tersedia ruang dan waktu bagi peserta didik belajar secara aktif dalam mencapai
kompetensi.
2. Pembelajaran terpadu agar kompetensi yang dirumuskan dalam kompetensi dasar
dan standar kompetensi tercapai secara utuh. Aspek kompetensi yang terdiri dari
sikap, pengetahuan, dan keterampilan terintegrasi menjadi satu kesatuan.
3. Pembelajaran dilakukan dengan sudut pandang adanya keunikan individual setiap
siswa. Siswa memiliki karakteristik, potensi, dan kecepatan belajar yang beragam.
Oleh karena itu, dalam kelas dengan jumlah siswa tertentu, guru perlu memberikan
layanan individual agar dapat mengenal dan mengembangkan siswanya.
4. Pembelajaran dilakukan secara bertahap dan terus-menerus menerapkan prinsip
pembelajaran tuntas (mastery learning) sehingga mencapai ketuntasan yang
ditetapkan. Siswa yang belum tuntas diberikan layanan remedial, sedangkan yang
sudah tuntas diberikan layana pengayaan atau melanjutkan pada kompetensi
berikutnya.
5. Pembelajaran dihadapkan pada situasi pemecahan masalah, sehingga siswa menjadi
pembelajar yang kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah yang dihadapi.
Oleh karena itu, guru perlu mendesain pembelajaran yang berkaitan dengan
permasalahan kehidupan atau konteks kehidupan siswa dan lingkungan.
6. Pembelajaran dilakukan dengan multistrategi dan multimedia sehingga memberikan
pengalaman belajar yang beragam bagi peserta didik.
7. Peran guru sebagai fasilitator, motivator, dan narasumber.
Jadi, metode pembelajaran IPS yang dikembangkan hendaknya memerhatikan
karakteristik siswa yang memberikan ruang kepada siswa untuk dapat secara terbuka
menganalisis dan menjelaskan nilai-nilai yang berhubungan dengan masyarakat,
memutuskan tindakan, dan mengambil tindakan dengan keputusan yang reflektif.
D. TEMA-TEMA PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR
IPS merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan di sekolah mulai dari sekolah
dasar sampai sekolah menengah dengan menyajikan materi yang mengkaji seperangkat
peristiwa,fakta,konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu-isu sosial.
Secara garis besar, tema- tema pendidikan IPS di sekolah dasar dapat diklasifikasikan
menjadi 3 bagian besar, yang masing-masing memiliki tujuan yang berbeda, yaitu :
1. Pendidikan IPS sebagai pendidikan nilai ( value education ) , yakni :
- Mendidikkan nilai- nilai yang baik, yakni merupakan norma-norma keluarga dan
masyarakat
96
- Memberikan klasifikasi nilai-nilai yang sudah dimiliki siswa
- Nilai-nilai inti atau nilai utama ( core values ) seperti menghormati hak-hak
perorangan, kesetaraan, etos kerja, dan martabat manusia ( the dignity of man and
work , sebagai upaya membangun kelas yang demokratis.
2. Pendidikan IPS sebagai pendidikan multikultural ( multicultural education ), yakni :
- Mendidik siswa bahwa perbedaan itu wajar
- Menghormati perbedaan etnik, budaya, agama, yang menjadikan kekayaan budaya
bangsa
- Persamaan dan keadilan dalam perlakuan terhadap kelompok etnik atau minoritas
3. Pendidikan IPS sebagai pendidikan Global ( global education ), yakni :
- Mendidik siswa akan kebhinekaan bangsa, budaya, dan perbedaan di dunia
- Menanamkan kesadaran ketergantungan antarbangsa
- Menanamkan kesadaran semakin terbukanya komunikasi dan transportasi antar
bangsa di dunia
- Mengurangi kemiskinan, kebodohan, perusakan lingkungan
Ruang lingkup materi pelajaran IPS di sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah yang
tercantum dalam kurikulum, Menurut Depdiknas ( 2006 ), sebagai berikut :
1. Madrasah,tempat, dan lingkungan.
2. Waktu, keberlanjutan, dan perubahan.
3. Sistem sosial dan budaya.
4. Perilaku ekonomi dan kesejahteraan.
E. PEMBELAJARAN IPS DALAM STRUKTUR KURIKULUM
Standar Kompetensi Lulusan (SKL) pada jenjang pendikan dasar bertujuan untuk
meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan
untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. SKL pada pendidikan sekolah
dasar untuk IPS, sesuai petunjuk dari Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23
Tahun 2006, sebagai berikut:
1. Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya.
2. Menghargai keragaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi di
lingkungan sekitarnya.
3.Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif.
4. Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif dengan bimbingan guru
97
5. Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-
hari.
6. Menunjukkan gejala alam dan sosial di lingkungan sekitarnya.
7. Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
8. Menunjukkan kecintaan dan kebanggaan terhadap bangsa, negara, dan Tanah Air
Indonesia.
9. Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman, dan memanfaatkan waktu
luang.
Dari berbagai strandar kelulusan tersebut di atas dapat dipahami bahwa program
pendidikan IPS bertujuan untuk menciptakan lulusan atau siswa yang memiliki sikap,
etika, kepribadian, serta pengetahuan dan keterampilan yang paripurna, yang tidak
hanya terampil tangannya saja, tetapi juga lembut hatinya, dan cerdas otaknya.
98
BAB 10
PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN ALAM SEKOLAH DASAR
A. Hakikat Ilmu Pengetahuan Alam
Ilmu pengetahuan alam,yang sering disebut juga dengan istilah pendidikan
sains,disingkat menjadi IPA. IPA merupakan salah satu mata pembelajaran pokok dalam
kurikulum pendidikan di Indonesia,termasuk pada jenjang sekolah dasar.Mata pelajaran IPA
merupakan mata pelajaran yang selama ini dianggap sulit oleh sebagian besar peserta
didik,mulai dari jenjang sekolah dasar sampai sekolah menengah.Anggapan sebagian besar
peserta didik yang menyatakan sulit adalah benar terbukti dari hasil perolehan Ujian Akhir
Sekolah(UAS) yang dilaporkan oleh Depdiknas masih sangat jauh dari standar yang
diharapkan.Ironisnya,justru semakin tinggi jenjang pendidikan,maka perolehan rata-rata nilai
UAS pendidikan IPA ini menjadi semakin rendah.
Salah satu nasalah yang dihadapi dunia pendidikan saat ini adalah masalah lemahnya
pelaksanaan proses pembelajaran yang diterapkan guru di sekolah.Proses Pembelajaran yang
terjadi selama ini kurang mampu mengembangkan kemampuan berpikir pesera didik.
Pelaksanaan proses pembelajaran yang berlangsung di kelas hanya diarahkan pada
kemampuan siswa untuk menghapal informasi,otak siswa dipaksa hanya untuk mengingat
dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diperoleh
untuk menghubungkan dengan situasi dalam kebhidupan sehari-hari.
Kondisi ini juga menimpa pada pembelajaran IPA,yang hanya memperlihatkan bahwa
selama ini proses pembelajaran sains di sekolah dasar masih banyak yang dilaksanakan
secara konvensional.Para guru belum sepenuhnya melaksanakan pembelajaran secara aktif
dan kreatif dalam melibatkansiswa serta belum menggunakan berbagai pendekatan/strategi
pembelajaran yang bervariasi berdasarkan karakter materi pelajaran.
Dalam proses belajar mengajar,kebanyakan guru hanya terpaku pada buku teks sebagai
satu-satunya sumber belajar mengajar.Hal lain yang menjadi kelemahan dalam pembelajaran
IPA adalah masalah teknik penilaian pembelajaran yang tidak akurat dan menyeluruh.Proses
penilaian yang dilakukan selama ini semata-mata hanya menekankan pada penguasaan
konsep yanf dijaring dengan tes tulis objektif dan subjektif sebagai alat ukurnya.Dengan cara
penilaian seperti ini,berarti pengujian yang dilakukan oleh guru baru mengukur penguasaan
materi saj dan itu pun hanya meliputi ranah kognitif tingkat rendah-rendah.Keadaan semacam
ini merupakan salah satu indikasi adanya kelemahan pembelajaran di sekolah.
99
Penyebab utama kelemahan pembelajaran tersebut adalah karena kebanyakan guru tidak
melakukan kegiatan pembelajaran dengan memfokuskan pada pengembangan keterampilan
proses sains anak.Pada akhirnya,keadaan semacam ini yang menyebabkan kegiatan
pembelajaran dilakukan hanya terpusat pada penyampaian materi dalam buku teks
saja.Keadaan seperti ini juga mendorong siswa untuk berusaha menghafal pada setiap kali
diadakan tes atau ulangan harianatau tes hasil belajar,baik ulangan tengah
semester(UTS),maupun ulangan akhir semester(UAS).
Padahal,untuk anak jenjang sekolah dasar,menurut Marjono(1996),hal yang harus
diutamakan adalah bagaimana mengembangkan ras ingin tahu dan daya berpikir kritis
mereka terhadap suatu masalah.
Sains atau IPA adalah usaha manusia memahami alam semesta melalui pemgamatan
yang tepat pada sasaran,serta menggunakan prosedur,dan dijelaskan dengan penalaran
sehingga mendapatkan suatu kesimpulan.Dalam hal ini diharapkan mengetahui dan mengerti
hakikat pembelajaran IPA,sehingga dalam pembelajaram IPA guru tidak kesulitan dalam
mendesain dan melaksanakan pembelajaran dalam mendesain dan melaksanakan
pembelajaran.Siswa yang melakukan pembelajaran juga tidak mendapat kesulitan dalam
memahami konsep sains.
Hakikat pembelajaran sains yang didefinikan sebagai ilmu tentang alam yang dalam
bahasa Indonesia disebut dengan ilmu pengetahuan,dapat diklasifikasikan menjadi tiga
bagian,yaitu : ilmu pengetahuan alam sebagai produk,proses,dan sikap.Dari ketiga komponen
IPA ini,Sutrisno(2007) menambahkan bahwa IPA juga sebagai prosedur dan IPA sebagai
teknologi.Akan tetapi,penambahan ini bersifat pengembangan prosedur dari
proses,sedangkan teknologi dari aplikasi konsep dan prinsip-prinsip IPA sebagai produk.
Sikap dalam pembelajaran IPA yang dimaksud ialah sikap ilmiah.Jadi,dengan
pembelajaran IPA di sekolah dasar diharapkan dapat menumbuhkan sikap ilmiah seperti
seseorang ilmuwan.Adapun jenis-jenis sikap yang dimaksud,yaitu : sikap ingin tshu,percaya
diri,jujur,tidak tergesa-gesa,dan objektif terhadap fakta.
Pertama,ilmu pengetahuan alam sebagai produk,yaitu kumpulan hasil penelitian yang
telah ilmuwan lakukan dan sudah membentuk konsep yang telah dikaji sebagai kegiatan
empiris dan kegiatan analitis.Bentuk IPA sebagai produk antara lain : fakta-
fakta,prinsip,hukum,dan teori-teori IPA.Jadi ada beberapa istilah yang dapat diambil dari
pengertian IPA sebagai produk,yaitu :
100
1. Fakta dalam IPA,pernyataan-pernyataan tentang benda-benda yang benar-benar
ada,atau peristiwa-peristiwa yang benar terjadi dan mudah dikonfirmasi secara
objektif.
2. Konsep IPA merupakan suatu ide yang mempersatukan fakta-fakta IPA.Komsep
merupakan penghubung antara fakta-fakta yang ada hubungannya.
3. Prinsip IPA yaitu generalisasi tentang hubungan di antara konsep-konsep IPA.
4. Hukum-hukum alam (IPA),prinsip-prinsip yang sudah diterima meskipu juga
bersifat tentatif(sementra,akan tetapi karena mengalami pengujian yang berulang-
ulang maka hokum alam bersifat kekal selama belum ada pembuktian yang lebih
akurat dan logis.
5. Teori Ilmiah merupakan kerangka yang lebih luas dari fakta-fakta,konsep,prinsip
yang saling berhubungan.
Kedua, ilmu pengetahuan alam sebagai proses,yaitu untuk menggali dan
memahami pengetahuan tentang alam.Karena IPA merupakan kumpulan fakta dan
konsep,maka IPA membutuhkan proses dalam menemukan fakta dan teori yang
digeneralisasi oleh ilmuwan.Adapun proses dalam memahami IPA disebut dengan
keterampilan proses sains(science process skills) adalah keterampilan yang dilakukan oleh
para ilmuwan,seperti mengamati,mengukur,mengklasifikasi,dan menyimpulkan.
Mengamati (observasi) adalah mengumpulkan semua informasi dengan
pancarindra. Adapun penarikan kesimpulan (inferensi) adalah kesimpulan setelah melakukan
observasi dan berdasarkan pengetahuan yang dimiliki sebelumnya.Disamping kedua
komponen ini sebagai keterampilan proses sains masih ada komponen lainnya seperti
investigasi dan eksperimen.Akan tetapi,yang menjadi dasar keterampilan proses ialah
merumuskan hipotesis dan mengeinterpretasikan data melalui prosedur-prosedur tertrntu
sepeti melakukan pengukuran dan percobaan.
Ketiga, ilmu pengetahuan alam sebagai sikap.Sikap ilmiah harus dikembangkan dalam
pembelajaran sains.Hal ini sesuai dengan sikap yang harus dimiliki oleh seorang ilmuwan
dalam melakukan penelitian dan mengomunikasikan hasil penelitiannya.Menurut
Sulistyorini(2006),ada Sembilan aspek yang dikembangkan dari sikap ilmiah dala
pembelajran sains,yaitu : sikap ingin tahu,imgin mendapat sesuatu yang baru,sikap kerja
sama,tidak putus asa,tidak berprasangka,mawas diri,bertanggung jawab,dan kedisipilinan
diri.
Sikap ilmiah itu dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan siswa dalam pembelajaran IPA
pada sat melakukan diskusi,percobaan,simulasi,dan kegiatan proyek lapangan.Pengembangan
101
sikap ilmiah di sekolah dasar memiliki kesesuaian dengan tingkat perekembangan
kognitifnya.Menurut Piaget,anak usia sekolah dasar yang berkisar 6 atau7 tahun sampai 11
atau 12 tahun masuk dalam kategori fase operasional konkret.Fase yang menunjukkan adanya
sikap keingintahunya cukup tinggi untuk mengenali lingkungannya.Dalam kaitannya dengan
tujuan pendidikan sains,maka pada anak sekolah dasar siswa harus diberikan pengalaman
serta kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan bersikap terhadap
alam,sehingga dapat mengetahui rahasia dan gejala-gejala alam.
Lebih lanjut, IPA juga memiliki karakteristik sebagai dasar untuk
memahaminya.Karakteristik tersebut menurut Jacobson & Bergman(1980),meliputi :
1. IPA merupakan kumpulan konsep,prinsip,hokum,dan teori.
2. Proses ilmiah dapat berupa fisik dan mental,serta mencermati fenomena
alam,termasuk juga penerapannya.
3. Sikap keteguhan hati,kengintahuan,dan ketekunan dalam dalam menyingkap
rahasia alam.
4. IPA tidak dapat membuktikan semua akan tetapi hanya sebagian atau beberapa
saja.
Keberanian IPA bersifat subjektif dan bukan kebenaran yang bersifat objektif. Dari uraian
hakikat IPA di atas,dapat dipahami bahwa pembelajaran sains merupakan pembelajaran
berdasarkan pada prinsip-prinsip,proses yang mana dapat menumbuhkan sikap ilmiah siswa
terhadap konsep-konsep IPA.Oleh karena itu,pembelajaran IPA disekolah dasar dilakukan
penyelidikan sederhana dan bukan hapalan terhadap kumpulan konsep IPA.Dengan kegiatan-
kegiatan tersebut pembelajaran IPA akan mendapat pengalaman langsung melalui
pengamatan,diskusi,dan penyelidikan sederhana.Pembelajaran yang demikian dapat
menumbuhkan sikap ilmiah siswa yang diindikasikan dengan merumuskan masalah,menarik
kesimpulan,sehingga mampu berpikir kritis melalui pembelajaran IPA.
