The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Admin Fai, 2021-03-10 02:43:55

E Book Ulumul Hadits

Buku Reprensi

Keywords: Ulumul Hadits,Kajian Agama

KAJIAN
ULUMUL-HADITS

'ULUMUL-HADITs

Buku Reprensi Mahasiswa S1

Fakultas Agama Islam
Universitas Islam As-Syafi’iyah

Jakarta
0

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

Drs. Dahrun Sadjadi, MA



KAJIAN
‘ULUMUL-HADITs



Untuk Mahasiswa S1



Fakultas Agama Islam
Universitas Islam As-Syafi’iyah

Jakarta

1

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

MUTIARA SABDA



‫قال النﱯ صﲆ ﷲ ليه وس ّﲅ‬
!‫الهم ارﰘ لف ٓﰃ‬

‫قلنا ومن لف ٓؤك ؟ قال ا ن ي ٔتون من بعدى‬
...‫روون ٔ اديﱺ ويعلموﳖا الناس‬



Nabi s.a.s. bersabda:
Ya Allah, rahmatilah para khalifahku!

Kami (para sahabat) bertanya:
Siapakah para kahlifahmu?
Nabi s.a.s. bersabda:

Ialah orang-orang yang hadir sesudahku,
meriwayatkan hadis-hadisku

dan mengajarkannya kepada manusia.

(HR al-Thabarani dalam Al-Ausath).

2

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

KATA PENGANTAR

‫ِب ْس ِم ﱠ ِ ال ﱠر ْح َم ِن ال ﱠر ِحي ِم‬

Puja dan puji adalah milik Allah, Pencipta dan pengatur seluruh makhluq-Nya.
Rahmat, salam dan barakah-Nya semoga senantiasa dicurahkan kepada hamba-Nya dan
utusan-Nya Muhammad SAW beserta seluruh keluarganya dan shahabatnya, serta
seluruh pengikutnya yang setia melaksanakan ajaran dan sunnahnya, termasuk semua
orang yang mempelajari al-Hadits dan 'Ulum al-Hadits sebagai dasar dan bekal
keilmuannya dalam Islam.

Mumkin sebagian mahasiswa, yang belum memahami dengan baik sejarah
penghimpunan Hadits Nabi, berbagai istilah dan qa'idah yang dikenal dalam Ilmu
Hadits, serta metode penelitian kualitas Hadits, merasakan bahwa Hadits Nabi dan Ilmu
Hadits termasuk pengetahuan yang sulit. Ini adalah suatu tantangan serius bagi generasi
Islam ke depan. Karena, menganggap sulit dalam upaya memahami pengetahuan Hadits
dan ilmu Hadits tersebut dapat menjadikan seorang pelajar Islam bersikap "enggan" dan
bahkan menjauhi Hadits Nabi. Sikap demikian sangat berbahaya, karena dapat
membawa seseorang meninggalkan atau mengingkari Hadits Nabi, baik secara nyata
maupun tersembunyi, padahal Hadits Nabi merupakan sumber ajaran Islam di samping
al-Qur'an.

Di antara faktor kesulitan tersebut adalah karena Hadits Nabi tidak termuat dalam
satu kitab, melainkan dalam banyak kitab yang beragam, baik penghimpunnya, cara
penghimpunannya, masalah yang dibahasnya, maupun bobot kualitasnya. Jadi kitab
himpunan Hadits Nabi berbeda dengan kitab himpunan ayat-ayat Al-Qur'an. Kitab yang
menghimpun seluruh ayat Al-Qur'an yang dikenal dengan Mushhaf Al-Qur'an hanya
satu macam saja. Dengan demikian, seseorang yang ingin membaca seluruh teks ayat
Al-Qur'an tidak mengalami kesulitan, karena seluruh teks ayat Al-Qur'an tersebut telah
terhimpun seluruhnya dalam sebuah kitab. Berbeda halnya dengan Hadits Nabi, untuk
membaca seluruh teksnya, seseorang memerlukan lebih dari satu kitab Hadits. Wallahu
a’lam bi al-shawab.

Jakarta, 22 Jumad al-Akhir 1435H/24 Maret 2014M

Penyusun,

Drs. Dahrun Sajadi, MA

3

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

ISI BUKU

Halaman

JUDUL : KAJIAN ‘ULUMUL-HADITs 1
MUTIARA SABDA 2
KATA PENGANTAR 3
DAFTAR ISI 4
MUQADDIMAH 6
BAB I, TERMINOLOGI HADITs 10
BAB II, ILMU HADITs RIWAYAH 14
14
A. Periwayatan Hadits 14
1. Pengertian Periwayatan 15
2. Pengertian Hadits 16
3. Permulaan Hadits 17
4. Cara Nabi Menyampaikan/Shahabat Menerima Hadits 21
22
B. Sejarah Periwayatan Hadits 25
1. Periwayatan Hadits di Masa Nabi SAW
2. Periwayatan Hadits pada Zaman Shahabat Nabi 26
a. Abu Bakar al-Shiddiq 27
b. 'Umar bin al-Khaththab 29
c. 'Usman bin 'Affan 30
d. ‘Aliy bin Abiy Thalib 31
e. Para Shahabat Nabi Selain al-Khulafa' al-Rasyldin 33
3. Periwayatan Hadits Sesudah Generasi Shahabat 36
36
C. Bentuk Susunan Hadits Nabi dalam Periwayatan 47
1. Rangkaian Nama Rawi dan Tata-Cara Periwayatan
2. Redaksi Matn Hadits yang Diriwayatkan

BAB III. ILMU HADITS DIRAYAH 62 52
52
A. Urgensi Penelitian Sanad Hadits 52
1. Hadits Sebagai Sumber Pokok Ajaran Islam Bersama al-Qur'an
2. Tidak Seluruh Hadits Tertulis di Zaman Nabi SAW 65
3. Munculnya Pemalsuan Hadits 70
75
4. Proses Penghimpunan (Tadwin) Hadits 75
80
B. Keshahihan Sanad Hadits 80
81
1. Qa'idah Mayor Keshahihan Sanad Hadits 84
87
2. Qa'idah Minor Keshahihan Sanad Hadits 92

a. Sanad Bersambung

b. Rawi Bersifat Adil
c. Rawi Bersifat Dhabith
d. Terhindar dari Kejanggalan (Syadz, Syudzudz)

e. Terhindar dari Cacat (‘Illat)

4

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

3. Argumen-ArgumenQa'idah Keshahihan Hadit 95
a. Sanad Bersambung 95
b. Rawi Bersifat Adil 96
c. Rawi Bersifat Dhabith 105
d. Terhindar dari Kejanggalan (Sayadz, Syudzudz) 106
e. Terhindar dari Cacat ('Illat) 107
107
4. Hadits-Hadits Yang Tidak Memenuhi Qa'idah Keshahihan 114
B. Kualitas Rawi dan Persambungan Sanad 115
115
1. Kualitas Rawi dalam Sanad 118
a. Rawi yang Berstatus Saksi Primer 123
b. Rawi yang Berstatus Bukan Saksi Primer 123
127
2. Kualitas Persambungan Sanad 131
a. Hubungan Para Rawi yang Terdekat 138
b. Kata-kata yang Menghubungkan Nama-nama Periwayat 153-155

BAB IV, RINGKASAN
DAFTAR KEPUSTAKAAN
BIODATA PENYUSUN

֍֍֍

5

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

MUQADDIMAH

‫بِ ْس ِم ﱠ ِ ال ﱠر ْح َم ِن ال ﱠر ِحي ِم‬

Mengapa seluruh teks Hadits Nabi termuat dalam banyak kitab, sedangkan seluruh teks
ayat al-Qur'an termuat cukup dalam satu kitab? Di antara faktor penting yang menyebabkan
terjadinya banyak perbedaan itu terletak pada sejarah pencatatan dan penghimpunan kedua
sumber ajaran Islam tersebut.

1. Seluruh ayat Al-Qur'an telah dicatat oleh para Shahabat Nabi di masa hidup Nabi
SAW.Setiap wahyu Al-Qur'an yang baru diterima oleh Nabi, segera disampaikan kepada
para Shahabat. Para Shahabat mencatatnya di hadapan Nabi SAW.Di antara para
Shahabat ada yang ditunjuk secara resmi oleh Nabi sebagai pencatat wahyu Al-Qur'an,
ada pula yang mencatatnya atas inisiatif mereka sendiri.

2. Wahyu Al-Qur'an tersebut selain dicatat juga dihafal oleh para Shahabat. Secara berkala,
Nabi memeriksa hafalan para Shahabat itu. Dengan demikian pada zaman Nabi, kegiatan
pencatatan dan penghafalan wahyu Allah berupa ayat-ayat Al-Qur'an berjalan seiring dan
dalam pengawasan langsung Nabi Muhammad SAW.

3. Catatan seluruh ayat Al-Qur'an itu dihimpun dalam satu himpunan, pada zaman Khalifah
Abu Bakar, r.'a. (w.13 H =634M), oleh sebuah tim yang diangkat oleh khalifah, yang
diketuai oleh Zaid ibn Sabit (w.45H/665M). Kegiatan penghimpunan catatan ayat Al-
Qur'an tersebut dilakukan dengan sangat teliti. Ketelitian itu dapat dicapai, karena
seluruh catatan yang dibuat oleh para penulis wahyu di hadapan Nabi masih utuh, dan
para Shahabat yang hafal seluruh ayat Al-Qur'an banyak jumlahnya.

4. Himpunan catatan ayat Al-Qur'an itu digandakan pada zaman Khalifah 'Utsman ibn
'Affan (wafat 35H/656M), oleh sebuah tim yang diangkat oleh khalifah: Tim itu tetap
diketuai oleh Zaid ibn Sabit. Hasil gandaan himpunan ayat-ayat Al-Qur'an tersebut
dikenal dengan nama Mushhaf al-Imam dan dikirim ke berbagai daerah Islam sebagai
pedoman bagi umat Islam. Mushhaf al-Imam yang dikenal juga dengan sebutan Mushhaf
'Utsmaniy itu selanjutnya dijadikan pedoman dalam penulisan Mushhaf Al-Qur'an
berikutnya.

5. Penggandaan Mushhaf Al-Qur'an selanjutnya banyak dilakukan dengan bantuan mesin
cetak setelah diproduksi mesin cetak huruf Arab. Sementara itu, dari zaman ke zaman,
orang-orang Islam yang sengaja menghafal Al-Qur'an tidak sedikit jumlahnya. Maka
pemeliharaan Al-Qur'an, baik melalui tulisan maupun hafalan berjalan dengan baik dan
saling mengontrol secara cermat.

Sejarah pencatatan dan penghimpunan Hadits Nabi SAW berbeda dengan sejarah
pencatatan dan penghimpunan Al-Qur'an, yakni:

1. Tidak seluruh Hadits dicatat oleh para Shahabat pada zaman Nabi SAW.Di antara
sebabnya adalah karena tidak setiap Hadits Nabi sempat disaksikan oleh banyak
Shahabat, khususnya mereka yang pandai menulis. Hadits Nabi terkadang disampaikan
oleh Nabi di hadapan orang-seorang. Di samping itu Nabi sendiri pernah secara umum

6

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

melarang para Shahabat menulis Hadits beliau. Hanya orang-orang tertentu saja dari
kalangan Shahabat yang diizinkan oleh Nabi melakukan pencatatan Hadits beliau.

Pada zaman Khalifah Abu Bakar dan Khalifah Umar ibn al-Khaththab (wafat
23H/644M), periwayatan Hadits Nabi berjalan dengan sangat hati-hati. Kalangan
Shahabat Nabi yang menyampaikan riwayat Hadits ada yang diminta menghadirkan saksi
atau melakukan sumpah. Dengan demikian, kegiatan periwayatan Hadits menjadi
terbatas. Tapi tidaklah herarti kegiatan periwayatan Hadits terhenti, sebab kegiatan
pencatatan dan penghafalan riwayat Hadits yang dilakukan atas inisiatif sendiri dari
kalangan para rawi Hadits tetap ada.

Khalifah Umar ibn al-Khaththab sempat merencanakan untuk menghimpun semua
Hadits Nabi. Para Shahabat yang mendengar rencana khalifah itu sangat menyetujuinya.
Tapi setelah melakukan shalat istikharah selama satu malam, Umar membatalkan
rencananya. Dia khawatir kalau-kalau umat Islam terganggu konsentrasinya dalam
mempelajari dan mengajarkan Al-Qur'an. Kekhawatiran itu cukup beralasan, karena pada
zaman itu perluasan wilayah Islam sangat pesat dan banyak orang baru memeluk Islam.
Pertimbangan Umar membatalkan rencana tersebut adalah karena kondisi umat Islam
ketika itu belum cukup siap untuk menerima himpunan sumber ajaran Islam selain Al-
Qur'an.

2. Penghimpunan Hadits secara resmi, yakni atas dasar kebijaksanaan pemerintah, barulah
terjadi pada zaman Khalifah Umar ibn Abdul Aziz (wafat 101H/720M). Khalifah
melihat, penghimpunan Hadits perlu segera dilakukan, karena 'ulama' ahli Hadits telah
banyak yang meninggal dunia. Bila penghimpunan Hadits tidak segera dilakukan,
niscaya umat Islam pada masa mendatang akan banyak menjumpai kesulitan untuk
mengenal dan mempelajari Hadits Nabi. Karenanya, khalifah lalu menginstruksikan
kepada para gubernur dan 'ulama' ahli Hadits untuk segera menghimpunkan seluruh
Hadits Nabi. Dalam perjalanan waktu yang cukup panjang, akhirnya berhasil juga 'ulama'
Hadits menghimpunkan seluruh Hadits Nabi tersebut.

3. Tidak dibentuk tim dalam penghimpunan Hadits. Kegiatan penghimpunan Hadits
dilakukan secara mandiri oleh masing-masing 'ulama' ahli Hadits. Sekiranya
penghimpunan Hadits harus dilakukan oleh sebuah tim, niscaya tim itu akan banyak
menjumpai kesulitan, karena jumlah rawi Hadits sangat banyak dan tempat tinggal
mereka tersebar di berbagai daerah Islam yang cukup berjauhan. Dalam kegiatan
penghimpunan Hadits tersebut, 'ulama' Hadits mengadakan perlawatan ke berbagai
daerah untuk mengunjungi tempat tinggal para rawi Hadits. Masa hidup para
penghimpun Hadits itu ada yang sezaman dan ada yang tidak sezaman. Bentuk susunan
dan metode penelitian yang mereka gunakan untuk menghimpun Hadits adalah
berdasarkan hasil ijtihad mereka masing-masing. Dengan demikian tidaklah seluruh
Hadits Nabi terhimpun dalam satu kitab.

4. Sebab lainnya lagi sehingga tidak seluruh Hadits terhimpun dalam suatu kitab tertentu
ialah karena mungkin ada suatu riwayat Hadits yang tidak sampai kepada seorang
penghimpun tertentu; atau mungkin riwayat Hadits itu sampai juga kepadanya tapi
menurut hasil penelitiannya riwayat dimaksud tidak memenuhi kriteria yang telah
ditetapkannya. Jadi memang cukup beralasan, mengapa kitab himpunan Hadits Nabi

7

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

tidak satu macam saja.

Jumlah 'ulama' Hadits yang telah berjasa besar dalam kegiatan penghimpunan Hadits
Nabi cukup banyak. Karya tulis mereka ada yang diakui oleh mayoritas 'ulama' Hadits
pada masa berikutnya ada sebagian kitab Hadits yang berstatus standar dan ada yang
tidak termasuk sebagai kitab standar. Berbagai kitab Hadits yang disusun oleh 'ulama'
pada masa penghimpunan Hadits itu memuat riwayat Hadits secara lengkap, yakni matn
dan sanad-nya. Dengan demikian setiap pembaca kitab Hadits tidak hanya mendapat
informasi mengenai lafazhmatnHadits semata, tapi juga mendapat penjelasan mengenai
susunan sanadnya. Bagi 'ulama' Hadits,matndan sanad Hadits sama-sama mempunyai
kedudukan penting, karena kriteria keshahihan Hadits tidak hanya ditentukan oleh
kualitas matn-nya saja, tetapi ditentukan juga oleh kualitas sanad-nya.

5. Telah terjadi pemalsuan-pemalsuan Hadits seiring dengan perkembangan periwayatan
Hadits. Pemalsuan Hadits mulai tampak berkembang pada masa Khalifah 'Ali ibn Abi
Thalib (wafat 40H/661M). Pertentangan politik yang cukup tajam yang terjadi pada
zaman Khalifah 'Ali telah ikut menumbuhkan pesatnya berbagai pemalsuan Hadits. Di
samping itu, kepentingan materi (ekonomi), kekeliruan seseorang dalam berdakwah dan
kepentingan-kepentingan lainnya dari beberapa kalangan telah ikut pula menambah
banyaknya pemalsuan Hadits. Dalam sejarah, kegiatan pemalsuan Hadits tidak hanya
dilakukan oleh orang-orang yang memusuhi Islam saja, tetapi dilakukan oleh kalangan
pemeluk Islam sendiri. Berbagai pemalsuan Hadits yang telah dilakukan oleh orang-
orang yang tidak bertanggung jawab itu telah menambah dorongan kepada 'ulama' Hadits
untuk lebih hati- hati dalam melakukan periwayatan Hadits.

Kehati-hatian 'ulama' Hadits itu dapat dilihat, misalnya pada kegiatan menciptakan
berbagai qa'idah dan ilmu Hadits, baik berkenaan dengan matn maupun sanad Hadits.
Dengan berbagai qa'idah dan ilmu itu, suatu riwayat dapat diteliti dan diketahui apakah
riwayat itu memang Hadits Nabi ataukah bukan hadits Nabi. Keadaan matn Hadits yang
terhimpun dalam berbagai kitab Hadits ternyata bermacam-macam. Misalnya, ada
sejumlah matn Hadits yang lafazhnya berbeda-beda, tapi maknanya sama; dan ada yang
maknanya tampak bertentangan. Dalam hal sanad, ada yang rangkaian nama
periwayatnya bersambung dan ada yang tidak bersambung. Selain itu, ada nama-nama
rawi yang dapat dipercaya beritanya dan ada yang tidak terpercaya. Keadaan matn, sanad
dan rawi yang berbeda-beda itu oleh 'ulama' Hadits diberi nama dengan istilah-istilah
tertentu. Istilah-istilah itu dapat mempermudah dan memperjelas keadaan suatu Hadits.
Bagi 'ulama' Hadits, berbagai istilah berkenaan dengan Hadits tersebut, di samping juga
berbagai qa'idah dan 'ilmu Hadits, sangat besar manfaatnya untuk penelitian kualitas
Hadits.

Berkenaan dengan hal-hal tersebut di atas, maka buku ini disederhanakan dalam dua
fokus pembahasan. Pembahasan pertama disebut Ilmu Hadits Riwayah; yaitu membahas
hal-hal berkenaan dengan substansi Hadits; bagaimana sejarah, cara dan tatacara serta
proses periwayatannya. Pembahasan yang kedua disebut Ilmu Hadits Dirayah; yaitu
membahas hal-hal berkenaan dengan kualitas Hadits, melalui penelitian para ’ulama’ dan
qa’idah-qa’idah yang mereka rumuskan dan standarkan untuk menilai setiap hadits yang
diriwayatkan dari unsur sanadnya, rawi-rawinya maupun matannya.

8

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

Dengan dua fokus pembahasan ini, maka penggunaan praktis buku ini adalah bagian
pertama untuk setengah semester awal dan bagian kedua untuk setengan semester akhir.
Semoga buku ini bermanfaat bagi penyusun dan para penggunanya. Semoga pula Allah
SWT senantiasa menuntun hamba-hamba-Nya dengan hidayah dan taufiq-Nya. Aamiin
yaa Rabb al-’aalamiin.

ÐФŞ

BAB I

9

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

TERMINOLOGI HADITs

Al-Hadits sebagai berita (khabar) mengenai perkataan, perbuatan, taqrir1 dan hal-ihwal
Nabi Muhammad saw., adalah merupakan sumber ajaran Islam bersama al-Qur’an Al-
Qur'an. Pada zaman Nabi, sesungguhnya telah ada beberapa Shahabat Nabi2 yang menulis
Hadits Nabi,3 tapi jumlah mereka selain tidak banyak, juga materi (matn) Hadits yang
mereka catat masih terbatas. Keadaan ini disebabkan selain karena jumlah mereka yang
pandai menulis belum begitu banyak, juga karena perhatian mereka lebih tertuju kepada
pemeliharaan Al-Qur'an. Sebab, Al-Qur'an pada zaman Nabi masih belum dibukukan dalam
bentuk mushhaf.

Sebelum Hadits Nabi dihimpun dalam kitab-kitab Hadits secara resmi dan massal,
Hadits Nabi pada umumnya diajarkan dan diriwayatkan secara lisan dan hafalan. Hal ini
memang sesuai dengan keadaan masyarakat Arab yang terkenal sangat kuat di bidang
hafalannya. Walaupun begitu tidaklah berarti bahwa pada saat itu kegiatan pencatatan
Hadits tidak ada. Kalangan 'Ulama' pada masa itu cukup banyak yang membuat catatan
Hadits, tapi, selain masih dimaksudkan untuk kepentingan pribadi para pencatatnya, juga
belum bersifat massal.

Menurut pendapat mayoritas 'Ulama', sejarah penulisan dan penghimpunan Hadits
secara resmi dan massal, dalam arti sebagai kebijakan pemerintah, barulah terjadi atas
perintah Khalifah 'Umar bin 'Abd al-'Aziz (99-101H), sekitar 90 tahun sesudah Nabi wafat.
Dalam masa yang cukup panjang ini, telah terjadi pemalsuan-pemalsuan Hadits yang
dilakukan oleh beberapa golongan dengan berbagai tujuan. Atas kenyataan ini, maka
'Ulama' Hadits dalam usahanya menghimpun Hadits Nabi, selain harus melakukan
perlawatan untuk menghubungi para rawi yang tersebar di berbagai daerah yang jauh, juga
harus mengadakan penelitian dan penyeleksian terhadap semua Hadits yang mereka
himpun.

Proses penghimpunan Hadits secara menyeluruh terpaksa mengalami waktu yang cukup
panjang, yakni sekitar lebih dari satu abad. Kitab-kitab Hadits yang mereka hasilkan
bermacam-macam jenisnya, baik dari segi kuantitas dan kualitas Hadits yang dimuatnya,
maupun cara penyusunannya.4

Hadits Nabi yang menjadi obyek penelitian 'Ulama' Hadits ialah berbagai Hadits yang

1Taqrir, masdar dari qarrara, dapat berarti penetapan, pengakuan, atau persetujuan. Lihat: Ibn Manzhur, Lisan al-
Arab, Mesir: al-Dar al-Mishriyyah, [tth.], J.VI, h.394; Menurut ilmu Hadits, taqrir adalah perbuatan Shahabat Nabi
yang ternyata dibenarkan atau tidak dikoreksi oleh Nabi. Lihat: Muhammad al-Shabbagh, al-Hadits al-Nabawi, ttp.,
Maktab al-Islamiy, 1392H/1972M, h.14.

2 Shahabat [Nabi] menurut mayoritas 'Ulama' Hadits adalah orang Islam yang pernah bergaul atau melihat
Nabi SAW dan meninggal dalam keadaan Muslim. Lihat: Ibn al-Shalah, Matn al-Hadits, Al-Madinah al-
Munawwarah: al-Maktabah al-'Ilmiyyah, 1972M), h.263-64; Ibn Kasir. Ikhtishar 'Ulum al-Hadits. disyarah oleh
Ahmad Muhammad Syakir. diberi judul: al-Ba’its al-Hatsits fiy Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits, Beirut: Dar al-Fikr, tth., h.94-
95.

3 Salim 'Aliy (Al-Bahnasawiy), al-Sunnat al-Maftara 'alayha, ttp.,Dar al-Buhuts al-'iImiyyah, 1979M), h. 48-
52; Shubhiy al-Shalih, 'Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu (Beirut: Dar al-'Ilm Ii al-Malayin, 1977M), h.30

4Muhammad 'Ajjaj (al-Khatib), al-Sunnah Qabl al-Tadwin (Kairo: Maktabah Wahbah, 1963M), h.337-340;
Rif'at Fawziy ('Abd al-Muththalib), al-Madkhal 'ila Tawsiq al-Sunnah (Mesir: Mu'assasah al-Kharijiy,
1398H/1978M), h.57-66.

10

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

berkategori ahad,5sedang Hadits yang berkategori mutawatir 6tidak menjadi obyek penelitian.
Sebab Hadits mutawatir tidak lagi diragukan keshahihannya berasal dari Nabi.7Dengan
demikian, tujuan utama penelitian Hadits adalah untuk menilai apakah secara historis sesuatu
yang dikatakan sebagai Hadits Nabi itu benar dapat dipertanggungjawabkan keshahihannya
berasal dari Nabi ataukah tidak. Hal ini sangat penting, mengingat kedudukan kualitas Hadits
erat kaitannya dengan dapat atau tidak dapatnya suatu Hadits dijadikan hujah (dalil)
agama.Untuk kepentingan penelitian Hadits Nabi, 'Ulama' telah menciptakan berbagai
qa'idah dan ilmu (pengetahuan) Hadits.8Dengan qa'idah dan ilmu Hadits itu, 'Ulama'
mengadakan pembagian kualitas Hadits.

