Gendis Sewu Berkarya 43
Demi Waktu Gajah Mada
“Nah, itu bagus. Kerjakan aja.
Siapa tahu itu adalah langkah kamu di
masa yang akan datang seperti karir,”
ucap Mas Anton menasihatiku lagi.
Aku berpikir lagi, tapi sulit rasanya
mengerjakan tugas penulisan itu. Magrib
berkumandang, seolah memanggilku
untuk pulang. Mama melihatku dan
menyuruh segera cuci kaki dan tangan.
Setelah itu Mama bertanya tentang
kemajuan kelas penulisanku.
“Apa ada tugas lagi di akun
Taman Kalimas?” tanya Mama perhatian.
“Iya, tapi susah Mama,” jawabku
dongkol.
“Kerjakan, Nak,” ujarnya seraya
menghampiriku.
***
Aku malas sekali, selalu saja
kesiangan seperti ini. Walau aku
Gendis Sewu Berkarya 44
Demi Waktu Gajah Mada
pemalas, aku punya inisiatif sendiri. Aku
tetap kerjakan tugas dari Ibu Guru.
Kemudian aku keluar dengan temanku
untuk bermain sebentar. Setelah selesai
bermain, aku cuci kaki dan cuci tangan
langsung beranjak tidur malam. Ibuku
selalu berteriak karena aku selalu
rebahan di kasur. Menurutku Mama tidak
memarahiku, tapi mengingatkanku agar
aku tepat waktu saja.
Mama memotivasi agar aku
semangat belajar, gigih meraih cita-cita,
konsisten serta jangan bermalas-
malasan. Beruntung sekali Mama
mengingatkan dan membimbingku.
Beliau mendukung kegiatanku mengikuti
kelas daring Taman Kalimas. Aku
mengikuti kelas daring Taman Kalimas
bersama teman-teman. Kami berempat
berdiskusi bersama membahas materi
Gendis Sewu Berkarya 45
Demi Waktu Gajah Mada
dibimbing oleh Kak Santi. Saat itu juga
kami melakukan presensi kehadiran dan
mengerjakan tantangan daring Taman
Kalimas.
Mengemban amanah menjadi
anak sulung sangatlah sulit. Aku harus
menjadi contoh teladan kedua adikku.
Alhamdulillah sujud syukur. Aku
mendapatkan nilai terbaik di kelas
Taman Kalimas tersebut. Meski susah,
ikuti saja prosesnya, nikmati setiap
kesukaran dan kemudahannya sampai
selesai. Ternyata sertifikat yang aku
dapatkan bisa dijadikan sertifikat
pendukung external sebagai pelengkap
pendaftaran Perguruan Tinggi Negeri
batinku sambil duduk di sofa.
Semua keluargaku memelukku
erat kemudian Mama mencium keningku
Gendis Sewu Berkarya 46
Demi Waktu Gajah Mada
sembari berucap, “Anak sulung Mama
hebat”.
Aku hanya bisa tersenyum lebar,
“He … he … he …,”
Gendis Sewu Berkarya 47
Demi Waktu Gajah Mada
DEMI WAKTU GAJAH MADA
Oleh A’an Faizzatur Rahma
“Ardan…,” suara lembut Bunda
membuat Ardan semakin merapatkan
selimutnya. Hawa dingin dari arah
jendela kamar terasa seperti di
pegunungan.
“Ayo Sayang. Sudah siang ini.
Kamu belum salat subuh juga lho..,”
lanjut Bunda.
“Ardan sudah salat Bun, tapi tidur
lagi…,” jawab Ardan.
“Kamu kan harus sekolah, Sayang.
Ini jam masuknya udah mepet lho.”
“Daring Bunda. Bisa dikerjakan
nanti,” rajuk Ardan sambil memeluk
gulingnya.
“Enggak baik menunda-nunda
pekerjaan, Sayang. Masih ingat dengan
kisah Bunda tentang kebiasaan buruk
Gendis Sewu Berkarya 48
Demi Waktu Gajah Mada
bangsa Arab ketika masa jahiliyah?!’
bujuk Bunda.
“Ardan enggak menunda, Bun.
Ardan cuma mengerjakan nanti agak
siang. Bukan besok. Artinya masih hari
ini kan,” Ardan memulai jurus rayuan ke
Bunda.
“Alasan aja itu, Bun. Bilang aja
males bangun karena tadi malam
begadang nge-game Roblox,” suara Kak
Arsy dari arah pintu kamar.
Ardan yang beda 8 tahun dengan
Kakaknya itu, langsung bangun dari
pangkuan Bundanya.
“Kak Arsy, Bun…,” adu Ardan.
“Sudah… sudah. Sana mandi dulu.
Masih pagi ora ilok 1bergaduh terus.
Jauh dari rezeki,” ujar Bunda.
1 Pamali
Gendis Sewu Berkarya 49
Demi Waktu Gajah Mada
Kak Arsy sedang duduk di kursi
belajar dan memperhatikan penjelasan
gurunya secara daring melalui tablet.
Ardan iseng dengan melemparkan
handuk ke arah Kak Arsy. Kak Arsy
istigfar seraya memelototkan kedua
matanya.
“Bunda…!!!! Ardan ganggu Arsy….”
