19
Teks 2
Nasihat Terakhir Bapak
Aida Ramli
Sebelum dibawa ke pemakaman, ku perhatikan tubuh Bapak dibungkus
kain kafan. Wajahnya terlihat pucat pasi. Aku hampir melupakan umur Bapak
sudah enam puluh tahun lebih. Meski begitu, Bapak masih kuat mengaduk semen
dan memasang genteng rumah-rumah tetangga. Bapak selalu bersemangat bekerja
demi membiayai kuliahku menjadi guru Agama, seperti cita-citanya.
Satu hari sebelum Bapak meninggal. Kami Beradu argumen di teras rumah.
Bapak menasihaitiku, perihal keakrabanku dengan Basir, teman sejawatku yang
telah menikah muda.
“Kamu inikan anak perawan. Jangan terlalu akrab dengan Basir. Diakan
sudah beristeri. Tidak baik nduk. Apa kata tetangga nanti.”
“Bapak ini gimana to, Basir kan teman sekampus Yulia. Lagian kita ketemu
bukan untuk macam-macam kok Pak!
“Tetap saja nduk, mana tahu orang kampung tentang itu. Mereka pasti
mengira kamu dan Basir berbuat macam-macam. Apalagi isterinya tahu nanti.”
“Terserah Bapak saja mau percaya atau nda sama Yul.” Dengan wajah
kecut, aku memandang laki-laki paruh baya itu.
“Bapak tegaskan lagi! Demi kebaikanmu. Jangan main-main dengan punya
orang.” Suara Bapak meninggi. Seutas kalimat terakhir, yang sedikit membuatku
terganggu. Setelahnya, Bapak masuk menemui Ibu dengan wajah kecut.
Bapak meninggal karena serangan jantung usai khutbah Jum’at di Mesjid
di samping pendopo Bupati. Ketika itu, terhembus kabar Basir dan isterinya akan
bercerai karena aku. Kini tak ada lagi suara Bapak. Rumah pasti akan sangat sepi.
Hanya aku dan Ibu di rumah tua ini. Hatiku seakan dihantam baja. Selama Bapak
20
hidup, nasihat Bapak tak banyak aku turuti. Aku menangis dipangkuan Ibu, tak
kuasa menahan rasa bersalah.
***
Sebulan setelah kepergian Bapak. Aku tidak pernah lagi berjumpa Basir.
Aku memutuskan berhenti kuliah. Ibu menyesalkan keputusanku.
“Bagaimanapun kamu harus tetap kuliah nduk. Jangan kamu langgar pesan
Bapakmu. Kamu jangan mengkhawatirkan Ibu. Ibu masih mampu membiayai
kuliahmu.” Tukas Ibu lirih.
“Maafkan Yulia Bu. Keputusan Yulia sudah bulat.” Ibu terdiam. Sungguh,
aku tak berniat menolak keinginan tulusnya. Di lubuk hati paling dalam.
Sebenarnya, aku masih ingin kuliah. Menyelesaikan skripsi dan meraih gelar
sarjana. Keadaan memaksaku untuk berhenti.
Aku tak tega melihat Ibu mendorong gerobak sayur. Menjajakannya ke
setiap kampung-kampung. Kalau tak laku, sore harinya, Ibu kembali berjualan
dipasar. Sedangkan aku hanya duduk belajar, menerima materi dosen serta pulang
dengan tangan hampa.
“Yulia akan bekerja menggantikan Ibu. Yulia akan melanjutkan kuliah lagi
nanti. Yulia akan menabung sedikit demi sedikit.”
“Ya sudah, terserah kamu ndo. Ibu nda bisa berbuat apa-apa lagi.” Ku peluk
tubuh mungil itu.
Tidak membutuhkan waktu lama, aku diterima bekerja di pabrik gula milik
Pak Wahyudi, kerabat jauh Bapak. Sehabis bekerja di sana. Aku tak lekas pulang
ke rumah. Para tetangga memintaku mengajar anak-anak mereka. Terkadang, aku
membantu Mbok Tijah, tetanggaku membungkus kerupuk kulit untuk dijual ke
pasar. Kupikir dengan cara seperti itu, aku bisa memenuhi kebutuhan kami dan
menabung sedikit demi sedikit.
Beberapa bulan berjalan, ternyata semua diluar harapan. Gaji yang kuterima
di pabrik gula tak cukup untuk kebutuhan makan aku dan Ibu sehari-hari. Upah
yang kuterima membungkus kerupuk dan mengajar
ngaji hanya cukup untuk membayar tagihan listrik dan ledeng.
“Bagaimana ini Bu? Sepertinya Yulia harus ke kota besar.” Aku menatap
Ibu penuh harapan.
“Tidak nduk, Ibu tidak mengijinkan. Seumur-umur kamu ndak pernah
meninggalkan rumah. Ibu takut terjadi apa-apa dengan mu nduk. Cukup
21
Bapakmu saja yang meninggalkan Ibu. Kehidupan di kota besar itu keras.”
Celoteh Ibu, aku memaklumi kekhawatirannya.
***
Tengah malam, aku sulit untuk memejamkan mata. Aku teringat tentang
mengadu nasib di kota. “Nduk, Ibu sudah memikirkannya. Kamu boleh bekerja di
Semarang.” Kehadiran Ibu mengagetkanku. “Tetapi kamu harus tinggal bersama
Bulek Hindun di sana. Katanya dia punya usaha toko kue. Mereka perlu pegawai.”
Lanjutnya sumringah.
“Beneran Bu?” tanyaku seolah tak percaya.
“Tadi pagi bulek mu nelpon. Ibu lupa ngasih tahu. Kamu mau?”
“Yulia mau Bu,” Ibu tersenyum, ada perasaan berekecamuk di hatiku.
Entahlah yang jelas aku ingin sekali bekerja ke kota.
Keesokan harinya, aku diantar Ibu ke stasiun kereta. Kulihat wajah Ibu tak
seceria biasanya. Aku menjadi serba salah, tetap pergi atau menemani Ibu disini.
“Apa Ibu akan baik-baik saja selama aku di Semarang?” tanyaku cemas.
“Ibu nggak sendiri kok nduk, ada tetangga yang akan menemani Ibu disini.
Justru Ibu yang mengkhawatirkan kamu.” Tangan Ibu memegang erat lengaku.
“Kamu harus ingat Yul, jaga diri baik-baik. Jangan lupa sholat. Kalau kamu ada
masalah segera pulang. Jangan berlama-lama memendam masalah sendiri.”
Aku mengangguk. “Ibu jangan khawatir. Yulia akan baik-baik saja disana.”
Tiba-tiba kereta yang akan mengantarkanku ketempat tujuan memberi isyarat
akan segera berangkat. Aku memasuki gerbong kereta dengan cekatan.
Penumpang yang lain tak kalah sigapnya denganku. Kami saling
berdesak- desakkan. Ku lirik wajah Ibu dari kejauhan. Terlihat semburan
kesedihan di wajahnya. Apakah keputusanku merantau ke kota adalah pilihan
tepat? Aku hanya berdoa dan berharap semua akan baik-baik saja. Seperti kata
Ibu.
***
Beberapa bulan di Semarang, aku mengalami ketidakberuntungan. Bulek
Hindun yang ku pikir berhati malaikat, ternyata berwujud serigala bererkor tiga.
Dia tak pernah bosan memarahiku di depan pembeli. Gaji selama menjadi
pegawainya hanya cukup untuk makan. Sisanya hanya cukup untuk membeli
22
kebutuhan hidup. Aku terkadang ingin pulang dan menangis dipangkuan Ibu.
Ingin sekali aku mengatakan bahwa keadaanku tidak begitu baik di Semarang.
Mengingat raut wajah sendu Ibu, kuurungkan niat untuk kembali. Aku
teringat tentang tawaran pekerjaan oleh seorang langganan toko kue bulek
Hindun, Bu Sarah namanya. Beliau menggambarkan pekerjaannya tidak terlalu
rumit. Aku hanya perlu duduk manis mempresentasikan produk internet melalui
telepon genggam. Siang itu, aku mengantar pesanan Bu Sarah kerumahnya. Tiba
di sana, aku terperangah. Rumahnya sangat besar dan terlihat masih baru. Terletak
di daerah kawasan elite Bukit Sari Semarang. Ku pandangi satu persatu tanaman
hias di sana. Ada angsoka, bunga kamboja, pohon kaktus dan cemara tinggi
menjulang di sekitar rumah. Suasana rumah nampak asri, persis seperti suasana
di kampungku.
Ku tekan bel yang ada di depan pagar. “Permisi, Bu Sarah” panggilku
lembut. Dengan cekatan seorang perempuan memakai sanggul membukakan pintu
pagar.
“Siapa ya Mbak?” tanyanya sopan.
“Saya Yulia, mau nganterin pesanan Bu Sarah.” Sahutku. Perempuan itu
mempersilahkanku masuk.
Aku sudah mendengar profil Ibu Sarah dari Mbok Mariati. Pembantu di
rumah Bulek Hindun. Bu Sarah adalah teman baik Bulek Hindun. Suaminya
seorang pejabat. Dia dewan direksi di perusahaan Telkom di Semarang. "Sudah
lama nunggu?” Bu Sarah sudah berada di sampingku.
“Tidak juga Bu.” Jawabku seadanya.
“Bagaimana tawaran Ibu Yul? Mau nggak kerja di perusahaan suami Ibu?”
tanyanya tanpa basa-basi.
“Mau sekali Bu.” Bu Sarah tersenyum hangat.
“Kalo begitu, nanti saya akan bicara sama Hindun. Besok kamu datang aja
ke kantor.” Dia menyerahkan kartu nama suaminya.
“Baik Bu, oh ya, Ini pesanan kue Ibu.”
“Terima kasih ya sudah mengantarkan. Saya senang, kamu terlihat pekerja
keras dan tekun. Oh ya, kamu pernah kuliah?” pertanyaan Bu Sarah kali ini sedikit
membuatku kesulitan menjawab.
23
“Pernah Bu, tapi saya berhenti setelah Bapak saya meninggal.” Aku
menunduk.
“Oh ya, kuliah dimana?” tanyanya
penasaran. “STAI bu,” jawabku lesu.
“Maaf ya Yul, Ibu buat kamu sedih ya?” Bu Sarah menepuk pundakku. Dari
tutur kata dan perilakunya. Dia terlihat sangat hangat dan lembut. Berbeda jauh
dengan Bulek Hindun. Tidak pernah menghargai hasil kerjaku selama ini.
***
Bulan pertama bekerja, aku sudah bisa membantu keuangan Ibu. Hasil
pensiunku dari di toko kue Bulek Hindun. Ku pergunakan untuk membeli make-
up, jilbab baru dan beberapa stel pakaian. “Pak Roy datang!” teriak Winda,
karyawati bertubuh gempal. Buru-buru mereka merapikan bedak, menyisir
rambut atau sekedar bercermin. Aku hanya diam melongo memperhatikan tingkah
mereka. Kebetulan di bagian pemasaran, semuanya adalah perempuan.
Roy Ramantho Sarwono adalah suami Bu Sarah. Postur tubuhnya tinggi.
Berkacamata, memiliki suara yang khas. Pak Roy sungguh berkhariasmatik. Kira-
kira usianya 35 tahun, masih terbilang muda memang. Pak Roy banyak di kagumi
karyawati di bagian pemasaran. Karena wajahnya yang rupawan.Seminggu sekali
apabila tidak ada kesibukan, Pak Roy mengevaluasi kami. Itu yang membuat
perusahaannya terbilang maju.
