i ETIKA PROFESI BIMBINGAN DAN KONSELING Nindya Ayu Pristanti, S.Pd., M.Pd. Rina Suryani, S.Pd., M.Pd. Yeni Marito, S.Psi., M.Psi., M.Pd. PENERBIT CV. EUREKA MEDIA AKSARA
ii ETIKA PROFESI BIMBINGAN DAN KONSELING Penulis : Nindya Ayu Pristanti, S.Pd., M.Pd. Rina Suryani, S.Pd., M.Pd. Yeni Marito, S.Psi., M.Psi., M.Pd. Desain Sampul : Eri Setiawan Tata Letak : Hikmah Millenia Saputri ISBN : 978-623-151-749-4 Diterbitkan oleh: EUREKA MEDIA AKSARA, OKTOBER 2023 ANGGOTA IKAPI JAWA TENGAH NO. 225/JTE/2021 Redaksi: Jalan Banjaran, Desa Banjaran RT 20 RW 10 Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga Telp. 0858-5343-1992 Surel : [email protected] Cetakan Pertama: 2023 All right reserved Hak Cipta dilindungi undang-undang Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun dan dengan cara apapun, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan teknik perekaman lainnya tanpa seizin tertulis dari penerbit.
iii KATA PENGANTAR Segala puji bagi Allah, Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan buku etika profesi bimbingan dan konseling. Kami ucapkan juga rasa terima kasih kami kepada pihak-pihak yang mendukung lancarnya buku ini mulai dari proses penulisan hingga proses penerbitan. Dalam buku ini, tertulis bagaimana pentingnya konsep etika profesi, etika bekerjasama dengan profesi lain dan juga kode etik asosiasi bimbingan dan konseling Indonesia dan kasus-kasus pelanggaran etika yang relevan dengan mata kuliah etika profesi bimbingan dan konseling yang menjadi alternatif pegangan bagi mahasiswa dan dosen yang menempuh studi tersebut. Kami sadar, masih banyak kekeliruan yang tentu saja jauh dari sempurna tentang buku ini. Oleh sebab itu, kami mohon agar pembaca memberi kritik dan juga saran terhadap karya buku ajar ini agar kami dapat terus meningkatkan kualitas buku. Demikian buku ajar ini kami perbuat, dengan harapan agar pembaca dapat memahami informasi dan juga mendapatkan wawasan mengenai etika profesi bimbingan dan konseling serta dapat bermanfaat bagi masyarakat dalam arti luas. Terima kasih. Medan, Oktober 2023 Tim Penulis
iv DAFTAR ISI KATA PENGANTAR......................................................................iii DAFTAR ISI..................................................................................... iv BAB 1 KONSEP ETIKA PROFESI BK, CIRI-CIRI PROFESI SERTA GURU BK/KONSELOR SEKOLAH SEBAGAI PROFESI...............................................................................1 A. Pengetian Profesi ............................................................1 B. Ciri-Ciri Profesi...............................................................2 C. Bimbingan dan Konseling Sebagai Suatu Profesi ........4 BAB 2 SIKAP DAN ETIKA PROFESIONAL, PROFESIONALISME PROFESI BK DALAM TINJAUAN EPISTEMOLOGI DAN ETIK....................11 A. Sikap ..............................................................................11 B. Etika dan Profesional....................................................13 C. Profesionalisme Profesi Bk dalam Tinjauan Epistemologi dan Etik..................................................15 BAB 3 KODE ETIK GURU BK/KONSELOR SEKOLAH........18 A. Pendahuluan .................................................................18 B. Kualifikasi, Kompetensi, dan Kegiatan ......................23 C. Pelaksanaan Layanan...................................................29 D. Pelanggaran dan Sanksi ...............................................36 BAB 4 AKREDITASI, SERTIFIKASI, DAN LISENSI DALAM PROFESI BK ......................................................................39 A. Sertifikasi Profesi BK ....................................................40 B. Akreditasi Profesi BK ...................................................41 C. Lisensi Profesi BK .........................................................43 D. Arah dan Sasaran, Penilaian dan Prosedur, Masa Berlaku, serta Otoritas Kredensialisasi Profesi BK ....44 E. Organisasi Profesi BK...................................................46 BAB 5 KEKUATAN DAN KELEMAHAN PERSONAL DAN PROFESIONAL BK ..........................................................49 A. Gambaran Umum Kepribadian Konselor ..................49 B. Keterbatasan Kode Etik................................................50 C. Kekuatan dan Kelemahan Konselor Sebagai Personal .........................................................................51
v D. Sifat yang harus Dimiliki Konselor Dalam Keterbatasan Personal dan Profesional...................... 55 BAB 6 BENTUK KERJASAMA DENGAN TEMAN SEJAWAT DAN ANGGOTA PROFESI LAIN................................. 58 A. Kolaborasi dengan Ahli Lain ...................................... 58 B. Elemen Kunci Efektifitas Kolaborasi .......................... 59 C. Tujuan Kolaborasi dengan Ahli Lain secara Umum. 59 D. Prinsip Kerjasama Profesi Bimbingan dan Konseling...................................................................... 60 E. Bentuk-Bentuk Kolaborasi dengan Ahli Lain............ 61 F. Hubungan Kolaborasi dengan Berbagai Aspek ........ 63 G. Bentuk Pelaksanaan Kolaborasi dengan Ahli Lain ... 65 BAB 7 ETIKA GURU BK/KONSELOR SEKOLAH DALAM BEKERJA DI LINGKUNGAN TUGASNYA BEKERJA, TERMASUK ORANG TUA SISWA .............................. 67 A. Etika Guru BK/Konselor Sekolah Dalam Bekerja Di Lingkungan Tugasnya ................................................. 67 B. Etika Guru BK/Konselor Sekolah Dalam Bekerja Sama Dengan Orang tua.............................................. 69 C. Etika Ataupun Cara Bekerja Sama Dengan Orang Tua................................................................................. 70 BAB 8 ETIKA GURU BK/KONSELOR SEKOLAH DALAM BEKERJASAMA DENGAN ORGANISASI PROFESI LAIN................................................................................... 72 A. Pengertian Etika Profesi BK ........................................ 72 B. Pengertian Kerja Sama................................................. 73 C. Kerja Sama BK dengan Organisasi Profesi Lain........ 75 BAB 9 ETIKA GURU BK/KONSELOR SEKOLAH DALAM BEKERJA SAMA DENGAN MASYARAKAT LUAS . 81 A. Pengertian Kolaborasi Penyelenggaraan Layanan Bimbingan Konseling................................................... 81 B. Tujuan Kolaborasi Penyelenggaraan Layanan Bimbingan Konseling................................................... 81 C. Bentuk Kolaborasi Penyelenggaraan Layanan Bimbingan Konseling................................................... 81 D. Hubungan Kolaborasi Konseling dengan Berbagai Aspek............................................................................. 86
vi E. Elemen Kunci Efektifitas Kolaborasi Penyelenggaraan Layanan Bimbingan Konseling ...................................87 BAB 10 KASUS-KASUS DALAM ETIKA PROFESI BK...........89 A. Kode Etik Profesi Konselor..........................................89 B. Kasus-Kasus yang Sering Terjadi Di Lingkungan Profesi Bimbingan dan Konseling...............................90 C. Bentuk Pelanggaran yang Sering Terjadi ...................91 D. Sebab Pelanggaran Kode Etik......................................92 E. Pihak yang Berwenang Menindak Pelanggaran Kode Etik.................................................................................93 F. Mekanisme Penerapan Sanksi.....................................94 BAB 11 PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN TERKAIT PROFESI BK ......................................................................96 A. Undang-Undang dalam BK .........................................96 B. Bimbingan dan Konseling dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional ( UUSPN) Tempo Sekarang........................................................................98 BAB 12 KETERAMPILAN PERILAKU ETIS KONSELOR.....102 A. Pengertian Keterampilan Perilaku Etis Konselor ....102 B. Jenis Keterampilan Perilaku Etis Konselor...............103 C. Sikap Kemampuan Profesional Konselor.................110 D. Perilaku Tidak Etis......................................................110 BAB 13 ORIENTASI ORGANISASI PROFESI BIMBINGAN DAN KONSELING.........................................................112 A. Organisasi Profesi Bimbingan dan Konseling..........112 B. Orientasi Bimbingan dan Konseling.........................114 C. Macam – Macam Orientasi Bimbingan Dan Konseling.....................................................................116 DAFTAR PUSTAKA.....................................................................123 TENTANG PENULIS....................................................................126
