Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 1 BAGIAN PERTAMA METODE STUDI ISLAM TIM Penyusun Prof. Dr. H. Sagaf S. Pettalongi, M.Pd. Drs. H. Moh. Arfan Hakim, M.Pd.I. Dr. Mohamad Idhan, S.Ag., M.Ag. Andi Markarma, S.Ag., M.Th.I. Hamka, S.Ag., M.Ag.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 2 MATERI I PEMIKIRAN ISLAM Teologi, Tasawuf, Filsafat, Fiqhi dan Ushul Fiqhi 1. ISLAM DAN STUDI AGAMA: URGENSI, ASAL USUL DAN PERTUMBUHAN STUDI ISLAM 2. IMAN, ISLAM, DAN IHSAN: AQIDAH, SYARI‟AH DAN AHKLAK 3. SUMBER-SUMBER AJARAN ISLAM: AL-QUR‟AN, SUNNAH, DAN IJTIHAD 4. SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ISLAM 5. ALIRAN-ALIRAN DALAM PEMIKIRAN ISLAM: DOKTRIN KEPERCAYAAN DALAM ISLAM
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 3 ISLAM DAN STUDI AGAMA: URGENSI, ASAL USUL DAN PERTUMBUHAN STUDI ISLAM A. Arti dan Identifikasi Konsep Agama 1. Pengertian Islam Islam secara harfiyah berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata salima yang mengandung arti selamat, sentosa, dan damai. Dari kata salima berubah menjadi bentuk aslama yang berarti berserah diri. Sedangkan secara istilah Islam adalah agama yang diwahyukan Tuhan kepada manusia melalui Nabi Muhammad SAW., ajaran-ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan umat manusia. 2. Pengertian Agama Istilah agama berasal dari bahasa Arab, yaitu kata dien, masdar dari kata kerja daana yadienu, yang berarti cara atau adat kebiasaan, peraturan, dan nasihat. Agama dalam arti luas adalah aturan-aturan yang berasal dari kekuatan yang lebih tinggi dari kekuatan umat manusia. Sulit menyamakan presepsi tentang agama karena ia bersifat subyektif dan dipengaruhi pandangan agama yang dianut. 3. Pengertian Studi Islam Studi Islam secara harfiah adalah kajian yang berkaitan dengan konsep ajaran Islam. Studi Islam mengkaji tentang hakekat dan eksistensi Tuhan sebagai pencipta dan manusia sebagai hamba. Oleh karena itu, studi Islam berupaya untuk menumbuhkan pemahaman dan kesadaran bahwa umat manusia sama di hadapan Tuhan, yang membedakan hanyalah kadar ketakwaan yang dimiliki oleh masingmasing individu. B. Urgensi Studi Islam Studi Islam sangat urgen bagi umat Islam agar ajaran-ajaran Islam menjadi perdebatan ilmiah secara transparan dan dapat diterima oleh berbagai kalangan. Islam harus dipahamai dan diaktualisasikan serta dijadikan sebagai pedoman hidup sehari-hari. Untuk itu, maka dibutuhkan pemahaman terhadap obyek pengkajian, perinsip pengkajian, dan tujuan pengkajian studi Islam.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 4 1. Obyek Pengkajian Dalam melakukan studi Islam, maka lebih awal dibutuhkan pemahaman terhadap: a. Esensi ajaran Islam dan agama lain Pengkajian terhadap esensi ajaran Islam hubungannya dengan agama lain penting dilakukan untuk memberikan pemahaman bahwa Islam diturunkan oleh Allah SWT. untuk menyempurnakan agama-agama sebelumnya. b. Pokok-pokok ajaran Islam Sebagai agama yang fitrah, pokok-pokok ajaran Islam perlu pengkajian dan pendalaman serta ditransformasikan dalam berbagai dimensi kehidupan sehingga umat Islam mampu berkembang dengan baik dan berinteraksi dengan lingkungan sosial, politik, dan budaya yang pluralis, dinamis dan berubah-ubah. c. Sumber-sumber ajaran Islam Pengkajian dan pendalaman terhadap sumber-sumber ajaran Islam yakni AlQur‟an, hadits dan ijtihad. Al-Qur‟an, hadits dan ijtihad perlu dipahami secara tekstual dan kontekstual, sehingga umat Islam mampu menjawab persoalan dan tantangan yang muncul di tengah-tengah kehidupan masyarakat. d. Nilai-nilai ajaran Islam Pengkajian dan pendalaman terhadap nilai-nilai Islam yang fundamental dan universal tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Islam adalah agama universal yang dalam bahasa al-Qur‟an desebut dengan istilah rahmatan lil‟alamiin, (QS.21:107), memiliki prinsip dan nilai yang universal, berlaku untuk semua tempat dan seiring dengan perubahan yang terjadi. 2. Perinsip Pengkajian Beberapa prinsip dasar yang terkandung dalam ajaran Islam, di antaranya: a. Universal Islam menganut prinsip ajaran universal, bertujuan untuk mengembangkan potensi kemanusiaan dalam segala segi kehidupan masyarakat, memberikan solusi terhadap masalah-masalah sosial, budaya, dan politik, mewujudkan keseimbangan antara aspek sosial dan kebutuhan individu.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 5 b. Kejelasan Kejelasan ajaran Islam memberi makna dan kekuatan yang besar pada jiwa dan akal manusia dalam memecahkan berbagai persoalan dan tantangan kehidupan moderen dan menghalangi terjadinya perselisihan akibat adanya perbedaan dalam persepsi dan interpretasi. c. Realistis Islam dalam prinsip ini berusaha mencapai tujuan melalui metode yang praktis dan realistis. Sesuai dengan fitrah manusia, terealisasi sesuai dengan kondisi dan kesanggupan individu sehingga dapat dilaksanakan pada setiap waktu dan tempat secara ideal. d. Dinamis Islam responsif terhadap segala perubahan dan perkembangan yang ada, sehingga ajarannya dinamis, akomodatif terhadap kebutuhan individu, sosial dan masyarakat banyak. e. Tujuan Pengkajian Secara umum tujuan pengkajian dalam studi Islam adalah untuk menjadikan ajaran-ajaran Islam sebagai wacana ilmiah secara transparan yang dapat diterima oleh berbagai kalangan. Namun demikian, secara khusus tujuan pengkajian studi Islam adalah untuk memahami: 1) Islam bukan sekedar dogmatis-teologis Dengan kerangka ini, dimensi-dimensi Islam tidak hanya sekedar dogmatis teologis tetapi terdapat aspek empirik sosiologis. Studi keislaman mengarah pada proses rasionalisasi pemikiran dan rekonstruksi terhadap pemikiran yang bersifat subjektif, apologis, doktriner, dan menutup diri. 2) Islam sejalan dengan perkembangan zaman Kehidupan keagamaan dan sosial budaya umat Islam yang terkesan stagnasi dan ketinggalan zaman perlu direformulasi. Dengan menampilkan kajian yang obyektif dan ilmiah, fenomena Islam yang diasumsikan negatif dan tidak maju oleh Barat dapat tertepis.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 6 3) Islam sejalan dengan harapan hidup manusia Tujuan Islam sesuai dengan harapan hidup manusia, sebab Islam digunakan manusia untuk menjaga dan memelihara kelanjutan hidupnya (survival), baik sebagai individu maupun masyarakat. Islam mengarahkan umat Islam menjadi insan syamil (sempurna) dari sisi kemanusiaan maupun dari sisi ketakwaan kepada Allah SWT. C. Asal Usul Pertumbuhan Studi Islam Metode pengkajian yang digunakan oleh Nabi SAW, mula-mula menggunakan pendekatan personal-individual dan pada akhirnya menggunakan pendekatan sosiologis (masyarakat). Metode Nabi Muhammad Saw., ini sangat efektif dalam menjalankan misinya sebagai nabi dan rasul, terbukti dalam kurung waktu yang relatif singkat beliau sudah berhasil membangun sebuah masyarakat yang aman, damai dan sejahtera. 1. Periode Rasulullah SAW di Makkah Masa ini berlangsung sejak diangkatnya beliau menjadi Rasul pada usia 40 tahun sampai beliau hijrah ke Madinah dalam usia 53 tahun atau tanggal 17 Ramadhan bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 622 Masehi. Pada masa-masa ini merupakan pembangunan fondasi bagi kekuatan Islam yaitu keimanan dan akhlak para sahabat yang setia mendampingi beliau. 2. Periode Rasulullah SAW di Madinah Masa ini dimulai semenjak hijrah beliau dari kota Mekkah ke Madinah sampai dengan wafatnya beliau tanggal 13 Rabiul awal 11 Hijriah bertepatan dengan 8 Juni 632 Masehi. Pada masa ini terdapat pembinaan masyarakat dalam praktik ibadah, sehingga pada masa ini banyak diturunkan ayat-ayat yang berkaitan dengan hukum-hukum ibadah, muamalah dan lain sebagainya. 3. Periode Para Sahabat dan Tabi‟in Pembinaan dan pengembangan hukum Islam dilakukan oleh para sahabat beliau. Pada masa ini daerah Islam semakin luas serta timbul masalah-masalah baru sehingga para sahabat merasa berkewajiban memberikan penjelasan dan penafsiran terhadap nash-nash hukum yang belum jelas dan memberikan fatwa atas masalah-masalah hukum yang muncul dalam masyarakat.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 7 4. Periode perkembangan dan Pembukuan Ilmu fiqh Kemajuan ilmu fiqh dimulai pada abad ke 2 Hijriah, seiring dengan keadaan masyarakat pada masa itu. Para ulama, di samping berijtihad, juga giat melakukan penyusunan dan pembukuan ilmu fiqh. Penggunaan ar-ra'yu (akal) pada masa ini populer dalam berijtihad, seperti cara qias, istihsan, dan istislah, semakin luas dan mulailah terbentuk mazhab-mazhab fiqh. 5. Periode Taklid dan Masa Kejumudan Periode ini dimulai sekitar abad ke 7 Hijriah sampai denagn abad 13 Hijriah. Para fugaha umumnya tidak lagi merlakukan ijtihad, mereka hanya memilah mana dalil yang kuat dan yang kemah. Para fugaha pada masa itu dalam keadaan statis, sehingga gerakan ijtihad melemah, mereka lebih fokus pada pengkajian terhadap pendapat-pendapat yang ada dalam mazhab masing-masing. 6. Periode Kebangkitan Umat Islam Setelah dunia Islam menyadari kemundurannya, maka pada 1293 Hijriah, muncul kembali ide-ide gerakan pembaharuan, baik dalam bidang pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, dan politik. Hal ini berpengaruh terhadap rekonstruksi pemikiran para ulama rasionalis, seperti Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Muh. ibn Abdul Wahab, Jamaluddin al-Afgani, Muh. Abduh, Rasyid Ridha dll.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 8 IMAN, ISLAM, DAN IHSAN: AQIDAH, SYARI’AH DAN AHKLAK Islam sebagai agama (al-dîn) sama dengan syari„at dan wahyu yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW, yang mencakup semua unsur dan aspek ajaran Islam. Lebih rinci tentang aspek ajaran Islam ini dapat disimak hasil dialog antara nabi Muhammad dengan malaikat Jibril. Dalam dialog itu lahir tiga aspek ajaran, yakni: (1) rukun Islam, (2) rukun Iman dan (3) ihsan. Adapun rukun iman ada 6, yaitu iman kepada: (1) Allah, (2) malaikatmalaikat, (3) kitab-kitab, (4) rasul-rasul, (5) hari akhir, (6) qada dan qadar. Sementara rukun Islam adalah: (1) pengakuan terhadap Allah dan pengakuan terhadap kerasulan Muhammad SAW. (shahadataini), (2) mendirikan sholat, (3) membayar zakat, (4) puasa di bulan Ramadan, dan (5) menunaikan ibadah haji bagi yang sanggup/mampu. Ihsan adalah sikap selalu mengabdi kepada Allah seolah-olah Allah selalu melihat kita, meskipun secara fisik kita tidak dapat melihat Allah, Allah selalu melihat kita. Berdasarkan definisi ini pula para ulama mengelompokkan ajaran Islam menjadi tiga kelompok besar, yakni: (1) akidah, (2) shari„ah, (3) akhlak-tasauf. Pengelompokan lain adalah: (1) ilmu kalam, yang mencakup hukum-hukum yang berhubungan dengan zat Allah dan sifat-sifat-Nya, iman kepada malaikatmalaikat-Nya, iman kepada kitab-kitab-Nya, iman kepada rasul-rasul-Nya, iman kepada hari akhirat, dan iman kepada qada dan qadar; (2) ilmu Fiqh, yang melingkupi hukum-hukum yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan manusia (hamba) dalam bidang „ibadah, mu„amalah, „uqubah, maupun lainnya, dan (3) ilmu akhlak, yang mencakup tentang “pengolahan” jiwa sehingga semakin baik, dengan cara menjalankan keutamaan-keutamaan dan menjauhi perbuatanperbuatan tercela.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 9 SUMBER-SUMBER AJARAN ISLAM: AL-QUR’AN, SUNNAH, IJTIHAD A. Al-Qur’an Sumber Ajaran Islam Pertama dan Utama Al-Qur‟an adalah wahyu Allah SWT. