The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Jihan sari, 2024-01-11 05:54:31

Laporan Praktikum Biologi

Laporan Praktikum Biologi

LAPORAN PRAKTIKUM (“PENGAMATAN VEGETASI TUMBUHAN”) DI SUSUN OLEH : NAMA : JIHAN SARI NPM : 38420521014 SEMESTER : V MATA KULIAH : PRAKTIKUM BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI INSTITUS SAINS DAN KEPENDIDIKAN ( ISDIK ) KIE RAHA MALUKU UTARA TAHUN 2023


A. Latar Belakang Keanekaragaman spesies, ekosistem dan sumberdaya genetic semakin menurun pada tingkat yang membahayakan akibat kerusakan lingkungan. Kepunahan akibat beberapa jenis tekanan dan kegiatan, terutama kerusakan habitat pada lingkungan alam yang kaya dengan keanekaragaman hayati, seperti hutan juhan tropic dataran rendah. Kepunahan keanekaragaman hayati sebagian besar karena ulah manusia. Kepunahan akan berdampak besar terhadap perubahan struktur komunitas ekosistem suatu hutan. Oleh karena itu, suatu analisis untuk menentukan struktur komunitas hutan meliputi perhitungan jenis den spesies vegetasi perlu dilakukan untuk menentukan struktur komunitas hutan suatu wilayah. Menurut Marsono (1977), vegetasi merupakan kumpulan tumbuhtumbuhan, biasanya terdiri atas beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut, terdapat interaksi yang erat, baik diantara individu penyusun vegetasi itu sendiri, maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu system yang tumbuh dan hidup serta dinamis (Marsono, 1977). Salah satu metode untuk mendeskripsikan suatu vegetasi yaitu analisis vegetasi. Analisa vegetasi merupakan cara untuk mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Pada suatu kondisi hutan yang luas, kegiatan analisa vegetasi erat kaitannya dengan sampling sehingga cukup ditempatkan beberapa petak contoh untuk mewakili habitat tersebut. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan dalam sampling ini, yaitu jumlah petak contoh, cara peletakan petak contoh, dan teknik analisa vegetasi yang digunakan (Soerianegara, 2005). Pada praktikum ini, dalam menganalisis vegetasi perlu dibuat suatu petak berbentuk persegi dengan ukuran 10m x 10m. percobaan ini perlu dilakukan untuk mengetahui keberagaman suatu spesies di suatu tempat dan dominasi spesies pada suatu vegetasi. Vegetasi dalam artian lain merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan biasanya terdiri dari beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat baik


diantara sesame individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya sehingga merupakan suatu system yang hidup dan tumbuh serta dinamis. Analisa vegetasi adalah cara mempelajari susunan (komponen jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan. Hutan merupakan komponen habitat terpenting bagi kehidupan oleh karenanya kondisi masyarakat tumbuhan di dalam hutan baik komposisi jenis tumbuhan, dominasi spesies, kerapatan maupun keadaan penutupan tajuknya perlu diukur (Natasa dkk, 2010). Jika suatu wilayah berukuran luas/besar, vegetasinya terdiri atas beberapa bagian vegetasi atau komunitas tumbuhan yang menonjol. Sehingga terdapat berbagai tipe vegetasi. Contoh bentuk pertumbuhan (growth form): termasuk herba tahunan (annual), pohon selalu hijau berdaun lebar, semak yang meranggas pada waktu kering, tumbuhan dengan umbi atau rhizome, tumbuhan selalu hijau berdaun jarum, rumput menahun (perennial), dan semak kerdil (Soetjipta, 1994). Secara umum pola penyebaran tumbuhan di alam dapat dikelompokkan kedalam 3 pola, yaitu acak (random), mengelompok (clumped), dan teratur (regular). Tiap-tiap jenis tumbuhan tentunya mempunyai pola penyebaran yang berbeda-beda tergantung pada model reproduksi dan lingkungan mikro. Untuk mengetahui skala perubahan-perubahan komponen ekosistem di alam dapat dilakukan penelitian yang didalamnya terdapat parameter-perameter tersebut, maka dapat diketahui pola penyebaran vegetasi herbal tersebut di alam (Nuri, 2010). Hardjosuwarno (1990), mengemukakan sejumlah istilah yang kemudian berkaitan dengan pembahasan tersebut di atas: a. Frekuensi mutlak adalah frekuensi munculnya satu spesies dari seluruh frekuensi total tumbuhan. Frekuensi mutlak ini diperoleh dengan rumus jumlah frame yang ditempati spesies A dibagi jumlah frame keseluruhan. b. Frekuensi relative merupakan frekuensi satu spesies dalam bentuk persentase dari frekuensi total tumbuhan. Jadi frekuensi relative disini dinyatakan dalam satuan persen. Frekuensi relative ini diperoleh dengan rumus jumlah frekuensi mutlak spesies A dibagi jumlah keseluruhan frekuensi mutlak dikali serratus persen.


