The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sosiolinguistik (Semester 6)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by syafilachabsarotulislamiyah0, 2023-08-15 08:06:15

Sosiolinguistik

Sosiolinguistik (Semester 6)

1 SOSIOLINGUISTIK (Teori dan Aplikasi dalam Hubungan Bahasa) Penulis: Rohma Wati Ningsih Rani Jayanti, S.Pd., M.Hum Syafila Chabsarotul Islamiyah Nova Mega Ivana Editor: Timurrana Dilematik Reny Rizky Putri Lailatul Fitria Nakomu, 2023


2 Sosiolinguistik (Teori dan Aplikasi dalam Hubungan Bahasa) Penulis: Rohma Wati Ningsih Rani Jayanti, S.Pd., M.Hum Syafila Chabsarotul Islamiyah Nova Mega Ivana Penyunting: Timurrana Dilematik Reny Rizky Putri Lailatul Fitria Tata Sampul: Khoshshol Fairuz Tata Isi: Nurul Aini Juni, 2023 128 hlm.; 14,8cm x 21cm ISBN: proses pengajuan ke Perpusnas Diterbitkan oleh: CV. Nakomu (Penerbit Kertasentuh) Anggota IKAPI (346/JTI/2022) Cangkring Malang, Sidomulyo, Megaluh, Jombang Website: penerbitnakomu.com E-mail: [email protected] Facebook: Penerbit Kertasentuh Instagram: @penerbitkertasentuh WA: 085-850-5857-00 atau 0857-3333-7747 Hak cipta dilindungi Undang-Undang


3 Sanksi Pelanggaran Pasal 113 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 KATA PENGANTAR Puji syukur atas kehadirat Allah SWT, atas berkat dan karunianya penulis dapat menyelesaikan buku yang berjudul “Sosiolinguistik (Teori dan Aplikasi dalam Hubungan Bahasa)” ini dengan baik dan lancar. Buku ini bertujuan memberikan pengetahuan mengenai teori serta praktik mengenai sosiolinguistik dalam hubungan berbahasa. Dalam kehidupan sehari-hari, sapaan yang sering digunakan kepada mitra tutur terkadang tidak hanya dimaksudkan untuk mengetahui serta mengerti apa yang kita tanyakan. Di sinilah etika dalam berkomunikasi tidak hanya sekedar dimaksudkan untuk menjalin keharmonisan suatu bahasa melalui fungsi fatik dari sebuah ujaran. Etika berkomunikasi juga harus memperhatikan beberapa komponen seperti kesantunan dalam berbahasa. Kesantunan berbahasa melibatkan beberapa aspek kebahasaan serta aspek budaya di dalamnya sehingga kompleks. Buku ini berisi mengenai beberapa teori yang mengupas penggunaan bahasa dalam berbagai konteks sosial.


4 Penulis juga mengharapkan agar pendidik mampu menjadikan buku ini sebagai referensi kepada peserta didik untuk memperkenalkan mengenai bagaimana proses pemerolehan bahasa serta proses penggunaan bahasa dalam berbagai konteks tertentu yang dapat di aplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari maupun di ruang lingkup pendidikan. Disadari bahwa penulisan dalam buku ini masih jauh dari kata sempurna, maka penulis mengharapkan adanya saran demi kesempurnaan buku ini. Penulis mengharapkan agar buku ini dapat bermanfaat bagi semua pihak dan dapat menambah wawasan mengenai sebuah kajian ilmu sosiolinguistik. Kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan buku ini, kami ucapkan banyak terima kasih. Penulis


5 DAFTAR ISI KATA PENGANTAR...................................................................3 DAFTAR ISI.................................................................................5 BAB 1.............................................................................................7 PENGERTIAN DAN KEADAAN SOSIOLINGUISTIK DI INDONESIA................................................................................7 BAB 2..........................................................................................16 PANDANGAN SOSIOLINGUISTIK TERHADAP BAHASA .....................................................................................................16 BAB 3..........................................................................................22 MASYARAKAT BAHASA........................................................22 BAB 4..........................................................................................29 VARIASI BAHASA ...................................................................29 BAB 5..........................................................................................39 BENTUK-BENTUK VARIASI BAHASA .................................39 BAB 6 .........................................................................................52 TIPOLOGI BAHASA ................................................................52 BAB 7..........................................................................................62 KEDWIBAHASAAN.................................................................62 BAB 8 .........................................................................................78 DIGLOSIA .................................................................................78 BAB 9 .........................................................................................83


6 HUBUNGAN BAHASA DAN KONTEKS SOSIAL ..............83 BAB 10......................................................................................110 KEADAAN SOSIOLINGUISTIK DI INDONESIA .............110 DAFTAR PUSTAKA................................................................122


7 BAB 1 PENGERTIAN DAN KEADAAN SOSIOLINGUISTIK DI INDONESIA 1.1 Pengertian sosiolinguistik Studi mengenai bahasa dalam kaitannya dengan keadaan sosial dikenal sebagai sosiolinguistik. Sosiolinguistik merupakan kajian bahasa dengan mempertimbangkan bagaimana bahasa berinteraksi dengan masyarakat, terutama individu pengguna bahasa. Sosiolinguistik merupakan cabang kajian transdisipliner yang menggabungkan sosiologi dan linguistik. Sosiolinguistik merupakan disiplin interdisipliner yang berusaha menjelaskan bagaimana manusia dapat secara efektif menerapkan prinsip-prinsip bahasa dalam berbagai konteks (Ohoiwutan, 1997: 9). Disiplin sosiolinguistik, menurut Spolsky (1998:3), “mempelajari keterkaitan antara bahasa dengan masyarakat, antara pemakai bahasa dan struktur sosial, yang mana pemakai bahasa itu hidup”. Studi tentang interaksi antara bahasa dan masyarakat, serta antara


8 pemakai bahasa dan struktur sosial, dikenal sebagai sosiolinguistik. hubungan antara pemakai bahasa dengan interaksi sosial yang terlihat dalam pemakaian bahasa sehari-hari). Sosiolinguistik, menurut Hudson (1996: 1), mengkaji hubungan antara bahasa dan faktor sosial. Sosiolinguistik menurut Nababan (1993:2) yakni ilmu yang mempelajari pemakai bahasa dalam anggota masyarakatnya atau ilmu yang mempelajari komponen-komponen sosial bahasa dalam hubungannya dengan masalah-masalah sosial/kemasyarakatan. Dia juga menunjukkan bahwa sosiolinguistik mempelajari peran sosial bahasa dalam masyarakat, bagaimana bahasa digunakan dalam situasi sosial budaya, dan bagaimana bahasa menghubungkan unsur-unsur budaya. Menurut Mansoer Pateda (1992:3), sosiolinguistik yakni sub bidang ilmu linguistik yang berfokus pada studi tentang bahasa dan bagaimana bahasa digunakan dalam berbagai situasi budaya. Peserta berbicara harus mempertimbangkan lingkungan budaya yang mereka komunikasikan. Diyakini bahwa dengan memahami konsep sosiolinguistik, setiap pembicara akan melihat


