Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
c. Yang diriwayatkan dengan makna bukanlah sabda Nabi dalam bentuk bacaan yang
sifatnya ta'abbudiy, misalnya dikir, doa, azan, takbir, dan syahadat, serta bukan sabda
Nabi yang dalam bentuk jawarni' al-kalim.
d. Rawi yang meriwayatkan Hadits secara makna, atau yang mengalami keraguan akan
susunan matn Hadits yang diriwayatkan, agar membahkankata-kata او كما قالatau
yang semakna dengannya, setelah menyatakan matn Hadits tersebut.
e. Kebolehan periwayatan Hadits secara makna hanya terbatas pada masa sebelum
dibukukannya Hadits-Hadits Nabi secara resmi. Sesudah masa pembukuan (tadwin)
Hadits dimaksud, periwayatan Hadits harus secara lafazh.157
Ketentuan yang disebut, terakhir ini dikemukakan oleh kalangan 'Ulama' al-
muta'akhkhirin. Sedang keempat ketentuan yang disebut pertama,banyak disinggung baik
oleh kalangan 'Ulama' al-muta'akhkhirin maupun kalangan al-mutaqaddimin. Adanya
berbagai ketentuan tersebut menandakan bahwa periwayatan Hadits secara makna,
walaupun oleh sebagian besar 'Ulama' Hadits dibolehkan, tapi prakteknya tidaklah
"longgar". Artinya, para rawi tidak bebas begitu saja dalam melakukan periwayatan
secara makna. Walaupun periwayatan secara makna diikat oleh berbagai ketentuan, tapi
karena ketentuan-ketentuan itu tidaklah berstatus ijmak, maka keragaman susunan redaksi
matn untuk Hadits-Hadits yang semakna tetap sulit terhindarkan. Sekedar contoh dapat
dikemukakan di sini matn Hadits mengenai niat beramal.
Al-Bukhariy, Muslim, Abu Dawud, al-Turmudziy, al-Nasa'iy, Ibn Majah, dan lain-
lain, telah meriwayatkan Hadits tersebut. Nama Shahabat Nabi yang berstatus sebagai saksi
pertama untuk seluruh sanad Hadits itu adalah 'Umar bin al-Khaththab.158Dalam Shahih al-
Bukhariy Hadits dimaksud termuat di tujuh tempat. Nama-nama periwayatnya untuk
ketujuh sanad sama di thabaqat (tingkat) pertama sampai dengan thabaqat keempat.
Yakni: 1). 'Umar bin al-Khaththab; 2). ‘Alaqamah bin Waqqash al-Laysiy; 3). Mu-
hammad bin Ibrahim bin al-Haris al-Taymiy; dan 4). Yahya bin Sa'id al-Anshariy.
Di thabaqat kelima telah terjadi perbedaan nama periwayat. Yakni: 1). Sufyan (ibn
'Uyaynah);1592). Malik bin Anas; 3). 'Abd al-Wahhab; 4). Hammad bin Zayd.
Di thabaqat keenam, yakni sebelum al-Bukhariy, nama-nama periwayatnya di
ketujuh sanad tersebut berbeda juga. Yakni: 1). al-Humaydiy 'Abdullah bin al-
Zubayr; 2).'Abdullah bin Maslamah; 3).Muhammad bin Kasir; 4).Musaddad; 5).Yahya
bin Qaz'ah; 6).Qutaybah bin Sa'id; 7). Abu al-Nu'man.160
Ternyata, matn Hadits dan ketujuh sanad al-Bukhariy tersebut terdapat perbedaan-
perbedaan redaksi. Di awal matn-nya saja, telah ada perbedaanperbedaan
157Ibid.; Ibn al-Shalah, op. cit., h. 190-192; al-Qasimiy, op. cit., h. 221-222, dan 225.
158Manshur 'Ally Nashif, op. cit., J. 1, h. 51-52; Ibn Majah, op. cit.. J. II, h. 1413. Menurut penelitian 'Ulama', ada
sekitar dua puluh Shahabat Nabi yang telah meriwayatkan Hadits ini, tapi yang shahih sanad-nya hanya yang lewat jalur 'Umar
bin al-Khaththab. Hadits dimaksud tidak berstatus Mutawwatir., tapi gharib pada thaqabat awal rawi dan maryhur pada tingkat
akhir periwayat; lihat: Muhammad bin 'Allan al-Shiddiqiy, Syarh Riyadh al-Sitallhin (Mesir: Mushdufa al-Babiy
al-Halabiy wa Awladuh, 1391 H - 1971M), J. I, h. 40-41; Ibn Taymiyyah, op. cit., J.. XVIII, h. 247-248; Al-Suyuthiy,
Al-Asybah wa al-Nazhair(Beirut : Dar al-Fikr, [tth]), h. 6-7.
159Al-‘Asqalaniy, Fath al-Bariy, op. cit., J. I, h. 10.
160Al-Bukhariy, op. cit., J. I: h. 5-6,20; J. II: h. 80, 330; J. III: h. 238; J. IV: h.158, 202.
50
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
susunan.161Perbedaan redaksi terjadi sebagai akibat dari adanya perbedaan sanad. Perbedaan
sanad terjadi sebagai akibat dari terjadinya perbedaan periwayat. Rawi yang berbeda
memberi peluang timbulnya perbedaan cara penerimaan riwayat (tahammul al-Hadits)
dan mungkin juga perbedaan ketentuan yang dianut dalam periwayatan Hadits secara
makna.
Periwayatan secara makna bukan hanya mengakibatkan terjadinya perbedaan redaksi
semata, melainkan juga mengakibatkan timbulnya perbedaan penggunaan kata-kata.
Karenanya dapat saja terjadi, ada kata-kata tertentu yang termaktub dalam suatu Hadits di
kitab-kitab Hadits belum pernah dikenal pada zaman Nabi. Kata-kata itu muncul dalam
riwayat Hadits, karena rawi Hadits yang hidup sesudah lama Nabi wafat, memakai kata-
kata yang diduga memiliki kesamaan arti yang berasal dari zaman Nabi.
Selanjutnya, 'Ulama' Hadits mempersoalkan mengenai boleh tidaknya rawi Hadits
meringkas atau memenggal matn Hadits. Ada 'Ulama' yang melarangnya, ada yang
mcmbolehkannya taps syarat, dan ada yang membolehkannya dengan syarat-syarat tertentu.
Pendapat yang disebutkhn terakhir ini banyak diikuti oleh 'Ulama' Hadits. Syarat-syarat
yang dimaksudkan ialah:
a. Yang melakukan keringkasan itu bukanlah rawi Hadits tersebut;
b. Bila keringkasan dilakukan oleh rawi Hadits, maka harus telah ada Hadits yang
dikemukakannya secara sempurna.
c. Tidak terpenggal kalimat yang mengandung kata pengecualian (al-is-tisna'),
penghinggaan (al-ghayah), dan yang semacamnya.
d. Keringkasan itu tidak merusak petunjuk dan penjelasan yang terkandung dalam
Hadits tersebut.
e. Yang melakukan keringkasan haruslah orang yang benar-benar telah mengetahui
kandungan Hadits tersebut.162
'Ulama' berbeda pendapat mengenai periwayatan Hadits dengan cara meringkas atau
memenggal matn tersebut sesungguhnya berpangkal dari perbedaan mengenai boleh-
tidaknya periwayatan secara makna. Pendapat yang cukup realistik dan hati-hati adalah
pendapat yang membolehkannya dengan catatan hams dipenuhi syarat-syarat tertentu.
161Ibid. Muhammad Fu'ad 'Abd al-Baqiy telah membandingkan susunan redaksi berbagai Matn Hadits dimaksud secara
lengkap, baik yang diriwayatkan oleh all-Bukhariy maupun Muslim. Lebih lanjut lihat Muhammad Fu'ad 'Abd al-Baqiy, op.
cit., J. I, h. ha' dan waw.
162Ibid. (Ibn al-Shalah) 192-194; al-Nawzwiy, al-Tarib li al-Namwiy, op. cit., h. 25-26; al-Suyuthiy, Tadrili al-
Rawiy, op. cit.. J.II, h. 103-105.
51
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
BAB III. ILMU HADITS DIRAYAH
A. Urgensi Penelitian Sanad Hadits
Perhatian 'Ulama' kepada sanad Hadits sangat besar, di samping kepada matn Hadits.
Hal ini terlihat misalnya pada: [I] pernyataan-pernyataan 'Ulama' bahwa sanad merupakan
bagian tak terpisahkan dari agama dan pengetahuan Hadits, banyaknya karya tulis 'Ulama'
berkenaan dengan sanad Hadits; dan [3] dalam praktek, bila 'Ulama' Hadits menghadapi
suatu Hadits, maka sanad Hadits merupakan salah satu bagian yang mendapat perhatian
khusus. Dengan demikian, sanad Hadits mempunyai kedudukan yang sangat penting, dilihat
dari dua sisi: sisi kedudukan Hadits sebagai sumber ajaran Islam; dan sisi sejarah Hadits.
Dilihat dari sisi pertama, sanad Hadits sangat penting karena Hadits merupakan salah
satu sumber ajaran Islam. Sedang dilihat dari sisi yang kedua, sanad Hadits sangat penting
karena dalam sejarah: [a] pada zaman Nabi tidak seluruh Hadits tertulis; [b] sesudah zaman
Nabi telah berkembang pemalsuan-pemalsuan Hadits; dan [c] penghimpunan (tadwin)
Hadits secara resmi dan massal terjadi setelah berkembangnya pemalsuan-pemalsuan
Hadits. Dengan demikian dapat dinyatakan, ada empat faktor penting yang mendorong
'Ulama' Hadits mengadakan penelitian sanad Hadits: [1] Hadits sebagai salah satu sumber
ajaran Islam; [2] Hadits tidak seluruhnya tertulis pada zaman Nabi; [3] telah muncul
pemalsuan Hadits; dan [4] proses penghimpunan (tadwin) Hadits. Berikut ini dikemukakan
empat faktor tersebut.
1. Hadits Sebagai Sumber Pokok Ajaran Islam Bersama al-Qur'an
Sekiranya Hadits Nabi hanya berkedudukan sebagai sejarah mengenai keberadaan dan
kehidupan Nabi Muhammad semata, niscaya perhatian 'Ulama' terhadap sanad Hadits
akan lain daripada yang ada sekarang.163Kedudukan Hadits sebagai salah satu sumber
ajaran Islam telah disepakati oleh hampir seluruh 'Ulama' dan umat Islam. Dalam sejarah,
hanya ada sekelompok kecil dari kalangan 'Ulama' dan umat Islam telah menolak Hadits
Nabi sebagai salah satu sumber ajaran Islam. Mereka dikenal juga dengan sebutan inkar
al-sunnah.
Di zaman al-Syafi'iy (w.204H/820M), golongan inkar al-sunnah tersebut telah
timbul.164 Al-Syafi'iy telah menulis bantahan terhadap argumen-argumen mereka dan
membuktikan keabsahan Hadits (al-sunnah) sebagai salah satu sumber ajaran Islam.'Ulama'
163 Terlihat, misalnya, dalam penulisan kitab-kitab sirah al-Nabiy (sejalah hidup Nabi). Sanad Hadits yang
berkaitan dengan sirat al-Nabiy tidak begitu dimasalahkan.
164 lstilah al-Syafi'iy untuk golongan inkar al-sunnah ialah golongan penolak seluruh Hadits (al-tha’ifat al-
latiy raddat al-akhbar kullaha). Al-Syafi'iy juga menyatakan adanya golongan yang menolak jenis Hadits
tertentu: golongan yang menolak Hadits ahad dangolongan yang menolak Hadits yang tidak memiliki dasar yang
jelas dalam Al-Qur'an. Kepada mereka pun al-Syafi'iy mengemukakan kelemahan argumen yang mereka
pergunakan. Lebih lanjut lihat: Abu 'Abdillah Muhammad bin Idris al-Syafi'iy (al-Umm}, disertai catatan
pinggir (hamisy) dari karya al-Syafi'iy yang berjudul Kitab Ikhtilaf al-Hadits [ttp] Dar al-Sya'b, [tth]), J.VII.
h.250-267. Dua golongan yang disebut terakhir itu sesungguhnya masih termasuk golongan yang menerima
Hadits sebagai salah satu sumber ajaran Islam. Hanya saja mereka memberikan syarat-syarat tertentu. Syarat-
syarat itu ada yang berkenaan dengan sanadmaupunmatn.
52
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
pada masa berikutnya menggelari al-Syafi'iy sebagai "Pembela Hadits" (Nashir al-Hadits)
atau "Pembela al-Sunnah" (Nashir al-Sunnah; Multazim al-Sunnah).165 Sesudah zaman
al-Syafi'iy, masih timbul juga golongan inkar al-sunnah tersebut. Mereka menyatakan,
sumber ajaran Islam itu hanya satu macam saja, yakni Al-Qur'an (Al-Islam huwa al-Qur'an
wahdah).166Di Indonesia dan Malaysia, orang yang mengaku beragama beragama islam
tapi berfaham inkar al-sunnah telah muncul juga.167
Diantara faktor-faktor yang mendorong munculnya paham Inkar al-sunnah
tersebut ialah ketidakpahaman mereka mengenai berbagai hal berkenaan dengan ilmu
Hadits. Faktor ini bukan hanya terlihat pada mereka yang berfaham inkar al-sunnah
pada zaman Al-Syafi’iy saja,168 melainkan juga pada paham berikutnya, termasuk di
dalamnya kelompok pengingkar al-sunnah di Indonesia169 dan Malaysia. Khususnya
pelopor pengingkar sunnah di Malaysia, Kassim Ahmad170, yang banyak membantah
pendapat-pendapat al-Syafi'iy mengenai ke-hujah-an al-sunnah, terlihat belum sempat
membaca uraian al-Syafi'iy yang termaktub dalam kitabnya, al-Umm.171Pada hal dalam
kitab al-Umm itulah, al-Syafi' iy secara panjang lebar telah menunjukkan berbagai
165 Muhammad Abu Zahrah, Al-Syafi'iy Hayatuhu wa Ashruhu: Ara'uhu wa Fiqhulut ([ttp]: Dar al-Fikr, [tth]),
h.214; 'Abd al-Karim al-Jundiy, al-Imam al-Syafi'iy (Kairo: Dar al-Katib al-' Arabiy, tth.), h.295, 300.
166Musthafa al-Siba'iy, al-Sunnah wa Makanatuha fiy al-Tasyri' al-Islamiy ([ttp]: Al-Dar al-Qawmiyyah,
1966M), h. 138.
167 Kelompok inkar al-sunnah di Indonesia, lihat misalnya penjelasan dalam: Ahmad Husnan. Gerakan Inkar
as-Sunah dan jawabannya (Jakarta: Media Da'wah, 1980), h.1-9. Di Malaysia, paham inkar al-sunnah telah dica
nangkan oleh Kassim Ahmad melalui karya tulisnya, Hadits, suatu penilalan Semula (Selangor: Media Intelek
Sdn. Bhd., 1986). Tulisan Kassim Ahmad telah mengundang reaksi keras dari berbagai kalangan. Di antara reaksi
yang dikemukakan dalam bentuk tulisan, lihat misalnya: Mahayudin Haji Yahaya (penyunting), Penjelasan Mengenal
Hadits dan KOD 19 (Reaksi terhadap buku, "Hadits, Suatu Penilalan Semula”) (Malaysia: Persatuan Bekas Mahasiswa
Islam Timur Tengah, 1986): Panel Penyelidik Hadits Majlis Ugama Islam Kelantan (Panel), Salah Faham terhadap
Hadits: Satu Penjelasan (Kota Bharu: Majlis Ugama Islam Kelantan, 1986). Menurut Umar Yunus, seorang guru
besar dan budayawan yang kini tinggal di Malaysia, Kassim Ahmad telah beberapa kali membikin kejutan di
Malaysia. Yakni: [1] ditberhenti sebagai Ketua Partal Sosialis Rakyat Malaysia (PSRM) dan sekaligus menyatakali
ketuar dan partal itu; [2] dia telah menyatakan ingin menjadi anggota UMNO, suatu,organisasi yang dulu
dimusuhinya: dan [3] dia menerbitkan buku yang menolak Hadits sebagai sumber ajaran Islam. Selama ini, Kassim
dikenal sebagai orang yang tidak melibatkan diri pada persoalan agama dan bahkan sering dipenanyakan keterlibatan
dalam pengamatan agama, serta dipertanyakan pengetalmannya mengenai agama Islam. Lebih lanjut lihat: Umar
Yunus, "Kassim Ahmad dan Persoalan Hadits" dalam Panji Masyarakat, No. 511 Th. XXVIII, Jakarta, 25 Zulqa'dah
1406 H/ 1 Agustus 1986 M. h. 25-27.
168 Menurut Muhammad al-Khudhariy Bik, kelompok inkar al-sunnah pada zaman al-Syafi'iy dikenal
sebagai kelompok yang tidak banyak memiliki pengetahuan mengenai ilmu Hadits (al-sunnah). Lihat:
sebagaimana dikutip oleh Abu Zahrah, op. cit., h. 218.
169Menurut hasil pengamatan Ahmad Husnan, salah satu sebab yang mendorong timbulnya kelompok inkar
al-sunnah di Indonesia tersebut ialah ketidaktahuan mereka mengenai isi dan makna Al-Qur'an, serta ilmu iafsir dan
bahasa Arab. karenanya, banyak ayat yang diterjemahkan dan dipahami secara salah. Di samping itu, secara tidak
langsung Ahmad Husnan juga berpendapat, bahwa mereka itu tidak banyak mengetahui seluk-beluk
pengetahuan Hadits (al-sunnah). Terbukti, Ahmad Husnan dalam bukunya yang membahas inkar al-sunnah.
menyertakan juga beberapa uraian penting mengenai pengertian, kedudukan, sejarah penghimpunan dan sebagai
istilah ilmu Hadits. Lihat: Ahmad Husnan, op. cit., h.2, 44-46, 51-115.
170Ada uraian seorang tokoh inkar al-sunnah di Malaysia, Kassim Ahmad, mempertentangkan antara Hadits
yang berkualitas shahih dengan Hadits yang berkualitas dha’if. Lihat: Kassim Ahmad, op. cit., h. 88-89.
Kelihatannya, karena tokoh inkar al-sunnah tersebut sangat lemah pengetahuannya mengenai ilmu Hadits. maka para
penyanggahnya menyertakan juga uraian beberapa hal penting sekitar Hadits dan ilmu Hadits. Lihat uraian:
Mahayudin Haji Yahaya (penyunting), op. cit., h. 22-24, 30-33; Panel, op. cit., h. 21, 43-44, 47-48.
171Menanggapi argumen-argumen, Kassim Ahmad hanya menunjuk karya al-Syafi'iy yang
berjudul al-Risalah, dalam bentuk terjemahan bahasa Inggris (hasil terjemahan Majid Khaduri). Lihat: Kassim
Ahmad, op. cit., h. 27-28, 58, 83. 109. 131. Menurut penelitian Mahayudin Haji Yahaya, Kassim Ahmad tidak
menggunakan sumber-sumber pertama (primary sources). Lihat: Mahayudin Haji op. cit., h. 33.
53
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
kelemahan argumen yang diajukan oleh para pengingkar al-sunnah yang muncul pada
masa itu.
Secara keseluruhan, argumen-argumen yang diajukan oleh para pengingkar al-sunnah
memang cukup banyak. Argumen-argumen dapat dibagi menjadi dua kelompok besar.
Yakni, argumen-argumen naqliy (Al-Qur'an dan Hadits Nabi) dan non-naqliy.
a. Argumen-argume naqliy yang mereka ajukan cukup banyak juga. Dari argumen-
argumen tersebut yang dapat dinyatakan terpenting ialah:
... (89)... َو َن ﱠز ْلنَا َعلَ ْي َك ا ْل ِكتَا َب تِ ْب َيانًا ِل ُك ِّل َش ْي ٍء...
{Dan Kami turunkan kepadamu al- Kitab (al-Al-Qur'an) untuk menjelaskan segala
sesuatu (Q.S. al-Nahl/16: 89).
(38) ... َما َف ﱠر ْط َنا ِفي ا ْل ِكتَا ِب ِم ْن َش ْي ٍء...
... Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun dalam Al Kitab (Q.S. al-An'am/6:38)
Menurut mereka, ayat-ayat tersebut dan yang semakna dengannya menunjukkan
bahwa Al-Qur'an telah mencakup segala sesuatu berkenaan dengan ketentuan agama.
Keterangan lain, misalnya Hadits (sunnah) Nabi, tidak diperlukan. Salat wajib yang
harus didirikan lima waktu dalam sehari semalam dan hal-hal lain yang berkenaan
dengannya, dasarnya bukan Hadits Nabi, melainkan ayat-ayat Al-Qur'an. Hal ini ter-
maktub, misalnya, dalam Surat-surat: al-Baqarah: 238, Hud: 114, al-Isra`: 78 dan 110,
Thaha: 130, al-Hajj: 77, al-Nur: 58, dan al-Rum: 17-18. Mereka berkata, Al-Qur'an
diwahyukan oleh Allah dalam bahasa Arab. Mereka yang memiliki pengetahuan yang
mendalam mengenai bahasa arab akan mampu memahami alqur’an dengan baik tanpa
bantuan Hadits.
b. Ada Hadits Nabi yang menyatakan, bahwa pada suatu masa akan bertebaran berita
yang disandarkan kepada Nabi. Nabi memberi petunjuk, agar berita-berita tersebut
dikonfirmasikan dengan Al-Qur'an. Jika berita itu sesuai dengan Al-Qur'an, berarti ia
berasal dari Nabi; dan bila berita itu ternyata bertentangan dengan Al-Qur'an, berarti
ia tidak berasal dan Nabi. Menurut mereka, berdasarkan riwayat tersebut, maka yang
harus diperpegangi bukanlah Hadits Nabi, melainkan Al-Qur'an.172Jadi dalam hal ini,
Hadits tidak berstatus sebagai sumber ajaran Islam.
Argumen-argumen tersebut sungguh lemah dan tidak kuat:
a. Kata tibyan (penjelasan) yang termuat dalam QS al-Nahl/16:89, menurut al-Syafi'iy
mencakup beberapa segi:
1) Ayat Al-Qur'an secara tegas menjelaskan adanya:
a). Berbagai kewajiban, misalnya kewajiban-kewajiban salat, puasa, zakat, dan haji;
b). Berbagai larangan, misalnya larangan zina, minum minuman keras, memakan
bangkai, darah dan daging babi; dan lain-lain.
172 Argumen-argumen naqliy tersebut secara rinci dan saling melengkapi, lihat: al-Syafi'iy, op. cit., h. 250;
Musthafa al-Siba'iy, op. cit., h. 128-129, 135-136, dan 138-140; Kassim Ahmad, op. cit., h. 41-46, 50-57, dan lain-
lain; Muhammad-Muhammad Abu Zahw (Abu Zahw), al-Hadits wa al-Muhadditsun (Mesir. Mathba'ah al-
sa’adah, [tth]), h.21; Muhammad al-Khudhariy Bik, Tarikh al-Tasyri al-Islamiy (Mesir: Mathba'at al-Sa'adah,
1373H/1954M), h. 183-185.
54
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
c). Teknis pelaksanaan ibadah tertentu, misalnya tata-cara wudu.
2).Ayat Al-Qur'an menjelaskan adanya kewajiban tertentu yang sifatnya umum,
misalnya kewajiban salat; dalam hal ini, Hadits Nabi menjelaskan teknis
pelaksanaannya.
3).Nabi menetapkan suatu ketentuan yang di dalam Al-Qur'an tidak dikemukakan
secara tegas. Ketentuan dalam Hadits tersebut wajib ditaati, sebab Allah
mewajibkan orang-orang beriman untuk menaati Nabi.
4).Allah mewajibkan hamba-hamba-Nya untuk melakukan ijtihad. Kewajiban
melaksanakan perintah ijtihad sama dengan kewajiban menaati perintah Allah yang
lain bagi mereka yang mampu.173
Jadi berdasarkan Surat al-Nahl: 89 tersebut, Hadits Nabi merupakan sumber
penjelasan ketentuan agama Islam. Ayat dimaksud sama sekali tidak menolak
keberadaan Hadits Nabi. Bahkan, ayat itu telah memberikan kedudukan yang sangat
penting terhadap Hadits Nabi. Sebab, ada bagian ketentuan agama termuat
penjelasannya dalam Hadits Nabi dan tidak termuat secara tegas atau rind dalam Al-
Qur'an.
b. Kata al-kitab dalam Surat al-An'am: 38 di atas, menurut sebagian 'Ulama' berarti Al-
Qur'an, dan menurut sebagian 'Ulama' lagi berarti al-lawh al-mahfuzh. Menurut
pendapat yang disebut pertama, dalam Al-Qur'an telah terdapat semua ketentuan agama.
Ketentuanketentuan itu ada yang bersifat global dan ada yang rinci. Ketentuan yang
bersifat global dijelaskan rinciannya oleh Nabi melalui Haditsnya. Apa yang dinyatakan
oleh Nabi wajib ditaati oleh orang-orang yang beriman. Pendapat yang disebut kedua
mengartikan al-kitab dengan al-lawh al-mahfuzh. Hal ini sesuai dengan maksud konteks
ayat tersebut.
Dalam ayat itu Allah menerangkan, bahwa semua binatang yang melata dan burung
yang terbang dengan kedua sayapnya adalah umat juga seperti manusia. Allah telah
menetapkan rezekinya, ajalnya dan perbuatannya di al-lawh al-mahfuzh.174Jadi, ayat
itu sama sekali tidak memberi petunjuk bahwa Hadits Nabi tidak diperlukan. Menurut
pendapat yang disebut pertama, justru ayat tersebut memberikan kedudukan yang
sangat penting terhadap Hadits.
c. Memang benar, Al-Qur'an tertulis dalam bahasa Arab. Susunan kata-katanya ada
yang berlaku umum dan ada yang berlaku khusus, di samping ada yang berstatus global
173Ibid. (al-Syafi'iy), h.251-255; Al-Risalah, naskah diteliti dan disyarah oleh Ahmad Muhammad Syakir
(Kairo: Maktabat Dar al-Turas, 1399H/1979M), J.I, h.21-39. Sebagian 'Ulama' berpendapat, yang dimaksud
dengan ayat di alas (al-Nahl: 89) ialah bahwa Al-Qur'an menjelaskan semua ketentuan agama; penjelasan itu
ada yang berupa ayat Al-Qur'an dan ada yang berupa Hadits Nabi. Hadits Nabi dicakup oleh ayat tersebut,
karena salah satu fungsi Nabi menurut Al-Qur'an adalah menjelaskan Al-Qur'an. Di samping itu, Al-Qur'an telah
mewajibkan orang-orang yang beriman untuk mengikuti petunjuk Nabi. Lebih lanjut lihat: Abu Zahw, op.cit.,
h.22; Al-Syawkaniy, Fath al-Qadir (Beirut: Dar al-Fikr. 1393H/1973M), h 187.
174Ibid. (al-Syawkaniy. J.11), h.114; Al-Qurthubiy, Ahkam al-Qur'an (Kairo: Dar at Katib,
1387H/1967M), J.VI, h.420; Al-Zamakhsyariy, al-Kasysyaf 'an Haqa’iq al-Tanzil wa 'Uyun al-Aqawil
(Mesir: Musthafa al-Babiy al-Halabiy wa Awladuh. (tth]), J.III, h.17. Al-Sayyid Muhammad Rasyid Ridha
(Ridha), Tafsir al-Qur'an al-Hakim (Tafsir al-Manar) (Beirut: Dar al-Ma'rifah,.[tth]), J.VII, h.394-395. Khusus
mengenai pengertian lawh mahfuzh, lihat juga al-Asfahaniy, al-Mufradat fiy Gharib al-Qur'an, Mesir: Musthafa
al-Babiy al-Halabiy wa Awladuh, 1381H/1961M), h.456.
55
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
dan berstatus rinci. Untuk mengetahui bahwa sesuatu ayat berlaku khusus ataupun
rind diperlukan petunjuk Al-Qur'an dan atau Hadits. Perintah mendirikan salat,
misalnya, selain berlaku umum untuk semua orang Islam yang telah mukalaf
(mukallaf), juga berstatus global. Wanita yang sedang menstruasi tidak dikenakan
kewajiban mendirikan salat. Ketentuan ini hanya dapat diketahui melalui Hadits Nabi.
Demikian pula mengenai cara salat dan ketentuan waktunya secara rinci hanya dapat
diketahui melalui Hadits Nabi.175 Berbagai ayat Al-Qur'an yang disebut oleh pengingkar
sunnah sebagai cara pelaksanaan salat dan sebagainya, ternyata ayat-ayat dimaksud
belum memberikan petunjuk secara rinci.
Dalam hubungan ini, kalangan pendukung paham inkar al-sunnah menyatakan:
[1] cara salat yang diwajibkan Allah telah ada sejak zaman Jahiliah; [2] tata-cara
salat tidak penting; umat Islam diberi kebebasan oleh Allah untuk melaksanakan salat
sesuai keadaan mereka masing-masing;176 dan [3] bentuk pelaksanaan salat yang
terpenting adalah zikir (dzikr) dan tidak harus dengan cara rukuk, sujud, dan
sebagainya.177 Pendapat-pendapat seperti ini sulit dipertanggung-jawabkan, karena
tidak memiliki dasar yang kuat.Jadi, orang yang ingin dapat memahami kandungan
Al-Qur'an dengan baik, walaupun orang itu memiliki pengetahuan yang mendalam
mengenai bahasa Arab, tetap memerlukan penjelasan-penjelasan dari Hadits Nabi.
d. Hadits, yang dikemukakan sebagai argumen untuk menolak Hadits oleh mereka yang
berpaham inkar al-sunnah di atas cukup banyak sanadnya. Lafazh matn Hadits
dimaksud beragam tapi semakna. Seluruh sanad Hadits itu telah diteliti secara terpisah
oleh 'Aliy bin Ahmad bin Hazm (w.456H/1063M) dan Abu Bala Ahmad al-Bayhaqiy
(w.458H/1066M). Ternyata semua sanad Hadits itu berkualitas lemah (dha'if).
