i Rindu Antologi Cerepen Mahasiswa PBSI’20 Ruang Sulaiman | Rohma Wati Ningsih Dicki Rahmawan | Syafila Chabsarotul Desy Yantene S PENERBIT LIMA AKSARA Terdalam
ii Judul: Ruang Rindu Terdalam Penulis: Sulaiman | Rohma Wati Ningsih Dicki Rahmawan | Syafila Chabsarotul Desy Yantene S ISBN 978-623-5555-64-5 Editor: Nova Mega Ivana Timurrana Dilematik Penyelaras Bahasa: Akhmad Fatoni, M.Hum. Desain sampul dan tata letak Limax Media Penerbit: Lima Aksara Redaksi: Pratama Residence Blok C23/B19 Plosogeneng-Jombang | 0814-5606-0279 | https://limaaksara.com Distributor tunggal: CV. Lima Aksara | Pratama Residence Kav C23/B19 Plosogeneng-Jombang | 081456060279 Anggota IKAPI No.315/JTI/2021 Cetakan pertama Juli 2022 Hak cipta dilindungi undang-undang. Plagiasi dipertanggunjawabkan secara utuh oleh penulis. Dilarang memperbanyak isi buku ini, baik sebagian maupun seluruhnya dalam bentuk apapun tanpa Izin tertulis dari Penerbit.
iii Puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat dan karunia-Nya, kami dapat menyelesaikan penulisan buku cerita pendek ini. Terima kasih kepada dosen dan juga pihak yang membantu selama proses pembuatan buku cerita pendek ini. Cerita pendek adalah karya sastra yang berbentuk tulisan yang biasanya berkisah sebuah kejadian yang terjadi didalam kehidupan, cerita pendek memiliki beragam jenis mulai dari fiksi hingga non fiksi, oleh karena itu banyak cerita pendek yang memfokuskan satu kejadian tertentu. Oleh karena itu, buku ini diharapkan menjadi salah satu media yang bermanfaat untuk memperluas daya imajinasi dan meningkatkan kemampuan berbahasa agar wawasan pembaca mengenai sastra berkembang pesat. Kata Pengantar
iv Kata Pengantar ......................................................................................... iii Daftar Isi ...................................................................................................... iv Ruang Rindu Terdalam ........................................................................ 1 Rumah Pohon ………………………………………………………………… 8 Kasih Yang Hilang ................................................................................... 22 Mata Uang .................................................................................................. 32 Kenangan Saung Bambu ...................................................................... 41 Benar-Benar Terakhir ........................................................................... 51 Mata Waktu ............................................................................................... 58 Setitik Rindu Mengukir Sendu ........................................................... 66 Sesal Dalam Degub ................................................................................. 74 Kawan Lama .............................................................................................. 82 Senja Dari Ayah ........................................................................................ 88 Mustahil Terulang ................................................................................... 96 Waktu Tanpa Henti .............................................................................. 108 Ceritanya .................................................................................................. 117 Tentang Penulis ..................................................................................... 124 Daftar Isi
1 Terdalam Ruang Rindu Ananda Fania Berliani Putri Setiap kakak pasti menyayangi adiknya, meskipun hanya selisih dua tahun atau bahkan lebih. Bagi setiap kakak, tawa, tangis, dan amarah si adik adalah hiburan yang tidak bisa didapatkan dari manapun. Mungkin itulah yang saat ini dipikirkan Naira siswi SMA yang sangat merindukan sosok adik kecilnya ini. “Naira kamu kenapa?” tanya Fanya dari kursi depan. “Rindu dengan adik kecilku” balas Naira singkat. “Memangnya adikmu kemana?” Fanya Kembali bertanya. “Dia sudah meninggal dari tahun 2017 saat usianya 6 bulan.” Fanya yang merasa bahwa ucapannya salahpun meminta maaf. “Sepertinya kamu sayang sekali dengan adikmu ini.” Fanya mencoba untuk membuat Naira tersenyum. “Benar, walau dipertemukan dalam waktu yang singkat tapi aku sangat senang” naira berkaca kaca. “Saat itu aku masih SMP kelas 3” sambungnya. Kala itu, Naira sedang sibuk dengan persiapan ujian sedang diganggu oleh suara tangis si adik dari kamar. Naira bergegas
2 menemui sang adik yang terbangun dan langsung menenangkannya dengan cara di timang-timang. Keberadaan sang adik di keluarga kecilnya ini membuat Naira nampak bahagia. Ia tak lagi menjadi anak tunggal dan dirinya mempunyai teman! Naira yang begitu menyayangi adiknya ini selalu meluangkan waktu untuk bermain walau sebentar. “Sudah, jangan menangis” Naira terus menimang sampai si adik kembali tenang. “Sekarang ibunya Arsy bukan Ibu, tapi kamu Naira” ledek si ibu yang baru kembali dari dapur. “Jangan begitu ibu, Naira hanya bermain sebentar dengan Arsy iyakan?” Arsy yang seakan mengerti tertawa kecil. “Ibu lihat sendiri, kita itu saudara terbaik di seluruh dunia!” ujar Naira dan mengangkat kecil tangan adiknya. Hampir setiap pulang sekolah Naira membawakan buku cerita anak yang dipinjamnya dari perpustakaan sekolah untuk dibacakan pada Arsy walaupun ia masih belum mengerti apapun. Naira yang merasa tidak pedulipun hanya terus membacakan kisah-kisah rakyat pada Adiknya sampai tertidur. Orang tuanya sudah paham kebiasaan baru anak sulung mereka sebelum tidur pasti datang ke kamar si adik dan membacakan cerita. “Suatu malam adiknya muntah-muntah terus dan suhu tubuhnya naik menjadi sangat panas, sehingga ia terus menangis tanpa henti.” Malam dimana kejadian buruk terjadi membuat Naira Kembali menangis, jika mengingatnya. Si adik yang baru berusia 6 bulan mendadak sakit parah sehingga harus dibawa
3 ke dokter, namun jarak dari rumahnya ke rumah sakit terdekat di desa pun sulit sekali dijangkau dan jalanannya memang serusak itu. Sehingga si ayah terpaksa menghubungi kepala desa agar mengirimkan mobil darurat desa digunakan untuk pergi ke rumah sakit. Naira menangis karena khawatir pada adik kecilnya. Tangan mungil si adik terus menggenggam ujung jari Naira seakan tak ingin ditinggal. Bagi anak yang masih berusia 14 tahun yang tidak mengerti apapun adalah hal yang mengerikan. Ia dilarang ikut mobil darurat desa yang berhasil datang, Naira hanya diminta untuk menjaga rumah dan menyiapkan barang-barang yang nanti akan dibawa oleh si ayah untuk dibawa ke rumah sakit. “Ya Allah, tolong selamatkan adik. Ia masih kecil, kami sudah punya rencana akan main apa saat dia mulai sekolah nanti. ” Naira menangis di rumahnya sembari merapikan seluruh pakaian si adik. Namun diluar dugaan. Si ibu menelpon dari rumah sakit dan mengabari bahwa Arsy tidak bisa diselamatkan dan dirinya wafat sewaktu tiba di UGD. Naira yang sedang merapikan baju-baju terdiam dan seluruh dunianya terhenti seketika. Dirinya terduduk dan bersandar pada kasur dan membiarkan air matanya jatuh. Beberapa jam kemudian ambulan datang. Akhirnya jenazah si adik dibawa kembali ke rumah dan diadakan acara doa sebelum pemakaman. Naira hanya terdiam di samping jenazah si adik tanpa bicara apapun dan tatapannya kosong. Ia membiarkan ibunya menangis histeris di
4 sampingnya dan tidak mendengarkan seluruh ucapan keluarga besarnya yang memintanya untuk sabar. Sewaktu jenazah si adik dikafani dan dibawa pergi untuk dimakamkan, dirinya baru sadar dan menolak untuk adiknya dibawa pergi. Ayahnya langsung memeluk putri sulungnya yang terus menolak adiknya dimakamkan dan bertanya mengapa orang-orang sejahat itu mengubur bayi kecil yang bahkan belum genap setahun usianya? Ia menyalahkan semua orang yang hanya bisa terus membawa jasad Arsy ke pemakaman. “Ayah mengapa mereka jahat sekali ? Apa salah Arsy ?”. Naira terus mengucapkan kata yang sama bahwasannya ia tidak menginginkan adiknya pergi. Kepergiannya membawa duka sekaligus luka untuk seluruh aggota keluarga. Bahkan pengasuh yang pernah mengasuh Arsy pun turut menangis karena memang kejadiannya sangat cepat dan semua anggota keluarga tidak menyangka hal ini akan terjadi kepada keluarganya. “Ayah mereka jahat! Mereka mau bawa Arsy pergi kan ini sudah jamnya ia dibacakan cerita.” Naira memberontak dan terus meminta agar adiknya tidak dibawa pergi. Sang ayah tetap terus berusaha untuk menenangkan Naira. “Sudah nak sudah” ayah hanya bisa menenangkan. “Kenapa harus Arsy Ayah? Naira tidak menginginkan apapun, Naira hanya ingin Arsy tetap bersama kita. Mengapa ayah diam saja melihat putri ayah dibawa ke makam!, apakah ayah sudah tidak menyayangi Arsy lagi,” bentak Naira dan ternyata yang diucapkan Naira terdengar oleh ibu. Ibunya
5 hanya bisa menangis dan mencoba untuk tetap tegar menerima semua kenyataan yang telah menimpanya. Selang beberapa waktu. Pemakaman Arsy berjalan lancar kurang lebih 30 menit. Arsy disandingkan dengan makam kakeknya yang telah lebih dulu menghadap ke sang pencipta sejak 2015 silam. Tidak ada perwakilan wanita dari keluarga yang mengikuti pemakaman tersebut karena semuanya menangis di rumah duka. Tak kuasa menahan tangis dan tak tega anak sekecil itu, belum mengenal banyak tentang dunia tapi sudah kembali kepangkuan-Nya. Setelah pemakaman Arsy dilakukan, Naira menjadi anak pendiam dan tidak seceria dulu. Dia menjadi anak pendiam dan malas bersosialisasi bahkan sampai kelulusannya ia tidak ikut foto bersama teman satu kelas. Kamar yang dulu ada Arsy kini sepi dan suram. Menjadi gudang baju-baju yang tidak terpakai, termasuk barang-barang Arsy. Orang tuanya merasa begitu sedih karena mereka seperti kehilangan dua anaknya diwaktu yang bersamaan. Sudah banyak cara dilakukan oleh mereka agar setidaknya anaknya ini tersenyum, namun hanya senyuman paksa yang ada di bibirnya. Naira menjadi sosok yang berbeda, tidak ada yang mampu mengubahnya. Kesedihan itu berlanjut hingga ia memasuki sekolah menengah atas. Hingga di titik ia benar-benar ikhlas melepaskan adiknya yang telah tiada, tepatnya kelas XI. Ia sudah menjadi sosok wanita yang lebih dewasa, bisa menerima seiring berjalannya waktu. Hingga tibalah hari ulang tahun Arsy. Ibu mencoba mengingatkan Naira.
