The words you are searching are inside this book. To get more targeted content, please make full-text search by clicking here.

Ebook Mata Kuliah Wacana Bahasa Indonesia

Discover the best professional documents and content resources in AnyFlip Document Base.
Search
Published by imassitimasithoh0, 2021-01-17 21:08:25

Wacana Bahasa Indonesia

Ebook Mata Kuliah Wacana Bahasa Indonesia

Keywords: #ebook #bahasaindonesia

• Menggunakan pembendaharaan kata yang
dimiliki masyarakat bahasanya dan dapat
menggerakkan dan memberdayakan kekayaan
tersebut menjadi jaring kata yang jelas.

F. Ketepatan Pilihan Kata

Persoalan pendayagunaan kata pada dasarnya
berkisar pada dua persoalan pokok yaitu pertama,
ketepatan memilih kata untuk mengungkapkan sebuah
gagasan, hal atau barang yang diamanatkan dan kedua,
kesesuaian atau kecocokan dalam mempergunakan tadi.

Ketepatan pilihan kata mempersoalkan kesanggupan
sebuah kata untuk menimbulkan gagasan-gagasan yang
tepat pada majinasi pembaca atau pendengar, seperti apa
yang difikirkan atau dirasakan oleh penulis atau
pembicara. Kosa kata yang kaya raya akan
memngkinkan penulis atau pembicara lebih bebas
memilih-milih kata yang dianggapnya paling tepat
mewakili pikiran. Ketepatan makna kata menuntut pula
kesadaran pembicara untuk mengetahui bagaimana

44

hubungan antara bentuk bahasa atau kata dengan
refrensinya.

Ketepatan adalah kemampuan sebuah kata untuk
menimbulkan gagasan yang sama pada imajinasi
pembaca atau pendengar seperti yang dipikirkan atau
dirasakan oleh penulis atau pembicara, maka setiap
pembicara harus berusaha secermat mungkin dalam
memilih kata-katanya untuk mencapai maksud tersebut.
Kata yang sudah tepat akan tampak dari reaksi
selanjutnya, baik berupa aksi verbal maupun berupa aksi
non-verbal dari pembicara atau pendengar. Ketepatan
kata tidak akan menimbulkan salah paham.

G. Kesesuaian Pilihan Kata

Persoalan kedua dalam pendayagunaan kata-kata
adalah kecocokan atau kesesuaian. Perbedaan antara
ketepatan dan kecocokan, pertama-tama mencakup soal
kata mana yang akan digunakan dalam kesempatan
tertentu, walaupun kadang-kadang masih ada perbedaan
tambahan berupa perbedaan tata bahasa, pola kalimat,
panjang atau komleksnya sebuah alenia dan beberapa

45

segi yang lain. Perbedaan yang sangat jelas antara
ketetapan dan kesesuaian adalah bahwa dalam
kesesuaian: apakah kita dapat mengungkapkan pikiran
kita dengan cara yang sama dalam semua kesempatan
dan lingkungan yang kita masuki.

Jadi, secara singkat perbedaan antara persoalan
ketepatan dan kesesuaian adalah: dalam persoalan
ketepatan kita bertanya apakah pilihan kata yang dipakai
sudah setepat-tepatnya, sehingga tidak akan
menimbulkan interpretasi yang berlainan antara
pembicara dan pendengar. Sedangkan dalam persoalan
kecocokan atau kesesuaian kita mempersoalkan apakah
pilihan kata dan gaya bahasa yang digunakan tidak
merusak suasana atau menyinggung perasaan orang yang
hadir.

46

BAB IV
KALIMAT EFEKTIF

A. Pengertian Kalimat

Berdasarkan KBBI, kalimat berarti kesatuan ujar
yang mengungkapkan suatu konsep pikiran dan perasaan
(1995: 434). Senada dengan definisi tersebut, Alwi,
dkk.(2003: 311) mengungkapkan bahwa kalimat adalah
satuan bahasa yang berwujud lisan atau tulisan yang
mengungkapkan pikiran secara utuh. Ahli lain
menyatakan bahwa kalimat merupakan satuan gramatik
yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai
nada akhir turun atau naik (Ramlan, 2005: 23). Kalimat
adalah bagian ujaran atau tulisan yang biasanya
mempunyai struktur minimal subjek dan predikat dan
intonasi finalnya menunjukkan ujaran/tulisan tersebut
sudah lengkap maknanya (Finoza, 2008: 149).

Dari beberapa pengertian di atas dapat ditarik
simpulan bahwa kalimat adalah satuan bahasa yang
mengungkapkan pikiran atau perasaan secara utuh.
Pikiran dan perasaan tersebut kemudian dapat

47

diungkapkan baik secara lisan maupun tulisan. Dalam
konteks tulisan ini, maka kalimat-kalimat tersebut
disampaikan secara tertulis di dalam soal cerita.

B. Unsur-unsur Kalimat

Kalimat terdiri dari unsure fungsi, peran, dan
kategori. Dalam tulisan ini, penulis menitik beratkan
pada unsure fungsi. Hal ini disebabkan unsure tersebut
lebih terkait dengan dengan soal cerita bidang
Matematika yang menjadi objek dalam tulisan ini.

Unsur fungsi kalimat terdiri dari unsure subjek,
predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Kehadiran
unsur-unsur tersebut secara jelas akan memudahkan
pembaca untuk memahami ide pokok yang ingin
disampaikan.

1) Unsur subjek. Subjek merupakan bagian
kalimat yang menunjuk pada pelaku, sesuatu
hal atau suatu masalah yang menjadi pokok
pembicaraan. Subjek dapat dikenali dengan
kata Tanya siapa/apa.

48

2) Unsur predikat. Bagian kalimat yang member
tahu melakukan perbuatan apa subjeknya
disebut dengan predikat. Predikat dapat juga
menyatakan sifat dan jumlah yang dimiliki
subjek.

3) Unsur objek. Objek merupakan bagian
kalimat yang melengkapi predikat. Letaknya
selalu di belakang predikat (untuk
verbatransitif). Objek dalam kalimat aktif
dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif.

