suara agak parau karena menahan tangis untuk terus
mencoba meyakinkan Hilman.
“Hidup adalah sebuah pilihan dan saat ini saya memilh
untuk tetap memperjuangkan bayi di dalam kandungan ini
agar tumbuh dan berkembang hingga tiba saatnya nanti anak
ini terlahir ke dunia.”
Mendengar keputusan Kayla, Hilman hanya terdiam. Tak
ada yang bisa dikompromikan lagi jika sebuah keputusan
sudah ditentukan. Dalam hati Hilman sebenarnya tidak bisa
menerima keputusan Kayla karena ia sangat khawatir akan
kemungkinan resiko terburuk. Namun, dengan kekuatan cinta
diantara mereka Hilman pun percaya semua akan terlewati
dan akan baik‐baik saja. Ia kemudian mendekati istrinya,
dipeluknya Kayla penuh kasih sayang, sambil membelai
kepala Kayla, ia bisikan ucapan maaf berkali‐kali pada istrinya
dan memohon agar istrinya tak lagi menangis. Bahkan
Hilmanpun memberi dorongan agar Kayla banyak berdoa dan
menyandarkan keluh kesahnya pada Allah semata.
Rinai RIndu dari Surga | 91
92 | Lailatus Saadah
Melewati Persalinan
Seorang Diri
S emakin hari, perut Kayla semakin membesar seiring
dengan pertumbuhan janin di kandungannya.
Keputusan untuk tetap mempertahankan calon
bayinya berimbas pada kesehatan Kayla. Rasa mual dan
pusing sering dialami Kayla, bahkan terkadang ia merasa
lelah atau lamban, sulit tidur, sulit berkonsentrasi, sering
buang air besar atau diare karena efek tidak meminum
obat Propythiouracil lagi.
Namun, lama‐kelamaan Kayla menjadi terbiasa dengan
segala keluhan yang dirasakannya. Kayla tidak lagi
menganggapnya sebagai siksaan, bahkan ia sangat
mensyukuri setiap deritanya sebagai anugerah akan hadirnya
sang buah hati. Pembawaan Kayla di sekolah tempatnya
bekerja pun seperti orang yang sehat pada umumnya, ia
selalu ceria. Celotehnya masih selalu di tunggu teman‐
temannya di ruang guru dengan memceritakan kisah‐kisah
absurd tentang siswa‐siswa di kelasnya, tetang apapun yang
dialaminya di rumah atau hal‐hal konyol lainnya. Bahkan
tawanya juga masih sangat renyah.
Namun, kondisi demikian tak berlaku pada Hilman. Justru
perubahan sikap Hilman semakin hari semakin sangat
dirasakan Kayla. Mungkin sebagai bentuk akumulasi
Rinai RIndu dari Surga | 93
kekecawaan atas keputusan Kayla atau karena faktor
pekerjaan.
Hilman selalu melewatkan hari liburnya di Jakarta dengan
alasan sibuk pekerjaan yang tak bisa ditinggalkan. Kayla
menghitung detik‐demi detik harinya menjelang kelahiran
calon bayinya tanpa ada perhatian dari Hilman. Dulu saat
menjelang kelahiran Nita, anak pertamanya, Hilman selalu
memanjakannya dengan ekstra.
Kayla juga merasa aneh, biasanya ia berani protes kepada
suaminya dengan gagah berani layaknya panglima yang siap
berperang jika tidak diperhatikan, tetapi kali ini nyalinya
menciut untuk sekedar menanyakan ada apakah gerangan
dengan perubahan sikap dingin suaminya.
Kayla duduk di ruang tengah sambil memilih baju bayi,
angannya terus menerawang bahwa tidak akan lama lagi
akan lahir anggota keluarga baru yang akan mengenakan
pakaian yang dipegangnya.
“Subhanallah..!”
Kayla tidak henti‐hentinya menyebut kebesaran Allah
sambil mengusap‐usap perut buncitnya. Sesekali terasa
tendangan‐tendangan nakal dari dalam perutnya. Kayla terus
mengusap perutnya sambil berusaha membangun
komunikasi dengan calon bayinya.
“Anakku jangan nakal ya Sayang. Ayah belum pulang.
Bunda bersama kakak saja di rumah, jangan nakal ya Sayang.”
Saking asyiknya Kayla dengan calon bayinya, tanpa
disadarinya mama mertua Kayla telah duduk di sampingnya.
“Eh Mama,” ujar Kayla sambil tersenyum kepada
mertuanya.
94 | Lailatus Saadah
Sang mama pun membalas senyuman Kayla.
“Hilman belum memberi kabar kapan pulang?” tanya
Mama
“Belum Ma, mungkin masih sibuk.”