6 “Naira hari ini ulang tahun Arsy, kamu tidak ingin pergi mengunjungi makam adikmu?” tanya si ibu ramah “Iya bu, sekarang Arsy ulang tahun” Nairapun ikut ke makam adiknya bersama-sama. Di makam Naira melihat sebuah kuburan kecil bertuliskan nama Ananda Arsy Zafira Az-Zahra. Dia tersenyum tipis dan duduk di sisi makam itu sembari membawa sebuah buku cerita rakyat yang dulu sering dibacakannya pada si adik kecil ini sebelum tertidur. Setelah membacakan doa-doa Naira menyapa si adik yang tak akan pernah lagi menjawabnya, sembari mengusap batu nisan itu Naira menceritakan harinya yang terdengar begitu hampa tanpa kehadirannya. “Kamu tahu Arsy? Kakak masih sering bacain kamu cerita. Nah tahun ini kakak mau cerita tentang bawang merah dan bawang putih” Naira memulai kisah itu didengarkan kedua orang tuanya yang merasa terharu. Seiring berjalannya waktu berlalu namun Naira kembali menjadi anak yang ceria, senyumnya menjadi terlihat seperti sudah mengikhlaskan semua takdir yang telah ditentukan oleh-Nya. Ibu dan ayahnya ikut merasakan kebahagiaan, anak sulungnya sudah menjadi lebih dewasa dan mengerti bahwa semua yang hidup pasti juga akan meninggal. Naira berubah menjadi lebih ceria karena mengikuti banyak kegiatan di luar sekolah karena saran dari orang tuanya agar ia bisa lebih tenang dan melupakan masa lalu yang menurutnya kelam. Bagi Naira 2 tahun terakhir adalah masamasa sulit bagi ia karena dalam waktu tersebut dirinya sudah menangis hampir setiap malam bahkan sampai sakit. Banyak saudara yang datang dan memberi saran padanya agar
7 mengikhlaskan kepergian adiknya. Namun baginya saransaran itu hanya formalitas semata, karena menurutnya sangat sulit berdamai dengan kondisinya saat itu. Terlebih ia adalah anak sulung, yang artinya ia masih memiliki satu adik laki-laki yang bernama Yusuf. Mereka hanya selisih dua tahun saja. Ia anak pertama otomatis seluruh ekspetasi dari keluarga ada di pundaknya. Ia harus menjadi sosok kakak yang kuat, tegar, dan sabar. “Bagiku desa kecil itu menyimpan tawa, tangis, dan memori bersama Arsy. Butuh waktu sekitar dua tahun bagiku agar bisa menerima apa yang sudah terjadi, sulit rasanya menahan rindu pada seseorang yang tidak bisa lagi ditemui dan diajak bercanda.” Naira tersenyum ke arah jendela. “Tapi sekarang kamu sudah berhasil Nai.” Fanya memberi semangat. “Kamu benar. Adikku akan sedih jika aku terus terpuruk.” Naira dan Fanya saling tersenyum dan pergi ke kantin sebagai hadiah keberhasilan Naira. Rindu itu wajar, tapi akan jadi masalah jika terlalu rindu bahkan sampai berlarut-larut, tapi menerima dan mengkhilaskan apa yang sudah terjadi itu perlu, dan harus dilakukan. TAMAT.
8 Rumah Pohon Devi Noviana Dewi Rumah pohon dalam cerita kali ini bukanlah sebuah rumah yang dibangun diatas pohon. Namun ini cerita tentang seorang perempuan yang akan menjadi ibu dari 1 orang anak namun bukan menjadi pohon untuk berlindung, ia malah menjadi rintik hujan yang membuat sakit. Ia tidak menjadi rumah untuk pulang namun hanya menjadi gerbang untuk berlalu lalang. Namun apa yang terjadi jika jiwa lain menggantikan jiwa sang ibu? “Mama, buka pintunya. Rafa sangat takut ada disini Ma.. Rafa mohon buka pintunya” Ucap seorang anak berumur 5 tahun dengan nada bergetar dan memohon, ia adalah Rafael. Putra satu satunya dari Acha Adara Alexendra dan Farel Agustino Rexam. “Diam kau Rafael! Siapa yang menyuruhmu untuk mendapatkan juara 2 tahun ini? Mau ditaruh dimana wajahku jika seluruh rekan bisnisku mengetahui hal ini?” Sahut Acha dengan nada yang dingin dari luar pintu gudang.
9 “Mama? Apa mama lupa kalau Rafa sangat takut dengan gelap ma? Rafa janji akan menjadi juara 1 tapi Rafa mohon keluarin Rafa dari sini Ma. Mama boleh mukul Rafa, siksa Rafa semau Mama, tapi keluarin Rafa dari sini Ma.” Jawab Rafael dengan terbata. “Kau akan tetap dihukum selama 2 hari disini dengan 1 kali makan sehari. Dan untuk kalian semua, Jika siapapun berani membuka pintu ini, maka akan kubuat hidupnya menderita” Ucap Acha kepada seluruh pelayannya yang sedang menatap sedih pintu gudang yang berisi tuan muda mereka. Acha adalah seorang pebisnis muda, ia juga seorang model yang terkenal diseluruh dunia. Sedangkan Farel adalah pengusaha eksekutif yang hanya akan berada pada saat makan malam di mansion sebesar ini. Jika Rafael Ariyan Rexam adalah seorang siswa kelas 2 SD yang selalu dituntut untuk menjadi sempurna oleh kedua orang tuanya. “Pak Joko, siapkan mobil. Saya akan pergi kekantor sekarang juga” Ucap Acha sambil melirik jam tangan yang menunjukkan pukul 15:00. “Baik Nyonya.” Sahut Pak Joko. “Saya akan mengemudi sendiri” Ucap Acha yang kemudian segera masuk kedalam mobilnya. Saat sedang berada diperempatan jalan, handphone Acha berdering. Segera ia mengambilnya didalam tas, namun handphone nya malah jatuh dan membuat Acha kesulitan untuk meraihnya. Hingga ia tidak sadar berada dilampu merah dan malah menerobosnya dan kecelakaan pun tidak dapat dihindari.
