Puisi Ghea Syalneffi
HARAPANKU
Aku ingin istirahat dari karantina
Tapi, dunia sudah menjadi tempat tidurmu
jauh sebelum aku mengenalmu
Aku ingin terpejam memimpikan dunia
bebas akanmu beberapa jam
Tapi kau menyebar ke segala arah
bagai cahaya sangat benderang
Aku ingin memintamu pergi
Tapi, kau bergerak dan bermutasi
Kau hilangkan kesempatanku untuk mengukir masa-masa
indah
Bagaimana cara menyembunyikan diriku dari dirimu
Tentang Korona dan Sekat Rindu 43
Puisi Gheilberts
TERSEBAR
Sudah beberapa lamakah engkau ada di dunia ini…
Sudah berbulan-bulan bahkan bertahun
Apakah engkau akan menetap di dunia ini
kedatanganmu tidak diinginkan seorang pun
Karena kedatanganmu membuat semua orang panik dan
khawatir
Bahkan kau telah merenggut nyawa banyak orang hingga jutaan
Apakah kamu belum puas berada di dunia ini?
Padahal kau telah membuat kehidupan di dunia ini menjadi
tidak nyaman
Negeri berduka akibat engkau
di mana-mana ada engkau
Dari sabang sampai merauke
Kau sudah tersebar luas dimana-mana
Bahkan ke seluruh dunia
Korona kapan kamu pergi dari kehidupan kami?
Hingga berapa lama kau ada di sini?
Korona cepatlah kau berlalu
Agar kehidupan di dunia ini kembali seperti semula
44 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Gilbert Christianto Hutagalung
RANTAI KERESAHAN
Sinar mentari menghentikan lelapku
Pagi terasa lebih berdebarkan dari biasanya
Televisi yang tak hentinya menyampaikan kabar duka
Menjadi santapan wajib bagi seluruh isi rumah
Keresahan ini tak kunjung berakhir
Seluruh polusi bumi diam membeku bak tersihir
Mendengarkan media yang menyampaikan kabar seisi bumi
Menunjukkan deretan angka yang terus mengalir
Berganti menjadi deras kecemasan yang tak kunjung berhenti
Kini kuberharap,
Kepada Sang Pengesa dan semesta
Berikanlah kami kesehatan dan kedamian
Lepaskanlah kami dari rantai keresahan ini
Berikanlah kami kepercayaan
Untuk dapat bertegur dan bersapa
Untuk dapat bertemu dan bercengkerama
Dan untuk merasakan kembali arti kehidupan
Kuucapkan terima kasih,
Untuk semua pahlawan garda terdapan,
Yang tetap setia melindungi dan menjaga
Untuk semua manusia sabar yang dapat berdiam diri,
Menahan ego demi menjaga orang terkasih
Untuk pekerja dan lembaga pemerintahan,
Yang berusaha keras membuat semua tetap berjalan kondusif
Untuk rumah, halaman, dan secangkir teh,
Tentang Korona dan Sekat Rindu 45
Yang memberikan ketentraman serta kehangatan sampai detik
ini
Serta untuk 14 hari lebihnya,
Yang dapat membuatku terus bertumbuh
Untuk dapat berkenalan dan berdamai dengan diri sendiri
Untuk mengenal lebih baik orang-orang terkasih
Dan untuk dapat menjalani hidup dengan prinsip serta tujuan
yang lebih baik lagi
Terima kasih lagi untuk 387 hari yang akan terus bertambah,
Tetap menanti kembalinya cahaya terang
Bertahan dan akan terus berpegang
Sabar, ini akan menjadi perjalanan panjang
Kehadiranmu akan selalu aku kenang
Sampai jumpa lagi
Dan saat ketemu nanti,
Mari kita ingat lagi hal-hal yang baik
46 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Giovan Aprillian
PANDEMI COVID-19
Co-rona bukan Co-baan
Cobalah kau pahami…
Dari yang pergi akan ada yang datang
Dari yang menangis akan ada yang tertawa
Dari yang berpisah akan ada yang bertemu
Dari yang sengsara akan ada yang bahagia
Dari yang mati akan ada yang terlahir
Jangan bergurau…
Meski terpukah bumi tetap merekah
Birama langit menari dan bumi berseri
Jika yang tertanam lara maka deru yang akan didera
Jika yang tertanam syukur maka tak akan ada takabur
Oh…korona
Kau tak terlihat
Tapi kau menyebar ke seluruh negeri
Siapa yang tak kenal kamu
Semua mengenal kamu
Oh…korona
Kamu virus nakal
Karena kamu, kami tidak bisa sekolah
Kami tidak bisa bermain
Kami tidak bisa bertemu ibu guru
Kami dirumah saja
Tapi kami tidak takut pada mu
Kami akan selalu nenjaga kebersihan
Rajin cuci tangan pakai sabun
Agar kamu cepat pergi
Allah akan selalu melindungi kami
Tentang Korona dan Sekat Rindu 47
Puisi Halwa Shofia
KERISAUAN HATI
Pandemi Covid-Nineteen
Membuat orang lari tak karuan
Takut akan kesakitan
Takut akan kematian
Yang jauh tak mampu mendekat
Yang dekat pun tak mampu untuk pergi
Semua orang dikutuk dengan penat
Melewati hari-hari penuh kerisauan hati
Bosan yang tak kunjung hilang
Rindu yang tak kunjung terobati
Hanya mampu menahan emosi yang meledakkan hati
Demi kesehatan diri sendiri
Pergi keluar hanya untuk urusan penting
Tidak lupa mematuhi protokol kesehatan
Menjaga jarak sangat penting
Apalagi rajin mencuci tangan
Sekolah yang dilakukan dengan jarak jauh
Membuat semua orang bingung akan kemajuan
Bosan menatap layar putih
Yang penuh rumus dan penjelasan
Namun, sekolah tetap menjadi prioritas
Untuk masa depan yang berkualitas
48 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Hizkia Sihombing
SISWA DARING
Kubangun dari tidurku
Lanjut kubersihkan kamarku
Lalu kubuka HP-ku
Bermunculan lah tugasku
Lalu kukerjakan dengan sangat terpaksa
Demi suatu cita-cita yang ingin dicapai
Setiap hari kudengar suara bagaikan “TOA” yang berbunyi
keras
Bunyinya nyaring dan merdu,
“Bangun, kerjakan tugasmu!!!”
