The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Jihan sari, 2024-01-11 05:54:31

Laporan Praktikum Biologi

Laporan Praktikum Biologi

D. Prosedur Kerja Cara memasang manset yang benar a. Lengan baju digulung setinggi mungkin sehingga tidak terlilit manset. b. Tepi bawah manset berada pada 2-3 cm diatas fossa cubiti. c. Pipa karet jangan menutupi fossa cubiti . d. Manset diikat dengan cukup ketat . e. Stetoskop diafragma terletak tepat diatas denyut arteri brachialis. Posisi duduk, berdiri, dan berbaring 1. Posisi Duduk Praktikan berada pada posisi duduk dengan tenang selama 2-3 menit tanpa memikirkan hal yang berat – berat. Pasang manset pada lengan kanan dan catat lah tekanan darah nya ! 2. Posisi Berdiri Praktikan berada pada posisi berdiri selama 2-3 menit tanpa memikirkan hal yang berat – berat. Pasang manset pada lengan kanan dan catat lah tekanan darah nya ! 3. Posisi Berbaring Praktikan berada pada posisi berbaring selama 10 menit tanpa memikirkan hal yang berat – berat. Pasang manset pada lengan kanan dan catat lah tekanan darah nya ! Cara Kerja Otot dan Otak 1. Kerja Otot Praktikan melakukan gerak badan selama 1 menit (seperti push up) , tetapkan tekanan darahnya dalam sikap duduk segera mungkin setelah melakukan aktivitas gerak badan tersebut 2. Kerja Otak Praktikan dibiarkan memikirkan sesuatu yang agak berat , dan tetapkan tekanan darahnya dalam posisi duduk .


E. Hasil Praktikum Tabel 1. Pengukuran Tensi Darah Pada Posisi Duduk No Nama Umur Hasil Pengukuran Keterangan 1. Yurna Buabes 20 Tahun 120/80 mmHg Normal 2. Sri Mulyani Asis 20 Tahun 120/80 mmHg Normal 3. Risna Ahmad 20 Tahun 120/80 mmHg Normal 4. Sukmawati Iksan 23 Tahun 110/60 mmHg Normal 5. Jihan Sari 21 Tahun 100/80 mmHg Normal 6. Gisna Parangi 21 Tahun 100/80 mmHg Normal Tabel 2. Pengukuran Tensi Darah Pada Posisi Berdiri No Nama Umur Hasil Pengukuran Keterangan 1. Yurna Buabes 20 Tahun 100/80 mmHg Normal 2. Sri Mulyani Asis 20 Tahun 100/80 mmHg Normal 3. Risna Ahmad 20 Tahun 100/60 mmHg Normal 4. Sukmawati Iksan 23 Tahun 100/80 mmHg Normal 5. Jihan Sari 21 Tahun 140/80 mmHg Hipertensi Ringan 6. Gisna Parangi 21 Tahun 80/60 mmHg Hipotensi Tabel 3. Pengukuran Tensi Darah Pada Posisi Berbaring No Nama Umur Hasil Pengukuran Keterangan 1. Yurna Buabes 20 Tahun 100/60 mmHg Normal 2. Sri Mulyani Asis 20 Tahun 100/60 mmHg Normal 3. Risna Ahmad 20 Tahun 100/80 mmHg Normal 4. Sukmawati Iksan 23 Tahun 120/60 mmHg Normal 5. Jihan Sari 21 Tahun 100/40 mmHg Hipotensi 6. Gisna Parangi 21 Tahun 80/65 mmHg Hipotensi


Tabel 4. Pengukuran Tensi Darah Pada Posisi Beraktifitas No Nama Umur Hasil Pengukuran Keterangan 1. Yurna Buabes 20 Tahun 100/80 mmHg Normal 2. Sri Mulyani Asis 20 Tahun 100/80 mmHg Normal 3. Risna Ahmad 20 Tahun 110/60 mmHg Normal 4. Sukmawati Iksan 23 Tahun 100/80 mmHg Normal 5. Jihan Sari 21 Tahun 100/60 mmHg Normal 6. Gisna Parangi 21 Tahun 120/80 mmHg Normal F. Pembahasan Tekanan darah adalah gaya yang ditimbulkan oleh darah terhadap dinding pembuluh, bergantung pada volume darah yang terkandung di dalam pembuluh dan daya regang atau distensibilitas dinding pembuluh (seberapa mudah pembuluh tersebut regang) (Sherwood, 2014). Klasifikasi tekanan darah menurut American Heart Association (2017) dibagi menjadi 6 kategori, kategori tekanan darah yang dikatakan normal ialah tekanan darah sistolik <120 mmHg dan tekanan darah diastolik <80 mmHg, dikatakan tekanan darah tinggi ialah tekanan darah sistolik 120-129 mmHg dan tekanan darah diastolik <80 mmHg, dikatakan hipertensi tahap 1 ialah tekanan darah sistolik 130-139 mmHg dan tekanan diastolik 80-89 mmHg, dikatakan hipertensi tahap 2 ialah tekanan darah sistolik ≥140 mmHg dan tekanan darah diastolik ≥90 mmHg serta dikatakan hipeertensi urgensi dan hipertensi keadaan darurat ialah tekanan darah sistolik >180 mmHg dan tekanan darah diastolik >120 mmHg. Hipotensi sering didefinisikan secara klinis sebagai tekanan arteri sistolik <90 mmHg atau tekanan diastolik <60 mmHg (Klabunde, 2015). Berdasarkan pengamatan yang dilakukan pada saat praktikum, tekanan darah diukur berdasarkan metode secara tidak langsung dan pengukuran dilakukan pada lengan bagian atas . Tekanan darah masing-masing praktikan diukur dalam beberapa keadaan, yaitu, pada saat posisi duduk, berbaring, berdiri, dan beraktifitas. Pengukuran juga dilakukan pada saat praktikan melakukan kegiatan menggunakan otot dan otak. Sebelum praktikan melakukan kegiatan, praktikan diukur tekanan darahnya dengan menggunakan alat tensi darah dan stetoskop. Kemudian praktikan melakukan sejumlah aktivitas otot yaitu berlari kecil di


tempat dan pengukuran tekanan darah dengan alat tensi darah dan stetoskop ini memperoleh hasil yang sangatlah beragam antara 80/60 mmHg sampai 140/80 mmHg. Berdasarkan pada referensi dan literatur, seluruh data yang dihasilkan tersebut masih menunjukkan range tekanan darah yang normal. Tekanan darah sistolik yang dianggap normal untuk orang dewasa adalah adalah 90-130 mmHg, sedangkan tekanan diastolik ya n g n o r ma l unt uk or a n g de w a s a a d a la h s e b e s a r 6 0 -9 0 mm H g . An gk a ya n gditunjukkan dalam tekanan sistolik selalu lebih besar dari angka diastolik karena selama sistol, ventrikel kiri jantung memaksa darah untuk masuk ke aorta dengan fase ejeksi (penyemprotan). Hal tersebut terjadi akibat adanya perbedaan tekanan antara ventrikel dengan aorta. Sehingga ketika katup yang membatasi atrium dengan aorta terbuka maka terjadi perpindahan darah dari atrium ke aorta dengan ejeksi dan tekanan yang besar. Hasil pengukuran didapatkan data tekanan darah responden sebagian besar berada dalam rentang normal sebanyak 20 responden (0,15 %, 1,83%, 1,25%, 1,66%, 2%,), hipertensi sebanyak 1 responden (1,75%) dan hipotensi sebanyak 3 responden (1,33 %, 2,5 %, 1,23 %). Data tersebut mendukung teori yang dikemukakan oleh American Heart Association(2017), bahwa pada umur remaja dan dewasa rentang tekanan darah masih dalam rentang normal yaitu tekanan darah sistolik<120 mmHg dan tekanan diastolik <80 mmHg. Sherwood (2014) dan Berman et al (2016), mengatakan tekanan darah bisa tidak normal terjadi karena ada faktor yang mempengaruhi tekanan darah yaitu elastisitas dinding arteri, volume darah, kekuatan gerak jantung, viskositas darah, curah jantung, kapasitas pembuluh darah. Menurut Berman et al (2016) dan Ardiansyah (2012), faktor lain yang bisa mempengaruhi tekanan darah adalah usia, olahraga, stress, ras, obatobatan, obesitas, variasi diurnal, kondisi medis, suhu, genetik dan gaya hidup. Tekanan darah merupakan faktor yang sangat penting pada sistem sirkulasi. Tidak semua tekanan darah berada dalam batas normal sehingga menyebabkan munculnya gangguan pada tekanan darah yakni dikenal dengan hipertensi atau tekanan darah tinggi dan hipotensi atau tekanan darah rendah (Fitriani & Nilamsari, 2017). Gangguan tekanan darah seperti hipertensi dan hipotensi akan berdampak dan bisa berbahaya pada tubuh seseorang. Hipertensi salah satu penyakit jantung yang umum terjadi. Pada saat ini peningkatan tekanan darah diidentifikasikan sebagai salah satu faktor risiko yang paling penting bagi penyakit jantung. Hipertensi yang berkelanjutan dapat mengganggu aliran darah di ginjal, jantung dan otak. Hal ini berdampak pada


