46 Siatasan memiliki media transportasimobil barang (pick up), truk, dan sepeda motor. D.4.3 Desa Dolok Parmonangan Mata pencaharian pokok di Desa Dolok Parmonangan adalah berkebun, dalam hal ini ditunjukkan dengan jumlah petani yang mengusahakan kebun di desa ini berjumlah 356 KK. Komoditi utama sebagai sumber pendapatan masyarakat di Desa Dolok Parmonangan adalah bambu dan aren. Sarana peribadatan di Desa Dolok Parmonangan terdiri dari2 (dua) buah masjid dan 7 (tujuh) buah gereja protestan. Hal ini menunjukan secara sosial budaya mayoritas masyarakat Desa Dolok Parmonangan beragama Kristen Protestan dan sebagian lainnya beragama Islam. Warga Desa Dolok Parmonangan melakukan jual beli di pasar di Desa Tiga Dolok. Selain pasar, untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, di desa juga tersedia beberapa toko dan warung/kios. Hasil-hasil pertanian selain dijual ke pasar Tiga Dolok, warga juga memanfaatkan jasa pedagang pengumpul atau cukong untuk menjual hasil pertaniannya. Sebagai media transportasi pengangkut hasil pertanian ke Pasar Tiga Dolok, warga Desa Dolok Parmonanganmemiliki media transportasimobil barang (pick up), truk, dan sepeda motor. D. 5. Sarana Pendidikan Sarana pendidikan di Desa Pondok Buluh hanya terdapat 2 bangunan SD yang jumlah muridnya 202 dan 20 orang guru. Sedangkan sarana pendidikan di Desa Siatasan hanya terdapat 2 buah SD yang jumlah muridnya 117 dan 14 orang guru. Untuk fasilitas
47 sarana pendidikan di Desa Dolok Parmonangan tergolong cukup lengkap dikarenakan Desa Dolok Parmonangan merupakan kampung induk dari kampung-kampung disekitar dengan Desa Dolok Parmonangan. Berdasarkan jumlah sarana pendidikan, sarana pendidikan di Desa Dolok Parmonangan terdapat 4 buah SD yang jumlah muridnya 301 dan 37 orang guru. Di Desa Dolok Parmonangan terdapat 1 buah SLTP yang jumlah muridnya 605 dan 49 orang guru. E. Kondisi posisi KHDTK dalam perspektif tata ruang wilayah dan pembangunan daerah Pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh 2020-2039 akan dapat dicapai apabila prakondisi di bawah ini dapat dipenuhi. Prakondisi yang dimaksudkan mengacu kepada pemanfaatan utama dari kawasan hutan diklat tersebut. Adapun prakondisi tersebut adalah : 1. Pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh dilaksanakan dengan tidak mengubah fungsi kawasan sebagai hutan lindung dan hutan produksi tetap. 2. Pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh dilaksanakan dengan tujuan untuk kepentingan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan. 3. Pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh dapat melibatkan multipihak dalam mendukung pengembangan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh sebagai laboratorium alam pendidikan dan pelatihan serta mendukung program nasional pengembangan Danau Toba sebagai Destinasi Wisata Dunia.
48 F. Isu Strategis, kendala dan permasalahan Dalam rangka pengelolaan Hutan Diklat Pondok Buluh terdapat beberapa isu strategis. Adapun isu strategis dimaksud diuraikan sebagai berikut : 1. Pengelolaan Hutan Diklat Pondok Buluh mendukung sasaran strategis Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara Periode 2018 – 2023 dalam mewujudkan pengelolaan hutan lestari tingkat tapak yang produktif dan berkelanjutan. Dan sekaligus mendukung isu strategis pembangunan Dinas Kehutanan Provinsi Sumatera Utara dalam mereduksi Emisi Karbon 26% dalam 10 tahun kedepan (14% dari Kehutanan). 2. Keberadaan Hutan Diklat Pondok Buluh merupakan alternatif ekowisata dan pemanfaatan jasa lingkungan dalam mendukung pengembangan Destinasi Wisata Danau Toba. 3. Hutan Diklat Pondok Buluh menjadi sangat penting khususnya untuk pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Dimana, pengembangan SDM menjadi salah satu prioritas yang dicanangkan oleh Presiden dalam pembangunan kedepannya untuk mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang maju dan modern. 4. Dengan ditetapkannya pendidikan vokasi sebagai prioritas nasional, menjadikan pendidikan vokasi kehutanan sangat strategis dan penting. Hal tersebut memposisikan pemanfaatan Hutan Diklat Pondok Buluh sebagai laboratorium lapangan menjadi penting dalam rangka mendukung penyelenggaraan pendidikan vokasi kehutanan. 5. Dalam upaya mendukung Prioritas Nasional Penanggulangan Kemiskinan, BDLHK Pematangsiantar melakukan upaya peningkatan kapasitas pelaku utama dan pelaku usaha dalam pemberdayaan masyarakat melalui kegiatan peningkatan kapasitas tenaga
49 pendamping/penyuluh handal. Hal tersebut sejalan dengan kegiatan Badan P2SDM melalui peningkatan jumlah kelompok tani desa-desa hutan. Kendala dan permasalahan yang sering dihadapi dalam Pengelolaan Hutan Diklat Pondok Buluh adalah sebagai berikut : Hutan Diklat Pondok Buluh berbatasan langsung dengan 3 desa, sehingga kawasan ini banyak dikelilingi oleh pemukiman masyarakat dengan tingkat kesejahteraan masyarakat yang tergolong masih rendah. Dengan terus meningkatnya jumlah penduduk yang sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan lahan, maka berpotensi terhadap adanya tekanan penduduk terhadap keberadaan hutan diklat tersebut. Masih adanya gangguan hutan seperti pencurian hasil hutan, dan perburuan satwa liar. KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh sudah ditetapkan menjadi Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus untuk pemanfaatan pendidikan dan pelatihan. Namun demikian, pemanfaatan untuk pendidikan dan pelatihan lingkungan hidup dan kehutanan masih belum optimal.
50 BAB III. VISI DAN MISI PENGELOLAAN HUTAN A. Visi Visi Pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pematangsiantar adalah “Terwujudnya Pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh sebagai laboratorium alam pendidikan dan pelatihan terbaik di Indonesia secara lestari dengan melibatkan multipihak “ B. Misi Untuk mewujudkan visi di atas, maka dirumuskan misi pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh adalah : 1. Mewujudkan penataan potensi KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh sebagai show window pengelolaan hutan secara lestari; 2. Mengembangkan potensi kawasan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan lingkungan hidup dan kehutanan secara professional; 3. Meningkatkan kerjasama kemitraan dengan berbagai pihak dalam rangka optimalisasi pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh; 4. Melestarikan keanekaragaman hayati melalui implementasi praktik pengelolaan hutan dalam mendukung pengembangan ekowisata; 5. Meningkatkan patroli dan pengamanan di KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh sebagai upaya menjaga kelestarian hutan. Dari gambaran visi dan misi diatas, diproyeksikan melalui capaiancapaian utama yang diharapkan sebagai berikut :
51 1. Tahun 2019: Tersusunnya Rencana Pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh 2020-2039. 2. Periode Lima Tahun Pertama 2020-2024: 1) Mewujudkan penataan potensi KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh sebagai show window pengelolaan hutan secara lestari; 2) Mengembangkan potensi kawasan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan lingkungan hidup dan kehutanan secara professional; 3) Meningkatkan kerjasama kemitraan dengan berbagai pihak dalam rangka optimalisasi pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh; 4) Melestarikan keanekaragaman hayati melalui implementasi praktik pengelolaan hutan dalam mendukung pengembangan ekowisata; 5) Meningkatkan patroli dan pengamanan di KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh sebagai upaya menjaga kelestarian hutan. 3. Periode Lima Tahun Kedua 2025-2029: 1) Meningkatkan kerjasama kemitraan dengan berbagai pihak dalam rangka optimalisasi pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh; 2) Gambar 5. Tahapan Pencapaian (Milestones) Pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh
52 Mengembangkan potensi kawasan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan lingkungan hidup dan kehutanan secara professional; 3) Melestarikan keanekaragaman hayati melalui implementasi praktik pengelolaan hutan dalam mendukung pengembangan ekowisata; 4) Mewujudkan penataan potensi KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh sebagai show window pengelolaan hutan secara lestari; 5) Meningkatkan patroli dan pengamanan di KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh sebagai upaya menjaga kelestarian hutan. 4. Periode Lima Tahun Ketiga 2030-2034: 1) Mewujudkan penataan potensi KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh sebagai show window pengelolaan hutan secara lestari; 2) Mengembangkan potensi kawasan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan lingkungan hidup dan kehutanan secara professional; 3) Meningkatkan kerjasama kemitraan dengan berbagai pihak dalam rangka optimalisasi pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh; 4) Melestarikan keanekaragaman hayati melalui implementasi praktik pengelolaan hutan dalam mendukung pengembangan ekowisata; 5) Meningkatkan patroli dan pengamanan di KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh sebagai upaya menjaga kelestarian hutan. 5. Periode Lima Tahun Keempat 2035-2039: 1) Meningkatkan kerjasama kemitraan dengan berbagai pihak dalam rangka optimalisasi pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh; 2) Mengembangkan potensi kawasan untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan lingkungan hidup dan kehutanan secara professional; 3) Melestarikan keanekaragaman hayati melalui implementasi praktik pengelolaan hutan dalam mendukung pengembangan ekowisata; 4) Mewujudkan penataan potensi KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh sebagai show window
53 pengelolaan hutan secara lestari; 5) Meningkatkan patroli dan pengamanan di KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh sebagai upaya menjaga kelestarian hutan.
