The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Ebook Mata Kuliah Wacana Bahasa Indonesia

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by imassitimasithoh0, 2021-01-17 21:08:25

Wacana Bahasa Indonesia

Ebook Mata Kuliah Wacana Bahasa Indonesia

Keywords: #ebook #bahasaindonesia

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji serta syukur kami
panjatkan Kehadirat Allah Yang Maha Esa yang mana
telah memberikan beribu nikmat dan karunia-Nya,
sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini tepat pada
waktunya. Tugas e-book ini berhasil tersusun atas
kerjasama didalam kelompok yang sangat baik, serta atas
bantuan dari pihak– pihak tertentu yang senantiasa
membantu kami.

Tidak lupa juga kami ucapkan terima kasih
kepada Dra. Hj. Yuliani, M.Pd. pengampu Mata Kuliah
Wacana Bahasa Indonesia yang telah memberikan
arahan kepada kami sehingga tugas ini dapat
terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya.
Kami ucapkan pula terima kasih kepada teman–teman
yang sudah ikut serta berpartisipasi meluangkan
waktunya untuk sekedar membantu kami dalam
penyelesaian ini. Akhir kata, penyusun berharap semoga
dengan adanya tugas e-book ini dapat memberikan
manfaat bagi pembaca.

Kuningan, 17 Januari 2021

ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR................................................... ii

DAFTAR ISI.................................................................iii

BAB I MENULIS .......................................................... 1

A. Hakikat Menulis ................................................ 1

B. Tujuan Menulis ................................................ 3

C. Fungsi Menulis ................................................ 6

D. Teori Menulis .............................................. 10

BAB II PENALARAN ............................................... 14

A. Pengertian Penalaran.......................................... 14

B. Metode Dalam Penalaran ................................... 16

C. Konsep Silogisme, Entinem, Generalisasi Dan

Analogi .............................................. 20

BAB III DIKSI ............................................................ 33

A. Pengertian Diksi .............................................. 33

B. Fungsi Diksi .............................................. 35

C. Jenis-Jenis Diksi .............................................. 36

D. Syarat-Syarat Diksi ............................................ 42

iii

E. Ciri-Ciri Diksi .............................................. 43
F. Ketepatan Pilihan Kata ...................................... 44
G. Kesesuaian Pilihan Kata .................................... 45
BAB IV KALIMAT EFEKTIF.................................. 47
A. Pengertian Kalimat............................................. 47
B. Unsur-unsur Kalimat.......................................... 48
C. Kalimat Efektif .............................................. 49
D. Metode Penelitian .............................................. 53
BAB V PARAGRAF ................................................... 54
A. Pengertian Paragraf ............................................ 54
B. Jenis-jenis Paragraf ............................................ 57
C. Syarat-syarat Pembentukan Paragraf ................ 60
BAB VI KARANGAN ILMIAH (SKRIPSI DAN
ARTIKEL)................................................................... 66
A. Pengertian Karangan Ilmiah .............................. 66
B. Pengertian Karangan Ilmiah Menurut Para Ahli ...

.............................................. 68
C. Tujuan Karya Ilmiah .......................................... 70

iv

D. Jenis Jenis Karya Tulis Ilmiah ........................... 72
E. Sifat Karya Tulis Ilmiah..................................... 75
F. Ciri Ciri Karya Tulis Ilmiah............................... 76
G. Skripsi Dan Artikel ............................................ 79
H. Fungsi Skripsi .............................................. 80
BAB VII KARANGAN DESKRIPSI ........................ 87
A. Pengertian Karangan Deskripsi.......................... 87
B. Ciri Ciri Karangan Deskripsi ............................. 87
C. Jenis Jenis Karangan Deskripsi.......................... 88
D. Langkah Langkah Membuat Karangan Deskripsi .

.............................................. 89
E. Contoh Karangan Deskripsi............................... 93
BAB VIII KARANGAN NARASI............................. 98
A. Karangan Narasi .............................................. 98
B. Tujuan Menulis Narasi....................................... 98
C. Ciri-ciri Karangan Narasi................................... 99
D. Jenis-jenis Karangan Narasi............................. 100
BAB IX KARANGAN EKSPOSISI ........................ 103

v

A. Karangan Eksposisi.......................................... 103
B. Ciri-ciri Karangan Eksposisi............................ 103
C. Struktur Karangan Eksposisi............................ 104
D. Jenis dan Contoh Karangan Eksposisi ............. 105
BAB X KARANGAN ARGUMENTASI ................ 113
A. Pengertian Argumentasi................................... 113
B. Ciri-ciri Argumentasi ....................................... 115
C. Struktur Argumentasi....................................... 116
D. Jenis Karangan Argumentasi ........................... 118
E. Langkah Penulisan Karangan Argumentasi..... 119
BAB XI KARANGAN PERSUASI ......................... 122
A. Pengertian Teks Persuasif ................................ 122
B. Tujuan Teks Persuasi ....................................... 123
C. Ciri-ciri Teks Persuasi...................................... 124
D. Jenis-jenis teks persuasi ................................... 125
E. Langkah Penulisan Karangan Persuasi ............ 126
BAB XII KONVENSI NASKAH............................. 130
A. Pengertian Konvensi Naskah ........................... 130

vi

B. Syarat Formal Penulisan Sebuah Naskah ........ 131
C. Bagian Pelengkap Penutup .............................. 154
DAFTAR PUSTAKA................................................ 159

vii

BAB I
MENULIS
A. Hakikat Menulis

Menurut Tarigan (1986: 21), menulis adalah
menurunkan atau melukiskanlambang-lambang grafik
yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahamioleh
seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-
lambang grafistersebut kalau mereka memahami bahasa
dan gambaran grafik itu. Dapatdikatakan juga menulis
adalah proses menggambarkan suatu bahasa sehingga
pesan yang disampaikan penulis dapat di pahami
pembaca.

