Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
mengeritik sahabat Nabi yang mengakibatkan menurunnya kehormatan din sahabat
itu, maka orang tersebut termasuk zindiq. Orang itu telah menentang penghormatan
Allah dan Rasul-Nya yang telah diberikan kepada para sahabat Nabi.333 Pendapat
ini cukup berlebih-lebihan. Karena seluruh sahabat Nabi tanpa kecuali telah
dianggap sebagai manusia yang tak bercacat sedikit pun.
Kalangan 'Ulama' yang secara keras telah menyatakan bahwa seluruh sahabat
Nabi bersifat adil telah mengajukan berbagai argumen. Menurut mereka, banyak
ayat Al-Qur'an dan Hadits Nabi yang memberi petunjuk bahwa pernilaian
mengenai sifat mengenai adilnya seluruh sahabat Nabi telah merupakan ijmak
'Ulama'.334 Jadi, menurut kalangan 'Ulama' tersebut, argumen-argumen yang
mendasari sifat adilnya para sahabat Nabi adalah dalil-dalil Al-Qur'an, Hadits Nabi
dan ijmak 'Ulama'.
Dalil-dalil Al-Qur'an dan Hadits Nabi yang mereka kutip sebagai argumen
mengenai keadilan para sahabat Nabi tersebut memang cukup banyak. Pada
umumnya, dalil-dalil Al-Qur'an dan Hadits Nabi yang mereka kutip, dan pada
uraian berikutnya tersebut ditelaah satu-persatu, ialah:
a). Ayat-ayat Al-Qur'an yang termaktub dalam Surat al-Baqarah/2: 143, Surat Ali
Imran/3: 110, Surat al-Fath/48: 18 dan 19. Menurut mereka, ayat-ayat tersebut
memberikan petunjuk mengenai berbagai keutamaan para sahabat Nabi.
Dinyatakan demikian, karena umat Islam yang dimaksud oleh ayat-ayat itu
adalah umat Islam pada zaman Nabi.
b). Sabda-sabda Nabi yang menyatakan tentang: [a] larangan Nabi memaki para
sahabat beliau; dan [b] generasi umat Islam yang paling baik adalah generasi
Nabi, yakni para sahabat Nabi.335
Jadi menurut kalangan 'Ulama' tersebut, keadilan sahabat bukanlah
berdasarkan hasil penelitian terhadap para pribadi sahabat Nabi, tapi berdasarkan
pemahaman mereka terhadap dalil-dalil Al-Qur'an; dan Hadits Nabi di atas. Berikut
ini, ditelaah dalil-dalil naqliy tersebut sehingga dengan demikian dapat diketahui
maksud yang sebenarnya dari dalil-dalil itu:
a). Firman Allah dalam Surat al-Baqarah/2: 143 yang berbunyi:
(143)... { َو َك َﺬ ِ َ َج َعلْنَا ُﰼْ م ًة َو َس ًطاDan demikian (pula) kami telah menjadikan kamu (umat
Islam), umat yang adil dan pilihan… (QS al-Baqarah/2: 143)}.
Nabi Muhammad telah menerangkan salah satu pengertian dari ayat di atas.
Kata wasath di ayat itu beliau artikan dengan Dinyatakan oleh Nabi, bahwa
beliau dan umat Islam merupakan saksi yang adil terhadap kebenaran Nabi Nuh
333Al-'Asqalaniy, Kitab al-Ishabah, op. cit., J.I, h. 10; Nur al-Din Itr, op. cit.. h.123.
334Ibid. (al-‘Asqalaniy, h.10-12; Nur al-Din 'Itr, h.121-122); al-Syakawiy op.cit.J.III, h.100-103; Ibn
al-Shalah, op.cit., h.262-265; al-Qurtubiy, op.cit., J.XVI, h.297-299; al-Suyuthiy, op.cit., J.II, h.214-216; al-
Syawkaniy, op.cit., h.61.
335Ibid.
100
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
yang telah menyampaikan agama Allah kepada umatnya.336Kalau begitu, ayat
tersebut menerangkan keutamaan Nabi SAW dan umat Islam pada umumnya,
serta bukan hanya menerangkan keutamaan bagi para sahabat Nabi saja.
Kalangan 'Ulama' tafsir ada yang menjelaskan, ayat di atas merupakan
pernyataan Allah bahwa umat Islam merupakan umat yang sebaik-baiknya bila
dibandingkan dengan umat lainnya.337Dengan demikian makin jelas, bahwa ayat
tersebut tidak menerangkan kekhususan keutamaan sahabat Nabi dari umat Islam
lainnya. Jadi, ayat dimaksud tidak tepat digunakan sebagai argumen bahwa
seluruh sahabat Nabi adil.
b). Firman Allah dalam Surat All 'Imran/3:110 yang berbunyi:
(110) ... ِ ِ ُك ْن ُ ْﱲ َ ْ َﲑ م ٍة ْخ ِر َج ْت ِلنا ِس تَ ُم ُرو َن ِ لْ َم ْع ُرو ِف َو َ ْﳯَ ْو َن َع ِن الْ ُم ْن َك ِر َوتُ ْؤ ِم ُو َن
{Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh
kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada
Allah… (QS Ali 'Imran/3:110)}.
'Ulama' pada umumnya berpendapat, bahwa yang dimaksud
denganكنتمdalam ayat di atas ialah umat Islam secara umum, bila dibandingkan
dengan umat lainnya. Itu pun bila umatIslam melakukan amar ma’ruf nahy munkar
dan beriman kepada Allah. juga umat Islam pada masa berikutnya, asalkan mereka
melaksanakan syarat-syarat yang termaktub dalam ayat itu. Kalau begitu, ayat
tersebut juga tidak tepat dijadikan argumen khusus mengenai keadilan para sahabat
Nabi.
c). Firman Allah dalam Surat al-Fath/48: 18 yang berbunyi:
لَ َق ْد َر ِ َﴈ ا ُ َع ِن ا ْل ُم ْؤ ِم ِ َﲔ ا ْذ يُ َبا ِي ُعونَ َك َ ْﲢ َت الش َج َرِة َف َع ِ َﲅ َما ِﰲ قُ ُلو ِ ِﲠ ْم فَ ْ َز َل الس ِك نَ َة َلَ ْ ِﳱ ْم َو َ َﲠُ ْم فَ ْ ًا
(18) َق ِري ًبا
{Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji
setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati
mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada
mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya). (QS al-Fath/48: 18)}.338
Ayat tersebut merupakan pernyataan kerelaan Allah kepada orang-orang
yang beriman yang telah melakukan sumpah setia di bawah sebatang pohon.
Sumpah itu dikenal dengan nama Bay 'at al-Ridhwan, terjadi di Hudaybiyah,
menjelang Perdamaian Hudaybiyah. Umat Islam yang hadir pada masa itu sekitar
seribu empat ratus atau seribu lima ratus orang. Mereka menyatakan sumpah
setia kepada Nabi dan tidak alum meninggalkan Hudaibiyah untuk menghadapi
serangan orang-orang musyrik Quraisy Mekkah.
336Al-‘Asqalaniy, Fath al-Bariy, op.cit.. J.VIII, h.172-173, J.XIII, h.316-317; Al-Thahthawiy, Hidayat al-
Bard (Beirut: Dar al-Fikr. [tth]), J.II, h.239; Al-Mubarakfuriy, Tuhfat al-Ahwadziy Syarh Jami' al-Turmudziy (al-
Madinah al-Munawwarah: Al-Maktabat at-Salafiyah, 1383H/1963M), J.VIII, h.296-298.
337Ibn Kasir, Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, op.cit., J.I, h.189-190; al-Qurthubiy, op.cit., J.II, h.153-156; al-
Syawkaniy, Fath al-Qadir, op.cit.. J.I, h.150-152; Rasyid Ridha (Ridha). Tafsir al-Qur'an al-Hakim (Tafsir al-
Azhar), (Beirut: Dar al-Ma'rifah, 1393H/1973M), h.4-7.
101
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Dalam ayat itu Allah menjanjikan kemenangan kepada umat Islam pada
waktu yang dekat.339Kalau begitu, ayat di alas merupakan salah satu bukti bahwa
para sahabat Nabi diberikan keutamaan khusus oleh Allah. Dilihat dari jumlah
sahabat Nabi yang mengikuti peristiwa Bay'at al-Ridhwan tersebut, maka
ternyata sahabat Nabi yang memperoleh keutamaan khusus itu tidaklah semuanya,
tapi hanya sebagian saja dari para sahabat itu. Tegasnya, sahabat Nabi yang saat
masuk Islam-nya sesudah peristiwa Bay'at al-Ridhwan, misalnya, tidak
termasuk di dalamnya. Jadi, tidak tepat juga ayat tersebut digunakan sebagai dalil
bahwa seluruh sahabat Nabi tanpa kecuali bersifat adil.
e) Firman Allah dalam Surat al-Fath/48: 29 yang berbunyi:
ِ ُم َحم ٌد َر ُسو ُل ا ِ َوا ِ َن َم َع ُه ِشدا ُء َ َﲆ الْ ُكفا ِر ُر َ َﲪا ُء بَ ْ َﳯُ ْم َ َرا ُ ْﱒ ُرك ًعا ُﲭ ًدا يَ ْ َ ُغو َن َف ْض ًﻼ ِم َن ا
(29)... ً َو ِر ْض َوا
{Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan
dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tapi berkasih sayang sesama
mereka; kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya
… (QS al-Fath/48:29)}.
'Ulama' berbeda pendapat mengenai pengertian kata-kata dalam ayat itu ya n g
b er b u n yi وا ن مع هs ed i k i t n ya a d a t i ga p en dapat:
[1] Seluruh sahabat Nabi; [2] peserta Hudaybiyah; dan [3] semua orang yang
beriman.340Bila ayat tersebut tidak dihubungkan dengan ayat-ayat sebelumnya,
maka pendapat yang disebut pertama dan ketiga lebih tepat, tapi sifatnya umum,
tegasnya, tidak untuk tiap-tiap individu. Karena, karakter pengikut Nabi
Muhammad yang disebut dalam ayat itu berlaku umum. Karakter itu adalah karakter
yang paling ideal. Dalam sejarah, keadaan itu telah pernah terlihat, misalnya pada
zaman Nabi, zaman sahabat Nabi dan zaman al-tabi'in besar. Bila ayat di atas
dihubungkan dengan ayat-ayat sebelumnya, maka pendapat yang disebut kedua lebih
kuat. Karena, ayat-ayat sebelumnya membicarakan mengenai Bay'at al-Ridhwan
dan Perdamaian Hudaybiyah. Jadi, ayat di atas ternyata juga tidak tepat
digunakan sebagai argumen bahwa setiap individu sahabat Nabi adil.
(2). Berdasarkan Hadits Nabi yang menyatakan: …, artinya: " Janganlah kamu
mencela para sahabatku, sekiranya ada seseorang di antara kamu bersedekah emas
sebesar bukit Uhud, niscaya (sedekahmu itu) tidak akan sampai menyamai secupak
dari para sahabat itu". (Hadits riwayat al-Bukhariy, Muslim, Abu Daud. Al-Turmidzy,
dan Ahmad dari Abiy Sa’id al-Khudriy)341
339Ibn Kasir, op.cit., J.IV, h.186-188, 190-191, 194-200; al-Qurthubiy, op.cit., J.XVI, h.274-278; al-
Syawkaniy, op.cit., J.V. h.51-52, 55. Proses peristiwa bay’at al-Ridwan dan Perjanjian Hudaybiyah, lihat
misalnya: M.H.Haykal, Hayat Muhammad (Kairo: Maktabat al-Nandhat al-Mishriyyah, 1968M), 363-379.
340 Ibn Kasir. op. cit., J. II, h. 203-205; al-Qurthubiy, op. cit., J.XVI, h. 292; al-Syawkaniy, op. cit., h. 55; Al-
Alusiy, Ruh al-Ma’aniy fiy Tafsir al-Qur'an al- Mini wa Sab' al-Masaniy (Beirut: Dar Ihya' al-Turas al-'Arabiy, J.
XXVI, h. 123-129.
341Al-Bukhariy, op. cit., J. II, h. 292; Muslim, op. cit., J.IV, h. 1967-1968;
102
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Hadits tersebut muncul tatkala Nabi mendengar Khalid bin al-Walid bertengkar
dengan 'Abd al-Rahman bin 'Awf. Nabi lalu menegur Khalid dengan sabdanya
di atas.342Sesungguhnya, yang dilarang oleh Nabi adalah perbuatan memaki atau
mengumpat. Kegiatan meneliti pribadi sahabat Nabi tidak sama dengan perbuatan
memaki. Tujuan penelitian adalah baik, yakni untuk mengetahui keshahihan salah satu
sumber ajaran Islam. Karena itu, Hadits yang disebut di atas tidak dapat dijadikan
argumen bahwa seluruh sahabat Nabi bersifat adil dan tidak diperkenankan.
(3).Hadits Nabi yang menyatakan: …, artinya:
" Sebaik-baik kamu sekalian (umat Islam) adalah generasiku, kemudian
generasi berikutnya dan kemudian generasi berikutnya lagi". (Hadits riwayat
al-Bukhariy, Muslim, Abu Dawud, al-Turmudziy, Ibn Majah dan Ahmad;
sebagian dari mereka ada yang meriwayatkannya dari 'Abdillah bin Mas'ud,
'Imran bin Husayn, 'Umar bin al-Khattab. Abu Hurairah, Anas dan ada juga
dari sahabat lainnya)343
Hadits tersebut menerangkan, bahwa generasi umat Islam yang terbaik
ialah generasi Nabi, kemudian generasi berikutnya dan kemudian generasi
berikutnya lagi. Dalam hal ini, yang disebut oleh Nabi adalah generasi dan bukan
individu-individu. Ini berarti, bahwa padaumumnya umat Islam yang hidup pada
zaman Nabi, yakni para sahabat Nabi, adalah orang-orang yang lebih baik
kualitas pribadinya bila dibandingkan dengan orang-orang Islam pada zaman
berikutnya. Hal ini. tidak berarti, bahwa seluruh sahabat Nabi tanpa kecuali,
kualitas masing-masing pribadinya lebih baik daripada orang Islam pada
zaman berikutnya. Sebab kenyataannya, ada juga orang Islam yang berstatus
sahabat, kualitas pribadinya tidak terpuji. Misalnya, al-Walid bin 'Uqbah
dan al-Asy'as bin Qays.
Al-Walid bin 'Uqbah, seperti telah disinggung dalam pembahasan yang
lalu, pernah berbohong kepada Nabi. Sehubungan dengan perbuatannya itu,
turunlah ayat Al-Qur'an Surat al-Hujurat/49: 6. Ayat tersebut tidak
menyebut nama al-Walid bin 'Uqbah. Yang disebut oleh ayat itu adalah sifat
yang dimiliki oleh al-Walid, yakni fasik (fasiq). Di masyarakat, al-Walid bin
'Uqbah dikenal sebagai seorang pemberani dan penyair yang baik. Dia
pernah diangkat sebagai penguasa di Kufah oleh Khalifah 'Usman bin
'Affan. Pada suatu ketika, al-Walid menjadi imam salat subuh dalam
keadaan mabuk. Salat subuh dilakukannya dengan empat rakaat. Setelah
mengetahui perbuatan al-Walid itu, Khalifah 'Usman lalu menghukumnya
dengan cambukan, kemudian memecatnya. Al-Walid telah meriwayatkan
Hadits Nabi. Hadits yang diriwayatkannya, ada yang langsung diterimanya
dari Nabi, ada yang diterimanya lewat 'Usman bin 'Affan, dan lain-lain.
Para rawi Hadits yang sempat menerima riwayat Hadits dari al-Walid bin
342 Al-'Asqalaniy. Fath al-Bariy, op. cit., J.VII, h.34; Al-Husayniy, al-Sayan Asbab Wurud al-Hadits (Kairo:
Dar al-Turas al-'Arabiy. [tth] J. III, h. 304-305.
343Al-Bukhariy. op.cit., J. II h. 101-102, 287-288; Muslim, op.cit., J.IV, h.1962-1965; Abu Dawud, op.cit., h.214; al-
Turtnudziy, op.cit., h.340 dan 376; Ibn Majah, op. cit., J.II, h.791; Ibn Hanbal, op. cit., J.I, h.278, 417.
103
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
'Uqbah ialah Haris bin Madhrab, al-Sya'biy, Abu Musa al-Hamdaniy, dan
lain-lain.344
Perilaku yang ditunjukkan oleh al-Walid tersebut, yakni membuat berita
bohong dan minum minuman keras, bukanlah sifat yang terpuji bagi orang
yang bersifat Sahabat Nabi yang berperilaku buruk juga ialah al-Asy'as bin
Qays bin Ma'diykarb al-Kindiy (w.63 H). Dia ini pernah murtad, kemudian
masuk Islam lagi. Dia telah menerima Hadits dari Nabi dan dari 'Umar bin
aI-Khaththab. Para rawi yang telah menerima riwayat Hadits dari al-Asy'as
ialah Abu Wa'il, al-Sya'biy, Qays bin Abiy Hazim dan lain-lain.345Sikap
yang ditunjukkan oleh al-Asy'as tersebut, yakni murtad dan kemudian
masuk Islam lagi, merupakan sikap yang kurang patut dimiliki oleh seorang
yang bersifat adil. Dapatlah dinyatakan, bahwa dalil Hadits di atas tidak tepat
digunakan sebagai argumen mengenai adilnya setiap individu sahabat Nabi.
Argumen lainnya yang juga digunakan sebagai dasar oleh 'Ulama' Hadits
untuk menetapkan keadilan seluruh sahabat Nabi, seperti telah dikemukakan di
atas, ialah dalil ijmak 'Ulama'. Bila yang dimaksudkan dengan istilah ijmak
'Ulama' adalah kesepakatan 'Ulama', dalam hal ini para mujtahid Islam, pada
zaman sesudah Nabi wafat, pada suatu masa mengenai suatu soal
tertentu,346maka ternyata perihal keadilan sahabat tidak merupakan ijmak
'Ulama'. Karena, ada kalangan 'Ulama' yang berpendapat, bahwa: [1] semua
sahabat Nabi adil, kecuali yang jelas-jelas telah berbuat maksiat, misalnya al-
Walid bin 'Uqbah yang dikenal sebagai peminum; [2] semua sahabat Nabi
adil pada saat sebelum terjadi peperangan antara golongan pendukung 'Aliy
bin Abiy Thalib dan golongan pendukung Mu'awiyah, sedang setelah
peristiwa itu, mereka harus diteliti pribadinya; [3] semua sahabat Nabi adil,
kecuali yang membunuh 'Aliy bin Abiy Thalib; [4] sahabat Nabi yang
bersifat adil hanyalah mereka yang telah terkenal dekat pribadinya dengan
Nabi; [5] semua sahabat Nabi harus diteliti pribadinya, seperti berlaku untuk
rawi lainnya.347
Perbedaan pendapat di kalangan 'Ulama' tersebut membukukan, bahwa
keadilan sahabat Nabi tidak menjadi ijmak 'Ulama'. Boleh jadi, 'Ulama' yang
pendapatnya "menyimpang" itu, jumlahnya tidak banyak. Tapi, terjadinya
perbedaan pendapat itu telah membuktikan tidak adanya ijmak. Al-Amidiy
dalam hal ini bersikap realistik. Dia tidak memakai istilah ijmak 'Ulama'
mengenai keadilan sahabat tersebut, tapi menggunakan pernyataan "ijmak
344Al-‘Asqalaniy, al-Ishabah, op.cit., J.III, h.637-638; Ibn 'Abd al-Barr, Kitab al-Isti’ab fiy Asma' al-Ashab,
termaktub di catatan pinggir (hamisy) dari kitab al-lshaboh tersebut di atas (Beirut: Dar al-Fikr, 1398H/1978M),
J.III, h.631.636; Ibn al-Asir), Usud al-Ghabat fiy Ma’rifat al-Shahabah ([tth]: Al-Syeb, [tth]), J.V, h.451-453.
345Al-‘Asqalaniy, Fath al-Bariy, op.cit., J.VII, h.4; al-'Asqalaniy, Tandzib al-Tandzib (India: Majlis Da'irat al-
Ma'arif al-Nizhamiyyah, 1325 H), J.I, h.359.
346Al-Syawkaniy, Irsyad al-Fuhul, op.cit., h.63; Abu Zahrah, op.cit., h.198; Mushthafa Sa'id al-Khin, Asar al-
Ikhtilaf al-Qawa’id al-Ushuliyyah fiy Ikhtilaf al-Fuqaha’ (Beirut: Mu'assasah al-Risalah, 1401H/1981M),h. 455-
456.
347Ibid. (al-Syawkaniy), h.61-62: al-Amidiy, op.cit., J.I, h.274; al-Sakhawiy, op.cit., J.III, h.103-104; al-
Khudhariy Bik, op.cit., h.222-223: Abu Lubabat Husayn, Mawquf al-Mu’tazillah min al-sunnat al-Nabawiyyah
(Riad: Dar al-Liwa', 1399H/1979M), h.78-90.
104
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
mayoritas 'Ulama'".
Dari uraian di atas ternyata berbagai argumen yang digunakan 'Ulama'
untuk menetapkan keadilan semua sahabat Nabi tidak cukup kuat. Tapi, harus
segera dinyatakan bahwa berdasarkan argumen-argumen Al-Qur'an, Hadits Nabi,
dan sejarah Islam, para sahabat Nabi pada umumnya bersifat adil. Ini berarti,
sahabat Nabi yang diduga tidak bersifat adil, jumlahnya tidak banyak. Jadi;
sahabat Nabi pada dasarnya bersifat adil, terkecuali bila terbukti telah berperilaku
yang menyalahi sifat adil.
Cara mengetahui keadilan sahabat tidak terlalu sulit. Karena 'Ulama' telah
menyusun kitab biografi para sahabat Nabi, khususnya para sahabat rawi Hadits.348
Di samping itu, kalangan 'Ulama' telah menyusun peringkat keutamaan para sahabat
Nabi. Imam' al-Hakim al-Naysaburiy, misalnya, telah menyusun peringkat tersebut
ke dalam dua belas tingkat.349Macam-macam peringkat itu, walaupun tidak harus
diterapkan secara mutlak, tapi akan tetap sangat bermanfaat untuk dijadikan
acuan umum.
c. Rawi Bersifat Dhabith
'Ulama' Hadits pada umumnya tidak menerangkan argumen yang mendasari unsur
qa'idah rawi bersifat dhabith. Yang mereka kemukakan umumnya hanya berkenaan
dengan pengertian dhabith sebagai salah satu unsur qa'idah keshahihan sanad Hadits. Imam
al-Syafi'iy dan lain-lain telah meriwayatkan Hadits Nabi yang menyatakan: …, artinya:
(Mudah-mudahan) Allah mengaruniakan keelokan wajah kepada hamba(Nya) yang
mendengar sabdaku, kemudian menghafalnya, memeliharanya, dan menyampaikan
(kepada orang lain) Banyak orang yang menerima pengetahuan (Hadits) hanya
mampu menghafalnya dan) tidak memahami benar pengetahuan itu; dan banyak orang
yang menerirna pengetahuan (Hadits) itu (kemudian menyampaikan) kepada orang lain yang
ternyata orang itu lebih paham daripada orang yang menyampaikan.350
Dari Hadits tersebut dapat diperoleh petunjuk, bahwa penerimaan riwayat Hadits yang
lazim terjadi pada zaman Nabi ialah melalui cara al-sama Sedangkan orang yang menyampaikan
Hadits (ada' al-Hadits) terlebih dahulu harus hafal dan mampu menyampaikan riwayat Hadits
yang diterimanya itu kepada orang lain. Rawi yang hafal, mampu menyampaikandan paham
348Mahmud al-Thahan, op.cit. h.170-171.
349 Keduabelas peringkat yang disebutkan oleh al-Hakim tersebut ialah para sahabat Nabi yang: [I] terdahulu
masuk Islam, misalnya Abu Bakar al-Shiddiq, 'Utsman bin 'Affan, dan 'Aliy bin Abiy Thalib; [2] masuk Islam di Dar al-
Nadwah, misalnya 'Umar bin al-Khaththab; [3] berhijrah ke Habasyah (Ethiopia); [4] menjadi peserta Bay at al-Aqabah
yang pertama: 151 menjadi peserta Bay at al- Agabah yang kedua; [6] berhijrah bersama Nabi. ketika Nabi baru sampai
ke kampung Quba’ sebelum masuk kota Yasrib (Madinah); [7] termasuk veteran Perang Radar; [8] berhijrah ke Madinah
pada masa antara Perang Radar dan Perdamalan Hudaybiyah; [9] termasuk peserta Berra: al-Ridhwart; [10] berhijrah
antara masa Perdamalan Hudaybiyah dan Fath : Makkah; [11] masuk Islam tatkala Peristiwa Fath Makkah haji Wada',
sedang mereka ketika itu masih kanak-kanak. Lihat: al-Hakim, op.cit., h.22-24.
350Al-Syafi'iy, op.cit., J.III, h.401-403. Nama-nama mukharrij dan sahabat Nabi yang meriwayatkan Hadits di atas, lihat
penjelasan Ahmad Muhammad Syakir pada catatan kaki nomor 1, h.402, di kitab al-Syafi'iy tersebut. Lihat pula misalnya:
Ibn Hanbal, op.cit., J.IV, h.80 dan 82; Abu Dawud, op.cit., J.I, h.322; al-Turmidziy, op. cit., J.IV, h.141-142; Ibn Majah,
op.cit., J.I, h.85-86; dan al-Raziy, op.cit., J.II,h.9-11.
105
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
dengan mendalam akan Hadits yang diriwayatkannya, dengan sendirinya lebih baik (berbobot)
daripada rawi yang hanya hafal dan mampu menyampaikan riwayat Hadits saja.
