95 nanti-nanti sekarang sudah ada di hadapannya. “AYAH!” teriak Bhita sambil berlari menuju lelaki tersebut. Dua orang yang sudah lama terpisahkan akhirnya bertemu di titik terbaik. Mereka berdua berpelukan melepas kerinduan, tanpa sadar air mata menetes di kedua pipi sepasang ayah dan anak tersebut. “Bhita kangen sama ayah, Bhita pikir ayah tidak akan pulang menemui Bhita dan nenek” ucap Bhita sembari tersesak-sesak. “Tidak mungkin ayah pergi tanpa kembali, ayah sudah janji akan pulang sebelum hari ulang tahunmu, Nak” jawab Ayah Bhita. Rindang yang melihat kejadian ini turut meneteskan air mata. Senja akhirnya datang membawa seseorang dengan kehangatan. Ketenangannya membawa kedamaian di sekitarnya. Cerita indah ini akhirnya datang, dengan beriringan sejuta kenangan. TAMAT.
96 Mustahil Terulang Desy Yantene S. “Pa,, Ma,, sudah cukup !! Apa kalian tidak ingat kalau kakak Kejora masih di dalam sana?” bentak gadis kecil berusia 8 tahun sambil menunjuk ruang operasi dan menangis tersedusedu. “Lihat pa, akibat ulah kamu yang terlalu sibuk bekerja,” ucap tegas mama gadis kecil sambil mendekapnya. “Selalu saja papa yang salah, lihat diri mama sendiri! Bukankah kamu juga terlalu sibuk dengan usaha baru kamu? Kalau begini caranya aku pergi saja,” balas papa gadis kecil dengan menggebu-gebu. Dari percakapan kedua orang tua nya, gadis kecil itu semakin merasa keluarganya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Melihat langkah kaki papanya pergi meninggalkan dirinya, mama, serta kakaknya. “Kakak cepat keluar dari dalam sana dan sembuh ya? Aku tidak sanggup jika harus sendirian,” ucap gadis kecil itu dalam hati. Seorang perempuan bernama Saniya duduk melamun sambil menyeruput kopi yang telah dibelinya dari cafe sebrang.
97 Ia tersadar dari lamunannya akan masa lalu karena tak disangka ia melihat sosok laki-laki yang di masa lalu menjadi sosok pelindung serta pelipur lara bagi dirinya dan kakak perempuannya. Namanya ialah Aditnya, dia sedang berjalan dengan seorang perempuan yang bisa dikatakan calon istri nya. Walaupun telah lama tidak berhubungan, namun Saniya masih mengingat wajah yang membuat ia dan kakaknya tersenyum. Tak ingin berlarut-larut dalam masa lalu, Saniya pun beranjak dari tempat duduknya, memasukkan buku hariannya ke dalam tas dan kembali ke rumah sakit tempat dia menekuni profesinya. Rumah Sakit Sejahtera menjadi tempat selama setahun Saniya berprofesi sebagai perawat. Ya, dia menyandang gelar perawat bersertifikat diumur muda karena kemampuan otaknya yang sangat genius. Dari kecil Saniya memang sangat rajin belajar dan ia mempunyai ingatan yang bagus. “Sus, Sus, bisa kan jaga shift malam ini sendirian?” tanya Perawat Ira dengan tergesa-gesa. “Memangnya ada apa? Kok kamu terlihat khawatir begini,” jawab Saniya santai. “Anjingku tiba-tiba merasa diare jadi aku harus membawanya ke dokter hewan, karena di rumah hanya ada adikku jadi aku juga harus menjaganya,, ya kan,, ya kan?” jelas Perawat Ira dengan memohon. “Yasudah tidak apa-apa, pulang saja, lagian juga tidak ada pasien yang perlu pemantauan intens,” ujar Saniya. “Kamu juga tenang saja karena aku memanggil bala bantuan kok,” ucap Perawat ira.
98 “Oke..oke terserah kamu saja,” balas Saniya sembari mengenakan jas perawatnya. Suara telepon di meja perawat berbunyi. “Suster, tolong infus pasien nomor 3 di kamar pelangi sudah habis,” ujar si penelepon. “Baik bu, ditunggu ya,” jawab Saniya lembut. Saniya beranjak berdiri membawa infus baru dan suntikan. “Permisi pak, saya ganti infusnya dulu,” ujar Saniya pada pasien. Tiba-tiba terdengar jeritan suara dari brankar pasien sebelah. “Suster, tolong ayah saya, dia kesulitan bernapas,” ucap wanita itu dengan panik. “Iya saya bantu, tolong tenang dulu, jelaskan penyakit yang diderita pasien sekarang apa?” jawab Saniya dengan tenang alaupun dalam hatinya ia juga takut. “Ayah saya punya riwayat penyakit asma, jantung, dan sekarang hipertensi,” ujar wanita itu yang mulai tenang. Pasien dan keluarga pasien lainnya mulai tenang kembali setelah melihat Saniya tidak panik. Menutup mata sejenak sambil menarik napas, Saniya mulai memasang stetoskop nya untuk mengecek kondisi jantung pasien. “Mbak, ada inhaler?” tanya Saniya kepada anak pasien. “Ada sus, di dalam loker samping,” jawab wanita itu. Dengan cepat diambilnya inhaler dan membantu pasien menghirupnya. Namun, pasien tiba-tiba hilang kesadaran.
99 “Lohh.. suster bapak saya kenapa? Pak, bapak,,” wanita itu panik lagi setelah melihat kondisi bapaknya. Digunakannya lagi stetoskop namun yang didengarnya membuat seluruh tubuhnya ketakutan. Pasalnya, kondisi jantung pasien ini tidak stabil, dengan kata lain, ritme detak jantungnya tidak normal. Segera Saniya menelepon ruang ICU untuk menyiapkan 1 brankar beserta alat EKG. “Mbak, maaf kondisi bapaknya perlu pemantauan lebih intens di ICU karena detak jantung tidak stabil, untuk penjelasan lebih rinci lagi ditunggu saja dokter spesialisnya,” jelas Saniya. “Hmm.. baiklah, terimakasih suster,” balas wanita itu. Setelah memastikan beberapa perawat laki-laki datang untuk membawa pergi pasien itu ke ICU, Saniya kembali ke meja perawat. Kemudia ia menata beberapa berkas milik pasien dan duduk termenung dengan meletakkan kepalanya bersandar pada meja perawat. Terlihat dari luar rumah mewah, sebuah keluarga yang hangat dan sangat bahagia karena penuh dengan suara keributan. Walau mereka tidak sadar jika kehangatan itu perlahan pudar. Sania dan Kejora mulai ribut dengan persiapan untuk berangkat ke sekolah lagi. Terutama Saniya yang paling ramai karena beberapa atribut sekolahnya tidak terlihat bekasnya. Ia berteriak untuk meminta asisten rumah tangganya mencari atribut. Namun, suara teriakan yang dihasilkan olehnya hampir membuat seluruh kompleks mendengarnya.