Pada suatu kesempatan, aku berada di satu lift bersama Pak Roy. Entah
darimana awalnya, dia bercerita banyak mengenai perjuangannya hingga berhasil
sampai sekarang. Dia mengutarakan kecintaannya pada seni kaligrafi. Sejak saat
itu, aku mengagumi Pak Roy secara diam-diam. Dia mengingatkanku pada sosok
Bapak.
Pertemanan kami berlanjut, kadang Pak Roy mengajakku makan siang
bersama di luar tanpa sepengetahuan Bu Sarah. Dia berdalih sangat menyukai
keluwesanku dalam bertutur kata. Aku tak menampik bahagia mendengar itu.
Terlebih, Pak Roy memperlakukan ku sangat baik. “Mulai sekarang jangan
panggil aku Pak ya! Panggil saja Mas Roy. Terkesan tua kalo Yulia panggil
Bapak” Jelasnya. Aku membatin.
Siang itu, kami kembali bertemu. Pak Roy seperti biasa mengajakku makan
siang. Dia kembalibercerita mengenai kehidupan rumah tangganya bersama Bu
24
Sarah. “Aku dan Sarah hidup bersama 12 tahun lebih dan kami masih belum
dikaruniai anak.” Sesekali dia meneguk teh hijau di depannya.
“Mas ingin sekali punya anak Yul.” Lanjutnya. Aku hanya diam sampai ia
menghabiskan cerita. “Aku merasa tak ada gunanya mengumpulkan uang
sebanyak mungkin. Kehadiran seorang anaklah yang aku butuhkan sekarang.” Dia
mendekati wajahku, seketika itu jantungku naik turun.
“Bisakah kau memberikannya Yul?” tanyanya. Aku masih diam. “Kalo
kamu mau, aku akan memnyekolahkanmu lagi, memberimu kendaraan, deposito,
rumah dan apapun yang kamu mau.” percakapan kami terhenti setelah sekretaris
Pak Roy menghampiri.
***
Sejak Pak Roy mengutarakan keinginannya memiliki anak dariku. Aku tak
pernah melihatnya lagi. Aku rindu aroma tubuhnya, suaranya dan kerlingan
matanya setiap kali berkeluh kesah tentang kehidupannya yang kering kerontang.
Aku telah bermain api dengan Pak Roy dan melupakan statusnya sebagai suami
orang.
Teringat, akan nasihat terakhir Bapak. Aku menjadi merasa bersalah dengan Bu
Sarah. Bagaimanapun ia yang telah mengeluarkanku dari pekerjaan sebagai babu
di toko kue Buleku sendiri. Pagi itu, Ibu menelpon suaranya payau.
“Malam tadi Ibu mimpi. Kamu menikah dengan Basir. Ibu melihat
Bapakmu menangis.” Suara Ibu semakin berat. “Ibu ingin kamu pulang nduk. Ibu
takut mimpi itu kejadian.” Aku tak mengerti dengan maksud Ibu. Dengan tenang
aku memberitahu Ibu. Bahwa tak akan terjadi apa-apa denganku. Lalu aku
menutup telepon dari Ibu dengan setumpuk pertanyaan.
Di bulan kelima. Wajah serius yang ku rindukan kini berada di ruang lobi
bersamaan dengan Bu Sarah. Mereka tampak bahagia. Dengan sebundel undangan
masing-masing di tangan mereka. “Selamat ya Pak, Bu!” seru rekanrekan
seprofesiku.
Bu Sarah mendekatiku. “Sudah lama nggak melihat kamu. Kamu berubah
ya sekarang? Kamu tambah lebih segar.” Aku agak kikuk dibuatnya. “Ini
undangan empat bulanan kandungan Ibu. Datang ya!” dia tersenyum hangat.
Seketika itu, dadaku terasa sesak.
Ku pandangi tubuh Bu Sarah, dia terlihat lebih gemuk. Aura wajahnya tidak
seperti biasanya. Bu Sarah hamil. Setelah 12 tahun menanti seorang kehadiran
25
anak. Dari kejauhan Pak Roy menatapku. Kami saling berpandangan. Dia
tersenyum hambar, aku tak membalasnya.
Tanpa berpikir panjang, aku keluar dari kerumunan karyawan yang
menyalami Pak Roy dan Bu Sarah satu persatu. Sulit untuk percaya, aku
mengalami shok berat. Dalam diam, aku menguatkan tekad untuk memenuhi
permintaan Ibu. Kembali ke rumah. Tak kuasa aku menahan ini semua sendiri. Di
lain pihak, aku bersyukur. Rindu terlarang yang aku rasakan tidak berakhir di
pelaminan. Setidaknya, aku masih menuruti pesan terakhir Bapak kali ini.
Alur cerita Hikayat Bayan Budiman dan cerpen Nasihat Terakhir Bapak
No Bagian Alur cerita
Bayan Budiman Nasihat Terakhir Bapak
1. Pengenalan Diperkenalkan tokoh Khoja Diperkenalkan tokoh Yulia,
situasi
Mubarok, Khoja Maimun, Bapak, Ibu, dan Basir
2 Pengenalan
masalah dan
3 Masalah Bibi Zainab
memuncak
Khoja Maimun pergi Ayah Yulia meninggal
4 Puncak
ketegangan berdagang meninggalkan dengan meninggalkan pesan
istrinya untuk beberapa kepada Yulia
lama.
Bibi Zainab terpikat Anak Basir dan istrinya mau
Raja Ajam bercerai karena hubungan
Basir dengan Yulia. Yulia
kemudian berhenti kuliah dan
membantu ibunya
bekerja, Yulia mulai
mengenal Pak Roy
Bibi Zainab membunuh Pak Roy ingin menikahi
Tiung karena merasa Yulia dengan alasan Bu
terhina oleh sarah tidak bisa
ucapannya memberinya keturunan
26
5 Penurunan Bayan Pak Roy jarang menemui
masalah
Budima Yulia, Ibu Yulia
n menceritakan berbagai mengingatkan nasihat
Bapaknya sebelum
kisah untuk menasihati Bibi meninggal.
Zainab
6 Penyelesaian Khoja Maimun pulang dari Bu Sarah hamil, Yulia
perniagaannya dan Bibi menyadari kesalahannya dan
Zainab menyadari memutuskan untuk
kesalahannya. menemui ibunya di
kampung
27
➢ Unit 2 Rakyat Membandingkan Kebahasaan Cerita Rakyat (Hikayat) dan Cerpen
Sekarang Anda akan mempelajari perbandingan bahasa dalam cerpen dan hikayat.
Meskipun hikayat dan cerpen disajikan dalam bahasa yang berbeda namun keduanya
memeiliki persamaan dalam hal penggunaan gaya bahasa (majas) dan penggunaan konjungsi
yang menyatakan urutan waktu dan urutan kejadian.
1. Penggunaan Majas
Penggunaan majas dalam cerpen dan hikayat berfungsi untuk membuat cerita
lebih menarik jika dibandingkan menggunakan bahasa yang bermakna lugas. Ada
berbagai jenis majas yang digunakan baik dalam cerpen dan hikayat. Di antara majas
yang sering digunakan dalam cerpen maupun hikayat adalah majas antonomasia,
metafora, hiperbola dan majas perbandingan.
Mekipun sama-sama menggunakan gaya bahasa, tetapi gaya bahasa yang
digunakan dalam hikayat berbeda penyajiannya dengan gaya bahasa dalam cerpen.
Perhatikan penggunaan majas antonomasia dalam penggalan hikayat berikut ini.
Si Miskin laki-bini dengn rupa kainnya seperti dimamah anjing itu berjalan
mencari rezeki berkeliling di Negeri antah berantah di bawah pemerintahan
Maharaja Indera Dewa. Ke mana mereka pergi selalu diburu dan diusir oleh
penduduk secara beramai-ramai dengan disertai penganiayaan sehingga
bengkak-bengkak dan berdarah-darah tubuhnya. Sepanjang perjalanan
menangislah Si Miskin berdua itu dengan sangat lapar dan dahaganya. Waktu
malam tidur di hutan, siangnya berjalan mencari rezeki.
Si Miskin dalam kutipan hikayat di atas merupakan contoh majas antonomasia
yaitu majas yang menyebut seseorang berdasarkan ciri atau sifatnya yang menonjol.
Bandingkan dengan penggunaan majas antonomasia dalam penggalan novel
Putri Tidur dan Pesawat Terbang karya Gabriel Garcia Marquez berikut ini.
“Pilih mana,” katanya, “tiga, empat, atau tujuh?”
“Empat.”
Ia tersenyum penuh kemenangan.
“Selama lima belas tahun saya bekerja di sini,” katanya, “Anda orang
pertama yang tidak memilih tujuh.”
Ia menulis nomor kursi di boarding passku dan mengembalikannya
28
27
bersama dokumen-dokumenku, lalu memandangku untuk kali pertama dengan
matanya yang berwarna anggur, sebuah hiburan sampai aku bisa melihat Si Cantik
lagi. Kemudian ia memberi tahu bahwa bandara baru saja ditutup dan semua
penerbangan ditunda.
Dikutip dari: http://icanjambi.blogspot.co.id
Majas simile juga banyak digunakan dalam hikayat maupun cerpen. Majas simile
adalah majas yang membandingkan suatu hal dengan hal lainnya menggunakan kata
penghubung atau kata pembanding. Kata penghubung atau kata pembanding yang biasa
digunakan antara lain: seperti, laksana, bak, dan bagaikan Perhatikan contoh berikut
ini.
Maka Si Miskin itupun sampailah ke penghadapan itu. Setelah dilihat oleh
orang banyak, Si Miskin laki bini dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing
rupanya. Maka orang banyak itupun ramailah ia tertawa seraya mengambil kayu
dan batu.
Hikayat Si Miskin
Peristiwa itu terjadi berpuluh tahun silam, pada Oktober 1965 yang begitu
merah. Seperti warna bendera bergambar senjata yang merebak dan dikibarkan
sembunyi-sembunyi. Ketika itu, aku masih sepuluh tahun. Ayah meminta ibu dan
aku untuk tetap tenang di kamar belakang. Ibu terus mendekapku ketika itu.
Kabut Ibu karya Masdar Zaenal, Kompas Minggu 8 Juli 2012
2. Penggunaan Konjungsi
Baik cerpen maupun hikayat merupakan teks narasi yang banyak menceritakan
urutan peristiwa atau kejadian. Untuk menceritakan urutan peristiwa atau alur tersebut
keduanya menggunakan konjungsi yang menyatakan urutan waktu dan kejadian.
Perhatikan contoh penggunaan konjungsi pada penggalan hikayat berikut ini.
Pada suatu hari Khojan Maimun tertarik akan perniagaan di laut, lalu
minta izinlah dia kepada istrinya. Sebelum dia pergi, berpesanlah dia pada
istrinya itu, jika ada barang suatu pekerjaan, mufakatlah dengan dua ekor unggas
itu, hubaya-hubaya jangan tiada, karena fitnah di dunia amat besar lagi tajam dari
pada senjata. Hatta beberapa lama di tinggal suaminya, ada anak Raja Ajam
berkuda lalu melihatnya rupa Bibi Zainab yang terlalu elok.
Berkencanlah mereka untuk bertemu melalui seorang perempuan tua. Maka
pada suatu malam, pamitlah Bibi Zainab kepada burung tiung itu hendak
menemui anak raja itu. Maka bernasihatlah ditentang perbuatannya yang
melanggar aturan Allah SWT. Maka marahlah istri Khojan Maimun dan
29
disentakkannya tiung itu dari sangkarnya dan dihempaskannya sampai mati.
Lalu Bibi Zainab pun pergi mendapatkan bayan yang sedang berpura-pura tidur.
