The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

E Book ini adalalah tugas dari mata kuliah belajar pembelajaran

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by Putrihandayaniputri259, 2021-11-23 05:46:11

E Book Belajar Pembelajaran

E Book ini adalalah tugas dari mata kuliah belajar pembelajaran

Keywords: Belajar Pembelajaran

merupakan bagian dari pengetahuan yang harus dimiliki oleh guru.pentingnya mempelajari
perkembangan perserta didik bagi guru ,sebagai berikut:

Kita akan memperoleh ekspetasi yang nyata tentang anak dan remaja Pengetahuan tentang
psikologi perkembangan anak membantu kita untuk meresponssebagimana mestinya pada
perilaku tertentu pada seorang anak . Pengetahuan tentang perkembangan anak akan
membantu mengenali berbagai penyimpangandari perkembangan yang normal.
Dengan memperlajari perkembangan anak akan membantu memahami diri sendiri. Setiap
manusia secara psikologis memahamin tahap pertumbuhan dan perkembangan.bagaimana
pertumbuhan dan perkembangan pada anak usia sekolah anak.perkembangan pada anak
meliputi aspek pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental.pertembang mental
meliputi perkembangan intektual,emosi,Bahasa,sosial,dan moral keagamaan.

Fase perkembangan anak,menurut santrok dan yussen terdiri dari lima fase,yaitu:
1. Fase prenatal,saat dalam kandungan dari masa pembuahan sampai dengan masa kelahiran
2. Fase bayi,yaitu saat perkembangan yang berlangsung sejak lahir sampai usia 18 atau
24bulan.
3. Fase kanak-kanak awal,fase perkembangan yang berlangsung sejak kira kira umur
limaatau enam tahun
4. Fase kanak-kanak tengah dan akhir,fase perkembangan yang berlangsung sejak kira-
kiraumur enam dan sampai sebelas tahun.
5. Fase remaja,masa perkembangan yang merupakan transisi dari masa kanak-kanak ke
masadewasa awal.
Menurut havighurst dalam juntika (2007:93),pada masa kanak-kanak akhir dan anak
sekolah,yaitu usia enam hingga dua belas tahun,memiliki tugas-tugas perkembangan
sebagai berikut:
1. Belajar keterampilan fisik untuk pertandingan biasa sehari-hari
2. Membentuk sikap yang sehat terhadap dirinya sebagai organisme yang sebagai
tumbuhkembang.
3. Belajar bergaul dengan teman yang seusianya.
4. Mengembangkan konsep-konsep yang perlu bagi kehidupan sehari-hari
5. Belajar peran sosial yang sesuai dengan pria atau Wanita.
6. Mengembangkan kata hati,moralitas,dan atau skala nilai-nilai.
7. Mengembangkan kebebasan pribadi
8. Mengembangkan sikap-sikap terhadap kelompok dan instrusi sosial.

46

Selanjutnya havighurst mengatakan bahwa tugas perkembangan adalah tugas yang
muncul pada saat atau sekitar suatu periode tertentu dari kehidupan individu yang jika
berhasil akan menimbulkan rasa bangga dan membawa kearah keberhasilan dalam
melaksanakan tugas- tugas berikut.
a. Perkembangan Intelektual.

Pada usia sekoalh dasar (usia 6-12 tahun) anak sudah dapat merekaksikan rangsangan
intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menuntut kemampuan intelektual
atau kemampuan kognitif, seperti membaca, menulis, dan menghitung. Menurut Syamsu
Yusuf (2004: 178). Pada anak usia 6-12 tahun ini ditandai dengan ketuga kemampuan atau
kecakapan baru, yaitu mengkelarifikasikan (mengkelompokan), menyusun, dan
mengasosiasikan (menghubungkan atau menghitung) angka-angka atau bilangan.
Disamping itu, pada akhir masa ini anak sudah memiliki kemampuan memecahkan masalah
(problem solving) yang sederhana. Menurut Piaget, kadang-kadang anak usia 5-7 tahun
memasuki tahapoperasi konkret (concrete operations), yaitu pada waktu itu anak
dapatberfikir secara logis mengenai segala sesuatunya.

b. Perkembangan Bahasa.

Bahasa merupakan simbol-simbol sebagai sarana untuk komunikasi dengan orang lain.

Menurut Syamsu Yusuf (2007:138), Perkembangan bahasa mencangkup semua cara untuk

berkomunikasi, yaitu dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk tulisan, lisan,

isyarat, atau mengerakan dengan mengguanakan kata-kata, kalimat bunyi, lambang, gambar

atau tulisan. Usia sekolah dasar ini merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan

mengenall dan memguasai perbendaharaan kata (vocabulary). Menurut Abin Syamsyddin,

pada awal masa ini ( usia 6-7 tahun), anak sudah menguasai sekitae 2.500 kata, dan pada

masa akhir (usia 11-12 tahun), anak telah dapat menguasai sekitar 50.000 kata. Sedangkan,

Menuruut Syamsu Yusuf (2005:180) , terdapat dua faktor yang

memperngaruhi perkembangan bahasa, yaitu: Proses jadi matang, yaitu anak menjadi

matang (organ-organ suara/bicara sudah berfungsi) untuk berkata-kata. Proses belajar, yaitu

anak yang telah matang untuk berbicara lalu mempelajari bahasa orang lain dengan jalan

mengimitasi atau menipu ucapan/ perkata yang di dengarnya. Perkembangan bahasa itu,

minimal dapat menguasai tiga kategori, yaitu:Dapat membuat kalimat yang lebih sempurna

Dapat membuat kalimat majemuk, dan Dapat menyusun dan mengajukan pertanyaan.

47

c. Perkembangan Sosial.
Perkembangan sosial sebagai mana proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan

norma-norma kelompok, tradisi, dan moral keagamaan. Menurut Charlotte Buhler,
pekembangan sosisal sebagai sequence dari perubahan yang berkesinambungan dalam
perilaku individu untuk menjadi mahkluk sosial yang dewasa. Proses perkembangan sosial
berlangsung secara berirama. Pada masa anak sekolah masuk pada masa objektif, dimana
perkembangan ini pada anak-anak sekolah dasar ditandai dengan adannya perluasan
hubungan, disamping dengan keluarga juga dia mulai membentuk ikatan baru dengan teman
yang sebaya (peer group) atau teman sekelasnya.

Pada anak usia sekolah mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri sendiri
(egosentris) kepada sikap bekerja sama (kooperatif), dan sikap peduli atau mau
memperlihatkan kepentingan orang lain (sosiosentris).

d. Perkembangan Emosi
Emosi adalah perasaan yang terefleksasikan dalam bentuk perbuatan atau Tindakan

nyata kepada orang lain atau pada diri sendiri untuk menyatakan suasana batin atau
jiwanya. Emosi seseorang akan tercermin dalam segala Tindakan dan perilakunya yang
terwujud dalam perkataan dan perbuatan serta sikap yang ditunjukkannya. Menurut Juntika
Nurikhsan (2007:153),emosi adalah suatu suasana yang kompleks (a complex feeling
state)dan getaran jiwa (a stride up state)yang menyertai atau muncul sebelum atau sesudah
terjadinya perilaku.

Dalam implementasinya,emosi pada anak sekolah sudah mulai menyadari bahwa
pengungkapan emosi tidak boleh sembarangan,mulai menyadari bahwa pengungkapan
emosi secara kasar misalnya,tidaklah diterima di masyarakat. Menurut Syamsu Yusuf
(2007:153),pada usia sekolah dasar ini anak mulai belajar mengendalikan dan mengontrol
ekspresi emosinya. Syamsu juga mengatakan bahwa karakteristik emosi yang
stabil(sehat)ditandai dengan teman secara baik.dapat berkonsentrasi dalam belajar,bersifat
respek(mengkhargai)terhadap diri sendiri dan orang lain.
e. Perkembangan Moral

Perkembangan moral pada anak usia sekolah dasar adalahbahwa anak dapat mengikuti
peraturan atau tuntutan dari orangtua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini(usia 11
atau 12 tahun),anak sudah dapat memahami alas an yang mendasari suatu peraturan.
Disamping itu,anak sudah dapat mengasosiasikan setiap bentuk perilaku dengan konsep

48

benar salah atau baik buruk.
Sebagaimana dikemukakan oleh Piaget(1950),yang menyatakan bahwa setiap tahapan

perkembangan kognitif tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda yang secara garis
besarnya dikelompokkan kepada empat tahap,yaitu:

1. Tahap sensori motor(usia 0-2 tahun),pada tahap ini belum memasuki usia sekolah.

2. Tahap pra-operasional(usia 2-7 tahun),pada tahap ini kemampuan skema kognitifnya
masih terbatas.peserta didik suka meniru perilaku orang lain.
3. Tahap operasional konkret(usia 7-11 tahun),pada tahap ini peserta didik sudah mulai
memahami aspek-aspek kumulatif materi,misalnya volume dan jumlah;mempunyai
kemampuan memahami cara mengombinasikan beberapa golongan benda yang bervariasi
tingkatannya.selain itu,peserta didik sudah mampu berpikir sistematis mengenai benda-
benda dan peristiwa-peristiwa yang konkret.

4. Tahap operasional formal (usia 11-15 tahun),pada tahap ini peserta didik sydah
menginjak usia remaja,perkembangan kognitif peserta didik pada tahap ini telah memiliki
kemampuan mengoordinasikan dua ragam kemampuan kognitif baik secara
simultn(serentak)maupun berurutan. Misalnya, kapasitas merumuskan hipotesis dan
menggunakan prinsip-prinsip abstrak.

Selanjutnya,Piaget menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam
menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya. Menurutnya,setiap anak
memiliki struktur kognitif yang disebut schemata,yaitu sistem konsep yang ada dalam
pikiransebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya.

Dengan mengacu pada teori pemahaman perkembangan kognitif Piaget tersebut,maka
dapat diketahui bahwa anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasional konkret
(usia 7-11 tahun). Dimana pada rentang usia ini anak mulai menunjukkan perilaku belajar
yang berkembang,yang ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut:

a. Anak mulai memandang dunia secara objektif,bergeser dari satu aspek situasi ke aspek
lainsecara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak

b. Anak mulai berpikir secara operasional,yakni mampu memahami aspek-aspek kumulatif
materi,seperti volume,jumlah,berat,luas,Panjang,dan pendek. Anak juga mampu
memahami tentang peristiwa-peristiwa yang konkret.

c. Anak dapat menggunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasi benda-benda

49

yang bervariasi beserta tingkatannya.

d. Anak mampu membentuk dan menggunakan keterhubungan aturan aturan,
prinsipilmiah sederhana, dan menggunakan hubungan sebab akibat.

e. Anak mampu memahami konsep substansi,volume zat cair, Panjang, pendek,
lebar, luas,sempit,ringan,dan berat.

C. STANDAR KOMPETENSI LULUSAN SEKOLAH DASAR
Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 22 Tahun 2006 diberlakukan

bahwa Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan ( SKL-SP) pada sekolah dasar atau
madrasah ibtidaiyah, sebagai barikut:
1.Menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak.
2.Mengenal kekurangan dan kelebihan diri sendiri.
3.Mematuhi aturan-aturan sosial yang berlaku dalam lingkungannya.
4.Menghargai keragaman agama, budaya, suku, ras dan golongan sosial ekonomi
dilingkungan sekitarnya.
5.Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis dann kreatif.
6.Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif dengan bimbingan guru
ataupendidik.
7.Menunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya.
8.Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana didalam kehidupan sehari-
hari.9.Menunjukkan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial dilingkungan sekitar.
10. Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.
11. Menunjukkan kecintaan dan kebangsaan terhadap bangsa, negara dan Tanah Air
Indonesia.
12. Menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal.
13.Menunjukkan kebiasaan hidup bersih, sehat, bugar, aman memanfaatkan waktu luang.

14.Berkomunikasi secara jelas dan santun.
15. Bekerja sama dalam kelompok, tolong-menolong, dan menjaga diri sendiri dalam
lingkungan keluarga dan teman sebaya.

16. Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis.

17. Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca,menulis dan berhitung.

Sedangkan berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) terbaru tahun 2012, bahwa

50

standar kompetensi lulusan di SD/MI menetapkan bahwa mutu lulusan merupakan bagian
penting dalam pemenuhan 8 (delapan) Standar Nasional Pendidikan yaitu: Standar
Kompetensi Lulusan, Standar Isi, Standar Proses, Standar Pendidikan dan Tenaga
Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana, Stanadar Pengelolaan, Standar Pembiayaan
Pendidikan, Standar Penilaian Pendidikan. Tinggi rendah mutu lulusan ditentukan oleh
tinggi rendahnya sumber daya manajemen. Manajemen dalam menentukan kurikulum,
pendidik, proses pembelajaran, penilaian, sarana dan prasarana yang diperlukan oleh
sekolah dapat menunjang keberhasilan mutu lulusan yang tinggi.
Oleh karena itu, Kepala sekolah selayaknya mampu menciptakan sekolah yang efektif untuk
mengelola sumber daya yang ada, sehingga sekolah dapat mewujudkan tujuan mutu
lulusan yang tidak lebih rendah dari standar nasional pendidikan. Sekolah harus memiliki
patokan pengarah yang baku yaitu menggunakan SKL sebagai standar penentuan target
seluruh kegiatan pemenuhan yang terstruktu dan sistematis.

Adapun Standar Kompetensi Lulusan (SKL) SD/MI tahun 2012 adalah meliputi
lima aspek yang meliputi: a) iman-takwa, b) belajar berinovasi, c) seni dan budaya, d)
keterampilam hidupdan karir, dan e) wawasan kebangsaan. Kelima aspek SKL tersebut
secara rinci dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Iman – Takwa

Menjalankan ajaran agama yang dianut sesuai dengan tahap perkembangan anak Mengenal
kekurangan dan kelebihan diri sendiri
Menghargai keberagaman agama, budaya, suku, ras, dan golongan sosial ekonomi
dilingkungan sekitarnya.

2. Belajar dan Berinovasi

Menggunakan informasi tentang lingkungan sekitar secara logis, kritis, dan kreatif
Menunjukkan kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif dengan bimbingan
Guru/PendidikMenunjukkan rasa keingintahuan yang tinggi dan menyadari potensinya
Menunjukkan kemampuan memecahkan masalah sederhana dalam kehidupan sehari-
hariMenunjukkan kemampuan mengenali gejala alam dan sosial di lingkungan sekitar
Menunjukkan kegemaran membaca dan menulis
Menunjukkan keterampilan menyimak, berbicara, membaca, menulis, dan berhitung.
3. Seni dan Budaya

51

Menunjukkan kemampuan untuk melakukan kegiatan seni dan budaya lokal
4. Keterampilan Hidup dan Karir
Mematuhi aturan-aturan sosial yan berlaku dalam lingkungannya
Berkomunikasi secara jelas dan santun
Bekerja sama dalam kelompok, tolong-menolong,dan menjaga diri sendiri dalam
lingkungankeluarga dan teman sebaya.
5. Wawasan Kebangsaan
Menunjukkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.

Adapun menurut peraturan UU yang terbaru, yaitu Berdasarkan Permendiknas
No. 20 Tahun 2016. Dalam Lampiran Permendiknas No.20 Tahun 2016 dijelaskan bahwa:
“ Standar Kompetensi Lulusan adalah kriteria mengenai kualifikasi kemampuan lulusan
yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan”. Berdasarkan SKL tersebut, setiap
lulusan satuan pendidikan dasar diharapkan memiliki kompetensi pada tiga ranah yaitu
sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Tujuan utama ditetapkan Permendiknas No. 20 Tahun 2016 tentang Standar
Kompetensi Lulusan (SKL) agar SKL tersebut digunakan sebagai acuan utama
pengembangan standar-standar ikutan lainnya. Standar-standar lainnya meliputi standar isi,
standar proses, standar penilaian pendidikan, standar pendidik dan tenaga kependidikan,
standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, dan standar pembiayaan.