Sampai di kamarnya, Ardan
langsung menghidupkan HPnya dan join
room meeting class online.
Tak terasa Ardan belajar hampir 4
jam. Perutnya mulai terasa lapar. Setelah
merapikan buku dan alat tulis di mejanya,
serta mengisi daya baterai Hpnya, Ardan
menuju dapur untuk melihat Bunda yang
sedang memasak untuk makan siang.
Walaupun belajar dari rumah,
Ardan tetap melaksanakan disiplin waktu
Gendis Sewu Berkarya 50
Demi Waktu Gajah Mada
seperti yang diajarkan Ayah dan
Bundanya.
“Bunda, kupanggil dari tadi enggak
jawab-jawab,” kata Ardan.
“Cuci tangan dulu, Dek,” jawab
Bunda.
Ardan tersenyum nakal sambil
pergi ke wastafel di dapur. Kak Arsy
sudah duduk di meja makan
dan menikmati menu makan siang.
“Kakak sudah cuci tangan belum,
kok sudah makan duluan, enggak
nunggu Ayah?” tanya Ardan.
“Ayah enggak bisa ikut makan
siang, Sayang. Karena ada meeting
penting di kantornya,” jawab Bunda
menjelaskan.
Kata Ayah, makan bersama
berkahnya lebih besar. Itu filosofi Wong
Jowo kata Ayah yang berasal dari
Gendis Sewu Berkarya 51
Demi Waktu Gajah Mada
Mojokerto. Ayah juga sering bercerita
kejayaan Majapahit dan kekagumannya
dengan sosok Gajah Mada.
Gajah Mada adalah satu idola Ayah
selain Rasulullah dan para sahabat Nabi.
Gajah Mada hanyalah sosok mahapatih
dari Kerajaan Majapahit yang mampu
menyatukan Nusantara dengan Sumpah
Palapanya. Kegigihan dan manajemen
perang yang dilakukannya menjadi
inspirasi bagi dunia ketentaraan dan
kepolisian Indonesia.
Pasukan Bhayangkara menjadi nama
kepolisian Indonesia.
Keberhasilannya dalam melindungi
Raja Jayanegara dari pemberontakan
Ra Kuti melalui proses gerilya di hutan-
hutan, membuatnya diangkat sebagai
patih di Daha/Kediri. Pengangkatan ini
membuatnya kemudian masuk ke strata
Gendis Sewu Berkarya 52
Demi Waktu Gajah Mada
sosial elitis istana Majapahit pada saat
itu.
Selain itu, Gajah Mada, bicaranya
tegas, jujur dan tulus ikhlas
serta berpikiran sehat. Ucapannya
mengandung makna dan hikmah.
Untuk memikirkan negara, ia melakukan
laku tapa supaya menghasilkan
keputusan yang terbaik. Ketajaman
berpikirnya dalam politik menyebabkan
Gajah Mada diangkat menjadi mahapatih
atau perdana Menteri pada masa Raja
Hayam Wuruk.
Ketika pengangkatannya sebagai
Mahapatih Amangkubhumi pada tahun
1258 Saka (1334 M), Gajah Mada
mengucapkan Sumpah Palapa. Isinya,
ia tidak akan menikmati palapa atau
rempah-rempah sebelum berhasil
menaklukkan Nusantara.
Gendis Sewu Berkarya 53
Demi Waktu Gajah Mada
“Yang kebiasaan orang Arab masa
jahiliyah, itu gimana Bun?” tanya Ardan
lagi.
“Emang cerita apa sih Bun?” sahut
Kak Arsy.
“Kepo !!” Ejek Ardan.
“Emang gue pikirin … wek,” Kak
Arsy menjulurkan lidahnya kepada
Ardan.
Serbet makan melayang ke wajah
Kak Arsy hasil lemparan Ardan.
“Gini. Kalian hafal kan Surat Al-
Ashr?” tanya Bunda.
“Ya tahu lah Bun. Surat tentang
pentingnya waktu,” Kak Arsy
menjelaskan.
“Hafal banget Bun. Ardan suka
baca ketika salat, karena bacaannya
pendek.. hehe..,” kata Ardan.
Gendis Sewu Berkarya 54
Demi Waktu Gajah Mada
“Rasulullah melihat kebiasaan
orang Arab yang suka duduk-duduk
santai membicarakan harta benda,
ternak, perdagangan mereka dan lain
sebagainya. Bahkan lebih sering hal ini
berujung pada pertikaian di antara
mereka. Lantas Allah menurunkan Surat
al-Ashr ini. Supaya manusia
menggunakan waktunya untuk hal-hal
yang baik dan bermanfaat. Seperti saling
menasihati dalam hal kebajikan dan
kesabaran,” jelas Bunda.
“Oh… begitu to. Jadi seperti Gajah
Mada ya Bun?!” ujar Ardan sambil
menganggukan kepalanya
“Benar, Nak. Hidup di dunia itu
hanya persinggahan. Gunakan untuk
beribadah dalam arti luas. Tidak hanya
salat dan puasa saja. Tapi juga berbuat
Gendis Sewu Berkarya 55
Demi Waktu Gajah Mada
baik kepada makhluk Allah,”.jelas Bunda
lagi.
