The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sosiolinguistik (Semester 6)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by syafilachabsarotulislamiyah0, 2023-08-15 08:06:15

Sosiolinguistik

Sosiolinguistik (Semester 6)

51 4. Mengapa fungsiolek penting dalam tiap ragam bahasa? 5. Mengapa variasi bahasa yang digunakan dapat berbeda-beda? 6. Bagaimana varietas lidah dapat lebih dominan daripada varietas idialek? 7. Bagaimana ragam bahasa dapat dikelompokkan menurut ragam penuturnya? 8. Bagaimana dialektologi berperan sebagai subbidang linguistic? 9. Mengapa dialek dibagi menjadi 2 Varietas? 10. Bagaimana Variasi bahasa dapat diamati dari sisi saluran maupun sarana yang dikenakan?


52 BAB 6 TIPOLOGI BAHASA 6.1 Definisi Tipologi Bahasa Tipologi bahasa berkaitan dengan klasifikasi bahasa berdasarkan kesamaan fitur atau jenis linguistik. Cabang linguistik komparatif yang mengelompokkan bahasa menurut jenis yang paling umum dalam suatu kelompok bahasa. Kesamaan jenis dalam tataran fonologi, morfologi, sintaksis dan semantik. Bahasa yang sama membentuk komunitas bahasa. Studi tipologi bahasa adalah cabang linguistik yang cocok untuk menganalisis dan mempelajari bahasa-bahasa dunia yang relevan. Bila dicermati dari keragaman bahasa daerah Indonesia, kajian tipologi bahasa menjadi magnet yang sangat menarik yang dapat dijadikan landasan teori untuk mengkaji banyak permasalahan linguistik yang ada. Perlu ditekankan bahwa kajian tipologi tidak dapat dipisahkan dari linguistik pada umumnya dan linguistik pada khususnya. Namun jika ada kajian


53 tipologi yang memiliki fokus yang berbeda, maka kajian tipologi tersebut harus dipisahkan. Perlu dicatat kembali, walaupun di dunia bahasa-bahasa bisa dikenali di bawah kategori-kategori bahasa manusia. Oleh sebab itu, bahasa bangsa harus berlandaskan persatuan. Kesatuan yang telah ditemukan oleh beberapa ahli bahasa secara langsung karena ketertarikan dengan melakukan pemeriksaan variasi struktural yang berlimpah didalam bahasa dunia, yang dikenal dengan sebutan tipologi bahasa. Kajian yang dilakukan oleh para ahli bahasa tersebut tentang perbedaan antar bahasa disebut dengan tipologi atau tipologi bahasa. Tujuan utama kajian tipologi bahasa yaitu untuk mengelompokkan bahasa sesuai dengan struktural yang mereka miliki, hal tersebut dilakukan untuk menjawab pertanyaan umum yaitu “Bahasa apakah X?”. Terdapat dua asumsi penting yang menjadi dasar tipologi bahasa yang telah ditegaskan oleh Comrie (1988), sebagai berikut: (a) Asumsikan bahwa bahasa secara struktural sebanding.


54 (b) Tipologi bahasa mensyaratkan adanya perbedaan antar bahasa. Asumsi pertama menyatakan adanya karakteristik menyeluruh (universal) yang dapat dipakai perbandingan dasar. Comrie (1988) menunjukkan jika kajian tipologi bahasa sejalan dengan kajian bahasa menyeluruh (universal). Asumsi lain menunjukkan bahwa ada perbedaan antara bahasa. Jika tidak ada perbedaan antar bahasa, seluruh bahasa pasti bisa digolongkan sebagai jenis bahasa yang serupa. Ciriciri struktural bahasa apapun bisa dipilih menjadi dasar tipologi bahasa sesuai pada prinsipnya. Namun penerapan tipologi bahasa adalah tentang menemukan sifat-sifat unik, khususnya sifat-sifat yang dapat digunakan untuk memprediksi sifat-sifat lainnya. Aspek bahasa Indonesia yang dibahas dalam konteks ini adalah notasi diatesis bahasa Indonesia. Menurut tipologi bahasa, berdasarkan tinjauan pustaka, bahasa Indonesia dianalisis sebagai bahasa akusatif dengan dua jenis diatesis pasif: Pasif di- dan pronominal pasif (Chung 1976; Verhaar 1977; Verhaar 1988). 6.2 Jenis Tipologi Bahasa


55 Tipologi bahasa adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari dan mengklasifikasikan bahasa menurut struktur atau karakteristik linguistik. Menurut KBBI, tipologi mengkaji persamaan morfologi bahasa dan sintaksis tanpa memberikan pertimbangan mengenai sejarah bahasa tersebut. tujuan adanya tipologi bahasa adalah untuk menjelaskan dan memberikan deskripsi ciri umum dan keragaman struktur bahasa yang ada di dunia. bahasa dengan jumlah jenis yang serupa kemudian dikelompokkan dalam kelompok bahasa yang sama. Beberapa karakter khusus dari bahasa, tidak mencakup bahasa secara menyeluruh, hal tersebut menjadi perbandingan tipologi. Sebagai contoh, bahasa Turki mempunyai pola kalimat Subjek-ObjekPredikat (S-O-P) dan bahasa Inggris mempunyai pola kalimat Subjek- Predikat-Objek, (S-P-O) pola ini hanya sebagai pembanding sebagian kecil tatanan bahasa Turki dengan bahasa Inggris Tipologi bahasa terbagi menjadi empat jenis yaitu tipologi fonologis, tipologi morfologi, tipologi sintaksis, dan tipologi semantik. 1. Tipologi Fonologis


56 Dalam tipologi fonologis posisi fonem dapat digambarkan dalam suatu bahasa. Dalam suatu bahasa memiliki fonem yang berjumlah kecil atau sangat besar, ada dua macam penggaturan fonologis, yaitu penggaturan vokal dan pengaturan konsonan. Hal ini dapat diliat melalui susunan vokal dan konsonan yang berbeda dalam macam-macam bahasa, mulai dari bahasa yang mempunyai 5 vokal dan 6 konsonan, hingga bahasa yang mempunyai ratusan konsonan. 2. Tipologi Morfologi Tipologi morfologi merupakan klasifikasi bahasa berdasarkan struktur morfologinya, dalam hal ini morfologi dapat dijadikan salah satu faktor klasifikasi, yang bisa dibagi menjadi: 1) Isolasi: Tidak terdapat kosakata. 2) Aglutinatif: Terdiri dari gabungan antara unsur utama dan unsur tambahan dalam struktur kata, unsur utama dan unsur utama atau unsur dasar yang diulang-ulang. 3) Fleksibilitas: Perubahan bentuk kata dalam struktur kata (Deklinasi dan Infleksi).