Hikayat Bayan Budiman
Konjungsi “sebelum” yang bergaris bawah dalam penggalan hikayat di atas
menunjukkan urutan waktu sedang konjungsi “lalu” menyatakan urutan kejadian.
Penggunaan konjungsi yang tepat sangat penting untuk mengembangkan alur cerita.
Bandingkan dengan penggunaan konjungsi dalam penggalan cerpen berikut ini.
Ketika Leyla memutuskan untuk mengungsi, meninggalkan kampong
halamannya, perih yang melilit perutnya kian menjadi-jadi. Terlampau
perihnya, hingga seluruh pandangannya terasa buram. Leyla seperti melihat
ribuan kunang-kunang berlesatan mengitari kepalanya. Selanjutnya, ia
menyebut kunang-kunang itu sebagai sang maut. Sang maut yang selalu
menguntitnya dan sewaktu-waktu siap mengantarnya menyusul almarhum
suaminya.
Menjemput Maut di Mogadishu karya Masdar Zaenal
Konjungsi “ketika” dalam kutipan di atas menyatakan hubungan waktu, sedangkan
konjungsi “selanjutnya” menyatakan urutan peristiwa.
➢ Unit 3 Mengembangkan Cerpen berdasarkan Hikayat yang Dibaca dengan
Memerhatikan Unsur Kebahasaaan
Mengubah hikayat ke dalam bentuk cerpen berarti menuliskan atau menceritakan
kembali isi hikayat dengan bahasa yang berlaku saat ini. teks hikayat ditulis dengan
menggunakan bahasa Melayu sehingga banyak digunakan kata-kata arkais. Selain itu
hikayat ke dalam bentuk cerpen juga harus menyesuaikan isi ceritanya dengan
itas kehidupan saat ini dan memerhatikan amanat atau nilai-nilai yang hendak
mpaikan melalui cerita tersebut. Sebagai contoh bisa kalian buka kembali Hikayat
Budiman dan cerpen Nasihat Terakhir Bapak pada kegiatan pembelajaran
Hikayat disajikan dengan menggunakan bahasa Melayu Klasik. Di antara ciri
mengubah Bayan sebelumnya.bahasa yang dominan dalam hikayat adalah banyak
menggunakan konjungi hampir pada setiap awal kalimat.
30
Perhatikan contoh kutipan hikayat berikut ini.
Maka berkeinginanlah istri Khojan Maimun untuk mendengarkan cerita tersebut.
Maka Bayanpun berceritalah kepada Bibi Zainab dengan maksud agar ia dapat
memperlalaikan perempuan itu. Hatta setiap malam, Bibi Zainab yang selalu ingin
mendapatkan anak raja itu, dan setiap berpamitan dengan bayan. Maka diberilah ia
cerita-cerita hingga sampai 24 kisah dan 24 malam. Burung tersebut bercerita,
hingga akhirnyalah Bibi Zainab pun insaf terhadap perbuatannya dan menunggu
suaminya Khojan Maimum pulang dari rantauannya.
Dalam kutipan tersebut konjungsi maka digunakan hingga tiga kali. Selain banyak
menggunakan konjungsi, hikayat menggunakan kata-kata arkais. Hikayat merupakan karya
sastra klasik. Artinya, usia hikayat jauh lebih tua dibandingkan usia Negara Indonesia.
Meskipun bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia (berasal dari bahasa Melayu),
tidak semua kata dalam hikayat kita jumpai dalam bahasa Indonesia sekarang. Kata-kata
yang sudah jarang digunakan atau bahkan sudah asing tersebut disebut sebagai kata-kata
arkais.
Sekarang kamu akan mempelajari perbandingan bahasa dalam cerpen dan hikayat.
Meskipun hikayat dan cerpen disajikan dalam bahasa yang berbeda namun keduanya
memeiliki persamaan dalam hal penggunaan gaya bahasa (majas) dan penggunaan konjungsi
yang menyatakan urutan waktu dan urutan kejadian.
3. Penggunaan Majas
Penggunaan majas dalam cerpen dan hikayat berfungsi untuk membuat cerita
lebih menarik jika dibandingkan menggunakan bahasa yang bermakna lugas. Ada
berbagai jenis majas yang digunakan baik dalam cerpen dan hikayat. Di antara majas
yang sering digunakan dalam cerpen maupun hikayat adalah majas antonomasia,
metafora, hiperbola dan majas perbandingan.
Mekipun sama-sama menggunakan gaya bahasa, tetapi gaya bahasa yang
digunakan dalam hikayat berbeda penyajiannya dengan gaya bahasa dalam cerpen.
Perhatikan penggunaan majas antonomasia dalam penggalan hikayat berikut ini.
Si Miskin laki-bini dengn rupa kainnya seperti dimamah anjing itu berjalan
mencari rezeki berkeliling di Negeri antah berantah di bawah pemerintahan
Maharaja Indera Dewa. Ke mana mereka pergi selalu diburu dan diusir oleh
penduduk secara beramai-ramai dengan disertai penganiayaan sehingga
bengkak-bengkak dan berdarah-darah tubuhnya. Sepanjang perjalanan
menangislah Si Miskin berdua itu dengan sangat lapar dan dahaganya. Waktu
malam tidur di hutan, siangnya berjalan mencari rezeki.
31
Si Miskin dalam kutipan hikayat di atas merupakan contoh majas antonomasia
yaitu majas yang menyebut seseorang berdasarkan ciri atau sifatnya yang menonjol.
Bandingkan dengan penggunaan majas antonomasia dalam penggalan novel
Putri Tidur dan Pesawat Terbang karya Gabriel Garcia Marquez berikut ini.
“Pilih mana,” katanya, “tiga, empat, atau tujuh?”
“Empat.”
Ia tersenyum penuh kemenangan.
“Selama lima belas tahun saya bekerja di sini,” katanya, “Anda orang
pertama yang tidak memilih tujuh.”
Ia menulis nomor kursi di boarding passku dan mengembalikannya
bersama dokumen-dokumenku, lalu memandangku untuk kali pertama dengan
matanya yang berwarna anggur, sebuah hiburan sampai aku bisa melihat Si Cantik
lagi. Kemudian ia memberi tahu bahwa bandara baru saja ditutup dan semua
penerbangan ditunda.
Dikutip dari: http://icanjambi.blogspot.co.id
Majas simile juga banyak digunakan dalam hikayat maupun cerpen. Majas simile
adalah majas yang membandingkan suatu hal dengan hal lainnya menggunakan kata
penghubung atau kata pembanding. Kata penghubung atau kata pembanding yang biasa
digunakan antara lain: seperti, laksana, bak, dan bagaikan Perhatikan contoh berikut
ini.
Maka Si Miskin itupun sampailah ke penghadapan itu. Setelah dilihat oleh
orang banyak, Si Miskin laki bini dengan rupa kainnya seperti dimamah anjing
rupanya. Maka orang banyak itupun ramailah ia tertawa seraya mengambil kayu
dan batu.
Hikayat Si Miskin
32
Peristiwa itu terjadi berpuluh tahun silam, pada Oktober 1965 yang begitu
merah. Seperti warna bendera bergambar senjata yang merebak dan dikibarkan
sembunyi-sembunyi. Ketika itu, aku masih sepuluh tahun. Ayah meminta ibu dan
aku untuk tetap tenang di kamar belakang. Ibu terus mendekapku ketika itu.
Kabut Ibu karya Masdar Zaenal, Kompas Minggu 8 Juli 2012
4. Penggunaan Konjungsi
Baik cerpen maupun hikayat merupakan teks narasi yang banyak menceritakan
urutan peristiwa atau kejadian. Untuk menceritakan urutan peristiwa atau alur tersebut
keduanya menggunakan konjungsi yang menyatakan urutan waktu dan kejadian.
Perhatikan contoh penggunaan konjungsi pada penggalan hikayat berikut ini.
Pada suatu hari Khojan Maimun tertarik akan perniagaan di laut, lalu
minta izinlah dia kepada istrinya. Sebelum dia pergi, berpesanlah dia pada
istrinya itu, jika ada barang suatu pekerjaan, mufakatlah dengan dua ekor unggas
itu, hubaya-hubaya jangan tiada, karena fitnah di dunia amat besar lagi tajam dari
pada senjata. Hatta beberapa lama di tinggal suaminya, ada anak Raja Ajam
berkuda lalu melihatnya rupa Bibi Zainab yang terlalu elok.
Berkencanlah mereka untuk bertemu melalui seorang perempuan tua. Maka
pada suatu malam, pamitlah Bibi Zainab kepada burung tiung itu hendak
menemui anak raja itu. Maka bernasihatlah ditentang perbuatannya yang
melanggar aturan Allah SWT. Maka marahlah istri Khojan Maimun dan
disentakkannya tiung itu dari sangkarnya dan dihempaskannya sampai mati.
Lalu Bibi Zainab pun pergi mendapatkan bayan yang sedang berpura-pura tidur.
Hikayat Bayan Budiman
Konjungsi “sebelum” yang bergaris bawah dalam penggalan hikayat di atas
menunjukkan urutan waktu sedang konjungsi “lalu” menyatakan urutan kejadian.
Penggunaan konjungsi yang tepat sangat penting untuk mengembangkan alur cerita.
Bandingkan dengan penggunaan konjungsi dalam penggalan cerpen berikut ini.
Ketika Leyla memutuskan untuk mengungsi, meninggalkan kampong
halamannya, perih yang melilit perutnya kian menjadi-jadi. Terlampau
perihnya, hingga seluruh pandangannya terasa buram. Leyla seperti melihat
ribuan kunang-kunang berlesatan mengitari kepalanya. Selanjutnya, ia
menyebut kunang-kunang itu sebagai sang maut. Sang maut yang selalu
menguntitnya dan sewaktu-waktu siap mengantarnya menyusul almarhum
suaminya.
33
Menjemput Maut di Mogadishu karya Masdar Zaenal
Konjungsi “ketika” dalam kutipan di atas menyatakan hubungan waktu, sedangkan
konjungsi “selanjutnya” menyatakan urutan peristiwa.
G. Rangkuman
1. Mengembangkan hikayat ke dalam bentuk cerpen harus menyesuaikan
isi cerita dengan realitas kehidupan saat ini dan memerhatikan amanat
atau nilai- nilai yang hendak disampaikan melalui cerita tersebut.
2. Hikayat ditulis dalam bahasa Melayu sehingga banyak ditemukan kata-
kata arkais, yaitu kata -kata yang sudah jarang digunakan atau bahkan
sudah asing didengar.
3. Hikayat dan cerpen memiliki persamaan dalam hal penggunaan gaya
bahasa (majas) dan penggunaan konjungsi dalam penulisannya.
33
34
H. Evaluasi
Pilihlah salah satu jawaban yang benar dengan memberi tanda silang (X) pada
huruf A, B, C, dan D!
Bacalah penggalan hikayat “Indera Bangsawan” berikut untuk mengerjakan soal
nomor 1, 2 dan 3!
Maka anakanda yang mulia baginda yang dua orang itu pun sampailah usia tujuh tahun
dan dititahkan pergi mengaji kepada Mualim Sufian. Sesudah tahu mengaji, mereka
dititah pula mengaji kitab usul, fikih, hingga saraf, tafsir sekaliannya diketahuinya.
1. Kata “yang mulia baginda” dalam penggalan hikayat di atas menggunakan majas...
A. Antonomasi
B. Metafora
C. Hiperbola
D. Simile
E. Personifikasi
2. Kata arkais yang bercetak tebal pada penggalan hikayat di atas memiliki makna...
Diusir
Diperintah
Diminta
Diizinkan
Dipanggil
3. Nilai yang terkandung dalam penggalan hikayat di atas adalah...
A. nilai agama
B. nilai sosial
C. nilai estetika (keindahan)
D. nilai edukasi (pendidikan)
E. nilai budaya
4. Hikayat adalah salah satu jenis cerita rakyat yang disajikan dengan menonjolkan
unsur penceritaan berciri....