Begitu terus setiap harinya.
Lalu kubuka lemariku
Terpajang baju putih abu-abuku
Salah satu benda yang sangat kurindukan
Rindu akan circle pertemanan sekolah yang begitu solid
Kuingin masa itu kembali
Oh korona
Pergilah,
Pergilah,
Pergilah,
Kami resah kau menghambat seluruh kegiatan kami
Sudah cukup,
Sudah cukup,
Sudah cukup,
Satu tahun lebih dirimu sudah menjarah kami
Belum puaskah dirimu akan itu semua?!
Lekaslah pergi,
Tentang Korona dan Sekat Rindu 49
Bawa semua penderitaan kami pergi jauh bersamamu
Dan jangan kembali lagi
Kami ingin menikmati dunia kami kembali
Kami ingin semuanya normal kembali
Dan kami ingin semua ini berakhir secepatnya
50 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Imam Mahatir Hasibuan
BERDOA
Pendidikan terhalang oleh covid’19
Awal tahun 2020 adalah tahun yang suram
Sebuah wabah datang melanda seIndonesia
Wabah yg berasal dari wuhan ini datang secara tiba-tiba
Semua orang takut terhadap wabah ini
Disaat itu hari kupun terganggu
Saat belajar kita tidak bisa semaksimal mungkin
Karena saat belajar jika hanya melihat video yang dibuat oleh
guru
Dalam puisi saya berdoa semoga wabah ini berakhir
Tentang Korona dan Sekat Rindu 51
Puisi Irdina Marsa Liwani
KEBESTARIAN DI TENGAH PANDEMI
Tahun lalu dibuka dengan tragedi
Tatkala, virus menyambangi seluruh negeri
Tetapi, tahun ini juga dibuka dengan tragedi
Pasca virus tidak kunjung pergi
Tak terhitung dari mereka, dipecat hingga menjadi
pengangguran
Perusahan besar merugi, jalannya menutup cabang
Banyak orang kesusahan, bahkan untuk sekadar makan
Namun, namanya juga hukum alam
Ada banyak yang untung, bergelimang kemewahan
Maka, bagi mereka yang berkecukupan
Tak ada salahnya, berbagi sedikit harta kekayaan
Selayaknya, ringan sama dijinjing, berat sama dipikul.
Dengan bersama, musibah dapat dihadapi dengan lebih ringan
52 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Jovanka Patricia Efaprasata
PENGHALANG KEBERSAMAAN
Saat itu,
Di kala itu,
Sebuah wabah telah menghampiri ke seluruh penjuru dunia
Tanpa ada sepengetahuan dari siapa pun
Yang dulunya aman
Yang dulunya nyaman
Yang dulunya tentram
Kini, kau telah membuat seluruh isi dunia ini khawatir akan
engkau
Ya Tuhan
Berikanlah kepada kami kekuatan
Berikanlah kami keteguhan iman
Untuk bersama-sama menghadapi situasi yang tidak
memungkinkan ini
Karena kami tahu bahwa Engkaulah yang mampu
Karena kami tahu bahwa Engkaulah yang bisa
Membuat dunia ini pulih
Membuat dunia ini aman
Membuat dunia ini tentram
Seperti yang dulu
Tentang Korona dan Sekat Rindu 53
Puisi Keizha Feleina Rumondang Sitompul
BANGKIT
Dekat semakin dekat
Bebas semakin bebas
Menciptakan perintis akan kebebasan
Sebuah wabah tak seumat pun pernah nantikan
Lemah dan derita menimpa
Wabah beterbangan bebas
Perlahan menikam dan membekaskan sayat pada badan dan
hati
Tersusun menjadi himpunan lah para korban berjatuhan
Dekat semakin dekat
Membuat kita semakin jauh
Pandemi perintis perubahan
Menempatkan manusia kepada penjara nyaman berdinding
empat
Layaknya seekor burung terkurung di sangkar
Buta dalam urusan penampakan dunia
Zona yang dahulu gaduh nan hingar,
kini hanya dapat kini bersunyi dengan terpaksa
pilu mendatangi hati yang kesepian
hanya bisa melihat dari jauh sang sahib
tetapi kelak semua penantian akan membuahkan hasil
Kebebasan akan tercapai
Senyum akan kembali binar layaknya sang surya
Kita dapat berkeliaran bebas bak khalayak rimba