57 4) Aglutinasi fleksibel: Campuran jenis infleksional dan aglutinatif, misalnya bahasa Inggris. 3. Tipologi Sintaksis Tipologis sintaksis merupakan pengelompokan kalimat melalui pola atau struktur kalimat. seperti: 1) Memiliki subjek yang terletak di awal kalimat. 2) Memiliki predikat yang terletak di awal kalimat 3) Memiliki kalimat yang di awali objek. Bahasa Inggris dan bahasa Indonesia mempunyai kalimat yang berpola SubjekPredikat-Objek (S-P-O), berbeda dengan bahasa Jepang yang mempunyai kalimat berpola Subjek-Objek-Predikat (S-O-P). 4. Tipologi Semantik Tipologi semantik mengklasifikasikan bahasa berdasarkan makna leksikal dan makna gramatikal. Makna leksikal adalah makna kata


58 yang sama dengan yang dutulis dalam kamus, atau maknanya tanpa konteks. Makna gramatikal adalah makna yang terkandung dalam susunan kata. Fokus tipologi bahasa adalah studi mengenai variasi yang ada di berbagai bahasa, berdasarkan studi tentang universalitas bahasa, dengan tujuan menggambarkan variasi-variasi (keberagaman) yang ada pada bahasa manusia. bahasa dan dialek yang berbeda merupakan bentuk perbedaan yang tidak mudah atau sulit dideskripsikan, namun fokus penelitian tipologi di sini justru untuk membentuk universalitas bahasa tanpa terkecuali. Ringkasan Materi Tipologi bahasa berkaitan dengan klasifikasi bahasa berdasarkan kesamaan fitur atau jenis linguistik. Cabang linguistik komparatif yang mengelompokkan bahasa menurut jenis yang paling umum dalam suatu kelompok bahasa. Kesamaan jenis dalam tataran fonologi, morfologi,


59 sintaksis dan semantik. Bahasa yang sama membentuk komunitas bahasa. Studi tipologi bahasa adalah cabang linguistik. Perlu ditekankan bahwa kajian tipologi tidak dapat dipisahkan dari linguistik pada umumnya dan linguistik pada khususnya. Namun jika ada kajian tipologi yang memiliki fokus yang berbeda, maka kajian tipologi tersebut harus dipisahkan. Perlu dicatat kembali, walaupun di sunia bahasa-bahasa bisa dikenali di bawah kategori-kategori bahasa manusia. Oleh sebab itu, bahasa bangsa harus berlandaskan persatuan. Tujuan utama kajian tipologi bahasa yaitu untuk mengelompokkan bahasa sesuai dengan struktural yang mereka miliki. Comrie (1988) menunjukkan jika kajian tipologi bahasa sejalan dengan kajian bahasa menyeluruh (universal). Asumsi lain menunjukkan bahwa ada perbedaan antara bahasa. Jika tidak ada perbedaan antar bahasa, seluruh bahasa pasti bisa digolongkan sebagai jenis bahasa yang serupa. Ciri-ciri struktural bahasa apapun bisa dipilih menjadi dasar tipologi bahasa sesuai pada prinsipnya. Namun penerapan tipologi bahasa adalah tentang menemukan sifat-sifat unik, khususnya sifat-sifat


60 yang dapat digunakan untuk memprediksi sifat-sifat lainnya. Tipologi bahasa adalah cabang ilmu linguistik yang mempelajari dan mengklasifikasikan bahasa menurut struktur atau karakteristik linguistik. Beberapa karakter khusus dari bahasa, tidak mencakup bahasa secara menyeluruh, hal tersebut menjadi perbandingan tipologi. Tipologi bahasa terbagi menjadi empat jenis yaitu tipologi fonologis, tipologi morfologi, tipologi sintaksis, dan tipologi semantik. Fokus tipologi bahasa adalah studi mengenai variasi yang ada di berbagai bahasa, berdasarkan studi tentang universalitas bahasa, dengan tujuan menggambarkan variasu-variasi (keberagaman) yang ada pada bahasa manusia. bahasa dan dialek yang berbeda merupakan bentuk perbedaan yang tidak mudah atau sulit dideskripsikan, namun fokus penelitian tipologi di sini justru untuk membentuk universalitas bahasa tanpa terkecuali. Latihan Soal


61 1. Apa yang dimaksud dengan bahasa yang sama membentuk komunitas bahasa? 2. Jelaskan apa yang dimaksud studi tipologi bahasa? 3. Mengapa bahasa bangsa harus berlandaskan persatuan? 4. Apa saja asumsi penting yang menjadi dasar tipologi bahasa yang telah ditegaskan oleh Comrie (1988)? 5. Dalam penerapan tipologi bahasa apa yang harus ditemukan? 6. Jelaskan pengertian tipologi bahasa menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI)! 7. Apa tujuan adanya tipologi bahasa? 8. Jelaskan perbedaan antara tipologi fonologis dengan tipologi morfologi! 9. Jelaskan perbedaan antara tipologi sintaksis, dan tipologi semantik! 10. Jelaskan apa yang menjadi fokus tipologi bahasa!


62 BAB 7 KEDWIBAHASAAN 7.1 Hakikat Kedwibahasaan Konsep dari kedwibahasaan memiliki dua pengertian yang hampir sama namun berbeda, yaitu kecakapan memakai dua bahasa disebut bilingualitas, sedangkan cara memakai dua bahasa disebut bilingualisme. Kedwibahasaan menjadi salah satu dilema kebahasaan yang terus berkembang. Oleh karena itu, dwibahasa bersifat relatif dan bebas. Bilingualisme memfokuskan pada pola penggunaan dua bahasa yang saling bersangkutan, dominasi penerapan setiap bahasa, dan kondisi lingkungan bahasa itu. Sedangkan, bilingualitas difokuskan pada keterampilan penguasaan bahasa itu, seperti berbicara, menyimak, menulis, dan membaca. Kelompok masyarakat jika didalamnya terdapat individu pemakai dua bahasa sebagai sistem komunikasi, maka individu tersebut memiliki unsur tertentu yang menentukan tipe dwibahasaan. Pada awalnya, bilingualisme diartikan sebagai kemampuan


63 multilingual, yaitu bahasa ibu (pertama) dan bahasa asing (kedua). Namun dari beberapa pendapat para ahli, didapatkan menurut Haugen mengatakan bahwa seorang pengguna dwibahasa tidak harus berkuasa aktif dua bahasa, maka cukuplah dia secara pasif memahami dua bahasa. Individu atau kelompok individu yang melakukan Interaksi antara penutur dua bahasa atau lebih disebut disebut dwibahasawan. Sedangkan, peristiwa multilingual secara bergantian disebut kedwibahasaan. Oleh karena itu, kedwibahasaan adalah penerapan dua bahasa atau lebih secara bergantian oleh seorang dwibahasawan. Bilingualisme adalah cara menggunakan dua bahasa, yaitu B1 dan B2 berbeda asal bahasanya, biasnya salah satu bahasa yang digunakan berasal dari bahasa lahir. Kecakapan untuk secara aktif produktif dan menerima apa yang dikatakan orang lain. Menurut tipologi kedwibahasaan, kedwibahasaan terbagi menjadi multibahasa, koordinasi/paralelisme, dan kedwibahasaan dasar/kompleks. Tidak ada penyebab utuh yang dapat medominasi pilihan bahasa. Hal ini menunjukkan bahwa perangai penutur dan lawan