A. cerita yang dibuat-buat oleh pengarangnya
B. kepandaian dan kecerdasan tokoh-tokohnya
C. kesaktian dan keunggulan ceritanya
D. kemustahilan dan kesaktian tokoh-tokohnya E. kemustahilan dan kepandaian
tokoh-tokohnya 5,. Bahasa yang digunakan hikayat adalah....
A. Bahasa Melayu
B. Bahasa Jawa
C. Bahasa Sulawesi
D. Bahasa Banjarmasi
(1) bersifat imajinasi
(2) mengisahkan tentang kerajaan
(3) nama penciptanya tidak diketahui
(4) bersifat menyindir
(5) bersifat menghibur
35
6. Nomor berapakah yang merupakan ciri-ciri hikayat?
A. (1), (3), (5)
B. (2), (4), (5)
C. (1), (2), (3)
D. (1), (4), (5)
7. Bacalah penggalan hikayat berikut!
”Janganlah adinda bertanya jua” jawab baginda dengan sedihnya. ”Pertanyaan itu
hanya menambah luka Tuanku jua semata.”
”Ampun, Tuanku, orang yang arif tiada pernah putus asa sekali pun bagaimana juga
cobaan yang datang ke atas dirinya. Tiada pula ia bersedih hati karena kesedihan tiada
buahnya selain daripada menguruskan badan saja yang sudah ditakdirkan tiada juga
akan tertolak olehnya.”
(Hikayat Kalilah dan Dimnah)
Nilai moral yang tertuang dalam penggalan cerita di atas tampak pada perbuatan ….
A. menghormati orang lain
B. mendahulukan kepentingan umum
C. menegur orang dengan bahasa yang sopan 8. Bacalah teks hikayat berikut dengan
saksama!
Sebermula ada pun yang berjalan itu pertama Maharaja Dandah, kemudian
menjadi saya pikir itu Maharaja Baruang, dan menjadi kepala jalan Maharaja
Syahmar dan Raja Perkasa yang menjadi ekor sekali, dan beberapa pula rajaraja
sekalian isi rimba itu berjalan dengan segala rakyat tentaranya
mengirimkan Tuan Syekh Alim di rimba itu serta dengan tempik soraknya.
Adalah lakunya seperti halilintar membelah bumi dari sebab segala raja-raja
yang tiada terkira-kira banyaknya itu. Syahdan maka segala isi rimba yang di
tanah itu pun berjeritanlah dan tiadalah berketahuan lagi membawa dirinya,
ada yang ke dalam lubang tanah ada yang di celah-celah batu adanya.
Menilik isinya, kutipan di atas merupakan bagian … dari keseluruhan alur cerita. a.
eksposisi (pengenalan)
b. komplikasi (pertikaian awal)
c. konflik (pertentangan)
d. puncak konflik (klimaks)
e. penyelesaian (falling action)
35
9. Bacalah hikayat berikut!
36
Maka kata Indera Bangsawan, “Hamba ini tiada bernama dan tiada tahu
akan bapak Hamba, karena diam dalam hutan rimba belantara.
Adapun sebabnya hamba kemari ini karena hamba mendengar khabar anak raja
sembilan orang hendak datang membunuh buraksa dan
merebut tuan hamba dari padanya itu, itulah maka hamba datang
kemari hendak melihat tamasya anak raja itu. Mengasihani hamba dan
pada bicara akal hamba akan anak raja-raja yang sembilan itu tiadalah
dapat membunuh buraksa itu. Jika lain daripada Indera Bangsawan tiada
dapat membunuh akan buraksa itu.
Amanat yang tersirat dalam kutipan sastra klasik tersebut adalah …
A. Basmilah jika melihat kejahatan
B. Jangan menyombongkan diri
C. Tunjukkanlah jika memiliki suatu kemampuan
D. Hendaklah menolong orang yang dalam kesulitan
E. Bersyukurlah jika mendapat pertolongan
10. Nilai moral yang terdapat dalam kutipan sastra Melayu klasik tersebut adalah ....
A. kekacauan penduduk akibat hasutan
B. ketidakpedulian raja kepada rakyatnya
C. kepedulian rakyat atas keselamatan rajanya
D. kekejaman raja terhadap rakyatnya
E. keadilan seorang raja kepada rakyatnya
Kata Bayan, “Adalah konon seorang perempuan terlalu baik
parasnya. Maka ia nikah dengan seorang laki-laki terlalu amat
cemburuan. Selama ia duduk dengan istrinya itu, jangankan ia
pergi berniaga, berjalan jauh pun ia tidak pernah. Hatta,
beberapa lamanya maka segala harta yang dibawanya pun
habislah”. Maka kata perempuan itu, “Hai Tuan hamba! Betapa
hal kita ini? Tiada lagi yang dimakan, baiklah Tuan pergi
berlayar mencari makanan! Apakah kesudahannya demikian
ini?” Maka sahut suaminya, “Tiada mau aku bercerai dengan
Tuan dan tiada aku percaya akan dikau kalaukalau
peninggalanku ini dikau berbuat jahat.”
37
11. Isi kutipan hikayat tersebut adalah ....
A. Suami yang sangat malas mencari nafkah untuk kehidupan rumah tangganya
sehingga dia mencari akal dengan berpura-pura cemburu dan enggan meninggalkan
istrinya.
B. Seorang suami yang sangat cemburu kepada istrinya yang berparas cantik sehingga
khawatir berjauhan sampai-sampai tidak mau pergi mencari nafkah.
C. Kehidupan suami istri yang selalu diwarnai rasa cemburu, baik suami maupun istri
secara berlebihan sehingga sering terjadi ketidakpercayaan kedua belah pihak.
D. Seorang suami yang sangat menyesal karena telah memiliki seorang istri yang
berparas sangat cantik sehingga ia selalu diliputi rasa cemburu yang berlebihan.
E. Istri yang selalu setia mendampingi suaminya sehingga selalu berdekatan, saling
menyayangi, dan rela hidup dalam kesederhanaan.
12. Bacalah kutipan cerpen berikut!
(1) “Bung, tolong matikan rokoknya, bus ini akan tambah pengap dengan asap
rokok Bung!”
(2) “Iya tolong matikan rokoknya,” kata penumpang lain.
(3) Akan tetapi, pemuda itu tenang-tenang saja.
(4) “Bung, tidak dengar, ya?”
(5) Pemuda itu menatap tajam.
(6) “Peduli apa, Pak. Tak ada larangan merokok dalam bus ini. Apa harus minta
permisi dulu untuk merokok,” katanya ketus.
(Asap-Asap Rokok, Hidayat M.)
Nilai sosial yang terdapat dalam kutipan tersebut adalah ....
A. Tidak peduli dengan kepentingan orang lain
B. Tetap merokok di dalam bus
C. Marah kepada pemuda perokok
D. Merasa tidak bersalah
E. Menjawab pertanyaan dengan ketus
37
38
Bacalah penggalan Cerpen berikut ini!
13. Nilai budaya yang terdapat pada kutipan tersebut adalah ....
(1) “Apa kau bilang? Jodoh? Saya tidak rela kau berjodoh dengan
Azrial. Akan saya arikan kau jodoh yang lebih bermartabat!”
(2) “Apa dia salah kalau ayahnya hanya juru masak?”
(3) “Jatuh martabat keluarga kita bila laki-laki itu jadi suamimu .
Paham kau?”
(4) “Derajat keluarga Azrial memang seumpama lurah tak berbatu,
seperti sawah tak berpematang, tak ada yang bisa diandalkan.” (5) Tetapi,
tidak patut rasanya, Mangkudun memandang Azrial dengan sebelah mata.
(6) Maka, dengan berat hati Azrial melupakan Renggogeni. (7) Ia hengkang
dari kampung, pergi membawa luka hati.
A. Orang tua mencarikan jodoh untuk pasangan anaknya yang sesuai.
B. Seorang kekasih meninggalkan pasangannya karena miskin
C. Keturunan harus dipertimbangkan untuk mencari pasangan agar
sepadan.
D. Laki-laki harus berhasil dalam hidupnya sebelum mencari pasangan.
E. Orang tua berhak menolak jodoh yang dipilih anaknya.
Bacalah teks berikut ini!
Ibu singa pun teramat bersedihlah melihat keadaan Raja Singa teramat pilu
karena kehilangan sahabat baiknya yang ia bunuh sendiri. Maka ia pun
menceritakan semua yang dikatakan harimau kepadanya semalam mengenai
siasat Dimnah mengadu Raja Singa dengan Sjatrabah. Maka Sang Raja Singa pun
marahlah lalu dipanggilnya semua pembesar kerajaan. Maka Dimnah pun
datanglah menghadap raja dan sekumpulan pembesar itu menanyakan sebab-
musababnya ia dipanggil. Ibu singa teramat dengki hatinya melihat Dimnah yang
serasa tanpa dosa. Maka Ibu singa pun meyuruh hakim memeriksa semua perkara
ini dan daripadanya Dimnah harus dipenjara.
Adapun ketika larut malam, Kalilah diam-diam menemui sahabatnya itu lalu
dikatakannya bahwasanya ia sangat sedih hatinya menyesalkan daripada
perbuatan Dimnah yang hanya didasari nafsunya sehingga mengalahkan akalnya.
14. Relevansi isi kutipan teks hikayat tersebut dengan keadaan saat ini adalah ....
A. Seseorang yang sedih karena telah membunuh sahabatnya
B. Anak yang tidak peduli dengan nasihat ibunya
C. Mengunjungi saudara yang sedang mengalami kesusahan.
39
D. Hakim yang memberikan hukuman setelah proses pengadilan.
E. Merasa malu untuk berbicara di depan orang banyak.
Bacalah kutipan teks berikut untuk soal nomor dan 7!
(1) Ia naik ke atas mahligai itu melihat sebuah gendang tergantung. Gendang
itu dibukanya dan dipukulnya. (2) Tiba-tiba ia terdengar orang yang melarangnya
memukul gendang itu. (3) Lalu diambilnya pisau dan ditorehnya gendang itu,
maka Puteri Ratna Sari pun keluarlah dari gendang itu. (4) Puteri Ratna Sari
menerangkan bahwa negerinya telah dikalahkan oleh Garuda. (5) ia ditaruh orang
tuanya dalam gendang itu dengan suatu cembul. (6) Di dalam cembul yang lain
ialah perkakas dan dayang-dayangnya. (8) Dengan segera Syah Peri mengeluarkan
dayang-dayang itu. (9) Tatkala Garuda itu datang, Garuda itu dibunuhnya.
15.15. Makna kata arkais yang bergaris bawah dalam kutipan teks hikayat tersebut
adalah ....
A. tanaman berumpun
B. tempat kediaman raja
C. tempat tembakau yang terbuat dari logam
D. benda berongga yang dapat diisi dengan cairan atau bubuk
E. peti tempat menyimpan harta
16. Konjungsi yang menyatakan urutan peristiwa pada kutipan hikayat tersebut
terdapat dalam kalimat nomor ....
A. (1)
B. (2)
C. (3)
D. (4)
E. (5)
Bacalah kutipan cerpen berikut 8 dan 9!
Bus yang aku tumpangi masuk terminal Cirebon ketika matahari hampir
mencapai pucuk langit. Terik matahari ditambah dengan panasnya mesin disel tua
memanggang bus itu bersama isinya. Untung bus tak begitu penuh sehingga
sesama penumpang tak perlu bersinggungan badan. Namun, dari sebelah kiriku
bertiup bau keringat melalui udara yang dialirkan dengan kipas koran. Dari
40
belakang terus-menerus mengepul asap rokok dari mulut seorang lelaki setengah
mengantuk.
