LAPORAN PRAKTIKUM (“KEANEKARAGAMAN ORGANISME”) DI SUSUN OLEH : NAMA : JIHAN SARI NPM : 38420521014 SEMESTER : V MATA KULIAH : PRAKTIKUM BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI INSTITUS SAINS DAN KEPENDIDIKAN ( ISDIK ) KIE RAHA MALUKU UTARA TAHUN 2023
A. Latar Belakang Keanekaragaman merupakan salah satu aspek persoalan biologi. Keanekaragaman merupakan suatu gejala biologi yang dihasilkan dari interaksi faktor genetik dan faktor lingkungan. Keanekaragaman dapat dilihat baik dari aspek struktural (morfologis–anatomis), fisiologis maupun perilakunya. Keanekaragaman dapat dilihat dari tingkat sel-molekuler sampai tingkat komunitas. Pada intraspecies (antar individu sejenis) maupun interspecies (antar individu lain jenis). Keanekaragaman menyoroti aspek perbedaan dan kesamaan ciri pada beberapa objek yang menjadi objek pengamatan. Variasi timbul melalui beberapa mekanisme : 1. Adanya adaptasi, sebagai respons dalam berinteraksi dengan lingkungannya, 2. Rekombinasi genotip akibat perkawinan di alam yang teracak (bebas), 3. Adanya variasi genotip yang timbul akibat pemisahan gen yang acak saat meiosis atau pembentukan gamet, 4. Adanya mutase gen atau perubahan mendadak pada perangkat pewarisan sifat (DNA, Gen, Kromosom). Keanekaragaman organisme sebagai contoh dapat dijumpai pada daun, baik antar daun sejenis maupun antar daun lain jenis. Daun biasanya merupakan suatu struktur pipih berwarna hijau yang sudah terkena udara dan cahaya. Semua daun mula-mula berupa tonjolan jaringan yang kecil, yaitu primordium daun, pada sisi meristem ujung suatu kuncup. Pada waktu ujung pucuk tumbuh, primordium daun baru mulai terbentuk menurut pola khas untuk tiap jenis tumbuhan. Secara morfologi dan anatomi, daun merupakan organ tumbuhan yang paling bervariasi. Batasan secara menyeluruh dari semua tipe daun yang terlihat pada tumbuhan disebut filom (Sumardi dan Agus, 1992: 161-163). Variasi yang terjadi dapat disebabkan oleh beberapa factor di antaranya : adaptasi, mutase, modifikasi, perkembangan tumbuhan, factor lingkungan, dan genetika. (Sudarsono, 2015).
Pengertian dari keanekaragaman organisme sendiri adalah suatu konsep yang menunjuk kepada variasi sifat dan ciri gen, spesies, dan ekosistem. Keanekaragaman merupakan ciri-ciri dari benda hidup. (Paidi, 2012). Suatu tumbuhan dapat memperlihatkan bentuk daun yang berlainan pada satu pohon, oleh karena itu dikatakan memperlihatkan sifat heterofili. Gejala heterofili ini dapat terjadi karena umur, modifikasi, atau memang mempunyai daun yang berbeda yang diakibatkan oleh perubahan fungsinya. Sifat-sifat daun yang biasanya diamati dalam pengenalan suatu jenis tumbuhan adalah bentuk, ukuran, ujung, pangkal, susunan tulang-tulang/urat-urat daun, tepi, daging, permukaan atas/bawah, tekstur, warna, dan lain-lain (Agus, 1992: 163). Daun merupakan suatu bagian tumbuhan yang penting dan pada umumnya tiap tumbuhan memiliki sejumlah besar daun. Alat ini hanya terdapat pada batang saja dan tidak pernah terdapat pada bagian lain pada tubuh tumbuhan. Daun biasanya tipis melebar, kaya akan suatu zat warna hijau yang dinamakan klorofil, oleh karena itu daun biasanya berwarna hijau dan menyebabkan tumbuhan atau daerah-daerah yang ditempati tumbuh-tumbuhan Nampak hijau pula. Daun yang lengkap mempunyai bagian-bagian berikut: 1. Upih daun atau pelepah daun (vagina), 2. Tangkai daun (petiolus), 3. Helaian daun (lamina). Tumbuhan yang demikian banyak macam dan ragamnya itu mempunyai daun yang helaiannya berbeda-beda pula, baik mengenai bentuk, ukuran, maupun warnanya. Karena helaian daun merupakan bagian daun yang terpenting dan lekas menarik perhatian, maka suatu sifat yang sesungguhnya hanya berlaku untuk helaiannya, disebut pula sebagai sifat daunnya. Sifat-sifat daun dapat dipakai sebagai petunjuk untuk mengenal suatu jenis tumbuhan. Oleh karena itu, dalam sebuah pengamatan sifat-sifat daun yang perlu mendapat perhatian ialah:
1. Bentuk daun (circumscriptio), Selain menggunakan istilah-istilah atau kata-kata yang dipakai untuk menyatakan bentuk suatu benda, misalnya : bulat, segitiga, dll., dalam menyebut bentuk daun seringkali kita carikan persamaan bentuknya dengan bentuk benda-benda lain, misalnya: bentuk tombak, bentuk anak panah, bentuk perisai, dan seterusnya. 2. Ujung daun (apex folii), Ujung daun dapat pula memperlihatkan bentuk yang beraneka rupa. Bentuk-bentuk ujung daun yang sering kita jumpai ialah: runcing (acutus), meruncing (acuminatus), tumpul (obtusus), membulat (rotundatus), rompang (truncates), terbelah (retusus), berduri (mucronatus). 3. Pangkal daun (basis folii), Apa yang telah diuraikan mengenai ujung daun pada umumnya dapat pula diberlakukan untuk pangkal daun. Selain dari itu ada pula kalanya, bahwa kedua tepi daun di kanan dan kiri pangkal dapat bertemu dan berlekatan satu sama lain. Pangkal daun dapat berupa runcing (acutus), meruncing (acuminatus), tumpul (obtusus), membulat (rotundatus), rompang atau rata (truncatus), berlekuk (emarginatus). 4. Susunan tulang daun (nervatio atau venation), Tulang-tulang daun adalah bagian daun yang berguna untuk memberikan kekuatan pada daun. Tulang daun menurut besar kecilnya dibedakan menjadi: ibu tulang (costa), tulang-tulang cabang (nevus lateralis), dan urat-urat daun (vena). Berdasarkan arah tulangtulang cabang yang besar serta susunan tulang, macam-macam daun antara lain: bertulang menyirip (penninervis), bertulang melengkung (cernivernis), bertulang menjari (palminervis), dan bertulang sejajar atau lurus (rectinervis). 5. Tepi daun (margo folii), Dalam garis besarnya tepi daun dapat dibedakan menjadi dua macam: rata (integer) dan bertoreh (divisus). Toreh-toreh pada tepi daun sangat beraneka ragam sifatnya, ada yang dangkal dan ada yang dalam besar, besar kecil, dll. Biasanya toreh-toreh pada tepi daun dibedakan dalam dua golongan yaitu: toreh-toreh yang tidak mempengaruhi atau mengubah bangun asli daun dan toreh-toreh yang mempengaruhi bentuk asli daun. 6. Daging daun (intervenium),Yang dinamakan daging daun ialah bagian daun yang terdapat di antara tulang-tulang daun dan urat-urat daun. Bagian inilah yang merupakan dapur tumbuhan yang sesungguhnya. Tebal tipisnya helaian daun pada hakikatnya juga bergantung pada tebal tipisnya daging daunnya.