Standar Kompetensi Lulusan terdiri atas kriteria kualifikasi kemampuan peserta didik
yang diharapkan dapat dicapai setelah menyelesaikan masa belajarnya di satuan pendidikan
pada jenjang pendidikan dasar. Jenjang pendidikan dasar terdiri dari tingkat kompetensi
Sekolah Dasar dan SMP.Untuk tingkat kompetensi Sekolah Dasar, kompetensi yang
diharapkan ketika siswa lulus sekolah dasar berdasarkan masing-masing dimensi dapat
diuraikan sebagai berikut:

A. Dimensi Sikap SD/MI/SDLB/Paket A

Memiliki perilaku yang mencerminkan sikap:

1. beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME
2. berkarakter, jujur, dan peduli
3. bertanggungjawab
4. pembelajar sejati sepanjang hayat
5. sehat jasmani dan rohani sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan

keluarga,sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara

B. Dimensi Pengetahuan SD/MI/SDLB/Paket A

1. memiliki pengetahuan factual, konseptual, procedural, dan metakognitif

52

a. Memiliki pengetahuan factual
Pengetahuan faktual merupakan pengetahuan dasar berkenaan dengan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga,
sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara.

b. Memiliki pengetahuan konseptual
Pengetahuan konseptual merupakan terminologi/ istilah yang digunakan,
klasifikasi, kategori, prinsip, dan generalisasi berkenaan dengan ilmu pengetahuan,
teknologi, seni dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah,
masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara.

c. Memiliki pengetahuan procedural
Pengetahuan prosedural adalah pengetahuan tentang cara melakukan sesuatu atau
kegiatan yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan budaya
terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam
sekitar, bangsa dan negara.

d. Memiliki pengetahuan metakognitif
Pengetahuan metakognitif merujuk pada pengetahuan tentang kekuatan dan
kelemahan diri sendiri dan menggunakannya dalam mempelajari ilmu
pengetahuan,

teknologi, seni dan budaya terkait dengan diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan
lingkungan alam sekitar, bangsa dan negara. berkenaan dengan:

1. ilmu pengetahuan,
2. teknologi,
3. seni, dan
4. budaya.

2. Mampu mengaitkan pengetahuan di atas dalam konteks diri sendiri, keluarga,
sekolah,masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, dan negara.

C. Dimensi Ketrampilan SD/MI/SDLB/Paket A

SKL yang diharapkan dari lulusan SD/MI/SDLB/Paket A sudah mengadopsi ketrampilan
yang diharapkan dari pembelajaran berciri Abad 21. Lulusan pada tingkat Sekolah Dasar
diharapkan memiliki keterampilan berpikir dan bertindak:

1. kreatif,
2. produktif,
3. kritis,
4. mandiri,
5. kolaboratif, dan
6. komunikatif melalui pendekatan ilmiah sesuai dengan tahap perkembangan anak

yangrelevan dengan tugas yang diberikan
dari uraian tersebut diatas, dapat dipahami bahwa tujuan pedidikan disekolah dasar

adalah dimaksudkan untuk membentuk manusia yang memiliki karakter serta kepribadian

yang mulia, kreatif, kritis, santun, taat beragama, peduli terhadap sesama manusia dan

53

lingkungan alam sekitar, bekerja sama, dan saling menolong, yang dalam bahasa undang-
undang disebutsebagai “manusia Indonesia seutuhnya”.

Tujuan dari proses pendidikan di sekolah dasar adalah agar siswa mampu memahami
potensi diri, peluang dan tuntutan lingkungan serta merencanakan masa depan melalui
pengambilan serangkaian keputusan yang paling mungkin bagi dirinya. Tujuan akhir
pendidikan dasar ialah diperolehnya pengembangan pribadi anak didik yang membangun
dirinya dan ikut serta bertanggung jawab terhadap pengembangan bangsa, mampu
melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi atau pada jenjang pendidikan
selanjutnya, dan mampu hidup di masyarakat, dan mampu mengembangkan diri sesuai
dengan bakat, minat, kemampuan, dan lingkungan.

Untuk mencapai tujuan pendidikan seutuhnya atau yang paripurna itu, maka sekolah
merupakan salah satu tempat yang tepat bagi peserta didik dalam mengembangkan
potensidiri sesuai dengan tujuan yang diharapkan.

Adapun fungsi dari pendidikan dasar adalah dalam rangka mengembangkan
kemampuan dan meningkatkan kualitas kehidupan, harkat, dan martabat manusia
masyarakatIndonesia dalam upaya mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

54

BAB 8

PRINSIP PEMBELAJARAN DI SEKOLAH DASAR

A. Pembelajaran Di Sekolah Dasar
Pendidikan adalah upaya yang terorganisasi, Berencana dan berlangsung secara terus-

menerus sepanjang hayat untuk membina anak didik menjadi paripurna, dewasa, dan
berbudaya. Untuk mencapai pembinaan ini asas pendidikan harus berorientasi pada
pengembangan seluruh aspek potensi anak didik, diantaranya aspek kognitif, efektif, dan
berimplikasi pada aspek psikomotorik.

Bagi peserta didik, belajar merupakan proses interaksi antara berbagai potensi diri
siswa, (Fisik, nonfisik, emosi dan intelektual), Interaksi siswa dengan guru, siswa dengan
siswa lainnya, serta lingkungan dan konsep fakta, interaksi dari berbagai stimulus dengan
berbagai respon terararh untuk melahirkan perubahan.

Untuk mengambangkan potensi siswa harus perlu menerapkan sebuah model
pembeljaran yang inovatif dan konstruktif. Dalm mempersiapkan pembelajaran, para
pendidik harus memahami karakteristik materi pembeljaran, karakteristik murid atau
peserta didik serta memahami metodologi pembelajaran sehingga proses pembelajaran
kan lebih variatif,inovatif dan konstruktif dalam merekonstruksi wawasan pengetahuan
dan implementasinya sehingga akan meningkatkan aktivitas dan kreatifitas peserta didik.

Ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan, berkenaan dengan upaya yang
mewujudkan proses pembelajaran yang variatif, inovati, dan konstruktif yaitu :
 Situasi kelas yang dapat merangsang anakmelakukan kegiatan belajar secara bebas
 Peran guru sebagai pengarah dalm belajar
 Guru berperan sebagai peyedia fasilitas
 Guru berperan sebagai pendorong, dan
 Gruru berperan sebagai penilai proses dan hasil belajar anak.
B. Prinsip-Prinsip Pembelajaran di Sekolah Dasar

Masa usia sekolah dasar adalah masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia 6
hingga kira-kira usia 11 atau 12 tahun. Sesuai dengan karakteristik anak usia sekolah
dasar yang suka bermain, memiliki rasa ingin tahu yang besar, mudah terpengaruh oleh
lingkungan dan gemar membentuk kelompok sebaya. Oleh karena itu, pembelajaran di
sekolah dasar di usahakan untuk terciptanya suasana yang kondusif dan menyenangkan.
Untuk itu, guru perlu memperhatikan beberapa prinsip pembelajaran yang diperlukan

55

agar terciptanya suasana yang kondusif dan menyenangkan tersebut. Beberapa prinsip
pembelajaran tersebut dapat diuraikan secara singkat sebagai berikut:
1. Prinsip Motivasi adalah upaya guru untuk menumbuhkan dorongan belajar, baik dari

dalam diri anak atau dari luar diri anak, sehingga anak belajar seoptimal mungkin
sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
2. Prinsip Latar Belakang adalah upaya guru dalam proses belajar mengajar
memperhatikan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang telah dimiliki anak agar
tidak terjadi pengulangan yang membosankan.
3. Prinsip Pemusatan Perhatian adalah usaha untuk memusatkan perhatiannya dengan
jalan mengajukan masalah yang hendak dipecahkan lebih terarah untuk mencapai
tujuan yang hendak dicapai.
4. Prinsip Keterpaduan, merupakan hal yang penting dalam pembelajaran. Oleh karena
itu, guru dalam menyampaikan materi hendaknya mengaitkan suatu pokok bahasan
dengan pokok bahasan lain atau sub pokok bahasan dengan sub pokok bahasan lain
agar anak mendapat gambaran keterpaduan dalam proses perolehan hasil belajar.
5. Prinsip Pemecahan Masalah adalah situasi belajar yang dihadapkan pada masalah
masalah hal ini dimaksudkan agar anak peka dan juga mendorong mereka untuk
mencari memilih dan menentukan pemecahan masalah sesuai dengan kemampuannya.
6. Prinsip Menemukan adalah kegiatan menggali potensi yang dimiliki anak untuk
mencari, mengembangkan hasil perolehan nya dalam bentuk fakta dan informasi.
Untuk itu, proses belajar mengajar yang mengembangkan potensi anak tidak akan
menyebabkan kebosanan.
7. Prinsip Belajar Sambil Bekerja, yaitu suatu kegiatan yang dilakukan berdasarkan
pengalaman untuk mengembangkan dan memperoleh pengalaman baru. Pengalaman
belajar yang diperoleh melalui bekerja tidak mudah dilupakan oleh anak. Dengan
demikian, proses belajar mengajar yang memberi kesempatan kepada anak untuk
bekerja, berbuat sesuatu akan memupuk kepercayaan diri, gembira dan puas karena
kemampuannya tersalurkan dengan melihat hasil kerjanya.
8. Prinsip Belajar Sambil Bermain, merupakan kegiatan yang dapat menimbulkan
suasana menyenangkan bagi siswa dalam belajar, karena dengan bermain
pengetahuan keterampilan, sikap dan daya fantasi anak berkembang. Suasana
demikian akan mendorong anak aktif dalam belajar.
9. Prinsip Perbedaan Individu, yakni upaya guru dalam proses belajar mengajar yang
memerhatikan perbedaan individu dari tingkat kecerdasan, sifat dan kebiasaan, atau

56

latar belakang keluarga. Hendaknya guru tidak memperlakukan anak seolah-olah
sama semua.
10. Prinsip Hubungan Sosial adalah sosialisasi pada masa anak yang sedang tumbuh
yang banyak dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Kegiatan belajar hendaknya
dilakukan secara berkelompok untuk melatih anak menciptakan suasana kerja sama
dan saling menghargai satu sama lainnya.
Memerhatikan dan menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran di atas sangat mendesak
untuk dilakukan oleh setiap guru yang melakukan proses pembelajaran di sekolah dasar.
Tanpa itu, pembelajaran hanya mampu menyentuh aspek ingatan dan pemahaman saja.
Karena guru yang masih cenderung mendominasi pengajaran, merupakan salah satu
penyebab rendahnya hasil belajar yang dicipta oleh siswa. Hasil belajar optimal harus dicapai
oleh siswa, karena untuk saat ini hasil belajar dijadikan patokan keberhasilan siswa serta
dijadikan tolak ukur tercapainya tidaknya tujuan pembelajaran dalam kegiatan belajar
mengajar. Dengan melihat hasil belajar, maka bisa diukur ketercapaian Standar Kompetensi
(SK), Kompetensi Sasar (KD), serta bisa dijadikan patokan untuk menentukan Kriteria
Ketuntasan Minimum (KKM).
C. Tujuan Pembelajaran di Sekolah Dasar
Mengingat pentingnya pendidikan dasar sebagai tonggak awal peningkatan sumber
daya manusia, banyak pihak menaruh perhatian bahwa pendidikan dasar adalah jembatan
bagi upaya peningkatan pengembangan SDM bangsa untuk dapat berkompetensi dalam Skala
regional maupun internasional. Di samping itu juga, sekolah dasar merupakan landasan bagi
pendidikan selanjutnya. Mutu pendidikan menengah dan pendidikan tinggi tergantung kepada
dasar kemampuan dan keterampilan yang dikembangkan sejak tingkat sekolah dasar. Mutu
pendidikan yang baik di tingkat Sekolah dasar akan menghasilkan di tingkat secara
sistematik mutu pendidikan pada jenjang pendidikan selanjutnya. Oleh karena itu, pada
tingkat sekolah dasar sangat memungkinkan Untuk dikembangkan usaha dalam perubahan
mutu pendidikan, hal ini dilakukan melalui penataan kelembagaan, pengelolaan, dan
peningkatan mutu pendidikan. Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan
merupakan pihak yang sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran. Kawasan Asia
Tenggara (ASEAN), seperti: Singapura, Thailand, Filipina, Malaysia lebih baik dibanding
dengan negara Indonesia. Di Indonesia, minat baca masyarakat masih rendah, yang otomatis
berakibat pada sumber daya manusia yang rendah pula. Padahal, minat itu merupakan kunci
utama dalam belajar, termasuk minat membaca. Pendeknya, tidak akan ada proses belajar
atau membaca tanpa minat (ro learning without interest). Problematika rendahnya minat

57

membaca juga terlihat dari produk buku yang dipublikasikan baik secara kuantitas maupun
kualitas.

Ini sangat berkaitan dengan minat membaca masyarakat kita yang secara logika akan
berimbas kepada kultur membaca dan tentu saja berakibat pula kepada kemampuan membaca
itu sendiri, bahkan selanjutnya sangat berpengaruh terhadap minat menulis. Pemahaman
terhadap bacaan dapat dipandang sebagai suatu proses yang bergulir terus-menerus dan
berkelanjutan, Membaca pemahaman sebagai proses memercayai bahwa upaya memahami
bacaan sudah terjadi ketika kita belum membaca buku apa pun. Kemudian, pemahaman itu

menapaki tahapan yang berbeda dan terus berubah saat baris demi baris, kalimat demi
kalimat, paragraf demi paragraf dari bacaan itu, yakni ketika menutup buku, novel, atau apa
saja. Apakah pemahaman sampai di sini? Belum. Proses pemahaman terus berlangsung
bahkan setelah proses membaca telah selesai. Agar peningkatan pemahaman dalam diri siswa
itu terjadi, guru perlu menciptakan kondisi yang memungkinkan interaksi beberapa pihak
dapat terjadi. Untuk itu, guru harus membuat perencanaan yang mantap.

Tuntutan lain selain optimalnya hasil belajar siswa adalah tuntutan sebagaimana yang
diamanatkan oleh Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN) No. 20 Tahun
2003 yang menghendaki upaya pengembangan potensi diri dan keterampilan siswa. Dua
aspek ini akan tercapai jika guru membangun kemampuan kreativitas siswa. Dengan
kreativitas yang tinggi, maka potensi dan keterampilan diri siswa akan berkembang. Amanat
tersebut juga sekaligus mengisyaratkan bahwa pembentukan sumber daya manusia
berkualitas merupakan prioritas pandidikan di Indonesia. Dengan demikian dapat dinyatakan
bahwa pendidikan masih diabdikan untuk menghasilkan manusia berkualitas untuk menjadi
insan yang berpengetahuan dan berakhlakul karimah (akhlak mulia).

Rendahnya minat baca menjadi problem utama yang dihadapi bangsa kita. Hal ini
terlihat dari tertinggalnya kualitas SDM kita oleh negara-negara tetangga, dan ini
menunjukkan kualitas pendidikan kita lebih rendah dibanding mereka.

D. Peran Guru dalam Pembelajaran
Mengingat pentingnya pendidikan dasar sebagai toggak awal peningkatan

SDM,banyak pihak menaruh Perhatian bahwa pendidikan dasar adalah jembatan bagi upaya
peningkatan pengembangan SDM bangsa untuk dapat berkompetensi dalam skala regional
maupun internasional.di samping itu juga,sekolah pendidikan dasar Merupakan landasan bagi
pendidikan selanjutnya.mutu pendidikan menengah dan pendidikan tinggi tergantung kepada
dasar kemampuan dan keterampilan yang dikembangkan sejak tingkat sekolah dasar. Mutu
pendidikan yang baik di tingkat sekolah dasar akan menghasilkan di tingkat secara sistematik

58

mutu pendidikan pada jenjang pendidikan selanjutya. Oleh karena itu, pada tingkat sekolah
dasar Sangat memungkinkan untuk di kembangkan usaha dalam perubahan mutu pendidikan,
dan peningkatan mutu pendidikan.

Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak yang sangat
berpengaruh Dalam proses pembelajaran. kepiawaian dan kewibawaan guru sangat
menentukan kelangsungan proses belajar di kelas maupun efeknya di luar kelas. Guru harus
pandai membawa siswanya kepada tujuan yang hendak di capai. Ada beberapa hal yang
membentuk kewibawaan guru, antara lain penguasaan materi yang di ajarkan,metode
mengajar yang sesuai dengan situasi siswa maupun antarsesama guru dan unsur lain yang
terkait dalam proses pendidikan seperti administrasi,kepala sekolah dan tata usaha serta
masyarakat sekitarnya, pengalaman dan keterampilan guru itu sendiri.

Namun sayangnya, sebagimana dilaporkan oleh Solihatin-Raharjo (2007),
menyebutkan bahwa dalam pembelajaran di sekolah dasar saat ini, guru masih menganggap
siswa sebagai objek, bukan sebagai subjek dalam pembelajaran,sehingga guru dalam proses
pembelajaran masih mendominasi aktivitas belajar. Siswa hanya menerima informasi dari
guru secara pasif. Selanjutnya,Solihatin menyebutkan Kelemahan-kelemahan di lapangan,
antara lain ditemukan sebagai berikut

a.Model pembelajaran konvensional/Ceramah.
b.Siswa hanya di jadikan objek pembelajaran.
c.Pembelajaran yang berlangsung cenderung tidak melibatkan pengembangan
pengetahuan siswa, karena guru selalu mendominasi Pembelajaran (teacher
centered),akibatnya proses pembelajaran sangat terbatas, sehingga kegiatan pembelajaran
hanya di arahkan pada mengetahui (learning to know), Ke arah pengembangan aspek
kognitif dan mengabaikan aspek afektif serta psikomotor.
d.Pembelajaran bersifat hafalan semata sehingga kurang bergairah dalam belajar
e.Dalam proses pembelajaran proses interaksi searah hanya dari guru ke siswa.

Salah satu upaya mengatasi permasalahan ini,guru harus mampu merancang model
pembelajaran yang bermakna bagi siswa. Untuk itu guru harus kreatif dalam mendesain
model pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat berpartisipasi,aktif, kreatif, terhadap
materi yang di ajarkan. Dengan cara demikian diharapkan siswa dapat memahami materi
yang diberikan dan mencapai Pembelajaran bermakn

Pentingnya merancang model pembelajaran yang bermakna ini karena fungsi setiap
matapembelajaranyangbermakna ini karena fungsi utama setiap mata pelajaran disekolah

59

dasar,yaitu mengembangkan pengetahuan, nilai,dan sikap, serta keterampilan sosial yang di
hadapi sehari hari serta menumbuhkan rasa bangga dan cinta terhadap perkembangan
masyarakat Indonesia sejak masa lalu hingga masa kini, Sedangkan tujuannya agar siswa
mampu mengembangkan pengetahuannya, nilai dan sikap serta keterampilan sosial agar
siswa merasa bangga sebagai bangsa Indonesia.

E. Pembelajaran Terpadu
Dunia anak adalah dunia nyata dan tingkat perkembangan mental anak selalu dimulai

dari tahap berpikir nyata dalam kehidupan sehari-hari yang memandang objek yang ada di
sekelilingnya secara utuh. Untuk itu, pembelajaran hendaknya dari lingkungan terdekat, yaitu
mulai dari diri sendiri kemudian dikembangkan kepada keluarga dan sekolah. Di pihak lain,
proses pembelajaran di kelas masih tampak adanya pemisahan antara mata pelajaran satu
dengan mata pelajaran lainnya sehingga anak akan merasa menerapkan dalam kehidupan
sehari-hari. Dengan pembelajaran terpadu. memungkinkan serta ilustrasi pembelajaran yang
dapat mencapai beberapa target konsep yang ada dalam beberapa mata pelajaran (Fogarty,
1991).

Gambaran di atas sesuai dengan landasan pemikiran pembelajaran terpadu seperti
yang dikembangkan oleh Tim Pengembangan PGSD (1997) yang mengemukakan bahwa
pembelajaran terpadu dikembangkan dengan landasan pemikiran, sebagai berikut:

1. Progresivisme
Aliran ini menyatakan bahwa pembelajar an seharusnya berlangsung secara alami, tidak
artifisial. Pembelajaran di sekolah harus dapat mengakomodasi keadaan dalam dunia nyata
sehingga dapat memberikan makna kepada kebanyakan siswa.

2. Konstruktivisme
Aliran ini menyatakan bahwa pengeta huan dikonstruksi sendiri oleh individu dan
pengalaman merupakan kunci utama dari belajar bermakna. Belajar bermakna tidak akan
terwujud hanya dengan mendengarkan ceramah atau dengan membaca buku tentang
pengalaman orang lain. Memahami sendiri merupakan kunci utama kebermaknaan dalam
pembelajaran.

3. Landasan normatif
Aliran ini menghendaki bahwa pembelajaran terpadu hendaknya dilaksanakan berdasarkan
gambaran ideal yang ingin dicapai oleh tujuan-tujuan pembelajaran.

60

4. Landasan praktis
Aliran ini mengharapkan bahwa pembelajaran terpadu dilaksanakan dengan memerhatikan
situasi dan kondisi praktis yang berpengaruh terhadap kemungkinan pelaksanaannya
mencapai hasil yang optimal.

5. Developmentally Appropriate Practice (DAP)
yaitu prinsip yang menyatakan bahwa pembelajaran harus disesuaikan dengan perkembangan
usia dan individu yang meliputi perkembangan kognitif, emosi, minat, dan bakat siswa.
Teori-teori lain yang sangat mendukung tentang pentingnya pembelajaran terpadu Ini antara
lain:
1. Teori Perkembangan Jean Plaget

Jean Piaget menyatakan bahwa seorang anak maju melalui empat tahap
perkembangan kognitif sejak lahit hingga dewasa, yaitu: tahap sensori motor, pra-
operasional, operasi konkret, dan operasi formal. Kecepatan perkembangan tiap individu
melalui urutan tiap tahap ini berbeda dan tidak ada individu yang melompati salah satu tahap
ini.
2. Teori Belajar Konstruktivisme

Teori belajar konstruktivisme menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan
mentransformasikan informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan
lama, dan merevisinya apakah aturan-aturan itu tidak sesuai lagi. Menurut Slavin dalam
Trianto (2007:26), agar siswa benar benar memahami dan dapat menerapkan pengetahuan,
mereka harus memecahkan masalah, menemukan segala sesuatu untuk dirinya, dan berusaha
dengan susah payah dengan ide-ide.

Pada dasarnya, pendekatan konstruktivisme menghendaki bahwa pengetahuan
dibentuk sendiri oleh individu dan pengalaman merupakan kunci utama dari belajar
bermakna. Belajar bermakna tidak akan terwujud hanya dengan mendengarkan ceramah atau
dengan membaca buku tentang pengalama orang lain.
3. Teori Vigotsky

Vigotsky mengatakan bahwa, pembelajaran terjadi apabila anak bekerja atau belajar
menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam
jangkan kemampuannya, atau tugas-tugas tersebut berada dalam zone proximal development
(Trianto:2007).

Ada dua implikasi utama teori Vigotsky dalam pembelajan sains pertama,
dikehendakinya suasana kelas, berbentuk pembelajaran kooperatif antarsiswa, sehingga siswa
dapat berinteraksi di sekitar tugas-tugas yang sulit dan saling memunculkan strategi

61

pemecahan masalah yang efektif di dalam masing-masing zone of proximal development
mereka. Kedua, dalam pembelajaran menekankan scaffolding sehingga siswa semakin lama
semakin bertanggung jawab terhadap pembelajarannya sendiri.
4. Teori Bandura

Menurut Bandura bahwa sebagian besar manusia belajar melalui pengamatan secara
selektif dan mengingat tingkah laku orang lain. Seseorang belajar menurut teori ini dilakukan
dengan mengamati tingkah laku orang lain (model), hasil pengamatan ini kemu dian
dimantapkan dengan cara menghubungkan pengalaman baru dengan pengalaman sebelumnya
atau mengulang-ulang kembali.
5. Teori Brunner

Jerome Brunner, adalah seorang ahli psikologi Harvard adalah salah seorang pelopor
pengembangan kurikulum terutama dengan teori yang dikenal dengan pembelajaran
penemuan (inkuiri). Teori Brunner selanjutnya disebut pembelajaran penemuan, adalah suatu
model pengajaran yang menekankan pentingnya pemahaman tentang struktur materi dari
suatu ilmu yang dipelajari perlunya belajar secara aktif sebagai dasar dari pemahaman
sebenarnya, dan nilai dari berpikir secara induktif dalam belajar.

Menurut Brunner, belajar akan lebih bermakna bagi siswa jika mereka memusatkan
perhatian untuk memahami struktur materi yang dipelajarinya.

F. Pengembangan Kreativitas
Kreativitas adalah kemampuan untuk memikirkan mengenai sesuatu dengan cara baru

yang tidak biasa dan menampilkan cara pemecahan masalah yang unik. Kreativitas dan
kecerdasan bukan hal yang sama. Sternberg (1999) memperkenalkan kreatifitas dalam teori
mengenai kecerdasan, mengatakan bahwa banyak individu-individu yang kecerdasannya
tinggi yang menghasilkan karya karya besar tetapi tidak selalu karya-karya baru. Dia juga
percaya bahwa orang orang yang kreatif menentang pendapat orang banyak, sedangkan orang
yang kecerdasannya tinggi tapi tidak kreatif seringkali berusaha untuk menyenangkan orang
banyak. Orang-orang yang kreatif cenderung berpikir divergen (Guildford, 1967). Berpikir
divergen, menghasilkan berbagai jawaban terhadap sebuah pertanyaan. Sebaliknya, cara
berpikir yang dipersyaratkan dalam berpikir konvensional, adalah berpikir konvergen.
Misalnya, pertanyaan “berapa lembar uang seribuan yang akan kamu dapat, bila kamu
menukarkan selembar uang sepuluh ribuan ? ”Untuk pertanyaan ini hanya ada satu jawaban
yang benar. Berbicara mengenai kecerdasan dan kreativitas, kebanyakan orang kreatif
memang benar-benar cerdas, tetapi tidak semua orang cerdas kreatif.

62

1. Bagaimana membimbing anak agar kreatif?
Ada beberapa cara yang harus dilakukan :

a. Libatkan anak dalam kegiatan Brainstorming, sehingga menghasilkan sebanyak
mungkin ide
Brainstorming adalah sebuah kegiatan yang memberikan kebebasan anak untuk

mengutarakan pikiran-pikirannya secara bebas mengenai sebuah ide tertentu. Brainstorming
ini merupakan sebuah teknik dimana anak didorong untuk berani mengutarakan ide-ide
(kreatif) nya dalam sebuah kelompok, menyajikannya bersama ide-ide orang lain, dan
mengatakan apa yang ada dalam pikirannya. Teman-teman yang mendengarkan disarankan
untuk menahan diri untuk tidak menyampaikan kritik, paling tidak hingga akhir presentasi.
Hal ini perlu dilakukan agar anak berani mengemukakan ide-idenya, apapun idenya.
Kesempatan-kesempatan untuk mengeluarkan ide-ide itu perlu dijadwalkan agar anak mau
mengeluarkan sebanyak-banyak idenya walaupun ide tersebut tidak kreatif. Pablo Picasso,
pelukis Spanyol yang terkenal, telah membuatkan sebanyak 20.000 karya seni. Dari karya-
karya yang dia hasilkan tersebut, yang tergolong karya besar hanya beberapa. Hal ini
menunjukkan bahwa untuk bisa menghasilkan karya seni yang benar-benar karya besar, tidak
bisa sekali jadi. Makin banyak ide yang dikeluarkan oleh anak, maka makin besar
kemungkinan dia mengkreasikan sesuatu yang unik. Anak yang kreatif tidak takut untuk
gagal dan tidak takut melakukan kesalahan. Mereka mungkin saja memasuki 20 kali jalan
buntu sebelum dia bisa mengutarakan/ menemukan sebuah ide yang inovatif. Anak harus
berani menghadapi risiko tersebut, sebagaimana dialami oleh Picasso.

b. Buatlah lingkungan sedemikian rupa, agar bisa menstimulasi (merangsang) kreativitas
anak.
Setiap anak memiliki rasa ingin tahu yang alami. Guru yang ingin mengembangkan

kreatifitas anak bisa mengandalkan rasa ingin tahu pada anak tersebut sebagai sebuah sarana
agar anak bisa bebas berpikir. Untuk itu sebaiknya guru melakukan kegiatan-kegiatan yang
justru membuat anak mencari jawaban-jawaban yang muncul dari pikiran anak sendiri, tidak
mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya harus dihafal, yang ada dalam benak
guru atau dalam pikiran guru. Guru bisa juga merangsang kreatifitas dengan cara mengajak
anak-anak ketempat-tempat dimana kreativitas ditampilkan, misalnya di museum (untuk
anak-anak ), di galeri-galeri yang menampilkan proses-proses fisika atau penemuan-
penemuan ilmiah (Museum Ilmiah di SABUGA ITB).

c. Hindari mengendalikan anak secara berlebihan.

63

Hindari mengendalikan anak secara berlebihan. Hasil penelitian mengungkapkan
bahwa mengajarkan pada anak hal apa saja yang harus dilakukan, membuat mereka
beranggapan bahwa hal yang original itu salah, buruk, dan bahwa kegiatan menjelajah
(eksplorasi) itu adalah perbuatan yang sia-sia. Memberi kesempatan pada anak untuk memilih
sesuatu hal sesuai minatnya dan mendukung minatnya tersebut yang mungkin berbeda dari
anak lain, akan meningkatkan rasa ingin tahunya. Hal ini akan lebih baik, dari pada guru
mendiktekan aktivitas-aktivitas mana yang harus mereka kerjakan. Bila orangtua atau guru
terus menerus menunggui anak maka anak akan merasa bahwa dia (pekerjaannya) selalu
diawasi. Bila anak merasa diawasi terus maka semangat untuk berpetualang, maupun
keberanian untuk mengambil risiko melakukan kreatifitas bisa menjadi surut, dan mereda.
Hal lain yang bisa merusak kreatifitas anak adalah harapan atau tuntutan yang terlalu tinggi
agar anak menunjukkan prestasi kerja, dan agar dia melakukan segala sesuatu secara
sempurna.

d. Kembangkan motivasi yang ada dalam diri anak.
Kegiatan-kegiatan kreatif yang dilakukan anak secara bebas, menimbulkan sebuah

kesenangan tersendiri bagi anak. Oleh karena itu, penggunaan hadiah yang terlalu eksesif
(misalnya mainan, uang atau benda-benda lain) bisa menghambat kreatifitas. Karena
kesenangan yang muncul sebagai akibat dari kegiatan-kegiatan kreatif itu sendiri menjadi
pudar oleh hadirnya iming-iming hadiah. (Amabile dan Hennessey, 1992, dari Santrock,
2004).

e. Kembangkan cara berpikir fleksibel, dengan cara yang menyenangkan.
Seorang pemikir yang kreatif pada saat menghadapi masalah, dia bersikap fleksibel dan

cenderung mengolah masalah. Dalam proses ini akan sering muncul paradoks (hal-hal yang
bertentangan). Usaha untuk berpikir kreatif akan berjalan lancar bila siswa menghadapinya
dengan senang hati. Dalam bahasa sederhananya, humor bisa menjadi pelumas dari roda-roda
kreatifitas. Pada saat anak “bercanda ria” mereka cenderung menampilkan pemecahan-
pemecahan masalah yang tidak biasa, yang unik. Bersenang-senang dan bergurau, akan
membantu melepaskan sensor dalam diri yang biasanya “memarahi, mengutuk, melarang“
ide-ide bebas anak sebagai sebuah hal yang kurang baik.

f. Kalau mungkin undang orang-orang yang kreatif sehingga anak bisa mendapat
pengalaman kreatif.
Minta mereka menerangkan pada anakanak hal apa atau pengalaman apa yang

membuat mereka menjadi orang yang kreatif. Bisa juga tokoh yang kreatif itu diminta
menampilkan kemampuan kreatifnya. Guru bisa mengundang penulis yang kreatif, penyair,

64

musikus, ilmuwan atau siapa saja, bisa membawa barang-barang yang dia miliki atau hasil-
hasil karyanya ke dalam kelas, sehingga kelas menjadi semacam podium/ teater yang
menyajikan kreatifitasnya pada anak-anak. Salah satu pengarang yang terkenal di USA
(Richard Lewis, 1997 dari Santrock 2004) mengunjungi salah satu kelas yang
mengundangnya. Dia membawa sebuah kelereng kaca yang besar, dia pegang diatas
kepalanya, sehingga setiap anak bisa melihat spectrum warna yang ada dalam kelereng kaca
tersebut. Dia bertanya, “Siapa yang bisa melihat apa yang sedang terjadi dalam bola kaca
ini?” Lalu dia minta anak-anak menuliskan, apa yang mereka masing masing lihat dalam
kelereng tersebut. Seorang siswa menulis, bahwa ia melihat pelangi sedang terbit, ada
matahari sedang bergerak terus, lalu dia lihat matahari itu tidur dengan bintang-bintang. Dia
juga melihat hujan turun ke tanah, lalu dia lihat ranting-ranting patah, buah apel berjatuhan
dari pohonnya dan melihat angin meniup daun-daunan.