4) Unsur pelengkap. Unsur ini tidak dapat
menjadi subjek dalam kalimat pasif.
Pelengkap terdapat dalam klausa yang tidak
dapat dipasifkan.

5) Unsur keterangan. Keterangan merupakan
bagian kalimat yang menerangkan predikat.
Posisinya mana suka atau dapat berpindah
letak.

C. Kalimat Efektif

49

Agar maksud dalam teks dapat tersampaikan
dengan baik, kalimat harus disusun dengan efektif.
Kalimat efektif adalah kalimat yang dapat
mengungkapkan maksud penutur/penulis secara tepat
sehingga maksud itu dapat dipahami oleh
pendengar/pembaca secara tepat pula (Finoza, 2009:
172). Kalimat efektif juga diartikan sebagai kalimat
yang singkat, padat, jelas, lengkap, dan dapat
menyampaikan informasi secara tepat (Widjono,
2007: 160).

Dari dua pendapat di atas dapat disimpulkan
bahwa hal penting yang perlu diperhatikan adalah
ketepatan isi pesan atau persamaan persepsi antara
pembicara/penulis dengan pendengar/pembaca.
Pesan yang ingin disampaikan hendaknya
disampaikan dengan jelas agar pembaca/pendengar
dapat menerima pesan secara tepat.

Untuk menghasilkan kalimat yang efektif,
penulis/penutur harus memperhatikan betul hal-hal
berikut ini.

50

1) Kesatuan

Yang dimaksud dengan kesatuan adalah
terdapatnya satu ide pokok yang jelas
dalam sebuah kalimat. Dengan
memperhatikan prinsip kesatuan ini maka
keambiguan makna dapat teratasi.

2) Kepaduan

Kepaduan/koherensi adalah terjadinya
hubungan yang padu antara unsure unsure
pembentuk kalimat. Unsur-unsur
pembentuk kalimat tersebut antara lain
kata, frasa, klausa, tanda baca, dan fungsi
sintaksis, yaitu S, P, O, Pel, Keterangan.

3) Keparalelan

Yang dimaksud dengan keparalelan atau
kesejajaran adalah terdapatnya unsur-
unsur yang sama derajatnya

4) Ketepatan

51

Ketepatan adalah kesesuaian atau
kecocokan pemakaian unsur-unsur yang
membentuk suatu kalimat sehingga
tercipta pengertian yang pasti. Kata,
frasa,dan tanda baca harus dipilih secara
tepat demi terciptanya makna yang tepat
pula.

5) Kehematan

Kehematan dalam hal ini berkaitan
dengan upaya menghindari pemakaian
kata yang tidak perlu. Kalimat yang
disajikan hendaknya tidak bertele-tele.

6) Kelogisan

Yang dimaksud dengan kelogisan adalah
terdapatnya kalimat yang maknanya
logis/masuk akal.

Ahli lain menambahkan kesantunan serta
kevariasian kata dan struktur sebagai hal yang sama
pentingnya untuk diperhatikan oleh seorang
penulis/penutur. Kesantunan kalimat mengandung

52

makna bahwa gagasan yang diekspresikan dapat
menciptakan suasana yang baik (Widjono, 2007:
164).Sementara itu, kevariasian kata dan struktur
berkaitan dengan bentuk kalimat yang akan ditulis.
D. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode pustaka. Sumber-sumber pustaka
yang digunakan berupa buku. Buku-buku yang
digunakan dalam penelitian ini dikelompokkan
menjadi dua, yaitu: buku yang dijadikan rujukan
kajian teori dan buku yang dijadikan objek
pengambilan data. Selanjutnya data-data tersebut
dianalisis dan disajikan dengan metode deskriptif
kualitatif.

53

BAB V
PARAGRAF

A. Pengertian Paragraf
Pengertian paragraf dari beberapa ahli antara lain,

paragraf adalah bagian dari suatu karangan yang
terdiri atas sejumlah kalimat yang mengungkapkan
satuan informasi dengan ide pokok sebagai
pengendalinya Ramlan (dalam Rohmadi dan
Nasucha, 2010: 23). Jadi, menurut Ramlan sebuah
paragraf selalu memiliki ide pokok yang merupakan
inti dari informasi yang diungkapkan dalam
paragraf.Sehubungan dengan itu Handayani dkk,
(2013: 97-98) juga mengatakan perihal pentingnya
ide dalam sebuah paragraf.Ia menyatakan paragraf
(alenia) adalah serangkaian kalimat yang saling
bertalian untuk membuat sebuah gagasan/ide.

Menurut Akhadiah (dalam Nasucha, Rohmadi
dan Wahyudi. 2009: 33) Paragraf merupakan inti
penuangan buah pikiran dalam sebuah
pikiran.Dalam paragraf terkandung satu unit buah
pikiran yang didukung oleh semua kalimat dalam

54

paragraf tersebut, mulai dari kalimat pengenal,
kalimat utama atau topik, kalimat-kalimat penjelas
sampai pada kalimat penutup.Himpunan kalimat ini
saling bertalian dalam suatu rangkaian untuk
membentuk sebuah gagasan.

Paragraf dapat juga dikatakan karangan yang
paling pendek/singkat (Nasucha dkk, 2009:
33).Dengan adanya paragraf, dapat dibedakan suatu
gagasan mulai dan berakhir. Pembaca
akan kepayahan membaca sebuah tulisan atau buku,
kalau tidak ada paragraf, karena kata seolah–olah
dicambuk untuk membaca terus– menerus sampai
selesai. Di samping itu, pembaca susah
mengonsentrasikan pikiran dari gagasan ke gagasan
lain. Dengan adanya paragraf pembaca dapat
berhenti sebentar dan dapat memusatkan pikiran
tentang gagasan yang terkandung dalam paragraf itu.

