The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.
Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by erpitriyanti, 2021-11-17 19:39:54

tentang corona dan sekat rindu

tentang corona dan sekat rindu

Hingga pada suatu titik
Awan gelap mulai enggan menyelimuti matahari ku
Dan bintang-bintang ku mulai bersinar hangat
Sepenggal kisah kehidupan dan skenario Allah pun
berhasil dilewati
Terimakasih ya Rabb
Bulir bening pun mengalir dari netra ku
Selamat tinggal awan gelap
Bersinarlah terus bintang dan matahariku

Tentang Korona dan Sekat Rindu 93

Puisi Salma Hikami
HADIR
Korona,
Itulah nama yang mereka berikan,
Meskipun tidak dapat dilihat,
Alangkah mematikannya dirimu,
Muda, tua, kaya, miskin, semuanya kau aniaya
Wahai Korona,
Sungguh pahit sekali kedatanganmu,
Sungguh kejam kedatanganmu,
Hari-hari yang ceria,
Kini telah berganti suram
Hampir semuanya sudah kita lakukan
Vaksin,
Menjaga jarak,
Memakai masker,
Akan tetapi, kau masih saja ada
Semakin hari,
Semakin banyak korban,
Tak ada yang bisa saya lakukan,
Selain berdoa untuk,
Untuk masa depan yang cerah

94 Tentang Korona dan Sekat Rindu

Puisi Sandra Maretha S.
KESALKU
Covid-19…
Apakah itu?
Apakah kehebatannya?
Bagaimana ia dapat mengubah dunia?
Kesalku melihatnya
Ia hanyalah makhluk kecil
Bahkan tak tampak oleh mata
Namun, semua telah berubah karenanya
Tak ada lagi yang namanya “berkumpul”
Tak ada lagi yang namanya “nongkrong”
Ke sekolahpun aku tak bisa lagi
Semua harus kulakukan dirumah
Tiap hari ku tatap komputerku
Hingga jenuh mataku melihatnya
Menuggu tugas tugas diberikan kepadaku
Kapankah ini akan berakhir?
Kapankah semua kembali seperti normal?
Aku lelah seperti ini

Tentang Korona dan Sekat Rindu 95

Puisi Saniyyah Ramadhani
PERLU
Saya tidak bisa pergi ke sekolah
Tidak bisa bertemu teman saya
Tidak bisa bertemu guru saya
Tentinya saya bisa tinggal bersama keluarga saya
Tapi semua hal yang berhubungan hal luar tidak bisa saya
sentuh
Kita perlu memakai masker
Perlu menjaga jarak
Perlu mencuci tangan selama 20 detik
Perlu makan sehat
Setidaknya kita masih bisa belajar online
Tidak bisa makan makanan instan
Tidak bisa bepergian
Jalan kosong karena covid 19
Semua orang perlu tinggal di rumah agar aman
Polisi mengawasi setiap orang
Kita perlu membersihkan tangan setelah menyentuh sesuatu
Covid 19 tolong keluar dari bumi

96 Tentang Korona dan Sekat Rindu

Puisi Sefanya Putri Novira
KORONA
Korona oh korona
Kamu datang dengan tiba-tiba
Kami tidak pernah nyangka kamu datang
Kamu telah membunuh banyak orang
Korona oh korona
Sekolah tutup karena kamu datang
Terpaksa kami harus sekolah di rumah
Banyak tugas menghantui siswa
Korona oh korona
Kamu mendatangi semua negara
Karena kamu, kami tidak bisa kemana-mana
Kami hanya bisa tiduran di kasur saja
Korona oh korona
Kapan kamu hilang ?
Kami bosan terus-menerus di rumah
Tolong pergilah sekarang

Tentang Korona dan Sekat Rindu 97

Puisi Sharah Aulia Hanifah
VIRUS KORONA
Dengan sepersekian detik nyanyian korona
bersenandung mengirama di setiap penjuru dunia
Resah, takut, menghantui
Risau, kalut, menyelimuti
Kabar tentang bencana kematian kian meningkat
Korona masih melekat
Berdendang sesuai nadanya yang pekat
Sedang lirik nadanya melantunkan kegelisahan
Kuharap, cepatlah pergi!
Kini sekolah pun menuai libur
Demi mencegah kau dari penyebaran
Demi menghentikan dari penyebaran
Rindu kian menggebu,
Ingin seolah bertemu,
Bersama canda dan tawanu,
Namun, semesta belum merestu
Kini hanya media sosial menjadi solusi untuk bersama
Ada banyak canda tawa dalam grup media sosial
Hanya untaian foto kenangan yang mampu menghangatkan
Kuharap corona cepat berlalu
Bersama dosa-dosa yang telah diampuni
Dan kita dapat melebur rindu dalam temu kembali
Berdoa agar semua kembali
Belajarlah dari pengalaman ini di kehidupan selanjutnya

