45 sebagai syarat pertama agar kau ku izinkan menjadi karyawanku”, sambil menyeruput teh yang masih hangat. “Baiklah Juragan besok pagi saya akan datang ke ladang milik Juragan, terima kasih Juragan telah memberikan saya kesempatan untuk dapat menjadi salah satu karyawan juragan. Saya berjanji tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan juragan ini”. Esok hari bahkan saat jalanan masih tampak gelap gulita, hanya terdapat lampu-lampu jalanan yang redup menuntun Ujang menuju ladang, melewati jalan yang cukup berbatu dan terjal bahkan saat Ujang mengenakan sepatu boots yang tebal rasa sakit akibat menginjak bebatuan masih saja terasa dan ketika Ujang telah sampai di ladang , ia pun langsung menghampiri salah satu pekerja dan menanyakan kira-kira apa yang dapat ia bantu di ladang ini. “Eh selamat pagi kamu pasti Ujang ya, saya sudah diberitahu oleh juragan bahwa akan ada pekerja baru di kebun ini dan saya dimintai tolong oleh Juragan agar dapat mengajari kamu bagaimana cara bekerja di ladang ini" "Iya Pak saya Ujang, pekerja baru di ladang ini”, tegasnya dengan tersenyum dan mengamati apa yang dilakukan oleh bapak-bapak di ladang itu. Sesampainya di sana Ujang diberi arahan langsung oleh salah satu buruh di sana, ia pun mengamati dengan tekun dan fokus. Tanpa sepengetahuan Ujang dia juga sedang diamati oleh sang Juragan. Sore harinya Ujang diundang oleh juragan untuk datang ke rumah. “Selamat sore Juragan, mohon maaf mengapa Juragan memanggil saya ke rumah apakah saya membuat kesalahan di
46 hari pertama saya bekerja dengan Juragan”, suaranya bergetar dan tampak ketakutan. “Tenanglah Jang, aku memintamu ke sini hanya untuk memberitahumu bahwa kau aku terima menjadi pekerja ku namun tidak di sini”, sambil tersenyum. “Kau memang tidak aku kerjakan di sini tapi akan aku kerjakan di tokoku yang berada di kota” lanjut nya. Ujang mulai kebingungan dengan kata-kata Juragan jika ia tidak diperkenankan untuk bekerja di sini lantas di manakah dia akan bekerja. Berbagai pertanyaan pun mulai berkecamuk di hatinya, apakah arti kata-kata juragan tadi. “Maksud diriku memanggilmu aku ingin menawarkanmu untuk kerja di kota di gudang kayu milikku , gudang kayu itu tidak terpakai semenjak aku pindah ke sini jika kau berkenan kau bisa bekerja di sana dan harapanku kau bisa membangun usaha kayuku kembali maju seperti dulu” “Baiklah Juragan saya bersedia namun sebelum itu izinkan saya untuk berpamitan dengan Kakek dan nenek saya sebelum berangkat ke kota, karena Kakek dan nenek sayalah yang telah merawat Saya dari sejak saya lahir maka dari itu apapun yang saya lakukan harus dengan izin dan restu mereka". Ujang pun bergegas pulang, meminta izin kepada Kakek dan nenek bahwa ia akan berangkat ke kota bersama Komang malam ini juga. Kakek dan nenek mengizinkan cucunya itu untuk pergi meski dengan berat hati dan keraguan sebab cucunya itu untuk pertama kalinya jauh dari mereka. “Hati-hati ya cu jaga diri baik-baik di sana”, kata Nenek sambil menyeka air mata. Dipeluknya cucunya itu dengan erat
47 sedikit nasehat agar cucunya itu tidak melupakan dirinya dan juga Kakeknya di sini. “Nenek tenang saja jika aku sudah sukses di kota aku akan segera kembali(sambil mencium tangan nenek) yang masih saja meneteskan air mata. Di situ sebenarnya Ujang pun merasakan hal yang sama , sangat berat rasanya ia harus meninggalkan kedua orang yang dicintainya itu namun karena sebuah mimpi yang harus diwujudkan Ujang memutuskan untuk tetap pergi. "Komang aku titipkan Kakek dan nenek padamu ya, tolong jaga mereka saat aku tidak ada di sini. Aku berjanji akan selalu memberi kabar dan mengirimkan uang padamu untuk kau berikan kepada Kakek dan nenek jika aku sudah mendapatkan upah nanti", seraya tersenyum menoleh menatap Komang dalam-dalam. “Ah kau ini seperti dengan siapa saja”, sambil tertawa. “Tentulah diriku ini akan selalu menjaga mereka tanpa kau minta. Mereka sudah ku angkat seperti orang tuaku sendiri jadi selama dirimu di kota jangan kau khawatirkan mereka, percayalah padaku!” Tak terasa Ujang dan Komang setelah sampai di kota dan benar gudang kayu itu memang sudah tidak layak digunakan namun karena Ujang itu pandai jadi keesokan harinya ia bergegas mencari kayu-kayu baru dengan kualitas terbaik dari situlah ia mulai memproduksi barang-barang baru agar dapat dijual kembali. Dan akhirnya toko kayu kembali ramai sebab banyak sekali yang menyukai barang-barang buatan dari Ujang. Mulai dari
48 hari itu Ujang akhirnya dapat membuktikan bahwa ia memang piawai dalam hal berbisnis. “Aku bangga padamu nak”, kata Bu Teti istri Juragan serta senyuman yang selalu saja diberikan oleh Bu Teti kepada Ujang mengisyaratkan rasa bangga padanya. Malam pun datang Bu Teti dan Mawarsih pun menyiapkan makan malam. Saat makan malam sudah siap mereka menyantap hidangan itu bersamasama dan di sela-sela pembicaraan Bu Teti mengatakan sesuatu yang membuat semua kaget. “Ujang Bu Teti, Juragan dan Mawarsih sangat berterima kasih kepadamu karena kau sudah mampu membuktikan bahwa kau dapat memajukan toko ini seperti dahulu, maka dari itu sebagai tanda terima kasih kami akan memberimu ladang di desa yang mungkin nantinya dapat di kelola oleh Kakek dan nenekmu”. Ujang pun kaget saat mendengar hal tersebut akhirnya mimpi yang selama ini ya inginkan agar dapat membahagiakan Kakek dan nenek itu telah terwujud. Tak henti-hentinya ia mengucap syukur dan berterima kasih kepada Juragan dan keluarga. Tak lama dari diberikannya ladang tersebut kepada Kakek dan nenek ,Ujang memutuskan untuk pulang ke desa, kakek dan nenek pun sangat bahagia melihat cucunya kembali pulang. Nenek bergegas membuatkan masakan kesukaan Ujang, namun di sela-sela kebersamaan makan malam itu, Komang datang berkunjung “Hai Komang silahkan masuk nak, mari makan malam bersama”, kata kakek dengan tangannya yang melambai menyambut kedatangan Komang.
49 “Dirimu kan sudah lama tidak bertemu dengan Ujang ayo mari duduk makan bersama dan mengobrol”, lanjut kakek. “Tidak kek , terima kasih aku baru saja selesai makan tadi di rumah”, tegas Komang menolak tawaran kakek dengan sopan namun ia tidak dapat menolak ketika Nenek menawarinya secangkir kopi hitam yang manis. “Mang besok pagi mari kita ke ladang pemberian Juragan Reso dan keluarganya, aku sangat penasaran sekali ingin melihatnya, ajak Ujang. “Bagaimana kamu mau kan? Ayolah temani aku Kakek dan nenek”, dengan merangkul bahu sahabatnya itu seraya tertawa lebar. Ujang pun kaget saat ia melihat ladang pemberian sang Juragan ternyata sangatlah luas dari situlah Ujang berpikir untuk membangun sebuah penginapan di desanya itu mengingat saat ini mulai banyak wisatawan yang berkunjung ke desa mereka untuk melihat keindahan pemandanganpemandangan yang memanjakan mata, tetapi Ujang merasa Juragan harus mengetahui tentang rencananya itu karena bagaimanapun juga Juragan berhak mengetahuinya. Sore harinya Ujang bergegas ke rumah Juragan untuk membicarakan hal tersebut. Tak disangka Juragan menyetujui rencana Ujang yang akan membangun penginapan di tanah ladang pemberiannya. Tak butuh waktu lama ia pun segera mencari arsitek terbaik kenalannya di kota untuk membantunya membangun penginapan yang ia impikan. Tibalah saatnya setelah menunggu cukup lama akhirnya penginapan itu selesai dibangun dan akhirnya Ujang dapat memberi nama penginapan tersebut yang sudah ia persiapkan
50 cukup lama, penginapan itu ia beri nama Kenangan Saung Bambu. “Mengapa kau beri nama itu bukankah masih banyak namanama lain yang jauh lebih menarik, tanya Komang dengan heran. "Tidakkah kau ingat di sinilah kita dahulu bermain ya di dekat ladang ini yang saat ini aku bangun dengan penginapan ini, aku tidak ingin menghilangkan kenangan itu maka dari itulah aku memberi nama kenangan Saung bambu akar kenangan saat kecil tidak akan pernah hilang meski kita nanti sudah menua”, tegasnya pada Komang. Semua orang merasa sangat bangga kepada Ujang terlebih Kakek dan nenek karena akhirnya impian cucunya itu benarbenar terwujud, terlebih saat mereka masih mampu menyaksikan kesuksesan cucunya itu. TAMAT.
