kamar mandi ada perlengkapan keseharianku. Almari
berukuran sedang dengan rak sepatu terletak di
sampingnya. Di sisi belakang jendela ada kasur
berukuran single lengkap dengan bantal, guling, dan
boneka kodok kesayanganku.
Rak buku dinding ada di sebelah almari. Rak itu
penuh dengan buku-buku yang aku gunakan untuk
perkuliahanku. Tidak ada meja belajar, yang ada adalah
meja belajar lipat yang selalu tersedia di samping kasur.
Agar suasana kamar sejuk, aku memasang kipas angin
berukuran sedang di atas pintu. Walaupun kamar kosku
berukuran kecil, tapi sangat nyaman bagiku untuk
berlama-lama di kamar.
• Contoh Karangan Deskripsi Realistis
Dekorasi pernikahan Anto dan Ranti menuai
banyak pujian. Acara pernikahan ini digelar di sebuah
gedung berukuran 100 meter persegi. Area pernikahan
ini terbagi menjadi empat loka, yaitu lokal pengantin,
lokal konsumsi, lokal rest, dan lokal ekspresi.
94
Lokal pengantin merupakan lokal utama dalam
acara pernikahan ini. Lokal ini merupakan tempat bagi
kedua pengantin dan kedua orang tua pengantin.
Dekorasi lokal pengantin bernuansa putih perak dengan
nuansa bunga tulip asli. Panggung yang tidak terlalu
tinggi digunakan untuk lebih menonjolkan lokal ini.
Lokal yang kedua adalah lokal konsumsi. Lokal
konsumsi dipisahkan secara khusus dengan batas berupa
hiasan balok es bertuliskan A & R. Ada 5 balok es yang
diletakkan mengitari lokal konsumsi ini. Makanan utama
berupa makanan berat dan makanan-makanan pelengkap
lainnya ditata pada lokal ini.
Lokal rest adalah area untuk para tamu
beristirahat ketika menikmati konsumsi. Terdapat kurang
lebih 150 kursi empuk berenda putih perak di tata rapi.
Di setiap sudutnya diletakkan meja berukuran sedang
untuk meletakkan piring kotor para tamu.
Lokal yang terakhir adalah lokal ekspresi. Lokal
ini terletak di sebelah kanan panggung pada lokal
pengantin. Penyanyi yang mengiringi pernikahan
95
menyajikan lagu-lagunya di lokal ini. Alat musik gitar,
piano, bass, biola, dan saxophone melengkapi area lokal
ini.
• Contoh Karangan Deskripsi Impresionatis
Kebun binatang Gembira Loka adalah objek
wisata bermuatan pendidikan yang tepat bagi keluarga.
Di kebun binatang ini, terdapat banyak jenis satwa dan
flora. Berbagai jenis hewan dikenalkan di kebun
binatang ini. Mulai dari hewan melata, amphibi, aves,
karnivora, herbivora, bahkan hewan yang hidup di udara
dingin yaitu penguin.
Kebun binatang Gembira Loka merupakan salah
satu wisata andalan di Kota Yogyakarta. Setiap musim
liburan tiba, maka kebun binatang ini akan selalu
kebanjiran pengunjung. Baik pengunjung dari luar
daerah ataupun warga Yogyakarta sendiri. Orang tua
seperti tidak pernah bosan untuk mengajak putra putri
mereka berwisata di tempat ini.
Selain wisata flora dan fauna, Gembira Loka juga
menawarkan beberapa aneka permainan. Bahkan
96
pengunjung dapat mengantri untuk merasakan sensasi
menunggang kuda. Pengunjung dapat berinteraksi
dengan beberapa hewan buas seperti ular ataupun
harimau. Tiket masuk yang ditawarkan untuk dapat
merasakan semua fasilitas ini pun tergolong murah,
cukup 25 ribu per orang.
97
BAB VIII
KARANGAN NARASI
A. Karangan Narasi
Karangan narasi (berasal dari narration berarti
bercerita) adalah suatu bentuk tulisan yang berusaha
menciptakan, mengisahkan, dan merangkaikan tindak
tanduk perbuatan manusia dalam sebuah peristiwa secara
kronologis atau berlangsung dalam suatu kesatuan waktu
(Finoza, 2008:202).
Keraf (2007:136) mengatakan bahwa karangan
narasi merupakan suatu bentuk karangan yang sasaran
utamanya adalah tindak tanduk yang dijalin dan
dirangkai menjadi sebuah peristiwa yang terjadi dalam
suatu kesatuan waktu. Atau dapat juga dirumuskan
dengan cara lain. Narasi adalah suatu bentuk karangan
yang berusaha mennggambarkan sejelas-jelasnya kepada
pembaca suatu peristiwa yang telah terjadi.
B. Tujuan Menulis Narasi
Berdasarkan tujuannya, karangan narasi
memiliki tujuan sebagai berikut.
98
• Agar pembaca seolah-olah sudah menyaksikan
atau mengalami kejadian yang diceritakan.
• Berusaha menggambarkan dengan sejelas-
jelasnya kepada pembaca suatu peristiwa yang
telah terjadi, serta menyampaikan amanat
terselubung kepada pembaca atau pendengar.
• Untuk menggerakkan aspek emosi.
• Membentuk citra/imajinasi para pembaca.
• Menyampaikan amanat terselubung kepada
pembaca atau pendengar.
• Memberi informasi kepada pembaca dan
memperluas pengetahuan.