Marwoto, dkk (1987: 12) memberi pengertian bahwa
menulis sebagai kemampuanseseorang untuk
mengungkapkan ide, pikiran, pengetahuan, ilmu,
pengalaman- pengalaman hidupnya dalam bahasa tulis
yang jelas, runtut, ekspresif, enakdibaca, dan dapat
dipahami orang lain. Enre (1988: 5-8) berpendapat
bahwa menulismerupakan kemampuan menyusun atau
menegosiasikan buah pikiran, ide,gagasan, dan

1

pengalaman dengan menggunakan bahasa tulis yang baik
dan benar.

Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa
yang aktif, produktif,kompleks, dan terpadu yang berupa
pengungkapan dan yang diwujudkan secaratertulis.
Menulis juga merupakan keterampilan yang menuntut
penulis untukmenguasai berbagai unsur di luar
kebahasaan itu sendiri yang akanmenjadi isidalam suatu
tulisan.

Lebih lanjut Rusyana (1988: 191) memberikan
batasan bahwa kemampuan menulisatau mengarang
adalah kemampuan menggunakan pola-pola bahasa
dalamtampilan tertulis untuk mengungkapkan gagasan
atau pesan. Kemampuanmenulis mencakup berbagai
kemampuan, seperti kemampuan menguasaigagasan
yang dikemukakan, kemampuan menggunakan unsur-
unsur bahasa, kemampuan menggunakan gaya, dan
kemampuan menggunakan ejaan serta tanda baca.

Berdasarkan konsep di atas, dapat dikatakan bahwa
menulis merupakankomunikasi tidak langsung yang

2

berupa pemindahan pikiran atau perasaandengan
memanfaatkan grafologi, struktur bahasa, dan kosakata
denganmenggunakan simbol-simbol sehingga dapat
dibaca seperti apa yang diwakilioleh simbol
tersebut.Mengkombinasikan dan menganalisis setiap
unsur kebahasaan dalamsebuah karangan merupakan
suatu keharusan bagi penulis. Dari sinilah akanterlihat
sejauh mana pengetahuan yang dimiliki penulis dalam
menciptakansebuah karangan yang efektif. Kosa kata
dan kalimat yang digunakan dalamkegiatan menulis
harus jelas agar mudah dipahami oleh pembaca. Di
sampingitu, jalan pikiran dan perasaan penulis sangat
menentukan arah penulisan sebuahkarya tulis atau
karangan yang berkualitas. Dengan kata lain hasil
sebuahkarangan yang berkualitas umumnya ditunjang
oleh keterampilan kebahasaanyang dimiliki seorang
penulis.

B. Tujuan Menulis

Tujuan menulis adalah untuk mengungkapkan ide,
gagasan, perasaan pikiran, pendapat secara jelas dan

3

efektif kepada pembaca.Adapun beberapatujuan menulis
adalah:

1. Untuk memberikan suatu informasi.

2. Untuk meyakinkan atau mendesak.

3. Untuk menghibur atau menyenangkan.

4. Untuk mengekspresikan perasaan dan emosi yang
kuat.

Hugo Hartig dalam merumuskan tujuan menulis
yaitu:

1. Tujuan penugasan, sebenarnya tidak memilki
tujuan karena orangyang menulis melakukan nya
karena tugas yang diberikan kepadanya.

2. Tujuan altruistik, penulis bertujuan untuk

menyenangkan pembaca,menghindarkan

kedudukan pembaca,ingin menolong pembaca

memahami,menghargai perasaan dan

penalaranya,inginmembuat hidup para pembaca

4

lebih mudah dan lebih menyenangkandengan
karyanya itu.

3. Tujuan persuasif bertujuan meyakinkan para
pembaca akan kebenarangagasan yang
diutarakan.

4. Tujuan informasional penulis bertujuan memberi
informasi atauketerangan kepada para pembaca.

5. Tujuan pernyataan diri penulis bertujuan
memperkenalkan ataumenyatakan dirinya kepada
pembaca.

6. Tujuan kreatif penulis bertujuan melibatkan
dirinya dengan keinginanmencapai norma
artistik, nilai-nilai kesenian.

7. Tujuan pemecahan masalah penulis bertujuan
untuk memecahkanmasalah yang dihadapi.

Sedangkan menurut Suparno dan Mohamad Yunus
(2002: 37), tujuan yang ingindicapai seorang penulis
bermacam-macam sebagai berikut:

5

1. Menjadikan pembaca ikut berpikir dan bernalar.

2. Membuat pembaca tahu tentang hal yang
diberitakan.

3. Menjadikan pembaca beropini.

4. Menjadikan pembaca mengerti.

5. Membuat pembaca terpersuasi oleh isi karangan.

6. Membuat pembaca senang dengan menghayati
nilai-nilai yang dikemukakanseperti nilai
kebenaran, nilai agama, nilai pendidikan, nilai
sosial, nilaimoral, nilai kemanusiaan dan nilai
estetika.