peningkatan terjadinya gagal ginjal, penyakit jantung coroner, stroke dan demensia. Perlunya perhatian akan hipertensi dan diagnosisnya serta pengontrolan tekanan darah dengan terapi yang tepat merupakan faktor kritis untuk mengurangi tingkat kematian dan keparahan dari kardiovaskuler (Suhadi, 2016). Selain gangguan tekanan darah hipertensi, penyakit hipotensi juga berbahaya pada penderita dengan hipotensi. Hipotensi adalah keadaan tekanan arteri sistolik <90 mmHg, atau tekanan diastolik <60 mmHg (Klabunde, 2015) yang akan menyebabkan pusing, lemas, dan letih, sakit kepala ringan, nafas pendek dan nyeri dada, denyut jantung yang tidak beraturan, mual dan muntah, sangat haus, merasa badan dingin dan berkeringat, pandangan kabur, bingung dan sulit berkosentrasi sampai dapat terjadi pingsan (Muhtadi, 2013). Namun, ada praktikan yang hasil pengukurannya 80/60 pada saat posisi berdiri dan 80/65 pada saat posisi berbaring itu berarti paraktikan tersebut dalam keadaan yang sangat lelah sehingga tekanan darahnya hampir rendah. Berdasarkan hal tersebut dapat diketahui salah satu faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya tekanan darah adalah situasi fisik seseorang yang akan dicek tekanan darahnya. Pada praktikum ini hanya dibahas faktor aktivitas. Apabila dibandingkan dengan hasil pengukuran sebelum beraktivitas otot, ternyata data menunjukkan bahwa tekanan darah setelah melakukan aktivitas otot cenderung akan lebih tinggi. Dari hasil pengukuran rata-rata didapatkan setelah melakukan praktikum, tekanan saat berdiri lebih tinggi dari pada duduk dan tekanan saat duduk lebih tinggi d a ri p ad a be r b ar i n g. H a l t e rs e but di ka r e n ak a n s em a kin t in ggi a k tiv it a s ya n g dilakukan maka akan semakin tinggi pula aktivitas dari kerja jantung yang harus mengeluarkan tenaga yang tinggi sehingga tekanan darah juga meningkat. Tekanan darah yang meningkat ini dipengaruhi oleh tingkatan aktivitas. Tekanan darah setelah beraktivitas lebih besar dibandingkan dengan tekanan darah pada saat istirahat. Hal tersebut diakibatkan karena pada saat beraktivitas sel tubuh memerlukan pasokan O2 yang banyak akibat dari metabolisme sel yang bekerja semakin cepat pula dalam menghasilkan energi. Sehingga peredaran darah di dalam pembuluh darah akan semakin cepat dan curah darah yang dibutuhkan akan semakin besar. Akibat adanya vasodilatasi pada otot jantung dan otot rangka serta vasokontriksi arteriol yang menyebabkan arteriol menyempit dan kerja jantung tiap satuan


waktu pun bertambah sehingga volume darah pada arteriol akan meningkat dan tekanannya pun akan meningkat. G. Kesimpulan 1. Pengukuran tekanan darah dapat dilakukan pada lengan atas. 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi tekanan darah yaitu, aktivitas fisik, jenis kelamn, usia, kessehatan, dan lain-lain 3. Pengukuran tekanan darah dapat menggunakan metode tidak langsung dengan auskultasi dan palpasi yang bisa menggunakan spigmomanometer (manual atau digital) dan stetoskop. 4. Semakin berat aktivitas tubuh, semakin cepat curah jantung karena adanya vasodilatasi di otot rangka dan jantung serta vasokontriksi di arteriol pada organ-organ tersebut dan menyebabkan aliran darah ke saluran pencernaan.


H. Daftar Pustaka American Heart Association. (2017). Ardiansyah, M. (2012). Medikal Bedah Untuk Mahasiswa. Yogyakarta: Diva Press. Azizah. (2011). Keperawatan lanjut usia Yogyakarta Graha Ilmu Badan pusat statistic (2017) http: sulut. Bps.go.id/. Barbeau TR. Cardiovascular physiology. Florence; Francis Marion University; 2004. Berman, A., Snyder, S., & Frandsen, G. (2016). Kozier & Erb’s Fundamental Of Nursing : Concepts, Practice, and Process. Blood Pressure Association. Healthy lifestyle and blood pressure. Juli 2008 [cited 2014 Sep 14]. Available From : http://www.bloodpressureuk.org/. Evelyn.2000.Anatomi Fisiologi Manusia.Jakarta : Gramedia. Fitriani, N., & Nilamsari, N. (2017). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tekanan Darah Pada Pekerja Shift Dan Pekerja Non-Shift Di PT. X Gresik. Journal of Industrial Hygiene and Occupational Health, 2(1), 57–75. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.21 111/jihoh.v2il.948. Gunawan-Lany, Hipertensi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius ; 2005. Herawati, I & Wahyuni, (2016). Manfaat Latihan Pengaturan Pernapasan Untuk Menurunkan Tekanan Darah Pada Penderita Hipertensi Primer, University Research Colloquium. Kimbal, Jhon W.1999.Biologi edisi 5.Jakarta : Erlangga. Klabunde. (2015). Konsep Fisiologi Kardiovaskular. Jakarta: EGC. Muhtadi, I. (2013). Hipotensi. Retrieved from www.indramuhtadi.com. Rahmani Astuti, Editor. Terapi hipertensi: program 8 minggu menurunkan tekanan darah tinggi dan mengurangi risiko serangan jantung dan stroke secara alami. 1 st ed. Bandung: Qanita;2010.p.54.


Rebecca JS. High blood pressure. Juli 2012 [cited 2015 Sep 15]. Available From: http://health.cvs.com/. Roati A. Effect of body position on the cardiovascular system. St Peters Lutheran College.2014. Sherwood, L. (2014). Fisiologi Manusia: Dari Sel Ke Sistem. Jakarta: EGC. Suhadi, R. dkk. (2016). Seluk Beluk Hipertensi Peningkatan Kompetensi Klinis untuk Pelayanan Kefarmasian. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press.


Daftar Pustaka Online http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/24772/4/Chapter%20II.pdf. http://thegoebbeiz.wordpress.com. http://tulisanmuti.blogspot.com/2010/01/tekanan-darah-tinggi-penyakit akibat.html. http://www.infogue.com/article/2011/07/04/penyakit_hipotensi. http://www.scribd.com/doc/58582610/PENGUKURAN-TEKANANDARAH#scribd. http://www.sentra-edukasi.com. https://bunda.co.id/uncategorized-id/penyebab-hipertensi-dan-pencegahannya/. https://www.halodoc.com/kesehatan/hipotensi. www. Wikipedia.com.