Menurut Ibn Khaldun (w.808H/1406M), 'Ulama' Hadits dalam melakukan penelitian
berita yang berkenaan dengan agama berpegang pada penelitian terhadap pembawa berita.
Bila para pembawa berita itu adalah orang-orang yang dapat dipercaya, maka berita itu
dinyatakan berkualitas shahih. Sebaliknya, bila para pembawa beritanya bukanlah orang-
orang yang dapat dipercaya, maka berita tersebut tidak dapat dijadikan hujah agama.9
Dengan demikian Ibn Khaldun berpendapat bahwa penelitian Hadits yang telah dilakukan
oleh 'Ulama' Hadits hanya terbatas pada penelitian sanad saja. Pendapat Ibn Khaldun
tersebut didukung oleh Ahmad Amin (w.1373H/1954M)10dan 'Abd al-Mun'im al-Bahiy.11

Pendapat-pendapat tersebut dan yang senada dengannya, secara langsung ataupun tidak
langsung, telah dibantah oleh 'Ulama' lainnya, misalnya oleh Mushthafa al-Siba'iy,
Muhammad Abu Syuhbah, dan Nur al-Din 'Itr. Mereka menyatakan, 'Ulama' Hadits dalam
meneliti Hadits Nabi sama sekali tidak mengabaikan penelitian matn. Hal ini terbukti pada
qa'idah keshahihan Hadits yang telah ditetapkan oleh 'Ulama' Hadits. Dalam qa'idah itu
dinyatakan, sebagian syarat yang harus dipenuhi oleh Hadits yang berkualitas shahih ialah
matn dan sanad Hadits itu harus terhindar dari kejanggalan (syadz/syudzudz) dan cacat
('illat). Untuk penelitian matn Hadits yang tidak mengandung kejanggalan dan cacat,
'Ulama' Hadits telah menyusun berbagai qa'idah.12

Terlepas dari perbedaan pendapat di atas, yang jelas dalam sejarah,
'Ulama'mutaqaddimin13telah membuktikan kesungguhannya dalam meneliti sanad Hadits.

5Hadits ahad: Hadits yang diriwayatkan oleh sejumlah rawi yang tidak mencapai tingkat mutawatir. [Mushthafa al-
Siba'iy, al-Sunnah wa Makanatuha fiy al-Tasyri' al-Islamiy, ttp., al-Dar al-Qawmiyyah, 1966, h.150.

6Hadits mutawatir: Hadits yang banyak rawi-nya pada setiap tingkat sanad-nya, yang menurut akal maupun
tradisi mustahil mereka telah bersepakat untuk berdusta. Sebagian 'Ulama' ada yang menambahkan unsur
penyaksian pancaindera sebagai salah satu persyaratan mutawatir. Lihat al-Suyuthiy, Tadrib al-Rawly Syarh
Taqrib al-Nawrwiy, Beirut: Dar Ihya' al-Sunnah al-Nabawiyyah, 1979M, J.' II, h.176; Abu Rayyah), Adhwa' 'Ala
al-Sunnah al-Muhammadiyyah, Mesir: Dar al-Ma'rifah, tth., h. 275-276.

7Shubhiy al-Shalih, op. cit., h. 142-143.
8 Al-Nu'man 'Abd al-Muta'al al-Qadhiy 'Iyadh, Al-Hadits al-syarif Riwayah Wa Dirayah, Kairo: al-Majlis al-
Syu'un al-Islamiyyah, 1395H/1975M, h.77-80.
9Ibn Khaldun, Muqaddimah Ibn Khaldun, ttp., Dar al-Fikr, tth., h.37.
10Ahmad Amin, Fajr al-Islam, Kairo: Maktabah al-Nandhah al-Mishriyyah, 1975M, h.217-218; Dhuha al-Islam,
Kairo: Maktabah al-Nandhah al-Mishriyyah, 1974M, J.' II, h. 130-134.
11Dikutip Nur al-Din 'Itr dalam al-Madkhal ila 'Ulum al-Hadits, al-Madinah al-Muawwarah: al-Maktabah al-
'Ilmiyyah, 1972M, h.14.
12Ibid., h.15-17; Al-Siba'iy, op.cit., h.296-303; Abu Syuhbah, Difa’ an al-Sunnah wa Radd Syubhah al-
Musytasyriqin al-Klatab al-Musytasyriqin (Kairo: Mathba'ah al-Az-har, tth. h.46-51.
13'Ulama' mutaqaddimin ialah 'Ulama' Hadits yang hidup sampai abad ketiga Hijriyah. Lihat misalnya: Ahmad

11

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

Mereka berlaku demikian karena mereka berpendapat bahwa sanad Hadits merupakan bagian
yang tidak dapat dipisahkan dari agama dan dari diri Hadits itu sendiri. Berikut ini
dikemukakan sebagian dari pemyataan mereka.

1. Muhammad ibn Sirin (w.110H/728M) berkata:

.‫ َفا ْن ُظ ُر ْوا َع ﱠم ْن تَأْ ُخذُ ْو َن ِد ْينَ ُك ْم‬.‫إِ ﱠن َهذَا ا ْل ِع ْل َم ِد ْي ٌن‬

(Sesungguhnya pengetahuan (Hadits) ini adalah agama. Maka perhatikanlah dari siapa kamu
mengambil agamamu itu).14

2. Abu 'Amr al-Awza'iy (w.157H/774M) berkata:

‫ما ذهاب العـلم إﻻ ذهاب اﻹسناد‬

{Tidak akan hilang ilmu pengetahuan (Hadits) kecuali dengan hilangnya isnad (sanad)}.15

3. Sufyan al-Tsawriy (w.161H/778M) berkata:

‫اﻹسناد سﻼح المؤمن فإذا لم يكن معه سﻼح فبأي شيء يقاتل؟‬

(Sanad itu merupakan senjata bagi orang beriman. Bila tanpa senjata padanya, maka dengan
apakah dia akan berperang?)16

4. 'Abdullah ibn al-Mubarak (w.181H/797M) berkata:

‫اﻹسناد من الدين ولوﻻ اﻹسناد لقال من شآء ما شآء‬

 (Sanad itu merupakan bagian dari agama. Sekiranya tidak ada sanad, seseorang akan berkata
apa saja yang ia kehendaki).17

‫بيننا وبين القوم القوآئم يعنى اﻹسناد‬

 {Antara kami dan golongan (yang tidak dapat dipercaya riwayatnya) ada penjaga-
penjaga, yaitu sanad).18

Al-Imamal-Nawawiy (w.676H/1277M), ketika mengomentari pernyataan Ibn al-Mubarak,
berkata: Bila sanad Hadits berkualitas shahih, maka Hadits itu dapat diterima; bila sanad tidak
shahih, maka Hadits yang diriwayatkan harus ditinggalkan. Dinyatakan, hubungan Hadits dengan
sanad-nya semisal hubungan antara hewan dengan kakinya.19

Pernyataan-pernyataan di atas memberikan petunjuk bahwa bila suatu Hadits sanad-
nyadapat dipertanggungjawabkan keshahihannya, maka pastilah Hadits itu berkualitas shahih. Hal
ini memang logis, sebab, bila suatu berita telah benar-benar dapat dipercaya sumber dan
rangkaian pembawa beritanya, maka penerima berita tidak memiliki alasan untuk menolak
kebenaran berita itu. Tapi dalam keshahihan sanad Hadits tidak selalu berlaku kepastian

Muhammad (Syakir), Syarh Alfiyyah al Suyuthiy fiy 'Ilm al-Hadits (Beirut: Dar al-Ma'rifah, tth., h.112.
14Shahih Muslim, disunting Muhammad Fu'ad 'Abd al-Baqiy, ttp., 'Isa al-Babiy al-Halabiy wa Syurakah,

1375H/1955M, J.I, h.14.
15Nur al-Din 'Itr, Manhaj al-Naqd fiyal-Hadits, Damaskus: Dar al-Fikr, 1399H/1979M, h.345.
16Ibid., h.344. dengan lafazh yang agak berbeda, lihat juga: ‘Aliy ibn Sunan al-Harawiy (al-Qariy), Syarh

Nukhbat al-Fikar (beirut; dar al-Kutub al-‘ilmiyah, 1978M), h. 194.
17Shahih Muslim, Op.Cit., h.15.
18Ibid.
19 Abu zakariyya Yahya ibn Syaraf al-Nawawiy (al-Nawawiy), Shahih Muslim bi Syarh al-Nawawiy, Mesir:

al-Mathba’ah al-Mishriyyah, 1924M), J.I, h.88.

12

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

kebenaran seperti itu. Menurut 'Ulama' Hadits, suatu Hadits yang sanad-nyashahih, tidak dengan
sendirinya shahih matn-nya.20

Mengingat qa'idah keshahihan sanad Hadits merupakan salah satu acuan umum yang
mendasar untuk meneliti dan menentukan kualitas suatu Hadits, maka qa'idah dimaksud perlu
ditelaah secara kritis. Dengan demikian akan dapat diketahui relevan atau tidak relevannya
unsur-unsur yang terdapat dalam qa'idah itu bagi tujuan penelitian keshahihan Hadits. Selain
itu, karena Hadits Nabi di satu sisi merupakan fakta sejarah, sedang dalam ilmu sejarah telah
dikenal adanya kritik-sumber, maka qa'idah keshahihan sanad Hadits perlu pula dikaji
dengan menempatkan teori-teori ilmu sejarah sebagai acuannya.

Bila tingkat akurasi keshahihan sanad Hadits telah dapat diketahui, maka akan dapat
diketahui pula faktor-faktor lain, sekiranya memang ada, yang menyebabkan terjadinya
perbedaan antara kualitas sanad dan kualitas matn suatu Hadits tertentu. Di samping itu, bila
ternyata qa'idah keshahihan sanad dimaksud memiliki kesejalanan dengan kritik sumberyang
terdapat dalam ilmu sejarah, maka dengan demikian dapat diketahui secara jelas bahwa qa'idah
keshahihan sanad Hadits merupakan suatu metode ilmiah yang tetap perlu dikembangkan
dalam rangka penelitian Hadits.

Berdasarkan pemikiran tersebut di atas, maka soal pokok yang dibahas dalam buku ini
ialah tingkat akurasi qa'idah keshahihan sanad Hadits dalam kedudukan sebagai salah satu
acuan umum yang mendasar untuk meneliti dan menentukan keshahihan Hadits Nabi. Agar
pembahasan dapat dilakukan secara mendalam dan terarah, maka soal pokok tersebut
dirinci kepada dua sub soal sebagai berikut:

1. Bila ditelaah secara kritis, maka seberapa jauh relevansi unsur-unsur yang terkandung
dalam qa'idah keshahihan sanad Hadits itu dengan tujuan penelitian kualitas Hadits. Yakni:
Seberapa tinggi tingkat kecermatan qa'idah keshahihan sanad Hadits dalam fungsinya
sebagai penyeleksi terhadap:

a. Para rawi yang dapat dipercaya yang secara berantai telah dijadikan sandaran utama oleh
para penghimpun Hadits (al-mukharij).

b. Persambungan sanad (rangkaian para periwayat) mulai dari penghimpun Hadits (al-
mukharij) sampai kepada Nabi.

2. Bila ditinjau dengan menggunakan acuan teori kritik sejarah, maka seberapa tinggi tingkat
ketelitian qa'idah keshahihan sanad Hadits untuk menentukan Hadits yang shahih sebagai
data sejarah yang dapat dipercaya. Yakni, seberapa tinggi tingkat ketelitian qa'idah dimaksud
dilihat dari fungsinya sebagai penyeleksi terhadap:

a. Para rawi yang tsiqahdalam kedudukannya sebagai saksi primer, saksi sekunder, dan
seterusnya sampai kepada penghimpun Hadits Nabi (al-mukharij).

b. Hubungan antara rawi pertama sebagai saksi primer dengan Nabi sebagai sumber berita,
dan rawi kedua sebagai saksi sekunder dengan rawi pertama dan ketiga, dan seterusnya
sampai ke penghimpun Hadits (al-mukharij).

BAB II

20 Lihat Ibn al-Shalah, Op.Cit., h.11; Shubhiy al-Shalih, Op.Cit., h.154.

13

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

ILMU HADITs RIWAYAH

A. Periwayatan Hadits

1. Pengertian Periwayatan

Hadits Nabi yang terhimpun dalam kitab-kitab Hadits, misalnya Shahih al-Bukhariy dan
Shahih Muslim, terlebih dahulu telah melalui proses kegiatan yang dinamai dengan riwayah
al-Hadits atau al-riwayah,21yang dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan dengan
periwayatan Hadits atau periwayatan. Sesuatu yang diriwayatkan, secara umum juga biasa
disebut dengan riwayat.22

Menurut istilah ilmu Hadits, yang dimaksud dengan al-riwayah ialah kegiatan
penerimaan dan penyampaian Hadits, serta penyandaran Hadits itu kepada rangkaian para
periwayatnya dengan bentuk-bentuk tertentu. Orang yang telah menerima Hadits dari
seorang periwayat, tapi dia tidak menyampaikan Hadits itu kepada orang lain, maka dia
tidak dapat disebut sebagai orang yang telah melakukan periwayatan Hadits. Sekiranya
orang tersebut menyampaikan Hadits yang telah diterimanya kepada orang lain, tapi
ketika menyampaikan Hadits itu dia tidak menyebut rangkaian para periwayatnya, maka
orang tersebut juga tidak dapat dinyatakan sebagai orang yang telah melakukan
periwayatan Hadits.23 Jadi, ada tiga unsur yang harus dipenuhi dalam periwayatan Hadits.
Yakni: [1] kegiatan menerima Hadits dan rawi Hadits; [2] kegiatan menyampaikan
Hadits itu kepada orang lain; dan [3] ketika Hadits itu disampaikan, susunan rangkaian
periwayatnya disebut.24

21 Kata al-riwayah adalah masdar dari kata kerja rawa yang berarti al-naql (penukilan) atau al-dzikr
(penyebutan). Lihat: Buthrus al-Bustaniy, Kitab Quthr al-Muhith (ttp: Maktabah Libnan), J.I, h. 820-821; Luwis Ma'luf,
Al-Munjid fiy al-Lughah (Beirut: Dar al-Masyriq, 1973), h.289.

22Dalam bahasa Indonesia, kata riwayat dari bahasa Arab tersebut mempunyal arti cerita dan sejarah. Lihat:
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan (Jakarta: Balal Pustaka, 1985). h. 829.

23 Al-Suyuthiy, Tadrib al-Rawly fiy Syarh Taqrib al-Nawawiy (Beirut: Dar Ihya' al-Sunnah al-Nabawiyyah,
1399H/1979M), J.II, h.225; Nur al-Din 'Itr, Manhaj al-Naqd fiy 'Ilm al-Hadits (Damaskus: Dar al-Fikr,
1399H/1979M), h.188 dan penjelasan di catatan kakinya.

24Ada 'Ulama' yang menghubungkan dan membandingkan periwayatan Hadits dengan kesaksian (al-syahadah)
suatu perkara. Hal ini dapat dimengerti, karena periwayatan memiliki beberapa kesamaan dengan kesaksian, di
samping juga memiliki perbedaan.

Persamaannya terletak pada empat hal. Baik dalam periwayatan maupun kesaksian, pelakunya haruslah: [1]
beragama Islam; [2] berstatus mukalaf (baligh dan berakal); [3] bersifat adil; dan [4] bersifat dhabith.24Keempat hal
ini berkaitan langsung dengan syarat sahnya pribadi rawi dan saksi.

Adapun perbedaannya cukup banyak. Di antara 'Ulama' ada yang menyebutnya 21 macam.24Di antara perbedaan
periwayatan dan kesaksian yang umumnya dikemukakan oleh 'Ulama' ialah:

Rawi boleh berstatus merdeka atau hamba sahaya, sedang saksi haruslah hanya orang yang berstatus merdeka
saja.

Periwayat, untuk berbagai macam peristiwa yang diriwayatkannya, dapat berjenis laki-laki atau pun wanita,
sedangkan saksi, untuk peristiwa-peristiwa tertentu, harus laki-laki.

Rawi boleh buta matanya, asalkan pendengarannya baik, sedang saksi tidak diperkenankan bermata buta. Rawi
boleh memiliki hubungan kekerabatan dengan orang yang dijelaskan dalam riwayat yang dikemukakannya,
sedangkan saksi tidaklah sah bila memiliki hubungan kekerabatan dengan orang yang diberikan kesaksian
perkaranya. Bilangan rawi tidak menjadi persyaratan sahnya periwayatan, sedang saksi untuk peristiwa-peristiwa
tertentu haruslah lebih dari satu orang. Rawi dapat saja mempunyai hubungan permusuhan dengan orang yang
disinggung dalam berita yang diriwayatkannya, sedang saksi dengan orang yang disebutkan dalam peristiwa yang

14

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

Orang yang melakukan periwayatan Hadits disebut al-rawiy, apa yang diriwayatkan
disebut al-marwiy, susunan rangkaian para periwayatnya disebut sanad atau biasa juga
disebut isnad dan kalimat yang disebut sesudah sanad disebut matn.25Kegiatan yang
berkenaan dengan seluk-beluk penerimaan dan penyampaian Hadits disebut dengan
tahammul wa ada' al-Hadits. Seseorang barulah dapat dinyatakan sebagai rawi Hadits, bila
ia telah melakukan tahammul wa ada' al-Hadits dan Hadits yang disampaikannya lengkap
berisi sanad dan matn.

2. Pengertian Hadits

Kata Hadits26 berasal dari bahasa Arab; al-Hadits; jamaknya; al-hidsan dan al-hudsan.
Darisegi bahasa, kata ini merniliki banyak arti, di antaranya: [1] al-jadid (yang baru), lawan
dari al-qadim (yang lama); dan [2] al-khabar (kabar atau berita).27Dari segi istilah, Hadits
diberi pengertian yang berbeda-beda oleh 'Ulama'.

Menurut Ibn al-Subkiy (w.771H/1370M), al-Hadits atau al-Sunnah, adalah segala sabda
dan perbuatan Nabi Muhammad SAW.Ia tidak memaksudkan taqrir Nabi sebagai bagian dari
rumusan definisi Hadits. Alasannya, karena taqrir telah tercakup dalam af'al (segala
perbuatan); bila kata taqrir dinyatakan secara eksplisit, maka rumusan definisi akan menjadi
ghayr mani'28(tidak terhindar dari sesuatu yang tidak didefinisikan).

Kalangan 'Ulama' ada yang menyatakan, apa yang berasal dari Shahabat Nabi dan
al-Tabi’in29 disebut juga dengan Hadits. Sebagai buktinya, telah dikenal adanya
istilah Hadits marfu’ (Hadits yang disandarkan kepada Nabi), Hadits mawquf (Hadits
yang disandarkan hanya sampai kepada Shahabat Nabi), dan Hadits maqthu' (Hadits yang
disandarkan hanya sampai kepada akabrin).30Sebagian 'Ulama' berpendapat, bila kata
Hadits berdiri sendiri, dalam anti tidak dikaitkan dengan kata atau istilah lain, maka
biasanya yang dimaksudkan adalah apa yang berasal dari atau disandarkan kepada Nabi.

disaksikannya tidak boleh terdapat permusuhan. Karena antara periwayatan dan kesaksian terdapat persamaan dan
perbedaan, maka dapat saja istilah rawi disebut dengan saksi, yakni saksi atas berita yang diriwayatkannya, seperti
yang dikenal dalam ilmu sejarah, sepanjang pengertiannya tidak disamakan persis dengan istilah untuk kesaksian
perkara. [M.Syuhudi ismail, Kaidah Kesahihan Sanad Hadits, Jakarta: Bulan Bintang, tth.

25Ibid. (Nur al-Din 'Itr) h.32; Shubhiy al-Shalih, 'Ulum al-Hadits wa Mushthalahuh (Beirut: Dar al-'Ilm li al-
Malayin, 1977), h.107; Muhammad 'Ajjaj al-Khathib (al-Khathib), Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu wa Mushtalahuhu
(Beirut: Dar al-Fikr, 1395H/1975M), h.8. Istilah al-marwiy biasa disebut dengan al-riwayah.

26Kata Hadits telah menjadi salah satu kosakata bahasa Indonesia dan diberi pengertian yang kurang lengkap,
khususnya berkenaan dengan taqrir. Lihat: W.J.S. Poerwadarminta, op.cit, h.338; Hassan Shadily (pemimpin
redaksi umum), Ensiklopedi Indonesia (Jakarta: khtiar Baru-Van Hoeve), J.II, h.1198.

27 Ibn Manzhur, Lisan al-'Arab (Mesir: Dar al-Mishriyyah, tth, J.' H, h.436-439; Al-Fayyumiy, al-Mishbah al-
Munir fiy Gharib al-Syarh al-Kabir li al-Rafi’iy (Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyah, 1398H/1978M), J.1, h.150-151;
Majd al-Din ibn Asir, al-Nihayah fiy Gharib al-Hadits ('Isa al-Babiy al-Halabiy wa Syurakah), J.' I, h.350-

28Al-Bannaniy, Hasyiyah 'ala Syarh Muhammad ibn Ahmad al-Mahaly 'ala Matn Jam' al-Jawami' li al-Imam Taj
al-Din 'Abd al-Wahab ibn al-Subkiy, ttp., Dar Ihya' al-Kutub al-'Arabiyyah, tth, J.II, h.94-95.

29 Tabi’in, jamak dari tabi’iy atau al-tabi', artinya yang mengikuti; menurut umumnya 'Ulama' ialah orang
Islam yang pernah bertemu seseorang Shahabat dan ia wafat dalam keadaan muslim. (Al-Suyuthiy, op.cit., J.11,
h.234; Ibn al-Shalah, 'Ulum al-Hadits (al-Madinah al-Munawwarah: al-Maktabah al-'Ilmiyah, 1972), h.271-
272. Mahmud al-Thahan, Taysir Mushthalah al-Hadits (Beirut: Dar al-Qur'an al-Karim, 1399H/1975M), h.201.

30Muhammad Mahfuzh bin 'Abdillah al-Tirmisiy Manhaj Dzawiy al-Nazhar (Surabaya: Ahmad ibn Sa'ad ibn
Nabhan, 1394H/1974M), h.8. Istilah Hadits marfu', Mauquf, dan maqthu' merupakan klasifikasi
Hadits menurut sumber beritanya. Jadi dapat dibedakan berita yang sumbernya dari Nabi, yang dari Shahabat, dan
yang dari tabi'in.

15

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

Hanya kadang-kadang saja, kata Hadits yang berdiri sendiri itu memiliki pengertian
mengenai apa yang disandarkan kepada Shahabat Nabi atau al-tabi’in.31

'Ulama' Hadits pada umumnya berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan Hadits
ialah segala sabda, perbuatan, taqrir, dan hal-ihwal yang disandarkan kepada Nabi
Muhammad saw.32Hadits dalam pengertian ini oleh 'Ulama' Hadits disinonimkan dengan
istilah al-sunnah.33

Dengan demikian, menurut umumnya 'Ulama' Hadits, bentuk-bentuk Hadits atau al-
sunnah ialah segala berita berkenaan dengan: [1] sabda; [2] perbuatan; [3] taqrir; dan
[4] hal-ihwal Nabi Muhammad SAW.Yang dimaksudkan hal-ihwal dalam hal ini ialah
segala sifat dan keadaan pribadi.

3. Permulaan Hadits

Sebagian 'Ulama' berpendapat, Hadits Nabi mulai terjadi pada masa keNabian (al-
nubuwwah). Sifat-sifat luhur pribadi Nabi yang terlihat sebelum masa keNabian menjadi
anutan juga. Sedang kegiatan Nabi sebelum masa keNabian dan tidak dicontohkan lagi pada
masa keNabian, misalnya kegiatan menyepi (al-tahannus) di gua tidak menjadi anutan.
Sebagian 'Ulama' lagi menyatakan, Hadits Nabi telah terjadi sebelum dan dalam masa
keNabian.34Dari kedua pendapat tersebut terlihatlah, pendapat yang disebut pertama lebih
kuat dengan alasan-alasan sebagai berikut:

a. Perintah Allah kepada orang beriman untuk meneladani dan menaati Muhammad adalah
dalam kedudukan Muhammad sebagai utusan Allah.35 Yakni, ketika Muhammad
dalam masa keNabiannya atau kerasulan.

b. Sifat-sifat luhur Muhammad yang tampak sebelum masa keNabian tidak harus
disimpulkan bahwa perintah mengikuti jejaknya berlaku sejak sebelum masa
keNabian.36 Sebab, keluhuran budi pribadi Muhammad sebelum masa keNabian tetap
berlanjut dan terpelihara pada masa keNabiannya.