1 BAB 1 KONSEP ETIKA PROFESI BK, CIRI-CIRI PROFESI SERTA GURU BK/KONSELOR SEKOLAH SEBAGAI PROFESI A. Pengetian Profesi Istilah profesi telah dimengerti oleh banyak orang bahwa suatu hal yang berkaitan dengan bidang yang sangat dipengaruhi oleh pendidikan dan keahlian, sehingga banyak orang yang bekerja tetap sesuai dengan keahliannya. Tetapi dengan keahlian saja yang diperoleh dari pendidikan kejuruan, juga belum cukup disebut profesi. Tetapi perlu penguasaan teori sistematis yang mendasari praktek pelaksanaan, dan hubungan antara teori dan penerapan dalam praktek.Profesi sering kita artikan dengan "pekerjaan" atau "job" kita sehari-hari. Tetapi dalam kata profession yang berasal dari perbendaharaan Angglo Saxon tidak hanya terkandung pengertian "pekerjaan" saja. Profesi mengharuskan tidak hanya pengetahuan dan keahlian khusus melalui persiapan dan latihan, tetapi dalam arti “profession" terpaku juga suatu "panggilan" Dengan begitu, maka arti "profession" mengandung dua unsur. Pertama unsure keahlian dan kedua unsur panggilan. Pengertian Profesi Menurut Para Ahli 1. Prayitno (2004) Prayitno menyatakan bahwa profesi merupakan suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut keahlian dari para petugasnya. Artinya, pekerjaan yang disebut profesi tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak terlatih dan tidak disiapkan khusus terlebih dahulu untuk melakukan pekerjaan itu. Sebuah profesi harus memenuhi etika atau KONSEP ETIKA PROFESI BK, CIRI-CIRI PROFESI SERTA GURU BK/KONSELOR SEKOLAH SEBAGAI PROFESI
2 memiliki ciri-ciri tertentu. Bimbingan konseling hanya bisa dilakukan oleh seorang konselor. 2. De George De George juga menyatakan bahwa profesi, adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan suatu keahlian. Profesi merupakan pekerjaan yang di dalamnya memerlukan sejumlah persyaratan yang mendukung pekerjaannya. Karena itu, tidak semua pekerjaan menunjuk pada sesuatu profesi. 3. Kenneth Lynn Pengertian profesi secara singkat juga dikemukakan Kenneth Lynn dalam M. Nurdin (2004) bahwa profesi adalah menyajikan jasa berdasarkan ilmu pengetahuan. 4. Mc Cully Mc Cully dalam M. Nurdin (2004) menggambarkan bahwa profesi adalah Menggunakan teknik dan prosedur dg landasan intelektual. 5. Sudarwan Danim (1995) Menurut Sudarwan Danim (1995) profesi adalah pekerjaan yang memerlukan spesialisasi akademik. Dari beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa profesi merupakan suatu pekerjaan yang menuntut keahlian, ilmu pengetahuan, menggunakan teknik yang relevan serta harus berkependidikan yang spesifik. Sehingga tidak semua pekerjaan adalah suatu profesi. B. Ciri-Ciri Profesi Suatu jabatan atau pekerjaan disebut profesi apabila ia memiliki syarat-syarat atau ciri-ciri tertentu. Sejumlah ahli seperti McCully, 1963; Tolbert, 1972; dan Nugent, 1981) telah merumuskan syarat-syarat atau ciri-ciri dari suatu profesi. Dari rumusan-rumusan yang mereka kemukakan, dapat disimpulkan syarat-syarat atau ciri-ciri utama dari suatu profesi sebagai berikut (Prayitno: 2004):
3 1. Suatu profesi merupakan suatu jabatan atau pekerjaan yang memiliki fungsi dan kebermaknaan sosial yang sangat menentukan. 2. Untuk mewujudkan fungsi tersebut pada butir di atas para anggotanya (petugasnya dalam pekerjaan itu) harus menampilkan pelayanan yang khusus yang didasarkan atas teknik-teknik intelektual, dan ketrampilan-ketrampilan tertentu yang unik. 3. Penampilan pelayanan tersebut bukan hanya dilakukan secara rutin saja, melainkan bersifat pemecahan masalah atau penanganan situasi kritis yang menuntut pemecahan dengan menggunakan teori dan metode ilmiah. 4. Pada anggotanya memiliki kerangka ilmu yang sama yaitu didasarkan atas ilmu yang jelas, sistematis, dan eksplisit; bukan hanya didasarkan atas akal sehat (common sense) belaka. 5. Untuk dapat menguasai kerangka ilmu itu diperlukan pendidikan dan latihan dalam jangka waktu yang cukup lama. 6. Para anggotanya secara tegas dituntut memiliki kompetensi minimum melalui prosedur seleksi, pendidikan dan latihan, serta lisensi atau sertifikasi. 7. Dalam menyelenggarakan pelayanan kepada pihan yanng dilayani, para anggota memiliki kebebasan dan tanggung jawab pribadi dalam memberikan pendapat dan pertimbangan serta membuat keputusan tentang apa yang akan dilakukan berkenaan dengan penyelenggaraan pelayanan profesional yang dimaksud. 8. Para anggotanya, baik perorangan maupun kelompok, lebih mementingkan pelayanan yang bersifat sosial daripada pelayanan yang mengejar keuntungan yang bersifat ekonomi. 9. Standar tingkah laku bagi anggotanya dirumuskan secara tersurat (eksplisit) melalui kode etik yang benar-benar diterapkan; setiap pelanggaran atas kode etik dapat dikenakan sanksi tertentu.
4 10. Selama berada dalam pekerjaan itu, para anggotanya terusmenerus berusaha menyegarkan dan meningkatkan kompetensinya dengan jalan mengikuti secara cermat literatur dalam bidang pekerjaan itu, menyelenggarakan dan memahami hasil-hasil riset, serta berperan serta secara aktif dalam pertemuan-pertemuan sesama anggota. Secara umum ada beberapa ciri atau sifat yang selalu melekat pada profesi, yaitu : 1. Adanya pengetahuan khusus, yang biasanya keahlian dan keterampilan ini dimiliki berkat pendidikan, pelatihan dan pengalaman yang bertahun-tahun. 2. Adanya kaidah dan standar moral yang sangat tinggi. Hal ini biasanya setiap pelaku profesi mendasarkan kegiatannya pada kode etik profesi. 3. Mengabdi pada kepentingan masyarakat, artinya setiap pelaksana profesi harus meletakkan kepentingan pribadi di bawah kepentingan masyarakat. 4. Ada izin khusus untuk menjalankan suatu profesi. Setiap profesi akan selalu berkaitan dengan kepentingan masyarakat, di mana nilai-nilai kemanusiaan berupa keselamatan, keamanan, kelangsungan hidup dan sebagainya, maka untuk menjalankan suatu profesi harus terlebih dahulu ada izin khusus. 5. Kaum profesional biasanya menjadi anggota dari suatu profesi. Selain memiliki beberapa ciri khas, sebuah profesi juga memiliki prinsip-prinsip etika. Beberapa diantaranya yaitu: 1. Tanggung jawab 2. Keadilan 3. Otonomi C. Bimbingan dan Konseling Sebagai Suatu Profesi Diyakini bahwa pelayanan bimbingan dan konseling adalah suatu profesi yang dapat memenuhi ciri-ciri dan persyaratan tersebut. Namun, berhubung dengan perkembangannya yang masih tergolong baru, terutama di
5 Indonesia, dewasa ini pelayanan bimbingan dan konseling belum sepenuhnya mencapai persyaratan yang diharapkan. Sebagai profesi yang handal, bimbingan dan konseling masih perlu dikembangkan, bahkan diperjuangkan. Menurut Prayitno (2004) pengembangan profesi bimbingan dan konseling antara lain melalui (a) standardisasi untuk kerja profesional konselor, (b) standardisasi penyiapan konselor, (c) akreditasi, (d) stratifikasi dan lisensi, dan (e) pengembangan organisasi profesii bimbingan pribadi sosial ini dapat diidentifikasi sebagai berikut: 1. Standarisasi Untuk Kerja Profesional Konselor. Masih banyak orang yang memandang bahwa pekerjaan dan bimbingan dan konseling dapat dilakukan oleh siapa pun juga, asalkan mampu berkomunikasi dan berwawancara. Anggapan lain mengatakan bahwa pelayanan bimbingan dan konseling semata-mata diarahkan kepada pemberian bantuan berkenaan dengan upaya pemecahan masalah dalam arti yang sempit saja. Ini jelas merupakan anggapan yang keliru. Sebagaimana telah diuraikan pada Bab VI, pelayanan bimbingan dan konseling tidak semata-mata diarahkan kepada pemecahan masalah saja, tetapi mencakup berbagai jenis layanan dan kegiatan yang mengacu pada terwujudnya fungsi-fungsi yang luas. Berbagai jenis bantuan dan kegiatan menuntut adanyaunjuk kerja profesional tertentu. Di Indonesia memang belum ada rumusan tentang unjuk kerja professional konselor yang standar. Usaha untuk merintis terwujudnya rumusan tentang unjuk kerja itu telah dilakukan oleh Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) pada Konvensi Nasional VII IPBI di Denpasar, Bali (1989). Upaya ini lebih dikonkretkan lagi pada Konvensi Nasional VIII di Padang (1991). Rumusan unjuk kerja yang pernah disampaikan dan dibicarakan dalam konvensi IPBI di Padang itu dapat dilihat pada lampiran. Walaupun rumusan butir-butir (sebanyak 225 butir) itu tampak sudah terinci, namun pengkajian lebih lanjut masih amat perlu dilakukan untuk menguji apakah butir-
6 butir tersebut memang sudah tepat sesuai dengan kebutuhan lapangan, serta cukup praktis dan memberikan arah kepada para konselor bagi pelaksanaan layanan terhadap klien. Hasil pengkajian itu kemungkinan besar akan mengubah, menambah merinci rumusan-rumusan yang sudah ada itu; 2. Standardisasi Penyiapan Konselor. Tujuan penyiapan konselor ialah agar para (calon) konselor memiliki wawasan dan menguasai serta dapat melaksanakan dengan sebaik-baiknya materi dan ketrampian yang terkandung di dalam butir-butir rumusan unjuk kerja. Penyiapan konselor itu dilakukan melalui program pendidikan prajabatan, program penyetaraan, ataupun pendidikan dalam jabatan (seperti penataran). Khusus tentang penyiapan konselor melalui program Pendidikan dalam jabatan, waktunya cukup lama, dimulai dari seleksi dan penerimaan calon peserta didik yang akan mengikuti program sampai para lulusannya diwisuda. Program Pendidikan prajabatn konselor adalah jenjang pendidikan tinggi; 3. Akreditasi. Lembaga pendidikan konselor harus diakreditasikan untuk menjamin mutunya. Tujuan pokok akreditasi adalah: a. Untuk menilai bahwa program yang ada memenuhi standar oleh profesi. b. Untuk menegaskan misi dan tujuan program. c. Untuk menarik calon konselor dan tenaga pengajar yang bermutu tinggi. d. Untuk membantu para lulusan memenuhi standarkredensial, seperti lisensi. e. Untuk meningkatkan kemampuan program dan pengakuan terhadap program tersebut. yang ditetapkan f. Untuk meningkatkan program dari penampilan dan penutupan. g. Untuk membantu mahasiswa yang berpotensi dalam seleksi memakai program pendidikan konselor.
