The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Sosiolinguistik (Semester 6)

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by syafilachabsarotulislamiyah0, 2023-08-15 08:06:15

Sosiolinguistik

Sosiolinguistik (Semester 6)

101 kata lain, tabu tidak ada hubungannya dengan pikiran dan hanya fakta linguistik dan sosial. 9.7 Bahasa dan Tingkatan Sosial Masyarakat Sudah dijelaskan diawal bahwa inti pembahasan mengenai sosiolinguistik ialah hubungan antara bahasa dengan pemakaiannya di lingkungan masyarakat. Hubungan disini dimaksudkan sebagai terwujudnya hubungan diantara bentuk dari bahasa tertentu, yang sering dinamakan sebagai variasi, atau dialek yang penggunaannya berfungsi disuatu kelompok masyarakat. Seperti misalnya, di ruang lingkup perkantoran menggunakan bahasa baku, sedangkan diluar lingkup perkantoran menggunakan bahasa non baku/ bahasa sehari-hari. Bahasa dengan tingkatan sosial dalam masyarakat memiliki hubungan yang bisa dilihat dari dua perspektif. Yakni dari prespektif kerajaan (kebangsawanan) jika ada. Dan prespektif keadaan sosial yang dilihat dari pendidikan dan perekonomian yang dipunya. Terkadang yang pendidikannya lebih baik mempunyai harapan untuk memiliki ekonomi yang lebih baik pula. Namun, hal tersebut tidak mesti


102 bersifat seluruhnya. mungkin bisa pula yang pendidikannya baik, akan tetapi ekonominya rendah, begitupun sebaliknya, jika pendidikan nya kurang, namun ekonominya lebih baik. Untuk mengetahui hubungan antara kebangsawanan dengan bahasa, bisa diambil contoh masyarakat yang menggunakan bahasa Jawa. Dalam Kunjaraningrat (1967:245), mengklasifikasikan tingkatan masyarakat Jawa menjadi : (1) orang golongan terbawah (wong cilik), (2) orang yang berdagang ( saudagar), (3) golongan bangsawan (priyayi), dan (4) golongan tertinggi yang berasal dari kaum bangsawan (ndara). Sementara Pride dan Holmess (1976) Clifford Geetz mengklasifikasikan tingkatan masyarakat jawa, (1) priyayi, (2) bukan golongan priyayi, namun mereka berpendidikan lebih baik dan tinggal di kota, (3) petani, dan orang yang tinggal di kota tetapi tidak berpendidikan lebih baik. Dari semua pengklasifikasian sosial masyarakat tentu memiliki perbedaan dalam berkomunikasi bahasa Jawa. Selain itu juga di masyarakat Jawa memiliki ragam bahasa yang dipakai berdasarkan kelas sosialnya. Sehingga bahasa


103 yang digunakan oleh golongan terendah berbeda dengan bahasa yang digunakan oleh golongan teratas. Begitupun dengan golongan bangsawan maupun golongan bangsawan tertinggi (ndara). Adanya beragam bahasa yang dipergunakan berdasarkan golongan masyarakat termasuk ragam dialek sosial (dalam Nababban 1984). Timbulnya ketidaksamaan ragam bahasa dapat disebabkan karena seseorang yang terlibat didalam percakapan itu memiliki kelas sosial yang berbeda. Seperti: seorang pedagang bertutur dengan priyayi/ ndara (pedagang yang tidak berpendidikan tinggi, sedangkan priyayi/ ndara berpendidikan tinggi) maka ketika ketika bertutur/ bercakap mereka masing-masing memakai ragam bahasa Jawa yang berbeda. Kelas sosial yang berada di bawah menggunakan bahasa yang lebih sopan (krama), sedangkan kelas sosial yang lebih tinggi, bahasa yang dipergunakan sedikit kurang sopan (ngoko). Undak usuk merupakan penggunaan bahasa Jawa berdasarkan kelas sosialnya. Sedangkan dikota besar cenderung terdapat masyarakat yang berasal dari beragam latar belakang