17. Gaya bahasa atau permajasan yang digunakan dalam kalimat yang tercetak
miring pada penggalan cerpen di atas adalah ....
A. Simile
B. Antonomasia
C. Personifikasi
D. Hiperbola
E. metafora
18. Konjungsi yang menyatakan hubungan waktu pada kutipan cerpen tersebut
adalah ....
A. Ketika
B. Dengan
C. Sehingga
D. Namun
E. dari
Bacalah kutipan teks berikut!
Teks 1
Adapun akan Si Miskin itu apabila malam iapun tidurlah di dalam hutan itu.
Setelah siang hari maka iapun pergi berjalan masuk ke dalam negeri mencari riskinya.
Maka apabila sampailah dekat kepada kampung orang. Apabila orang yang empunya
kampung itu melihat akan dia. Maka diusirlah dengan kayu. Maka Si Miskin itupun
larilah. Ia lalu ke pasar. Maka apabila dilihat oleh orang pasar itu Si Miskin datang,
maka masing-masing pun datang ada yang melontari dengan batu, ada yang memalu
dengan kayu. Maka Si Miskin itupun larilah tunggang langgang, tubuhnya habis
berlumur dengan darah. Maka menangislah ia berseru- seru sepanjang jalan itu
dengan tersengat lapar dahaganya seperti akan matilah rasanya.
Teks 2
Kondektur kehabisan kata-kata. Dipandangnya Si Pengemis itu seperti ia
hendak menelannya bulat-bulat. Yang dipandang pasrah. Dia tampaknya rela
diperlakukan sebagai apa saja asal tidak didorong keluar dari bus yang melaju makin
cepat. Kondektur berlalu sambil bersungut. Si Pengemis yang merasa sedikit lega,
bergerak memperbaiki posisinya di dekat pintu belakang. Mulutnya kembali
bergumam: "... shalatullah, salamullah, ‘ala thaha rasulillah "
19. Persamaan antara kutipan hikayat dan kutipan cerpen tersebut adalah .......A.
Penggambaran watak kedua tokoh dalam teks dilakukan secara analitik
41
B. Penggunaan majas anatomasia dalam kedua teks
C. Penggambaran latar berupa pasar dalam kedua teks
D. Penggunaan kalimat retoris dalam kedua teks
E. Penyampaian nilai religius dalam kedua teks secara tersirat
20. Bacalah hikayat berikut dengan cermat!
Setelah Raja Habsyi mendengar kata utusan itu maka baginda itu pun sangat
marahnya bagai api bernyala-nyala dan seperti ular berbelit-belit seraya memandang
kiri dan kanan maka baginda pun menganbil prajuritnya yang kembar itu seraya
katanya, “Hai Wira Maya dan Wira Santika, pergilah engkau segera-segeralah ke negeri
Mesir, ambil olehmu Putri Siti Bagdad.”
Setelah itu maka Wira Maya dan Wira Santika pun menyembah lalu berjalan ke
luar kota maka lalu terbang ke udara menuju negeri Mesir. Maka tiadalah tersebut lagi
di jalan maka segeralah ia sampai. Maka Wira Maya dan Wira Santika pun masuk ke
41
Nilai moral yang terdapat dalam kutipan hikayat tersebut adalah......A.
Berdoa sebelum mengerjakan sebuah tugas.
B. Mengkhianati kepercayaan yang diberikan seseorang.
C. Kebaikan seseorang dibalas dengan kejahatan.
D. Melakukan berbagai cara untuk mendapatkan kebaikan.
E. Patuh terhadap perintah pimpinannya
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan baik dan benar!
Bacalah teks hikayat di bawah ini dengan cermat!
Esok harinya Raja Indra Dewi hendak berangkat masuk ke dalam
hutan. Maka sampai kepada pagi hari esok, sekaliannya hulubalang
dan rakyat semuanya sudah hadir menanti dengan senjata. Maka
Raja Indra Dewa itu pun berjalanlah masuk hutan keluar hutan,
masuk rimba keluar rimba, masuk padang keluar padang. Maka
dengan takdir Allah Taala lalulah seekor kijang emas terlalulah
elok rupanya tiada dapat dihingga akan kijang itu. Maka Raja Indra
Dewa pun lalu mengejarlah kijang itu masuk hutan keluar hutan,
42
1. Salah satu karakteristik hikayat adalah hal yang mustahil, temukan dan jelaskan hal
mustahil dalam kutipan hikayat tersebut adalah....
2. Nilai-nilai moral apa saja yang terkandung dalam kutipan cerita hikayat tersebut!
Seorang Raja yang bernama Indra Bungsu dari Negeri Kobat.
Syahrial telah lama bertahta tetapi belum dikaruniai putra. Baginda
meminta orang membaca doa kunut dan bersedekah kepada fakir
miskin. Tak lama kemudian Tuan Putri Siti Kendi melahirkan putra
kembar yang diberi nama Syah Peri dan Indra Bangsawan. Kedua
putra me miliki hobby yang berbeda sang kakak senang bermain
panah, sedangkan adiknya bermain pedang.
3. Perhatikan kalimat pada teks tersebut kemudian, manakah kalimat yang tidak tepat
menurut Anda?
43
4. erdasarkan cuplikan hikayat tersebut bagaimana karakter tokoh bibi Zainab?
5. ilai apa saja yang menonjol dari hikayat tersebut, berikan bukti pendukung!
43 Maka berkeinginanlah istri Khojan Maimun untuk mendengarkan cerita
I. tersebut. Maka Bayanpun berceritalah kepada Bibi Zainab dengan maksud
agar ia dapat memperlalaikan perempuan itu. Hatta setiap malam, Bibi
Zainab yang selalu ingin mendapatkan anak raja itu, dan setiap berpamitan
dengan bayan. Maka diberilahia cerita-cerita hingga sampai 24 kisah dan 24
malam. Burung tersebut bercerita, hingga akhirnyalah Bibi Zai nab pun insaf
terhadap perbuatannya dan menunggu suaminya Khojan Maimum pulang
dari rantauannya.
Kunci Jawaban
1. A 11. B
2. B 12. E
3. A 13. A
4. D 14. A
5. A 15. C
6. A 16. B
7. A 17. C
8. A 18. D
9. D 19. A
10. B 20. B
44
Kunci Jawaban Uraian!
1. Di sebuah hutan ada seekor kijang emas. Bukti atau penjelasannya “Maka dengan
takdir Allah Taala lalulah seekor kijang emas terlalulah elok rupanya tiada dapat
dihingga akan kijang itu.”
2. Raja mencari nafkah dengan berburu ke hutan
3. Kalimat yang tidak efektif dari hikayat tersebut adalah, kata hobi ditulis hobby.
Bukti kamatnya “Kedua putra memiliki hobby yang berbeda sang kakak senang
bermain panah, sedangkan adiknya bermain pedang.
4. Tokoh bibi Zainab mudah terpengaruh, bukti pendukung “Bibi Zainab yang selalu
ingin mendapatkan anak raja itu, dan setiap berpamitan dengan bayan. Maka
diberilah ia cerita-cerita hingga sampai 24 kisah dan 24 malam. Burung tersebut
bercerita, hingga akhirnyalah Bibi Zainab pun insaf terhadap perbuatannya dan
menunggu suaminya Khojan Maimum pulang dari rantauannya.
5. Nilai yang muncul dalam cuplikan hikayat tersebut yaitu nilai moral, Bibi Zainab
menyadari kesalahannya dan insyaf/ tidak akan mengulangi perbuatan buruknya.
45
GLOSARIUM
Teks : naskah yang berupa kata-kata asli dari pengarang(KBBI)
Melayu klasik : cerita yang menggunakan bahasa Melayu.
Sastra Melayu klasik
: sastra lama yang lahir pada masyarakat lama atau tradisional
yakni suatu masyarakat yang masih sederhana dan terikat oleh
adat istiadat.
Alur : rangkaian atau jalan cerita
Amanat : pesan yang dapat diambil dari sebuah karya sastra
Anatomasia : jenis gaya bahasa yang majas yang menyebut
seseorang berdasarkan ciri atau sifatnya yang menonjol.
46
Arkais : kata-kata dalam bahasa Melayu yang sudah jarang
Cerpen digunakan atau bahkan sudah asing didengar
Folklore : cerita pendek yang mengisahkan sebuah konflik paing
Hikayat menarik dalam kehidupan tokohnya.
Konjungsi : cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun
Majas
Setting : salah satu jenis cerita rakyat yang berkisah tentang putra
Simile putri raja dan dewa-dewi dengan beragam kesaktian
yang dimilikinya dan banyak ditulis dalam bahasa
Melayu klasik
: kata penghubung
: gaya bahasa
Unsur intrinsik : unsur pembangun dalam karya sastra
47
DAFTAR PUSTAKA
Sobandi. 2017. Mandiri Mengasah Kemampuan Diri Bahasa Indonesia untu SMA/MA
Kelas X. Jakarta : Erlangga
Suryanta, Alex. 2018. Buku Penilaian Bupena Bahasa Indonesia Kelompok Wajib.
Jakarta: Erlangga.
Suwarti,Sri, dkk. Bahasa Indonesia Pemersatu Bangsa. Solo: PT Tiga Serangkai Pustaka
Mandiri.
https://www.kompas.com/skola/read/2020/09/16/181500869/hikayat-
pengertiankarakteristiknilai-ciri-kebahasaan-dan-contoh
. https://kumparan.com/berita-hari-ini/ciri-ciri-hikayat-beserta-pengertian-
danjenisnya1vIoYrHF8AC/full https://nangtracapane.blogspot.com/2018/07/hikayat-si-
miskin.html
48
49
50
49
51
Modul Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas X SMA
51
52
53
Modul Pembelajaran Bahasa Indonesia Kelas X SMA
53
MODUL PEMBELAJARAN
BUTIR – BUTIR PENTING BUKU FIKSI DAN NONFIKSI
KELAS X
OLEH :
ANI NOFIANTI, S.PD
SMA NEGERI 20 KOTA BEKASI
PROVINSI JAWA BARAT
TAHUN 2019
PETA KONSEP
BUTIR- BUTIR PENTING BUKU
NONFIKSI DAN NOVEL
Dua Buku Satu Novel
Nonfiksi
Ikhtisar Ringkasan
PENDAHULUAN
A. Identitas Modul
Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia
Kelas :X
Alokasi Waktu : 8 X45 Menit
Judul Modul : Butir-Butir Penting Buku Nonfiksi dan Novel
B. Kompetensi Dasar
3. 9 Menyebutkan butir-butir penting dari dua buku nonfiksi (buku pengayaan) dan satu
novel yang dibacakan.
4. 9 Menyusun ikhtisar dari dua buku nonfiksi (buku pengayaan) dan ringkasan dari satu
novel yang dibaca.
C. Deskripsi Singkat Materi
Tetap semangat dan jaga kesehatan, ya! Kesehatan merupakan hal yang utama,
kesehatan itu sangat penting dan mahal harganya. Coba bayangakan jika kalian sakit dan
tidak bisa melakukan apa-apa, tidak enak, bukan? Oleh karena itu, jagalah kesehatan kalian
dengan makan yang teratur dan disiplin diri sendiri untuk selalu menjaga kebersihan.