98 Tentang Korona dan Sekat Rindu

Puisi Stefany Visga Patricia

SEMESTA AKSA BERBEDA
Pagi ini bukan awal hari biasanya
Menyambut sang mentari sembari menatap layar ponsel
Memandang televisi mengumumkan satu persatu pahlawan
gugur
Menyaksikan rekan bahkan kerabat kehilangan orang tersayang
Jalan kemarin riuh menapaki aspal
Kini sepi nyaris tak berpenghuni
Sekolah biasanya babur buah perangai anak-anak
Kini senyap bak kuburan
Gedung besar rutin beroperasi 24 jam
Kini apatis siang dan malam
Semua terjadi begitu cepat
Berjalan seenaknya
Semesta sedang gundah
Virus sedang mewabah
Dia seperti agonia
Sedangkan manusia?
Serentak bungkam di dalam kandang
Semua gelisah akan masa depan
Sisanya berlipur lara
Tetapi dia musuh abstrak
Tak terlihat kasat mata
Bagai udara namun berbisa
Virus yang melanda seluruh bagian bumi saat ini
Ia bernama Korona

Tentang Korona dan Sekat Rindu 99

Puisi Syafiq Rafi
AIR MATA
Setahun sudah berlalu
Hari ke hari kondisi tidak kunjung membaik
Bahkan bisa dibilang semakin memburuk
Pemerintah sudah cukup tanggap terhadap hal ini
Tetapi tetap saja tidak bisa menghentikannya
Ia menyebar dengan sangat cepat
Melewati perbatasan setiap tempat dengan cepat
Menyebar dari tubuh ke tubuh
Menyerang sistim tubuh tersebut
Efek yang diberikan juga cukup serius
Kematian yang paling terburuk dari efek tersebut
Sebelum menimbulkan efek ia memiliki gejala
Gejala yang diberikan juga tidak terlalu terlihat
Namun, bisa mematikan jika dibiarkan
Hari berganti hari semakin banyak korban yang berjatuhan
Semakin banyak juga air mata yang keluar
Para ahli sudah berkerja semaksimal mungkin
Tetapi kematian adalah rahasia Tuhan

100 Tentang Korona dan Sekat Rindu

Puisi Syafiq Rafi
WAKTU
Waktu ialah hal yang paling tidak konsisten di dunia ini
Memang satuan waktu tidak pernah berubah
Sejak dulu ada detik, menit, dan juga jam
Kenyataanya ini bukan tentang satuannya
Ini adalah tentang perasaan
Tentang apa yang aku rasakan mengenai waktu yang tidak
konsisten itu
Yang terkadang bisa berjalan begitu cepat
Dan di saat lainnya ia bisa berjalan begitu lambat
Entah mengapa sesuatu yang membuat kita bahagia
selalu berlangsung dengan sangat cepat
Saat kita bersama misalnya
Saat itu setiap hari yang kulalui bersamamu terasa sangat cepat
Seolah-olah sang waktu tidak rela kita menghabiskan waktu
bersama
Namun, setelah kita tidak bersama lagi tiba-tiba sang waktu
berubah
Ia berubah menjadi sangat lambat
Di awal perubahan itu semuanya terasa sangat berbeda
Yang biasanya aku menjalani hari
dengan penuh semangat tetapi semuanya berubah seketika
Pada akhirnya aku harus beradaptasi dengan semua ini

Tentang Korona dan Sekat Rindu 101

Puisi Syarafina Cleary Santyarso
PAHLAWAN PANDEMI
Hari-harinya riuh
Dihabiskan untuk berdinas
Melawan virus korona
Brankar berlarian
Sunyi pun lenyap
Bekerja siang dan malam
Melenyapkan lelah dalam-dalam
Terus bertindak
Tanpa meraih rehat
Demi menyelamatkan banyak raga
Berkorban disana
Tanpa harap apapun
Kecuali keselamatan pasien
Satu demi satu pun gugur
Namun tidak dengan semangatnya
Semangat mereka akan terus membara
Seperti tak mengenal apa itu pudar