Berhubungan dengan sifat ini dibedakan daun yang: tipis seperti selaput (membranaceus), seperti kertas (papyraceus atau chartaceus), tipis lunak (herbaceous), seperti perkamen (perkamenteus), seperti kulit/belulang (coriaceus), dan berdaging (carnosus). 7. Dan sifat-sifat lain, misalnya keadaan permukaan atas maupun bawah, warna, dll. (Gembong Tjitrosoepomo, 1987). B. Tujuan Praktikum 1. Mahasiswa dapat mengidentifikasi ciri-ciri structural organ daun dari beberapa contoh yang telah disiapkan 2. Mahasiswa dapat menemukan kesamaan dan perbedaan ciri antar daun sejenis dan antar daun lain jenis 3. Mahasiswa menemukan keanekaragaman ciri /structural daun intraspecies maupun interspecies 4. Mahasiswa dapat menyimpulkan hasil pengamatan dan mengkomunikasikan. C. Alat Dan Bahan Alat : Artikel dan buku tentang struktur daun dan keterangannya : bentuk daun, pertulangan, bentuk ujung, pangkal dan tepi daun, bagianbagian daun. Bahan : I : 10 – 15 daun tumbuhan sejenis II : 10 – 15 daun tumbuhan yang berbeda D. Prosedur Kerja a. Pengamatan intraspecies : 1. Siapkan 10-15 helai daun tumbuhan sejenis di meja, 2. Amatilah gejala-gejala / ciri-ciri berikut : Bentuk dan pertulangan daun, ujung dan pangkal daun, bagian-bagian daun, sifat tepi daun, warna daun, permukaan daun, tebal daun, luas dan berat daun, keadaan daun lain : utuh – ada tidaknya organisme pathogen, dst yang dapat saudara deskripsikan
3. Masukkan data pada table 4. Identifikasi kesamaan dan perbedaan antar daun tumbuhan sejenis tersebut? 5. Diskusikan mengapa ciri-ciri tertentu sama, tetapi ciri tertentu yang lain berbeda? 6. Berikan argument mengenai factor penentu kesamaan dan perbedaan itu 7. Nyatakan kesimpulan yang dapat saudara nyatakan dari pengamatan ini? b. Pengamatan interspecies : 1. Siapkan 10-15 macam daun di meja kerja saudara 2. Amatilah gejala-gejala / ciri-ciri berikut : Bentuk dan pertulangan daun, ujung dan pangkal daun, bagian-bagian daun, sifat tepi daun, warna daun, permukaan daun, tebal daun, luas dan berat daun 3. Masukkan data pada table 4. Identifikasi kesamaan dan perbedaan antar daun tumbuhan sejenis tersebut 5. Diskusikan mengapa ciri-ciri tertentu sama, tetapi ciri tertentu yang lain berbeda? 6. Berikan argument mengenai factor penentu kesamaan dan perbedaan itu 7. Nyatakan kesimpulan yang dapat saudara nyatakan dari pengamatan ini!
E. Hasil Praktikum a. Daun Tumbuhan Sejenis Gejala / ciri yang diamati Tumbuhan Daun Lemon 1. Bentuk - Lanset / pita - - Lonjong - Bulat - - Yang lain - 2. Tulang daun - Menyirip - Menjari - - Sejajar - - Melengkung - 3. Ujung daun - Runcing - Tumpul - 4. Bagian daun - Tangkai - Helaian - Pelepah - 5. Luas daun 120 cm 6. Penyakit - Ada - Tidak ada - 7. Warna daun Hijau tua
b. Daun Dari Tumbuhan Yang Berbeda Gejala/ ciri Diamati Daun ke Daun Nangka Daun Belimbing wuluh Daun Sirsak Daun Jambu biji Daun Srikaya Daun mangga Daun Jambu Air 1. Bentuk - Lanset/pita - - - - - - - Lonjong - - - - Bulat - - - - Yang lain - - - - - - - 2. Tulang daun - Menyirip - Menjari - - - - - - - - Sejajar - - - - - - - - Melengkung - - - - - - - 3. Ujung daun - Runcing - - Tumpul - - - - - - 4. Bagian daun - Tangkai - Helaian - Pelepah 5. Luas daun 70 cm 30 cm 18 cm 37,5 cm 10 cm 90 cm 60 cm 6. Penyakit - Ada - - - Tidak ada - - - - - 7. Warna daun Hijau tua Hijau Hijau Muda Hijau Hijau muda Hijau tua Hijau
Klasifikasi Daun Dari Tumbuhan Yang Berbeda 1. Tumbuhan yang tidak sejenis Nama local : Daun nangka Nama ilmiah : Nangka Nama latin : Artocarpus heterophyllus Lamk Klasifikasi tumbuhan : - Kerajaan : Plantae - Divisi : Magnoliophyta - Kelas : Magnoliopsida - Ordo : Urticales - Famili : Moraceae - Genus : Artocarpus - Spesies : A. heterophyllus 2. Tumbuhan yang tidak sejenis Nama local : Daun belimbing wuluh Nama ilmiah : Belimbing wuluh Nama latin : Averrhoa bilimbi L. Klasifikasi tumbuhan : - Kerajaan : Plantae - Divisi : Magnoliophyta - Kelas : Magnoliopsida - Sub kelas : Rosidae - Ordo : Geraniales - Famili : Oxalidaceae - Genus : Averrhoa - Spesies : Averhoa bilimbi L. 3. Tumbuhan yang tidak sejenis Nama local : Daun nangka belanda Nama ilmiah : Sirsak Nama latin : Annona muricata L.
Klasifikasi tumbuhan : - Kerajaan : Plantae - Divisi : Magnoliophyta - Kelas : Magnolipsida - Ordo : Magnoliales - Famili : Annonaceae - Genus : Annona - Spesies : Annona muricata L. 4. Tumbuhan yang tidak sejenis Nama local : Daun giawas Nama ilmiah : Jambu biji Nama latin : Psidium guajava L. Klasifikasi tumbuhan : - Kerajaan : Plantae - Divisi : Spermatophyta - Kelas : Dicotyledoneae - Ordo : Myrtales - Famili : Myrtaceae - Genus : Psidium - Spesies : Psidium guajava L. 5. Tumbuhan yang tidak sejenis Nama local : Daun buah nona Nama ilmiah : Srikaya Nama latin : Annona squamosal L. Klasifikasi tumbuhan : - Kerajaan : Plantae - Divisi : Tracheophyta - Subdivisi : Spermatophytes - Kelas : Angiospermae - Ordo : Magnoliales - Famili : Annonaceae - Genus : Annona - Spesies : Annona squamosal Linnaeus
6. Tumbuhan yang tidak sejenis Nama local : Daun mangga Nama ilmiah : Mangga Nama latin : Mangifera indica Klasifikasi tumbuhan : - Kerajaan : Plantae - Kelas : Magnoliopsida - Ordo : Sapindales - Famili : Anacardiaceae - Genus : mangifera - Spesies : M. indica 7. Tumbuhan yang tidak sejenis Nama local : Daun gora Nama ilmiah : Jambu air Nama latin : Syzygium aqueum L Klasifikasi tumbuhan : - Kerajaan : Plantae - Divisi : Magnoliophyta - Kelas : Magnoliopsida - Ordo : Myrtales - Famili : Myrtaceae - Genus : Syzygium - Spesies : S. aqueum
F. Pembahasan Hasil identifikasi penelitian menunjukkan, bahwa pengamatan pada beberapa jenis daun dan pada berbagai jenis tumbuhan yang ada di lingkungan sekitar memiliki ciri-ciri fisiologis yang berbeda. Setiap daun memiliki ciri-ciri fisiologis yang berbeda. Setiap daun memiliki perbedaan pada bentuk dan pertulangan daun, ujung dan pangkal daun, bagian-bagian daun, sifat tepi daun, warna daun, permukaan daun, dan luas daun. (Salisbury dan Ross, 1992 ; Fitter dan Hay, 1981). Daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari batang, umumnya berwarna hijau (mengandung klorofil) dan terutama berfungsi sebagai penangkap energi dari cahaya matahari melalui fotosintesis. Daun merupakan organ terpenting bagi tumbuhan dalam melangsungkan hidupnya karena tumbuhan adalah organisme autotroph obligat, ia harus memasuk kebutuhan energinya sendiri melalui konversi energi cahaya menjadi energi kimia. Bentuk daun sangat beragam, namun biasanya berupa helaian, bisa tipis atau tebal. Gambaran dua dimensi daun digunakan sebagai pembeda bagi bentuk-bentuk daun. Bentuk dasar daun membulat, dengan variasi cuping menjari atau menjadi elips dan memanjang. Bentuk ekstremnya bisa meruncing panjang. Warna hijau pada daun berasal dari kandungan klorofil pada daun. Klorofil adalah senyawa pigmen yang berperan dalam menyelaki panjang gelombang cahaya yang energinya diambil dalam fotosintesis. Sebenarnya daun juga memiliki pigmen lain, misalnya karoten (berwarna jingga), xantrofil (berwarna kuning), dan antosianin (berwarna merah, biru atau ungu, tergantung derajat keasaman). Daun tua kehilangan klorofil sehingga warnanya berubah menjadi kuning atau merah.
