yang kita sebut dengan Cognitive Moral Development dari Kohlberg. Bagi Kohlberg
terhadap kaitan yang erat antara perkembangan kognitif dan kematangan atau perkembangan
moralseseorang.
5. Pendekatan Analisis Nilai
Melalui pendekatan ini siswa diajak untuk mengaji atau menganalisis nilai yang ada
dalam suatu media atau stimulus yang memang disiapkan oleh guru dalam mengajarkan
pendidikan nilai dan moral. Dalam melakukan pengkajian tentu saja para siswa sudah
dibekali dengan kemampuan analisisnya. Melakukan analisis sebagaimana diketahui adalah
merupakan salah satu tahapan dalam tingkat pengetahuan atau ingatan dan analisis adalah
satu tahapan dalam keterampilan berpikir sebelum sampai pada sintesis dan evaluasi.
Dalam melakukan analisis nilai tentu saja siswa akan sampai pada tahapan menilai apakah
suatu nilai itu dianggap baik atau tidak. Jika menggunakan nanalisis nilai, tentu saja
disesuaikan dengan kemampuan siswa. Analisis nilai dapat dimulai oleh siswa yang dimulai
dari sekedar melaporkan apa yang dilihat dan dihadapi sampai pada memilih dan
mengemukakan hasil pengkajian yang lebih teliti dan lebih tepat.
Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa pendekatan ini berkaitan dengan
kognitif maka jelas bahwa antara pendekatan lima berkaitan erat dengan pendekatan empat
yaitu penalaran moral. Pendekatan ini banyak sekali digunakan dalam teknik mengungkap
nilai.
6. Pengungkapan Nilai
Pengungkapan Nilai melihat pendidikan moral lebih pada upaya meningkatkan
kesadaran diri (self-awareness) dan memperhatikan diri sendiri (self-caring) dan bukannya
pemecahan masalah. Pendekatan ini juga membantu siswa menemukan dan memeriksa nilai
mereka untuk menemukan keberartian dan rasa aman diri. Oleh sebab itu maka pertimbangan
(judging) adalah merupakan factor kunci dalam model tersebut, namun pertimbangan yang
dimaksud adalah pertimbangan tentang yang disenangi dan yang tidak disenangi, dan bukan
sesuatu yang diyakini seorang sebagai hal yang benar atau salah.
Melalui pendekatan ini siswa dibina kesadaran emosionalnya tentang nilai yang ada dalam
dirinya melalui cara-cara kritis dan rational dan akhirnya menguji kebenaran, kebaikan atau
ketepatannya. Pengungkapan nilai tidak menganggap nilai moral sebagai sebuah status dalam
rentangan nilai-nilai. Semua nilai termasuk moral dianggap sebagai sesuatu yang bersifat
pribadi dan relativf. Walaupun dikatakan bahwa Teknik Pengungkapan Nilai ini banyak
146
dipakai ternyata juga banyak menghadapi tantangan, oleh karena itu pendekatan ini dianggap
memiliki banyak kelemahan.
7. Pendekatan Komitmen
Pendekatan komitmen dalam pendidikan nilai dan moral mengarahkan dan
menekankan pada seperangkat nilai yang akan mendasari pola piker setiap guru yang
bertanggung jawab terjadap pendidikan nilai dan moral. Dalam PKn sudah barang tentu yang
menjadi komitmen dasarnya adalah nilai-nilai moral Pancasila serta Undang-undang Dasar
1945. Nilai moral tersebut telah menjadi komitmen bangsa dan negara Indonesia untuk terus
dilestarikan sebagai nilai-nilai luhur bangsa Indonesia.
Dalam mengajarkan nila dan moral tersebut nilai moral Pancasila merupakan nilai
sentralnya tanpa menutup kemungkinan mengajarkan nilai-nilai lainnya yang sesuai dan tidak
bertentangan dengan Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945. Hal itu merupakan
perwujudan dari komitmen Bangsa Indonesia khususnya Orde Baru untuk senantiasa
melaksanakannya secara murni dan konsekuen. Untuk terlaksananya hal tersebut sudah
barang tentu komitmen terutama guru, orang tua, serta masyarakat dan juga siswa merupakan
hal yang paling pokok bagi keberhasilan PKn tersebut.
Tujuan utama pendekatan ini adalah untuk melatih disiplin siswa dalam pola pikir dan
tindakannya agar senantiasa sesuai dengan nilai-nilai moral yang telah menjadi komitmen
bersama itu. Oleh karena nilai—nilai yang telah menjadi komitmen tersebut adalah nilai-nilai
bersama maka pendekatan tersebut diharapkan pula dapat membina integritas social para
siswa. Persoalan utama sekarang adalah bagaimana hal itu dilakukan pada tingkat SD.
8. Pendekatan Memadukan ( Union Approach )
Pedekatan ke delapan yang diajukan Superka adalah menyatukan diri siswa dengan
pengalaman dalam kehidupan “riil” yang dirancang oleh guru dalam proses belajar-mengajar.
Proses penyatuan tersebut tidak lain adalah dimaksud agar siswa benar-benar mengalami
secara langsung pengalaman-pengalaman yang direncanakan guru melalui berbagai metode
mengajar yang dipilih guru untuk tujuan tersebut. Untuk mencapai tujuan pengajaran seperti
yang diharapkan itu, guru dapat menggunakan berbagai metode diantaranya Partisipatori,
Simulasi, Sosio Drama, dan Studi Proyek.
Siswa SD sesuai dengan tingkat kemampuan dan perkembangan berpikirnya memang
lebih menyenangi contoh-contoh konkrit. Contoh konkrit tersebut adalah contoh-contoh
perilaku yang dapat dilaksanakan dlaam kehidupan siswa. Penerapannya mungkin dalam
kelompok diskusi di kelas, dalam kelompok bermain di sekolah atau dalam kehidupan di
147
tengah-tengah keluarga. Karena itu dalam prinsip pengajaran dianjurkan agar guru {Kn SD
dalam mengajarnya memulai dari hal-hal konkrit kepada yang abstrak apalagi materi
pendidikan moral pada dasarnya bersifat abstrak.
Salah satu permasalahan pokok yang dihadapi guru adalah bagaimana mencari
contoh-contoh konkrit yang memang secara langsung menyentuh aspek kehidupan anak. Apa
yang secara langsung menyentuh kebuthan seorang akan lebih mudah dihayati dan
dilaksanakan. Kiranya demikian pula dengan mata pelajaran PKn SD.
Oleh sebab itu dalam mengajarnya guru PKn SD diharapkan dapat (a) mengemukakan
berbagai contoh perilaku, (b) membantu siswa agar dapat mengikuti/mencontoh berbagai
perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai moral Pancasila dan tuntutan kehidupan masuarakat
sekitarnya yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai moral Pancasila tersebut. Sebagai
contoh misalnya adalah, guru dalam mengajarnya sebaiknya lebih menekankan pada contoh-
contoh yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa.
Contoh-contoh pengalaman nilai-moral dalam berbagai situasi dan konteks kiranya
dapat membantu siswa untuk lebih memahami dan menghayati serta mengamalkan nilai-nilai
moral yang disampaikan memalui mata pelajaran PKn SD. Nilai-nilai yang mendasari sikap
dan perilaku dalam keluarga, sekolah, dan lingkungan bermain serta lingkungan yang lebih
luas haru merupakan materi penting untuk dipahami anak-anak SD.
Nilai-nilai dalam keluarga dimaksud diantaranya adalah kasih saying, saling menghormati,
menyenangi kebersihan dan keindahan, kepatuhan. Dapat juga yang berkaitan dengan
lingkungan belajar anak seperti, saling menyayangi, tolong menolong, adil, berdisiplin,
mematuhi aturan permainan, tertib dan jujur, dan bersikap sportif. Nilai-moral dalam
lingkungan kelas atau sekolah juga perlu diperhatikan misalnya dating dan menyelesaikan
tugasnya tepat waktu, berbari dengan rapih saat memasuki kelas, memelihara kebersihan
kelas dan sekolah, memelihara buku dan peralatan sekolah, menghormati guru dan petugas
sekolah lainnya.
I. Implementasi Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan dalam Kehidupan Sehari
hari
Kenakalan remaja disebabkan oleh beberapa hal antara lain kesalahan sistem
pengajaran di sekolah yang kurang menanamkan sistem nilai, transisi kultural, kurangnya
perhatian orang tua, dan kurangnya kepedulian masyarakat pada masalah remaja.
Untuk mengatasi permasalahan remaja tersebut perlu dilakukan secara sistemik dan
komprehensip melalui lingkungan sekolah, keluarga, masyarakat, dan melalui kebijakan
pemerintah. Hal ini dapat dapat dikaji dan dilakukan melalui berbagai disiplin ilmu
148
(interdisipliner) yaitu agama, moral (PPKn), olahraga kesehatan, biologi, Psikologi, sosial,
hukum, dan politik.