G. Sikap Kreatif
1. Definisi Kreatif

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) “Kreatif adalah kemampuan untuk
menciptakan atau daya cipta, kreativitas juga dapat bermakna sebagai kreasi terbaru dan
orisinil yang tercipta, sebab kreativitas suatu proses mental yang unik untuk menghasilkan
sesuatu yang baru, berbeda dan orisinil.” Pembicaraan tentang kreatif tidak dapat terlepas dari
pembahasan tentang sikap kreatif. Menurut Carin dan Sund (1975: 303), orang-orang kreatif
memiliki karakteristik tertentu. Mereka memiliki rasa ingin tahu, banyak akal, mempunyai
keinginan menemukan, memilih pekerjaan sulit, senang menyelesaikan masalah, mempunyai
dedikasi terhadap pekerjaan, berpikir luwes, banyak bertanya, memberikan jawaban yang
lebih baik dari yang lainnya, mampu menyintesis, mampu melihat implikasi baru,
mempunyai semangat tinggi untuk menyelidik, dan mempunyai pengetahuan yang luas.

Adapun Russefendi (1991: 238) mengemukakan bahwa manusia yang kreatif ialah
manusia yang selalu ingin tahu, fleksibel, awas, sensitif terhadap reaksi dan kekeliruan,
mengemukakan pendapat dengan teliti dan penh keyakinan tidak bergantung pada orang lain,
berpikir ke arah yang tidak diperkirakan, berpandangan jauh, cakap menghadapi persoalan,
tidak begitu saja menerima suatu pendapat, dan kadang susah diperintah.

2. Bentuk – Bentuk Kreatif
Di dalam kehidupan di dunia ini, sikap kreatif dapat diwujudkan melalui berbagai hal.

Bentuk-bentuk kreatif itu sendiri meliputi:

65

a. Ide Kreatif
Pemikiran kreatif akan memicu munculnya ide unik yang tidak terpikir sebelumnya,

Ide adalah pemikiran yang dapat menciptakan solusi dari permasalahan yang terjadi di tengah
masyarakat.

b. Produk Kreatif (Barang dan Jasa)
Produk kreatif dihasilkan dari ide-ide yang muncul. Jadi, bisa dikatakan jika produk

adalah tangan panjang dari ide. Ide yang diejawantahkan dalam bentuk produk tertentu akan
sangat berguna bagi masyarakat dan konsumen. Tanpa ada proses kreatif, maka produk yang
dihasilkan tidak bisa sesuai dengan kebutuhan zaman.

c. Gagasan Kreatif
Kreatif dapat juga diwujudkan dalam bentuk gagasan. Gagasan ini dapat

dikemukakan langsung atau melalui tulisan. Banyak media yang dapat digunakan untuk
mengeluarkan gagasan kreatif.

3. Contoh Sikap Kreatif
 Memanfaatkan drum menjadi bangku cantik untuk ruang tamu. Drum ini dicat ulang
dan diberi beberapa ornamen sehingga membuatnya menjadi bangku yang indah
untuk menemani orang-orang yang bertamu di rumah Anda.
 Buku bekas tebal yang sudah tidak terpakai bisa Anda gunakan sebagai pot tanaman.
Pada bagian tengah buku, silakan dilubangi lantas diberi media tanam seperti tanah
dan kemudian Anda tanami bunga atau tanaman hias. Pot buku tebal bisa ditaruh
sebagai hiasan cantik di sudut ruangan!
 Gantungan baju dari roda sepeda. Bagi orang-orang yang kreatif, benda yang rusak
pun bisa memiliki nilai fungsi yang tinggi. Contohnya adalah roda sepeda tak
terpakai. Benda ini dapat digantung pada tiang yang tinggi untuk menjemur baju-baju
Anda.
 Vertical Garden dari botol Aqua bekas. Dikarenakan lahan yang sempit, banyak orang
yang menjadikannya dalih untuk tidak melakukan penghijauan. Namun, beda dengan
orang kreatif. Mereka akan membuat vertical garden dari barang bekas yakni botol
aqua. Dengan menggantungkan botol tersebut dengan susunan vertikal, lantas
dilubangi pada bagian tengahnya sebagai media tanam, maka taman vertikal di rumah
Anda pun akan tampak cantik.

66

 Gelang warna yang terbuat dari manik-manik dan peniti. Pengerjaan dari produk
kreatif ini relatif mudah serta akan memiliki nilai seni yang tinggi. Meskipun hasilnya
bagus, tapi tetap saja membutuhkan kesabaran ekstra untuk membuatnya.

4. Teori Pembentukan Sikap Kreatif
Banyak teori yang membahas tentang pembentukan sikap atau pribadi kreatif,

Munandar (2009: 32) misalnya memaparkan teori-teori pembentukan pribadi kreatif menurut
pandangan teori psikoanalisis dan teori humanistis yang digunakan sebagai landasan
pendidikan anak berbakat, antara lain:
a. Teori Psikoanalisis

Pertama, menurut teori Freud, yang dipelopori oleh Sigmund Freud (1856-1939) adalah
tokoh utama yang menganut pandangan bahwa kemampuan kreatif merupakan ciri
kepribadian yang menetap pada lima tahun pertama dari kehidupan. la menjelaskan proses
kreatif dari "mekanisme pertahanan", yang merupakan upaya tak sadar untuk menghindari
kesadaran mengenai ide-ide yang tidak menyenangkan atau tidak dapat diterima. Karena
mekanisme pertahanan mencegah pengamatan yang cermat dari dunia dan karena
menghabiskan energi psikis, mekanisme pertahanan biasanya merintangi produktivitas
kreatif. Meskipun kebanyakan mekanisme pertahanan menghambat tindakan kreatif,
mekanisme sublimasi justru merupakan penyebab utama dari kreativitas.

Kedua, teori Kris dari Ernest Kris (1900-1957) yang menekankan bahwa mekanisme
pertahanan regresi (beralih ke perilaku sebelumnya yang akan memberi kepuasan, jika
perilaku sekarang tidak berhasil atau tidak memberi kepuasan) juga sering muncul dalam
tindakan kreatif. Jika seseorang mampu untuk regress ke kerangka berpikir atau pola perilaku
seperti anak, rintangan antara alam pikiran sadar dan tidak sadar menjadi kurang, dan bahan
yang tidak disadari yang sering mengandung benih kreativitas dapat menembus ke alam
kesadaran. Orang-orang kreatif adalah mereka yang paling mampu memanggil bahan-bahan
dari alam pikiran tidak sadar, dengan demikian mereka dapat melihat masalah-masalah serius
dalam kehidupan dengan cara yang segar dan inovatif.

Ketiga, teori Jung dari Carl Jung (1857-1961) yang mengemukakan bahwa
ketidaksadaran memainkan peranan yang sangat penting dalam kreativitas tingkat tinggi.
Alam pikiran yang tidak disadari dibentuk oleh masa lalu pribadi.

2. Teori Humanistis
Berbeda dengan teori psikoanalisis, teori humanistis melihat kreativitas sebagai hasil

dari kesehatan psikologis tinggi. Kreativitas dapat berkembang selama hidup, dan tidak

67

terbatas pada lima tahun pertama. Di antara tokoh-tokoh yang termasuk kategori teori
humanistis ini ialah teori Maslow, yang ditokohi oleh Abraham Maslow (1908-1970),
pendukung utama dari teori humanistis. Menurutnya manusia mempunyai naluri-naluri dasar
yang menjadi nyata sebagai kebutuhan, di mana kebutuhan tersebut harus dipenuhi dalam
urutan tertentu.

Tokoh berikutnya yang termasuk teori humanistis ini ialah teori Rogers, dari Carl
Rogers (1902-1987). Rogers mengemukakan tiga kondisi dari pribadi kreatif, yaitu:
keterbukaan terhadap pengalaman, kemampuan untuk menilai situasi sesuai patokan pribadi
seseorang (internal locus of evaluation), dan kemampuan untuk bereksperimen.

H. Berfikir Kreatif
Setelah membahas apa itu kreatif ? dan bagaimana proses pembentukan sikap kreatif

tersebut?. Pada sub materi kali ini melanjutkan pembahasan tersebut mengenai apa iru
berfikir kreatif ? dan penerapannya pada pembelajaran di sekolah dasar. Telah dijelaskan,
kreativitas adalah kemampuan untuk mengungkapkan hubungan-hubungan baru, melihat
sesuatu dari sudut pandang baru dan membentuk kombinasi baru dari dua konsep atau lebih
yang dikuasai sebelumnya. Kreativitas ini juga bersifat spontan, terjadi karena adanya arahan
yang bersifat internal, dan kepberadaanya tiak terprediksi. Secara garis besar, maka berpikir
kreatif dapat dimaknai dengan berpikir yang dapat menghubungkan atau melihat sesuatu dari
sudut pandang yang baru.

Dalam kehidupan sehari-hari tentunya kita sering mengalami dan menghadapi
permaslaahan. Baik masalah yang muncul berulang (routine problems) atau juga
permasalahan baru yang belum pernah terjadi sebelumnya (nonroutine problems). Maka dari
itu diperlukan cara yang efektif dan efisien dalam memecahkan masalah-masalah tersebut,
salah satu solusinya dengan kemampuan berfikir kreatif. Torrance dalam Filsaime (2008 : 20)
menganggap berfikir kreatif merupakan sebuah proses yang melibatkan unsur-unsur
orisinalitas, kelancaran, fleksibelitas, dan elaborasi.

Dikatakan lebih jelas, berfikir kreatif dalam memecahkan suatu masalah adalah
sebuah proses menjadi sensitif atau sadar terhadap masalah-masalah, kekurangan, dan celah-
celah di dalam pengetahuan yang didalamnya tidak ada solusi yang dipelajari, membawa
informasi yang aad di dalam memori atau sumber-sumber eksternal, mendefinisikan
kesulitan, mencari solusi-solusi, menduga, menciptakan alternatif-alternatif yang mungkin
untuk menyelesaikan masalah tersebut, menguji kembali alternatif yang sebelumnya sudah
ditemukan, menyempurnakannya dan pada akhirnya mengomunikasikan hasil-hasilnya.

68

Definisi berfikir kreatif ini dikemukakan oleh Ennis (1981), dapat dimanifestasikan
kedalam 5 kelompok keterampilan berfikir, yaitu :

a. Memberikan penjelasan sederhana (elemtary clarification)
b. Membnagun Keterampoilan Dasar (basic support)
c. Menyimpulkan (inference)
d. Memberi penjelasan lanjut (advanced clarification)
e. Mengatur Strategi dan taktik (strategy and tactics)
Dari berfikir kretaif ini dapat menumbuhkan ketekunan dan disiplin penuh. Yang
didalamnya dapat melibatkan aktivitas mental, seperti :

a. Mengajukan pertanyaan
b. Mempertimbangkan informasi baru dan ide yang tidak lazim dengan pemikiran

terbuka
c. Membangun keterkaitan, khususnya di hal-hal yang berbeda
d. Menghubungkan berbagai hal yang bebas
e. Menerapkan imajinasi di setiap situasi untuk menghasilkan hal baru dan berbeda
f. Mendengarkan intuisi
Selanjutnya, ada komponen-komponen berfikir kreatif yang dikemukakan oleh
Munandar (1999), berikut ini penjelasannya :

a. Keterampilan berfikir lancar (fluency)
Ciri- Cirinya :

1. Mencetuskan banyak gagasan, jawaban, penyelesaian masalah atau
pertanyaan.

2. Memberikan banyak cara atau saran dlam melakukan berbagai hal.
3. Selalu memikirkan lebih dari satu jawaban.
Ditunjukkan dengan perilaku siswa, :

1. Mengajukan banyak pertanyaan.
2. Menjawab dengan sejumlah jawaban jika ada pertanyaan.
3. Memiliki banyak gagasan cara penyelesaian masalah.
4. Lancar dalam mengungkapkan gagasannya.
5. Bekerja lebih cepat dan melakukan hal lebih banyak dari anak-anak lain.
6. Cepat melihat dan mendeteksi kesalahan atau kekurangan dari suatu objek

atau situasi.

69

b. Keterampilan berfikir luwes (flexibelity)
Ciri- Cirinya :

1. Menghasilkan gagasan, jawaban, atau pertanyaan yang bervariasi.
2. Dapat melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda-beda.
3. Mencari alternatif atau arah yang berbeda-beda.
4. Mampu dengan mudah mengubah cara pendekatan atau cara pemikiran.
Ditunjukkan dengan perilaku siswa, :

1. Memeriksa aneka ragam penggunaan yang tidak lazim dari suatu objek
2. Memberi macam-macam penafsiran (interpretasi) terhadap suatu gambar,

cerita, atau masalah.
3. Menerapkan suatu konsep atau asa dengan cara yang berbeda-beda.
4. Memberikan pertimbangan terhadap situasi yang berbeda dari orang lain.
5. Dalam pembahasan atau mendiskusikan situasi selalu mempunyai posisi

yang berbeda atau bertentangan dengan mayoritas kelompok.
6. Memikirkan penyelesaian yang bermacam-macam dan berbeda-beda

terhadap suatu masalah.
7. Menggolongkan hal-hal menurut pembagian (kategori) yang berbeda-beda
8. Mampu mengubah arah berfikir secara spontan.
c. Berfikir orisinil (originality)
Ciri- Cirinya :

1. Mampu mengungkapkan hal yang baru dan unik.
2. Memikirkan cara yang tidak lazim untuk mengungkapkan diri.
3. Mampu mebuat kondisi yanh tidak lazim dari bagian-bagian atau unsur-

usur.
Ditunjukkan dengan perilaku siswa, :

1. Memikirkan masalah-masalah dan hal-hal yang tidak pernah tepikir oleh
orang lain.

2. Mempertanyakan cara-cara yang lama dan berusaha memikirkan cara-cara
yang baru.

3. Memilih asimetri dalam gambar atau membuat desain.
4. Memiliki cara berfikir yang lain dari yang lain.
5. Mencari pendekatan baru.

70

6. Setelah gagasan-gagasan bekerja untuk menemukan penyelesaian baru,
lebih senang menyintesis daripada menganalisis situasi.

d. Keterampilan memerinci (elaboration)
Keterampilan memerinci atau mengelaborasi adalah kemampuan atau

keterampilan memperkaya dan mengembangan suatu gagasan sehingga lebih menarik.

Ciri- Cirinya :

1. Mampu memperkaya dan mengembangkan suatu gagasan atau produk.
2. Menambah atau mengembangkan suatu gagasan atau produk.
3. Menambah atau memerinci secara detail dari suatu objek, gagasan,

ataupun situasi sehingga lebih menarik.
Ditunjukkan dengan perilaku siswa, :

1. Mencari arti yang lebih mendalam terhadap jawaban atau pemecahan
masalah dengan melakukan langkah-langkah yang terperinci.