Kelemahan sanad itu berupa sanad terputus, rawi tak dikenal (majhul), bahkan ada
yang periwayatnya tertuduh dusta.178 Al-Syafi'iy telah pula meneliti Hadits yang
diajukan oleh para pengingkar al-sunnah. Kata al-Syafi’iy, Hadits dimaksud terputus
sanad-nya, dalam hal ini munqathr.179Jadi, Hadits yang diajukan oleh pengingkar al-
sunnah adalah Hadits yang berkualitas lemah (dha'if) dan karenanya tidak dapat
dijadikan sebagai argumen (data). Perlu pula dinyatakan di sini, bahwa sungguh
kurang tepat para pengingkar al-sunnah menggunakan argumen Hadits untuk
mempertahankan pendapat mereka. Apalagi, Hadits yang mereka pergunakan itu
adalah Hadits yang berkualitas dha'if, yang justru Hadits yang berkualitas demikian
itu ditolak oleh para pembela Hadits (al-sunnah) untuk dijadikan hujah (hujjah).
175Al-Syafi'iy, op.cit. (al-Umm, h.251-254; al-Risalah. h.42-53; dan lain-lain). Juga lihat pembahasan
mengenai berbagai ibadah yang diperintahkan secara umum oleh al-Al-Qur'an dan yang dijelaskan oleh Hadits,
misalnya dalam, al-Syathibiy, al-Muwafaqat fiy Ushul al-Syari'ah, disyarah oleh 'Abd Allah Darraz (Mesir:
AL-Maktabat al-Tijariyyat al-Kubra, ([tth], J.IV. h.25-27; dan 'Aliy bin Ahmad bin Hazm (Ibn Hazm), al-
Ihkam fiy Ushul al-Ahkam (Kairo: AL-Mathba'at al-'Ashimah, [tth]), J. II, , h.200.
176Kassim Ahmad, op. cit., h. 44-47, 54, dan 99.
177Ahmad Husnan, op. cit., h. 9, dan 29-31.
178Ibn Hum, op. cit.. J. II, h. 197-199; Abu Bakr Ahmad bin Husayn bin 'Aliy 'Abd Allah al-Bayhaqiy (al-
Bayhaqiy), Dala'il al-Nubuwwah (Beirut: Dar al-Fikr, 1403H/1983M), J. 1. h. 24-27; Jalal al-Din 'Abdur-
Rahman bin Abiy Bakr al-Suyuthiy (al-Suyuthiy). Miftah aklannah fiy al-lhtijaj hi al-Sunnah (al-Madinah al-
Munawwarah: Mathabi' al-Rasyid, 1399H/1979M), h. 5, 10, dan 21-27.
179Al-Syafi'iy, al-Umm, op. cit.,J. VII. h. 264.
56
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Adapun argumen-argumen non-naqliy yang diajukan para pengingkar al-sunnah
untuk menolak Hadits sebagai salah satu sumber ajaran Islam, dapat dikemukakan
pokok-pokoknya sebagai berikut:
1) Dalam sejarah, umat Islam mengalami kemunduran. Mereka mundur karena
mereka terpecah belah. Perpecahan terjadi, karena umat Islam berpegang pada
Hadits Nabi.180 Jadi, Hadits Nabi merupakan sumber kemunduran umat Islam.
2) Asal mula Hadits Nabi yang dihimpunkan dalam kitab-kitab Hadits adalah
dongeng-dongeng semata. Sebab, Hadits Nabi lahir sesudah lama Nabi wafat.
Dalam sejarah, sebagian Hadits baru muncul pada zaman al-tabi'in dan atba' al-
tabi'in. Yakni, sekitar empat puluh atau lima puluh tahun sesudah Nabi wafat.
Kitab-kitab Hadits yang terkenal, misalnya shahih al-Bukhariy dan Shahih Muslim,
adalah kitab-kitab yang menghimpun berbagai Hadits palsu. Di samping itu,
banyak matn Hadits yang terdapat dalam berbagai kitab Hadits, isinya bertentangan
satu sama lainnya dan bahkan tidak sedikit yang bertentangan dengan Al-Qur'an
dan logika.181
3).Kritik sanad yang dikenal dalam ilmu Hadits sangat lemah untuk menentukan
keshahihan Hadits. Karena:
a). Dasar kritik sanad itu, yang dalam ilmu Hadits dikenal dengan istilah 'ilm al-jarh
wa al-ta'dil (ilmu yang membahas ketercelaan dan keterpujian rawi Hadits), baru
muncul setelah satu setengah abad Nabi wafat. Ini berarti, para rawi generasi
sahabat Nabi, al-tabi'in dan atba' al-tabi'in tidak dapat ditemui dan diperiksa lagi.
b). Seluruh sahabat Nabi sebagai rawi Hadits pada generasi pertama dinilai adil
oleh 'Ulama' Hadits pada akhir abad ketiga dan awal abad keempat Hijriyah.
Dengan konsep ta'dil al-shahabah, para sahabat Nabi dinilai terlepas dari
kesalahan dalam melaporkan Hadits.182
Argumen-argumen non-naqliy tersebut tidak kuat. Berikut ini dikemukakan bukti-
buktinya:
a. Dalam sejarah, umat Islam mengalami kemajuan pada zaman klasik (650-1250M). Puncak
kemajuan terjadi pada sekitar tahun 650-1000 M. 'Ulama' besar yang hidup pada masa ini
180Kassim Ahmad, op. cit., h. 14-20. 23. 65-66, 74-77, 114, dan 117.
181Ibid., h. 62-63, 66, 74, 91, 93, 97-105, dan 117; lihat juga yang dikutip oleh Ahmad Husnan, op. cit., h. 8.
Dasar pendapat di atas, sebagaimana yang dinyatakan oleh Kassim Ahmad, adalah pendapat G.H.A. Juynboll.
Juynboll menyatakan, bahwa pertumbuhan Hadits tampaknya dimulal dengan cerita-cerita mengenai Nabi, puji-
pujian terhadap dan Abu Bakar, serta tuntunan mengenai perbuatan yang halal dan haram. Menurut Juynboll,
Hadits pada umumnya baru muncul pada zaman al-tabi'in dan atba' al-tabi'in. Lebih lanjut lihat: Kassim Ahmad,
op. cit., h. 66 dan 91; juga lihat: G.H.A. Juynboll, Muslim Tradition (London: Cambridge University Press, 1983),
h. 17 dan 22-24.
182Ibid. (Kassim Ahmad), h. 91-94. Pendapat Kassim Ahmad itu didasarkan pada pernyataan G.H.A. Juynboll
dan Joseph Schacht. Lihat: ibid., h. 91 dan 108. Juynboll menyatakan, Hadits pada umumnya baru muncul pada
zaman al-tabi'in dan atba' al-tabi'in. 'Ulama' Hadits pada masa abad ketiga dan awal abad keempat Hijriyah telah
menetapkan, bahwa seluruh sahabat Nabi bersifat adil dalam arti mereka terpelihara dari kesalahan dalam pe-
riwayatan Hadits Nabi. Lihat: G.H.A. Juynboll, op. cit., h. 22-24 dan 190-195. Dalam hal ini, Juynboll mengacaukan
arti adil dan dhabith. Sahabat Nabi memang diakui bersifat adil oleh mayoritas 'Ulama', tapi mereka (para sahabat
itu) tidak diakui telah pasti seluruhnya bersifat dhabith. Lebih lanjut lihat pembahasan di bab IV sub-bab B. Joseph
Schacht menyatakan, kritik sanad baru muncul setelah satu setengah abad Nabi wafat. Hal ini berarti para rawi
Hadits generasi pertama sampai ketiga tidak dapat diperiksa (diteliti) lagi. Lihat: Joseph Schacht, The Origins of
Muhammadan Jurisprudence (London: Oxford University Press, 1979), h. 36-37. Schaht dalam hal ini mengacaukan
sejarah pembakuan al jarh. Iva al-ta’dil sebagai ilmu dengan praktek kegiatan kritik sanad.
57
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
tidak sedikit jumlahnya, baik bidang tafsir, Hadits, fiqh, ilmu kalam, falsafat, tasauf,
sejarah, maupun bidang pengetahuan lainnya. Periode ldasik berakhir sampai Baghdari jatuh ke
tangan Hulagu Khan.183Berdasarkan bukti sejarah ini ternyata, periwayatan dan perkembangan
pengetahuan Hadits berjalan seiring dengan perkembangan pengetahuan lainnya. Ajaran
Hadits telah ikut mendorong kemajuan umat Islam. Karena Hadits Nabi, seperti halnya Al-Qur'an,
telah memerintahkan orang-orang yang beriman menuntut pengetahuan.184
Di samping itu, Hadits Nabi seperti halnya Al-Qur'an, telah memerintahkan agar
umat Islam bersatu dan menjauhi perpecahan.185Kalau begitu, pendapat yang menyitakan
bahwa Hadits Nabi telah menyebabkan kemunduran dan perpecahan umat Islam sama sekali
tidak beralasan.
b. Umat Islam memberikan perhatian yang besar kepada Hadits Nabi bukan hanya dimulai pada
zaman al-tabi'in dan atba' al-tabi'in, melainkan sejak zaman Nabi. Walaupun Nabi pernah
melarang para sahabat menulis Hadits, tapi tidak berarti tidak ada sahabat Nabi yang telah
dengan rajin menulis dan juga menghafal Hadits-Hadits Nabi.Pada zaman al-tabi'in dan atba'al-
tabi'in, pemerhati Hadits makin banyak jumlahnya. Hal ini memang logis. Sebab, para
sahabat yang mengajarkan Hadits, jumlahnya bar:yak dan masing-masing sahabat memiliki
murid yang tidak sedikit juga. Kemudian al-tabi'in mengajarkan pengetahuannya kepada atba'
al-tabi 'in . Karenanya sangat wajar apabi la pada zaman al-tabi'in dan atba' al-tabi'in,
pemerhati Hadits menjadi lebih bertambah banyak jumlahnya dibandingkan dengan pada
zaman sahabat. Karena satu matn Hadits dapat memiliki lebih dari satu sanad, maka makin jauh
jarak masa dari Nabi akan makin banyak jumlah Hadits yang beredar dilihat dari segi sanad-
nya. Jadi, tidak benar pendapat yang menyatakan bahwa Hadits Nabi merupakan dongeng-
dongeng semata.Berbagai Hadits Nabi yang terhimpun dalam kitab-kitab Hadits, misalnya
dalam Shahih al-Bukhariy dan Shahih Muslim, sekiranya terdapat Hadits yang berkualitas
dha'if ataupun palsu, tidaklah berarti bahwa seluruh Hadits dalam kitab-kitab itu berkualitas
lemah. 'Ulama' telah menetapkan beberapa kitab Hadits yang bertaraf standar. Salah satu
pertimbangan penetapan itu ialah karena dalam kitab-kitab dimaksud banyak termuat Hadits
yang berkualitas shahih.Bila dalam kitab-kitab Hadits terdapat beberapa matn Hadits yang
tampak bertentangan, baik dengan Al-Qur'an, logika, sejarah, ataupun dengan Hadits-Hadits
yang lain, tidaklah berarti seluruh Hadits harus dinyatakan lemah atau palsu. Untuk
menghadapi Hadits yang tampak bertentangan, 'Ulama' Hadits telah menciptakan salah satu
cabang ilmu Hadits yang dikenal dengan nama 'ilm mukhtalif al-Hadits atau ma'rifah
mukhtalif al-Hadits.186Jadi, adanya beberapa matn Hadits yang bertentangan tidak harus
disimpulkan bahwa seluruh Hadits harus ditolak kehujah-annya sebagai salah satu sumber
ajaran Islam.
183Harun Nasution. Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), h. 11-
13; pengarang yang sama, Islam Ditinjau dari berbagai Aspeknya (Jakarta: UI-Press, 1979), J.I, h. 56-74.
184Al-Al-Qur'an, antara lain Surat Fathir: 28; Al-Zumar: 9; dan Hadits Nabi, misalnya
yang terhimpun dalam Manshur 'Aliy Nashif, al-Taj al-Jami'li al-Ushul fiy AHadits al-Rasul SAW (Beirut: Dar Ihya
al-Turas al-'Arabiy. 1384H/1962M). J.1, h. 61-67.
185Ibid. (Al-Qur'an), antara lain Surat Ali Imran: 103; dan Hadits Nabi. antara lain yang terhimpun dalam
Manshur 'Aliy Nashif, op. cit., J.V, h. 9-11, 16-19, 29-30, 35-39, dan lain-lain.
186 Pembahasan mengenai mukhtalif al-Hadits, lihat: al-Suyuhtiy, Tadrib al-Rawly fiy Syarh Tadrib al-
Nawawiy (Beirut: Dar Ihya' al-Sunnat al-Nabawiyyah, 1979M), J.II, h.196-203.
58
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
c.1). Salah satu dasar kritik sanad adalah 'am al-jarh wa al-ta'dil.
Ilmu ini dipakai untuk menyeleksi kualitas rawi Hadits. Dalam pada itu, bagian-
bagian sanad yang dikritik oleh 'Ulama' Hadits bukan hanya para periwayatnya saja,
melainkan juga persambungan sanad-nya. Untuk meneliti persambungan sanad, salah
satu hal yang haws diperhatikan ialah bentuk-bentuk tahamul wa ada' al-Hadits yang
telah ditempuh oleh Para rawi yang termaktub namanya dalam sanad itu. Dalam 'ilm al-jarh
wa al-ta'dil, yang dibahas bukan hanya bagaimana kritik 'Ulama' terhadap para rawi saja,
melainkan juga dibahas orang yang melakukan kritik. 'Ulama' telah memberikan syarat-syarat
sahnya seorang pengritik periwayat. Di samping itu, dalam 'ilm al-jarh wa al-ta'dil dikenal
ada beberapa teori. Dalam teori-teori itu dibahas bentuk-bentuk kritik yang sah dan yang
tidak sah.Jadi, cukup ketat tata ketentuan yang berkenaan dengan kritik sanad tersebut.187
Memang benar 'ilm al-jarh wa al-ta'dil dan berbagai teorinya itu tidak lahir pada
zaman Nabi. Tapi hal ini tidak berarti bahwa kegiatan kritik Hadits tidak ada pada zaman Nabi dan
zaman sahabat Nabi. Dalam sejarah, kegiatan kritik Hadits telah ada pada zaman Nabi.
Kalangan sahabat Nabi tatkala menerima Hadits melalui sahabat lainnya, ada yang
melakukan konfirmasi kepada Nabi. Kemudian pada zaman sahabat, nama-nama Abu
Bakar al-Shiddiq, 'Umar bin al-Khaththab, 'Aliy bin Abiy Thalib, dan 'A'isyah,
misalnya, dikenal sebagai ahli kritik Hadits, baik di bidang matn maupun di bidang
sanad. Sikap kritis mereka dalam meriwayatkan Hadits dilanjutkan oleh kalangan al-
tabi'in . Dari kalangan al-tabi'in yang dikenal ahli di bidang kritik Hadits dapat disebut
misalnya: Sa'id bin al-Musayyab (w.94H/712M), 'Amir al-Sya'biy (w.103H/721M),
dan Muhammad bin Sirin (w.110H/729M). 'Ulama' generasi berikutnya yang dikenal
juga ahli di bidang kritik sanad dapat disebut misalnya: al-Awza'iy (w.157H/774M),
Sufyan al-Saturiy (w.161H/778M), Malik bin Anas (w.179 II = 795M), Yahya bin
Sa'id al-Qaththan (w.194H/810M), 'Abd al-Rahman bin Mandiy (w.198H/814M),
Yahya bin Ma'in (w.233H/848M), dan al-Bukhariy (w.256H/870M).188Jadi,
sama sekali tidak benar pendapat yang menyatakan bahwa kegiatan kritik sanad
Hadits baru berlangsung sesudah satu abad Nabi wafat. Pengingkar al-sunnah tidak
membedakan istilah al-jarh wa al-taidil sebagai bagian dari ilmu Hadits yang baku dan
berdiri sendiri dengan al-jarh wa al-ta'dil sebagai proses kegiatan. Para pengingkar
al-sunnah hanya melihat al-jarh wa al-ta'dil dari satu sisi saja dan tidak melihatnya
dari sisi-sisi yang lainnya lagi.
c.2).Memang benar mayoritas 'Ulama' Hadits berpendapat bahwa seluruh sahabat Nabi
bersifat adil. Hal ini memang perlu diajukan kritik. Tapi di samping itu, yang perlu
dinyatakan di sini ialah bahwa dalam ilmu Hadits, sifat adil dibedakan dari sifat
dhabith. Sifat adil berkaitan dengan integritas pribadi seseorang diukur menurut
ajaran Islam, sedang sifat dhabith berkaitan dengan kemampuan intelektualnya.Rawi
barulah dinilai sebagai memenuhi syarat, bila kedua sifat itu telah dimilikinya.
Sahabat Nabi dalam proses kritik sanad tidak lepas dari kritik di bidang ke-
188 Muhammad Mushthafa al-A'zhamiy, Manhaj al-Naqd 'inda al-Muhadditsin (Riyad: Syirkat al-Thiba’at al-
'Arabiyyat al-Sa’udiyah, 1402H/1982M), h. 5-21; Abu Lubabat Husayn, al-Jarh wa al-Ta dil (Riyad: Dar al-
Liwa', 1399H/1979M), h. 55-61.
59
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
dhabithannya. Hal ini berlangsung, sedikitnya, mulai pada zaman sahabat.189 Jadi,
sama sekali tidak memiliki dasar yang kuat pendapat yang menyatakan bahwa sahabat
Nabi terlepas sama sekali dari kritik dalam melaporkan Hadits Nabi.
Dari uraian di atas dapat ditegaskan, seluruh argumen yang diajukan oleh
penganut paham inkar al-sunnah, baik yang naqliy maupun yang nonnaqiy, tidak
kuat. Selain itu perlu pula dikemukakan, bahwa para pengingkar al-sunnah
ternyataberanjak dari pemahaman yang tidak tepat terhadap ayat-ayat Al-Qur'an, sejarah
umat Islam, sejarah penghimpunan Hadits dan metode seleksi keshahihan Hadits.
Kekeliruan pemahaman itu disebabkan oleh banyak faktor. Di antara faktor-faktor itu
ada yang berkaitan dengan kekurang-pahaman mereka terhadap banyak hal yang
berhubungan dengan sumber ajaran Islam, Al-Qur'an dan Hadits, dan ada juga yang
berkaitan dengan anggapan dasar yang mereka anut. Hal yang disebut terakhir ini
diajukan, karena terlihat para pengingkar al-sunnah beranggapan bahwa fungsi Nabi
Muhammad hanyalah sekedar penyampai ayat-ayat Al-Qur'an dan sama sekali tidak
berwenang untuk menjelaskannya.
Menurut Al-Qur'an, Hadits Nabi merupakan sumber ajaran Islam. Dalil-dalil yang
menunjukkan hal ini cukup banyak.190Di antaranya ialah:
a) Perintah menaati Rasul Allah secara total, berdasarkan ayat:
(7)... َو َما آَتَا ُك ُم ال ﱠر ُسو ُل َف ُخذُوهُ َو َما َن َها ُك ْم َع ْنهُ فَا ْنتَ ُهوا...
{Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apayangdilarangnya
bagimu maka tinggalkanlah...(QSal-Hasyr/59: 7)}.
Kalangan 'Ulama' ada yang menyatakan bahwa ayat ini berstatus umum untuk
semua perintah dan larangan yang dikemukakan oleh Nabi SAW.191Maksudnya,
segala apa yang diperintahlan oleh Nabi Muhammad wajib dilaksanakan dan
segala yang dilarangnya wajib dijauhi. Ibn Kasir (w.774H/1373M)menyatakan,
maksud ayat di atas ialah segala apa pun yang diperintahkan oleh Nabi wajib
dikerjakan dan segala apa yang dilarangnya wajib ditinggalkan. Nabi
sesungguhnya hanya memerintahkan yang baik dan melarang yang buruk
saja.192
Jadi berdasarkan petunjuk ayat tersebut, Hadits Nabi merupakan salah satu
sumber ajaran Islam.Suatu ketika 'Abdullah bin Mas'ud (w.32H/652M) menge-
mukakan salah satu Hadits Nabi. Isi Hadits itu ialah bahwa Allah melaknat wanita
yang memakai tahi lalat palsu (dengan cara di-tato), menghilangkan rambut yang
ada di bagian wajahnya, mengikir giginya, dan sebagainya. Wanita itu melakukan
189Riyadh Fawziy 'Abd al-Muththatib, Tawsiq al-Sunnah fiy al-Qanr al-Sardy al-Hijriy Ususuhu wa Ittijatuhu
(Mesir: Maktabat al-Khattijiy. 1400 H 1981M), h. 31-36.
190Ayat-ayat Al-Qur'an yang memerintahkan agar Nabi Muhammad ditaati, jumlahnya kbih dari lima puluh ayat.
Lihat misalnya petunjuk ayat Al-Qur'an dalam, Muhammad Fu'ad 'Abd al-Baqiy, al-Mu yam at-Mufahras li
Alfath al-Qur'an al-Karim (Bandung: Angkasa, [tth], h. 314-319, 429-430. dan 463-464.
191Al-Qurthubiy, op. cit., J. XVIII, h. 17; al-Zamakhsyariy, op. cit.. J. IV, h. 82; al-Alusiy. Ruh al-Ma'anly fiy
Tafsir al-Qur'an (Beirut: Dar Ihya' al-Turas al:Arabiy, [tth]), J. XXVIII, h. 50.
192Abu al-Fida' Ismall bin Kasir (Ibn Kasir), Tafsir al-Qur'an al- 'Azhim (Singapura: Sulayman Mar'iy, [tth]),
J. IV, h. 336.
60
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
hal demikian, karena dia ingin mempercantik dirinya. Syandan, seorang wanita
bernama Ummu Ya'qub menyampaikan protes kepada Ibn Mas'ud. Wanita itu
menyatakan bahwa Ibn Mas'ud telah menyampaikan ketentuan agama yang tidak
termaktub dalam Al-Qur'an. Ibn Mas'ud menjawab, bahwa apa yang
disampaikannya itu sesungguhnya telah termaktub juga dalam Al-Qur'an, yakni
dalam Surat al-Hasyr: 7, tersebut di atas.193 Dalam hal ini Ibn Mas'ud
berpendapat, bahwa dilihat dari kewajiban menaatinya, maka apa yang
dinyatakan Nabi statusnya sama dengan apa yang dinyatakan Al-Qur'an.
b) Larangan Berpaling dari ketaatan pada Rasul Allah, berdasarkan ayat:
(32) قُ ْل أَ ِطيعُوا ﱠ َ َوال ﱠر ُسو َل فَإِ ْن تَ َولﱠ ْوا َفإِ ﱠن ﱠ َ َﻻ يُ ِح ﱡب ا ْل َكا ِف ِري َن
{Katakanlah: "Taatilah Allah dan RasulNya; jika kamu berpaling, maka
sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir." (Q.S. Ali Imran/3: 32)}.
Ayat ini berisi mengenai perintah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.
bentuk ketaatan kepada Allah adalah mengikuti ketentuan dan petunjuk Al-Qur'an,
sedang ketaatan kepada Rasul-Nya adalah mengikuti ketentuandan petunjuk
sunnah-nya.194Jadi berdasarkan ketentuan ayat tersebut, yang wajib ditaati
bukan hanya apa yang termaktub dalam Al-Qur'an saja, melainkan juga apa yang
termaktub dalam Hadits Nabi.
c) Tiada taat pada Allah tanpa taat pada Rasul-Nya, berdasarkan ayat:
(80)... َ َم ْن يُ ِطعِ ال ﱠر ُسو َل َف َق ْد أَ َطا َع ﱠ
{Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya is telah mentaati Allah (Q.S. al-
Nisa'/4: 80)}.
Menurut ayat ini, ketaatan kepada Rasul Allah merupakan manifetasi dari
ketaatan kepada Allah. Hal ini berarti, ketaatan kepada apa yang ditetapkan oleh
Rasul Allah yang termuat dalam Haditsnya merupakan manifestasi dari ketaatan
kepada Allah juga.
d) Menaati/Mengikuti Rasul Allah berarti mengikuti taladan terbaik manusia,
berdasarkan ayat:
َ لَقَ ْد َكا َن لَ ُك ْم ِفي َر ُسو ِل ﱠ ِ أُ ْس َوةٌ َح َسنَةٌ ِل َم ْن َكا َن يَ ْر ُجو ﱠ َ َوا ْل َي ْو َم ا ْﻵَ ِخ َر َوذَ َك َر ﱠ
(21) َك ِثي ًرا
{Sungguh telah ada pada (diri) Rasul Allah itu suri teladan kebaikan bagimu (yaitu)
bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia
banyak mengingat Allah. (Q.S. al-Ahzab/33: 21)}.
193 Al-Bukhariy, al-jami al-Shahih, (Shahih al-Bukhariy), diberi catatan pinggir (hasyiyah) oleh al-Sindiy
(Beirut: Dar al-Fikr, [tth]), J.IV, h.42-44, khususnya h.43; Muslim, al-Jami' al-Shahih, (Shahih Muslim), disunting
kembali oleh Muhammad Fu'ad 'Abd al-Baqiy ([tth]: ‘Isa al-Babiy al-Halabiy wa Syurkah, 1375 H 1955M).
J.III, h.1676; al-Syathibiy, op.cit., J.IV, h.24-25. Hadits tersebut diriwayatkan juga oleh Abu Dawud, al-
Turmudziy, al-Nasa'iy, Ibn Majah. dan Ahmad. Lihat petunjuk Hadits dalam: A.J. Wensinck, al-Mujam al-
Mufahras Ii al-Alfazh al-Hadits al-Nabawiy (Leiden: E.J. Brill, 1936M). J.VII, h.216. Penjelasan yang lebih
luas mengenai Hadits dimaksud, lihat misalnya: Ahmad bin 'Aliy bin Hajar al-'Asqalaniy (al-‘Asqalaniy), Fath
al-Bariy [tth]: Dar al-Fikr dan al-Mathba'at al-Salafiyyah, [tth]), J.X, h.372-380.
194 Al-Syawkaniy, op.cit., J.I, h.333; Ridha, op.cit., J.III, h.285.
61
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Berdasarkan petunjuk ayat ini, tingkah-laku dan kehidupan Nabi Muhammad
merupakan teladan bagi orang-orang yang beriman. Petunjuk yang mengemukakan
tingkah-laku kehidupan Nabi, khususnya bagi mereka yang tidak sempat bertemu
langsung dengan diri Nabi adalah apa yang termaktub dalam Hadits Nabi.
Berbagai ayat Al-Qur'an yang sebagiannya telah dikutip di alas telah
memberikan petunjuk; hahwa Al-Qur'an merupakan sumber pertama ajaran
Islam sedang Hadits Nabi merupakan amber kedua. Hal ini memang logis, karena
Al-Qur'an merupakan firman Allah Tuhan Semesta Alam, sedangkan Hadits
merupakan sabda, perbuatan, taqrir, dan hal-ihwal Utusan Allah.195
2. Tidak Seluruh Hadits Tertulis di Zaman Nabi SAW
Sejarah periwayatan Hadits Nabi berbeda dengan sejarah periwayatan Al-Qur'an.
Periwayatan Al-Qur'an dari Nabi kepada para sahabat berlangsung secara umum. Para
sahabat setelah mendengarkan ayat-ayat Al-Qur'an yang disampaikan Nabi, mereka lalu
menghafalnya. Di samping itu, kalangan sahabat Nabi ada yang membuat catatan ayat-
ayat tersebut. Para pencatat itu ada yang sengaja disuruh oleh Nabi dan ada yang
karena inisiatif mereka sendiri. Kemudian secara berkala, hafalan sahabat diperiksa oleh
Nabi. Sedang hafalan Nabi sendiri, menurut beberapa riwayat, diperiksa oleh Jibril pada
tiap bulan Ramadan; dan khusus pada tahun kewafatannya, hafalan Nabi diperiksa dua kali.
Kemudian setelah Nabi wafat, periwayatan Al-Qur'an berlangsung secara mutawatir
juga dan zaman ke zaman. Periwayatan itu bukan hanya secara lisan (hafalan) saja,
melainkan juga secara tertulis. Khusus periwayatan dalam bentuk tertulis, penghimpunan
seluruhnya secara resmi dilaksanakan pada zaman Khalifah Abu Bakar al-Shiddiq
(w.13H/643M) dan digandakan kemudian disebar luaskan dengan tujuan keseragaman
bacaan pada zaman Khalifah 'Usman bin 'Affan (w.35H/656M).196Karenanya, sangat
195Untuk menetapkan urutan sumber ajaran Islam, sebagian 'Ulama' menggunakan dalil Hadits yang berisi dialog
antara Nabi dengan Mu'adz bin Jabal. Dalam dialog itu dinyatakan, bahwa urutan sumber ajaran (hukum) Islam
ialah Al-Qur'an, kemudian al-Sunnah (Hadits), dan yang terakhir ijtihad. 'Ulama' yang menggunakan dalil Hadits
tersebut, antara 'Abd al-Halim Mahmud, al-Sunnah fiy Makanatiha wa fiy Tarikhiha (Kairo: Dar al-Katib al-'Arabiy,
1967M), h.29; faruq Abu Zabad, al-Syari’at al-Islamiyyah bayna al-Muhafidzin wa al-Mujtahidin ([tth] Dar al-Ma'mun, [tth]),
h.11. Hadits mengenai dialog antara Nabi dengan Mu'adz bin Jabal tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud, al-
Turmudziy dan al-Darimiy. Setelah diteliti, ternyata kualitas sanad Hadits dimaksud lemah (dha’if). Karenanya,
Hadits itu tidak dapat dijadikan dalil. Kelemahan sanad tersebut terletak pada rawi yang bernama al-Haris bin
'Amr. Nama al-Haris termaktub dalam semua sand. Menurut al-Bukhariy, al-Haris tidak Shahih riwayat Haditsnya.