102 Tentang Korona dan Sekat Rindu

Puisi Syifa Alya Mahira
DOA
Korona menyerang dunia
Menyebar kemana-mana tanpa aba-aba
Dunia terkejut dibuatnya
Serangan virus kecil tidak kasat mata
Semua negara melakukan karantina
Untuk menghalau virus yang ada
Semua orang cemas dan merana
Banyak orang terjangkit virus korona
Para dokter dan perawat siap siaga
Berupaya sekuat tenaga
Mengobati pasien korona
Demi bakti kepada sesama
Dalam doa selalu aku ucapkan
Semoga kami selalu diberi kekuatan
Menjalani cobaan ini dengan penuh kesabaran
Mengharap Tuhan melimpahkan kami selalu kesehatan

Tentang Korona dan Sekat Rindu 103

Puisi Talitha Almira Maritza
RUANG PENYAKSI RESAH
Di balik layar
Ada mata yang lelah menatap
Ada pikiran yang diisi tali-tali kusut
Ada batin yang terus ditekan batasan
Di balik masker
Ada mimik yang tidak bisa terbaca
Ada fisik yang merindukan udara penuh afeksi
Ada hati yang berdebu akan keramaian
Di balik pintu
Ada kaki yang ingin melangkah pergi
Ada jiwa yang api semangatnya berubah menjadi abu
Ada diri yang terkurung di balik jeruji besi tak kasat mata
Ruangan kamar tidur itu
Ialah tempat langganan orang-orang dalam masa pandemi
Ialah penyaksi bisu atas para batin yang berteriak
Dia, si ruang penyaksi resah, yang dikeluarkan diri-diri yang
lelah
Semua kebebasan dahulu layaknya bunga tidur
Semua mimpi di masa depan layaknya misteri yang tidak
terpecahkan
Rasanya tiada guna untuk merindukan wajah-wajah
dan suasana-suasana yang kini terasa asing
Lagi-lagi, si ruang penyaksi resah,
adalah penyaksi diri-diri yang lemah

104 Tentang Korona dan Sekat Rindu

Puisi Talitha Aqila

KORONA VIRUS
Korona…
Engkau
adalah virus
yang sangat
ditakuti
seluruh Dunia
Engkau
bagaikan
monster bagi
seluruh
manusia
Engkau
mampu
menghentikan
aktivitas di
Dunia
Korona…
Engkau bahkah membuat
para tenaga medis bekerja
siang dan malam Menyipan
lelah dalam-dalam
Mereka
bahkan tak
bisa
berkumpul
bersama
keluarga
demi
menyelamat

Tentang Korona dan Sekat Rindu 105

kan banyak
raga
Korona…
Bahkan engkau mempu mematikan perekonomian dunia
Namun engkau
menyadarkan kami betapa
pentingnya hidup bersih
Betapa pentingnya hidup
sehat
Korona…
Terima kasih atas jasa-jasamu kepadaku
Banyak
pelajaran
yang akan
teringat di
setiap
waktu di
sepanjang
hidup
seluruh
manusia

106 Tentang Korona dan Sekat Rindu

Puisi Talitha Arista Vidiani

MENGUBAH
Dalam bisu ku termangu
Melewati rentang waktu tak bertepi
Kusimpan lelah dalam diam
Jiwaku meronta dalam raga tanpa daya
Awalnya hanya lewat berita
Kaget, prihatin, iba menyeruak
Nun di belahan dunia sana
Manusia terpapar korona
Tiba-tiba tanpa nyana
Saat tanya belum terjawab jelas
Wabah itupun tiba di sini
Menerpa tanpa hambatan

Puluhan, ratusan, bahkan ribuan jiwa
Direngut tanpa rasa iba
Begitu kejamnya korona
Mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat
Sehari, seminggu, sebulan
Bahkan berganti tahun
Menunggu keberadaan vaksin
Dalam ketidakpastian
Semua mencoba sabar dan patuh
Memakai masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan
Menjadi kebutuhan sehari-hari
Segeralah berlalu dan jangan kembali