7 h. Memungkinkan mahasiswa dan staf pengajar berperan serta dalam evaluasi program secara intensif. i. Membantu para pemakai lulusan untuk mengetahui program mana yang telah standar. j. Untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat pendidikan, masyarakat profesi dan masyarakat pada umumnyatentang kemantapan pelayanan bimbingan dan konseling; 4. Sertifikasi dan lisensi. Kedua hal tesebut terlebih dahulu disusun dan diberlakukan oleh undang-undang atau peraturan pemerintah. Bertujuan untuk menjaga profesionalitas konselor. Sertifikasi merupakan program yang dilaksanakan pemerinah agar seorang konselor dapat bekerja sedangkan lisensi diperuntukan apabila bekerja diluar negeri; 5. Pengembangan Organisasi Profesi. Menurut Paputungan (2010) ada beberapa hal yang perlu di perhatikan dalam profesi bimbingan dan konseling yaitu: a. Memahami secara mendalam konseli yang hendak dilayani b. Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, individualitas, kebebasan memilih, dan mengedepankan kemaslahatan konseli dalam konteks kemaslahatan umum: (a) mengaplikasikan pandangan positif dan dinamis tentang manusia sebagai makhluk spiritual, bermoral, sosial, individual, dan berpotensi; (b) menghargai dan mengembangkan potensi positif individu pada umumnya dan konseli pada khususnya; (c) peduli terhadap kemaslahatan manusia pada umumnya dan konseli pada khususnya; (d) menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sesuai dengan hak asasinya; (e) toleran terhadap permsalahan konseli, dan (f) bersikap demokratis. c. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling.
8 d. Menguasai landasan teoritik bimbingan dan konseling; (b) menguasai ilmu pendidikan dan landasan keilmuannya; (c) mengimplementasikan prinsip-prinsip pendidikan dan proses pembelajaran; (d) menguasai landasan budaya dalam praksis pendidikan. e. Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur, jenjang, dan jenis satuan pendidikan: (a) menguasai esensi bimbingan dan onseling pada satuan jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal; (b) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenis pendidikan umum, kejuruan, keagamaan, dan khusus; dan (c) menguasai esensi bimbingan dan konseling pada satuan jenjang pendidikan usia dini, dasar dan menengah. f. Menguasai konsep dan praksis penelitian bimbingan dan konseling: (a) memahami berbagai jenis dan metode penelitian; (b) mampu merancang penelitian bimbingan dan konseling; (c) melaksanakan penelitian bimbingan dan konseling; (d) memanfaatkan hasil penelitian dalam bimbingan dan konseling dengan mengakses jurnal Pendidikan dan bimbingan dan konseling. g. Menguasai kerangka teori dan praksis bimbingan dan konseling: (a) mengaplikasikan hakikat pelayanan bimbingan dan konseling; (b) mengaplikasikan arah profesi bimbingan dan konseling; (c) mengaplikasikan dasar-dasar pelayanan bimbingan dan konseling; (d) mengaplikasikan pelayanan bimbingan dan konseling sesuai kondisi dan tuntutan wilayah kerja; (e) mengaplikasikan pendekatan/model/ jenis layanan dan kegiatan pendukung bimbingan dan konseling; dan (f) Mengaplikasikan dalam praktik format pelayanan bimbingan dan konseling. h. Menyelenggarakan bimbingan dan konseling yang memandirikan i. Merancang program bimbingan dan konseling: (a) menganalisis kebutuhan konseli; (b) menyusun program
9 bimbingan dan konseling yang berkelanjutan berdasar kebutuhan peserta didik secara komprehensif dengan pendekatan perkembangan; (c) menyusun rencana pelaksanaan program bimbingan dan konseling; dan (d) merencanakan sarana dan biaya penyelenggaraan program bimbingan dan konseling. j. Mengimplemantasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif: (a) Melaksanakan program bimbingan dan konseling: (b) melaksanakan pendekatan kolaboratif dalam layanan bimbingan dan konseling; (c) memfasilitasi perkembangan, akademik, karier, personal, dan sosial konseli; dan (d) mengelola sarana dan biaya program bimbingan dan konseling. k. Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling: (a) melakukan evaluasi hasil, proses dan program bimbingan dan konseling; (b) melakukan penyesuaian proses layanan bimbingan dan konseling; (c) menginformasikan hasil pelaksanaan evaluasi layanan bimbingan dan konseling kepada pihak terkait; (d) menggunakan hasil pelaksanaan evaluasi untuk merevisi dan mengembangkan program bimbingan dan konseling. l. Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja: (a) memahami dasar, tujuan, organisasi dan peran pihak-pihak lain (guru, wali kelas, pimpinan sekolah/madrasah, komite sekolah/madrasah di tempat bekerja; (b) mengkomunikasikan dasar, tujuan, dan kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling kepada pihak-pihak lain di tempat bekerja; dan (c) bekerja sama dengan pihak-pihak terkait di dalam tempat bekerja seperti guru, orang tua, tenaga administrasi). m. Berperan dalam organisasi dan kegiatan profesi bimbingan dan konseling: (a) Memahami dasar, tujuan, dan AD/ART organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri.dan profesi; (b) menaati Kode Etik profesi bimbingan dan konseling; dan (c) aktif dalam
10 organisasi profesi bimbingan dan konseling untuk pengembangan diri.dan profesi. n. Mengimplementasikan kolaborasi antar profesi: (a) mengkomunikasikan aspek aspek profesional bimbingan dan konseling kepada organisasi profesi lain; (b) memahami peran organisasi profesi lain dan memanfaatkannya untuk suksesnya pelayanan bimbingan dan konseling; (c) bekerja dalam tim bersama tenaga paraprofesional dan profesional profesi lain; dan (d) melaksanakan referal kepada ahli profesi lain sesuai keperluan.
11 BAB 2 SIKAP DAN ETIKA PROFESIONAL, PROFESIONALISME PROFESI BK DALAM TINJAUAN EPISTEMOLOGI DAN ETIK A. Sikap 1. Pengertian Sikap Sarlito dan Eko (2009:151) menguraikan pengertian sikap sebagai suatu proses penilaian yang dilakukan oleh setiap individu terhadap suatu objek. Objek yang disikapi individu dapat berupa benda, manusia atau informasi. Proses penilaian seorang terhadap suatu objek dapat berupa penilaian positif dan negatif. Slameto (1995:191) juga mengatakan bahwa sikap merupakan sesuatu yang dipelajari dan menentukan bagaimana individu bereaksi terhadap situasi serta menentukan apa yang dicari oleh individu dalam hidupnya Berdasarkan beberapa pendapat ahli mengenai sikap, maka dapat disimpulkan bahwa sikap adalah suatu reaksi atau respon berupa penilaian yang muncul dari seorang individu terhadap suatu objek. Penilaian yang muncul, positifatau negatif dipengaruhi oleh informasi sebelumnya, atau pengalaman pribadi individu. 2. Komponen Sikap Bimo Walgito (1978:110) mendeskripsikan komponen sikap sebagai berikut: a. Kognitif, yaitu komponen yang berkaitan dengan pengetahuan, pandangandan keyakinan terhadap objek sikap. SIKAP DAN ETIKA PROFESIONAL, PROFESIONALISME PROFESI BK DALAM TINJAUAN EPISTEMOLOGI DAN ETIK
12 b. Afektif, yaitu komponen yang berhubungan dengan rasa senang atau tidaksenang terhadap objek sikap. c. Konatif, yaitu komponen yang berhubungan dengan kecenderunganbertindak terhadap objek sikap. 3. Fungsi Sikap Katz (dalam Maio & Haddock, 2004) membagi fungsi sikap menjadi empat, yaitu: a. The knowledge function. Sikap sebagai skema yang memfasilitasi pengelolaan dan penyederhanaan pemrosesan informasi dengan mengintegrasikan antara informasi yang ada dengan informasi baru. b. The utilitarian atau instrumental function. Sikap membantu kita mencapai tujuan yang diinginkan dan menghindari hasil yang tidak diinginkan. Kita akan cenderung menunjukkan sikap positif terhadap suatu objek sikap tertentu jika dianggap dapat mendatangkan keuntungan, sebaliknya kita akan menunjukkan sikap negatif terhadap suatu objek sikap tertentu jika dianggap dapat mendatangkan kerugian. c. The ego-defensive function. Sikap berfungsi memelihap dan meningkatkan harga diri. Rogers (2003) menyeby fungsi ini dengan fungsi pemeliharaan harga diri Sikap positif kita terhadap barang-barang mewah misalnya, boleh jadi dikarenakan adanya keingina untuk meningkatkan harga diri kita di hadapan orang lain. d. The value-expressive function. Sikap digunakan sebagi alat untuk mengekspresikan nilai-nilai dan konsep diri, Dalam hal ini, sikap berfungsi untuk memperkenalkan nilai-nilai ataupun keyakinan kita terhadap orang lain. Orang yang menentang pornografi dan pornoaksi, misalnya, boleh jadi merupakan ekspresi dari niliinilai yang diyakininya
13 B. Etika dan Profesional 1. Etika Kata “etika” dalam bahasa Inggris “ethics” artinya ilmu pengetahuan tentang asas- asas akhlak; hal tingkah laku dan kesusilaan. Dalam bahasa Yunani kuno “Ethos” berarti timbul dari kebiasaan adalah cabang utama filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi mengenai standar dan penilaian moral. Hunainah (2016:1) mengatakan bahwa etika adalah bagian dari filsafat yang mengajarkan keseluruhan budi (baik dan buruk). Etrika adalah studi tentang tingkah laku manusia, tidak hanya menentukan kebenarannya sebagaimana adanya, tetapi juga menyelidiki manfaat atau kebaikan dari seluruh tingkah-laku manusia 2. Profesional ➢ Profesi Kata profesi diartikan sebagai bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (keterampilan, kejuruan, dan sebagainya) tertentu. George dalam Daryl Koehn, profesi adalah pekerjaan yang dilakukan sebagai kegiatan pokok untuk menghasilkan nafkah hidup dan yang mengandalkan keahlian. (Hunainah 2016:2) ➢ Profesional Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) Profesional diartikan sebagai sesuatu yang memerlukan kepandaian khusus yang tinggi dalam rangka untuk mencapai tujuan pekerjaan yang maksimal. 3. Prinsip-Prinsip Etika Profesional Dalam etika professional terdapat prinsip-prinsip etika professional yaitu: a. Prinsip otonomi Prinsip pertama yang merupakan prinsip-prinsip etika profesi adalah prinsip otonomi. Prinsip otonomi ini mewajibkan setiap pelaku profesi memiliki wewenang dan kebebasan bekerja dan berpendapat sesuai dengan profesi yang dijalankan. Prinsip ini menuntut agar setiap
14 kaum profesional memiliki dan diberikan kebebasan dalam menjalankan profesinya. Dengan demikian, seseorang memiliki hak untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu berdasarkan etika profesi yang berlaku dalam profesi tersebut. b. Prinsip integritas moral Prinsip kedua yang merupakan prinsip-prinsip etika profesi adalah prinsip integritas moral. Etika profesi adalah prinsip ini mewajibkan setiap pelaku profesinya untuk secara konsisten memiliki moral dan kejujuran dalam menjalankan pekerjaannya. Pelaku profesi harus selalu bersikap adil, mementingkan profesi, dan memikirkan kepentingan masyarakat. c. Prinsip keadilan Prinsip ketiga yang merupakan prinsip-prinsip etika profesi adalah prinsip keadilan. Etika profesi adalah harus menjunjung tinggi prinsip keadilan kepada para anggota profesinya dalam setiap pekerjaan yang dilakukan. Prinsip ini menuntut anggota profesinya untuk memberikan pelayanan kepada siapa saja apa yang menjadi haknya. Terutama jika profesi tersebut di bidang pelayanan masyarakat. d. Prinsip tanggung jawab. Prinsip keempat yang merupakan prinsip-prinsip etika profesi adalah prinsip tanggung jawab. Dalam prinsip etika ekonomi adalah setiap pelaku profesi harus memiliki kesadaran bertanggung jawab terhadap pelaksanaan dan hasil pekerjaannya. Selain itu, kesadaran bertanggung jawab ini juga terhadap dampak dari profesi itu untuk kehidupan orang lain atau masyarakat pada umumnya.