64 bicaralah yang paling menetapkan dalam pilihan bahasa di masyarakat. 7.2 Faktor Kedwibahasaan Kedwibahasaan memiliki dua faktor yaitu intern dan ekstern, sebagai berikut. a) Intern : usia tahapan pemeroleh bahasa; usia belajar bahasa kedua; sistem bahasa; lambang dalam lingkup bahasa; pengetahuan bahasa diperoleh saat menempuh pendidikan; lingkup kesosialan. b) Ekstern : kemajuan ilmu dan teknologi; semakin luas jangkauan komunikasi; hubungan dengan masyarakat; komunikasi antar keluarga. 7.3 Klasifikasi Pemerolehan Kedwibahasaan 1. Kedwibahasaan produktif : Ungkapan dua bahasa oleh individu namun memiliki keterampilan berbahasa menyeluruh, baik menulis ataupun berbicara. 2. Kedwibahasaan reseptif : Ujaran dua bahasa secara pasif artinya individu tersebut hanya


65 mampu melakukan salah satu keterampilan berbahasa. 3. Kedwibahasaan perorangan : Pengaruh dua bahasa yang dibawa oleh seorang individu ke tempat baru. 4. Kedwibahasaan kompleks : Pemakaian bahasa pertama dislipkan bahasa kedua ataupun sebaliknya. 5. Kedwibahasaan seimbang : Pemakaian dua bahasa oleh individu secara seimbang, artinya ia sama baiknya dalammenggunakan kedua bahasa itu. 6. Kedwibahasaan horizontal : Situasi penggunaan kedua bahasa tersebut berbeda, tetapi setiap bahasa memiliki nilai yang sama dalam situasi formal maupun dalam budaya dan kehidupan keluarga kelompok penggunanya. 7. Kedwibahasaan vertikal : Penggunaan dua bahasa ketika bahasa formal dan dialek bahasa, baik terkait maupun berbeda, dipunyai penuturnya. 8. Kedwibahasaan diagonal : Penggunaan dua bahasa yang tidak baku, tetapi tidak ada yang


66 terkait secara genetis dengan bahasa baku yang digunakan dalam masyarakat. 7.4 kejadian Kontak Bahasa Dapat dikatakan bahwa dua atau lebih bahasa berhubungan jika mereka diucapkan secara bergantian oleh penutur yang sama. Oleh karena itu, interaksi bahasa terjadi di antara penutur secara individual. Bilingual adalah orang yang memiliki banyak bahasa dalam tubuhnya. Bilingualisme, di sisi lain, merupakan praktik berbicara dalam lebih dari satu bahasa sekaligus. Menurut Mackey (1986: 554), kontak bahasa yakni pengaruh suatu bahasa terhadap bahasa lain, baik secara langsung maupun tidak, yang mengakibatkan perubahan bahasa yang dituturkan oleh individu bilingual. Di sisi lain, bilingualisme adalah penggunaan dua bahasa atau lebih oleh seorang penutur. Sangat penting untuk mengklarifikasi agar interaksi linguistik dan bilingualisme tidak bingung. Bilingualisme seringkali merupakan gejala ujaran (parole), sedangkan interaksi linguistik biasanya merupakan tanda bahasa (langue).


67 Interaksi bahasa harus terjadi dalam bilingualisme, bagaimanapun, karena langue adalah sumber utama dari parole. Atau dengan kata lain, interaksi linguistik adalah penyebab bilingualisme. Ketika seseorang belajar bahasa kedua di komunitasnya, interaksi bahasa terjadi di lingkungan sosial. Keadaan seperti itu memungkinkan seseorang untuk membedakan antara konteks pembelajaran bahasa, prosedur pemerolehan bahasa, dan pembelajar bahasa. Interaksi bahasa terjadi ketika orang belajar bahasa, bilingual yakni individu yang telah memperoleh bahasa kedua, dan bilingualisasi yakni proses melakukannya (Diebold, dalam Hymes, 1964:496). Mengingat beberapa sudut pandang yang diungkapkan di atas, jelaslah bahwa konsep kontak bahasa mencakup setiap interaksi antara bahasa yang berbeda yang berpotensi mengubah cara penutur menggunakan bahasa asli mereka dalam konteks sosial. Kejadian atau fenomena tersebut berbentuk diglosia dan bilingualisme. 7.5 kedwibahasaan dan Dwibahasa


68 Proses belajar bahasa, apakah itu bahasa pertama atau bahasa kedua, pada hakekatnya adalah apa yang sedang dibahas ketika bilingualisme dan bilingualisme sedang dibahas. Nama "bilingual" dan "bilingual" menimbulkan kecemasan besar bagi seseorang yang telah mempelajari kedua bahasa tersebut. Karena ambang seseorang untuk diklasifikasikan sebagai dwibahasa bersifat arbitrer dan sulit ditentukan dengan pasti, makna istilah tersebut menjadi ambigu. Persepsi publik tentang bilingualisme didasarkan pada pendapatnya tentang batas-batas bilingualisme. Akibatnya, pendapat tentang bilingualisme berbeda-beda. Akibatnya, konsep bilingualisme selalu berkembang dan cenderung berkembang. Kapasitas untuk menggunakan dua bahasa secara sama efektifnya oleh seorang pembicara adalah bagaimana bilingualisme pada awalnya dijelaskan. Namun, sudut pandang ini menjadi semakin tidak umum karena tidak ada landasan untuk mengukur kemampuan penutur menggunakan dua bahasa secara sama efektif, sehingga sulit dilakukan. Akibatnya,


69 bilingualisme semacam ini adalah satu-satunya yang dipertimbangkan. Tingkatan bilingualisme digunakan untuk menunjukkan kemahiran seseorang dalam mempelajari bahasa kedua. Keempat kemampuan berbahasa yaitu mendengar, membaca, berbicara, dan menulis masing-masing mencerminkan komponen gramatikal, leksikal, semantik, dan stilistika penutur, dan penguasaan mereka terhadap komponenkomponen ini merupakan indikasi yang baik dari tingkat kemahiran mereka. Berdasarkan keempat komponen kemampuan linguistik tersebut, jelaslah bahwa berbagai penutur memiliki kemampuan yang beragam (Alwasilah, 1985: 125). Hugen (1986: 10) mendefinisikan bilingualisme sebagai kemampuan berbicara dua bahasa, yang sejalan dengan evolusi gagasan bilingualisme. Konsep ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa dalam pengertian kedwibahasaan, seorang bilingual menguasai dua bahasa secara pasif dan bukan secara aktif. Kedwibahasaan, khususnya kedwibahasaan yang dialami oleh manusia, khususnya anak-anak muda