Tentang Korona dan Sekat Rindu 107

Puisi Taufiequrrahman Hakim
BOSAN
Sejak kau datang, kami selalu mengurung diri
Pintu dan jendela yang tertutup rapat
Kami menutup segala yang terbuka
Kami tidak tau, engkau ada di dalam tubuh kami
Kau telah mengusir kami dari jalan, fasilitas bermain
Engkau bagaikan angin lalu
Menerpa ribuan orang bahkan ratusan
Padahal kami hanya orang awam
Bosan kumenatap layar digital
Tidak bisa pergi ke tempat hiburan
Bertemu teman
Setelah lama di dalam rumah
Perlahan lahan menjadi bosan

108 Tentang Korona dan Sekat Rindu

Puisi Tessa Sessio Mentiana
GELANGGANG NERAKA
Cukup muak kudengan semua endemi
Rengekan ingin bersosialisasi ku tahan
Ingin pergi dan menghadapi eksamen yang ada
Rasanya waktu terbuang sia-sia
Tak ada habisnya sukma mengeluh.
Merengek memohon kesudahan.
Ratapan dan makian juga dikeluarkan.
Tak ada guna.
Kita mencoba mencari tahu.
Berapa banyak yang berubah dalam sekejap mata.
Apakah dunia tepat waktu?
Merenggut berjuta memori yang hanya dapat dikenang dalam
hati.
Ini semua terasa sangat aneh.
Saya tidak siap untuk mengucapkan selamat tinggal.
Tidak untuk siapa pun.
Tidak ada yang siap untuk berjalan melintasi panggung itu.

Tentang Korona dan Sekat Rindu 109

Puisi Tesya Feriska Husni
AKTIVITAS
Korona Virus...
Kamu datang sangat tiba-tiba..
Menyebar dengan cepat...
Membuat orang-orang menjadi korbanmu....
Korona Virus...
Kehadiranmu membuat dunia menjadi takut...
Kehadiranmu membuat cemas dunia,,,
Kehadiranmu membuat banyak kendala di dunia...
Aktivitas menjadi terbengkalai...
Suasana di luar sepi...
Suara kendaraan jarang didengar karenamu....
Tetesan air terdengar nyaring...
Korona Virus...
kamu memiliki dampak positif...
Dari sekian banyak dampak negatif yang kamu berikan...
Kamu mengajarkan dunia agar hidup bersih dan sehat...
Kamu mengajarkan kami untuk bisa menjaga kebersihan..
Korona Virus...
Kami berharap kamu bisa cepat pergi...
Karena telah banyak korbanmu..
Semoga pandemi ini cepat selesai...

110 Tentang Korona dan Sekat Rindu

Puisi Tok Seka

SADARLAH
Sungguh, Indonesia dalam bahaya
Virus datang tak diundang
Tapi dianggap tidak berbahaya
Lihatlah, Indonesia membatu seperti malinkundang
Lihatlah dengan mata kepala
Lihatlah dengan mata batin
Sudah banyak korban jiwa
Sedang kita hanya pakai kain
Lihatlah respons masyarakat
Lihatlah gerakan pemerintah
Apakah kita menolak dengan kuat?
Atau memang kesehatan di bawah?
Apakah uang dapat membayar nyawa?
Atau uang dapat membeli ruang?
Jika bukan demikian adanya
Mengapa masih mengutamakan uang?
Sungguh, Indonesia dalam keadaan menyedihkan
Hoax bagaikan semut didekat gula
Kebenaran diganti kesalahan
Kapan kita bebas jika demikian keadaannya
Sungguh, rakyat harus bersatu
Pemerintah harus menyatu
Karena kita bangsa yang satu
Bukan bangsa batu
Jika bangsa ini terus membatu

Tentang Korona dan Sekat Rindu 111

Dan tidak mau menghancurkannya
Maka emas dibawah batu
Tidak akan diraihnya
Sungguh, kemanusiaan harus ditegakkan
Dan keadilan harus dinyatakan
Agar rakyat bawah golongannya
Dapat dibantu dan diselamatkan
Sungguh, uang bukan segalanya
Oleh karena itu, mari kita gunakan
Untuk membantu manusia lainnya
Dan berharap dibalas oleh Tuhan
Sungguh, peristiwa pandemi ini
Telah membuka mata banyak orang
Di mana orang yang baik hati
Dan yang mengambil hak orang
Pandemi membuat kita berpikir
Kita tidak bisa hidup sendiri
Oleh karena itu, jangan kikir
Karena mati kita hanya sendiri
Lihatlah keadaan orang di bumi
Hampir semuanya khawatir mati
Tapi mereka harus menyadari
Masih ada hari esok yang menanti