Paragraf adalah sekelompok kalimat yang saling
berhubungan dan bersama-sama menjelaskan satu
unit pokok pikiran (Wiyanto, 2004:20).Penulis
merangkai paragraf demi paragraf untuk
menyampaikan keseluruhan pokok pikiran dengan

55

mudah, agar penulis dapat menyusun paragraf-
paragraf secara sistematis dan logis, diperlukan
sejumlah unsur pendukung yaitu transisi, kalimat
topik, kalimat penjelas dan kalimat
penegas.Meskipun, tidak semua paragraf
mengandung empat unsur, tiga unsur atau dua unsur
saja, bahkan hanya mengandung satu unsur.

Dari beberapa pendapat ahli tersebut, terlihat
pada dasarnya mereka mempunyai pandangan yang
sama mengenai paragraf. Bahwa paragraf selalu
mempunyai ide pokok/gagasan utama yang
digunakan untuk membangun kesatuan kalimat
dalam suatu paragraf.

Dalam hierarki kebahasaan, paragraf merupakan
satuan yang lebih tinggi atau lebih luas dari
kalimat.Paragraf berguna untuk menandai
pembukaan topik baru, memisahkan gagasan pokok
yang satu dengan yang lainnya.Dengan demikian,
pembaca mudah memahami isi paragraf secara utuh.
Dalam penulisannya, paragraf dimulai dengan spasi
(penakukan) kira-kira lima ketukan atau dimulai
pada margin kiri tanpa spasi lima ketukan, tetapi

56

diberi jarak lebih antar paragrafnya. Panjang
paragraf tidak dibatasi, bergantung pada cara
pengembangannya dan ketutasan uraian yang
berhubungan dengan gagasan pokok. Paragraf yang
terlalu pendek (misalnya 2-3 kalimat) biasanya
kurang dikembangkan sebaliknya yang terlalu
panjang dapat menjemukan, bahkan kemungkinan
mengandung kalimat yang terlepas dari gagasan
pokoknya (Handayani dkk, 2013: 97-98).

B. Jenis-jenis Paragraf

a) Paragraf Pembuka

Rohmadi dan Nasucha (2010:39)
mengemukakan Paragraf pembuka dapat disebut
paragraf pendahuluan (introduction).Fungsinya
sebagai pengantar untuk sampai kepada pokok
pembicaraan dalam karangan.Karangan atau esai
yang baik harus memiliki paragraf pembuka yang
terletak pada awal karangan.Jumlah paragraf
pembuka harus satu dan tidak boleh lebih dari

57

satu.Paragraf pembuka lebih dari satu, maka
pokok pembicaraannya menjadi tidak
jelas.Paragraf pembuka yang pendeklebih baik,
yakni sekitar empat kalimat.

Contoh:

Pemilu baru saja usai, sebagaian orang terutama
caleg yang sudah pasti jadi, Merasa
bersyukurkarena pemilu berjalan lancar seperti
yang diharapkan.Namun, tidak demikian yang
dirasakan oleh para caleg yang gagal
memperoleh kursi diparlemen.Mereka stres berat
hingga tidak bisa tidur dan tidak mau makan.

b) Paragraf Penghubung

Paragraf penghubung adalah paragraf
yang terdapat antara paragraf pembuka dengan
paragraf penutup (Rohmadi dan Nasucha,
2010:40).Paragraf penghubung merupakan isi
permasalahan yang diuraikan di dalam

58

karangan.Oleh karena itu, paragraf penghubung
disebut pula paragraf isi.

]Masalah ini berisi kesimpulan dari
paragraf yangakan diuraikan terdapat dalam
paragraf penghubung. Paragraf penghubung
berisi inti persoalan yang dikemukakan.Oleh
karena itu, secara kuantitatif paragraf inilah yang
paling panjang, danantara paragraf dengan
paragraf saling berhubungan secara logis
(Nasucha, Rohmadi dan Wahyudi. 2009:
34).Misalnya dalam suatu cerita, paragraf
penghubung adalah isi atau inti cerita tersebut
antara paragraf pembuka dan paragraf penutup.

c) Paragraf Penutup

Paragraf penutup mengakhiri sebuah
karangan.Paragraf ini berisi kesimpulan dari
paragraf penghubung.Paragraf penutup juga
dapat berisi penegasan kembali mengenai hal-hal
yang dianggap penting dalam paragraf
penghubung (Nasucha dkk, 2009:35).

59

Paragraf penutup yang berfungsi
mengakhiri sebuah karangan tidak boleh terlalu
panjang, Namun, tidak berarti paragraf ini dapat
tiba- tiba diputuskan begitu saja.Jadi, Seorang
penulis sebaiknya dapat menjaga perbandingan
antara paragraf pembuka, penghubung, dan
penutup.

Contoh:

Demikian proposal yang kami buat.Semoga
usaha cafe yang kami dirikan mendapat ridho
dari Allah SWT serta bermanfaat bagi
sesama.Atas segala perhatiannya kami ucapan
terima kasih.

C. Syarat-syarat Pembentukan Paragraf

a) Kesatuan

Tiap paragraf hanya mengandung satu
gagasan pokok atau satu topik.Fungsi paragraf
ialah mengembangkan topik tersebut. Oleh sebab
itu, dalam pengembangannya tidak boleh terdapat

60

unsur–unsur yang sama sekali tidak berhubungan
dengan topik atau gagasan pokok tersebut.
Penyimpangan akan menyulitkan pembaca. Satu
paragraf hanya boleh mengandung satu gagasan
pokok atau topik.Semua kalimat dalam paragraf
harus membicarakan gagasan pokok tersebut.

Paragraf dianggap mempunyai kesatuan,
jika kalimat– kalimat dalam paragraf itu tidak
terlepas dari topiknya atau selalu relevan dengan
topik (Nasucha, Rohmadi dan Wahyudi. 2009:
35).Semua kalimat berfokus pada topik dan
mencegah masuknya hal- hal yang tidak relevan.