“Sekarang kan sudah mendekati HPL bayinya, masak iya
tidak ada inisiatif untuk cuti menemanimu saat persalinan
nanti?”
“Mungkin sebentar lagi Ma.”
“Oh ya?”
“Iya Ma. Mama sabar saja mas Hilman pasti pulang” ujar
Kayla sambil memandangi mertuanya dengan riang.
Mamanya tersenyum dan mengusap perut Kayla.
“Sabar ya Nak. Sebentar lagi Insya Allah ayahmu pulang.”
“Amin. Amin ya rabbal ‘alamin,” Kayla mengamini.
Sebenarnya ada perasaan galau yang disembunyikan
Kayla saat ditanya tentang Hilman oleh mertuanya. Kayla
sebenarnya juga tidak tahu apakah Hilman akan pulang
menemaninya saat persalinannya nanti. Namun, sampai hari
menjelang kelahiran buah hatinya belum ada kejelasan, kapan
ia akan pulang.
“Ya sudah, mama masuk dulu ya. Jangan lupa kamu
segera makan selagi sayurnya masih hangat.”
“Iya Ma, sebentar lagi saya makan,” jawab Kayla dengan
penuh keceriaan.
Malam harinya selesai menyelesaikan shalat Isya, Kayla
merasa sangat berbeda dari biasanya. Perasaannya sangat
gelisah. Terlebih dia merasakan pengencangan perut yang
kadang datang dan pergi. Kayla melepaskan mukenanya dan
Rinai RIndu dari Surga | 95
melipatnya perlahan sebelum akhirnya bangkit dari
sajadahnya.
Sambil berjalan tergopoh‐gopoh, Kayla meninggalkan
kamarnya menuju kamar mama mertuanya. Kayla mengetuk
kamar dari kayu jati dengan cat warna coklat muda. Tak
berapa lama mertuanya pun muncul dari balik pintu.
“Ma, perut saya merasa mules dan beberapa kali
kontraksi.”
“Subhanallah, kamu akan melahirkan Nak. Kita segera ke
rumah sakit ya!” ajak mertuanya kepada Kayla.
Mobil keluarga dan supir pribadi segera membawa
mereka menuju ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan mama
mertua Kayla menuntun Kayla agar senantiasa melafalkan
doa‐doa dimudahkan dan dilancarkan saat persalinan.
Selang empat puluh menit kemudian mereka sudah
sampai di rumah sakit. Tenaga medis bersama dokter segera
melakukan tindakan untuk membantu proses persalinan
Kayla. Setelah melewati proses persalinan yang cukup
menegangkan, Kayla akhirnya melahirkan anak keduanya
secara normal.
Perasaan lega dan senang muncul dalam diri Kayla
termasuk mama mertuanya yang setia menemaninya di
rumah sakit.
“Selamat ya Bu, anak Ibu laki‐laki,” ujar seorang perawat
yang mendekati Kayla sesaat setelah jerit tangis nakal bayi itu
terdengar di ruang persalinan.
“Terima kasih ya Mbak,” jawab Kayla seraya menitikkan
air mata bahagia.
96 | Lailatus Saadah
“Mama sudah telepon Hilman?” tanya Kayla kepada
mertuanya yang dengan setia menemani duduk di
sampingnya.
“Belum bisa dihubungi, nomornya tidak aktif dari tadi.
Mama sudah tinggalkan SMS dan mengabarkan kalau kamu
ada di rumah sakit.”
“Semoga dia segera pulang ya, Ma.”
“Iya, yang sabar ya Nak. Kamu fokus saja dulu dengan
bayimu biar Mama nanti yang menghubunginya kembali.”
Keesokan harinya kabar yang diterima Kayla dari Mama
mertuanya sangat mengecewakan. Betapa tidak, Hilman
memberi kabar kalau saat ini dirinya sedang ada di Dubay
untuk urusan kantornya.
“Kenapa tiba‐tiba ya Ma ke Dubaynya?” tanya Kayla
kepada Mama mertuanya saat ia hendak berkemas dan
bersiap pulang ke rumah karena dokter telah mengijinkan
mereka pulang.
“Tidak tahu, tadi bicaranya di telepon sepertinya terburu‐
buru dan sinyalnya putus‐putus kurang jelas. Tapi mama
sudah memintanya segera pulang secepatnya,” ujar mama
mertua Kayla.
Pembicaraan mereka terhenti saat tiba‐tiba tangisan bayi
mungil itu merengek dengan kerasnya.
“Duh, sayang cup..cup..cup..,” Mama mertua Kayla
mencoba membopong dan menenangkan bayi mungil itu.
Namun, tangis itu bukannya berhenti, tetapi semakin keras
dan keras. Sepertinya bayi Kayla ikut merasakan kegalauan
dan kegundahan yang dirasakannya.