Selama keselamatan dikesampingkan
Dan kesehatan tidak diperhatikan
Maka kematian tidak mengagetkan
Bahkan sudah seperti makanan
Manusia memanglah mahluk sosial

112 Tentang Korona dan Sekat Rindu

Yang bersosialisasi untuk hidup
Tetapi kita harus berjarak sosial
Agar kita bertahan hidup
Virus memang sesuatu yang baru
Yang merubah hidup secara menyeluruh
Tetapi jika tetap ragu ragu
Maka hidup kita akan lumpuh
Kelumpuhan memang menghantui
Maka kita harus berhati hati
Jagalah keselamatan diri
Agar orang lain tidak mati
Ketakutan memang terjadi
Karena banyak kematian dini
Tetapi janganlah kita khawatir
Karena kemudahan datang setelah kesulitan ini
Berjarak bukan berarti berpisah
Berjarak bukan berarti menjauhi
Mari kita berjarak terpisah
Karena protokol harus dipatuhi
Lihatlah keadaan ekonomi
Diutamakan tapi akhirnya kalah
Andai kita utamakan kesehatan
Mungkin kita tidak perlu pasrah
Bhinneka Tunggal Ika semboyan kita
Semboyan yang sangat nyata
Mari amalkan semboyan kita
Sambil melawan virus yang ada
Hartawan dan bawahan mereka tetap manusia
Timur atau barat mereka tetap manusia

Tentang Korona dan Sekat Rindu 113

Waras atau gila mereka tetap manusia
Hidup atau mati mereka tetap manusia
Sesungguhnya manusia yang memiliki harta sedang beruntung
Mereka dapat beramal serta dapat bertahan hidup
Tetapi jika uang mereka tetap digantung
Mereka telah rugi seumur hidup
Sungguh, timur dan barat hanya tempatnya yang berbeda
Manusia disana tetaplah manusia yang sama
Karena itu mari hapus sikap rasis kita
Serta bersama melawan virus bersama
Sungguh, waras dan gila mereka tetap manusia
Hanya akal mereka yang membedakan mereka
Jika akal membuat manusia tidak acuh kepada mereka
Apakah laju penyebaran penyakit dapat dihentikan?
Sungguh, pembeda nyata antar manusia adalah mati
Manusia hidup sedang menjalani ujian
Sedangkan manusia mati sedang menunggu hasil
Maka virus ini adalah penyebab ujian lebih cepat
Sungguh, ujian paling tidak nyaman adalah ujian yang
dipercepat
Mencabut harapan yang sedang ujian
Sehingga hasilnya terasa berat
Dan jiwanya merasa membawa beban
Seandainya manusia bersabar dirumah
Dan bersabar dalam memberi
Maka tidak dapat dipungkiri
Kehidupan kita tidak akan seperti ini
Sesuatu yang indah diperoleh dari kesabaran
Dan kehancuran diperoleh dari ketamakan

114 Tentang Korona dan Sekat Rindu

Maka saksikanlah kehidupan
Yang mana sedang kita jalankan?
Jika ada hewan yang dapat dicontoh
Maka hewan itu adalah semut
Mereka hidup dalam keteraturan
Mereka hidup dengan kebersamaan
Marilah hidup seperti semut
Hidup dengan teratur
Hidup dengan bersatu
Hidup dengan hebat
Marilah menjaga jarak
Marilah menjaga batasan
Marilah menjauhi virus
Marilah menuju kemenanga

Tentang Korona dan Sekat Rindu 115

Puisi Triani Audray Manurung

ADA APA DI BUMI?
Merebak, menerpa kita di bawah kepiluan
Racau, tak ayal semrawut kota, ekonomi, pendidikan,
pembangunan
Ambruk tak terelakkan
Nun jauh sejuta paras tantrum
Rungkuh menggenggam resolusi awal tahun
Aku harap akan ada waktu di mana kau memiliki sudut
pandangku
Bersama paradigma tanpa kesepahaman
Yang tahu semua selesai kapan
Sebelum warna langit berubah dan malam benar-benar rebah
Semua berubah
Tak seorang pun mau
Terkurung untuk berlindung dari belenggu napas menyesak
Terlebih langit serupa berita duka
Disusul kata-kata yang menetas dari mata
Tidakkan kau dengarkan?
Pudarnya temaram berganti remang
Berlabuh melewati tebing bintang
Berpendar cahaya yang memulihkan
Dari perang panjang yang tak pernah dimenangkan
Yang hidup matinya di balik tameng pelindung diri
Bangkit membumikan cercah harapan, memulihkan negeri
Barangkali dia ingin kami mengerti
Betapa sinar tatapan itu,
Betapa sungguh belaka doa mereka
Yang tak juga menyentuh hati kami, tapi
Sempurna mengenal asa kami