104 sosial maka kelas sosial yang berdasarkan kasta kebangsawanan kemungkinan tidak ada, jikalaupun ada maka sudah tidak lebih mendominasi. Sebagai gantinya menggunakan status kelas ekonomi. Seperti Seperti dimasyarakat ibukota Jakarta, terdapat istilah kelas atas, kelas menengah, dam kelas bawah yang sulit untuk ditentukan. Namun, jika ditinjau dari perekonomianmua, maka kelompok dari ketiga kelas tersebut dapat di tentukan. Ringkasan Materi Arti dari “kelas sosial” adalah kumpulan orang yang memiliki kesamaan ciri sosial tertentu, seperti kondisi ekonomi, pekerjaan, tingkat pendidikan, kedudukan sosial, dan lain-lain. Masyarakat dan bahasa merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Karena keduanya saling berkaitan satu sama lain. Dalam penggunaannya keduanya saling berkait dan melengkapi. Adanya pengklasifikasian bahasa


105 mewujudkan pemakaian bahasa yang berbeda, sehingga ada bermacam-macam dalam berbahasa atau bertutur, serta memiliki kegunaan-kegunaan tertentu dalam masyarakat yang menjadi ciri khas dalam suatu sosial masyarakat. Ragam bahasa dapat dikatakan sebagai dialek sosial disuatu wilayah tertentu. Variasi bahasa yang ada disuatu wilayah dapat dibedakan dengan cukup jelas dibandingkan dengan dialek suatu wilayah lainnya. Adanya perbedaan tersebut dikarenakan letak wilayah, batas suatu daerah dengan wilayah pegunungan, pantai dsb. Labov telah memasukkan metode sosiologis ke dalam penelitiannya sebagai hasilnya. Ilmu sosial tentunya dimulai dari penelitian tentang budaya modern di masyarakat perkotaan, bukan di perkotaan. Humanisme menggunakan teknik estimasi kuantitatif dengan jumlah yang sangat besar, dan menggunakan strategi pengujian. Dengan cara ini Labov dapat menekankan bahwa para saksinya benar-benar membahas wacana kota New York. Selain itu, penelitiannya terbukti sangat signifikan untuk studi perbedaan dialek dan kelas sosial. Selama ini, penelitian dimulai dengan satu atau lebih informan dan kemudian digeneralisasikan tentang hukum bahasa. Labov mampu menunjukkan bahwa orang tertentu dari kelas, usia, serta jenis kelamin tertentu akan


106 menggunakan ragam bentuk tertentu, persentase waktu terkhusus, dan dalam latar tertentu. Kita sekarang dapat membuat hubungan antara kelas sosial dan karakteristik linguistik (bahasa). Oleh karena itu, untuk menggambarkan hubungan antara bahasa dan strata sosial secara akurat, kita harus mampu mengukur fenomena linguistik (linguistik) dan sosial untuk membangun korelasi. Kita harus melihat eksplorasi lain tentang bahasa dan kelas sosial. Dalam bahasa Inggris, ada pedoman standar. Akhiran -s harus digunakan dalam predikat kata kerja jika subjeknya adalah orang ketiga tunggal (dia, dia, itu). Ternyata -s tidak selalu muncul dalam bahasa sebagian orang di kota industri Detroit yang terletak di Amerika Serikat. Langkah selanjutnya adalah melihat apakah ada hubungan antara gejala bahasa ini dengan kelompok sosial. Penelitian ini dilakukan masing-masing di Detroit (AS) dan Norwich (Inggris). Para informan mewakili berbagai tingkatan kelas social. Penggunaan bentuk non-s (tidak baku) jelas terkait dengan kelas sosial, seperti terlihat pada tabel di atas. Sangat mungkin terlihat bahwa semakin atas kelas sosial, semakin kurang pula penggunaan kata-kata tindakan tanpa -s, atau