10 Mobil yang ditumpangi Acha terguling dan terseret beberapa meter dari lokasi kejadian. “Panggil Ambulan cepat!” Teriak orang-orang yang berada disekitar tempat kejadian. Seluruh korban segera dilarikan ke rumah sakit, tidak terkecuali Acha. Hingga ia dinyatakan koma oleh dokter. “Dokter, apa ada kemungkinan istri saya akan sadar? Sudah 1 bulan istri saya tidak bangun dari koma nya” Ucap Farel yang sedang berada di ruangan dokter. Selama ini Farel hanya mengunjungi Acha selama 2 kali karena pada dasarnya pernikahan mereka hanyalah sebuah perjodohan. Selama ini hanya Acha yang menyimpan rasa untuk Farel, namun ia menutupinya karena tahu Farel memiliki seorang kekasih dan menikah dengannya karena terpaksa. “Sesuai yang saya perkirakan Tuan Farel, jika Nyonya Acha tidak kembali sadar lebih dari 1 bulan, kami akan melepas seluruh alat penopang hidupnya. Karena selama ini tidak ada sekalipun respon dari Nyonya dalam bentuk apapun.” Jelas Dokter. Di ruangan Acha Di ruangan super megah yang ada di rumah sakit ini terbaring Acha yang terpasang berbagai alat ditubuhnya. Juga seorang anak yang terlelap disamping brankar, dia adalah Rafael. “Aku dimana,kepalaku sangat sakit. Apakah aku belum ke surga? Kurasa aku tertembak dibagian kepala, tapi kenapa
11 seluruh badanku seakan remuk.” Ucap Acha yang mulai tersadar. Lalu ia tersadar jika disampingnya terdapat seorang anak yang tampan, seketika ingatan asing masuk kedalam otaknya dan membuatnya mengerang. “Ada apa dengan kepalaku,sangat sakit. Siapapun tolong aku” Teriakan Acha membangunkan Rafael yang berada disampingnya. “Mama udah sadar? Aku panggil dokter dulu ya?” Saat Rafael akan melangkah, Acha menarik tangannya dan berkata “Tidak perlu, sudah tidak sesakit tadi. “Siapa namamu anak tampan?” Tanya Acha. Rafael membeku, ia senang Mamanya mau memanggilnya anak tampan karena selama ini Mamanya hanya memanggilnya dengan anak sial,hey,dan kau. Namun Rafael juga bingung mengapa mamanya menanyakan namanya. “Mama tunggu sini ya, Rafa telfon dokternya biar dateng kesini” Ucap Rafael karena ia merasa jika mamanya sangat aneh. Beberapa saat kemudian dokter datang bersama dengan Farel dan melakukan serangkaian proses pemeriksaan. “Berdasarkan seluruh hasil pemeriksaan, Nyonya Acha mengalami amnesia. Kemungkinan besar ia akan lupa dengan segala hal yang dia alami,jangan memaksanya untuk mengingat apapun Tuan”. Jelas dokter.
12 Acha mendengarkan segala yang diucapkan dokter, namun ia sadar bahwa ia tidak amnesia. Ia yakin jika dirinya bertransmigrasi. Yang artinya jiwanya masuk kedalam tubuh Acha saat ini dan ia dulu juga bernama Achasera yang dipanggil Acha. Achasera adalah seorang pemimpin dunia bawah dan berada diurutan kedua sebagai pengusaha terkaya didunia. Untuk menghindari kecurigaan mereka semua, maka ia bertekad untuk berpura pura amnesia. Diruangan ini hanya tersisa Rafael, Acha, dan Farel. “Rafael, maafkan Mama ya sayang, melihat sikapmu yang takut saat berbicara dengan Mama, apakah Mama dulu sering berbuat jahat kepadamu?” Tanya Acha sambil mengelus rambut Rafael. “Nggak Ma, Rafael memang nakal. Makanya Mama menghukum Rafa. Mama nggak pernah salah , Mama adalah Mama terbaik untuk Rafael”. Jelas Rafael yang membuat Acha tidak tahan untuk tidak menangis. Acha tahu jika sikap Acha asli selama ini sangat menyakiti hati Rafael. “Mama sangat beruntung memiliki putra sebaik Rafa, Maafkan Mama ya sayang..” Acha bertekad kali ini dikehidupan keduanya, ia akan mengutamakan Rafael diatas apapun. Farel yang menyaksikan hal tersebut menghangat hatinya. Ia sedikit merasakan haru, namun segera menepis segalanya. Ia yakin didalam hatinya hanya ada Tiara, kekasih yang menemaninya selama bertahun–tahun. “Aku akan kembali ke kantor, jika ingin pulang kau bisa menghubungi supir. Aku tak bisa mengantarmu karena aku bersama dengan Tiara” Ucap Farel yang masih duduk disofa.
13 “Ya.. aku akan pulang dengan supir dan putraku yang tampan. Kau tak perlu ada disini”. Sahut Acha, sontak jawaban Acha membuat hati Farel mencelos. Segera ia bangkit dan keluar dari ruangan tersebut. “Nah Rafa sayang, ayo bantu Mama untuk berkemas” Ucap Acha “Let’s go Mama.” Sahut Rafael dengan gembira. Segera saja mereka bersiap dan kembali ke kediaman yang lebih pantas disebut sebagai istana. “Selamat datang Nyonya, mari saya bawakan tas anda” Sambut kepala pelayan. “Terimakasih kepala pelayan” Jawab Acha sambil tersenyum. Sontak hal tersebut membuat seluruh pelayan yang berada disana terkejut bukan main. Nyonya mereka sangat jarang tersenyum dan bersikap ramah. “Ba ba.. ik nyonya. su dah tugas saya” Jawab kepala pelayan dengan sedikit gugup. Rafael dan kepala pelayan segera menuju kamar Acha. “Terimakasih kepala pelayan, kau boleh kembali. Jika nanti aku membutuhkanmu aku akan memanggilmu” Ucap Acha “Tidak masalah Nyonya, saya kembali undur diri dulu” Sahut kepala pelayan sambil membungkukkan badannya. Rafael menunggu Acha sembari memijat kakinya.
14 “Mama.. jangan berubah lagi ya? Rafa sangat bahagia Mama seperti ini, menyayangi Rafa dan ramah pada semuanya” Lirih Rafael, takut jika perkataanya menyinggung sang Mama. “Iya anak tampan, Mama tidak akan berubah seperti dulu lagi. Anggap saja dulu saat Mama koma, Mama disadarkan oleh Tuhan untuk menjaga putra Mama yang sangat tampan ini” Ucap Acha. Rafae yang mendengar hal tersebut lantas memerah pipi dan wajahnya. “Uhh,, anak Mama yang tampan sedang salh tingkah rupanya” Lalu mereka tertawa bahagia.. Keesokan harinya Acha bangun pagi untuk menyiapkan sarapan dan hal tersebut lagi lagi menggemparkan seisi mansion ini. “Nah Bibi Rumi, bisakah meneruskan masakan ini? Hanya tinggal menata diruang makan saja, aku akan membangunkan Rafa untuk bersiap” Pinta Acha kepada pelayan yang membantunya. “Tentu Nyonya, anda bisa langsung keatas saja untuk memanggil Tuan Muda” Balas Bibi Rumi. Lantas Acha segera menaiki lift dan menuju kamar putranya. Ia membuka pintu dan berkata “Sayang,, Rafa ayo bangun sayang. Bukannkah hari ini anak tampan Mama akan bersekolah?” Ucap Acha dengan nada lembut sambil membuka korden kamar. “Hmm.. ya Mama. Rafa sudah bangun, Rafa kira perubahan Mama hanyalah mimpi saja hingga Rafa tidak ingin bangun” Jawab Rafael.
15 “Tidak sayang, Mama akan selalu seperti ini dan tidak akan pernah berubah. Mama akan selalu menjadi pohon untuk Rafa berteduh dan rumah untuk Rafa berlindung. Mama berjanji”. Balas Acha “Baiklah, sekarang Rafa harus mandi dan turun untuk sarapan karna Mama sudah masak kesukaan Rafa dan menyiapkan bekal” Lanjut Acha Sejak Acha bangun dari koma hingga saat ini, ia belum pernah bertemu lagi dengan Farel. Namun kali ini perusahaannya akan bekerja sama dengan perusahaan Farel dan akan mengadakan rapat. Memanglah pernikahan antara Farel dan Acha tidak dipublikkan. Hanya orang terdekat mereka yang mengetahui hal tesebut. Setelah Rafael sarapan dan berangkat sekolah, Acha segera bersiap dan berangkat ke kantornya. Tidak banyak yang berbeda dari penampilan Acha dengan Achasera, mereka sama sama cantik, namun make up Acha dulu sering terkesan menor. Sehingga penampilan Acha yang baru mampu membius seluruh karyawan yang ditemuinya saat dikantor. Acha segera memasuki ruangan rapat bersama asistennya karena ia cukup terlambat untuk datang. “Permisi semuanya, mohon maaf atas keterlambatan saya. Mari silahkan dimulai rapatnya”. Ucap Acha Rapatpun dimulai, namun sedari tadi pandangan dua orang yang berada didepan meja Acha tidak lepas untuk menatap Acha. “Sial, mengapa dia sangat cantik hari ini? Apakah dia sengaja ingin mendapatkan pria lain?” Batin Farel.
