Sehimpun Karya Puisi
Siswa dan Guru SMAS Cendana Mandau
Tentang Korona
dan Sekat Rindu
Soega Publishing
2021
Tentang Korona dan Sekat Rindu
Penulis : Abdurrahman Harits Abqary, dkk.
Editor : Bambang Kariyawan Ys, Ruslan Abdul Gaya, Warniati Mahyudin
Layout : Alam Terkembang
Cover : Alam Terkembang (freepik)
Diterbitkan oleh: Soega Publishing bekerjasama dengan Writea Publishing
Pekanbaru. Alamat: Jl. Jauhari No. 8 Petak 2 Labuhbaru Barat, Kec.
Payungsekaki, Pekanbaru. HP/WA: 085278761002
Ukuran 14x21 cm; Halaman: viii+132
Cetakan pertama, Juni 2021
ISBN: 978-623-7555-22-3
Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved
Dilarang memperbanyak sebagian atau keseluruhan isi buku ini tanpa izin
tertulis dari penerbit
Hak Cipta adalah hak eksklusif bagi Pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau
memperbanyak Ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak
mengurangi pembatasan-pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
KETENTUAN PIDANA
Pasal 72
(2) Barangsiapa dengan sengaja menyiarkan, memamerkan, mengedarkan, atau menjual
kepada umum suatu Ciptaan atau barang hasil pelanggaran Hak Cipta atau Hak Terkait
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima)
tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
(3) Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk kepentingan
komersial suatu Program Komputer dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun
dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
ii Tentang Korona dan Sekat Rindu
Kata Pengantar
Kata Pengantar
Peristiwa pandemi Korona telah memasuki tahun kedua.
Musibah ini memang menyengsarakan kita semua. Dalam dunia
pendidikan, efek virus Korona telah membuat sekolah menjadi
“bisu” dan sunyi dari keriuhan. Belajar dari rumah, ekskul pun
dilakukan online, dan bahkan rapat-rapat pun sekarang online.
Tersekat oleh bilik-bilik zoom, schoology, google meet, dan segala jenis
aplikasi online lainnya. Namun terkadang musibah bila disikapi
dari sisi lain menjadi lahan ide untuk berbuat kreatif.
Menuangkan segala peristiwa dalam tulisan merupakan bentuk
terbaik agar peristiwa yang terjadi terus melintasi waktu.
Buku “Tentang Korona dan Sekat Rindu” merupakan
puisi kumpulan karya siswa dan guru SMAS Cendana Mandau.
Tema yang diangkat adalah tema terdekat yang dialami kita
semua yaitu Korona. Siapapun ada rasa kerinduan mendalam
untuk kembali dalam kehidupan yang bebas tanpa sekat. Sekat-
sekat teknologi telah menjadi batas yang memisahkan rindu.
Rindu berjabat tangan, rindu melebarkan senyuman, dan rindu
berkumpul membincangkan banyak hal tentang kehidupan.
Lewat puisi-puisi ini. kita berharap menjadi “hiburan” kala saat
ini dan bahan cerita kala nanti.
Kehadiran buku ini menjadi tanda bahwa gerakan literasi
dapat hadir dalam segala situasi. Semoga jejak sejarah kembali
Tentang Korona dan Sekat Rindu iii
tertorehkan pada siapa saja yang telah berkontribusi dalam buku
ini. Salam literasi!
Duri, 12 Juli 2021
Kepala SMAS Cendana Mandau
Bambang Kariyawan Ys., M.Pd.
iv Tentang Korona dan Sekat Rindu
Daftar Isi
Daftar Isi
Kata Pengantar iii
Daftar Isi v
Abdurrahman Harits Abqary: Situasi 2
Adinda Dwi Putri Indra: Rindu 3
Afdhal Ash – Shiddiq Maulana: Pandemi Covid-19 4
Aidilla Fitri Joanika: Kubuka 5
Aifa Hayati: Pandemi Covid-19 6
Aileen Aditi Putri : Perjuangan 8
Alifa Hanania Ardha : Kauhadir 9
Amanda Ratu Jovaeri : Musuhku 10
Amanda Defya Putri: Kembalilah 11
Arrayan Duta Ramadhana: Belajar Sabar 12
Atha Irba Falah: Engkau Hadir 13
Athifa Hanami Sahila: Surat dari Yang Terkunci 14
Athillah Ayu Istiqomah: Bukan Dongeng Pengantar Tidurmu 15
Aulia Dinda Titi Mustika: Hidup Bersama Pandemi 16
Azzahra Ayla Pasaribu: Gemuruh Dunia 17
Bambang Kariyawan Ys: Peti Pahlawan 18
Bryan Gihon: Tangis Pilu Bumiku 19
Carina Zayra Zahra: Perdamaian 20
Celsi Fransisca Sitompul: Bayangan 21
Tentang Korona dan Sekat Rindu v
Cristo Arlando: Cahaya Medis 22
Danish Ahza Rizqi: Pandemi 23
Dida Ardan: Nyalakan Harapan 24
Dida Ardan: Cahaya dalam Kegelapan 25
Dinda Chaniko Adraf: Korona 26
Drupadi Kusumawardhani: Korona 27
Dzaki Dwiandra Shaumil Ghifari: Engkau 28
Eveline Nathalie A. Sihotang: Kupeluk 29
Fabiola Christina: Korona 30