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. melalui malaikat Jibril secara gradual (bertahap), sebagai mukjizat sekaligus sebagai pedoman hidup bagi umatnya. Al-Qur‟an diturunkan mulai dari tanggal 17 Ramadhan tahun ke-14 dari kelahiran Nabi Muhammad SAW. sampai pada tanggal 9 Dzulhijjah tahun ke-10 Hijriyah atau tahun ke-63 dari kelahiran beliau. Al-Qur‟an turun selama 22 tahun 2 bulan 22 hari. Masa turun Al-Qur‟an dibagi menjadi 2 periode, yaitu periode Mekkah dan periode Madinah. Periode Mekkah berlangsung selama 13 tahun masa kenabian dan surat-surat yang turun pada waktu ini tergolong surat Makkiyyah. Sedangkan periode Madinah yang dimulai sejak peristiwa hijrah berlangsung selama 10 tahun dan surat yang turun pada kurun waktu ini disebut surat Madaniyah. Al-Qur‟an terdiri dari 30 Juz, 114 surat dan 6666 ayat. Ayat-ayat Al-Qur‟an yang turun pada periode Mekkah sebanyak 4.780 ayat yang tercakup dalam 86 surat, dan pada periode Madinah sebanyak 1.456 ayat yang tercakup dalam 28 surat. Sebagai pedoman hidup yang sempurna dan universal, isi kandungan AlQur‟an, antara lain adalah: 1. Pokok-pokok keimanan (tauhid) kepada Allah, keimanan kepada malaikat, rasul-rasul, kitab-kitab, hari akhir, qodha-qadar, dan sebagainya. 2. Prinsip-prinsip syari‟ah sebagai dasar pijakan manusia dalam hidup agar tidak salah jalan dan tetap dalam koridor yang benar. 3. Janji atau kabar gembira kepada yang berbuat baik (basyir) dan ancaman siksa bagi yang berbuat dosa (nadzir). 4. Kisah-kisa sejarah, seperti kisah para nabi, para kaum masyarakat terdahulu, baik yang berbuat benar maupun yang durhaka kepada Tuhan. 5. Dasar-dasar dan isyarat-isyarat ilmu pengetahuan: astronomi, fisika, kimia, ilmu hukum, ilmu bumi, ekonomi, pertanian, kesehatan, teknologi, sastra, budaya, sosiologi, psikologi, dan sebagainya.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 10 B. Hadits sebagai Sumber Ajaran Islam Kedua Secara etimologis, hadits berasal dari bahasa Arab yang berarti baru, tidak lama, ucapan, pembicaraan dan cerita. Secara terminologis, hadits adalah segala berita yang bersumber dari Nabi Muhammad melalui periwayatan baik berupa ucapan, perbuatan maupun taqrir (persetujuan) serta penjelasan tentang sifat-sifat Nabi Muhammad SAW. Hadits juga sering diistilakan dengan As-Sunnah. Menurut jumhur ahli hadits pengertiannya sama dengan hadits yaitu apa-apa yang diriwayatkan dari Rasulullah SAW. baik berbentuk ucapan, perbuatan, dan ketetapan, serta sifat, baik khalqiyah (bentuk) atau khuluqiyah (akhlak). Dilihat dari hierarki sumber hukum Islam, As-Sunnah menempati tempat kedua setelah Al-Qur‟an.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 11 C. Ijtihad sebagai Sumber Ajaran Islam Ketiga Ijtihad adalah sumber ajaran Islam ketiga setelah Al-Quran dan Hadits. Ijtihad berasal dari kata ijtahada, artinya mencurahkan tenaga, memeras pikiran, berusaha keras, bekerja semaksimal mungkin. Secara terminologis, Ijtihad adalah berpikir keras untuk menghasilkan pendapat hukum atas suatu masalah yang tidak secara jelas disebutkan dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Ijtihad merupakan dinamika Islam untuk menjawab tantangan zaman. Ia adalah semangat rasionalitas Islam dalam rangka hidup dan kehidupan modern yang kian kompleks permasalahannya. Banyak masalah baru yang muncul dan belum pernah ada semasa hidup Nabi Muhammad SAW. Ijtihad diperlukan untuk merealisasikan ajaran Islam dalam segala situasi dan kondisi. Kedudukan Ijtihad sebagai sumber ajaran Islam atau sumber hukum Islam ketiga setelah Al-Quran dan As-Sunnah, diindikasikan oleh sebuah Hadits (Riwayat Tirmidzi dan Abu Daud) yang berisi dialog atau tanya jawab antara Nabi Muhammad Saw dan Mu‟adz bin Jabal yang diangkat sebagai Gubernur Yaman, bagaimana ia memutuskan suatu masalah agama melalui ijtihad.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 12 SEJARAH PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ISLAM A. Bangsa Arab Sebelum Datangnya Islam 1. Kondisi Alam Jazirah Arab Jazirah Arab adalah semenanjung besar Asia Barat Daya pada persimpangan Afrika dan Asia serta antara Laut Tengah dengan Samudera Hindia. Jazirah ini dibatasi oleh Laut Merah dan Teluk Aqabah di barat daya, Laut Arab di tenggara, serta Teluk Oman dan Teluk Persia di timur laut. Di masa kelahiran Islam, jazirah tersebut berada di antara Mesopotamia dengan Mesir. Posisi jazirah Arab yang strategis di persimpangan Afrika dan Asia, membuatnya dilalui dua jalur perdagangan. Jalur timur membawa barang dari India ke Byzantium melalui Teluk Persia, Sungai Tigris dan Syiria. Jalur barat membawa barang dari Habsyah (Ethiopia) dan Yaman melalui sepanjang tepian laut Merah lalu ke Syiria, melalui wilayah kekuasaan suku Quraisy di Mekkah. 2. Kehidupan Sosial Bangsa Arab Bangsa Arab yang tinggal di daerah selatan berhasil meninggalkan pola hidup nomaden, bahkan membangun kerajaan, yaitu kerajaan Saba. Hal ini dikarenakan wilayah subur membuat mereka dapat menetap dan mengembangkan pertanian. Terutama setelah berhasil membangun bendungan Marib sebagai penampung air hujan dan menjadi sumber irigasi. Bangsa Arab berada di perlintasan dagang antara India dengan Mesir membuat mereka mengenal peradaban lain dan menjadi lebih maju. Orang-orang Arab di daerah utara ada yang menganut agama Yahudi dan Kristen, mengikuti kebanyakan penduduk Byzantium. Ada pula yang menganut agama Majusi yang merupakan agama penduduk Persia yang menyembah api. 3. Kepercayaan Bangsa Arab Awalnya bangsa Arab menganut agama Samawi yang dibawa oleh Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim berasal dari Mesopotamia namun kemudian hidup berpindah-pindah untuk menyebarkan agama sampai ke Mesir dan Syiria. Salah satu anaknya, Nabi Ismail, kemudian ditinggalkan di Jazirah
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 13 Arab dan mereka kemudian membangun Kabah sebagai tempat peribadatan dan ziarah (haji) di Mekkah. Ketika Nabi Muhammad SAW. lahir, di sekitar Kabah sudah terdapat sekitar 360 berhala. Selain Hubal, penduduk Mekkah juga menyembah Uzza. Ada juga Latta, berhala besar yang berada di kota Thoif, serta Manath di kota Yatsrib. Bangsa Arab menjadi Politheis, selain menyembah berhala, mereka juga menyembah bintang, jin, bahkan masih mengikuti agama Nabi Ibrahim. 4. Suku Quraisy di Mekkah Di antara suku-suku Arab, yang paling berpengaruh adalah suku Quraisy yang tinggal di Mekkah. Kota Mekkah dihormati karena memiliki Masjidil Haram yang di dalamnya terdapat Kabah yang menjadi tempat berziarah berbagai suku yang ada di Jazirah Arab. Penduduk Mekkah juga dianggap keturunan langsung Nabi Ibrahim melalui garis keturunan Nabi Ismail. B. Masa Kelahiran dan Pertumbuhan Islam 1. Dakwah Sembunyi-Sembunyi (tahun 610-613 M) Awalnya Nabi Muhammad SAW. melakukan dakwah sembunyi-sembunyi dan terbatas pada orang-orang terdekatnya saja. Seperti istrinya, Khodijah; sepupunya, Ali bin Abi Tholib; sahabatnya, Abu Bakar; budaknya, Zaid bin Haritsah. Metode dakwahnya berantai dan diutamakan pada orang-orang yang masih dekat dengan agama Nabi Ibrahim, seperti Abu Bakar yang merekrut Utsman bin Affan, lalu Utsman merekrut lagi orang terdekatnya. 2. Dakwah Terang-Terangan (tahun 613-619 M) Nabi Muhammad SAW. mulai dakwahnya secara terang-terangan, mendatangi tokoh-tokoh suku Quraisy dan tempat keramaian. Muncullah penolakan terhadap agama baru itu. Hal tersebut bukan hanya karena masalah agama namun karena masalah politik, kekhawatiran bahwa bani Hasyim akan menguasai Mekkah, dan juga masalah ekonomi serta masalah sosial ekonomi. Nabi Muhammad SAW. meminta Negus Negusyi, penguasa Habsyah (Ethiopia), memberikan suaka kepada kalangan lemah dan miskin dari kaum muslimin. Nabi Muhammad sebelumnya telah mendengar bahwa Negus Negusyi
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 14 adalah pemimpin yang adil. Pada 615 M, kemusian raja Negus Negusyi mengundang kaum muslimin datang ke negerinya. 3. Mencari Basis Perjuangan Baru (tahun 619-622 M) Pasca embargo, Nabi Muhammad SAW. menganggap dakwah di Mekkah telah tidak mendapat sambutan dan stagnan, banyak pengikutnya yang teraniaya. Nabi Muhammad SAW. memutuskan mencari basis perjuangan baru. Meskipun Habsyah telah memberikan suaka, namun letaknya terlalu jauh dari Mekkah, selain itu penduduk Habsyah pun telah memeluk agama Kristen. Nabi Muhammad SAW. lalu pergi ke kota Thoif, namun di sana ia pun ditolak dan dihina. Pencariannya sampai ke suku Hira di perbatasan Persia. Mereka mau menerima Islam dengan syarat Islam tidak ikut campur dalam politik karena dapat membahayakan hubungan suku Hira dengan Persia, namun Nabi Muhammad SAW. menolak syarat mereka. 4. Pembentukan Negara Islam (tahun 622-628 M) Nabi Muhammad SAW. hijrah pada 622 dan kota Yatsrib diubah namanya menjadi Madinah. Di Madinah beliau langsung mendirikan Masjid dan mempersatukan dua suku Madinah, yaitu suku Aus dan Khajraz. Nabi Muhammad SAW. juga mempersaudarakan kaum Muhajirin (orang Islam dari Mekkah) dengan kaum Anshar (orang Madinah yang masuk Islam). Nabi Muhammad SAW. lalu menjalin persahabatan dengan orang-orang Yahudi yang ada di Madinah. Semua itu tertuang dalam perjanjian yang disebut Konstitusi Madinah. Isi Konstitusi Madinah antara lain: Nabi Muhammad adalah kepala negara Madinah, jaminan kebebasan beragama bagi setiap orang, dan setiap warga Madinah wajib menjaga keamanan Madinah. C. Masa Perkembangan dan Kejayaan Islam 1. Masa Kekhalifaan Abu Bakar 632-634 M: a. Melancarkan Perang Riddah bagi yang tidak mau membayar zakat. b. Menumpas nabi-nabi palsu, seperti Tulaiha, Musailamah. c. Merintis pengumpulan dan pembukuan surat-surat Al Quran. d. Kekuatan baru dianggap berbahaya bagi kekaisaran Byzantium dan Persia.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 15 Umar bin Khattab 634-644 M: a. Menertibkan administrasi pemerintahan, Undang-Undang, Baitul Maal dan menetapkan tarikh Hijriah. b. Melanjutkan ekspansi; panglima Khalid bin Walid menghancurkan Persia pada 636 M, mengusir Byzantium dari Syiria, Palestina, dan Yordan pada 640 M, panglima Amru bin Ash menaklukan Mesir pada 639 M. c. Umar bin Khattab dibunuh saat hendak sholat subuh oleh Abu Luluah, seorang Persia yang dendam karena Kekaisaran Persia hancur. Utsman bin Affan 644 656 M: a. Dibantu Zaid bin Tsabit, membukukan dan menyebarkan mushaf Al Quran ke berbagai wilayah Islam. b. Melanjutkan ekspansi ke Afrika Utara dan menaklukan suku Berber 645 M. c. Membangun angkatan laut yang dipimpin Muawiyah, gubernur Syiria, dan berhasil menguasai pulau Siprus, Kreta dan Rhodes. Ali bin Abi Tholib 656 661 M: a. Perang Jamal pada 656 M yang dimenangkan Ali. b. Muawiyah melawan Ali maka terjadilah Perang Siffin pada 657 M. c. Muawiyah berdamai dengan Ali, membentuk kelompok Khawarij.. d. Kelompok Khawarij membunuh Ali saat hendak sholat subuh pada 661 M 2. Dinasti Umayyah (ibu kota Damaskus, Syiria, 661-750 M) Dinasti Bani Umayyah didirikan oleh Muawiyah bin Abi Sufyan bin Harb bin Umayyah. Keberhasilan yang dicapai adalah: a. Bani Umayyah berhasil memperluas daerah kekuasaan Islam ke berbagai penjuru dunia, seperti Spanyol, Afrika Utara, Suria, Palestina, Semenanjung Arabia, Irak, sebagian kecil Asia, Persia, Afghanistan, Pakistan, Rukhmenia, Uzbekistan, dan Kirgis. b. Bani Umayyah memberikan pengaruh bagi kehidupan bangsa Arab sebagai prototipikal dari Islam sendiri. c. Telah berkembang ilmu pengetahuan secara tersendiri dengan masing-masing tokoh spesialisnya. Antara lain, dalam ilmu Qiro‟at (7 qiro‟at) yang terkenal Ibnu katsir (120H), Ashim (127H), dan Ibnu Amr (118H).