16 “Acha, lama sekali kita tidak bertemu ya? Lihatlah dirimu semakin cantik dan menawan” Batin Rayyan Andromeda. Rayyan Andromeda adalah sahabat semasa kuliah Acha yang memiliki perasaan suka namun ia harus terpisah dengan Acha karena bisniss keluarganya sedang bermasalah. Saat kembali ingin melamar Acha, ia mendapati Acha menikah dengan Farel. Tiba tiba ditengah rapat, Handphone Acha berbunyi. Sehingga ia menundukkan pandangan dan menyuruh untuk melanjutkan rapat sedang dirinya mengangkat telfon. “Ya hallo? Apaa!! Baik saya akan segera kesana” Ucap Acha dengan buru buru, lalu ia menuju kursi dan berbicara “Mohon maaf saya menyela, saya tidak bisa mengikuti rapat ini hingga selesai karena ada sesuatu yang penting dan tidak dapat diganggu. Untuk segala pertanyaan dapat anda sekalian kirimkan kepada asisten saya dan keputusan rapat akan saya umumkan lewat E-mail. Terimakasih” Acha mengucapkan sambil membereskan tasnya dan beranjak dari ruang rapat. Satu hal yang ada dipikiran semua yang hadir pada rapat dan tentunya dua orang yang sedari tadi memperhatikan Acha “Apa yang terjadi?” Setelah beberapa menit akhirnya Acha sampai di sekolah Rafael. Ya, yang menghubungi acha adalah wali kelas Rafael yang mengatakan bahwa Rafael mengalami luka-luka dan diketahui memukul temannya tanpa alasan. "Baik, karena semua sudah berkumpul saya akan menjelaskan alasan para bapak dan ibu sekalian dipanggil ke sekolah. Rafael dan Doni ditemukan oleh salah satu guru di sini
17 sedang bertengkar. Rafael memukul Doni dan akhirnya mereka terlibat aksi saling pukul. Keduanya tidak ada yang mengaku alasan mereka bertengkar "ucap wali kelas Rafael. "Saya sangat mengenal putra saya, ia tidak akan membuat masalah jika tidak dipancing terlebih dahulu. Rafael juga bukan anak yang menyelesaikan masalah dengan kekerasan" Ucap Acha membela Rafael. Rafael yang melihat pembelaan sang mama merasa senang karena awalnya ia kira, mamanya akan memarahinya dan bersikap tidak peduli. "Jadi maksud anda putra saya Doni yang memulai masalah?" Ucap orang tua Doni "Tenang dulu Nyonya, jangan menyelesaikan permasalahan ini dengan emosi lebih baik kita tanya akar permasalahan dari mereka. "Ucap wali kelas Rafael. "Rafael sayang, ayo katakan kepada mereka apa yang sebenarnya terjadi. Mama sangat percaya jika Rafael adalah anak yang baik. Mendengar mamanya yang sangat mempercayainya, Rafael berkata "aku sangat menyayangi mama dan aku tidak akan terima jika ada seseorang yang berkata buruk tentang mama. Doni berkata jika mama bukanlah Mama yang baik karena mama tidak pernah memperhatikan Rafael dan lebih memilih bersenang-senang dengan teman-teman Mama. Rafael marah dan akhirnya memukul Doni". Acha yang mendengar hal tersebut segera memeluk Rafael dan berkata "baiklah mendengar penjelasan dari Rafael saya meminta maaf atas kesalahan putra saya. Dan tolong ajarkan
18 putra anda untuk bersikap lebih baik dan menjaga perkataannya". "Kenapa anak saya yang disalahkan? Padahal memang anak Anda saja yang seperti berandalan. Lagipula apa yang dikatakan anak saya ada benarnya, karena Anda memang tidak pernah memperhatikan putra anda. Selama ini saya juga tidak pernah melihat ayah dari putra anda, apakah ayahnya juga seorang berandalan? "Ucap orang tua Doni dengan kasar. Tiba tiba pintu ruang BK terbuka dengan keras "Siapa yang kau sebut brandal nyonya? Anak yang baru saja kau hina adalah putraku. Sama saja artinya kau menghinaku Nyonya. Akhirnya aku tahu dari mana ketidaksopanan mulut putramu berasal" Jelas Farel. Pada saat rapat dan setelah kepergian aca dari ruangan rapat, Farel mendapatkan telepon dari salah satu guru di sekolah yang mengatakan tentang permasalahan Rafael. Jadi ia meninggalkan rapat dan segera menyusul ke sekolah karena ia yakin bahwa Acha juga meninggalkan rapat karena masalah ini. "Pantas saja jika anaknya brandal, anda dan istri anda sama-sama tidak tahu sopan santun terhadap orang tua. Lagipula apakah anda tidak tahu siapa saya? Suami saya bekerja di perusahaan yang besar dan menjabat sebagai direktur. Saya bisa saja memenjarakan anda dan membuat anda menjadi miskin. "Ucap orang tua Doni. "Wah sepertinya Anda belum menyadari siapa saya Nyonya. Tunggulah sebentar lagi maka anda akan mengerti siapa saya" sahut Farel.
19 Tidak lama kemudian, masukalah seorang pria paruh baya dengan wajah yang menahan amarah. "Permisi Tuan Farel, mohon maaf atas segala yang dilakukan oleh istri dan anak saya. Saya sebagai bawahan anda merasa sangat malu terhadap tingkah laku mereka. " Rupanya orang tersebut adalah ayah dari Doni. Kemudian ia menghadap istrinya dan melanjutkan "Apakah kamu tidak tahu bahwa ia adalah tuan Farel? Ia adalah pemilik perusahaan yang kutempati. Bahkan perusahaan itu hanya salah satunya. Kali ini kau benar benar keterlaluan" segera saja segera saja sang istri yang mendengar perkataan suaminya bergetar dan memucat. "Tak apa tuan, aku tidak akan mencampurkan urusan pribadi dengan urusan pekerjaan. Karena aku tahu bahwa kinerjamu sangat baik. Namun kau gagal untuk mendidik anak dan istrimu. "Sahut Farel. Farel segera mengajak Acha dan Rafael untuk pergi dari tempat tersebut. Di dalam mobil hanya terjadi keheningan hingga Rafael membuka suara "Bisakah untuk selamanya Mama dan Papa bersikap layaknya orang tua yang normal seperti tadi? Jujur saja aku sangat merasa senang karena dibela seperti tadi ." "Rafael tidak perlu kamu minta pun Mama akan tetap menjadi pembela nomor satu kamu untuk masalah apapun. "Sahut Acha.
20 Farel hanya bergeming, ia tidak tahu harus menjawab apa. Karna apa yang diminta Farel sama aja dengan mewujudkan keluarga sempurna. Sedangkan ia masih memiliki Tiara. Setelah mengantarkan anak dan istrinya pulang Farel segera menemui Tiara di rumahnya. Sesampainya di sana Farel berbicara empat mata dengan Tiara. "Apa yang terjadi belakangan ini sangat membuat hatiku berantakan. Di satu sisi aku sangat menyayangimu dan di sisi lain aku memiliki tanggung jawab untuk membahagiakan anak dan istriku. Katakan aku harus apa Tiara?" Tanya Farel dengan nada sayu. "Kau hanya perlu melepaskan Acha, Farel. Lalu aku akan menjadi ibu dari Rafael "sahut Tiara "Sepertinya saranmu akan sangat sulit ku wujudkan, karena Rafael sangat mencintai Mamanya. Bisakah jika kisah kita yang ku akhiri?" Tanya Farel. "Apa maksudmu Farel? Kau mau membuang ku? Bahkan hubunganmu dengan Acha tidak diketahui oleh publik. Itu akan mempermudah kita, kumohon.." pinta Tiara. "Lihatlah berita terbaru Tiara, pernikahanku dengan Acha sudah tersebar di media manapun karena masalah Rafael tadi pagi di sekolah". Ujar Farel. Sontak hal tersebut membuat Tiara menyalakan televisi dan benar adanya jika berita saat ini heboh dengan berita pernikahan Farel dan Acha 9 tahun yang lalu. Kekuatan 2 keluarga besar hanya mampu menutupi pernikahan selama 9 tahun ini.
21 "Baiklah maka aku yang akan mengakhiri semua ini dengan mauku Farel. "Sahut Tiara dengan menangis. Farel pun meninggalkan Tiara dan bergegas pulang ke rumahnya. Sampainya di rumah ia segera menuju kamar Acha. ia melihat Acha yang sedang tertidur pulas dan memeluknya, hingga membuat Acha bangun. "Ada apa ini Farel? Mengapa sikapmu sungguh aneh? "Tanya Acha. "Bolehkah aku memulai segalanya dari awal? Kita berikan keluarga yang bahagia untuk Rafael. "Jawab Farel. "Lalu bagaimana hubunganmu dengan kekasihmu? Aku memang lupa ingatan Farel, namun aku memiliki sejuta catatan selama sisa hidupku." Sahut Acha. "Kukira kau lupa tentang diriku yang memiliki kekasih, aku sudah memutuskannya dan memilih keluarga kita untuk tetap bertahan. Jadi kumohon, berikan aku kesempatan untuk menjadi ayah dan suami yang terbaik untuk kalian" ucap Farel. Acha tersenyum senang dan gembira karena keluarganya bisa berkumpul kembali seperti sediakala Tidak seperti biasanya pagi kali ini terlihat sangat ramai di meja makan. Acha yang menyiapkan makan sedangkan Farel dan Rafael yang berebut perhatian Acha. Akhirnya merekapun hidup berbahagia bertiga TAMAT.