Berdasarkan beberapa pendapat tersebut, dapat
disimpulkan bahwatujuan menulis adalah agar pembaca
mengetahui, mengerti dan memahaminilai-nilai dalam
sebuah tulisan sehingga pembaca ikut berpikir,
berpendapatatau melakukan sesuatu yang berhubungan
dengan isi tulisan.

C. Fungsi Menulis

6

Pada prinsipnya fungsi utama menulis adalah sebagai
alat komunikasi tidak langsung. Darmadi (1996: 3)
mengemukakan bahwa tulisan memiliki beberapa fungsi
penting yaitu:

1. Sebagai suatu sarana menemukan sesuatu.

2. Memunculkan ide baru.

3. Melatih kemampuan mengorganisasi dan
menjernihkan berbagai konsep atau ide yang kita
miliki.

4. Melatih sikap objektif yang ada pada diri
seseorang.

5. Membantu diri kita untuk menyerap dan
memproses informasi.

6. Melatih kita memecahkan berbagai masalah
sekaligus.

7. Menjadikan kita aktif dan tidak sekedar menjadi
penerima informasi.

7

Marwoto menyebutkan bahwa menulis memberikan
beberapa fungsi, seperti:

1. Memperdalam pemahaman suatu ilmu.

2. Bisa membuktikan sekaligus menyadari ilmu
pengetahuan, ide, dan pengalaman hidup.

3. Bisa menyumbang pengalaman, pengetahuan,
dan ide yang berguna bagimasyarakat secara
lebih luas.

4. Meningkatkatkan prestasi kerja, dan

5. Memperlancar perkembangan ilmu, teknologi,
dan seni.

Fungsi utama dari tulisan adalah sebagai alat
komunikasi yang tidaklangsung.Dengan menulis
memudahkan kita merasakan dan menikmatihubungan-
hubungan memperdalam daya tanggap atau persepsi
kita,memecahkam masalah-masalah yang kita
hadapi,menyusun urutan bagi pengalaman, dapat
menyumbangkan kecerdasan.Bernard Percy secara rinci
fungsi menulis adalah:

8

1. Sarana untuk mengungkapkan diri yaitu untuk
mengungkapkan perasaan hati seperti
kegelisahan,keinginan amarah.

2. Menulis sebagai sarana pemahaman artinya
dengan menulis seseorang bisa mengikat kuat
suatu ilmu pengetahuan (menancapkan
pemahaman) kedalam otaknya.

3. Menulis dapat membantu mengembangkan
kepuasan pribadi,kebanggaan, perasaan harga diri
artinya dengan menulis bisamelejitkan perasaan
harga diri yang semula rendah dengan
menulisdapat meningkatkan kesadaran dan
penyerapan terhadap lingkunganartinya orang
yang menulis selalu dituntut untuk terus menerus
belajarsehinnga pengetahuannya menjadi luas.

4. Menulis dapat meningkatkan keterlibatan secara
bersemangat bukannya penerimaan yang
pasrah,artinya dengan menulis seseorangakan
menjadi peka terhadap apa yang tidak benar

9

disekitarnyasehingga ia menjadi seoarang yang
kreatif.

5. Menulis mampu mengembangkan suatu
pemahaman dan kemampuanmenggunakan
bahasa artinya dengan menulis seseorang akan
selalu berusaha memilih bentuk bahasa yang
tepat dan menggunakannyadengan tepat pula.

D. Teori Menulis

Teori menulis yang berkembang saat ini adalah
menulis model proses.Dengan model ini menulis
dilakukan dengan melalui tahapan-tahapan. Sepertiyang
dikemukakan oleh Britton bahwa proses menulis dibagi
menjadi tiga tahapkegiatan, adalah sebagai berikut:

1. Tahap konsep. Pada tahap ini kegiatan yang
dilakukan adalah memilih dan menentukan topik.

2. Tahap inkubasi. Pada tahap ini kegiatan siswa

adalahmengembangkan topik dan

menggabungkan informasi yang tersedia.

10

3. Tahap hasil. Pada tahap ini siswa melakukan

kegiatanmengembangkan tulisan/menulis

kemudian memperbaiki tulisan, dan pada akhir

kegiatan menulis siswa memeriksa

karangan/tulisan.

Sedangkan menurut Tompkins (1994: 8)
mengemukakan lima tahap sebagai berikut:

1. Tahap pramenulis (prewriting). Pada tahap ini

siswa memilih topik,siswa mengumpulkan dan

menyesuaikan ide-ide, siswamengidentifikasi

pembacanya, siswa mengidentifikasi

tujuanmenulis, siswa memilih bentuk yang sesuai

berdasarkan pembaca dan tujuan menulis.

2. Tahap pengedrafan (drafting). Pada tahap ini
siswa menulis drafkasar, siswa menulis pokok-
pokok yang menarik pembaca, siswalebih
menekankan isi daripada mekanik.

3. Tahap merevisi (revising). Pada tahap ini siswa
membagi tulisannyakepada kelompok, siswa
mendiskusikan tulisan dengan temannya,siswa

11

membuat perbaikan sesuai komentar teman dan
gurunya, siswamembuat perubahan substansif
dan bukan sekedar perubahan minorantara draf
pertama dan draf kedua.