51 Terakhir Benar – benar Rohma Wati Ningsih Rintik-rintik halus air hujan jatuh membasahi Kota Surabaya pagi itu. Hujan yang turun dari subuh tadi belum reda juga. Dinginya pagi itu membuat beberapa orang malas untuk bangun pagi. Namun, berbeda dengan Kania, ia tidak ada waktu untuk sekedar bermalas-malasan. Karena hari ini dia ada jadwal perkuliahan, serta juga ada rapat Hima Prodi. Jarum jam menunjuk angka 5 pagi, Kania terbangun dari lelap mimpi, mengusap wajah, menghela napas lelah. Semalam ia bergadang mengerjakan tugas dari dosennya yang harus selesai hari ini juga. Seusai mandi ia segera bersiap untuk pergi kekampusnya. Jarak dari rumah sewa hinga ke kampus tidak begitu jauh. Kania sering berjalan kaki untuk menuju kampusnya. Tepat pukul 07.30 dia sudah sampai di kampusnya, kelas pagi ini dimulai pukul 08.00. segera mungkin Kania menuju ke kelasnya. Tak berselang lama teman-temannya mulai berdatangan, tak lama setelah itu dosen yang mengajar pun tiba. Jarum jam menunjukkan pukul 09.15 yang artinya kelas pertama Kania telah berakhir. Sambil menunggu kelas kedua Kania pergi ke perpustakaan untuk mengerjakan tugas. Ketika
52 sedang mengerjakan tugas, notifikasi dari telepon genggam Kania berbunyi yang memberitahu bahwa untuk kelas kedua dosen yang bersangkutan sedang berada diluar kota, jadi untuk kelas kedua kosong. Hingga menjelang sholat Dzuhur, Kania baru keluar dari perpustakaan, ia berencana untuk membeli makan warung yang ada di depan kampus, tadi pagi ia melewatkan sarapannya karena terburu-buru. Saat berada didepan gerbang kampus hendak menyebrang, Kania melihat ada seorang wanita paruh baya yang menggendong bayi perempuan. Kania merasa Iba melihat anak perempuan yang sedang di gendong ibunya, kondisi bayi itu matanya cekung dan bibirnya mengering dan pucat, segera Kania membuka tas punggungnya, ia selalu membawa roti dan juga air mineral. akan tetapi roti yang biasanya ia bawa telah ia makan tadi malam saat bergadang mengerjakan tugas. Tak tega rasanya jika dirinya hanya memberikan air mineral saja. ia lantas membuka dompetnya, yang tersisa didompetnya hanya tersisa satu lembar uang pecahan dua puluh ribu rupiah saja, uang itu akan digunakan untuk membeli makan hari ini. Tak berpikir terlalu lama Kania memberikan saja uang satu-satunya yang ada di dompetnya itu. “Maaf bu, mungkin ini bisa untuk membeli makanan yang ada diwarung depan itu bu”. Ucap Kania sambil memberikan uang dan juga air mineral yang telah ia bawa tadi. Perempuan paruh baya itu hanya mengangguk sambil menerima uang dan air mineral pemberian Kania. Setelah ibu itu pergi dari hadapan Kania, Kania memutuskan untuk musholla kampus saja. tak lama setelah melaksanakan sholat
53 dhuhur. Notifikasi dari telepon seluler Kania berbunyi bahwa rapat Hima prodi akan segera dilaksanakan. Ketika sampai di tempat rapat, benar saja semua anggota hima sudah mulai banyak yang datang. Dan ternyata dia tunggu oleh kakak tingkatnya untuk menjadikan Kania sebagai pembawa acara dalam kegiatan rapat tersebut. “Tumben Nia datang telat, biasanya kan kamu datang paling awal?”. Tanya kak Ana, kak Ana merupakan kakak tingkat kania yang biasaya sering berdiskusi dengan Kania membahas Hima Prodi. “Maaaf Kak, tadi saya harus ke perpus dulu, untuk mengerjakan beberapa tugas”. Jawab kania dengan sopan. Setelah itu rapat pun dimulai, dan seperti yang telah di rencanakan tadi, Kania menjadi pembawa acara dalam rapat tersebut. ketika rapat sudah berjalan setengah jam, Kania merasa perutnya keroncongan, karena ia belum sarapan dan tadi saat akan membeli makanan juga tidak jadi. Ketika jarum jam menunjukkan angka 14.00, bertepatan dengan selesainya rapat Hima tersebut. ia bergegas menuju kantin, karena itu tempat yang menjual makanan paling dekat dengan posisi Kania berdiri saat ini. Ketika ia berjalan menuju kantin, di ingatannya terlintas, tugas kuliah nya menumpuk, belum lagi deadline lomba menulis cerpen, dan juga kerinduan kepada orangtuanya yang sedang menunggu kepulangannya di setiap akhir pekan. Ketika sedang berjalan dia teringat bahwa uang terakhir yang dia punya telah ia berikan kepada ibu-ibu tadi yang ditemui di depan kampusnya. Kania membatalkan niatnya untuk menuju kekantin karena uang yang tersisa didompetnya telah ia berikan kepada Ibu-Ibu
54 tadi. Akhirnya Ia memutuskan untuk berjalan menuju taman, disana dia akan mendinginkan badan, dari teriknya panas matahari di siang hari ini sambil melanjutkan menyelesaikan tulisan cerpennya. Kania sedang mengerjakan tulisan cerpennya di taman kampus, setiap ada event atau ada lomba menulis Kania selalu ikut. Hadiah yang berikan kepada pemenang lebih dari cukup untuk uang jajan Kania, karena kania tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya jadi jika ada event-event lomba menulis pasti dia ikut. Bakat yang Ia miliki merupakan bakat warisan dari neneknya. ketika sedang mengerjakan cerpennya ada teman satu kelasnya yang kebetulan lewat. “Katanya tadi ada rapat Hima ni?” “Sudah selesai, barusan.” “Tugas untuk minggu depan sudah ada yang kamu kerjakan ni?” tanya teman Kania lagi “Belum ada, mungkin besok aku baru mengerjakannya” “Kalau mengerjakan aku ikut ya ni, nanti kabari. Aku pulang dulu, sudah dijemput ayah di depan. “Iya, pasti nanti aku mengabari kamu”. Setelah teman satu kelasnya pergi, Kania kembali melanjutkan kegiatannya menulis cerpen. Lomba cerpen kali ini bertingkat nasional dan hadiah yang berikan untuk pemenang lumayan banyak. Kania berusaha semaksimal mungkin agar bisa memenangkan lomba tersebut. terlalu asik mengarang tak sadar jika jam sudah menujukkan pukul 14.30. suara adzan Ashar telah bekumandang, Bergegas dia membereskan laptopnya dan barang-barang yang Ia
55 keluarkan dari tasnya, dan menuju ke Musholla yang ada di kampusnya. Seusai sholat, Kania tidak langsung pergi melainkan dirinya beristirahat di serambi masjid sambil mengingat-ingat bahwa tugas yang harus dikumpulkan minggu depan belum ia kerjakan sama sekali. Dalam hati Kania berpikir, daripada Cuma di pikirkan lebih baik kukerjakan walaupun Cuma satu kata. Kania menuju pojokan yang ada di musholla untuk mengerjakan tugasnya. Kania membuka buku catatannya, minggu depan ada 4 tugas yang harus dikumpulkan. Terlalu larut dalam mengerjakan tugasnya, Kania tak sadar jika ada kakak tingkatnya (Ana) yang menghampiri Kania. “Nia, kamu mau ikut kan?” “Mau kemana emangnya kak?” “Kamu tadi tidak mendegarkan ya, nanti setelah rapat kita semua anggota Hima akan pergi kerumah Silvi, dia mengundang kita untuk makan-makan disana”. Kania, mempertimbangkan, karena biasanya jika berkumpul-kumpul pasti pulangnya sore. Tapi kalau tidak ikut, ia merasa berdosa kepada perutnya, karena membiarkannya merasakan keroncongan. Setelah menimbang, Kania memutuskan untuk ikut saja, sebagai bentuk menghormati yang mengundangnya. Ketika di rumah Silvi, setelah makan-makan, mereka melanjutkan pembahasan di rapat tadi, mereka merampungkan beberapa agenda atau kegiatan yang dirasa kurang sesuai, Kania merasa Bersyukur dirinya tidak jadi kelaparan di siang hari ini.
56 Menjelang senja, Kania meninggalkan rumah Silvi menuju rumah orangtuanya yang jaraknya lumayan jauh dari kampusnya. Di perjalanan sambil menikmati Indahnya Senja disore hari, hatinya merindukan kedua orang tuanya, karena tidak setiap saat dirinya bisa pulang. Setibanya di rumah, ia bergegas untuk membersihkan diri dan bergabung bersama keluarga yang lainnya di ruang tamu. Saat ini dirumahnya Kania sedang ada hajatan untuk memperingati 1000 hari meninggalnya Neneknya. Meski Kania merasakan lelah karen habis melakukan perjalanan jauh, Ia memutuskan untuk tidak beristirahat, Ia memilih bergabung dengan majelis pengajian dirumahnya. Setelah selesai acara pengajian, pandangan kania menyapu beberapa foto yang dipajang di ruang tamunya, netranya menelisik foto keluarga yang terbingkai indah diatas buffet. Difoto itu terdapat foto keluarga dari ibunya yang masih lengkap, termasuk neneknya. Kania mengingat kembali kenangan masa silam dimana ia sering menghabiskan waktunya bersama neneknya, terlalu larut mengingat kenangan bersama sang Nenek, Kania tak sadar air matanya jatuh membasahi pipinya. Buru-buru air mata yang mengenai pipinya Ia hapus. Pada malam harinya, didalam tidurnya Kania bermimpi bertemu dengan seorang perempuan paruh baya yang tadi pagi ia beri uang di halaman kampusnya. Didalam mimpi Kania perempuan tadi memberikan Kania sebuah Buku usang sambil menggedong anaknya. Akan tetapi anak yang di gendongnya sudah tidak lagi kelaparan. Perempuan dan anak tadi terlihat sangat bahagia dan senyuman begitu merekah menghiasi wajah mereka. Tepat saat Adzan Subuh Kania terbangun, seketika ia teringat kepada neneknya.
57 Ketika matahari sudah menampakkan dirinya, Kania pergi berziarah ke Makam Neneknya. Seusai berdoa, Kania menaburkan Bunga di atas pusara sang Neneknya. Air matanya kembali menetes seiring dengan taburan bunga yang jatuh ke tanah kuburan yang jatuh satu persatu. Tepat di taburan bunga yang terakhir notifikasi whatsapp dari handponenya berbunyi. Pesan itu berisikan bahwa dirinya memenangkan lomba cerpen dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional yang diadakan bulan lalu. Seusai menaburkan bunga, Kania berucap lirih kepada pusara yang ada di depannya. “Aku sangat menyayangimu Nek.” TAMAT.