Salam Literasi, Ayo membaca! Itulah slogan yang diucapkan dalam
pertemuanpertemuan kegiatan literasi baik tingkat provinsi maupun tingkat nasional. Oh, ya,
mengapa kita membahas tentang literasi? Karena modul yang akan kita bahas kali ini adalah
mengenai pengayaan membaca buku nonfiksi dan fiksi. Pada buku nonfiksi kalian akan
disajikan dua buku sebagai bahan bacaan kalian yang pada akhirnya kalian akan diminta
untuk mengikhtisar. Adapun, untuk buku fiksi, fiksi yang dipilih pada kesempatan ini adalah
novel. Kalian akan membaca novel dan meringkas novel tersebut. Pertanyaan awal untuk
kalian, samakah atau berbedakah antara ikhtisar dan ringkasan? untuk mengetahui
jawabannya, kalian harus mempelajari modul ini sampai tuntas.
D. Petunjuk Penggunaan Modul
Supaya belajar kalian dapat bermakna maka yang perlu kalian lakukan adalah :
1. Pastikan kalian mengerti target kompetensi yang akan dicapai
2. Mulailah dengan membaca materi
3. Kerjakan soal latihannya
4. Jika sudah lengkap mengerjakan soal latihan, cobalah buka kunci jawaban yang ada pada
bagian akhir dari modul ini. Hitunglah skor yang kalian peroleh
5. Jika skor masih dibawah 70, cobalah baca kembali materinya, usahakan jangan
mengerjakan ulang soal yang salah sebelum kalian membaca ulang materinya
6. Jika skor kalian sudah minimal tujuh puluh, kalian bisa melanjutkan ke pembelajaran
berikutnya.
E. Materi Pembelajaran
Modul ini terbagi menjadi 2 kegiatan pembelajaran dan di dalamnya terdapat uraian materi,
contoh soal, soal latihan dan soal evaluasi.
Pertama : Ikhtisar buku nonfiksi
Kedua : Ringkasan novel
Modul ini akan sangat bermanfaat bagi kalian. Kalian dapat lebih peka memahami
keadaan sekeliling kalian. Kepekaan kalian itu akan dapat digunakan untuk
membiasakan membaca baik buku nonfiksi maupun buku fiksi. Pada modul ini
kalian akan mempelajari menulis ikhtisar buku nonfiksi dan menulis ringkasan
novel. Jika ada kata-kata yang tidak dipahami, kalian dapat mencermati glosarium
sebagai gambaran makna katanya. Yuk, kita langsung menuju materi!
KEGIATAN PEMBELAJARAN 1
Ikhtisar Buku Nonfiksi
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah kegiatan pembelajaran 1 ini diharapkan
Kalian mampu menulis ikhtisar buku nonfiksi dengan kreatif, inovatif, dan semangat agar
dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari sehingga cepat dalam menangkap dan
menyimpulkan informasi dalam suatu bacaan.
B. Uraian Materi
Sebelum kalian melakukan kegiatan ikhtisar dua buku nonfiksi. Kalian harus pahami
terlebih dahulu, apakah itu ikhtisar. Ikhtisar adalah sebuah penyajian singkat dari sebuah
karangan asli yang tidak perlu memberikan seluruh isi dari karangan asli secara proporsional
Dalam hal tersebut, menurut para ahli, ikhtisar adalah sebuah penulisan dari
pokokpokok masalah penulisannya tidak diharuskan berurutan, akan tetapi boleh dengan
secara acak atau juga disajikan dalam bahasa pembuat ikhtisar tanpa mengubah tema dari
sebuah wacana. Ikhtisar ini berfungsi sebagai garis-garis besar dari masalah di dalam sebuah
wacana yang berukuran pendek atau sedang.
Penulis ikhtisar tersebut dapat langsung mengemukakan inti atau pokok dari suatu
masalah dan problematika dalam pemecahannya.
Sebagai ilustrasi, ada beberapa bagian atau isi dari beberapa bab, dapat diberikan untuk
dapat menjelaskan inti atau pokok dari masalah tersebut. Sementara bagian yang lain yang
kurang penting bisa dihilangkan. Dari segi bentuk ikhtisar ini lebih bebas dibandingkan
dengan ringkasan.
Ciri-Ciri Ikhtisar
1. Tidak mempertahankan urutan gagasan.
2. Bebas mengombinasikan sebuah kata-kata dengan syarat tidak menyimpang dari inti.
3. Tujuannya untuk mengambil sebuah inti.
Fungsi ikhtisar
1. Untuk mengembangkan ekspresi serta penghematan kata.
2. Memahami serta mengetahui isi sebuah buku atau sebuah karangan.
3. Membimbing serta menuntun seseorang agar dapat memahami inti dari suatu isi.
Selain itu, ada beberapa hal yang harus kalian perhatikan untuk membuat ikhtisar yang
kreatif dan inovatif. Untuk itu ,kalian cermati dua kutipan buku nonfiksi berikut!
Kutipan buku nonfiksi 1
Judul buku : Gempa Literasi dari Kampung untuk Nusantara
(nonfiksi)
Penulis : Gol A Gong dan Agus M. Irkham
Penerbit : Gramedia, Jakarta, 2012
Tebal buku : 510 hlm. xv
Minat Baca Anak Indonesia
Membaca buku itu penting! Semua orang tahu dan pasti setuju. Oleh sebab itu, menjadi
beralasan mengenalkan buku dan kegiatan membaca pada anak-anak. Dengan kebiasaan dan
kecintaan membaca sejak dini, mereka menjadi lebih mudah mempelajari apa pun, termasuk
pelajaran di sekolah yang berefek pada meningkatnya prestasi akademik.
Pertanyaan pentingnya adalah: bagaimana minat baca anak Indonesia? Berdasarkan
riset lima tahunan Progress in International Reading Literacy Study (PIRLS), yang melibatkan
siswa SD, Indonesia berada pada posisi 36 dari 40 negara yang dijadikan sampel. Indonesia
hanya lebih baik dari Qatar, Kuwait, Maka. dan Afrika Selatan.
Sedikitnya ada tiga realitas di balik temuan PIRLS tersebut. Pertama, jumlah
perpustakaan SD di Indonesia sangat minim. Mengapa demikian? Karena mayoritas anak
kenal dan mulai membaca buku dari perpustakaan sekolah, meskipun saat ini TBM sudah
bertebaran di mana-mana.
Berdasarkan data terakhir, terdapat 169.031 SD dan Madrasah Ibtidaiyah di Indonesia.
Artinya, jika tiap sekolah memiliki satu perpustakaan, seperti yang diamanahkan oleh UU
Nomor 43 tahun 2007 tentang Perpustakaan, ada 169.031 perpustakaan.Tentu anak-anak
akan memperoleh kemudahan mengakses bahan bacaan. Namun, yang terjadi tidak begitu.
Di Indonesia, SD yang memiliki perpustakaan sekitar 1 persen lebih sedikit dari data jumlah
sekolah. Persentase sekecil itu pun belum ditilik lebih dalam. Jika iya, saya pastikan angkanya
akan semakin menciut. Misalnya, seberapa banyak koleksi buku yang dimiliki? Apakah
keragaman bacaan yang dimiliki sudah memenuhi harapan pembaca? Bagaimana kondisi
sarana (bangunan) dan prasana perpustakaan (misalnya, buku dan rak). Belum lagi jika
pertanyaan kunci ini dilontarkan: yang mengelola perpustakaan adalah pustakawan atau
sekadar guru piket yang dikaryakan sehingga sekadar menjadi tempat buku-buku kumal dan
berdebu ditumpuk, tanpa ada program-program kreatif yang ditujukan untuk memasarkan
perpustakaan?
Realitas kedua dari fakta rendahnya minat baca anak Indonesia adalah tidak adanya
integrasi yang nyata, jelas, dan tegas antara mata pelajaran yang diberikan dengan kewajiban
siswa untuk membaca. Siswa tidak diberi keleluasaan dan kebebasan mencari sumber
pembelajaran di luar buku pegangan dari guru.
Satu contoh sederhana, kita tidak memiliki standar minimal mengenai bacaan wajib
yang harus dikhatamkan siswa di tiap jenjang pendidikan, entah berdasarkan jumlah maupun
judul tertentu. Apalagi pengecekan tingkat kemajuan bacaan siswa secara bertahap dan rutin,
baik yang menyangkut bacaan yang diwajibkan, bacaan yang dianjurkan, dan bacaan
menyangkut pengetahuan umum.
Realitas ketiga, rendahnya minat baca anak Indonesia karena pengalaman
pramembaca dan membaca, atau berkenalan dengan buku, yang dialami anak kurang
menyenangkan-jika enggan menyebutnya buruk. Buku, sebagai media yang lazim digunakan
untuk mengukur tingkat minat baca, dikenalkan kepada anak-anak dengan cara yang tidak
menarik. Bahkan, menimbulkan trauma.
Biasanya, buku yang pertama kali diperkenalkan kepada anak-anak adalah buku
pelajaran yang tebal menurut ukuran mereka. Isinya melulu tulisan, tidak bergambar, dan
hurufnya pun kecilTentu saja keharusan membaca buku seperti itu laksana menyuruh anak
membenci buku secara berj amaah.
Namun, giliran anak-anak tengah mendapatkan keasyikan membaca buku dalam
bentuk komik atau cergam, orangtua buru-buru melarang keras, disertai semburan kata
ancaman. Orangtua memfatwakan anak-anak bahwa membaca komik dan cergam hanya
akan membuat mereka malas belajar dan bodoh. Padahal , komik bisa menjadi pintu masuk
untuk mengembangkan imajinasi serta ragam bacaan anak ketingkat yang lebih luas. Apa
yang dibaca sesungguhnya mengikuti perkembangan wawaan, cara berpikir, dan
berkebutuhan mereka.
Di luar itu, promosi buruk orangtua tentang buku juga turut menyukseskan rendahnya
minat baca anak. Promosi buruk tersebut berupa ketiadaan bahan bacaan di rumah serta
minusnya keledanan dari orangtua.
Kutipan buku nonfiksi 2
Jenis buku nonfiksi (motivasi)
Judul : Buku Untuk Dibaca
Penulis : Erick Namara
Penerbit : Citra Media Pustaka, Yogyakarta, 2016
Tebal buku : 380 halaman + ix
Kakek
Rumah kakek nenek saya hanya satu blok dari rumah saya di kota New York. Waktu
itu kami masih kecil. Kakek sering pada malam hari mengajak saya jalan-jalan ketika musim
panas tiba.
Pada suatu malam, ketika saya dan kakek berjalan bersama, saya bertanya kepadanya
tentang apa perbedaan keadaan sekarang dengan dulu. Kakek menjawab bahwa pada zaman
dulu ketika dia masih kecil, jamban-jamban berada di luar rumah, bukan seperti sekarang
yang berupa toilet mengkilap. Dulu semua orang menggunakan kuda, bukan mobil.
Orangorang berkomunikasi jarak jauh dengan surat, tidak seperti sekaan Vang bisa dilakukan
dengan telepon. Zaman dulu juga masih menggunakan lilin, di mana sekarang, listrik sudah
ada di mana-mana.
Saya mendengarkannya dan membayangkan semua keadaan sulit tersebut, tetapi
tetap tidak bisa terbayang. Lalu saya menanyakan lagi kepadanya satu hai, ”Kakek, apa hal
paling susah yang pernah terjadi dalam hidup kakek?”
Kakek menghentikan iangkahnya. Dia memandang langit dan tidak berkata apa-apa
selama beberapa saat. Lalu dia berlutut, menggenggam kedua tangan saya, dan dengan
berlinangan air mata, dia mengatakan, "Ketika ibumu dan adik-adiknya masih kecil-kecil.
Nenekmu sakit parah. Untuk bisa sembuh, dia harus dirawat di satu tempat bernama
Sanatorium. Dan itu butuh waktu yang lama sekali.”