107 semakin sedikit individu yang menggunakan struktur nonstandar. Semakin bawah kelas sosial, semakin berlimpah klien struktur non-standar. Namun, mayoritas kelas bawah Detroit adalah orang Afrika-Amerika. Ragam bahasa penutur dikemukakan oleh Basil Bernstein yang merupakan seorang profesor Ilmu Sosiologi Pendidikan di Universitas London terbagi menjadi dua yakni, kode terperinci dan kode terbatas. Kode terperinci dominan digunakan saat situasi yang formal seperti diskusi akademik. Kode ini memiliki ciri linguistic: banyaknya penggunaan kata ganti; penggunaan bentuk kalimat tanya; dan ciri lain yang tidak ada pada kode terperinci. Kedua kode tersebut di atas tidak ada hubungannya dengan bahasa kelas sosial yang digunakan untuk menentukan keanggotaan komunitas, menurut Bernstein. Sedangkan menurut Edward Sapir dan Benjamin Lee Whorf, bahasa asli (ibu) seseorang menciptakan kategori yang berfungsi sebagai penghalang. Karena pandangan penutur terhalang oleh kategori yang bertindak sebagai penghalang, membuat kesan bahwa dunia luar diatur dalam pikirannya. Bahasa adalah apa yang sebenarnya membentuk cara berpikir orang. Pandangan dunia yang berbeda dapat berasal dari perbedaan linguistik dalam berbagai cara.


108 Bahasa dengan tingkatan sosial dalam masyarakat memiliki hubungan yang bisa dilihat dari dua perspektif. Yakni dari prespektif kerajaan (kebangsawanan) jika ada. Dan prespektif keadaan sosial yang dilihat dari pendidikan dan perekonomian yang dipunya. Dari semua pengklasifikasian sosial masyarakat tentu memiliki perbedaan dalam berkomunikasi. Timbulnya ketidaksamaan ragam bahasa dapat disebabkan karena seseorang yang terlibat didalam percakapan itu memiliki kelas sosial yang berbeda. Latihan Soal 1. Sebutkan dan jelaskan dua ragam bahasa penutur yang dikemukakan oleh Basil Bernstein! 2. Mengapa pendapat Basil Bernstein mengenai masyarakat dengan konteks sosial mendapatkan banyak kritikan dari berbagai pihak? 3. Jelaskan pandangan masyarakat dengan konteks sosial menurut Sapir-Whorf dengan bahasa sendiri!


109 4. Apa perbedaan antara kelas sosial dan kasta? 5. Bagaimana peran Labov dalam pembentukan kelas sosial? 6. Bagaimana Sosiolinguistik terbentu? 7. Bagaimana hasil penelitian Labov dalam studi perbedaan dialek dan kelas social? 8. Sebutkan faktor-faktor yang menjadi penyebab terjadinya pemecahan bahasa? 9. Ragam bahasa dapat dikatakan sebagai dialek sosial disuatu wilayah tertentu. Variasi bahasa yang ada disuatu wilayah dapat dibedakan dengan cukup jelas dibandingkan dengan dialek suatu wilayah lainnya. Apa yang menyebabkan terjadiya perbedaan ragam bahasa yang ada disatu tempat dengan tempat lainnya? 10. Jelaskan secara singkat hubungan antara bahasa dengan tingkatan sosial masyarakat?


110 BAB 10 KEADAAN SOSIOLINGUISTIK DI INDONESIA 10. 1 Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, dan Bahasa Asing Negara Indonesia memiliki wilayah luas yang disertai bermacam-macam penduduknya yang berasal dari berbagai suku yang memiliki bahasa daerah yang beragam, dan latar kebudayaan yang berbeda. Lembaga Bahasa Nasional (yang saat ini di kenal Pusat Bahasa) membuat peta pada tahun 1972, berisi kurang lebih 480 bahasa daerah yang mempunyai jumlah kurang lebih 100 (termasuk di Irian Jaya) orang penutur bahasa hingga 50 juta (penutur menggunakan bahasa Jawa). Menghitung jumlah keberagaman bahasa daerah yang berada di Indonesia secara tepat memang sedikit sulit untuk dilaksanakan. Pertama, sering terjadi kekacauan tentang perbedaan pengertian tentang dialek dan bahasa.