• Menyampaikan sebuah makna kepada pembaca
melalui daya khayal yang dimilikinya.
C. Ciri-ciri Karangan Narasi
Menurut Keraf (2007:136) ciri-ciri karangan
narasi, yaitu:
99
• Menonjolkan unsure perbuatan atau tindakan.
• Dirangkai dalam urutan waktu.
• Berusaha menjawab pertanyaan, apa yang
terjadi?
• Ada konflik. Narasi dibangun oleh sebuah alur
cerita.
Alur ini tidak akan menarik jika tidak ada
konflik. Selain alur cerita, narasi dibangun oleh
konflik dan susunan kronologis.
D. Jenis-jenis Karangan Narasi
Narasi Ekspositoris (Narasi Faktual)
Narasi Ekspositoris adalah narasi yang
memiliki sasaran penyampaian informasi secara
tepat tentang suatu peristiwa dengan tujuan
memperluas pengetahuan orang tentang kisah
seseorang. Penulis menceritakan suatu peristiwa
data yang sebenarnya. Eksposisi juga berlaku
pada penulisan narasi eksporitoris. Berdasarkan
100
fakta yang ada, tidak memasukkan unsur-unsur
sugestif atau bersifat objektif.
Narasi ekspositoris bertujuan untuk
menggugah pikiran dan untuk mengetahui apa
yang dikisahkan. Sasaran utamanya adalah rasio.
Narasi ekspositoris bersifat khas atau khusus.
Narasi ekspositoris merupakan jenis karangan
narasi yang mengutamakan kisah yang
sebenarnya dari tokoh yang diceritakan.
Narasi Sugestif ( Narasi Artistik)
Narasi Sugestif adalah narasi yang
berusaha untuk memberikan maksud tertentu,
narasi sugestif juga bertalian dengan tindakan
atau perbuatan yang dirangkaikan dalam suatu
kejadian atau peristiwa (Keraf, 2007:138).
Dalam narasi ini, pengarang diizinkan
menggunakan daya khayal untuk menghidupkan
suatu cerita.
Langkah-langkah dalam mengembangkan
karangan narasi yaitu :tentukan dulu tema dan
101
amanat yang akan disampaikan, tetapkan sasaran
pembaca kita, rancang peristiwa-peristiwa utama
yang akan ditampilkan dalam bentuk skema alur,
dan bagi peristiwa utama itu kedalam bagian
awal, pengembangan, dan akhir cerita.
102
BAB IX
KARANGAN EKSPOSISI
A. Karangan Eksposisi
Karangan Eksposisi adalah salah satu dari
jenis jenis karangan yang berisi informasi atau
pengetahuan yang disajikan secara singkat,
akurat dan padat. Karangan eksposisi atau dapat
disebut teks eksposisi memiliki tujuan
memaparkan atau menjelaskan informasi tertentu
guna menambah wawasan pembaca. Jadi
karangan ini bukanlah fiksi belaka. Jenis
karangan eksposisi biasa ditemukan dalam berita-
berita.
B. Ciri-ciri Karangan Eksposisi
Berdasarkan pengertian karangan
eksposisi tersebut, maka dapat diketahui
beberapa cirri menonjol dari karakteristik
karangan eksposisi. Ciri-cirinya adalah sebagai
berikut.
• Memaparkan atau menjelaskan informasi
103
• Menggunakan gaya penulisan persuasif
• Menggunakan bahasa yang lugas dan
baku
• Bersifat objektif, tidak memihak dan tidak
memaksakan kehendak penulis kepada
pembaca berisi fakta.
C. Struktur Karangan Eksposisi
Karangan eksposisi memiliki tiga
struktur, yakni tesis, argumentasi dan penegasan
ulang. Lebih jelasnya kita akan membahasnya
sebagai berikut.
• Tesis merupakan pembukaan yang berisi
sudut pandang penulis terhadap topik
yang akan dibahas. Tesis dapat berisi
teori yang nantinya akan dibahas atau
diperkuat oleh argumen.
• Argumentasi merupakan alasan yang
berisi bukti-bukti yang dapat memperkuat
tesis. Argumentasi dapat berupa pendapat
104
para ahli, hasil penelitian, atau pernyataan
umum yang berdasar pada referensi
terpecaya.
• Penegasan ulang merupakan bagian akhir
dari karangan eksposisi. Seperti namanya,
penegasan ulang berisi simpulan yang
menegaskan kembali tesis dan
pembuktian atau penguatan yang terdapat
pada argumentasi.
D. Jenis dan Contoh Karangan Eksposisi
Terdapat beberapa jenis karangan eksposisi,
yaitu:
1. Eksposisi berita, berisi tentang pemberitaan
atas suatu kejadian dan biasanya ditemukan
di koran atau surat kabar. Ekposisi ini berisi
informasi yang biasanya terdapat pada media
massa yang bersifat aktual dan faktual.
Informasi yang diangkat berupa peristiwa-
peristiwa tertentu.
105
Contoh : Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa
Universitas Indonesia. Manik
Margamahendra, menjadi sorotan public
setelah aksinya menyatakan secara lantang
bahwa DPR adalah singkatan dari “Dewan
Penghianat Rakyat”. Aksinya tersebut
dilontari dari bentuk protesnya yang
mewakili suara para mahasiswa Indonesia
yang menolak RKUHAP.