31Al-Khathib, op. cit., h.28.
32Ibid., h.19 dan 27; Shubhiy al-Shalih, op.cit., h.3; 'Aliy ibn Sulthan al-Harawiy al-Qariy, Syarh Nukhbat
al-Fikar (Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyah, 1398H/1978M),h.16; Muhammad al-Shabbagh, al-Hadits al-
Nabawiy (Al-Maktab al-Islamiy, 1392H/1972M), h.14,16-17.
33Al-Tirmisiy, loc.cit.; Mushthafa al-Siba'iy, Al-Sunnah wa Makanatuha fiy al-Tasriy' al-lslamiy (Al-
Dar al-Qawmiyyah, 1966M), h.53. Sebagian 'Ulama' membedakan pengertian Hadits dengan al-sunnah. Sufyan al-
Sawriy (w.161H/778M) dan Malik bin Anas dikenal sebagai Imam fiy al-Hadits dan bukan Imam fiy al-sunnah, al-
Awza'iy (w.157H/774M) dikenal sebaliknya. Di antara 'Ulama' ada yang menyatakan, pengertian Hadits lebih umum
daripada al-sunnah, dan ada 'Ulama' yang berpendapat sebaliknya. Di samping itu ada 'Ulama' yang berpendapat,
Hadits berisi petunjuk Nabi untuk tujuan praktis baik terjadi sekali saja maupun terjadi berulangkali,. sedang al-
sunnah merupakan hukum tingkah-laku, baik dilakukan oleh Nabi, Shahabat, maupun 'Ulama' pada umumnya.
Selanjutnya lihat, Muhammad 'Abd al-'Azhim al-Zarqaniy,Syarh al-Zarqaniy Muwathth' Imam Malik (Beirut:
Dar al-Fikr, 1355H/ 1936M) h.3; al-Syathibiy, al-Muwafaqat fiy Ushul al-Syari'a, disyarah oleh 'Abd Allah Darraz
(Mesir: Al-Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra, tth., J.IV, h.3-7; Fazlur Rahman, Islamic Methodology in History
(Karachi: Central Institut of Islamic Research, 1965), h.1-14, 28, 32-33,39; Fazlur Rahman, Islam (Chicago:
University of Chicago Press, 1979), h.53-58; Syed Mahmudunnasir, Islamic in Concept and History (New.Delhi:
Nusrat Ali Nasri for Kitab Bhavan, 1981), h.108-115.
34Ibn Taimiyyah, op.cit., J.XVIII. h. 6-7 dan 9-11; Muhammad Muhammad (Abu Zahw), al-Hadits wa a-
Muhadditsun (Mesir: Mathba'ah Mishr, tth., h.10; al-Khathib, op.cit.. h.19.
35Al-Qur'an Surat al-Ahzab/33:21. Ali 'Imran/3:132, dan al-Anfal/8:1,20, dan 46.
36'Abbas Mahmud al-'Aqqad. Abqariyyah Muhammad (Mesir: Dar al-Hilal, 1969M), h.59-151; Muhammad
Husayn Haykal, Hayah Muhammad (Kairo: Maktabat al-Nahdhah al-Mishriyyah,1968M),h.119-121.

16

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

c. Kegiatan Nabi sebelum masa keNabian ada yang tidak diamalkan lagi pada masa
keNabian. Misalnya, kegiatan menyepi di Gua Hira'. Kegiatan tersebut tidak untuk
diteladani oleh umat Islam. Sekiranya perbuatan itu untuk diteladani niscaya Nabi telah
memberikan petunjuk kepada para Shahabat untuk melakukannya. Tapi, berita kegiatan
menyepi itu merupakan bagian Hadits Nabi juga. Karena sekalipun kegiatan itu terjadi
sebelum masa keNabian dan tidak untuk diteladani, tapi hal itu ada kaitannya dengan
proses pengangkatan Muhammad sebagai Nabi.

d. Berita yang berkenaan dengan diri Nabi Muhammad saw.banyak termaktub dalam
kitab-kitab sejarah, tafsir, dan Hadits. Menurut Ibn Taymiyyah (w.728H/1328M),
apa yang termuat dalam kitab-kitab Hadits adalah berita mengenai diri Nabi,
khususnya yang terjadipada masa keNabian.37 Pernyataan Ibn-Taymiyyah ini
memberikan isyarat bahwa apa yang disebut dengan Hadits Nabi adalah berita mengenai
Nabi yang terjadi pada masa keNabian.

4. Cara Nabi Menyampaikan/Shahabat Menerima Hadits

Muhammad sebagai seorang Nabi dan Rasul,38 telah berhasil membimbing umat
kepada ajaran agama yang dibawanya. Sebagai kepala negara, ia telah berhasil mendirikan
pemerintahan Islam berpusat di Madinah. Walaupun ia sukses dalam membimbing
umatnya, tapi kehidupan sehari-harinya tetap sederhana. Sering ia menjahit sendiri
pakaiannya yang robek.39Sementara itu ia juga berstatus sebagai kepala rumah tangga yang
hidup di tengah-tengah masyarakat. Bila kedudukan Nabi tersebut dilihat dan
dihubungkan dengan bentuk-bentuk Hadits yang terdiri dari sabda, perbuatan, taqrir, dan
hal-ihwalnya, maka dapatlah dinyatakan bahwa Hadits Nabi telah disarnpaikan oleh Nabi
dalam berbagai cara. Misalnya:

a. Suatu riwayat menyatakan:

‫ فو دهن يوما لقﳱن ف ه‬.‫ فاجعل لنا يوما من نفسك‬,‫ لبنا ليك الر ال‬:‫قالت ال ساء لنﱯ ﷺ‬
.‫ ما م كن امرٔة تقدم ثﻼثة من و ها ٕاﻻ ﰷن لها ﲩا من النار‬:‫فوعظهن ؤمرهن فﲀن ف قال لهن‬

.(‫ )رواه الب ارى عن اﰉ سعيد اﳋدرى‬.‫ واثن ﲔ‬:‫ واثن ﲔ؟ قال‬:‫فقالت امرٔة‬

(Kaum wanita berkata kepada Nabi: "Kaum pria telah mengalahkan kami (untuk
memperoleh ta’lim) dari Anda. Karena itu, mohon Anda menyiapkan satu hari untuk kami
(kaum wanita)." Maka Nabi menjanjikan satu hari untuk memberikan ta’lim kepada kaum
wanita itu. (Dalam ta’lim itu) Nabi memberi nasihat dan menyuruh mereka (untuk berbuat
kebajikan). Nabi bersabda kepada kaum wanita: "Tidaklah seseorang dari kalian yang ditinggal
mati oleh tiga orang anaknya, melainkan ketiga anak itu menjadi dinding baginya dari
ancaman api neraka." Seorang wanita bertanya: "Dan (bagaimana jika yang mati) dua orang
anak saja?" Nabi menjawab: "Dua orang anak juga (menjadi dinding baginya dari ancaman
api neraka). [Hadits diriwayatkan oleh aI-Bukhariy dari Abiy Sa'id al-Khudriy].40

37Ibn TaymiyyAli, op. cit.. J. XVIII, h.10.
38Al-Qur'an Surat al-A'raf/7: 157-158; Ali 'Imran/3: 144.
39W.Montgomery Watt, Muhammad Prophet and Statesman (London: Oxford University Press, 1969M). h.236-
240; G.E. Grunebaum, Classical Islam: A History 600 A.D - 1258 A.D. (Chicago: Aldine Publishing
Co.1970M), h.27-50; Philip K. Hitti, History of the Arabs (London: The Macmillan Press Ltd. 1974M). h. 120-122;
H.A.R. Gibb, Mohammedanism (London: Oxford University Press, 1953M), h. 21-34.
40Abu 'Abdillah Muhammad ibn Isma’il al-Bukhariy (al-Bukhariy), Shahih al-Bukhariy, dengan catatan pinggir

17

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

Menurut riwayat di atas, cara Nabi menyampaikan Haditsnya melalui: Cara lisan
di muka orang banyak yang terdiri dari kaum laki-laki;Pengajian rutin di kalangan
kaum pria; Pengajian diadakan juga di kalangan kaum wanita setelah kaum wanita
memintanya.

b. Suatu riwayat menyatakan:

‫ٔن رسول ﷲ )ص م( صﲆ ذات لي ﰱ اﳌس د فصﲆ بصﻼته س ﰒ صﲆ من القاب فكﱶ‬
‫ قد‬:‫الناس ﰒ اجﳣعوا من الي الثالثة ٔو الرابعة فﲅ ﳜرج ٕاﳱم رسول ﷲ )ص م( فلﲈ ٔصبح قال‬
‫ وذ ﰱ رمض‬.‫رٔيت ا ى صنعﱲ وﱂ ﳝنعﲎ من اﳋروج ٕاليﲂ ٕاﻻ ٔﱏ قد خش ت ٔن تفرض ليﲂ‬

.(‫ )رواه الب ارى عن ا شة‬.‫ان‬

{Pada suatu malam, Rasul Allah shalat di masjid. Lalu orang-orang ikut shalat bersama
Nabi. Pada malam berikutnya, Nabi shalat lagi di masjid. Orang-orang yang ikut shalat
bersama Nabi makin banyak. Kemudian pada malam ketiga atau keempat, orang-orang
berkumpul lagi (untuk melakukan shalat jamaah dengan Rasul Allah), tapi Rasul Allah tidak
keluar (dari kediamannya). Pada waktu subuh, (Rasul Allah) bersabda: "Sesungguhnya saya
telah melihat apa yang kalian lakukan. Dan tidak ada (sesuatu pun) yang menghalangi saya
untuk keluar menjumpai kalian, terkecuali saya sungguh khawatir (kalian akan menyangka
bahwa shalat malam tersebut) diwajibkan atas kalian. (Peristiwa) itu terjadi pada bulan
Ramadhan. (Riwayat al-Bukhariy dari 'A'isyah)}41

Menurut riwayat tersebut; cara Nabi menyampaikan Haditsnya dengan lisan dan
perbuatan, di hadapan orang banyak, di mesjid, pada waktu malam dan subuh.

c. Suatu riwayat menyatakan:

‫ رسول ﷲ هﺬا لﲂ‬:‫ٔن رسول ﷲ )ص م( استعمل امﻼ ﲾاءه العامل ﲔ فرغ من ﲻ فقال‬
‫ ﰒ قام رسول‬.‫ ٔفﻼ قعد َت ﰱ ب ت ٔبيك ومك ف ظرت ٔ ُﳞدى ٔم ﻻ‬: ‫ فقال‬.‫وهﺬا ُاهدي ﱃ‬
‫ ٔما بعد ﳁا ل العامل‬:‫ ﰒ قال‬, ‫ﷲ )ص م(عشية بعد الصﻼة ف شهد ؤثﲎ ﲆ ﷲ ﲟا هو ٔه‬

‫ ٔفﻼ قعد ﰱ ب ت ٔبيه وُامه ف ظر هل ُﳞدى‬,‫ستعم ف ٔت ا ف قول هﺬا من ﲻلﲂ وهﺬا ُاهدي ﱃ‬
‫ فوا ى نفس ﷴ ببده ﻻ يغل ا دﰼ مﳯا ش ا ٕاﻻ اء به يوم الق امة ﳛم ﲆ عنقه ٕان ﰷن‬.‫ٔم ﻻ‬
‫ فقال‬.‫ فقد بلّغ ُت‬. ‫ وٕان ﰷنت شا ًة اء ﲠا ِتي َعـ ٌر‬.‫ وٕان ﰷنت بقرًة اء ﲠا لها حوا ٌر‬.‫بعﲑا اء به ر اء‬
‫ )رواه الب ارى عن اﰉ‬.‫ ﰒ رفع رسول ﷲ )ص م( يده حﱴ ٕا لننظر ٕاﱃ عفرة ٕابطيه‬:‫ابو ُﲪيد‬

.(‫ُﲪيد السا دى‬

{Rasul Allah saw mengangkat seorang petugas pengumpul Zakat (amil). Ketika telah
selesai melaksanakan tugasnya, dia datang kepada Nabi dan berkata: "ya Rasul Allah, ini bagian
Anda dan ini hadiah dari orang untukku". Maka Nabi bersabda: "Mengapa kamu tidak duduk

(hasyiyah) al-Sindiy (Beirut: Dar al-Fikr, J.I, h.30. Hadits tersebut diriwayatkan juga oleh Muslim, al-Turmudziy, dan
Ahmad ibn Hanbal. Lihat: A.J. Wensinck, al-Mu jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits al-Nabawiy (Leiden: E.J. Brill.
1936M), J.1, h. 424.

41Ibid. (al-Bukhariy), h. 197. Hadits itu diriwayatkan juga oleh Muslim, Abu Dawud, dan al-Nasa'iy. Lihat: A.J.
Wensinck, op. cit., J.11, h. 32.

18

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

saja di rumah ayah atau ibumu sehingga kamu mengetahui apakah kamu diberi hadiah atau
tidak?" Kemudian pada waktu petang, sesudah salat, Nabi berdiri (berpidato di hadapan orang
banyak). Sesudah membaca kalimat syahadat dan memuji Allah dengan pujian yang sesuai
untuk-Nya, Nabi menyatakan: "..., bagaimanakah halnya, bila seorang pejabat yang kami
serahi tugas lalu dia datang melapor kepada kami seraya berkata: “ini adalah basil tugas
yang berasal dari Anda, sedangkan ini adalah (bagian) yang dihadiahkan orang kepada
saya.” Mengapa dia tidak duduk saja di rumah ayah atau ibunya, sehingga dia mengetahui
apakah dia akan diberi hadiah (oleh orang) ataukah tidak. Demi Allah yang diri Muhammad
berada dalam genggaman-Nya, tiadalah seseorang dari kalian melakukan suatu
pengkhianatan (korupsi), kecuali nanti pada hari kiamat dia akan memikul beban di
lehernya. Jika (yang dikorupsi) adalah seekor unta, maka dia datang dengan suara
unta; jika (yang dikorupsi) adalah seekor sapi, maka orang itu datang dengan
melenguh seperti sapi; bila (yang dikorupsi) adalah seekor lambing, maka orang itu
datang dengan mengembek. Sungguh (hal ini) telah kusampaikan (kepada kalian)." Abu
Humayd (Shahabat Nabi yang meriwayatkan Hadits ini) berkata: "Kemudian Rasullah
saw.mengangkat kedua tangan beliau, sehingga kami melihat wama putih pada kedua
ketiak beliau. (Hadits diriwayatkan oleh al-Bukhariy dari Abu Humayd al-Sa'idiy)}.42

Menurut riwayat tersebut, cara Nabi menyampaikan Haditsnya ialah dengan lisan
di hadapan seorang petugas kemudian kepada orang banyak. Hadits itu disampaikan
sebagai teguran terhadap petugas yang telah menerima hadiah dari masyarakat
(“korupsi”). Ketika mengumumkan pelanggaran itu, Nabi tidak menyebut nama
petugas yang telah ditegurnya.

d. Suatu riwayat menyatakan:

‫ ﺬى فرصة من‬:‫ٔن امرٔة س ٔلت النﱯ )ص م(عن غسلها من اﶈيض ف ٔمرها يف تغ سل قال‬
.‫ تط ّهـرى‬,‫ قالت يف؟ قال سب ان ﷲ‬.‫ قالت يف ٔتطهّر؟ قال تط ّهرى ﲠا‬.‫مسك ف طهّرى ﲠا‬

.(‫ )رواه الب ارى عن ا شة‬.‫فاج ﺬ ُﳤا ٕا ّﱄ فقل ُت ت ّعى ﲠا ٔ ر ا م‬

{Seorang wanita bertanya kepada Nabi saw.mengenai mandi bagi wanita yang (telah
suci dari) haidnya. Nabi menyuruh wanita itu (untuk mandi seperti mestinya, tapi wanita
itu belum mengetahui) bagaimana cara mandinya. Nabi bersabda: "Ambillah seperca
kain (kapas) (yang telah diolesi dengan wangi-wangian) dari kasturi, maka
bersihkanlah dengannya". Ia bertanya lagi: "Bagaimana membersihkannya?" Nabi
bersabda: "Bersihkanlah dengannya". Ia masih bertanya lagi: "Bagaimana
(caranya)?" Nabi bersabda: "Subhan Allah, hendaklah kamu bersihkan". Maka
'A'isyah, isteri Nabi, berkata: Wanita itu saya tarik ke arah saya dan saya katakan
kepadanya: "Usapkan seperca kain itu ke tempat bekas darah!" (Hadits diriwayatkan
oleh al-Bukhariy dari 'A'isyah)}.43

Menurut riwayat ini, Hadits Nabi disampaikan dengan cara lisan, dikemukakan
tidak di hadapan orang banyak, berisi jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh
Shahabat dan bentuk jawaban Nabi itu berupa tuntunan teknis sesuatu kegiatan yang
berkaitan dengan agama.

42Ibid. (al-Bukhariy), J.IV, h.149; dengan lafazh berbeda; lihat juga pada h. 240 dan 244. Hadits tersebut
diriwayatkan juga oleh Muslim, Abu Dawud, dan Ahmad. Lihat: A.J. Wensinck, op. cit., J.IV, h. 377.

43Ibid. (al-Bukhariy), J.I, h. 66. Hadits tersebut diriwayatkan juga oleh Muslim, Abu Dawud, al-Nasa'iy,
dan Ibn Majah. Lihat: A.J. Wensinck, op. cit.. J. IV, h. 31.

19

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

e. Suatu riwayat menyatakan:

'Amr ibn al-'Ash (w.43H/664M) ketika menjadi panglima perang di peperangan
Dzat al-Salazil, suatu malam ia bermimpi bersanggama dan keluar sperma. Ketika masuk
waktu Subuh, 'Amr lalu bertayamum dan tidak mandi janabah karena udara terlalu
dingin. Dia menjadi imam shalat Subuh pada hari itu. Syandan, para Shahabat
melaporkan peristiwa itu kepada Nabi. Nabi segera minta penjelasan kepada 'Amr,
mengapa dalam keadaan berhadas besar melakukan shalat dan bahkan menjadi imam
shalat. 'Amr menjawab, bahwa ia ketika itu telah bertayamum terlebih dahulu sebelum
melakukan shalat. la melakukan tayamum karena udara terlalu dingin. Kemudian
'Amr menyatakan, bahwa dia mendengar firman Allah yang berbunyi :

(29) ‫ َو َﻻ تَ ْق ُ ُلوا ْن ُف َس ُ ْﲂ ان ا َ َﰷ َن ِ ُ ْﲂ َر ِحﳰًا‬...

{Dan jangalah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang
kepadamu. (QS al-Nisa'/4: 29)}.

Mendengar penjelasan 'Amr tersebut, Nabi hanya diam saja dan tidak memberi
komentar apa-apa.44Petunjuk yang dapat diambil dari riwayat di atas adalah bahwa
cara Nabi menyampaikan Haditsnya selain berupa lisan, dalam hal ini berupa permintaan
penjelasan terhadap Shahabat, juga berupa taqrir atas amalan ibadah Shahabat yang
belum pernah dicontohkan langsung oleh Nabi.45

f. Banyak riwayat menyatakan:

"Nabi telah berkirim surat ke berbagai kepala negara dan pembesar daerah yang
'aqidahnya bukan Islam. Surat-surat itu berisi ajakan untuk memeluk Islam. Dalam
berbagai riwayat juga dinyatakan bahwa perjanjian damai di Hudaybiyyah antara
Nabi dan orang-orang musyrikin Makkah dibuat secara tertulis.46 Semua surat dan
perjanjian itu tidak langsung ditulis oleh tangan Nabi, sebab Nabi tidak pandai
menulis, tapi ditulis oleh para sekretaris Nabi".47

Riwayat-riwayat mengenai surat-surat dan perjanjian Nabi itu menunjukkan bahwa
Hadits Nabi ada yang disampaikan secaratertulis.

g. Suatu riwayat menyatakan:

44Ibn Qayyim, Zad al-Ma’ad fiy Had-y Khayr al i’bad Mesir: Mushthafa al-Babiy al-Halabiy wa
Awladuh, 1390H/1970M, J.II, h.175; Salim 'Aliy al-Bahsanawiy, al-Sunnah al-Muftara 'alayha,ttp: Dar al-
Buhuts al-'Ilmiyah, 1979 M, h.31.

45 Hadits berupa Taqrir.Nabi dapat dilihat misalnya: Muhammad Adib Shalih, Lamahat fiy Ushul al-Hadits
(Beirut: Al-Maktab al-Islamiy, 1399 H), h.218; Muhammad bin 'Aliy Muhammad al-Syawkaniy, Nayl al-
Awthar min AHadits Sayyid al-Akhyar Syarh Muntaqa al-Akhbar (Beirut: Dar al-Jil, 1973M), J. VIII, h.286-292.

46Muhammad Fu'ad 'Abd al-Baqiy, Al-Lu'Lu' wa al-Marjan, ttp. 'Isa al-Babiy al-Halabiy wa Syurakah, tth,
J.II, h.219,221, dan 224; Manshur 'Aliy Nashif, al-Taj al-Jami li al-Ushul fiy AHadits al-Rasul (Beirut:
Dar Ihya al-Turas al-'Arabiy, tth., J.IV, h.362-363; Ahmad ibn 'Aliy ibn Hajar al-'Asqalaniy, Fath al-Bariy,
ttp.: Dar al-Fikr dan al-Mathba'ah al-Salafiyyah, tth., J.V, h.329-344, J.VIII: h.126-129; Ibn Qayyim, op.cit.,J.I,
h.45-46; Muhammad Ridha, Muhammad Rasul Allah, Kairo: 'Isa al-Babiy al-Halabiy wa Syurakah,
1380H/1961M), h.263-271.

47Nama-nama Shahabat Nabi yang dikenal sebagai sekretaris Nabi, di antaranya 'Utsman ibn 'Affan, 'Aliy bin
Abiy Thalib, Khalid ibn Sa'id. Aban ibn Sa'id, dan Ubay ibn Ka'ab. Lihat: 'Izz al-Din Abu al-Hasan 'Aliy ibn
al-Asir, al-Kamil fiy al-Tarikh (Beirut: Dar al-Shadir, 1385H /1965M). J. II, h. 313.

20

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

‫ﰷن رسول ﷲ )ص ع( ٔحسن الناس و ا ؤحسنه لقا ل س لطويل البا ن وﻻ لقصﲑ )رواه‬
.(‫الب اري عن ال ّﱪاء ن اﳊازب‬

{Rasul Allah SAW adalah seorang yang paling elok wajahnya dan merupakan ciptaan
(Tuhan) yang paling bagus; (postur tubuhnya) tidak terlalu jangkung dan juga tidak pendek.
(HR al-Bukhariy dari al-Barra' ibn 'Azib)}.48

Hadits ini menerangkan keadaan tubuh Nabi. Penggambaran keadaan tubuh Nabi
ini dikemukakan oleh Shahabat Nabi yang bernama al-Bara.49 Dalam hal ini, cara Nabi
menyampaikan Haditsnya tidak dalam bentuk kegiatan, melainkan berupa keadaan.

Dari beberapa Hadits di atas dapatlah dinyatakan bahwa cara Nabi
menyampaikan Haditsnya tidaklah terikat hanya dengan satu macam cara saja.Untuk
Hadits berupa sabda, adakalanya Nabi menyertakan perintah kepada Shahabat tertentu
untuk menulisnya. Pada urnunnya, Nabi tidak menyertakan perintah tersebut. Di
samping itu, adakalanya Hadits dalam bentuk sabda itu dikemukakan oleh Nabi karena
sebab tertentu dan pada umumnya dikemukakan tidak karena adanya sebab tertentu.
Sabda Nabi adakalanya dikemukakan di hadapan orang banyak dan ada pula yang
dikemukakan di hadapan beberapa orang atau seseorang saja.

Demikian pula Hadits yang berupa perbuatan, ada yang disampaikan oleh Nabi karena
sebab tertentu, ada yang tanpa didahului oleh sebab tertentu, ada yang disampaikan di
hadapan orang banyak dan ada yang disampaikan di hadapan orang-orang tertentu
saja.Hadits dalam bentuk taqrir terbatas penyampaiannya. Sebab “kelahiran“ taqrir
Nabi berkaitan erat dengan peristiwa tertentu yang dilakukan oleh Shahabat
Nabi.Hadits dalam bentuk hal-ihwal Nabi sesungguhnya bukanlah merupakan aktifitas
Nabi. Karenanya, Nabi dalam "menyampaikannya" bersikap pasif saja; pihak yang
aktif adalah para Shahabat Nabi, dalam anti sebagai "perekam" terhadap hal-ihwal
Nabi tersebut.

Keragaman cara penyampaian Hadits oleh Nabi tersebut membawa beberapa
akibat, di antaranya ialah: [a] Hadits yang berkembang dalam masyarakat, jumlahnya
banyak; dan [b] perbendaharaan dan pengetahuan para Shahabat mengenai Hadits Nabi
tidak sama, dalam arti ada Shahabat yang banyak mengetahui langsung terjadinya
Hadits dan ada yang sebaliknya. Jadi, kalangan Shahabat Nabi dalam periwayatan Hadits
ada yang berstatus sebagai saksi primer dan ada yang berstatus saksi sekunder.

B. Sejarah Periwayatan Hadits

Berbagai Hadits Nabi yang termaktub di kitab-kitab Hadits sekarang, ini, asal mulanya
adalah hasil kesaksian Shahabat Nabi terhadap sabda, perbuatan, taqrir, dan atau hal-ihwal
Nabi. Apa yang disaksikan oleh Shahabat itu lalu disampaikannya kepada orang lain. Orang
lain yang menerima riwayat Hadits itu mungkin saja berstatus Shahabat, al-

48Al-Bukhariy, op.cit.,J.II, h.271. Hadits ini diriwayatkan juga oleh Muslim, al-Turmudziy, dan Malik bin
Anas. Lihat: A.J. Wensinck, op. cit., J.V, h. 401.