B. Tujuan Pembelajaran IPA di Sekolah Dasar
Pembelajaran sains di sekolah dasar dikenal dengan pembelajaran ilmu pengetahuan
alam (IPA). Konsep dasar Ipa di sekolah dasar merupakan konsep yang masih terpadu
seperti mata pelajaran kimia, biologi, dan fisika.
Adapun tujuan pembelajaran sains disekolah dasar dalam Badan Nasional standar
Pendidikan (BSNP,2006) dimaksud untuk:
102
1. Memperoleh keyakinan terhadap kebesaran Tuhan yang Maha Esa berdasarkan,
keberdaan, keindahan, keteraturan alam ciptaanya.
2. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep IPA yang bermanfaat
dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Mengembangkan rasa ingin tahu, sikap positif dan kesadaran tentang adanya
hubungan yang saling mempengaruhi antara IPA, lingkungan, teknologi, dan
masyarakat.
4. Mengembangkan keterampilan proses, untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan
masalah, dan membuat keputusan.
5. Meningkatkan kesadaran untuk berperan serta dalam memelihara, menjaga, dan
melestarikan lingkungan alam.
6. Meningkatkan kesadaran untuk menghargai alam dan segala keteraturanya sebagai
salah satu ciptaan Tuhan.
7. Memperoleh bekal pengetahuan,konsep, dan keterampilan IPA sebagai dasar untuk
melanjutkan pendidikan ke SMP.
C. Pembelajaran IPA Berbasis INKUIRI
Dalam kurikulum 2004 dan Standar isi BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan)
mencantumkan inkuiri sebagai proses maupun sebagai produk yang diterapkan secara
terintegrasi di kelas.
Secara umum, inkuiri merupakan proses yang bervariasi dalam meliputi kegiatan-
kegiatan mengobservasi, merumuskan pertayaan relevan, mengevaluasi buku dan sumber-
sumber informasi lain secara kritis,merecanakan penyelidikan atau investigasi, me-review
apa yang telah diketahui ,melaksanakan percobaan atau eksperimen dengan menggunakan
alat untuk memperoleh data,menganalisis dan menginterprestasi data, serta membuat
prediksi dan mengomunikasikan hasilnya.
Tujuan Utama pembelajaran berbasis inkuiri menurut National Research Council
(NRC,2000), sebagai berikut:
1. Mengembangkan keinginan dan motivasi siswa untuk mempelajari prinsip dan
konsep sains.
2. Mengembangkan keterampilan Ilmiah siswa sehingga mampu berkerja seperti
layaknya seorang ilmuwan
3. Membiasakan siswa berkerja keras untuk memperoleh pengetahuan
103
Tujuan di atas dapat dicapai dengan mengikuti sintaks yang ada dalam pembelajaran
inkuiri. Joyce & Well (1996) mengemukan bahwa sintaks inkuiri sains terdiri atas 4 fase
yaitu:
A). Fase investigasi dan pengenalan pada siswa
B). Pengelompokan masalah oleh siswa
C). Indentifikasi masalah dalam penyelidikan
D). Memberikan kemungkinan mengatasi kesulitan/ masalah
Pembelajaran inkuiri dapat dimulai dengan memberikan pertayaan dan cara
bagaimana menjawab pertayaan tersebut. Melalui pertayaan tersebut siswa dapat dilatih
melakukan observasi terbuka, berhipotesis, bereksperimen yang akhirnya dapat menarik
suatu kesimpulan.
Pembelajaran dengan metode inkuiri memiliki lima komponen yanh umum yaitu:
bertaya, kertelibatan siswa, kerja sama, untuk kerja( perfome task), dan sumber-sumber
yang bervariasi.
Pembelajaran inkuiri yang masyarakat keterlibatan siswa aktif terbukti dapat
meningkatkan prestasi belajar dan sikap anak terhadap sains. Metode ini dapat membantu
perkembangan, anatara lain: literasi sains dan pemahaman proses-proses ilmiah,
pengetahuan perbedeharaan kata (vocal bulary), dan pemahaman konsep, berpikir kritis,
dan bersikap positif. Inkuiri merupakan tingkah laku yang terlibat dalam usaha manusia
untuk menjelaskan secara rasioanal fenomena-fenomena yang memancaing rasa ingin
tahu.
Berdasarkan komponen-komponen dalam proses inkuiri yang meliputi topic
masalah, sumner masalah atau pertayaan bahan, prosdur atau rancangan kegiatan,
pengumpulan analisis serta pengambilan kesimpulan. Dari komponen-komponen ini,
Bonnsteter (2000) mengklasifikasi tipe inkuiri ini kedalam 4 tingkat yaitu: 1) Praktikum
(traditional hands-on); 2) pengalaman sains terstruktur (structured science experiences);
3) inkuiri siswa mandiri (student directed inquiry); dan 4) penelitian siswa (Student
research).
Keterampilan inkuiri berkembang atas dasar kemampuan siswa dalam menemukan
dan merumuskan pertayaan-pertayaan yang bersifat ilmiah dan dapat mengarah pada
kegiatan penyelidikan untuk memperoleh jawaban atas pertayaan. Dalam proses
pembelajaran melalui kegiatan inkuiri siswa perlu dimotivasi untuk mengembangkan
kerterampilan-keterampilan inkuiri atau keterampilan proses sains sehingga pada
104
akhirnya dapat mengahasilkan sikap Ilmiah, seperti menghargai gagasan baru,berpikir
kritis, jujur dan kreatif.
Menurut Nasional Science Educational Stamdard (NRC,1996) perancangan pengajaran
inkuiri dapat dilakukan dengan cara, sebagi berikut :
1. Mengembangkan kerangka kerja jangka pamjang (setahun) dan tujuan-tujuan
jangka pendek bagi siswanya.
2. Memilih kontens sains, mengadptasi dan merancang kurikulum yang memenuhi
minat, prmgrtahuan,pemahaman, kemampuan, dan pengalam siswa.
3. Memilih startegi mengajar dan penilaian yang mendukung pengembangan
pemahaman siswa dan memberikan damapak rigan terhadap masyarakat
pemelajaran sains
4. Berkerja sama sebagai kolega di dalam disiplin, juga lintas disiplin dan jenjang
kelas.
Tahap pembelajaran inkuiri pada mata pelajaran sains atau IPA disekolah dasar dapat
dikelompokan dalam lima tahap, yaitu:
1. Adanya kegiatan merumuskan pertayaan yang dapat diteliti melalui percobaan
sederhana.
2. Adanya perumusan hipotesis atau membuat prediksi.
3. Merecanakan dan melaksanakan suatu percobaan sederhana.
4. Mengomunikasikan hasil pengamatan dan menggunkan data seta peralatan yang
digunakan dalam percobaan sederhana.
5. Menyimpulkan hasil pengamatan dan eksperimen yang telah dilakukan.
Tahap kegiatan diatas merupakan kegiatan pembelajaran inkuiri yang disedrhanakan
brdasarkan sintaks yang ada dalam pembelajaran inkuiri.
Sintaks dapat dijadikan sebagai aspek evaluasi dari pembelajaran tersebut. Aspek-aspek
dapat dilihat dari soal-soal yang diberikan guru sebagai bentuk evaluasi. Tujuannya adalah
mengukur nilai kemampuan seeorang siswa serta menjadi rujukan untuk pengembangan
pembelajaran selanjutnya.
Adapun bentuk soal yang yang berbasis inkuiri dapat berupa, seerti dikemukakan oleh
Hodgson& Scanlon (1985),sebagai berikut:
1. Tes untuk kerja (performance task), dengan ketentuan:
a. Tes dilaksanakan dengan melakukan investigasi;
105
b. Tes dilaksanakan dengan melakukan observasi;
2. Tes tulis, dengan ketentuan-ketentuan yang meliputi
a. Merecanakan suatu investigasi;
b. Menjelaskan suatu informasi dengan mengaplikasikan konsep sains melalui data
pengamatan atau data hasil investigasi;
c. Melalui hiptesis
d. Menggunakan tabel, grafik atau chart dalam menjelaskan konsep sains;dan
e. Membuat kesimpulan sebagai hasil pengamatan yang dapat membangun
pemahaman siswa terhadap konsep-konsep sains.
Ditinjau dari aspek inkuiri, kriteria pembuatan soal-soal diatas merupakan langkah-
langkah yang terdapat dalam langkah-langkah yang terdapat dalam tahap pembelajaran
inkuiri. Evaluasi yang diberikan akan sesuai dengan konsep pembelajaran yang telah
dilaksanakan serta sesuai dengan hakikat sains. Sebaiknya evaluasi dilakukan atau
direcanakan dalam pembelajaran.
D. Tugas Utama Guru Dalam Pembelajaran IPA Di Sekolah Dasar
Pada umumnya, tugas-tugas guru sekolah dasar, baik yang mengajar IPA ataupun sains
maupun pelajaran lainnya adalah sama. Ditinjau dari pengertian guru menurut Undang-
Undang Guru dan Dosen No. 14 Tahun 2005 adalah pendidik professional dengan tugas
utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi
peserta didik, baik pada jenjang pendidikan usia dini, jalur pendidikan formal, pendidikan
dasar, dan pendidikan menengah serta di perguruan tinggi.
Jelas bahwa tugas utama guru sebagaimana yang dikemukakan dalam undang-undang
guru tersebut adalah bahwa guru mempunyai tugas sebagai pendidik, pengajar, pembimbing,
pengarah, pelatih, penilai, dan pemberi evaluasi kepada peserta didik, baik yang mengajar di
tingkat taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar, maupun sekolah menengah. Tugas ini
sejalan dengan definisi guru yang dikemukakan oleh Hasbullah (2006), bahwa guru adalah
orang yang berfungsi sebagai pembimbing untuk menumbuhkan aktivitas peserta didik dan
sekaligus sebagai pemegang tanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan. Guru tidak
hanya mengajar dan memberikan informasi saja pada siswa, akan tetapi guru juga
mempunyai tugas melatih, membimbing, serta mengarahkan siswa kepada materi pelajaran
sehingga siswa mampu belajar dan bersikap sebagai manusia yang terdidik secara akademis.
106
Guru sebagai profesi pendidik diharapkan memiliki kemampuan dalam mengembangkan
dirinya guna memenuhi tugas-tugas di lembaga pendidikan. Guru diminta untuk memenuhi
beberapa kompetensi dalam melaksanakan tugasnya. Ada dua unsur pokok dalam kecakapan
atau kompetensi mengajar yang harus dimiliki oleh guru, yaitu: 1) menguasai bidang
pengetahuan; dan 2) menguasai keterampilan pedagosis atau kepiawaian dalam mengajar.
Pengembangan pengertian kompetensi disini, yaitu kompetensi pedagogis, professional,
pribadi, dan sosial. Lebih luas lagi bagaimana yang dijelaskan dalam Undang-Undang Sistem
Pendidikan Nasional (UUSPN) No.20 Tahun 2003, ada sepuluh kompetensi yang harus
dimiliki oleh guru dalam mengajar dan bersikap, yaitu:
1. Memiliki kepribadian ideal sebagai guru
2. Penguasaan landasan kependidikan
3. Menguasai bahan pembelajaran
4. Kemampuan menyusun program pembelajaran
5. Kemampuan melaksanakan program pembelajaran
6. Kemapuan menilai hasil dan proses belajar mengajar
7. Kemampuan menyelenggarakan program bimbingan
8. Kemampuan menyelenggarakan administrasi sekolah
9. Kemampuan bekerja sama dengan sejawat dan masyarakat
10. Kemampuan menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan
pembelajaran.
Selain itu, guru memiliki tugas, peran, dan fungsi dalam pembelajaran di sekolah,
maka guru juga mempunyai tanggung jawab yang besar dalam menyelenggarakan proses
pembelajaran ini. Tanggung jawab guru tersebut menurut Wasliman (2007), meliputi:
1. Menguasai cara belajar mengajar yang efektif
2. Mampu membuat satuan pembelajaran (satpel)
3. Mampu dan memahami kurikulum dengan baik
4. Mampu mengajar di kelas
5. Menjadi model bagi peserta didik
6. Mampu membuat dan melaksanakan evaluasi, dll.
Selain itu, guru juga memiliki tanggung jawab sebagai ilmuan. Guru sebagai
ilmuan bertanggung jawab dan turut serta dalam memajukan ilmu pengetahuan, terutama
yang telah terjadi spesialisasinya, dengan melaksanakan penelitian dan pengembangan.
107
Uraian diatas menunjukkan kompetensi guru secara umum, sedangkan secara
khusus dalam pembelajaran IPA, guru dapat melakukannya melalui pratikum sederhana
dengan pembelajaran berbasi inkuiri, maka guru memiliki tugas-tugas yang lebih
spesifik, seperti memfasilitasi siswa untuk dapat melakukan pengamatan dan diskusi
dimana pembelajaran ini membutuhkan peralatan dan bahan-bahan dalam
pembelajarannya. Dengan demikian, guru juga harus mengetahui prosedur, konsep, dan
keterampilan dalam pembelajaran siswa. Karena tidak ada perbedaan tahapan
pembelajaran IPA dengan pembelajaran mata pelajaran lainnya, maka tugas-tugas guru
di dalam pembelajaran dapat meliputi: menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP), melaksankaan kegiatan belajar mengajar (KBM) dan melaksanakan evaluasi.
108
BAB 11
PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR
A. PENGERTIAN MATEMATIKA
Matematika merupakan salah satu bidang studi yang ada pada semua jenjang pendidikan,
mulai dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Bahkan matematika diajarkan di
taman kanak-kanak secara informal.
Belajar matematika merupakan suatu syarat cukup untuk melanjutkan pendidikan
kejenjang berikutnya. Karena dengan belajar matematika, kita akan bernalar secara kritis,
kratif dan aktif. Matematika merupakan ide-ide abstrak yang berisi simbol-simbol, maka
konsep- konsep matematika harus dipahami terlebih dahulu sebelum memanipulasi simbol-
simbol itu.
Pada usia siswa sekolah dasar (7-8 tahun hingga 12-12 tahun), menurut teori kognitif
Piaget termasuk pada tahap operasional konkret. Berdasarkan perkembangan kognitif ini,
maka anak usia sekolah dasar mengalalmi kesulitan dalam memahami matematika yang
bersifat abstrak. Karena keabstrakannya matematika relative tidak mudah untuk dipahami
oleh siswa sekolah dasar pada umumnya.
Bidang studi matematika merupakan salah satu komponen pendidikan dasar dalam
bidang- bidang pengajaran. Bidang studi matematika ini diperlukan untuk proses perhitungan
dan proses berpikir yang sangat dibutuhkan orang dalam menyelesaikan berbagai masalah.
Dalam kurikulum Depdiknas 2004 disebutkan bahwa standar kompetensi matematika di
sekolah Dasar yang harus dimiliki siswa setelah melakukan kegiatan pembelajaran bukanlah
penguasaan materi, namun yang diperlukan ialah dapat memahami dunia sekitar, mampu
bersaing, dan berhasil dalam kehidupan. Standar kompetensi yang dirumuskan dalam
kurikulum ini mencakup pemahaman konsep matematika komunikasi matematis, koneksi
matematis, penalaran dan pemecahan masalah, serta sikap dan minat yang positif terhadap
matematika.
Kata matematika berasal dari bahas Latin, manthanein atau mathema yang berarti
"belajar atau hal yang dipelajari," sedang dalam bahasa Belanda, matematika disebut
wiskunde atau ilmu Pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran (Depdiknas,
2001:7). Matematika memiliki bahasa dan aturan yang terdefinisikan dengan baik, penalaran
yang jelas dan sistematis, dan struktur atau ketertarikan antar konsep yang kuat.