c. Dominansi mutlak sering diartikan sebagai cover spesies tertentu pada suatu daerah dari total cover tumbuhan. Dominansi mutlak diperoleh dengan rumus yaitu jumlah tusukan yang mengenai spesies A dibagi dengan jumlah total tusukan. d. Dominansi relative sering disinonimkan dengan cover relative yaitu dominansi spesies tertentu dalam bentuk persentase pada suatu vegetasi dari total cover tumbuhan. e. Dominansi relative diperoleh dengan rumus yaitu jumlah dominansi mutlak spesies A dibagi jumlah keseluruhan DM. f. Kerapatan mutlak mempunyai pengertian yang sama dengan densitas mutlak yaitu jumlah individu per satuan luas area. Jadi dalam hal ini kita berbicara mengenai kepadatan suatu spesies dalam suatu vegetasi. Kerapatan mutlak diperoleh dengan rumus jumlah tusukan yang mengenai spesies A dibagi dengan luas total area 6. g. Kerapatan relative mempunyai arti yang identic dengan densitas relative yaitu jumlah tumbuhan persatuan luas area yang dinyatakan dalam bentuk persentase dari densitas total tumbuhan. Jadi dalam hal ini kita berbicara mengenai kepadatan suatu spesies dalam suatu vegetasi yang dinyatakan dengan persen. Kerapatan mutlak diperoleh dengan jumlah tusukan yang mengenai spesies A dibagi dengan luas total area. Suatu wilayah berukuran luas atau besar, vegetasinya terdiri atas beberapa bagian vegetasi atau komunitas tumbuhan yang menonjol sehingga terdapat berbagai tipe vegetasi. Vegetasi terbentuk oleh atau terdiri atas semua spesies tumbuhan dalam suatu wilayah dan memperlihatkan pola distribusi menurut ruang dan waktu. Tipe-tipe vegetasi dicirikan oleh bentuk pertumbuhan tumbuhan dominan atau paling besar atau paling melimpah dan tumbuhan karakteristik (Harjosuwarno, 1990). B. Tujuan Praktikum Menentukan struktur komunitas tumbuhan herba dengan menentukan karakteristik spesies terbentuknya relatif dan indeks.


C. Alat Dan Bahan Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tali rafia, kayu, hp alat tulis dan HVS. Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah vegetasi pada berbagai jenis tumbuhan. D. Prosedur Kerja Adapun cara kerja dari pengamatan ini sebagai berikut : 1. Survei lokasi yang memiliki komunitas jenis pohon beragam (heterogen). 2. Buat petak dengan ukuran 10 m x 10 m dengan luas wilayah. Jumlah plot/petak dengan ukuran panjang 100 cm x lebar 100 cm . Umumnya diambil sebanyak 1%- 10% dari total luas wilayah. 3. Letakan petak/plot pada lokasi yang telah disurvei. 4. Catat jumlah, dan jenis spesies pada tumbuhan yang akan diidentifikasi untuk pengambilan data. 5. Pengambilan dokumentasi foto pada pengukuran plot dan tiap jenis vegetasi tumbuhan yang ada di tempat lokasi. E. Hasil Praktikum Tabel Plot 1 No Nama Tumbuhan X Y XY Total 1. Pohon kelapa 6 1 36 1 6 50 2. Katang-katang 1 1 1 1 1 5 3. Pandan duri 2 1 4 1 2 10 4. Pohon capulong 6 1 36 1 6 50 Jumlah 15 4 77 4 15 115 Rata-rata 3, 75 1 19,25 1 3,75 28,75


Tabel Plot 2 No Nama Tumbuhan X Y XY Total 1. Pohon kelapa 4 1 16 1 4 26 2. Awar-awar 3 1 9 1 3 17 3. Pohon jambu biji 17 1 289 1 17 325 4. Pohon capulong 3 1 9 1 3 17 Jumlah 27 4 323 4 27 385 Rata-rata 6,75 1 80,75 1 6,75 96,25 Tabel Plot 3 No Nama Tumbuhan X Y XY Total 1. Pohon kelapa 7 1 49 1 7 65 2. Katang-katang 1 1 1 1 1 5 3. Pandan duri 11 1 121 1 11 145 4. Awar-awar 12 1 144 1 12 170 5. Pohon gersen 1 1 1 1 1 5 6. Pohon jambu biji 6 1 36 1 6 50 7. Pecut kuda 7 1 49 1 7 65 8. Alang-alang 45 1 2.025 1 45 94,025 9. Pulutan 1 1 1 1 1 5 Jumlah 91 9 404,025 9 91 613,025 Rata-rata 10,11 1 44,89 1 10,11 68,11 Tabel Plot 4 No Nama Tumbuhan X Y XY Total 1. Pohon cemara udang 1 1 1 1 1 5 2. Pohon kelapa 6 1 36 1 6 50 3. Pandan duri 1 1 1 1 1 5 4. Awar-awar 2 1 4 1 2 10 5. Alang-alang 10 1 100 1 10 122 6. Daun pakis 4 1 16 1 4 26 Jumlah 24 6 158 6 24 217 Rata-rata 4 1 26,33 1 4 36,16