Fadila Fianda: Tak Terlihat, tapi Berbahaya 31
Fadila Fianda: Berjuang untuk Bertahan 33
Faisa Aufadila: Covid-19 34
Faiz Al Farobi: Hindari 35
Faiz Andika: Doa Terbaik 36
Farah Asyilla Gumilar: Kau yang Tidak Diharapkan 37
Fatwa Bintang Alyafi: Pandemi bukan Penghalang 38
Fawwaz Elsulthan: Kapan 40
Fenina Emiya Semburing: Menunggu 41
George Fresmind S.: Masih dalam Renungan Sisa-Sisa Subuh 42
Ghea Syalneffi: Harapanku 43
Gheilberts: Tersebar 44
Gilbert Christianto Hutagalung: Rantai Keresahan 45
Giovan Aprillian: Pandemi Covid-19 47
Halwa Shofia: Kerisauan Hati 48
Hizkia Sihombing: Siswa Daring 49
Imam Mahatir Hasibuan: Berdoa 51
Irdina Marsa Liwani: Kebestarian di Tengah Pandemi 52
Jovanka Patricia Efaprasata: Penghalang Kebersamaan 53
Keizha Feleina Rumondang Sitompul: Bangkit 54
Kharysmaputri Thessa Wardana: Ancaman Dunia 55
Maghfira Marsa Kamila: Pandemi Tak Berhati 56
Mardhiah Cahyani Budi Pujangga: Oh Korona 57
Marsen Charsiva Wijaya: Kekhawatiran 58
Marsya Shahira: Merasuk Hati 59
Marwaty Mangun Putri: Sampai Nanti 60
Micho Theonanda: Penderitaan 61
vi Tentang Korona dan Sekat Rindu
Moh Irfan Hamid: Kepergianmu 62
Mohammed El Zikra: Siapakah Engkau 63
Muhammad Dhani: Semilir Pandemi 65
Muhammad Fakhruddin: Menyerang 67
Muhammad Furqan Zelsy: Korona 68
Muhammad Wira Alfikri: Kau 70
Mursyid Nur Hidayat: Virus Kecil Mematikan 71
M. Abel Ivansyah: Mari 72
M. Dzaky Farras Majid: Korona 73
M. Faiz Arasy: Korona 74
M. Khalfa Renchito: Virus Korona 75
Nadhifah Amalia Fannisa: Derita 76
Najya Arsyi Zahira: Berubah 77
Nasha Riaulina: Pembawa Resah 78
Natasya Novariza: Belajar dari Rumah 79
Naurah Mahfuzhah: Demi 80
Naurah Mahfuzhah: Sampai Nanti 81
Naya Natasya: Pergilah 82
Nofri Irfandi: Kau dating 83
Nurul Anisya: Pasrah 85
Puan Maharani Ratu Neil: Maret 2021 86
Raffly Ramadhan: Lindungilah 87
Rahmanda Putri Setiawati: Hening Bentala 88
Ramadhana Raesya Nia: Sebab Kau 89
Rashieka Fairuz Umamah: Covid-19 91
Riva Elvita: Matahari Berselimut Awan 92
Salma Hikami: Hadir 94
Sandra Maretha S.: Kesalku 95
Saniyyah Ramadhani: Perlu 96
Sefanya Putri Novira: Korona 97
Sharah Aulia Hanifah: Virus Korona 98
Stefany Visga Patricia: Semesta Aksa Berbeda 99
Syafiq Rafi: Air Mata 100
Syafiq Rafi: Waktu 101
Syarafina Cleary Santyarso: Pahlawan Pandemi 102
Syifa Alya Mahira: Doa 103
Tentang Korona dan Sekat Rindu vii
Talitha Almira Maritza: Ruang Penyaksi Resah 104
Talitha Aqila: Korona Virus 105
Talitha Arista Vidiani: Mengubah 107
Taufiequrrahman Hakim: Bosan 108
Tessa Sessio Mentiana: Gelanggang Neraka 109
Tesya Feriska Husni: Aktivitas 110
Tok Seka: Sadarlah 111
Triani Audray Manurung: Ada Apa di Bumi? 116
Valen Angelica: Aku Ingat Waktu Itu 117
Vanya Narayanda Bromi: Kehadiranmu 119
Vera Resqiana: PHK 120
Vincent: Dunia yang Berbeda 121
Violani Devlina: Terbatas Temu 122
Wahyu Satria Tambunan: Kumohon 123
Wilson Delion: Pahlawan di Garda Depan 124
Wydiels Putri Yasmine: Lekas Sembuh Bumiku 125
Yarki Hishari: Yang Tak Terduga 126
Yohanes Yuniardi CP: Mudik Yang Tertunda 127
Yudi Fadhilah: Tak Ingin 128
Zafhira Huljannah: Hadiah Tahun Baru 129
Zharfa Salma Fitriandini: Menyerang 130
Zhorif Fadhlurrahman: New Normal 131
viii Tentang Korona dan Sekat Rindu
Tentang Korona
dan Sekat Rindu
Tentang Korona
Dan Sekat Rindu
Tentang Korona dan Sekat Rindu 1
Puisi Abdurrahman Harits Abqary
SITUASI
Pagiku telah berubah, dahulu disambut dengan keributan.
Sekarang aku mendatangi sebuah layar
yang semakin lama membosankan.
Aku yang dulu mengeluh karena bukuku yang berat.
Sekarang menatap pada buku yang tak pernah kubuka.
Aku sedih, libur dua mingguku tidak kunjung selesai.
Merasa dibohongi oleh kata pandemi,
yang menjauhkanku dari teman-teman.
Secangkir teh kunikmati, menatap keluar jendelaku.
Betapa sunyinya.
Siapa yang tidak ingin kembali,
ke masa yang jauh lebih indah,
masa dimana pertemanan, bukan sebatas video call-an
dimana pertemanan, tidak mengenal batas sentuhan tangan.
Aku berdoa setiap hari,
agar semua kembali seperti semula.
Seolah-olah ini tidak pernah terjadi.
Apakah mungkin? Semuanya bisa normal lagi?
Kuketik tugas yang semestinya kutulis jika di sekolah.
Memikirkan kata-kata apa yang akan keluar dari jemariku.