22 Hilang Kasih yang Nova Mega Ivana Bergantinya warna seragam menandakan sebuah proses pendewasaan yang akan dihadapi. Enam tingkat sudah berlalu, tiga tingkat kedepan sedang menanti. Waktulah yang mengubah seorang anak kecil menjadi seorang remaja. Selama ini ia mengesampingkan belajar dan hanya bermain yang ia lakukan. Sikap acuh berhasil ia warisi dari kedua orangtuanya. Berada di keluarga yang memiliki segalanya menimbulkan berbagai permasalahan. Ujaran kebencian mengenai keluarga terus mengalir dengan berbagai topik buruk yang berujung ketidakbenaran. Semua itu dilakukan oleh orang-orang yang sangat membenci dan iri atas pencapaian keluarga ini. Keluarga berjumlah tiga orang, dengan kepribadian yang sama membuat keluarga ini harmonis, meskipun jarang memiliki waktu bersama. Tuntutan pekerjaan yang menjadi alasan suami istri tersebut berpisah untuk sementara waktu, mungkin sebagai suami, mencari nafkah untuk kebutuhan istri dan anak adalah sebuah kewajiban. Namun berbeda dengan sudut pandang istri, keadaan ini cukup memberatkan, saat istri ingin suami selalu ada di sisinya, tetapi hal tersebut hanyalah keinginan semu.
23 Suatu hari silauan kuning mulai terlihat, cuaca yang tadinya dingin perlahan mulai menghangat. Raffa yang tertidur perlahan membuka matanya, ia harus bangun untuk berangkat ke sekolah. “Raffa, bangun!”, Ibunya membuka selimut yang menutupi tubuh Raffa. “Hmm.. iya..” sambil menyingkirkan selimut, dengan pengelihatan yang samar Raffa bergegas ke kamar mandi. Suasana pagi ini terasa berbeda, entah apa yang menjadi alasan. Setiap pagi Raffa diantar oleh ibunya ke rumah bu Yah untuk mengganti seragam, alasannya tidak terlalu menarik untuk dibicarakan, namun rutinitas seperti itulah yang setiap hari dilakukan oleh Raffa dan ibunya, karena ibunya harus bekerja dari pagi hingga malam. Ayahnya sibuk bekerja di luar kota juga menjadi alasan lain, mengapa Raffa lebih senang berada di rumah bu Yah. Sejak kecil Raffa sudah di asuh oleh bu Yah dan mendapat kasih sayang penuh dari nenek dan kakeknya. Bahkan ia terlihat sangat nyaman jika berada di rumah neneknya tersebut, tentu saja Raffa di besarkan di rumah tersebut. Jika setelah pulang sekolah ia pergi ke rumahnya ia akan kesepian, jadi ia menghabiskan waktunya di rumah bu Yah. Terbiasa tidak mendapatkan perhatian dari kedua orangtuanya menyebabkan kepribadian Raffa yang acuh. Meskipun terlihat tidak peduli, jauh di dalam hatinya ia adalah anak laki-laki yang menginginkan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Sampai di rumah bu Yah tiba-tiba perut ibu Raffa terasa sakit, keinginan untuk langsung mengantar Raffa tertunda.
24 Karena jarak antara sekolah dengan rumah bu Yah lumayan jauh sehingga Raffa harus menggunakan bus sekolah. “Ibu lama sekali”, menghela nafas karena takut tertinggal bus. “Mungkin perut ibumu sakit nak, hari ini di antar kakek ya..”, ucap bu Yah menatap sambil Raffa. Melihat waktu yang tak banyak, akhirnya Raffa mau di antar oleh kakeknya. Ibu Raffa sudah cukup lama berada di dalam kamar mandi, hingga membuat pasangan suami itu khawatir, akhirnya bu Yah menghampiri menantu perempuannya, betapa kaget dan takut ketika melihat menantunya terbaring tak sadarkan diri di lantai. Kemudian bu Yah memanggil suaminya agar membopong menantunya, faktor usia membuat kakek tidak sangup mengangkat tubuh menantunya. Akhirnya kakek meminta bantuan dari tetangga sekitar, keadaanya yang pucat pasi dengan tubuh yang mendingin membuat semua orang khawatir ketakutan, ketika keberadaan denyut yang kini menghilang. “Apa yang terjadi? Tolong ambilkan air hangat.. badannya terlalu dingin..” ucap salah satu tetangga yang memegang tangan ibu Raffa. Menggunakan alat seadanya para tetangga berusaha mengembalikan suhu badan ibu Raffa agar kembali. Namun takdir berkata lain, tuhan lebih menyayangi ibu Raffa dengan mengambil nyawanya lebih cepat. “Assalamualaikum… budhe Sumi...”, mengetuk pintu.
25 “Waalaikumsalam, ada apa?”, membuka pintu dengan mimik wajah kebingungan melihat saudaranya datang dengan mata berkaca-kaca. “Lin….daa….” menahan tangis. Karena tidak tau apa maksud saudaranya bu Sumi bertanya dengan menunjukkan ekspresi bingung. “Linda? Putriku kenapa?”, bingung melihat saudaranya menangis. “Harus ikhlas, Allah lebih sayang Linda budhe” memeluk tubuh bu Sumi yang nyaris ambruk mendengar kabar bahwa anak perempuan satu-satunya tidak bernyawa. Mendengar kabar anak perempuannya meninggal bu Sumi mengutuk keluarga besanya karena lalai, jika bu Yah menolong anak perempuannya lebih cepat mungkin saja nyawanya bisa tertolong itulah yang ada dibenak bu Sumi saat melihat anak perempuannya terbaring tanpa nyawa. Namun kejadian ini terjadi karena takdir, takdir baik dan takdir buruk sudah menjadi ketetapan yang tidak bisa dirubah. Raffa juga terkejut mendengar kabar bahwa ibunya sudah meninggal, sama seperti nenek dan omnya. Pihak keluarga yang paling terpukul setelah Raffa, bu Sumi dan Danang adalah ayah Raffa. Drttt! Satu pesan masuk. “Assalamualaikum… mbak jatuh. Mas harus pulang ke rumah, ibu sama ayah nungguin. Mas tinggal dulu kerjaannya…” Setelah mendapat kabar tersebut ayah Raffa kemudian pulang, beliau berpikir jika istrinya hanya terjatuh biasa, dan tidak menimbulkan kondisi yang serius. Tetapi betapa terpukulnya saat melihat tubuh istrinya sudah berbalut kain
26 kafan, hingga membuatnya menangis histeris, ayah Raffa tidak menyangka bahwa istrinya akan pergi secepat itu. Kesedihan tak berujung terjadi hingga pemakaman selesai. Seluruh keluarga berpesan agar tidak ada yang menangis lagi, dan berdoa agar amal ibadah ibu Raffa selama masih hidup diterima oleh Allah SWT. Meskipun bu Sumi terlihat belum ikhlas dan tetap menyalahkan bu Yah dan suaminya, namun sebagai orangtua beliau harus tetap mengikhlaskan kepergian putri kesayangannya untuk menghadap sang illahi. Kehidupan akan terus berjalan, meskipun ada salah satu anggota keluarga yang telah pergi. Raffa kini merasakannya, ia harus menjalani aktivitas seperti biasa meskipun ia kehilangan sosok ibu. Saat ini Raffa tinggal dengan neneknya bu Sumi, agar rumahnya tidak kosong. Hal tersebut membuat kebiasaan Raffa selama ini berubah, ia harus membiasakan diri tanpa ibu, dengan kata lain aktivitas yang biasanya dibantu oleh ibunya kini harus ia lakukan sendiri. Kegiatan yang Raffa lakukan sepulang sekolah seperti anak-anak pada umumnya. Biasanya ia bermain dengan kakak sepupunya, terkadang juga bermain dengan teman-teman di sekitar rumahnya. Ia paling suka makanan yang dimasak oleh bu Yah, karena saat hidup ibunya jarang memasak. Tetapi ibu Raffa sangat pintar membuat kue dan jajanan kering lainnya. Karakter pendiam menimbulkan kesan tak peduli pada orang lain membuat banyak orang tidak suka dengan keluarga ini. Padahal keluarga Raffa adalah keluarga yang murah hati, tetap saja kebaikan itu tidak akan pernah di lihat oleh orang yang membencinya. Mempunyai orangtua pekerja keras bukanlah keinginan Raffa, sebagai seorang anak ia juga ingin mendapat kasih
27 sayang yang utuh dari kedua orangtuanya. Tetapi kasih sayang tersebut terhalang oleh karir kedua orangtuanya. Sebelum meninggal ibu Raffa sering berkeinginan agar suaminya mencari pekerjaan yang tempatnya tidak jauh. *** “Ayah bisakan cari kerja deket-deket sini?” “Ayah juga pengen kerja yang lain, tapi ibu tahu, sekarang nyari pekerjaan susah, nggak ada pekerjaan tetap yang gampang di dapat” “Ibu nggak kuat pengen berhenti kerja, akhir-akhir ini badan ibu sering sakit, ayah pulang Ke rumah ya” “Iya ayah pulang senin, kalau sakit jangan kerja dulu, besok minta tolong ke adik ipar buat nganteri kamu ke dokter. Masalah kamu mau berhenti kerja ayah izinin. Biar ayah yang nyari uang, sabar ayah pasti pulang” “Iya,tapi insyaallah ibu kuat bekerja untuk saat ini, cepat pulang ibu tunggu ayah di rumah” ***
28 Keinginan untuk mempertahankan pekerjaannya tersebut, membuat sang istri harus bersabar. Ia ingin agar istrinya berhenti bekerja dan fokus pada kewajibannya menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun hal tersebut enggan dilakukan karena suatu alasan yang berat. Setelah kepergian istrinya ayah Raffa selalu menyesali apa yang sudah terjadi. Selama menjadi suami ternyata ia kurang perhatian dan mengerti apa keinginan istrinya. Berulang kali ia menyayangkan perilakunya di masa lalu. Hari-hari yang penuh dengan kesibukan, sesekali mereka pergi berlibur. Menikmati waktu bersama yang jarang mereka rasakan. Meskipun terlihat sederhana namun sangat berarti, mungkin beberapa keluarga menganggap waktu berkumpul bersama keluarga adalah hal yang biasa, karena setiap harinya mereka bertemu di rumah. Namun menghabiskan waktu bersama keluarga di luar rumah juga diperlukan. Meskipun jarang dilakukan tetapi berlibur bersama keluarga dapat mempererat kasih sayang keluarga. Kini ketidakhadiran sosok seorang ibu disisinya membuat hatinya sepi, meskipun sudah terbiasa ditinggal bekerja namun kali ini konteksnya berbeda. Jika dulu setelah ditinggal Raffa masih bisa bertemu ibunya malam hari, tapi saat ini tidak bisa, bahkan mustahil untuk bertemu. Sebelum ibunya meninggal Raffa menganggap kehadiran ibunya adalah hal yang biasa, namun setelah kepergian ibunya, hal yang sebelumnya belum pernah ia rasakan kini terjadi kepadanya. Ibu adalah sosok perempuan yang meneduhkan hati, meskipun ibunya selalu sibuk bekerja tapi kehadiran sosok seorang ibu masih dibutuhkan oleh Raffa, mengingat usianya yang belum dewasa, bimbingan dan arahan kedua orang tua yang bisa menuntunya menuju masa depan yang cerah.