Tabel Plot 5 No Nama Tumbuhan X Y XY Total 1. Pandan duri 1 1 1 1 1 5 2. Pohon kelapa 9 1 81 1 9 101 3. Pohon cemara udang 1 1 1 1 1 5 4. Pohon capulong 1 1 1 1 1 5 Jumlah 12 4 84 4 12 116 Rata-rata 3 1 21 1 3 29 Tabel Plot 6 No Nama Tumbuhan X Y XY Total 1. Pandan duri 2 1 4 1 2 10 2. Pohon capulong 4 1 16 1 4 26 3. Pohon jambu biji 1 1 1 1 1 5 Jumlah 7 3 21 3 7 41 Rata-rata 2,33 1 7 1 2,33 13,67 Tabel Plot 7 No Nama Tumbuhan X Y XY Total 1. Pohon kelapa 4 1 16 1 4 26 Jumlah 4 1 16 1 4 26 Rata-rata 4 1 16 1 4 26 Tabel Plot 8 No Nama Tumbuhan X Y XY Total 1. Pohon kelapa 3 1 9 1 3 17 2. Pohon capulong 1 1 1 1 1 5 Jumlah 4 2 10 2 4 22 Rata-rata 2 1 5 1 2 11 Tabel Plot 9 No Nama Tumbuhan X Y XY Total 1. Pohon capulong 2 1 4 1 2 10 2. Pohon kelapa 1 1 1 1 1 5 Jumlah 3 2 5 2 3 15 Rata-rata 1,5 1 2,5 1 1,5 7,5


Tabel Plot 10 No Nama Tumbuhan X Y XY Total 1. Pohon kelapa 3 1 9 1 3 17 2. Pohon ketapang 2 1 4 1 2 10 Jumlah 5 2 13 2 5 27 Rata-rata 2,5 1 6,5 1 2,5 13,5 F. Pembahasan Data yang dikumpulkan meliputi nama jenis tumbuhan, dan jumlah individu setiap spesies, jumlah plot yang digunakan dalam praktikum yaitu 10 plot dengan permukaan 1000 m P×L (100m×10m) a. Nilai frekuensi mutlak Frekuensi spesies dapat dihitung dengan rumus : Frekuensi mutlak (FM) FM = ℎ ℎ ℎ 1. katang-katang FM = 2 10 = 0,2 Berdasarkan hasil diatas tumbuhan katang-katang ditemukan pada plot 1 dan plot 3 dari 10 plot deng jumlah spesies dengan 1 pada masing-masing plot dengan nilai frekuensi mutlak 0,2 2. pohon kelapa FM = 43 10 = 4,3 Berdasarkan hasil diatas tumbuhan pohon kelapa ditemukan pada plot 1,2,3,4,5,7,8,9 dan plot 10 dari 10 plot deng jumlah spesies pada plot 1(6) plot 2 (4) plot 3 (7) plot 4 (6) plot 5 (9) plot 7 (4) plot 8 (3) plot 9 (1) dan plot 10 (3) pada masing-masing plot dengna nilai frekuensi mutlak 4,3


3. pandan duri FM = 13 10 = 1,3 Berdasarkan hasil diatas tumbuhan pandan duri ditemukan pada plot 1,3,4,5 dan dari 10 plot deng jumlah spesies pada plot 1 (2) plot 3 (7) plot 4 (1) plot 5 (1) dan plot 6 (2) pada masing-masing plot dengna nilai frekuensi mutlak 1,3 4. pohon capulong FM = 17 10 = 1,7 Berdasarkan hasil diatas tumbuhan pohon capulong ditemukan pada plot 1,2,5,6,8 dan plot 9 dari 10 plot deng jumlah spesies pada plot 1 (6) plot 2 (3) plot 5 (1) plot 6 (4) plot 8(1) plot 9 (2) pada masing-masing plot dengna nilai frekuensi mutlak 1,7 5. pohon jambu biji FM = 27 10 = 2,7 Berdasarkan hasil diatas tumbuhan pohon jambu biji ditemukan pada plot 2,3 dan 9 dari 10 plot deng jumlah spesies pada plot 2 (20) plot 3 (6) plot 6 (1) pada masing-masing plot dengna nilai frekuensi mutlak 2,7 6. awar-awar FM = 17 10 = 1,7 Berdasarkan hasil diatas tumbuhan pohon jambu biji ditemukan pada plot 2,3 dan 4 dari 10 plot deng jumlah spesies pada plot 2 (3) plot 3 (12) plot 4 (2) pada masing-masing plot dengna nilai frekuensi mutlak 1,7