54 BAB IV. METODE PENGUMPULAN DAN ANALISIS DATA A. SURVEY LAPANGAN Langkah awal yang dilakukan sebelum melakukan survei ke lapangan, tim terlebih dahulu membuat peta kerja sebagai panduan dalam menentukan posisi titik-titik plot di lapangan. Peta kerja dibuat dengan berpedoman kepada petunjuk teknis yang ada, dari petunjuk teknis yang ada bahwasanya intensitas sampling yang di tetapkan sebesar 0,056%. Dari luas areal KHDTK hutan diklat pondok buluh 1.272,7 Ha maka didapatkan sampling seluas 71,2712 Ha. Dari luas sampling yang telah diketahui maka jumlah plot pengamatan yang diperlukan sebanyak 3,976 buah atau digenapkan menjadi 4 buah. Cara menentukan posisi plot sampling di peta dilakukan dengan menggunakan metode Stratified Systematic sampling with random start, sehingga diperoleh peta kerja seperti pada gambar 6. Gambar 6. Peta Kerja Inventarisasi Potensi KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh
55 A.1 Flora dan Fauna Kegiatan Penyusunan Rencana Pengelolaan KHDTK ini dilaksanakan di KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh untuk Kegiatan Pengambilan Data Potensi Satwa dan Tumbuhan, dan desa yang berada di Sekitar Kawasan Hutan Diklat Pondok Buluh yakni Desa Pondok Buluh yang meliputi Dusun I (Pondok Buluh), Dusun II (Naga Hulambu), Dusun III (Huta Tongah/Simpang Palang), dan Dusun IV (Negeri Dolok), Desa Dolok Parmonangan yang meliputi Dusun Marihat Huta, dan Dusun Buluh Malando, serta Desa Siatasan yang meliputi Dusun Pardamaran untuk Kegiatan Pegambilan Data Sosial-Ekonomi Masyarakat di Sekitar Hutan. Alat yang dipergunakan dalam Kegiatan Penyusunan Rencana Pengelolaan KHDTK ini adalah peta kerja, talley sheets, buku panduan lapangan inventarisasi burung, kompas, suunto-clinometer, GPS (Global Position System) Montana dan 76 CXS, phi-band, meteran, teropong, piloks merah, papan jalan (clipboard), alat tulis, kamera, tali plastik, parang, cangkul, ajir, dan alat P3K. Data Kegiatan Penyusunan Rencana Pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh bersumber dari data primer dan data sekunder. Data primer ini diperoleh dengan melakukan pengambilan data secara langsung di lapangan baik untuk kegiatan pengambilan data potensi satwa dan tumbuhan maupun pengambilan data sosial-ekonomi masyarakat di sekitar kawasan hutan. Pengambilan data primer dilakukan secara langsung di lapangan, untuk pengambilan data flora dan fauna metode yang digunakan adalah Stratified Systematic sampling with random start. Metode ini dapat diuraikan sebagai berikut :
56 1. Desain Sampling Penempatan plot sampling inventarisasi hutan digunakan metode Stratified Systematic Sampling with Random Start pada hutan lahan kering sekunder. Intensitas sampling yang digunakan sesuai dengan Perdirjen PKTL No. P.1/PKTL/IPSDH/PLA.1/1/2017 adalah sebesar 0,056 % dengan jarak antar plot sejauh 3 km x 3 km. Untuk menentukan jumlah plot sampling yang dialokasikan ditentukan dengan rumus : = ) n ................................................(1) Dimana : ni = Jumlah plot sampling pada suatu stratum Ni = Luas areal suatu stratum N = Luas total areal yang akan di inventarisasi n = jumlah total plot sampling. Desian plot sampling dapat dilihat pada Gambar 7 berikut ini : Gambar 7. Desain sampling wilayah 100m 100 m 3Km 3Km U
57 2. Desain Plot Sampling Plot inventarisasi hutan berbentuk persegi panjang dengan ukuran 100 m x 100 m yang di dalamnya terdapat plot berbentuk lingkaran sebanyak 5 buah yang ditempatkan pada setiap sudut dan tengah kluster dengan jari-jari 17,8 m atau setara dengan 0,1 Ha. Pada masing-masing plot lingkaran ukuran 0,1 Ha, dibuat sub plot pengamatan berbentuk lingkaran dengan ukuran sebagai berikut : a. Sub plot jari-jari 1 m untuk pengamatan tanaman tingkat semai yaitu permudaan pohon sampai dengan tinggi < 1,5 m. b. Sub plot jari-jari 2 m untuk pengamatan tanaman tingkat pancang yaitu permudaan pohon dengan tinggi ≥ 1,5 m dengan diameter < 5 cm. c. Sub plot jari-jari 5 m untuk pengamatan tanaman tingkat Tiang yaitu pohon dengan diameter ≥ 5 cm sampai dengan < 20 cm. d. Sub plot jari-jari 10 m untuk pengamatan hasol hutan bukan kayu seperti rotan dewasa, bambu dan sagu. e. Sub plot jari-jari 17,8 m untuk pengamatan pohon yang berdiameter ≥ 20 cm Penomeran plot dalam klaster searah jarum jam dimulai dari plot nomor 1 yang berada di sudut barat daya dari titik tengah klaster dan plot nomor 5 berada di tengah klaster. Desian klaster dan plot sampling dapat dilihat pada Gambar 8.
58 A. (b) Gambar 8. (a) Desain klaster berbentuk persegi ukuran 100 m x 100 m untuk hutan lahan kering, sedangkan ukuran 50 m x 50 m untuk hutan rawa dan mangrove; (b) Desain Plot Sampling. 3. Analisa Vegetasi Analisa vegetasi dilakukan pada setiap tingkatan pertumbuhan tegakan dengan menggunkan rumus-rumus berikut : a. Kerapatan Kerapatan (K) menunjukkan jumlah individu dalam suatu petak ukur Kerapatan (K) = Kerapatan Relatif (KR) = x 100% b. Frekuensi Frekuensi (F) menunjukkan jumlah penyebaran tempat ditemukannya suatu jenis dari semua petak ukur. Frekuensi (F) = Frekuensi Relatif (FR) = x 100% 1m 2m 5m 10m 17,8m
59 c. Dominansi Dominansi (D) digunakan untuk mengetahui spesies yang tumbuh lebih banyak/dominan pada suatu tempat pertumbuhan khusus tingkat tiang dan pohon. Dominansi (D) = Dominansi Relatif (DR) = x 100% d. Indeks Nilai Penting Indeks Nilai Penting (INP) adalah parameter kuantitatif yang menyatakan tingkat dominansi (Tingkat penguasaan) suatu spesies dalam suatu komunitas tumbuhan. 1. Tingkat Semai dan Pancang INP = KR + FR 2. Tingkat Tiang dan Pohon INP = KR + FR + DR Selain flora, di setiap plot sampling juga dilakukan pengamatan untuk mendapatkan data fauna yang ada serta potensi jasa lingkungan. A.2 Sosial Ekonomi Masyarakat A.2.1 Kondisi Umum Sosial Ekonomi Masyarakat Sekitar KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh Tim terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan aparat desa dan tokoh masyarakat/tokoh adat setempat untuk menjelaskan tentang maksud dan tujuan kegiatan inventarisasi. Selanjutnya melakukan penentuan responden (tokoh masyarakat/adat, anggota masyarakat), pemilihan tempat dan waktu pelaksanaan pengumpulan data dan informasi.
60 Pengumpulan data sosial ekonomi masyarakat dilakukan melalui survey lapangan dengan menggunakan kuesioner dan panduan wawancara. Jenis data yang dikumpulkan terdiri dari data primer dan data sekunder, meliputi: a. Jati diri responden b. Masyarakat (asal usul masyarakat dan aksesibilitas masyarakat menuju kawasan hutan). c. Ketergantungan masyarakat dan distribusi manfaat sumber daya hutan (penguasaan lahan, penggunaan lahan, perladangan berpindah, manfaat hutan, akses pemasaran hasil hutan, kegiatan perekonomian yang dikembangkan oleh masyarakat, dan tingkat kesejahteraan masyarakat). Pengumpulan data kegiatan inventarisasi sosial budaya masyarakat menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif. a. Pendekatan Kualitatif Pendekatan kualitatif digunakan untuk memperoleh data tentang persepsi, menggali sejarah kepemilikan lahan, kebijakan pemberdayaan masyarakat, interaksi masyarakat dengan sumberdaya hutan, konflik kawasan, serta pemanfaatan sumberdaya hutan oleh masyarakat maupun pemerintah. Untuk memperoleh data tersebut diperlukan 4 teknik pengumpulan data, yaitu (1) studi literatur, (2) observasi, (3) wawancara, dan (4) diskusi terbatas. Data literatur dikumpulkan pada tingkat provinsi/kabupaten/kota/kecamatan berupa buku dalam angka, rencana strategis pemerintah provinsi/kabupaten/kota/kecamatan, monografi desa, dan kebijakan Pemerintah terhadap pemanfaatan sumberdaya hutan (perundangan, peraturan pemerintah, peraturan daerah).