Sepertinya otakku sudah membeku,
di bawah pendingin ruangan yang terkadang malah
menghangatkanku.
Pergilah, engkau yang tidak diundang.
Waktumu tidak tepat.
Tidak akan pernah tepat.
Jangan kembali lagi,
2 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Adinda Dwi Putri Indra
RINDU
Kaki ini rindu
Berjalan bersama ke kantin
Tangan ini rindu
Mencolek saat keluar main
Mulut ini rindu
Mencairkan suasana dingin
Hidung ini rindu
Menyium parfummu yang membuat bersin
Mata ini rindu
Melihatmu menertawakan leluconku yang garing
Alangkah jahatnya si pembawa sedu
Memisahkan yang seharusnya padu
Lewat layar kita bisa bertemu
Akan tetapi, aku tetap saja rindu
Kadang kita bersenandung
Kadang kita beradu
Namun, pada akhirnya kita tahu
Bahwa pertemanan selalu ada sepanjang waktu
Tentang Korona dan Sekat Rindu 3
Puisi Afdhal Ash – Shiddiq Maulana
PANDEMI COVID-19
Covid -19…
Engkau sangatlah meresahkan
Engkau tidak lelah dengan menghalangiku dalam belajar
Engkau juga menghalangi aktifitas orang lain
Engkau adalah ancaman bagi kami
Covid – 19…
Engkau memang susah dilihat
Engkau telah berkeliaran di seluruh penjuru negeri
Engkau sungguh menakuti kami
Engkau sangatlah susah untuk dimusnahkan
Engkau membuat ratusan hingga ribuan nyawa melayang
Oh covid – 19 …
Apakah engkau kesusahan untuk keluar dari bumi ini?
Apakah engkau masih belum puas merenggut nyawa?
Sudahlah, engkau pergi sajalah.
Engkau sudah menimbulkan banyak kekacauan
Akan kami nantikan kepergianmu
4 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Aidilla Fitri Joanika
KUBUKA
Belajar sabar
Kubuka jendela rumah
Pak becak pulang dari terminal
Seharian di sana membuatnya lelah
Tak ada yang menumpang barang seorang
Kubuka pintu rumah
Bu mlijo menawarkan sayur
Pasar sudah tutup selama tiga bulan
Dagangannya tak laku barang seikat
Tapi dia tetap berjualan
Kunyalakan lampu rumah
Kulihat tetangga sebelah
Ia meyapaku
Ia baru saja memperingati 100 hari kepergian anaknya
Seorang dokter muda kebanggaan kampung kami
Tentang Korona dan Sekat Rindu 5
Puisi Aifa Hayati
PANDEMI COVID-19
Awal mula berasal dari Wuhan
2019 menjadi awal buruk bagi semua kalangan
Virus ini datang tanpa diundang.
Menyebar tanpa harus mengenal siapa dan apa pangkat orang
itu
Pengumuman dari para pemimpin menjdi awal semua murid
diliburkan
Katanya sih satu minggu libur lamanya, ternyata malah
kebablasan
Bertahun-tahun sudah menahan diri di rumah saja.
Berbagai antisipsi, larangan, bahkan upaya yang dilakukan,
tak membuat beberapa merasakan efek jera.
Tim medis, masyarakat, bahkan seluruh dunia,
sedang berjuang di garis terdepan.
Langkah demi langkah,
Doa demi doa,
dan segala harapan dipanjatkan kepada sang Pencipta
Hari-hari yang dilalui penuh dengan kekhawatiran
Ekonomi,kesusahhan yang katanya sudah di atasi,
justru semakin memburuk
Lihatlah rakyatmu ini pemerintah,berjuang menunggu hak
mereka
Derita, rasa lapar, sakit, bahkan air mata yang jatuh
dari semua masyarakat yang tidak berdaya
Mereka sedang menunggu nasib baik yang akan datang
Di sini sampai dengan tahun ini, mari kita bersatu melawan
covid-19
Covid-19 bukanlah hal yang semestinya kita sepelekan
6 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Covid-19 bukanlah sesuatu yang ditakuti, melainkan mesti
dicegah
Ingatla saudara-saudaraku, masa depan negeri ada dibahu kita
Bersama-sama kita bangkit,
melawan virus ini dengan selalu menaati protokol kesehatan
Ingat… lebih baik mencegah daripada mengobati
Mari bersatu. Bersama-sama kita merangkul
masa depan untuk negeri tercinta.
Ingatlah anak muda bahwa siapa lagi
yang akan melindungi orangtua yang rentan dan lemah.