2. Eksposisi proses, berisi tentang penjelasan
suatu proses, petunjuk penggunaan, atau cara
pembuatan barang-barang tertentu. Eksposisi
yang memaparkan langkah-langkah atau cara
melakukan sesuatu atau dalam pembuatan hal
tertentu.
Contohnya, Ketika seseorang menulis teks
eksposisi, langkah awalnya adalah
menentukan topik yang kemudian dituangkan
ke dalam judul. Setelah itu, pernyataan
penulis berdasarkan fakta dituangkan ke
dalam bagain tesis, yang di dalamnya juga
106
terdapat posisi penulis apakah pro ataukah
kontra.
3. Eksposisi ilustrasi, Eksposisi ini bertujuan
untuk memberikan gambaran atas suatu ide
nyata agar pembaca dapat memahami dengan
baik. Penggambaran ini melihat kesamaan
sifat dari topik yang satu ke topik yang lain
dengan ciri-ciri biasanya terdapat konjungsi
seperti atau bagaikan , dan nomina ibarat.
Contohnya, Salah satu tanda pemanasan
global adalah peningkatan suhu udara di
bumi. Pada suatu kondisi tertentu, suhu udara
di bumi diibaratkan pemanasan mesin
kendaraan bermotor. Dampak pemanasan
global dapat dirasakan dengan panasnya
udara di sekitar kita. Udara yang pada
umumnya dirasakan biasa, kini sudah
melampaui batas normal. Hal itu seperti
halnya mesin motor yang memanas karena
dikendarai secara terus-menerus.
107
4. Eksposisi definisi, berisi pengertian tentang
suatu objek atau topik. Ekpsosisi ini
menjelaskan topik tertentu secara definitif,
yaitu memberi penjelasan dengan batasan
makna.
Contohnya, Globalisasi adalah proses ketika
dunia menjadi semakin saling terhubung
sebagai hasil dari peningkatan perdagangan
dan pertukaran budaya secara masif.
Globalisasi telah meningkatkan produksi
barang dan jasa. Perusahaan yang dimaksud
bukan lagi perusahaan nasional tetapi
perusahaan multinasional dengan anak
perusahaan di banyak negara.
5. Eksposisi perbandingan, berisi tentang suatu
ide yang dibandingkan dengan objek lain.
Membandingkan antara satu dengan yang lain
menjadi ciri dari teks eksposisi ini. Dengan
cara demikian, pembahasan suatu persoalan
akan lebih jelas daripada hanya dengan
berfokus pada persoalan itu sendiri.
108
Contoh: Pemerintah telah menyediakan listrik
dengan tarif murah. Setiap orang dapat
menjadi pelanggan listrik dengan tidak
banyak mengeluarkan biaya. Sementara itu,
petromaks memerlukan perawatan yang lebih
cermat dan banyak menggunakan bahan
bakar bila dibandingkan dengan sebuah
tenaga pembangkit listrik. Petromaks hanya
dapat menghasilkan sebuah sumber terang
dan hanya bermanfaat untuk penerangan.
Dengan sebuah pembangkit tenaga listrik
dapat dihasilkan ribuan, bahkan jutaan watt
listrik’ dan bukan hanya dipergunakan untuk
penerangan, tetapi juga untuk keperluan-
keperluan lain. Listrik terdapat di kota-kota.
Petromaks biasanya dipergunakan di tempat-
tempat yang tidak ada listrik atau di desa-
desa.
6. Eksposisi pertentangan, berisi tentang
pertentangan antara beberapa objek.
Eksposisi ini berisi topik yang dijelaskan dari
109
sisi kontradiksi, yang biasanya berhubungan
dengan topik yang lain. Ciri-ciri eksposisi
pertentangan terletak dari penggunaan
konjungsi intrakalimat, seperti tetapi dan
sedangkan, ataupun konjungsi antarkalimat,
seperti akan tetapi, meskipun demikian,
namun, sebaliknya.
Contohnya, Terdapat keunikan yang sangat
menarik dari planet Merkurius. Lama rotasi
dan revolusi planet ini berbanding terbalik.
Untuk berevolusi mengitari matahari,
Merkurius membutuhkan waktu selama 88
hari. Sebaliknya, untuk berputar pada
porosnya, 59 hari adalah waktu yang
dibutuhkan oleh planet Merkurius.
Perbedaannya sangat mencolok dengan bumi
yang hanya membutuhkan waktu 1 hari.
7. Eksposisi klasifikasi, berisi tentang
pengelompokkan suatu objek dalam beberapa
kategori. Eksposisi ini berfungsi untuk
mengelompokkan atau membagi sesuatu ke
110
dalam golongan tertentu. Terdapat dua pola:
menyeragamkan ke dalam satu kelompok
atau memisahkan ke kelompok lain. Oleh
karena itu, dalam membuat teks eksposisi ini
dibutuhkan dasar pengklasifikasian yang
jelas.
Contoh: Jurusan sastra Indonesia di
Universitas Indonesia terbagi menjadi tiga:
linguistik, sastra, dan filologi. Meskipun
ketiganya sama-sama mempelajari bahasa
Indonesia, perbedaan terletak dari
penggolongan minat para mahasiswa.
Linguistik menjadi peminatan bagi
mahasiswa yang fokus terhadap ilmu tata
bahasa. Sementara itu, mahasiswa, yang
menaruh perhatian utama pada seni yang
mediumnya bahasa, menempatkan sastra
sebagai peminatan. Filologi dikhususkan
untuk para mahasiswa yang ingin menelusuri
bahasa Indonesia klasik yang dipelajari dari
naskah-naskah kuno.