Tak ada bendungan yang akan berdiri lagi
Maka cepatlah pulih sahabat
Bangkit dan merintis dunia bersamaku
54 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Kharysmaputri Thessa Wardana
ANCAMAN DUNIA
Bumiku sedang berduka
Duniaku berubah dalam sekejap mata
Wabah yang awalnya menyebar di Negeri Cina
Kini telah menyebar ke seluruh dunia
Wabah yang nampaknya biasa saja oleh aksa
Kini tengah melakukan aksinya secara nyata
Rencana yang telah disusun hilang satu per satu
Momen-momen indah terlewatkan satu per satu
Sekolah dan pekerjaan telah dirumahkan
Pertemuan telah dibatalkan
Kerabat dan sahabat pergi satu per satu
Menyisakan rindu yang sesak menggerutu
Penyebaran yang begitu pesat
Menyerang kesehatan para rakyat
Dokter menjadi garda terdepan untuk melawanmu
Mempertaruhkan nyawa demi berakhirnya pandemi
Melakukan segala percobaan demi mendapatkan penawar
Doa terbaik telah kami panjatkan
Menunggu kabar gembira penuh harapan
Saat ini hanya sabar yang dapat kami lakukan
Cepatlah pergi wabah korona
Agar kami bisa hidup damai dan aman
Tentang Korona dan Sekat Rindu 55
Puisi Maghfira Marsa Kamila
PANDEMI TAK BERHATI
Dulu anganku banyak sepeti
Mempersiapkan esok dengan teliti
Berharap masa depan cerah tanpa rusak meniti
Tapi pandemi virus datang tak berhati
Merusak semua mimpi dengan keji
Pandemi datang tanpa permisi
Semua kalang kabut melawan
Saling bantu untuk hilangkan
Dokter jadi garda terdepan
Relawan membahu untuk ringankan
Rakyat berdoa dengan tinggi harapan
Berharap sang virus dimusnahkan
Sayangnya dia tetap bertahan
Menyerang tak kenal ampunan
Pandemi sungguh ancaman
Kebahagiaan yang dulu mengisi
Kini terbang menyisakan mimpi
Yang ditakuti bukan lagi mati
Tapi hidup dengan menyendiri
Karena kehilangan yang dikasihi
Pandemi datang bagai penguji
Wahai pandemi virus,
Kapan kau selesai?
Aku tak tahan lagi
Aku ingin hidup dengan bebas
Tanpa terjerat kain saat bernafas
Tolong angkat kaki dari bumi
Aku tak mampu menahan lagi
56 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Mardhiah Cahyani Budi Pujangga
OH KORONA
Oh korona…
Kau tak terlihat
Tapi, kau menyebar ke seluruh negeri
Siapa yang tak kenal kamu
Semua mengenal kamu
Oh…korona
Kamu virus nakal
Karena kamu, kami tidak bisa sekolah
Kami tidak bisa bermain
Kami tidak bisa bertemu guru
Kami di rumah saja
Tapi kami tidak takut pada mu
Kami akan selalu nenjaga kebersihan
Rajin cuci tangan pakai sabun
Menjaga jarak dari orang
Dan menjauhi kerumunan
Tentang Korona dan Sekat Rindu 57
Puisi Marsen Charsiva Wijaya
KEKHAWATIRAN
Dulu bermula dari Wuhan
Akhir menyebar ke penjuru dunia
Kami takut akan korona
Terpaksa kami di rumah saja
Mengubah normal menjadi korona
Belajar pun harus di rumah
Menatap laptop dan komputer
Untuk sarana pembelajaran dan pengetahuan
Hari-hari penuh kekhawatiran
Dimana saya sudah lelah
Bekerja,belajar, dan bermain di rumah
Menunggu nasib penuh harapan
Oh,Tuhan berilah kami kesehatan
Agar terhindar dari korona
Karena kamu yang Maha Kuasa
Akhirnya kepada Mu kami memohon
58 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Marsya Shahira
MERASUK HATI
Suatu hal tak terduga
Menerjang dunia
Dunia dilanda lara dan derita
Kini dunia merana
Virus korona menghantam dunia
Tak pandang usia
Tak peduli jabatan apa
Tanpa rasa bersalah merenggut nyawa manusia
Protokol kesehatan dilakukan
Memakai masker diwajibkan
Mencuci tangan dianjurkan
Menjaga jarak jadi imbauan
Ya Allah,
Kapan semua ini usai?