a. Daun Tumbuhan Sejenis Hasil pengamatan yang kami lakukan pada daun lemon dengan nama latin Citrus limon terdapat ciri-ciri morfologi seperti berikut : memiliki bentuk daun yang lonjong, memiliki tulang daun menyirip, ujung daun meruncing, memiliki bagian daun seperti terdapat pada tangkai dan helaian daun, luas daun berkisar 120 cm, terdapat penyakit pada daun lemon tersebut, dan warna daun hijau tua Gambar daun lemon (Citrus limon) Hasil pengamatan pada gambar diatas adanya penyakit pada permukaan dan belakang daun lemon yang disebabkan oleh adanya serangan hama yang menyebabkan kerusakan sel-sel tanaman yang ditandai dengan bercak putih mengilap pada daun tanaman. Bercak putih tersebut merupakan rongga pada daun yang sudah kehilangan cairan. bercak putih tadi akan berubah menjadi kecokelatan, kemudian daun akan mati secara perlahan. Gejala penyakit antraknosa yang terjadi pada daun lemon menunjukkan bahwa gejala pada daun yang sudah menjelang tua, hal ini disebabkan proses infeksi pathogen berlangsung sangat lambat. Wahyudi (2008). - Kenapa ada perbedaan pada daun yang sejenis? Setiap jenis daun pada setiap tumbuhan memiliki kandungan klorofil yang berbeda. Factor yang menyebabkan perbedaan adalah factor genetic yang mempengaruhi morfologi dan anatomi daun. - Kenapa ada kesalahan pada daun yang sejenis? Yaitu adanya penyakit pada permukaan dan belakang daun lemon yang disebabkan oleh adanya serangan hama yang menyebabkan kerusakan sel-sel tanaman yang ditandai dengan bercak putih mengilap pada daun tanaman.
b. Daun dari tumbuhan yang berbeda - Daun nangka Gambar daun nangka (Artocarpus heterophyllus Lamk) Hasil penelitian menunjukkan morfologi pada daun nangka dengan nama latin Artocarpus heterophyllus Lamk memiliki ciri-ciri morfologi sebagai berikut : terdapat bentuk daun yang bulat, memiliki tulang daun menyirip, terdapat ujung daun yang runcing, memiliki bagian daun yang terdapat pada tangkai dan helaian, luas daun berkisar antara 70 cm, terdapat penyakit daun, dan memiliki warna daun hjau tua pada tanaman nangka. Permukaan, dan warna daun bagian atas berbeda dengan bagian bawah. Daun bagian atas licin dan berwarna hijau cerah, sedangkan permukaan bawahnya kasar dan berwarna hijau tua. Pangkal daunnya terdapat daun penumpu yang berbentuk segitiga panjang (Yustina, 1993). Pada gambar di atas belakang daun nangka terdapat penyakit bercak daun ditandai dengan adanya bercak kecil berwarna coklat pada daun yang biasanya terdapat di bagian bawah atau atas permukaan daun, tetapi melainkan bercak tersebut menyerang pada bagian belakang daun nangka. Bercak yang timbul akibat penyakit ini cenderung tidak beraturan lama kelamaan akan menjadi besar sehingga dapat menutupi sebagian besar permukaan daun (Suhartati dan Kurniaty, 2013). Penyakit tanaman ini dsebabkan oleh pathogen atau cendawan seperti pestalotia sp, lasiodiplodia sp, cercospora sp, curvularia sp, helminthosporium sp, gloesporium
sp, cylindroladium sp, dan colletotrichum sp. (Suhartati dan Kurniaty, 2013). Bercak daun yang terbentuk oleh pathogen akan menyebabkan pengurangan belakang luas permukaan daun yang digunakan untuk berfotosintesis. Apabila daerah tersebut meluas maka pertumbuhan tanaman akan menjadi terhambat (Anggraeni dan Wibowo, 2007). - Daun belimbing wuluh Gambar daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Hasil penelitian menunjukkan morfologi pada daun belimbing wuluh dengan nama latin Averrhoa bilimbi L memiliki ciri-ciri morfologi sebagai berikut : terdapat bentuk daun yang lonjong dan bulat, memiliki tulang daun menyirip, terdapat ujung daun yang runcing, memiliki bagian daun yang terdapat pada tangkai dan helaian, luas daun berkisar antara 30 cm, terdapat penyakit daun pada tanaman belimbing wuluh, dan warnanya hijau. Daun belimbing wuluh mengandung senyawa antibakteri yang dapat membantu mengatasi infeksi saluran pernapasan, seperti batuk dan pilek. Manfaat daun belimbing wuluh juga dapat membantu melancarkan saluran pernapasan dan meredakan gejala sesak napas, (Satuhu 1994).
Daun belimbing wuluh juga mengandung senyawa flavoid, fenol, alkaloid, tannin dan kumarin, (Priadi dan Cahyani 2011). Pada gambar di atas daun belimbing wuluh terdapat penyakit bercak daun yang sering menyerang pada bagian daun terutama pada bagian belakang daun. Penyakit bercak daun disebabkan oleh cercospora averrhoge fres. Gejala yang ditimbulkan serangan bercak daun antara lain : terjadi bitnik-bintik kecil berwarna cokelat dan berbentuk bulat pada daun. Jika tidak segera ditangani akan menyebabkan daun menjadi layu dan rontok kemudian gundul. Menurut Irawan et al. (2015) bibit yang terserang penyakit bercak daun dapat menularkan penyakitnya dengan sangat cepat pada bibit lain lewat permukaan daunnya terutama pada belakang daun yang terserang penyakit bercak daun. Jika bercak daun telah menyebar, daun yang terserang penyakit ini akan menjadi kering dan layu serta gugur sehingga bibit tanaman menjadi mati. - Daun sirsak Gambar daun sirsak (Annona muricata L.) Berdasarkan penelitian yang telah kami lakukan morfologi pada tanaman daun sirsak dengan nama latin Annona muricata L. memiliki ciri-ciri morfologi sebagi berikut : berbentuk seperti bulat telur, tulang daun menyirp, ujung daun
runcing, bagian daun terdapat pada tangkai, dan helaian, luas daun berkisar 18 cm, warna daun hijau muda, terdapat penyakit pada daun sirsak. Daun sirsak mengandung alkaloid, tanin, dan beberapa kandungan kimia lainnya termasuk Annonaceous acetogenins. Acetogenins merupakan senyawa yang memiliki potensi sitotoksik. Senyawa sitotoksik adalah senyawa yang dapat bersifat toksik untuk menghambat dan menghentikanpertumbuhan sel kanker (Mardiana, 2011). Daun sirsak dimanfaatkan sebagai pengobatan alternatif untuk pengobatan kanker, yakni dengan mengkonsumsi air rebusan daun sirsak. Selain untuk pengobatan kanker, tanaman sirsak juga dimanfaatkan untuk pengobatan demam, diare, anti kejang, anti jamur, anti parasit, anti mikroba, sakit pinggang, asam urat, gatal-gatal, bisul, flu, dan lain lain (Mardiana, 2011). Pada gambar di atas tanaman daun sirsak terdapat penyakit yang menyerang pada permukaan dan belakang daun sirsak salah satunya yaitu Hama ulat grayak atau ulat tentara menyerang tanaman dengan cara bergerombol memakan daun, sehingga menyebabkan daun menjadi berlubang-lubang, dan selanjutnya mengganggu proses fotosintesis. (Endah & Novizan, 2002). - Daun giawas Gambar daun giawas (Psidium guajava L.)
Morfologi daun pada tanaman jambu biji dengan nama latin Psidium guajava L. memiliki ciri-ciri morfologi sebagai berikut : Bentuk bulat, tulang daun menyrip, ujung daun tumpul, bagian daun terletak pada tangkai dan helaian, luas daun berkisar antara 37,5 cm, warna daun hijau, dan terdapat penyakit yang menyerang daun jambu biji. Perbedaan pada bentuk daun dapat dipengaruhi oleh faktor genetik dan faktor lingkungan (Tsukaya 2005). Pada gambar di atas daun pada setiap tumbuhan rentan terserang oleh hama. Terdapat beberapa hama di bagian daun tanaman jambu biji. Salah satu hama yang menyerang daun tanaman jambu biji yaitu hama Ferrisia virgata yang merupakan kutu yang bersifat polifag. Hama ini dapat ditemukan pada bagian organ tumbuhan seperti buah, daun, tangkai maupun ranting. Hama ini dapat mengakibatkan kerusakan dalam jaringan tanaman. Cara merusak yang dilakukan oleh hama ini dengan mekanisme mulut yang menusuk. Semua spesies kutu putih yang ditemukan dalam tanaman jambu biji yaitu dapat menyerang organ pada daun tua, terutama pada bagian yang dekat tulang daun. Selain itu, terdapat hama yang menyerang daun tanaman jambu biji adalah ulat kantung. Ulat kantung memakan daun muda terutama pada bagian bawah daun, sehingga mengakibatkan daun berlubang dan kering.