J. Permasalahan dan Solusi Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar
Berikut ini merupakan beberapa permasalahan & solusi Pendidikan Kewarganegaraan
di Sekolah Dasar menurut (Hendrizal, 2017). Permasalahannya Mengapa selama ini PKn
cenderung kurang di minati siswa? Mengapa PKn kurang mendapat perhatian seperti
pelajaran matematika, IPA, bahasa Indonesia? Apakah karena PKn tidak di UN kan di
tingkatkan sekolah dasar? Pertanyaan ini muncul bila melihat kenyataan bahwa sebagian
orang yang mengganggap remeh pelajaran PKn ini, yang pasti terdapat dampak pada
pencapaian pelajaran PKn yang kurang maksimal. Apa kita harus menyalahkan peserta didik?
Penyelesaiinya:
Sudah seharusnya sebagai pendidik melakukan intropeksi diri. Apakah selama ini kita
sudah mengajar dengan baik serta bisa membuat tertarik pelajaran PKn ini ke peserta didik ?
Masalah demi masalah yang di alami begitu kompleks. Seperti kurikulum yang terlalu berat,
kurangnya kemampuan dalam menangkap kata kunci dalam SK dan KD mengajar
berdasarkan buku teks (textbook centre) praktek mengajar PKn selama ini lebih banyak
berlangsung dengan pendekatan onvensional pembelajaran tidak kontekstual evaluasi
cenderung mengarah pada aspek kognitif kurikulum disesuaikan dengan tingkat kemampuan
siswa SD menangkap esensi atau kata kunci dalam SK dan KD secara benar mengajar harus
punya persiapan RPP.
RPP memegang peranan penting bagi guru dalam mengajar mengajar dengan
pendekatan konstruktivisme. Melaksanakan pendekatan konstruktivisme akan banyak
memberikan kesempatan pada siswa untuk mengeksplor potensi dirinya belajar berdasarkan
realita. Belajar akan bermakna bagi siswa kalau apa yang dipelajari itu bermanfaat bagi
kehidupannya evaluasi bersifat total (kognitif, afektif, psikomotor). Hasil belajar tidak cuma
diukur dari kemampuan kognitif
149
BAB 13
PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR
A. PENGERTIAN PENDIDIKAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR
Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Pendidikan Bahasa Indonesia
merupakan salah satu aspek penting yang perlu diajarkan kepada para siswa di sekolah. Maka
mata pelajaran ini kemudian diberikan sejak masih di bangku SD karena dari situ diharapkan
siswa mampu menguasai, memahami dan dapat mengimplementasikan keterampilan
berbahasa. Seperti membaca, menyimak, menulis, dan berbicara. Permendiknas No. 22
Tahun 2006, Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan
emosional peserta didik dan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua
bidang studi. Pembelajaran bahasa diharapkan membantu peserta didik mengenal dirinya,
budayanya, dan budaya orang lain, mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi
dalam masyarakat yang menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan
kemampuan analitis dan imaginatif yang ada dalam dirinya. Pembelajaran bahasa Indonesia
diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa
Indonesia dengan baik dan benar. Hal tersebut dilakukan baik secara lisan maupun tulis, serta
menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya kesastraan manusia Indonesia. Standar
kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia merupakan kualifikasi kemampuan minimal
peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan
sikap positif terhadap bahasa dan sastra Indonesia. Standar kompetensi ini merupakan dasar
bagi peserta didik untuk memahami dan merespon situasi lokal, regional, nasional, dan
global.
Pembelajaran bahasa Indonesia di SD dilaksanakan secara terpadu. Pembelajaran secara
terpadu seharusnya dilaksanakan sesuai dengan cara anak memandang dan menghayati
dunianya. Oleh karena itu dalam pembelajaran bahasa Indonesia diharapkan siswa dapat
memahami secara rasional serta konsep-konsep yang terkait dengan pembelajaran bahasa
Indonesia. Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan mata pelajaran mendasar yang sudah
diajarkan sejak TK sampai dengan perguruan tinggi. Bahasa Indonesia mempunyai peran
penting dalam proses pembelajaran. Pelajaran bahasa Indonesia mulai dikenalkan di tingkat
sekolah dasar sejak kelas 1 SD. Mata pelajaran bahasa Indonesia diberikan disemua jenjang
pendidikan formal. Standar kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia bersumber pada
hakikat pembelajaran bahasa yaitu belajar bahasa belajar berkomunikasi dan belajar sastra
belajar menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya. Oleh karena itu, pembelajaran
150
bahasa Indonesia mengupayakan peningkatan kemampuan siswa untuk berkomunikasi secara
lisan dan tertulis serta menghargai karya cipta bangsa Indonesia Hartati, 2003. Berdasarkan
pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bahasa Indonesia di SD adalah
pembelajaran yang dilaksanakan secara terpadu. Selain itu juga diarahkan untuk
meningkatkan kemampuan berkomunikasi peserta didik.
Tujuan Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar isi menyebutkan bahwa mata pelajaran bahasa
Indonesia di Sekolah Dasar memiliki tujuan sebagai berikut.
a. Berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara
lisan maupun tulis.
b. Menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan
bahasa negara.
c. Memahami bahasa Indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk
berbagai tujuan.
d. Menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta
kematangan emosional dan sosial.
e. Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus
budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa.
f. Menghargai dan membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan
intelektual manusia Indonesia. Berdasarkan tujuan tersebut dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran bahasa di Sekolah Dasar diharapkan siswa mendapat bekal yang matang untuk
mengembangkan dirinya dalam pendidikan berikutnya dan hidup bermasyarakat. Dalam
bidang pengetahuan siswa memiliki pemahaman dasar-dasar kebahasaan terutama bahasa
baku serta mempunyai sikap positif terhadap bahasa Indonesia.
B. ESENSI PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Pendididkan dasar atau sekolah dasar merupakan momentum awal bagi anak untuk
meningkatkan kemampuan dirinya. Dari bangku sekolah dasarlah mereka mendapatkan
imunitas belajar yang kemudian menjadi kebiasaan-kebiasaan yang akan mereka lakukan di
kemudian hari. Sehingga peran seorang guru sangatlah penting untuk dapat menanamkan
kebiasaan baik bagi siswanya, bagaimana mereka dituntut memiliki kompetensi-kompetensi
yang kemudian dapat meningkatkan kemampuan siswanya.
Salah satu keterampilan yang diharapkan dimiliki oleh siswa dari sekolah dasar ini
adalah keterampilan berbahasa yang baik, karena bahasa merupakan modal terpenting bagi
151
manusia. Dalam pengajaran bahasa indonesia, ada empat keterampilan berbahasa yang harus
dimiliki oleh siswa, keterampilan ini, antara lain: mendengarkan, berbicara, membaca, dan
menulis. Keempat aspek berbahasa ini saling terkait antara satu dengan yang lainnya.
Bagaimana seorang anak akan bisa menceritakan sesuatu setelah ia membaca dan berbicara
anak, sehingga keempat aspek ini harus senantiasa diperhatikan untuk meningkatkan
kemampuan siswa.
Berikut ini 4 keterampilan berbahasa dasar yang penting dikuasai anak yaitu:
1) Menyimak
Keterampilan yang paling mendasar ialah menyimak. Setiap orang tentu melakukan
kegiatan menyimak, mulai dari mendengarkan berita, cerita, dan berbagai informasi lainnya
baik melalui TV, Radio, dll. Underwood (1990) mendefinisikan menyimak adalah kegiatan
mendengarkan atau memperhatikan baik-baik apa yang ducapkan orang, menangkap dan
memahami makna dari apa yang didengar.
Menyimak berbeda dengan mendengar, mendengar hanya menerima informasi yang
diperdengarkan saja tanpa melalui penyerapan dan pemilihan informasi dalam kinerja otak
sehingga hanya tersimpan dalam short term memory(ingatan jangka pendek). Mendengar
identik dengan masuk telinga kanan keluar telinga kiri,sedangkan menyimak adanya sebuah
proses penyerapan dan pemilihan informasi dalam otak sehingga disimpan dalam long term
memory(ingatan jangka panjang), di sinilah kinerja otak berkerja dan berkembang dengan
baik.
2) Berbicara
Keterampilan berbicara pada umumnya dapat dilakukan oleh semua orang, tetapi
berbicara yang terampil hanya sebagian orang mampu melakukan. Berbicara secara umum
dapat diartikan suatu penyampaian maksud (ide, pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain
dengan menggunakan bahasa lisan sehingga maksud tersebut dapat dipahami oleh orang lain
(Depdikbud, 1984:3/1985:7).
Keterampilan berbicara merupakan salah satu komponen dalm pembelajaran bahasa
Indonesia yang harus dimiliki oleh pendidik dan peserta didik di sekolah. Terampil berbicara
menuntut siswa untuk dapat berkomunikasi dengan siswa lainnya. Seperti yang diungkapkan
oleh Supriyadi (2005:179) bahwa sebagian besar siswa belum lancar berbicara dalam bahasa
Indonesia. Siswa yang belum lancar berbicara tersebut dapat disertai dengan sikap siswa yang
pasif, malas berbicara, sehingga merasa takut salah dan malu, atau bahkan kurang berminat
untuk berlatih berbicara di depan kelas.