Al-Dzahabiy dan Ibn Hazm menyatakan, al-Haris itu majhul (tidak dikenal sebagai rawi Hadits di kalangan ulama
Hadits). Lebih lanjut lihat penjelasan yang saling melengkapi dalam, Abu Dawud, Sunan Abiy Dawud (Beirut Dar
al-Fikr,[tth]), J.III, h.303; Al-Thurmudziy, Sunan al- Thurmudziy wa Huwa al-Jami al-Shahih (Beirut: dar al-Fikh,
1400H/1980M), J.II, h.394; Al-Darimiy, Sunnan al-Darimiy [tth] Dar Ihya' al-Sunnah al-Nabawiyyah, [tth]), J.I,
h.60; Abadiy, 'Awn al-Ma'bud Syarh Sunan Abiy Dawud ([tth] Dar al-Fikr dan al-Mathba'ah al-Salafiyyah,
1399H/1979M), J.IX, h.510-511; Al-Mubarakfuriy, Tuhfat al-Ahwadziy Syarh jami’ al-Thurmudziy (al-Madinah al-
Munawwarah: Al-Maktabat al-Salafiyyah, 1387H/1967M), J.IV,h.556-557; Al-Dzahabiy, Mizan al-tidal fiy
Naqd al-Rijal [ttp]: 'isa al-Babiy al-Hahbiy wa Syurakah, 1382H/1963M), J.I, h.439; Ibn Hazm, al-Muhalla
(Beirut: AL-Maktab al-Tijariy, [tth]), J.I, h.62; 'Abbas Mutawalliy Hamadah, al-Stausah al-nabawiyyah wa makkanatuha
fiy al-Tasyri', diberi kata pengantar oleh Muhammad Abu Zahrah (Kairo: Al-Dar al-Qawmiyyah, [tth], h. 188-189.
196Berbagai riwayat tersebut dan termasuk di dalamnya juga mengenai penghimpunan Al-Qur'an, lihat misalnya:
Ibn Katsir, op.cit., J.IV, bagian Fadha'il al-Qur'an, h. 26-27; Manshur 'Aliy Nashif, op.cit., J.IV, h.28-35; al-
‘Asqalaniy, op.cit., J.IX, h.10-21, 43-46; Al-Suyuthiy, al-Itqan fiy ‘ulum al-Qur'an (Beirut: Dar al-Fikr,
1399H/1979M), J.I, h.58-63 dan 72-76; al-Sayyid Muhammad Husayn al-Thabathaba, al-Qur'an fiy al-Islam,
diterjemahkan ke dalam bahasa Arab oleh al-Sayyid Ahmad al-Husayniy tanpa disebutkan judul aslinya
62
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
sulit orang-orang yang tidak bertanggung jawab mengadakan pemalsuan Al-Qur'an. Fakta
sejarah ini merupakan salah satu bukti kebenaran jaminan Allah terhadap pemeliharaan Al-
Qur'an pada sepanjang zaman.197
Adapun periwayatan Hadits, hanya sebagian kecil saja yang berlangsung secara
mutawatir. Periwayatan Hadits yang terbanyak berlangsung secara ahad.198Sementara
itu, suatu ketika Nabi pernah melarang para sahabatnya menulis Hadits. Nabi
memerintahkan para sahabat agar menghapus seluruh catatan selain dari catatan ayat Al-
Qur'an. Pada kesempatan lain Nabi pernah pula menyuruh para sahabat untuk menulis
Hadits. Nabi menyatakan, apa yang keluar dari lisannya adalah benar, karena itu Nabi
tidak berkeberatan bila Haditsnya ditulis.199
Jadi dilihat dari kebijaksanaan Nabi sendiri dapatlah dinyatakan, bahwa hanya
sebagian saja periwayatan Hadits berlangsung secara tertulis pada masa Nabi. Sekiranya
Nabi tidak pernah melarang sahabat untuk menulis Hadits, niscaya masih juga tidak
mungkin seluruh Hadits dapat ditulis pada zaman Nabi. Karena: [a] terjadinya Hadits
tidak selalu di hadapan sahabat Nabi yang pandai menulis Hadits; [b] perhatianNabi
sendiri, seperti yang tampak dalam sabdanya yang melarang penulisan Haditsnya, demikian
juga para sahabat Nabi pada umumnya, lebih banyak tertuju kepada pemeliharaan Al-
Qur'an; [c] walaupun Nabi memiliki beberapa orang sekretaris, tapi para sekretaris itu
hanya diberi tugas untuk menulis wahyu yang turun200dan surat-surat Nabi;201dan [d] sangat
sulit seluruh pernyataan, perbuatan, taqrir, dan hal ihwal seseorang yang masih hidup
dapat langsung dkatat oleh orang lain, apalagi dengan peralatan yang masih sangat
sederhana. Jadi bagaimana pun, periwayatan Hadits lebih banyak berlangsung secara lisan
daripada secara tertulis.
Pada zaman Nabi telah ada beberapasahabatyang memiliki catata-catatan Hadits,
tapi tidak seragam. Sebab, di samping catatan-catatan itu dibuat berdasarkan inisiatif
(Teheran: Markaz I'lam al-Dzikr, 1404H), h.160-180; dan Ahmad Amin, Fajr al-Islam (Kairo: Maktabat al-
Nandhah, 1975M), h.195-196.
197 Dalam Al-Qur'an, Surat al-Hijr/15:9, dinyatakan bahwa Allah-lah yang menurunkan Al-Qur'an dan Allah
pula yang memeliharanya.
198Mahmud Abu Rayyah, Adhawa' 'ala al-Sunnahal-Muhammadiyyah (Mesir: Dar al-Ma'arif, h.279-280;
Mahmud Syaltut, al-Islam 'Aqidah wa Syarrah (Kairo: Dar al-Qalam. 1966M), h.65-67.
199 Sabda-sabda Nabi, yang melarang dan yang menyuruh para sahabat menulis Hadits antara lain termuat
dalam: al-Bukhariy, op.cit., J.I, h.32; Muslim, op.cit., J.II. 988; Abu Dawud, op.cit., J.II, h.318-319, J.IV: h.172; al-
Darimiy, op.cit., J.I, h.119, 125; Ahmad Ibn Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, dengan catatan pinggir (hamisy)
dari 'Aliy bin Hisam al-Din al-Mutqiy. Muntakhab Kanz al- ‘ummal fiy Sunan al-Aqwal wa al-Af’al (Beirut: Al-Maktab
al-Islamiy, 1398 H 1978M), J.II, h.162, 192, 238, J.II, h.12, 21, 39. 'Ulama' telah membahas dan mengkompromikan
maksud Hadits yang tampak bertentangan tersebut. Bentuk komprominya adalah: [1] Bahwa larangan telah dicabut
(mansukh) oleh keizinan, karena telah tiada kekhawatiran tercampurnya catatan Al-Qur'an dengan catatan Hadits.;
(21 Larangan bersifat umum, sedang keizinan bersifat khusus bagi para sahabat yang terjamin tidak akan
mencampurkan catatan Al-Qur'an dengan catatan Hadits; [3] Larangan ditujukan untuk "kodifikasi" formal, sedang
keizinan ditujukan untuk sekedar catatan yang dipakai sendiri; [4] Larangan berlaku tatkala wahyu masih turun,
belum dihafal dan dicatat, setelah itu penulisan Hadits diizinkan. Lihat: al-'Asqalaniy, op.cit., J.I, h.208; Abu
Zahw, op.cit., h.123-124; Muhammad al-Shabbagh, al-Hadits al-Nabawiy [ttp]: Al-Maktab al-Islamiy,
1392H/1972M), h.118-120; Ahmad Muhammad Syakir (Syakir), Syarh Alfiyyah al-Suyuthiy fiy 'Ilm al-Hadits
(Beirut: Dar al-Ma'rifah, [tth]), h.145-147.
200Ibid. (al-‘Asqalaniy), J.IX, h.22-23.
201 Nama-nama sekretaris Nabi danbeberapa surat yang telah dikirim, lihat misalnya: Abu 'Abdillah bin Abiy
Bakr bin al-Qayyim al-Jawziyyah (Ibn Qayyim). Zad al-Ma’ad fiy Had-y Khayr al-‘ibad (Mesir: Mushthafa al-Babiy
al-Halabiy wa Syurkah, 1390H/1970M), J.I,h.45-46.
63
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
masing-masing pembuatnya, juga kesempatan mereka berada di sisi Nabi tidak selalu
bersamaan waktunya.Kalangan sahabat Nabi yang dalam sejarah periwayatan Hadits
dikenal memiliki catatan Hadits, di antaranya ialah 'Aliy bin Abiy Thalib (w.40H/661M),
Sumrah bin Jundab (w.60H/680M), 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash (w.65H/685M),
'Abdullah bin 'Abbas (w.69H/689M), Jabir bin 'Abdillah al-Anshariy (w.78H/697M), dan
'Abdullah bin Abiy Awfa' (w.86H).202Catatan-catatan Hadits tersebut adalah:
a. Catatan 'Aliy bin Abiy Thalib, berisi tentang: 1] hukuman denda (diyat), dalam hal ini
mencakup mengenai hukumnya, jumlahnya, dan jenis-jenisnya; 2] pembebasan orang
Islam yang ditawan oleh orang kafir; dan 3] larangan melakukan hukuman kisas
(qishash) terhadap orang Islam yang membunuh orang kafir.
b. Catatan Sumrah bin Jundab, menurut sebagian 'Ulama', berupa risalah yang dikirimkan
oleh Sumrah kepada anaknya, Sulayman bin Sumrah bin Jundab.
c. Catatan 'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash dikenal dengan nama al-Shahifat al-Shadiqah.
Hadits yang termuat dalam catatan Ibn 'Amr ini ada sekitar seribu Hadits. Imam Ahmad
bin Hanbal telah meriwayatkannya dan memuatnya dalam kitabnya, al-Musnad.
d. Catatan 'Abdullah bin 'Abbas termaktub dalam kepingan-kepingan catatan (alwah).
Catatan itu dibawa oleh Ibn 'Abbas ke pengajian-pengajian yang dipimpinnya, sebagai
tahan kuliah"-nya.
e. Catatan Jabir bin 'Abdillah dikenal dengan nama Shahifah Jabir. Jabir mendiktekan
Hadits-Hadits yang berasal dan catatannya itu dalam pengajian yang dipimpinnya.
Qatadah bin Di'amah al-Sadusy (w.118H/736M) mengaku telah hafal semua Hadits
yang termaktub dalam catatan Jabir tersebut. Imam Muslim telah meriwayatkan
Hadits yang berasal dari Jabir dimaksud.
f. Catatan 'Abdullah bin Abiy Awfa' dikenal dengan nama Shahifah 'Abdullah bin Abiy
Awfa`. Hadits-liadis yang berasal dari catatan Ibn Abiy Awfa' tersebut, di antaranya ada
yang kemudian diriwayatkan oleh Imam al-Bukhariy.203
Walaupun nama-nama sahabat Nabi di alas belurnlah mencakup seluruh nama sahabat
pemilik (pembuat) catatan Hadits pada zaman Nabi, tapi dapatlah dinyatakan bahwa
sahabat Nabi yang tidak memiliki (membuat) catatan Hadits, jumlahnya jauh lebih
banyak. Hal ini logis, karena sahabat yang telah pandai menulis, jumlahnya lebih
sedikit daripada sahabat yang tidak pandai menulis. Apalagi di antara sahabat yang telah
pandai menulis, misalnya 'Umar bin al-Khaththab dan 'Usman bin 'Affan, tidak juga
membuat catatan Hadits. Khusus Abu Bakar al-Shiddia. seperti telah disinggung di bab
sebelumnya, tadinya memiliki catatan Hadits tapi catatan itu akhirnya dibakarnya. Dia
melakukan demikian, karena dia khawatir melakukan kekeliruan dalam meriwayatkan
202 Shubhiy al-Shahih. al-Hadits wa Mushthalahuhu (beirut: Dar al-Malayin, 1977M), h.24-31; Ibn Asir, Usud
al-Ghabat fiy Ma 'rifat al-Shahabah [ttp]: Al-Sya'b, [tth]), J.I, h.306-307, J.II, h.454-455, J.I, h.182-183, 290-294, 349-
353, J.IV, h. 91-125.
203Al-Darimiy, op. cit., J. I, h. 125-128; al-Hasan bin 'Abdir-Rahman al-Ramahurmuziy (al-Ramahurmuziy), al-
Muhaddits al-Fashil bayna al-Rawiy wa al-Wa'iy, disunting kembali dan diberi notasi oleh Muhammad 'Ajjaj al-
khathib (Beirut: Dar al-Fikr, 1391 H 1971M), h. 366-378; al-Dzahabiy, Tadzkirat al-Halfa:A (Hayderabad: The
Da'irat ‘I-Ma'arif-il-Osmania, 1955M), J. 1, h. 10-13, 40-44; al-'Asqalaniy, Kitabal-lshabat fiy al-Tamyiz al-
Shahabat (Beirut: Dar al-Fikr, 1398H/1978M), J.II: h. 279, J.IV : h.236-237, dan lain-lain.
64
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Hadits. Dalam pada itu, para sahabat Nabi yang termasuk kelompok al-Muksirun fly al-
Hadits seperti telah disinggung juga dalam bab sebelumnya, sebagian dan mereka.
misalnya Abu Hurairah dan Abu Sa'id al-Khudriy, tidak mencatat Hadits yang mereka
terima dari Nabi.
Dengan demikian dapatlah ditegaskan, bahwa Hadits Nabi pada zaman Nabi belum
seluruhnya tertulis. Hadits yang dkatat oleh para sahabat barulah sebagian saja dari seluruh
Hadits yang ada. Jadi, periwayatan Hadits pada zaman Nabi lebih banyak dalam bentuk
lisan daripada yang dalam bentuk tulisan. Hal ini berarti, sanad Hadits menduduki peranan
yang penting dalam periwayatan Hadits.
3. Munculnya Pemalsuan Hadits
Hadits Nabi yang belum terhimpun dalam suatu kitab dan kedudukan Hadits yang
sangat penting dalam kesumberan ajaran Islam, telah dimanfaatkan secara tidak
bertanggung-jawab oleh orang-orang tertentu. Mereka membuat Hadits palsu berupa
pernyataan-pernyataan yang mereka katakan berasal dari Nabi, pada hal Nabi sendiri
tidak pernah menyatakan demikian.'Ulama' berbeda pendapat mengenai kapan mulai
terjadinya pemalsuan Hadits. Berikut ini dikemukakan pendapat-pendapat 'Ulama'
tersebut:
a. Pemalsuan Hadits telah terjadi pada zaman Nabi. Pendapat ini antara lain
dikemukakan oleh Ahmad Amin (w.1373H/1954M). Alasan yang dikemukakan oleh
Ahmad Amin ialah Hadits mutawatir yang menyatakan, bahwa barangsiapa yang
secara sengaja membuat berita bohong dengan mengatasnamakan Nabi, maka
hendaklah ia bersiap-siap menempati posisinya di neraka. Kata Ahmad Amin, isi
Hadits tersebut memberikan gambaran bahwa kemungkinan besar pada zaman Nabi
telah terjadi pemalsuan Hadits.204
Ahmad Amin tidak memberikan bukti-bukti kuat mengenai pendapatnya itu,
misalnya berupa contoh Hadits palsu yang telah terjadi pada masa Nabi. Dia
menyandarkan pendapatnya hanya kepada dugaan yang tersirat (mafhum)atas sabda
Nabi di atas. Dia tidak menyandarkan pendapatnya pada fakta. Hadits yang dikemuka-
kan oleh Ahmad Amin tersebut memang berkualitas mutawatir, tapi tidak kuat untuk
dijadikan dalil bahwa pada zaman Nabi telah terjadi pemalsuan Hadits. Seandainya
hal itu telah terjadi, niscaya peristiwa itu telah menjadi berita besar di kalangan
sahabat Nabi. Nabi menyabdakan Haditsnya itu semata-mata berdasarkan prediksi
beliau akan terjadinya pemalsuan Hadits setelah beliau melihat demikian besar hasrat
para sahabat menyampaikan Hadits kepada orang lain.
b. Pemalsuan Hadits yang berkenaan dengan soal keduniawian telah terjadi pada zaman
Nabi dan dilakukan oleh orang munafik. Sedang pemalsuan Hadits berkenaan dengan
soal agama (amr diniy) pada zaman Nabi belum pernah terjadi. Pendapat ini antara lain
dikemukakan oleh Shalah al-Din al-Adhabiy.205Alasan yang dikemukakan oleh al--
204Ahmad Amin, op. cit., h. 210-211.
205Al-Adhabiy membedakan pengertian pembicaraan dusta atas nama Nabi dalam arti mutlak dan dalam arti
istilah ilmu Hadits. Yang disebutkan pertama, telah terjadi pada masa Nabi, dilakukan oleh orang munafik.
Sedang yang disebutkan kedua diperkirakan telah terjadi pada masa Khalifah 'Utsman bin 'Affan. Lihat: Al-Adhabiy,
Manhaj Naqd al-Matn (Beirut: Dar al-Afaq al-jadidah. 1403H/1983M), h.40-42,44.
65
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Adhabiy ialah Hadits yang diriwayatkan oleh al-Thahawiy (w.321H/933M) dan al-
Thabraniy (w.360H/971M). Kedua riwayat ini menyatakan, bahwa pada masa Nabi
ada seseorang telah membuat berita bohong dengan mengatas-namakan Nabi. Orang
itu mengaku telah diberi kuasa oleh Nabi untuk menyelesaikan suatu soal di suatu kelompok
masyarakat di sekitar Madinah. Kemudian orang itu melamar seorang gadis dari
masyarakat tersebut, tapi lamaran itu ditolak. Masyarakat tersebut lalu mengirim utusan
kepada Nabi untuk konfirmasi. Ternyata, Nabi tidak menyuruhnya. Nabi lalu menyuruh
sahabat beliau untuk membunuhnya. Nabi berpesan, jika orang tersebut telah meninggal
dunia, maka bakarlah jasadnya.206Dalam Hadits ini, baik yang diriwayatkan oleh al-
Thahawiy dari 'Abdillah bin Buraydah maupun yang diriwayatkan oleh al-Thabraniy dan
'Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash, ternyata sanad-nya lemah (dha’if).207Karenanya, kedua
riwayat dimaksud tidak dapat dijadikan dalil.
c. Pemalsuan Hadits mulai muncul pada masa Khalifah 'Aliy bin Abiy Thalib. Pendapat ini
dikemukakanoleh kebanyakan 'Ulama' Hadits.208Menurut pendapat ini, keadaan Hadits
pada zaman Nabi sampai sebelum terjadinya pertentangan antara 'Aliy bin Abiy Thalib
dengan Mu'awiyah bin Abi Sufyan (w.60H/680M) masih terhindar dari pemalsuan-
pemalsuan. Seperti dimaklumi, pada zaman pemerintahan 'Aliy, telah terjadi
pertentangan politik antara golongan yang mendukung 'Aliy dengan golongan yang
mendukung Mu'awiyah dalam soal jabatan khalifah. Perang yang mereka lakukan di
Siffin pada tahun 657 M telah mengakibatkan jatuhnya banyak korban. Upaya damai
yang diusulkan Mu'awiyah dan diterima oleh 'Aliy telah mengakibatkan sekelompok
orang Islam pendukung 'Aliy menjadi marah. Mereka menyatakan diri keluar dari
golongan 'Aliy dan kemudian dikenal sebagai golongan al-Khawarij. Sempalan dari
golongan pendukung 'Aliy itu kemudian bukan hanya memusuhi Mu'awiyah saja,
melainkan juga memusuhi 'Aliy.209Dalam pada itu, peristiwa tahkim (arbitration)
206Ibid., h.40-41. Riwayat tersebut termuat juga dalam: al-Husayniy, al-Bayan fiy Asbab Wurud al-Hadits
al-Syarif (Kairo: Dar al-Turas al-'Arabiy, [tth]), J.III. h.232-233; Ibn Hazm, op. cit., J.II, h.203.
207Penilalan tersebut didasarkan atas argumen-argumen: [1] Keterangan yang telah dikutip dari al-Thahawiy dan al-
Thabraniy itu merupakan tambahan riwayat (za'idah)dari Hadits mutawatir seperti telah dikutip Ahmad Amin di
atas. Lihat: ibid. Jadi, tambahan riwayat itu sendiri tidak termasuk sebagai Hadits mutawatir; [2] Menurut hasil
penelitian Ibn Hajar Al-'Asqalaniy, Hadits mutawatir dimaksud memiliki banyak sanad. Dari seluruh sanad yang
ada, hanya yang "melewati" nama-nama tiga puluh tiga orang sahabat saja yang shahih. Ternyata, dalam sanad al-
Thahawiy tidak terdapat nama sahabat yang disebutkan oleh Ibn Hajar itu. Dalam sanad al-Thabraniy, terdapat
nama 'Abd Allah bin 'Amr bin al-'Ash, salah seorang nama sahabat yang disebut oleh Ibn Hajar. tapi sanad al-
Thabraniy itu bukan sanad yang dinilal shahih oleh Ibn Hajar. Lihat: ibid.; dan al-'Asqalaniy Fath al-Bariy, op.
cit., J.I, h.302-303. dan J.VI, h.499.
208Shubhiy al-Shalih, op. cit., h. 266; al-Siba'iy, op. cit., h. 76; Muhammad al-Shabbagh, op. cit., h. 123; dan
Muhammad 'Ajjaj al-Khathib (al-Khathib, Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu wa musthalalhahu (Beirut ; Dar al-Fikr,
1395H/1975M), h. 415-416.
209Golongan'al-Khawarij kebanyakan berasal dari orang-orang Arab pegunungan (Badui) yang nomaden dan
pemberani. Budaya mereka masih sederhana, belum dipengaruhi oleh budaya luar. Untuk menyelesalkan masalah
yang mereka hadapi, mereka lebih senang menempuh jalan perang. Lihat misalnya: W.Montgomery Watt, The
Formative Period of Islamic Thought (Edinburg: Edinburg University Press, 1973M), h. 20; Ahmad Amin, Dhuha
al-Islam (Kairo: Mathba'at al-Nandhat al-Mishriyyah, 1973M), J. II, h. 322-323; Muhammad Abu Zahrah,
Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah ([tth]: Dar al-Fikr al-'Arabiyyah, 1971M), h. 68-69. Karena latar belakang
budayanya demikian, maka ada pendapat yang menyatakan bahwa golongan al-Khawarij memisahkan diri dari
'Aliy bin Abiy Thalib, bahkan lalu memusuhinya, karena sikap 'Aliy yang menerima perdamalan telah merugikan
mereka. Sebab perdamalan menghilangkan adanya pihak
yang menang dan yang kalah. Pada hal menurut tradisi, pihak yang menang mendapat harta rampasan perang (al-
ghanimah). Harta rampasan perang merupakan salah satu sumber perolehan harta yang cukup besar bagi orang
66
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
antara 'Aliy dengan Mu'awiyah telah membuahkan kekalahan di pihak 'Aliy dan
mengabsahkan Mu'awiyah sebagai satusatunya Khalifah ketika itu. Hal ini
mengakibatkan perm usuhan yang tajam pecah kembali dan berlarut antara pendukung
'Aliy dengan pendukung Mu'awiyah. Kedua golongan ini berusaha untuk saling
mengalahkan. Salah satu cara yang mereka tempuh ialah dengan membuat berbagai
Hadits palsu.210Pertentangan politik yang terjadi di kalangan umat Islam tersebut
berlanjut melahirkan perbedaan paham di bidang teologi. Aliran teologi yang kemudian
menjadi cukup banyak itu.211
Diantara para pendukungnya ada juga yang membuat Hadits palsu untuk
memperkuat aliran yang mereka anut masing-masing.212Jadi pada zaman Nabi, belum
terdapat bukti yang kuat mengenai telah terjadinya pemalsuan Hadits. Berdasarkan bukti-
bukti yang ada, pemalsuan Hadits barn berkembang pada masa Khalifah 'Ally bin Abiy
Thalib. Walaupun begitu harus pula dinyatakan, bahwa tidak mustahil pemalsuan
Hadits telah terjadi pada masa sebelum itu. Tapi hal ini masih perlu diteliti lebih lanjut.
Pernyatan ini dikemukakan, karena pertentangan politik antara umat Islam bukan
dimulai pada zaman Khalifah 'Ally bin Abiy Thalib, melainkan telah terjadi tatkala
Nabi baru saja wafat.213
Berdasarkan data sejarah yang ada, pemalsuan Hadits tidak hanya dilakukan oleh
orang-orang Islam saja, melainkan juga telah dilakukan oleh orang-orang yang non-Islam.
Orang-orang non-Islam membuat Hadits palsu, karena mereka didorong oleh keinginan
meruntuhkan Islam dari dalam.Orang-orang Islam tertentu membuat Hadits palsu
Badui ketika itu. Golongan al-Khawarij melihat. ketika 'Aliy menerima tawaran damal, kemenangan perang
sesungguhnya telah berada di tangan 'Aliy. Pendapat tersebut masih perlu diteliti lebih mendalam. Karena,
menurut-Ibn Khaldun. sifat dasar orang-orang Badui itu lebih baik daripada orang-orang kota. Kalau orang-orang
Badui memiliki interes kepada masalah duniawi (harta). interes itu hanyalah berupa sekedar untuk memenuhi
kebutuhan pokok saja dan karena didorong oleh keinginan yang berlebihan. Lihat: 'Abdur-Rahman bin
Muhammad bin Khaldun (Ibn Khaldun), Muqaddimah Ibn Khaldun ([ttp]: Dar al-Fikr, [tth], h. 12.
210 Sebagian 'Ulama' berpendapat, golongan al-Khawarij tidak ikut serta membuat Hadits palsu. Karena
mereka meyakini bahwa perbuatan dusta merupakan salah satu perbuatan dosa besar: orang yang berdosa besar
menurut mereka adalah orang kafir. Tapi sebagian 'Ulama' lagi berpendapat, bahwa dari kalangan orang-orang al-
Khawarij ada juga yang telah membuat Hadits palsu, hanya saja jumlah Hadits yang mereka buat tidak banyak.
Lebih lanjut al-Khathib. op. cit., h. 417-418; Abu Zahw, op. cit., h. 86-87; Mushthafa al-Siba’iy, op. cit., dd. 82-
83.
211Berbagai aliran teologi yang muncul dan perbedaan paham antara masing-masing aliran, lihat misalnya: Abu
Fath Muhammad bin ‘Abd al-Karim al-Syahrastaniy. Al-Milal wa al-Nihal. diberi notasi oleh Sayyid Kiylaniy
(Beirut: Dar al-marifah, 1395H/1975M), J. I. h. 27-33 dan 114-198; 'Aliy Mushthafa al-Ghurabiy, Tarikh al-
Firaq al-islaniyah (Mesir: Muhammad 'Aliy Shabih wa Awladuh, 1959), h. 18-36, 73-74, dan 204-304; Hasan
Ibrahim Hasan, Tarikh al-Islam (Kairo: Maktabat al-Nandat al-Mishriyyah, 1964M), J. I, h. 3-6: Harun
Nasution, Teologi Islam (Jakarta: UI-Press. (tth)). h. 5-78.
212Al-Khathib, op. cit., h. 418-420 dan 426; Abu Rayyah, op. cit.. h. 121.
213Ketika Nabi wafat, perselisihan pendapat terjadi antara golongan Anshar dan golongan Muhajirin
mengenai siapa yang berhak menjadi Khalifah. Lebih lanjut lihat: Ahmad Amin, op. . cit., h. 252-254 dan 266;
'Abd al-Karim al-Khathib, al-Khilafah wa al-Imarah (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1963M), h. 198-199; Abu
Muhammad bin 'Abdillah bin Qutaybah, al-Imamah wa al-Siyasah ([tth]: Al-Mu'assasah al-Halabiyyah, J. I.
h. 10-19; Muhammad Jamal al-Din Surur, al-Hayat al-Siyasiyyah fiy al-Dawalat al-Arabiyyah al-Islamiyyah
[ttp]: Dar al-Fikr al-'Arabiy. 1395 11 = 1975M), h. 11-16; Zhafir al-Qasimiy, Nizham al-Ilukm fiy al-Syarrah
wa al-Tarikh (Beirut: Dar al-Nafa'is, 1973M), J. I, hit. 122-126; lihat juga, 'Abd al-Qahir bin Thahir bin
Muhammad al-Baghdadiy, al-Farq bayn al-Firaq (Mesir: Maktabat Muhammad 'Aliy Shabih.wa Awladuh, [tth]),
h. 14-18.
67
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
karena mereka didorong oleh berbagai tujuan.214Tujuan itu ada yang bersifat duniawi dan
ada bersifat agamawi. Secara terurai, tujuan yang menonjol orang-orang Islam melaku-
kan pemalsuan Hadits ialah untuk: [1] membela kepentingan politik; [2] membela
aliran teologi; [3] membela mazhab fiqh; [4] memikat hati orang yang mendengarkan
kisah yang dikemukakannya; [5] menjadikan orang lain lebih zahid; [6] menjadikan
orang lain lebih rajin mengamalkan suatu ibadah tertentu; [7] menerangkan keutamaan
surat Al-Qur'an tertentu; [8] memperoleh perhatian dan atau pujian dari penguasa; [9]
mendapatkan hadiah uang dari orang yang digembirakan hatinya; [10] memberikan
pengobatan kepada seseorang dengan cara memakan makanan tertentu; dan [11]
menerangkan keutamaan suku bangsa tertentu. Menurut penelitian 'Ulama', seseorang
membuat Hadits palsu ada yang karena sengaja dan ada yang karena tidak sengaja. Di
samping itu, pembuat Hadits palsu ada yang disebabkan karena keyakinannya memang
membolehkan pembuatan Hadits palsu dan ada yang karena tidak mengetahui bahwa
dirinya telah membuat Hadits palsu.215
Jadi, tujuan seseorang membuat Hadits palsu di samping ada yang negatif, dan
ini yang terlihat pada umumnya, juga ada yang positif. Dalam hubungan ini harus
dinyatakan, bahwa apa pun latar belakang dan tujuan tersebut, pembuatan Hadits palsu
tetap merupakan perbuatan tercela dan menyesatkan.Sekedar sebagai contoh, berikut ini
dikemukakan beberapa buah Hadits palsu:
.يا على إن ﷲ غفر لك ولذريتك ولوالديك وﻷهلك ولشيعتك ولمح ّبى شيعتك
(Hai 'Aliy, sesungguhnya Allah mengampuni kamu, anak-anakmu, kedua orangtuamu,
keluargamu, pengikutmu, dan orang-orang yang mencintai pengikutmu).216
Pernyataan ini dibuat oleh orang Syi'ah untuk memuliakan 'Aliy bin Abiy Thalib,
kemudian dinyatakan sebagai berasal dari Nabi.217Isi pernyataan memberi petunjuk,
bahwa Allah mengampuni 'Aliy, keturunannya, kedua orang-tuanya,keluarganya,
pendukungnya (orang-orang Syi'ah), dan orang-orang yang mencintai pendukung
'Aliy.