- Daun srikaya Gambar daun srikaya (Annona squamosal L.) Hasil identifikasi morfologi pada tanaman daun srikaya dengan nama latin Annona squamosal L. memiliki ciri-ciri morfologi sebagai berikut : memiliki bentuk lanset/pita dan lonjong, tulang daun menyirip, ujung daun runcing, bagian daun terdapat pada tangkai dan helaian daun, luas daun 10 cm, warna daun hijau muda, tidak terdapat penyakit pada daun tanaman srikaya tersebut. Sifat antipiretik flavanoid berasal dari mekanismenya yang menghambat pelepasan asam arakhidonat dan sekresi enzim lisosim dari sel neutrofil dan sel endhotelial dan juga menghambat fase proliferasi dan fase eksudasi dari proses inflamasi. Terhambatnya pelepasan asam arakhidonat dari sel inflamasi akan menyebabkan kurang tersedianya substrat arakhidonat bagi jalur siklooksigenase dan lipooksigenase, yang pada akhirnya akan menekan jumlah prostaglandin, prostasiklin, endoperoksida, asam hidroksatetraienoat, dan leukotrin. Disisi lain penekanan jumlah tersebut mempengaruhi proses radang, dan juga migrasi leukosit, yang akan berpengaruh pada penekanan peningkatan jumlah limfosit (Sabir, 2013).
- Daun manga Gambar daun manga (Mangifera indica) Pada pengamatan bagian daun tanaman manga (Mangifera indica), daun manga merupakan jenis daun tidak lengkap karena hanya memiliki tangkai daun dan tidak memiliki pelepah daun. Lazimnya disebut daun bertangkai. Bentuk daun manga memanjang. Morfologi pada tanaman daun manga dengan nama latin Mangifera indica memiliki ciri-ciri morfologi sebagai berikut : memiliki bentuk daun lonjong, tulang daun menyirip, ujung daun runcing, bagian daun terdapat pada tangkai dan helaian, luas daun berkisar antara 90 cm, warna daun hijau tua, dan terdapat penyakit daun pada permukaan daun manga Salah satu penyakit daun yang menyerang tanaman daun mangga yaitu kutu putih, biasanya kutu putih menempel pada bagian bawah daun, akar tanaman dan batang. Nutrisi tanaman pada pohon mangga bisa di serap oleh hama kutu putih. Tentunya, ini bisa menyebabkan tanaman mangga terganggu pertumbuhannya, bahkan bisa membuat tumbuhan mangga mati. Selanjutnya yaitu wereng, wereng adalah sejenis kepik yang menyerang tumbuhan dan menyebabkan daun dan batang menjadi berlubang-lubang. Akibatnya, daun akan menguning, kering, dan mati. Wereng mangga akan mengisap cairan bunga mangga yang baru mekar sehingga bunga akan kering, lalu mati. Wereng juga akan menyerang daun dan ranting. Ia
akan mengeluarkan cairan manis yang mengundang semut api yang memakan kuncup bunga dan pucuk daun. Akibatnya, bunga mengalami kegagalan pembuahan dan menyebabkan buah mangga tidak dapat berkembang. - Daun jambu air Gambar daun jambu air (Syzygium aqueum L) Hasil identifikasi morfologi pada tanaman daun jambu air dengan nama latin Syzygium aqueum L. memiliki ciri-ciri morfologi sebagai berikut : memiliki bentuk daun lonjong, tulang daun menyirip, ujung daun runcing, bagian daun terdapat pada tangkai dan helaian daun, luas daun 60 cm, warna daun hijau terdapat penyakit pada daun tanaman jambu air tersebut. Jambu air adalah salah satu komoditas tanaman buah yang sangat diminati masyarakat. Buahnya biasa untuk dikonsumsi secara langsung maupun diolah menjadi berbagai hidangan makanan (Dinas pertanian, 2011). Selain buahnya, bagian lain dari tanaman jambu air seperti daun dan kulit batang juga dimanfaatkan menjadi berbagai obat tradisional dan bahkan digunakan sebagai bahan pembuatan produk kosmetik dan perawatan kulit (Anggrawati dan Ramadhania, 2006). Salah satu upaya yang dapat dilakukan agar tanaman jambu air mudah untuk di identifikasi ialah dengan melakukan kajian taksonomi numerik (Hardiyanto et
al., 2007 dan Wijayanti et al., 2015)). Salah satu karakter yang dapat digunakan dalam taksonomi numerik adalah morfologi. Karakter morfologi merupakan komponen penting dalam penentuan taksonomi pada suatu tumbuhan dan sudah sejak lama digunakan sebagai kriteria penting dalam klasifikasi dan sistematika tumbuhan (Saragih et al., 2018). Hama adalah semua herbivora yang dapat merugikan tanaman yang di budidayakan manusia secara ekonomis. Akibat serangan hama produktivitas tanaman menurun, baik kualitas maupun kuantitasnya, bahkan tidak jarang terjadi kegagalan panen usaha kegiatan pengendalian hama, pengenalan terhadap jenisjenis hama serta gejala kerusakan tanaman menjadi sangat penting agar tidak melakukan kesahalan dalam mengambil tindakan pengendalian (Djafarudin, 2001). Hama yang banyak menyerang tanaman jambu antara lain penggorok daun Liriomyza spp, Acrocercops syngramma Meyrick, ulat Pestalotiopsis psidii dan serangga Helopeltis theobromae, serta lalat buah Dacus (Fabricus) dan Bactrocera (Macquart).hama pengorok daun (Liriomyza spp) termasuk ordo diptera yang mempunyai 26 spesies. Ciri-ciri hama ini ukuran tubuhnya kecil dan adanya kemiripan antar spesies (Rauf, 1995). Kerusakan yang terjadi pada daun terlihat lubang-lubang dalam daun oleh larvanya yang menyebabkan daun berwarna merah kecokelatan (Tarumingkeng, 1994). - Mengapa ada perbedaan variasi pada daun tumbuhan yang berbeda? Variasi warna pada daun disebabkan oleh adanya pigmen klorofil, karotenoid dan antosianin dalam jaringan daun. Daun yang memiliki warna dan corak yang bervariasi memiliki struktur anatomi yang berbeda.
G. Kesimpulan Persamaan dan perbedaan pada daun dapat dilihat melalui ciri morfologinya. Setiap jenis daun memiliki cirinya sendiri, seperti bentuk dan ujung daun, tulang daun, bagian daun, luas daun, warna daun maupun penyakit yang terdapat pada suatu jenis tumbuhan. Ada jenis daun yang memiliki: Bentuk daun lanset (pita), lonjong atau bulat, Ujung daun ada yang runcing atau tumpul, Tulang daun menyirip, Bagian daun terdapat pada tangkai ataupun helaian daun, Luas daun pada daun tumbuhan sejenis dan berbeda keduanya memiliki perbedaan pada luasnya masing-masing, Warna daun hijau muda atau hijau tua, Penyakit ada yang terdapat dan juga tidak terdapat pada daun yang sejenis dan daun yang berbeda.
H. Daftar Pustaka Anggraeni, I. & Wibowo, A. (2007). Pengaruh Pola Tanam Terhadap Timbulnya Penyakit dan Produktivitas Tanaman Tumpangsari. Jurnal Info Hutan Tanaman. 2(2): 59-70. Anggrawati PS dan Ramadhania ZM, 2016. Kandungan Senyawa Kimia dan Bioaktivitas dari Jambu Air (Syzygium aqueum Burn. F. Alston): Review Artikel. Farmaka Vol 14 (2): 331-344. Djafarudin. 2001. Dasar-dasar Perlindung Tanaman (Umum). Jakarta : Bumi Aksara Fitter, A.H. and R.K.M. Hay, 1981. Environmental Physiology of Plants. Published by Arrangment with Academic Press, Inc.,(London) Ltd., 421 p. Hardiyanto, Mujiarto E, dan Sulasmi ES, 2007. Kekerabatan Genetik Beberapa Spesies Jeruk Berdasarkan Taksonometri. J. Hort 17 (3):202-216. Priadi D, Cahyani Y. 2011. Keanekaragaman varietas belimbing manis (Averrhoa carambola L.) di kebun Plasma Nutfah Tumbuhan dan Hewan Cibinong. Berk Penel Hayati 5A:73-77. Rauf, A. 1995. Liriomyza; Hama Pendatang Baru di Indonesia. Jakarta : Buletin Hama dan Penyakit Tumbuhan Sabir, A. (2013). Pemanfaatan Flavonoid di Bidang Kedokteran Gigi. Dental Journal. Salisbury, F.B. and C.W. Ross, 1992. Plant physiology. Wardsworth Publishing Companya Belmont California, 682 p. Saragih RD, Septadi dan Zanetta C, 2018. Keanekaragaman Genotipe-genotipe Potensial dan Penentuan Keragaman Karakter Argo-morfologi Ercis (Pisum sativum L.). Jurnal Agro Vol5(2): 127-139. Suhartati, T., Kurniaty, R. (2013). Inventarisasi Penyakit Daun pada Bibit di Stasiun Penelitian Nagrak. Jurnal Perbenihan Tanaman Hutan. 1(1):51-59.