Menurut Marsa (2009: 9) kesatuan dalam
sebuah paragraf hanyaterbentuk apabila
informasi-informasi dalam paragraf itu tetap
dikendalikan oleh gagasan utama.Agar kesatuan
dapat dicapai penulis senantiasa mengevaluasi
kalimat-kalimat yang ditulisnya itu erat
hubungannya dengan gagasan utama. Apabila
tidak erat hubungannya, kalimat-kalimat itu
sebaiknya dihilangkan atau disajikan secara

61

khusus, misalnya menjadi sisipan dalam kalimat
lain.

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut
dapat disimpulkan bahwa kesatuan dalam sebuah
paragraf itu, kalimatnya harus saling berkaitan
yang membentuk satu kesatuan dan hanya
terdapat satu gagasan pokok.

b) Kepaduan

Syarat kedua yang harus dipenuhi oleh
sebuah paragraf ialah koherensi atau
kepaduan.Satu paragraf bukanlah merupakan
kumpulanatau tumpukan kalimat yang masing–
masing berdiri sendiriatau terlepas, tetapi
dibangun oleh kalimat-kalimat yang mempunyai
hubungan timbal balik.

Pembaca dengan mudah memahami dan
mengikuti jalan pikiran penulis tanpa hambatan
karena adanya loncatan pikiran yang
membingungkan. Urutan pikiran yang teratur,
akan memperlihatkan adanya kepaduan. Jadi,

62

Kepaduan atau koherensi dititikberatkan pada
hubungan antara kalimat dengan kalimat
(Nasucha, Rohmadi dan Wahyudi. 2009: 37).

Kalimat-kalimat dalam paragraf itu
sebaiknya memiliki kesesuaian yang dibangun
dari kalimat topik.Kepaduan antar kalimat dalam
paragraf itu meliputi dua macam, yaitu kepaduan
bentuk dan kepaduan makna.Kepaduan makna
adalah kepaduan informasi yang disebut
koherensi dan kepaduan dibidang bentuk disebut
kohesi.Paragraf yang memiliki kepaduan
informasi bersifat kohesi dan kesesuaian di
bidang bentuk disebut kohesif.Wacana yang baik
dalam sebuah paragraf apabila memiliki dua
kepaduan tersebut, yaitu kohesif dan koheren
(Rohmadi dan Nasucha, 2010: 46).

Contoh:

Pada hari minggu pak Amir menikahkan Eva
Faradila, putri tunggalnya. Dia meneteskan air
matanya saat sarwano calon suami Eva Fadlia

63

mengucapkan “ijab kobulnya” itu merupakan
luapan kebahagian yang lua biasa bagi seorang
ayah.Pesta pernikahannya dilangsungkan sangat
sederhana sebab dihadiri oleh keluarga dan
kerabat dekatnya.

c) Kelengkapan

Suatu paragraf dikatakan lengkap, jika
berisi kalimat– kalimat penjelas yang cukup
untuk menunjang kejelasan kalimat topik dan
kalimat utama (Nasucha, Rohmadi dan Wahyudi.
2009: 39).Sebaliknya suatu paragraf dikatakan
tidak lengkap, jika tidak dikembangkan atau
hanya diperluas dengan pengulangan–
pengulangan.

Syarat ketiga pembentukan paragraf yang
baik adalah adanya kelengkapan.Kelengkapan
paragraf ini diperlukan sebab informasi yang
disampaikan dapat tuntas, Untuk itu kalimat-
kalimat pendukung harus dapat memberikan
kejelasan kalimat topik.Paragraf dapat dikatakan

64

memiliki kelengkapan, jika kalimat topiknya
dapat dikembangkan dengan pendukung yang
cukup (Rohmadi dan Nasucha, 2009: 47-
48).Istilah cukup adalah relatif, tetapi yang jelas
lebih dari satu dan kurang dari sepuluh.Jika
didukung oleh satu kalimat maka
pengembangannya kering dan jika sangat banyak
maka pembaca cepat bosan dan sulit menemukan
keutuhan informasi.

65

BAB VI
KARANGAN ILMIAH (SKRIPSI DAN

ARTIKEL)
A. Pengertian Karangan Ilmiah

Karangan merupakan karya tulis yang dihasilkan
dari kegiatan mengungkapkan pemikiran dan
menyampaikannya melalui media tulisan kepada
orang lain untuk dipahami. Sedangkan karangan
ilmiah menurut Brotowidjoyo adalah karangan ilmu
pengetahuan yang menyajikan fakta dan ditulis
menurut metodologi penulisan yang baik dan benar.

Jadi, karya ilmiah adalah suatu tulisan yang
didalamnya membahas suatu masalah yang dilakukan
berdasarkan penyedikan, pengamatan, pengumpulan
data yang dapat dari suatu penelitian,baik penelitian
lapangan, tes labolatorium ataupun kajian pustaka
dan dalam memaparkan dan menganalisis datanya
harus berdasarkan pemikiran ilmiah,yang dikatakan
dengan pemikiran ilmiah disini adalah pemikiran
yang logis dan empiris.

66

Bentuk karangan ilmiah dapat berupa makalah,
usulan penelitian, skripsi, tesis, dan disertasi.
Sedangkan jenis karangan ilmiah, antara lain laporan
penelitian, makalah seminar atau simposium, dan
artikel jurnal yang pada dasarnya semua itu
merupakan produk dari kegiatan ilmuwan.

Karangan ilmiah merupakann suatu karangan
atau tulisan yang diperoleh sesuai dengan sifat
keilmuannya dan didasari oleh hasil pengamatan,
peninjauan, penelitian dalam bidang tertentu ,disusun
menurut metode tertentu dengan sistematika yang
bersantun bahasa dan isinya dapat di
pertanggungjawabkan kebenarannya.

Karya ilmiah sangat berkaitan erat dengan dunia
pendidikan dan juga dunia penelitian. Kebanyakan
karya ilmiah yang diterbitkan merupakan hasil dari
berbagai macam riset yang dilakukan oleh lembaga
penelitian ataupun lembaga pendidikan. Mahasiswa
saja misalnya, setiap mahasiswa yang telah lulus,
pasti pernah membuat ataupun mengarang karya
ilmiah berupa tugas akhir. Karya ilmiah berupa tugas

67

akhir biasanya merupakan syarat utama yang harus
dipenuhi oleh mahasiswa yang ingin menyelesaikan
studinya.
B. Pengertian Karangan Ilmiah Menurut Para

Ahli
1. Brotowidjoyo

Menurut Brotowodjoyo, karya ilmiah merupakan
karangan ilmu pengetahuan yang menampilkan fakta dan
dibuat dengan menggunakan metodologi penulisan yang
baik dan benar.