9 betapa pentingnya ketepatan dalam memutuskan bahasa mana yang disertakan dalam latar sosiokultural tertentu. Menurut Nababan (1989: 187), sosiolinguistik adalah disiplin ilmu yang mengkaji bahasa pada masyarakat. Dapat dijelaskan dengan metode komunikasi publik berbasis suara. Sosiolinguistik merupakan subbidang linguistik yang mempelajari bagaimana aktivitas bahasa terkait interaksi sosialnya. Sosiolinguistik membantu masalah penggunaan bahasa yang salah dalam situasi sosial dengan mengurangi kesalahan (Suwito, 1996:8). Menurut Abdul Chaer dan Leonie Agustina (1995: 3), sosiolinguistik yakni bidang studi interdisipliner yang mengkaji bahasa dari segi penggunaannya pada masyarakat. Manusia membutuhkan bahasa sebagai objek dalam sosiolinguistik untuk semua tindakan sosial, mulai dari ritual penamaan bayi hingga upacara penguburan. Karenanya, persoalan keterkaitan bahasa dengan tindakan atau ciri sosial tidak dapat dipisahkan dari sosiolinguistik. Dapat disimpulkan bahwa, studi tentang penggunaan bahasa dalam masyarakat yang berhubungan dengan struktur sosial, situasional, dan budaya adalah fokus sosiolinguistik, bidang studi multidisiplin. Kajian


10 sosiolinguistik tidak memandang bahasa sebagai struktur tetapi juga sebagai sistem sosial, alat komunikasi, dan komponen budaya masyarakat tertentu. Studi tentang sosiolinguistik biasanya mempertimbangkan bagaimana faktor sosial tertentu mempengaruhi penggunanya di masyarakat. Penentu sosial ini termasuk status sosial, tingkat pendidikan, usia, kedudukan ekonomi, agama, jenis kelamin, dan sifat-sifat lainnya. Bentuk bahasa juga dapat disebabkan oleh faktor kontekstual, seperti siapa yang berbicara, bagaimana bahasa itu digunakan, kepada siapa, di mana, kapan, dan pada subjek apa. 1.2 Keadaan sosiolinguistik di Indonesia Masing-masing dari ratusan suku bangsa yang membentuk negara kepulauan Indonesia berbicara dengan bahasanya yang khas. Dengan kata lain, Indonesia adalah rumah bagi ratusan bahasa yang berbeda. Tiga kategori—bahasa ibu (bahasa daerah), bahasa Indonesia, dan bahasa asing—membagi bahasa yang digunakan dalam budaya Indonesia. Kehadiran ketiga bahasa tersebut mengakibatkan masyarakat Indonesia menjadi dwibahasa atau multibahasa.


11 Menurut Abdul Chaer, dua bahasa atau lebih dapat dianggap bersinggungan bila masing-masing penutur menggunakannya secara bergantian. Penutur bahasa individu berinteraksi satu sama lain dalam masyarakat. Dalam masyarakat Indonesia, orang berbicara dalam beberapa bahasa. Oleh karena itu, perjumpaan linguistik ini terjadi dalam lingkungan sosial. Adanya interaksi dalam konteks sosial merupakan awal mula terjadinya kontak bahasa, seperti ketika seseorang belajar bahasa kedua di lingkungannya. Seseorang dapat membedakan antara pengaturan pembelajaran bahasa, urutan penguasaan bahasa, dan pembelajar bahasa dalam keadaan seperti itu. Interaksi bahasa terjadi dalam konteks di mana bahasa dipelajari, yang mengarah ke istilah bilingual dan bilingualisasi— proses belajar bahasa kedua. Semua interaksi antara penutur bahasa yang berbeda yang memiliki potensi untuk mengubah cara mereka menggunakan bahasa mereka dianggap sebagai contoh kontak bahasa. Kedwibahasaan akan terlihat sebagai akibat dari kejadian-kejadian seperti ini. Perbedaan bahasa akan diakibatkan oleh adanya masyarakat bilingual dan multilingual dalam kegiatan interaksi sosial.


12 Dari pembenaran ini, dapat disimpulkan bahwa Indonesia memiliki situasi sosiolinguistik di mana warganya menggunakan tiga kategori bahasa yang berbeda: bahasa ibu, bahasa Indonesia, dan bahasa asing. Ada komunikasi linguistik antara ketiga suku tersebut. Ringkasan Materi Subbidang linguistik yang dikenal sebagai sosiolinguistik mengkaji hubungan antara bahasa dan aspek sosial masyarakat. Tujuan utama sosiolinguistik adalah memahami bagaimana faktor sosial seperti kelas sosial, gender, etnisitas, dan faktor lainnya mempengaruhi penggunaan bahasa dan variasi bahasa dalam masyarakat. Memahami sosiolinguistik memerlukan pemeriksaan bahasa dalam konteks sosialnya, memperhatikan bagaimana bahasa digunakan oleh kelompok sosial tertentu, bagaimana varian bahasa muncul dalam masyarakat, dan bagaimana


13 penggunaan bahasa mencerminkan status dan kekuasaan sosial. Tujuan sosiolinguistik adalah mempelajari variasi bahasa: Sosiolinguistik mempelajari variasi bahasa seperti dialek, aksen, dan gaya bahasa yang muncul dalam masyarakat. Tujuan ini adalah untuk memahami bagaimana variasi bahasa berkembang dan dipengaruhi oleh faktor sosial. Menganalisis faktor sosial dalam penggunaan bahasa: Sosiolinguistik menganalisis bagaimana faktor sosial seperti kelas sosial, etnisitas, gender, dan status sosial lainnya mempengaruhi pilihan bahasa dan gaya bahasa individu dalam interaksi sosial. Memahami identitas sosial melalui bahasa: Sosiolinguistik mempelajari bagaimana penggunaan bahasa dapat mencerminkan identitas sosial individu dan kelompok dalam masyarakat. Bahasa digunakan untuk menunjukkan afiliasi kelompok, status sosial, dan aspek identitas lainnya. Menyelidiki pengaruh kekuasaan dalam penggunaan bahasa: Sosiolinguistik memeriksa bagaimana kekuasaan dan hierarki sosial memengaruhi penggunaan bahasa. Pilihan bahasa dan variasi bahasa dapat mencerminkan struktur kekuasaan dalam masyarakat. Membantu dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa: Sosiolinguistik dapat memberikan wawasan yang berharga


14 dalam pengajaran dan pembelajaran bahasa dengan mempertimbangkan variasi bahasa, preferensi bahasa, dan konteks sosial dalam proses pengajaran. Secara keseluruhan, sosiolinguistik bertujuan untuk memahami hubungan kompleks antara bahasa dan masyarakat, serta dampak faktor sosial dalam penggunaan bahasa. Dengan pemahaman ini, kita dapat mendapatkan wawasan yang lebih baik tentang bagaimana bahasa berfungsi dalam masyarakat serta bagaimana masyarakat membentuk dan dipengaruhi oleh bahasa. Latihan Soal 1. Uraikan secara singkat definisi dari sosiolinguistik? 2. Mengapa sosiolinguistik penting dalam studi bahasa? 3. Apa perbedaan antara sosiolinguistik dan linguistik? 4. Jelaskan mengenai variasi bahasa dalam konteks sosiolinguistik dengan bahasamu sendiri! 5. Mengapa penting mempelajari variasi bahasa dalam konteks sosiolinguistik? 6. Apa itu prestise bahasa dalam sosiolinguistik?