Sumardi, Issirep dan Agus Pudjoarinto. 1992. Struktur dan perkembangan tumbuhan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Tarumangkeng, R.C. 1994. Dinamika Populasi Kajian Ekologi Kuantitatif Tjitrosoepomo, Gembong. 1987. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press. Wahyudi, 2008. Penyakit antraknosa pada tanaman kakao. Fakultas pertanian Universitas Sumatera Utara. Wijayanti L, Mahmudati N dan Prihanta W, 2015. Studi Kekerabatan Fenetik Genus Pteris dengan Metode Taksimetri. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Biologi Universitas Muhammadiyah Malang. 607-616. Daftar Pustaka Online (https://id.wikipedia.org/wiki/Nangka)
(https://dlh.probolinggokab.go.id/belimbing-wuluh/ ) (http://kehati.jogjaprov.go.id/detailpost/sirsak) (https://dlh.probolinggokab.go.id/jambu-biji2/) (https://id.wikipedia.org/wiki.Srikaya) (https://id.wikipedia.org/wiki/mangga) (https://id.wikipedia.org/wiki/jambu_air) (http://repo.uinsatu.ac.id/24078/7/BAB%20IV.pdf) (https://www.academia.edu/178653000/Tugas_bio_keanekaragaman_daun).
LAPORAN PRAKTIKUM (“REGULASI DAN HOMEOSTATIS”) DI SUSUN OLEH : NAMA : JIHAN SARI NPM : 38420521014 SEMESTER : V MATA KULIAH : PRAKTIKUM BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI INSTITUS SAINS DAN KEPENDIDIKAN ( ISDIK ) KIE RAHA MALUKU UTARA TAHUN 2023
A. Latar Belakang Di dalam tubuh organisme (tingkat individu) pasti ada mekanisme regulasi untuk mencapai keadaan yang homeostatis. Homeostatik pada dasarnya merupakan suatu upaya mempertahankan atau menciptakan kondisi yang stabil dinamis (“steady state”) yang menjamin optimalisasi berbagai proses fisiologis dalam tubuh. Untuk mencapai keadaan tersebut, tubuh melakukan berbagai aktivitas regulasi, sebagai mekanisme untuk mencapai homeostatik yang diharapkan. Regulasi dan homeostatis juga terjadi di tingkat organisasi kehidupan yang lebih besar, yaitu pada tingkat populasi dan komunitas dalam suatu ekosistem. Regulasi dilakukan dalam banyak bentuk, misalnya regulasi untuk mempertahankan cairan tubuh, osmolaritas tubuh, keasaman, suhu kadar lemak, gula, dan protein darah, dan sebagainya. Pada tubuh manusia, regulasi diperankan oleh antara lain adalah syarat dan hormon. Kedua komponen merupakan pengendali utama dalam proses regulasi dalam tubuh. Proses regulasi melibatkan (promotor) dan penghambat (inhibitor) dalam suatu tingkat keseimbangan tertentu. Beberapa komponen regulator dalam tubuh ada yang bekerja secara antagonis atau sinergis. Regulator antagonis ditunjukkan antara lain oleh kerja syaraf simpatis dan parasimpatis. Hormon insulin dan adrenalin. Pada upaya tubuh melakukan regulasi dan homeostatik suhu tubuh (thermoregulasi), juga melibatkan syaraf simpatis dan parasimpatis, hormon insulin dan adrenalin, kelenjar keringat, darah dan pembuluh darah, dalam suatu koordinasi tertentu. Adanya regulasi memungkinkan terjaminnya koordinasi aktivitas dalam tubuh. Homeostatis adalah suatu proses yang terjadi secara terus-menerus untuk memelihara stabilitas dan beradaptasi terhadap kondisi lingkungan sekitar. Homeostatis merupakan mekanisme tubuh untuk mempertahankan keseimbangan dalam menghadapi berbagai kondisi yang dialaminya. Proses homeostatis ini dapat terjadi secara alamiah. Apabila tubuh mengalami stress (Musrifatul dan Aziz, 2006).
Homeostatis terdiri atas homeostatis fisiologis dan psikologis. Dalam tubuh manusia, homeostatis fisiologis dapat dikendalikan oleh system endokrin dan system saraf otonom. Proses homeostatis fisiologis ini terjadi melalui empat cara sebagai berikut: 1. Pengaturan diri (self regulation). Secara otomatis, cara ini terjadi pada orang yang sehat, seperti pengaturan fungsi organ tubuh. 2. Kompensasi. Tubuh akan cenderung bereaksi terhadap ketidaknormalan dalam tubuh. 3. Umpan balik negative. Cara ini meupakan penyimpangan dari keadaan normal. Dalam keadaan abnormal, tubuh secara otomatis akan melakukan mekanisme umpan balik negative untuk menyeimbangkan penyimpangan yang teerjadi. 4. Umpan balik positif untuk mengoreksi ketidakseimbangan fisiologis. Sebagai contoh, terjadinya proses peningkatan denyut jantung untuk membawa darah dan oksigen yang cukup ke sel tubuh apabila seseorang mengalami hipoksia. Homeostatis fisiologis berfokus pada keseimbangan emosional dan kesejahteraan mental. Proses ini didapat dari pengalaman hidup dan interaksi dengan orang lain serta dipengaruhi oleh norma dan kultur masyarakat. Contohnya adalah mekanisme pertahanan diri seperti menangis, teertawa, berteriak, memukul, meremas dan lain-lain (Masrifatul dan Aziz, 2006). Di dalam tubuh organisme pasti memerlukan system regulasi untuk mencapai keadaan yang homeostatis. System regulasi berfungsi untuk mengatur macam-macam system organ tubuh manusia dalam melaksanakan fungsinya agar tidak terjadi benturan. Homeostatis itu sendiri adalah kemampuan suatu organisme dalam mengatur dan menjaga keseimbanganlingkungan internalnya di bawah pegaruh perubahan lingkungan eksternalnya. Respirasi/pernafasan adalah proses mulai dari pengambilan oksigen, pengeluaran karbohidrat hingga penggunaan energy di dalam tubuh. Bernafas seperti denyut jantung harus berlangsung dalam pola siklik dan kontinyu agar proses kehidupan dapat terus berjalan (Sugeng, 2011:30).
B. Tujuan Praktikum 1. Mahasiswa dapat mengamati adanya koordinasi aktivitas sistem organ pernafasan dan sistem transportasi / sirkulasi pada saat tubuh bekerja keras 2. Mahasiswa dapat menunjukkan bentuk koordinasi yang terjadi antara kedua sistem organ tersebut 3. Mahasiswa dapat mengamati dan merasakan gejala perkeringatan sebagai bagian mekanisme regulasi suhu tubuh 4. Mahasiswa dapat menjelaskan mekanisme pengaturan suhu tubuh. C. Alat Dan Bahan Alat : Termometer tubuh, stopwatch, tally Bahan : Tubuh kita D. Prosedur Kerja Kita bandingkan laju bernafas dan denyut nadi antara saat duduk dengan tenang dengan saat bekerja keras. Amati pula gejala lain yang menyertai yaitu : perubahan suhu tubuh dan pengeluaran keringat. Pengamatan saat tubuh bekerja keras diambil segera setelah kita berlari naik turun tangga selama 3-5 menit. Cara Kerja 1 : 1. Laju bernafas : Lakukan pengukuran laju bernafas tiap menit dengan cara menghitung banyaknya hembusan udara paru-paru melalui hidung permenit 2. Laju denyut nadi : Hitung jumlah denyut nadi (jantung) tiap menit, dengan cara : a. Letakkan lengan tangan kiri dengan posisi tengadah pada telapak tangan kanan saudara. b. Letakkan ujung jari tengah dan jari manis ujung tulang lengan. Tekanlah sampai menemukan denyut nadinya. c. Hitunglah frekuensi denyut nadi selama 1 menit ulangi pengukuran. 3. Suhu tubuh : diukur dengan thermometer badan.