15 C. Profesionalisme Profesi Bk dalam Tinjauan Epistemologi dan Etik ➢ Epistemologi Prayitno (2017) berpendapat bahwa Konseling adalah pelayanan bantuan oleh tenaga professional kepada seseorang atau sekelompok individu untuk perkembanagan dan penanganan kehidupan efektif sehari-hari terganggu dengan fokus pribadi mandiri yang mampu mengendalikan diri melalui penyelenggaraan berbagai jenis layanan dan kegiatan dalam pendukung proses dalam pembelajaran. Bimbingan dan konseling menyangkut proses perkembangan manusia yang berdasarkan pada hakikat manusia itu sendiri. Bimbingan dna konseling banyak mengandung isu filosofis; isu itu sendiri tak pernah berubah, melainkan mungkin titik pandang atau acar pandang terhadap isu itu yang berubah. Proses bimbingan dan konseling adal proses yang berpijak dan bergerak kea rah yang selalu mengandung persoalan filosofis. Sebagai calon konselor untuk menjadi konselor yang professional haruslah memiliki pemahaman dan pengetahuan yang luas dalam bidang bimbingan dan konseling sehingga pencapaian tujuan yang dikehendaki sebagai konselor yang professional dapat terwujud. Seorang konselor harus berpegang pada filosofi yang jelas, namun dia tetap harus menghindarkan diri dari faham “complitesm” (suatu perasaan yang memandang diri “saya adalah seorang konsleor, bersertifikat dna terdidik sekali jadi, untuk segalanya” ➢ Etik Profesi Hunainah (2016 : 3) mengemukakan pengertian kode etik profesi dari dua sumber: 1) Kode etik adalah sistem norma atau aturan yang tertulis secara jelas dan tegas serta terperinci tentang apa yang baik dan tidak baik, apa yang benar dan apa yang salah dan perbuatan apa yang dilakukan dan tidak boleh dilakukan oleh seorang profesional.
16 2) Kode Etik merupakan aturan-aturan susila, atau sikap akhlak yang ditetapkan bersama dan ditaati bersama oleh para anggota, yang tergabung dalam suatu kumpulan atau organisasi (organisasi profesi). Oleh karena itu, kode etik merupakan suatu bentuk persetujuan bersama, yang timbul secara murni dari diri pribada para anggota atau dengan kata lain kode etik merupakan serangkaian ketentuan dan peraturan yang disepakati bersama guna mengatur tingkah laku para anggota organisasi. Hunainah (2016 : 3) berpendapat bahwa sekurangkurangnya ada empat alasan mengapa etika perlu : 1) Tidak ada kesatuan tatanan normatif msehingga kita berhadapan dengan banyak pandangan moral yang sering saling bertentangan. Dalam situasi demikian kita sering bingung, tatanan norma dan pandangan moral mana yang harus diikuti. Untuk mencapai suatu pendirian dalam pergolakan pandanganpandangan moral tersebut, etika diperlukan. 2) Etika diperlukan untuk membantu kita agar tidak kehilangan orientasi dalam situasi transformasi ekonomi, sosial, intelektual dan budaya tradisional ke modern dan dapat menangkap makna hakiki dari perubahan nilainilai serta mampu mengambil sikap yang dapat dipertanggung jawabkan. 3) Etika dapat membuat kita sanggup untuk menghadapi ideologi baru secara kritis dan objektif serta untuk membentuk penilaian sendiri agar kita tidak mudah menerima atau menolak nilainilai baru. 4) Etika diperlukan oleh kaum agama untuk menyelaraskan kepercayaan yang dianut dengan keiinginan turut berpartisipasi dalam dimensi kehidupan masyarakat. Pendapat lain mengatakan bahwa kode etik profesi diperlukan agar profesi atau konselor dapat tetap menjaga standar mutu dan status profesinya dalam batas-batas yang jelas dengan anggota profesi lainnya sehingga dapat
17 dihindarkan kemungkinan penyimpangan-penyimpangan tugas oleh mereka yang tidak berkecimpung dalam bidang bimbingan dan konseling. Etik tentang profesi berakar pada public trust yang mendefinisikan profesi itu dan menjadi kepedulian utama seluruh angora kelompok professional. Setiap saat presepsi public terhadap profesi dapat berubah karena perilaku tidka etis, tak professional atau tak bertanggung jawab dari para anggotanya. Seorang konselor professional harus memberi kepedulian khusus terhadap klien karena klien amat rawan untuk dimanipulasi dan diekslpoitasi. Kode etik profesi merupakan norma yang ditetapkan dan diterima oleh kelompok profesi, yang mengarahkan atau memberi petunjuk kepada anggotanya bagaimana seharusnya berbuat dan sekaligus menjamin mutu moral profesi itu dimata masyarakat. Etik tentang Profesi berakar pada Public Trust yang mendefinisikan profesi itu dan menjadi kepedulian utama seluruh anggota kelompok profesional. Setiap saat presepsi public terhadap profesi dapat berubah karena perilaku tidak etis, tidak profesional atau tidak bertanggung jawab dari para anggotanya. Seorang konselor profesional harus memberikan kepedulian khusus terhadap.
18 BAB 3 KODE ETIK GURU BK/KONSELOR SEKOLAH A. Pendahuluan 1. Pengertian Layanan bimbingan dan konseling diselenggarakan dalam empat komponen program yaitu layanan dasar, layanan peminatan dan perencanaan individual, layanan responsif, serta dukungan sistem. Dalam praktik layanan dilakukan koordinasi dan kolaborasi dengan pendidik dan profesional lain yang dapat menciptakan peluang kemandirian dan kesetaraan dalam meraih kesempatan dan kesuksesan bagi konseli berdasarkan prinsip-prinsip dasar profesionalitas sebagai berikut. a. Setiap individu dipandang atas dasar kemuliaan harkat dan martabat kemanusiaannya. b. Setiap individu memiliki hak untuk dihargai, diperlakukan dengan hormat dan mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pelayanan bimbingan dan konseling yang bermutu secara profesional. c. Profesi bimbingan dan konseling memberikan pelayanan bagi individu dari berbagai latar belakang kehidupan yang beragam dalam budaya; etnis, agama dan keyakinan; usia; status sosial dan ekonomi; individu dengan berkebutuhan khusus; individu yang mengalami kendala bahasa; dan identitas gender. d. Setiap individu berhak memperoleh informasi yang mendukung pemenuhan atas kebutuhan untuk mengembangkan diri. KODE ETIK GURU BK/KONSELOR SEKOLAH
19 e. Setiap individu mempunyai hak untuk memahami arti penting dari pilihan hidup dan bagaimana pilihan tersebut akan mempengaruhi masa depan yang membahagiakan. f. Setiap individu memiliki hak untuk dijaga kerahasiaan dirinya sesuai dengan hak-hak pribadinya, aturan hukum, kebijakan, dan standar etika pelayanan. Kode Etik Bimbingan dan Konseling Indonesia adalah norma-norma, sistem nilai dan moral yang merupakan aturan tentang apa yang harus atau perlu dilakukan, tidak boleh dilakukan, dan tidak dianjurkan untuk dilakukan atau ditugaskan dalam bentuk ucapan atau tindakan atau perilaku oleh setiap pemangku profesi layanan bimbingan dan konseling dalam menjalankan tugas profesi dan dalam kehidupan bermasyarakat dalam rangkaian budaya Indonesia. Kode Etik Bimbingan dan Konseling Indonesia adalah kaidah-kaidah nilai dan moral yang menjadi rujukan bagi anggota organisasi dalam melaksanakan tugas, atau tanggung jawabnya dalam melaksanakan layanan bimbingan dan konseling kepada konseli. Kode etik ini merupakan landasan moral dan pedoman tingkah laku profesional yang dijunjung tinggi, ditegakkan, diamalkan, dan diamankan oleh setiap anggota Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). Oleh karena itu kode etik ini wajib dipatuhi dan diamalkan oleh seluruh pengurus dan anggota ABKIN tingkat Nasional, Provinsi, dan Kabupaten/Kota. Kode etik profesi dinyatakan dalam bentuk seperangkat standar, peraturan, dan/atau pedoman yang mengatur dan mengarahkan ucapan, tindakan, dan/atau perilaku konselor atau guru bimbingan dan konseling sebagai pemegang kode etik yang bekerja pada berbagai sektor dalam interaksi mereka dengan mitra kerja dan sasaran layanan atau konseli serta anggota masyarakat pada umumnya.