15 7. Apa yang dimaksud dengan multilingualisme dalam konteks sosiolinguistik? 8. Bagaimana faktor sosial seperti kelas sosial dan etnisitas dapat mempengaruhi variasi bahasa? 9. Uraikan yang dimaksud dengan pidgin dan kreol dalam sosiolinguistik? 10. Bagaimana sosiolinguistik dapat membantu dalam pengajaran bahasa?


16 BAB 2 PANDANGAN SOSIOLINGUISTIK TERHADAP BAHASA 2.1 Pandangan Sosiolinguistik Terhadap Bahasa Sosiolinguistik adalah penyelidikan bahasa mengelola bahasa sebagai warga negara, atau berkonsentrasi pada bagian-bagian masyarakat bahasa, khususnya ragam-ragam yang terkandung dalam bahasa sambung variabel sosial (Isnaniah, 2015). Melalui korespondensi, suatu bahasa akan segera menyebar, salah satunya pada hiburan virtual ini. Sosiolinguistik bekonsentrasi pada bahasa dengan mempertimbangkan interaksi antara bahasa itu dan masyarakat, khususnya penutur aslinya (Abdurrahman, 2011). Menurut (Robita, 2011), komponen bahasa harus dilihat melalui sudut pandang sosiolinguistik tentang bahasa melalui perspektif pembicara, anggota audiens, subjek, kode, dan pesan diskusi, dilihat menurut sudut pandang penutur, kemampuan berbahasa individual atau pribadi atau emosional, dalam menyiratkan bahwa pembicara mengkomunikasikan mentalitas terhadap apa yang dia


17 katakan. Di dalam sosiolinguistik akan selalu bermanfaat bagi siapa saja, menurut (sistem operasi Macintosh, 2017). Pemanfaatan sosiolinguistik untuk kehidupan yang bermanfaat tidak dapat disangkal karena bahasa adalah alat verbal manusia yang unik, dalam penggunaannya, sosiolinguistik memberitahukan mengenai cara yang efektif dalam melibatkan bahasa dimata public, sekaligus memberitahukan ragam dialek masyarakat Indonesia. Selain itu, seorang ahli sosiolinguistik memberikan informasi tentang bagaimana kita menempatkan diri kita dalam penggunaan bahasa ketika memasuki tatanan sosial dan linguistik. Dalam penilaian ini telah masuk akal bahwa antara bahasa dan sosiolinguistik saling berkaitan dimana sosiolinguistik melihat kekhasan bahasa sang ada di arena publik seperti bincang-bincang melalui hiburan virtual menganggap berkonsentrasi pada sosiolinguistik ini. Sosiolinguistik melihat bahasa lebih dari sekedar alat untuk bertukar pikiran atau memfasilitasi percakapan. Karena siapa berbicara bahasa apa, kepada siapa, kapan, dan untuk tujuan apa menjadi fokus sosiolinguistik. Pandangan sosiolingistik bahasa dapat dilihat dari sudut pandang penutur, pendengar, topik, kode, dan pesan tuturan


18 serta dari tujuan berbahasa. Jika dilihat dari sudut pandang pembicara, bahasa melayani tujuan pribadi atau ekspresif. Dengan kata lain, pembicara menyampaikan sikapnya terhadap apa yang dikatakannya. Dari sudut pandang pendengar, bahasa memiliki fungsi direktif yang mengontrol perilaku pendengar. Sementara Jakobson (1960) menyebutnya memiliki peran retoris, Finnochiaro (1974) dan Halliday (1973) menyebutnya memiliki fungsi instrumental. Dalam situasi ini, bahasa tidak hanya memaksa pendengar untuk bertindak, tetapi juga mengarahkan pendengar untuk berperilaku sesuai dengan keinginan pembicara. Misalnya, “Dilarang melempar barang kearah artis saat konser sedang berlangsung”. Fungsi bahasa menjadi fatik ketika pembicara dan pendengar berada dalam jarak yang dekat. Interpersonal adalah istilah yang digunakan oleh Finnochiaro (1974), Halliday (1973), dan Jakobson (1960). Maksudnya membangun hubungan, memelihara hubungan, tampilan yang ramah, dan solidaritas sosial adalah tujuan dari fungsi ini. Bahasa fatik ini berisi ekspresi wajah terstruktur dan sering kali disertai dengan gerakan paralinguistik seperti seringai, anggukan kepala, gelengan kepala, dan kedipan mata. Selain memberi ilmu,


19 tujuannya adalah untuk berteman dengan orang lain dalam percakapan. Ringkasan Materi Perspektif sosiolinguistik tentang bahasa harus dilihat dari unsur-unsur bahasa melalui perspektif pembicara, anggota audiens, subjek, kode, dan pesan diskusi, dilihat menurut sudut pandang penutur, kemampuan berbahasa individual atau pribadi atau emosional, dalam menyiratkan bahwa pembicara mengkomunikasikan mentalitas terhadap apa yang dia katakan. Di dalam sosiolinguistik akan selalu bermanfaat bagi siapa saja, menurut (sistem operasi Macintosh, 2017) Pemanfaatan sosiolinguistik untuk kehidupan yang bermanfaat tidak diragukan lagi, sebagai hasil dari bahasa adalah perangkat khusus verbal manusia, dalam pemanfaatannya, sosiolinguistik ini memberikan informasi tentang metode yang paling mahir untuk melibatkan bahasa di mata publik, sosiolinguistik memberikan informasi tentang ragam dialek yang ada di Indonesia masyarakat, sebagai seorang sosiolinguistik memberikan informasi tentang bagaimana mungkin kita menempatkan diri kita dalam pemanfaatan bahasa ketika masuk tatanan sosial dan


20 sosiolinguistik tertentu juga memberikan gambaran ragam bahasa menurut klien dan pemanfaatannya, terlepas dari sosiolinguistik melihat kekhasan dan efek samping bahasa yang ada di mata publik dari perspektif sosiolinguistik. Latihan Soal 1. Apa yang dimaksud sosiolinguistik? 2. Jelaskan pandangan sosiolinguitik menurut para ahli ? 3. Apa saja yang menjadi masalah utama dalam kajian sosiolinguistik ? 4. Mengapa sosiolinguistik berhubungan dengan pengajaran bahasa ? 5. Jelaskan definisi pandangan sosiolinguistik terhadap bahasa ? 6. Sosiolinguistik dibagi menjadi dua bagian yaitu ? 7. Manfaat dari pengetahuan sosiolinguistik dalam berkomunikasi antara lain ?