58 Mata Sulaiman Sebuah presentasi yang mulus berhasil dilakukan sekelompok anak muda jurusan IPA. Identifikasi gen spesies reptil berhasil memukau para guru. Keberhasilan tersebut membuat mereka diutus untuk mewakili sekolah dalam kontes ilmiah tingkat nasional. Deni sebagai ketua tim merasa sangat bangga akan keberhasilannya itu. Para guru dan ilmuan yang diundang juga merasakan hal yang sama. Mereka memberi nasehat kepada tim tersebut untuk menyempurnakan lagi hasil riset mereka dengan didampingi pengawasan dari para ilmuan tersebut. Berkat riset yang mereka lakukan, Deni beserta timnya diperbolehkan menggunakan laboratorium milik para ilmuan untuk mempermudah proses riset mereka. Perburuan data pun dimulai! Sore itu Deni merasa gelisah. Dia ingin sesegera mungkin pergi ke laboratorium. Deni memutuskan mengajak Andhika untuk menemaninya. Mereka pun berangkat naik motor. Di depan pintu terlihat beberapa orang berbaju putih tengah berbincang-bincang. Satu dari orang-orang tersebut menyapa mereka dan mengajak masuk. Terkejut, terperangah, dan terbelalak. Seperti itulah ekspresi Deni dan Andhika ketika memasuki ruangan. Begitu banyak benda asing yang tidak mereka kenali. Melihat banyak benda yang sangat menarik Waktu
59 baginya, Deni justru menjadi bersemangat untuk terus mengeksplorasi kemampuannya. Di dalam laboratorium, mereka berbincang dengan ilmuan yang pernah bertemu mereka, Genia namanya. Untuk orang yang sudah berusia 40 tahunan dia terlihat sangat muda dan tidak tampak jika usianya sudah kepala empat. Genia justru terlihat seperti wanita umur 20 tahunan. Dalam benaknya Deni berpikir bahwa orang ini pasti menggunakan sesuatu untuk menjaga penampilannya. Setelah puas melihat-lihat isi ruangan. Mereka akhirnya berbincang mengenai objek yang akan digunakan dalam kontes ilmiah. Deni bilang ingin menemukan sesuatu yang baru, mungkin penggabungan spesies atau sejenisnya. Mendengar hal tersebut, Genia hanya tersenyum. Melihat temannya begitu antusias Andhika merasa bingung karena dia tidak pernah melakukan penelitian seperti itu. Setelah perbincangan yang agak lama, akhirnya mereka memutuskan untuk meneliti mikroorganisme sebagai objek penelitian yang mereka gunakan dalam kontes ilmiah. Hari sudah cukup larut, Genia menyarankan kepada mereka untuk segera pulang dan istirahat karena Genia sudah dijemput oleh putri angkatnya. Deni sangat penasaran dengan putri Genia, terlebih dia memiliki iris mata yang sama dengan Deni. Heterochromia, begitu orang-orang mengenali perbedaan warna iris mata. Genia masuk mobil dan pulang bersama putrinya. Begitupun dengan Deni dan Andhika yang bersiap menunggangi kuda besi kebanggaanya. Perjalanan pulang diwarnai dengan cahaya bulan yang terang benderang. Deni merasa aneh, karena dia melihat sebuah kastil besar yang
60 tidak pernah dilihatnya sebelumnya. Sebuah misteri baru kembali muncul dalam kehidupan Deni. Keanehan yang dialami Deni sebelumnya membuatnya berpikir untuk memasuki kastil yang dia lihat itu. Anehnya, ketika siang hari Deni tak bisa melihat kastil tersebut. Alhasil dia menunggu sampai malam tiba, kemudian menjelajah kastil besar yang baru dilihatnya. Kastil itu memiliki aula besar, tetapi sejauh Deni menjelajah. Dia belum menemukan sesosok orang pun. Tiba-tiba Deni merasa banyak sosok yang mengawasinya. Benar saja, tiba-tiba muncul banyak sosok aneh. Seketika, Deni berlari keluar kastil. Dia sempat mengingat ada sosok yang berlendir yang menyentuhnya tadi. Sambil terus memikirkan apa yang baru saja dia alami. Deni bergegas pulang kembali ke rumahnya. Setelah mengalami insiden tersebut, Deni berkonsultasi kepada Genia di Laboratorium. Kebetulan juga ada putri Genia, Dina namanya. Deni terus mengamati gerak-gerik Dina dan akhirnya Deni tahu kalau Dina adalah adiknya yang terlebih dahulu diadopsi ketika mereka masih di panti asuhan. Pertemuan mereka berlangsung haru dan menyenangkan. Menanggapi insiden yang dialami Deni sebelumnya. Genia penasaran dan ingin Deni mengajaknya memasuki kastil yang dia lihat. Deni pun menyanggupinya. Sore hari mereka pun berkumpul di sebuah kedai pingir jalan. Deni, Dina, dan Genia menunggu waktu yang tepat untuk memasuki kastil tersebut. Ketika malam sudah agak larut, mereka mulai memasuki kastil. Deni kembali bertemu sosok berlendir yang menyentuhnya. Mata Deni dan Dina mulai menyala layaknya mata kucing ketika malam. Melihat fenomena tersebut Genia menjadi panik. Mereka berada di aula
61 yang dipenuhi sosok tidak dikenal. Kedua anak yang dia awasi juga mengalami keanehan. Genia menjadi waspada melihat putrinya diam tak bergerak seperti patung. Dia pun segera menarik kedua anak tersebut keluar kastil. Tetapi dia tidak menyadari jika sosok berlendir yang diceritakan oleh Deni juga menghingapi kedua anak itu. Para guru mulai bertanya pada teman-teman Deni, mengapa beberapa hari ini Deni tidak masuk sekolah. Andhika menjawab jika Deni sedang sakit dan dirawat ditempat Genia. Mereka memutuskan untuk menjenguk Deni di tempat Genia. Mereka menanyakan penyakit apa yang diderita Deni. Ketika para guru bertanya pada Genia, dia menjelaskan bahwa secara fisik mereka sehat, tetapi mengalami koma. Genia beranggapan ini akibat trauma karena memasuki kastil terlarang. Genia yang tak tega melihat putri kesayangan dan saudaranya tergeletak tak berdaya mencoba mengungkap penyebab hal tersebut. Akhirnya, dia menemukan ada bekasbekas lendir yang menempel di tubuh Deni dan Dina. Dia memeriksa dan meneliti lendir tersebut. Hasilnya, Genia mengetahui jika sosok berlendir yang diceritakan Deni adalah spesies baru yang belum pernah ditemukan. DNA yang dimiliki spesies tersebut sangat baru dan asing bagi Genia. Penelitian yang seharusnya menjadi ide Deni kini menjadi tanggung jawab Genia. Setelah beberapa waktu meneliti lendir yang dia dapatkan. Genia merasa buntu dan hampir putus asa. Genia yang kebingungan, memiliki ide untuk kembali memasuki kastil. Ketika dia tiba di lokasi, dia tidak melihat kastil tersebut. Dia kembali ke laboratorium dan melihat Dina dan Deni telah siuman. Hal ini membuat Genia sangat gembira. Mereka menceritakan hal yang sama. Mereka diminta untuk
62 kembali ke kastil. Setelah melakukan persiapan yang matang mereka kembali memasuki kastil. Kali ini Deni dan Dina terlihat tegar dan seperti mengenal sosok-sosok yang tinggal disana. Deni dan Dina berbicara dengan pemimpin yang ada di kastil. Dia menjelaskan bahwa sebenarnya roh mereka adalah satu. Masuknya energi supranatural dari luar yang tidak dikehendaki membuat inti roh mereka terpecah menjadi dua. Hal itu membuat mereka menjadi anak kembar. Dia juga menjelaskan jika mereka ingin bertahan hidup, maka mereka harus mengalah untuk menjadi salah satu dari diri mereka. Dia juga menjelaskan jika makhluk berlendir itu adalah media bagi mereka untuk kembali menjadi satu. Setelah mendengar penjelasan tersebut suasana menjadi hening dan para penghuni kastil tersebut tak menampakkan diri lagi. Sadar akan apa yang dikatakan oleh pemimpin kastil. Deni dan Dina menceritakannya kepada Genia. Dia terkejut dan bingung, tetapi dia mengajak mereka untuk menyelesaikan masalah yang tengah dihadapi dengan tenang. Mereka pun meneliti lendir yang telah didapatkan sebelumnya. Ketika sedang melakukan penelitian, tiba-tiba lendir tersebut bergerak dan menyebar ke tubuh Deni dan Dina. Mereka mengerang kesakitan untuk beberapa waktu. Setelah tertutup lendir, Deni berhasil membuka lapisan lendir yang menutupi tubuhnya terlebih dahulu. Hal yang mengejutkan terjadi karena Dina menghilang tanpa jejak. Hal ini membuat Genia sedih karena harus kehilangan putrinya. Deni juga merasa sedih karena saudara yang baru saja bertemu harus terpisah kembali, awalnya dia berpikir seperti itu. Kemudian dia merasakan kehadiran Dina dalam dirinya. Ketika matanya menyala. Dia merasa seperti memiliki kemampuan mata yang
63 membuatnnya memasuki waktu pada jarak tertentu. Deni berusaha mengembalikan waktu sebelum adiknya menghilang. Naas, dia masih belum punya cukup kemampuan untuk mengenddalikannya. Ternyata, kemampuan tersebut berlaku dalam satu putaran waktu. Dia menjadi kesal karena tidak bisa mengembalikan adiknya yang menghilang. Dengan memiliki kemampuan seperti itu, Deni merasa berhutang budi pada Dina. Dia bertekad tidak menyia-nyiakan pengorbanan saudaranya itu. Dia menjelaskan kepada timnya bahwa mereka harus memenangkan kontes ilmiah tersebut. Deni meminta izin kepada Genia untuk menggunakan sisa lendir yang terdapat di laboratorium. Dia ingin menggunakannya sebagai bahan penelitian untuk kontes ilmiah. Genia menyanggupi, tetapi harus dengan protokol kemanan yang ketat. Mereka telah mengetahui betapa berbahayanya lendir tesebut jika dibiarkan lepas pengawasan. Genia juga meminta beberapa rekannya untuk menjadi sukarelawan dalam penelitian itu. Tiba waktu kontes ilmiah tingkat nasional. Deni beserta timnya mulai menjelaskan objek yang mereka teliti. Sontak, beberapa orang tidak percaya dengan pemaparan yang mereka lakukan. Kevin dan Chika, mereka adalah ilmuan yang mempertanyakan kebenaran dari pemaparan Deni dan timnya. Mereka bersikap acuh dan meremehkan hasil penelitian Deni beserta timnya. Deni mulai melakukan praktek penelitiannya tersebut. Dia meminta pihak lain waspada. Dia bahkan meminta pihak keamanan melakukan pengawasan khusus terhadap objek penelitiannya. Deni meminta para sukarelawan menuju tempat yang telah ditentukan, yakni disamping makhluk lendir.