116 Tentang Korona dan Sekat Rindu

Puisi Valen Angelica

AKU INGAT WAKTU ITU
Aku ingat waktu itu
Sinar matahari yang mengiringi tapakku
Seolah binasa menghadapi sebuah mahkluk kecil
Mahkluk kecil yang sangat kuat
Beliau menjatuhkan dunia dalam kuasanya
Aku ingat waktu itu
Semangat tahun baru yang membara
Menyambut 2020 penuh harapan
Ternyata aku naif
Pupus berkeping – keping bayanganku
Jatuh di dalam jurang
Jurang yang tak memberi kepastian
Kapan kita akan pulang
Aku ingat waktu itu
Suara tawa teman-temanku
Kericuhan di dalam kelas
Perasaan yang tegang saat ujian
Masih terngiang di benakku
Harus kurelakan memori SMA-ku
Aku ingat waktu itu
Wajah-wajah yang tertutupi
Menampakkan bola mata mereka
Tak terdengar jelas raut wajah mereka
Memaksa kita untuk berinteraksi dalam layar
Aku tak terbiasa
Ingin kukatakan satu hal
Satu hal yang sangat jelas

Tentang Korona dan Sekat Rindu 117

Hal yang tak bisa dipungkiri
Aku rindu hari itu
118 Tentang Korona dan Sekat Rindu

Puisi Vanya Narayanda Bromi
KEHADIRANMU
Makhluk kecil tak kasat mata
Kehadirannya mengubah segalanya
Siapa sangka makhluk tak bersel itu
Bisa merenggut banyaknya fana
Kehidupan biasa yang berjalan dengan membosankan
Berubah drastis dalam sekejap olehmu
yang sebelumnya engkau diremehkan
Kini diwaspadai oleh semua kalangan
Akibat kehadiranmu yang tidak terduga
Kehidupan SMA yang kami tunggu menjadi sirna
Impian kami menjalani kehidupan remaja sekolah
Hilang tak bersisa akibat engkau
dulu terasa sangat bebas bertemu dengan orang
kini terbelenggu dengan perasaan cemas karena kau
masker dan sabun sudah menjadi teman sehari-hari
karena hanya itulah satu-satunya kelemahan kau
Oh andaikan ada cara untuk membuatmu sirna
Penderitaan yang kau berikan sudah keterlaluan
Sungguh, tolong pergi secepat mungkin
Dan jangan kembali lagi untuk membuat masalah

Tentang Korona dan Sekat Rindu 119

Puisi Vera Resqiana
PHK
Pagi ini…
Secarik kertas datang tanpa diundang
Bertuliskan goresan tinta yang membawa petaka
Mengancam sesuap nasi untuk hari esok
Merenggut kedamaian pagi ini
Mendatangkan badai kegelisahan
Sudahlah… tak perlu lagi diceritakan isinya
Patah baraku berkeping-keping
Meninggalkan kekhawatiran yang tak kunjung mereda
Mengapa Sang Kuasa merestui kehadirnya?
Datang tanpa diundang, seakan tak berpamit pada sang tuan
Pandemi datang tanpa henti
Semula hanya hinggap merusak diri
Kini menghisap lumbung padi kami
Membunuh mimpi dan harapan
Merampas sendok terakhir nasi kami
Lantas haruskah aku berdiam diri
Melihat anak istri menghemat nasi
Menatap pesangon yang kian menipis
Menyerah pada makhluk kecil mematikan
Kini kubersimpuh di hadapan-Mu Tuhan
Mengharap keberuntungan di balik segudang penolakan

120 Tentang Korona dan Sekat Rindu

Puisi Vincent
DUNIA YANG BERBEDA
Kita hidup di dunia yang menakutkan hari ini
Dunia ini berbeda dari sebelumnya
Tidak ada lagi pelukan berciuman
Kebahagiaan kita hilang
Tidak seperti sebelumnya
Virus telah merenggut orang-orang yang kita cintai
Keluarga kita menderita
Tidak seperti sebelumnya
Ketakutan akan hal yang tidak diketahui telah tiba
Kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi
Besok, untukmu dan aku
Coronavirus ada di pikiran kita
Coronavirus dimana-mana
Hidup kita dalam bahaya
Tidak seperti sebelumnya
Kami mempraktikkan jarak sosial setiap hari
Untuk mencegah virus
Seperti kita berbelanja dengan cara yang berbeda
Diminta untuk tinggal di rumah
Tidak seperti sebelumnya
Kapan virus ini akan hilang?
Tapi kuberjanji akan mencintai dan berdoa
Untuk semua orang yang menderita
Setiap hari