Tentang Korona dan Sekat Rindu 7
Puisi Aileen Aditi Putri
PERJUANGAN
Matahari terbangun dengan kesunyian
Menatap dunia penuh kesenduan
Berharap alam berpihak kepada bumi
Bukan pada sang pengusik duniawi
Tergores oleh rindu
Berdiam diri menghadap pilu
Merujuk pada awan kenyataan
Dengan tetesan air paksaan
Bulan pilu datang menghampiriku
Tidak seperti alam yang menjauhi diriku
Semu datangnya arah temu
Waktu bercermin melawan sedu
Dunia bermimpi akan pulih
Menggasak hidup yang perih
Suara semut pun mulai terdengar
Akibat sunyinya alam liar
Kapan bumi tersenyum lebar
Jika insan bumi tidak tersadar
Susahnya hidup dalam perjuangan jiwa
Melawan kamu, sang pandemi covid-19
8 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Alifa Hanania Ardha
KAUHADIR
Kau datang ke dunia pada tahun 2019
Tetapi semua orang menghiraukanmu
Mereka menyepelekanmu
Tidak ada yang mengetahuimu
Namun, semua berubah pada tahun 2020
Kau mengamuk di hadapan kami
Kini semua orang memikirkanmu
Semua takut akan dirimu
Kau datang ke dunia
Lalu kau rampas kehidupan kami
Kau rampas kesenangan kami
Beratus ribu nyawa kaumakan
Kau hancurkan dunia ini semudah membalikkan telapak tangan
Kubuka jendela dan kulihat dunia luar
Kini bumi sudah tidak sama lagi
Manusia di dalam rumah dari pagi ke pagi
Memakai masker ke sana ke mari
Keluarga menangis sana-sini
Musibah datang tak henti
Tidak pernah kusangka
Sudah setahun kau hadir di sela-sela kehidupan
Tetapi tidak akan kubiarkan kau menghilangkan kebahagiaan
Tidak akan kami menyerah
Kuharap dunia cepat sehat
Dan mengembalikan senyuman
Tentang Korona dan Sekat Rindu 9
Puisi Amanda Ratu Jovaeri
MUSUHKU
Bagai badai yang besar
Masuk secara tiba-tiba
Arah langkah terhenti seketika
Kekacauan dimana-mana
Rencana tahun ini satu persatu hilang
Kerabat dan sahabat satu persatu pergi
Pertemuan dibatalkan, kegiatan diberhentikan
Seakan waktu sedang berhenti
Terlihat semakin mengerikan saja musuh kita satu ini
Para siswa sudah rindu untuk bersekolah lagi
Menahan rindunya teman yang sesakkan hati
Entah sampai kapan kita harus begini
Detik demi detik angka semakin meningkat
Telah terjadi pertumpahan darah tanpa senjata
Banyak orang telah kehilangan keluarganya
Tetapi masih saja ada yang tidak percaya
10 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Amanda Defya Putri
KEMBALILAH
Engkau yang datang dan
Yang enggan untuk pergi
Menyebar diri ke dunia
Yang penuh dengan fana
Mengubah hidup manusia
Hingga kami tak bisa bersuka ria
Wujudmu yang tak terlihat oleh mata
Namun, dapat membunuh kehidupan
Membuat kami merasakan kehilangan
Kehilangan yang menyakitkan
Dunia pun menjadi berjarak
Hingga kami tak lagi bersama
Banyaknya mimpi yang terbunuh
Hanya karna kamu datang
Korona, kembalilah ke asalmu
Tak ada yang menginginkan kamu di sini
Tentang Korona dan Sekat Rindu 11
Puisi Arrayan Duta Ramadhana
BELAJAR SABAR
Kubuka jendela rumah
Pak becak pulang dari terminal
Seharian di sana membuatnya lelah
Tak ada yang menumpang barang seorang
Kubuka pintu rumah
Bu Wati menawarkan sayur
Pasar sudah tutup selama tiga bulan
Dagangannya tak laku barang seikat
Kunyalakan lampu rumah
Tetangga sebelah meyapa
Ia baru saja memperingati 100 hari kepergian anaknya
Seorang dokter muda kebanggaan kampung kami
Tetiba kantong-kantong bansos datang
Bersama senyum ramah
Bersama kamera
Mereka meminta kami untuk sabar
Sambil diam-diam mencuri beras di lumbung kami yang kosong
12 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Atha Irba Falah
ENGKAU HADIR
Siapakah engkau, korona?
Sejak engkau datang, hidup kami berubah
Kami selalu berdiam diri di rumah
Mengunci dan menutup rapat pintu dan jendela
Padahal kami tak tahu engkau ada di luar
Atau di dalam tubuh kami
Kami juga tak tahu engkau sebenarnya ada di mana
Siapakah engkau, korona?
Sejak kehadiran engkau, rasa takut terus menghantui kami
Takut untuk bertemu dengan orang banyak
Takut untuk berjabat tangan
Bahkan kami takut untuk pergi ke rumah ibadah
Siapakah engkau. korona?
Kami tak pernah ingin engkau hadir
Kami tak pernah ingin engkau mengganggu kami
Kami pun tak ingin engkau muncul dan mengguncang dunia
Yang kami ingin hanyalah kepergian engkau
Jadi, tolong
Tolong pergi korona
Kami merindukan interaksi
Interaksi di mana jarak tak perlu dibatasi
Tentang Korona dan Sekat Rindu 13
Puisi Athifa Hanami Sahila
SURAT DARI YANG TERKUNCI
Kepada tamu yang tak terduga
Kumohon, bacalah surat ini
Kini, hanya gelap yang kami rasa
Perpisahan tak lagi tak biasa
Menyapa tak lagi sama
Maafkan aku, nenek
Kita jaga jarak dahulu ya
Aku tak ingin tamu kita kemari
Peluklah aku di lain hari
Kepada tamu yang tak terduga
Berapa lama lagi kami akan dikunci?
Tak bisakah hadirmu segera usai?
Bisakah disebut hadirmu adalah siksa?
Atau teguran dari Sang Pencipta?