Dengan demikian dapat dinyatakan, bahwa penetapan unsur rawi bersifat dhabith
didasarkan kepada argumen naqliy, dalam hal ini Hadits Nabi. Dan Hadits Nabi tersebut juga
dapat dipahami, bahwa ada rawi yang hafal dan mampu menyampaikan riwayat Hadits, tapi
dia tidak (kurang) paham akan kandungannya. Selain itu, ada pula rawi yang hafal, mampu
menyampaikan Hadits yang telah dihafalnya dan paham akan kandungan Hadits yang
diriwayatkannya.
Selain argumen naqliy di atas, argumen yang mendasari unsur rawi bersifat dhabith ialah
argumen sejarah dan argumen logika.Unsur tersebut dinyatakan memiliki argumen sejarah,
karena periwayatan Hadits dalam sejarahnya lebih banyak berlangsung secara lisan daripada
secara tertulis. Periwayatan lisan mengharuskan periwayatnya memiliki hafalan yang baik.
Rawi yang tidak memiliki hafalan yang baik, sangat sulit dipercaya keshahihan
riwayatnya. Adapun argumen logikanya dapat dinyatakan sebagai berikut:
1). Sulit dipercaya seorang rawi menyampaikan riwayat Hadits secara lisan (hafalan), tapi
dia sendiri tidak hafal mengenai Hadits yang diriwayatkannya;
2). Sulit dipercaya seorang rawi yang menyampaikan Hadits secara tertulis, tapi dia sendiri tidak
memahami apa yang termaktub dalam catatan Haditsnya;
3). Rawi yang paham, hafal dan mampu menyampaikan riwayat Hadits lebih dapat
dipercaya daripada rawi yang hafal dan mampu menyampaikan riwayat Hadits tapi
dia tidak memahami Hadits yang diriwayatkannya.
Dengan demikian dapat dinyatakan, bahwa argumen-argumen yang mendasari unsur
rawi bersifat dhabith cukup kuat, baik argumen naqliy, sejarah, maupun logika.
d. Terhindar dari Kejanggalan (Sayadz, Syudzudz)
Sepanjang yang penulis ketahui, 'Ulama' tidak mengemukakan argumen naqliy
sebagai dasar lahirnya unsur terhindar dari syudzudz sebagai bagian dari unsur qa'idah
keshahihan sanad Hadits. Pada umumnya, 'Ulama' hanya mengemukakan sekitar
pengertian istilah syadz, pandangan 'Ulama' mengenai pentingnya pengetahuan ke-
syadz Hadits, sulitnya penelitian syudzudz (ke-syadz-an) Hadits dan beberapa contoh
Hadits yang mengandung syudzudz.
Dilihat dari pengertiannya, ke-syadz-an baru dapat diketahui setelah semua sanad
Hadits yang memiliki kesamaan pokok soal dalam matn-nya dihimpun dan
diperbandingkan. Semua sanad Hadits itu tampak shahih. Setelah diteliti lebih lanjut,
ternyata dari sanad yang diperbandingkan itu terdapat kejanggalan pada rawi di sanad
tertentu. Rawi tersebut menyalahi para rawi yang ada dalam sanad-sanad yang lain. Sanad
yang menyalahi berbagai sanad itu dinyatakan sebagai mengandung syudzudz. Karenanya,
kualitas sanad tersebut dinyatakan mengandung syudzudz. Sekiranya sanad yang
kemudian dinyatakan mengandung syudzudz itu tidak memiliki “lawan” bandingan,
niscaya ke-syadz-an sanad Hadits tidak terjadi. Karena, sanad yang dinyatakan
mengandung syudzudz tersebut tampak bersambung dan didukung oleh para rawi yang
tsiqqah.
106
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Kalau begitu, argumen yang mendasari timbulnya unsur terhindar dari syudzudz
adalah argumen metodologis. Maksudnya:
1). Pada tahap penelitian pertama, Hadits tertentu yang akhirnya dinyatakan ber-
syudzudz itu adalah Hadits yang dinilai berkualitas shahih.
2). Pada tahap penelitian berikut, sanad yang tadinya dinilai shahih itu diperbandingkan
dengan sanad-sanad lainnya yang juga shahih. Karenasanad tersebut bertentangan, maka
sanad yang bertentangan itu dinyatakan tidak shahih.
Jadi, Sekiranya pemenuhan unsur-unsur qa'idah minor dari sanad bersambung dan
rawi bersifat dhabith dan atau tamm al-dhabth telah dilaksanakan dengan semestinya,
niscaya unsur terhindar dari syudzudz telah terpenuhi juga. Karenanya, unsur terhindar dari
syudzudz tidak perlu berdiri sendiri sebagai salah satu unsur bedah mayor, melainkan cukup
sebagai salah satu unsur qa'idah minor dari sanad bersambung dan rawi bersifat dhabith dan
atau tamm al-dhabith. Tampaknya, syudzudz dalam matn pun tidak akan terjadi, sekiranya dua
unsur qa'idah mayor yang disebutkkan terakhir ini benar-benar diterapkan secara
cermat. Tapi hal ini masih perlu diteliti lebih mendalam, khususnya yang berkenaan dengan
qa'idah keshahihan matn Hadits.
Dengan demikian dapat ditegaskan, argumen yang mendasari unsur terhindar
dari syudzudz dalam kedudukannya sebagai salah satu unsur qa'idah mayor tidak cukup
kuat. Karena, fungsinya telah dapat ditampung oleh unsur-unsur qa'idah mayor
lainnya.351
e. Terhindar dari Cacat ('Illat)
Unsur terhindar dari 'illat ini, seperti halnya unsur terhindar dari syudzudz,
'Ulama' juga tidak mengemukakan argumen naqliy sebagai dasar keberadaannya.
Pada pembahasan yang lalu telah dikemukakan, bahwa Hadits yang mengandung
'illat pada mulanya terlihat sebagai Hadits shahih. Karen sanad Hadits itu tampak
bersambung dan para periwayatnya tampak bersifat tsiqqah semuanya. Setelah
Hadits itu diteliti lebih mendalam, barulah dapat diketahui bahwa ternyata Hadits
dimaksud mengandung 'illat.
Jadi, argumen yang mendasari lahirnya unsur terhindar dari sama dengan
argumen yang mendasari lahirnya unsur terhindar dari syudzudz. yakni argumen
metodologis. Fungsi pokok unsur terhindar dari 'illat telah tertampung dalam unsur-unsur sanad
bersambungdan rawi bersifatdhabith dan atau tamm al-dhabith. Karenanya, unsur terhindar
dari 'illat tidak perlu ditetapkan sebagai unsur qa'idah mayor, tapi cukup ditetapkan sebagai
salah satu unsur qa'idah minor dari unsur-unsur qa'idah mayor yang disebut sebelumnya.
5. Hadits-Hadits Yang Tidak Memenuhi Qa'idah Keshahihan
Hadits yang tidak memenuhi sebagian atau seluruh unsur dari qa'idah keshahihan
sanad, sebagaimana yang telah dikemukakan dalam pembahasan terdahulu, tidak termasuk
Hadits yang berkualitas shahih sanad-nya. Hadits yang tidak shahih sanadnya, di
antaranya ada yang disebut sebagai Hadits hasan dan ada yang disebut sebagai Hadits
dha'if.
107
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Hadits yang sanad-nya hasan, menurut mayoritas 'Ulama' Hadits, ialah Hadits yang
sanad-nya bersambung, para periwayatnya bersifat adil, tapi kurang sedikit sifat ke-
dhabith-annya (khafif al-dhabth), tidak terdapat syudzudz dan 'illat.352Dalam hal ini,
perbedaan pokok antara Hadits yang sanad-nyashahih dan yang hasan terletak pada ke-
dhabith-an periwayat. Ke-dhabith-an rawi pada Hadits hasan tidak sesempurna ke-dhabith-
an rawi untuk Hadits shahih. Sedang unsur-unsur lainnya, antara Hadits hasan dan Hadits
shahih tidak terdapat perbedaan.Hadits hasan yang demikian itu oleh 'Ulama' Hadits
disebut sebagai Hadits hasan li dzatih.
Selain itu, ada pula Hadits yang kualitasnya disebut sebagai Hadits hasan li
ghayrih, yakni, Hadits yang tadinya berkualitas dha'if, tapi ke-dha'if-annya tidak terlalu
berat, didukung oleh Hadits lain yang semakna dari berbagai sanad, atau oleh dalil-
dalil umum Al-Qur'an.353Jadi, ke-hasan-nya bukan karena dirinya sendiri, tapi karena
dukungan dari dalil lain.Hadits hasan li dzatih dapat juga meningkat menjadi Hadits shahih,
bila ternyata ada Hadits lain yang semakna dengan sanad yang berbeda, atau dalil lain
yang mendukungnya. Hadits shahih yang demikian itu disebut Hadits shahih li
ghayrih.354Dikatakan shahih li ghayrih, karena kualitas asal Hadits itu tidak shahih, dalam
hal ini hasan, kemudian didukung oleh dalil lain. Dukungan itu berakibat meningkatkan
kualitas Hadits yang tidak shahih itu menjadi Haditsshahih.
Adapun yang dimaksud dengan Hadits dha'if ialah Hadits yang tidak memenuhi
salah satu atau seluruh syarat Hadits shahih ataupun hasan.355Karena qa'idah keshahihan
sanad Hadits memiliki lima unsur qa'idah mayor, demikian yang diikuti oleh mayoritas
'Ulama' Hadits, dan unsur-unsur qa'idah mayor memiliki unsur-unsur qa'idah minor, maka
kemunglenan tidak terpenuhinya qa'idah keshahihan sanad Hadits akan cukup
banyak.Menurut Ibn Hibban al-Bustiy (w.354H/965M), jumlah Hadits dha'if ada empat
puluh sembilan macam.356 Menurut al-Mannawiy (w.1031 H), secara teoritis Hadits dha'if
dapat mencapai seratus duapuluh sembilan macam, tapi yang dimungkinkan
terwujudnya, ada delapan puluh satu macam. Sebagian 'Ulama' lagi menyebut jumlah
yang berbeda dari jumlah yang telah disebut sebelumnya.357
Walaupun angka jumlah Hadits dha'if tidak disepakati oleh 'Ulama', tapi di sisi yang
lain penyebutan angka itu menunjukkan bahwa Hadits dha'if memang cukup banyak
jumlahnya. Dalam hubungannya dengan tidak terpenuhinya unsur sanad bersambung, secara
garis besar Ibn Hajar al-'Askalaniy membagi Hadits dha'if kepada lima macam. Yakni,
Hadits mu'allaq, Hadits mursal, Hadits mu'dhal, Hadits munqathi', dan Hadits
mudallas.358Kelima macam istilah ini menerangkan letak dan jumlah rawi yang terputus
dalam sanad.
Yang dimaksud dengan Hadits mu'allaq359ialah Hadits yang rawi di awal sanad-nya
(rawi yang disandari oleh penghirapun Hadits) gugur (terputus), seorang atau lebih secara
352Shubhiy al-Shalih, op.cit.,h.156-157; al-Khathib, op.cit., h.332.
353Ibn al-Shalah. op.cit., h.27-29; al-Sakhawiy, op.cit.. J.1, h.66-67; al-Qasimiy, Qawa'id al-Tandis, op.cit.,
h.102-103 dan 109-110.
354Ibid. (al-Qasimiy), h.80; al-Khathib, op.cit., h.306; Muhammad al-Shabbagh, op.cit.,h.62.
355Al-Nawawiy, al-Taqrib: op.cit., h.5; al-Suyuthiy, op.cit., J.I, h.179; Shubhiy al-Shalih, op.cit., h.165.
356Ibn al-Shalah, op.cit., h.37.
357Al-Tirmisiy, op.cit., h.40; al-Sakhawiy, op.cit., J.I, h.93-97.
358Al-'Asqalaniy, Nuz-hat al-Nazhar, op. cit., h. 26-28.
359Sebagian 'Ulama' menyatakan, kata mu'allaq yang secara bahasa berarti tergantung, diambil dari pemakaian
108
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
berurut:360Jadi, yang menjadi patokan dalam hal ini adalah keterputusan rawi di awal
sanad. Bila yang terputus lebih dari seorang periwayat, maka keterputusan itu harus dimulai
dari awal sanad secara berurutan. Sekiranya rawi yang terputus (gugur) bukan di awal
sanad, atau tidak berurutan, maka Hadits itu tidak dinamakan sebagai mu'allaq. Di segi
yang lain, .Hadits mu'allaq. adalah Hadits marfu', karena Hadits itu disandarkan kepada
Nabi.
Selanjutnya, yang dimaksud dengan Hadits mursal,361 menurut mayoritas 'Ulama'
Hadits, ialah Hadits yang disandarkan langsung kepada Nabi oleh Tabi'iy, baik Tabi'iy
besar maupun Tabi'iy kecil, tanpa terlebih dahulu Hadits itu disandarkan kepada sahabat
Nibi.362Menurut pendapat ini, Hadits dinyatakan mursal, bila Hadits itu marfu’ dan rawi
yang berstatus Tabi'iy tidak menyebut nama sahabat yang menerima langsung Hadits itu dari
Nabi SAW.
Sebagian 'Ulama' mensyaratkan, Tabi'iy yang menyandarkan Hadits langsung kepada
Nabi itu haruslah Tabi'iy besar, misalnya Sa'id bin al-Musayyab (w.94H/712.M).
Karena, Tabi'iy besar menerima Hadits pada umumnya langsung dari sahabat Nabi. Sedang
bila yang menyandarkan Tabi'iy kecil, misalnya Ibn Syihab al-Zuhriy (w.124H/742M),
maka Hadits itu tidak disebut sebagai Hadits mursal, melainkan disebut sebagai Hadits
munqathi'. Karena, Tabi'iy kecil menerima Hadits pada umumnya dari Tabi'iy besar dan
tidak langsung dari sahabat Nabi.363Menurut pendapat ini, Hadits mursal itu harus
marfu’, rawi yang terputus (gugur) haruslah rawi yang berstatus sahabat Nabi dan rawi
yang menggugurkan haruslah Tabi'iy besar.
Menurut sebagian 'Ulama' fiqh dan ushul al-fiqh, Hadits mursal adalah Hadits yang
disandarkan langsung kepada Nabi oleh selain sahabat Nabi.364Ini berarti, rawi yang
menggugurkan sahabat dalam sanad itu tidak dibatasi hanya Tabi'iy saja, tapi bisa juga
selain Tabi'iy. Perbedaan pengertian Hadits mursal tersebut membawa akibat terjadinya
perbedaan pendapat mengenai status kehujahan ,Hadits mursal sebagai dalil agama.
Menurut mayoritas 'Ulama' Hadits, Hadits mursal termasuk Hadits dha’if.365
Selanjutnya, bila rawi yang menggugurkan sahabat Nabi dalam sanad adalah rawi yang
berstatus sahabat juga, maka Hadits dimaksud termasuk juga Hadits mursal dan diberi istilah
istilah ta'liq al-thataq (cerai gantung) dan tariq al-fidar (dinding gantung),
karena ada unsur kesamaan dalam hal keterputusan sambungan. Lihat: Ibn al-Shalah, op.cit., h.64; al-Qasimiy,
op.cit., h.124; al-Tirmisiy, op. cit., h.55.
360Al-'Asqalaniy, op.cit., h.26; al-Qariy, op.cit., h.107-108; Muhammad al-Shabbagh, op.cit., h.186.
361 Kata mursal pada mulanya berarti lepas atau terceraikan dengan cepat. Misalnya, burung terlepas dengan
cepat dari kedua tangan. Kata tersebut kemudian dipakaikan untuk Hadits tertentu yang periwayatnya
"melepaskan"-nya tanpa terlebih dahulu mengaitkannya kepada sahabat yang menerima riwayat Hadits itu
dari Nabi. Lihat: al-Sakhawiy, op.cit., J.1, h.128; al-Tirmisiy, op.cit., h.49; al-Fayyumiy, op.cit., J.1, h.269; foot
note no.59.
362Al-'Asqalaniy, op.cit., h.27; al-Qariy, op.cit., h.109-110; Syakir, op.cit., h.26: Shubhiy al-Shalih,
op.cit., h.126; al-Khathib, op.cit., h.337-338. Al-Hakim dan Ibn al-Shalah masih menyaratkan lagi, sanad
Hadits itu harus muttashil mulal dari al-Mukharrij sampai ke Lihat: al-Hakim, op.cit., h.25; Ibn al-ShaJah, op.cit.,
h.47-48.
363Al-Harawiy, op.cit., h.43-44; al-Sakhawiy. op.cit., J.1. h.129-130; al-Suyuthiy, op.cit., J.1. h.195-
364Ibid. (al-Sakhawiy), h.131; Al-Shabbagh, op.cit., h.172; al-Khathib, op.cit.. 11: 338.
365 Pembahasan kehujahan Hadits mursal menurut pendapat 'Ulama', lihat misalnya: ibid. (al-Sakhawiy),
h.132-148; Ibn al-Shalah, op.cit., h.49-51; al-Harawiy, op.cit., h.44-45: al-Suyuthiy, op.cit., J.I, h.199-207;
al-Tirmisiy, op.cit., h.49-54; dan al-'Alaiy, op.cit., h.27-107.
109
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
sebagai Hadits mursal shahabiy. Sahabat yang digugurkan adalah sahabat yang menerima
langsung Hadits itu dari Nabi. Sedang sahabat yang menggugurkan adalah sahabat yang
menerima Hadits tersebut dari sahabat yang telah digugurkan dalam sanad itu.
Dalam hal ini sebagian 'Ulama' berpendapat, bahwa Hadits mursal shahabiy merupakan
Hadits yang bersambung sanad-nya, asalkan sanad sebelum sahabat dalam keadaan
bersambung. Alasannya: [1] rawi yang menggugurkan adalah sahabat Nabi juga, sedang
sahabat Nabi bersifat adil; dan [2] tidak banyak jumlah Hadits yang diterima oleh
sahabat dari Tabi'iy, sehingga tidak perlu dikhawatirkan rawi yang digugurkan oleh
sahabat tersebut adalah Tabi'iy dan sahabat Nabi.366Pendapat ini cukup "longgar" dan
tampak tidak konsisten dengan qa'idah keshahihan sand Hadits, khususnya yang
berkenaan dengan unsur sanad bersambung.
Jenis Hadits lain yang terputus sanad-nya ialah Hadits mu'dhal.367Yakni, Hadits yans
terputus sanad-nya, dua orang rawi atau lebih secara berurut.368 Menurut 'Ulama'
Hadits, bila kalangan 'Ulama' fiqh, misalnya al-Syafi'iy, menyatakan dalam kitabnya,
Telah bersabda Rasul Allah SAW maka Hadits tersebut adalah mu'dhal. Karena,
'Ulama' fiqh yang sezaman dengan al-Syafi'iy pada umumnya hidup pada masa
sesudah generasi al-tabi'in.
Dengan demikian mereka menerima riwayat Hadits Nabi melalui,sedikitnya, dua
generasi. Jadi, dalam riwayat Hadits yang mereka kemukakan seperti contoh di atas, terdapat
dua atau tiga orang rawi secara berurut yang tidak mereka sebutkan;369Sedang menurut
'Ulama' fiqh atau ushul al-fiqh, seperti telah dikemukakan di atas, Hadits yang demikian
itu disebut sebagai Hadits mursal.
Jenis Hadits berikutnya yang juga terputus sanad-nya ialah Hadits munqathi'.370'Ulama'
berbeda pendapat dalam hal ini. Pendapat-pendapat 'Ulama' tersebut secara relatif beragam
neyatakan bahwa hadits munqathi' adalah:
a. Hadits yang sanad-nya terputus di bagian mana saja, baik di bagian rawi yang berstatus
sahabat, maupun rawi yang bukan sahabat;
b. Hadits yang sanad-nya terputus, karena rawi yang tidak berstatus al-tabi'in dan
sahabat Nabi telah menyatakan menerima Hadits dan sahabat Nabi;
c. Hadits yang putus bagian sanad-nya sebelum sahabat, jadi rawi sesudah sahabathilang
atau tidak jelas orangnya;
d. Hadits yang dalam sanad-nya ada rawi yang gugur seorang atau dua orang tidak secara
berurutan;
e. Hadits yang dalam sanad-nya ada seorang rawi yang terputus atau tidak jelas;
366 Ibn Kasir, op. cit., h. 27-28; Syakir, op. cit., h. 27; Muhammad al-Shabbagh, op. cit., h. 174; Shubhiy al-
Shalih, op. cit., h. 166-167; 21-Khathib, op. cit., h. 338; Nur al-Din Itr, op. cit., h. 373-374.
367Kata Mu'dhal berasal dari kata kerja a’dhala, dapat berarti: melemahkan, melelahkan, menutup rapat
(istaghlaqa), atau menjadikan bercacat. Kata mu’dhal dipakai untuk istilah Hadits tertentu, karena Hadits itu ada
bagian sanadnya yang lemah, tertutup, atau bercacat. Lihat: al-Sakhawiy, op.cit., J.I, h.151; at-Qariy, op.cit.,
h.113; al-Tirmisiy, op.cit., h.48; Nur al-Din 'Itr, op.cit., h.378.
368Ibn Kasir, op. cit., h. 29; al-Suyuthiy, op. cit., J.I, h. 211; Shubhiy al-Shalih, op. cit., h. 169-170; al-
Kandahlawiy, op. cit., J.1, h. 117.
369Ibn al-Shalah, op. cit., h. 54-55; al-Harawiy, op. cit., h. 46; al-Khathib, op. cit., h. 340.
370 Kata Munqathi’ berasal dari kata kerja inqatha’a, dapat berarti: yang berhenti, yang kering. yang patah,
yang pecah, atau yang putus. Lihat: al-Fayyumiy, op. cit.. Jut II. h. 614; Luwis Ma'luf, op. cit., h. 646.
110
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
f. Hadits yang sanad-nya di bagian sebelum sahabat, jadi rawi sesudah sahabat,
terputus seorang atau lebih tidak secara berurut dan tidak terjadi di awal sanad; dan
g. Hadits munqathi' ialah pernyataan atau perbuatan al-tab’iin.371
Dari berbagai pendapat di atas, pendapat yang tidak banyak diikuti oleh 'Ulama'
Hadits ialah pendapat yang termaktub dalam butir ke tujuh. Karena, pernyataan atau
perbuatan al-tabi'in di kalangan 'Ulama' Hadits lebih dikenal dengan sebutan Hadits
maqthu' daripada Hadits munqathi'. Istilah Hadits maqthu', imbangannya adalah Hadits
mawquf dan Hadits maffu'. Shubhiy al-Shalih menyatakan, pendapat yang populer di
kalangan 'Ulama' Hadits ialah pendapat yang termaktub di butir kelima di atas.372Pendapat
ini tidak memiliki landasan yang kuat. Karena, Ibn Hajar,dan al-Suyuthiy, misalnya, tidak
mengikuti pendapat yang termaktub di butir kelima, melainkan mengikuti yang termaktub
di butir keempat.373
Seluruh pendapat di atas, kecuali, pendapat yang termaktub di butir ketujuh,
mengakui bahwa Hadits munqathi' adalah Hadits matfu. Hal-hal yang tidak menjadi
kesepakatan ialah jumlah rawi dan letak bagian sanad yang terputus.
Jenis Hadits lain yang sanad-nya terputus juga ialah Hadits mudallas. Dikatakan
mudallas, karena dalam Hadits itu terdapat tadlis.374Menurut 'Ulama' Hadits, jenis tadlis
secara umum ada dua macam, tadlis al-isnad dan tadlis al-syuyukin.Yang dimaksud
dengan tadlis al-isnad ialah rawi Hadits menyatakan telah menerima Hadits dan rawi
tertentu yang sezaman dengannya, pada hal mereka tidak pernah bertemu. Boleh jadi,
mereka pernah bertemu, tapi antara mereka tidak pernah atau diragukan pernah terjadi
kegiatan penyampaian dan penerimaan riwayat Hadits.
Jadi, dalam sanad Haditsterjadi persembunyian (pengguguran) periwayat. Rawi yang
digugurkan itu adalah rawi yang berkualitas lemah. Tujuan penyembunyian rawi di sini
adalah agar sanad Hadits tersebut dinilai berkualitas oleh orang lain.375'Ulama' sangat
mencela rawi yang melakukan tadlis, khususnya tadlis al-isnad.376Karena, orang yang
melakukan tadlis telah melakukan pengelabuan kualitas Hadits kepada orang lain.
Kualitas Hadits yang bercacat dilaporkan seolah-olah tidak bercacat.Rawi yang telah
diketahui pernah melakukan tadlis, misalnya dia menggunakan kata-kata sami'tuy atau
haddasaniy pada hal dia tidak menerima riwayat Hadits itu dengan al-sama', seluruh
Hadits yang disampaikan oleh rawi tersebut ditolak oleh 'Ulama' Hadits.377Sikap 'Ulama'
menolak riwayat dari rawi yang telah men-tadlis-kan Hadits, walaupun pentadlis-an itu
hanya dilakukan sekali saja, merupakan sikap yang sangat hati-hati dan 'Ulama' Hadits.
Selanjutnya, yang dimaksud dengan tadlis al-syuyukh ialah rawi menyebut secara salah
identitas guru atau syaykh Hadits yang menyampaikan Hadits kepadanya. Kesalahan sebutan itu
mungkin berkenaan dengan nama, gelaran (kun-yah) famili, sifat, atau nama negeri guru Hadits
371Al-Hakim, op.cit., h.27-29; Ibn al-Shalah, op.cit.. h.52-53; al-Nawawiy, op.cit., h.7; Ibn Kasir, op.cit., h.28-
29; al-Harawiy, op.cit., h.45-46; al-Suyuthiy, op.cit., J.I, h.207-208; Syakir, op.cit., h.24-25.