Rinai RIndu dari Surga | 97
“Mungkin bayimu lapar dan haus,” suara mama mertua
mengagetkan lamunan Kayla dan ia pun segera menoleh
untuk membopongnya dan menyusuinya.
“Mama ke kasir dulu membereskan administrasi agar kita
bisa segera pulang ke rumah.”
“Ya Ma,” jawab Kayla yang masih menyusui bayinya
sambil menimangnya penuh kasih.
98 | Lailatus Saadah
Kerinduan yang Terlunasi
K ayla membuka matanya dengan malas pada pagi hari
pertama kembali dari rumah sakit. Setelah berjibaku
melahirkan putra tercintanya, Naufal, seorang sendiri
di ruang bersalin. Ia kemudian meraih Hp di meja rias dekat
tempat tidurnya. Ia mengecek satu persatu pesan whatshapp
di hpnya, sambil mengecek kalau ada pesan dari Hilman.
Kayla kecewa karena tidak ada satu pesanpun, miscall,
atau SMS dari suaminya. Justru ia mendapatkan banyak sekali
pesan berupa ucapan dari teman‐temannya. Namun,
sepertinya ia tak terlihat gembira menerima itu semua, ia
hanya ingin suaminya. Kayla pun segera bergegas ke kamar
mandi untuk mengambil air wudu setelah menengok bayi
mungilnya yang masih terlelap.
Rasa penasaran menghampiri Kayla ketika berpapasan
dengan mama mertuanya di depan pintu kamarnya.
“Ma, sudah ada kabar dari Hilman?” tanya Kayla.
“Belum.”
Pupus sudah harapan Kayla ketika mendapati jawaban
singkat dari mama mertuanya. Ia pun mulai kehilangan mood‐
nya. Namun, bukan Kayla jika kemudian terpuruk dan
menangis. Ia kemudian sandarkan rasa rindu dan
kegaulauannya dalam sujud di sajadah panjangnya Subuh itu.
Ia tumpahkan segala harapan dan doanya pada Allah dan
meminta agar segera membawa Hilman kembali ke rumah.
Rinai RIndu dari Surga | 99
Baru beberapa lipatan saat ia merapikan mekena setelah
selesai menunaikan rukun shalat di Subuh itu, terdengar
suara klakson mobil dari gerbang depan rumah. Kayla segera
beranjak dari tempat duduknya dan segera meraih tirai kaca
di kamarnya dan melihat siapa gerangan yang datang sepagi
itu. Subhanallah, Kayla tak dapat menyembunyikan
kebahagiannya. Tak terkira secepat itu doanya didengar dan
dikabulkan Allah SWT. Mobil jazz metallic milik suaminya kini
sudah ada di luar rumah.
Kayla segera bergegas lari keluar untuk menyambut
kedatangan suaminya, disusul mama mertuanya yang juga
terkejut mendengar suara klakson dari luar.
Debar dan rasa gugup bergemuruh ketika mendapati
suaminya membuka pintu mobil. Kayla pun menampakkan
senyum manisnya ketika Hilman berdiri di luar mobil dan
berjalan mendekatinya.
“Assalamua’alaikum.”
“Waalaikumsalaam,” jawab Kayla.
Kayla meraih tangan Hilman untuk bersalaman dan
mencium tangan suaminya itu. Kemudian Hilman pun
membalas dengan mendaratkan ciuman ke kening istrinya.
“Maafkan ayah ya Bun,” kalimat yang kemudian yang
keluar dari Hilman saat mereka berjalan menuju arah mama
Hilman yang berdiri tepat di depan pintu utama.
“Maafkan Hilman ya Ma,” ujar Hilman saat menghampiri
mamanya sambil mencium tangan wanita setengah baya
yang masih kelihatan raut cantiknya di masa mudanya dulu.
100 | Lailatus Saadah
“Sudahlah, bicaranya nanti saja. Sekarang cepat kamu
ambil air wudu, ganti baju, baru kamu tengok jagoanmu,”
jawab mama Hilman.
Setelah menuntaskan shalat Subuhnya, Hilman pun
segera menuju ke kamar pribadi Kayla. Di sana ia melihat
Kayla duduk di tepi ranjang dengan menyusui bayi mungil di
pangkuannya. Kali ini, Hilman benar‐benar terharu, matanya
mulai berkaca‐kaca menatap bayi itu.
Sebenarnya Kayla hendak marah kepada suaminya itu,
tetapi urung ia lakukan. Kayla mengingatkan dirinya sendiri
untuk tidak mengeluarkan energi negatif saat dirinya
bersama bayinya. Ia memaksakan diri untuk tersenyum dan
kemudian meletakkan bayinya di pangkuan suaminya yang
kini sudah duduk di sampingnya.