Kami rindu berkumpul dengan orang terkasih
Tanpa rasa takut yang merasuk hati
Semua pasti ada hikmahnya
Tidak ada yang patut disalahkan karenanya
Sebab ini kehendak dari-Nya
Semoga dunia kembali seperti sediakala
Tentang Korona dan Sekat Rindu 59
Puisi Marwaty Mangun Putri
SAMPAI NANTI
Bosanku menatap layar
Menatap wajah di digital
Menyapa tanpa raga
Tak bisa ke sekolah
Bertemu dengan teman
Keluhku seketika tak bermakna
Semua sedang berusaha
Untuk tetap hidup dan ada
Para medis yang berjuang
Pagi dan malam
Dan kita ikut membantu
Dengan tetap berada di rumah
Bila tiba saatnya nanti
Bila pandemi berhenti
Kan kupeluk teman-temanku
Untuk melepas rasa rindu
Sampai nanti, hilang duka sendu
60 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Micho Theonanda
PENDERITAAN
Hanya kaulah yang bisa membuat semua orang
Menetap dan melakukan semua kegiatan dari rumah
Bekerja, belajar, beribadah sudah dilakukan di rumah
Semua itu terjadi karena kedatanggan mu
Korona menggapa engkau harus dating kebumi ini
Tiada satu pun yang senang dengan kedatanggan mu
Secepatnya kauharus pergi dari bumi ini dan
Jangan pernah kembali ke bumi kami ini
Hari-hari penuh dengan kekhawatiran
Semua doa terbaik sudah dipanjatkan
Ya Tuhan, berilah kepada para dokter dan ahli
Kemampuan untuk menemukan yang kami cari
Yaitu obat dan vaksin
Korona kembalikanlah bumi kami ini seperti dulu
Sebelum engkau datang dan menghancurkan semuanya
Agar tidak ada lagi rasa takut dan senggsara
Cukup sudah semua penderitaan yang kauberikan
Pergilah dan jangan pernah kembali
Tentang Korona dan Sekat Rindu 61
Puisi Moh Irfan Hamid
KEPERGIANMU
Korona ...
Kau adalah virus mematikan
Kau telah banyak memakan korban
Sekejap menyebar keseluruh dunia
Membuat orang orang menderita
Korona…
Engkau kecil, namun mematikan
Kau buat kami berdiam
Tak bisa beraktifitas diluar
Buat semua terasa terkurung
Korona …
Pergi saja
Pergi saja dari bumi ini
Kehadiranmu tidak diinginkan
Kepergianmu yang diinginkan
62 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Mohammed El Zikra
SIAPAKAH ENGKAU
Siapakah engkau, korona
Sejak engkau datang, kami mengurung diri
dalam rumah. Mengunci pintu dan jendela, menutup
Lubang angin, menutup segala yang terbuka dari rasa
takut. Padahal kami tak tahu, engkau ada di luar
Atau di dalam tubuh kami.
Siapakah engkau, korona?
Engkau mengusir kami dari Jalan-jalan, mal, pasar,
kantor-kantor, sekolah, kampus-kampus, bahkan
dari rumah ibadah kami. Padahal kami selalu tak mampu
untuk keluar dari keramaian dalam kepala kami.
Siapakah engkau, korona?
Engkau datang seperti bala tentara dalam
operasi senyap. Menembaki ribuan orang
di seluruh dunia dengan peluru kecemasan,
padahal kami hanya orang biasa yang tak
Punya senjata, yang selalu percaya bahwa
perang hanya untuk para tentara.
Siapakah engkau, korona?
Hari ini, kami memang akhirnya mengunci diri
Dalam rumah, tapi kami tidak sedang menyerah.
Peluru-peluru sedang kami siapkan dari doa-doa
yang setiap saat kami rapalkan.
Kami punya iman
yang setiap waktu menyala dalam kegelapan.
Tapi siapakah engkau, korona?
Apakah engkau hanya datang sebagai pengecut,
Tentang Korona dan Sekat Rindu 63
Yang menyerang saat kami buta?
Saat kami kerap lalai
menyalakan api iman dalam dada.
Saat kami terlalu
bahagia dengan gemerlap dunia,
dan lupa pada dosa-dosa.
Korona, siapapun engkau, kami tak lagi peduli.
Karena hari ini,
kami sedang berdiam dalam diri,
mencari tahu,
siapakah kami sesungguhnya dalam tubuh yang fana.
64 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Muhammad Dhani
SEMILIR PANDEMI
esok tak seperti kemarin yang begitu cerah
banyak cinta yang tak jadi satu
banyak tangis yang menjadi haru
karena maut merenggut terlebih dahulu
siapa sebenarnya dirimu
kau datang tak diundang
lalu menetap dan tak mau pulang
merasa benar akan kehadiranmu
yang mengalir dalam tubuh setiap insan
kau tumbuh dan berkembang begitu cepat
layaknya busur yang dilepas
merambat luas dan terbang
menuju langit yang tak terbatas
kau renggut nyawa para pendosa
yang masih berharap akan ampunan dari sang pencipta
kau renggut nyawa penyembuh luka
yang bertanya kapan berhentinya kabar duka
pergilah
pergilah engkau sekarang
tinggalkan bumi ini dan biarkan
kedamaianlah yang menyelimuti
tak ingin lagi kulihat
tangis dari mata seorang ayah
sebab tak sanggup menahan beban
dari kerasnya liku kehidupan
Tentang Korona dan Sekat Rindu 65
tak ingin lagu kilihat
tangis ibu yang begitu deras
tertegun lemah tak berdaya
karena panci tak lagi berisi beras
pulanglah kerumahmu
biarkan udara segar
meyelimuti pagi yang begitu dinanti
keprgianmu adalah ketenangan yang abadi
66 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Muhammad Fakhruddin
MENYERANG
Korona, kau telah masuk ke dunia kami
Memasuki tubuh kami
Dengan cara menyamar sebagai virus lain
Sudah banyak korban yang telah kau serang
Hingga tidak dapat dihitung jumlahnya lagi
Sehingga kami memanggilmu pandemi
Kau menyerang secara membabi buta
Kota ke kota
Negara ke negara
Benua ke benua
Hingga seluruh dunia mengenal siapa dirimu
Kau akan diingat selalu dimasa depan
Karena telah membuat kami dipaksa untuk tetap di rumah
Membuat kami kehilangan pekerjaan
Bahkan kehilangan orang yang kami cintai
Sudah seribu kali kami berdoa pada tuhan
Dan doa tersebut berisi agar kami dan keluarga kami terhindar
darimu
Hanya ada satu pertanyaan yang ingin aku ajukan padamu
Sampai kapan kau akan berada di dunia kami?