Matematika merupakan salah satu disiplin ilmu yang dapat meningkatkan kemampuan
109
berpikir dan berargumentasi, memberikan kontribusi dalam dunia kerja serta memberikan
dukungan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kebutuhan akan aplikasi
matematika saat ini dan masa depan tidak hanya untuk keperluan sehari-hari, tetapi terutama
dalam dunia kerja, dan mendukung perkembangan ilmu pengetahuan. Oleh karena itu,
matematika sebagai ilmu dasar perlu dikuasai dengan baik oleh siswa, terutama sejak usia
sekolah dasar.
Namun dalam kenyataan yang ada sekarang, penguasaan matematika selalu menjadi
permasalahan besar. Hal ini terbukti dari hasil ujian nasional (UN) yang diselenggarakan
memperlihatkan rendahnya persentase kelulusan siswa dalam ujian tersebut. Pada umumnya,
yang menjadu faktor penyebab ketidaklukusan siswa dalam ujian nasional ini adalah
rendahnya kemampuan siswa dalam materi pembelajaran matematika.
B. PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Pembelajaran merupakan komunikasi dua arah, mengajar dilakukan oleh pihak guru
sebagai pendidik, sedangkan belajar dilakukan oleh peserta didik. Pembelajaran didalamnya
mengandung makna belajar dan mengajar, atau merupakan kegiatan belajar mengajar. Belajar
tertuju pada apa yang harus dilakukan oleh seseorang sebagai subjek yang menerima
pelajaran, sedangkan mengajar berorientasi pada apa yang harus dilakukan guru sebagai
pemeberi pelajaran. Kedua aspek ini akan berkolaborasi secara terpadu menjadi suatu
kegiatan pada saat terjadi interaksi antara guru dengan siswa, serta antara siswa dengan siswa
di dalam pembelajaran matematika sedang berlangsung.
Pembelajaran matematika adalah suatu proses belajar mengajar yang dibangun oleh guru
untuk mengembangkan kreativitas berpikir siswa yang dapat meningkatkan kemampuan
berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkontribusi pengetahuan baru
sebagai upaya meningkatkan penguasa yang baik terhadap materi matematika.
Pembelajaran matematika merupakan suatu proses belajar mengajar yang mengandung dua
jenis kegiatan yang tidak terpisahkan. Kegiatan tersebut adalah belajar dan mengajar. Kedu
aspek ini akan berkolaborasi secara terpadu menjadi suatu kegiatan pada saat terjadi interaksi
antara siswa dengan siswa, dan antara siswa dengan lingkungan di saat pembelajaran
matematika sedang berlangsung.
Dalam proses pembelajaran matematika, baik guru maupun siswa bersama-sama menjadi
pelaku terlaksananya tujuan pembelajaran. Tujuan pembelajaran ini akan mencapai hasil
yang maksimal apabila pembelajaran berjalan secara efektif. Pembelajaran yang efektif
adalah pembelajaran yang mampu melibatkan seluruh siswa secara aktif. Kualitas
110
pembelajaran dapat dilihat dari segi proses dan dari segi hasil. Pertama, dari segi proses
pembelajaran sebagian besar peserta didik terlibat secara aktif, baik fisik, mental, maupun
sosial dalam proses pembelajaran, di samping menunjukkan semangat belajar yang tinggi,
dan percaya pada diri sendiri. Kedua, dari segi hasil, pembelajaran dikatakan efektif apabila
terjadi perubahan tingkah laku ke arah postif, dan tercapainya tujuan pembelajaran yang telah
ditetapkan.
Menurut Wragg (1997), pembelajaran yang efektif adalah pembelajaran yang
memudahkan siswa untuk mempelajari sesuatu yang bermanfaat, seperti fakta, keterampilan,
nilai, konsep, dan bagaimana hidup serasi dengan sesama, atau suatu hasil belajar yang
diinginkan. Proses pembelajaran matematika bukan hanya transfer ilmu dari guru ke siswa,
melainkan suatu proses kegiatan, yaitu terjadi interaksi antara guru dengan siswa serta antara
siswa dengan siswa, dan antara siswa dengan lingkungannya. Pembelajaran matematika
bukan hanya sebagai transfer of knowledge, yang mengandung makna bahwa merupakan
objek dari belajar, namun hendaknya siswa menjadi subjek dalam belajar. Sehingga dapat
dikatakan bahwa seseorang dikatakan belajar matematika apabila pada diri seseorang tersebut
terjadi suatu kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan tingkah laku yang berkaitan
dengan matematika.
Menurut Hans Freundental dalam Marsigit (2008), matematika merupakan aktivitas
insani (human activities) dan harus dikaitkan dengan realitas. Dengan demikian, matematika
merupakan cara berpikir logis yang dipresentasikan dalam bilangan, ruang, dan bentuk
dengan aturan-aturan yang telah ada yang tak lepas dari aktivitas insani tersebut. Pada
hakikatnya, matematika tidak terlepas dari kehidupan sehari-hari, dalam arti matematika
memiliki
kegunaan yang praktis dalam kehidupan sehari-hari. Semua masalah kehidupan yang
membutuhkan pemecahan secara cermat dan teliti mau tidak mau harus berpaling kepada
matematika.
C. TUJUAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH DASAR
Menurut Soedjadi (1998: 40) tujuan pendidikan matematika yang dimaksudkan adalah
tujuan secara umum mengapa matematika diajarkan di berbagai jenjang
sekolah. Matematika sekolah dimaksudkan sebagai bagian matematika yang diberikan
untuk dipelajari siswa SD, SLTP, dan SLTA. Berdasarkan GBPP matematika
Mengemukakan ada tujuan umum dan tujuan khusus yaitu;
1) Tujuan umumnya yaitu;
111
a. Mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehi-
dupan dan dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemi- kiran
secara logis, rasional kritis, cermat, jujur, efektif dan efisien.
b. Mempersiapkan siswa agar dapat menggunakan matematika dan pola pikir matemati- ka
dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu pengetahuan.
2) Tujuan khususnya yaitu;
a. Menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan berhitung (menggunakan bilangan)
sebagai alat dalam kehidupan sehari-hari.
b. Menumbuhkan kemampuan siswa, yang dapat dialihgunakan melalui kegiatan
matematika
c. Mengembangkan pengetahuan dasar matematika sebagai bekal belajar lebih lanjut di
Sekolah Lanjutan Tingkat pertama
d. Membentuk sikap logis, kritis, cermat, kreatif dan disiplin.
Dengan mengkaji secara mendalam tujuan tersebut, terlihat bahwa tujuan pembelajaran
matematika memuat nilai-nilai matematika yang bersifat formal dan material. Seba-gaimana
dikatakan Soedjadi (1998: 45) bahwa tujuan pembelajaran matematika di setiap jenjang
pendidikan digolongkan menjadi (1) tujuan yang bersifat formal, yaitu tujuan yang
menekankan pada penataan nalar siswa serta pembentukan pribadinya; (2) tujuan yang
bersifat material, yaitu tujuan yang menekankan pada penerapan matematika baik dalam
matematika itu sendiri maupun di luar matematika.
D. PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIKA
Istilah pendekatan dapat dipahami sebagai suatu jalan, cara atau kebijaksanaan yang
ditempuh oleh guru atau siswa dalam pencapaian tujuan pengajaran dilihat dari sudut
bagaimana proses pengajaran atau materi pengajaran itu, umum atau khusus dikelola. Jadi,
pendekatan pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap
proses pembelajaran, yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang
sifatnya masih sangat umum, di dalamnya mewadahi, menginspirasi, menguatkan, dan
melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoretis tertentu. Pembelajaran dapat diartikan
sebagai kegiatan rekayasa perilaku untuk merangsang, memelihara, meningkatkan, terjadinya
proses berpikir pembelajar. Dengan demikian, pendekatan pembela- jaran merupakan suatu
cara atau titik tolak terhadap proses pengelolaan dalam pembelajaran.
Bidang studi matematika merupakan bidang studi yang berguna dan membantu dalam
menyelesaikan berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan
112
hitung menghitung atau yang berkaitan dengan urusan angka-angka berbagai macam
masalah, yang memerlukan suatu keterampilan dan kemampuan untuk memecahkannya. Oleh
sebab itu, siswa sebagai salah satu komponen dalam pendidikan harus selalu dilatih dan
dibiasakan berpikir mandiri untuk memecahkan masalah. Karena pemecahan masalah, selain
menuntut siswa untuk berpikir juga merupakan alat utama untuk melakukan atau bekerja
dalam matematika. Melalui pelajaran matematika juga diharapkan dapat ditumbuhkan
kemampuan- kemampuan yang lebih bermanfaat untuk mengatasi masalah-masalah yang
diperkirakan akan dihadapi peserta didik di masa depan.
Pemecahan masalah (problem solving) merupakan komponen yang sangat penting dalam
matematika. Secara umum, dapat dijelaskan bahwa pemecahan masalah merupakan proses
menerapkan pengetahuan (knowledge) yang telah diperoleh siswa sebelumnya ke dalam
situasi yang baru. Pemecahan masalah juga merupakan aktivitas yang sangat penting dalam
pembelajaran matematika, karena tujuan belajar yang ingin dicapai dalam pemecahan
masalah berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran matematika yang menggunakan pendekatan maşalah adalah pendekatan
yang bersifat umum yang lebih mengutamakan kepada proses daripada hasil. Proses meru-
pakan faktor utama dalam pembelajaran pemecahan masalah, bukannya produk sebagaimana
dijumpai pada pembelajaran konvensional. Pengertian proses dalam hal ini ialah ketika siswa
belajar matematika ada proses reinvention (menemu- kan kembali), artinya prosedur, aturan
yang harus dipelajari tidaklah disediakan dan diajarkan oleh guru dan siswa siap
menampungnya, tetapi siswa harus berusaha menemukannya.
Pemecahan masalah dalam pembelajaran matematika ini merupakan model pembelajaran
yang harus terus dikembangkan dan ditingkatkan penerapannya di sekolah-sekolah, termasuk
di sekolah dasar. Dengan pemecahan masalah matematika ini siswa melakukan kegiatan yang
dapat mendorong berkem- bangnya pemahaman dan penghayatan siswa terhadap prinsip,
nilai, dan proses matematika. Hal ini akan membuka jalan bagi tumbuhnya daya nalar,
berpikir logis, sistematis, kritis, dan kreatif. Dengan menggunakan model pemecahan
masalah ini dapat mengembangkan proses berpikir tingkat tinggi, seperti: proses visualisasi,
asosiasi, abstraksi manipulasi, penalaran, analisis, sintesis, dan generalisasi yang masing-
masing perlu dikelola secara terkoordinasi. Kemampuan berpikir dan kete- rampilan yang
telah dimiliki anak dapat digunakan dalam proses pemecahan masalah matematis, dapat
ditransfer ke dalam berbagai bidang kehidupan. Pemecahan masalah matematis dapat
membantu memahami informasi secara lebih baik, de- ngan demikian bahwa pemecahan
masalah merupakan suatu proses untuk mengatasi kesulitan yang ditemui untuk mencapai
113
suatu tujuan yang ingin dicapai.
Menurut Killen (1998), pemecahan masalah sebagai strategi pembelajaran adalah suatu
teknik di mana masalah digunakan secara langsung sebagai alat untuk membantu siswa
memahami materi pelajaran yang sedang mereka pelajari. Dengan pendekatan pemecahan
masalah ini siswa dihadapkan pada berbagai masalah yang dijadikan bahan pembelajaran
secara langsung agar siswa menjadi peka dan tanggap terhadap semua persoalan yang
dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-harinya.
Adapun menurut Djamarah (2002), pemecahan masalah merupakan suatu metode yang
merupakan suatu metode berpikir, sebab dalam pemecahan masalah dapat digunakan metode-
metode lainnya yang dimulai dengan pencarian data sampai kepada penarikan kesimpulan.
Karena itu, pembelajaran yang bernuansa pemecahan masalah harus dirancang sedemikian
rupa sehingga mampu merangsang siswa untuk berpikir dan mendorong menggunakan
pikirannya secara sadar untuk memecahkan masalah.
Dilihat dari aspek kegunaan atau fungsinya, model pembelajaran atau pendekatan
pemecahan masalah ini dapat dikelompokkan ke dalam tiga bagian, yaitu: pemecahan ma-
salah sebagai tujuan, proses, dan keterampilan dasar. Pertama, pemecahan masalah sebagai
tujuan, digunakan ketika peme- cahan masalah dianggap sebagai tujuan secara umum dalam
pemecahan masalah, yang tidak tergantung dari masalah khusus, prosedur atau metode, dan
isi matematika, namun yang paling utama adalah pembelajaran ditekankan pada bagaimana
memecahkan masalah. Jadi, dalam interpretasi ini pemecahan masalah bebas dari soal,
prosedur, metode, atau isu khusus yang menjadi pertimbangan utama adalah belajar
bagaimana cara menyelesaikan masalah yang merupakan alasan utama untuk belajar
matematika. Kedua, pemecahan masalah sebagai proses digunakan ser bagai proses yang
muncul dari interpretasinya sebagai proses dinamika dan terus-menerus. Yang ditekankan
dalam pemecahan masalah sebagai proses ini, yaitu: metode, prosedur, strategi, dan heuristis
yang digunakan siswa dalam pemecahan masalah. Dengan kata lain, pemecahan masalah
sebagai proses ini dimaksudkan sebagai pemecahan yang menerapkan pengetahuan yang
telah diperoleh sebelumnya ke dalam situasi baru dan tak dikenal. Yang menjadi
pertimbangan utama dalam hal ini, yaitu: metode, prosedur, strategi, dan heuristis yang siswa
gunakan dalam memecahkan masalah. Bagian-bagian proses pemecahan masalah ini
sangatlah penting dan menjadi fokus dari kurikulum matematika. Ketiga, pemecahan masalah
sebagai keterampilan dasar, yakni menyangkut keterampilan minimal yang harus dimiliki
siswa dalam matematika, dan keterampilan minimal yang di- perlukan seseorang agar dapat
menjalankan fungsinya dalam masyarakat.
114
Adapun jika dilihat dari jenisnya, pendekatan pemecahan masalah juga dapat
dikelompokkan ke dalam tiga jenis, yang menurut Bay (2000) terdiri atas: mengajar untuk
pemecahan masalah, mengajar tentang pemecahan masalah, dan mengajar melalui
pemecahan masalah.
Pertama, mengajar untuk pemecahan masalah (teaching for problem solving) adalah
model pembelajaran yang ditujukan untuk mengajarkan konsep terlebih dahulu, kemudian
siswa menerapkan pengetahuannya pada situasi pemecahan masalah. Pendekatan ini pada
umumnya terdapat dalam buku teks, di mana soal latihan diikuti oleh soal cerita dengan
penerapan konsep yang sama.
Kedua, mengajar tentang pemecahan masalah (teaching about problem solving) adalah
model pembelajaran yang dimaksudkan untuk mempelajari bagaimana menerapkan strategi
pemecahan masalah, tidak perlu mengajarkan konten matematikanya. Pendekatan ini adalah
mengajarkan strategi atau heuristis untuk menyelesaikan masalah. Salah satu cara yang
populer yaitu pemecahan masalah dengan mengajukan empat langkah pemecahan masalah,
yaitu:
1) Memahami masalah
2) Merencanakan masalah
3) Melaksanakan perhitungan
4) Memeriksa kembali proses dan hasil perhitungan
Ketiga, mengajar melalui pemecahan masalah (teaching via problem solving), yaitu
pembelajaran ditempuh melalui masalah yang konkret dan perlahan-lahan menuju abstrak.
Pengajaran ini bertujuan mengajarkan konten matematika dalam suatu lingkungan
pemecahan masalah yang berorientasi inkuiri.