“Kita akan memberinya nama Naufal, yang berarti
dermawan,” kata Kayla yang mencoba memecah keheningan
di antara mereka.
“Iya, kelak dia akan tumbuh menjadi seorang pemuda
yang tampan dan baik hati,” jawab Hilman yang secara tidak
langsung menyetujui pilihan nama untuk putranya.
“Maafkan Ayah sayang, untuk hari‐hari yang sudah
terlewati kemarin. Setelah ini ayah berjanji akan
menemanimu dalam tumbuh kembangmu selalu,” ujar
Hilman mencoba membangun komunikasi dengan bayi Naufal
yang kembali kini terlelap di pangkuannya.
“Maafkan saya ya Bun, tak pernah menjagamu di hari‐hari
kemarin.”
“Sudah Yah. Kami hanya ingin Ayah di sini, yang lain kami
tak inginkan apapun.” jawab Kayla sembari mengusap air
Rinai RIndu dari Surga | 101
mata yang hendak menetes dari kelopak matanya sembari
memohon penuh harap kepada suaminya.
“Sebentar saya buatkan teh hangat untuk Ayah,” ujar
Kayla yang kemudian berjalan meninggalkan mereka berdua.
Tak berapa lama, Kayla pun sudah kembali ke kamarnya
dengan membawa teh hangat di tangan kanannya sambil
menggandeng tangan Nita yang berjalan dengan setengah
sadar karena masih menahan kantuk akibat dibangunkan oleh
bundanya.
“Taraaaa! Surprise…!” tiba‐tiba suara Kayla mengejutkan
Nita yang masih berjalan dengan sempoyongan ketika sampai
di kamar bundanya. Seketika Nita mengucek‐ucek matanya
agar terbuka sempurna dengan wajah dan rambut yang
masih acak‐acakan.
“Ayah?”
Hilman tersenyum kepada Nita. Ia meraih tubuh gadis
kecilnya yang berlari ke arahnya dengan tangan kanannya
dan mencium pipi kanan dan kiri Nita. “Selamat pagi
cantikku!”
“Terimakasih Ayah. Ayah jangan pergi‐pergi lagi ya, Nita
dan adik Naufal rindu Ayah.”
Kayla terbawa suasana haru saat menyaksikan putrinya
melepas rindu dengan ayahnya. Ia pun segera mengambil
Naufal dari pangkuan Hilman untuk memberi kesempatan
pada Nita bermanja dengan ayahnya.
“Iya, sayang. Semoga setelah ini ayah akan bersama
kamu dan adik Naufal terus,” ucap Hilman sambil memeluk
dan mengecup pipi Nita.
102 | Lailatus Saadah
Hal itu kemudian memancing mama Hilman untuk ikut
nimbrung mendekati mereka.
“Hayo siapa yang belum shalat Subuh tapi sudah
bermanja dengan ayahnya?” tanya mama Hilman menggoda
Nita.
Nita berpikir sejenak, kemudian tersenyum.
“Saya Eyang..!” ujar Nita yang segera berlalu
meninggalkan mereka menuju ruang shalat.
Lagi‐lagi mereka tertawa melihat pengakuan Nita yang
polos. Mama Hilman senang sekali bisa mendengar tawa
Kayla dan Hilman lagi. Rasanya dunianya kembali setelah
beberapa waktu ini dirundung kegelisahan dalam
penantiannya. Begitupun Kayla, tubuhnya terasa segar dan
ringan, seakan‐akan terasa nyaman, beban pikirannya yang
berkecamuk seketika lenyap. Hatinya senang luar biasa.
Hilman adalah obat dari segala obat penyakit rindu yang
menggelayut bagi Kayla.
Mata mama Hilman menangkap sinyal kerinduan di
antara keduanya, maka ia pun meminta ijin kepada Kayla
untuk membawa bayi Naufal keluar jalan‐jalan di teras.
Kayla memberikan Naufal pada mama mertuanya dan
Hilman pun menghampirinya
“Kayla sayang, maafkan saya. Saya tahu kamu kecewa
padaku karena terlalu sibuk dengan pekerjaan dan
membiarkanmu melewati masa bersalin dengan bertaruh
nyawa seorang diri.”
Kayla hanya terdiam mendengarkan permintaan maaf
suaminya.
“Saya berjanji, begitu ada kesempatan secepatnya saya
akan mengajukan pindah di kantor cabang Semarang atau
Rinai RIndu dari Surga | 103
Solo untuk membayar hari‐hari yang terlewati kemarin. Saya
tidak mau lagi melewati setiap even keluarga kecil kita
sendiri. Saya tidak akan pernah melewati hari ulang tahun
kalian dengan meninggalkan kalian lagi.”