152
Guru harus mampu menumbuhkan minat berbicara para siswa ketika di dalam kelas. Ajaklah
mereka untuk mempraktikkan teks pidato, puisi, berdrama, dsb. Sehingga mereka bisa
mengalami.
3) Membaca
Pusat pemerolehan berbagai pengetahuan keterampilan dari menyimak, berbicara, dan
menulis ialah membaca. Aktivitas membaca sama halnya dengan pemerolehan, apa yang kita
ketahui adalah dari apa yang kita baca. Stauffer (Petty & Jensen, 1980) menganggap bahwa
membaca, merupakan transmisi pikiran dalam kaitannya untuk menyalurkan ide atau
gagasan. Selain itu, membaca dapat digunakan untuk membangun konsep, mengembangkan
perbendaharaan kata, memberi pengetahuan, menambahkan proses pengayaan pribadi,
mengembangkan intelektualitas, membantu mengerti dan memahami problem orang lain,
mengembangkan konsep diri dan sebagai suatu kesenangan.
Membaca memiliki pengaruh terhadap perkembangan hidup kita, namun banyaknya
koleksi buku bukan berarti ia gemar membaca. Kegemaran membaca akan tampak apabila
seseorang mampu mengemukakan berbagai pengetahuan, gagasan, dan ide-ide kreatifnya.
4) Menulis
Tahap keterampilan terakhir ialah menulis. Menulis sebagai pusat pengaplikasian
berbagai pengetahuan yang telah didapat dari aktivitas menyimak, membaca, dan berbicara
kemudian mengalihkannya ke dalam rangkaian kata dan bahasa yang memiliki makna dan
tujuan. Pranoto (2004:9) berpendapat bahwa menulis berarti menuangkan buah pikiran ke
dalam bentuk tulisan atau menceritakan sesuatu kepada orang lain melalui tulisan. Menulis
juga dapat diartikan sebagai ungkapan atau ekspresi perasaan yang dituangkan dalam bentuk
tulisan.
Orang yang gemar, pandai, dan telah menulis berarti ia telah mencoba mengaktifkan
indera yang ada pada dirinya melalui apa yang ia lihat, dengar, rasakan, cium, dan raba
kemudian teraplikasikan ke dalam rangkaian kata dan bahasa.
Keempat keterampilan tersebut saling berhubungan, namun menulislah hal yang paling
utama. Perbedaan utama antara menulis dan berbicara, yaitu orang yang menulis lebih berani
daripada orang yang banyak berbicara tanpa memiliki makna dan tujuan. Orang yang hanya
pandai berbicara belum tentu pandai menulis, ia lebih mengandalkan daya orasi daripada
literasi.
C.PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA DI SEKOLAH DASAR
Pembelajaran bahasa indonesia, terutama di sekolah dasar tidak akan terlepas dari empat
keterampilan berbahasa yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kemampuan
153
berbahasa bagi manusia sangat diperlukan. Sebagai makhluk sosial, manusia berinteraksi,
berkomunikasi dengan manusia lain dengan menggunakan bahasa sebagai media, baikm
berkomunikasi menggunakan bahasa lisan juga berkomunikasi menggunakan bahasa tulis.
Keterampilan berbahasa yang dilakukan manusia yang berupa menyimak, berbicara,
membaca dan menulis yang dimodali kekayaan kosakata, yaitu aktivitas intelektual, karya
otak manusia yang berpendidikan. Kita mengetahui kemampuan manusia berbahasa bukanlah
instinct,tidak dibawa anak sejak kecil, melainkan manusia dapat belajar bahasa sampai
terampil berbahasa, mampu berbahasa untuk kebutuhan berkomunikasi.
Penggunaan bahasa dalam interaksi dapat dibedakan menjadi dua yaitu lisan dan tulisan.
Agar individu dapat menggunakan bahasa dalam suatu interaksi, maka ia harus memiliki
kemamuan berbahasa. Kemampuan itu digunakan untuk mengomunikasikan pesan. Pesan ini
berupa ide (gagasan), keinginan, kemauan, perasaan ataupun interaksi. Menurut indihadi
(2006: 57), ada lima faktor yang harus dipadukan dalam berkomunikasi, sehingga pesan ini
dapat dinyatakan atau disampaikan, yaitu: struktur pengetahuan (schemata), kebahasaan,
strategi produktif, mekanisme psikofisik dan konteks.
Kemampuan berbahasa lisan meliputi kemampuan berbicara dan menyimak, sedangkan
kemampuan bahasa tulisan meliputi kemampuan membaca dan menulis. Pada saat manusia
berkomunikasi secara lisan, maka ide-ide, pikiran gagasan dan perasaan yang dituangkan
dalam bentuk kata dengan tujuan untuk dipahami oleh lawan bicaranya. Demikian pula saat
anak memasuki usia TK (taman kanak-kanak) mereka dapat berkomunikasi dengan
sesamanya dalam kalimat berita, kalimat tanya, kalimat majemuk, dan berbagai bentuk
kalimat lainnya. Pada usia ini, anak dianggap telah memiliki kosakata yang cukup untuk
mengungkapkan yang dipikirkan, dan dirasakannya mereka lebih mengungkapkan dalam
bentuk lisan dibandingkan tulisan. Pola bahasa yang digunakannya masih merupakan tiruan
bahasa orang dewasa.
Ketika anak memasuki usia sekolah dasar,anak-anak akan terkondisikan untuk
mempelajari bahasa tulis. Pada masa ini anak dituntut untuk berpikir lebih dalam lagi
kemampuan berbahasa anak pun mengalami perkembangan.
Menulis sebagai keterampilan seseorang (individu) mengomunikasikan pesan dalam
sebuah tulisan. Keterampilan ini berkaitan dengan kegiatan seseorang dalam memilih,
memilah, dan menyusun pesan untuk ditransaksikan melalui bahasa tulis. Cahyani dan
hodijak (2007: 127), pesan yang ditransaksikan itu dapat berupa wujud ide (gagasan),
kemampuan, keinginan, perasaan, atau informasi. Selanjutnya, pesan tersebut dapat menjadi
isi sebuah tulisan yang ditransaksikan kepada pembaca. Melalui sebuah tulisan, pembaca
154
dapat memahami pesan yang ditransaksikan serta tujuan penulisan.
Perkembangan bahasa anak berkembang seiring dengan perkembangan intelektual anak.
Artinya, anak yang berkembang bahasanya cepat, exposed pada ‘bantuan’ yang meskipun tak
tampak nyata, memperlihatkan lingkungan yang kondusif kemah dalam arti emosional
positif. Oleh karena itu, perkembangan bahasa memiliki keterkaitan dengan perkembangan
intelektual anak.
Anak-anak TK yang berusia sekitar lima sampai enam tahun memiliki kemampuan dalam
menghasilkan cerita. Pada usia ini, sebaiknya kemampuan bercerita anak diasah agar mereka
dapat dengan leluasa mengungkapkan pikiran dan perasaannya yang terungkap dalam bentuk
cerita. Cerita yang diungkapkan masih kurang jelas karena plotnya yang tidak runut. Pada
umumnya, yang mereka hasilkan adalah cerita yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-
hari, misalnya lingkungan tempat mereka tinggal.
Pada saat anak-anak memasuki usia tujuh tahun, anak dapat membuat cerita yang lebih
teratur. Mereka dapat menyusun cerita dengan cara mengemukakan masalah, rencana
pemecahan masalah, dan menyelesaikan masalah. Adapun pada saat anak-anak memasuki
kelas dua sekolah dasar diharapkan anak-anak dapat bercerita dengan menggunakan kalimat
yang lebih panjang dengan menggunakan konjungsi; dan, lalu, dan kata depan seperti di, ke,
dan dari. Umumnya, plot yang terdapat dalam cerita masih belum jelas. Pelatihan perlu
dilakukan agar anak dapat mengungkapkan kejadian secara kronologis.
D. KURIKULUM DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA
Pendidikan formal dalam lingkungan sekolah memiliki kurikulum tertulis, dilaksanakan
secara terjadwal, dan dalam suatu interaksi edukatif di bawah arahan guru. Kurikulum
merupakan suatu alat yang penting dalam rangka merealisasikan dan mencapai tujuan
sekolah. Begitu pula halnya dengan kurikulum bahasa Indonesia, merupakan suatu alat yang
penting dalam rangka merealisasikan dan mencapai tujuan kebahasaan Indonesia, yaitu
meningkatkan kemampuan siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, baik secara
lisan maupun tulisan.
Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP, 2006: 81), standar isi bahasa
Indonesia sebagai berikut: "pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan
kemampuan peserta didik untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia dengan baik dan
benar, baik secara lisan maupun tulis, serta menumbuhkan apresiasi terhadap hasil karya
kesastraan ma nusia Indonesia." Tujuan pelajaran bahasa Indonesia di SD antara lain
bertujuan agar siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk
155
mengembangkan kepribadian, memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan
pengetahuan dan kemampuan berbahasa. Adapun tujuan khusus pengajaran bahasa Indo
nesia, antara lain agar siswa memiliki kegemaran membaca, meningkatkan karya sastra untuk
meningkatkan kepribadian, mempertajam kepekaan, perasaan, dan memperluas wawasan
kehidupannya. Pengajaran bahasa Indonesia juga dimaksudkan untuk melatih keterampilan
mendengar, berbicara, membaca, dan menulis yang masing-masing erat hubungannya. Pada
hakikatnya, pembelajaran bahasa Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kemampuan
siswa dalam berkomunikasi dengan bahasa Indonesia baik secara lisan maupun tulisan.
Fungsi bahasa yang paling utama adalah tujuan kita berbicara. Dengan berbahasa, kita bisa
menyampaikan berita, informasi, pesan, kemauan, dan keberatan kita. Menurut Richards,
Platt, dan Weber dalam Solahuddin (2007) menguraikan bahwa bahasa sering dikatakan
mempunyai tiga fungsi utama, yaitu (1) deskriptif; (2) ekspresif; dan (3) sosial. Fungsi
deskriptif bahasa adalah untuk menyampaikan informasi faktual. Fungsi ekspresif ialah
memberi informasi mengenai pembaca itu sen diri, mengenai perasaan-perasaannya,
kesenangannya, pra sangkanya, dan pengalaman-pengalamannya yang telah lewat. Fungsi
sosial bahasa ialah melestarikan hubungan-hubungan sosial antarmanusia.
Pembelajaran menulis di jenjang pendidikan dasar dapat dibedakan menjadi dua tahap, yakni
menulis permulaan di Kelas I-II dan menulis lanjut yang terdiri dari menulis lanjut tahap
pertama di Kelas III-IV serta menulis lanjut tahap kedua di Kelas VI hingga kelas IX (SMP).
Menulis itu sendiri berkaitan dengan membaca, bahkan dengan kegiatan berbicara dan
menyimak. Membaca dan menulis merupakan kegiatan yang saling mendukung agar
berkomunikasi untuk melakukan kegiatan membaca sebagai kegiatan dari latihan menulis.
Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam Kurikulum 2013
Pembelajaran bahasa Indonesia pada hakikatnya adalah membelajarkan peserta didik tentang
keterampilan berbahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai tujuan dan fungsinya. Menurut
Atmazaki (2013), mata pelajaran Bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki
kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik
secara lisan maupun tulisan, menghargai dan bangga menggunakan bahasa Indonesia
sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara, memahami bahasa Indonesia dan
menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan, menggunakan bahasa
Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan
sosial, menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, budi pekerti,
serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa, menghargai dan
membanggakan sastra Indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.
156
Untuk mengimplementasikan tujuan mata pelajaran Bahasa Indonesia tersebut, maka
pembelajaran bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 disajikan dengan menggunakan
pendekatan berbasis teks. Teks dapat berwujud teks tertulis maupun teks lisan. Teks
merupakan ungkapan pikiran manusia yang lengkap yang di dalamnya memiliki situasi dan
konteks. Dengan kata lain, belajar Bahasa Indonesia tidak sekadar memakai bahasa Indonesia
sebagai alat komunikasi, tetapi perlu juga mengetahui makna atau bagaimana memilih kata
yang tepat yang sesuai tatanan budaya dan masyarakat pemakainya.
Dalam pembelajaranya menggunakan empat tahapan, yaitu membangun konteks,
membentuk model, membangun teks bersama-sama/kelompok, dan membangun teks secara
individual atau mandiri. Pelaksanaan pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik
dengan model yang sesuai. Ketercapaian KD dalam kelompok KI: 1 dan 2 ditentukan oleh
ketercapaian KD dalam kelompok KI: 3 dan 4.
Pembelajaran Bahasa Indonesia dalam kurikulum 2013 yang berbasis teks ini bertujuan
agar dapat membawa peserta didik sesuai perkembangan mentalnya, dan menyelesaikan
masalah kehidupan nyata dengan berpikir kritis. Dalam penerapannya, pembelajaran Bahasa
Indonesia memiliki prinsip, yaitu sebagai berikut.
a. Bahasa hendaknya dipandang sebagai teks, bukan semata-mata kumpulan kata atau
kaidah kebahasaan.
b. Penggunaan bahasa merupakan proses pemilihan bentuk-bentuk kebahasan untuk
mengungkapkan makna.
c. Bahasa bersifat fungsional, artinya penggunaan bahasa yang tidak pernah dapat
dipisahkan dari konteks, karena bentuk bahasa yang digunakan mencerminkan ide, sikap,
nilai, dan ideologi p emakai/penggunanya.
d. Bahasa merupakan sarana pembentukan berpikir manusia.
Dengan prinsip di atas, maka pembelajaran bahasa berbasis teks membawa implikasi
metodologis pada pembelajaran yang bertahap. Hal ini diawali dari kegiatan guru
membangun konteks, dilanjutkan dengan kegiatan pemodelan, membangun teks secara
bersama-sama, sampai pada membangun teks secara mandiri. Kegiatan ini dilakukan karena
teks merupakan satuan bahasa yang mengandung pikiran dengan struktur yang lengkap. Guru
harus benar-benar meyakini bahwa pada akhirnya peserta didik mampu menyajikan teks
secara mandiri.
E. PEMBELAJARAN MENULIS
1. Pengertian Menulis
Ahmad Susanto (2019) “Menulis ialah kegiatan yang paling sering dilakukan oleh setiap
157
orang yang membutuhkan keterampilan khusus yang harus dipelajari dan senantiasa dilatih.
Diperlukan keterampilan tambahan juga motivasi karena menulis bukan tentang bakat, tidak
semua orang mampu menulis. Menulis adalah salah satu cara mengoperasikan otak secara
totalitas menyertakan raga, jari, dan juga tangan”
Berikut beberapa pendapat menganai pengertian menulis.
1. Menurut KBBI, menulis mempunyai arti: (1) membuat huruf, angka, dan sebagainya
dengan pena, pensil, kabur dan sebagainya; (2) melahirkan pikiran atau perasaan seperti
mengarang, membuat surat dengan tulisan; (3) menggambar, melukis; (4) membatik kain,
mengarang cerita, membuat surat, berkirim surat.
2. Rusyana (1984: 191) “Menulis merupakan kemampuan menggunakan pola-pola bahasa
dalam penyampaiannya secara tertulis untuk mengungkapkan suatu gagasan atau pesan.”
3. Tarigan (1986:4) “Menulis merupakan suatu kegiatan suatu kegiatan yang produktif dan
ekspresif, penulis harus terampil memanfaatkan struktur bahasa dan kosakata.”
4. Alwasilah (1994:78) “Menulis adalah kegiatan produktif dalam berbahasa. Menulis
adalah proses psikolinguistik, bermula dengan formasi gagasan lewat semantik, lalu didata
dengan aturan sintaksis, kemudian diwujudkan dalam tatanan sistem tulisan.” Lebih jelasnya
bahwa menulis itu adalah kegiatan menuangkan ide atau gagasan ke dalam tulisan, menulis
itu sebagai suatu keterampilan, menulis itu sebagai proses berpikir, menulis itu sebagai
kegiatan informasi, menulis itu sebagai kegiatan berkomunikasi.
Menulis menjadi kegiatan penting yang sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.
2. Fungsi Menulis
Menurut Purwanto dalam Susanto (2019) mengklasifikasikan fungsi menulis sesuai
kegunaannya, yaitu sebagai berikut:
a. Fungsi penataan, ialah menata suatu gagasan ,pikiran, pendapat, imajinasi, dan lainnya,
terhadap penggunaa bahasa, sehingga tulisan tersusun.
b. Fungsi pengawetan, ialah mengawetkan pengaturan sesuatu dalam dokumen yang
tertulis.
c. Fungsi penciptaan, ialah mewujudkan atau menciptakan sesuatu yang baru.
d. Fungsi penyampaian, ialah menyampaikan gagasan, pikiran, imajinasi, pengetahuan,
informasi yang telah diawetkan dalam karangan lalu disampaikan pada orang terdekat
maupun yang jauh.
e. Fungsi melukiskan, ialah menggambarkan atau mendeskripsikan sesuatu apapun.
f. Fungsi memberi petunjuk, ialah memberikan petunjuk tentang cara melakukan sesuatu.
158
g. Fungsi memerintahkan, ialah memberikan perintah, nasihat, permintaan, anjuran atau
saran, supaya pembaca menjalankannya.
h. Fungsi mengingat, ialah suatu kegiatan, keadaan, peristiwa dicatat agar tidak terlupakan
dan dapat dibaca kembali.
i. Fungsi korespondensi, ialah terjadinya timbal balik adanya tanggapan, seperti
memberitahukan, menanyakan, meminta atau memerintah, ditujukan agar pembaca
memenuhi hal tersebut.