I. Lampiran Gambar 1. Pengukuran Tensi Darah Pada Posisi Duduk Gambar 2. Pengukuran Tensi Darah Pada Posisi Berdiri


Gambar 3. Pengukuran Tensi Darah Pada Posisi Berbaring Gambar 4. Pengukuran Tensi Darah Pada Posisi Beraktifitas


LAPORAN PRAKTIKUM (“MENGAMATI OBJEK ANATOMI PADA TUMBUHAN”) DI SUSUN OLEH : NAMA : JIHAN SARI NPM : 38420521014 SEMESTER : V MATA KULIAH : PRAKTIKUM BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI INSTITUS SAINS DAN KEPENDIDIKAN ( ISDIK ) KIE RAHA MALUKU UTARA TAHUN 2023


A. Latar Belakang Tumbuhan merupakan salah satu makhluk hidup yang tercipta untuk mendukung kelangsungan sebuah kehidupan. jaringan tumbuhan adalah sekumpulan sel-sel tumbuhan yang mempunyai bentuk, asal, fungsi dan struktur yang sama. jaringan pada tumbuhan terdiri atas jaringan meristem dan permanen. Banyak sekali macam tumbuhan di dunia ini, namun hanya ada dua jenis yaitu dikotil dan monokotil yang tentunya memiliki struktur dan bentuk jaringan yang berbeda. Selain itu, tumbuhan yang terdiri atas akar, batang, dan daun juga mempunyai perbedaan pada struktur jaringannya. Maka dari itu untuk memperoleh sebuah fakta mengenai perbedaan di setiap bagiannya perlu dilakukan sebuah praktikum. Berikut ini adalah hasil dari praktikum untuk mengetahui sistem jaringan pada tumbuhan yang merupakan anatomi dari tumbuhan itu sendiri. Anatomi Tumbuhan Anatomi adalah cabang dari biologi yang berhubungan dengan struktur dan organisasi dari makhluk hidup. Tumbuhan merupakan salah satu keanekaragaman hayati yang ada dibumi. Sehingga anatomi tumbuhan adalah cabang dari biologi yang berhubungan dengan struktur dan organisasi dari tumbuhan itu sendiri yaitu struktur yang pembangun tumbuhan tersebut (Savitri, 2008). Tumbuhan berbiji (Spermatophyte) merupakan kelompok tumbuhan yang memiliki ciri khas, yaitu adanya suatu organ yang berupa biji. Biji merupakan bagian yang berasal dari bakal biji dan didalamnya mengandung calon individu baru, yaitu lembaga. Spermatophyta diklasifikasikan menjadi 2 subdivisi, yaitu tumbuhan biji terbuka (Gymnospermae) dan tumbuhan biji tertutup (Angiospermae). Berdasarkan jumlah keping bijinya, tumbuhan biji tertutup dibedakan menjadi 2, yaitu tumbuhan biji berkeping satu (monokotil), dan tumbuhan biji berkeping dua (dikotil) (Imaningtyas, 2013). Anatomi Akar Akar merupakan bagian bawah tumbuhan yang biasanya berkembang di dalam tanah. Beberapa tumbuhan ada yang memiliki akar yang tumbuh di udara. Bentuk dan struktur akar sangat beragam. Keadaan ini berkaitan dengan fungsi akar


sebagai penyimpan cadangan makanan, akar sukulen, akar napas, dan akar rambut. Akar sebagai tempat masuknya mineral (zat-zat hara) dari tanah menuju ke seluruh bagian tumbuhan. Akar merupakan kelanjutan sumbu tumbuhan. Struktur akar dibedakan menjadi dua bagian, yaitu struktur morfologi (luar) dan struktur Anatomi (dalam). Secara morfologi (struktur luar) akar tersusun atas rambut akar, batag akar, ujung akar, dan tudung akar. Sedangkan secara anatomi (struktur dalam) akar tersusun atas epidermis, korteks, endodermis, dan stele (silinder pusat) (Rahayu, 2004). Anatomi Batang Batang merupakan sumbu dengan daun yang melekat padanya. Diujung titik tumbuhnya batang dikelilingi oleh daun muda dan menjadi tunas terminal. Dibagian bataang yang lebih tua daunnya saling berjauhan, buku (nodus) tempat daun yang melekat pada dapat dibedakan dari ruas (internodus), yakni bagian batang diantara dua buku yang berrukrutan. Batang dapat memperlihatkan tumbuh yang memanjang dengan buku dan ruas yang jelas. Sebaliknya betang juga dapat pendek dan letak daunnya merapat membentuk roset. Taraf percabangan yang terjadi jika tunas ketiak tumbuh menjadi ranting menambah keragaman bentuk. Batang tersusun atas jaringan epidermis, korteks batang, dan silinder pusat (stele). Bagian batang sebelah luar dibatasi oleh selapis sel rapat yang memilliki bentuk yang khas, memiliki sel penjaga, idioblas, dan berbagai tipe trikoma. Pada tahun pertama, epidermis batang digantikan oleh sel gabus (Laila, 2008). Anatomi Daun Daun merupakan bagian dari tumbuh-tumbuhan yang mempunyai fungsi dan peran penting untuk melangsungkan kelangsungan hidup tumbuh-tumbuhan itu sendiri. Ciri khas dari daun, pada umumnya berwarna hijau bentuk dari daun sebagian besar adalah melebar, memiliki zat klorofil yang berguna untuk membantu proses fotosintesis. Daun juga mempunyai bagian-bagian yang berperan penting untuk membantu proses pertumbuhan pada tumbuhan, setelah di pelajari dan di pahami secara mendalam, maka manusia akan menyadari betapa pentingnya daun pada tumbuhan. Sehingga secara tidak langsung manusia juga dapat mengetahui


batapa penting dan gunanya tumbuh-tumbuhan dalam hidup. Pada lingkungan informal manusia secara umum mengetahui bentuk dari daun, namun pada lingkungan ini manusia tidak mengetahui dan mengenal daun secara spesifik (Fahn, 1991). Daun umumnya organ berwarna hijau yang terletak diatas tanah. Daun mengandung sejumlah besar klorofil, pigmen yang menyebabkan daun dapat mengabsorpsi energi cahaya dan menggunakannya untuk menghasilkan gula melalui fotosintesis. Morfologi daun sangat bervariasi, hasil adaptasi yang sering terjadi terhadap faktor pembata lingkungan hidup tumbuhan. Daun melekat pada batang oleh bagian yang sempit yang disebut tangkai daun. Bagian daun yang lebar disebut helaian daun. Helaian daun biasanya tipis dan rata, dan memiliki sistem pertulangan yang menyebabkan daun lentur dan kuat. Struktur anatomi daun meliputi epidermis, mesofil, dan jaringan pengangkut (Hidayat, 1995). B. Tujuan Praktikum Adapun tujuan dari praktikum ini adalah : 1. Mengumpulkan ciri-ciri morfologi. 2. Mengidentifikasi tumbuhan berdasarkan ciri tumbuhan yang nampak. 3. Mengklasifikasikan tumbuhan berdasarkan ciri-ciri yang nampak. C. Alat Dan Bahan Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop, alat tulis dan HVS. Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah preparat kering anatomi pada tumbuhan, akar arachis hypogaea c.s., akar zea mays c.s., batang asplenium nidus c.s., batang erythrina variegeta, batang ficus elastica, batang hibiscus sp. i.s, batang hibiscus sp. c.s., batang amaranthus spinosa i.s., batang amaranthus spinosa c.s., batang arachis hypogaea i.s., batang arachis hypogaea c.s., batang zea mays. c.s., contoh bryophyte w.m., contoh thallophyta w.m., contoh spyrogyra w.m., yeast w.m., stomata asplenium nidus s.f., stomata canna indica s.f., stomata zea mays s.f., lenti sel prunus cecarus c.s., daun ficus elastic c.s., daun pinus merkusii c.s., daun zea mays i.s., daun zea mays c.s., mitosis.