Kayla masih terdiam. Hatinya tersentuh, tetapi ia
berusaha menggunakan logikanya agar tidak kembali larut
pada kesedihannya kemarin.
“Kayla, kamu baik‐baik saja kan?” suara Hilman
menyadarkan Kayla.
“Bicaralah atau marahlah, luapkan rasa kekecewaanmu
padaku sayang!”
“Ya, saya baik‐baik saja, Hanya saya masih belum percaya
dengan apa yang terjadi pagi ini,” jawab Kayla sambil
menghapus butiran air mata yang membasahi pipinya,
menahan isak tangisnya agar tidak diketahui Hilman.
Kayla memaksakan diri untuk tersenyum. Ia pun
melanjutkan ucapannya dan memeluk erat suami, laki‐laki
yang dirindukannya selama ini. Pandangan mereka pun
kemudian saling beradu.
“Saya senang dengan rencanamu, semoga Allah akan
menyegerakan niat baik ini dan saya yakin bahwa kelak anak‐
anak akan tumbuh menjadi orang hebat dalam buaian kasih
sayang kita berdua.”
Kayla kembali terharu, matanya masih berkaca‐kaca.
Hilman kemudian memeluk Kayla lebih erat lagi untuk
melunasi rasa rindunya dan meyakinkan istrinya akan
rencana kepindahannya sambil berbisik, “Kayla, engkau
wanita hebatku. Terimakasih telah memilihku, I love You.”
104 | Lailatus Saadah
Melepas Kepergian Kayla
“Yah, sore nanti jadi temani saya dan Naufal kontrol
ke rumah sakit kan?” tanya Kayla kepada Hilman
saat mendapati suaminya di teras sedang
membaca koran dan menikmati teh hangat buatan Mbok
Nah.
“Oh iya, tentu,” ujar Hilman sembari menoleh ke arah
Kayla sejenak.
“Saya masih punya ijin cuti sampai besok lusa, Bun,”
ungkap Hilman dengan penuh semangat meyakinkan istrinya.
Kayla tersenyum dan saat hendak berjalan masuk ke
rumah tiba‐tiba Hilman menarik tangan Kayla dan
memintanya untuk duduk di sampingnya. Dengan terheran‐
heran Kayla mengikuti saja keinginan Hilman yang sepertinya
hendak membicarakan sesuatu yang serius.
“Bagaimana dengan pengobatan tiroid Bunda? Pikirkan
Bunda juga, Bunda harus segera kontrol ke dokter Alfianti?”
ujar Hilman kepada istrinya dengan nada yang pelan penuh
harap pada Kayla.
“Tapi....., bukankah saya harus menyusui Naufal, Ayah?
PTU...Propanolol yang harus saya konsumsi tentu tidak baik
bagi Noufal,”
rengek Kayla kepada Hilman.
“Nanti kita konsultasikan dengan dokter Bun. Bagaimana
jika Naufal diberi susu formula.”
Rinai RIndu dari Surga | 105
“Bunda harus mengonsumsi obat lagi secara teratur,
agar Bunda segera sembuh,” ujar Hilman meyakinkan Kayla.
Kayla terkejut mendengar perkataan suaminya. Ia
kemudian menatap Hilman. Sorot matanya seolah hendak
protes tapi setelah saling adu menatap dan Hilman pun
mengangguk meyakinkan Kayla, akhirnya Kayla pun berusaha
mengerti dan memahami permintaan suaminya.
Percakapan mereka yang terjeda oleh keheningan
diantara keduanya tiba‐tiba dikagetkan dengan dering suara
telepon masuk di hp Hilman.
“Assalamualaikum...,”
“Ya, saya masih di kampung, cuti saya sampai lusa,”
ungkap Hilman kepada penerima di seberang.
“Bagaimana? Segera ? Siang ini?”
“Ya..ya..,Ok. Baiklah saya mengerti.”
“Wassalamualaikum wr.wr,” Hilman mengakhiri
pembicaraannya dengan lawan bicaranya di telepon.
“E..e..hmm.., Bunda, baru saja kantor menelepon. Saya
harus segera kembali ke Jakarta karena kantor pusat akan
ada meeting penting dengan perusahaan rekanan dari
Jepang, tetapi nanti kalau urusan dari perusahaan rekanan
selesai ayah diijinkan untuk memperpanjang cuti ayah
kembali,” ujar Hilman.
Wajah Kayla berubah sendu, matanya memerah, dan
berkaca‐kaca. Meskipun tanpa jawaban, Hilman bisa
merasakan kesedihan di hati istrinya.