Hadits palsu yang dibuat oleh orang-orang yang mendukung Mu'awiyah, di
antaranya ialah:
... اﻻُمنآء عند ﷲ ﺛﻼﺛة أنا وجبريل ومعاوية
{Orang-orang yang dapat dipercaya di hadirat Allah hanya ada tiga orang: saya (Muhammad),
Jibril, dan Mu'awiyah}.218
214Syakir, op. cit., h. 85-92; Muhammad al-Shabbagh, op. cit., h. 125-131; Ahmad Mahmud Shubhiy, Fiy
Falsafat al-Tarikh (Iskandariah: Mu'assasah al-Saqafah al-Jami'iyyah, 1975M), h.305-307; Muhammad Nashir
al-Din al-Albaniy, Silsilat al-Hadits al-Dha’ifah wal al-Mawdhu'ah (Beirut: Al-Maktab al-Islamiy, 1398 H), J. 1,
h.6 dan 10.
215Syakir, op. cit., fib. 35-92; Ahmad Amin, op. cit.. J. 11, h. 123-129; al-Suyuthiy, Tadrib al-Rawiy, op. cit.,
J.1, h. 281-287: al-Suyuthiy. al-Laliy al-Mashnu'ahfiy al-AHadits al-Mawdhu'ah (Mesir: Al-Maktabat al-
Husayniyyah, [tth]), J. II h. 467-472.
216Uhammad ibn 'Ajjaj Al-Khatib. al-Sunnah Qabl al-Tadwin (Kairo: Maktabah Wahbah, 1383H/1963 14 h.
199.
217Ibid., h. 197.
218Ibid.h, 201; lihat juga, al-Siba'iy, op. cit., h. 81.
68
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Isi pernyataan ini memberi petunjuk, bahwa yang terpercaya di hadirat Allah
ialah Nabi Muhammad, Jibril, dan Mu'awiyah. Di antara Hadits palsu yang dibuat
oleh kalangan pendukung mazhab fiqh Abu Hanifah ialah:
و كون ﰱ ُا ّمﱴ ر ل يقال ٔبو ح يفة, كون ﰱ ُا ّمﱴ ر ل يقال ﷴ ن ٕادرس ٔ ّﴐ ﲆ ُا ّمﱴ من ٕابل س
. هو ﴎاج ُا ّمﱴ
{Di kalangan umatku ada seorang laki-laki yang dikenal bernama Muhammad bin Idris.
Dia itu lebih berbahaya terhadap umatku daripada iblis. Dan di kalangan umatku ada
seorang laki-laki yang dikenal bemama Abu Hanifah. Dia itu merupakan obor bagi
umatku}.219
Jumlah Hadits palsu tidak sedikit. Seorang pemalsu Hadits ada yang mengaku,
bahwa dia telah membuat empat ribu Hadits palsu. Seorang pemalsu Hadits lainnya
mengaku, bila dia ingin memperkuat pendapatnya, maka dia membuat Hadits palsu.
Malahan ada seseorang yang bila diberi upah sebesar satu dirham saja, dia telah
bersedia untuk membuat sebanyak limapuluh Hadits palsu.220
Untuk menyelamatkan Hadits Nabi di tengah kecamuk pembuatan Hadits palsu,
maka 'Ulama' Hadits menyusun berbagai qa'idah penelitian Hadits. Qa'idah-qa'idah
yang mereka susun, tujuan utamanya adalah untuk penelitian keshahihan matn Hadits.
Untuk kepentingan penelitian matn Hadits tersebut, disusunlah qa'idah keshahihan
matn Hadits. Dalam hubungan ini, muncul pula berbagai macam ilmu Hadits. Khusus
ilmu Hadits yang sangat penting kedudukannya dalam upaya penelitian sanad Hadits,
diantaranya ialah ‘ilm rijal al-Hadits dan ‘ilm al-jarh wa al-ta’dil.221
Ilmu yang disebut pertama lebih banyak membicarakan biografi para rawi Hadits
dan hubungan rawi yang satu dengan rawi yang lain dalam periwayatan Hadits.
Sedang ilmu yang disebut kedua lebih menekankan kepada pembahasan kualitas
pribadi rawi Hadits, sedang ilmu yang disebut kedua lebih menekankan kepada
pembahasan kualitas pribadi rawi Hadits, khususnya dari segi kekuatan hafalannya,
kejujurannya, integritas pribadinya terhadap ajaran Islam dan berbagai keterangan lainnya yang
berhubungan dengan penelitian sanad Hadits.
Dengan berbagai qa'idah dan ilmu Hadits tersebut, maka Hadits-Hadits yang
berkembang dalam masyarakat dan termaktub dalam berbagai kitab dapat diteliti dan
diketahui kualitasnya. Dengan menggunakan berbagai qa'idah dan ilmu Hadits itu, 'Ulama' telah
berhasil menghimpun berbagai Hadits palsu dalam kitab-kitab khusus.222
219 Al- Suyuthiy Tadrib al-Rawiy, op. cit., J.1, h. 278.
220Ibid., h. 284-286; Syakir, op. cit., h. 84 dan 86-87.
221 Ahmad Amin, op. cit., J. 11, h. 129-130; Nur al-Din, al-Madkhal ila ‘Ulum al-Hadits (al-Madinah al-
Munawwarah: Al-Maktabat al-‘Ilmiyyah, 1972M), h. 7-12 dan 18-20; Houtsma et al., Da’irat al-Ma'arlf al-Islamiyyah
(Kairo: Al-Sya'b. J. XIII, h. 392-394, 396 dan 406; Ahmad Mahmud Shubhiy, op, cit., h. 308, 313-314 dan 322.
222'Ulama' Hadits yang telah menghimpun berbagai Hadits palsu dalam suatu kitab khusus, di antaranya ialah
Muhammad bin Thahir al-Maqdisiy (w.507H/1112M). Ibn al-Jawziy (w.597 H 120.1M), al-Iraqiy (w.807H/1404M),
al-Suyuthiy (w.911 II = 1505M), Abu al-hasan al-Kannaniy (w.963H/1556M), dan al-Syawkaniy (w.1255 H. = 1834M).
Lihat:Al-khatib al-Hadits, op. cit., h. 437-438.
69
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
3. Proses Penghimpunan (Tadwin) Hadits
Sekiranya 'Umar bin al-Kaththab tidak mengurungkan niatnya untuk menghimpun
Hadits Nabi dalam saw kitab, niscaya akan dapat dikendalikan lebih dini usaha
pemalsuan Hadits. Tapi 'Umar, seperti telah dikemukakan di bab II, mengurungkan niat
tersebut, karena dia khawatir umat Islam akan mengabaikan Al-Qur'an.
Sesudah zaman 'Umar, tidak ada Khalifah yang merencanakan menghimpun Hadits
Nabi, terkecuali Khalifah 'Umar bin 'Abd al-'Aziz (w.101H/720M). Tapi, tidaklah berarti
kegiatan penulisan Hadits sebelum masa Khalifah yang disebutkah terakhir tersebut tidak pernah terjadi.
Sebab, baik kalangan sahabat Nabi maupun al-tabi'in tidak sedikit yang telah melakukan
pencatatan Hadits Nabi. Tapi kegiatan pencatatan itu masih bersifat pribadi-pribadi, dalam anti
belum menjadi kebijaksanaan pemerintah secara resmi. Dalam pada itu harus pula dinyatakan, bahwa
kalangan sahabat dan al-tabi'in yang tetap berpegang teguh kepada penghafalan, tidak sedikit
jumlahya. Bahkan sebagian dari mereka ada yang sangat mencela penulisan Hadits. Di samping
itu, ada pula rawi yang melakukan penulisan Hadits tapi bila Hadits yang ditulisnya itu telah
berhasil dihafalnya, maka tulisan tersebut segera dihapusnya.223
Kegiatan penulisan Hadits sesudah zaman Nabi sampai lahirnya perintah penulisan
Hadits oleh Khalifah 'Umar bin 'Abd al-'Aziz, dapat dikemukakan sebagai berikut:
a. Kalangan sahabat Nabi ada yang memiliki banyak murid; ada yang berstatus sahabat, ada
yang berstatus al-tabi'in. Jumlah murid yang mencatat Hadits dari para gurunya dapat
dikemukakandari kalangan murid-murid:
1].Anas bin Malik (w.93H/711M) ada sekitar enam puluh orang;
2].'A' isyah (w.58H/678M), sedikitnya ada tiga orang, di antaranya ialah 'Urwah bin Zubayr
(w.93H/711M);
3]. ‘Abdullah Ibn 'Abbas (w.69H/689M), sedikitnya sembilan orang;
4].Jabir bin 'Abd. Allah (w.78H/677M), sedikitnya ada empat puluh orang; dan [e] dari
kalangan murid 'Aliy bin Abiy Thalib, sedikitnya ada sembilan orang.224
b. Hammam bin Munabbih (w.101H/720M), seorang tabi'iy, telah mencatat Hadits yang
disampaikan kepadanya secara lisan oleh Abu Hurairah (w.59H/678M). Catatan
Hammam ini dikenal dengan nama Shahifah Hammam.225
c. 'Abd al-'Aziz bin Marwan bin al-Hakam (w.85H/704M), gubernur Mesir (th.65-85H),
pernah meminta Kasir bin Murrah al-Hadhramiy, seorang tabi'iy, untuk mencatatkan
Hadits Nabi yang diriwayatkan para sahabat Nabi selain Abu Hurairah. Adapun
223Kalangan sahabat Nabi dan al-Thabi'inyang mengandalkan hafalan dan melarang penulisan Hadits, misalnya: Abu Sald
al-Khudriy, Abu Musa al-Asy'ariy, Qatadah, dan Yunus bin 'Ubayd. Sedang mereka yang menulis Hadits, tapi kemudian
tulisan itu mereka hapus karena mereka telah hafal, misalnya: 'Abdur-Rahman bin Salamat al-Jumahiy, Muhammad bin
Sirin, ‘Ashim bin Dhamrat, dan Hisyam bin Hassan. Lebih lanjut lihat: al-Rahmahurmudziy, op. cit.. h. 379-383; al-
Darimiy, op. cit., J. I, h. 119-125; Abu Yusuf bin 'Abd al-Barr, jami’ Bayan Fadhlihi (Mesir: Idarat al-Mathba'at al-
Munirah. [tth]). J. I, h. 66.
224Muhammad Mustafa Azami, Studiesin Hadith Methodology and Literature (Indianapolis, Indiana: Islamic
Teaching Centre, 1977M), h. 26-27.
225Shubhiy al-Shalih, op. cit., h. 31-32. Muhammad Hamid Allah telah mendapati Shahijah Hammam
dalam bentuk tulisan tangan sebanyak dua buah naskah yang sama. Satu naskah ada di Berlin dan satu naskah lagi
di Damaskus. Seluruh Hadits yang termuat dalam Shahifah hammam tersebut telah diriwayatkan lebih lanjut oleh
Ahmad bin Hanbal dan termuat dalam kitabnya, Musnad Ahmad bin Hanbal. Lebih lanjut lihat: al-Khathib,
op. cit., h. 200-201; lihat juga: Nisar Ahmed Fatuqi, Early Muslim Historiography (Delhi, India: Idarah-i
Adabiyat-i Delli, 1979M), h. 179-180.
70
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Hadits riweayat Abu Hurairah telah ia miliki.226Catatan-catatan Hadits itu dipakai
untuk dokumen pribadinya.
d. Sa' id bin Jubayr (w.95H/714M) adalah salah seorang tabi'iyyang rajin menulis Hadits.
Tidak jarang dia terpaksa menulis Hadits di atas punggung sepatunya bila dia sedang
kehabisan alat pencatat pada saat dia menerima riwayat Hadits. Setelah dia tiba di
rumahnya, dia segera menyalin catatan yang ada di atas sepatunya itu.227
e. 'Amir al-Sya'biy (w.103H/722M), seorang tabi'iyyang sangat menekankan pentingnya
penulisan Hadits, telah memiliki catatan himpunan Hadits yang berisi mengenai
ketentuan talak.228
Data di atas memberikan petunjuk, pada zaman sahabat Nabi dan al-tabi'in,
khususnya sebelum Khalifah 'Umar bin 'Abd al-'Aziz mengeluarkan perintahnya untuk
menghimpun Hadits, kegiatan penulisan Hadits telah dilakukan oleh banyak orang. Tapi
kegiatan itu masih belum dapat menjamin kelestarian Hadits pada masa berikutnya.
Karena, selain kegiatan penulisan itu masih bersifat pribadi-pribadi dan terjadi di
berbagai daerah, juga diduga belum seluruh Hadits telah ditulis. Pernyataan yang terakhir
ini dikemukakan, karena pada saat itu tetap masih berlangsung, perbedaan pendapat
mengenai boleh dan tidak bolehnya penulisan Hadits.
Khalifah 'Umar bin 'Abd al-'Aziz yang terkenal berpribadi saleh dan cinta kepada
pengetahuan,229sangat berkeinginan untuk segera menghimpun Hadits. Ketika dia masih
menjabat sebagai gubernur di Madinah (86-93 H) pada zaman al-Walid bin 'Abd al-Malik
(memerintah 86-96H/705-715M),230 keinginan itu telah timbul. Tapi tampaknya dia
menyadari, bahwa hanya berbekal kedudukan sebagai seorang gubernur saja, dia belum
mampu mengatasi perbedaan pendäpat 'Ulama' mengenai kebolehan seseorang menulis
Hadits.231 Selain itu, dengan kedudukan gubernur, dia belum dapat menjangkau seluruh
226Muhammad bin Sa'ad, al-Thabaqat al-Kabra (Leiden: E.J. Brill; 1322 Hj, J. VII, Bagian II, h. 157; al-
'Asqalaniy, Tandzib al-Tandzib (India: Majlis Da'irat al-Ma'arif al-Nizhamiyyah, 1326 H), J. VI, h. 356. dan J. VIII,
h. 428-429. Muhammad 'Ajjaj al-Khathib berpendapat, bahwa apa yang telah dilakukan oleh Gubernur 'Abd al-
'Aziz tersebut merupakan langkah pertama kegiatan pembukuan (tadwin) Hadits secara resmi, kemudian dilanjutkan
oleh putranya, Khalifah ‘Umar bin 'Abd al-'Aziz. Lebih lanjut lihat: al-Khathib, op. cit.. h. 176. 218-220; juga
al-Khathib, al-Sunnah qabl al-Tadwin, op. cit., h. 273-275. Dilihat dari kedudukan 'Abd al-‘Aziz bin Marwan
sebagai Gubernur Mesir dan Kasir bin Murrat sebagai salah seorang 'Ulama' di Hims, kelihatannya kurang kuat
bila langkah 'Abd al-'Aziz tersebut dinyatakan sebagai penghimpun Hadits secara resmi. Sekiranya 'Abd al-'Aziz
ketika itu adalah seorang Khalifah dan yang dikirimi surat bukan hanya seorang 'Ulama' saja melainkan semua
'Ulama' besar pada masa itu. atau melalui gubernurnya, maka pendapat Muhammad ‘Ajjaj al-Khathib
tersebut dapat diterima. Tapi fakta yang ada tidak demikian. Walaupun begitu, apa yang telah ditempuh oleh
Gubernur 'Abd al-'Aziz itu, sedikit banyaknya telah memberikan inspirasi kepada Khalifah 'Umar bin 'Abd al-'Aziz
untuk menerbitkan surat perintah penghimpunan Hadits secara resmi.
227Al-Ramahurmuziy, op. cit., h. 371 dan 374; al-Darimiy, op. cit., J. I, h. 127-130.
228Ibid. (al-Ramahurmuziy, h. 375-376; al-Khathib, Ushul al-Hadits, up. cit., h. 183.
229 Dia dikenal Zuhud, adil, dekat dengan 'Ulama' dan juga rawi Hadits, walaupun Hadits yang diriwayatkan
tidak banyak. Sufyan al-Sawriy (w.161H/778M) dan al-Syafi’iy (w.204H/720M) menyebut Khalifah 'Umar bin
'Abd al-'Aziz sebagai al-Khulafa’u al-Rasyidun yang kelima. Lebih lanjut lihat: al-Dzahabiy. Tadzkirat al-
Huffazh, op. cit., J. 1, h. 118-121; al-Suyuthiy, Tarikh al-Khulafa’, naskah ditulis oleh Muhammad Abu al-Fadhl
Ibrahim, (Kairo: Dar al-Nandhah, 1395 H 1975M), 363-391; Abu al-Mawahib 'Abd al-Wahab bin Ahmad al-
Sya'raniy, al-Thabaqat al-Kubra ([tth]Al-Maktabat al-Sya'- biyyah. [tth] h. 33-34.
230 K. Ali, A Study of Islamic History (Delhi: Idarah-i Adabiyat-i Delli, 1980M), h. 194.
231Ternyata setelah 'Umar bin 'Abd al-‘Aziz menjadi khalifah dan mengeluarkan perintah penulisan
Hadits, perbedaan pendapat tersebut sedikit demi sedikit mulal reda dan akhirnya seperti terlupakan. Lihat:
Shubhiy al-Shalih, op. cit., h. 127-128.
71
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
'Ulama' yang tersebar di berbagai wilayah Islam.Keinginan Khalifah 'Umar bin 'Abd al-
'Aziz (memerintah 99-101H) untuk menghimpunkan Hadits tersebut diwujudkan dalam
bentuk surat perintah. Surat itu keseluruh pejabat dan 'Ulama' di berbagai daerah pada
akhir tahun 100H. Isi surat perintah itu ialah agar seluruh Hadits Nabi di masing-masing
daerah segera dihimpunkan.232
Salah satu surat Khalifah dikirim ke Gubernur Madinah, Abu Bakr bin Muhammad
'Amr bin Hazm (w.117H/735M). Isi surat itu ialah: [a] Khalifah merasa khawatir akan
punahnya pengetahuan (Hadits) dan kepergian (meninggalnya) para ahli ('Ulama'); dan
[b] Khalifah memerintahkan agar Hadits yang ada di tangan 'Amrah binti 'Abd al-
Rahman dan al-Qasim bin Muhammad bin Abiy Bakr keduanya murid 'A`isyah
dan berada di Madinah, segera dihimpunkan. Sayang sekali, sebelum Ibn Hazm berhasil
menyelesaikan tugasnya, Khalifah telah meninggal dunia.233
'Ulama' yang berhasil menghimpun Hadits dalam satu kitab sebelum Khalifah
wafat, ialah Muhammad bin Muslim bin Syihab al-Zuhriy (w.124H/742M). Dia ini
seorang 'Ulama' besar di negeri Hijaz dan Syam. Bagian-bagian kitab al-Zuhriy segera
dikirim oleh Khalifah ke berbagai daerah234 untuk bahan penghimpunan Hadits
selanjutnya.Walaupun Khalifah 'Umar bin 'Abd al-'Aziz telah wafat, tapi kegiatan
penghimpunan Hadits berjalan terus. Sekitar pertengahan abad kedua Hijriyah, telah
muncul berbagai kitab himpunan Hadits di berbagai kota. 'Ulama' berbeda pendapat
mengenai karya siapa yang terdahulu muncul. Ada yang menyatakan, kitab himpunan
Hadits yang terdahulu muncul adalah karya 'Abd al-Malik bin 'Abd al-'Aziz bin Jurayj al-
Bishriy (w.150 H), ada yang menyatakan karya Malik bin Anas (w.179H/795M)235dan ada
232 Al-'Asqalaniy, Fath al-Bariy, op.cit., J.I, h.194-195; Abu Zahw, op.cit., h.127-128; Muhammad bin
Ja'far al-Kattaniy (al-Kattaniy) al-Risalah al-Mustatharah (Karachi: Nur Muhammad. 1379H/1960M). h.4.
233Ibid. (al-‘Asqalaniy; dan Abu Zahw); Shubhiy al-Shalih, op.cit., h.45; al-Khathib, op.cit., h.177-179.
234Ibid. (al-‘Asqalaniy, h.208; Shubhiy h.45-46; al-Khathib, h.180); Abu:Zahw, op.cit., h.128.
Kalangan orientalis ada yang berpendapat: [a] naskah (kitab) resmiyang khusus berisi Hadits Nabi sampai
sekarang tidak ada; dan [b] pada masa awal penghimpunan Hadits, tidak terdapat kitab Hadits yang disusun
berdasarkan pokok masalah. Lihat misalnya: Houtsma et.al. op.cit., h.396. Bila yang dimaksud dengan naskah
(kitab) resmi adalah naskah yang disusun oleh tim resmi yang dibentuk pemerintah, seperti halnya untuk peng-
himpunan Al-Qur'an, maka naskah resmi untuk Hadits memang tidak ada. Tapi bila pengertian resmi berlaku juga
untuk karya tulis yang disusun oleh pribadi-pribadi berdasarkan perintah khalifah (kepada negara), maka naskah
yang demikian ini untuk Hadits telah ada. Misalnya karya al-Zuhriy di alas. Dan karena karya al-Zuhriy telah
dikirim ke berbagai daerah, maka karya tersebut sedikitnya telah memberikan panduan dan inspirasi kepada
'Ulama' pada zaman itu dan zaman berikutnya. Karenanya, kitab-kitab Hadits yang muncul sesudah karya al-
Zuhriy, tidak lepas dari akibat langsung ataupun tidak langsung dari kebijaksanaan Khalifah 'Umar bin 'Abd al-
'Aziz. Adapun kitab Hadits yang disusun berdasarkan pokok masalah tertentu pada masa awal penghimpunan
Hadits, Malik bin Anas (w.179H/795M) dan menyusunnya. Sebab kitab al-Muwaththa' karya Malik bin
Anas tersusun berdasarkan bab-bab fiqh. Dan sebelum itu, sebagaimana telah dikemukakan di dalam pembahasan
terdahulu, 'Amir al-Sya'biy (w.103H/721M) telah membuat catatan Hadits berupa shahifah yang khusus
memuat masalah talak.
235Karya Malik bin Anas yang dikenal dengan nama al-Muwaththa' tersebut sampai sekarang banyak
beredar di masyarakat. Ignas Goldziher tidak menyetujui karya Malik tersebut sebagai kitab Hadits, dengan
alasan antara lain karena: [a] belum mencakup seluruh Hadits yang ada; [b] Iebih menekankan kepada hukum dan
pelaksanaan ibadah, serta kurang mengarahkan kepada penyelidikan dan penghimpunan Hadits; dan tidak hanya
berisi Hadits Nabi semata, tapi juga berisi fatwa sahabat Nabi (fatwa al-tabi'in), dan konsensus masyarakat Islam
di Madinah. Lebih lanjut lihat: Ignas Goldziher, Muslim Studies, diterjemahkan dari bahasa Jerman ke dalam
bahasa Inggris oleh C.R. Barbendan S.M. Stern (London: George Allen & Union ltd., [tth]). Vol.11, h.195-196.
Macdonald juga berpendapat, bahwa kitab Muwaththa' Malik merupakan kitab himpunan hukum dan bukanlah
kitab himpunan Hadits. Karena kitab tersebut tidak menghimpun seluruh Hadits yang ada dan isinya hanya
72
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
yang menyatakan karya 'Ulama' lainnya. Karya-karya tersebut tidak hanya menghimpun
Hadits Nabi saja, tapi juga menghimpun fatwa-fatwa sahabat dan al-tabi 'in.236
Karya-karya 'Ulama' berikutnya disusun berdasarkan nama sahabat Nabi rawi
Hadits. Kitab yang berbentuk demikian ini biasa dinamakan dengan al-musnad
(jamaknya: al-masanid). 'Ulama' yang mula-mula menyusun kitab al-musnad ialah Abu
Dawud Sulayman bin al-Jarud al-Thayalisiy (w.204 H). Kemudian menyusul 'Ulama'
lainnya, misalnya Abu Bakr 'Abdullah bin al-Zubayr al-Humaydiy (w.219 H) dan Ahmad
bin Hanbal (w.241H = 885M).237 Berbagai Hadits yang terhimpun dalam kitab-kitab
Hadits di atas, ada yang berkualitas shahih dan ada yang berkualitas tidak shahih. 'Ulama'
berikutnya kemudian menyusun kitab Hadits yang khusus menghimpun Hadits-Hadits Nabi
yang berkualitas shahih menurut kriteria penyusunnya. Misalnya, Abu 'Abdillah
Muhammad bin Ismai'l al-Bukhariy (w.256H/870M), dan Muslim bin al-Hajjaj al-
Qusyayriy (w.261H/875M). Kitab himpunan Hadits shahih karya al-Bukhariy berjudul:
al-Jami' al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar min Umur Rasul Allah SAWwa Sunanihi wa
Ayyamihi dan dikenal dengan sebutan al-Jami' al-Shahih atau Shahih al-Bukhariy. Kitab
himpunan Hadits shahih karya Muslim berjudul: al-Musnad al-Shahih al-Mukhtashar min
al-Sunan bi Naql al-'Adl 'an-'Adl 'an Rasul Allah SAW dan dikenal dengan sebtitan al-
Jami' al-Shahih atau Shahih Muslim.238Judul lengkap dari kedua kitab tersebut telah
memberikan gambaran umum mengenai isi, bentuk susunan, kualitas Hadits yang
terhimpun dalam kitab tersebut.
Di samping itu, muncul pula kitab-kitab Hadits yang bab-babnya tersusun seperti
bab-babfiqh dan kualitas Haditsnya ada yang shahih dan ada yang tidak shahih. Karya-
karya dimaksud dikenal dengan nama kitab-kitab al-Sunan. Di antara 'Ulama' Hadits
yang telah menyusun kitab al-Sunan ialah: Abu Dawud Sulayman bin al-Asy'as al-
Sijistaniy (w.275H/888M), Abu 'Isa Muhammad bin 'Isa bin Sawrah al-Turmudziy
(w.279H/892M), Ahmad bin Syu'ayb al-Nasaly (w.303H/915M) dan 'Abdullah bin
Muhammad bin Yazid bin 'Abdillah bin Majah al-Qazwiniy (w.273H/886M).239Karya-
karya al-Bukhariy, Muslim, Abu Dawud, al-Turmudziy, dan al-Nasa'iy di atas
disepakati oleh mayoritas 'Ulama' Hadits sebagai kitab-kitab Hadits yang bertaraf standar dan
berkaitan dengan masalah hukum saja. Tapi,, Macdonald masih mengakui bahwa Muwattha Malik merupakan kitab
Hadits yang pertama muncul. Lihat: Duncan B. Macdonald, Development of Muslim Theology, Jurisprudence and
Constitutional Theory (London: George Routledge &Sons, 1903M), h. 78. Goldziher melihat karya Malik dengan tolok
ukur kitab-kitab Hadits yang muncul pada abad H. Padahal, model-model kitab mengalami perkembangan,
dan puncaknya terjadi pada abad III H. Jadi, Goldziher tidak melihat karya Malik dari sejarah perkembangan
penyusunan kitab Hadits. Karenanya, kurang kuatlah pendapat tersebut.
236Lihat: Al-Khatib, op.cit., h.182; al-Mubarakfuriy, Muqaddimah Tuhfat al-Ahwadziy Syarh jami’ al-Turmudziy
(al-Madinah al-Munawwarah: Al-Maktabat al-Salafiyyah, 1387H/1927M), J.I, h.25-26 dan 28.
237Musnad al-Humaydiy dan khususnya Musnad Ahmad bin Hanbal banyak beredar di masyarakat. Nama-nama
penyusun kitab al-musnad lainnya; ibid. (al-Khathib). h.183-184; Mahmud al-Thahan, Ushul al-Takhrij wa
Dirasat al-Asanid (Halb: Al-Mathba'at al-'Arabiyyah, 1398H/1978M), h. 40-41; al-Kattaniy, op. cit., h. 52-64.
238Shahih al-Bukhariy dan Shahih Muslim sampai sekarang tetap mendapat perhatian khusus dari masyarakat.
Lihat: Muhammad Mustafa Azami, op.cit., h.89-92, 96; al-‘Asqalaniy, Had-y al-Sariy Muqaddimah Fath al-Bariy,
sampul luar tertulis Fath al-Bariy [ttp]: Dar al-Fikr dan al-Maktabat al-Salafiyyah, [tth]) J.XIV, khususnya h.8-
20; Muhy al-Din Abu Zakariyya Yahya al-Nawawiy, Shalh Muslim bi Syarh al-Nawawiy (Mesir: Al-Maktabat al-
Mishriyyah, 1924M), J.I, h.14-27.
239Al-Kattaniy, op.cit., h.29-33; al-Khathib, op.cit., h.184-185; Muhammad al-Shabbagh, op.cit., h.217-226;
Macdonald, op.cit., h.81.