“For tomorrow, I will use my time for
my future, Mam!” seru
Ardan, mengangkat tangannya untuk
hormat kepada Bunda.
“Hoax…paling juga sehari dua hari,” ejek
Kak Arsy.
“Sok tahu kakak. Game juga
bermanfaat karena Ardan mau
menciptakan game muslim yang bernilai
pengetahuan,” Ardan menepuk
dadanya.
“Selama bermanfaat buat dirimu
dan orang lain, Bunda dan Kakak pasti
mendukung dan mendoakannya. Begitu
kan Kak Arsy?!” tanya Bunda.
“So pasti Bunda. Ardan kan adikku
tersayang,” jawab Kak Arsy seraya
Gendis Sewu Berkarya 56
Demi Waktu Gajah Mada
memeluk dan menjitak jidat Ardan, lantas
berlari.
“Kakaaaaaakkk….” Ardan
mengejar, namun gagal karena pintu
kamar keburu ditutup Kak Arsy.
Semoga kalian senantiasa saling
menyayangi, doa Bunda dalam hati.
Gendis Sewu Berkarya 57
Demi Waktu Gajah Mada
TIDAK BERASA, TAPI SEHAT
Oleh Sofiyani
Pertandingan persahabatan
antara SDN Matahari dan SDN Tambak
tinggal beberapa hari lagi. Pak Doni, guru
olahraga mengajak kami berlatih sore
hari sepulang sekolah. Kami sangat
bersemangat dan berharap akan
menang, walaupun hanya pertandingan
persahabatan. Aldi dan Kevin berjanji
akan berangkat latihan ke sekolah
bersama. Tak lupa, Aldi membawa botol
minum yang bisa diisi ulang.
“Vin, kamu bawa air kan?” tanya
Aldi sambil mengayun sepedanya.
“Enggak,” jawabnya cepat.
“Lho kok kamu tidak bawa. Kantin
kan tutup kalau sore. Lalu kamu mau
minum apa?” tanya Aldi khawatir.
Gendis Sewu Berkarya 58
Demi Waktu Gajah Mada
“Nanti aku beli es di depan
sekolah.”
Sesampainya di sekolah, teman-
teman sudah ada yang datang. Pak Doni
dibantu salah satu teman membawa
beberapa bola untuk kami latihan.
Terlebih dahulu, beliau memberikan
arahan dan semangat. Kami pun
mendengarkannya dengan seksama,
dilanjutkan dengan pemanasan dan
mengelilingi lapangan sekolah.
Sore ini terasa panas sekali,
sehingga Aldi merasa cepat haus.
Namun ini berbeda dengan apa yang
dirasakan Kevin. Aldi menawari dan
membagi minumannya setelah mereka
selesai berlatih.
“Vin, ini minumlah,” sambil
menyodorkan botol minumnya.
Gendis Sewu Berkarya 59
Demi Waktu Gajah Mada
“Enggak ah. Air minum kamu tidak
berasa dan juga tidak dingin. Aku mau
beli Pop Ice dulu,” tolak Kevin dan berlalu
pergi.
“Minuman manis dan dingin hanya
membuatmu haus, Vin.”
Kevin pun terus berlalu tanpa
mendengarkan perkataan Aldi.
Sedangkan Aldi sendiri masih duduk di
bawah pohon dan menikmati semilir
angina sore.
***
Seminggu kemudian, kelas 5 SDN
Tambak mengadakan Ulangan Tengah
Semester (UTS). Aldi dan Kevin telah
belajar bersama sebelumnya. Mereka
berdua sangat yakin akan memperoleh
hasil yang memuaskan. Namun saat
ulangan, Kevin lupa dengan apa yang
telah dia pelajari.
Gendis Sewu Berkarya 60
Demi Waktu Gajah Mada
“Al … pasti nilai ulanganku jelek
deh” katanya sedih.
“Kok bisa, kita kan sudah belajar
dan mempersiapkannya dari seminggu
lalu,” jawab Aldi santai sambil menikmati
bekal makannya di kantin.
“Tiba-tiba aku lupa,” jawab Kevin
menyesal.
“Lalu kamu bisa mengerjakan
berapa soal emangnya?” tanya Aldi
kaget dan menghentikan makannya.
“Dua atau tiga soal yang aku yakin
bisa menjawabnya dengan benar,” suara
Kevin semakin mengecil.
“Pasti ini gara-gara kamu tidak
suka minum air putih deh, Vin,” terang
Aldi teringat kebiasaan buruk temannya
itu.
“Enggak ada hubungannya kali,”
jawab Kevin mulai tidak suka.
Gendis Sewu Berkarya 61
Demi Waktu Gajah Mada
“Ada dong. Aku pernah membaca
sebuah artikel berita di koran online. Jika
kamu kurang minum air putih bisa
menyebabkan kurang konsentrasi, kulit
kering bahkan penyakit lainnya,” terang
Aldi.
“Sudah deh enggak perlu
ceramah. Temannya lagi sedih bukannya
dihibur malah ditakut-takutin gini,” kesal
Kevin meninggalkan Aldi yang masih
tidak percaya dengan sikap temannya
itu.
Semenjak kejadian itu, Aldi dan
Kevin tidak pernah terlihat bersama lagi.