100 Kakak beradik itu berada disatu sekolah namun Saniya berada di kelas 3 dan Kejora ada di kelas 4. Setelah Saniya mengantar Kejora ke kelasnya dengan kursi roda yang selalu melekat pada Kejora. Siswa baru di kelas 4 tiba-tiba mengajak Kejora berkenalan. “Hai, aku Aditya. Senang berkenalan denganmu,” ucap Aditya. “Aku Kejora, senang juga berkenalan denganu,” balas Kejora. Disitulah kisah mereka bermula yang didalamnya pasti ada seorang Saniya. Mereka mulai bermain hingga belajar bersama. Mulai dari ke kantin, ke perpustakaan, bahkan jika Kejora perlu ke UKS, mereka berdua juga ikut bolos ke UKS. Bahkan saat di komplek perumahan, mereka juga bermain dan belajar bersama karena ternyata rumah Aditya ada di depan rumah Saniya dan Kejora. Hari demi hari, hubungan mereka bertiga semakin dekat layaknya saudara kandung. Terkhusus untuk Kejora dan Saniya, mereka seolah lupa jika orangtua nya tidak kembali bersama. Diulang tahun Saniya yang ke-15 bukan kado berisi hadiah mewah namun sebuah undangan pernikahan yang didalamnya tertulis nama mamanya. Bagai sudah jatuh tertimpa tangga pula. Seperti itulah peribahasa yang bisa menggambarkan keadan Saniya saat ini. Sudah papa dan mamanya tidak ada saat hari ulang tahunnya malah datang sebuah kotak berisi undangan pernikahan. Begitupun dengan Kejora rasanya seperti tersambar petir di siang bolong setelah mendengar kabar itu.
101 “Kakak, kenapa mereka tidak mau kembali bersama saja, aku tidak ingin kita terpisah,” ucap Saniya dengan sesenggukan. “Mungkin papa dan mama mempunyai alasan sendiri kenapa tidak bisa kembali bersama, yang harus kita pikirkan sekarang, mencari cara agar kita hidup mandiri tanpa mengusik papa dan mama lagi, kamu juga yang pintar supaya nanti jika kakak pergi duluan, kamu bisa hidup bercukupan,” jelas Kejora dengan hati-hati. “Maksud kakak pergi duluan apa? Pokoknya, kita harus selalu bersama, tidak ada yang pergi-pergi,” balas Saniya. Kejora memiliki firasat bahwa ia tidak akan hidup lebih lama lagi. Bahkan, nanti Kejora berniat berbicara dengan Aditya mengenai surat wasiat untuk Saniya. “Selamat pagi, bidadari-bidadari cantik, karena hari ini libur makanya aku kesini untuk mengajak kalian bermain ke mall,” tawar Aditya. Di mall, mereka mulai bersenang-senang. Mulai dari bermain hingga berfoto di photo box dan membeli peralatan sekolah untuk Saniya karena sebentar lagi akan mengikuti olipiade matematika. Aditya senantiasa mendorong kursi roda yang duduki Kejora. Kemanapun Kejora dan Saniya ingin pergi, selalu Aditya wujudkan. Disaat Kejora dan Aditya hanya berdua karena Saniya pergi ke toilet. Aditya berkata, “Setelah kita lulus nanti, ayo kita menikah agar aku selalu ada untuk kalian berdua, kamu juga tau dari lama kan perasaanku ke kamu yang tulus, aku tidak peduli pendapat orang lain tentang kita, yang aku butuhkan sekarang
102 selalu ada di samping kamu. Dan jadwal operasi kamu lusa kan? Aku bakal temenin kamu,” ucap Aditya. Aditya tidak pernah memberi kesempatan Kejora untuk berbicara. Karena Aditya mengenal Kejora termasuk tipikal orang yang tidak ingin merepotkan orang lain. bahkan Aditya pernah memergoki Kejora memasak sendiri untuk dirinya dan Saniya, di kala asisten rumah tangganya libur satu hari. “Terimakasih Dit, terimakasih tentang semua yang telah kamu berikan ke aku dan adikku, namun jangan berjanji untuk selalu ada untukku, dan aku bisa pergi sendiri dengan supir, jangan katakan ke Saniya jika aku ada operasi hari itu,” balas Kejora. “Jika aku pergi duluan, jangan sedih yang berlarut-larut, jangan menyalahkan diri sendiri, dan aku mohon temani Saniya hanya untuk sesaat,” ucap Kejora lagi. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Aditya pergi meninggalkan Kejora disaat Saniya belum kembali dari toilet. Kejora yang melihat raut wajah kecewa dan marah yang terpancar diwajah Aditya, ia mulai menitikkan air mata. Ia merasa saat ini perasaannya berada diambang tidak kejelasan. Ia ingin menjawab pernyataan Aditya bahwa ia juga ingin menikah dengannya namun semua itu cukup dihati Kejora saja. Kejora tidak ingin membuat masa depan Aditya hancur karena wanita penyakitan seperti dirinya. Melihat Saniya perlahan mendekat kearahnya, Kejora menghapus air matanya karena tidak ingin Saniya mengetahui ada masalah diantara dirinya dan Aditya. Sebelum Saniya bertanya yang aneh-aneh, segera Kejora mengajaknya pulang dengan dalih Aditya sedang ada urusan mendadak. Mau tidak
103 mau Saniya menuruti perkataan Kejora dan memesan taksi online. Sesampainya mereka di rumah, Kejora langsung masuk ke kamarnya. Setelah itu, Saniya pergi ke kamarnya dan mulai belajar untuk ajang olimpiade besok. Namun, saat mengganti pakaian, ia merasa firasatnya tidak enak sejak melihat kakaknya sendirian tanpa sosok Aditya. Daripada rasa penasaran ini menghantuinya, Saniya beranjak keluar dari kamarnya menuju kamar kakaknya. Diketuklah beberapa kali kamar kakaknya itu, namun tidak ada sahutan apapun dari dalam kamar. Rasa penasaran itu berubah menjadi rasa ketakutan, takut akan terjadi sesuatu dengan kakaknya. Tak ingin berlarut-larut dengan rasa takutnya, ia mulai menarik gagang pintu kamar kakaknya sambil terus memanggil nama Kejora. “Kak,, kakak,, aku masuk ya..” ucap Saniya namun tidak ada suara yang menyahut. “Kakaakk,, bangun kak, apa yang terjadi pada kamu, Kak Aditya, iya ku harus memanggilnya,,” ucap Saniya dengan berlari sekencang angin untuk memanggil Aditya. Namun ia kembali ke dalam rumah dengan kekecewaan di dalam hati karena Aditya sudah pergi ke Surabaya rumah pamannya. Saniya ingat bahwa Kejora tadi pingsan di dalam kamar dan segera ia menelfon ambulance dan dokter yang menangani Kejora. Sambil menunggu ambulance datang, Saniya menyiapkan beberapa barang yang harus dibawanya ke rumah sakit. Tak perlu lama, ambulance datang dan membawa kakak dengan brankar sambil mengecek detak jantung Kejora. Sebelum Saniya masuk ke ambulance, ia kembali menegok ke arah rumah Aditya dan berharap Aditya sudah ada di depan