49 Al-Barra' ibn 'Azib ibn al-Haris, disebut juga Abu 'Amarah, Abu 'Amr, dan Abu Thufayl. Lihat: Abu al-
'Ula Muhammad 'Abdur-Rahman bin 'Abdir-Rahim al-Mubarakfuriy, Muqaddimah Tuhfat al-Akwadziy Syarh
Jami' al-Turmudziy (al-Madinah al-Munawwarah: Al-Maktabah al-Salafiyyah, 1387H/1967M). J.II, h.28; Al-
'Asqalaniy, Tandzib al-Tandzib (India: Majlis Da'irat al-Ma'arif al-Nizhamiyyah, 1325 H), J.I, h.42.5. Mengenai
keadaan tubuh dan sifat-sifat Nabi, lebih lanjut lihat misalnya Hadits-Hadits yang terhimpun dalam al-
Bukhariy, op. cit., II, h.271-274; al-Suyuthiy, al-Khasha’ish al-Kubra (Mesir: Dar al-Kutub al-Haditsah,
1387H/1967M), J.I, h.178-190.

21

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

muklzadhramin,50atau al-tabi'in. Al-Mukhadhramin dan al-tabi'in yang menerima riwayat
Hadits tadi lalu menyampaikan Hadits itu kepada al-tabi 'in dan atau atba al-tabi'in (generasi umat
Islam sesudah al-tabi'in). Demikian seterusnya, sehingga Hadits itu akhirnya sampai kepada
para rawi yang melakukan kegiatan penghimpunan Hadits. Buah karya para penghimpun
Hadits (al-mukharij) itulah yang menjadi sumber pengetahuan dan rujukan Hadits pada zaman
berikutnya sampai pada zaman sekarang.

Cara rawi memperoleh dan menyampaikan Hadits pada zaman Nabi tidaklah sama
dengan pada zaman Shahabat Nabi. Demikian pula periwayatan pada zaman Shahabat tidak
sama dengan periwayatan pada zaman sesudahnya. Cara periwayatan Hadits pada zaman
Nabi lebih terbebas dari syarat-syarat tertentu bila dibandingkan dengan periwayatan
pada zaman sesudahnya. Hal ini disebabkan, karena pada zaman Nabi selain tidak ada
bukti yang pasti mengenai telah terjadinya pemalsuan Hadits, juga karena pada zaman itu
seseorang akan lebih mudah melakukan pemeriksaan sekiranya ada Hadits yang
diragukan keshahihannya. Makin jauh jarak waktu dari masa hidup Nabi, makin sulit
pengujian kebenaran suatu Hadits.Berikut ini dikemukakan cara rawi menerima dan
menyampaikan Hadits Nabi pada zaman Nabi, zaman Shahabat, dan zaman sesudahnya.

1. Periwayatan Hadits di Masa Nabi SAW

Hadits yang diterima oleh para Shahabat cepat tersebir di masyarakat. Karena,
para Shahabat pada umumnya sangat berminat untuk memperoleh Hadits Nabi dan
kemudian menyampaikannya kepada orang lain. Hal ini terbukti dengan beberapa
pengakuan Shahabat Nabi sendiri, misalnya: 'Umar bin al-Khaththab telah membagi tugas
dengan tetangganya untuk mencari berita yang berasal dari Nabi. Kata Umar, bila
tetangganya hari ini menemui Nabi, maka Umar pada esok harinya menemui Nabi. Siapa
yang bertugas menemui Nabi dan memperoleh berita yang berasal atau berkenaan dengan
Nabi, maka dia segera menyampaikan berita itu kepada yang tidak bertugas.51Dengan
demikian, para. Shahabat Nabi yang kebetulan sibuk tidak sempat menemui Nabi,
mereka tetap juga dapat memperoleh Hadits dari Shahabat yang sempat bertemu dengan
Nabi.

a. Malik bin al-Huwayris menyatakan:

‫ٔت ُت النﱯ )ص م( ﰱ نفر من قوﱉ ف ٔﳃنا عنده عﴩن لي وﰷن رح رف قا فلﲈ رٔى شوق ا ٕاﱃ ٔهالينا قال‬
‫ )رواه الب ارى عن‬. ‫ٕارجعوا فكونوا فﳱم و لموﱒ وصلوا ف ٕاذا حﴬت الصﻼة فليؤ ِّذن لﲂ ٔ دﰼ وليؤمﲂ ٔكﱪﰼ‬

.(‫ما ن اﳊورث‬

{Saya (Malik bin al-Huwayris) dalam satu rombongan kaum saya datang kepada Nabi
saw.Kami tinggal di sisi beliau selama dua puluh malam. Beliau adalah seorang
penyayang dan akrab. Tatkala beliau melihat kami telah merasa rindu kepada para
keluarga kami, beliau bersabda: "Kalian pulanglah, tinggallah bersama keluarga
kalian, ajarlah mereka, dan lakukan shalat bersama mereka. Bila telah masuk waktu
shalat, hendaklah salah seorang dan kalian melakukan azan, dan hendaklah yang

50Al-mukhadharim. jamak dari al-Mukhadhram ialah orang yang sempat hidup pada zaman jahiliyah.dan
zaman Nabi; mereka memeluk agama Islam, tapi tidak sempat bertemu dengan Nabi. 'Ulama' Hadits umumnya
memasukkan al-mukhadharamin ke dalam kebmpok Lebih lanjut lihat: al-Suyuthiy, Tadrib al-Rawly, op. cit., J.II.
h. 238-240; Ibn al-Shalah, op. cit., h. 273.

51Al-Bukhariy, op. cit., J. I, h. 28; juga Fath al-Bariy, op. cit., J.I, h.185-186.

22

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

tertua bertindak sebagai imam".(Diriwayatkan oleh al-Bukhariy dari Malik bin al-
Huwayris)}.52

Pengalaman Ibn al-Huwayris menunjukkan bahwa pada zaman Nabi para
Shahabat sangat besar minatnya menimba pengetahuan langsung dari Nabi. Pengetahuan
yang mereka peroleh, termasuk juga Hadits Nabi, mereka ajarkan kepada keluarga
mereka masing-masing.

b. Al-Bara' bin 'Azib al-Awsiy telah menyatakan:

‫ل س ﳇنا ﰷن سمع ديث رسول ﷲ )ص م( ﰷنت لنا ض ِّيعة ٌ ؤشغا ٌل ولكن الناس ﱂ كونوا كﺬبون يوم ﺬ‬
.(‫ )رواه الر رموزى واﳊاﰼ عن الﱪاء ن ازب ا ٔوﳻ‬.‫ف ِّدث الشاه ُد الغيب‬

{Tidaldah kami semuanya (dapat langsung) mendengar Hadits Rasul Allah saw.(Karen di
antara) kami ada yang tidak mernilild waktu atau sangat sibuk. Tapi ketika itu orang-orang
tidak ada yang berani melakukan kedustaan (terhadap Hadits Nabi). Orang-orang yang hadir
(menyaksikan terjadinya Hadits Nabi) memberitakan (Hadits itu) kepada orang-orang yang
tidak hadir. (Diriwayatkan oleh al-Ramahhurmuziy dan al-Hakim dari al-Barra' bin 'Azib al-
Awsiy.)53

Pernyataan al-Bara ini memberi petunjuk: [1] Hadits yang diketahui oleh
Shahabat tidaklah seluruhnya langsung diterima dari Nabi, melainkan ada juga yang
diterima melalui Shahabat lain; dan [2] walaupun para Shahabat banyak yang sibuk, tapi
kesibukan itu tidak menghalangi kelancaran penyebaran Hadits Nabi. Di samping itu,
kebijaksanaan Nabi mengutus para Shahabat ke berbagai daerah, baik untuk tugas
khusus berdakwah maupun untuk memangku jabatan,54 tidak kecil peranannya dalam
penyebaran Hadits. Berbagai peperangan yang banyak dimenangkan oleh Nabi dan umat
Islam di berbagai daerah,55 juga turut mempercepat proses penyebaran Hadits. Seiring
dengan itu, umat Islam menyebar ke berbagai wilayah yang telah tunduk kepada
kekuasaan Islam. Penyebaran umat Islam bukan sekedar untuk mencari nafkah,
melainkan juga untuk kepentingan dakwah. Dengan melalui dakwah-dakwah itu,
tersebar pulalah Hadits Nabi. Hadits Nabi yang telah diterima oleh para Shahabat, ada
yang dihafal dan ada yang dicatat. Shahabat yang banyak menghafal Hadits dapat
disebut, misalnya, Abu Hurairah; sedangkan Shahabat Nabi yang membuat catatan
Hadits dapat disebut, misalnya, Abu Bakar al-Shiddiq, 'Aliy bin Abiy Thalib,
'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash, dan 'Abdullah bin 'Abbas.

52Ibid. (al-Bukhariy), J.I, h. 117; lihat juga h. 126, dan J.IV, h. 52 dan 252. Hadits tersebut diriwayatkan juga
oleh Muslim, al-Nasa'iy, al-Darimiy, dan Ahmad. Lihat: A.J. Wensinck, op. cit., J. III, h. 57.

53Al-Hasan bin 'Abdir-Rahman al-Ramahurmuziy (al-Ramahurmuziy), al-Muliaddis al-Fashil bayna al-
Rawly wa al-Wa'iy, disunting kembali dan diberi notasi oleh Muhammad 'Ajjaj al-Khathib (Beirut: Dar al-Fikr,
1391H/1971M), h. 235; Abu 'Abd Aliah al-Hakim al-Naysaburiy (selanjutnya ditulis dengan nama yang lebih
dikenal, al-Hakim), Ma'rifat 'ulum of-Hadits (Kairo: Maktabat al-Mutanabbiy, [tth]) h.4.

54Nama-nama utusan Nabi dan daetah-daelah yang harus ditujunya, lihat: al-Khathib, al-Sunnah qabl al-Tadwin
(Kairo: Maktabah Wahbah, 1383H/1963M), h. 71-72; Abu 'Abd Aliah Muhammad bin Ishaq dan dan al-Mulk bin
Hisyam, Sirat al-Nabiy saw.(Kairo: Mathba'at al-Madaniy, 1383H/1963M), J. IV, h. 969, 1009-1017, dan 1025-
1026; Muhammad 'Athiyah al-Abrasyiy, Athamat al-Rasul saw.(Kairo: Dar al-Qalam, 1966M), h. 213-236.

55Sebelum Nabi wafat, seluruh daerah Jazirah Arab telah berada dalam kekuasaan Islam. Lihat: Harun
Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1979M), J.I, h. 56-57; lihat
juga peta dalam G.E. von Grunebaum, op. cit., h.52; dan peta dalam A Concise History of Islam, diterjemahkan
oleh Arras Ma'ruf, disunting dan diberi kata pengantar oleh Harun Nasution, Sejarah Ringkas Islam (Jakarta:
Djambatan, 1982M), h. 52.

23

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

Dari uraian di atas dapatlah dinyatakan, bahwa periwayatan Hadits pada zaman Nabi
berjalan dengan lancar. Kelancaran periwayatan Hadits terjadi karena dua hal: [a] cara
yang ditempuh oleh Nabi dalam menyampaikan Haditsnya seperti telah dikemukakan
di atas; dan [b] minat yang besar dari para Shahabat. Minat yang besar dan para
Shahabat Nabi untuk menerima dan menyampaikan Hadits disebabkan oleh beberapa
hal. Di antara hal yang menonjol dapat dikemukakan sebagai berikut:

1) Petunjuk Allah dalam Al-Qur'an menyatakan, bahwa Nabi Muhammad adalah
panutan utama (uswah hasanah) yang harus diikuti oleh orang-orang yang beriman
dan sebagai utusan Allah yang harus ditaati oleh mereka.56Petunjuk Allah tersebut
telah mendorong para Shahabat untuk lebih banyak mengetahui dan memperoleh
berita berkenaan dengan pribadi Nabi. Dalam hal ini, bertemulah keteladanan
yang diberikan oleh Nabi, perintah ketaatan yang ditetapkan oleh Allah dan keimanan
yang mendalam di jiwa para Shahabat Nabi.

2) Allah dan Rasul-Nya memberikan penghargaan yang tinggi kepada mereka yang
berpengetahuan.57 Ajaran ini telah mendorong para Shahabat untuk berupaya
memperoleh pengetahuan yang banyak. Pada zaman Nabi, sumber pengetahuan yang
sangat besar daya tariknya bagi para Shahabat adalah diri Nabi sendiri.

3) Nabi menyuruh para Shahabat menyampaikan pengajaran kepada mereka yang
tidak hadir. Nabi menyatakan bahwa boleh jadi orang yang tidak hadir akan lebih
paham daripada mereka yang hadir mendengarkan langsung dari Nabi.58Sabda Nabi itu
memotivasi mereka untuk menyebarkan ilmu (hadits).

Pada umumnya masyarakat cenderung mengikuti perkembangan dan tingkah-laku
pemimpinnya, lebih-lebih bila pemimpinnya itu dinilai berhasil. Nabi Muhammad telah
dinilai oleh masyarakat sebagai pemimpin yang berhasil. Karenanya tidaklah
mengherankan bila tingkahlaku Nabi selalu menjadi bahan berita. Apalagi masyarakat,
dalam hal ini para Shahabat Nabi, menempatkan Nabi Muhammad bukan sekedar sebagai
pemimpin mereka semata, melainkan juga sebagai utusan Allah. Keyakinan ini
membawa sikap ketaatan bukan sekedar berdampak keduniawian semata, melainkan juga
keakhiratan.

Tampaknya Nabi melihat bahwa minat yang besar para Shahabat untuk menyebarkan
Hadits akan dapat menjerumuskan mereka ke dalam penyampaian berita yang tidak
benar. Karena pada galibnya, manusia cenderung senang "membumbui" berita yang
disampaikannya. Di sampingitu, masyarakat pada umumnya tertarik kepada berita yang

56Lihat: Al-Qur'an, antara lain Surat-surat al-Ahzab: 21; al-Qalam: 4; Ali 'Imran: 132; al-Anfal: 46; al-Nur:
54 dan 56; dan al-Hasyr: 7.

57 Al-Qur'an misalnya Surat-surat al-'Alaq: 1-5; al-Zumar: 9; dan juga Hadits Nabi antara lain yang terhimpun
dalam: Muhammad bin Muhammad bin Sulayman al-Maghribiy (al-Maghribiy), Jam' al-Fawa'id min Jami' al-
Ushul wa Majma' al-Zawa'id (al-Madinah al-Munawarah: Al-Sayid ‘Abd Allah Hasyim al-Yamaniy,
1381H/1961M), J.I, h.36-41; Abu Zakariyya Yahya al-Nawawiy (al-Nawawiy), Riyadh al-Shalihin min Kalam Sayyid
al-Mursalin (Kairo: 'Isa al-Babiy al-Halabiy wa Syurakah, 1375H/1955M), h. 499-503.

58Hadits Nabi, misalnya yang termaktub dalam, al-Bukhariy, op. cit., J.I, h.23; Abu 'Abdillah Ahmad bin
Hanbal (Ibn Hanbal), Musnad Ahmad bin Hanbal, disertai catatan pinggir (Hamissy) dari 'Aliy bin Hisam al-Din al-
Mutqiy, Muntakhab Kanz al-'Ummal fiy Sunan al-Aqwal wa al-Af'al (Beirut: Al-Maktab al-'Islamiy, 1398H/1978M),
J.I, h.437; al-Ramahurmuziy, op. cit., h.164-169.

24

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

sensasional dan yang didramatisasikan. Keadaan ini telah mendorong Nabi bersabda:

.(‫ )رواه مسﲅ واﳊاﰼ عن اﰉ هررة‬.‫كفى ﳌرء كﺬ ٔن ﳛ ِّدث ﲁ ما ﲰع‬

{Telah cukup seseorang dinyatakan berdusta bila orang itu menceritakan seluruh yang
didengamya. (HR Muslim dan al-Hakim dari Abu Hurairah.)59

Hadits ini dan berbagai pernyataan Shahabat Nabi yang semakna dengannya,
dinyatakan oleh al-Nawawiy (w.676H/1277M) sebagai petunjuk mengenai larangan
menceritakan semua berita yang telah didengar. Berita yang didengar ada yang benar dan
ada yang bohong. Jika semua berita yang didengar diceritakan, berarti orang itu telah
menyampaikan berita bohong.60Dalam hal ini, al-Nawawiy tidak menghubungkan maksud
Hadits di atas dengan Hadits-Hadits sebelumnya. Muslim dan al-Hakim telah menempatkan
Hadits tersebut di urutan setelah had!s-Hadits yang berisi mengenai ancaman siksaan api
neraka terhadap orang yang sengaja membuat Hadits palsu,61Muslim dan al-Hakim
tampak cenderung memahami Hadits di atas bukan sekedar berkaitan dengan berita pada
umumnya, melainkan ada juga hubungannya dengan periwayatan Hadits Nabi.
Berdasarkan petunjuk Hadits di atas dapatlah dinyatakan, bahwa Nabi merasa khawatir
bila minat yang besar untuk menyebarkan berita ini tidak terkendali, maka akan timbul
dampak yang negatif.

2. Periwayatan Hadits pada Zaman Shahabat Nabi

Setelah Nabi wafat (11H/632M), kendali kepemimpinan umat Islam berada di tangan
Shahabat Nabi. Shahabat Nabi yang pertama menerima kepemimpinan itu adalah Abu Bakar
al-Shiddiq (w.13H/634M), kemudian disusul oleh 'Umar bin al-Khaththab (w.23H/644M),
'Usman bin 'Affan (w.35H/656M), dan 'Aliy bin Abiy Thalib (w.40H/661M). Keempat
khalifah ini dalam sejarah dikenal dengan sebutan al-Khulafa' al-Rasyidin dan periodenya
biasa disebut dengan Zaman Shahabat Besar.62

Sesudah 'Ally bin Abiy Thalib wafat, maka berakhirlah era Shahabat Besar dan
menyusul era Shahabat Kecil. Dalam pada itu muncullah tabi'in besar yang bekerja sama
dalam perkembangan pengetahuan dengan para Shahabat Nabi yang masih hidup pada masa
itu. Di antara Shahabat Nabi yang masih hidup setelah periode al-Khulafa' al-Rasyidin dan
yang cukup besar peranannya dalam periwayatan Hadits Nabi ialah 'A'isyah istri Nabi
(w.57H/578M), Abu Hurairah (w.58H/678M), 'Abdullah bin 'Abbas (w.68H/687M),
'Abdullah bin 'Umar bin al-khatab (w.73H/692M), dan Jabir bin 'Abdillah

59 Abu al-Husayn Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyayriy (selanjutnya ditulis dengan namanya yang lebih
dikenal, Muslim), al-Jami al-Shahih, biasa disebut juga dengan Shahih Muslim, disunting kembali oleh
Muhammad Fu'ad 'Abd al-Baqiy (Kairo: 'Isa al-Babiy al-Halabiy wa Syurakah, 1375 I-1 = 1955M). J. 1, h.
10; al-Hakim, al-Mustadrak al-Shahihayn fiy al-Hadits (Beirut: Dar al-Fikr, 1398H/1978M), J. I. h. 112 .

60Al-Nawawiy, Shahih Muslim bi Syarh al-Nawawiy (Mesir:Al-Mathba'at al-Mishriyah, 1924M), J.1, h.75.
61Muslim, op. cit., J. 1, h. 9-10: al-Hakim, loc. cit. Umumnya 'Ulama' Hadits menyatakan, bahwa sabda Nabi
yang berupa ancaman neraka bagi para pemalsu Hadits adalah mutawatir. Lebih lanjut lihat misalnya: Ibn al-
Shalah, op. cit., h. 242-243.
62Lihat: Sir William Muir. The Caliphate: Its Rise, Decline and Fall (New York: AMS Press Inc., 1975M),
h.4-5, 76-77, 187.188, 225-234. dan 287; al-Suyuthiy,Tarikh al-Khulafa', naskah diteliti oleh Muhammad Abu
al-Fadhl Ibrahim (Kairo: Dar al-Nandhah, 1395H/1975M), h. 50. 140. 177. 219. 246. 259, 277, dan 297; Harun
Nasution, op. cit., h. 57-58; Muhammad al-Khudhariy Bik. Tarikhal-Tasyri'al-Islamiy (Mesir: Mathba'at al-
Sa'adah, 1373H/1954M), h. 103.

25

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

(w.78H/697M).63Berikut ini dikemukakan sikap al-Khulafa` al-Rasyidin mengenai pe-
riwayatan Hadits Nabi.

b. Abu Bakar al-Shiddiq

Menurut Muhammad bin Ahmad al-Dzahabiy (w.748H/1347M), Abu Bakar
merupakan Shahabat Nabi yang pertama-tama menunjukkan kehati-hatinnya dalam
periwayatan Hadits. Pernyataan al-Dzahabiy ini didasarkan atas pengalaman Abu Bakar
tatkala menghadapi kasus waris untuk seorang nenek. Suatu ketika, ada seorang nenek
menghadap kepada Khalifah Abu Bakar, meminta hak waris dari harta yang ditinggalkan
oleh cucunya. Abu Bakar menjawab, bahwa dia tidak melihat petunjuk Al-Qur'an dan
praktek Nabi yang memberikan bagian harta waris kepada nenek. Abu Bakar lalu
bertanya kepada para Shahabat. Al-Mughirah bin Syu'bah menyatakan kepada Abu
Bakar, bahwa Nabi telah memberikan bagian waris kepada nenek sebesar seperenam
bagian. Al-Mughirah mengaku hadir tatkala Nabi menetapkan kewarisan nenek itu.
Mendengar pernyataan tersebut, Abu Bakar meminta agar al-Mughirah menghadirkan
seorang saksi. Lalu Muhammad bin Maslamah memberikan kesaksian atas kebenaran
pernyataan Al-Mughirah itu. Akhirnya Abu Bakar menetapkan kewarisan nenek dengan
memberikan seperenam bagian berdasarkan Hadits Nabi yang disampaikan oleh al-
Mughirah tersebut.64

Kasus di atas memberikan petunjuk, bahwa Abu Bakar ternyata tidak bersegera
menerima riwayat Hadits, sebelum meneliti periwayatnya. Dalam melakukan penelitian,
Abu Bakar meminta kepada rawi Hadits untuk menghadirkan saksi.Bukti lain mengenai
sikap ketat Abu Bakar dalam periwayatan Hadits terlihat pada tindakannya yang telah
membakar catatan-catatan Hadits miliknya. Puteri Abu Bakar, Aisyah, menyatakan
bahwa Abu Bakar telah membakar catatan yang berisi sekitar lima ratus Hadits.
Menjawab pertanyaan Aisyah, Abu Bakar menjelaskan bahwa dia membakar
catatannya itu karena dia khawatir berbuat salah dalam periwayatan Hadits.65

63Ibid. (Muhammad al-Khudhariy Bik), h. 131 dan 134-135; Shubhiy al-Shalih, op. cit., h. 362-370; al-
Khathib, op. cit., h. 469-478; Abu 'Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Dzahabiy (al-Dzahabiy), Kitab
Tadzkirat al-Huffazh (Hyderabad: The Dalrat I-Ma'arif-il-Osmania. 1955M), J. I, h. 29, 37,41, 44-45; Ibn al-
Shalah, op. Cit., h. 270; 'Abdur-Rahim bin al-Husayn al-'Iraqiy (al-Taqyid wa al-ldhah Syarh Muqaddimah Ibn al-
Shalah (al-Madinah al-Munawwarah: Al-Maktabat al-Salafiyyah, 1400 11), h.312-313.

64Ibid. (al- Dzahabiy), h. 2.
65Hadits al-Dzahabiy tersebut diriwayatkan (di-takhrij-kan) oleh banyak 'Ulama', di antaranya Malik bin Anas,
Abu Dawud, al-Turmudziy. Ibn Majah, al-Daramiy. dan al-Marwaziy. Para rawi dalam sanad Hadits itu berkualitas
tsiqqah, tapi sanad-nya munqathi', dalam hal ini mursal. Jadi, kualitas sanad Hadits itu lemah (dha'if). Karena
Qubayshah bin Dzu’ayb yang mengaku menerima Hadits itu dari Abu Bakar, menurut hasil penelitian sebagian
'Ulama', ternyata tidak pernah bertemu dengan Abu Bakar. AL-Dzahabiy menyalahi pendapat mayoritas
'Ulama' tersebut. Menurut al-Dzahabiy, Qubayshah telah meniwayatkan Hadits tersebut dari Abu Bakar.
Menurut al-Dzahabiy Hadits tersebut bersambung sanad-nya. Penjelasan yang saling melengkapi mengenai
Hadits dimaksud, lihat: ibid., h.2, 60; Abu 'Abdillah (Malik bin Anas), al-Muwaththa', diberi notasi oleh
Muhammad Fu'ad 'Abd al-Baqiy ([ttp: Dar al-Sya'b. [tth]), h.317-318; Abu Dawud, Sunan Abiy Dawud
(Beirut: Dar al-Fikr. [tth]) J.III, h.121-122; Abu al-Thayyib Muhammad Syams al-Haq Abadiy, 'Awn al-Ma'bud
Syarh Sunan Abiy Dawud, ((up: Dar al-Fikr dan al-Mathba'at al-Salafiyyah. 1399H/1979M), J.VIII, h.100-
101; Al-Turmudziy, sunan al-Turmudziy wa Huwa al-jami’ al-Shalah (Beirut: Dar al-Fikr. 1400H/1980M), J.III, h.283-
284; Al-Marwaziy, Musnad Abiy Bakr al Shiddiq. diberi notasi oleh Syu'ayb al-Arna'uth (Damaskus: Al-
Maktab al-islamiy, 1393 H). h. 157-158; al-'Asqalaniy, Tandzib al-Tandzib, op. cit., J.VIII, h.346-347; al-
Syawkaniy, op. cit., J.V. h.175-176; al-Suyuthiy, Tanwir al-Hawalik (Beirut: Dar al-Fikr, [tth]), J.II, h.54; juga al-
Suyuthiy. Kitab Is 'af al-Mubaththa' bi Rijal al-Muwaththa' (Beirut: Dar al-Fikr, tth, h.34.