Kevin selalu menghindar jika Aldi ingin
mendekatinya. Ini membuat Aldi merasa
bersalah, karena ucapannya membuat
pertemanan mereka renggang.
Walaupun Aldi bermaksud baik untuk
kesehatan Kevin.
Gendis Sewu Berkarya 62
Demi Waktu Gajah Mada
***
Dua bulan dari kejadian itu,
mereka berdua tidak sengaja bertemu.
Ini karena Bu Santi wali kelas mereka
beberapa hari ini tidak masuk. Para
siswa berinisiatif menjenguk dan
memberinya semangat. Bu Santi
bercerita pada kami bahwa beliau sakit
akibat kurang minum air putih. Dokter
mengatakan kalau Bu Santi mengidap
penyakit gagal ginjal. Jika Bu Santi tetap
tidak banyak minum sesuai anjuran
dokter bisa jadi penyakitnya bertambah
parah.
Sepulang dari rumah Bu Santi,
Kevin berusaha mengejar langkah Aldi.
“Aldi maafin aku ya, aku sudah
menjauhimu,” sesal Kevin.
“Tak apa Vin, aku juga merasa
bersalah dengan ucapanku yang
Gendis Sewu Berkarya 63
Demi Waktu Gajah Mada
menyinggungmu kemarin. Aku hanya
takut kamu sakit,” jawab Aldi dengan
senyum mengembang.
“Terima kasih sudah
mengkhawatirkan kesehatanku ya, Al.
Aku sadar kebiasaanku yang tidak suka
minum air putih sangat berbahaya bagi
kesehatanku. Terlebih setelah aku
mendengar cerita Bu Santi. Mulai hari ini
aku akan rajin minum air putih,”
kemudian Kevin memeluk Aldi.
“Iya, Vin. Kita harus menjaga
kesehatan kita mulai sekarang.”
Gendis Sewu Berkarya 64
Demi Waktu Gajah Mada
Nyamuk
Oleh Choirus Sa’ada
Ngung ... Ngung ... Ngung ...
Suara apa itu?
Ngung ... Ngung ... Ngung ...
Berisik sekali!
Kucari di sebelah kanan, ngung di
sebelah kiri
Kucari di sebelah kiri, ngung di sebelah
kanan
Suaranya sangat mengganggu
Siapa sih kamu?
Huh ... suara nyamuk
Suaramu bagai minta ijin
Meminta ijin untuk menghisap darahku
Dasar nyamuk nakal!
Gendis Sewu Berkarya 65
Demi Waktu Gajah Mada
GENERASI Z
Oleh Ravenska Sakha Aulia Rahman
Perkenalkan, namaku adalah
Raven. Kedua orang tuaku memberi
nama yang mungkin bagi kalian terlalu
panjang untuk didengarkan. Setiap kali
guru sekolahku mengabsen muridnya
sebelum waktu pembelajaran dimulai,
beliau nampak pusing saat menyebutkan
namaku Ravenska Sakha Aulia
Rahman. Kalian cukup memanggilku
Raven.
Aku akan menceritakan
pengalaman waktu sekolah di SMA
Negeri 11 Surabaya. Sebenarnya
sampai sekarang masih sekolah disana.
Ini sepenggal kisah dari kehidupan
seorang siswa yang diciptakan oleh
Gendis Sewu Berkarya 66
Demi Waktu Gajah Mada
Allah SWT untuk menjadi siswa yang
biasa-biasa saja.
Ada seorang pahlawan bagiku, ia
tak kenal lelah untuk membesarkanku,
mendidikku hingga membahagiakanku.
Apapun resikonya, ia akan melakukan
semua hal untuk membuatku bahagia.
Tetapi bagiku tidak semua hal
yang dilakukan kepadaku dapat
membuatku bahagia. Aku sulit
memberitahukan hal itu. Namun untuk
saat ini aku hanya bisa diam, karena aku
tahu perjuangan beliau takkan pernah
memikirkan imbalannya meskipun nyawa
resikonya. Beliau adalah ibuku,
Zaidahtun Nur namanya. Dia lahir
di Pamotan, Rembang, Jawa Tengah
tepatnya. Dia adalah seorang penjual
nasi krawu milik dokter gigi yang tinggal
berjarak beberapa rumah saja dari
Gendis Sewu Berkarya 67
Demi Waktu Gajah Mada
rumahku. Ibuku merupakan tulang
punggung keluarga.
Saat aku pertama kali masuk
kelas 10 di SMA NEGERI 11
SURABAYA, hari pertama setiap kali
menginjak jenjang yang selanjutnya pasti
diadakan LOS, namun aku tidak
mengatahui artinya yang penting
maksud dari tujuan diadakannya LOS ini
untuk mengenalkan siswa atau murid
baru di sekolahnya. Namun saat aku
mengikuti LOS di sekolahku , terasa
biasa biasa saja. Mungkin
karena kegiatannya membosankan.
Di suatu pagi yang cerah, aku
bangun dari tidurku pukul 05.30. Keluar
dari kamar, aku menuju kamar mandi
untuk mandi tentunya. Lalu berpakaian
yang rapi atau seragam tepatnya, tak
lupa juga memakai sepatu
Gendis Sewu Berkarya 68
Demi Waktu Gajah Mada
pantofel berwarna hitam polos. Aku
berangkat dengan melangkahkan kaki
keluar dari pagar rumah.