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 16 3. Dinasti Abbasiyah (ibukota Baghdad, 750-1258 M) Abu al-Abbas al-Safah, pendiri dinasti Bani Abbas, banyak berjasa membangun dinasti Bani Abbas. Keunggulan yang dicapai adalah: a. Khalifah pertama Abul Abbas as Saffah yang menggulingkan dinasti Umayyah bekerjasama dengan sekte Syiah. b. Khalifah terbesar Al Mamun anak Harun Ar Rasyid, mendirikan Baitul Hikmah, lembaga penerjemahan, universitas, dan perpustakaan. c. Memadukan peradaban Yunani (filsafat dan seni), India (ilmu pasti dan falak), Persia (sastra dan etika) serta membangun lembaga penelitian bintang. d. Banyak ilmuwan yang lahir di masa ini antara lain; Al Kindi (filsafat), Ibnu Sina (kedokteran dan filsafat), Al Khuwarizmi (matematika dan astronomi). e. Menghadapi serbuan koalisi negara-negara Eropa dalam Perang Salib 1095 1291. 4. Dinasti Amawiyah di Andalusia, Spanyol (ibukota Cordova, 750-1492 M) Didirikan oleh Abdurrahman ad Dakhil pada 755, dari dinasti Umayyah yang melarikan diri saat penggulingan oleh Abbasiyah. a. Islam masuk ke Spanyol pada 710 M. lewat gubernur Islam di Afrika Utara, Musa bin Nushair. b. Pasukan Islam yang dipimpin Thariq bin Ziyyad berhasil membunuh Rodrigo pada 711. c. Andalusia membentuk mode (trend setter) negara-negara Eropa, baik dalam hal gaya hidup (arsitektur, fashion, dan musik) maupun ilmu pengetahuan. d. Universitas Al Hambra menjadi tempat belajar putra-putri raja Eropa. Beberapa ilmuwan dari Andalusia antara lain; Ibnu Rusyd (kedokteran dan filsafat), Umar Khayam (sastra dan matematika), Ibnu Khaldun (sejarah dan sosiologi). 5. Kekhalifahan Turki Utsmani (Ottoman) Sultan Turki didirikan di Asia Barat mula-mula hanya membawakan sedikit perubahan dalam kehidupan umat Islam. Sultan pertama Utsman I, 1299, berasal dari bangsa nomaden Asia Tengah.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 17 a. Sultan Muhammad II bin Murad II menaklukkan Konstantinopel pada 1453 M. dan menjadikannya pusat kekuasaan dengan nama Istambul. b. Sultan Salim I, 1512, M. melakukan berbagai penaklukan dan menyerang kekhalifahan Safavid yang berusaha menyebarkan aliran Syi‟ah. c. Sultan Sulaiman II, 1520-1566 M. Adalah era keemasan pengembangan sains, ekonomi, dan militer. d. Sutan terakhir Abdul Majid II, 1924 M. digulingkan Mustafa Kemal, mengubah sistem khilafah dengan republik.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 18 ALIRAN-ALIRAN DALAM PEMIKIRAN ISLAM: DOKTRIN KEPERCAYAAN DALAM ISLAM A. Aliran-Aliran dalam Pemikiran Islam 1. Bidang Teologi a. Khawarij Golongan yang memisahkan diri kelompok Ali bi Abi Thalib, lebih tepatnya kelompok yang tidak sepakat dengan keputusan yang diusulkan oleh kelompok Muawiyah. Kelomapok ini dipelopori oleh Atab bin A‟war dan Urwah bin Jarir. Kelompok ini mempunyai ajaran yang keras yang menjastifikasi Ali dan Muawiyah sebagai pelaku dosa besar. Pada awalnya, Khawarij merupakan aliran atau fraksi politik, kelompok ini terbentuk karena persoalan kepemimpinan umat Islam, tetapi mereka membentuk suatu ajaran yang kemudian menjadi ciri khas, yaitu ajaran tentang pelaku dosa besar (murtakib al-kaba‟ir) adalah kafir. Kafir setelah memeluk Islam berarti murtad dan orang murtad halal dibunuh. b. Murji‟ah Munculnya Murji‟ah itu sangat erat kaitannya dengan Khawarij. Golongan yang dipimpin oleh Ghilan al-Dimasyai berusaha bersikap netral. Golongan tidak sepaham dengan Khwarij yang mengkafirkan para sahabat tersebut. Pokok ajaran dari golongan ini adalah orang muslim yang melakukan dosa besar tidak boleh ditastifikasi sebagai orang kafir. Golongan ini memandang orang yang beriman ketika berbuat maksiat tidak menjadi kafir. Sama halnya dengan ketaatan bagi orang yang kufur. Iman diartikan sebagai pengetahuan tentang Allah secara mutlak dan kufur adalah ketidaktahuan tentang Allah secara mutlak. Oleh karena orang Murji‟ah menganggap iman itu tidak bertambah dan tidak berkurang. c. Qadariyah Aliran ini diperkenalkan oleh Ma‟bad al-Juhani yang berpandangan bahwa manusia diberikan kebebasan dalam menentukan hidupnya, tanpa ada campur tangan Tuhan. Manusia memiliki kebebasan dan kemerdekaan dalam menentukan
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 19 perjalanan hidupnya. Menurut paham ini manusia mempunyai kebebasan dan kekuatan sendiri untuk mewujudkan perbuatan-perbuatannya. Aliran ini disebut Qadariyah karena memandang bahwa manusia memiliki kekuatan (qudrah) untuk menentukan perjalanan hidupnya dan untuk mewujudkan perbuatannya. Dengan demikian, kebaikan dan keburukan seseorang ditentukan oleh dirinya sendiri, tidak ada kaitannya dengan ketentuan atau takdir yang telah ditetapkan oleh Tuhan. d. Jabariyah Golongan ini sangat berbeda dengan paham Qahariyah, karena manusia dianggap tidak mempunyai kehendak. Perbuatan manusia sepenuhnya diatur oleh Tuhan. Golongan yang dibawah oleh Jahm bin Safwan ini, bahkan menyalahkan Tuhan atas perbuatan dosa manusia. Di mana hal itu sudah menjadi setingan Tuhan. Manusia tinggal menjalankan skenario yang telah ada tersebut. Menurut pemikiran aliran ini manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukan perjalanan hidup dan mewujudkan perbuatannya, mereka hidup dalam keterpaksaan (jabbar). Aliran ini berpendapat bahwa dalam hubungan dengan manusia, Tuhan itu Maha Kuasa. Karena itu, Tuhanlah yang menentukan perjalanan hidup manusia dan yang mewujudkannya. e. Mu‟tazilah Munculnya golongan Mu‟tazilah benar-benar membawa sejarah baru, yang melahirkan pemikiran rasionalitas. Bahkan dianggap kedudukan akal sebanding dengan wahyu. Pertama kali diperkenalkan oleh Washil bin Atha. Perinsipperinsip Mu‟tazilah terhimpun dalam al-ushul al-khamzah atau “pokok-pokok pikiran yang lima” yaitu :
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 20 1) Keesaan Tuhan (al-tauhid) 2) Keadilan Tuhan (al-adl) 3) Janji dan ancaman (al-wa‟d wa al-waid) 4) Posisi diantara dua tempat (al-manzilah bain al-manzilatin) 5) Amar makruf nahi munkar (al-amr bi al-ma‟ruf wa al-nahy‟an al-munkar). f. Asy‟ariyah Kelompok Asy‟ariyah berhasil mengukuhkan pemahaman mereka melalui pendekatan rasional dan sistematika yang dilakukan oleh mu‟tazilah. Namun faham-faham ini kemudian juga mengkritik mu‟tazilah sendiri. Dalam hal sifat Tuhan Asy‟ari berpendapat bahwa Tuhan mempunya sifat seperti ilm, hayat, sama‟, bashith dan qudrat. Sifat-sifat tersebut bukanlah dzat-Nya. Dzat-Nya adalah pengetahuan, dan Tuhan sendiri adalah pengetahuan. Tuhan bukanlah ilmu melainkan „Alim (yang mengetahui). Tokoh-tokoh aliran Asy‟ariyah yang terkemuka setelah Abu Hasan adalah al-Baqillani, al-Juwaeni, dan al-Ghazali. Tokoh yang disebut terakhir dapat disebut sebagai tokoh yang berpengaruh besar dalam menyebarkan faham Asy‟ariyah. B. Doktrin Kepercayaan dalam Islam Doktrin adalah asas-asas aliran politik, keagamaan, ketatanegaraan secara bersistem. Doktrin dalam Islam meliputi Allah swt., Malaikat, wahyu, Nabi, Rasul, manusia, alam semesta dan eskatologi. Tidak ada tuntutan mengetahui semua doktrin dalam Islam, tetapi 6 doktrin sentral yang disebutkan di atas, perlu diketahui oleh seorang mislim. 1. Tentang Allah swt. Doktrin sentral agama Islam berkitan dengan konsep tentang Tuhan yang ditinjau dari diri-Nya sendiri, juga nama nama dan sifat sifat-Nya. Doktrin yang integral tentang sifat ketuhanan, sekaligus yang absolut, yang azali, dan yang maha baik berada pada jantung ajaran Islam. Allah swt. bukanlah wujud sehingga tidak ada deskripsi yang dapat menyifati-Nya. Itulah alasan yang menjadikan syahadat, la ilaha illa‟Llah (tidak ada tuhan selain Allah), yang memuat dokrtin Islam yang sempurna tentang sifat Tuhan, bermula dengan awalan la, untuk menegaskan segala sesuatu berupa esensi
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 21 ketuhanan atau tuhan, pada-Nya diri dan realitas-Nya yang maha tinggi. Adalah dengan hanya membatasi itu malalui penegasan yang pasti. Tuhan adalah yang pertama (al-awwal) karena Dia adalah asal-usul, aifa dari segala sesuatu. Dia adalah yang terahir (al-akhir), kerena kepda-Nya segala sesuatu kembali, bukan hanya jiwa manusia, melainkan seluruh kosmos akan kembali. Dia adalah yang lahir (azh-zhahir). Karena manifestasi yang tampak dasarnya adalah tidak lebih tiofani dari nama dan sifat-Nya dalam substansi ketiadaan. Seluruh yang ada hakikatnya adalah bias dari wujud-Nya, bahkan pada sisi lain, Dia juga yang bathin (al-bathin), karena Dia adalah imanen dalam segala sesuatu, sebagaimana Ia transenden bersifat imanen sebagaimana ayat “ kemana saja kalian berpaling, disanalah wajah Allah.”(Q.s.2:115). Lebih jauh lagi, ahli hikmah dapat mencapai pada pemahaman seperti ini hanya dengan hikmah. 