2. Mengembangkan atau memperkaya gagasan orang lain.
3. Mencoba atau menguji secara detail untuk melihat arah yang akan

ditempuh.
4. Mmepunyai rasa keindahan yang kuat sehingga tidak puas dengan

penampilan yang kosong dan sederhana.
5. Membuat garis-garis, warna-warna dan detail-detail tethadap gambarnya

sendiri ataupun gambar orang lain.
Selanjutnya, pembahasan mengenai alasan pentingnya belajar kreatif. Menurut
Treffinger dalam Munandar (1984:37) :

a. Belajar kreatif membantu anak menjadi lebih berhasil-guna jika kita tidak
bersama mereka.
Belajar kreatif adalah aspek penting dari upaya kita membantu siswa agar mereka
lebih mampu menangani dan mengarahkan belajar bagi mereka sendiri. Dengan
pesatnya perubahan masyarakat dan teknologi, kita tidak mungkin mengajarkan
anak-anak sesuatu yang harus mereka tahu untuk hari depan mereka. Kita pun
tidak hanya mengajarkan agar anak-anak dapat mengulang kembali ide-ide. Kita
mengharapkan anak-anak dapat belajar hal-hal yang berharga dan bermanfaat
bagi dirinya sehingga mereka mampu dan siap menghadapi masalah-masalah
pada waktu kita tidak bersama mereka.

71

b. Belajar kreatif menciptakan kemungkinan-kemungkinan untuk memecahkan
masalah-masalah yang tidak mampu kita ramalkan, yang timbul di masa depan.
Dunia kita cepat sekali berubah. Pada sepuluh tahun terakhir ini kita saksikan
perkembangan yang cepat di segala bidang: teknologi, ekonomi, sosial,
pendidikan, dan sebagainya. Masalah-masalah yang kita hadapi sekarang ini
sangat berbeda dengan masalah-masalah yang kita hadapi dua puluh tahun yang
lalu.

c. Belajar kreatif dapat menimbulkan akibat yang besar dalam kehidupan kita.
Banyak pengalaman belajar kreatif yang lebih daripada sekedar hobi atau hiburan
bagi kita. Kita makin menyadari bahwa belajar kreatif dapat mempengaruhi,
bahkan mengubah karir dan kehidupan pribadi kita. Di samping itu, belajar
kreatif dapat menunjang kesehatan jiwa dan kesehatan jasmani kita.

d. Belajar kreatif dapat menimbulkan kepuasan dan kesenangan yang besar.
Dengan belajar kreatif memungkinkan timbulnya ide-ide, cara-cara, dan hasil-
hasil baru sebagai sumbangan yang berharga pada pembangunan nasional.

Berfikir kreatif adalah suatu cara emmbangun ide yang dapat diterapkan dalam
kehidupan. Proses kreatif ini muncul jika ada stimulus. Berikut berbagai langkah dalam
melakukan proses kreatif, melalui 5 tahap yaitu :

1. Stimulus
Konteks stimulus pada kaitanya, diartikan sebagai rangsangan atau awlan yang

diberikan oleh guru untuk memancing dan memicu siswa untuk menantangnya
berfikir akan suatu permasalahan atau objek.

2. Eksplorasi
Sebelum membuat atau mengabil suatu keputusan , siswa dibantu untuk

memerhatikan alternatif-alternatif pilihan yang ada. Untuk berfikir kreatif, siswa
harus menginvestigasi secara lanjut. Teknik-teknik perlu dilakukan untuk
meningkatkan range dan kualitas dari ide yang dikumpulkan. Teknik ini meliputi :

a) Different Thinking, jenis berfikir yang membangun, banyak jawaban yang
berbeda, dan tidak terbatas.

b) Differing Judgement, prinsip berpikir sekarang lalu mempertimbangkannya.
Prinsip ini berguna saat siwa bekerja secara individu atau memikirkan ide-ide
dalam suatu kelompok.

72

c) Extending Effort, Memperluas upaya siswa perlu diberi kesempatan,
dukungan, minat, pertanyaan, dan stimulus dari orang dewasa.

d) Allowing Time, memberi siswa waktu yang cukup untuk membangun ide-ide
dengan tahapan penting dalam proses kreatif.

e) Encourading Play, melihat seberapa jauh ide dapat diperluas, dengan
mmeberikan siswa kesempatan untuk membangunnya,
mempresentasikannya, dan mengujinya dalam aksi dan tindakannya.

3. Perncanaan
Merencanakan berbagai rencarana atau strategi dalam pemecahan masalah.

Dari strategi dan rencana yang ada, diambil beberapa yang paling tepatv sebagai
solusi.

4. Aktivitas
Berpikir kreatif dituangkan dengan aksi dan aktivitas siswa.

5. Review
Siswa perlu melakukan evaluasi dan meninjau kembali pekerjaannya dengan

menggunakan judgement dan imajinasi mereka.

Adapun upaya guru dalam meningkatkan kemampuan berpikir kreatif ini dapat
ditempuh dengan langkah-langkah sebagaimana dikemukakan oleh Filsaime (2008:25)
berikut ini :

1. Menghilangkan penghalang-penghalang daya berfikir kreatif dari siswa.
Mengidentifikasi faktor-faktor yang menghalangi ekspresi-ekspresi kretaif

siswa (seperti, ketakutan akan kegagalan) dan menemukan cara yang tepat dalam
mengatasi ketakutan tersebut.

2. Membuat mereka sadar akan asal-usul berpikir kreatif.
Guru membantu lebih lanjut siswa untuk mengetahui apa itu berpikir kreatif.

Dengan cara memperkenalkan dan menjelaskan secara detail tahap demi tahap dari
teori-teori dan model berpikir kreatif. Sehingga membuat siswa yakin bahwa mereka
juga dapat berpikir kreatif.

3. Mengenalkan dan mempraktekan strategi-strategi berpikir kreatif.
Memperkenalkan dan menjelaskan strategi untuk berpikir kreatif. Membantu

siswa untuk menerapkannya ke dalam proses pembelajaran yang mereka lakukan.

73

4. Menciptakan sebuah lingkuangan kreatif.
Guru memberikan ruang bagi siswa untuk mengekspresikan daya berfikir

kreatif mereka

Bakat kreatif pada hakikatnya ada pada setiap orang. Namun dalam pendidikan, yang
lebih penting adalah bahwa bakat kreatif ini dapat dipupuk dan dikembangkan. Berkaitan
dengan ini, menurut Munandar (1984:11) adapun kondisi lingkungan yang dapat memupuk
kreativitas anak, yaitu :

a. Keamanan Psikologis, dapat diciptakan dengan langkah-langkah :
1. Pendidik dapat menerima sebagaimana adanya, tanpa syarat, tanpa melihat
kelebihan dan kelemahannya, tetap memberikan kepercayaan kepada siswa
bahwa mereka mampu.
2. Proses pendidikan mengusahakan suasana dimana anak merasa tidak dinilai
oleh orang lain.
3. Pembelajaran dilakukan guna memberikan pengertian, memahami pikiran,
perasaan dan perilaku anak dengan menempatkan diri dalam situasi dan sudut
pandang anak.

b. Kebebasan Psikologis,
Kebebasan psikologis ini bukan hanya peran guru namun orang tua juga ikut

turut serta. Namun adapun langkah yang harus dilakukan guru dalam menciptakan
kebebasan psikologis bagi siswanya, sebagai berikut :

1. Bersikap terbuka terhadap minat dan gagasan anak.
2. Memberi waktu kepada siswa untuk memikirkan dalam pengembangan

gagasan kreatifnya.
3. Mencipatakan susasana yang saling menghargai dan menerima sesama.
4. Dorong kegiatan berpikir divergen dan jadilah narasumber.
5. Ciptakan suasana yang hangat dan mendukung, serta memberi kemanan dan

kebebasan untuk berpikir eksploratif.
6. Memberikan kesempatan kepada siswa tuntuk berperan dalam mengambil

keputusan.
7. Mengusahakan setiap siswa turut serta dalam pengambilan keputusan dan

pemecahan suatu masalah bersama atau dalam menjalankan suatu proyek.

74

8. Bersikpa positif terhadap kegagalan, membantu siswa menyadari kegagalan
dan kelemahan dan tetap membimbingnya untuk kembali mencoba.

I. Berpikir Kritis
Berpikir tidak terlepas dari aktivitas manusia, karena berpikir merupakan ciri yang

membedakan antara manusia dengan makhluk hidup lainnya. Berpikir pada umumnya
didefinisikan sebagai proses mental yang dapat menghasilkan pengetahuam Keterampilan
berpikir dikelompokkan menjadi keterampilan berpikir dasar dan keterampilan berpikir
tingkat tinggi. Berpikir ternyata mampu mempersiapkan peserta didik berpikir pada berbagai
disiplin serta dapat dipakai untuk pernenuhan kebutuhan intelektual dan pengembangan
potensi peserta didik.

Berpikir kritis adalah suatu kegiatan melalui cara berpikir tentang ide atau gagasan
yang berhubung dengan konsep yang diberikan atau masalah yang dipaparkan. Berpikir kritis
juga dapat dipahami sebagai kegiatan menganalisis idea atau gagasan ke arah yang lebih
spesifik, membedakannya secara tajam, memilih, mengidentifikasi, mengkaji, dan
mengembangkannya ke arah yang lebih sempurna. Berpikir kritis berkaitan dengan asumsi
bahwa berpikir merupakan potensi yang ada pada manusia yang perlu dikembangkan untuk
kemampuan yang optimal.

Menurut Ennis (1981), berpikir kritis adalah suatu berpikir dengan tujuan membuat
keputusan masuk akal tentang apa yang diyakini atau dilakukan. Berpikir kritis merupakan
kemampuan menggunakan logika. Logika merupakan cara berpikir untuk mendapatkan
pengetahuan yang disertai pengkajian kebenaran berdasarkan pola penalaran tertentu.
Selanjutnya, Ennis menyebutkan ada enam unsur dasar dalam berpikir kritis, yang disingkat
dengan FRISCO, yaitu Focus (fokus), Reason (alasan), Inference (menyimpulkan), Situation
(situasi), Clarity (kejelasan), dan Overview (pandangan menyeluruh).

Menurut Halpen (1966), berpikir kritis adalah member kan keterampilan atau strategi
kognitif dalam menentukan tujuan. Proses tersebut dilalui setelah menentukan tujuan,
mempertimbangkan, dan mengacu langsung kepada sasaran. Berpikir kritis merupakan
bentuk berpikir yang perlu dikembangkan dalam rangka memecahkan masalah, merumuskan
kesimpulan, mengumpulkan berbagai kemungkinan, dan membuat keputusan ketika
menggunakan semua keterampilan tersebut secara efektif dalam konteks dan tipe yang tepat.
Berpikir kritis juga merupakan kegiatan mengevaluasi, mempertimbangkan kesimpulan yang
akan diambil manakala menentukan beberapa faktor pendukung untuk membuat keputusan.

75

Berpikir kritis juga biasa disebut directed thinking, sebab berpikir langsung kepada fokus
yang akan dituju.

Pendapat senada dikemukakan juga Oleh Anggelo ( 1955 : 6), bahwa berpikir kritis
adalah mengaplikasikan rasional, kegiatan berpikir yang tinggi, yang meliputi kegiatan
menganalisis, menyintesis, mengenal permasalahan dan pemecahannya, menyimpulkan, dan
mengevaluasi.

Menurut Tapilouw (1997), berpikir kritis merupakan cara berpikir disiplin dan
dikendalikan oleh kesadaran. Cara berpikir ini mengikuti alur logis dan rambu-rambu
pemikiran yang sesuai dengan fakta atau teori yang diketahui. Tipe berpikir ini
mencerminkan pikiran yang terarah.

Berpikir kritis dapat diinterpretasikan dalam berbagai cara. Fister (1995) misalnya,
mengemukakan bahwa proses berpikir kritis adalah menjelaskan bagaimana sesuatu itu
dipikirkan. Belajar berpikir kritis berarti belajar bagaimana bertanya, kapan bertanya, dan apa
metode penalaran yang dipakai. Seorang siswa anya dapatberpikir kritis atau bernalar sampai
sejauh ia mamPU menguji pengalamannya, mengevaluasi pengetahuan, ide-ide, dan
mempertimbangkan argumen sebelum mencapai suatu justifikasi yang seimbang. Menjadi
seorang pemikir yang kritis juga meliputi pengembangan sikap-sikap tertentu, seperti
keinginan untuk bernalar, keinginan untuk ditantang, dan hasrat untuk mencari kebenaran.

Pada prinsipnya, orang yang mampu berpikir kritis adalah orang yang tidak begitu saja
menerima atau menolak sesuatu. Mereka akan mencermati, menganalisis, dan mengevaluasi
informasi sebelum menentukan apakah mereka menerima atau menolak informasi. Jika
belum memiliki cukup pemahaman, maka mereka juga mungkin menangguhkan keputusan
mereka tentang informasi itu. Dalam berpikir kritis siswa dituntut menggunakan strategi
kognitif tertentu yang tepat untuk menguji keandalan gagasan, pernecahan masalah, dan
mengatasi masalah serta kekurangannya.

Baron dan Sternberg (1987; 10), mengemukakan lima kunci dalam berpikir kritis, yaitu:
praktis, reflektif, masuk akal, keyakinan, dan tindakan. Proses berpikir dapat dikelompokkan
dalam berpikir dasar dan kompleks. Berpikir dasar merupakan gambaran dari proses berpikir
rasional yang mengandung sejumlah langkah dari sederhana menuju yang kompleks.
Aktivitas berpikir rasional, meliputi menghafal, membayangkan, mengelompokkan,
menggeneralisasi, membandingkan, mengevaluasi, menganalisis, mensintetis, mendeduksi,
dan menyimpulkan.

Fisher (1995) membagi strategi berpikir kritis ke dalam tiga jenis, yaitu: strategi afektif,
kemampuan makro, dan keterampilan mikro. Ketiga jenis strategi in satu sama lain saling

76

berkaitan. Pertama, strategi afektif bertujuan untuk Apa yang saya mengingkatkan berpikir
independen dengan sikap menguasai atau percaya diri; misalnya, saya dapat mengerjakannya
sendiri. Siswa harus didorong untuk mengembangkan kebiasaan self-questioning seperti: Apa
yang saya yakini? Bagaimana saya dapat meyakininya? Apakah saya benar-benar menerima
keyakinan ini? Untuk mencapainya, siswa perlu suatu pendamping yang mengarahkan pada
saat mengalami kebuntuan, memberikan motivasi pada saat mengalami kejenuhan dan
sebagainya, misalnya guru.

Kedua, kemampuan makro adalah proses yang terlibat dalam berpikir,
mengorganisasikan keterampilan dasar yang terpisah pada saat urutan yang diperluas dari
pikiran, tujuannya tidak untuk menghasilkan suatu keterampilan-keterampilan yang saling
terpisah, tetapi terpadu dan mampu berpikir komprehensif.

Ketiga, keterampilan mikro adalah keterampilan yang menekankan pada kemampuan
global. Guru dalam melakukan pembelajaran harus memfasilitasi siswa dalam
mengembangkan proses berpikir kritis, melakukan tindakan yang merefleksikan kemampuan,
dan disposisi seperti yang direkomendasikan.

Klasifikasi berpikir kritis menurut Ennis dibagi ke dalam dua bagian, yaitu aspek umum
dan aspek yang berkaitan dengan materi pelajaran. Pertama, yang berkaitan dengan aspek
umum, terdiri atas:

1. Aspek kemampuan (abilities), yang meliputi: (a) memfokuskan pada suatu isu
spesifik; (b) menyimpan maksud utama dalam pikiran; (c) mengklasifikasi dengan
pertanyaan-pertanyaan; (d) menjelaskan pertanyaan-pertanyaan; (e) memerhatikan pendapat
siswa, baik salah maupun benar, dan mendiskusikannya; (f) mengkoneksikan pengetahuan
sebelumnya dengan yang baru; (g) secara tepat menggunakan pernyataan dan simbol; (h)
menyediakan informasi dalam suatu cara yang sistematis, menekankan pada urutan logis; dan
(i) kekonsistenan dalam pertanyaan-pertanyaan.