64 Kemudian, Deni meminta para sukarelawan menyentuh makhluk lendir tersebut secara bersamaan. Makhluk lendir itupun langsung melahap kedua sukarelawan tersebut. Hal ini membuat orang yang menyaksikannya kaget. Tak lama kemudian, satu sukarelawan berhasil keluar dari lapisan lendir yang menyelubunginya. Sedangkan, sukarelawan lainnya menghilang begitu saja. Setelah melakukan praktek terhadap sukarelawan. Para ilmuan yang menghadiri acara tersebut terkejut karena mereka melihat penemuan yang bisa meningkatkan kemampuan dari suatu spesies secara signifikan. Kemampuan yang diperoleh sukarelawan berbeda dengan kempapuan Deni. Dia mendapatkan peningkatan fisik yang signifikan. Perbedaan kemampuan tersebut disebabkan tidak adanya koneksi supranatural layaknya Deni dan Dina. Menanggapi hasil penemuan Deni dan timnya. Mereka memutuskan bahwa makhluk lendir ini sangat berbahaya. Makhluk ini mampu meghilangkan suatu spesies tanpa jejak untuk meningkatkan kemampuan makhluk hidup lainnya. Berkaca pada kejadian yang menimpa saudaranya. Deni bergegas menggunakan kemampuannya untuk menyelamatkan sukarelawan yang menghilang. Mata Deni mulai menyala, tanda dia sedang berusaha memasuki waktu sebelum praktek dilakukan. Setelah berhasil menentukan waktu yang tepat, Deni menghilang dari tempat praktek. Dia berhasil menemukan sukarelawan tersebut dan membawanya kembali. Dia muncul kembali di tempat praktek bersama sukarelawan yang hilang. Deni berhasil menyelamatkan sukarelawan tersebut, tetapi dalam kondisi lemah.
65 Penelitian yang dilakukan Deni membuat mereka berhasil memenangkan kontes ilmiah itu. Hasil penelitian yang meningkatkan kemampuan secara signifikan, tidak mampu disaingi pesaing mereka. Gelar juara yang diraih membuat Deni merasa bahagia. Pihak sekolah juga bangga terhadap pencapaian tersebut. TAMAT.
66 Mengukir Sendu Setitik Rindu Syafila Chabsarotul Islamiyah Selly adalah mahasiswi semester lima, hari ini Selly pulang agak terlambat, karena masih ada tugas kelompok yang tadi siang harus dia kerjakan. Namun tiba-tiba rintik hujan datang mengguyur. “Ah sial, kenapa hujan ini tidak redup, bagaimana caraku untuk pulang?” Tidak lama kemudian, tak sengaja Dika lewat dan melihat Selly yang sedang gelisah, lantas Dika pun menghampiri Selly. Dika sendiri adalah sahabat Selly namun mereka berbeda fakultas. “Selly! Tumben sekali belum pulang jam segini?” “Bagaimana mau pulang, hujannya saja tidak mau berhenti, tugas kuliah juga banyak yang belum aku kerjakan lagi!” ucap Selly dengan nada kesal. “Haduh, Selly pekerjaanmu mengeluh terus. Coba sedikit saja kamu bisa santai dan tenang dengan tugas-tugasmu itu.” sahut Dika. Di tengah-tengah obrolan mereka berdua, tiba-tiba hujan yang tadinya deras tiba-tiba mulai redup seperti tertiup angin.
67 Lantas mereka berdua memutuskan untuk pulang. Sesampainya di rumah, Selly bergegas untuk membersihkan diri, bukannya sehabis membersihkan diri dia makan, Selly malah asik membuka laptopnya untuk mengerjakan tugastugasnya. Selly sendiri adalah salah satu mahasiswa yang Ambis. “Aduh tugas banyak banget lagi, mana hilang satu tumbuh seribu.” gumam Selly sambil menggerutu membuka laptop. “Selly ayo makan dulu!” teriak Fatimah ibu Selly mengajak makan malam. “Iya Bu sebentar, aku masih sibuk mengerjakan tugas.” sahut Selly. “Ah ya Tuhan lelah sekali tubuhku ini, setiap hari harus pergi ke kampus, belum lagi pulang-pulang harus membantu ibu, dan malamnya aku harus mengerjakan tugas.” ucap Selly sembari menatap langit malam dengan penuh bintang di balik bilik jendela kamarnya. Selly sendiri hanya hidup berdua dengan ibunya. Ayah Selly sudah meninggal ketika dia masih duduk di kelas 6 SD. Semenjak ayahnya meninggal Selly selalu sibuk dengan kegiatan di rumah dan kegiatan di sekolah. Apalagi sekarang Selly sudah beranjak dewasa dan sudah duduk di bangku kuliah. Terkadang dia merasa lelah karena kebingungan. Bagaimana tidak di satu sisi dia harus mengerjakan tugastugas kuliahnya, di sisi lain, dia juga harus membantu ibunya membereskan rumah. Hingga suatu ketika ibunda Selly jatuh sakit karena kelelahan, dan mengharuskan ibunya untuk dirawat di rumah sakit.
68 “Problematika apa lagi ini yang datang di hidupku?” ucap Selly dengan memacarkan raut muka sendu. Semenjak hari itu, setiap hari Selly harus pintar-pintar membagi tugas pekerjaannya. Setiap pagi Selly pergi ke kampus untuk kuliah seperti biasanya. Selepas pulang dari kampus Selly melanjutkan pekerjaan rumah yang biasa ibunya lakukan. Sore hari, dia menyempatkan untuk menjenguk ibunya di rumah sakit dan malamnya pukul 21.00 Selly meminta izin kepada ibunya untuk balik ke rumah. Sesampainya di rumah, Selly bukannya tidur, dia malah mengerjakan tugas-tugas kuliahnya besok. “Lelah sekali hari ini.” ucap Selly dengan membantingkan tubuhnya ke atas kasur. “Dewasa! Kata yang dulu sering aku ucapkan dan ingin aku rasakan, ternyata tidak semudah itu, apakah aku bisa melaluinya? Entahlah.” Selepas memikirkan problematika kehidupannya yang begitu rumit, Selly lantas terlelap dalam tidurnya. “Hore!, aku menang. Sekarang giliranmu!” ucap Selly sembari menyodorkan bola bekel. “Kamu hebat sekali Selly, bisa memenangkan permainan ini dengan mudah” “Aku kan sering bermain ini bersama ibu! hehe!” “Eh! itu ada kupu-kupu ayo kita kejar dia!” ucap Selly. “Wah iya, ayo!” Lantas mereka berdua berlari mengejar kupu-kupu yang beterbangan.
69 Detik demi detik berputar, tak terasa hari sudah beranjak pagi, tepat pukul 07.20 dan matahari mulai muncul dan bersiap mengelilingi kota dengan awan yang cerah. “Aduh ya Tuhan, sudah jam berapa ini? Aku terlambat.” ucap Selly dengan muka terkejut ketika melihat jarum jam dinding. “Eh eh, duh sudah siang, aku belum bersiap-siap buat berangkat ke kampus lagi.” ucap Selly sembari beranjak dari tempat tidurnya dengan terburu-buru. Setelah selesai membersihkan diri, lantas Selly bergegas untuk berangkat ke kampus. Sesampainya di kampus, Selly lantas masuk ke dalam ruang kelas. Namun saat kelas berlangsung Selly masih memikirkan tentang mimpinya tadi malam yang benar-benar nyata, Selly merasa kalau dia bisa kembali lagi ke dunia masa kecil. “Mimpiku kemarin malam benar-benar aneh sekali, seperti nyata. Apakah mungkin ini pertanda aku bisa kembali ke masa kecil, ataukah aku terlalu memikirkannya sampai aku memimpikannya.” ucap Selly di dalam hatinya. “Selly, ada apa denganmu, saya perhatikan dari tadi melamun terus, tidak fokus terhadap materi perkuliahan.” ucap Dosen menegur Selly. “Eh iya Pak maaf.” sahut Selly dengan terkejut. “Ya sudah, untuk selanjutnya tolong kamu presentasikan materi bab 4 tentang manajemen pemasaran.” “Baik Pak!” ucap Selly.