29 “Mau jadi apa?, kalau ada hobi di tekuni siapa tau jadi citacita”, Tanya Mawar. “Sepakbola, tapi ayah nggak suka aku main bola”, balas Raffa sedikit sedih. “Kakak akan support kamu apapun keinginan kamu, asalkan ada tujuan yang jelas, kakak mau kamu jadi orang yang berhasil…”, belum selesai menyelesaikan kalimatnya Raffa memotong kalimat tersebut. “Apa sih kak, aku masih SMP. Nanti deh kalau udah gedean aku bakalan mikirin cita-cita apa yang harus aku gapai” berkata sambil tersenyum tulus. “Kakak tau, tapi nggak ada salahnya kakak ngomong gini ke kamu. Kalau kamu sukses siapa yang nggak bangga? Tante Linda, Om Bagus, kakek nenek, semua akan bangga ngeliat kamu dek” menatap Raffa dengan air mata yang menggenang di ujung matanya. “Kamu anak satu-satunya, kakak mau kamu belajar yang rajin, sholatnya juga, setiap hari berdoa supaya ibu kamu bahagia di surga, buktiin kamu bisa sukses dan bikin bangga ibu kamu”, memeluk Raffa dengan penuh emosional. “Aku tahu kak, terima kasih nasihatnya…”, menahan air mata, karena tidak ingin kakak sepupunya tahu jika ia sedang menangis. Meskipun mendapat jawaban yang singkat dari sang adik, namun Mawar tetap percaya kalau Raffa akan menjadi orang yang sukses. Saat ini peran keluarga sangat penting untuk pertumbuhan Raffa, termasuk Mawar kakak sepupu Raffa, sejak Raffa masih bayi Mawar sangat menyayanginya, saat pergi ke rumah neneknya dia sering membantu bu Yah untuk menjaga Raffa. Dia juga sangat terpukul saat mengetahui
30 tantenya telah tiada, meskipun dia jarang bertemu dengan Raffa tetapi Mawar selalu berusaha mendukung dan memberikan kasih sayang kepada Raffa, sosok Raffa yang cuek terkadang membuat Mawar kesal sendiri, bagaimana tidak Raffa tidak memperdulikan perhatian dan kasih sayang yang diberikan oleh kakak sepupunya tersebut. Tetapi memang itulah karakter Raffa yang sebenarnya. Mawar selalu memikirkan masa depan Raffa akan seperti apa, sebisa mungkin ia memberikan support penuh untuk mendukung cita-cita yang dipilih oleh Raffa kelak. Jika diingat kembali ibunya Raffa pernah berpesan kepada Raffa agar menjadi anak yang penurut, karena selama ini Raffa adalah sosok pembangkang jika dinasehati. Kepribadiannya ini yang biasanya membuat ayah dan ibunya geleng kepala, hal tersebut terjadi karena kebiasaannya yang tidak pernah diperhatikan oleh kedua orangtuanya sejak kecil. Pola asuh bu Yah yang selalu memanjakan Raffa juga penyebab terbentuknya kepribadian Raffa yang manja terkadang juga pembangkang. Namun untuk saat ini Raffa dan ayahnya berusaha ikhlas pada keadaan, meskipun didalam hati mereka berdua tersimpan sebuah penyesalan tetapi ini adalah takdir dari sang pencipta, menyesali keadaan hanya akan memperburuk kehidupan kedepannya. Yang bisa dilakukan sekarang yaitu berdoa semoga Allah SWT memberikan tempat yang terbaik untuk orang terkasihnya yaitu istri sekaligus ibunya Raffa. Hingga suatu pagi, Raffa bangun, kemudian melihat bingkai foto dirinya dan almarhum ibunya saat wisuda SD, ia teringat moment tersebut. Meskipun nilai yang diperoleh Raffa tidak tinggi atau bisa dibilang standar di atas rata-rata, namun
31 ibunya tetap memberikan apresiasi agar Raffa belajar lebih giat lagi, dan meningkatkan prestasi agar membanggakan orangtua. Ibu Raffa mengatakan kalimat itu dengan senyuman penuh harapan, berharap putra semata wayangnya menjadi orang yang sukses, dan berguna untuk bangsa dan negara. Untuk seluruh orangtua, sekecil apapun sebuah perhatian dan dalam kesibukan apapun sempatkanlah berbincang dan saling bertukar cerita karena itu adalah kunci keharmonisan sebuah keluarga. Perhatian-perhatiam kecil merupakan wujud kasih sayang yang bisa ditunjukkan untuk seorang anak, agar mereka tidak merasa bahwa kehadirannya tidak dilihat. Seorang anak juga harus memberikan respon yang sama, bercerita tentang aktivitas atau problem yang sedang dihadapi karena hal tersebut merupakan salah satu bentuk kepercayaan bahwa ia memiliki rumah untuk berbincang dan mengutarakan isi hati. Jangan sampai mencari pendengar lain karena rumah ternyaman adalah keluarga. TAMAT.
32 Uang Mata Reny Rizky Putri L. F Semesta memanglah sangat mengejutkan, dengan segala yang ada di dalamnya memberikan aku sedikit kisah dalam hidupku, memberiku kekuatan, dan memberiku kesadaran penuh dengan apa yang aku lakukan. Aku memang yang paling berbeda, setiap yang aku temui hanya sesaat lalu terlupakan dan tak akan pernah menjadi kenangan. Tanpa sadar aku ini sudah hancur, bukan karena apa atau mengapa. Ketika seniorku berkata bahwa aku ini baik-baik saja, namun kenyataan nya yang tidak merasakan tidak akan mengerti bagaimana kehidupanku sekarang ini. Aku memulai langkahku memasuki dompet, perlahan aku semakin masuk ke dalam dan aku mendengarkan beberapa bisikan yang bertanya-tanya mengenai diriku ini. Mendengarkan beberapa bisikan mengenai kedatanganku disini, aku merasa risih kemudian aku memperkenalkan diriku sambil menunduk. “Ah, perkenalkan aku mata uang 500 dan aku akan tinggal disini untuk sementara” Sembari ucapku.
33 “Kalau begitu kau adalah junior kami, karena kami adalah mata uang 2000” ucap salah satu dari mereka. Aku hanya tersenyum dan menunduk mendengar perkataan seperti itu, karena ini sudah menjadi hal yang biasa untuk mata uang berpindah tangan, dan itu tidak berlaku satu atau dua kali, tetapi berkali kali. Aku sudah mulai penasaran dengan tempat tinggal baruku ini, lalu aku mulai berkeliling dompet dengan mata uang 1000, karena dia adalah mata uang yang sangat ramah denganku dari awal aku masuk kedalam dompet ini. Dia memberiku informasi mengenai dompet ini, dari mulai tata letak, ruangan, hingga kapan biasanya kami akan berpisah karena berpindah tangan. Mendengar perkataannya yang terakhir membuatku teringat ketika kami akan berpisah untuk berpindah ke tangan lain, sedangkan sudah banyak sahabat, keluarga kami yang ada di dalam dompet tersebut. Pagi yang cerah memang selalu datang setiap hari, dengan bangganya matahari bersinar terik sekali. “Ah, panas sekali disini” ucapku keluar dari dompet. Di dalam dompet itu memanglah sangat luas, tapi entah mengapa rasanya sesak dan panas jika terus berada di dalamnya, kemudian aku berinisitif untuk berjalan-jalan mengelilingi tempat tinggal baruku lagi, aku terus berjalan keluar dompet berharap mendapat udara segar dan suasana yang nyaman, tapi semua itu terusik dengan datangnya uang 1000. Aku merasa tidak nyaman dengan adanya uang 1000 yang selalu mengikutiku, dia selalu bertanya tanya padaku, dan itu yang membuatku sangat kesal.