7. pohon kersen FM = 1 10 = 0,1 Berdasarkan hasil diatas tumbuhan pohon jambu biji ditemukan pada plot 3 dari 10 plot deng jumlah spesies pada plot 3 (1) dengna nilai frekuensi mutlak 0,1 8. pecut kuda FM = 7 10 = 0,7 Berdasarkan hasil diatas tumbuhan pohon jambu biji ditemukan pada plot 3 dari 10 plot deng jumlah spesies pada plot 3 (7) dengna nilai frekuensi mutlak 0,7 9. pulutan FM = 11 10 = 1,1 Berdasarkan hasil diatas tumbuhan pohon jambu biji ditemukan pada plot 3 dari 10 plot deng jumlah spesies pada plot 3 (11) dengna nilai frekuensi mutlak 1,1 10. alang-alang FM = 55 10 = 5,5 Berdasarkan hasil diatas tumbuhan pohon jambu biji ditemukan pada plot 3 dan plot 4 dari 10 plot deng jumlah spesies pada plot 3 (45) plot 4 (10) dengna nilai frekuensi mutlak 5,5 11. pohon cemara udang FM = 2 10 = 0,2


Berdasarkan hasil diatas tumbuhan pohon cemara udang ditemukan pada plot 4 dan plot 5 dari 10 plot deng jumlah spesies pada plot 3 (1) plot 4 (1) dengna nilai frekuensi mutlak 0,2 12. daun pakis FM = 4 10 = 0,4 Berdasarkan hasil diatas tumbuhan pohon cemara udang ditemukan pada plot 4 dari 10 plot deng jumlah spesies pada plot 4 (4) dengna nilai frekuensi mutlak 0,4 13. pohon ketapang FM = 1 10 = 0,1 Berdasarkan hasil diatas tumbuhan pohon ketapang ditemukan pada plot 10 dari 10 plot deng jumlah spesies pada plot 10 (1) dengna nilai frekuensi mutlak 0,1 b. Nilai relatif Nilai Frekuensi relatif spesies dapat dihitung dengan rumus : Frekuensi relatif (FR) FR= × 100 % 1. Katang-katang FR = 2 13 × 100% = 0.15 × 100 % = 0,15 Berdasarkan perhitungan diatas hasil tumbuhan katang-katang ditemukan nilai relatif 0,15


2. Pohon kelapa FR = 43 13 × 100% = 3,30 × 100 % = 3,3 Berdasarkan perhitungan diatas hasil tumbuhan pohon kelapa ditemukan nilai relatif 3,3 3. Pandan duri FR = 13 13 × 100% = 1 × 100 % = 1 Berdasarkan perhitungan diatas hasil tumbuhan pandan duri ditemukan nilai relatif 1 4. Pohon capulong FR = 17 13 × 100% = 1,30 × 100 % = 1,3 Berdasarkan perhitungan diatas hasil tumbuhan pohon capulong ditemukan nilai relatif 1,3 5. Pohon jambu biji FR = 27 13 × 100% = 2,07 × 100 % = 2,07


Berdasarkan perhitungan diatas hasil tumbuhan pohon jambu biji ditemukan nilai relatif 2,07 6. Awar-awar FR = 17 13 × 100% = 1,30 × 100 % = 1,3 Berdasarkan perhitungan diatas hasil tumbuhan awar-awar ditemukan nilai relatif 1,3 7. Pohon gersen FR = 1 13 × 100% = 0,07 × 100 % = 0,07 Berdasarkan perhitungan diatas hasil tumbuhan pohon gersen ditemukan nilai relatif 0,07 8. Pecut kuda FR = 7 13 × 100% = 0,53 × 100 % = 0,53 Berdasarkan perhitungan diatas hasil tumbuhan pecut kuda ditemukan nilai relatif 0,53 9. Pulutan FR = 11 13 × 100% = 0,84 × 100 % = 0,84


Berdasarkan perhitungan diatas hasil tumbuhan pulutan ditemukan nilai relatif 0,84 10. Alang-alang FR = 55 13 × 100% = 4,23 × 100 % = 4,23 Berdasarkan perhitungan diatas hasil tumbuhan alang-alang ditemukan nilai relatif 4,23 11. Pohon cemara udang FR = 2 13 × 100% = 0,15 × 100 % = 0,15 Berdasarkan perhitungan diatas hasil tumbuhan pohon cemara udang ditemukan nilai relatif 0,15 12. Daun pakis FR = 4 13 × 100% = 0,30 × 100 % = 0,3 Berdasarkan perhitungan diatas hasil tumbuhan daun pakis ditemukan nilai relatif 0,3 13. Pohon ketapang FR = 1 13 × 100% = 0,07 × 100 % = 0,07