Bismillahirrahmanirrahim doaku
dalam hati.
Aku berjalan menuju rumah
temanku yang bernama
Teddy. Rumahnya satu jalur menuju ke
sekolah. Aku kenal dia sejak dulu saat
bersekolah di SDN Kandangan 3. Saat
tepat di depan rumahnya, kupanggil
nama dia.
“Tedy.”
“Iyo, Pen,” jawabnya terdengar
dari luar.
Teman-temanku juga
memanggilku dengan ‘Pen’, mungkin
karena susah melafalkan huruf ‘V’. Jadi
lebih mudah dengan mengubah ‘V’
menjadi ‘P’.
Gendis Sewu Berkarya 69
Demi Waktu Gajah Mada
Terlihat wajahnya yang bahagia
keluar dari pintu utama rumahnya.
“Wes 2siap, Ted?” tanyaku kepada
dia.
“Wes. Ayo ndang budal3,”
jawabnya.
Kita berdua berjalan menuju
sekolah, yang jaraknya tidak terlalu jauh.
Saat di perjalanan aku dan Teddy
berjalan di trotoar. Kami tidak bersepeda
karena ingin menikmati udara pagi di hari
pertama LOS ini.
Namun tiba-tiba sebuah mobil dari
arah berlawanan mendadak mendekat.
BRAK!
Mobil itu menyerempet bagian
kanan tubuh Teddy. Teddy pun terjatuh
dan mobil itu menabrak toko yang
sedang tutup di pinggir jalan.
2 Sudah (bahasa Jawa)
3 Sudah. Ayo lekas berangkat (bahasa Jawa)
Gendis Sewu Berkarya 70
Demi Waktu Gajah Mada
“Ted, kamu enggak papa?”
tanyaku panik.
“I ... Iya, Pen. Aku ... nggak papa,
cuma kaget aja,” jawab Teddy.
Aku membantunya berdiri dan
memeriksa keadaannya. Pengemudi
mobil itu turun dan menghampiri kami.
“Kamu enggak apa-apa, Nak?”
tanyanya.
“Saya baik-baik saja, Pak,” jawab
Teddy.
Aku hanya diam dan memandang
tak suka pada pengemudi itu. Seenaknya
saja dia mengendarai mobil sampai
hampir mencelakakan orang.
“Maaf ya, Nak. Saya tadi
berusaha menghindari kucing
menyeberang, langsung banting kanan,”
ujar Bapak itu menyesal.
Raut mukanya pucat.
Gendis Sewu Berkarya 71
Demi Waktu Gajah Mada
“Lain kali hati-hati, Pak. Kalau bisa
jangan ngebut di jalan. Supaya tidak asal
banting setir,” ujarku ketus.
“Iya, Nak. Bapak salah,” sahutnya
lirih.
Teddy menyenggol lenganku,
seolah menyuruhku tidak berkata seperti
tadi. Tapi aku tidak menggubrisnya.
“Kamu saya antar ke rumah sakit
ya, untuk diperiksa,” ujarnya.
“Tidak perlu, Pak. Saya tidak
lecet, hanya kaget saja,” balas Teddy.
“Kami hampir terlambat, Pak. Hari
ini kami masuk sekolah pertama kali.
Kami pamit dulu,” pamitku pada Bapak
itu.
Sesampainya di sekolah hati ini
rasanya seperti tidak bisa diungkapkan.
Kita berdua berpisah arah karena Teddy
memilih untuk masuk ke kelas IPS dan
Gendis Sewu Berkarya 72
Demi Waktu Gajah Mada
aku memilih ke kelas IPA. Kubaca satu
per satu tulisan yang ditempelkan di
setiap pintu kelas untuk mencari di
manakah namaku berada, ternyata
namaku ada di ruangan pertama yaitu di
kelas 10 IPA 1.
Aku melangkahkan kaki memasuki
ruangan itu dengan mental yang sangat
siap untuk memulai berkenalan dengan
teman baru. Kucari tempat duduk yang
kosong, ternyata saat kulihat kanan kiri di
sebelah pojok belakang ada yang
memanggil namaku,
“Pen.”
Aku menoleh ke arah sumber
suara, ternyata ia adalah teman
mengajiku dulu waktu masih kecil.
Namanya adalah Aditya Rahmatullah
Syani atau biasa kupanggil Adit. Namun
Gendis Sewu Berkarya 73
Demi Waktu Gajah Mada
ternyata sekarang ia dipanggil Syani
oleh teman-temannya.
“Oh iyo,Dit,” sahutku.
Raut muka teman-temannya
sedikit berubah mendengar aku
memanggil dengan nama Adit. Aku
melanjutkan mencari bangku yang
kosong. Ada satu di pojok belakang
kanan, aku menuju ke bangku itu.
Ternyata ada satu anak yang duduk di
kursi sebelahnya.
Saat tepat di samping bangku
tersebut aku menyapa anak tersebut.
“Boleh aku ramal?”
Eh bukan, bukan begitu
sapaannya, itu seperti film sebelah.
“Mas, kula boten nopo lenggah
teng mriki4?” tanya aku dengan bahasa
Jawa sopan.