26

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

Karena Abu Bakar sangat berhati-hati dalam periwayatan Hadits,66 maka dapat
dimaklumi bila jumlah Hadits yang diriwayatkannya relatif tidak banyak.67 Padahal dia
seorang Shahabat yang telah bergaul lama dan sangat akrab dengan Nabi, mulai dari
zaman sebelum Nabi hijrah ke Madinah sampai Nabi wafat. Dalam pada itu hams pula
dinyatakan, bahwa sebab lain sehingga Abu Bakar hanya sedikit meriwayatkan Hadits
karena: [a] dia selalu dalam keadaan sibuk ketika menjabat khalifah; [b] kebutuhan
akan Hadits tidak sebanyak pada zaman sesudahnya; dan [c] jarak waktu antara
kewafatannya dengan kewafatan Nabi sangat singkat.

Data sejarah mengenai kegiatan periwayatan Hadits di kalangan umat Islam pada
masa Khalifah Abu Bakar sangat terbatas. Pada masa pemerintahan Abu Bakar tersebut
umat Islam dihadapkan pada berbagai ancaman dan kekacauan yang membahayakan
negara. Berbagai ancaman dan kekacauan itu berhasil diatasi oleh pasukan
pemerintah.68Tapi tidak sedikit Shahabat Nabi, khusus-nya yang hafal Al-Qur'an, telah
gugur di berbagai peperangan. Atas desakan 'Umar bin al-Khaththab, Abu Bakar segera
melakukan penghimpunan Al-Qur'an (jam' al-Qur'an).Jadi, periwayatan Hadits pada
masa Khalifah Abu Bakar dapat dikatakan belum merupakan kegiatan yang menonjol di
kalangan umat Islam. Tapi dapat disebutkan, bahwa sikap umat Islam dalam pe-
riwayatan Hadits tampak tidak jauh berbeda dengan sikap Khalifah Abu Bakar, yakni
sangat berhati-hati. Sikap hati-hati ini antara lain terlihat pada pemeriksaan Hadits yang
diriwayatkan oleh para Shahabat.

b. 'Umar bin al-Khaththab

'Umar dikenal sangat hati-hati dalam periwayatan Hadits. Hal ini terlihat, misalnya,
ketika 'Umar mendengar Hadits yang disampaikan oleh Ubay bin Ka'ab. 'Umar
barulah bersedia menerima riwayat Hadits dari Ubay, setelah para Shahabat yang lain,
di antaranya Abu Dzar menyatakan telah mendengar pula Hadits Nabi mengenai apa yang
dikemukakan oleh Ubay tersebut. Akhirnya 'Umar berkata kepada Ubay: "Demi Allah,
sungguh saya tidak menuduhmu telah berdusta. Saya berlaku demikian, karena saya ingin
berhati-hati dalam periwayatan Hadits Nabi.69

Apa yang dialami oleh Ubay bin Ka'ab tersebut telah dialami juga oleh Abu Musa

66 Al-Dzahabiy, op. cit., h. 5.
67Ahmad bin Hanbal meriwayatkan Hadits dari Abu Bakar sebanyak 81 Hadits, al-Humaydiy meriwayatkan
tujuh Hadits, dan al-Marwaziy meniwayatkan 143 Hadits. Al-Suyuthiy telah menghimpun Hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Bakar dari berbagai mukharrij, sebanyak 695 Hadits. Lebih lanjut lihat: Ibn Hanbal, op.
cit., J.I. h.2-14; ◌ِ Al-Humaydiy, Musnad al-Humaydiy (al-Madinah al-Munawwarah: Al-Maktabat al-Salafiyyah,
tth.). J.I, h.2-6; al-Marwaziy, op.cit., h.30-
177; al-Suyuthiy, Musnad Abiy Bakr al-Shiddiq RA (India: Al-Dar al-Salafiyyah, 1400H/1980M), h.1-219.
Berbagai sanad Hadits dalam kitab-kitab di atas masih perlu diteliti kualitasnya. Perbedaan jumlah Hadits terjadi
antara lain disebabkan karena matn-matn Hadits yang semakna ada yang memiliki lebih dari satu sanad dan
masing-masing sanad dihitung sebagai riwayat yang berdiri sendiri.
68Menghadapi ancaman luar negeri, Abu Bakar meneruskan rencana Nabi, mengirimkan pasukan yang
dipimpin Usamah bin Zayd ke Syam. Pasukannya berhasil menang. Kekacauan di dalam negeri berupa
pemberontakandari: [1] para nabi palsu; (2) beberapa qabilah; (3) orang-orang yang murtad; (4) orang-orang
yang enggan membayar zakat, semuanya berhasil ditumpas. Kesatuan umat Islam berhasil tercipta kembali. Lihat
uraian yang saling melengkapi: K. Ali, A Study of IslamK History (Delhi: Idarah-i Adabiyat-i Delhi, 1980M), h.82-
86; Philip K.Hitti, op,cit., h.141, 164-165; Muhammad Jami’ al-Din Surur, al-Hayat al-Siyasiyyah fiy al-Dawlah al-
'Arabiyyah al-Islamiyyah ([ttp]: Dar al-Fikr al-'Arabiy, 1395H/1975M), h.25; Muhammad al-Khudhariy Bik,
Muhadharah Tarikh al-Umam al-Islamiyyah, Kairo: Al-Maktabah al-Tijariyyah al-Kubra, [tth]), J.I, h.52-53.
69Al-Dzahabiy, op.cit. J.I, h.8; Ibn Sa'ad, al-Thabaqat al-Kubra (Leiden: E.J. Brill. 1322 H), J.IV, Bagian I,
h.13-14.

27

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

al-Asy'ariy,70al-Mughirah bin Syu'bah,71dan lain-lain.Kesemuanya itu menunjukkan
sikap hati-hati 'Umar dalam periwayatan Hadits.Di samping itu, 'Umar juga
menekankan kepada para Shahabat agar tidak memperbanyak periwayatan Hadits di
masyarakat. Alasannya, agar masyarakat tidak terganggu konsentrasinya untuk
membaca dan mendalami Al-Qur'an.72Abu Hurairah yang di belakang hari dikenal
banyak menyampaikan riwayat Hadits, terpaksa menahan diri tidak banyak meriwayatkan
Hadits pada zaman 'Umar. Abu Hurairah pernah menyatakan, sekiranya dia banyak
meriwayatkan Hadits pada zaman 'Umar, niscaya dia akan dicambuk oleh 'Umar.73

Konon, 'Umar pernah memenjarakan Ibn Mas'ud, Abu Darda', dan Abu Mas'ud
al-Anshariy, karena mereka bertiga banyak meriwayatkan Hadits.74Tapi berita ini sulit
dipercaya, karenaBerita itu berasal dari Sa'ad bin Ibrahim dari ayahnya, Ibrahim.
Menurut penelitian Nur al-Din al-Haysamiy, Ibrahim lahir pada tahun 20 H (641M) dan
tidak pernah bertemu dengan 'Umar.75Sekiranya sempat juga bertemu dengan 'Umar,
niscaya Ibrahim ketika itu masih anak-anak dalam usia sekitar tiga tahun ('Umar wafat
tahun 23H/644M). Dengan demikian, telah terdapat keterputusan sanad dalam riwayat
tersebut.Sekiranya berita tersebut benar, niscaya akan banyak rawi lain yang
menyampaikan berita itu. Sebab, ketiga orang Shahabat Nabi dimaksud adalah orang-
orang yang cukup disegani masyarakat, baik pada zama 'Umar maupun pada zaman
Nabi.76 Ternyata tak ada rawi lain yang memberitakan kasus di atas.

Kebijakan 'Umar melarang para Shahabat memperbanyak periwayatan Hadits
tidak berarti melarangnyasecara total. Larangan 'Umar tampaknya tidak tertuju kepada
periwayatan itu sendiri, tapi dimaksudkan: [a] agar masyarakat lebih berhati-hati dalam
periwayatan Hadits; dan [b] agar perhatian masyarakat terhadap Al-Qur'an tidak
terganggu. Dasar pemyataan ini diperkuat oleh bukti:

1) 'Umar pernah menyuruh umat Islam mempelajari Hadits Nabi dari para ahlinya,
karena mereka lebih mengetahui kandungan Al-Qur'an.77

2) 'Umar sendiri cukup banyak meriwayatkan Hadits Nabi. Ahmad bin Hambal
(w.241H/855M) telah meriwayatkan Hadits Nabi yang berasal dari riwayat 'Umar
sekitar tiga ratus Hadits.78 Ibn Hajar al'Asqalaniy (w.852H/1449M) telah menyebut
nama-nama Shahabat dan tabi'in terkenal yang telah menerima riwayat Hadits
Nabi dari 'Umar. Ternyata jumlahnya cukup banyak."79

3) 'Umar pernah merencanakan menghimpun Hadits Nabi secara tertulis. 'Umar minta

70Al-Bukhariy, op. cit., J. IV, h. 88: Muslim, op. cit., J. III, h. 1694.
71Muslim, h.1311; Abu Zahw, op.cit., h.70-73; al-Khathib, al-Sunnah qabl al-Tadwin, op.cit., h.113-116.
72Ibn Majah, Sunan ibn Majah, naskah disunting kembali dan diberi notasi oleh Muhammad Fu'ad 'Abd al-
Baqiy (Beirut: Dar al-Fikr, [tth]), J.II, h.12; al-Ramahurmuziy, op. cit., h.553.
73Al-Dzahabiy, op.cit., J.I, h.7; Ibn 'Abd al-Barr, Jami' Bayan wa Fadhlih (Mesir; Idarat al-
Mathba'ah al-Munirah, [tth]), J.I, h.121.
74Ibid. (al-Dzahabiy).
75 Al-Khathib dalam al-Ramahurmuziy, op. cit., h. 553-554 di catatan kaki nomor 2.
76Al-Khathib, op. cit. , h. 106 dan 108-109.
77Ibn Hazm, al-Ihkam fiy Ushul al-Ahkrun (Kairo: Matha'ah al-'Ashimah, J.II. h. 250.
78Ibn Hanbal, op. cit., J. I, h. 14-54.
79Al-Asqalaniy, op. cit., J. VII, h. 439.

28

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

pertimbangan kepada para Shahabat. Para Shahabat menyetujuinya. Tapi setelah
satu bulan 'Umar memohon petunjuk kepada Allah dengan jalan melakukan salat
istikharah, akhirnya dia mengurungkan niatnya itu. Dia khawatir, himpunan Hadits
itu akan memalingkan perhatian umat Islam dari Al-Qur'an.80 Dalam hal ini, dia
sama sekali tidak menampakkan larangan terhadap periwayatan Hadits. Niatnya
menghimpun Hadits diurungkan bukan karena alasan periwayatan Hadits,
melainkan karena faktor lain, yakni takut terganggu konsentrasi umat Islam
terhadap Al-Qur'an.

Dari uraian di atas dapatlah dinyatakan, bahwa periwayatan Hadits pada zaman
'Umar bin al-Khaththab telah lebih banyak dilakukan oleh umat Islam bila dibandirigkan
dengan pada zaman Abu Bakar. Hal ini bukan hanya disebabkan karena umat Islam
telah lebih banyak menghajatkan kepada periwayatan Hadits semata, melainkan juga
karena Khalifah 'Umar telah pernah memberikan dorongan kepada umat Islam untuk
mempelajari Hadits Nabi. Dalam pada itu para rawi Hadits masih agak "terkekang" dalam
melakukan kegiatan periwayatan Hadits, karena 'Umar telah melakukan pemeriksaan
yang cukup ketat kepada para rawi Hadits. 'Umar berlaku demikian bukan hanya
bertujuan agar konsentrasi umat Islam tidak berpaling dari Al-Qur'an, melainkan juga
agar umat Islam tidak melakukan kekeliruan dalam periwayatan Hadits. Kebijaksanaan
'Umar yang demikian ini telah "menghalangi" orang-orang yang tidak bertanggung jawab
melakukan pemalsuan-pemalsuan Hadits.

c. 'Usman bin 'Affan

Secara umum, kebijakan 'Usman mengenai periwayatan Hadits tidak jauh berbeda
dengan apa yang telah ditempuh oleh kedua khalifah pendahulunya. Hanya saja, langkah
'Usman tidaklah setegas langkah 'Umar bin al-Khaththab.Dalam suatu kesempatan
khutbah, 'Usman meminta kepada para Shahabat agar tidak banyak meriwayatkan
Hadits yang mereka tidak pernah mendengar Hadits itu pada zaman Abu Bakar dan
'Umar.81Pernyataan 'Usman ini menunjukkan pengakuan 'Usman atas sikap hati-hati
kedua khalifah pendahulunya. Sikap hati-hati itu ingin dilanjutkannya pada zaman
kekhalifahannya. 'Usman pribadi tampaknya memang tidak banyak meriwayatkan
Hadits. Ahmad bin Hanbal meriwayatkan Hadits Nabi yang berasal dari riwayat
'Usman sekitar empat puluh Hadits saja. Itu pun banyak matn Hadits yang terulang,
karena perbedaa sanad. Matn Hadits yang banyak terulang itu adalah Hadits mengenai
cara berwudu.82Dengan demikian, jumlah Hadits yang diriwayatkan oleh 'Usman tidak
sebanyak jumlah Hadits yang diriwayatkan oleh 'Umar bin al-Khaththab.

Dari uraian tersebut dapat dinyatakan, bahwa pada zaman 'Usman bin 'Affan,
kegiatan periwayatan Hadits telah lebih banyak bila dibandingkan dengan kegiatan
periwayatan pada zaman 'Umar bin al-Khaththab. 'Usman melalui khutbahnya telah
menyampaikan seruan agar umat Islam berhati-hati dalam meriwayatkan Hadits. Tapi
seruan itu terlihat tidak begitu besar pengaruhnya terhadap para rawi tertentu yang

80Ibn 'Abd al-Barr, op. cit., J. I, h. A; Muhammad bin Sa'ad, op. cit., J. III, h. 206.
81Al-Khathib, op. cit., h. 97-98.
82Ahmad bin Hanbal, op. cit., J.I, h. 57-75.

29

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

bersikap "longgar" dalam periwayatan Hadits. Hal tersebut terjadi, karena selain
pribadi 'Usman tidak sekeras pribadi 'Umar, juga karena wilayah Islam telah makin
luas. Luasnya wilayah Islam mengakibatkan bertambahnya kesulitan pengendalian
kegiatan periwayatan Hadits secara ketat.

d. ‘Aliy bin Abiy Thalib

Khalifah 'Aliy bin Abiy Thalib pun tidak jauh berbeda sikapnya dengan para khalifah
pendahulunya dalam periwayatan Hadits. Secara umum, 'Aliy barulah bersedia
menerima riwayat Hadits Nabi setelah rawi Hadits tersebut mengucapkan sumpah, bahwa
Hadits yang disampaikannya itu benar-benar berasal dari Nabi. Hanyalah terhadap rawi
yang benar-benar telah dipercayainya, 'Aliy tidak meminta rawi Hadits untuk ber-
lumpah. Hal ini terlihat, misalnya, ketika 'Aliy menerima riwayat Hadits dari Abu
Bakar al-Shiddiq. 'Ally tidak meminta Abu Bakar untuk bersumpah. Dalam suatu
riwayat, 'Aliy menyatakan, Abu Bakar telah memberitakan Hadits Nabi kepada saya,
dan benarlah Abu Bakar itu….”83

Fungsi sumpah dalam periwayatan Hadits bagi 'Aliy tidaklah sebagai syarat mutlak
keabsahan periwayatan Hadits. Sumpah dianggap tidak perlu, bila orang yang
menyampaikan riwayat Hadits telah benar-benar diyakini tidak mungkin keliru.'Aliy
bin Abiy Thalib sendiri cukup banyak meriwayatkan Hadits Nabi. Hadits yang
diriwayatkannya, selain dalam bentuk lisan, juga dalam bentuk tulisan (catatan). Hadits
yang berupa catatan, isinya berkisar tentang: [1] hukuman denda (diyat); [2]
pembebasan orang Islam yang ditawan oleh orang kafir; dan (3] larangan melakukan
hukum kisas (qishash) terhadap orang Islam yang membunuh orang kafir.84 Ahmad
bin Hanbal telah meriwayatkan Hadits Nabi melalui riwayat 'Aliy bin Abiy Thalib
sebanyak lebih dari 780 Hadits. Sebagian matn dari Hadits tersebut berulang-ulang
karena perbedaan sanad-nya.85Dengan demikian, dalam Musnad Ahmad, 'Aliy bin
Abiy Thalib merupakan periwayai Hadits; yang terbanyak bila dibandingkan dengan
ketiga khalifah pendahulunya.

Dilihat dari kebijaksanaan pemerintah, kehati-hatian dalam kegiatan periwayatan
Hadits pada zaman Khalifah 'Aliy bin Abiy Thalib sama dengan pada zaman
sebelumnya. Tapi situasi umat Islam pada zaman 'Ally telah berbeda dengan situasi pada
zaman sebelumnya. Pada zaman 'Aliy, pertentangan politik di kalangan umat Islam
telah makin menajam. Peperangan antara kelompok pendukung 'Aliy dengan pendukung
Mu'awiyah telah terjadi. Hal ini membawa dampak negatif dalam bidang kegiatan ter-
tentu melakukan pemalsuan Hadits. Dengan demikian, tidak seluruh rawi Hadits dapat
dipercaya riwayatnya.

Dari uraian di atas dapatlah dinyatakan, bahwa kebijaksanaan al-Khulafa` al-
Rasyidin mengenai periwayatan Hadits adalah sebagai berikut:

83Al-Dzahabiy, op. cit., J. I. h. 10-11; dan al-Humaydiy, op. cit., J.I, h.2.
84Al-Bukhariy, op.cit., J.1, h.32; J.II, h.178; Husayn 'Aliy Mahfuzh, "Al-Kulayni and al-Kafi" dalam
Abu Ja'far Muhammad ibn Ya'qub ibn Ishaq al-Kulayniy, al-Kafiy, dibahasa-Inggriskan oleh Sayyid
Muhammad Hasan Rizvi (Iran: A Group of Muslim Brothers, 1398H/1978M), Vol. 1, h. 29; al-'Asqalaniy,
Fath al-Bariy, op. cit., j.1, h.204-205.
85Ibn Hanbal, op. cit., J.I, h. 75-160.

30

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

1). Seluruh khalifah sependapat mengenai pentingnya sikap hati-hati dalam periwayatan
Hadits.

2). Larangan memperbanyak periwayatan Hadits, terutama yang ditekankan oleh
Khalifah 'Umar, tujuan pokoknya ialah agar rawi bersikap selektif dalam
meriwayatkan Hadits dan agar masyarakat tidak dipalingkan perhatiannya dari Al-
Qur'an.

3).Penghadiran saksi atau pengucapan sumpah bagi rawi Hadits merupakan salah satu
cara untuk meneliti riwayat Hadits. Rawi yang dinilai memiliki kredibilitas yang
tinggi tidak dibebani kewajiban mengajukan saksi atau bersumpah.

4). Masing-masing khalifah telah meriwayatkan Hadits. Riwayat Hadits yang
disampaikan oleh ketiga khalifah yang pertama seluruhnya dalam bentuk lisan.
Hanya 'Aliy yang meriwayatkan Hadits secara tulisan, di samping secara lisan.

5). Di kalangan umat Islam, sikap hati-hati dalam periwayatan Hadits lebih menonjol
pada masa Khalifah Abu Bakar dan 'Umar bin ai-Khaththab dibandingkan dengan
pada zaman kedua khalifah sesudahnya. Pada masa 'Usman dan 'Ally, kegiatan
periwayatan Hadits telah meluas dan mulai sulit dikendalikan. Pertentangan politik
yang meruncing pada zaman 'Aliy telah mendorong orang-oring tidak bertanggung
jawab melakukan pemalsuan Hadits. Hadits yang "beredar" dalam masyarakat
makin bertambah banyak. Dalam pada itu, untuk mendapatkan Hadits yang berkualitas
shahih diperlukan penelitian yang mendalam, baik terhadap masing-masing
periwayatnya maupun matn-nya.

e. Para Shahabat Nabi Selain al-Khulafa' al-Rasyldin

Beberapa Shahabat Nabi selain al-Khulafa`al-Rasyidin telah menunjukkan juga sikap
hati-hati mereka dalam meriwayatkan Hadits. Hal ini dapat dilihat, misalnya, pada
pernyataan-pernyataan mereka sebagai berikut:

1) Anas bin Malik pernah berkata, sekiranya dia tidak takut keliru niscaya semua apa
yang telah didengamya dari Nabi dikemukakan juga kepada orang lain.86 Pernyataan
Anas ini memberi petunjuk bahwa tidak seluruh Hadits yang pernah didengamya
dari Nabi disampaikan kepada Shahabat lain atau kepada tabi'in. Dia berlaku hati-hati
dalam meriwayatkan Hadits.

2) 'Abdullah bin 'Umar (w.73H/692M) oleh kalangan tabi'in yang dekat hubungan
pribadi dengannya dikomentari sebagai berikut:

a). Kata al-Sya'biy (w.103H/721M), selama dia bergaul dua atau satu setengah
tahun dengan Ibn 'Umar, tern1ata Ibn 'Umar hanya menyampaikan riwayat
sebuah Hadits saja.87

b). Kata Sabit bin Quthbah al-Anshariy, Ibn 'Umar dalam waktu satu bulan hanya
menyampaikan dua atau tiga Hadits saja kepadanya.

86 Abu Muhammad 'Abd Allah bin 'Abdir-Rahman al-Darimiy (selanjutnya al-Darimiy), Sunan al-Darimiy
([ttp]: Dar Ihya'al-Sunnah al-Nabawiyyah, [tth] J. I, h. 76-77.

87Ibid. Dalam riwayat Ibn Majah diterangkan, bahwa pergaulan al-Sya'biy dengan ibn 'Umar ada sekitar satu
tahun. Lihat: Ibn Majah, op. cit., J. I, h. I.

31

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

c). Kata Mujahid, selama dia menemani Ibn 'Umar dalam perjalanan dari Mekah ke
Madinah, Ibn 'Umar hanya menyampaikan sebuah Hadits saja.88

Pengakuan kalangan tabi'in tersebut menandakan, bahwa walaupun Ibn 'Umar
termasuk al-muksirun fly al-Hadits,89tapi dia tidak "royal" menyampaikan Hadits
Nabi. Hal itu menunjukan sikap hati-hati Ibn 'Umar dalam meriwayatkan Hadits.

3) Sa'ad bin Abiy Waqqash (w.55H/675 II) pernah ditemani oleh al-Sa’ib bin Yazid
dalam perjalanan dari Mekah ke Madinah pergi-pulang. Selama dalam perjalanan,
Sa'ad tidak menyampaikan sebuah Hadits pun kepada al-Salb.90 Apa yang
dilakukan oleh Sa'ad itu tidak lepas dari sikap Kati-hatinya dalam periwayatan
Hadits.