4. Tahap mengedit (editing). Pada tahap ini siswa
membaca ulangtulisannya, siswa membantu baca
ulang tulisan temannya, siswamengidentifikasi
kesalahan mekanik dan membetulkannya.

5. Tahap mempublikasikan (publishing). Pada tahap
ini siswamempublikasikan tulisannya dalam
bentuk yang sesuai, siswamembagi
tulisannyayang sudah selesai kepada teman
sekelasnya.

Burns, dkk (1996: 386) juga mengemukakan bahwa
langkah-langkah menulismeliputi limatahapan yaitu
sebagai berikut:

1. Pramenulis (prewriting), dengan aktivitas
pengarang persiapanmenulis cerita, menggambar,
membaca, memikirkan tulisan,menyusun
gagasan, dan mengembangkan rencana.

12

2. Pembuatan draf (drafting), dengan aktivitas
pengarangmerangkaikan gagasan dalam sebuah
tulisan tanpa memperhatikankerapian atau
mekanik.

3. Perevisian (revising), pada tahap ini setelah
mendapat saran-sarandari orang lain, pengarang
dapat membuat beberapa perubahan, dan
perubahan itu dapat melibatkan orang lain.

4. Pengeditan (editing), pada tahap ini pengarang
secara hati-hatimengoreksi dan membetulkan
ejaan dan mekanisme tulisan.

5. Sharing dan publikasi (sharing and publishing),
pada tahap ini hasiltulisan dapat dipajangkan di
kelas atau dijadikan bahan pustaka disekolah.

13

BAB II
PENALARAN
A. Pengertian Penalaran

Bakry menyatakan bahwa Penalaran atau Reasoning
merupakan suatu konsep yang paling umum menunjuk
pada salah satu proses pemikiran untuk sampai pada
suatu kesimpulan sebagai pernyataan baru dari beberapa
pernyataan lain yang telah diketahui.

Suria Sumantri mengemukakan secara singkat bahwa
penalaran adalah suatu aktivitas berpikir dalam
pengambilan suatu simpulan yang berupa pengetahuan.

Keraf berpendapat bahwa penalaran adalah suatu
proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti,
fakta, petunjuk atau eviden, menuju kepada suatu
kesimpulan.

Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik
kesimpulan bahwa penalaran adalah suatu proses
berpikir manusia untuk menghubungkan fakta-fakta atau
data yang sistematik menuju suatu kesimpulan berupa

14

pengetahuan. Dengan kata lain, penalaran merupakan
sebuah proses berpikir untuk mencapai suatu kesimpulan
yang logis. Sebuah penalaran terdiri atas premis dan
kesimpulan. Premis (antesedens) adalah proposisi yang
dijadikan dasar penyimpulan, dan hasil kesimpulannya
disebut dengan konklusi (consequence).Ciri-ciri
penalaran adalah:

a. Dilakukan dengan sadar.

b. Didasarkan atas sesuatu yang sudah diketahui.

c. Sistematis.

d. Terarah.

e. Menghasilkan kesimpulan berupa pengetahuan,
keputusan atau sikap yang baru.

f. Premis berupa pengalaman atau pengetahuan,
bahkan teori yang telah diperoleh.

g. Pola pemikiran tertentu.

h. Sifat empiris rasional

15

B. Metode Dalam Penalaran

Terdapat dua jenis metode penalaran yaitu penalaran
deduktif dan induktif.

1. Metode Induktif

Metode induktif adalah suatu penalaran yang
berpangkal dari peristiwa khusus sebagai hasi
pengamatan empirik dan berakhir pada suatu kesimpulan
atau pengetahuan baru yang bersifat umum.

Menurut Smart, Penalaran induktif adalah
penalaran yang memberlakukan atribut-atribut khusus
untuk hal-hal yang bersifat umum. Dan menurut
Suriasumantri, penalaran induktif adalah proses
penarikan kesimpulan dari kasus-kasus yang bersifat
individual nyata menjadi kesimpulan yang bersifat
umum.

Penalaran induktif adalah penalaran yang
mengambil contoh-contoh khusus yang khas untuk
kemudian diambil kesimpulan yang lebih umum.
Penalaran ini memudahkan untuk memetakan suatu

16

masalah sehingga dapat dipakai dalam masalah lain yang
serupa. catatan bagaimana penalaran induktif ini bekerja
adalah, meski premis-premis yang diangkat benar dan
cara penarikan kesimpulannya sah, kesimpulannya
belum tentu benar. tapi kesimpulan tersebut mempunyai
peluang untuk benar.

Penalaran induktif membutuhkan banyak sampel
untuk mempertinggi tingkat ketelitian premis yang
diangkat. untuk itu penalaran induktif erat dengan
pengumpulan data dan statistic. Penalaran ini lebih
banyak berpijak pada observasi inderawi atau empirik.

Contoh 1:

vPremis 1 : Ani bersekolah dengan memakai seragam
merah putih karena masih SD.

Premis 2 :Anton Bersekolah dengan memaki seragam
merah putih karena dia masih SD.

Kesimpulan: Semua siswa yang masih SD memakai
seragam merah putih saat bersekolah.