61 Wawancara dilakukan untuk memperoleh keterangan tentang peristiwa yang tidak dapat disaksikan langsung pada saat pelaksanaan kegiatan. Metode ini digunakan untuk memahami sejarah kepemilikan lahan, kebijakan pemberdayaan masyarakat, interaksi masyarakat dengan sumberdaya hutan, konflik kawasan, serta pemanfaatan sumberdaya hutan oleh masyarakat maupun pemerintah. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan 2 teknik wawancara: 1) Teknik wawancara bebas (open interview) dilakukan di kantor desa, warung makan, tempat ibadah, kantor desa, terminal angkutan, ataupun di pasar dengan topik tidak terfokus. Teknik wawancara bebas ini digunakan sebagai komparasi atau cross check data dari masyarakat. 2) Teknik wawancara mendalam (depth interview) dilakukan terhadap masyarakat (key informant) seperti kepala desa, kepala adat, dan tokoh masyarakat yang diwakili oleh guru, tokoh agama atau tokoh pemuda dengan menggunakan pedoman wawancara. Diskusi terbatas, dilakukan di tingkat desa, untuk memahami interaksi antara masyarakat dengan kawasan hutan, yang mencakup aspek sejarah pemanfaatan dan prospek pengelolaan berdasarkan aspirasi masyarakat. Diskusi dilakukan dengan pembantu lapangan yang berasal dari tokoh formal (kepala desa/perangkat desa) dan tokoh informal (tokoh adat dan tokoh masyarakat). b. Pendekatan Kuantitatif Metode kuantitatif digunakan untuk mengetahui tingkat kesejahteraan masyarakat berdasarkan sumber mata pencaharian serta potensi perekonomian masyarakat. Metode kuantitatif juga digunakan untuk mengetahui tingkat ketergantungan masyarakat
62 terhadap kawasan hutan. Metode pengumpulan data menggunakan kuisoner (daftar isian) dengan sumber informasi adalah responden. Jumlah responden pada masing-masing desa memiliki sampel sebanyak 10 (sepuluh) orang. Pemilihan responden didasarkan pada pertimbangan jenis mata pencaharian masyarakat yaitu petani kebun, petani ladang, petani sawah, peternak, pedagang, nelayan, karyawan, dan PNS/TNI/Polri. Data primer maupun sekunder serta informasi yang diperoleh dilakukan pengolahan dan analisis data yang selanjutnya dirumuskan kesimpulan-kesimpulannya yang mudah dipahami oleh orang lain. Analisis dilakukan dengan metode kualitatif dan kuantitatif. Pengolahan dan analisis data dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dan kuantitatif dalam bentuk tabuler, numerik, grafis dan naratif. A.3. Persepsi Masyarakat Terhadap Keberadaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh Pengambilan data dilaksanakan di Nagori Siatasan, Nagori Pondok Buluh dan Nagori Dolok Parmonangan Kecamatan Dolok Panribuan Kabupaten Simalungun, terhitung mulai tanggal 13-19 Mei 2019. Metode pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara langsung dibantu alat kuesioner berupa daftar pertanyaan yang diajukan kepada responden. Objek penelitian ini adalah masyarakat di Nagori Siatasan, Nagori Pondok Buluh dan Nagori Dolok Parmonangan. Pengambilan responden dilakukan secara purposive sampling yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Kriteria masyarakat yang akan dijadikan responden secara purposive sampling adalah (1) Kepala keluarga yang berdomisili di Nagori Siatasan, Nagori Pondok Buluh dan Nagori Dolok Parmonangan, (2) Lama
63 berdomisili minimal 5 (lima) tahun, (3) Usia minimal 21 tahun dan sudah menikah, (4) Sehat Jasmani dan Rohani. Responden yang diambil terdapat di Nagori Siatasan, Nagori Pondok Buluh dan Nagori Dolok Parmonangan. Untuk lebih jelas dapat di lihat pada Tabel 12. Tabel 12. Daftar jumlah populasi yang dijadikan sampel penelitian untuk kuesioner No Nama Desa Jumlah Sampel 1 Nagori Siatasan 10 2 Nagori Dolok Parmonangan 10 3 Nagori Pondok Buluh 10 Jumlah 30 Data yang dikumpulkan antara lain berupa: (1) Data primer yaitu data mengenai tingkat persepsi masyarakat sekitar hutan terhadap fungsi hutan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh dan tingkat ketergantungan masyarakat sekitar hutan terhadap keberadaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh. (2) Data sekunder yaitu data penunjang lainnya yang berhubungan dengan keadaan lokasi penelitian yang diperoleh dari beberapa laporan pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh dan laporan dari beberapa nagori yang menunjang hasil penelitian. Analisis persepsi masyarakat terhadap fungsi hutan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh didahului dengan mendeskripsikan karakteristik responden secara kuantitatif-deskriptif. Persepsi masyarakat dianalisis dengan menggunakan skoring Skala Likert (1-5) yang dimodifikasi (Djaali 2008). Skala Likert persepsi dapat dilihat di Tabel 13.
64 Tabel 13. Skala Likert persepsi masyarakat terhadap fungsi hutan KHDTK Pondok Buluh No Interval kelas Skala Likert Persepsi 1 4,21-5,00 Sangat Tinggi 2 3,41-4,20 Tinggi 3 2,61-3,40 Sedang 4 1,81-2,60 Rendah 5 1,00-1,80 Sangat Rendah Data yang diperoleh dari hasil kuisioner kemudian dicari nilai total skor dari setiap pertanyaan dengan cara menjumlahkan nilai dari setiap jawaban responden. Penentuan tingkat persepsi dikelompokan secara ordinal menjadi lima kategori yakni sangat tinggi, tinggi, sedang, rendah dan sangat rendah seperti Tabel 14, sehingga dapat diketahui tingkat persepsi dari tiap responden. Kemudian data tersebut diolah dan dianalisis secara deskriptif. Sedangkan tingkat ketergantungan masyarakat sekitar hutan terhadap keberadaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh dianalisis secara deskriptif. A.4. Peran multipihak (stakeholder) dalam pengelolaan kolaboratif Multipihak (stakeholder) memiliki peranan yang cukup besar dalam keberhasilan pengelolaan KHDTK HDPB. Masalah konflik yang dihadapi dalam pengelolaan KHDTK seringkali bersinggungan dengan pihak luar. Melihat kondisi tersebut, penanganan konflik dengan melibatkan multipihak (stakeholder) merupakan solusi yang tepat dalam mengatasi konflik yang ada. Pemecahan konflik dapat diselesaikan melalui beberapa pendekatan. Salah satu pendekatan yang dimaksud adalah kolaborasi. Kolaborasi merupakan tindakan yang diambil para pihak yang berkonflik
65 untuk menghasilkan tindakan yang memuaskan semua pihak sebagai tindakan “menang-menang” (Raharja, 2008). Kolaborasi sebagai kerja bersama diarahkan untuk mencapai tujuan sebagaimana yang diinginkan individu, kelompok, lembaga, atau organisasi untuk menghasilkan suatu keluaran yang bermakna dan berkelanjutan. Dalam kolaborasi terjadi relasi antarorganisasi dan dengan relasi tersebut akan tercipta kerja sama. Defenisi kolaboratif secara lebih luasdimaknai sebagai Collaborative Governance, yaitu sebagai proses dan struktur dan manajemen dan pengambilan keputusan kebijakan publik yang mengikutsertakan masyarakat secara konstruktif melewati batas-batas dari para agen publik, tingkat pemerintah, privat dan kewenangan yang bertujuan untuk mencapai tujuan publik yang tidak dapat dicapai dengan cara lain. Peran multipihak dalam konteks pengelolaan KHDTK HDPB digali secara mendalam pada kegiatan dialog multipihak dan membangun kesepahaman bersama melalui focus group discussion (FGD). Multipihak (stakeholder) yang diundang pada kegiatan ini berasal dari instansi pemerintah, swasta, LSM (NGO), dan masyarakat. Peserta yang hadir dibagi ke dalam 4 kelompok kecil dengan tema yang berbeda antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya. Tema yang diangkat pada diskusi kelompok kecil ini, antara lain: Perlindungan dan Pengamanan Hutan, Pemberdayaan Masyarakat, HHBK, Pemanfaatan Wisata Alam dan Jasa Lingkungan. Masing-masing kelompok dipandu oleh moderator. Hasil notulensi rapat dari kelompok-kelompok kecil tersebut akan digabung dan dibahas dalam forum diskusi kelompok. Masukan dan saran dari multipihak dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan Rencana Pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh Jangka Panjang Tahun 2020-2039.