111 Misalnya, sebutan bahasa dairi dan bahasa pakpak yang berasal Provinsi Sumatera Utara dilihat dari segi linguistik merupakan sebuah bahasa dimana tata bahasa, tata bunyi, dan leksikonnya serupa, dan kedua tutur bahasa tersebut bisa saling mengerti (mutually intelligible) oleh kedua anggota masyarakat, akan tetapi disana masyarakat berbahasa menganggap kedua bahasa tersebut berbeda. Berbanding terbalik dengan bahasa Jawa Cirebon yang sama sekali berbeda bila dibandingkan bahasa Jawa dari dialek daerah lainnya, dianggap masih merupakan bahasa Jawa. Di Sulawesi Utara, kebanyakan penutur bahasa sulawesi menganggap antara bahasa Indonesia dengan dialek Melayu Manado sama, akan tetapi di Riau penutur bahasa Melayu menganggap sebaliknya, mereka menggunakan bahasa yang bukan bahasa Indonesia. Kedua, untuk melakukan penelitian yang akurat tentu dibutuhkan dana dan banyak tenaga, meninjau wilayah Negara Indonesia yang sangat luas. Tentu bisa menggunakan data yang berasal dari laporan bupati di setiap kota, atau meminta data biro pusat


112 statistik, tetapi data tersebut tidak bisa dijamin keakuratannya. Saat ini kondisi bahasa di Indonesia dapat dilihat dari, pertama, ditandai oleh keberadaan sebuah bahasa negara sekaligus menjadi bahasa nasional, kedua, bahasa daerah yang berjumlah ratusan, dan ketiga, secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama bahasa memilki masalah yang kompleks dan memerlukan penyelesaian. Permasalahan yang dihadapi berhubungan dengan status sosial dan politik dari ketiga bahasa tersebut. Permasalahan saat digunakan, dari ketiganya mempunyai masalah yang saling berpengaruh, dan permasalahan dalam pengajaran dan pembinaan. Pada bulan Februari tahun 1975,status sosial dan politik yang mempunyai arti fungsi dan kedudukan dari tiga bahasa sudah terumuskan di Jakarta pada seminar politik bahasa nasional. Bahasa negara dan bahasa nasional diduduki oleh bahasa Indonesia. Sumpah pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928 menandai fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Bahasa Indonesia sendiri berakar dari bahasa melayu kemudian diangkat oleh para


113 pendahulu sejak abad ke-16 yang saat itu sudah menjadi Lingua Franca di seluruh penjuru tanah air, lalu dijadikan media pemersatu, yang dipakai sebagai media perjuangan. Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara bertepatan dengan penetapan Undang-undang Dasar 1945 Bab 15 pasal 36, yang berisi pernyataan bahwasanya bahasa Indonesia merupakan bahasa negara. Tugas bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional yaitu: 1. Simbol kebangaan nasional. 2. Simbol identitas nasional. 3. Media persatuan bangsa. 4. Sarana penghubung antara daerah satu dengan yang lain. Sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia memiliki tugas sebagaimana berikut: 1. Bahasa negara yang resmi 2. Bahasa pengantar yang resmi dalam bidang pendidikan.


114 3. Media pengembang budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi. Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara atau maupun nasional apabila ditinjau dari fungsinya adalah bahasa pertama dan utama dalam suatu negara. Meskipun di wilayah Indonesia terdapat bahasa-bahasa lain seperti bahasa Sunda, bahasa Jawa, bahasa Bali, bahasa Bugis, dan semacamnya memiliki kedudukan yaitu sebagai bahasa daerah yang merupakan bahasa asli penduduk di wilayah tersebut. Keberadaan bahasa daerah dalam kedudukannya sudah terjamin dari segi kelestarian dan kehidupannya diatur oleh Undang-undang Dasar 1945 bab 15. Tugas bahasa daerah yaitu: 1. Simbol kebanggaan lokal. 2. Simbol identitas lokal. 3. Sarana komunikasi dalam keluarga dan penduduk lokal. 4. Sarana mengembangkan dan mendukung kebudayaan lokal. Bahasa yang tidak berasal dari penduduk daerah asli mempunyai kedudukan sebagai bahasa