104 rumah dengan perasaan cemas. Namun itu semua hanya imajinasi Saniya, kemudian dalam hati Saniya berkata, “Kak Aditya, Kak Kejora sakit lagi bahkan kali ini sampai pingsan di lantai, kalau kakak mendengar kabar ini, segera temui kami terutama Kak Kejora,” ucap Saniya sambil menghela nafas panjang, “Aku tidak tau ada masalah apa diantara kalian berdua tapi aku minta temui Kak Kejora sekali saja sebelum Kak Aditya benar-benar akan pergi,” ucap Saniya lagi. Dokter Melati yang biasa menangani Kejora sudah siap di ruang ICU. Setelah Kejora dibawa kedalam, Saniya hanya bisa memanjatkan doa sebanyak-banyaknya. Ia juga berharap kedua orangtuanya hadir melihat anak sulungnya sedang berjuang antara hidup dan mati untuk kesekian kalinya. Tak berselang lama, sebuah brankar keluar dari ruang ICU yang ternyata itu adalah Kejora. Segera Saniya mendekatinya dan ia sangat bersyukur bahwa Kejora sudah kembali sadar, namun Dokter Melati menyarankan untuk Kejora dirawat inap selama lebih 2 minggu. Ada suatu rahasia antara Dokter Melati dan Kejora yang tidak diketahui Saniya. Karena prediksi dokter kali ini, operasi Kejora memiliki peluang berhasil hanya 10%. Alasan Kejora menyembunyikan rahasia itu dari Saniya agar tidak mengganggu ajang olimpiade yang akan diikutinya. Kejora menandatangani surat operasinya sendiri tanpa sepengetahuan Saniya dan sekalian membuat surat wasiat untuk Saniya. Karena Kejora merasa hidupnya sudah diujung tanduk. Setelah Saniya kembali dari apotek rumah sakit, dia melihat Kejora seperti mengetik sesuatu dihandphonenya. Namun
105 Kejora buru-buru menutup handphonenya itu dan segera meminum obat yang dibawa Saniya. “San, kamu sekarang sudah besar, sudah mengerti bagaimana keadaan disekitar kamu, jadi sekarang kakak minta kamu jaga baik-baik diri kamu dan fokus saja keajang olimpiade kamu besok,” jelas Kejora setelah memikirkan perkataannya sebelum itu. “Dari kemarin perkataan kakak melantur kemana-mana, tapi aku tidak tau sesuatu apa yang kakak sembunyikan, jadi apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkan kakak, aku izin pulang sebentar mau ambil buku untuk belajar,” balas Saniya tak mau kalah. “Pulanglah dan belajar saja di rumah, tidak usah kembali kesini, aku tadi sudah menelepon Bi Karni untuk menemaniku disini,” balas Kejora. Saniya pun menuruti perkataan Kejora untuk pulang dan belajar di rumah saja. Ia tidak khawatir meninggalkan Kejora di rumah sakit karena ia tau kalau Kejora sudah siuman dan mendapat suntikan infus pasti keadaannya akan kembali membaik dalam beberapa malam saja. Lagipula dirinya besok harus menghadapi hari yang sulit. Hari ini, hari dimana Kejora sedang berjuang untuk hidup dan Saniya berjuang untuk masa depan. Mereka tidak sadar jika sedang berada dilingkaran hitam takdir yaitu perpisahan. Aditya yang saat ini ada di Surabaya pun bergegas kembali ke Semarang setelah mendapat kabar bahwa Kejora pingsan dan dilarikan ke rumah sakit. Saniya pun tidak kembali ke rumah sakit untuk menengok Kejora karena takut nanti akan
106 terlambat jadi ia hanya melakukan panggilan video dan meminta doa Kejora agar olimpiadenya lancar. Ruang operasi disibukkan jadwal operasi cangkok jantung milik Kejora. Kejora sudah dibius dan dipasangkan beberapa alat pendeteksi yang terhubung ke mesin EKG. Disamping itu Aditya sudah berlari kencang dari depan lobi rumah sakit menuju ruang operasi. Sesampainya disana, Aditya langsung disambut oleh keluarnya dokter dari ruang operasi. Dokter mengatakan operasi cangkok jantung Kejora telah selesai dilakukan tetapi dokter tidak dapat memprediksi kapan Kejora akan siuman dan membaik. Aditya berusaha menghubungi Saniya tetapi nihil, tidak ada jawaban sama sekali. Kejora masih tetap berada di ruang ICU yang tidak boleh seorangpun penjaga selain dokter dan suster yang masuk. Selang beberapa menit pasca operasi, keadaan Kejora memburuk. Ruang ICU dihebohkan dengan suara mesin EKG yang menunjukkan detak jantung Kejora kian melambat. Dan...Tiit.. tiit.. suara mesin EKG menunjukkan sebuah usaha dokter yang sudah maksimal untuk menyelamatkan Kejora tetapi tidak mampu membuat Kejora kembali sadar. Namun, Kejora terlalu jauh meninggalkan setap memori di dalam benknya. Kejora pergi tanpa sempat berpamitan dengan Saniya, tanpa berpelukan dengan Saniya, tanpa mengucapkan terimakasih kepada Aditya. Dokter pun keluar dan memberitahu Aditya bahwa Kejora sudah tiada. Seketika dunianya hancur, masa depan yang Aditya impikan sudah tidak ada lagi, rasanya ia sia-sia saja berjuang tetapi Kejora sudah pergi. Tanpa berlama-lama Aditya meminta pihak rumah sakit untuk membawa jenazah Kejora pulang untuk dimakamkan.