Usailah segera
Kami butuh sapa
Mengambil kembali suka yang telah sirna
Sejak hadirmu
14 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Athillah Ayu Istiqomah
BUKAN DONGENG PENGANTAR TIDURMU
Tak tampak lagi…
Bahu yang lelah menopang ransel penuh buku
Kaki yang melangkah melewati pagar besi itu
Tangan yang melambai dengan lilitan dasi abu-abu
Dan sorakan, “Yes!” ketika awan berubah jadi kelabu
Tak tampak lagi…
Tumpukan kertas yang kutulis dengan tinta biru
Gerombolan semut yang buru-buru
Berdesakan mengangkut remah kue bolu
Dan orang-orang yang saling bertemu di depan pintu
Yang tampak hanya…
Layar putih, mesin kotak yang tak bisa kuganggu
Bangku merah yang membeku hingga Subuh
Kata sapa yang tak pernah terucap dari mulutmu
Namun, bisa kuterima meski sudah lebam membisu
Ini kenyataan, bukan dongeng pengantar tidurmu
Tentang Korona dan Sekat Rindu 15
Puisi Aulia Dinda Titi Mustika
HIDUP BERSAMA PANDEMI
Perlahan tirai panggung kehidupan mulai tertutup
Duka menghias dengan senyum meredup
Sebab tergarisnya takdir Tuhan dalam hidup
Akan virus ganas yang datang menyelundup
Membunuh setiap jiwa yang terpapar
Tanpa memandang kasta dan kadar
Hingga membuat semua orang sadar
Betapa mengerikannya virus korona yang tersebar
Melintas sudah ruang asa dalam keputusasaan
Menumbuhkan ketakutan akan dentuman kematian
Membuat semua orang yang terperangkap dalam rumah hidup
bertahan
Menjauhi kerumunan sampai situasi tak lagi membahayakan
Memang malang nasib manusia yang hidup terkurung
Lantaran jarak antar titik temu terputus bendung
Lekas hilanglah virus korona si penyebab kabung
Semoga Tuhan mengabulkan permohonan hambanya yang
meminta lindung
16 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Azzahra Ayla Pasaribu
GEMURUH DUNIA
Saat kau muncul tiba-tiba
Begitu cepat engkau menyebar
Semua kehidupan tidak lagi tertata
Apakah ini pertanda
Umat manusia sedang diuji
Sunyi senyap di mana-mana
Begitu jelas terlihat
Kau hentikan gemuruh dunia
Pasukan putih siap siaga
Menjadi malaikat penyelamat
Mengharapkan suatu keajaiban
Umat manusia terbebas
Saat itu lelah mereka terbayarkan
Berharap pada yang belum pasti
Apakah kita sama?
Tentang Korona dan Sekat Rindu 17
Puisi Bambang Kariyawan Ys
PETI PAHLAWAN
Pahlawan ...
Terima kasih atas penghargaan itu
Tahukah kalian ada sisi batin ini yang hendak menyeruak
Membuncah dalam labirin sunyi
Tubuh ini telah kehilangan sentuhan
Sentuhan dengan apa adanya
Sentuhan tulus dua manusia
Tanpa sekat
Senyumpun kini tak nampak sungging
Tertutup masker pada ragam warna dan aneka
Pahlawan ...
Terima kasih atas penghargaan itu
Kini hari terasa lambat
Denting waktu seperti takut berdentang
Karena setiap dentingnya pertanda datangnya maut
Bertambah setiap angka menuju titik keberapa
Pukulan dan tantangan bagi kami
Untuk menghentikan pergerakan angka-angka itu
Pahlawan …
Terima kasih atas penghargaan itu
Aku melangkah pada lorong-lorong sunyi
Senyap mengabarkan angka-angka yang terus bertambah
Peti mati yang selalu menganga
Menyambut giliran siapa yang akan ditutupnya
Mungkin saja aku, kamu, dan kita.
18 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Bryan Gihon
TANGIS PILU BUMIKU
Matahari cerah bersinar
Menandakan bumi baik-baik saja
Kini telah hadir titik gelap
Tangis pilu bumiku yang dialami
Kau mengacaukan rencana hidupku
Hadir di seluruh bagian bumi
Ribuan bahkan jutaan jiwa melayang karnamu
Menjadikan tangis pilu yang tak henti
Korona pergilah
Semua manusai takut denganmu
Cukup kau merugikan dunia
Cukup kau porak porandakan negeri
Aku memohon kepada Tuhanku
Memohon untuk melindungi
Semua manusia dari mu
Doaku kepada Tuhanku yang akan mengalahkanmu
Pergilah
Tentang Korona dan Sekat Rindu 19
Puisi Carina Zayra Zahra
PERDAMAIAN
Bagai badai yang besar
Masuk secara tiba-tiba
Menghancurkan banyak negeri
Membuat kekacauan di mana-mana
Dunia seakan berhenti
Kehidupan yang tentram tinggal kenangan
Kematian seakan mengikuti setiap langkah
Ketakutan akan kematian semakin merambah
Tapi di balik itu semua ...
Alam menjadi tenang tanpa ada campur tangan manusia
Alam kembali seperti semula
Angan keindahan alam seakan nyata kembali
Perang berhenti seketika
Perdamaian kembali dirasakan
Pikiran kemanusiaan kembali dirasakan
Persatuan di dunia kembali terjadi
Kini...
Saatnya kita bersatu melawan bahaya ini
Sirnakan pikiran egois
Singkirkan kepentingan pribadi
Satukan cinta dan perdamaian dalam mengatasi masalah ini
Berdoa agar semua kembali normal
Bangun kehidupan yang baru setelah semua ini usai
Belajarlah dari pengalaman ini di kehidupan selanjutnya
Berjanji akan selalu mengingat ketenangan alam saat ini
20 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Celsi Fransisca Sitompul
BAYANGAN
Covid itu seperti bayangan
Dia ada tapi tak nyata
Dia terasa tapi kasat mata
Dia bahkan bergerak cepat berpindah dari satu ke satu tempat
Ketika dia mencari mangsa
Tak pedulikan umur atau bangsa
Tak pedulikan tua atau pun muda
Tak peduli gubernur atau rakyat biasa
Sudah banyak korban di negeri ini
Mereka kehilangan setiap hari
Mulai dari ayah, ibu, adik, kakek dan sanak family
Mari kita terus menjaga
Jangan lalai tetaplah waspada
Karna covid mengintai di mana-mana
Dari kota sampai pun ke desa
Dari anak anak sampai orang tua
Jangan biarkan dia merajalela
Kita putuskan mata rantainya
Tentang Korona dan Sekat Rindu 21
Puisi Cristo Arlando
CAHAYA MEDIS
Langit yang dulunya dipenuhi oleh konstelasi bintang
kebahagiaan
Kini semua sudah diselimuti kabut kecil penderitaan
Cahaya yang selalu memerangi kabut itu tidak pernah hilang
Ironis... sungguh ironis rasanya
Tetap saja banyak yang tidak berlindung dari kabut itu
Di balik dari lapisan ironisnya dunia
Masih banyak yang berusaha menyalakan kembali cahaya itu
Cahaya itu tidak pernah berhenti sampai kabut itu hilang
Sampai titik minyak penerangan penghabisan
Semua orang di seluruh dunia berteriak dengan penuh histeris
Sambil mempersembahkan minyak penerangan ke sumbunya
Dengan penuh haru dan harapan kepada cahaya itu
Taklukkan! Musnahkan kabut itu! Kembalikan konstelasi
bintang kebahagiaan!