70 yang memperoleh bahasa kedua pada tahap pertama, dapat dilihat sebagai awal dari tahap berikutnya. Bilingualisme masih sangat mendasar dan pada tingkat yang sangat rendah pada saat ini. Namun, dasar untuk bilingualisme pada tingkat selanjutnya ada pada titik ini. Memahami bahasa yang digunakan dalam bilingualisme juga diperlukan untuk pertumbuhannya. Dalam hal ini, menyinggung ide bahasa sebagai sistem pengkodean dengan properti yang unik. Mengetahui dua bahasa berarti mahir dalam menggunakan dua sistem pengkodean yang berbeda. Orang bilingual yang berbicara dua bahasa juga berbicara dua bahasa yang berbeda. Poedjosoedarmo (1975: 30) menegaskan bahwa kode seringkali menjadi perubahan linguistik yang benarbenar digunakan untuk berkomunikasi oleh anggota kelompok bahasa. Kode untuk masyarakat dengan hanya satu bahasa resmi adalah dialek bahasa itu. Namun, inventaris kode lebih luas dan mengandung variasi dua atau lebih bahasa bagi mereka yang bilingual atau multilingual.


71 Menurut Mackey (dalam Fishman, 1972: 554), kedwibahasaan adalah ciri pemakaian bahasa dan bukan tanda dari bahasa itu sendiri. Ini adalah fitur persyaratan daripada fitur kode. Oleh karena itu, bilingualisme lebih merupakan sifat ekspresi daripada komponen bahasa. Bilingualisme milik individu jika bahasa milik kelompok. 7.6 Antar Bahasa Pemahaman antarbahasa terjadi, dan ini dipengaruhi oleh fungsi internal dan eksternal serta kelancaran. Ketika subjek percakapan, peserta, dan tingkat stres memerlukannya, pembicara dapat mengubah kosa kata mereka. Pengalihan tersebut dapat berlangsung dalam bahasa lisan maupun bahasa tulis (Alwasilah, 1985: 128). Tingkat penguasaan dua bahasa—dikenal sebagai "bilingualisme majemuk" dan "bilingualisme koordinat" dalam literatur—digunakan untuk menentukan bilingualisme. Ketika seseorang belajar dua bahasa secara bersamaan karena orang tuanya sering berbicara dua bahasa, bilingualisme majemuk tercipta. Karena keterlibatan mereka dalam kedua


72 bahasa secara bersamaan dan dalam lingkungan yang sama, penutur bilingual ini akan memiliki makna (referensi) yang sama untuk simbol yang dipertukarkan dalam kedua bahasa tersebut. Contoh bilingualisme terkoordinasi adalah ketika dua bahasa yang dipelajari memiliki pengalaman belajar yang berbeda karena jarang digunakan dalam konteks yang terpisah. Hal ini dimaksudkan agar bahasa kedua dapat diajarkan secara formal di sekolah, sedangkan bahasa pertama dipelajari di rumah. Bagi penutur (dwibahasawan), akan terdapat berbagai macam makna atau acuan terhadap simbol-simbol linguistik yang dikomunikasikan dalam kedua bahasa tersebut karena kedua bahasa tersebut diperoleh dalam dua setting yang berbeda. 7.7 Penyimpangan Bahasa Karena beradaptasi dengan lingkungan baru di mana mereka ditempatkan dan karena masyarakat pendatang dapat menggunakan multibahasa, mayoritas masyarakat pendatang akan melepaskan sebagian dari bahasanya dan terpaksa menggunakan


73 bahasa daerah. Keadaan berikut mungkin mengakibatkan pergeseran linguistic. 1) Seorang siswa Sumatera Barat yang baru saja pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikan tidak akan bisa berbahasa Sunda. Dia harus berkomunikasi dalam bahasa Indonesia. Dan karena dia menghabiskan waktu bersama teman-temannya, dia akhirnya belajar bahasa Sunda. 2) Proses urbanisasi, di mana individu dari pedesaan pindah ke kota untuk mencari pekerjaan. Langkah kedua adaptasinya melibatkan dia belajar berbicara seperti penduduk kota. 3) Transmigrasi, seperti ketika orang Jawa pindah ke Bengkulu. Ia harus menguasai bahasa di Bengkulu agar orang Jawa di daerah itu dapat berkomunikasi dengan mudah (Alwasilah, 1985: 133, 134). 7.8 Interferensi dan Integrasi Metode yang sering digunakan dalam perubahan bahasa adalah interferensi. Interferensi


74 adalah tanda perubahan linguistik yang signifikan, substansial, dan mendominasi. Bahasa memiliki efek timbal balik satu sama lain ketika ada interferensi. Baik dalam ucapan maupun tulisan, mungkin ada gangguan pada kosa kata, pengucapan, tata bahasa, dan bahkan konotasi budaya (Alwasilah, 1985: 131, 132). Bagi penutur bahasa Jawa, salah satu contoh interferensi adalah ketika kata letak yang berawalan bunyi /b/, menjadi /mBandung/ dalam ranah tata bunyi. Selain itu, interferensi morfologis dapat mencegah afiks seperti keagungan, tabrakan, dan lainnya terserap dengan baik. Integrasi terjadi ketika komponen-komponen bahasa penyerap dapat menyesuaikan diri dengan sistem bahasa penyerap, menjadikan pemakaian bahasa itu lumrah karena sudah tidak asing lagi. Alihalih terjadi sekaligus, proses ini terjadi secara bertahap dalam jangka waktu yang lama. Kata-kata seperti berpikir, berita, kursi, dan konsep lainnya semuanya telah diterjemahkan dari berbagai bahasa ke dalam bahasa Indonesia. Selain itu, bahasa daerah seperti dekil, sandung, batik, dan dandan telah berasimilasi ke dalam bahasa Indonesia.