34 “Maaf jika aku tidak sopan, tapi mengapa kamu mengikutiku dari tadi?” tanyaku kepada mata uang 1000. Aku mencoba menetralkan emosiku walaupun aku sedang kesal, tapi aku harus menjaga sopan santunku, karena aku ini hanya mata uang yang baru dan nilai mata uangku sangatlah rendah di bandingkan dengannya. Dia tersenyum manis kepadaku, tapi dia tidak mengatakan apa-apa, dan itu yang membuatku menjadi lebih bingung lagi dengannya. Bahkan pertanyaan ku tidak di jawab sama sekali, dia hanya tersenyum kemudian pergi meninggalkan tempat itu. Aku mungkin bisa bersikap dingin pada siapapun tak terkecuali dia si mata uang 1000, tetapi entah mengapa hati ini menolak saat aku melihatnya tersenyum seperti itu kepadaku, rasanya aku ingin bertemu dan menanyakan lagi kepadanya. “Perasaan seperti apa ini? Apakah perasaan kasih sayang, tapi kapan dan dimana?” batinku. Pikiranku sangatlah kacau, aku ingin mengingat tapi apa yang harus ku ingat, bahkan diriku tidak memiliki kenangan apapun. Aku mulai mengondisikan perasaanku dan kulihat dia hanya bediri di depanku dengan wajah kebingungan, dia mencoba mendekat kepadaku dan mulai menggerakkan tangannya dengan membentuk isyarat-isyarat sebuah huruf. Aku yang melihatnya keheranan mengapa dia melakukan itu. “Dia kan bisa berbicara, tapi kenapa dia mengguankan isyarat-isyarat seperti itu? Kenapa tidak berbicara langsung saja” batinku. Aku yang penasaran langsung bertanya kepadanya.
35 “Kenapa kamu tidak bicara saja? dengan isyarat hanya akan membingungkan dan merepotkanmu ” ucapku padanya. Mendengar ucapanku dia tetap tersenyum dan mulai bicara dengan isyaratnya, kata demi kata ia susun agar aku dapat memahami maksudnya. Terkejutnya aku saat ia mengatakan bahwa ia bisu, aku tidak bisa diam, aku melontarkan banyak pertanyaan padanya, dengan rasa sakit yang ada di hatiku ini. Mengingat seniorku mata uang 1000 kemarin yang ramah dan perhatian, dalam beberapa menit ia berubah menjai bisu. Itu adalah sebuah teka teki baru yang muncul dalam hidupku. Rasanya sangat aneh sekali. Hari ini tepat pada tanggal biasanya mata uang akan berpindah tempat, semua pasti merasa khawatir akan nasib hidupnya. Kulihat hari ini dompet sangat lah ramai banyak mata uang yang merasa gelisah, kusapu pandanganku keseluruh sudut hingga aku melihat uang 1000 di belakang para senior. Aku mulai menghampirinya dengan susah payah aku menyibak kerumunan mata uang 2000. Aku memang anggota termuda di sini, tapi aku selalu menyakan bagimana kabar mereka semua. Ketika langkahku sudah mendekat dan aku berada di depannya, aku mengajaknya untuk keluar dari dompet ini. Tetapi dia tidak mau dan dia mulai memberiku isyarat-isyarat yang menunjukkan bahwa tidak boleh keluar dari dompet ini. Kemudian dia mulai berjalan di depanku dan mulai kuikuti langkahnya, dia masuk ke dalam dompet dan duduk bersandar di sana. Aku mulai berfikir lagi mengapa dia tdak mau berbicara sama sekali, aku diam bukannya aku tidak penasaran dengan yang terjadi padanya, tetapi aku sudah pernah bertanya, namun dia tetap saja tersenyum dan menatapku dengan wajah
36 tenangnya. Aku tak akan memaksa dia untuk bercerita, mungkin dia belum percaya padaku, dan saat waktunya sudah tepat aku ingin dia sendiri yang bercerita bukan aku yang bertanya kepadanya. Aku kaget mendengar beberapa kericuhan yang dibuat oleh para mata uang 2000, dan benar saja dua di antara mereka sudah pergi berpindah tangan. Aku hanya mampu menatap dan tak bisa berbuat apapun, karena itu semua hanya menunggu giliran saja. Inginku berubah wujud seperti manusia yang sempurna yang bisa melakukan banyak hal tanpa memikirkan perasaan dan sebab akibat dari perbuatan mereka. Dengan langkah sedikit kesal aku pergi ke tempatku, menatap setiap inci ruangku dan berharap aku dapat membuat kenangan yang dapat kuingat dan membuatku bisa merasakan rasa rindu. Karena aku memang tidak pernah merasakan rindu. Hari ini adalah pertemuan terakhirku dengan mata uang 1000, tidak di sangka dia sudah berpindah tangan lagi dan aku berpisah lagi dengan sahabat ramahku yaitu mata uang 1000. Aku merasa sangat kesepian, namun terkadang aku berpikir mengapa tidak pernah merasakan rindu, disela-sela pikiranku aku melihat secarik kertas dari uang 1000 yang di berikannya kepadaku saat sebelum aku meninggalkan dia disana dengan seniorku. Aku mulai membuka dan membacanya di ruang yang sunyi. Untuk Juniorku Hai, senang berkenalan denganmu. Aku seniormu mata uang 1000 yang mengajak kamu berkeliling dompet ini. Rasanya seperti waktu Kembali berputar dan kau tetap sama.
37 Apakah kau masih tidak merasakan rindu? Wah, sungguh hebat sekali juniorku ini, akan bertahan berapa lama lagi kau akan merasakan sebuah rindu?. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu yang sulit aku katakana jika menggunakan isyarat, bukankah kau pasti akan sulit juga untuk memahaminya. Hei mata uang 500, kenapa kau tidak bertanya saja padaku mengapa aku bisa menjadi bisu?. Ini semua karenamu, pertama kali aku bertemu denganmu rasanya senang sekali namun perasaan itu seketika hancur saat kau tidak mengenaliku, tetapi aku mencoba merasa dekat denganmu, dan tiba saatnya waktuku telah habis. Aku senang kau dapat mengetahui tempat itu, tempat terakhir kali aku berbicara denganmu. “ Kau adalah orang yang pertama kali datang ke sini”. Itu adalah tempat dimana aku menukar suaraku dengan perasanmu. Pasti saat aku tersenyum kau merasakan sesuatu bukan?. Aku bisa melihat dari kegelisahanmu, dan itu pertama kalinya kau merasakan sesuatu perasaan. Apakah kau tidak ingat, dulu kau sangat tidak berperasaan?, kau hanya melihat saja saat aku mulai berpindah tangan ke dompet lain. Sungguh saat itu aku merasa sedih, mungkin kau tidak merasakannya, tetapi aku merasa sakit hati melihat juniorku yang malang ini tidak memiliki perasaan sama sekali. Namun, sekarang aku sungguh bahagia dapat bertemu Kembali dan menolongmu. Aku berharap kau akan ingat padaku JUNIOR, hingga kau merasakan rindu padaku. Mata uang 1000 tak terlupakan “Apa kau akan tetap disini sampai tua?, cepatlah pergi kau menganggu pekerjaan ku!” bentak seniorku yang mengusirku. Aku hanya terdiam dan perlahan beranjak pergi dari tempat itu..
38 “Mengapa semesta tidak mendukung ku sama sekali?” ucapku sedikit kesal. Rasanya sedikit sakit saat aku mengingat diriku yang dulu, yang bodoh dan bukan hanya aku tetapi mata uang 1000 an yang juga bodoh. Apa yang dia lakukan bukan membuatku semakin membaik tapi semakin memburuk, rasanya kesal sekali mengingatnya dan aku merasakan sesak di dada ketika mengingat segala hal tentang mata uang 1000 dan harus terbebani dengan rasa rindu ini. Sepanjang jalan kulalui hingga aku sampai di dompet ini, dompet yang menyaksikan rinduku setiap hari. Tidak, bukan setiap hari tapi setiap saat dan setiap hembusan nafasku ini rasanya aku tidak berhak berada di sini dan membiarkan nya pergi. Aku masuk ke dalam dompet dan ada salah satu seniorku mendekatiku sambil menunjuk ke arah mata uang 200, sepertinya dia penghuni baru disini. Dan tanpa kusadari dia adalah juniorku, karena nilai mata uang nya lebih rendah dariku. Aku diam dan mulai beranjak masuk ke tempat ku. “Hei junior, lupakan semua yang sudah berlalu, dia sudah pergi dan sekarang jalani hidupmu sendiri dengan kebahagiaan!” ucap seniorku yang lain berbisik kepada ku. Aku hanya menganggukkan sebagai jawaban, bagaimana aku bisa menjalani hidup dengan kenangan yang hanya beberapa menit aku buat dengan seniorku itu selalu teringat di dalam hidup ku. Sangat ingin k utarakan betapa tersiksanya aku dengan ribuan rasa rinduku ini kepada nya. Semenjak hari itu aku tak dapat melihatnya lagi yang tersenyum kepadaku, dan dia justru meninggalkan aku dengan kenangan yang akan menuntunku pada sebuah rasa yaitu rindu.