Cara Kerja 2 : 1. Lakukan pengamatan / pengukuran suhu tubuh, laju bernafas dan laju denyut nadi pada keadaan tenang. 2. Lakukan olahraga dengan cara berlari naik-turun tangga selama 3-5 menit segera. Setelah itu lakukan pengukuran seperti pada point 1. 3. Setelah istirahat 1k 10 menit dan tubuh tenang kembali, lakukanlah pengamatan lagi seperti poin 1 dan 2 di atas. E. Hasil Praktikum a. Jihan Pengamatan denyut nadi sebelum olahraga No Waktu Jumlah pernapasan Jumlah denyut nadi Suhu tubuh 1. 1 menit 64 73 36,9 ºC 2. 2 menit 113 139 36,5 ºC 3. 3 menit 180 210 36,6 ºC 4. 4 menit 250 309 36,2 ºC 5. 5 menit 352 356 36,5 ºC Rata-rata 959 5 = 191,8 1.087 5 = 217,4 182,7ºC 5 = 36,54ºC Pengamatan denyut nadi setelah olahraga No Waktu Jumlah pernapasan Jumlah denyut nadi Suhu tubuh 1. 1 menit 58 98 35,7 ºC 2. 2 menit 120 208 36,2 ºC 3. 3 menit 140 310 36,6 ºC 4. 4 menit 328 390 35,4 ºC 5. 5 menit 380 398 36,2 ºC Rata-rata 1.026 5 = 205,2 1.404 5 = 280,8 180,1ºC 5 = 36,02ºC
b. Uli Pengamatan denyut nadi sebelum olahraga No Waktu Jumlah Pernapasan Jumlah denyut nadi Suhu tubuh 1. 1 menit 46 82 36,1 ºC 2. 2 menit 79 125 36,4 ºC 3. 3 menit 136 202 37,1 ºC 4. 4 menit 230 302 36,5 ºC 5. 5 menit 251 380 37,8 ºC Rata-rata 742 5 = 148,4 1.091 5 = 218,2 183,9ºC 5 = 36,78ºC Pengamatan denyut nadi setelah olahraga No Waktu Jumlah Pernapasan Jumlah denyut nadi Suhu tubuh 1. 1 menit 75 94 36,4ºC 2. 2 menit 150 215 36,6ºC 3. 3 menit 267 290 37,1ºC 4. 4 menit 310 294 36,9ºC 5. 5 menit 395 400 37,3ºC Rata-rata 1.197 5 = 239,4 1.293 5 = 258,6 184,3ºC 5 = 36,86ºC F. Pembahasan Percobaan regulasi dan homeostatis ini bertujuan untuk menyebutkan contoh regulasi dalam tubuh manusia dan menjelaskan mekanisme regulasi dalam rangka homeostatis dalam tubuh manusia. Percobaan dilakukan dengan cara mengukur jumlah pernafasan, jumlah denyut nadi dan suhu tubuh dari masing-masing teman kelompok. Pengukuran ini dilakukan dalam dua tahap yakni, pada keadaan tenang yaitu sebelum olahraga dan keadaan aktivitas berat yaitu sesudah olahraga. Keadaan tenang sebelum olahraga dilakukan pada percobaan yaitu duduk dengan tenang, sedangkan aktivitas berat sesudah olahraga dilakukan dengan berlari naik turun tangga.
Masing-masing aktivitas dilakukan selama 5 menit dan untuk pengukurannya dilakukan selama 1 menit. Data anggota pertama dan percobaan pertama, jihan, yakni 36,9ºC sebagai suhu awal pada keadaan tenang, dan suhu setelah melakukan aktivitas berat sebesar 36,7ºC. frekuensi nafas pada keadaan tenang yaitu 64 kali/menit, dan setelah aktivitas berat menjadi 58 kali/menit. Frekuensi nadi pada keadaan tenang yaitu 73 kali/menit dan setelah aktivitas berat sebesar 98 kali/menit. Data percobaan kedua, yakni 36,5ºC sebagai suhu awal pada keadaan tenang, dan suhu setelah melakukan aktivitas berat sebesar 35,7ºC. frekuensi nafas pada keadaan tenang yaitu 113 kali/menit, dan setelah aktivitas berat menjadi 120 kali/menit. Frekuensi nadi pada keadaan tenang yaitu 139 kali/menit dan setelah aktivitas berat sebesar 208 kali/menit. Data percobaan ketiga, yakni 36,6ºC sebagai suhu awal pada keadaan tenang, dan suhu setelah melakukan aktivitas berat sebesar 35,6ºC. frekuensi nafas pada keadaan tenang yaitu 180 kali/menit, dan setelah aktivitas berat menjadi 140 kali/menit. Frekuensi nadi pada keadaan tenang yaitu 210 kali/menit dan setelah aktivitas berat sebesar 310 kali/menit. Data percobaan kelima, yakni 36,5ºC sebagai suhu awal pada keadaan tenang, dan suhu setelah melakukan aktivitas berat sebesar 36,2ºC. frekuensi nafas pada keadaan tenang yaitu 352 kali/menit, dan setelah aktivitas berat menjadi 380 kali/menit. Frekuensi nadi pada keadaan tenang yaitu 356 kali/menit dan setelah aktivitas berat sebesar 398 kali/menit. Data anggota kedua dan percobaan kedua, uli, pada saat kondisi tenang memiliki frekuensi bernafas sebanyak 46 kali/menit, dengan frekuensi denyut nadi sebanyak 82 kali/menit, suhu tubuh mencapai 36,4ºC dengan keadaan berkeringat, pada saat beraktivitas frekuensi nafas sebanyak 75 kali/menit, dengan frekuensi denyut nadi sebanyak 215 kali/menit, suhu tubuh mencapai 36,9ºC dengan keadaan berkeringat. Data pada orang kedua pada saat kondisi tenang memiliki frekuensi nafas 63 kali/menit, dengan frekuensi denyut nadi sebanyak 73 kali/menit, suhu tubuh mencapai 36,6ºC dengan keadaan tidak berkeringat.
Dari semua data yang dihasilkan, data awal maupun akhir didapatkan hasil yang kurang meningkat yaitu bahwa semua nominal data yang ada dari awal sampai akhir tidak seimbang. Hal ini disebabkan oleh jumlah data yang terjadi pada kelas minoritas yang jauh lebih besar dibanding data yang lainnya sehingga menyebabkan menurunnya kinerja klasifikasi pada kelas minoritas. Kinerja algoritma biasanya dievaluasi dengan akurasi hasil prediksi, namun hal ini tidak sesuai apabila terjadi ketidakseimbangan kelas (Chawla et al., 2002). Begitu pula data dari teman kelompok lain yang mana dapat disimpulkan rata-rata suhu tubuh, frekuensi nadi, frekuensi pernapasan pada setiap orang berbeda-beda. Saat dalam keadaan normal. Frekuensi nadi dan frekuensi pernapasan cenderung memiliki jumlah yang berbeda-beda dan dapat dipengaruhi oleh banyak factor. Diantaranya adalah usia, aktivitas fisik, tingkat kebugaran dan lain-lain. Jika kita melakukan aktivitas suhu tubuh akan naik. Aktivitas selain merangsang peningkatan laju metabolisme, mengakibatkan gesekan antar komponen otot / organ yang menghasilkan energy termal. Latihan (aktivitas) dapat meningkatkan suhu tubuh hingga 36,02ºC – 36,54ºC. Dari percobaan ini diperoleh hasil bahwa terjadi peningkatan denyut nadi pada saat setelah dan sebelum olahraga yang signifikan yang merupakan respon kardiovaskular terhadap adanya kontraksi otot. Pengaturan kardiovaskular terlihat dengan segera seturut dengan latihan. Kerja ini juga berfungsi untuk mengangkut O2 yang dibutuhkan oleh otot untukmelakukan kontraksi selama latihan. Saat jantung dalam keadaan istirahat, denyut nadinya akan lebih sedikit. Denyut nadi normal adalah 60-80 kali per menit. Bagi mereka yang tidak pernah olahraga, denyut jantung umumnya 80 kali per menit karena kerja jantung yang cukup berat. Tetapi orang yang melakukan olahraga dengan teratur jantung biasanya dapat berdenyut kurang dari 80 kali per menit. Pada latihan fisik akan terjadi perubahan pada system kardiovaskular yaitu peningkatan curah jantung dan redstribusi darah dari organ yang kurang aktif ke organ yang aktif. Peningkatan curah jantung ini dilakukan dengan meningkatkan isi sekuncup dan denyut jantung.
Disaat melakukan latihan fisik maka otot jantung akan mengkonsumsi O2 yang ditentukan oleh faktor tekanan dalam jantung selama kontraksi systole, ketika tekanan meningkat maka konsumsi O2 ikut naik pula (Elly, 2006). Latihan fisik atau aktivitas fisik berpengaruh langsung terhadap system kronis. Efek akut dari latihan fisik adalah meningkatkan denyut nadi dan pernapasan (Nala, N. 2011 & Janssen, PGJM 1993.) meningkatnya detak jantung saat olahraga merupakan kondisi yang normal terjadi. Hal ini merupakan respons alami tubuh untuk menyediakan cukup oksigen dengan cara meningkatkan aliran darah dan meningkatkan pernapasan terlebih ketika beraktifitas yang cukup berat, maka system saraf simpatik dapat bekerja lebih dominan, akibatnya denyut nadi akan meningkat, sedangkan pada saat sebelum olahraga maka system saraf simpatik bekerja lebih aktif, akibatnya denyut nadi akan menurun. Adanya factor yang mempengaruhi pengeluaran keringat pada tubuh manusia adalah suhu, aktivitas, emosi, dan hipotalamus pada otak.