372Shubhiy al-Shalih, op. cit., h. 168.
373Al-'Asqalaniy, op. cit.. h. 28; al-Suyuthiy, op. cit., J.I, h. 208.
374Tadlis adalahkata kerja jadian (masdar)darikata kerja dallasa. Menurut bahasa, tadlis berarti penipuan atau
penyembunyian cacat. Mudallas berarti: yang terdapat di dalamnya tipuan atau cacat. Lihat: al-Fayyumiy, op. cit.. J. I, h.
237; Luwis Ma'luf, op. cit., h. 222.
375Ibn Shalah, op.cit., h.6; al-Nawawy, op.cit., h.8; al-Harawy, op.cit., h.49; Ibn Kasir, op.cit., h.32.
376Ibid. (Ibn al-Shalah, h. 27; Ibn Kasir); dan al-Tirmisiy, op. cit., h. 60.
377Al-Khathib, op. cit., h. 342.
111
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
tersebut.378 Kesalahan sebutan identitas itu mungkin saja disengaja, agar dengan demikian riwayat
Haditsnya tampak berkualitas lebih kuat atau mungkin tidak sengaja, karena tidak diketahui dengan
baik identitas guru Hadits tersebut.Kesalahan penyebutan identitas pribadi guru tersebut memang
sangat dimungkinkan. Karena, rawi Hadits yang memiliki nama ataupun kun-yah yang mirip
cukup banyak jumlahnya dengan kualitas pribadi yang berbeda.379'Ulama' Hadits telah membahas
cukup panjang berbagai Hadits yang termasuk jenis mudallas.380Hal ini sebagai salah satu
bukti, betapa 'Ulama' Hadits sangat hati-hati dalam melakukan penelitian Hadits.
Selain macam-macam Hadits yang telah dikemukakan di atas, masih ada lagi jenis Hadits
yang termasuk terputus sanad-nya. Yakni, Hadits-Hadits mawquf, maqthu', syadz, dan mu'all
(mu'allal). Dua macam Hadits yang disebut pertama, sanad-nya tidak sampai kepada Nabi,
sedang dua macam yang disebut terakhir, bentuk keterputusan sanad-nya cukup beragam. Adapun
Hadits yang, tidak memenuhi unsur-unsur rawi bersifat adil dan atau rawi bersifat dhabit,
jenisnya cukup banyak. Hal ini disebabkan karena kualitas ketercelaan rawi Hadits cukup banyak
macamnya.
Ibn Hajr al-'Asqalaniy membagi rawi Hadits, dilihat dari sifat ketercelaan yang dimiliki
oleh para periwavat, kepada sepuluh macam peringkat. Sifat ketercelaan rawi yang disebut lebih
dahulu memiliki peringkat yang lebih buruk daripada sifat ketercelaan yang disebut berikutnya.
Urutan peringkat itu diberi istilah-istilah sebagai berikut:
a. al-kadzib, maksudnya: dikenal suka berdusta;
b. al-tuhmat bi al-kadzib, maksudnya: tertuduh telah berdusta;
c. fahusya ghalathuhu, maksudnya: riwayatnya yang salah lebih banyak daripada yang benar;
d. al-ghaflat'an al-itqan, maksudnya: lebih menonjol sifat lupanya daripada hafalnya;
e. al-fisq, maksudnya: berbuat atau berkata fasik tapi belum sampai menjadikannya kafir;
f. al-wahm, maksudnya: riwayatnya diduga mengandung kekeliruan;
g. al-mukhalafahan al-tsiqqah, maksudnya: riwayatnya berlawanan dengan riwayat orang-
orang yang tsiqqah;
h. al-jahalah, maksudnya: tidak dikenal jelas pribadi dan keadaan rawi itu;
i. al-bid'ah, maksudnya: berbuat bid'ah yang mengarah ke fasik, tapi belum menjadikannya
kafir; dan
j. su'al-hifzh, maksudnya: hafalannya jelek sehingga riwayatnya banyak salah, tapi di
samping itu ada juga yang benar.381Jadi, rawi yang disifati dengan sifat ketercelaan yang
termaktub di butir pertama lebih buruk tingkat ketercelaannya daripada rawi yang disifati
dengan sifat ketercelaan yang termaktub di butir kedua, dan demikian seterusnya.
Menurut Ibn Hajar, lima macam dari kesepuluh peringkat sifat ketercelaan tersebut
merusak keadilan periwayat, sedang lima macam lainnya merusak ke-dhabith-an,
378Ibn al-Shalah, op. cit., h. 66-67; al-Nawawiy, loc. cit.; Ibn Kasir, op. cit., h. 33; al-Qariy, op. cit., h. 117;
Syakir, op. cit., h. 37-38.
379Misalnya, rawi yang memiliki sebutan (kun-yah) Abu Bakr dalam kitab Rijal al-Hadits ada lebih dari
enampuluh orang. Ada yang berstatus sahabat Nabi dan ada yang bukan sahabat Nabi. Rawi yang bukan
sahabat Nabi itu ada yang berkualitas tsiqqah dan ada yang tidak tsiqqah. Lilihat misalnya: al-‘Asqalaniy,
Tandzib al-Tandzib, op. cit., J. XII, h. 23-46.
380Al-Sakhawiy, op. cit., J. I, h. 169-184; al-Suyuthiy, op. cit., J.1, h. 223-231; al-Qariy, op.cit.. h.116-
130; al-Tirmisiy, op.cit., h.58-62; Shubhiy al-Shalih, op.cit., h.170-179.
381Al-‘Asqalaniy, op. cit., h. 30-42.
112
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
periwayat.382Ibn Hajar tidak menjelaskan secara terinci sifat-sifat ketercelaan yang masing-
masing merusak keadilan dan ke-dhabith-an dimaksud.
'Aliy al-Qariy (w.1014 H) menyatakan, sifat-sifat ketercelaan yang dikemukakan oleh Ibn
Hajar yang merusak keadilan rawi ialah:
a. al-kadzib; b. al-tuhmat bi al-kadzib; c. al-fisq; d. al-jahalat; dan e. al-bid'at.
Sedang lima macam selainnya merusak ke-dhabith-an periwayat.383
Sekurang-kurangnya ada sepuluh macam peringkat sifat-sifat ketercelaan periwayat.
Sifat-sifat ketercelaan tersebut ada yang merusak keadilan periwayat, ada pula yang
merusak ke-dhabith-an periwayat.Misalnya, Hadits mubham dan mastur merupakan
Hadits dha'if yang ketercelaan periwayatnya berperingkat kedelapan. Istilah mubham
dipakai, bila diri rawi tidak dikenal oleh 'Ulama' Hadits. Rawi yang demikian itu disebut
sebagai majhul al-'ayn. Istilah Hadits mastur dipakai, bila keadaan periwayat, dalam arti
keutarnaan dan kekurangannya di bidang periwayatan Hadits, tidak diketahui oleh 'Ulama'
Hadits. Rawi yang begini disebut majhul al-hal. Peringkat yang paling "ringan" di
bidang ketercelaan periwayat, adalah sifat al-hifzh. Hadits dha'if yang disebabkan oleh
rawi yang su'al-hifzh ada dua macam. Yakni: a. Hadits syadz; dan b. Hadits mukhtalith.
Istilah Hadits syadz dipakai, bila kejelekan hafalan rawi bersifat tetap. Jadi, istilah
Hadits syadz di sini berbeda pengertiannya dengan Hadits syadz "lawan" dari Hadits
mahfuzh.Lebih lanjut, istilah Hadits mukhtalith dipakai, bila kejelekan hafalan rawi
terjadi karena rawi itu memasuki usia lanjut, mengalami kebutaan, terbakar, atau hilang
catatan Haditsnya, atau mengalami peristiwa tertentu lainnya yang mengganggu daya
hafalnya. Rawi tersebut tadinya memiliki sifat dhabith kemudian mengalami peristiwa
yang menyebabkan dia tidak dhabith lagi.384 Berbagai istilah Hadits dha'if yang
dikemukakan oleh Ibn Hajar al'Asqalaniy di atas telah disusun kembali peringkatnya oleh
al-Suyuthiy, sebagai berikut:
a. al-mawdhu'; b. al-matruk; c. al-munkar; d. al-mu'all;
e. al-mudraj; f. al-maqlub; dan g. al-mudhtharib.
Makin kecil angka peringkatnya, makin "berat" tingkat ke-dha'if-annya.385Dalam
susunan peringkat yang dikemukakan oleh al-Suyuthiy ini tidak terlihat Hadits-Hadits al-
mubham, al-mastur, al-syadz dan al-mukhtalith. Boleh jadi, al-Suyuthiy mempunyai
pertimbangan bahwa keempat Hadits dha'if yang disebut terakhir ini dapat masuk dalam
salah satu istilah yang telah disebut sebelumnya. Al-Suyuthiy sendiri telah memilih
pendapat Badr al-Din al-Zarkasyiy (w.791H/1392M) mengenai peringkat Hadits dha'if,
dengan menambahkan satu macam Hadits dha'if lagi, yakni Hadits matruk.
Peringkat yang disusun oleh al-Zarkasyiy ialah:
a. al-mawdhu'; b. al-mudraj; c. al-maqlub; d. al-munkar;
382Ibid., h. 30.
383Al-Qariy, op. cit., h. 120.
384Shubhiy al-Shalah, op.cit., h.179-206, 244-248; Nur al-Din 'Itr, op.cit., h.89-91, 133-139, 299-319, 428-
456; al-Khathib, op. cit., h. 343-350, 370-373.
385Pendapat al-Suyuthiy tetsebut dikemukakan dalam kitabnya, Manzhumat al-Atsar, yang disyarah antara
lain oleh al-Tirmisiy, op. cit., h. 96.
113
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
e. al-syadz; f. Matruk,dan g. al-mudhtharib.
Menurut al-Suyuthiy, peringkat kedua bukan al-mudraj, melainkan al-munkar; al-
mudraj, menempati urutan ketiga, al-ntaqlub, menempati urutan peringkat keempat, dan
seterusnya.386 Dengan demikian dapat dinyatakan, 'Ulama' tidak sependapat mengenai
peringkat Hadits dha'if dilihat dan kualitas periwayatnya. 'Ulama' tampak sependapat
dengan Ibn Hajar al 'Asqalaniy, bahwa penyebab ketercelaan periwayat, baik yang
merusak sifat keadilan maupun ke-dhabith-an, tidak satu macam raja. Mereka juga
sependapat, bahwa karena penyebab ketercelaan rawi bermacam-macam, maka jenis
Hadits dhaif-nya juga bermacam-macam.
Dari uraian di atas ternyata, Hadits yang tidak memenuhi unsur-unsur qa'idah
keshahihan sanad Hadits cukup banyak macamnya. Unsur-unsur yang tidak terpenuhi itu,
ada yang berkaitan dengan persambungan sanad, ada yang berkaitan dengan kualitas
periwayat, dan ada yang berkaitan dengan kedua-duanya. Berbagai macam Hadits yang
tidak memenuhi unsur qa'idah keshahihan sanad itu telah diberi nama-nama atau istilah-
istilah tertentu oleh 'Ulama' Hadits. Istilah-istilah itu ada yang disepakati pengertiannya
oleh 'Ulama' dan ada yang tidak disepakati.
B. Kualitas Rawi dan Persambungan Sanad
Bagian-bagian sanad Hadits yang menjadi sasaran penelitian 'Ulama' Hadits adalah
para rawi dalam sanad itu dan rangkaian persambungannya mulai dari rawi yang disandari
oleh pengHadits (al-mukharrij)) sampai kepada Nabi. Ini berarti, suatu sanad yang seluruh
periwayatnya bersifat tsiqqah (adil dan dhabith) tapi rangkaian para rawi itu tidak bersambung,
maka sanad dimaksud tidak dapat dikatakan berkualitas shahih, dalam hal ini shahih li
dzatih. Demikian pula sebaliknya, rangkaian para rawi suatu sanad yang tampak bersambung,
tapi salah seorang atau lebih dari periwayatnya ada yang tidak tsiqqah maka sanad tersebut
tidak dapat juga dinyatakan berkualitas shahih.
Jumlah dan keadaan rawi yang terlibat dalam sanad cukup banyak dan beragam. Hal ini
dapat dimengerti, karena dalam satu generasi saja telah dimungkinkan lebih dari seorang rawi
terlibat dalam periwayatan Hadits tertentu.Walaupun jumlah rawi yang terlibat dalam sanad
cukup banyak dan beragam, tapi dilihat dari peran para rawi sebagai saksi atas peristiwa
terjadinya suatu Hadits, mereka itu pasti termasuk salah satu dari dua kemungkinan. Yakni,
mungkin rawi itu berperan sebagai rawi pertama, yaitu rawi yang langsung menyaksikan atau
mengalami terjadinya Hadits Nabi, atau mungkin berperan bukan sebagai rawi pertama, yaitu
rawi yang tidak langsung menyaksikan atau mengalami terjadinya Hadits Nabi.
Seperti telah dikemukakan terdahulu,rawi pertama dalam ilmu sejarah disebut sebagai
saksi primer. Rawi yang berstatus saksi primer dalam periwayatan Hadits pasti dari
kaiangan sahabat Nabi. Karena,hanya sahabat Nabi: yang memungkinkan langsung dapat
menyaksikan sabda, perbuatan, hal-ihwal dan taqrir Nabi. Sedang rawi yang berstatus bukan rawi
pertama, yang dalam ilmu sejarah dikenal dengan istilah saksi sekunder, mungkin berstatus sebagai
386Ibid.
114
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
sahabat Nabi dan mungkin bukan sahabat Nabi. Rawi yang bukan sahabat Nabi, dalam berbagai kitab
himpunan Hadits yang beredar sekarang, mungkin berstatus sebagai al-mukharrij (penghimpun
Hadits) dan mungkin bukan al-murkharrij.
Uraian berikut ini membahas qa'idah keshahihan sanad Hadits dalam fungsinya sebagai
penyeleksi terhadap kualitas rawi dan persambungan sanad, kemudian disertakan tinjauan terhadap
qa'idah itu dengan pendekatan ilmu sejarah.
3. Kualitas Rawi dalam Sanad
b. Rawi yang Berstatus Saksi Primer
Seperti telah dibahas di bab sebelumnya, bahwa rawi yang dapat diterima riwayatnya
adalah rawi yang bersifat adil dan dhabith. Menurut qa'idah keshahihan sanad Hadits yang telah
disepakati oleh mayoritas 'Ulama' Hadits, jumlah rawi tidak menjadi persyaratan. Ini
berarti, rawi yang hanya seorang saja, asal dia bersifat adil dan dhabith, telah dapat diterima
riwayatnya. Adanya syahid dan atau mutabitidak menjadi syarat utama keabsahan periwayat.
Fungsi syahid dan mutabi adalah sebagai penguat semata. Ketentuan dasar yang diikuti
oleh ilmu sejarah berbeda dengan yang. diikuti oleh ilmu Hadits tersebut.
Dalam ilmu sejarah dinyatakan, pada prinsipnya suatu fakta yang dikemukakan oleh
saksi barulah dapat diterima bila ada corroboration (dukungan) berupa saksi lain yang merdeka
dalam mengemukakan laporannya dan dapat dipercaya. Bila saksi hanya seorang saja,
maka fakta itu baru dapat diterima bila telah dipenuhi ketentuan khusus.387Ini berarti,
saksi yang hanya seorang diri merupakansuatu jalan keluar bila saksi yang memilild
corroborator berupa saksi lain tidak didapatkan.
Dilihat dari segi ini, tampak prinsip dasar ilmu sejarah lebih berhati-hati daripada
ilmu Hadits, walaupun pada akhirnya apa yang dianut oleh ilmu Hadits tersebut dapat
dibenarkan juga oleh ilmu sejarah. Kemudian di segi yang lain, ilmu Hadits sejalan dengan
ilmu sejarah, yakni sama-sama menilai lebih kuat terhadap saksi (periwayat) yang memiliki
corroborator berupa saksi lain (syahid dan atau mutabi') daripada saksi (periwayat)
yang sendirian (fard atau gharib).
Rawi yang berstatus sahabat Nabi oleh mayoritas 'Ulama' Hadits dinilai bersifat adil
seluruhnya. Hal ini tidak berarti, bahwa seluruh sahabat Nabi terlepas dari kritik di bidang ke-
dhabith-an. Abu 'Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Dzahabiy (w.848H/1348M)
menyatakan, sahabat Nabi tidak terlepas dari kekeliruan dalam meriwayatkan Hadits. Hanya saja,
kekeliruan yang telah terjadi sangat sedikit dan tidak membahayakan.388Pendapat al-Dzahabiy
ini cukup beralasan, karena pada zaman sahabat, kalangan sahabat sendiri telah
melakukan kritik terhadap sahabat lainnya mengenai ke-dhabith-an mereka dalam
menyampaikan matn Hadits tertentu. Hal ini dapat dilihat,misalnya pada contoh berikut
ini:
'Abd al-Rahman bin al-Haris bin Hisyam bin al-Mughirah melaporkan kepada Marwan bin
al-Hakam sebuah Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh 'A'isyah dan Ummu Salamah: "
387Louis Gottschalk, Understanding History: A Primer of Historical Method (Newt York: A. Knopf, 1956M), h. 166-
170; Sartono Kartodirdjo, "Metode Penggunaan Dokumen" dalam Koentjaraningrat (redaktur), Metode-metode
Penelitian Masyarakat (Jakarta: Gramedia, 1977), h. 83-84.
388 Al-Sayyid Muhammad Jamal al-Din al-Qasimiy (al-Qasimiy), Qawa'id al-Tandis min Awn Mushthalah al-
Hadits'Isa al-Babiy al-Halabiy wa Syurakah. 1380 H/1961M), h. 187.
115
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
'A'isyah dan Ummu Salamah memberitakan bahwa Rasul Allah SAW mendapati waktu fajar dalam
keadaan berhadas besar (karena malamnya bersanggama dengan istri beliau). Kemudian
beliau mandi dan berpuasa pada hari itu. (Hadits riwayat al-Bukhariy dari 'A'isyah dan
Ummu Salamah)389
Setelah mendengar laporan mengenai Hadits ini, Marwan bin al-Hakam, yang
ketika itu menjabat gubernur di Madinah, segera menyuruh 'Abd al-Rahman
menemui Abu Hurairah. Sebab Abu Hurairah pernah menyampaikan Hadits Nabi yang
maksudnya, bahwa bila seseorang pada waktu subuh masih dalam keadaan berhadas
besar karena malam harinya bersanggama dengan istrinya, maka Nabi menyuruh
orang itu "membuka" puasanya. Pada waktu 'Abd al-Rahman bertemu dengan Abu
Hurairah di Dzu al-Hulayfah, Abu Hurairah diberi tahu mengenai Hadits Nabi yang
diriwayatkan oleh 'A'isyah dan Ummu Salamah di atas. Abu Hurairah lalu
menyatakan, Hadits yang diriwayatkannya itu berasal dari periwayatan al-Fadhl bin
'Abbas dan al-Fadhl lebih tahu mengenai apa yang diriwayatkannya.390
Ibn Hajar mengemukakan berbagai sanad Hadits itu, baik yang melalui 'A'isyah
dan Ummu Salamah maupun yang melalui Abu Hurairah. Dalam hal ini, kalangan
'Ulama' ada yang berpendapat bahwa Hadits riwayat 'A'isyah dan Ummu Salamah lebih
kuat sanad-nya daripada riwayat Abu Hurairah Alasannya:
1] Hadits yang disebut pertama diriwayatkan oleh dua orang sahabat Nabi, sedang
yang disebut kedua hanya diriwayatkan oleh seorang sahabat saja;
2] Hadits yang disebut pertama diriwayatkan langsung oleh istri-istri Nabi; istri Nabi
lebih tahu mengenai apa yang dilakukan oleh Nabi berkenaan dengan hubungan
suami istri daripada orang lain.
'Ulama' lainnya ada yang berpendapat, bahwa Hadits yang disebut kedua (riwayat Abu
Hurairah) telah mansukh (dihapus hukumnya) oleh Hadits yang disebut pertama.
Alasannya, karena Hadits yang disebut pertama terjadi pada tahun keenam Hijriyah,
sedang Hadits yang disebut kedua terjadi sebelum tahun itu. Ada lagi 'Ulama' yang
berpendapat; Hadits yang disebut kedua berisi sekedar petunjuk mengenai keutamaan
amal saja, sedang Hadits yang disebut pertama berisi hukum pokoknya.391
Dilihat dari konteks Haditsnya, pendapat yang dikemukakan terakhir tersebut
tidak kuat alasannya, sedang dua pendapat yang disebut sebelumnya cukup memiliki
alasan yang kuat. Persoalan lebih lanjut yang timbul dalam hal ini ialah mengapa Abu
Hurairah menyampaikan riwayat Hadits yang telah mansukh tanpa memberikan
keterangan mengenai ke-mansukh-annya. Mungkin, Abu Hurairah tidak mengetahui
bahwa Hadits yang diriwayatkannya itu telah mansukh, atau mungkin Abu Hurairah
(dan ataual-Fadhl bin 'Abbas) telah keliru dalam memahami Hadits yang diriwayat-
kannya itu.
Baik kemungkinan pertama maupun kemungkinan kedua samasama menunjukkan
kekurangan Abu Hurairah dan atau al-Fadhl mengenai Hadits yang diriwayatkannya.
389Al-Bukhariy, Al-jami’ al-Shahih (Shahih al-Bukhariy ) diberi catatan pinggir (hasyiyah) oleh al-
Sindiy (Beirut: Dar al-Fikr, [tth]), J.I, h.329.
390Ibid
391 Ahmad bin 'Aliy bin Hajar al-'Asqalaniy (al-'Asqalaniy). Fath al-Bariy Dar al-Fikr dan al-Maktabat al-
Salafiyah, [tth]). J. IV, h. 143-149.
116
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Bila seluruh sahabat dinyatakan bersifat adil, maka bentuk kekurangan Abu Hurairah
dan atau al-Fadhl dalam hal ini adalah ke-dhabith-annya, yakni belum memahami secara
mendalam akan Hadits yang diriwayatkannya.
Marwan bin al-Hakam (w.65H/685M) dalam hubungan dengan Hadits tersebut
sesungguhnya secara tidak langsung telah melakukan kritik terhadapAbu Hurairah. Kritik
yang dilakukannya berupa usaha menginformasikan riwayat Abu Hurairah kepada dua
orang istri Nabi, 'A'isyah dan Ummu Salamah.392
Jadi, walaupun sahabat Nabi diakui keadilannya, tapi sama sekali tidak terlepas
dan kritik di bidang ke-dhabith-annya.Dalam dua Hadits di atas, sahabat Nabi yang
menjadi saksi primer adalah 'A'isyah, Ummu Salamah, dan al-Fadhl bin 'Abbas, sedang
Abu Hurairah berkedudukan sebagai saksi sekunder, karena dia menerima riwayat
tersebut tidak langsung dan Nabi, tapi melalui al-Fadhl.
Seperti telah dikemukakan, menurut ketentuan ilmu sejarah, saksi primer yang
memiliki corroborator lebih kuat daripada yang tidak memiliki corroborator. Hal ini
sejalan dengan ketentuan ilmu Hadits yang menyatakanbahwa "Riwayat dua orang
didahulukan dari riwayat seorang".393Ini berarti juga, bahwa saksi primer yang memiliki
syahid lebih kuat kedudukannya daripada yang tidak memiliki syahid.
Menurut ilmu Hadits, 'A'isyah dan Ummu Salamah dalam hal ini dinilai lebih kuat
riwayatnya dibandingkan dengan al-Fadhl. Karena 'A'isyah dan Ummu Salamah,
keduanya adalah istri Nabi, pasti lebih mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan
hubungan suami-istri daripada orang lain, walaupun orang lain itu masih ada hubungan
kekeluargaan dengan Nabi. Dalam kaitan ini, ketentuan kritik sumber dalam ilmu Hadits juga
sejalan dengan ketentuan kritik sumber dalam ilmu sejarah. Yakni, seperti telah dinyatakan di bab
I, dekatnya saksi primer dengan terjadinya peristiwa mempengaruhi kredibilitas kesaksiannya;
makin dekat hubungan saksi dengan peristiwa yang dilaporkan, makin lebih baik
daripada yang jauh.
Persoalan berikutnya ialah bagaimana pandangan ilmu sejarah terhadap pendapat yang
menganggap adil, dalam arti ilmu Hadits, seluruh sahabat Nabi. Secara teknis, ilmu sejarah
tidak membahas sifat adil yang harus dimiliki oleh para saksi, baik saksi primer maupun saksi
sekunder. Tapi, dalam ilmu sejarah terdapat ketentuan yang secara tidak langsung
mengemukakan hal-hal yang berkenaan dengan sifat adil yang dibahas oleh ilmu Hadits. Yakni,
ketentuan yang menyatakan bahwa seorang saksi baru dapat diterima kesaksiannya bila dia telah
memenuhi kredibilitas umum.
Di antara bentuk kredibilitas umum saksi ialah saksi itu memiliki reputasi sebagai
seorang yang cinta kebenaran.394Ini berarti, ilmu sejarah mensyaratkan, kesaksian saksi
mengenai suatu fakta sejarah barulah dapat diterima bila pribadi saksi itu betul-betul telah
dapat dipercaya. Kalau begitu, saksi primer dalam periwayatan Hadits juga dituntut
392Dalam riwayat yang semakna tapi dengan sanad yang berbeda dikemukakan, bahwa 'Abdur-Rahman bin al-Haris
dan anaknya, Abu Bakar bin 'Abdir-Rahman bin al-Haris, mengunjungi 'A'isyah dan Ummu Salamah untuk menanyakan
Hadits yang termaktub di atas, karena mereka disuruh oleh Marwan bin al-Hakam. h.143-144. Jadi Marwan
menyuruh 'Abdur-Rahman yang didampingi anaknya tersebut, didorong oleh keinginan untuk mengetahui Hadits Nabi
dari sumber yang lebih kompeten dan sekaligus memeriksa Hadits yang telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah. Hal yang
terakhir ini terbukti, setelah mendapat laporan mengenai Hadits yang diriwayatkan oleh kedua istri Nabi, Marwan segera
menyuruh 'Abdur-Rahman yang didampingi anaknya itu untuk menemui Abu Hurairah.