107 Aditya juga masih sibuk menghubungi Saniya namun semua pesan dan panggilannya tidak ada yang merespon. Saniya pun sudah sampai rumah setelah menang juara 1 olimpiade. Ia berharap Kejora akan melihat perjuangannya dan tersenyum bahagia. Namun bukan Saniya yang memberi kejutan tetapi Kejora memberi kejutan kepada Saniya dengan menggantungnya bendera kuning di pagar rumah. Tanpa sadar Saniya berlari kedalam rumah seperti orang kehilangan separuh jiwanya. Saniya berdiri seperti tidak bernyawa melihat Kejora tidur terbujur kaku. Saniya terduduk di sebelah jenazah Kejora dengan air mata mengalir deras tanpa sela. Ia menyesal tidak ada disamping Kejora saat ia berjuang dari kematian. Saniya terus menangis dan menangis. Hingga suatu suara menyadarkan Saniya dari keterkejutan itu. “Saniya, hei, San,,” suara lembut menyapa telinga Saniya. “Hei, Saniya bangun, jangan tidur disini,” sapa perempuan berambut pirang. “Hah, iya ternyata aku tertidur,” balas Saniya. Ternyata aku tadi hanya bermimpi, “Kak Kejora, aku baikbaik saja, aku sudah menjadi perawat, aku makan teratur dan aku juga sudah tinggal sendiri. Aku sudah pergi dari rumah mama dan ayah karen aku ingin hidup mandiri seperti kata mu. Kak, tunggu aku ya,” ucap Saniya dalam hati. I Miss You, Kak Kejora TAMAT.
108 Waktu Tanpa Henti Dicki Rahmawan Setelah menunaikan ibadah sholat ashar aku duduk di serambi masjid sembari melihat kendaraan melintas yang begitu ramai.entah kenapa diriku teringat masa dimana diriku masuk di sebuah pesantren dan berpindah-pindah pesantren. Pada waktu itu, dengan perdebatan antara ibu dan ayah yang begitu rumit diriku di masukan di pesantren sunan drajat.masuk di pesantren adalah keinginanku sendiri hati ini sangat sedih ketika ibu dan ayah menigggalkan ku di pesantren,tangisan ini tak terhenti sampai diriku berlali menju gerbang untuk melihat kedua orang tuaku pergi, diriku yang masih merasa sedih hanya bisa terdiam di pojokan kamar dan menunduk sedih. Ejekan-ejekan teman terdengar di telinga ini,menambah rasa sedih yang amat besar, tangisan yang mulai menghilang dan merasa nyaman hidup di pesantren. dengan dawuh sang kyai yang begitu menyentuh.
109 “Sapanewong seng gelem nguripi pondok bakal selamet dunyo akherate”. Barang siapa yang meramaikan pondok atau membantu pondok selamat dunia dan akheratnya. Suara bell asrama terdengar keras di setiap asrama pondok pesantren, asrama adalah tempat para santri beristirahat. Dan diriku masih terlelap tidur di bantal yang terbuat dari pakaian kotor yang di kumpulkan dan di bungkus dengan sarung. Tiba-tiba semprotan air mengenai wajahku,aku pun terbangun,berbeda dengan teman ku gemuk tidur dipojokan kamar.sampai basah kuyub dia tak kunjung bangun. “Ayo-ayo bangun shubuh ‘’ucap pengurus asrama. Aku bergegas mengganti baju. tak lupa untuk membawa kitap pengajian setelah sholat shubuh.ribuan santri yang berada di masing-masing asrama berbondong-bondong menuju masjid untuk melaksanakan ibadah sholat shubuh diriku yang menahan rasa ngantuk masih mendengarkan kajian yang disampaikan oleh ustad. Pengajian pagi telah usai.aku bersiap-siap untuk mandi,kamar mandi yang ada di pesantren sangatlah berbeda dengan kamar mandi yang ada di rumah .sedangkan kamar mandi di pesantrenku dulu hanya ada kola yang besar dan dua kamar mandi. Dengan mengenakan baju sekolah aku bergegas menuju kos makan,sebuah tempat semua para santri
110 mengambil jatah makan.aku yang pada waktu itu,masih kecil dan kerempeng terjepit di antrian yang sangat panjang.untung saja dengan tumbuhku yang kecil ini bisa menyerobot di panjangnya antrian dengan bahagianya aku mendapatkan lauk ayam goreng. Selesai makan aku berangkat menuju sekolah dengan jalan kaki bersama kawan-kawan yang konyol dan sok ganteng, dengan saling bercanda kita menuju ke sekoah. Seperti biasa sebelum masuk ke ruang kelas. Seluruh siswa-siswi melaksanakan kegiatan apel pagi di lapangan sekolah, kegiatan ini dilaksanakan runtin setiap hari. Keunikan bermunculan di saat apel pagi, namanya juga santri. Ada yang menggunakan seragam tapi celana yang berbeda, seragam yang kusut, tapi tidak semuanya seperti itu adapula yang rapih dan bersih. Seperti aku hehehehe. Hari selasa kegiatan diniyah diliburkan. Tetapi ada kegiatan ekstrakulikuler. Kegiatan yang mengasah bakat dan minat para santri. Banyak sekali ektra yang ada . Mulai dari pencak silat, qiorah lukis dll. Salah satu pesantren yang meiliki ekstra barongsai kesenian budaya cina itu pesntrenku dulu yang tempati sangatlah unik bukan. Dan pada waktu itu aku aktif mengikutinya. Kegiatan ekstra yang melelahkan membuat diriku terlambat berangkat menuju masjid untuk melaksanakan ngaji bersama. Sehingga pada waktu itu aku dihukum mengelilingi kolam sepuluh kali.semua santri dengan khusu’ membacakan surat yasin sebelum menjelang