3. Tujuan dan Manfaat menulis
Ada empat macam tujuan (the writer intention) menulis, yaitu:
1. Untuk memberitahukan atau mengajar (informative discourse)
2. Untuk menyakinkan dan mendesak pembaca (persuasive discourse)
3. Untuk menghibur atau menyenangkan pembaca (altruistic purpose) dan wacana
kesastraan (literacy discourse )
4. Untuk pernyataan diri dengan pencapaian nilai-nilai artistik (expressive discourse)
Manfaat menulis, yaitu sebagai berikut:
1. Membantu menemukan kembali yang pernah diketahui.
2. Menghasilkan ide-ide baru
3. Membantu mengorganisasikan pikiran dan menepatkannya dalam suatu wacana.
4. Membuat pikiran seseorang siap dibaca dan juga dievaluasi.
5. Membantu menyerap dan mengingat informasi dan pengetahuan baru dengan baik.
6. Membantu memecahkan masalah
4. Pembelajaran Menulis Permulaan
Menurut Tomkins dalam Susanto (2019:257) menguraikan proses menulis ada lima tahap
yaitu: Tahap pra-menulis (prewriting); tahap penyusunan draf tulisan (drafting);
tahap perbaikan (revisi); tahap penyuntingan (editing); dan tahap pempublikasian
(publishing).
Dalam pembelajaran menulis peserta didik pertama-tama harus diajarkan dahulu bagaimana
cara memegang alat tulis, dimulai dari pensil saat kelas rendah lalu menggunakan pena mulai
kelas tinggi pada Sekolah Dasar. Kemudian, peserta didik boleh diarahkan untuk melakukan
langkah-langkah pembelajaran dalam menulis, sebagai berikut ini:
a. Pengenalan, guru mengenalkan dasar dasar menulis dahulu seperti titik, dan garis
maupun lingkaran. Kemudian, guru mengenalkan huruf-huruf dan angka-angka sederhana
159
dari 0 sampai 10 dahulu.
b. Menyalin, guru mencontohkan huruf atau angka yang akan diajarkan. Peserta didik
menyalin huruf yang sama seperti yang telah dicontohkan oleh guru. Peserta didik menyalin
bunyi bacaan ke huruf tertulis, menyalin huruf kecil menjadi huruf besar, menyalin huruf
lepas menjadi huruf sambung, dan peserta didik dapat diminta melengkapi kata atau tanda
baca.
c. Menulis halus atau indah, menulis yang memerhatikan bentuk, ukuran, tebal tipis dan
kerapian menulis.
d. Menulis nama, bisa menulis nama diri sendiri dahulu, lalu nama benda, hewan, tumbuhan
dan lain-lain.
e. Mengarang sederhana, bisa menceritakan pengalaman yang dirangkai dalam lima sampai
sepuluh baris dan pastinya harus diperhatikan ketepatan ejaan, kerapian, dan isi yang
diceritakan peserta didik.
160
BAB 14
PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN DI SEKOLAH DASAR
A. PENDIDIKAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN
Pendidikan seni budaya dan keterampilan (SBK) pada dasarnya merupakan
pendidikan seni yang berbasis budaya yang aspek-aspeknya, meliputi: seni rupa, seni music,
seni tari dan keterampilan. Pendidkan seni di sekolah dapat dijadikan sebagai dasar
pendidikan dalam membentuk jiwa dan kepribadian, berakhlak mulia. Tujuan dari pendidikan
seni budaya dan keterampilan ialah untuk mengembangkan kemampuan berpikir, sikap dan
nilai untuk dirinya sebagai individu maupun makhluk social dan budaya.
Pendidikan SBK pada Sekolah Dasar memiliki peranan dalam pembentukan pribadi
peserta didik yang harmonis dengan memerhatikan kebutuhan perkembangan anak dalam
mencapai multi kecerdasaan yang terdiri atas kecerdasan intrapersonal, interpersonal, visual,
musical, linguistic, logika, matematis, naturalis, dan kecerdasaan kreativitas, kecerdasaan
spiritual, moral serta kecerdesaan emosional.
Pendidikan Seni Budaya memiliki sifat multilingual, multidimensional, dan
multikultural. Multilingual bermakna pengembangan kemampuan mengekspresikan diri
secara kreatif dengan berbagai cara dan media seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran dan
berbagai perpaduannya. Multidimensional bermakna pengembangan beragam kompetensi
meliputi konsepsi (pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi), apresiasi, dan kreasi dengan
cara memadukan secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika. Sifat
multikultural mengandung makna pendidikan seni menumbuhkembangkan kesadaran dan
kemampuan apresiasi terhadap beragam budaya Nusantara dan mancanegara. Hal ini
merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup
secara beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk.
B. HAKIKAT PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN
Pendidikan SBK disekolah dirasakan sangat penting, karena pelajaran ini memiliki sifat
multilingual, multidimensional, dan multicultural.
- Multilingual bertujuan mengembangkan kemampuan mengekpresikan diri dengan
berbagai cara.
- Multidimensional berarti bahwa mengembangkan kompetensi kemampuan dasar
siswa yang mencakup persepsi, pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi,
161
apresiasi, pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi, apresiasi, dan produktivitas
dalam menyeimbangkan fungdi otak kanan dan kiri, dengan memadukan unsur logika,
etika dan estetika.
- Multicultural bertujuan mengembangkan kesadaran dan kemampuan berapresiasi
terhadap keberagaman budaya local dan global sebagai pembentukan sikap
menghargai, demokratis, beradap, dan hidup rukun dalam masyarakat dan budaya
yang majemuk.
Pendidikan SBK memiliki peranan dalam pembentukan pribadi peserta didik yang
harmonis dengan memperhatikan kebutuhan perkembangan anak dalam mencapai multi
kecerdasan yang terdiri atas kecerdasan intarpersonal, kecerdasan interpersonal, visual,
spasial, moral, emosional, musical, logic, kinestetik, linguistic, matematis, dan kecerdasan
naturals. Semua ini diperoleh melalui upaya eksplorasi elemen, prinsip, proses, dan teknik
berkarya dalam konteks budaya masyarakat yang beragam.
Secara spesifik mata pelajaran SBK meliputi aspek-aspek, sebagai berikut:
1. Seni rupa, mencakup pengetahuan, keterampilan, dan nilai dalam menghasilkan
karya seni rupa berupa lukisan, patung, ukiran, cetak-mencetak, dan sebagainya.
2. Seni music, mencakup kemampuan untuk menguasai olah vocal, memainkan alat
music, apresiasi terhadap gerak tari.
3. Seni tari, mencakup keterampilan gerak berdasarkan olah tubuh dengan, dan, tanpa
rangsangan bunyi, apresiasi terhadap gerak tari.
4. Seni drama, mencakup keterampilan pementasan dengan mamadukan seni music,
seni tari, dan peran.
5. Keterampilan, mencakup segala aspek kecakapan hidup (life skills), yang meliputi
keterampilan personal, social, vokasional, dan akademik.
Diantara bidang seni yang ditawarkan tersebut, minal diajarkan satu bidang seni sesuai
dengn kemampuan sumber daya manusia sera fasilitasyang tersedia. Pada tingkat sekolah
dasar, mata pelajaran keterampilan ditekankan pada keterampilan vokasional, khususnya
kerajinan tangan.
C. TUJUAN PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN
Tujuan pembelajaran merupakan rumusan tingkah laku dan kemampuan yang harus
dicapai dan dimiliki siswa.Dan tujuan pembelajaran seni budaya disekolah dasar yaitu untuk
mengembangkan sikap dan kemampuan siswa agar bisa berkreasi,bekreati ivitas,dan
menghargai kerajinan atau keterampilan seseorang.Materi pada pembelajaran seni budaya
162
yaitu terdiri dari seni rupa,seni tari,seni musik,dan kerajinan yang masing-masingnya
mempunyai karakteristik.
Pembelajaran seni budaya disekolah dapat membantu siswa untuk mengekspresikan
dirinya secara bebas.Melalui pendidikan seni budaya potensi yang dimiliki siswa sejak lahir
untuk bergerak secara bebas dapat dikembangkan secara optimal.pembelajaran seni budaya
diberikan di sekolah karena keunikan, kebermaknaan, dan kebermanfaatan terhadap
kebutuhan perkembangan peserta didik, yang terletak pada pemberian pengalaman estetik
dalam bentuk kegiatan berekspresi atau berkreasi dan apresiasi pendekatan belajar dengan
seni, dan peran ini tidak dapat diberikan oleh mata pelajaran lain.
Mata pembelajaran seni budaya bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai
berikut:
1. Memahami konsep dan pentingnya seni budaya dan keterampilan
2. Menampilkan sikap apresiasi terhadap seni budaya dan keterampilan
3. Menampilkan kreativitas melalui seni budaya dan keterampilan
4.menampilkan peran serta dalam seni budaya dan keterampilan dalam tingkat lokal regional
maupun global
Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan memiliki sifat multilingual,
multidimensional, dan multikultural.
1.Multilingual bermakna pengembangan kemampuan mengekspresikan diri secara kreatif
dengan berbagai cara dan media seperti bahasa rupa, bunyi, gerak, peran dan berbagai
perpaduannya.