2. Tentang Malaikat Malaikat adalah makhluk Tuhan yang diciptakan dari al-nur (cahaya), seperti diterangkan dalam hadist riwayat Imam Muslim yang menjelaskan bahwa Allah SWT. mencptakan Malaikat dari cahaya, Jin dari api, dan Adam dari tanah. Penciptaan malaikat lebih dulu dari pada penciptaan manusia. Allah SWT. menciptakan manusia sebagai khalifah di bumi. Malaikat termasuk makhluk ruhani (ghaib). Mereka bukan kelompok makhluk berwujud jasmaniah yang dapat diraba, dilihat, dicium, dirasakan karena mereka berada di alam yang berbeda dengan alam manusia. Tidak seorang pun mengetahui hakikat malaikat kecuali Allah swt. dan orang-orang yang telah ditentukan-Nya, karena tidak satu nash pun yang menjelaskan hakikat malaikat. Tugas malaikat ada yang dikerjakan di alam ruh dan ada pula yang dikerjakan di alam dunia. Tugas malaikat di alam ruh ialah menyucikan atau bertasbih serta taat dan patuh sepenuhnya kepada Allah swt., memikul Arsy, memberi salam kepada ahli surga, dan menyiksa para ahli neraka. Adapun tugas malaikat di alam dunia ialah menurunkan wahyu yang diemban oleh malaikat jibril.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 22 3. Tentang Nabi, Rasul dan Wahyu Islam menegaskan doktrin berkaitan dengan sifat Tuhan (Tauhid) dan doktrin yang juga penting adalah doktrin yang kenanabian (nubuwwah). Tuhan menjadikan nubuwah sebagai realitas sentral dalam perjalanan sejarah umat manusia. Lingkaran kenabian dimulai sejak nabi Adam a.s. dan ditutup dengan Nabi Muhammad saw. Seorang utusan Tuhan telah dipilih oleh Allah SWT. dan hanya oleh diri-Nya sediri. Klasifikasi utusan-utusan Tuhan (Anbiya) terdiri dari mereka yang membawa kabar tertentu dari Tuhan melalui malaikat, disebut dengan Nabi, dan mereka yang menjadi utusan disebut dengan Rasul pembawa misi ajaran yang besar. Sementara kelompok lain yang memiliki sikap tegu, disebut ulul-„azmi. Setiap Nabi dan Rasul menerima wahyu atau kitab dari Allah swt. wahyu terbagi menjadi menjadi dua yaitu ayat-ayat yang tertulis di dalam kitab-Nya dan ayat-ayat tidak tertulis, yaitu alam asemesta. Ayat-ayat yang tertulis terdapat dalam empat kitab yaitu al-Qur‟an, Injil, Taurat, dan Zabur yang masing-masing diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, Nabi Isa a.s, Nabi Musa a.s, dan Nabi Daud a.s. 4. Tentang Manusia Islam memandang manusia baik laki-laki maupun perempuan, dari segi dirinya sendiri sebagai makhluk yang berdiri di hadapan Tuhannya, baik sebagai hambanya maupun sebagai khalifah di muka bumi ini. Allah SWT. menciptakan manusia pertama kali dari tanah liat (Nabi Adam) dan menghembuskan ruh kepadanya setelah itu Allah SWT. mengajarkan semua nama-nama benda padanya. Manusia juga sebagai makhluk seperti yang kita ketahui sampai pada saat ini, tidak berasal dari proses evolusi dari makhluk yang lebih rendah. Manusia juga diciptakan dengan dua jenis, yaitu laki-laki dan perempuan, masingmasing telah diberi aturan oleh Islam dan akan diberi putusan sesuai dengan amalnya masing-masing di akhirat nanti. 5. Alam Semesta Alam semesta yang juga dikatakan alam kosmos, jagat raya, alam universal, adalah ciptaan Allah SWT. yang diciptakan sebagai tempat para mahluk yang
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 23 lain. Tanah, air, hewan, pepohonan merupakan pemberian Allah SWT. yang harus kita jaga. Semua ciptaan Allah SWT. pasti memiliki manfaat tersendiri, entah manfaat yang sudah diketahui maupu manfaat yang belum diketahui. 6. Eskatologi Banyak dari ajaran-ajaran Al-Qur‟an dan Hadits Nabi membahas subyek yang berkaitan dengan persoalan-persoalan eskatologis, atau hari akhir, dari seluruh realitas, baik makrokosmik maupun mikrokosmik. Islam menyakini bahwa pada saat kematian, manusia memasuki suatu keadaan yang nantinya menjadi pembuktian kebenaran dari pokok-pokok keimanan mereka. Islam memiliki ajaran yang detail tentang peristiwa-peristiwa eskatologis pada dunia. Bahan Evaluasi 1. Coba saudara jelaskan pengertian Islam, agama dan studi Islam! 2. Jelaskan obyek pengkajian, perinsip pengkajian, dan tujuan pengkajian studi Islam! 3. Deskripsikan urgensi, asal usul dan pertumbuhan studi Islam! 4. Sebutkan dan jelaskan rukun iman, rukun Islam dan pengertian ihsan! 5. Jelaskan kedudukan Al-Quran sebagai sumber ajaran Islam yang pertama dan utama! 6. Sebutkan dan jelaskan fungsi dan kedudukan Hadits sebagai sumber ajaran di samping Al-Qur‟an! 7. Sebutkan dan deskripsikan metode-metode ijtihad dalam melahirkan sebuah ketetapan baru dalam hukum Islam! 8. Bagaiman kondisi bangsa Arab zaman Jahiliyyah sebelum datangnya Islam? 9. Jelaskan pola dakwah Rasulullah SAW. di awal kelahiran Islam! 10. Deskripsikan priodisasi sejarah pertumbuhan dan perkembangan Islam! 11. Coba saudara bedakan antara sejarah pertumbuhan Islam dengan sejarah perkembangan Islam! 12. Sebutkan dan jelaskan aliran-aliran dalam pemikiran Islam! 13. Bagaimana pendapat saudara tentang adanya aliran-aliran dalam pemikiran Islam! 14. Sebutkan dan jelaskan beberapa bentuk doktrin kepercayaan dalam Islam!
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 24 15. Bagaimana kesimpulan saudara tentang adanya doktrin kepercayaan dalam Islam!
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 25 REVERENSI Abdullah, M. Amin, 2004, Falsafat Kalam di Era Post Modernisme, Cet. IV; Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Abidin, Zaenal, 2008, Agama dalam Perspektif Teologi: Sebuah Pengantar, Cet. X; Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Buchori, Didin Saefuddin, 2005, Metodologi Studi Islam Cet. I; Bogor: Granada Sarana Pustaka. Farid, Miftah, 2001, As-Sunnah Sebagai Sumber Hukum Islam, Cet. III; Bandung: Balai Pustaka. Mubarok, Jaih, 2004, Sejarah Peradaban Islam, Cet. I: Bandung: Pustaka Bani Quraisyi. Nata, Abuddin, 2004, Sejarah Pendidikan Islam, Cet. I: Jakarta, Raja Grafindo Persada. Study Islam IAIN Ampel, 2010, Pengantar Study Islam, Surabaya: Sunan Ampel Press. Sahroji, M. Jamali 2008, Metodologi Studi Islam, Menelusuri Jejak Historis Kejian Islam Ala Sarjana Orientalis, Cet. I: Bandung, CV Pustaka Setiam. Sitinuralfiah, Ijtihad Sumber Ajaran Islam Ke Tiga, http:/blogspot.com.sumberajaran-islam-3-ijtihad.html, diakses tanggal 29 Oktober 2014 Yatim, Badri, 2010, Sejarah Peradaban Islam, Cet. XX: Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 26 MATERI II ULUMUL QUR’AN 1. ASBĀB AL- NUZŪL 2. I‟JĀZ AL-QUR‟ĀN 3. MAKKY DAN MADANY 4. MUNASABAH AL-QUR‟AN 5. QIRA‟AT AL-QUR‟AN 6. MUHKAM WA AL-MUTASYĀBIH 7. FAWATIH AL-SUWAR 8. TAFSIR, TAKWIL DAN TARJAMAH
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 27 PENGERTIAN, RUANG LINGKUP DAN CABANG-CABANG ULUMUL QUR’AN A. Pengertian Ulum al-Qur’an Ulum al-Qur‟an berasal dari bahasa Arab yaitu “ „ulūm” (ilmu-ilmu) dan alQur‟ān (kitab suci umat Islam). Dalam upaya memahami al-Qur‟an, para Sahabat dan Tābi‟in berhasil merumuskan beberapa disiplin ilmu keagamaan yang bersumber dari al-Qur‟an. Ulum al-Qur‟an adalah “ilmu yang membahas hal-hal yang berhubungan dengan al-Qur‟an.” B. Ruang Lingkup Ulum al-Qur’an Dalam perkembangannya, para ulama berhasil merumuskan ilmu-ilmu yang sangat erat kaitannya dengan al-Qur‟an. Setiap ilmu yang dirumuskan tersebut, berusaha membahas aspek tertentu dari al-Qur‟an : lafalnya, pengertiannya, sejarah turunnya, sejarah pembukuannya, bacaan-bacaannya, kemukjizatannya, hubungan-hubungannya, dan sebagainya. Disiplin ilmu ini semuanya masuk dalam kategori „Ulum al-Qur‟an. C. Cabang-Cabang Ulum al-Qur’an Badr al-Din al-Zarkasyi ( w.794 H/1392 M) dalam kitabnya al-Burhan fi ulūm al-Qur‟ān menyebut 74 cabang ilmu yang termasuk dalam kategori Ulum alQur‟an. Al-Suyuthi (w.911 H/1505 M) dalam kitabnya al-Itqān fi Ulum al-Qur‟ān menyebut lebih dari 100 ilmu yang tergabung dalam Ulum al-Qur‟an. Dari semua cabang ilmu yang dimaksud setidaknya beberapa di antaranya selalu dibahas dalam seluruh kitab ‟ulum al-Qur‟ān yang disepakati oleh para ulama, yaitu : 1. Asbāb al- Nuzūl Asbab al-Nuzul adalah suatu peristiwa, atau sesuatu yang menjadi penyebab turunnya satu ayat, atau beberapa ayat, atau untuk menjelaskan kedudukan (hukum, kebenaran, dll) pada saat terjadinya suatu peristiwa. Cara untuk mengetahui apakah suatu ayat, atau beberapa ayat mempunyai Asab al-Nuzul hanya dengan Dalil Naqli yang shahih.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 28 a. Macam-Macam Asbab al-Nuzul رؼذد االعجبة ّالوٌضّل ّادذ (1 رؼذد الوٌضّل ّالغجت ّادذ (2 ػوْم الللع ّدصْص الغجت (3 هضبل لللع ًضل ػلٔ عجت خبص (4 شجَ٘ ثبلغجت لجخبص هغ الللع الؼبم (5 b. Ungkapan-ungkapan Asbab al-Nuzul Untuk mengetahui hal tersebut, antara lain dengan adanya kalimat “Sebab turunya ayat ini demikian )كذا خٗاالٍ ذ ُلّض ًعجت) )hal ini menjelaskan tentang sebabnya, tidak menjelaskan yang selainnya). Atau dikatakan “ayat ini turun tentang peristiwa )كذأ ك خٗاالٍ ذ ُضلذ )ًAtau dicerita tentang terjadi suatu peristiwa .“كٌضلذ ُزٍ االٗخ” dikatakan kemudian c. Urgensi dan kegunaan Asbab al-Nuzul 1) Membantu dalam memahami ayat, dan menghilangkan keraguan terhadap ayat tersebut 2) Membantu dalam memahami kandungannya, terutama yang terkait dengan masalah tasyri (universal) 3) Menghilangkan keraguan akan suatu ketetapan (menjelaskan) 4) Mengetahui nama seseorang yang terkait dengan turunnya ayat tersebut. 5) Mengehatui sebab turunnya suatu, tidak akan menjadikan sesorang keluar dari hukum yang ditetapkan dalam ayat tersebut. (lafad yang umum tetapi tertuju pada suatu yang terbatas/tertentu). 2. I’jāz al-Qur’ān Disamping sebagai sumber ajaran, al-Qur‟an juga disampaikan Tuhan untuk menjadi bukti kebenaran kerasulan Muhammad SAW., terutama bagi mereka yang menentang dakwah-dakwahnya. Bukti-bukti kebenaran tersebut dalam kajian ilmu-ilmu al-Qur‟an disebut “mu‟jizat” yang berarti “kejadian ajaib yang sukar dijangkau oleh kemampuan akal manusia”. Dalam bahasa Arab kata “mu‟jizat” dari kata “ ‟ajaza ” yang berarti “melemahkan atau menjadikan tidak mampu” (mu‟jizat=superrelatif). Artinya, I‟jaz al-Qur‟an adalah pengokohan al-Qur‟an sebagai sesuatu yang mampu