Tentang Korona dan Sekat Rindu 121

Puisi Violani Devlina
TERBATAS TEMU
Ia datang dengan awal bahagia
Sorak gemuruh menyambut
Terlihat biasa saja
Semua menyepelekan
Temupun menjadi semu
Tatap muka berhenti
Layar kaca menjadi ganti
Bosan mulai menghampiri
Tak bisa berpergian
Bergandeng dengan teman
Keluh pun tak bermakna
Bila usai kegundahan ini
Raga sudah bisa menyapa
Tatap tak sekedar digital
Kan kupeluk teman-temanku
Kupeluk melepas rindu

122 Tentang Korona dan Sekat Rindu

Puisi Wahyu Satria Tambunan
KUMOHON
Korona kaudatang menjelang Ramadhan tiba
Membuat hati kami menjadi risau korona
Kau membuat kami tidak bersekolah
Tidak beribadah
Tidak bisa jalan jalan bersama keluarga
Dan tidak bisa bermain dengan teman-teman
Korona pergilah sebelum bulan Ramadhan datang
Kami ingin menyambut keluarga kami Kembali
Dan menyambut bulan Ramadhan ini dengan keluarga kami
Korona kumohon pergilah

Tentang Korona dan Sekat Rindu 123

Puisi Wilson Delion
PAHLAWAN DI GARDA DEPAN
Dari fajar hingga senja
Engkau bekerja menahan lelah
Menahan rindu bertemu keluarga
Mengorbankan waktu untuk nyawa
Engkaupun bertanya
Kapankah pandemi ini akan selesai
Kitapun sudah merasa lelah dan bertanya
Kapankah bisa melihat matahari yang cerah
Jika saatnya sudah tiba
Kita bisa tidak di rumah saja
Akan kuucapkan terima kasihku
Kepada pahlawan garda depan yang berjasa

124 Tentang Korona dan Sekat Rindu

Puisi Wydiels Putri Yasmine
LEKAS SEMBUH BUMIKU
Arunika menyambut pagiku dengan hangat.
Namun, apa gerangan dengan raut wajahnya?
Spekulasiku berkata bahwa Ia lagi-lagi gagal menembus afotik.
aku tahu kiranamu sangat kuat, tetapi kenyataan jauh lebih
pelik.
Walaupun aku tak ingin lenyap ditelan gelap.
Atensiku teralih pada wanita paruh baya nan elok itu.
terhempas, dan tergoyah sudah seluruh harapan.
Bahkan jarum waktu hendak mengikis sanubariku.
Bumiku, bersua petaka dan mencari jawaban.
Insan-insan kemalangan
Tersesat di antara mimpi-mimpi yang mereka harapkan.
Terbangkalai semua ambisi, arwah yang sudah menyerah.
Makhluk kecil itu tertawa akan semua ini.
“Kelalaian kalian adalah alasan mengapa mereka datang,”
katanya.
Kini kami tak lagi dapat melihat senyuman indah satu sama
lain.
Bahkan bertemu pun.

Tentang Korona dan Sekat Rindu 125

Puisi Yarki Hishari
YANG TAK TERDUGA
Fajar telah menyapa pagiku
Saat itu guru memberi tahu kami untuk libur
Betapa senangnya hatiku
Kebebasan akan datang kepada kami
Seperti yang apa kami harapkan
Setiap hari selalu kulakukan kegemaranku
Dengan gembira dan senang hati kulakukan
Aku selalu tersenyum dan tertawa
Oh…senangnya hatiku
Bisa menikmati semua ini
Dua minggu sudah berlalu
Guru kembali mengumumkan untuk belajar di rumah
Entah kenapa hatiku seperti mengganjal
Aku sudah mulai jenuh
Bosan kumenatap layar
Menatap wajah digital
Aku pernah berkeinginan untuk libur untuk satu tahun lamanya
Ternyata tak seindah yang kubayangkan
Tak bisa ke taman bertemu dengan teman
Aku selalu berdoa agar dunia kembali pulih
Kan ku peluk teman-temanku untuk melepas rasa rindu