Tentang Korona dan Sekat Rindu 67
Puisi Muhammad Furqan Zelsy
KORONA
Kubuka pintu rumah
Tidak ada lagi suasana berangkat ke sekolah
Seharian penuh hanya di rumah
Tidak ada suara bising kendaraan
Bosan sudah menatap layar laptop
Belajar hanya duduk dan melihat laptop
Tidak ada interaksi
Tidak ada bertemu dengan teman
Aku ingin merasakan pembelajaran seperti dahulu
Ditegur karna bermain-main saat belajar
Hati berdebar saat akan ulangan
Diskusi saat tak tahu cara
Banyak yang berjuang di luar sana
Berjuang agar tetap hidup
Menahan sesak napas
Berjuang mencari sepeser uang
Bertahan walaupun tidak sanggup
Sudah tidak sanggup lagi
2019 kau datang
Kami menganggap remeh
Bisa dihilangkan hanya dengan kalung katanya
Bisa hilang dengan menganggap penyakit kecil katanya
Kami tahu kami salah padamu
Sekarang kami menginginkan engkau pergi
Namun, sampai sekarang tak mau pergi
Banyak sudah korban jiwa
Banyak sudah korban pekerjaan
68 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Banyak sudah korban pendidikan
Inikah yang kau inginkan korona?
Tolong pergilah sekarang korona
Kami ikhlas engkau pergi
Tentang Korona dan Sekat Rindu 69
Puisi Muhammad Wira Alfikri
KAU
Kau yang datang tanpa kami undang
Kau yang tak terlihat dengan kedua mata ini
Kau bagaikan hantu tapi kau nyata adanya
Begitulah dirimu untuk diingat
Korona ….
Kau datang dengan penuh kejutan
Kau menyapa hingga keujung negeri
Sapaanmu yang terburu-buru, menjadi petaka setiap negeri
Kau memberikan kenangan yang teramat besar
Yang tak mampu untuk kami lupakan
Bukan sebuah kenangan hangat yang bisa kami ingat
Tapi kenangan buruklah yang kau ukir dalam relung hati
Pergilah, menjauhlah, dari bumi ini
Menjauhlah dari negeri ini dan menjauhlah dari saudara kami
Kau tak diterima untuk kembali, sadarlah korona..
Pulanglah..
70 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Mursyid Nur Hidayat
VIRUS KECIL MEMATIKAN
Kau sudah menyebar tanpa pemberitahuan
Yang berasal dari Wuhan
Yang sudah memakan korban
Tanpa melihat jabatan
Kau tak terlihat, tapi menakutkan
Kau kecil, tapi menyakitkan
Kau masuk ke tubuh, dan membunuh perlahan
Hanya kegelisahan yang kita rasakan
Seluruh dunia sudah kau singgahi
Jutaan orang sudah kau jangkiti
Kau lebih suka menetap daripada pergi
Banyak orang berharap kau menghilang dari bumi.
Tentang Korona dan Sekat Rindu 71
Puisi M. Abel Ivansyah
MARI
Tahun 2018 aku masih nyaman
Tahun 2019 kita nyaman juga
Tapi, sekarang kita susah
Semua orang tidak bisa bekerja
Sekarang tidak boleh jalan-jalan, tidak boleh bersentuhan
Dan kalau dalam tidak boleh dekat
Namun, kita tidak boleh menyerah
Kita tidak boleh putus asa
Untuk negara kita Indonesia
Mari kita bergabung, untuk berlindung dari virus corona
Ayo di rumah aja
Kita di rumah dulu
Dan doakan agar virus korona hilang
Mari kita jaga jarak dengan yang lain
Amiiin.
72 Tentang Korona dan Sekat Rindu
M. Dzaky Farras Majid
KORONA
Satu tahun kami memanggil Tuhan
Seribu doa sudah terucap
Pandemi ini tak kunjung hilang
Kita terdiam membisu di dalam rumah
Seperti patung dalam museum sejarah
Dunia terlihat begitu resah
Manusia tak lagi berakal sehat
Merasa sudah hilang jati dirinya
Dibatasi oleh tembok yang tinggi
Melihat dari jauh hingga tak tau arah
Mengurung diri ditemani oleh selimut tebal
Waktu habis ditemani oleh layar
Tidak lagi menyapa sesama dari jarak dekat
Tidak tau lagi harus berbuat apa
Kata siapa kita harus bersabar?