G. Kesimpulan Berdasarkan hasil percobaan yang kami lakukan, maka dapat disimpulkan bahwa : 1. Terdapat koordinasi antara system pernafasan dengan system sirkulasi di dalam tubuh terutama saat bekerja keras. 2. Gejala perkeringatan timbul karena suhu tubuh yang meningkat setelah tubuh melakukan aktivitas yang bertujuan untuk mendinginkan suhu tubuh kembali normal. 3. Suhu tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik (feed back). Mekanisme tubuh diatur dengan mengimbangi produksi panas terhadap kehilangan panas yang terjadi. Bila laju pembentukan panas dalam tubuh lebih besar daripada laju hilangnya panas, timbul panas dalam tubuh dan suhu tubuh meningkat begitu pula sebaliknya.
H. Daftar Pustaka Amalia, Safitri (editor). 2004. Biologi Kelima jilid 3. Jakarta : Erlangga Anggraeni, F., Isnaeni, dan A.T. Poernomo. 2016. Pengaruh konsentrasi terhadap aktivitas enzim fibrinolitik dari Bacillus subtilis ATCC 6633. Berskala ilmiah Kimia Farmasi. 5(1): 18-24. Anonim. 1983. Media Pendidikan Biologi Umum. P2LPTK. Dirjend. Dikti . Depdikbud. Basoeki,Soejono. 1999. Fisiologi manusia. Malang: Yogyakarta: UNY Press Boeree, C. George. 2005. Personality Theories. Terj. Inyiak Ridwan Muzir. Yogyakarta: Prismasophie. Chawla, N.V., Bowyer, K.W., Hall, L. O. & Kegelmeyer, W.P (2002). SMOTE: Synthetic Minority Over-sampling Technique. Journal of Artificial Intelligence Research Vol. 16, No. 2, Hal: 321-357.) G, Jarvis, F. M., Clegg, D. J., Hevener, A. L., 2013. The role of estrogens in control of energy balance and glucose homeostatis. Endocr Rev 34 : 309 – 338. Irianto, Kus. 2004. Struktur dan Fungsi Tubuh Manusia untuk Paramedis. Bandung: CV Yrama Widya. Janssen, PGJM. 1993. Latihan Laktat-Denyut Nadi. Jakarta: Komite Olahraga Nasional Indonesia DKI Jaya. Mashudi, Sugeng. 2011. Anatom dan Fisiologi Dasar. Jakarta: Salemba Medika. Nala, N. 2011. Prinsip Pelatihan Fisik Olahraga. Denpasar: Universitas Udayana Press. Pertiwi, Kartika Ratna. 2008. Hand Out Biologi Umum Regulasi Jurusan Pendidikan Biologi Semester 1. Yogyakarta. Setiadi, Elly M. 2006. Ilmu Sosial Budaya Dasar. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Syaifuddin. 2009. Fisiologi Tubuh Manusia untuk Mahasiswa Keperawatan Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika. Uliyah, Musrifatul dan Aziz Alimul H. 2006. Keterampilan Dasar Praktik Klinik untk Kebidanan Edisi 2. Jakarta: Salemba Medika. Wulangi. (1993). Fisiologi Hewan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Daftar Pustaka Online https://conference.um.ac.id https://id.scribd.com https://psycnet.apa.org/record/1985-27979-001 https://repository.unpas.ac.id/11385/6/DAFTAR%20PUSTAKA.pdf https://scholar.unand.ac.id/17648/4/DAFTAR%20PUSTAKA.pdf https://www.academia.edu https://www.alodokter.com https://www.halodoc.com/artikel https://www.kompas.com https://www.studocu.com
I. Lampiran Gambar 1.1. Sebelum olahraga
Gambar 1.2. Setelah Olahraga
LAPORAN PRAKTIKUM (“PENGUKURAN TEKANAN DARAH”) DI SUSUN OLEH : NAMA : JIHAN SARI NPM : 38420521014 SEMESTER : V MATA KULIAH : PRAKTIKUM BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI INSTITUS SAINS DAN KEPENDIDIKAN ( ISDIK ) KIE RAHA MALUKU UTARA TAHUN 2023
A. Latar Belakang Tekanan darah adalah tekanan dari darah yang dipompa oleh jantung terhadap dinding arteri. Pada manusia, darah dipompa melalui dua sistem sirkulasi terpisah dalam jantung yaitu sirkulasi pulmonal dan sirkulasi sistemik. Ventrikel kanan jantung memompa darah yang kurang O2 ke paru-paru melalui sirkulasi pulmonal di mana CO2 dilepaskan dan O2 masuk ke darah. Darah yang mengandung O2 kembali ke sisi kiri jantung dan dipompa keluar dari ventrikel kiri menuju aorta melalui sirkulasi sistemik di mana O2 akan dipasok ke seluruh tubuh. Darah mengandung O2 akan melewati arteri menuju jaringan tubuh, sementara darah kurang O2 akan melewati vena dari jaringan tubuh menuju ke jantung. Tekanan darah diukur dalam milimeter air raksa (mmHg), dan dicatat sebagai dua nilai yang berbeda yaitu tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik. Tekanan darah sistolik terjadi ketika ventrikel berkontraksi dan mengeluarkan darah ke arteri sedangkan tekanan darah diastolik terjadi ketika ventrikel berelaksasi dan terisi dengan darah dari atrium. Tekanan darah rata-rata orang dewasa muda yang sehat (sekitar 20 tahun) adalah 120/80 mmHg. Nilai pertama (120) merupakan sistolik dan nilai kedua (80) merupakan tekanan darah diastolik. Untuk mengukur tekanan darah, dapat menggunakan sfigmomanometer yang ditempatkan di atas arteri brakialis pada lengan. Tekanan darah penting karena merupakan kekuatan pendorong bagi darah agar dapat beredar ke seluruh tubuh untuk memberikan darah segar yang mengandung oksigen dan nutrisi ke organ-organ tubuh. Tekanan darah bervariasi untuk berbagai alasan, seperti usia, aktivitas fisik, dan perubahan posisi. Untuk orang dewasa, 120/80 mmHg dianggap sebagai nilai yang normal. Nilai tekanan darah anak-anak lebih rendah daripada orang dewasa. Tekanan darah anak didasarkan pada jenis kelamin, usia, dan tinggi. Tekanan darah bisa bervariasi bahkan pada orang yang sama misalnya pada saat berolahraga. Olahraga akan menyebabkan tekanan darah meningkat untuk waktu yang singkat dan akan kembali normal ketika berhenti berolahraga.Tekanan darah dalam satu hari juga berbeda yaitu pada waktu pagi hari tekanan darah lebih tinggi dibandingkan saat tidur malam hari karena adanya perbedaan tekanan darah sistolik
selama 2 jam pertama setelah bangun tidur dikurangi tekanan darah sistolik terendah dalam sehari. Selain itu, faktor yang dapat mempengaruhi perbedaan tekanan pada pembuluh darah adalah posisi tubuh dimana perubahan tekanan darah pada posisi tubuh dipengaruhi oleh faktor gravitasi. - Definisi tekanan darah Tekanan darah adalah tekanan yang ditimbulkan pada dinding arteri. Tekanan puncak terjadi saat ventrikel berkontraksi dan disebut tekanan sistolik. Tekanan diastolik adalah tekanan terendah yang terjadi saat jantung beristirahat. Tekanan darah biasanya digambarkan sebagai rasio tekanan sistolik terhadap tekanan diastolik, dengan nilai dewasa normalnya berkisar dari 100/60 sampai 140/90. Rata-rata tekanan darah normal biasanya 120/80 (Smeltzer & Bare, 2001). Menurut Hayens (2003), tekanan darah timbul ketika bersikulasi di dalam pembuluh darah. Organ jantung dan pembuluh darah berperan penting dalam proses ini dimana jantung sebagai pompa muscular yang menyuplai tekanan untuk menggerakkan darah, dan pembuluh darah yang memiliki dinding yang elastis dan ketahanan yang kuat. Sementara itu Palmer (2007) menyatakan bahwa tekanan darah diukur dalam satuan millimeter air raksa (mmHg). Tekanan darah adalah pemeriksaan tekanan darah merupakan indikator dalam menilai fungsi kardiovaskuler.tekanan maksimum pada dinding arteria yang terjadi ketika bilik kiri jantung menymprotkan darah klep aortik yang terbuka kedalam aorta disebut sebagai tekanan sistolik. (alimul aziz,2009) Tekanan darah adalah tekanan yang di timbulkan oleh dinding arteri. Tekanan puncak terjadi saat pentrikel berkontraksi yang di sebut tekanan sistol. Tekanan diastolik adalah tekanan terendah yang terjadi saat jantung beristirahat. Tekanan darah biasanya digambarkan sebagai rasio tekanan sistolik terhadap diastolik dengan nilai dewasa normalnya berkisar 100/60 – 140/90 mmHg. Ratarata tekanan darah normal biasanya 120/80 mmHg ( smeltzer dan bare, 2001 ) Tekanan darah timbul ketika bersikulasi di dalam pembuluh darah. Organ jantung dan pembuluh darah yang memiliki dinding yang elastis dan ketahanan yang kuat. Sementara itu Palmer (2007) menyatakan tekanan darah di ukur dalam satuan