70 Dan setelah perkuliahan selesai, Selly menyempatkan waktu untuk bertemu Dika. Selly lantas bercerita tentang mimpinya tadi malam. “Aku kemarin bermimpi kalau aku kembali ke dunia masa kecil, aku merasa hal itu benar-benar terjadi, aku bermain seolah-olah tidak ada beban.” ucap Selly. “Ngaco kamu Sell, dewasa tetaplah dewasa, bagaimana mungkin kita bisa kembali ke dunia masa kecil. Ini dunia nyata Sell, bukan dunia sinetron yang bisa kamu putar balikkan ke dunia masa lalu. Dulu kamu bilang ingin cepat-cepat dewasa, sekarang malah tidak suka. Bagaimana kamu ini Sell?” timpa Dika. Selly tidak menimpa pertanyaan Dika dengan sepatah kata pun, karena Selly merasa apa yang di ucapkan Dika ada benarnya juga. Melihat hari yang sudah mulai menampakkan senja, lantas Selly mengajak Dika untuk pulang. Kali ini Dika memutuskan untuk mengantarkan Selly pulang ke rumah, karena melihat raut muka sahabatnya yang begitu sendu dia khawatir akan terjadi apa-apa kepada sahabatnya yang keras kepala itu. Sesampainya di rumah, Selly lantas membaringkan tubuhnya setelah seharian lelah dengan berbagai problematika kehidupannya yang amat sangat rumit, yang mungkin membutuhkan kajian khusus untuk menuntaskannya. Di tengah waktu istirahat dengan suasana malam yang sunyi, tiba-tiba Selly terbawa lamunan. Sambil menatap langit malam yang penuh dengan bintang di balik bilik jendelanya Selly pun membayangkan kehidupannya di masa kecil, masa di mana ia sungguh bahagia tanpa problematika.
71 Hari ini tepat sudah 1 minggu ibu Selly di rumah sakit. Fatimah ibunda Selly sudah boleh untuk pulang ke rumah. Detik itu setitik pikiran Selly sudah sedikit berkurang, tapi tetap saja problematika itu terus ada di dalam dirinya. Keesokannya, matahari sudah beranjak naik. Suara ayam pun sudah mulai terdengar seiring dengan fajar menyapa. Hari ini adalah hari Minggu, hari di mana Selly menghabiskan waktu untuk bersenang-senang. Dan seperti biasa Selly keluar rumah, dia berkeliling kota dengan Dika sahabat karibnya. Tidak lama kemudian terdengar suara motor Dika di halaman depan rumah, dan benar juga suara Dika terdengar di depan pintu menyebut-nyebut namanya. Mendengar suara Dika, Selly bergegas keluar dalam bilik kamarnya. “Sudah ayo berangkat!” ucap Selly sembari menyeret tangan dika untuk keluar rumah. Di sepanjang perjalanan, Dika merasa aneh karena tidak biasanya Selly memperlihatkan raut muka sendu. Selly yang biasanya selalu ceria, kini terlihat berbeda. Hari ini Selly dan Dika berkeliling mengitari kota, dengan cuaca yang tampak cerah serta udara yang tampak membakar kulit. Mereka berdua memutuskan untuk beristirahat sejenak di suatu taman sembari Dika mengajak Selly untuk berbincangbincang santai. “Bagaimana dengan progres problematika kehidupan kamu Sell?” ucap Dika. “Jangan tanyakan perihal problematika itu lagi. Aku sudah lelah Dik! Setiap hari aku harus memikirkan problematika yang cukup rumit.” sahut Selly dengan nada kesal.
72 Melihat sahabatnya yang sudah mulai kesal, lantas Dika tidak menimpa perkataan Selly yang akan membuat pikirannya semakin kacau. Selly dan Dika hanya terdiam tanpa sepatah kata pun yang terucap, selain dengan hembusan nafas yang Dika keluarkan, yang semakin menciptakan kebisuan di antara mereka. Di tengah-tengah istirahat mereka, tiba-tiba Selly melihat ada seorang anak kecil yang sedang asik bermain di taman dengan kedua orangtuanya. Ya gadis kecil itu bermain seolaholah tidak memikirkan kerasnya dunia, berbeda dengan orang dewasa yang selalu rumit dengan problematika. Seketika itu Selly termenung, dan lagi-lagi dia terbawa suasana. “Melamun lagi, pasti kamu sedang melamunkan masa kecil kamu kan Sell? Sudah berapa kali aku bilang, kita sudah dewasa, tidak mungkin kembali lagi ke dunia masa kecil. Memikirkan hal itu hanya membuat perasaan kita sendu, tapi tidak merubah waktu.” ucap Dika. “Cukup Dik! Kamu tidak tahu bagaimana aku melalui semua ini, melalui malam-malam yang penuh dengan problematika.” sahut Selly. “Aku tahu itu Sell, tapi apakah dengan terus menerus memikirkannya, akan mengembalikan semuanya?” timpa Dika. Selly lagi-lagi tidak menjawab ucapan Dika, dan dia masih tetap saja terbawa dalam lamunan. Tak ada kata-kata terucap, selain renungan dalam lubuk hati Selly. “Ya Tuhan, kerinduan akan keindahan yang selama ini aku inginkan, aku tak ingin semuanya harus berakhir. Walau bertahun-tahun telah aku lewati dengan berbagai
73 problematika kehidupan, tetapi apakah aku mampu mengantarkan sebuah keindahan yang aku inginkan.” “Apakah semua keindahan yang aku ingingkan berakhir. Keindahan yang sekejap tak mungkin lagi aku miliki. Tapi nanti akulah yang akan menantang segala peliknya problematika ini.” Sampai Selly terbesit sebuah perkataan dari Dika kepadanya. ”Rindu akan masa kecil hanya akan menciptakan sendu, dan itu tidak bisa merubah waktu.” Dengan rasa berat hati, Selly mencoba meratapi semua hal yang telah terjadi, mencoba menerima semua problematika, dan melepaskan semua keindahan yang tak mungkin lagi dia miliki. Selly tertegun, matanya menatap langit biru dengan tatapan tajam, membelah matahari yang kian bersinar. TAMAT.
74 Sesal Dalam Degup Timurrana Dilematik Degup jantungnya menghangat. Merambat, memeluk jiwa dengan erat. Namun siapa sangka, jika kehangatannya menciptakan kepedihan yang mendalam. Kehangatan yang tercipta dari sebuah kegelapan, justru menciptakan lorong waktu penuh penyesalan. Pikiranku melayang, tertampar akan sebuah kenyataan. Pertengkaran yang terjadi antara kita ternyata meninggalkan bekas yang teramat menyakitkan. Siapa sangka jika kebodohanku justru membuat isak sesal dalam degup yang kurasa. Andai saja, aku dapat memutar kembali waktu, takkan pernah kubiarkan kamu pergi meninggalkanku. “Alex” Lantunan itu membawaku kembali ke dalam sisi gelap realita. Lantunan yang menenangkan, namun juga menyesakkan. Sosok Velly ada dalam wanita paruh baya yang membawaku kembali ke dalam realita. Kudapatkan sorot matanya yang sendu penuh kehangatan. Berusaha menenangkan tanpa sepatah kata. Aku mengerti, namun aku teramat menyakiti.
75 Kulemparkan senyum penuh paksa. Namun beliau tahu, bahwa saat ini tidak ada yang sedang baik-baik saja. Sorot matanya berubah menjadi kekhawatiran. Seketika tubuhku didekap dengan hangatnya. Membelai rambut dengan serpihan rasa kehilangan. Memberi isyarat bahwa semua akan baik-baik saja. Peraasaanku meluap, mencengkram erat, membuat sulit bernafas. Isak tangis terdengar saling bersahutan. Mencoba menenangkan, walau tahu sulit dilakukan. Tujuh menit berlalu. Dekap kehangatannya perlahan meregang, terganti dengan bulan sabit terukir di sudut bibirnya. Sorot matanya yang terlihat jelas memintaku bertahan walau untuk sebentar. Dengan langkah kaki yang teramat berat, airmata yang tak dapat terbendung, kuantarkan Velly ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Isak tangis pecah saat tubuh Velly mulai ditimbun dengan tanah. Tak ada yang menyangka jika sosok mentari itu harus terbenam untuk selamanya. Vellyra Afandi. Begitulah namanya terukir indah di atas batu nisan di hadapanku. Aku terhipnotis, kembali menjelajahi waktu saat masih bersamanya. Kulihat senyum merekah di sudut bibirnya. Setiap pojok sudut kampus selalu dipenuhi oleh dirinya. Tingkahnya yang konyol selalu menjadi bahan candaan teman-temannya. Bahkan Velly tak pernah merasa sakit hati jika candaan teman-temannya sewaktu-waktu kelewat batas. Aku bahkan tak tahu bagaimana harus menggambarkan sosok dirinya yang sekarang. Entah polos atau bodoh sampai-sampai Velly memiliki hati yang kelewat baik. “Aaleexx!!”
76 Seperti itulah ketika Velly menyadari bahwa aku sedang memperhatikannya dari kejauhan. Teriakan yang menggema di setiap sudut kampus, selalu membuatku ingin menghilang dari muka bumi. Bagaimana tidak, Velly selalu berteriak ke arahku dan berlari kecil bak bocah berusia lima tahun yang merasa senang karena mendapatkan sebuah balon dari orang tuanya. Dan tujuannya menghampiri akupun tidak pernah jelas. Terkadang Velly hanya menanyakan kabar, padahal kita sudah bertemu dan berangkat ke kampus bersama. Serandom dan sedekat itu memang. Jika kalian bertanya hubungan kami ini apa dan seperti apa? Kita bisa menjadi apapun yang kalian pikirkan. Ya, apapun itu. Hubungan kami terjalin bukan tanpa alasan. Aku yang memiliki riwayat penyakit katub jantung, sudah menjadi pengunjung tetap di rumah sakit. Saat itu usiaku menginjak 10 tahun. Jika kebanyakan anak 10 tahun bermain dengan bahagianya, aku justru harus bolak-balik mengunjungi rumah sakit. Saat itu aku telah merasa lelah karena tak kunjung sembuh. Sempat terbesit untuk kabur dari rumah sakit saat melakukan medical chekup, namun belum sempat aku keluar dari gedung, dadaku terasa amat nyeri dan nafasku terasa berat. Tubuhku melemas, setiap sudut yang kupandang berputar hebat, kemudian keadaan perlahan menggelap. Saat itulah bocah sembilan tahun mendapatiku terbujur lemas di koridor rumah sakit yang sepi. Dengan polosnya bocah itu membawaku di punggungnya seperti menggendong sebuah boneka. Dengan tubuh yang jauh lebih kecil daripada tubuhku, bocah itu berusaha dengan tertatih menemui salah seorang tenaga medis yang sedang bertugas. Dan ya, sekonyol itulah asal mula keterikatan ini dimulai.