73
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
dikenal sebagai al-Kutub al-Kharnsah (Lima Kitab Hadits Standar). 'Ulama' berbeda
pendapat mengenai kitab standar peringkat keenam. Sebagian 'Ulama' menyatakan, kitab
standar peringkat keenam adalah al-Sunan karya Ibn Majah, sebagian 'Ulama'
berpendapat kitab al-Muwattha karya Malik bin Anas, dan sebagian 'Ulama' lagi
berpendapat kitab al-Sunan karya Abu 'Abdillah bin 'Abd al-Rahman al-Darimiy
(w.255H/868M).240
Walaupun beberapa macam kitab Hadits di atas dinyatakan sebagai bertaraf standar,
hal itu tidak berarti bahwa seluruh Hadits yang terhimpun di dalamnya berkualitas shahih.
Penetapan kestandaran didasarkan atas pertimbangan-pertimbangan: [a] hampir seluruh
Hadits yang berkualitas shahih telah terdapat di dalam kitab-kitab tersebut;241 [b] hampir
seluruh soal yang terkandung dalam Hadits Nabi telah terhimpun dalam kitab-kitab
tersebut; dan [c] secara umum, kitab-kitab dimaksud lebih baik daripada kitab-kitab
Hadits lainnya, dilihat dari segi susunannya, isinya, dan atau kualitasnya.Masih cukup
banyak kitab Hadits yang disusun oleh 'Ulama' Hadits pada abad III H.242 Tapi kitab-
kitab yang telah disebut di atas merupakan kitab-kitab Hadits yang terbanyak mendapat
perhatian dari kalangan 'Ulama' dan umat Islam.Tidak sedikit juga 'Ulama' Hadits sesudah
abad III H yang menyusun kitab Hadits. Kitab-kitab Hadits yang mereka susun kebanyakan
berupa keringkasan, kamus (mu' jam dan miftah);himpunan Hadits Nabi berdasarkan syarat-
syarat periwayatan yang telah dipakai oleh 'Ulama' sebelumnya (al-mustadrak), syarah dan
yang semacamnya. Jadi, kitab-kitab yang tersusun merupakan penjelasan lebih lanjut dari
kitab-kitab Hadits yang ditulis pada abad III H. Hanya sedikit kitab-kitab Hadits yang
cara penyusunannya sama dengan kitab-kitab Hadits pada abad ke-3 H.243
Puncak usaha penghimpunan Hadits terjadi pada abad III H. Sesudah masa itu,
penghimpunan Hadits berada dalam taraf melengkapi, menggabungkan, memilahkan,
menyusun kamusnya, menjelaskan, menyeleksi, dan sebagainya terhadap kitab-kitab Hadits
yang telah ditulis oleh 'Ulama' pada abad II dan III H. Jadi, proses penghimpunan Hadits
telah memakan waktu yang cukup panjang. Kitab-kitab Hadits yang disusun oleh 'Ulama'
tidak hanya memuat matn Hadits saja, tapi juga memuat sanad-nya. Sanad-sanad Hadits itu
ada yang telah diseleksi secara ketat oleh para penyusun kitab tersebut dan ada yang tidak
diseleksi secara ketat. Terlepas dari itu semua, seluruh Hadits yang termuat dalam kitab-
kitab Hadits dimaksud masih terbuka untuk diteliti kembali kualitasnya sejalan dengan
perkembangan pengetahuan.
240Abu Zahw, op.cit., h.418-419; Shubhiy al-Shalih, op.cit., h.117-119; al-Siba'iy, op.cit., h.414; al-
Mubarakfuriy, op.cit., h.109-110; Houtsma et.al., op.cit., h.397; H.A.R.Gibb dan J.H.Krammers, Shorter
Encyclopaedia of Islam (Leiden: E.J.Brill, 1961), h.119. Syah Waliy Allah al-Dahlawiy (w.1176H/ 1763M)
menyalahi pendapat di atas. Dia menempatkan karya Malik bin Anas sepringkat dengan karya al-Bukhariy dan
Muslim, sama-sama di peringkat pertama. Pendapat al-Dahlawiy dikritik kalangan 'Ulama' Hadits. Lihat:
Syah Waliy Allah al-Dahlawiy,
Hujjat Allah al-Balighah (Beirut: Dar al-Ma'rifah, tth), J.I, h. 132-135; al-Siba'iy, op. cit., h. 394-396; Nur al-
Din 'Itr dalam Ibn al-Shalah, op. cit., h. 14 catatan kaki nomor 3.
241 Al-Nawawiy,al-Taqrib… Fann Ushul al-Hadits (Kairo: 'Abdur-Rahman Muhammad, [tth]), h.3.
242 Al-Mubarakfuriy, op. cit.. h. 150-155 dan 329-336.
243 Ibid., h. 66-67, 69-70, 76-79, 330-332 dan 335; Mahmud al-Thahan, op. cit., h. 18-19 dan 65-147.
74
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
B. Keshahihan Sanad Hadits
Untuk kepentingan penelitian Hadits, 'Ulama' telah menciptakan berbagai qa'idah dan
ilmu (pengetahuan) Hadits. Dengan qa'idah dan ilmu Hadits itu, 'Ulama' mengadakan
pembagian kualitas Hadits. Di antara qa'idah yang telah diciptakan oleh 'Ulama' adalah
keshahihan sanad Hadits, yakni segala syarat atau kriteria yang harus dipenuhi oleh suatu
sanad Hadits yang berkualitas shahih. Segala syarat atau kriteria keshahihan sanad Hadits
tersebut, ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus, melingkupi seluruh bagian
sanad. Berbagai syarat atau kriteria yang bersifat umum, dalam kajian ini, diberi istilah
sebagai qa'idah mayor, sedang yang bersifat khusus atau rincian dari qa'idah mayor diberi
istilah sebagai qa'idah minor.
2. Qa'idah Mayor Keshahihan Sanad Hadits
'Ulama' Hadits dari kalangan al-mutaqaddimun, yakni 'Ulama' Hadits sampai abad III
H, belum memberikan pengertian (definisi) yang eksplisit (sharih mengenai Hadits
shahih.244 Mereka pada umumnya hanya memberikan penjelasan mengenai penerimaan
berita yang dapat diperpegangi. Pernyataan-pernyataan mereka, misalnya berbunyi:
a. Tidak boleh diterima suatu riwayat Hadits, terkecuali yang berasal dari orang-orang
yang tsiqqah.245
b. Hendaklah orang yang akan memberikan riwayat Hadits itu diperhatikan ibadah salatnya,
perilakunya dan keadaan dirinya; bila salatnya, perilakunya dan keadaan orang itu
tidak baik, agar tidak diterima riwayat Haditsnya;
c. Tidak boleh diterima riwayat Hadits dari orang yang tidak dikenal memiliki
pengetahuan Hadits;
d. Tidak boleh diterima riwayat Hadits dari orang-orang yang suka berdusta, mengikuti
hawa nafsunya dan tidak mengerti Hadits yang diriwayatkannya;
e. Tidak boleh diterima riwayat Hadits dari orang yang ditolak kesaksiannya.246
Pernyataan-pernyataan tersebut tertuju kepada kualitas dan kapasitas periwayat, baik
yang boleh diterima maupun yang harus ditolak riwayatnya. Berbagai pernyataan itu
belum melingkupi seluruh syarat keshahihan suatu Hadits.
244 Kata shahih telah menjadi kosakata bahasa Indonesia dengan arti: "sah; benar; sempurna; sehat (tiada
celanya); pasti". W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Pusat Pembinaan dan Pengembangan
Bahasa Departemen Pendidikar. dan Kebudayaan (Jakarta: Balai Pustaka, 1985), h.849. Kata tersebut berasal
dari bahasa Arab al-shahih, yang secara bahasa berarti: "yang sehat". Kata ini pada asalnya dipakai untuk
menyifati tubuh, kemudian secara metaforis dipakai juga untuk menyifati sesuatu selain tubuh. Lihat: Ibn Manzhur,
Lisan al-'Arab (Mesir: Al-Dar al-Mishriyyah, [tth]), J.III, h.338-339; al-Fayyumiy, al-Mishbah al-Munir fiy
Gharib al-Syarh al-Kabir li al-Rafi'iy (Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah. 1978M), J.I, h.394; Al-Bustaniy, Kitab
Quthr al-Muhith (Beirut: Maktabah Libnan. [tth]), J.I, h.1111-1112.
245Istilah sigat pada zaman itu lebih banyak diartikan sebagai kemampuan hafalan yang sempurna daripada
diartikan sebagai gabungan dari istilah 'adl dan dhabth yang dikenal luas pada zaman berikutnya. Lebih lanjut lihat
misalnya contoh ketsiqqah-an rawi Hadits yang dikemukakan oleh Abu Muhammad 'Abd Allah bin 'Abdir-
Rahman al-Darimiy (al-Darimiy), Sunan al-Darimiy ([tth]: Dar Ihya' al-Sunnat al-Nabawiyyah, [tth]), J.1, h.112.
246Ibid., h.112-114; Abu Muhammad bin 'Ahd al-Rahman bin Abiy Hatim al-Raziy (al-Raziy), Kitab al-Jarh
wa al-Ta'dil (Hayderadab: Majlis Da'irat al-Ma'arif, 1371H/1952M), J.11, h.27-33; lihat juga: Abu Bakr
Ahmad bin 'Aliy bin Sabit al-Khatib al-Baghdadiy (al-Baghdadiy), Kitab al-Kilayah fiy 'ilm al-Riwayah (Mesir:
Mathba'at al-Sa'adah, 1972M). h.72-73 dan 78.
75
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Imam al-Syafi'iy telah mengemukakan penjelasan yang lebih kongkret dan terurai
mengenai riwayat Hadits yang dapat dijadikan hujah. Dia megatakan, khabar al-
khashshah (Hadits ahad) tidak dapat dijadikan hujah, kecuali bila Hadits itu:
a. Diriwayatkan oleh para rawi yang: [a] dapat dipercaya pengamalan agamanya; [b]
dikenal sebagai orang yang jujur dalam menyampaikan berita; [c] memahami dengan
baik Hadits yang diriwayatkan; [d] mengetahui perubahan makna Hadits bila terjadi
perubahan lafazhnya; [e] mampu menyampaikan riwayat Hadits secara lafazh,
tegasnya, tidak meriwayatkan Hadits secara makna; [f] terpelihara hafalannya, bila dia
meriwayatkan secara hafalan, dan terpelihara catatannya, bila dia meriwayatkan melalui
kitabnya; [g] bila Hadits yang diriwayatkannya diriwayatkan juga oleh orang lain, maka
bunyi Hadits itu tidak berbeda; dan [d] terlepasdari perbuatan penyembunyian cacat
(tadlis).
b. Rangkaian riwayatnya bersambung sampai kepada Nabi, atau dapat juga tidak sampai
kepada Nabi.247
Kriteria yang dikemukakan oleh al-Syafi’iy tersebut sangat menekankan pada sanad
dan cara periwayatan Hadits. Kriteria sanad Hadits yang dapat dijadikan hujah tidak
hanya berkaitan dengan kualitas dan kapasitas pribadi rawi saja, melainkan juga berkaitan
dengan persambungan sanad. Cara periwayatan Hadits yang ditekankan oleh al-Syafi'iy
adalah cara periwayatan secara lafazh (harfiah).
Menurut Ahmad Muhammad Syakir, kriteria yang dikemukakan oleh al-Syafi'iy di
alas telah mencakup seluruh aspek yang berkenaan dengan keshahihan Hadits. Kata
Syakir, 'Ulama' yang mula-mula menerangkan secara jelas qa'idah keshahihan
Hadits.248Pernyataan Syakir ini memberi petunjuk, bahwa qa'idah keshahihan Hadits yang
dikemukakan oleh al-Syafi'iy telah melingkupi semua bagian Hadits yang harus diteliti,
yakni sanad dan matn Hadits. Dalam hubungan ini dapat dinyatakan bahwa untuk sanad
Hadits, kriteria al-Syafi'iy tersebut pada dasarnya telah secara tegas melingkupi seluruh
aspek yang seharusnya mendapat perhatian khusus. Tapi yang berkenaan dengan matn,
kriteria al-Syafi'iy terlihat belum memberikan perhatian khusus secara tegas. Tapi, tidaklah
berarti kriteria al-Syafi’iy sama sekali tidak menyinggung soal matn. Sebab dengan
ditekankan pentingnya periwayatan Hadits secara lafazh, maka dengan sedikitnya soal
matn tidak dapat diabaikan. Dalam kaitan ini al-Syafi'iy sangat yakin, bahwa bila suatu
Hadits telah memenuhi kriteria yang telah disebutnya itu, maka Hadits dimaksud sulit
dinyatakan tidak berkualitas sahib. Pendapat al-Syafi'iy itu memang cukup beralasan.
Hanya saja, al-Syafi'iy secara metodologi tidak menyinggung kemungkinan adanya Hadits
yang pada lahirnya telah memenuhi kriteria yang telah dikemukakannya tapi sesungguhnya
Hadits dimaksud bila diteliti lebih jauh ternyata mengandung cacat dan atau kejanggalan
(syudzudz).
247 Al-Syafi'iy, al-Risalah, naskah diteliti dan disyarah oleh Ahmad Muhammad Syakir (Kairo: Maktabah Dar
al-Turas, 1399H/1979M), J.II, h.369-371. Pernyataan al-Syafi’iy tersebut telah diulas oleh 'Ulama' Hadits
pada masa berikutnya. Lihat: Al-Bayhaqiy, Ma'rilat al-Sunan wa al-Asar. naskah diteliti dan diberi notasi oleh
al-Sayyid Ahmad Shaqr ([ttp]): Lajnah Ihya' Ummahat Kutub al-Sunnah al-A'ala li al-Syu'un al-Islamiyyah
al-Jamhuriyyat al-'Arabiyyat al-Muttahidah, 1389H/1969M), J.I, h.41-44: Abu Luhabat Husayn,wa al-Ta 'dil
(Riyad: Dar al-Liwa', 1399H/1979M), h. 77-78.
248Ahmad Muhammad Syakir, syarh terhadap: ibid. (al-Syafi'iy), h.369, foot note no.3.
76
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Al-Bukhariy dan Muslim juga tidak membuat definisi yang tegas mengenai
Hadits shahih. Tapi,, berbagai penjelasan kedua 'Ulama' tersebut telah memberikan
petunjuk mengenai kriteria Hadits yang berkualitas shahih. 'Ulama' telah melakukan
penelitian terhadap berbagai penjelasan itu. Hasil penelitian 'Ulama' memberikan
gambaran mengenai Hadits shahih menurut kriteria al-Bukhariy dan Muslim.249Ternyata,
terdapat perbedaan yang cukup prinsip, di samping juga terdapat persamaan, antara
persyaratan Hadits shahih menurut al-Bukhariy dan menurut Muslim.
Perbedaan pokok antara al-Bukhariy dan Muslim mengenai syarat shahih suatu
Hadits terletak pada soal pertemuan antara para rawi dengan rawi yang terdekat dalam
sanad. Al-Bukhariy mengharuskan ada pertemuan antara para rawi dengan rawi terdekat
dalam sanad, meski pertemuan itu hanya satu kali terjadi. Al-Bukhariy tidak hanya
mengharuskan terbuktinya kesezamanan (al-mu 'asharah) antara para rawi dengan rawi
terdekat, tapi juga terjadi pertemuan antara mereka. Sedangkan Muslim, pertemuan itu
tidak harus dibuktikan; yang penting, antara mereka telah terbukti hidup sezaman.250
Jadi, persyaratan Hadits shahih yang diterapkan oleh al-Bukhariy dalam kitab
Shahih-nya lebih ketat daripada persyaratan yang diterapkan oleh Muslim.
Adapun persyaratan-persyaratan lainnya dapat dinyatakan sama antara yang
dikemukakan oleh al-Bukhariy dan Muslim. Persyaratan-persyaratan itu, menurut hasil
penelitian 'Ulama', ialah: [1] rangkaian rawi dalam sanad Hadits itu harus bersambung
mulai dari rawi pertama sampai rawi terakhir; [2] para rawi dalam sanad Hadits itu
haruslah orang-orang yang dikenal tsiqqah, dalam arti adil dan dhabith; [3] Hadits itu
terhindar dari cacat dan kejanggalan (syudzudz); dan [4] para rawi yang terdekat
dalam sanad harus sezaman.251
Menurut al-Nawawiy (w.676H/1277M), semua persyaratan di atas telah mencakup
persyaratan keshahihan sanad dan matn Hadits.252 Karena, persyaratan yang disebut ketiga
berkaitan dengan sanad dan matn, sedangkan ketiga syarat lainnya berkaitan dengan
sanad saja.Kalangan 'Ulama' al-muta 'akhkhirin telah memberikan definisi Hadits shahih
secara tegas. Definisi yang mereka kemukakan sesungguhnya tidak terlepas dari
249Al-Thahhan, Taysir Mushthalah al-Hadits(Beirut:Dar al-Qur'an al-Karim, 1399H/1979M), h.43.
250 Al-'Asqalaniy,Had-y al-Sariy Muqaddimah Fath al-Bariy, [ttp]: Dar al-Fikr Jan al-Maktabat [tth]),
J.XIV, h.12: al-Husayn 'Abd Majid Hasyim,al-Imam al-Bukhariy Muhadditsan wa Faqihan (Kairo: Al-Dar
al-Qawmiyyah, h.90-91; Al-'Ayniy, 'Umdat al-Qariy Syarh Shahih al-Bukhariy, Beirut: Muhammad Amin
Damaj. ([tth]). J.I. h.5.; Al-Nawawiy, Shahih Muslim bi Syarh al-Nawawiy, (Mesir: Al-Maktabat al-Mishriyyah,
1924M), J.I, h.14-15: Manshur 'Aliy Nashif, al-Taj al-Ushul fl AHadits al-Rasul SA W (Mesir, Dar Ihya' al-Turats
al-'Arabiy, 1382H/1962M), J.I. h.16. Sebagian 'Ulama' menyatakan, bahwa al-Bukhariy hanya menetapkan
kesezamanan dan pertemuan saja sebagai salah satu syarat keshahihan sanad Hadits, tapi juga terjadinya periwayatan harus
dengan cara al-sama'. Lihat: Al-Suyuthiy), Tadrib al-Rawly fiy Syarh Taarib al-Nawawiy (Beirut: Dar Ihya' al-Sunnat
al-Nabawiyyah, 1979M), J.I, h.70.
251Ibid. (al-‘Asqalaniy, h. 8-10; Hasyim. h. 89-91; al-’Ayniy. h. 5-6: al-Nawawiy. h. 15. 50 dan 60); Muslim,
al-Jami' al-Shahih, (Shahih Muslim). disunting kembali oleh Muhammad Fu'ad 'Abd al-Baqiy 'Isa al-Bahiy al-
Halahiy wa Syurakah. 1375 H 1955M), J.1, h.5-9: Abu 'Amr 'Utsman bin 'Abdir-Rahman bin al-Shalah (selanjutnya
ditulis sehagal Ibn al-Shalah), al-Hadits (al-Madinah al-Munawwarah: Al-Maktabat al-'ilmiyyah, 1972M), h.15-
22; 'Aliy bin Sulthan al-Harawiy al-Qariy (al-Qariy), Syarh Nukhbat al-Fikar (Beirut: Al-Dar al-Qawmiyyah,
1398H/1978M), h.66-67.
252Al-Nawawiy menyatakan hal demikian tatkala dia mengomentari pemyataan Imam Muslim mengenai
persyaratan Hadits yang berkualitas shahih. Lihat: ibid. (al-Nawawiy), h.60. Ini berarti, dalam penelitian keshahihan
Hadits, al-Bukhariy dan Muslim sangat memperhatikan kualitas sanad dan matn.
77
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
berbagai keterangan yang telah dikemukakan oleh 'Ulama' al-mutaqaddimin,
khususnya yang dikemukakan oleh al-Syafi'iy, al-Bukhariy dan Muslim.
Ibn al-Shalah (w.643H/1245M), salah seorang 'Ulama' Hadits al-muta 'akhkhirin
yang memiliki banyak pengaruh di kalangan 'Ulama' Hadits sejamannya dan sesudahnya,
telah memberikan definisi atau pengertian Hadits shahih sebagai berikut:
أ ﱠما ا ْل َح ِد ْي ُث ال ﱠص ِح ْي ُح فَ ُه َو ا ْل َح ِد ْي ُث ا ْل ُم ْسنَدُ الﱠ ِذ ْى يَتﱠ ِص ُل إ ْس َنادُهُ ِبنَ ْق ِل ا ْل َع ْد ِل ال ﱠضابِ ِط َع ِن ا ْل َع ْد ِل ال ﱠضابِ ِط
.ًإلَى ُم ْنتَ َهاهُ َوﻻَ َي ُك ْو ُن َشآذا َوﻻَ ُمعَلﱠﻼ
{Adapun Hadits shahih ialah Hadits yang bersambung sanad-nya (sampai kepada Nabi),
diriwayatkan oleh (periwayat) yang adil dan dhabith sampai akhir sanad, (di dalam
Hadits itu) tidak terdapat kejanggalan (Syudzudz) dan cacat ('illat)}.253
Dari definisi ini dapat dinyatakan, bahwa Hadits shahih adalah Hadits yang: [1]
sanad-nya bersambung sampai kepada Nabi; [2] seluruh periwayatnya adil dan dhabith;
[3] terhindar dari syadz dan 'illat.
Al-Nawawi menyetujui definisi Hadits shahih yang dikemukakan oleh Ibn al-Shalah
tersebut dan meringkaskannya dengan rumusan sebagai berikut:
. َما اتﱠ َص َل إ ْسـنادُهُ بِا ْلعُدُ ْو ِل ال ﱠضابِ ِط ْي َن ِم ْن َغ ْي ِر ُشذُ ْو ٍذ َو َﻻ ِعـلﱠ ٍة
(Hadits shahih ialah) Hadits yang bersambung sanad-nya, (diriwayatkan oleh orang-
orang yang) adil dan dhabith, serta tidak terdapat (dalam Hadits itu) kejanggalan
(Syudzudz) dan cacat (Illat).254
'Ulama' Hadits lainnya dari kalangan al-muta'akhkhirin, misalnya Ibn-Hajar lal-
'Asqalaniy (w.852H/1449M), Jalal al Din al-Suyuthiy (w.911H/1505M), Jamal al-Din
al-Qasimiy (w.1332H/1914M) dan Muhammad Zakariya al-Kandahlawiy (lahir 1315 H
=1898M), telah pula mengemukakan definisi Hadits shahih. Definisi yang mereka
kemukakan, walaupun redaksinya tampak berbeda-beda tapi pada prinsip-prinsinya sama
dengan yang telah dikemukakan oleh Ibn al-Shalah dan al-Nawawiy di atas.255'Ulama'
Hadits pada masa berikutnya, misalnya Al-Mahmud A-Thahan (w.774H/1373M) dan
Muhammad Ajjaj al-Khatib, juga memberikan pengertian yang demikian.256, misalnya,
berpendapat bahwa Hadits shahih bukan hanya yang sanad-nya bersambung kepada Nabi
saja, melainkan juga yang bersambung sampai hanya ke tingkat sahabat atau lainnya.
Sekalipun demikian Ibn Kasir mengakui, bahwa pendapat yang diikuti oleh 'Ulama' pada
253Ibn al-Shalah, op. cit., h. 10.
254Al-Nawawiy, al-Taqrib li al-Nawawiy Fann Ushul al-Hadits (Kairo: 'Abdur-Rahman Muhammad, tth), h.2.
255 Al-'Asqalaniy, Nuz-hat al-Nazhar Syarh Nuldthat al-Fikar (Semarang: Maktabat al-Munawwar, [tth]). h.
12-13; al-Suyuthiy. op. cit., J.I. h. 63-64; Ahmad Muhammad Syakir (Syakir). Syarh Alfiyyat al-Suyuthiy fiy 'ilm al-
Hadits (Beirut: Dar al-Ma'rifah, pin, h. 3; Jamal al-Din al-Qasimiy (al-Qasimiy), Qawa'id. al-Tandis min Funun
Mushthalah al-Hadits 'Isa al-Babiy al-Halabiy wa Syurakah, 1380H/1961M). h. 79; Muhammad Zakariya bin
Muhammad Yahya al-Kandahlawiy (al-Kandahlawiy). Muqaddimah Awjaz al-Masalik ila Muwaththa' Malik
(India: Mathba'at al-Seadah, 1393H/1973M), termaktub dalam J. 1, h. 116.
256 Mahmud al-Thahan, op. cit., h. 33; penulis yang sama, Ushul al-Takhrij wa Dirasat al-Asanid (Halb: Al-
Madtba'at al-'Arabiyyah, 1398 H 1978M), h. 145-146; Muhammad 'Ajjaj al-Khathib (al-Khathib). Ushul al-
Hadits ‘ulumuhu wa musthalahuhu (Beirut: Dar al-Fikr, 1395H/1975M), h. 304-305. Al-Khathib dalam hal ini
menggabungkan istilah adil dan dhabit menjadi istilah tsiqqah. Hal ini pada prinsipnya tidak mengubah susunan
definisi Hadits shahih. Sebab, istilah tsiqqah telah dikenal luas di kalangan 'Ulama' Hadits sebagai gabungan dari
istilah adil dan dhabith.
78
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
umumnya adalah pendapat yang telah dikemukakan oleh Ibn al-Shalah dan al-Nawawiy di
atas.257Di samping itu ada pula 'Ulama', misalnya Abu Muhammad al-Juwayniy
(w.478H/1085M), berpendapat bahwa Hadits shahih haruslah diriwayatkan oleh
(sedikitnya) dua orang pada setiap tingkat (thabaqah) sanad-nya.258Mahmud Abu Rayyah
mengutip suatu pendapat yang menyatakan, bahwa Hadits shahih adalah Hadits yang di
satu segi menjadikan jiwa dalam keadaan tenang, serta terhindar dari kejanggalan
(syudzudz) dan cacat ('illat).259Tapi kedua pendapat terakhir ini tidak banyak
pendukungnya. Sebagian 'Ulama' fiqh dan ushul al-fiqh tidak menyaratkan keterhindaran
dari syudzudz dan 'illat untuk Hadits shahih. Dalam hubungan ini al-'Iraqiy
(w.806H/1404M) menandaskan, pengertian Hadits shahih haruslah didasarkan kepada
'Ulama' yang ahli di bidang Hadits dan bukan kepada yang ahli di bidang pengetahuan
lainnya.260Jadi, al-'Iraqiy menolak pendapat 'Ulama'fiqh dan 'Ulama' ushul al-fiqh di atas.
Dapatlah dinyatakan, bahwa pengertian Hadits shahih yang diikuti oleh mayoritas 'Ulama'
Hadits ialah pengertian yang telah dikemukakan oleh Ibn al-Shalah dan diringkaskan oleh
al-Nawawiy di atas. Hal ini berlaku sampai sekarang.
Pengertian Hadits shahih yang disepakati oleh mayoritas 'Ulama' Hadits di atas telah
mencakup sanad dan matn Hadits. Kriteria yang menyatakan bahwa rangkaian rawi dalam
sanad harus bersambung dan seluruh periwayatnya harus adil dan dhabith adalah kriteria
untuk keshahihan sanad, sedang keterhindaran dari syudzudz dan 'illat, selain merupakan
kriteria untuk keshahihan sanad, juga kriteria untuk keshahihan matn Hadits.261Karenanya,
'Ulama' Hadits pada umumnya menyatakan bahwa Hadits yang sanad-nyashahih belum
tentu matn-nyajuga shahih. Demikian pula sebaliknya, matn yang shahih belum tentu
sanad-nyajuga shahih.262 Jadi, keshahihan Hadits tidak hanya ditentukan oleh keshahihan
sanad saja, melainkan juga ditentukan oleh keshahihan matn-nya.
Dari definisi Hadits shahih yang disepakati mayoritas 'Ulama' Hadits, dapat
dinyatakan, unsur-unsur qa'idah mayor keshahihan sanad Haditsialah:
a. Sanad bersambung;
b. Seluruh rawi dalam sanad bersifat adil;
c. Seluruh rawi dalam sanad bersifat dhabith;
d.Sanad Hadits itu terhindar dari syudzudz; dan
e. Sanad Hadits itu terhindar dari 'illat.
Dengan demikian, suatu sanad Hadits yang tidak mernenuhi kelima unsur tersebut adalah
Hadits yang kualitas sanad-nya tidak shahih. Berikut ini, dikemukakan pembahasan
kelima macam unsur dimaksud.
257 Abu al-Fida' bin Kasir (Ibn Kasir), Ikhtishar al-Hadits, disyarah oleh Ahmad Muhammad Syakir dan
diberi judulal-Hasis fiy Ikhtishar 'Ulum al-Hadits (Beirut: Dar al-Fikr, h. 6-7
258'Abdur-Rahim bin al-Husayn al-'Iraqiy (al-Taqyid wa al-Idhah Syarh Muqaddimah Ibn al-Shalah (al-Madinah al-
Munawwarah: Al-Maktabat al-Salafiyyah, 1400 H), h. 22.
259 Mahmud Abu Rayyah (selanjutnya ditulis sehagal Abu Rayyah).Adhwa ‘ala al-Sunhat al-Muhammdiyah 'aw
Al-Hadits (Mesir: Dar al-Ma'arif,I [tth]), h. 281.
260Al-Suyuthiy, op. cit., J.I, h. 65-65.
261 Nur al-Din 'hr, al-Madkhal ila 'Ulum al-Hadits (al-Madinah al-Munawwarah: Al-Maktabat al-'Ilmiyyah,
1972M), h. 15.
262Ibn al-,Shalah, op. cit., h. 35, 81-84; Ibn Kasir, op. cit., h. 21.
79
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
2. Qa'idah Minor Keshahihan Sanad Hadits
a. Sanad Bersambung
Unsur pertama, bukan dalam arti peringkat, dari qa'idah mayor keshahihan sanad Hadits
ialah sanad bersambung. Yang dimaksud dengan sanad bersambung ialah tiap-tiap
rawi dalam sanad Hadits menerima riwayat Hadits dari rawi terdekat sebelumnya;
keadaan itu berlangsung demikian,sampai akhir sanad dari Hadits itu.263Jadi, seluruh
rangkaian rawi dalam sanad, mulai dari rawi yang disandari oleh al-mukharrij
(penghimpun riwayat Hadits dalam karya tulisnya) sampai kepada rawi tingkat sahabat
yang menerima Hadits tersebut dari Nabi, bersambung dalam periwayatan.