2, Aspek disposisi (disposition), yang meliputi: (a) menekankan kebutuhan untuk
mengidentifikasikan tujuan dan apa yang harus dikerjakan sebelum menjawab; (b)
menekankan kebutuhan untuk mengidentifikasikan informasi yang diberikan sebelum
menjawab; (c) memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencari informasi yang
diperlukan; (d) memberikan kesempatan kepada Siswa untuk menguji solusi Yang diperoleh;
dan (e) memberikan kesempatan kepada siswa untuk mempresentasikan informasi dengan
menggunakan tabel, grafik, dan Iain-Iain.

77

Kedua, aspek yang berkaitan dengan materi pelajaran, meliputi: konsep, generalisasi,
dan algoritme, serta pemecahan masalah. Berikut ini merupakan indikator-indikator dari
masing-masing aspek berpikir kritis yang berkaitan dengan materi pelajaran, yaitu:

1. Memberikan penjelasan sederhana, yang meliputi; (a) memfokuskan
pertanyaan; (b) menganalisis pertanyaan; dan (c) bertanya dan menjawab tentang suatu
penjelasan atau tantangan.

2. Membangun keterampilan dasar, yang meliputi: (a) mempertimbangkan
apakah sumber dapat dipercaya; (b) mengamati dan mempertimbangkan suatu laporan hasil
observasi.

3. Menyimpulkan, yang meliputi: (a) mendeduksi dan mempertimbangkan hasil
deduksi; (b) menginduksi dan mempertimbangkan hasil induksi; dan (c) membuat dan
menentukan nilai pertimbangan.

4. Memberikan penjelasan lanjut, yang meliputi: (a) mendefinisikan istilah dan
pertimbangan definisi dalam tiga dimensi; (b) mengidentifikasi asumsi.

5. Mengatur strategi dan taktik, yang meliputi: (a) menentukan tindakan; (b)
berinteraksi dengan orang Iain.

Pengembangan kemampuan berpikir kritis yang optimal mensyaratkan adanya kelas
yang interaktif. Agar pembelajaran dapat interaktif, maka desain pembelajarannya harus
menarik sehingga Siswa dapat terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Dalam pembelajaran
yang mengembangkan keterampilan berpikir kritis lebih melibatkan Siswa sebagai pemikir,
bukan seorang yang diajar. Adapun pengajar berperan sebagai mediator, fasilitator, dan
motivator yang membantu siswa dalam belajar dan bukan mengajar.

Keterampilan berpikir kritis perlu dikembangkan dalam diri siswa karena melalui
keterampilan berpikir kritis, siswa dapat lebih mudah memahami konsep, peka akan masalah
yang terjadi sehingga dapat memahami dan menyelesaikan masalah, dan mampu
mengaplikasikan konsep dalam situasi yangberbeda. Pendidikan perlu mengembangkan
peserta didik agar memiliki keterampilan hidup, memiliki kemampuan bersikap dan
berperilaku adaptifdalam menghadapi tantangan dan tuntutan kehidupan sehari-hari secara
efektif. pengembangan keterampilan berpikir kritis dalam proses pembelajaran memerlukan
keahlian guru. Keahlian dalam memilih media Yang tepat merupakan salah satu faktor yang
menentukan keberhasilan

Model pernbelaiaran yang selama ini dilakukan secara konseptual dapat dikembangkan
untuk Iebih menekankan pada peningkatan menumbuhkan kemampuan siswa datam kritis
yang sesuai dengan tingkat perkembangan usianya. Menurut Sutisyana (1997), kemampuan

78

berpikir kritis siswa dapat ditumbuhkembangkan melalui proses membandingkan,
mengelompokkan, data. menafsirkan, menyimpulkan. menyelesaikan masalah. dan
mengambil keputusan.

Dalam proses pembelajaran, misalnya dalam pembeiaiaran IPS, dapat dijadikan sarana
yang tepat dalam menumbuhkan kemampuan berpikir kritis siswa. Karena dalam
pembelaiaran IPS banyak konsep atau masalah yang ada di lingkungan siswa, sehingga dapat
dijadikan suatu objek untuk dapat menumbuhkan cara berpikir kritis siswa.

Untuk dapat menumbuhkan berpikir kritis siswa dapat diterapkan suatu bentuk latihan-
latihan yang mengacu pada pola pikir siswa. Latihan-latihan ini dapat dilakukan secara
kontinu, intensif, serta terencana sehingga pada akhirnya siswa akan terlatih untuk dapat
menumbuhkan cara berpikir yang Iebih kritis.

Memang, sesungguhnya upaya untuk menumbuhkan berpikir kritis siswa merupakan
suatu kewajiban yang harus dilakukan guru. Dalam proses pembelajaran guru harus dapat
melahirkan cara berpikir yang Iebih kritis pada siswa. Guru dapat memberikan kesempatan
dan dukungan kepada siswa untuk dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kritisnya
dengan memberikan metode pembelajaran yang sesuai diharapkan dapat membantu siswa
menurnbuhkan pengetahuan keterampilan nalar yang nantinya dapat berpengaruh pada
kemampuan untuk berpikir kritis. Guru harus dapat mengembangkan suasana kelas di mana
siswa berpart'isipasi selama proses belaiar berlangsung. Kegiatan kelas yang mengacu pada
aktivitas siswa adalah dengan mengisi lembar kerja atau dengan mengadakan tanya jawab
yang dikembangkan guru. Hal ini dapat berupa mengingat kembali informasi yang telah
disampaikan. Pemahaman secara luas atau mendalami tersebut dapat melatih siswa dalam
mengembangkan berpikir kritisnya.

Dalam kaitannya dengan pengembangan kemampuan berpikir kritis siswa, hakikat
pembelajaran yang dilakukan guru berarti interaksi langsung antara guru dengan siswa, guru
dalam pembelajaran dapat berperan sebagai mediator antara siswa dengan apa yang
dipelajarinya. Guru bukan hanya memberi informasi saja tetapi juga dapat memberi petunjuk
agar siswa dapat berpikir secara kritis sellingga siswa mampu menyelesaikan setiap
permasalahan yang muncul dalam kehidupannya. Savage dan Amstrong mengembangkan
empat pendekatan yang dapat mendorong siswa untuk mengembangkan keterampilan
berpikir kritis dalam pembelajaran, yaitu: 1) kemampuan berpikir kreatif (creative thinking);
2) kemampuan berpikir kritis (critical thinking); 3) kemampuan memecahkan masalah
(problem solving); clan 4) kemampuan mengambil keputusan (decision making).

79

Upaya yang dapat dilakukan guru dalam mengembangkan kemampuan berpikir kritis
dapat dikembangkan melalui pembelajaran yang bersifat student-centered, yaitu
pembelajaran yang berpusat pada siswa. Dalam pembelajaran yang berpusat pada siswa ini,
guru memberikan kebebasan berpikir dan keleluasaan bertindak kepada siswa dalarn
memahami pegetahuan serta dalam menyelegaikan masalahnya. Guru tidak mendoktrin siswa
untuk menyelesaikan masalah hanya engan cara yang telah ia ajarkan, narnun juga
memberikan esempatan seluas-luasnya kepada siswa untuk menemukan ara-cara baru. Dalam
hal ini, siswa diberi kesempatan untuk engkonstruksi pengetahuan oleh dirinya sendiri, tidak
hanya enunggu transfer dari guru.

Untuk mengajarkan atau melatih siswa agar mampu erpikir kritis harus ditempuh
melalui beberapa tahapan. Tahapan-tahapan ini sebagaimana yang dikemukakan oleh Arief
(2004), yaitu:

1. Keterampilan menganalisis, yaitu suatu keterampilan menguraikan sebuah struktur
ke dalam komponenkomponen agar mengetahui pengorganisasian struktur tersebut. Dalam
keterampilan tersebut tujuan pokoknya adalah memahami sebuah konsep global dengan cara
menguraikan atau memerinci globalitas tersebut ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan
terperinci. Kata-kata operasional yang mengindikasikan keterampilan berpikir analitis, di
antaranya: menguraikan, mengidentifikasi, menggambarkan, menghubungkan, dan
memerinci.

2. Keterampilan menyintesis, yaitu keterampilan yang berlawanan dengan keterampilan
menganalisis, yakni keterampilan menggabungkan bagian-bagian menjadi sebuah bentukan
atau susunan yang baru, Pertanyaan sintesis menuntut pembaca untuk menyatupadukan
semua informasi yang diperoleh dari materi bacaannya, sehingga dapat menciptakan ide-ide
baru yang tidak dinyatakan secara eksplisit di dalam bacaannya

3. Keterampilan mengenal dan memecahkan masal merupakan keterampilan
aplikatifkonsep kepada beberapa pengertian baru. Keterampilan ini menuntut pernbaca untuk
memahami bacaan dengan kritis sehingga setelah kegiatan membaca selesai siswa marnpu
menangkap beberapa pikiran pokok bacaan, sehingga mampu mempola sebuah konsep.
Tujuan keterampilan ini bertujuan agar pernbaca mampu memahami dan menerapkan
konsep-konsep ke dalam permasalahan atau ruang lingkup baru.

4. Keterampilan menyimpulkan, yaitu kegiatan akal pikiran manusia berdasarkan
pengertian atau pengetahuan yang dimilikinya, dapat beranjak mencapai pengertian atau
pengetahuan (kebenaran) baru yang Iain. Keterampilan ini menuntut pembaca untuk mampu

80

menguraikan dan memahami berbagai aspek secara bertahap agar sampai kepada suatu
formula baru yaitu sebuah simpulan.

5. Keterampilan mengevaluasi atau menilai. Keterampilan ini menuntut pemikiran yang
matang dalam menentukan nilai sesuatu dengan berbagai kriteria yang ada. Keterampilan
menilai menghendaki pembaca agar memberikan penilaian tentang nilai yang diukur dengan
menggunakan standar tertentu.

Yang perlu diperhatikan dalam pengajaran keterampilan berpikir kritis ini adalah
bahwa keterampilan tersebut har-us dilakukan melalui latihan yang sesuai dengan tahap
perkembangan kognitif anak. Suprapto (2008) mengemukakan tahapan tersebut, sebagai
berikut:

1. Identifikasi komponen-komponen prosedural, yakni sis_ erkenalkan ada
keterampilan dan langkah-langkah khusus yang diperlukan dalam keterampilan tersebut.
Ketika mengajarkan keterampilan berpikir, siswa diperkenalkan pada kerangka berpikir yang
digunakan untuk menuntun pemikiran siswa.

2. Instruksi dan pemodelan langsung, yakni guru mernberikan instruksi dan pemodelan
secara eksplisit, misalnya tentang kapan keterampilan tersebut dapat digunakan. Instruksi dan
pemodelan ini dimaksudkan supaya siswa memiliki gambaran singkat tentang keterampilan
yang sedang dipelajari, sehingga instruksi dan pemodelan ini harus relatif ringkas.

3. Latihan terbimbing, yakni dimaksudkan untuk memberikan bantuan kepada anak
agar nantinya bisa menggunakan keterampilan tersebut secara mandiri. Dalam tahapan ini,
guru memegang kendali atas kelas dan melakukan pengulangan-pengulangan.

4. Latihan bebas, yaitu dengan cara guru mendesain aktivitas sedemikian rupa sehingga
siswa dapat melatih keterampilannya secara mandiri, misalnya berupa pekerjaan rumah (PR).
Latihan mandiri (PR) tidak berarti sesuatu yang menantang, melainkan sesuatu yang dapat
melatih keterampilan yang telah diajarkan.

Antara kemampuan berpikir kreatif, kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan
memecahkan masalah saling berhubungan satu sama lain. Dengan adanya kemampuan
berpikir kreatif akan melahirkan ide-ide baru dalam menghadapi masalah. Adapun untuk
menguji kebenaran diperlukan keterampilan berpikir kritis. Dalam memecahkan masalah
yang dihadapi diperlukan keterampilan berpikir kreatif dan kritis, sehingga dapat mengambil
keputusan secara reflektif. Pengambilan keputusan yang dilakukan dapat bermanfaat bagi
kehidupan dalam masyarakat, bangsa, dan negara serta komunitas.

81

J. Penguasaan Materi Pelajaran Oleh Guru
Penguasaan materi pembelajaran dapat diartikan sebagai kemampuan guru dalam

memberikan materi pembelajaran dalam bentuk tematema dan topik-topik, sehingga dapat
membentuk kompetensi tertentu pada peserta didik. Kemampuan ini diharapkan dimiliki oleh
guru untuk 5 (lima) bidang studi inovatif yang terdiri dari mata pelajaran Bahasa Indonesia,
IPA, IPS, PKN, dan Matematika.

Penguasaan materi pembelajaran oleh guru adalah kemampuan yang dimiliki guru
dalam menerapkan sejumlah fakta, konsep, prinsip dan ketrampilan untuk menyelesaikan dan
memecahkan soal-soal atau masalah yang berkaitan dengan pokok bahasan yang diajarkan.
Materi pembelajaran merupakan informasi, alat dan teks yang diperlukan guru/instruktur
untuk perencanaan dan penelaahan imple-mentasi pembelajaran. Materi pembelajaran adalah
segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam me-laksanakan
kegiatan belajar mengajar di kelas. Oleh sebab itu, materi pembelajaran adalah seperangkat
materi yang disusun secara sistematis baik tertulis mau-pun tidak sehingga tercipta
lingkungan/suasana yang memung-kinkan siswa untuk belajar.

Penguasaan materi pembelajaran bagi guru merupakan hal yang sangat menentukan
khususnya dalam proses pembelajaran. Guru merupakan ujung tombak dalam peningkatan
kualitas pembelajaran dalam kelas. Maka dari itu, untuk dapat mengajar dengan baik, seorang
guru harus menguasai bahan/materi yang akan diajarkan.

Kinerja adalah kemampuan seseorang untuk dapat menyelesaikan pekerjaan dengan
efisien dan efektif melalui penggunaan seluruh sumber daya yang terdapat dalam lingkungan
kerja, sehingga pada akhirnya akan meng-hasilkan mutu kerja optimal. Guru yang kurang
menguasai materi ajar dapat memicu kehilangan motivasi untuk mengajar, dan akibatnya
kinerja guru menurun. Oleh karena itu, diduga ada pengaruh langsung positif penguasaan
materi pembelajaran terhadap kinerja guru SD.

Materi pelajaran merupakan isi atau bahan yang akan dipelajari oleh siswa harus
dipersiapkan dengan baik untuk disampaikan kepada siswa. Mata pelajaran harus disusun
secara sistematis berdasarkan sekuensinya serta melihat rancangan program pembelajaran
(RPP) untuk mata pelajaran yang bersangkutan. Dalam proses pelaksanaan penyampian
materi harus diperhatikan suber belajar yang menunjang terhadap pengembangan
kemampuan siswa.