2. Eko Susilo M
Menurut Eko Susilo M, karya ilmiah merupakan

suatu tulisan ataupun karangan yang didapatkan sesuai
dengan sifat keilmuannya dan didasari dari berbagai
hasil pengamatan, penelitian, dan peninjauan terhadap
bidang ilmu tertentu, yang disusun dengan menggunakan
metode tertentu dengan memperhatikan sistematika

68

penulisan yang baik dan santun, serta dapat
dipertanggungjawabkan keilmiahannya.

3. Jones

Menurut Jones, karya ilmiah merupakan
karangan ilmiah yang ditujukan untuk masyarakat
tertentu ataupun profesional yang biasanya bersifat karya
ilmiah tinggi.

4. Hery Firman

Menurut Hery Firman, karya ilmiah merupakan
laporan berupa tulisan yang dipublikasikan ataupun
dipaparkan dari hasil pengkajian ataupun penelitian yang
telah dilakukan, yang dalam penulisannya
memperhatikan kaidah dan etika keilmuan yang berlaku
di masyarakat keilmuan.

5. Drs. Totok Djuroto dan Dr. Bambang Supriyadi

Menurut Drs. Totok Djuroto dan Dr. Bambang
Supriyadi, pengertian karya ilmiah adalah serangkaian
kegiatan penulisan yang berlandaskan pada hasil
penelitian yang disusun secara sistematis mengikuti

69

metodologi ilmiah, yang bertujuan untuk mendapatkan
jawaban ilmiah dari suatu permasalahan.

C. Tujuan Karya Ilmiah

Tujuan karya tulis ilmiah adalah
menginformasikan pada pembaca terkait suatu
masalah beserta jawabannya. Karya tulis ilmiah juga
digunakan untuk membuktikan kebenaran suatu
fakta. Berikut ini adalah penjabaran tujuan karya
tulis ilmiah.

1. Sarana untuk melatih dan mengungkapkan
hasil penelitian berbentuk tulisan ilmiah
secara sistematis.

2. Menumbuhkan etos ilmiah di kalangan siswa
dan mahasiswa.

3. Melatih siswa dan mahasiswa agar menjadi
penghasil (produsen) pemikiran dan karya
tulis dalam bidang ilmu pengetahuan, tidak
hanya sebagai konsumen.

70

4. Sebagai wahana transformasi pengetahuan
bagi sekolah dengan masyarakat, kampus
dengan masyarakat, atau orang-orang yang
tertarik membaca.

5. Membuktikan potensi dan wawasan ilmiah
mahasiswa untuk menghadapi dan
menyelesaikan masalah.

6. Melatih keterampilan penelitian dasar dengan
benar.

7. Melatih pengembangan keterampilan
membaca efektif.

8. Melatih kemampuan untuk menggabungkan
berbagai sumber data dan sumber bacaan.

9. Mengenalkan siswa atau mahasiswa pada
kegiatan kepustakaan.

10. Melatih kemampuan pengorganisasian fakta
atau data secara sistematis.

11. Menambah pengetahuan penulis terkait karya
ilmiah yang sedang dibuat.

71

12. Hasil karya ilmiah menjadi acuan atau
penelitian pendahuluan bagi penelitian
selanjutnya.

D. Jenis Jenis Karya Tulis Ilmiah

1. Laporan Penelitian

Laporan penelitian adalah karya ilmiah
hasil penelitian, percobaan, pengamatan, atau
wawancara. Laporan penelitian biasanya
dibuat setelah seseorang melakukan kegiatan
yang sudah disebutkan sebagai bentuk
pelaporan hasil. Jenis laporan penelitian juga
bermacam-macam, misalnya laporan
penelitian kunjungan, laporan penelitian hasil
eksperimen, atau laporan penelitian untuk
tugas tertentu. Meskipun laporan penelitian
disebut karya ilmiah, tetapi bukan berarti
semua karya ilmiah merupakan laporan
penelitian. Format laporan penelitian yang
sering digunakan adalah.

2. Makalah

72

Makalah adalah karya ilmiah tentang
masalah dengan penyelesaian berdasarkan
berbagai macam data di lapangan. Makalah
membahas suatu topik tertentu dengan data
bersifat empiris dan objektif. Makalah
biasanya disajikan dalam bentuk laporan
tertulis atau dipresentasikan pada khalayak.
Struktur penulisan makalah adalah.

3. Artikel

Pengkategorian artikel sebagai karya tulis
ilmiah dibedakan dalam konteks jurnalistik
dan konteks sudut pandang ilmiah. Pada
konteks jurnalistik, artikel mengandung
pendapat subjektif penulis terkait suatu
masalah atau peristiwa. Namun, dalam sudut
pandang ilmiah, artikel adalah karya tulis
yang dibuat untuk jurnal. Artikel tersebut
dibuat dengan mengikuti pedoman dan
kaidah penulisan ilmiah. Struktur penulisan
artikel ilmiah adalah sebagai berikut.

73

4. Skripsi

Pengkategorian artikel sebagai karya tulis
ilmiah dibedakan dalam konteks jurnalistik
dan konteks sudut pandang ilmiah. Pada
konteks jurnalistik, artikel mengandung
pendapat subjektif penulis terkait suatu
masalah atau peristiwa. Namun, dalam sudut
pandang ilmiah, artikel adalah karya tulis
yang dibuat untuk jurnal. Artikel tersebut
dibuat dengan mengikuti pedoman dan
kaidah penulisan ilmiah. Struktur penulisan
artikel ilmiah adalah sebagai berikut.