Contoh 2 :

17

v Premis 1 : Kerbau punya mata.

Premis 2 : Anjing punya mata.

Premis 3 : Kucing punya mata.

Kesimpulan : Setiap hewan punya mata.

Contoh 3 :

v Premis 1 : Harimau berdaun telinga berkembang biak
dengan melahirkan.

Premis 2 : Ikan Paus berdaun telinga berkembang biak
dengan melahirkan.

Kesimpulan : Semua hewan yang berdaun telinga
berkembang biak dengan melahirkan

2. Metode Deduktif

Metode deduktif adalah suatu penalaran yang
berpangkal pada suatu peristiwa umum, yang
kebenarannya telah diketahui atau diyakini, dan berakhir
pada suatu kesimpulan atau pengetahuan baru yang
bersifat lebih khusus.

18

Penalaran deduktif menarik kesimpulan khusus
dari premis yang lebih umum. Jika premis benar dan cara
penarikan kesimpulannya sah, maka dapat dipastikan
hasil kesimpulannya benar. Jika penalaran induktif erat
kaitannya dengan statistika, maka penalaran deduktif erat
dengan matematika khususnya matematika logika dan
teori himpunan dan bilangan.Menurut Aristoteles
penalaran deduktif merupakan penalaran yang beralur
dari pernyataan-pernyataan yang bersifat umum menuju
pada penyimpulan yang bersifat khusus.

Contoh 1 :

Premis 1 : Semua hewan punya mata.

Premis 2: Kucing termasuk hewan.

Kesimpulan : Kucing punya mata.

Contoh 2 :

Premis 1 : Barang elektronik membutuhkan daya listrik
untuk beroperasi.

Premis 2 : Laptop adalah barang elektronik.

19

Kesimpulan : Laptop membutuhkan daya listrik untuk
beroperasi.

C. Konsep Silogisme, Entinem, Generalisasi Dan
Analogi

1. Silogisme

Silogisme merupakan suatu cara penalaran yang
formal. Silogisme termasuk dalam penalaran deduktif,
Silogisme adalah jenis penalaran deduktif secara tidak
langsung. Silogisme merupakan penemuan terbesar dari
ahli filsafat terkenal,Aristoteles.

Penalaran dalam bentuk ini jarang dilakukan
dalam kehidupan sehari-hari. Kita lebih sering mengikuti
polanya saja, meskipun kadang-kadang secara tidak
sadar. Silogisme terdiri atas dua premis dan satu
kesimpulan. Kedua premis tersebuta dalah premis umum
(PU) atau premis mayor dan premis khusus (PK) atau
premis minor.

Premis umum (PU) berisi pernyataan yang
menyatakan semua anggota kelompok atau kumpulan

20

sesuatu yang memiliki sifat atau ciri tertentu. Premis
Khusus (PK) menyatakan seseorang / suatu anggota
kelompok itu.
Contoh :
Premis Umum : Semua siswa kelas X sangat rajin.
Premis Khusus : Ara adalah siswa kelas X.
Kesimpulan : Ara sangat rajin.
Premis Umum : Semua unggas berkembangbiak dengan
cara bertelur.
Premis Khusus : Ayam adalah binatang jenis unggas.
Kesimpulan : Ayam berkembang biak dengan cara
bertelur.
Premis Umum : Semua siswa SMA Harapan Bangsa
mengikuti outclass study.
Premis Khusus : Adi belajar di SMA Harapan Bangsa.
Kesimpulan : Adi mengikuti outclass study.

21

Premis Umum : Saya akan membeli mobil baru jika
punya uang yang banyak.

Premis Khusus : Saya memiliki uang yang banyak.

Kesimpulan : Saya membeli mobil baru.

Premis Umum : Bayu bersekolah di SMA atau SMK.

Premis Khusus : Bayu bersekolah di SMK.

Kesimpulan : Bayu tidak bersekolah di SMA.

Secara singkat silogisme dapat dituliskanJika A = B dan
B = C maka A = C.

Jenis-jenis silogisme :

a. Silogisme katagorial

Silogisme ini merupakan silogisme dimana
semua proporsinya merupakan katagorial. Kemudian
proporsisi yang mengandung silogisme disebut dengan
premis yang kemudian dapat dibedakan menjadi premis
mayor (premis yang termnya menjadi predikat), dan
premis minor (premis yang termnya menjadi

22

subjek).Silogisme kategoris adalah silogisme yang terdiri
dari tiga proposisi (premis) kategoris. Contoh silogisme
kategoris:
Semua manusia adalah makhluk berakal budi (premis
mayor).
Afdan adalah manusia (premis minor).
Jadi, Afdan adalah makhluk berakal budi (kesimpulan).

b. Silogisme hipotesis
Silogisme hipotesis adalah silogisme yang premis

mayornya berupa keputusan hipotesis dan premis
minornya merupakan pernyataan kategoris. Contoh :
Jika hari ini tidak hujan, saya akan ke rumah paman
(premis mayor).
Hari ini tidak hujan (premis minor).
Maka, saya akan kerumah paman (kesimpulan).

c. Silogisme alternatif

23

Silogisme alternatif adalah silogisme yang
premis mayornya premis alternatif, premis minornya
membenarkan salah satu alternatifnya, dan
kesimpulannya menolak alternatif yang lain. Contoh :

Kakek berada di Bantaeng atau Makassar (premis
mayor).