111
8. Eksposisi Analisis, Eksposisi ini berisi
pengamatan yang mendalam lalu pada bagian
argumentasi dibahas secara bertahap.
Contohnya, Saya meyakini bahwa adanya
pelbagai lembaga bimbingan belajar
merupakan bentuk dari gagalnya sistem
pendidikan di Indonesia. Hal ini bukanlah
tanpa alasan. Pertama, tak sedikit peserta
didik yang kalah bersaing dengan para
peserta didik lain yang mengikuti bimbel
yang dilihat dari segi nilai pada tiap-tiap mata
pelajaran yang diampuh.
112
BAB X
KARANGAN ARGUMENTASI
A. Pengertian Argumentasi
Argumentasi merupakan karangan yang
membuktikan kebenaran atauketidakbenaran dari
sebuah pernyataan (statement). Dalam teks
argumen,penulis menggunakan berbagai strategi
atau piranti retorika untuk meyakinkanpembaca
ihwal kebenaran atau ketidakbenaran pernayataan
tersebut(Alwasilah, 2005: 116). Nursisto (1999:
43) menyatakan bahwa argumentasiadalah
karangan yang berusaha memberikan alasan
untuk memperkuat ataumenolak suatu pendapat,
pendirian, atau gagasan. Karangan argumentasi
pastimemuat argumen, yaitu bukti dan alasan
yang dapat meyakinkan orang lainbahwa
pendapat yang disampaikan benar.
Argumentasi merupakan suatu bentuk
retorika yang berusaha untukmempengaruhi
sikap dan pendapat orang lain, agar mereka
percaya danakhirnya bertindak sesuai dengan apa
113
yang diinginkan penulis. Melaluiargumentasi
penulis mampu merangkaikan fakta-fakta
sedemikian rupa,sehingga ia mampu
menunjukkan apakah suatu pendapat atau suatu
hal tertentu itu benar atau tidak (Keraf, 2004: 3).
Dasar dari tulisan yang bersifat
argumentatif adalah berpikir kritis dan logis. Hal
tersebut menjadikan tulisan argumentasi harus
didasarkan pada fakta-fakta yang logis. Keraf
(2004: 5) menyatakan bahwa penalaran harus
menjadi landasan sebuah tulisan argumentasi.
Penalaran adalah suatu proses berpikir yang
berusaha menghubungkan fakta-fakta atau
evidensi-evidensi yang diketahui menuju kepada
suatu kesimpulan. Berpikir yang berusaha
menghubungkan untuk mencapai suatu
kesimpulan yang logis. Evidensi adalah semua
fakta yang ada, semua kesaksian, semua
informasi, atau autoritas, dan sebagainya yang
dihubung-hubungkan untuk membuktikan suatu
kebenaran (Keraf, 2004: 9).
114
Berdasarkan pemaparan di atas, dapat
disimpulkan bahwa argumentasi merupakan
suatu jenis karangan yang digunakan untuk
menyatakan suatu pendapat dan berusaha
meyakinkan orang lain terhadap kebenaran
pendapat tersebut. Penulis berusaha meyakinkan
kebenaran pendapatnya dengan menyertakan
fakta dan bukti-bukti yang logis.
B. Ciri-ciri Argumentasi
Nursisto (1999: 43) mengemukakan ciri-ciri
argumentasi adalah sebagai berikut.
a) Mengandung bukti dan kebenaran.
b) Alasan kuat.
c) Menggunakan bahasa denotatif.
d) Analisis rasional (berdasarkan fakta).
e) Unsur subjektif dan emosional sangat
dibatasi (sedapat mungkin tidak ada).
115
Indriati (2001: 79) menyatakan bahwa
argumentasi yang kuat harus mengandung lima
ciri-ciri. Lima ciri-ciri tersebut antara lain: 1)
klaim (claim), 2) bukti afirmatif (setuju) dan
bukti kontradiktif (bantahan), 3)
garansi/justifikasi (warrant), 4) kompromi
(concessions), 5) sumber aset (reservations).
Berdasarkan pemaparan yang
disampaikan di atas, dapat disimpulkan bahwa
argumentasi memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
Pertama, terdapat pernayataan atas suatu
pendapat. Kedua, menyertakan alasan untuk
meyakinkan orang lain mengenai pendapat yang
disampaikan. Ketiga, mengandung bukti
kebenaran berupa data dan fakta pendukung yang
relevan. Keempat, analisis yang dilakukan
berdasarkan data dan fakta yang disampaikan.
C. Struktur Argumentasi
116
a. Pendahuluan, bertujuan untuk menarik
perhatian pembaca, memusatkan
perhatian pembaca kepada argumen yang
akan disampaikan, atau menunjukkan
dasar-dasar mengapa argumentasi
dikemukakan.
b. Tubuh argumen, yang ditujukan untuk
membuktikan kebenaran yang akan
disampaikan dalam argumen ayat bahwa
kesimpulan juga benar. Kebenaran yang
disajikan dalam tubuh argumen harus
dianalisis, disusun dan disajikan dengan
menyelenggarakan observasi, eksperimen,
penyusun fakta dan cara yang logis
berpikir.
c. Kesimpulan atau ringkasan, bertujuan
untuk membuktikan kepada pembaca
bahwa kebenaran yang ingin disampaikan
melalui proses penalaran memang dapat
diterima sebagai sesuatu yang logis.