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 29 melemahkan berbagai tantangan untuk menciptakan karya yang sejenis. Dengan demikian al-Qur‟an sebagai mu‟jizat bermakna bahwa al-Qur‟an sesuatu yang mampu melemahkan tantangan menciptakan karya yang serupa dengannya. Unsur-Unsur yang menyertai Mukjizat yang terdapat dalam pengertian diatas adalah : a. Hal atau peristiwa yang luar biasa. b. Terjadi atau dipaparkan oleh seorang yang mengaku nabi. c. Mengandung tantangan terhadap yang meragukan kenabian d. Tantangan tersebut tidak mampu atau gagal dilayani. Berdasar pada kisah-kisah yang diangkat al-Qur‟an, Al-Suyuti membagi mu‟jizat pada dua kategori, yaitu : a. Mukjizat yang bersifat material indrawi dan tidak kekal (Hissiyah) Mukjizat para nabi terdahulu sebelum nabi Muhammad termasuk dalam kategori ini (Perahu Nabi Nuh, tidak terbakarnya nabi Ibrahim, tongkat nabi Musa, penyembuhan yang dilakukan nabi Isa). b. Mukjizat immaterial, logis, dan dapat dibuktikan sepanjang masa (aqliyah) Mukjizat nabi Muhammad tergolong dalam kategori ini. Oleh sebab itu Mukjizat Alqur‟an tidak berakhir dengan wafatnya Nabi Muhammad saw., tetapi berlangsung secara terus-menerus dan dapat djangkau oleh setiap orang yang menggunakan akalnya dimana dan kapanpun. Segi-Segi Kemu‟jizatan al-Qur‟an a. Kemukjizatan al-Qur‟an dari segi kebahasaan 1) Keseimbangan dalam Pemakaian Kata 2) Konsistensi Pemakaian Huruf yang menjadi Pembuka Surah 3) Keindahan susunan kata dan pola kalimatnya : a) Bentuk Kalimat „Ijaz b) Bentuk-bentuk Tasybih c) Bentuk-bentuk Majaz dan Isti‟arah
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 30 b. Kemukjizatan dari segi Pemberitaan 1) Pemberitaan Kisah-Kisah Masa Lalu 2) Pemberitaan Peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di masa datang c. Kemukjizatan Alqur‟an dari segi isyarat keilmuan. 1) Fisika (QS. al-Anbiya /21 : 30, al-Dzariyat/51 : 47) 2) Biologi (QS. al-Tin/95:4, al-Infithar/82 : 6-8, Nuh/71:14) 3) Astronomi (QS.al-Jatsiyah/45:13, al-An‟am/6:97 dst) 4) Kimia (QS. al-Anbiya/21:30) 5) Geologi (QS al-Naba‟/78 : 6-7) 6) Ilmu Kesehatan (QS.al-Maidah/5:6, al-An‟am/6:31, al-Baqarah/ 2 :173) 7) Ilmu Pertanian (QS. al-Hijr/15:19, al-An‟am/6:141) dst 8) Hidrologi (QS. Ibrahim/14:32) 9) Demografi (QS. al-Nisa‟/4 : 9, al-Baqarah/2 : 222) 10) Ekonomi dan Perdagangan (QS. al-Baqarah/2 : 275) 11) Psikologi (QS. al-Ra‟d/13 : 28) 12) Sosiologi (QS. Ali Imran/3 : 112) 13) Antropologi ( Qisah para Nabi-Nabi terdahulu) 14) Pengembangan Riset (QS. al-Qasyiyah/88 : 17-20) 15) Ilmu Pendidikan (QS. al-Baqarah/2 : 30) 3. Makky dan Madany Ulama mempunyai tiga macam pandangan tentang hal ini : a. Berdasarkan tempat turunnya ayat Al-Makkiyah ayat atau surah yang diturunkan di Makkah walaupun sesudah hijrah. Al-Madaniyah ayat yang diturunkan di Madinah dan termasuk yang diturunkan di Makkah dan sekitarnya, seperti Mina, Arafah, dan Hudaybiyah, termasuk Madaniyah seperti di Badar dan Uhud. b. Berdasarkan masa atau waktu turunnya ayat Al-Makkiyah adalah ayat yang turun sebelum hijrah rasul ke Madinah walaupun turunnya bukan di kota Mekkah. Al-Madaniyah adalah ayat yang turun sesudah hijrah walaupun turunnya di Makkah.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 31 c. Berdasarkan seruan atau sasaran ayat Al-Makkiyah adalah apa yang dihitabkan kepada penduduk Mekkah (Ya ayyuha al Nas). Sedang al-Madaniyah adalah ayat yang dihitabkan kepada penduduk Madinah (Ya ayyuha al lazina amanu ). Tidak semua surah atau ayat yang dimulai dengan ungkapan “ ya ayyuha alNas” atau “Ya Bani Adam” yang menjadi sasaran adalah penduduk Makkah atau penduduk Madinah saja ( al-Ahzab : 1, al Munafiqun : 1) 1) Surah al-Nisa (Madaniyah) 2) Al-Baqarah (Madaniyah) 3) Al-Haj (Makkiyah) Al-Qur‟an terbagi dalam empat kelompok Surat : 1) Makky (Iqra, al-Mudatsir, al-Qiyamah) 2) Madany (al-Baqarah, Ali Imran, al-Nisa, dan al-Maidah) 3) Madany sebagiannya Makky (al-Anfal, Bara‟ah) 4) Makky sebagiannya Madany (al-An‟am, al-A‟raf, dll) Ulama berbeda pendapat dalam menghitung jumlah surah Makkiyah dan Surah Madaniyah. Ibnu al-Khasar mengemukakan bahwa Madaniyah sebanyak 20 Surah yaitu: 1) al-Baqarah 2) Ali Imran 3) al-Nisa 4) al-Maidah 5) al-Anfal 6) al-Taubah 7) al-Nur 8) al-Ahzab 9) Muhammad 10) al-Fath 11) al-Hujurat 12) al-Hadid 13) al-Mujadilah
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 32 14) al-Hasyr 15) al-Mumtahanah 16) al-Jumuah 17) al-Munafiqun 18) al-Talaq 19) al-Tahrim 20) al-Nashr Diperselisihkan sebanyak 12 Surah, yaitu : 1) al-Fatihah 2) al-Ra‟d 3) al-Rahman 4) al-Shaf 5) al-Tagabun 6) al-Tahfif 7) al-Qadar 8) al-Bayyinah 9) al-Zilzalah 10) al-Ikhlash 11) al-Falaq 12) al-Nisa‟ Selain yang telah disebutkan di atas, semuanya adalah Makkiyah yang terdiri atas 82 surah. Ciri-Ciri ayat Makkiyah oleh Subhi Shalih adalah : 1) Terdapat ayat “sajadah” 2) Terdapat lafad “Kalla” 3) Terdapat kalimat “Ya ayyuha al-Nas” dan tidak terdapat kalimat “Ya ayyha al-Lazina Amanu” kecuali surat al-Haj : 77 4) Terdapat kisah para Nabi dan umat terdahulu 5) Terdapat kisah Nabi Adam dan Iblis kecuali al-Baqarah 6) Surat ayang diawali dengan huruh “Hijaiyah” kecuali al-Baqarah dan Ali Imran.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 33 7) Ajakan kepada tauhid dan ibadah hanya kepada Allah, risalah, kebangkitan dan hari pembalasan, kiamat, neraka dan siksanya, surga dan nikmatnya, dll 8) Pelatakan dasar-dasar umum bagi perundang-undangan dan akhlak mulia. 9) Hikmah kisah nabi dan umat terdahulu sebagai pelajaran. 10) Suku katanya pendek-pendek, mengesankan, singkat Catatan : 7 sd. 10 dikemukakan oleh Manna Khalil al-Qattan Ciri-Ciri ayat Madaniyah : 1) Surat yang berisi kewajiban atau had 2) Surat yang di dalamnnya disebutkan orang-orang Munafiq (kecuali alAnkabut) 3) Setiap surat yang terdapat di dalamnya dialog dengan ahli kitab. Faedah mengetahui surah Makkiyah atau Madaniyah antara lain : 1) Pembedaan Nasikh Mansukh 2) Bantuan untuk menafsirkan Al-Qur‟an (membantu memahami maksud) 3) Pengetahuan mengenai tasyri‟ 4) Memanfaatkan gaya bahasa Alqur‟an dalam melaksanakan dakwah 5) Mengatahui sejarah Nabi ketika masih di Makkah dan setelah berada di Madinah. 6) Mengetahui sejarah Nabi dan berdakwah 7) Menjelaskan perhatian dan tugas kaum Muslimin terhadap Al-Qur‟an. 4. Munasabah al-Qur’an Munasabah menurut bahasa berarti musyakalah (keserupaan) dan muqarabah (kedekatan). Sedang menurut istilah Ulum al-Qur‟an berarti “pengetahuan tentang berbagai hubungan di dalam al-Qur‟an". Hubungan yang terdapat dalam al-Qur‟an adalah : a. Hubungan antara satu surah dengan surah sebelumnya, misalnya di dalam ا ُْ ُو ْغزَوِ٘ن ِذًَب ال ِّص : disebutkan) 6/1 (Fatihah-al surah ْ ال َشاط َTunjukilah kami jalan yang lurus. Lalu dijelaskan di dalam surat al-Baqarah (2/2) bahwa jalan yang lurus itu ialah mengikuti petunjuk al-Qur‟an yaitu : ٓىذِ٘ َِ ُُ ك تْٗ َس َال َة ُبَزِِ َ ْ لِ ََ ال ُوزَّوِ٘ َي ْ لِل Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 34 b. Hubungan antara nama surah dengan isi atau tujuan surah Nama-nama surah biasanya di ambil dari suatu masalah pokok daialam suatu surah, seperti al-Nisa‟ (dialammnya banyak menceritakan persoalan perempuan). c. Hubungan antara fawatih al-suwar (ayat yang pertama yang terdiri dari beberapa huruf) dengan isi surah. Hubungan ini bisa ditelusuri dari jumlah huruf yang dijadikan sebagai fawatih al-suwar. (alif, lam, dan mim). Surah surah yang dimulai dengan huruf-huruf tersebut dalam kajian kemu‟jizatan al-Qur‟an dapat dibagi 19 (sembilan belas) d. Hubungan antara ayat pertama dengan ayat terakhir dalam satu surah. Dalam surah al-Mu‟minun dimulai dengan :ىٌُْ َه ِإْوُ ْ َخ ال لَ كْ َ Sesungguhnya ”هَ ْذ أ beruntunglah orang-orang yang beriman”. Dibagian akhir surah al-Mu‟minun َِبكِ ُشّ َى: kalimat ditemukan ْ لِ ُخ ال ًََُِّ َال ُٗلْ ئ“ Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” e. Hubungan antara satu ayat dengan ayat lain dalam satu surah. Hubungan ini pada perinsipnya membeirkan uraian yang lebih rinci tentang maksud ayat ُوزَّوِ٘ي: Contoh. sebelumnya ْ ِِزَب ُة َال َسْٗ َت كِ٘ َِ ُُ ىذٓ لِل ْ الِ ََ رل َKitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa. Pada ayat selanjutnya dijelaskan bahwa orang bertakwa adalah mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Qur'an) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. f. Hubungan antara kalimat dengan kalimat lain dalam ayat yang sama. Seperti kalimat ِ َذ ْوُذ ِلِلَّ ْ ال Segala puji bagi Allah, dijelaskan dengan kalimat ي٘ َوِ َؼبلَ ْ َس ِّة ال Tuhan semesta alam