Dalam kajian ini, penulis memfokuskan pada jenis pemecahan masalah yang ketiga, yaitu
mengajar melalui pemecahan masalah, yang dalam hal ini dimaksudkan sebagai
pembelajaran matematika melalui pemecahan masalah. Di mana dalam pembelajaran melalui
pemecahan masalah ini, guru harus dapat membangkitkan minat siswa untuk terlibat dalam
pemecahan masalah yang diajukan. Guru membimbing siswa secara bertahap agar siswa
dapat menemukan solusi masalah yang diajukan. Menurut Reys (1980), sedikitnya ada tiga
hal yang harus diperhatikan dalam pembelajaran melalui pemecahan masalah agar siswa
berminat terhadap masalah yang sedang dihadapinya, yaitu:
1) Memberikan pangalaman langsung aktif, dan berkesinambungan dalam menyelesaikan
soal beragam
2) Menciptakan hubungan yang positif antara minat dan keberhasilan siswa
115
3) Menciptakan hubungan akrab antara siswa, permasalahan, perilaku pemecahan masalah,
dan suasana kelas.
Yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan pembelajaran melalui pemecahan masalah
ini ialah siswa mampu memahami proses dan prosedurnya, sehingga siswa terampil
menentukan dan mengidentifikasi kondisi dan data yang relevan. Dengan adanya kemampuan
siswa dalam memahami proses ini juga siswa mampu menggeneralisasikan masalah,
merumuskan, dan menghasilkan keterampilan yang telah dimiliki. Akhirnya, siswa akan
dapat belajar secara mandiri mengenai pemecahan masalah.
Menurut Killen (1998), pentingnya penerapan pendekatan pemecahan masalah dalam
pembelajaran ini, sebagai berikut:
1) Dapat mengembangkan jawahan siswa yang bermakna menuju pemahanan yang lebih
baik mengenai suatu materi
2) Memberikan tantangan untuk siswa, dan mereka dapat memperoleh kepuasan besar
ketika menemukan penge tahuan baru untuk diri mereka sendiri
3) Melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran
4) Membantu siswa mentransfer pengetahuan mereka kepada masalah-masalah dunia nyata
5) Membantu siswa bertanggung jawab untuk membentuk dan mengarahkan pembelajaran
mereka sendiri
6) Mengembangkan skill-skill berpikir kritis siswa dan kemampuan beradaptasi dengan
situasi-situasi pembelajaran baru
7) Meningkatkan interaksi siswa dan kerja tim, oleh karena itu meningkatkan skill-skill
interpersonal siswa
Selain itu, pentingnya penerapan pendekatan pemecahan masalah dalam pelajaran
matematika ini, karena pemecahan masalah berguna untuk kepentingan matematika itu
sendiri dan berguna untuk memecahkan persoalan-persoalan lain dalam masyarakat. Dengan
memanfaatkan model pembelajaran yang menekankan pemecahan masalah, maka siswa
menjadi lebih kritis, analitis dalam mengambil keputusan di dalam kehidupan. Dengan kata
lain, pemecahan masalah matematika yang diajarkan pada siswa hasilnya adalah siswa
memiliki pemahaman yang baik tentang suatu masalah, mampu mengomunikasikan ide-ide
dengan baik, mampu mengambil keputusan, memiliki keterampilan tentang bagaimana
mengumpulkan informasi yang relevan, menganalisis dan menyadari betapa perlunya
meneliti kembali hasil yang telah diperoleh.
Dalam pembelajaran pemecahan masalah, guru harus dapat membangkitkan minat siswa
untuk terlibat dalam pemecahan masalah yang diajukan. Guru membimbing siswa secara
116
bertahap agar siswa dapat menemukan solusi masalah yang diajukan. Dalam pelaksanaan
pembelajaran pemecahan masalah siswa diharapkan dapat memahami proses dan
prosedurnya, sehingga siswa terampil menentukan dan mengindentifikasikan kondisi dan data
yang relevan, generalisasi, merumuskan, dan mengorganisasikan keterampilan yang telah
dimiliki. Akhirnya, siswa akan dapat belajar secara mandiri mengenai pemecahan ma- salah.
Di dalam pembelajaran pemecahan masalah dibutuhkan suatu teknik-teknik, prosedur, dan
langkah- langkah (strategi) tertentu, sehingga siswa dapat memecahkan masalah dalam
tingkat kesulitan yang bervariasi.
Selanjutnya, Polya (1985: 5) menyebutkan ada empat langkah dalam pembelajaran
pemecahan masalah, yaitu:
1) Memahami masalah, langkah ini meliputi:
a. Apa yang diketahui, keterangan apa yang diberikan, atau bagaimana keterangan soal
b. Apakah keterangan yang diberikan cukup untuk mencari apa yang ditanyakan c.. Apakah
keterangan tersebut tidak cukup, atau keterangan itu berlebihan
d. Dan buatlah gambar atau notasi yang sesuai.
2) Merencanakan penyelesaian, langkah ini terdiri atas:
a. Pernahkah ada soal yang serupa dalam bentuk lain
b. Rumus mana yang dapat digunakan dalam masalah ini
c. Perhatikan apa yang ditanyakan
d. Dapatkah hasil dan metode yang lalu digunakan di sini
3) Melalui perhitungan, langkah ini menekankan pada pelaksanaan rencana penyelesaian
yang meliputi:
a. Memeriksa setiap langkah apakah sudah benar atau belum
b. Bagaimana membuktikan bahwa langkah yang dipilih sudah benar
c. Melaksanakan perhitungan sesuai dengan rencana yang dibuat
4) Memeriksa kembali proses dan hasil. Langkah ini menekan-kan pada bagaimana cara
memeriksa kebenaran jawaban yang diperoleh, yang terdiri dari:
a. Dapatkah diperiksa kebenaran jawaban
b. Apatkah jawaban itu dicari dengan cara lain
c. Dapatkah jawaban atau cara tersebut digunakan untuk soal-soal lain
Dengan mengikuti langkah-langkah atau strategi dari Polya itu, berarti siswa akan
dituntut mulai dari pemecahan masalah, memikirkan cara pemecahannya, sampai siswa dapat
melaku- kan pemecahannya. Dengan demikian, strategi pemecahan masalah juga dapat
diartikan sebagai suatu cara atau prosedur pemecahan masalah yang langkah-langkahnya
117
dirancang untuk memudahkan siswa berpikir untuk menemukan pola pemecah- an yang tepat.
Karena itu, strategi pemecahan masalah dapat memengaruhi proses berpikir seseorang
dalam memperoleh ide-ide baru yang berguna untuk pemecahan masalah. Agar pembelajaran
pemecahan masalah ini mampu mem- bantu siswa dalam memahami konsep-konsep
matematika, menurut Djamarah dan Zain (2002: 105) ada tiga hal yang harus diperhatikan
oleh guru dalam menerapkan pembelajaran ini, yaitu:
1) Menentukan suatu masalah yang tingkat kesulitannya sesuai dengan tingkat berpikir
siswa, tingkat sekolah dan kelasnya serta pengetahuan yang telah dimiliki oleh siswa
2) Proses belajar mengajar dengan menggunakan metode ini sering membutuhkan waktu
yang cukup banyak, oleh sebab itu, guru harus membuat suatu desain pembelajaran sebaik
mungkin, sehingga tujuan dari kurikulum tetap tercapai dengan waktu yang disediakan
3) Harus mengubah kebiasaan siswa belajar dengan mende- ngarkan dan menerima
informasi dari guru menjadi belajar dengan banyak berpikir memecahkan masalah sendiri
atau kelompok
Dalam menerapkan pendekatan pemecahan masalah di dalam kelas, diharapkan kepada
guru membantu siswa dalam menumbuhkan semangat atau motivasi dalam memecahkan
masalah. Dalam hal ini, guru harus membimbing dan merasa yakin bahwa siswa sudah
memahami permasalahannya, jika belum atau tidak memahami permasalahannya maka minat
siswa akan hilang, membantu siswa untuk mengumpulkan materi guna menolong dan
menyusun rencana penyelesaian. Siswa juga diarahkan untuk dapat mengidentifikasi seluruh
syarat yang diketahui untuk membangun informasi yang didapat dan berusaha untuk
menciptakan iklim atau suasana yang kondusif dalam pemecahan masalah.
Kesimpulannya bahwa pendekatan pemecahan masalah dapat membantu siswa
merealisasikan pengetahuan yang telah mereka peroleh dan dapat diterapkan kepada situasi
baru, dan proses ini menuntun siswa untuk memperoleh pengetahuan baru. Dengan
menggunakan pendekatan atau model pembelajaran pemecahan masalah ini memungkinkan
siswa itu menjadi lebih kritis dan analitis dalam mengambil keputusan dalam kehidupan.
Selain itu, dengan menggunakan pendekatan pembelajaran ini mengajarkan siswa untuk
belajar berpikir (learning to think) atau belajar bernalar (learning to reason), yaitu berpikir
atau bernalar mengaplikasikan pengetahuan-pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya
untuk memecahkan masalah-masalah baru yang belum pernah dijumpai. Dengan
pembelajaran pemecahan masalah menghendaki siswa belajar secara aktif, bukannya guru
yang lebih aktif dalam menyajikan materi pelajaran. Belajar aktif dapat menumbuhkan sikaf
kreatif. Sikap kreatif yang dimaksud ialah sifat kreatif mencari sendiri, menemukan,
118
merumuskan, atau menyimpulkan sendiri.
E. PENDEKATAN MATEMATIKA REALISTIK
Pendekatan realistik merupakan suatu pendekatan atau cara pembelajaran dimana
mendekatkan siswa kepada hal yang bersifat nyata yaitu dengan memanfaatkan lingkungan
disekitar sebagai materi pembelajaran. Siswa dalam pendekatan realistik dituntun agar
terlibat secara aktif dalam pembelajaran yakni dalam memecahkan masalah matematika baik
secara individu maupun diskusi kelompok. Dalam pendekatan tersebut guru bersifat sebagai
fasilitator kegiatan pembelajaran karena pembelajaran realistik bertajuk situated learning
yaitu proses pembelajaran yang diarahkan kepada dunia nyata atau student center.
Dengan demikian Pendekatan Matematika Realistik merupakan suatu pendekatan
metodologi pembelajaran yang mengutamakan kenyataan dan lingkungan sebagai alat bantu
pembelajaran dimana mempunyai maksud kebermaknaan kepada siswa sehingga
pembelajaran dapat tercapai secara optimal.
Karakteristik Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Terdapat lima karakteristik
dalam pendekatan pembelajaran realistik yang dikemukakan oleh Gravemejer (Maulana, dkk.
2009) diantaranya sebagai berikut ini.
A. Phenomenological exploration or use contex.
Konteks merupakan suatu lingkungan keseharian peserta didik yang nyata. Dalam
matematika konteks ini tidak selalu diartikan konkret, melainkan dapat juga sesuatu yang
telah dipahami peserta didik atau dapat dibayangkan oleh peserta didik. Konteks juga tidak
selalu dihubungkan dengan pengalaman peserta didik.
Dalam proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran matematika
realistik, guru harus memanfaatkan pengetahuan awal peserta didik untuk memahami konsep-
konsep matematika dengan memberikan suatu permasalahan yang kontekstual.
B. The use models or bringing by vertical instrument.
Model atau gambar diarahkan untuk memberikan pemahaman terhadap peserta didik dari
model konkret atau nyata menuju ke model abstrak. Dalam proses menggunakan model ini,
peserta didik diharapkan dapat menemukan hubungan antara bagian-bagian masalah
kontekstual dan menyampaikannya ke dalam model matematika melalui bentuk skema,
rumusan, serta bentuk visual. Bentuk model ini bertujuan untuk menjembatani antara masalah
matematika yang kontekstual dengan matematika formal yang bersifat vertikal. Dari
karakteristik ini diharapkan peserta didik mampu mengembangkan kemampuan berpikir
logis, kritis, dapat merepresentasikan dan berkomunikasi dalam matematika.
C. The use of students own production and constructions of students contributions
119
Konstribusi yang besar pada proses belajar mengajar diharapkan dari konstribusi peserta
didik itu sendiri yang mengarahkan mereka dari metode informal kearah yang lebih formal
atau baku melalui bimbingan seorang guru. Strategi-strategi informal peserta didik berupa
skema, grafik, diagram, atau simbol-simbol dalam matematika serta prosedur pemecahan
masalah kontekstual sebagai sumber inspirasi dalam membangun pengetahuan matematika
formal diharapakan dapat berkembang ke arah yang positif.
D. The interactive character or teaching process or interactivity.
Interaksi antara peserta didik dengan peserta didik dan guru dengan peserta didik maupun
sebaliknya merupakan bagian penting dalam pendekatan matematika realistik. Bentuk
interaksi yang terjadi dalam pembelajaran diantaranya dapat berupa negoisasi secara
eksplisit, intervensi kooperatif, penjelasan, melalaui suatu kebenaran, setuju atau tidak setuju,
pertanyaan atau refleksi dan evaluasi sesama peserta didik dan guru.
E. Intertwining or various learning strand.
Konsep yang dipelajari peserta didik dengan prinsip belajar-mengajar matematika
realistik harus merupakan jalinan dengan konsep atau materi lain baik dalam matematika itu
sendiri maupun dengan yang lain, sehingga matematika bukanlah suatu pengetahuan yang
terpisah- pisah melainkan merupakan suatu ilmu pengetahuan yang utuh dan terpadu. Hal ini
dimaksudkan agar proses pemahaman peserta didik terhadap suatu konsep dapat dilakukan
secara bermakna dan holistik.
Prinsip-prinsip Pendekatan Pembelajaran Realistik Matematika
Menurut Suwangsih & Tiurlina (2006, hlm. 135) terdapat lima prinsip pembelajaran realistik
yang menjiwai setiap aktivitas pembelajaran matematika.
1) Didominasi oleh masalah-masalah dalam konteks, melayani dua hal yaitu sebagai sumber
dan sebagai terapan konsep matematika.
2) Perhatian diberikan pada pengembangan model-model, situasi, skema, dan simbol-
simbol.
3) Sumbangan dari siswa, sehingga siswa dapat membuat pembelajaran menjadi konstruktif
dan produktif, artinya siswa memproduksi dan mengkonstruksi sendiri (yang mungkin berupa
algoritma, rule, atau aturan), sehingga dapat membimbing para siswa dari level matematika
informal menuju matematika formal.
4) Interaktif sebagai karakteristik dari proses pembelajaran matematika.
5) Intertwining (membuat jalinan) antar topik atau antar pokok bahasan.
120
Tahapan Pendekatan Pembelajaran Matematika Realistik Menurut Gravemejer (Tarigan,
2006, hlm. 4), proses reinvensi berlangsung dalam empat tahap.
1) Tahap situasional, pengetahuan dan strategi yang bersifat situasional dan terbatas
digunakan dalam konteks situasi yang sedang dihadapi.
2) Tahap refrensial, model situasi dan strategi khusus yang digunakan untuk menjelaskan
situasi masalah yang sedang dihadapi.
3) Tahap umum, model dan strategi digunakan untuk menghadapi berbagai macam situasi
masalah yang mirip.
4) Tahap formal, prosedur dan notasi baku digunakan untuk memecahkan masalah
matematika.
F. KEMAMPUAN PEMAHAMAN MATEMATIS
Istilah pemahaman berasal dari akar kata “paham”, yang menurutk Kamus Besar Bahasa
Indonesia diartikan sebagai pengetahuan yang banyak, pendapat, aliran, dan mengerti dengan
benar. Adapun istilah pemahaman sendiri diartikan dengan proses, cara, perbuatan
memahami atau memahamkan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pemahaman
adalah suatu proses mental terjadinya adaptasi dan transformasi ilmu pengetahuan dimana
siswa mampu mengerti apa yang telah disampaikan oleh gurunya.
Pembelajaran yang mengarah pada upaya pemberian pemahaman pada siswa adalah
pembelajaran yang mengarahkan agar siswa memahami apa yang mereka pelajari, tahu
kapan, dimana, dan bagaimana menggunakannya, karena keefektifan pembelajaran sangat
ditentukan oleh ada tidaknya proses pemahaman atau memahami pengetahuan dan proses
mental yang dominan dalam proses memahami adalah dengan memikirkan (thinking). Selain
itu, pemerolehan pengetahuan dan proses memahami akan sangat terbantu, apabila siswa
dapat sekaligus melakukan sesuatu yang terkait dengan keduanya dengan mengerjakannya,
maka siswa akan menjadi lebih tahu dan lebih paham.