4 Saya boleh duduk di sini? (bahasa Jawa)
Gendis Sewu Berkarya 74
Demi Waktu Gajah Mada
Anak itu hanya mengganggukkan
kepalanya saja, membuatku mempunyai
dua dugaan. Yang pertama anak itu
tidak bisa berbicara, atau yang kedua ia
tidak bisa memahami bahasa manusia?
Ah entahlah. Aku duduk saja di
bangku tersebut. Dengan suasana kelas
yang masih sepi, kucoba untuk berbicara
dengan anak itu.
“Sampean asal SMP pundi5?”
tanyaku dengan bahasa jawa, karena
kupikir jika memakai bahasa Indonesia
agak sedikit aneh karena kita sesama
jenis.
“SMPN 26,” jawabnya dengan
kepala sedikit menunduk.
Saat itu juga aku menyimpulkan
bahwa ketika kuajak berbicara dengan
bahasa Jawa, sepertinya dia tidak
5 Anda dari SMP mana? (bahasa Jawa)
Gendis Sewu Berkarya 75
Demi Waktu Gajah Mada
nyaman. Tak lama kemudian datanglah
seorang guru yang entah darimana
munculnya tiba-tiba sudah ada didalam
kelas ku.
“Assalamu’alaikum” suara Bapak
Guru yang terdengar lantang dan
membuat terkejut semua murid yang
ada di dalam kelas.
“Waalaikumsalam” jawab seluruh
murid yang ada di dalam kelas.
“Kok sepi sih?“ tanya Pak Guru.
Tidak ada satu pun murid yang
menjawab pertanyaan Pak Guru
tersebut.
“Oh mungkin belum saling kenal,
ya,” tanya Pak Guru.
“Oke lah, kalau begitu ini kan hari
pertama kalian mengetahui kelas kalian.
Mari kita coba bersantai dengan bermain
Gendis Sewu Berkarya 76
Demi Waktu Gajah Mada
sebuah permainan,” seru Pak Guru
mencairkan suasana yang tegang ini.
Gendis Sewu Berkarya 77
Demi Waktu Gajah Mada
CORONA DI KAMPUNGKU
Oleh Thalia Devi Savitri
Baru beberapa waktu lalu kulihat
berita wabah corona di Cina. Sekarang,
wabah itu sudah menyebar di Indonesia.
Awalnya hanya ada satu, dua, tiga orang
yang terpapar virus dari wabah itu, atau
yang disebut COVID-19. Seiring dengan
berjalannya waktu semakin banyak yang
terpapar COVID-19. Virus ini tak
mengenal usia, mulai dari bayi, anak-
anak, dewasa, hingga orang tua bisa
saja terpapar COVID-19.
Virus ini gejalanya seperti flu
biasa, bahkan ada juga yang tidak
bergejala. Hanya saja virus ini berbahaya
bagi orang tua dan orang yang
memiliki penyakit penyerta, nyawa jadi
taruhannya. Tak sedikit tenaga medis
Gendis Sewu Berkarya 78
Demi Waktu Gajah Mada
yang gugur karena terpapar COVID-19
ini.
Sayangnya, masih ada saja
segelintir orang yang menganggap ini
sebagai mitos semata. Warga di
kampungku salah satunya. Mereka tak
percaya adanya virus corona.
Pandangan mereka seketika berubah
begitu tersiar kabar salah seorang warga
di kampungku terpapar corona.
***
Ibu datang dengan tergesa-gesa,
napasnya bahkan tersengal-sengal
karena berlarian masuk ke dalam rumah.
Siang ini, Ibu membawa kabar yang
menyesakkan dada.
“Rin, Bu Ita kena corona,” ujar
Ibuku dengan napas yang masih
tersengal-sengal.
Gendis Sewu Berkarya 79
Demi Waktu Gajah Mada
“Lho, kok bisa, Bu?” tanyaku tak
percaya.
“Bu Ita pulang liburan bareng
teman-teman kantornya, mungkin waktu
liburan itu Bu Ita terpapar corona, Rin.
Padahal udah jelas ada anjuran
pemerintah untuk tetap di rumah, tapi
masih aja berangkat liburan sama teman-
temannya,” Ibuku mulai bercerita dengan
tenang.
“Kok bisa ketahuan kena corona,
Bu?” tanyaku penasaran.
“Seminggu lalu ada tes swab
massal di kantor Bu Ita. Hasilnya baru
keluar hari ini, ternyata Bu Ita positif
terpapar corona. Sekarang, Bu Ita
diisolasi di Rumah Sakit Haji.”
“Bagaimana dengan keluarga Bu
Ita, Bu?”
Gendis Sewu Berkarya 80
Demi Waktu Gajah Mada
“Mereka akan diswab bareng
sama kita. Tadi, Pak RT memberi kabar
jika besok kita harus mengikuti swab
massal, Ran!”
Aku bergidik ngeri
membayangkan tes swab. Rasanya, aku
ingin kabur saja. Pergi jauh untuk
menghindari tes swab yang mengerikan
dalam bayanganku.
“Rina enggak mau, Bu. Rina takut
kalau harus ikut swab,” ujarku lirih.
“Ibu juga takut, Rin. Ibu khawatir
sama hasilnya karena Ibu sering ngobrol
sama Bu Ita.”