Sikap hati-hati para Shahabat Nabi tersebut. bukan hanya tatkala menyampaikan
Hadits saja, melainkan juga tatkala menerimanya. Tidak jarang seorang Shahabat
terpaksa menempuh perjalanan yang sangat jauh hanya untuk mendapatkan atau
mencocokkan sebuah Hadits saja. Berikut ini dikemukakan beberapa bukti:

4) Abu Ayyub al-Anshariy telah melakukan perlawatan dari daerah Hijaz ke Mesir
hanya untuk "mencari" sebuah Hadits dari 'Uqbah bin 'Amir.91

5) Jabir bin 'Abdillah pernah mengadakan perjalanan dengan mengendarai unta dan
Madinah ke negeri Syam, selama satu bulan perjalanan, hanya untuk mendapatkan
sebuah Hadits dari 'Abdillah bin 'Umair yang tinggal di Syam.92

6) 'A'isyah pernah menyuruh 'Urwah bin Zubayr menanyakan sebuah Hadits kepada
'Abdillah bin 'Amr bin al-'Ash yang sedang menunaikan ibadah haji. 'Abdullah
menyampaikan Hadits yang ditanyakannya itu. Pada tahun berikutnya, 'Allah naik
haji lagi. 'Urwah disuruh lagi oleh 'A'isyah untuk menanyakan Hadits kepada
'Abdillah. Hadits yang ditanyakan adalah Hadits yang telah ditanyakan tahun lalu
itu. Ternyata, lafazh Hadits yang disampaikan oleh 'Abdullah sama persis dengan
lafazh Hadits yang telah disampaikannya tahun lalu. 'A'isyah lalu berkomentar: "Demi
Allah, sungguh 'Abdullah telah hafal Hadits Nabi itu.93

Pengalaman para Shahabat tersebut menunjukkan sikap hati-hati mereka dalam
menerima riwayat Hadits. Di samping itu, pada zaman Shahabat Kecil ini, para
Shahabat kelihatan tidak lagi terkekang akan keharusan menyedikitkan periwayatan
Hadits. Dari uraian tersebut, diketahui bahwa riwayat Hadits yang "dimiliki" para
Shahabat tidak sama, ada yang langsung diperolehnya dari Nabi dan ada yang
diperolehnya dari Shahabat lain. Bahkan menurut berbagai sumber, tidak sedikit

88Al-Bukhariy, op. cit., J. I, h. 24; Muslim. op. cit., J. IV, h. 2165.
89Yang dimaksud dengan al-muksirun fiy al-Hadits atau al-sabit al-muksirun ialah Shahabat Nabi yang telah
banyak meriwayatkan Hadits. Hadits yang mereka riwayatkan lebih dari seribu Hadits. Mereka itu ada tujuh orang,
yakni: (1) Abu Hurairah (w.58H/678M), (2) 'Abd Allah bin 'Umar bin al-Khaduhab (w.73H/692M), (3) Anas
bin Malik (w.93H/711M), [4] 'A'isyah Umm al-Mukminin (w.58H/678M). (5) 'Abd Allah bin 'Abbas
(w.68H/687M), (6) Jabir bin Abd Allah (w.78H/697M), dan (7) Abu Sa'id al-Khudhriy (w.74 H). Lihat: Shubhiy
al-shalih, op. cit., h. 359- 372; al-Suyuthiy, Tadrib al-Rawiy, op. cit., J.Q, h. 216-218.
90Ibn Majah, op. cit., J. I, h. 12; al-Darimiy, op. cit., J. II, h. 85.
91Al-Hakim, Ma’rifah 'Ulum al-Hadits, op. cit., h. 7-8.
92Ibid., h. 8-9; al-Bukhariy, op. cit., J. I, h. 25; Ibn 'Abd al-Barr, op. cit., J. I, h. 93.
93 Ibn Qayyim, I'lam al-Muwaqqi 'in, op. cit., J. I, h. 52.

32

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

Shahabat Nabi yang memperoleh riwayat Hadits dari tabi'in. 'A'isyah, Abu Hurairah,
Mu'awiyah, 'Abdullah bin 'Abbas, 'Abdullah bin 'Umar, 'Abdullah bin Zubayr, dan
'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash telah menerima Hadits bukan hanya dari Nabi dan
Shahabat Nabi saja, melainkan juga dari Ka'b al-Akhbar (w.32H/652M), seorang
tabi’iy.94Seorang tabi'iy tidak pernah menerima Hadits langsung dari Nabi.

Kegiatan periwayatan Hadits pada zaman Shahabat sesudah periode al-Khulafa`
al-Rasyidin telah lebih banyak dan luas dibandingkan dengan kegiatan periwayatan
pada zaman al-Khulafa` al-Rasyidin. Kalangan al-tabi'in telah makin banyak yang
aktif melakukan periwayatan Hadits. Shahabat Nabi bukan hanya menerima riwayat
Hadits dari kalangan Shahabat saja, melainkan juga dari kalangan al-tabi'in. Hadits
yang diriwayatkan oleh Shahabat bukan hanya yang diperoleh langsung dari Nabi saja,
melainkan juga yang diperoleh melalui Shahabat dan al-tabi'in. Ini berarti, Shahabat
Nabi dalam rangkaian periwayatan Hadits tidak selalu berkedudukan sebagai saksi
primer atas terjadinya Hadits yang diriwayatkannya. Boleh jadi untuk periwayatan
Hadits tertentu, seorang Shahabat berkedudukan sebagai saksi sekunder.

Kehati-hatian dalam periwayatan Hadits di masa Shahabat sesudah periode al-
Khulafa` al-Rasyidin tidak lagi menjadi ciri yang menonjol, walaupun rawi Hadits yang
sangat berhati-hati dalam meriwayatkan Hadits tidak sedikit jumlahnya. Ini berarti,
tidaklah setiap rawi Hadits dapat dipercaya riwayatnya. Karenanya, untuk memperoleh
riwayat Hadits yang matn-nya shahih, terlebih dahulu diperlukan penelitian yang
mendalam, bukan hanya terhadap matn Haditsnya, tapi juga kepada pribadi dan
rangkaian para periwayatnya.

3. Periwayatan Hadits Sesudah Generasi Shahabat

Pada zaman sesudah generasiShahabat Nabi, khususnya sampai saat Hadits Nabi
dihimpunkan dalam kitab-kitab Hadits, telah dibakukan tata-cara penyampaian dan
penerirnaan riwayat Hadits Nabi. Pembakuan tata-cara periwayatan ini sangat erat kaitannya
dengan upaya 'Ulama' untuk menyelamatkan Hadits Nabi dari pemalsuan-pemalsuan Hadits
yang sedang berkembang.Sikap hati-hati dalam periwayatan Hadits dan kalangan 'Ulama'
pada masa ini terlihat tidak jauh berbeda dengan sikap hati-hati para Shahabat Nabi. Di
samping itu, kegiatan periwayatan Hadits tampak semarak. Berikut ini dikemukakan
beberapa bukti yang menggambarkan secara umum besarnya perhatian 'Ulama' Hadits
terhadap periwayatan Hadits pada zaman sesudah generasi Shahabat tersebut, khususnya
sampai masa penghimpunan Hadits:

a. Sa'id bin al-Musayyab (w.94H/712M), seorang besar di kota Madinah, mengaku
telah mengadakan perjalanan siang-malam untuk mendapatkan sebuah Hadits
Nabi.95Kegiatan yang sama telah dilakukan oleh Muhammad bin Sirin

94Al-'Asqalaniy. Tandzib al-Tandzik op. cit., J. VIII, h. 438-440; Ibn al-Shalah, op. cit., h.277; dan al-
Darimiy, op. cit., J.I, h. 6. Ka'b Al Akhbar masuk Islam pada zaman Khalifah -Abu Bakar, dan ada yang
menyatakan pada zaman Khalifah 'Umar bin al-Khaththab. Sebelum masuk Islam, Ka'b dikenal sebagai
seorang pendeta Yahudi. Menurut Ibn Hajar al-'Asqalaniy, Ka'b meriwayatkan Hadits Nabi secara mursal, yakni
dengan tidak menyebut nama Shahabat Nabi yang telah menyapalkan Hadits kepadanya. Lebih lanjut 'ALi: al-
'Asqalaniy, loc. cit.; lihat juga, al-Dzahabiy, op. cit., J.I. h. 52.

95Al-Hakim, op. cit., h. 8 dan 43.

33

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

(w.110H/729M), Sufyan al-Sawriy (w.161H/778M), dan lain-lain.96

b. Muhammad bin Muslim bin Syihab al-Zuhriy (w.124H/742M) pernah diminta oleh
Hisyam bin 'Abd al-Malik (w.125H/743M) untuk mendiktekan Hadits .Nabi yang akan
dihadiahkan kepada anaknya. Al-Zuhriy mendiktekan empat ratus Hadits. Kemudian
catatan itu hilang dan tangan Hisyam. Sesudah sekitar satu bulan, Hisyam minta
kepada al-Zuhriy untuk mendiktekan kembali seluruh Hadits yang telah didiktekan tempo
hari. Al-Zuhriy mendiktekan kembali. Syandan, catatan yang tadinya hilang ditemukan
kembali oleh Hisyam. Kemudian kedua catatan (yang baru dan yang pernah hilang)
dicocokkan dan ternyata seluruh lafazhnya persis sama.97Hal tersebut menunjukkan
betapa tinggi kemampuan hafalan al-Zuhriy mengenai Hadits Nabi.

c. Abu 'Amr 'Abd al-Rahman bin 'Amr al-Awza'iy (w.157 11 = 774M) menyatakan, bila
dia dan 'Ulama' sejawatnya menerima riwayat Hadits, maka Hadits itu diteliti
bersama. Penelitian dilakukan seperti halnya pengujian terhadap mata uang dirham.
Bila 'Ulama' menyimpulkan bahwa riwayat itu memang Hadits Nabi, maka al-Awza'iy
mengambilnya; dan bila mereka mengingkarinya, maka dia meninggalkannya.98
Sikap al-Awza'iy tersebut menunjukkan kehati-hatiannya dalam menerima riwayat
Hadits.

d. 'Aliy bin al-Madiniy (w.234H/848M) menyatakan, kegiatan mendalami makna Hadits
merupakan separuh dan pengetahuan; dan mengenal dengan baik keadaan para rawi
Hadits merupakan separuhnya lagi.99Pernyataan Ibn al-Madiniy tersebut menunjukkan
betapa pentingnya pengetahuan matn Hadits dan penelitian terhadap para periwayatnya.

e. Al-Syafi'iy (w.206H/820M), dari generasi atba' al-tabi'in, telah melawat mencari Hadits
yang ada pada Malik bin Anas di Madinah, kemudian melawat ke Irak. Ahmad bin
Hanbal (w.241H/855M), dari generasi atba' atba' al-tabi'in, telah melawat dan
mengumpulkan Hadits Nabi yang ada di Irak, Yaman, Jazirah Arab, dan Syam.100

f. Al-Bukhariy (w.256H/870M), dari generasi atba' atba' al-tabi'in, telah melawat
untuk mencari dan meneliti Hadits Nabi ke berbagai kota dan daerah, di antaranya
Mekah, Madinah, Syam, Bagdad, Wasith, Kufah, Basrah, Mesir, Merw, Hara',
Naysabur, Qisariyah, 'Asqalan, Himsh, dan Khurasan.101 Al-Bukhariy pernah secara
mendadak diuji di muka umum oleh 'Ulama' Bagdad. Al-Bukhariy tanpa persiapan
terlebih dahulu disodori seratus Hadits yang ditukar-tukarkan sanad dan matn-nya.
Lalu al-Bukhariy diminta oleh hadirin, yang di antara mereka adalah 'Ulama' Hadits,
untuk "mengembalikan" sanad dan matn yang telah sengaja ditukar-tukarkan itu. Pada
saat itu juga, tanpa dibantu oleh catatan dan orang lain, al-Bukhariy mampu dengan
lancar "mengembalikan" sanad dan matn yang telah ditukar-tukarkan tersebut ke

96Ibn 'Abd al-Barr, op. cit., J. I, h. 94-95: al-Khathib, op. cit., h. 180-181.
97Al-'Asqalaniy, op. cit., J. IX, h. 449; al-Dzahabiy, op. cit., J. I, h. 110.
98Al-Ramahurmuziy, op cit., h. 318.
99Ibid., h. 320.
100'Ulama' lainnya yang mengadakan perlawatan untuk mencari dan menghimpun Hadits Nabi, lihat misalnya:
ibid., h.229-33.
101Al-Husayn 'Abdal-Majid Hasyim, al-Imam al-Bukhariy Muhadditsan wa Faqihan (Kairo; AL-Dar al-
Qawmiyyah, [tth], h. 28-36.

34

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

persambungannya masing-masing secara benar.102 Hal ini menunjukan betapa tinggi
tingkat penguasaan dan hafalan al-Bukhariy mengenai matn dan sanad Hadits yang
diriwayatkannya.

Bukti-bukti di atas menunjukkan kesungauhan, kehati-hatian, dan keluasan
pengetahuan 'Ulama' sesudah zaman generasi Shahabat Nabi dalam kegiatan periwayatan
Hadits. Bagian Hadits yang mereka kaji dan dalami bukan hanya matn-nya saja,
melainkan juga nama-nama rawi dan susunan sanad-nya.'Ulama' Hadits kemudian
menciptakan gelar-gelar keahlian di bidang pengetahuan Hadits. Gelar-gelar yang berstatus
honoris causa itu bertingkat-tingkat sesuai dengan jenjang keahlian yang ada pada masa
itu. Dalam sejarah, pemakaian gelar-gelar itu telah mengalami perkembangan dan
mengkompromikan pengertian dan pemakaian gelar-gelar tersebut. Dinyatakan, gelar
yang terendah adalah al-musnid, kemudian disusul peringkat di atasnya secara berurut:
al-muhaddits, al-hafizh, al-hakim, dan yang tertinggi: amir al-mu`minin fiy al-Hadits.103
Kemunculan gelar-gelar tersebut merupakan pertanda betapa Hadits Nabi telah menjadi
perhatian yang sangat besar di kalangan 'Ulama' dan masyarakat. Kriteria pemberian gelar,
bukan hanya dikaitkan kepada penguasaan pengetahuan yang berhubungan dengan Hadits
semata, melainkan juga jumlah hafalan matn beserta sanad-nya.

Rawi Hadits pada zaman ini tidak memperoleh Hadits secara langsung dari Nabi, karena
mereka memang tidak sezaman dengan Nabi. Mereka dapat saja menerima riwayat
Hadits dari rawi yang:

a. berasal dari generasi sebelum mereka, tapi masih sempat sezaman dengan mereka;
b. berasal dari satu generasi dengan mereka; dan [c] berasal dari generasi berikutnya yang

sempat sezaman dengan mereka.

Sekadar contoh dapat dikemukakan pengalaman al-Zuhriy dalam menerima Hadits.
Dia adalah seorang tabi'iy yang diriwayatkannya ada yang berasal dari:
Shahabat Nabi, misalnya Anas bin Malik, 'Abdullah bin 'Umar dan Jabir bin
'Abdillah; tabi'in, misalnya Sa'id bin al-Musayyab, 'Urwah bin Zubayr, dan Atha' bin
Abiy Rahah; atba' al-tabi 'in, misalnya Malik bin Anas.104 Dengan demikian, Hadits
yang diriwayatkan al-Zuhriy dari Malik bin Anas mempunyai kemungkinan besar
rangkaian periwayatnya lebih panjang bila dibandingkan dengan yang diperolehnya dari
Shahabat Nabi langsung. Jadi, rawi dari generasi al-tabi'in tidak mesti berkedudukan sebagai
rawi yang kedua dalam sanad Hadits, tapi ada kemungkinan juga berkedudukan sebagai
rawi yang ketiga, keempat, dan bahkan kelima.

102Ibid., h. 53-55; al-'Asyalaniy, Had-y al-Sariy Muqaddimah Fath al-Bariy, sampul luar tertulis Fath al-Barriy
([ttp]: Dar al-Fikr dan al-Salafiyyah, [tth]), J. XIV, h. 484; lihat juga, Muhammad bin Yusuf bin 'Aliy al-Kirmaniy
(al-Kirmaniy), Shahih Abiy 'Ad Allah al-Bukhariy bi al-Kirmaniy (Kairo: 'Abdur-Rahman Muhammad,
[tth]), J.I, h.12. Riwayat mengenai kemampuan al-Bukhariy tersebut dapat mengundang pendapat yang
menyangsikan kebenarannya, kecuali bagi orang-orang yang cerdas dan percaya.

103Al-Suyuthiy, Tadrib al-Rawly. op. cit., J. I, h. 43-52; al-Mubarakfuriy, op. cit.. J. I, h. 7-10; al-Qariy, op.
cit., h. 3-4; al-Tirmisiy. op. cit., h. 182-185; Ahmad Muhammad Syakir (Syakir), Syarh Alfiyyat al-Suyuthiy fiy '!lm
al-Hadits (Beirut: Oar al-Ma'rifah. [tth]. h. 184-187. Dalam kitab-kitab tersebut dijelaskan kriteria masing-masing
gelar. perbedaan pendapat 'Ulama' atas kriteria untuk gelar-gelar tertentu. dan beberapa contoh nama 'Ulama' Hadits
yang diberi gelar-gelar dimaksud.

104Ibid. (al-Suyuthiy); al-'Asqalaniy, Tahdzib al-Tandzib, op. cit., J. IV: h. 84, VII: h. 18:1 [8] 199-200. IX:
III). 445-447, dan X: h. 5: Ibn al-Shalah, op. cit.. h. 276-277.

35

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

Dari uraian di atas, dapatlah dinyatakan bahwa periwayatan Hadits pada zaman sesudah
generasi Shahabat Nabi telah makin meluas. Rangkaian para rawi Hadits yang "beredar" di
masyarakat menjadi lebih "panjang" dibandingkan dengan rangkaian para rawi pada zaman
Shahabat Nabi. Perhatian 'Ulama' untuk meneliti matn dan sanad Hadits makin bertambah
besar, karena jumlah rawi yang tidak dapat dipercaya riwayatnya makin bertambah
banyak. Seiring dengan itu, jumlah 'Ulama' yang mengkhususkan diri untuk meneliti Hadits
juga makin bertambah banyak. Berbagai ilmu dan qa'idah yang berkenaan dengan
penelitian Hadits makin berkembang.

C. Bentuk Susunan Hadits Nabi dalam Periwayatan

3. Rangkaian Nama Rawi dan Tata-Cara Periwayatan

Hadits yang dicatat oleh para rawi dan penghimpun Hadits, misalnya al-Bukhariy,
Muslim, dan Abu Dawud, bukan hanya sabda, perbuatan, taqrir, dan atau hal-ihwal Nabi
semata, melainkan juga rangkaian nama-nama periwayatnya yang biasa disebut dengan
sanad. Hadits yang dikemukakan secara lengkap matn dan sanad-nya biasa disebut dengan
Hadits musnad.Hubungan yang terjadi antara rawi dengan rawi lain yang terdekat dalam
suatu sanad adalah hubungan kegiatan penerimaan dan penyampaian riwayat Hadits. kedua
kegiatan ini dalam ilmu Hadits lazim disebut dengan istilah tahammul ada' al-Hadits.

'Ulama' Hadits telah membahas syarat-syarat umum sahnya seorang rawi menerima
dan menyampaikan riwayat Hadits. Dalam hal ini, dibedakan syarat-syarat rawi Hadits
ketika menerima dan ketika menyampaikan riwayat Hadits. 'Ulama' pada umumnya
berpendapat, orang-orang kafir dan anak-anak dinyatakan sah menerima riwayat Hadits,
tapi untuk kegiatan penyampaian Hadits, riwayat mereka tidak sah. Syarat-syarat yang
harus dipenuhi oleh seseorang ketika menyampaikan riwayat Hadits sehingga riwayatnya
dinyatakan sah ialah orang itu harus:

a. beragama Islam; b. balig;

c. berakal; d. tidak fasik;

e. terhindar dari tingkah laku yang mengurangi atau menghilangkan kehormatan (muru'ah);

f. mampu menyampaikan Hadits yang telah dihafalnya;

g. sekiranya dia catatan Hadits, maka catatannya itu dapat dipercaya; dan

h. mengetahui dengan baik apa yang merusakkan maksud Hadits yang diriwayatkannya
secara makna.105Mereka yang memenuhi syarat-syarat tersebut biasa disebut adil dan

dhabith.

Dengan demikian dapat dinyatakan, persyaratan rawi ketika menyampaikan Hadits lebih
ketat daripada persyaratan ketika menerima Hadits. 'Ulama' memang tidak memberikan
rincian mengenai syarat-syarat sahnya penerima riwayat.

Tapi dapatlah dinyatakan, bahwa seorang penerima riwayat sedikitnya haruslah:

105Ibid. (Ibn al-Shalah). h.114-117; al-Nawawiy, al-Tagrib li al-Nawawiy Fann Ushul al-Hadits (Kairo:
'Abdur-Rahman Muhammad. ([tth]). h.12-15; Abu al-Faydh Muhammad bin Muhammad bin ‘Aliy (al-Harawiy).
Jawahiral-Ushill fiy ‘Ilm Hadits al-Rasul (al-Madinah al-Munawwarah: Al-Makuhat al-‘Ilmiyah, 1373 H). h. 55-
68; al-Ghazaliy, op. cit., h. 180-184.

36

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

a. sehat akal pikirannya; dan

b. secara fisik dan mental memungkinkan mampu memahami dengan baik riwayat
Hadits yang diterimanya.

Jadi, untuk seorang rawi yang menerima Hadits dengan cara mendengar, maka
pendengaran orang itu harus baik dan orang yang menerima riwayat dengan tulisan, maka
orang itu harus cakap membaca dengan baik.

'Ulama' Hadits menetapkan berbagai istilah atau kata-kata atau harf tertentu untuk
menghubungkan rawi dengan rawi lain yang terdekat dalam sanad. Istilah atau kata atau
harf itu menggambarkan cara yang telah ditempuh oleh rawi Hadits tersebut tatkala me-
nerima riwayat Hadits.

Pada umumnya, 'Ulama' membagi tata-cara penerimaan riwayat Hadits kepada
delapan macam:

a. al-sama' min lafzh al-syaykh; b.al-qira'ah 'ala al-syaykh;

c.al-ijazah; d.al-nutnawalah; e.al-mukatabah;

f.al-ilam; g.al-washiyyah; dan h. al-wijadah.106

Masing-masing cara ini memiliki pengertian dan istilah-istilah atau kata-kata tertentu
dalam sanad.

a. Al-Sam' min Lafzh al-Syaykh, biasa disebut juga dengan al-sama' saja, ialah penerimaan
Hadits dengan cara mendengar langsung lafazh Hadits dan guru Hadits (al-syaykh).
Hadits itu didiktekan atau disampaikan dalam pengajian (mudzakarah) oleh guru Hadits,
berdasarkan hafalannya atau catatannya. Cara periwayatan bentuk ini oleh mayoritas
'Ulama' Hadits dinilai sebagai cara yang tertinggi kualitasnya.107Pengakuan 'ulama'
yang menempatkan cara penerimaan riwayat dengan al-sama' sebagai cara yang paling
dapat dipercaya masih perlu dipersoalkan. Karena, hasil pendengaran seseorang yang
dapat dipercaya ditentukan oleh beberapa faktor, misalnya kepekaan alat pendengaran,
kejelasan suara yang didengar, kesungguhan pendengar kepada apa yang didengarnya,
dan kemampuan intelektual pendengar untuk memahami apa yang didengarnya. Jadi,
tidak setiap rawi yang menyatakan telah menerima Hadits dengan cara al-sama', lalu
dengan sendirinya riwayat orang itu memiliki kedudukan kualitas yang tinggi. Untuk
menetapkan kualitas riwayat seseorang, diperlukan penelitian yang mendalam mengenai
kualitas pribadi dan kemampuan intelektual orang tersebut.

Mengapa cara al-sama' diberikan status yang tertinggi dalam periwayatan Hadits
oleh mayoritas 'Ulama' Hadits? Dalam hal ini, sedikitnya ada dua alasan pokok, yaitu:
Masyarakat pada masa itu masih menempatkan cara hafalan sebagai cara yang
terbaik dalam menimba ilmu pengetahuan. Kemampuan seseorang di bidang hafalan

106 Ibid. (Ibn al-Shalah, h.118-157; al-Nawawiy, h.15-21; al-Harawiy. h.68-77); Muhammad Mustafa
Azami. Studies in Hadith Methodology and Literature (Indianapolis. Indiana: IslamK Teaching Centre. 1977M). h.
16. lama, al-Din al-Qasimiy membaginya kepada sembilan macam. Perbedaan terjadi hanya karena perbedaan
klasifikasi. Dalam hal cara dibagi dua macam oleh at-Qasimiy. sedang oleh kebanyakan 'Ulama' cara tersebut tetap
dijadikan satu macam saja. Lihat: Al-Qasimiy. Qawa'id al Tahdis, min Funun Mushthalah al-Hadits (ttp: 'Isa al-
Babiy al-Halabiy wa Syurakah, tth) h. 203-204.

107Ibid. (Ibn al-shalah. h.118; al-Harawiy, h.68); al-Syawkaniy, lrsyad al-Fuhul (Surabaya: sa’im bin
Sa'ad bin Nabhan wa Akhuhu Ahmad, h.54-55.

37

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

menjadikan orang itu memiliki kedudukan yang tinggi dalam masyarakat. Metode
hafalan yang bersifat spontanitas dihargai lebih tinggi daripada hafalan yang melalui
catatan. Dalam pada itu, metode verbal dihargai lebih tinggi daripada metode nalar.
Hal tersebut terlihat, misalnya, pada peristiwa "ujian" yang telah dialami al-
Bukhariy seperti telah dikemukakan di uraian terdahulu. Al-Bukhariy ketika itu diuji
kemampuan hafalannya dan bukan kemampuan daya nalarnya. Ada Hadits Nabi yang
menyatakan:

‫َ ْس َم ُعـ ْو ِن َو َ ْس َم ُع ِم ْ ُ ْﲂ َو َ ْس َم ُع ِمم ْن َ ِﲰ َع ِم ْ ُ ْﲂ )رواه ابو داود عن ان عباس وا ن اﰉ اﰎ الرازى عن بت ن‬
.(‫ق س وان عباس‬

{Kamu (Shahabat) mendengar (Hadits dariku), laluorang lain mendengar dari kamu, dan
orang lain lagi mendengar dariorang yang mendengar dari kamu. (HR Abu Dawud dari
Ibn ‘Abbas, juga Ibn Abi Hatim aI-Raziy dari Tsabit bin Qays dan Ibn ‘Abbas)}.108

Hadits tersebut memberikan isyarat bahwa periwayatan Hadits yang secara tegas

diakui keabsahannya oleh Nabi adalah dengan cara alsama'. Sabda Nabi dimaksud

memang relevan dengan kondisi umat Islam pada zaman itu, yakni umat yang

mengandalkan hafalan dalam menuntut pengetahuan. Soalnya, apakah cara al-sama'

memang merupakan cara yang paling akurat dalam penerimaan riwayat Hadits

dibandingkan dengan cara-cara lain yang telah ditempuh oleh para rawi Hadits? Untuk

menjawab pertanyaan itu, pada pembahasan cara al-qira caraal-sama' diperbandingkan

dengan cara al-qira.Istilah atau kata yang dipakai untuk cara al-sama' beragam, di

antaranya:

‫ دث ﲎ‬-3 ‫ ّد ث نا‬-2 ‫ ﲰع ُت‬-1
‫ ذ ر لنا‬-6 ‫ قال لنا‬-5 ‫ ٔ ﱪ‬-4

Bobot kualitas penggunaan kata-kata ini disepakati oleh 'Ulama'. Menurut al-

khathib al-Baghdadiy (w.463H/1072M), kata yang tertinggi adalah ‫ سمعﺖ‬kemudian
‫حدّﺛنا‬dan ‫حدّﺛني‬. Alasannya, kata ‫ سمعﺖ‬menunjukan kepastian rawi mendengar

langsung Hadits yang diriwayatkannya. Sedang dua macam kata yang disebut terakhir
masih bersifat umum; ada kemungkinan rawi tersebut tidak mendengar langsung.