Untuk memahami sesuatu, menurut Bloom (Tea,2009) siswa harus melakukan lima tahapan
berikut, yaitu :
1. Receiving (menerima). Adalah kepekaan seseorang dalam menerima rangsangan
stimulus dari luar yang datang kepada dirinya dalam bentuk masalah, situasi, gejala dan lain-
lain.
2. Responding (membanding-bandingkan). Kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk
mengikut sertakan dirinya secara aktif dalam fenomena tertentu dan membuat reaksi
121
terhadapnya salah satu cara. Jenjang ini lebih tinggi daripada jenjang receiving
3. Valuing (menilai). Valuing adalah tingkat afektif yang lebih tinggi lagi daripada
receiving dan responding. Dalam kaitan proses belajar mengajar, peserta didik disini tidak
hanya mau menerima nilai yang diajarkan tetapi mereka telah berkemampuan untuk menilai
konsep atau fenomena, yaitu baik atau buruk. Bila suatu ajaran yang telah mampu mereka
nilai dan mampu untuk mengatakan “itu adalah baik”, maka ini berarti bahwa peserta didik
telah menjalani proses penilaian.
4. Organizing (diatur). Organization mengatur atau mengorganisasikan, artinya memper-
temukan perbedaan nilai sehingga terbentuk nilai baru yang universal, yang membawa
pada perbaikan umum. Mengatur atau mengorganisasikan merupakan pengembangan dari
nilai kedalam satu sistem organisasi, termasuk didalamnya hubungan satu nilai denagan nilai
lain., pemantapan dan perioritas nilai yang telah dimilikinya
5. Characterization (penataan nilai). Characterization by evalue or calue complex
karakterisasi dengan suatu nilai atau komplek nilai, yakni keterpaduan semua sistem nilai
yang telah dimiliki oleh seseorang, yang mempengaruhi pola kepribadian dan tingkah
lakunya. Disini proses internalisasi nilai telah menempati tempat tertinggi dalal suatu hirarki
nilai. Nilai itu telah tertanam secara konsisten pada sistemnya dan telah mempengaruhi
emosinya. Ini adalah merupakan tingkat efektif tertinggi, karena sikap batin peserta didik
telah benar-benar bijaksana
Untuk memahami suatu objek secara mendalam, menurut Sumarno (1987) sedikitnya
seseorang harus mengetahui lima aspek penting, yaitu :
1. Objek itu sendiri
2. Relasinya dengan objek lain yang sejenis
3. Relasinya dengan objek lain yang tidak sejenis
4. Relasi-dual dengan objek lainnya yang sejenis
5. Relasi dengan objek dalam teori lainnya
Adapun hal yang mempengaruhi terjadinya pemahaman adalah:
1. Sistematisasi sajian materi, karena materi akan masuk ke otak jika masuknya teratur
2. Kejelasan dari materi yang disajikan.
Pemahaman matematis adalah kemampuan menjelaskan suatu situasi dengan kata-kata yang
berbeda dan dapat menginterpretasikan atau menarik kesimpulan dari tabel, data, grafik, dan
sebagainya. Konsep-konsep dalam matematika terorganisasi secara sistematis, logis, dan
hierarkis dari yang paling sederhana ke yang paling kompleks. Dengan kata lain, pemahaman
dan penguasaan suatu materi merupakan persyaratan untuk menguasai materi atau konsep
122
selanjutnya.
Dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemahaman matematis adalah
kemampuan dalam mengenal, memahami, dan menerapkan konsep, prosedur, prinsip dan ide
matematika sebagai bentuk pernyataan hasil belajar.
Sebagai indikator bahwa siswa dikatakan paham terhadap konsep matematika, menurut
Salimi (2010) dapat dilihat dari kemampuan siswa dalam beberapa hal sebagai berikut:
1. Mendeinisikan konsep secara verbal dan tulisan
2. Membuat contohdan noncontoh penangkal
3. Mempresentasikan suatu konsep dengan model, diagram, dan simbol
4. Mengubah suatu bentuk representasi ke bentuk lain
5. Mengenal berbagai makna dari interpretasi konsep
6. Mengidentifikasi sifat-sifat suatu konsep dan mengenal syarat-syarat yang menentukan
suatu konsep
7. Membandingkan dan membedakan konsep-konsep.
Dilihat dari jenisnya, menurut Russefendi (1988), ada tiga macam pemahaman matematis,
yaitu:
1. Pengubahan (translation)
Pemahaman translasi digunakan untuk menyampaikan informasi dengan bahasa dan
bentuk yang lain dan menyangkut pemberian makna dari suatu informasi yang bervariasi.
2. Pemberan Arti (interpretation)
Interpolasi digunakan untuk menafsirkan maksud dari bacaan, tidak hanya dengan kata-
kata dan frasa, tetapi juga mencakup pemahaman suatu informasi dari sebuah ide.
3. Pembuatan Ekstrapolasi 9 (extrapolation)
Ekstrapolasi mencakup estimasi dan prediksi yang didasarkan pada sebuah pemikiran,
gambaran dari suatu informasi, juga mencakup pembuatan kesimpulan dengan konsekuensi
yang sesuai dengan informasi jenjang kognitif yang ketiga, yaitu penerapan yang
menggunakan suatu bahan yang sudah dipelajari kedalam situasi baru yaitu berupa ide, teori,
atau petunjuk teknis.
Adapun menurut Skemp dalam Sumarno (1987). Pemahaman matematis dapat dibedakan
menjadi dua jenis, yaitu :
1. Pemahaman Instrumental
Pemahaman instrumental dapat diartikan sebagai pemahaman konsep atau prinsip tanpa
kaitan dengan yang lainnya dan dapat menerapkan rumus dalam erhitungan sederhana. Dalam
hal ini. Hanya hafal rumus dan memahami urutan pengerjaan atau alogaritme.
123
2. Pemahaman Relasional
Pemahaman relasional termuat skema atau struktur yang dapat digunakan pada penyelesaian
masalah yang lebih luas, dapat mengaitkan suatu konsep atau prinsip dengan konsep lainnya
dan sifat pemakaiannyaleboh bermakna.
Pemahaman matematika yang perlu diterapkan kepada anak didik di sekolah dasar sebagai
pemahaman sejak dini sedikitnya meliputi:
1. Kemampuan merumuskan strategi penyelesaian
2. Menerapkan perhitungan sederhana
3. Menggunakan simbol untuk mempresentasikan konsep
4. Mengubah suatu bentuk ke bentuk lain yang berkaitan dengan pecahan.
Penerapan pemahaman matematis ini sangat penting untuk siswa dalam rangka belajar
mmatematika secara bermakna, tentunya para guru mengharapkan pemahaman yang dicapai
siswa tidak terbatas pada pemahaman instrumental, tetapi sampai kepada pemahaman
rasional. Menurut Ausabel (1986), belajar bermakna adalah bila informasi yang akan
dipelajari siswa disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki. Artinya, siswa dapat
mengaitkan antara pengetahuan yang dipunyai dengan keadaan lain sehingga belajar lebih
mengerti.
G. KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS
Komunikasi merupakan keterampilan yang sangat penting dalam kehidupan manusia,
yang terjadi pada setiap gerak langkah manusia. Manusia adalah makhluk sosial yang
tergantung satu sama lain dan mandiri serta saling terkait dengan orang lain di
lingkungannya. Satu- satunya alat untuk dapat berhubungan dengan orang lain di
lingkungannya ialah komunikasi, baik secara lisan maupun tulisan.
Komunikasi, secara umum dapat diartikan sebagai suatu cara untuk menyampaikan suatu
pesan ke penerima pesan untuk memberitahu, pendapat, atau perilaku baik langsung secara
lisan maupun tak langsung melalui media. Di dalam berkomunikasi tersebut harus dipikirkan
bagaimana caranya agar pesan yang disampaikan seseorang itu dapat dipahami oleh orang
lain. Untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi, orang dapat menyampaikan dengan
berbagai bahasa termasuk bahasa matematis.
Adapun komunikasi matematis dapat diartikan sebagai suatu peristiwa dialog atau saling
hubungan yang terjadi di lingkungan kelas, di mana terjadi pengalihan pesan, dan pesan yang
dialihkan berisikan tentang materi matematika yang dipelajari siswa, misalnya berupa
konsep, rumus, atau strategi penyelesaian suatu masalah. Pihak yang terlibat dalam peristiwa
124
komunikasi di lingkungan kelas yaitu guru dan siswa. Cara pengalihan pesannya dapat secara
lisan maupun tertulis.
Dalam proses pembelajaran akan selalu terjadi suatu peristiwa saling berhubungan atau
komunikasi antara pemberi pesan (guru) yang memiliki sejumlah unsur dan pesan yang ingin
disampaikan, serta cara menyampaikan pesan kepada siswa sebagai penerima pesan. Dalam
konteks pembelajaran matematika yang berpusat pada siswa, pemberi pesan tidak terbatas
oleh guru saja melainkan dapat dilakukan oleh siswa maupun media lain, sedangkan unsur
dan pesan yang dimaksud adalah konsep-konsep matematika, dan cara menyampaikan pesan
dapat dilakukan baik melalui lisan maupun tulisan.
Kemampuan komunikasi matematis menjadi penting ketika diskusi antarsiswa dilakukan,
di mana siswa diharapkan mampu menyatakan, menjelaskan, menggambarkan, mendengar,
menanyakan, dan bekerja sama sehingga dapat membawa siswa pada pemahaman yang
mendalam tentang matematika. Dalam hal ini, kemampuan komunikasi dipandang sebagai
kemampuan siswa mengomunikasikan matematika yang dipelajari sebagai isi pesan yang
harus disampaikan. Dengan siswa mengomunikasikan pengetahuan yang dimilikinya, maka
dapat terjadi renegosiasi respons antarsiswa, dan peran guru diharapkan hanya sebagai filter
dalam proses pembelajaran.
Selain itu, kemampuan komunikasi matematis itu juga penting dimiliki oleh setiap siswa
dengan beberapa alasan mendasar, yaitu: (1) kemampuan komunikasi matematis menjadi
kekuatan sentral bagi siswa dalam merumuskan konsep dan strategi; (2) kemampuan
komunikasi matematis sebagai modal keberhasilan bagi siswa terhadap pendekatan dan
penyelesaian dalam eksplorasi dan investigasi matematika; dan (3) kemampuan komunikasi
matematis sebagai wadah bagi siswa dalam berkomunikasi dengan temannya untuk
memperoleh informasi, berbagai pikiran.
Beberapa kriteria yang dipakai dalam melihat seberapa besar kemampuan siswa dalam
memiliki kemampuan matematis pada pembelajaran matematika adalah sebagaimana yang
dikemukakan oleh NCTM (1989), sebagai berikut:
1. Kemampuan mengekspresikan ide-ide matematika melalui lisan, tulisan, dan
mendemonstrasikannya serta menggambarkannya secara visual.
2. Kemampuan memahami, menginterpretasikan, dan mengevaluasi ide-ide matematika
baik secara lisan maupun dalam bentuk visual lainnya.
3. Kemampuan menggunakan istilah, notasi matematika dan struktur-strukturnya untuk
menyajikan ide, menggambarkan hubungan dan model situasi.
Adapun menurut Sumarno (1987), kemampuan komunikasi matematis siswa dapat dilihat
125
dari kemampuan mereka dalam hal-hal, sebagai berikut:
1. Menghubungkan benda nyata, gambar, dan diagram ke dalam ide matematika.
2. Menjelaskan ide, situasi, dan relasi matematika secara lisan dan tulisan dengan benda
nyata, gambar, grafik, dan aljabar.
3. Menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau simbol matematika.
4. Mendengarkan, berdiskusi, dan menulis tentang matematika.
5. Membaca dengan pemahaman suatu presentasi matematika tertulis.
6. Membuat konjektur, menyusun argumen, merumuskan definisi, dan generalisasi.
7. Menjelaskan dan membuat pertanyaan tentang matematika yang telah dipelajari.
Dari kriteria-kriteria kemampuan komunikasi matematis seperti yang dikemukakan di atas,
dapat dielaborasi menjadi aspek-aspek komunikasi, sebagai berikut:
1. Representasi (representation), diartikan sebagai bentuk baru dari hasil translasi suatu
masalah atau ide, atau translasi suatu diagram dari model fisik ke dalam simbol atau kata-
kata. Misalnya, bentuk perkalian ke dalam model konkret, suatu diagram ke dalam bentuk
simbol. Representasi dapat membantu anak menjelaskan konsep atau ide dan memudahkan
anak mendapatkan strategi pemecahan. Selain itu, dapat meningkatkan fleksibilitas dalam
menjawab soal matematika.
2. Mendengar (listening), dalam proses diskusi aspek mendengar salah satu aspek yang
sangat penting. Kemampuan siswa dalam memberikan pendapat atau komentar sangat terkait
dengan kemampuan mendengarkan, terutama menyimak, topik-topik utama atau konsep
esensial yang didiskusikan. Siswa sebaiknya mendengar dengan hati-hati manakala ada
pertanyaan dan komentar dari temannya. Mendengar secara hati-hati terhadap pertanyaan
teman dalam suatu grup juga dapat membantu siswa mengkonstruksi lebih lengkap
pengetahuan matematika dan mengatur strategi jawaban yang lebih efektif.
3. Membaca (reading), kemampuan membaca merupakan kemampuan yang kompleks,
karena di dalamnya terkait aspek mengingat, memahami, membandingkan, menemukan,
menganalisis, mengorganisasikan, dan akhirnya menerapkan apa yang terkandung dalam
bacaan.
4. Diskusi (discussing), merupakan sarana bagi seseorang untuk dapat mengungkapkan dan
merefleksikan pikiran-pikirannya berkaitan dengan materi yang diajarkan. Aktivitas siswa
dalam diskusi tidak hanya meningkatkan daya tarik antara partisipan tetapi juga dapat
meningkatkan cara berpikir kritis. Dengan diskusi ini memungkinkan proses pembelajaran
akan lebih mudah dipahami. Kelebihan lain dari diskusi ini antara lain: (a) dapat
mempercepat pemahaman materi pelajaran dan kemahiran menggunakan strategi; (b)
126
membantu siswa mengkonstruksi pemahaman matematis; (c) menginformasikan bahwa para
ahli matematika biasanya tidak memecahkan masalah sendiri-sendiri tetapi membangun ide
bersama pakar lainnya dalam satu tim; dan (d) membantu siswa menganalisis dan
memecahkan masalah secara bijaksana.
5. Menulis (writing), kegiatan yang dilakukan dengan sadar untuk mengungkapkan dan
merefleksikan pikiran, dipandang sebagai proses berpikir keras yang dituangkan di atas
kertas. Menulis adalah alat yang bermanfaat dari berpikir karena siswa memperoleh
pengalaman matematika sebagai suatu aktivitas yang kreatif. Menulis dapat meningkatkan
taraf berpikir siswa ke arah yang lebih tinggi (higher order thinking).
Dalam proses pembelajaran matematika, berkomunikasi dengan menggunakan komunikasi
matematis ini perlu di tumbuhkan, sebab salah satu fungsi pelajaran matematika yaitu sebagai
cara mengomunikasikan gagasan secara praktis, sistematis, dan efisien. Komunikasi
merupakan bagian penting dari pendidikan matematika. Sebagaimana dikemukakan oleh
Asikin (2002), bahwa peran komunikasi dalam pembelajaran matematika, yaitu:
1. Dengan komunikasi, ide matematika dapat dieksploitasi dalam berbagai perspektif,
membantu mempertajam cara berpikir siswa, dan mempertajam kemampuan- kemampuan
siswa dalam melihat berbagai kaitan materi matematika.
2. Komunikasi alat untuk mengukur kemampuan pemahaman dan merefleksi pemahaman
matematika siswa.
3. Melalui komunikasi, siswa dapat mengorganisasikan dan mengonsolidasikan pemikiran
matematika mereka.