Kami mohon... Berikan kami harapan...
Teruslah menyala untuk kami semua!
Bukan hanya sejarah saja...
Semua orang akan menjadi saksi untukmu!
Lilin dunia sudah mencatat semua perjuangan cahaya dari
penjuru dunia
Cahaya yang gugur menjadi kilau sudah dibawa ke atas lilin
dunia
Sementara cahaya muda kembali untuk bertempur
Untuk membawa kembali kebahagiaan...
Dan juga harapan...
22 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Danish Ahza Rizqi
PANDEMI
Sudah lama rasanya
Sejak pertama kali kita berjumpa
Engkau datang membawa petaka
Membuat semua orang gelisah
Engkau datang dari belahan dunia nan jauh di sana
Membawa oleh-oleh yang masih kami rasakan
Engkau membuat kami terpaksa menikmati
Menjauhkan kami dari kebebasan
Mulai dari karantina
Hingga vaksin
Entah apa yang engkau mau kami tak tahu
Apa yang harus kami perbuat agar engkau pergi
Sudah banyak yang engkau sebabkan
Dan tak mau bertanggung jawab
Engkau datang semaumu
Pergi pun engkau tak mau
Tentang Korona dan Sekat Rindu 23
Puisi Dida Ardan
NYALAKAN HARAPAN
Tak pernah ada terbayangkan
Terjadi dalam kehidupan
Seluruh dunia terhempas
Bersimbah duka yang deras
Wabah yang ganas melanda
Membungkam angkuhnya manusia
Beribu nyawa hilang
Semangat hidup meremang
Satu satu kau nyalakan harapan
Kaurawat yang lemah
Tanpa lelah dengan senyuman
Pertaruhkan nyawa di garda depan
Sisihkan ego demi kesembuhan
Hidup kaujadikan pilihan
Ajak kita berjuang demi kemanusiaan
Tulusmu gugah kesadaran
Tuhan menolong melalui sesama insan
24 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Dida Ardan
CAHAYA DALAM KEGELAPAN
Jika bumi ini terasa gelap
Menabur takut dimana-mana
Hati gamang lanjutkan hidup
Masihkah kulihat cahaya
Badai corona datang menerjang
Menembus dunia tak berbatas
Tangis pecah di malam hening
Menunggu datangnya harapan
Cahaya ada dalam hati kita
Dalam jiwa-jiwa penuh kasih
Harapan ada dalam hidup kita untuk yang mau berbagi
Mendung hitam itu akan pergi
Bersinar indah mentari pagi
Tuhan tersenyum taburkan berkah bagi yang tak pernah
menyeraah
Cahaya dalam gelap
Harapan ada
Jiwaku penuh kasih
Tentang Korona dan Sekat Rindu 25
Puisi Dinda Chaniko Adraf
KORONA
Korona…
Namamu unik
Namun menakutkan
Kau tak dapat dilihat dengan mata telanjang
Tetapi wabahmu menyebar diseluruh dunia
Kau curi waktuku untuk menuntut ilmu
Kau hilangkan waktuku untuk bermain
Seolah kau putus persahabatanku
Kebebasanku terasa kau ikat
Korona…
Bangun pagiku tak lagi sedamai dulu
Bagaimana tidak?
Kau renggut nyawa tanpa pilih
Muda maupun tua
Semua menjadi korban dari ulahmu
Korona…
Kau hilangkan keceriaan kami
Kau jauhkan kami dari ketenangan
Oh korona
Cepatlah kau berlalu
Lekas menghilang dari bumi kami
Biar kugapai masa depanku
Bagaimana cara menyembunyikan diriku dari dirimu
26 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Drupadi Kusumawardhani
KORONA
Korona
Hanya kaulah yang bisa membuat semua orang
Diam dirumah
Belajar di rumah
Hingga kerja pun di rumah
Korona kenapa engkau harus datang ke bumi ini
Banyak sekali korban yang telah engkau makan
Dan mengapa kau tidak pergi dari bumiku hingga sekarang
Pergilah
Kembalikan bumiku yang sehat seperti dulu
Kembalikan negeriku seperti dulu
Korona
Pergilah, pulanglah ke tempat asal kamu
Dan jangan muncul lagi dari muka bumi ini
Tidak ada yang menginginkan engkau datang
Tentang Korona dan Sekat Rindu 27
Puisi Dzaki Dwiandra Shaumil Ghifari
ENGKAU
Engkau membuat dunia merana
Mulai dari Cina, Eropa hingga Indonesia
Engkau membuatku tidak bisa ke mana-mana
Aku hanya bisa di rumah saja
Penyebaranmu harus dicegah
Memakai masker
Mencuci tangan
Dan menjaga jarak
Serangan engkau membuat banyak orang tersakiti
Ada yang harus dikarantina
Ada yang harus dirawat di ICU
Hingga ada yang meninggal dunia
Kami terus berusaha
Mendatangkan vaksin dari berbagai negara
Mulai dari yang pekerja sampai yang lanjut usia
Divaksinasi dua kali, agar tubuh kami tahan terhadap kamu
Memang butuh waktu yang lama
Agar tubuh kami tahan terhadap korona
Kedisiplinan melakukan protokol kesehatan adalah yang utama
Mudah-mudahan engkau akan pergi dari dunia
28 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Eveline Nathalie A. Sihotang
KUPELUK
Sampai nanti
Ia datang 2019
Mereka menyepelekan
Bosanku menatap layar
Menatap wajah digital
Menyapa tanpa raga
Tak bisa ke taman
Bertemu dengan teman
Keluhku seketika tak bermakna
Semua sedang berusaha
Untuk tetap hidup dan ada
Bila tiba saatnya nanti
Bila covid berhenti
Kan kupeluk temanku
Kupeluk melepas rasa rindu
Sampai nanti, hilang duka sendu
Tentang Korona dan Sekat Rindu 29
Puisi Fabiola Christina
KORONA
Kala itu ... kamu tiba-tiba datang
Mengubah banyak kehidupan
Hingga kamu tak diinginkan di sini
Banyaknya yang makin susah
Dan yang kaya semakin kaya
Sedihnya hati ini
Melihat banyak orang berhenti
Hanya karena adanya jarak
Hingga membuat kami tak berkumpul lagi
Entah bagaimana cara kamu sampai di sini
Membuat kami banyak yang pergi
Padahal kamu pun tak dapat dilihat oleh mata
Tetapi dapat mengubah dunia
Oh korona ...