5. Tesis

Tesis adalah karya tulis ilmiah mahasiswa
untuk menyelesaikan program studi S2 atau
Pascasarjana yang bersifat lebih mendalam
dibandingkan dengan skripsi. Tesis
mengungkapkan pengetahuan baru yang
didapat dari penelitian yang dilakukan
individu yang bersangkutan.

74

6. Disertasi

Disertasi atau Ph.D thesis diperuntukkan
bagi mahasiswa program S3 atau meraih
gelar Doktor/Dr. yang mengemukakan
analisis yang dapat dibuktikan oleh penulis
berdasarkan dengan data dan fakta yang sahih
atau valid dengan analisis yang terinci.
Disertasi berisi suatu temuan penulis sendiri
yang berupa temuan orisinal.

E. Sifat Karya Tulis Ilmiah

Berbeda dengan tulisan fiksi (novel, puisi,
cerpen), karya ilmiah bersifat formal sehingga harus
memenuhi syarat.Beberapa syarat tersebut adalah
sebagai berikut:

1. Lugas dan tidak emosional

Maksudnya adalah karya ilmiah hanya mempunyai
satu arti, tidak memakai kata kiasan, sehingga pembaca
tidak mebuaat tafsiran (interprestasi) sendiri-sendiri.
Karena itu, perlu ada batasan (definisi) oprasional
pengertian suatu istilah, konsep, atau variabe.

75

2. Logis
Maksudnya adalah kalimat, alinea, subbab,
subsubbab, disusun berdasarkan suatu urutan yang
konsisten. Urutan disini meliputi urutan pengertian,
klasifikasi, waktu (kronologis), ruang, sebab-akibat,
umum-khusus, khusus-umum, atau proses dan peristiwa.
3. Efektif
Maksudnya adalah baik alinea atau subbab harus
menunjukan adanya satu kebulatan pikiran, ada
penekanan, dan ada pengembangan.
4. Efisien
Maksudnya adalah hanya mempergunakan kata atau
kalimat yang penting dan mudah dipahami. Dan Ditulis
dengan bahasa Indonesia yang baku.

F. Ciri Ciri Karya Tulis Ilmiah
Dalam karya ilmiah ada 4 aspek yang menjadi
karakteristik utamanya, yaitu:

76

1. Struktur Sajian

Struktur sajian karya ilmiah sangat ketat,
biasanya terdiri dari bagian awal
(pendahuluan), bagian inti (pokok
pembahasan), dan bagian penutup. Bagian
awal merupakan pengantar ke bagian inti,
sedangkan inti merupakan sajian gagasan
pokok yang ingin disampaikan yang dapat
terdiri dari beberapa bab atau subtopik.
Bagian penutup merupakan simpulan pokok
pembahasan serta rekomendasi penulis
tentang tindak lanjut gagasan tersebut.

2. Komponen dan Substansi

Komponen karya ilmiah bervariasi sesuai
dengan jenisnya, namun semua karya ilmiah
mengandung pendahuluan, bagian inti,
penutup, dan daftar pustaka. Artikel ilmiah
yang dimuat dalam jurnal mempersyaratkan
adanya abstrak.

3. Sikap Penulis

77

Sikap penulis dalam karya ilmiah adalah
objektif, yang disampaikan dengan
menggunakan gaya bahasa impersonal,
dengan banyak menggunakan bentuk pasif,
tanpa menggunakan kata ganti orang pertama
atau kedua

4. Penggunaan Bahasa

Bahasa yang digunakan dalam karya
ilmiah adalah bahasa baku yang tercermin
dari pilihan kata/istilah, dan kalimat-kalimat
yang efektif dengan struktur yang baku.

Selain ciri-ciri di atas karangan ilmiah juga
mempunyai ciri-ciri, antara lain:

• Kejelasan = Artinya semua yang dikemukakan
tidak samar-samar, pengungkapan maksudnya
tepat dan jernih

• Kelogisan = Keterangan yang dikemukakan
masuk akal

78

• Kelugasan = Pembicaraan langsung pada hal
yang pokok

• Keobjektifan = Semua keterangan benar-benar
aktual, apa adanya.

• Keseksamaan = Artinya berusaha untuk
menghindari diri dari kesalahan atau kehilafan
betapapun kecilnya

• Kesistematisan = Semua yang dikemukakan
disusun menurut urutan yang memperlihatkan
kesinambungan

• Ketuntasan = Segi masalah dikupas secara
mendalam dan selengkap lengkapnya.

G. Skripsi Dan Artikel

Skripsi

Skripsi adalah istilah yang digunakan di
Indonesia untuk mengilustrasikan suatu karya tulis
ilmiah berupa paparan tulisan hasil penelitian sarjana
S1 yang membahas suatu permasalahan/fenomena

79

dalam bidang ilmu tertentu dengan menggunakan
kaidah-kaidah yang berlaku.

Skripsi bertujuan agar mahasiswa mampu
menyusun dan menulis suatu karya ilmiah, sesuai
dengan bidang ilmunya. Mahasiswa yang mampu
menulis skripsi dianggap mampu memadukan
pengetahuan dan keterampilannya dalam memahami,
menganalisis, menggambarkan, dan menjelaskan
masalah yang berhubungan dengan bidang keilmuan
yang diambilnya.

Proses penyusunan skripsi berbeda-beda antara
satu kampus dengan yang lain. Namun umumnya,
proses penyusunan skripsi adalah sebagai berikut:

• Pengajuan judul skripsi

• Pengajuan proposal skripsi

• Seminar proposal skripsi

H. Fungsi Skripsi

Penyusunan dan Penulisan skripsi berfungsi sebagai
berikut :

80

1. Pendidikan dan pengajaran, yakni mendidik

dan mengajar mahasiswa dalam

memadukanseluruh pebgetahuan dan pengalaman

yang telah diperolehnya selama melaksanakan

programakademik menjadi suatu karya ilmiah

dalam bidang keilmuan tertentu sesuai dengan

bidangspesialisasi masing-masing.