milimeter ari raksa (mmHg). Sementara itu Palmer (2007) menyatakan tekanan darah di ukur dalam satuan milimeter ari raksa (mmHg). Tekanan darah didefinisikan sebagai tekanan darah yang mendesak suatu unit area dinding pembuluh darah, dan ini biasanya diukur pada arteri. Karena jantung secara ritmik berkontraksi dan relaksasi, maka hasil aliran darah secara ritmik juga mengalir ke dalam arteri, menyebabkan tekanan darah naik turun pada setiap denyutan. Jantung merupakan sebuah organ yang sangat vital bagi tubuh makhluk hidup dan merupakan sebuah organ yang terdiri dari otot-otot jantung. Jantung mempunyai bentung seperti jantung pisang. Siklus jantung merupakan kejadian yang terjadi dalam jantung selama peredaran darah. Siklus hjantung terdiri dari 2 gerakan, yaitu Konstriksi (systole) selama 0,3 detik dan Pengendoran (diastole) selama 0,5 detik. - Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Tekanan Darah Seseorang Tekanan darah ditentukan oleh 2 faktor, yaitu faktor fisiologis dan faktor patologis. Faktor fisiologis ialah faktor yang berkaitan langsung terhadap kondisi jantung. Sedangkan faktor patologis adalah faktor yang berhubungan dengan kondisi tubuh secara fisik. Faktor fisiologis dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu, : a. Kelenturan dinding arteri b. Volume darah, semakin besar volume darah maka semakin tinggi tekanan darah c. Kekuatan gerak jantung d. Viscositas darah, semakin besar viskositas maka semakin besar pula resistensi terhadap aliran e. Curah jantung, semakin tinggi curah jantung maka tekanan darah meningkat f. Kapasitas pembuluh darah, semakin besar kapasitas pembuluh darah maka semakin tinggi tekanan darah.
Faktor patologis dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya yaitu, : a. Posisi tubuh, baroresepsor akan merespon saat tekanan darah turun dan akan berusaha menstabilkan tekanan darah b. Aktifitas fisik, aktifitas fisik membutuhkan energy sehingga butuh aliran yang lebih cepat untuk suplai O2 dan nutrisi (tekanan darah naik) c. Temperature, menggunakan system rennin-angiotensin – vasokonstriksi perifer. Temperature pun dapat berkaitan dengan aktifitas, suhu yang tinggi diakibatkan karena aktifitas yang banyak ssedangkan suhu yang rendah dikarenakan aktifitas yang cenderung ringan d. Usia, semakin bertambah usia, semakin bertambah pula tekanan darah hal ini disebabkan oleh berkurangnya elastisitas pembuluh darah e. Jenis kelamin, wanita cenderung memiliki tekanan darah rendah karena komposisi tubuhnya yang lebih banyak lemak sehingga butuh O2 lebih untuk pembakaran. Sedangkan pria yang memiliki banyak aktifitas pun cenderung memiliki tekanan darah yg lebih tinggi f. Emosi, emosi akan menaikkan tekanan darah karena pusat pengatur emosi akan menset baroresepsor untuk menaikkan tekanan darah. Emosi akan memicu kerja hormone adrenalin, adrenalin pria lebih tinggi karena dipengaruhi oleh syaraf parasimpatis. g. Makanan, makanan dapat menjadi pemicu tekanan darah yang tinggi, diantaranya makanan yang mengandung garam (NaCl). Garam akan mempengaruhi retensi Na+ dalam darah sehingga dapat menyebabkan penumpukkan Na+ dalam darah. h. Hormon, hormon renin yang terdapat dalam ginjal memiliki peranan untuk merangsang pengeluaran angiotensin yang kemudian akan mempengaruhi rangsangan vasokonstriksi (penyempitan pembuluh darah). Berdasarkan faktor – faktor yang telah dijelaskan diatas maka dapat ditarik hipotesa bahwa tekanan darah seseorang dapat diketahui berdasarkan faktor patologisnya. Jika seseorang yang terbiasa memiliki aktifitas banyak maka akan memiliki tekanan darah yang tinggi sedangkan sebaliknya jika seseorang memiliki aktifitas yg sedikit tekanan darahnya pun akan cenderung menunjukkan angka normal.
- Cara Pengukuran Tekanan Darah Pengukuran tekanan darah sangat mudah dilakukan dengan cara palpasi, kita dapat melakukan sendiri. Di samping itu dengan perkembangan teknologi saat ini dapat menggunakan alat elektronik yang canggih. Tekanan darah dapat diukur dengan dua metode : 1. Metoda Langsung (Direct Method). Metoda ini menggunakan jarum atau kanula yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah dan dihubungkan dengan manometer. Metode ini merupakan cara yang sangat tepat untuk pengukuran tekanan darah tapi butuh peralatan yang lengkap dan ketrampilan khusus. 2.Metode tidak langsung (Indirect Method). Metoda ini menggunakan shpygmomanometer (tensi meter). Tekanan darah dapat diukur dengan dua cara, yaitu : a. Cara Palpasi, dengan cara ini hanya dapat diukur tekanan sistolik. b. Cara Auskultasi, dengan cara ini dapat diukur tekanan sistolik maupun tekanan diastolik Cara ini memerlukan alat “ Stethoschope Menghindari Kesalahan Dalam Pengukuran Tekanan Darah 1. Hindari makan, merokok dan semua kegiatan 30 menit sebelum pengukuran. 2. Stress juga dapat menyebabkan tekanan darah yang tinggi. 3. Hindari penggunaan pakaian yang ketat, terutama pada bagian lengan. a. Duduk yang nyaman dan letakkan lengan anda dekat dan sejajar dengan posisi jantung. b. Tarik nafas dalam-dalam 5 sampai 6 kali sebelum pengukuran. c. Jangan bergerak atau bicara selama pengukuran. d. Istirahatkan 5 sampai 10 menit antara pengukuran pertama dan selanjutnya. e. Simpanlah pengukuran tekanan darah Anda untuk selanjutnya silahkan konsultasikan dengan dokter Anda. Untuk hasil yang baik, cobalah
pengukuran dilakukan pada jam-jam yang sama setiap harinya (indocoreperkasa, 2006) - Alat Pengukur Tekanan Darah Tensimeter dikenalkan pertama kali oleh dr. Nikolai Korotkov, seorang ahli bedah Rusia, lebih dari 100 tahun yang lalu. Tensimeter adalah alat pengukuran tekanan darah sering juga disebut Sphygmomanometer. Sejak itu,sphygmomanometer air raksa telah digunakan sebagai standar emas pengukuran tekanan darah oleh para dokter. Tensimeter atau sphygmomanometer pada awalnya menggunakan raksa sebagai pengisi alat ukur ini. Sekarang, kesadaran akan masalah konservasi lingkungan meningkat dan penggunaan dari air raksa telah menjadi perhatian seluruh dunia. Bagaimanapun, sphygmomanometer air raksa masih digunakan sehari-hari bahkan di banyak negara modern.Para dokter tidak meragukan untuk menempatkan kepercayaan mereka kepada tensimeter air raksa ini. Sphygmomanometer terdiri dari sebuah pompa, sumbat udara yang dapat diputar, kantong karet yang terbungkus kain, dan pembaca tekanan, yang bisa berupa jarum mirip jarum stopwatch atau air raksa. B. Tujuan Praktikum Mengetahui perbedaan tekanan darah pada posisi duduk, berdiri, berbaring, dan beraktivitas? C. Alat Dan Bahan Alat : Stetoskop, dan Alat Tensi Darah Bahan : Tubuh Kita