77 Namun jangan pernah berpikir tak pernah ada selisih paham. Selalu ada hal-hal kecil yang membuat kami berselisih paham hingga bertengkar. Namun tak pernah ada saat kami benar-benar bertengkar hebat sebelumnya. Sampai saat di mana kebodohanku tidak mempercayai Velly yang sudah kukenal lebih dari 10 tahun. Dan hal itu yang menjadi penyesalan terhebat dalam hidupku. Masih terekam jelas bagaimana baiknya Velly mencoba mengingatkan. Namun kesalahanku menganggap kebaikannya memiliki maksud lain berujung cahayanya padam selamanya. Saat itu kehidupan mahasiswa baru menjadi kehidupan yang sangat aku nantikan. Suasana, teman, serta lingkungan di ranah kampus membuatku bersemangat menjalani hari-hari sebagai mahasiswa baru. Kehidupan menjadi mahasiswa baru berjalan baik, akademik, organisasi, pergaulan, hingga asmara sudah aku dapatkan dalam waktu singkat. Namun, di balik kesempurnaan itu, hubunganku dengan Velly sedikit runyam. Entah mengapa, dua bulan belakangan ini Velly selalu bicara hal-hal yang tidak masuk akal mengenai Shinta kekasih baruku. Padahal sebelumnya ia tak pernah bertindak seperti ini. Di masa-masa SMP maupun SMA, Velly selalu mendukung apapun yang menjadi pilihanku, termasuk dalam hal asmara. Keikutcampuran Velly kali ini membuat hubungan kami merenggang secara perlahan. Bagaimana tidak, Velly selalu bicara omong kosong mengenai Shinta. Yang katanya Shinta sok poloslah, pembohonglah, hanya memanfaatkan akulah, ada saja omong kosong yang diucapkan Velly setiap harinya. Tentu aku tidak percaya dengan apa yang dikatakan Velly, karena aku tahu benar kepribadian Shinta seperti apa.
78 Puncak pertengkaran kami terjadi saat penyakitku kambuh dan harus di rawat inap di rumah sakit. Saat di rumah sakit Velly datang menjenguk, namun bukan dengan tatapan khawatir, ia justru datang dengan emosi yang membeludak dan memarahiku tanpa aku tahu apa penyebabnya. “Kenapa si Vell? Dateng-dateng bukannya nanya kabar malah marah-marah nggak jelas”, tanyaku dengan sedikit emosi. “Kan udah aku bilang, cepet selesein hubungan kamu sama Shinta. Shinta itu bukan perempuan baik-baik. Liat sekarang kondisi kamu, kalau bukan karena Shinta, penyakit kamu nggak bakal kambuh”, jelas Velly dengan suara yang makin meninggi. Keadaan makin tak bisa dikondisikan. Ada rasa meluap dari dalam yang tak dapat dibendung. Emosi itu tumpah, setelah beberapa waktu adu argumen. Aku marah sejadi-jadinya. Tidak mempedulikan apa yang Velly pikir, tidak mempedulikan apa yang Velly rasa. Ini adalah kali pertama aku membentak hingga membuatnya menangis gemetar ketakutan. Sorot matanya jelas menggambarkan kekecewaan yang mendalam. Dengan tatapan tak percaya, Velly pergi meninggalkan aku sendirian di kamar. Terbesit rasa sesal saat menatap matanya. Mata yang selalu memancarkan kehangatan, seketika berubah. Kuputuskan untuk mengejarnya, walau aku tahu kondisiku sedang tidak baik-baik saja. Kondisiku makin lemah, namun Velly tak kunjung kutemukan. Tempat-tempat yang sering Velly datangi saat sedang kecewa sudah kudatangi, namun ia tak ada di sana. Kuputuskan istirahat sejenak, kuatur nafasku sembari memikirkan tempat-tempat yang menjadi kemungkinan di
79 datangi Velly. Lalu di seberang jalan aku melihat sosok perempuan cantik yang memakai dress mewah sedang bersama seorang laki-laki paruh baya berusia sekitar 40 tahunan. Tanpa banyak berpikir, aku menghampirinya. Dan betapa terkejutnya, ketika aku menyadari ternyata perempuan itu adalah Shinta. Shinta tak memberi penjelasan apapun, bahkan ia tak merasa bersalah sedikitpun padaku dengan keadaan yang saat ini terjadi. Lagi dan lagi, aku sendiri. Velly pergi dan sekarang Shinta. Kepalaku pening, seketika kilas balik kejadian di rumah sakit terulang kembali. Velly yang selalu berusaha memperingatiku selama dua bulan belakangan tak pernah kugubris. Penyesalan itu makin terasa, mengingat sampai detik ini aku belum bisa menemukan Velly. Dering handphone terus terdengar. Mama, begitulah layar handphone menunjukkan setiap kali ada telepon masuk. Aku tahu mama khawatir, namun jika aku mengangkatnya, pasti mama menyuruhku kembali ke rumah sakit. Lagi-lagi kuabaikan telpon dari mama. Tingg! Satu pesan masuk dari mama. “Mama tahu kamu sedang di luar mencari Velly. Mama juga tahu beberapa bulan belakangan ini hubungan kamu sama Velly sedang tidak baik-baik saja. Tapi Mama mohon, jangan membuat Mama khawatir. Cepat kembali ke rumah sakit Velly ada di rumah sakit.” Aku bergegas menuju rumah sakit, dan langsung menuju ruang rawat inapku. Kupikir Velly akan menungguku di ruang rawat inap, namun saat sampai hanya ada Mama dan Papa.
80 “Velly mana Pa Ma?” tanyaku dengan terengah-engah mencoba mengatur nafas dengan normal. Aku tak menyadari perubahan raut wajah kedua orang tuaku. Kupikir raut wajah sedih dan khawatir mereka adalah hal yang wajar, karena aku diam-diam kabur dari rumah sakit. Namun betapa terkejutya aku ketika diantar ke ruang UGD, yang di dalamnya ada Velly terbujur tak berdaya. Kulihat kedua orang tua Velly menangis tak henti-henti. Mengasihani mentari mereka meredupkan cahayanya. Tidak lama dokter keluar dari ruangan. Dokter memfonis Velly telah mengalami mati otak, yang mana dirinya tak bisa bertahan lebih lama lagi. Sontak semua terkejut, sampai-sampai Mama Velly kehilangan kesadaran. Aku masih terdiam. Mencoba memahami apa yang sedang terjadi dan berharap semua ini hanya mimpi. Keadaan berubah menjadi sunyi. Mama Velly yang sudah sadar menghampiriku dan memberiku sepucuk surat dengan amplop berwarna putih. “Dear Alex. Terimakasih karena sudah mau berteman dengan gadis keras kepala sepertiku. Maaf, ternyata aku belum pantas untuk disebut sebagai sahabat olehmu. Namun kamu harus tahu, kamu, adalah sahabat terbaik yang pernah aku miliki. Aku tahu beberapa bulan terakhir ini hubungan kita sedang tidak baik-baik saja. Namun seperti sebelumsebelumnya, apapun keadaannya kita tetap bersahabat. Aku harap kamu memaafkan semua hal yang sudah aku perbuat kekamu. Dengan itu, maka ijinkan degup jantungku menemani kehidupanmu. Ijinkan aku menjelma sebagai degup itu dan menemanimu setiap waktu. Aku ingin kamu sembuh dan terlepas oleh rasa sakit itu. Aku harap kamu juga bisa berbaikan dengan keadaan, dan menerimaku dalam wujud yang berbeda.
81 Sahabatmu Velly” Kakiku melemas, tubuhku gemetar hebat, tak tahu harus bereaksi seperti apa. Sakit, namun melebihi rasa sakit yang selama ini kurasakan. Pandanganku menggelap, sesak yang begitu mendalam terasa menyakitkan. Berulangkali mengutuk diri, berharap Velly sadar kembali. *** “Alex. Ayo kita pulang nak” Aku tersadar kembali menghadapi pahitnya kenyataan. Kutatap lekat peristirahatannya yang terakhir. Dengan dipenuhi rasa sesal, aku mencoba mengabulkan satu persatu permintaan terakhir Velly. Mungkin aku tak bisa menatap cahaya yang terpancar darinya lagi. Namun kehangatannya akan terus berdetak sampai akhir hidupku. Terimakasih karena telah memancarkan keceriaan selama ini. Terimakasih karena telah menggenggam tanganku apapun yang terjadi. Terimakasih atas segala pengorbanan yang takan pernah terganti oleh apapun. Maaf, ternyata aku adalah orang terakhir yang menyakitimu teramat mendalam. Maaf, jika kebodohanku berujung menenggelamkan cahayamu. Jangan khawatir, aku akan menjaga orang-orang yang terkasih. Aku akan membagikan kehangatan yang kamu titipkan. Aku akan menghadirkan sosokmu dalam wujud yang baru. Aku harap, kamu memaafkan aku dan melepaskan tanggung jawabmu kepadaku. TAMAT.
82 Kawan Lama Rahma Nur Qabibi Malam kembali datang diiringi suara keyboard yang menggema di sebuah kamar seorang gadis muda yang saat ini terlihat pusing akan pekerjaannya pada sebuah benda persegi panjang itu. Sesekali kedua matanya melirik arah jam untuk memastikan bahwa dirinya masih sempat dalam mengumpulkan tugas yang sudah hampir telat. Bukan salahnya tidak mengerjakan namun begitu banyak kegiatan yang harus dia lakukan di hari yang sama, sehingga beberapa tugasnya terbengkalai. Nita yang tiada kabar sejak 4 warsa ini, tanpa pamit, tanpa mengucapkan salam, ia pergi menempuh pendidikan di Korea. Sehingga, Ayun sahabat karibnya selalu menanti kabar dari Nita. Sejak berusia 6 tahun sampai sekarang mereka berkawan baik. Suka duka, susah senang mereka selalu bersama. Mereka berdua sering dibilang adik dan kakak oleh orang yang baru mereka kenal. “Ya Tuhan, waktu kecil hanya bermain saja seperti sewaktu aku dan Nita dulu, tapi lihat sekarang. Aku harus berduaan denganmu wahai tugasku,” omelnya sembari terus mengetik.