393Ibid., h. 148.
394Louis Gottschalk. op.cit.,h.168.
117
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
memiliki reputasi sebagai seorang yang cinta kebenaran. Jadi, pendapat yang menyatakan
bahwa semua sahabat Nabi bersifat adil, tanpa kecuali dan tanpa diadakan penelitian terlebih
dahulu terhadap tiap individunya, adalah pendapat yang tidak sejalan dengan ketentuan yang
berlaku dalam ilmu sejarah.
b. Rawi yang Berstatus Bukan Saksi Primer
Di awal bab ini telah dinyatakan, rawi yang berstatus bukan saksi primer mungkin
berasal dari kalangan sahabat Nabi dan mungkin tidak berasal dari kalangan sahabat
Nabi. Rawi yang bukan sahabat Nabi mungkin berkedudukan sebagai al-mukharrij dan mungkin
bukan al-mukharrij. Hadits yang disampaikan oleh sahabat Nabi yang tidak berstatus sebagai
saksi primer mungkin berasal dari riwayat yang dikemukakan oleh sahabat Nabi dan mungkin
berasal dari riwayat al-tabi'in.395Bila sahabat yangtanpa terlebih dahulu menyebut nama
periwayatnya yang telah manyampaikan Hadits itu kepadanya, maka Hadits tersebut dinamai
sebagai Hadits mursal shahabiy. Sebagian 'Ulama' Hadits berpendapat, Hadits mursal shahabiy
bersambung sanad-nya dari sahabat yang bukan saksi primer itu kepada Nabi.
Menurut ilmu sejarah, bila kesaksian saksi primer tidak diperoleh, maka dapat digunakan
kesaksian saksi sekunder terbaik yang ada dengan syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat itu
bukan hanya berkaitan dengan sifat dan kondisi saksi sekunder saja, melainkan berkaitan juga
dengan sifat dan kondisi saksi primer yang menjadi sumbernya. Kalau begitu, Hadits mursal
shahably masih ditoleransi oleh ilmu sejarah, asalkan sahabat Nabi yang berstatus bukan saksi
primer dan rawi lain yang "digugurkan"nya itu memenuhi persyaratan sebagai rawi yang dapat
diterima riwayatnya. Yakni, sama-sama bersifat adil dan dhabith.
Ini berarti, Hadits mursal shahably yang dapat dibenarkan sebagai sumber oleh ilmu
sejarah, sedikitnya haruslah diketahui terlebih dahulu pribadi rawi yang telah "digugurkan"
oleh sahabat yang tidak berstatus sebagai saksi primer tersebut. Dalam kaitan ini ilmu sejarah tidak
menjelaskan, bagaimana bilk saksi yang "digugurkan" itu bukan hanya saksi printer saja,
melainkan juga saksi sekunder. Tampaknya, ilmu sejarah tetap dapat memberikan toleransi
sepanjang para rawi yang "digugurkan" itu dapat diketahui orangnya dan memenuhi kriteria
sebagai rawi yang kredibel, dalam hal ini adil dan dhabith.
Rawi yang bukan sahabat Nabi mungkin berstatus termasuk di dalamnya al-
mukhadhramin,396 mungkin atba' alta-bi'in (generasi umat Islam yang sempat
bertemu dengan Shahabat Nabi SAW, mungkin atba' atba' al-tabi'in (generasi
umat Islam yang sempat bertemu dengan atba' al-tabi'in)397dan mungkin generasi
umat Islam sesudahnya.398
395Al-Khathib al-Baghdadiy telah menghimpun Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh sahabat Nabi yang berasal
dari periwayatan. AL-Suyuthiy mengemukakan tujuh buah Hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Nabi yang berasal dari
periwayatan Tabi’in, yang memperoleh riwayat itu dari sahabat Nabi dan sahabat Nabi memperoleh riwayat dirnaksud dari Nabi.
Hadits-Hadits yang dikemukakan al-Suyuthiy tersebut ada yang di-takhrij oleh al-Bukhariy, Muslim, atau Mukharij lainnya. Kata al-
Suyuthiy, al-'Iraqiy telah menghimpun Hadits-Hadits yang demikian itu sebanyak dua puluh Hadits. Lihat: Al-Suyuthiy,
Tadrib al-Rawiy fiy Syarh Taqrib al-Nawawiy (Beirut: Dar lhya' al-Sunnah al-Nabawiyyah, 1979M). J.II, h. 388-389.
396Al-'Asqalaniy, Tandzib al-Tahdzib (India: Majlis Da'irat al-Ma'arif al-Nizhamiyyah, 1325H), J.IV, h.84-88; J.VI,
h.277-278; J.IX, h.214-217.
397Rawi yang berstatus atba' misalnya Malik bin Anas (93-179H/712-795M) dan Muhammad bin Idris al-
Syafi'iy (150-204H/767-820M). Lihat: ibid., J.IX, h.25-31; J.X, h.5-9. Rawi yang berstatus atba' atba' al-tabi'in,
misalnya Ahmad bin Hanbal (164-241H/780- 855M), al-Bukhariy (194-256 H 810-870M). Muslim bin al-Hajjaj
(206-261H/823-875M). dan al-Turmudziy (209-279 H 824-892M). Lihat: Ibid., J.I, h.72-76; J.IX, h.47-55, 387-
389; J.X, h.126-128. Mereka selain sebagai atba' atba' al-tabi'in, juga sebagai al-mukharij.
398Misalnya al-Bayhaqiy (w.458-1066M). Dia juga seorang mukharrij. Lihat: Al-Mubarakfuriy, Muqaddimat Tuhfat
118
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Sanad Hadits yang mereka kemukakan, ada yang memiliki mutabi' dan ada yang
tidak rnemilikinya. Sanad yang memiliki mutabi’ lebihkuat kedudukannya daripada sanad
yang tidak memiliki mutabi', asalkan semua periwayatnya sama-sama berkualitas tsiqqah.
Karena, ketentuan yang menyatakan riwayat isnayn tuqaddam 'ala riwayat wahidberlaku
juga untuk rawi yang berstatus,bukan sahabat Nabi. Ketentuan ini pun sejalan juga
dengan ketentuan dalam ilmu sejarah yang menyatakan, saksi yang .memiliki
corroborator berupa saksi lain lebih kuat daripada saksi yang tidak memiliki
corroborator.399
Rawi yang berstatus al-mukharrij, 'Ulama' pada umumnya memandang Hadits
yang diriwayatkan oleh al-Bukhariy dan Muslim lebin tinggi kualitasnya daripada
yang diriwayatkan oleh selain al-Bukhariy dan Muslim.400Tapi dalam hal ini perlu
segera dinyatakan, bahwa ketentuan tersebut bersifat umum. Maksudnya, Hadits yang
termaktub dalam kitab-kitab Shahih al-Bukhariy dan Shahih Muslim pada umumnya
berkualitas lebih tinggi daripada Hadits yang termaktub dalam kitab-kitab Hadits
selain dari kedua kitab tersebut.
Dengan demikian tidak tertutup kemungkinan, ada Hadits tertentu yang termaktub
dalam kitab lain, misalnya dalam Swum Ably Dawud, kualitasnyalebih tinggi daripada
Hadits yang termaktub dalam Shahih al-Bukhariy ataupun Shahih Muslim. Karena
bagaimana pun juga, kualitas sanad Hadits ditentukan oleh kualitas para rawi dan
persambungannya, serta bukan ditentukan oleh kitab yang menghimpunnya.401 Al-
Bukhariy dan Muslim ditempatkan oleh 'ulama' pada kedudukan yang lebih tinggi
daripada para mukharrij lainnya, karena kriteria keshahihan sanad yang diterapkan
oleh al-Bukhariy dan Muslim di kitab shahih-nya masing-masing lebih ketat daripada
para al-mukharrij lainnya.
Keadaan rawi yang diteliti, menurut qa'idah keshahihan sanad Hadits, adalah
keadilan dan ke-dhabith-annya. Terhadap para rawi yang tidak berstatus sahabat Nabi,
'Ulama' Hadits tidak "mengistimewakannya".
al-Ahwadziy Syarh jami’ al-Turmudziy (al-Madinah al-Munawwarah: Al-Maktabat al-Salafiyah, 1387H/1967M), J.I,
h.6.
399Hal ini dapat dipahami dari ketentuan ilmu sejarah yang menyatakan bahwa fakta sejarah barulah dapat diterima bila
ada corroboration berupa saksi lain. Bila saksi hanya seorang saja,maka harus dipenuhi beberapa ketentuan khusus. Lihat:
Louis Gottschalk, op. cit., h. 166-170.
400'Ulama' Hadits pada umumnya menyatakan, peringkat keshahihan Hadits dilihat dari sanad yang dipakai oleh para
mukharij-nya ada tujuh macam. Yakni: [1] Hadits yang disepakati oleh al-Bukhariy dan Muslim; [2] Hadits yang
diriwayatkan oleh al-Bukhariy saja; [3] Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim saja, [4] Hadits yang sanad-nya memenuhi
kriteria yang disepakati oleh al-Bukhariy dan Muslim; [5] Hadits yang sanad-nya hanya memenuhi kriteria yang dipakai
oleh al-Bukhariy; [6] Hadits yang sand-nya hanya memenuhi kriteria yang dipakai oleh Muslim saja; dan [7] Hadits yang
sanad-nya memakai kriteria selain kriteria yang dipakai al-Bukhariy dan atau Muslim. Lihat: Al-Suyuthiy, op.cit., J.I,
h.123; al-Qasimiy, op.cit., h.82. Hadits yang disepakati oleh al-Bukhariy dan Muslim biasa disebut mutafaq alayh. Tapi
pengertian istilah mutafaq 'alayh itu sendiri tidak disepakati oleh 'Ulama'. Menurut Ibn Hajar al-'Asqalaniy, Hadits
muttafag 'alayh ialah Hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhariy dan Muslim dengan ketentuan rawi yang berstatus sahabat
Nabi, orangnya sama. Sedangkan menurut Majd al-Din 'Abd al-Salam ibn Taymiyyah (590-652 H). kakek Taqiy al-Din ibn
Taymiyyah (661-
728 II), yang dimaksud mutafaq ‘alayh ialah Hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhariy, Muslim, dan Ahmad.
Lihat: Al-Shan'aniy, Subul al-Salam Syarh Bulugh al-Manam min Jami’ al-Ahkam (Mesir: Musthafa al-Babiy al-Halabiy
wa awladuh, 1379H/1960M), J.I, h.13; Al-Syawkaniy, Nayl al-Awthar min AHadits al-Akhbar Syarh Muntaqa al-akhbar
(Beirut: Dar al-Jil, 1973M). J.I, h.14.
401Al-Qasimiy, loc. Cit.
119
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Jadi, mereka tidak diperlakukan seperti sahabat Nabi yang terbebas dari kritik di
bidang keadilan.Cara mengetahui keadilan rawi ialah berdasarkan pada:
1] popularitas keutamaan rawi tersebut di kalangan 'Ulama' Hadits;
2] pernilaian dari para kritikus rawi Hadits; dan
3] penerapan qa'idah al-jarhwa al-ta'dil.
Sedangkan mengetahui ke-dhabith-an rawi ialah didasarkan pada:
1] kesaksian 'Ulama' Hadits;
2] kesesuaian riwayatnya dengan riwayat yang disampaikan oleh rawi yang telah,
dikenal ke-dhabith-annya;
3] sekiranya pernah terjadi kekeliruan, maka kekeliruan yang dilakukan oleh rawi itu
hanyalah sekali-kali saja (tidalk sering terjadi).Jadi, yang memegang peranan penting
dalam penetapan keadilan dan ke-dhabith-an rawi ialah kesaksian 'Ulama', dalam
hal ini 'Ulama' ahli kritik rawi Hadits. 'Ulama' Hadits telah menetapkan syarat-
syarat tertentu bagi kritikus rawi Hadits (al-jarih wa al-ta'dil).
Ini berarti, hanya kritikus yangmemenuhi syarat-syarat saja dapat dipertimbangkan
kritikannya untuk menetapkan kualitas rawi Hadits. Tegasnya, tidak setiap pendapat
atau kritik mengenai kualitas rawi Hadits harus diterima.
Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang kritikus rawi Hadits (al-
jarih wa al-mu'addit) cukup banyak. Syarat-syarat itu dapat dipilah menjadi dua
kelompok. Yakni:
1). Yang berkenaan dengan sikap pribadi: [a] bersifat adil, dalam pengertian ilmu
Hadits, dan sifat adilnya itu tetap terpelilhara tatkala melakukan pernilaian terhadap
rawi Hadits; [b] tidak bersikap fanatik terhadap aliran yang dianutnya; dan [c] tidak
bersikap benriusuhan dengan rawi yang berbeda aliran dengannya.
2).Yang berkenaan .dengan penguasaan pengetahuan, yakni berpengetahuan luas dan
mendalam, khususnya dalam hal: [a] ajaran Islam; [b] bahasa Arab; [c] Hadits dan
ilmu Hadits; [d] pribadi rawi yang dikritiknya; [e] adat-istiadat (al-'urf); dan [f]
sebab-sebab keutamaan dan ketercelaan periwayat.402
Jadi, cukup ketat syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh seorang kritikus rawi
Hadits. Karenanya, jumlah 'Ulama' yang diakui memiliki kompetensi di bidang kritik
rawi Hadits, relatif tidak banyak.
Bila syarat-syarat kritikus rawi Hadits tersebut dibandingkan dengan ketentuan
yang berlaku dalam ilmu sejarah, maka syarat-syarat keharusan bersifat adil dan
memiliki pengetahuan ajaran Islam merupakan sebagian dari ciri khusus yang menonjol
yang tidak disinggung oleh ilmu sejarah. Hal ini dapat dimengerti, karena bidang
kajian ilmu Hadits berkaitan erat dengan sumber ajaran Islam, sedang ilmu sejarah
berkaitan dengan penelitian data sejarah umat manusia yang sifatnya umum.
402 Al-'Asqalaniy, Nuz-hat al-Nazhar Syarh Nukhbat al-Fikar (Semarang: Maktabat al-Munawwar, [tth]),
h.67-68; Al-Qariy, Syarh Nukhbat al-Fikar (Beirut: Dar al-Kutub al-'ilmiyyah, 1978), h.236-238; Nur al-Din 'Itr,
Manhaj al-Naqd fiy 'Ulm al-Hadits (Damaskus: Dar al-Fikr, 1399H/1979M), h.93-94; Abu Lubabat Husayn, al-
Jarh wa al-Ta’dil (Riad: Dar al-Liwa', 1399-1979M), h.51-55; Al-Khathib), Ushul al-Hadits 'Ulumuhu wa
Mushthalahuhu (Beirut: Dar al-Fikr, 1975), h. 267.
120
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Dalam mengajukan kritik terhadap rawi Hadits, kritikus Hadits terikat pada
norma-norma tertentu. Hal ini tidak berarti, kritikus Hadits dibatasi ruang geraknya
dalam melaksanakan penelitian dan pengungkapan kualitas pribadi rawi Hadits. Pada
dasarnya, norma-norma itu ditetapkan oleh 'Ulama' dengan tujuan selain untuk
memelihara obyektifitas pernilaian rawi secara bertanggung jawab, juga untuk
memelihara segi-segi akhlak yang mulia menurut Islam. Berikut ini, dikemukakan
secara garis besar norma-norma dimaksud yang disepakati oleh 'Ulama' Hadits pada
umumnya:
1) Kritikus Hadits tidak hanya mengemukakan sifat-sifat tercela yang dimiliki oleh
rawi Hadits, tapi juga harus mengemukakan sifat-sifat utama dari rawi tersebut.
2) Sifat-sifat utama yang dikemukakan oleh kritikus Hadits dapat berupa penjelasan
secara global. Maksudnya, sifat-sifat utama yang diungkapkan tidak harus dirinci
satu persatu. Hal ini didasarkan pada pertimbangan, bahwa sifat-sifat utama
seseorang sangat sulit dikemukakan secara rinci.
3) Sifat-sifat tercela rawi yang dikemukakan secara rinci tidak dinyatakan secara
berlebih-lebihan. Maksudnya, pengungkapan sifat-sifat tercela haruslah sedemikian
rupa, sehingga dapat diketahui apakah ketercelaan itu berkaitan dengan keadilan
atau ke-dhabith-an periwayat. Di samping itu, penjelasan tersebut harus pula
terkendali secara wajar. Hal ini bertujuan, di satu pihak agar kritik yang dikemukakan
terhadap rawi tidak menimbulkan keragu-raguan dan di pihak lain agar nama baik
rawi tidak dirusakkan oleh hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan
periwayatan Hadits.403
Dilihat dari norma-norma tersebut maka dapat dinyatakan, bahwa seorang kritikus
Hadits (kritikus rawi Hadits) dalam melakukan kritiknya haruslah obyektif, lugas,
sopan dan semata-mata didorong oleh kepentingan agama. Norma-norma tersebut
sama sekali tidak bertentangan dengan ilmu sejarah. Perbedaan yang menonjol dalam
hal ini terletak pada asas norma. Asas norma yang dipakai dalam ilmu Hadits adalah
nilai-nilai ajaran Islam, sedang asas norma dalam ilmu sejarah tampaknya terpulang
pada tata-nilai yang dianut oleh masing-masing ahli kritik sejarah.Seringkali, kualitas
rawi Hadits dikemukakan dalam bentuk kalimat tertentu oleh 'Ulama' ahli kritik
Hadits. Penggunaan atau kalimat tertentu untuk menerangkan kualitas rawi tersebut
diperkenankan oleh 'Ulama', sepanjang kalimat itu memiliki makna yang jelas.
Acapkali juga 'Ulama' memakaikalimat yang berbeda untuk menyebut satu macam
kualitas periwayat.
Karena rawi Hadits jumlahnya banyak dan kualitasnya beragam, maka kata-kata
atau kalimat yang dipakaikan untuk menyifati mereka juga beragam. 'Ulama' Hadits
telah mengelompokkan berbagai kata atau kalimat tersebut dalam peringkat-peringkat
tertentu. Pengelompokan dalam berbagai peringkat itu melingkupi sifat-sifat
keterpujian para rawi dan ketercelaan mereka. Hal ini dalam ilmu Hadits biasa disebut
403Ibid. (Nur al-Din 'Itr. h.95-96; al-Khathib. h.266-268); Ibn al-Shalah, 'Mutt al-Hadits (al-Madinah al-
Munawwarah: Al-Maktabat al-'Ilmiyyah, 1972M), h.96-98; Ibn al-Subkiy, Qa'idah fiy al-jarh wa al-Ta’dil
wa Qa’idah al-Mu'arrikhin (kairo: Maktab al-Mathba'at al-Islamiyyah. 1404H/1984M), h.23, 51. Sebagian 'Ulama'
membolehkan pengungkapan sifat-sifat tercela rawi secara global. tapi yang dimaksud secara global (mujmal) di sini
adalah pengungkapan dengan istilah-istilah tertentu, misalnya istilah matruk. Lihat: al-'Asqalaniy, op. cit., h. 69; dan
al-Qariy, op. cit., h. 240.
121
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
dengan istilah maratib alfazh al-ta'dil wa al-tajrih (peringkat-peringkat untuk
berbagai lafazh keterpujian dan ketercelaan periwayat), atau istilah-istilah lain yang
semakna.
Dalam menetapkan jumlah peringkat kualitas periwayat, 'Ulama'Hadits ternyata
berbeda pendapat. Ibn Abiy Hatith al-Raziy, yang pendapatnya disetujui oleh Ibn al-
Shalah (w.643H/1245M) dan al-Nawawiy (w.676 H =1277M), telah menetapkan
empat macam peringkat, masing-masing untuk sifat-sifat keterpujian dan ketercelaan
periwayat. Abu 'Abdillah al-Dzahabiy (w.748H/1348M), (w.806H/1404M) dan
Abu al-Faydh al-Harawiy (w.837H/1436M) menetapkan lima macam peringkat untuk
hal tersebut. Ibn Hajr(w.852H/1447M), yang pendapatnya disetujui oleh Jalal al-Din
;al- Suyuthiy (w.911H/1505M), menetapkan enam macam peringkat untuk hal yang
sama di atas.404
Kelompok peringkat keterpujian rawi Hadits yang dikemukakan oleh Ibn Abiy
Hatim al-Raziy pada prinsipnya sama dengan yang dikemukakan oleh Ibn al-Shalah dan
al-Nawawiy. Pada ketiga pendapat itu tidak terdapat lafazh yang sama yang memiliki
peringkat yang berbeda. Ibn al-Shalah menambahkan contoh lafazh pada peringkat
pertama dan al-Nawawiy menambahkan beberapa contoh lafazh pada peringkat pertama
dan ketiga dari lafazh-lafazh yang telah dikemukakan oleh Ibn Abiy Hatim al-Raziy.
Menurut ketiga pendapat 'Ulama' ini, para rawi Hadits yang memiliki sifat-sifat
terpuji ada empat peringkat. Peringkat yang tertinggi adalah para rawi Hadits yang
disifati dengan lafazh-lafazh tsiqqah, mutqin dan yang semakna dengannya. Peringkat
terendah dari sifat-sifat keterpujian para rawi adalah para rawi yang disifati dengan
kata-kata shalih al-Hadits.405
Ini berarti, Hadits yang diriwayatkan oleh rawi yang disifati dengan lafazh
mutqin, misalnya, memiliki kualitas jauh lebih tinggi daripada yang diriwayatkan oleh
rawi yang disifati. untuk memuji rawi Hadits adalah persangkaan baik
semata.Pendapat ini didukung oleh umumnya 'Ulama' Hadits, fiqh dan ushulal-
fiqh.406
Kritik yang berisi celaan terhadap rawi didahulukan ("dimenangkan") terhadap
kritik yang berisi pujian, dengan syarat-syarat sebagai berikut:
1).'Ulama' yang mengemukakan celaan telah dikenal benar-benar mengetahui pribadi
rawi yang dikritiknya;
2). Celaan yang dikemukakan haruslah didasarkan pada argumen-argumen yang kuat,
yakni dijelaskan sebab-sebab yang menjadikan rawi tersebut tercela kualitasnya.407
404Al-Raziy, loc.cit.; Ibn al-Shalah, op.cit., h.110-114; al-Nawawiy, op.cit., h.14-15; Al-'Iraqiy, al-Taqyid
wa al-ldhah Syarh Muqaddimah Ibn al-Shalah (al-Madinah al-Munawwarah: Al-Maktabat al-Salatiyyah. 1400H.
h.157-164; Al-Dzahabiy. Mizan al-I’tidal fiy Naq ([ttp]): al-Babiy al-Halabiy wa Syurakah, 1382H/1963M), J.I, h.4;
Al-Harawiy, Jawahir al-Ushul fiy ‘Ilm Hadits al-Rasul (al-Madinah al-Munawwarah: Al-Maktabat al-'Ilmiyyah,
1373 H), 60-61; Al-'Asqalaniy, Nuz-hat al-Nazhar, op. cit., h. 66-67; al-Suyuthiy, op.cit., J.I, h.342-350.
405Shalih al-Hadits ialah rawi yang riwayat Haditsnya ditulis dengan tujuan untuk diteliti lebih lanjut.
Lihat: ibid. (al-Raziy; dan Ibn al-Shalah, h.112).
406Ibid.; Ibn Al-Shalah, loc.cit.; Al-Suyuthiy, op.cit., J.I, h.309-310; Fakhr al-Raziy, al-Mahshul fiy ‘Ilm al-
Ushul (saudi Arabia, Jami’at al-Iman Muhammad bin sa’ud al-Islamiyah, 1400H/190M). J.II, h.58.
407 Al-Asqalaniy, op.cit, h.69; Al-'Iraqiy, op.cit., h.240; Nur al-Din 'Itr menambahkan syarat, bahwa orang
yang melakukan kritik yang berisi celaan, tidak terjadi pertentangan pribadi atau aliran dengan rawi yang
dikritinya. Lihat; Nur al-Din 'Itr, op.cit. h.100.
122
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Dari ketiga pendapat di atas terlihat, pendapat yang dikemukakan pada butir ketiga
lebih kuat daripada kedua pendapat yang dikemukakan sebelumnya. Tapi pernyataan ini
tidak harus diartikan, bahwa bila syarat-syarat dari pendapat yang ketiga tersebut tidak
terpenuhi, maka dengan sendirinya pendapat pertama yang harus diterapkan. Sebab
bagaimana pun juga, argumen-argumen yang dikemukakan oleh pendapat yang kedua di
atas tidak dapat diabaikan begitu saja.Sekiranya kritik yang berisi celaan terhadap rawi
tidak disertakan penjelasan dari kritikus mengenai sebab-sebab ketercelaan rawi di-
maksud, maka terlebih dahulu perlu diteliti keadaan pengritik itu sendiri. Dalam hal ini,
sedikitnya, perlu diteliti sikap masing-masing pengritik yang pendapatnya bertentangan
tersebut. Karena, sikap para pengritik rawi Hadits ada yang ketat (tasyaddud), ada yang
"longgar" (tasahul) dan ada yang berada antara sikap ketat dan "longgar" (tawassuth atau
mu’tadil).408
Bila kritikus yang bersikap tasyaddud menilai seorang rawi tertentu berkualitas dha'if
tanpa keterangan sebab-sebab ke-dha'ifannya, sedang kritikus yang bersikap tawassuth
menyatakan tsiqqah, maka rawi tersebut masih dapat dinilai sebagai berkualitas tsiqqah,
sedikitnya tidak dha'if. Jadi, dalam menghadapi berbagai pendapat yang berbeda ataupun
bertentangan dan para kritikus rawi Hadits, seorang peneliti tetap dituntut bersikap kritis.