Menurut Ibn al Shalah (w.643H/1245M), kata ّ‫ حدﺛنا‬dan ‫ أخبرنا‬di satu segi dapat
saja lebih tinggi kualitasnya daripada ‫سمعﺖ‬. Karena kata ‫ سمعﺖ‬dapat berarti guru

Hadits (al-syaykh) tidak khusus menghadapkan riwayatnya kepada penerima riwayat

yang menyatakan ‫ سمعﺖ‬tadi atau guru Hadits itu tidak melihat langsung penerima
riwayat yang menyatakan kata ‫ سمعﺖ‬tersebut. Sedangkan kata-kata ّ‫ حدﺛنا‬dan ‫أخبرنا‬

memberi petunjuk bahwa guru Hadits menyampaika dan menghadapkan riwayatnya

kepada rawi yang menyatakan: ّ‫ حدﺛـنا‬atau ‫ أخبرنا‬tersebut.

108Sunan Abi Dawud, op. cit., J.III, h.322; Abu Muhammad bin 'Abdir-Rahman bin Abiy Hatim al-Raziy (al-
Raziy), Kitab al-Jarh wa al-Ta'dil (Hayderabad: Majlis Da'irat al-Ma'arif, 1371 H =1952M), J.II. h.8-9.

38

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

Menurut Ibn Hajar al-Asqalaniy (w.852H/1449M), kata ‫ سمعﺖ‬dan ّ‫حدﺛنا‬
menunjukan bahwa rawi mendengar sendiri, sedang ‫ سمعﺖ‬dan ّ‫ حدﺛنا‬pada umumnya

menunjukan bahwa rawi mendengar bersama orang lain.109

Menurut Ibn katsir (w.774H/1373M), kata ‫ حدّﺛنى‬dan ‫ أخبرنا‬karena yang disebut

pertama mengandung unsur kesengajaan guru Hadits menyampaikan Hadits kepada
penerima riwayat, sedang dua kata yang disebut terakhir tidak mengandung unsur
kesengajaan.110 Kata-kata:

( ‫)فعـلفﻼن ( )كان يقول كذا‬ (‫)قال فﻼن( )ذكر فﻼن( )حدث فﻼ ّن‬

atau yang serupa dengannya, diperselisihkan penggunaannya oleh 'Ulama'.

Sebagian 'Ulama' berpendapat, kata-kata itu menunjukan rawi dengan cara al-
sama’. Sebagian 'Ulama' lagi berpendapat kata-kata tersebut menunjukkan cara rawi
al-sama’ bila di dalamnya tidak terdapat penyembunyian cacat (tadlis) oleh rawi yang
menggunakan kata-kata dimaksud.

Pendapat yang disebut terakhir ini menyamakan status kata-kata ‫ فﻼنقال‬dan lain-
lain tersebut di atas dengan penggunaan kata (harf) ‫ عن‬. Menurut Abu Ja’far bin
hamdan al-Naysaburiy, kata-kata ‫ فﻼنقال‬dalam Shahih Al-Bukhariy menunjukan

periwayatan dengan cara al-qira’ah atau al-munawalah111

Dari berbagai pendapat tersebut dapatlah dikemukakan, bahwa kata-kata yang
dipakai oleh rawi dalam periwayatan Hadits dengan cara al-sama’ ternyata ada yang
disepakati oleh 'Ulama' dan ada yang tidak disepakati. Untuk kata-kata yang
disepakati, terdapat pula perbedaan-pendapat mengenai tingkat kualitasnya. Jalan
yang terbaik adalah “mengembalikan” pengertian kata-kata itu kepada periwayatnya
tersebut. Tapi hal ini tidak mudah, sebab tidak setiap rawi menerangkan kata-kata
yang dipakainya.

c. Al-Qira’ah ‘ala al-Syaykh, biasa disebut dengan al-qira’ah saja, atau disebut juga
dengan istilah ‘ardh. Dalam cara ini rawi menghadapkan riwayat Hadits kepada guru
Hadits dengan cara rawi itu sendiri yang membacanya atau orang lain yang
membacakannya dan dia mendengarkannya. Riwayat Hadits yang dibacakannya itu
dapat saja berasal dari catatannya yang paling teliti yang ada padanya. Dengan
demikian, cara ini mirip dengan pemeriksaan hafalan seorang penghafal Al-Qur'an
kepada guru penghafal Al-Qur'an.112 Dalam periwayatan cara ini penerima riwayat
lebih aktif daripada guru.

109Ibid. (Ibn al-shalah), h.120; Al-Baghdadiy, Kitab al-Qifayah fiy ‘Ilm al-Riwayah (Mesir:Mathba’ah al-
sa’adah, 1972M), h.412-413 al-Asqalaniy, Nuz-hat al-nazhar Syarh Nukhbat al-Fikar (semarang; Maktabah al-
Munawwar, [tth]), h. 56.

110 Ibn Katsir, Ikhtisar ‘Ulum al-Hadits, disyarah oleh Ahmad Muhammad Syakir dengan judul: Al-Ba’is al-
Hasis Ikhtisar ‘Ulum al-Hadis (Beirut: Dar al-Fikr, [tth]) h.57; Ibn Hazm, op,cit., h.255.

111 Al-‘Ala’iy, jami’ ‘al-Tashil fiy Ahkam al-Marasil (al-Jamhuriyyah al-‘Iraqiyah: Ihya’ al-turas al-islamiy,
Wuzarat al-Awqaf, 1978M), h. 142-144).

112 Ibn al-Shalah, op,. cit,. H. 122; al-Harawiy, op. cit,. 70; dan al-Syawkaniy, op. cit. H. 55.

39

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

Kedudukan penerima riwayat dengan cara al Qira’ah diperselisihi oleh 'Ulama'.
Al-Zuhriy, Malik bin Anas, Sufyan bin Uyaynah, al-Bukhariy, dan beberapa 'Ulama'
lainnya menyamakan kedudukan al-qira’ah dengan al-sama’. Al-Suyuthiy, al-
Buwaytiy, al-Muzaniy, Sufyan al-Sawriy, Ahmad bin Hanbal, Abd Allah bin al-
Mubarak, Ishaq bin Rahawayh, dan ibn al-Shalah menilai kedudukan al-sama’ lebih
tinggi daripada al-qira’ah. Sedang Abu hanifah, Abu Dzib, dan beberapa 'Ulama' lagi
menilai al-qira’ah lebih tinggi daripada al-sama’.113

Bila dilihat dari proses pemeriksaan terhadap riwayat Hadits yang diriwayatkan,
maka cara al-qira’ah lebih berpeluang dapat terhindar dari kesalahan dibandingkan
dengan cara al-sama’. Karena dengan cara al-qira’ah, pemeriksaan riwayat Hadits
dilakukan oleh guru Hadits selaku penyampai riwayat dan murid selaku penerima
riwayat. Guru Hadits menyimak Hadits yang dibacakan murid. Hadits yang dibacakan
oleh murid itu mungkin berasal dari hafalan dan mungkin berasal dari catatannya.

Jadi, apayang dinyatakan oleh guru sesungguhnya berfungsi sebagai penguat terhadap
Hadits yang dibaca oleh murid tadi. Sebelum murid membacakan Hadits yang diriwayatkannya
kepada guru tadi, sudah dapat dipastikan murid tersebut telah memeriksa terlebih dahulu Hadits
yang dibacakannya itu. Guru dalam hal ini berfungsi sebagai pemeriksa terakhir terhadap Hadits
yang telah diperiksa oleh murid.

Adapun untuk periwayatan Hadits dengan cara al-sama', guru Hadits menyampaikan riwayat
Hadits, sedang murid (penerima riwayat) mendengarkannya. Guru Hadits tidak memeriksa
lebih lanjut hasil "tangkapan" pendengaran murid terhadap Hadits yang telah disampaikan oleh
guru tersebut. Jadi, pemeriksa terakhir dan guru terhadap hafalan atau catatan murid tidak ada.

Penerimaan riwayat dengan cara al-qira'ah pada dasarnya lebih korektif daripada
penerimaan riwayat dengan cara al-sama'.Kata-kata atau istilah yang dipakai untuk
periwayatan cara ada yang disepakati oleh 'Ulama' dan ada yang diperselisihi. Kata-kata yang

disepakati ialah: ‫قرأ ُت على فﻼن‬. Kata-kataini dipakai bila rawi membaca sendiri di
hadapanguruHaditsyang menyimaknya.Kata-kata ‫قرأ ُت عـلى فﻼن فـأ قـ ّر به وأنا أسمع‬

dipakai bila rawi tidak membacasendiri,melainkan dia mendengarkan bacaan orang
lain, sedang guru Hadits menyimaknya.114

Adapun kata-kata yang tidak disepakati pemakaiannya, diantaranya ialah : ّ‫ﺛـناحد‬
dan ‫ أخبرنا‬yang tanpa diikuti kata-kata lain. Ibn al-Mubarak, Ahmad bin Hanbal, al-

Nasa'iy, dan beberapa 'Ulama' lagi tidak membenarkan penggunaan kedua kata tersebut untuk
periwayatan al-qira'ah. Al-Zuhriy, Malik bin Anas, Sufyan al-Sawriy, al-Bukhariy, dan
beberapa 'Ulama' lagi membolehkannya, bahkan mereka membolehkan juga penggunaan

‫ سمعـﺖ فـﻼ نا‬. Al-Syafi'iy,Muslim dan beberapa 'Ulama'lagihanyamembolehkan
penggunaan ‫ أخبرنا‬sajadantidak membolehkanmenggunakankata ‫ حـدّ ﺛــنا‬115

Perbedaan pendapat tersebut merupakan akibat dari perbedaan pandangan mereka
mengenai bobot kualitas periwayatan dengan cara al-qira'ah dan dengan cara al-sama'.

113Ibid.; al-Hakim, Ma’rifah, op.cit. h. 257-260; al-Baghdadiy, op.cit. h. 383-403.
114Ibid. (Ibn al-Shalah), h. 123; al-Bukhariy, op. cit., J. I, h. 22.
115Al-Baghdadiy, op. cit., h.429-436; al-Nawawiy, op. cit., h.16; al-Suyuthiy, op. cit., J.II, h.16-17.

40

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

d. Al-Ijazah (ijazah).Yakni, guru Hadits memberikan izin kepada seseorang untuk
meriwayatkan Hadits yang ada padanya. Pemberian izin dinyatakan dengan lisan atau
tertulis.116Jadi, istilah ijazah dalam hal ini tidak mesti dalam bentuk tertulis.

'Ulama' berbeda pendapat mengenai kebolehan ijazah untuk periwayatan Hadits. Syu'bah bin
al-Hajjaj menyatakan, sekiranya cara ijazah dibenarkan, niscaya rawi Hadits tidak perlu
mengadakan perlawatan untuk mencari Hadits. Kata Abu Zur'ah al-Raziy, sekiranya periwayatan
dengan cara ijazah dibenarkan, niscaya hilanglah khazanah ilmu pengetahuan Hadits Nabi.
Mayoritas 'Ulama' Hadits membolehican jenis ijazah tertentu untuk periwayatan
Hadits.117Mayoritas 'Ulama' tersebut tampaknya telah menilai bahwa jenis ijazah tertentu cukup
terpercaya untuk periwayatan Hadits. Pendapat yang melarang cara ijazah memang cukup
relevan untuk masa tertentu saja dan tidak untuk masa selamanya.

Jenis ijazah secara global ada dua macam. Yakni, ijazah bersama al-munawalah
dan ijazah murni atau al-ijazat al-mujarradah. Ijazah yang disebut pertama bentuknya ada dua
macam: [a] seorang guru Hadits menyodorkan kepada muridnya Hadits yang ada padanya,
kemudian guru tadi berkata: "Anda saya beri ijazah untuk meriwayatkan Hadits yang telah saya
peroleh ini"; atau [b] seorang murid menyodorkan Hadits kepada guru Hadits, kemudian guru itu
memeriksanya dan setelah guru memaklumi bahwa dia juga meriwayatkannya, maka dia berkata:
"Hadits ini telah saya terima dari guru-guru saya dan anda saya berijazah untuk meriwayatkan
Hadits ini dari saya". Bentuk ijazah yang demikian ini oleh sebagian 'Ulama' dinilai sama
kualitasnya dengan cara al-sama', dan oleh sebagian 'Ulama' lagi dinilainya sama
dengan cara118Hadits yang diriwayatkan dengan cara ijazah ini diterima secara
sekaligus untuk banyak Hadits dan tidak harus satu-per-satu Hadits.

Adapun periwayatan dengan ijazah murni (al-Uazat al-mujarradah), jenisnya
bermacam-macam. Di antaranya ialah ijazah diberikan oleh guru Hadits kepada: [a]
orang tertentu untuk Hadits tertentu, misalnya untuk Hadits yang termuat dalam kitab
Shahih al-Bukhariy; [b] orang tertentu untuk semua Hadits yang telah didengarnya
(diriwayatkannya); atau [c] orang yang tidak tertentu, misalnya umat Islam, untuk
Hadits tertentu atau Hadits yang tidak tertentu. Ijazah murni yang disebut pertama oleh
mayoritas 'Ulama' Hadits dan fiqh disepakati kebolehannya, sedang ijazah murni
lainnya diperselisihi kebolehannya.119Hadits yang disampaikan oleh guru Hadits
dengan cara ijazah tersebut adalah Hadits-Hadits yang telah terhimpun dalam kitab-
kitab Hadits. Karenanya, "pengijazahan" itu tempatnya hanya sebagai "tali pengikat"
antara guru dengan murid semata. Adapun kualitas Haditsnya terpulang kepada
periwayatan antara guru dengan para rawi sebelumnya, atau naskah yang
diijazahkannya. Kata-kata yang dipakai untuk cara ijazah bermacam-macam.

Al-Zuhriy dan Malik membolehkan penggunaan: ‫ ﺛـناّحد‬dan ‫ أخبرنا‬untuk ijazah

yang bersamaan dengan al-munawalah. Abu Nu’aym membolehkan kedua kata itu

116Ibid. (al-Suyuthiy), h. 44; al-Tirmisiy, op. cit., h. 126; Shubhiy; op. cit., h. 95.
117Ibid. (al-Suyuthiy), h. 30-31; al-Syawkaniy, op. cit., h. 56; al-Qasimiy, op. cit., h.203-204; Syakir, op. cit.,
h. 130-132.
118 Ibn al-Shalah, op. cit., h. 146-147; al-Harawiy, op. cit.. h. 73-74.
119Ibid. (Ibn al-Shalah. h. 134-143: al-Harawiy, h.71-73); al-Nawawiy, op. cit., h. 17-19; al-Tirmisiy, op.
cit. , h. 127-132; 1bn Kasir, op. cit., h. 62-64.

41

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

untuk ijazah murni, tapi 'Ulama' menolak pendapat tersebut. Mayoritas 'Ulama'

umumnya memakai kata-kata: ‫حدّﺛناإحازة‬. Al-Awza’iy menggunakan ‫ أخبرنا‬untuk al-
qira’ah. Mayoritas 'Ulama' sepakat tidak boleh penggunaan ّ‫ ﺛـناحد‬dan ‫ أخبرنا‬tanpa

dikaitkan dengan kata-kata lain.120

Dilihat dari susunan kata yang dipakainya, pendapat mayoritas 'Ulama' terhindar
dari kerancuan cara periwayatan yang benar-benar telah ditempuh oleh rawi tersebut.

e. Al-munawalah. Cara ini ada dua macam yakni : 1] al-munawalah bersamaan dengan
ijazah (al-munawalat al-maqrunnah bi al-ijazah), seperti telah dikemukakan di atas,
dan 2] al-munawalah yang tidak bersamaan dengan ijazah (al-munawalah al-
mujarradah ‘an al-ijazah). Al-munawalah yang disebut terakhir ini ialah pemberian
kitab Hadits oleh guru Hadits kepada muridnya sambil berucap : “ini Hadits yang
telah saya dengar” atau “ini Hadits yang telah saya riwayatkan”. Guru Hadits tidak
menyatakan agar Haditsnya”itu diriwayatkan. 'Ulama' pada umumnya tidak
membenarkan periwayatan dengan al-munawalah tanpa diikuti dengan
ijazah.121Dalam hubungan ini, 'Ulama' tampaknya berpegang pada pendirian, bahwa
hak periwayatan Hadits harus terang dinyatakan oleh guru kepada murid.Kata-kata

yangdipakai untukal-muanawalahtanpaijazahialah: ‫ولنىنا‬atau‫ناولنا‬.122'Ulama' tidak

banyak berbeda pendapat.

f. Al-mukatabah. Yakni, seorang guru Hadits menuliskan Hadits yang diriwayatkannya
untuk diberikan kepada orang tertentu. Orang yang menulis Hadits dapat saja guru itu
sendiri atau orang lain alas permintaan guru tersebut, sedang orang yang diberi Hadits
ketika Hadits itu ditulis dapat saja berada di hadapan guru tersebut atau berada di tempat
lain.123Periwayatan dengan al-mukatabah ada dua macam: 1] al-mukatabah tidak disertai
dengan ijazah; dan 2] al-mukatabah disertai dengan ijazah. 'Ulama' pada umumnya
membolehkan kedua macam al-ntukatabah tersebut. Bahlonada yang menilai, al-
mukatabah yang tidak disertai ijazah lebih kuat daripada periwayatan dengan ijazah saja.
Ibn al-Shalah menyatakin, al-mukatabah yang disertai ijazah, kekuatannya sama dengan
al-munawalah yang disertai ijazah.124

Perbedaan antara al-ntunawalah dan al-mukatabah ialah bahwa al-munawalah, Hadits-
Haditsnya tidak mesti dalam bentuk tulisan, sedang dalam al-mukatabah Haditsnya mesti
tertulis. Perbedaan lain, bahwa dalam al-mukatabah, ketika Hadits dicatat telah ada maksud
untuk diberikannya kepada rawi tertentu. Sedang dalam al-munawalah, dalam hal
ini yang berbentuk tulisan, maksud penyerahan dari guru tampaknya baru
muncul setelah Hadits tersebut selesai ditulis. Kata-kata yang dipakai untuk

periwayatan cara al-mukatabah cukup banyak. Misalnya: ‫ كتب إل ّى فﻼن‬dan
‫أخبرنى به كتابة‬. 125

120Ibid. (al-Hawariy), h. 75; al-Suyuthiy, op. cit., J.11, h. 51-53.
121Ibid.; juga Ibn al-Shalah, op. cit., hit. 149-150; al-Nawawiy, op. cit., h.19.
122Al-Tirmisiy, op. cit., h. 136.
123Ibid., h. 138; Ibn al-Shalah, op. cit., h. 153.
124Ibid. (al-Tirmisiy, h. 138-139; Ibn al-Shalah, h.153-155); juga al-Harawiy, op. cit., h.761.
125Ibid.

42

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

g. Al-i'lam. Yakni guru Hadits memberitahukan kepada muridnya, Hadits atau kitab
Hadits yang telah diterimanya dari periwayatnya, misalnya melalui al-sama', tanpa
diikuti pernyataan agar muridnya tadi meriwayatkannya lebih lanjut.126Ibn al-Shalah
tidak menganggap sah periwayatan dengan cara al- i'lam, alasannya:

1). Hadits yang diberitahukan itu ada cacatnya, karenanya guru tersebut tidak menyuruh
muridnya untuk meriwayatkannya;

2). Periwayatan cara al-i'lam memiliki kesamaan dengan pemberitahuan seseorang saksi
kepada orang lain atas suatu perkara, kemudian orang lain itu memberikan kesaksian
tanpa izin dari saksi yang sesungguhnya tadi.127Tapi kebanyakan 'Ulama'
membolehkan periwayatan dengan al-i'lam dengan beberapa alasan, di antaranya: 1] guru
Hadits tidak menyatakan agar muridnya meriwayatkan Haditsnya, tidak mesti ada cacat
dalam Haditsnya tersebut; 2] penganalogian dengan kesaksian suatu perkara tidak
tepat, karena kesaksian memang memerlukan ada izin, sedang periwayatan tidak
selalu perlu ada izin; dan 3] bila periwayatan dengan cara al-sama' dan al-qira'ah
dinyatakan sah walaupun tanpa diikuti adanya keizinan dari guru, mak al-i'lam harus
diakui juga keabsahannya.128Pendapat mayoritas 'Ulama' di atas lebih kuat. Sebab untuk
apa seorang guru menyampaikan riwayat Haditsnya, bila Hadits tersebut dilarang di-

riwayatkan lebih lanjut. Kata-kata yang dipakai biasanya ialah: ‫ إعﻼ ماناأخبر‬atau

kata-kata lain yang semakna.129

h. Al-washiyyah. Yakni seorang rawi Hadits mewasiatkan kitab Hadits yang
diriwayatkannya kepada orang lain. Waktu berlakunya ditentukan oleh orang yang
memberi wasiat, dalam hal ini dapat saja mulai berlaku setelah pemberi wasiat
meninggal dunia atau ketika dalam perjalanan.130'Ulama' berbeda pendapat mengenai
periwayatan cara wasiat (al-washiyyah) ini. Sebagian 'Ulama' membolehkannya dan
sebagian lagi tidak membolehkannya.131 Pangkal perbedaan tampaknya hampir sama
dengan periwayatan cara sama-sama tidak diikuti pernyataan agar Hadits
diriwayatkan lebih lanjut. Kata-kata yang dipakai untuk periwayatan cara wasiat dapat

berbunyi: ‫ أوصى إل ّى‬atau kata-kata yang semakna dengannya.132

i. Al-Wijadah. Yakni, seseorang dengan tidak melalui cara al-sama' atau ijazah, mendapati
Hadits yang ditulis oleh periwayatnya. Orang yang mendapati tulisan Hadits itu dapat
saja semasa atau tidak semasa dengan penulis Hadits tersebut, pernah atau tidak pernah
bertemu, pernah atau tidak pernah meriwayatkan Hadits dari penulisdimaksud.133'Ulama'
dalam hal inl juga berbeda pendapat. Ahmad Muhammad Syakir tidak membolehkan
periwayatan dengan cara al-wijadah. Dia menyatakan, banyak orang di masa lam yang
memperoleh informasi dari berbagai kitab atau majalah kemudian orang tadi berkata,

126Al-Nawawiy, loc. cit.; al-Suyuthiy, op. cit., J.II. h. 58; Syakir, op. cit., h. 138.
127Ibn al-Shalah, op. cit., h. 156.
128Ibid., h. 155-156; al-Suyuthiy, op. cit., h. 58-59; Syakir, op. cit., h. 138-139.
129Al-Qasimiy, op. cit., h. 204.
130Ibn al-Shalah, op. cit., h. 157; al-Nawawiy, loc. cit
131Ibid.; al-Suyuhtiy, op. cit., h. 59-60; Syakir, op. cit., h. 139.
132Al-Qasimiy, loc. cit.
133Al-Nawawiy, op. cit., h. 21; al-Suyuthiy, op. cit., h. 61.

43

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

misalnya: ‫ حدّﺛنا ابن خلدون‬atau ‫ حدّﺛنا ابن قتيبة‬atau ‫ حدّﺛناالطبرى‬.

Menurut Syakir, perbuatan ini tidak terpuji, sebab telah merubah pengertian yang
tidak benar. Orang tersebut telah merusak peristilahan ilmu Hadits. Dikhawatirkan, bila
cara ini dibiarkan terus, maka akan terjadi pemindahan riwayat secara dusta.134Syakir
tidak sekedar melihat perlunya pemeliharaan kualitas periwayatan semata, tapi
sangat menekankan pentingnya pemeliharaan pemakaian istilah yang tepat yang selama
ini telah dianggap baku.