“Ibu pakai masker nggak?”
“Rina kan tahu Ibu selalu pakai
masker.”
“Mudah-mudahan hasilnya negatif
ya, Bu.”
Gendis Sewu Berkarya 81
Demi Waktu Gajah Mada
“Berarti kita tetap harus ikut tes
swab, Bu!” Ibu mengangguk setuju.
Mau tak mau, aku memutuskan
untuk mengikuti tes swab. Aku berusaha
melawan rasa takut demi kesehatan diri
dan keluargaku.
******
Waktu telah menunjukkan pukul
08.00 WIB. Semua warga di kampungku
sudah mengantri untuk melakukan tes
swab. Aku dan Ibu menunggu giliran
dengan sabar hingga kami mendapat
giliran panggilan. Aku dan Ibu duduk di
bangku yang berbeda. Aku
menunjukkan identitas diriku sebelum
menjalani tes swab. Setelah mengisi data
diri, aku masih harus menunggu
panggilan tes swab.
“Rani!” suara salah seorang
petugas memanggil namaku.
Gendis Sewu Berkarya 82
Demi Waktu Gajah Mada
Aku maju ke depan dengan
perasaan berdebar-debar. Saat aku
sudah duduk di bangku yang tersedia,
petugas medis memintaku menarik nafas
sebelum memasukkan benda yang
menyerupai cotton bud ke dalam lubang
hidungku.
“Udah selesai!” ujar tenaga medis
padaku.
Usai menjalani tes swab, ada rasa
tidak enak seperti ingin bersin tapi
tertahan sampai terasa tidak nyaman di
tenggorokan. Aku memutuskan pulang
lebih dulu daripada menunggu Ibu yang
masih menunggu panggilan. Aku sudah
lelah menunggu, aku ingin segera
merebahkan tubuhku.
******
Seminggu kemudian hasil tes
swab keluar, aku sangat bersyukur
Gendis Sewu Berkarya 83
Demi Waktu Gajah Mada
karena hasil tes swabku dan Ibu negatif.
Ternyata jika kita memang mematuhi
protokol kesehatan seperti memakai
masker saat berpergian, mencuci tangan
menggunakan sabun, dan menjaga jarak
saat berbincang semuanya akan baik-
baik saja.
Setelah empat belas hari Bu Ita
menjalani isolasi, akhirnya Bu Ita
diizinkan pulang ke rumah. Warga
awalnya takut untuk mendekati rumah Bu
Ita, aku termasuk salah satunya. Setelah
mendapat pengarahan dari Pak RT, kami
semua jadi berubah pikiran. Kami setiap
hari mengirimi makanan secara
bergantian dan sukarela di depan pintu
Bu Ita. Kami mendoakan kesembuhan
Bu Ita agar kembali bisa berkumpul
dengan kami.
Gendis Sewu Berkarya 84
Demi Waktu Gajah Mada
Kejadian yang menimpa Bu Ita
menyadarkan kami untuk lebih
memperhatikan protokol kesehatan
sesuai anjuran pemerintah, menahan diri
untuk tidak berpergian selama pandemi.
Gendis Sewu Berkarya 85
Demi Waktu Gajah Mada
TONGKAT SIHIR SITA
Karya Elisa Harfina Putri
***
Fina, Aruna, Meme dan Sita
sedang bersepeda di Hutan Pakal. Saat
itu, tanpa mereka sadari ruangan
teleportasi dunia sihir sedang terbuka.
Mereka berempat tersedot ke dalamnya.
Berputar-putar tubuh mereka di dalam
lorong hingga menemukan suatu dataran
berumput.
BRUKKK!
Mereka terjatuh dengan keras.
Untungnya tangan dan kaki mereka tidak
patah. Mereka berjalan menelusuri
tempat itu, mereka tidak bisa mengenali
tempat itu. Tempat baru itu seperti
dataran Eropa yang mereka lihat di
televisi.
Gendis Sewu Berkarya 86
Demi Waktu Gajah Mada
“Aduhhhh, nak endi iki Rek6,”
tanya Meme merengek .
“Aku yo gak ngerti, Me7,” jawab
Fina kebingungan .
“Kok bisa kita sampai sini, Rek8,”
tanya Aruna.
Sita yang berumur paling kecil
menangis.
“Haduh Sitaaa, ojok tambah
nangis9,” bentak Fina
“Wes wes 10ayo kita cari jalan
keluar. Aku dan Sita ke barat, Fina dan
Aruna ke arah selatan,” ucap Meme
sambil menunjuk ke arah seadanya.
6 Aduh, dimana ini teman-teman (bahasa Jawa)
7 Aku juga tidak tahu, Me (bahasa Jawa)
8 Sebutan untuk sesama teman (bahasa Jawa)
9 Haduh Sita, jangan malah menangis (bahasa Jawa)
10 Sudah, sudah (bahasa Jawa)
Gendis Sewu Berkarya 87
Demi Waktu Gajah Mada
“Awakmu ngerti teko endi, Me iku
arah barat dan selatan11?” tanya Fina.
“Yo, ngawur Fin12,” jawab Meme
sok pintar
Mereka berempat tertawa
terbahak-bahak. Sita yang dari awal
menangis, kini bercampur dengan
tertawa meringis sambil mengeluarkan
air mata.