111 sholat magrib. Seperti biasa setelah sholat magrib seluruh santri belajar mengaji sesuai dengan hasil test awal yang sudah di lewati. Pada waktu itu aku masuk ke jilid satu pembelajaran al qur’an yang paling dasar. Sehabis sholat isya’ kegiatan pengajian kitap dan takror di laksanakan di masing-masing kamar yang dipimpin oleh pengurus disetiap malamnya berbagai kegiatan yang berbeda menyelimuti di setiap malamnya. Kegiatan takror di kamarku adalah kegiatan yang paling menegangkan diantara sekian banyak kegiatan,karena diriku dituntut untu menghafalkan nadhom di salah satu kitap, tidak hanya diriku saja yang menggangap kegiatan takror ini menegangkan tetapi sebagian teman ku juga, dan hampir semuanya. Ada salah satu temanku yang tidak hafal dan dengan berat hati dia di hukum untung saja diriku sudah menyempatkat hafalan di sela waktu kegiatan yang lain, sehingga pada saat kegiatan takror aku bisa menghafal dengan lancar. Waktu tidur seoarang santri diantara jam 11-12 dan semua diwajibkan untuk tidur pada jam itu.tapi tidak untuk ku. Dalam waktu istirahat ini aku gunakan untuk belajar sendiri di depan lemari dan membaca buku. Sudah satu tahun aku belajar di pesantren tetapi masih saja ada rasa rindu dan tangisan yang kualami untung saja di setiap dua minggu tepatnya di hari jum’at santri di perbolehkan untuk keluar pesantren. Di hari jum’at seperti hari kebahagian bagi para santri termasuk diriku yang berkeinginan untuk membeli roti pukis di pasar wage, dengan teman-teman sekamar aku menuju pasar wage, waktu yang diberikan kebada kami oleh
112 penjaga pesantren yang besar dan tinggi itu. Dengan waktu satu jam setengah saja. Salah satu temanku yang pemberani memperotes karena waktu yang diberikan hanyalah cukup untuk berangkat saja. Namun sayang tidak ada toleransi dari penjaga itu, sehingga aku dan teman-teman ku terpaksa berlarian menuju pasar wage. Dengan tergopoh-gopoh teman-teman ku mulai membeli barang kebutuhan mereka sebelum waktu yang diberikan tadi habis, berbeda dengan diriku yang masih saja mencari dimana letak orang berjualan roti pukis, kesana kemari dari ujung pasar sampai tengah pasar sudah ku cari tetapi tudak ada penjual roti pukis, lantas aku bertanya kepada temanku. Ternyata penjual itu berada di belakang pasar, akupun bergegas kesana dan membelinya. Antrian yang sangat panjang membuat diriku khawatir akan waktu yang semakin sedikit. Karenan antrian yang sangat panjang dan teman-teman ku sudah menungguku terlalu lama aku memutuskan untuk kembali dan tidak jadi membelinya, dengan berlarian aku dan teman-temanku bergegas kembali menuju pesantren namun sayang waktu yang diberikan lebih dari lima menit sehingga kami semua di hukum oleh penjaga yang besar dan tinggi itu, hukuman yang diberikan sangatlah berat yakni membersikan sekeliling asrama menggunakan tangan saja, tidak boleh menggunakan sapu atau sejenisnya. Dimasa kelas satu mungkin diriku masih beradaptasi karena masih baru pertama kali jauh dari orang tua dan keluarga. Pada waktu itu aku bersama dua teman ku dari sekolah dasar yang sama meilih melanjutkan di sebuah pesantren, selama dua tahun kita bertiga selalu bersama
113 namun disaat ada seleksi asrama bahasa kita mulai terpisah dan mulai jarang ketemu. Disaat liburan ramdhan ada sebuah kejadian yang membuatku putus asa, baru saja aku pulang ke rumah dan disaat sore hari aku bersama kakak dan adik jalan-jalan sore menggunakan sepeda motor. Kebahagian yang semula bahagia menjadi sedih dan khawatir karena kita mengalami kecelakaan yang mengakibatkan kaki kiriku berdarah dan sampai di operasi untung saja pada waktu itu ada warga yang menolong dengan cepat sehingga aku langsung di bawa ke rumah sakit terdekat, untung saja yang mengalami luka-luka hanya aku seorang adik dan kakak ku Alhamdulillah baik-baik saja. Liburan pesantren telah lama berlalu, tetapi aku masih terbaring di kamar karena kondisi kakiku yang belum membaik. Kedua orang tua yang selalu merawat ku membuat diriku inginsaja cepat sembuh dan kembali ke pesantren. Tetapi, semua itu semua mungkin tidak lagi terjadi karena ayahku memutuskan untuk memindahkanku di sekolah yang ada di desaku. Aku sangat sedih sekali mendengar hal itu. Tetapi aku masih optimis untuk melanjutkan di pesantren yang ku pilih. Dengan kesabaran dan keikhlasan dan do’a orang tua semua itu berlalu dengan sangat cepat dan kondisi kaki ku sudah bisa dibuat untuk berjalan. Setelah sembuh dari derita yang ku alami, aku memutuskan untuk kembali lagi di pesantren,sesampai diriku di pesantren. ternyata teman sekamarku mengira aku sudah tidak lagi kembali, pada waktu diamana aku harus berpisah dengan orang tuaku. aku merasa baik-
114 baik saja. Tetapi ketika sudah tiga hari berlalu, aku merasakan rasa rindu yang luar bisa sehingga air mata sudah tidak bisa ditahan lagi, yang bisa kulakukan hanyalah menenenangkan diri dengan membaca alqur’an di masjid dan mendo’akan kedua orang tua. Pada waktu sekolah aku merasakan kondisi yang berbeda karena lama tak bertemu dengan teman-teman sekelas dan yang mengagetkan lagi namaku dalam daftar siswa sudah tidak ada lagi karena sudah terlalu lama aku tidak kembali di pesantren. Dengan tekad yang kuat aku mengurus semua data-data ku secara mandiri.disamping itu semua teman sudah merasa nyaman di pesantren. Berbeda dengan diriku yang terlalu lama di rumah. Sehingga aku merasa menjadi orang yang paling diam dikelas dan tidak tau apa-apa. Seringkali aku di ganggu oleh temanku yang tak tau aturan, aku hanya bisa terdiam dan tidak melawan.bisa dikatakan pada waktu itu diriku adalah orang yang paling pendiam dan tidak percaya diri. Semua itu berubah ketika aku mengikuti seleksi asrama bahasa inggris. banyak sekali para santri yang mendaftar, aku dan kedua temanku ikut daftar dan mengikuti seleksi bersama namun sayang hanya diriku seorang yang lolos seleksi di asrama inilah kita bertiga mulai berpisah dan jarang ketemu.disana aku di gembleng untuk percaya diri dan menjadi orang yang bertanggung jawab.aku teringat akan pesan yang di ucap kan oleh seorang guru pada saat kegiatan di asrama.dengan menggunakan bahasa inggris. ”Don’t think to be the best but think to do the best”.