126 Tentang Korona dan Sekat Rindu

Puisi Yohanes Yuniardi CP
MUDIK YANG TERTUNDA
Sudah kali keduanya
Rinduku pada emak, bapak dan saudara
Terhalang.. tertunda karena corona
Suatu fenomena nyata, yang tiada terduga datangnya.
Korona, indah gambar dan bentukmu bak mahkota,
Namun sungguh tiada sangka,
Keberadaanmu menggegerkan jagat raya,
Lahirkan bencana ... dukacita juga aneka nestapa,
Namun dibalik keberadaanmu,
Terbangun mental, kesadaran dan kebiadaan baru,
Pengakuan terhadap kekerdilan betapa kecilnya diriku,
Di hadapan ke Maha Kuasaan-Mu,
Maaak, bapak dan kerabat tetcinta,
Dalam rinduku kupeluk bayang-bayang maya,
Doa dan harapan kupanjat kuminta,
Bahagia dan sehatlah selalu kendati kita tiada jumpa,
Ini hari yang penuh makna,
Hari yang fitri dimana pintu maaf dibuka,
Ampunan dari Allah diminta,
Kendati kita tak bersua, tanpa salam dan peluk mesra.
Duri, Ramadhan ke-4 1442 H

Tentang Korona dan Sekat Rindu 127

Puisi Yudi Fadhilah
TAK INGIN
Kau yang datang dan
Kau yang enggan untuk pergi
Menyebar ke dunia
Yang penuh dengan fana
Engkau jugalah yang mengubah kehidupan manusia
Hingga kami pun tak bisa bersuka ria
Wujudmu yang tak pernah terlihat oleh mata
Tetapi engkau bisa membunuh kehidupan
Membuat kami banyak kehilangan
Kehilangan yang sangat menyakitkan
Dunia juga menjadi berjarak
Hingga kami tak bisa lagi untuk bersama
Banyak mimpi
Banyak kenangan yang kau bunuh
Hanya karena engkau datang ke dunia ini
Korona....
Pergilah keasalmu, kami tak ingin engkau ada di sini....

128 Tentang Korona dan Sekat Rindu

Puisi Zafhira Huljannah
HADIAH TAHUN BARU
Korona,
2019 kau datang
Mengakhiri tahun dengan mengenaskan
Membawa hadiah tahun baru yang menggemparkan
Engkau datang tanpa pemberitahuan
Tak memberi waktu persiapan
Pertemuan yang tak diinginkan semua insan
Kedatangan yang menanamkan ketakutan
Segala doa telah diucapkan
Usaha terbaik telah dikerahkan
Tenaga medis telah banyak berguguran
Pada perang melawan virus mematikan
Hai korona,
Kedatanganmu telah membawa pembelajaran
Pengalaman menakjubkan dalam kehidupan
Kini, pergilah dari bumiku ini

Tentang Korona dan Sekat Rindu 129

Puisi Zharfa Salma Fitriandini
MENYERANG
Wuhan, itulah nama kotanya
Asal usul dari virus yang mendunia.
Menyerang semua orang
Menyerang pernapasan
Setengah populasi di dunia telah gugur
Negeri kita telah terancam
Oleh virus mendunia ini
Yaitu korona virus
Pendidikan tatap muka dihentikan
Pekerjaan diberhentikan
Semua istirahat
Demi tidak terjangkit siapa pun
Kehidupan dibumi sedang istirahat
Berdiam diri dirumah
Aktivitas terbatas
Sejak penyakit virus

130 Tentang Korona dan Sekat Rindu

Puisi Zhorif Fadhlurrahman
NEW NORMAL
Tak pernah ku sangka
Hidup terpenjara sesaat
Kehidupan semakin rumit dan suram
Melawan musuh dunia
Dengan rasa cemas yang selalu menghantui
Coba melangkah mendekap bait-bait
Yang berserakan dalam botol peradaban
Tetesan tinta ketulusan sembari berkata
Tentang ketulusan
Waktu tak terasa
Langkah tlah teratasi
Mari menjaga kesehatan berlipat ganda
Agar tetap sehat jasmani dan rohani
Cepatlah pergi
Cepatlah berlalu
Agar hidup kembali teratur

Tentang Korona dan Sekat Rindu 131

132 Tentang Korona dan Sekat Rindu


Click to View FlipBook Version