66 B. DESK STUDY Pengumpulan data dan informasi melalui pemeriksaan dan analisis data dan informasi yang menggunakan data sekunder berupa dokumendokumen internal/eksternal pengelola Hutan Diklat, peraturan perundangundangan terkait, laporan, data statistik, studi pustaka, peta-peta dan sebagainya. Data dan informasi yang dikumpulkan diantaranya meliputi profil desa sekitar hutan, sehingga diperoleh data sosial budaya masyarakat sekitar hutan, seperti jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin, jumlah penduduk berdasarkan kelompok umur, mata pencarian masyarakat sekitar hutan diklat, serta tekanan penduduk agraris. Data kependudukan, sosial, dan ekonomi yang diperoleh digunakan sebagai dasar untuk menentukan tingkat tekanan penduduk terhadap lahan yang ada di desadesa di sekitar KHDTK Hutan DiklatPondok Buluh dan sekitarnya. Dokumen-dokumen internal/eksternal pengelolaan KHDTK Hutan Diklat, seperti laporan tahunan, hasil penelitian, makalah yang dibuat oleh pejabat fungsional seperti Widyaiswara, fungsional penyuluh, rancangan teknis kegiatan, dan data statistik. Adapun peraturan yang diacu diantaranya : 1. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. 2. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang. 3. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. 4. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan. 5. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2007 Tentang Tata Hutan Dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan Serta Pemanfaatan Hutan
67 6. PeraturanPemerintah Nomor 26 tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional. 7. PeraturanPemerintah Nomor 62Tahun 2013 Tentang Pengukuhan Kawasan Hutan. 8. PeraturanPemerintah Nomor 45 Tahun 2004 Tentang Perlindungan Hutan. 9. Peraturan Pemerintah Nomor 3 Tahun 2008 Tentang Tata dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan serta Pemanfaatan Hutan. 10. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Penelitian dan Pengembangan serta Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan. 11. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.16/Menlhk/Setjen/OTL.0/1/2016Tentang Organisasi Dan Tata Kerja Balai Diklat Lingkungan Hidup Dan Kehutanan. 12. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.15/MENLHK/SETJEN/KUM.1/5/2018 Tentang Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus. 13. Keputusan Menteri Kehutanan Nomor:399/KPTS-II/1990 Jo Keputusan Menteri Kehutanan No. 634/ Kpts-II/ 1996Tentang Pedoman Pengukuhan Hutan. 14. Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor: 1030/Menhut-VII/KUH/2015 Tanggal 20 April 2015 Tentang Kawasan Hutan Produksi Tetap dan Hutan Lindung, ditetapkan sebagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Hutan Pendidikan dan Pelatihan Pondok Buluh seluas 1.272,70 Ha. 15. Peraturan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya manusia Nomor: P.8/P2SDM/SET/KUM.1/12/2018 Tentang Tata Cara Penilaian dan Pengesahan Rencana Pengelolaan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan.
68 16. Peraturan Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya manusia Nomor P.7/P2SDM/SET/KUM.1/12/2018 Tentang Tata Cara Pemberian Pertimbangan Teknis Permohonan Kerja Sama Pengelolaan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus Pendidikan dan Pelatihan Kehutanan. 17. Peraturan Direktur Jenderal Planologi Kehutanan dan Tata Lingkungan Nomor: P. I/PKTL/IPSDH/PLA.L/I/2017 Tentang Petunjuk Teknis Inventarisasi Hutan dan Sosial Budaya Masyarakat pada Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) dan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) 18. KeputusanKepala Pusat Diklat Kehutanan Nomor SK 119/KPTS/DIK1/XII/2002 Tanggal 24 Desember 2002 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengelolaan Hutan Diklat. 19. Buku Simalungun dalam Angka Tahun 2016 dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Simalungun Tahun 2016 C. Analisis data SWOT (Strenghts, Weaknesses, Opportunities, Threaths) Analisis SWOT dilakukan melalui identifikasi dan diskusi faktorfaktor internal dan eksternal yang mempengaruhi serta perlu dipertimbangkan dalam rangka mewujudkan sasaran pengelolaan hutan diklat selama kurun waktu 20 tahun ke depan. Hasil dari diskusi tersebut adalah matriks SWOT dan strategi operasional untuk Pengelolaan Hutan Diklat. Analisis SWOT membandingkan antara faktor internal yaitu kekuatan dan kelemahan dengan faktor eksternal yaitu peluang dan ancaman sebagaimana tercantum dalam Tabel 14.
69 Tabel 14. Model Matriks SWOT Strengths(Kekuatan) Susun Daftar Kekuatan 1. ...................... 2. ...................... 3. ...................... 4. ...................... Weaknesses(Kelemahan) Susun Daftar Kelemahan 1. ......................... 2. ......................... 3. ......................... 4. ......................... Opportunities( Peluang) Susun Daftar Peluang 1. ................ 2. ................ Strategi SO Pakai Kekuatan Untuk Memanfaatkan Peluang Strategi WO Tanggulangi Kelemahan dengan Peluang Threaths(Anca man) Susun Daftar Ancaman 1. ................ 2. ................ Strategi ST Pakai Kekuatan Untuk Mengatasi Ancaman Strategi WT Perkecil Kelemahan dan Hindari Ancaman Berdasarkan hasil identifikasi kedua faktor tersebut, kemudian dilakukan Analisis SWOT yang akan menghasilkan strategi operasional serta program/kegiatan pokok sebagai dasar dan arahan dalam desain pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh. Strategi operasional yang akan diperoleh dari hasil analisis SWOT tersebut adalah : a. Strategi SO, strategi menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada. b. Strategi WO, strategi menanggulangi kendala atau kelemahan dengan memanfaatkan peluang. c. Strategi ST, strategi menggunakan kekuatan yang ada untuk mengatasi ancaman yang ada. d. Strategi WT, strategi memperkecil kelemahan atau memperkecil kendala dan mengatasi ancaman. Faktor Internal Faktor Eksternal
70 BAB. V. ANALISIS DAN PROYEKSI A. Analisis Data dan Proyeksi Kondisi KHDTK A.1. Analisis Vegetasi Hasil pengambilan data di lapangan yang tertuang dalam tally sheet selanjutnya dilakukan rekapitulasi untuk mengelompokkan ke dalam kelas pertumbuhan mulai dari semai, pancang, tiang dan pohon. Untuk tingkat tiang dan pohon dilakukan pengolahan data sampai kepada perhitungan volume. Rekapitulasi Indeks Nilai Penting untuk setiap tingkatan pertumbuhan mulai dari tumbuhan tingkat semai, pancang, tiang dan pohon untuk setiap jenis tanaman dapat dilihat pada Tabel 15. Tabel 15. Indeks Nilai Penting Tingkat Pohon, Tiang, Pancang dan Semai di KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh No INDEKS NILAI PENTING Nama Lokal Nama Ilmiah Pohon Tiang Pancang Semai 1 Medang Litsea odorifera 93.71 238.20 110.68 110.17 2 Loba Symplocos cochinchinensis 24.78 184.24 - 8.33 3 Puspa Schima wallichii 75.79 74.29 59.07 - 4 Medang Batu Litsea sp. 18.82 76.17 14.14 21.29 5 Hoting Quercus sp 46.57 14.46 45.83 10.64 6 Sabal Cinnamomum subaveninum 13.47 10.82 59.17 32.17 7 Mayang Bolon Palaquium sp. 52.48 14.14 - 43.91 8 Porporan 50.02 13.69 17.33 21.29 9 Mayang Palaquium obovatum 63.90 11.89 17.37 - 10 Hapas-hapas Symingtonia populnea 64.91 12.56 7.07 - 11 Medang telur 9.46 34.02 12.67 21.29 12 Handis Garcinia celebica 45.82 - 8.67 15.41 13 Mundol 4.28 - 59.98 - 14 Kemenyan Merah Styrax sp. 43.34 - - 12.94 15 Dosi Alstonia angustiloba 21.17 18.04 10.67 - 16 Simartolu Schima wallichii 20.32 13.61 - 12.94 17 Kopi-kopi Neonauclea orientalis 13.08 - 31.93 18 Tungir-tungir Claoxylon spp - - 43.33 - 19 Habunghabung Litsea sp. 23.03 7.07 11.90
71 No INDEKS NILAI PENTING Nama Lokal Nama Ilmiah Pohon Tiang Pancang Semai 20 Alingit Neonauclea calycina 24.18 - 10.64 21 Salam Syzygium polyanthum - - - 34.21 22 Medang landit Litesea odoratissima - - 10.30 23.81 23 Apapolsik - 13.18 20.24 24 Sitarak Macaranga javanica - - 14.14 18.98 25 Simareme-eme Scheffiera longifolia Vig - 31.87 - - 26 Sitolu Bulung - - 14.14 16.67 27 Medang Kuning Vernonia arborea 4.71 16.84 8.67 - 28 Sapot-sapot Macaranga gigantean 4.44 11.22 14.14 29 Dori Syzygium lineatum 28.98 - - - 30 Jilok Pternandra cordata - - 17.37 8.33 31 Api-api Gordonia excelsa 25.29 - - - 32 Medang Durian 8.24 16.67 - 33 Tembesu Fagraea fragans 10.56 14.14 - 34 Sampinur Bunga Dacricarpus sp. 6.85 - - 16.78 35 Pituarus Kibessia azurea 15.13 - 8.33 36 Tungir-tungir Claoxylon spp 21.04 - - - 37 Murak - - - 20.24 38 Sapiratus 9.22 - 10.30 - 39 Tinggiran Syzygium sp. 5.68 - - 10.64 40 Rasamala Altingia excels 15.41 - - - 41 RangrangUlok 14.15 - - 42 Jambu-jambu Eugenia fastigiata 13.71 - - - 43 Holat Phyllantus emblica - - - 12.94 44 Horbo-horbo Xylopia sp. 12.19 - - - 45 Simarsihala 10.71 - - 46 Sotul Sandoricum sp. - - - 10.64 47 Hoting Batu Quecus maingayi 8.95 - - - 48 Losa Cinnamomum porectum 8.34 - - - 49 Medang Kertas Neoscortec hiniakingii - - - 8.33 50 Sanduduk Melastoma pulcherrimum - - - 8.33 51 Mudar-mudar - - - 8.33