4. Kualitas Persambungan Sanad
b. Hubungan Para Rawi yang Terdekat
Hadits yang terhimpun dalam kitab-kitab Hadits, misalnya dalam al-kutub al-
kharusah, terdiri dari matn dan sanad. Dalam sanad Hadits termuat narna-nama rawi
dan kata-kata atau singkatan kata-kata yang menghubungkan antara masing-masing rawi
dengan rawi lainnya yang terdekat.
Matn Hadits yang, shahih, atau tampak shahih, belum tentu sanad-nya shahih. Sebab
boleh jadi, dalam sanad Hadits itu terdapat rawi yang tidak tsiqqah (adil dan dhabith).
Suatu sanad yang memuat nama-nama rawi yang tsiqqah, belum tentu pula sanad itu
shahih. Sebab boleh jadi, dalam rangkaian nama-nama rawi yang tsiqqah itu terdapat
keterputusan hubungan periwayatan. Ini berarti, terpenuhinya qa'idah mayor sanad
bersambung bukan hanya ditentukan oleh ke-tsiqqah-an para rawi saja, melainkan juga
ditentukan oleh terjadinya hubungan periwayatan secara sah antara masing-masing rawi
dengan rawi yang terdekat dalam sanad itu.
Susunan rangkaian para rawi dalam sanad dan letak kata-kata yang
menghubungkan antara rawi yang satu dengan rawi lainnya yang terdekat. Menurut
skema tersebut, ada dua hal pokok yang harus dipenuhi sehingga suatu sanad dinyatakan
bersambung. Yakni, seluruh rawi bersifat tsiqqah penui, tidak pernah terbukti melakukan
408 Kritikus rawi Hadits yang bersikap ketat (Tasyaddud) misalnya Yahya bin Ma’in, Abu Hatim Al-Raziy dan
Al-zarjuniy; Kritikus yang bersikap ‘longgar” (Tasahul), misalnya Abu Isa Al-Turmudziy, al-Hakim al-
Naisiburiy, Ibn Hibban al-Bustiy dan Bayhaqiy; dan kritikus yang bersikap antara ketat dan longgar (tawwasuth)
misalnya ‘Amir al-Sya’biy dan Muhammad bin Sirin. Terkadang istilah Tassahul dipakaikan juga kepada
pengkritik yang longgar dalam menetapkan kepalsuan suatu Hadits. Dalam hal ini, Ibn Jawjiy dikenal sebagai ahli
Hadits yang tasahul dalam menetapkan kepalsuan suatu Hadits, sedang al-Hakim al-Naysiburiy dikenal sebagai
tassahul dalam menetapkan keshahihan suatu Hadits. Lebih lanjut lihat; al-Dzhabiy, Dzikr Man Yu’tamad
Qawluhu fiy al-Jarh wa al-Ta’dil (Kairo: Makhtab al-Mathbu ‘at al-Islamiyah, 1400H/1980M), h.159; al-
Suyuthiy, op,. cit,. J.I, h. 105-108 dan 279.
123
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
tadlis (penyembunyian cacat), dan sah cara periwayatan masing-masing rawi dilihat dari
ketentuan tahammul wa ada` al-Hadits. Ini berarti, rawi yang tsiqqah tapi pernah
terbukti melakukan tadlis, tidak dengan sendirinya menjadikan sanad bersambung.
Sanad yang mengandung nama rawi yang tsiqqah, tapi pernah melakukan tadlis,
diperlukan penelitian yang lebih mendalam. Penelitian itu tidak cukup hanya sampai pada
pembuktian telah terjadinya kesezamanan hidup antara rawi itu dengan rawi terdekat
sebelumnya saja, melainkan juga harus sampai kepada pembuktian hubungan periwayatab
untuk setiap Hadits yang dikemukakan.
Contoh Hadits yang sanad-nya mengandung nama rawi yang bersifat tsiqqah
penuh dan yang bersifat tsiqqah tapi pernah berbuat tadlis:
"...Ruh (nama rawi) telah memberitakan kepada karni, dia menyatakan, 'Awf telah mem-
beritakan kepada kami, (berita itu berasal) dari al-Hasan, dari al-Aswad bin Sari', dia
berkata: "Saya telah berkata: 'Ya Rasul Allah, ketahuilah bahwa saya telah memujimu
dengan berbagai kata pujian dan kata-kata pujian itu saya pergunakan juga untuk memuji
Tuhan yang Maha Suci dan Maha Nabi bersabda: ‘sesungguhnya Tuhanmu yang Maha
Perkasa dan Maha Besarmenyukai pujian itu." (Hadits riwayat Ahmad dari al-Aswad
bin Sari').409
Terlihatlah nama-nama rawi dan kata-kata yang menghubungkan antara masing-
masing rawi itu dengan rawi yang terdekat dalam sanad Hadits yang diriwayatkan oleh
Ahmad bin Hanbal di atas. Berikut ini dikemukakan secara ringkas identitas para rawi
tersebut dan hubungan mereka masing-masing dengan rawi terdekat sebelumnya yang
terdapat dalam sanad Hadits itu. Hal ini dimaksudkan agardapat diketahui apakah sanad
tersebut bersambung ataukah tidak.
Yang dimaksud dengan nama Ahmad di atas ialah Ahmad bin Muhammad bin
Hanbal bin Hilal bin Asad al-Syaybaniy Abu 'Abdillah al-Marwiziy (w.164-241 H).
Dia, yang berfungsi juga sebagai al-mukharrij, telah menerima Hadits itu dari Ruh.
Ahmad memang seorang murid Ruh dalam periwayatan Hadits. 'Ulama' kritikus rawi
menilai Ahmad sebagai seorang yang tsiqqah.410Tidak ada seorang 'Ulama' pun yang
melontarkan celaan terhadap diri Ahmad. Ahmad menerima Hadits tersebut dari Ruh
dengan cara al-sama'. Kalau begitu, sanad dari Ahmad kepada Ruh bersambung.
Nama Ruh tersebut adalah Ruh bin 'Ubadah bin al-'Ala' bin Hassan bin al-Qaysiy
(w.205 H). Dia seorang murid 'Awf. Para kritikus rawi Hadits menilai Ruh sebagai
seorang rawi yang tsiqqah.411Tidak ada 'Ulama' yang melontarkan celaan terhadap diri
Ruh. Ruh menerima Hadits di atas dari 'Awf dengan cara al-sama'.Dengan demikian,
409 Ahmad Ibn Hanbal, Musnad Ahmad disertai catatan pinggir (hamisy) dari 'Aliy bin Hisam al-Din al-Mutqiy,
Muntakhab Kanz al-Ummal fiy Sunan al-Aqwal wa al-Af’al (Beirut: Al-Maktab al-Islamiy, 1398 H 1978M), J.III, h.435.
410'Ulama' rawi Hadits yang menjadi guru Ahmad bin Hanbal di bidang periwayatan Hadits cukup banyak, di
antaranya ialah Ruh bin 'Ubadah, Sufyan bin 'Uyaynah dan al-Syafi'iy. Jumlah murid Ahmad juga banyak, di
antaranya ialah al- Bukhariy, Muslim, dan Abu Dawud. Menurut Ahmad adalah rawi Hadits yang al-tsiqqah al-ma’mun.
Kata Ibn Hibban, Ahmad itu seorang yang hafizh mutqin dan ahli fiqh yang wara’ dan Ibn Sa'ad menyifati Ahmad
sebagai rawi yang yang tsiqqah sabt shaduq. Data lebih lanjut mengenai Ahmad bin Hanbal, lihat misalnya: Tandzib
al-Tandzib, op. cit., J. I, h. 72-76, dan J. III, h. 293.
411Guru Ruh dalam periwayatan Hadits, di antaranya ialah 'Awf al-A'rabiy. Para rawi Hadits yang menjadi murid 'Awf
ialah Abu Khaysurnah, Abu Qudamah, dan lain-lain. Menurut penilaian al-Khathib al-Baghdadiy, Ruh itu tsiqqah. Abu
Bakr al-Bazzar menyatakan, Ruh itu tsiqqah mamun. Yahya bin Ma'in menyifati Ruh sebagai rawi yang laysa bih ba 's dan juga
shaduq. Data lebih lanjut mengenai Ruh, lihat misalnya: ibid., J. II, h. 293-296.
124
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
sanad dari Ruh kepada 'Awf bersambung. Ini berarti juga, sanad dari Ahmad sampai
kepada 'Awf bersambung.
Yang dimaksudkan dengan 'Awf tersebut di atas ialah 'Awf bin Abiy Jamilah al-
'Abdiy al-A'rabiy (w.146 H, ada yang menyatakan 147 H). Dia adalah salah seorang
murid al-Hasan al-Bashriy. Para kritikus Hadits menilai, sebagai seorang periwayatyang
tsiqqah.412'Ulama' tidak ada yangmencela pribadi ‘Awf.'Awf menerima Hadits dari al-
Hasan secara 'an'anah. walaupun. 'Awf memakai cara 'an'anah, tapi sanad dari 'Awf kepada
al-Hasan bersambung juga. Karena, [a] 'Awf seorang rawi yang tsiqqah yang tidak pernah
terbukti melakukan tadlis; dan [b] 'Awf salah seorang murid al-Hasan dalam periwayatan
Hadits. Dengan demikian, sanad dari Ahmad sampai kepada al-Hasan bersambung.
Yang dimaksud dengan al-Hasan tersebut ialah al-Hasan bin Abiy al-Hasan Yasar al-
Bashriy (w.110 H, dalam usia 88 tahun; jadi dia lahir sekitar tahun 22 H). Abu al-'Ujla
menyatakan, al-Hasan itu tsiqqah.413Kata al-Dzahabiy, bila al-Hasan meriwayatkan Hadits
dengan memakai haddasana, maka 'Ulama' sepakat menilai al-Hasan sebagai tsiqqah. Tapi
bila al-Hasan rneriwayatkan Hadits dari Abu Hurairah dan beberapa sahabat tertentu lahirnnya,
maka 'Ulama' rnenilai al-Hasan sebagai mudallis.414Kalau begitu, ke-tsiqqah-an al-Hasan
bersyarat. Syarat itu tidak terpenuhi dalam sanad yang dibahas di atas. Karena al-Hasan
tidak menggunakan lafazh haddasana, melainkan lafazh'an. Sampai tahap ini, al-Hasan
patut "dicurigai" telah berbuat tadlis dalam sanad di atas.
Al-Aswad bin Sari' tersebut di atas adalah al-Aswad bin Sari' bin Humayr bin
'Ubadah bin Nuzal bin Murrah al-Tamimiy al-Sa'diy (w.42 H). Dia ini seorang sahabat
Nabi yang dikenal sebagai penyair yang baik.415Menurut penelitian 'Ulama', al-Hasan
al-Bashriy tidak pernah bertemu dengan al-Aswad bin Sari'.416Karen sampai al-Aswad
meninggalkan kota Bagdad dan tidak pernah ada beritanya lagi, al-Hasan masih tinggal di
Madinah, dan tidak pernah bertemu dengan al-Aswad bin Sari'. Jadi, walaupun al-Hasan
hidup sezaman dengan al-Aswad, tapi al-Hasan tidak pernah menerima riwayat
langsung dari al-Aswad. Ini berarti, sanad al-Hasan di atas terputus, karenannya sanad
Hadits riwayat Ahmad bin Hanbal tersebut dha'if.
Rawi yang tsiqqah yang menyandarkan (men-sanad-kan) riwayat Haditsnya kepada
gurunya, belum dijamin sanad Hadits itu bersambung, bila si murid tersebut mudallis.
Sebagai bukti, berikut ini dikemukakan sebuah Hadits riwayat Ahmad bin Hanbal. Dalam
sanad Hadits ini, terdapat seorang periwayat, yakni al-Hasan al-Bashriy, yang menyandarkan
412Guru 'Awf dalam periwayatan Hadits, di antaranya al-Hasan al-Bashriy, Abu Raja' al-Aththaridiy dan Abu
'Utsman al-Nandiy. Di antara para rawi yang telah menerima riwayat Hadits dan 'Awf ialah Ruh al-A'rabiy, Syu'bah, dan
Sufyan al-Sawriy. Menurut Yahya bin Ma’in. 'Awf itu tsiqqah. Abu Hatim mengatakan, 'Awf itu shaduq shalih. Ahmad bin
Hanbal menyifati 'Awf sebagai rawi yang tsiqqah shalih shaduq. Data lebih lanjut mengenai 'Awf, lihat: ibid., J.
VIII, h.166-167.
413Di antara guru al-Hasan dalam periwayatan Hadits ialah 'Utsman bin 'Affan, 'Aliy bin Abiy Thalib, dan Ibn 'Umar.
Di antara rawi Hadits yang telah menerima riwayat Hadits dari al-Hasan ialah 'Awf al-A'rabiy, Humayd al-Thawil, dan
Yazid bin Maryam. Data lebih lanjut mengenai al-Hasan ini, lihat misalnya: 'bid. J. II, h. 263-270.
414Al-Dzhabiy, Mizan al-I’tidal, op. cit,. J. I, h. 483.
415Pada waktu Khalifah Utsman bin 'Affan mati terbunuh, al-Aswad bin Sari' bersama keluarganya pergi naik kapal. Sejak
saat itu, tidak didengar lagi beritanya. Data lebih lanjut mengenai al-Aswad ini, lihat misalnya: al-‘Asqalaniy, al-Ishabah fiy
Tamyiz al-Shahabah (Beirut: Dar al-Fikr, 1398 H 1978M), J. 1, h. 44-45. Tampaknya, al-Aswad ingin menghindarkan diri
dari kancah pertentangan politik yang terjadi pada saat itu.
416'Aliy bin 'Abdillah bin Jalar al-Sa'diy at Madiniy (Ibn al-Madiniy), al-'llal ([ttp]): al-Maktab al-Islamiy,
1392H/1972M), h. 58-59; al-‘Asqalaniy, Tandzib al-Tahzib, op. cit., J. II, h. 269.
125
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
riwayat Haditsnya kepada gurunya, Salamah bin al-Muhbiq.417Bunyi matn Hadits dimaksud
adalah: …, artinya:
"Seorang laki-laki pergi berperang. Dia disertai oleh seorang hamba sahaya wanita
milik istrinya. Syandan, laki-laki itu mengadakan hubungan kelamin dengan hamba tersebut.
Peristiwa itu dilaporKan kepada Nabi SAW.Nabi lalu bersabda: "Bila laki-laid itu telah
memaksa hamba wanita tersebut, maka hamba itu menjadi merdeka, (dengan kewajiban laki-laki
itu) membayar harga hamba itu (dan uangnya diserahkan) kepada pemililmya semula
(yakni istri dari laki-laki itu). Sekiranya si hamba mematuhi laki-laki dimaksud (jadi bukan
karena dipaksa), maka hamba itu menjadi milik laki-laki tersebut (dengan kewajiban laki-laki
itu) membayar harga hamba tadi (dan uangnya diserahkan) kepada pemilik semula (yakni istri
laki-laki itu)".(Hadits riwayat Ahmad dari Salamah bin al-Muhbiq).418
Terlihatlah, Ahmad bin Hanbal telah menerima riwayat matn Hadits dari empat
orang periwayat, yakni 'Affan, Hasyim, dan 'Abdullah bin Bakr. (Matn Hadits
dikutip berdasarkan lafazh riwayat Ahmad dari Isma'il). Sanad Isma'il dan Hasyim bertemu
pada Yunus, kemudian sama-sama dengan sanad 'Affan dan Abd Allah bin Bakr bertemu
pada al-Hasan. Al-Hasan menyandarkan riwayat matn Hadits itu kepada Salamah bin al-
Muhbiq. Salamah menerima matn Hadits dimaksud dari Nabi SAW.
Menurut hasil penelitian Ibn al-Madiniy, ternyata matn Hadits tersebut tidak diterima
langsung oleh al-Hasan dari Salamah bin al-Muhbiq, melainkan diterimanya lewat Qubayshah
bin Hans. Qubayshah inilah yang menerima riwayat matn Hadits itu dari Salamah bin al-
Muhbiq.419Dengan demikian, sanad Hadits yang dikemukakan oleh Ahmad bin Hanbal,
yang skemanya termaktub dalam Gambar IV, tidak bersambung. Karenanya, sanad Hadits
itu Ke-dha'if-an sanad Hadits itu tetap tidak dapat "diselamatkan" oleh mutabi' yang
ada, sebab seluruh sanad yang dikemukakan oleh Ahmad itu bertemu pada rawi yang
telah menyebabkan keterputusan seluruh sanad. Sanad Ahmad baru dapat "ditolong" oleh
sanad yang dikemukakan oleh Ibn al-Madiniy.
Dari uraian tersebut ternyata, hubungan guru-murid antara rawi dengan rawi
terdekat dalam suatu sanad tertentu, tidaklah dengan sendirinya menjadikan sanad Hadits
itu bersambung. Hubungan guru-murid dalam sanad baru dapat dinyatakan pasti
bersambung, bila rawi yang berstatus murid itu bersifat tsiqqah sepenuhnya, tanpa pernah
melakukan perbuatan tadlis. Jadi, salah satu hal yang sangat menentukan bersambung dan
tidak bersambungnya suatu sanad Hadits adalah kualitas pribadi periwayat. Rawi yang disifati
sebagai tsiqqah oleh sebagian 'Ulama', tapi ternyata telah dapat dibuktikan oleh 'Ulama' lain
bahwa rawi itu telah pernah melakukan tadlis, maka sanad dan rawi itu harus diteliti lebih
mendalam. Sebab boleh jadi, dalam sanad yang sedang diteliti itulah, rawi tersebut telah
melakukan pula suatu perbuatan tadlis.
Qa'idah mayor sanad bersambungyang berkenaan dengan hubungan para rawi terdekat
tersebut tampak memiliki kesejalanan dengan ketentuan yang berlaku dalam ilmu sejarah.
Dalam ilmu sejarah dinyatakan, fakta yang dikemukakan oleh hanya seorang saksi barulah
dapat diterima, bila telah terpenuhi beberapa syarat tertentu. Diantara syarat penting
417Ibid. (Ibn al-Madiniy).
418Salamah bin al-Muhbiq: seorang sahabat Nabi. Salah seorang murid Salamah ialah al-Hasan al-Bashriy.
Lihat: al-'Asqalaniy. op.cit., J. IV, h.157;Ibn Hambal, op.cit., J. V, h.6.
419Ibn al-Madiniy, op. cit., h. 62-63.
126
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
berkenaan dengan saksi, dalam hal ini saksi primer, ialah: [a] saksi telah memenuhi kredibilitas
umum; dan [b] unsur-unsur yang disaksikan oleh saksi disampaikan dengan jelas.420Bila yang
menyampaikan berita adalah saksi sekunder, maka saksi tersebut juga harus memenuhi
kredibilitas umum saksi. Di samping itu, saksi sekunder disyaratkan juga berlaku
cermat dalam melaporkan apa yang dikemukakan oleh saksi primer secara keseluruhan.421
Jadi, ilmu sejarah menekankan saksi primer dan saksi sekunder harus kredibel dan cermat
dalam menyampaikan berita. Ketentuan ini telah dipenuhi oleh ilmu Hadits, khususnya
yang berkenaan dengan qa'idah mayor sanad bersambung. Malahan dalam hal ini, ilmu
Hadits lebih terinci dan hati-hati bila dibandingkan dengan ketentuan ilmu sejarah di atas.
Karena, ilmu Hadits tidak hanya menyaratkan kredibilitas dan kecermatan terhadap para rawi
saja, tapi juga menyaratkan telah terjadinya hubungan periwayatan yang sah tatkala rawi
menerima riwayat dari rawi terdekat sebelumnya.
b. Kata-kata yang Menghubungkan Nama-nama Periwayat
Dalam uraian yang lalu telah disinggung, bahwa persambungan sanad ditentukan
juga oleh kata-kata, atau singkatan kata-kata, atau harf, pada sanad yang
menghubungkan masing-masing rawi dengan rawi terdekat sebelumnya. Kata-kata
dimaksud merupakan "lambang" mengenai cara-cara yang telah ditempuh oleh rawi
tatkala menerima riwayat Hadits tersebut. Kata-kata dimaksud bermacam-macam
bentuknya dan beragam peringkat kualitasnya. Hal ini telah diuraikan dalam
pembahasan mengenai tahammul wa ada' al-Hadits.
Menurut ketentuan, bila rawi menerima Hadits dengan cara al-sama', misalnya,
maka dalam sanad, sebelum dia menyebut nama rawi yang telah menyampaikan Hadits
kepadanya, terlebih dahulu dia menyebut kata sami'na, atau haddasaniy, atau
haddasana. Tapi dalam praktek, suatu sanad yang periwayatnya menggunakan salah
satu dan ketiga macam kata tersebut tidak selalu menunjukkan bahwa rawi tersebut
telah menerima riwayat dimaksud dengan cara al-sama'. Hal ini terjadi pada sanad
yang periwayatnya bersifat tidak tsiqqah. Sebagai contoh, dapat dikemukakan
Hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Majah, sebagai berikut:
"Hisyam bin 'Ammar telah memberitakan kepada kami, (katanya) Maslamah bin 'Ulayy
telah memberitakan kepada kami, (katanya) Ibn Jurayj telah memberitakan kepada kami,
(berita itu) dari Humayd al-Thawil dan Anas bin Malik katanya: Nabi tidak menjenguk orang
yang sakit, kecuali sesudah tiga hari". (Hadits riwayat Ibn Majah dari Anas bin
Malik).422
Ibn Majah yang berstatus sebagai rawi terakhir dan sekaligus sebagai al-
mukharrij menerima riwayat matn Hadits di atas dari Hisyam bin 'Ammar dengan
cara al-sama'. Hisyam menerima Hadits itu dari Maslamah bin 'Ulayy dengan cara al-
sama' juga. Maslamah menerima Hadits itu, katanya, berasal dari Ibn Jurayj melalui
al-sama'. Ibn Jurayj meriwayatkan Hadits itu dari Humayd al-Thawil, dan Humayd
menerimanya dari Anas bin Malik, masing-masing dengan cara 'an'anah. Anas bin
420Louis Gottschalk, op. cit., h. 170.
421Ibid., h. 165.
422Ibn Majah, Sunan Ibn Majah (Dar al-Fikr, [tth]), J.I, h.1437.
127
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Malik, seorang sahabat Nabi, meriwayatkan Hadits dimaksud dengan menggunakan
kata-kata kana al-Nabiyy SAW.Isi Hadits itu berkenaan dengan perbuatan Nabi.
Setelah diteliti, ternyata Ibn Majah (209-273 H) adalah seorang rawi yang
tsiqqah. Dia menerima riwayat Hadits dari banyak periwayat, di antaranya ialah
Hisyam bin ‘Ammar.423Tidak ada seorang 'Ulama' pun yang mencela pribadi Ibn Majah
dalam hal periwayatan Hadits. Dengan demikian, kata-kata haddasana yang
dikemukakan oleh Ibn Majah tatkala menyandarkan riwayat Haditsnya kepada
Hisyam bin 'Ammar dapat dipercaya. Tegasnya, Ibn Majah telah menerima Hadits itu
dari Hisyam dengan cara al-sama'. Ini berarti, antara Ibn Majah dan Hisyam
bersambung sanad-nya.
Hisyam bin 'Ammar (153 -245 H) tidak disepakati peringkat ta'dil-nya oleh
'Ulama'. Yahya bin Ma'in menyatakan, Hisyam itu tsiqqah dan cerdas sekali. Al-
Nasa'iy menyifati Hisyam dengan la ba's bih. Menurut hasil penelitian Abu Hatim dan
al-Daraquthniy, Hisyam bin 'Ammar itu shaduq tapi tatkala berusia lanjut, Hisyam
mengalami perubahan kemampuan intelektualnya. Sebagian 'Ulama' lagi menyatakan,
Hisyam itu telah menerima uang honorarium untuk periwayatan Haditsnya, tiap dua
lembar naskah ditukarnya dengan uang satu dirham. Dia menerima riwayat Hadits
antara lain dari Maslamah bin 'Ulayy.424Kalau begitu, Hisyam ini dapat dipercaya
riwayatnya, sepanjang riwayatnya itu disampaikannya pada saat dia belum berusia
lanjut. Usia Hisyam mencapai sembilan puluh tahun. Pada saat Hisyam telah berusia
lanjut, riwayatnya tidak dapat dipercaya lagi. mengenai sikap Hisyam yang telah
menerima uang honorarium untuk periwayatan Haditsnya, menurut sebagian 'Ulama',
hal itu tidak mengurangi sifat keterpujian periwayat, sepanjang uang honorarium yang
diterimanya itu sekedar dipakai untuk mengatasi keperluan hidupnya dan keluarganya.425
Soalnya di sini, apakah tatkala Ibn Majah menerima Hadits dari Hisyam tersebut,
keadaan Hisyam masih belum uzur karena usia tuarya, ataukah setelah Hisyam telah
uzur. Tampaknya, Ibn Majah menerima riwayat Hadits dari Hisyam tatkala Hisyam
masih belum uzur. Karen, masa kesezaman Ibn Majah dengan Hisyam cukup lama; dan
Ibn Majah dapat diduga cukup mengetahui keadaan Hisyam tatkala dia (Ibn Majah)
menerima riwayat Hadits dari Hisyam tersebut. Dengan demikian, katakata
haddasana yang diucapkan oleh Hisyam tatkala menyampaikan riwayatnya, dapat
dipercaya. Ini berarti, sanad antara Hisyam bin 'Ammar dan Maslamah bin 'Ulayy
bersambung.