115 asing. Yang masuk kedalam kategori bahasa asing yakni bahasa arab, bahasa jerman, bahasa inggris, bahasa china, serta bahasa jepang, dan semacamnya. Tugas bahasa asing yaitu: 1. Sarana untuk mengubungkan antar bangsa. 2. Sarana untuk membantu bangsa Indonesia. 3. Sarana untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern untuk keperluan pembangunan secara nasional. Bahasa asing menjadi bahasa yang digunakan sebagai bahasa ketiga. Pengistilahan bahasa pertama, bahasa kedua, dan ketiga, biasa dipakai untuk pengurutan penguasaan bahasa atau pemerolehan bahasa. Bahasa pertama atau yang biasa dikenal sebagai bahasa ibu adalah bahasa yang paling awal dipelajari oleh anak, dan biasanya berasal dari lingkungan keluarga. Di Indonesia, di kota-kota besar bahasa Indonesia menjadi bahasa pertama bagi banyak anak-anak, hal tersebut terjadi karena pergaulan anak selama dirumah dan di sekolah. Ibu dan ayah


116 di kota-kota besar masih banyak yang memakai bahasa daerah kerena berasal dari daerah yang sama, akan tetapi saat berbicara dengan anak-anaknya secara langsung mereka memakai bahasa Indonesia. Saat nanti anak ingin belajar bahasa daerah yang berasal dari orang tuanya, maka bahasa daerah tersebut menjadi bahasa kedua untuk anak tersebut. Di Indonesia banyak bahasa yang digunakan, utamanya di wilayah urban. Tingginya mobilitas masyarakat kota menjadi sebab terjadinya interaksi antar bahasa serta budaya yang disertai dengan semua kebiasaan dalam kebahasaan seperti bilingualism, alih kode, campur kode, interferensi, dan integrasi. Karena hal itu, banyak orang-orang di Indonesia menjadi manusia bilingual amaupun multilingual. Selain itu, masih ada orang yang benarbenar hanya bisa berbahasa satu, tetapi hal ini terbatas pada penduduk yang bertempat tinggal di daerah yang jauh dari perkotaan, terpencil, atau belum terkena pengaruh dari masyarakat di luar daerah mereka. Dalam bahasa nasional maupun dalam bahasa daerah fenomena alih kode, campur kode, dan interferensi juga sudah menjadi hal yang


117 umum digunakan oleh penutur bahasa Indonesia. Namun, terdapat beberapa fenomena yang terlihat aneh, seperti penggunaan istilah cross mama dan cross papa di Indonesia yang tidak dikenal oleh penduduk Inggris sendiri. Ada juga bentuk lain, seperti "halal-bihalal", yang merupakan istilah yang tidak ada dalam masyarakat Arab. 10.2 Asal Bahasa Indonesia dari Pijin Pada kajian sosiolinguistik terdapat beberapa aspek yang cukup menarik, yaitu seorang ahli asing yang mempunyai reputasi dan nama dalam skala internasional berpendapat jika bahasa Indonesia baku asalnya dari sebuah pijin dengan sebutan Bajaar Malay (Low Malay). Seorang sejarwan bernama G.M. Kahim, mengatakan pendapat pertamanya kedalam buku yang ditulisnya dengan judul “Nationalism and Revolution in Indonesia” (Comell University Press 1952). Selanjutnya R.A. Hall seorang sosiolinguis beken yang ahli dalam Bahasa Pijin serta Kreol mengemukakan dalam makalahnya yang diberi judul “Pidgin and Creoles as Standard Language” yang diterbitkan pada Pride