20 2. Landasan Legal Landasan legal Kode Etik Bimbingan dan Konseling Indonesia adalah Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga ABKIN. Dalam ranah kenegaraan, Kode Etik ini berlandaskan: a. Pancasila dan Undang-undang Dasar 1945 Negara Kesatuan Republik Indonesia. b. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. c. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2017 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UndangUndang Nomor 2 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan Menjadi Undang-Undang. Dalam ranah kesejarahan bimbingan dan konseling di Indonesia, maka landasan Kode Etik ini sebagai berikut. a. Pada tahun 1960 (tepatnya tanggal 20–24 Agustus 1960) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (disingkat FKIP yang berkembang menjadi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan/IKIP) menyelenggarakan Konferensi di Malang, yang bertujuan untuk memasukkan program layanan bimbingan dan penyuluhan (yang sekarang menjadi bimbingan dan konseling) ke dalam sistem pendidikan di Indonesia. b. Tahun 1963 berdiri Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan di IKIP Bandung dan IKIP Malang. c. Tahun 1968 diberlakukan Kurikulum Gaya Baru. Dalam penyelenggaraan kurikulum tersebut mulai dirintis di sekolah-sekolah penyelenggaraan layanan Guidance and Counseling (GC), yang diampu oleh Guru GC. d. Pada tahun 1971, delapan (8) Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Negeri penyelenggara Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP), berhasil menyusun buku “Pedoman Operasional Pelayanan Bimbingan pada Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP)”.
21 e. Pada tanggal 17 Desember Tahun 1975, di Malang, lahir organisasi profesi Bimbingan dan Konseling dengan nama Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI). Selanjutnya, melalui Kongres IPBI pada tanggal 15 Maret 2001 di Bandar Lampung, IPBI berubah menjadi Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). f. Tahun 1975, lahir dan diberlakukan Kurikulum Tahun 1975, mulai Sekolah Dasar sampai dengan Sekolah Menengah Atas, yang disebut Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum sebelumnya (Kurikulum 1968). Kurikulum 1975 menyatakan bahwa bimbingan dan penyuluhan merupakan bagian integral dalam pendidikan di sekolah, yang memuat beberapa pedoman pelaksanaan kurikulum tersebut, yang salah satu di antaranya adalah buku Pedoman Bimbingan dan Penyuluhan (Buku III/C). g. Pada tahun 1989 lahir Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pada Pasal 1 ayat (1) ditegaskan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan/atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang. h. Pada tahun 1990 lahir Peraturan Pemerintah Nomor 28 dan Nomor 29 tentang Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Pada PP Nomor 28, Bab X Bimbingan, pasal 25 ayat (1) dinyatakan bahwa bimbingan merupakan bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan, dan merencanakan masa depan. Pada ayat (2) bimbingan diberikan oleh guru pembimbing. Pada PP Nomor 29, pasal 29 ayat (1) dan ayat (2) berbunyi sama dengan ayat (1)dan ayat (2) PP Nomor 28. i. Tahun 1989 terbit Surat Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara No. 026/Menpan/1989 tentang Angka Kredit bagi Jabatan Guru dalam lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Di dalam Kepmen tersebut
22 ditetapkan secara resmi adanya kegiatan pelayanan bimbingan dan penyuluhan di sekolah. j. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa “konselor” adalah pendidik dalam pasal 1 ayat (6). k. Pada tahun 2003/2004, dikembangkan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang menekankan layanan bimbingan dan konseling pada kegiatan pengembangan diri. l. Tahun 2005, Pengurus Besar ABKIN telah menerbitkan Standar Kompetensi Konselor Indonesia (SKKI). m. Pada tahun 2005, terbit Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang antara lain menyebutkan pendidikan profesi guru. n. Tahun 2007 terbit buku berjudul Penataan Pendidikan Profesional Konselor dan Layanan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur Pendidikan Formal, yang diterbitkan oleh Ditjen Dikti dan Ditjen PMPTK, Depdiknas. o. Tahun 2008 diterbitkan Permendiknas No. 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor (SKAKK), yang menjelaskan bahwa kualifikasi akademik konselor dalam satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal adalah Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang bimbingan dan konseling. p. Tahun 2010 terbit buku Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Profesi Guru BK/Konselor oleh Ditjen Dikti, Depdikbud. q. Tahun 2013, terbit Permendikbud No. 81/A tentang Implementasi Kurikulum 2013 yang di dalamnya menyebutkan tentang konsep dan strategi layanan bimbingan dan konseling. r. Tahun 2014 terbit Permendikbud No. 111/2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. s. Tahun 2016 terbit Panduan Operasional Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling di SD/SMP/SMA/SMK yang
23 diterbitkan oleh Ditjen GTK sebagai penjabaran dari Permendikbud No. 111/2014. t. Tahun 2017 terbit Kepmenristekdikti No. 257/M/KPT/2017 tentang Nama Program Studi Pada Perguruan Tinggi, disebutkan pada lampiran I tentang Pendidikan Bimbingan dan Konseling pada Rumpun Ilmu Terapan (Profession and Applied Sciences) bergelar S.Pd., sedangkan pada lampiran II disebutkan Pendidikan Profesi Konselor (Counselor Profession Education) bergelar Konselor. B. Kualifikasi, Kompetensi, dan Kegiatan 1. Kualifikasi a. Konselor adalah pendidik profesional yang berkualifikasi akademik minimal Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang Bimbingan dan Konseling dan telah lulus pendidikan profesi, baik Pendidikan Profesi Konselor maupun Pendidikan Profesi Guru Bimbingan dan Konseling. b. Guru Bimbingan dan Konseling adalah pendidik yang berkualifikasi akademik minimal Sarjana Pendidikan (S-1) dalam bidang Bimbingan dan Konseling dan memiliki kompetensi akademik di bidang Bimbingan dan Konseling. 2. Kompetensi Sebagaimana termaktub pada Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 27 Tahun 2008, kompetensi yang harus dikuasai oleh konselor atau guru bimbingan dan konseling terdiri atas. a. Kompetensi Pedagogik 1) Menguasai teori dan praksis pendidikan. 2) Mengaplikasikan perkembangan fisiologis dan psikologis serta perilaku konseli. 3) Menguasai esensi pelayanan bimbingan dan konseling dalam jalur, jenis, dan jenjang satuan pendidikan. b. Kompetensi Kepribadian 1) Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
24 2) Menghargai dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, individuasi, dan kebebasan memilih. 3) Menunjukkan integritas dan stabilitas kepribadian yang kuat. 4) Menampilkan kinerja berkualitas tinggi. c. Kompetensi Sosial 1) Mengimplementasikan kolaborasi intern di tempat bekerja. 2) Berperan dalam organisasi dan kegiatanprofesi bimbingandan konseling. 3) Mengimplementasikan kolaborasi antarprofesi. d. Kompetensi Profesional 1) Menguasai konsep dan praksis asesmen untuk memahami kondisi, kebutuhan, dan masalah konseli. 2) Menguasai kerangka teoretik dan praksis bimbingan dan konseling. 3) Merancang program bimbingan dan konseling. 4) Mengimplementasikan program bimbingan dan konseling yang komprehensif. 5) Menilai proses dan hasil kegiatan bimbingan dan konseling. 6) Memiliki kesadaran dan komitmen terhadap etika profesional. 7) Menguasai konsep dan praksis penelitiandalam bimbingan dan konseling. 3. Kegiatan Profesional a. Praktik Pelayanan Secara Umum 1) Dinamika Pelayanan • Konselor wajib membantu konseli sesuai dengan kesepakatan antara keduanya. • Jika dirasa perlu, konseli berhak mengakhiri hubungan dengan konselor, meskipun proses konseling belum mencapai hasil konkrit. • Konselor tidak melanjutkan hubungan bila konseli tidak memperoleh manfaat dari layanan yang sudah/sedang dilaksanakan.
25 • Untuk kepentingan pelayanan lebih lanjut, konselor membuat catatan ringkas tentang kegiatan layanan yang telah dilaksanakan dengan sepenuhnya menerapkan asas kerahasiaan. 2) Hubungan Konselor dengan Konseli • Konselor wajib menghormati harkat, martabat, integritas dan keyakinan konseli. • Konselor wajib menempatkan kepentingan konseli di atas kepentingan pribadi konselor. • Konselor tidak diperkenankan melakukan diskriminasi atas dasar suku, bangsa, ras, agama, atau status sosial dan gender terhadap konseli. • Konselor tidak diperkenankan memaksa untuk melaksanakan pelayanan terhadap seseorang tanpa izin dari pihak yang bersangkutan. • Konselor wajib memberikan pelayanan kepada siapapun yang memerlukannya, terlebih-lebih dalam keadaan darurat atau banyak orang menghendakinya. • Konselor wajib memberikan pelayanan hingga tuntas sebagaimana diperlukan oleh konseli, termasuk kepada orang yang tidak mampu membayar. • Konselor wajib menjelaskan kepada konseli tujuan konseling, sifat hubungan yang sedang dibina dan tanggung jawab konselor serta konseli masingmasing dalam hubungan profesional konseling. • Konselor wajib memperhatikan kondisi konseli ketika kegiatan layanan berlangsung. • Konselor tidak diperbolehkan memberikan bantuan profesional konseling kepada anggota keluarga dan atau orang-orang yang memiliki hubungan dekat dan bisa merusak hubungan profesional kedua belah pihak.