83 Setelah hampir 3 jam dirinya berpacu dalam waktu demi sebuah tugas yang terbengkalai, akhirnya dirinya berhasil mengumpulkan tugas itu tepat waktu. Nafasnya terdengar lebih lega dan kini ia bisa berbaring diatas ranjang. Kedua matanya menatap langit kamar yang begitu tinggi dan terlintas masa indahnya bersama seorang perempuan bernama Nita ini. Sebuah sunggingan senyum muncul di bibirnya dan sesaat ada buliran air mata yang jatuh, karena merindukan sosok sahabat yang sudah lama tidak bisa ia hubungi. “Ayun! Ada tukang siomay di depan gang beli yuk!”, suara nyaring Nita terdengar. “Tapi aku mau batagor Mang Udin saja,” Ayun yang punya keinginan berbeda mencoba mengubah keinginan sahabatnya ini. “Satu jam yang lalu bilangnya mau siomay terus sekarang batagor, nanti kalau tukangnya sudah jauh kau marah padaku,” omel Nita Panjang lebar. “Maklumi saja namanya manusia banyak maunya,” balas Ayun tanpa rasa bersalah. “Sudahlah, beli yang ada sebelum kau menyesal nantinya,” Nita menarik tangan Ayun dan membawanya ke tukang siomay yang sedang mangkal. Memori dari semua yang dilakukan Ayun dengan Nita Kembali berputar. Sejenak dirinya ingin sekali memutar waktu agar bisa bertemu kembali dengan sahabat satu-satunya yang menurutnya bisa mengerti dirinya dengan baik. Tangannya meraih sebuah foto di atas nakas yang menampilkan foto dua orang gadis kecil yang satu berkacamata dan satunya dikuncir ekor kuda, Ayun meraba foto itu sembari mengenang semua
84 kejadian yang pernah dirinya lalui sebelum berpisah dengan sahabatnya ini. “Nit. Bagaimana kabarmu? Kamu tidak ada inisiatif untuk menghubungiku? Kenapa kamu menghilang begitu saja?” Ayun memarahi sosok di foto itu sembari menahan kesedihannya. Masa sekolah adalah masa yang paling indah bagi Ayun. Di mana dirinya awal bertemu dengan Nita yang memiliki sifat lebih periang dibanding dirinya yang lebih nyaman menonton di bangku penonton. Saat itu Nita tengah tampil di sebuah acara drama di sekolahnya, Nita yang masih berusia 6 tahun tampil begitu percaya diri dan luar biasa, bahkan dirinya mampu menguasai panggung dan membuat para penonton terkesan, begitupun Ayun yang saat itu hanya bisa duduk. “Hai aku Nita, namamu siapa?” sapa Nita kecil pada Ayun yang duduk di sudut kelas. “Ayun” Ayun menjabat tangan Nita dengan malu-malu. “Ayun, ayo temani aku beli mie lidi Mbok Mirna!” tanpa persetujuan anak di depannya, Nita sudah menggeret Ayun yang sebenarnya cukup pemalu. Warung Mbok Mirna inilah yang menjadi saksi bisu persahabatan mereka. Sejak saat itu Nita sering sekali bermain dengan Ayun, bahkan Nita bisa bercerita selama setengah jam tanpa jeda pada Ayun, Ayun sendiri hanya tersenyum mendengarkan betapa kerennya saat saat yang dilalui oleh Nita. Tak jarang mereka sering terlihat seperti kakak dan adik. Saking dekatnya, seakan Tuhan merestui hubungan persahabatan ini sampai mereka masuk di SMA yang sama dan jurusan yang sama pula. Mereka berangkat bersama, duduk
85 bersama, ke kantin, kamar mandi sekolah, bahkan sekadar dihukum pun sering bersama. Hari pun berganti, Ayun sudah berada di teras rumah mencari sinyal yang sempat menghilang sewaktu kelas online dilakukan. Awalnya baik-baik saja saja sampai dirinya mendapat pesan dari nomor tidak dikenal. Ayun mengabaikan telepon dan juga sms dari nomor tersebut namun karena merasa jengah iapun mengangkat telepon itu sembari marahmarah sampai sebuah suara menjawabnya dan dia terdiam sesaat. “Ternyata kamu bisa cerewet juga, Nit” ujar suara itu. “Nita?” Ayun tergagap ketika mengenali suara itu. “Memangnya siapa lagi yang bisa mengganggumu selain aku?”. Suara khas Nita membuat Ayun terharu. “Hai! Aku sudah di bandara bisakah kamu menjemputku?” tanyanya. “Baik, aku berangkat sekarang.” Ayun mematikan panggilan telepon itu dan bersiap. Ayun senang bercampur sedih dan juga marah karena sahabatnya ini baru menghubunginya lagi setelah 3 tahun tak ada kabar. Ayun memacu mobilnya menuju Bandara Soekarno Hatta untuk menjemput sahabat kecil yang sudah sejak lama ia tunggu kabarnya. Ayun menyempatkan diri untuk membeli beberapa camilan serta minuman dingin yang akan diberikan pada sahabatnya ini. Perjalanan menuju Bandara terasa menyenangkan. Pertemuan ini adalah perdana mereka setelah kelulusan, dalam bayangan Ayun sosok Nita yang ia kenal adalah remaja puber berpenampilan kekinian dengan jaket
86 rajut berwarna maroon serta rambut yang diikat namun itu sudah bertahun – tahun yang lalu. “Kira-kira dia seperti apa ya sekarang?” pikirnya selama perjalanan Setelah sampai di Bandara dan memarkirkan mobilnya, Ayun menelpon kembali nomor yang tadi dan mencari keberadaan sosok yang ia tunggu itu. Ada rasa grogi dan khawatir. Apakah Nita bisa mengenali sosoknya yang saat ini menjadi Mahasiswi jurusan Sastra Inggris yang tidak begitu populer sebenarnya. Setelah 10 menit berlalu akhirnya Ayun mendapati lambaian tangan dari wanita muda dengan model ala Korea yang begitu cocok padanya. Poninya masih menjadi gaya andalan sehingga dirinya tahu bahwa itu adalah Nita. “Nit!” panggil Ayun dan berlari menghampiri sahabatnya ini. “Hai! Ayunku satu-satunya yang kusayangi 123 ternyata sudah dewasa ya. Bangganya mama nak” puji Nita dan mereka tertawa. “Aku saja yang membawakan kopermu” Ayun mengambil alih koper yang dibawa Nita dan mereka mampir sebentar di sebuah café. “Sebentar aku ingin bertanya kepadamu. Kenapa kamu tidak pernah menghubungiku? Kamu hilang begitu saja bagai ditelan bumi lalu muncul ke permukaan seperti ikan.” Omelan Ayun membuat Nita hanya tersenyum kikuk. “Namanya juga manusia, sewaktu di Korea aku berniat menghubungimu tapi mohon maaf biaya hidup di sana begitu mahal dan hpku rusak. Aku menggantinya dengan yang baru,
87 tapi aku lupa nomormu.” Jelas Nita dan berharap penjelasannya itu cukup. “Tapi kamu menghilang selama tiga tahun!” Ayun memarahinya. “Kamu ini baru kutinggal tiga tahun sudah segalak ini.” Ledek Nita namun mendapat sentilan di keningnya. “Baru bertemu saja sudah membuatku menambah jumlah dosaku saja. Untungnya aku anak baik.” Ayun menenangkan dirinya. Mereka berbincang sebentar di sana sebelum akhirnya Ayun membawa Nita ke rumahnya. Seperjalanan mereka bercerita tentang kehidupannya di perantauan dan apa saja yang terjadi pada satu sama lain. Tak jarang mereka bertengkar untuk masalah sepele atau berkomentar tentang apapun yang ada di hadapan mereka, Ayun senang sosok yang ia tunggu sejak lama akhirnya kembali walau pastinya mereka tambah dewasa namun itu tak membuat mereka merasa canggung dan malah mereka lebih akrab dibanding yang sebelumnya. TAMAT.
88 Senja dari Ayah Wenny Indah Ardhita Titik-titik terbentuk siluet. Ditemani dengan terbenamnya matahari di ufuk barat. Senja merah cerah mulai mengukir indah. Deru ombak laut menghantam terumbu karang. Kapal kayu mendarat perlahan. Mata gadis itu terus menatap kapal lebih awal. Tapi tiba-tiba harapan itu hilang. Terbang ke suatu tempat dalam angin redup. Ya! Gadis itu kecewa, kali ini senja kembali lagi. Bhita, gadis kecil berparas cantik. Hanya satu yang diinginkan, bertemu sang ayah di hari ulang tahunnya. Dua minggu lagi Bhita berulang tahun ke-13, namun ayahnya tak kunjung menandakan kedatangannya. Bhita tinggal dengan neneknya di sebuah desa di pesisir pantai. Ibunya yang telah lama tiada, mengharuskan Bhita untuk hidup dan tinggal bersama sang nenek. Serta keputusan ayahnya yang memilih bekerja merantau di negeri orang. “Kapan ayah pulang, Nek?”. “Sabar saja, Ayahmu pasti pulang”. Kata-kata itu seolah tak pernah lupa untuk ia tanyakan setiap harinya kepada sang nenek. Dan hanya jawaban tak
89 pasti yang diberikan kepada Bhita. Tidak ada yang tau kapan kepulangan sosok orang yang sangat mereka rindukan itu. Seolah-olah harapan itu tidak akan menjadi kenyataan. Sore itu, seperti biasa Bhita berdiam di pinggir pantai sembari berharap ada kapal datang yang ditumpangi ayahnya. Tanpa sadar ada yang memanggil Bhita dari kejauhan. “Bhita!” teriak Rindang sambil melambaikan tangan. Rindang adalalah sahabat Bhita sejak mereka masih kecil. Bhita yang sedari tadi melamun tidak menyadari kalau Rindang sudah berada di sisinya sambil menepuk pundaknya. “Sudah kuduga kamu pasti di sini, Bhita” ucap gadis berambut pirang tersebut. “Ada apa, Rin?” jawab Bhita denga lesu. Bhita sebenarnya gadis yang periang, namun saat ini ia sangat tidak bersemangat. Rindang yang sudah mengenalnya dari masih TK sudah hafal dengan perubahan sikap Bhita. “Aku tadi mencarimu ke rumahmu, tapi kata nenekmu dari sepulang sekolah tadi kamu sudah pergi dan belum kembali lagi ke rumah.” ucap Rindang. Bhita hanya terdiam sambil menatap ombak laut tanpa menghiraukan perkataan temannya itu. Rindang yang sudah mulai kesal karena tak digubris akhirnya berkata lagi. “Yasudahlah kalau kamu tidak mau bicara denganku, lebih baik aku pulang saja ngapain aku disini bicara sama patung”. Mendengar ucapan tersebut, tak sedikitpun Bhita menoleh ke arah Rindang. Akhirnya Rindang pun pergi meninggalkan Bhita sendirian lagi di tepi pantai. Tak selang berapa lama dari kepulangan temannya itu, akhirnya Bhita juga memutuskan untuk pulang karena hari sudah mulai malam.