D. Prosedur Kerja Adapun cara kerja dari pengamatan ini sebagai berikut : 1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum. 2. Dihubungkan pada saluran listrik mikroskop yang akan digunakan. 3. Diletakkan preparat kering anatomi tumbuhan pada meja mikroskop dan diamati. 4. Didokumentasikan hasil pengamatan dan digambar pada kertas HVS. 5. Diulangi pengamatan pada preparat kering anatomi pada tumbuhan, akar arachis hypogaea c.s., akar zea mays c.s., batang asplenium nidus c.s., batang erythrina variegeta, batang ficus elastica, batang hibiscus sp. i.s., batang hibiscus sp. c.s., batang amaranthus spinosa i.s., batang amaranthus spinosa c.s., batang arachis hypogaea i.s., batang arachis hypogaea c.s., batang zea mays. c.s., contoh bryophyta w.m., contoh thallophyta w.m., contoh spyrogyra w.m., yeast w.m., stomata asplenium nidus s.f., stomata canna indica s.f., stomata zea mays s.f., lenti sel prunus cecarus c.s., daun ficus elastic c.s., daun pinus merkusii c.s., daun zea mays i.s., daun zea mays c.s., dan mitosis. 6. Didokumentasikan hasil pengamatan dan digambar pada kertas HVS. 7. Dirapikan kembali alat dan bahan yang telah digunakan.


E. Hasil Praktikum No Nama Tumbuhan Objek yang diamati Gambar Objek Okuler 1. Arachis hypogaea c.s. Akar (kacang tanah) 5/0. 10 18 mm 2. Zea mays c.s. Akar (jagung) 5/0. 10 18 mm 3. Asplenium nidus c.s. Batang (paku sarang burung) 5/0. 10 18 mm 4. Erythrina variegeta c.s. Batang (dadap ayam) 5/0. 10 18 mm 5. Ficus elastica c.s. Batang (karet merah) 5/0. 10 18 mm


6. Hibiscus sp. i.s. Batang (kembang sepatu) 5/0. 10 18 mm 7. Hibiscus sp. c.s. Batang (kembang sepatu) 5/0. 10 18 mm 8. Amaranthus spinosa i.s. Batang (bayam duri) 5/0. 10 18 mm 9. Amaranthus spinosa c.s. Batang (bayam duri) 5/0. 10 18 mm 10 Arachis hypogaea i.s. Batang (kacang tanah) 5/0. 10 18 mm


11. Arachis hypogaea c.s. Batang (kacang tanah) 5/0. 10 18 mm 12. Zea mays. c.s. Batang (jagung) 5/0. 10 18 mm 13. Bryophyta w.m. Contoh (lumut) 5/0. 10 18 mm 14. Thallophyta w.m Contoh (lumut) 5/0. 10 18 mm 15. Spyrogyra w.m. Contoh (alga) 5/0. 10 18 mm


16. Yeast w.m. (khamir) 5/0. 10 18 mm 17. Asplenium nidus s.f. Stomata (paku sarang burung) 5/0. 10 18 mm 18. Canna indica s.f Stomata (bunga tasbih) 5/0. 10 18 mm 19. Zea mays s.f. Stomata (jagung) 5/0. 10 18 mm 20. Prunus cecarus c.s Lenti sel (ceri asam) 5/0. 10 18 mm


21. Ficus elastica c.s Daun (karet merah) 5/0. 10 18 mm 22. Pinus merkusii c.s. Daun (tusam Sumatra) 5/0. 10 18 mm 23. Zea mays i.s Daun (jagung) 5/0. 10 18 mm 24. Zea mays c.s. Daun (jagung) 5/0. 10 18 mm 25. Mitosis. (sel) 5/0. 10 18 m


F. Pembahasan Pada praktikum kali ini, pengamatan yang dilakukan adalah tentang anatomi tumbuhan. Anatomi tumbuhan adalah kajian tentang letak dan fungsi organ dalam pada tumbuh-tumbuhan. Hal ini diperkuat oleh Savitri (2008) bahwa anatomi adalah cabang dari biologi yang berhubungan dengan struktur dan organisasi dari makhluk hidup. Tumbuhan merupakan salah satu keanekaragaman hayati yang ada dibumi. Sehingga anatomi tumbuhan adalah cabang dari biologi yang berhubungan dengan struktur dan organisasi dari tumbuhan itu sendiri yaitu struktur yang pembangun yang terdapat pada tumbuhan tersebut. Struktur anatomi tumbuhan pada bagian batang meliputi epidermis, korteks dan stele (silinder pusat). Jaringan epidemis batang tersusun oleh lapisan sel yang tersusun rapat tanpa ruang antar sel. Dinding sel sebelah luar dilengkapi dengan kutikula yang berfungsi untuk melindungi batang dari kekeringan. Pada tumbuhan kayu yang telah tua terdapat kambium gabus yang menggantikan fungsi jaringan primer. Aktivitas kambium gabus adalah untuk melakukan pertukaran gas melalui celah yang disebut lentisel. Epidermis batang tertentu dapat membentuk derivate, antara lain menjadi sel silica dan sel gabus. Misalnya pada epidermis batang tebu. Korteks batang tersusun oleh sel-sel parenkim yang berdidinding tipis. Letak selsel parenkim ini tidak teratur sehingga banyak berbentuk ruang antarsel. Korteks juga tersusun atas kolenkim dan sklerenkim yang berfungsi menyokong dan memperkuat tubuh. Sel-sel disebelah dalam korteks mengandung amilum; bagian tersebut dinamakan sarung tepung (floeterma). Stele batang terletak disebelah dalam batang. Lapisan terluar dari stele disebut periskel. Didalam stele terdapat sel parenkim dan berkas pengangkut berupa xylem dan floem. Struktur anatomi tumbuhan pada akar meliputi epidermis, korteks, endodermis dan stele (silinder pusat). Dalam struktur anatomi akar, epidermis merupakan bagian terluar dari akar yang berasal dari protoderm. Sel epidermis akar berdinding tipis, tersusun rapat dan biasanya tidak memiliki kutikula sehingga mudah ditembus air. Pada bagian epidermis ini tumbuh rambut-rambut akar yang berfungsi untuk pengambilan air dan garam mineral. Rambut-rambut akar merupakan modifikasi dari sel sepidermis akar. Pertumbuhan rambut-rambut akar


menyebabkan permukaan akar lebih luas sehingga proses penyerapan lebih efisien. Setelah epidermis, struktur anatomi akar dilanjut dengan keberadaan korteks yang tersusun atas jaringan parenkim. Jaringan parenkim ini berfungsi sebagai tempat menyimpan cadangan makanan. Dalam sel-sel korteks terdapat cadangan makanan berupa amilum dan substansi lain. Sel-sel korteks berbentuk relatif bulat (isodiametris) dengan ruang interseluler yang jelas. Air dan garam-garam mineral yang masuk melalui bulu akar akan melewati sel-sel korteks melalui ruang-ruang interseluler yang disebut dengan peristiwa transportasi ektravasikuler secara apoplas. Endodermis merupakan jaringan antara korteks dan silinder pusat atau stela. Jaringan ini terdiri dari satu lapis sel dengan dinding sel yang tebal dan mengandung lilin. Di jaringan endodermis ini terjadi pengaturan pemasukan air ke dalam jaringan angkut yang berada di dalam silinder pusat. Silinder pusat atau stele merupakan bagian terdalam dari struktur anatomi akar. Jaringan pembuluh primer dikelilingi oleh kumpulan sel yang disebut jaringan perisikel yang terletak berdampingan. Jaringan perisikel ini bersifat meristematis dan mampu membentuk cabang akar. Bagian dalam perisikel ini terdapat jaringan sekunder, yaitu floem dan xilem. Struktur anatomi tumbuhan pada daun meliputi epidermis, mesofil dan jaringan pengangkut. Jaringan epidermis berupa satu lapis sel yang dindingnya mengalami penebalan dari zat kutin (kutikula) atau kadang dari lignin. Hal ini diperkuat oleh Mulyani (2006) yang menyatakan bahwa pada epidermis terdapat stomata (mulut daun) yang diapit oleh dua sel penutup. Stomata ada yang terletak di permukaan atas saja, misalnya pada tumbuhan yang daunnya terapung (pada daun teratai), ada yang di permukaan bawah saja, dan ada pula yang terdapat di kedua permukaan daun (atas dan bawah). Alat-alat tambahan yang terdapat di antara epidemis daun, antara lain trikoma (rambut) dan sel kipas. Epidermis daun dari tumbuhan yang berbeda beragam dalam hal jumlah lapisan, bentuk, struktur, susunan stomata, penampilan, dan susunan trikoma, serta adanya sel khusus. Struktur dalamnya biasanya berbentuk pipih. Daun memiliki dua jenis jaringan epidermis yaitu permukaan atas daun disebut permukaan adaksial dan permukaan bawah disebut permukaan abaksial. Pada lapisan ini tidak ada ruang antar sel. Di antara sel epidermis terdapat sel penjaga yang membentuk stomata. Struktur stomata yang