26 b. Praktik pada Unit Kelembagaan Dalam berpraktik pada unit kelembagaan tertentu, seperti satuan pendidikan, lembaga kedinasan (negeri/swasta), lingkungan kerja (perusahaan/industri), atau lembaga sosial kemasyarakatan: 1) Konselor memahami visi, misi, tujuan, pola kerja dan nilai-nilai yang berlaku di lembaga yang dimaksud, dengan ketentuan: • Apabila visi, misi, tujuan, pola kerja dan nilai-nilai lembaga sesuai dengan visi dan misi serta nilai-nilai bimbingan dan konseling, konselor atau guru bimbingan dan konseling dianggap layak untuk berkerja di lembaga yang dimaksud. • Apabila visi, misi, tujuan, pola kerja dan nilai-nilai yang ada di lembaga tersebut tidak sesuai dengan visi, misi serta nilai-nilai pelayanan bimbingan dan konseling, konselor dianggap tidak layak bekerja di lembaga tersebut. 2) Konselor menjunjung dan mengimplementasikan visi, misi, tujuan, pola kerja dan nilai-nilai yang berlaku di lembaga yang dimaksud melalui pelayanan bimbingan dan konseling. 3) Konselor memberikan pelayanan kepada seluruh konseli yang menjadi tanggung jawabnya di lembaga tempat bekerja konseli di luar lembaga pelayanannya yang secara sukarela meminta konselor memberikan pelayanan, dengan menerapkan segenap kaidah, kode etik profesional pelayanan konseling. c. Praktik Mandiri Dalam praktik mandiri berlaku ketentuan sebagai berikut. 1) Konselor wajib memperoleh izin praktik atau lisensi dari organisasi profesi bimbingan dan konseling, yaitu Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). 2) Konselor memberikan pelayanan profesional kepada seluruh warga masyarakat yang memerlukan bantuan
27 dengan menerapkan segenap kaidah praktik dan kode etik bimbingan dan konseling Indonesia. d. Dukungan Sejawat Profesional Konselor 1) Berkenaan dengan status konselor atau guru bimbingan dan konseling yang bekerja pada unit kelembagaan dan praktik mandiri, semua pelaku pelayanan bimbingan dan konseling harus saling menghormati dan mendukung dan berkolaborasi dalam proses pembantuan. 2) Jika dikehendaki oleh pihak-pihak terkait, sejawat konselor dengan senang hati dan sekuat tenaga secara profesional membantu rekan yang bekerja pada unit kelembagaan dan praktik mandiri yang membutuhkan bantuan. e. Informasi dan Riset 1) Penyimpanan Informasi dan Penggunaan • Catatan tentang diri konseli seperti: hasil wawancara, testing, surat- menyurat, rekaman dan data lain merupakan informasi yang bersifat rahasia dan hanya boleh dipergunakan untuk kepentingan konseli. • Penggunaan data atau informasi tersebut pada butir 1), dimungkinkan untuk keperluan riset atau pendidikan calon konselor atau guru bimbingan dan konseling, sepanjang identitas individu atau kelompok yang dilayani dirahasiakan atau jikalau digunakan harus atas izin individu atau kelompok yang dilayani. • Penyampaian informasi tentang konseli kepada keluarganya atau anggota profesi yang sama atau profesi lain membutuhkan persetujuan konseli yang bersangkutan dan kepentingan konseli tidak dirugikan. • Informasi profesional hanya boleh disampaikan kepada orang yang mampu dan berwenang menafsirkan dan menggunakannya.
28 2) Riset Dalam melakukan riset, konselor atau guru bimbingan dan konseling harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut. • Dalam melakukan riset terhadap manusia, wajib dihindari hal yang merugikan subjek yang diteliti. • Dalam melaporkan hasil riset, identitas subjek penelitian wajib dijaga kerahasiannya. • Penggunaan hasil-hasil riset bimbingan dan konseling harus dipergunakan sepenuhnya untuk kepentingan mengembangkan ilmu terapan bimbingan dan konseling serta untuk kemaslahatan setinggi- tingginya bagi subjek layanan bimbingan dan konseling. f. Penggunaan Instrumen Assesmen 1) Suatu jenis assesmen (tes dan non-tes) hanya bisa diaplikasikan oleh konselor atau guru bimbingan dan konseling yang berwenang menggunakan dan menafsirkan hasilnya. • Assesmen dilakukan bila diperlukan data yang lebih luas tentang kondisi diri atau karakteristik kepribadian konseli untuk kepentingan pelayanan. • Konselor memberikan hasil assesmen kepada konseli dan orang tua untuk kepentingan pelayanan. • Penggunaan assesmen wajib mengikuti pedoman atau petunjuk yang berlaku bagi assesmen yang dimaksud. • Data hasil assesmen wajib diintegrasikan ke dalam himpunan data dan/atau dengan informasi dari sumber lain untuk konseli yang sama. • Hasil assesmen hanya dapat diberitahukan kepada pihak lain sejauh ada hubungannya dengan usaha bantuan terhadap konseli dan tidak menimbulkan kerugian baginya.
29 C. Pelaksanaan Layanan Konselor menyadari bahwa kepentingan sasaran layanan atau konseli terhadap konselor merupakan hal yang paling utama dalam praktik pelayanan bimbingan dan konseling. Konselor menyikapi dan melayani konseli melalui penampilan pribadi yang altruistik. Cara-cara yang diterapkan untuk membantu konseli dengan penuh perhatian dan penghargaan atas harkat dan martabat konseli serta sepenuhnya untuk pencapaian kemaslahatan konseli. 1. Penghargaan dan Keterbukaan a. Perhargaan terhadap Sasaran Layanan 1) Konselor menghargai konseli sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan konseli. 2) Konselor menyadari dan menghargai konseli sebagai individu dengan hak-hak pribadi dan kondisi latar mutikulturalnya. 3) Konselor memahami permasalahan yang dialami konseli dan memposisikannya sebagai subjek yang perlu dibantu dan dicarikan solusi atas masalahmasalahnya dengan sebaik-baiknya, bukan menjadikan kesalahan yang diperbuat konseli sebagai objek layanan. 4) Konselor memahami dan memposisikan konseli sebagai subjek yang berpotensi untuk mampu mencapai solusi atas permasalahan yang dialaminya dan mengembangkan dirinya. b. Kebenaran dan Keterbukaan 1) Dalam melaksanakan pelayanan konseling konselor membahas dan menangani permasalahan konseli secara objektif atas dasar kebenaran dengan prinsip konselor tidak pernah memihak, kecuali pada kebenaran. 2) Dalam pembahasan dan pencarian solusi atas permasalahan konseli, konselor mendorong konseli untuk objektif dan terbuka sehingga segala sesuatunya
30 dapat dibahas dan dilayani secara mendalam, tuntas dan tepat. 3) Dalam menangani permasalahan konseli, konselor bertindak secara objektif, konkrit dan menghindari kerancuan peran dan sesuatu yang tidak jelas. 2. Kerahasiaan dan Berbagai Informasi a. Kerahasiaan 1) Konselor menyadari, menghargai dan menempatkan informasi dari dan mengenai diri konseli, baik yang menyangkut kehidupan pribadi maupun kondisi aktualnya pada posisi yang sangat penting dan harus dirahasiakan sepenuhnya. 2) Konselor berbagi informasi tentang diri dan kondisi konseli hanya seizin konseli sesuai dengan asas kerahasiaan, atau pertimbangan etika profesi dan atau hukum. b. Berbagi Informasi dengan Pihak Lain 1) Konselor harus memastikan keamanan atas kerahasiaan informasi dan data tentang konseli yang diurus oleh staf administrasi bimbingan dan konseling dan kolega satu lembaga yang bisa mengases data. 2) Berbagi dengan Team Konselor • Jika pelayanan terhadap konseli melibatkan konselor lain (dalam satu tim) dengan peranannya masing-masing, maka konseli terlebih dahulu diberitahu mengenai hal tersebut dan informasi serta data apa saja tentang dirinya yang akan dibagi kepada konselor lain itu. • Alih tangan kasus kepada konselor lain atau ahli lain harus seizin konseli, dan konseli diberitahu informasi apa saja tentang dirinya yang disampaikan kepada konselor lain atau ahli lain itu. • Dalam diskusi profesional antar konselor, identitas konseli yang masalahnya dibahas harus dirahasiakan.