117
D. Jenis Karangan Argumentasi
Berdasarkan cara pengembangannya,
karangan argumentasi dibedakan menjadi dua
yaitu karangan argumentasi sebab-akibat dan
karangan argumentasi akibat-sebab. Karangan
Argumentasi Sebab-Akibat, karangan
argumentasi sebab akibat memiliki isi paragraf
yang diawali dengan beberapa pendapat
merupakan sebab. Selanjutnya, berdasarkan
pendapat itu lalu dikerucutkan menjadi sebuah
kesimpulan. Kesimpulan ini adalah efek atau
akibat dari sebab yang dipaparkan sebelumnya.
Karangan Argumentasi Akibat-Sebab,
jenis karangan ini adalah kebalikan dengan
karangan argumentasi sebab-akibat. Karangan ini
memiliki isi paragraf yang diawali dengan
pendapat yang berupa akibat. Lalu kemudian
pada bagian akhir dijabarkan penyebab yang
menimbulkan akibat tersebut.
118
E. Langkah Penulisan Karangan Argumentasi
Berikut adalah beberapa langkah-langkah
yang bisa dipakai dalam menyusun karangan
argumentasi:
a. Menentukan Tema dan Topik
Tema dan topik merupakan hal
terpenting dalam setiap karangan, apapun
jenis karangannya. Begitu juga saat
menyusun karangan argumentasi. Penentuan
tema dan topik karangan menjadi hal pertama
yang dilakukan. Tema dan topik akan
menjadi langkah awal dalam menyusun
argumen-argumen yang dipakai untuk
mempengaruhi pembaca.
b. Menyusun Kerangka Karangan
Kerangka karangan dibuat dengan cara
memperhatikan jenis karangan argumentasi
yang akan dibuat. Misalnya untuk karangan
argumentasi sebab akibat, maka kerangka
karangan ini memiliki isi kumpulan sebab
119
dan akibat (sebab – akibat ke1 – akibat ke2 –
… – akibat ke-n)
c. Mengembangkan Kerangka Karangan
Pengembangan kerangka karangan
argumentasi tak jauh berbeda denga jenis
karangan yang lainnya. Pengembangan
karangan ini dilakukan dengan menyusun
suatu karangan hingga menjadi karangan
utuh. Untuk membuat antar paragraf saling
berkaitan, maka pemakaian konjungsi
dibutuhkan, oleh karena itu, dengan
demikian, jadi, oleh sebab itu. Hal yang tak
kalah penting pada proses pengembangan
kerangka adalah mengumpulkan informasi
yang berupa fakta. Informasi ini dipakai
untuk mendukung setiap pernyataan penulis
agar pembaca merasa yakin.
d. Menyunting Karangan
Langkah akhir penulisan sebuah
karangan adalah penyuntingan. Penyuntingan
120
ini berfungsi untuk menghindari kesalahan
penulisan karangan. Tahap penyuntingan
dilakukan dengan cara membaca kembali
hasil tulisan, yang pengerjaannya bisa
dilakukan oleh penulis itu sendiri atau oleh
orang lain.
121
BAB XI
KARANGAN PERSUASI
A. Pengertian Teks Persuasif
Dalam KBBI, teks mempunyai beberapa
pengertian:
a. Teks adalah naskah yang berupa kata-kata
asli dari pengarang.
b. Teks adalah kutipan dari kitab suci untuk
pangkal ajaran atau alasan.
c. Teks adalah bahan tertulis untuk dasar
memberikan pelajaran, berpidato dan
sebagainya.
Dengan demikian dapat diketahui definisi
teks persuasi menurut KBBI. Teks persuasif
adalah teks yang fungsi utamanya memengaruhi
pendapat, perasaan dan perbuatan pembaca. Teks
persuasif adalah teks apa pun di mana tujuan
utamanya adalah untuk menyajikan sudut
pandang dan berupaya membujuk pembaca.
122
B. Tujuan Teks Persuasi
Tujuan dari teks persuasif adalah untuk
meyakinkan pembaca untuk percaya atau
melakukan sesuatu. Teks persuasif harus
memberikan bukti spesifik dan meyakinkan.
Penulis perlu mendapatkan informasi tentang
topik yang ingin disampaikan dan melakukan
riset tentang hal itu menggunakan sumber yang
sah.
Teks persuasi adalah karangan yang berisi
paparan berdaya bujuk, berdaya ajak, ataupun
berdaya imbau. Teks persuasi bertujuan untuk
membangkitkan ketergiuran pembaca untuk
meyakini dan menuruti imbauan implisit maupun
eksplisit yang dilontarkan penulis. Imbauan
implisit adalah ajakan yang dilakukan secara
tersirat, terkandung halus, dan tidak dinyatakan
secara jelas atau terang-terangan. Imbauan
eksplisit adalah ajakan yang dilakukan secara
gamblang, tegas, terus terang, tidak berbelit-belit
sehingga orang menangkap maksudnya dengan
123
mudah dan tidak mempunyai gambaran yang
kabur atau salah.