Kembalilah ke asalmu dan tak kembali lagi
30 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Fadila Fianda
TAK TERLIHAT, TAPI BERBAHAYA
2020 adalah tahun dimana sebuah virus membubarkan
segalanya
Membatalkan banyak acara ,hingga ujian pun sempat ditunda
Merepotkan banyak orang bahkan banyak negara
Semuanya terlihat baik-baik saja
Tetapi dibalik itu, semuanya merana
Tidak bisa kemana-mana bahkan bertemu keluarga
Karena sebuah virus yang bernama corona
Banyak orang kecewa padanya
Banyak orang yang tidak lagi bekerja
Banyak juga orang yang terbaring lemah karena ulahnya
Semua kegiatan dilakukan dirumah saja
Tujuannya menghindari virus ini yang merajalela
Virus ini sangat berbahaya
Walaupun kita tidak dapat melihatnya
Tapi dia bisa masuk ketubuh kita yang lemah dan tak berdaya
Daya tahan tubuh sangat dijaga
Kesehatan dan pola hidup sehat pun selalu menjadi utama
Semua angkatan yang lulus dinobatkan sebagai angkatan corona
Karena semua dilakukan tidak seperti biasanya
Ujian tetap diadakan namun hanya seadanya
Belajar dirumah hanya menambah beban kepala
Kami tidak membutuhkannya
Kami tidak menginginkannya
Kami juga tidak mengharapkan kehadirannya
Tetapi kenapa dia tetap datang disaat yang tak diduga
Disaat semua orang akan melakukan kegiatan yang berbahagia
Tentang Korona dan Sekat Rindu 31
Semuanya harus ditunda
Hanya satu keinginan kami yang diharapkan dapat terlaksana
Kami ingin kembali ke masa-masa sebelum adanya corona
Satu pertanyaan yang dapat menyelesaikan semua
Kapan corona akan pergi dan tiada selamanya?
32 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Fadila Fianda
BERJUANG UNTUK BERTAHAN
Ia datang tanpa ada isyarat
Ia dating tanpa diperintah
Diawali dengan lelucon garing
Hingga semuanya melalui daring
Jenuh dan bosan mulai menyapa
Di balik canggihnya teknologi digital
Banyak hal yang kulakukan
Namun, tanpa adanya sentuhan
Jiwa raga yang kian bertanya
Dibalik sebuah rumah yang menyimpan duka
Kapan semuanya seperti semula
Dan berharap semua akan baik-baik saja
Kulangkahkan kaki menuju pusat keramaian
Namun yang kutemui hanya para pedagang
Mencari nafkah dengan sejumlah uang
Mereka sedang berusaha untuk tetap hidup dan ada
Hari-hari penuh dengan kekhawatiran
Dimana orang takut menuju tempat keabadian
Ketika semua pejuang telah berkorban
Hanya doa yang dapat dipanjatkan
Untuk tetap selalu hidup dan bertahan
Tentang Korona dan Sekat Rindu 33
Puisi Faisa Aufadila
COVID-19
Covid-19...
Sebuah nama yang sudah tak asing
Dalam kurun waktu setahun ini
Menyebar dengan cepat
Berkembang sangat pesat
Covid-19...
Bahayamu tak seindah namamu
Kau serang sistem imunitas
Kau juga melumpuhkan stamina
Covid-19...
Entah sampai bila kau akan bersemayam
Merusak hubungan yang telah ada
Menjadikan semua orang saling curiga
Hidup dalam bahaya dan ancaman
Covid-19...
Mencoba hidup berdampingan bersamamu
Melengkapi diri dengan semua alat proteksi
Mengingat selalu pesan ibu
Gunakan masker selalu
Covid-19...
Segeralah pergi
Segeralah hilang
Kami menanti kebebasan diri
34 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Faiz Al Farobi
HINDARI
Coronavirus, coronavirus…
Ayah, ibu, teman-teman, lihatlah ke seluruh dunia
Banyak orang meninggal karena virus corona
Ini adalah penyakit yang sangat berbahaya
Tidak ada belas kasihan
Itu bisa membunuh seseorang dalam satu menit.
Seriuslah. Selalu cuci tangan kamu dengan air bersih
Hindari berjabat tangan
Hindarilah berada di tempat berkumpul
Oh, seseorang
Hidup kita menjadi tidak berarti
telah membuat orang putus asa
telah membuat orang tidak bernyawa
Betapa berbahaya penyakitmu
Saya memimpikan suatu hari nanti
Dimana masker tidak dibutuh
Dunia tanpa rasa takut akan infeksi
Saya berharap virus ini
Akan segera dikalahkan.
