakin tertumpah begitu ia benamkan
wajahnya di bantal kesayangan di atas tempat tidurnya.
Betapa pun dia tak ingin mengikuti kata‐kata suaminya. Dia
ingin tetap mempertahankan bayinya, sekali pun harus
mengorbankan dirinya sendiri.
Karena saran dari mamanya, Hilmanpun segera menyusul
Kayla ke kamar. Dia sadar kalau ucapannya telah membuat
istrinya terluka.
“Maafkan saya Bun, mungkin kata‐kataku tadi terlalu
kasar. Semua itu kulakukan demi kebaikan kita Bun. Sudah
ada Nita di antara kita. Lebih baik kita berfokus pada masa
depan Nita dan pengobatanmu Bun. Percayalah Bund tidak
ada maksud apapun kecuali karena saya mau Bunda baik‐baik
saja.”
“Tapi saya tidak ingin menggugurkan bayi ini, Mas,”
jawab Kayla, “dia tidak bersalah, dia punya hak untuk hidup
ke dunia, melihat orangtuanya, orang‐orang yang akan
menyayanginya.”
“Aku akan mengikuti saran dari dokter, apapun itu.”
“Aku rela jika harus berkorban untuknya. Bahkan nyawa
sekalipun Mas,” ucap Kayla dengan nada yang bergetar dan
90 | Lailatus Saadah