'Ulama' Hadits berbeda pendapat mengenai nama Hadits yang sanad-nya
bersambung.Al-Baghdadiy (w.463H/1072M) menamatnya sebagai Hadits musnad.
Sedang Hadits musnad itu sendiri menurut Ibn 'Abd al-Barr (w.463H/1071M) ialah
Hadits yang disandarkan kepada Nabi, jadi sebagai Hadits marfu'; sanad Hadits musnad
ada yang bersambung dan ada yang terputus.264Menurut penelitian al-Sakhawiy
(w.902H/1497M), pendapat yang banyak diikuti oleh 'Ulama' adalah pendapat yang
dikemukakan oleh al-Baghdadiy.265Dengan demikian, 'Ulama' Hadits umumnya
berpendapat, Hadits musnad pasti marfu' dan bersambung sanadnya, sedang Hadits
marfu’ belum tentu Hadits musnad.
Menurut Ibn al-Shalah dan al-Nawawiy, yang dimaksud dengan Hadits muttashil
atau mawshul ialah Hadits yang bersambung sanad-nya, baik persambungan itu
sampai kepada Nabi maupun hanya sampai kepada sahabat Nabi saja.266Jadi, Hadits
muttashil atau mawshul ada yang marfu' (disandarkan kepada Nabi) dan ada yang
mawquf (disandarkan kepada sahabat Nabi). Bila dibandingkan dengan Hadits musnad
maka dapat dinyatakan, bahwa Hadits musnad pasti muttashil atau mawshul, dan tidak
semua Hadits muttashil atau mawshul pasti musnad. Untuk mengetahui bersambung
(dalam arti musnad) atau tidak bersambungnya suatu sanad, biasanya 'Ulama' Hadits
menempuh tata kerja penelitian sebagai berikut:
1).Mencatat semua nama rawi dalam sanad yang diteliti;
2).Mempelajari sejarah hidup masing-masing periwayat:
a). Melalui kitab-kitab rijal al-Hadits, misalnya kitab Tandzib al-Tandzib susunan
Ibn Hajar al-'Asqalaniy, dan kitab al-Kasyif susunan Muhammad bin Ahmad al-
Dzahabiy;
b). Dengan maksud untuk mengetahui:
(1). Apakah setiap rawi dalam sanad itu dikenal sebagai orang yang adil dan
dhabith, serta tidak suka melakukan penyembunyian cacat (tadlis);
(2). Apakah antara para rawi dengan rawi yang terdekat dalam sanad itu terdapat
hubungan:
263Muhammad al-Shabbagh, al-Hadits al-Nabawiy [ttp]: Al-Maktab al-Islamiy, 1392H/1972M), h. 162; Shubhiy
al-Shalih, op. cit., h. 145.
264 Ibn al-Shalah, op. cit., h. 39.
265Al-Sakhawiy,Fath al-Mughits Syarh Alfiyyat al-Hadits li al-' raqiy (al-Madinah al-Munawwarah: Al-
Maktabat al-Salafiyyah, 1388H/1968M), J.I, h.99.
266 Ibn al-Shalah, op. cit., h. 40; al-Nawawiy, al-Taqrib, op. cit., h. 6.
80
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
(a) kesezamanan pada masa hidupnya;
(b) guru-murid dalam periwayatan Hadits;
3). Meneliti kata-katayang menghubungkan antara para rawi dengan rawi yang terdekat
dalam sanad, yakni apakah kata-kata yang terpakai berupa haddasaniy, haddasana,
akhbarana, 'an, anna, atau kata-kata lainnya.267Jadi, suatu sanad Hadits dapat
dinyatakan bersambung bila:
a). Seluruh rawi dalam sanad itu benar-benar tsiqqah (adil dan dhabith);
b). Antara masing-masing rawi dengan rawi terdekat sebelumnya dalam sanad itu
benar-benar telah terjadi hubungan periwayatan Hadits secara sah menurut
ketentuan tahammul wa ada’ al-Hadits.
Dariuraian di atas dapat dinyatakan, unsur-unsur qa'idah minor sanad
bersambung: [1] muttashil; dan [2] marfu’.
b. Rawi Bersifat Adil
Kata adil memiliki lebih dari satu arti, baik dari segi bahasa maupun
istilah.268Berbagai 'Ulama' telah membahas siapa orang yang dinyatakan bersifat adil.
Dalam hal ini, 'Ulama' berbeda pendapat. Untuk memberikan gambaran betapa
beragamnnya pendapat 'Ulama' tersebut, berikut ini dikemukakan pokok-pokok pendapat
'Ulama' dimaksud dalam bentuk ikhtisar. Pendapat-pendapat yang diikhtisarkan dibatasi
hanya berasal dari lima belas orang 'Ulama' di berbagai zaman. Dari kelima belas
'Ulama' ini, sepuluh orang di antaranya dikenal sebagai 'Ulama' Hadits, di samping
juga di antara mereka ini dikenal di bidang ilmu keislaman tertentu lainnya. Kelima
orang 'Ulama' selebihnya dikenal sebagai 'Ulama' ushul al filth dan atau filth, di
samping dikenal juga di bidang ilmu keislaman tertentu lainnya.
Kesepuluh orang 'Ulama' yang disebut pertama itu ialah:
1). Al-Hakim al-Naysaburiy (w.405H/1014M),
2). Ibn al-Shalah (w.643H/1245M),
3).Al-Nawawiy (w.676H/1277M),
4).Ibn Hajar al-'Asqalaniy (w.852H/1449M),
5). Al-Harawiy (w.873H/1470M),
6). Al-Syawkaniy (w.1250H/1834M),
267Lihat contoh tata-kerja penelitian sanad yang dikemukakan oleh Mahmud al-Thahan, op.cit., h.219-222 dan
225-226. Adakalanya kitab-kitab rijal di atas belum memberikan informasi yang memadai mengenai sejarah
rawi Hadits yang sedang diteliti. Untuk itu perlu dikaji sejarah rawi yang bersangkutan di kitab-kitab rijal
lainnya. Nama-nama kitab rijal tersebut dapat dilihat misalnya dalam: ibid., h. 169-205; al-Khathib, al-Sunnah qabl al-
Tadwin (Kairo: Maktabah Wahbah, 1383H/1963M), h. 262-280 dan 282.
268Dalam kamus bahasa Indonesia, kata adil diartikan sebagai: [1] tidak berat sebelah (tidak memihak) ...;
[2] sepatutnya; tidak sewenang-wenang; Lihat; W.J.S. Poerwadarminta, op. cit., h. 16. Kata adil berasal dari
balms Arab: adl. Kata al-'adi itu sendiri merupakan masdar dari kata kerja adala. Menurut bahasa. kata al-adl
banyak arti, antara lain: Keadilan (al- adalat atau al- 'udulat); pertengahan (al-i’tidal); lurus (alistiqomat); condong kepada
kebenaran (al-myla ila al-Haqa). Orang yang bersifat adil disebut al- adil, kata jamaknya: Lihat: Ibn Manzhur,
op. cit., j. XIII, h. 456-463; al-Fayyumiy, op. cit., J. 11, h. 470-471; al-Syarif 'Aliy bin Muhammad al-Jurjaniy
(al-Jurjaniy), Kitab al-Ta'rifat (Singapura: Al-Haramayin, [tth]). h. 147-148; Luwis al-Munjid fiy al-Lughat
(Beirut: Dat al-Ma’syriq, 1873M), h. 491-492; Abu al-Hasan 'Aliy bin Abiy 'Aliy bin Muhammad al-Amidiy (al-
Amidiy), al-lhkamfiy Ushul al-Ahkam [ttp]: Muhammad 'Aliy Shabih wa Awladuh, 1387H/1968M), J. 1, h. 263-264.
81
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
7). Muhammad Mahfuzh al-Tirmisiy (w.1329 H),
8). Ahmad Muhammad Syakir (w.?),
9). Nur al-Din 'Itr, dan
10). Muhammad 'Ajjaj al-Khathib.269
Kedudukan taqwa sesungguhnya adalah syarat umum dari seorang yang
bersifat adil. Syarat umum itu dirinci ke beberapa butir. Jadi sesungguhnya kurang
tepat bila butir taqwa dijadikan salah satu syarat yang berdiri sendiri. Karena pada
dasarnya, butir-butir lain yang disebut oleh 'Ulama' yang pendapatnya dikhtisarkan di
atas adalah bagian dari indikasi ketaqwaan seseorang diukur dari ajaran Islam.270
Mengenai tiga status pertama bagi rawi: beragama Islam, balig dan
berakal,jumlah 'Ulama' yang menyebutnya lebih sedikit dari pada yang tidak
menyebutnya. Jadi pada umumnya, 'Ulama' tidak menyebut ketiga butir syarat di
atas secara eksplisit bagi rawi yang bersifat adil. Al-Ghazaliy dan al-Amidiy tidak
menyebut ketiga butir tersebut, karena mereka menempatkan ketiga butir itu pada
syarat-syarat umum periwayatan yang dapat diterima beritanya.271 Kalau begitu,
sesungguhnya al-Ghazaliy dan al-Amidiy tidak meniadakan ketiga butir dimaksud
sebagai bagian dan syarat-syarat rawi yang bersifat adil. 'Ulama' lainnya tidak
menyebut ketiga butir itu, menurut hemat penulis, karena mereka beranggapan
bahwa ketiga butir tersebut telah dimaklumi keharusan adanya.Dengan demikian
dapat dinyatakan, bila istilah balig dan berakal digabungkan menjadi satu istilah saja,
yakni mukalaf (mukallaf), maka syarat awal rawi yang adil adalah dua macam, yakni:
[1] beragama Islam dan [2] mukalaf.
Dari kelimabelas butir syarat yang dikemukakan 'ulama' ternyata hanya ada
satu butir saja yang secara eksplisit disebut oleh hampir seluruh 'Ulama'. Yakni butir
"memelihara muru'ah".272Hanya al-Hakim saja tidak menyebutnya. Sedangkan al-
269Lihat: Al-Hakim, Ma’rifat ‘Ulum al-Hadits (Kairo: Maktabat al-Mutanabbiy, [tth]), h. 53; Ibn al-
Shalah, op. cit., h. 94; al-Nawawiy, op. cit., h. 12; al-‘Asnalaniy, Nuz-hat al-Nazhar Syarh Nukhbat al-Fikar, op. cit.,
h. 13; Abu Fayd Muhammad bin Muhammad bin 'Aliy al-Farisiy al-Harawiy (al-Harawiy), lawahir al-Ushul fiy Ibn
Nadir al-Rand (al-Madinah al-Munawwarah: Al-Maktabat al-'ilmiyah, 1393 H), h.55; Al-Syawkaniy, lrsyad al-
Fuhul (Surabaya; Salim bin Sa'ad bin Nabhan wa Akhuhu Ahmad, [tth]), h.45; Al-Tirmisiy, Manhaj Dzawiy al-
Natltar (Surabaya: Ahmad bin Sa'ad bin Nabhan, 1394H/1974M), h.9; Syakir, op.cit.,, h.112; Nur al-Din '1tr,
Manhaj al-Naqd fiy 'Ulan al-Hadits (Damaskus: Dar al-Fikr, 1399H/1979M) h.79-80; al-Khathib, Ushul al-Hadits,
op.cit., h.231-232.
270Berbagai pengertian taqwa telah dikemukakan oleh 'Ulama'. Pendapat-pendapat 'Ulama' itu menyatakan, orang
taqwa ialah orang yang: [1] Beramal saleh dengan ikhlas dan berusaha menghindarkan diri dari siksaan Allah; [2]
memelihara hubungannya dengan Allah, sehingga beberapa perbuatan yang halal ditinggalkannya, karena dia
khawatir terbawa kepada yang haram; [3] secara ikhlas melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan
segala kemaksiatan; [4] menghindarkan diri dari segala hal yang dapat menjauhkan din dari Allah; [4]
memelihara diri dengan jalan melaksanakan segala ketentuan syariah; [5] berpegang teguh pada ajaran Nabi
Muhammad SAW, baik perbuatannya maupun perkataannya; [6] beriman dan menjauhkan din dari dosa-dosa
besar, sera melakukan amalan dengan dasar ketaatan kepada Allah. Lihat misalnya: Al-Qurthubiy. Al-jami li
Ahkam al-Qur'an (Kairo: Dar al-Kitab al-'Arabiy, 1387H/11967M). J.I, h.161-162; Ibn Kasir, Tafsir al-Qur'an
al-Azhim (Singapura: Sulayman Mar'iy, 1393H/1973M). h.33-34; al-Jurjaniy, op.cit., h.65; al-Qariy, op.cit.,
h.157-158.
271Al-Ghazaliy,h.180 dan 187; al-Amidiy, op.cit., h.263-264.
272Al-muru'ah artinya adab kesopanan pribadi yang membawa pemeliharaan diri manusia pada tegaknya
kebajikan moral dan kebiasaan-kebiasaan. Hal ini dapat diketahui melalui adat istiadat yang berlaku di berbagai
negeri. Lihat: al-Fayyumiy, op. cit., J. II. h. 692; al-Syawkaniy, sebagaimana dikutip oleh 'Abd al-Wahab 'Abd al-
82
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Ghazaliy, al-Amidiy, dan al-Syawkaniy malah menyebut butir yang mengandung
pemeliharaan muru’ah itu sebanyak dua kali. Disebutnya butir "memelihara
muru`ah" oleh hampir seluruh 'Ulama' tersebut menjadi isyarat, bahwa butir
dimaksud merupakan salah satu syarat yang sangat penting yang harus dimiliki oleh
rawi yang adil. Jadi, pemeliharaan muru’ah merupakan salah satu unsur qa'idah minor
rawi bersifat adil.
Mengenai sifat "teguh dalam agama", "tidak berbuat bid'ah", "tidak berbuat
maksiat", "tidak berbuat fasik", dan "baik akhlaknya", sesungguhnya dapat digabung
menjadi satu istilah saja, yakni melaksanakan ketentuan agama. Karena, orang yang
melaksanakan butir-butir tersebut pada dasarnya adalah orang yang melaksanakan
ketentuan agama. Ketentuan agama itu ada yang berupa perintah dan ada yang
berupa larangan. Orang yang melanggar ketentuan agama ada yang berstatus berdosa
besar dan ada yang berstatus berdosa kecil.273 Orang yang melaksanakan ketentuan
agama adalah orang yang teguh pendirian agamanya dan sekaligus memiliki akhlak
yang mulia. Orang yang melaksanakan ketentuan agama pada dasarnya adalah orang
yang memelihara muru`ah-nya. Hanya saja, tekanan pengertian melaksanakan
ketentuan agama terletak pada pelaksanaan perintah dan penghindaran diri dari
larangan agama. Sedang tekanan pengertian memelihara muru`ah terletak pada
pemeliharaan diri dari perbuatan halal yang bila perbuatan itu dilakukan akan
mengurangi kehormatan pribadi pelakunya di mata masyarakat. Karenanya, kedua
butir itu tidak digabungkan.
Adapun sifat "dapat dipercaya beritanya" dan "biasanya benar" tidak perlu
secara eksplisit dinyatakan sebagai syarat keadilan periwayat. Sebab kedua butir itu
merupakan akibat dari sosok pribadi yang telah memenuhi syarat-syarat yang disebut
terdahulu. Dengan demikian dapat dinyatakan, butir-butir syarat yang dapat
ditetapkan sebagai unsur-unsur qa'idah minor rawi yang adil ialah: [1] beragama
Islam; [2] mukalaf; [3] melaksanakan ketentuan agama; dan [4] memelihara
Lathif pada catatan kaki dalam: al-Suyuthiy. loc. cit. 'Ulama' mengemukakan beberapa contoh perbuatan yang
merusak muru’ah seseorang. Yakni. misalnya, makan di jalanan, kencing di jalanan, makan di pasar yang dilihat oleh
orang banyak, memarahi isteri atau anggota keluarga dengan ucapan yang kotor, atau bergaul dengan orang yang
berperilaku buruk. Lebih lanjut lihat: al-Syawkaniy, irryad al-Fuhul, loc. cit., h. 168-170; al-Khudhariy Bik, op.
cit., h. 217; al-Ghazaliy, op. cit., h. 182-183; Shubhiy al-Shalih, op. cit., h. 133-134.
273 'Ulama' telah membahas pengertian dosa-dosa besar dan kecil. Dalam hal ini, pendapat 'Ulama' bermacam-
macam. Ada pendapat yang menyatakan: [1] dosa besar adalah pelanggaran terhadap larangan Allah yang telah
ditetapkan hukumnya dalam Al-Qur'an dan Hadits; [2] dosa besar adalah larangan Allah yang diancam dengan
siksaan di akhirat bagi pelakunya; [3] dosa besar adalah segala dosa yang telah disebutkan dalam Al-Qur'an,
Hadits, dan ijmak, yang diberikan ancaman yang berat, atau telah ditetapkan bentuk hukumannya bagi siapa
yang melakukannya. Sedang dosa kecil adalah dosa selain dari yang telah disebutkan di atas. 'Ulama' mengulas
berbagai Hadits Nabi yang menerangkan mengenai dosa-dosa besar. Jenis-jenis dosa besar yang secara tegas telah
disebutkan oleh Hadits Nabi ialah: menyekutukan Allah, melakukan perbuatan sihir, membunuh tanpa hak, makan
riba, makan harta anak yatim, lari dari medan perang, menuduh zina terhadap wanita yang baik-baik, dan sebagainya.
Ada 'Ulama' yang berpendapat, bahwa perbuatan mencuri sampai kadar tertentu termasuk dosa besar. Di samping
itu, walaupun barang yang dicuri tidak mencapai kadar tertentu, tapi barang yang bersangkutan adalah barang langka,
atau milik orang yang Sangat menghajatkannya, maka perbuatan mencuri tersebut termasuk pula perbuatan dosa
besar. Lihat: Al-'Asqalaniy, Fath al-Bariy (Beirut: Dar al-Fikr dan al-Maktabat al-Salafiyah, [tth]), J.XII, h.181-
185; Ibn Qudamah, op.cit., J.IX, h.167; Muhammad 'Abd al-'Aziz al-Khuliy, al-Adab al-Nabawiy (Beirut: Dar
al-Fikr, [tth]), h.76-78; Muhammad Mushthafa Abu al-'Ula, al-Busyra bi al-Jihad wa al-Ghazwat Badr al-Kubra
(Mesir: Mushthafa al-Babiy al-Halabiy wa Awladuh 1372H/1953M), h. 219-221.
83
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
muru'ah. Secara umum, 'Ulama' telah mengemukakan cara penetapan keadilan rawi
Hadits, yakni, berdasarkan:
1). Popularitas keutamaan sang rawi di kalangan 'Ulama' Hadits; rawi yang terkenal
keutaman pribadinya, misalnya Malik bin Anas dan Sufyan al-Sawriy, tidak lagi
diragukan keadilannya.
2). Pernilaian dari para kritikus rawi Hadits; pernilaian ini berisi pengungkapan
kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri rawi Hadits.
3). Penerapan Qa'idahjarh w a t a ' d i l . C a r a i n i d i t e m p u h , b i l a p a r a kritikus
rawi Hadits tidak sepakat mengenai kualitas pribadi rawi tertentu.274Jadi, penetapan
keadilan rawi diperlukan kesaksian dari 'Ulama', dalam hal ini 'Ulama' ahli kritik
periwayat.
c. Rawi Bersifat Dhabith
Pengertian dhabith,275menurut Ibn Hajar al-'Asqalaniy dan al-Sakhawiy, orang
dhabith ialah orang yang kuat hafalannya mengenai apa yang telah didengarnya dan
mampu menyampaikan hafalannya itu kapan saja dia mengkehendakinya.276Ada pula
'Ulama' yang menyatakan, orang dhabith ialah orang yang mendengarkan pembicaraan
seperti seharusnya; dia memahami arti pembicaraan itu secara benar; kemudian dia
menghafalnya dengan sungguh-sungguh dan dia berhasil hafal dengan sempurna,
kemudian dia mampu menyampaikan hafalannya itu kepada orang lain dengan
baik.277Sebagian 'Ulama' menyatakan, orang yang dhabith ialah orang yang
mendengarkan riwayat seperti seharusnya; dia memahaminya dengan pemahaman
yang mendetail kemudian dia hafal secara sempurna; dan dia memiliki kemampuan yang
demikian itu, sedikitnya mulai dari saat dia mendengar riwayat itu sampai dia
menyampaikan riwayat tersebut kepada orang lain.278Masih ada lagi beberapa
pernyataan 'Ulama' mengenai pengertian dhabith, yang walaupun redaksinya berbeda-
beda tapi prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya banyak kesamaannya.279
Bila berbagai pernyataan 'Ulama' tersebut digabungkan, maka butir-butir sifat
dhabith yang telah disebut adalah:
1).Rawi itu memahami dengan baik riwayat yang telah diterimanya;
2).Rawi itu hafal dengan baik riwayat yang telah didengarnya (diterimanya);
3). Rawi itu mampu menyampaikan dengan baik riwayat yang telah dihafalnya, kapan
dan di mana saja dia menghendakinya, terutama di saat dia menyampaikan
riwayat itu kepada orang lain.
274 Al-Nawawiy, op.cit., h.12; al-Harawiy, op.cit., h.55-56; Ibn Kasir. Ikhtisar, op.cit., h.35; al-Suyuddy,
op.cit., J.I, h.301-302; bandingkan: Al-Qasimiy, Al-jarh wa al-Ta'dil (Beirut: Mu'assasat al-Risalah,
1399H/1979M), h. 6-9.
275 Menurut bahasa, kata dhabith dapat berarti: yang kokoh, yang kuat, yang tepat, yang hafal dengan
sempurna. Lebih lanjut lihat: al-Fayyumiy, op. cit., J. II. h. 420-421; Luwis Maluf, op. cit., h. 445.
276Al-'Asqalaniy. Nuz-hat al-Nazhar, op.cit., h.13; al-Sakhawiy, Fath al-Mughits, op.cit., j.' I, h.18.
277Al-Jurjaniy, op. cit.. h. 137; Abu Zahrah, Ushul al-Fiqh attpl: Dar al-Fikr al-'Arabiy, [tth]), h. 232.
278Shubhiy al-Shalih, op. cit., h. 128.
279Al-Harawiy, op. cit., h. 55; Syakir, op. cit., h. 97; al-Khathib, op. cit., h. 232.
84
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Butir yang disebut pertama, tidak semua 'Ulama' menyebutnya. Butir yang
disebut kedua, 'Ulama' sependapat menyatakannya. Untuk butir yang disebut
ketiga, pendapat 'Ulama' terbagi kepada dua versi; ada yang tidak membatasi waktu
dan ada yang membatasi waktu. 'Ulama' yang tidak menyatakan butir yang disebut
pertama, boleh jadi mereka tidak mempunyai pertimbangan, bahwa:
1).Bila seorang rawi telah hafal dengan baik riwayat yang diterimanya, maka
dengan sendirinya dia telah memahami apa yang telah dihafalnya itu; atau,
2). Yang dipentingkan bagi seorang rawi adalah hafalannya dan bukan pentahamannya
mengenai apa yang diriwayatkannya.
Pertimbangan yang disebut pertama tidak cukup kuat. Karena, orang yang
hafal tidak dengan sendirinya paham akan apa yang telah dihafalnya. Kalau begitu,
pertimbangan yang disebut kedua merupakan dasar kedhabith-anrawi menurut
sebagian Uama di atas.'Ulama' yang lebih hati-hati adalah yang mendasarkan ke-
dhabith-anbukan hanya kepada kemampuan hafalan saja, melainkan juga pada ke-
mampuan pemahaman. Soalnya, bila pendapat yang lebih hati-hati itu yang harus
diperpegangi, maka rawi yang memiliki kemampuan hafalan saja dan tidak memiliki
kecerdasan memahami apa yang telah dihafalnya tidak lagi termasuk sebagai rawi
yang dhabith. Padahal, mereka itu oleh sebagian 'Ulama' Hadits dinyatakan sebagai
rawi yang dhabith juga. Kalau begitu, rawi yang memiliki kemampuan hafalan dan
pemahaman harus dihargai lebih tinggi tingkat ke-dhabith-annyadaripada rawi yang
hanya memiliki kemampuan hafalan.
Adapun butir (c) dari syarat ke-dhabith-andi atas, walaupun terbagi dua
pendapat, tapi pada dasarnya kedua pendapat itu sama. Sebab, kemampuan hafalan
yang dituntut dari seorang periwayat, sehingga karenanya dia dapat dinyatakan sebagai
seorang yang dhabith, adalah tatkala rawi itu menyampaikan riwayat kepada orang
lain. Hanya saja, pendapat yang membatasi secara tegas dengan menunjuk “sampai
saat dia menyampaikan riwayat itu kepada orang lain”, merupakan pendapat yang
lebih rasional dan hati-hati. Karena bagaimana pun, kemampuan hafalan seseorang
mempunyai batas, misalnya karena pikun atau karena sebab tertentu lainnya. Rawi
yang mengalami perubahan kemampuan hafalan, tetap dinyatakan sebagai rawi yang
dhabith sampai saat sebelum mengalami perubahan. Sedang sesudah mengalami
perubahan, dia dinyatakan tidak dhabith.280
Adapun cara penetapan ke-dhabith-an seorang periwayat, menurut berbagai
pendapat 'Ulama', dapat dinyatakan sebagai berikut:
1). Dhabith rawi dapat diketahui berdasarkan kesaksian 'Ulama'.
2). Dhabith rawi dapat diketahui juga berdasarkan kesesuaian riwayatnya dengan
periwayatan rawi lain yang dikenal ke-dhabith-annya. Tingkat kesesuaiannya itu
mungkin hanya sampai ke tingkat makna atau mungkin ke tingkat harfiah.
280Nama-nama rawi Hadits yang mengalami perubahan kemampuan hafalan karena pikun atau sebab lainnya, di
antaranya ialah: Sald bin lyas al-Jurayjiy, Sald bin Abiy 'Arubah. Rabi'at al-Ra'y bin Abiy 'Abdur-Rahman,
dan Sufyan bin 'Uyaynah. Lihat: Ibn al-Shalah, op.cit., h.353-357; Al-Dzahabiy, Al-Mughniy fi al-Dhu'afa'
(Suriah: Dar al-Ma'arif, 1391H/1971M), J.1: h.177, 230, 256, 264, 268-269; J.II, h.412. Untuk nama Sa'id
bin Iyas al-Jurayjiy, lihat juga: Abu Dawud, Sunan Abiy Dawud (Beirut: Dar al-Fikr, tth.), J.III, h.63.
85
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
3). Bila seorang rawi sekali-sekali mengalami kekeliruan, maka dia masih dapat
dinyatakan sebagai rawi yang dhabith. Tapi bila kesalahan itu sering terjadi, maka
rawi tersebut tidak lagi disebut sebagai rawi yang dhabith.281
Dalam hubungan ini, yang menjadi dasar penetapan ke-dhabith-anrawi secara
implisit ialah hafalannya dan bukan tingkat kepahaman rawi tersebut terhadap Hadits
yang diriwayatkannya. Kepahaman rawi akan Hadits yang diriwayatkannya tetap
sangat berguna dalam periwayatan Hadits, khususnya ketika terjadi perbedaan
riwayat antara sesama rawi yang dhabith. Dalam keadaan yang demikian ini, maka
rawi yang paham dan hafal dinilai lebih kuat (rajih) daripada rawi yang sekedar hafal
saja.282Jadi, bagaimana pun, rawi yang paham, hafal, dan mampu menyampaikan
Hadits yang diriwayatkannya itu kepada orang lain, akan tetap mendapat tempat yang
lebih tinggi daripada rawi yang hanya hafal dan mampu menyampaikan Hadits yang
diriwayatkannya itu kepada orang lain.
Karena bentuk ke-dhabith-anpara rawi yang dinyatakan bersifat dhabith tidak
sama, maka seharusnya istilah yang digunakan untuk menyifati mereka dibedakan
juga. Perbedaan istilah itu dapat berupa sebagai berikut:
1). Istilah dhabith diperuntukkan bagi rawi yang:
a). Hafal dengan sempurna Hadits yang diterimanya;
b). Mampu menyampaikan dengan baik Hadits yang dihafalnya itu kepada orang
lain.
2).Istilah tamm al-dhabith yang bila diindonesiakan dapat dipakai istilah dhabith
plus, diperuntukkan bagi rawi yang:
a). Hafal dengan sempurna Hadits yang diterimanya;
b). Mampu menyampaikan dengan baik Hadits yang dihafalnya itu kepada orang
lain; dan
c). Paham dengan baik Hadits yang dihafalnya itu.
Klasifikasi ini akan sangat berguna bagi bahan analisis di pembahasan, misalnya
ke-syadz-an dan ke-illat’-an sanad.
Ke-dhabith-an rawi yang dibahas di atas adalah ke-dhabith-an`yang oleh
'Ulama' Hadits disebut dengan istilah dhabith shadr. Di samping itu, ada lagi ke-
dhabith-an yang diberi istilah dengan dhabith kitab. Yang dimaksud dengan rawi
yang dhabith kitab ialah rawi yang memahami dengan baik tulisan Hadits yang
tertulis dalam kitab yang ada padanya; bila ada kesalahan tulisan dalam kitab, dia
mengetahui letak kesalahannya.283Ke-dhabith-an kitab ini sangat diperlukan bagi rawi
yang tatkala menerima dan atau menyampaikan riwayat Hadits melalui cara al-
qira'ah 'ala al-syaykh ataupun al-ijazah.
281Al-Nawawiy, Shahih Muslim bi Syarh al-Nawawiy, op.cit., J.1, h.50; al-Harawiy, op.cit., h.56; Ibn Kasir.
op.cit.. h.46; al-Khudhariy Bik, op.cit., h.217; al-Khathib, op.cit., h.232; Shubhiy al-Shalih, Loc.Cit.
282Abu Zahrah, op. cit., h. 110-111.