dapat membuka dan menutup ini berfungsi sebagai tempat terjadinya pertukaran gas dan air. Sifat terpenting pada jaringan daun ini adalah susunan selnya yang kompak dan adanya kutikula serta stomata. Jaringan mesofil daun merupakan lapisan jaringan dasar yang terletak antara epidermis atas dan epidermis bawah dan diantara berkas pengangkut. Mesofil dapat tersusun atas parenkim yang relative homogen atau berdiferensiasi menjadi parenkim palisade dan parenkim spons. Sesuai dengan fungsinya, parenkim mesofil merupakan daerah fotosintesis utama karena mengandung kloroplas. Parenkim palisade merupakan sel-sel yang bentuknya silindris, tersusun rapat berjajar seperti pagar. Parenkim palisade umumnya dijumpai pada lapisan atas daun, menempati sampai ½ hingga 2 /3 mesofi, tetapi dapat pula dijumpai pada kedua sisi permukaan daun. Jumlah lapisan sel palisade dapat satu lapis atau lebih. Jaringan pengangkut pada daun terbagi menjadi 2 jenis yaitu xylem dan floem. Sel berkas pengangkut ini berdinding tipis untuk memudahkan terjadinya transpor antar sel, mungkin memiliki kloroplas seperti mesofil. Sering kali terdapat kristal. Kebanyakan daun dikotil, parenkim berkas pengangkut memperluas ke arah epidermis pada satu atau kedua sisi daun. Sel yang mencapai arah epidermis ini berfungsi dalam pengangkutan pada daun. Bukan hanya pada daun dikotil saja yang memiliki berkas pengangkut akan tetapi berkas pengangkut juga terdapat dalam daun monokotil. Pada praktikum ini pengamatan yang dilakukan meliputi pengamatan terhadap preparat kering anatomi pada tumbuhan, akar arachis hypogaea c.s., akar zea mays c.s., batang asplenium nidus c.s., batang erythrina variegeta, batang ficus elastica, batang hibiscus sp. i.s., batang hibiscus sp. c.s., batang amaranthus spinosa i.s., batang amaranthus spinosa c.s., batang arachis hypogaea i.s., batang arachis hypogaea c.s., batang zea mays. c.s., contoh bryophyta w.m., contoh thallophyta w.m., contoh spyrogyra w.m., yeast w.m., stomata asplenium nidus s.f., stomata canna indica s.f., stomata zea mays s.f., lenti sel prunus cecarus c.s., daun ficus elastic c.s., daun pinus merkusii c.s., daun zea mays i.s., daun zea mays c.s., dan mitosis.


- Pada hasil pengamatan akar arachis hypogaea c.s. dengan perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat bagian akar terdiri dari epidermis, korteks, endodermis, xilem, floem dan struktur anatomi akar dikotil yang terdapat pada arachis hypogaea c.s. - Pengamatan terhadap akar zea mays c.s. juga dengan perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat bagian akar terdiri dari epidermis, korteks, xilem, empulur, endodermis, floem dan struktur anatomi akar monokotil yang terdapat pada zea mays c.s. - Pada pengamatan terhadap batang asplenium nidus c.s. juga memiliki perbesaran yang sama pada akar arachis hypogaeac.s. dan zea mays c.s. yaitu perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat bagian batang terdiri dari epidermis, korteks, xilem, dan floem. - Sedangkan pada batang erythrina variegeta memiliki perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat bagian batang yang terdiri dari epidermis, korteks, xilem, floem, dan empulur. - Pada batang ficus elastica terdapat perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat bagian batang yang terdiri dari kambium, empulur, epidermis, floem, xilem, dan korteks. - Sedangkan pada batang hibiscus sp. i.s. dan batang hibiscus sp. c.s. keduanya memiliki perbesaran lensa objek dan okuler yang sama dan juga terdapat anatomi pada batang yang sama yaitu dimana perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler adalah 18 mm terdapat bagian batang yang terdiri dari epidermis, korteks, xilem, floem, kambium dan empulur. - Pada pengamatan batang amaranthus spinosa i.s., dan batang amaranthus spinosa c.s. juga memiliki perbedaan yang sama terhadap lensa objek yaitu 5/0. 10 dan lensa okuler adalah 18 mm dan keduanya juga memiliki anatomi pada batang yaitu epidermis, korteks, xilem, dan floem. - Sedangkan pada batang arachis hypogaea i.s., dan batang arachis hypogaea c.s., juga terdapat lensa objek dan okuler yang sama yaitu 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm serta kedua batang arachis hypogaea i.s., dan batang arachis hypogaea c.s., memiliki anatomi yang sama yaitu epidermis, korteks, xilem, floem, kambium, dan empulur.


- Pada pengamatan terhadap batang zea mays. c.s. memiliki lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat anatomi pada bagian batang yang terdiri dari epidermis, xylem, floem, dan parenkim. - Sedangkan pada contoh bryophyta w.m. juga terdapat lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat anatomi pada struktur bryophyta w.m. bagian contoh terdiri dari sporangium, seta, daun, batang, dan rhizoid. - Pada contoh thallophyta w.m. memiliki lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat anatomi pada struktur thallophyta w.m. atau (Tumbuhan Talus) merupakan kelompok tumbuhan yang belum memiliki akar, batang, dan daun yang nyata, misalnya lumut (Bryophyta). - Pengamatan terhadap contoh spyrogyra w.m., juga terdap/at lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat anatomi contoh pada spyrogyra w.m. yaitu tubuhnya berbentuk filamen yang tidak bercabang. Panjang tubuhnya mencapai 1 kaki (30,48 cm). Benang tersusun oleh protoplasma yang transparan dan setiap sel memiliki 1 atau lebih kloropas yang memanjang dari ujung ke ujung berbentuk spiral. - Pada hasil pengamatan yeast w.m. memiliki lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm yeast memiliki struktur tubuh yang terbagi menjadi dinding sel dan inti sel. Dinding sel pada yeast mengandung Glucan & Mannan sedangkan inti sel mengandung protein, peptida, as. amino, as. nukleat, Vit B, dll. Setiap struktur pada yeast tersebut memiliki fungsi yang sangat penting bagi tumbuh hewan. - Sedangkan pada stomata asplenium nidus s.f. memiliki lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat anatomi stomata pada asplenium nidus s.f. yaitu Daun berwarna hijau, merupakan daun tunggal, berbentuk lanset, tepi berombak, ujung meruncing, dan pangkal runcing. Permukaan daun licin, tulang daun berwarna coklat kehitaman, dengan lebar daun terbesar sekitar 5,5 cm dan panjang daun terbesar sekitar 34,4 cm. - Pada pengamatan stomata canna indica s.f. memiliki lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat anatomi stomata pada canna indica s.f.yaitu kutikula, epidermis, epidermis bawah, mesofil, xilem, floem, dan stomata. - Pada hasil pengamatan stomata zea mays s.f. memiliki lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat anatomi stomata pada zea mays s.f. adalah sebagai


berikut: kutikula, epidermis atas, epidermis bawah, trikoma, stomata, mesofil, xilem, dan floem. - Sedangkan pada lenti sel prunus cecarus c.s. juga memiliki lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm yang sama dengan anatomi tumbuhan yang lainnya. Bagian penyusun lenti sel dari prunus cecarus c.s. adalah sel-sel gabus. - Pengamatan terhadap daun ficus elastic c.s. memiliki lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat anatomi daun pada ficus elastic c.s. yaitu kutikula, epidermis, parenkim palisade, parenkim spons, xylem, floem dan litokis. - Pada pengamatan daun pinus merkusii c.s. memiliki lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat anatomi daun pada pinus merkusii c.s. yaitu kutikula, epidermis, hypodermis, mesofil, jaringan transfuse, floem, sel albumin, xylem, dan endodermis. - Sedangkan pengamatan pada daun daun zea mays i.s. dan daun zea mays c.s. keduanya memiliki perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm yang sama. Dan juga terdapat anatomi daun pada zea maysi.s. dan zea mays c.s. yaitu diantaranya: sel kipas, kutikula, mesofil, epidermis, floem, sklerenkim, dan xilem. - Pada hasil pengamatan mitosis memiliki lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat anatomi pada mitosis yang terdiri dari empat fase dasar yaitu: profase, metaphase, anaphase, dan telophase.