75 Menurut Mackey (dalam Chaer et al., 1995: 168, 169), integrasi adalah pemakaian suatu komponen bahasa yang berbeda dalam suatu bahasa dan dipandang telah menjadi anggota bahasa itu. Itu tidak lagi dianggap sebagai komponen pinjaman atau penagihan. Waktu dan upaya diperlukan untuk proses mengintegrasikan bagian-bagian dari berbagai bahasa ke dalam bahasa tertentu. fase yang agak panjang. Ketika seorang pembicara pertama kali memasukkan elemen pinjaman ke dalam pidatonya, dia melakukannya karena kebutuhan. Ringkasan Materi Kedwibahasaan adalah penggunaan dua bahasa yang bersifat lebih bebas dan relatif, dimana penggunanya memiliki kemampuan memahami dua bahasa tersebut, baik secara aktif atau pasif. Menguasai dua bahasa tidak sematamata langsung dengan mudah menguasainya, namun bisa melalui cara pengamatan lingkungan sekitar atau acara asing. Melalui pengamatan secara beruntun kita bisa dengan mudah mengikuti bahasa yang digunakan pada objek pengamatan. Penggunaan dua bahasa ini disebabkan oleh beberapa faktor,


76 seperti ilmu bahasa yang ditempuh selama menerima pendidikan, berkembangnya teknologi informasi, lingkungan bahasa sekitar, dan lain sebagainya. Latihan Soal 1. Apa yang dimaksud dengan dwibahasawan? 2. Kapan dua bahasa dapat diterapkan? 3. Dimana penggunaan dua bahasa dapat digunakan? 4. Siapa yang berhak menggunakan dua bahasa? 5. Mengapa perlu memiliki kemampuan memahami bahasa untuk menggunakan dua bahasa? 6. Bagaimana jika kamu memiliki teman yang mempunyai kebiasaan menggunakan dua bahasa, namun itu menyulitkanmu? 7. Sebutkan macam-macam kedwibahasaan selain diata! 8. Sebut dan jelaskan faktor-faktor internal kedwibahasaan! 9. Apa yang dimaksud dengan memahami bahasa secara pasif? 10. Apa manfaat memiliki kemampuan penggunaan dua bahasa?


77


78 BAB 8 DIGLOSIA 8.1 Diglosia Kata diglossia bersumber oleh bahasa Prancis diglossie, yang sudah dipakai Marais, individu spesialis bahasa Prancis: Namun, pada tahun 1958, seorang peneliti Universitas Stanford bernama C.A. Ferguson menggunakan istilah tersebut pada simposium mengenai "Urbanisasi dan bahasa standar" diadakan di Washington, DC, dengan diadakan bagi American Anthropological Association. Setelah itu, dalam artikel majalah Word tahun 1959 berjudul "Diglosia", Ferguson menjadikan istilah itu semakin terkenal. Hymes (ed.) juga menerbitkan artikel ini kemudian. Bahasa dalam Kebudayaan dan Masyarakat (1964:429-439): serta pada ed. Bahasa Giglioli dan Kontak Sosial (1972). Tentang diglosia, artikel Ferguson dianggap klasik. (1) Diglossia adalah wilayah linguistik dengan relatif stabil disini, disamping beberapa dialek terdepan (lebih khusus: varietas awal) oleh bahasa tertentu, ada pula variasi lain


79 (2) Dialek baku atau baku daerah dapat menjadi salah satu dialek utama, antara lain (3) bermacam-macam berbeda (yang bukan bahasa utama) memiliki atribut yang menyertai: secara gramatikal lebih kompleks, sudah (sangat) terkodifikasi, wahana untuk sastra tertulis dengan lebar sekali serta menghargai, kebanyakan digunakan pada bahasa tertulis, serta bahasa lisan formal bukan diapakai supaya dialog setiap hari di tingkat masyarakat mana pun. Ferguson membahas diglosia melalui memilih contoh empat buah masyarakat disampaikan melalui bahasa mereka. Keempat masyarakat tutur termasuk masyarakat penyampaian bahasa Arab, Yunani modern, Jerman Swiss, serta Kreol Haiti. Diglosia dipaparkan Ferguson melalaui mengetengah- kan sembilan pembahasan, misalnya fungsi, prestise, warisan sastra, pemerolehan, standardisasi, stabilitas, gramatika, leksikon, serta fonologi. Dibawah ini kita bahas dengan ringkas. Kemampuan adalah standar diglosia vital. Dalam masyarakat diglotik, ada dua versi bahasa yang sama, menurut Ferguson: Dialek tinggi, juga disingkat dialek, adalah variasi pertama. T atau bermacam-macam T), serta


80 kedua dikenal sebagai istilah pendek (disingatkan menjadi bahasa sehari-hari R atau bermacam-macam R). Dialek T termasuk bahasa Arab klasik, bahasa Alquran, dan disebut sebagai al-fusha. Dialek R terdiri dari beragamm jenis bahasa Arab yang dipakai orang Arab, dan disampaikan sebagai addarij. Dialek T dikenal sebagai katharevusa dalam bahasa Yunani, yang diterjemahkan menjadi "bahasa Yunani murni melalui fitur linguistik Yunani klasik". Disamping bahasa Yunani lisan dikatakan sebagai dhimotiki dalam dialek R. Di Jerman-Swiss bahasa T termasuk bahasa Jerman umum, serta bahasa R termasuk bahasa Jerman berbeda. Bahasa T termasuk bahasa Prancis di Haiti, disamping itu bahasa R termasuk Kreol-Haiti dan sesuai bahasa Prancis. Ringkasan Materi Kata diglosia bersumber oleh bahasa Prancis diglossie, yang sudah dipakai Marais, individu ahli bahasa Prancis: Namun, pada tahun 1958, seorang peneliti Universitas Stanford bernama C.A. Ferguson menggunakan istilah tersebut pada simposium mengenai "Urbanisasi dan bahasa standar" diadakan di Washington, DC, dengan diadakan dari American Anthropological Association.


81 Secara gramatikal diglosia lebih kompleks, sudah (sangat) terkodifikasi, wahana untuk sastra tertulis dengan lebar sekali serta menghargai, kebanyakan digunakan pada bahasa tertulis, serta bahasa lisan formal bukan diapakai supaya dialog setiap hari di tingkat masyarakat mana pun. Latihan Soal 1. Apakah yang dimaksud diglosia ? 2. Dalam masyarakat, doglotik terdapat dua versi, jelaskan ! 3. Diglosia mengambil empat buah masyarakat tutur dengan bahasa mereka. Sebutkan keempat masyarakat tutur itu ! 4. Bagaimana diglosia terbentuk ! 5. Dijelaskan Ferguson diglosia memiliki Sembilan topik, sebutkan apa saja ? 6. Jelaskan apa yang dimaksud dialek T dan dialek R ! 7. Diglosia termasuk ke dalan kajian ? 8. Bagaimana situasi diglosia dapat terjadi dalam masyarakat ? 9. Ragam bahasa apa saja yang terdapat dalam diglosia ?


82 10. Dialek T dikenal sebagai katharevusa dalam bahasa Yunani, yang diterjemahkan menjadi "bahasa Yunani murni dengan fitur ?