Kakek berada di Bantaeng (premis minor).

Jadi, kakek tidak berada di Makassar (kesimpulan).

d. Silogisme disjungtif

Silogisme disjungtif merupakan silogisme yang
premis mayornya merupakan disjungtif, sedangkan
premis minornya bersifat kategorik yang mengakui atau
mengingkari salah satu alternatif yang disebut oleh
premis mayor.

Contoh :

Devan masuk sekolah atau tidak. (premis 1).

Ternyata devan tidak masuk sekolah. (premis 2).

24

Ia tidak masuk sekolah. (konklusi).

2. Entinem

Entinem adalah silogisme yang diperpendek.
Entinem tidak perlu menyebutkan premis umum, tetapi
langsung mengetengahkan simpulan dengan premis
khusus yang menjadi penyebabnya. Entinem ini biasanya
berkaitan dengan silogisme. Entinem sendiri merupakan
kesimpulan dari silogisme.Rumus entinem : C = B,
Karena C = AContoh :

Premis Umum : Anak yang rajin pasti menjadi bintang
kelas.

Premis Khusus : Andi adalah anak yang rajin.

Kesimpulan : Andi menjadi bintang kelas.

Entinem : Ari menjadi bintang kelas, karena ia anak yang
rajin.

Premis Umum : Semua orang yang membuat banyak
penelitian adalah sarjana besar.

25

Premis Khusus : Prof. Budi Handoko membuat banyak
penelitian.
Kesimpulan : Prof. Budi Handoko adalah sarjana besar.
Entinem : Prof. Budi Handoko melakukan banyak
penelitian, karena ia adalah sarjana besar.
Silogisme :
PU : Pegawai yang baik tidak mau menerima suap.
PK : Ali pegawai yang baik.
S : Ali tidak mau menerima suap.
Entinem
Ali tidak mau menerima suap, karena ia pegawai yang
baik.
Penjelasan:
C = Ali;ia.
B = tidak mau menerima suap.
A = pegawai yang baik.

26

C = B, karena C = A
Contoh di atas silogisme yang dijadikan entinem. Jika
entinem dapat dikembalikan menjadi silogisme.
ContohEntinem :
Badu harus bekerja keras, karena ia orang yang ingin
sukses.
C :Badu.
B : harus bekerja keras.
A : orang yang ingin sukses.
Silogisme :
PU : Semua orang yang ingin sukses harus bekerja keras.
PK : Badu orang yang ingin sukses.
S : Maka, Badu harus bekerja keras

3. Generalisasi
Menurut Gorys Keraf dalam buku Argumentasi

dan Narasi, Generalisasi adalah suatu proses penalaran
27

yang bertolak dari sejumlah fenomena individual untuk
menurunkan suatu inferensi yang bersifat umum yang
mencakup semua fenomena tadi.Di dalam buku Logika,
Generalisasi adalah suatu proses penalaran yang bertolak
dari sejumlah fenomena individual menuju kesimpulan
umum yang mengikat seluruh fenomena sejenis dengan
fenomena individual yang diselidiki. Generalisasi adalah
proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual
menuju kesimpulan umum.

Contoh:

Aluminium jika dipanaskan akan memuai.

Besi jika dipanaskan akan memuai.

Tembaga jika dipanaskan akan memuai.

Nikel jika dipanaskan akan memuai.

Generalisasinya, yaitu semua logam jika dipanaskan
akan memuai.

Andika Pratama adalah bintang film, dan ia berwajah
tampan.

28

Raffi Ahmad adalah bintang film, dan ia berwajah
tampan.

Generalisasi: Semua bintang film berwajah tampan.
Pernyataan “semua bintang film berwajah tampan”
hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum
pernah diselidiki kebenarannya.

Contoh kesalahannya: Sapri juga bintang iklan, tetapi
tidak berwajah tampan.

Macam-macam generalisasi:

Dari segi kuantitas fenomena yang menjadi dasar
penyimpulan, generalisasi dibedakan menjadi dua yaitu :

a. Generalisasi sempurna: Generalisasi dimana
seluruh fenomena yang menjadi dasar
penyimpulan diselidiki.Contoh: sensus
penduduk.

b. Generalisasi tidak sempurna: Generalisasi
dimana kesimpulan diambil dari sebagian
fenomenayang diselidiki diterapkan juga untuk
semua fenomena yang belum diselidiki.Contoh:

29

Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang
memakai celana pantaloon.

Prosedur pengujian generalisasi tidak sempurna.
Generalisasi yang tidak sempurna juga dapat
menghasilkan kebenaran apabila melalui prosedur
pengujian yang benar.