118 and Holmes, editor, (1976: 142-153, cetakan awal 1972), sedangkan di Indonesia ditukangi Poedjosoedamo (1978) dan Alwasilah (1985). Menurut klasifikasi sosiologi dari Stewart, jika dibandingkan pijin Melayu, kreol Melayu, dan bahasa Indonesia. Pijin tidak mempunyai suatu dasar standarisasi, historitas, ekonomi, dan vitalitas saat disimpulkan, suatu Kreol hanya mempunyai dasar vitalis, tapi tidak mempunyai standarisasi, historitas, dan ekonomi, padahal dalam bahasa Indonesia mempunyai keempat dasar tersebut. Ringkasan Materi Negara Indonesia memiliki wilayah yang luas, dengan bermacam-macam penduduk dari bermacam suku berikut bahasa daerah yang beragam, dan latar kebudayaan yang berbeda. Lembaga Bahasa Nasional (yang saat ini di kenal Pusat Bahasa) membuat peta pada tahun 1972, berisi kurang lebih 480 bahasa daerah yang mempunyai jumlah kurang lebih 100 (termasuk di Irian Jaya) orang penutur bahasa hingga 50 juta (penutur menggunakan bahasa Jawa).


119 Menghitung jumlah keberagaman bahasa daerah yang berada di Indonesia secara tepat memang sedikit sulit untuk dilaksanakan. Saat ini kondisi bahasa di Indonesia dapat dilihat dari, pertama, ditandai oleh keberadaan sebuah bahasa negara sekaligus menjadi bahasa nasional, kedua, bahasa daerah yang berjumlah ratusan, dan ketiga, secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama bahasa memilki masalah yang kompleks dan memerlukan penyelesaian. Bahasa Indonesia menempati posisi sebagai bahasa negara serta bahasa nasional. Kedudukan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara bertepatan dengan penetapan Undang-undang Dasar 1945 Bab 15 pasal 36, yang berisi pernyataan bahwasanya bahasa Indonesia merupakan bahasa negara. Keberadaan bahasa daerah dalam posisinya telah dijamin kelestariannya dan kehidupannya melalui Undang-undang Dasar 1945 Bab 15. Pengistilahan bahasa pertama, kedua, dan ketiga, biasa dipakai untuk pengistilahan dalam pengurutan penguasaan bahasa atau pemerolehan bahasa. Bahasa pertama yang biasa disebut bahasa ibu merupakan bahasa yang awalnya dipelajari anak, biasanya berasal dari lingkungan keluarga. Di Indonesia banyak bahasa yang digunakan, utamanya di wilayah urban, ditambah tingginya


120 mobilitas masyarakatnya, yang menjadi sebab terjadi kontak antar bahasa dan budaya satu sama lain yang disertai dengan semua peristiwa kebahasaan seperti bilingualism, alih kode, campur kode, interferensi, dan integrasi. Dalam kajian sosiolinguistik terdapat dua hal menarik, yaitu seorang ahli dari asing yang mempunyai reputasi dan nama dalam dunia internasional berpendapat jika bahasa Indonesia baku asalnya dari sebuah pijin dengan sebutan Bajaar Malay (Low Malay). Menurut klasifikasi sosiologi dari Stewart, jika dibandingkan pijin Melayu, kreol Melayu, dan bahasa Indonesia. Pijin tidak mempunyai suatu dasar standarisasi, historitas, ekonomi, dan vitalitas saat disimpulkan,suatu Kreol hanya mempunyai dasar vitalis, tapi tidak mempunyai standarisasi, historitas, dan ekonomi, padahal dalam bahasa Indonesia mempunyai keempat dasar tersebut. Latihan Soal 1. Mengapa menghitung keberagaman bahasa daerah di Indonesia sulit dilakukan?