21 8. Ditinjau dari segi pendengar, bahasa berfungsi direktif, yaitu ? 9. Pandangan sosiolinguistik bahasa dapat dilihat dari sudut pandang apa saja? 10. Menurut (Robita, 2011), komponen bahasa harus dilihat melalui apa saja ?


22 BAB 3 MASYARAKAT BAHASA 3.1 Pengertian Masyarakat Bahasa Disini pengertian masyarakat bahasa mencakup pada sejarah, budaya, politik, dan kebahasaan suatu daerah. Masyarakat bahasa lebih rinci diartikan dengan kelompok berkarakteristik sama baik dalam agama, usia, etnis, terutama kesamaan dalam variasi bahasa. Kesamaan inilah yang menggambarkan arti penggunaan kesamaan bahasa dalam keadaan rell di lingkungan masyarakat. Sebagai dasaran pemahaman mengenai masyarakat bahasa kita dapat berpegang pada bahasa tersebut, kelompok sosial, hierarki, serta individunya dalam lingkungan masyarakat tersebut. Sistem bahasa dalam masyarakat bahasa menurut Bloomfield, bahwasannya kelompok bahasa ada karena adanya kesamaan dalam sistem tanda. Bagi Lyons masyarakat bahasa ialah mereka yang memanfaatkan suatu bahasa khusus (logat). Hymes mendefinisikan masyarakat bahasa selaku masyarakat yang mempunyai pemahaman adanya aturan


23 terjadinya pandangan suatu bahasa. Kepemilikan bahasa itu meliputi pemahaman terhadap suatu bentuk bahasa, serta pemahaman perihal pola penggunaan bahasa tersebut. Berdasarkan uraian di atas bahwasannya ada tiga pendekatan guna mengerti konsep masyarakat bahasa. Pertama, berdasar bentuk bahasa milik bersama. Kedua berdasar perspektif kaidah sistem kebahasaan milik bersama. Dan, ketiga berdasar pandangan konsep kebudayaan yang dianut bersama. Dengan adanya bahasa membuat masyarakat menyatu dan menjadi masyarakat yang sentripetal. Gagasan tersebut disebut dengan masyarakat bahasa, di mana mereka dapat melaksanakan norma kebahasaan yang sama. 3.2 Multikultural dan Masyarakat Bahasa Adanya keragaman sistem bahasa menjadi ciri khas masyarakat heterogen sebagai bagian dari masyarakat multikultural. Labov (1971) berpandangan bahwasannya makin banyak adanya bukti yang ditemukan, menjadi jawaban bahwa masyarakat monolingual tidak sepenuhnya homogen. Kesimpulannya, heterogenitas bahasa memang tidak wajar, namun sifatnya alami.


24 Seperti halnya Indonesia yang bahasanya berkaitan secara genetic berdasarkan kebudayaan, kebahasaan masyarakkat Indonesia bisa dibilang heterogen, namun jika ditinjau dari aspek etnografis Indonesia merupakan Negara yang homogen. Berkembangnya kelompok bahasa yang semakin membludak di Indonesia kemajemukan agama, kelompok etnik, profesi, politik, golongan sosio-ekonomi yang beragam. Walau begitu hal ini tidak menjadi hambatan bagi Indonesia untuk mengjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. 3.3 Fenomena Masyarakat Bahasa Multikultural Sehubungan dengan peran individu dalam bersosial, bahasa menjadi acuan dalam bentuk tingkah laku. Ada dua pendekatan guna menelaah peran konstituan dengan pilihan linguistik selaku tipikalnya, yakni menelaah kategori bahasa oleh kelompok kecil (mikro) di dalam interaksi tersebut. Kemudian, dengan menelaah pilihanpilihan bahasa tipikal oleh kelompok sebagai satu kesatuan interaksi mayoritas, kelompok dalam pada kondisi masyarakat keseluruhan. Pendekatan mikro yang berpusat pada masyarakat bilingual, menyebabkan permasalahan terkait adanya kemungkinan proses komunikasi lebih dari satu bahasa.


25 Pendekatan selanjutnya difokuskan pada bahasa mayoritas (yang dipergunakan) guna menciptakan kerjasama serta pemegang kendali dalam ranah politik suatu Negara. Aspek mikro dan makro multibahasa, yang mencakup penggunaan banyak bahasa oleh organisasi dan orang, terkait erat dengan bilingualisme. Individu dapat menjelaskan penggunaan kosa kata berbasis bahasa Latin di tingkat mikro, menggunakan istilah-istilah seperti "individu", "dwibahasa atau multibahasa", "bilingualisme", dan seterusnya. Kemampuan anggotanya untuk berkomunikasi dalam beberapa bahasa adalah hubungan lain antara multilingualisme dan masyarakat multibahasa. Ringkasan Materi Masyarakat bahasa lebih rinci diartikan dengan kelompok berkarakteristik sama baik dalam agama, usia, etnis, terutama kesamaan dalam variasi bahasa. Kesamaan inilah yang menggambarkan arti penggunaan kesamaan bahasa dalam keadaan rell di lingkungan masyarakat. Sistem bahasa dalam masyarakat bahasa menurut Bloomfield,


26 bahwasannya kelompok bahasa ada karena adanya kesamaan dalam sistem tanda. Bagi Lyons masyarakat bahasa ialah mereka yang memanfaatkan suatu bahasa khusus (logat). Dan, ketiga berdasar pandangan konsep kebudayaan yang dianut bersama. Dengan adanya bahasa membuat masyarakat menyatu dan menjadi masyarakat yang sentripetal. Adanya keragaman sistem bahasa menjadi ciri khas masyarakat heterogen sebagai bagian dari masyarakat multikultural. Labov (1971) berpandangan bahwasannya makin banyak adanya bukti yang ditemukan, menjadi jawaban bahwa masyarakat monolingual tidak sepenuhnya homogen. Seperti halnya Indonesia yang bahasanya berkaitan secara genetic berdasarkan kebudayaan, kebahasaan masyarakkat Indonesia bisa dibilang heterogen, namun jika ditinjau dari aspek etnografis Indonesia merupakan Negara yang homogen. Berkembangnya komunitas bahasa yang semakin membludak di Indonesia kemajemukan agama, kelompok etnik, profesi, politik, golongan sosio-ekonomi yang beragam. Sehubungan dengan peran individu dalam bersosial, bahasa menjadi acuan dalam bentuk tingkah laku. Pendekatan mikro yang berpusat pada masyarakat bilingual, menyebabkan permasalahan terkait adanya kemungkinan proses komunikasi lebih dari satu bahasa. Aspek mikro dan


27 makro multibahasa, yang mencakup penggunaan banyak bahasa oleh organisasi dan orang, terkait erat dengan bilingualisme. Latihan Soal 1. Jelaskan pengertian masyarakat bahasa menurut bahasa kalian! 2. Bagaimana sistem bahasa dalam masyarakat bahasa menurut Bloomfield? 3. Sebutkan dan jelaskan tiga pendekatan dalam memahami konsep masyarakat bahasa! 4. Gambarkan secara singkat berdasarkan pemahaman kalian mengenai “multicultural” dan “masyarakat bahasa”! 5. Mengapa heterogenitas bahasa yang tidak wajar memiliki sifat alami? Jelaskan! 6. Bahasa menjadi acuan dalam bentuk tingkah laku. Jelaskan maksut kalimat tersebut! 7. Berikan 3 contoh dari fenomena masyarakat bahasa multicultural! 8. Mengapa penggunaan bahasa suatu daerah difokuskan pada kelompok mayoritas?