72 No INDEKS NILAI PENTING Nama Lokal Nama Ilmiah Pohon Tiang Pancang Semai 52 Kayu Manis Cinnamomum sp. - - - 8.33 53 Rube Pouzolzia zeylanica - - 7.07 - 54 Sorpa Hudon 6.99 - - - 55 Raru Garcenia sp. 6.73 - - - 56 Puspa Putih Schiima sp. 6.60 - - - 57 Kemenyan Styrax benzoin 6.54 - - - 58 Sukun Artocarpus altilis 5.84 - - - 59 Torop Artocarpus elastic 5.69 - - - 60 Simareme-eme Scheffiera longifolia Vig 5.61 - - - 61 Hoting Bunga Lithocarpus hystrize 5.38 - - - 62 Medang Sekupal Phoebe macrophylla 5.20 - - - 63 Mayang Batu Palaquium sp. 4.94 - - - 64 Pinus Pinus merkusii 4.87 - - - 65 Tuba Nephellium lappaceum 4.71 - - - 66 Hatuang Litsea velutina 4.65 - - - 67 Jengkol Archidendron sp. 4.36 - - - Dari Tabel 15 terlihat bahwa rekapitulasi indeks nilai penting setiap jenis tanaman untuk setiap tingkatan pertumbuhan mulai dari tanaman tingkat semai, pancang, tiang dan pohon. Tabel tersebut merupakan gabungan dari masing-masing tingkat tumbuhan, selain itu didalam tabel diurutkan indeks nilai pentingnya dari yang paling besar ke indeks nilai penting yang paling kecil. Ada 67 jenis tanaman yang terdapat di seluruh plot sampling, yang terdiri dari 44 jenis tingkat pohon, 25 jenis untuk tingkat tiang, 25 jenis untuk tingkat pancang dan 30 jenis untuk tingkat semai. a. Tingkat Pohon Indeks nilai penting tingkat pohon di dominasi oleh pohon Medang dengan INP sebesar 93,71 %, Puspa sebesar 75,79 %, Hapas-hapas sebesar 64,91%, Mayang sebesar 63,90%, Mayang Bolon sebesar 52,48%, Porporan sebesar 50,02%, Hoting sebesar 46,57%, Handis
73 sebesar 45,82% dan Kemenyan Merah sebesar 43,34%. Sisanya memiliki indeks nilai penting yang berada di bawah 40% adalah Dori sebesar 28,98%, Api-api sebesar 25,29%, Loba secesar 24,78%, Dosi sebesar 21,17%, Tungir-tungir sebesar 21,04% dan Martolu sebesar 20,23%. Sisanya memiliki indeks nilai penting di bawah 20% yang terdiri dari Medang Batu sebesar 18,28%, Rasamala sebesar 15,41%, Jambu-jambu sebesar 13,71%, Sabal sebesar 13,47% dan Horbo-horbo sebesar 12,19%. Berdasarkan frekuensinya Hoting dan Porporan merupakan jenis pohon yang memiliki frekuensi yang paling tinggi karena di setiap plot contoh terdapat jenis pohon ini. Kemudian di susul oleh Mayang, Sabal, Medang, Loba, Dori, Puspa dan Medang Batu yang terdapat di dua plot. b. Tingkat Tiang Indeks nilai penting tingkat tiang di dominasi oleh pohon Medang dengan INP sebesar 238,20%, Loba dengan INP sebesar 184,24 %, Medang Batu sebesar 76,17%, Puspa sebesar 74,29%, Medang sebesar 66,49%, Medang Telur sebesar 34,02%, Simareme-eme sebesar 31,87%, Alingit sebesar 24,18% dan Habung-habung sebesar 23,03%. Sisanya memiliki indeks nilai penting yang berada di bawah 20% adalah Dosi sebesar 18,04%, Medang Kuning sebesar 16,84%, Pituarus sebesar 15,13%, Hoting sebesar 14,46%, Rangrang Ulok sebesar 14,15% dan Mayang Bolon sebesar 14,14%, Simartolu sebesar 13,61%, Apapolsik sebesar 13,18%, Kopi-kopi sebesar 13,08%, Hapas-hapas sebesar 12,56% dan Mayang sebesar 11,89%. Berdasarkan frekuensinya Loba merupakan jenis pohon yang memiliki frekuensi yang paling tinggi karena di dapat di setiap plot contoh. Kemudian di susul oleh Medang Batu yang terdapat di dua plot.
74 c. Tingkat Pancang Indeks nilai penting tingkat pancang di dominasi oleh Medang dengan INP sebesar 110,68 %, Mundol sebesar 59,98 %, Sabal sebesar 59,17%, Puspa sebesar 59,07%, Tungir-tungir sebesar 43,33%, Hoting sebesar 33,33%, Porporan, Mayang, Jilok sebesar 17,37%, Mayang Durian sebesar 16,67%, Medang Batu, Sitolu Bulung, Sapot-sapot, Sitarak, Tembesu sebesar 14,14%, Medang Telur sebesar 12,67%, Dosi sebesar 10,67%, Samperatus, Medang Landit sebesar 10,30%, Medang Kuning, Handis sebesar 8,67%, Rube, Habung-habung dan Kapas-kapas sebesar 7,07%. Berdasarkan frekuensinya Medang, Mundol, Sabal, Puspa merupakan jenis pancang yang memiliki frekuensi yang paling tinggi ada di dua plot contoh. d. Tingkat Semai Indeks nilai penting tingkat semai di dominasi oleh Medang dengan INP sebesar 110,17 %, Mayang Bolon 43,91 %, Salam sebesar 34,21%, Sabal sebesar 32,17%, Kopi-kopi sebesar 31,93%, Porporan sebesar 21,29%, Medang Batu sebesar 21,29%, Medang Telur sebesar 21,29%, Apapolsik sebesar 20,24%, Murak sebesar 20,24%, Sitarak sebesar 18,98%, Sampinur Bunga sebesar 16,78%, Sitolu Bulung 16,67%, Handis sebesar 15,41%, Martolu sebesar 12,94%, Holat sebesar 12,94% dan Kemenyan sebesar 12,94%, Habung-habung sebesar 11,90%. Sisanya Sotul, Hoting, Alingit dan Tinggiran dengan indeks nilai penting sebesar 10,64%, Medang Kertas, Jilok, Sanduduk, Pitu Arus, Mudar-mudar, Kayu Manis dan Loba sebesar 8,33%. Berdasarkan frekuensi Medang, Salam, Mayang Bolon dan Sitarak merupakan jenis pohon yang memiliki frekuensi yang paling tinggi ada di dua plot contoh.
75 A.2. Fauna Jenis Fauna yang terdapat di KDHTK Hutan Diklat Pondok Buluh berdasarkan dari hasil pengamatan di lapangan pada waktu dilakukan kegiatan inventarisasi ditemukan sebagaimana tercantum di Tabel 16. Tabel 16. Spesies aves yang ditemukan di KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh No Nama jenis Keterangan 1 Burung Srigunting Suara 2 Burung Tekukur Suara 3 Burung Balam Suara 4 Burung Kepiting Air Tawar Suara 5 Burung Murai Daun Suara 6 Burung Seseng Suara 7 Burung Bersa Suara 8 Burung Rangkong Suara 9 Burung tekukur Suara 10 Burung Elang Suara 12 Burung Hantu Suara 13 Ayam Hutan Suara A.3 Persepsi Masyarakat Sekitar KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh Hasil penelitian yang telah dilakukan di Nagori Siatasan, Nagori Pondok Buluh dan Nagori Dolok Parmonangan, diketahui tingkat persepsi masyarakat sekitar hutan terhadap fungsi hutan KHDTK Pondok Buluh seperti pada Tabel 17. Tabel 17. Frekuensi responden berdasarkan tingkat persepsi masyarakat sekitar hutan terhadap KHDTK Pondok Buluh No Tingkat persepsi Frekuensi % 1 Tinggi 9 41 2 Sedang 13 59 Jumlah 22 100
76 Berdasarkan hasil analisis data primer, tingkat persepsi masyarakat sekitar hutan terhadap fungsi hutan KHDTK Pondok Buluh tergolong tinggi dengan nilai 3.42 hasil perhitungan dari 22 responden. Namun berdasarkan frekuensi responden seperti yang tertera pada Tabel 3, dari 22 responden, terdapat 9 responden (41%) mempunyai persepsi yang tinggi dan 13 responden (59%) mempunyai persepsi yang sedang terhadap terhadap fungsi hutan KHDTK Pondok Buluh. Responden yang memiliki persepsi sedang terhadap fungsi KHDTK Pondok Buluh belum sepenuhnya terpanggil untuk melakukan pelestarian KHDTK Pondok Buluh. Hal ini senada dengan Juwaini (2010) dalam Juhmi (2015), mengatakan bahwa orang-orang peduli adalah mereka yang terpanggil melakukan sesuatu dalam rangka memberi inspirasi, perubahan, kebaikan kepada lingkungan di sekitarnya. Responden dengan tingkat persepsi yang tinggi adalah responden yang merasakan secara langsung maupun tidak langsung manfaat dari KHDTK Pondok Buluh, masyarakat yang mengerti serta mengetahui fungsi dan tujuan dari keberadaan KHDTK Pondok Buluh serta memahami pentingnya kawasan tersebut bagi kehidupan mereka sendiri, bagi orang lain dan lembaga-lembaga terkait sehingga masyarakat merasa bertangung jawab untuk menjaga dan melestarikan KHDTK Pondok Buluh. Pendapat Wibowo (2013) yang menjelaskan bahwa kelestarian hutan bukan saja menjadi tanggung jawab pemerintah, namun kesadaran atau peran partisipasi aktif masyarakat juga sangat menentukan kelestarian hutan. Hal ini dikarenakan masyarakat sekitar hutanlah yang berhubungan langsung dengan hutan. Responden yang memiliki tingkat persepsi sedang adalah responden yang mengetahui keberadaan kawasan hutan KHDTK Pondok Buluh dan merasakan adanya manfaat dari keberadaan hutan KHDTK Pondok Buluh tetapi tidak sepenuhnya memahami, mengetahui tujuan dan
77 fungsi adanya kawasan hutan KHDTK Pondok Buluh di sekitar daerah mereka. Hal ini disebabkan masyarakat kurang mendapat informasi mengenai keberadaan KHDTK di daerah mereka. Sejalan dengan pendapat Barkah (2008) yang mengatakan persepsi diartikan sebagai tanggapan terhadap sesuatu proses menyadari adanya hal-hal baru dan memberikan tanggapan atas hal tersebut. Tetapi juga rangsangan persepsi tidak hanya tergantung pada rangsangan fisik tetapi berhubungan dengan lingkungan sekitar dan keadaan individu yang bersangkutan. Persepsi sesorang muncul terhadap suatu objek yang bersifat spontan sesuai dengan apa yang ada di dalam pikirannya yang didasari oleh keyakinan yang kuat. Sejalan dengan pendapat Fauzi (2012), hutan bagi masyarakat bukanlah hal yang baru terutama bagi masyarakat yang masih memiliki nilai-nilai kultur tradisional. Responden yang memiliki tingkat persepsi sedang rendah perlu ditingkatkan pengetahuannya melalui penyuluhan, pamflet/brosur maupun diklat agar persepsi mereka terhadap fungsi hutan KHDTK Pondok Buluh meningkat dan tidak mengalami penurunan. Responden yang kurang menyadari tujuan dan fungsi keberadaan hutan KHDTK Pondok Buluh yang ada disekitar lingkungan mereka, akan melakukan kegiatan pemanfaatan Hutan KHDTK Pondok Buluh yang dikhawatirkan dapat berdampak rusaknya kelestarian KHDTK Pondok Buluh. Sarjono, (1998) dalam Subarana (2011) menyatakan bahwa penyebab tingginya perambahan hutan adalah motivasi petani untuk memiliki lahan di kawasan lindung. Hubungan antara tingkat umur dengan tingkat Persepsi masyarakat sekitar hutan terhadap KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh disajikan pada Tabel 18.