2. Penelitian dan pengembangan, yakni upaya

memecahkan suatu masalah secara ilmiah

danobjektif sehingga membuahkan bermacam-

macam gagasan kreatif untuk

disumbangkankepada dunia ilmu pengetahuan

dan teknologi.

3. Kurikuler yakni merupakan salah satu tugas
akademik yang wajib dikerjakan olehmahasiswa
yang akan menempuh ujian kesarjanaan dalam
bidang tertentu.

4. Evaluasi yaitu sebagai salah satu persyaratan
untuk menempuh ujian dan sekaligusmerupakan
fokus dimana pertanyaan ujian akan disampaikan

81

kepada mahasiswa yang

wajibmempertanggungjawabkannya di forum

ujian terbuka. hasil ujian skripsi menjadi salah

satubahan untuk menentukan kelulusan

mahasiswa yang bersangkutan.

5. Administratif yakni produk ilmiah yang dapat
dikomunikasikan kepada umum melaluimedia
tertentu dan sekaligus menunjukkan bidang
keahlian seorang sarjana yang mungkinkelak
berguna dalam kaitannya dengan penempatan
dalam bidang pekerjaan bagi seoranglulusan
perguruan tinggi.

para mahasiswa yang akan menempuh ujian sidang
kesarjanaan hendaknya menyadari bahwapenulisan
skripsi memiliki tujuan tertentu secara akademik. dengan
kesadaran ini hendaknyamahasiswa melakukan
kegiatannya dengan sungguh-sungguh berpijak pada
objektifitas danilmiah serta kemandirian dan kematangan
sebagai calon sarjana. dengan demikian,diaberusaha
memelihara mutu karyanya sebagai ciri khas keahlian
dan kemampuannya. jika mahasiswa itu sudah sampai

82

pada tingkat kesadaran mutu tersebut mata tidak
perludisangsikan bahwa karya tersebut "asal dibuat" atau
"asal selesai", dan tidak mempercayakanpembuatan dan
penulisannya kepada orang lain.

Jurnal

Jurnal adalah formulir khusus yang digunakan
dalam mencatat setiap aktivitas transaksi secara
kronologis sesuai urutan tanggal ke dalam jumlah
yang harus di debet dan dikredit. Jurnal di dalam
praktik akuntansi adalah tempat pertama kali untuk
mencatat transaksi. Ada beberapa macam bentuk
jurnal, pada dasarnya bentuk jurnal dibedakan
menjadi dua, yakni jurnal umum dan jurnal khusus.

• Jurnal umum adalah tempat untuk mencatat
seluruh aktivitas transaksi keuangan tanpa
terkecuali,

• Jurnal khusus adalah tempat untuk
mencatat beberapa jenis transaksi tertentu
yang berkaitan dengan jurnal khusus tersebut.

83

Pengertian jurnal menurut para ahli adalah
jurnal khusus yakni jurnal yang dapat
dikelompokkan sesuai dengan jenis transaksinya.
Setiap terjadi transaksi, petugas pembukuan
mengidentifikasi jenis transaksi yang terjadi dan
mencatatnya ke dalam jurnal khusus.

Fungsi Jurnal

Fungsi jurnal dapat dibagi dalam beberapa segi,
yakni:

• Fungsi historis, setiap bukti transaksi dilakukan
secara kronologis,urut, sesuai dengan tanggal
terjadinya transaksi.

• Fungsi mencatat, mencatat semua transaksi
dalam buku jurnalFungsi analisis, pencatatan
hasil analisis yang berwujud pendebitan dan
pengkreditan akun-akun yang terpengaruh
beserta jumlahnya.

• Fungsi instruktif, catatan yang terdapat pada
jurnal adalah perintah untuk melakukan

84

pendebitan dan pengkreditan akun buku besar
sesuai dengan catatan yang terdapat pada jurnal.

• Fungsi informatif, memberikan informasi atau
penjelasan mengenai transaksi yang terjadi untuk
dilakukan pencatatan.

Sebuah buku yang digunakan di Universitas
Gajah Mada Yogyakarta memberikan pengertian
jurnal menurut para ahli yakni terbitan berkala
yang berbentuk pamflet berseri berisi bahan yang
sangat diminati orang saat diterbitkan. Bila dikaitkan
dengan kata ilmiah di belakang kata jurnal dapat
diartikan terbitan berkala yang berbentuk pamflet
yang berisi bahan ilmiah yang sangat diminati orang
saat diterbitkan. Jurnal ilmiah merupakan salah
satu jenis jurnal akademik di mana penulis
mempublikasikan artikel ilmiah.

Untuk memastikan kualitas ilmiah pada artikel
yang diterbitkan, suatu artikel biasa diteliti oleh
rekan-rekan sejawatnya dan direvisi oleh penulis, hal
ini dikenal sebagai peer review (penelaahan sejawat).

85

Terdapat berbagai jurnal ilmiah yang mencakup
semua bidang ilmu, jugailmu sosial dan humaniora.
Penerbitan dalam bentuk artikel ilmiah biasanya
lebih penting untuk bidang ilmu pengetahuan
alam maupunkedokteran dibandingkan dengan
bidang akademik lain.

86

BAB VII
KARANGAN DESKRIPSI
A. Pengertian Karangan Deskripsi

Karangan deskripsi merupakan salah satu jenis
karangan yang memberikan efek kepada pembaca.
Karangan deskripsi adalah karangan yang
menggambarkan suatu objek atau peristiwa dengan
sangat jelas sehingga pembaca seolah-olah dapat
merasakan, melihat, atau mengalami sendiri hal yang
dibahas dalam karangan. Jenis karangan ini berkaitan
dengan panca indera manusia. Karangan ini
dikembangkan dengan satu gagasan utama yang diikuti
kalimat-kalimat penjelas setelahnya.