28 9. Masyarakat yang multicultural menyebabkan seseorang harus dapat menguasai beberapa bahasa, bagaimana pendapat anda mengenai hal tersebut? Jelaskan! 10. Bagaimana tanggapan anda mengenai sistem bahasa yang mulai memudar (dialek) dan tergantikan dengan bahasa masa kini (seperti bahasa JakSel)?


29 BAB 4 VARIASI BAHASA 4.1 Hakikat dan Bentuk Variasi Bahasa Suatu bahasa tentu didalamnya memiliki sebuah bentuk yang dapat dipahami oleh pengguna bahasa tersebut. walaupun pemngguna bahasa itu ada didalam masyarakat pengucap dan tidak termasuk kedalam sekumpulan kelompok manusia yang seragam, sehingga menjadi tidak homogen (berbeda-beda). Timbulnya bermacam-macam bahasa selain disebabkan oleh para pembicara yang tidak sama, namun bisa juga disebabkan hubungan sosialisasi mereka yang sangat bervariasi. Dalam bersosialisasi tentu mengakibatkan timbulnya bervariasinya dari suatu bahasa. Bervariasinya bahasa akan semakin bertambah jika sering dipakai pembicara didalam wilayah yang luas. Dalam keberagaman bahasa terdapat dua tinjauan yakni. pertama, ragam jenis bahasa dapat diamati selaku hasil munculnya keberagaman sosial pembicara bahasam serta keberagaman kegunaan bahasa tersebut, sehingga keberagaman bahasa dapat terjadi karena timbulnya


30 keberagaman sosial dan keberagaman manfaat dari bahasa itu. Kedua, ragam bahasa yang terlebih dulu ada berfungsi untuk memenuhi kegunaannya sebagai sarana berinteraksi di berbagai macam kegiatan masyarakat sosial. Dalam Hartman dan Stork (1972) berpendapat bahwa ragam bahasa dapat digolongkan menjadi tiga jenis, (1) latar belakang sosial dan wilayah pembicara, (2) perantara yang dipakai, (3) inti dari yang dibicarakan. . Dalam bahasa Inggris Amerika, Preston dan Shuy (1979), mengklasifikasikan ragam bahasa, menurut (1) pembicara, (2) korelasi, (3) kode, (4) realisasi. Mc David (1969) ragam bahasa dibagi berdasarkan (1) keadaan letak wilayah, (2) keadaan sosial, (3) dan keadaan masa ke masa. Sedangkan Ragam bahasa menurut Halliday (1970, 1990) dapat dibedakan berdasarkan (1) pengguna dinamakan dialek, (2) pengguna dinamakan register. 4.2 Variasi Pemilihan Bahasa Keadaan kedwibahasaan meyiapkan beberapa bahasa atau macam bahasa didalam suatu masyarakat. Seseorang harus bisa memilih satu dari banyaknya bahasa yang akan digunakan untuk berbicara dengan


31 lawan bicaranya sesuai dengan latar belakang sosial budaya yang diikutinya. Dalam sosiolinguistik terdapat tiga pilihan bahasa. Pertama dinamakan variasi dalam bahasa yang sama. Kedua dinamakan alih kode. Dan yang ketiga dinamakan campur kode. Poedjosoedarmo (1982:30) mengatakan bahwa Kode merupakan sebuah teknik tutur yang mengaplikasikan unsur bahasa yang memiliki ciri khusus yang setara dengan latar belakang pengujar, hubungan pengujar melalui lawan pengujar, serta keadaan ujar yang ada. Kode dapat juga dimaknai sebagai sebuah sebutan yang mengacu pada suatu bahasa. Ragam bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat untuk berkomunikasi biasanya berbentuk kode. Penggunaan ragam bahsa yang bersumber dari satu bahsa dinamakan monolingual, sedangkan penggunaaan ragam bahasa yang terdapat lebih dari dua variasi bahasa dinamakan masyarakat multilingual. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kode merupakan sebuah konteks wacana dan bagian aspek dari sebuah percakapan yang telah di kenali. Dalam masyarkaat multilingual penggunaan serta pemilihan ragam bahasa sangat beragam.. setidaknya ada


32 tiga peristiwa pengaplikasian ragam bahasa, yakni (a) alih kode, (b) campur kode, (c) interfensi. Dari ketiga periatiwa tersebut memunculkan adanya akibat terjadinya kontak bahasa. a) Alih kode atau Alih Bahsa (code Switching) Kridalaksana (1993:9) mengemukakan bahwa alih kode atau alih bahasa merupakan pengaplikasian ragam bahasa lainnya guna mengadaptasikan penutur dengan karakter atau kondisi lain yang disebabkan ada orang lain. Terdapat tiga keyword dalam perihal alih kode, yakni pergantian peran, pergantian situasi, dan adanya peran serta orang lain. Berkaitan dengan hal tersebut seorang pembicara diperlukan tetap konsisten dalam pemilihan bahasa tertentu, hal ini sering terjadi disebabkan karena adanya pergantian dari satu bahasa ke bahasa lain secara tiba-tiba. Suwito (1985: 72-74) mengatakan berkaitan dengan adanya perihal alih kode setidaknya ada enam aspek yang bisa mempengaruhi munculnya alih kode, yaitu (a) aspek pembicara, (b) aspek lawan bicara, (c) aspek kemunculan pembicara ketiga, (d) untuk memunculkan rasa humor,(e) pokok