Maslamah bin 'Ulayy (w.190 H) oleh 'Ulama' dinyatakan tercela pribadinya. Al-
Bukhariy dan Abu Zur'ah menyatakan, Maslamah itu munkar al-Hadits. Al-Nasa'iy
menyatakan sebagai matruk. Ibn 'Adiy menilainya ghayr mahfuzh. Al-Hakim Abu
Ahmad menyifatinya dengan dzahib al-Hadits. Ibn Hibban menyatakan, Maslamah itu
membalik-balikkan sanad Hadits dan meriwayatkan Hadits yang katanya berasal dari
orang-orang tsiqqah, pada hal orang-orang tsiqqah tersebut tidak pernah meriwayatkan
423Al-'Asqalaniy, op.cit., J.IX, h.530-532; J.XI, h.52.
424Ibid., J.XI, h.52-54; Al-Dzahabiy, op.cit., J.IV, h.302-304.
425Dalam sejarah periwayatan Hadits memang ada kalangan rawi yang mengambil honorarium untuk kegiatan
penyampaian riwayat Hadits. Dalam hal ini, 'Ulama' berbeda pendapat mengenai hukumnya. Sebagian 'Ulama'
melarangnya; dan sebagian lagi membolehkannya, dengan alasan di kalangan rawi ada yang memang tidak lagi
memiliki waktu untuk mencari nafkah bagi kehidupan keluarganya. Lihat misalnya: Ibn al-Shalah, op.cit., h.107.
128
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Hadits yang dikemukakan oleh Maslamah itu. Abu Hatim al-Raziy menyatakan,
Hadits yang diriwayatkan Maslamah di atas adalah bathil mawdhu'. Kata Ibn Hajar al-
'Asqalaniy, salah satu Hadits munkar yang diriwayatkan oleh Maslamah bin 'Ulayy
adalah Hadits yang termaktub di atas. Menurut penjelasan 'Ulama', di antara rawi
Hadits yang telah menyampaikan riwayat Hadits kepada Maslamah ialah Ibn Jurayj.426
Dengan demikian dapat dinyatakan, tidak ada seorang 'Ulama' ahli kritik Hadits pun
yang memberikan pujian kepada Maslamah. Lafazh-lafazh celaan (al-tajrih) yang
disifatkan oleh 'Ulama' kepada diri Maslamah adalah lafazh-lafazh celaan yang
berperingkat sangat tinggi dalam arti jeleknya. Ini berarti, riwayat Maslamah bin 'Ulayy
ditolak oleh 'Ulama' Hadits. Kata-kata haddasana yang dinyatakan oleh Maslamah
tatkala menyandarkan riwayat Haditsnya kepada Ibn Jurayj tidak dapat memberikan
petunjuk, bahwa Maslamah telah menerima riwayat Hadits itu dari Ibn Jurayj dengan
cara al-sama'. Demikian juga, sanad antara Maslamah dan Ibn Jurayj tidak dapat
dinyatakan bersambung. Hal ini sebagai akibat dari pribadi Maslamahyang tidak dapat
dipercaya. Para rawi lain yang berkualitas tsiqqah dalam Gambar V tersebut tidak
dapat "menolong" cacat berat yang dimiliki oleh Maslamah bin 'Ulayy. Karenanya,
para rawi sebelum Maslamah tidak perlu lagi diteliti, kecuali bila ternyata terdapat
mutabi' yang berkualitas shahih. Sanad Hadits riwayat Ibn Majah dimaksud memang
memiliki sejumlah mutabi', tapi seluruh mutabi' itu terdapat rawi yang
lemah.427Karenanya, sanad Ibn Majah tersebut tetap tertolak.
Dari uraian di atas dapat dinyatakan, kata-kata yang terletak antara masing-
masing rawi dengan rawi terdekat sebelumnya tidak memberikan petunjuk mengenai
persambungan sanad, bila rawi yang mengemukakan kata-kata itu tidak bersifat tsiqqah.
Jadi, penolakan terhadap rawi yang lemah bukan hanya di bidang riwayat Hadits yang
dikemukakan saja, melainkan juga kata-kata yang dipakainya dalam penyandaran
riwayat Haditsnya. Seperti telah dikemukakan di pembahasan yang lalu, kata-kata,
atau pernyataan, atau harf, atau singkatan kata-kata yang menghubungkan nama-nama
rawi dalam sanad merupakan "lambang" mengenai cara yang telah ditempuh oleh
rawi ketika menerima riwayat Hadits dari rawi terdekat sebelumnya. Masing-masing
cara penerimaan riwayat itu memiliki bobot akurasi yang tidak sama. Rawi dengan
cara-cara al-sama', al-qir’ah, al-ijazat al-maqrunah bi al-munawalah (al-munawalat al-
maqrunat bi al-ijazah) dan al-mukatabah, kualitasnya lebih tinggi daripada cara-cara
yang selainnya. Berbagai macam cara periwayatan Hadits yang telah tertentu tersebut
merupakan salah satu bentuk kehati-hatian 'Ulama' Hadits dalam melakukan
periwayatan Hadits. Hal ini tidak dijumpai dalam ketentuan ilmu sejarah. Ilmu sejarah
hanya menentukan pentingnya kredibilitas saksi dan kejelasan ungkapan yang
dikemukakan oleh sumber berita. Ilmu Hadits selain sangat memperhatikan kedua hal
yang dikemukakan oleh ilmu sejarah tersebut, juga sangat memperhatikan cara-cara yang
426 Al-Dzahabiy, op. cit., J.IV, h.109-110: al-'Asqalaniy, op.cit., J.X, h.146-147.
427Berbagai sanad yang berfungsi sebagai mutabi’ terhadap sanad Hadits yang "dipakai" oleh Ibn Majah itu antara
lain dikemukakan oleh Abu Syaykh ibn Asakir dan al-Thabraniy. Seluruh sanad yang berfungsi sebagai mutabi'
tersebut mengandung nama-nama rawi yang pribadinya oleh 'Ulama' disifati sebagai matruk, kadzdzab, atau muttaham
bi al-kadzib. Muhammad Nashir al-Din al-Albaniy telahmeneliti seluruh sanad Hadits dimaksud dan dia
menyimpulkan bahwa Hadits yang matn-nya seperti diriwayatkan oleh Ibn Majah itu adalah Hadits palsu. Lihat:
Muhammad Nashir al-Din al-Albaniy, silsilat al-AHadits a!-Dha'ifat al-Mawdhu'ah wa Asaruha al-Sayyi' fiy al-
Ummah (Beirut: Al-Maktab al-Islamiy. 1398 H). J.1, h.178-179.
129
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
dipakai oleh saksi (periwayat) tatkala menerima riwayat. Dilihat dari sisi ini, qa'idah
keshahihan sanad Hadits, khususnya yang berkenaan dengan persambungan sanad,
tampak lebih teliti daripada ketentuan ilmu sejarah.
Selanjutnya, khusus berkenaan dengan kata-kata atau harf yang menghubungkan
antara sahabat Nabi dengan isi berita yang disampaikannya, bentuknya cukup
beragam. Di antara berbagai bentuk ituada yang diperselisihi oleh 'Ulama' mengenai
kepastiannya sebagai Hadits Nabi. Misalnya, kata-kata min al-sunnah dan kunna naf'al
kadza.Tapi dilihat secara keseluruhan, kata-kata yang dipakai oleh sahabat untuk
menyampaikan Hadits Nabi cukup cermat. Salah satu bukti kecermatan itu dapat
dilihat, misalnya, pada kejelasan jenis Hadits yang disampaikan oleh sahabat.
Jenis-jenis Hadits itu ada yang berstatus sabda, perbuatan, pengakuan (taqrir) dan keadaan
Nabi SAW.Hadits Nabi yang berupa perbuatan Nabi tidak diperkenankan diriwayatkan
dalam bentuk sabda. Bila terjadi periwayatan yang menyalahi ketentuan ini, maka
Hadits tersebut.akan dinilai sebagai Hadits lemah (dha’if).Di samping itu, terjadinya
periwayatan Hadits secara makna, walaupun dalam praktek banyak terlihat, tapi cukup
ketat persyaratan yang harus dipenuhi oleh rawi dalam melakukan periwayatan Hadits
secara makna tersebut."Pelanggaran" terhadap persyaratan itu, akan segera dapat
diketahui oleh rawi lain, baik dari kalangan sahabat maupun dari kalangan rawi yang
bukan sahabat. Karena, para rawi yang bersikap hati-hati dan sangat kritis dalam
periwayatan Hadits selalu meneliti Hadits yang sampai kepada mereka. Penelitian itu
bukan hanya terhadap para rawi dan persambungan sanad-nya, melainkan juga
terhadap matn-nya.
130
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
BAB IV
RINGKASAN
Salah satu acuan umum bagi 'Ulama' Hadits dalam meneliti kualitas Haditsadalah
qa'idah keshahihan sanad Hadits. 'Ulama' Hadits mengakui, Hadits yang kualitas sanad-
nya shahih belum tentu matn Hadits itu berkualitas shahih. Kesenjangan ini timbul,
mungkin disebabkan oleh qa'idah keshahihan sanad dan mungkin disebabkan oleh faktor-
faktor lain. Soal pokok yang dibahas dalam disertasi ini adalah tingkat akurasi qa'idah
keshahihan sanad Hadits dimaksud. Soal pokok tersebut dibagi menjadi dua sub soal. Yakni:
[1] bila ditelaah secara kritis, maka seberapa jauh relevansi qa'idah itu dengan tujuan
penelitian kualitas Hadits; dan [2] bila ditinjau dengan pendekatan ilmu sejarah, maka
seberapa tinggi tingkat ketelitian qa'idah tersebut. Pembahasan sub soal pokok pertama
dipusatkan pada telaah terhadap berbagai argumen yang berkaitan dengan qa'idah itu dan
tingkat kecermatan qa'idah dalam fungsinya sebagai penyeleksi kualltas para rawi dan
persambungan sanad Hadits Penk bahasan sub soal pokok kedua dipusatkan pada peninjauan
dengan pendekatan ilmu sejarah terhadap fungsi qa'idah tersebut dalam menetapkan kualitas
rawi yang dapat dipercaya dan hubungan para rawi dalam sanad.
Untuk menjawab soal pokok di atas, buku ini telah membahas periwayatan Hadits,
faktor-faktor yang mendorong kegiatan penelitian Hadits, unsur-unsur qa'idah keshahihan
sanad Hadits dan tinjauan dengan pendekatan ilmu sejarah terhadap bagian-bagian pokok
dari qa'idah itu. Inti pembahasan dan kesimpulan jawaban atas soal pokok yang diajukan
disertai ini, dikemukakan sebagai berikut:
1. Cara Nabi menyampaikan Haditsnya cukup beragam. Pada zaman Nabi, tidak semua Hadits
Nabi dkatat oleh sababat Nabi. Periwayatan Hadits pada zaman itu kebanyakan
berlangsung secara lisan. Cara periwayatan Hadits yang dilakukan oleh para sahabat
Nabi dan para rawi yang tidak berstatus sebagai sahabat Nabi cukup beragam. 'Ulama'
telah meneliti cara-cara periwayatan Hadits tersebut. Dan berbagai cara itu, ada yang
dinyatakan sah oleh 'Ulama' Hadits dan ada yang dinyatakan tidak sah.
Sebelum Hadits Nabi dibukukan secara resmi dan massal atas perintah Khalifah
'Umar bin 'Abd al-'Aziz, telah terjadi berbagai pemalsuan Hadits. Pemalsuan-pemalsuan
itu telah dilakukan oleh berbagai macam golongan masyarakat dengan berbagai tujuan.
Di samping itu, telah terjadi pula penolakan terhadap Hadits Nabi sebagai salah satu
sumber ajaran Islam yang dilakukan oleh sekelompok kecil dari kalangan umat Islam.
Walaupun seluruh alasan yang dikemukakan oleh orang-orang yang berpaham inkar al-
sunnah itu lemah, tapi paham dimaksud telah dihidupkan kembali oleh orang-orang
Islam tertentu di generasi berikutnya, bahkan pada abad sekarang ini. Kalangan penolak
Hadits tersebut terlihat pada umumnya kurang memiliki pengetahuan yang diperlukan
untuk memahami sumber ajaran Islam, Al-Qur'an dan Hadits Nabi.
Hampir seluruh umat Islam telah mengakui, bahwa Hadits Nabi adalah salah satu
sumber ajaran Islam. Karena Hadits Nabi memiliki latar belakang sejarah yang berbeda
dengan Al-Qur'an, maka 'Ulama' Hadits mulai pada zaman Nabi telah memberikan
131
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
perhatian yang khusus terhadap Hadits Nabi.Dalam periwayatan Hadits, sanad Hadits
dinyatakan memiliki kedudukan yang sangat penting. Hadits yang dapat dijadikan hujah
(hujjah) hanyalah Hadits yang sanad-nya shahih. Untuk kepentingan penelitian sanad
Hadits, 'Ulama' telah menyusun berbagai ihnu, dalam arti pengetahuan, dan qa'idah
berkenaan dengan sanad Hadits. Salah satu qa'idah yang telah diciptakan oleh 'Ulama'
adalah qa'idah keshahihan sanad Hadits, yakni patokan atau kriteria yang harus dipenuhi
oleh suatu sanad Hadits yang berkualitas shahih.Jadi, ada beberapa faktor yang
mendorong lahirnya qa'idah keshahihan sanad Hadits. Faktor-faktor yang terpenting
ialah: [a] Hadits Nabi merupakan salah satu sumber ajaran Islam; [b]Hadits Nabi tidak
seluruhnya ditulis pada zaman Nabi; [c] telah muncul berbagai pemalsuan terhadap Hadits
Nabi; dan [d] Hadits Nabi dibukukan secara resmi dan massal setelah lama Nabi wafat.
2. Qa'idah keshahihan sanad Hadits yang diciptakan oleh 'Ulama' ternyata tidak seragam.
Tapi, ada qa'idah yang telah disepakati oleh mayoritas 'Ulama' Hadits dan tetap berlaku
sampai sekarang. Setelah diteliti, ternyata qa'idah itu memiliki tingkat akurasi yang
tinggi. Qa'idah dimaksud menyatakan bahwa suatu sanad Hadits barulah dinyatakan
berkualitas shahih, bila:
a. Sanad Hadits itu bersambung mulai dari awal sampai akhir sanad. Yakni, sanad itu
muttashil dan marfu’.
b. Seluruh rawi Hadits itu bersifat adil. Yakni:
1). beragama Islam;2). mukalaf;3). melaksanakan ketentuan Islam; 4).memelihara
muru’ah.
c. Seluruh rawi Hadits itu bersifat dhabith. Yakni:
1). hafal dengan sempurna Hadits yang diriwayatkannya;
2). mampu dengan baik menyampaikan Hadits yang dihafalnya itu kepada orang lain
tanpa ada kesalahan. Orang yang memiliki sifat-sifat adil dan dhabith biasanya
disebut sebagai orang yang bersifat tsiqqah.
d. Sanad Hadits itu terhindar dari syudzudz. Yakni, tidak terjadi pertentangan antara rawi
yang tsiqqah dan rawi yang tsiqqah lainnya yang lebih banyak jumlahnya. Sanad
Hadits yang terhindar dan syadz biasanya juga disebut sebagai Hadits mahfuzh.
e. Sanad Hadits terhindar dariYakni:
1). tidak terjadi pernilaian tsiqqah terhadap rawi yang sesungguhnya tidak tsiqqah;
2).tidak terjadi penetapan sanad sebagai bersambung untuk sanadyang
sesungguhnya tidak bersambung.
Dilihat dari pengorganisasiannya, unsur-unsur qa'idah tersebut tampak tersusun secara
tumpang tindih. Karena, dua unsur yang disebut terakhir hanya bersifat metodologis, yang
berfungsi sebagai penggarisbawahan terhadap keharusan terpenuhinya unsur-unsur yang
disebut pada butir [a] dan atau butir [c]. Kedua butir yang termaktub dalam [d] dan [e] dapat
tidak dinyatakan secara eksplisit sebagai qa'idah mayor, melainkan cukup dkantumkan
sebagai unsur qa'idah minor dan butir-butir [a] dan [c].
1. 'Ulama' membuat qa'idah keshahihan sanad Hadits dengan tujuan utama sebagai acuan untuk
meneliti kualitas sanad Hadits. Hanya Hadits yang benar-benar telah memenuhi semua unsur
qa'idah keshahihan sanad Hadits sajalah yang dapat dinyatakan sebagai Hadits yang sanad-
nya berkualitas shahih.
132
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Dilihat dari latar belakang dan tujuan pokok diciptakan qa'idah dimaksud, ternyata
keberadaan masing-masing unsur dari qa'idah-qa'idah memiliki argumen-argumen yang
kuat dan relevan. Argumen-argumen itu, ada yang berupa dalil-dalil naqliy yang eksplisit
(shahih) dan yang implisit (mafhum), logika, kejiwaan dan atau sejarah. Ini berarti,
qa'idah keshahihan sand Hadits memang memiliki tingkat akurasi yang cukup tinggi sebagai
acuan untuk meneliti keshahihan sanad Hadits. Sekiranya pengorganisasian unsur-unsur
yang terlihat tumpang tindih dinilai sebagai salah satu kelemahan, maka kelemahan itu
tidak mengurangi tingkat akurasi qa'idah.
2. Menurut qa'idah keshahihan sanad Hadits, rawi Hadits yang dapat dipercaya adalah rawi
yang bersifat adil dan dhabith. Sifat adil berkaitan erat dengan integritas pribadi diukur
dari ajaran Islam; dan sifat dhabith berkaitan dengan kemampuan intelektual pribadi.
Rawi yang bersifat adil dan dhabith, seperti telah dinyatakan di uraian terdahulu, biasa
disebut dengan rawi yang bersifat tsiqqah. 'Ulama' Hadits telah membahas dan meneliti
kualitas para rawi Hadits dalam kaitan ini:
a. Sebagian besar 'Ulama' Hadits sepakat, bahwa seluruh sahabat Nabi, tanpa kecuali,
bersifat adil. Argumen-argumen yang diajukan oleh 'Ulama' tersebut adalah dalil-dalil
naqliy berupa ayat-ayat Al-Qur'an dan Hadits Nabi. Sebagian 'Ulama' ada yang
menandaskan, bahwa 'Ulama' telah ber-ijmak mengenai keadilan sahabat tersebut. Setelah
diteliti, ternyata seluruh argumen 'Ulama' yang menyatakan semua sahabat bersifat adil
tidak cukup kuat. Kelemahan argumen-argumen terlihat pada ketidaktepatan
penggunaan dalil yang mereka tunjuk. Dalil-dalil yang bersifat khusus mereka terapkan
pada hal-hal yang bersifat umum. Pendapat yang menyatakan bahwa seluruh sahabat
Nabi bersifat adil, ternyata bukanlah pendapat ijmak ulama. Di samping itu pendapat
yang menggeneralisasikan bahwa seluruh sahabat Nabi tanpa kecuali bersifat adil,
adalah pendapat yang menyelami fakta sejarah. Karena, walaupun para sahabat Nabi
yang meriwayatkan Hadits pada umumnya bersifat adil, ternyata ada juga satu-dua orang
sahabat tidak bersifat adil.
b. 'Ulama' Hadits, dalam hal ini para kritikus rawi Hadits, terkadang berbeda pendapat
dalam menentukan kualitas pribadi periwayat. Perbedaan itu terjadi karena beberapa
sebab. Sebab-sebab yang dapat dikatakan dominan ialah:
1). Sikap 'Ulama' Hadits dalam menetapkan kualitas rawi tidak sama. Mereka ada yang
bersikap ketat (mutasyaddid), longgar (mutasahil), dan pertengahan antara sikap
ketat dan sikap longgar (mutawassith).
2).Tingkat pengenalan 'Ulama' terhadap diri rawi tidak selalu sama. Kalangan
'Ulama' tertentu ada yang memiliki pengetahuan yang lebih banyak terhadap pribadi
rawi tertentu dibandingkan dengan pengetahuan 'Ulama' tertentu lainnya.
3).Pembagian peringkat kualitas rawi yang dianut oleh 'Ulama' tidak sama.
Kalangan 'Ulama' ada yang membagi peringkat kualitas rawi kepada empat macam,
ada yang membaginya kepada lima macam dan ada yang membaginya kepada enam
macam untuk masing-masing kelompok keterpujian dan ketercelaan periwayat.
Untuk menentukan kualitas rawi Hadits secara "lebih obyektif", harus
133
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
dipertimbangkan ketiga sebab tersebut. Secara operasional, proses penetapan kualitas
rawi harus diperhatikan siapa 'Ulama' yang mengemukakan kualitas rawi dan alasan--
alasan apa yang mendasari penetapan kualitas itu. Hal yang disebut terakhir ini lebih
ditekankan pada argumen-argumen yang berkenaan dengan penetapan ketercelaan
periwayat. Karena argumen-argumen mengenai keterpujian rawi cukup sulit
dikemukakan secara rinci.
Sekiranya apa yang termaktub dalam butir [a] dan [b] di atas merupakan suatu
kelemahan dalam penelitian rawi Hadits, maka kelemahan itu tidak "mengganggu"
tingkat akurasi unsur-unsur qa'idah keshahihan sanad Hadits. Kelemahan itu hanya
berkaitan dengan cara penerapan qa'idah. Ini berarti, makin kritis rawi dinilai oleh
seorang peneliti akan makin tampak tingkat akurasi unsur-unsur qa'idah keshahihan sanad
yang berkenaan dengan kualitas periwayat. Peneliti yang bersikap kritis dalam menilai
rawi Hadits, tidak harus diartikan bahwa peneliti tersebut telah bersikap ketat
(mutasyaddid).
3. Menurut qa'idah keshahihan sanad Hadits, persambungan sanad (rangkaian para periwayat)
mulai dari penghimpun Hadits (al-mukharrij) sampai kepada rawi pertama ditentukan oleh:
a. ke-tsiqqah-an seluruh rawi dalam sanad itu; dan
b. keabsahan hubungan periwayatan antara masing-masing rawi dengan rawi terdekat sebelumnya
dilihat dari ketentuan tahammul wa ada al-Hadits.
Berdasarkan ketentuan ini, maka pendapat yang menyatakan bahwa Hadits mursal
shahabiy merupakan Hadits yang berstatus bersambung sanad-nya dari sahabat yang bukan rawi
pertama kepada Nabi, adalah pendapat yang tidak konsisten terhadap qa'idah keshahihan sanad
Hadits. Yang menjadi dasar bagi 'Ulama' mengakui bahwa sanad Hadits mursal shahabiy tersebut
bersambung, adalah anggapan bahwa semua sahabat Nabi bersifat adil. Pada hal, syarat sahnya
rawi bukan hanya bersifat adil saja, melainkan juga harus bersifat dhabith. Dan kalangan sahabat
Nabi, ternyata ada yang tidak dhabith untuk periwayatan Hadits tertentu.
Hubungan periwayatan para rawi dapat dilihat pada kata-kata, atau singkatannya, atau hal,
yang menghubungkan antara masing-masing rawi dengan rawi terdekat sebelumnya. Penafsiran
terhadap kata-kata, atau singkatannya, atau harf itu, ada yang disepakati oleh 'Ulama' dan ada
yang tidak disepakati. Perbedaan penafsiran itu membawa akibat terjadinya perbedaan pendapat
mengenai persambungan sanad. Hal ini dapat diatasi, walaupun tidak selalu mudah, dengan cara
mengembalikan penafsiran kata-kata, atau singkatannya, atau harf dimaksud kepada "mazhab"
pemakainya, sedikitnya kepada "mazhab" penghimpun Hadits tersebut.
Perbedaan 'Ulama' mengenai penafsiran kata-kata, atau singkatannya, atau harf itu tidak
mempengaruhi tingkat akurasi qa'idah keshahihan sanad Hadits. Karena, perbedaan itu hanya
berkaitan dengan aplikasi dari unsur qa'idah mayor sanad bersambung semata dan dapat
diselesaikan.
4. Apabiia dinyatakan bahwa qa'idah keshahihan sanad Hadits memiliki tingkat akurasi yang tinggi,
maka seharusnya tidak terjadi kesenjangan antara keshahihan sanad dengan keshahihan matn.
Tegasnya, bila suatu Hadits sanad-nya berkualitas shahih, maka mestinya matn Hadits itu juga
berkualitas shahih. Pada hal kenyataannya, ada Hadits yang sanad-nya shahih tapi matn-nya
134
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
dha’if. Kesenjangan ini sesungguhnya tidak disebabkan oleh qa'idah keshahihan sanad Hadits, tapi
disebabkan oleh faktor-faktor lain. Dalam hal ini, alternatif penyebabnya ialah:
a. Karena qa'idah keshahihan sanad tersebut tidak dilaksanakan secara konsekuen. Bentuk ketidak-
konsekuenan- itu dapat berupa, misalnya:
1). Diterapkannya pendapat yang menyatakan bahwa seluruh sahabat Nabi bersifat adil.
Kemudian dalam praktek, terdapat kecenderungan dari 'Ulama' Hadits pada umumnya
bahwa sahabat Nabi bukan hanya bersifat adil semata melainkan juga bersifat dhabith.
2). Diterapkannya pendapat yang menyatakan bahwa Hadits mursal shahabiy merupakan Hadits
yang sanad-nya bersambung dari sahabat bukan rawi pertama kepada Nabi.
3). Telah terjadi kesalahan pernilaian terhadap periwayatan tertentu. Hal ini mungkin
disebabkan karena ketentuan al-jarh wa al-ta'dil tidak dilaksanakan seperti mestinya, atau
mungkin terjadi kekeliruan pribadi rawi yang dinilainya.