83 BAB 9 HUBUNGAN BAHASA DAN KONTEKS SOSIAL 9.1 Pengertian Bahasa dan Kelas Sosial Arti dari “kelas sosial” adalah kumpulan orang yang memiliki kesamaan ciri sosial tertentu, seperti kondisi ekonomi, pekerjaan, tingkat pendidikan, kedudukan sosial, dan lain-lain. Seseorang mungkin mempunyai beberapa status sosial. Orang A, misalnya, adalah ayah bagi keluarganya dan berkedudukan sosial sebagai guru. Dia juga terdaftar pada kelas layanan sipil jika dia adalah seorang guru di sekolah umum. Dia bisa bergabung dengan kelas sosial "terpelajar" jika dia seorang sarjana. Kita juga mengetahui tentang kelas pekerja, kelas manajer, kelas pedagang, dan kelas petani dengan cara ini. Di negara-negara industri, rakyat pekerja sebagai kelas yang paling rendah biasanya juga dicirikan sebagai yang lebih rendah, menengah, istimewa; terlebih lagi, kelas atas dan kelas pekerja bahkan juga diisolasi jadi dua


84 kelompok, yaitu kelas atas dan kelas bawah, kelas pekerja atas juga kelas pekerja bawah. Posisi umumnya dipandang sebagai semacam kelas yang bersahabat. Namun, kasta berbeda dari kelas sosial lainnya dalam satu hal: Orang kasta tidak diizinkan untuk bergabung dengan kelompok secara bebas. Seorang anggota kasta brahmana harus dilahirkan ke dalam kasta itu dan harus termasuk dalam kasta itu. Orang-orang yang secara alami diperkenalkan ke kelompok Shudra tidak dapat masuk ke kelas Brahmana. Sebaliknya, seorang pekerja pabrik di negara industri, misalnya, yang gigih dan berusaha untuk terus belajar akan dapat dengan cepat meningkatkan karirnya menjadi seorang manajer. Dia kemudian akan bergabung dengan anggota kelas manajer. Akibatnya, kasta tertutup, tetapi kelas sosial lain terbuka, memungkinkan terjadinya mobilitas sosial, atau berpindah dari satu kelas ke kelas lainnya. 9.2 Ragam Bahasa dan Kelas Sosial Masyarakat dan bahasa merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Karena


85 keduanya saling berkaitan satu sama lain. Dalam penggunaannya keduanya saling berkait dan melengkapi. Adanya pengklasifikasian bahasa mewujudkan pemakaian bahasa yang berbeda, sehingga ada bermacam-macam dalam berbahasa atau bertutur, serta memiliki kegunaan-kegunaan tertentu dalam masyarakat yang menjadi ciri khas dalam suatu sosial masyarakat. Di masyarakat yang didalamnya terdapat penglasifikasian, tentu memiliki keberagaman bahasa yang berbeda. Maka hubungan masyarakat dengan bahasa Ragam bahasa dapat dikatakan sebagai dialek sosial disuatu wilayah tertentu. Variasi bahasa yang ada disuatu wilayah dapat dibedakan dengan cukup jelas dibandingkan dengan dialek suatu wilayah lainnya. Adanya perbedaan tersebut dikarenakan letak wilayah, batas suatu daerah dengan wilayah pegunungan, pantai dsb. Dalam studi linguistik, menjelaskan bahwa, bila terdapat dua dialek daerah berdekatan, maka yang berada di daerah perbatasan tersebut maka kedua unsur dialek tersebut akan “tercampur”. Berbanding terbalik jika semakin jauh


86 suatu daerah dengan daerah lain, maka semakin beda pula bahasa tersebut. Salah satu faktor yang bisa dijadikan penyebab terjadinya pemecahan bahasa menjadi beberapa banyak bahasa adalah jarak dan letak geografis. Karena adanya batas alam tersebut, menjadikan status bahasa yang dulunya hanya terdapat dialek saja. sekarang kita menyebutnya dengan bahasa jawa, bahasa sunda, Bahasa Indonesia, bahasa Mandarin, dsb. Kondisi di suatu variasi kelas sosial, tentu berbeda. Elemen masyarakat atau kelompok yang berasal dari suatu dialek sosial suatu daerah, bisa berbaur dengan elemen masyarakat dari daerah lainnya. Akan tetapi tidak selalu menjadikannya untuk menjalin kedekatan dalam berbahasa bahkan bisa juga wujud bahasa dari kelas sosial yang satu dengan yang lainnya berbeda. 9.3 Peranan Labov Kami sangat ingin mencatat pekerjaan seorang peneliti, William Labov, yang berhubungan dengan kelas sosial ini, khususnya yang berkaitan


87 dengan lapisan sosial. Kami menyadari bahwa teknologi dialek pada awalnya hanya berfokus pada dialek geografis. Para ahli memasukkan pendidikan pembicara ke dalam pemetaan bahasa tahun 1930 di Amerika Serikat dan Kanada. Hal ini mengindikasikan bahwa teknologi digital akan memasukkan komponen sosial. Meskipun sebelumnya mereka hanya mempelajari dialek dari desa ke desa, mereka mulai bereksperimen dengan dialek di kota juga. Mereka benar-benar menyadari betapa pentingnya memperhatikan urban speech setelah Perang Dunia II. Kesulitannya terletak pada deskripsi, misalnya, "pidato Kota New York", yang berpenduduk lebih dari 8 juta. Persis yang dirujuk oleh "Pidato Kota New York". Dengan kata lain, apakah bermanfaat bagi kita untuk memasukkan metode dialektologis ke dalam lingkup perkotaan, yang biasanya "membagi" wilayah menjadi bagianbagian yang lebih kecil? Apakah berharga bagi daerah setempat untuk dipisahkan? Individu dialektologi menjawab "Tidak". "The Social Stratification of English in New York," judul studi ekstensif William Labov tentang


88 pidato kota New York, diterbitkan pada tahun 1966. Dia mengarahkan wawancara yang direkam, tidak dengan sedikit saksi (seperti yang dilakukan oleh spesialis bahasa dan ahli dialektologi). dengan 340 orang. Lebih jauh lagi, yang lebih penting lagi, para saksi dipilih bukan melalui rekannya atau melalui kontak pribadi (seperti yang dilakukan sebelumnya), tetapi dengan menggunakan contoh yang tidak wajar (pemeriksaan sewenang-wenang). Ini menyiratkan bahwa setiap orang mempunyai akses yang sama untuk diwawancarai serta tanggapan mereka direkam. Labov telah memasukkan metode sosiologis ke dalam penelitiannya sebagai hasilnya. Ilmu sosial tentunya dimulai dari penelitian tentang budaya modern di masyarakat perkotaan, bukan di perkotaan. Humanisme menggunakan teknik estimasi kuantitatif dengan jumlah yang sangat besar, dan menggunakan strategi pengujian. Dengan cara ini Labov dapat menekankan bahwa para saksinya benar-benar membahas wacana kota New York. Selain itu, penelitiannya terbukti sangat signifikan untuk studi perbedaan dialek dan kelas sosial. Selama ini, penelitian dimulai dengan satu atau lebih informan