78 Tabel 18. Hubungan antara Tingkat Umur dengan Tingkat Persepsi Masyarakat Sekitar Hutan Terhadap KHDTK Pondok Buluh Tingkat Persepsi Umur Usia Jumlah Persen Muda % Usia Dewasa % Usia Lanjut % Sangat Tinggi - - - - - - - - Tinggi 1 33,33 6 46,15 2 33,33 9 41 Sedang 2 66,77 7 63,85 4 66,67 13 59 Rendah - - - - - - - - Sangat Rendah - - - - - - - - Jumlah 3 100 13 100 6 100 22 100 Kategori Umur: Muda (15-34), Dewasa (35-54), Lanjut (55>) Persepsi tinggi pada usia dewasa yaitu 6 responden (46,15%) dan persepsi sedang pada usia muda yaitu 1 responden (33%). Masyarakat Nagori Siatasan, Nagori Pondok Buluh dan Nagori Dolok Parmonangan dengan tingkat usia muda dan usia dewasa cenderung memiliki tingkat persepsi tinggi terhadap KHDTK Pondok Buluh ini menyatakan bahwa usia muda dan dewasa sudah memiliki pemahaman dan pemikiran yang baik tentang pentingnya KHDTK Pondok Buluh, dengan berbagai informasi yang mereka terima dan pengetahuan yang mereka miliki. Sehingga usia muda dan usia dewasa masyarakat dapat mengetahui fungsi dan tujuan adanya KHDTK Pondok Buluh bagi masyarakat sekitar dan masyarakat luar. Sehingga masyarakat dapat menjaga dan melestarikan KHDTK Pondok Buluh tersebut dengan baik sampai saat penelitian ini dilakukan. Sejalan dengan pendapat Herfiandi (2004) dalam Damiati (2014) menyatakan bahwa faktor umur pada dasarnya mewakili nilai sejarah pembentukan nilai pribadi masyarakat ditinjau dari sudut waktu, memiliki hubungan yang nyata dengan persepsi yang terbentuk pada diri mereka, sama halnya dengan persepsi masyarakat terhadap hutan. Hubungan antara tingkat pendidikan dengan tingkat persepsi masyarakat sekitar KHDTK Pondok Buluh dapat disajikan pada Tabel 19.
79 Tabel 19. Hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan Tingkat Persepsi Masyarakat Sekitar Hutan Terhadap KHDTK Pondok Buluh Tingkat Persepsi Pendidikan Jumlah % Tinggi % Menengah % Dasar % Sangat Tinggi - - - - - - - - Tinggi 3 60 4 33,33 2 40 9 41 Sedang 2 20 8 66,77 3 60 13 59 Rendah - - - - - - - - Sangat Rendah - - - - - - - - Jumlah 5 100 12 100 5 100 22 100 Kategori Pendidikan: Tinggi (D3-S1), Menengah (SMA), Dasar (SD-SMP) Persepsi tinggi pada pendidikan tinggi yaitu 3 responden (60%), persepsi tinggi pada pendidikan menengah yaitu 4 responden (33%) dan persepsi sedang pada pendidikan rendah yaitu 2 responden (40%). Responden dengan tingkat pendidikan tinggi cenderung memiliki tingkat persepsi tinggi terhadap KHDTK Pondok Buluh ini menunjukkan bahwa pendidikan masyarakat mempengaruhi pandangan seseorang. Jika pendidikan seseorang tinggi maka semakin baik seseorang menilai sesuatu dan semakin baik pemahaman seseorang tersebut. Hal ini berarti tingkat pendidikan/pengetahuan seseorang dapat mempengaruhi pola fikir atau tingkat kesadarannya. Sejalan dengan pendapat Karina (2004) bahwa semakin tinggi tingkat pengetahuan masyarakat maka akan semakin baik dan tinggi pula tingkat kesadaran masyarakat. Responden dengan tingkat pengetahuan sedang cenderung memiliki tingkat persepsi tinggi terhadap KHDTK Pondok Buluh ini menyatakan pengetahuan seseorang berpengaruh terhadap pandangan seseorang, jika pengetahuan mereka rendah maupun sedang bukan berarti pemahaman mereka kurang akan tetapi masyarakat menilai berdasarkan pengalaman yang mereka miliki. Nazaruladha (2010) dalam Milunardi et.al (2014) pengetahuan adalah halhal yang diketahui seseorang tentang dirinya sendiri, tingkah laku dan keadaan sekitarnya.
80 Responden dengan tingkat pendidikan rendah yang memiliki tingkat persepsi tinggi terhadap KHDTK Pondok Buluh, dikarenakan masyarakat atau tiap-tiap individu dengan motivasi-motivasi yang mereka miliki menyadari pentingnya kelestarian kawasan hutan lindung untuk menjaga keseimbangan lingkungan mereka dari berbagai efek buruk yang akan ditimbulkan jika keberadaan hutan lidung tersebut rusak dan fungsi hutan tersebut berkurang. Dalam upaya pembangunan kehutanan yang paling penting adalah tumbuhnya kesadaran masyarakat bahwa hutan memiliki multi fungsi timbal baliknya adalah memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Sehingga tangung jawab untuk menjaga dan melestarikannya bukan hanya tanggung jawab pemerintah namun juga seluruh masyarakat. Masyarakat di sekitar KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh sebagian besar adalah petani. Selain tergantung kepada hasil pertanian, masyarakat sekitar KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh tergantung kepada hasil hutan sebagai sumber pendapatan mereka. Berdasarkan hasil wawancara dengan Pangulu Nagori Siatasan (13 Mei 2019) yang menyatakan bahwa: “Sekitar 90% masyarakat Nagori Siatasan sumber perekonomiannya tergantung kepada Aren. Aren dimanfaatkan sebagai sumber pembuatan tuak dan kolang kaling. Dalam 4 tahun terakhir ini, bahan baku untuk pembuatan tuak dan kolang-kaling di Nagori Siatasan sangat terbatas, sehingga masyarakat Nagori Siatasan mengambi bahan baku untuk pembuatan tuak dan kolang kaling dari Kabupaten Toba Samosir”. Berdasarkan hasil wawancara tersebut diketahui bahwa sekitar 764 KK memanfaatkan hasil hutan aren sebagai sumber pendapatan. Berdasarkan hasil wawancara dengan Gamot Marihat Huta (14 Mei 2019) yang menyatakan bahwa:
81 “Ketergantungan masyarakat Nagori Dolok Parmonangan terhadap KHDTK Pondok Buluh dari dulu sampai sekarang yang dijadikan sebagai sumber perekonomian masyarakat Nagori Dolok Parmonangann adalah pengambilan rotan sekitar 5% dari jumlah KK di Nagori Dolok Parmonangan, pengambilan bambu sekitar 20%-40% dari jumlah KK di Nagori Dolok Parmonangan, dan pengambilan aren sekitar 30% dari jumlah KK di Nagori Dolok Parmonangan. Selain itu, kebutuhan masyarakat akan air bersih di dua dusun di Nagori Dolok Parmonangan sangat tergantung kepada sumber air yang berada di KHDTK Pondok Buluh” Berdasarkan hasil wawancara di atas diketahui bahwa masyarakat Nagori Dolok Parmonangan memanfaatkan hasil hutan berupa bambu, rotan dan aren sebagai sumber perekonmian mereka. Ketiga hasil hutan tersebut dijual untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. Bambu dijual sebagai bahan bangunan dan kerajinan. Rotan dijual sebagai bahan baku baku alat rumah tangga. Sedangkan aren digunakan sebagai bahan baku pembuatan tuak dan kolang kaling. Jumlah kepala keluarga di Nagori Dolok Parmonangan yang memanfaatkan bambu sekitar 1.118 KK, Aren sekitar 838 KK dan rotan sekitar 140 KK sebagai sumber pendapatannya. Hasil lainnya yang didapatkan berdasarkan wawancara terhadap tokoh masyarakat di kedua nagori tersebut diketahui bahwa masyarakat di kedua nagori memungut kayu bakar dan memanfaatakan sumber air bersih yang berasal dari KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh untuk kebutuhan sehari-harinya. A.4 Hasil Analisis SWOT KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh dilihat dari kondisi riil dapat digambarkan sebagai berikut :