283 Al-'Asqalaniy, loc. cit al-Harawiy, loc. Cit.
86
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
d. Terhindar dari Kejanggalan (Syadz, Syudzudz)
'Ulama' berbeda pendapat mengenai pengertian syadz dalam Hadits. Per-
bedaan pendapat yang menonjol ada tiga macam. Yakni, pendapat yang
dikemukakan oleh al-Syafi'iy, al-Hakim, dan Abu Ya’la al-Khaliliy (w.446 H). Pada
umumnya 'Ulama' Hadits mengikuti pendapat al-Syafi'iy.
Menurut al-Syafi'iy, suatu Hadits tidak dinyatakan sebagai mengandung
syudzudz, bila Hadits itu hanya diriwayatkan oleh seorang rawi yang tsiqqah, sedang
rawi yang tsiqqah lainnya tidak meriwayatkan Hadits itu. Barulah suatu Hadits
dinyatakan mengandung syudzudz, bila Hadits yang diriwayatkan oleh seorang rawi
yang tsiqqah tersebut bertentangan dengan Hadits yang diriwayatkan oleh banyak
periwayat284 yang juga bersifat tsiqqah.
Dari penjelasan al-Syafi'iy tersebut dapat dinyatakan, bahwa Hadits syadz
tidak disebabkan oleh: [a] kesendirian individu rawi dalam sanad Hadits, yang dalam
ilmu Hadits dikenal dengan istilah Hadits fard muthlaq285 (kesendirian absolut); atau
[b] rawi yang tidak tsiqqah. Hadits baru mumkin mengandung syudzudz, bila: [a]
Hadits itu memiliki lebih dari satu sanad; [b] para rawi Hadits itu seluruhnya tsiqqah;
dan [c] Matn dan atau sanad Hadits itu ada yang mengandung pertentangan. Hadits
yang mengandung syudzudz, oleh 'Ulama' disebut sebagai Hadits syadz, sedang
"lawan" dari Hadits syadz disebut sebagai Hadits mahfuzh.286
Menurut Imam al-Hakim, Hadits syadz ialah Hadits yang diriwayatkan
olehseorang rawi yang tsiqqah, tapi tidak ada rawi tsiqqah lainnya yang
meriwayatkannya.287Penjelasan al-Hakim ini dapat dinyatakan, bahwa Hadits syadz
tidak disebabkan oleh: [a] rawi yang tidak tsiqqah;atau [b] pertentangan matn dan
atau sanad Hadits dari para rawi yang sama-sama tsiqqah. Hadits barulah dinyatakan
mengandung syudzudz, bila: [a] Hadits itu diriwayatkan oleh seorang, rawi saja, atau
Hadits fard muthlaq; dan [b] rawi yang sendirian itu bersifat tsiqqah. Andaikan Hadits
itu memiliki mutabi' atau syahid,288maka tidak terjadi syudzudz.
284 Pernyataan al-Syafi'iy tersebut antara lain diriwayatkan oleh al-Hakim dan lbn al-Shalah. Lihat: al-Hakim,
op. cit.. h. 119; lbn al-Shalah, op. cit., h. 48.
285Kesendirian rawi dapat dilihat dari segi individunya dan dapat dilihat dari sifat atau keadaan tertentu lainnya,
misalnya negeri asalnya. Hadits yang demikian ini, oleh sebagian 'Ulama' dinamai sebagai Hadits fard dan
oleh sebagian 'Ulama' lagi dinamai sebagai Hadits gharib. Hadits Fard yang disebabkan oleh kesendirian
individu periwayatnya dinamai sebagai Hadits fard muthlaq (kesendirian absolut). Sedang yang disebabkan oleh
kesendirian sifat atau keadaan tenentu lainnya dinamai sebagai Hadits fard (kesendirian relatif). Dalam pada
itu, Hadits fard ada yang berkaitan dengan sanad, yakni yang telah dikemukakan di alas, dan ada
yang berkenaan dengan matn. Pembahasan lebih terurai mengenai Hadits fard dan gharib, lebih lanjut lihat
misalnya: al-Nawawiy, al-Tatrib, op. cit., h. 10; Ibn Kasir, op. cit., II. 37; al-'Asqalaniy, op. cit., h. 11-12; al-
Suyuthiy, op. cit.,h. 248-251; al-Khathib, op. cit., h. 358-363.
286Ibid. (Al-Asqalaniy), h. 20; al-Qariy, up. cit., h. 36-37.
287Al-Hakim, loc.cit.; Ibn al-Shalah, op. cit., h. 48.
288Sebagian 'Ulama' membedakan pengertian Hadits mutabi' dari Hadits syahid dan sebagian 'Ulama' lainnya
menyamakannya. 'Ulama' yang membedakannya tidak sepakat dalam memberikan pengertian kedua istilah
Hadits tersebut. Di antaranya ada yang menyatakan, bahwa Hadits mutabi' ialah Hadits yang diriwayatkan oleh
rawi lebih dari satu orang dan terletak bukan pada tingkat sahabat Nabi. Bila rawi yang lebih dan satu orang itu
menerima Hadits tersebut dari guru Hadits yang sama, maka Hadits dimaksud dinamai sebagai Hadits mutabi'
tanun. Bila para rawi tersebut menerima Hadits itu dari guru Hadits yang berbeda-beda, maka Hadits dimaksud
dinamai sebagai ‘mutabi qashir. Sedang Hadits syahid ialah Hadits yang rawi di tingkat sahabat Nabi terdiri dari
87
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Menurut Abu Ya'la al-Khaliliy, Hadits syadz adalah Hadits yang sanadnya
hanya satu macam, baik periwayatnya bersifat tsiqqah maupun tidak bersifat tsiqqah.
Bila periwayatnya tidak tsiqqah, maka Hadits itu ditolak sebagai hujah, sedang bila
periwayatnya tsiqqah makaHadits itu dibiarkan (mutawaqqaf), tidak ditolak dan tidak
diterima sebagai hujah.289 Pendapat al-Khaliliy ini hampir sama dengan pendapat al-
Hakim. Perbedaan antara keduanya terletak pada kualitas periwayat. Al-Hakim
menyaratkan rawi harus tsiqqah, sedang tidak menyaratkannya.
Ibn al-Shalah dan al-Nawawiy telah memilih pengertian Hadits syadz yang
diberikan oleh Karena, penerapannya tidak sulit. Bila pendapat al-Hakim dan
al-Khaliliy yang diikuti, maka banyak Hadits yang oleh mayoritas 'Ulama' Hadits telah
dinilai shahih akan berubah menjadi tidak shahih.290'Ulama' Hadits zaman berikutnya
terlihat sejalan juga dengan pendapat al-Syafi'iy.291 Hal ini logis. Sebab, qa'idah
mayor yang diikuti oleh umumnya 'Ulama' Hadits adalah qa'idah yang dikemukakan
oleh Ibn al-Shalah danal-Nawawiy.292
'Ulama' Hadits pada umumnya mengakui bahwa syudzudz dan 'illah Hadits sangat
sulit diteliti. Hanya mereka yang benar-benar mendalam pengetahuan ilmu Haditsnya dan
telah terbiasa meneliti kualitas Hadits mampu menemukan syudzudz dan 'illah Hadits.
Sebagian 'Ulama' lagi menyatakan, penelitian syudzudz Hadits lebih sulit dari pada
penelitian 'illat Hadits. Dinyatakan demikian, karena belum ada 'Ulama' Hadits yang
menyusun kitab khusus mengenai Hadits syadz sedang 'Ulama' yang menyusun kitab
walaupun jumlahnya tidak banyak, tapi telah ada.293
Sebab utama kesulitan penelitian syudzudz dan 'illah Hadits ialah karena kedua hal itu
terdapat dalam sanad yang tampak shahih. Rawi Hadits itu bersifat tsiqqah dan sanad-nya
tampak bersambung. Syudzudz dan 'illah Hadits baru dapat diketahui setelah Hadits itu
diteliti lebih mendalam, antara lain dengan diperbandingkan berbagai sanad yang matn-
nya mengandung soal yang sama.Berikut ini, dikemukakan contoh Hadits yang sebagian
sanad-nya mengandung syudzudz (ke-syadz-an):
ٔ ّن ر ﻼ توﰱ ﲆ عهد رسول ﷲ )ص م( وﱂ يدع وار ٕاﻻ موﱃ هو ٔعتقه )رواه ابﱰمﺬى وال ساﰄ وان
.(ما ه عن ان عبّاس
lebih seorang. Pembahasan lebih terurai mengenai Hadits mutabi' dan Hadits syahid, lihat misalnya: al-
Nawawiy, op. cit., h. 21-23; al-Suyuthiy, op. cit., J.I, h. 241-245: Ibn Kasir, op. cit., h. 36-37; Muhammad al-
Shabbagh, op. cit.. h. 188-189; al-Khathib, op. cit., h. 366-368; Shubhiy al-Shalih, op. cit., h. 241-244.
289Ibid. (al-Nawawiy, h. 9; Ibn Kasir h. 34); Ibn al-Shalah, op. cit., h. 69.
290Ibid. (al-Nawawiy: Ibn al-Shalah, h. 69-71); lihat juga: al-graqiy, op. cit., h. 100-105
291Al-'Asqalaniy, op.cit., h.20-21; al-Suyuthiy, op.cit., J.I, h.232-238;Muhammad al-Shabbagh, op.cit.,
h.180-181; Shubhiy al-Shalih, op.cit., h.196-203.
292Ibn al-Shalah menerima pendapat al-Syafi'iy mengenai pengertian Hadits syadz, tapi kemudian ia
mempersamakan Hadits syadz dengan Hadits munkar. 'Ulama' lainnya, misalnya Ibn Hajar al-'Asqalaniy, menolak
penyamaan Hadits syadz dengan Hadits munkar, karena Hadits syadz, semua periwayatnya tsiqqah sedangkan
rawi Hadits munkar ada yang lemah. Ibn Hajar menamai "lawan" Hadits syadz dengan mahfuzh sedang "lawan"
dari Hadits munkar dengan ma’ruf.Lebih lanjut lihat: ibid (al-'Alqalaniy, h.21; al-Suyuthiy, h.234-235, 240-241).
293Ibid. (al-Suyuthiy), h.233; juga Shubhiy al-Shalih, op.cit., h.199. Kalangan 'Ulama' yang telah menulis
kitab 'llal al-Hadits, misalnya: 'Aliy bin al-Madiniy (w.634H/849M), Ahmad bin Hanbal (w.241H/ 855M),
al-Bukhariy (w.256H/870M), dan al-Daraquthniy (w.385M/990M). Lihat: ibid., (al-Suyuthiy, h.251; Shubhiy
al-Shalih, h.181-182).
88
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
{Seorang laki-laki telah meninggal dunia di zaman Rasul Allah SAW, dan orangitu tidak
meninggalkan seorang pun ahli waris, kecuali seseorangyang telah
memerdekakannnya. (HR al-Turmudziy, al-Nasa'iy, dan Ibn Majah dari Ibn
'Abbas)}.294
Menurut penelitian Ibn Hajar al-'Asqalaniy, matn Haditsini memiliki banyak
sanad. Beberapa mukharrij, sanad-nya melalui Sufyan bin 'Uyaynah. Sanad yang
dipakai oleh Ibn 'Uyaynah sama dengan yang dipakai oleh Ibn Jurayj dan para rawi
lainnya, terkecuali Hammad bin Zayd. Sanad Ibn 'Uyaynah dan tersebut melalui
'Amr bin Dinar, Awsajah, Ibn 'Abbas, barulah sampai kepada Nabi. Sedang sanad
Hammad bin Zayd melalui 'Amr bin Dinar, Awsajah, kemudian kepada Nabi, tanpa
terlebih dahulu melalui Ibn 'Abbas. Padahal, Ibn 'Uyaynah, Ibn Jurayj, Hammad bin
Zayd, dan lain-lain adalah rawi yang sama-sama bersifat tsiqqah. Karena sanad
Hammad bin Zayd menyalahi berbagai sanad, dari rawi lainnya, maka sanad Hammad
bin Zayd adalah sanad yang syadz, sedang sanad Ibn 'Uyaynah dan lain-lain dinilai
sebagai sanad yang mahfuzh.295
Sanad Hammad bin Zayd dalam periwayatan hadis tersebut menyalahi sanad-
sanad lainnya. Tiga sanad yang berada di sebelah kiri berkualitas mahfuzh, sedang
sanad yang berada paling kanan berkualitas syadz. Kesulitan pernilaian terhadap
sanad Hammad bin Zayd tersebut disebabkan:
1).Ibn 'Abbas adalah sahabat Nabi dan 'Awsajah oleh sebagian 'Ulama' dinyatakan
sebagai sahabat Nabi tapi oleh sebagian 'Ulama' lagi dinyatakan bukan sahabat
Nabi.296Sekiranya 'Awsajah disepakati status kesahabatannya, niscaya sanad
Hammad bin Zayd tidak akan dipersoalkan. Karena, walaupun 'Awsajah menerima
Hadits tersebut dari Ibn 'Abbas juga, jadi tidak menerima langsung dari Nabi, sanad
'Awsajah akan disepakati oleh mayoritas 'Ulama' Hadits sebagai "bersambung"
dalam status sebagai Hadits mursal shahabiy.297
294 Al-Asqalaniy, op.cit., h.20-21. Hadits ini selain diriwayatkan oleh al-Turmudziy, al-Nasa'iy, dan Ibn
Majah, dengan sanad yang sama, diriwayatkan juga oleh Ahmad bin Hanbal. Abu Dawud meniwayatkan juga
Hadits tersebut dengan sanad yang lengkap sebagai berikut: [1] Musa bin Ismall; [2] Hammad bin Zayd; [3]
'Amr bin Dinar; [4] Awsajah; dan [5] Ibn 'Abbas. Lihat: Ibn Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, dengan
catatan pinggir (hamisy) dari ’Aliy bin Hisam al-Din al-Mutqiy, Muntakhab Kanz al-'Ummal fiy Sunan al-
Aqwal wa al -Aral (Beirut: Al-Maktab al-Islamiy, 1398 H 1978M). J.I, h.221; -Abu Dawud, op. cit.. J.III, h. 124; Al-
Turmudziy, Sunnan al-Turmudziy wa Huwa al-Jamr al-Shahih (Beirut: Dar al-Fikr, 1400H/1980M), J.III, h.286;
Ibn Majah, Susan Ibn Majah (Beirut: Dar al-Fikr[tth]), J.II, h.915.
295Ibid. (al-'Asqalaniy), h.21; al-Suyuthiy, op. cit., h. 235. Sebagaimana telah dikemukakan di catatan kaki
sebelumnya, sanad Hammad bin Zayd dipakai juga oleh Abu Dawud tapi sanad tersebut melalui Ibn 'Abbas. Jadi,
sanad Hammad yang disebutkan oleh Ibn Hajar bukanlah sanad yang dipakai oleh Abu Dawud.
296Status kesahabatan 'Awsajah, lihat: al-'Asqalaniy, Kitab al-Ishabat fiy Tamyiz at-Shahabah (Beirut: Dar
al-Fikr, 1398H/1978M), J.III, h.182.
297Hadits mursal shahabiy ialah Hadits yang terputus sanad-nya di tingkat rawi sahabat dan yang
memutuskan adalah rawi yang berstatus sahabat juga. Hadits jenis ini oleh mayoritas 'Ulama' dianggap
bersambung sanad-nya dan dinyatakan berkualitas shahih bila syarat-syarat lainnya telah terpenuhi. Alasan
mayoritas 'Ulama' tersebut ialah bahwa orang yang memutuskan sand tersebut adalah rawi yang berstatus sahabat,
sedang semua sahabat bersifat adil. Di samping itu ada pula Hadits mursal jenis lain, yang oleh 'Ulama' diberi
istilah sebagai Hadits mursal Yatni, Hadits yang terputus sanad-nya di tingkat rawi sahabat dan yang
me mut us ka nnya a d al a h ra wi ya n g b er s t at us Had i t s mu r sal ol e h mayoritas Mama Hadits dinyatakan
terputus sanad-nya dan karenanya berkualitas dhar. Lihat: Ibn al-Shalah, op.cit., h.47-51; al-Nawawiy, op.cit.,
h.6-7: Ibn Kasir, op.cit., h.25-28; Al-'Ala'iy,
89
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
2).Bunyi matn Hadits untuk semua sanad di atas sama, minimal semakna.
3).Semua rawi dalam berbagai sanad di atas tsiqqah.
4).Rangkaian para rawi mulai dan rawi terakhir sampai ke 'Awsajah bersambung,
dan dari 'Awsajah ke Ibn 'Abbas juga bersambung.
Dari contoh Hadits yang sanad-nya berkualitas syadz di atas dapatlah dinyatakan,
bahwa ke-syadz-an sanad Hadits baru dapat diketahui setelah diadakan penelitian
sebagai berikut:
1).Semua sanad yang mengandung matn Hadits yang pokok soalnya memiliki
kesamaan dihimpun dan diperbandingkan;
2).Para rawi di seluruh sanad diteliti kualitasnya;
3).Bila seluruh rawi bersifat tsiqqah dan ternyata ada seorang rawi yang sanad-nya
menyalahi sanad-sanad lainnya, maka sanad yang menyalahi itu disebut sanad syadz
sedang sanad-sanad lainnya disebut sanad mahfuzh.
Jadi, bila terjadi pertentangan antara para rawi dengan rawi lain yang sama-sama
bersifat tsiqqah, maka rawi yang sendirian "dikalahkan" oleh rawi yang banyak. Rawi
yang banyak dalam hal ini "dimenangkan", karena mereka dimlai lebih kuat atau lebih
tsiqqah (awsaq). Bila istilah tsiqqah, seperti telah dikemukakan di pembahasan
terdahulu, merupakan gabungan dari istilah adil dan dhabith, maka "dikalahkannya"
rawi yang tsiqqah oleh rawi yang lebih tsiqqah bukanlah dari segi keadilannya,
rnelainkan dari segi ke-dhabith-annya. Karenadimaksudkan untuk menghadapi Hadits
yang memiliki tawabi' atau syawahid yang tidak bertentangan. Sedang kata atau
dipakai untuk menghadapi Hadits yang memilikli tawabi' atau:
1). Sifat adil adalah sifat dasar yang harus dimiliki oleh seorang rawi yang dapat
dipercaya. Rawi yang tidak termasuk adil tidak dapat diterima riwayatnya,
walaupun misalnya rawi itu memiliki hafalan yang sempurna. Ketidak adilan
seseorang menjadikan diri orang itu tidak dapat dipercaya riwayatnya.
2).Dalam pembahasan yang lalu telah dikemukakan, bahwa tingkat ke-dhabith-an rawi
ada dua macam, yakni dhabith dan dhabith plus (tamm al-dhabth). Di samping itu,
ada pula istilah khafif al-dhabth, yakni kurang sedikit ke-dhabith-annya dan
kualitas Haditsnya disebut Hadits hasan.298Sedang sifat adil, walaupun pada
kenyataannya tingkat intensitas keadilan rawi dapat saja berbeda-beda, tapi dalam
ilmu Hadits tidak dikenal istilah-istilah a'dal (lebih adil) dan khafif (kurang
sedikit keadilannya).
Dapatlah ditegaskan, bahwa penyebab utama terjadinya syadz sanad Hadits adalah
karena perbedaan tingkat ke-dhabith-an periwayat. Bentuk kongkret ke-syadz-an
sanad Hadits dalam hal ini, seperti contoh di atas, adalah keterputusan sanad.Jadi,
sekiranya unsur sanad bersambungatau unsur rawi bersifat dhabith benar-benar telah
terpenuhi, niscaya ke-syadz-an sanad tidak akan terjadi. Ini berarti, unsur terhindar dari
Jami' al-Tahsil fiy Ahkam al-Marasil. Naskah diteliti dan diberi notasi oleh Hamdiy 'Abd al-Majid al-Salafiy
(Ihya’ al-Turas al-Islamiy. Kementerian Waqaf Iraq, 1978), h. 14-24; 47-108.
298 Istilah khafif al-dhabth dalam hubungannya dengan pengertiann Hadits hasan, lihat misalnya Shubhiy al-
Shalih, op. cit., i.h. 156-157; al- Khathib, op. cit., h. 332.
90
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
syudzudz sesungguhnya tidaklah berkedudukan sebagai unsur qa'idah mayor, tapi
berkedudukan sebagai unsur qa'idah minor. Keberadaan unsur terhindar dari syudzudz
dalam konteks definisi mengenai Hadits shahih bersifat metodologi dan penekanan akan
keberadaan unsur-unsur sanad bersambungataupun rawi bersifat dhabith (tepatnya
dalam hal ini: rawi yang tamm al-dhabith).
Untuk memperjelas pernyataan tersebut, berikut ini dikemukakan sebuah matn
Hadits yang mengandung syudzudz:
.(ٕاذا صﲆ ا دﰼ ر عﱵ الفجر فليضطجع ﲆ ﳝينه )رواه ابو داود والﱰمﺬى عن اﰊ هررة
{Bila seseorang di antaramu telah salat fajar dua rakaat, maka hendaklah dia
berbaring miring di atas rusuk kanan. (HR Abu Dawud dan al-Turmudziy dari Abiy
Hurairah)}. 299
Matn Hadits ini berbentuk qawliy (sabda). Sanad Abu Dawud dan al-Turmudziy
bertemu pada rawi yang bernama Abd al-Wahid bin Ziyad. Sanad 'Abd al-Wahid ialah
al-A'masy, Abu Shalih, dan Abu Hurairah. Abu Hurairah menerima Hadits itu dari
Nabi.300 Menurut penelitian al-Bayhaqiy (w.458H/1066M), jumlah murid al-A'masy
yang menerima Hadits tersebut banyak. Salah seorang di antaranya ialah Abd al-
Wahid di atas. Seluruh rawi Hadits itu bersifat tsiqqah. Ternyata, matn Hadits riwayat
para murid al-A'masy, selain Abd al-Wahid, berbentuk fi'liy (perbuatan). Dalam
keadaan yang demikian ini, maka matn riwayat 'Abd al-Wahid yang berbentuk qawliy
tersebut dinyatakan sebagai matn yang syadz. Sedang matn riwayat murid-murid al-
A'masy lainnya dinyatakan sebagai matn yang mahfuzh.301
Dari contoh di atas ternyata, syudzudz pada matn barulah dapat diketahui setelah
seluruh matn dan sanad Hadits itu diperbandingkan. Karen semua rawi Hadits itu
bersifat tsiqqah dan sanad-nya bersambung, maka matn yang menyalahi riwayat dari
banyak rawi dinyatakan mengandung syadz. Mengapa para rawi yang sama-sama
bersifat tsiqqah (adil dan dhabith) mengalami perbedaan atau pertentangan? Sebab
utamanya ialah karena terdapat perbedaan tingkat ke-dhabith-an dan bukan perbedaan
tingkat keadilan. Dengan contoh di atas makin jelas, unsur terhindar dari syudzudz
bukan unsur qa'idah mayor, tnelainkan sebagai salah saw unsur qa'idah minor dari
rawi bersifat dhabith. Mestinya unsur qa'idah mayor yang disebut terakhir ini
berbunyi: rawi bersifat dhabith dan atau tamm al-dhabith. Kata dan syawahid yang
berbeda atau bertentangan. Bila bentuk Hadits yang diteliti adalah fard muthlaq, maka
kata-kata dan atau tamm al-dhabith tidak difungsikan, sehingga unsur qa'idah mayor
itu hanya berbunyi rawi bersifat dhabith saja.
Pada unsur sanad bersambung ditambah unsur qa'idah minornya dengan terhindar
dari syudzudz, maka sanad yang dinyatakan bersambung telah benar-benar
bersambung.Jadi, dalam batas pembahasan ini, rincian unsur qa'idah minor dari sanad
bersambungialah: [1] muttashil; [2] marfu; dan [3] mahfuzh. Sedang rincian unsur qa'idah
minor dari rawi bersifat dhabith ialah: [1] hafal dengan baik Hadits yang
299Abu Dawud, op. cit., J.II, h. 21; al-Turmudziy, op. cit., J.I, h. 263.
300Ibid.
301 Al-Suyuthiy, loc. cit., ; Shubhiy al-Shalih, op. Cit., h. 201.
91
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
diriwayatkannya; [2] mampu dengan baik menyampaikan Hadits yang dihafalnya; dan
[3] terhindar dari syadz.Rincian unsur qa'idah minor dari dua unsur qa'idah mayor
tersebut masih akan disinggung lagi dalam pembahasan unsur qa'idah mayor terhindar
dari 'illat. Karena terhindar dari 'illat berkaitan juga dengan rawi dan persambungan
sanad.
e. Terhindar dari Cacat (‘Illat)
Pengertian ‘Illat302 menurut istilah ilmu Hadits, seperti yang dikemukakan oleh Ibn
al-Shalah dan al-Nawawiy, ialah sebabyang tersembunyi yang merusakkan kualitas Hadits.
Keberadaannya menyebabkan Hadits yang pada lainnya tampak berkualitas shahih
menjadi tidak shahih.303
Pengertian 'illat di sini bukanlah pengertian umum mengenai sebab kecacatan
Hadits, misalnya karena periwayatnya pendusta atau tidak kuat hafalan. Cacat umum
seperti ini dalam ilmu Hadits disebut dengan istilah tha'n atau jarh,304dan terkadang
diistilahkan juga dengan ‘Illat305dalam arti umum. Cacat umum ini dapat
mengakibatkan juga lemahnya sanad. Rawi yang cacat dapat pula memberi petunjuk
kemungkinan terjadinya keterputusan sanad. Terhadap cacat umum tersebut, 'Ulama'
Hadits pada umumnya tidak banyak menjumpai kesulitan untuk menelitinya.
Sedangkan terhadap 'illat yang dimaksudkan oleh unsur qa'idah mayor di atas, tidak
banyak 'Ulama' Hadits yang mampu menelitinya.306Karena, Hadits yang ber-
'illat tampak berkualitas shahih.
Dalam hubungan ini, 'Abd al-Rahman bin Mandiy (w.194H/814M) menyatakan,
untuk mengetahui 'illat Hadits diperlukan intuisi (ilham).307Sebagian 'Ulama'
menyatakan, orang yang mampu meneliti 'illat Hadits hanyalah orang yang cerdas,
memiliki hafalan Hadits yang banyak, paham akan Hadits yang dihafalnya, mendalam
pengetahuannya mengenai berbagai tingkat ke-dhabith-an rawi dan ahli di bidang
sanad dan matn Hadits.308 Al-Hakim al-Naysaburiy berpendapat, acuan utama
penelitian 'illat Hadits ialah hafalan, pemahaman dan pengetahuan yang luas
mengenai Hadits.309 Semua pernyataan 'Ulama' ini memberikan petunjuk bahwa
penelitian 'illat Hadits sangat sulit.
Menurut 'Aliy bin al-Madiniy dan al-Khathib al-Baghdariiy, untuk mengetahui
'illat Hadits, terlebih dahulu semua sanad yang berkaitan dengan Hadits yang diteliti
dihimpunkan.310Hal ini dilakukan, bila Hadits tersebut memiliki tawabi' dan atau
syawahid.Sesudah itu, seluruh rangkaian dan kualitas rawi dalam sanad itu diteliti
302Kata ’Illat. jamaknya: ’illal atau ’illat, Menurut bahasa, kata 'illat dapat berarti: cacat,kesalahan baca, penyakit dan
keburukan. Lihat: Ibn Manzhur, op. cit., J.XIII, h.498: al-Fayyumiy, op.cit., J.II, h.509.
303Ibn al-Shalah, op. cit., h. 81; al-Nawawiy, op. cit., h. 10; Nur al-Din 'Itr, op. cit., h. 447.
304 Lihat penjelasan mengenai tha'n al-Hadits atau jarh al-Hadits dalam: al-’Asqalaniy, Nuz-hat al-Nazhar, op.
cit., h. 30-32, al-Qariy, op. cit., h. 120-133.
305 Ibn al-Shalah, op. cit., h. 84; al-Nawawiy, loc. Cit.
306Al-‘Asqalaniy, op. cit., h. 33; at-Tirmisiy, op. cit., h. 86.
307Al-Hakim, op. cit., h.113; al-Suyuthiy, op. cit., J. I, h.252;; Nur al-Din 'Itr, op. cit., h.453.
308Ibn al-Shalah, op. cit., h. 81; al-'Asqalaniy, op. cit., h. 33; al-Tirmisiy, op. cit., h. 86.
309Al-Hakim, op. cit., Ph. 112-113.
310Ibid. (Ibn al-Shalah). h. 82; al-Suyuthiy, op. cit., h. 253.