“Bukankah Ayah berjanji untuk menemaniku dan Noufal
kontrol ke dokter sore ini?” Ayah kan bisa mengajukan ijin
untuk pulang besok pagi dengan penerbangan pertama dari
106 | Lailatus Saadah
Semarang?” suara Kayla terdengar parau dan pelan‐pelan
mulai menangis sesenggukan.
Hilman bingung, bagaimana dia harus mengatakan
bahwa kantor sudah membelikan tiket pesawat siang ini juga.
Rasa bersalah kembali menghampiri Hilman, tapi apa daya
adanya telepon dari kantor di luar prediksinya. Sebuah
telepon yang akhirnya ia harus mengingkari janjinya sendiri
untuk menemani istri dan anaknya ke rumah sakit setelah
sebelumnya Kayla menjalani proses persalinannya sendiri.
Hilman mencoba menenangkan Kayla, meskipun hatinya
juga sebenarnya hancur. “Maafkan saya Bunda, saya harus
berangkat siang ini juga. Semua ini harus ayah lakukan demi
memenuhi janji ayah kepada Bunda untuk membelikan rumah
idaman keinginan Bunda.”
Kayla masih terus menagis, maka Hilman pun semakin
mendekat dan meyakinkan pada istrinya jika kepergiannya
kali ini juga dalam rangka mengurus kepindahannya di
Semarang.
Tangis Kayla mulai mereda. Ia mulai menguatkan hatinya
untuk tersenyum. Dia sangat yakin dengan ucapan suaminya.
Meskipun senyum itu terasa berat, tetapi Kayla optimis
dengan rencana suaminya.
“Pukul berapa penerbangannya?” tanya Kayla
“Pukul 14.00,” jawab Hilman.
“Saya akan menyiapkan dan mengemasi koper ayah
sekarang,” ujar Kayla sambil mengusap air mata yang hendak
jatuh dari kelopak mata indahnya.
Rinai RIndu dari Surga | 107
“Bunda tidak apa‐apa kan, kalau nanti sore ke rumah
sakit sendiri? Yang sabar ya Sayang?” ucap Hilman dengan
senyum, kemudian mencium kening Kayla.
Tak terdengar sepatah katapun dari Kayla dan ia hanya
mengangguk mendengar ucapan suaminya sambil berlalu
menuju ke dalam rumah.
Jam di dinding terasa cepat sekali perputaran waktunya
hari itu. Tepat pukul 12.00 WIB Hilman berpamitan kepada
Kayla dan mamanya, serta putrinya Nita.
“Ma, saya berangkat dulu ya.”
“Saya nitip Kayla dan anak‐anak ya, Ma. Nanti secepatnya
saya akan kembali setelah urusan meeting selesai,” kata
Hilman kepada mamanya.
“Iya, jaga diri baik‐baik ya Nak. Mama akan menjaga Kayla
dan anak‐anak,” jawab mama Hilman.
“Nita Sayang, jagain adik Naufal dan bunda ya…,” kata
Hilman kepada putrinya saat hendak melepas kepergian
ayahnya kembali ke Jakarta.
“Iya Ayah. Ayah cepat pulang ya!” pinta Nita gadis kecil
yang sangat pintar dan mengagumkan itu.
“Bunda, ayah pergi dulu ya. Saya pergi tak kan lama. Saya
akan segera kembali dan membawa kabar tentang rencana
kepindahan di kantor cabang,” ujar Hilman kepada Kayla.
“Apakah Ayah akan selalu menghubungiku?”
“Pasti, Kayla. Pasti saya akan sesering mungkin
menghubungimu. Lewat video call, WA, SMS”
Sopir pribadi yang akan mengantarkan Hilman ke
bandara memberi laporan kalau semua barang sudah masuk
108 | Lailatus Saadah
di bagasi. Hilman yang sebenarnya masih berat, akhirnya
harus benar meninggalkan Kayla.
“Hati‐hati nanti sore kontrol ke rumah sakitnya.”
“Sesegera mungkin buat agenda untuk konsultasi
dengan dr. Alfianti untuk kesembuhanmu,” pesan Hilman
sebelum akhirnya meninggalkan mereka di teras depan
rumah.
“Iya, saya akan mengikuti pesanmu, Sayang,” jawab
Kayla.
Hingga tak berapa lama mobil yang membawa Hilman
hilang dari pandangan mereka.
Saat sore tiba, Kayla pun bersiap menuju rumah sakit.
Dengan dibantu Mbok Nah, dia menyiapkan Naufal dan
barang perlengkapan bayi yang harus dibawanya. Baru
setengah dari persiapan, tiba‐tiba terdengar pintu kamar
diketuk dari luar.
“Kay.., maafkan mama ya Sayang. Sepertinya Mama tidak
bisa menemani kalian ke rumah sakit.”