2.Multidimensional bermakna pengembangan beragam kompetensi meliputi konsepsi
(pengetahuan, pemahaman, analisis, evaluasi), apresiasi, dan kreasi dengan cara memadukan
secara harmonis unsur estetika, logika, kinestetika, dan etika.
3.Multikultural mengandung makna pendidikan seni menumbuhkembangkan kesadaran dan
kemampuan apresiasi terhadap beragam budaya Nusantara dan Mancanegara. Hal ini
merupakan wujud pembentukan sikap demokratis yang memungkinkan seseorang hidup
secara beradab serta toleran dalam masyarakat dan budaya yang majemuk
Pembelajaran seni budaya di sekolah dasar bukan sekedar proses upaya transformasi
pengetahuan seni dan budaya serta keterampilan tetapi juga perlu diupayakan pengembangan
sikap secara aktif kritis dan kreatif.karena pendidikan seni budaya memiliki fungsi dan tujuan
untuk mengembangkan sikap dan kemampuan siswa mampu berkreasi dan peka dalam
berkesenian atau memberikan kemampuan dalam berkarya dan berapresiasi.
163
D. METODE PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN
Melaksanakan program kegiatan pembelajaran tidak terlepas dari metode yang akan
digunakan. Sudjana (1999. 70 menyatakan bahwa: "metode adalah cara yang digunakan guru
dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran." Metode
ditetapkan oleh penga- Jar dengan berpedoman kepada tujuan pengajaran dan atas
pertimbangan terhadap bahan pelajaran yang akan diberikan. Metode mengajar merupakan
bagian dari strategi kegiatan yang dalam fungsinya berperan sebagai alat untuk membantu
efisiensi dalam proses mengajar.
Dalam memilih metode yang akan digunakan guru dalam program kegiatan
pembelajaran, guru hendaknya kreatif dalam memilih metode yang akan dipakai, Sehingga
dengan pemilih- an metode yang tepat, mampu menumbuhkan dan mengem- bangkan seluruh
potensi yang dimiliki oleh siswa agar dapat menghasilkan sesuatu hal yang baru berdasarkan
daya pikir atau kemampuannya. Dengan pemilihan metode yang tepat dapat membantu
pembentukan kepribadian anak, Selain itu, dengan pemilihan metode yang tepat diharapkan
anak dapat menyalurkan ekspresi jiwanya, menumbuhkan keberanian berkreasi, yaitu
menyalurkan pikiran dan perasaan.
Pemilihan metode pembelajaran diperlukan oleh guru pada saat merancang proses
kegiatan belajar mengajar. Karena ketepatan pemilihan metode pembelajaran akan
berdampak terhadap efektivitas pencapaian kompetensi pembelajaran yang telah ditetapkan.
Dalam pembelajaran seni musik gabungan dari berbagai metode sangat diperlukan, apalagi
kalau pembelajaran yang dilakukan menekankan pada pemberian pengalaman kepada siswa,
Pemilihan metode pembelajaran yang dilakukan oleh para guru berdasarkan hasil penilitian
menunjukkan bahwa pada umumnya mereka menggunakan metode ceramah, demonstrasi,
dan latihan (drill). Metode ceramah digunakan oleh para guru pada saat menyampaikan
berbagai informasi yang terkait dengan materi pembelajaran. Adapun metode demonstrasi,
dilakukan oleh para guru pada saat pembelajaran materi praktik. Karena proses pembelajaran
praktik yang berlangsung lebih menekankan pada strategi ear training, maka pada saat ada
materi baru siswa sangat tergantung pada contoh guru yang dilakukan dengan metode
demonstrasi.
Ketersediaan sarana pembelajaran sangat diperlukan guru dalam merancang dan
melaksanakan pembelajaran. Apalagi dalam pembelajaran seni musik, berdasarkan
karakteristik dan standar kompetensi menurut kreativitas guru dalam meman- faatkan dan
mengembangkannya. Ketersediaan buku sumber dan buku ajar, alat musik, dan media
pendukung pembelajaran lainnya juga sangat dibutuhkan dalam pembelajaran SBK ini.
164
Ada beberapa sarana pendukung yang diperlukan guru dalam pelaksanaan
pembelajaran seni musik, seperti ruang praktik musik, perlengkapan elektronik (tape
recorder, CD dan DVD player, televisi, dan lain-lain). ketersediaan sarana pembelajaran
dersebut berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa Danyak sekolah yang tidak
memiliki ruang khusus pembelajaran seni musik. Adapun perlengkapan yang ada seperti tape
recorder, CD dan DVD player, serta televisi yang dimiliki di beberapa sekolah tidak pernah
digunakan sebagai sarana elektronik apalagi media dalam pembelajaran seni musik.
E. EVALUASI PEMBELAJARAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN
Evaluasi merupakan rangkaian kegiatan dari suatu program yang bertujuan untuk
menentukan keberhasilan suatu program. Worthen & Sanders (1981) mengungkapakan
bahwa evaluasi adalah kegiatan untuk menentukan nilai sesuatu yang di dalamnya
terkandung pemerolehan informasi yang digunakan untuk menentukan baik buruknya suatu
program, produk, prosedur, tujuan, atau rancangan pendekatan untuk mencapai tujuan-tujuan
tertentu. Ada banyak model evaluasi yang dikembangkan oleh para ahli pendidikan
diantaranya:
• Model evaluasi CIPP (Context, Input, Process, Product) (Fernandes, 1984)
• Model evaluasi Scriven yang berorientasi pada “consumer oriented evaluation”
karena filosofi model evaluasi tersebut didasarkan pada kepentingan konsumen (Stufflebeam
& Shinkfield, 1985)
• Model evaluasi Alkin yang memperhatikan pengguna potensial, yaitu para pengguna
baik yang berada dalam suatu institusi yang mempunyai potensi menggunakan hasil evaluasi
secara langsung maupun tidak (Alkin, 1985)
• Model evaluasi Valadez (1994) menekankan pentingnya kegiatan monitoring dalam
melakukan evaluasi
• Model evaluasi Performance monitoring indicator yang mengukur dampak, outcomes,
output, input, dari suatu proyek yang dimonitor selama pelaksanaan proyek untuk
memperoleh informasi tentang mengetahui kemajuan proyek (Mosse, Roberto, &
Sontheimer, 1996)
Evaluasi pengajaran merupakan bagian dari kepentingan pendidikan yang dianggap
penting untuk mengetahui tercapainya suatu tujuan yang telah ditetapkan. Secara umum,
evaluasi pengajaran menurut Harjanto (2000:277) adalah “penilaian atau penaksiran terhadap
pertumbuhan dan kemajuan peserta didik ke arah tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam
hukum.” Maksud hukum dalam pernyataan tersebut adalah tujuan-tujuan yang telah
165
digariskan dalam kurikulum. Evaluasi pengajaran dimaksudkan untuk memperoleh data yang
akan mengukur tingkat keberhasilan yang telah dicapai oleh peserta didik dan dapt ditempuh
melalui instrument (alat) yang dibuat oleh pengajar.
Evaluasi untuk pembelajaran SBK meliputi segi keterampilan dengan menggunakan
tes perbuatan atau peragaan, segi pengetahuannya dengan menggunakan tes lisan atau
pemahaman, serta tidak lepas mengenai keadaan sikap dan inisiatif siswa dalam pembelajaran
(aspek nilai dan sikap). Dalam pelaksanaan penelitian, evaluasi yang akan digunakan untuk
mengukur kreativitas siswa dalam pembelajaran SBK harus didasarkan pada aspek-aspek
yang harus dicapai siswa, yaitu:
1. Aspek kognitif (pengetahuan); berkaitan dengan pengetahuan atau pemahaman siswa
tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kesenian. Penilaian aspek kognitif dalam
pembelajaran SBK berkenaan dengan pemahaman daya pikir, dan aplikasi daya pikir ke
dalam perbuatan.
2. Aspek efektif (sikap); berkaitan dengan perhargaan ilmu terhadap karya kesenian,
penghargaan atau penilaian terhadap karya yang sering diistilahkan dengan apresiasi proses
yang diawali dengan pengamatan dan penghayatan. Aspek afektif yang akan dijadikan
sebagai penilaian yaitu respons siswa dalam menunjukkan sikap kesungguhan dalam belajar
dan keberanian untuk mengungkapkan gagasan melalui gerak, serta respon siswa atas karya
yang dihadapi karena pada saat berkreasi memerlukan apresiasi
3. Aspek psikomotor (keterampilan); berkaitan dengan perilaku siswa yang berupa tindakan,
oleh karena itu tahapan prosedur ketika siswa berkarya atau berproses kreatif dapat menjadi
fokus amatan. Penilaian aspek psikomotor yang dilakukan untuk mengetahui kreativitas
siswa mencakup kemampuan dalam menemukan gerak yang sesuai.