Kita dimatikan oleh virus berbahaya
Kita kelaparan dan kesepian
Menjadi kurus dan rapuh hingga tak sadar
Satu detik telah berlalu
Kematian datang setiap hari
Kehilangan saudara berkali kali
Menahan sedih tanpa henti
Korona
Kamu sangat misteri dan berbahaya
Siapapun engkau, tolong pergilah
kepergianmu adalah hal yang kami nantikan
Tentang Korona dan Sekat Rindu 73
Puisi M. Faiz Arasy
KORONA
Engkau berawal dari wuhan
Menjangkit pada siapa pun tanpa memandang jabatan
Engkau datang sebagai peringatan
Untuk kembali ke jalan Tuhan
Seluruh dunia sudah kau singgahi
Jutaan orang sudah kau jangkiti
Karena jumlahmu yang sudah tak bisa dipungkiri lagi
Menyebabkan angka kematian bergejolak tinggi
Dengan gejala demam tinggi
Inilah korona
Makhluk kecil yang hobi kemana-mana
Tak kasat oleh mata
Kemari dan kesana
Dengan manusia sebagai kendaraannya
Semua kegiatan kini dirumahkan
Dan sebagian orang kini tidak berpenghasilan
Menyebabkan sebagian orang jatuh pada kemiskinan
74 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi M. Khalfa Renchito
VIRUS KORONA
Virus Korona datang mengetuk seluruh
penduduk bumi
Semua dibuat gelisah karena takut mati
canda tawa yang terdengar kini sepi
Karena rasa ketakutan yang menghampiri
Ada yang mengatakan kau lebih kejam daripada setan
Ada juga yang mengatakan ini adalah peringatakan tuhan
Karena kita sudah terlalu sering melakukan kezaliman
Entahlah? Yang aku tau semua orang ketakutan
Meski tidak ada pistol ataupun dentuman meriam apalagi
perang
Tapi ingatlah, malaikat pencabut nyawa
tidak akan mundur karena lockdown
Apalagi mengatur ulang jadwal kau untuk pulang
Semua tidak ada yang kebetulan
Tuhan pasti punya rencana yang sudah digariskan
Ada sebuah misteri yang kadang disisipkan
Agar kita sadar Tuhan punya peran
Tentang Korona dan Sekat Rindu 75
Puisi Nadhifah Amalia Fannisa
DERITA
Sebuah virus datang
Menyerang jutaan orang
Banyak garda terdepan sudah tumbang
Karena penduduknya suka membangkang
Perekonomian sudah tidak keruan
Mereka kehilangan mata pencaharian
Tak ada uang. Tak bisa makan
Hanya menangis memohon bantuan
Tak bisa sekolah seperti biasanya
Internet dan buku jadi andalannya
Beruntung bagi yang kaya
Sedang yang miskin tak bisa apa-apa
Entah berapa lama lagi
Kami bisa bertahan
Entah berapa lama lagi
Kami hidup dalam penderitaan
Kuharap pandemi ini cepat usai.
76 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Najya Arsyi Zahira
BERUBAH
Semua berubah dalam sekejap
Hal yang tidak diduga kemudian tiba
Menghancurkan segalanya
Ia membuat kehidupan berubah
Menakuti semua manusia di bentala
Ia merisak segalanya
Bagaikan mimpi buruk yang menjadi kenyataan
Ia menjelma menjadi sesuatu yang mengerikan
Ia menghancurkan hidup beberapa manusia
Ia ditakuti oleh semuanya.
Ia mampu menghilangkan pekerjaan seseorang
Ia juga mampu merisak ekonomi seseorang
Ia seakan tak merasa bersalah dan semakin menyerang banyak
orang
Ia sudah berhasil merubah gaya hidup manusia
Ku harap kau kembali ke tempat asalmu
Kau sudah merusak dan menghancurkan segalanya
Korona, berhentilah berkeliaran di bentala ini
Biarkan kami menjalani hidup seperti biasa
Tentang Korona dan Sekat Rindu 77
Puisi Nasha Riaulina
PEMBAWA RESAH
Di saat tirai bambu merasakan kehadiranmu
Menyambutmu dengan gelisah
Kau datang membawa berbagai pertanyaan
Dari manakah kau berasal?
Kehadiranmu menggemparkan dunia
Menepasmu dengan berbagai cara
Sibuk tuduh menuduh
Hingga tidak sadar kau telah tiba
Kami menyambutmu dengan kegelisahan
Menahan nafas sambil kebingungan
Semua orang berlomba-lomba menunjukkan kehebatannya
Yang banyak ilmu menjadi pahlawan
Mengeluarkan teori yang membingungkan
Menusukkan penawar ketubuh orang yang bahkan tidak tahu
apa itu
Dan hanya pasrah menjadi percobaan
Apakah itu yang disebut beramal sambil berbisnis?
Yang banyak harta menghamburkan hartanya
Membeli kesehatan yang katanya tidak dijual
Yang berwenang semakin jaya
Menciptakan peraturan yang menyusahkan
Menginjak rakyat yang kebingungan
Apakah hal seperti ini yang kau inginkan korona?
Atau sebenarnya kau adalah utusan mausia berdarah dingin?