115 Jangan ingin menjadi yang terbaik tapi berfikirlah untuk menjadi yang terbaik.di asrama bahasa ini aku benar-benar ingin merubah semua kehidupanku mulai dari gaya berbicara, berpakaian, mengatur jadwal kegiatan. semua ilmu kudapatkan di asrama ini. Kegiatan di setiap malam selasa dan jum’at yang paling menarik di asrama ini karena pada malam itu, kegiatan yang membuat karakter setiap santri terbentuk, mulai dari pentas seni, presentasi menggunakan bahasa inggris, lomba-lomba.dan masih banyak lagi.kegiatan yang setiap minggunya rutin dilaksanakan, keistiqomahan dalam belajar adalah hal yang paling aku rindukan. Tiga tahun sudah aku menjalani hidup di sebuah pesantren di daerah pesisir kecamatan Paciran. Ujian pesantren telah berlalu dan Alhamdulillah diriku lulus madrasah diniyah, madrasahtul qur’an dan bahasa inggris. Sungguh pencapaian yang luarbiasa selama tiga tahun, teman ku juga lulus tetapi pada waktu itu kita hanya berdua saja. Karena temanku yang bernama abdul memutuskan untuk tidak melanjutkan. Padahal tinggal satu tahun lagi kita lulus, sungguh di sayangkan dia lebih memilih untuk pindah dan melanjutkan di rumah. Kedua temanku sudah tidak berada dalam satu pesantren lagi, karena temanku lebih memilih melanjutkan sekolah dirumah. Entah kenyamanan apa yang membuat diriku masih ingin melanjutkan di pesantren ini. Di asrama bahasa ini mulai ada hal baru yang kudapatkan. Pembelajaran yang menyenangkan dan metode penghafalan yang berbeda membuat diriku
116 bersemangat belajar berbahasa. Di asrama ini semua santri di tuntut untuk menggunakan bahasa inggris 24 jam. Hal itu membuat para santri yang berada di asrama ini bisa menguasai bahasa inggris. Jenjang yang sudah berbeda dari tiga tahun lalu. Membuat kegiatan di pesntren pun juga semakin bertambah dan padat mulai dari kegiatan menghafal al qur’an disetiap malamnya. Pengajian kitab di setiap pagi dan sore hari. Membangunkan adek tingkat ketika waktu shubuh. Tak terasa sudah hampir menjelang fajar aku duduk di serambi masjid. Entah kenapa rasa rindu ini terus ada didalam hati ini. Sejenak ku termenenung akan perjuanganku hidup di sebuah pesantren. Entah bagaimana kabar dari teman-teman sekamarku dulu, menemukan teman-teman berbeda daerah dengan bahasa yang unik dari masing-masing daerah. TAMAT.
117 Ceritanya Mochammad Fairus Abadi Mentari mulai menampakkan diri, kicau burung perlahan menghilang seiring mengeringnya embun. Terpampang suasana barak yang tenang dan sejuk. Tempat tinggal seorang pemimpi. Hidup rukun berdampingan dengan semangat yang bergelora. Arya Saputra, putra tunggal pasangan seorang pendidik. Selalu bermimpi akan ketenangan di masa tuanya. Memiliki cita-cita untuk mengangkat derajat kedua orang tua, namun terbengkalai karena masa remaja. Tepat tanggal 2 Mei, peringatan hari pendidikan nasional. Arya akan mendatangi undangan dari sekolah menengah keatas, yang dimana sekolah tersebut adalah tempat dia dulu di didik dan dibina. Menggenakan seragam kebanggaannya lalu berangkat bersama satu rekannya. Kedatangannya, langsung disambut ramah oleh guru-guru sekolah tersebut. Banyak yang masih mengingat dan terkejut setelah melihat Arya yang sekarang. Terlihat tidak mungkin namun kenyaataan berkehendak lain. Sesaat setelah bertemu dengan para guru, Arya dan rekannya diajak berjumpa dengan semua siswa yang sudah
118 berkumpul dalam satu ruangan. Banyak yang tertawa, bergurau dengan temannya, dan ada pula yang menyapa. Membuatnya teringat akan masa lalu yang keruh saat berada di sekolah ini. Dan ceritanya dimulai. Menghempaskan kaki di lantai ruangan yang penuh dengan kisah buram, dan kini kembali dengan pemikiran dan fisik yang berbeda. Arya menyapa seluruh siswa yang hadir disana. Kemudian melontarkan satu pertanyaan yang membuat semua siswa tertegun dan binggung. Pertanyaan yang simpel namun tiada yang berani menjawab terkecuali pada seorang siswa yang sangat pemberani ini. Penuh dengan percaya diri dan canda tawa diraut wajahnya, namun salah dengan jawabannya. “Hari ini adalah hari yang sangat bermakna, adakah dari kalian yang tau hari ini hari apa?” tanya Arya dengan tersenyum ramah. “Saya tau pak, hari ini adalah hari senin” jawab salah seorang siswa dengan tegas dan lantang sembari mengangkat tangan. Seketika karena jawaban yang terucap dari seorang siswa tersebut menciptakan keramaian yang membuat orang satu ruangan tertawa. Disisi lain, Arya justru teringat kembali masa dimana masih memakai seragam yang sama dan mengajukan jawaban yang persis pada waktu itu terjadi. Dia memanggil siswa tersebut untuk maju kedepan. Menyuruhnya untuk berdiri dan memperkenalkan diri kepada seluruh siswa yang ada di dalam ruangan tersebut.
119 Dengan penuh percaya diri, siswa itu langsung maju ketika disuruh untuk memperkenalkan diri kepada teman-temannya. Tanpa berbasa-basi dengan jelas dan tegas dia menunjukkan identitas diri. Namun semua temannya mengganggap itu hanyalah sebuah lelucon belaka juga menertawakannya. Dicacimaki, diolok-olok, ditertawakan, walupun diperlakukan semacam itu, siswa ini masih senyum dengan ramah. Arya lantas menatap siswa itu, yang mencerminkan posisinya dulu pada masanya. “Hei, kita semua diajarkan untuk tidak mengolok-olok orang lain, kalian sudah besar, kalian juga belum tentu lebih baik dari dia, semua orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jadi sesama teman harusnya saling menyemangati. Dia benar, sekarang memang hari senin, tidak ada yang menyalahkan, dari sekian ratus siswa disini, cuman satu teman kalian yang berani menjawab. Cuman dia yang saya acungi jempol” ucap Arya. “Tanggal 2 Mei, tepat di hari senin ini adalah peringatan hari pendidikan nasional. Ada yang tidak tahu?” ucap Arya. “Mengerti Pak!, mungkin hari ini yang dimaksud bapak dengan hari yang bermakna itu ya?” jawab siswa ini. “Benar, pendidikan itu penting. Dari sini saya teringat sebuah kisah tentang seorang anak yang selalu bermimpi untuk mengangkat derajat kedua orang tuanya tetapi sering di sepelekan oleh teman-teman dan juga orang di sekitarnya. Ini kisah nyata yang saya alamin sendiri, kejadiannya juga di sekolah ini” kata Arya.