4. Analogi

Analogi adalah membandingkan dua hal yang
memiliki sifat yang sama. cara ini berdasarkan pada
sebuah asumsi bahwa jika sudah ada persamaan dalam
berbagai segi, maka nada persamaan pula dalam bidang
yang lain. Jenis-jenis analogi yaitu:

a. Analogi induktif

Analogi induktif analogi yang disusun
berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena,
kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada
fenomena pertama terjadi juga pada fenomena
kedua.Analogi induktif merupakan suatu metode yang
sangat bermanfaat untuk membuat suatu kesimpulan

30

yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang
terbukti terdapat pada dua barang khusus yang
diperbandingkan. Contoh:Tim Uber Indonesia mampu
masuk babak final karena berlatih setiap hari. Maka tim
Thomas Indonesia akan masuk babak final jika berlatih
setiap hari.

b. Analogi deklaratif :

Analogi deklaratif merupakan metode untuk
menjelaskan atau menegaskan sesuatu yang belum
dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah
dikenal. Cara ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru
menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan
dengan hal-hal yang sudah kita ketahui atau kita
percayai. Contoh:Untuk penyelenggaraan negara yang
baik diperlukan sinergitas antara kepala negara dengan
warga negaranya.Sebagaimana manusia, untuk
mewujudkan perbuatan yang benar diperlukan sinergitas
antara akal dan hati.

31

32

BAB III
DIKSI

A. Pengertian Diksi

Diksi ialah pilihan kata. Maksudnya, kita memilih
kata yang tepat dan selaras untuk menyatakan atau
mengungkapkan gagasan sehingga memperoleh efek
tertentu. Pilihan kata merupakan satu unsur sangat
penting, baik dalam dunia karang-mengarang maupun
dalam dunia tutur setiap hari. Ada beberapa pengertian
diksi di antaranya adalah membuat pembaca atau
pendengar mengerti secara benar dan tidak salah paham
terhadap apa yang disampaikan oleh pembicara atau
penulis, untuk mencapai target komunikasi yang efektif,
melambangkan gagasan yang diekspresikan secara
verbal, membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat
(sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga
menyenangkan pendengar atau pembaca.

Diksi, dalam arti pertama, merujuk pada pemilihan
kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara. Arti
kedua, arti “diksi” yang lebih umum digambarkan
dengan kataseni berbicara jelas sehingga setiap kata

33

dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan
ekstrimitas terjauhnya. Arti kedua ini membicarakan
pengucapan dan intonasi, daripada pemilihan kata dan
gaya. Harimurti (1984) dalam kamus linguistic,
menyatakan bahwa diksi adalah pilhan kata dan
kejelasan lafal untuk memperoleh efek tertentu dalam
berbicara di dalam karang mengarang.

Dalam KBBI (2002: 264) diksi diartikan sebagai
pilihan kata yanng tepat dan selaras dalam penggunaanya
untuk menggungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek
tertentu seperti yang diharapkan. Jadi, diksi berhubungan
dengan pengertian teknis dalam hal karang-mengarang,
hal tulis-menulis, serta tutur sapa.

Pemakaian diksi yang tepat, cermat dan benar
membantu memberi memberi nilai pada suatu kata.
Pilihan kata yang tepat dapat mencegah kesalahan
penafsiran yang berbeda. Dengan pilihan kata yang tepat
niscaya dapat menyanggah, memberikan pendapat pada
suatu forum ilmiah tanpa menimbulkan salah tafsir.
Pilihan kata yang cermat pada suatu forum formal,
merupakan hal yang penting.

34

B. Fungsi Diksi

Diksi memiliki beberapa fungsi sebagai berikut :

- Upaya membantu melambangkan ide atau
gagasan yang akan diekspresikan lewat
bahasa yang digunakan. Dengan
menggunakan bahasa yang tepat, maka
sebuah kata yang awalnya biasa saja, akan
menjadi ebih bermakna dan bernuansa lebih
tepat dan lebih sempurna.

- Diksi yang tepat bisa membantu
menciptakan suasana dan nuansa komunikasi
yang benar-benar tepat.

- Diksi dapat membuat orang yang membaca
atau pun mendengar karya sastra menjadi
lebih memahami apa yang ingin disampaikan
oleh penulis atau pembicara.

- Diksi dapat membuat komunikasi menjadi
lebih efektif.

35

- Diksi dapat melambangkan ekspresi yang
ada dalam gagasan secara verbal (tertulis
atau pun terucap).

- Diksi yang tepat membantu mencegah

terjadinya kesalahtafsiran dan

kesalahpahaman dalam proses komunikasi.

- Diksi yang tepat dapat membentuk ekspresi
atau pun gagasan yang tepat sehingga dapat
menyenangkan pendengar atau pun
pembacanya.

C. Jenis-Jenis Diksi

Berdasarkan leksikal, diksi dibedakan berdasarkan
makna leksikalnya atau makna kamus karena berasal dari
kamus bahasa Indonesia. Makna leksikal merupakan
makna jenis-jenis kata yang bersifat konkret dan
denotatif serta belum mengalami perubahan bentuk.
Diksi berdasarkan leksikalnya dibedakan menjadi
beberapa jenis lagi, di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Sinonim

36

Sinonim disebut juga padanan kata atau persamaan
kata karena memiliki makna yang sama. Contoh kata
sinonim, di antaranya:

• Pandai = pintar
• Baju = pakaian
• Matahari = mentari
• Buruk = jelek
• Rajin = giat

Contoh kalimat yang menggunakan sinonim :

Ichwan menjadi anak yang paling pandai di kelas karena
rajin belajar.

Ichwan menjadi anak yang paling pintar di kelas karena
giat belajar.

Kedua kalimat tersebut menggunakan kata atau diksi
yang berbeda pada pilihan kata pandai dan rajin.
Namun, keduanya tetap memiliki makna dan
pemahaman yang sama meskipun diganti dengan kata
pintar dan giat.