121 2. Sejak kapan bahasa Indonesia berkedudukan menjadi bahasa negara atau bahasa nasional? 3. Apa saja tugas bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional? 4. Apa saja tugas bahasa Indonesia sebagai bahasa negara? 5. Berdasarkan apa bahasa Indonesia menjadi bahasa utama dan pertama di negara Republik Indonesia? 6. Apa pengertian dari bahasa daerah? Sebutkan contohnya! 7. Apa pengertian dari bahasa asing? Sebutkan contohnya! 8. Mengapa di kota-kota besar bahasa Indonesia sering dipakai oleh anak-anak yang tinggal di Indonesia? 9. Apa judul buku yang ditulis oleh G.M Kahim mengenai asal-usul bahasa Indonesia? 10. Apa perbedaan antara Pijin Melayu, Kreol Melayu, dan Bahasa Indonesia?


122 DAFTAR PUSTAKA Asrori, M. (2001). Variasi Bahasa: Sebuah Kajian atas Pemakaian Sosiolek Bahasa Jawa. Jurnal Linguistik Bahasa, 1(2), Program Studi Linguistik (S2) Pasca Sarjana UNS, Surakarta. Aslinda, L. S. (2007). Pengantar Sosiolinguistik. Bandung: PT Refika Aditama. Bernand, S. (1998). Sociolinguistics. Oxford: Oxford University Press. Chaer, A. (1994). Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta. Chaer, A., & Agustina, L. (1995). Sosiolinguistik: Perkenalan Awal. Jakarta: PT Rineka Cipta. Chaedar, A. A. (1993). Pengantar Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa. Depdikbud. (1995). Teori dan Metode Sosiolinguistik II. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Ferdinan. (2009). Keadaan Sosiolinguistik di Indonesia. Diakses pada 1 Juni 2023, dari


123 http://ferdinan01.blogspot.com/2009/02/keadaansosiolinguistik-di-indonesia.html Halliday., & Ruqaiya. (1994). Bahasa Konteks dan Teks : Aspek bahasa dalam pandangan semantik sosial (Terjemahan. Asrudin Barori TOU). Yogyakarta : UGM Press. Hudson, R.A. (1996). Sociolinguistics. Cambridge: Cambridge University Press. Kridalaksana, H. (1984). Kamus Linguistik. Edisi Ketiga. Jakarta: PT Gramedia. Malabar, S. (2015). Sosiolinguistik. Gorontalo: Ideas Publishing. Markamah. (2001). “Penelitian Sosiolinguistik: Aspek Nonkebahasaan dan Bidang yang Dikaji“ dalam Jurnal Kajian Linguistik dan Sastra, 13(25), PBS FKIP UMS, Surakarta. Nababan. (1989). Sosiolinguistik dan Pengajaran Bahasa. PELLBA 2. Jakarta: Lembaga Bahasa Unika Atma Jaya.


124 _______. (1993). Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Nuryani., Isnaniah, S., & Eliya, I. (2014). Sosiolinguistik dalam Pengajaran Bahasa Berbasis Multikultural: Teori dan Praktik Penelitian. Bogor: IN MEDIA. Pateda,M. (2021). Sosiolinguistik. Penerbit Angkasa. Poedjosoedharmo, S. (1983). Pengantar Sosiolinguistik. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada. Pateda, M. (1990). Sosiolinguistik. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press. _____________. 1992. Sosiolingustik. Bandung : Angkasa. Paul, O. (1997). Sosiolinguistik. Jakarta: Kesaint Blant. Rahardi, K. R. (2001). Sosiolinguistik Kode dan Alih Kode. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset. Robert, S. (1992). Hakikat Bahasa. Bandung: PT. Aditya Bhakti. Sumarsono. (2010). Sosiolinguistik. Yogyakarta: Pustaka Belajar.


125 Suwito. (1983). Pengantar Awal Sosiolinguistik Teori dan Problema. Surakarta: UNS Press. ______. (1996). Sosiolinguistik. Surakarta: UNS Press. Yudhistira. (2021). Diglosia: Bahasa Tinggi dan Bahasa Rendah. Diakses pada 24 Juni 2023, dari https://narabahasa.id/artikel/linguistikinterdisipliner/sosiolinguistik/diglosia-bahasa-tinggidan-bahasa-rendah Warsiman. (2014). Sosiolinguistik: Teori dan Aplikasi dalam pembelajaran. UB Press.


126


Click to View FlipBook Version