89 dan kemudian digeneralisasikan tentang hukum bahasa. Ini tidak dilakukan oleh Labov. Ahli bahasa mengatakan bahwa individuindividu di New York kadang-kadang mengucapkan guard bersama /r/ atau tanpa /r/, yang tampaknya begitu acak dan tidak dapat diprediksi kapan orang menggunakan /r/ dan kapan tidak. Ahli bahasa menyebut /r/ sebagai variasi bebas, menyiratkan bahwa semua varian yang mungkin sama-sama benar. Menurut Labov, /r/ dapat diprediksi dan "bukan variasi bebas". Itu tidak acak; melainkan ditentukan dengan cara yang dapat diprediksi oleh faktor-faktor yang tidak terkait dengan bahasa. Faktor sosial adalah salah satunya. Labov mampu menunjukkan bahwa orang tertentu dari kelas, usia, serta jenis kelamin tertentu akan menggunakan ragam bentuk tertentu, persentase waktu terkhusus, dan dalam latar tertentu. Kita sekarang dapat membuat hubungan antara kelas sosial dan karakteristik linguistik (bahasa). Dan di sinilah sosiolinguistik dimulai. Oleh karena itu, untuk menggambarkan hubungan antara bahasa dan strata sosial secara akurat, kita harus mampu mengukur fenomena


90 linguistik (linguistik) dan sosial untuk membangun korelasi. Kita harus melihat eksplorasi lain tentang bahasa dan kelas sosial. 9.4 Kelas Sosial dan Ragam Bahasa Dalam bahasa Inggris, ada pedoman standar. Akhiran -s harus digunakan dalam predikat kata kerja jika subjeknya adalah orang ketiga tunggal (dia, dia, itu). Ternyata -s tidak selalu muncul dalam bahasa sebagian orang di kota industri Detroit yang terletak di Amerika Serikat. Langkah selanjutnya adalah melihat apakah ada hubungan antara gejala bahasa ini dengan kelompok sosial. Penelitian ini dilakukan masing-masing di Detroit (AS) dan Norwich (Inggris). Para informan mewakili berbagai tingkatan kelas sosial. KTM adalah singkatan dari kelas menengah atas, KMA untuk kelas menengah ke atas, KBM untuk kelas menengah ke bawah, KPA untuk kelas pekerja ke atas, dan KPB untuk pekerja kelas pekerja. Tabel berikut menunjukkan hasilnya. Tabel 3. Kata Kerja Tanpa -s (Nonbaku) Dalam Bahasa Inggris di Norwich dan Detroit


91 Norwich Detroit Kelas % Kelas % KMT 0 KMA 1 KMB 2 KMB 10 KPA 70 KPA 57 KPM 87 KPB 97 KPB 71 Penggunaan bentuk non-s (tidak baku) jelas terkait dengan kelas sosial, seperti terlihat pada tabel di atas. Sangat mungkin terlihat bahwa semakin atas kelas sosial, semakin kurang pula penggunaan kata-kata tindakan tanpa -s, atau semakin sedikit individu yang menggunakan struktur nonstandar. Semakin bawah kelas sosial, semakin berlimpah klien struktur non-standar. Namun, mayoritas kelas bawah Detroit adalah orang Afrika-Amerika. Struktur persentase ini, yang terkait dengan morfologi, juga dapat ditemukan pada fitur linguistik yang lebih kompleks, seperti kalimat standar bahasa Inggris “I can eat everything” bisa digunakan sebagai kalimat negatif (denial), yang juga baku:


92 1. I can’t eat anything (Bentuk ingkar di depan predikat) 2. I can eat nothing (Bentuk ingkar di belakang predikat) Tetapi ada bentuk ragam bahasa yang memberi kemungkinan bentuk ke 3 yang nonbaku, yaitu: 3. I can’t eat nothing (ada dua bentuk ingkar: can’t dan nothing). Pemakaian bentuk kalimat nonbaku ini di Detroit menunjukkan persentase berikut: Kelas % KMA 2 KMB 11 KPA 38 KPB 70 Disini pun terlihat, semakin tinggi kelas sosial, maka semakin rendah penggunaan kalimat nonbaku. Pelafalan konsonan juga telah dipelajari, dengan hasil yang kira-kira sama seperti pada bagian morfologi dan sintaksis di atas. Tiga konsonan diperiksa secara bersamaan, termasuk konsonan /n/, yang terkadang diucapkan lebih


93 pendek (dianggap tidak baku) pada kata berjalan; konsonan /t/, seperti pada kata het, yang berarti "bet", dan sering diucapkan sebagai "hamzah", dan konsonan /h/ yang sering dihilangkan, seperti pada kata "hammer". meja: Tabel 4. Bentuk-bentuk lafal nonbaku untuk tiga konsonan di Norwich Kelas %/n/ %/t/ %/h/ KMT 31 41 6 KMB 42 62 14 KPA 87 89 40 KPM 95 92 59 KPB 100 94 61 Sekali lagi, dapat dilihat bahwa pengucapan nonstandar semakin jarang terjadi di masyarakat berbahasa Inggris semakin tinggi kelas sosialnya. 9.5 Teori Bernstein Ragam bahasa penutur dikemukakan oleh Basil Bernstein yang merupakan seorang profesor Ilmu Sosiologi Pendidikan di Universitas London


94 terbagi menjadi dua yakni, kode terperinci dan kode terbatas. Kode terperinci dominan digunakan saat situasi yang formal seperti diskusi akademik. Kode terperinci menekan pada karakter kekhasan sang penutur. Kode ini bebas konteks, maksudnya tidak terikat dengan ciri konteks sekstralinguistik atau non kebahasaan, melainkan terikat dengan ciri kebahasaan seperti: penggunaan klausa bawahan, kata kerja pasif, ajektif, adverbia, serta kata sambung yang tidak lazim. Kesimpulannya, kode terperinci ini mengacu pada ragam bahasa yang berkelas juga berbobot. Sedangkan untuk kode terbatas dominan digunakan pada situasi informal, seperti lingkungan keluarga atau pertemanan. Kode terbatas ini menekan pada keanggotaan kelompok sang penutur, tidak ada sangkutpautnya dengan perorangan sama sekali seperti kode terperinci. Kode ini terikat konteks juga pengungkapannya tidak jelas. Kode ini memiliki ciri linguistic: banyaknya penggunaan kata ganti; penggunaan bentuk kalimat tanya; dan ciri lain yang tidak ada pada kode terperinci. Kedua kode tersebut di atas tidak ada hubungannya dengan bahasa kelas