“Papa kamu tiba‐tiba demam. Sudah mama beri obat tapi
mama tidak tega meninggalkannya di rumah sendiri,” ujar
mama mertua Kayla.
“Tidak apa‐apa Ma, Kayla pergi dengan Mbok Nah saja
tidak apa‐apa,” jawab Kayla.
“Baiklah kalau begitu. Nanti Mbok Nah temani Kayla ke
rumah sakit ya, mama akan cek dulu ke depan agar Pak Yanto
segera menyiapkan mobilnya,” ujar mama mertua Kayla
Tak berapa lama mereka pun sudah siap menuju ke
rumah sakit. Mbok Nah menemani Kayla duduk di bangku
belakang dengan menggendong Naufal. Kondisi jalanan
Rinai RIndu dari Surga | 109
sangat lengang waktu, sehingga perjalanan mereka sangat
lancar.
Saat hendak melewati SPBU, Kayla mengingatkan Pak
Yanto agar mengisi bahan bakar terlebih dahulu.
Sesampainya di SPBU, Pak Yanto segera membukakan tangki
mobil setelah menyampaikan jumlah bahan bakar yang akan
diisi kepada pegawai SPBU.
Tiba‐tiba Kayla merasa hendak buang air ke toilet. Setelah
berpesan untuk menjaga Naufal, Kayla pun berjalan menuju
toilet yang tidak jauh dari tempat mobil mereka mengisi
bahan bakar.
Entah ada pemikiran apa, usai dari toilet Kayla berjalan ke
arah mobil, kemudian membuka pintu dan mengambil posisi
duduk di depan tepat di samping Pak Yanto.
“Mbok Nah, saya duduk di depan ya?” ucapan Kayla
kepada Mbok Nah sambil menoleh ke arah mbok Nah dan
Naufal sambil kemudian mengambil posisi bersandar di kursi.
“Kenapa pindah depan Bu?” tanya sang sopir.
“Sambil mencarikan oleh‐oleh yang tepat untuk Nita, Pak.
Nanti kalau ada yang sepertinya disukai Nita, kita minggir
dulu ya Pak!” perintah Kayla.
“Baiklah Bu!” Pak Yanto segera melanjutkan mobilnya
meninggalkan halaman SPBU menuju rumah sakit.
Saat sampai di perempatan lampu merah, dalam kondisi
lampu warna kuning tiba‐tiba dari belakang, tepat di sebelah
mobil Kayla muncul bis antarkota yang oleng karena mungkin
terlalu banyak penumpang dan kemungkinan lagi rem blong.
Bis akhirnya membanting ke kanan dengan sangat keras dan
menghantam mobil Kayla. Akibat kecelakaan dan hantaman
110 | Lailatus Saadah
yang cukup keras tadi mengakibatkan mobil yang dinaiki
Kayla ringsek parah.
Dengan hati hancur, Hilman memberitahukan apa yang
selanjutnya terjadi dengan Kayla dalam kecelakaan maut sore
itu.
“Dalam hitungan kurang dari sepuluh menit, masyarakat
dan petugas kepolisian yang ada di TKP berusaha
mengevakuasi Kayla dan yang lainnya dari mobil itu.”
“Syukur alhamdulillah Noufal, Mbok Nah dan Pak Yanto
hanya mengalami luka yang tidak serius dan segera dilarikan
ke rumah sakit. Namun, Kayla…?”
Suara Hilman lambat laut semakin pelan, wajahnya
berubah sedih. Hilman segera menyeka matanya yang mulai
memanas dengan punggung tangannya. Ia tidak ingin bulir air
matanya membasahi pipi. Tentu saja ia tidak ingin menangis
di depan Aiza.
“Allah berkehendak lain, jiwa Kayla tidak tertolong, ia
meninggal di tempat kejadian karena mengalami luka yang
cukup serius di bagian kepala.”
Mata Hilman melirik ke arah Aiza. Wajahnya sangat sedih.
Ia hanya ingin menangis di hadapan Rabb‐Nya saja. Tangis
kerinduan. Bukan karena ia tak merelakan kepergian Kayla,
tetapi karena ia sangat mencintai Kayla dan belum bisa
memenuhi janjinya pada Kayla.
“Kini tidak ada lagi Kayla di antara kami Iz,” ujar Hilman
kepada Aiza.
“Inalillahiwainnaillaihirojiun, yang sabar ya. Saya turut
prihatin mendengar kabar duka Kayla. Semoga almarhumah
khusnul khotimah, diampuni segala dosa dan diterima segala
Rinai RIndu dari Surga | 111
amal baiknya sewaktu di dunia. Kamu yang sabar ya, saat ini
kamu berperan sebagai ayah juga ibu buat Nita dan Naufal,”
ujar Aiza kepada Hilman.