G. Kesimpulan Tubuh tumbuhan terdiri atas kumpulan sel-sel yang mempunyai asal serta fungsi struktur yang sama dan disebut sebagai jaringan. Berdasarkan sifatnya, ada dua macam jaringan yang menyusun tubuh tumbuhan, yaitu jaringan muda dan jaringan dewasa. Untuk mengetahui itu semua kita perlu menyelidiki anatomi dari tubuh tumbuhan, apa saja yang menyusunnya dan bagaimana strukturnya. Pada praktikum ini kita membahas tentang anatomi tumbuhan. Anatomi adalah cabang dari biologi yang berhubungan dengan struktur dan organisasi dari makhluk hidup. Tumbuhan merupakan salah satu keanekaragaman hayati yang ada dibumi. Sehingga anatomi tumbuhan adalah cabang dari biologi yang berhubungan dengan struktur dan organisasi dari tumbuhan itu sendiri yaitu struktur yang membangun tumbuhan tersebut.


H. Daftar Pustaka A. G. Kartasapoetra. 1991. Pengantar Anatomi Tumbuh-tumbuhan. PT. Rineka Cipta. Jakarta. Ahmad Arif dan Ratnawati. 2018. Hubungan Kekerabatan Anggrek Dendrobium Berdasarkan Karakteristik Morfologis Dan Anatomis Daun. Jurnal Prodi Biologi 7(4) : 213-222. Campbell, Neil A, Jane B Reece dan Lawrence G Mitchel. 2004. Biologi Edisi ke 5 jilid II. Penerbit Erlangga, Jakarta. Dorly, Ratih Kusuma Ningrum, Ni Kadek Suryantari, dan Fawzia La Rizma Anindita. 2016. Studi Anatomi Daun dari Tiga Anggota Suku Malvaceae di Kawasan Waduk Jatiluhur. Proceeding Biology Education Conference. 1 Oktober 2016. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Estiti B Hidayat. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. ITB Press. Bandung. Fahn. 1991. Anatomi Tumbuhan Edisi Ketiga. Yogyakarta : Universitas Gajah Mada Press. Fahn. 1991. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada Press. Hidayat. 1995. Struktur Morfologi dan Anatomi Syringodium isoetifolium di Pantai Kedong Merak Malang. Jurnal Lentera Bio. Vol. 1(2). Hal : 44-45. Imaningtyas. 2013. Biologi I. Jakarta : Erlangga. Kemendikbud. 2016. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 24 Tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta. Laila. 2008. Penelitian Sel Tumbuhan Dikotil dan Monokotil. Jurnal Biologi. Vol.3(4). Hal : 116. M Firdaus dan Elsje Theodora Maasawet. 2015. Perbedaan Ukuran dan Bentuk Stomata Tumbuhan Air dan Tumbuhan Darat. Prosiding Seminar Nasional I Biologi, Sains, Lingkungan, dan Pembelajaran. 22 Agustus 2015. Pendidikan Biologi FKIP Universitas Mulawarman. Samarinda. Mulyani. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta : Penerbit Kanisius.


Nurul Aini, Dwi Setyati dan Umiyah. 2014. Struktur Anatomi Daun Lengkeng (Dimocarpus longan lour.) Kultivar Lokal, Itoh, Pingpong Dan Diamond River. Jurnal Berskala Sainstek 2(1) : 31-35. Rahayu. 2004. Jaringan pada Tumbuhan. Yogyakarta : Universitas Sonata Dharma. Raras Setyo Retno. 2015. Identifikasi Tipe Stomata Pada Daun Tumbuhan Xerofit (Euphorbia splendens), Hidrofit (Ipomoea aquatica), dan Mesofit (Hibiscus rosa-sinensis). Jurnal Florea 2(2) : 28-32. Sanusi, A. 2009. Hibungan Faktor Iklim dengan Perumbuhan dan Produksi Tanaman. Jakarta. Penebar Swadaya. Savitri, Evika. 2008. Struktur Perkembangan Tumbuhan ( Anatomi Tumbuhan). Malang : Universitas Islam Negeri Malang. Setjo, S. 2004. Common Text Book (edisi revisi); Anatomu Tumbuhan. Malang. IMSTEP. Yayan Sutrian. 1992. Pengantar Anatomi Tumbuh-Tumbuhan Tentang sel dan Jaringan. Rineka Cipta. Jakarta.


Daftar Pustaka Online https://id.wikipedia.org/wiki/Spirogyra. https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFKIP/article/viewFile/29967/28872. https://jurnal.uin-antasari.ac.id/index.php/alkawnu/article/download/7281/3178. https://tienyen.co.id/mengenal-hydrolized-yeast/. https://translate.google.com/translateu?u=https://www.khanacademy.org/science/a p-biology/cell-comm . https://www.academia.edu/15670515/JARINGAN_TUMBUHAN_KELAS_11_S MA. https://www.academia.edu/36555627/LAPORAN_PRAKTIKUM_DISTRIBUSI_ STOMATA_PADA_BERBAGAI_MACAM_TUMBUHAN. https://www.gramedia.com/literasi/tumbuhan-thallophyta/. https://www.quipper.com/id/blog/mapel/biologi/bryophyta/. https://www.researchgate.net/publication/352506058_Anatomi_Tumbuhan. https://www.studocu.com/id/document/universitas-jenderalsoedirman/biologi/laporan-praktikum-daun/44364195 .


I. Lampiran Gambar Mengamati Objek Anatomi Pada Tumbuhan


LAPORAN PRAKTIKUM (“MENGAMATI OBJEK ANATOMI PADA HEWAN”) DI SUSUN OLEH : NAMA : JIHAN SARI NPM : 38420521014 SEMESTER : V MATA KULIAH : PRAKTIKUM BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI INSTITUS SAINS DAN KEPENDIDIKAN ( ISDIK ) KIE RAHA MALUKU UTARA TAHUN 2023


A. Latar Belakang Anatomi berasal dari bahasa Yunani, anatomia, dari anatemnein yang berarti memotong. Anatomi sendiri berarti cabang dari ilmu biologi yang berhubungan dengan struktur dan organisasi dari makhluk hidup. Sedangkan menurut kamus Besar Bahasa Indonesia, anatomi dapat diartikan sebagai ilmu yang melukiskan letak dan hubungan bagian-bagian tubuh manusia, binatang, atau tumbuhtumbuhan. Anatomi hewan berarti penjelasan tentang struktur tubuh bagian dalam hewan beserta organisasinya (Parker, 1951). Vertebrata adalah golongan hewan yang memiliki tulang belakang. Tulang belakang berasal dari perkembangan sumbu penyokong tubuh primer atau notokorda (korda dorsalis). Notokorda vertebrata hanya ada pada masa embrionik, setelah dewasa akan mengalami penulangan menjadi sistem penyokong tubuh sekunder, yaitu tulang belakang (vertebrae). ubuh vertebrata mempunyai tipe simetri bilateral dan bagian organ dalam dilindungi oleh rangka dalam atau endoskeleton, khusus bagian otak dilindungi oleh tulang-tulang tengkorak (kranium). Bagian terluar tubuh vertebrata berupa kulit yang tersusun atas epidermis (lapisan luar) dan dermis (lapisan dalam). Kulit vertebrata ada yang tertutup dengan bulu ada juga yang tertutup dengan rambut (Parker, 1951). Hewan vertebrata yaitu hewan yang bertulang belakang atau punggung. Memiliki struktur tubuh yang jauh lebih sempurna dibandingkan dengan hewan Invertebrata. Hewan vertebrata memiliki tali yang merupakan susunan tempat terkumpulnya sel-sel saraf dan memiliki perpanjangan kumpulan saraf dari otak. Tali ini tidak di memiliki oleh yang tidak bertulang punggung. Dalam memenuhi kebutuhannya, hewan vertebrata telah memiliki system kerja sempurna peredaran