"Tidak ada orang yang bisa merawat ibu dan paman-pamanmu itu kalau kakek sedang
pergi kerja, jadi mereka kakek titipkan di panti asuhan. Para biarawati membantu kakek
mengurusi anak-anakku itu, sementara kakek harus melakukan dua atau tiga bekerjaan.
Kakek sangat butuh uang agar nenek bisa sembuh dan semua orang bisa berkumpul lagi di
rumah, bersama.”
"Yang paling sulit dalam hidup kakek adalah,” lanjut kakek masih dengan air matanya
yang berlinang, ”kakek harus menaruh mereka di panti asuhan. Setiap minggu, kakek selalu
mengunjungi mereka. Tetapi para biarawati tidak pernah menizinkan kakek untuk
mengobroi bersama ibumu dan paman-pamanmu. Kakek bahkan tidak bisa menyentuh
mereka. Kakek hanya bisa memperhatikan mereka bermain dari balik sebuah cermin satu
arah. Kakek bisa melihat mereka, tetapi mereka tidak bisa melihat kakek”.
Kakek kemudian menghapus air matanya sebentar, tetapi air matanya tetap keluar
lagi.
”Kakek selalu membawakan mereka permen setiap minggu. Berharap mereka tahu
bahwa itu pemberian kakek. Bahwa kakek tidak pernah meninggalkan mereka. Kakek hanya
bisa menaruh kedua tangan kakek di atas cermin itu selama tiga puluh menit penuh. Kakek
tidak akan pernah beranjak dari sana selama waktu itu. Karena itu adalah waktu yang
diberikan para biarawati. Kakek kadang berharap mereka melihat kakek, dan bahagia melihat
kakek.”
Saya tidak berkata apa-apa dan hanya bisa mendengar kakek. Merasakan pedihnya
perasaan kakek meski waktu itu saya masih kecil. Saya tidak pernah melihat kakek saya
menangis, dan melihat itu, saya pun ingin menangis.
“Satu tahun, kakek tidak bisa menyentuh anak-anak kakek. Kakek sangat merindukan
mereka. Kakek mengerti alasan para biarawati itu, bahwa jika mereka melihat kakek, itu akan
semakin berat bagi mereka karena setelah itu, kami harus berpisah kembali. Karena itu kakek
tidak bisa memaksa para biarawati mengizinkan kakek menemui mereka, anak-anak kakek.
Ibumu dan pamanDamanmu.”
Kakek masih menangis. Dia |a|u memeluk saya eraterat. Saya mengatakan kepada
kakek kemudian bahwa saya memiliki kakek terbaik di seluruh dunia dan bahwa saya sangat
menyayanginya.
Lima belas tahun berlalu setelah itu, dan saya tidak pernah menceritakan kejadian
istimewa itu kepada siapa pun. Bahkan ketika kami semua kemudian pindah ke negara bagian
yang berbeda. Lima belas tahun berlalu, dan saya tidak pernah menceritakan acara jalan-jalan
istimewa dengan Grandpa itu kepada siapa pun. Dari tahun ke tahun kami tetap rajin
jalanjalan, sampai keluarga saya dan kakek-nenek saya pindah ke negara bagian yang
berbeda.
Setelah nenek meninggal dunia, kakek mengalami penurunan daya ingat. Saya yakin,
itu adalah tekanan yang sangat berat baginya. Saya kemudian memohon kepada ibu agar
memperbolehkan kakek tinggal bersama kami, tetapi ibu menolaknya.
Saya merengek bahwa ini adalah kewajiban keluarga untuk memikirkan kakek juga.
Ibu lalu sedikit marah, dan membentak, “Kenapa?! Dia sendiri sama sekali tidak
pernah peduli pada apa yang terjadi pada kami, anak-anaknya”
Saya kemudian menyadari apa yang ibu maksud, dan berkata, ”Dia selalu
memperhatikan dan menyayangi kalian."
Ibu saya menjawab, ”Kamu tidak mengerti apa yang kamu ndiri bicarakan!”
“Hal yang paling sulit bagi kakek adalah ketika harus menaruh ibu, paman Eddie dan
paman Kevin di panti asuhan,” kataku lirih, tetapi cukup untuk didengar.
"Siapa yang menceritakan itu?” tanya ibu.
Ibu sama sekali tidak pernah menceritakan masa lainnya kepada kami, termasuk
ketika dia dititipkan di panti asuhan. Jadi wajar jika dia merasa heran dan bertanya dari mana
saya tahu kejadian itu.
“Bu, ketika itu, kakek selalu datang ke sana menjenguk ibu dan paman-paman setiap
minggu. Kakek selalu memperhatikan kalian dari belakang cermin satu arah itu. Kakek selalu
membawakan permen setiap kali dia datang. Dia tidak pernah satu kali pun absen apapun
keadaannya. Dia sangat membenci kenyataan bahwa selama setahun itu sama sekali tidak
bisa memeluk ibu dan paman.”
“Kamu bohong!” ibu emosi. ”Dia tidak pernah datang! Tidak pernah ada yang datang
menjenguk kamil”
”Lalu bagaimana aku tahu kunjungan Itu kalau dia tidak cerita dan benar-benar
melakukannya? Bagaimana aku bisa tahu oIeh-oleh apa yang dibawanya setiap minggu. Dia
benarbenar datang. Dia selalu datang. Ibu dan paman selalu menerima Permen. Kenapa hanya
pada hari tertentu. Apakah anak yang lainnya menerima permen yang sama juga?
Kenyataannya adalah para biarawati itu yang tidak pernah mengizinkan kakek menemui ibu
dan paman. Kata mereka, itu akan mempersulit keadaan karena ibu dan paman pasti tidak
akan mau berpisah dengan kakek begitu melihat kakek. Padahal kakek harus mencari uang
untuk kesembuhan nenek.” Ibu terdiam.
”Kakek mencintai ibu dan paman-paman. Selalu begitu.”
Setelah saya menceritakan kebenaran itu, hubungan kakek dan ibu berubah. Ibu jadi
menyadari bahwa ayahnya selalu mencintainya. Keadaanlah yang memaksa kakek
menitipkan mereka di panti asuhan. Dan akhirnya kakek tinggal bersama kami sampai akhir
hidupnya.
*****
Cinta sering tidak terlihat kasat mata. Bahkan ketika kita ingin melihatnya.
Kadangkadang, cinta pun butuh untuk dijelaskan, baik oIeh dirinya sendiri maupun orang
lain. Karena sebuah penjelasan bisa membuat mereka memahami. Itulah kenapa saling
berbicara itu penting. Untuk saling memahami daripada menghakimi.
Seberapa sering kita menjadi teman bicara orang-orang yang kita sayangi ?
Sudahkah kalian membaca dengan cermat kedua kutipan tersebut? Apa yang
pertama kalian lihat? ya benar! kover dan identitas bukunya. Apa lagi setelah itu? Kalian
akan ikuti penjelasan berikut.
Cermati langkah-langkah menyusun ikhtisar!
1. Mengenali identitas Buku
Hal yang pertama kalian lakukan adalah, berkenalan terlebih dahulu dengan bukunya,
yaitu kenalilah identitas bukunya!
Apakah identitas buku? sama halnya dengan kalian yang memiliki identitas, buku juga
memiliki identitas, seperti, judul, pengarang, penerbit, dan sebagainya.
Contoh identitas kutipan buku nonfiksi 1
Judul buku : Gempa Literasi dari Kampung untuk Nusantara (nonfiksi)
Penulis : Gol A Gong dan Agus M. Irkham
Penerbit : Gramedia, Jakarta, 2012
Tebal buku : 510 hlm. xv
Kover : Warna dasar putih dan biru, terdapat gambar tangan yang sedang
memegang bola dunia. Tangan tersebut bercorakkan tulisan. dan di bawah
terdapat judul bukunya.
Contoh identitas kutipan buku nonfiksi 2
Judul buku : Buku Untuk Dibaca , All About Love, Life, and Hope
Penulis : Erick Namara
Penerbit : Citra Media Utama, Yogyakarta, 2016
Tebal buku : 380 + x
: Warna dasar cokelat muda, tulisan judul buku warna hitam dengan huruf
Kover
balok tebal dan menonjol, tulisan anak judul merah huruf kaptal, di bawah
tulisan ada barcode tiga warna putih hitam dan logo Android warna hijau.
2. Cermati isi dalam setiap paragraf
Untuk mendapatkan maksud atau kesan umum dari sudut pandang pengarang aslinya,
kalian bisa mencari gagasan utama atau gagasan pokoknya.
Misalnya:
Kutipan buku nonfiksi 1
• Semua orang mengetahui membaca buku itu penting.
• Minat baca anak Indonesia.
• Rendahnya minat baca Indonesia tidak ada integrasi antara pelajaran dan kewajiban.
• Tidak adanya standar minimal yang harus dihatamkan oleh siswa.
• Rendahnya minat baca anak Indonesia karena pengalaman yang kurang menyenangkan.
• Buku yang diperkenalkan kepada anak buku pelajaran yang tebal.
Kutipan buku nonfiksi 2
• Rumah kakek di kota New York.
• Saya menanyakan perbedaan sekarang dengan dulu.
• Saya mendengarkan dan membayangkan keadaan masa sulit
3. Menyusun kerangka tulisannya
Setelah kalian membaca dan menemukan inti dari setiap paragraf, kalian rangkas inti
paragraf tersebut . Dalam penulisan inti kalimat , gunakan kalimat sendiri tetapi isinya tidak
hilang dan boleh tidak beraturan mengambil inti pada setiap paragraf .
Contoh:
Kutipan buku nonfiksi 1
Semua orang mengetahui membaca buku itu penting. Namun sayangnya, minat
baca anak Indonesia didapatkan sangat kurang. Hal ini terjadi disebabkan anak
Indonesia mendapatkan pengalaman yang kurang menarik. Buku-buku awal yang
diperkenalkan kepada mereka adalah buku-buku pelajaran yang cukup tebal. Hal inilah
di antaranya yang membuat anak Indonesia enggan membaca. Memang benar bahwa
rendahnya minat baca anak Indonesia tidak ada integrasi antara pelajaran dan
kewajiban, tetapi anak-anak Indonesia harus tetap membaca. Setiap siswa harus
memiliki suatu kesadaran dan kewajiban untuk membaca walaupun tidak adanya
standar minimal yang harus diselesaikan oleh siswa.
Kutipan buku nonfiksi 2
Rumah kakek berada di kota New York. Ketika saya dan kakek berjalan bersama,
saya penasaran perbedaan kota New York dahulu dengan yang sekarang. Mendengar
cerita kakek, saya dapat membayangkan keadaan masa sulit pada saat itu.
4. Memeriksa tulisan aslinya
Dalam hal ini, perlu kalian perhatikan dari buku aslinya, bahwa setelah kalian membaca
kemudian melakukan ikhtisar kalian dapat bebas mengombinasikan kata-kata, asalkan tidak
menyimpang dari inti yang disampaikan penulisnya. Kalian juga tidak perlu
mempertahankan gagasan utama yang menurut kalian tidak penting, begitu pula urutannya.
Bagaimana sudah paham? Tentunya kalian sudah memahami apa yang akan lakukan
untuk membuat ikhtisar?
Bila kalian sudah memahami, cermati kutipan buku selanjutnya dan hasil ikhtisarnya!
Paku
Ada seorang anak yang sangat pemarah. Ayahnya dan anak itu kemudian sepakat membuat
permainan untuk memakukan sebuah paku di pagar belakang setiap kali dia marah. Ayah itu
kemudian memberikan sekantung paku.