Berdasarkan perhitungan diatas hasil tumbuhan pohon ketapang ditemukan nilai relatif 0,07 c. Indeks kepentingan Indeks nilai penting (INP) ini menunjukan jenis tumbuhan yang mendominasi di area plot. Indeks nilai penting dapat dihitung menggunakan rumus: INP = Frekuensi Relatif (FR) + Frekuensi Mutlak (FM) 1. Katang-katang INP = 0,15 + 0,2 = 0,35 2. Pohon kelapa INP = 3,3 + 4,3 = 7,6 3. Pandan duri INP = 1 + 1,3 = 2,3 4. Pohon capulong INP = 1,3 + 1,7 = 3 5. Pohon jambu biji INP = 2,07 + 2,7 = 4,77 6. Awar-awar INP = 1,3 + 1,7 = 3 7. Pohon kersen INP = 0,07 + 0,1 = 0,17


8. Pecut kuda INP = 0,53 + 0,7 = 1,23 9. pulutan INP = 0,84 + 1,1 = 1,94 10. alang-alang INP = 4,23 + 5,5 = 9,73 11. pohon cemara udang INP = 0,15 + 0,02 = 0,35 12. daun pakis INP = 0,3 + 0,4 = 0,7 13. pohon ketapang INP = 0,07 + 0,1 = 0,17 d. Indeks keanekaragaman spesies Untuk menentukan indeks keragaman digunakan indeks ShannonWiener (Odum, 1996), dengan rumus sebagai berikut : H’ = ∑ Pi Ln Pi Keterangan : H’ = Indeks Keanekaragaman ShannonWiener Pi = ni/N (proporsi spesies tumbuhan ke-i) ni = Jumlah Individu tumbuhan yang ke-i N = Jumlah Total spesies tumbuhan Berdasarkan perhitungna indeks keanekaragaman jenis dari plot 1 terdapat beberapa tumbuhan dan jumlah bisa dilihat pada tabel berikut : Nilai indeks keanekaragaman dapat diklasifikasi atas tiga kategori sebagai berikut:


a. H’< 1 = Keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan rendah, kestabilan spesies tumbuhan rendah. b. 1<H’<3 = keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan sedang, kestabilan spesies tumbuhan sedang c. H’>3 = keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi, kestabilan spesies tumbuhan tinggi 1. Plot 1 a. Katang-katang H ’= Ʃ ln = Ʃ 1 ln 1 = 1× 0 = 0 Tabel 1 No Nama Tumbuhan Jumlah Tumbuhan 1. Katang-katang 1 Jumlah 1 Rata-rata 0 Berdasakan pengamatan pada tabel 1 tumbuhan katang-katang keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan rendah, kestabilan spesies tumbuhan rendah. b. Pohon Kelapa H ’= Ʃ ln = Ʃ 6 ln 6 = 6×1,79 = 10,74


Tabel 2 No Nama Tumbuhan Jumlah Tumbuhan 1. Pohon kelapa 6 Jumlah 6 Rata-rata 10,74 Berdasakan pengamatan pada tabel 2 tumbuhan pohon kelapa keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi, kestabilan spesies tumbuhan tinggi. c. Pandan duri H ’= Ʃ ln = Ʃ 2 ln 2 = 2×0,69 = 1,38 Tabel 3 No Nama Tumbuhan Jumlah Tumbuhan 1. Pandan duri 2 Jumlah 2 Rata-rata 1,38 Berdasakan pengamatan pada tabel 3 tumbuhan pandan duri keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan sedang kestabilan spesies tumbuhan sedang d. Pohon Capulong H ’= Ʃ ln = Ʃ 6 ln 6 = 6×1,79 = 10,74


Tabel 4 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pohon capulong 6 Jumlah 6 Rata-rata 10,74 Berdasakan pengamatan pada tabel 4 tumbuhan pohon capulong keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi kestabilan spesies tumbuhan tinggi 2. Plot 2 a. Pohon kelapa H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 4 ln 4 = 4×1,38 = 5,52 Tabel 1 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pohon kelapa 4 Jumlah 4 Rata-rata 5,52 Berdasakan pengamatan pada tabel 1 tumbuhan pohon kelapa keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi kestabilan spesies tumbuhan tinggi. b. Pohon capulong H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 3 ln 3 = 3× 1,09


= 3,27 Tabel 2 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pohon capulong 3 Jumlah 3 Rata-rata 3,27 Berdasakan pengamatan pada tabel 2 tumbuhan capulong keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi kestabilan spesies tumbuhan tinggi. c. Pohon jambu biji H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 20 ln 20 = 20×2,99 = 59,8 Tabel 3 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pohon jambu biji 20 Jumlah 20 Rata-rata 59,8 Berdasakan pengamatan pada tabel 3 tumbuhan jambu biji keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi kestabilan spesies tumbuhan tinggi. d. Awar-awar H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 3 ln 3 = 3×1,09 = 3,27