Pembelajaran SBK pada siswa sekolah dasar atau madrasaah ibtidaiyah lebih
menekankan kepada proses kreatif. Menumbuhkan respons kreatif pada siswa sekolah dasar
diperlukan stimulus (rangsangan). Rangsangan mampu membangkitkan motivasi, imajinasi,
dan inspirasinya. Pada dasarnya, rangsangan dalam pembelajaran SBK digunakan untuk
membantu siswa menemukan dan mengungkapkan kembali secara estetis apa yang pernah
siswa lihat dan rasakan, dan anak dituntut untuk bisa membayangkannya, kemudian
diwujudkan lewat kegiatan yang kreatif. Dalam upaya menumbuhkan sikap kreatif, siswa
diberi rangsang gagasan melalui pertanyaan seputar pengetahuan siswa mengenai kesenian
tradisional. Dengan peran serta pengajar, siswa dibimbing dan diberi motivasi untuk selalu
berpikir secara kreatif dan merealisasikan seluruh imajinasinya ke dalam kreasi yang kreatif
166
pula, sehingga siswa dapat mencurahkan pikirannya melalui kegiatan secara sederhana sesuai
dengan kemampuan yang dimilikinya.
Anak pada usia sekolah dasar merupakan individu yang sedang mengalami proses
pertumbuhan dan perkembangan yang sangat luar biasa. Pada masa ini, anak mengalami
pematangan fungsi-fungsi fisik dan psikisnya yang siap merespons rangsangan yang
diberikan oleh lingkungan. Masa ini merupakan yang tepat untuk meletakkan asar pertama
dalam mengembangkan kemampuan afektif, kognitif, dan psikomotoriknya secara optimal.
Kecenderungan anak pada masa ini sangat aktif dalam melakukan berbagai kegiatan.
Keaktifannya dalam bergerak akan meningkatkan perkembangan motoriknya. Perkembangan
motorik merupakan proses memperoleh keterampilan dan pola yang dapat dilakukan anak.
Terdapat dua macam keterampilan motorik pada anak yaitu:
1. Keterampilan motorik kasar, diperlukan pada anak untuk mengendalikan seluruh gerak
tubuhnya sehingga anak mampu untuk melakukan gerak, seperti: berlari, berjalan, melompat.
2. Keterampilan motorik halus, merupakan kegiatan yang menggunakan bagian kecil dari
tubuh terutama tangan. Ini memerlukan kecepatan dan kemampuan menggerakkannya,
seperti menulis, dan menempel.
Berkaitan dengan perkembangan motorik, pembelajaran SBK mampu menjadi media
untuk membangun perkembangan tersebut khususnya perkembangan motorik kasar. Dalam
mengembangkan motorik kasar dibutuhkan keterampilan mengingat dan memahami, serta
memerlukan kesempatan untuk melakukan latihan-latihan.
Dalam proses pembelajaran, guru memiliki peran yang sangat penting terhadap
perkembangan kepribadian dan intelektual siswa. Guru memberikan bantuan, petunjuk,
bimbingan, pujian, dan perbaikan yang dibutuhkan siswa. Dengan kata lain, kedudukan guru
ialah sebagai fasilitator untuk menciptakan lingkungan yang merangsang kreativitas dengan
baik agar siswa memiliki kebebasan dalam menyalurkan pikiran dan perasaan serta
imajinasinya, sehingga siswa mampu menjadi pribadi yang mandiri.
F. PEMBELAJARAN SBK DALAM KURIKULUM TINGKAT SATUAN
PENDIDIKAN
Kurikulum dapat dikatakan sebagai a plan for learning, yaitu suatu rencana atau
program pembelajaran yang harus dipelajari oleh anak-anak. Kurikulum merupakan acuan
pokok yang perlu dipegang oleh para pelaksana pendidikan, dalam hal ini guru.
Menurut Ralph Taylior, dikatakan bahwa kurikulum adalah seluruh pengalaman
belajar yang direncanakan dan diarahkan Oleh sekolah untuk mencapai tujuan
167
pendidikannya. Dalam pengertian ini, dijelaskan bahwa kurikulum diartikan segala kegiatan
belajar yang telah direncanakan untuk mencapai tujuan pendidikan.
Kurikulum dikembangkan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pernbelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu yang meliputi tujuan pendidikan nasional serta
kesesuaian dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta
didik. Oleh karena itu, kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk penyesuaian program
pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.
Kurikulum yang dipakai di Indonesia saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan yang lebih dikenal dengan sebutan KTSP. KTSP ini mulai diberlakukan
dilndonesia sejak tahun ajaran 2006/2007, yang merupakan hasil penyempurnaan dari
kurikulum 2004 (Kurikulum.Berbasis Kompetensi/KBK) di dalamnya lebih menekankan
pada standar isi dan standar kompetensi lulusan.
Secara umum, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dapat diartikan sebagai
kurikulum operasional yang disu§un dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan.
KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan
kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan dan silabus.
Kelebihan dari KTSP itu sendiri yaitu alokasi waktu pada kegiatan pengembangan
diri siswa. Siswa tidak terus-menerus mengenal teori, tetapi diajak untuk terlibat dalam
sebuah proses pengalaman belajar.
Pendidikan Seni Budaya dan Keterampilan rnèrupakan salah satu pelajaran yang
wajib diajarkan di sekolah dasar menurut KTSP. SBK yang terdiri dari empat bagian besar,
yaitu seni tari, seni musik, seni dan keterampilan merupakan mata pelajara yang di dalamnya
terkandung muatan nilai humaniora yang sangat berguna untuk merangsang kreativitas
berpikir bagi peserta didik untuk semua cabang disiplin ilmu.
Di dalam KTSP dijelaskan bahwa pendidikan SBK merupakan sarana untuk
mengembangkan kreativitas anak. Tujuan dari pendidikan SBK bukan untuk membina anak-
anak menjadi seniman, melainkan untuk mendidik menjadi kreatif. Seni merupakan aktivitas
permainan. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa seni dapat digunakan sebagai alat
pendidikan. Melalui permainan dalam pendidikan SBK anak memiliki keleluasan untuk
mengembangkan kreativitasnya. Dalam kurikulum dijelaskan bahwa aspek penting yang
perlu diperhatikan dalam seni budaya, yaitu kesungguhan, kepekaan, daya produksi,
kesadaran berkelompok, dan daya cipta.
168
G. KOMPETENSI GURU PENDIDIKAN SENI BUDAYA DAN KETERAMPILAN
Keberadaan guru dalam proses pembelajaran masih tetap memegang peranan yang
sangat penting. Dalam proses pembelajran guru bertugas dan bertanggung jawab dalam
merencanakan dan melaksanakan pengajaran di sekolah. Kegiatan belajar mengajar
sebaiknya lebih berorientasi pada kebutuhan siswa dan peranan guru, yaitu sebagai
pembimbing. pemimpin, dan memberikan fasilitas belajar bagi siswa untuk mencapai tujuan.
Pembelajaran Seni Budaya dan keterampilan sering di katakan mudah. Anggapan
guru pada umumnya pelaksanaan pendidikan seni hanya menggambar, bernyanyi, bergerak,
atau materi yang hanya disampaikan secara teori. Akibatnya kurang memberikan kontribusi
terhadap perkembangan kreativitas dan siawa cenderung pasif, siswa diposisikan sebagai
penerima materi, penerima informasi, dan meniru apa kata guru. Problem ini diperkuat
dengan adanya beberapa guru yang mengajarkan kesenian bukan berlatar belakang dari
pendidikan seni. Hal ini dapat menyebabkan garu yang terkesan memaksakan diri mengajar
pelajaran seni padahal guru tersebut tidak memiliki kompetensi bidang seni yang tampaknya
akan meracuni pendidikan seni di masa yang akan datang
Pendidikan di sekolah (formal) berbeda dengan pendidikan di luar sekolah
(nonformal), karena pada pembelajaran sesi budaya di sekolah guru dituntut untuk
mengarahkan proses pembelajaran seni budaya yang berpengaruh pada perubahan sikap dan
perilaku siswa serta penanaman makna dan nilai-nila seni yang terkandung di dalamnya.
Pembelajaran seni hute di sekolah mengharapkan siswa mengalami sebuah proses
pembelajaran yang aktif, kritis, dan kreatif. Adapun pendidikan seni di luar sekolah,
pendidikan yang disediakan hanya tertuls pada pengolahan psikomotorik siswa dan
menghasilkan siswa untuk terampil dalam berkesenian tanpa mengalami proses pembelajaran
yang aktif, kritis, dan kreatif
Untuk mewujudkannya, maka diperlukan seorang guru yang memiliki kompetensi
yang optimal, karena guru merupakan kunci keberhasilan suatu proses pendidikan Menurut
Hamalik (2002: 38), guru yang dinilal berkompeten secara profesional apabila memiliki
kriteria, sebagai berikut
1. Guru tersebut mampu mengembangkan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya
2. Guru tersebut mampu melaksanakan peran-peranannya secara berhasil
3. Guru tersebut mampu bekerja dalam usaha mencapai tujuan pendidikan (tujuan
instruksional) sekolah
4. Guru tersebut mampu melaksanakan peranannya dalam proses mengajar dan belajar
dalam kelas.