“Amin.., amin ya robbal alamin. Terimakasih Aiza, untuk
supportnya. Dalam diri dan hati saya sudah berjanji insya Allah
saya tidak akan menyia‐nyiakan lagi mereka. Setelah sekian
lama saya terlalu sibuk dengan setumpuk pekerjaan, dan
untuk setiap tetes air mata dan kerinduan Kayla yang pernah
tertumpah, saya akan menebusnya dengan senantiasa hadir
dan bersama buah hati kami, Nita dan Naufal,” ucap Hilman
dengan mata yang kembali memerah.
Percakapan Hilman dan Aiza harus segera disudahi,
setelah Aiza berpamitan begitu mendapati telepon dari
keluarganya untuk membantu pamannya yang akan dipindah
ke ruang perawatan. Hanya dalam sekejab Aiza pun hilang di
antara kerumunan pengunjung rumah sakit yang lain.
Pandangan Hilman tertuju pada dua malaikat kecilnya
yang masih asyik menikmati ikan‐ikan di air kolam. Tiba‐tiba ia
merasakan kehadiran Kayla dalam lirik lagu “Kemarin” dari
Seventeen yang sayup‐sayup terdengar di telinga Hilman,
yang semakin lama semakin jelas. Disertai dengan hembusan
sang angin yang ikut menyanyikan bait‐bait kerinduan.
Kemarin engkau masih ada di sini
Bersamaku menikmati rasa ini
Berharap semua takkan pernah berakhir
Bersamamu
Bersamamu
112 | Lailatus Saadah
Kemarin dunia terlihat sangat indah
Dan denganmu merasakan ini semua
Melewati hitam‐putih hidup ini
Bersamamu
Bersamamu
Kini sendiri di sini
Mencarimu tak tahu di mana
Semoga tenang kau di sana
Selamanya
Aku selalu mengingatmu
Doakanmu setiap malamku
Semoga tenang…
Kemarin engkau masih ada di sini
Bersamaku menikmati rasa ini
Berharap semua takkan pernah berakhir
Bersamamu
Bersamamu
Kemarin dunia terlihat sangat indah
Dan denganmu merasakan ini semua
Melewati hitam‐putih hidup ini
Bersamamu
Bersamamu
Kini sendiri di sini
Mencarimu tak tahu di mana
Semoga tenang kau di sana
Selamanya
Aku selalu mengingatmu
Doakanmu setiap malamku
Semoga tenang…
Rinai RIndu dari Surga | 113
Profil penulis
Lailatus Saadah, S.Pd., lahir di
Grobogan, 5 Oktober 1982.
Riwayat pendidikan penulis
yaitu lulusan dari Jurusan P.IPS,
Prodi PPKn FKIP Universitas
Sebelas Maret Surakarta (2000‐
2004), SMK Negeri 1 Purwodadi
(1997‐2000), SMP Negeri 2 Gubug
(1994‐1997), SD Negeri 1 Saban Kec.
Gubug (1988‐1994).
Riwayat pekerjaan penulis adalah staff editor Mapel
PPKn PT Pabelan Cerdas Nusantara Surakarta (2004), guru
mapel PPKn di SMP Negeri 3 Karangrayung Kabupaten
Grobogan (2005 – sekarang), guru Pengajar tingkat SD di
Lembaga Bimbingan Primagama Gubug‐ Grobogan (2008 –
2010).
Prestasi yang dicapai penulis adalah IN Program
Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar Mapel PPKn SMP
Kabupaten Grobogan(2016), IN Program Pengembangan
Keporofesian Berkelanjutan Mapel PPKn SMP Kabupaten
Grobogan (2017).
Ibu dari Adiella Fayza Zahrany ini juga aktif diberbagai
organisasi, diantaranya sebagai Ketua Tim Penggerak PKK
Desa Winong (2012 –2017), Ketua PGRI Ranting SMP Negeri 3
Karangrayung (2016 – sekarang), Ka Gudep Gerakan Pramuka
114 | Lailatus Saadah
14.30 SMP Negeri 3 Karangrayung (2005 – sekarang) dan
Pengurus Kwaran 11 15 Karangrayung Urusan Bina Muda
Penggalang putri (2012 – Sekarang)
Untuk menghubungi penulis bisa melalui e‐mail:
[email protected] dan WA 081390004328.
Judul : Rinai Rindu dari Surga
Penulis : Lailatus Saadah, S.Pd.
Instansi : SMP Negeri 3 Karangrayung Kabupaten
Grobogan
Editor : Henny
Rinai RIndu dari Surga | 115
116 | Lailatus Saadah