darah berpusat organ jantung dengan pembuluh-pembuluh menjadi salurannya (Haneda, 2012). Vertebrata merupakan subfilum dari Chordata yang memiliki anggota yang cukup besar dan paling dikenal. Tubuh dibagi menjadi tiga bagian yang cukup jelas; kepala, badan, dan ekor. Kepala dengan rangka dalam, cranium didalamnya terdapat otak, karena mempunyai cranium ini. Vertebrata dikenal juga sebagai craniata (Ruslam, 2007). Berdasarkan teori diatas maka laporan ini disusun untuk membuat perbandingan mengenai hewan vertebrata dari kelas pisces, amfhibia, reptil, aves, dan mamalia. B. Tujuan Praktikum Adapun tujuan dari praktikum ini adalah : 1. Mengumpulkan ciri-ciri morfologi. 2. Mengidentifikasi tumbuhan berdasarkan ciri tumbuhan yang nampak. 3. Mengklasifikasikan tumbuhan berdasarkan ciri-ciri yang nampak. C. Alat Dan Bahan Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah mikroskop, alat tulis dan HVS. Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah preparat kering anatomi pada hewan. D. Prosedur Kerja Adapun cara kerja dari pengamatan ini sebagai berikut : 1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum. 2. Dihubungkan pada saluran listrik mikroskop yang akan digunakan. 3. Diletakkan preparat kering anatomi tumbuhan pada meja mikroskop dan diamati. 4. Didokumentasikan hasil pengamatan dan digambar pada kertas HVS.


5. Diulangi pengamatan pada preparat kering anatomi pada hewan. 6. Didokumentasikan hasil pengamatan dan digambar pada kertas HVS. 7. Dirapikan kembali alat dan bahan yang telah digunakan. E. Hasil Praktikum No Nama Hewan Gambar Objek Okuler 1. Spermatozoa 5/0. 10 18 mm 2. Vagina 5/0. 10 18 mm 3. Otot Jantung 5/0. 10 18 mm 4. Jaringan Apitel Squamosum 5/0. 10 18 mm


5. Cerebrum 5/0. 10 18 mm 6. Hard Bone 5/0. 10 18 mm 7. Balantidium 5/0. 10 18 mm 8. Spongia WM 5/0. 10 18 mm


9. Amoeba 5/0. 10 18 mm 10. Fasciola Hepatica WM 5/0. 10 18 mm 11. Penis 5/0. 10 18 mm 12. Testis 5/0. 10 18 mm


13. Lumbricus ts Pharyngeal 5/0. 10 18 mm 14. Lumbricus ts Intestinal 5/0. 10 18 mm 15. Ovarium Corpus luteum 5/0. 10 18 mm 16. Oxyrus sp, WM 5/0. 10 18 mm


17. Ancylosto mum Duodenale 5/0. 10 18 mm 18. Hypophyse 5/0. 10 18 mm F. Pembahasan Jaringan adalah kumpulan sel yang berhubungan erat satu sama lain mempunyai struktur fungsi yang sama. Ilmu yang mempelajari tentang struktur jaringan disebut histologi. Berbagai jaringan tersusun dan terorganisasi dalam bentuk organ (Tim penyusun, 2012). Sel-sel meristematik kecil, berdinding tipis, biasanya berbentuk kubus atau mendekati bentuk kubus, namun demikian sel-sel kambium sangat memanjang, dan mungkin berdinding tebal. Sel-sel ini tertata rapat dan biasanya tanpa ruang antar sel. Sel-sel baru yang dihasilkannya dengan melalui proses pembesaran dan diferensiasi secara morfologis akan mengalami transformasi menjadi jaringan permanen (dewasa) (Kusnadi, 2003). jaringan hewan, organ, dan sistem organ harus bekerja sama satu sama lain. Contohnya ketika menyelam, hewan laut memperlambat denyut jantungnya, menurunkan paru-paru, dan menurunkan suhu tubuh, sementara mendorong maju dengan sirip belakangnya. mengkoordinasikan kegiatan seluruh tubuh hewan dengan cara ini membutuhkan komunikasi antara lokasi yang berbeda dalam tubuh. Pada praktikum ini pengamatan yang dilakukan meliputi pengamatan terhadap preparat kering anatomi pada hewan.


1. Pada hasil pengamatan Spermatozoa. dengan perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat Anatomi Spermatozoa Dikutip dari buku Spermatologi oleh Trinil Susilawati (2011:3), Bentuk sperma yang utuh dan sempurna adalah sel memanjang yang terdiri dari bagian kepala yang tumpul dan berisi nukleus, serta ekor yang berisi apparatus untuk pergerakan sel. 2. Pengamatan terhadap Vagina. juga dengan perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm. Vagina merupakan sebuah saluran yang menjadi penghubung antara serviks atau rahim bagian bawah dengan tubuh bagian luar. Organ satu ini berada dalam tubuh, tepatnya di belakang kandung kemih dan lebih rendah daripada rahim. Sebagai organ reproduksi wanita, vagina memiliki fungsi utama sebagai jalan keluarnya darah ketika wanita mengalami menstruasi. Selain itu, bagian ini juga berfungsi sebagai jalan lahir bayi pada proses persalinan, dan jalan masuknya sperma ke rahim pada proses pembuahan. 3. Pada pengamatan Otot jantung dengan perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat Anatomi Otot jantung yaitu dinding jantung, ruang jantung, katup jantung, pembuluh darah, dan sistem konduksi listrik. 4. Sedangkan pada Jaringan Apitel Squamosum dengan perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat anatomi diantaranya rongga mulut, kerongkongan, laring, vagina, dan saluran anus. 5. Pada anatomi Cerebrum terdapat perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat anatomi cerebrum yaitu Anatomi otak terbagi dalam 3 bagian utama, yaitu otak besar (cerebrum), otak kecil (cerebellum), serta batang otak. 6. Pada anatomi Hard Bone terdapat perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat anatomi Hard Bone atau (tulang keras) diantaranya Tulang keras adalah kulit luar tulang pipa yang padat dan keras, serta memiliki sifat kaku. Tulang ini terbentuk dari tulang rawan yang mengalami osifikasi (penulangan).


7. Sedangkan pada Balantidium dengan perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat anatomi Balantidium coli merupakan protozoa usus terbesar pada manusia (70 mikron). Balantidium coli memiliki dua stadium, yaitu stadium tropozoit, dan stadium kista. 8. Pada pengamatan Spongia WM dengan perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat Anatomi Spongia WM yang terdiri dari Demospongiae, filum Porifera, subregnum Parazoa, dan kingdom Animalia. 9. Sedangkan pada Amoeba dengan perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat anatomi pada amoeba yaitu sebagai berikut anatomi amuba adalah pembentukan perluasan sementara sitoplasma yang dikenal sebagai pseudopodia. 10. Pada hasil pengamatan Fasciola Hepatica WM dengan perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat Anatomi Fasciola Hepatica WM atau Cacing hati mempunyai ukuran panjang 2,5–3 cm dan lebar 1 - 1,5 cm. Pada bagian depan terdapat mulut meruncing yang dikelilingi oleh alat pengisap, dan ada sebuah alat pengisap yang terdapat di sebelah ventral sedikit di belakang mulut, juga terdapat alat kelamin. 11. Pengamatan terhadap Penis dengan perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm terdapat Anatomi pada penis yaitu sebagai berikut: uretra, kulup, kepala penis, corpus cavernosa, corpus spongiosum, dan batang penis. 12. Pengamatan terhadap Testis. juga dengan perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm. terdapat anatomi testis yaitu: tubulus seminiferous, rete testis, ductus eferen, dan tunica. 13. Pada pengamatan Lumbricus ts Pharyngeal dan Lumbricus ts Intestinal dengan perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm. keduanya terdapat anatomi yang sama dan sejenis yaitu: mulut, pangkal tenggorok, pembuluh penampung, system saraf, pembuluh ventral, saluran ekskresi, goiter, usus, dan ruas.