Pembahasan tetang peserta didik akan dilakukan pada kesempatan lain. Kali ini akan
akandiulas tentang penguasaan materi pelajaran oleh sang guru. Apa itu materi ajar?
Bagaimana syarat menguasai materi ajar? Bagaimana indikator guru yang menguasai materi

82

ajar akan dibahas dibawah ini? Dalam tinjauan klasik, mengajar adalah menyampaikan materi
ajar. Guru dituntut menguasai bidang keilmuannya secara detail dan bersifat tetap. Dengan
demikian guru dituntut untuk menguasai dengan cara menghafal semua materi ajar seperti
halnya ensiklopedia yang berjalan.Seiring dengan perkembangan teknologi tentu tuntutan di
atas tidak lagi relevan. Karena ilmu pengetahuan bersiafat dinamis dan cepat sekali
perkembangannya. Dengan demikian penguasaan materi dengan cara menghafal seluruh
informasi sering kali tidak diperlukan. Dalam kaitannya dengan pembelajaran yang perlu
dikuasai guru adalah materi ajar. Materi ajar artinya materi yang disusun oleh guru sehingga
bisa disajikan kepada siswa dengan penuh pemahaman.Suatu materi keilmuan bisa menjadi
materi ajar apabila guru menguasai tiga hal berikut ini:

Pertama, menguasai gambar besar dari materi yang diajarkan
Guru perlu mengetahui apa saja dan berapa jumlahnya standar kompetensi dan
kompetensi dasar yg diajarkan dalam satu semster dan satu tahun. Guru juga telah memiliki
rancangan kapan dan berapa lama materi itu akan di sampaikan kepada siswa.
Kedua, menguasai prinsip dasar pengembangan ilmu yang diajarkan
Ilmu pengetahuan alam contohnya, akan memiliki objek berupa kajian benda nyata,
pendekatannya pengamatan dan percobaan, hasilnya untuk mendapatkan generalisasi atau
teori. Berbeda denga ilmu pengetahuan sosial, objek kajiannya masyarakat, pendekatannya
pengamatan dan hasilnya untuk memperoleh gambaran umum.
Ketiga, mampu menyesuiakan materi dengan tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran yang ditulis di papan tulis merupakan pemandu materi ajar.
Dengan demikian sang guru perlu memilah dan memilih materi-materi yang perlu disajikan
atau tidak disajikan. Dengan demikian hanya materi yang sesuai dengan tujuan belajar saja
yang disajikan.Sama seperti menyajikan makanan, menyajikan materi ajar juga perlu aturan
tertentu. Beberapa aturan yang perlu dilakukan untuk menyajikan materi kepada siswa
adalah sebagai berikut:
1. Mengkaitkan materi dengan pengetahuan lain yang relevan
Pastikan materi ajar memiliki kaitannya dengan matari sebelumnya, materi yang akan
datang dan materi pada ilmu-ilmu lain
2. Mengkaitkan materi dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Pastikan materi ajar merupakan bagian dari perkembangan iptek dengan demikian jika
menguasainya akan dapat ikut andil dengan pengembangan iptek
3. Mengkaitkan materi dengan kehidupan nyata

83

Kaitkan materi yang dipelajari dengan dunia sehari-hari di lingkungan siswa, dunia
yang nyata, benda-benda yang nyata

4. Menyajikan materi secara simpel dan sistematis
Sajikan materi ajar dengan bahasa yang mudah dipahami siswa, atur intonasi yang tepat
dan dengan ujaran yang runtut. Jika bahan ajar perlu dituangkan dalam bentuk visual buatlah
dengan gambar yang sederhana yang mudah dimengerti siswa. Selain itu, penyajian materi
yang sistematis dan berkesinambungan penting agar antara bahan yang satu dengan bahan
berikutnya ada hubungan fungsional, dimana bahan yang satu menjadi dasar untuk bahan
berikutnya. Sementara dalam menentukan materi pelajaran perlu memasukkan bahan yang
faktual dan sifatnya konkret dan mudah diingat, serta bahan yang sifatnya konseptual
berisikan konsep-konsep abstrak.
5. Menyajikan materi mudah ke sulit
Sajikan materi dari hal-hal mudah ditingkatkan secara berurutan tingkat kesulitannya
6. Menyajikan materi konkrit ke abstrak
Ambillah benda-benda yang konkrit untuk disajikan di awal pembelajaran dilanjutkan
dengan ilustrasi gambar dan kemuadian membuat konsep
7. Menyajikan materi umum ke khusus
Mulanya sampikan beragam aktivitas umum bisa dilakukan sendiri maupun kelompok
selanjutnya diakhiri penyimpulan bersama Dengan demikian penguasaan materi ajar tidak
sekedar penguasaan sesara statis akan tetapi penguasaan yang dinamis sesuai dengan
kebutuhan pembelajaran siswa.

Dengan melihat kenyataan dan tuntunan seperti di atas, menuntut guru untuk
menguasai materi pelajaran dengan baik. Mustahil, guru dapat merencanakan pembelajaran,
memfasilitasi pembelajaran hingga pada tahap evaluasi pembelajaran jika guru tidak
menguasai materi pembelajaran. Sebagai perencana pengajaran, sebelum proses pembelajaran
guru harus menyiapkan berbagai hal yang diperlukan, seperti mata pelajaran apa yang harus
disampaikan, bagaimana cara menyampaikannya dan media apa yang harus digunakan.

Oleh karena itu, untuk menjadi guru atau pendidik yang professional, menurut Raka
Joni (2007), guru harus memiliki empat kompetensi dasar, yaitu : kompetensi kepribadian,
pedagogis, sosial, dan professional. Seluruh kompetensi profesi yang dituntut dari seorang
guru, semata-mata untuk meningkatkan kualitas pembelajaran yang pada akhirnya dapat
dinilai dari proses dan hasil belajar.

84

Jadi, dapat ditegaskan lagi disini, bahwa kemampuan menguasai materi pelajaran oleh
guru menjadi prasarat penting bagi tercapainya keberhasilan proses belajar mengajar. Adanya
buku paket pelajaran yang dapat dibaca oleh siswa tidak mengandung arti bahwa guru tidak
perlu menguasai bahan. Memang guru tidak mungkin serba tahu, tetapi mata pelajaran yang
diembannya menjadi tanggung jawab guru bersangkutan. Yang menjadi persoalan ialah
konsep-konsep manakah yang harus dikuasai oleh guru sehubungan dengan pelaksanaan
proses belajar mengajar. Menurut Udin, secara jelas dan tegas sesungguhnya konsep-konsep
tersebut telah ada dalam kurikulum, kgususnya RPP bidang studi yang dipegangnya.

85

BAB 9

PEMBELAJARAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL DI SEKOLAH DASAR
A. HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

Ilmu pengetahuan sosial adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji berbagai didiplin
ilmu sosial dan humanioraserta kegiatan dasar manusia yang dikemas secara ilmiah dalam
rangka memberi wawasan dan pemahaman yang mendalam kepada peserta didik,khususnya
di tingkat dasar dan menengah.Luasnya kajian IPS ini mencakup berbagai kehidupan yang
beraspek majemuk baik hubungan sosial, ekonomi, psikologi, budaya, sejarah,maupun
politik.

Menurut zuraik dalam djahari(1984) hakikat IPS adalah harapan untuk mampu membina
suatu masyarakat yang baik di mana para anggotanya berkembang sebagai insan sosial yang
rasional dan penuh tanggung jawab,sehingga oleh karenanya diciptakan nilai-nilai.Hakikat
IPS di sekolah dasarnmemberikan pengetahuan dasar dan keterampilan sebagai media
pelatihan siswa sebagai warga Negara sedini mungkin.

Jadi, hakikat IPS adalah untuk mengembangkan konsep pemikiran yang berdasarkan
realita kondisi sosial yang ada di lingkungan siswa, sehingga dengan memberikan pendidikan
IPS diharapkan dapat melahirkan warga Negara yang baik dan bertanggung jawab terhadap
bangsa dan negaranya.Nilai-nilai yang wajib dikembangkan dalam pendidikan IPS yaitu:
nilai-nilai edukatif,praktis,teoritis,filsafat, dan kebutuhan.

Dalam kurikulum Pendidikan Dasar Tahun 1993, disebutkan bahwa IPS adalah mata
pelajaran yang mempelajari kehidupan sosial yang di dasarkan pada bahan kajian geografi,
ekonomi, sejarah, antropologi, sosiologi, dan tata Negara.Tujuan utamanya adalah membantu
mengembangkan kemampuan dan wawasan siswa yang menyeluruh(komprehensif) tentang
berbagai aspek ilmu-ilmu sosial dan kemanusiaan(humaniora).

Secara spesifik, forum komunikasi II HISPIPSI Tahun 1991 di Yogyakarta membagi
rumusan pengertian pendidikan IPS kedalam dua bagian, yaitu pengertian pendidikan IPS
menurut versi pendidikan dasar dan menengah, dan pengertian IPS menurut versi pendidikan
tinggi atau perguruan tinggi, yang bernaung dibawah Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan
Sosial(FPIPS). Pertama, menurut versi pendidikan dasar dan menengah, pendidikan IPS
adalah penyederhanaan atau adaptasi dari disiplin ilmu-ilmu sosial dan humaniora serta
kegiatan dasar manusia yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan
pedagogis/psikologis untuk tujuan pendidikan. Kedua, menurut versi di perguruan tinggi,

86

pendidikan IPS adalah seleksi dari disiplin ilmu-ilmu dan humaniora serta kegiatan manusia
yang diorganisasikan dan disajikan secara ilmiah dan psikologis untuk tujuan pendidikan.

Menurut Banks, pendidikan IPS tau yang dia sebut social studies, merupakan bagiana
dari kurikulum disekolah yang bertujuan untuk membantu mendewasakan siswa supaya dapat
mengembangkan pengetahuan, keterampilan,sikap,dan nilai-nilai salam rangka berpatisipasi
didalam masyarakat,Negara, bahkan dunia.Pendidikan IPS menurut Jarilimek(1982: 78),
yang menyatakan bahwa pada dasarnya pendidikan IPS berhubungan erat dengan
pengetahuan, keterampilan,sikap, daan nilai-nilai yang memungkinkan siswa berperan serta
ddalam kelompok masyarakat dimana ia tinggal. Selanjutnya Buchari Alma(2003:
148)pengertin IPS sebagai suatu program pendidikan yangmerupakan suatu keseluruhan yang
pada pokoknya mempersoalkan manusia dalam lingkungan alam fisik, maupun dalam
lingkungan sosialnya yang bahannnya diambil dari berbagai ilmu sosial:
geografi,sejarah,ekonomi,antropologi,sosiologi, politik, dan psikologi. Menurut Fraenkel
(1980: 34) pendidikan IPA ini dapat membantu para siswa menjadi lebih mampu mengetahui
tentang diri mereka dan dunia dimana mereka hidup.

Secara historis, pendidikan IPS sebagai bidang studi dalam kurikulum sekolah mulai
diajarkan di Indonesia sekitar tahun 1975 sebagai bidang studi IPS dalam kurikulum
SD,SMP, Dan SMA.

Definisi pendidikan IPS yang diberiksn oleh NCSS pada prinsipnya menjelaskan bahwa
pendidikn IPS adalh suatu kajian terpadu dari ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu kemanusiaan
untuk meningkatkan kemampuan kewarganegaraan (civic competence).

B. TUJUAN PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR
Lebih jauh lagi dalam Pendidikan IPS di kembangkan 3 aspek atau 3 ranah

pembelajaran, yaitu:
Aspek pengetahuan ( kongnitif ), keterampilan ( psikomotorik ),dan sikap ( afektif ).

Tiga aspek ini merupakan acuan yang berorientasi untuk mengembangkan pemilihan
materi,strategi,dan model pembelajaran.

Tujuan Pendidikan ilmu sosial dikembangkan atas dasar pemikiran bahwa Pendidikan
ilmu – ilmu sosial dikembangkan atas dasar pemikiran suatu disiplin ilmu,sehingga tujuan
Pendidikan nasional dan tujuan istitusional menjadi landasan pemikiran mengenai tujuan
Pendidikan ilmu nasional.

Tujuan utama pembelajaran IPS ialah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar
peka terhadap masalah sosial yang terjadi di masyarakat,memiliki sikap mental positif
terhadap perbaikan segala ketimpangan yang terjadi,dan trampil mengatasi setiap masalah

87

yang terjadi sehari – hari baik yang menimpa dirinya sendiri maupun yang menimpa
masyarakat.
Secara perinci ,Mutakin ( 1998 ) merumuskan tujuan pembelajaran IPS di sekolah, adalah
sebagai berikut :
1. Memiliki kesadran dan kepedulian terhadap masyarakat atau lingkugannya,melalui

pemahaman terhadap nilai – nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat.
2. Megetahui dan memahami konsep dasar dan mampu mengunaka metode yang

diadaptasi dari ilmu – ilmu sosial yang kemudian dapat digunakan untukmemecahka
masalah – masalah sosial.
3. Mampu mengunakan model – model dan prosese berpikir serta membuat keputusan
untuk menyelesaika isu dan masalah yang berkembang di masyarakat.
4. Menaruh perhatian terhadap isu dan masalah sosial, serta mampu analisi yang
kritis,selanjutnya mampu mengambil tindakan yang tepat.
5. Mampu mengembangkan berbagai potensi sehingga mampu membangun diri sendiri
agar survive dan kemudian bertanggung jawab membangun masyarakat.
Nurhadi (1997: 13) menyebutkan bahwa ada 4 tujuan pendidika IPS, yaitu: Knowledge,
skill, attitude, dan value.
1. Knowledge, yaitu sebagai tujuan utama dari pedidikan IPS yaitu membantu para siswa
sendiri untuk mengenal diri mereka sendiri dan lingkungannya, dan mencakup geografi,
sejarah, politik, ekonomi, da sosiologi psikologi.
2. Skill, yang mencakup keterampilan berpikir (thingking skill).
3. Attitudes, yang terdiri atas tingkah laku berpikir (intelektual behavior) dan tingkah laku
sosial (sosial behavior).
4. Value, yaitu nilai yang terkandung didalam masyarakat yang diperoleh dari lingkungan
masyarakat maupun Lembaga pemerintahan, termasuk didalamya iia kepercayaan,nilai
ekonomi, pergaulan antar bangsa, dan ketaaatan terhadap pemerintah dan hukum.
Tujuan utama Pendidikan IPS, sebagaiman disebutkan oleh Nurhadi diatas adalah
untuk mengenal diri mereka sendiri da lingkungannya,utuk membentuk dan
mengembangkan pribadi wargaegara yang baik (good citizenahip) yang secara umum
dapat digambarkan sebagai warga negara yang mmepunyai ciri-ciri,seperti yang
dikemukakan Barth and Sheirmis sebagai berikut:
1. Memiliki sifat patrionusme, yaitu cinta tanah air ,bangsa, dan negara.
2. Mempunyai penghargaan dan pegertian terhadap nllai-nilai,peraata, dan praktik
kehidupan kemasyarakatan.