4. Komunikasi antarsiswa dalam pembelajaran matematika sangat penting untuk
pengkonstruksian pengetahuan matematika, pengembangan kemampuan pemecahan masalah,
peningkatan penalaran, menumbuhkan rasa percaya diri, serta peningkatan keterampilan
sosial.
5. Menulis dan berkomunikasi (writing and talking) dapat menjadi alat yang sangat
bermakna untuk membentuk komunitas matematika yang inklusif.
Agar komunikasi matematika itu dapat berjalan dan berperan dengan baik, maka diciptakan
suasana yang kondusif dalam pembelajaran agar dapat mengoptimalkan kemampuan siswa
dalam komunikasi matematis. Siswa sebaiknya diorganisasikan ke dalam kelompok-
kelompok kecil yang dapat dimungkinkan terjadinya komunikasi multi-arah yaitu komunikasi
siswa dengan siswa dalam satu kelompok.
Kelompok-kelompok kecil tersebut terdiri dari 4-6 orang siswa yang memiliki kemampuan
heterogen. Di dalam kelompok tersebut siswa menyelesaikan tugas dan memecahkan
127
masalah. Dalam kelompok-kelompok kecil itu memungkinkan timbulnya komunikasi dan
interaksi yang lebih baik antarsiswa. Mempertinggi kemampuan komunikasi matematis
secara alami yaitu dengan memberikan kesempatan belajar kepada siswa dalam kelompok
kecil di mana mereka dapat berinteraksi.
Pada saat pembagian kelompok itu perlu diperhatikan komposisi siswa yang pandai,
sedang, dan kurang. Kehadiran siswa pandai dapat menjadi tutor sebaya bagi rekan-rekannya.
Bantuan belajar dari teman sebaya dapat menghilangkan kecanggungan, bahasa teman sebaya
lebih mudah dipahami. Tidak ada rasa enggan, rendah diri, malu, dan sebagainya untuk
bertanya maupun minta bantuan pada teman sebaya.
Melalui komunikasi yang terjadi di kelompok-kelompok kecil, pemikiran metematik
siswa dapat diorganisasikan dan dikonsolidasikan. Pengkomunikasian matematika yang
dilakukan siswa pada setiap kali pelajaran matematika, secara bertahap tentu akan dapat
meningkatkan kualitas komunikasi, dalam arti bahwa pengkomunikasian pemikiran
matematika siswa tersebut makin cepat, tepat, sistematis, dan efisien.
H. SIKAP SISWA TERHADAP MATEMATIKA
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, sikap diartikan sebagai perbuatan dan sebagainya
yang berdasarkan pada pendirian, keyakinan. Menurut Unnes (2008), sikap merupakan
kecenderungan individu untuk merespons dengan cara yang khusus terhadap stimulus yang
ada dalam lingkungan sosial. Sikap merupakan suatu kecenderungan untuk mendekat atau
menghindar, positif atau negatif terhadap berbagai keadaan sosial, apakah itu institusi,
pribadi, situasi, ide, konsep, dan sebagainya.
Yara (2009: 364) mengartikan sikap sebagai konsep yang memperhatikan cara seorang
individu berpikir, bertindak, dan bertingkah laku. Sikap mempunyai pengaruh yang serius
untuk siswa, guru, kelompok sosial yang berhubungan dengan individu siswa dan seluruh
sistem di sekolah. Sikap dibentuk sebagai hasil dari beberapa pengalaman belajar. Sikap juga
dapat dibentuk secara sederhana dengan mengikuti contoh atau pendapat orang tua, guru, dan
teman. Perubahan atau peniruan sikap juga dapat dibentuk dari situasi pembelajaran. Dalam
hal ini, siswa mencontoh dari sifat guru untuk membentuk sikap mereka.
Keberhasilan suatu proses pembelajaran dipengaruhioleh dua faktor, yaitu faktor dalam
diri siswa dan luar diri siswa. Faktor dari dalam diri siswa salah satunya adalah sikap siswa.
Dalam proses pembelajaran matematika perlu diperhatikan sikap positif siswa terhadap
matematika. Sikap positif terhadap matematika perlu diperhatikan karena berkorelasi positif
dengan prestasi belajar matematika. Siswa yang menyukai matematika prestasinya cenderung
128
tinggi dan sebaliknya siswa yang tidal, menyukai matematika prestasinya cenderung rendah.
Sikap merupakan salah satu komponen dari aspek afektif, yang merupakan
kecenderungan seseorang untuk merespons secara positif atau negatif suatu objek, situasi,
konsep, atau kelompok individu. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Thorndike dan
Hagen yang menyatakan sikap sebagai suatu kecenderungan untuk menerima atau menolak
kelompok- kelompok individu, atau institusi sosial tertentu.
Sikap merupakan kecenderungan seseorang untuk merespons secara positif atau negatif
suatu objek, situasi, konsep, atau orang lain. Matematika dapat diartikan sebagai suatu konsep
atau ide abstrak yang penalarannya dilakukan dengan cara deduktif aksiomatis. Hal ini dapat
disikapi oleh siswa berbeda-beda, mungkin menerima dengan baik atau sebaliknya.
Dengan demikian, sikap siswa terhadap matematika adalah kecenderungan seseorang
untuk menerima (suka) atau menolak (tidak suka) terhadap konsep atau objek matematika.
Sikap merupakan ukuran suka atau tidak suka seseorang .tentang matematika, yaitu
kecenderungan seseorang untuk terlibat atau menghindar dari kegiatan matematika, siswa
yang menerima matematika, berarti bersikap positif sedangkan siswa yang menolak
matematika bersikap negatif.
Bagi siswa yang bersikap positif terhadap matematika memiliki ciri : menyenangi
matematika, terlihat sungguh-sungguh belajar matematika, memperhatikan guru dalam
menjelaskan materi matematika, menyelesaikan tugas dengan baik dan tepat waktu,
berpartisipasi aktif dalam berdiskusi dan mengerjakan tugas-tugas rumah dengan tuntas.
Adapun siswa yang bersikap negatif terhadap matematika, jarang menyelesaikan tugas
matematika, dan merasa cemas dalam mengikuti palajaran matematika.
Penelitian tentang komponen sikap yang meliputi pandangan, kekhawatiran, dan keyakinan
siswa terhadap matematika dilkukan di sebuah sekolah di Singapura oleh Lianghuo, dkk.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan:
a. Pandangan siswa terhadap matematika
Kebayakan siswa merasa tertarik terhadap matematika dan mereka berniat untuk
menigkatkan kemampuan mereka, akan tetapi mereka tidak mau menggunakan waktu mereka
lebih banyak untuk mempelajari matematika. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa
matematika yang dipelajari di sekolah terlalu banyak dan hanya berkisar pada masalah rutin
dengan pendekatan close-ended.
b. Kekhawatiran tentang matematika
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian siswa merasa khawatir dengan
matematika dan pembelajaran matematika. Ini menunjukkan hal yang positif karena
129
menunjukkan bahwa kebanyakan siswa akan serius mempelajari matematika. Akan tetapi, ini
juga mengindikasikan bahwa siswa kurang mempunyai rasa percaya diri, ketakutan, dan
sikap negative terhadap matematika.
c. Keyakinan siswa akan matematika
Keyakinan siswa akan matematika dapat dilihat dari dua pertanyaan berikut: (1) apakah
siswa berpikir bahwa matematika itu berguna bagi diriya dan kehidupannya di masa datang?
(2) bagaimana matematika bisa menjadi hal yang penting bagi siswa? Tingginya siswa yang
merasa yakin terhadap matematika menunujukkan bahwa sebagian besar siswa merasa
matematika itu peting bagi dirinya dan kehidupannya mendatang. Hal ini memungkin guru
untuk meningkatkan sikap positif terhadap matematika.
130
BAB 12
PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN DI SEKOLAH DASAR
A. Pengertian Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan Kewarganegaraan adalah mata pelajaran yang digunakan sebagai Wahana
untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral yang berakar pada budaya
bangsa Indonesia. Nilai luhur dan moral ini diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk
perilaku kehidupan siswa sehari-hari, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat dan
makhluk ciptaan tuhan yang maha esa, yang merupakan usaha untuk membekali siswa
dengan pengetahuan dan kemampuan dasar berkenaan dengan hubungan antara warganegara
dengan negara serta pendidikan pendahuluan bela negara agar menjadi warga negara yang
dapat diandalkan oleh bangsa dan negara.
Dengan pendidikan kewarganegaraan ini diharapkan mampu Membina dan
mengembangkan anak didik agar menjadi warga negara yang baik. Menurut Somantri(1970)
warga negara yang baik adalah warga yang tahu mau dan mampu berbuat baik. Adapun
menurut winataputra(1978),warga negara yang baik adalah warga yang mengetahui,
menyadari, dan melaksanakan hak dan kewajibannya sebagai warga negara.
Menurut azyumardi Azra(2005) Pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan yang
mengkaji dan membahas tentang pemerintahan, konstitusi, lembaga-lembaga demokrasi, rule
of law, Ham, hak dan kewajiban warga negara serta proses demokrasi. Adapun menurut
Zamroni Pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan demokrasi yang bertujuan untuk
mempersiapkan warga masyarakat berikut kritis dan bertindak demokratis. Pendidikan
kewarganegaraan adalah pendidikan demokrasi yang bertujuan untuk mendidik generasi
muda menjadi warga negara yang demokratis dan partisipatif melalui suatu pendidikan yang
dialogial.
Adapun menurut tim Icce UIN Jakarta, Pendidikan kewarganegaraan adalah suatu
proses yang dilakukan oleh lembaga pendidikan dimana seseorang mempelajari orientasi,
sikap dan perilaku politik sehingga yang bersangkutan memiliki politik knowledge,
awarennes, attitude, political efficary, dan political participations, serta kemampuan
mengambil keputusan politik secara rasional.
dari beberapa definisi pendidikan kewarganegaraan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa
yang dimaksud dengan pendidikan kewarganegaraan adalah pendidikan yang memberikan
131
pemahaman dasar tentang pemerintahan, tata cara demokrasi, tentang kepedulian,sikap,
pengaturan politik yang mampu mengambil politik secara rasional, sehingga dapat
mempercepat warga negara yang demokratis dan partisipatif melalui suatu pendidikan yang
berorientasi pada pengembangan berpikir kritis dan bertindak demokratis. Jadi Pendidikan
kewarganegaraan adalah usaha sadar dan terencana Dalam proses pembelajaran agar peserta
didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kecerdasan, kecakapan,
keterampilan serta kesadaran tentang hak dan kewajiban sebagai warga negara, penghargaan
terhadap hak asasi manusia, kemajemukan bangsa, pelestarian lingkungan hidup, kesetaraan
gender, demokrasi, tanggung jawab sosial, ketaatan pada hukum, harga ikut berperan dalam
percaturan global.
B. Hakikat Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar
Pendidikan di Indonesia diharapkan dapat mempersiapkan peserta didik menjadi
warga negara yang memiliki komitmen kuat dan konsisten untuk mempertahankan negara
kesatuan Republik Indonesia.
Komitmen yang kuat dan konsisten terhadap prinsip dan semangat kebangsaan dalam
kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara yang berdasarkan Pancasila dan undang-
undang 1945 masih perlu ditingkatkan terus-menerus untuk memberikan pemahaman yang
mendalam tentang NKRI. Konsep konstitusi negara Republik Indonesia perlu ditanamkan
kepada seluruh komponen bangsa Indonesia khususnya generasi muda sebagai generasi
penerus seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi maka secara otomatis
pola pikir masyarakat berkembang dalam setiap aspek hal ini sangat berpengaruh besar
terutama dalam dunia pendidikan yang menurut adanya inovasi baru yang dapat
menimbulkan perubahan secara kualitatif yang berbeda dengan sebelumnya. Tanggung jawab
melakukan melaksanakan evaluasi diantaranya terletak pada penyelenggaraan pendidikan di
sekolah di mana guru memegang peran utama dan bertanggung jawab menyebarluaskan
gagasan baru baik terhadap siswa maupun masyarakat melalui proses pengajaran dalam kelas.
Kenyataan tersebut di atas belum sepenuhnya dipahami kalangan pendidikan
khususnya guru Sekolah Dasar proses pembelajaran di di kelas sangat membosankan dan
membuat peserta didik tertekan. Hal ini juga terjadi pada mata pelajaran Pendidikan. Mata
pelajaran PKN ini merupakan suatu mata pelajaran yang bertujuan untuk membentuk
manusia Indonesia seutuhnya yang berlandaskan pada Pancasila undang-undang dan norma-
norma yang berlaku di masyarakat masih belum optimal disampaikan pada siswa.
Istilah Pendidikan Kewarganegaraan apabila dikaji secara mendalam berasal dari
132
kepustakaan asing yang memiliki dua istilah yaitu Civic education dan citizenship
education. 1. Civic education, diartikan sebagai:..... the Foundation course Work in Scholl
designer to prepare young citizens for an active role in their communities in their adult lives (
suatu mata pelajaran Dasar di sekolah yang dirancang untuk mempersiapkan warga negara
muda agar setelah dewasa dapat berperan aktif dalam masyarakat)
2. Citizenship education atau education for citizenship, diartiakn sebagai berikut:.... The
more inclusive term and encompasses both their in school experiences as well as out-of
school or 'non-formal/informal' learning which takes place in the family, the religiouns
organizations, commnutyorganizations, the media etc., Which help to shope the total itu of
the citizen ( merupakan istilah generik yang mencakup pengalaman belajar di sekolah dan di
luar sekolah seperti yang terjadi di lingkungan keluarga, dalam organisasi keagamaan, dalam
organisasi kemasyarakatan dan dalam media yang membantunya untuk menjadi warga negara
seutuhnya).
Dari kedua istilah tersebut civic education ternyata lebih cenderung digunakan dalam
makna yang serupa untuk pelajaran di sekolah atau identik dengan PKN yang memiliki
tujuan utama mengembangkan siswa sebagai warga negara yang cerdas dan baik. Civic
Education atau Pendidikan Kewarganegaraan dirumuskan secara luas untuk mencakup proses
penyiapan generasi muda untuk mengambil peran dan tanggung jawabnya sebagai warga
negara, dan secara khusus, peran pendidikan termasuk di dalamnya persekolahan, pengajaran,
dan belajar, dalam proses penyiapan warga negara tersebut.
C. Landasan Pendidikan Kewarganegaraan
Pendidikan kewarganegaraan dapat bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran
berbangsa dan bernegara, meningkatkan keyakinan akan ketangguhan Pancasila sebagai
ideologi bangsa dan negara Indonesia. Pelaksanaan pendidikan kewarganegaraan memiliki 2
(dua) dasar sebagai landasannya, landasan yang dimaksud adalah landasan hukum dan ideal.
a. Landasan hukum:
1) Undang-Undang Dasar 1945
- Pembukaan UUD 1945. Pembukaan alinea kedua tentang cita-cita mengisi
kemerdekaan dan alinea keempat khusus tentang tujuan negara, yaitu keamanan
dan kesejahteraan.
- Pasal 27 (3) (II), setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya
pembelaan negara. Pasal 30 ayat (1) (II), tiap-tiap warga negara berhak dan wajib
ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara. Pasal 31 ayat (1) (IV),
setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Pasal 28 A-J tentang Hak
133
Asasi Manusia.
2) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 1982
Undang-undang No. 20/1982 adalah tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertahanan
Keamanan Negara Republik Indonesia (Lembaran Negara 1982 No. 51, TLN 3234).
- Pasal 18 Hak dan Kewajiban warga negara yang diwujudkan dengan keikutsertaan
dalam upaya bela negara diselenggarakan melalui pendidikan pendahuluan bela
negara sebagai bagian tidak terpisahkan dalam sistem pendidikan nasional.
- Pasal 19 ayat (2) Pendidikan Pendahuluan Bela Negara wajib diikuti oleh setiap
warga negara dan dilaksanakan secara bertahap, yaitu:
(1). Tahap awal pada pendidikan tingkat dasar sampai menengah dan dalam
gerakan Pramuka.
(2) Tahap lanjutan dalam bentuk Pendidikan Kewiraan pada tingkat Pendidikan
Tinggi.
3) Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003
Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan
berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 232/U/2000 tentang
Pedoman Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar
Mahasiswa, serta Nomor 45/U/2002 tentang Kurikulum Inti Pendidikan Tinggi telah
ditetapkan bahwa Pendidikan Agama, Pendidikan Bahasa dan Pendidikan
Kewarganegaraan merupakan kelompok mata kuliah Pengembangan Kepribadian
yang wajib diberikan dalam kurikulum setiap program studi atau kelompok program
studi.
4) Surat Keputusan Dirjen Dikti Nomor 43 Tahun 2006
Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan
Nasional Republik Indonesia Nomor 43/DIKTI/2006 tentang Rambu-Rambu
Pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian di Perguruan
Tinggi.
b. Landasan Ideal
Landasan ideal Pendidikan Kewarganegaraan yang sekaligus menjadi jiwa
dikembangkannya Kewarganegaraan adalah Pancasila.Pancasila sebagai sistem filsafat
menjiwai semua konsep ajaran Kewarganegaraan dan juga menjiwai konsep
ketatanegaraan Indonesia. Dalam sistematikanya dibedakan menjadi tiga hal, yaitu:
Pancasila sebagai dasar negara, Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan Pancasila
sebagai ideologi negara. Ketiga hal itu dapat dibedakan, namun tidak dapat dipisahkan.
134
Pancasila sebagai Dasar Negara.
Pancasila sebagai dasar negara merupakan dasar pemikiran tindakan negara dan
menjadi sumber hukum positif di Indonesia.Pancasila sebagai dasar negara pola
pelaksanaannya dipancarkan dalam empat pokok pikiran yang terkandung dalam
Pembukaan UUD 1945 dan dijabarkan dalam pasal-pasal UUD1945 sebagai strategi
pelaksanaan Pancasila sebagai dasar negara.
Pembukaan UUD 1945 pokok pikiran pertama yaitu pokok pikiran persatuan yang
berfungsi sebagai dasar negara, merupakan landasan dirumuskannya wawasan
nusantara sebagai bagian dari geopolitik.Pokok pikiran kedua yaitu pokok pikiran
keadilan sosial yang berfungsi sebagai tujuan negara merupakan tujuan wawasan
nusantara sekaligus tujuan geopolitik Indonesia.Tujuan negara dijabarkan langsung
dalam Pembukaan UUD 1945 alinea keempat, yaitu tujuan berhubungan dengan segi
keamanan dan kesejahteraan dan ketertiban dunia.Geopilitik Indonesia pada dasarnya
adalah sebagai perwujudan nilai-nilai Pancasila di dalam kehidupan bermasyarakat
berbangsa dan bernegara.
Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa.
Pancasila sebagai pandangan hidup merupakan kristalisasi nilai-nilai luhur yang
diyakini kebenarannya.Perwujudan nilai-nilai luhur Pancasila terkandung juga dalam
konsep geopolitik Indonesia demi terwujudnya ketahanan nasional sebagai geostrategi
Indonesia sehingga ketahanan nasional ini disusun dan dikembangkan berdasarkan
geopolitik Indonesia. Perwujudan nilai-nilai Pancasila mencakup lima bidang
kehidupan nasional yaitu bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan
hankam yang disingkat dengan Ipoleksosbud Hankam. Ipoleksosbud Hankam menjadi
dasar pemikiran ketahanan nasional.
Dari lima bidang kehidupan nasional, bidang ideologi merupakan landasan dasar.
Ideologi itu berupa Pancasila sebagai pandangan hidup yang menjiwai empat bidang
lainnya. Dasar pemikiran ketahanan nasional di samping lima bidang kehidupan
nasional tersebut yang merupakan aspek sosial pancagatra didukung pula adanya
dasar pemikiran aspek alamiah trigatra yang merupakan geostrategi Indonesia.
Pancasila sebagai Ideologi Negara.
Pancasila sebagai ideologi negara merupakan kesatuan konsep-konsep dasar yang
memberikan arah dan tujuan dalam mencapai cita-cita bangsa dan negara. Cita-cita
bangsa dan negara berlandaskan Pancasila dipancarkan dalam alinea kedua
135
Pembukaan UUD 1945 merupakan cita-cita untuk mengisi kemerdekaan, yaitu:
bersatu, berdaulat adil dan makmur.
D. Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Pembelajaran PKn Sekolah Dasar dimaksudkan sebagai suatu proses belajar mengajar
dalam rangka membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik dan membentuk
manusia Indonesia seutuhnya dalam pembentukan karakter bangsa yang diharapkan
mengarah pada penciptaan suatu masyarakat yang menempatkan demokrasi dalam kehidupan
berbangsa dan bernegara yang berlandaskan pada Pancasila UUD dan norma-norma yang
berlaku di masyarakat yang diselenggarakan selama 6 tahun.
Esensi pembelajaran PKN bagi anak adalah bahwa secara kodrati maupun
sosiokultural dan yuridis formal keberadaan dan kehidupan manusia selalu membutuhkan
nilai moral dan norma. jangan kehidupannya, manusia memiliki keinginan, kehendak dan
kemauan (human desire) yang berbeda untuk selalu membina, mempertahankan,
mengembangkan dan meningkatkan aneka potensinya berikut segala perangkat
pendukungnya, sehingga mereka dapat mengarahkan dan mengendalikan dunia kehidupan
baik secara fisik maupun nonfisik ke arah yang lebih baik dan bermakna. Secara tegas,
Kosasih Djahiri menyatakan bahwa dalam kehidupan manusia di dunia ini tidak ada tempat
dan waktu kehidupan yang bebas nilai (value free), karena dengan nilai moral dan norma ini
akan menentukan ke arah pengenalan jati diri manusia maupun kehidupan(Djahiri,1996:2).
namun Sangat disayangkan bahwa dalam aplikasinya, pembelajaran PKn ini kurang banyak
diminati dan dikaji dalam dunia pendidikan dan persekolahan, karena kebanyakan lembaga
pendidikan formal dominan pada penyajian materi yang bersifat kognitif dan psikomotorik
belaka, kurang menyentuh pada aspek afektif hal ini bukan karena tidak disadari esensinya,
mainkan karena ketidakpahaman para pengajar. Padahal, bagi guru profesional, dituntut
untuk memberikan pembinaan keutuhan dari peserta didik agar tidak terjerumus pada erosi
nilai moral serta menjadi penyebab dehumanisasi, yang pada akhirnya manusia menjadi
arogan, egois dan individualistis, materialistis sekuler dan bahkan bersombong diri pada
penciptaannya.
Kenapa PKN itu perlu diajarkan kepada anak setidaknya ada tiga alasan yang
melandasi nya sebagaimana dikemukakan oleh Djahiri (1996: 8-9), yaitu:
1. Bahwa sebagai makhluk hidup, manusia bersifat multikodrati dan multifungsi- peran
(status); manusia bersifat multikompleks atau neopluralistis. manusia memiliki kodrat Ilahi,
sosial,budaya ekonomi dan politik.
2. Bahwa setiap manusia memiliki: sense of..., atau value of..., Dan conscience of...Sense of...
136
menunjukkan integritas atau keterkaitan atau kebutuhan manusia akan sesuatu. Sesuatu ini 3.
bahwa manusia ini unik(unique human). Hari ini karena potensinya yang mau di potensi dan
fungsi peran serta kebutuhan atau human desire ya multi peran serta kebutuhan.
Sejalan dengan pendapat Djahiri, Dasim Budimansyah dan sapriya (2012:1) tugas
pendapat bahwa pendidikan PKN ini sangat penting dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa sehingga pendidikan PKN ini harus dibangun atas dasar tiga paradigma, yaitu:
1. PKN secara kurikuler dirancang sebagai subjek pembelajaran yang bertujuan untuk
mengembangkan potensi individu agar menjadi warga negara Indonesia akhlak mulia,
cerdas, 3. PKN sejarah programmatic dirancang sebagai saksi pembelajaran yang
menekankan pada isi yang mengusung nilai-nilai (content embedding values) dan
pengalaman belajar (learning experience) dalam bentuk berbagai perilaku yang perlu
diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari dan merupakan tuntutan hidup bagi warga negara
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara sebagai penjabaran lebih lanjut
ide, konsep dan moral Pancasila kewarganegaraan yang demokratis dan bela negara.
memerhatikan uraian di atas maka jelas bahwasanya pembelajaran PKn ini pada intinya
harus diajarkan tidak hanya mentransfer ilmunya saja, tetapi harus sampai pada tahap
operasional sesuai dengan peranan peserta didik saat ini dan di masa mendatang. dengan
demikian pembelajaran PKn ini bukan hanya dalam bentuk konsep belaka, singa kurang
fungsional tidak muncul sebagai jati diri dan acuan perilaku praksis. Celakanya pendidikan
PKN malah hanya menjadi " pembelajaran hafalan" saja. Jadi, pendidikan PKN yang secara
pragmatis sarat dengan muatan aktif dengan dilaksanakan secara kognitif.
Kendala lainnya yaitu pendidikan di Indonesia diadakan pada berbagai persoalan dan
situasi Global yang berkembang cepat setiap waktu, baik yang bermuatan positif maupun
negatif atau bertentangan dengan kepribadian bangsa Indonesia.
Dilain pihak, Dasim dan Sapriya(2012:3) mengemukakan beberapa permasalahan kurikuler
yang mendasar dan menjadi penghambat dan peningkatan kualitas pendidikan PKN, sebagai
berikut
1. Penggunaan alokasi waktu yang tercantum dalam struktur kurikulum pendidikan
dijabarkan secara kaku dan konvensional sebagai jam pelajaran tatap muka terjadwal
sehingga kegiatan pembelajaran PKn dengan cara tatap muka di kelas menjadi sangat
dominan.
2. Pelaksanaan pembelajaran PKn yang lebih didominasi oleh kegiatan peningkatan dimensi
lainnya menjadi terbengkalai. di samping itu, pelaksanaan pembelajaran diperparah lagi
dengan keterbatasan fasilitas media pembelajaran.
137
3. pembelajaran yang terlalu menekankan pada dimensi kogitif itu berimplikasi pada
penilaian yang juga menekankan pada penguasaan kemampuan kognitif saja sehingga
mengakibatkan guru harus selalu mengajak target pencapaian materi.
Dari beberapa penelitian diketahui, Daya tarik terhadap pelajaran PKN masih lemah,
karena membosankan dan cenderung tidak disukai siswa, dan metodenya tidak menentang
siswa secara intelektual (Azis Wahab,2004:2). Pendapat lain menyatakan bahwa mata
pelajaran ini dalam pelaksanaannya menghadapi keterbatasan dan kendala terutama berkaitan
dengan kualitas guru keterbatasan dan kendala terutama berkaitan dengan kualitas guru,
keterbatasan fasilitas, dan sumber belajar (fajar, 2004:2). Kajian kebijakan kurikulum,
kesimpulan bahwa pemahaman guru terhadap standar kompetensi dan kompetensi dasar
masih sangat beragam. Sesuai dengan kondisi yang dialami dalam pembelajaran PKn
diperlukan upaya untuk menemukan model pembelajaran dapat memecahkan masalah
pembelajaran.
E. Tujuan Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Pentingnya pendidikan kewarganegaraan diajarkan di sekolah dasar ialah sebagai
pemberian pemahaman dan kesadaran bahwa setiap anak didik dalam mengisi
kemerdekaan, dimana kemerdekaan bangsa Indonesia diperoleh dengan keras dan penuh
pengorbanan harus diisi dengan upaya membangun kemerdekaan, mempertahankan
kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara jadi materinya kita perlu memiliki
apresiasi yang memadai terhadap makna perjuangan yang dilakukan oleh para pejuang
kemerdekaan. Apresiasikan menimbulkan rasa senang, sayang, cinta, keinginan untuk
memelihara melindungi membela negara untuk yaitu Pendidikan Kewarganegaraan
penting diajarkan di sekolah sebagai upaya sadar menyiapkan warga yang mempunyai
kecintaan dan kesetiaan dan keberanian Bella bangsa dan negara. mereka adalah para
penerus bangsa yang akan mengisi bangsa ini pada kehidupan yang datang. Bangsa yang
kuat adalah bangsa yang bersaru, berilmu, dan berbudaya. maka dari itu diperlukan
generasi muda yang tahu akan hak dan kewajiban dalam kehidupan bermasyarakat
berbangsa dan bernegara serta peningkatan kualitas dirinya sebagai manusia baik sebagai
makhluk pribadi maupun sosial demi terjaminnya keutuhan bangsa dan negara dalam
payung NKRI dan terciptanya masyarakat Indonesia yang berbudaya dan bermartabat.
Pendidikan kewarganegaraan di sekolah dasar memberikan pelajaran kepada siswa
untuk memahami dan membiasakan dirinya dalam kehidupan di sekolah atau di luar
sekolah, karena materi Pendidikan Kewarganegaraan menekankan pada pengalaman dan
138
pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari yang ditunjang oleh pengetahuan dan pengertian
sederhana sebagai bekal untuk mengikuti pendidikan berikutnya.
Selain itu, perlunya Pendidikan Kewarganegaraan diajarkan di sekolah dasar ialah agar
siswa sejak dini dapat memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya
untuk menjadi warga negara Indonesia yang cerdas, terampil dan berkarakter yang
diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945, dan memahami nilai-nilai kedisiplinan,
kejujuran, kata sikap yang baik terhadap sesamanya, lawan jenisnya, maupun terhadap
orang yang lebih tua. melalui materi Pendidikan Kewarganegaraan juga dapat mendidik
siswa agar dapat berpikir kritis, rasional, dan kreatif menanggapi itu kewarganegaraan;
dapat berpartisipasi secara aktif dan bertanggung jawab dan bertindak secara cerdas
dalam kegiatan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, Kak Anti Korupsi; siswa dapat
berkembang secara positif dan demokratis untuk membentuk diri berdasarkan karakter-
karakter masyarakat Indonesia agar dapat hidup bersama dengan bangsa-bangsa lainnya.
Lebih luas tujuan pembelajaran PKN ini adalah agar siswa dapat memahami dan
melaksanakan hak dan kewajiban secara santun jujur dan demokratis serta ikhlas sebagai
warga negara terdidik dan bertanggung jawab. Agar peserta didik menguasai dan
memahami berbagai masalah dasar dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan
bernegara serta dapat mengatasinya dengan pemikiran kritis dan bertanggung jawab yang
berlandaskan Pancasila wawasan nusantara dan ketahanan nasional. Dan yang tidak kalah
pentingnya juga tujuan mempelajari PKN ini agar Siswa memiliki sikap dan perilaku
sesuai dengan nilai-nilai kejuangan cinta tanah air serta rela berkorban bagi nusa dan
bangsa.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa tujuan PKN di Sekolah Dasar adalah
untuk menjadikan warga negara yang baik yaitu warga negara yang tahu mau dan sadar
akan hak dan kewajibannya. demikian diharapkan kelak dapat menjadi bangsa yang
terampil dan cerdas dan bersikap baik sehingga mampu mengikuti kemajuan teknologi
modern.
Kenapa PKN harus dimulai dari sekolah dasar? Karena usia mereka haus akan
pengetahuan, sangat penting dan tepat untuk memberikan konsep dasar tentang wawasan
nusantara dan perilaku yang demokratis secara benar dan terarah, jika salah maka akan
berdampak terhadap pola pikir dan perilaku pribadi yang mempengaruhi pada jenjang
selanjutnya juga pada kehidupan di masyarakat. Jika diibaratkan mereka adalah bibit
biasa yang kita pupuk menjadi bibit unggul, yang diharapkan dapat tumbuh menjadi
pribadi yang bermutu, bermutu akhlaqnya, ilmunya. untuk mencapai itu, kita tidak boleh
139
salah memberi pupuk, sebagai salah dalam memberi pengetahuan. Tanamkan konsep
dasar tentang hak dan kewajiban, wawasan nusantara, demokrasi, hak asasi, peraturan-
peraturan, perilaku dan sikap moral yang berketuhanan yang maha esa secara benar,
terukur dan terencana, mobil samping mereka juga sudah menjadi bagian dari masyarakat
yang berinteraksi jadi segera di arah ke mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan
salah.