“Yowes rek, ayo cepet 13segera
bergerak. Takut kemalaman.” ucap
Aruna.
Tanpa menunggu lama, mereka
berpasangan pergi ke arah yang
berbeda. Mereka menelusuri jalan
setapak tanpa sepeda. Bagi mereka,
sepedanya sudah tidak berguna
11 Kamu tahu dari mana,Me itu arah barat atau
selatan (bahasa Jawa)
12 Ya asal aja (bahasa Jawa)
13 Ya sudah, teman-teman, ayo cepat (bahasa Jawa)
Gendis Sewu Berkarya 88
Demi Waktu Gajah Mada
lagi. Lagipula juga tidak bisa digunakan
karena jalan yang ada hanya menanjak
naik dan tidak beraspal. Jalan tanah liat
itu berumput, basah tetapi sangat subur.
Sepertinya hujan baru saja membasahi
tanah Eropa itu.
Fina dan Aruna berjalan terus
hingga menemukan pohon besar yang
berdiri tanpa daun sehelai pun.
Dibawahnya ada lorong setengah badan
manusia. Fina dan Aruna memberanikan
diri masuk ke dalam pohon itu.
Selangkah, dua langkah hingga
mereka sudah berjalan puluhan meter
dari pintu akar pohon. Fina dan Aruna
akhirnya kembali memanggil Meme dan
Sita karena dianggap lorong itu aman.
Sedangkan Sita dan Meme di
sana berjalan mencari Fina dan Aruna.
Di tengah perjalanan, Sita menemukan
Gendis Sewu Berkarya 89
Demi Waktu Gajah Mada
tongkat yang unik. Panjang sekitar 32
cm, sedikit berkelok, lentur dan
permukaannya halus. Saat Sita
mengambilnya dan memegangnya, petir
keluar dan menyambar pohon cemara
yang ada di dekat mereka.
Meme berteriak “We o we wow!!”
“Suangar awakmu Sit, cilik cilik cabe
rawit14,” ucap Meme lagi.
“Se coba Sit, bee tak pake tongkat
sihir iku isok mendatangkan hujan15,”
ucap Meme sambil mengambil tongkat
dari tangan Sita.
Diayunkan tongkat itu oleh Meme
tapi tidak ada perubahan apapun.
Tongkat sihir itu seperti tidak memiliki
kekuatan, seperti kayu biasa.
14 Keren kamu, Sit. Kecil-kecil cabe rawit (bahasa
Jawa)
15 Sini aku coba, Sit. Mungkin kalau kugunakan bisa
untuk mendatangkan hujan (bahasa Jawa)
Gendis Sewu Berkarya 90
Demi Waktu Gajah Mada
“Walah, berarti tongkate iki ga
cocok ambeg aku16” ucap Meme
seadanya.
Fina dan Aruna memanggil Meme
dan Sita. Mereka merahasiakan apa
yang mereka temukan. Fina dan Aruna
mengajak Meme dan Sita pergi ke arah
lorong pohon yang mereka temui.
Mereka bergegas menuju lorong pohon
berharap ada keajaiban jalan keluar.
Puluhan meter mereka berjalan, ternyata
jalan itu buntu. Tertutup oleh tanah liat,
pintu teleportasi menunjukan pada
sebuah tulisan ‘Mansai ’.
Tiba-tiba Sita berpikir tongkat sihir
dan mansai. Lalu Sita mengayunkan
tongkat ,
“Mansai” seru Sita.
16 Wah, berarti tongkat sihirnya enggak cocok
denganku (bahasa Jawa)
Gendis Sewu Berkarya 91
Demi Waktu Gajah Mada
Pintu teleportasi terbuka dan
mereka tersedot ke dunia masa kini.
Mereka kembali ke tempat awal yaitu
Hutan Pakal dengan sepeda yang
terjungkir balik di dekat pohon.
***
“Fin ... bangun Fin ... sudah jam
8,” ucap ibu membangunkanku dari tidur
sambil menggoyangkan tubuhku dengan
tangannya.
Aku terbangun dari mimpi tentang
tongkat sihir yang seperti nyata. Mungkin
aku terbawa dalam kisah sihir dalam
buku cerita yang aku baca. Harusnya
kusadari kisah sihir itu tak pernah ada.
Gendis Sewu Berkarya 92
Demi Waktu Gajah Mada
ENGKLE ITU MENYENANGKAN
Oleh Denditya Reno Saputra
Pagi yang cerah, Siti dan Rini bermain
di lapangan. Mereka adalah sahabat.
“Rin, sudah lama kita tidak olahraga
bareng, ya? Bermain engkle, yuk!
Kan sama aja seperti olahraga.
Hehehehe,” ajak Siti dengan riang.
“Wah, permainan yang seru itu. Ayo!”
jawab Rini dengan senyum lebar.
Engkle adalah permainan tradisional
yang digemari oleh segala usia.
Cara bermainnya dengan menggerakkan
satu kaki untuk melompati tiap kotak dan
tangan untuk melempar gaco (bisa batu
atau kayu atau apapun). Permainan
diawali dengan membuat pola. Siti
bersemangat membuat pola
itu, sedangkan Rini mencari gaco yang
berbeda. Pola petani yang disepakati dan