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 35 g. Hubungan antara fasilah dengan isi ayat, seperti: ُْا َخْ٘ ىشا ْن ٌََٗبل َـْ٘ ِظ ِِْن لَ ِ ِزٗ َي َكلَ ُشّا ث َّ َّد ََّّللاُ ال َّ َس ِ ُوْإ ِهٌ ْ َّ َل َكلَٔ ََّّللاُ ال وِزَب ْ ٘ َي ال Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mu'min dari peperangan. ٗ ىضا ِ ب َػض ّٗى ِ َّ َكب َى ََّّللاُ هَْ Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. h. Hubungan antara penutup surah dengan awal surah berikutnya Contoh : Akhir ayat surat al-Waqi‟ah (56:00) ditemukan kalimat : ِن َؼ ِظ٘ ْ ب ْعِن َسثِّ ََ ال ِ َغجِّ ْخ ث كَ Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Maha Besar. Lalu di awal surah berikutnya ( al-Hadid (57:1) َذ ُِِ٘ن ْ ٗ ُض ال ِ َؼض ْ َْ ال ِض َُُّ ْس ْْلَ ِ َهب كِٖ ال َّغ َوَْا ِد َّا َخ ِلِلَّ َعجَّ Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Urgensi dan kegunaan mempelajari Munasabah: 1. Menghidari kesalahan pemahaman ayat-ayat al-Qur‟an 2. Membantu dalam memahami kalimat-kalimat dalam ayat al-Qur‟an 3. Memberikan pemahaman bahwa al-Quran sebagai wahyu merupakan satu kesatuan yang utuh yang tidak dapat dipisah-pisahkan. 5. Qira’at al-Qur’an Kata Qiraah seakar dengan kata al-Qur‟an, dari kata qara‟a, berarti membaca. Menurut istilah, qira‟ah adalah ilmu untuk mempelajari tata cara mengucapkan lafal al-Qur‟an, baik yang disepakati ataupun yang diperdebatkan oleh para ahli qira‟at, seperti pengguguran huruf (khazf) ataupun penetapan huruf (itsbat), pemberian harakat (takhrik), pemberian tanda sukun (taskin), penyambungan huruf (washl), penggantian lafal-lafal tertentu (ibdal), dan lainlain. Qiraah berbeda dengan tajwid. Qira‟ah menyangkut cara pengucapan lafal, kalimat, dan dialek (lahjah) kebahasaan al-Qur‟an. Sedangkan tajwid sesuai
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 36 dengan pengertiannya, adalah pengucapan huruf al-Qur‟an secara tertib, sesuai dengan makhraj dan bunyi asalnya. Jadi tajwid menyangkut tata cara dan kaidahkaidah teknis yang dilakukan untuk memperindah bacaan al-Qur‟an. Informasi tentang qira‟ah diperoleh melalui dua cara, yaitu 1) melalui pendengaran (simaiy) dari Nabi oleh para sahabat mengenai bacaan ayat-ayat alQur‟an, kemudian ditiru dan diikuti oleh tabi‟in dan generasi-genarasi sesudahnya hingga sekarang. Dan 2) melalui riwayat yang diperoleh dari hadis-hadis yang disandarkan kepada Nabi atau sahabat-sahabatnya. Qira‟ah mempunyai beberapa versi, dan munculnya perbedaan ini disebabkan oleh beberapa faktor sebagai berikut : a. Perbedaan syakl, harakah, atau huruf. Karena mushaf-mushaf terdahulu tidak menggunakan syakl dan harakah, maka imam-imam qiraah membantu memberikan bentuk-bentuk qira‟ah. Misalnya dalam QS. Al-Baqarah (2)/22 : وال روشثُْي دزٔ ٗطِشى ْطُِ ْش َى dibaca bisaٗ طِشى Kata َٗ dan bisa pula dibaca شىِط َٗJika dibaca qira‟ah pertama, maka berarti “dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci (berhenti dari haid tanpa mandi terlebih dahulu). Sedangkan qira‟ah kedua berarti “dan janganlah kamu mendekati mereka (istri-istrimu) sampai mereka bersuci (berhenti dari haid dan telah mandi wajib terlebih dahulu)”. b. Nabi sendiri melantunkan berbagai versi qira‟ah di depan para sahabat. Misalnya Nabi pernah membaca QS.al-Rahman (55)/76 : هزِئ٘ي ػلٔ سكشف خضش ّػجوشٕ دغبى Lafal سكشف dan ٕػجوش ّjuga pernah dibaca سكبسف dan ٓػجبهش c. Adanya pengakuan Nabi (taqrir) terhadap berbagai versi qira‟ah para sahabatnya. Misalnya kata ي ٘د ِdalam QS. Yusuf (12)/35 ada di antara sahabat membacanya ػ٘ي lafal dengan d. Perbedaan riwayat dari para sahabat Nabi menyangkut bacaan ayat-ayat tertentu. e. Karena perbedaan dialek (lahjah) dari berbagai etnik di masa Nabi. Jumlah qira‟ah yang mashur ada tujuh macam, lebih dikenal dengan qira‟ah sab‟ah. yaitu : 1) Qira‟ah Ibn Amir 2) Qira‟ah Ibn Katsir
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 37 3) Qira‟ah „Ashim 4) Qira‟ah Abu „Amr 5) Qira‟ah Hamzah 6) Qira‟ah Nafi‟ 7) Qira‟ah al-Kisa‟i. 6. Muhkam wa al-Mutasyābih Muhkam berasal dari kata ihkam yang berarti kekukuhan, kesempurnaan, kesaksamaan, dan pencegahan. Dari kesemua makna tersebut secara keseluruhan kembali pada pengertian pencegahan. Mutasyabih berakar pada kata tasyabuh yang berarti “keserupaan, kesamaan” yang pada akhirnya berujung pada kesamaran antara dua hal (sesuatu yang menyerupai yang lainnya). Dalam al-Qur‟an terdapat ayat-ayat yang di dalamnya ditemukan kedua kata ini atau bentukan dari masing-masing kata tersebut. QS. Ali Imran (7) َّهب َ َِِب ٌد كَأ َخ ُش ُهزَ َشبث ُ ِِزَب ِة َّأ ْ ُّم ال ُ َءاَٗب ٌد ُه ْذ ََِوب ٌد ُُ َّي أ ِِزَب َة ِهٌَُْ ْ ْ٘ ََ ال َض َل َػلَ ًْ َ ِزٕ أ َّ ِ ِِْن َصْٗ ٌؾ َْ ال ُْث ل ِزٗ َي كِٖ هُ َّ ُُ ال ُن ٗلِ َِ َّ َهب َٗ ْؼلَ ِ ّ ْ َء رَأ َـب ِخ َّاْثزِ ٌَ لِزْ ْ َء ال َـب ُؼْ َى َهب رَ َشبثَََ ِهٌَُْ اْثزِ ِ ِ كََ٘زَّج َِ ب ث َهٌَّ ُْ َى َءا ِن َٗوُْل ْ ِؼل ْ َّال ََّّللاُ َّال َّشا ِع ُخْ َى كِٖ ال ِ ٗلََُ ئ ِ ّ ْ رَأ جَب ِة ْ ل ْْلَ ُْ ا ّل ُ َّال أ ِ َّ َهب َٗزَّ َّك ُش ئ ِذ َسثٌَِّب ُك ٌّل ِه ْي ِػٌْ Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. Secara istilah, Ulama berbeda pendapat dalam memberikan defenisi muhkam dan mutasyabih. al-Zarqany memberikan beberapa pengertian antara lain : a. Muhkam ialah ayat yang jelas maksudnya lagi nyata yang tidak mengandung kemungkinan nasakh. Mutasyabih ialah ayat yang tersembunyi (maknanya), tidak diketahui maknanya baik secara akli maupun naqli (hanya Allah yang mengetahui maknanya, seperti datangnya hari kiamat, fawatih al-suwar.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 38 b. Muhkam adalah ayat yang diketahui maksudnya, baik secara nyata maupun melalui takwil. Mutasyabih adalah ayat yang hanya diketahui maksudnya oleh Allah, baik secara nyata maupun secara takwil (pendapat ahlu Sunnah). c. Muhkam adalah ayat yang tidak mengandung kecuali satu kemungkinan makna takwil. Mutasyabih ialah ayat yang mengandung banyak kemungkinan makna takwil (Ibnu Abbas dan kebanyakan Ahli Ushul Fiqh) d. Muhkam adalah ayat yang berdiri sendiri dan tidak memerlukan keterangan. Mutasyabih ialah ayat yang tidak berdiri sendiri tetapi memerlukan keterangan tertentu, sementara di saat lain dijelaskan dengan ayat atau keterangan yang lain pula kerena adanya perbedaan dalam men-takwil-nya. (Imam Ahmad). e. Muhkam adalah ayat yang jelas maknanya dan tidak masuk kepadanya isykal (kepelikan). Mutasyabih adalah lawan muhkam atas ism-ism (kata-kata benda) musytarak dan lafal-lafal mubhamah (samar-samar). (al-Tibbi) f. Muhkam adalah ayat yang menujukkan makna kuat, yaitu lafal nash dan lafal zahir. Mutasyabih ialah ayat yang tunjukan maknanya tidak kuat, (yaitu lafal mujmal, muawwal, dan musykil. (iman al-Razi, dll peneliti). Dari pengertian/defenisi yang dikemukakan di atas, ada dua hal penting yang harus diperhatikan. Pertama : di dalam membicarakan muhkam tidak ada kesulitan. Muhkam adalah ayat yang jelas atau rajih maknanya. Kedua : membicarakan mutasyabih menimbulkan masalah yang perlu di bahas lebih lanjut. Hal ini meliputi antara lain apa penyebab terjadinya mutasyabih, jenis-jenis mutasyabih, dan sikap Ulama (dan kita) dalam menghadapinya. Sikap Ulama terhadap Muhkam dan Mutasyabih. Para Ulama berbeda sikap dalam menanggapi ayat-ayat yang mutasyabih. Dalam kajian ini akan dikemukakan beberapa contoh ayat-ayat mutasyabihat yang menyangkut sifatsifat Tuhan, ayat al-Sifat (al-Suyuti), mutasyabih al-Sifat (Subkhi Shalih). Ayat– ayat tersebut antara lain : a. QS Thaha (5) : َْٓ َؼ ْش ِػ ا ْعزَ ْ ال َّش ْد َو ُي َػلَٔ ال b. QS al-Fajr (22) : ب ب َصلّى َولَ َُ َصلّى ْ َء َسُّث ََ َّال َّ َجب c. QS al-An‟am (61) : ٍِد ِبَػج ِمْْ َ وَب ُِ ُش كَ ْ َْ ال َُُّ
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 39 d. QS al-Zumar (56) : ِللا ََّّتِ ٌظ َٗب َد ْغ َشرَب َػلَٔ َهب كَ َّش ْط ُذ كِٖ َجٌْ ْى رَوُْ َل ًَلْ َ أ e. QS al-Rahman (27) : مِ ْك َشا ْْلِ َجََل ِل َّا ْ ََّٗ ْجؤَ َّ ْجَُ َسثِّ ََ رُّ ال f. QS Thaha (39) : ٌِْٖ٘ػَٔ َػل َغَ ْصٌَ ِهٌِّٖ َّلِزُ ْ٘ ََ َه َذجَّخى وَ ْ٘ ُذ َػلَ ْ ل َ َّأ g. QS al-Fath (10) : نِِْ ْٗ ِذٗ َ ْْ َم أ ُؼْ َى ََّّللاَ َٗ ُذ ََّّللاِ كَ ِ َوب ُٗجَبٗ ًَِّ ُؼًَْ ََ ئ ِ ِزٗ َي ُٗجَبٗ َّ َّى ال ِ ئ h. QS Ali Imran 28) : َُغَ ُس ُكُن ََّّللاُ ًَلْ َُّٗ َذزِّ Dalam ayat-ayat ini terdapat kata “bersemayam”, datang, “di atas”, “sisi”, “wajah”, “mata”, “tangan”, dan “diri” yang di sandingkan/disandarkan atau dijadikan “sifat” bagi Allah. Jika keseluruhan kata tersebut di sandarkan kepada makhluk, maka hal itu sudah menjadi sesuatu yang jelas. Akan tetapi kata-kata itu disandarkan kepada Allah yang “Qadim”, maka akan menyulitkan di dalam memahami maksud ayat tersebut. Subhi Shalih memberikan tanggapan terhadap hal ini dengan dua pendekatan, yaitu 1) mazhab Salaf dan 2) mazhab Khalaf. a. Mazhab Salaf, yaitu orang-orang yang mempercayai dan mengimani sifat-sifat mutasyabih itu menyerahkan hakikatnya kepada Allah sendiri. Mereka mensucikan Allah dari pengertian–pengertian lahir yang mustahil ini bagi Allah dan mengimaninya sebagaimana yang diterangkan di dalam al-Qur‟an serta menyerahkan mengetahui hakekatkanya kepada Allah sendiri ( mazhab Mufawwidah atau Tafwid). Imam Malik ditanya tentang makna “istiwa‟”, menjawab: االعزْاء هؼلْم ّالِ٘ق هجِْل ّالغإال ػٌَ ثذػخ ّاظٌَ سجل الغْء اخشجْا ػٌٔ Makna lahir dari kata “istiwa” jelas diketahui oleh setiap orang. Akan tetapi pengertian yang kita ketahui tersebut bukanlah pengertian yang dikehendaki secara pasti dari ayat ini. Oleh karena itu untuk mengetahui bagaimana “cara istiwa” tidak diketahui, dan mempertanyakannya dipandang mengada-ada (bid‟ah). Sistem penafsiran seperti yang dikemukakan oleh Imam Malik (baca : kaum Salaf) ini didasarkan pada dua alasan, yaitu : 1) Argumen aqli, yaitu untuk menentukan maksud ayat-ayat yang mutasyabihat hanyalah berdasarkan kaidah-kaidah kebahasaan dan penggunaannya di