Kesimpulannya, tujuan teks persuasi adalah:
a. Agar pembaca menerima sudut
pandang penulis akan topik yang
dibahas dalam tulisan secara tepat
b. Agar pembaca mengadopsi cara
berpikir penulis tentang topik atau
masalah dalam tulisan secara tepat
C. Ciri-ciri Teks Persuasi
Teks atau karangan persuasi mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut :
a. Harus ada fakta dan data secukupnya
b. Bertolak pada pendirian bahwa pikiran
manusia dapat berubah
c. Harus menimbulkan kepercayaan
pembaca atau pendengarnya
124
d. Harus menciptakan persesuaian melalui
kepercayaan antara pembuat teks
(pembicara/penulis) dan yang diajak
berbicara/pembaca
e. Harus menghindari konflik agar
kepercayaan tidak hilang dan tujuan
tercapai.
D. Jenis-jenis teks persuasi
Terdapat empat jenis teks persuasi yaitu:
a. Persuasi Politik. Persuasi politik dipakai
oleh orang-orang yang berkecimpung di
bidang politik dan kenegaraan.
b. Persuasi Pendidikan. Persuasi pendidikan
dipakai oleh orang-orang yang
berkecimpung di bidang pendidikan dan
digunakan untuk mencapai tujuan-tujuan
pendidikan.
125
c. Persuasi advertensi atau iklan. Persuasi ini
dimanfaatkan terutama dalam dunia usaha
untuk memperkenalkan suatu barang atau
bentuk jasa tertentu. Lewat persuasi iklan
ini, diharapkan pembaca atau pendengar
menjadi kenal, senang, ingin memiliki
barang atau memakai jasa yang ditawarkan.
d. Persuasi Propaganda. Obyek yang
disampaikan dalam persuasi propaganda
adalah informasi. Tujuannya tidak hanya
penyebaran informasi saja. Lebih dari itu,
dengan informasi diharapkan pembaca atau
pendengar mau dan sadar untuk berbuat
sesuatu.
E. Langkah Penulisan Karangan Persuasi
Dalam menulis karangan persuasi, perhatikan
langkah-langkah berikut:
a. Menentukan Tema dan Topik
126
Seperti halnya dalam penulisan jenis
karangan yang lain, dalam karangan persuasi
langkah menentukan tema dan topik juga
merupakan hal yang pertama kali dilakukan.
Tema dan topik menjadi kunci pembahasan
dalam suatu karangan, tidak terkecuali
karangan persuasi. Dalam karangan persuasi,
topik karangan dapat dikemukakan secara
langsung.
b. Membuat Kerangka Karangan
Pembuatan kerangka karangan ditujukan
agar karangan tersebut sistematis dan logis.
Dengan pembuatan kerangka, pembahasan
topik tidak akan melebar. Umumnya,
kerangka karangan persuasi mengandung
hubungan sebab akibat.
c. Mengumpulkan Bahan
Penyampaian data atau fakta menjadi hal
yang penting dalam karangan persuasi. Hal
ini akan lebih menguatkan pendapat penulis
127
dan akan lebih menarik minat pembaca. Data
atau fakta dapat diperoleh dari hasil
penelusuran atau pengamatan.
d. Mengembangkan Kerangka Karangan
Pengembangan kerangka menjadi
karangan yang utuh adalah langkah
selanjutnya dalam menulis karangan
persuasi. Data atau fakta yang telah
diperoleh pada tahap sebelumnya secara
sistematis dan logis dikemukakan pada
bagian yang sesuai. Proses pengembangan
dilakukan dari paragraf per paragraf dengan
tetap memperhatikan kelogisan hubungan
antar paragraf.
e. Mencantumkan Kalimat Persuasif
Bagian akhir dari karangan persuasi
adalah berupa kesimpulan sebuah kalimat
yang bersifat persuasif. Kesimpulan dibuat
dari pembahasan pada bagian inti. Penarikan
kesimpulan dapat dilakukan dengan 2 cara,
128
yaitu dengan cara deduksi atau induksi. Yang
harus diperhatikan pada bagian akhir
karangan ini adalah penekanan tentang
ajakan penulis terkait topik yang dibicarakan.
129
BAB XII
KONVENSI NASKAH
A. Pengertian Konvensi Naskah
Untuk membuat sebuah naskah yang baik,
sebelumnya kita harus membuat kerangka
karangan terlebih dahulu. Dalam kerangka
karangan akan terlihat bab-bab, sub-sub bab yang
mengandung ide-ide pokok dari suatu naskah.
Setelah itu pengembangan pun akan mudah
dilakukan dan naskah yang dihasilkan sistematis.
Selain hal diatas, dalam pembuatan
naskah juga harus memperhatikan struktur
kalimat dan pilihan kata/diksi, agar naskah yang
kita tulis itu jelas, teratur dan menarik untuk di
baca.
Selain hal-hal diatas, hal terpenting
lainnya adalah naskah harus memenuhi syarat-
syarat tertentu seperti persyaratan formal.
Persyaratan formal mensyaratkan naskah supaya
bentuk atau wajah tampak menarik dan indah.
Persyaratan formal ini meliputi bagian-bagian
pelengkap dan kebiasaan-kebiasaan yang harus
130
diikuti dalam dunia kepenulisan yang umum
disebut konvensi naskah. Konvensi naskah
adalah penulisan sebuah naskah berdasarkan
ketentuan, aturan yang sudah lazim, dan sudah
disepakati.