F. Fungsi Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Mata pelajaran Pendidikan kewarganegaraan (PKn) mempunyai fungsi sebagai sarana
untuk membentuk peserta didik menjadi warga negara yang memahami dan mampu
melaksanakan hak-hak dan kewajibannya, berkomitmen setia kepada bangsa dan negara
Indonesia dengan merefleksikan diri sebagai warga negara yang cerdas, terampil dan
berkharakter sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD 1945.
Sedangkan menurut Mubarokah (2012) Fungsi pembelajaran Pendidikan
Kewarganegaraan adalah :
11. Membantu generasi muda memperoleh pemahaman cita-cita nasional atau tujuan
negara
12. Dapat mengambil keputusan-keputusan yang bertanggung jawab dalam
menyelesaikan masalah pribadi, masyarakat dan negara
13. Dapat mengapresikan cita-cita nasional dan dapat membuat keputusan keputusan
yang cerdas
14. Wahana untuk membentuk warga negara yang cerdas, terampil dan berkarakter yang
setia kepada bangsa dan negara Indonesia dengan merefleksikan diriny dalam
kebiasan berpikir dan bertindak sesuai dengan amanat Pancasila dan UUD NKRI
1945
G. Metode Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan
Masalah utama dalam pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan ialah penggunaan
metode atom model pembelajaran dalam menyampaikan materi pembelajaran secara tepat,
Iya memenuhi muatan tatanan nilai, agar dapat diinternalisasikan pada diri siswa serta
mengimplementasikan hakikat pendidikan nilai dalam kehidupan sehari-hari belum
memenuhi harapan, seperti yang diinginkan.
Untuk menghadapi kritik masyarakat tersebut di atas, suatu model pembelajaran yang
efektif dan efisien sebagai alternatif, itu model pembelajaran berbasis portofolio (portofolio
140
based learning), yang diharapkan mampu melibatkan seluruh aspek, yaitu kognitif, afektif,
dan psikomotor siswa, serta secara fisik dan mental melibatkan semua pihak dalam
pembelajaran sehingga Siswa memiliki suatu kebebasan berpikir, berpendapat, aktif dan
kreatif. Melalui model pembelajaran portofolio, diupayakan dapat membangkitkan minat
pemahaman nilai-nilai kemampuan berpartisipasi secara efektif, serta diiringi Suatu sikap
tanggung jawab.
Adapun alasan penggunaan model pembelajaran portofolio, yang mendasari kegiatan
serta pembelajaran PKn mengacu pada pendekatan sistem Contextual Teaching Learning
(CTL), model kegiatan sosial dan PKN, metode bercerita, model pembelajaran induktif, dan
model pembelajaran deduktif.
1.Model Contextual Teaching Learning
Model Contextual Teaching Learning (CTL) adalah bentuk pembelajaran yang
memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Keadaan yang mempengaruhi langsung kehidupan siswa dan pembelajarannya.
b. Dengan menggunakan waktu/ kekinian, yaitu masa yang lalu, sekarang dan yang akan
akan datang.
c. Lawan dari textbook centered.
d. Lingkungan budaya, sosial, pribadi, ekonomi, dan politik.
e. Belajar tidak hanya menggunakan ruang kelas, bisa dilakukan di dalam kehidupan
keluarga,masyarakat,bangsadannegara.
f. Mengaitkan isi pelajaran dengan dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan
antara pengetahuan dengan penerapannya dalam kehidupan mereka.
g. Membekali siswa dengan pengetahuan yang fleksibel dapat diterapkan dari satu
permasalahan ke permasalahan lain, dari satu konteks ke konteks lain.
Model CTL disebut juga REACT, yaitu relating ( media dalam kehidupan nyata),
experiencing ( dalam konteks eksplorasi, penemuan dan penciptaan). apllying ( belajar
dengan menyajikan pengetahuan untuk kegunaannya), cooperating( belajar dalam konteks
interaksi kelompok), dan transferring( belajar dengan menggunakan penerapan dalam konteks
baru atau kontak lain).
2. Model kegiatan social dan pendidikan kewarganegaraan
Model yang dipelopori oleh Free Newman mencoba mengajarkan pada siswa
bagaimana mengaruhi kebijakan umum. Dengan demikian, pendekatan ini mencoba
memperbaiki kehidupan siswa dalam masyarakat atau negara, mencoba mengembangkan
kompetensi lingkungan dan memberikan dampak pada keputusan-keputusan kebijakan,
141
memiliki tingkat kompetensi dan komitmen sebagai pelaksana yang bermoral. Model ini
mendorong partisipasi aktif siswa dalam kehidupan politik, ekonomi, dan sosial dalam
masyarakat.
3. Metode Bercerita
Menciptakan pembelajaran PKn yang menyenangkan dengan metode bercerita,
menjadi salah satu teknik pembelajaran yang berguna dalam membangun karakter dan
kepribadian siswa. Dalam kegiatan ini, guru harus pandai memilih cerita yang sesuai dengan
perkembangan anak, juga diselaraskan dengan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar
yang sedang ditanamkan. Ajaklah anak-anak duduk melingkar di atas karpet. Perlihatkan
buku yang akan dibacakan. kondisikan siswa agar fokus pada cerita yang akan disampaikan.
Selain mengambil kisah-kisah dari buku cerita yang sudah ada guru dapat menciptakan
sebuah cerita dengan melibatkan anak dalam alur cerita. setelah selesai bercerita, guru dapat
mengajukan pertanyaan baik lisan maupun tertulis sesuai dengan isi cerita yang telah
didengarkan. Selain berguna mengukur sejauh mana pemahaman terhadap cerita, sebagai
alat penilaian Di akhir pembelajaran.
4 .Metode Pembelajaran Induktif
Pendekatan ini dikembangkan oleh filsuf Francis bacon yang menghendaki penarikan
kesimpulan didasarkan atas fakta-fakta yang kongkrit sebanyak mungkin. Semakin banyak
fakta semakin mendukung kesimpulan. Adapun langkah-langkah yang harus ditempuh dalam
model pembelajaran induktif ini, sebagai berikut:
a. Pemilihan prinsip; Guru harus memiliki konsep, , aturan yang akan disajikan dengan
pendekatan induktif.
b. pemberian contoh; guru menyajikan contoh khusus, yang mendukung prinsip, atau aturan
yang memungkinkan siswa untuk memperkirakan sifat umum yang terkandung dalam contoh.
C. Pemberian contoh lain; guru menyajikan contoh khusus, pendukung prinsip, atau aturan
yang memungkinkan siswa memperkirakan sifat umum yang terkandung dalam contoh.
d. Menyimpulkan; guru menyimpulkan, memberi penegasan dari beberapa contoh kemudian
disimpulkan dari contoh tersebut menuju sebuah prinsip yang hendak dicapai siswa.
5. Model Pembelajaran Deduktif
Pendekatan deduktif merupakan pendekatan yang mengutamakan penalaran dari
umum ke khusus. langkah-langkah yang dapat ditempuh dalam model pembelajaran dengan
pendekatan deduktif, sebagai berikut:
a.guru memilih konsep, prinsip, aturan yang akan disajikan.
142
b. Menyajikan aturan prinsip yang bersifat umum, lengkap dengan definisi dan contoh-
contoh.
c. guru menyajikan contoh-contoh khusus agar siswa dapat menyusun hubungan antara
keadaan khusus dengan aturan prinsip umum yang didukung oleh media yang cocok.
d. guru menyajikan bukti-bukti untuk menunjang atau menolak kesimpulan bahwa keadaan
umum itu merupakan gambaran dari keadaan khusus.
H. Macam Macam Pendekatan Pendidikan dalam Pendidikan kewarganegaraan
Beberapa pendekatan nilai dan moral yang digunakan dalam pembelajaran PKn
adalah sebagai berikut:
1. Evokasi
Pendekatan ini menekankan pada inisiatif siswa untuk mengekspresikan dirinya
secara spontan yang didasarkan pada kekebasan dan kesempatan. Pendekatan seperti ini baik
sekali namun dilihat dari budaya masyarakat ini terumata yang jauh dari kehidupan kota
melaksanakan pendekatan tersebut tentulah menghadapi kendala-kendala cultural dan
psikologikal. Untuk dapat mengimplementasikan pendekatan ini, pernana guru amat
diperlukan dalam apa yang disebut dengan “breaking the ice” agar setiap anak merasakan
adanya suasana terbuka, bersahabat dan kondusif untuk dapat “menyatakan dirinya”
menyatakan apa yang menjadi pemikirannya dan mengungkapkan perasaannya.
Melatih siswa dengan cara seperti itu pada dasarnya merupakan salah satu bentuk
pendewasaan agar terbiasa dalam merasakan manfaat situasi seperti itu, sehingga untuk masa-
masa yang akan dating mereka pun dapat berbuat yang sama atau bahkan melebihinya.
Keberhasilan pendekatan tersebut juga amat bergantung pada dorongan dan rangsangan yang
diberikan guru dengan mengandalkan pada stimulus-stimulus tertentu. Selain peranan guru,
peranan keluarga dan masyarakat juga amat penting oleh karena apa yang dibicarakan dalam
kelas yang dibatasi oleh empat dinding kelas dapat member makna dalam belajar siswa.
Peranan kedua unsut tersebut dalam menumbuhkan keyakinan siswa tentang nilai mora yang
dibahas di kelas, harus sejalan dengan apa yang di lihat dan dialaminya dalam kehidupan di
keluarga dan di masyarakat. Jika tidak ada kesesuian di antara ketifa unsut tersebut maka
akan terjadi konflik dalam diri anak yang dalam istilah Pendidikan Kewarganegaraan disebut
intra personal conflict yaitu konflik yang terjadi dalam diri siswa. Konflik dalam diri pribadi
anak itu dapat berlanjur menjadi konflik antar pribadi yang disebut inter personal conflict
karena melihat tidak adanya keajekan antara nilai yang dipelajari dan diuakininya dengan apa
yang terjadi di sekolah dan di masyarakat secara keseluruhan.
143
Pengalaman dan pembiasaan nilai-nilai Pancasila sebagai tujuan PKn merupakan
langkah-langkah penting dalam pengajaran nilai. Hal itu sejalan dengan pendapat Dewey
yang menyatakan bahwa “…intellectual and ethical competence could be achieved only by
reflecting on one’s actual, concrete, concrete experience.” Sebabnya adalah walaupun
dikenalkan berbagai konsep nilai misalnya tentang demokrasi, keadilan dan menghargai
orang lain jika struktur kelas dan sekolah tetap saja mencontoh dan menekankan pada
hubungan social yang otoriter maka hangan diharapkan aka nada belajar yang efektif.
Kepedulian terhadap hubungan antara abstraksi dengan pengalaman siswa sendiri
dalam pemahaman Dewey disebut dengan istilah “child centeredness.” Anak membutuhkan
moral yang ideal yang diharapkan dapat dikuasainya secara intelektual. Pendidikan moral
yang didasarkan pada kerangka kerja Dewey adalah kegiatan kerjasama kelompok, bekerja
dengan orang lain dalam masalah yang katual atai masalah yang sebenarnya, dalam bidang
apa saja (seni, sains, politik, mekanik) akan membantu anak menghargai pandangan dan
nilai Hersh (1980) dkk. Misalnya menjelaskan bahwa “Morality…depends on the
orchestration of human caring, objective thingking, and determinan action. …Morality is
neither good motives nor right reason, nor resolute action. It is all three. …three was no
discernible separation between his feelings, thoughts, and action; they seemed to fit together
at once, as part og a united front against a common threat.” Sikap atau perilaku moralitas
itulah yang kiranya menjadi tugas dan sekaligus tantangan utama guru SD. Masalah akan
semakin rumit terutama jika dikaitkan pengajar nilai dan moral untuk SD.
2. Inkulkasi (Menanamkan)
Pendekatan ini didasarkan pada sejumlah pertanyaan nilai yang telah disusun terlebuh
dahulu oleh guru. Tujuannya adalah agar pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut masalah
nilai tersebut dapat digunakan untuk mempengaruhi dan sekaligus mengarahkan siswa
kepada suatu kesimpulan nilai yang sudah direncanakan. Peranan guru dalam hal ini amat
menentukan oleh karena gurulah yang menentuka kearah mana siswa akan dibawa atau
diarahkan atau dikondisikan secara halus dan hati-hati.
Gurulah dengan pertanyaan dan arah kesimpulan atau pendapat yang menentukan
dalam penkdekatan ini adalah Teknik Inkuiri Nilai (Value Inquiru Question Technique) di
mana target nilai yang diharapkan dapat dicapai dengan memanipulasi kedalam sejumlah
pertanyaan.
3. Pendekatan Kesadaran
Dalam hal ini yang menjadi sasaran adalah bagaimana mengungkap dan membina
144
kesadaran siswa tentang nilai-nilai tertentu yang ada pada dirinya atau pada orang lain. Tentu
saja kesadaran itu akan tumbuh menjadi sesuatu yang menumbuhkan kesadarannya tentang
nilai atau seperangkat nilai-nilai tertentu. Hanya dengan kesadaran tertentu itu melalui
kegiatan-kegiatan tertentu yang direncanakan oleh guru anak dapat mengungkapkan nilai-
nilai dirinya atau nilai-nilai orang lain. Jendela Johary (Johary Window) kiranya dapat
membantu menumbuhkan kesadaran siswa tentan gidirnya atau diri orang lain.
4. Penalaran Moral
Salah satu pendekatan dalam pendidikan moral adalah penalaran moral dimana anak
dilibatkan dalam suatu dilemma moral sehingga keputusan yang diambil terhadap dilemma
moral harus dapat diberikan alas an-alasan moralnya yang masuk akal. Dilemma moral
adalah satu bentuk teknik mengajar nilai dan miral yang dianggap tepat terutama bagi kelas-
kelas yang tinggi, misalnya kelas IV, V dan VI. Patut disadari bahwa dalam pendidikan nilai
dan moral berbagai cara dapat digunakan sebagai stimulus dalam melibatkan nalar dan afeksi
siswa adalah melalui pertanyaan, pernyataan, gambar, ceritera, dan gambar keadaan yang
bersifat dilematis.
Dalam pengajaran PKn misalnya melibatkan siswa sebagai individu yang “merasakan” dan
“larut” dalam situasi yang sengaja diciptakan untuk mendorong siswa menggunakan nalar
dan perasaannya terhadap suatu situasi atau kejadian, prinsip, pandangan atau masalah
merupakan upaya-upaya dasar dalam pendidikan nilai dan moral. Tanpa upaya-upaya dasar
semacam itu, pendidikan nilai dan moral serta PKn khususnya akan sulit mencapai tujuan-
tujuannya secara optimal. Dalam pendekatan dilematis sebagai salah satu pendekatan akan
lebih efektif jika guru berhasil melibatkan secara intens nalar dan perasaan siswa sebab
walaupun yang menjadi dasar utama adalah nalarnya atau reasoning-nya, namun factor
perasaan siswa jufa akan memegang peranan penting dalam member alas an-alasan moral
tersebut.
Peranan stimulus amat besar sebab stimulus yang didasarkan pada hal yang bersifat dilematis,
akan mengundang siswa mengkaji dengan nalar nilai dan moral yang terlibat dalam masalah
yang bersifat dilematis tersebut. Dalam proses pengkajian tersebut siswa akan melibatkan
nilai-nilai yang dimilikinya dihadapkan dengan nilai-nilai yang terkandung di dalam masalah
dilematis tersebut. Dengan itu juga diharapkan siswa sekaligus menghubungkannya dengan
nilai-nilai yang umum dimiliki oleh orang lain atau umum dalam menghadapi masalah-
masalah dilematis seperti itu. Oleh karena dalam pendekatan ini yang menajdi focus adalah
nalar atau yang berkaitan dengan kognitifnya maka pendekatan ini amat sesuai dengan apa
145