120 Saat itu seluruh orang dalam ruangan tersebut hening dan menyimak cerita yang disampaikan oleh Arya. Menceritakan sebuah kisah yang penuh dengan tekanan didalamnya. “Pada saat pertengahan kelas 10 SMA, dia selalu mendapat nilai tertinggi dan selalu mendapat predikat terbaik di sekolah. Namun setelah ujian tengah semester berakhir, dia sering diolok-olok temannya karena memiliki sikap yang lucu, suka menghibur temannya. Tetapi sebenarnya mereka salah sangka, dia seperti itu dikarenakan keadaan hatinya” kata Arya. “Pasti ada latar belakang yang membuat dia bersikap seperti itu ya pak?” tanya siswa. “Tekanan dari keluarganya yang membuat dia menjadi begitu naif, kedua orang tuanya seorang pendidik tetapi tidak mengerti tentang anaknya sendiri. Hingga suatu ketika, karena emosi tak tahan menahan olok-olokan dari temannya tersebut, akhirnya berantem lah disitu. Perkataan yang dilontarkan oleh temannya dibalas dengan dihajar habis-habisan, karena amarah yang ditahan tidak bisa dibendung lagi. Dia terus memukul wajah temannya tadi sampai pingsan, tidak ada yang berani melerai, melihat tatapannya seperti bukan dia lagi. Hingga sampai ada guru yang datang untuk melerai” ucap Arya. Dengan isak tangis tak tertahan, Arya tetap menceritakan kisah yang begitu pedih itu. Semua yang dilihat dalam ruangan itu, benar seperti apa yang terjadi kepadanya dulu. Membusungkan dadanya dan tetap tegar dia melanjutkan ceritanya. “Tidak hanya masuk BK, dia juga bahkan mau dikeluarkan dari sekolah, karena permohonan maaf orang tuanya dia masih bisa melanjutkan sekolahnya. Mulai dari situ, dia memiliki
121 trauma besar dan membuatnya menjadi malas belajar. Nilai sekolahnya menurun drastis, tidak ada kemajuan mulai saat itu. Sampai naik kelas 11 dia membawa predikat paling bawah disekolah” kata Arya. “Sikap dan perilaku anak bukankah cerminan dari orang tuannya pak, lalu apakah orang tuanya mengetahui apa penyebab dari semua itu?” tanya siswa. “Orang tua dia cuman menuntut nilai yang bagus tanpa memerhatikan usaha anaknya. Hingga waktu itu orang tuanya dipanggil ke sekolah. Para guru mengecewakan penurunan yang dialami oleh anaknya tersebut. Pada saat pengarahan terhadap kedua orang tuanya, dia mengintip dan mendegarkan semua perkataan gurunya juga melihat tangisan orang tuanya yang memiliki maksud berbeda kepada dia” jawab Arya. Suasana dalam aula tersebut sangat mencengangkan, semua siswa maupun guru yang ada dalam ruangan itu tertarik dengan alur cerita yang disampaikan oleh Arya. Hening dan kondusif terjadi didalam ruangan itu. “Inisiatif muncul dari dalam diri anak ini. Dia merindukan dirinya yang dulu, yang selalu menghibur dan membuat temannya tertawa, yang selalu rajin untuk belajar. Karena telah mengetahui alesan kedua orang tuanya, dia tahu mengapa orang tuanya bersikap seperti itu, akhirnya saat itu dia berjanji pada dirinya sendiri, untuk terus mencari ilmu sampai akhir hayatnya” kata Arya. “Maaf pak menyela, kata bapak tadi ini kisah nyata, lantas bapak tau darimana kalau orang tua dia seperti itu?” tanya siswa yang tadi memperkenalkan diri.
122 “Karena ini pengalaman yang takkan pernah terlupakan dalam diri saya, dengarkan dulu kelanjutannya” jawab Arya sambil tertawa. “Menginjak ujian akhir kelulusan, dia mulai rajin belajar kembali mengingat bagaimana pola belajarnya dulu, mengerjakan setiap soal dengan tekun dan serius, mempunyai ambisi dan keinginan untuk membuktikan bahwa dirinya mampu untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sampai akhir, dia benar-benar menunjukkan bahwa apabila ingin sukses dalam hal apapun, kita harus pandai memilih dan memilah masukan yang dating. Berdampak positif kita ambil, kalau negatif kita singkirkan. Alhamdulillahnya, keinginannya terwujud. Dia mendapatkan nilai memuaskan dan mendapat predikat terbaik lulusan pada masa itu” kata Arya. “Lalu siapa dan dimana orang yang ada dalam kisah inspiratif itu pak?” tanya murid tadi. “Namanya AKBP Arya Saputra, S.H., S.I.K.. Dia sekarang ada pada hadapan kalian. Yang telah membuktikan pada semua teman, guru, dan juga keluarganya, bahwa tiada yang tak mungkin kalau kita niat dan konsisten dalam menuju tujuan itu” jawab Arya. Seluruh orang dalam ruangan tersebut terkejut dan terharu mendengarkan ucapan dari Arya yang sekaligus memotivasi mereka agar semangat dalam belajar dan mencari ilmu untuk bekal masa depannya. “Ingat ya semuanya, pendidikan itu sangat penting. Dengan pendidikan yang baik akan membentuk pola berfikir kita dengan baik dan benar juga. Jika kalian bermalas-malasan sekarang apa jadinya masa depan kalian, kalian juga generasi
123 penerus bangsa. Yang akan meneruskan saya siapa lagi kalo bukan kalian” ucap Arya. “Kutub utara mulai mencair, tidak ada rusa maupun angsa. Saya cinta akan tanah air, dan akan mengharumkan nama bangsa. Terimakasih pak telah memberi semangat lewat kisah yang inspiratif iini” ujar siswa tadi. Seketika suasana hening dan kondusif ini berubah menjadi suasana yang penuh akan tawa bahagia seluruh siswa. Arya memberikan beberapa hadiah pada siswa yang sudah berani bertanya. Rekannya pun membantu membagikan bingkisan yang ada. Seluruh siswa berterima kasih kepada Arya karena telah memberikan nasehat serta arahan yang memercikkan kembali semangat mereka. Mereka saling berjabat tangan, dan juga saling memaafkan. Kisah Arya benar-benar menyentuh hati mereka semua. Kita sebagai penerus bangsa harus bisa menopang dan meninggikan pendidikan di tanah air. Arya adalah cermin dari kerinduan atas masa lalu yang pahit namun memiliki sisi positif untuk masa depannya. Disinilah Arya mendapat luka dan disini pula obat untuk menyembuhkan lukanya. Kita akan menjadi manusia yang berguna apabila mau mengingatkan yang benar antara satu sama lain. Masa lalu yang pahit dapat berubah menjadi sesuatu yang manis di masa depan. Apapun yang di rasa sulit, pasti masih ada jalan keluar dan juga harapan. TAMAT.