31 • Dalam konferensi kasus, konselor memastikan bahwa para peserta memang benar-benar merahasiakan identitas konseli dan permasalahan yang dibahas, tidak akan disampaikan kepada siapapun juga. 3) Berbagi dengan Atasan Konselor. Konselor akan melaporkan kepada atasan tentang pelaksanaan program bimbingan dan konseling tanpa menyebutkan nama-nama konseli dalam laporan tersebut. 4) Dalam memindahkan informasi atau data yang bersifat rahasia yang terekam dalam komputer, melalui surat elektronik, mesin fax, telepon, dan perlengkapan teknologi komputer lainnya, dipindahkan oleh konselor dengan memperhatikan serta memastikan keamanan pemindahan informasi atau data rahasia tersebut. c. Rekaman Data Konseling 1) Kerahasiaan rekaman. Proses perekaman dan tempat penyimpanan hasilnya hanya ditangani oleh orang-orang yang memiliki wewenang untuk rekaman tersebut. 2) Izin untuk merekam. Terlebih dahulu konselor meminta izin dari konseli untuk merekam proses konseling dalam bentuk elektronik maupun bentuk lain. 3) Izin untuk pengamatan. Terlebih dahulu konselor meminta izin dari konseli untuk mengamati sesi layanan langsung, sesi konseling dalam latihan, termasuk meninjau hasil transkrip dan laporan pelaksanaan layanan. 4) Rekaman bagi konseli. Konselor hanya memberikan salinan rekaman dan/ atau laporan layanan kepada konseli yang memang memerlukan. Konselor membatasi pemberian salinan rekaman atau sebagian salinan
32 hanya jika isi rekaman tersebut tidak akan menggangu atau menyakiti perasaan konseli. Dalam situasi konseling yang melibatkan banyak konseli, maka konselor hanya memberikan salinan rekaman data yang menyangkut konseli yang memintanya dan tidak menyertakan salinan data yang menyangkut konseli lain. 5) Bantuan dengan rekaman data. Konselor memberikan bantuan kepada konseli dengan cara memberikan konsultasi dalam memaknai rekaman dan memanfaatkan secara proaktif data yang ada. 6) Membuka atau memindahkan rekaman. Terlebih dahulu konselor meminta persetujuan tertulis dari konseli untuk membuka atau memindahkan rekaman data kepada pihak ketiga yang memiliki wewenang. 7) Penyimpanan rekaman setelah konseling berakhir. Jika konselor perlu menyimpan rekaman data konseling untuk menindaklanjuti proses konseling, konselor memelihara dan menjaga kerahasiaan rekaman. d. Penelitian 1) Persetujuan institusi atau lembaga. Jika konselor akan menggunakan informasi mengenai konseli sebagai bagian dari penelitian, maka konselor harus terlebih dahulu mendapatkan persetujuan dari lembaga tempat konselor bekerja. 2) Informasi rahasia yang diperlukan dalam penelitian. Konselor menjaga kerahasiaan setiap rekaman data konseli dengan sebaik-baiknya jika penelitian yang akan dilakukan melibatkan pihak lain. 3. Setting Layanan a. Suasana dan Sarana Fisik 1) Konselor menyelenggarakan pelayanan kepada konseli di tempat (seperti ruangan dan
33 kelengkapannya) yang dijamin suasana yang aman dan nyaman. 2) Pelayanan bimbingan dan konseling dapat diselenggarakan di luar ruangan dengan catatan kondisi fisik dan suasananya harus sebagaimana tersebut pada butir (a) di atas. 3) Tempat penyelenggaraan layanan dapat dilengkapi dengan alat-alat seperti tempat relaksasi, persediaan air (untuk cuci tangan dan cuci muka, serta untuk minum), serta perlengkapan hardware untuk penayangan media dan lain-lain. b. Kondisi Sosio-Psikologis 1) Pelayanan konseling dilaksanakan di dalam ruangan atau tempat yang mampu menjaga kerahasiaan dan nyaman artinya tidak dilihat oleh pihak ketiga yang dapat mencemari asas kerahasiaan. 2) Tempat penyelenggaraan konseling dipilih dan dipersiapkan sedemikian rupa sehingga konseli merasa dihargai/dihormati; dalam hal ini pilihan tempat penyelenggaraan layanan merupakan kesepakatan antara konseli dan konselor. 3) Jarak dan posisi duduk antara konselor dan konseli, terutama pada layanan konseling perorangan, tidak melanggar nilai-nilai dan norma berlaku. 4. Tanggung Jawab Konselor atau guru bimbingan dan konseling dalam menjalankan kinerja profesionalnya bertanggung jawab kepada lima pihak, yaitu kepada konseli, atasan, ilmu dan profesi, diri sendiri dan Tuhan Yang Maha Esa. a. Tanggung Jawab kepada Konseli 1) Konselor atau guru bimbingan dan konseling menjunjung tinggi dan memelihara hak-hak konseli sehingga terwujudkan dengan cara yang baik seiring dengan pelaksanaan tugas pokok dan fungsi konselor. 2) Konselor atau guru bimbingan dan konseling secara penuh membantu konseli dalam mengembangkan
34 potensi dan memenuhi kebutuhannya dalam berbagai bidang kehidupannya, serta mendorongnya untuk mencapai solusi atas permasalahannya dan mencapai perkembangan diri secara optimal. 3) Konselor atau guru bimbingan dan konseling mendorong konseli untuk mampu bertanggung jawab atas diri sendiri, mengambil keputusan sendiri, dan mandiri dalam menjalani kehidupan secara efektif dan sukses. 4) Konselor atau guru bimbingan dan konseling mengerahkan segenap kemampuan profesionalnya yang terbaik demi keberhasilan konseli. b. Tanggung Jawab kepada Atasan dan Pemangku Kepentingan Lainnya 1) Konselor atau guru bimbingan dan konseling memberikan informasi kepada pimpinan lembaga dan pihak-pihak terkait tentang peranan konselor terutama tentang pelayanan terhadap konseli yang menjadi tanggung jawab konselor di lembaga yang dimaksud dan peran konseling demi suksesnya lembaga. 2) Konselor atau guru bimbingan dan konseling mendorong konseli yang ada di lembaga yang dimaksud serta pihak-pihak yang terkait agar melalui pelayanan konseling mereka dapat ikut serta menyukseskan lembaga. 3) Konselor atau guru bimbingan dan konseling merupakan kepanjangan tangan dari keseruruhan tugas kelembagaan melalui kerjasama konselor dengan seluruh perangkat kelembagaan untuk suksesnya visi dan misi lembaga secara menyeluruh. 4) Konselor atau guru bimbingan dan konseling menerima masukan, pendapat atau kritikan dari pimpinan lembaga sebagai dasar untuk mengembangkan, memperbaiki dan melaksanakan dengan sukses program bimbingan dan konseling di lembaga yang dimaksud.
35 c. Tanggung Jawab kepada Ilmu dan Profesi 1) Konselor atau guru bimbingan dan konseling menyadari bahwa ilmu dan kemampuan yang telah dipelajarinya mengandung nilai-nilai luhur yang wajib dijunjung tinggi dan diimplementasikan dengan cara terbaik, sehingga nilai-nilai luhur itu tidak tercederai. 2) Konselor atau guru bimbingan dan konseling tidak menyalahgunakan kedudukannya sebagai konselor untuk kepentingan diluar tujuan dan kemanfaatan ilmu dan profesi konseling. 3) Dalam kaitannya dengan asosiasi profesi (ABKIN), konselor atau guru bimbingan dan konseling secara konsisten tunduk dalam menjalankan aturan dan kode etik profesi, sepanjang asosiasi profesi tersebut terarah dan menjalankan kaidah-kaidah keilmuan dan profesi bimbingan dan konseling dengan benar. d. Tanggung Jawab kepada Diri Sendiri 1) Konselor atau guru bimbingan dan konseling menyadari bahwa kualitas layanan konseling yang dilakukannya berdampak pada pribadi konselor sendiri, terutama dalam hal pandangan pihak lain tentang kemampuan dan kualitas keprofesian konselor. 2) Konselor atau guru bimbingan dan konseling berusaha terus-menerus untuk mengembangkan kompetensi keprofesionalannya dengan menjaga kualitas diri dan profesinya. e. Tanggung Jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa 1) Konselor atau guru bimbingan dan konseling, dalam menjalankan pelayanan konseling merasakan bahwa hal itu merupakan ibadah. Untuk itu setiap kali memohon petunjuk dan ridho dari Tuhan Yang Maha Esa demi suksesnya pelayanan yang dimaksud. 2) Konselor atau guru bimbingan dan konseling menyadari bahwa apa yang dilaksanakannya dalam pelayanan konseling wajib terlaksana di jalan yang
36 benar, hanya untuk kebaikan dan kemaslahatan semua pihak serta terhindar dari kesalahan-kesalahan yang disadari dan disengaja. D. Pelanggaran dan Sanksi Konselor atau guru bimbingan dan konseling wajib memperhatikan apa yang seharusnya dilakukan, apa yang tidak boleh dilakukan, dan apa yang dianjurkan untuk dilakukan kepada konseli. Setiap pelanggaran terhadap Kode Etik akan merugikan diri konselor sendiri, konseli, lembaga dan pihak lain yang terkait, serta profesi Bimbingan dan Konseling. Pelanggaran Kode Etik akan mendapatkan sanksi, baik secara moral berkenaan dengan kerugian diri konselor sendiri, konseli dan pihak lain, serta sanksi secara formal dari organisasi profesi. 1. Bentuk Pelanggaran a. Pelanggaran Umum 1) Melanggar nilai dan norma yang mencemarkan nama baik profesi Bimbingan dan Konseling dan organisasinya, yaitu ABKIN. 2) Melakukantindakpidanayang mencemarkannama baikprofesi Bimbingan dan Konseling. b. Pelanggaran terhadap Konseli 1) Menyebarkan/membuka rahasia konseli kepada orang yang tidak terkait dengan kepentingan konseli. 2) Melakukan perbuatan asusila, seperti pelecehan seksual, perselingkuhan, affair, penistaan agama, rasialis terhadap konseli, dan merugikan konseli. 3) Melakukan tindak kekerasan (fisik dan psikologis) terhadap konseli. 4) Melakukanpraktikprofesionalyang tidaksesuai standarprofesi bimbingan dan konseling. 5) Tidak memberikan pelayanan atau mengabaikan permintaan konseli untuk mendapatkan pelayanan. 6) Melakukan referal kepada pihak lain yang tidak sesuai dengan masalah konseli dan merugikan konseli.