95 sosial yang digunakan untuk menentukan keanggotaan komunitas, menurut Bernstein. Penelitian Bernstein mengungkapkan bahwa sementara anak kelas pekerja (kelas bawah) hanya dapat menggunakan beberapa kode, anak kelas menengah dapat menggunakan kedua kode tersebut. Pendapat diatas dibuktikan oleh beberapa peneliti, dengan kata lain teori Bernstein menjelaskan adanya keterkaitan antara prestasi belajar murid dengan ragam bahasanya. Pada perbedaan bahasa itu dapat menyebabkan timbulnya perbedaan hasil belajar. Dengan kata lain, situasi pendidikan yang ada dituntut mampu menggunakan kode terperinci, sedangkan pada situasi anak-anak kelas bawah tidak ada yang menggunakan kode tersebut. Skenario pendidikan kode yang komprehensif ini dapat dilihat dari dua sudut. Pertama-tama, penggunaan kode yang tepat di sekolah hanya diwajibkan oleh konsensus masyarakat. Kedua, kebutuhan akan kode yang tepat merupakan hal mendasar bagi proses pendidikan itu sendiri daripada hasil konsensus masyarakat. Beberapa pakar pendidikan mengatakan bahwa alasan anak-anak kelas bawah tidak memiliki kemampuan


96 kognitif adalah karena mereka tidak memiliki akses ke kode-kode yang tepat di rumah mereka. Dalam pandangan di atas, Bernstein justru berpendapat dengan versi yang sedikit berbeda. Menurutnya, secara linguistik anak-anak kelas bawah tidak ada kekurangan, dengan adanya kode terperinci dapat memberi kesempatan bagi mereka untuk menggunakan pengertian bebas konteks, dan sekolah juga perlu memperhatikan perkembangan serta penyebarannya. Karena itulah kode terperinci bukan termasuk masalah kesepakatan sosial, sehingga dengan mengajarkannya kepada anak-anak kelas baawah dapat menjadi kunci penyelesaian permesalahan tersebut. Pendapat Bernstein di atas mendapat banyak kritik dari berbagai pihak. Pasalnya, anak-anak kelas bawah memang kurang memuaskan dalam menghasilkan kode terperinci, hal ini disebabkan karena mereka tidak bisa atau bahkan tidak mau menggunakan kode tersebut dalam situasi khusus. Banyaknya kritik tersebut membuat Bernstein mengubah sebagian dari pandangannya. Pertama, dia sekarang berpikir bahwa satu-satunya perbedaan


97 antara penutur dari kelas menengah dan kelas bawah mungkin adalah lingkungannya, yang mengarah pada kode-kode yang berbeda satu sama lain dalam ucapan mereka. Kedua, kedua kode tersebut tidak lagi dipandang sebagai dua varian yang berbeda, melainkan sebagai contoh dari beberapa variasi yang dapat digunakan. Ketiga, seperti kelas sosial ekonomi, struktur keluarga merupakan elemen penentu. Status keluarga cenderung tidak menghasilkan deskripsi lisan yang mendalam karena pengambilan keputusan didasarkan pada posisi resmi setiap anggota keluarga. Orang tua yang otoriter atau "ketat", misalnya, akan selalu menegaskan otoritas resminya sebagai orang tua. Akibatnya, anak-anak mereka tidak diperlakukan dengan hormat, kurang percaya diri untuk berbicara, atau jika mereka melakukannya, berbicara dengan singkat. Sebaliknya, jika pengambilan keputusan dan penilaian diserahkan kepada kepribadian individu anggota keluarga daripada peran formal, hal ini dapat mendorong sistem komunikasi yang lebih terbuka dan membantu anak menjadi lebih terbuka dan berpikiran terbuka.


98 9.6 Hipotesis Sapir-Whorf Menurut Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf, bahasa asli (ibu) seseorang menciptakan kategori yang berfungsi sebagai penghalang. Karena hal itulah pembicara menafsirkan "dunia luar" dirinya sendiri. Karena pandangan penutur terhalang oleh kategori yang bertindak sebagai penghalang, membuat kesan bahwa dunia luar diatur dalam pikirannya. Akibatnya, penutur terpaksa mengkategorikan dan mengonseptualisasikan kejadian dari dunia luar menggunakan bahasa ibu mereka. Oleh karena itu, bahasa ibu memiliki kekuatan untuk membentuk masyarakat dengan mempengaruhi bahkan mendikte bagaimana penuturnya menginterpretasikan dunia luar. Bahasa adalah apa yang sebenarnya membentuk cara berpikir orang. Misalnya, seorang anak Jawa telah mengajarkan sejak dini melalui bahasa Jawa bahwa sapi (sapi dewasa) dan pedhet (anak sapi) adalah dua binatang yang berbeda ukuran dan usia. Kategori yang diuji adalah bagaimana sesuatu atau jenis hewan tertentu diklasifikasikan.


99 Jika dia belajar bahasa lain nanti, ada kemungkinan dia akan bertanya, "Apa artinya...?" Karena itu, penutur bahasa masyarakat memiliki pandangan yang sama tentang dunia. Namun, jika teorinya benar, dan variasi linguistik dapat menyebabkan variasi kognitif, maka ini harus dibuktikan dengan membandingkan bahasa yang berbeda dan beragam secara budaya. Pandangan dunia yang berbeda dapat berasal dari perbedaan linguistik dalam berbagai cara. Ungkapan "Selamat malam" misalnya digunakan untuk menyambut seseorang dalam bahasa Indonesia baik yang sudah malam maupun yang masih gelap, baik itu jam 19.00 atau jam 01.00. Sebaliknya, frasa "Selamat malam" memiliki banyak variasi dalam bahasa Inggris, termasuk “Good evening, good night, dan good midnight”. Berikut ini diberikan sebagai beberapa bukti sanggahan untuk memperjelas bahwa hipotesis SapirWhorf tentang "pandangan manusia terhadap lingkungannya dapat ditentukan oleh bahasanya" tidak dapat diterima sepenuhnya. 4) Bahasa komunitas dapat mencerminkan lingkungan fisiknya, artinya lingkungan dapat


100 berdampak pada bahasa kelompok tersebut, seringkali dalam hal kosa kata atau leksikonnya. Kosa kata linguistik yang berbeda adalah hasil dari lingkungan; variasi ini tidak berhubungan dengan kapasitas otak. 5) Lingkungan sosial sering mengubah struktur kosa kata dan mencerminkan bahasa. Kosakata bahasa mencerminkan perubahan struktural sosial yang mungkin dihasilkan dari pertumbuhan masyarakat. Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan mengharuskan perlunya terminologi baru dalam penamaan, sehingga memunculkan istilah-istilah baru selama abad ke20. 6) Bahasa dipengaruhi oleh lapisan sistem feodal dan kasta yang ada. 7) Nilai-nilai dalam masyarakat yang mempengaruhi bahasa daerah. Ilustrasi yang jelas, misalnya, berkaitan dengan mata pelajaran terlarang. Jadi, tampaknya frasa tertentu dapat menyampaikan atau mencerminkan struktur pemikiran dan nilai karma pembicara. Dengan


Click to View FlipBook Version