88

3. Memiliki sifat integritas sosial dan tagging jawab sebagai warga negara.
4. Mempunyai pengertian dan penghargaan terhadap nilai-nilai budaya atautradisi yang

diwariskan oleh bangsanya.
5. Mempunyai motifvasi untuk turut serta secra aktif dalam pelaksanaa kehidupan

demokratsis.
6. Memiliki kesadran (taggap akan) masalah sosial.
7. Memiliki ide,sikap, dan keteram[pilan yang diharapkan seabgai seorang warga negara.
8. Mempuntai pengertian da penghargaan terhadap system ekonomi yang berlaku.
Secara khusus, tujuan Pendidikan IPS disekolah dapat dikelompokkka menjadi 4
komponen, sebagaimaa yang dikemukaka oleh Chapin dan Messick (1992) yaitu
1. Memberikan kepada siswa pengetahuan tentang pengalaman manusia dalam kehidupan

bermasyarakat pada masa lalu, sekarang, dan masa yang akan datang.
2. Menolong siswa untuk mengembangkan keterampilan untuk mencati dan mengolah

atau memperoses informasi.
3. Menolong siswa untuk mengembagkan nilai/sikap demokrasi dalam kehidupan

masyarakat.
4. Menyediakan kesempatan kepda siswa untuk berperan serta dalam kehidupan sosial.
Hamid hasan (1996 :98) membagi tujuan Pendidikan ilmu sosial dalam 3 kategori sebagai
berikut :
1. Pengembangan kemampuan intelektual siswa yag berorientasi pada pengembangan

kemampuan pengembagan intelektual yang berhubungan dengam diri siswa dan
jepentinga ilmu.
Tujuannya adalah mengembangkan kemampuan siswa dalam berpikir da memahami
ilmu sosial serta kemampuan proses dalam mencari informasi.
2. Pengembangan kemampuan dan rasa tanggung jawab sebagai anggota masyarakat dan
bangsa berorientasi pada pengembangan diri siswa dan kepentingan masyarakat yang
dinamakan kemampuan sosial. tujuannya mengembangkan kemampuan partisipasi
dalam kegiatan-kegiatan masyarakat dan bangsa termasuk tanggung jawab sebagai
warga dunia selain itu juga mengembangkan pemahaman dan sikap positif siswa
terhadap nilai,norma, dan moral yang berlaku di masyarakat.
3. Pengembangan diri sebagai pribadi berorientasi pada pengembangan pribadi siswa baik
untuk kepentingan dirinya masyarakat,maupun ilmu. Tujuannya berkenaan dengan
pengembangan sikap nilai, norma, moral,yang menjadi anutan siswa dalam

89

pembentukan kebiasaan positif untuk kehidupan pribadinya serta sikap positif terhadap
diri untuk memacu perkembangan diri sebagai pribadi.
Pendidikan IPS merupakan salah satu mata pelajaran dapat memberikan wawasan
pengetahuan yang luas mengenai masyarakat lokal maupun Global sehingga mampu hidup
bersama-sama dengan masyarakat lainnya. Untuk mencapai tujuan tersebut, Sekolah Dasar
sebagai lembaga formal dapat mengembangkan dan melatih potensi diri siswa yang mampu
melahirkan manusia yang andal baik dalam bidang akademik maupun dalam aspek moralnya.
Tujuan pembelajaran IPS di sekolah dasar berdasarkan kurikulum sekolah dasar 1945 pada
kepentingan siswa ilmu dan sosial (masyarakat). Tujuan pembelajaran IPS yang tercantum
dalam kurikulum,adalah agar siswa mampu mengembangkan pengetahuan dan keterampilan
dasar yang berguna bagi dirinya dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berarti, tujuan
pendidikan IPS bukan hanya sekedar membekali siswa dengan berbagai informasi yang
bersifat hafalan kognitif saja akan tetapi pendidikan IPS harus mampu mengembangkan
keterampilan berpikir, agar siswa mampu mengkaji berbagai kenyataan sosial beserta
permasalahannya. Tujuan yang harus dicapai oleh siswa sekolah dasar harus disesuaikan
dengan taraf perkembangannya, yang dimulai dari pengenalan dan pemahaman lingkungan
sekitar menuju lingkungan masyarakat yang lebih luas. Dimulai dari lingkungan terdekat
menuju lingkungan yang lebih luas.
Demikian pula dalam kaitannya dengan KTSP, pemerintah telah memberikan arah yang
jelas pada tujuan dan ruang lingkup pembelajaran IPS,yaitu:
1. Mengenal konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan
lingkungannya.
2. Memiliki kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri,
memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan sosial.
3. Memiliki komitmen da kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan.
4. Memiliki kemampuan berkomunikasi bekerja sama dan berkompetisi dalam masyarakat
yang majemuk,d ditingkatkan local, nasional, dan global.
Pembelajaran IPS mempunyai misi utama yang sangat mulia sebagaimana dikemukakan
oleh djahiri (1996 : 36) yang memanusiakan manusia dan masyarakat secara fungsional
dan penuh rasa kebersamaan serta rasa tanggung jawab hendaknya Mampu menampilkan
harapan-harapan, sebagai berikut :
1. Mampu memberikan pembekalan pengetahuan tentang manusia dan seluk beluk
kehidupannya dalam astra kehidupan.

90

2. Membina kesadaran keyakinan dan sikap pentingnya hidup bermasyarakat dan penuh
rasa kebersamaan bertanggungjawab dan manusiawi.

3. Kondisi kehidupan masyarakat sekitar masa kini dan kelak yang diharapkan.
4. Proyeksi harapan pembangunan nasional atau daerah yang tentunya mampu dijangkau

dan diperakan siswa kini dan kelak dikemudian hari.
5. Isi dan pesan nilai moral budaya bangsa dari negara Indonesia.
Adapun tujuan pemebelajaran IPS disekolah dasar meurut Munir (1997 :132), sebagai
berikut:
1. Membekali anak didik dengan pengetahuan sosial yang berguna dalam kehidupan kelak

dimasyarakat.
2. Membekali anak didik dengan kemampuan megidentifikasi, menganalisis, dan

menyusun alternative pemecahan masalah sosial yang terjadi dalam kehidupan
masyarakat.
3. Membekali anak diidk dengan kemampuan berkomunikasi dengan sesama warga
masyarakat dan bidang keilmuan serta bidang keahlian.
4. Membekali anak didik dengan kesadaran, sikap mental yang positif, dan keterampilan
keilmuan terhadap pemanfaatan lingkugan hidup yang menjadi bagian dari kehidupan
tersebut.
5. Membekali anak didik dengan kemampuan mengembangkan pengetahuan dan
keilmuan IPS sesuai dengan perkembangan kehidupan masyarakat, ilmu pengetahuan,
dan teknologi.
Tujuan lain secara eksplisit, dengan mempelajari kondisi masyarakat Seperti yang
dimuat dalam pendidikan IPS ini, maka siswa akan dapat mengamati dan mempelajari
norma norma atau peraturan serta kebiasaan-kebiasaan baik yang berlaku dalam
masyarakat tersebut, sehingga siswa mendapat pengalaman langsung adanya hubungan
timbal balik yang saling mempengaruhi antara kehidupan pribadi dan masyarakat dalam
pendidikan IPS tersebut, siswa akan memperoleh pengetahuan dari yang sederhana sampai
yang lebih luas (expanding community), yakni siswa akan mulai diperkenalkan dengan
diri sendiri (self) kemudian keluarga, tetangga, lingkungan RT dan RW, kelurahan atau
desa, kecamatan, kota/kabupaten, provinsi, negara, negara tetangga, kemudian dunia.
Pengetahuan anak secara pasti akan berkembang Namun karena anak memiliki
berbagai potensi yang masih laten maka mereka memerlukan proses serta sentuhan-
sentuhan tertentu dalam perkembangannya. Mereka yang memulai dari potensi dirinya
kemudian belajar, akan menjadi berkembang dengan kesadaran akan ruang dan waktu

91

yang semakin meluas, dan mencoba serta berusaha melakukan aktivitas yang berbentuk
intervensi dalam dunianya. Maka dari itu, pendidikan IPS merupakan salah satu upaya
yang akan membawa kesadaran terhadap ruang ,waktu, dan lingkungan sekitar bagi anak,
khususnya dalam hal ini adalah siswa sekolah dasar.

Pendidikan IPS di sekolah dasar harus memperhatikan kebutuhan anak yang berada
pada usia berkisar antara 6- 7 tahun sampai 11 atau 12 tahun. Masa usia ini, menurut
Piaget (1963) berada dalam perkembangan kemampuan intelektual/kognitif nya pada
tingkatan konkret operasional. Mereka memandang dunia dalam keseluruhan yang utuh,
dan menganggap tahun yang akan datang sebagai waktu yang masih jauh. Yang mereka
pedulikan ialah masa sekarang (konkret) dan bukan masa depan yang belum bisa mereka
pahami (abstrak) padahal bahan materi pendidikan IPS adalah dengan pesan-pesan yang
bersifat abstrak .Konsep seperti waktu, perubahan, kesinambungan (continuity), arah mata
angin, lingkungan,ritual agama, akulturasi, kekuasaan, demokrasi, nilai,peranan,
permintaan atau kelangkaan adalah konsep-konsep abstrak yang dalam program studi IPS
harus diajarkan kepada siswa sekolah dasar tersebut.

Oleh karena itu, berbagai cara dan teknik pembelajaran dikaji untuk memungkinkan
konsep-konsep abstrak itu dipahami anak. Brunner (1978 : 4 )misalnya memberikan
pemecahan berbentuk jembatan Bailey untuk mengkonkretkan abstrak yaitu dengan
enactive, iconic, dan symbolic, melalui bertentangan dengan gerak tubuh, gambar, bagan,
peta, grafik, lambang, keterangan lanjut atau elaborasi dalam kata-kata yang dapat
dipahami siswa. Itulah sebabnya pendidikan IPS di sekolah dasar bergerak dari yang
konkret menuju ke yang abstrak dengan mengikuti pola pendekatan lingkungan yang
semakin meluas (expanding environment approach) dan pendekatan spiral dengan
memulai dari yang mudah kepada yang sukar, dari yang sempit menjadi lebih luas, dari
yang dekat menuju ke yang jauh, dan seterusnya.

C. METODE PEMBELAJARAN IPS DI SEKOLAH DASAR
Metode secara harfiah diartikan cara. Dalam pemakaian yang umum diartikan sebagai

cara melakukan suatu kegiatan atau cara melakukan pekerjaan dengan menggunakan
faktar dan konsep-konsep secara sistematis. Metode dapat dianggap sebagai suatu
prosedur atau proses yang teratur, suatu jalan atau cara yang teratur untuk melakukan
segala sesuatu. Metode adalah cara yang dianggap efisien yang digunakan oleh guru dalam
menyampaikan suatu mata pelajaran tertentu kepada siswa, agar tujuan yang telah
dirumuskan sebelumnya dalam proses kegiatan pembelajaran dapat tercapai dengan

92

efektif. Sedangkan mengajar diartikan sebagai penciptaan suatu sistem lingkungan yang
memungkinkan terjadinya proses belajar. Dengan demikian, dapat dimengerti bahwa
metode mengajar adalah cara atau alat yang dipakai oleh seorang pendidik dalam
menyampaikan bahan pelajaran sehingga bisa diterima oleh siswa dan juga tercapainya
tujuan yang diinginkan, atau bagaimana teknisnya pelaksaan proses belajar mengajar.
Metode Pembelajaran IPS berpijak pada aktivitas yang memungkinkan siswa baik secara
individual maupun kelompok aktif mencari, menggali dan menemukan konsep serta
prinsip IPS secara holistis dan autentik. Melalui pembelajaran IPS, peserta didik dapat
memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima,
menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan
demikian, siswa terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari.
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi penetapan metode yang akan diterapkan dalam
proses pembelajaran :

Dalam pemilihan atau penetapan metode yang akan diterapkan dalam proses
pembelajaran, maka hendaknya memerhatikan faktor faktor yang dapat memengaruhinya,
sebagaimana yang dikemukakan oleh Subiyanto (1990 : 71) berikut:
1. Metode hendaknya sesuai dengan tujuan. Tujuan adalah suatu cita-cita yang akan

dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Adapun metode dengan tujuan saling
berhubungan. Artinya, metode harus menunjanh pencapaian tujuan pengajaran. Bila
tidak, maka akan sia-sialah perumusan tujuan tersebut.
2. Metode hendaknya disesuaikan dengan bahan pengajaran. Metode pengajaran untuk
mata pelajaran yang satu berbeda dengan mata pelajaran yang lain. Bahan pelajaran
dapat dianggap sebagai pedoman atau petunjuk bagi guru untuk menentukan metode
mengajar yang akan digunakan.
3. Metode hendaknya diadaptasikan dengan kemampuan siswa. Menyesuaikan metode
mengajar dengan kemampuan siswa, didasaekan pada tingkat atau jenjang pengajaran.
Metode dalam mengajarkan perkembangan untuk siswa sekolah dasar akan berbeda
dengan siswa sekolah menengah. Selain itu juga, penyesuaian metode mengajar itu
menyangkut pemilihan media yang dimanfaatkan. Seyogianya guru memanfaatkan
media yang berbeda dalam mengajar di sekolah dasar, karena terdapat perbedaan
kematangan siswa yang bervariasi memengaruhi pemilihan dan penentuan metode
pengajaran.

93

2. Metode Pengajaran dalam IPS di Sekolah Dasar
Metode pengajaran IPS dapat di bagi dua klasifikasikan yaitu metode yang

interaksi edukatifnya berlangsung di dalam kelas misalnya metode ceramah, tanya
jawab, diskusi, demonstrasi, aksperimen, sosiodrama, rool playing, dan tugas atau
resitasi serta kerja kelompok dan interaksi yang edukatif yang berlangsung di luar kelas
misalnya metode karya wisata dan observasi.
1. Metode Interaksi Edukatif Dalam Kelas
a. Metode ceramah

Menurut Tjipto Utomo &Ruitjen : 1982, metode ceramah merupakan bentuk
pengajaran dimana guru mengalihkan informasi kepada sekelompok besar siswa
dengan cara yang utama bersifat verbal atau kata-kata.
b. Metode tanya-jawab
Metode tanya jawab adalah suatu format interaksi antara guru dengan siswa melalui
kegiatan bertanya yang dilakukan oleh guru untuk mendapatkan respon lisan dari
siswa, sehingga dapat menumbuhkan pengetahuan baru pada diri siswa.
c. Metode Diskusi atau Metode Musyawarah
Metode diskusi dalam pembelajaran IPS adalah suatu cara penyajian materi
pelajaran dimana siswa dihadapkan kepada suatu masalah, baik berupa pernyataan
maupun berupa pertanyaan yang bersifat problematik untuk dibahas atau dipecahkan
oleh siswa secara bersama-sama.
d. Metode Penugasan (Pemberian tugas)
Metode penugasan adalah suatu penyajian bahan pembelajaran dimana guru
memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar dan memberikan
laporan sebagai hasil dari tugas yang dihasilkannya.
e. Metode Kerja Kelompok
Metode kerja kelompok merupakan format belajar mengajar yang menitikberatkan
kepada interaksi antara anggota yang satu dengan anggota yang lain dalam suatu
kelompok, guna menyelesaikan tugas secara bersama-sama.
f. Metode Demonstrasi
Demonstrasi merupakan format belajar mengajar yang sengaja mempertunjukan atau
memperagakan tindakan, proses atau prosedur yang dilakukan oleh guru atau orang
lain kepada seluruh atau sebagian siswa.
g. Metode Eksperimen (Percobaan)

94

Eksperimen adalah format interaksi belajar mengajar yang melibatkan logika induksi
untuk menyimpulkan pengamatan terhadap proses atau hasil percobaan.
h. Metode Simulasi
Simulasi merupakan format interaksi belajar mengajar dalam pengajaran IPS yang
didalamnya menampakan adanya prilaku pura-pura(simulasi) dari orang yang
terlibat dalam proses pembelajaran atau suatu peniruan situasi tertent, sehingga
siswa dapat memahami konsep, prinsip-prinsip keterampilan, nilai dan sikap dari
sesuatu dari yang sedang disimulasikan.
i. Metode Inquiri dan Discovery
Metode Inquiri dan Discovery dalam pembelajaran merupakan suatu prosedur yang
menekankan belajar secara individual dimana siswa berusaha melakukan aktivitas
sendiri untuk mencari dan meneliti sesuatu sebelum menarik suatu kesimpulan.

2. Metode Interaksi Edukatif di Luar Kelas
a.Metode Karyawisata

Metode karyawisata merupakan suatu kegiatan belajar mengajar dimana siswa
dibawa ke suatu objek di luar kelas untuk mengkaji atau mempelajari suatu masalah
yang berhubungan dengan materi pelajaran atau dengan kata lain karyawisata
merupakan suatu upaya mendekatkan atau membawa diri siswa kepada kehidupan
nyata yang menjadi sumber belajar bagi para siswa.
b. Metode Observasi
Merupakan kelanjutan atau alat yang diperlukan pada saat pelaksanaan karyawisata.
Metode observasi adalah format pembelajaran di mana siswa dibawa ke luar kelas
untuk mengamati suatu objek atau peristiwa kemudian merekamnya dengan
menggunakan lembar pengamatan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.
3. Prinsip-prinsip yang harus diperhatikan guru dalam memilih metode
pembelajaran IPS di sekolah dasar
Dalam memilih metode pembelajaran IPS di sekolah dasar, berdasarkan Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), guru diharapkan memerhatikan prinsip-prinsip
berikut:
1. Berpusat pada peserta didik agar mencapai kompetensi yang diharapkan. Peserta
didik menjadi subjek pembelajaran sehingga keterlibatan aktivitasnya dalam
pembelajaran tinggi. Tugas guru adalah mendesain kegiatan pembelajaran agar

95


Click to View FlipBook Version