Yang sengaja membuatmu untuk berjaya di tengah penderitaan
Hanya Tuhanlah yang tahu jawaban itu
78 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Natasya Novariza
BELAJAR DARI RUMAH
Pagi-pagi kuterbangun
Menyantap sarapan yang ada di hadapanku
Juga menyiapkan pena dan buku catatan
Dengan secangkir air putih yang berada di mejaku
Pagi-pagi kuterbangun
Menyalakan komputer dan mulai membuka buku
Bersiap dengan segala tugas dan materi yang akan diberikan
Berharap hari ini bisa mendapatkan banyak ilmu baru
Jujur, aku sudah mulai terbiasa
Terbiasa bangun pagi lalu menyalakan komputer
Aku mulai terbiasa di rumah saja
Aku juga mulai terbiasa untuk menatap lama layar komputer
Aku ingin pandemi ini segera usai
Berharap bisa kembali ke sekolah
Menyudahi kegiatan tatap muka ini
Dan bisa bertemu dengan teman di sekolah
Tentang Korona dan Sekat Rindu 79
Puisi Naurah Mahfuzhah
DEMI
Awalnya biasa saja bagiku
Awalnya tak kuhiraukan
Ternyata kau berbahaya
Tak terlihat, tapi mematikan
Kau menyebar dengan cepat
Hari-hariku kini resah
Hari-hariku kini berbeda
Kini semua serba berjarak
Kini semua serba terbatas
Memulai kebiasaan baru
Kuhanya bisa berdoa
Semoga ini cepat berlalu
Tak lupa untuk berusaha
Demi menjaga diri
Demi menjaga sesama
80 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Naurah Mahfuzhah
SAMPAI NANTI
Pikiranku menerawang
Mengingat masa itu
Sebelum bencana ini muncul
Berjalan bersama ke sekolah
Bermain bersama kawan
Semua begitu indah
Semua begitu menyenangkan
Bertemu guru dan teman
Bersenda gurau dan bercerita
Tanpa ada rasa khawatir
Namun kini semua berubah
Ku hanya duduk di depan gawai
Berbagi kisah secara online
Menimba ilmu secara online
Sambil menunggu bencana ini selesai
Tentang Korona dan Sekat Rindu 81
Puisi Naya Natasya
PERGILAH
Hai korona
Siapa engkau yang bisa membuat semua orang diam dirumah
Belajar di rumah, kerja pun di rumah
Semua orang ketakutan kepadamu
Hai korona
Kenapa engkau harus datang ke bumi ini
Mengapa engkau tidak pergi saja
Pergilah
Pergilah
Pergilah
Hai korona
Kembalikanlah bumi kami seperti dahulu
Agar kami bebas berpergian
Beraktivitas setiap hari
Hai korona
Pergilah pulanglah kau ke asalmu
Jangan pernah kembali
82 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Nofri Irfandi
KAU DATANG
Virus Korona
Kenapa engkau datang
Semua bermula dari negara Cina
Menyebar kemana-mana tanpa menyadari
Korona…
Sejak engkau datang, kami menahan diri
Engkau menyebar di tempat peribadatan
Mewabah di Mekkah, tempat suci umat Islam
Korona hanya kaulah yang bisa membuat semua orang
Diam di rumah, belajar di rumah, hingga kerja pun di rumah
Semoga keadaan ini cepat berlalu
Agar semua dapat melaksanakan kegiatan seperti semula
Korona dengan kedatanganmu kami jadi terhalang
Engkau datang memisahkanku dengan teman-teman
Aku rindu teman-teman di sekolah
Makan bersama, belajar bersama, dan pulang bersama
Tanpa korona aku bisa rasakan seperti dulu
Hari-hari ini penuh dengan kecemasan
Kau telah memakan banyak korban jiwa
Dimana angka penyebaran semakin tinggi
Rumah Sakit tiada hampa
Hingga Wisma Atlet pun dijadikan tempat pasien korona
Seseorang bekerja siang hingga malam
Memakai baju seragam APD
Ya mereka adalah seseorang tenaga medis
Mereka berjuang sebaik mungkin demi menyelamatkan pasien
Tentang Korona dan Sekat Rindu 83
Mereka tidak pernah lelah, tidak pernah mengeluh
Terima kasih para tenaga medis sudah berjuang sebaik mungkin
Tanpa mereka kami tidak bisa berbuat apa-apa
Untuk itu, marilah kita bekerja sama
Berdiam diri di rumah, gunakan masker, dan cuci tangan
Semoga virus ini cepat berlalu
Dan berdoa kepada yang Mahakuasa
84 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Nurul Anisya
PASRAH
Sudah satu tahun kami di rumah
Terkurung tanpa biasa pergi ke mana-mana
Belajar di rumah…
Bekerja di rumah…
Dan bermain juga di rumah…
Pemberitahuan libur yang biasanya dinanti
Justru kini dibenci yang awalnya hanya dua minggu
Justru menjadi angan semu
Korona…
Kau datang ke bentala
Bukannya membawa suka, melainkan duka
Membawa semua orang ke dekatmu
dan menghancurkannya satu per satu
Semua orang takut padamu
Berusaha lari kesana kemari menghindarimu
Topik berita yang terus mengabarimu
Membuat kami pasrah menunggu
Kami yang sebesar gajah
Dan kau yang sekecil semut
Berbagai senjata kami gunakan tapi tidak sanggup
menghadapimu
Dengan cara apa kami harus melawanmu?
Beribu tangis kau beri
Beribu nyawa pula kau ambil
Sampai kapan ini terus terjadi?
Sampai kapan kau merenggut kebahagiaan kami?