33 pembicaraan, dan (f) hanya untuk sebuah kehormatan. b) Campur Kode (code mixing) Kridalaksana (1993:35) mengemukakan campur kode sering ditemukan ketika berkomunikasi dalam masyarakat multilingual. Campur kode dapat didefinisikan sebagai pemakaian dari satu bahasa ke bahasa yang lain guna memperluas majas atau variasi bahasa, yang didalamnya terdapat penggunaan kata, klausa, idiom, sapaan dan sebagainya. Campur kode dengan alih kode tentu memiliki perbedaan yang ditandai dengan kegunaan dan keterkaitan dengan masing-masing pemcara. Selain itu dapat pula dilihat dari faktor atau ragam yang mencantumkan didalam bahasa lain dan tidak lagi menjadi fungsi utama. c) Interferensi Interferensi dapat didefinisikan sebagai bentuk pemakaian bahasa secara bergantian dan campuran dari bahasa yang pertama kali diucapkan. Interferensi bisa saja berbentuk dari kegagalan pemakaian kaidah leksikal dan gramatikal. Interferensi yang sering terjadi dimasyarkaat yakni


34 sisipan kosa kata maupun gramatikal. Di bahsa Indonesia yang sangat berpengaruh terhadap perubahan kaidah yakni bahasa daerah (khussusnya bahsa Jawa) dan bahasa asing (khususnya bahasa produktif). 4.3 Faktor atau Aspek Yang Menyebabkan Variasi Pemilihan Bahasa Dalam memilih ragam bahasa di interaksi sosial masyarakat multibahasa atau dwibahasa ternyata terdapat beberapa aspek sosial dan budaya yang menentukan. Evin-Trip (1972) memaparkan bahwa setidaknya terdapat empat aspek utama untuk mengidentifikasi penanda pemilihan bahasa pembicara ketika berinteraksi sosial, yakni (a) latar (waktu, tempat, serta situasi), keikutsertaan ketika berinteraksi, (3) pokok pembicaraan, serta (4) kegunaan interaksi. Aspek pertama bisa berbentuk seperti makan malam bersama dilingkungan keluarga, rapat dikantor, kegiatan jual beli dipasar. Aspek kedua meliputi usia, jenis kelamin, pekerjaan, status sosial, ekonomi, dan relasi seseorang ketika berbicara. Relasi dengan pembicara bisa berbentuk seperti hubungan akrab dan hubungan


35 berjarak. Aspek ketiga, bisa berbentuk tentang pekerjaan, tentang harga bahan pokok dipasar, harga barang elektronik ditoko elektronik. Aspek keempat berupa negosiasi, memberikan sebuah informasi, permintaan, kebiasaan rutin (mengucap salam, meminta tolong, terimakasih, dan maaf). Empat aspek yang memperngaruhi pemilihan waktu ketika berinteraksi menurut Groesjean (1982: 136) yakni: (a) keikutsertaan, (b) keadaan / kondisi, (c) tema pembicaraan, dan (4) kegunaan interaksi. Aspek situasi mengarahkan pada (a) tempat atau setting, (b) kedatangan penutur tunggal (monolingual), (c) tingkat keformalan, dan (d) tingkat kedekatan. Aspek isi wacana mengarahkan pada (1) tema percakapan, dan (2) jenis pembendaharaan kata. Sedangkan aspek interaksi meliputi (1) meninggikan status, (2) memunculkan adanya jarak sosial, (3) mencegah untuk menambah atau mengurangi seseorang dari pembicaraan, dan (4) memberi perintah atau meminta. Dari beberapa penjelasn diatas, yang perlu amati adalah tdak ada aspek khusus yang menyebakan adanya pemilihan bahasa seseorang. Gal (1982) mendapatkan bukti bahwasanya karakteristik pembicara dan lawan


36 bicara ialah aspek yang paling penting ketika menentukan pengguanaan bahasa dalam masyarakat. Adapun tema dan latar/ setting merupakan aspek yang kurang menentukan ketika memilih penggunaan bahasa. Sedangkan, Rubin (1982) memparkan faktor penting dalam pemilihan bahasa adalah tempat berlangsungnya peristiwa tutur. Pada penelitian yang telah dilakukannya di Guarani dan Spanyol di Paraguay yang membahas tentang pemilihan bahasa, bahwa faktor terpenting dalam pemilihan bahasa adalah lokasi interkasi yakni desa, sekolah, serta tempat umum. Ringkasan Materi Suatu bahasa tentu didalamnya memiliki sebuah bentuk yang dapat dipahami oleh pengguna bahasa tersebut. Timbulnya bermacam-macam bahasa selain disebabkan oleh para pembicara yang tidak sama, namun bisa juga disebabkan hubungan sosialisasi mereka yang sangat bervariasi. Dalam bersosialisasi tentu mengakibatkan timbulnya bervariasinya dari suatu bahasa. Bervariasinya bahasa akan semakin bertambah jika sering dipakai pembicara didalam wilayah yang luas.


37 Dalam keberagaman bahasa terdapat dua tinjauan yakni. pertama, ragam jenis bahasa dapat diamati selaku hasil munculnya keberagaman sosial pembicara bahasam serta keberagaman kegunaan bahasa tersebut, sehingga keberagaman bahasa dapat terjadi karena timbulnya keberagaman sosial dan keberagaman manfaat dari bahasa itu. Kedua, ragam bahasa yang terlebih dulu ada berfungsi untuk memenuhi kegunaannya sebagai sarana berinteraksi di berbagai macam kegiatan masyarakat sosial. Dalam sosiolinguistik terdapat tiga pilihan bahasa. Pertama dinamakan variasi dalam bahasa yang sama. Kedua dinamakan alih kode. Dan yang ketiga dinamakan campur kode. Dalam memilih ragam bahasa di interaksi sosial masyarakat multibahasa atau dwibahasa ternyata terdapat beberapa aspek sosial dan budaya yang menentukan terdapat empat aspek utama untuk mengidentifikasi penanda pemilihan bahasa pembicara ketika berinteraksi sosial, yakni (a) latar (waktu, tempat, serta situasi), keikutsertaan ketika berinteraksi, (3) pokok pembicaraan, serta (4) kegunaan interaksi. Latihan Soal


38 1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan variasi bahasa? 2. Apa saja yang dapat menimbulkan munculnya variasi bahasa? 3. Dalam keberagaman bahasa terdapat dua tinjauan. sebutkan dan jelaskan? 4. Dalam sosiolinguistik terdapat tiga pilihan bahaasa. Sebutkan dan jelaskan? 5. uraikan definisi dari alih kode, serta berikan contohnya ? 6. uraikan definisi dari campur kode, serta berikan contohnya? 7. Uraikan definisi dari interferensi? 8. Sebutkan aspek-aspek utama dalam mengidentifikasi penanda pemilihan bahasa pembicara ketika berinteraksi sosial? 9. Apakah ada aspek khusus yang menyebabkab adanya pemilihan bahasa seseorang? 10. Dalam Rubin (1982) terdapat faktor penting dalam pemilihan bahasa, faktor apakah itu?. Serta jelaskan!.