Permainan itu pun mulai dimainkan. Pada hari pertama, anak itu ternyata sudah memakukan
48 paku. Lalu sesuai dengan kesepakatan, si Anak pun akan mengurangi jumlah paku yang
ditancapkannya itu apabila dia berhasil menahan amarahnya. Anak itu sangat kesusahan
untuk mengambil paku yang telah ditancapkan pada kayu. Karena kesusahan itulah dia
berusaha untuk menahan amarahnya.
Akhirnya, bertambah harl, jumlah paku yang menanam di pagar semakin berkurang. Anak
tersebut peian-pelan bisa mengendalikan amarahnya. Dan pada saat anak itu mulai bisa
mengendalikan amarahnya, dia pun mengatakan ha! itu pada ayahnya. Tetapi ayahnya
meminta untuk menunggu beberapa hari lagi. Jika memang tidak ada paku yang ditancapkan,
berarti dia sudah berhasil meredakan amarahnya.
Beberapa hari kemudian, ternyata anak itu memang berhasil meredakan amarahnya.
Ayahnya menawarkan permainan baru. Ketika dia tidak marah dalam sehari, maka bisa
mencabut satu paku. Dan dimulai dari beberapa hari lalu.
Si anak merasa senang. Dan dia setuju dengan permainan baru itu. Maka dimulailah setiap
hari dia mencabut paku karena berhasil menahan amarahnya.
Hari terus berlalu dan anak itu selalu mencabut paku hampir setiap hari. Pada suatu hari, dia
melihat hanya tersisa satu paku saja. Dia berteriak girang. Permainan hampir selesai. Besok
adalah hari terakhir. Dia tidak boleh kalah.
Keesokan harinya dia berusaha dengan keras supaya usahanya berhasil dalam
mengendalikan amarah. Apa pun godaannya, dia berusaha mengendalikannya. Dan ternyata
dia berhasil melakukannya.
Dia pun berlari kepada ayahnya dan bermaksud menunjukkan ayahnya bahwa dia menang.
Paku terakhir akan dicabutnya. Ayahnya pun mengikutinya.
Setelah paku itu dicabut, anak itu tersenyum bangga, Ayah itu kemudian menepuk pundak
anaknya. "Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku, tapi, lihatlah lubang-Iubang di
pagar ini. Pagar ini tidak akan pernah bisa sama seperti sebelumnya. Ketika kamu
mengatakan sesuatu dalam kemarahan. Kata-katamu meninggalkan bekas seperti lubang ini
di hati orang lain."
*****
Setiap luka yang kita terima dari orang lain, kita mungkin bisa memaafkannya. Tetapi soal
melupakannya? Belum tentu mampu. Dan juga pandangan kita kepada orang itu juga
mungkin berubah selamanya.
Apa yang kita lakukan pun berlaku seperti itu. Apa yang kita katakan, tindakan kita, semuanya
berpengaruh pada orang lain. Bisa memberi arti, bisa juga melukai. Dan keduanya samasama
akan membekas di hati mereka. Karena itu pertimbangkan dengan baik sebelum melakukan
apa pun kepada orang Iain.
Contoh ikhtisar:
Seorang ayah membuat kesepakatan dengan anaknya dengan cara permaianan.
Permainan itu berupa menancapkan paku ke pagar kayu bila si anak itu marah. Hari pertama
anak tersebut memakukan paku sebanyak 48 paku. Hari demi hari si anak dapat
mengendalikan amarahnya dan tidak lagi menancapkan paku ke pagar kayu. Kemudian
ayahnya menawarkan permainan baru, yaitu bila bisa menahan marah si anak harus
mencaut paku yang ada di pagar kayu. Kemudian untuk beberpa hari si anak berhasil kembali
menahan amarahnya. Si anak memberitahukan kepada ayahnya bahwa dia telah menang
dalam permaian itu. Si anak menunjukan kepada ayahnya bahwa dia akan mencabut paku
terakhir dan dia merasa bangga dan tersenyum. Kemudian ayahnya mengatakan bahwa
anaknya telah berhasil tetapi lubang-lubang di pagar kayu tidak akan seperti sebelumnya.
Kemudian ayahnya mengatakan bahwa kata-kata yang dilontarkan akan membekas di hati
orang lain.
C. Rangkuman
Ikhtisar adalah sebuah penyajian singkat dari sebuah karangan asli tidak perlu
memberikan seluruh isi dari karangan asli secara proporsional.
1. Ciri- ciri Ikhtisar
a. Tidak mempertahankan urutan gagasan
b. Bebas mengominasikan sebuah kata-katadengan syarat tidak menyimpang dari
inti
c. Tujuannya untuk mengambil inti.
2. Fungsi ikhisar
a. Unuk mengembangkan ekspresi serta penghematan kata
b. Menemukan serta mengetahui isi seluruh buku atau karangan
c. Membimbing serta menuntun seseorang agar dapat memahami inti dari suatu
isi
3. Langkah-langkah menulis ikhtisar
a. Mengenali identitas buku
b. Cermati isi dalam setiap paragraf
c. Menyusun kerangka tulisannya
d. Memeriksa tulisan aslinya.
D. Latihan Soal
Cermati informasi buku nonfiksi 1!
Judul buku : Menaklukan Media
Penulis : Andi Andrianto
Penerbit : Elex Media Komputindo, Jakarta, 2011
Tebal buku : 184 halaman
Tulisan Saya Jelek
Kepercayaan diri penting dimiliki bagi siapa saja yang ingin menulis. Dengan memiliki
kepercayaan diri, berbagai tantangan menulis pasti akan dihadapi. Dan ia sukses. Namun, lain
hal dengan orang yang tak mempunyai kepercayaan diri yang tinggi. Karena tidak PD dengan
diri maupun tulisannya sendiri, ia pun menghakimi tulisannya dengan berkata: tulisan saya
jelek.
Tentu ini sebuah kebiasaan buruk. Sebab, sejelek apa pun suatu, karya, ia tetap harus
dihargai. Bukankah demikian kata orang bijak? Baik atau buruk sebuah tulisan tolok ukurnya
apa? Problemnya, kita acap mengambil kesimpulan yang kadang terburuburu dalam menilai
tulisan.
Misalnya, ada kebiasaan buruk yang orang tanpa sadar melakukan, yakni
membandingkan tulisannya dengan tulisan orang lain sekelas tokoh nasional, misal dengan
tulisan Gus Dur (alm.), Amien Rais, Rosihan Anwar (alm.) dan atau dengan yang lain. Atau, ia
membandingkan tulisannya dengan tulisan yang kerap dimuat di media nasional.
Bagi, saya, tindakan ini tak salah, tapi cukup rentan berbahaya, apalagi jika dilakukan
penulis pemula yang bermental labil. Ia membandingkan tulisannya dengan tulisan para
tokoh dan atau membandingkan dengan tulisan yang telah dimuat di Kompas misalnya, tentu
kualitas tulisannya jauh lebih rendah dibanding dengan tulisan para penulis hebat tersebut.
Secara logika, jika perbandingan itu dilakukan tentu tak berimbang. Masa tulisannya
dibandingbandingkan dengan tulisan para tokoh yang dalam proses kreatif menulis jauh
lebih dulu ia berproses dibanding dengan penulis pemula yang baru kemarin sore menulis.
Hasilnya, sudah dapat ditebak, tulisan orang lain lebih baik dan tulisan kita sendiri jelek.
Maka, saran saya hindari kebiasaan ini.
Akan tetapi, jika kebiasaan membanding-bandingkan tulisan sendiri dengan tulisan
orang lain dalam kerangka proses belajar menulis yang konstruktif (membangun), tak jadi
masalah. Tapi, dengan catatan, kita meski berjiwa besar, bersikap terbuka (inklusif), jangan
anti-kritik, jangan takut salah, apalagi bersikap psimistis, bila ditemukan tulisan Anda lebih
baik dari tulisan orang lain.
Parahnya lagi jika kita beranggapan bahwa tulisan Anda tidak bakal terbit di media.
Tidak dapat dipungkiri, perasaan takut tulisannya tak dimuat media kerap kali muncul dalam
diri penulis. Apalagi, jika ingin tulisannya diterbitkan di koran, jurnal ilmiah, jurnal
internasional, yang dipenuhi dengan persaingan ketat antar-penulis. Jika ada orang yang
berpikir seperti ini, bagai pepatah layu sebelum berkembang. Sementara, dalam istilah
militer mati sebelum berperang. Kasihan sekali. Buang saja ke laut meminjam istilah politisi
“nyentrik” Ruhut Sitompul.
Sebetulnya, untuk menghindar dari tudingan itu, saran saya segeralah menjauh dari
pelbagai asumsi bahwa tulisan Anda tak bakal terbit. Yang penting Anda lakukan adalah terus
menulis, jangan kapok apabila tulisan Anda tak dimuat, jangan takut dengan penulis lain. Dan
jangan berhenti menulis di separuh jalanketika Anda sedang menulis.
Sebab banyak orang gagal dan atau menghindar dari aktivitas menulis karena ia takut
dan bahkan tak punya kepercayaan diri bahwa ia akan sanggup menyelesaikan sebuah
tulisan, bahkan hanya untuk menuntaskan artikel yang panjangnya hanya 5000 karakter.
Orang tipe seperti ini , biasanya memiliki pengalaman yang kurang baik dalam menulis.
Ketika ia coba menulis, ia gagal menuntaskan tulisan akibat malas atau kekurangan ide.
Parahnya lagi, ada pula orang yang berpikir tak dapat membuat tulisan utuh hanya
karena ia pernah mendengar dari orang yang salah yang mengatakan menulis itu sukar.
Padahal ia belum pernah praktik menulis. Parah betul bukan? Ibaratnya ia minum air padahal
isinya racun. Seperti itulah gambaran tipe orang seperti ini.
Lantas, bagaimana mengatasi situasi ini? Awalnya, hilangkan pikiran bahwa tulisan
Anda jelek, tulisan tak bisa diterbitkan media dan jauhi asumsi bahwa Anda tak dapat
menyelesaikan sebuah tulisan. Dan ketika Anda menulis, tiba-tiba ide mandeg dan Anda
bingung untuk melanjutkan tulisannya, sebaiknya tulisan tersebut diendapkan saja lebih dulu
dan Anda melakukan aktivitas lain sembari Anda tetap berpikir dengan tulisan Anda tadi.
Percayalah ide segar itu kembali akan datang dan Anda bisa menuntaskan tulisan hebat Anda.
Coba saja !
Yupz, inilah dalih-dalih orang menghindar untuk menulis. Tentu, di lapangan masih
banyak lagi alasan orang belum atau tidak menulis. Alasan orang belum menulis yang saya
sampaikan di atas hanya bagiankecil dari beribu-ribu alasan seseorang menepis diri tak
menulis.
So, dalih belum menulis harus dihilangkan, jika ingin dapat menulis. Caranya? Menurut
Feby dalam tulisannya “Dalih”, dalih dapat dilawan dengan kita berdalih pula. Alasan orang
belum menulis sebagaimana yang saya tulis di atas merupakan dalih negatif yang dapat
dikalahkan dengan dalih positif. Begitu kata Feby.
Cermati informasi buku nonfiksi 2!
Judul buku : Gempa Literasi dari Kampung untuk
Nusantara (nonfiksi) Penulis : Gol A Gong dan
Agus M. Irkham
Penerbit : Gramedia, Jakarta, 2012
Tebal buku : 510 hlm. xv
Pertalian Minat Baca, Harga Buku, dan Daya Beli
Lebih dulu mana, ayam atau telur? Pertanyaan metaforis itu bakal muncul ketika kita
mencoba menghubungkan minat baca, harga buku, dan daya beli. Pada pembaca buku
berlaku demikian: minat baca tinggi tak serta-merta membuat daya beli tinggi. Dalih klisenya