90 Malam harinya Bhita merasa hatinya risau dan tidak tenang, entah apa yang sedang gadis kecil itu fikirkan. Seperti ada yang ingin ia utarakan tapi ia sendiri tidak tahu apa yang ia rasakan saat itu. Kembali hanya bisa terdiam dan merenung dengan kegelisahan yang membingungkan baginya. Keesokan harinya, seperti biasa Bhita bersiap untuk berangkat sekolah. Sang nenek pun sudah menyiapkan sarapan untuknya dan cucunya tersebut. “Bhita ayo sarapan dulu, makanannya sudah nenek siapkan”. “Iya sebentar, Nek”. Ucap Bhita. Selepas sarapan dan berpamitan Bhita berangkat ke sekolah menggunakan sepeda yang dibelikan ayahnya 3 tahun yang lalu. Meskipun sepeda tersebut sudah cukup usang namun Bhita masih sangat sayang dengan barang pemberian ayahnya itu. Karena hanya itu yang bisa mengingatkan Bhita dengan ayahnya. “Kemana sih Rindang, masa iya belum datang, tumben” gumamnya. Tak butuh waktu lama, akhirnya sosok yang ia cari pun tiba di depannya dengan wajah yang tidak seperti biasanya. Rindang tak seceria kemarin, padahal biasanya dia selalu datang dengan tawanya yang khas. “Tumben kamu baru datang, Rin?” tanya Bhita. “Ya emang kenapa kalau aku baru datang. Ngapain kamu ajak ngomong aku, kan kemarin kamu tidak jawab kalo aku ajak ngomong” ucap Rindang dengan cukup sinis. “Maaf ya Rin, kemarin aku memang sedang tidak mood untuk ngobrol sama siapapun” ucap Bhita.
91 “Hmm iyadeh, lagian kamu kenapa si sampai kaya gitu. Pasti karena ayahmu belum memberikan kabar apapun tentang kepulangannya, ya kan?”. Bhita hanya mengangguk pertanda menyetujui ucapan dari temannya itu. “Sudahlah Bhita, percaya apa kata ayahmu kalau dia akan datang ketika hari ulang tahunmu tiba” lanjut Rindang sembari memberikan semangat kepada temannya itu. Bel pulang pun berbunyi, semua siswa berhamburan keluar kelas untuk segera pulang ke rumah masing-masing. Bhita mengayuh sepeda dengan cukup kencang agar sampai di rumah dengan cepat. Sesampainya di rumah.. “Bhita Bhita!” teriak seseorang dari luar rumah Bhita. Nenek Bhita pun membukakan pintu untuk orang tersebut dan dia pun berlari kedalam rumah Bhita dengan nafas terengah-engah. “Ada apa sih Rin, kayanya ada yang penting” jawab Bhita sembari memasukkan nasi ke mulutnya. Ternyata yang datang tidak lain adalah sahabatnya sendiri. “Ini aku baru dapat kabar dari bapak kepala desa, katanya desa kita akan mengikuti pertandingan Bulutangkis tingkat Kecamatan. Nah sekarang sudah mulai dibuka pendaftaran untuk peserta yang mau ikut, lalu nanti di seleksi untuk bisa mewakili desa kita ke tingkat Kecamatan”. “Terus kenapa?” tanya Bhita dengan santai. “Ya kamu harus ikut, kan kamu jago main Bulutangkis”. Bhita memang memiliki kemampuan yang baik dalam olahraga
92 apalagi Bulutangkis, beberapa kali ia mengikuti lomba antar sekolah dan selalu menjadi juara. Tak heran jika Rindang merekomendasikan Bhita untuk mengikuti lomba kali ini. Malam harinya, Bhita memikirkan tawaran dari Rindang. Dia juga masih memikirkan apa yang sudah diucapkan oleh sahabatnya tadi. “Kalau nanti kamu menang, ayahmu pasti bangga. Kan ayahmu selalu dukung kalau kamu mau ikut lomba seperti ini.” Satu sisi dia tidak berminat untuk mengikutinya, tetapi di sisi lain dia ingat akan perkataan ayahnya “Ayah bangga kalau kamu bisa menjadi pemenang dalam setiap pertempuran”. Hingga akhirnya Bhita terlelap dengan lamunannya. Keesokan harinya, Bhita bangun dengan rasa semangat yang tinggi. Ia sudah memutuskan untuk mengikuti pertandingan tersebut. Ia ingin membuat bangga ayah dan neneknya, terlebih jika ayahnya pulang nanti. “Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, Nek. Aku akan berlatih lebih giat lagi” ucap Bhita dengan raut wajah sumringah kepada neneknya. Nenek Bhita hanya tersenyum dan selalu memberi semangat kepada Bhita agar bisa memenangkan pertandingan ini. Hari demi hari berlalu hingga tiba dimana hari perlombaan tersebut diadakan. Sejak kemarin malam Bhita tidak bisa tidur membayangkan bagaimana dirinya pada saat pertandingan ini berlangsung. Banyak yang ia khawatirkan. Ia khawatir jika lawannya sangat jago, ia khawatir jika tidak bisa maksimal, dan ia khawatir tidak bisa membanggakan nenek dan ayahnya. Tapi itu semua ia hilangkan perlahan, Bhita meyakinkan dirinya bahwa ia pasti bisa dan pasti akan mendapat juara.
93 “Nek, Bhita berangkat ya, doakan semoga Bhita bisa menang” ucap Bhita. “Doa nenek selalu menyertaimu sayang.” jawabnya sembari mencium kening Bhita. Bhita beranjak keluar rumah untuk menemui Rindang dan Pak Kades yang sudah menunggu di depan. "Ayo Bhita nanti telat". Sesampainya di tempat pertandingan Bhita segera mempersiapkan diri, sedangkan Rindang pastinya jadi orang nomor 1 yang akan mengeluarkan suaranya untuk mendukung Bhita. Pertandingan berlangsung cukup sengit, Bhita benarbenar mengeluarkan semua tenaganya dalam pertandingan ini. Rindang yang sedari tadi memberikan semangat kepada Bhita seakan-akan tidak merasa lelah untuk meneriaki Bhita. Skor menunjukkan angka 21-20 untuk keunggulan Bhita hanya kurang 1 poin saja agar Bhita bisa mengunci kemenangan pertandingan kali ini. “Ayo Bhita semangat!” teriak Rindang dari kejauhan. Dan hingga akhirnya Bhita bisa menaklukkan lawannya serta memenangkan pertandingan tersebut dan menjadi juara. Tanpa sadar Bhita meneteskan air mata sembari berucap “Ini untuk ayah”. Bhita, Rindang dan Pak Kades akhirnya kembali pulang dengan membawa sebuah piala. Dengan segera Bhita berlari pulang untuk menunjukkan kemenangannya kepada neneknya. “Nek! Bhita pulang, Bhita menang nek!” teriak Bhita dari luar rumah diiringi dengan larian kecilnya.
94 “Alhamdulillah Bhita kamu memang anak yang hebat, Nenek bangga sama kamu” ucap neneknya sembari memeluk Bhita. “Nek, ini untuk ayah” lirih Bhita. Setelah pertandingan usai, Bhita dan Rindang sedang asyik mengobrol di teras rumah Bhita sembari memakan beberapa camilan yang disediakan nenek Bhita. Rin, 2 hari lagi aku udah ulang tahun lo, ayahku kok belum pulang juga ya” ucap Bhita. “Hm sabar aja Bhita siapa tau besok ayahmu datang kan surprise-in kamu. Gimana kalau kita main ke pantai, udah lama kita ga nyari kerang”. “Yauda ayo deh” jawab Bhita. Akhirnya mereka berdua pun beranjak dari tempat duduk dan bergegas pergi ke tempat favorit mereka. Sesampainya di pantai mereka langsung bermain-main ombak dan pasir sambil mencari kerang. Tanpa mereka sadari hari sudah semakin petang dan adzan Maghrib pun hampir berkumandang. “Rin, pulang yuk udah mau malam nih” ajak Bhita. “Yaudah ayok, aku juga sudah capek” saut Rindang. Sebelum mereka beranjak pulang, ada sebuah kapal yang baru datang. Para penumpang kapal tersebut mulai turun satupersatu. Tanpa Bhita dan Rindang sadari ada yang memanggil Bhita dari kejauhan. “Bhita!” ucap lelaki paruh bayah sambil membawa tas yang di punggung dan juga di tenteng. Bhita melihat lelaki tersebut seakan tak percaya bahwa yang ia