4). Telah terjadi kekeliruan penafsiran kata-kata, atau singkatannya, atau harf, yang
menghubungkan rawi dengan rawi terdekat sebelumnya yang terdapat dalam sanad.
b. Karena terjadi perbedaan pendapat mengenai unsur-unsur qa'idah keshahihan sanad Hadits
itu sendiri.
c. Karena terjadi perbedaan sikap 'Ulama' Hadits dalam menilai kualitas rawi Hadits tertentu.
Mereka ada yang bersikap ketat (mutasyaddid), longgar (mutasahil) dan pertengahan
(mutawassith). Rawi yang dinyatakan bersifat tsiqqah oleh 'Ulama' yang mutasahil belum
tentu dinyatakan tsiqqah juga oleh 'Ulama' yang mutasyaddid.
d. Karena telah terjadi periwayatan Hadits secara makna.
e. Karena matn Hadits tersebut berkaitan dengan soal nasikh-mansukh (yang menghapus dan yang
dihapus hukum berlakunya), atau 'amm-khashsh (yang umum dan yang khusus), atau muthlaq-
muqayyad (yang absolut dan yang berbatas), atau mujmal mufashshal (yang global dan yang
rinci).
f. Karena qa'idah keshahihan matn Hadits yang digunakan masih belum akurat.
5. Ketentuan dasar keshahihan sanad Hadits yang telah disepakati oleh mayoritas 'Ulama' Hadits
berbeda dengan ketentuan dasar kritik ekstern dalam ilmu sejarah mengenai rawi (saksi) yang
dapat diterima riwayat atau kesaksiannya. Tapi pada tahap berikutnya, terdapat kesejalanan antara
ilmu Hadits dan ilmu sejarah. Ketentuan dasar yang dianut ilmu Hadits ialah: periwayatan seorang
rawi yang telah dapat diterima, asalkan rawi dimaksud bersifat adil dan dhabith. Syahid dan
mutabi' sangat dihargakan dan ditempatkan sebagai penguat terhadap sanad Hadits yang
didukungnya. Sanad Hadits yang memiliki syahid dan atau muttabi’ lebih kuat daripada sanad
Hadits yang gharib, asalkan semua periwayatnya sama-sama tsiqqah dan rangkaian para
periwayatnya sama-sama bersambung. Sedang ketentuan dasar dari ilmu sejarah ialah:
suatu fakta pada prinsipnya barulah dapat diterima bila ada corroboration (dukungan)
berupa dua orang saksi atau lebih yang memenuhi syarat. Fakta yang berasal dari kesaksian
hanya seorang saksi saja barulah dapat diterima, bila corroboration berupa saksi lain tidak
diperoleh dan saksi yang hanya seorang itu telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Ini
berarti, penerimaan terhadap saksi yang hanya seorang diri itu merupakan jalan keluar,
135
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
karena saksi yang memiliki corroboration berupa saksi lain tidak diperoleh. Dengan
demikian, saksi yang memilikli corroboration berupa saksi lain berkedudukan lebih kuat
daripada saksi yang tidak memiliki corroboration tersebut. Pada tahap ini terdapat kesejalanan
antara ilmu Hadits dan ilmu sejarah. Yakni, kedua ilmu ini sama-sama menerima rawi
(saksi) yang hanya seorang did dan menempatkan rawi (saksi) yang lebih dari seorang
lebih kuat kedudukannya daripada rawi (saksi) yang hanya seorang did saja.
6. Dilihat dari tujuan penelitian sumber, ternyata qa'idah keshahihan sanad Hadits dan qa'idah
kritik ekstern ilmu sejarah memiliki kesejalanan. Yakni, keduanya sama-sama bertujuan
untuk memperoleh berita atau fakta yang shahih.Bagian-bagian penting yang menjadi titik
konsentrasi ketentuan untuk mencapai tujuan tersebut, terdapat perbedaan antara qa'idah
keshahihan sanad Hadits dan qa'idah kritik ekstern ilmu sejarah. Ilmu Hadits meng-
konsentrasikan ketentuan itu pada kualitas rawi dan hubungan periwayatan antara
masing-masing rawi dengan rawi terdekat sebelumnya. Ilmu sejarah tampaknya hanya
mengkonsentrasikan ketentuan pada kualitas saksi mata. Dalam pada itu, penentuan kualitas
rawi atau saksi yang dapat dipercaya, ilmu Hadits dan ilmu sejarah memiliki kesamaan di
samping perbedaan. kesamaannya, kedua ilmu itu sama-sama ketat dalam menentukan
kriteria bagi rawi atau saksi yang dapat dipercaya. Perbedaan yang menonjol terlihat
bahwa ilmu Hadits menggunakan argumen agama (Islam) sebagai salah satu dasar
penetapan kualitas pribadi rawi yang dapat dipercaya, sedangkan ilmu sejarah tidak
menggunakan argumen agama tersebut.
Tapi,, dilihat dari tujuan penelitian berita atau fakta itu sendiri, tampaknya ilmu sejarah
tidak menolak "sikap" ilmu Hadits dimaksud. Karena prinsip penggunaan argumen agama
pada ilmu Hadits itu tidak terlepas dari tujuan penelitian berita atau fakta; dan berita atau
fakta yang menjadi tujuan penelitian sanad adalah salah satu sumber ajaran agama
(Islam).Hubungan periwayatan para rawi yang ditempatkan sebagai salah satu bagian
penting dalam qa'idah keshahihan sanad Hadits telah memiliki kriteria tertentu dan terinci
pembagian peringkatnya. Dalam kaitan ini, ilmu sejarah tidak membahasnya secara
terinci. Walaupun qa'idah keshahihan sanad Hadits terdapat beberapa perbedaan bila
dibandingkan dengan qa'idah kritik ekstern ilmu sejarah, tapi berbagai perbedaan itu tidak
menunjukkan kelemahan qa'idah keshahihan sanad Hadits. Perbedaan itu justru
menunjukkan sikap yang sangat hati-hati dari qa'idah keshahihan sanad Hadits dalam
menentukan berita, dalam hal ini Hadits Nabi, yang berkualitas shahih. Ini berarti, bila
qa'idah kritik ekstern ilmu sejarah dapat diakui sebagai salah satu metode ilmiah, maka
dengan sendirinya qa'idah keshahihan sanad Hadits dapat juga dinyatakan sebagai salah
satu metode ilmiah. Tampaknya, dalam batas-batas tertentu, qa'idah keshahihan sanad
Hadits dapat dipakai juga sebagai metode untuk penelitian sumber sejarah. Demikian pula
sebaliknya, dalam batas-batas tertentu, qa'idah kritik ekstern ilmu sejarah tampaknya
dapat juga dijadikan salah satu metode untuk penelitian sanad Hadits.
7. Penerapan qa'idah keshahihan sanad Hadits yang berkenaan dengan rawi yang berstatus
sahabat Nabi, baik dalam kedudukan rawi itu sebagai saksi primer maupun sebagai saksi
sekunder, dilihat dari ketentuan ilmu sejarah, tampak terdapat kelemahan. Kelemahan itu
berpangkal pada pendapat yang menyatakan bahwa semua sahabat Nabi bersifat adil. Dalam
pada itu, ilmu Hadits telah membagi peringkat kualitas rawi yang tidak berstatus sahabat
136
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Nabi dengan cukup ketat. Pembagian peringkat kualitas rawi itu tidak hanya berkaitan
dengan sifat-sifat keterpujian rawi saja, tapi berkaitan juga dengan sifat-sifat
ketercelaannya. Dalam ilmu sejarah, pembagian peringkat kualitas rawi seperti yang
dikemukakan oleh ilmu Hadits itu tidak dikenal.
8. Ilmu Hadits sama sekali tidak menghargai rawi yang bersifat dha'if (tidak kredibel).
Sedang menurut ilmu sejarah, saksi yang berkualitas terburuk pun masih dihargainya,
dengan pertimbangan bahwa saksi tersebut sekali-sekali tentulah pernah menyatakan
suatu kebenaran juga. Dilihat dari segi ini qa'idah keshahihan sanad Hadits terlihat
sangat hati-hati dan teliti bila dibandingkan dengan ketentuan ilmu sejarah.
9. Walaupun qa'idah keshahihan sanad Hadits dinyatakan memiliki tingkat akurasi yang
tinggi, hal ini tidak berarti bahwa kritik terhadap matn Hadits tidak diperlukan.
Karena, tujuan akhir dari penelitian sanad adalah untuk mendapatkan matn Hadits yang
berkualitas shahih. "Kondisi" matn Hadits, bagaimana pun juga ada di antaranya yang
belum "terjangkau" oleh qa'idah keshahihan sanad Hadits. Para rawi Hadits dalam
melaporkan matn Hadits pada umumnya terikat pada apa yang tampak dari luar.
Sedang apa yang menjadi "rahasia" dari matn Hadits itu masih diperlukan penelitian
tersendiri. Di samping itu, apa yang telah dikemukakan di butir keenam di muka
merupakan salah satu hal yang mengharuskah tetap diadakannya penelitian matn Hadits.
Dengan demikian, ilmu Hadits dan ilmu sejarah dalam hal ini ada kesejalanan juga.
Yakni, keduanya sama-sama menganggap penting kedudukan kritik matn (kritik intern)
di samping kritik sanad (kritik ekstern).Alhamdu lillahi Rabbil-'alamin.
137
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
DAFTAR KEPUSTAKAAN
Abadiy, Abu al-Thayyib Muhammad Syams al-Haqq, Awn al-Ma'bud Syarh Sunan Abiy
Dawud, Dar al-Fikr dan al-Mathba'at al-Salafiyyah, J.IV (504 h.), VII (525 h.), VIII
(531 h.), dan IX (525 h.), cet. III, [ttp], 1399H = 1979M.
Abdullah, Taufik, dan Abdurrachman Surjomihardjo (redaktur). Ilmu Sejarah dan Historiografi,
Gramedia, takarta, cet. I, 1985, xxiv + 327 h.
--------------, "Kata Pengantar" dalam Abdurrachman Surjomihardjo, Pembinaan Bangsa dun
Soal Historiografi, Idayu. Jakarta, cet. II, 1979, 208 h.
Al-Abrasyiy, Muhammad 'Athiyyah, Azhanzat al-Rasul SAW, Dar al-Qalam, Kairo, cet. II,
1966, 388 h.
Al-Adhabiy, Shalah al-Din bin Ahmad, Manhaj Naqd al-Matn, Dar al-Afaq aI-Jadidah, Beirut,
cet. I, 1403H/1983 M, 375 h.
Ahmad, Kassim, Hadits Satu Penilaian Semula, Media Intelek, Selangor, cet. I, 1986, 131h.
Al-'Ala'iy, Shalah al-Din Abu Sa'id Khalil bin Kaykaldiy, Jami' al-Tahshil fly Ahkam al-
Marasil, naskah diteliti dan diberi notasi oleh Hamdiy 'Abd al-Majid al-
Salafly, Ihya` al-Turas al-Islamiy, Wuzarat al-Awqaf al-Jamhurimh al-
lraqiyyah, cet. I, 1978 M, 423 h.
Al-Albaniy, Muhammad Nashir al-Din, Silsilat al-AHadits al-Dhallah wa al-Mawdhu'ah wa
Asaruha al-Sayyr fiy al-Ummah, Al-Maktab al-Islarniy, Beirut, J.I, cetkan IV, 1398 H,
583 h.
Ali, K., A Study of Islamic History, Idarah-i Adabiyat-i Delli, Delhi, Edisi I - Reprint, 1980, vii
+ 269 + XII h.
Al-Alusiy, Abu al-Fadhl Syihab al-Din ai-Sayyid Mahmud, Ruh al-Ma only fly Tafsir al-
Qur'an al-'Azhim al-Sab' al-Masaniy, Dar Ihya` al-Turas al-'Arabiy, Beirut, J.XXVI
(195 + v h.) dan XXVII (195 + v h.), [tth].
Al-Amidiy, Abu al-Hasan 'Aliy bin Abiy 'Aliy bin Muhammad, Al-lhkam fly Ushui al-
Ahkum, Muhammad 'Ally Shabih wa Awladuh, Mesir, J.I, 1387H/1968M, 308h.
Amin, Ahmad, Dhuha al-Islam, Maktabat aI-Nandhat al-Mishriyyah, Kairo, J.II (viii + 363 h.)
dan III (viii + 387 h.), cet. VIII, 1974.
--------------, Fajr al-Islam, Maktabat al-Nandhat al-Mishriyyah, Kairo, cet. XI, 1975, xvi +
333h.
Al-'Aqqad, 'Abbas Mahmud, 'Abqariyyah Muhammad, Dar al-Hilal, [ttp), 1969 M, 159h.
138
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Al-Ashfahaniy, Abu al-Qasim al-Husayn bin Muhammad al-Raghib, Al-Mufradat fly Gharib al-
Qur'an, Mushthafa aI-Babiy al-Halabiy wa Awladuh, Mesir, 1381H/1961 M, 557h.
Ibn al-Asir, 'Izz al-Din Abu al-Hasan 'Ally, Al-Kamil fly al-Tarikh, Dar Shadir,
J.1385H/1965M, 579 h.
--------------, Usud al-Ghabah fiy Ma'rifat al-Shahabah, Al-Sya'b, (tin Juz-J.I (488 h.), II (545
h.), III (612 h.), IV (535 h.), dan V (548 h.). [up], [tthl.
Ibn Asir, Majd al-Din Abu al-Sa'adat al-Mubarak, Al-Nihayah fiy Gharib al-Hadits, naskah diteliti
dan diberi notasi oleh Thahir Ahmad al-Zawiy dan Mahmud Muhammad al-Thanahiy, 'Isa
al-Babiy al-Halabiy wa Syurakah, [up], J.I, cet. I, 1383H/1963 M, 472 h.
Al-'Asqalaniy, Ahmad bin 'Aliy bin Hajar, Fath al-Bariy, Dar al-Fikr wa Maktabat al-
Salafiyyah, [ttpj, Juz-J.I (600 h.), IV ( 502 h.), V (421 h.), VI (643 h.), VII (524 h.),
VIII (756 h.), IX (682 h.), X (622 h.), XII (450 h.), dan XIII (568h.), tth.
--------------, Had-y al-Sariy Muqaddimah Fath al-Bariy, sampul luar tertulis Fath al-Bariy -
J.XIV, Dar al-Fikr wa Maktabat al-Salafiyyah, [up], NIA, 500 h.
--------------, Tandzib al-Tandzib, Majlis Da'irat al-Ma'arif al-Nizhamiyyah, India, Juz-J.I (516
h.), IV (464 h.), VI (463 h.), VII (507 h.), VIII (470 h.), IX (546h.), X (494 h.), dan XII
(504 h.), 1325 H.
--------------, Nuz-hat al-Nazhar Syarh Nukhbat al-Fikar, Maktabat al-Munawwar, Semarang,
[tth], 77 + ii h.
--------------, Kitab al-Ishabah fiy Tamyiz al-Shahabah, Dar al-Fikr, Beirut, J.jilidI (589 h.), II
(544 h.), III (686 h.), dan IV (508 h.), 1398H/1978 M.
Al-'Ayniy, Badr al-Din Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad, 'Umdat al-Qariy Syarh
Shahih al-Bukhariy, Muhammad Amin Damaj, Beirut, J.1, [tth], 332 h.
Al-A'zhamiy, Muhammad Mushthafa, Manhaj al-Naqd 'inda al-Muhadditsin, Syirkat al-
Thiba'at al-'Arabiyyah al-Sa'udiyyah, Riad, cet.II, 1402H/1982M, XVI, 229h.
--------------, Studies in tiadith Methodology and Literature, Islamic Teaching Centre,
Indianapolis, Indiana, 1977, iv + 122 h.
Al-Baghdadiy, Abu Bakr Ahmad bin 'Aliy bin Sabit al-Khathib, Kitab al-Ktlayah fly 'Ilm al-
Riwayah, naskah diteliti kembali oleh 'Abd al-Halim Muhammad 'Abd al-Halim dan
'Abd al-Rahman Hasan Mahmud, serta diberi kata pengantar oleh Muhammad al-Hallzh
al-Tijaniy, Mathba'ah al-Sa'adah, [Mesir], cet. I, 1972 M, 624 h.
Al-Baghdadiy, 'Abd al-Qahir bin Thahir bin Muhammad, Al-Farq bayna al-Firaq, naskah
diteliti dan diberi notasi oleh Muhammad Muhy al-Din 'Abd al-Hamid. Maktabah
Muhammad 'Aliy Shabih wa Awladuh, Mesir, [tth], xvi + 366 h.
139
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Al-Bahnasawiy, Salim 'Aliy, Al-Suanah al-Muftara 'alayita, Dar al-Buhus al-'11miyyah, [ttp],
1979 M, 303 h.
Al-Bannaniy, Hasyiyah Syarh Muhammad bin Ahmad al-Mahalliy 'ala Mam Jam'
al-Jawami' li al-Imam Taj al-Din 'Ab,I al-Wahhab ibn al-Subkiy, Dar Ihya' al-Kutub al--
Arabiyyah, [ttp], J.11 (440 h.), [tth].
'Abd al-Baqiy, Muhammad Fu'ad, Al-Mu jam al-Mufahras li Alfazh al-Qur'an al-Karim,
Angkasa, [up], Rthl, x + 782 h.
--------------, Al-Lu'lu' wa al-Marjan, Isa al-Babiy al-Halabiy wa Syurakah, J.II, [ttp], [tth], viii
+ 251 h.
Al-Barr, Abu 'Amr Yusuf, Ibn 'Abd Jami' Bayan al- 'llm wa Fadhlihi, Idarat al-Mathba'at al-
Munirah, Mesir, J.I, (tth].
--------------, Kitab al-Isti'ab fiy Asma' al-Ashhab, termaktub dalam catatan pinggir (hamisy) dari
kitab al-'Asqalaniy, Kitab al-Ishabah fiy Tamyiz al-Shahabat, Dar al-Fikr, Beirut, J.III,
1398H/1978 M, 686 h.
Al-Bayhaqiy, Abu Bakr Ahmad bin al-Husayn, Al-Nubuwwah, naskah diteliti oleh 'Abd
al-Rahman Muhammad 'Usrnan, Dar al-Fikr, Beirut, J.I (xxxv + 467 h.), cet. II,
1403H/1983M.
--------------, Ma'rifat al-Sunan wa al-Asar, naskah diteliti dan diberi notasi okh al-Sayyid
Ahmad Shaqr, Lajnah Ihya`Ummahat Kutub al-Sunnah al-Majlisli al-Syu'un al-
Islamiyyah al-Jumhuriyyah al-'Arabiyyah al-Muttahidah, [ttp], J.I (v+37+470h.),
1389H/1969M.
Al-Bukhariy, Abu 'Abdillah Muhammad bin Isma'il, Al-Jami' al-Shahih (Shahih al-Bukhariy),
diberi catatan pinggir (hasyiyah) oleh al-Sindiy, Dar al-Fikr, Beirut, J.I (350 h.), II (343
h.), III (330 h.), dan IV (312 h.), [tth].
Al-Bustaniy, Buthrus, Kitab Quthr al-Muhith, Maktabat Libnan, [Beirut), J.I (1176 h.), [tth].
--------------, Sejarah Ringkas Islam, ( A Concise History of Islam), diterjemahkan oleh Anas Ma'ruf
tanpa menyebut nama pengarangnya, disunting dan diberi kata pengantar oleh Harun
Nasution, Djambatan, Jakarta, 1982, 36 h.
Al-Dahlawiy, Syah Waliy Allah bin 'Abd al-Rahim, Hujjat Allah al-Balighah, Dar al-
Ma'rifah, Beirut, J.I, [tth], 198 h.
Al-Darimiy, Abu Muhammad 'Abdullah bin 'Abd al-Rahman, Sunan al-Darimiy, Dar al-
Ihya' al-Sunnah al-Nabawiyyah, J.I (vi + 408 h.) dan II (516 h.), [tth).
Departemen Agama RI, Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Qur'an, Al-Qur'an dan
Terjemahnya, Proyek Pengadaan Kitab Suci Al-Qur'an Departemen Agama RI, Pelita
140
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
IV/Tahun 1/1984/1985, 176 + 1122 h.
Al-Dzahabiy, Abu 'Abdillah Muhammad bin Ahmad, Dzikr Man Yu'tamad Qawluhu fly al-Jarh wa
alTa'dil, naskah diteliti oleh 'Abd al-Fattah Abu Ghaddat, Maktab al-Mathbu'at al-
Islamiyyah, Kairo, cet. I, 276 h. (140 h. di antaranya merupakan kitab-kitab lath yang
dihimpun jadi satu oleh penerbit).
--------------, Al-Mughniy …, naskahditeliti dan diberi notasi oleh Nur al-Din 'Itr, Dar al-
Ma'arif, Suriah, Juz-J.I dan II (xxviii + 859 h., angka halaman tercantum secara berurut dan
juz-J.I ke II), cet. I, 1391H/1971 M.
--------------, Kitab Tadzkirat al-Huffazh, The Dairatu 'l-Ma'arif-il Osmania, Hyderabad, Juz-J.I-IV
(v + 1509 h., bersambung dari J.I sampai IV; + 230 h. yang merupakan jumlah halaman
untuk daftar isi seluruhnya), 1955 M.
--------------, Mizan al-I'tidal fiy Naqd al-Rijal, naskah diteliti dan diberi notasi oleh 'Aliy Muhammad
al-Bajawiy, 'Isa al-Babiy al-Halabiy wa Syurakah, [ttp], Juz-J.I dan IV (xvi + 672 h. dan
750 h.), cet. I, 1382H/1963 M.
Faruqi, Nias Ahmed, Early Muslim Historiography, Idarah-i Adabiyat-i Delli, cet.I, 1979,
xii+343 h.
Al-Fayyumiy, Ahmad bin Muhammad, Al-Mishbah al-Munir fiy Gharib, al-Sy,arh al-Kabir li al-
Rafi'iy, Dar al-Kutub al-'11rniyyah, Beirut, Juz-J.I dan II (917 h.; angka halaman berurut
dari J.I), 1398H/1978 M.
Fazlur Rahman, Islam, University of Chicago Press, Chicago, Edisi II, 1979, xi + 285h.
--------------, Islamic Methodology in History, Central Institut of Islamic Research, Karachi, 1965,
xi + 208 h.
Al-Ghazaliy, Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad, Al-Mustashfa min 'Ilm
al-Ushul, naskah diteliti dan diberi notasi oleh Muhammad Mushthafa Abu al-'11e, Al-
Maktabat al-Jadidah, Mesir, 1391H/1971 M, 544 h.
Al-Ghurabiy, 'Aliy Mushthafa, Tarikh al-Flraq al-Islamiyyah, Muhammad 'Aliy Shabih wa
Awladuh, Mesir, cet. II, 1959 M, 310 h.
Gibb, H.A.R., and J.H. Krammers, Shorter Encyclopaedia, E.J. Brill, Leiden, cet.I, 1965 M,
671h.
--------------,Mohammadanism, Oxford University Press, London, Edisi II, 1953 M, xi + 206 h.
Giunebaum, G.E. von, Classical Islam (A History 600 A.D. - 1258 A.D.), Aldine Publishing Co.,
Chicago, cet. I, 1970, 243 h.
Goldziher, Ignas, Muslim Studies, diterjemahkan dari bahasa Jarman ke dalam bahasa Inggris
oleh C.R. Barber dan S.M. Stem, George Allen & Union Ltd., London, Volume II, cet. I,
141
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
1971, 378 h.
Good, Carter V., and Douglas E. Scates, Methods Educational, Psychological, Sociological,
Appleton-Century-Croft Inc., New York, Edisi I, cet. IV, [tth], 243 h.
Gottschalk, Louis, Understanding History: A Primer of Historical Method, Alfred-A: Knoph, New
York, cet. IV, 1956 M, xix + 298 + vi h.
Abu al-Ma'aliy al-Qadhiy 'Aththar al-Mubarakfuriy, Al-Maktabat al-'Ilmiyyah, al-Madinah
al-Munawwarah, 1373 1-1, v + 160h.
Hamadah, 'Abbas Mutawalliy, al-Sunnah al-Nabawiyyah wa Makanatuha fiy al-Tasyri', diberi
kata pengantar oleh Muhammad Abu Zahrah, Al-Dar al-Qawmiyyah, Kairo, [tth), 202h.
Ibn Hanbal, Abu 'Abdillah Ahmad, Musnad Ahmad bin Hanbal, disertai catatan pinggir (hamisy)
dari 'Ally bin Hisam al-Din al-Mutqiy, Muntakhab Kanz al-'Ummal fiy Sunan al-Aqwal
wa al-Af'al, Al-Maktab al-Islamiy, Beirut, J:I(518 h.), II (548h.), III (515 h.), IV (459
h.), V (468 h.), dan VI (478 h.), cet. II, 1398H/1978 M.
Hasan, Hasan Ibrahim, Tarikh al-Islam, Maktabat al-Nandhat al-Mishriyyah, Kairo, J.II
(506h.), cet. VII, 1964.
Hasyim, al-Husayniy 'Abd al-Majid, al-Imam al-Bukhariy Muhadditsan wa Faqihan, Al-Dar al-
Qawmiyyah, Kairo, [tth], 294 h.
Haykal, Muhammad Husayn, Hayat Muhammad, Maktabat al-Nandhat al-Mishriyyah, Kairo, cet.
XIII, 1968 M, xvi + 634 h.
Al-Haytamiy, Ahmad bin Hajar, Path al-Mubin li Syarh al-Arba 'in, diberi catatan pinggir
(hasyiyah) oleh Hasan al-Mudabighiy, 'Isa al-Babiy al-Halabiy wa Syurakah, [ttp], [tth],
287 h.
Ibn Hazm, 'Ally bin Ahmad, Al-lhkam fiy Ushul al-Ahkam, Al-Mathba'ah al-'Ashimah, Kairo,
Juz-J.I-II (258 h.; jumlah halaman berurut dan J.1 ke II), [tth].