'Ulama' yang membolehkan periwayatan cara al-wijadah memberikan syarat-syarat
tertentu. Syarat-syarat yang terpokok ialah: [a] tulisan Hadits yang didapati haruslah telah
diketahui secara pasti siapa rawi yang sesungguhnya; [b] kata-kata yang dipakai untuk
periwayatan lebih lanjut haruslah kata-kata yang menunjukan bahwa asal Hadits itu
diperolehnya secara al-wijadah.135 Al-'iraqiy menyatakan, al-wijadah yang tidak disertai
ijazah diperselisihi kebolehannya.136Tapi al-'Iraqiy tidak menerangkan apakah al-wijadah
yang disertai ijazah disepakai kebolehannya oleh 'Ulama'. Di samping itu, sekiranya benar
ada al-wijadoh disertai dengan ijazah, niscaya apa yang dikhawatirkan oleh Syakir di atas
tidak akan terjadi. Tapi, hal ini masih perlu diteliti lebih lanjut. Kata-kata atau pernyataan
yang dipakai untuk periwayatan dengan cara al-wijadah, di antaranya ialah:

‫ وجدت بخط فﻼن حدّﺛنا فﻼن‬- ‫أ‬

‫ وجدت فى كتاب فﻼن حدّﺛنا بخطه‬- ‫ب‬
‫ وجدت عن فﻼن او بلغنى عن فﻼن‬- ‫ج‬

‫ وجدت نصخة فى كتاب فﻼن‬- ‫د‬
138‫ وجدت فى كتاب فﻼن ظننﺖ انه بخطه‬- ‫هـ‬

Dua pernyataan disebut pertama (butir a dan b) dipakai bila:

1]. Penerima riwayat tidak pernah menerima riwayat Hadits dari penulis Hadits tersebut;
2]. Tulisan yang dinukil telah jelas, keorisinilannya; dan
3]. Sanad Haditsnya dapat raja putus (munqathi, atau bersambung (muttashil). Bila

orisinalitas tulisan belum diketahui dan sanad-nya telah jelas terputus, maka pernyataan

yang dipakai adalah salah satu dari ketiga pernyataan yang disebut terakhir di atas.137

Dengan demikian, rawi yang menempuh cara al-wijadah terlebih dahulu harus mampu

meneliti orisinal tidaknya tulisan Hadits yang akan diriwayatkannya.

Dari pembahasan cara-cara penerimaan riwayat Hadits di atas dapatlah dinyatakan:

1) Rawi Hadits ketika menyampaikan suatu Hadits harus mengemukakan sedikitnya dua hal:
[1] cara penerimaan Hadits yang telah ditempuhnya; dan [2] nama-natna rawi Hadits yang
menyampaikan Hadits itu kepadanya. Fungsi terpenting dari kedua hal ini ialah sebagai per-

134Syakir, op. cit., h. 141-142.
135Al-Nawawiy, loc. cit.; al-Suyuthiy, loc. Cit.
136Al-Iraqiy. op. cit.. h.201.
137 Lihat. Ibid.

44

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

tanggung-jawaban sumber yang telah dipakainya.

2) Tidak seluruh penerimaan riwayat Hadits dinilai memiliki kualitas yang tinggi. At-sama',
al-qira’ah, al-ijazah al-maqrunah bi al-munawalah (al-munawalat al-maqrunah bi al-
ijazah) dan al-mukatabah, oleh mayoritas 'Ulama' dinilai lebih tinggi kualitasnya daripada
cara-cara yang selainnya.

3) Kata-kata atau pernyataan yang dipakai sebagai penghubung antara rawi dengan rawi
terdekat sebelumnya, menggambarkan cara-cara penerimaan riwayat Hadits yang telah
dipakai oleh rawi tersebut. Kalimat itu ada yang disepakati dan ada yang tidak disepakati
oleh 'Ulama'. Kalimat yang tak disepakati penggunaannya mengakibatkan timbul kesulitan
lacak terhadap cara yang benar-benar telah dipakai dalam periwayatan Hadits tersebut.

Selanjutnya perlu dikemukakan, bahwa kata-kata yang dipakai sebagai penghubung antara
rawi dengan rawi terdekat dalam satu sanad, ada yang ditulis secara lengkap dan ada yang ditulis
dalam bentuk singkatan. Bentuk-bentuk singkatan yang lazim dipakai ternyata tidak seragam.
Berikut ini dikemukakan bentuk-bentuk singkatan tersebut. 138

1). Kata ‫ حـدّ ﺛـنا‬biasa disingkat dengan ‫ ﺛـنا‬atau ‫ نا‬, atau ‫ حا‬, tapi al-Hakim al-Naysaburiy,
Abu 'Abd al-Rahman al-Sulamiy, dan al-Baghawiy menyingkatnya dengan ‫ د نا‬.

2). Kata ‫ ناخـبـرأ‬biasa disingkat dengan ‫ أ نا‬atau ‫ ; ر نـا‬atau ‫ أخ‬, tapi oleh ketiga 'Ulama'
yang tersebut dalam butir (a) di atas biasa disingkat dengan ‫ ر‬. Al-Baghawiy biasa
menyingkatnya dengan ‫ أنـبـأ‬. 'Ulama' pada umumnya menyayangkan cara

penyingkatan yang dilakukan al-Baghawiy, karena singkatan itu dapat mengacaukan

dengan singkatan untuk ‫ أ نـبـأ نا‬.
3). Kata ‫ حـد ﺛـنى‬biasadisingkatdengan ‫ ثـنى‬atau ‫د ﺛـنى‬
4). Kata ‫ أ خـبـرنى‬biasa disingkat dengan ‫أ نى‬
5). Kata ‫ أ نـبـأ نا‬biasa disingkat dengan ‫أ نـيـأ‬
6). Kata ‫ أ نـبـأ نى‬biasa disingkat dengan ‫ أ بـنى‬139

Dalam sanad Hadits ada pula singkatan yang sering dipakai, tapi singkatan itu tidak
dimaksudkan untuk menerangkan cara periwayatan, melainkan untuk menunjukan perpindahan

sanad. Singkatan dimaksud adalah ‫ ح‬atau ‫ حا‬. Menurut al-Nawawiy, bila ada Hadits

memiliki dua sanad atau lebih, maka ketika dikemukakan perpindahan sanad dari yang

satu kepada sanad yang lainnya, biasanya diberi tanda huruf , singkatan dari pernyataan:
‫( إ سناد إلى إ سنا دمنالـتحـويــل‬pindahan dari sanad yang satu ke sanad lain).140

Di samping itu ada kata-kata (tepatnya harf) sering didapati dalam sanad; fungsi harf selain
sebagai petunjuk mengenai cara periwayatan yang telah ditempuh oleh periwayat, juga sebagai

bentuk persambungan sanad tersebut. Harf dimaksud adalah ‫ عـن‬dan ‫ أ ّن‬. Sanad

Haditsyang mengandung harf yang disebut pertama biasa disebut sebagai Hadits mu'an'an

139 lbn al-Shalah, h.180; al-Nawawiy. h.23-24; al-Suyuthiy, h.86-87); al-Harawiy, op. cit., h.85.
140Ibid. (al-Nawawiy), h. 24.

45

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

(‫)مـُعَــ ْنـ َعـن‬, sedang yang mengandung harf yang disebut kedua biasa disebut sebagai Hadits

mu'annan ( ‫) ُمـ َؤ نﱠـن‬. Sebagian 'Ulama' menyatakan, sanad Hadits yang mengandung harf ‫عن‬

adalah sanad yang terputus. Tapi mayoritas 'Ulama' menilainya melalui al-sama', bila
dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

Dalam sand yang mengandung harf ‫ عـن‬itu tidak terdapat penyembunyian informasi

(tadlis) yang dilakukan oleh periwayat. Antara rawi dengan rawi yang terdekat yang diantarai

oleh harf ‫ عـن‬itu dimungkinkan terjadi pertemuan.141 Malik bin Anas, Ibn 'Abd al-Barr,

dan al-Iraqiy menambahkan saw syarat lagi, yakni para periwayatnya haruslah orang-orang

yang kepercayaan.142 Dengan demikian, sanad Hadits yang ‫ معـنعـن‬tersebut belum tentu

bersambung. Persambungan sanad baru dapat dipastikan setelah diadakan penelitian.

Adapun pengertian harf ‫ أ ّن‬dalam sanad,kalangan'Ulama'adayang menyamakannya dengan

‫عـن‬, dan sebagian 'Ulama' lagi ada yang membedakannya. Menurut pendapat yang disebut
terakhir, harf ‫ أ ّن‬menunjukkan keterputusan hubungan periwayatan terkecuali bila terdapat bukti

bahwa hubungan tersebut tidak terputus. Sebagian 'Ulama' lagi ada yang menyamakan pengertian harf

ataukata ‫ أ ّن‬, ‫ عـن‬dan ‫ قـا ل‬, yakni sama-sama harus diteliti terlebih dahulu persambungan

antara rawi dengan rawi lain yang diantarai oleh harf atau kata tersebut.143 Tegasnya sanad yang
mengandung harf atau kata dimaksud dinyatakan terputus sebelum dibuktikan atau diteliti bahwa
sanad itu bersambung.

Dengan demikian dapat dinyatakan, bahwa 'Ulama' tidak sepakat mengenaipengertiansanad

‫ معـنعـن‬dan ‫ مؤ نّـن‬. Untukmengetahuiapakahsanad ‫ معـنعـن‬dan ‫ مؤ ّنـن‬itu bersambung ataukah

tidak bersambung, diperlukan penelitian terlebih dahulu. Yang diteliti dalam hal ini adalah
kualitas pribadi rawi yang memakai harf atau kata di alas dan hubungan rawi tersebut dengan
rawi sebelumnya yang diantarai dengan harf atau kata dimaksud.

Ada kata-kata atau pernyataan yang disepakati dan yang tidak disepakati oleh 'Ulama' Hadits
mengenai penggunaannya dalam periwayatan Hadits. Bila dalam suatu sanad terdapat kata-kata
yang tidak disepakati. penggunaannya, maka pengertiannya harus "dikembalikan" kepada siapa
yang menggunakan kata-kata itu. Dalam praktek, pengembalian kata-kata itu kepada pengertian yang
dikehendaki oleh pemakainya tidak mudah, karena jumlah rawi Hadits sangat banyak. Dalam hali
ini, jalan keluar yang dapat ditempuh adalah dengan cara meneliti kualitas pribadi rawi 'tersebut

141 'Ulama' mempersoalkan teknis pertemuaannya. Muslim tidak memberikan syarat-syarat tertentu mengenai
pertemuan itu. Baginya, yang terpenting adalah telah terjadinya pertemuan. Ibn al-Madiniy, Abu Bakar al-
Syayrafiy, al-Bukhariy, dan sejumlah 'Ulama' lagi menyaratkan pertemuan itu dengan kesezamanan (al-
Mua’sharoh). Al-Nawawiy sejalan dengan pendapat ini. Abu Baku al-Sam'aniy menentukan syarat pertemuan
itu dengan perShahabatan yang lama. Abu 'Amr al-Muqriy menyatakan, pertemuan ditentukan oleh kemashuran
berita bahwa telah ada kegiatan periwayatan antara kedua rawi yang diantaral harf 'an tersebut. Lebih lanjut lihat:
ibid., h. 7-8; al-Nawawiy, Shaldh Muslim bi Syarh al-Nawawiy, op.cit., J. 1, h. 32 dan 127-128; Ibn Kasir,
op.cit., h. 30; al-Harawiy, op.cit., h.67.

142 Penjelasan lebih lanjut mengenai ketiga butir syarat tersebut, lihat: al-iraqiy, op. cit., h. 83-84; Shubhiy al-
Shalih, op. cit., h. 222. 'Ulama' muta'akhkhirin ('Ulama' Hadits saudah abad III H) biasa juga memakai kata
'an dengan pengertian bahwa can periwayatan yang digunakan adalah cara ijazah. Lebih lanjut lihat: al-Nawawiy,
al-Tuyrib, op. cit., h. 8; al-Harawiy, loc. cit.

143Al-'Ala'iy, op. cit., h.141-142.

46

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

dan hubungannya dengan rawi sebelumnya yang diantarai oleh kata-kata yang tidak disepakati
itu.

Adakalanya Hadits yang disampaikan oleh Shahabat Nabi SAW diawali dengan kata-kata

‫ أ مـر رســول ﷲ صـلعـم بــكــذ ا‬atau ‫ نهى رسول ﷲ صلعـم عـن كـذ ا‬atau kata-kata lain yang

semakna. Menurut sebagian 'Ulama', berita yang disampaikan oleh Shahabat itu merupakan
interpretasi Shahabat tersebut terhadap sesuatu yang berasal dari Nabi. Karenanya, berita itu tidak
dapat dijadikan hujah.

Menurut sebagian besar 'Ulama', berita itu sesungguhnya berasal dari perintah atau larangan
Nabi mengenai sesuatu. Bila Nabi memerintahkan sesuatu, berarti Nabi secara tidak langsung
telah melarang sesuatu yang bertentangan dengan perintah itu. Demikian pula sebaliknya, bila
Nabi melarang sesuatu, maka sesungguhnya sesuatu yang bertentangan dengan larangan itu
diperintahkan untuk dikerjakan. Jadi, berita yang disampaikan Shahabat yang diawali dengan
kata-kata di atas merupakan hujah juga.144 Kedua pendapat tersebut sesungguhnya sejalan.
Yakni, sama-sama mengakui bahwa apa yang dinyatakan oleh Shahabat dimaksud
berdasarkan petunjuk Nabi berupa perintah atau larangan.

Sebagaian berita yang disampaikanolehShahabat adayang diawali dengan kata-kata

perintah atau larangan (‫أمر‬/‫)نهى‬. Dalam hal ini, 'Ulama' berbeda pendapat. Al-Syafi'y

menyatakan, berita yang disampaikan oleh Shahabat tersebut adalah Hadits Nabi. Sebagian
'Ulama', misalnya Abu al-Hasanal-Karakhiyal-Hanafiy, berpendapat bahwa berita itu tidak
dapat dinyatakan secara mutlak sebagai Hadits Nabi. Sebab boleh jadi, dasar perintah atau
larangan itu adalah petunjuk Nabi, atau mungkin juga petunjuk dari Al-Qur'an. Di samping,
boleh jadi juga perintah atau larangan itu ditujukan kepada seluruh atau sebagian umat Islam.145

Fakhr al-Din al-Raziy (w.606H/1209M) dalam hal ini menyatakan, bila seseorang yang
mentaati pemimpinnya melaporkan bahwa dia telah diperintahkan berbuat sesuatu oleh
pemimpinnya, maka laporan orang itu adalah berita dari pemimpinnya.146 Fakhr al-Din
al-Raziy dalam hal ini ingin menegaskan, bahwa berita yang disampaikan oleh Shahabat Nabi
yang diawali dengan kata-kata seperti tersebut di atas adalah Hadits Nabi. Jadi pendapatnya sejalan
dengan pendapat al-Syafi' iy.

4. Redaksi Matn Hadits yang Diriwayatkan

Pada zaman Nabi, tidak seluruh Hadits ditulis oleh para Shahabat Nabi. Hadits Nabi
yang disampaikan oleh Shahabat kepada rawi lain lebih banyak berlangsung secara lisan.
Hadits Nabi yang dimungkinkan diriwayatkan secara lafazh (riwayat bi al-lafzh) oleh
Shahabat sebagai saksi pertama, hanyalah Hadits yang dalam bentuk sabda. Sedang
Hadits yang tidak dalam bentuk sabda, hanya dimungkinkan dapat diriwayatkan secara
makna (riwayat bi al-ma 'na).Hadits yang dalam bentuk sabda pun sangat sulit seluruhnya
diriwayatkan secara lafazh, terkecuali untuk sabda-sabda tertentu. Kesulitan periwayatan
secara lafazh bukan hanya disebabkan tidak mungkin seluruh sabda itu dihafal secara
harfiah, melainkan juga karena kemampuan hafalan itu dan tingkat kecerdasan Shahabat.

144Al-Baghdadiy, op.cit., h.590; al-Amidiy, op.cit., h.277-278; Fakhr al-Raziy. op.cit., h.638-639.
145Ibid. (al-Baghdadiy, h. 591-593; al-Amidiy, h. 278; Fakhrh. 640).
146Ibid. (Fakhr al-Raziy), h. 240-241.

47

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

Walaupun tidak mungkin seluruh sabda Nabi dihafal oleh para Shahabat, tapi tidak
berarti bahwa tidak ada sabda Nabi yang telah berhasil dihafal dan kemudian diriwayatkan
secara harfiah oleh para Shahabat. Ada beberapa kondisi tertentu yang memberi peluang
sehingga Shahabat dapat menghafal dan meriwayatkan sabda Nabi secara harfiah. Di
antara kondisi itu ialah:

a. Nabi dikenal fasih dalam berbicara dan isi pembicaraannya berbobot. Nabi berusaha
menyesuaikan sabdanya dengan bahasa (dialek), kemampuan intelektual, dan latar
belakang budaya audience-nya. Sekedar contoh, ada riwayat menyatakan: "Seorang
laki-laki mengingkari anak yang dilahirkan oleh istrinya, karena anak itu berkulit hitam
legam, berbeda dengan kulit dirinya. Orang itu mengadu dan bertanya kepada Nabi. Dalam
memberikan jawaban, Nabi mengajak orang itu untuk memikirkan apakah mungkin
seekor unta yang berkulit merah, seperti halnya unta yang dimiliki oleh orang itu, dapat
melahirkan unta yang berkulit hitam, bila nenek moyangunta itu ada yang berkulit hitam.
Orang itu membenarkan kemungkinan terjadinya.147 Dengan demikian, apa yang
disabdakan oleh Nabi memiliki kesan yang dalam bagi yang mendengarnya dan sekaligus
dimungkinkan mudah dihafalnya.

b. Untuk sabda tertentu, Nabi menyampaikannya dengan diulang tiga atau dua kali. Sering Nabi
menyampaikan sabdanya dengan cara merinci soal yang sedang diterangkannya.148Kesemuanya
itu dimaksudkan agar para Shahabat yang mendengarnya dapat memahami dan
mengingatnya dengan baik, sehingga mereka mudah menghafal dan menyampaikan sabda itu
kepada yang tidak hadir.

c. Banyak sabda Nabi yang disampaikan dalam bentuk jawami' al-kalim, yakni ungkapan
pendek tapi sarat makna. Misalnya sabda Nabi: "perang adalah siasat".149Ungkapan yang
demikian ini mudah dipahami dan dihafal oleh para Shahabat.

d. Di antara sabda Nabi ada yang disampaikan dalam bentuk doa, zikir (dzikr) dan bacaan tertentu
dalam ibadah.150Sabda-sabda itu disampaikan berkali-kali, bahkan ada yang disabdakan setiap
hari. Sekiranya bacaan itu pun tidak diulang-ulang oleh Nabi, niscaya para Shahabat yang
mendengarnya akan mudah juga memahami dan menghafalnya. Sebab, kalimat-kalimat. dari
sabda itu menuntunlangsung hubungan manusia sebagai hamba dengan Allah sebagai Yang
Maha Kuasa.

e. Orang-orang Arab sejak dahulu dikenal sangat kuat hafalannya. Pada zaman Nabi, umumnya
mereka masih buta huruf. Bagi orang-orang yangbuta huruf, bahasa tutur menjadi sangat do-

147 Hadits tersebut, lebih lanjut lihat: al-Bukhariy, op. cit., J.I, h.333; Muslim. op. cit. J.11. h.786 dan 1137;
Abu Dawud, op. cit., J.II, h.317; Al-Nasa'iy, Sunan al-Nasaly, disyarah oleh al-Suyuthiy dan diberi catatan kaki
(hasyiyah) oleh al-Sindiy (Beirut: Dar al-Fikr, 1348H/1930M) J.IV. h.175-176; Al-Husayniy, Al-Bayan wa al-
Ta’arif fiy Asbab Wurud al-Hadits al-Syarif (Kairo: Dar al-Turas al-'Arabiy, [tth] J.III, h.145; al-Suyuthiy,
Asbab Wurud al-Hadits aw al-Lam' fiy Asbab al-Hadits, Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1404H/1984M), h.
130-131.

148Ibid. (al-Bukhariy), J. 1, h. 29; dan J. III, h. 317.
149Ibid., J.II, h.174; Muslim, op. cit., J.III, h.1361-1362. Contoh-contoh jawami' al-kalim lainnya, lihat
misalnya: op. cit., h.160; Ahmad al-Iskandariy dan Musthafa 'Annaniy, al-Wasith fiy al-Adab al- 'Arabiy wa
Tarikhihi, Mesir: Dar al-Ma'rifah, [tth]), h.102-103; Ahmad bin Hajar al-Haytamiy, Fath al-Mubin li Syarh
diberi catatan pinggir (hasyiyah) oleh al-Mudabighiy [ttp]: 'Isa al-Babiy al-Halabiy wa Syurakah, h.24-26.
150Misalnya dzikr di setiap usai salat wajib, lihat Hadits Nabi dalam, al-Syawkaniy, Tuhfat al-Dzakirin
(Mesir: Mushthafa al-Babiy al-Halabiy wa Awladuh, 1393H/1973M). h.145-148.

48

Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta

minan.151Karenanya tidaklah mengherankan, bila pada zaman Nabi tidak sedikit jumlah
Shahabat yang dengan mudah dapat menghafal Al-Qur'an dan Hadits Nabi.152Kekuatan hafalan
orang Arab tersebut memberikan peluang akan banyaknya Hadits yang diriwayatkan secara
lafazh oleh para Shahabat.

f. Darikalangan Shahabat Nabi ada yang dikenal kesungguhannyaberusaha menghafal Hadits
Nabi secara lafazh. Misalnya 'Abdullah bin'Umar bin al-Khaththab.153Hal ini memberi
petunjuk adanya sabda Nabi yang diriwayatkan secara lafazh.

Adapun Hadits Nabi yang tidak berupa sabda, periwayatan yang dilakukan oleh Shahabat
sebagai saksi mata berlangsung secara makna (riwayat bi al-ma'na). Karena Hadits yang non-sabda,
ketika dinyatakan oleh Shahabat, rumusan kalimatnya berasal dari Shahabat sendiri. Para
Shahabat Nabi umumnya membolehkan periwayatan Hadits dengan makna. Di antara mereka itu
ialah 'Aliy bin Abiy Thalib, 'Abdullah bin 'Abbas, 'Abdullah bin Mas'ud, Anas bin Malik, Abu
Darda', Abu Hurairah dan 'A'isyah.154

Sebagian kecil saja dari kalangan Shahabat cukup ketat berpegang pada periwayatan dengan
lafazh. Di antaranya ialah 'Umar bin al-Khaththab, 'Abdullah bin 'Umar bin al-Khaththab, dari Zayd
bin Arqam.155Tapi, mereka yang ketat berpegang pada periwayatan secara lafazh itu tidaklah
melarang secara tegas Shahabat lain meriwayatkan Hadits secara makna. Tampaknya mereka
memahami, bagaimana pun sangat sulit untuk meriwayatkan seluruh sabda Nabi secara lafazh.

'Ulama' mempersoalkan boleh tidaknya selain Shahabat Nabi meriwayatkan Hadits secara
makna. Abu Bakr bin al-'Arabiy (w.573H/1148M) berpendapat, selain Shahabat Nabi tidak
diperkenankan meriwayatkan Hadits secara makna. Menurut Ibn al-'Arabiy, Shahabat Nabi
dibolehkan meriwayatkan Hadits secara makna, karena mereka itu: ([a] memiliki pengetahuan
bahasa Arab yang tinggi (al-fashahah wa al-balaghah); dan [b] menyaksikan langsung keadaan
dan perbuatan Nabi. 'Ulama' lainnya yang juga dikenal sangat ketat berpegang pada periwayatan
secara lafazh ialah : Muhammad bin Sirin, Raja' bin Haywah, Qasim bin Muhammad, Sa'lab bin
Nahwiy, dan Abu Bakar al-Raziy. Tapi kebanyakan 'Ulama' Hadits membolehkan periwayatan
Hadits secara makna dengan beberapa ketentuan.156 Ketentuan itu cukup beragam. Tapi,
ada beberapa ketentuan yang disepakati, yakni :

a. Yang boleh meriwayatkan Hadits secara makna hanyalah mereka yang benar-benar
memiliki pengetahuan bahasa Arab yang mendalam. Dengan demikian, periwayatan
matn Hadits akan terhindar dari kekeliruan, misalnya menghalalkan yang haram dan
mengharamkan yang halal.

b. Periwayatan dengan makna dilakukan karena sangat terpaksa, misalnya karena lupa
susunan secara harfiahnya.

151Ahmad al-Iskandariy dan Mushthafa 'Annany, op.cit., h.24; al-Zaryaniy, Manahil al-‘irfan fiy ‘Ulum al-
Qur'an ([tth]: 'Isa al-Babiy al-Halabiy wa Syurakah. [tth]) J. I, h.291,293.

152Ibid. (al-Zarqaniy), h.291-294; lihat juga, al-Nu'man 'Abd al-Muta'al al-Qadhiy, al-Syarif Riwayah wa
Dirayah (Jamhuriyyah Mishr al-'Arabiyyah: Al-Majlis al-A'la li al-Syu'un al-Islamiyyah, 1395H=1975M), h.
12-13.

153Al-Khathib, op. cit., h. 126-128.
154Ibid., h. 130-132; al-Qasimiy, op. cit., h. 221.
155Ibid., (al-Khatib), h. 127-128; juga al-Rahmahurmuziy, op. Cit., h. 538.
156Ibid. (al-Khaddb, h.129-143; al-Ramahurmuziy, h.533-536); al-Nawawiy, op. cit., h.25-28; al-'Asqalaniy, op.cit.. h.36-
37; al-Suyuthiy, op. cit., J.11, h.98-103; al-Qariy, op. cit.. h.146-148; al-Tirmisiy, op. cit., h. 158-160.

49


Click to View FlipBook Version