B. Ciri Ciri Karangan Deskripsi

Beberapa karakteristik atau ciri-ciri karangan deskripsi
adalah:

• Objek yang dibahas dalam karangan deskripsi
adalah objek nyata atau dapat diterima oleh panca
indera

87

• Objek dalam karangan deskripsi dibahas secara
mendetail

• Pembaca karangan deskripsi dapat seolah-olah
melihat atau merasakan sendiri objek yang
dibahas

• Karangan deskripsi bersifat objektif atau sesuai
dengan kenyataan

• Disampaikan dengan gaya bahasa yang
komunikatif

C. Jenis Jenis Karangan Deskripsi

Karangan deskripsi dibagi menjadi beberapa
jenis, yaitu karangan deskripsi spatial, deskripsi realistis
dan deskripsi impresionatis. Agar lebih memahami
masing-masing jenis karangan deskripsi ini, simaklah
penjelasan berikut:

• Karangan Deskripsi Spatial

Karangan deskripsi spatial merupakan karangan
deskripsi yang menggambarkan objek berupa tempat
atau ruang. Penulis menceritakan atau menggambarkan

88

suatu tempat atau ruang berdasarkan kondisi nyata
sehingga pembaca dapat membayangkan dengan jelas
tempat yang dimaksud.

• Karangan Deskripsi Realistis

Jenis karangan ini disampaikan kepada pembaca
secara objektif. Cara penyampaian objektif diartikan
bahwa apa yang disampaikan kepada pembaca melalui
karangan adalah nyata apa adanya. Penulis tidak
menuliskan kesan atau pendapat pribadi tentang objek
yang diceritakan.

• Karangan Deskripsi Impresionatis

Karangan deskripsi dapat juga disampaikan
secara subjektif. Jenis karangan deskripsi impresionatis
ini merupakan karangan yang menggambarkan suatu
objek secara subjektif atau sesuai apa yang dirasakan dan
dilihat oleh penulis. Pandangan pembaca tidak terlalu
diperhatikan oleh penulis.

D. Langkah Langkah Membuat Karangan
Deskripsi

89

Bagaimana langkah-langkah menulis karangan
deskripsi yang benar? Berikut adalah langkah-langkah
yang dapat Anda ikuti untuk menulis atau menyusun
suatu karangan deskripsi:

• Menentukan Tema Karangan

Langkah mendasar dan paling awal dalam
menyusun karangan adalah menentukan tema. Tema
akan menjadi inti dari karangan/tulisan yang akan dibuat.
Tema juga diartikan sebagai pokok pikiran karangan.
Amanat dari karangan juga terlihat dari tema. Selain
tema, perlu juga diperhatikan topik karangan. Topik
merupakan pokok pembicaraan dalam suatu karangan.
Misalkan Anda mempunyai tema kesehatan, maka topik
yang dapat dipilih antara lain kesehatan diri, kesehatan
keluarga, kesehatan sekolah, atau kesehatan lingkungan.

• Menentukan Tujuan

Setelah menentukan tema, maka langkah
selanjutnya adalah menentukan tujuan penulisan
karangan. Tujuan ini akan sangat berpengaruh dalam
panjang, sifat, dan cara penyajian karangan. Tanpa

90

tujuan yang jelas, karangan dapat menjadi suatu
karangan yang buruk atau tidak dipahami oleh pembaca.
Dengan menentukan tujuan, penulis juga akan lebih
mudah dalam menyusun kata-kata.

• Mengumpulkan Informasi

Untuk dapat menyajikan sebuah karangan
deskripsi yang berkualitas, penulis sebaiknya
menggunakan data berdasarkan hasil pengamatan.
Penulis dapat mengamati secara langsung objek ataupun
peristiwa yang berkaitan dengan topik karangan. Data
yang dikumpulkan dapat berupa gambar, contoh, angka,
grafik, atau statistik.

• Membuat Kerangka Karangan

Langkah selanjutnya dalam menyusun karangan
deskripsi adalah membuat kerangka karangan. Kerangka
karangan merupakan kumpulan ide-ide pokok dari
setiap paragraf yang akan disusun. Proses ini akan
sangat penting karena sistematika dan baik buruknya
karangan akan bergantung pada proses ini. Kerangka
karangan merupakan pedoman dalam membuat

91

karangan. Kerangka karangan akan membuat isi
karangan masih pada jalur yang diinginkan, jelas dan
terarah sesuai topik utama.

• Mengembangkan Kerangka Karangan

Setelah kerangka karangan selesai disusun, maka
tahap selanjutnya adalah pengembangan kerangka
menjadi bentuk tulisan atau karangan. Pengembangan ini
dilakukan satu per satu dari setiap ide pokok yang telah
disusun. Penggunaan kata penghubung akan sangat
berperan dalam langkah ini. Hal ini bertujuan untuk
membuat sebuah karangan yang logis dan terpadu.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam
pengembangan kerangka karangan antara lain isi ide
pokok, urutan ide pokok, kosakata, dan ejaan yang
digunakan.

• Menyunting Karangan

Langkah terakhir dalam penyusunan karangan
deskripsi adalah proses penyuntingan. Tahap ini tidak
kalah penting dengan tahap-tahap sebelumnya.
Penyuntingan bertujuan untuk memastikan karangan

92

aman dari kesalahan kata, ejaan, atau bahkan
alur cerita yang tidak jelas.

E. Contoh Karangan Deskripsi

• Contoh Karangan Deskripsi Spatial

Kecil tapi nyaman. Itulah kalimat sederhana yang
dapat menggambarkan kamar kosku. Ruangan berukuran
12 meter persegi itu cukup membuatku merasa nyaman
di dalamnya. Kamar kosku menghadap ke selatan. Satu
pintu dan satu jendela berterali besi menjadi tanda
khusus di kamarku.

Tembok kamar kosku dicat dengan warna hijau
muda dengan motif gradasi. Pemilihan warna ini
membuat kamar kosku menjadi sejuk dan tidak
membosankan. Aku memasang beberapa fotoku bersama
keluargaku di tembok kamar kosku ini. Tak lupa ada foto
idolaku, Siti Nurhaliza yang aku tempelkan di dekat
kasur.

Di bagian belakang kamar kosku ada kamar
mandi berukuran 2,5 meter persegi. Kamar mandi itu
cukup berisi satu ember dan toilet duduk. Di depan

93


Click to View FlipBook Version