Tentang Korona dan Sekat Rindu 35
Puisi Faiz Andika
DOA TERBAIK
Hari-hari penuh dengan kekhawatiran
Di mana doa terbaik sudah diucapkan
Kau kecil, tapi mematikan
Begitu banyak kau memakan korban
Tanpa melihat jabatan
Para medis sudah berjuang semampu mereka
Mereka rela bertukar nyawa
Demi menyelamatkan banyak raga
Kita cukup mematuhi perintahnya saja
Karena, mereka tau apa yang baik untuk kita
Kepada bangsa, bersatu dengan penuh semangat
Semua dapat membantu sesuai kemampuan
Bagi yang ahli membantu yang sakit
Bagi yang mampu membantu yang rentan
Akhirnya kepada Allah jugalah kami memohon
36 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Farah Asyilla Gumilar
KAU YANG TIDAK DIHARAPKAN
Satu tahun lebih
Kau hadir dalam kehidupan kami
Membawa sedih dan lara
Menyebabkan derai air mata
Karena kau
Belajar kami di rumah
Kerja kami di rumah
Ibadah Kami di rumah
Kau hempaskan harapan dan cita-cita
Kau renggut senyum dan tawa
Kau ambil cinta dan bahagia
Kau ubah tawa jadi duka
Terkadang kau disebut korona
Terkadang kau disebut covid
Tapi, bagi kami sama saja
Kau yang tidak diharapkan
Tentang Korona dan Sekat Rindu 37
Puisi Fatwa Bintang Alyafi
PANDEMI BUKAN PENGHALANG
Dahulu tak pernah kusangka
Bahkan sering sekali jadi candaan
Dahulu tak pernah kami mengira
Tak berada di sekolah itu tidak enak
Sudah lebih dari setahun lamanya
Kami hening disini
Di balik meja yang sunyi
Tak ada canda, kawan di sekitar
Tak ada bapak, ibu guru yang di depan mata kami
Yang tersisa,
Hanyalah hamparan sinar radiasi
Hari demi hari kami lalui
Menatap layar, menuntut ilmu
Tetap mengejar cita-cita
Walau hanya menatap layar
Wahai kawan-kawan ku di luar sana
Tetap berjuang!
Tetap semangat!
Walau masa emas kita penuh tantangan
Kita tak akan diam, pasrah dengan keadaan
Oh pandemi…
Jangan anggap engkau telah menang melawan kami
Engkau bukanlah penghalang bagi kami untuk terus maju
Engkau hanyalah satu dari ratusan ribu rintangan yang harus
kami hadapi
Kami tunjukkan pada dunia bahwa kami bisa
Bisa melawan situasi
38 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Kami tunjukkan bahwa kami masih bisa bersinar
Tentang Korona dan Sekat Rindu 39
Puisi Fawwaz Elsulthan
KAPAN
Semenjak engkau datang kami hanya berdiam diri dirumah
Engkau menggangu kami beribadah
Engkau menghilangkan pekerjaan seseorang
Dan engkau membuat kami harus menjaga jarak
Ketika kubukapintu rumah tidak ada lagi orang yang terlihat
Sudah bosanku menatap layar
Gara engkau tak bisa lagi bertemu teman
Tidak bisa lagi pergi ke tempat keramaian
Kau tak terlihat tapi begtu menakutkan
Semua dibuat gelisah karena kau bisa menular
Karena rasa ketakutan yang menghampiri
Dan engkau datang dan tidak tahu kapan akan pergi
Dan ada juga yang mengatakan ini adalah peringatan dari tuhan
Dan banyak hal yang harus kami lakukan agar kau pergi
Semoga kau cepat menghilang agar kami hidup bahagia kembali
40 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Fenina Emiya Semburing
MENUNGGU
Hanya kaulah yang bisa membuat semua orang
Diam di rumah
Belajar di rumah
Hingga kerja pun di rumah
Korona kenapa engkau harus datang kebumi ini
Dan mengapa kau tidak pergi dari bumiku hingga sekarang
Pergilah
Kembalikan bumiku yang sehat seperti dulu
Kembalikan negeriku seperti dulu
Hari-hari ini penuh dengan kekhawatiran
Dimana doa terbaik sudah dipanjatkan kekerja, belajar, dan
ibadah
sudah dirumahkan menunggu nasib baik penuh harapan
Tentang Korona dan Sekat Rindu 41
Puisi George Fresmind S
MASIH ALAM RENUNGAN SISA-SISA SUBUH
Dulu anganku banyak sepeti
Mempersiapkan esok dengan teliti
Berharap masa depan cerah tanpa rusak meniti
Tapi pandemi virus datang tak berhati
Merusak semua mimpi dengan keji
Pandemi datang tanpa permisi
Semua kalang kabut melawan
Saling bantu untuk hilangkan
Dokter jadi garda terdepan
Relawan membahu untuk ringankan
Rakyat berdoa dengan tinggi harapan
Berharap sang virus dimusnahkan
Sayangnya dia tetap bertahan
Menyerang tak kenal ampunan
Pandemi sungguh ancaman
Kebahagian yang dulu mengisi
Kini terbang menyisakan mimpi
Yang ditakuti bukan lagi mati
Tapi hidup dengan menyendiri
Karena kehilangan yang dikasihi
Pandemi datang bagai penguji
Wahai pandemi virus,
Kapan kau selesai?
Aku tak tahan lagi
Aku ingin hidup dengan bebas
Tanpa terjerat kain saat bernafas
Tolong angkat kaki dari bumi
Aku tak mampu menahan lagi
42 Tentang Korona dan Sekat Rindu