Tabel 4 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Awar-awar 3 Jumlah 3 Rata-rata 3,27 Berdasakan pengamatan pada tabel 4 tumbuhan awar-awar keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi kestabilan spesies tumbuhan tinggi. 3. Plot 3 a. Pohon kelapa H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 7 ln 7 = 7× 1,94 = 13,58 Tabel 1 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pohon kelapa 4 Jumlah 4 Rata-rata 5,52 Berdasakan pengamatan pada tabel 1 tumbuhan pohon kelapa keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi kestabilan spesies tumbuhan tinggi. b. Katang-katang H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 1 ln 1


= 1× 0 = 0 Tabel 2 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Katang-katang 1 Jumlah 1 Rata-rata 0 Berdasakan pengamatan pada tabel 2 tumbuhan katang-katang keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan rendah kestabilan spesies tumbuhan rendah c. Pandan duri H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 7 ln 7 = 7× 1,94 = 13,58 Tabel 3 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pandan duri 7 Jumlah 17 Rata-rata 13,58 Berdasakan pengamatan pada tabel 3 tumbuhan pandan duri keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi kestabilan spesies tumbuhan tinggi d. Awar-awar H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 12 ln 12


= 12× 2,48 = 29,76 Tabel 4 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Awar-awar 12 Jumlah 12 Rata-rata 29,76 Berdasakan pengamatan pada tabel 4 tumbuhan awar-awar keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi kestabilan spesies tumbuhan tinggi e. Pohon kersen H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 1 ln 1 = 1× 0 = 0 Tabel 5 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pohon kersen 1 Jumlah 1 Rata-rata 0 Berdasakan pengamatan pada tabel 5 tumbuhan pohon kersen keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan rendah kestabilan spesies tumbuhan rendah f. Pecut kuda H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 7 ln 7


= 7× 1,94 = 13,58 Tabel 6 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pecut kuda 7 Jumlah 7 Rata-rata 13,58 Berdasakan pengamatan pada tabel 6 tumbuhan pecut kuda keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi kestabilan spesies tumbuhan tinggi g. Pulutan H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 11 ln 11 = 11× 2,39 = 26,29 Tabel 7 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pulutan 11 Jumlah 11 Rata-rata 26,29 Berdasakan pengamatan pada tabel 7 tumbuhan pulutan keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi kestabilan spesies tumbuhan tinggi h. Alang-alang


H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 45 ln 45 = 45× 3,80 = 171 Tabel 8 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Alang-alang 45 Jumlah 45 Rata-rata 171 Berdasakan pengamatan pada tabel 8 tumbuhan alang-alang keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi kestabilan spesies tumbuhan tinggi i. Pohon jambu biji H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 6 ln 6 = 6× 1,79 = 10,74 Tabel 9 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pohon jambu biji 6 Jumlah 6 Rata-rata 10,74 Berdasakan pengamatan pada tabel 9 tumbuhan jambu biji keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi kestabilan spesies tumbuhan tinggi


4. Plot 4 a. Pohon cemara udang H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 1 ln 1 = 1× 0 = 0 Tabel 1 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pohon cemara udang 1 Jumlah 1 Rata-rata 0 Berdasakan pengamatan pada tabel 1 tumbuhan pohon cemara udang keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan rendah kestabilan spesies tumbuhan rendah b. Pohon kelapa H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 6 ln 6 = 6 × 1,79 = 10,74 Tabel 2 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pohon kelapa 6 Jumlah 6 Rata-rata 10,74 Berdasakan pengamatan pada tabel 2 tumbuhan pohon kelapa keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi kestabilan spesies tumbuhan tinggi


c. Pandan duri H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 1 ln 1 = 1× 0 = 0 Tabel 3 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pandan duri 1 Jumlah 1 Rata-rata 0 Berdasakan pengamatan pada tabel 3 tumbuhan pandan duri keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan rendah kestabilan spesies tumbuhan rendah d. Awar-awar H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 2 ln 2 = 2× 0,30 = 0,6 Tabel 4 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Awar-awar 2 Jumlah 2 Rata-rata 0,6 Berdasakan pengamatan pada tabel 4 tumbuhan awar-awar keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan rendah kestabilan spesies tumbuhan rendah


e. Alang-alang H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 10 ln 10 = 10 × 2,30 = 23 Tabel 5 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Alang-alang 10 Jumlah 10 Rata-rata 23 Berdasakan pengamatan pada tabel 5 tumbuhan alang-alang keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi kestabilan spesies tumbuhan tinggi f. Daun pakis H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 4 ln 4 = 4 × 1,38 = 5,52 Tabel 6 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Daun pakis 4 Jumlah 4 Rata-rata 5,52 Berdasakan pengamatan pada tabel 6 tumbuhan daun pakis keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi kestabilan spesies tumbuhan tinggi