Berdasarkan persyaratan formal ini, dapat
dibedakan lagi karya yang dilakukan secara
formal, semi formal, dan non formal. Maksud
secara formal adalah bahwa suatu karya
memenuhi semua persyaratan lahiriah yang
dituntut konvensi. Maksud secara semi formal
adalah bahwa suatu karya tidak memenuhi semua
persyaratan lahiriah yang dituntut konvensi. Dan
maksud secara non formal adalah bahwa suatu
karya tidak memenuhi syarat-syarat formalnya.
B. Syarat Formal Penulisan Sebuah Naskah
Pengorganisasian karangan sangat
diperlukan dalam menyusun sebuah karangan.
Pengorganisasian karangan adalah penyusunan
seluruh unsur karangan menjadi satu kesatuan
131
karangan dengan berdasarkan formal kebahasaan
yang baik, benar, cermat, logis, penguasaan,
wawasan keilmuan bidang kajian yang ditulis
secara memadai dan format pengetikan yang
sistematis. Persyaratan formal yang harus
dipenuhi sebuah karya tulis yaitu Bagian
pelengkap pendahuluan, isi karangan, bagian
pelengkap penutup.
A. Bagian Pelengkap Pendahuluan
a. Judul Pendahuluan (Judul Sampul)
b. Halaman Judul
c. Halaman Persembahan (kalau ada)
d. Halaman Pengesahan (kalau ada)
e. Kata Pengantar
f. Daftar Isi
g. Daftar Gambar (kalau ada)
h. Daftar Tabel (kalau ada)
B. Bagian Isi Karangan
a. Pendahuluan
b. Tubuh Karangan
132
c. Kesimpulan
C. Bagian Pelengkap Penutup
a. Daftar Pustaka (Bibliografi)
b. Lampiran (Apendix)
c. Indeks
d. Riwayat Hidup Penulis
A. Bagian Pelengkap Pendahuluan
Bagian pelengkap pendahuluan atau
halaman-halaman pendahuluan tidak menyangkut
isi karangan. Bagian ini dipersiapkan sebagai
bahan informasi bagi pembaca dan menampilkan
karangan tersebut dalam bentuk yang lebih
menarik.
a. Judul Pendahuluan (Judul Sampul) dan
Halaman Judul
Judul pendahuluan adalah nama karangan.
Pada halaman judul pendahuluan tidak
megandung apa-apa kecuali judul karangan.
Penulisan judul karangan dengan huruf kapital
133
dan letaknya ditengah sedikit ke atas. Tetapi
variasi format lainnya juga banyak.
Pada makalah atau skripsi, halaman judul
mencantumkan nama karangan, penjelasan tugas,
nama pengarang, kelengkapan indentitas
pengarang (NPM, kelas), nama unit studi atau
unit kerja, nama lembaga(jurusan, fakultas,
universitas), nama kota dan tahun penulisan.
Untuk memberikan daya tarik pembaca,
penyusunan judul perlu memperhatikan unsur-
unsur sebagai berikut:
• Judul menggambarkan keseluruhan isi
karangan.
• Judul harus menarik pembaca baik makna
maupun penulisannya.
• Sampul: nama karangan, penulis, dan
penerbit.
• Halaman judul: nama karangan,
penjelasan adanya tugas, penulis,
kelengkapan identitas pengarang, nama
unit studi, nama lembaga, nama kota, dan
134
tahun penulisan (dalam pembuatan
makalah atau skripsi).
• Seluruh frasa ditulis pada posisi tengah
secara simetri (untuk karangan formal),
atau model lurus pada margin kiri (untuk
karangan yang tidak terlalu formal).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
pembuatan makalah atau skripsi pada halaman
judul:
• Judul diketik dengan huruf kapital,
misalnya:
UPAYA MENGATASI KEMISKINAN PADA
MASYARAKAT PEMUKIMAN KUMUH
DI KELURAHAN JATINEGARA JAKARTA
TIMUR
• Penjelasan tentang tugas disusun dalam
bentuk kalimat, misalnya:
Makalah ini Disusun untuk Melengkapi Ujian
Akhir
135
Mata Kuliah Bahasa Indonesia Semester Ganjil
2011
Atau
Skripsi ini Diajukan untuk Melengkapi Ujian
Sarjana Ilmu Komputer pada
Fakultas Ilmu Komputer Universitas Gunadarma
• Nama penulis ditulis dengan huruf
kapital, di bawah nama dituliskan Nomor
Induk Mahasiswa (NIM), misalnya:
RAKHMAT MALIK IBRAHIM
11122334
• Logo universitas untuk makalah, skripsi,
tesis, dan disertasi; makalah ilmiah tidak
diharuskan menggunakan logo.
• Data institusi mahasiswa mencantumkan
program studi, jurusan, fakultas,
unversitas, nama kota, dan tahun ditulis
dengan huruf kapital, misalnya:
JURUSAN SISTEM INFORMASI
136
FAKULTAS ILMU KOMPUTER &
TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA
JAKARTA
2011
Hal-hal yang harus dihindarkan dalam
halaman judul karangan formal:
• Komposisi tidak menarik.
• Tidak estetik.
• Hiasan gambar tidak relevan.
• Variasi huruf jenis huruf.
• Kata “ditulis (disusun) oleh.”
• Kata “NIM/NRP.”
• Hiasan, tanda-tanda, atau garis yang tidak
berfungsi.
• Kata-kata yang berisi slogan.
• Ungkapan emosional.
• Menuliskan kata-kata atau kalimat yang
tidak berfungsi.
137
b. Halaman Persembahan
Bagian ini tidak terlalu penting. Bila
penulis ingin memasukan bagian ini, maka hal itu
semata-mata dibuat atas pertimbangan penulis.