82 a. KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh sudah memiliki kekuatan hukum yang jelas. b. Letak dan assesibilitas KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh sangat mendukung untuk pengelolaan yang optimal. c. Masih baiknya kondisi fisik KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh dengantutupan hutan masih ±90% potensi kawasan hutan masih baik. d. Letak/assesibilitas kawasan sangat dekat dengan jalan utama dan dikelilingi oleh pemukiman penduduk e. Sebagai jalur menuju destinasi wisata Danau Toba f. Belum optimal KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh sebagai media praktik diklat karena fasilitas yang kurang mendukung. g. Belum optimalnya implementasi dari sistem perencanaan yang terintegrasi dan berkelanjutan untuk pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh. h. Terbatasnya kewenangan dalam perlindungan dan pengamanan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh. i. Kualitas SDM pengelola belum sepenuhnya kompeten Selanjutnya, jika dilihat dari pengembangan program diklat, KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh dapat digambarkan sebagai berikut : a. KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh sudah ditetapkan menjadi Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus untuk Diklat. b. Tersedianya sarana pembelajaran berupa demplot-demplot. c. Terbukanya peluang kolaboratif manajemen dengan multipihak dalam pengelolaannya. Gambaran KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh, apabila dilihat dari fungsi hutan sebagai berikut :
83 a. Fungsi KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh adalah sebagai hutan lindung dan hutan produksi tetap. b. KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh dapat dimanfaatkan untuk manfaat lainnya yaitu: wisata alam dan jasa lingkungan, penelitian dan pengembangan, sumber belajar pendidikan lingkungan. c. Adanya komitmen para penentu kebijakan di tingkat nasional dan internasional yang sangat tinggi pada pelestarian sumber daya alam dan lingkungan. 1. Identifikasi dan Analisis Faktor Internal Identifikasi faktor internal dilakukan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan yang dihadapi dalam pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh. Kekuatan dan kelemahan yang dimiliki KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh antara lain sebagai berikut : a. Faktor Kekuatan 1) Legalitas hukum penetapan KHDTK Hutan Diklat yang telah Pasti. 2) Komitmen yang tinggi dari Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pematangsiantar untuk melakukan pengelolaan. 3) Terjalinnya koordinasi dan komunikasi BDLHK Pematangsiantar dengan instansi lain terkait dengan pengelolaan KHDTK Hutan Diklat yang baik 4) Memiliki hutan alam yang sangat bagus dengan tutupan lahan sekitar 90% dan keanekaragaman yang tinggi. 5) Memiliki obyek daya tarik wisata alam yang sangat potensial alam yang sangat potensial 6) Daerah resapan air yang sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar kawasan 7) Tersedianya tenaga kediklatan yang terdiri dari tenaga pengelola (pejabat struktural dan non struktural) dan widyaiswara (tenaga
84 fungsional) sebanyak 80 orang serta Bakti Rimbawan sebanyak 4 orang 8) Aksesibilitas yang tinggi sangat mendukung pengelolaan. Dari hasil skoring dan pembobotan, diperoleh nilai faktor-faktor kekuatan sebagaimana disajikan pada Tabel 20. Tabel 20. Skoring dan Pembobotan Faktor Kekuatan No Unsur Kekuatan Skor Bobot Nilai Rank 1 Legalitas hukum penetapan KHDTK Hutan Diklat yang telah Pasti. 5 0.109 0.544 1 2 Komitmen yang tinggi dari Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pematangsiantar untuk melakukan pengelolaan. 4 0.086 0.344 2 3 Terjalinnya koordinasi dan komunikasi BDLHK Pematangsiantar dengan instansi lain terkait dengan pengelolaan KHDTK Hutan Diklat yang baik 3 0.080 0.241 4 4 Memiliki hutan alam yang sangat bagus dengan tutupan lahan sekitar 90% dan keanekaragaman yang tinggi. 4 0.074 0.298 3 5 Memiliki obyek daya tarik wisata alam yang sangat potensial 2 0.052 0.103 8 6 Daerah resapan air yang sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar kawasan 3 0.054 0.163 6 7 Tersedianya tenaga kediklatan yang terdiri dari tenaga pengelola (pejabat struktural dan non struktural) dan widyaiswara (tenaga fungsional) sebanyak 80 orang serta Bakti Rimbawan sebanyak 4 orang 3 0.072 0.215 5 8 Aksesibilitas yang tinggi sangat mendukung pengelolaan. 2 0.069 0.138 7
85 a. Faktor Kelemahan 1) Belum optimalnya implementasi dari sistem perencanaan yang terintegrasi dan berkelanjutan untuk pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh 2) Promosi KHDTK Hutan Diklat belum dilakukan secara optimal 3) Pemanfaatan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh belum optimal 4) Pengetahuan dan keterampilan SDM belum optimal 5) Kurangnya sarana/prasarana pengamanan KHDTK Hutan Diklat Pondok. 6) Kurangnya sarana/prasarana pengembangan ekowisata KHDTK Hutan Diklat Pondok. Dari hasil skoring dan pembobotan terhadap faktor-faktor kekuatan diperoleh nilai faktor-faktor kelemahan sebagaimana disajikan pada Tabel 21. Tabel 21. Skoring dan Pembobotan Faktor Kelemahan No Unsur Kelemahan Skor Bobot Nilai Rank 1 Belum optimalnya implementasi dari sistem perencanaan yang terintegrasi dan berkelanjutan untuk pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh 2 0.077 0.155 6 2 Promosi KHDTK Hutan Diklat belum dilakukan secara optimal 3 0.063 0.189 4 3 Pemanfaatan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh belum optimal 2 0.069 0.138 5 4 Pengetahuan dan keterampilan SDM belum optimal 5 0.086 0.430 1 5 Kurangnya sarana/prasarana pengamanan KHDTK Hutan Diklat Pondok. 4 0.057 0.229 2
86 6 Kurangnya sarana/prasarana pengembangan ekowisata KHDTK Hutan Diklat Pondok. 4 0.052 0.206 3 2. Identifikasi dan Analisis Faktor Ekternal Identifikasi faktor eksternal dilakukan untuk mengetahui peluang dan ancaman yang dihadapi dalam pengelolaan KHDTK HDPB. Peluang dan ancaman yang dihadapi KHDTK HDPB antara lain sebagai berikut. a. Faktor Peluang 1) Terbukanya peluang pengelolaan KHDTK dengan multipihak 2) Adanya program pemerintah dalam pembangunan wisata Danau Toba bertaraf internasional 3) Meningkatnya minat pihak luar untuk memanfaatkan KHDTK Hutan Diklat 4) Adanya partisipasi masyarakat sekitar dan stakeholder lainnya dalam menjaga keberadaan KHDTK Hutan Diklat Dari hasil skoring dan pembobotan terhadap faktor-faktor peluang diperoleh nilai faktor-faktor peluang sebagaimana disajikan pada Tabel 22. Tabel 22. Skoring dan Pembobotan Faktor Peluang No Unsur Peluang Skor Bobot Nilai Rank 1 Terbukanya peluang pengelolaan KHDTK dengan multipihak 5 0.158 0.789 1 2 Adanya program pemerintah dalam pembangunan wisata Danau Toba bertaraf internasional 4 0.140 0.561 2 3 Meningkatnya minat pihak luar untuk memanfaatkan KHDTK Hutan Diklat 4 0.105 0.421 3
87 4 Adanya partisipasi masyarakat sekitar dan stakeholder lainnya dalam menjaga keberadaan KHDTK Hutan Diklat 3 0.132 0.395 4 b. Faktor Ancaman 1) Masih lemahnya penegakan hukum terhadap kasus bidang LHK di KHDTK Hutan Diklat 2) Kurangnya pemahaman masyarakat tentang batas KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh 3) Kurangnya pemahaman masyarakat terkait prosedur pemanfaatan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh 4) Adanya perburuan satwa liar yang ada di KHDTK Hutan Diklat Dari hasil skoring dan pembobotan terhadap faktor-faktor diperoleh nilai faktor ancaman seperti pada Tabel 23. Tabel 23. Skoring dan Pembobotan Faktor Ancaman No Unsur Ancaman Skor Bobot Nilai Rank 1 Masih lemahnya penegakan hukum terhadap kasus bidang LHK di KHDTK Hutan Diklat 2 0.123 0.246 4 2 Kurangnya pemahaman masyarakat tentang batas KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh 4 0.140 0.561 1 3 Kurangnya pemahaman masyarakat tentang batas KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh 3 0.123 0.368 2 4 Adanya perburuan satwa liar yang ada di KHDTK Hutan Diklat 4 0.079 0.316 3 3. Analisis SWOT
88 Dari hasil uraian tersebut diatas, dilakukan Analisis SWOT yang akan menghasilkan strategi operasional dan kebijakan serta program/kegiatan. Analisis SWOT terkait Penyusunan Rencana Pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh dapat dilihat pada Tabel 24.