169
Menurut Surya (2004) dalam Djumiran (2008:3.4), “kompetensi adalah
seperangkat penguasaan kemampuan yang harus ada dalam diri guru agar dapat
mewujudkan penampilan unjuk kerja sebagai guru secara tepat.” Kompetensi yang harus
dimiliki guru pendidikan seni budaya di antaranya kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi sosial, dan kompetensi profesional yang diperoleh melalui
pendidikan profesi guru seni budaya. Selain itu hal yang perlu dimiliki oleh seorang guru
pendidikan seni budaya adalah sebuah inovasi dalam belajar mengajar untuk mencapai tujuan
pendidikan. Seorang guru seni budaya tidak hanya terampil dalam seni saja, tetapi juga
memberikan sebuah perubahan terhadap pembelajaran seni yang dilakukan melalui kegiatan
pembelajaran yang membangun kreativitas
Guru pendidikan seni budaya harus berupaya menemukan motivasi-motivasi dalam
pelaksanaan pembelajaran seni. Usaha yang inovatif dilakukan guru seni dalam proses pelajar
yang aktif di sekolah yaitu guru lebih berinteraktif dalam menuang kan gagasan-gagasan baru
yang dapat memicu kreativitas, menata letak kelas, memfasilitasi diskusi, dan yang terpenting
yaitu bagaimana menyampaikan materi yang akan diajarkan kepada peserta didik dengan
suasana kelas yang menyenangkan Bukan hanya itu saja guru pendidikan seni budaya harus
bisa memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkreativitas sesuai dengan
kemampuannya
Peranan guru dalam penerapan pendidikan seni ini dianggap sebagai komponen
utama, selain peran siswa serta komponen pengajaran lainnya Peran guru dituntut untuk lebih
kreatif, dalam arti kreativitas seorang guru dalam penerapan pendidikan seni adalah
bagaimana seorang guru harus pandai memilih bahan atau materi pembelajaran, metode yang
sesuai dengan kebutuhan materi pembelajaran yang dipilih, serta kebutuhan peserta didik.
170
DAFTAR PUSTAKA
Anam, Mohammad Syamsul, dkk. TEORI BELAJAR BEHAVIORISTIK DAN
IMPLIKASINYA DALAM PEMBELAJARAN. Universitas Negeri Malang, diakses
pada,https://cdngbelajar.simpkb.id/s3/p3k/Pedagogi/Artikel/TEORI_BELAJAR_BEH
AVIORISTIK_DAN_IMPLIKAS.pdf.
Anonim. “BAB II Landasan Teori”. http://eprints.umm.ac.id/35592/3/jiptummpp-gdl
fungkyheri-49802-3-babii.pdf. ( diakses pada tanggal 30 Agustus 2021)
Anonim. “Resume Teori Belajar Konstruktivisme” .http://whendikz.blogspot.com /2013/11/
resume-teori-belajar
Anonim. 2017. “Makalah Pembelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar”. http://sule-
epol.blogspot.com/2017/08/makalah-pembelajaran-bahasa-indonesia.html. Diakses
pada tanggal 27 Oktober 2021.
Anonim. 2016. “Pengertian dan Tujuan Bahasa Indonesia menurut para
ahli”. https://pengertianahlidaninfo.blogspot.com/2016/09/pengertian-dan-tujuan-
bahasa- indonesia.html. Diakses pada tanggal 27 Oktober 2021.
Berk.Laura E (2003) : Child Development. Allyn and Bacon,Boston.diajarkan.
Brow, Admin. 2020. Teori Pembelajaran Menurut Edwin Ray Guthrie, Kajian Lengkap,
diakses pada https://www.rangkumanmakalah.com/teori-pembelajaran-menurut-
edwin-ray-guthrie/, pada 31 Agustus 2021.
Dinairah, S. (2017). Makalah Model Pembelajaran Triffinger. Diakses melalui laman
http://repository.unpas.ac.id/29795/2/BAB%20II.pdf pada tanggal 18 Oktober 2021.
elvin L,Siberman,2014(active LEARNING,Bandung,Nuansa Cendekia)56 20 Ibid
Fadli. 2010. Teori Belajar Behavioristik John Watson (1878 – 1958), diakses pada
https://fadlibae.wordpress.com/2010/03/24/teori-belajar-behavioristik-john-watson-
1878-1958/, pada 31 Agustus 2021.
Firliani, Nur Ibad, dkk. 2019. TEORI THRONDIKE DAN IMPLIKASINYA DALAM
PEMBELAJARAN MATEMATIKA. Universitas Majalengka, diakses pada
file:///C:/Users/Acer/Downloads/118-Article%20Text-232-1-10-20191029.pdf.
Gage, N.L., & Berliner, D. 1979. Educational Psychology. Second Edition, Chicago: Rand
Mc. Nally] Bell Gredler, E. Margaret. 1991. Belajar dan Membelajarkan. Jakarta: CV.
Rajawali Moll, L. C.
Idayoce. “Teori Belajar Konstruktivisme”. http://idayoce.blogspot.com/2016/07/teori belajar-
konstruktivisme.html#. (diakses pada tanggal 30 Agustus 2021)
Jakarta: Prenadamedia Group.
konstruktivisme.html. (Diakses pada tanggal 30 agustus 2021)
Lefudin. 2017.Belajar dan Pembelajaran:Model Pembelajaran, Strategi Pembelajaran,
Pendekatan Pembelajaran, dan Metode Pembelajaran. Yogyakarta. CV. Deepublish
Publisher.
Max Darsono,Belajar dan Pembelajaran,2000(IKIP Semarang Press),315
171
Mulyana, Aina. 2020. “ Teori Belajar Konstruktivis”.
Nurhasanah, S., & Sobandi, A (2016). Minat belajar sebagai determinan hasil belajar siswa.
Jjurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran (JPManper), 1(1), 128-135
Nurmayanti, Wuri. (2017, Maret 28). Makalah Prinsip-Prinsip Pembelajaran. Diakses
melalui laman http://wurinurmayanti.blogspot.com/2017/03/makalah-prinsip-prinsip-
pembelajaran.html pada tanggal 18 Oktober 2021.
Panjaitan, A. H., & Surya, E. (2017). Creative Thinking (Berpikir Kreatif) Dalam
Pembelajaran Matematika. ABA Journal, 102(4).
Penguasaan materi pembelajaran, manajemen dan komitmen ...(http://journal2.um.ac.id ) ›
jinotep › article › down
Pitutur. (2021, Januari 18). Penguasaan materi pembelajaran. Diakses melalui laman
https://www.pitutur.web.id/2021/01/penguasaan-materi-pelajaran.html pada tanggal
16 Oktober 2021.
Pribadi, Benny A. 2009. “Pendekatan Konstruktivis dalam Kegiatan Pembelajaran”.
http://repository.ut.ac.id/7275/1/L0022-18.pdf. (Diakses pada tanggal 30 Agustus
2021)
Saddoen,Arifin. 2021. https://moondoggiesmusic.com/pengertian-kreatif/#gsc.tab=0
Sahroni.2020. “Menakar Perbedaan, Kelebihan Dan Kekurangan Teori Belajar
Santrock, John.W (2004) : Child Development. McGraw-Hill, Boston.
Saputra, Mashindra Prisma. 2015. “Langkah-Langkah Pendekatan Konstruktivisme”.
https://kelaspakpris.blogspot.com/2015/11/langkah-langkah-pendekatan.html.
(diakses pada tanggal 30 Agustus 2021)
Sereliciouz . 2021. “ Teori Belajar Konstruktivisme – Pengertian, Keunggulan, Contoh”.
https://www.quipper.com/id/blog/info-guru/teori-belajar konstruktivisme/. (diakses
pada tanggal 30 Agustus 2021)
Sereliciouz. 2021. Teori Belajar Behavioristik - Pengertian, Prinsip, Ciri-Ciri, Contoh,
diakses pada https://www.quipper.com/id/blog/info-guru/teori-belajar-
behavioristik/amp/, pada 31 Agustus 2021.
Slamet,Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya 2003(Jakarta,Rineka cipta),275
Ibid,276
Sudjana,metode dan tehnik pembebelajalaran partisifasif,2021(bandung,Falah),327
Suparlan. 2019. “Teori Konstruktivisme Dalam Pembelajaran”.
https://ejournal.stitpn.ac.id/index.php/islamika/article/download/208/170/. (diakses
pada tanggal 30 Agustus 2021)
Surya, Mohamad Teori-teori konseling, Bandung: CV Pustaka Bani Quraisy, 2003.
Susanto, A. Teori BELAJAR & PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR EDISI KEDUA.
Jakarta, Prenadamedia Group (Divisi Kencana).
Susanto, Ahmad. 2019. “Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar Edisi Kedua”.
172
Ulfa, Andi Yurni. 2016.Psikologi Pendidikan. Sulawesi Selatan.Aksara Timur.
Usman,M.Uzer,Menjadi Guru Profesional2006(PT.Remaja Rosda,Bandung).134
173