Persembahan ini jarang melebihi satu halaman,
dan biasanya terdiri dari beberapa kata saja,
misalnya:
Kutulis novel ini
dengan cahaya cinta
untuk mahar menyunting belahan jiwa,
Muyasaratun Sa’idah binti KH. Muslim
Djawahir, alm.
Rabbana hab lanaa min azwaajinaa wa
dzurriyyaatinaa
Qurrata a’yuni waj’alnaa lil muttaqiina imaama.
Amin.[3]
Bila penulis menganggap perlu memasukkan
persembahan ini, maka persembahan ini
ditempatkan berhadapan dengan halaman
belakang judul buku, atau berhadapan dengan
halaman belakang cover buku, atau juga menyatu
dengan halaman judul buku.
138
c. Halaman Pengesahan
Halaman pengesahan berfungsi sebagai
bukti bahwa karya tulis telah memenuhi
persyaratan administratif sebagai karya ilmiah.
Halaman ini biasanya ditanda tangani oleh
pembimbing, penguji dan ketua jurusan.
Halaman pengesahan biasanya dilampirkan pada
skripsi, tesis, disertasi. Sedangkan untuk makalah
atau karangan lainnya tidak harus mensertakan
halaman ini. Halaman pengesahan ditulis dengan
mengikuti persyaratan formal urutan dan tata
letak unsur-unsur yang tertulis di dalamnya.
Judul karangan ditulis dengan
menggunakan huruf kapital seluruhnya dan
diletakkan ditengah-tengah antara margin kiri dan
kanan. Nama lengkap dan gelar akademis
pembimbing materi, penguji, ketua program
jurusan ditulis secara benar dan disusun secara
simetri kiri-kanan dan atas-bawah. Nama kota
dan tanggal pengesahan ditulis di atas kata ketua
jurusan.
Hal-hal yang harus dihindarkan:
139
• Menggaris-bawahi nama dan kata-kata
lainnya.
• Menggunakan titik atau koma pada akhir
nama.
• Tulisan melampaui garis tepi.
• Menulis nama tidak lengkap.
• Menggunakan huruf yang tidak standar.
• Tidak mencantumkan gelar akademis.
d. Kata Pengantar
Kata pengantar merupakan bagian dari
karangan yang isinya berupa penjelasan
mengenai motivasi menulis sebuah karangan.
Kata pengantar berfungsi seperti sebuah surat
pengantar. Setiap karangan ilmiah seperti: buku,
skripsi, tesis, disertasi,makalah harus
melampirkan halaman kata pengantar yang
menyajikan informasi sebagai berikut:
• Ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha
Esa.
140
• Penjelasan adanya tugas penulisan karya
ilmiah (untuk skripsi, tesis, disertasi, atau
laporan formal ilmiah).
• Penjelasan pelaksanaan penulisan karya
ilmiah (untuk skripsi, tesis, disertasi, atau
laporan formal ilmiah).
• Penjelasan adanya bantuan, bimbingan,
dan arahan dari seseorang, sekolompok
orang, atau organisasi/lembaga.
• Ucapan terima kasih kepada seseorang,
sekolompok orang, atau
organisasi/lembaga yang membantu.
• Penyebutan nama kota, tanggal, bulan,
tahun, dan nama lengkap penulis, tanpa
dibubuhi tanda-tangan.
• Harapan penulis atas karangan tersebut.
• Manfaat bagi pembaca serta kesediaan
menerima kritik dan saran.
Kata pengantar merupakan bagian
keseluruhan dari suatu karangan ilmiah yang
141
sifatnya formal dan ilmiah. Oleh sebab itu dalam
penulisannya harus menggunakan kata-kata yang
baku, baik dan benar. Isi dari kata pengantar
tidak membahas tentang pendahuluan, isi,
penutup. Dan berlaku sebaliknya, hal-hal yang
sudah dibahas dibagian kata pengantar tidak
boleh di bahas lagi dalam isi karangan.
Hal-hal yang harus dihindarkan:
• Menguraikan isi karangan.
• Mengungkapkan perasaan berlebihan.
• Menyalahi kaidah bahasa.
• Menunjukkan sikap kurang percaya diri.
• Kurang meyakinkan.
• Kata pengantar terlalu panjang.
• Menulis kata pengantar semacam
sambutan.
• Kesalahan bahasa: ejaan, kalimat,
paragraf, diksi, dan tanda baca tidak
efektif.
e. Daftar Isi
142
Daftar isi merupakan pelengkap dari
pendahuluan yang isinya memuat garis besar isi
karangan secara lengkap dan menyeluruh dari
halaman pertama sampai halaman terakhir.
Fungsi dari halaman ini untuk menyajikan
informasi nomor halaman dari judul bab, sub
bab, dan unsur-unsur pelengkap dari buku yang
bersangkutan.
Daftar isi disusun secara konsisten baik
penomoran, penulisan, maupun tata letak judul
bab, judul sub-sub bab.
f. Daftar Gambar
Bila suatu karangan memuat suatu
gambar-gambar, maka setiap gambar tersebut
harus ditulis di dalam daftar gambar yang
menginformasikan judul gambar dan nomor
halaman gambar tersebut.
g. Daftar Tabel
Bila suatu karangan memuat suatu tabel-
tabel, maka setiap tabel tersebut harus ditulis di
143