89 Tabel 24. Analisis SWOT Faktor Internal Faktor Eksternal Kekuatan (Strengths, S) Kelemahan (Weakness, W) 1. Legalitas hukum penetapan KHDTK Hutan Diklat yang telah pasti. 2. Komitmen yang tinggi dari Balai Diklat Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pematangsiantar untuk melakukan pengelolaan. 3. Terjalinnya koordinasi dan komunikasi BDLHK Pematangsiantar dengan instansi lain terkait dengan pengelolaan KHDTK Hutan Diklat yang baik. 4. Memiliki hutan alam yang sangat bagus dengan tutupan lahan ± 90% dan keanekaragaman yang tinggi. 5. Memiliki obyek daya tarik wisata alam yang sangat potensial 6. Daerah resapan air yang sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar kawasan. 7. Tersedianya tenaga kediklatan yang terdiri dari tenaga pengelola (pejabat struktural dan non struktural) dan widyaiswara (tenaga fungsional) sebanyak 80 orang serta Bakti Rimbawan sebanyak 4 orang. 8. Aksesibilitas yang tinggi sangat mendukung pengelolaan. 1. Belum optimalnya implementasi dari sistem perencanaan yang terintegrasi dan berkelanjutan untuk pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh. 2. Promosi KHDTK Hutan Diklat belum dilakukan secara optimal. 3. Pemanfaatan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh belum optimal. 4. Pengetahuan dan keterampilan SDM belum optimal. 5. Kurangnya sarana/prasarana pengamanan KHDTK Hutan Diklat Pondok. 6. Kurangnya sarana/prasarana pengembangan ekowisata KHDTK Hutan Diklat Pondok. Peluang (Opportunities, O) Strategi (S - O) Strategi (W - O) 1. Terbukanya peluang pengelolaan KHDTK dengan multipihak. 2. Adanya program pemerintah dalam pembangunan wisata Danau Toba bertaraf internasional. 3. Meningkatnya minat pihak luar untuk memanfaatkan KHDTK Hutan Diklat Meningkatnya kerjasama kediklatan dengan pihak lain. 4. Adanya partisipasi masyarakat sekitar dan stakeholder lainnya dalam menjaga keberadaan KHDTK Hutan Diklat. 1. Optimalisasi pemanfaatan KHDTK Hutan Diklat sebagai sarana diklat dengan melibatkan multipihak. 2. Optimalisasi pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh sebagai alternatif ekowisata dan pemanfaatan jasa lingkungan dalam mendukung pengembangan Danau Toba 3. Optimalisasi peran masyarakat dan stakeholder lainnya dalam menjaga KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh 1 Meningkatkan sistem perencanaan pengelolaan KHDTK yang efektif dan efisien dengan melibatkan multipihak 2. Meningkatkan promosi KHDTK Hutan Diklat dengan melibatkan multipihak 3 Meningkatkan pengetahuan dan kompetensi SDM pengelola KHDTK Hutan Diklat dengan pihak lain 4. Memperkuat jejaring kerja dalam pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Ancaman (Threats, T) Strategi (S-T) Strategi (W - T) 1. Masih lemahnya penegakan hukum terhadap kasus bidang LHK di KHDTK Hutan Diklat 2. Kurangnya pemahaman masyarakat tentang batas KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh 3. Kurangnya pemahaman masyarakat terkait prosedur pemanfaatan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh 4. Adanya perburuan satwa liar yang ada di KHDTK Hutan Diklat 1. Peningkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang KHDTK Hutan Diklat untuk mengurangi kejahatan LHK 2. Memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan instansi lain dalam penegakan hukum 1. Memelihara sarana dan prasarana yang ada untuk mengurangi perambahan,illegal logging dan perburuan satwaliar 2. Memanfaatkan SDM yang ada untuk menyelesaikan konflik tata batas 3. Memelihara sarplas yang ada untuk menyelesaikan konflik tata batas 4. Memanfaatkan SDM yang ada untuk mengurangi perambahan, illegal logging dan perburuan satwaliar.
90 B. Strategi Pengelolaan dan Pengembangan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh Dari hasil Analisis SWOT Penyusunan Rencana Pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh tersebut, dihasilkan beberapa strategi pengembangan sebagai berikut : 1. Strategi SO, Menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada. a. Optimalisasi pemanfaatan KHDTK Hutan Diklat sebagai sarana diklat dengan melibatkan multipihak. b. Optimalisasi pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh sebagai alternatif ekowisata dan pemanfaatan jasa lingkungan dalam mendukung pengembangan Danau Toba c. Optimalisasi peran masyarakat dan stakeholder lainnya dalam menjaga KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh 2. Strategi WO, Menanggulangi kelemahan dengan memanfaatkan peluang. a. Meningkatkan sistem perencanaan pengelolaan KHDTK yang efektif dan efisien dengan melibatkan multipihak b. Meningkatkan promosi KHDTK Hutan Diklat dengan melibatkan multipihak c. Meningkatkan pengetahuan dan kompetensi SDM pengelola KHDTK Hutan Diklat dengan pihak lain d. Memperkuat jejaring kerja dalam pengelolaan KHDTK Hutan Diklat 3. Strategi ST, Menggunakan kekuatan yang ada untuk mengatasi ancaman yang ada. a. Peningkatan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang KHDTK Hutan Diklat untuk mengurangi kejahatan LHK
91 b. Memperkuat koordinasi dan komunikasi dengan instansi lain dalam penegakan hukum 4. Strategi WT, Memperkecil kelemahan atau kendala dan mengatasi ancaman a. Peningkatan sarana dan prasarana pengamanan KHDTK Hutan Diklat untuk mengurangi kasus kejahatan LHK b. Melibatkan peran serta masyarakat dalam melakukan promosi KHDTK Hutan Diklat c. Peningkatan pemanfaatan KHDTK Hutan Diklat oleh masyarakat melalui kemitraan Dari hasil analisis SWOT penyusunan rencana Pengelolaan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh, maka diperoleh strategi pengembangan Strategi SO yaitu menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang yang ada. Dengan demikian maka strategi pengelolaan dan pengembangan KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh yang akan digunakan yaitu: a. Optimalisasi pemanfaatan KHDTK Hutan Diklat sebagai sarana diklat dengan melibatkan multipihak. b. Optimalisasi pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh sebagai alternatif ekowisata dan pemanfaatan jasa lingkungan dalam mendukung pengembangan Danau Toba c. Optimalisasi peran masyarakat dan stakeholder lainnya dalam menjaga KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh
92 C. Perencanaan Program dan Kegiatan Diklat LHK yang akan dilakukan di KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh Perencanaan program diklat yang akan dilaksanakan di KHDTK Hutan Diklat Pondok Buluh dalam jangka Panjang (20 Tahun) disesuaikan dengan jenis-jenis pembagian blok dan petak yang dilakukan. Secara rinci program diklat dan jenis kegiatan yang direncanakan sebagaimana Tabel 25.
Blok No Petak Nama Petak Rencana PengeLindung 1 Jalur tracking 1. Jasa lingkunga2. Pengenalan je3. Jungle Surviva4. Valuasi SDA 5. Pemandu wisa6. Lokasi praktik 7. Lokasi praktik 8. Pengguna lain2 Pemanfaatan 1 1. Pemanenan ka2. HHBK 3. Pengelolaan hu4. GANIS PHPL 3 Resolusi konflik 1 1. Manajemen kon2. GIS 3. Perlindungan P4. Penyuluhan 5. Kebakaran huta4 Agroforestry 1 1. HHBK 2. KTH 3. Perhutanan So4. Manajemen DA5. Penyuluhan 5 Konservasi 1. KSDAE 2. Kebakaran Huta3. Konservasi jen4. Wisata Alam Tabel 25. Rencana Program dan Kegiatan Kediklatan LHK yan
93 embangan Program Kegiatan yang Akan Dikembangkan an enis pohon al ata siswa siswi SMKK mahasiswa USU/USI nnya 1. Penataan areal kerja 2. Pembuatan shelter 3. Revitalisasi jalur tracking 4. Pemeliharaan jalur tracking dan shelter ayu utan lestari 1. Penataan areal kerja 2. Inventarisasi HHBK 3. Pemanfaatan HHBK 4. Pembuatan demplot perencanaan dan pemanenan hasil hutan nflik Pengamanan an 1. Penataan areal kerja 2. Patroli gabungan 3. Pembuatan papan interpretasi 4. Pembuatan papan informasi osial AS 1. Penataan areal kerja 2. Pembuatan demplot agroforestry 3. Inventarisasi HHBK 4. Pemanfaatan HHBK 5. Pembentukan KTH 6. Pemberdayaan/pembinaan KTH an is 1. Penataan areal kerja 2. Pemasangan camera trap 3. Pembuatan tower pengawatan 4. Inventarisasi dan monitoring satwa ng akan Dikembangkan
5. Pengenalan jen6. Pengukuran Ka9 Pemberdayaan Masyarakat 3 1. Penyuluhan 2. HHBK 3. Perhutanan Sos4. Manajemen Kon5. KTH 10 Pengamatan satwaliar 5 1. Pengenalan jen2. Pemandu wisat3. Lokasi praktek 4. Lokasi praktek 5. Pengguna lain 11 Agroforestri 2 1. HHBK 2. KTH 3. Perhutanan So4. Manajemen DA12 MPTS 1. Pengenalan jen2. Perhutanan sos3. HHBK 4. Agroforestry 13 Pengamatan satwaliar 1 1. Konservasi jeni2. Kader konserva3. Perlindungan d15 Pengembangan vegetasi 1 1. Pengenalan jen2. PUP 3. Inventarisasi hu