5. Plot 5 a. Pandan duri H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 1 ln 1 = 1× 0 = 0 Tabel 1 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pandan duri 1 Jumlah 1 Rata-rata 0 Berdasakan pengamatan pada tabel 1 pandan duri keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan rendah kestabilan spesies tumbuhan rendah b. Pohon kelapa H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 9 ln 9 = 9× 2,19 = 19,71 Tabel 2 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pohon kelapa 9 Jumlah 9 Rata-rata 19,71 Berdasakan pengamatan pada tabel 2 pohon kelapa keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi kestabilan spesies tumbuhan tinggi


c. Pohon cemara udang H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 1 ln 1 = 1× 0 = 0 Tabel 3 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pohon cemara udang 1 Jumlah 1 Rata-rata 0 Berdasakan pengamatan pada tabel 3 pohon cemara udang keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan rendah kestabilan spesies tumbuhan rendah d. Pohon capulong H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 1 ln 1 = 1× 0 = 0 Tabel 4 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pohon capulong 1 Jumlah 1 Rata-rata 0


Berdasakan pengamatan pada tabel 4 pohon capulong keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan rendah kestabilan spesies tumbuhan rendah 6. Plot 6 a. Pandan duri H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 2 ln 2 = 2× 0,30 = 0,6 Tabel 1 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pandan duri 2 Jumlah 2 Rata-rata 0,6 Berdasakan pengamatan pada tabel 1 pandan duri keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan rendah kestabilan spesies tumbuhan rendah b. Pohon capulong H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 4 ln 4 = 4 × 1,38 = 5,52 Tabel 2 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pohon capulong 4 Jumlah 4 Rata-rata 5,52


Berdasakan pengamatan pada tabel 2 pohon capulong keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi kestabilan spesies tumbuhan tinggi c. Pohon jambu biji H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 1 ln 1 = 1× 0 = 0 Tabel 3 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pohon jambu biji 1 Jumlah 1 Rata-rata 0 Berdasakan pengamatan pada tabel 3 pohon jambu biji keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan rendah kestabilan spesies tumbuhan rendah 7. Plot 7 a. Pohon kelapa 4 H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 4 ln 4 = 4 × 1,38 = 5,52 Tabel 1 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pohon kelapa 4 Jumlah 4 Rata-rata 5,52


Berdasakan pengamatan pada tabel 1 pohon kelapa keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi kestabilan spesies tumbuhan tinggi 8. Plot 8 a. Pohon capulong H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 1 ln 1 = 1× 0 = 0 Tabel 1 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pohon capulong 1 Jumlah 1 Rata-rata 0 Berdasakan pengamatan pada tabel 1 pohon capulong keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan rendah kestabilan spesies tumbuhan rendah b. Pohon kelapa H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 3 ln 3 = 3 × 1,09 = 3,27 Tabel 2 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pohon kelapa 3 Jumlah 3 Rata-rata 3,27


Berdasakan pengamatan pada tabel 2 pohon kelapa keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi kestabilan spesies tumbuhan tinggi 9. Plot 9 a. Pohon capulong H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 2 ln 2 = 2 × 0,69 = 1,38 Tabel 1 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pohon capulong 2 Jumlah 2 Rata-rata 1,38 Berdasakan pengamatan pada tabel 1 pohon kelapa keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan sedang kestabilan spesies tumbuhan sedang b. Pohon kelapa H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 1 ln 1 = 1 × 0 = 0 Tabel 2 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pohon kelapa 1 Jumlah 1 Rata-rata 0


Berdasakan pengamatan pada tabel 2 pohon kelapa keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan rendah kestabilan spesies tumbuhan rendah 10. Plot 10 a. Pohon ketapang H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 1 ln 1 = 1 × 0 = 0 Tabel 1 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pohon ketapang 1 Jumlah 1 Rata-rata 0 Berdasakan pengamatan pada tabel 1 pohon ketapang keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan rendah kestabilan spesies tumbuhan rendah b. Pohon kelapa H ’= Ʃ pi ln pi = Ʃ 3 ln 3 = 3 × 1,09 = 3,27 Tabel 2 No Nama tumbuhan Jumlah tumbuhan 1. Pohon kelapa 3 Jumlah 3 Rata-rata 3,27