14. Sedangkan pada anatomi Ovarium Corpus luteum dengan perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm. terdapat anatomi yaitu: massa jaringan kuning di dalam ovarium yang dibentuk oleh sebuah folikel yang telah masak dan mengeluarkan ovumnya. 15. Pada anatomi Oxyrus sp, WM dengan perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm. terdapat anatomi yaitu: Tubuh cacing kremi berukuran sangat kecil. Besarnya hanya seukuran beras. Panjang tubuhnya hanya berkisar antara 10–15 sentimeter. Cacing kremi mirip seperti parutan kelapa karena tubuhnya berwarna putih. 16. Pada hasil pengamatan Ancylosto mum Duodenale terdapat perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm. terdapat anatomi yaitu: ncylostoma duodenale adalah spesies dari genus cacing gelang Ancylostoma. Ini adalah cacing nematoda parasit dan umumnya dikenal sebagai cacing tambang Dunia Lama. Ia hidup di usus kecil inang seperti manusia, kucing dan anjing, di mana ia dapat kawin dan dewasa. Ancylostoma duodenale dan Necator americanus adalah dua spesies cacing tambang manusia yang biasanya dibicarakan bersama sebagai penyebab infeksi cacing tambang. Mereka dioecious. 17. Sedangkan pada anatomi Hypophyse juga terdapat perbesaran lensa objek 5/0. 10 dan lensa okuler 18 mm. terdapat anatomi diantaranya sebagai berikut: Hipofisis terletak di dasar tulang tengkorak dan di bawah otak. G. Kesimpulan Morfologi merupakan cabang biologi yang mempelajari struktur luar tubuh suatu organisme Untuk mengetahui itu semua kita perlu menyelidiki anatomi dari hewan, apa saja yang menyusunnya dan bagaimana strukturnya. Pada praktikum ini kita membahas tentang anatomi hewan. Sedangkan anatomi merupakan cabang biologi yang mempelajari organ-organ suatu organisme. Pengetahuan dasar mengenai anatomi memainkan peran penting sebagai dasar dalam mempelajari penyakit, parasit, kelainan pada jaringan tubuh, sistematika, manajemen produksi bahkan rekayasa.


H. Daftar Pustaka Anonim, 2009. Hewan Invertebrata. http://www.scribd.com . Ayustawati (Desember 2013). Mengenali Keluhan Anda: Info Kesehatan Umum untuk Pasien. Informasi Medika. hlm. Cambridge. University Press. Cahyo Dwi Purnomo, 2019, Pengenalan Anatomi Hewan menggunakan Augmented Reality dengan metode Animasi Rigging, STMIK AKAKOM, Yogyakarta. Campbell, Neil A. dkk. 2010. Biology Ninth Edition. United States of America: Pearson. Campbell, Neil. A., 2000. Biologi Jilid I. Erlangga: Jakarta. Hotez, P.J.; Pritchard, D.I. (June 1995). "Hookworm infection". Sci. Am. 272 (6): 68– 74. Bibcode:1995SciAm.272f..68H. doi:10.1038/scientificamerican0695- 68. PMID 7761817. Kimbal, Jhon. W., 1999. Biologi Edisi Kelima. Erlangga: Jakarta. Kusnadi, dkk.. 2003. Anatomi Tumbuhan. Bandung : JICA. Looss, A. (1898). "Zur Lebensgeschichte des Ankylostoma duodenale". CBT. Bakt. 24: 441–9, 483–8. Murray, P.R.; Rosenthal, K.S.; Pfaller, M.A. (2009). Medical Microbiology (edisi ke-6th). Elsevier/Mosby. ISBN 978-0323076791. Nur, Aang Safruddin. 2010. Jaringan parenkim. http://aangsafruddinnur.blogspot.com/. Pada tanggal 8 November 2012 pukul 21.00 WITA. Pechenik, J., 2000. Biology of The Invertebrates. Four Edition. Mc Graw Hill. Pennak R.W., 1998. Freshwater Invertebrates of The United States. New York: A. Priyatna, Andi (2011). Everything's gonna be Alright: Membahas Topik-Topik yang Penting Diketahui Seputar Injuri, Nyeri dan Penyakit Anak Sehari-hari.


Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo. hlm. 249. ISBN 978-602-00- 0961-2. Schmidt, G.D.; Roberts, L.S. (2009). Foundations of parasitology (edisi ke-8th). McGraw-Hill. hlm. 472–3. ISBN 978-0071311038. Siagian, Gunaria (November 2020). Taksonomi Hewan (PDF). Bandung: Penerbit Widina Bhakti Persada Bandung. hlm. 52. ISBN 978-623-6608-59-3. Suabahar, R., dkk. (Juli 2022). Buku Penyuluhan Infeksi Cacing Usus. Guepedia. hlm. 39. ISBN 978-623-421-258-7. Tim Penyusun. 2012. Penuntun Praktikum Biologi Dasar. Makassar : Tim penyusun jurusan biologi FMIPA UNM. Suhaerah, L.(2016). Zoologi Vertebrata. Bandung. Sukiya. 2001. Biologi Vertebrata. Universitas Negeri Yogyakarta: Yogyakarta. Willey Interscience Publications Jhon Willey and Sons.


Daftar Pustaka Online https://bocahindonesia.com/anatomi-testis/. https://ejournal.biologi.lipi.go.id/index.php/zoo_indonesia/article/viewFile/115/11 9#:~:text=Balantidium%20coli%20merupakan%20protozoa%20yang,tersu sun%20berbaris%20di%20seluruh%20tubuh. https://generasibiologi.com/2016/10/klasifikasimorfologianatomifisiologicaingtan ah.html. https://id.wikipedia.org/wiki/Ancylostoma_duodenale. https://id.wikipedia.org/wiki/Cacing_keremi. https://id.wikipedia.org/wiki/Hipofisis#:~:text=Hipofisis%20terletak%20di%20da sar%20tulang%20tengkorak%20dan%20di%20bawah%20otak. https://id.wikipedia.org/wiki/Korpus_luteum#:~:text=Korpus%20luteum%20adala h%20massa%20jaringan,telah%20masak%20dan%20mengeluarkan%20ov umnya. https://kumparan.com/ragam-info/mengenal-spermatozoa-dan-anatominya21GmJbTY4DL/2. https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Fasciola_hepatica#:~:text=Cacing%20hati% 20mempunyai%20ukuran%20panjang,mulut%2C%20juga%20terdapat%2 0alat%20kelamin. https://p2k.stekom.ac.id/ensiklopedia/Spongia_(Spongia)_agaricina#:~:text=Spon gia%20(Spongia)%20agaricina%20adalah%20spesies,permukaan%20yang %20keras%20seperti%20batu. https://www.alodokter.com/menyederhanakan-anatomi-otak-yangrumit#:~:text=Anatomi%20otak%20terbagi%20dalam%203,cerebellum)% 2C%20serta%20batang%20otak.


https://www.anlene.com/id/ms/ciri-ciri-tulangkeras.html#:~:text=Tulang%20keras%20adalah%20kulit%20luar,yang%2 0mengalami%20osifikasi%20(penulangan). https://www.halodoc.com/artikel/kenali-6-jenis-jaringan-epitel-yang-berfungsidalam-tubuh. https://www.halodoc.com/artikel/mengenal-anatomi-organ-reproduksi-wanitadan-fungsinya. https://www.klikdokter.com/info-sehat/reproduksi/mengenal-anatomi-penis-danfungsinya-dalam-kehidupan-pria. https://www.siloamhospitals.com/informasi-siloam/artikel/mengenal-anatomijantung. https://www.thoughtco.com/the-life-of-an-amoeba-4054288.


I. Lampiran Gambar Mengamati Objek Anatomi Pada Hewan


Click to View FlipBook Version