39 BAB 5 BENTUK-BENTUK VARIASI BAHASA 5.1 Variasi Bahasa Berdasar Keformalan Martin Joss mengkualifikasikan ragam bahasa menjadi lima rupa, yakni ragam beku, ragam resmi, ragam upaya, ragam kasual, dan ragam akrab (Abdul Chaer, 2004:70). Berikut adalah pengertian dari tiap-tiap variasi bahasa tersebut. 5.1.1 Ragam Beku Ini merupakan ragam bahasa yang paling resmi, varian ini juga sering digunakan pada acara resmi seperti upacara negara, khotbah di masjid, prosedur pengucapan sumpah, buku, aturan hukum, Dokumen notaris, dan penetapan. Dikarenakan aturan dan pola sudah mapan dan tidak dapat diubah, variasi ini disebut sebagai varietas beku. Variasi ini dapat ditemukan dalam dokumen sejarah, konstitusi, akta notaris, perjanjian jual beli, dan dokumen tertulis lainnya.


40 Bentuk bahasa yang paling dianggap formal adalah varietas beku. Ini dikenal sebagai "varietas beku" karena aturan dan polanya ditetapkan di atas batu dan tidak dapat diubah. Padahal, tekanan pengucapan seharusnya tidak berubah sama sekali. Varietas ini menggunakan bahasa yang sangat formal. Karena sudah ditetapkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, tidak bisa begitu saja mengubahnya. Juga, bahasa beku banyak digunakan dan sudah mendarah daging sejak lama, jadi sulit untuk mengubahnya. Variasi beku jenis ini memiliki kalimat panjang yang sulit dipecah dan mematuhi persyaratan tata bahasa dan ejaan yang benar. Jenis ragam ini mengharuskan pembicara dan penonton untuk serius dan fokus pada apa yang sedang diiucapkan. 5.1.2 Ragam Resmi Pidato kenegaraan, rapat resmi, korespondensi resmi, ceramah agama, buku teks, makalah, karya ilmiah, dan sebagainya biasanya menggunakan variasi ini. Model dan aturan bahasa ragam resmi telah ditentukan secara konsisten. Contoh variasi


41 pidato formal antara lain acara, ceramah, dan percakapan seseorang dengan dekan di kantornya. Ilustrasi lain dari keragaman ini adalah percakapan mahasiswa di kampus dengan dosen atau pejabat struktural tertentu. Kalimat jenis ini lebih komprehensif dan rumit, mempergunakan model gramatika yang akurat, juga menggunakan kumpulan kata yang baku. 5.1.3 Ragam Upaya Ragam berikut sering diaplikasikan dalam diskusi, pertemuan, dan pembicaraan informal di sekolah yang berfokus pada hasil atau produksi. Alhasil, bisa dikatakan varietas ini paling bermanfaat. Varietas ini terdapat di antara varietas resmi dan kasual. 5.1.4 Ragam Santai Ini merupakan ragam yang sering digunakan pada suasana informal seperti berkumpul dengan keluarga saat berlibur, berolahraga, ikut rekreasi, dan sebagainya. Bentuk allegro, atau ucapan singkat, digunakan dalam variasi ini. Dengan bahasa daerah, tidak ada bentuk kata yang diwarnai baik secara morfologis maupun sintaksis.


42 5.1.5 Ragam Akrab Penutur dan lawan bicara yang mempunyai korelasi yang sangat akrab, sebagaimana dengan sanak saudara atau sahabat dekat, menggunakan variasi bahasa ini. Linguistik yang tidak kurang artikulasinya, pendek, dan kurang lengkap menjadi ciri ragam ini. Peserta dalam diskusi ini sudah akrab satu sama lain dan sudah saling memahami. Itu sangat tergantung pada situasi ketika melihat ragam bahasa berdasarkan seberapa formal itu. Siapa yang menyampaikan, dialek apa yang digunakan, kepada individu mana, pada waktu apa, di mana, dan masalah apa yang disebut situasional. Oleh karena itu, sangat mungkin percakapan dengan ragam yang berbeda akan terjadi dalam satu keadaan, seperti yang ditunjukkan di bawah ini. 5.2 Variasi Bahasa Berdasar Pemakaiannya Sebuah fungsiolek adalah variasi bahasa dalam penggunaan, penggunaan, atau fungsinya. Biasanya, variasi ini dibahas dalam hal mode penggunaan, tingkat formalitas, dan gaya. Variasi Bahasa yang dikenakan agak berbeda-beda tergantung kebutuhan dan kebutuhan


43 bidang yang digunakan. Misalnya di bidang sastra, pendidikan, militer, jurnalistik, ekonomi, perdagangan, dan bidang terkait lainnya. 5.2.2 Register Registrasi adalah jenis indikasi ragam bahasa yang diakibatkan oleh perbedaan penggunaan. Penggunaan perbendaharaan kata khusus yang terkait dengan kegiatan atau kelompok sosial tertentu mengarah pada pembuatan daftar, yang dapat berupa proses atau hasil. Suwito menegaskan (1985: 25) mengemukakan bahwa ciri khusus pengguna dibawa oleh register sebagai bentuk variasi bahasa. Registrasi pada akhirnya dapat diterjemahkan sebagai bahasa yang sudah biasa digunakan saat ini, bahasa yang bergantung pada apa yang dilakukannya dan ide dari latihannya menggambarkan satu lagi bagian dari tingkat sosial yang kebanyakan mencakup area lokal tertentu. Register adalah jenis bahasa berdasarkan cara penggunaannya, dengan kata lain bahasa yang dikenakan tergantung pada apa yang dilakukan dan kegiatan yang dilakukan di alam. Aspek lain


44 dari tataran sosial yang tercermin dalam register adalah proses sosial, yaitu proses dari berbagai kegiatan sosial yang biasanya dikaitkan dengan manusia. Register adalah jenis makna unik yang dikaitkan dengan situasi sosial tertentu. Ada beberapa aktivitas dan sedikit percakapan dalam register, yang terkadang disebut sebagai bahasa tindakan. Ciri-ciri register secara keseluruhan adalah bahwa register utama menyinggung tentang penggunaan jargon eksplisit yang terkait dengan kelompok pekerja yang unik. Kedua, partisipasi masyarakat, lokasi, dan fungsi komunikatif semuanya tercermin dalam bahasa register. Ini sesuai dengan situasi komunikasi yang berulang. Ketiga, register digunakan oleh perkumpulan atau perkumpulan tertentu sesuai panggilan dan kemampuan yang sama. 5.2.3 Dialek Dialek geografis dan dialek sosial (sosiolek) adalah dua konsep yang muncul dari dialek, yang merupakan ragam tutur yang dibagi berdasarkan ketidakseragaman asal pengguna


45 bahasa dan kelas sosial pengguna bahasa tersebut. Dialek Yunani adalah tempat asal kata dialek. Dialektologi adalah studi tentang linguistik yang hadir dalam bahasa dan dipengaruhi oleh faktor geografis. Dalam Ayatrohaedi, Meillet (2002:Menurut 23), ciri utama dialek yaitu perbedaan antara kesatuan dan keragaman. Selain itu, dialek mencakup dua karakteristik tambahan: 1) Dialek bahasa lokal adalah kumpulan dialek berbeda yang mempunyai karakter yang sama satu sama lain daripada dialek berlainan dari bahasa yang sama. 2) Dialek tidaklah perlu mengadopsi seluruh bentuk tuturan suatu idiom/bahasa. Selain itu, menurut Mahsun (2014:11), dialektologi adalah subbidang linguistik yang mendalami perbedaan isolek dengan memperlakukannya secara utuh. Untuk menentukan apakah suatu isolek ada sebagai bahasa, dialek, atau subdialek, perbedaan antara isolek satu dan isolek lainnya diperiksa.