124 Tentang Penulis “Ananda Fania Berliani Putri, lahir di Mojokerto pada 18 Mei 2002. Saat ini ia kuliah di Universitas Islam Majapahit. Ia mengambil prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, saat ini sedang menempuh semester 4. Ia genap usia 20 tahun pada tahun ini. Biasa dipanggil Nanda. Ia sosok yang ceria dan kocak namun hanya berlaku untuk teman-teman yang ia percaya. Hobi bermain bulu tangkis dan memasak. Menyukai warna-warna gelap dan tempat-tempat yang tenang seperti gunung. Ia suka mendaki tapi saat ini, semua temannya memiliki kesibukan masing-masing termasuk dirinya, sekarang mengikuti program pemerintah yaitu kampus mengajar selama satu semester. Ia sering dijadikan rumah untuk menampung segala cerita teman-temannya tetapi ia sering kali tidak memiliki tempat berkeluh kesah.” “Devi Noviana Dewi, lahir di Mojokerto pada 08 Mei 2001,usia saya 21 tahun. saya kuliah di Universitas islam Majapahit dan saya mengambil jurusan pendidikan bahasa dan sastra indonesia,saat ini saya sedang menempuh semester 4, teman-teman biasa memanggil saya Devi dan hobi saya yaitu membaca dan menulis karena menurut saya membaca adalah sumber ilmu bagi saya.”
125 “Nova Mega Ivana, biasa di panggil Nova untuk saat ini ia sedang menempuh studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia semester 4 di Universitas Islam Majapahit, lahir di Mojokerto, 31 Maret 2001. Kali perempuan tersebut membuat sebuah karya sastra dan untuk tema cerita kali ini adalah rindu dengan sedikit emosi yang berhasil dituangkan kedalam cerita. Ia mengucapkan terima kasih karena sudah membaca, dan semoga kalian menyukai cerita yang sudah ia buat.” “Assalamualaikum teman-teman, perkenalkan namaku Reny Rizky Putri Lailatul Fitria, biasanya teman-teman memanggilku Reny. Aku berasal dari kota Mojokerto dan Aku adalah seorang mahasiswi dari Universitas Islam Majapahit, dari prodi Pendidikan Bahasa dan sastra Indonesia. Hobiku saat ini adalah membaca, namun menulis juga sedang aku pelajari agar bisa membuat sebuah karya yang bisa di baca dan di nikmati oleh orang lain.” “Namaku Riska Tri Wijaya lahir di Mojokerto dan sekarang sedang menjalani pendidikan S1 Pendidikan bahasa dan sastra Indonesia”
126 “Rohma Wati N. Seorang perempuan yang berasal dari Gresik saat ini sedang menempuh studi strata satu semester empat di Universitas Islam Majapahit, Mojokerto. Mengambil program studi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia.” “Sulaiman, pemuda kelahiran Mojokerto. Punya hobi membaca dan nonton film. Jumlah cerpen dan novel yang dibaca sudah lumayan banyak. Penyuka realitas fiksi dan aksi. Selain membaca, juga berusaha mempelajari teknik-teknik menulis sastra yang baik. Saat ini sedang menempuh pendidikan tinggi di Universitas Islam Majapahit jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. “Syafila Chabsarotul Islamiyah, gadis berumur 20 tahun yang saat ini sedang menempuh jenjang S1 di Universitas Islam Majapahit dengan konsentrasi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Hobiku? Aku tidak punya hal yang ku sukai secara khusus. Semuanya aku lakukan apabila aku mau. Iya hanya kemauan, bukan sesuatu yang aku tekuni. Oh ya, aku adalah gadis berdarah jawa yang lahir di mojokerto pada tahun 2002 dalam keadaan islam. Sudah ya, singkat saja. Terimakasih sudah membaca biodata ini. Semoga kalian selalu diberkahi oleh Allah SWT. “
127 “Timurrana Dilematik, seorang gadis penuh ambisi kelahiran Tegal tahun 2000. Kini sedang menjalani pendidikan di Universitas Islam Majapahit. Memiliki hobby membaca komik dan menonton film genre aksi. Telah menulis dan menerbitkan karya puisi, cerita anak, dan buku berteori bersama dengan teman sekelas. Cepen Sesal Dalam Degup ini adalah cerpen pertama yang diterbitkan. Dengan segala rasa yang campur aduk, akhirnya cerpen ini berhasil terbit bersama dengan karya temanteman yang lain dalam sebuah antalogi cerpen.” “Rahma Nur Qabibi, lahir di Mojokerto pada 8 Juni 2002. Saat ini sedang menempuh semester 4 di Universitas Islam Majapahit prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesa, yang saat ini berusia 20 tahun. Hobinya adalah memasak, sehingga ia dijuluki sebagai koki di rumahnya. Selain memasak, ia juga dengan dunia fotografi, mendengarkan musik, menghayal. Saat ini kesibukannya adalah kuliah dan mengajar selama 5 bulan dalam program Kampus Mengajar.”
128 “Wenny Indah Ardhita atau biasa akrab disapa Wenny. Pemudi yang gemar mendengarkan musik. Lahir di Kota Mojokerto tahun 2002. Sekarang masih menempuh pendidikan di Universitas Islam Majapahit Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Alamat di Kecamatan Sooko Kabupaten Mojokerto. Salam kenal, salam semangat!” “Namanya Desy Yantene S. Biasa dipanggil Desy atau seenaknya yang panggil. Dia lahir di hari peringatan Hari Ibu. Dia sedang menempuh pendidikan S1 di UNIM. Dia bercita – cita menjadi orang sukses tanpa ingin kerja. Lucu kan? Dan semoga cerita ku ini menghibur.” “Dicki Rahmawan lahir di Lamongan, Jawa Timur pada tanggal 24 mei 2022. Sekarang saya tinggal di Mojokerto untuk melanjutkan studi saya di salah satu perguruan tinggi di Mojokerto. Akhir-akhir ini saya lagi senang hobi fotografi, sebelum saya tinggal di Mojokerto untuk melanjutkan studi, saya tinggal di Glagah Lamongan dengan kedua orang tua dan adik saya. Dulu saya bersekolah di PP.Sunan Drajat selama 6 tahun dan lulus pada tahun 2022 dan melanjutkan ke perguruan tinggi di Mojokerto.”
129 “Mochammad Fairus Abadi, manusia dengan sejuta harapan namun enggan akan perubahan kelahiran Sidoarjo tahun 2002. Sedang menempuh perguruan tinggi di Universitas Islam Majapahit. Anak seorang pendidik yang menjadi landasan masuk kedalam dunia pendidikan. Tidak memiliki hobi hanya penuh dengan ambisi. Banyak kekurangan dan sedikit kelebihan. Untuk yang membaca biodata saya ingat, dunia hanya sementara tapi akhirat selamanya. Utamakan berdzikir dan bersyukur, jangan kikir apalagi kufur. Wasallamuallaikum.”