39 “Mengapa kau menuliskan suratmu dengan kata akhir tak terlupkan” batinku kesal. Jujur disaat seperti ini aku ingin sendiri dan ingin berkeluh kesah pada takdir, tapi aku diberi tugas untuk mengajak juniorku berkeliling dompet ini. Lalu aku beranjak pergi dengan juniorku uang 200 untuk berkeliling di sekitar dompet. Saat aku berhenti di depan ruangan, dimana aku dulu mempunyai masalalu yang sulit ku utarakan bersama uang 1000. Namun, tiba-tiba juniorku bertanya kepadaku. “Senior, tempat apa itu?” tanya uang 200 kepadaku. “Itu tempat yang tidak penting, dan tidak usah kamu pergi kesana!” jawabku. Aku hanya mampu mendengar suara terakhir seniorku uang 1000 di tempat itu, dan pengorbanan itu yang menukar perasaan dengan suara. Sungguh tidak masuk akal, akan tetapi itu semua terjadi di tempat ini dan terlalu menyakitkan jika aku menganggapnya tidak penting. Karena hanya aku dan mata uang 1000 lah yang akan menganggap tempat ini penting dalam sejarah kehidupan ku. Aku Kembali masuk ke dalam dompet dan mempersilahkan juniorku pergi dulu, lalu aku memasuki ruanganku. “Rasanya sangat menyakitkan ketika aku datang kesana” ucapku dalam hati. Aku berjalan menyusuri ruanganku mencari sebuah surat yang menyadarkanku akan semua perjalanan hidupku yang singkat ini. Mengingat pertama kali aku mempunyai perasaan, mulai kehilanganmu, kegilaan dalam rinduku. Hingga aku memilih jalan untuk menghentikan rinduku saat ini juga.
40 “Aku sangat merindukanmu “ batinku. Hari ini, detik ini aku mulai bisa merasakan bagaimana perasaan rindu itu, aku mulai tersadar akan kehilangan seniorku yaitu mata uang 1000. Aku benar-benar menyesal kenapa dari awal tidak memahami perasaan seperti ini, kenapa baru sekarang aku memahaminya, setelah dia pergi kini aku baru merasakan kerinduan ini. TAMAT.
41 Kenangan Riska Tri Wijaya Di sebuah desa yang sangat indah dan masih asli terdapat sepasang kakek dan nenek mereka dikenal sebagai seseorang yang rendah hati serta ramah kepada setiap orang. Mereka memiliki seorang cucu berusia 17 tahun, mereka sangat menyayangi cucunya itu dan ia sangat mirip sekali dengan ibunya itulah alasan mengapa sang kakek sang kakak sering sekali menitihkan air mata ketika di dekat cucunya. Di pagi yang masih hangat dengan sinar matahari kakek dan cucunya itu berbincang. “Cucuku jika engkau telah menjadi orang terpandang kelak janganlah engkau melupakan dari mana asalnya tempat di mana engkau tinggal dan dibesarkan” sembari mengusap lembut kepala cucunya itu. "Manalah mungkin aku melupakan hal itu kek menghela nafas panjang, seraya mencium tangan sang kakek. “Di sinilah tempatku dilahirkan dan di sinilah aku diajarkan banyak hal tentang kehidupan”lanjutnya dengan senyum tipis meyakinkan sang kakek. Saung Bambu
42 Saat ini sudah genap 25 tahun usianya, Ujang pun berpikir bahwa ia harus bisa membahagiakan kedua orang yang ia sangat sayangi , Ujang ingin sekali melamar pekerjaan di tempat seseorang yang sangat kaya raya di desa seberang. Namun Ujang takut mengatakannya kepada kakek dan neneknya. Ketika Ujang dan kakek duduk-duduk di teras rumah tiba-tiba sang kakek mengelus pundak cucunya. “Ujang benarkah kau ingin bekerja di tempat Juragan Reso?” tanya sang kakek dengan penuh tatapan tajam dan keyakinan. “Iya kek” dengan perasaan bingung dan tampak wajah yang sedikit pucat. “Dari mana kakek tahu tentang rencanaku itu karena aku belum mengatakannya pada kakek dan juga nenek.” "Kakek mengetahui hal itu dari si Komang sahabatmu, kita kemarin sempat bertemu dan Komang mengatakan hal itu pada kakek.” Ujang pun tampak begitu terkejut dengan jawaban sang kakek, dari situlah Ujang mulai menjelaskan niatnya untuk bekerja di tempat Juragan Reso. Ujang akan mendatangi rumah juragan esok hari. Setelah perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan akhirnya sampailah ia di rumah Juragan Reso. Untungnya ia datang ke sana bersama Komang di saat Ujang merasa sangat gugup Komang berusaha menenangkannya. “Sudahlah tenang saja tarik nafas perlahan tenangkan pikiranmu aku yakin semua akan berjalan lancar” sembari menepuk pundak Ujang.
43 “Permisi selamat pagi” diketuknya pintu rumah itu ia pun tampak semakin gelisah sebab sudah tiga kali ia mengetuk pintu belum juga ada jawaban dari sang pemilik rumah. “Iya tunggu sebentar”, pintunya pun akhirnya terbuka dan perasaan khawatir dari wajah Ujang seketika menghilang. “Maafkan saya tidak segera membukakan pintu sehingga kalian berdua menunggu lama, bolehkah saya tahu kalian ini siapa dan dari mana?” “Perkenalkan, nama saya Ujang dan ini teman saya Komang. Saya adalah seorang pemuda dari kampung seberang saya ke sini termaksud ingin menemui ayah anda yaitu Juragan Reso apakah saya boleh menemuinya?” “Baiklah kalau begitu silakan masuk, akan aku panggilkan ayahku dulu ke dalam”(Mawarsih Putri sang Juragan tersenyum tipis dan mempersilahkan mereka untuk duduk. "Kalian ingin minum apa akan saya buatkan selagi menunggu ayah, tidak perlu terima kasih” sahut Ujang dengan tersenyum. “Aduh bagaimana ya Mang, aku merasa sangat gugup karena ini pertama kalinya aku menemui beliau. Bagaimana jika sikapku nanti membuat beliau tak nyaman.” “Tenang saja percaya padaku semua akan berjalan baikbaik saja”, sambil menepuk pundak Ujang, tersenyum dan memberikan dua jempol pada sahabatnya itu. Tak lama, Juragan yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga sang Juragan mengulurkan tangan bersalaman dengan mereka berdua dan mempersilahkan duduk kembali, putrinya pun datang membawa tiga cangkir teh.
44 “Ayo silahkan diminum dulu tehnya selagi masih hangat”, sambil ditempelkannya nampan itu di dada yang masih hangat itu. Mawarsih melakukan hal yang sama kepada ayahnya. Ujang dan Komang pun saling tatap-menatap mereka berdua tampak semakin gugup, mereka pun menyeruput secangkir teh yang ada di hadapan mereka untuk menghilangkan rasa gugup itu tanpa berlama-lama Ujang pun menjelaskan mengapa ia ingin berkunjung ke rumah Juragan. “Selamat pagi Juragan mohon maaf sebelumnya perkenalkan nama saya Ujang dan ini teman saya Komang saya ke sini bermaksud ingin meminta bantuan Juragan, saya adalah seorang pemuda dari desa seberang bermaksud ingin meminta pekerjaan kepada Juragan, sebab saya dengar dari pembicaraan warga desa sekitar Juragan adalah seseorang yang memiliki banyak sekali ladang dan juga toko-toko besar jika juragan berkenan bolehkah saya menjadi salah satu pekerja Juragan entah itu di ladang atau di salah satu toko yang Juragan miliki”. Juragan pun teringat bahwa ia pernah bertemu Ujang sebelumnya, saat Ujang membantu Kakeknya di sawah mulai dari membajak sawah hingga mengangkut rumput-rumput dalam jumlah besar, di situlah Juragan berpikir bahwa ia juga membutuhkan orang yang bekerja keras seperti Ujang. Juragan memiliki keyakinan besar bahwa jika ia memiliki karyawan yang pekerja keras seperti Ujang pasti usahanya akan menjadi semakin maju. Tetapi tak sampai di situ saja pemikiran Juragan itu pun harus benar-benar ia buktikan sendiri. “Baiklah Ujang namun sebelum itu bolehkah saya mau minta tolong kamu untuk besok pergi ke ladang milikku