37

2. Antonim
Antonim disebut juga sebagai lawan kata atau
perbedaan kata karena memiliki makna yang
berlawanan. Contoh kata antonim, di antaranya:

• Rajin >< Malas
• Pintar >< Bodoh
• Besar >< Kecil
• Panjang >< Pendek
• Tua >< Muda
Contoh kalimat yang menggunakan antonim :
Agus malas belajar sehingga dia menjadi anak yang
bodoh.
Agus rajin belajar sehingga dia menjadi anak yang
pintar.
Ketika dua kalimat tersebut menggunakan kata yang
berlawanan, maka makna yang disampaikan pun menjadi
berbeda dan berlawanan.

38

3. Homonim

Homonim merupakan jenis kata yang memiliki
makna yang berbeda namun lafal atau pengucapan dan
ejaannya sama. Contoh kalimat penerapannya adalah
sebagai berikut :

Kalimat 1: Genting rumah bocor sehingga air masuk ke
dalam rumah ketika hujan turun.

Kalimat 2: Keadaan di sekolah sedang sangat genting
karena murid sekolah lain tawuran menyerbu sekolah.

Kata genting pada kalimat pertama mengandung
makna yang menunjukkan kata benda berupa atap atau
genting. Sedangkan kata genting pada kalimat kedua
mengandung makna gawat atau mendesak.

4. Homofon

Berbeda dengan homonim, homofon memiliki lafal
yang sama, namun makna dan ejaannya berbeda. Contoh
kalimat penerapannya adalah sebagai berikut :

• Kalimat 1: Aku rindu masa remaja saat
masih sekolah dulu.

39

• Kalimat 2: Massa demo yang merapat ke
gedung DPR semakin banyak.

Kedua kalimat tersebut menggunakan kata massa
dan masa yang memiliki pelafalan yang sama namun
ejaan dan artinya berbeda. Kata masa pada kalimat
pertama memiliki makna saat atau waktu. Sedangkan
kata massa pada kalimat yang kedua memiliki makna
kumpulan orang dalam jumlah yang banyak.

5. Homograf

Homograf merupakan jenis kata atau diksi yang
memiliki ejaan yang sama namun makna dan lafalnya
berbeda. Contoh kalimat penerapannya adalah sebagai
berikut:

• Kalimat 1: Pagi hari tadi aku sarapan
buah apel.
• Kalimat 2: Setiap pagi sebelum masuk
kelas anak-anak harus apel terlebih dahulu.

Kata apel pada kalimat pertama diucapkan dengan
lafal yang sama seperti kata me pada kata memukul dan

40

memiliki arti nama buah apel. Sedangkan, kata apel pada
kalimat kedua dilafalkan seperti melafalkan ejaan huruf
L (el) dan memiliki arti kumpul.

6. Polisemi

Polisemi merupakan jenis kata yang ejaan dan
lafalnya yang sama namun memiliki banyak arti dan
pengertian jika digunakan dalam konteks kalimat yang
berbeda. Contoh kalimat penerapannya adalah sebagai
berikut:

• Kalimat 1: Risna menanam bunga melati
yang sangat harum baunya.

• Kalimat 2: Risna memiliki paras yang
sangat cantik sehingga menjadi bunga
desa di kampungnya.

• Kalimat 3: Bank konvensional
memberikan bunga sebesar 10% setiap
bulannya.

Kata bunga tersebut memiliki ejaan dan lafal yang
sama namun memiliki arti yang banyak dan berbeda-

41

beda. Kalimat pertama mengandung arti nama bunga
atau tanaman. Kalimat kedua mengandung makna kiasan
sebagai gadis yang paling cantik. Kaimat ketiga
mengandung makna keuntungan.

7. Hipernim dan Hiponim

Hipernim yaitu kata umum yang menjadi
penyebutan kata lainnya karena dapat mewakili kata
lainnya. Sedangkan hiponim adalah kata yang terwakili
maknanya oleh kata hipernim. Contoh penerapan
kalimatnya adalah sebagai berikut :

Pak Tono memelihara banyak sekali burung di rumahnya
seperti merpati, beo, perkutut, dan lain sebagainya.

Hipernim dalam kalimat tersebut adalah burung yang
mewakili hiponimnya yaitu merpati, beo, dan perkutut.

D. Syarat-Syarat Diksi

Untuk menghasilkan cerita yang menarik dengan
pilihan kata, maka diksi yang baik harus memenuhi
syarat-syarat berikut ini diantaranya:

42

• Ketepatan dalam pemilihan kata dalam
menyampaikan sebuah gagasan.

• Pengarang harus memiliki kemampuan
membedakan secara tepat nuansa makna sesuai
dengan gagasan yang ingin disampaikan dan
kemampuan menemukan bentuk yang sesuai
dengan situasi dan nilai rasa bagi pembaca.

• Menguasai berbagai kosakata dan mampu
memanfaatkan.

E. Ciri-Ciri Diksi

Ciri ciri atau karakteristik diksi diantaranya yaitu:
• Tepat dalam pemilihan kata untuk
mengungkapkan gagasan atau hal yang
diamanatkan.
• Dapat digunakan untuk membedakan secara
tepat nuansa makna dan bentuk yang sesuai
dengan gagasan dan situasi serta nilai rasa
pembaca.

43


Click to View FlipBook Version