—------------- , Al-Muhalla, Al-Maktab al-Tijariy, Beirut, J.I, [tth], 286h.
Hitti, Philip K., History of the Arabs, The Macmillan Press, London, Edisi X, 1974, xxiv+822h.
Houtsma et. al., Da'irat al-Ma'anf al-Islamiyyah, Al-Sya'b, Kairo, J.XIII, [tth], h.448.
Al-Humaydiy, Abu Bakr 'Abdullah bin al-Zubayr, Al-Musnad (Musnad al-Humaydiy),
naskah diteliti dan diberi notasi oleh Habib al-Rahman al-A'zhamiy, Al-
Maktabat al-Salafiyyah, al-Madinah al-Munawwarah, J.I, [tth], 295 h.
Ibn Husayn, 'Abd al-Rahim, Al-Taqyid wa al-ldhah Syarh Muqaddimah Ibn al-Shalah, Al-
Maktabat al-Salafiyyah, al-Madinah al-Munawwarah, 1400 H, 489 h.
142
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Husayn, Abu Lubabat, Mawq(f al-Mu'tazilah min al-Sunnah al-Nabawiyyah, Dar al-Liwa', Riyadh,
cet. I, 1399H/1979 M, 183h.
--------------,Al-Jarh wa al-Ta'dil, Dar al-Liwa', Riyadh, cet.1, 1399H/1979M,.189 h.
Al-Husayniy, Ibrahim bin Muhammad bin Hannah, Al-Bayan wa al-Ta'nffiy Asbab Wuncd al-
Hadits al-Syanf, naskah diteliti dan diberi notasi oleh Husayn 'Abd al-Majid Hasyim, Dar
al-Turas al-'Arabiy, Kairo, J.111, [tthl, 387 h.
Husnan, Ahmad, Gerakan Inkaru As-Sunnah dan lawabannya, Media Da'wah, Jakarta, 1980, 117h.
Abu al-'Illa, Muhammad Mushthafa, Al-Busyra bi al-Jihad wa Ghuzwat Badr al-Kubra,
Mushthafa al-Babiy al-Halabiy wa Awladuh, Mesir, cet. I, 1372H/1953 M, 296 h.
Al-Iskandariy, Ahmad, dan Mushthafa 'Annaniy, Al-Wasith fiy al-Adab wa Tarikhihi, Dar al-
Ma'rifah, Mesir, cet. XVIII, [tth], 420 h.
'Itr, Nur al-Din, al-Madkhal ila al-Hadits, Al-Maktabat al-'11miyyah, al-Madinah al-
Munawwarah, cet. II, 1972 M, 42 h.
--------------, Manhaj al-Naqd fiy al-Hadits, Dar al-Fikr, Damaskus, cet.11, 1399H/1979 M, 543 h.
Al-Jundiy, 'Abd al-Karim, Al-Imam al-Syafi'iy, Dar al-Kitab al-'Arabiy, Kairo, 1967M,
403+3h.
Al-Jurjaniy, al-Syarif 'Aliy bin Muhammad, Kitab al-Ta'nfat, al-Haramayn, Singapura, [tth],
262 h.
Juynboll, G.H.A., Muslim Tradition, Cambridge University Press, London, 1983.
Al-Kandahlawiy, Muhammad Zakariya bin Muhammad Yahya, Muqaddimah Awjaz al-Masalik
ila Muwaththa' Malik, Mathba'ah al-Sa'adah, India, J.I, cet. III, 1393H/1973M.
Kartodirdjo, Sartono, "Metode Penggunaan Dokumen" dalam Koentjaraningrat (redaktu:),
Metode-metode Penelitian Masyarakat, Gramedia, Jakarta, cet. II, 1977, v+ 506h.
Ibn Katsir, Abu al-Fida' Ismail, Ikhtishar 'Ulum al-Hadits, disyarah oleh Ahmad Muhammad
Syakir dan diberi judul: al-Hasis fiy Ikhtishar 'Ulum al-Hadits, Dar al-Fikr, Beirut, tth.,
142 h.
--------------,Tafsir al-Qur'an al-'Azhim, Sulayman Mar'iy, Singapura, Juz-J.I (598 h.) dan IV
(576h.), tth.
Al-Kattaniy, Muhammad bin Ja'far, Al-Risalah al- Mustathrafah, Nur Muhammad, Karachi,
1379H/1960 M, 212 h.
Ibn Khaldun, 'Abd al-Ftahman bin Muhammad, Muqcuidimah Ibn Khaldun, Dar al-Fikr,
143
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
[ttp],[tth], 600 h.
'Abd al-Khathib, Aal-Khilafah wa al-/marsh, Dar al-Ma'rifah, Beirut, cetakau II, 1963M, 479h.
Al-Khathib, Muhammad 'Ajjaj, Al-Sunnah qabl al- Tadwin, Maktabah Wahbah, Kairo, cet.I,
13831I = 1963 M, vii + 656 h.
--------------, Ushul al-Hadits 'Ulumuhu wa Mushthalahuhu, Dar al-Fikr, Beirut, cet. III,
1395H/1975M, 491 h.
Al-Khin, Mushthafa Sa'id, Atsar fiy al-Qawa'id al-Ushuliyyah fiy Ikhtilaf al-Fuqaha', Mu'assasah
al-Risalah, Beirut, cet. II, 1401H/1981 M, 645h.
Al-Khudhariy Bik, Muhammad, Muhadharah Tarikh al-Umam al-lslamiyyah, AI-Maktabah al-
Tijariyyah al-Kubra, Kairo, J.I, [tth].
--------------, Tarikh al-Tasyri' al-lslamiy, Mathba'ah al-Sa'adah, Mesir, cet. VI, 1373H/1954 M,
384 h.
--------------, Ushul al-Fiqh, Dar al-Fikr, [Beirut], cet. VII, 1401H/1981M, 391h.
Al-Khuliy, Muhammad 'Abd al-'Aziz, Al-Adab al-Nabawiy, Dar al-Fikr, [Beirut], [tth], 310h.
--------------, Miftah al-Sunnah …, Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, Beirut, cet.III, 1400H/1980M, 173 h.
Al-Kirmaniy, Muhammad bin Yusuf bin 'Aliy, Shahih Abiy 'Abdullah al-Bukhariy bi Syarh al-
Kirmaniy, 'Abd al-Rahman Muhammad, Kairo, J.I, [tth], 221 h.
Al-Kulayniy, Abu Ja'far Muhammad ibn Ya'kub ibn Ishaq, Al-Kafiy, diterjemahkan ke dalam
bahasa Inggris, dengan main tetap dalam bahasa Arab, oleh al- Sayyid Muhammad Hasan
Rizvi, dan diberi kata pengantar oleh al-Husayn 'Aliy Mahfuzh, A Group of Muslim
Brother, Iran, Volume I, 1398H/1978 M, 73 h.
Macdonald, Duncan B., Development of Muslim Theology, Yurisprodence and Constitutions
Theory, George Routledge & Sons, London, 1903 M, xii + 386 h.
Ibn al-Madiniy, 'Ally bin 'Abdillah bin Ja'far al-Sa'diy, Al-'Afiyat, naskah diteliti dan diberi
notasi oleh Muhammad Mushthafa al-A'zhamiy, Al-Maktab al-Islamiy, [ttp], 1392H/1972
M, 135h.
Al-Maghribiy, Muhammad bin Muhammad bin Sulayman, Jam' al-Fawa'id wa Jam' al-Ushul wa
Majma' al-Zawa'id, AI-Sayyid 'Abdullah Hasyim Yamaniy al-Madaniy: Al-Madinah al-
Munawwarah, Juz-J.I (v + 858 h.) dan II (784h.), 1381H/1961 M.
Mahmud, 'Abd al-Halim, al-Surutah fly Makanatiha wa fiy Tarikhiha, Dar al-Katib al-'Arabiy,
Kairo, 1967 M, 96 h.
Mahmudunnasir, Syed, Islamic in Concept & History. Nusrat Ali Nasri for Kitab Bhavan, New
144
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Delhi, cet. I, 1981, viii + 424 h.
Ibn Majah, Abu 'Abdillah Muhammad bin Yazid, Sunan Ibn Majah, naskah diteliti dan diberi
notasi oleh Muhammad Fu'ad 'Abd al-Baqiy, Dar al-Fikr, Beirut, J.I-II (1562h., halaman
berurut dari J.1), [tth].
Malik ibn Anas, Abu 'Abdillah, al-Muwaththa', naskah diteliti dan diberi notasi oleh Muhammad
Fu'ad 'Abd al-Baqiy, Dar al-Sya'b, NO. [tth], 622 h.
Ma'luf, Luwis, al-Munjid fiy al-Lughah, Dar al- Masyriq, Beirut, cet. XXI, 1973, xviii + 1014h.
Ibn Manzhur, Muhammad bin Mukarram, Lisan al-Arab, AI-Dar al-Mishriyyah, Mesir, Juz-
J.III (511 h.), VI (475 h.), XIII (519 h.), dan XIX (383 h.), tth.
Al-Maraghiy, Ahmad Mushthafa, Tafsir al-Maraghiy, Mushthafa aI-Babiy al-Halabiy wa
Awladuh, Mesir, J.IV, cet. III, 1382H/1963 M, 176 h.
Al-Marwaziy, AbU Baler Ahmad bin 'Ally, Musrusd Abiy Bakr naskah diteliti dan diberi notasi
oleh Syu'ayb al-Arneuth, Al Maktab al-Islamiy, Damaskus, cet. II, 1393H/1973 M, 188 h.
Al-Mubarakfuriy, Abu al-'Ula Muhammad 'Abd al-Rahman bin 'Abd al-Rahim, Muqaddimah
Thhfat al-Ahwadzy Syarh Jose al-Tunnudziy, Al-Maktabat al-Salafiyyah, al-Madinah al-
Munawwarah, Juz-J.I (494 h.) dan II (231 h.), cet. II, 1387H/1967 M.
--------------, Tuhfat al-Ahwadziy Syarh Jami' al-Turnuidziy, Al-Maktabat al-Salakyah, al-
Madinah al-Munawwarah, Jul IV (735 h.) dan VIII (618 + 2 h.), cet. II, 1387H/1967 M.
Muir, Sir William, The Caliphate: Its Rise, Decline and Fall, AMS Press Inc., New York, Edisi I
pada AMS, 1975, xx + 633 h.
'Abd al-Muththalib, Rif'at Fawziy, Al-Madkhal ila Tawsiq al-Sunnah, Mu`assasat al-Khanijiy,
Mesir, cet. I, 1398H/1976 M, vii + 239 h.
--------------,Tawsiq al-Sunnah fly al-Qarn al-Saniy al-Hijriy Ususuhu wa Ittijahatuhu, Maktabah
Mesir, cet. I. 1400H/1981 M, 463h.
Al-Nasa'iy, Abu 'Abd al-Ralunan Ahmad bin Syu'ayb, Sunan al-Nasaly, diberi syarah oleh al-
Suyuthiy dan diberi catatan kaki oleh al-Sindiy, Dar al Fikr, Beirut, J.IV (388 h), VI
(283h.), dan VII (321 h.), 1400H/1980 M.
Nashif, Manshur 'Aliy, al-Taj al-Jami' li al-Ushul fly AHadits al-Rasul SAW, Dar Ihya' al-
Turas al-'Arabiy, Beirut, Jilid-J.I (388 h.), IV (448 h.), dan V (447 h.), cet. III,
1382H/1962M.
Nasution, Harun, Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan, Bulan Bintang,
Jakarta, cet. I, 1975, 220 h.
145
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
--------------, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya, Universitas Indonesia Press, Jakarta, J.I,
1979, 126 h.
--------------, Teologi Islam, Yayasan Penerbit Universitas Indonesia, [Jakarta], cet. II, 1979, ix +
156 h.
Al-Nawawiy, Abu Zakariya Yahya ibn Syaraf, Al-Mustadrak 'ala al-Shahihayn fly al-
Hadits, Dar al-Fikr, Beirut, J.I, 1398H/1978 M. 575 + 30h.
--------------, Al-Naysaburiy, Abu 'Abdillah al-Hakim, Ma'nfat 'Ulum al-Hadits, naskah diteliti
dan diberi notasi oleh al-Sayyid Mu'zham Husayn, Maktabat al-Mutanabbiy,
Kairo, [till], xxix + 266 h.
--------------, al-Taqrib li al-Nawawiy Fann Ushul al-Hadits, 'Abd aI-Rahman Muhammad, Kairo,
[tth], 48 h.
--------------, Riyadh al-Shalihin min Kalam al-Mursalin, 'Isa al-Babiy al- Halabiy wa
Syurakah, Kairo, 1375H/1955 M, 711h.
--------------, Shahih Muslim bi Syarh al-Nawawiy, Al-Mathba'at al-Mishriyyah, (Mesirl, J.I,
1924 M, viii + 248 h.
Norling, Bernard, Towards a Better Understanding of History, University of Notre Dame Press,
Indiana, Edisi I, cet. IV, 1960, vii + 147 h.
Panel Penyelidik Hadits Majelis Ugama Islam Kelantan, Salah Faham Terhadap Hadis: Satu
Penjelasan, Majelis Ugama Islam Kelantan, [Malaysia), 1986. iii + 127 h.
Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Umum Bahasa Indonesia, diolah kembali oleh Pusat
Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai
Pustaka, Jakarta, cet. VIII, 1985, 1156 h.
Al-Qadhiy, al-Nu'man 'Abd al-Muta'al, Al-Hadits al-Syanf Riwayah wa Dirayah, AI-Majlis
Syu'un al-Islarniyyah, Kairo, 1395H/1975 M, 127 h.
Al-'Arusiy, 'Abd al-Qadir Muhammad Mas'alat Takhshish bi al-Sabab aw al-lbarat, bi
'Umum al-Hukm la bi Khushush al-Sabab, AI-Mathba'at al-'Arabiyyz: ..!-Haditsah,
Kairo, 1403H/1983 M, 120 h.
Al-Qariy, 'Aliy bin Sulthan al-Harawiy, Syarh Nukhbat al-Fikar, Dar al-Kutub al-'11miyyah,
Beirut, 1978, 272 h.
Al-Qasimiy, al-Sayyid Muhammad Jamal al-Din, Al-Jarh wa Mu'assasat
al-Risalah, Beirut, 1399H/1979 M, 51 h.
--------------, Mahasin, 'Isa al-Babiy al-Halabiy wa Syurakah, [ttp], J.IV,
cet.I, 1376H/1957M, 341H.
146
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
--------------, Qawa'id al-Tahdis min Funun Mushthalah al-Hadits, 'Isa al-Babiy al-Halabiy wa
Syurakah, [ttp], cet. II, 1380H/1961 M, 414 h.
Al-Qasimiy, Zhafir, Nizham al-Hukm fiy al-Syarralt wa al-Tarikh, Dar al-Nafa'is, Beirut, J.I,
cet.I, 1973, 600 h.
Al-Qasthalaniy, Abu al-'Abbas Syihab al-Din Ahmad bin Muhammad, Irsyad al-Sariy Ii
Syarh Shahih al-Bukhariy, Dar al-Fikr, [Beirut], J.I, cet. VI, [tth], 519 + 11 h.
Ibn Qayyim, Abu 'Abdillah Muhammad bin Abiy Bala, I'lam al-Muwaqqi'in 'an Rabb al-
'Alamin, Dar al-ill, Beirut, J.I, 1973M, ziii + 438 h.
--------------, Zad al-Ma ad fly Had-y Khayr al-'Ibad, Mushthafa al-Babiy al-Halabiy wa
Awladuh, Mesir, Juz-J.I (302 h.) dan II (236h.), 1390H/1970 M.
Ibn Qudamah, Abu Muhammad 'Abdullah bin Ahmad bin Muhammad, Al-Mughniy, Maktabat
al-Riyadh al-Haditsah, Riyadh, J.IX, 1401H/1981M, zvi + 551 h.
Al-Qurthubiy, Abu 'Abdillah Muhammad bin Ahmad al-Anshariy, Al-Jami' li Ahkam al-
Qur'an, Dar al-Kitab al-'Arabiy, Kairo, Juz-J.I (xii + 466 h.), II (436 h.), IV (327 h.),
dan XVI (350h.), cet. III, 1387H/1967 M.
Al-Qusyayriy, Abu Husayn Muslim bin al-Hajjaj, Al-Jami' al-Shahih (Shahih Muslim),
disunting kembali oleh Muhammad Fu'ad 'Abd al-Baqiy, 'Isa al-Babiy al-
Halabiy wa Syurakah, Jilid-jilid: I (1- 576 h.), II (577-1150 h.), III (1151-1700 h.),
dan IV (1701-2324 h.), 1375H/1955 M.
Ibn Qutaybah, Abu Muhammad 'Abdullah bin Muslim, Al-Imamah wa al-Siyasah, Al-Mu'assasah
al- Halabiyyah, [up], J.I, [tch], 198 h.
Al-Ramahhurmuziy, al-Hasan bin 'Abd al-Rahman, Al-Muhaddits al-Fashil bayn al-
Rawiy wa al-Wa'iy, naskah diteliti dan diberi notasi, serta kata pengantar oleh
Muhammad 'Ajjaj al-Khathib, Dar al-Fikr, Beirut, cet. 1, 1391H/1971 M, 686 h.
Abu Rayyah, Mahmud, Adhwa"ala al-Sunnah al-Muhammadiyyah aw Difa"an al-Hadits, Dar
al-Ma'rifah, Mesir, cet. III, [Ithi, 422 h.
Al-Raziy, Abu Muhammad bin 'Abd al-Rahman bin Abiy Hatim, Kitab al-Jarh wa al-Ta'dil,
Majlis Da'irat al-Ma'arif, Hayderabad, J.II, cet. I, 1371H/1952M, 552 h.
Al-Raziy, Fakhr al-Din Muhammad bin 'Umar al-Husayn, Al-Makhul fiy 'am Ushul al-Fiqh,
naskah diteliti dan diberi notasi oleh Thaha Jabir Fuyyadh al-'Ulwaniy, Jami'at al-Imam
Muhammad bin Saud al-Islamiyyah, Saudi Arabia, J.II, cet.II, 1400H/1980 M, 690 h.
Ridha, al-Sayyid Muhammad Rasyid, Tafsir al-Qur'an al-Hakim (Tafsir al-Manar), Dar al-
Ma'arif, Beirut, Juz-J.II (498 + 19 h.) dan VII (672 + 23 h.), cet. II, 1388H/1973M.
Ridha, Muhammad, Muhammad Rasul Allah SAW, 'Isa al-Babiy al-Halabiy wa Syurakah,
147
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Kairo, cet. V, 1380H/1961 M, 424h.
Ibn Rusyd, Abu al-Walid Muhammad bin Ahmad, Bidayat al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtarhid,
Mushthafa al-Babiy al-Halabiy wa Awladuh, Mesir, J.II, cet. II, 1370H/1950M, 496h.
Ibn Sa'ad, Muhammad, al-Thabaqat al-Kubra, E.J. Brill, Leiden, Juz-J.IV dan VII, 1322H.
Al-Sakhawiy, Syams al-Din Muhammad bin 'Abd al-Rahman, Al-Mutakallimun …, Maktabat al-
Mathbu'at al-Islamiyyah, Kairo, cet. I, 1400H/1980 M, dihimpun dengan kitab-kitab lain
oleh penerbitnya,
--------------, Fath al-Mughis Syarh Alfiyyat al-Hadits li al-'Iraqiy, Al-Maktabat al-
Salafiyyah, al-Madinah al-Munawwarah, Juz-J.1(352 h.), II (351 h.), dan III (372h.),
cet. II, 1388H/1968 M.
Schacht, Joseph, The Origins of Muhammadan Jurisprudence, Oxford University Press, London,
1979 M.
Al-Shabbagh, Abu 'Abdillah Muhammad, Al-Hadits al-Nabawiy, Al-Maktab al-Islamiy, [ttp],
1392H/1972 M, 330 h.
-------------- dan 'Abd al-Mulk bin Hisyam (Ibn Hisyam), Sirah al-Nabiy SAW, Mathba'at al-
Madaniy, Kairo, J.IV (jumlah halaman dari J.I-IV adalah 1095 h., 247 h. khusus J.IV),
1383H/1963 M.
Shadily, Hassan, (pemimpin redaksi), Ensildopedi Indonesia, Ichtiar Baru - van Hoeve, Jakarta,
J.II, 1980, hh. 1198-1199.
Ibn Al-Shalah, Abu 'Amr 'Usnian bin 'Abd al-Rahman, 'Ulum al-Hadits, naskah diteliti oleh Nur
al-Din 'Itr, Al-Maktabat al-Ilmiyyah, al-Madinah al-Munawwarah, 1972 M, vi + 429h.
Shalih, Muhammad Adib, Lamahat fiy Ushul al-Hadits, AI-Maktab aI-Islamiy, Beirut, cet. III,
1399 H, 365 h.
Al-Shalih, Shubhiy, 'Ulum al-Hadits wa Mushthalahuhu, Dar al-'IIm Ii al-Malayin, Beirut, cet. IX,
1977 M, xiv + 447 h.
Al-Shan'aniy, Muhammad bin Isma'il, Subul al-Salam Syarh Bulugh al-Maram min Jam' Adillat
al-Ahkam, Mushthafa al-Babiy al-Halabiy wa Awladuh, Mesir, J.1, cet. IV, 1379H/1960
M, 224 h.
Al-Shiddiqiy, Muhammad bin 'Allan, Dalil al-Falihin li Thuruq Riyadh al-Shalihin, Mushthafa al-
Babiy al-Halabiy wa Awladuh, Mesir, J.1, 1391H/1971 M, 551h.
Shubhiy, Ahmad Mahmud, Fiy Falsafat al-Tarikh, Mu'assasah al-Saqafah al-Jami'iyyah,
Iskandaria, 1975, 347 h.
148
Kajian 'Ulumul Hadits Drs. Dahrun Sajadi, MA UIA Jakarta
Al-Siba'iy, Mushthafa, Al-Sunnah wa Makanatuha fiy al-Tasyri' al-Islamiy, Al-Dar al-
Qawmiyyah, [ttpl, 1966 M, 425 h.
Al-Sijistaniy, Abu Dawud Sulayman bin al-Asy'as, Sunan Abiy Dawud, Beirut, Dar al-Fikr, J.I-
IV (terdiri dari dua jilid): I (340 h.), II (345 h.), Ill (372 h.), dan IV (370h.).
Ibn al-Subkiy, Taj al-Din 'Abd al-Wahhab bin 'Ally, Qa'idah fiy al-Jarh wa al-Ta'dil wa Qa'idah
fiy al- Mu'arrikhin, Maktab al-Mathbu'at al-Islamiyyah, Kairo, cet.V, 1404H/1984 M, 72h.
Surakhmad, Winarno, Paper Skripsi Thesis Disertasi: Buku Pegangan Cara Merencanakan Cara
Menulis Cara Menilai, Tarsito, Bandung; cet. V, 1981, 105h.
Surur, Muhammad Jamal al-Din, al-Hayat al-Siyasiyyah fiy al-Dawlat al-Arabiyyat
al-Islamiyyah, Dar al-Fikr al-'Arabiy, [ttp], 1395H/1975 M, 268 h.
Al-Suyuthiy, Jalal al-Din 'Abd al-Rahman bin Abiy Bala, … al-Mushthalah fiy al-AHadits al-
Maudhu'ah, Al-Maktabat al-Islamiyyah, Mesir, J.II, cet. I, 1352 H, 476 h.
--------------, Al-Asybah wa al-Nazha'ir fiy al-Furu', Dar al-Fikr, [Beirut], [tth], 304 h.
--------------, Al-Khasha'ish al-Kubra, Dar al-Kutub al-Haditsah, Mesir, J.I, 1387H/1967M,
584h.
--------------, Al-ltqan fiy 'Ulum al-Qur'an, Dar al-Fikr, Beirut, J.I, 1399H/1979 M, 204 h.
--------------, Asbab Wurud al-Hadr's aw al-Lam' fiy Asbab al-Hadits, naskah diteliti dan diberi
notasi oleh Yahya Isma'il Ahmad, Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, Beirut, cet. I, 1404 H =1984
M, 262 h.
--------------, Kitab … al-Nuqul fiy Asbab al-Nuzul, termaktub sebagai catatan pinggir (hamisy) pada
kitab tafsir Abu Tahir bin Ya'qub al-Fayruzzabadiy, Tanwir al-Miqyas min Tafsir Ibn
'Abbas, Dar al-Fikr, Beirut, [tth], terletak pada hh. 308-397.
--------------, Kltab Is'af al-Mubaththa' bi Rijal al-Muwaththa', Dar al-Fikr, [Beirut], [tth], 52h.
--------------, Miftah al-Jannah fiy al-Ihtijaj bi al-Sunnah, Mathba'at al-Rasyid, al-Madinah al-
Munawwarah, cet. III, 1399H/1979 M, 80 h.
--------------, Musnad Abiy Bakr al-Shiddiq RA, naskah diteliti dan diberi notasi oleh 'Aziz Bik,
Al-Dar al-Salafiyyah, India, cet. I, 1400H/1980 M, iv + 236h.
--------------, Tanwir al-Hawalik, Dar al-Fikr, [Beirut], J.II, [tth], 244 h.
--------------, Tarikh al-Khulafa', naskah diteliti oleh Muhammad Abu al-Fadhl Ibrahim, Dar al-
Nandhah, 1395H/1975 M, 870 h.
--------------, Todrib al-Rawly fiy Syarh Taqrib al-Nawawiy, Dar Ihya' al-Sunnah al-
Nabawiyyah, Beirut, Jilid-J.I (357 h.) dan II (416 h.), cet. II, 1979 M.
149