46 5.3 Variasi Bahasa Berdasar Penuturnya Ada empat jenis ragam bahasa menurut penuturnya: a. Ragam bahasa individu (idiolek) b. Ragam bahasa dari jumlah pembicara yang relatif besar di satu lokasi, kawasan, maupun daerah (dialek) tertentu; c. Ragam bahasa yang dikenakan melalui komunitas sosial pada waktu yang terkhusus (kronolek); dan d. Ragam bahasa yang berkaitan dengan status, kelas, dan tingkatan sosial penutur. Sesuai bersama idenya, ragam bahasa sejauh yang dimiliki penutur gagasan khusus mereka. Variasi idiolek adalah variasi yang dipegang setiap orang, seperti warna suaranya, opsi kata, penampilan, struktur kalimat, dan lain-lain. Alih-alih ragam idilek, ragam lidah adalah ragam yang diklaim oleh kumpulan penutur yang melibatkan suatu daerah yang memiliki kualitas yang sangat menunjukkan bahwa mereka adalah satu bahasa yg aneh. Kemudian ada variasi Kronolek, yaitu bahasa yang berbeda yang digunakan pada waktu tertentu dan memiliki perbedaan dalam sintaksis, morfologi,


47 pengucapan, dan ejaan. Varian terakhir adalah sosiolek. Variasi sosiolek, misalnya varietas termasuk isu-isu individu penutur seperti usia, instruksi, pekerjaan, tingkat kehormatan, dan lain-lain. 5.4 Variasi Bahasa Berdasarkan Segi Media/Alat Variasi bahasa dapat diamati dari segi media atau alur yang dikenakan. Mengingat sarana yang digunakan, berbagai dialek dipisahkan menjadi dua, yakni variasi bahasa yang dikomunikasikan dan variasi bahasa tersusun. Informasi yang digunakan dalam berbagai wacana lisan dan disampaikan secara lisan dengan bantuan elemen tidak-segmental atau tidak-linguistik, seperti frekuensi suara, ayunan tangan, gerakan kepala, serta gerak tubuh sejenisnya. Kemudian, agar pembaca dapat memahami apa yang tertulis, berbagai bahasa merekam informasi tersebut dalam bentuk tulisan, simbol, dan tanda baca. Variasi bahasa juga dapat diamati dari sisi saluran maupun sarana yang dikenakan. Hal ini dapat diartikan sebagai variasi lisan dan variasi tulis, serta dapat pula disebut sebagai variasi bahasa ketika memakai alat-alat tertentu, seperti telepon dan telegraf (Chaer dan


48 Agustina, 2004: 95). Dalam warga yang bilingual maupun multilingual, orang yang berbicara lebih dari dua linguistik harus memilih ragam atau varian mana yang akan dipergunakan dalam keadaan tertentu. Buku cerita ini berbicara tentang bagaimana karakter berinteraksi satu sama lain seperti kehidupan sosial di dunia nyata. Oleh karena itu, penggunaan bahasa pengarang juga sangat dipengaruhi oleh ragam tokoh, latar, dan situasi. Ringkasan Materi Martin Joss mengkualifikasikan ragam bahasa menjadi lima rupa, yakni ragam beku, ragam resmi, ragam upaya, ragam kasual, dan ragam akrab. Ragam Beku merupakan ragam bahasa yang paling resmi, varian ini juga sering digunakan pada acara resmi seperti upacara negara, khotbah di masjid, prosedur pengucapan sumpah, buku, aturan hukum, Dokumen notaris, dan penetapan. Ragam Resmi Kalimat lebih komprehensif dan rumit, mempergunakan model gramatika yang akurat, juga menggunakan kumpulan kata yang baku. Ragam Upaya


49 sering diaplikasikan dalam diskusi, pertemuan, dan pembicaraan informal di sekolah yang berfokus pada hasil atau produksi. Alhasil, bisa dikatakan varietas ini paling bermanfaat. Varietas ini terdapat di antara varietas resmi dan kasual. Ragam Santai sering digunakan pada suasana informal seperti berkumpul dengan keluarga saat berlibur, berolahraga, ikut rekreasi, dan sebagainya. Bentuk allegro, atau ucapan singkat. Sedangkan, Ragam Akrab diartikan sebagai Penutur dan lawan bicara yang mempunyai korelasi yang sangat akrab, sebagaimana dengan sanak saudara atau sahabat dekat. Register dan dialek adalah dua jenis bentuk variasi bahasa yang juga dapat dipecah berdasar pemakainya. Di dalam kehidupan, seseorang boleh atau bisa saja hidup bersama satu bahasa, tetapi tidak hanya hidup dengan suatu daftar, karena eksistensinya sebagai bagian dari wilayah lokal, lapangan yang diisi pasti lebih dari satu. Variasi idiolek adalah variasi yang dipegang setiap orang, seperti warna suaranya, opsi kata, penampilan, struktur kalimat, dan lain-lain. Alih-alih ragam idilek, ragam lidah adalah ragam yang diklaim oleh kumpulan penutur yang melibatkan suatu daerah yang memiliki kualitas yang sangat


50 menunjukkan bahwa mereka adalah satu bahasa yg aneh. Kemudian ada variasi Kronolek, yaitu bahasa yang berbeda yang digunakan pada waktu tertentu dan memiliki perbedaan dalam sintaksis, morfologi, pengucapan, dan ejaan. Varian terakhir adalah sosiolek. Variasi sosiolek, misalnya varietas termasuk isu-isu individu penutur seperti usia, instruksi, pekerjaan, tingkat kehormatan, dan lain-lain. Dalam warga yang bilingual maupun multilingual, orang yang berbicara lebih dari dua linguistik harus memilih ragam atau varian mana yang akan dipergunakan dalam keadaan tertentu. Buku cerita ini berbicara tentang bagaimana karakter berinteraksi satu sama lain seperti kehidupan sosial di dunia nyata. Oleh karena itu, penggunaan bahasa pengarang juga sangat dipengaruhi oleh ragam tokoh, latar, dan situasi. Latihan Soal 1. Bentuk bahasa yang paling dianggap formal adalah varietas beku. Mengapa demikian? 2. Apa yang menjadi salah satu ciri Ragam/Variasi Beku? 3. Bagaimana jenis kalimat dalam ragam resmi?


Click to View FlipBook Version