37 c. Pelanggaran Terkait dengan Lembaga Kerja 1) Melakukan tindak kesalahan terhadap lembaga berkenaan dengan tanggung jawabnya sebagai konselor yang bekerja di lembaga yang dimaksudkan. 2) Melakukan kesalahan pidana terhadap lembaga yang dimaksud yang dikenai sanksi/hukum yang mencemarkan nama baik profesi Bimbingan dan Konseling. d. Pelanggaran terhadap Rekan Sejawat 1) Melakukan tindakan yang menimbulkan konflik antar sejawat konselor, seperti penghinaan, menolak untuk bekerja sama, sikap arogan. 2) Berebut konseli untuk dilayani antar sesama konselor. e. Pelanggaran terhadap Organisasi Profesi 1) Tidak mengikuti kebijakan dan aturan yang telah ditetapkan oleh organisasi profesi. 2) Mencemarkan nama baik profesi dan organisasi profesinya. 2. Sanksi Terhadap Pelanggaran Apabila terjadi pelanggaran terhadap Kade Etik Profesi Bimbingan dan Konseling maka kepada konselor diberikan sanksi sebagai berikut. 1. Teguran secara lisan dan tertulis. 2. Peringatan keras secara tertulis. 3. Pencabutan keanggotaan ABKIN. 4. Pencabutan lisensi izin praktik mandiri. 5. Apabila terkait dengan permasalahan hukum/kriminal, maka permasalahan tersebut diserahkan pada pihak yang berwenang. 3. Mekanisme Penerapan Sanksi Penerapan sanksi terhadap konselor atau guru bimbingan dan konseling yang dianggap melanggar Kode Etik dilakukan sebagai berikut.
38 1. Diperolehnya pengaduan dan/atau informasi tentang adanya pelanggaran dari konseli dan/atau pihak lain. 2. Pengaduan/informasi disampaikan kepada Dewan Kode Etik, untuk diverifikasi. 3. Konselor atau guru bimbingan dan konseling yang bersangkutan dipanggil oleh dewan pertimbangan kode etik untuk verifikasi pengaduan/informasi yang disampaikan oleh konseli dan/atau pihak lain. 4. Konselor atau guru bimbingan dan konseling yang bersangkutan diberi kesempatan untuk membela diri. 5. Apabila ternyata memang ada pelanggaran dan pelanggaran itu dianggap masih relatif ringan, maka penyelesaiannya dilakukan oleh Dewan Kode Etik Daerah, yang kemudian dikuatkan oleh Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PB-ABKIN). 6. Apabila pelanggaran dilakukan oleh konselor aau guru bimbingan dan konseling merupakan pelanggaran berat, Dewan Kode Etik Daerah melimpahkan penyelesaiannya kepada Pengurus Besar Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (PB-ABKIN).
39 BAB 4 AKREDITASI, SERTIFIKASI, DAN LISENSI DALAM PROFESI BK Kredensialisasi Profesi BK Hunainah (2016) menjelaskan, Konseling sejatinya merupakan hubungan membantu (helping relationship) yang dilakukan oleh tenaga profesional terlatih dalam bidang konseling. Proses konseling dibangun dengan menciptakan hubungan komunikasi mendalam antara klien (konseli) dan konselor. Hubungan mendalam dapat tercipta secara bertahap terutama jika antara konselor dan konseli belum saling kenal. Oleh karenanya, diperlukan beberapa kali pertemuan untuk sampai pada hubungan komunikasi yang mendalam. Nursalim (2015) menyatakan, Kredensialisasi adalah penganugerahan kepercayaan kepada konselor profesional yang menyatakan bahwa yang bersangkutan memiliki kewenangan dan memperoleh lisensi untuk menyelenggarakan layanan profesional secara independen kepada masyarakat maupun dalam lembaga tertentu. Seorang konselor tidak secara otomatis memperoleh kredensial (kepercayaan) kecuali atas dasar permohonan dan melakukan secara nyata layanan profesi bagi masyarakat atau sekolah. Sedangkan Mungin (2018) menyatakan bahwa Kredensial (credentials) adalah suatu metode untuk mengenali individual berdasarkan kelompok pekerjaannya (Sweeney, 1995: 120 (dalam Mungin 2018). Konselor selain memperoleh gelar untuk konseling atau bidang terkait biasanya juga berusaha memperoleh izin praktik setelah mengikuti pelatihan/pendidikan selesai. Kredensial bisa meliputi sertifikatdan/izin praktik. AKREDITASI, SERTIFIKASI, DAN LISENSI DALAM PROFESI BK
40 Dalamdunia profesi,kemampuan seorangtenaga profesi atau lembaga diuji dan kepadanya diberikan tanda bukti yang menyatakan bahwa yang bersangkutan benar-benar diyakini dan dapat diberi kepercayaan untuk melaksanakan tugas dalam bidang profesi yang dimaksud. Pengujian dan pemberian bukti tersebut dilakukan berdasarkan aturan kredensial yang dikeluarkan oleh pihak yang berwenang. Aturan kredensial itu meliputi pemberian sertifikasi,akreditasi, dan lisensi. Menurut Diknas (2003), sertifikasi, akreditasi, dan lisensi mengarah kepada pengakuan formal terhadap kemampuan dan kewenangan pelayanan seseorang untuk melaksanakandan/atau mengembangkan pelayanan sesuai dengan jenjang kualifikasi pendidikan dan keahlian. Pada sub bab dibawah ini akan diuraikan mengenai sertifikasi, akreditasi, dan lisensi. A. Sertifikasi Profesi BK Sertifikasi kompetensi profesi menjadi penting karena yurisdiksi pelaksanaan jabatan dapat dilindungi dan dikontrol dari orang-orang yang tidak mempunyai kompetensi profesi di bidangnya sehingga publik dapat dilindungi dari kemungkinan malpraktik di bidang profesi tersebut. Dengan sertifikasi profesi, maka keandalan kinerja jabatan yang dipegang oleh seseorang akan dijamin, paling tidak pada tingkat kualitas kompetensi minimal. Mungin (2018), menyatakan Sertifikasi (certification) adalah proses pemberian pengakuan resmi bahwa seseorang telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan pelayanan konseling pada jenjang dan jenis setting tertentu, setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan tenaga profesi konseling yang terakreditasi atau lembaga sertifikasi. Dengan perkataan lain, sertifikasi profesional adalah proses pemberian pengakuan terhadap tingkat kemampuan dan keterampilan khusus yang dimiliki oleh seseorang. Nursalim (2015), menyatakan dalam bidang bimbingan dan konseling, sertifikasi diartikan sebagai pemberian pengakuan bahwa seseorang telah memiliki kompetensi untuk
41 melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling pada jenjang dan jenis setting tertentu. Pengakuan tersebut diberikan setelah yang bersangkutan lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan tenaga profesi konseling terakreditasi atau lembaga sertifikasi. Menurut UU Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, sertifikasi dapat berbentuk dua macam, yaitu dalam bentuk ijazah dan sertifikat kompetensi, sedangkan istilah yang digunakan dalam UU Nomor 13/2003 tentang Ketenagakerjaan adalah sertifikasi kompetensi kerja atau sertifikasi profesi. Ijazah diberikan sebagai pengakuan terhadap prestasi belajar dan/atau penyelesaian jenjang pendidikan setelah lulus ujian yang diselenggarakan oleh suatu badan pendidikan terakreditasi. Tujuan sertifikasi secara substantif adalah untuk mengaudit kompetensi konselor. Secara fungsional, tujuan sertifikasi adalah sebagai berikut: (dalam Nursalim, 2015: 41) 1. Melindungi profesi konselor; 2. Melindungi masyarakat dari praktik-praktik yang tidak kompeten sehingga merusak citra konselor; 3. Membantu dan melindungi lembaga penyelenggara konseling denganmenyediakan rambu- rambu dan instrumen untuk melakukan seleksi terhadap pelamar yang kompeten; 4. Membangun citra masyarakat terhadap profesi konselor; 5. Memberikan solusi dalam rangka meningkatkan mutu konselor. B. Akreditasi Profesi BK Nursalim (2015), menyatakan Akreditasi adalah pemberian derajat penilaian terhadap kondisi yang dimiliki oleh satuan pengembang dan/atau pelaksana konseling, seperti Jurusan/Program Studi Konseling di LPTK. Akreditasi digunakan untuk menyatakan kelaikan program satuan pendidikan atau lembaga yang dimaksud. Dalam Mungin (2018), Akreditasi (accreditation) adalah proses penentuan status yang dilakukan oleh organisasi profesi
42 atau suatu badan khusus yang dipandang kompeten dan independen terhadap lembaga penyelenggara program kependidikan dalam pencapaian standar mutu yang dipersyaratkan. Oleh karena itu, dengan didukung oleh asosiasi penyelenggara program pendidikan profesional, badan penyelenggara akreditasi berfungsi mengawal mutu program pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga penyelenggara pendidikan. Lazim terselenggara atas dasar sukarela (on a voluntary basis), keikutsertaan lembaga penyelenggara pendidikan profesional dalam suatu mekanisme akreditasi tertentu dipicu bukan untuk memperoleh legitimasi birokratik, melainkan untuk memperoleh legitimasi akademik yang dihargai oleh pihak-pihak terkait (stakholders) khususnya calon mahasiswa berdasarkan bukti-bukti yang transparan. 1. Dalam Mungin (2018), dijelaskan mengenai tujuan dari akreditasi. Tujuan pokok akreditasi adalah untuk memantapkan kredibilitas profesi. Tujuan ini lebih lanjut dirumuskan sebagai berikut: Untuk menilai bahwa program yang ada memenuhi standar yang ditetapkan oleh profesi. 2. Untuk menegaskan misi dan tujuan program. 3. Untuk menarik calon konselor dan tenaga pengajar yang bermutu tinggi. 4. Untuk membantu para lulusan memenuhi tuntutan kredensial, seperti lisensi. 5. Untuk meningkatkan kemampuan program dan pengakuan terhadap program tersebut. 6. Untuk meningkatkan program dari penampilan dan penutupan. 7. Untuk membantu mahasiswa yang berpotensi dalam seleksi memakai program pendidikan konselor. 8. Memungkinkan mahasiswa dan staf pengajar berperan serta dalam evaluasi program secara intensif. 9. Membantu para pemakai lulusan untuk mengetahui program mana yang telah standar.