Tentang Korona dan Sekat Rindu 85
Puisi Puan Maharani Ratu Neil
MARET 2021
Tak ada yang lebih berat
Dari kondisi bulan Maret
Terkurung di dalam rumah
Setahun yang lalu
Dihantui rasa takut
Dengan wabah penyakit
Virus Korona
Dilanda rasa rindu
Dengan sanak saudara
Nan jauh disana
Dipaksa bertahan
Dengan keadaan
Yang tak pernah kita duga
Ada yang berjuang
Sebagai garda terdepan
Ada yang berjuang
Sebagai pasien dari wabah ini
Ada juga yang berjuang
Sebagai pencari nafkah
Untuk menghidupi keluarga
Kita semua di sini
Berharap kondisi ini segera membaik
86 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Raffly Ramadhan
LINDUNGILAH
Ada mereka yang di garis depan
Rela menukar nyawa
Mereka tidak mencari untung
Marilah kita membantu mereka
Jika saling membantu, kita berhasil
Mereka di sana rela menukar nyawa
Kita bisa membantu mereka
Kita cukup mematuhi perintah saja
Karena mereka tahu apa yang baik
Marilah bersatu untuk melawan korona
Ya Allah berilah mereka keselamatan
Mereka telah bersusah payah
Bersusah payah supaya kita sehat
Lindungilah mereka dari penyakit itu
Tentang Korona dan Sekat Rindu 87
Puisi Rahmanda Putri Setiawati
HENING BENTALA
Hening
Bentala tempatku berteduh
Kini redup
Warna yang dipancarkannya
Hening
Bentalaku yang indah nan ramai
Perlahan menghilang
Tergerus oleh pandemi Covid-19 yang melanda
Oh sanubariku
Hatiku hancur
Hancur diterpa oleh keheningan bentala
Yang tidak memberi belas kasih nuraga
Kepada sanak saudara kita
Gelap gulita perasaanku yang sunyi ini
Mencoba untuk derana
Atas cobaan yang diberikan
Oleh Tuhan Yang Maha Kuasa
Dersik angin terdengar dengan jelas
Beriringan dengan litani yang bersautan
Agar harapan dalam bentala kita
Abadi dalam memancarkan warnanya
88 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Ramadhana Raesya Nia
SEBAB KAU
Pagi itu…
Kubuka jendela rumah
Baskara tampak menyinari
Sinar cahayanya dapat menghangatkan seisi bumi
Kupandang rumah tetangga sebelah
Tampak bendera putih masih terpaut di pagar
Disertai suasana berkabung yang amat dalam
Seorang wanita terduduk di depan teras
Sekilas…
Kutangkap rintik tangis
Yang buru-buru ia kikis saat melihatku
Tersenyum manis dengan dengan kisah duka di balik itu
Baru saja ia ditinggal oleh sang buah hati
Jiwa dan raga yang direnggut oleh virus yang menjangkiti seisi
bumi
Pergi dengan meninggalkan berjuta memori
Yang jelas terpatri dalam hati
Ini sebab kau, korona
Berapa banyak raga dan jiwa yang akan kaurenggut lagi?
Berapa banyak harapan yang akan kaupatahi lagi?
Sejauh apalagi kaubuat kami frustrasi?
Kau tak tampak oleh mata
Tapi, kehadiranmu sungguh menyiksa
Sumpah serapah
Caci maki penuh benci
Tentang Korona dan Sekat Rindu 89
Kami lontarkan kepada mu
Apakah tak cukup untuk membuatmu pergi?
Tolong, kumohon, pergilah korona
90 Tentang Korona dan Sekat Rindu
Puisi Rashieka Fairuz Umamah
COVID-19
Virus itu datang tahun 2019
Berasal dari Negeri Bambu Kuning
Wuhan, Cina
Mereka menyebutnya
Virus Korona
Katanya
Sekolah tutup
Hanya dua minggu
Tapi nyatanya
Hingga sekarang
Sekolah tidak kunjung dibuka
Di sini kami sudah bosan
Belajar online
Pergilah Covid-19
Pulanglah ke asal mu
Jangan pernah kembali lagi
Tentang Korona dan Sekat Rindu 91
Puisi Riva Elvita
MATAHARI BERSELIMUT AWAN
Aku kaget……
Berita ini membuat separuh jiwaku melayang
Terbang di bawa duka dan harapan
Apa yang akan aku lakukan?
Kutarik nafas panjang
Kubiarkan oksigen menelusuri ventilasi nadiku
Kini matahariku berselimut awan hitam
Bintang-bintang aku pun enggan bersinar
Aku terduduk di antara lelah dan harap
Akan kah mereka mampu bersinar kembali?
Apakah episode hidup akan tersisa buat kami?
Allah, aku pasrah dengan semua kehendak Mu
Di tengah kepasrahan batin ku lirih berbisik
Dan seisi bumipun seolah-olah mulai melirik
Bagunlah, bangkitlah, harapan itu masih ada
Korona tidak boleh meluluh lantak kan keluargaku
Hari berganti hari……
Skenario kehidupan baru menghiasi kehidupan kami
Suka, duka, canda, tawa,
dengan seribu pengalaman baru pun kini kami lewati
Doa – doa terbaik pun bermunculan untuk kami
Setiap cahaya semu memancar pada dinding langit dunia
Sejuta harapan pun mulai muncul
Ingin ku peluk bintang dan matahariku
Sampai nanti, hilang duka dan sendu
92 Tentang Korona dan Sekat Rindu