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 40 kalangan bagsa Arab. Penentuan seperti ini hanya menghasilkan ketentuan yang bersifat zanny (tidak pasti). 2) Argumen nagli, mereka menggunakan beberapa hadis yang diriwayatkan dari rasulullah atau “atsar” para sahabat. Al-Suyuti berpendapat bahawa cara seperti inilah yang menjadi pegangan para sahabat, tabi‟in, dan tabi‟ tabi‟in, dan orang–orang sesudah mereka (Ahl al-Sunnah). b. Mazhab Khalaf, yaitu ulama yang menakwilkan lafal yang makna lahirnya mustahil kepada makna yang lain bagi Allah. Kelompok ini disebut pula “Mu‟awwilah” atau “Mazhab Takwil”. Kata “istiwa” dimaknakan dengan “ketinggian yang abstrak” berupa pengendalian Allah terhadap alam ini tanpa merasa kepayahan. “kedatangan Allah” diartikan dengan “kedatangan perintahnya”, “Allah berada di atas hambanya” dengan “Allah Maha Tinggi” bukan berada di suatu tempat, “sisi” diartikan “hak Allah”, “wajah” dengan “zat”, “mata” dengan “pengawasan”, “tangan” dengan “kekuasaan”, “diri” dengan “ siksa”. Dalam pandangan Mazhab Khalaf, suatu hal yang harus dilakukan adalah memalingkan lafal dari keadaan kehampaan yang mengakibatkan kebingungan manusia karena membiarkan lafal terlantar tak bermakna. Selama masih mungkin melakukan takwil kalam Allah dengan makna yang benar, maka nalar mengharuskan untuk melakukannya. Ibn Daqiq al-Id berpendapat bahwa “jika takwil itu dekat dari bahasa Arab, maka tidak dipungkiri dan jika takwil itu jauh, maka kita tawqquf (tidak memutuskannya), dengan cara “kita meyakini maknanya menurut cara yang dimaksudkan serta mensucikan Tuhan dari sesuatu yang tidak layak bagi-Nya” 7. Fawatih al-Suwar Di antara beberapa ciri khusus surah (ayat) Makiyah adalah cara Allah swt. Mengawali firman-firman-Nya itu dengan huruf-huruf tahajji (alphabet). Jumlah surah tersebut sebanyak 29 surah. Para ahli tasfir mengatakan “Huruf-huruf yang mengawali surah-surah itu disebut dalam al-Qur‟an untuk menunjukkan bahwa kitab suci al-Qur‟an tersebut tersusun dari huruf-huruf tahajji yang diketahui secara umum. Di antara huruf-huruf awalan tersebut, ada yang hanya terdiri dari satu huruf, dan ada pula yang tergabung dengan huruf lain Hal itu dimaksudkan agar orang
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 41 Arab mengerti dengan jelas bahwa al-Qur‟an itu diturunkan dengan huruf-huruf yang mereka kenal. Dan hal ini juga merupakan teguran keras bagi mereka dan juga untuk membuktikan ketidakmampuan mereka membuat semisal al-Qur‟an. (Zamakhsyari, Baidhawi, Ibnu Taimiyah, al-Hafidz al-Mizzi). Rasyid Ridha mengatakan “Upaya menarik perhatian dengan huruf-huruf yang terdapat pada awal surah bukan ditujukan kepada Rasulullah, tetapi kepada orang-orang Arab” (kaum Musyrikin Makkah dan ahlu kitab di Madinah). Hikmah dari adanya persoalan Muhkam dan Mutasyabih bagi umat Islam lebih mendorong untuk melakukan upaya pengkajian al-Qur‟an yang lebih menyeluruh dan mendalam dengan tidak melepaskan diri dari prinsip-prinsip keimanan yang benar, pengamalan syariah yang benar. Dengan ketentuan apapun yang dihasilkan dari pemahaman tentang Muhkam dan Mutasyabih bahwa semua itu masih dalam lingkup “zhanny”.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 42 8. Tafsir, Takwil dan Tarjamah Tafsir adalah: ث٘بى هؼبى الوشاى ّاعزخشاط ادِبهَ ّدِوَ Penjelasan makna Alqur‟an, serta upaya untuk mengistimbatkan hukum dari suatu ayat serta upaya untuk memahami hikmah dari ayat Alqur‟an tersebut. Melakukan pengkajian, penelusuran, tentang makna yang terkandung dibalik suatu ayat Alqur‟an. Macam-macam Tafsir : a. Tafsir Tahliliy Tafsir al-Qur‟an yang menyoroti ayat-ayat al-Qur‟an dengan memaparkan segala makna dan aspek yang terkandung di dalamnya sesuai urutan bacaan yang terdapat di dalam al-Qur‟an Mushaf Usmani. Cara dalam melakukan kegiatan penafsiran ini antara lain : 1) Menerangkan hubungan (munasabah) baik antar satu ayat dengan ayat yang lain maupun antara surah dengan surah yang lain. 2) Menjelaskan sebab-sebab turunnya ayat (asbab al-nuzul) 3) Menganalisis Mufradat (kosakata) 4) Memaparkan kandungan ayat secara umum dan maksudnya. 5) Menerangkan unsur-unsur fashahah, bayan, dan i‟jaz-nya 6) Menjelaskan hukum yang dapat ditarik dari ayat yang dibahas. 7) Menerangkan makna dan maksud syara‟ yang terkandung dalam ayat bersangkutan. Dari bentuk, tujuan dan maksud dan kandungan informasi yang didapatkan dalam Tafsir Tahlili, maka metode ini dapat dibagi dalam tujuh metode : a. Tafsir bi al-Ma‟tsur (Tafsir bi al-riwayah, tafsir bi al- manqul) 1) Tafsir ayat dengan ayat 2) Tafsir ayat dengan hadis 3) Tafsir ayat dengan pendapat Sahabat Nabi 4) Tafsir ayat dengan Pendapat Tabi‟in b. Tafsir bi al-Ra‟yi c. Tafsir al-Fiqh
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 43 d. Tafsir al-Sufi e. Tafsir al-falsafi f. Tafsir al-Ilmi g. Tafsir al-Adabi al-Ijtimai b. Tafsir al-Ijmaly Menafsirkan ayat-ayat al-Qur‟an dengan cara mengemukakan makna global. 1. Tafsir al-Muqarin Metode Tafsir dengan menggunakan cara komparasi (perbandingan). Objek kajian tafsir ini dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu : a) Perbandingan ayat al-Qur‟an dengan ayat lain b) Perbandingan ayat al-Qur‟an dengan Hadis c) Perbandingan penafsiran Mufassir dengan Mufassir lain. c. Tafsir Maudu’iy (tematis) Metode ini mempunyai dua bentuk pendekatan yaitu : a. Tafsir yang membahas satu surah al-Qur‟an secara menyeluruh, meperkenalkan dan menjelaskan maksud-maksud umum dan khususnya secara garis besar, dengan menghubungkan ayat yang satu dengan ayat yang lain, dan antara satu pokok masalah dengan pokok masalah yang lainnya. b. Tafsir yang menghimpun dan menyusun ayat-ayat al-Qur‟an yang memiliki kesamaan arah dan tema, kemudian memberikan penjelasan dan mengambil kesimpulan, dibawah satu bahasan tema tertentu. 9. Takwil Takwil adalah memberikan penjelasan dalam upaya memahami suatu ayat dengan metode mencari arti (kesamaan arti) dari suatu lafadz yang terdapat dalam suatu ayat. Mengarahkan arti suatu kata dengan mengacu pada pengertian yang lebih dekat memalingkan artinya Mazhab Khalaf, yaitu ulama yang menakwilkan lafal yang makna lahirnya mustahil kepada makna yang lain bagi Allah. Kelompok ini disebut pula “Mu‟awwilah” atau “Mazhab Takwil”. Kata “istiwa” dimaknakan dengan “ketinggian yang abstrak” berupa pengendalian Allah terhadap alam ini tanpa merasa kepayahan. “kedatangan Allah” diartikan dengan “kedatangan
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 44 perintahnya”, “Allah berada di atas hambanya” dengan “Allah Maha Tinggi” bukan berada di suatu tempat, “sisi” diartikan “hak Allah”, “wajah” dengan “zat”, “mata” dengan “pengawasan”, “tangan” dengan “kekuasaan”, “diri” dengan “ siksa”. Dalam pandangan Mazhab Khalaf, suatu hal yang harus dilakukan adalah memalingkan lafal dari keadaan kehampaan yang mengakibatkan kebingungan manusia karena membiarkan lafal terlantar tak bermakna. Selama masih mungkin melakukan takwil terhadap kalam Allah dengan makna yang benar, maka nalar mengharuskan untuk melakukannya. Ibn Daqiq al-Id berpendapat bahwa “jika takwil itu dekat dari bahasa Arab, maka tidak dipungkiri dan jika takwil itu jauh, maka kita tawqquf (tidak memutuskannya), dengan cara “kita meyakini maknanya menurut cara yang dimaksudkan serta mensucikan Tuhan dari sesuatu yang tidak layak bagi-Nya” 10. Tarjamah Tarjamah adalah alih bahasa yaitu penyesuaian bahasa suatu naskah ke bahasan lain. Menerjemahkan suatu bahasa ke dalam bahasa lain. (contoh : naskah berbahasa Arab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia). Contoh : Al-Qur‟an dan Terjemahnya karya : Departemen Agama
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 45 Bahan Evaluasi 1. Kemukakan pengertian, ruang lingkup, dan cabang-cabang kajian ulumul qur‟an! 2. Terangkan pengertian dan sejarah turungnya Al-Qur‟an! 3. Bagaimana keadaan Al-Qur‟an pada masa Nabi Muhammad SAW., masa khulafaurrasyidin? 4. Bagaimana keadaan Al-Qur‟an masa sekarang ini terkait dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi? 5. Apa yang saudara ketahui tentang Asbab Nuzul, terkait dengan ungkapan yang digunakan serta hikmah mempelajari Asbab Nuzul? 6. Apa yang dimaksud dengan Munasabah Ayat dan bagaimana kegunaan mempelajarinya? 7. Kemukakan pengertian dan tanda-tanda ayat makkiyah dan Madaniyah? 8. Apa yang dimaksud dengan ayat Muhkam dan ayat Mutasyabih? 9. Apa itu Qiraah Sab‟ah dan apa perbedaan Qiraat dengan Tajwid? 10. Apa yang dimaksud dengan Mu‟jizat Al-Qur‟an dan apa perbedaan tafisr, ta‟wil dan tarjamah?