92
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
berdasarkan pendapat para kritikus rawi dan 'illat Hadits.311'Illat Hadits, seperti juga
syudzudz Hadits, dapat terjadi di matn, di sanad, atau di matn dan sanad sekaligus. Tapi
yang terbanyak, 'illat Hadits terjadi di sanad.312
Al-Hakim telah mengemukakan sepuluh macam contoh Hadits yang mengandung
'illat. Kesepuluh macam Hadits itu tampak berkualitas shahih, pada hal setelah diteliti
lebih mendalam, ternyata sebagian besar Hadits dimaksud sanad-nya terputus dan
sebagian lagi periwayatnya lemah.313Salah satu contoh Hadits yang dinyatakan ber-
'illat oleh al-Hakim tersebut disanggah oleh al-'Iraqiy dan sanggahan itu disetujui oleh
Ahmad Muhammad Syakir. Hadits yang oleh al-Hakim dinyatakan ber-'illat tapi
oleh al-iraqiy dinyatakan tidak ber-'illat itu bunyi sanad dan matn-nya sebagai
berikut:
دثنا ابو العباس ﷴ ن يعقوب قال ثنا ﷴ ن ٕاﲮاق الصغاﱏ قال قال ثنا ﲩاج ن ﷴ قال قال
ان جرﱕ عن موﳻ ن عق ة عن سهيل ن اﰉ صاﱀ عن ابيه عن اﰉ هررة عن النﱯ )ص م( قال
من لس ﳎلسا كﱶ ف ه لغطه فقال ق ل ان يقوم سب انك الهم وﲝمدك ﻻ ٕا ٕاﻻ ٔنت ٔستغفرك
. ؤتوب ٕاليك ٕاﻻ غُفر ما ﰷن ﰱ ﳎلسه ذا
{Telah memberitakan kepada kami Abu al-‘Abbas Muhamad bin Ishaq al-Shaghaniy. Dia (al-
Shagniy) berkata, telah memberitakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad. Dia (Hajjaj)
menyatakan, telah berkata Ibn Jurayj, (riwayat berasal) dari Suhayl bin Abiy Shalih, dan
ayahnya, dari Abiy Hurairah, dan Nabi SAW, sabdanya: "Barangsiapa yang duduk di suatu
majlis yang di dalamnya banyak kegaduhan, kemudian sebelum berdiri dia mengucapkan:
'SubhanaKa allahumma wa bi hamdiKa la ilaha illa Anta astaghfiruKa wa atubu (Maha
Suci Engkau ya Allah dan dengan puji-Mu, tidak ada Tuhan kecuali Engkau, aku mohon
ampun dan bertobat ke hadirat-Mu), maka dia diampuni dosanya selama dia berada
dalam majlis itu}.314
Pernilaian al-Hakim didasarkan pada hasil penelitian al-Bukhariy. Menurut al-
Bukhariy, Musa bin 'Uqbah tidak pernah mendengar atau menerima Hadits dan
Suhayl bin Abiy Shalih. Rawi yang menerima Hadits dan Suhayl ialah Musa bin
Isma’il. Karenanya, Hadits di atas sanadnya mengandung cacat atau 'illat.315Dalam hal
ini terputus sanad-nya antara Musa bin 'Uqbah dengan Suhayl bin Abiy Shalih.'Ulama'
Hadits umumnya menyatakan, 'illat Hadits kebanyakan berbentuk: [1] sanad yang
tampak muttashil dan marfu’, ternyata muttashil tapi mawquf; [2] sanad yang tampak
muttashil dan marfu', ternyata muttashil tapi mursal (hanya sampai ke Tabi'iy); [3]
terjadi percampuran Hadits dengan bagian Hadits lain; dan [4] terjadi kesalahan
311Al-Sakhawiy, Fath al-Mughits, op. cit.. J. 1. h. 210-211; Syakir, op. cit.. h. 37; Nur al-Din 'Itr op. cit.. h.
450-452.
312Ibn al-Shalah, op. cit., h. 82-83; al-Nawawiy, loc. Cit.
313Al-Hakim, op. cit.. h. 113-119; al-Suyuthiy, op. cit.. J.I, h. 258-261.
314Ibid. (al-Hakim,h.113; al-Suyuthiy,h.258-259). Imam Ahmad meriwayatkan juga Hadis ini. Sanad
Ahmad bertemu pada rawi yang bernama Hajjaj bin Muhammad. Lihat: Ibn Hanbal, op.cit.,J.11, h.494.
315Ibid. (al-Hakim, h.113-114; al-Suyuthiy, h.259). Menurut al-lraqiy yang disetujui juga oleh Ahmad
Muhammad Syakir, Hadits di atas tidak hanya diriwayatkan oleh Abu Hurairah saja, tapi juga oleh al-Zubayr
bin 'Awwam. Ibn 'Abbas, Anas bin Malik, 'A'isyah, dan lain-lain. Hadits tersebut kualitasnya sahib. Lihat:
al-Iraqiy, op. cit., h. 118; dan Syakir, op. cit., h. 60. Pendapat ini dapat diterima, bila yang dimaksudkan
adalah matn-nya. Pada hal yang dimaksudkan oleh al-Hakim adalah sanad-nya, dan itu pun sanad yang dipakai
oleh Abu al-'Abbas Muhammad bin Ya'qub sampai ke Abiy Hurairah.
93
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
penyebutan periwayat, ;arena ada lebih dari seorang rawi memiliki kerniripan nama
sedang kualitasnya tidak sama-sama tsiqqah.316 Dua bentuk 'illat yang disebut pertama
berupa sanad Hadits terputus sedang dua bentuk 'illat yang disebut terakhir berupa rawi
tidak dhabith, sedikitnya tidak tamm al-dhabith.
Jadi, sekiranya unsur-unsur sanad bersambung dan rawi bersifatdhabith dan atau
tamm al-dhabth benar-benar telah terpenuhi, maka sebenarnya unsur terhindar dari 'illat
tidak perlu ditetapkan sebagai salah menurut hasil penelaahan, kedua unsur tersebut
diletakkan pada qa'idah minor. Mayoritas 'Ulama' Hadits berbuat demikian, ada dua
kemungkinan penyebabnya:
1). Kedua unsur itu memang merupakan unsur-unsur yang mandiri, terlepas dari
ketiga unsur qa'idah mayor yang disebut terdahulu. Dugaan ini timbul, karena
hampir seluruh kitab ilmu Hadits yang membahas definisi Hadits sahib yang
penulis jadikan bahan rujukan, tidak ada yang menerangkan status kedua unsur
tersebut. Bila dugaan ini benar, maka berarti ada sanad yang benar-benar bersambung
dan diriwayatkan oleh para rawi yang benar-benar adil dan dhabith (dan atau tamm
al-dhabth) ternyatamasih ber-syudzudz atau ber Hal ini tidak mungkin terjadi.
Karena, seperti telah dibahas, sanad yang ber-syudzudz dan yang ber-'illat,
penyebab utamanya ternyata ada yang, karena tidak bersambung sanad-nya atau
tidak sempurna ke-dhabith-an periwayatnya.
2).Kedua unsur itu disebut dengan maksud sebagai penekanan (ta’kid) akan
pentingnya pemenuhan kedua unsur dimaksud sebagai sikap hati-hati semata.
Jadi, kedua unsur itu bukanlah sebagai unsur-unsur qa'idah mayor, melainkan
sebagai unsur-unsur qa'idah minor. Dugaan ini timbul dengan alasan-alasan sebagai
berikut:
a). Menurut penelitian al-'Iraqiy (w.806 II = 1401M), kalangan 'Ulama' al-
mutaqaddimin ada yang memasukkan Hadits syadz dan mu 'all (yang ber illat)
dalam kategori Hadits sahib, bila syarat-syarat tertentu lainnya telah
terpenuhi.317Untuk menghindari agar tidak terjadi kerancuan pendefinisian
Hadits shahih, maka kedua unsur itu disebut:
b). Dalam kegiatan penerimaan dan penyampaian riwayat Hadits (tahamnud wa ada'
al-Hadits), secara teknis, penerima dan penyampai riwayat Hadits dimungkinkan
hidup tidak dalam satu zaman. Misalnya, periwayatan dalam bentuk ijazah tertentu
dan al-washiyyah.Untuk menghindari terjadinya hal ini, maka kedua unsur tersebut
dkantumkan.
Dugaan kemungkinan yang kedua di atas lebih kuat. Dengan demikian, definisi Hadits
shahih yang dikemukakan oleh mayoritas 'Ulama' Hadits telah memenuhi kriteria jami'
(melingkupi) dan mani' (keberadaan unsur tidak mengurangi ketercakupan bagian-bagian
yang didefinisikar). Kata-kata terhindardari syudzudz dan terhindar dari 'illat berstatus
sebagai unsur-unsur qa'idah minor. Kedua unsur qa'idah minor itu muncul dalam lafazh
definisi dengan tujuan untuk penekanan dan kehati-hatian semata.
316Ibn al-Shalah, op.cit., h.82; al-Sakhawiy, op.cit., J. I, h.211; al-Suyuthiy, op.cit., J.I, h. 253-
317Al-lraqiy, op. cit., h. 21.
94
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Bila kedua unsur dimaksud sekedar berstatus sebagai unsur-unsur dari qa'idah minor
semata, maka timbul soal "baru", yakni bagaimana unsur-unsur qa'idah mayor dari
keshahihan matn Hadits. Tampaknya, unsur-unsur qa'idah mayor keshahihan matn Hadits
tidak hanya terhindar dari syudzudz dan terhindar dari 'illat saja, tapi masih ada unsur lagi.
Dalam hubungan ini, masih diperlukan penelitian tersendiri yang lebih mendalam.
4. Argumen-ArgumenQa'idah Keshahihan Hadit
Tujuan utama qa'idah keshahihan sanad Hadits ialah untuk meneliti dan menetapkan
shahih-tidaknya suatu sanad Hadits. Unsur-unsur yang terkandung dalam qa'idah tersebut
ditetapkan berdasarkan argumen-argumen tertentu.Yang dipersoalkan di sini ialah
seberapa jauh relevansi argumen-argumen itu dengan keberadaan unsur-unsur qa'idah
tersebut dan dengan tujuan penelitian menetapkan shahih-tidaknya suatu berita, dalam hal
ini Hadits Nabi. Di samping itu, dipersoalkan juga penting-tidaknya keberadaan
masing-masing unsur dalam qa'idah.
Berdasarkan pengertian masing-masing unsur dari qa'idah mayor dan qa'idah minor,
jumlah unsur qa'idah mayor "disederhanakan" dari lima unsur menjadi tiga unsur. Untuk
kepentingan pembahasan dalam kajian ini, jumlah unsur qa'idah mayor masih
dikemukakan sebanyak lima unsur. Hal ini sekaligus dimaksudkan sebagai bahan penguji,
apakah penyederhanaan organisasi unsur-unsur qa'idah mayor dimungkinkan.318
a. Sanad Bersambung
Dalam pembahasan tahamul wa ada' al-Hadits telah dikemukakan cara periwayatan
yang sah dan yang tidak sah. Periwayatan yang sah din yang tidak sah. Periwayatan
yang sah bukan hanya ditentukan oleh kesezamanan antara rawi dengan rawi yang terdekat
dalam sanad saja, melainkan juga ditentukan oleh cara yang tidak diragukan ketika rawi
menerima riwayat Hadits tersebut.
Khusus cara periwayatan dengan al-sama', misalnya, mayoritas 'Ulama' Hadits
telah menempatkannya pada peringkat tertinggi. Tapi dalam hal ini, 'Ulama' tidak
menerangkan argumen yang mendasarinya. Kelihatannya, argumen-argumen yang
mendasarinya ialah:
1).Tradisi periwayatan Hadits pada zaman Nabi dan zaman sahabat Nabi, yang
terbanyak berlangsung secara al-sama'. Dalam cara al-sama', telah terjadi hubungan
langsung antara penyampai dan penerima berita (Hadits). Bila hal ini terdapat dalam
sanad, maka sanad dimaksud dinyatakan bersambung. Kalau begitu, argumen yang
mendasari unsur sanad bersambung dalam hal ini adalah argumen sejarah. Yakni,
sejarah periwayatan Hadits pada zaman Nabi dan zaman sahabat Nabi.
2). Nabi telah bersabda kepada para sahabatnya:
َ ْس َم ُعـ ْو َن َو َ ْس َم ُع ِم ْ ُ ْﲂ َو َ ْس َم ُع ِمم ْن َ ِﲰ َع ِم ْ ُ ْﲂ )رواه ابو داود عن ان عباس وان اﰉ اﰎ الرازي
.(عن بت ن ق س وان عباس
{Kamu (para Shahabat) mendengar (Hadits dariku). Orang lain mendengar dari
kamu, dan orang lain lagi mendengar dari oerang yang mendengar dari kamu.(HR
95
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Abu Dawud dari Ibn 'Abbas, dan Ibn Abiy Hatim aI-Raziy dari Tsabit bin Qays
dan Ibn 'Abbas)}.319
Sabda Nabi ini menerangkan, bahwa para sahabat Nabi mendengar Hadits
dari Nabi, orang lain mendengar Hadits dari para sahabat, kemudian orang lain lagi
mendengar Hadits itu dari orang yang telah mendengarnya dan sahabat Nabi
tadi.320Dari sabda Nabi di atas juga dapat dipahami, bahwa cara periwayatan Hadits
yang secara tegas diakui keabsahannya adalah cara al-sama'. Hal ini memang sangat
sesuai dengan keadaan masyarakat pada zaman itu. Di samping itu, Hadits di atas
juga memberikan petunjuk, bahwa tersebarnya Hadits dari Nabi sampai ke generasi
berikutnya melalui proses persambungan sanad.Jadi, untuk generasi sesudah zaman
Nabi, Hadits yang sampai kepada mereka barulah dinyatakan sah, bila Hadits itu
memiliki sanad yang bersambung sampai kepada Nabi. Kalau begitu, unsur sanad
bersambung memiliki argumen naqliy, yakni Hadits Nabi di atas.
3). Penghimpunan Hadits secara resmi dan massal baru terjadi pada abad II dan IIIH.
Sebelum masa penghimpunan tersebut, periwayatan Hadits pada umumnya
berlangsung secara lisan. Kalau begitu, antara Nabi dengan para penghimpun
Hadits terdapat mata rantai para periwayat. Bila mata rantai para rawi terputus,
maka berarti telah terjadi keterputusan sumber. Bila sumber riwayat suatu Hadits
terputus, maka berarti Hadits itu tidak dapat dipertanggung-jawabkan ke-
orisinalannya. Jadi menurut pertimbangan akal (logika), sanad bersambung
merupakan salah satu unsur yang harus dipenuhi oleh suatu Hadits yang berkualitas
shahih.
Dengan demikian dapatlah ditegaskan, bahwa argumen-argumen yang
mendasari unsur sand bersambung bagi keshahihan sand Hadits adalah kuat, yakni
berupa argumen-argumen sejarah, naqliy, dalam hal ini Hadits Nabi, dan logika.
Ini berarti, salah satu unsur yang harus dipenuhi oleh suatu sanad yang shahih
adalah persambungan mata rantai para rawi yang terdapat dalam sanad itu.
b. Rawi Bersifat Adil
1). Beragama Islam
Ke-Islaman merupakan salah satu unsur yang harus dipenuhi oleh rawi yang
adil. Yakni, ketika rawi itu menyampaikan riwayat Hadits dan bukan ketika
menerimanya. 'Ulama' berbeda pendapat mengenai argumen unsur beragama Islam
ini. Mayoritas 'Ulama' memakai argumen Al-Qur'an Surat al-Hujurat/49, ayat 6.
Ayat dimaksud memerintahkan agar berita yang dibawa oleh orang fasik diselidiki
terlebih dahulu. Dengan menunjuk ayat tersebut, kebanyakan 'Ulama' berpendapat,
orang fasik saja tidak dipat diterima riwayat Haditsnya, apalagi orang kafir.321
Sebagian 'Ulama' memakai argumen pemahaman terhadap Al-Qur'an Surat
al-Bagarah/2: 282. Dengan menyebut bagian ayat tersebut, yakni lafazh:
319Abu Dawud, op. cit., J. III, h. 322; al-Raziy, op. cit., J. II, h. 8-9.
320Abu al-Thayyib Muhammad Syams al-Haqq Abadiy (Abadiy). Awn al-Ma'bud Syarh Sunan Abiy Dawud
([ttp]: Dar al-Fikr dan al-Maktabat al-Salafiyyah, 1399H/1979M), J. X, h. 93-94.
321Al-Ghazaliy, op.cit., h.182; al-Amidiy, op.cit., J.I, h.261; al-Syawkaniy, op.cit., h.45.
96
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
( ّﳑن رضون من الشهد ٓءdari saksi-saksi yang kamu ridhai), mereka menyatakan bahwa
orang yang tidak beragama Islam tidak termasuk ahl al-ridha322 (golongan yang
disukai orang Islam). Kalangan 'Ulama' lainnya memakai argumen aksioma (al-
badihiy). Mereka menyatakan, Hadits itu berkenaan dengan sumber ajaran Islam.
Orang yang tidak beragama Islam, bagaimana mungkin dapat diterima beritanya
mengenai sumber ajaran Islam. Hanya orang yang beragama Islam saja yang dapat
diterima beritanya mengenai sumber ajaran Islam.323
Jadi, argumen-argumen yang mendasari unsur beragama Islam tidaklah berasal
dan dalil naqliy yang sharih, tapi berasal dari pemahaman ayat dan dalil logika.
Walaupun argumen-argumen tersebut berbeda-beda, tapi semua argumen itu saling
memperkuat.
2). Berstatus Mukalaf (al-Mukallaf)
Argumen yang mendasari unsur berstatus mukalaf ini tidak ada yang berupa
dalil naqliy yang sharih, dalam arti khusus untuk syarat periwayatan Hadits.
'Ulama' dalam hal ini menggunakan dalil naqliy yang sifatnya umum. Yakni,
Hadits Nabi yang menyatakan bahwa orang gila, orang lupa, dan anak-anak
terlepas dan tanggung jawab.324Ketentuan yang bersifat umum itu diterapkan juga
oleh 'Ulama' Hadits untuk periwayatan Hadits. Hal ini logis. Karena orang yang
belum atau tidak memiliki tanggung jawab tidak dapat dituntut apa yang diperbuat
atau dikatakannya.
Terlepas dari dalil Hadits di atas, dalam hal ini dapat dinyatakan pula, bahwa
argumen yang mendasari unsur berstatus mukalaf adalah argumen aksioma juga.
Karena pihak yang tidak berakal, atau dalam status tidak berakal, beritanya yang
bersifat umum saja tidak dapat dipercaya, apalagi beritanya yang berisi salah satu
sumber ajaran agama.
3). Melaksanakan Ketentuan Agama
Argumen pokok yang mendasari unsur melaksanakan ketentuan agamaialah firman
Allah dalam Surat al-Hujurat/49:6 yang berbunyi:
(6) ... َ ﳞَا ا ِ َن َٓ َم ُوا ا ْن َا َء ُﰼْ فَا ِس ٌق ِب َ َا َف َ َب ُوا
{Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa
322Nur al-Din 'Itr. op.cit., h.79. Ayat yang disebutkan itu berkenaan dengan identitas saksi dalam kegiatan muamalah.
Yakni mengenai jual-beli, utang-piutang dan sewa-menyewa, jadi tidak berkaitan langsung dengan masalah penyampaian
berita. Ayat yang berkaitan langsung dengan masalah penyampaian berita adalah ayat keenam darai surat al-Hjurat (QS
al-Hujurat/49:6). Itu mafhumnya lebih kuat daripada mafhum Surat al-Baqarah/2: 282.
323Al-Khudhariy Bik, op. cit., h. 182; Shubhiy al-Shalih, op. cit., h. 127.
324Al-Syawkaniy, op.cit., h.44; al-Khathib, op.cit., h.230-231. Lafazh matn, susunan sand dan kualitas Hadits
tersebut beragam. Al-Bukhariy meriwayatkannya secara mawquf. Abu Dawud, al-Turmudziy, al-Nasa'iy, Ibn Majah, al-
Darimiy. dan Ahmad meriwayatkannya secara marfu'. Itulah sebabnya, Ibn Hajar menyatakan bahwa riwayat al-
Bukhariy tersebut walaupun mawquf dihukumi sebagai marfu' juga, karena Hadits dimaksud memiliki mutabi' yang
marfu'. Lihat: Al-Bukhariy, al-Joni' al-Shahih (Shahih Al-Bukhariy), diberi catatan pinggir (hasyiyah) oleh al-
Sindiy (Beirut, Dar al-Fikr. [tth]), J.III, h.272; J.IV, h.176; Abu Dawud, op.cit., J.IV, h.139-141; al-Turmudziy,
op.cit., J.II, h.438; Al-Nasa'iy, Sunan al-Nasa'iy. diberi syarah oleh al-Suyuthiy dan diberi catatan kaki (hasyiyah)
oleh al-Sindiy (Beirut: Dar al-Fikr, 1348H/1930M), J.IV. h.156; Ibn Majah, op.cit., J.I, h.658; al-Darimiy, op.cit.,
J.II, h.171; Ibn Hanbal, op.cit.. J.I, h.116, 118, 140, 155, 158, dan lain-lain; al-'Asqalaniy, Fath al-Bariy, Loc.Cit.
97
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
suatu berita maka periksalah dengan teliti. (Q.S. al-Hujurat/49: 6)}.
Ayat ini memerintahkan agar berita yang berasal dari orang fasik diteliti
(diselidiki) kebenarannya. Mayoritas 'Ulama' menggunakan ayat tersebut sebagai
dalil bahwa riwayat (Hadits) yang diriwayatkan oleh orang fasik harus ditolak.325
'Ulama' berpendapat demikian, tampaknya didasarkan atas pertimbangan
bahwa ayat di atas berkenaan dengan berita dalam anti umum, bukan berkenaan
dengan berita mengenai sumber ajaran agama. Berita yang sifatnya umum yang
dibawa oleh orang fasik haruslah diteliti, maka berita dari orang fasik yang
berkenaan dengan sumber ajaran agama Islam, dalam hal ini Hadits Nabi, harus
ditolak.
Bila ayat di atas dihubungkan dengan sebab turunnya, maka kata fasik dalam
hal ini berarti orang yang berkata bohong.326Sebagian 'Ulama' mengartikan kata
fasik dalam ayat tersebut dengan pendusta. Sebagian 'Ulama' lagi mengartikannya
dengan orang yang dikenal berbuat dosa.327 Pendapat-pendapat tersebut tidak
bertentangan. Sebab, orang yang suka berbohong adalah orang yang melakukan
perbuatan dosa, walaupun tidaklah setiap orang berbuat dosa disebut sebagai orang
fasik.
Dalam menerapkan petunjuk Al-Qur'an, kebanyak 'Ulama' menganut ketentuan
bahwa petunjuk yang berlaku adalah berdasarkan pengertian umum dari redaksi
ayat dan bukan berdasarkan kasus yang terjadi yang bersifat khusus (al-'ibrah bi
'umumal-lafth la bi khushush al-sabab).328 Bila ketentuan ini yang diterapkan, maka
ayat di atas tidak hanya berlaku bagi al-Walid bin 'Uqbah saja, yakni orang yang
telah membuat laporan bohong kepada Nabi, melainkan juga berlaku bagi orang-
325Al-Amidiy, op. cit., J.I, h.261 dan 269; al-Suyuthiy, Tadrib al-Rawiy, op.cit., J.I. h.300.
326Ayat tersebut turun berkenaan dengan laporan bohong yang dibuat al-Walid bin 'Uqbah. Suatu ketika, Nabi mengutus al-
Walid bin 'Uqbah untuk menerimakan zakat dart orang-orang Islam di Baniy al-Mushthalaq yang telah dijanjikan oleh al-
Haris bin Dhirar. Sebelum al-Walid tiba di kampung Baniy al-Mushthalaq, al-Walid merasa takut lalu segera kembali ke
Madinah dan melaporkan kepada Nabi bahwa al-Haris tidak mau menyerahkan zakat, bahkan al-Haris akan membunuhnya. Nabi
murka dan segera mengutus pasukan untuk mernerangi al-Haris dan kaumnya. Dalam pada itu, al-Haris dan kaumnya
pada saat itu sedang menunggu utusan yang dijanjikan Nabi untuk menerimakan zakat mereka. Karen utusan yang
ditunggu-tunggu tidak datang juga, maka al-Haris dan beberapa orang dari kaumnya lalu pergi menghadap
kepada Nabi. Sebelum bertemu dengan Nabi, al-Haris sempat bertemu dengan pasukan yang diutus Nabi.
Karenanya al-Haris lalu diperiksa oleh pimpinan pasukan tersebut. Al-Haris bersama rombongannya diizinkan
menghadap kepada Nabi. Tatkala al-Haris berada di hadapan Nabi, Nabi bertanya kepadanya mengenai berita
yang disampaikan oleh al-Walid bin 'Uqbah. Al-Haris lalu bersumpah dan menyatakan kepada Nabi, bahwa
utusan Nabi tidak pernah datang kepadanya untuk menerimakan zakat. Syandan, lalu turunlah ayat di atas.
Lihat: al-Raziy, op.cit.. J.II, h.4-6; Abu al-Hasan 'Aliy bin Ahmid al-Wahidiy (Asbab Nuzul al-Qur'an,
naskah diteliti dan diberi notasi oleh al-Sayyid Ahmad Shaqr (Riad: Dar al-Qiblat li Saqafat al-
Islamiyyah. 1404H/1984M), h. 412-414; al-Suyuthiy. Kitab Lubab al-Nuqul fiy Asbab al-Nuzul, termaktub sebagai
catatan pinggir (hamisy) pada kitab tafsir susunan Abu Thahir bin Ya'qub al-Fayruzabadiy, Tanwir al-Miqyas
min Tafsir Ibn 'Abbas (Beirut: Dar al-Fikr, (tth), h. 254-255.
327Al-Qurthubiy, op.cit., J.XVI, h.311-312. Menurut al-Zamakhsyariy (w.583 H), arti asal dari kata fasik
ialah keluar dari jalan yang lurus; aniaya. Lihat: al-Zamakhsyariy, fiy Gharib al-Hadits (Beirut: Dar al-Fikr,
1399H/1979M), J.III, h. 116.
328 Al-Zarkasyiy. al-Burhan fiy ‘Ulum al-Qur'an ([ttp]: Isa al-Babiy al-Halabiy wa Syurakah.
1376H/1957M). J.I, h.32; Al-Zarqaniy, Manahil al-'lrfan fiy ‘Ulum al-Qur'an ([ttp]: Isa al-Babiy al-Halabiy wa
Syurakah, [tth]), J.I, h.118-123; Muhammad al-'Arusiy 'Abd al-Qadir, Masalah Takhshish al-'Am bi al-Sabab
aw al- Ibrah bi al-Hukm la bi khusiutsh al-Sabab (Kairo: Al-Mathba'ah al-'Arabiyyah al-Haditsah,
1403H/1983M), h. 54-62.
98
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
orang lain yang melakukan kebohongan. Jadi, perintah Allah kepada orang-orang
beriman agar meneliti berita yang dibawa oleh orang fasik tidak hanya berlaku
pada zaman Nabi saja, melainkan juga berlaku pada zaman sesudahnya.
Dalam Al-Qur'an, kata fasik dengan berbagai bentuknya banyak disebut.329
Menurut al-Raghib al-Asfahaniy (w.502 H), kata fasik dipakai, Dengan demikian
dapat dinyatakan, bahwa yang mendasari unsur melaksanakan ketentuan agama
bukan hanya argumen naqliy saja, melainkan juga argumen logika dan kejiwaan.
4). Memelihara Muru'ah
Sebagian 'Ulama', misalnya Ibn Qudamah, mendasarkan unsur memeliharamuru’ah
ini pada Hadits Nabi yang mengatakan bahwa pernyataan para Nabi yang telah
dikenal manusia ialah, “Bila Anda tidak malu, perbuatlah apa yang anda mau.330 Orang
yang tidak memiliki rasa malu akan bebas melakukan apa saja yang
dikehendakinya. Jadi, Mura’ah menurut Ibn Qudamah disamakan artinya dengan
rasa malu. Orang yang memelihara rasa malunya berarti orang itu memelihara
Muru’ah-nya. Orang yang memelihara Muru’ah-nya tidak akan membuat berita
bohong. Karena, orang yang membuat berita bohong adalah orang yang
melakukan perbuatan hina. Perbuatan hina. Adalah perbuatan yang selalu
dihindari oleh orang yang memelihara muru'ah-nya.331
Muru'ah merupakan salah satu tata-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Seseorang yang tidak memelihara Muru’ah-nya, berarti orang itu telah
mengabaikan salah satu tata nilai yang berlaku dalam masyarakat. Hal ini dapat
berakibat, orang itu tidak dihargai oleh masyarakat. Orang yang tidak dihargai oleh
masyarakat berkecenderungan melakukan tindakan kompensasi untuk memperoleh
perhatian masyarakat. Boleh jadi, salah satu bentuk kompensasinya ialah
menyampaikan berita bohong.Jadi, argumen-argumen yang mendasari unsur
memelihara muru'ah selain berupa dalil naqliy, juga berupa dalil logika dan
kejiwaan.
5). Seluruh Sahabat Nabi Dinilai Bersifat Adil
Dalam pembahasan yang lalu telah dikemukakan, bahwa semua sahabat Nabi,
yakni orang Islam yang pernah bergaul atau melihat Nabi, dan meninggal dalam
keadaan Islam,332 dinilai bersifat adil oleh hampir seluruh 'Ulama'. Dalam
hubungan ini, Abu Zu’ah al-Raziy (w.264H/878M) menyatakan, barang siapa
329 Al-Qur'an, surat-surat: al-Baqarah/2: 26, 59, 99, 197, dan 282; Ali 'Imran/3: 82, 110; al-Ma'idah/5: 3, 25.
26, 47, 49, 59, 108; al-An'am/6: 49, 121, 145.
330Ibn Qudamah, Op. Cit., J.IX, h.168-169. Hadits di atas sejalan juga dengan Hadits yang menyatakan bahwa
rasa malu adalah sebagian dari iman. Kedua Hadits ini, antara lain diriwayatkan oleh al-Bukhariy. op.cit., J.1, h.13.
J.II, h.63; J.IV, h.68; Abu Dawud, op.cit., J.IV, h.219, 252; Ibn Majah, op.cit., J.I, h.22, J.II, h.1400; Ibn Hanbal,
op.cit., J.II, h.56, 147, dan lain-lain, J.IV, h.121-172, J.V, h.269, 273. Penjelasan lebih terurai: Al-‘Asqalaniy,
Fath al-Bariy, op.cit., J.I, h.51-53 dan 54, J.IV, h.515 dan 523, J.X, h.523.
331Ibid. (Ibn Qudamah), h.169. Hadits riwayat Ahmad dari Abiy Hurairah menyatakan: kemuliaan seseorang
diukur dari segi agama, muru’ah,akal ('aql), dan akhlaqnya. Lihat: Ibn Hanbal, op.cit., J.II, h.365; al-Dzahabiy,
Mizan al-i’tidal fiy Naqd al-Rijal ([tth]): 'Isa al-Babiy al-Halabiy, 1382H/1963M), J.IV, h.102.
332Ibn al-Shalah, op. cit., h. 263-264; Ibn Kasir, Ikhtishar al-Hadits. op. cit., h. 94-95; al-Suyuthiy, op. cit., J.II, h.
208-209; al-Sakhawiy, op. cit., J. III, h. 86-96.
99