Berdasakan pengamatan pada tabel 2 pohon kelapa keanekaragaman dan penyebaran jumlah individu setiap spesies tumbuhan tinggi kestabilan spesies tumbuhan tinggi. G. Kesimpulan Terdapat 4 jenis vegetasi pada plot 1, 4 jenis vegetasi pada plot 2, 9 jenis vegetasi pada plot 3, 6 jenis vegetasi pada plot 4, 4 jenis vegetasi pada plot 5, 3 jenis vegetasi pada plot 6, 1 jenis vegetasi pada plot 7, 2 jenis vegetasi vegetasi pada plot 8, 2 jenis vegetasi pada plot 9, dan 2 jenis vegetasi pada plot 10 dan untuk setiap jenis vegetasi memiliki nilai frekuensi mutlak, nilai relatif, indeks kepentingan, dan indeks keanekaragaman spesies. Nilai frekuensi mutlak tertinggi terdapat pada spesies alang-alang sebesar 5,5 Nilai relatif tertinggi terdapat pada spesies alang-alang sebesar 4,23 Indeks kepentingan tertinggi terdapat pada spesies alang-alang sebesar 9,73 Indeks keanekaragaman spesies tertinggi terdapat pada spesies pohon jambu biji sebesar 59,8 Analisis vegetasi dilakukan untuk mengetahui seberapa besar pesatnya penyebaran suatu spesies pada suatu area pengamatan atau penelitian. Sehingga dapat diketahui nilai frekuensi mutlak, nilai relative, indeks kepentingan, dan indeks keanekaragaman spesies.


H. Daftar Pustaka Andre. M. 2009. Apa dan Bagaimana Mempelajari Analisa Vegetasi. https://boymarpaung.wordpress.com. Arrijani, dkk. 2006. Analisis Vegetasi Hulu DAS Cianjur Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Biodevirsitas, volume 7, Nomor 2, Hal 147-153. Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Manado: Bandar Lampung. Campbell, Neil.A,Mitchell, Ritche. 2004. Biologi Jilid 4. Erlangga: Jakarta. Harjosuwarno, S. 1990. Dasar-Dasar Ekologi Tumbuhan. Fakultas Biologi UGM: Yogyakarta. Indriyanto. 2006. Ekologi Hutan. PT. Bumi Aksara: Bandar Lampung. Kusuma dan Istomo. 1995. Ekologi Hutan. Fahutan IPB: Bogor. Latifah, S. 2005. Analisis Vegetasi Hutan Alam. USU Reository: Sumatera Utara. Marsono, D. 1977. Deskripsi Vegetasi dan Tipe-Tipe Vegetasi Tropika. Fakultas Kehutanan UGM: Yogyakarta. Michael, P. 1994. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Lapangan dan Laboratorium. UI Press: Jakarta. Natassa, dkk. 2010. Analisa Vegetasi Dengan Metode Kuadran. https://riyantilathyris.wordpress.com./2010/11/laporan-analisis-vegetasi/. Nuri. 2010. Analisis Vegetasi Herba. http: //nurichem.blogspot.cm/2010/03/analisis-vegetasi-herba.html. Odum, E. P. 1972. Fundamentals of Ecology. W. B. Saunder Company Philadelphia. London Toronto. Riberu, Paskalis. 2002. Pembelajaran Ekologi. Jurnal Pendidikan penabur. No 1 Th. I. universitas Negeri Jakarta: Jakarta. Soetjipta.1994. Dasar-Dasar Ekologi Hewan. Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Proyek Pembinaan Dan Peningkatan Mutu Tenaga Pendidikan. Yogyakarta. Supriatno, B. 2001. Pengantar Praktikum Ekologi Tumbuhan. FMIPA Universitas Pendidikan Indonesia: Bandung.


Sutomo, dkk. 2012. Studi Awal Komposisi dan Dinamik Vegetasi Pohon Hutan Gunung Pohen Cagar Alam Batu Gahu Bali. Jurnal Bumi Lestari, Volume. 12. No. UPT-BKT Kebun Raya “Eka Kaya”: Bali.


Daftar Pustaka Online http://repository.ut.ac.id/ https://andialdiempe.blogspot.com/2014/01/laporan-praktikum-lapanganekologi.html https://baixardoc.com/documents/laporan-praktikum-ekologi-tumbuhan-analisisvegetasi--5dc5d0ab11ec6 https://www.academia.edu/10631705/Laporan_Vegetasi_Tumbuhan_BTT https://www.scribd.com/document/409381052/analisis-vegetasi-docx https://www.slideshare.net/fitri1mulyana/laporan-praktikum-analisis-vegetasi https://www.zegahutan.com/2020/05/laporan-praktikum-analisis-vegetasi.html


I. Lampiran Gambar 1. Pandan duri Gambar 2. Pohon kelapa Gambar 3. Alang-alang Gambar 4. Pohon ketapang Gambar 5. Alang-alang Gambar 6. Pohon cemara udang


Gambar 7. Pulutan Gambar 8. Awar-awar Foto-foto Kegiatan


Click to View FlipBook Version