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 46 MATERI III ULUMUL HADIST 1. PENGERTIAN HADIS DAN SUNNAH 2. SEJARAH DAN PERKEMBANGAN HADIS 3. KEDUDUKAN DAN FUNGSI HADIS TERHADAP ALQUR‟AN 4. BENTUK-BENTUK HADIS 5. UNSUR-UNSUR HADIS 6. HADIS MUTAWATIR DAN AHAD 7. HADIS SHAHIH, HASAN DAN DHA‟IF
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 47 KAJIAN TENTANG ULUM AL- HADIS Ulum al-Hadis maknanya adalah ilmu-ilmu hadis. Penggunaan istilah ulum (jamak) karena ilmu hadis terdiri atas berbagai macam ilmu, seperti ilmu rijal al-hadis, ilmu garib al-hadis, ilmu asbab wurud al-hadis dan ilmu „ilal alhadis. Ilmu hadis mencakup dua objek kajian pokok, yaitu Ilmu Hadis Riwayat dan Ilmu Hadis Dirayah. Ilmu Hadis Riwayat adalah ilmu yang mengkaji pengutipan secara cermat dan akurat segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw., baik berupa sabda, perbuatan, taqrir, maupun sifat-sifat fisik dan non fisik. Ilmu ini mengkaji penguasaan dan pengutipan setiap hadis. Buah dari ilmu ini adalah menjaga dan memantapkan sunnah serta menghindari kesalahan mengutip segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi saw. Adapun Ilmu Hadis Dirayah adalah ilmu yang darinya dapat diketahui hakikat riwayat, syarat-syaratnya, jenis-jenisnya, hukum-hukumnya, keadaan dan syarat-syarat para periwayat, kelompok-kelompok riwayat dan hal-hal lain yang berkaitan. Al-Hafidz Ibnu Hajar berpendapat, defenisi terbaik ilmu Hadis Dirayah adalah mengetahui kaidah-kaidah yang memperkenalkan keadaan periwayat dan yang diriwayatkan. Jadi objek ilmu ini adalah sanad dan matan. Ilmu Hadis Dirayah adalah kumpulan kaidah dan masalah yang dapat dipergunakan untuk mengetahui keadaan para periwayat dan yang diriwayatkan, dipandang dari segi diterima atau ditolaknya. Jadi, buah dari ilmu ini adalah ( هؼشكخ خ٘الصذ شْٗذِذ َال (mengetahui hadis sahih, atau faedah mempelajarinya adalah mengetahui yang diterima dari yang ditolak. Memperhatikan pengertian di atas, kedua ilmu tersebut tidak dapat dipisahkan. Ilmu Hadis Riwayat tidak akan berarti tanpa memadukannya dengan Ilmu Hadis Dirayah, karena dengannya dapat diketahui hadis yang diterima dari yang ditolak.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 48 PENGERTIAN HADIS DAN SUNNAH Pengertian hadis menurut bahasa adalah baru, berita dan dekat. Sedangkan sunnah adalah jalan (خَوْٗ ِ ,(terminologi (istilah pengertian Menurut). ال ِغْ٘شحَ أ ّْ الطَش hadis adalah sinonim dari sunnah. Keduanya diartikan sebagai segala sesuatu yang diambil dari Rasulullah saw. sebelum dan sesudah diangkat menjadi rasul. Seperti defenisi para ulama Al-Hadis yang dikemukakan oleh M. „Ajaj AlKhathib, bahwa sunnah adalah : أ ّْ ِع٘ َش ح وِّ٘خى ُ أّ ُخل وِّ٘خى ْ خ خل ش أّ ِصلَ ٗ ِ صِ َش ػي ال ّشعْل صلٔ َّللا ػلَ٘ ّعلن ِهي هَْ ل أّ كِؼ ل أّ رَوش ُ ك ُّل َهب أ ْؼضخ كزذٌّضَ كٔ ؿبس دشاء أم ثَ ْؼَذ ِ عْاء أكبى رلَ هَج َل الج ُب. Artinya : Segala sesuatu yang diambil dari Rasul saw., baik berupa sabda, perbuatan, taqrir, sifat-sifat fisik dan non fisik ataupun sepak terjang Beliau sebelum diutus menjadi rasul, seperti tahannuts Beliau di Gua Hira‟ atau sesudahnya. Sunnah dengan pengertian seperti ini identik dengan pengertian hadis Nabi saw. Akan tetapi, sebagian membedakan kedua istilah tersebut, bahwa kata hadis, umumnya dipakai sebagai segala sesuatu yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. setelah kenabian, baik berupa sabda, perbuatan atau taqrir. Dengan demikian, berdasarkan keterangan ini, sunnah lebih luas pengertian dan cakupannya daripada hadis. Sebagian lagi berpendapat bahwa hadis adalah segala sesuatu yang diambil dari Rasul saw., sedang sunnah adalah segala sesuatu yang memiliki dasar amalan dari masa awal Islam. Berdasarkan keterangan tersebut, Sulaiman al-Nadwi menjelaskan bahwa hadis adalah segala peristiwa yang dinisbahkan kepada Nabi saw., walaupun hanya satu kali saja dikerjakan dan walaupun hanya diriwayatkan oleh seorang perawi. Sedangkan sunnah adalah nama bagi sesuatu yang kita terima dengan jalan mutawatir dari Nabi saw. (Nabi melakukannya, kemudian para sahabat juga melakukannya, kemudian para tabi‟in juga melakukannya seperti yang dilaksanakan oleh para sahabat tersebut, dan seterusnya). M. Syuhudi Ismail membuat pemilahan bahwa : a) Bila ditinjau dari segi subjek yang menjadi sumber asalnya, maka pengertian hadis dan sunnah adalah
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 49 sama. (Sama-sama berasal dari Nabi). Dengan dasar ini, maka jumhur Ulama Ahli Hadis berpendapat : Hadis identik dengan Sunnah ; b) Bila ditinjau dari segi kualitas amaliyah dan periwayatannya, maka hadis berada di bawah sunnah. Sebab Hadis merupakan suatu berita tentang suatu peristiwa yang disandarkan kepada Nabi, walaupun hanya sekali saja beliau mengerjakannya dan walaupun hanya diriwayatkan oleh satu orang. Sedangkan Sunnah merupakan suatu amaliyah yang terus-menerus dilaksanakan oleh Nabi dan para sahabatnya dan oleh generasi sesudahnya sampai kepada kita; dan c) Bila ditinjau dari segi kekuatan hukumnya, maka Hadis berada di bawah Sunnah. Selain istilah hadis dan sunnah, dikenal juga istilah khabar dan Atsar. Khabar menurut pendapat yang kuat adalah sinonim dari hadis. Ibnu Hajar dan alTurmuzi misalnya mengatakan bahwa khabar sama dengan hadis. Ia dapat dipakai untuk sesuatu yang marfu‟, mauquf dan maqthu‟. Pendapat lain mengatakan bahwa khabar berasal dari selain Nabi, sedangkan hadis yang datang dari Nabi saw., atau khabar lebih umum dari hadis. Hadis hanya dari Nabi, khabar dari Nabi dan lainnya. Adapun Atsar menurut pendapat yang kuat juga merupakan sinonim hadis. Namun sebagian berpendapat bahwa Atsar hanya untuk yang mauquf, yaitu hadis yang disandarkan kepada sahabat. Satu lagi istilah yang populer dalam kajian ilmu hadis, yaitu hadis qudsi. Ia adalah firman Allah yang berbentuk makna saja, sedangkan redaksi atau lafadznya dari Nabi saw. Hadis qudsi disampaikan oleh Allah swt. kepada Nabi saw. melalui ilham atau mimpi. Berbeda dengan Al-Qur‟an, ia disampaikan melalui wahyu, dan selain itu makna dan lafazdnya bersumber dari Allah swt. Jadi hadis qudsi sandarannya adalah Allah swt., karena secara maknawi bersumber dari Allah swt.
Buku Panduan dan Kisi-Kisi Ujian Komprehensif 50 SEJARAH DAN PERKEMBANGAN HADIS Pada masa Nabi saw., yaitu masa yang disebut dengan يِ ْٗ ِ َْ ْد ِٔ ّالزَّ ِْْ / َػ ْص ُش ال masa turunnya wahyu dan pembentukan masyarakat Islam, terdapat tiga sikap Nabi saw. tentang hadis-Nya. 1) Memerintahkan menghafal, menyampaikan dan menyebarkan hadis. Dalil yang menunjukkan ini antara lain sabda Nabi saw. : ال ّشب ُِ ُذ ِهٌْ ُِ أالَ ن ال َـببِ َت ِ ِّؾ لُِ٘جَل Artinya, Hendaklah yang menyaksikan menyampaikan kepada yang tidak hadir. Selain itu melalui sabda-Nya : َّداُب كوب ع ِو َغ... َ َّ َّ َػبُب كَأ َه َشأ عوغ ِهٌِّٔ َهوبلَزٔ ك َذلِظَِب ً َّضش َّللا ا Artinya, Beruntunglah orang yang mendengar ucapanku lalu ia menghafalnya dan menjaganya, kemudian ia menyampaikan sebagaimana yang ia dengar… 2) Nabi saw. melarang menulis hadis. Dalilnya adalah : َ٘و ُذَُ ْ َؿْ٘ش الوشاى كَل ى الوشاى ّ َه ْي كزت ػٌّٔ َشْ٘ئب ئالّ ى ال رِزُجْا ػٌّٔ َشْ٘ئب Artinya : Janganlah kalian menulis sesuatu dariku kecuali Al-Qur‟an, barang siapa yang menulis sesuatu dariku selain Al-Qur‟an, maka hendaklah ia menghapusnya. 3) Nabi memerintahkan menulis hadis. Hal ini dapat dipahami dari riwayat tentang Abdullah bin „Amr bin al-„Ash yang memiliki catatan hadis dan menurutnya dibenarkan oleh Nabi saw. sehingga diberi nama al-Shahifaf al-Shadiqah. Orang mengeritik Abdullah bin „Amr dengan mengatakan : “Engkau tuliskan apa saja yang datang dari Nabi saw, padahal Nabi saw. itu manusia yang bisa saja berbicara dalam keadaan marah”. Maka ucapan ini oleh Abdullah disampaikan ke Nabi saw, lalu Beliau bersabda : ِزٓ ًلغٔ ثَ٘ ِذٍ هب ٗخشط هٌَ ئالّ د ٌن ّ أ ْكزُت كْ ال